P. 1
Executive Summary 2006 Kerjasama pemerintah dan swasta

Executive Summary 2006 Kerjasama pemerintah dan swasta

|Views: 149|Likes:
kerjasama pemerintah swasta
kerjasama pemerintah swasta

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: taufik munajat anwar on Feb 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2015

pdf

text

original

EXECUTIVE SUMMARY

Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial

Editor Drs. Charles S. Talimbo, M.Si DR. Harry Hikmat, M.Si Penyusun Drs. Sutaat Dra. Indah Huruswati Drs. Bambang Pudjianto, M.Si Rusmiyati, SE Drs. Achmadi Jayaputra, M.Si Drs. Anwar Sitepu, MP Sugiyanto, S.Pd, M.Si Drs. Nurdin Widodo Dra. Sri Gati Setiti Dra. Alit Kurniasari, MP Drs. Togiaratua Nainggolan, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY
Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial
Hak Cipta Setiap Tulisan pada : masing-masing Penulis Hak Cipta Penerbitan pada : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badiklit Kesos, Departemen Sosial RI. Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126 Design Cover : Pradjwalita Setting & Layout : Sarif Hidayat

All Right Reserved Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Tidak dibenarkan memproduksi ulang setiap bagian artikel, ilustrasi dan isi buku ini dalam bentuk apapun juga, baik secara elektronik, fotokopi, mekanik, rekaman atau cara lain sebelum mendapat izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Executive Summary, Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Kesos / editor, Charles S. Talimbo, Harry Hikmat. iv + 205 hlm. ; 14,5 x 21 cm, (Executive Summary Tahun 2006)

ISBN : 978-979-5379-20-7
Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126

KATA PENGANTAR
Selama tahun 2006 telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa tema yang dinilai mendesak seperti Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasan yang Berbasis Institusi Lokal, Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Keluarga), Evaluasi Program Subsidi Panti, Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Komunitas Peduli Anak, Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Migran maupun Penelitian Diagnostik tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Nunukan, Pulang Pisau, Bone dan Manado. Selain itu, ada penelitian yang merupakan pengembangan salah satu metode untuk menentukan secara efektif data kemiskinan di suatu komunitas, yaitu Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi. Hasilnya telah dicetak dalam bentuk buku. Tetapi untuk memudahkan pembaca, terutama pihak eksekutif yang ingin memanfaatkan sebagai acuan berkaitan dengan penentuan kebijakan, maka kami berusaha menyajikannya dalam bentuk Executive Summary. Sudah barang tentu sajian ini lebih komunikatif. Dan bila pembaca memerlukan yang lebih spesifik dan detail, tidak ada salahnya menelaah buku-buku hasil penelitiannya. Kami percaya, eksekutif masa kini adalah tipe ”research minded” karenanya setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada wangsit, tetapi melalui suatu proses kajian yang matang. Semoga. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Charles S. Talimbo NIP. 170011051
Puslitbang Kesos

i

......................... Participatory Wealth Ranking.....................Minahasa ( Rusmiyati................................Pd... M.......... S....... 99 7........ 2.............. SE ) .......... Problem dan Strategi Penanganannya ( Drs.......... Diagnosa tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah ( Dra.. 65 5............................................... Indah Huruswati ) ....... 1..................................... Achmadi Jayaputra..Si ) .........DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............ Bambang Pudjianto............................. M................. MP ) ................................ Sebuah Alternatif Teknik Indentifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin ( Drs.....Si ) ................................................... Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon .................. Anwar Sitepu............................. 119 Puslitbang Kesos iii ..Si ) ............................................. Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan) ( Sugiyanto. 81 6.............. Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan Di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat ( Drs....... i iii 1 25 3........................ Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kabupaten Nunukan ( Drs....................................... DAFTAR ISI ................................ Sutaat ) ................... 43 4. Peta Masalah Sosial di Bone: Potensi.. M............

......8.................................................................... SEKILAS PENYUSUN .................................................. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah di Indonesia) ( Dra......... SEKILAS EDITOR .. Pengembangan Komunitas Peduli Anak ( Dra. iv Puslitbang Kesos ... M.............................. Evaluasi Program Subsidi Panti dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial ( Drs....................................................................... Nurdin Widodo ) ....... INDEKS ........... 11...................................... Gender dan Keluarga Migran di Indonesia ( Drs..................... 129 9.............................................. Togiaratua Nainggolan.......................... Sri Gati Setiti ) ................ 153 169 181 191 195 199 10................... Alit Kurniasari.. MP ) .....................................................Si ) ...........

bahwa program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. tahun 2006. Puslitbang Kesos 1 . Kabupaten Nunukan. Penelitian ini mencoba menggambarkan mendiagnosa kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Nunukan. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial 1 2 Ditulis dari hasil penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Sebatik Barat. Peneliti Madya pada Puslitbang Kesos. Hal ini menjadikan wilayah tersebut jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan. Sutaat 2 ABSTRAK Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah pemekaran memiliki permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. perbaikan lingkungan dan perumahan. dan keluarga rentan. penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) guna memacu kemajuan wilayah dan penduduk diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat sebagai daerah pemekaran baru. serta peningkatan fungsi dan peningkatan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial (PSKS) Kata kunci: Masalah Sosial. berpendidikan S1 bidang kesejahteraan sosial. Masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Sutaat. terutama sarana pendidikan dan transportasi/ perhubungan dalam pulau dan antar pulau. Perwujudan kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan tampak dalam kehidupan komuniti. Pranata sosial dapat dipahami sebagai sistem antar hubungan peran dan norma berkenaan dengan aktivitas yang dianggap penting oleh anggota komuniti. oleh Puslitbang Kesos. termasuk dalam penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Empat Kabupaten tahun 2005. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosial budaya. terutama belum tersedianya database yang akurat sebagai bahan penyusunan rencana program pembangunan di wilayahnya. (2) Program-program sektor sosial bagi masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Akses penduduk pada pendidikan yang lebih tinggi masih terbatas. dan memimpin berbagai kegiatan penelitian di lingkungan Puslitbang Kesos. berpengalaman dalam berbagai kegiatan penelitian. berbentuk pranata sosial. keterlantaran. antara lain masalah fakir miskin. Untuk itu.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN1 Drs. Hal ini terkait dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. perumahan tidak layak huni.

2 Puslitbang Kesos . Oleh karena itu. masalah sosial hanya dapat diidentifikasi menurut cara pandang komuniti. Nunukan Pendahuluan Hasil penelitian Puslitbang Usaha Kesejahteraan Sosial (Puslitbang UKS. 2003). yakni bagaimana komuniti tersebut memberikan makna pada gejala yang ada sebagai masalah sosial atau tidak. masalah sosial pada masyarakat tertentu belum tentu dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang lainnya (Rudito. Perbedaan tindakan dan tingkah laku dalam menanggapi obyek yang sama dapat menimbulkan suatu masalah antara satu komuniti dengan komuniti lainnya. Cottrell dalam Ndaraha: 1990) Di lingkungan Departemen Sosial. sehingga sulit atau jauh dari sentuhan program pembangunan. Perbedaan kebudayaan pada masing-masing komuniti akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. mempunyai pembagian peran dan status yang jelas. lanjut usia yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak terlantar. individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). antara lain: masih terisolirnya sejumlah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbatasan. begitu juga dengan pendefinisian terhadap kesejahteraan dan masalah sosial. wanita rawan sosial ekonomi. mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya (Warren. secara umum kesejahteraan sosial dari masing-masing komuniti akan berbeda. dan ini merupakan suatu dampak dari adanya masalah sosial yang terwujud sebagai tindakan kebudayaan. Dengan demikian. Saat ini terdapat 27 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang telah diidentifikasi Departemen Sosial. anak cacat. dan masih rendahnya taraf hidup masyarakat terutama bila dibandingkan dengan taraf kehidupan warga Malaysia di perbatasan. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak jalanan. antara lain: balita terlantar. lanjut usia terlantar. Menurut konsep sosial budaya. anak nakal.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. 2005) menyebutkan bahwa berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang berbatasan dengan Malaysia. masih terdapatnya pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Nunukan yang belum dimanfaatkan atau belum punya nama. Komuniti adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh anggotanya berinteraksi satu sama lain.

korban bencana sosial. bekas narapidana. Berdasarkan berbagai uraian tersebut di atas. Pengertian sumber menurut Max Siporin. keluarga bermasalah sosial psikologis. gotong royong. sosial. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. tuna susila. Sistem Sumber Kemasyarakatan. dan sebagainya. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. lembaga pendidikan. keluarga berumah tak layak huni. keluarga fakir miskin. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. yaitu: Sistem Sumber Informal atau Natural. korban penyalahgunaan napza. setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Oleh karena itu. kesenian. Daerah pemekaran baru seperti halnya Nunukan. Untuk mempertahankan kehidupannya. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. komunitas adat terpencil. korban bencana alam. permasalahan sosial akan ditangani secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliabel. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang Puslitbang Kesos 3 .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. keagamaan. Sistem Sumber Formal. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial sumber kesejahteraan sosial sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan/program yang terarah dan komprehensif. penyandang HIV/AIDS. tampaknya mengalami masalah dalam hal penyediaan data (database) yang akurat mengenai permasalahan sosial serta sumberdaya yang ada di wilayahnya. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. Nunukan penyandang cacat. gelandangan. 1991) membagi sistem sumber menjadi tiga kategori. Guna mewujudkan kesejahteraan sosial. pekerja migran terlantar. adalah sesuatu yang bermanfaat. 2002). sehingga pelaksanaan program pembangunan akan tepat sasaran dan tepat guna. Allan Pincus dan Anne Minahan (Dwi Heru Sukoco. lembaga pelatihan kerja. Didalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. pengemis. Tersedianya data yang akurat dan reliabel akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. yaitu rumah sakit. politik.

pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. Deskriptif dimaksud untuk mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat. yaitu Desa Setabu dan Desa Sungai Pancang. Pulau ini terbagi menjadi dua bagian. Sementara itu Pemerintah Pusat belum mempunyai data yang cukup tentang potensi dan sumber serta permasalahan sosial. wawancara. sehingga program pusat dirasa kurang responsif terhadap kebutuhan lokal. Sehubungan dengan itu. Penelitiaan ini bertujuan untuk memperoleh data kualitatif tentang jenis permasalahan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat yang merupakan daerah pemekaran baru dan letaknya berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia Timur). Informan penelitian ini adalah warga masyarakat dan tokoh masyarakat setempat. Nunukan ada. Sebagai akibatnya. dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Keadaan Wilayah Lokasi Penelitian Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Timur yang letaknya paling utara. serta aparat pemerintah daerah yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. diskusi. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melaksanakan penelitian diagnostik tentang permasalahan sosial di daerah. yakni bagian selatan merupakan wilayah Negara Republik Indonesia dan bagian utara merupakan wilayah Negara Malaysia Timur (Sabah). dan bahan-bahan dokumen.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Dengan berbagai pertimbangan kebutuhan wilayah. Hal ini karena 4 Puslitbang Kesos . Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. lokasi penelitian ini difokuskan di Kecamatan Sebatik Barat sebagai salah satu kecamatan pemekaran yang terletak di daerah perbatasan. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Nunukan. Perkembangan wilayah Desa Sungai Pancang relatif lebih maju dibandingkan Desa Setabu. serta upayaupaya penanganan yang pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Nunukan. Sebatik Indonesia pada mulanya terdiri dari dua buah desa induk.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Sungai Pancang mempunyai akses yang lebih mudah dengan negara tetangga (Malaysia). Sementara itu, Desa Setabu yang letaknya di bagian barat menghadap Pulau Nunukan dan Daratan Kalimantan, memiliki infrastruktur transportasi ke Nunukan atau daratan Kalimantan relatif yang kurang memadai. Oleh karena itu, dari segi kemajuan wilayah Desa Setabu menjadi lebih lambat. Kecamatan Sebatik Barat yang berpusat di Desa Setabu terdiri dari empat desa, yakni Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu, dan Desa Aji Kuning (letaknya berbatasan dengan Malaysia Timur). Desa Aji Kuning ini berbatasan dengan Desa Sungai Pancang (Sebatik Timur), dan karena itu desa ini merupakan desa di wilayah Sebatik Barat yang termasuk paling maju. Kecamatan Sebatik Timur yang semula merupakan induk Desa Sungai Pancang terdiri dari empat desa, yakni Desa Tanjung Karang, Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, dan Desa Tanjung Aru. Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Puslitbang Kesos

5

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Kependudukan Penduduk Kecamatan Sebatik Barat berjumlah 10.285 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk Sebatik secara keseluruhan 30.947 jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa 1/3 jumlah penduduk Sebatik berada di Sebatik Barat, dan 2/3 lainnya merupakan penduduk Sebatik Timur. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa Sebatik Timur kondisinya lebih maju dari Sebatik Barat, baik dari segi ekonomi maupun sarana infrastruktur yang relatif lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, penduduk banyak terkonsentrasi di wilayah Timur yang jauh lebih maju. Kondisi seperti tersebut di atas tampak pula pada jumlah penduduk per kelurahan di Sebatik Barat, yakni Kelurahan Aji Kuning dengan jumlah penduduk terbesar (3.687 jiwa). Kondisi ini terkait dengan kemajuan Desa Aji Kuning yang jauh melebihi desa-desa lain di Sebatik Barat. Sejak dari awal penduduk Aji Kuning telah banyak mengadakan hubungan ekonomi perdagangan dengan negara tetangga (Malaysia).
Tabel 1. Penduduk Kecamatan Sebatik Barat
DESA Aji Kuning Setabu Binalawan Liang Bunyu JUMLAH REKAPITULASI HASIL PENDATAAN PENDUDUK TAHUN 2005 JUMLAH KEPALA JUMLAH JIWA RT/DUSUN KELUARGA RT DUSUN L P JML L P JML 17 4 908 51 959 1990 1697 3687 7 442 28 470 1156 1001 2157 6 359 14 373 1013 886 1899 11 530 28 558 1374 1168 2542 41 4 2239 121 2360 5533 4752 10285

Sumber : Monografi Kecamatan Sebatik, 2005.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa banyak penduduk Aji Kuning yang merupakan eks TKI di Malaysia. Bahkan banyak di antara mereka masih mempunyai kerabat yang berada di Malaysia (terutama di Tawao). Beberapa warga mempunyai identitas ganda, yakni warga Indonesia dan warga Malaysia; atau warga negara Malaysia tetapi merupakan penduduk tetap Desa Aji Kuning. Tampaknya memang secara sosial budaya antara warga Aji Kuning dengan Tawao-Malaysia hampir tidak ada batas. Beberapa rumah warga ada yang sebagian berada di wilayah Indonesia dan sebagian lainnya berada di wilayah Malaysia, dan bahkan ada beberapa warga yang mendirikan rumah di atas tanah wilayah Malaysia.

6

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Pranata Kehidupan Masyarakat
1. Pranata Agama/Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Sebatik Barat sebagian besar Islam, sedangkan sebagian lainnya Kristen Katholik dan Protestan. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang ada meliputi bangunan Masjid, langgar, dan Rumah Kebaktian di perumahan penduduk. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Selain menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama, penduduk di Wilayah Kecamatan Sebatik Barat juga masih ada yang mengembangkan aliran kepercayaan Suku Bangsa Tidung. Suku Tidung adalah bagian dari Suku Dayak yang tinggal di Tarakan yang menempati daerah Pulau Sebatik, dan merupakan suku asli. Kepercayaan tersebut berupa pemberian semacam sesajen yang dilakukan oleh perorangan dengan cara mengirim doa melalui pemberian sesajen hewan potong yang dilabuh di tengah laut dan dekat dengan tempat tinggalnya. Acara menjalankan ritual adat/kepercayaan/religi yang dijalankan nenek moyang Suku Dayak. Penduduk yang menjalankan dan masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka, walaupun banyak juga yang menganut Agama Islam dan Khatolik. Namun dalam kepercayaan orang Sebatik masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga sungai dan atau laut.
2. Pranata Keluarga/Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah tidak ada aturan yang mengikat, artinya dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kebebasan untuk menentukan pasangan/pilihan hidup. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Dalam sistem kekerabatan yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai keturunan ketiga. Pada dasarnya, dalam suatu keluarga besar yang masuk dalam satu keluarga batih dan dikatakan masih memiliki ikatan yang kuat,
Puslitbang Kesos

7

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

dapat mempersatukan kelompok mereka yang ditandai dengan adanya hak dan kewajiban antar anggota kerabat. Hak dan kewajiban anggota kerabat tersebut dapat dilihat dalam pola perkawinan, perawatan orang tua dan upacara kematian. • Dalam Pola Perkawinan: sebagian besar penduduk mengikuti aturan Agama Islam, misalnya dilarang oleh penduduk apabila terjadi perkawinan: (1) antara anak laki-laki dan perempuan sesama saudara laki-laki sekandung; dan (2) perkawinan antara bapak dengan anak perempuannya. Tetapi jika terjadi perkawinan sepupu silang, yakni perkawinan antara anak laki-laki antara saudara sekandung laki-laki perempuan boleh dilakukan, karena hal tersebut dianggap bukan saudara sedarah seperti halnya dengan anak saudara laki-laki seayah. • Dalam Pola Perawatan Orang Tua (lanjut usia). Jika salah satu orang tua atau salah satu anggota keluarga sakit maka seluruh anggota keluarga dilibatkan untuk membantu dan menanggung biaya perawatan yang telah dimusyawarahkan secara bersamasama. Akan tetapi untuk perawatan sehari-hari perawatan ditanggung oleh anak yang tinggal serumah, dan nantinya mewarisi tempat tinggal orang tuanya. • Dalam hal kematian, pelaksanaan penguburan baru bisa dilaksanakan setelah anggota keluargganya kumpul terutama dua generasi ke atas dan ke bawah. yakni: anak-anak, saudara kandung, paman, bibi dari bapak maupun ibu. Jika ada peristiwa kematian maka semua warga masyarakat terlibat, baik dalam upacara pemakaman ataupun dalam pesta kendurinya/membaca doa. Untuk keperluan membaca doa dalam kenduri, keperluan untuk selamatan/kenduri setiap kepala keluarga akan memberikan sumbangan sesuai dengan kedekatan hubungan antara kepala keluarga dengan keluarga yang mengalami kematian.
3. Pranata Ekonomi

Keluarga-keluarga pada masyarakat Sebatik Barat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, terutama pangan merupakan tanggung jawab bersama antara suami istri. Kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari lingkungan sekitar dan dapat juga dari

8

Puslitbang Kesos

Sebagian dari mereka juga sudah mengenal sedikit model pertanian modern. Pedagang pasar tersebut sebagian besar berasal dari Nunukan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. walupun masih ada juga nelayan tradisional. linggis. selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut. dan hasil tangkapan ikan/ nelayan. seperti memakai pupuk kimia. Nunukan luar desa. dan tidak ada lagi sistem pertanian dengan cara ladang berpindah. pestisida dan adanya benih unggul. Mereka berkeliling ke desa-desa sesuai dengan jadwal pasar pada desa yang bersangkutan. Hasil tangkapan ikan dan hasil pertanian umumnya mereka jual ke Malaysia atau di pasar-pasar tradisional yang ada di Puslitbang Kesos 9 . dimana hasil dari mata pencaharian tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. Jadi untuk mencari nafkah bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang suami. seperti parang. dan tidak disiapkan kandang dan pakan secara khusus. Pasar yang biasa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian/ tangkapan ikan dan membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari adalah pasar tradisional yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. istripun juga sangat berperan untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga. sesuai dengan mata pencaharian penduduk. Pasar pada masing-masing desa hanya aktif satu kali dalam satu minggu. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya diperoleh dari warung-warung yang ada di lingkungannya. Kebutuhan sayuran penduduk sehari-hari diperoleh dari penduduk setempat yang berdagang keliling membawa sayuran hasil kebunnya. Sistem pertanian penduduk Sebatik umumnya sudah menetap. dengan cara menjual hasil ladang. Namun demikian dari segi peralatan kerja umumnya masih menggunakan peralatan sederhana. misalnya untuk Desa Setabu pasar aktif pada hari minggu. Perkebunan dan perikanan sudah mulai terarah dengan cara modern yakni dengan cara membuat keramba terapung. Walaupun sebagian besar wilayah Kecamatan Sebatik Barat adalah hutan. Sedangkan dalam hal peternakan masih bersifat tradisional. ternak mereka masih dibiarkan berkeliaran di kebun atau di jalan-jalan desa. Pasar-pasar ini merupakan pasar keliling yang secara rutin mempunyai jadwal di tiap desa. namun hutan tersebut merupakan hutan lindung yang tidak diperkenankan untuk dikerjakan sebagai lahan pertanian penduduk. pacul dan kampak.

tampaknya masyarakat masih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi daripada kesadaran sebagai WNI. Jenis pisang di wilayah ini bagi masyarakat setempat dikenal dengan nama “pisang sanggar” (pisang goreng). karena biaya yang mahal dan belum lancarnya trasportasi umum. pertama karena kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan secara turun menurun untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk negara tetangga. Setelah permintaan kopi dan harganya anjlok masyarakat mulai beralih pada tanaman coklat. 10 Puslitbang Kesos . Potensi dan Sumber Alam Berdasarkan informasi tokoh masyarakat setempat. di Sebatik pernah dikembangkan tanaman kopi terutama saat permintaan kopi dari negara tetangga cukup besar. apalagi pada musim penghujan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. hasil coklat dan pisang banyak dijual ke negara tetangga Malaysia (Tawao). Menurut masyarakat setempat. Kebun coklat dan pisang tersebut cukup luas dan memberikan hasil cukup besar bagi masyarakat Sebatik Barat. Sebelum masyarakat mengembangkan tanaman coklat. Kenyataan yang ada saat ini. adalah dari kebun coklat dan pisang. yakni sumber minyak bumi. Sumber alam yang sudah diolah saat ini adalah tanah pertanian/perkebunan. Bahkan di antara mereka ada yang pernah tinggal dan punya kerabat yang berada di Malaysia dan mempunyai Identity Card (ID) Malaysia. Kedua.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Mereka jarang membawa dan menjual barang dagangannya ke Nunukan. karena umumnya disajikan dengan cara digoreng. Jalan penghubung antar kecamatan kondisinya rusak. Ada bebarapa hal yang mendorong mereka melakukan hal itu. di Sebatik sebenarnya terdapat sumber alam yang dapat mendukung kemajuan wilayah. Hal ini tampaknya merupakan salah satu ciri masyarakat di daerah perbatasan. dari segi transportasi dan jarak serta waktu tempuh ke Tawao relatif lebih murah dan mudah dibandingkan ke Nunukan. Ketiga. Hasil yang diperoleh saat ini dari pengolahan tanah yang merupakan hasil pertanian/perkebunan rakyat. infrastruktur untuk jalur transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Nunukan sekitar wilayah Sebatik Barat. namun demikian hingga kini belum ada upaya untuk ekspolitasi sumber tersebut. pisang sanggar tersebut biasa dikenal sebagai pisang “kepok”. Untuk masyarakat Jawa.

Kondisi yang demikian menjadikan penduduk Sebatik tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat negara tetangga. Masalah Ketertinggalan Sebatik merupakan pulau terluar dan terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu sebelah Utara Wilayah Malaysia (Sabah). Pada sisi lain. ada ketergantungan masyarakat dengan negara tetangga. Hal ini tampak dari informasi yang diperoleh bahwa beberapa penduduk Sebatik. Sementara itu. Masalah-masalah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. dan masalah potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang belum menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. Masalah-masalah kesejahteraan sosial yang biasanya terkait dengan daerah tertinggal antara lain rendahnya kemampuan ekonomi. rendahnya pendidikan. akses komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Alasan mereka adalah untuk kemudahan hubungan dengan masyarakat negara tetangga yang dirasakan memberikan banyak keuntungan. Mereka akan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi daripada memperhatikan kedudukannya sebagai warga negara Indonesia. Demikian pula yang terjadi di Sebatik Barat. Pada satu sisi. dan rendahnya kualitas hidup. yakni masalah ketertinggalan. misalnya dalam pemasaran hasil dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga. Nunukan Permasalahan Sosial Hasil penelitian ini mengidentifikasi ada tiga besaran permasalahan sosial di Sebatik Barat yang mendorong munculnya berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. masalah infrastruktur yang kurang memadai.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Masalah yang terkait dengan rendahnya Puslitbang Kesos 11 . penduduk Sebatik mendapat imbas kemajuan ekonomi dari penduduk negara tetangga. baik pembangunan fisik maupun non fisik. Hal ini menjadikan Sebatik Barat tertinggal dalam berbagai pembangunan. tampak dari besarnya populasi keluarga kurang mampu (kecuali miskin). terutama yang dekat dengan perbatasan mempunyai ID ganda. sehingga sebagian besar penduduk seolah-olah kurang menyatu dan berinteraksi secara intensif dengan penduduk lainnya di wilayah Indonesia. Ketergantungan masyarakat pada negara tetangga dapat mengurangi rasa kebangsaan dan nasionalisme. dan sebelah Selatan Wilayah Indonesia (Provinsi Kalimantan Timur).

Ada beberapa jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang hampir ada di setiap desa. partisipasi iuran warga. keterlantaran. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin Aji Setabu Kuning 14 22 38 8 10 4 8 47 45 57 31 6 13 7 3 3 9 7 58 346 1 2 38 674 Desa Binalawan 19 37 8 7 27 173 Liang Bunyu 2 5 10 58 11 13 5 30 228 Jml 14 62 18 17 121 183 38 20 8 3 23 461 3 1. yaitu keluarga miskin.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Meskipun tidak semua keluaga miskin berkaitan dengan kondisi rumah. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. wanita rawa sosial ekonomi. Nunukan kemampuan ekonomi tampaknya cukup besar. penyandang cacat. dan rumah tidak layak huni. Penjelasan dari kasus dimaksud adalah bila kita lihat pada status rumah atau kepemilikan rumah. lanjut usia. dan penyediaan rumah yang layak huni. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tiap Desa di Kecamatan Sebatik Barat. Tabel 2. seperti rumah tidak layak huni. Namun demikian dapat dikatakan bahwa penduduk miskin Sebatik Barat untuk pemenuhan kebutuhan pangan belum merupakan hal yang serius (belum kritis). umumnya bertempat di rumah yang layak huni. Masalah-masalah tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kemiskinan. tetapi miliki kerabat atau warisan dari orangtuanya. Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar Penyandang Cacat Cacat Bekas Sakit Kronis Pengemis Eks Napi Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak layak Huni Kel. dan wanita rawan sosial ekonomi. Beberapa kasus keluarga miskin menunjukkan bahwa mereka menempati rumah yang bukan milik sendiri. Kemiskinan yang mereka alami adalah kekurangmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan lainnya. fakir miskin.113 12 Puslitbang Kesos . misalnya pendidikan keluarga. namun beberapa kasus keluarga miskin di Kecamatan Sebatik Barat.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. namun dengan berkurangnya dan bahkan berhentinya permintaan kopi dari negara tetangga menjadikan harga kopi anjlok. Dampaknya adalah sebagian besar mereka membabat kebun kopi untuk diganti dengan tanaman lainnya. Sumber laut Sebatik (perikanan) sebenarnya cukup memberikan harapan. yang dalam bahasa daerah/lokal disebut tatamba. Oleh karena itu. sarana pendidikan. Hambatan yang dialami untuk memperoleh pendapatan tinggi dari sektor pertanian. dengan jumlah dokter masing-masing satu orang. Tatamba Puslitbang Kesos 13 . dan sarana kesehatan. Hal ini merupakan permasalahan sendiri bagi penduduk Sebatik Barat dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat. Menurut penduduk Sebatik. tapi dengan konsekuensi harus menjual tangkapannya kepada mereka. atau membiarkan kebun kopinya tidak terurus. penduduk mengalami hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang ada. Dengan demikian. sehingga kalah bersaing dengan nelayan dari negara tetangga. kasus komoditi kopi yang pernah memberikan penghasilan cukup besar. dan kopi. komunikasi. yakni satu Puskesmas di Desa Setabu dan satu Puskesmas di Desa Aji Kuning. 2. seperti sarana perhubungan. coklat. Prasarana dan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Barat saat ini hanya ada dua puskesmas. namun penduduk setempat masih menggunakan perahu tradisional ukuran kecil dan dengan peralatan yang sederhana. selama peneliti ada di lokasi tidak melihat adanya hasil laut yang berlimpah di pasar/warung lokal. banyak penduduk Sebatik Barat yang masih mengandalkan pengobatannya pada bantuan dukun melalui cara-cara tradisional. Nunukan Hal yang menguntungkan bagi masyarakat Sebatik adalah kondisi tanah yang relatif subur. terutama kurangnya posisi tawar dengan konsumen di negara tetangga. Beberapa nelayan memperoleh peralatan dan modal dari penduduk negara tetangga. petani hampir tidak pernah dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. penyediaan air bersih. menghasilkan komoditi pertanian yang cukup besar seperti pisang. Oleh karena itu. Bahkan terkesan sulit memperoleh ikan dari pasar lokal. Masalah Keterbatasan Infrastruktur Sebatik sebagai wilayah yang tergolong daerah tertinggal mempunyai keterbatasan infrastruktur.

penduduk harus mengangkut air dari sumber tersebut bagi kebutuhan rumahtangganya. Sebagian jalan-jalan di Sebatik terutama pada musim penghujan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. butuh (kemaluan) tupai. yakni mobilitas penduduk antar desa/kecamatan sangat terbatas. Untuk itu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. lalu diminum. Oleh karena itu. Jalan aspal baru mencapai jarak sekitar 2 km di Desa Setabu (ibukota kecamatan). misalnya pengobatannya dengan cara mengunyah pucuk daun jambu dan nangka. dan dekat dengan laut menyebabkan kualitas air tanah maupun air pemukaan sangat rendah. cabe rawit. sedikit sumber air. Tabel 3. Sumber air bersih utama masyarakat saat ini adalah air hujan. Sarana jalan darat yang ada di Sebatik. Menurut mereka si sakit sembuh karena izin dari Allah. 14 Puslitbang Kesos . 3. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No 1. Sementara itu. Kondisi seperti itu menjadi permasalahan tersendiri bagi penduduk Sebatik. sumber air bersih yang ada meskipun rendah kualitasnya adalah sumur umum dekat sungai yang mulai mengering. 5. Beberapa cara tradisional lainnya masih sering dilakukan penduduk. 7. Sehingga pada musim kemarau penduduk mengalami kekurangan air bersih. penduduk Sebatik mengalami permasalahan dalam penyediaan air bersih. 6. termasuk masalah pengangkutan hasil pertanian/perkebunan penduduk. 4. Jenis Fasilitas Puskesmas Polindes Posyandu Dokter Perawat/Mantri Bidan Dukun Desa Setabu 1 4 1 5 3 2 Aji Kuning 1 4 1 1 Binalawan 1 3 9 Liang Bunyu 1 4 1 1 7 Jml 2 2 15 2 6 5 18 Kondisi tanah yang berbukit-bukit. jumlah sarana angkutan umum yang ada masih terbatas dan dengan biaya yang cukup mahal. Nunukan juga merupakan kebiasaan adat (ritual) pengobatan bagi penduduk yang terkena bisa ular. Saat tidak ada hujan. baik jalan antar kecamatan maupun antar desa sebagian besar berupa jalan darurat (jalan tanah dan pasir batu). merebus akar alang-alang. tenung yaitu cara penyembuhannya disembur dengan air putih yang sudah diberi doa. 2.

makin banyak penumpang akan semakin murah biayanya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Kondisi seperti ini menyebabkan banyak penduduk yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah. 2. hanya beberapa anak. dan dengan jumlah yang terbatas. sekolah lanjutan pertama (SMP) hanya ada dua yakni satu di Desa Setabu dan satu di Desa Aji Kuning. Untuk ke Nunukan sekali jalan beaya yang harus ditanggung per orang antara Rp..tergantung dari banyaknya penumpang. Jaringan/siaran televisi dan Puslitbang Kesos 15 . Jenis Fasilitas Pendidikan TPA Sekolah Dasar SLTP Kejar Paket A. Sementara ini. 3. Sarana Pendidikan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. dari segi pendidikan penduduk Sebatik Barat sebagian besar rendah (hanya mencapai tingkat Sekolah Dasar. Sehingga bagi anak-anak penduduk desa lainnya harus menempuh jarak cukup jauh bila ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP. Untuk wilayah Sebatik Barat.s/d Rp. 4.000. Sarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas. Kepemilikannya juga masih terbatas pada penduduk yang tergolong cukup mampu. penduduk banyak menggunakan sarana telepon seluler yang jaringanya masih terbatas. beberapa desa hanya mempunyai sekolah sampai SD. Nunukan Saat ini angkutan laut (perahu motor) ke Nunukan tiap hari umumnya hanya dua trip (berangkat pagi dan pulang siang hari). Oleh karena itu. 1. Dengan demikian. Sekolah lanjutan atas negeri hanya ada di Nunukan.000. khususnya dari golongan mampu yang dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 10. Saat ini sekolah lanjutan atas baru ada di Kecamatan Sebatik Timur. baik karena masalah jarak lokasi maupun kemampuannya yang terbatas. B Jumlah Desa Setabu 3 1 1 5 Aji Kuning 1 3 1 5 Binalawan 4 1 5 Liang Bunyu 2 1 2 5 Jml 10 11 2 2 25 Saran komunikasi telepon kabel dan telepon umum di wilayah Sebatik Barat hingga saat ini belum tampak kehadiranya.. 20. Tabel 4. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Nunukan untuk menciptakan sarana perhubungan yang relatif mudah dijangkau masyarakat dan dengan frekuensi yang cukup memadai. yakni sekolah milik swasta.

Kelompok pemuda ini pada umumnya memiliki kegiatan edukatif. dan usaha ekonomis produktif. Kelompok ini dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa dari pemerintah. dan secara fungsional berada dalam pembinaan Departemen Sosial. Nunukan radio sebagian sudah dapat ditangkap penduduk meskipun masih terbatas. kelompok ini beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang memiliki anak balita. tabungan. Masalah Pontensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial merupakan hal yang penting dalam menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. Inisiasi pembentukan Karang Taruna oleh masyarakat. • Karang Taruna/kelompok pemuda. dengan usia berkisar antara 19 tahun sampai dengan usaia 40 tahun.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana serta peningkatan gizi keluarga. Dusun. Tujuan kelompok ini adalah peningkatan kesejahteraan keluarga melalui berbagai kegiatan seperti arisan. maka dapat menghambat masuknya informasi nasional dalam kehidupan masyarakat Sebatik. Kelompok ini merupakan organisasi pemuda pada tingkat lokal. simpan pinjam. Jenis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mencakup kelompok/lembaga sosial dan perorangan dapat dijelaskan seperti berikut: • Perkumpulan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Tujuan kelompok ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. ekonomis produktif dan 16 Puslitbang Kesos . Lembaga ini mempunyai jangkauan wilayah berjenjang dari tingkat Rukun Tetangga. Kecamatan. gotong royong. beranggotakan kaum wanita terutama ibu rumahtangga. Desa. Kelompok ini dibentuk atas prakarsa pemerintah. menimbang balita. Kabupaten dan Provinsi. Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan balita. Anggotanya sebagian besar remaja dan beberapa orang dewasa. 3. • PKK. Bila siaran televisi Indonesia tidak lebih kuat. Namun demikian masuknya jaringan/siaran televisi asing (negara tetangga) tampaknya tidak bisa dihindarkan mengingat letaknya yang cukup dekat. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ini dapat berwujud lembaga sosial maupun individu-individu yang peduli terhadap usaha-usaha kesejahteraan sosial.

Pembentukannya oleh inisiatif pemerintah dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial. • Kelompok Tani dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa pemerintah dalam upaya peningkatan hasil pertanian. kelompok maupun bersama dalam wadah lembaga sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungannya. • Kelompok kesenian terdiri dari sekumpulan warga masyarakat yang mempunyai minat dan bakat dibidang kesenian baik itu kesenian tradisional maupun modern. Kelompok ini beranggotakan para petani dan memiliki kegiatan mulai dari pengolahan tanah. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi dengan warga masyarakat setempat menunjukkan bahwa kondisi PSM dan KT di Sebatik Barat Puslitbang Kesos 17 . Namun demikian kondisi saat ini sebagian besar tampaknya kurang aktif. Mereka bekerja secara mandiri. bertanam sehingga diperoleh peningkatan hasil pertanian. Kelompok ini memiliki kegiatan latihan rutin dan pentas untuk mengisi acara permintaan atau acaraacara tertentu. misalnya pada upacara pernikahan dan peringatan hari-hari besar nasional. merupakan individu-individu yang berasal dari masyarakat setempat. umumnya beranggotakan sejumlah Kepala Keluarga dari etnis tertentu. • Pengajian/majlis taklim dibentuk oleh masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi kaum muslim. Kegiatan kesenian tradisional yang terkenal adalah tarian “Jepin” yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. Kelompok ini dibentuk masyarakat merupakan wadah silaturahmi. Arisan ini digunakan sebagai sarana tukar informasi dan saling memberikan pemikiran tentang permasalahan yang dihadapi anggota. Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat setempat. Nunukan rekreatif. • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat. Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan pengajian dan pembinaan mental keagamaan. • Arisan keluarga.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

Oleh karena itu. Beberapa upaya pemerintah yang masuk ke Sebatik berdasarkan informasi tokoh-tokoh setempat. Panti-panti sosial yang ada di Kabupaten Nunukan jumlah maupun jangkauannya masih terbatas. adalah upaya pemberdayaan keluarga 18 Puslitbang Kesos . Nunukan saat ini dapat dikatakan kurang aktif lagi. terutama karena faktor lokasi yang sulit dijangkau dan dukungan lainnya yang masih terbatas. dan minimnya sumber dana maupun informasi yang mereka miliki. Upaya yang Telah Dilakukan Bila memperhatikan data PMKS seperti telah dikemukakan sebelumnya. Penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kecamatan Sebatik Barat saat ini masih kekurangan sumber yang dapat diakses oleh mereka. Organisasi-organisasi sosial lokal saat ini mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. Sehingga banyak penyandang masalah yang tidak memperoleh pelayanan yang memadai. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Pembinaan terhadap kelompok-kelompok sosial masyarakat di Kabupaten Nunukan dapat dikatakan masih sangat rendah. Apalagi panti-panti rehabilitasi sosial atau lembaga rehabiliasi sosial lainnya bagi penyandang cacat saat ini belum ada di wilayah Kabupaten Nunukan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. Sementara itu organisasi-organisasi sosial yang ada di Kabupaten Nunukan belum menjangkau wilayah Sebatik. upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat akan selalu terkait dengan upaya peningkatan dari segi ekonomi atau pendapatan penduduk. Hal ini antara lain disebabkan kondisi SDM yang relatif rendah (sebagian besar pendidikan SD). Hal ini menurut mereka disebabkan kurangnya bantuan dan pembinaan dari pemerintah terhadap sumber-sumber tadi. Saat ini tampaknya PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial lepas dari perhatian Kantor Sosial setempat. dapat dikatakan bahwa permasalahan sosial yang ada erat kaitannya dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam kegiatan pembinaan.

menjadikan wilayah ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. Masalah kesejahteraan sosial yang cukup menonjol adalah kemiskinan. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Masalah-masalah ini sebenarnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Masalah kesejahteraan sosial umumnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Upaya penduduk sendiri untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial dilakukan melalui kelompok-kelompok yang mereka bentuk. Kesimpulan dan Saran Program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. pendidikan. arisan. wanita rawan sosial ekonomi. Nunukan miskin berupa bantuan stimulan ekonomi produktif melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan perbaikan rumah penduduk. dan kelompok-kelompok yang berbasis RT. seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Karang Taruna (KT) saat ini kurang aktif melaksanakan fungsinya. dan akses pada pendidikan yang lebih tinggi terbatas. Hingga saat ini belum terlihat peran LSM/Orsos dalam usaha kesejahteraan sosial. misalnya peranserta LSM/ Orsos dan peran pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini antara lain karena kurangnya pembinaan dari pemerintah setempat terhadap sumber-sumber tersebut. Dari hasil observasi tampaknya KUBE tersebut tidak lagi terlihat kegiatannya. Tampaknya penanggulangan masalah kesejahteraan sosial di Sebatik Barat masih memerlukan campur tangan dari luar. seperti kelompok kematian. Namun demikian masih sangat terbatas kualitas maupun jangkauannya. transportasi dan komunikasi. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial tampaknya lepas dari perhatian Puslitbang Kesos 19 . Hal ini antara lain disebabkan kurang/tidak adanya pembinaan secara rutin dari penyelenggara program/kegiatan. masalah rumah tidak layak huni. menjadikan mobilitas penduduk antar desa/ kecamatan sangat terbatas.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial setempat. terutama sarana air bersih. dan keterlantaran. Masih minimnya infrastruktur yang ada.

dan transportasi/perhubungan dalam pulau dan antar pulau. diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. d. khususnya pendidikan formal diperlukan sarana pendidikan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. c. Nunukan pemerintah setempat. antara lain lembaga pelayanan dalam bentuk panti rehabilitasi sosial. Guna memacu kemajuan kehidupan masyarakat Sebatik. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. komunikasi. serta peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal agar mampu berperan dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial. maka diperlukan program-program yang terpadu antar instansi (Dinas-Dinas). Untuk itu. Sejalan dengan upaya ini. terutama sarana pendidikan. Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. Program-program sektor sosial yang diperlukan adalah upaya pemberdayaan penduduk miskin. buku-buku pelajaran dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak terlantar. Organisasi-organisasi sosial lokal mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. b. 20 Puslitbang Kesos . Mengingat keterbatasan lembaga pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. pemerintah daerah setempat perlu secara berkesinambungan melakukan pembaharuan data permasalahan kesejahteraan sosial. perbaikan lingkungan dan perumahan. agar dengan demikian pemerintah daerah akan selalu mempunyai data yang akurat dan up to date bagi perencanaan pembangunan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. antara lain: a. Diharapkan dengan mudahnya akses pendidikan dan transportasi/perhubungan bagi penduduk akan mempunyai dampak terhadap peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat. maka perlu dipertimbangkan oleh pusat maupun pemerintah daerah (Instansi Sosial) untuk mendirikan pantipanti rehabilitasi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Profesi Pekerja Sosial. maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu lebih ekstra membangun wilayah yang bersangkutan. Jakarta. Pusdatin. Taliziduhu. Untuk itu. Dengan demikian. Puslitbang Kesos 21 . mempunyai posisi strategis terhadap kesatuan wilayah NKRI. 2004. 1991. Monografi Kecamatan Sebatik Rudito. Pembangunan Masyarakat. Bambang dkk. Departemen Sosial. Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2002. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. STKS Press Kecamatan Sebatik Barat. Rineke Cipta. diharapkan tidak lagi menjadi daerah tertinggal dan menjadi salah satu daerah perbatasan yang dapat diandalkan Pemerintah RI. Wilayah Sebatik yang berbatasan langsung dengan negara lain. 2002.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Ndraha. 1990. Jakarta. baik fisik maupun non fisik. Bandung. Nunukan e. 2002. BPS. ICSD. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Nunukan dengan BPS Kabupaten Nunukan. Nunukan. Bandung. 2005. Dwi Heru Sukoco. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas.

tidak mampu membiayai pendidikan anak. kurang harmonis. biasanya terkait dengan masalah-masalah ekonomi. anak usia 15 – 21 tahun. 5. sering mengkonsumsi alkohol. Jenis PMKS Balita Terlantar Kriteria anak usia 0 – 5 tahun. Eks Napi Keluarga Fakir Miskin 3 23 12. Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar 17 121 6. yatim atau yatim piatu. keluarga dengan penghasilan tidak tetap. wanita. Anak Nakal 18 4. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Jumlah 14 2. laki-laki atau perempuan usia 60 tahun ke atas. janda. atap dari daun atau dari seng tapi rusak. cacat bawaan atau karena kecelakaan. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarga. 9. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin 461 3 1. 1. keluarga kurang mampu memberikan pelayanan. seperti stroke. Penyandang Cacat Cacat Bekas sakit Kronis Pengemis 38 8. Rumah Tidak layak Huni Kel. hanya mampu mendapatkan pendidikan sampai SD. kondisi ekonomi kurang mampu. mempunyai tanggungan anak usia sekolah. cacat akibat penyakit. Dinding tidak sempurna. tergantung pada bantuan orang lain. sering menggunakan obat-obat terlarang. keluarga dengan penghasilan tetap. suami isteri sering bertengkar.113 22 Puslitbang Kesos . berasal dari keluarga kurang mampu. dan mengganggu orang lain/lingkungan. mengalami hambatan dalam beraktivitas. tidak punya pekerjaan tetap. Nunukan Lampiran 1 Jenis PMKS dan Kriteria Menurut Masyarakat Lokal di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. banyak yang bolong. orang dewasa. usia produktif. mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas seharihari. rumah darurat atau kondisinya kurang sempurna. hidupnya tergantung dari bantuan orang lain.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. tidak produktif lagi. 11. dan kurang atau tidak terpenuhi kebutuhannya secara memadai. 13. menderita cacat karena bawaan atau kecelakaan. orang dewasa. orangtua tidak mampu secara ekonomi. hanya mampu membiayai pendidikan anak pada tingkat SD. 183 7. tidak mempunyai pekerjaan tetap. lantai tidak sempurna/lantai kayu banyak yang rusak. 14. katarak dsb. dan kurang sehat. sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. anak-anak atau dewasa. anak usia 6 – 21 tahun. Anak Terlantar 62 3. pendidikan keluarga paling tinggi SD. anak usia 6 – 12 tahun. telah selesai menjalani hukuman karena pelanggaran lalu lintas. orang dewasa. 20 8 10.

Peta Wilayah Desa Aji Kuning 2. Peta Wilayah Desa Binalawan Puslitbang Kesos 23 .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan Lampiran 2 PETA WILAYAH 1.

Peta Wilayah Desa Liang Bunyu 24 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan 3. Peta Wilayah Desa Setabu 4.

Penelitian dilakukan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang dipilih berdasarkan keragaman masalah sosial dan potensi yang dimiliki. yang dapat dijadikan acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. Kriteria permasalahan sosial serta potensi. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. diungkapkan dalam hasil penelitian ini berdasarkan pandangan masyarakat lokal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka miliki. M.Si. Indah Huruswati 2 ABSTRAK Kabupaten Pulang Pisau merupakan sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas yang diresmikan pada tahun 1999. Indah Huruswati. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. Pemerintah Daerah berupaya menata kembali sistem administrasi wilayahnya. dilakukan melalui penelitian kerjasama antara Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial . Endang Kironosasi. Moch.Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2006 lalu. MSc. serta masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak. keluarga rentan dan keluarga berumah tidak layak huni. dengan tim penelitian Drs.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH1 Dra. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Syawie. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa permasalahan sosial yang paling menonjol adalah masalah fakir miskin (kemiskinan). Dampak dari pemekaran tersebut. salah satunya adalah dengan menyediakan data dasar (database) yang akurat dan reliable tentang permasalahan sosial serta sumberdaya. Upaya penyediaan database tersebut. Dra. Kabupaten ini dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. selain juga anak terlantar. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten ini dapat terwujud secara tepat sasaran dan tepat guna. Badiklit Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos 25 .Departemen Sosial RI dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . Peneliti Muda pada Puslitbang Kessos. Kata kunci: Permasalahan Sosial 1 2 Tulisan ini diangkat dari penelitian Diagnosis Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah.

Pulang Pisau Pendahuluan Sejak dicanangkannya otonomi daerah yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang No. Dalam kaitan dengan penataan kembali wilayah pemekaran ini tentunya memerlukan data dasar (database) yang akurat dan reliable sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program pembangunan di wilayah tersebut. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. 32 tahun 2002) tentang Pemerintahan Daerah. ekonomi dan alam yang bercirikan masyarakat lokal. Dampak dari pemekaran tersebut. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. dengan kurangnya data dan peta permasalahan sosial. Terkait dengan Pemerintah Pusat. tentunya akan berpengaruh pada program pusat yang dampaknya tidak mampu mengakomodir kebutuhan daerah. sumber daya sosial. Sementara itu data dasar (database) mengenai permasalahan sosial serta peta sumberdaya yang ada di wilayah yang bersangkutan belum dimiliki oleh Pemerintah Daerah setempat. terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di Indonesia.22 tahun 1999 (yang diperbaharui menjadi UndangUndang No. Padahal segala permasalahan sosial dapat diatasi secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliable. sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya serta dapat berlangsung secara berkesinambungan. Tentunya berdampak pada perubahan status administrasi pada wilayah-wilayah tersebut. kewilayahan dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam dan ekonomi. Kabupaten Pulang Pisau dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Beberapa wilayah yang semula merupakan kecamatan berubah menjadi kabupaten karena dianggap telah memenuhi persyaratan administrasi. masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak serta permasalahan lainnya. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial dan sumber kesejahteraan sosial sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan yang 26 Puslitbang Kesos . masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Pulang Pisau yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Kapuas menjadi kabupaten baru (pemekaran).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Akibat lebih lanjut adalah pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat tidak dapat sepenuhnya terjangkau.

sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna. Berdasarkan permasalahan tersebut. Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: • • • Apa dan bagaimana jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. Pulang Pisau terarah dan komprehensif.Kalimantan Tengah melakukan Penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial ini. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. ekonomi dan alam sebagai data dasar di lokasi penelitian. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Bagaimana kriteria dan karakteristik penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait. sebagai langkah awal upaya identifikasi sekaligus menemukenali secara lebih dalam permasalahan yang dihadapi daerah. Tersedianya data yang akurat dan reliable akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Program kesejahteraan sosial apa saja yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Pulang Pisau? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya data kualitatif tentang jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. (2) diperolehnya data kualitatif tentang kriteria dan karakteristik penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. (3) diperolehnya gambaran mengenai lokasi dan peta penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. sehingga menjadi rentan terhadap masalah Puslitbang Kesos 27 . ekonomi dan alam di lokasi penelitian. dan (4) diperolehnya gambaran tentang programprogram penanggulangan permasalahan sosial yang pernah dilaksanakan di lokasi penelitian. Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial – Departemen Sosial RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau .

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. diobservasi. simptom dan hasil pelbagai langkah diagnostik. bisa termasuk intervensi pemerintah. Sedangkan 28 Puslitbang Kesos . Pulang Pisau kesejahteraan sosial. kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi. Metode Penelitian Penelitian diagnostik yang dilakukan merupakan proses mengenal pasti penyakit melalui tanda penyakit. kesenian. gotong royong dan sebagainya. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi pemecahan masalah. Untuk mempertahankan kehidupannya. Diharapkan dengan pendekatan ini diperoleh suatu gambaran bagaimana pelaku dalam komuniti memandang dan memahami gejala sosial yang tampak. lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. Sumber data terdiri dari : (1) data primer yaitu perorangan atau individu. Penyakit yang dimaksud di sini adalah permasalahan sosial yang ada di masyarakat. 1985) Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut. dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. digunakan pendekatan kualitatif yang tujuannya adalah untuk memahami kondisi serta pemahaman sekelompok orang dalam satu kelompok sosial. ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat (Dove. Untuk mengenal pasti permasalahan sosial yang ada. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. dicatat dan dianalisa. keagamaan. yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental. politik. (2) data sekunder yaitu literatur. Kesimpulan yang didapat melalui proses ini dikenali sebagai diagnosis. masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. kelompok. Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alam. sumber daya manusia. Dalam kaitannya dengan faktor eksternal.

Kalimantan Tengah. terutama pada sektor kehutanan dan sektor lain seperti pertanian dan peternakan yang turut menyumbang potensi cukup besar sejak dari tingkat desa. baik yang tergolong sebagai penduduk lokal yang terdiri dari sukubangsa Puslitbang Kesos 29 . sebagian wilayahnya terdiri dari lahan gambut (277. Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pulang mempunyai wilayah seluas 8. baik dari jenis kelamin maupun jenis pekerjaan yang ada. Secara umum wilayah Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang lumayan besar. khususnya di Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku.300 hektar). Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang menjadi lokasi penelitian ini. Pulang Pisau pengumpulan informasi dilakukan selain melalui pengamatan (observasi). penelusuran dokumen dan bahan-bahan visual. Sebagian kecamatan Maliku sebelum ada pemekaran merupakan bagian dari kecamatan Pandih Batu. 83 desa definitif. dan 1 kelurahan. penyandang masalah sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial. diskusi. jarak dari desa-desa ke ibukota Kecamatan antara 7 km sampai 30 km yang dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten) maupun jalan air (Sungai Kahayan) dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat. dengan waktu tempuh sekitar 4 – 6 jam.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. dimana komposisi penduduknya berasal dari ragam sukubangsa dan agama. kriteria penduduk sebagai penyandang masalah sosial. Karakteristik penduduk di dua kecamatan memiliki sifat heterogen. Sementara itu. juga wawancara. lokasi. berjarak paling jauh sekitar 56 km sampai 75 km dari Ibukota Kabupaten. Sasaran penelitian adalah penduduk yang menetap di daerah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau. Kabupaten ini meliputi 8 wilayah kecamatan.997 km² atau 899.700 ha.

tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Jawa dan Sunda. terutama para penduduk asli. Begitupun dengan pola pemukiman penduduk umumnya relatif sama yaitu mengelompok di tengah lahan wilayah desa. dan umumnya didirikan di tepi jalan dibuat sejajar atau mengikuti aliran sungai. Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Pulang Pisau Dayak dan Banjar maupun penduduk pendatang yang terdiri dari sukubangsa Madura. Berdasarkan urutan permasalahan yang paling tinggi frekwensinya yaitu masalah yang terkait dengan kemiskinan – yaitu masalah keluarga fakir miskin. Akhirnya keluarga mereka menjadi terlantar. meninggalkan desa dengan alasan mencari nafkah di tempat lain.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di wilayah ini. yaitu terkonsentrasi di tepi sungai dan cabang-cabangnya. Pendidikan warga masyarakat di wilayah ini pada umumnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat SLTP dan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA terpaksa harus pergi keluar dari desanya. dengan atap ada yang menggunakan genteng dan daun kelapa atau rumbia. Namun memperhatikan data yang ada di kecamatan ini tampaknya relatif banyak warga masyarakat yang belum/tidak bekerja. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Rumah mereka umumnya dibuat dari kayu atau papan. Keluarga-keluarga yang 30 Puslitbang Kesos . Mata pencaharian warga masyarakat sebagian besar sebagai petani. Kondisi ini disebabkan karena sebagian warga desa (laki-laki) yang sudah menikah dalam usia muda. demikian halnya dengan lahan yang mereka miliki juga menjadi terlantar sehingga membawa akibat pada kerentanan dan kemiskinan. Mereka lebih memilih pergi merantau ke Kota Palangkaraya untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi penambang emas di Kereng Pangi. Diagnosis Permasalahan Sosial Berdasarkan hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua Kecamatan ditemukenali sejumlah permasalahan sosial yang ada yaitu 14 permasalahan sosial untuk Kecamatan Pandih Batu dan 19 permasalahan sosial untuk Kecamatan Maliku. Masalah lain yang juga relatif tinggi yaitu masalah rumah tidak layak huni dan wanita rawan sosial-ekonomi serta keluarga rentan.

Jawa dan Sunda. Kondisi lingkungan turut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. maka mereka akhirnya tidak bisa memperoleh penghasilan. baik karena keterbatasan SDM maupun teknologi yang mereka miliki. Puslitbang Kesos 31 . baik dari segi jumlah dan penguasaan teknologi. Misalnya beberapa desa di Kecamatan Pandih Batu yaitu Desa Pantik terdapat lahan tidur seluas 970 ha. karena orang tua tidak mampu memberikan kebutuhan dasar mereka. karena ibunya (orangtua) tidak mempunyai uang untuk membeli makanan bergizi. Saat ini hubungan sosial diantara mereka yang pernah terlibat konflik relatif sudah berangsur membaik. Pulang Pisau ditinggalkan oleh para kepala keluarga terpaksa harus berusaha mencari nafkah sendiri atau ikut dengan orang tua mereka. Anak-anak menjadi berhenti sekolah pada usia wajib belajar 9 tahun dan mereka tidak mendapatkan makanan bergizi. walaupun kondisi ini tetap harus diwaspadai melalui kebijakan atau kegiatan-kegiatan yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara “penduduk lokal” (Dayak dan Banjar) dengan “penduduk pendatang” yang terdiri dari para transmigran umum maupun swakarsa yang terdiri dari Madura. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa dengan tidak meratanya distribusi penduduk antar desa di dua Kecamatan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Lahan tersebut belum tergarap sebagai akibat keterbatasan SDM. Hal ini berdampak juga terhadap anak-anak mereka yang cenderung menjadi terlantar. bahkan fisik. pada satu sisi merupakan potensi. Potensi konflik antara sukubangsa menjadi semakin rawan karena pernah terjadi peristiwa konflik antara sukubangsa Dayak dan Banjar (melayu) dengan sukubangsa Madura sekitar buan Maret tahun 2001. yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan aksesibilitas antar desa dengan desa lainnya atau antar desa dengan kecamatan. Karakteristik masyarakat yang bermukim di dua kecamatan ini terdiri dari beragam sukubangsa dan agama. Keluarga-keluarga tersebut akhirnya menjadi rentan untuk masuk ke dalam kemiskinan dan bagi ibu-ibu. Namun karena keterbatasan dari kaum perempuan untuk bisa mengolah lahan. mereka menjadi rawan secara sosial-ekonomi. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan tidak dapat secara optimal dikelola dan dimanfaatkan. di Desa Pangkoh Sari terdapat lahan tidur seluas 400 ha dan di Desa Talio Muara terdapat lahan tidur seluas 391 ha. tetapi pada sisi yang lain potensial menimbulkan kerawanan konflik sosial. Sifat multi-etnik (heterogen) yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat.

sehingga melalui suatu proses tertentu keragaman karakteristik penduduk dapat saling bersinergi untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera. Program dan kegiatan yang dikembangkan melalui pemanfaatan potensi keswadayaan masyarakat (gotong-royong) menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Dengan demikian. Hal ini terutama menjadi kendala terhadap aksesibilitas antar desa maupun antara desa ke ibukota kecamatan. Kondisi geografis dan alam yang demikian belum dilengkapi dengan sarana-prasarana transportasi yang memadai. Sementara alat perhubungan (transportasi) antar desa maupun desa ke kecamatan relatif sulit dan mahal. maka mereka cenderung memanfaatkan infrastruktur fisik yang ada untuk memudahkan mereka pergi mencari nafkah ke luar daerahnya. baik aktivitas sosial maupun ekonomi masih menjadi kendala. Tanpa itu. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya menjadi tidak optimal. Tampaknya dengan melihat kondisi yang ada. misalnya untuk Kecamatan Pandih Batu tersedia satu unit Puskesmas yang tidak dilengkapi Puskesmas Pembantu di tingkat desa. Membangun kapasitas salah satunya adalah melalui pendidikan formal. Masalah keterbatasan juga terjadi pada sarana pelayanan kesehatan. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak biasanya terkendala oleh faktor kemiskinan yang menyebabkan anak menjadi putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. sementara penghasilan rumah tangga relatif rendah. Pembangunan infrastruktur fisik perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur sosial yang baik. Pulang Pisau Sementara itu bila melihat dukungan masyarakat terhadap program pembangunan seharusnya juga melihat kesiapan mereka dalam hal kemampuan mengelola dan memanfaatkannya. Tenaga dokter pun hanya satu dengan 15 tenaga medis lainnya (perawat dan bidan). Keterbatasan sarana-prasarana transportasi menyebabkan harga kebutuhan pokok sehari-hari relatif tinggi. sehingga diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat. Adanya tanah pertanian yang tidak digarap dan kegagalan upaya masyarakat memanfaatkan lahan tidur merupakan akibat pembangunan infrastruktur 32 Puslitbang Kesos . diperlukan banyak program dan kegiatan yang dapat mengakomodasi berbagai keragaman kepentingan. Aksesibilitas masyarakat dalam beraktivitas. yaitu sekolah. Melalui potensi keswadayaan masyarakat itu sendiri di samping strategis juga memiliki nilai pemberdayaan dalam rangka proses memandirikan masyarakat untuk membantu dirinya sendiri.

Pembinaan dan pelatihan dilakukan pula kepada beberapa jenis penyandang masalah sosial untuk meningkatkan keterampilan (anyaman) dan bantuan lainnya berbentuk bantuan kursi roda bagi penyandang cacat dan bantuan ternak sapi kepada lansia terlantar. Seharusnya setiap keluarga miskin/fakir miskin memperoleh beragam program bantuan. keluarga rentan. Dinas Sosial dan Dinas terkait lainnya telah melakukan upaya penanganan permasalahan sosial melalui pendataan terhadap rumah tak layak huni. baik dari aspek kebijakan. maka program bantuan yang ada menjadi kurang efektif.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Askeskin atau pun BLT-BBM. Apapun alasannya. remaja nakal dan lahan tidur. wanita rawan sosial. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan alasan bahwa alokasi bantuan kurang sesuai dengan jumlah keluarga miskin atau fakir miskin yang ada. Mencermati pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan upaya penanganan permasalahan sosial yang ada menunjukkan bahwa sasaran program kurang tepat. walaupun sebagian besar ternak sapi kini sudah mati akibat terkena wabah penyakit. Penerima Raskin yang seharusnya bisa menikmati beras enak dengan harga murah terpaksa harus menjual berasnya itu ke pasar atau ke tetangga hanya untuk membiayai SPP anaknya yang masih sekolah tetapi tidak memperoleh beasiswa berupa dana Bantuan Khusus Murid (BKM) atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Penyandang permasalahan sosial seperti fakir miskin yang cacat karena penyakit kronis (diabetes) dan memiliki beberapa anak yang tidak terawat karena masalah keterbatasan ekonomi seharusnya memperoleh program bantuan sebagai fakir miskin. Dinas Sosial Puslitbang Kesos 33 . yaitu program bantuan untuk anak terlantar. keluarga miskin atau fakir miskin tidak secara merata memperoleh bantuan Raskin. Pulang Pisau sosial-ekonomi belum dilakukan sesuai harapan masyarakat. Di Kecamatan Pandih Batu. permodalan maupun aspek teknologi tepat guna. Dalam hal ini sudah tentu pihak Pemerintah berperan penting untuk memfasilitasi. penyandang cacat akibat penyakit kronis serta program bantuan bagi anaknya. regulasi. Perencanaan akan berjalan baik bila dilengkapi dan didasari data yang akurat. Seperti penerima BLTBBM karena tidak memperoleh Askeskin. Upaya meningkatkan kesejahteraan sosial diperlukan suatu perencanaan sosial yang baik. maka dana BLT yang diperolehnya dan seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa digunakan untuk berobat.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Lansia Terlantar. Demikian pula keluarga rentan yang sampai saat ini masih dalam proses pendataan. penanganan lahan tidur sudah dilakukan melalui musyawarah desa maupun sosialisasi. Wanita Rawan Sosial. akan tetapi pelaksanaannya masih terkendala oleh kekurangan modal dan kurang kompaknya warga masyarakat. penajaman kriteria menjadi sangat penting. termasuk permasalahan sosial bagi penyandang cacat akibat penyakit kronis. tampaknya dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua kecamatan masih terlihat perbedaan dalam menentukan usia anak dan remaja. 34 Puslitbang Kesos . Anak Balita Terlantar. Di samping perbedaan kriteria. Anak Cacat. Dinas Kesehatan juga membantu memberikan pelayanan kesehatan melalui kegiatan Posling dan Posyandu kepada anak-anak terlantar. khususnya yang berada di Desa Kantan Muara berjumlah sekitar 96 unit dan di Desa Pangkoh Sari bahkan baru dalam proses pendataan. Keluarga Rentan dan sebagainya). Anak Yatim/Piatu. Fakir Miskin. Remaja Nakal. Permasalahan sosial yang belum ditangani dengan upaya-upaya tertentu adalah masalah rumah tak layak huni. Pulang Pisau melakukan program bantuan untuk Komunitas Adat Terpencil yang ada di Desa Talio melalui program pemberantasan buta aksara. Penyandang Cacat. Sementara itu. Berkaitan dengan penggunaan kriteria untuk menggolongkan jenis penyandang masalah sosial (Anak Terlantar.

Kondisi rumah / fisik bangunannya tidak layak ditempati (seperti bangunannya bocor. baik dengan orangtua/mertua/ kerabatan lainnya. Lansia Terlantar Puslitbang Kesos 35 . Banyak anak/tanggungan yang belum bekerja. 1. tidak memiliki jendela.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Usia antara 16 tahun sampai 60 tahun. 4. Status janda ditinggal mati suami atau status belum menikah. 2. Rumah Tidak Layak Huni 3. 3. dan lain-lain). 2. Wanita Rawan Sosial 4. Kepadatan hunian yang cukup tinggi (rumah ukuran 4 x 4 m dihuni lebih dari 5 orang). 5. 4. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamatan Pandih Batu No. 1. Pulang Pisau Tabel 1. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan buruk. 5. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. Ukuran bangunan rumah relatif kecil. Pengangguran atau tidak ada pekerjaan/penghasilan sama sekali. Tingkat produktifitas KK rendah. Bahan atap dari daun. 2. JENIS PMKS Fakir Miskin KRITERIA 1. ukuran rumah 4 x 4 m dengan anggota keluarga lebih dari 5 orang. 4. bahkan tidak ada sama sekali. Usia di atas 61 tahun. Hidup sendiri atau bersama kerabat/non kerabat. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. baik karena alasan ekonomi maupun alasan non-ekonomi. Penghasilan kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 1. 5. 3. tetapi kurang diperhatikan/perawatan dari sanakkeluarganya. 1. 2. 2. lantainya masih beralaskan tanah. Penghasilan kecil. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. 3. Penghasilan kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. yaitu antara 4 x 4 m atau 4 x 6 meter dan umumnya tidak memiliki penyekat ruangan. baik dengan orangtua/mertua/ kerabat lainnya. 3. Bangunan rumah tidak dilengkapi fasilitas MCK. dinding dari seng atau kayu rapuh dengan lantai tanah atau papan (jenis rumah panggung).

khususnya ada di Desa Pantik 1. Anak Cacat 12.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 1. Usia nikah sudah 10 tahun dan masih menumpang orangtua/mertua (ada di Desa Gadabung). 4. Usia antara 5 tahun sampai 16 tahun. 3. Memiliki cacat fisik/mental akibat penyakitnya itu 1. Perilaku mengganggu lingkungan atau membuat resah lingkungan. keterbelakangan mental). Komunitas Adat Terpencil (KAT) 13. Memiliki kelainan fisik dan mental. 10. 4. 6. 2. 3. Kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam satu kesatuan fisik dan sosial yang relatif kecil. Kurang pergaulan dan komunikasi 1. 1. Orangtua tergolong kurang mampu secara ekonomi. 2. 3. Kurang perawatan/perhatian orangtua. Penyandang Cacat Fisik/ Mental akibat Penyakit Kronis Anak Terlantar 11. kaki pincang. Anak Balita Terlantar Usia 0 – 4 tahun. Remaja Nakal 14. 3. Lahan ditinggal pemilik tanpa ada yang mengurus. 3. Penyandang Cacat Fisik/ Mental 9. 2. 2. Lahan tidur 36 Puslitbang Kesos . Keluarga Rentan 7. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan 1. Berasal dari keluarga tidak mampu. Keluarga muda yang baru menikah sampai 5 tahun dan kurang serasi (ada di Desa Kantan Muara). Ditinggal orangtua/satu atau kedua orangtua meninggal. Pulang Pisau 5. Usia di atas 18 tahun 1. Keterbelakangan ekonomi. 3. Usia 13 – 1 6 tahun. Mantan penderita penyakit kronis yang dinyatakan secara medis telah sembuh. 3. Masyarakatnya masih amat terikat dengan sumberdaya alam dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kurang gizi dan sering sakit-sakitan. 2. Adanya kelainan fisik/mental akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir (bisu-tuli. Kurang gizi dan kondisi sering sakit. Usia 5 – 12 tahun. 3. Usia 5 – 12 tahun dan ada pula yang menetapkan 5 – 18 tahun. 2. 1. Memiliki kelainan fisik atau mental saja 1. Lahan tidak digarap pemilik lebih dari 15 tahun. 2. 2. Fungsi jasmani dan sosial terganggu. Lokasi kesatuan fisik dan sosial yang terpencil. 2. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau paspasan untuk memenuhi kebutuhan seharihari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan. 1. 2. sehingga menghambat perekonomian/produktivitas pertanian. 4. Anak Yatim Piatu 8. Kurang perawatan orangtua karena kurang mampu secara ekonomi. pendidikan dan kesehatan.

Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamata Maliku No. 6. 7. Mempunyai pekerjaan tapi tidak tetap. pendatang yang mencari kerja di suatu tempat tidak memperoleh yang diharapkan dan menjadi masalah di tempat tersebut. sering begadang. terganggu dalam aktifitasnya. 1. dinding dari jabuk (papan lapuk).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. atap bocor. 60 tahun ke atas. kebiasaan tidak berbeda dengan orang dari lokasi lain. transportasi hanya dari sungai. lantai tanah. Sudah menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar. perilaku mengganggu dan dipermasalahkan. penghasilan tidak mencukupi. 9. tempat tinggal. Individu sejak lahir mengalami kelainan fisik dan mental serta karena penyakit kronik. kesehatan. Keluarga Fakir Miskin 15. 4. 0 – 13 tahun. laki-laki/ perempuan). Keluarga Rentan Puslitbang Kesos 37 . 5. 12. 11. dan pendidikan (jumlahnya paling besar). Remaja Laki-laki Nakal Remaja Perempuan Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Kekerasan Penyandang Cacat Tuna Susila 13. JENIS PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal KRITERIA 0 – 4 tahun. Merantau. Keluarga Berumah Tidak Layak Komunitas Adat Terpencil 17. Rumah ukuran kurang dari 4 x 4 m. 2. 5 – 13 tahun. disakiti secara fisik dan mental. 14 – 18 tahun. 18. perilaku mengganggu kebiasaan umum (tetapi tidak masalah karena masih anak-anak. 16. pakaian. kurang perawatan dari orang tua/keluarga luas (laki-laki / perempuan) 5 – 13 tahun. belum menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar baik jasmani ataupun rohani. baik barang maupun jasa. Pulang Pisau Tabel 2. Hubungan sex dengan lawan jenis berulang-ulang tanpa menikah dan tidak mengharapkan imbalan. Keluarga yang banyak masalah (sosial. ekonomi. tidak terlalu diperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan dasar oleh orang tua/keluarga luas. 8. Kelompok orang yang jauh dari keramaian. kebiasaan). 16 – 60 tahun. 16 – 60 tahun. dirampas hak-haknya (tergantung lokal). 3. Orang yang selesai menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat (stigma sama tetapi perlakuan berbeda terhadap pelaku perampokan dan menabrak orang sampai meninggal karena tidak sengaja). Kelompok orang yang tinggal di daerah secara fisik dan mental tertekan oleh proses alam dan sosial. 10. Bekas Narapidana 14. 14 – 18 tahun. mental tidak normal. fisik tidak normal. Masyarakat yang Tinggal di daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar 19. termasuk untuk kebutuhan pangan.

yang paling menonjol adalah terkait dengan kemiskinan. Hampir di seluruh desa masalah kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh warga masyarakat. Pulang Pisau Kesimpulan dan Saran Masalah yang menjadi prioritas mendapat perhatian adalah masalah fakir miskin dan keluarga miskin.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Masalah kemiskinan yang merupakan masalah terbesar di wilayah ini. sarana transportasi dan hambatan dalam upaya pengolahan lahan. Sementara untuk saat ini. Prasarana jalan ini dianggap penting karena dapat memudahkan pemasaran hasil pertanian yang sangat potensial bagi masyarakat setempat. belum diupayakan penanganannya melalui program pemberdayaan secara maksimal dan berkesinambungan. transportasi ini relatif mahal khususnya bagi warga masyarakat yang akan menjangkau wilayah lain maupun untuk memasarkan hasil pertanian dan perkebunan mereka (dalam bidang pertanian). Permasalahan lain yang ada. sarana transportasi yang utama di wilayah ini adalah sungai. Kondisi kemiskinan terkait dengan keterbatasan atau hambatanhambatan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Melihat kondisi permasalahan tersebut. Kemiskinan ini antara lain juga sebagai dampak dari gagalnya proyek lahan gambut (sejuta hektar lahan gambut). Hambatan ini menyebabkan relatif banyak lahan (lahan tidur) yang tidak dapat diolah oleh masyarakat (petani). Hal ini tentunya memerlukan komitmen dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama baik antara pemerintah dan masyarakat serta melakukan program pemberdayaan secara berkesinambungan. Program bantuan bagi keluarga miskin yang tidak seluruhnya mendapat bantuan dan yang sifatnya hanya sesaat merupakan program yang klise tetapi terus berlangsung. Demikian pula halnya dengan akses untuk mendapatkan 38 Puslitbang Kesos . rumah tidak layak huni serta Wanita Rawan Sosial Ekonomi. Sementara kondisi ekonomi keluarga menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hambatan tersebut antara lain terkait dengan infrastruktur. sehingga masyarakat harus menjangkaunya keluar desa atau kecamatan. berkaitan dengan infrastruktur jalan. mengingat bahwa lokasi ini merupakan lokasi transmigrasi. Permasalahan lain adalah keterbatasan sarana pendidikan dan transportasi yang dimiliki daerah.

Kerjasama dalam bentuk tolong menolong atau gotong royong serta semangat untuk mengolah lahan secara maksimal merupakan pranata yang dapat dijadikan sumberdaya sosial dari warga masyarakat di wilayah ini untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Sumberdaya alam yang potensial berupa lahan yang luas dan sumberdaya sosial yang dimiliki warga masyarakat (keterampilan dalam bidang pertanian dan beternak serta masih adanya rasa kebersamaan/tolong menolong) bisa merupakan modal utama dalam membangun masyarakat setempat. Puslitbang Kesos 39 . Prasarana jalan dan saluran irigasi 2. Perumahan dan Permukiman membangun prasarana jalan. bisa menjadi sumberdaya alam yang potensial jika diolah dengan baik. merupakan masalah lain yang dihadapi oleh warga masyarakat karena sarana kesehatan (Puskesmas) hanya ada di Kecamatan dan Rumah Sakit Umum di provinsi. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar Dinas-Dinas Provinsi maupun Kabupaten. Peningkatan kesejahteraan ini tampaknya tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat namun masih diperlukan peran Pemerintah Daerah setempat. sumberdaya yang masih dimiliki adalah adanya rasa kebersamaan di antara warga masyarakat. Lahan kosong yang dimiliki oleh sebagian warga. Dengan kata lain. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Pulang Pisau pelayanan kesehatan. dalam upaya mengatasi kemiskinan yang dihadapi. guna membangun wilayah ini secara ber-kesinambungan. Keterbatasan dalam hal penyediaan sarana pengolah lahan dan bibit tanaman merupakan salah satu hambatan dimana lahan yang luas akhirnya hanya menjadi lahan tidur. Mengingat lahan di wilayah ini dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman jika saja ada kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga masyarakat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. meskipun memiliki keterbatasan modal usaha namun masyarakat masih memiliki modal sosial berupa rasa kebersamaan atau tolong menolong dan semangat membangun atau mengembangkan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Dinas Teknis seperti Pekerjaan Umum. Sementara pada sisi lain. karena mereka merasa sebagai orang perantauan (transmigran). saluran irigasi dan penyediaan perumahan sosial bagi warga masyarakat miskin. diajukan saran-saran sebagai berikut: 1.

Selain itu. Masyarakat desa memiliki kemampuan yang potensial dalam hal pertanian dan peternakan. dan Lanjut Usia Terlantar. Hal ini sangat diperlukan mengingat hasil diagnosis permasalahan sosial di wilayah ini menunjukkan permasalahan sosial yang menonjol adalah masalah Kemiskinan (keluarga fakir miskin). Penyandang Cacat (termasuk Anak Cacat). Dinas Koperasi dan UKM diperlukan sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi kredit usaha kecil bagi para petani khususnya terkait dengan keterbatasan modal usaha mereka dalam mengolah lahan pertanian atau mengembangkan usaha peternakan mereka. perlu dilakukan sosialisasi pengolahan tanah yang berkesinambungan di tingkat daerah. Anak Terlantar. palawija serta karet. Dinas Sosial melalui Direktorat Fakir Miskin. Program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa diperlukan secara bersama-sama dan berkesinambungan. Misalnya program Puslitbang Kesos 4. mengingat lahan yang digarap di wilayah ini berbeda dengan lahan di Jawa. Dinas Kesehatan diperlukan berkaitan dengan penyediaan air bersih. dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Berkaitan dengan hal tersebut maka Dinas Pertanian. Hal ini seharusnya didukung dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah ini. Kehutanan. Keluarga Rentan. 6. Pulang Pisau sangat penting dan diperlukan oleh wilayah ini untuk membangun ekonomi masyarakat. Direktorat Lanjut Usia. Direktorat Pemberdayaan Keluarga. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak. perlu meningkatkan kesejahteraan melalui program perlindungan dan asuransi sosial bagi keluarga miskin. 40 . sehingga pemberdayaan dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat desa. 5. Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sangat diperlukan untuk meluncurkan program mereka ke wilayah ini. tidak sebagian-sebagian dan sesaat saja. Peternakan. Mereka siap untuk memanfaatkan sumberdaya alam (lahan) yang ada namun mereka sangat memerlukan stimulan berupa peralatan pengolah lahan dan penyediaan bibit padi. Rumah tidak Layak Huni. Demikian pula halnya dengan Dinas Sosial. Perkebunan. dapat berperan melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama dan berkesinambungan. 3.

pemberdayaan keluarga miskin tidak disarankan untuk memberikan bantuan tunai berupa uang namun diberikan dalam bentuk barang seperti traktor. Pulang Pisau 7. Riwut. Kerjasama BPS dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pulang Pisau. 1985 Peranan Kebudayaan Tradisional di Indonesia dalam Modernisasi. Palangkaraya. karena anak-anak perlu banyak diberi pengetahuan tentang daerahnya untuk membangun desa mereka. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Program bantuan atau pemberdayaan bagi keluarga miskin sebaiknya diberikan untuk seluruh keluarga yang bersangkutan. tetapi harus lebih bersifat kesinambungan. DAFTAR PUSTAKA BPS. (ed). Puslitbang Kesos 41 . dimana alat tersebut dapat dikelola secara bersamasama oleh seluruh warga masyarakat. Pulang Pisau dalam Angka tahun 2005. baik bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan bantuan beasiswa sekolah (BOS) serta asuransi kesehatan bagi keluarga yang bersangkutan maupun jaminan sosial bagi keluarga tersebut. dianggap sangat penting. maka orientasi masa depan anak-anak akan cenderung memilih pergi ke kota. Pusaka Lima.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Bantuan ini tidak berhenti sesaat. Sosialisasi pendidikan kedaerahan bagi anak-anak di tingkat desa. M. Tjilik. 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau. Merantau menjadi pilihan pemuda karena mereka tidak lagi mempunyai pengetahuan kedaerahan.R. 2003 Maneser Panatau Tatu Hiang. 2006. Dove. Bila yang terjadi hal demikian. Bukan pengetahuan perkotaan atau pengetahuan tingkat nasional yang diberikan.

.

M. Analisis Kebutuhan Bidang Program Puslitbang Kesos dan Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Dalam konteks penelitian ini banyak warga masyarakat yang memiliki pertalian-pertalian sosial yang kuat. pedoman FGD. pranata kesehatan.Kom Bambang Pudjianto. Kasub Bid.PETA MASALAH SOSIAL DI BONE: POTENSI.Sutaat.Si 2 ABSTRAK Pemerintah daerah pada umumnya lebih mengutamakan pembangunan fisik dan ekonomi di wilayahnya daripada pembangunan kesejahteraan sosial. pertalian-pertalian sosial yang ada di tingkat lokal tidak secara langsung mampu memberikan manfaat ekonomis (tingkat kesejahteraan yang lebih baik). pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. Bambang Pudjianto. Namun kedua hal tersebut sangat terkait dengan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Drs. dan kultural yang dimilikinya. namun sulit untuk mengakses peluang dan sumber daya melalui jaringan-jaringan yang ada (mainstream). Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah yang baru dimekarkan adalah masalah infrastruktur dan pembangunan ekonomi. Anggota: Dra. serta pranata jaringan kerja. Endang Kironosasi. S. bahwa di wilayah lokasi penelitian telah memiliki potensi sumber kessos berupa. Masalah Sosial 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota Tim : Konsultan Drs. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 43 . Suyanto. Kata kunci: Pranata Sosial. Ketua Tim : Drs. penting untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut. Di sisi lain. pranata pendidikan. pranata sosial. Bambang Pudjianto. Sekretariat: Dini Khairunnisa. Dra. yaitu agar digunakan strategi yang berprinsip pada partisipasi masyarakat dengan bersinergi pada peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber lokal. utamanya bagi warga masyarakat menengah-bawah. Rondang Siahaan. dan alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam. DR Bambang Rudito. Drs. PROBLEM DAN STRATEGI PENANGANANNYA1 Drs. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Namun dengan berbagai potansi ekonomi.Si. sosial. Akibatnya. pada praktiknya jaringan sosial tidaklah begitu saja menciptakan modal fisik dan modal finansial. dan peta wilayah Hasil penelitian dapat diketahui. Indah Huruswati. penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa jenis permasalahan sosial yang bermuara pada masalah kemiskinan. Potensi dan Sumber Daya. M.Si. Karena itu. M. M.

Kerajaan Bone yang didirikan oleh Manurung Rimatajang pada tahun 1330.159 hektar perkebunan rakyat ikut memperkuat peran sektor pertanian.3 Cermin kemasyhuran warga Bone dan suku Bugis khususnya dibidang pertanian masih terlihat sampai sekarang. kacang tanah dan kedelai juga berlimpah. 2006. meningkat mendekati 560. Produksi jagung. 3 4 5 lihat profil Bone yang dirilis dalam situs resmi Kabupaten Bone. Etos kerja yang tinggi dan sistem pertanian yang baik membuat Bone di kenal sebagai lumbung padi. Sedangkan tahun 2003. ubi kayu. 1989:9). melainkan juga di kawasan timur Indonesia. Hampir setiap kecamatan menjadi penghasil padi.906 ton) dan kedelai (8. jambu mete. WWW. terutama padi. melainkan juga petani yang ulet.4 Produksi tanaman bahan makanan.000 ton. Pada masa itu. Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. kacang hijau. handal dan produktif. Dua Boccoe. Tahun 2002 Bone menghasilkan 517.760 ton) merupakan produksi tertinggi di Sulsel.5 Hasil yang menonjol dari perkebunan adalah tebu. Dari jumlah itu. Barebbo. Salomekko. Data sensus penduduk tahun 2003 menunjukkan bahwa 72. Awangpone. pertengahan abad ke-17 (Abddurazak dkk. Produksi 84. Bahkan bukan hanya di Sulawesi Selatan. Bengo.4 persen adalah warga suku Bugis.Peta Masalah Sosial di Bone Pendahuluan Potret Kesejahteraan di Tengah Kelimpahan Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. dan Cina. sebesar 97. Sibulue.Bone. Sentra penghasil padi berada di Kecamatan Kahu. kakao. kelapa.535 ton padi. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2003/2004. 44 Puslitbang Kesos . Bahkan tahun 2002 produksi kacang tanah (13. Tonra. masyarakat Bone yang didominasi oleh suku Bugis tersohor bukan hanya sebagai pelaut dan pedagang yang tangguh. Tanah yang digarap para petani tidak hanya menghasilkan padi. dan cengkeh. kemiri. Ajangale.2 persen penduduk Bone berusia 15 tahun ke atas bekerja dan hidup dari sektor pertanian. menurut estimasi Dinas Pertanian Kabupaten Bone.id Lihat “Kabupaten Bone dalam Angka tahun 2003” diterbitkan BPS Kabupaten Bone Tahun 2004.go. selalu surplus. pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroeri Bontoala.

052 ha lahan perkebunan.Peta Masalah Sosial di Bone Tebu merupakan bahan baku gula Pabrik Gula Bone dan Pabrik Gula Camming di Kabupaten Bone.148 ha lahan untuk tambak/empang dan 145. Rendahnya taraf hidup masyarakat Bone terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh BPS-UNDP pada tahun 2004. dengan balita penderita gizi buruk yang cukup tinggi.3 persen.1%. ‘Hanya’ 11.7 dan 66. 22/10/2002. Segelintir spekulan dan tengkulak yang menguasai jalur perdagangan yang justru selama ini meraup untung besar. dalam mata rantai perdagangan hasil pertanian.559 km persegi luas Kabupaten Bone.8 6 7 8 Laporan Litbang Kompas.2 trilyun. Tahun 2002 nilainya mencapai Rp 2. dibawah 65 tahun.524 ha lahan tegalan/ladang.6 Pertanian telah menjadi tiang utama kegiatan ekonomi Bone.449 ha merupakan lahan persawahan. dan 43. Tanaman bahan makanan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. dimana wanita bekerja yang berpendapatan hanya 28. Ibid Puslitbang Kesos 45 . Sementara itu life expectation juga rendah. Survey ini menyimpulkan bahwa Human Development Index (HDI) warga Bone tergolong rendah.7 Meskipun Bone menjadi daerah sentra penghasil bahan makanan. Angka itu lebih kecil dibanding tahun 1999 dan 2000 yang mencapai 67.073 ha merupakan hutan. Dominannya sektor pertanian di Bone juga tercermin dari luas wilayah Kabupaten Bone yang sebagian besar merupakan lahan persawahan dan tegalan. para petani yang notabene menjadi aktor utama produksi dan merupakan mayoritas penduduk Bone justru tidak bisa menikmati keuntungan yang memadai.atau lihat juga Laporan BPS-Bappenas-UNDP tentang “The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia” tahun 2004 Ibid. Data BPS tahun 2002 menyebutkan.7% (yang seharusnya di atas 80-90%). Yang merupakan 65 persen total kegiatan daerah. Tidak sulit untuk mendapatkan petani Bone yang terlilit hutang para tengkulak. dari 4. Yakni ditunjukkan dengan angka partisipasi bidang pendidikan yaitu hanya 60. 120. 88. mencapai 27%. Akibatnya taraf hidup masyarakat Bone terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan berproduksi yang mereka miliki. Partispasi jender dalam ekonomi juga masih sangat terbatas.

Lebih memprihatinkan lagi karena Bone sejak tahun 2000-an. Hal ini ditunjang oleh letak geografisnya. Karena itu. 10 di antaranya memiliki garis pantai sepanjang 127 kilometer. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gejala yang muncul akibat fakta sosial yang dijelaskan di atas. kontribusi sektor perikanan juga tak kalah produktifnya. sektor perikanan telah menyumbang 9. Pada tahun 1997 misalnya.2 persen pendapatan daerah. mengingat posisi Bone sebagai sentra penghasil padi di Sulsel. maka meletusnya berbagai permasalahan sosial hanya tinggal menunggu waktu saja. dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 16. selain unggul di sektor pertanian. Namun sebaliknya. jika tidak dimanage secara benar. yaitu sebuah potret buram (kemiskinan) di tengah kelimpahan. Artinya. Ini jelas potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. 46 Puslitbang Kesos . bagaimanakah gambaran tentang potensi dan sumberdaya sosial. ekonomi dan alam di Kabupaten Bone memberi solusi atas permasalahan penyandang masalah sosial yang timbul akibat timpangnya strategi pembangunan dengan penguatan sumber daya lokal selama ini. kasus pada sektor pertanian tidak mustahil berulang pada sektor perikanan dan sektor perekonomian lainnya.7 persen. jangan terkaget jika tanpa upaya dan strategi yang tepat dalam mengatasinya. yaitu dari 27 kecamatan di kabupaten Bone.Peta Masalah Sosial di Bone Data-data tersebut di atas jelas sangat memprihatinkan (terlebih pada kasus bayi penderita gizi buruk).

2001:309. Diantaranya untuk konteks penelitian ini terlihat pada masalah ketimpangan pembangunan SDM khususnya masyarakat lapisan paling bawah. Puslitbang Kesos 47 .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 1 : Peta Kota Watampone. Chaniago. (2) ketimpangan antara kelompok pengusaha besar-kecil. (3) ketimpangan antar wilayah. Lihat Adrinof A. (5) ketimpangan laju ekonomi antar sektor. Kabupaten Bone Kerangka Fikir Kelemahan mendasar dari pembenahan struktur perekonomian kita di tengah masa krisis (baik regional dan nasional) dinilai oleh banyak kalangan adalah karena diabaikannya variabel kondisi sosial-ekonomi sebagai bagian dari penyebab krisis. (6) ketimpangan antara ekonomi perkotaan dan pedesaan. dan (7) ketimpangan pembangunan diri manusia Indonesia di lapisan masyarakat bawah. bertambahnya keluarga miskin yang diikuti kemudian dengan meningkatnya kuantitas dan kompleksitas permasalahan sosial besar kemungkinan adalah akibat dari ketidakselarasan antara strategi pembangunan kesejahteraan dengan strategi pembangunan ekonomi dalam 9 Ketimpangan pembangunan masa Orde Baru terjadi dalam bentuk-bentuk: (1) ketimpangan antar golongan ekonomi masyarakat.9 Artinya. (4) ketimpangan antar subwilayah di daerah yang pertumbuhan ekonominya tinggi.

bahwasanya masalah kemiskinan dan rawan sosial-ekonomi adalah karena lemahnya ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat (modal sosial) golongan menengah-bawah dalam menghadapi guncangan besar arus krisis (Adrinof A. rebaknya anak jalanan dan terlantar. (2) rehabilitasi.sekarang). 2005:23). angka kematian bayi semakin dapat ditekan. Pasalnya ketika arus krisis mendera pelbagai wilayah di Indonesia (1998. 2001:316). tidak terkecuali masyarakat di wilayah kajian ini. misalnya dengan penjelasan angka pendapatan perkapita penduduk yang terus mengalami kenaikan. ancaman eksploitasi seksual komersiil. (3) pengembangan. dan seterusnya Terpaan krisis ekonomi dan dilanjutkan dengan perubahan orientasi sosial-politik pembangunan nasional melalui bergulirnya masa transisi yang disebut “era reformasi” tak pelak juga telah memunculkan kembali apresiasi masyarakat lokal yang (tak lain adalah kelompok masyarakat lapisan menengah-bawah) terbagi-bagi dalam wilayah kesukubangsaan berusaha menciptakan akses terhadap sumber daya yang ada di wilayah kesukubangsaannya. jumlah keluarga fakir miskin meningkat. ditujukan untuk memfungsikan kembali dan memantapkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. Bahkan komuniti-komuniti yang pada awalnya telah atau hampir “terkubur” di era Orde Baru. dan usia tingkat harapan hidup semakin panjang. menurunnya jumlah angka orang buta huruf.Chaniago. menurunnya kadar asupan gizi dan tingkat kesehatan (cacat). 48 Puslitbang Kesos . hampir semua golongan lapisan bawah dipastikan tidak mampu “bertahan” di masa krisis tersebut. program-program intervensionis10 dari pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah diakui menunjukkan kemajuan dalam beberapa indikator keberhasilan di bidang kesejahteraan. Akan tetapi tingkat kesejahteraan tersebut di sisi lain tidak serta merta dapat menjamin kemampuan dan kualitas hidup mereka secara lebih baik. Lihat Bambang Rudito dkk. Akibatnya pengangguran semakin bertambah cepat. 10 Fungsi intervensi sosial.Peta Masalah Sosial di Bone praktik. yaitu: (1) prevensi ditujukan untuk mencegah timbul dan meluasnya permaslahan kesejahteraan sosial dalam kehidupan masyarakat. Untuk ukuran tertentu. mereka berusaha sekuat tenaga membangun kembali sisa-sisa warisan kejayaan masa lalu dari sukubangsanya demi untuk turut bagian dalam sistem pencaharian ekonomi di era ini (Rudito. Dengan bahasa lain. ditujukan untuk pemeliharaan dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan potensi dirinya. 2005: 36. perdagangan obat-obatan terlarang.

Karena itu penting memper-timbangkan konteks representasi identitas. sistem kehidupan lokal. Padahal dengan penganggaran keuangan daerah secara partisipatif memungkinkan penanganan pelbagai masalah sosial dan pembangunan daerah dapat lebih terarah. Puslitbang Kesos 49 . kecamatan atau kabupaten yang umumnya para staf pemerintah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengelola aset desa/kecamatan dan dana pendapatan desa/kecamatan dengan baik. golongan. sekalipun desa tidak memilik aset yang cukup untuk melakukan pembangunan. Berhadapan dengan kondisi faktual tersebut. memperkecil ketimpangan ekonomi antar sektor. kita akan mengulang kembali kesalahan model pembangunan masa lalu yang pada akhirnya akan melahirkan tipe-tipe ketimpangan ekonomi. serta pemerataan pembangunan di setiap kewilayahan. Jika tidak. maka sepatutya dicarikan alternatif langkah-langkah dan strategi penanganan yang tidak sepenuhnya menggantungkan pada anggaran pemerintah. Praktiknya. sosial dan politik “versi terbaru”. Oleh karenanya. kecenderungan untuk menolak transparansi dan partisipasi sangat besar. 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (Rakorbang Partisipatif). serta terus mengupayakan perbaikan kualitas SDM lapisan menengah-bawah. suku-bangsa di Bone terkenal gigih dalam menjaga wilayah teritorialnya. Dalam lintasan sejarahnya. Namun. Misalnya dengan melakukan participatory budgeting forum sebagaimana diamanatkan dalam SE Mendagri No. atau dalam bahasa lain sumber daya perekonomian di wilayahnya. obyektif dan lebih berdaya-guna maksimal bagi kebutuhan riil warga masyarakatnya. surat edaran menteri ini masih semata bersifat “himbauan” yang jarang (sulit) implementasinya dilakukan di lapangan secara tuntas.Peta Masalah Sosial di Bone Karena itu kini hendaknya pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan perlu memperhatikan secara serius variabel pelapisan masyarakat baik secara sosial-ekonomi dan antar wilayah. Salah satu kekhwatiran yang mengancam adalah kegagalan mengangkat kualitas hidup penduduk yang mayoritas bekerja di sektor tradisional (seperti pertanian dan peternakan). lagi-lagi pedekatan seperti ini terbentur oleh masalah internal pemerintah desa. Yakni menjadikan sumber ekonomi sektor tradisional sebagai kekuatan potensial yang dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial mereka secara proporsional.

jika kecamatan ini disebut sebagai ‘pewaris sah’ kebudayaan Kerajaan Bone pada abad pertengahan. Tidak mengherankan jika di kecamatan ini pula terdapat cagar budaya berupa makan raja-raja bone.php 50 Puslitbang Kesos .bone. Kekayaan warisan kultural seperti rumah adat Bugis (Bola Somba) di Kelurahan Watampone. Museum Saoraja Lapawawoi Kr. Posisi geografis Tanete Riattang yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan juga membuat kecamatan ini menjadi tujuan bagi warga Bone di wilayah pinggiran untuk mengadu peruntungan. Posisi geografis yang strategis dan warisan kultural yang kaya membuat Tanete Riattang menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar untuk didayagunakan menjadi keunggulan wilayah. diversifikasi mata pencaharian penduduk terjadi dalam porsi yang relatif berimbang.id/pariwisata. secara demografis. Dengan lahan yang subur. Dari sejumlah kelurahan di kecamatan ini. Tanete Riattang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Ta’. dalam http://www.Peta Masalah Sosial di Bone Potensi dan Masalah Tanete Riattang : Sebuah Analisa Sosial Di bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Bone. Sigeri dan makam raja-raja Bone di kelurahan Bukaka juga dapat menjadi objek pariwisata potensial. Secara geografis. Kelurahan Manurungge dan Watampone yang dapat dibilang sebagai ‘epicentrum’ Kabupaten Bone merupakan bagian sentral dari perekonomian Tanete Riattang khususnya. tiga diantaranya yakni Kelurahan Pappolo. dan Walennae sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani.11 Hanya di Tanete Riattang. kecamatan Tanete Riattang memiliki keistimewaan tersendiri. karena pusat Kerajaan Bone pada masa silam terletak di kecamatan ini. Tak berlebihan kiranya. pertanian 11 Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. Akibatnya. dan Bone umumnya. posisi kecamatan yang tepat berada di tengah Kabupaten Bone memberikan keuntungan berupa infrastruktur pemerintahan dan layanan publik yang relatif lebih baik jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya. Secara historis-kultural. Tanete Riattang juga menempati posisi istimewa di Bone. Kelurahan-kelurahan tersebut merupakan kelurahan di wilayah pinggiran kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk relatif rendah. berbagai peninggalan dan artefak budaya Kerajaan Bone dan sebuah museum penting yang menyimpan warisan budaya kebesaran Kerajaan Bone dahulu kala.go.

Puslitbang Kesos 51 . 16 bidan dan 8 dukun/ pengobat tradisional. karang taruna (6 buah). sapi dan kambing. SMP/MTs 7 buah dan Perguruan Tinggi 4 buah. 2005. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2004/2005. arisan keluarga (17 buah). Bukaka dan Manurungge.Peta Masalah Sosial di Bone di tiga wilayah kelurahan ini berkembang dengan baik. Kecamatan Tanete Riattang juga menyimpan potensi-potensi sosial strategis lainnya. 2005. Selain sektor pertanian. Walaupun tidak sangat kompleks. Sebagai wilayah yang tergolong ‘perkotaan’. Beberapa pranata yang telah tersedia di Tanete Riattang antara lain. TPA/TK 25 buah. dasawisma (39 buah). namun berbagai persoalan yang ada tetap membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. pranata kesehatan15. PKK (28 buah). 12 13 14 15 Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. LPM/BPD (8 buah) dan jimpitan (11 buah). pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat.12 Dengan berbagai potensi ekonomi tersebut. jasa dan industri. di tiga kelurahan yakni Watampone. siskamling (28 buah). pranata pendidikan13. 2005. Tidak terdapat rumah saki di Tanete Riattang. namun jarak dengan RS kabupaten sangat dekat. Karena penanganan yang setengah-setengah hanya akan membuat permasalahan sosial yang muncul semakin banyak dan bukan tidak mungkin menjadi semakin kompleks. serta pranata hubungan dan jaringan kerja yang baik dan mapan. Terdapat 2 puskesmas dan 24 posyandu. 2006. pranata sosial14. yakni. Sementara itu. 20 dokter. 78 perawat. Terdapat 6 jenis pranata sosial. BPS Kabupaten Bone. berbeda halnya dengan Watampone yang lebih mengandalkan sektor jasa (administrasi) dan pariwisata. SD/ MI 34 buah. BPS Kabupaten Bone. sosial dan cultural yang dimilikinya. Kelurahan Bukaka dan Manurungge bergerak pada perekonomian sektor industri. lihat BPS Kabupaten Bone. saat ini Kecamatan Tanete Riattang juga tengah mengembangkan sektor peternakan sebagai bagian dari keunggulan wilayah. Namun dengan berbagai potensi ekonomi. Kecamatan Tanete Riattang yang tergolong wilayah ‘perkotaan’ juga tak lepas dari berbagai permasalahan sosial. Terdapat 74 lembaga pendidikan di Tanete Riattang dengan perincian. Kecamatan Tanete Riattang memiliki berbagai pranata yang dapat digunakan sebagai modal bagi peningkatan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. Beberapa jenis hewan ternak yang menjadi favorit untuk dikembangkan di wilayah ini adalah antara lain ayam buras. sektor pertanian bukanlah mata pencaharian utama penduduknya.

sejak dari masalah anak terlantar.6% (512 kasus) masalah wanita rawan sosial ekonomi. keluarga fakir miskin. napza. Terlebih dana stimulan bantuan sosial yang diharapkan menjadi bagian dari jawaban persoalan.9% terbagi relatif rata dalam 9 masalah sosial lainnya. Berbagai jenis masalah sosial tersebut di atas merupakan bentuk ancaman secara ekonomi.2% (748 kasus) masalah keluarga fakir miskin. ancaman ini secara faktual menjadi lebih besar akibat terbatasnya anggaran belanja daerah bagi upaya penanganan dan penyelesaian pelbagai jenis PMKS tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan. Celakanya. eks napi.3% (111 kasus) masalah rumah tidak layak huni. sampai keluarga bermasalah psikologi. lanjut usia terlantar. anak cacat. masalah sosial yang berlatar belakang ekonomi menunjukkan gejala paling dominan. penyandang cacat. anak nakal. sosial dan politik bagi proses pembangunan kesejahteraan sosial di Tanete Riattang. dan 7. Dari sejumlah jenis permasalahan tersebut. selama ini masih sangat tergantung pada alokasi dana dari pusat dan provinsi.1% diantaranya merupakan masalah sosial berlatar belakang ekonomi. membuat pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa dan cepat menyelesaikan masalah sosial tersebut. wanita rawan sosial ekonomi. Dari 1520 kasus. yaitu dengan perincian 49. 52 Puslitbang Kesos . rumah tidak layak huni. 33.Peta Masalah Sosial di Bone Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 12 jenis permasalahan sosial yang terjadi di Tanete Riattang. terindikasi 80. cacat bekas penyakit kronis. Selebihnya. sebesar 19.

Michael Huberman. Puslitbang Kesos 53 . “Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru” Jakarta : UI Press. 16 16 Lebih lanjut tentang penelitian kualitatif lihat Matthew B Miles & A. Yakni simbol-simbol penyampaian dan penetapan suatu gejala sosial sebagai kenyataan yang ada di sekeliling masyarakat dan yang dialami oleh anggota masyarakat. Deskriptif yang dimaksud adalah mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. 1992. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran/peta mengenai jenis.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 2. kriteria dan lokasi penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara kualitatif di Kabupaten Bone. Peta Kecamatan Tanete Riattang. Kabupaten Bone Metode Penelitian Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif.

Kriteria populasi dalam penelitian ini didasarkan pada penduduk yang menetap di daerah ini. Sumber data terbagi dalam bentuk sumber data primer. penerapan strategi 54 Puslitbang Kesos . karena masalah sosial adalah masalah perasaan. pemetaan terhadap pranatapranata sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan menjadikannya suatu aktivitas rutin serta berkesinambungan dilaksanakan oleh masyarakat lokal. baik dilihat dari jenis kelamin. kelompok. Oleh karenanya. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. lalu ditampilkan dalam bentuk tabel. meskipun bukan berarti tak teratasi. Seperti pernah diungkap banyak kajian bahwa menyelesaikan persoalan kemiskinan tergolong sebagai agenda yang berat dan rumit. Untuk mendeteksi masalah sosial diperlukan suatu pendekatan dan metodologi guna memahami dan memetakan masalah sosial yang terjadi. yaitu dengan melakukan pendekatan yang sifatnya kualitatif. lokasi. yaitu kategori perorangan atau individu. Alternatif Strategi Penanganan Masalah Sosial di Tanete Riattang Masalah pokok dari berbagai jenis permasalahan sosial di Tanete Riattang sebagaimana nampak dalam data di atas adalah persoalan kemiskinan. dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial di Kabupaten Bone. kriteria penduduk penyandang masalah sosial. Penelitian ini pada dasarnya mempunyai tujuan memetakan masalah sosial yang ada dan muncul di masyarakat dan ditanggapi oleh masyarakat itu sendiri sebagai suatu masalah. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. Selanjutnya dibentuk matrik pemetaan sosial yang menggambarkan permasalahan sosial dan potensi kesejahteraan. penilaian berdasar pada norma dan aturan yang menjadi acuan bagi komuniti yang mengalaminya.Peta Masalah Sosial di Bone Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bone Kecamatan Tanete Riantang. Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam (indepth interview). Sementara sumber data sekunder mencakup literatur. jenis pekerjaan yang ada. Pendekatan kualitatif yang dimaksudkan disini adalah untuk melakukan pemetaan sosial. Data yang berhasil dikumpulkan diolah secara kualitatif. pedoman FGD dan peta wilayah. Sulawesi Selatan.

angka kemiskinan di Porto Alegre menurun drastis karena agenda-agenda utama yang menjadi kepentingan publik seperti pengentasan kemiskinan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. pelajaran dari Porto Alegre di Brazil dan Grameen Bank di Banglades dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk dijadikan inspirasi. “Participatory Budgeting in Porto Alegre : Toward a Redistributive Democracy” Sage Publication. Namun demikian. transparansi dan partisipasi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. setiap warga kota mempunyai hak untuk tahu berapa dan untuk apa anggaran daerah dialokasikan. Melalui GB. Bukan hanya itu. Kisah sukses beberapa negara atau komunitas dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk ditelaah sebagai pelajaran dan sumber inspirasi. pertama. Dan karenanya. memberikan pinjaman modal bagi kaum papa secara mudah dan tanpa agunan. Kedua. akses terhadap modal bagi rakyat miskin dipermudah. 1998 Puslitbang Kesos 55 . tanpa bermaksud melakukan simplifikasi. berkeyakinan kemiskinan akut yang terjadi di Banglades khususnya daerahdaerah pedesaan akan dapat diatasi jika dapat dilakukan dua hal. sebagai pendiri GB dan juga peraih nobel perdamaian 2006. Boaventura de Sousa Santos. Banyak analisa yang menyatakan bahwa kemiskinan dipengaruhi banyak faktor.Peta Masalah Sosial di Bone yang jitu yang didasarkan atas bacaan yang tepat dan akurat atas data dan realita mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Strategi penanganan kemiskinan di Porto Alegre didasarkan atas dua strategi. Selain itu. sejak dari persoalan ketertutupan akses modal. Di Porto Alegre. penanganan terhadap masalah ini juga membutuhkan berbagai pendekatan. melalui mekanisme local budgeting forum. Hasilnya. warga juga mempunyai hak untuk turut menentukan alokasi anggaran daerah tersebut. struktur sosial dan birokrasi yang menindas. Hasilnya. lebih dari 8000 keluarga yang menjadi nasabah GB terangkat taraf 17 Lihat. Yunus melakukan dua hal tersebut. korupsi juga menjadi tereliminasi yang membuat tingkat kebocoran anggaran untuk rakyat menjadi kecil. dan sasaran pemberian pinjaman itu difokuskan kepada kaum perempuan. dalam kasus Tanete Riattang. pendidikan sampai budaya. kaum perempuan diberdayakan sebagai penggerak roda perekonomian mikro.17 Strategi yang diterapkan Grameen Bank (GB) lain lagi. Muhamad Yunus.

partisipasi (melibatkan masyarakat) dalam penyusunan alokasi anggaran.Peta Masalah Sosial di Bone perekonomiannya yang berdampak pada naiknya taraf pendidikan dan kesehatannya. Keempat. masalahnya bukan lagi seberapa mungkin strategi itu dapat 18 Lihat situs resmi Grameen Bank : www. daerah (kabupaten/kota) mempunyai kewenangan dan otonomi penuh untuk mengembangkan kreatifitas membangun daerahnya. akan menjadi roda penggerak ekonomi keluarga yang sangat efektif.18 Dua kasus tersebut. Berdasarkan UU ini. diluar lima hal. Demokratisasi juga membuat organisasi-organisasi sosial masyarakat sebagai bagian dari civil society tumbuh subur. mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut bacaan saya sangat mungkin! Pertama. penerapan strategi pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat dilakukan. efisiensi dan tata kelola pemerintahan yang baik. khususnya di Tanete Riattang. Oleh sebab itu. permudah akses modal bagi rakyat miskin. pertahanan keamanan. efektivitas. Dengan SE ini. Kedua. iklim demokratisasi telah membuka kesadaran masyarakat kita akan pentingnya transparansi. dengan disahkannya UU Nomor 32 Tahun 2002 memberikan peluang bagi setiap kabupaten/kota melakukan inovasi dan inisiasi dalam pembangunan wilayahnya masing-masing. Ketiga. fiskal dan agama. hubungan luar negeri. yakni melalui transparansi anggaran daerah. Pertanyaannya. Dengan berbagai argumentasi tersebut.org 56 Puslitbang Kesos . perempuan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dominan menyandang masalah sosial. mengajarkan kita setidaknya terdapat empat strategi yang dapat digunakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Tanete Riattang. faktanya dari data penyandang masalah sosial tersebut terdahulu. Instrumen ini penting bagi pelaksanaan strategi-strategi tersebut di atas. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (rakorbang partisipatif) membuka peluang bagi terjadinya participatory budgeting. termasuk di Kabupaten Bone. Padahal jika diberdayakan. dan berdayakan perempuan sebagai leading sector penggerak ekonomi rumah tangga.grameen-info. ide untuk membuat semacam participatory atau local budgeting forum di tingkat kabupaten ataupun kecamatan mempunyai pijakan hukumnya.

Disamping tentunya potensi budaya Tanete Riattang berupa berbagai peninggalan Puslitbang Kesos 57 . Program Mitra Usaha Mandiri yang meliputi program penguatan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. Sementara potensi institusi lokal yang bisa dioptimalkan adalah kelompok tani/kelompok usaha yang diharapkan dapat bersinergi dengan KUBE. Program Peningkatan Kualitas Layanan Panti dan Program penyediaan database PMKS melalui sejumlah penelitian dan pengkajian. serta anak nakal dan anak terlantar. Jika nilai. puskesmas dan pengajian yang diharapkan mampu bersinergi dengan dokter dan tenaga medis yang ada serta para tokoh agama. atau sekurangnya tidak mendapatkan apresiasi masyarakat lokal. perempuan dan petani. balita dan anak cacat. posyandu. kultur. Program Kesehatan Terpadu yang meliputi penyuluhan balita sehat. Sebagai cacatan. melainkan seberapa kuat kemauan kepala daerah dan pihakpihak terkait melakukannya. industri dan jasa (administrasi). kelompok perempuan rawan sosial-ekonomi. Potensi ekonomi yang perlu untuk terus dikembangkan di Tanete Riattang terutama berada pada sektor pertanian. Beberapa program dapat digagas untuk menjalankan berbagai strategi penanganan masalah sosial diantaranya. pembinaan penyandang cacat. perlu ditegaskan bahwa target sasaran yang perlu diperhatikan untuk program penanganan masalah sosial di Tanete Riattang adalah rumah tangga miskin. berbagai keunggulan demografis dan geografis juga menjadi modal sosial tersendiri yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kecamatan ini ke depan. sosial dan budaya yang cukup strategis untuk dikembangkan. Kesimpulan Tanete Riattang sebagai salah satu kecamatan utama di Kabupaten Bone memiliki potensi ekonomi. Bercermin dari lingkup masalah sosial dan berbagai strategi penangannya. bina anak terlantar dan tuna susila. termasuk sektor peternakan. identitas. Selain itu. ekonomi dan etnik. dikhawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial.Peta Masalah Sosial di Bone diterapkan. Selanjutnya PKK. Untuk potensi sosial Tanete Riattang terutama pada ketersediaan berbagai pranata yang cukup lengkap yang dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam menangani berbagai permasalahan sosial. pola hidup dan pranata sosial yang ada di masyarakat diabaikan. serta karang taruna dan LPM yang menjembatani akses pengambilan keputusan terkait hajat hidup masyarakat di lingkungannya. strategi program/kegiatan dari pemerintah nantinya selayaknya bersinergi positif dengan pranatapranata sosial yang ada di masyarakat. Kukesra dan Koperasi.

58 . organisasi sosial berbasis okupasi (mata pencaharian pokok di tingkat lokal) yang umumnya cukup eksis di wilayah ini. termasuk menjadi embrio bagi terbentuknya semacam local budgeting forum. partisipasi. maka masalah kemiskinan menjadi problem utama dan mendesak yang harus segera ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. ekonomi. disamping disebabkan oleh kebijakan internal yang tidak kondusif bagi penguatan perekonomian lokal. Dari sejumlah masalah tersebut (12 jenis PMKS). Selain memiliki berbagai potensi unggulan. Dengan demikian sebenarnya penguatan ketahanan sosial ekonomi tidak cukup dengan menemukan apa saja modal sosial yang ada. Puslitbang Kesos 2. tampaknya tergesernya fungsi dan rapuhnya peran jaringan pranata sosial-ekonomi semakin memperburuk ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. pendidikan. 3. tukar informasi. Peningkatan kualitas SDM para penggiat pranata sosial dan ekonomi melalui pelatihan para pengurus perkumpulan sosial-ekonomi.Peta Masalah Sosial di Bone budaya Kerajaan Bone yang dulu memang berlokasi di kawasan Tanete Riattang. perlu dilakukan peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal melalui. politik. mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan pemberdayaan perempuan. Tanete Riattang tidak lepas dari sejumlah permasalahan sosial yang patut untuk segera ditangani. serta organisasi sosial berbasis jender yang meskipun kegiatannya mengalami pergeseran (PKK dan Posyandu) tetapi perannya masih cukup efektif bagi peningkatan kualitas hidup utamanya warga miskin. 1. Serta menekan rebaknya spekulan dan para tengkulak (rentenir) yang memainkan “nilai hasil produksi” para petani/usaha kecil lokal. Membentuk kelompok jaringan atau forum bersama antar kelompok sosial. Mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan perempuan melalui bantuan stimulan yang digulirkan secara proporsional dan merata. Karena itu penting untuk menangani berbagai masalah tersebut utamanya masalah kemiskinan. budaya dan seterusnya sebagai wadah edukasi. tetapi lebih luas lagi bagaimana menggalang kekuatan untuk mengembangkan jaringan lokal (desa) guna lebih berdaya dan tetap kokoh di tengah derasnya terpaan perubahan global. Ditilik dari diterminan kemiskinan. agar digunakan strategi yang berprinsip pada transparansi. Selain itu.

Deepa Narayan. 21.com. November.com. maupun kalangan masyarakat untuk menjamin terlaksananya program sesuai dengan maksud dan tujuannya.au/A13.. 2003.id/ pariwisata. 2001. 2004. 2005.htm. Jakarta: LP3ES. 2005. Tim Crescent IPB.” Current Sociology.au/A13. Vol. March 2001. Bambang dkk. Kabupaten Bone Dalam Angka. tentang The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia. dalam http://www.php Rudito. Deepa Narayan and Michael F. DAFTAR PUSTAKA Adrinof A. “Measuring Social Capital: An Integrated Questionnaire. “Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia”. BPS (Statistic Indonesia)-Bappenas-UNDP. “Peta Permasalahan Sosial di Kabupaten Sebatik”. 49(2).htm.com.mapl. Pengawasan secara berkesinambungan baik dari pemerintah daerah. dalam http://www. “A Dimensional Approach to Measuring Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory.” Australian Institute of Family Studies. 2003. Christiaan Grootaert. Ian Winter. Cassidy. Puslitbang Kesos 59 . Litbang Depsos RI.mapl.go. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone. dalam http:// www.au/A13. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Chaniago. April 2000. provinsi dan pusat. Veronica Nyhan Jones.htm.mapl. Lihat http://www. Working Paper No.bone. 2003.” The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. dan Michael Woolcock. “Towards a theorized understanding of family life and social capital.Peta Masalah Sosial di Bone 4. Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone.

Kecamatan Tanete Riattang 60 Puslitbang Kesos . Kelurahan Pappolo. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 4. Kelurahan Walannae.Peta Masalah Sosial di Bone Lampiran Gambar 3.

Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 5. Kelurahan Bukaka. Kelurahan Manurungnge. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 61 . Kecamatan Tanete Riattang Gambar 6.

Kecamatan Tanete Riattang Gambar 8. Kelurahan Ta.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 7. Kecamatan Tanete Riattang 62 Puslitbang Kesos . Kelurahan Watampone.

Kelurahan Masumpu. Kelurahan Biru. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 10. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 63 .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 9.

.

M. Minahasa. Bidang Program. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database) yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah. lanjut usia terlantar. Kata kunci: Masalah Sosial. staff Subbid Perencanaan dan Anggaran. Puslitbang Kessos Puslitbang Kesos 65 . Kelurahan Matani Dua. Agus Dairo Beke. Kelurahan Matani Satu. masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominan di wilayah ini. Kelurahan Matani Tiga. yaitu Kelurahan Talete Satu. dengan Tim: Drs. dan keluarga rentan. Kelurahan Komasi. rumah tidak layak huni. Kemiskinan 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. SE.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTAMADYA TOMOHON . misalnya fakir miskin. Rusmiyati. Oleh karena itu. Drs. dan Kelurahan Kolongan. (2) penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya. MM. dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat. Sementara itu untuk beralih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai.MINAHASA1 Rusmiyati. dan Rusmiyati.Si. kelurahan Talete Dua. Ahendy Priatna. khususnya di Kecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. serta meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon. perlu penanganan yang lebih tuntas. SE 2 ABSTRAK Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diri dengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. yang antara lain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian.

Tomohon Tengah-Minahasa Pendahuluan Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomi daerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahan sosial secara lokal. kondisi eknonomi politik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran. tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besar dan bertambah. Ilustrasi diatas memberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagai daerah dengan perbedaan kondisi geografis. Upaya memaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial. bobot permasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat. maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan. yaitu dengan munculnya masalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom. Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin banyak. tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru. sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom). struktur masyarakat. mabuk-mabukan. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru) bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan. tidak memberi ruang gerak pada masyarakat. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akan terlihat adanya permasalahan yang serupa. Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukan melalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. baik dari sisi SDM. Sebagai contoh: kenakalan remaja. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkup bidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas. dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secara terselubung muncul keper mukaan. dan semua harus menunggu perintah penguasa. narkoba dan sebagainya hampir terjadi di semua daerah. hanya motifnya yang berbedabeda. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah. budaya 66 Puslitbang Kesos . Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisi daerah masing-masing.

Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah. Berkaitan dengan hal tersebut. artinya masalah itu timbul karena ulah manusia.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda. misalnya: pertama. Tomohon Tengah-Minahasa dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan yang terdapat dimasing-masing daerah. Oleh karena itu. Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat dominan. Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam penanganan permasalahan. kemandirian menjadi hilang sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang. berpasrah menerima keadaan apa adanya. baik tentang potensi penyebab tumbuh kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian. dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball) dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain. sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah. tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat tinggi. Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi Puslitbang Kesos 67 . harapannya adalah menunggu bantuan pemerintah. Kedua. Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih mengacu pada kasus sebab akibat. pada akhirnya menimbulkan permasalahan. permasalahan pokok penelitian ini adalah bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya Kesejahteraan Sosial (PSKS). masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang ada. Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna tentang permasalahan sosial. sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui program di berbagai sektor.

penyandang HIV/ AIDS. Namun demikian tidak semua golongan atau masyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik. komunitas adat terpencil. Tehnik pengumpulan data 68 Puslitbang Kesos . gotong royong dan sebagainya. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 2002). penyandang cacat. keluarga bermasalah sosial psikologis. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. sosial. lanjut usia terlantar. wanita rawan sosial ekonomi. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. tetapi juga potensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapi kelemahan atau tantangan. Tomohon Tengah-Minahasa Departemen Sosial. korban bencana sosial. bekas narapidana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan. korban penyalahgunaan napza. pekerja migran terlantar. lanjut usia korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. keluarga fakir miskin. anak cacat. korban bencana alam. keluarga berumah tak layak huni. anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. Dalam hal yang demikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. tuna susila. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco. anak jalanan. adalah sesuatu yang bermanfaat. politik. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan. Untuk mempertahankan kehidupannya. antara lain: balita terlantar. anak nakal. Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumber kesejahteraan sosial. dan sumber daya sosial. kesenian. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. gelandangan. sumber daya manusia. 1991). keagamaan. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. pengemis. dengan maksud mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antara lain sumber daya alami. anak terlantar.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakat umum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal) dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup (kegiatan ekonomi) potensi geografis wilayah dan sumber daya manusianya serta faktor-faktor lain yang berkaitan.

Gambaran Lokasi Penelitian
1. Kondisi Wilayah

Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Bapeda Kota Tomohon (Maret 2005) berjumlah: 6938 KK atau mencapai 16,02%. Hal ini memberi indikasi bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penduduk miskin yang nantinya berdampak pada masalah sosial dan kesehatan. Meningkatnya kasus-kasus penyakit pada akhir-akhir ini seperti demam berdarah dengue (DBD) 14 kasus, malaria: 217 kasus, TB paru klinis: 763 kasus, Hipertensi: 3860 kasus, diabetes militus: 362 kasus. Hal ini diakibatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat belum optimal, serta gaya hidup cenderung berpestapesta dengan ungkapan ”Kalau ada tada kalau tidak haga ” akhirya berdampak pada kesehatan dan masalah sosial. Meningkatnya pengangguran dan permasalahan sosial lainnya dikarenakan minimnya pendidikan formal dan keterampilan anakanak putus sekolah, dimana data menunjukkan anak terlantar sebanyak 6900 orang, anak nakal: 1236 anak. Anggapan masyarakat bahwa permasalahan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Penyandang masalah kesejahteraan sosial pada umumnya mengalami masalah kemiskinan dan kondisi ketidakberdayaan fakir miskin dapat dilihat dari tidak adanya alternatif individu, keluarga dan komunitas dalam menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Kecamatan Tomohon Tengah terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara 28 derajat celcius. Kondisi lingkungan masyarakat kondusif, tentram dengan penduduk mayoritas homogen. Jarak ke Ibu Kota Tomohon 2,5 km dengan waktu tempuh 5 menit, dari ibukota provinsi sekitar 25 km, dan
Puslitbang Kesos

69

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

dengan sarana transportansi umum yang relatif lancar dan memadai. Kecamatan Tomohon terdiri dari 7 (tujuh) Kelurahan, yaitu Kelurahan Talete Satu, Kelurhan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua, Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 18.556 jiwa, sebagian besar (90%) beragama Kristen Protestan, sebagian lainnya Katholik, Islam, dan Budha.
2. Potensi dan Sumber Alam

Hasil yang saat ini diperoleh dari pengolahan tanah berupa hasil pertanian tanaman padi dan palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Sedangkan produksi padi pada tahun 2004 menghasilkan padi sekitar 6.995 ton. Produksi tanaman sayuran tahun 2004 mencapai 9.839 ton, produktivitas tertinggi didominasi oleh tanaman terong sebesar 162,74 kw/ha. Sedangkan produksi tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, cengkeh, vanili, kopi, dan kakao. Produksi tanaman perkebunan terbanyak adalah kelapa mencapai 729,125 ton. Untuk tahun 2004, sektor peternakan populasi terbesar terdiri dari sapi, kuda, kambing dan babi. Melihat potensi alam, terutama hasil pertanian dan perkebunan, pasang surutnya tampak tergantung dari luas lahan yang semakin menyempit dikarenakan banyak pembangunan permukinan penduduk, mini market dan mall.
3. Agama dan Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Tomohon Tengah mayoritas beragama Kristen Protestan. Dan sebagian lainnya beragama Katholik, Islam, dan Budha. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang paling menonjol adalah Gereja. Di Kecamatan Tomohon Tengah hanya terdapat sarana ibadah umat Islam, yaitu satu buah Masjid. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Saat ini semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih digunakan sebagai tempat untuk ibadah umat penduduk di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah. Kelompok-kelompok yang terkait dengan keagamaan yang ada di Kecamatan Tomohon Tangah adalah kelompok kebaktian gereja.

70

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan kebaktian.
4. Sarana Pendidikan

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana pendidikan yang relatif cukup lengkap, dari mulai TK sampai pergurunan tinggi. Sekolah negeri yang dimiliki wilayah ini adalah SD (3 buah), SLTP (3 buah), dan satu perguruan Tingga Negeri. Sedangkan sebagian lainnya yang jumlahnya relatif lebih banyak adalah sekolah atau perguruan tinggi swasta, yakni terutama yang dikelola oleh yayasan atau perkumpulan agama. Tabel 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Fasilitas Pendidikan TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP. Negeri SLTA. Swasta PT.Swasta PT.Negeri Akademi Swasta SLB Sekolah Kursus Montir Kursus Menjahit BLK Jumlah 13 3 9 3 7 5 1 2 1 3 7 1

5.

Kesehatan

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan/perawatan kesehatan masyarakat di Kecamatan Tomohon Tengah, umumnya penduduk memanfaatkan sarana kesehatan yang telah ada dan letaknya relatif cukup dekat. Masing-masing Puskesmas maupun Balai Pengobatan Jemaat Gereja maupun rumah sakit swasta (dibawah yayasan gereja) di Kecamatan Tomohon Tengah saat ini memiliki seorang Dokter, Perawat, dan Bidan dan para medis/perawat.

Puslitbang Kesos

71

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Tabel 2. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jenis Fasilitas Kesehatan Apotik Rumah sakit Posyandu Dokter Praktek Bersama Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Mata Dokter THT Dokter Kulit Dokter Jiwa Dokter Hewan Bidan Mantri Kesehatan Dukun Bayi Puskesmas Puskesmas Pmbantu Toko Obat Dukun a 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 1 1 c 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 Kelurahan d e 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 f 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 g 1 2 1 2 1 1 1 1 3 -

Keterangan: a = Kel. Talete 1 b = Kel. Talete 2

c = Kel. Komasi d = Kel. Kolongan

e = Kel. Matani 1 f = Kel. Matani 2

g = Kel. Matani 3

6.

Ekonomi

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana ekonomi yang cukup lengkap, misalnya warung/toko, pasar, mall/ swalayan dan sebagainya. Secara lebih rinci sarana ekonomi yang ada dapat dilihat pada tabel 3. Oleh karena itu, kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan masyarakat Tomohon Tengah mudah diperoleh dari pasar di lingkungan sekitar. Selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut, masyarakat juga belanja di Mall dan juga di Minimarket/Supermarket yang banyak bertebaran di wilayah ini khususnya di Kota Tomohon.

72

Puslitbang Kesos

Penghasilan kecil/tidak tetap dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 13. 9.Bioskop Hotel/Motel Restoran Losmen Pasar Biro Perjalanan Cafe Mess/asrama a 14 1 6 1 2 1 4 5 3 2 5 2 1 1 4 b 10 6 2 2 2 2 4 3 1 3 Kelurahan c d e 44 8 2 13 6 1 1 1 1 1 1 5 1 2 3 1 9 7 2 3 2 1 2 3 f 62 1 1 g 7 2 5 3 3 3 3 1 2 - Permasalahan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin merupakan masalah yang sangat menonjol di Tomohon Tengah. 14. 7. 3. 8. 18. 17. kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni. 20. 15. 10. 2. Fasilitas Ekonomi PendudukKecamatan Tomohon Tengah No. Kriteria atau pengkategorian warga masyarakat miskin menurut kondisi lokal adalah sebagai berikut: a. Warga masyarakat yang digolongkan sebagai keluarga miskin didasarkan pada tingkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari serba kekurangan. Jenis Fasilitas Kesehatan Warung/Kios Koperasi Super Market/Toko Bank Usaha bersama Kel. 12.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut/pensiun. 6.Simpan Pinjam Badan Kredit Desa Lumbung Pitih Nagari Usaha Industri Kecil Usaha Industri RT Diskotik Karaoke Rumah Bilyar Gdg. 4. b. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 3. 19. Tingkat produktivitas Kepala Keluarga yang rendah. Puslitbang Kesos 73 . serta tingkat produktivitas kepala keluarga rendah dan kondisi lain yang tidak mendukung. 16. 1. 11. 5. 21.

Ketika para petani beralih profesi menjadi pedagang. masyarakatnya intelek dan penghasil cengkeh terkenal. Tomohon Tengah-Minahasa c. dengan demikian sumber penghasilan dari cengkeh tidak lagi menjanjikan. Kurangnya dukungan Pemda setempat bagi kaum petani sehingga dengan mudah para petani begitu saja meninggalkan lahan pertaniannya. b.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Ukuran bangunan rumah relatif kecil yaitu antara 5 x 4 meter atau 5 x 6 meter dan biasanya tidak mempunyai perekat ruangan. Namun munculnya permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor. d. Supermarket. karena umum sudah mengetahui bahwa wilayah ini merupakan daerah subur. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan sangat buruk dan bahan atap dari seng yang sudah tua atau menggunakan kayu yang sudah rapuh dengan lantai tanah atau papan. Diikuti oleh kondisi rawan bencana yang juga meliputi daerah perkebunan cengkeh sehingga muncul kekhawatiran para petani sehingga tidak lagi menggarap lahan perkebunannya. c. dan lagi pula lapangan kerja yang tersedia di perkotaan tidak memadai dengan jumlah pencari kerja. Namun kendala lain yang dihadapi. yaitu tidak memiliki keterampilan yang memadai. Pertokoan dan sebagainya. mereka tidak siap untuk itu sehingga alternatif pilihan adalah menjadi pekerja di Mall. Pertama-tama berawal dari anjloknya harga cengkeh beberapa tahun silam sehingga semangat masyarakat petani cengkeh turun drastis. Akhirnya secara proses jumlah fakir miskin sedikit demi sedikit mulai membengkak. 74 Puslitbang Kesos . Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang dan kontrak/sewa baik dengan orang tua/mertua maupun kerabatan lainnya. seperti: a. Sebenarnya secara jujur Wilayah Minahasa (termasuk Tomohon) tidaklah pantas menyandang predikat fakir miskin. Karena pergeseran gaya hidup dengan perkembangan kota desa sehingga masyarakat lebih cenderung beralih ke pola hidup kota (modern). d. e. Seandainya dimotivasi agar beralih tanam hal ini masih memungkinkan adanya alternatif penghasil lain selain cengkeh. atau pengusaha rumah tangga.

Kelurahan a b c d e f g Anak Nakal 33 75 Anak Jalanan 16 Anak Cacat 4 Wanita Rawan Sosek 4 6 54 Penyandang cacat 21 9 28 25 16 15 Eks Napi 10 6 6 Kel. 5. 9. 17. 4.Rmh tdk layak 38 20 24 30 20 Kel. 15. Psik. 8. 1. 2 Eks. 4. 7. 9. 2. 10. 7. 10. 3. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 4. 12. Profesi Panti Werdha Rmh Jompo a 2 2 4 1 1 1 2 1 2 8 b 1 2 4 2 2 1 2 2 c 1 1 5 1 1 1 1 Kelurahan d e 3 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 f 1 1 1 4 2 1 1 1 1 g 1 1 2 1 1 1 1 1 1 - Puslitbang Kesos 75 . 6. 6.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Setiap Kelurahan No. 1. Data Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Setiap Kelurahan No.Rentan 24 Pengungsi 3 Anak Terlantar 24 50 40 16 60 Wanita Krbn Kekerasan 16 15 97 16 10 26 LU Terlantar 30 55 10 25 115 96 Rawan Banjir 46 50 Korban benc.Fakir Miskin 106 109 258 215 96 126 166 Kel. Karang Taruna Orsos LKMD Org.Pnykt Kronis 10 Jenis PMKS Tabel 5. Pemuda Dunia Usaha Peduli Kesos Panti Asuhan Koperasi Org. 16. 8.Bermasalah Sos. 11. 11. 12. 3. Alam 15 Kel. 13. 2. 5. 14. 13 14 Jenis PSKS Arisan PKK PSM Orsos Kemasy.

Banyak anak dan belum ada yang menikah. serta seberapa besar perhatian dan perawatan yang diberikan oleh anak/cucu atau keluarga lainnya. maka rumah–rumah ini semakin lama semakin rusak dan kondisinya tampak tidak layak huni. Ada di 6 (enam) kelurahan yang ada di Kecamatan Tomohon Tengah. Rumah-rumah tersebut adalah rumah dalam bentuk rumah asli Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu. Sedangkan kriteria yang digunakan di Tomohon Tengah. Kurangnya perlengkapan fasilitas MCK. Status kepemilikan bangunan rumah masih menumpang e. Karena ketiadaan biaya perbaikan. sebagai berikut: a. III. Lanjut Usia terlantar terdapat hampir disemua kelurahan. Kategori wanita korban kekerasan didasarkan pada kriteria lokal. Usia antara 20 hingga 60 tahun b. Wanita yang digolongkan sebagai wanita korban kekerasan didasarkan pada status perkawinan. sebagai berikut: a.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Ukuran bangunan rumah relatif kecil d. Wanita korban tindak kekerasan terdapat hampir di setiap kelurahan (ada enam kelurahan). Jumlah rumah tak layak huni pada kelurahan yang mempunyai permasalahan ini berkisar antara: 20 hingga 30 keluarga. sebagai berikut: 76 Puslitbang Kesos . Warga masyarakat di golongkan lanjut usia terlantar didasarkan pada usia. Kelurahan Matani I. Para penghuninya tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah–rumah tersebut sehingga melapor dan meminta bantuan melalui dinas sosial setempat. Penghasilan kecil e. c. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh c. Status perkawinan: janda ditinggal mati suami atau belum menikah. Jumlah penghuni yang tidak sebanding dengan luas rumah b. Kriteria rumah tidak layak huni menurut kondisi lokal. Kelurahan Komasi dan Kelurahan Kolongan. II. d. Tomohon Tengah-Minahasa Rumah tidak layak huni di beberapa kelurahan hampir sama dengan kondisi di kelurahan lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah yaitu Kelurahan Talete I dan II. tingkat penghasilan dan jumlah beban tanggungan. Memiliki sumber penghasilan yang tidak menentu. kondisi ekonomi.

misalnya munculnya tempat belanja berupa supermarket. dengan mengkonsumsi minuman keras (miras). Contoh kasus lapangan yang dilihat langsung adalah di salah satu supermarket. sekarang pola hidup sudah mulai bergesar dengan perubahan paradigma sebagai pedagang. Masalah Anak Nakal merupakan masalah yang bersifat embrio yang muncul melalui tahapan-tahapan proses yang kelihatannya bersumber dari faktor lingkungan. baik karena ketidakmampuan ekonomi maupun non ekonomi. b. permakanan dan kebutuhan hidup lainnya. Oleh karena itu. Bentuk kenakalan anak menurut definisi wilayah ini adalah menggangu ketertiban masyarakat setempat dengan tindakan kumpul-kumpul yang disertai mabuk–mabukan. Umur diatas 60 (enam puluh) tahun keatas. Keterangan-keterangan yang diperoleh di lapangan menggambarkan proses seperti itu. sejak supermarket buka hingga ditutup pada malam harinya. café. putra-putri mereka juga secara otomatis mewarisi gaya hidup ini dengan tidak disebut sebagai anak petani dan lebih prestise kalau disebut sebagai anak pengusaha (ala kota pedesaan).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. tindak kriminal walaupun dalam skala Desa/kelurahan dalam bentuk mengganggu milik masyarakat. Akibatnya. selepas sekolah mereka tidak mempunyai kegiatan. yakni para remaja yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan secara tidak menentu. yang menyebabkan para remaja mulai beradaptasi diri dengan tempat–tempat ini. Tomohon Tengah-Minahasa a. Faktor penyebabnya adalah faktor putus sekolah. Hal yang sama dilakukan di café-café atau tempat hiburan lainnya. Perkembangan kota desa yang memang berkembang dewasa ini menyebabkan juga adanya perubahan perkembangan perilaku anak. sehingga untuk mengisi kekosongan terjadilah pertemuan antar remaja dan kalau sudah berkumpul mulai bertindak yang tidak wajar. Hidup sendiri atau bersama anak/cucu atau keluarga lainnya tetapi sangat kurang diperhatikan dalam perawatan. Dari sinilah timbul kenakalan-kenakalan remaja. Pada mulanya masyarakat di wilayah Tomohon terkenal sebagai petani cengkeh yang ulung. atau diskotik. polisi piket di depan supermarket dengan maksud menghindari masuknya para remaja siswa sekolah terutama pada jam-jam pelajaran sekolah (baik siswa pagi maupun siswa siang). pengusaha versi perkotaan. Masalah yang dekat dengan anak nakal dan anak terlantar yaitu anak jalanan. ketiadaan kegiatan yang pasti dan ketidaksadaran akan makna Puslitbang Kesos 77 .

Dari sejumlah penyandang terdapat banyak diantaranya yang dapat dibina untuk melakukan kegiatan mandiri dengan dimodali oleh Pemda setempat. Narapidana berawal mula dari kenakalan remaja. maka permasalahan yang dihadapi di kelurahan ini merupakan masalah sosial umum yang penanganannya berada dibawah Pemerintah Daerah setempat. Faktor penyebab munculnya anak jalanan ini. Jumlah kasusnya cukup banyak yakni 114 kasus. Sebagai wilayah kelurahan yang kapasitas pertumbuhan industri tidak memungkinkan. Minimnya lapangan kerja bagi kaum wanita di Kelurahan ini menjadi sumber permasalahan. Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah suatu permasalahan yang dialami oleh sekelompok wanita. lama kelamaan meningkat ke tindakan kriminal dan akhirnya sebagai penghuni rutan. bahwa permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan menurunya secara drastis pertanian cengkeh yang tadinya menjadi idola di wilayah ini. Hal ini ditambah pula dengan ketiadaan keterampilan yang dimiliki para wanita ini. berawal dari kurangnya pengawasan orang tua. seperti misalnya cacat karena faktor bawaan. Para napi pun ini sadar bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat kurang dapat diterima. Selepas dari itu para wanita ini sama sekali tidak punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan mereka. dengan alasan kalau–kalau suatu saat nanti perilakunya akan muncul kembali. Tomohon Tengah-Minahasa mencari hidup. Masalah yang terkesan rawan bagi masyarakat adalah eks narapidana. Permasalahan kecacatan secara khusus merupakan masalah yang tidak semata karena kelalaian manusia. maka sulit bagi para wanita untuk mendapatkan sumber penghidupan yang tetap.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Diawali dengan jarang tinggal di rumah kemudian menjadi keseringan maka pada akhirnya hidup di luar menjadi suatu yang merupakan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi pilihan. Dimanapun permasalahan narapidana ini hadir menjadi permasalahan yang memerlukan penanganan yang sangat bijak agar persepsi masyarakat terhadap para penyandangnya tidak ditolak oleh masyarakat setempat. Informasi lapangan yang diperoleh menyatakan. namun karena kembali lagi terjadi perkembangan kota pedesaan maka cukup membawa pengaruh pada kebiasaaan hidup anak. dimana para wanita ini tidak mempunyai sumber penghasilan yang tetap. 78 Puslitbang Kesos .

mudah diacu atau diikuti masyarakat. namun karena kondisi keluarga dalam kondisi yang sama yaitu ketidakmampuan ekonomi sehingga permasalahan keluarga rentan ini menjadi permasalahan tersendiri. Perlu program yang baku. Dari kesimpulan yang diambil dari hasil kajian akan diberikan saransaran/rekomendasi. Masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman penanganannya. 2. Keluarga–keluarga rentan ini dalam keadaan pasrah menunggu pertolongan pemerintah. sebagai berikut : 1. memerlukan langkah-langkah kegiatan yang lebih praktis dan nyata. Puslitbang Kesos 79 . sebagai berikut: 1.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. sehingga diperoleh cara penyelesaian yang tepat. Sebenarnya keluarga rentan ini bisa ditangani oleh masing–masing keluarga. dengan memperhatikan kriteria lokal dan sumber-sumber yang tersedia. Tomohon Tengah-Minahasa Keluarga rentan termasuk kategori keluarga manula yang perlu mendapat pertolongan. Masalah-masalah lain berdasarkan pengamatan dan hasil kajian penelitian merupakan masalah yang terkait dan bersumber dari masalah-masalah prioritas seperti kemiskinan. 3. Masalah yang paling menonjol dan merupakan masalah prioritas di kelurahan-kelurahan wilayah Tomohon Tengah adalah masalah fakir miskin. 2. Permasalahan ini merata terdapat di semua kelurahan (7 kelurahan). Untuk itu. masalah yang juga masalah prioritas kedua adalah masalah lanjut usia terlantar. khususnya bagi permasalahan fakir miskin yang sesuai dengan sumber permasalahan lokal.. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal masalah penelitian. Di beberapa kelurahan. Yang terutama memberi perhatian adalah kepedulian pemerintah setempat. program yang tepat adalah pemberdayaan fakir miskin melalui bantuan dan jaminan sosial. Sayangnya di Minahasa ini belum begitu terdengar hal penampung keluarga rentan atau semacam panti penampungan. sehingga penanganannya dapat lebih tuntas.

Profesi Pekerja Sosial. . Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Tomohon dengan BPS Kabupaten Minahasa. Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial.. dan meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Bandung. 2004.... 2003.. STKS Press Tim Crescent IPB. 2002.. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. 2005 Rencana Strategis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon Tahun 2005-2009 Dwi Heru Sukoco. Konsep dan Strategi. Pusdatin. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.. 2005. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama 80 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa 3.. Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial. 1991. misalnya melalui penyuluhan... Tomohon Dalam Angka (Tomohon In Figures) Departemen Sosial.. Masalah-masalah terkait lainnya perlu ditangani dengan upaya pencegahan. Jakarta. Jakarta. membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya..

Pasaman. Anggotanya terdiri dari orang miskin. krisis ekonomi dan kebudayaan. Nagari Kelurahan 1 2 Judul asli dari penelitian Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat. Keanggotaan harus mempunyai komitmen yang tinggi. Untuk mempertahankan hidupnya (survival strategy) secara sosial dan ekonomi. Puslitbang Kesos 81 . Strategi pengentasan kemiskinan dengan membentuk suatu panitia berbasis institusi lokal (Nagari/kelurahan). Penelitian ini merupakan penelitian terapan melalui survey terhadap 12 nagari dan 4 kelurahan dalam tiga kabupaten dan dua kota. Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan. rendahnya akses. laki-laki dan perempuan. Achmadi Jayaputra. Kota Padang dan Kota Payakumbuh. Penanggulangan Kemiskinan. Penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas. Kata Kunci: Kemiskinan. Sumatera Barat. tokoh masyarakat. (1) Kantong kemiskinan terdapat di Kabupaten Mentawai. Kepala Bidang Program Puslitbang Kesos. orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik atau urang ino. antara lain melakukan pekerjaan secara tetap dan memperbanyak jumlah anggota rumah tangga untuk bekerja. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra kerja. tukang dan buruh kasar. (2) sebutan orang miskin yaitu urang indak bapunyo. (3) pekerjaan utama mereka yaitu buruh tani. Padang. urang susah.PEMETAAN KEMISKINAN DAN STRATEGI PENGENTASANNYA BERBASIS INSTITUSI LOKAL DAN BERKELANJUTAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA BARAT1 Drs. urang indak mampu. Achmadi Jayaputra. (4) penyebab kemiskinan yaitu lokalitas ekosistem. Pesisir Selatan. wawancara mendalam dan diskusi kelompok. M. Pasaman Barat. urang sulit. Temuan lapangan antara lain.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memetakan kantong-kantong dan merumuskan strategi pengentasan kemiskinan berdasarkan institusi lokal.

antara lain: • Program tidak tepat sasaran • Program tidak bertahan lama (tidak berkesinambungan) • Program dipaksakan dari atas. Berarti memecahkan masalah kemiskinan secara tidak langsung memecahkan PMKS.4 juta jiwa (23%). sekaligus membuka pintu untuk pemecahan PMKS lainnya. Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan. sayangnya penduduk miskin di Indonesia makin bertambah. tahun 2003 menurun hanya 501. Penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan bersifat karitatif (charity) cenderung menjadikan orang miskin semakin tergantung pada bantuan pihak luar.100 jiwa dan tahun 2004 menjadi 472. Khususnya di Provinsi Sumatera Barat. Namun tahun 2005 dari jumlah penduduk 4. dan • Program tidak diakses karena hambatan struktual. diperlukan strategi baru dengan menggunakan potensi sosial lokal untuk membantu orang miskin agar terbebas dari kemiskinannya. penyandang cacat. Pengentasan kemiskinan sejak bergulirnya otonomi daerah belum berhasil dengan baik. 82 Puslitbang Kesos . Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan.70%) tergolong miskin.46 juta jiwa terdapat 935.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Pendahuluan Penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama pembangunan nasional dan daerah.100 jiwa. anak jalanan. Strategi yang dikembangkan itu termasuk dalam community based development. misalnya tahun 2001 penduduk miskin tercatat 1. dan sebagainya. karena dihadapkan pada beberapa hal. Faktor lain berkaitan dengan kelemahan organisai pelaksana seperti pemerintah lokal dan pemerintah kelurahan atau desa (nagari). Termasuk permasalahan sosial yang disebutkan Departemen Sosial sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pelacuran. Hal tersebut seharusnya dijadikan momentum dan peluang untuk mewujudkan desentralisasi pembangunan yang sensitif terhadap persoalan lokal. Oleh karena itu.300 jiwa (20. terutama sejak diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah. Akibatnya perekonomian mereka rentan dan mereka dengan mudah kembali ke garis kemiskinan.

Dimana rumah tangga miskin tersebut berkonsentrasi terhadap tipologi ekologis dan sumber pendapatan? b. Selain itu berdasarkan mata pencaharian penduduk yaitu petani lahan kering. Responden seluruhnya berjumlah 224 orang. sosial. diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) dan pengumpulan data skunder. Lokasi dipilih secara sengaja berdasarkan angka kemiskinan yang tinggi dan kondisi ekologis. tokoh komunitas setempat dan pemerintah lokal. Survey dilakukan terhadap 12 Nagari dan 4 kelurahan yang terdapat dalam 3 kabupaten yaitu Pasaman. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu survey. ekonomi dan politik rumah tangga miskin tersebut? c. kedua. Diskusi dengan menghadirkan masing-masing 14 orang terbagi dalam dua kelompok. walaupun telah ada program pengentasan kemiskinan? d. nelayan dan bukan nelayan. pertama. Apa strategi dalam pengentasan kemiskinan yang berbasis institusi lokal yang dapat diterapkan di Provinsi Sumatera Barat? Tujuan penelitian yaitu. sosial. Solok dan Pesisir Selatan. serta 2 kota yaitu Padang dan Payakumbuh. tokoh masyarakat yang berpengalaman melaksanakan program anti kemiskinan. wawancara mendalam. b. Penelitian ini akan merumuskan model penanggulangan kemiskinan yang dapat diadopsi untuk memecahkan PMKS lainnya karena bertumpu pada pemberdayaan komunitas lokal. petani lahan basah. ekonomi dan politik rumah tangga miskin. Bagaimana kondisi budaya. kelompok pendudukan miskin yang mengikuti program anti kemiskinan. Memetakan kantong-kantong kemiskinan berdasarkan tipologi ekologis dan sumber mata pendapatan dan mengidentifikasi karakteristik budaya. yaitu: a. Merumuskan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan institusi lokal. Mengapa anggota rumah tangga tetap miskin. a. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dari instansi pemerintah di 3 kabupaten dan 2 kota tersebut terdiri Puslitbang Kesos 83 .Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Permasalahan dalam penelitian.

Wilayahnya 42. Kecamatan Bonjol di Nagari Koto Kaciak dan Gonggo Halia. Sedangkan tahun 2006.-. diketahui garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. untuk tahun 2003 pertumbuhan ekonomi 5%-7% per tahun. a..59%) dan selebihnya tanah yang belum dimanfaatkan. 159. Dinas Sosial. 34.-. perkebunan. Kota Padang. tanah yang dimanfaatkan untuk permukiman (28. 157 kecamatan dan terdiri dari 517 Nagari/Kelurahan. Kabupaten Pesisir Selatan. Kabupaten Solok. c. Khusus di provinsi ini. peternakan. dilihat dari kondisi dan penggunaan lahan sebagian terdiri dari hutan (61%). Kabupaten Pasaman. 48.297 Km2.904.dan di perdesaan sebesar Rp. Kecamatan IV Jurai di Nagari Painan.389. Kecamatan Lubuk Bagalung di Kelurahan Kampung Baru dan Gates e. Kecamatan Payakumbuh Barat di Kelurahan Parit Rantang dan Padang Karambie. 1. yang terbanyak adalah pertanian 25. kehutanan dan perikanan laut. Hasil Penelitian Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota. Air Haji dan Pungasan. 84 Puslitbang Kesos .863. Lokasi Penelitian.671. b.16% dan didukung lima sub sektor yaitu tanaman pangan dan hortikultura. Diantaranya. Kecamatan II Koto di Nagari Simpang Tonang dan Cubadak. Dinas Kelautan. Kecamatan Linggo Sari Baganti di Nagari Lumpo.dan di perdesaan sebesar Rp. Kecamatan Kubung di Nagari Gaung dan Panyangkalan. d. Pemberdayaan Masyarakat. Kecamatan II Koto Diateh di Nagari Paninjauwan dan Kuncir. Camat dan Wali Nagari.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya dari Bappeda. Kinerja ekonomi di provinsi ini. 225. tahun 1996 angka atau garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. istilah Nagari digunakan untuk daerah kabupaten dan Kelurahan untuk daerah kota.. Kantong Kemiskinan Di Sumatera Barat. Kota Payakumbuh.

337 rumah tangga (25. terdapat 223. Diantaranya nelayan yang tergolong miskin yang dilihat dari kepemilikan alat tangkap. urang sulit (orang sulit). Pada daerah yang berbasis pertanian sawah.825 rumah tangga miskin atau 22. urang susah (orang susah). selalu dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga.162 rumah tangga (21. nelayan miskin yang terdiri dari buruh angkut. Nelayan terbagi tiga kelompok yaitu. Pasaman Barat 21. Mereka yang tergolong rumah tangga miskin kebanyakan di perdesaan dengan mata pencaharian pokok sebagai petani di lahan kering atau perladangan. buruh dan pedagang kecil.98%). Padang 35. Ini terjadi karena tidak memiliki lahan sendiri atau lahan sempit seperti petani penggarap yang Puslitbang Kesos 85 .07%) dan Payakumbuh 4. Ditemukan beberapa sebutan orang miskin dalam istilah lokal yaitu urang indak bapunyo (orang tidak punya).41%). ketiga. nelayan kaya yang memiliki alat tangkap lengkap dan kapal bermotor. kedua. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatannya dari pekerjaan buruh tani.12%). Sedangkan di perkotaan angka yang tinggi karena tingginya jumlah penduduk. Orang miskin sebagai keadaan negatif. Pesisir Selatan 26. Orang miskin dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga seperti buruh tani. 2) Produktivitas rendah karena hama babi dan kera yang susah ditanggulangi masyarakat setempat. nelayan yang tidak punya alat tangkap. Pasaman 19.17%).186 rumah tangga (29. Penyebabnya antara lain : 1) Tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas. 4) Areal sawah sangat sedikit.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Tahun 2005. urang indak mampu (orang tidak mampu).12%).07% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. sehingga mereka harus membeli beras. nelayan sedang yang memiliki kapal dan bermotor tempel.250 rumah tangga (17. pertama. Orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik (orang bangsat) atau urang ino (orang hina).922 rumah tangga (35. Rumah tangga miskin banyak terdapat dalam enam daerah yaitu Kabupaten Mentawai 8.002 (51. 3) Kesuburan tanah dan ketersediaan air rendah.

Demikian juga daerah perkotaan. 1) Alternatif pekerjaan di daerahnya terbatas dan berkaitan dengan perkembangan ekonomi makro. ternyata ekonomi rumah tangga miskin banyak yang merasa pesimis melihat perbaikan ekonominya. kebanyakan rumah tangga yang dikepalai perempuan termasuk dalam kategori rumah tangga miskin. seorang pegawai rendahan merangkap sebagai tukang ojek atau buruh serabutan.000. Hasil survey. penyebab kemiskinan antara lain.000. Rumah tangga miskin memiliki jumlah anak yang lebih banyak dan sebagian besar menjadi tanggungan keluarga karena masih bayi.5%). 399. 600.30%).10%). pedagang yang tidak bermodal atau bermodal kecil.sampai dengan Rp.(28. usia sekolah.000. Oleh karena itu. 200. golongan miskin menunjuk pada rumah tangga buruh nelayan yang tidak memiliki sarana penangkap ikan yang lengkap.(35.per bulan (20.(16. Misalnya di daerah perdesaan seorang sebagai petani sawah dapat saja menjadi buruh tani. maka perlu mengakses peluang.10%).60%) dan yang menjawab tidak ada perubahan (48. Kebanyakan orang miskin melakukan pekerjaan ganda. Rp.50%). Pada tipologi yang berbasis nelayan. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatan dari buruh dan sektor informal.000. Hasil survai secara keseluruhan. Namun mereka tidak mampu karena terbatas pengetahuan dan keterampilan. 400.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya tidak mempunyai lahan pertanian. belum bekerja atau belum menikah. 599. 200. Karakteristik sosial.. Dikalangan nelayan. Khususnya sektor informal sangat bervariasi seperti buruh kasar. Di tengah banyaknya program anti kemiskinan..20%). seorang buruh nelayan dapat saja merangkap sebagai tukang atau buruh angkat.sampai dengan Rp. ada yang merasa ekonominya lebih baik (4. 86 Puslitbang Kesos .10%).5%). Apabila ingin memperbaiki ekonomi. pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani (54. Pendapatan yang mereka peroleh antara lain terendah Rp.. pedagang kaki lima dan lain-lain (23.000. nelayan kecil atau buruh nelayan (16. Adapun tipologi di daerah perkotaan.000. merasa lebih buruk (28.30%) dan yang berpendapatan diatas Rp. tukang dan buruh lainnya.20%) dari tahun sebelumnya. tukang atau buruh (3. berpendapatan Rp. Biasanya buruh nelayan hanya memiliki sampan saja atau perahu tidak bermotor.

berhutang kepada anggota keluarga (20.10%). sementara luas lahan tetap dan dipengaruhi sistem pemilikan lahan secara adat. Alasannya tidak tahu alternatif yang tersedia dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tetap lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan resiko pilihannya. Pertumbuhan penduduk terus berlangsung. Ini menunjukkan mereka bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang. Puslitbang Kesos 87 . maka orang miskin bergantung pada pekerjaan yang tidak memberi pendapatan yang mencukupi. Adapun strategi adaptasi tersebut yaitu. 3) Produktivitas rendah karena orang miskin tidak memiliki aset lahan yang memadai. Pola ini merupakan bagian dari strategi adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan. Tujuannya untuk bertahan hidup (survival strategy). 1) Pekerjaan Tetap Mereka tidak berusaha pindah pekerjaan. Pilihan diversifikasi pekerjaan dan pendapatan melalui pola nafkah ganda. Sementara meminjam kepada lembaga keuangan perbankan atau lembaga keuangan mikro tidak menjadi alternatif karena masih kurangnya lembaga keuangan tersebut. 2) Anggota Rumah Tangga Rumah tangga miskin cenderung memperbanyak jumlah anggota rumah tangga ikut bekerja untuk memecahkan kesulitan hidup. Orang miskin atau rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan yang dialami melakukan upaya adaptasi.70%) atau berhutang kepada bos atau tauke (12. 4) Orang miskin tidak mampu mengakses sumber daya karena ketiadaan teknologi dan minimnya modal.50%) menerima bantuan dari anggota keluarga (14. Strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya secara sosial dan ekonomi.80%). Cara lain yang mendorong orang miskin memecahkan masalah keuangan rumah tangganya yaitu berhutang kepada tetangga (38.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Ketiadaan alternatif dan tidak mampu mengkreasi peluang baru.

Sedangkan petani sawah ketersediaan air mutlak. musim angin dan bulan. Akan tetapi tidak ada irigasi yang baik atau sumber air terbatas. Pada masyarakat petani ladang yang terjadi meningkatnya biaya produksi seperti bibit dan pupuk.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Secara umum penyebab kemiskinan. disebabkan tanah ulayat hanya digunakan oleh anak kemenakan pemilik ulayat. Selain itu status tanahnya sebagai tanah adat atau ulayat atau hutan lindung tidak dapat digunakan sembarangan karena pengaturannya yang berbeda. sedangkan anggota kaum bertambah. Ada pula di perkotaan yang dahulu merantau. tetapi lahan yang ada sangat terbatas. antara lain. Termasuk kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi naik. sehingga produksi lahan sawah rendah. 1) Lokalitas Ekosistem Di kalangan petani perdesaan atau lahan kering ketergantungan terhadap lahan secara mutlak. Di kalangan komunitas nelayan miskin. Secara umum 88 Puslitbang Kesos . 3) Krisis Ekonomi Krisis ekonomi diikuti dengan kenaikan harga berbagai alat produksi dan kebutuhan konsumsi telah menyebabkan semakin beratnya kehidupan masyarakat. Daerah perladangan dengan tanaman tua yang diusahakan membutuhkan lahan yang luas. 2) Rendahnya Akses Ada keluarga yang kekurangan lahan. tetapi lahan terbatas. Ada golongan keluarga atau masyarakat yang hidup turun-temurun dalam kekurangan aset ekonomi atau rendah aksesnya terhadap sumber daya setempat. Banyak orang miskin di nagari dari kalangan pendatang. Tanah telah dibagi habis. sehingga tidak dapat menggunakan lahan yang ada. rendahnya akses kepemilikan alat tangkap ikan seperti perahu motor. Pengaruh ekologis sangat dirasakan di kalangan nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tidak selalu sama atau tergantung iklim. terkena PHK dan usahanya bangkrut. Sementara pendapatan tidak seimbang dengan biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk pangan dan konsumsi rumah tangga. kini kembali ke kampung.

melakukan pemantauan dan pengendalian. sehingga tidak ada alternatif pekerjaan lain. mengkoordinasikan kegiatan. Kredit Usaha Kecil (KUK). 4) Kebudayaan Semua rumah tangga miskin mempunyai pengetahuan dan keterampilan. memfasilitasi dana. sejak tahun 1983 sudah masuk program pengentasan kemiskinan atau program anti kemiskinan yang dilakukan oleh beberapa departemen atau instansi pemerintah lainnya. Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes). Ternyata. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). Kredit kelompok Kepada Kelompok Masyarakat (K3M) 4) Program Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) 5) Program Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS) dari BKKBN 6) Program perbaikan rumah tidak layak huni dari Departemen Kimpraswil 7) Program bantuan pendidikan bagi anak miskin 8) Program bantuan pengobatan orang miskin 9) Program bantuan beras miskin (Raskin) dari BULOG Puslitbang Kesos 89 . Namun hanya tahu terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diketahui saja. Adapun program kemiskinan yang pernah dialami antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Departemen Sosial RI 2) Inpres Desa Tertinggal (IDT) dari Departemen Dalam Negeri 3) Kredit Investasi Kecil (KIK). 2. Namun dalam pelaksanaan kegiatan belum menunjukkan hasilnya dalam penanggulangan kemiskinan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya yang paling dirasakan yaitu kenaikan harga kebutuhan dasar dan membiayai modal usaha. Kinerja Anti Kemiskinan Tahun 2002 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang diketuai oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan Gubernur Sumatera Barat sebagai penanggung jawab. Tugas komite tersebut yaitu menyiapkan data.

Bantuan yang bersifat jaring pengaman sosial hanya untuk memenuhi kebutuhan 90 Puslitbang Kesos . Juga diakui responden. keempat. 600. program memberdayakan keluarga miskin dengan bantuan modal usaha seperti IDT. PPK. program. Dampak program yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Program Tidak Efektif Program-program anti kemiskinan tidak efektif membebaskan penerima bantuan dari kemiskinannya. kedua.per bulan. semua program yang ada terbagi lima. GEKS. ketiga. PMP dan P2P. Infaq dan Shadaqah (BAZIS) 16)Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 17)Subsidi BBM Menurut bantuan yang diberikan. program bantuan pendidikan seperti BOS dan PPK. program yang bersifat jaring pengaman atau program yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sesaat dengan model bantuan karitatif seperti Raskin. Ratarata tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena penghasilan yang diperoleh dibawah Rp. PPK dan Subsidi BBM. bahkan sebanyak 60% lebih pernah mengikuti dua sampai empat macam program anti kemiskinan. PDM-DKE dan PMP. Kartu Sehat. Pada umumnya (90%) pernah mengikuti program anti kemiskinan. kelima. pengembangan keuangan mikro dengan memberikan bantuan modal kepada kelompok simpan pinjam seperti IDT. BAZIS.000. KUBE. Secara umum program anti kemiskinan yang pernah diikuti belum membuat perekonomian mereka membaik. program pembangunan infrastruktur seperti IDT. BLT.. sebagian besar (80%) responden mengaku ekonomi mereka tidak berubah dari sebelumnya dan selebihnya (20%) menyatakan lebih buruk dari tahun sebelumnya.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 10)Bantuan Langsung Tunai (BLT) 11)Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari Departemen Dalam Negeri 12)Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) 13)Program Pengentasan Perkotaan (P2P) 14)Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPMP) 15)Badan Amil Zakat. pertama.

hanya menyentuh sebagian rumah tangga. kendaraan bermotor dapat menjangkau desanya. 4) Bantuan Bergulir Kurang Berhasil Bantuan yang diterima dalam kelompok tidak bergulir karena sapi yang diterima terlebih dahulu dijual sebelum beranak. Puslitbang Kesos 91 . 1) Sifat Program Bantuan yang diberikan menyelesaikan kebutuhan sesaat karena bersifat karitatif dan parsial. 3) Keuangan Mikro Kurang Berhasil Program pengembangan keuangan mikro bukan perbankan. Hal tersebut disebabkan kelompok simpan pinjam tidak bertahan lama dan kelompok cepat bubar. Namun daerah penerima bantuan tetap saja menjadi kantong-kantong kemiskinan. yaitu. Penyebab lain kemacetan tinggi karena cicilan terlalu besar dan anggapan uang pemerintah tidak perlu dikembalikan. Terutama dalam bentuk simpan pinjam tidak bermanfaat dalam waktu jangka panjang. Ikatan anggota dengan kelompok rendah karena kebanyakan anggota dan perlu uang. sehingga tidak memberdayakan penerimanya. 2) Pengembangan Infrastruktur Program pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang dibangun telah memudahkan penduduk setempat untuk memasarkan produksinya. tidak mampu membayar cicilan dana bantuan dan pendapatan kecil dengan biaya operasional yang tinggi. Penyebab ketidakberhasilan program. 5) Bantuan Alat Tidak Efektif Program bantuan peralatan usaha tidak efektif karena penerima tidak mampu mengoperasikan alat yang diterima. Selain itu tidak ada pengawasan dan pembinaan dari penyelenggara program dan tidak ada perhatian dari tokoh masyarakat setempat. Beras Raskin lebih banyak dimanfaatkan penduduk miskin di perkotaan daripada penduduk miskin di perdesaan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya hidup sehari-hari dan tidak membuat mereka menyimpan karena bantuan jumlahnya terlalu kecil.

kedua. 92 Puslitbang Kesos . Sedangkan dalam pemerintah kota (Kelurahan) ada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan belum peduli terhadap program kemiskinan dan belum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Lembaga tersebut banyak berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan lembaga pimpinan adat (nini mamak ). 3. Hal itu dianggap bukan menjadi urusan mereka dan tidak ada mekanisme pertanggungjawabannya. Kegiatan yang dilakukan terbatas pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja nagari/kelurahan. Namun dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum dapat mengeluarkan aturan-aturan bagi nagarinya.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Pengelolaan Program bantuan tidak berkelanjutan dan kelompok yang dibentuk tidak efektif. hanya kalau ada keperluan atau pekerjaan tertentu barulah dibuka seperti ada kegiatan dari kecamatan atau instansi pemerintah lainnya. 3) Partisipasi Lokal Partisipasi organisasi sosial dan tokoh lokal rendah karena mereka tidak melakukan langkah-langkah untuk melanjutkan program. program-program tersebut tidak ada yang mendorong lembaga lokal untuk aktif terlibat dan bertanggung jawab terhadap program anti kemiskinan. Gagalnya program anti kemiskinan disebabkan. Pemerintah nagari/ kelurahan diperlakukan sebagai ujung tombak yang tumpul karena program-program tidak memberdayakan organisasi lokal. pertama. Keragaan Energi Sosial Lokal 1) Peran Institusi Formal Institusi formal lokal dalam pemerintah kabupaten (Nagari) dipimpin Wali Nagari. komunitas perdesaan beranggapan penanggulangan kemiskinan merupakan tugas pemerintah. Badan Perwakilan Adat Nagari (BPAN) atau Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Lembaga nagari/kelurahan tidak aktif memantau dan membenahi program yang ada. Kantor tidak tiap hari dibuka.

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

2) Peran Institusi Informal Lembaga informal yang ada merupakan lembaga yang tidak terkait dengan pemerintah seperti Kerapatan/Lembaga Adat Nagari (K/LAN), Badan Musyawarah Adat dan Syara (BMAS), organisasi berbasis agama dan kekerabatan. Khususnya organisasi yang berbasis keagamaan seperti majlis taklim dan kelompok yasinan, perannya muncul ketika perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Lembaga tersebut mempunyai tugas mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah untuk dibagikan kepada keluarga miskin. 3) Peran Kekerabatan Kebutuhan anggota kerabat atau keluarga yang dialami selalu dikaitkan dengan fungsi keluarga luas matrilineal. Bantuan sosial ekonomi diberikan kepada seluruh anggota keluarga yang memerlukan. Terutama berkaitan dengan keperluan yang sifatnya mendadak seperti sakit, kebakaran, meninggal dan musibah lainnya. Unsur matrilineal menjadi pokok perhatian yaitu; pertama, harta pusaka sebagai sumber ekonomi keluarga luas matrilineal; kedua, pola tempat tinggal keluarga luas matrilineal dalam menjalankan perannya; ketiga, aktualisasi adat. Hubungan sosial ekonomi dimulai dari hubungan timbal balik. Semangat akan timbul saat membantu dalam pelaksanaan perkawinan. Bantuan yang diberikan biasanya dalam bentuk uang dan tenaga, sedangkan dalam biaya pendidikan tidak karena menjadi urusan masing-masing. Bantuan terhadap orang miskin, lanjut usia dan yatim piatu menjadi urusan paruiknya. Mereka lebih baik dipelihara oleh paruik dan masyarakat setempat yang telah saling mengenal dan dijamin lebih baik. Masyarakat tidak mau dan merasa malu menempatkan lanjut usia dan anak yatim ke panti asuhan. Peran tokoh lokal membantu orang miskin dalam bentuk memberikan fasilitas atau modal usaha. 4) Nilai-nilai dan Solidaritas Lokal Nilai-nilai dan praktek solidaritas sosial lokal tumbuh dan berkembang dalam masyarakat didasarkan rasa tanggung jawab dan rasa kebersamaan. Tujuannya untuk membantu seluruh anggota
Puslitbang Kesos

93

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

keluarga dan masyarakat. Pepatah Minangkabau; bakampung mamaga kampung, tagak basuku mamaga suku, tagak banagari mamaga nagari, sandar menyandar bagaikan aur dengan tebing. Nilai yang terkandung dalam pepatah tersebut mencerminkan kehidupan keluarga yang saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Namun, dalam perkembangannya nilai-nilai tersebut tidak lagi dijalankan. Masyarakat menggunakan kata individualis untuk menyebut perilaku dari sebagian masyarakat yang tidak lagi memikirkan sanak saudara dan para tetangga dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi sosial yang sangat dikenal yaitu Kelompok simpan pinjam, Kongsi dan Julo-julo. Kelompok simpan pinjam terdiri dari beberapa orang yang mengelompokkan diri yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan anggota atau kelompoknya. Ada kelompok laki-laki atau kelompok perempuan. Kelompok juga yang berhubungan dengan pihak luar atau organisasi sosial untuk memperoleh pinjaman. Kelompok simpan pinjam sering cepat bubar karena menjadi pengurus tidak semuanya disenangi masyarakat, kecurigaan anggota terhadap pengurus sangat tinggi. Kongsi suatu istilah yang dimulai dari individu yang menjual jasa dalam pengolahan lahan pertanian terhadap anggotanya. Kegiatannya bertujuan untuk mengatasi kesulitan mereka dalam membayar tenaga kerja. Biasanya, awal kegiatan kongsi berjalan baik dan selanjutnya sering anggota kongsi malas dengan berbagai alasan. Upah yang dibayarkan berbeda berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebesar Rp. 20.000,- per hari dan perempuan sebesar Rp. 10.000,- per hari. Julo-julo (Arisan) yang merupakan kelompok penabung, dipelopori ibu-ibu. Setiap anggota akan menabung sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan dan waktu penarikan yang ditentukan. Biasanya terdiri dari 10 orang, tiap orang akan menerima bagian sesuai dengan jumlah uang yang ditabung dan paling murah Rp. 5.000,-. Keberadaan kelompok ini sangat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah keuangan terutama untuk biaya pendidikan dan modal kerja.

94

Puslitbang Kesos

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Kesimpulan dan Saran Pemetaan kemiskinan telah menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dalam beberapa kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penelitian. Kantong-kantong kemiskinan tersebut berdasarkan tingkat nagari/kelurahan yang terbagi dalam kelompok petani lahan kering, persawahan dan nelayan. Dirumuskannya strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang disebutkan berbasis nagari/kelurahan. Adanya model strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang akan diujicobakan pada tingkat nagari/kelurahan yaitu; a. Konsep Pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal diartikan program yang bertumpu kepada kekuatan komunitas lokal dengan mengandalkan organiasi sosial yang telah ada. Tujuannya agar komunitas lokal dan tokoh masyarakat pelaku aktif pengentasan kemiskinan. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra. Partisipasi diperlukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemeliharaan. b. Prinsip Organisasi sosial dan tokoh masyarakat harus aktif dan proaktif dalam pengentasan kemiskinan yang disusun sesuai potensi dan aspirasi masyarakat. Diperlukan badan atau organisasi sosial yang bertugas mengkoordinasikan upaya pengentasan kemiskinan. Diperlukan pendampingan yang menguasai tentang strategi dan teknik penanggulangan kemiskinan. Program bersifat pemberdayaan komunitas. c. Sasaran Komunitas nagari/kelurahan dengan angka kemiskinan tinggi melalui lembaga-lembaga dan rumah tangga miskin. Meningkatkan peran nagari/kelurahan yang mempunyai program anti kemiskinan berdasarkan potensi dan aspirasi lokal. Di lokasi dibentuk organisasi dengan sebutan Panitia Penanggulangan Kemiskinan Nagari/ Kelurahan.

Puslitbang Kesos

95

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Ketentuan panitia antara lain; Lembaga tersebut dibentuk melalui musyawarah di nagari/kelurahan masing-masing, Panitia beranggotakan kaum laki-laki dan perempuan secara proporsional Struktur organisasi tediri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan sekurang-kurangnya lima anggota, Tokoh-tokoh terseleksi yang mempunyai komitmen tinggi, Mempunyai anggaran khusus, Menggali sumber-sumber lokal, Perlu pemecahan faktor-faktor struktural lokal Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1) Rekruitment Tenaga Pendamping Pendamping dalam nagari/kelurahan sebanyak dua orang. Pendamping selalu berkoordinasi dengan peneliti dan pemerintahan nagari/ kelurahan. 2) Upaya Penyadaran Pendamping melakukan upaya penyadaran kepada lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat nagari/kelurahan agar mereka aktif melakukamn usaha pengentasan kemiskinan. 3) Membentuk Panitia Berkoordinasi dengan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk panitia. 4) Pelatihan Dilakukan terhadap panitia penanggulangan kemiskinan agar memahami kegiatannya. 5) Pendataan Melakukan pendataan rumah tangga miskin dengan merumuskan kriteria kemiskinan yang sesuai dengan persepsi setempat. 6) Merumuskan Program Merumuskan program dan kegiatan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tenaga ahli, pejabat pemerintah dan pihak lain untuk membantu rumah tangga miskin.

96

Puslitbang Kesos

Ancok. Aditya. 2003. Puslitbang Kesos 97 . DAFTAR PUSTAKA Afrizal. Djamaluddin. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. “Ikatan Kekerabatan sebagai Sebuah Jaringan Sosial Ekonomi: Diskusi tentang Isu-isu Perubahan pada Ikatan Kekerabatan Matrilineal Minangkabau” dalam Jurnal Pembangunan dan Perubahan Sosial. 1995. Yogyakarta. LP3ES Hikmat. 2005. dkk (ed). “Pemberdayaan Pranata Sosial Pengalaman Empiris” dalam Umi Ratih Santoso. 1997. Jakarta. Menemukan Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat. 2006. Harry. Metodologis dan Empiris. Membangun Keterlibatan Keterlibatan organisasi-organisasi sosial dan pemerintah dalam melakukan monitoring pengentasan kemiskinan. Aset untuk orang Miskin: Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. Jakarta. dkk (ed). Rencana Pembangunan Jangka Menangah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006 – 2010: Agenda 6 Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan.4. 2006. Pusdatin Kesos. Pusbangtansosmas. Sherraden. Nomor 3 .Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 7) 8) 9) Membuat Peraturan Panitia dan tokoh masyarakat perlu membuat peraturan dalam pengentasan kemiskinan di daerahnya. Jakarta. Pelaksanaan Program Panitia penanganan kemiskinan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 1987. Jakarta. Departemen Sosial RI. Data dan Informasi PMKS dan PSKS Tahun 2004. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. “Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia. Perspektif Teoritik. Chambers. Padang. R. M. Raja Grafindo Persada.

.

M. Dengan menggunakan teknik PWR tampak dengan nyata bahwa masyarakat tidak saja diberi kesempatan berpartisipasi tetapi diakui dan dihargai martabatnya. dan Dra. Data yang dihasilkan berupa data mikro. Anwar Sitepu. Puslitbang Kesos 99 . Drs. Penyesuaian yang perlu dilakukan adalah pada sistem penilaian yaitu nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Tim peneliti terdiri dari: Drs. Anwar Sitepu. Yanuar Farida Wismayanti. Kata kunci: Participatory Wealth Ranking. berupa daftar nama dan alamat keluarga menurut urutan (peringkat) kemiskinan. Departemen Sosial RI tahun 2006.PARTICIPATORY WEALTH RANKING Sebuah Alternatif Teknik Identifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin1 Drs. Apabila pemberdayaan fakir miskin berniat untuk merangsang prakarsa masyarakat mengatasi permasalahannya maka PWR adalah sebuah pilihan tepat untuk mengawali langkah. Mengatasi hal tersebut Puslitbang Kessos bermaksud menawarkan sebuah teknik yang disebut Participatory Wealth Ranking (PWR). keluarga miskin Pendahuluan Salah satu titik rawan dalam penyelenggaraan Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) adalah pada tahap identifikasi dan seleksi sasaran. Siti Aminah (sekretariat). Tahap ini rawan karena pada satu sisi sangat menentukan efektivitas program secara keseluruhan pada sisi lain sering dianggap pekerjaan mudah sehingga kurang diperhatikan atau bahkan disepelekan. Untuk seleksi sasaran program. Dra. MP (ketua). petugas lembaga tinggal menetapkan titik batas nilai. Agus Budi Purwanto (anggota). Manual PWR mudah dijabarkan oleh fasilitator untuk memfasilitasi masyarakat melakukan pemeringkatan.ST (sekretariat). S.Si (anggota). Ir. Hendriyati. Badiklit Kesos. Haryati Roebiyantho (anggota). memperoleh gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Anwar Sitepu. Teknik ini dikembangkan oleh The Small 1 2 Dikembangkan dari Laporan Penelitian Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. MPM 2 ABSTRAK Participatory Wealth Ranking (PWR) merupakan alternatif teknik mengidentifikasi keluarga termiskin dan miskin.

PWR adalah salah satu bentuk dari metode-metode partisipatif. Tujuannya adalah mengetahui efektivitasnya. terlebih dahulu perlu dilakukan uji aplikasi. PWR dalam perkembangannya sudah diadopsi oleh NGO yang beroperasi di seluruh dunia. Peneliti. Bentuk lain yang relatif sudah dikenal lebih banyak orang adalah Participatory Rural Apraisal (PRA). Dengan Teknik PWR konsep dan indikator miskin tidak disiapkan dari luar sebelum pengumpulan data dilakukan. Seperti PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers. Lazimnya sebuah produk luar. dan Lingkungan. senada dan selaras dengan paradigma. yang sebelumnya dilatih secara singkat.1996:14). seluruh pengalaman dan hasilnya dicatat dan diabstraksikan. Konsep dan Teknik PWR Participatory Wealth Ranking (PWR) adalah sebuah teknik pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi berlandaskan pada pendekatan partisipatif. sekaligus bertindak sebagai fasilitator. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan di lapangan manual PWR yang disusun oleh The SEF. Metode-metode/ Teknik-teknik participatory dikembangkan sebagai salah satu upaya menempatkan rakyat sebagai titik pusat pembangunan (people centred development). Tujuan PWR adalah untuk menemukan keluarga termiskin di suatu masyarakat menurut ukuran mereka sendiri dan oleh mereka sendiri. Proses aplikasi di lapangan diobservasi. Visi metode/ pendekatan partisipatif adalah perubahan sosial dan pemberdayaan (penguatan) masyarakat agar ketimpangan ditiadakan. kendala dan kemudahannya. termasuk di Indonesia. sebelum dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas dalam pelaksanaan P2FM. Rukun Warga. PWR adalah sebuah teknik penelitian tetapi bukan sekedar teknik penelitian biasa. untuk mengidentifikasi dan menyeleksi penerima pelayanannya di Afrika Selatan.Participatory Wealth Ranking Enterprise Foundation (SEF) sebuah Non Governmental Organization (NGO International). Tekanan penting pada metode partisipatif bukan sebatas pada aktivitas pengkajian/penelitian atau pengumpulan data tetapi pada aspek pembelajaran masyarakat (Rianingsih (Ed). Tulisan ini merupakan pengembangan dari laporan uji aplikasi PWR di lapangan. masing-masing sebagai satuan pemukiman setingkat atau bagian dari Dusun. Penelitian dilakukan di enam lokasi di provinsi berbeda. Berdasarkan kajian awal teknik ini dipandang layak digunakan karena prosesnya dinilai aplicable dan teknisnya dikembangkan berlandaskan pendekatan partisipatif. visi dan misi serta strategi P2FM. 100 Puslitbang Kesos .

Participatory Wealth Ranking

Penggunaan teknik ini efektif dilakukan di masyarakat yang warganya saling mengenal dengan baik. Pemeringkatan keluarga dilakukan oleh perwakilan warga, dengan asumsi mereka lebih tahu kondisi sesamanya. Perwakilan warga ditetapkan secara proporsional, minimal sebanyak 9 orang dan maksimal 15 orang. Pemeringkatan dilakukan melalui proses penilaian berlapis, yaitu sebanyak tiga kali (triangulasi). Setiap penilaian dilakukan oleh kelompok kecil (tiga sampai lima orang) perwakilan warga. Penilaian dilakukan dengan teknik pengelompokkan, setiap keluarga dibandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lain. Keluarga yang sama atau seimbang kondisi sosial ekonominya dikelompokkan menjadi satu kelompok. Sumber data adalah perwakilan warga itu juga, sehingga mereka bertindak sekaligus sebagai pengumpul data dan informan. Orang luar, petugas lembaga bertindak sebagai fasilitator. Pemeringkatan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan Tahap Penghitungan Nilai.
1. Tahap Persiapan

Tahap Persiapan bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melakukan pemeringkatan. Kegiatan pada tahap ini meliputi tiga besaran, yaitu: perkenalan dan penjelasan, merencanakan pertemuan pemeringkatan dan pengaturan logistik. Perkenalan yang dimaksud dilakukan dengan aparat setempat. Kepada aparat dikenalkan siapa fasilitator, dijelaskan apa tujuannya dan bagaimana teknis pemeringkatan, termasuk cara kerja, dan dukungan apa yang diperlukan sampai pada kesepakatan melakukan pemeringkatan. Jika aparat setempat sudah jelas dan tidak keberatan, lanjutkan dengan pengaturan pelaksanaan kegiatan, termasuk waktu, tempat dan peserta. Pada kesempatan tersebut fasilitator menjelaskan persyaratan peserta, lokasi pertemuan yang diperlukan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini bertujuan untuk memisahkan atau mengelompokkan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Semua keluarga yang sama atau seimbang dari segi sosial ekonomi dikelompokkan menjadi satu kelompok, sehingga seluruh keluarga akan masuk dalam salah satu
Puslitbang Kesos

101

Participatory Wealth Ranking

kelompok. Tujuan tersebut dicapai melalui sejumlah kegiatan yaitu: pemetaan, pendaftaran keluarga, pembuatan kartu, diskusi konsep, dan sorting. Pemetaan bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh keluarga yang tinggal di suatu wilayah dimana PWR dilakukan, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Peta memuat lokasi rumah setiap keluarga di masyarakat tersebut. Setiap rumah di peta diberi nomor urut. Nama masing-masing Kepala Keluarga dan identitas lain seperti nama panggilan, pekerjaan dan nama isteri, kemudian didaftarkan pada form khusus yang sudah disiapkan. Berikutnya, nama dan nomor urut masing-masing KK ditulis kembali di atas sebuah potongan kertas karton sehingga menjadi sebuah kartu. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat sorting. Sorting adalah pembandingan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi konsep. Peserta diajak merumuskan apa yang dimaksud dengan ”miskin” dan ”sangat miskin” atau mengidentifikasi apa ciri-ciri sebuah keluarga miskin atau sangat miskin. Diskusi dimaksudkan agar peserta berpikir dan memiliki pemahaman yang sama tentang miskin dan sangat miskin. Kesamaan pemahaman diperlukan untuk mempermudah proses sorting. Sorting dilakukan dengan cara: • Fasilitator menunjukkan kartu nama keluarga kepada kelompok. Dijelaskan bahwa masing-masing kartu tersebut mewakili sebuah keluarga. • Kemudian, fasilitator mengambil dua kartu pertama, seraya memperlihatkan dan menanyakan kepada peserta, apakah mereka mengenal kedua keluarga yang namanya tertera pada masing-masing kartu tersebut? ”Keluarga mana yang lebih miskin?” Disini akan berlansung diskusi, masing-masing peserta akan menyampaikan informasi dan pendapatnya. • Setelah diperoleh kesepakatan, kedua kartu diletakkan bersebelahan, yang lebih miskin di sebelah kiri dan yang lebih kaya sebelah kanan. Alasan penempatan dicatat pada form yang telah disiapkan. Dilanjutkan dengan kartu berikutnya, bandingkan dengan dua kartu yang sudah diletakkan. Jika sama atau seimbang dengan

102

Puslitbang Kesos

Participatory Wealth Ranking

salah satu kartu yang sudah diletakkan tadi, maka kartu ketiga diletakkan di atasnya. Jika lebih kaya dari kartu sebelah kanan, maka kartu ketiga diletakkan di sebelah kanannya lagi, atau jika lebih miskin dari yang paling kiri, maka kartu ketiga itu diletakkan di sebelah kirinya lagi. • Demikian seterusnya, satu demi satu dibandingkan dan diletakkan di tempat yang sesuai. Pada akhirnya seluruh kartu akan masuk pada salah satu kelompok atau tumpukan kartu. • Sorting dilakukan sebanyak tiga kali masing-masing oleh kelompok (3 sampai 5 orang) perwakilan warga, pada waktu dan tempat berbeda. Menurut The SEF tidak menjadi soal, berapa pun banyaknya tumpukan, yang penting adalah bahwa masing-masing tumpukan berbeda menurut kondisi sosial ekonomi. The SEF menganjurkan sebaiknya minimal 4 tumpukan. Hal yang harus diingat bahwa sorting adalah membandingkan kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga, bukan bagaimana orang mencari uang atau berapa besar pendapatan sebuah keluarga. Contoh, walau pun seseorang memiliki penghasilan besar tetapi uangnya tidak dibawa ke rumah untuk kepentingan keluarganya, maka itu percuma saja, tidak memberi dampak pada kesejahteraan keluarganya. Seluruh kegiatan di atas, mulai dari membuat peta, pendaftaran nama KK, pembuatan kartu, diskusi konsep dan sorting dilakukan oleh perwakilan warga. Petugas dari lembaga hanya sebagai fasilitator. PWR harus berlangsung dalam suasana santai tetapi tetap serius.
3. Tahap Penghitungan Nilai

Akhir dari sorting adalah terpisahnya kartu keluarga menjadi beberapa tumpukan. Tumpukan paling kiri di mana keluarga termiskin berada diberi nilai 100, artinya 100% miskin. Nilai masing-masing keluarga lain tergantung pada jumlah tumpukan (pengelompokkan) dan di tumpukan mana dia berada. Contoh: Anggaplah kelompok membagi keluarga ke dalam 4 kategori atau tumpukan menurut kondisi sosial ekonominya. Menghitung seberapa miskin setiap tumpukan, 100 dibagi dengan jumlah kategori. 100 dibagi 4 = 25 kalikan dengan nomor tumpukan. Tumpukan 4 = 100 : 4 x 4 = 100;
Puslitbang Kesos

103

Participatory Wealth Ranking

Tumpukan 3 = 100 : 4 x 3 = 75 ; Tumpukan 2 = 100 : 4 x 2 = 50; Tumpukan 1 = 100 : 4 x 1 = 25. Nilai dari masing-masing kelompok penilai dimasukan pada kolom tersendiri pada form yang sudah disiapkan. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh nilai rata-rata masingmasing keluarga. Nilai rata-rata berfungsi untuk menentukan peringkat akhir keluarga di masyarakatnya. Karena masing-masing keluarga dinilai sebanyak tiga kali maka setiap keluarga memperoleh tiga nilai. Nilai rata-rata setiap keluarga adalah jumlah tiga nilai dibagi tiga. Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah, maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Maksudnya tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat.

Uji Aplikasi PWR Uji aplikasi dilakukan di 6 provinsi, masing-masing satu lokasi. Peneliti bertindak sekaligus sebagai fasilitator. Menurut tipe masyarakatnya, 4 lokasi berupa masyarakat perdesaan dan dua lokasi berupa masyarakat perkotaan. Keenam lokasi merupakan calon lokasi program pemberdayaan fakir miskin. Berikut adalah deskripsi aplikasi setiap tahap PWR.
1. Tahap Persiapan

Seluruh kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan dengan baik di semua lokasi. Kegiatan diawali dengan menemui Kepala Kelurahan/ Desa. Tim Fasilitator didampingi oleh aparat Dinas Sosial Provinsi dan atau Dinas Sosial Kota/Kabupaten. Perkenalan dengan Kepala Kelurahan/Kepala Desa berlangsung dengan baik. Kepada mereka dijelaskan bahwa kegiatan dilakukan masih sebatas mengujicobakan teknik. Kepada masing-masing juga dijelaskan secara singkat tujuan dan teknik pelaksanaan PWR. Masing-masing tidak keberatan di wilayahnya dilakukan kegiatan dan bersedia membantu. Bersama Kepala Desa/Kelurahan ditetapkan bagian wilayahnya yang akan

104

Puslitbang Kesos

Desa 5. Obipul. Intensitas kerja lebih banyak dilakukan bersama aparat terbawah.Participatory Wealth Ranking dijadikan lokasi. pengaturan jadwal dan logistik. Perwakilan warga di lokasi yang terdiri dari dua atau lebih satuan administrasi (misal di Samarinda dua RT dan di Belu tiga dusun) ditetapkan secara proporsional. Pada akhirnya lokasi terpilih menjadi bervariasi di masing-masing provinsi. Hal tersebut terjadi dalam upaya mencapai jumlah KK sebanyak antara 150 sampai 200 KK. Persiapan lebih krusial berlangsung bersama mereka. Bersama Ketua RT/ RW/Lingkungan/Dusun dilakukan: pemilihan perwakilan warga. Medan Denai Kabupaten Subang Kec. Dusun Jati Desa Kenteng Desa Kayubihi Desa Lakmaras Kelurahan Selili SATUAN Lingkungan (1): L IX Rukun Tetangga (2): RT 22 dan RT 23 RW 5 Dusun (1) : Dusun Ploso Jenar Dusun (1) : Dusun Pucangan Dusun (3): Sabulmil. di Medan meliputi satu lingkungan. PROVINSI Sumatera Utara Jawa Barat KOTA/KAB Kecamatan Kota Medan Kec. Jawa Tengah Bali Desa 4. penetapan lokasi pertemuan. 1. Abistas Rukun Tetangga (2): RT 29 dan RT 30 TIPE Kota 2. Tabel 1. Desa 3. Cipunagara Kabupaten Wonogiri Kec. 6. Kegiatan dilaksanakan pada waktu dan tempat yang disepakati. Kelurahan Tegalsari Mandala 1 Desa Jati. Samarinda Seberang DESA/KEL. sekaligus dengan memperhatikan keseimbangan menurut jenis kelamin. Bangli Kabupaten Belu. di Bali satu dusun. Pelaksanaan PWR di Samarinda (Kaltim). dan seterusnya (lihat Tabel 1). Kec. Kepada mereka juga ditanyakan apakah warganya saling mengenal satu dengan yang lain. Lamaknen Kota Samarinda Kec. Purwantoro Kabupaten Buleleng Kec. Lokasi Aplikasi PWR dan Tipe Masyarakatnya No. Perkenalan dan penjelasan lebih lanjut dilakukan dengan aparat pemerintah di tingkat RT/RW/Kepala Dusun/Kepala Lingkungan. di Subang dan Samarinda dua RT. Subang (Jabar) dan Wonogiri (Jatim) bertepatan dengan bulan puasa. Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Desa Kota Puslitbang Kesos 105 . Pemilihan dilakukan dengan melibatkan ketua-ketua wilayah masing-masing dan sejumlah tokoh setempat. Fasilitator menjelaskan kriteria lokasi uji coba PWR yang diinginkan. Cakupan lokasi menjadi berbeda.

tidak percaya diri. kehilangan inisiatif. Pelajaran berharga diperoleh dari Wonogiri. seharusnya pembuatan peta diserahkan kepada warga. fasilitator bekerja bersama perwakilan warga atau disebut juga Tim Pemeringkat. Kesan umum yang muncul adalah sepertinya mereka tidak percaya bahwa mereka dapat melakukan pemeringkatan atau mereka meragukan manfaatnya. fasilitator dapat menyampaikan penjelasan dan hingga dipahami perwakilan warga. Pendaftaran KK di semua lokasi berlangsung lancar. Pembuatan peta di semua lokasi berjalan mulus. Proses kemudian diulang lagi. Pada pertemuan pertama diawali dengan perkenalan dan penjelasan. Pertanyaan yang banyak disampaikan warga adalah seputar tidak lanjut. Surat Tugas. Hal ini dapat dipahami sebagai indikasi.Participatory Wealth Ranking 2. Pembuatan peta berlangsung melalui dua cara berbeda: pertama. Di semua lokasi pertemuan berjalan dengan baik. terlebih dahulu membuat sketsa kemudian disalin kembali di atas kertas karton. bahwa warga masyarakat sudah lama demikian tergantung pada instruksi. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini. Peta dibuat menurut wilayah satuan administrasi. perwakilan warga dalam sesi tanya jawab seperti ”menginterogasi” fasilitator dengan cara sangat halus. Di beberapa tempat Tim Perwakilan warga minta agar fasilitator terlebih dahulu menetapkan ukuran miskin atau tidak miskin. kedua. apakah akan ada bantuan untuk warga setempat. saling mengingatkan. Kejadian berbeda terjadi di Buleleng (Bali). Demikian juga di lokasi lain yang kegiatan mencakup lebih dari satu wilayah administrasi. semua peserta aktif. masing-masing untuk RT 22 dan RT 23. langsung sekali jadi. Di semua lokasi tidak ditemukan kesulitan berarti. misalnya di Subang dibuat dua peta. karena pemerintah sudah memiliki ukuran sendiri. Hubungan dengan fasilitator mulai cair. Nama masing-masing KK sesuai nomor urut pada peta ditulis pada form yang sudah disiapkan. salah seorang aparat Dinas Sosial setempat mengambil alih proses pembuatan peta akibatnya muncul kesulitan. dan Rekomendasi Badan Linmas setempat. suasana rileks dan santai. memberi informasi. Seperti meminta memperlihatkan KTP. Perwakilan Warga (Tim Pemeringkat) berhasil mengidentifikasi semua 106 Puslitbang Kesos .

Kecuali di Belu (NTT). 6. semua kasus-kasus seperti di atas didaftar sebagai keluarga tersendiri.Kota Medan Kec. Desa Lakmaras 212 189 63 43 53 159 131 -3 -1 -2 -6 Puslitbang Kesos 107 . Fenomena yang menarik adalah jumlah KK yang dilaporkan sebelumnya oleh aparat pemerintah setempat ternyata berbeda dengan temuan penelitian (lihat Tabel 2). 2. 4.Participatory Wealth Ranking KK setempat. Desa Jati. Sesuai dengan semangat pemberdayaan. atau keluarga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di lingkungan setempat. Pertanyaan yang banyak muncul di semua lokasi adalah seputar siapa yang dimaksud keluarga.Desa kayubihi NTT. jumlah KK hasil pemetaan lebih banyak dibanding data pemerintah setempat.Bangli. seorang anak yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtuanya. 5. Kab. Desa Ploso Jenar Dusun Ploso Jenar SATUAN PEMUKIMAN SETEMPAT L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT1/5 RT2/5 RT3/5 RT4/5 RT1/6 RT2/6 Jumlah Dusun Pucangan Dusun Sabulmil Dusun Obipul Dusun Abistas Jumlah BANYAKNYA KEPALA KELUARGA DATA DESA 183 63 86 149 70 82 152 DITEMUKAN 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 PERBEDAAN 122 7 23 30 6 8 14 1. Kab Subang. nama panggilan dan nama isteri masing-masing. seorang anak yang sudah menikah kemudian cerai dan kembali bersama orangtuanya. Banyaknya Kepala Keluarga Menurut Data dan Temuan di Lokasi Penelitian LOKASI NO. Dalam konteks pemberdayaan. Hal demikian patut diwaspadai karena dapat dibaca sebagai indikasi adanya sejumlah keluarga yang tidak tercover. Kab. Lamaknen. Dusun Jati Jateng. Kec. Kec. Cipunagara. 3. Kec.Purwantoro. Bali. Tabel 2.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. Wonogiri. seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. PROVINSI/KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. hal demikian sama artinya dengan menghilangkan akses sejumlah keluarga untuk masuk pada program yang diselenggarakan untuk mereka. Misalnya. Kabupaten Bangli. Selili Jabar. Mdn Denai Kel. Belu. Hasil kegiatan ini adalah daftar nama KK berikut alamat. Samarinda Seberang Kel. Kec.

jumlah penduduk di lokasi jauh melebihi data yang disampaikan Ketua Lingkungan sebelumnya. Mereka mengenal wajahnya tetapi tidak tahu siapa namanya. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan apabila salah seorang anggotanya perlu berobat di rumah sakit. b) RT 29 dan RT 30 Kel.Selili. perwakilan warga ternyata tidak hafal nama sebagian KK setempat. Setelah dilakukan pemetaan. Selama pembuatan kartu tidak ditemukan kesulitan serius. Pada kegiatan ini fasilitator dituntut mampu menggali pendapat peserta. TSM 1 Kota Medan. (2). (1) Makan seadanya. pengertian yang disampaikan cenderung abstrak. yaitu 187 KK. Kendala yang dihadapi di beberapa lokasi adalah form dan blanko yang disiapkan tidak mencukupi karena jumlah penduduk melampaui perkiraan. Biasanya cari pinjaman. (3). salah satu kelompok tertutup bagi kelompok yang lain. Fasilitator dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Makan dari pemberian orang (anak/saudara/tetangga) atau mengemis. (5). Lauk asal ada: contohnya ikan asin murahan. Kota Samarinda. Kedua. Sementara itu. (4). Kedua kegiatan dilakukan setelah peta selesai digambar. semua kegiatan dilakukan oleh Tim Perwakilan Warga. 108 Puslitbang Kesos . Rumah numpang (pada orangtua. ditemukan sebanyak 305 KK. Jika tidak cukup di fasilitasi. mertua atau saudara).Participatory Wealth Ranking Kesulitan terjadi di Medan (Sumut). hubungan antar dua kelompok besar penduduk ternyata kurang harmonis. Memperoleh makanan dari bantuan orang lain atau mengharap dari “raskin”. Pekerjaan tidak tetap (serabutan). Pendidikan anak putus sekolah sebelum tamat SD atau SLTP. Pertama. salah satu faktor yang cukup mendukung kelancaran kegiatan adalah terdapatnya anggota perwakilan warga yang mampu menulis dengan jelas dan cepat. Pembuatan kartu keluarga di semua lokasi dilakukan sekaligus dengan pendaftaran nama KK. Di semua lokasi berhasil dirumuskan pengertian konsep ”miskin” dan ”sangat miskin”. Berikut adalah contoh definisi miskin: a) Lingkungan 9 Kel. Ciri-ciri sebuah keluarga miskin menurut hasil diskusi adalah: (1). Ada dua persoalan pada kasus ini yang tidak diantisipasi sebelumnya. terlebih dahulu dilakukan diskusi konsep. Sebelum sorting.

Perwakilan warga kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing dengan 3 sampai 4 orang anggota. (8) Tidak mampu menyediakan biaya pendidikan anak hingga minimal tamat SLTP. Penghasilan rata-rata per hari kurang dari Rp. Misalnya di buat rangkap tiga (pengalaman di Subang dan Samarinda) atau tetap di buat rangkap satu. Puslitbang Kesos 109 .atau kurang Rp. Model pertama. Pelaksanaan sorting berlangsung dalam dua model. (4) Anggota keluarga sering sakit karena kurang gizi. Biasanya numpang pada keluarga lain atau menyewa rumah yang tidak layak. Cara kedua ini dilakukan di kebanyakan lokasi karena di pandang lebih mudah dan mengirit waktu. secara paralel.per bulan. Teknik sorting seperti pada manual The SEF tampak cukup mudah dijelaskan oleh fasilitator dan mudah dipahami serta mudah dilakukan perwakilan warga di semua lokasi.. tetapi dibagi tiga bagian (pengalaman di Medan). (3) Tidak punya tempat tinggal sendiri yang layak huni. Pada sorting dengan model paralel kartu keluarga perlu disiapkan sedemikian rupa. secara simultan.000.. Kegiatan ini disebut juga sorting. (7) Tidak mampu membeli air bersih.750. (5) Tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit. kelompok penilai melakukan sorting secara terpisah pada waktu bersamaan di lokasi yang sama. sehingga ketiga kelompok penilai dapat melakukan tugasnya.25. lantai dan atap sudah lapuk atau bocor. ketiga kelompok penilai bekerja secara bergantian. Setelah diskusi konsep selesai dilanjutkan dengan penjelasan dan peragaan bagaimana melakukan sorting. sementara kelompoknya disebut juga Kelompok Penilai. Model kedua.Participatory Wealth Ranking (2) Pekerjaan dan penghasilan tidak tetap. Tugas masingmasing kelompok adalah menilai seluruh keluarga dengan memperbandingkan satu dengan yang lain berdasar kondisi sosial ekonomi. Rumah Tidak layak huni yang dimaksud adalah rumah yang komponen-komponennya. Untuk memenuhi kebutuhan makan (pokok) selalu utang. seperti dinding.000. Misalnya tidak punya TV. (6) Peralatan rumah tangga sangat minim.

Tahap Penghitungan Nilai Penghitungan nilai yang dimaksud adalah mulai dari menetapkan nilai setiap keluarga sampai mencari nilai rata-rata. Menetapkan nilai masing-masing keluarga dilakukan oleh tiga Kelompok Penilai melalui proses sorting. Mereka mudah memahami nilai tertinggi ditetapkan sebesar 100 diberikan kepada setiap keluarga termiskin yang kartunya berada pada tumpukan paling kiri. tumpukan ke-4. yaitu nilai tertinggi selalu diberikan kepada yang terbaik. nilai bagi masing-masing keluarga. Hal tersebut dimungkinkan karena semua anggota Kelompok Penilai mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Alasan mereka seragam. Kelompok penilai di semua lokasi tidak mengalami kesulitan memahami sistem menetapkan nilai. Dengan ketentuan demikian. Banyaknya kategori bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lain. Nilai berasal dari atau tergantung pada tumpukan mana dia ditempatkan dan jumlah seluruh tumpukan (lihat sub bagian penghitungan nilai di atas). kelompok penilai dapat menilai setiap keluarga dan menempatkannya ke dalam kelompok atau kategori tertentu. 3. Karena itu sorting dapat disebut juga sebagai proses penilaian. apabila sebuah kelompok penilai membagi penduduk menjadi 4 kategori (tumpukan). Kesulitan terjadi apabila Kelompok Penilai tidak mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Pertama.Participatory Wealth Ranking Dalam prakteknya sorting berlangsung lancar. Kejadian seperti ini dialami di Medan. catatan pada kategori mana sebuah keluarga ditempatkan dan alasan informatif mengapa ditempatkan pada kategori tertentu. maka nilai masing-masing keluarga mulai dari termiskin sampai terkaya adalah 110 Puslitbang Kesos . Kedua. mulai dari 4 sampai 6 kategori. Analog dengan sistem penilaian anak sekolah. Hasil sorting terdiri dari dua bagian penting. Keberatan warga diterima oleh fasilitator di semua lokasi. Karena sorting dilakukan sebanyak tiga kali maka masing-masing keluarga memperoleh tiga nilai dan tiga catatan alasan. sehingga nilai yang dihasilkan tidak konsisten. Sistem penetapan nilai demikian ternyata ditolak para peserta (anggota kelompok Penilai) di semua lokasi. Sistem ini diterima dengan pertimbangan tidak merubah substansi pengelompokkan. sejumlah keluarga tidak dikenal dengan baik oleh Kelompok Penilai.

Participatory Wealth Ranking 25. Selili Jabar. Mudah bagi mereka menghitung (25 + 25 + 50) : 3. Bali. Keluarga dengan nilai tertinggi adalah keluarga terkaya. peringkat keluarga digolongkan menjadi 4 sampai 6 golongan peringkat (lihat Tabel 3). Penghitungan nilai rata-rata dapat dilakukan dengan lancar oleh peserta. Desa Kayubihi NTT. Mdn Denai Kel. Kec. Kec. Smrd Seberang Kel. Kota Medan Kec. Masing-masing peserta ternyata memperhatikan keluarga siapa dapat nilai berapa. 3. Kab Subang.Bangli. Mereka spontan mengajukan protes jika merasa ada keluarga yang diberi nilai tidak semestinya. Wonogiri. 4. Kab.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. Desa Kenteng SPS JML PEND GOLONGAN PERINGKAT Sosial Ekonomi I 52 6 5 11 25 18 43 12 10 6 10 11 10 65 108 4 2 8 14 II 97 28 34 72 22 37 59 22 14 23 25 26 22 155 104 7 1 2 1 III 68 41 63 104 29 31 60 15 14 10 9 6 6 68 60 4 4 4 14 IV 73 5 7 12 4 4 9 4 7 11 4 3 40 4 28 21 21 70 V 15 5 1 2 6 1 15 13 11 14 38 VI 4 2 2 8 L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT 1/5 RT 2/5 RT 3/5 RT 4/5 RT 1/6 RT 2/6 Jumlah Dusun Pucangan Sabulmil Obipul Abistas Jumlah 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 2. 75 dan 100. Lamaknen. sebanyak 4. 5 atau 6. Kec. Dusun Jati Jateng. 6. 1. Tabel 3.Purwantoro. Nilai masing-masing keluarga dengan mudah dapat dimasukkan kelompok penilai ke form yang disiapkan. Keluarga dengan nilai terendah adalah keluarga termiskin. 5. Berdasarkan nilai rata-rata diketahui peringkat kemiskinan setiap keluarga. Kabupaten Bangli.50. Kesempatan memasukkan nilai ke form ternyata sekaligus berfungsi melakukan kontrol. Desa Lakmaras Puslitbang Kesos 111 . Cipunagara. Kec. Belu. Distribusi Keluarga menurut Golongan Peringkat Kondisi Sosial Ekonomi Di Lokasi Penelitian NO. LOKASI PROVINSI/ KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Sistem penilaian tetap sama. Desa Jati. Kab. Dalam upaya penyederhanaan. Pada umumnya jumlah kategori yang ditetapkan oleh tiga Kelompok Penilai di suatu lokasi adalah sama.

Sedangkat di NTT menjadi 6 peringkat keluarga. 2. Jabar dan Bali keluarga digolongkan menjadi 4 peringkat. (yaitu 112 Puslitbang Kesos . Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah. Menetapkan Sasaran Program Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Penggolongan keluarga bervariasi di setiap lokasi. 4. Peringkat tertinggi. Contoh: Penduduk dibagi menjadi 4 kategori maka terdapat 10 variasi nilai rata-rata yang muncul. A 25 25 25 50 50 50 75 75 75 100 B 25 25 50 50 50 75 75 75 100 100 NILAI C 25 50 50 50 75 75 75 100 100 100 JML 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 RATA2 25 33 41 50 58 66 75 83 92 100 PERINGKAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 GOLONGAN PERINGKAT I Paling Miskin II Miskin III IV Dengan memperhatikan karakteristik umum keluarga sesuai nilai rata-rata atau peringkatnya dapat ditentukan “titik batas poin” keluarga yang berhak menjadi sasaran program. 3. Di Sumatera Utara dan di Jawa Tengah dibagi menjadi lima peringkat keluarga. 1. 10. 6. 8. Keberhasilan Teknik PWR Teknik PWR berhasil dengan baik mengelompokkan secara relatif semua keluarga di setiap lokasi menurut peringkat sosial ekonomi. Sasaran program P2FM kemungkinan bukan keluarga dengan nilai terendah. Di tiga lokasi. Dengan teknik PWR berhasil diidentifikasi keluarga termiskin di setiap lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Maksudnya. 7. 9. Variasi Nilai Rata-Rata yang berpeluang Muncul dan Peringkatnya No. tidak bisa seragam untuk semua lokasi. 5. Tabel 4.Participatory Wealth Ranking 4. yaitu (lihat Tabel). Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat. Hal ini harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran program yang dirancang sebelumnya. mungkin keluarga dengan nilai 33 sampai 41. maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. yaitu di Kaltim.

memang kondisinya miskin. yaitu: konsistensi skor. masingmasing peringkat berhasil dideskripsikan gambaran kondisi sosial ekonominya. Tabel 5. Konsistensi nilai di semua lokasi ternyata di atas 90%.Participatory Wealth Ranking peringkat 4 di Kaltim.3%) 153 Puslitbang Kesos 113 . Dengan demikian tampak bahwa teknik PWR dapat menghasilkan data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan. Di Jabar dan Kaltim konsistensi nilai bahkan mencapai 100%. Keluarga termiskin adalah keluarga yang masuk pada peringkat satu. tampak bahwa penilaian yang diberikan Tim Pemeringkat cukup objektif.6%) 47 (15. Hasil observasi atas beberapa keluarga miskin setelah proses penilaian selesai. Nilai konsisten yang dimaksud adalah apabila nilai yang diberikan oleh tiga kelompok penilai adalah sama atau kalau berbeda maksimal perbedaan sebesar 25 poin. di Bali. 1.9%) 3 (0. Distribusi dan persentase keluarga menurut perbedaan nilai No. Sebaliknya apabila skor tidak konsisten lebih dari 10% maka hasil penilaian kelompok itu perlu diragukan. Alasan lain untuk tidak meragukan keabsahan data yang diperoleh dengan teknik ini adalah: 1. Jateng dan NTT nyaris 100%. Apabila 90% konsisten maka hasil penilaian kelompok tersebut dianggap dapat dipercaya. Di setiap lokasi.5%) 0 12 (0%) (3.7%) 2 (1.4%) 305 Kaltim 179 (100%) 0 (0%) 179 LOKASI Jabar Jateng 166 331 (100%) (96. Hal tersebut diyakini karena home visit di ke-6 lokasi memperlihatkan keluarga yang memperoleh nilai rata-rata rendah.1%) 276 NTT 151 (98. Di bawahnya berturutturut keluarga yang lebih rendah secara sosial ekonomi. 2. Jabar dan Bali.5%) 166 343 Bali 273 (99. peringkat 5 di Jateng dan Sumut dan peringkat 6 di NTT) terdiri dari keluarga terkaya. PERBEDAAN NILAI 0 – 25 (Konsisten) 26 > (inkonsisten) Jumlah Sumut 258 (84. Contoh: Kelompok Penilai A memberi nilai kepada keluarga nomor urut 1 sebesar 20. Standar Keabsahan Data Teknik PWR dilengkapi dengan ukuran keabsahan tersendiri. Apabila Kelompok Penilai B memberi nilai pada keluarga yang sama sebesar 60 maka nilai tersebut dianggap tidak konsisten.

114 Puslitbang Kesos . d) Dapat mengidentifikasi seluruh keluarga yang bertempat tinggal di wilayah setempat. Hasil penilaian tiga kelompok penilai di Medan ternyata tidak dapat dipercaya sepenuhnya. PWR berpeluang untuk mengumpulkan data PSKS (Potensi Sosial Kesejahteraan Sosial) dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lebih luas/banyak. atau anak yang sudah menikah tetapi tinggal bersama orangtua/mertua dihitung sebagai keluarga tersendiri. lebih kaya atau menjadi lebih miskin. alamat dan nama isteri. PWR cukup cermat. masih ada rasa malu para perwakilan warga untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai. proses penilaian dengan kartu memperkecil peluang. Pengecualian terjadi di Medan. nama panggilan. Mengamati proses yang terjadi. penilaian dilakukan berlapis. kedua. Ketika aplikasi PWR dilakukan di lapangan. Kelebihan dan Kendala Kelebihan PWR adalah: a) Teknik PWR mudah dipahami dan mudah dilakukan meskipun oleh warga berpendidikan rendah. c) Masyarakat merasa dihargai karena seluruh proses dilakukan oleh mereka dan sesuai dengan ukuran yang berlaku sehari-hari di masyarakatnya. Keluarga yang sudah tidak lengkap. ada saling mengontrol antara peserta. seperti janda yang tinggal serumah dengan keluarga anaknya. tampak bahwa pengumpulan data dapat diperluas/diperdalam sesuai kepentingan.Participatory Wealth Ranking 2. dapat dilakukan di luar jam kerja. nilai inkonsisten meliputi 15.4%. Data yang diperoleh tidak sekedar angka tetapi lengkap dengan identitas mulai dari nama KK. Upaya seseorang untuk menempatkan sebuah keluarga pada peringkat yang tidak sesuai. e) PWR dengan konsep keluarga lebih membawa nuansa keadilan. Karena: pertama. f) Pada proses pemetaan versi The SEF. peta dapat diperluas sehingga memuat unsur PSKS dan PMKS. pekerjaan dan nama isteri. tampak sulit terjadi. ketiga. b) Waktu pelaksanaan fleksibel. g) Pada proses pendaftaran nama KK versi The SEF informasi yang dikumpulkan meliputi nama KK.. pekerjaan. peta semata-mata untuk mengidentifikasi keluarga.

di setiap SPS.Participatory Wealth Ranking h) Pada proses sorting. seperti dialami selama penelitian. Indomie VS Jagung Pemeringkatan keluarga dengan Teknik PWR. 4. ketika melakukan penilaian/perbandingan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Puslitbang Kesos 115 . 5. Daftar alasan penempatan setiap keluarga pada peringkat tertentu. Untuk wilayah perdesaan. seperti pada kasus Wonogiri dan Bangli. dengan tenaga dan waktu yang sama dapat memperingkatkan lebih dari 200 KK. Daftar nilai seluruh KK 6. hasil yang diperoleh meliputi: 1. dikumpulkan informasi lanjutan tentang kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga. melibatkan semua kelompok. Dengan waktu dan tenaga seperti tersebut di atas. 3. b) Diperlukan kesabaran fasilitator untuk melakukan seluruh proses. e) Masyarakat cenderung mengharapkan bantuan. di mana penduduknya homogen dan memiliki interaksi sosial yang relatif tinggi. c) Pada masyarakat di mana hubungan sosial antara kelompok tidak harmonis atau renggang. Daftar nama KK menurut peringkat sosial ekonomi. Konsep miskin menurut masyarakat setempat. d) Bahasa dapat menjadi kendala jika tidak ada penterjemah. Daftar nama KK seluruh penduduk SPS. Kendala dalam pelaksanaan PWR adalah: a) Masyarakat kita sudah terbiasa dengan instruksi. pemilihan informan (perwakilan warga) harus hati-hati. dapat dilakukan oleh dua orang fasilitator bersama sebanyak 9 orang perwakilan warga untuk sebanyak 150 sampai 200 KK dalam waktu tiga hari. Peta wilayah pemukiman setempat 2. mulai dari termiskin sampai terkaya. Hasil lain yang juga tidak ternilai harganya adalah dampak yang ditimbulkan pada pribadi perwakilan warga dan pada masyarakat sebagai kesatuan sosial.

Kalau pembangunan hendak mengejar ”setoran” maka teknik PWR terasa boros dan mahal. fasilitator dapat menangkap situasi umum masyarakat. Teknik ini mudah dilakukan oleh fasilitator yang dilatih secara singkat dan perwakilan masyarakat sekali pun berpendidikan rendah. Mereka dapat melaksanakan sendiri PWR secara berkala baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun kepentingan pihak lain. hubungan sosial yang kurang harmonis antara kelompok penduduk pribumi dan non pribumi (di Medan). Pelaksanaan PWR selain berguna untuk pengumpulan data sekaligus dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi program. praktis seperti memasak mie instan atau memerlukan waktu relatif lama seperti memasak jagung? Sangat tergantung dari sisi mana pengukuran dilakukan. seperti: kecurigaan warga terhadap pendatang (di Bali). mendidik manusia.Participatory Wealth Ranking 1. Bandingkan jika petugas datang lalu melakukan survey tanpa peduli pendapat masyarakat setempat. 116 Puslitbang Kesos . termasuk pemerintah. 6. ketidakpecayaan warga atas penjelasan aparat pemerintah (di NTT). PWR memungkinkan partisipasi masyarakat disalurkan secara representatif dan menghasilkan data secara sistematik. Sikap selalu menunggu instruksi bisa berkurang. PWR menjadi super murah. 2. Kesimpulan dan Saran PWR cukup efektif digunakan untuk mengidentifikasi keluarga menurut urutan kemiskinannya secara partisipatif. Pelaksanaan PWR dapat menjadi titik awal (merangsang) muncul dan berkembangnya kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama sesama warga untuk memecahkan masalah masyarakat. Pada pribadi perwakilan warga mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya. Rasa percaya diri tumbuh. 3. 5. Melalui proses pelaksanaan PWR. Apabila pembangunan kesejahteraan sosial ingin konsisten hendak membangun masyarakat sebagai basis perkembangan mandiri. masyarakat diakui dan dihargai eksistensinya. Sebagai kesatuan sosial. 4. Apakah teknik PWR efesien? Mahal atau murah. Perasaan inferior warga bisa diangkat. Pengalaman perwakilan warga mengikuti kegiatan ini dapat dijadikan landasan membangun sistem pegumpulan data PSKS dan PMKS secara berkesinambungan.

Negeri Sembilan. maka PWR dapat dijadikan pilihan teknik. Namun sebelum digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan seleksi sasaran P2FM. Rianingsih (Ed).Participatory Wealth Ranking PWR potensial digunakan untuk menjaring informasi lebih dalam (spesifik) maupun lebih luas. Anton Simanowitz. PWR tidak sekedar mengidentifikasi keluarga miskin dan termiskin. PWR juga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan sistem pengumpulan data berkelanjutan berbasis masyarakat. Pada aplikasi PWR harus diwaspadai prosesnya dilakukan dengan benar. sehingga diperoleh pengalaman riil. Apabila identifikasi dan seleksi sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin hendak dijadikan kegiatan produktif. Walapun teknik sudah cukup partisipatif tetapi jika tidak digunakan dengan benar hasil akhirnya akan berbeda. Berbuat Bersama Berperan Setara: Penerapan Participatory Rural Appraisal. DAFTAR PUSTAKA David S Gibbon. 1996. Cost Effective Targeting: Two Tools to Identify the Poor. Puslitbang Kesos 117 . 1999. Malaysia. Bandung Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusatenggara. ben Nkuna. PWR perlu terlebih dahulu digunakan secara terbatas di beberapa kabupaten. tetapi sekaligus merangsang prakarsa masyarakat. Djohani. CASHPOR Technical Service.

.

SST. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. Anggota : Ir. dokumentasi dan focus group discussion.Si. Drs. Badan Pendididkan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. yang diikuti penyajian data. Kalimatan Barat. informal). H. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif.Pd.Si. M. Adapun 1 2 Diangkat dari penelitian “Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan”-Identifikasi Masalah dan Kebutuhan..Pd. observasi. permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di wilayah perbatasan adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan. M. M. Sugiyanto. Sekretariat : Bahder Husni. Marzuki. dan Haryanto. M. Untuk itu kebutuhan yang dibutuhkannya antara lain memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi.Pd. Departemen Sosial RI. M. keterampilan.PEMBERDAYAAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN (Identifikasi Masalah dan Kebutuhan)1 Sugiyanto. kebutuhan dan potensi serta untuk mendapatkan konsep model pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan. pengetahun. Kalimantan Timur. Perguruan Tinggi dan aparat instansi daerah terkait. S. Orsos. Erliwati Suin. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari responden yang bersifat kuantitatif. merupakan studi kasus wilayah perbatasan di lima propinsi (Kepulauan Riau.Sos. M. S. Informan ditentukan secara purposive dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara.. Dr. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi. Rukmini Dahlan. dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah. BA. Prof.Si. Puslitbang Kesos 119 . 2 ABSTRAK Penelitian ini. Secara umum. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. Ajun Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Agus Suradika. kesehatan dan lainnya). Ketua Tim : Drs. yaitu: pemuka masyarakat (formal. dengan anggota Tim : Konsultan : Dr. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif wawancara dengan para informan. Nusa Tenggara Timur dan Papua).. ekonomi. Masngudin. Muchtar.Sc. LSM. keterampilan serta ketidakmenentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. Hum. S. Sugiyanto..

minimnya pembangunan infrastruktur. Menko Polhukkam .I. bahkan tidak berpenghuni (KRA XXXVIII. Lemhanas R.id).dalam Rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar yang beranggotakan 17 menteri . Rencana pembangunan itu antara lain: peningkatan keamanan. Kaltim. Secara demografis.000-an km dan terletak diantara dua benua (Australia dan Asia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) memiliki perbatasan baik darat maupun laut (http//www. kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga. masalah perbatasan saat ini merupakan masalah krusial yang harus mendapatkan perhatian khusus. Konsep model pemberdayaan keluarga yang ditawarkan adalah konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari perairan dengan garis pantai sekitar 81. Konsep model tersebut masih perlu diujicobakan dan disosialisasikan ke berbagai pihak agar dapat menjadi program yang lebih efisien dan efektif. 120 Puslitbang Kesos . kemiskinan penduduk. Di wilayah yang berbatasan darat. termasuk pulau-pulau terluar. Kata kunci: Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.tnial. 2004).504 pulau. Sedangkan pada perbatasan laut. sebarannya sangat jarang. sampai kurangnya perhatian dari sektor-sektor terhadap pembangunan wilayah perbatasan (MI. Secara umum intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah dan Orsos telah dilakukan tetapi secara spesifik yang mengarah terhadap pemberdayaan keluarga belum dilakukan.menegaskan.mil. misalnya: Kalbar. 30 Januari 2006). penyebaran penduduk di wilayah perbatasan umumnya jarang dan sporadis. Abdulhadi (LIPI) mengidentifikasi sejumlah permasalahan di wilayah perbatasan. arus informasi dari dalam negeri kurang dan lebih deras arus dari negeri tetangga. Karena program yang telah dilakukan masih bersifat charity. NTT jumlah penduduknya sedikit. Oleh karena itu. alam dan SDM) masih sangat terbuka sekali untuk dapat didayagunakan.. yaitu: pergeseran batas negara. pelayanan bagi masyarakat serta penyediaan navigasi pelayaran (MI. 2 Januari 2006).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan potensi (sosial.

LSM/Orsos dan Perguruan Tinggi. yang nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh unit operasional Departemen Sosial R. pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan merupakan keharusan. rendahnya tingkat pendidikan. Soekanto (1990) juga menyatakan. maupun nonfisik (tingkat pendapatan rendah. bertujuan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan keluarga di daerah perbatasan. Dalam konteks penelitian ini. Terkait dengan itu. Mutu suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas kesatuan primer ini. keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. Puslitbang Kesos 121 . Dalam Undang-Undang Nomor :10 Tahun 1992 dinyatakan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Sejalan dengan pemikiran itu. perumahan dan sanitasi yang tidak layak. atau ibu dan anaknya. keluarga adalah: (1) pelindung bagi pribadi-pribadi anggotanya. rendahnya kesehatan & nutrisi. anak-anak yang tidak sekolah dan berbagai masalah sosial lainnya. Puslitbang Kessos Depsos RI (2006) melakukan penelitian. banyak keluarga (di perbatasan) di dera berbagai masalah seperti: kemiskinan. tingkat pendidikan rendah. atau ayah dan anaknya. yang dimaksud keluarga adalah keluarga miskin yang tinggal di wilayah berbatasan langsung dengan negara lain. karena keluarga mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dunia Usaha. (3) menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah pergaulan hidup. derajat kesehatan rendah dan lain sebagainya). agar ketenteraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut. (2) unit sosial ekonomi yang secara material memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya. Menurut para ahli. Pemda. dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Keluarga dan pihak terkait lainnya. unsur Pemda maupun masyarakat (LSM). komunikasi & lainnya yang tidak memadai. 1988). serta ekplorasi model-model pemberdayaan keluarga baik yang telah maupun sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak di daerah. bahkan tidak tersedia). Akan tetapi. atau suami istri dan anaknya. dan (4) merupakan wadah terjadinya proses sosialisasi awal bagi manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Yang pada umumnya mereka dalam kondisi keterbatasan baik secara fisik (sarana transportasi.I. Penelitian ini merupakan input bagi penyusunan konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. kenyataan empirik menunjukkan.

membuat rakyat semakin tidak mempunyai kemampuan terhadap permintaan mendadak untuk pembayaran pinjaman atau terhadap permintaan uang suap dalam suatu sengketa. Chambers (1983) mengemukakan konsep perangkap deprivasi (concept of deprivation trap). vulnerrebality (kerentanan). utamanya Eropa. yaitu: kondisi berdaya dan ketidakberdayaan. Chambers lebih lanjut menjelaskan. pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan memenuhi kehidupan komunitas mereka. Saling keterkaitan kelima itu dapat dicermati pada gambar berikut: Ketidakberdayaan Isolasi Kerentanan Kemiskinan Kelemahan Fisik Bagan 1. poverty (kemiskinan) dan isolation (keterisolisasian). hilangnya kekuatan tawar menawar. Perangkap Depriasi (Sumber : Chambers. terdapat dua hal yang saling berkait. physical weakness (kelemahan fisik). memperumit keadilan hukum terhadap penyelewengan. Terkait dengan ketidakberdayaan. Ife (1995) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber. 1983) 122 Puslitbang Kesos . Dalam konsep pemberdayaan. Ia menganalisis penyebab kemiskinan sebagai hubungan sebab akibat yang saling berkait dari powerlessness (ketidakberdayaan).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Adapun arti dari pemberdayaan (empowerment) itu sendiri merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat. ketidakberdayaan membatasi akses terhadap sumber daya negara. kesempatan.

yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. (b) orsos/LSM. kekuatan. lokasi terpilih adalah: (a) Kampung Skouw Sae (Jayapura Papua) berbatasan darat dengan PNG. yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan. Informan ditentukan secara purposive mereka memahami secara baik kondisi daerah perbatasan. Puslitbang Kesos 123 . (d) Desa Berakit (Bintan Kepri) berbatasan laut dengan Malaysia & Singapura. lokasi tersebut berbatasan langsung dengan negara lain. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. tetapi saling terkait. dengan menekankan pada menstimuli. yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan serta keterampilan dan ketidak menentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. seringkali harus melalui proses sekunder terlebih dahulu. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. sejumlah permasalahan keluarga yang mengedepan di daerah perbatasan lokasi penelitian adalah: kemiskinan penduduk.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Menurut Oakley & Marsden (1984) dalam Pranarka & Moeljarto (1996). yang diikuti penyajian data. dan (e) Desa Silawan (Belu NTT) berbatasan darat dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).kepala keluarga di daerah berbatasan. mendorong. agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka. Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku. memotivasi masyarakat. (d) aparat instansi Pemerintah Daerah terkait. atau kemampuan kepada masyarakat. proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. (c) Dusun Bungkang (Sanggau Kalbar) berbatasan darat dengan Malaysia. Atas pertimbangan itu. dan focus group discussion. Responden ditentukan secara random sampling . informan dalam penelitian ini adalah: (a) pemuka masyarakat setempat (formal-informal). observasi. Data kuantitatif dianalisis secara distributive-frekuentif. Agar kecenderungan primer terwujud. dokumentasi. agar mempunyai kemampuan/ keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya. (b) Desa Pancang (Nunukan Kaltim) berbatasan darat & laut dengan Malaysia. yaitu: (1) proses primer. dan (2) proses sekunder. Atas dasar itu. (c) perguruan tinggi. Lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif.

Adapun potensi (sosial. penyuluhan. metode. pengetahun. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Berdasarkan permasalahan. pendidikan. politik. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. adalah: adanya rasa kebersamaan. Demikian juga potensi alam (laut. lahan pertanian. model yang ditawarkan (yang dilihat dari pelatihan. potensi tersebut model yang ditawarkan ini akan diuraikan melalui variabel-variabel: lokasi penelitian (desa/kecamatan/ kabupaten). juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. Disamping itu. Orsos. untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. 124 Puslitbang Kesos . dan psikologis. non formal) lokal. Intervensi kebijakan pemerintah tersebut di rasakan masih jauh dari yang diharapkan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. adalah: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. dan ekonomi (pasar). karena masih lebih bersifat charity. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. permasalahan. potensi. kebutuhan. Demikian halnya intervensi sosial yang dilakukan oleh Masyarakat (Orsos/LSM: dalam. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi). alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. kesehatan. sekolah. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. luar negeri). ekonomi. kesehatan. Adapun intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di wilayah perbatasan. kesehatan. juga bersifat philantropy. tidak berkelanjutan. Disamping itu. keterampilan. raskin. UEP. serta belum ada program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. dan ketidakberdayan secara sosial. kesehatan dan lainnya). juga adanya lembaga-lembaga (informal. kebutuhan. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan adalah: memfasilitasi mereka. Dengan demikian. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. BLT/SLT. ekonomi (pasar) dan pemukiman. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). keterisolasian. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. transportasi. antara lain: jalan. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Sanggau. bahan bangunan perbaikan rumah. Keluarga di daerah perbatasan Diperolehnya pengetahuan. adalah kemiskinan penduduk. Nunukan. kebutuhan pokok. keterisolasian dan ketidakberdayan Puslitbang Kesos 125 . Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. uji coba perlu dilaksanakan berkali-kali untuk meredesign sesuai dengan hasil uji coba. tentunya selain di lima wilayah perbatasan yang menjadi sampel penelitiaan ini. maka untuk menghasilkan model yang diharapkan memerlukan proses yang panjang. & UEP. & bantuan UEP Keberdayaan Keluarga Pengawasan Bagan 2. Namun. Setelah itu bisa di uji cobakan lagi pada daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan. bimbingan Bantuan teknis (pendampingan) Bantuan: Kebutuhan pokok. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa permasalahan umum keluarga di daerah perbatasan. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini nantinya masih terbatas pada lima lokasi penelitian awal (Bintan. Model tersebut memungkinkan untuk direplikasikan di tempat lain. Belu dan Jayapura). Model tersebut seperti terlihat pada bagan tersebut di bawah ini : Masyarakat (Pelaku perubahan) Pemerintah (Fasilitator) LMS/Orsos Pemuka Masyarakat Intervensi: Pelatihan. keterampilan. bantuan: Pendamping. Oleh karena itu. yang mewakili perbatasan darat maupun laut dengan negara tetangga. Sesuai dengan prinsip participatory action research (PAR). bahan bangunan perbaikan rumah. Sehingga nantinya didapatkan/dihasilkan model yang variatif untuk setiap jenis wilayah perbatasan. masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam usaha memperkecil kelemahan dan menjawab ancaman.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan pendampingan) dan user.

perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. sekolah. kesehatan dan ekonomi (pasar). setidaknya untuk dapat mengakses terhadap sistem sumber informasi. juga adanya lembagalembaga (informal. Disamping itu. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi melalui KUBE. Disamping itu. kesehatan dan lainnya. lahan pertanian. untuk itu direkomendasikan. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). antara lain: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. Seperti konsep model yang ditawarkan (prescriptive) tersebut di atas. sebagai acuan secara nasional dalam upaya mengembangkan daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/ terpencil tersebut dalam rangka memperkokoh rasa nasionalisme dan tetap utuhnya NKRI. masih jauh dari yang diharapkan. kesehatan. Dengan demikian.) perlu dirancang suatu konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan.I. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan antara lain: memfasilitasi mereka. non formal) lokal. politik dan psikologis. pertama: secara internal (Depsos R. antara lain: masih kentalnya rasa kebersamaan. Demikian juga potensi alam (laut. ekonomi (pasar) dan pemukiman. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. (b) membentuk semacam lembaga nasional. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. BLT/SLT. misalnya). Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. yang khusus menangani daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. karena masih lebih bersifat charity tidak berkelanjutan. dipandang perlu: (a) penyusunan rancangan perundang-undangan tentang daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. antara lain: jalan. transportasi. raskin. kesehatan. 126 Puslitbang Kesos . pendidikan. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. serta belum adanya program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. keterampilan. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. Sedangkan intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di daerah perbatasan lokasi penelitian. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan secara sosial. Dalam upaya pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. pengetahun. Kedua: secara eksternal. ekonomi.Adapun potensi (sosial.

A. Jim.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan DAFTAR PUSTAKA Chambers. (1996). (2002).I. UU. Pranarka.M. Pemberdayaan (Empowerment). Community Development: Creating community alternatives-vision. W.Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Tugas Di. Published by Longman scientific and technical. Pemberdayaan Peran Keluarga. dan implementasi. (1995). Robert. A. Rural development: Putting the last first. Ife.. konsep. & Moeljarto. Nomor: 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluar ga Sejahtera. Puslitbang Kesos 127 . Depsos R. Ditjen. analysis and practice. Longman Pty Ltd. (1983). essex. Jakarta: Centre for Strategic and Intenational Studies (CSIS). D it. Pemberdayaan Sosial. R. Psikologi Sosial.W.I. Australia. Pemberdayaan. (1988). United Kingdom. Bandung: Eresco. Pemberdayaan Peran Keluarga Gerungan. Vindyandika.

.

Upaya panti. Suradi. pemanfaatan subsidi. DI Yogyakarta. Namun.EVALUASI PROGRAM SUBSIDI PANTI DALAM MENDUKUNG KELANGSUNGAN PELAYANAN PANTI SOSIAL1 Drs. Pengaruh subsidi. (2) pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomi produktif. MSW. B. Mujiyadi. Berdasarkan hasil penelitian. Kata kunci: Subsidi Panti. Adapun subsidi Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dimanfaatkan untuk membuka UEP baru atau pengembangan UEP yang sudah ada. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Nurdin Widodo 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan subsidi oleh pantipanti sosial. Nurdin Widodo (Ketua). Data dan informasi digali melalui wawancara. Dra Nunung Unayah. sebagian kecil dari panti sudah memiliki upaya konkret dan sebagian lainnya masih berupa gagasan. 2006 Nurdin Widodo. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 129 . Drs. S. Panti-panti sosial pada umumnya masih tetap mengharapkan agar subsidi masih diterima pada masa-masa mendatang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif. Penelitian ini mengambil sampel lokasi panti di Provinsi Sumatera Utara. Drs. dan (3) upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. Dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan. Ivo Noviana.Sos dan Muslim Sabarisman. Harapan panti. Implikasi kebijakan 1 2 Diangkat dari hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program Subsidi Panti Dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Sosial oleh Drs. Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial. yang hasilnya menunjukkan perubahan positif meskipun baru sebagian kecil panti sosial mengalami peningkatan omset dan aset setelah mendapatkan subsidi. M. Terkait dengan masalah tersebut adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan UEP. Nusa Tenggara Barat.Si. Hal ini menggambarkan. AKS. pada umumnya subsidi makanan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas makan pokok dan makanan tambahan dan memberikan pengaruh positif pada peningkatan kualitas menu makanan dan jenis makanan tambahan. upaya ini menurut pengelola panti tetap belum bisa membantu biaya operasional panti. bahwa tingkat ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah masih sangat tinggi. Penerbit Puslitbang Kesos Depsos RI.

Krisis ekonomi yang hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga pelayanan sosial mengakibatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini masih merupakan hambatan. spiritual dan sosial. 855 panti menerima bantuan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dan 93 panti menerima pengembangan UEP. pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan ini.Evaluasi Program Subsidi Panti Pendahuluan Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan dan sifatnya menuntut pemenuhan dengan sesegera mungkin. Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah apabila kebutuhan dasar saja tidak dapat terpenuhi. (2) kebutuhan sosial-psikologis (social-phsyicological needs). yaitu (1) kebutuhan dasar (basic needs). Sejak diluncurkan. Menurut Neil Gilbert dan Harry Spect (dalam Sukoco. Sebab apabila tidak segera dipenuhi akan menimbulkan masalah baik yang bersifat individual (private trouble) maupun gangguan yang bersifat kolektif (public issues). Khusus untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan makan klien. intelektual.050 orang klien menerima bantuan biaya makanan. ditegaskan bahwa salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh panti sosial adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi makan. tempat tinggal dan kesehatan. bahwa setiap manusia dimanapun dan kapanpun secara universal memiliki sejumlah kebutuhan. Di dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/HUK/2005 tentang Standardisasi Panti Sosial. 1991). Disinyalir terdapat lembaga pelayanan sosial yang merasa terancam kelangsungannya dan bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menghentikan kegiatannya Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemauan politik.308 unit. diharapkan pihak panti sosial melakukan konsultasi dengan ahli gizi dari instansi kesehatan setempat 130 Puslitbang Kesos . emosional. Pada tahun 2005. panti sosial yang menerima prorgam subsidi sebanyak 4. yaitu kebutuhan fisik. dengan rincian sebanyak 149. program ini terus mengalami peningkatan dari segi jumlah subsidi maupun jumlah panti dan klien penerima subsidi. pakaian. dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs). membagi kebutuhan manusia menjadi tiga jenis. Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah diluncurkannya program Bantuan Biaya Makanan dan Bantuan Usaha Ekonomis Produktif bagi panti-panti sosial di seluruh Indonesia oleh Departemen Sosial. Selo Soemardjan (1997).

pelayanan kesejahteran sosial dimaksudkan sebagai pelayanan yang difokuskan pada bantuan untuk perorangan atau keluarga yang mengalami masalah penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi sosial atau ketelantaran. (2) menyediakan pilihan-pilihan kepada penerima pelayanan. Menurut Anthony H. Di negaranegara berkembang tertentu. (2) Programprogram kesehatan yang tidak tercakup oleh program yang dikembangkan oleh swasta. (3) mengembangkan keberfungsian sosial. akan tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan intelegensi dan psikomotorik. Diketahuinya upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). 2. Kemudian bagi para lanjut usia. Di negara lainnya digunakan istilah “pelayanan sosial” untuk mencakup apa yang terkandung dalam pengertian pelayanan kesejahteraan sosial di atas ditambah dengan : (1) Bantuan sosial. Siahaan. 1980). pelayanan makan diharapkan akan mencegah atau mengendalikan gangguan fisik dan menjaga kebugaran. 3. Diketahuinya pemanfaatan subsidi panti oleh panti-panti sosial. yaitu yang ditekankan pada pemberian bantuan uang dan atau barang. dan (5) Fasilitas umum. pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh lembaga kesejahteraan sosial disebut dengan “pelayanan kesejahteraan sosial”. (3) Pendidikan. Khan (Soetarso. 2004) tujuan pelayanan sosial adalah: (1) memberikan perlindungan kepada orang yang mengalami kehilangan kemampuan. Puslitbang Kesos 131 . (4) Program-program ketenagakerjaan. Konsep pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Alfred J. Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini. tidak hanya bermanfaat secara fisik.R. dan (4) meningkatkan keadilan untuk memperoleh kesempatan. adalah : 1. Diketahuinya pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomis produktif (UEP). Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial perlu melaksanakan “Penelitian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Program Subsidi Panti dalam mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial”. Perumahan rakyat. Pascal (dalam M. Melalui konsultasi ini maka pelayanan makan bagi klien.Evaluasi Program Subsidi Panti guna memperoleh daftar menu makan yang memenuhi standar gizi dan kesehatan. Dalam rangka memperoleh informasi tentang bagaimana realisasi subsidi panti tersebut di lapangan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan panti sosial. terutama untuk anak-anak.

Secara kualitatif. Panti Sosial Penyandang Cacat. Adapun jenis-jenis panti sosial yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah : Panti Sosial Asuhan Anak. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.Evaluasi Program Subsidi Panti Adapun manfaat yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan rasional bagi pimpinan Departemen Sosial dalam pengembangan kebijakan dan program pemberdayaan panti sosial di Indonesia. pengelola panti sosial (10 orang) dan klien (10 orang). Analisis data dilakukan melalui tahapan editing. Dengan demikian jumlah responden di lima provinsi adalah 360 orang (10 orang Instansi sosial. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. 100 orang pengelola panti dan 250 klien panti). dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. analisis dan interpretasi. Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara. maka penelitian ini dilaksanakan di 5 (lima) provinsi. Panti Sosial Tresna Werdha. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluatif research). yang dilaksanakan dalam upaya mengetahui kekuatan dan kelemahan program subsidi panti sosial. data yang terhimpun dianalisis dengan mempertimbangkan informasi dan masukan dari tiap responden dan informan lainnya yang didapat melalui wawancara. Di setiap lokasi penelitian ditentukan panti sosial sebanyak 10 unit dengan mempertimbangkan variasi panti sosial. Nusa Tenggara Barat. Panti Sosial Pamardi Putra dan Panti Sosial Tuna Sosial. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara. DI Yogyakarta. serta suatu cara menentukan perbaikan bagi para pengambil keputusan di Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. tabulasi. yaitu Provinsi Sumatera Utara. Gambaran Umum Panti Sosial Panti sosial yang menjadi sampel dalam Penelitian ini adalah panti sosial milik pemerintah daerah (74%) dan milik masyarakat (26%). Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. kategorisasi. Sumber data untuk setiap provinsi terdiri dari unsur Dinas Sosial provinsi (2 orang). panti sosial milik pemerintah daerah tidak 132 Puslitbang Kesos . Berdasarkan pertimbangan persebaran data panti penerima program subsidi panti. dengan pertimbangan variasi panti sosial yang menerima subsidi dari Departemen Sosial pada tahun 2005. Data yang terkumpul. yang ditentukan secara purposive.

Tingkat pendidikan tenaga panti terdiri dari SLTA (44. Sarana perkantoran yang dimiliki panti sosial berdasarkan data sekunder di setiap panti menunjukkan sebanyak 26% panti sosial belum memiliki komputer. 5 Panti Sosial Lanjut Usia (10%). pengasuh dan tenaga lainnya) ada yang berasal dari anggota keluarganya sendiri. sebagian para pengurus/pengelola panti (kepala.11%). APBD (32%. Tenaga teknis terdiri dari pengasuh Puslitbang Kesos 133 .05% diantaranya adalah tenaga tetap. fisioterapi dan alat pijat refleksi dimiliki oleh panti sosial cacat dan panti sosial Napza. Peralatan kantor lainnya seperti meja kerja dan lemari arsip sudah dimiliki oleh panti-panti sosial dengan jumlah terbatas. 7 Panti Sosial Penyandang Cacat (14%). Sedangkan pimpinan panti sosial swasta sebagian besar diangkat dan diberhentikan oleh pengurus yayasan. Adapun jenis dan jumlah panti sosial terdiri dari 32 Panti Sosial Anak Terlantar (64%). Yayasan Dharmais (48%). sarjana muda. Sementara peralatan sound system dan tape recorder baru 22% yang memilikinya. sedangkan tenaga tidak tetap merupakan tenaga honor panti. bendahara.. Sebanyak 48% panti sosial memiliki kendaraan bermotor roda empat dan 96% memiliki kendaraan roda dua. bagian gudang. Secara struktural panti-panti sosial pemerintah dipimpin oleh seorang kepala. sedangkan tenaga yang berpendidikan SD dan SLTP (9. tukang cuci dan satpam.99%).) dan dari donatur/masyarakat sebesar 18%. Jumlah tenaga di 50 panti sosial sebanyak 937 orang dan 69. juru masak. sedangkan filling cabinet. dibantu oleh beberapa orang kepala seksi yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat (Bupati/Walikota). yakni Pegawai Negeri di panti-panti sosial pemerintah. Sumber dana tetap berasal dari Dinas Sosial provinsi (54%).Evaluasi Program Subsidi Panti memperoleh subsidi panti. sekretaris.77%) bertugas sebagai pengemudi. calculator dan brankas dimiliki oleh sebagian kecil panti-panti sosial. Sarana teknis seperti modul sebagai alat/panduan pelayanan kepada klien hanya sebagian kecil (26%) panti sosial yang memilikinya dan umumnya panti sosial milik pemerintah daerah. 10% belum memiliki telepon dan sebanyak 72% belum memiliki faxcimilie. Sementara peralatan terapi medik. sarjana dan pasca sarjana (44. Peralatan olah raga dan kesenian sebagian besar (88%) sudah memilikinya. Sumber dana tidak tetap terbesar berasal dari donatur/masyarakat (72%) dan Dinas Sosial provinsi (28%). 4 Panti Sosial Tuna Sosial (8%) dan 2 Panti Sosial Napza (4%).

lauk dan pauk. atau yang pernah mengikuti pelatihan profesi pekerjaan sosial. Perbedaan persepsi tentang pekerjaan sosial ini berpengaruh terhadap pelayanan sosial kepada klien Bentuk dukungan paling besar (74%) terhadap panti-panti sosial dalam jaringan kerja adalah bidang kesehatan yang diwujudkan dalam bentuk pengobatan kepada klien di puskesmas dan rumah sakit serta pelatihan keperawatan untuk lanjut usia. kadang-kadang buah bahkan kadangkadang susu. Sedangkan 36% memberikan makan tiga sehat berupa nasi.32%) dan lainnya adalah instruktur. Sedangkan makanan tambahan diwujudkan dalam bentuk kue. Selain itu pihak kepolisian juga memberikan penyuluhan tentang bahaya Napza. dokter/psikiater. Kantor Urusan Agama memberikan bantuan pembimbing agama/mental kepada klien. Khusus tenaga teknis pekerjaan sosial secara kuantitas masih relatif terbatas. Sementara sebagian panti (terutama panti sosial swasta) menyatakan bahwa pekerja sosial yang dimaksud disini adalah relawan sosial yang melaksanakan pelayanan berdasarkan charitatif. Hanya sebagian kecil panti sosial yang memberikan menu makan empat sehat dan empat sehat plus berupa nasi. sayur. yaitu rata-rata 3 orang per panti sosial. Namun.Evaluasi Program Subsidi Panti (37.37%). lauk pauk. sayur. Menu makanan rata-rata terdiri dari makanan pokok. psikolog. lauk pauk. analis laboratorium dan konselor. Sebagian besar panti-panti sosial milik pemerintah daerah berpendapat bahwa tenaga pekerja sosial merupakan tenaga profesi yang seharusnya mempunyai latar belakang pendidikan pekerjaan sosial. sayur. Rasio ini sangat berat terutama untuk klien penyandang masalah pathologis. Dukungan dalam bentuk beasiswa diberikan oleh Muhammadiyah dan gereja. yang rata-rata per pekerja sosial mendampingi 74 orang klien. Pemahaman tentang pekerja sosial ini di setiap panti berbeda-beda. kerohanian (13. kacang hijau dan buah-buahan. kolak. pelatihan ini baru diberikan sebanyak 46% dari panti-panti sosial. diperoleh informasi sebanyak 50% panti memberikan menu makan tiga sehat plus berupa nasi. Mengenai pemenuhan kebutuhan fisik klien. 134 Puslitbang Kesos . Sedangkan pelatihan keterampilan diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja setempat. seperti penyandang cacat dan korban napza. perawat.04%). Dinas Perindustrian memberikan dukungan magang kerja melalui kerjasama dengan dunia usaha. Dinas Sosial dan BKKKS memberikan dukungan pelatihan manajemen panti. pekerja sosial (27. buah ditambah susu. sayur dan lauk pauk. kadang-kadang buah.

sehingga kegiatan ini merupakan program pokok bagi klien dalam panti. mukena) dan pakaian dalam. 95. Sebagian besar tempat tinggal klien menggunakan asrama (96%). Pelaksanaan bimbingan fisik sebagian besar memanfaatkan tenaga dari dalam panti. pramuka dan psikoterapi. seperti yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Remaja. Secara umum kegiatan ini mempunyai tujuan: (1) memberikan keterampilan kepada klien. baju koko. pakaian ibadah (sarung. odol. Walaupun memiliki tujuan yang berbeda. sedangkan penyuluhan kesehatan melibatkan tenaga Puskesmas setempat. sebagian besar panti sosial melaksanakan kegiatan senam secara rutin. pakaian lebaran. Sebagian besar (98%) Panti sosial juga memberikan peralatan/ perlengkapan mandi seperti sabun mandi. sedangkan bola volley. bimbingan kedisiplinan. Apabila dilihat dari total jumlah klien. sedangkan pakaian sekolah diberikan sesuai kebutuhan klien. Pemahaman bimbingan sosial di setiap panti berbeda-beda sesuai dengan persepsi pimpinan/pengelola panti sosial. Bimbingan keterampilan yang ada di panti-panti sosial memiliki tujuan yang berbeda-beda. Jenis bimbingan mental/psikososial yang dilaksanakan di panti-panti sosial meliputi bimbingan agama. sikat gigi. yang diberikan setiap bulan dan ada yang tidak setiap bulan. sepak bola dan tenis meja dilaksanakan secara insidentil pada sore hari. pelayanan yang diberikan meliputi P3K. sebagian besar (86%) panti sosial melaksanakan bimbingan keterampilan Puslitbang Kesos 135 . lainnya dalam bentuk wisma (cottage). Mengenai kegiatan pembinaan fisik.17% tinggal di cottage. yang biasanya dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal. handuk dan pakaian dalam. sabun cuci.Evaluasi Program Subsidi Panti Sebagian besar (96%) panti-panti sosial memberikan pakaian sekolah. bimbingan bicara (spech therapy).83% klien tinggal dalam asrama dan 4. Kadangkadang pakaian juga diberikan oleh para dermawan pada saat mengadakan kunjungan ke panti. pengabdian masyarakat dan gotong royong. dan (3) merupakan kegiatan ekstra kurikuler atau sekedar mengisi waktu luang. Jenis bimbingan sosial yang selama ini diberikan oleh panti-panti sosial meliputi sosialisasi dengan lingkungan/masyarakat. rujukan ke puskesmas atau rumah sakit umum/daerah setempat. Dalam bidang kesehatan. konsultasi. (2) sebagai terapi dalam usaha membantu penyembuhan klien sebagaimana kegiatan keterampilan yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Laras.

. Jenis bimbingan keterampilan di setiap panti sosial bervariasi. Padahal. Panti-panti milik pemerintah daerah untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan tidak mendapatkan subsidi makanan dengan alasan sesuai dengan Surat Edaran dari Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial yang menyatakan bahwa panti milik Pemerintah tidak mendapatkan subsidi ini. Pemanfaatan Subsidi Panti 1. subsidi panti dapat digunakan sebagai tambahan sumber dana panti. Namun. Setiap panti sosial ada yang melaksanakan 1 atau 2 jenis keterampilan ada juga yang melaksanakan 3 . 2. dari Yayasan Dharmais.693 orang.250. yang tidak mendapatkan subsidi makanan adalah panti milik Pemerintah (pusat) bukan milik Pemerintah Daerah.Evaluasi Program Subsidi Panti secara rutin. Pelaksana kegiatan ini. Untuk itu pemanfaatan subsidi diserahkan sepenuhnya kepada panti-panti yang menerimanya. untuk tahun 2005 ini tidak semua panti yang menjadi responden mendapatkan subsidi makanan. Subsidi Makanan Panti-panti yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah panti-panti sosial yang mendapatkan subsidi makanan pada tahun 2004 dan 2005. yang mendapatkan subsidi sebanyak 2.5 jenis keterampilan. sebagian memanfaatkan tenaga dalam panti. ada keleluasaan bagi pengelola panti untuk mengelola subsidi sebatas untuk biaya makanan dan bukan untuk kebutuhan yang lain. menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. sebagian panti memanfaatkan tenaga dari Dinas Tenaga Kerja. Koperasi dan dunia usaha. Bagi panti yang telah memiliki sumber tetap seperti dari APBD (khusus panti pemerintah).per orang sangat signifikan sebagai suplemen pemenuhan makanan klien yang digunakan 136 Puslitbang Kesos . Dari 50 panti sosial dengan jumlah klien 3. yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing panti. Subsidi makanan yang besarnya Rp.450 orang atau 66.94% dari total klien dalam panti sosial. dari Yayasan pendukung utama operasional panti dan sebagainya. Dengan demikian. 2 % melaksanakan bimbingan keterampilan secara insidentil dan 12 % panti sosial tidak melaksanakan bimbingan keterampilan. Tidak semua panti sosial mendapatkan subsidi makanan sesuai dengan jumlah klien.

Hal ini berkaitan dengan tidak adanya/kurangnya sumber dana tetap. 3.150. Membandingkan jatah SOSH dengan HET setempat tampak adanya angka ’minus’ dari anggaran panti untuk mengadakan bahan makanan tiap harinya.1. Tabel 1.9.1. karena tidak memiliki Puslitbang Kesos 137 .Harga Kebutuhan per orang per hari (Rp) 10.140.Kekurangan (Rp) 2.10.100.600.000. Hal ini berkaitan dengan sudah adanya dukungan APBD untuk menu pokok harian. subsidi makanan terkesan menjadi “yang utama”.- Panti-panti pemerintah yang mendapatkan jatah SOSH tampak terjadi defisit tiap harinya. secara rata-rata maka jumlah anggaran dimaksud antara kurang dan lebih dari mencukupi. makanan tambahan dan susu.9.1. Perbandingan SOSH dengan kebutuhan tiap orang No.11. 4.9. Sedangkan untuk panti swasta. Apabila dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat untuk jenis barang yang dikonsumsi klien sehari-hari.11. 1. Sedangkan panti swasta. Kondisi ini lebih parah dirasakan oleh panti swasta. Untuk itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini.100.Evaluasi Program Subsidi Panti untuk menambah jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada klien. 5. sehingga tuntutan untuk dapat memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna hampir pasti tidak dapat terpenuhi.11. Menu makanan yang diberikan panti kepada kliennya diusahakan sedemikian rupa untuk memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. 2. meski tidak setiap hari.620. Namun demikian.120. Provinsi Sumut NTB DI Yogya Kalbar Sulsel SOSH (Rp) 7.500.000.150.000.1. Menu makanan yang diberikan panti Pemerintah mengikuti menu yang sudah ditetapkan dengan jadwal yang pasti dan masih dapat memberikan buah dan susu serta makanan tambahan seperti kacang hijau. Untuk Panti Pemerintah. subsidi dimaksud digunakan untuk menambah lauk-pauk.100. Namun demikian. ada satu panti swasta yang dapat memberikan makanan tambahan. ada yang belum/ tidak dapat memberikan makanan tambahan. untuk sebagian panti swasta standar tersebut masih dirasakan sebagai ’utopia’ karena perbandingan jatah SOSH dengan harga setempat masih relatif jauh.900.10.540.

Untuk itu dapat dilihat tabel berikut ini. Khusus untuk Yogya. Pengembangan 3. bahwa warung sembako menempati jumlah terbanyak (18.000. 2.untuk Yogya merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan panti-panti di provinsi lain. Mengenai variasi jenis usaha/kerja diperoleh informasi.150. dari yang sifatnya ternak.. Dari pengamatan pada waktu penelitian.000. Subsidi Usaha Ekonomi Produktif Tidak semua panti responden mendapatkan subsidi UEP yang besarnya Rp 10 juta (subsidi baru) dan Rp 25 juta (subsidi pengembangan usaha). meskipun secara umum diketahui bahwa HET relatif lebih murah bila dibandingkan dengan provinsi lain.Evaluasi Program Subsidi Panti sumber dana tetap seperti yang dimiliki panti pemerintah. tampak bahwa beberapa panti hanya mampu memberikan makanan seadanya kepada kliennya. Baru 2. Tabel 2.92%). Selain itu diketahui bahwa terdapat panti yang mengembangkan usahanya dalam 1 jenis atau lebih jenis usaha. Kemudian 138 Puslitbang Kesos . Klien tidak setiap saat mendapatkan jatah lauk pauk yang memenuhi standar gizi dan bahkan kalau mereka mendapatkan makanan harian hanya dalam wujud nasi dan sayur yang dimasak dengan cara diberikan banyak kuah... Jenis Subsidi UEP yang didapatkan No.untuk makanan ringan dimaksud.tiap kali dan dengan demikian tiap hari diperlukan Rp 2. Tidak ada UEP Jumlah 31 panti 4 panti 15 panti % 62 8 30 Dari 31 panti yang mendapatkan subsidi UEP baru dan 4 panti yang mendapatkan subsidi pengembangan UEP dan dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha. Banyak panti swasta yang hanya dapat merasakan lauk pauk enak apabila klien panti dimaksud diundang untuk acara selamatan di masyarakat sekitar panti atau panti mendapatkan hantaran dari masyarakat dalam wujud makanan matang. Di Yogya panti milik pemda memberikan snack/ makanan ringan pada medio pagi dan sore. Subsidi UEP 1. Jadi nilai Rp 11. usaha kerja hingga usaha jasa. Harga makanan ringan dimaksud ditetapkan Rp 1. tampak bahwa indeks kebutuhan lebih tinggi.

peningkatan kemampuan hingga upaya pemasaran. diklat perbengkelan. Meskipun demikian terdapat panti yang tidak melakukan jalinan kerja sama karena usahanya ada yang memang sudah dalam keadaan tidak operasi dan sebagian merasa dapat mengatasi sendiri masalahnya.33%).81%). Puslitbang Kesos 139 . salon.Evaluasi Program Subsidi Panti wartel dan rental komputer menempati urutan ke dua (10. untuk jalinan dengan lembaga/institusi lain adalah dalam rangka peningkatan keterampilan dan pemeliharaan usaha.25%) dan lain alasan. Pilihan ini tentunya berkaitan dengan kemudahan pemasaran dari hasil usaha/ kerja yang dipilih. analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. budidaya lele. Kerja sama dengan pihak lain baik dunia usaha maupun institusi dimaksudkan sebagai praktek kerja. antara lain: ternak ayam. Didapatkan informasi bahwa sebagian toko memberikan kemudahan seperti mengambil barang terlebih dahulu dan baru membayar kemudian setelah barang dagangannya terjual. kambing dan sapi. SDM/pengelola (13. tanaman hias. Bentuk kerjasama/dukungan terhadap Panti Sosial antara lain praktek kerja. Jalinan terbesar ke dua adalah dengan PT Telkom. Ini berkaitan dengan jenis usaha yang dikembangkan panti. masing-masing panti kemudian menjalin relasi dengan pihak lain sehingga diharapkan dapat mencapai peningkatan kemampuan kerja/produksi sekaligus dalam rangka pemasaran. pemasaran dan penyuluhan kesehatan. bengkel dan pertukangan. Sedangkan jenis usaha lainnya. yang didukung oleh tabel destribusi frekuensi dan diagram. terutama bagi panti yang mengembangkan UEP dalam bentuk jualan sembako. lokasi (21. Dalam memanfaatkan dana subsidi UEP. foto copy.69%). koperasi/simpan pinjam. Alasan pemilihan jenis usaha ini berkaitan dengan pemasaran (31. bengkel. Jalinan dimaksud terutama dalam rangka pengadaan bahan dagangan. Pengaruh Subsidi Untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh program subsidi panti ini. Sementara itu. Adapun jalinan kerja dimaksud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalinan terbanyak adalah dengan toko. yakni Wartel atau Warnet. antara lain dengan pihak dunia usaha serta institusi milik pemerintah dan masyarakat. menjahit.

Di lapangan. khusunya dalam hal frekuensi makan. atau ada penambahan sebesar 4 persen. 96 persen panti sosial sudah memberikan makan tiga kali sehari dan kemudian menjadi 100 persen setelah menerima subsidi. menu yang telah disusun tersebut belum dapat dilaksanakan setiap hari karena keterbatasan anggaran. data yang dikumpulkan hanya memenuhi 2 (dua) ukuran yaitu tiga sehat dan tiga sehat plus yang akan dianalisis kemudian. yaitu dua sehat. yaitu frekuensi makan. buah-buahan dan susu. Misalnya. untuk pemberian buah-buahan dan susu. tiga sehat. bahwa panti sosial belum sepenuhnya mengikuti daftar menu makanan yang yang telah disusun. menu makan (yang menggambarkan kualitas makanan) dan makanan tambahan. 140 Puslitbang Kesos . Ukuran ini sebagai dasar bagi peneliti untuk mencermati menu makan yang disediakan panti sosial. Perubahan ini dinilai bermakna. Namun. Aspek kedua dari makanan adalah menu makan klien dalam panti sosial yang menggambarkan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh klien. Makanan Beberapa aspek terkait dengan makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini.Evaluasi Program Subsidi Panti 1. Berdasarkan kondisi lapangan itu. program subsidi panti tidak memberikan pengaruh yang signifikan.3 kali seminggu. Pada umumnya sebagian besar panti sosial sudah menyusun menu makan per hari bersama ahli gizi setempat. karena dengan subsidi panti akhirnya seluruh panti kini sudah sesuai dengan Standardisasi Panti Sosial dalam pemberian makanan. lauk-pauk. Pada aspek frekuensi makan. Menurut ahli gizi. maka menu makan yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 (lima) ukuran. makanan dikatakan sehat apabila secara umum telah memenuhi empat sehat lima sempurna. sayur. pada umumnya panti sosial memberikan 2 . Namun demikian. tiga sehat plus. Sebelum menerima subsidi. yaitu nasi. peneliti menemukan data. empat sehat dan empat sehat plus yang menggambarkan skala ordinal.

2. Aspek berikutnya untuk melihat pemenuhan makanan klien adalah pemberian makanan tambahan. Makanan tambahan memang tidak termasuk makanan utama. 2) Pengaruh terhadap menu atau kualitas : a) Terjadi penurunan dari semula 36 persen menjadi 6 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat (pindah ke tiga plus). Makan Tambahan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. 1. baik terkait dengan tumbuh kembang (bagi anak-anak) atau kesehatan (bagi orang dewasa).Evaluasi Program Subsidi Panti Tabel 3. 1. Menu Makanan Tiga sehat Tiga sehat plus Jumlah Sebelum F % 18 36 32 64 50 100 Sesudah F % 3 6 47 94 50 100 Berdasarkan tabel di atas. Dari ketiga aspek yang dicermati dalam penelitin ini bahwa : 1) Pengaruh terhadap frekuensi atau kuantitas permakanan. Perbandingan sebelum dan sesudah subsidi dari makanan tambahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Kualitas Makan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. Namun. program subsidi panti dapat disimpulkan berpengaruh positif dan signifikan pada kemampuan panti dalam memberikan makanan tambahan. b) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 94 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat plus. klien panti sosial memerlukan makanan tambahan sebagai tambahan gizi. Makanan Tambahan Setiap hari Kadang-kadang Tidak ada Jumlah Sebelum F % 4 8 28 56 18 36 50 100 Sesudah F % 6 12 42 84 2 4 50 100 Berdasarkan data tersebut. 2. Puslitbang Kesos 141 . terjadi peningkatan dari semula 96 persen menjadi 100 persen panti sosial yang memberikan makan 3 kali sehari. program subsidi panti memberikan pengaruh positif pada penyajian menu atau kualitas makanan panti sosial.

sebesar 8 panti sosial (25%) sudah berkembang (ada penambahan jenis UEP). Dalam rangka mengetahui pengaruh subsidi bidang UEP. Data ini menunjukkan. yang hasilnya dapat diambil harian.Evaluasi Program Subsidi Panti 3) Pengaruh terhadap makanan tambahan : a) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 96 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan. menu dan makanan tambahan. yaitu rental komputer. c) Terjadi peningkatan dari semula 56 persen menjadi 84 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan kadangkadang (2-3 kali seminggu). Hal ini menggambarkan bahwa panti sosial pada umumnya sudah memiliki pemahaman akan eksistensinya sebagai organisasi pelayanan manusia (human service organization). tetapi secara kualitatif memberikan manfaat yang sangat besar. mingguan maupun bulanan. bahwa pada umumnya sebelum menerima program subsidi panti. bahwa pengaruh subsidi terhadap pemenuhan kebutuhan makanan pada panti-panti sosial pada kategori rendah. yaitu penambahan jenis UEP. 2. panti sosial sudah memberikan kebutuhan makanan relatif baik. Panti sosial sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan klien. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi untuk kegiatan UEP. yaitu berkisar 30 persen. Usaha Ekonomis Produktif Berbagai jenis UEP diselenggarakan oleh panti sosial. dilihat dari aspek frekuensi. ada 4 aspek yang dicermati dalam penelitian ini. Meskipun secara kuantitatif pengaruh program subsidi panti relatif rendah. Berdasarkan informasi tersebut disimpulkan. b) Terjadi peningkatan dari semula 8 persen menjadi 12 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan setiap hari. 142 Puslitbang Kesos . penambahan aset dan pemanfaatan untuk kebutuhan operasional. Jenis-jenis usaha yang merupakan usaha tambahan dari usaha utama. program subsidi panti sangat membantu kelancaran proses pelayanan dan karenanya perlu dilanjutkan. penambahan omzet/ minggu. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengelola panti sosial. dengan rincian 5 panti menambah satu jenis usaha dan 3 panti menambah 2 jenis usaha.

165. 660. Hal ini didasari anggapan dasar. Perhitungan omzet ini hanya berdasarkan perkiraan pengelola saja. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.000.Evaluasi Program Subsidi Panti traso. lemahnya administrasi pengelolaan UEP ini tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak penerima program subsidi panti.atau rata-rata omzet Rp. ternak ayam dan wartel. yang berkisar Rp.000. bahwa apabila panti sosial sudah mengelola UEP dengan baik minimal selama 1 tahun. Aspek ketiga dari pemanfaatan subsidi untuk UEP adalah penambahan aset panti sosial.88%) mengalami peningkatan omzet. Hal ini merupakan kendala dalam penelitian ini.61%) memiliki omzet berkisar Rp.-/minggu.000. sebanyak 23 panti sosial (71.-/bulan. 25. 350. Hal ini menggambarkan. Hal ini berarti terdapat 6 panti sosial yang menerima subsidi pengembangan UEP digunakan untuk menambah modal usaha utamanya.000/minggu hingga Rp. Aspek ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana UEP yang dikelola panti sosial mengalami perkembangan dari kondisi awal. Namun demikian.000. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. Sebagian besar (75%) panti sosial masih mengelola usaha utama dari program subsidi. Oleh karena itu. 2. Aspek ini dilandasi pula oleh anggapan dasar. Dari 32 panti sosial yang mengelola UEP. karena data obyektif dalam bentuk data kuantitatif tentang omzet ini tidak dapat diperoleh. 25. bahwa UEP yang dikelola oleh panti sosial belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan. hanya 4 panti sosial yang sudah mampu menambah aset masing-masing 1 jenis. pada panti sosial yang mengalami penambahan omzet. peralatan pesta. Puslitbang Kesos 143 . Aspek kedua dari UEP adalah penambahan omzet dari usaha yang dikelolanya.000. meskipun sebanyak 14 panti sosial (43. maka sudah terjadi peningkatan omzet. yaitu peralatan rumah tangga. sebagian besar (82. Berdasar informasi yang dihimpun dari pengelola. tanpa didukung oleh bukti tertulis berdasarkan pembukuan yang baik.000. bahwa dalam waktu minimal 1 tahun panti sosial sudah mampu menambah asetnya dari hasil mengelola UEP. mereka memang tidak pernah memperoleh bimbingan pembukuan dalam pengelolaan UEP.-/minggu atau ratarata Rp..-Rp.75%) menerima subsidi untuk pengembangan UEP.

dikarenakan besarnya omzet tersebut per minggunya masih relatif rendah. diperoleh informasi sebagai berikut : 1) Terjadi penambahan jenis UEP pada 8 panti sosial (25%). 4) Terjadi penambahan kebutuhan operasional pada 6 panti sosial (6. Berdasarkan informasi tersebut. antara lain peralatan rumah tangga. alat-alat penerangan.Evaluasi Program Subsidi Panti Aspek berikutnya terkait dengan UEP ini adalah penambahan untuk kebutuhan operasional. 165.5%) yang sudah mengalami penambahan aset. 3) Terjadi penambahan aset pada 4 panti sosial (12. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. Pada umumnya Dinas Sosial memang melakukan 144 Puslitbang Kesos . bahwa ada proses dalam pengelolaan UEP yang tidak tepat. peralatan pesta. disimpulkan bahwa program subsidi panti berpengaruh relatif rendah terhadap pengelolaan dan pengembangan UEP. Namun demikian. 2) Terjadi penambahan omzet pada 23 panti sosial (71. traso dan ternak ayam. pemasaran dan pembukuannya. keterampilan pengelola. Informasi ini menggambarkan. antara lain penentuan jenis UEP. Jenisjenis UEP antara lain rental komputer. bahan dasar.-/minggu. pengadaan alat-alat keterampilan dan pendidikan.88%) yang besarnya sebagian besar rata-rata Rp. Kebutuhan operasional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang mendukung secara langsung pemenuhan kebutuhan klien.75%) dari 32 panti sosial yang mengelola UEP sudah dapat menambah kebutuhan operasional.25% belum ada penambahan kebutuhan operasional panti. Hal ini menggambarkan pula lemahnya proses monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Instansi Sosial Provinsi terhadap proses pengelolan UEP. Dari keempat aspek yang dicermati untuk mengetahui pengaruh program subsidi panti terhadap pengelolaan UEP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 6 panti sosial (6. Sedangkan 81. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.000. yaitu penambahan pada kebutuhan makanan. alat-alat keterampilan dan pendidikan.75%). alat penerangan. yang menonjol pada penambahan omzet. penambahan omzet tersebut belum meng gambarkan keberhasilan panti dalam mengelola dan mengembangkan UEP. antara lain untuk mendukung makanan tambahan.

Lainnya masih bergantung pada pihak luar. Menurut para pengelola. termasuk kepada pemerintah. dan bahkan ada yang akan mengurangi jumlah kliennya. Namun demikian. Informasi ini relevan dengan informasi sebelumnya bahwa sumber dana panti sosial. Upaya Panti Mengatasi Masalah Pembiayaan Dalam kaitannya dengan upaya panti mengatasi permasalahan pembiayaan. sebesar 28 persen panti sosial belum memiliki upaya atau jalan keluar apabila program subsidi panti ini dihentikan. Hal ini menunjukkan kemandirian panti sosial dalam pembiayaan program dan kegiatannya masih cukup rendah Harapan Panti Terhadap Program Subsidi Masih ada kekhawatiran para pengelola panti sosial apabila pada saatnya nanti program subsidi panti ini dihentikan. apabila tidak ada dukungan pemerintah. dan akibatnya panti sosial mengelola UEP berdasarkan kemampuannya sendiri. Dari jumlah tersebut. upaya untuk memotong mengurangi ketergantungan panti sosial kepada pemerintah masih sulit diwujudkan untuk beberapa tahun ke depan. apabila UEP dikelola dengan baik. Namun demikian. maksud dan tujuan dari program tersebut sulit direalisasikan. Oleh karena itu. khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan. 50 persen panti sosial merencanakan mengembangkan UEP. dan panti sosial masih bergantung pada bantuan pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan. 72 persen panti sosial sudah memiliki rencana mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi dihentikan. Mereka masih mengharapkan program subsidi panti terus dilanjutkan. Program subsidi panti yang dialokasikan untuk UEP ini didasarkan pada pemikiran. maka nantinya panti sosial tidak terlalu bergantung pada pihak lain.Evaluasi Program Subsidi Panti monitoring dan evaluasi terhadap UEP yang dikelola panti-panti sosial. maka panti sosial akan menanggung beban yang amat berat dalam penyelenggaraan pelayanan. terutama untuk kebutuhan makanan. sebagian besar masih berasal dari pemerintah. Sementara itu. informasi yang diperoleh dari kegiatan itu tidak segera ditindaklanjuti. Puslitbang Kesos 145 .

Apabila panti dapat mengelola UEP. belum secara signifikan memberikan manfaat bagi panti-panti sosial. monitoring dan evaluasi tidak dilakukan dengan baik. Proses awal penentuan panti sosial yang layak sebagai calon penerima program. Harapan berikutnya adalah pelatihan pengelolaan UEP dan pendampingan. demi kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pada panti-panti sosial. karena skema dari program ini rawan terjadi penyalahgunaan. Departemen Sosial terhadap panti-panti sosial. Besarnya dana subsidi panti ini apabila dilihat dari besarnya anggaran makanan pada panti sosial. maka akan memiliki sumber dana tetap yang berasal dari panti sendiri. Khusus untuk tahun 2005. program subsidi ini pada umumnya. sehingga akan mengurangi ketergantungannya terhadap pemerintah dan pihak luar lainnya. rata-rata mencapai 53. Bias kepentingan ini akan semakin parah apabila proses supervisi. baik oleh penanggung jawab program di Instansi Sosial Provinsi maupun Departemen Sosial. 38. sehingga kesulitan ketika menghitung berapa besarnya manfaat ekonomis dari program subsidi panti.Evaluasi Program Subsidi Panti Selain bantuan makanan. merupakan titik-titik yang lemah terjadinya bias kepentingan. tetapi belum dapat diketahui secara pasti seberapa besar dampak tersebut. program subsidi panti ini menarik karena dari tahun ke tahun besarnya anggaran yang dialokasikan terus mengalami kenaikan. terutama pada pemberian makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. panti sosial juga mengharapkan adanya bantuan untuk UEP. rata-rata setiap panti sosial menerima dana sebesar Rp. dari 50 panti sosial yang menjadi obyek penelitian ini. Sedangkan untuk UEP. jumlah klien yang diusulkan. Implikasi Kebijakan Sebagai suatu obyek penelitian. Pada umumnya pengelola panti sosial belum melakukan pencatatan atas penggunaan subsidi untuk UEP ini. Dana yang dialokasikan pemerintah pusat dalam program subsidi panti tersebut cukup besar.48 persen. Hal ini menggambarkan cukup besarnya dukungan pemerintah cq. Berbagai persoalan administratif maupun teknis disinyalir terjadi secara berulang-ulang. Pada pemanfaatan pemenuhan makanan dirasakan oleh pengelola cukup membantu.247. Manfaat memang telah dirasakan oleh pengelola.911 per tahun. Hasil dari UEP yang bersumber dari subsidi panti tidak dibukukan tersendiri. sampai dengan pertanggungjawaban administratif. 146 Puslitbang Kesos .

tetapi informasi yang diperoleh terkait dengan bantuan kepada panti-panti sosial dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain program yang tepat. dan (3) panti-panti sosial akan semakin kreatif untuk mengembangkan skema pelayanan yang profesional. Persoalannya adalah bagaimana kemampuan panti sosial mengelola UEP tersebut. maka skema program subsidi panti akan lebih tepat apabila diarahkan pada bantuan untuk pengembangan UEP. terutama dalam memilih jenis UEP yang prospektif dan dalam waktu cepat dapat memberikan hasil.Evaluasi Program Subsidi Panti Meskipun diantara panti-panti sosial sudah menerima program subsidi lebih dari satu kali. masih menghaharapkan dana pada pihak luar. Hal ini semakin menegaskan. Perlu dilakukan evaluasi dari unit di luar penyelenggaran program atau pihak independen. yaitu: (1) mengurangi ketergantungan panti sosial pada pemerintah. 28 persen panti sosial belum menyusun langkahlangkah untuk mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi panti ini dihentikan. Pada kerangka inilah diperlukan peran Instansi Sosial Provinsi untuk memfasilitasi panti-panti sosial tesebut menentukan pilihan UEP yang tepat. maka supervisi. Terutama mengurangi ketergantungan panti sosial terhadap pemerintah dan semakin mendorong profesionalisme panti sosial dalam penyelenggaraan pelayanan. Puslitbang Kesos 147 . Hal ini menggambarkan. Meskipun penelitian ini menjangkau sample panti sosial yang sangat terbatas (50 panti sosial). bahwa program subsidi panti pada umumnya belum mampu mendorong kemandirian panti sosial. mulai dari kegiatan seleksi panti sosial hingga terminasi. sehingga akan diperoleh informasi yang obyektif tentang efektivitas pelaksanaan program subsidi panti ini. monitoring dan evaluasi perlu dilakukan dengan baik. (2) memperkuat komitmen dan percaya diri pengelola panti sosial di bidang pelayanan kemanusiaan. panti sosial yang sudah menyusun langkahlangkah pun. Sementara itu. Terkait dengan itu. tetapi mereka masih sangat mengharapkan program tersebut tidak dihentikan. bahwa program subsidi panti belum mampu mendorong panti-panti sosial mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah. Dalam upaya menjawab permasalahan ketergantungan panti sosial tersebut. Berdasarkan hasil penelitian. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari pengembangan UEP ini.

yakni dari satu jenis menjadi dua atau tiga dan dari seminggu sekali menjadi dua kali. Namun demikian. sayur. Penentuan UEP yang tepat sepenuhnya diserahkan kepada panti-panti sosial sendiri. pada umumnya untuk makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. Program subsidi panti untuk biaya makanan memberikan pengaruh cukup nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien dalam panti-panti sosial. Namun demikian. kondisi UEP panti setelah menerima program juga menunjukkan adanya perubahan positif.94 persen. sarana dan bahan baku. dalam penelitian ini sulit untuk mengetahui secara tepat dampak program subsidi untuk biaya makanan. Selain itu berpengaruh pula pada frekuensi dan jenis makanan tambahan. Meskipun klien yang diusulkan untuk memperoleh subsidi jauh lebih kecil dari yang diusulkan. Diharapkan adanya perubahan kualitas dan frekuensi serta jenis makanan tambahan ini akan semakin meningkatkan derajat kesehatan klien. Kemudian. meskipun belum signifikan. Pemanfaatan subsidi untuk makanan ini. Baru 148 Puslitbang Kesos . Sedangkan berkaitan dengan menu. yaitu nasi sayur dan lauk kemudian menjadi tiga sehat plus. Panti-panti sosial menentukan jenis-jenis UEP didasarkan pada aspek tenaga. atau baru menjangkau 66. yaitu nasi. Oleh karena itu. seperti susu dan buah meskipun pemberian susu dan buah ini pada umumnya belum setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa panti-panti sosial masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan UEP. pada prakteknya baru sebagian kecil UEP yang bisa mendukung kegiatan operasional panti sosial. diperoleh data kualitatif. diarahkan pada frekuensi pemberian makanan tambahan. Ada perubahan positif pada peningkatan kualitas menu makanan yang semula tiga kali sehari. yaitu pemenuhan kebutuhan makanan dan usaha ekonomi produktif (UEP). pasar. bahwa subsidi panti dirasakan besar manfaatnya bagi panti-panti sosial dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien. lauk dan buah-buhan meskipun tidak setiap hari.Evaluasi Program Subsidi Panti Kesimpulan dan Saran Panti-panti sosial pada umumnya memanfaatkan subsidi panti untuk dua kegiatan besar. tetapi seluruh klien yang ada di panti sosial ikut menikmati subsidi tersebut. Untuk makanan tambahan. Dana dari program subsidi panti dimanfaatkan oleh panti sosial untuk membuka UEP baru ataupun pengembangan UEP yang sudah ada. subsidi dimanfaatkan untuk menambah menu.

Diharapkan subsidi untuk kegiatan UEP ini nantinya akan mengurangi ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya panti fiktif. Puslitbang Kesos 149 . Hal ini menunjukkan panti justru semakin sulit melepaskan ketergantungannya pada pemerintah. Pemerintah perlu menetapkan jangka waktu yang tegas. Terkait dengan itu. sehingga panti sosial tepat dalam memilih jenis UEP dan mampu mengelolanya dengan baik. tidak memperoleh prioritas sebagai penerima program subsidi panti. Hal ini menggambarkan. diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pengelola dan penanggung jawab program subsidi panti. Bantuan UEP perlu menjadi priroritas dibandingkan dengan subsidi untuk makanan. c. Sebagian kecil dari mereka telah memiliki gagasan menemukan jalan keluar apabila program subsidi ini nantinya tidak dilanjutkan. Seleksi terhadap panti sosial calon penerima subsidi berdasarkan kondisi riil panti sebagaimana adanya. penyaluran bantuan UEP ini perlu diawali dengan pelatihan UEP dan diikuti dengan pendampingan. mark up jumlah klien dan kelayakan panti sosial untuk menerima program.Evaluasi Program Subsidi Panti sebagian kecil panti sosial yang mengalami peningkatan omzet dan aset setelah menerima program subsidi panti. yaitu: a. b. Panti sosial diberikan kebebasan untuk mengelola UEP menurut caranya sendiri dan pada prakteknya panti sosial tidak tepat ketika memiliki UEP yang prospektif. Berdasarkan hasil penelitian ini. kapan panti sosial akan dikurangi subsidinya atau dihentikan sama sekali. yang diikuti dengan kriteria dan indikator yang terukur. Penanggung jawab program bertanggung jawab terhadap panti sosial yang diusulkan sebagai penerima program dan memiliki data by name by address atas panti-panti sosial yang diusulkan. Terkait dengan UEP ini adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan terhadap panti sosial dalam pengelolaan UEP. Sebagian besar panti sosial masih mengharapkan program subsidi ini terus diterimanya. bahwa sebagian besar panti sosial penerima program subsidi panti masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pemerintah untuk kelangsungan hidupnya. Panti sosial yang sudah mandiri.

DAFTAR PUSTAKA Departemen Sosial RI. 2005. Nomor 2/September 1997. Indonesia. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Social Work Practice : Model and Methode. 2003. 2000. ————————.Evaluasi Program Subsidi Panti d. Oleh karena itu. 150 Puslitbang Kesos . Pincus. Mujiyadi. Standardisasi Panti Sosial. Besarnya subsidi hendaknya disesuaikan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat (khusus makanan). 1973. Selo. Pedoman Akreditasi Panti Sosial. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Usaha Ekonomis Produktif. —————————-. Itjen. sehingga setiap daerah besarnya alokasi anggaran per orang/panti akan berbeda-beda. Perlu dibangun kemitraan secara sinergis antara penanggung jawab program pada unit Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Puslitbang Kesos. Puslitbang UKS. 2003. —————————. Program subsidi panti sangat rawan dengan penyimpangan.2003. f. Jakarta : Ikatan Sosiologi Indonesia. Studi Pengembangan Panti Sosial Pamardi Putra Sebagai Panti Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Yang Komprehensif dan Profesional. Puslitbang Kessos dan instansi sosial di daerah untuk mengawal program subsidi panti ini agar mencapai tujuan yang diharapkan. perlu dilakukan pengawasan lebih ketat mulai pada tahap penentuan panti-panti sosial calon penerima program sampai dengan penyaluran dananya. e. Jurnal Sosiologi. Mekanisme pencarian dana melalui PT POS tetap dipertahankan. Selo Soemardjan. B. dkk.. Illinois : Peacock Publisher Inc . “Kemiskinan Pandangan Sosiologi”. Allen and Anne Minahan. Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Tambahan Biaya Makanan/Gizi. tetapi perlu diupayakan agar pencairan dana tidak terlambat sampai ke pengelola panti sosial dan akan mempengaruhi efektifitas program itu sendiri. 1997. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.

2004. Siporin. New York : Mac Millan Publisher Co. (1990). S. and Richardson. Health Program Evaluation. Makalah dokumen pribadi (tidak diterbitkan). Saint Louis: The C. Profesi Pekerjaan Sosial. (1975).V Moshy Company. Introduction to Sosial Work Practice.Evaluasi Program Subsidi Panti Shortell. Siahaan. W. KOPMA Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial : Bandung.M. Puslitbang Kesos 151 . Bandung : STKS Publisher. Dwi Heru. 1978. Sukoco. Max. Soetarso. (1991). Praktek Pekerjaan Social dalam Pembangunan Masyarakat. Inc. MPR.C. Beberapa Catatan dalam Praktek Pekerjaan Sosial.

.

yang telah berfungsi dalam pelayanan lanjut usia secara tradisional belum dioptimalkan. FGD. penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial.Si. Ditinjau dari kebutuhan hidup pokok kecuali ekonomi. Nusa Tenggara Barat. Dilain pihak. Lokasi penelitian di Sumatera Utara. Penelitian ini merekomendasikan suatu model pelayanan lanjut usia dalam kerabat melalui : penguatan ekonomi kerabat bagi lanjut usia yang tidak potensial dan ekonominya lemah.Nina Karinina. Harapan lanjut usia maupun kerabat adalah tempat serbaguna yang berfungsi pelayanan dan kegiatan lanjut usia. Setyo Sumarno. Pertanyaan dalam penelitian ini. Pendekatan deskriptif kualitatif. belum dapat memecahkan permasalahan yang ada. Permasalahan lanjut usia yang paling dirasakan adalah masalah kesehatan. peneliti: Dra. Drs. Rusmin Tumanggor. Hasil penelitian bahwa pelayanan sosial dalam kerabat merupakan salah satu nilai budaya setempat yang membuat lanjut usia merasa aman dan terlindungi dalam lingkungan kerabat. Puslitbang Kesos 153 . Namun. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Drs. Sri Gati Setiti. Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. 1 2 Diangkat dari Penelitian Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). Berbagai kebijakan. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. dkk. secara fisik umumnya merasakan tercukupi. Sri Gati Setiti. program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. ed: Prof Dr.PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN ( Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia)1 Dra. tehnik pengumpulan data dengan wawancara. Hal ini guna mengembangkan konsep model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Untuk memeriksakan penyakit. Departemen Sosial RI. Sementara kekerabatan sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial. kerabat merasa sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai nilai budaya dan agama yang dianutnya. Dra. studi dokumentasi dan observasi. apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia ? Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan lanjut usia. lanjut usia berharap pelayanan khusus bagi lanjut usia atau Posyandu lansia yang murah dan mudah dijangkau. Sri Gati Setiti 2 ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia seiring dengan jumlah penduduk lanjut usia.Achmadi Jayaputra M. permasalahan lanjut usia dan pelayanan yang dilakukan oleh kerabat. Jawa Timur.

diantaranya terkena tindak kekerasan oleh orang lain maupun kerabatnya. Dalam berbagai budaya yang kita miliki. Peran kerabat dalam masyarakat di seluruh Indonesia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial tahun 2006 melakukan penelitian ”Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan”. Upaya tersebut belum memadai dibanding populasi dan permasalahannya yang kompleks. kita memiliki kearifan budaya.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan pengembangan lembaga organisasi lanjut usia yang memiliki berbagai kegiatan yang bersifat psikis. diatur dalam tradisi masyarakat. Hal ini perlu diangkat dan dikembangkan. Tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan lanjut usia dihormati. Kata Kunci: lanjut usia. Berdasarkan beberapa hal tersebut. 154 Puslitbang Kesos . disamping kendala dana maupun petugas. Baik melalui sistem panti maupun nonpanti atau berbasis masyarakat. Pada sisi lain. Pelayanan Sosial. sekaligus merupakan potensi yang luar biasa. Dewasa ini lanjut usia yang tertangani melaui sistem panti maupun nonpanti kurang dari 2% dari 2. Day Care Service maupun Day Care Centre. diiringi jumlah dan persentase penduduk lanjut usia. Mereka mengalami berbagai keterlantaran. penanganan lanjut usia juga masalah lainnya. maupun ekonomi. tetapi banyak yang memberikan pelayanan secara terbatas.3 juta lanjut usia. sebagai sumber kesetiakawanan sosial yang mampu memecahkan permasalahan sosial didaerahnya. Berbagai kebijakan dan pelayanan dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. pembinaan generasi muda dalam upaya pelestarian nilai budaya dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang optimal. Kekerabatan Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup. seperti Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). Sebagian pelayanan cukup memadai. Hal ini sebagai prestasi sekaligus tantangan/beban. dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. Penanganan masalah sosial merupakan bagian dari dan berakar pada nilai tolong menolong yang dikenal hampir semua suku bangsa di Indonesia.

untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan model pelayanan lanjut usia. Mengidentifikasi nilai-nilai terkait dengan pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Bagi pemberi pelayanan menjadi alternatif pelayanan. Pada sisi lain belum ada pelatihan bagi pendamping kerabat yang melayani lanjut usia. merumuskan pokok-pokok pikiran tentang kerangka dasar pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan (kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Berdasarkan uraian tersebut. Bagi instruktur kediklatan. Keterlantaran baik disebabkan oleh kondisi yang berubah. untuk uji coba pada penelitian tahap II tahun 2007). Puslitbang Kesos 155 . berpengaruh kepada pelayanan lanjut usia. menjadi materi trainers. Memahami bentuk pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan c. sebagai dasar ilmiah perumusan kebijakan publik untuk menyelesaikan masalah pelayanan lanjut usia. d. bagaimana pelayanan dilakukan oleh kekerabatan terhadap lanjut usia? Permasalahan yang akan diteliti: Apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia? Tujuan 1. Keterlantaran lanjut usia juga disebabkan oleh semakin memudarnya nilai dan penghargaan kepada lanjut usia.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Permasalahan Ketidakseimbangan antara pelayanan sosial yang tersedia dan permasalahan yang ada. Menyusun kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan Manfaat Manfaat yang dapat dipetik bagi pemerintah. 2. permasalahan dan harapan lanjut usia. Secara umum bertujuan. b. Lanjut usia yang terlantar semakin mudah kita saksikan disekitar kita. Bagi akademisi. Memahami tentang kebutuhan. sehingga merubah pola dan kegiatan anggota keluarga yang berdampak kepada pelayanan bagi lanjut usia. Secara khusus bertujuan: a.

Kekerabatan dalam penelitian ini adalah orang sedarah (consanguinal kin). berpedoman kepada pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Adapun pelayanan lanjut usia. yang dipanggil ”kekerabatan”. Goode (1985) dan Koentjaraningrat (1990). maka kerangka konseptual dalam penelitian ini. emosional dan spiritual serta sosial dan faktor ekonomi menjadi komponen penting dalam mencapai berbagai kebutuhan tersebut”. Dari deskripsi teoritis tersebut. Sementara pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh kerabat pada suku bangsa yang diteliti. Kekerabatan mengangkat pendapat Suryono Sukanto (1990). yakni pelayanan dalam panti dan pelayanan luar panti. kerabat angkat (adoptif kin). 156 Puslitbang Kesos . Kerangka Konseptual dalam Pelayanan Lanjut Usia Berikut preposisi teoritisnya adalah : ”Lanjut usia akan dirawat di lingkungan kerabat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. mengacu kepada UU no 13 Th 1998. kerabat karena kawin mawin (afinal kin). sebagai berikut : Sosial Emosi/Spiritual Kesehatan fisik/psikis Lanjut usia Patrilineal Parental LU dilayani saudara lakilaki LU dilayani anak laki-laki LU dilayani anak perempuan dan anak laki-laki LU dilayani saudara isteri atau saudara suami Ekonomi Bagan 1.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Tinjauan Teoritis Definisi lanjut usia menitik beratkan kepada usia seseorang yang lebih dari 60 tahun.

Pada Suku Dayak. Suku Sasak dan Bima. Pada etnik Bima. lanjut usia Laki laki disapa Ompu (Tuak /halus). lanjut usia laki laki disapa Embah lanang. Di Jawa Timur. FGD pada: Kerabat. Hasil Penelitian Pemahaman tentang Lanjut usia Adanya penyamaan persepsi tentang sapaan atau istilah lanjut usia. lanjut usia laki laki disapa Nenek atau Nek aki.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pada suku Batak. Nusa Tenggara Barat. Dalam budaya Melayu. Secara sosial budaya mewaklili sistem kekerabatan patrilineal dan parental. wanita disapa Toa Baine. untuk perempuan disapa Kajao. Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. Pada suku bangsa Jawa lanjut usia lakilaki disapa dengan mbah kakung (halus: eyang kakung). yang disajikan dalam studi kasus. berlaku pada masing masing daerah sebagai berikut : 1. sedang untuk perempuan juga disapa dengan Embah. Observasi pada lingkungan tinggal lanjut usia dirawat. Pada suku Madura. untuk perempuan disapa dengan Wai. Wawancara mendalam untuk informan kunci. untuk perempuan disapa Nek Wan. wanita Puslitbang Kesos 157 . Di Sulawesi Selatan. lanjut usia laki laki disapa Opung Bulang. Pada suku Sasak di NTB. Wawancara berstruktur kepada lanjut usia. Dalam etnik Bugis. Suku Jawa dan Madura. lanjut usia laki laki Melayu Sambas disapa Nek Aki. Suku Bugis dan Makasar. Diskusi terbatas kepada pejabat terkait pada tingkat provinsi. Penelitian dilakukan di Sumatera Utara. Suku Dayak dan Melayu. untuk perempuan disapa Ninik. kerabat yang melayani lanjut usia. lanjut usia Laki laki disapa Toa Baina. Berbeda halnya dengan Melayu Kapuas. untuk perempuan disapa dengan mbah putri (halus: eyang putri). lanjut usia laki laki disapa Nene. untuk laki-laki disapa Ai dan perempuan disapa Mi. Sapaan tentang Lanjut Usia Lanjut usia dalam berbagai etnis memiliki sapaan yang berbeda. Etnik Makassar. Di Kalimantan Barat. Tokoh Agama/masyarakat setempat. untuk wanita disapa dengan Opung Nini. diteliti suku Melayu dan Toba. lanjut usia Laki laki disapa Pupung.

walau demikian biasanya menempatkan lanjut usia bersama dengan anak tertua atau adiknya. kecuali di Kalbar. disepakati lanjut usia bila telah memiliki cucu. yang disepakati dari hasil FGD adalah: lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun. lanjut usia dapat secara bebas tinggal bersama kerabat pihak laki laki maupun pihak perempuan. Dalam Budaya Batak. Temuan dilapangan lanjut usia tinggal bersama anak yang tinggalnya berdekatan. 3. memiliki kebiasaan khusus.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 2. Berlaku untuk semua etnik yang diteliti. Ciri ciri lanjut usia. Namun. Secara umum pola tinggal mereka mengikuti garis kerabat. Walau demikian panggilan tersebut kadang ada yang sedikit berbeda. Ciri lainnya. Dalam budaya Jawa. ditemukan lanjut usia tinggal pada kerabat garis Ibu atau tinggal berpindah antara anak satu dan lainnya. Jawa dan Sasak juga Bima. 158 Puslitbang Kesos . lanjut usia akan tinggal pada anak laki laki pertama atau adiknya. Pola tempat tinggal bagi Lanjut Usia. sudah memiliki cicit. berlaku sama pada semua etnik yang diteliti. disapa dengan Nenek. Bila tidak dapat dilakukan. Ciri lainnya termasuk mereka yang sering sakit-sakitan atau fisiknya sudah lemah. Etnik Bugis dan Makassar mengikuti sistem parental. Pada etnik Sasak dan etnik Bima. Hal ini karena adanya pengaruh budaya sekitar yang turut memberi warna pada istilah atau sapaan kepada lanjut usia yang berlaku bagi daerah tersebut. yang menganut garis kerabat patrilineal. Kerabat yang tinggal di rumah panjang itulah yang bertanggung jawab kepadanya. Perubahan yang terjadi pada semua etnik yang diteliti. Ciri ini berlaku untuk etnik Batak. bila sudah pensiun dan anak-anak mereka sudah menikah. secara budaya lanjut usia tinggal bersama kerabat ayah. anak yang tinggal berdekatan atau anak yang paling disenangi. lanjut usia senang untuk pulang kampung ke Bima. lanjut usia cenderung memilih tinggal pada anak peremuan atau yang paling disukai. secara adat tinggal bersama anak laki laki tertua atau adiknya. Namun. lanjut usia tinggal bersama anak perempuan. Pada Etnik Bima. banyak ditemukan lanjut usia senang tinggal di rumah panjang. yang mengikuti garis parental. Pada etnik Melayu dan Dayak. Walau demikian. maka kewajiban akan berpindah kepada adik laki lakinya.

Model yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka. Puslitbang Kesos 159 . Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sangat vital. Kebutuhan sandang. angin. Lanjut usia juga butuh rekreasi.Dibutuhkan fasilitas pelayanan pengobatan rutin. Secara umum pelayanan kepada lanjut usia dilakukan oleh kerabat yang paling dekat. papan. Kebutuhan psikis. terlindungi dari mara bahaya dan dapat untuk melaksanakan kehidupan sehari hari. Kebutuhan fisik lanjut usia meliputi sandang pangan. Pada kenyataannya. gratis dan mudah dijangkau. membutuhkan dikunjungi kerabat. Makanan yang tidak keras. Kebutuhan makan umumnya tiga kali sehari ada juga dua kali. selain itu juga dilakukan oleh kerabat atas hubungan perkawinan atau adopsi. dibutuhkan pakaian yang nyaman dipakai. Kerabat yang melayani Lanjut Usia. dekat kamar kecil dan peralatan lansia secukupnya. Kebutuhan papan. yang mengerti dan memahaminya. 2. kesehatan dan spiritual. sering disapa dan didengar nasehatnya. Lanjut usia membutuhkan teman yang sabar. atau tetangga/kerabat jauh. Frekuensi pembeliannya umumnya setahun sekali sudah mencukupi. Lanjut usia dirawat oleh kerabat sedarah. Mereka membutuhkan teman ngobrol. kondisi lanjut usia yang rentan membutuhkan lingkungan yang mengerti dan memahaminya. Kebutuhan Lanjut Usia 1. silaturahmi kepada kerabat dan masyarakat . secara umum membutuhkan rumah tinggal yang nyaman. Kondisi Lanjut Usia. hujan. Bila sakit segera diobati.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 4. Obat obatan ringan sebaiknya selalu siap didekatnya. tidak asin dan tidak berlemak. dingin. kemenakan dan saudara sepupu. pelayanan dilakukan oleh anak. Pilihan warna sesuai dengan budaya setempat. murah. Tidak kena panas.

arisan dan lain-lain. juga teman sebaya. Kondisi ekonomi kerabat yang terbatas. Kebutuhan ekonomi. menantu. keterbatasan ekonomi membuat mereka makan seadanya. 5. Bagi lanjut usia yang masih produktif membutuhkan keterampilan. sesuai dengan kemampuan kerabat. Ada juga yang ditambah dengan buah. Keterbatasan ekonomi juga membuat kerabat tidak mampu melayani pengobatan secara medis. Secara ekonomi lanjut usia yang tidak potensial membutuhkan uang untuk biaya hidup. Pelayanan Lanjut Usia oleh Kerabat 1. Kebutuhan sosial lanjut usia membutuhkan orang-orang dalam berelasi sosial. umumnya mereka mengisi waktu untuk beribadah. Terutama kerabat. UEP dan bantuan modal usaha sebagai penguatan usahanya. Kerabat yang menyajikan makanan umumnya anak. Pelayanan fisik. hanya mampu menyediakan tempat tinggal seadanya. Pelayanan di bidang papan. Namun. bagi lanjut usia yang masih potensial biasanya membeli sendiri. sayur dan lauk. Sementara kerabat menambahkan pakaian kesukaan mereka. Tetapi. Melalui Ibadah lanjut usia mendapat ketenangan jiwa. melalui kegiatan keagamaan. Ada yang menyajikan nasi. Secara umum kerabat membelikan satu kali setahun. 4. Kebutuhan spiritual. keponakan perempuan yang tinggal satu rumah/berdekatan. olahraga.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 3. Mereka sangat mendambakan generasi penerus yang sungguh sungguh dalam menjalani ibadah. sekelompok kegiatan dan masyarakat di lingkungannya. pencerahan dan kedamaian menghadapi hari tua. Lanjut usia kadang mesti menyesuaikan dengan makanan apa adanya. bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap. ada juga yang tidak terpenuhi. Bagi lanjut usia yang tidak mampu biasanya diberi oleh kerabat jauh atau masyarakat. Terutama yang berasal dari kerabatnya. Kadang mereka hanya memberikan obat dari warung atau ramuan tradisionil atau 160 Puslitbang Kesos . secara umum kerabat melayani makan tiga kali sehari. Makanan yang disajikan sesuai kemampuan mereka. membutuhkan bantuan sumber keuangan. Pelayanan sandang.

4. didengar nasehatnya. prosedur yang berbelit dan pelayanan yang sering tidak menyenangkan. seperti dibentak bentak. dimesjid atau dimajelis taklim. Lanjut usia ada teman ngobrol. sebagai tempat mencurahkan isi hati. seperti kata ”mapakau untuk Bugis/Makassar” lanjut usia ditemani untuk ngobrol. Bagi yang masih potensial. Kerabat menemani saat beribadah di rumah. berusaha menjauhkan dari anak agar tidak gaduh. Pelayanan ekonomi. Kesemuanya dilakukan secara gotong royong. kelompok silaturahmi. olah raga. juga teman sekelompok. 2. Puslitbang Kesos 161 . dilakukan kerabat dengan memenuhi kebutuhan dasar hidup lanjut usia. memberikan kabar keluarga dan berita secara umum. Selain hal tersebut diatas. pengajian. 5. Bagi yang memiliki kartu miskin. rewel. kerabat juga memperhatikan lanjut usia yang ditinggal mati pasangannya. secara intensif mereka bekerja secara kelompok (kasus Sasak). Pelayanan sosial kerabat berusaha menemani berbicara. kelompok adat dan lain-lain. Bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial. Orang tua selalu memesan agar mengerti kepada lanjut usia. Melakukan kegiatan keterampilan untuk memperoleh penghasilan. arisan. diberikan kesempatan bekerja bersama kerabat. mereka masih harus menghadapi biaya transpotasi yang mahal. Lanjut usia juga diberikan kegiatan bersama kelompoknya. Pelayanan spiritual dilakukan oleh kerabat dengan menyediakan sarana dan peralatan ibadah. dilakukan oleh kerabat yang mengerti dan memahami lanjut usia yang kadang perilakunya berubah seperti: kekanak kanakan.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan berobat ke dukun. bahan mentah atau memberikan makanan siap saji. Kerabat berusaha untuk sering mengunjungi. Sekalipun demikian. Kerabat mencarikan pasangan. mudah tersinggung dll. juga teman sekampung asal (kasus Bima) dll. 3. pendamping dalam menjalani hidup. didengar nasehatnya dan didengar kaluhannya. dengan oleh oleh kesukaanya. Pada sisi lain. diantaranya kelompok keagamaan. Ketika menjalani ibadah. Pelayanan psikis. yasinan. ada satu dua ditemukan lanjut usia mendapat perlakuan tidak baik. lanjut usia diantar cucu atau kemenakan untuk bertemu dengan teman sebaya. Beberapa etnik yang diteliti. kerabat memberikan uang.

ada juga sapi (Sulsel) dan Bantuan Peningkatan Gizi pada semua provinsi.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Pelayanan oleh Pemerintah dan Masyarakat Pelayanan sosial oleh Pemerintah melalui dua sistem. pakaian. pemanfaatan waktu luang. safari ibadah. Diskusi bersama tokoh dan Dinas terkait 162 Puslitbang Kesos . Karang Lansia dan lain lain. kerja bakti dan penggalakkan tanaman obat. ternak ayam. Program pelayanan diluar panti berupa: pemberdayaan lanjut usia melalui dana Dekon. Masing masing provinsi memiliki panti sosial Tresna Wreda. Kegiatan edukasi berupa keterampilan dan bantuan modal. kesehatan. Selain itu juga KUBE dan UEP. Pandangan Kerabat tentang Nilai-nilai yang Terkait Lanjut Usia Secara umum kerabat menghendaki lanjut usia tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat. dalam bentuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Kesehatan dan Informasi. Sedang kerabat dapat memetik manfaat kepuasan batin dalam memberikan pengabdian. Kegiatanya secara umum berupa penambahan Gizi. Setiap panti sosial memberi penampungan. penambahan Gizi. Lanjut usia merasakan kedamaian berada ditengah kerabat. jaminan hidup. balas budi dan membahagiakan orang tua. bimbingan sosial dan spiritual. Pemberdayaan lanjut usia melaui DAU dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan Orsos. Mereka bergabung dalam Karang Wredha. olah raga. Pelayanan lanjut usia yang dilakukan oleh masyarakat. rekreasi. yakni sistem pelayanan sosial di dalam panti dan pelayanan diluar panti. ternak kambing. Dalam kegiatan usaha kesejahteraan sosial berupa kunjungan orang sakit dan bantuan bagi warga yang meninggal. Hal ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dibidang ternak itik. umumnya berbentuk Orsos.

Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Cara ini sesuai dengan agama. Puslitbang Kesos 163 . Pelayanan sosial bagi lanjut usia perlu dipisahkan antara yang potensial dan yang tidak potensial. Bila lanjut usia sakit. Lanjut usia perlu” diisi perutnya dan dipelihara mata dan telinganya”. memerlukan kegiatan usaha ekonomi produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. dapat menyampaikan dengan cara yang tidak menyinggung. Mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya. Lanjut usia memerlukan pelayanan kesehatan rutin yang murah (gratis). Melayani lanjut usia harus bisa berlaku sabar. tidak sabar. Hal yang buruk . ada yang melayani ketika memerlukan bantuan. masyarakat dan pemerintah Harapan kepada kerabat: pelayanan dinjalani secara ikhlas dan wajar. Pelayanan psikis. maupun budaya yang mengikat mereka. Kerabat masih mendengarkan dan menjalani nasehat lanjut usia. sebaiknya dirawat masyarakat sekitarnya. dilakukan sesuai garis kerabat yang dianutnya. sumber dana yang digunakan untuk merawat lanjut usia berasal dari kerabat. lanjut usia sebaiknya dirawat di panti sosial. Kerabat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan lanjut usia. Lanjut usia mengalami berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit non infeksi yang sulit disembuhkan. Melalui wadah ini lanjut usia dapat melakukan aktifitas sesuai dengan keinginan mereka. Bagi yang tidak potensial memerlukan bantuan ekonomi. banyak ditemui lanjut usia tinggal dan dirawat oleh anak yang tinggal berdekatan. lanjut usia potensial memerlukan silaturahmi dan anjang sana. memperlakukan secara kasar. Kerabat sebaiknya mengerti dan memahami yang baik dan tidak baik dilakukan kepada lanjut usia. melalui keluarga yang merawat. Permasalahan penting bagi lanjut usia adalah permasalahan kesehatan. Mereka memerlukan wadah (Karang lansia/karang wredha) atau bentuk lainnya. Bila ada perbedaan. yang ditanggung secara bersama. bersama anak perempuan/anak bungsu atau anak yang paling disayangi. Kondisi fisik yang mengalami kemunduran. memerlukan pelayanan sesuai kondisinya. baik ucapan atau perlakuan fisik. Bagi lanjut usia yang tidak memiliki kerabat. segera diberikan obat atau dibawa berobat. Ada yang menemani ketika berobat. Bagi yang potensial tetapi miskin. Harapan kepada kerabat. cepat dan mudah. sepanjang tidak mencelakakan. Kondisi ini kini mulai bergeser. Bila tidak sanggup melakukan. memenuhi perintahnya. Secara ekonomi.

sekalipun tenaga/dana yang disumbangkan tidak seberapa. Penguatan & pemberdayaan pranata lanjut usia yang OBH maupun OTBH. Konsep Model KERABAT LANJUT USIA POTENSIAL PEMBERDAYAAN EKONOMI PEMBERDAYAAN GENERASI MUDA PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN PRANATA LANJUT USIA PENGUATAN KESEHATAN LANJUT USIA Bagan 2. Memberikan penyuluhan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkait dengan lanjut usia kepada generasi muda tentang: 1.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Harapan yang sangat tinggi kepada kerabat untuk tekun beribadah. 5. Harapan kepada masyarakat: Memperlakukan lanjut usia dengan wajar. hidup bersama masyarakat. Mendorong dan memfasilitasi bagi yang sudah terbentuk. Harapan kepada Pemerintah: agar mengembangkan program penanganan ekonomi. gotong royong. Menyumbangkan ilmu dan pengalamannya. menjaga dan meneruskan nilai nilai demi masa depan yang baik. Penyuluhan bagi generasi muda tentang nilai nilai yang terkait dengan lanjut usia. mudah dan gratis dengan memberi kartu sehat lansia. setia dengan adat budayanya. Menyediakan fasilitas umum untuk lanjut usia. rajin belajar. juga jaminan hari tua bagi lanjut usia. Kerabat yang merawat lanjut usia nonpotensial 2. Memberi jaminan hidup kepada lanjut usia yang tidak potensial dengan kerabat tidak mampu. bagi lanjut usia potensial. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia ( dekat. Membentuk wadah kegiatan lanjut usia seperti: Karang wredha/Karang Lansia. murah/gratis). 4. mudah. kerja keras. Memberi fasilitas pengobatan rutin. Lanjut usia yang masih potensial 3. Berpartisipasi dalam iuran. KONSEP MODEL PELAYANAN LANJUT USIA 164 Puslitbang Kesos .

(d) Kebutuhan pakaian. lanjut usia memerlukan makanan bergizi sesuai kebutuhannya. (e) Lanjut usia dirawat oleh sepupu/ keponakan. 5. penyakit jantung. bagi lanjut usia yang masih sehat dan kuat. (e) Secara sosial lanjut usia menginginkan dikunjungi kerabat. tinggal di rumahnya sendiri. keponakan. sesuai budaya dan kebutuhannya. Lanjut usia yang sakit dapat beribadah dan mendengarkan radio/televisi. Puslitbang Kesos 165 . darah tinggi. Bagi yang sudah terbaring di tempat tidur memerlukan perlengkapan seperti pampers. 4. (c) Kebutuhan makan.. Pola tinggal lanjut usia yang diteliti : (a) Lanjut usia tinggal mandiri dan dirawat oleh kerabat. ingin beribadah sesuai agama masing masing. (b) Lanjut usia yang tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat (c) Lanjut usia yang tinggal di rumahnya sendiri. Kesimpulan 1. (d) Lanjut usia suami isteri. (c) bilamana tidak memiliki kerabat. Kebutuhan lanjut usia meliputi: (a) Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang paling dirasakan lanjut usia. sebaiknya dirawat tetangga.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Kesimpulan dan Rekomendasi 1. 3. Sedangkan bagi lanjut usia potensial ingin berkunjung ke teman/ kerabat. alternatif terakhir dirawat di Panti Sosial Lanjut Usia. Umumnya menderita kaku sendi/lengan dan sulit bergerak. Ada dua kategori lanjut usia: (a) Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). (b) lanjut usia yang tidak punya anak. Pelayanan lanjut usia oleh kekerabatan memiliki nilai budaya sebagai berikut: (a) lanjut usia sebaiknya dirawat oleh anaknya/keluarga/ kerabat. sebaiknya dirawat oleh kerabat: adik kandung/sepupu. Permasalahan kesehatan: yang sulit disembuhkan/tidak bisa sembuh karena usia. 2. katarak. Bilamana tetangga tidak ada yang merawatnya. osteoporosis dan penyakit penuaan lain. dirawat oleh tetangga. cucu dan lain lain. (b) Kebutuhan rohani. (b) Lanjut usia potensial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). yang berpotensi sebagai sumber kesos. kurang pendengaran. tetapi tidak ada biaya untuk menyediakannya. perlak dan lainlain. mereka terorganisir dalam Karang Wredha/Karang Lansia dan lain lain. umumnya terlantar dan tinggal di daerah rawan.

bimbingan dari pemerintah.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 6. 3. (d) Pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan dapat dikembangkan karena sistem nilai budaya setempat di lima wilayah yang diteliti mendukung upaya tersebut. 4. (e) Pelayanan lanjut usia dalam kerabat yang diteliti sudah memenuhi harapan. terutama untuk pemenuhan gizi dan berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal. agar lanjut usia dapat menyumbangkan ilmu dan keterampilannya. Penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. organisasi sosial maupun kelompok peduli. 2. yang memiliki UEP. Rekomendasi 1. ketrampilan. Para lanjut usia merasa aman dan terlindungi berada dilingkungan kerabat. yang didukung dengan tenaga dan pelayanan medis secara memadai. Harapan para lanjut usia: (a) Menginginkan tempat pertemuan serbaguna. 5. mudah. mudah dan gratis. rutin. untuk pelayanan kesehatan. Meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan cara pelayanan kesehatan lanjut usia. Posyandu. ingin dicontoh generasi muda dan didukung pemerintah. sekaligus sebagai kegiatan ekonomi maupun sosial kepada mesyarakat. dengan memberi dukungan dana. 2. memberikan berbagai motivasi melalui penyuluhan dan mempraktekannya dalam bersikap dan berperilaku sehari hari. pertemuan/arisan dan pameran hasil keterampilan. (c) Lanjut usia potensial yang mempunyai UEP barhasil memberi lapangan pekerjaan. 166 Puslitbang Kesos . murah/gratis dan dekat. Pengembangan lembaga/organisasi lanjut usia. Pembinaan generasi muda dilakukan dengan memperkuat sistem nilai budaya masing masing. agar ada peningkatan ekonomi dan dapat mencukupi kebutuhan lanjut usia secara lebih baik. menginginkan pelayanan khusus yang dekat. Penguatan ekonomi bagi kerabat yang lemah. (b) untuk memeriksakan penyakit.

Puslitbang Kesos 167 . Koentjaraningrat. Miami University. 1983. Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup Para lanjut usia ”Panduan Gerentologi” Tinjauan dari Berbagai Aspek. Atchley. California Division Wadsworth Inc. Scripps Foundation Gerontology Center. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Jakarta . 1999. Loius Lowy. Hardywinoto. 1983. San Fransisco. Gramedia. 1990. Jayaputra. Pramuwito. 1991. Belmont. Idayu Press. Philadephia. Achmadi dan Setyo Sumarno. Wadsworth Publishing Company. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. New York. Harver & Row Publisher. Jakarta . Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1977. BPPKS. & Toni Setyabudhi. Aging Community and Change. Kajian Tentang Model-model Pelayanan lanjut usia Berbasis Masyarakat Melalui Pusat Santunan Asuhan Dalam Keluarga. ________. Manusia Bugis Makassar. 1997. Jakarta. Jambatan. Wadswort Publishing Company. 1999. Aging Community and Change. 1985. Jakarta. Jakarta . ___________ . dkk.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan DAFTAR PUSTAKA Abdullah. the Challange and Promise of the Later Year. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Selatan. Belmont California. Robert C. Jakarta . Adat Istiadat Daerah Jawa Timur. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. BPPKS. Penelitian Uji Coba Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia Berbasis Masyarakat. Hamid. 1982. Social with the Aging.

.

kelompok bermain dan TK. Potensi dan sumber pendukung untuk mengembangkan komunitas seperti nilai ajaran agama sebagai pengikat kegiatan komunitas. Departemen Sosial RI. taman bacaan anak. minimnya pemahaman 1 2 Diangkat dari penelitian Komunitas Peduli Anak dengan anggota Alit Kurniasari (Ketua). Banyaknya permasalahan anak-anak terlantar dan anak jalanan telah memprakarsai tokoh agama. Alit Kurniasari. MPM 2 ABSTRAK Penelitian pengembangan komunitas peduli anak bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang pembentukan komunitas peduli anak. Dukungan pengusaha setempat terhadap kelanjutan pendidikan serta keterlibatan LSM yang peduli pada kesehatan dan pendidikan anak. pelayanan sosial tidak hanya bagi anak. Neni Riani. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi kasus yang dilakukan di 6 wilayah (Sumatera Utara/Medan. Dukungan pemerintah melalui paket belajar dan pelatihan keterampilan telah memberi warna pada kegiatan komunitas. Tety Ati Padmi. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. melalui pemberian keterampilan usaha. kelompok remaja mesjid dan praktisi sosial. Pendampingan secara intensif dari tokoh komunitas. Pada beberapa wilayah. Nusa Tenggara Timur/Timor Tengah Selatan). yang berpihak pada anak dan tidak bias gender. termasuk mengikutsertakan keluarga pada pelatihan usaha ekonomi produktif. mengidentifikasi potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas serta mengidentifikasi bagaimana bentukbentuk kepedulian komunitas.PENGEMBANGAN KOMUNITAS PEDULI ANAK 1 Dra. Adapun hambatan yang dihadapi komunitas seperti terbatasnya jaringan kerja komunitas. Kalimantan Barat/Pontianak. Sulawesi Selatan/Makasar. Alit Kurniasari. selain pandangan masyarakat tentang hak anak dan kebutuhannya. Kepedulian diwujudkan dalam bentuk kelompok belajar. Jawa Timur/Surabaya. tetapi juga menjangkau keluarga atau orang tua. untuk membangun komunitas peduli anak. Gunawan. Sri Utami. Pandangan tentang anak dan kebutuhannya memotivasi komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan hak anak. Puslitbang Kesos 169 . lembaga sosial masyarakat yang peduli anak didukung keterlibatan pengusaha setempat maupun pemerintah menjadi sumber motivasi bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi aktif kedalam komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komunitas peduli anak dilatarbelakangi oleh kondisi faktual di masing-masing wilayah. Sumatera Selatan/Palembang. pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang mampu sekolah dan pelatihan keterampilan.

170 Puslitbang Kesos . Dunia Usaha dan pemerintah berupaya merealisasikannya dalam berbagai kegiatan. Kata kunci: Hak Anak. termasuk anak jalanan cenderung semakin meningkat. peningkatan kemampuan pekerja komunitas. baik secara kuantitas maupun kualitas. Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak awal agar tujuan anak sebagai pemilik era masa datang dapat tercapai. Orsos.Pengembangan komunitas Peduli Anak masyarakat bahwa komunitas sebagai ‘modal sosial’ yang dapat dikembangkan. dunia usaha. kebijakan tentang keberadaan komunitas sebagai bagian dari Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Jumlah anak terlantar. Oleh karenanya. kemampuan pemerintah tidak sebanding dengan meningkatnya permasalahan anak. belum adanya kesamaan antara dukungan pemerintah dengan kebutuhan komunitas. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah gencarnya dengan kegiatan lembaga nonpemerintahan lainnya. Pada kenyataannya. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. juga memfasilitasi pembentukan Komite Aksi Nasional. Gugus Tugas. Pelayanan Sosial Anak. mulai dari legalitas tingkat global sampai tingkat nasional. fasilitasi pemerintah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. telah melahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan berbagai peraturan perundang-undangan di bawahnya. Berbagai upaya telah dilakukan. Departemen Sosial melalui Direktorat Pelayanan Sosial Anak yang telah lama dan berpengalaman dalam membina dan memfasilitasi pelayanan sosial anak baik dalam maupun luar panti. Pemerintah melakukan berbagai aksi. yang bertujuan untuk mengupayakan tingkat kesejahteraan dan perlindungan anak seoptimal mungkin. Komisi Nasional Perlindungan Anak. perlunya mengkampanyekan kegiatan peduli anak agar kesadaran masyarakat pada kebutuhan dan hak anak semakin meningkat. Rativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. masyarakat peduli anak dan pemerintah. Implikasinya adalah berbagai elemen seperti LSM. untuk mengembangkan komunitas peduli anak perlu membentuk jejaring kolaboratif antar sektor terkait. Lembaga Perlindungan Anak di daerah yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan dan elemen masyarakat. Komunitas Peduli Anak Pendahuluan Kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak menjadi bagian penting dari pembangunan kesejahteraan sosial.

anak-anak dan Instansi Sosial. apa latar belakang terbentuknya komunitas serta sumber dan potensi apa yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas? Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang digunakan metode kualitatif dengan studi kasus. Surabaya. yang selanjutnya disebut sebagai komunitas peduli anak. merasa perlu melakukan penelitian tentang pengembangan komunitas peduli anak. Pembahasan yang dilakukan berusaha untuk menjawab ”Why and How”. observasi dan penelaahan dokumen. Makasar. Pontianak dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Palembang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kessos). sehingga peran aktif masyarakat sangat diperlukan. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. guna memberi penjelasan komprehensif mengenai komunitas peduli anak di wilayah yang terpilih. anggota komunitas. Dalam penelitian ini akan menelusuri bagaimana bentuk kegiatan komunitas. Keberadaan komunitas tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yaitu meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan.815.Pengembangan komunitas Peduli Anak seiring dengan permasalahan kemiskinan yang belum dapat diatasi. terutama masalah kemiskinan. yaitu kota-kota yang memiliki jumlah permasalahan anak terlantar cukup tinggi yaitu Kota Medan. Lokasi yang terpilih dengan cara purposive.383 anak. Oleh karena itu. tokoh masyarakat. telah banyak melakukan kegiatan pelayanan anak. Upaya penanganan permasalahan anak berbasis masyarakat semakin banyak ditemukan. Untuk menjelaskan komunitas peduli anak maka digunakan teori sikap dari Mar’at yang beranggapan Puslitbang Kesos 171 . Kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama terhadap kesejahteraan anak. Sumber informan pada tokoh komunitas. yang bertujuan semaksimal mungkin memperoleh pandangan lengkap dan mendalam mengenai komunitas peduli anak. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai komunitas peduli anak yang ada di masyarakat. Permasalahan anak tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan besaran permasalahan anak. Berdasarkan data Pusdatin Departemen Sosial RI (2006) menunjukkan jumlah anak terlantar sebanyak 2.

Komunitas di Kota Palembang dan Makasar dengan posisi wilayahnya yang cukup strategis sebagai pintu gerbang bagi wilayah lainnya. sebagai perilaku sosial yang dipengaruhi oleh penghargaan maupun dukungan terhadap kegiatan komunitas.Pengembangan komunitas Peduli Anak bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui pendekatan teori stimulus respon. Konsep komunitas dari Ferdinan Tonny yang membagi komunitas pada 3 aspek yaitu seperasaan. Seperti kasus di Medan. Berdasarkan hal tersebut. sebagaimana kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat persinggahan bagi penduduk di wilayah sekitarnya memiliki permasalahan anak jalanan cukup tinggi. Komunitas di Kota Medan dan Surabaya. artinya perilaku sosial dianalisis sebagai respon spesifik terhadap stimuli yang diberikan. Meningkatnya permasalahan anak telah mendorong munculnya komunitas peduli anak yang diprakarsai oleh kalangan praktisi dan masyarakat terdidik dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat lokal baik yang diikat oleh satu rumpun agama maupun budaya. dapat menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat. sehingga keterlantaran anak harus ditanggung oleh keluarga bersangkutan. turut menangani permasalahan anak dan melakukan kegiatan demi menyelamatkan anak-anak dari keterpurukan. diwarnai tingginya permasalahan anak terlantar. komunitas peduli anak dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sebagai bentuk partisipasi aktif dan prakarsa komunitas terhadap penanganan permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. Artinya perilaku komunitas peduli anak. kondisi kemiskinan keluarga semakin menjauhkan keluarga dari interaksinya dengan kerabat lainnya. sepenanggungan dan saling membutuhkan. telah mendorong komunitas untuk peduli terhadap maraknya masalah trafficking dan melakukan pendampingan bagi anak yang berkonflik hukum. Kasus di Timor Tengah Selatan. Misalnya. komunitas di Kota Pontianak yang berbatasan dengan wilayah negara lain. Peran kekerabatan dan tanggung jawab sosial keluarga pada kenyataannya tidak mampu menyelamatkan anak dari keterlantaran. berawal dari kegiatan 172 Puslitbang Kesos . didukung oleh hukuman dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Selanjutnya komunitas peduli anak. yang dapat berfungsi sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh komunitas. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa bentuk kegiatan komunitas ada hubungannya dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi wilayah setempat.

sehingga perlu merubahnya dengan sebutan ’anak negeri’ yang lebih mencerminkan keberpihakan pada anak. yang telah menimbulkan empathy untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan selanjutnya diwujudkan dalam kegiatan komunitas yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan melindungi anak dari keterpurukan. Keberhasilan komunitas terhadap pelayanan pada anak terlantar dan anak jalanan. pelayanan perlindungan bagi anak remaja dari tindak kekerasan seksual dan anak yang dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. telah melahirkan sanggar anak-anak jalanan yang diakui keberadaannya di masyarakat dan menjadi contoh kegiatan di berbagai provinsi lainnya. Kasus di Surabaya. dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. “Nilai kasih sayang antar sesama karena saling membutuhkan. Konsep Puslitbang Kesos 173 . Semangat tersebut telah mampu memotivasi kelompok pemuda dan wanita. Kepedulian tokoh masyarakat telah membangkitkan motivasi masyarakat setempat untuk peduli pada kehidupan anak jalanan. Perilaku sosial yang ditampilkan oleh komunitas dipahami sebagai wujud dari pandangan masyarakat tentang konsep anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi anak. telah berkembang menjadi embrio organisasi. diantaranya mampu membentuk lembaga pendidikan.Pengembangan komunitas Peduli Anak keagamaan untuk membantu anak terlantar melalui pelayanan sosial bersifat insidental. Konsep tentang anak diawali dengan pandangan tentang usia anak. mampu mengembangkan kegiatan pelayanan anak seperti pemberian beasiswa. berpartisipasi pada kegiatan komunitas. dengan alasan perilaku anak usia 18 sudah tidak mencerminkan perilaku seorang anak demikian juga memperlakukannya sudah harus berbeda. tetapi kegiatannya berlanjut menjadi terorganisir setelah memperoleh dukungan dari berbagai pihak. Perilaku yang ditunjukkan anggota komunitas semakin meningkat manakala adanya keberhasilan mengentaskan anak dari keterpurukan dan semakin meningkatnya partisipasi tokoh masyarakat dan agama serta kelembagaan yang ada di masyarakat. tetapi ada diantaranya yang berpendapat bahwa sebaiknya usia anak sampai dengan usia 16 tahun. Sebutan anak jalanan telah memberi stigmatisasi yang menghambat keberadaan anak untuk pemenuhan kebutuhannya di masyarakat. seperti kasus komunitas di Kota Palembang. Motivasi atas jiwa kemanusiaan dan dilandasi nilai-nilai agama telah mendorong komunitas untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak. Batasan usia sebagai anak adalah 18 tahun kebawah dan belum menikah. Kasus komunitas di Surabaya. sesuai dengan ajaran agama yang dianut” menjadi landasan komunitas untuk peduli pada anak.

Meskipun konsep tentang anak berbeda-beda. harapan bangsa. mempunyai waktu bermain dan diperlakukan secara manusiawi. sablon. (2) hak untuk tumbuh kembang. Pandangan demikian memberi pengertian bahwa keberadaan anak seolah-olah sangat tergantung pada orang tua.Pengembangan komunitas Peduli Anak tentang anak cukup bervariasi. bahwa anak diibaratkan sebagai kertas putih. menjadi kekayaan berharga dan ahli waris. teater. fitrah yang harus dijaga yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. bahwa anak sebagai potensi dan aset generasi penerus cita-cita bangsa. menjadi bagian dari diri kita. masa depannya tergantung pada orang dewasa. Kebutuhan tersebut sebenarnya sebagai bagian dari hak anak yang harus dipenuhi. telah menjadikan anggota komunitas merasa terpanggil untuk mewujudkannya melalui kegiatan pelayanan yang sesuai dengan hak dan kebutuhan anak. Pandangan tersebut. Pelatihan keterampilan bermusik pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk terampil bermain musik. (3) hak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan. sebagai manusia lemah dan rawan. budi pekerti serta memperoleh keterampilan. namun sebagian besar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan. kesempatan berpendapat dan berkreativitas dan memperoleh pendidikan formal sesuai dengan kemampuan dan usianya. kasih sayang. ada yang melihat dari sudut pandang positif. penyejuk hati. Kegiatan komunitas berupa pendampingan intensif pada anak jalanan. penerus estafet pembangunan. perhatian atau kasih sayang. yang telah menyelamatkan anak dari tidak bersekolah menjadi bersekolah. meskipun hak anak untuk berpartisipasi masih belum nampak. memberi kemudahan memperoleh akte kelahiran dan memberi perlindungan dari tindak kekerasan. perhatian dari orang tua. titipan Tuhan. memperoleh makanan sehat. memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan di jalanan. Bentuk kegiatan pelayanan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan anak untuk memperoleh tempat tinggal memadai. (kasus di Surabaya dan Medan) dan dari tindakan hukum seperti kasus di Pontianak. Perlu pengarahan melalui pendidikan agama. seperti hidup layak sebagai mana seorang anak. tetapi juga memiliki kepercayaan 174 Puslitbang Kesos . juga memberikan kebutuhan akan pendidikan dan keterampilan seperti bermain musik. tempat berlindung. memberi kesempatan pada anak untuk mengikuti pendidikan luar sekolah. yaitu: (1) hak untuk hidup. Selain itu. anak tidak memiliki hak untuk berkembang. ada yang berpandangan tradisional. menjadi figur yang harus membantu keluarga. kesempatan bersekolah. Kebutuhan dimaksud. Sebaliknya. dorsmeer. bimbingan dan pengarahan. yang tidak memiliki kemampuan.

bertujuan agar anak dengan segala keterbatasan yang ada tetapi masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Pada kenyatannya. Kegiatan dimaksud bertujuan agar keluarga dapat meningkatkan pendapatannya sehingga dapat meringankan beban pengeluaran untuk membesarkan anaknya. tetapi juga pendidikan informal. Komunitas di Makasar. tetapi juga membantu keluarganya dalam kemampuan ekonomi serta memberi akses bagi pelayanan kesehatan serta memberikan pembekalan keterampilan bagi keluarganya. didukung lembaga masyarakat setempat mampu menciptakan kepedulian pada permasalahan anak lainnya. menciptakan kepedulian masyarakat dengan prinsip memberikan yang terbaik bagi anak. sumbangan harta benda. Partisipasi dan kegiatan yang dilakukan komunitas. tidak terbatas pada pemenuhan tumbuh kembang anak. karena masyarakat telah ikut terlibat dalam menangani masalah anak. kegiatan komunitas tidak terbatas pada anak. yang Puslitbang Kesos 175 . kontribusi pemikiran. lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah menjadi kekhasan tersendiri dari masing-masing komunitas. maupun penggalangan dana. Meningkatnya kepercayaan diri pada anak. Bimbingan etika dan agama termasuk kegiatan yang penting diberikan pada anak dan orang tua. tetapi lebih luas mampu menjangkau kesejahteraan keluarga. Komunitas di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kasus di Kota Palembang dengan dukungan lembaga international mampu membangun komunitas peduli anak. Gambar 1 : Anak jalanan di Surabaya berlatih musik Keterlibatan dunia usaha/swasta. melalui curahan tenaga. setidaknya berdampak pada pribadi dan perilaku anak jalanan. tidak terbatas pada pendidikan formal. dimana anak merasa lebih dihargai dan berguna bagi orang lain. Kondisi ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan kesejahteraan sosial.Pengembangan komunitas Peduli Anak diri untuk tampil di tempat umum.

lembaga permodalan dan masyarakat itu sendiri. kepedulian sosial (volunteerism) dan kepedulian sesama warga (civic involvement). Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan komunitas masih banyak memerlukan keterlibatan pihak lain. mengandalkan komitmen. telah tumbuh menjadi modal sosial melalui tindakan kolektif komunitas guna mengatasi masalah yang dihadapi sesama warga masyarakat. Gambar 2 : Kegiatan Bimbingan agama bagi Orang Tua dan Anak di Surabaya Dukungan kepedulian sosial yang dikembangkan secara tradisional maupun profesional. terutama dalam rangka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas. tingkat kabupaten. perlu ditata dengan baik yaitu melalui pembentukkan jejaring (network) antar lembaga secara kolaboratif. menampilkan kesetaraan. Pengusaha. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat.Pengembangan komunitas Peduli Anak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing komunitas. transparan. pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas. memotivasi komunitas untuk menyelamatkan anak dari keterlantaran. Organisasi Masyarakat. tingkat provinsi dan tingkat pusat. lembaga swadaya masyarakat. melalui pertukaran informasi. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak dapat dilihat dari gambar berikut ini: 176 Puslitbang Kesos . mensinergikan upaya dan mengembangkan kesadaran kritis serta berfungsi pula sebagai kontrol sosial. seperti dari Perguruan Tinggi. lembaga legislatif. Di dalamnya terkandung semangat karitas (charity). terutama masalah anak-anak. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas. Jejaring kolaboratif bersifat informal. Keikutsertaan unsur-unsur tersebut dalam penyelesaian masalah.

dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang menyediakan dana. Pemerintah Daerah) Private Sector (Dunia usaha. LSM. Gagasan tersebut sejalan gagasan Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. misalnya public sector atau pemerintah harus diletakkan secara strategis untuk mendorong inisiatif warga masyarakat agar dapat mengembangkan berbagai potensi kemandirian mereka dalam rangka membantu sesama warganya. yang menyebutkan bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan kesejahteraan (anak) tidak lagi dimonopoli Negara. Puslitbang Kesos 177 . Langkah-langkah perlindungan sosial bagi anak terlantar sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar warganya yang tidak mampu. keahlian dan sumber daya yang dapat digunakan untuk kegiatan pengembangan komunitas peduli anak. Penting diperhitungkan juga lembaga-lembaga filantropi dan pembangunan international sebagai salah satu komponen pelaku atau sumber daya pengembangan komunitas peduli anak. tetapi dibagi bersama-sama kalangan swasta (perusahaan-perusahaan). Orsos. lembagalembaga sosial masyarakat (termasuk organisasi keagamaan) dan lembagalembaga kerelawanan (seperti LSM yang mengumpulkan dana-dana amal). Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak Masing-masing sektor memiliki fungsi tersendiri.Pengembangan komunitas Peduli Anak Collective Action Sector (Komunitas Peduli Anak) Jaringan Kelembagaan Peduli Anak Public Sector (Pemerintah Pusat. berperan penting dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan sosial dan implementasi program kesejahteraan sosial anak. Sektor swasta (private sector) berkomitmen membantu mewujudkan kesejahteraan sosial anak. Collective Sector Action atau dapat disebut sebagai masyarakat sipil yang diantaranya adalah komunitas peduli anak. miskin atau marginal. Masyarakat peduli) Bagan 3.

belum mampu menciptakan program terencana dan berkelanjutan. Terpenting adalah motivasi yang dimiliki komunitas mampu menggerakkan partisipasi aktif anggotanya guna menciptakan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak. Kesimpulan dan Saran Secara garis besar dapat disimpulkan. Hal tersebut bukan tidak mungkin kepercayaan dari dunia usaha untuk berkolaborasi menjadi minim. Tindakan kolektif komunitas dapat diprakasai oleh berbagai lapisan masyarakat. seperti yang dialami pada kasus di Palembang. Meskipun selama ini dunia usaha cukup mendukung kegiatan komunitas. dalam hal ini dunia usaha. baik yang berlatar belakang agama. Keberadaan 178 Puslitbang Kesos . ketergantungan masyarakat pada pemerintah masih cukup melekat. Kegiatan komunitas tidak dapat terselengara tanpa dukungan pemerintah dan keterlibatan dunia usaha. maupun lembaga sosial masyarakat lainnya. keilmuan bahkan atas dasar panggilan hati nurani sekalipun. Masyarakat belum terbiasa menjadi mandiri. Keberadan komunitas menjadi bagian yang dibutuhkan anggotanya. Keterbatasan petugas pendamping bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan. bahwa terbentuknya komunitas peduli anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak Komunitas peduli anak. memiliki kepentingan bersama untuk memberikan pelayanan bagi anak agar terhindar dari keterpurukan lebih lanjut. sebagai lembaga sosial masyarakat pada kenyataannya berdiri sendiri. Peran Lembaga kerelawanan. serta manfaat yang telah diperoleh anak beserta keluarganya kurang tersosialisasikan. menjadi kendala yang dialami komunitas. karena adanya kesamaan perasaan terhadap keterlantaran anak. Permasalahannya adalah komunitas belum mampu mandiri selepas berakhirnya program. Kurangnya koordinasi diantara lembaga yang bergerak dalam pelayanan sosial anak. semakin menuntut komunitas untuk memperluas jaringan kerja (network). Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala bagi upaya pemberdayaan masyarakat. karena kondisi tersebut telah dibentuk sejak masa lampau. terutama anak-anak terlantar dan anak jalanan menerima pelayanan yang selama ini hak dan kebutuhannya terabaikan. sebagai funding bagi keberlangsungan komunitas. memberi andil besar terutama dalam dana dan program pelayanan sosial anak. Semakin meningkatnya minat anakanak terlantar yang membutuhkan pelayanan dari komunitas. belum sepenuhnya mampu menjangkau kalangan swasta. menjadi kelemahan yang dirasakan komunitas. tetapi masih bersifat insidental. selain sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan. Hanya saja keberadaan komunitas berikut kasus-kasus keberhasilan.

perlu direkomendasikan peningkatan sosialisasi atau mengkampanyekan komunitas peduli anak. 2003. Mc Graw Hill. sehingga aksesibilitas komunitas peduli anak terhadap sumber-sumber daya kesejahteraan sosial seperti dunia usaha dan instansi pemerintah mendapat legalitas yang sah. menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. PT. Humaniora Utama Pers. penyebarluasan informasi melalui media masa dan elektronik. Hal yang penting lainnya adalah kebijakan berlandaskan pada Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional Indonesia yang dapat memperkuat keberadaan komunitas peduli anak. Selain itu. 1989. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. upaya pengembangan komunitas peduli anak melalui fasilitasi program pemberdayaan kepada keluarga dengan anak terlantar. Elizabeth. PT. Mar’at. Tonny F Nasdian & Lala Kolopaking. Hurlock. yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas.Pengembangan komunitas Peduli Anak komunitas paduli anak. Bandung. program Pasca Sarjana IPB. _______. 2002. DAFTAR PUSTAKA Deddy Mulyana. pengakuan terhadap petugas pendamping sebagai tenaga Pekerja Sosial dari Dinas Sosial setempat. draft IX. melalui dialog interaktif pada media masa dan elektronik. Puslitbang Kesos 179 . Melakukan peningkatan kemampuan petugas pendamping melalui kegiatan pemantapan. Sosiologi untuk Pengembangan Masyarakat. Remaja Karya. Teori Sikap. Development Psychology. Untuk itu. Harry Hikmat. 2005. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. 2001. khususnya pekerjaan sosial agar lebih terarah. 1981. memfasilitasi sarana prasarana komunitas. Toronto. Remaja Rosdakarya. Depsos RI. Bandung. Bandung. Metodologi Penelitian Kualitatif.

.

bahwa Pasca kepulangan sebagai TKW. Penentuan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan snowball. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. Togiaratua Nainggolan. yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. Lebih jauh. Malang dan Makassar. M. Suami mulai terlibat pada sektor domestik dan permisif pada nilai-nilai pemingitan. penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Untuk memahami hal itu. mertua. Dengan konsep relasi gender ini. oleh Togiaratua Nainggolan. Ruaida Murni. Hasil penelitian menunjukkan. Faida Normawati. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah keluarga buruh migran termasuk pergeseran pola relasi gender pasca migrasi sebagai TKW. pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur.GENDER DAN KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Drs. 1 2 Diangkat dari hasil penelitian tentang Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Di Indonesia. sehingga relatif kurang harmonis. Puslitbang Kesos 181 . Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Togiaratua Nainggolan. dan Sudibyonoto. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) seperti Lampung. TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. Analisis data dilakukan dengan pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position dan kesetaraan antara suami dan isteri. anak. sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. keluarga mengalami konflik secara potensial dan manifest. Rachmanto Widjopranoto. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar di tengah keluarganya. Namun demikian. Indramayu.

Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Selain itu. Pendapat senada dikemukakan oleh Krisnawati & Safitri (dalam Daulay. Keluarga Migran Pendahuluan Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan. langsung atau tidak langsung perubahan peta situasi keluarga pasca TKW dapat mempengaruhi tingkat keharmonisan keluarga buruh migran yang bersangkutan. diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga. Ketimpangan pendapatan negara maju dan negara dunia ketiga. dan (2) bagi Departemen Sosial RI dan pihak terkait lainnya. 2001) dalam sebuah tulisannya bahwa masalah buruh migran sangat komplek karena konteksnya tidak saja soal perburuhan tetapi juga menyangkut migran internasional. kesalahan konsep pembangunan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan secara khusus bagi TKW menyangkut masalah perempuan. untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi calon TKW dan keluarganya dalam membuat keputusan untuk migrasi sebagai TKW . kapitalisme dunia dan globalisasi.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKW dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender. sadar atau tidak. Sejalan dengan hal tersebut di atas. 182 Puslitbang Kesos . Hasil penelitian diharapkan mampu : (1) menyajikan realitas positif maupun negatif dari tindakan migrasi TKW terhadap keluarga. dan (2) mendeskripsikan gambaran keharmonisan keluarga mereka pasca migrasi sebagai TKW. penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1) mendeskripsikan pergeseran pola relasi gender pada keluarga migran pasca migrasi sebagai buruh TKW. dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program yang ditujukan bagi TKW dan keluarganya. Tenaga Kerja Wanita. Selain masalah gender. yaitu masalah gender. Lebih jauh hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah pada buruh migran. bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya.

dan Lampung. sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap substansi persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini. selain peluang yang dapat Puslitbang Kesos 183 . bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. Jawa Barat. Teknik analisis data diarahkan pada pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position antara suami dan isteri serta menyangkut kesetaraan posisi di antara mereka.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. Akibatnya. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah yang menjadi pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri seperti Nusa Tenggara Barat. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara. Hasil dan Pembahasan 1. Dalam prakteknya. mertua. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. terutama dengan melihat kondisi isteri yang pernah bekerja ke luar negeri menjadi TKW. Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosial kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran. Namun. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. Pengambilan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan cara snowball dimana dari satu informan akan berkembang ke informan selanjutnya. pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu. anak. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas.

Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. Dalam konteks ini. 1999) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup. Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak. ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. Secara bersamaan. Pada tataran global. Sadar atau 184 Puslitbang Kesos . Pada satu sisi. dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. bahkan ideologi masyarakat. “Mengekspor” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi. Hal senada dipertegas oleh Goode (1985). juga harus memanfaatkan peluang dari aspek sosial budaya. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (dalam Berry dkk. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. Sementara pada sisi lain.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia dimanfaatkan secara ekonomi. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya. bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. baik yang positif maupun negatif. walaupun secara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah.

Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. 2. Pada tingkat mikro. pemerintah memang melakukan intervensi. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat yang memberikan peluang Puslitbang Kesos 185 . Secara makro. tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri. bukan saja pada tingkat mikro.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia tidak. Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri. akan tetapi juga pada tingkat makro. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang membawa nama harum bangsa dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. Tetapi hal itu lebih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. Akibatnya muncul berbagai efek samping yang justru tidak diharapkan. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah.

khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. 186 Puslitbang Kesos . pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan di sektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. khususnya budaya majikan di luar negeri. Dalam hal ini. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal. Artinya secara tidak langsung. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. Dengan kata lain. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki. Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya. Walaupun hal itu. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. Dalam konteks ini. pembagian kerja menjadi sexist (didasarkan pada jenis kelamin) dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. Selain itu. berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program. dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. pola relasi gender ini merupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. sadar atau tidak. dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. Kecenderungan tersebut terefleksikan dalam konteks yang lebih luas. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia sekaligus pembatasan berupa etika. Bagi kaum perempuan.

Secara umum pergeseran pola relasi gender tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut : Tabel 1. Keadaan sebelum menjadi TKW 1. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal sebagaimana dikemukakan oleh Daulay (2001). 7. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist (pembagian kerja tidak didasarkan pada jenis kelamin). Pencari nafkah utama adalah suami 2. 6. 10. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan tapi pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian. Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan afektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional. 8. 3. 4. 5. bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya. Pengakuan ini menunjukkan. Lebih jauh. tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Puslitbang Kesos 187 . Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya. 9. Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi sebagai TKW No. hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independen dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih didominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatif harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Isteri mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independen dalam membuat keputusan Sebagian suami terjun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur.

188 Puslitbang Kesos .Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai. khususnya yang mempunyai status isteri. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. dengan mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak. serta menajemen keluarga. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefinisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. Penegasan ini kiranya cukup beralasan. mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. Sementara dalam prespektif negara. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW. Dinas Sosial. Adapun bagi keluarga. dalam perspektif gender. TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. Dari perspektif global dan makro. dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. Dalam prakteknya. TKW menyangkut persoalan devisa. Departemen Tenaga Kerja. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. Lebih khusus lagi. Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah.

Sosiologi Keluarga. J. Gramedia.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia DAFTAR PUSTAKA Berry dkk. Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga di Keluarga Migran. William. Riset dan Aplikasinya (terjemahan Edi Suhardono). Studi Kasus TKIW di Kecamatan Rawamarta Kab. Galang Press. Harmona. Jakarta. (1999). Goode. Psikologi Lintas Budaya. Puslitbang Kesos 189 . Yogyakarta. Daulay. Karawang Jawa Barat. Bina Aksara. (2001). Jakarta. (1985).

.

181. 13 Desa Sungai Pancang. 13 Desa Binalawan. 176 Civil society. 89 Bali. 3 Androgini. 41 Bargaining Position. 9. 50 Bukaka. 3 Aplicable. Chaniago (2001:316). 32 Akurat. 4. 54 Puslitbang Kesos Brazil. 176 Civic Involvement. 181 Anne Minahan. 34 191 . i. 185 D Day Care Centre. 125 Bintan.INDEKS A Abddurazak dkk (1989). 120 B Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). 55 Banjar. 125 Bone. 44 Adoptif kin. 5 Desa Setabu. 156 Aksesibilitas. 56 Collective Sector Action. 154 Day Care Service. 134 Charity. 120. 6. 48 Afinal kin. 30 Bantuan Khusus Murid (BKM). 116 Banglades. 156 Corporate social responsibility. 5 Desa Talio. 44. 82 Concept of deprivation trap. 177 Community based development. 30 Degeneratif. 55 Bugis. 82. 33 Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 154 Dayak. 122 Consanguinal kin. 5. 177 Culture shock. 183 Basic needs. 51 C Chambers (1983). 5 Desa Liang Bunyu. 33. 50. 5. 4. 156 Adrinof A. 44. 3 Allan Pincus. 122 Charitatif. 100 Australia. 45. 130 Belu. 163 Desa Aji Kuning.

28 Dwi Heru Sukoco (1991).Indeks Desa Tanjung Aru. 142 I Ife (1995). 129 Kalimantan Tengah. 45 Human Service Organization. 181 Indepth Interview. 122 J Jawa. 16 Ekologis. 54 Inferior. 4 Disorientasi. 88 Lembaga Pembardayaan Masyarakat (LPM). 116 Isolation. 58 Lokalitas Ekosistem. 172 Focus Group Discussion (FGD). 5 Developmental needs. 19. 88 Ekonomis Produktif. 34 L Leading Sector. 174 Dove (1985). 185 Distributive Frekuentif. 132 F Ferdinan Tonny. 3. 55 H Heterogen. 83. 92 E Edukatif. 122 Epicentrum. 113 192 Puslitbang Kesos . 56. 27 Diagnostik. 156 Grameen Bank. 156 Komprehensif. 56 Life Expectation. 122 Independent. 57 Koentjaraningrat (1990). 57. 50 Evaluatif Research. 29 Kalimantan Timur. 31 Home visit. 173 Empowerment. 30 Jayapura. 3 Komunitas Adat Terpencil (KAT). 4 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). 130 Diagnosa. 123 G Goode (1985). 3 Human Development Index (HDI). 119. 55. 123 Dorsmeer. 5 Desa Tanjung Karang. 16 Empathy. 125 K Kalimantan Barat. 45 Local Budgeting Forum.

67. 74. 3. 15. 93 Pathologis. 122 Pranarka & Moeljarto (1996). 52. 5. 5. 82. 43 Malaysia Timur. 2. 88. 29 Manado. 12. 3 Ndaraha (1990). i Manifest. i. 125 Nusa Tenggara Barat. 95 NAPZA. 29. 177 Puslitbang Kesos 193 . 80 Power Oriented. 181 Manurung Rimatajang. 18. 99. 16. 186 Pekerja Sosial Masyarakat. 66 Powerlessness. 123 P Palembang. 122 Porto Alegre. 100 Nusa Tenggara Timur. 33 Participatory Action Research (PAR). 57. 6. 56 Participatory Rural Apraisal (PRA). 25.Indeks M Madura. 9. 3 Public issues. 65. 100 Participatory Wealth Ranking (PWR). 3. 2. 116 Nunukan. 114. 100 Permisif. 176 Non Governmental Organization International (NGO). 130 Psikologis. 68 Medan. 116. 82. 77 Private Sector. 175 Pandih Batu. 44 Manurungge. 114 People Centred Development. 104. 92. 102. 125 Participatory Budgeting Forum. 67. 51 Max Siporin. 129 O Oakley & Marsden (1984). 134 Patriarkhi. 123 Prestise. 49 Participatory Budgeting. 1. 117 Paruik. 17 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 122 Poverty. 181 Physical weakness. 2 Network. 55 Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). 4. 79 Muhamad Yunus. 112. 10 Maliku. 81. 5 Malaysia. 83. 55 N Nagari. 30 Mainstream. 2. 130 Public sector. 116 Minahasa. 177 Private Trouble. 4. 1.

54. 5 Survival Strategy. 105 Warren & Cottrell. 25. 102 Speech therapy. 68 Sulawesi Selatan. 186 Simptom. 3. 27. 57 Sexist. 119. 160 V Volunteerism. 105 Sanggau. 183 Social-phsyicological needs. 125 Sebatik Barat. 51. 147. 28 Snowball. 5 Sungai Pancang. 12. 30 Sungai Nyamuk. 130. 144. 13. 18 Sebatik Timur. 74 Trafficking. 135 State obligation. 2 R Rakorbang Partisipatif. 89 Sumatera Utara. 11. 181. 122 W Watampone. 13 The cut of point. 2 194 Puslitbang Kesos . 15. 112 The Small Enterprise Foundation (SEF). 177 Stimulus Respon. 9. 72. 26 Research minded. 129 Sumatera Barat. 176 Vulnerrebality. 146. 130 Sorting. 3. 51 Wonogiri. 156 T Tanete Riattang. 2005:23). 29 Purposive. 26. 52. 172 Trainers. 155 Triangulasi. 50. 4. 8. 2. 6. 171 Puslitbang UKS. 10. 5 Segregasi Sosial. 101 U Usaha Ekonomis Produktif (UEP). 143. 17. 123.Indeks Pulang Pisau. 100 Tomohon. 149. 105 Sukoco (1991). i. 172 Subang. 87 Suryono Sukanto (1990). 139. i Responsif. 81. 1. 129 Sunda. 55 Tatamba. 7. 4 Rudito (2003. 70. 104. 49 Reliable. 48 S Samarinda.

Makassar. Pelatihan metodologi penelitian kualitatif (UI. lahir di Ternate. Harry Hikmat. M. Swedia and Beijing (2004-2005). TOC ADAB Australia – LAN RI (1984). Puslitbang Kesos 195 . antara lain : Diklat Pim II LAN RI (2000). Kepala Bidang Penyuluhan Sosial. Sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. antara lain Pelatihan Penyusunan Indikator Sosial (Kantor Meneg LH. Manajemen Penanggulangan Kemiskinan-ESCAP Bangkok 1999. Charles S.Si. Kegiatan pelatihan yang telah diikuti. Pernah sebagai Sales dan Marketing PT BAT.SEKILAS EDITOR Drs. Dr. Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti. Talimbo. Departemen Sosial RI. pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial. 1989). Badiklit Kesos. Selama berkerja di Departemen Sosial RI. 1988). Sebelumnya Sarjana Statistika di FMIPA Institut Pertanian Bogor tahun 1987. R. dilahirkan di Denpasar. M. Kepala Balai Diklat Pegawai Depsos Ujung Pandang. Asuransi Sosial– JICWELS Jepang 1997. tanggal 9 Juli 1963. International Course for National Economic Management and Poverty Eradication in National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia tahun 2000. 27 Juli 1952. Kepala Kursus Tenaga Sosial (KTS) Ujung Pandang. memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis tahun 1997 di Universitas Hasanudin. memperoleh gelar Doktor untuk Ilmu Sosial tahun 2003 di Universitas Padjadjaran Bandung dengan disertasi Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). Statistics in Poverty Policies – Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) in Cambodia. Kepala Bidang Program Pusdiklat Pegawai. Diklat Penyuluhan Sosial (1983). dan Pra jabatan tingkat III (1981). Memperoleh gelar Master untuk Ilmu Pekerjaan Sosial di Universitas Indonesia tahun 1996. Sepadya (1990). Financial and Budgeting Management Program–IMDI–University of Pittsburgh USA 1999. TOT.Si. Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar (SPADIA) Depsos tahun 2003. Ir.

tahun 1997 – 1998 sebagai Kasubag Perencanaan Program Wilayah Timur di Biro Perencanaan Depsos. Unicef & Depsos. Kegiatan Motivasi dalam Proyek Kelangsungan Hidup Anak (Unicef dan Departemen Agama. 2002). Selain itu menjadi Dosen STKS Bandung tahun 1987 s. Energi & Sumberdaya Mineral. Evaluasi Gerakan Rereongan Sarupi Propinsi Jawa Barat (Pemda Jabar. Profil dan efektivitas LSM dalam mengatasi penyebarluasan AIDS di Indonesia (STKS. Depdiknas. tahun 2004-2006 sebagai Kabag Bantuan Usaha Kelompok di Dit. Analisis Kebijakan Pengentasan Orang Miskin melalui Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Indonesia (Ditbangdes. Studi Manajemen dan Standarisasi Panti Sosial di DKI Jakarta (Dinas Bintal & Kesos. 2002). 2003).d 1997 dan Dosen Pasca Sarjana Spesialis Pekerjaan Sosial di STKS Bandung untuk mata kuliah Metodologi Penelitian Pekerjaan Sosial dan Pengembangan Modal Sosial. Statistika Sosial. LSM. dan analisis kebijakan di Depsos. perencanaan. 1995). Pemberdayaan Fakir Miskin. 2004). Manajemen Pengembangan Masyarakat. 2001). Fasilitator dalam berbagai kegiatan pelatihan Participatory Research Appraisal. Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Kementrian Pemberdayaan Perempuan. tahun 2006 s. 1996). Aktivitas organisasi antara lain menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN) 1999-2004 dan Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak periode 2001-2005. Studi Kesiapan Daerah dalam Pelayanan Sosial Dasar di Era Desentralisasi (ADB & Bappenas. Aspek-Aspek Hak Anak yang Berkonflik Dengan Hukum (Departemen Kehakiman dan HAM. Dep. Studi Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (ADB & Bappenas. dan Bappenas.d sekarang sebagai Kabag Analisis Kebijakan Perencanaan Kesejahteraan Sosial di Biro Perencanaan Depsos. Pemenuhan Hak atas Pendidikan Dasar di Daerah Konflik (Departemen Kehakiman dan HAM. Karya penelitian antara lain Kualitas Pelayanan Panti Sosial Anak (Save The Children. Riwayat pekerjaan.1993). 1992). Manajemen Perencanaan dan Keuangan. pekerjaan sosial. penelitian sosial. Lab Sosio UI. Studi Pengembangan Program Community Development Pupuk Kaltim (2002). 2006). tahun 1996-1997 sebagai Kaur Penelitian dan Pengembangan di STKS Bandung. UNPAD. 2002). 196 Puslitbang Kesos .Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjadi Dosen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Sosial.

DT I Jawa Barat tahun 1991). Paradigma pembangunan dan perencanaan sosial (1995). Penelitian Keberhasilan Desa-Desa Juara di Jawa Barat (Ditbangdes Prov. Analisis Dampak Sosial (1999). Filsafat dan Etika Ilmuwan (1998). 1993). Model Pembangunan Sosial di Indonesia (1997). Karya ilmiah yang pernah disusun antara lain : Penerapan Statistika dalam Penelitian Pekerjaaan Sosial (1987). Teknik ilustrasi dalam penulisan artikel ilmiah (1999). dan Perencanaan Partisipatif (Cipruy:. DT I Jawa Barat tahun 1989 s. 2002). Metodologi penelitian sosial (1999). Strategi Pemberdayaan Masyarakat (HUP: 2001). Karya ilmiah yang telah diterbitkan yaitu : Participatory Research Apprasial dalam Pengabdian Pada Masyarakat (HUP: 2001).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Desa/kelurahan Juara Perlombaan Desa di Propinsi DT I Jawa Barat (Ditbangdes Prop. Puslitbang Kesos 197 . Metode Monitoring dan Evaluasi Program (1998).d.

.

antara lain yaitu: (1) Survey on Accessibility Problems to Pantis and Vocational Rehabilitation Service after Decentralization in Indonesia (Yayasan Kandidat. Diklat Penyusunan Kerangka Acuan (Proposal) Sosbud. (2) Analisis Kebutuhan Pekerja Sosial di Pusat Pelayanan Korban Bencana (2003). Penelitian yang dilakukan kerjasama dengan institusi lain sedikitnya ada 10 buah. (3) Kekerasan Masyarakat Daerah Perkotaan (Pusbangtansosmas.I Puslitbang Kesos 199 . 2003). 2002). Disamping itu.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun SEKILAS PENYUSUN Drs. Memulai karir sebagai PNS di PPA Bambu Apus (1975). antara lain beberapa artikel pada majalah Jurnal dan Informasi yang diterbitkan oleh Puslit PKS maupun Puslitbang UKS Balatbangsos Depsos R. Penelitian internal (Litbang Kessos) yang telah dilakukan dan dibukukan sedikitnya 21 buah. dan (5) Persepsi Legislatif Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2004). Sutaat. selanjutnya alih tugas ke Balitbang Kessos (1985). juga sebagai editor beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Balatbangsos. Diklat Dasar Demografi. Pelatihan Komputer. (2) Kajian Managemen Kessos Panti Sosial DKI Jakarta (YASHINTHA. dan Diklat SEPALA dan SEPAMA.I. Informasi Puslit PKS maupun Puslitbang UKS. Karya ilmiah yang telah diterbitkan. antara lain adalah diklat tenaga peneliti. Diklat yang pernah diikuti. dan (5) Tanggung Jawab Sosial Industri (Kantor MASKAT. Pendidikan Sarjana Muda diperolehnya dari UMJ (1980) dan S1 dari STKS Bandung (1984). Pengalaman dibidang publikasi sebagai dewan redaksi. antara lain yaitu: (1) Identifikasi Kebutuhan Pelayanan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (2003). Jabatan struktural yang pernah diembannya adalah kasubid perumusan program Puslit PKS Balitbang Kessos (1986-1997) dan jabatan sekarang adalah Peneliti Muda (2005-sekarang). Balatbangsos Depsos R. Pengembangan Tenaga Peneliti. 2002). (4) Studi Persiapan Daerah dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial bagi Anjal (YASHINTHA. baik majalah Jurnal. 2002). 2000). (3) Partisipasi Masyarakat Kota dalam Mengatasi Masalah Sosial Pasca Krisis (2003). (4) Prilaku Remaja di Daerah Pinggiran Kota (2004). lahir di Tegal (1951).

dan Penelitian Permasalahan Remaja di Kota-kota Besar. sejak tahun 1998-2000. Saat ini menjabat Peneliti Muda dan sebagai Kasub Analisa Kebutuhan Puslitbang Kesos Badiklit Departemen Sosial RI. antara lain: pelatihan tenaga peneliti. di Panti-panti Sosial Asuhan Anak. Profil Anak Jalanan. Sejak bekerja di Badan Litbang Sosial ini. Pemetaan Anak Jalanan dan Orangtuanya di Kotakota Besar di Indonesia. penulis juga banyak memiliki pengalaman penelitian dan penulisan di bidang sosial. Pendidikan terakhir Sarjana Antropologi. antara lain menjadi anggota redaksi pada majalah Jurnal Kesejahteraan Sosial. serta diklat penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Departemen Sosial bekerjasama dengan majalah Tempo. M. Drs. Menamatkan program S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung dan memperoleh gelar Magister pada Bidang Psikologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada D. Indah Huruswati. di Panti Sosial Petirahan Anak. Penelitian masalah kemiskinan juga pernah dilakukan.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Dra. Bambang Pudjianto. lahir di Jakarta. pelatihan pengolahan data yang diselenggarakan oleh BPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI). 11 November 1967. Pengalaman kerja sebagai Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial sejak 1986 dan jabatan sekarang adalah Peneliti Madya. antara lain: berkaitan dengan Masalah Anak di Tempat Penitipan Anak. beberapa kali mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkait dengan bidang penelitian. Anak Terlantar melalui Sistem Panti. Selain aktif menulis di media jurnal dan informasi Puslitbang Kesos juga sebagai tim editor Jurnal Penelitian dan Pengembangan UKS. Yogyakarta tahun 2000. antara lain tentang Pola Penanganan Kemiskinan di Perkotaan yang dilakukan hingga kegiatan ujicoba pada beberapa kota. Selain mengikuti diklat-diklat. Sejak tahun 1995 mulai aktif mengajar pada beberapa perguruan tinggi 200 Puslitbang Kesos .Si. Mapping and Social Survey of Street Children bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. pelatihan metodologi kualitatif yang diselenggarakan Balitbang Sosial. lahir di Jakarta. baik yang diselenggarakan oleh Balitbang Sosial maupun kerjasama dengan laboratorium Sosiologi FISIP UI.I. Pengalaman menulis ilmiah diperoleh penulis dari berbagai kegiatan.

Jabatan Struktural. Pendidikan Sarjana Manajemen (S1). Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Lanjut Usia di DKI Jakarta (2002). Pendidikan. Kepala Bidang Analisis dan Bimbingan Sosial di Pusbang Tansosmas (2000 – 2004). Akreditasi Panti Sosial. Pengaruh Budaya dalam Puslitbang Kesos 201 . Penelitian yang pernah dilakukan. Efektivitas Bantuan Pinjaman Modal Usaha RSDK (1999). Penelitian Uji Coba Model Komunitas Adat Terpencil (KAT). 11 Juli 1958. Otonomi Daerah dalam Perspektif Budaya (2000). Pemetaan Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Kotamadya Tomohon. Kepala Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi di Puslitbang UKS (1994 – 1998). Pembinaan Masyarakat pedalaman Irian Jaya (1986 – 1992). Jabatan Fungsional. Penelitian Eks Penderita Penyakit Kronis Tuberkulosis (TBC). Konflik dan Kedamaian Sosial dan Penyalahgunaan Napza. Sarjana Antropologi dari FSUI (1978 – 1984). Mulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil di Balitbang Sosial Puslitbang Kesos bidang Program dan Anggaran sampai sekarang. SMA Negeri 30 dan SLTP Negeri 76 di Jakarta (1971 – 1977). lahir di Jakarta. Diploma Ilmu Tauhid dari Uniersitas Islam Syekh Yusuf (1984 – 1986). Kepala Sub Bidang Rencana dan Program di Puslitbang PKS (1998 – 1999). lahir tanggal 2 November di Takengon. Rusmiyati. Kabupaten Aceh Tengah. Achmadi Jayaputra. M. khususnya pada bidang Psikologi Sosial. Sejak tahun 1986 sampai sekarang sebagai pengajar Antropologi dan Sistem Budaya Indonesia di Universitas Muhamadiyah Jakarta.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun swasta di Jakarta. Ujicoba Indikator Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara. Drs. Asisten Peneliti di Leknas LIPI (1983 – 1985). Kajian konflik Sosial Suku Bangsa Madura di Kabupaten Sambas (2001). Magister Pengembangan Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2000 – 2002). Suku Bangsa di Indonesia. Asisten Peneliti Madya (1986) sampai dengan Ahli Peneliti Muda (2002) di Badan Litbang Sosial. SD di Banda Aceh dan Jakarta (1965 – 1970). Penyandang Cacat. Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam). diantaranya KAT. Karya ilmiah antara lain. SE. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan. antara lain: Penelitian Uji Coba Model Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Nilai Kesetiakawanan Sosial dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial.Si. Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi di Puslit PKS (2004 – 2005) dan sampai sekarang sebagai Kepala Bidang Program di Puslitbang Kesos.

Pengalaman lapangan melakukan pengkajian dan penelitian di berbagai daerah yang berkaitan dengan Komunitas Adat Terpencil. tahun 1994. Sebelum bergabung dengan Departemen Sosial. Depok. lanjut usia. 202 Puslitbang Kesos . FISIP Universitas Indonesia. tahun 1992. pengembangan potensi masyarakat pedesaan. Anwar Sitepu. awalnya pada Sekretariat kemudian masuk pada Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial. tahun 1999 sampai sekarang. Pola Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perkotaan (Surabaya dan Bandung). Pelayanan Sosial Lanjut Usia di Indonesia. dan pendidikan S2 Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor di Bandung dan Bogor. tahun 1998.. menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Kesejahteraan Sosial pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri di Jakarta.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (2003). tahun 1982 sampai 1987. Bekerja untuk Departemen Sosial sejak tahun 1990. kerjasama Pusdiklat Pegawai Dep. Drs. Jakarta. Penelitian yang pernah dilakukan. Sosial – Badan Pusat Statistik (BPS). antara lain: Pola Konsentrasi Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Tanah Grogot Kabupaten Pasir Kalimanatan Timur. di Tanjung Priok. Akreditasi Panti Sosial di Bandar Lampung. langsung bergabung pada Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial di Jakarta. dan Pendidikan dan Pelatihan Analisa Data. Jakarta. MP. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD-FEUI). Pola Hubungan Sosial Antara Kelompok Etnis di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. lahir di Sukanalu. 4 September 1958. Pola Pembinaan Remaja melalui Karang Taruna di Kota Medan dan Bekasi. konflik dan solidaritas sosial. Pelatihan Komputer dan Statistik untuk Pengolahan Data Hasil Penelitian pada Lembaga Demografi. tahun 1986. Jakarta. tahun 2004. Pelatihan teknis kelitbangan yang pernah diikuti antara lain: Peningkatan Kemampuan Tenaga Peneliti Balitbangsos pada Laboratorium Sosiologi. bekerja sebagai pekerja sosial dan koordinator program pada Family Helper Project kerjasama Yayasan Pelita Kasih dengan Christian Children’s Fund Inc. Permasalahan Pengungsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dampak Judi “Togel” pada Kehidupan Keluarga Miskin di Kota Medan.

Magister Sains Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Publik.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sugiyanto. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. Dra. Selain itu juga menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Penelitian Puslitbang Kesos 203 . Jabatan peneliti: Ajun Peneliti Muda bidang Kesejahteraan Sosial (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial) Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. dan berbagai seminar permasalahan sosial di Indonesia. menamatkan program Sarjana Muda di Fakultas Sastra dan Budaya Jurusan Anthropologi UGM Jogyakarta. M. Departemen Sosial RI. Beberapa hasil penelitiannya telah diterbitkan. Sri Gati Setiti. diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2005) dan S1 (Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994). Peran Lembaga Sosial dalam Penanganan Pengungsi. Pemberdayaan Pranata Sosial. Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna. Strata 1 di FISIP jurusan Anthropologi UNHAS Ujung Pandang. Hubungan Antar Kelompok Pribumi dan Etnis Cina di Jakarta. Permasalahan Sosial Pengungsi Korban Poso dan Upaya Penanggulangannya. lahir di Tawangharjo.Si. Disamping itu. dan kumpulan tulisannya pernah diterbitkan di JURNAL maupun INFORMASI. 8 Januari 1961. Drs.Pd. S. Konflik Serta Modal Kedamaian Sosial dalam Konsepsi Lintas Kalangan Masyarakat di Tanah Air. Nurdin Widodo. sebagai editor Jurnal Puslitbang Kesos dan anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Departemen Sosial RI. Penelitian yang telah dilakukan meliputi topik-topik yang berkaitan dengan Pelayanan Anak Terlantar Putus Sekolah Melalui Panti Sosial Bina Remaja. Aktif mengikuti mengikuti kegiatan penelitian bidang kesejahteraan sosial. Potensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ketahanan Sosial Masyarakat di Kota Kendari. baik secara mandiri maupun kelompok. dan Penelitian Uji Coba Model Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Madya pada Puslitbang Kessos-Badiklit Kessos Departemen Sosial RI. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik dan Kerusuhan Sosial. menamatkan program S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraaan Sosial Bandung. Kekhususan Pengembangan Masyarakat (S2).

MP. Sarjana Psikologi Perkembangan Universitas Pajajaran Bandung. Penelitian yang pernah dilakukan meliputi topiktopik yang berkaitan dengan: penanganan penyandang cacat. anak jalanan. Pernah menjadi staf pengajar di STKS Bandung. Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (2004). pada tahun 1984. Tulisan di Jurnal Puslitbang Kesos. masalah narkotika di sekolah. permukiman kumuh. efektivitas GN-OTA dalam pemberian kesejahteraan anak.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun dan Pengembangan Sosial. karang taruna. dan pemberdayaan migran. profesionalisme pengelolaan Orsos. tanggung jawab sosial dunia usaha terhadap masyarakat sekitar. Penelitian yang pernah dilakukan: Penelitian tentang Anak Jalanan. perlindungan tenaga kerja wanita di sektor industri. Alit Kurniasari. peranan wanita. Menjadi anggota panitia pembina ilmiah (PPI). Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga (2006). pemberdayaan keluarga dalam mencegah tindak tuna sosial. menjadi dosen tidak tetap di UMJ dan dosen di Universitas Satyanegara (USNI) Jakarta. Dra. pola rekonsiliasi masyarakat antar etnis di daerah konflik di Indonesia. dampak sosial industri. pada mata kuliah Psikologi Anak. Mengikuti diklat dosen dan peneliti di LD-UI dan berbagai diklat penjenjangan peneliti. Pelayanan Sosial bagi Eks Penyandang Penyakit TBC Berbasis Masyarakat (2002). Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2006). 204 Puslitbang Kesos . Psikologi Abnormal dan Psikologi Sosial. lanjut usia. panitia penilai lomba karya tulis masalah-masalah sosial tingkat nasional. Selain itu mengikuti berbagai seminar tingkat nasional. Penelitian Kualitas Pengasuhan dan Pelayanan Panti Sosial Asuhan anak (PSAA) di Indonesia. dari tahun 1986 – 1995. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Pertama di Puslitbang Kesos. Permasalahan Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik.

Sumatera Utara. lahir 3 Maret 1966 di Samosir. tahun 1999 mengikuti tugas belajar ke Fakultas Psikologi-Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pekerjaan lainnya. Pada tahun 1982 hijrah ke Payakumbuh Sumatra Barat. Togiaratua Nainggolan. hingga tamat tahun 2002.Si.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Drs.Tamat dari UGM Yogyakarta. Setelah tamat dari SMPP 25 Payakumbuh tahun 1985.Sejak tahun 1993 bekerja sebagai staf Pusdiklat Pegawai Departemen Sosial RI. bertugas sebagai staf di Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial hingga menjadi peneliti fungsional hingga sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. Dalam perjalanan karir sebagai PNS. melanjut ke IKIP Padang hingga tamat 1991. sejak tahun 2002 mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta dalam mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Lintas Budaya. M. Puslitbang Kesos 205 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->