EXECUTIVE SUMMARY

Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial

Editor Drs. Charles S. Talimbo, M.Si DR. Harry Hikmat, M.Si Penyusun Drs. Sutaat Dra. Indah Huruswati Drs. Bambang Pudjianto, M.Si Rusmiyati, SE Drs. Achmadi Jayaputra, M.Si Drs. Anwar Sitepu, MP Sugiyanto, S.Pd, M.Si Drs. Nurdin Widodo Dra. Sri Gati Setiti Dra. Alit Kurniasari, MP Drs. Togiaratua Nainggolan, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY
Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial
Hak Cipta Setiap Tulisan pada : masing-masing Penulis Hak Cipta Penerbitan pada : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badiklit Kesos, Departemen Sosial RI. Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126 Design Cover : Pradjwalita Setting & Layout : Sarif Hidayat

All Right Reserved Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Tidak dibenarkan memproduksi ulang setiap bagian artikel, ilustrasi dan isi buku ini dalam bentuk apapun juga, baik secara elektronik, fotokopi, mekanik, rekaman atau cara lain sebelum mendapat izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Executive Summary, Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Kesos / editor, Charles S. Talimbo, Harry Hikmat. iv + 205 hlm. ; 14,5 x 21 cm, (Executive Summary Tahun 2006)

ISBN : 978-979-5379-20-7
Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126

KATA PENGANTAR
Selama tahun 2006 telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa tema yang dinilai mendesak seperti Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasan yang Berbasis Institusi Lokal, Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Keluarga), Evaluasi Program Subsidi Panti, Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Komunitas Peduli Anak, Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Migran maupun Penelitian Diagnostik tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Nunukan, Pulang Pisau, Bone dan Manado. Selain itu, ada penelitian yang merupakan pengembangan salah satu metode untuk menentukan secara efektif data kemiskinan di suatu komunitas, yaitu Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi. Hasilnya telah dicetak dalam bentuk buku. Tetapi untuk memudahkan pembaca, terutama pihak eksekutif yang ingin memanfaatkan sebagai acuan berkaitan dengan penentuan kebijakan, maka kami berusaha menyajikannya dalam bentuk Executive Summary. Sudah barang tentu sajian ini lebih komunikatif. Dan bila pembaca memerlukan yang lebih spesifik dan detail, tidak ada salahnya menelaah buku-buku hasil penelitiannya. Kami percaya, eksekutif masa kini adalah tipe ”research minded” karenanya setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada wangsit, tetapi melalui suatu proses kajian yang matang. Semoga. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Charles S. Talimbo NIP. 170011051
Puslitbang Kesos

i

.. Sebuah Alternatif Teknik Indentifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin ( Drs..........................Si ) ............ Indah Huruswati ) ..............DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ......... Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan) ( Sugiyanto.............. M............... i iii 1 25 3........................................... DAFTAR ISI ....... MP ) .......................... 119 Puslitbang Kesos iii ..... Bambang Pudjianto..............................Pd...... Diagnosa tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah ( Dra...... 65 5........... Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan Di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat ( Drs... M...................................... Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon .................................................. 81 6..... S...................................... 43 4.. Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kabupaten Nunukan ( Drs...... Sutaat ) . 99 7......... M................................................. 1........................................................................................... Peta Masalah Sosial di Bone: Potensi........Si ) ....... Anwar Sitepu......................Si ) .......... Problem dan Strategi Penanganannya ( Drs............................ Achmadi Jayaputra.Minahasa ( Rusmiyati...................... SE ) ............ Participatory Wealth Ranking.... 2...

........................................................................Si ) ............. Gender dan Keluarga Migran di Indonesia ( Drs.........................8............ 153 169 181 191 195 199 10..................... Togiaratua Nainggolan........ 11............. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah di Indonesia) ( Dra....... INDEKS . M....................... Alit Kurniasari............ 129 9........ Sri Gati Setiti ) .................. Pengembangan Komunitas Peduli Anak ( Dra........ SEKILAS EDITOR ....................................................... SEKILAS PENYUSUN .............................................. MP ) .................. Nurdin Widodo ) .............. Evaluasi Program Subsidi Panti dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial ( Drs......................... iv Puslitbang Kesos ...........................................................................................

tahun 2006. Untuk itu. (2) Program-program sektor sosial bagi masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat kurang mampu. oleh Puslitbang Kesos. antara lain masalah fakir miskin. penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) guna memacu kemajuan wilayah dan penduduk diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. perumahan tidak layak huni. Penelitian ini mencoba menggambarkan mendiagnosa kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Nunukan. berbentuk pranata sosial. terutama belum tersedianya database yang akurat sebagai bahan penyusunan rencana program pembangunan di wilayahnya. berpendidikan S1 bidang kesejahteraan sosial. Pranata sosial dapat dipahami sebagai sistem antar hubungan peran dan norma berkenaan dengan aktivitas yang dianggap penting oleh anggota komuniti. Perwujudan kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan tampak dalam kehidupan komuniti. Akses penduduk pada pendidikan yang lebih tinggi masih terbatas. Kabupaten Nunukan. Masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Sutaat 2 ABSTRAK Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah pemekaran memiliki permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosial budaya.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN1 Drs. Hasil penelitian ini menunjukkan. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat sebagai daerah pemekaran baru. keterlantaran. termasuk dalam penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Empat Kabupaten tahun 2005. dan keluarga rentan. Hal ini menjadikan wilayah tersebut jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya. perbaikan lingkungan dan perumahan. terutama sarana pendidikan dan transportasi/ perhubungan dalam pulau dan antar pulau. Peneliti Madya pada Puslitbang Kesos. bahwa program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. Hal ini terkait dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. berpengalaman dalam berbagai kegiatan penelitian. dan memimpin berbagai kegiatan penelitian di lingkungan Puslitbang Kesos. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial 1 2 Ditulis dari hasil penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Sebatik Barat. Sutaat. serta peningkatan fungsi dan peningkatan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial (PSKS) Kata kunci: Masalah Sosial. Puslitbang Kesos 1 .

dan masih rendahnya taraf hidup masyarakat terutama bila dibandingkan dengan taraf kehidupan warga Malaysia di perbatasan. anak terlantar. lanjut usia yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak jalanan. mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya (Warren. yakni bagaimana komuniti tersebut memberikan makna pada gejala yang ada sebagai masalah sosial atau tidak. masalah sosial pada masyarakat tertentu belum tentu dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang lainnya (Rudito. Perbedaan kebudayaan pada masing-masing komuniti akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. wanita rawan sosial ekonomi. Cottrell dalam Ndaraha: 1990) Di lingkungan Departemen Sosial. Oleh karena itu. antara lain: masih terisolirnya sejumlah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbatasan. sehingga sulit atau jauh dari sentuhan program pembangunan. Nunukan Pendahuluan Hasil penelitian Puslitbang Usaha Kesejahteraan Sosial (Puslitbang UKS.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. 2003). 2005) menyebutkan bahwa berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang berbatasan dengan Malaysia. Perbedaan tindakan dan tingkah laku dalam menanggapi obyek yang sama dapat menimbulkan suatu masalah antara satu komuniti dengan komuniti lainnya. anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. begitu juga dengan pendefinisian terhadap kesejahteraan dan masalah sosial. masalah sosial hanya dapat diidentifikasi menurut cara pandang komuniti. lanjut usia terlantar. 2 Puslitbang Kesos . mempunyai pembagian peran dan status yang jelas. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. antara lain: balita terlantar. anak nakal. Menurut konsep sosial budaya. individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). anak cacat. secara umum kesejahteraan sosial dari masing-masing komuniti akan berbeda. Dengan demikian. masih terdapatnya pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Nunukan yang belum dimanfaatkan atau belum punya nama. Komuniti adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh anggotanya berinteraksi satu sama lain. Saat ini terdapat 27 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang telah diidentifikasi Departemen Sosial. dan ini merupakan suatu dampak dari adanya masalah sosial yang terwujud sebagai tindakan kebudayaan.

pengemis. korban penyalahgunaan napza. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. gotong royong.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. 2002). dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. lembaga pendidikan. yaitu: Sistem Sumber Informal atau Natural. Didalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. Daerah pemekaran baru seperti halnya Nunukan. lembaga pelatihan kerja. Oleh karena itu. Guna mewujudkan kesejahteraan sosial. tuna susila. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. Allan Pincus dan Anne Minahan (Dwi Heru Sukoco. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. kesenian. permasalahan sosial akan ditangani secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliabel. dan sebagainya. keluarga berumah tak layak huni. sehingga pelaksanaan program pembangunan akan tepat sasaran dan tepat guna. keagamaan. gelandangan. adalah sesuatu yang bermanfaat. tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. keluarga fakir miskin. korban bencana alam. komunitas adat terpencil. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial sumber kesejahteraan sosial sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan/program yang terarah dan komprehensif. penyandang HIV/AIDS. Tersedianya data yang akurat dan reliabel akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. Nunukan penyandang cacat. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. keluarga bermasalah sosial psikologis. korban bencana sosial. setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan. 1991) membagi sistem sumber menjadi tiga kategori. Sistem Sumber Formal. sosial. pekerja migran terlantar. Sistem Sumber Kemasyarakatan. Untuk mempertahankan kehidupannya. bekas narapidana. tampaknya mengalami masalah dalam hal penyediaan data (database) yang akurat mengenai permasalahan sosial serta sumberdaya yang ada di wilayahnya. politik. Pengertian sumber menurut Max Siporin. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang Puslitbang Kesos 3 . yaitu rumah sakit. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. Berdasarkan berbagai uraian tersebut di atas.

serta upayaupaya penanganan yang pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Nunukan. yaitu Desa Setabu dan Desa Sungai Pancang. serta aparat pemerintah daerah yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melaksanakan penelitian diagnostik tentang permasalahan sosial di daerah. Perkembangan wilayah Desa Sungai Pancang relatif lebih maju dibandingkan Desa Setabu. sehingga program pusat dirasa kurang responsif terhadap kebutuhan lokal. wawancara. Penelitiaan ini bertujuan untuk memperoleh data kualitatif tentang jenis permasalahan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Sehubungan dengan itu. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. lokasi penelitian ini difokuskan di Kecamatan Sebatik Barat sebagai salah satu kecamatan pemekaran yang terletak di daerah perbatasan. Pulau ini terbagi menjadi dua bagian. dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Nunukan. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan. Dengan berbagai pertimbangan kebutuhan wilayah. Sebatik Indonesia pada mulanya terdiri dari dua buah desa induk. Sebagai akibatnya. Informan penelitian ini adalah warga masyarakat dan tokoh masyarakat setempat. dan bahan-bahan dokumen. diskusi. Hal ini karena 4 Puslitbang Kesos . pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. Deskriptif dimaksud untuk mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat. Keadaan Wilayah Lokasi Penelitian Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Timur yang letaknya paling utara. yakni bagian selatan merupakan wilayah Negara Republik Indonesia dan bagian utara merupakan wilayah Negara Malaysia Timur (Sabah). Sementara itu Pemerintah Pusat belum mempunyai data yang cukup tentang potensi dan sumber serta permasalahan sosial. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat yang merupakan daerah pemekaran baru dan letaknya berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia Timur). Nunukan ada.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Sungai Pancang mempunyai akses yang lebih mudah dengan negara tetangga (Malaysia). Sementara itu, Desa Setabu yang letaknya di bagian barat menghadap Pulau Nunukan dan Daratan Kalimantan, memiliki infrastruktur transportasi ke Nunukan atau daratan Kalimantan relatif yang kurang memadai. Oleh karena itu, dari segi kemajuan wilayah Desa Setabu menjadi lebih lambat. Kecamatan Sebatik Barat yang berpusat di Desa Setabu terdiri dari empat desa, yakni Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu, dan Desa Aji Kuning (letaknya berbatasan dengan Malaysia Timur). Desa Aji Kuning ini berbatasan dengan Desa Sungai Pancang (Sebatik Timur), dan karena itu desa ini merupakan desa di wilayah Sebatik Barat yang termasuk paling maju. Kecamatan Sebatik Timur yang semula merupakan induk Desa Sungai Pancang terdiri dari empat desa, yakni Desa Tanjung Karang, Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, dan Desa Tanjung Aru. Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Puslitbang Kesos

5

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Kependudukan Penduduk Kecamatan Sebatik Barat berjumlah 10.285 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk Sebatik secara keseluruhan 30.947 jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa 1/3 jumlah penduduk Sebatik berada di Sebatik Barat, dan 2/3 lainnya merupakan penduduk Sebatik Timur. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa Sebatik Timur kondisinya lebih maju dari Sebatik Barat, baik dari segi ekonomi maupun sarana infrastruktur yang relatif lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, penduduk banyak terkonsentrasi di wilayah Timur yang jauh lebih maju. Kondisi seperti tersebut di atas tampak pula pada jumlah penduduk per kelurahan di Sebatik Barat, yakni Kelurahan Aji Kuning dengan jumlah penduduk terbesar (3.687 jiwa). Kondisi ini terkait dengan kemajuan Desa Aji Kuning yang jauh melebihi desa-desa lain di Sebatik Barat. Sejak dari awal penduduk Aji Kuning telah banyak mengadakan hubungan ekonomi perdagangan dengan negara tetangga (Malaysia).
Tabel 1. Penduduk Kecamatan Sebatik Barat
DESA Aji Kuning Setabu Binalawan Liang Bunyu JUMLAH REKAPITULASI HASIL PENDATAAN PENDUDUK TAHUN 2005 JUMLAH KEPALA JUMLAH JIWA RT/DUSUN KELUARGA RT DUSUN L P JML L P JML 17 4 908 51 959 1990 1697 3687 7 442 28 470 1156 1001 2157 6 359 14 373 1013 886 1899 11 530 28 558 1374 1168 2542 41 4 2239 121 2360 5533 4752 10285

Sumber : Monografi Kecamatan Sebatik, 2005.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa banyak penduduk Aji Kuning yang merupakan eks TKI di Malaysia. Bahkan banyak di antara mereka masih mempunyai kerabat yang berada di Malaysia (terutama di Tawao). Beberapa warga mempunyai identitas ganda, yakni warga Indonesia dan warga Malaysia; atau warga negara Malaysia tetapi merupakan penduduk tetap Desa Aji Kuning. Tampaknya memang secara sosial budaya antara warga Aji Kuning dengan Tawao-Malaysia hampir tidak ada batas. Beberapa rumah warga ada yang sebagian berada di wilayah Indonesia dan sebagian lainnya berada di wilayah Malaysia, dan bahkan ada beberapa warga yang mendirikan rumah di atas tanah wilayah Malaysia.

6

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Pranata Kehidupan Masyarakat
1. Pranata Agama/Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Sebatik Barat sebagian besar Islam, sedangkan sebagian lainnya Kristen Katholik dan Protestan. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang ada meliputi bangunan Masjid, langgar, dan Rumah Kebaktian di perumahan penduduk. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Selain menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama, penduduk di Wilayah Kecamatan Sebatik Barat juga masih ada yang mengembangkan aliran kepercayaan Suku Bangsa Tidung. Suku Tidung adalah bagian dari Suku Dayak yang tinggal di Tarakan yang menempati daerah Pulau Sebatik, dan merupakan suku asli. Kepercayaan tersebut berupa pemberian semacam sesajen yang dilakukan oleh perorangan dengan cara mengirim doa melalui pemberian sesajen hewan potong yang dilabuh di tengah laut dan dekat dengan tempat tinggalnya. Acara menjalankan ritual adat/kepercayaan/religi yang dijalankan nenek moyang Suku Dayak. Penduduk yang menjalankan dan masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka, walaupun banyak juga yang menganut Agama Islam dan Khatolik. Namun dalam kepercayaan orang Sebatik masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga sungai dan atau laut.
2. Pranata Keluarga/Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah tidak ada aturan yang mengikat, artinya dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kebebasan untuk menentukan pasangan/pilihan hidup. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Dalam sistem kekerabatan yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai keturunan ketiga. Pada dasarnya, dalam suatu keluarga besar yang masuk dalam satu keluarga batih dan dikatakan masih memiliki ikatan yang kuat,
Puslitbang Kesos

7

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

dapat mempersatukan kelompok mereka yang ditandai dengan adanya hak dan kewajiban antar anggota kerabat. Hak dan kewajiban anggota kerabat tersebut dapat dilihat dalam pola perkawinan, perawatan orang tua dan upacara kematian. • Dalam Pola Perkawinan: sebagian besar penduduk mengikuti aturan Agama Islam, misalnya dilarang oleh penduduk apabila terjadi perkawinan: (1) antara anak laki-laki dan perempuan sesama saudara laki-laki sekandung; dan (2) perkawinan antara bapak dengan anak perempuannya. Tetapi jika terjadi perkawinan sepupu silang, yakni perkawinan antara anak laki-laki antara saudara sekandung laki-laki perempuan boleh dilakukan, karena hal tersebut dianggap bukan saudara sedarah seperti halnya dengan anak saudara laki-laki seayah. • Dalam Pola Perawatan Orang Tua (lanjut usia). Jika salah satu orang tua atau salah satu anggota keluarga sakit maka seluruh anggota keluarga dilibatkan untuk membantu dan menanggung biaya perawatan yang telah dimusyawarahkan secara bersamasama. Akan tetapi untuk perawatan sehari-hari perawatan ditanggung oleh anak yang tinggal serumah, dan nantinya mewarisi tempat tinggal orang tuanya. • Dalam hal kematian, pelaksanaan penguburan baru bisa dilaksanakan setelah anggota keluargganya kumpul terutama dua generasi ke atas dan ke bawah. yakni: anak-anak, saudara kandung, paman, bibi dari bapak maupun ibu. Jika ada peristiwa kematian maka semua warga masyarakat terlibat, baik dalam upacara pemakaman ataupun dalam pesta kendurinya/membaca doa. Untuk keperluan membaca doa dalam kenduri, keperluan untuk selamatan/kenduri setiap kepala keluarga akan memberikan sumbangan sesuai dengan kedekatan hubungan antara kepala keluarga dengan keluarga yang mengalami kematian.
3. Pranata Ekonomi

Keluarga-keluarga pada masyarakat Sebatik Barat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, terutama pangan merupakan tanggung jawab bersama antara suami istri. Kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari lingkungan sekitar dan dapat juga dari

8

Puslitbang Kesos

namun hutan tersebut merupakan hutan lindung yang tidak diperkenankan untuk dikerjakan sebagai lahan pertanian penduduk. Pasar-pasar ini merupakan pasar keliling yang secara rutin mempunyai jadwal di tiap desa. Namun demikian dari segi peralatan kerja umumnya masih menggunakan peralatan sederhana. ternak mereka masih dibiarkan berkeliaran di kebun atau di jalan-jalan desa. dan tidak ada lagi sistem pertanian dengan cara ladang berpindah. Hasil tangkapan ikan dan hasil pertanian umumnya mereka jual ke Malaysia atau di pasar-pasar tradisional yang ada di Puslitbang Kesos 9 . istripun juga sangat berperan untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga. dan tidak disiapkan kandang dan pakan secara khusus. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya diperoleh dari warung-warung yang ada di lingkungannya. walupun masih ada juga nelayan tradisional. pestisida dan adanya benih unggul. Kebutuhan sayuran penduduk sehari-hari diperoleh dari penduduk setempat yang berdagang keliling membawa sayuran hasil kebunnya. Sebagian dari mereka juga sudah mengenal sedikit model pertanian modern. Perkebunan dan perikanan sudah mulai terarah dengan cara modern yakni dengan cara membuat keramba terapung. Jadi untuk mencari nafkah bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang suami. seperti memakai pupuk kimia. Sedangkan dalam hal peternakan masih bersifat tradisional. Sistem pertanian penduduk Sebatik umumnya sudah menetap. linggis. Mereka berkeliling ke desa-desa sesuai dengan jadwal pasar pada desa yang bersangkutan. Pasar pada masing-masing desa hanya aktif satu kali dalam satu minggu. sesuai dengan mata pencaharian penduduk. dengan cara menjual hasil ladang. Pedagang pasar tersebut sebagian besar berasal dari Nunukan. dimana hasil dari mata pencaharian tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. misalnya untuk Desa Setabu pasar aktif pada hari minggu. Nunukan luar desa. Pasar yang biasa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian/ tangkapan ikan dan membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari adalah pasar tradisional yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut. seperti parang. pacul dan kampak.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Walaupun sebagian besar wilayah Kecamatan Sebatik Barat adalah hutan. dan hasil tangkapan ikan/ nelayan.

Mereka jarang membawa dan menjual barang dagangannya ke Nunukan. tampaknya masyarakat masih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi daripada kesadaran sebagai WNI. Bahkan di antara mereka ada yang pernah tinggal dan punya kerabat yang berada di Malaysia dan mempunyai Identity Card (ID) Malaysia. Sumber alam yang sudah diolah saat ini adalah tanah pertanian/perkebunan. Kedua. Untuk masyarakat Jawa. Nunukan sekitar wilayah Sebatik Barat. di Sebatik pernah dikembangkan tanaman kopi terutama saat permintaan kopi dari negara tetangga cukup besar. Setelah permintaan kopi dan harganya anjlok masyarakat mulai beralih pada tanaman coklat. karena umumnya disajikan dengan cara digoreng. pertama karena kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan secara turun menurun untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk negara tetangga. apalagi pada musim penghujan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Kenyataan yang ada saat ini. namun demikian hingga kini belum ada upaya untuk ekspolitasi sumber tersebut. Menurut masyarakat setempat. Ketiga. Potensi dan Sumber Alam Berdasarkan informasi tokoh masyarakat setempat. hasil coklat dan pisang banyak dijual ke negara tetangga Malaysia (Tawao). karena biaya yang mahal dan belum lancarnya trasportasi umum. Sebelum masyarakat mengembangkan tanaman coklat. Kebun coklat dan pisang tersebut cukup luas dan memberikan hasil cukup besar bagi masyarakat Sebatik Barat. pisang sanggar tersebut biasa dikenal sebagai pisang “kepok”. Jenis pisang di wilayah ini bagi masyarakat setempat dikenal dengan nama “pisang sanggar” (pisang goreng). Hasil yang diperoleh saat ini dari pengolahan tanah yang merupakan hasil pertanian/perkebunan rakyat. di Sebatik sebenarnya terdapat sumber alam yang dapat mendukung kemajuan wilayah. Ada bebarapa hal yang mendorong mereka melakukan hal itu. 10 Puslitbang Kesos . dari segi transportasi dan jarak serta waktu tempuh ke Tawao relatif lebih murah dan mudah dibandingkan ke Nunukan. yakni sumber minyak bumi. Jalan penghubung antar kecamatan kondisinya rusak. Hal ini tampaknya merupakan salah satu ciri masyarakat di daerah perbatasan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. adalah dari kebun coklat dan pisang. infrastruktur untuk jalur transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai.

Masalah Ketertinggalan Sebatik merupakan pulau terluar dan terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu sebelah Utara Wilayah Malaysia (Sabah). dan masalah potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang belum menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. Masalah yang terkait dengan rendahnya Puslitbang Kesos 11 . Nunukan Permasalahan Sosial Hasil penelitian ini mengidentifikasi ada tiga besaran permasalahan sosial di Sebatik Barat yang mendorong munculnya berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. dan rendahnya kualitas hidup. Pada sisi lain. Hal ini menjadikan Sebatik Barat tertinggal dalam berbagai pembangunan. misalnya dalam pemasaran hasil dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga. masalah infrastruktur yang kurang memadai. baik pembangunan fisik maupun non fisik. Hal ini tampak dari informasi yang diperoleh bahwa beberapa penduduk Sebatik. Alasan mereka adalah untuk kemudahan hubungan dengan masyarakat negara tetangga yang dirasakan memberikan banyak keuntungan. rendahnya pendidikan. Masalah-masalah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. akses komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. dan sebelah Selatan Wilayah Indonesia (Provinsi Kalimantan Timur). Masalah-masalah kesejahteraan sosial yang biasanya terkait dengan daerah tertinggal antara lain rendahnya kemampuan ekonomi. Kondisi yang demikian menjadikan penduduk Sebatik tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat negara tetangga. Demikian pula yang terjadi di Sebatik Barat. Sementara itu. Pada satu sisi. sehingga sebagian besar penduduk seolah-olah kurang menyatu dan berinteraksi secara intensif dengan penduduk lainnya di wilayah Indonesia. tampak dari besarnya populasi keluarga kurang mampu (kecuali miskin). Ketergantungan masyarakat pada negara tetangga dapat mengurangi rasa kebangsaan dan nasionalisme. ada ketergantungan masyarakat dengan negara tetangga. penduduk Sebatik mendapat imbas kemajuan ekonomi dari penduduk negara tetangga.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. yakni masalah ketertinggalan. terutama yang dekat dengan perbatasan mempunyai ID ganda. Mereka akan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi daripada memperhatikan kedudukannya sebagai warga negara Indonesia.

namun beberapa kasus keluarga miskin di Kecamatan Sebatik Barat. dan penyediaan rumah yang layak huni. wanita rawa sosial ekonomi. partisipasi iuran warga. fakir miskin. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tiap Desa di Kecamatan Sebatik Barat.113 12 Puslitbang Kesos . seperti rumah tidak layak huni. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. dan wanita rawan sosial ekonomi. yaitu keluarga miskin. Namun demikian dapat dikatakan bahwa penduduk miskin Sebatik Barat untuk pemenuhan kebutuhan pangan belum merupakan hal yang serius (belum kritis). Meskipun tidak semua keluaga miskin berkaitan dengan kondisi rumah. tetapi miliki kerabat atau warisan dari orangtuanya. Tabel 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Penjelasan dari kasus dimaksud adalah bila kita lihat pada status rumah atau kepemilikan rumah. Kemiskinan yang mereka alami adalah kekurangmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan lainnya. Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar Penyandang Cacat Cacat Bekas Sakit Kronis Pengemis Eks Napi Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak layak Huni Kel. Masalah-masalah tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kemiskinan. Ada beberapa jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang hampir ada di setiap desa. lanjut usia. penyandang cacat. dan rumah tidak layak huni. Beberapa kasus keluarga miskin menunjukkan bahwa mereka menempati rumah yang bukan milik sendiri. keterlantaran. Nunukan kemampuan ekonomi tampaknya cukup besar. misalnya pendidikan keluarga. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin Aji Setabu Kuning 14 22 38 8 10 4 8 47 45 57 31 6 13 7 3 3 9 7 58 346 1 2 38 674 Desa Binalawan 19 37 8 7 27 173 Liang Bunyu 2 5 10 58 11 13 5 30 228 Jml 14 62 18 17 121 183 38 20 8 3 23 461 3 1. umumnya bertempat di rumah yang layak huni.

Oleh karena itu. Oleh karena itu. Masalah Keterbatasan Infrastruktur Sebatik sebagai wilayah yang tergolong daerah tertinggal mempunyai keterbatasan infrastruktur. dan sarana kesehatan. banyak penduduk Sebatik Barat yang masih mengandalkan pengobatannya pada bantuan dukun melalui cara-cara tradisional. 2. penyediaan air bersih. coklat. dan kopi. Prasarana dan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Barat saat ini hanya ada dua puskesmas. Hambatan yang dialami untuk memperoleh pendapatan tinggi dari sektor pertanian. kasus komoditi kopi yang pernah memberikan penghasilan cukup besar. seperti sarana perhubungan. namun dengan berkurangnya dan bahkan berhentinya permintaan kopi dari negara tetangga menjadikan harga kopi anjlok. Dampaknya adalah sebagian besar mereka membabat kebun kopi untuk diganti dengan tanaman lainnya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. sarana pendidikan. Sumber laut Sebatik (perikanan) sebenarnya cukup memberikan harapan. namun penduduk setempat masih menggunakan perahu tradisional ukuran kecil dan dengan peralatan yang sederhana. Menurut penduduk Sebatik. yakni satu Puskesmas di Desa Setabu dan satu Puskesmas di Desa Aji Kuning. petani hampir tidak pernah dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. tapi dengan konsekuensi harus menjual tangkapannya kepada mereka. terutama kurangnya posisi tawar dengan konsumen di negara tetangga. Dengan demikian. Beberapa nelayan memperoleh peralatan dan modal dari penduduk negara tetangga. Tatamba Puslitbang Kesos 13 . menghasilkan komoditi pertanian yang cukup besar seperti pisang. Nunukan Hal yang menguntungkan bagi masyarakat Sebatik adalah kondisi tanah yang relatif subur. penduduk mengalami hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang ada. atau membiarkan kebun kopinya tidak terurus. dengan jumlah dokter masing-masing satu orang. sehingga kalah bersaing dengan nelayan dari negara tetangga. komunikasi. yang dalam bahasa daerah/lokal disebut tatamba. Bahkan terkesan sulit memperoleh ikan dari pasar lokal. selama peneliti ada di lokasi tidak melihat adanya hasil laut yang berlimpah di pasar/warung lokal. Hal ini merupakan permasalahan sendiri bagi penduduk Sebatik Barat dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat.

Sarana jalan darat yang ada di Sebatik. Untuk itu. misalnya pengobatannya dengan cara mengunyah pucuk daun jambu dan nangka. cabe rawit. 2. 3. Menurut mereka si sakit sembuh karena izin dari Allah. 4. butuh (kemaluan) tupai. merebus akar alang-alang. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No 1. Sebagian jalan-jalan di Sebatik terutama pada musim penghujan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. termasuk masalah pengangkutan hasil pertanian/perkebunan penduduk. Sumber air bersih utama masyarakat saat ini adalah air hujan. jumlah sarana angkutan umum yang ada masih terbatas dan dengan biaya yang cukup mahal. Nunukan juga merupakan kebiasaan adat (ritual) pengobatan bagi penduduk yang terkena bisa ular. lalu diminum. dan dekat dengan laut menyebabkan kualitas air tanah maupun air pemukaan sangat rendah. yakni mobilitas penduduk antar desa/kecamatan sangat terbatas. 14 Puslitbang Kesos . sumber air bersih yang ada meskipun rendah kualitasnya adalah sumur umum dekat sungai yang mulai mengering. penduduk Sebatik mengalami permasalahan dalam penyediaan air bersih. Oleh karena itu. Sehingga pada musim kemarau penduduk mengalami kekurangan air bersih. Sementara itu. Jalan aspal baru mencapai jarak sekitar 2 km di Desa Setabu (ibukota kecamatan). Tabel 3. tenung yaitu cara penyembuhannya disembur dengan air putih yang sudah diberi doa. 6. Kondisi seperti itu menjadi permasalahan tersendiri bagi penduduk Sebatik. sedikit sumber air. Jenis Fasilitas Puskesmas Polindes Posyandu Dokter Perawat/Mantri Bidan Dukun Desa Setabu 1 4 1 5 3 2 Aji Kuning 1 4 1 1 Binalawan 1 3 9 Liang Bunyu 1 4 1 1 7 Jml 2 2 15 2 6 5 18 Kondisi tanah yang berbukit-bukit.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. 7. Beberapa cara tradisional lainnya masih sering dilakukan penduduk. penduduk harus mengangkut air dari sumber tersebut bagi kebutuhan rumahtangganya. Saat tidak ada hujan. 5. baik jalan antar kecamatan maupun antar desa sebagian besar berupa jalan darurat (jalan tanah dan pasir batu).

Oleh karena itu.000. dari segi pendidikan penduduk Sebatik Barat sebagian besar rendah (hanya mencapai tingkat Sekolah Dasar.. Saat ini sekolah lanjutan atas baru ada di Kecamatan Sebatik Timur.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. 10. Untuk wilayah Sebatik Barat. 4. Jenis Fasilitas Pendidikan TPA Sekolah Dasar SLTP Kejar Paket A. beberapa desa hanya mempunyai sekolah sampai SD. Kondisi seperti ini menyebabkan banyak penduduk yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah.000.tergantung dari banyaknya penumpang. Jaringan/siaran televisi dan Puslitbang Kesos 15 . Nunukan Saat ini angkutan laut (perahu motor) ke Nunukan tiap hari umumnya hanya dua trip (berangkat pagi dan pulang siang hari). Kepemilikannya juga masih terbatas pada penduduk yang tergolong cukup mampu. 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. Sehingga bagi anak-anak penduduk desa lainnya harus menempuh jarak cukup jauh bila ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP. sekolah lanjutan pertama (SMP) hanya ada dua yakni satu di Desa Setabu dan satu di Desa Aji Kuning. yakni sekolah milik swasta. makin banyak penumpang akan semakin murah biayanya. 20. Sementara ini. B Jumlah Desa Setabu 3 1 1 5 Aji Kuning 1 3 1 5 Binalawan 4 1 5 Liang Bunyu 2 1 2 5 Jml 10 11 2 2 25 Saran komunikasi telepon kabel dan telepon umum di wilayah Sebatik Barat hingga saat ini belum tampak kehadiranya. Sekolah lanjutan atas negeri hanya ada di Nunukan. hanya beberapa anak.s/d Rp. Sarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Nunukan untuk menciptakan sarana perhubungan yang relatif mudah dijangkau masyarakat dan dengan frekuensi yang cukup memadai. Dengan demikian. Tabel 4. 3. baik karena masalah jarak lokasi maupun kemampuannya yang terbatas. Untuk ke Nunukan sekali jalan beaya yang harus ditanggung per orang antara Rp. penduduk banyak menggunakan sarana telepon seluler yang jaringanya masih terbatas. dan dengan jumlah yang terbatas. khususnya dari golongan mampu yang dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 2..

Desa. Kabupaten dan Provinsi. Tujuan kelompok ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Kelompok ini dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa dari pemerintah. Namun demikian masuknya jaringan/siaran televisi asing (negara tetangga) tampaknya tidak bisa dihindarkan mengingat letaknya yang cukup dekat. Masalah Pontensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial merupakan hal yang penting dalam menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. 3. Kecamatan. gotong royong. maka dapat menghambat masuknya informasi nasional dalam kehidupan masyarakat Sebatik. Anggotanya sebagian besar remaja dan beberapa orang dewasa. penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana serta peningkatan gizi keluarga. Kelompok pemuda ini pada umumnya memiliki kegiatan edukatif. dan secara fungsional berada dalam pembinaan Departemen Sosial. dengan usia berkisar antara 19 tahun sampai dengan usaia 40 tahun. tabungan. menimbang balita. Tujuan kelompok ini adalah peningkatan kesejahteraan keluarga melalui berbagai kegiatan seperti arisan. ekonomis produktif dan 16 Puslitbang Kesos . Kelompok ini dibentuk atas prakarsa pemerintah. Jenis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mencakup kelompok/lembaga sosial dan perorangan dapat dijelaskan seperti berikut: • Perkumpulan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Nunukan radio sebagian sudah dapat ditangkap penduduk meskipun masih terbatas. Dusun. simpan pinjam.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Kelompok ini merupakan organisasi pemuda pada tingkat lokal. • PKK. Inisiasi pembentukan Karang Taruna oleh masyarakat. Bila siaran televisi Indonesia tidak lebih kuat. • Karang Taruna/kelompok pemuda. Lembaga ini mempunyai jangkauan wilayah berjenjang dari tingkat Rukun Tetangga. kelompok ini beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang memiliki anak balita. beranggotakan kaum wanita terutama ibu rumahtangga. Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan balita. dan usaha ekonomis produktif. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ini dapat berwujud lembaga sosial maupun individu-individu yang peduli terhadap usaha-usaha kesejahteraan sosial.

• Pengajian/majlis taklim dibentuk oleh masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi kaum muslim. bertanam sehingga diperoleh peningkatan hasil pertanian. • Kelompok Tani dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa pemerintah dalam upaya peningkatan hasil pertanian. misalnya pada upacara pernikahan dan peringatan hari-hari besar nasional. kelompok maupun bersama dalam wadah lembaga sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungannya. Mereka bekerja secara mandiri. umumnya beranggotakan sejumlah Kepala Keluarga dari etnis tertentu. Kelompok ini beranggotakan para petani dan memiliki kegiatan mulai dari pengolahan tanah. Arisan ini digunakan sebagai sarana tukar informasi dan saling memberikan pemikiran tentang permasalahan yang dihadapi anggota. Kegiatan kesenian tradisional yang terkenal adalah tarian “Jepin” yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. • Kelompok kesenian terdiri dari sekumpulan warga masyarakat yang mempunyai minat dan bakat dibidang kesenian baik itu kesenian tradisional maupun modern. Namun demikian kondisi saat ini sebagian besar tampaknya kurang aktif.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. merupakan individu-individu yang berasal dari masyarakat setempat. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi dengan warga masyarakat setempat menunjukkan bahwa kondisi PSM dan KT di Sebatik Barat Puslitbang Kesos 17 . Kelompok ini dibentuk masyarakat merupakan wadah silaturahmi. • Arisan keluarga. Pembentukannya oleh inisiatif pemerintah dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial. Nunukan rekreatif. Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat setempat. Kelompok ini memiliki kegiatan latihan rutin dan pentas untuk mengisi acara permintaan atau acaraacara tertentu. Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan pengajian dan pembinaan mental keagamaan. • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat.

adalah upaya pemberdayaan keluarga 18 Puslitbang Kesos . Saat ini tampaknya PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial lepas dari perhatian Kantor Sosial setempat. Pembinaan terhadap kelompok-kelompok sosial masyarakat di Kabupaten Nunukan dapat dikatakan masih sangat rendah. dan minimnya sumber dana maupun informasi yang mereka miliki. Penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kecamatan Sebatik Barat saat ini masih kekurangan sumber yang dapat diakses oleh mereka. Hal ini antara lain disebabkan kondisi SDM yang relatif rendah (sebagian besar pendidikan SD). Apalagi panti-panti rehabilitasi sosial atau lembaga rehabiliasi sosial lainnya bagi penyandang cacat saat ini belum ada di wilayah Kabupaten Nunukan. Sehingga banyak penyandang masalah yang tidak memperoleh pelayanan yang memadai. terutama karena faktor lokasi yang sulit dijangkau dan dukungan lainnya yang masih terbatas. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam kegiatan pembinaan. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Beberapa upaya pemerintah yang masuk ke Sebatik berdasarkan informasi tokoh-tokoh setempat. dapat dikatakan bahwa permasalahan sosial yang ada erat kaitannya dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Upaya yang Telah Dilakukan Bila memperhatikan data PMKS seperti telah dikemukakan sebelumnya. upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat akan selalu terkait dengan upaya peningkatan dari segi ekonomi atau pendapatan penduduk. Sementara itu organisasi-organisasi sosial yang ada di Kabupaten Nunukan belum menjangkau wilayah Sebatik. Oleh karena itu. Nunukan saat ini dapat dikatakan kurang aktif lagi. Hal ini menurut mereka disebabkan kurangnya bantuan dan pembinaan dari pemerintah terhadap sumber-sumber tadi. Organisasi-organisasi sosial lokal saat ini mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Panti-panti sosial yang ada di Kabupaten Nunukan jumlah maupun jangkauannya masih terbatas.

seperti kelompok kematian. seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Karang Taruna (KT) saat ini kurang aktif melaksanakan fungsinya. arisan. Masih minimnya infrastruktur yang ada. Namun demikian masih sangat terbatas kualitas maupun jangkauannya. Hal ini antara lain disebabkan kurang/tidak adanya pembinaan secara rutin dari penyelenggara program/kegiatan. dan keterlantaran. Nunukan miskin berupa bantuan stimulan ekonomi produktif melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan perbaikan rumah penduduk. Masalah kesejahteraan sosial umumnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. dan akses pada pendidikan yang lebih tinggi terbatas. menjadikan wilayah ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. menjadikan mobilitas penduduk antar desa/ kecamatan sangat terbatas. Hingga saat ini belum terlihat peran LSM/Orsos dalam usaha kesejahteraan sosial. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Dari hasil observasi tampaknya KUBE tersebut tidak lagi terlihat kegiatannya. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. misalnya peranserta LSM/ Orsos dan peran pemerintah pusat maupun daerah. Masalah-masalah ini sebenarnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. pendidikan. wanita rawan sosial ekonomi. Masalah kesejahteraan sosial yang cukup menonjol adalah kemiskinan. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial setempat. dan kelompok-kelompok yang berbasis RT. transportasi dan komunikasi. Hal ini antara lain karena kurangnya pembinaan dari pemerintah setempat terhadap sumber-sumber tersebut. terutama sarana air bersih. Kesimpulan dan Saran Program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Tampaknya penanggulangan masalah kesejahteraan sosial di Sebatik Barat masih memerlukan campur tangan dari luar. PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial tampaknya lepas dari perhatian Puslitbang Kesos 19 . Upaya penduduk sendiri untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial dilakukan melalui kelompok-kelompok yang mereka bentuk. masalah rumah tidak layak huni.

Program-program sektor sosial yang diperlukan adalah upaya pemberdayaan penduduk miskin. Mengingat keterbatasan lembaga pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. c. Guna memacu kemajuan kehidupan masyarakat Sebatik. pemerintah daerah setempat perlu secara berkesinambungan melakukan pembaharuan data permasalahan kesejahteraan sosial. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. antara lain: a. d. khususnya pendidikan formal diperlukan sarana pendidikan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. terutama sarana pendidikan. maka diperlukan program-program yang terpadu antar instansi (Dinas-Dinas). buku-buku pelajaran dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak terlantar. agar dengan demikian pemerintah daerah akan selalu mempunyai data yang akurat dan up to date bagi perencanaan pembangunan. perbaikan lingkungan dan perumahan. antara lain lembaga pelayanan dalam bentuk panti rehabilitasi sosial. 20 Puslitbang Kesos . dan transportasi/perhubungan dalam pulau dan antar pulau. Sejalan dengan upaya ini. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Diharapkan dengan mudahnya akses pendidikan dan transportasi/perhubungan bagi penduduk akan mempunyai dampak terhadap peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat. diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. serta peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal agar mampu berperan dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial. maka perlu dipertimbangkan oleh pusat maupun pemerintah daerah (Instansi Sosial) untuk mendirikan pantipanti rehabilitasi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. komunikasi. b. Nunukan pemerintah setempat. Organisasi-organisasi sosial lokal mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Untuk itu.

Wilayah Sebatik yang berbatasan langsung dengan negara lain. 2002. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. Jakarta. 2002. Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2002. Monografi Kecamatan Sebatik Rudito. 1991. Untuk itu. 2004. 1990. Dengan demikian. Rineke Cipta. 2005. Taliziduhu. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. mempunyai posisi strategis terhadap kesatuan wilayah NKRI. Pembangunan Masyarakat. diharapkan tidak lagi menjadi daerah tertinggal dan menjadi salah satu daerah perbatasan yang dapat diandalkan Pemerintah RI. Bandung. BPS. baik fisik maupun non fisik. Nunukan e. Bandung. STKS Press Kecamatan Sebatik Barat. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Nunukan dengan BPS Kabupaten Nunukan. Departemen Sosial. Bambang dkk.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Ndraha. Nunukan. Profesi Pekerja Sosial. maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu lebih ekstra membangun wilayah yang bersangkutan. Dwi Heru Sukoco. Pusdatin. Puslitbang Kesos 21 . ICSD. Jakarta. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.

14. Rumah Tidak layak Huni Kel. atap dari daun atau dari seng tapi rusak. Jumlah 14 2. anak usia 15 – 21 tahun. janda. dan kurang atau tidak terpenuhi kebutuhannya secara memadai. lantai tidak sempurna/lantai kayu banyak yang rusak.113 22 Puslitbang Kesos . keluarga dengan penghasilan tidak tetap. seperti stroke. 5. katarak dsb. telah selesai menjalani hukuman karena pelanggaran lalu lintas. anak usia 6 – 21 tahun. Nunukan Lampiran 1 Jenis PMKS dan Kriteria Menurut Masyarakat Lokal di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. anak-anak atau dewasa. mengalami hambatan dalam beraktivitas. banyak yang bolong. cacat bawaan atau karena kecelakaan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. menderita cacat karena bawaan atau kecelakaan. tidak produktif lagi. orang dewasa. Anak Nakal 18 4. usia produktif. pendidikan keluarga paling tinggi SD. anak usia 6 – 12 tahun. 20 8 10. keluarga dengan penghasilan tetap. Penyandang Cacat Cacat Bekas sakit Kronis Pengemis 38 8. laki-laki atau perempuan usia 60 tahun ke atas. tergantung pada bantuan orang lain. kurang harmonis. orangtua tidak mampu secara ekonomi. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin 461 3 1. 9. tidak mampu membiayai pendidikan anak. rumah darurat atau kondisinya kurang sempurna. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar 17 121 6. sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Anak Terlantar 62 3. 11. berasal dari keluarga kurang mampu. cacat akibat penyakit. 13. biasanya terkait dengan masalah-masalah ekonomi. wanita. 183 7. sering menggunakan obat-obat terlarang. mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas seharihari. sering mengkonsumsi alkohol. suami isteri sering bertengkar. orang dewasa. mempunyai tanggungan anak usia sekolah. kondisi ekonomi kurang mampu. tidak mempunyai pekerjaan tetap. orang dewasa. hanya mampu mendapatkan pendidikan sampai SD. Dinding tidak sempurna. Eks Napi Keluarga Fakir Miskin 3 23 12. 1. Jenis PMKS Balita Terlantar Kriteria anak usia 0 – 5 tahun. hanya mampu membiayai pendidikan anak pada tingkat SD. dan kurang sehat. hidupnya tergantung dari bantuan orang lain. yatim atau yatim piatu. dan mengganggu orang lain/lingkungan. keluarga kurang mampu memberikan pelayanan. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarga. tidak punya pekerjaan tetap.

Nunukan Lampiran 2 PETA WILAYAH 1.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Peta Wilayah Desa Aji Kuning 2. Peta Wilayah Desa Binalawan Puslitbang Kesos 23 .

Peta Wilayah Desa Liang Bunyu 24 Puslitbang Kesos . Peta Wilayah Desa Setabu 4.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan 3.

Upaya penyediaan database tersebut. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa permasalahan sosial yang paling menonjol adalah masalah fakir miskin (kemiskinan). Kriteria permasalahan sosial serta potensi.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH1 Dra. Endang Kironosasi. dilakukan melalui penelitian kerjasama antara Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial . masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. MSc. Peneliti Muda pada Puslitbang Kessos. serta masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak. Dampak dari pemekaran tersebut. Badiklit Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos 25 . yang dapat dijadikan acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. salah satunya adalah dengan menyediakan data dasar (database) yang akurat dan reliable tentang permasalahan sosial serta sumberdaya. Pemerintah Daerah berupaya menata kembali sistem administrasi wilayahnya. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. selain juga anak terlantar. Moch.Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2006 lalu. Kata kunci: Permasalahan Sosial 1 2 Tulisan ini diangkat dari penelitian Diagnosis Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah.Departemen Sosial RI dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau .Si. Dra. M. Kabupaten ini dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Indah Huruswati. diungkapkan dalam hasil penelitian ini berdasarkan pandangan masyarakat lokal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka miliki. keluarga rentan dan keluarga berumah tidak layak huni. Penelitian dilakukan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang dipilih berdasarkan keragaman masalah sosial dan potensi yang dimiliki. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten ini dapat terwujud secara tepat sasaran dan tepat guna. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. Syawie. Indah Huruswati 2 ABSTRAK Kabupaten Pulang Pisau merupakan sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas yang diresmikan pada tahun 1999. dengan tim penelitian Drs.

ekonomi dan alam yang bercirikan masyarakat lokal.22 tahun 1999 (yang diperbaharui menjadi UndangUndang No. terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa wilayah yang semula merupakan kecamatan berubah menjadi kabupaten karena dianggap telah memenuhi persyaratan administrasi. 32 tahun 2002) tentang Pemerintahan Daerah. Kabupaten Pulang Pisau dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. Dalam kaitan dengan penataan kembali wilayah pemekaran ini tentunya memerlukan data dasar (database) yang akurat dan reliable sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program pembangunan di wilayah tersebut. sumber daya sosial. tentunya akan berpengaruh pada program pusat yang dampaknya tidak mampu mengakomodir kebutuhan daerah. Terkait dengan Pemerintah Pusat. Dampak dari pemekaran tersebut. Pulang Pisau Pendahuluan Sejak dicanangkannya otonomi daerah yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang No. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial dan sumber kesejahteraan sosial sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan yang 26 Puslitbang Kesos . Akibat lebih lanjut adalah pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat tidak dapat sepenuhnya terjangkau. sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya serta dapat berlangsung secara berkesinambungan. Sementara itu data dasar (database) mengenai permasalahan sosial serta peta sumberdaya yang ada di wilayah yang bersangkutan belum dimiliki oleh Pemerintah Daerah setempat. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak serta permasalahan lainnya. dengan kurangnya data dan peta permasalahan sosial. Tentunya berdampak pada perubahan status administrasi pada wilayah-wilayah tersebut. Pulang Pisau yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Kapuas menjadi kabupaten baru (pemekaran). kewilayahan dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam dan ekonomi. Padahal segala permasalahan sosial dapat diatasi secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliable.

ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Program kesejahteraan sosial apa saja yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Pulang Pisau? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya data kualitatif tentang jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Tersedianya data yang akurat dan reliable akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial – Departemen Sosial RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . ekonomi dan alam sebagai data dasar di lokasi penelitian. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Bagaimana kriteria dan karakteristik penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. sehingga menjadi rentan terhadap masalah Puslitbang Kesos 27 . Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: • • • Apa dan bagaimana jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. Berdasarkan permasalahan tersebut. Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. ekonomi dan alam di lokasi penelitian.Kalimantan Tengah melakukan Penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial ini. (3) diperolehnya gambaran mengenai lokasi dan peta penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. dan (4) diperolehnya gambaran tentang programprogram penanggulangan permasalahan sosial yang pernah dilaksanakan di lokasi penelitian. Pulang Pisau terarah dan komprehensif. (2) diperolehnya data kualitatif tentang kriteria dan karakteristik penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi. sebagai langkah awal upaya identifikasi sekaligus menemukenali secara lebih dalam permasalahan yang dihadapi daerah. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna.

Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alam. Penyakit yang dimaksud di sini adalah permasalahan sosial yang ada di masyarakat. sumber daya manusia. dicatat dan dianalisa. Kesimpulan yang didapat melalui proses ini dikenali sebagai diagnosis. 1985) Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut. gotong royong dan sebagainya. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. (2) data sekunder yaitu literatur. politik. Untuk mempertahankan kehidupannya. ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat (Dove. Metode Penelitian Penelitian diagnostik yang dilakukan merupakan proses mengenal pasti penyakit melalui tanda penyakit. kesenian. bisa termasuk intervensi pemerintah. Diharapkan dengan pendekatan ini diperoleh suatu gambaran bagaimana pelaku dalam komuniti memandang dan memahami gejala sosial yang tampak. digunakan pendekatan kualitatif yang tujuannya adalah untuk memahami kondisi serta pemahaman sekelompok orang dalam satu kelompok sosial. yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental. kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi. Untuk mengenal pasti permasalahan sosial yang ada. lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. Dalam kaitannya dengan faktor eksternal. dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. diobservasi. Pulang Pisau kesejahteraan sosial. Sumber data terdiri dari : (1) data primer yaitu perorangan atau individu. simptom dan hasil pelbagai langkah diagnostik. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi pemecahan masalah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Sedangkan 28 Puslitbang Kesos . keagamaan. kelompok. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian.

Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang menjadi lokasi penelitian ini. Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pulang mempunyai wilayah seluas 8. Sementara itu. diskusi. baik dari jenis kelamin maupun jenis pekerjaan yang ada. Pulang Pisau pengumpulan informasi dilakukan selain melalui pengamatan (observasi). Kalimantan Tengah. terutama pada sektor kehutanan dan sektor lain seperti pertanian dan peternakan yang turut menyumbang potensi cukup besar sejak dari tingkat desa. Kabupaten ini meliputi 8 wilayah kecamatan. Sasaran penelitian adalah penduduk yang menetap di daerah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. baik yang tergolong sebagai penduduk lokal yang terdiri dari sukubangsa Puslitbang Kesos 29 . khususnya di Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. penyandang masalah sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Sebagian kecamatan Maliku sebelum ada pemekaran merupakan bagian dari kecamatan Pandih Batu.300 hektar). 83 desa definitif. penelusuran dokumen dan bahan-bahan visual. dengan waktu tempuh sekitar 4 – 6 jam. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau. dan 1 kelurahan. jarak dari desa-desa ke ibukota Kecamatan antara 7 km sampai 30 km yang dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten) maupun jalan air (Sungai Kahayan) dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat. juga wawancara. lokasi. dimana komposisi penduduknya berasal dari ragam sukubangsa dan agama. kriteria penduduk sebagai penyandang masalah sosial. sebagian wilayahnya terdiri dari lahan gambut (277.700 ha. Secara umum wilayah Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang lumayan besar.997 km² atau 899. berjarak paling jauh sekitar 56 km sampai 75 km dari Ibukota Kabupaten. Karakteristik penduduk di dua kecamatan memiliki sifat heterogen.

Pendidikan warga masyarakat di wilayah ini pada umumnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Akhirnya keluarga mereka menjadi terlantar. terutama para penduduk asli. Begitupun dengan pola pemukiman penduduk umumnya relatif sama yaitu mengelompok di tengah lahan wilayah desa. dan umumnya didirikan di tepi jalan dibuat sejajar atau mengikuti aliran sungai. Diagnosis Permasalahan Sosial Berdasarkan hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua Kecamatan ditemukenali sejumlah permasalahan sosial yang ada yaitu 14 permasalahan sosial untuk Kecamatan Pandih Batu dan 19 permasalahan sosial untuk Kecamatan Maliku. Kondisi ini disebabkan karena sebagian warga desa (laki-laki) yang sudah menikah dalam usia muda. dengan atap ada yang menggunakan genteng dan daun kelapa atau rumbia. demikian halnya dengan lahan yang mereka miliki juga menjadi terlantar sehingga membawa akibat pada kerentanan dan kemiskinan. Namun memperhatikan data yang ada di kecamatan ini tampaknya relatif banyak warga masyarakat yang belum/tidak bekerja. yaitu terkonsentrasi di tepi sungai dan cabang-cabangnya. Rumah mereka umumnya dibuat dari kayu atau papan. meninggalkan desa dengan alasan mencari nafkah di tempat lain. Masalah lain yang juga relatif tinggi yaitu masalah rumah tidak layak huni dan wanita rawan sosial-ekonomi serta keluarga rentan. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Mereka lebih memilih pergi merantau ke Kota Palangkaraya untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi penambang emas di Kereng Pangi. tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat SLTP dan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA terpaksa harus pergi keluar dari desanya. karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di wilayah ini. Keluarga-keluarga yang 30 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Mata pencaharian warga masyarakat sebagian besar sebagai petani. Jawa dan Sunda. Pulang Pisau Dayak dan Banjar maupun penduduk pendatang yang terdiri dari sukubangsa Madura. Berdasarkan urutan permasalahan yang paling tinggi frekwensinya yaitu masalah yang terkait dengan kemiskinan – yaitu masalah keluarga fakir miskin.

di Desa Pangkoh Sari terdapat lahan tidur seluas 400 ha dan di Desa Talio Muara terdapat lahan tidur seluas 391 ha. Potensi konflik antara sukubangsa menjadi semakin rawan karena pernah terjadi peristiwa konflik antara sukubangsa Dayak dan Banjar (melayu) dengan sukubangsa Madura sekitar buan Maret tahun 2001. Kondisi lingkungan turut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. maka mereka akhirnya tidak bisa memperoleh penghasilan. Puslitbang Kesos 31 . Lahan tersebut belum tergarap sebagai akibat keterbatasan SDM. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan tidak dapat secara optimal dikelola dan dimanfaatkan. pada satu sisi merupakan potensi. bahkan fisik. Namun karena keterbatasan dari kaum perempuan untuk bisa mengolah lahan. baik karena keterbatasan SDM maupun teknologi yang mereka miliki. mereka menjadi rawan secara sosial-ekonomi. baik dari segi jumlah dan penguasaan teknologi. Karakteristik masyarakat yang bermukim di dua kecamatan ini terdiri dari beragam sukubangsa dan agama. Misalnya beberapa desa di Kecamatan Pandih Batu yaitu Desa Pantik terdapat lahan tidur seluas 970 ha. walaupun kondisi ini tetap harus diwaspadai melalui kebijakan atau kegiatan-kegiatan yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara “penduduk lokal” (Dayak dan Banjar) dengan “penduduk pendatang” yang terdiri dari para transmigran umum maupun swakarsa yang terdiri dari Madura. Keluarga-keluarga tersebut akhirnya menjadi rentan untuk masuk ke dalam kemiskinan dan bagi ibu-ibu. Anak-anak menjadi berhenti sekolah pada usia wajib belajar 9 tahun dan mereka tidak mendapatkan makanan bergizi. karena ibunya (orangtua) tidak mempunyai uang untuk membeli makanan bergizi. Pulang Pisau ditinggalkan oleh para kepala keluarga terpaksa harus berusaha mencari nafkah sendiri atau ikut dengan orang tua mereka. Saat ini hubungan sosial diantara mereka yang pernah terlibat konflik relatif sudah berangsur membaik. yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan aksesibilitas antar desa dengan desa lainnya atau antar desa dengan kecamatan. tetapi pada sisi yang lain potensial menimbulkan kerawanan konflik sosial. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa dengan tidak meratanya distribusi penduduk antar desa di dua Kecamatan. karena orang tua tidak mampu memberikan kebutuhan dasar mereka.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Jawa dan Sunda. Sifat multi-etnik (heterogen) yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat. Hal ini berdampak juga terhadap anak-anak mereka yang cenderung menjadi terlantar.

Adanya tanah pertanian yang tidak digarap dan kegagalan upaya masyarakat memanfaatkan lahan tidur merupakan akibat pembangunan infrastruktur 32 Puslitbang Kesos . diperlukan banyak program dan kegiatan yang dapat mengakomodasi berbagai keragaman kepentingan. Tenaga dokter pun hanya satu dengan 15 tenaga medis lainnya (perawat dan bidan). Program dan kegiatan yang dikembangkan melalui pemanfaatan potensi keswadayaan masyarakat (gotong-royong) menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan. Kondisi geografis dan alam yang demikian belum dilengkapi dengan sarana-prasarana transportasi yang memadai. Pembangunan infrastruktur fisik perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur sosial yang baik. Sementara alat perhubungan (transportasi) antar desa maupun desa ke kecamatan relatif sulit dan mahal.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Membangun kapasitas salah satunya adalah melalui pendidikan formal. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak biasanya terkendala oleh faktor kemiskinan yang menyebabkan anak menjadi putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. sehingga diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat. Melalui potensi keswadayaan masyarakat itu sendiri di samping strategis juga memiliki nilai pemberdayaan dalam rangka proses memandirikan masyarakat untuk membantu dirinya sendiri. sementara penghasilan rumah tangga relatif rendah. Tanpa itu. Aksesibilitas masyarakat dalam beraktivitas. misalnya untuk Kecamatan Pandih Batu tersedia satu unit Puskesmas yang tidak dilengkapi Puskesmas Pembantu di tingkat desa. sehingga melalui suatu proses tertentu keragaman karakteristik penduduk dapat saling bersinergi untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera. Keterbatasan sarana-prasarana transportasi menyebabkan harga kebutuhan pokok sehari-hari relatif tinggi. baik aktivitas sosial maupun ekonomi masih menjadi kendala. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya menjadi tidak optimal. Pulang Pisau Sementara itu bila melihat dukungan masyarakat terhadap program pembangunan seharusnya juga melihat kesiapan mereka dalam hal kemampuan mengelola dan memanfaatkannya. Masalah keterbatasan juga terjadi pada sarana pelayanan kesehatan. Hal ini terutama menjadi kendala terhadap aksesibilitas antar desa maupun antara desa ke ibukota kecamatan. Tampaknya dengan melihat kondisi yang ada. maka mereka cenderung memanfaatkan infrastruktur fisik yang ada untuk memudahkan mereka pergi mencari nafkah ke luar daerahnya. yaitu sekolah. Dengan demikian.

Dalam hal ini sudah tentu pihak Pemerintah berperan penting untuk memfasilitasi. permodalan maupun aspek teknologi tepat guna. walaupun sebagian besar ternak sapi kini sudah mati akibat terkena wabah penyakit. Askeskin atau pun BLT-BBM. yaitu program bantuan untuk anak terlantar. Pulang Pisau sosial-ekonomi belum dilakukan sesuai harapan masyarakat. Apapun alasannya. Penerima Raskin yang seharusnya bisa menikmati beras enak dengan harga murah terpaksa harus menjual berasnya itu ke pasar atau ke tetangga hanya untuk membiayai SPP anaknya yang masih sekolah tetapi tidak memperoleh beasiswa berupa dana Bantuan Khusus Murid (BKM) atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS). regulasi. Upaya meningkatkan kesejahteraan sosial diperlukan suatu perencanaan sosial yang baik.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Pembinaan dan pelatihan dilakukan pula kepada beberapa jenis penyandang masalah sosial untuk meningkatkan keterampilan (anyaman) dan bantuan lainnya berbentuk bantuan kursi roda bagi penyandang cacat dan bantuan ternak sapi kepada lansia terlantar. keluarga rentan. penyandang cacat akibat penyakit kronis serta program bantuan bagi anaknya. Seperti penerima BLTBBM karena tidak memperoleh Askeskin. wanita rawan sosial. baik dari aspek kebijakan. Penyandang permasalahan sosial seperti fakir miskin yang cacat karena penyakit kronis (diabetes) dan memiliki beberapa anak yang tidak terawat karena masalah keterbatasan ekonomi seharusnya memperoleh program bantuan sebagai fakir miskin. Dinas Sosial Puslitbang Kesos 33 . Dinas Sosial dan Dinas terkait lainnya telah melakukan upaya penanganan permasalahan sosial melalui pendataan terhadap rumah tak layak huni. remaja nakal dan lahan tidur. keluarga miskin atau fakir miskin tidak secara merata memperoleh bantuan Raskin. Seharusnya setiap keluarga miskin/fakir miskin memperoleh beragam program bantuan. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan alasan bahwa alokasi bantuan kurang sesuai dengan jumlah keluarga miskin atau fakir miskin yang ada. maka program bantuan yang ada menjadi kurang efektif. Mencermati pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan upaya penanganan permasalahan sosial yang ada menunjukkan bahwa sasaran program kurang tepat. maka dana BLT yang diperolehnya dan seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa digunakan untuk berobat. Perencanaan akan berjalan baik bila dilengkapi dan didasari data yang akurat. Di Kecamatan Pandih Batu.

khususnya yang berada di Desa Kantan Muara berjumlah sekitar 96 unit dan di Desa Pangkoh Sari bahkan baru dalam proses pendataan. Permasalahan sosial yang belum ditangani dengan upaya-upaya tertentu adalah masalah rumah tak layak huni. 34 Puslitbang Kesos . Anak Yatim/Piatu. Di samping perbedaan kriteria. Wanita Rawan Sosial. Anak Cacat. Sementara itu. Remaja Nakal. termasuk permasalahan sosial bagi penyandang cacat akibat penyakit kronis. tampaknya dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua kecamatan masih terlihat perbedaan dalam menentukan usia anak dan remaja. Fakir Miskin. Dinas Kesehatan juga membantu memberikan pelayanan kesehatan melalui kegiatan Posling dan Posyandu kepada anak-anak terlantar. Keluarga Rentan dan sebagainya). Anak Balita Terlantar.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Lansia Terlantar. Pulang Pisau melakukan program bantuan untuk Komunitas Adat Terpencil yang ada di Desa Talio melalui program pemberantasan buta aksara. akan tetapi pelaksanaannya masih terkendala oleh kekurangan modal dan kurang kompaknya warga masyarakat. penanganan lahan tidur sudah dilakukan melalui musyawarah desa maupun sosialisasi. Demikian pula keluarga rentan yang sampai saat ini masih dalam proses pendataan. penajaman kriteria menjadi sangat penting. Berkaitan dengan penggunaan kriteria untuk menggolongkan jenis penyandang masalah sosial (Anak Terlantar. Penyandang Cacat.

2. yaitu antara 4 x 4 m atau 4 x 6 meter dan umumnya tidak memiliki penyekat ruangan. Penghasilan kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 3. 5. 1. Usia antara 16 tahun sampai 60 tahun. lantainya masih beralaskan tanah. 1. 4. Hidup sendiri atau bersama kerabat/non kerabat. 4. dinding dari seng atau kayu rapuh dengan lantai tanah atau papan (jenis rumah panggung). Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan buruk. Kepadatan hunian yang cukup tinggi (rumah ukuran 4 x 4 m dihuni lebih dari 5 orang). JENIS PMKS Fakir Miskin KRITERIA 1. sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Lansia Terlantar Puslitbang Kesos 35 . 1. 3. tetapi kurang diperhatikan/perawatan dari sanakkeluarganya. tidak memiliki jendela. 3. Usia di atas 61 tahun. Kondisi rumah / fisik bangunannya tidak layak ditempati (seperti bangunannya bocor. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 2. Penghasilan kecil. 2. baik karena alasan ekonomi maupun alasan non-ekonomi. dan lain-lain). bahkan tidak ada sama sekali. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 2. 3. 5. Bahan atap dari daun. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut. Banyak anak/tanggungan yang belum bekerja. ukuran rumah 4 x 4 m dengan anggota keluarga lebih dari 5 orang. Ukuran bangunan rumah relatif kecil. 2. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Rumah Tidak Layak Huni 3. Tingkat produktifitas KK rendah. Wanita Rawan Sosial 4. baik dengan orangtua/mertua/ kerabatan lainnya. Bangunan rumah tidak dilengkapi fasilitas MCK. Penghasilan kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. baik dengan orangtua/mertua/ kerabat lainnya. Status janda ditinggal mati suami atau status belum menikah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 4. Pengangguran atau tidak ada pekerjaan/penghasilan sama sekali. 1. Pulang Pisau Tabel 1. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamatan Pandih Batu No. 5.

2. 2. 2. Lahan tidur 36 Puslitbang Kesos . Kurang perawatan orangtua karena kurang mampu secara ekonomi. 3. 2. keterbelakangan mental). Penyandang Cacat Fisik/ Mental akibat Penyakit Kronis Anak Terlantar 11. Fungsi jasmani dan sosial terganggu. Usia 13 – 1 6 tahun. Lahan ditinggal pemilik tanpa ada yang mengurus. 3. 10. Masyarakatnya masih amat terikat dengan sumberdaya alam dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Usia di atas 18 tahun 1. Usia nikah sudah 10 tahun dan masih menumpang orangtua/mertua (ada di Desa Gadabung). Anak Balita Terlantar Usia 0 – 4 tahun. 1. Usia 5 – 12 tahun dan ada pula yang menetapkan 5 – 18 tahun. pendidikan dan kesehatan. Remaja Nakal 14. Kurang gizi dan kondisi sering sakit. 2. Adanya kelainan fisik/mental akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir (bisu-tuli. Lahan tidak digarap pemilik lebih dari 15 tahun.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Usia antara 5 tahun sampai 16 tahun. 3. 3. Orangtua tergolong kurang mampu secara ekonomi. Kurang pergaulan dan komunikasi 1. 3. 1. khususnya ada di Desa Pantik 1. Perilaku mengganggu lingkungan atau membuat resah lingkungan. Komunitas Adat Terpencil (KAT) 13. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan 1. Keluarga Rentan 7. kaki pincang. 2. Keluarga muda yang baru menikah sampai 5 tahun dan kurang serasi (ada di Desa Kantan Muara). Usia 5 – 12 tahun. Mantan penderita penyakit kronis yang dinyatakan secara medis telah sembuh. 3. Kurang perawatan/perhatian orangtua. 4. 2. Berasal dari keluarga tidak mampu. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau paspasan untuk memenuhi kebutuhan seharihari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan. 1. 2. 3. 2. 4. Memiliki kelainan fisik dan mental. Memiliki kelainan fisik atau mental saja 1. Lokasi kesatuan fisik dan sosial yang terpencil. Ditinggal orangtua/satu atau kedua orangtua meninggal. Anak Yatim Piatu 8. 1. 4. Kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam satu kesatuan fisik dan sosial yang relatif kecil. Keterbelakangan ekonomi. Pulang Pisau 5. Penyandang Cacat Fisik/ Mental 9. 2. Memiliki cacat fisik/mental akibat penyakitnya itu 1. Anak Cacat 12. 3. 6. sehingga menghambat perekonomian/produktivitas pertanian.

laki-laki/ perempuan). kebiasaan tidak berbeda dengan orang dari lokasi lain. Remaja Laki-laki Nakal Remaja Perempuan Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Kekerasan Penyandang Cacat Tuna Susila 13. Sudah menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar. kurang perawatan dari orang tua/keluarga luas (laki-laki / perempuan) 5 – 13 tahun. Individu sejak lahir mengalami kelainan fisik dan mental serta karena penyakit kronik. kebiasaan). 10. transportasi hanya dari sungai. pendatang yang mencari kerja di suatu tempat tidak memperoleh yang diharapkan dan menjadi masalah di tempat tersebut. dinding dari jabuk (papan lapuk). ekonomi. Keluarga Fakir Miskin 15. 60 tahun ke atas. Kelompok orang yang jauh dari keramaian. 16 – 60 tahun. Orang yang selesai menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat (stigma sama tetapi perlakuan berbeda terhadap pelaku perampokan dan menabrak orang sampai meninggal karena tidak sengaja). 8. 0 – 13 tahun. belum menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar baik jasmani ataupun rohani. tempat tinggal. 14 – 18 tahun. tidak terlalu diperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan dasar oleh orang tua/keluarga luas. sering begadang. terganggu dalam aktifitasnya. 4. Keluarga Berumah Tidak Layak Komunitas Adat Terpencil 17. atap bocor. 9. Kelompok orang yang tinggal di daerah secara fisik dan mental tertekan oleh proses alam dan sosial. lantai tanah. 7. baik barang maupun jasa. 16 – 60 tahun. 16. 1. termasuk untuk kebutuhan pangan. 5. Hubungan sex dengan lawan jenis berulang-ulang tanpa menikah dan tidak mengharapkan imbalan. Rumah ukuran kurang dari 4 x 4 m. 2. Bekas Narapidana 14. 3. dan pendidikan (jumlahnya paling besar). perilaku mengganggu kebiasaan umum (tetapi tidak masalah karena masih anak-anak. 18. penghasilan tidak mencukupi. Masyarakat yang Tinggal di daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar 19. pakaian. 11. JENIS PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal KRITERIA 0 – 4 tahun. fisik tidak normal. 12.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. dirampas hak-haknya (tergantung lokal). Keluarga yang banyak masalah (sosial. Pulang Pisau Tabel 2. 5 – 13 tahun. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamata Maliku No. mental tidak normal. kesehatan. 6. Keluarga Rentan Puslitbang Kesos 37 . Merantau. perilaku mengganggu dan dipermasalahkan. 14 – 18 tahun. Mempunyai pekerjaan tapi tidak tetap. disakiti secara fisik dan mental.

Sementara untuk saat ini. Permasalahan lain yang ada. Hambatan ini menyebabkan relatif banyak lahan (lahan tidur) yang tidak dapat diolah oleh masyarakat (petani). sarana transportasi yang utama di wilayah ini adalah sungai. belum diupayakan penanganannya melalui program pemberdayaan secara maksimal dan berkesinambungan. transportasi ini relatif mahal khususnya bagi warga masyarakat yang akan menjangkau wilayah lain maupun untuk memasarkan hasil pertanian dan perkebunan mereka (dalam bidang pertanian). sarana transportasi dan hambatan dalam upaya pengolahan lahan. Sementara kondisi ekonomi keluarga menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemiskinan ini antara lain juga sebagai dampak dari gagalnya proyek lahan gambut (sejuta hektar lahan gambut). Hambatan tersebut antara lain terkait dengan infrastruktur. Program bantuan bagi keluarga miskin yang tidak seluruhnya mendapat bantuan dan yang sifatnya hanya sesaat merupakan program yang klise tetapi terus berlangsung. mengingat bahwa lokasi ini merupakan lokasi transmigrasi. Hampir di seluruh desa masalah kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh warga masyarakat. Permasalahan lain adalah keterbatasan sarana pendidikan dan transportasi yang dimiliki daerah. berkaitan dengan infrastruktur jalan. Demikian pula halnya dengan akses untuk mendapatkan 38 Puslitbang Kesos . Hal ini tentunya memerlukan komitmen dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama baik antara pemerintah dan masyarakat serta melakukan program pemberdayaan secara berkesinambungan. yang paling menonjol adalah terkait dengan kemiskinan. rumah tidak layak huni serta Wanita Rawan Sosial Ekonomi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Pulang Pisau Kesimpulan dan Saran Masalah yang menjadi prioritas mendapat perhatian adalah masalah fakir miskin dan keluarga miskin. Kondisi kemiskinan terkait dengan keterbatasan atau hambatanhambatan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Masalah kemiskinan yang merupakan masalah terbesar di wilayah ini. sehingga masyarakat harus menjangkaunya keluar desa atau kecamatan. Prasarana jalan ini dianggap penting karena dapat memudahkan pemasaran hasil pertanian yang sangat potensial bagi masyarakat setempat. Melihat kondisi permasalahan tersebut.

Peningkatan kesejahteraan ini tampaknya tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat namun masih diperlukan peran Pemerintah Daerah setempat. Prasarana jalan dan saluran irigasi 2. Perumahan dan Permukiman membangun prasarana jalan. sumberdaya yang masih dimiliki adalah adanya rasa kebersamaan di antara warga masyarakat. Sementara pada sisi lain. saluran irigasi dan penyediaan perumahan sosial bagi warga masyarakat miskin. guna membangun wilayah ini secara ber-kesinambungan. Kerjasama dalam bentuk tolong menolong atau gotong royong serta semangat untuk mengolah lahan secara maksimal merupakan pranata yang dapat dijadikan sumberdaya sosial dari warga masyarakat di wilayah ini untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Dinas Teknis seperti Pekerjaan Umum. diajukan saran-saran sebagai berikut: 1. Puslitbang Kesos 39 . Mengingat lahan di wilayah ini dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman jika saja ada kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga masyarakat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. meskipun memiliki keterbatasan modal usaha namun masyarakat masih memiliki modal sosial berupa rasa kebersamaan atau tolong menolong dan semangat membangun atau mengembangkan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Lahan kosong yang dimiliki oleh sebagian warga. Pulang Pisau pelayanan kesehatan. Sumberdaya alam yang potensial berupa lahan yang luas dan sumberdaya sosial yang dimiliki warga masyarakat (keterampilan dalam bidang pertanian dan beternak serta masih adanya rasa kebersamaan/tolong menolong) bisa merupakan modal utama dalam membangun masyarakat setempat. merupakan masalah lain yang dihadapi oleh warga masyarakat karena sarana kesehatan (Puskesmas) hanya ada di Kecamatan dan Rumah Sakit Umum di provinsi. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar Dinas-Dinas Provinsi maupun Kabupaten. Keterbatasan dalam hal penyediaan sarana pengolah lahan dan bibit tanaman merupakan salah satu hambatan dimana lahan yang luas akhirnya hanya menjadi lahan tidur. Berdasarkan kesimpulan tersebut. bisa menjadi sumberdaya alam yang potensial jika diolah dengan baik. karena mereka merasa sebagai orang perantauan (transmigran). Dengan kata lain. dalam upaya mengatasi kemiskinan yang dihadapi.

dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat. Anak Terlantar.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Dinas Koperasi dan UKM diperlukan sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi kredit usaha kecil bagi para petani khususnya terkait dengan keterbatasan modal usaha mereka dalam mengolah lahan pertanian atau mengembangkan usaha peternakan mereka. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. perlu dilakukan sosialisasi pengolahan tanah yang berkesinambungan di tingkat daerah. Selain itu. Direktorat Pemberdayaan Keluarga. sehingga pemberdayaan dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat desa. Peternakan. Perkebunan. dapat berperan melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama dan berkesinambungan. mengingat lahan yang digarap di wilayah ini berbeda dengan lahan di Jawa. palawija serta karet. Demikian pula halnya dengan Dinas Sosial. dan Lanjut Usia Terlantar. Dinas Sosial melalui Direktorat Fakir Miskin. 6. 3. perlu meningkatkan kesejahteraan melalui program perlindungan dan asuransi sosial bagi keluarga miskin. 5. Direktorat Lanjut Usia. Penyandang Cacat (termasuk Anak Cacat). Hal ini sangat diperlukan mengingat hasil diagnosis permasalahan sosial di wilayah ini menunjukkan permasalahan sosial yang menonjol adalah masalah Kemiskinan (keluarga fakir miskin). Program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa diperlukan secara bersama-sama dan berkesinambungan. Misalnya program Puslitbang Kesos 4. Dinas Kesehatan diperlukan berkaitan dengan penyediaan air bersih. Rumah tidak Layak Huni. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak. Pulang Pisau sangat penting dan diperlukan oleh wilayah ini untuk membangun ekonomi masyarakat. 40 . Kehutanan. Keluarga Rentan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sangat diperlukan untuk meluncurkan program mereka ke wilayah ini. tidak sebagian-sebagian dan sesaat saja. Berkaitan dengan hal tersebut maka Dinas Pertanian. Hal ini seharusnya didukung dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah ini. Mereka siap untuk memanfaatkan sumberdaya alam (lahan) yang ada namun mereka sangat memerlukan stimulan berupa peralatan pengolah lahan dan penyediaan bibit padi. Masyarakat desa memiliki kemampuan yang potensial dalam hal pertanian dan peternakan.

Pulang Pisau dalam Angka tahun 2005. Tjilik. Pusaka Lima. 2006. Bantuan ini tidak berhenti sesaat. Merantau menjadi pilihan pemuda karena mereka tidak lagi mempunyai pengetahuan kedaerahan. Riwut. Sosialisasi pendidikan kedaerahan bagi anak-anak di tingkat desa. 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). karena anak-anak perlu banyak diberi pengetahuan tentang daerahnya untuk membangun desa mereka. Yayasan Obor Indonesia. baik bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan bantuan beasiswa sekolah (BOS) serta asuransi kesehatan bagi keluarga yang bersangkutan maupun jaminan sosial bagi keluarga tersebut. Palangkaraya. Program bantuan atau pemberdayaan bagi keluarga miskin sebaiknya diberikan untuk seluruh keluarga yang bersangkutan. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau. tetapi harus lebih bersifat kesinambungan. Puslitbang Kesos 41 . (ed). Dove. dianggap sangat penting. 2003 Maneser Panatau Tatu Hiang. 1985 Peranan Kebudayaan Tradisional di Indonesia dalam Modernisasi. maka orientasi masa depan anak-anak akan cenderung memilih pergi ke kota. DAFTAR PUSTAKA BPS. Bukan pengetahuan perkotaan atau pengetahuan tingkat nasional yang diberikan. Bila yang terjadi hal demikian. Pulang Pisau 7.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. M. Kerjasama BPS dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pulang Pisau. Jakarta. dimana alat tersebut dapat dikelola secara bersamasama oleh seluruh warga masyarakat. pemberdayaan keluarga miskin tidak disarankan untuk memberikan bantuan tunai berupa uang namun diberikan dalam bentuk barang seperti traktor.R.

.

Anggota: Dra. Drs. Kata kunci: Pranata Sosial.Kom Bambang Pudjianto. Bambang Pudjianto. Di sisi lain.Si. M. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. Potensi dan Sumber Daya. Karena itu.Si 2 ABSTRAK Pemerintah daerah pada umumnya lebih mengutamakan pembangunan fisik dan ekonomi di wilayahnya daripada pembangunan kesejahteraan sosial. Sekretariat: Dini Khairunnisa. utamanya bagi warga masyarakat menengah-bawah. penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa jenis permasalahan sosial yang bermuara pada masalah kemiskinan. Namun kedua hal tersebut sangat terkait dengan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat setempat.Sutaat. Analisis Kebutuhan Bidang Program Puslitbang Kesos dan Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. sosial. yaitu agar digunakan strategi yang berprinsip pada partisipasi masyarakat dengan bersinergi pada peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber lokal. Namun dengan berbagai potansi ekonomi. pedoman FGD.PETA MASALAH SOSIAL DI BONE: POTENSI. pada praktiknya jaringan sosial tidaklah begitu saja menciptakan modal fisik dan modal finansial. Suyanto. dan alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam. M. M. M. dan kultural yang dimilikinya. Masalah Sosial 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota Tim : Konsultan Drs. namun sulit untuk mengakses peluang dan sumber daya melalui jaringan-jaringan yang ada (mainstream). Kasub Bid. Dra. dan peta wilayah Hasil penelitian dapat diketahui. S. DR Bambang Rudito. Drs.Si. Bambang Pudjianto. pranata pendidikan. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Dalam konteks penelitian ini banyak warga masyarakat yang memiliki pertalian-pertalian sosial yang kuat. pertalian-pertalian sosial yang ada di tingkat lokal tidak secara langsung mampu memberikan manfaat ekonomis (tingkat kesejahteraan yang lebih baik). Indah Huruswati. pranata kesehatan. Rondang Siahaan. Akibatnya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah yang baru dimekarkan adalah masalah infrastruktur dan pembangunan ekonomi. Endang Kironosasi. PROBLEM DAN STRATEGI PENANGANANNYA1 Drs. Ketua Tim : Drs. bahwa di wilayah lokasi penelitian telah memiliki potensi sumber kessos berupa. penting untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut. pranata sosial. serta pranata jaringan kerja. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 43 .

Salomekko. Tanah yang digarap para petani tidak hanya menghasilkan padi. Dua Boccoe.go. terutama padi. Bahkan tahun 2002 produksi kacang tanah (13. selalu surplus. Bengo. Tahun 2002 Bone menghasilkan 517. masyarakat Bone yang didominasi oleh suku Bugis tersohor bukan hanya sebagai pelaut dan pedagang yang tangguh. Hampir setiap kecamatan menjadi penghasil padi.id Lihat “Kabupaten Bone dalam Angka tahun 2003” diterbitkan BPS Kabupaten Bone Tahun 2004. Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan.4 Produksi tanaman bahan makanan. Awangpone.Bone. 44 Puslitbang Kesos . Sibulue. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2003/2004. 2006. handal dan produktif.Peta Masalah Sosial di Bone Pendahuluan Potret Kesejahteraan di Tengah Kelimpahan Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Sedangkan tahun 2003. Barebbo. pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroeri Bontoala. pertengahan abad ke-17 (Abddurazak dkk. melainkan juga petani yang ulet.4 persen adalah warga suku Bugis. Ajangale.5 Hasil yang menonjol dari perkebunan adalah tebu. Pada masa itu. kacang tanah dan kedelai juga berlimpah. dan Cina. Data sensus penduduk tahun 2003 menunjukkan bahwa 72. sebesar 97. Dari jumlah itu. melainkan juga di kawasan timur Indonesia.760 ton) merupakan produksi tertinggi di Sulsel. kacang hijau. Produksi jagung. dan cengkeh. WWW. ubi kayu. kemiri. Tonra.000 ton. 3 4 5 lihat profil Bone yang dirilis dalam situs resmi Kabupaten Bone. Etos kerja yang tinggi dan sistem pertanian yang baik membuat Bone di kenal sebagai lumbung padi. kelapa. Sentra penghasil padi berada di Kecamatan Kahu. Kerajaan Bone yang didirikan oleh Manurung Rimatajang pada tahun 1330.2 persen penduduk Bone berusia 15 tahun ke atas bekerja dan hidup dari sektor pertanian. Bahkan bukan hanya di Sulawesi Selatan. Produksi 84. meningkat mendekati 560.3 Cermin kemasyhuran warga Bone dan suku Bugis khususnya dibidang pertanian masih terlihat sampai sekarang. 1989:9).159 hektar perkebunan rakyat ikut memperkuat peran sektor pertanian.535 ton padi.906 ton) dan kedelai (8. kakao. menurut estimasi Dinas Pertanian Kabupaten Bone. jambu mete.

dibawah 65 tahun. Ibid Puslitbang Kesos 45 .7% (yang seharusnya di atas 80-90%).7 Meskipun Bone menjadi daerah sentra penghasil bahan makanan. Yakni ditunjukkan dengan angka partisipasi bidang pendidikan yaitu hanya 60.1%.449 ha merupakan lahan persawahan.3 persen.052 ha lahan perkebunan. 120.559 km persegi luas Kabupaten Bone. Survey ini menyimpulkan bahwa Human Development Index (HDI) warga Bone tergolong rendah. para petani yang notabene menjadi aktor utama produksi dan merupakan mayoritas penduduk Bone justru tidak bisa menikmati keuntungan yang memadai. Sementara itu life expectation juga rendah. Yang merupakan 65 persen total kegiatan daerah. Akibatnya taraf hidup masyarakat Bone terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan berproduksi yang mereka miliki. mencapai 27%. dalam mata rantai perdagangan hasil pertanian. Tahun 2002 nilainya mencapai Rp 2. Dominannya sektor pertanian di Bone juga tercermin dari luas wilayah Kabupaten Bone yang sebagian besar merupakan lahan persawahan dan tegalan.2 trilyun.524 ha lahan tegalan/ladang.073 ha merupakan hutan. dari 4.6 Pertanian telah menjadi tiang utama kegiatan ekonomi Bone. Tanaman bahan makanan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah.148 ha lahan untuk tambak/empang dan 145. Data BPS tahun 2002 menyebutkan. 88. Partispasi jender dalam ekonomi juga masih sangat terbatas.atau lihat juga Laporan BPS-Bappenas-UNDP tentang “The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia” tahun 2004 Ibid.7 dan 66. dan 43.8 6 7 8 Laporan Litbang Kompas. 22/10/2002. Tidak sulit untuk mendapatkan petani Bone yang terlilit hutang para tengkulak. dimana wanita bekerja yang berpendapatan hanya 28. Segelintir spekulan dan tengkulak yang menguasai jalur perdagangan yang justru selama ini meraup untung besar. ‘Hanya’ 11. dengan balita penderita gizi buruk yang cukup tinggi.Peta Masalah Sosial di Bone Tebu merupakan bahan baku gula Pabrik Gula Bone dan Pabrik Gula Camming di Kabupaten Bone. Rendahnya taraf hidup masyarakat Bone terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh BPS-UNDP pada tahun 2004. Angka itu lebih kecil dibanding tahun 1999 dan 2000 yang mencapai 67.

jangan terkaget jika tanpa upaya dan strategi yang tepat dalam mengatasinya. 10 di antaranya memiliki garis pantai sepanjang 127 kilometer. Artinya. yaitu sebuah potret buram (kemiskinan) di tengah kelimpahan. selain unggul di sektor pertanian. kontribusi sektor perikanan juga tak kalah produktifnya. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gejala yang muncul akibat fakta sosial yang dijelaskan di atas. Karena itu. ekonomi dan alam di Kabupaten Bone memberi solusi atas permasalahan penyandang masalah sosial yang timbul akibat timpangnya strategi pembangunan dengan penguatan sumber daya lokal selama ini. bagaimanakah gambaran tentang potensi dan sumberdaya sosial. Lebih memprihatinkan lagi karena Bone sejak tahun 2000-an. jika tidak dimanage secara benar.Peta Masalah Sosial di Bone Data-data tersebut di atas jelas sangat memprihatinkan (terlebih pada kasus bayi penderita gizi buruk). kasus pada sektor pertanian tidak mustahil berulang pada sektor perikanan dan sektor perekonomian lainnya. 46 Puslitbang Kesos . Ini jelas potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. Namun sebaliknya. sektor perikanan telah menyumbang 9.2 persen pendapatan daerah. Hal ini ditunjang oleh letak geografisnya. mengingat posisi Bone sebagai sentra penghasil padi di Sulsel.7 persen. maka meletusnya berbagai permasalahan sosial hanya tinggal menunggu waktu saja. yaitu dari 27 kecamatan di kabupaten Bone. Pada tahun 1997 misalnya. dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 16.

Kabupaten Bone Kerangka Fikir Kelemahan mendasar dari pembenahan struktur perekonomian kita di tengah masa krisis (baik regional dan nasional) dinilai oleh banyak kalangan adalah karena diabaikannya variabel kondisi sosial-ekonomi sebagai bagian dari penyebab krisis. Puslitbang Kesos 47 .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 1 : Peta Kota Watampone. dan (7) ketimpangan pembangunan diri manusia Indonesia di lapisan masyarakat bawah. 2001:309. (2) ketimpangan antara kelompok pengusaha besar-kecil. Diantaranya untuk konteks penelitian ini terlihat pada masalah ketimpangan pembangunan SDM khususnya masyarakat lapisan paling bawah. (6) ketimpangan antara ekonomi perkotaan dan pedesaan. Chaniago. Lihat Adrinof A.9 Artinya. bertambahnya keluarga miskin yang diikuti kemudian dengan meningkatnya kuantitas dan kompleksitas permasalahan sosial besar kemungkinan adalah akibat dari ketidakselarasan antara strategi pembangunan kesejahteraan dengan strategi pembangunan ekonomi dalam 9 Ketimpangan pembangunan masa Orde Baru terjadi dalam bentuk-bentuk: (1) ketimpangan antar golongan ekonomi masyarakat. (3) ketimpangan antar wilayah. (5) ketimpangan laju ekonomi antar sektor. (4) ketimpangan antar subwilayah di daerah yang pertumbuhan ekonominya tinggi.

2001:316). (3) pengembangan. rebaknya anak jalanan dan terlantar.Chaniago. 48 Puslitbang Kesos . Untuk ukuran tertentu. 2005: 36. dan seterusnya Terpaan krisis ekonomi dan dilanjutkan dengan perubahan orientasi sosial-politik pembangunan nasional melalui bergulirnya masa transisi yang disebut “era reformasi” tak pelak juga telah memunculkan kembali apresiasi masyarakat lokal yang (tak lain adalah kelompok masyarakat lapisan menengah-bawah) terbagi-bagi dalam wilayah kesukubangsaan berusaha menciptakan akses terhadap sumber daya yang ada di wilayah kesukubangsaannya. ditujukan untuk memfungsikan kembali dan memantapkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. program-program intervensionis10 dari pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah diakui menunjukkan kemajuan dalam beberapa indikator keberhasilan di bidang kesejahteraan. mereka berusaha sekuat tenaga membangun kembali sisa-sisa warisan kejayaan masa lalu dari sukubangsanya demi untuk turut bagian dalam sistem pencaharian ekonomi di era ini (Rudito. Akan tetapi tingkat kesejahteraan tersebut di sisi lain tidak serta merta dapat menjamin kemampuan dan kualitas hidup mereka secara lebih baik. ancaman eksploitasi seksual komersiil. Bahkan komuniti-komuniti yang pada awalnya telah atau hampir “terkubur” di era Orde Baru. yaitu: (1) prevensi ditujukan untuk mencegah timbul dan meluasnya permaslahan kesejahteraan sosial dalam kehidupan masyarakat. hampir semua golongan lapisan bawah dipastikan tidak mampu “bertahan” di masa krisis tersebut. 10 Fungsi intervensi sosial. ditujukan untuk pemeliharaan dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan potensi dirinya.Peta Masalah Sosial di Bone praktik. dan usia tingkat harapan hidup semakin panjang. 2005:23). bahwasanya masalah kemiskinan dan rawan sosial-ekonomi adalah karena lemahnya ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat (modal sosial) golongan menengah-bawah dalam menghadapi guncangan besar arus krisis (Adrinof A. Pasalnya ketika arus krisis mendera pelbagai wilayah di Indonesia (1998. perdagangan obat-obatan terlarang. Dengan bahasa lain. misalnya dengan penjelasan angka pendapatan perkapita penduduk yang terus mengalami kenaikan. menurunnya kadar asupan gizi dan tingkat kesehatan (cacat). Akibatnya pengangguran semakin bertambah cepat. angka kematian bayi semakin dapat ditekan. jumlah keluarga fakir miskin meningkat. Lihat Bambang Rudito dkk. (2) rehabilitasi.sekarang). tidak terkecuali masyarakat di wilayah kajian ini. menurunnya jumlah angka orang buta huruf.

kecamatan atau kabupaten yang umumnya para staf pemerintah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengelola aset desa/kecamatan dan dana pendapatan desa/kecamatan dengan baik. surat edaran menteri ini masih semata bersifat “himbauan” yang jarang (sulit) implementasinya dilakukan di lapangan secara tuntas. serta terus mengupayakan perbaikan kualitas SDM lapisan menengah-bawah. Dalam lintasan sejarahnya. Karena itu penting memper-timbangkan konteks representasi identitas. Misalnya dengan melakukan participatory budgeting forum sebagaimana diamanatkan dalam SE Mendagri No. Oleh karenanya. kecenderungan untuk menolak transparansi dan partisipasi sangat besar. maka sepatutya dicarikan alternatif langkah-langkah dan strategi penanganan yang tidak sepenuhnya menggantungkan pada anggaran pemerintah. 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (Rakorbang Partisipatif). serta pemerataan pembangunan di setiap kewilayahan. obyektif dan lebih berdaya-guna maksimal bagi kebutuhan riil warga masyarakatnya. kita akan mengulang kembali kesalahan model pembangunan masa lalu yang pada akhirnya akan melahirkan tipe-tipe ketimpangan ekonomi. Salah satu kekhwatiran yang mengancam adalah kegagalan mengangkat kualitas hidup penduduk yang mayoritas bekerja di sektor tradisional (seperti pertanian dan peternakan). Yakni menjadikan sumber ekonomi sektor tradisional sebagai kekuatan potensial yang dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial mereka secara proporsional. Namun. sekalipun desa tidak memilik aset yang cukup untuk melakukan pembangunan. atau dalam bahasa lain sumber daya perekonomian di wilayahnya. Praktiknya. lagi-lagi pedekatan seperti ini terbentur oleh masalah internal pemerintah desa. Puslitbang Kesos 49 . suku-bangsa di Bone terkenal gigih dalam menjaga wilayah teritorialnya. golongan. Berhadapan dengan kondisi faktual tersebut. Jika tidak. sistem kehidupan lokal.Peta Masalah Sosial di Bone Karena itu kini hendaknya pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan perlu memperhatikan secara serius variabel pelapisan masyarakat baik secara sosial-ekonomi dan antar wilayah. sosial dan politik “versi terbaru”. Padahal dengan penganggaran keuangan daerah secara partisipatif memungkinkan penanganan pelbagai masalah sosial dan pembangunan daerah dapat lebih terarah. memperkecil ketimpangan ekonomi antar sektor.

id/pariwisata. Sigeri dan makam raja-raja Bone di kelurahan Bukaka juga dapat menjadi objek pariwisata potensial. posisi kecamatan yang tepat berada di tengah Kabupaten Bone memberikan keuntungan berupa infrastruktur pemerintahan dan layanan publik yang relatif lebih baik jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya. Tak berlebihan kiranya. Tidak mengherankan jika di kecamatan ini pula terdapat cagar budaya berupa makan raja-raja bone. Secara historis-kultural.Peta Masalah Sosial di Bone Potensi dan Masalah Tanete Riattang : Sebuah Analisa Sosial Di bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Bone.php 50 Puslitbang Kesos . Kekayaan warisan kultural seperti rumah adat Bugis (Bola Somba) di Kelurahan Watampone. Dari sejumlah kelurahan di kecamatan ini. jika kecamatan ini disebut sebagai ‘pewaris sah’ kebudayaan Kerajaan Bone pada abad pertengahan. dalam http://www. Tanete Riattang juga menempati posisi istimewa di Bone. kecamatan Tanete Riattang memiliki keistimewaan tersendiri. Dengan lahan yang subur. Kelurahan-kelurahan tersebut merupakan kelurahan di wilayah pinggiran kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk relatif rendah. Akibatnya. Posisi geografis Tanete Riattang yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan juga membuat kecamatan ini menjadi tujuan bagi warga Bone di wilayah pinggiran untuk mengadu peruntungan. diversifikasi mata pencaharian penduduk terjadi dalam porsi yang relatif berimbang. Tanete Riattang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. dan Walennae sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Posisi geografis yang strategis dan warisan kultural yang kaya membuat Tanete Riattang menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar untuk didayagunakan menjadi keunggulan wilayah.bone. pertanian 11 Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. Ta’. Museum Saoraja Lapawawoi Kr. berbagai peninggalan dan artefak budaya Kerajaan Bone dan sebuah museum penting yang menyimpan warisan budaya kebesaran Kerajaan Bone dahulu kala. Kelurahan Manurungge dan Watampone yang dapat dibilang sebagai ‘epicentrum’ Kabupaten Bone merupakan bagian sentral dari perekonomian Tanete Riattang khususnya. Secara geografis. karena pusat Kerajaan Bone pada masa silam terletak di kecamatan ini. tiga diantaranya yakni Kelurahan Pappolo.go. dan Bone umumnya.11 Hanya di Tanete Riattang. secara demografis.

PKK (28 buah). BPS Kabupaten Bone. Selain sektor pertanian. Kecamatan Tanete Riattang memiliki berbagai pranata yang dapat digunakan sebagai modal bagi peningkatan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. Beberapa pranata yang telah tersedia di Tanete Riattang antara lain. Bukaka dan Manurungge. berbeda halnya dengan Watampone yang lebih mengandalkan sektor jasa (administrasi) dan pariwisata. 2005. sektor pertanian bukanlah mata pencaharian utama penduduknya. di tiga kelurahan yakni Watampone. Tidak terdapat rumah saki di Tanete Riattang. namun jarak dengan RS kabupaten sangat dekat. 2006. pranata sosial14. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. arisan keluarga (17 buah). pranata kesehatan15. karang taruna (6 buah). LPM/BPD (8 buah) dan jimpitan (11 buah). 78 perawat. dasawisma (39 buah). Terdapat 2 puskesmas dan 24 posyandu. jasa dan industri.Peta Masalah Sosial di Bone di tiga wilayah kelurahan ini berkembang dengan baik. Terdapat 6 jenis pranata sosial. siskamling (28 buah). lihat BPS Kabupaten Bone. saat ini Kecamatan Tanete Riattang juga tengah mengembangkan sektor peternakan sebagai bagian dari keunggulan wilayah. Kecamatan Tanete Riattang juga menyimpan potensi-potensi sosial strategis lainnya. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2004/2005. pranata pendidikan13. Karena penanganan yang setengah-setengah hanya akan membuat permasalahan sosial yang muncul semakin banyak dan bukan tidak mungkin menjadi semakin kompleks. SD/ MI 34 buah. 16 bidan dan 8 dukun/ pengobat tradisional. 2005. sosial dan cultural yang dimilikinya. 2005. TPA/TK 25 buah. Terdapat 74 lembaga pendidikan di Tanete Riattang dengan perincian. Kecamatan Tanete Riattang yang tergolong wilayah ‘perkotaan’ juga tak lepas dari berbagai permasalahan sosial. serta pranata hubungan dan jaringan kerja yang baik dan mapan. yakni. sapi dan kambing. 20 dokter. Puslitbang Kesos 51 . Namun dengan berbagai potensi ekonomi. namun berbagai persoalan yang ada tetap membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. BPS Kabupaten Bone. 12 13 14 15 Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. SMP/MTs 7 buah dan Perguruan Tinggi 4 buah. Sebagai wilayah yang tergolong ‘perkotaan’. Kelurahan Bukaka dan Manurungge bergerak pada perekonomian sektor industri. Beberapa jenis hewan ternak yang menjadi favorit untuk dikembangkan di wilayah ini adalah antara lain ayam buras. Walaupun tidak sangat kompleks.12 Dengan berbagai potensi ekonomi tersebut. Sementara itu.

3% (111 kasus) masalah rumah tidak layak huni.6% (512 kasus) masalah wanita rawan sosial ekonomi.1% diantaranya merupakan masalah sosial berlatar belakang ekonomi. terindikasi 80. lanjut usia terlantar.2% (748 kasus) masalah keluarga fakir miskin. sebesar 19. Celakanya. eks napi. Dari 1520 kasus. Dari sejumlah jenis permasalahan tersebut. cacat bekas penyakit kronis. napza. anak cacat. yaitu dengan perincian 49. Terlebih dana stimulan bantuan sosial yang diharapkan menjadi bagian dari jawaban persoalan. keluarga fakir miskin.Peta Masalah Sosial di Bone Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 12 jenis permasalahan sosial yang terjadi di Tanete Riattang. 52 Puslitbang Kesos . wanita rawan sosial ekonomi. sampai keluarga bermasalah psikologi. anak nakal. Selebihnya. penyandang cacat. ancaman ini secara faktual menjadi lebih besar akibat terbatasnya anggaran belanja daerah bagi upaya penanganan dan penyelesaian pelbagai jenis PMKS tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan. selama ini masih sangat tergantung pada alokasi dana dari pusat dan provinsi. membuat pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa dan cepat menyelesaikan masalah sosial tersebut. rumah tidak layak huni. sosial dan politik bagi proses pembangunan kesejahteraan sosial di Tanete Riattang. masalah sosial yang berlatar belakang ekonomi menunjukkan gejala paling dominan.9% terbagi relatif rata dalam 9 masalah sosial lainnya. 33. sejak dari masalah anak terlantar. dan 7. Berbagai jenis masalah sosial tersebut di atas merupakan bentuk ancaman secara ekonomi.

1992. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran/peta mengenai jenis. 16 16 Lebih lanjut tentang penelitian kualitatif lihat Matthew B Miles & A.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 2. Deskriptif yang dimaksud adalah mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Peta Kecamatan Tanete Riattang. Michael Huberman. kriteria dan lokasi penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara kualitatif di Kabupaten Bone. Puslitbang Kesos 53 . Kabupaten Bone Metode Penelitian Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. “Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru” Jakarta : UI Press. Yakni simbol-simbol penyampaian dan penetapan suatu gejala sosial sebagai kenyataan yang ada di sekeliling masyarakat dan yang dialami oleh anggota masyarakat.

Pendekatan kualitatif yang dimaksudkan disini adalah untuk melakukan pemetaan sosial. lokasi. kriteria penduduk penyandang masalah sosial. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial di Kabupaten Bone. pedoman FGD dan peta wilayah.Peta Masalah Sosial di Bone Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bone Kecamatan Tanete Riantang. baik dilihat dari jenis kelamin. jenis pekerjaan yang ada. pemetaan terhadap pranatapranata sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan menjadikannya suatu aktivitas rutin serta berkesinambungan dilaksanakan oleh masyarakat lokal. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam (indepth interview). Untuk mendeteksi masalah sosial diperlukan suatu pendekatan dan metodologi guna memahami dan memetakan masalah sosial yang terjadi. meskipun bukan berarti tak teratasi. penilaian berdasar pada norma dan aturan yang menjadi acuan bagi komuniti yang mengalaminya. yaitu kategori perorangan atau individu. Kriteria populasi dalam penelitian ini didasarkan pada penduduk yang menetap di daerah ini. kelompok. Sulawesi Selatan. karena masalah sosial adalah masalah perasaan. Penelitian ini pada dasarnya mempunyai tujuan memetakan masalah sosial yang ada dan muncul di masyarakat dan ditanggapi oleh masyarakat itu sendiri sebagai suatu masalah. Selanjutnya dibentuk matrik pemetaan sosial yang menggambarkan permasalahan sosial dan potensi kesejahteraan. Seperti pernah diungkap banyak kajian bahwa menyelesaikan persoalan kemiskinan tergolong sebagai agenda yang berat dan rumit. penerapan strategi 54 Puslitbang Kesos . lalu ditampilkan dalam bentuk tabel. Oleh karenanya. Alternatif Strategi Penanganan Masalah Sosial di Tanete Riattang Masalah pokok dari berbagai jenis permasalahan sosial di Tanete Riattang sebagaimana nampak dalam data di atas adalah persoalan kemiskinan. Data yang berhasil dikumpulkan diolah secara kualitatif. Sumber data terbagi dalam bentuk sumber data primer. yaitu dengan melakukan pendekatan yang sifatnya kualitatif. Sementara sumber data sekunder mencakup literatur.

Dan karenanya. Hasilnya. Bukan hanya itu. berkeyakinan kemiskinan akut yang terjadi di Banglades khususnya daerahdaerah pedesaan akan dapat diatasi jika dapat dilakukan dua hal. transparansi dan partisipasi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. Strategi penanganan kemiskinan di Porto Alegre didasarkan atas dua strategi. Boaventura de Sousa Santos. angka kemiskinan di Porto Alegre menurun drastis karena agenda-agenda utama yang menjadi kepentingan publik seperti pengentasan kemiskinan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. akses terhadap modal bagi rakyat miskin dipermudah. Di Porto Alegre. melalui mekanisme local budgeting forum. korupsi juga menjadi tereliminasi yang membuat tingkat kebocoran anggaran untuk rakyat menjadi kecil. Namun demikian. sebagai pendiri GB dan juga peraih nobel perdamaian 2006. pendidikan sampai budaya. memberikan pinjaman modal bagi kaum papa secara mudah dan tanpa agunan. kaum perempuan diberdayakan sebagai penggerak roda perekonomian mikro. warga juga mempunyai hak untuk turut menentukan alokasi anggaran daerah tersebut. “Participatory Budgeting in Porto Alegre : Toward a Redistributive Democracy” Sage Publication. dan sasaran pemberian pinjaman itu difokuskan kepada kaum perempuan. lebih dari 8000 keluarga yang menjadi nasabah GB terangkat taraf 17 Lihat. Banyak analisa yang menyatakan bahwa kemiskinan dipengaruhi banyak faktor. Yunus melakukan dua hal tersebut. Muhamad Yunus. Kisah sukses beberapa negara atau komunitas dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk ditelaah sebagai pelajaran dan sumber inspirasi. 1998 Puslitbang Kesos 55 . Hasilnya. Selain itu. dalam kasus Tanete Riattang. struktur sosial dan birokrasi yang menindas. setiap warga kota mempunyai hak untuk tahu berapa dan untuk apa anggaran daerah dialokasikan. pertama.Peta Masalah Sosial di Bone yang jitu yang didasarkan atas bacaan yang tepat dan akurat atas data dan realita mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Kedua. Melalui GB.17 Strategi yang diterapkan Grameen Bank (GB) lain lagi. penanganan terhadap masalah ini juga membutuhkan berbagai pendekatan. pelajaran dari Porto Alegre di Brazil dan Grameen Bank di Banglades dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk dijadikan inspirasi. tanpa bermaksud melakukan simplifikasi. sejak dari persoalan ketertutupan akses modal.

Peta Masalah Sosial di Bone perekonomiannya yang berdampak pada naiknya taraf pendidikan dan kesehatannya. efektivitas. fiskal dan agama. akan menjadi roda penggerak ekonomi keluarga yang sangat efektif. khususnya di Tanete Riattang. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (rakorbang partisipatif) membuka peluang bagi terjadinya participatory budgeting.org 56 Puslitbang Kesos . perempuan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dominan menyandang masalah sosial. Oleh sebab itu. ide untuk membuat semacam participatory atau local budgeting forum di tingkat kabupaten ataupun kecamatan mempunyai pijakan hukumnya. Instrumen ini penting bagi pelaksanaan strategi-strategi tersebut di atas. Demokratisasi juga membuat organisasi-organisasi sosial masyarakat sebagai bagian dari civil society tumbuh subur.18 Dua kasus tersebut. permudah akses modal bagi rakyat miskin. Dengan SE ini. hubungan luar negeri. mengajarkan kita setidaknya terdapat empat strategi yang dapat digunakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Tanete Riattang. dengan disahkannya UU Nomor 32 Tahun 2002 memberikan peluang bagi setiap kabupaten/kota melakukan inovasi dan inisiasi dalam pembangunan wilayahnya masing-masing. penerapan strategi pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat dilakukan. Pertanyaannya. masalahnya bukan lagi seberapa mungkin strategi itu dapat 18 Lihat situs resmi Grameen Bank : www. diluar lima hal. yakni melalui transparansi anggaran daerah. Ketiga. Dengan berbagai argumentasi tersebut. termasuk di Kabupaten Bone. daerah (kabupaten/kota) mempunyai kewenangan dan otonomi penuh untuk mengembangkan kreatifitas membangun daerahnya. dan berdayakan perempuan sebagai leading sector penggerak ekonomi rumah tangga.grameen-info. pertahanan keamanan. Padahal jika diberdayakan. Kedua. iklim demokratisasi telah membuka kesadaran masyarakat kita akan pentingnya transparansi. partisipasi (melibatkan masyarakat) dalam penyusunan alokasi anggaran. mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut bacaan saya sangat mungkin! Pertama. efisiensi dan tata kelola pemerintahan yang baik. Keempat. faktanya dari data penyandang masalah sosial tersebut terdahulu. Berdasarkan UU ini.

pola hidup dan pranata sosial yang ada di masyarakat diabaikan. Beberapa program dapat digagas untuk menjalankan berbagai strategi penanganan masalah sosial diantaranya. bina anak terlantar dan tuna susila. Sementara potensi institusi lokal yang bisa dioptimalkan adalah kelompok tani/kelompok usaha yang diharapkan dapat bersinergi dengan KUBE. Untuk potensi sosial Tanete Riattang terutama pada ketersediaan berbagai pranata yang cukup lengkap yang dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam menangani berbagai permasalahan sosial. posyandu. puskesmas dan pengajian yang diharapkan mampu bersinergi dengan dokter dan tenaga medis yang ada serta para tokoh agama. pembinaan penyandang cacat. kultur. Kukesra dan Koperasi. Selanjutnya PKK. perempuan dan petani. Jika nilai. kelompok perempuan rawan sosial-ekonomi.Peta Masalah Sosial di Bone diterapkan. berbagai keunggulan demografis dan geografis juga menjadi modal sosial tersendiri yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kecamatan ini ke depan. industri dan jasa (administrasi). Sebagai cacatan. Potensi ekonomi yang perlu untuk terus dikembangkan di Tanete Riattang terutama berada pada sektor pertanian. Program Mitra Usaha Mandiri yang meliputi program penguatan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. identitas. sosial dan budaya yang cukup strategis untuk dikembangkan. perlu ditegaskan bahwa target sasaran yang perlu diperhatikan untuk program penanganan masalah sosial di Tanete Riattang adalah rumah tangga miskin. dikhawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial. Program Peningkatan Kualitas Layanan Panti dan Program penyediaan database PMKS melalui sejumlah penelitian dan pengkajian. Selain itu. serta anak nakal dan anak terlantar. Disamping tentunya potensi budaya Tanete Riattang berupa berbagai peninggalan Puslitbang Kesos 57 . Kesimpulan Tanete Riattang sebagai salah satu kecamatan utama di Kabupaten Bone memiliki potensi ekonomi. serta karang taruna dan LPM yang menjembatani akses pengambilan keputusan terkait hajat hidup masyarakat di lingkungannya. atau sekurangnya tidak mendapatkan apresiasi masyarakat lokal. Program Kesehatan Terpadu yang meliputi penyuluhan balita sehat. melainkan seberapa kuat kemauan kepala daerah dan pihakpihak terkait melakukannya. ekonomi dan etnik. Bercermin dari lingkup masalah sosial dan berbagai strategi penangannya. termasuk sektor peternakan. strategi program/kegiatan dari pemerintah nantinya selayaknya bersinergi positif dengan pranatapranata sosial yang ada di masyarakat. balita dan anak cacat.

Serta menekan rebaknya spekulan dan para tengkulak (rentenir) yang memainkan “nilai hasil produksi” para petani/usaha kecil lokal. tetapi lebih luas lagi bagaimana menggalang kekuatan untuk mengembangkan jaringan lokal (desa) guna lebih berdaya dan tetap kokoh di tengah derasnya terpaan perubahan global. Dari sejumlah masalah tersebut (12 jenis PMKS). serta organisasi sosial berbasis jender yang meskipun kegiatannya mengalami pergeseran (PKK dan Posyandu) tetapi perannya masih cukup efektif bagi peningkatan kualitas hidup utamanya warga miskin. maka masalah kemiskinan menjadi problem utama dan mendesak yang harus segera ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Peningkatan kualitas SDM para penggiat pranata sosial dan ekonomi melalui pelatihan para pengurus perkumpulan sosial-ekonomi. Mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan perempuan melalui bantuan stimulan yang digulirkan secara proporsional dan merata. budaya dan seterusnya sebagai wadah edukasi. partisipasi. Selain itu. Puslitbang Kesos 2. politik. 1. mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan pemberdayaan perempuan. Selain memiliki berbagai potensi unggulan. tampaknya tergesernya fungsi dan rapuhnya peran jaringan pranata sosial-ekonomi semakin memperburuk ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. 3. agar digunakan strategi yang berprinsip pada transparansi. disamping disebabkan oleh kebijakan internal yang tidak kondusif bagi penguatan perekonomian lokal. Tanete Riattang tidak lepas dari sejumlah permasalahan sosial yang patut untuk segera ditangani. perlu dilakukan peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal melalui.Peta Masalah Sosial di Bone budaya Kerajaan Bone yang dulu memang berlokasi di kawasan Tanete Riattang. Membentuk kelompok jaringan atau forum bersama antar kelompok sosial. organisasi sosial berbasis okupasi (mata pencaharian pokok di tingkat lokal) yang umumnya cukup eksis di wilayah ini. ekonomi. 58 . termasuk menjadi embrio bagi terbentuknya semacam local budgeting forum. tukar informasi. Ditilik dari diterminan kemiskinan. Dengan demikian sebenarnya penguatan ketahanan sosial ekonomi tidak cukup dengan menemukan apa saja modal sosial yang ada. Karena itu penting untuk menangani berbagai masalah tersebut utamanya masalah kemiskinan. pendidikan.

April 2000. dalam http://www.mapl. “Peta Permasalahan Sosial di Kabupaten Sebatik”. tentang The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia.htm. 2001. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone. Pengawasan secara berkesinambungan baik dari pemerintah daerah. Deepa Narayan. Bambang dkk. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. dalam http:// www. BPS (Statistic Indonesia)-Bappenas-UNDP.php Rudito.htm. 2003..com. Christiaan Grootaert.go.” The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank.” Australian Institute of Family Studies.” Current Sociology. “Measuring Social Capital: An Integrated Questionnaire.bone. Litbang Depsos RI. Vol. provinsi dan pusat. dan Michael Woolcock. Tim Crescent IPB.mapl. Working Paper No. Ian Winter. 2004. March 2001.au/A13. Jakarta: LP3ES.au/A13. Veronica Nyhan Jones. 2005. Lihat http://www. Cassidy. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. “A Dimensional Approach to Measuring Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory. “Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia”. 2005. maupun kalangan masyarakat untuk menjamin terlaksananya program sesuai dengan maksud dan tujuannya. Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. Puslitbang Kesos 59 . November. Deepa Narayan and Michael F. dalam http://www. 49(2).Peta Masalah Sosial di Bone 4.com. 2003. 2003.au/A13. DAFTAR PUSTAKA Adrinof A.com. “Towards a theorized understanding of family life and social capital.htm.mapl. Chaniago. 21. Kabupaten Bone Dalam Angka.id/ pariwisata.

Kecamatan Tanete Riattang Gambar 4. Kecamatan Tanete Riattang 60 Puslitbang Kesos . Kelurahan Walannae. Kelurahan Pappolo.Peta Masalah Sosial di Bone Lampiran Gambar 3.

Kelurahan Manurungnge. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 61 .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 5. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 6. Kelurahan Bukaka.

Kecamatan Tanete Riattang Gambar 8. Kelurahan Ta. Kelurahan Watampone. Kecamatan Tanete Riattang 62 Puslitbang Kesos .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 7.

Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 9. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 10. Kelurahan Masumpu. Kelurahan Biru. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 63 .

.

Ahendy Priatna. Agus Dairo Beke. dan keluarga rentan. Kelurahan Komasi. misalnya fakir miskin. perlu penanganan yang lebih tuntas. (2) penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya.MINAHASA1 Rusmiyati. Oleh karena itu. dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. lanjut usia terlantar. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database) yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah. Bidang Program. staff Subbid Perencanaan dan Anggaran. Drs. Kata kunci: Masalah Sosial. yaitu Kelurahan Talete Satu.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTAMADYA TOMOHON . Kemiskinan 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon. SE 2 ABSTRAK Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diri dengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. SE. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat. Kelurahan Matani Satu. Rusmiyati.Si. MM. khususnya di Kecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominan di wilayah ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. rumah tidak layak huni. Puslitbang Kessos Puslitbang Kesos 65 . M. dan Kelurahan Kolongan. yang antara lain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian. kelurahan Talete Dua. Kelurahan Matani Dua. Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon. dan Rusmiyati. Kelurahan Matani Tiga. Minahasa. dengan Tim: Drs. Sementara itu untuk beralih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai. serta meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya.

mabuk-mabukan. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkup bidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas. budaya 66 Puslitbang Kesos . Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukan melalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah. maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan. struktur masyarakat. Tomohon Tengah-Minahasa Pendahuluan Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomi daerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahan sosial secara lokal. Ilustrasi diatas memberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagai daerah dengan perbedaan kondisi geografis. narkoba dan sebagainya hampir terjadi di semua daerah. kondisi eknonomi politik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin banyak. dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secara terselubung muncul keper mukaan. tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besar dan bertambah. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru) bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan. hanya motifnya yang berbedabeda. Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisi daerah masing-masing. bobot permasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat. sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom). Sebagai contoh: kenakalan remaja. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah. baik dari sisi SDM. tidak memberi ruang gerak pada masyarakat. sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran. yaitu dengan munculnya masalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akan terlihat adanya permasalahan yang serupa. Upaya memaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial. tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru. dan semua harus menunggu perintah penguasa.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.

Kedua. dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball) dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain. baik tentang potensi penyebab tumbuh kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian. Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna tentang permasalahan sosial. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang ada. sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui program di berbagai sektor. Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat dominan. tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat tinggi. misalnya: pertama. kemandirian menjadi hilang sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang. Berkaitan dengan hal tersebut. Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam penanganan permasalahan. sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah. Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih mengacu pada kasus sebab akibat. Oleh karena itu. Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah. Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda. Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Tomohon Tengah-Minahasa dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan yang terdapat dimasing-masing daerah. Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi Puslitbang Kesos 67 . berpasrah menerima keadaan apa adanya. pada akhirnya menimbulkan permasalahan. artinya masalah itu timbul karena ulah manusia. permasalahan pokok penelitian ini adalah bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya Kesejahteraan Sosial (PSKS).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. harapannya adalah menunggu bantuan pemerintah.

wanita yang menjadi korban tindak kekerasan. keluarga bermasalah sosial psikologis. pengemis. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. lanjut usia terlantar. korban penyalahgunaan napza. sumber daya manusia. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. politik. gotong royong dan sebagainya. keagamaan. anak cacat. Dalam hal yang demikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal. dan sumber daya sosial. adalah sesuatu yang bermanfaat. 1991). pekerja migran terlantar. Tehnik pengumpulan data 68 Puslitbang Kesos . bekas narapidana. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco. korban bencana sosial. korban bencana alam. Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. Tomohon Tengah-Minahasa Departemen Sosial. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. anak terlantar. dengan maksud mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. gelandangan. anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. wanita rawan sosial ekonomi. Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumber kesejahteraan sosial. penyandang HIV/ AIDS. sosial. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. anak nakal. Untuk mempertahankan kehidupannya. Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antara lain sumber daya alami. anak jalanan. keluarga fakir miskin.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. komunitas adat terpencil. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. tuna susila. 2002). lanjut usia korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan. kesenian. antara lain: balita terlantar. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif. tetapi juga potensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapi kelemahan atau tantangan. keluarga berumah tak layak huni. penyandang cacat. Namun demikian tidak semua golongan atau masyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakat umum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal) dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup (kegiatan ekonomi) potensi geografis wilayah dan sumber daya manusianya serta faktor-faktor lain yang berkaitan.

Gambaran Lokasi Penelitian
1. Kondisi Wilayah

Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Bapeda Kota Tomohon (Maret 2005) berjumlah: 6938 KK atau mencapai 16,02%. Hal ini memberi indikasi bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penduduk miskin yang nantinya berdampak pada masalah sosial dan kesehatan. Meningkatnya kasus-kasus penyakit pada akhir-akhir ini seperti demam berdarah dengue (DBD) 14 kasus, malaria: 217 kasus, TB paru klinis: 763 kasus, Hipertensi: 3860 kasus, diabetes militus: 362 kasus. Hal ini diakibatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat belum optimal, serta gaya hidup cenderung berpestapesta dengan ungkapan ”Kalau ada tada kalau tidak haga ” akhirya berdampak pada kesehatan dan masalah sosial. Meningkatnya pengangguran dan permasalahan sosial lainnya dikarenakan minimnya pendidikan formal dan keterampilan anakanak putus sekolah, dimana data menunjukkan anak terlantar sebanyak 6900 orang, anak nakal: 1236 anak. Anggapan masyarakat bahwa permasalahan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Penyandang masalah kesejahteraan sosial pada umumnya mengalami masalah kemiskinan dan kondisi ketidakberdayaan fakir miskin dapat dilihat dari tidak adanya alternatif individu, keluarga dan komunitas dalam menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Kecamatan Tomohon Tengah terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara 28 derajat celcius. Kondisi lingkungan masyarakat kondusif, tentram dengan penduduk mayoritas homogen. Jarak ke Ibu Kota Tomohon 2,5 km dengan waktu tempuh 5 menit, dari ibukota provinsi sekitar 25 km, dan
Puslitbang Kesos

69

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

dengan sarana transportansi umum yang relatif lancar dan memadai. Kecamatan Tomohon terdiri dari 7 (tujuh) Kelurahan, yaitu Kelurahan Talete Satu, Kelurhan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua, Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 18.556 jiwa, sebagian besar (90%) beragama Kristen Protestan, sebagian lainnya Katholik, Islam, dan Budha.
2. Potensi dan Sumber Alam

Hasil yang saat ini diperoleh dari pengolahan tanah berupa hasil pertanian tanaman padi dan palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Sedangkan produksi padi pada tahun 2004 menghasilkan padi sekitar 6.995 ton. Produksi tanaman sayuran tahun 2004 mencapai 9.839 ton, produktivitas tertinggi didominasi oleh tanaman terong sebesar 162,74 kw/ha. Sedangkan produksi tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, cengkeh, vanili, kopi, dan kakao. Produksi tanaman perkebunan terbanyak adalah kelapa mencapai 729,125 ton. Untuk tahun 2004, sektor peternakan populasi terbesar terdiri dari sapi, kuda, kambing dan babi. Melihat potensi alam, terutama hasil pertanian dan perkebunan, pasang surutnya tampak tergantung dari luas lahan yang semakin menyempit dikarenakan banyak pembangunan permukinan penduduk, mini market dan mall.
3. Agama dan Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Tomohon Tengah mayoritas beragama Kristen Protestan. Dan sebagian lainnya beragama Katholik, Islam, dan Budha. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang paling menonjol adalah Gereja. Di Kecamatan Tomohon Tengah hanya terdapat sarana ibadah umat Islam, yaitu satu buah Masjid. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Saat ini semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih digunakan sebagai tempat untuk ibadah umat penduduk di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah. Kelompok-kelompok yang terkait dengan keagamaan yang ada di Kecamatan Tomohon Tangah adalah kelompok kebaktian gereja.

70

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan kebaktian.
4. Sarana Pendidikan

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana pendidikan yang relatif cukup lengkap, dari mulai TK sampai pergurunan tinggi. Sekolah negeri yang dimiliki wilayah ini adalah SD (3 buah), SLTP (3 buah), dan satu perguruan Tingga Negeri. Sedangkan sebagian lainnya yang jumlahnya relatif lebih banyak adalah sekolah atau perguruan tinggi swasta, yakni terutama yang dikelola oleh yayasan atau perkumpulan agama. Tabel 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Fasilitas Pendidikan TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP. Negeri SLTA. Swasta PT.Swasta PT.Negeri Akademi Swasta SLB Sekolah Kursus Montir Kursus Menjahit BLK Jumlah 13 3 9 3 7 5 1 2 1 3 7 1

5.

Kesehatan

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan/perawatan kesehatan masyarakat di Kecamatan Tomohon Tengah, umumnya penduduk memanfaatkan sarana kesehatan yang telah ada dan letaknya relatif cukup dekat. Masing-masing Puskesmas maupun Balai Pengobatan Jemaat Gereja maupun rumah sakit swasta (dibawah yayasan gereja) di Kecamatan Tomohon Tengah saat ini memiliki seorang Dokter, Perawat, dan Bidan dan para medis/perawat.

Puslitbang Kesos

71

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Tabel 2. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jenis Fasilitas Kesehatan Apotik Rumah sakit Posyandu Dokter Praktek Bersama Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Mata Dokter THT Dokter Kulit Dokter Jiwa Dokter Hewan Bidan Mantri Kesehatan Dukun Bayi Puskesmas Puskesmas Pmbantu Toko Obat Dukun a 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 1 1 c 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 Kelurahan d e 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 f 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 g 1 2 1 2 1 1 1 1 3 -

Keterangan: a = Kel. Talete 1 b = Kel. Talete 2

c = Kel. Komasi d = Kel. Kolongan

e = Kel. Matani 1 f = Kel. Matani 2

g = Kel. Matani 3

6.

Ekonomi

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana ekonomi yang cukup lengkap, misalnya warung/toko, pasar, mall/ swalayan dan sebagainya. Secara lebih rinci sarana ekonomi yang ada dapat dilihat pada tabel 3. Oleh karena itu, kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan masyarakat Tomohon Tengah mudah diperoleh dari pasar di lingkungan sekitar. Selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut, masyarakat juga belanja di Mall dan juga di Minimarket/Supermarket yang banyak bertebaran di wilayah ini khususnya di Kota Tomohon.

72

Puslitbang Kesos

18. Penghasilan kecil/tidak tetap dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 17.Simpan Pinjam Badan Kredit Desa Lumbung Pitih Nagari Usaha Industri Kecil Usaha Industri RT Diskotik Karaoke Rumah Bilyar Gdg. 19. 21. 13. 5. Jenis Fasilitas Kesehatan Warung/Kios Koperasi Super Market/Toko Bank Usaha bersama Kel. 10.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Warga masyarakat yang digolongkan sebagai keluarga miskin didasarkan pada tingkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari serba kekurangan. 9. 15. 8. 3. 1. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut/pensiun. 2. 20. 16. 4. 6. Tingkat produktivitas Kepala Keluarga yang rendah. serta tingkat produktivitas kepala keluarga rendah dan kondisi lain yang tidak mendukung. 12. b. kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni.Bioskop Hotel/Motel Restoran Losmen Pasar Biro Perjalanan Cafe Mess/asrama a 14 1 6 1 2 1 4 5 3 2 5 2 1 1 4 b 10 6 2 2 2 2 4 3 1 3 Kelurahan c d e 44 8 2 13 6 1 1 1 1 1 1 5 1 2 3 1 9 7 2 3 2 1 2 3 f 62 1 1 g 7 2 5 3 3 3 3 1 2 - Permasalahan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin merupakan masalah yang sangat menonjol di Tomohon Tengah. 14. Puslitbang Kesos 73 . 11. 7. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 3. Kriteria atau pengkategorian warga masyarakat miskin menurut kondisi lokal adalah sebagai berikut: a. Fasilitas Ekonomi PendudukKecamatan Tomohon Tengah No.

Supermarket. Ukuran bangunan rumah relatif kecil yaitu antara 5 x 4 meter atau 5 x 6 meter dan biasanya tidak mempunyai perekat ruangan. Karena pergeseran gaya hidup dengan perkembangan kota desa sehingga masyarakat lebih cenderung beralih ke pola hidup kota (modern). Namun kendala lain yang dihadapi. atau pengusaha rumah tangga. 74 Puslitbang Kesos . dan lagi pula lapangan kerja yang tersedia di perkotaan tidak memadai dengan jumlah pencari kerja. yaitu tidak memiliki keterampilan yang memadai. dengan demikian sumber penghasilan dari cengkeh tidak lagi menjanjikan. d. Tomohon Tengah-Minahasa c. Ketika para petani beralih profesi menjadi pedagang. Pertokoan dan sebagainya. Seandainya dimotivasi agar beralih tanam hal ini masih memungkinkan adanya alternatif penghasil lain selain cengkeh. Sebenarnya secara jujur Wilayah Minahasa (termasuk Tomohon) tidaklah pantas menyandang predikat fakir miskin. Kurangnya dukungan Pemda setempat bagi kaum petani sehingga dengan mudah para petani begitu saja meninggalkan lahan pertaniannya. mereka tidak siap untuk itu sehingga alternatif pilihan adalah menjadi pekerja di Mall. seperti: a. b. Diikuti oleh kondisi rawan bencana yang juga meliputi daerah perkebunan cengkeh sehingga muncul kekhawatiran para petani sehingga tidak lagi menggarap lahan perkebunannya. karena umum sudah mengetahui bahwa wilayah ini merupakan daerah subur. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang dan kontrak/sewa baik dengan orang tua/mertua maupun kerabatan lainnya. Pertama-tama berawal dari anjloknya harga cengkeh beberapa tahun silam sehingga semangat masyarakat petani cengkeh turun drastis.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Akhirnya secara proses jumlah fakir miskin sedikit demi sedikit mulai membengkak. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan sangat buruk dan bahan atap dari seng yang sudah tua atau menggunakan kayu yang sudah rapuh dengan lantai tanah atau papan. masyarakatnya intelek dan penghasil cengkeh terkenal. d. Namun munculnya permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor. c. e.

2. 2. 10. Profesi Panti Werdha Rmh Jompo a 2 2 4 1 1 1 2 1 2 8 b 1 2 4 2 2 1 2 2 c 1 1 5 1 1 1 1 Kelurahan d e 3 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 f 1 1 1 4 2 1 1 1 1 g 1 1 2 1 1 1 1 1 1 - Puslitbang Kesos 75 . 11. Data Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Setiap Kelurahan No. 1. 6.Fakir Miskin 106 109 258 215 96 126 166 Kel. 13. 3. 11. 8.Bermasalah Sos. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 4. 15. Kelurahan a b c d e f g Anak Nakal 33 75 Anak Jalanan 16 Anak Cacat 4 Wanita Rawan Sosek 4 6 54 Penyandang cacat 21 9 28 25 16 15 Eks Napi 10 6 6 Kel. 3. 13 14 Jenis PSKS Arisan PKK PSM Orsos Kemasy. 17. 4. Alam 15 Kel. 1.Rentan 24 Pengungsi 3 Anak Terlantar 24 50 40 16 60 Wanita Krbn Kekerasan 16 15 97 16 10 26 LU Terlantar 30 55 10 25 115 96 Rawan Banjir 46 50 Korban benc. 4. 12. 9. 16. 7. 14. 5. 6. 12. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Setiap Kelurahan No. 8. 5. 10. 2 Eks.Rmh tdk layak 38 20 24 30 20 Kel. Psik. 7. 9.Pnykt Kronis 10 Jenis PMKS Tabel 5. Karang Taruna Orsos LKMD Org.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Pemuda Dunia Usaha Peduli Kesos Panti Asuhan Koperasi Org.

Kelurahan Komasi dan Kelurahan Kolongan. Status kepemilikan bangunan rumah masih menumpang e. d. Banyak anak dan belum ada yang menikah. Kurangnya perlengkapan fasilitas MCK. Sedangkan kriteria yang digunakan di Tomohon Tengah. Status perkawinan: janda ditinggal mati suami atau belum menikah. Ukuran bangunan rumah relatif kecil d. Kategori wanita korban kekerasan didasarkan pada kriteria lokal. Warga masyarakat di golongkan lanjut usia terlantar didasarkan pada usia. serta seberapa besar perhatian dan perawatan yang diberikan oleh anak/cucu atau keluarga lainnya. Penghasilan kecil e. Tomohon Tengah-Minahasa Rumah tidak layak huni di beberapa kelurahan hampir sama dengan kondisi di kelurahan lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah yaitu Kelurahan Talete I dan II. Usia antara 20 hingga 60 tahun b. Wanita korban tindak kekerasan terdapat hampir di setiap kelurahan (ada enam kelurahan). Ada di 6 (enam) kelurahan yang ada di Kecamatan Tomohon Tengah. Rumah-rumah tersebut adalah rumah dalam bentuk rumah asli Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu. Kelurahan Matani I. sebagai berikut: a. sebagai berikut: a. Para penghuninya tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah–rumah tersebut sehingga melapor dan meminta bantuan melalui dinas sosial setempat. Jumlah penghuni yang tidak sebanding dengan luas rumah b. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh c. tingkat penghasilan dan jumlah beban tanggungan. II. Karena ketiadaan biaya perbaikan. Memiliki sumber penghasilan yang tidak menentu. maka rumah–rumah ini semakin lama semakin rusak dan kondisinya tampak tidak layak huni. Jumlah rumah tak layak huni pada kelurahan yang mempunyai permasalahan ini berkisar antara: 20 hingga 30 keluarga. kondisi ekonomi. Lanjut Usia terlantar terdapat hampir disemua kelurahan. c. Wanita yang digolongkan sebagai wanita korban kekerasan didasarkan pada status perkawinan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Kriteria rumah tidak layak huni menurut kondisi lokal. III. sebagai berikut: 76 Puslitbang Kesos .

pengusaha versi perkotaan. selepas sekolah mereka tidak mempunyai kegiatan. tindak kriminal walaupun dalam skala Desa/kelurahan dalam bentuk mengganggu milik masyarakat. Contoh kasus lapangan yang dilihat langsung adalah di salah satu supermarket.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. permakanan dan kebutuhan hidup lainnya. Bentuk kenakalan anak menurut definisi wilayah ini adalah menggangu ketertiban masyarakat setempat dengan tindakan kumpul-kumpul yang disertai mabuk–mabukan. café. sekarang pola hidup sudah mulai bergesar dengan perubahan paradigma sebagai pedagang. yakni para remaja yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan secara tidak menentu. dengan mengkonsumsi minuman keras (miras). Akibatnya. Pada mulanya masyarakat di wilayah Tomohon terkenal sebagai petani cengkeh yang ulung. sejak supermarket buka hingga ditutup pada malam harinya. Faktor penyebabnya adalah faktor putus sekolah. putra-putri mereka juga secara otomatis mewarisi gaya hidup ini dengan tidak disebut sebagai anak petani dan lebih prestise kalau disebut sebagai anak pengusaha (ala kota pedesaan). atau diskotik. Perkembangan kota desa yang memang berkembang dewasa ini menyebabkan juga adanya perubahan perkembangan perilaku anak. yang menyebabkan para remaja mulai beradaptasi diri dengan tempat–tempat ini. polisi piket di depan supermarket dengan maksud menghindari masuknya para remaja siswa sekolah terutama pada jam-jam pelajaran sekolah (baik siswa pagi maupun siswa siang). Keterangan-keterangan yang diperoleh di lapangan menggambarkan proses seperti itu. Hal yang sama dilakukan di café-café atau tempat hiburan lainnya. misalnya munculnya tempat belanja berupa supermarket. baik karena ketidakmampuan ekonomi maupun non ekonomi. sehingga untuk mengisi kekosongan terjadilah pertemuan antar remaja dan kalau sudah berkumpul mulai bertindak yang tidak wajar. Umur diatas 60 (enam puluh) tahun keatas. Masalah Anak Nakal merupakan masalah yang bersifat embrio yang muncul melalui tahapan-tahapan proses yang kelihatannya bersumber dari faktor lingkungan. Dari sinilah timbul kenakalan-kenakalan remaja. b. Tomohon Tengah-Minahasa a. Hidup sendiri atau bersama anak/cucu atau keluarga lainnya tetapi sangat kurang diperhatikan dalam perawatan. ketiadaan kegiatan yang pasti dan ketidaksadaran akan makna Puslitbang Kesos 77 . Oleh karena itu. Masalah yang dekat dengan anak nakal dan anak terlantar yaitu anak jalanan.

Selepas dari itu para wanita ini sama sekali tidak punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan mereka. dengan alasan kalau–kalau suatu saat nanti perilakunya akan muncul kembali. Dari sejumlah penyandang terdapat banyak diantaranya yang dapat dibina untuk melakukan kegiatan mandiri dengan dimodali oleh Pemda setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Faktor penyebab munculnya anak jalanan ini. maka permasalahan yang dihadapi di kelurahan ini merupakan masalah sosial umum yang penanganannya berada dibawah Pemerintah Daerah setempat. Sebagai wilayah kelurahan yang kapasitas pertumbuhan industri tidak memungkinkan. Dimanapun permasalahan narapidana ini hadir menjadi permasalahan yang memerlukan penanganan yang sangat bijak agar persepsi masyarakat terhadap para penyandangnya tidak ditolak oleh masyarakat setempat. Masalah yang terkesan rawan bagi masyarakat adalah eks narapidana. Permasalahan kecacatan secara khusus merupakan masalah yang tidak semata karena kelalaian manusia. 78 Puslitbang Kesos . Minimnya lapangan kerja bagi kaum wanita di Kelurahan ini menjadi sumber permasalahan. Tomohon Tengah-Minahasa mencari hidup. seperti misalnya cacat karena faktor bawaan. Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah suatu permasalahan yang dialami oleh sekelompok wanita. bahwa permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan menurunya secara drastis pertanian cengkeh yang tadinya menjadi idola di wilayah ini. Jumlah kasusnya cukup banyak yakni 114 kasus. Hal ini ditambah pula dengan ketiadaan keterampilan yang dimiliki para wanita ini. maka sulit bagi para wanita untuk mendapatkan sumber penghidupan yang tetap. dimana para wanita ini tidak mempunyai sumber penghasilan yang tetap. Diawali dengan jarang tinggal di rumah kemudian menjadi keseringan maka pada akhirnya hidup di luar menjadi suatu yang merupakan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi pilihan. namun karena kembali lagi terjadi perkembangan kota pedesaan maka cukup membawa pengaruh pada kebiasaaan hidup anak. Narapidana berawal mula dari kenakalan remaja. lama kelamaan meningkat ke tindakan kriminal dan akhirnya sebagai penghuni rutan. Para napi pun ini sadar bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat kurang dapat diterima. Informasi lapangan yang diperoleh menyatakan. berawal dari kurangnya pengawasan orang tua.

Masalah yang paling menonjol dan merupakan masalah prioritas di kelurahan-kelurahan wilayah Tomohon Tengah adalah masalah fakir miskin. Yang terutama memberi perhatian adalah kepedulian pemerintah setempat. 3. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal masalah penelitian. Sebenarnya keluarga rentan ini bisa ditangani oleh masing–masing keluarga. masalah yang juga masalah prioritas kedua adalah masalah lanjut usia terlantar. Perlu program yang baku. program yang tepat adalah pemberdayaan fakir miskin melalui bantuan dan jaminan sosial. khususnya bagi permasalahan fakir miskin yang sesuai dengan sumber permasalahan lokal. Sayangnya di Minahasa ini belum begitu terdengar hal penampung keluarga rentan atau semacam panti penampungan. sebagai berikut: 1. sebagai berikut : 1. mudah diacu atau diikuti masyarakat. Permasalahan ini merata terdapat di semua kelurahan (7 kelurahan).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. namun karena kondisi keluarga dalam kondisi yang sama yaitu ketidakmampuan ekonomi sehingga permasalahan keluarga rentan ini menjadi permasalahan tersendiri. sehingga diperoleh cara penyelesaian yang tepat. Masalah-masalah lain berdasarkan pengamatan dan hasil kajian penelitian merupakan masalah yang terkait dan bersumber dari masalah-masalah prioritas seperti kemiskinan. 2. memerlukan langkah-langkah kegiatan yang lebih praktis dan nyata. Puslitbang Kesos 79 . sehingga penanganannya dapat lebih tuntas. Untuk itu. Dari kesimpulan yang diambil dari hasil kajian akan diberikan saransaran/rekomendasi. Tomohon Tengah-Minahasa Keluarga rentan termasuk kategori keluarga manula yang perlu mendapat pertolongan. 2. Di beberapa kelurahan. Masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman penanganannya. Keluarga–keluarga rentan ini dalam keadaan pasrah menunggu pertolongan pemerintah. dengan memperhatikan kriteria lokal dan sumber-sumber yang tersedia..

membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. Jakarta.. Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial. Profesi Pekerja Sosial. Bandung.. 2005 Rencana Strategis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon Tahun 2005-2009 Dwi Heru Sukoco. Masalah-masalah terkait lainnya perlu ditangani dengan upaya pencegahan. 2003. 2004. misalnya melalui penyuluhan. 2005. Tomohon Dalam Angka (Tomohon In Figures) Departemen Sosial. Konsep dan Strategi. Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial.. Jakarta.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.. Pusdatin. STKS Press Tim Crescent IPB.. dan meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya... Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial... Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon.. 1991. . Tomohon Tengah-Minahasa 3. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Tomohon dengan BPS Kabupaten Minahasa. 2002. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama 80 Puslitbang Kesos ...

urang sulit. Sumatera Barat. Untuk mempertahankan hidupnya (survival strategy) secara sosial dan ekonomi. laki-laki dan perempuan. (1) Kantong kemiskinan terdapat di Kabupaten Mentawai. Kata Kunci: Kemiskinan. Pesisir Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian terapan melalui survey terhadap 12 nagari dan 4 kelurahan dalam tiga kabupaten dan dua kota. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra kerja. (2) sebutan orang miskin yaitu urang indak bapunyo. Achmadi Jayaputra. Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan. Pasaman Barat. Temuan lapangan antara lain. Penanggulangan Kemiskinan. M. Kota Padang dan Kota Payakumbuh. Penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas. wawancara mendalam dan diskusi kelompok. Nagari Kelurahan 1 2 Judul asli dari penelitian Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat. (4) penyebab kemiskinan yaitu lokalitas ekosistem. Pasaman. orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik atau urang ino. tukang dan buruh kasar. rendahnya akses. krisis ekonomi dan kebudayaan.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memetakan kantong-kantong dan merumuskan strategi pengentasan kemiskinan berdasarkan institusi lokal. antara lain melakukan pekerjaan secara tetap dan memperbanyak jumlah anggota rumah tangga untuk bekerja. Strategi pengentasan kemiskinan dengan membentuk suatu panitia berbasis institusi lokal (Nagari/kelurahan). tokoh masyarakat. Padang. Puslitbang Kesos 81 . Keanggotaan harus mempunyai komitmen yang tinggi. Anggotanya terdiri dari orang miskin. Kepala Bidang Program Puslitbang Kesos. urang susah. Achmadi Jayaputra.PEMETAAN KEMISKINAN DAN STRATEGI PENGENTASANNYA BERBASIS INSTITUSI LOKAL DAN BERKELANJUTAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA BARAT1 Drs. urang indak mampu. (3) pekerjaan utama mereka yaitu buruh tani.

sayangnya penduduk miskin di Indonesia makin bertambah. Strategi yang dikembangkan itu termasuk dalam community based development. Termasuk permasalahan sosial yang disebutkan Departemen Sosial sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pelacuran. Akibatnya perekonomian mereka rentan dan mereka dengan mudah kembali ke garis kemiskinan. 82 Puslitbang Kesos . sekaligus membuka pintu untuk pemecahan PMKS lainnya. Oleh karena itu. Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan.46 juta jiwa terdapat 935. Namun tahun 2005 dari jumlah penduduk 4. Khususnya di Provinsi Sumatera Barat. Penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan bersifat karitatif (charity) cenderung menjadikan orang miskin semakin tergantung pada bantuan pihak luar.300 jiwa (20. terutama sejak diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah. Hal tersebut seharusnya dijadikan momentum dan peluang untuk mewujudkan desentralisasi pembangunan yang sensitif terhadap persoalan lokal. Faktor lain berkaitan dengan kelemahan organisai pelaksana seperti pemerintah lokal dan pemerintah kelurahan atau desa (nagari). misalnya tahun 2001 penduduk miskin tercatat 1. Berarti memecahkan masalah kemiskinan secara tidak langsung memecahkan PMKS. Pengentasan kemiskinan sejak bergulirnya otonomi daerah belum berhasil dengan baik.100 jiwa. dan sebagainya. Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan. karena dihadapkan pada beberapa hal. diperlukan strategi baru dengan menggunakan potensi sosial lokal untuk membantu orang miskin agar terbebas dari kemiskinannya. dan • Program tidak diakses karena hambatan struktual. antara lain: • Program tidak tepat sasaran • Program tidak bertahan lama (tidak berkesinambungan) • Program dipaksakan dari atas.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Pendahuluan Penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama pembangunan nasional dan daerah.100 jiwa dan tahun 2004 menjadi 472. anak jalanan. tahun 2003 menurun hanya 501. penyandang cacat.70%) tergolong miskin.4 juta jiwa (23%).

Lokasi dipilih secara sengaja berdasarkan angka kemiskinan yang tinggi dan kondisi ekologis. nelayan dan bukan nelayan. Penelitian ini akan merumuskan model penanggulangan kemiskinan yang dapat diadopsi untuk memecahkan PMKS lainnya karena bertumpu pada pemberdayaan komunitas lokal. kelompok pendudukan miskin yang mengikuti program anti kemiskinan. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu survey. Diskusi dengan menghadirkan masing-masing 14 orang terbagi dalam dua kelompok. tokoh komunitas setempat dan pemerintah lokal. pertama. Merumuskan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan institusi lokal. Bagaimana kondisi budaya. sosial. wawancara mendalam. kedua. a. Memetakan kantong-kantong kemiskinan berdasarkan tipologi ekologis dan sumber mata pendapatan dan mengidentifikasi karakteristik budaya. petani lahan basah. Survey dilakukan terhadap 12 Nagari dan 4 kelurahan yang terdapat dalam 3 kabupaten yaitu Pasaman. b. Solok dan Pesisir Selatan. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dari instansi pemerintah di 3 kabupaten dan 2 kota tersebut terdiri Puslitbang Kesos 83 .Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Permasalahan dalam penelitian. Responden seluruhnya berjumlah 224 orang. serta 2 kota yaitu Padang dan Payakumbuh. ekonomi dan politik rumah tangga miskin tersebut? c. Selain itu berdasarkan mata pencaharian penduduk yaitu petani lahan kering. Apa strategi dalam pengentasan kemiskinan yang berbasis institusi lokal yang dapat diterapkan di Provinsi Sumatera Barat? Tujuan penelitian yaitu. diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) dan pengumpulan data skunder. tokoh masyarakat yang berpengalaman melaksanakan program anti kemiskinan. Mengapa anggota rumah tangga tetap miskin. sosial. Dimana rumah tangga miskin tersebut berkonsentrasi terhadap tipologi ekologis dan sumber pendapatan? b. yaitu: a. ekonomi dan politik rumah tangga miskin. walaupun telah ada program pengentasan kemiskinan? d.

kehutanan dan perikanan laut. b. 48. Kabupaten Solok. Kinerja ekonomi di provinsi ini. Kabupaten Pasaman.59%) dan selebihnya tanah yang belum dimanfaatkan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya dari Bappeda. Kecamatan II Koto Diateh di Nagari Paninjauwan dan Kuncir. 159. Kota Padang. Lokasi Penelitian. dilihat dari kondisi dan penggunaan lahan sebagian terdiri dari hutan (61%). yang terbanyak adalah pertanian 25. Kantong Kemiskinan Di Sumatera Barat.dan di perdesaan sebesar Rp. Kecamatan Linggo Sari Baganti di Nagari Lumpo.. tanah yang dimanfaatkan untuk permukiman (28. Kecamatan Bonjol di Nagari Koto Kaciak dan Gonggo Halia. Kota Payakumbuh. Sedangkan tahun 2006.863. Kecamatan Payakumbuh Barat di Kelurahan Parit Rantang dan Padang Karambie. Diantaranya. 157 kecamatan dan terdiri dari 517 Nagari/Kelurahan. diketahui garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. Camat dan Wali Nagari. Kabupaten Pesisir Selatan. perkebunan. Dinas Kelautan. untuk tahun 2003 pertumbuhan ekonomi 5%-7% per tahun. c. Hasil Penelitian Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota.297 Km2. tahun 1996 angka atau garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. Kecamatan II Koto di Nagari Simpang Tonang dan Cubadak. Dinas Sosial.-. Air Haji dan Pungasan. 84 Puslitbang Kesos . Pemberdayaan Masyarakat. peternakan.389. 34.-. 1. a. 225. d. istilah Nagari digunakan untuk daerah kabupaten dan Kelurahan untuk daerah kota.904.16% dan didukung lima sub sektor yaitu tanaman pangan dan hortikultura. Khusus di provinsi ini.dan di perdesaan sebesar Rp..671. Wilayahnya 42. Kecamatan IV Jurai di Nagari Painan. Kecamatan Kubung di Nagari Gaung dan Panyangkalan. Kecamatan Lubuk Bagalung di Kelurahan Kampung Baru dan Gates e.

41%). kedua. nelayan yang tidak punya alat tangkap. Ditemukan beberapa sebutan orang miskin dalam istilah lokal yaitu urang indak bapunyo (orang tidak punya). Pasaman Barat 21. urang susah (orang susah).17%). golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatannya dari pekerjaan buruh tani. buruh dan pedagang kecil.12%). 4) Areal sawah sangat sedikit. nelayan miskin yang terdiri dari buruh angkut.162 rumah tangga (21. 3) Kesuburan tanah dan ketersediaan air rendah. urang sulit (orang sulit).12%).98%). terdapat 223. Ini terjadi karena tidak memiliki lahan sendiri atau lahan sempit seperti petani penggarap yang Puslitbang Kesos 85 .337 rumah tangga (25. selalu dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga. Nelayan terbagi tiga kelompok yaitu. urang indak mampu (orang tidak mampu).Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Tahun 2005. 2) Produktivitas rendah karena hama babi dan kera yang susah ditanggulangi masyarakat setempat. sehingga mereka harus membeli beras. Diantaranya nelayan yang tergolong miskin yang dilihat dari kepemilikan alat tangkap. nelayan kaya yang memiliki alat tangkap lengkap dan kapal bermotor.07%) dan Payakumbuh 4. nelayan sedang yang memiliki kapal dan bermotor tempel.002 (51. Penyebabnya antara lain : 1) Tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas.922 rumah tangga (35.825 rumah tangga miskin atau 22. Padang 35. Orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik (orang bangsat) atau urang ino (orang hina). ketiga. Pada daerah yang berbasis pertanian sawah. Rumah tangga miskin banyak terdapat dalam enam daerah yaitu Kabupaten Mentawai 8.07% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Pasaman 19. Pesisir Selatan 26. pertama. Orang miskin sebagai keadaan negatif. Orang miskin dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga seperti buruh tani.250 rumah tangga (17.186 rumah tangga (29. Sedangkan di perkotaan angka yang tinggi karena tingginya jumlah penduduk. Mereka yang tergolong rumah tangga miskin kebanyakan di perdesaan dengan mata pencaharian pokok sebagai petani di lahan kering atau perladangan.

seorang pegawai rendahan merangkap sebagai tukang ojek atau buruh serabutan.5%). Misalnya di daerah perdesaan seorang sebagai petani sawah dapat saja menjadi buruh tani.10%). Pendapatan yang mereka peroleh antara lain terendah Rp. golongan miskin menunjuk pada rumah tangga buruh nelayan yang tidak memiliki sarana penangkap ikan yang lengkap.(16.000. Adapun tipologi di daerah perkotaan. tukang dan buruh lainnya.. Hasil survey. merasa lebih buruk (28.60%) dan yang menjawab tidak ada perubahan (48.per bulan (20. 86 Puslitbang Kesos . kebanyakan rumah tangga yang dikepalai perempuan termasuk dalam kategori rumah tangga miskin.sampai dengan Rp.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya tidak mempunyai lahan pertanian.(28. belum bekerja atau belum menikah. Dikalangan nelayan.(35.000. 599. Apabila ingin memperbaiki ekonomi. Demikian juga daerah perkotaan. Di tengah banyaknya program anti kemiskinan.10%). 400. pedagang yang tidak bermodal atau bermodal kecil.30%) dan yang berpendapatan diatas Rp. penyebab kemiskinan antara lain.10%).30%).20%). berpendapatan Rp. maka perlu mengakses peluang.sampai dengan Rp.000.000. pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani (54. Biasanya buruh nelayan hanya memiliki sampan saja atau perahu tidak bermotor. 200. pedagang kaki lima dan lain-lain (23.20%) dari tahun sebelumnya. seorang buruh nelayan dapat saja merangkap sebagai tukang atau buruh angkat. Oleh karena itu. Rumah tangga miskin memiliki jumlah anak yang lebih banyak dan sebagian besar menjadi tanggungan keluarga karena masih bayi. usia sekolah. Kebanyakan orang miskin melakukan pekerjaan ganda. Rp. nelayan kecil atau buruh nelayan (16. Namun mereka tidak mampu karena terbatas pengetahuan dan keterampilan. Khususnya sektor informal sangat bervariasi seperti buruh kasar. tukang atau buruh (3. 1) Alternatif pekerjaan di daerahnya terbatas dan berkaitan dengan perkembangan ekonomi makro.. 200. ternyata ekonomi rumah tangga miskin banyak yang merasa pesimis melihat perbaikan ekonominya.50%). Hasil survai secara keseluruhan.5%). 600.000.000. 399.. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatan dari buruh dan sektor informal. Pada tipologi yang berbasis nelayan. Karakteristik sosial. ada yang merasa ekonominya lebih baik (4.

Ini menunjukkan mereka bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang. Strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya secara sosial dan ekonomi. 1) Pekerjaan Tetap Mereka tidak berusaha pindah pekerjaan. berhutang kepada anggota keluarga (20. Cara lain yang mendorong orang miskin memecahkan masalah keuangan rumah tangganya yaitu berhutang kepada tetangga (38. Adapun strategi adaptasi tersebut yaitu. Tujuannya untuk bertahan hidup (survival strategy). Puslitbang Kesos 87 . 2) Anggota Rumah Tangga Rumah tangga miskin cenderung memperbanyak jumlah anggota rumah tangga ikut bekerja untuk memecahkan kesulitan hidup. sementara luas lahan tetap dan dipengaruhi sistem pemilikan lahan secara adat. Pilihan diversifikasi pekerjaan dan pendapatan melalui pola nafkah ganda. 3) Produktivitas rendah karena orang miskin tidak memiliki aset lahan yang memadai. Pertumbuhan penduduk terus berlangsung. 4) Orang miskin tidak mampu mengakses sumber daya karena ketiadaan teknologi dan minimnya modal. Sementara meminjam kepada lembaga keuangan perbankan atau lembaga keuangan mikro tidak menjadi alternatif karena masih kurangnya lembaga keuangan tersebut.80%).50%) menerima bantuan dari anggota keluarga (14. Orang miskin atau rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan yang dialami melakukan upaya adaptasi.10%). maka orang miskin bergantung pada pekerjaan yang tidak memberi pendapatan yang mencukupi. Alasannya tidak tahu alternatif yang tersedia dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tetap lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan resiko pilihannya.70%) atau berhutang kepada bos atau tauke (12.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Ketiadaan alternatif dan tidak mampu mengkreasi peluang baru. Pola ini merupakan bagian dari strategi adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan.

disebabkan tanah ulayat hanya digunakan oleh anak kemenakan pemilik ulayat. Selain itu status tanahnya sebagai tanah adat atau ulayat atau hutan lindung tidak dapat digunakan sembarangan karena pengaturannya yang berbeda. sedangkan anggota kaum bertambah. Akan tetapi tidak ada irigasi yang baik atau sumber air terbatas. Sedangkan petani sawah ketersediaan air mutlak. tetapi lahan terbatas. Pengaruh ekologis sangat dirasakan di kalangan nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tidak selalu sama atau tergantung iklim. rendahnya akses kepemilikan alat tangkap ikan seperti perahu motor. Pada masyarakat petani ladang yang terjadi meningkatnya biaya produksi seperti bibit dan pupuk. Tanah telah dibagi habis. antara lain. Sementara pendapatan tidak seimbang dengan biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk pangan dan konsumsi rumah tangga. Di kalangan komunitas nelayan miskin. terkena PHK dan usahanya bangkrut. Ada pula di perkotaan yang dahulu merantau. 2) Rendahnya Akses Ada keluarga yang kekurangan lahan. Ada golongan keluarga atau masyarakat yang hidup turun-temurun dalam kekurangan aset ekonomi atau rendah aksesnya terhadap sumber daya setempat. Secara umum 88 Puslitbang Kesos . sehingga produksi lahan sawah rendah. tetapi lahan yang ada sangat terbatas. Daerah perladangan dengan tanaman tua yang diusahakan membutuhkan lahan yang luas. sehingga tidak dapat menggunakan lahan yang ada. musim angin dan bulan. Termasuk kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi naik.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Secara umum penyebab kemiskinan. Banyak orang miskin di nagari dari kalangan pendatang. 3) Krisis Ekonomi Krisis ekonomi diikuti dengan kenaikan harga berbagai alat produksi dan kebutuhan konsumsi telah menyebabkan semakin beratnya kehidupan masyarakat. 1) Lokalitas Ekosistem Di kalangan petani perdesaan atau lahan kering ketergantungan terhadap lahan secara mutlak. kini kembali ke kampung.

sejak tahun 1983 sudah masuk program pengentasan kemiskinan atau program anti kemiskinan yang dilakukan oleh beberapa departemen atau instansi pemerintah lainnya. Kinerja Anti Kemiskinan Tahun 2002 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang diketuai oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan Gubernur Sumatera Barat sebagai penanggung jawab. 2. sehingga tidak ada alternatif pekerjaan lain. Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes). Tugas komite tersebut yaitu menyiapkan data. 4) Kebudayaan Semua rumah tangga miskin mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Namun hanya tahu terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diketahui saja. Adapun program kemiskinan yang pernah dialami antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Departemen Sosial RI 2) Inpres Desa Tertinggal (IDT) dari Departemen Dalam Negeri 3) Kredit Investasi Kecil (KIK). Namun dalam pelaksanaan kegiatan belum menunjukkan hasilnya dalam penanggulangan kemiskinan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya yang paling dirasakan yaitu kenaikan harga kebutuhan dasar dan membiayai modal usaha. melakukan pemantauan dan pengendalian. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). mengkoordinasikan kegiatan. Kredit Usaha Kecil (KUK). Ternyata. memfasilitasi dana. Kredit kelompok Kepada Kelompok Masyarakat (K3M) 4) Program Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) 5) Program Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS) dari BKKBN 6) Program perbaikan rumah tidak layak huni dari Departemen Kimpraswil 7) Program bantuan pendidikan bagi anak miskin 8) Program bantuan pengobatan orang miskin 9) Program bantuan beras miskin (Raskin) dari BULOG Puslitbang Kesos 89 .

PPK dan Subsidi BBM. PMP dan P2P. BLT. program bantuan pendidikan seperti BOS dan PPK. Dampak program yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Program Tidak Efektif Program-program anti kemiskinan tidak efektif membebaskan penerima bantuan dari kemiskinannya.per bulan. program. Pada umumnya (90%) pernah mengikuti program anti kemiskinan. ketiga. PDM-DKE dan PMP. pengembangan keuangan mikro dengan memberikan bantuan modal kepada kelompok simpan pinjam seperti IDT. Bantuan yang bersifat jaring pengaman sosial hanya untuk memenuhi kebutuhan 90 Puslitbang Kesos . GEKS. kelima.. kedua. 600. Kartu Sehat.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 10)Bantuan Langsung Tunai (BLT) 11)Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari Departemen Dalam Negeri 12)Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) 13)Program Pengentasan Perkotaan (P2P) 14)Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPMP) 15)Badan Amil Zakat. Infaq dan Shadaqah (BAZIS) 16)Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 17)Subsidi BBM Menurut bantuan yang diberikan. Juga diakui responden. PPK. BAZIS. pertama. semua program yang ada terbagi lima. keempat.000. program memberdayakan keluarga miskin dengan bantuan modal usaha seperti IDT. bahkan sebanyak 60% lebih pernah mengikuti dua sampai empat macam program anti kemiskinan. Ratarata tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena penghasilan yang diperoleh dibawah Rp. program pembangunan infrastruktur seperti IDT. program yang bersifat jaring pengaman atau program yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sesaat dengan model bantuan karitatif seperti Raskin. KUBE. sebagian besar (80%) responden mengaku ekonomi mereka tidak berubah dari sebelumnya dan selebihnya (20%) menyatakan lebih buruk dari tahun sebelumnya. Secara umum program anti kemiskinan yang pernah diikuti belum membuat perekonomian mereka membaik.

Puslitbang Kesos 91 . kendaraan bermotor dapat menjangkau desanya. Penyebab lain kemacetan tinggi karena cicilan terlalu besar dan anggapan uang pemerintah tidak perlu dikembalikan. Hal tersebut disebabkan kelompok simpan pinjam tidak bertahan lama dan kelompok cepat bubar. Terutama dalam bentuk simpan pinjam tidak bermanfaat dalam waktu jangka panjang. 4) Bantuan Bergulir Kurang Berhasil Bantuan yang diterima dalam kelompok tidak bergulir karena sapi yang diterima terlebih dahulu dijual sebelum beranak. 1) Sifat Program Bantuan yang diberikan menyelesaikan kebutuhan sesaat karena bersifat karitatif dan parsial. Beras Raskin lebih banyak dimanfaatkan penduduk miskin di perkotaan daripada penduduk miskin di perdesaan. sehingga tidak memberdayakan penerimanya. 2) Pengembangan Infrastruktur Program pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang dibangun telah memudahkan penduduk setempat untuk memasarkan produksinya. Ikatan anggota dengan kelompok rendah karena kebanyakan anggota dan perlu uang. Penyebab ketidakberhasilan program. Selain itu tidak ada pengawasan dan pembinaan dari penyelenggara program dan tidak ada perhatian dari tokoh masyarakat setempat. hanya menyentuh sebagian rumah tangga. 5) Bantuan Alat Tidak Efektif Program bantuan peralatan usaha tidak efektif karena penerima tidak mampu mengoperasikan alat yang diterima. tidak mampu membayar cicilan dana bantuan dan pendapatan kecil dengan biaya operasional yang tinggi. 3) Keuangan Mikro Kurang Berhasil Program pengembangan keuangan mikro bukan perbankan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya hidup sehari-hari dan tidak membuat mereka menyimpan karena bantuan jumlahnya terlalu kecil. Namun daerah penerima bantuan tetap saja menjadi kantong-kantong kemiskinan. yaitu.

komunitas perdesaan beranggapan penanggulangan kemiskinan merupakan tugas pemerintah.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Pengelolaan Program bantuan tidak berkelanjutan dan kelompok yang dibentuk tidak efektif. 3) Partisipasi Lokal Partisipasi organisasi sosial dan tokoh lokal rendah karena mereka tidak melakukan langkah-langkah untuk melanjutkan program. program-program tersebut tidak ada yang mendorong lembaga lokal untuk aktif terlibat dan bertanggung jawab terhadap program anti kemiskinan. kedua. Berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan belum peduli terhadap program kemiskinan dan belum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Lembaga nagari/kelurahan tidak aktif memantau dan membenahi program yang ada. 3. Gagalnya program anti kemiskinan disebabkan. Sedangkan dalam pemerintah kota (Kelurahan) ada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Kantor tidak tiap hari dibuka. Lembaga tersebut banyak berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan lembaga pimpinan adat (nini mamak ). Keragaan Energi Sosial Lokal 1) Peran Institusi Formal Institusi formal lokal dalam pemerintah kabupaten (Nagari) dipimpin Wali Nagari. Badan Perwakilan Adat Nagari (BPAN) atau Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Pemerintah nagari/ kelurahan diperlakukan sebagai ujung tombak yang tumpul karena program-program tidak memberdayakan organisasi lokal. pertama. Hal itu dianggap bukan menjadi urusan mereka dan tidak ada mekanisme pertanggungjawabannya. 92 Puslitbang Kesos . Kegiatan yang dilakukan terbatas pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja nagari/kelurahan. hanya kalau ada keperluan atau pekerjaan tertentu barulah dibuka seperti ada kegiatan dari kecamatan atau instansi pemerintah lainnya. Namun dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum dapat mengeluarkan aturan-aturan bagi nagarinya.

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

2) Peran Institusi Informal Lembaga informal yang ada merupakan lembaga yang tidak terkait dengan pemerintah seperti Kerapatan/Lembaga Adat Nagari (K/LAN), Badan Musyawarah Adat dan Syara (BMAS), organisasi berbasis agama dan kekerabatan. Khususnya organisasi yang berbasis keagamaan seperti majlis taklim dan kelompok yasinan, perannya muncul ketika perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Lembaga tersebut mempunyai tugas mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah untuk dibagikan kepada keluarga miskin. 3) Peran Kekerabatan Kebutuhan anggota kerabat atau keluarga yang dialami selalu dikaitkan dengan fungsi keluarga luas matrilineal. Bantuan sosial ekonomi diberikan kepada seluruh anggota keluarga yang memerlukan. Terutama berkaitan dengan keperluan yang sifatnya mendadak seperti sakit, kebakaran, meninggal dan musibah lainnya. Unsur matrilineal menjadi pokok perhatian yaitu; pertama, harta pusaka sebagai sumber ekonomi keluarga luas matrilineal; kedua, pola tempat tinggal keluarga luas matrilineal dalam menjalankan perannya; ketiga, aktualisasi adat. Hubungan sosial ekonomi dimulai dari hubungan timbal balik. Semangat akan timbul saat membantu dalam pelaksanaan perkawinan. Bantuan yang diberikan biasanya dalam bentuk uang dan tenaga, sedangkan dalam biaya pendidikan tidak karena menjadi urusan masing-masing. Bantuan terhadap orang miskin, lanjut usia dan yatim piatu menjadi urusan paruiknya. Mereka lebih baik dipelihara oleh paruik dan masyarakat setempat yang telah saling mengenal dan dijamin lebih baik. Masyarakat tidak mau dan merasa malu menempatkan lanjut usia dan anak yatim ke panti asuhan. Peran tokoh lokal membantu orang miskin dalam bentuk memberikan fasilitas atau modal usaha. 4) Nilai-nilai dan Solidaritas Lokal Nilai-nilai dan praktek solidaritas sosial lokal tumbuh dan berkembang dalam masyarakat didasarkan rasa tanggung jawab dan rasa kebersamaan. Tujuannya untuk membantu seluruh anggota
Puslitbang Kesos

93

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

keluarga dan masyarakat. Pepatah Minangkabau; bakampung mamaga kampung, tagak basuku mamaga suku, tagak banagari mamaga nagari, sandar menyandar bagaikan aur dengan tebing. Nilai yang terkandung dalam pepatah tersebut mencerminkan kehidupan keluarga yang saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Namun, dalam perkembangannya nilai-nilai tersebut tidak lagi dijalankan. Masyarakat menggunakan kata individualis untuk menyebut perilaku dari sebagian masyarakat yang tidak lagi memikirkan sanak saudara dan para tetangga dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi sosial yang sangat dikenal yaitu Kelompok simpan pinjam, Kongsi dan Julo-julo. Kelompok simpan pinjam terdiri dari beberapa orang yang mengelompokkan diri yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan anggota atau kelompoknya. Ada kelompok laki-laki atau kelompok perempuan. Kelompok juga yang berhubungan dengan pihak luar atau organisasi sosial untuk memperoleh pinjaman. Kelompok simpan pinjam sering cepat bubar karena menjadi pengurus tidak semuanya disenangi masyarakat, kecurigaan anggota terhadap pengurus sangat tinggi. Kongsi suatu istilah yang dimulai dari individu yang menjual jasa dalam pengolahan lahan pertanian terhadap anggotanya. Kegiatannya bertujuan untuk mengatasi kesulitan mereka dalam membayar tenaga kerja. Biasanya, awal kegiatan kongsi berjalan baik dan selanjutnya sering anggota kongsi malas dengan berbagai alasan. Upah yang dibayarkan berbeda berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebesar Rp. 20.000,- per hari dan perempuan sebesar Rp. 10.000,- per hari. Julo-julo (Arisan) yang merupakan kelompok penabung, dipelopori ibu-ibu. Setiap anggota akan menabung sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan dan waktu penarikan yang ditentukan. Biasanya terdiri dari 10 orang, tiap orang akan menerima bagian sesuai dengan jumlah uang yang ditabung dan paling murah Rp. 5.000,-. Keberadaan kelompok ini sangat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah keuangan terutama untuk biaya pendidikan dan modal kerja.

94

Puslitbang Kesos

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Kesimpulan dan Saran Pemetaan kemiskinan telah menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dalam beberapa kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penelitian. Kantong-kantong kemiskinan tersebut berdasarkan tingkat nagari/kelurahan yang terbagi dalam kelompok petani lahan kering, persawahan dan nelayan. Dirumuskannya strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang disebutkan berbasis nagari/kelurahan. Adanya model strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang akan diujicobakan pada tingkat nagari/kelurahan yaitu; a. Konsep Pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal diartikan program yang bertumpu kepada kekuatan komunitas lokal dengan mengandalkan organiasi sosial yang telah ada. Tujuannya agar komunitas lokal dan tokoh masyarakat pelaku aktif pengentasan kemiskinan. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra. Partisipasi diperlukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemeliharaan. b. Prinsip Organisasi sosial dan tokoh masyarakat harus aktif dan proaktif dalam pengentasan kemiskinan yang disusun sesuai potensi dan aspirasi masyarakat. Diperlukan badan atau organisasi sosial yang bertugas mengkoordinasikan upaya pengentasan kemiskinan. Diperlukan pendampingan yang menguasai tentang strategi dan teknik penanggulangan kemiskinan. Program bersifat pemberdayaan komunitas. c. Sasaran Komunitas nagari/kelurahan dengan angka kemiskinan tinggi melalui lembaga-lembaga dan rumah tangga miskin. Meningkatkan peran nagari/kelurahan yang mempunyai program anti kemiskinan berdasarkan potensi dan aspirasi lokal. Di lokasi dibentuk organisasi dengan sebutan Panitia Penanggulangan Kemiskinan Nagari/ Kelurahan.

Puslitbang Kesos

95

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Ketentuan panitia antara lain; Lembaga tersebut dibentuk melalui musyawarah di nagari/kelurahan masing-masing, Panitia beranggotakan kaum laki-laki dan perempuan secara proporsional Struktur organisasi tediri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan sekurang-kurangnya lima anggota, Tokoh-tokoh terseleksi yang mempunyai komitmen tinggi, Mempunyai anggaran khusus, Menggali sumber-sumber lokal, Perlu pemecahan faktor-faktor struktural lokal Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1) Rekruitment Tenaga Pendamping Pendamping dalam nagari/kelurahan sebanyak dua orang. Pendamping selalu berkoordinasi dengan peneliti dan pemerintahan nagari/ kelurahan. 2) Upaya Penyadaran Pendamping melakukan upaya penyadaran kepada lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat nagari/kelurahan agar mereka aktif melakukamn usaha pengentasan kemiskinan. 3) Membentuk Panitia Berkoordinasi dengan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk panitia. 4) Pelatihan Dilakukan terhadap panitia penanggulangan kemiskinan agar memahami kegiatannya. 5) Pendataan Melakukan pendataan rumah tangga miskin dengan merumuskan kriteria kemiskinan yang sesuai dengan persepsi setempat. 6) Merumuskan Program Merumuskan program dan kegiatan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tenaga ahli, pejabat pemerintah dan pihak lain untuk membantu rumah tangga miskin.

96

Puslitbang Kesos

Chambers. 1995. Perspektif Teoritik. Jakarta. Padang. “Pemberdayaan Pranata Sosial Pengalaman Empiris” dalam Umi Ratih Santoso. Ancok. 1997. Aditya. LP3ES Hikmat. 2006. Djamaluddin. “Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta. Jakarta. 2005. Raja Grafindo Persada. 2003. Aset untuk orang Miskin: Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. Nomor 3 . Data dan Informasi PMKS dan PSKS Tahun 2004. dkk (ed). Departemen Sosial RI. Pelaksanaan Program Panitia penanganan kemiskinan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Harry. R. Membangun Keterlibatan Keterlibatan organisasi-organisasi sosial dan pemerintah dalam melakukan monitoring pengentasan kemiskinan. 2006. “Ikatan Kekerabatan sebagai Sebuah Jaringan Sosial Ekonomi: Diskusi tentang Isu-isu Perubahan pada Ikatan Kekerabatan Matrilineal Minangkabau” dalam Jurnal Pembangunan dan Perubahan Sosial. dkk (ed). Yogyakarta. Menemukan Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat. Pusdatin Kesos. Rencana Pembangunan Jangka Menangah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006 – 2010: Agenda 6 Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan. Metodologis dan Empiris.4. Jakarta. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. M.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 7) 8) 9) Membuat Peraturan Panitia dan tokoh masyarakat perlu membuat peraturan dalam pengentasan kemiskinan di daerahnya. DAFTAR PUSTAKA Afrizal. Pusbangtansosmas. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia. 1987. Jakarta. Sherraden. Puslitbang Kesos 97 . Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

.

Anwar Sitepu. Dengan menggunakan teknik PWR tampak dengan nyata bahwa masyarakat tidak saja diberi kesempatan berpartisipasi tetapi diakui dan dihargai martabatnya. Haryati Roebiyantho (anggota).ST (sekretariat). berupa daftar nama dan alamat keluarga menurut urutan (peringkat) kemiskinan. MP (ketua). keluarga miskin Pendahuluan Salah satu titik rawan dalam penyelenggaraan Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) adalah pada tahap identifikasi dan seleksi sasaran. Hendriyati. Mengatasi hal tersebut Puslitbang Kessos bermaksud menawarkan sebuah teknik yang disebut Participatory Wealth Ranking (PWR). Penyesuaian yang perlu dilakukan adalah pada sistem penilaian yaitu nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Untuk seleksi sasaran program. Yanuar Farida Wismayanti.PARTICIPATORY WEALTH RANKING Sebuah Alternatif Teknik Identifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin1 Drs. Ir. Tahap ini rawan karena pada satu sisi sangat menentukan efektivitas program secara keseluruhan pada sisi lain sering dianggap pekerjaan mudah sehingga kurang diperhatikan atau bahkan disepelekan. S. Departemen Sosial RI tahun 2006. Anwar Sitepu. Puslitbang Kesos 99 . Manual PWR mudah dijabarkan oleh fasilitator untuk memfasilitasi masyarakat melakukan pemeringkatan. Tim peneliti terdiri dari: Drs.Si (anggota). M. Drs. Agus Budi Purwanto (anggota). Dra. Siti Aminah (sekretariat). MPM 2 ABSTRAK Participatory Wealth Ranking (PWR) merupakan alternatif teknik mengidentifikasi keluarga termiskin dan miskin. Badiklit Kesos. petugas lembaga tinggal menetapkan titik batas nilai. Data yang dihasilkan berupa data mikro. Kata kunci: Participatory Wealth Ranking. Anwar Sitepu. Apabila pemberdayaan fakir miskin berniat untuk merangsang prakarsa masyarakat mengatasi permasalahannya maka PWR adalah sebuah pilihan tepat untuk mengawali langkah. dan Dra. Teknik ini dikembangkan oleh The Small 1 2 Dikembangkan dari Laporan Penelitian Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. memperoleh gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tujuannya adalah mengetahui efektivitasnya. Penelitian dilakukan di enam lokasi di provinsi berbeda. Bentuk lain yang relatif sudah dikenal lebih banyak orang adalah Participatory Rural Apraisal (PRA). Tekanan penting pada metode partisipatif bukan sebatas pada aktivitas pengkajian/penelitian atau pengumpulan data tetapi pada aspek pembelajaran masyarakat (Rianingsih (Ed). terlebih dahulu perlu dilakukan uji aplikasi. masing-masing sebagai satuan pemukiman setingkat atau bagian dari Dusun. kendala dan kemudahannya. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan di lapangan manual PWR yang disusun oleh The SEF.1996:14). Proses aplikasi di lapangan diobservasi. dan Lingkungan. Tulisan ini merupakan pengembangan dari laporan uji aplikasi PWR di lapangan. PWR adalah sebuah teknik penelitian tetapi bukan sekedar teknik penelitian biasa. sebelum dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas dalam pelaksanaan P2FM. Tujuan PWR adalah untuk menemukan keluarga termiskin di suatu masyarakat menurut ukuran mereka sendiri dan oleh mereka sendiri. Konsep dan Teknik PWR Participatory Wealth Ranking (PWR) adalah sebuah teknik pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi berlandaskan pada pendekatan partisipatif. PWR dalam perkembangannya sudah diadopsi oleh NGO yang beroperasi di seluruh dunia. 100 Puslitbang Kesos . untuk mengidentifikasi dan menyeleksi penerima pelayanannya di Afrika Selatan. Dengan Teknik PWR konsep dan indikator miskin tidak disiapkan dari luar sebelum pengumpulan data dilakukan. sekaligus bertindak sebagai fasilitator. Peneliti. seluruh pengalaman dan hasilnya dicatat dan diabstraksikan. senada dan selaras dengan paradigma. Metode-metode/ Teknik-teknik participatory dikembangkan sebagai salah satu upaya menempatkan rakyat sebagai titik pusat pembangunan (people centred development). Rukun Warga. visi dan misi serta strategi P2FM. Lazimnya sebuah produk luar. Seperti PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers. yang sebelumnya dilatih secara singkat. termasuk di Indonesia. Visi metode/ pendekatan partisipatif adalah perubahan sosial dan pemberdayaan (penguatan) masyarakat agar ketimpangan ditiadakan. PWR adalah salah satu bentuk dari metode-metode partisipatif.Participatory Wealth Ranking Enterprise Foundation (SEF) sebuah Non Governmental Organization (NGO International). Berdasarkan kajian awal teknik ini dipandang layak digunakan karena prosesnya dinilai aplicable dan teknisnya dikembangkan berlandaskan pendekatan partisipatif.

Participatory Wealth Ranking

Penggunaan teknik ini efektif dilakukan di masyarakat yang warganya saling mengenal dengan baik. Pemeringkatan keluarga dilakukan oleh perwakilan warga, dengan asumsi mereka lebih tahu kondisi sesamanya. Perwakilan warga ditetapkan secara proporsional, minimal sebanyak 9 orang dan maksimal 15 orang. Pemeringkatan dilakukan melalui proses penilaian berlapis, yaitu sebanyak tiga kali (triangulasi). Setiap penilaian dilakukan oleh kelompok kecil (tiga sampai lima orang) perwakilan warga. Penilaian dilakukan dengan teknik pengelompokkan, setiap keluarga dibandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lain. Keluarga yang sama atau seimbang kondisi sosial ekonominya dikelompokkan menjadi satu kelompok. Sumber data adalah perwakilan warga itu juga, sehingga mereka bertindak sekaligus sebagai pengumpul data dan informan. Orang luar, petugas lembaga bertindak sebagai fasilitator. Pemeringkatan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan Tahap Penghitungan Nilai.
1. Tahap Persiapan

Tahap Persiapan bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melakukan pemeringkatan. Kegiatan pada tahap ini meliputi tiga besaran, yaitu: perkenalan dan penjelasan, merencanakan pertemuan pemeringkatan dan pengaturan logistik. Perkenalan yang dimaksud dilakukan dengan aparat setempat. Kepada aparat dikenalkan siapa fasilitator, dijelaskan apa tujuannya dan bagaimana teknis pemeringkatan, termasuk cara kerja, dan dukungan apa yang diperlukan sampai pada kesepakatan melakukan pemeringkatan. Jika aparat setempat sudah jelas dan tidak keberatan, lanjutkan dengan pengaturan pelaksanaan kegiatan, termasuk waktu, tempat dan peserta. Pada kesempatan tersebut fasilitator menjelaskan persyaratan peserta, lokasi pertemuan yang diperlukan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini bertujuan untuk memisahkan atau mengelompokkan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Semua keluarga yang sama atau seimbang dari segi sosial ekonomi dikelompokkan menjadi satu kelompok, sehingga seluruh keluarga akan masuk dalam salah satu
Puslitbang Kesos

101

Participatory Wealth Ranking

kelompok. Tujuan tersebut dicapai melalui sejumlah kegiatan yaitu: pemetaan, pendaftaran keluarga, pembuatan kartu, diskusi konsep, dan sorting. Pemetaan bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh keluarga yang tinggal di suatu wilayah dimana PWR dilakukan, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Peta memuat lokasi rumah setiap keluarga di masyarakat tersebut. Setiap rumah di peta diberi nomor urut. Nama masing-masing Kepala Keluarga dan identitas lain seperti nama panggilan, pekerjaan dan nama isteri, kemudian didaftarkan pada form khusus yang sudah disiapkan. Berikutnya, nama dan nomor urut masing-masing KK ditulis kembali di atas sebuah potongan kertas karton sehingga menjadi sebuah kartu. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat sorting. Sorting adalah pembandingan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi konsep. Peserta diajak merumuskan apa yang dimaksud dengan ”miskin” dan ”sangat miskin” atau mengidentifikasi apa ciri-ciri sebuah keluarga miskin atau sangat miskin. Diskusi dimaksudkan agar peserta berpikir dan memiliki pemahaman yang sama tentang miskin dan sangat miskin. Kesamaan pemahaman diperlukan untuk mempermudah proses sorting. Sorting dilakukan dengan cara: • Fasilitator menunjukkan kartu nama keluarga kepada kelompok. Dijelaskan bahwa masing-masing kartu tersebut mewakili sebuah keluarga. • Kemudian, fasilitator mengambil dua kartu pertama, seraya memperlihatkan dan menanyakan kepada peserta, apakah mereka mengenal kedua keluarga yang namanya tertera pada masing-masing kartu tersebut? ”Keluarga mana yang lebih miskin?” Disini akan berlansung diskusi, masing-masing peserta akan menyampaikan informasi dan pendapatnya. • Setelah diperoleh kesepakatan, kedua kartu diletakkan bersebelahan, yang lebih miskin di sebelah kiri dan yang lebih kaya sebelah kanan. Alasan penempatan dicatat pada form yang telah disiapkan. Dilanjutkan dengan kartu berikutnya, bandingkan dengan dua kartu yang sudah diletakkan. Jika sama atau seimbang dengan

102

Puslitbang Kesos

Participatory Wealth Ranking

salah satu kartu yang sudah diletakkan tadi, maka kartu ketiga diletakkan di atasnya. Jika lebih kaya dari kartu sebelah kanan, maka kartu ketiga diletakkan di sebelah kanannya lagi, atau jika lebih miskin dari yang paling kiri, maka kartu ketiga itu diletakkan di sebelah kirinya lagi. • Demikian seterusnya, satu demi satu dibandingkan dan diletakkan di tempat yang sesuai. Pada akhirnya seluruh kartu akan masuk pada salah satu kelompok atau tumpukan kartu. • Sorting dilakukan sebanyak tiga kali masing-masing oleh kelompok (3 sampai 5 orang) perwakilan warga, pada waktu dan tempat berbeda. Menurut The SEF tidak menjadi soal, berapa pun banyaknya tumpukan, yang penting adalah bahwa masing-masing tumpukan berbeda menurut kondisi sosial ekonomi. The SEF menganjurkan sebaiknya minimal 4 tumpukan. Hal yang harus diingat bahwa sorting adalah membandingkan kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga, bukan bagaimana orang mencari uang atau berapa besar pendapatan sebuah keluarga. Contoh, walau pun seseorang memiliki penghasilan besar tetapi uangnya tidak dibawa ke rumah untuk kepentingan keluarganya, maka itu percuma saja, tidak memberi dampak pada kesejahteraan keluarganya. Seluruh kegiatan di atas, mulai dari membuat peta, pendaftaran nama KK, pembuatan kartu, diskusi konsep dan sorting dilakukan oleh perwakilan warga. Petugas dari lembaga hanya sebagai fasilitator. PWR harus berlangsung dalam suasana santai tetapi tetap serius.
3. Tahap Penghitungan Nilai

Akhir dari sorting adalah terpisahnya kartu keluarga menjadi beberapa tumpukan. Tumpukan paling kiri di mana keluarga termiskin berada diberi nilai 100, artinya 100% miskin. Nilai masing-masing keluarga lain tergantung pada jumlah tumpukan (pengelompokkan) dan di tumpukan mana dia berada. Contoh: Anggaplah kelompok membagi keluarga ke dalam 4 kategori atau tumpukan menurut kondisi sosial ekonominya. Menghitung seberapa miskin setiap tumpukan, 100 dibagi dengan jumlah kategori. 100 dibagi 4 = 25 kalikan dengan nomor tumpukan. Tumpukan 4 = 100 : 4 x 4 = 100;
Puslitbang Kesos

103

Participatory Wealth Ranking

Tumpukan 3 = 100 : 4 x 3 = 75 ; Tumpukan 2 = 100 : 4 x 2 = 50; Tumpukan 1 = 100 : 4 x 1 = 25. Nilai dari masing-masing kelompok penilai dimasukan pada kolom tersendiri pada form yang sudah disiapkan. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh nilai rata-rata masingmasing keluarga. Nilai rata-rata berfungsi untuk menentukan peringkat akhir keluarga di masyarakatnya. Karena masing-masing keluarga dinilai sebanyak tiga kali maka setiap keluarga memperoleh tiga nilai. Nilai rata-rata setiap keluarga adalah jumlah tiga nilai dibagi tiga. Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah, maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Maksudnya tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat.

Uji Aplikasi PWR Uji aplikasi dilakukan di 6 provinsi, masing-masing satu lokasi. Peneliti bertindak sekaligus sebagai fasilitator. Menurut tipe masyarakatnya, 4 lokasi berupa masyarakat perdesaan dan dua lokasi berupa masyarakat perkotaan. Keenam lokasi merupakan calon lokasi program pemberdayaan fakir miskin. Berikut adalah deskripsi aplikasi setiap tahap PWR.
1. Tahap Persiapan

Seluruh kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan dengan baik di semua lokasi. Kegiatan diawali dengan menemui Kepala Kelurahan/ Desa. Tim Fasilitator didampingi oleh aparat Dinas Sosial Provinsi dan atau Dinas Sosial Kota/Kabupaten. Perkenalan dengan Kepala Kelurahan/Kepala Desa berlangsung dengan baik. Kepada mereka dijelaskan bahwa kegiatan dilakukan masih sebatas mengujicobakan teknik. Kepada masing-masing juga dijelaskan secara singkat tujuan dan teknik pelaksanaan PWR. Masing-masing tidak keberatan di wilayahnya dilakukan kegiatan dan bersedia membantu. Bersama Kepala Desa/Kelurahan ditetapkan bagian wilayahnya yang akan

104

Puslitbang Kesos

Obipul. di Medan meliputi satu lingkungan. sekaligus dengan memperhatikan keseimbangan menurut jenis kelamin. Tabel 1. Kelurahan Tegalsari Mandala 1 Desa Jati. Subang (Jabar) dan Wonogiri (Jatim) bertepatan dengan bulan puasa. Jawa Tengah Bali Desa 4. Pemilihan dilakukan dengan melibatkan ketua-ketua wilayah masing-masing dan sejumlah tokoh setempat. Samarinda Seberang DESA/KEL. Persiapan lebih krusial berlangsung bersama mereka. di Subang dan Samarinda dua RT. dan seterusnya (lihat Tabel 1). Cakupan lokasi menjadi berbeda. Lamaknen Kota Samarinda Kec. Medan Denai Kabupaten Subang Kec. Perwakilan warga di lokasi yang terdiri dari dua atau lebih satuan administrasi (misal di Samarinda dua RT dan di Belu tiga dusun) ditetapkan secara proporsional. Cipunagara Kabupaten Wonogiri Kec. Dusun Jati Desa Kenteng Desa Kayubihi Desa Lakmaras Kelurahan Selili SATUAN Lingkungan (1): L IX Rukun Tetangga (2): RT 22 dan RT 23 RW 5 Dusun (1) : Dusun Ploso Jenar Dusun (1) : Dusun Pucangan Dusun (3): Sabulmil. 6. Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Desa Kota Puslitbang Kesos 105 . Desa 3. Kepada mereka juga ditanyakan apakah warganya saling mengenal satu dengan yang lain. Perkenalan dan penjelasan lebih lanjut dilakukan dengan aparat pemerintah di tingkat RT/RW/Kepala Dusun/Kepala Lingkungan. Abistas Rukun Tetangga (2): RT 29 dan RT 30 TIPE Kota 2. Fasilitator menjelaskan kriteria lokasi uji coba PWR yang diinginkan. Hal tersebut terjadi dalam upaya mencapai jumlah KK sebanyak antara 150 sampai 200 KK. Lokasi Aplikasi PWR dan Tipe Masyarakatnya No.Participatory Wealth Ranking dijadikan lokasi. penetapan lokasi pertemuan. PROVINSI Sumatera Utara Jawa Barat KOTA/KAB Kecamatan Kota Medan Kec. di Bali satu dusun. Purwantoro Kabupaten Buleleng Kec. Kec. Bangli Kabupaten Belu. Desa 5. Kegiatan dilaksanakan pada waktu dan tempat yang disepakati. Pelaksanaan PWR di Samarinda (Kaltim). Bersama Ketua RT/ RW/Lingkungan/Dusun dilakukan: pemilihan perwakilan warga. Intensitas kerja lebih banyak dilakukan bersama aparat terbawah. 1. Pada akhirnya lokasi terpilih menjadi bervariasi di masing-masing provinsi. pengaturan jadwal dan logistik.

Peta dibuat menurut wilayah satuan administrasi. Kesan umum yang muncul adalah sepertinya mereka tidak percaya bahwa mereka dapat melakukan pemeringkatan atau mereka meragukan manfaatnya. Hal ini dapat dipahami sebagai indikasi. apakah akan ada bantuan untuk warga setempat. tidak percaya diri. fasilitator bekerja bersama perwakilan warga atau disebut juga Tim Pemeringkat. karena pemerintah sudah memiliki ukuran sendiri. Kejadian berbeda terjadi di Buleleng (Bali). masing-masing untuk RT 22 dan RT 23. Seperti meminta memperlihatkan KTP. Proses kemudian diulang lagi. bahwa warga masyarakat sudah lama demikian tergantung pada instruksi. fasilitator dapat menyampaikan penjelasan dan hingga dipahami perwakilan warga. perwakilan warga dalam sesi tanya jawab seperti ”menginterogasi” fasilitator dengan cara sangat halus. langsung sekali jadi. Nama masing-masing KK sesuai nomor urut pada peta ditulis pada form yang sudah disiapkan. Di semua lokasi tidak ditemukan kesulitan berarti. terlebih dahulu membuat sketsa kemudian disalin kembali di atas kertas karton. Di beberapa tempat Tim Perwakilan warga minta agar fasilitator terlebih dahulu menetapkan ukuran miskin atau tidak miskin. Di semua lokasi pertemuan berjalan dengan baik. Pembuatan peta di semua lokasi berjalan mulus. Pelajaran berharga diperoleh dari Wonogiri. Pendaftaran KK di semua lokasi berlangsung lancar. salah seorang aparat Dinas Sosial setempat mengambil alih proses pembuatan peta akibatnya muncul kesulitan. Demikian juga di lokasi lain yang kegiatan mencakup lebih dari satu wilayah administrasi. Pada pertemuan pertama diawali dengan perkenalan dan penjelasan. memberi informasi. Hubungan dengan fasilitator mulai cair. Pertanyaan yang banyak disampaikan warga adalah seputar tidak lanjut. kedua. semua peserta aktif.Participatory Wealth Ranking 2. Pembuatan peta berlangsung melalui dua cara berbeda: pertama. seharusnya pembuatan peta diserahkan kepada warga. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini. misalnya di Subang dibuat dua peta. suasana rileks dan santai. Perwakilan Warga (Tim Pemeringkat) berhasil mengidentifikasi semua 106 Puslitbang Kesos . saling mengingatkan. dan Rekomendasi Badan Linmas setempat. Surat Tugas. kehilangan inisiatif.

Wonogiri.Purwantoro. 6. nama panggilan dan nama isteri masing-masing.Bangli. PROVINSI/KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Sesuai dengan semangat pemberdayaan. atau keluarga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di lingkungan setempat. seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. Kec.Kota Medan Kec. Kec. Kecuali di Belu (NTT). Hasil kegiatan ini adalah daftar nama KK berikut alamat. 3. hal demikian sama artinya dengan menghilangkan akses sejumlah keluarga untuk masuk pada program yang diselenggarakan untuk mereka. Dusun Jati Jateng. Banyaknya Kepala Keluarga Menurut Data dan Temuan di Lokasi Penelitian LOKASI NO. Kab Subang. Hal demikian patut diwaspadai karena dapat dibaca sebagai indikasi adanya sejumlah keluarga yang tidak tercover. Kab. Pertanyaan yang banyak muncul di semua lokasi adalah seputar siapa yang dimaksud keluarga. Lamaknen.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. Cipunagara. Selili Jabar. Desa Ploso Jenar Dusun Ploso Jenar SATUAN PEMUKIMAN SETEMPAT L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT1/5 RT2/5 RT3/5 RT4/5 RT1/6 RT2/6 Jumlah Dusun Pucangan Dusun Sabulmil Dusun Obipul Dusun Abistas Jumlah BANYAKNYA KEPALA KELUARGA DATA DESA 183 63 86 149 70 82 152 DITEMUKAN 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 PERBEDAAN 122 7 23 30 6 8 14 1. Kec. jumlah KK hasil pemetaan lebih banyak dibanding data pemerintah setempat. Bali. 4. seorang anak yang sudah menikah kemudian cerai dan kembali bersama orangtuanya. Kabupaten Bangli. 2. Mdn Denai Kel. Tabel 2. Desa Jati. Misalnya. Fenomena yang menarik adalah jumlah KK yang dilaporkan sebelumnya oleh aparat pemerintah setempat ternyata berbeda dengan temuan penelitian (lihat Tabel 2). Dalam konteks pemberdayaan. seorang anak yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtuanya. Desa Lakmaras 212 189 63 43 53 159 131 -3 -1 -2 -6 Puslitbang Kesos 107 .Participatory Wealth Ranking KK setempat. Kab. semua kasus-kasus seperti di atas didaftar sebagai keluarga tersendiri.Desa kayubihi NTT. Samarinda Seberang Kel. Kec. 5. Belu.

hubungan antar dua kelompok besar penduduk ternyata kurang harmonis. Ada dua persoalan pada kasus ini yang tidak diantisipasi sebelumnya. Pertama. TSM 1 Kota Medan. Sementara itu. ditemukan sebanyak 305 KK. Pada kegiatan ini fasilitator dituntut mampu menggali pendapat peserta. Pembuatan kartu keluarga di semua lokasi dilakukan sekaligus dengan pendaftaran nama KK. perwakilan warga ternyata tidak hafal nama sebagian KK setempat. Berikut adalah contoh definisi miskin: a) Lingkungan 9 Kel. Jika tidak cukup di fasilitasi. (1) Makan seadanya. Makan dari pemberian orang (anak/saudara/tetangga) atau mengemis. Lauk asal ada: contohnya ikan asin murahan. pengertian yang disampaikan cenderung abstrak. Setelah dilakukan pemetaan. (3). Fasilitator dapat menjalankan tugasnya dengan baik. mertua atau saudara). b) RT 29 dan RT 30 Kel.Selili. terlebih dahulu dilakukan diskusi konsep. Mereka mengenal wajahnya tetapi tidak tahu siapa namanya. Kedua kegiatan dilakukan setelah peta selesai digambar. jumlah penduduk di lokasi jauh melebihi data yang disampaikan Ketua Lingkungan sebelumnya. semua kegiatan dilakukan oleh Tim Perwakilan Warga.Participatory Wealth Ranking Kesulitan terjadi di Medan (Sumut). 108 Puslitbang Kesos . Kota Samarinda. Kendala yang dihadapi di beberapa lokasi adalah form dan blanko yang disiapkan tidak mencukupi karena jumlah penduduk melampaui perkiraan. Memperoleh makanan dari bantuan orang lain atau mengharap dari “raskin”. Sebelum sorting. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan apabila salah seorang anggotanya perlu berobat di rumah sakit. Selama pembuatan kartu tidak ditemukan kesulitan serius. salah satu faktor yang cukup mendukung kelancaran kegiatan adalah terdapatnya anggota perwakilan warga yang mampu menulis dengan jelas dan cepat. salah satu kelompok tertutup bagi kelompok yang lain. Pendidikan anak putus sekolah sebelum tamat SD atau SLTP. (2). yaitu 187 KK. Di semua lokasi berhasil dirumuskan pengertian konsep ”miskin” dan ”sangat miskin”. (5). (4). Kedua. Rumah numpang (pada orangtua. Pekerjaan tidak tetap (serabutan). Ciri-ciri sebuah keluarga miskin menurut hasil diskusi adalah: (1). Biasanya cari pinjaman.

Rumah Tidak layak huni yang dimaksud adalah rumah yang komponen-komponennya. Untuk memenuhi kebutuhan makan (pokok) selalu utang.000. Puslitbang Kesos 109 . Model pertama. sehingga ketiga kelompok penilai dapat melakukan tugasnya. ketiga kelompok penilai bekerja secara bergantian.. Perwakilan warga kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing dengan 3 sampai 4 orang anggota. seperti dinding. (6) Peralatan rumah tangga sangat minim. secara simultan. Tugas masingmasing kelompok adalah menilai seluruh keluarga dengan memperbandingkan satu dengan yang lain berdasar kondisi sosial ekonomi. (8) Tidak mampu menyediakan biaya pendidikan anak hingga minimal tamat SLTP. (3) Tidak punya tempat tinggal sendiri yang layak huni. Setelah diskusi konsep selesai dilanjutkan dengan penjelasan dan peragaan bagaimana melakukan sorting. Kegiatan ini disebut juga sorting. kelompok penilai melakukan sorting secara terpisah pada waktu bersamaan di lokasi yang sama. (5) Tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit. Model kedua.750. Pada sorting dengan model paralel kartu keluarga perlu disiapkan sedemikian rupa.. Penghasilan rata-rata per hari kurang dari Rp. Biasanya numpang pada keluarga lain atau menyewa rumah yang tidak layak. Cara kedua ini dilakukan di kebanyakan lokasi karena di pandang lebih mudah dan mengirit waktu.per bulan.25.atau kurang Rp. (7) Tidak mampu membeli air bersih. tetapi dibagi tiga bagian (pengalaman di Medan).Participatory Wealth Ranking (2) Pekerjaan dan penghasilan tidak tetap. Misalnya di buat rangkap tiga (pengalaman di Subang dan Samarinda) atau tetap di buat rangkap satu.000. secara paralel. Teknik sorting seperti pada manual The SEF tampak cukup mudah dijelaskan oleh fasilitator dan mudah dipahami serta mudah dilakukan perwakilan warga di semua lokasi. Misalnya tidak punya TV. (4) Anggota keluarga sering sakit karena kurang gizi. Pelaksanaan sorting berlangsung dalam dua model. lantai dan atap sudah lapuk atau bocor. sementara kelompoknya disebut juga Kelompok Penilai.

nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Sistem penetapan nilai demikian ternyata ditolak para peserta (anggota kelompok Penilai) di semua lokasi. Tahap Penghitungan Nilai Penghitungan nilai yang dimaksud adalah mulai dari menetapkan nilai setiap keluarga sampai mencari nilai rata-rata. Hal tersebut dimungkinkan karena semua anggota Kelompok Penilai mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Kejadian seperti ini dialami di Medan. Sistem ini diterima dengan pertimbangan tidak merubah substansi pengelompokkan. Mereka mudah memahami nilai tertinggi ditetapkan sebesar 100 diberikan kepada setiap keluarga termiskin yang kartunya berada pada tumpukan paling kiri. Karena sorting dilakukan sebanyak tiga kali maka masing-masing keluarga memperoleh tiga nilai dan tiga catatan alasan. catatan pada kategori mana sebuah keluarga ditempatkan dan alasan informatif mengapa ditempatkan pada kategori tertentu. Hasil sorting terdiri dari dua bagian penting. sejumlah keluarga tidak dikenal dengan baik oleh Kelompok Penilai.Participatory Wealth Ranking Dalam prakteknya sorting berlangsung lancar. sehingga nilai yang dihasilkan tidak konsisten. apabila sebuah kelompok penilai membagi penduduk menjadi 4 kategori (tumpukan). 3. Keberatan warga diterima oleh fasilitator di semua lokasi. Kelompok penilai di semua lokasi tidak mengalami kesulitan memahami sistem menetapkan nilai. Analog dengan sistem penilaian anak sekolah. Nilai berasal dari atau tergantung pada tumpukan mana dia ditempatkan dan jumlah seluruh tumpukan (lihat sub bagian penghitungan nilai di atas). Banyaknya kategori bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lain. Dengan ketentuan demikian. kelompok penilai dapat menilai setiap keluarga dan menempatkannya ke dalam kelompok atau kategori tertentu. Alasan mereka seragam. nilai bagi masing-masing keluarga. Menetapkan nilai masing-masing keluarga dilakukan oleh tiga Kelompok Penilai melalui proses sorting. tumpukan ke-4. Pertama. mulai dari 4 sampai 6 kategori. yaitu nilai tertinggi selalu diberikan kepada yang terbaik. maka nilai masing-masing keluarga mulai dari termiskin sampai terkaya adalah 110 Puslitbang Kesos . Karena itu sorting dapat disebut juga sebagai proses penilaian. Kesulitan terjadi apabila Kelompok Penilai tidak mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Kedua.

Kabupaten Bangli.Purwantoro. Mdn Denai Kel. Dalam upaya penyederhanaan. Kab. Penghitungan nilai rata-rata dapat dilakukan dengan lancar oleh peserta. Kec.50. Desa Jati. Bali. Kec. Distribusi Keluarga menurut Golongan Peringkat Kondisi Sosial Ekonomi Di Lokasi Penelitian NO. Kec. Nilai masing-masing keluarga dengan mudah dapat dimasukkan kelompok penilai ke form yang disiapkan. peringkat keluarga digolongkan menjadi 4 sampai 6 golongan peringkat (lihat Tabel 3). Kota Medan Kec. Berdasarkan nilai rata-rata diketahui peringkat kemiskinan setiap keluarga. 5 atau 6. Desa Kayubihi NTT. Belu. Tabel 3.Participatory Wealth Ranking 25. Lamaknen. 6. Cipunagara. Selili Jabar. Kec. Kab. LOKASI PROVINSI/ KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Masing-masing peserta ternyata memperhatikan keluarga siapa dapat nilai berapa. 75 dan 100. Mudah bagi mereka menghitung (25 + 25 + 50) : 3. Sistem penilaian tetap sama.Bangli. Keluarga dengan nilai terendah adalah keluarga termiskin. Kesempatan memasukkan nilai ke form ternyata sekaligus berfungsi melakukan kontrol. Pada umumnya jumlah kategori yang ditetapkan oleh tiga Kelompok Penilai di suatu lokasi adalah sama. Keluarga dengan nilai tertinggi adalah keluarga terkaya. 5. Desa Lakmaras Puslitbang Kesos 111 . Dusun Jati Jateng.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. 1. 4. Kab Subang. Smrd Seberang Kel. Mereka spontan mengajukan protes jika merasa ada keluarga yang diberi nilai tidak semestinya. sebanyak 4. Wonogiri. 3. Desa Kenteng SPS JML PEND GOLONGAN PERINGKAT Sosial Ekonomi I 52 6 5 11 25 18 43 12 10 6 10 11 10 65 108 4 2 8 14 II 97 28 34 72 22 37 59 22 14 23 25 26 22 155 104 7 1 2 1 III 68 41 63 104 29 31 60 15 14 10 9 6 6 68 60 4 4 4 14 IV 73 5 7 12 4 4 9 4 7 11 4 3 40 4 28 21 21 70 V 15 5 1 2 6 1 15 13 11 14 38 VI 4 2 2 8 L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT 1/5 RT 2/5 RT 3/5 RT 4/5 RT 1/6 RT 2/6 Jumlah Dusun Pucangan Sabulmil Obipul Abistas Jumlah 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 2.

6. Penggolongan keluarga bervariasi di setiap lokasi. A 25 25 25 50 50 50 75 75 75 100 B 25 25 50 50 50 75 75 75 100 100 NILAI C 25 50 50 50 75 75 75 100 100 100 JML 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 RATA2 25 33 41 50 58 66 75 83 92 100 PERINGKAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 GOLONGAN PERINGKAT I Paling Miskin II Miskin III IV Dengan memperhatikan karakteristik umum keluarga sesuai nilai rata-rata atau peringkatnya dapat ditentukan “titik batas poin” keluarga yang berhak menjadi sasaran program. Dengan teknik PWR berhasil diidentifikasi keluarga termiskin di setiap lokasi. Peringkat tertinggi. (yaitu 112 Puslitbang Kesos . Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Maksudnya. 4. Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah. 10. Di Sumatera Utara dan di Jawa Tengah dibagi menjadi lima peringkat keluarga. Variasi Nilai Rata-Rata yang berpeluang Muncul dan Peringkatnya No. Keberhasilan Teknik PWR Teknik PWR berhasil dengan baik mengelompokkan secara relatif semua keluarga di setiap lokasi menurut peringkat sosial ekonomi. Tabel 4. yaitu (lihat Tabel). yaitu di Kaltim.Participatory Wealth Ranking 4. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat. Sasaran program P2FM kemungkinan bukan keluarga dengan nilai terendah. 8. mungkin keluarga dengan nilai 33 sampai 41. 3. Jabar dan Bali keluarga digolongkan menjadi 4 peringkat. Contoh: Penduduk dibagi menjadi 4 kategori maka terdapat 10 variasi nilai rata-rata yang muncul. 2. Sedangkat di NTT menjadi 6 peringkat keluarga. Hal ini harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran program yang dirancang sebelumnya. tidak bisa seragam untuk semua lokasi. maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Menetapkan Sasaran Program Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). 5. 1. Di tiga lokasi. 9. 7.

Keluarga termiskin adalah keluarga yang masuk pada peringkat satu. Apabila Kelompok Penilai B memberi nilai pada keluarga yang sama sebesar 60 maka nilai tersebut dianggap tidak konsisten. Jateng dan NTT nyaris 100%.5%) 166 343 Bali 273 (99. Jabar dan Bali. Di bawahnya berturutturut keluarga yang lebih rendah secara sosial ekonomi. Nilai konsisten yang dimaksud adalah apabila nilai yang diberikan oleh tiga kelompok penilai adalah sama atau kalau berbeda maksimal perbedaan sebesar 25 poin. Konsistensi nilai di semua lokasi ternyata di atas 90%. peringkat 5 di Jateng dan Sumut dan peringkat 6 di NTT) terdiri dari keluarga terkaya. Di Jabar dan Kaltim konsistensi nilai bahkan mencapai 100%.6%) 47 (15. Standar Keabsahan Data Teknik PWR dilengkapi dengan ukuran keabsahan tersendiri. PERBEDAAN NILAI 0 – 25 (Konsisten) 26 > (inkonsisten) Jumlah Sumut 258 (84. Alasan lain untuk tidak meragukan keabsahan data yang diperoleh dengan teknik ini adalah: 1. yaitu: konsistensi skor.7%) 2 (1.3%) 153 Puslitbang Kesos 113 . Di setiap lokasi.1%) 276 NTT 151 (98. 1.Participatory Wealth Ranking peringkat 4 di Kaltim. Hal tersebut diyakini karena home visit di ke-6 lokasi memperlihatkan keluarga yang memperoleh nilai rata-rata rendah. Dengan demikian tampak bahwa teknik PWR dapat menghasilkan data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan. Hasil observasi atas beberapa keluarga miskin setelah proses penilaian selesai. memang kondisinya miskin. Distribusi dan persentase keluarga menurut perbedaan nilai No. tampak bahwa penilaian yang diberikan Tim Pemeringkat cukup objektif.4%) 305 Kaltim 179 (100%) 0 (0%) 179 LOKASI Jabar Jateng 166 331 (100%) (96.5%) 0 12 (0%) (3. Tabel 5. Contoh: Kelompok Penilai A memberi nilai kepada keluarga nomor urut 1 sebesar 20. Sebaliknya apabila skor tidak konsisten lebih dari 10% maka hasil penilaian kelompok itu perlu diragukan. Apabila 90% konsisten maka hasil penilaian kelompok tersebut dianggap dapat dipercaya.9%) 3 (0. 2. masingmasing peringkat berhasil dideskripsikan gambaran kondisi sosial ekonominya. di Bali.

g) Pada proses pendaftaran nama KK versi The SEF informasi yang dikumpulkan meliputi nama KK. alamat dan nama isteri. peta dapat diperluas sehingga memuat unsur PSKS dan PMKS. masih ada rasa malu para perwakilan warga untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai. PWR cukup cermat. b) Waktu pelaksanaan fleksibel. atau anak yang sudah menikah tetapi tinggal bersama orangtua/mertua dihitung sebagai keluarga tersendiri. Kelebihan dan Kendala Kelebihan PWR adalah: a) Teknik PWR mudah dipahami dan mudah dilakukan meskipun oleh warga berpendidikan rendah. kedua. lebih kaya atau menjadi lebih miskin. d) Dapat mengidentifikasi seluruh keluarga yang bertempat tinggal di wilayah setempat. tampak bahwa pengumpulan data dapat diperluas/diperdalam sesuai kepentingan. Hasil penilaian tiga kelompok penilai di Medan ternyata tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Ketika aplikasi PWR dilakukan di lapangan. dapat dilakukan di luar jam kerja. f) Pada proses pemetaan versi The SEF. nama panggilan. seperti janda yang tinggal serumah dengan keluarga anaknya. penilaian dilakukan berlapis. peta semata-mata untuk mengidentifikasi keluarga. pekerjaan dan nama isteri. Upaya seseorang untuk menempatkan sebuah keluarga pada peringkat yang tidak sesuai.4%. Karena: pertama.Participatory Wealth Ranking 2. tampak sulit terjadi. ada saling mengontrol antara peserta. c) Masyarakat merasa dihargai karena seluruh proses dilakukan oleh mereka dan sesuai dengan ukuran yang berlaku sehari-hari di masyarakatnya. PWR berpeluang untuk mengumpulkan data PSKS (Potensi Sosial Kesejahteraan Sosial) dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lebih luas/banyak. e) PWR dengan konsep keluarga lebih membawa nuansa keadilan.. Keluarga yang sudah tidak lengkap. pekerjaan. nilai inkonsisten meliputi 15. 114 Puslitbang Kesos . Data yang diperoleh tidak sekedar angka tetapi lengkap dengan identitas mulai dari nama KK. Mengamati proses yang terjadi. ketiga. Pengecualian terjadi di Medan. proses penilaian dengan kartu memperkecil peluang.

Indomie VS Jagung Pemeringkatan keluarga dengan Teknik PWR. mulai dari termiskin sampai terkaya. 3. seperti pada kasus Wonogiri dan Bangli. dapat dilakukan oleh dua orang fasilitator bersama sebanyak 9 orang perwakilan warga untuk sebanyak 150 sampai 200 KK dalam waktu tiga hari. d) Bahasa dapat menjadi kendala jika tidak ada penterjemah. di setiap SPS. Kendala dalam pelaksanaan PWR adalah: a) Masyarakat kita sudah terbiasa dengan instruksi. Daftar nama KK seluruh penduduk SPS. pemilihan informan (perwakilan warga) harus hati-hati. seperti dialami selama penelitian. Dengan waktu dan tenaga seperti tersebut di atas. dikumpulkan informasi lanjutan tentang kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga. Puslitbang Kesos 115 . c) Pada masyarakat di mana hubungan sosial antara kelompok tidak harmonis atau renggang. b) Diperlukan kesabaran fasilitator untuk melakukan seluruh proses.Participatory Wealth Ranking h) Pada proses sorting. hasil yang diperoleh meliputi: 1. Daftar nilai seluruh KK 6. dengan tenaga dan waktu yang sama dapat memperingkatkan lebih dari 200 KK. Daftar nama KK menurut peringkat sosial ekonomi. ketika melakukan penilaian/perbandingan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Untuk wilayah perdesaan. Konsep miskin menurut masyarakat setempat. melibatkan semua kelompok. Daftar alasan penempatan setiap keluarga pada peringkat tertentu. Hasil lain yang juga tidak ternilai harganya adalah dampak yang ditimbulkan pada pribadi perwakilan warga dan pada masyarakat sebagai kesatuan sosial. di mana penduduknya homogen dan memiliki interaksi sosial yang relatif tinggi. e) Masyarakat cenderung mengharapkan bantuan. Peta wilayah pemukiman setempat 2. 5. 4.

Pelaksanaan PWR selain berguna untuk pengumpulan data sekaligus dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi program. fasilitator dapat menangkap situasi umum masyarakat.Participatory Wealth Ranking 1. masyarakat diakui dan dihargai eksistensinya. termasuk pemerintah. 116 Puslitbang Kesos . hubungan sosial yang kurang harmonis antara kelompok penduduk pribumi dan non pribumi (di Medan). Kalau pembangunan hendak mengejar ”setoran” maka teknik PWR terasa boros dan mahal. Kesimpulan dan Saran PWR cukup efektif digunakan untuk mengidentifikasi keluarga menurut urutan kemiskinannya secara partisipatif. 3. Apabila pembangunan kesejahteraan sosial ingin konsisten hendak membangun masyarakat sebagai basis perkembangan mandiri. Perasaan inferior warga bisa diangkat. Apakah teknik PWR efesien? Mahal atau murah. praktis seperti memasak mie instan atau memerlukan waktu relatif lama seperti memasak jagung? Sangat tergantung dari sisi mana pengukuran dilakukan. Bandingkan jika petugas datang lalu melakukan survey tanpa peduli pendapat masyarakat setempat. Melalui proses pelaksanaan PWR. Mereka dapat melaksanakan sendiri PWR secara berkala baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun kepentingan pihak lain. Sikap selalu menunggu instruksi bisa berkurang. Pengalaman perwakilan warga mengikuti kegiatan ini dapat dijadikan landasan membangun sistem pegumpulan data PSKS dan PMKS secara berkesinambungan. Sebagai kesatuan sosial. 5. mendidik manusia. 2. Pelaksanaan PWR dapat menjadi titik awal (merangsang) muncul dan berkembangnya kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama sesama warga untuk memecahkan masalah masyarakat. PWR menjadi super murah. PWR memungkinkan partisipasi masyarakat disalurkan secara representatif dan menghasilkan data secara sistematik. 6. Teknik ini mudah dilakukan oleh fasilitator yang dilatih secara singkat dan perwakilan masyarakat sekali pun berpendidikan rendah. Pada pribadi perwakilan warga mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya. Rasa percaya diri tumbuh. 4. ketidakpecayaan warga atas penjelasan aparat pemerintah (di NTT). seperti: kecurigaan warga terhadap pendatang (di Bali).

Djohani. Pada aplikasi PWR harus diwaspadai prosesnya dilakukan dengan benar. Walapun teknik sudah cukup partisipatif tetapi jika tidak digunakan dengan benar hasil akhirnya akan berbeda. Puslitbang Kesos 117 . Malaysia. ben Nkuna. Bandung Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusatenggara. Cost Effective Targeting: Two Tools to Identify the Poor. sehingga diperoleh pengalaman riil. PWR tidak sekedar mengidentifikasi keluarga miskin dan termiskin. PWR juga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan sistem pengumpulan data berkelanjutan berbasis masyarakat. 1996.Participatory Wealth Ranking PWR potensial digunakan untuk menjaring informasi lebih dalam (spesifik) maupun lebih luas. Namun sebelum digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan seleksi sasaran P2FM. Berbuat Bersama Berperan Setara: Penerapan Participatory Rural Appraisal. Rianingsih (Ed). tetapi sekaligus merangsang prakarsa masyarakat. DAFTAR PUSTAKA David S Gibbon. Anton Simanowitz. 1999. maka PWR dapat dijadikan pilihan teknik. CASHPOR Technical Service. Apabila identifikasi dan seleksi sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin hendak dijadikan kegiatan produktif. Negeri Sembilan. PWR perlu terlebih dahulu digunakan secara terbatas di beberapa kabupaten.

.

Drs. M. Anggota : Ir.Pd. informal). S. M. Adapun 1 2 Diangkat dari penelitian “Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan”-Identifikasi Masalah dan Kebutuhan. Agus Suradika. dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah. ekonomi.Sos. Nusa Tenggara Timur dan Papua). Prof. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi.Pd. dengan anggota Tim : Konsultan : Dr. dan Haryanto. Informan ditentukan secara purposive dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. Ajun Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Sugiyanto.Si. Marzuki. Badan Pendididkan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial.Sc. M. dokumentasi dan focus group discussion. Sugiyanto.. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif wawancara dengan para informan. Dr. merupakan studi kasus wilayah perbatasan di lima propinsi (Kepulauan Riau. permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di wilayah perbatasan adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan. Erliwati Suin. Departemen Sosial RI. kebutuhan dan potensi serta untuk mendapatkan konsep model pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan. yaitu: pemuka masyarakat (formal.Si. H. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. BA. SST. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari responden yang bersifat kuantitatif. Rukmini Dahlan. M.PEMBERDAYAAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN (Identifikasi Masalah dan Kebutuhan)1 Sugiyanto. M.. keterampilan serta ketidakmenentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. yang diikuti penyajian data. 2 ABSTRAK Penelitian ini. pengetahun. M.. Orsos. kesehatan dan lainnya). Ketua Tim : Drs.Pd.. Untuk itu kebutuhan yang dibutuhkannya antara lain memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. Muchtar. Masngudin.Si. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. S. keterampilan. Hum. S. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. Kalimatan Barat. Sekretariat : Bahder Husni. Puslitbang Kesos 119 . Secara umum. observasi. Perguruan Tinggi dan aparat instansi daerah terkait. Kalimantan Timur. LSM.

000-an km dan terletak diantara dua benua (Australia dan Asia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) memiliki perbatasan baik darat maupun laut (http//www.mil. Di wilayah yang berbatasan darat. Secara umum intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah dan Orsos telah dilakukan tetapi secara spesifik yang mengarah terhadap pemberdayaan keluarga belum dilakukan. Kaltim. termasuk pulau-pulau terluar. sebarannya sangat jarang. Kata kunci: Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17. 120 Puslitbang Kesos . yaitu: pergeseran batas negara. minimnya pembangunan infrastruktur. misalnya: Kalbar. 30 Januari 2006). bahkan tidak berpenghuni (KRA XXXVIII. Abdulhadi (LIPI) mengidentifikasi sejumlah permasalahan di wilayah perbatasan.504 pulau.tnial. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari perairan dengan garis pantai sekitar 81. Konsep model tersebut masih perlu diujicobakan dan disosialisasikan ke berbagai pihak agar dapat menjadi program yang lebih efisien dan efektif. 2004). sampai kurangnya perhatian dari sektor-sektor terhadap pembangunan wilayah perbatasan (MI. Rencana pembangunan itu antara lain: peningkatan keamanan. kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga..I.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan potensi (sosial.dalam Rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar yang beranggotakan 17 menteri . arus informasi dari dalam negeri kurang dan lebih deras arus dari negeri tetangga. Karena program yang telah dilakukan masih bersifat charity. alam dan SDM) masih sangat terbuka sekali untuk dapat didayagunakan. Lemhanas R.menegaskan. kemiskinan penduduk. Menko Polhukkam .id). Oleh karena itu. masalah perbatasan saat ini merupakan masalah krusial yang harus mendapatkan perhatian khusus. pelayanan bagi masyarakat serta penyediaan navigasi pelayaran (MI. 2 Januari 2006). penyebaran penduduk di wilayah perbatasan umumnya jarang dan sporadis. Secara demografis. NTT jumlah penduduknya sedikit. Sedangkan pada perbatasan laut. Konsep model pemberdayaan keluarga yang ditawarkan adalah konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan.

pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan merupakan keharusan. yang dimaksud keluarga adalah keluarga miskin yang tinggal di wilayah berbatasan langsung dengan negara lain. atau ayah dan anaknya. karena keluarga mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. banyak keluarga (di perbatasan) di dera berbagai masalah seperti: kemiskinan. Yang pada umumnya mereka dalam kondisi keterbatasan baik secara fisik (sarana transportasi. Soekanto (1990) juga menyatakan. kenyataan empirik menunjukkan. (2) unit sosial ekonomi yang secara material memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. rendahnya kesehatan & nutrisi. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan.I. Akan tetapi. anak-anak yang tidak sekolah dan berbagai masalah sosial lainnya. atau ibu dan anaknya. (3) menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah pergaulan hidup. dan (4) merupakan wadah terjadinya proses sosialisasi awal bagi manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Puslitbang Kessos Depsos RI (2006) melakukan penelitian. bahkan tidak tersedia). 1988). unsur Pemda maupun masyarakat (LSM). komunikasi & lainnya yang tidak memadai.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Sejalan dengan pemikiran itu. Pemda. tingkat pendidikan rendah. Mutu suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas kesatuan primer ini. Dunia Usaha. keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia. perumahan dan sanitasi yang tidak layak. LSM/Orsos dan Perguruan Tinggi. serta ekplorasi model-model pemberdayaan keluarga baik yang telah maupun sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak di daerah. Menurut para ahli. yang nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh unit operasional Departemen Sosial R. Terkait dengan itu. bertujuan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan keluarga di daerah perbatasan. atau suami istri dan anaknya. agar ketenteraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut. rendahnya tingkat pendidikan. Dalam Undang-Undang Nomor :10 Tahun 1992 dinyatakan. keluarga adalah: (1) pelindung bagi pribadi-pribadi anggotanya. dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Keluarga dan pihak terkait lainnya. maupun nonfisik (tingkat pendapatan rendah. Penelitian ini merupakan input bagi penyusunan konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. Puslitbang Kesos 121 . Dalam konteks penelitian ini. derajat kesehatan rendah dan lain sebagainya).

vulnerrebality (kerentanan). Ia menganalisis penyebab kemiskinan sebagai hubungan sebab akibat yang saling berkait dari powerlessness (ketidakberdayaan). yaitu: kondisi berdaya dan ketidakberdayaan. Terkait dengan ketidakberdayaan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Adapun arti dari pemberdayaan (empowerment) itu sendiri merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat. Perangkap Depriasi (Sumber : Chambers. pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan memenuhi kehidupan komunitas mereka. 1983) 122 Puslitbang Kesos . Chambers (1983) mengemukakan konsep perangkap deprivasi (concept of deprivation trap). hilangnya kekuatan tawar menawar. membuat rakyat semakin tidak mempunyai kemampuan terhadap permintaan mendadak untuk pembayaran pinjaman atau terhadap permintaan uang suap dalam suatu sengketa. memperumit keadilan hukum terhadap penyelewengan. utamanya Eropa. poverty (kemiskinan) dan isolation (keterisolisasian). Chambers lebih lanjut menjelaskan. terdapat dua hal yang saling berkait. physical weakness (kelemahan fisik). Dalam konsep pemberdayaan. kesempatan. Ife (1995) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber. ketidakberdayaan membatasi akses terhadap sumber daya negara. Saling keterkaitan kelima itu dapat dicermati pada gambar berikut: Ketidakberdayaan Isolasi Kerentanan Kemiskinan Kelemahan Fisik Bagan 1.

tetapi saling terkait. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. (d) Desa Berakit (Bintan Kepri) berbatasan laut dengan Malaysia & Singapura. yaitu: (1) proses primer. Data kuantitatif dianalisis secara distributive-frekuentif. Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku. dan (2) proses sekunder. atau kemampuan kepada masyarakat. dokumentasi. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan serta keterampilan dan ketidak menentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. Agar kecenderungan primer terwujud. lokasi terpilih adalah: (a) Kampung Skouw Sae (Jayapura Papua) berbatasan darat dengan PNG. dan (e) Desa Silawan (Belu NTT) berbatasan darat dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan. sejumlah permasalahan keluarga yang mengedepan di daerah perbatasan lokasi penelitian adalah: kemiskinan penduduk. (b) Desa Pancang (Nunukan Kaltim) berbatasan darat & laut dengan Malaysia. memotivasi masyarakat. Lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan. (c) perguruan tinggi. agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka. Informan ditentukan secara purposive mereka memahami secara baik kondisi daerah perbatasan. seringkali harus melalui proses sekunder terlebih dahulu. (b) orsos/LSM. Atas pertimbangan itu.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Menurut Oakley & Marsden (1984) dalam Pranarka & Moeljarto (1996). dan focus group discussion. informan dalam penelitian ini adalah: (a) pemuka masyarakat setempat (formal-informal). proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. mendorong. Atas dasar itu. dengan menekankan pada menstimuli. Responden ditentukan secara random sampling . Puslitbang Kesos 123 . agar mempunyai kemampuan/ keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. kekuatan. (c) Dusun Bungkang (Sanggau Kalbar) berbatasan darat dengan Malaysia. lokasi tersebut berbatasan langsung dengan negara lain. (d) aparat instansi Pemerintah Daerah terkait. yang diikuti penyajian data. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara.kepala keluarga di daerah berbatasan. observasi.

perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. serta belum ada program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. non formal) lokal. tidak berkelanjutan. potensi. transportasi. luar negeri). alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. potensi tersebut model yang ditawarkan ini akan diuraikan melalui variabel-variabel: lokasi penelitian (desa/kecamatan/ kabupaten). Disamping itu. antara lain: jalan. Orsos. sekolah. Adapun intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di wilayah perbatasan. dan ketidakberdayan secara sosial. kesehatan. pengetahun. Intervensi kebijakan pemerintah tersebut di rasakan masih jauh dari yang diharapkan. Demikian juga potensi alam (laut. raskin. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. adalah: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. UEP. 124 Puslitbang Kesos . dan psikologis. pendidikan. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. juga bersifat philantropy. dan ekonomi (pasar). bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. juga adanya lembaga-lembaga (informal. model yang ditawarkan (yang dilihat dari pelatihan. Disamping itu. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. Adapun potensi (sosial. BLT/SLT. ekonomi.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. keterampilan. kesehatan. untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. kebutuhan. keterisolasian. politik. ekonomi (pasar) dan pemukiman. kesehatan dan lainnya). Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Berdasarkan permasalahan. lahan pertanian. karena masih lebih bersifat charity. Dengan demikian. penyuluhan. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. metode. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan adalah: memfasilitasi mereka. kebutuhan. permasalahan. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi). kesehatan. adalah: adanya rasa kebersamaan. Demikian halnya intervensi sosial yang dilakukan oleh Masyarakat (Orsos/LSM: dalam.

Sesuai dengan prinsip participatory action research (PAR). Keluarga di daerah perbatasan Diperolehnya pengetahuan. uji coba perlu dilaksanakan berkali-kali untuk meredesign sesuai dengan hasil uji coba. & bantuan UEP Keberdayaan Keluarga Pengawasan Bagan 2. kebutuhan pokok. Belu dan Jayapura). Oleh karena itu. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini nantinya masih terbatas pada lima lokasi penelitian awal (Bintan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan pendampingan) dan user. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa permasalahan umum keluarga di daerah perbatasan. adalah kemiskinan penduduk. masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam usaha memperkecil kelemahan dan menjawab ancaman. bahan bangunan perbaikan rumah. & UEP. tentunya selain di lima wilayah perbatasan yang menjadi sampel penelitiaan ini. Nunukan. Model tersebut seperti terlihat pada bagan tersebut di bawah ini : Masyarakat (Pelaku perubahan) Pemerintah (Fasilitator) LMS/Orsos Pemuka Masyarakat Intervensi: Pelatihan. keterisolasian dan ketidakberdayan Puslitbang Kesos 125 . keterampilan. Sanggau. bahan bangunan perbaikan rumah. Setelah itu bisa di uji cobakan lagi pada daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Sehingga nantinya didapatkan/dihasilkan model yang variatif untuk setiap jenis wilayah perbatasan. bantuan: Pendamping. Model tersebut memungkinkan untuk direplikasikan di tempat lain. maka untuk menghasilkan model yang diharapkan memerlukan proses yang panjang. bimbingan Bantuan teknis (pendampingan) Bantuan: Kebutuhan pokok. yang mewakili perbatasan darat maupun laut dengan negara tetangga. Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. Namun.

Adapun potensi (sosial. Disamping itu. kesehatan. pertama: secara internal (Depsos R. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan antara lain: memfasilitasi mereka. kesehatan. 126 Puslitbang Kesos .I. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. transportasi. serta belum adanya program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. keterampilan. Dengan demikian. misalnya). (b) membentuk semacam lembaga nasional. Kedua: secara eksternal. BLT/SLT. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. raskin. yang khusus menangani daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. Disamping itu. dipandang perlu: (a) penyusunan rancangan perundang-undangan tentang daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. setidaknya untuk dapat mengakses terhadap sistem sumber informasi. Demikian juga potensi alam (laut. ekonomi. Seperti konsep model yang ditawarkan (prescriptive) tersebut di atas. kesehatan dan lainnya. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan secara sosial. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. sebagai acuan secara nasional dalam upaya mengembangkan daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/ terpencil tersebut dalam rangka memperkokoh rasa nasionalisme dan tetap utuhnya NKRI. antara lain: jalan. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. karena masih lebih bersifat charity tidak berkelanjutan. ekonomi (pasar) dan pemukiman. politik dan psikologis. Sedangkan intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di daerah perbatasan lokasi penelitian. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. kesehatan dan ekonomi (pasar). sekolah. Dalam upaya pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. pengetahun. pendidikan. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. lahan pertanian. masih jauh dari yang diharapkan. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. antara lain: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. antara lain: masih kentalnya rasa kebersamaan. untuk itu direkomendasikan. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi melalui KUBE.) perlu dirancang suatu konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. juga adanya lembagalembaga (informal. non formal) lokal.

& Moeljarto. Pemberdayaan (Empowerment). D it. Community Development: Creating community alternatives-vision. UU.M. Pemberdayaan. Bandung: Eresco. Pemberdayaan Peran Keluarga. W. United Kingdom. Vindyandika. Jakarta: Centre for Strategic and Intenational Studies (CSIS). Pranarka. Pemberdayaan Peran Keluarga Gerungan. (1983). Jim.. (1996). A. Published by Longman scientific and technical. Robert. Nomor: 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluar ga Sejahtera.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan DAFTAR PUSTAKA Chambers. Longman Pty Ltd. R. Puslitbang Kesos 127 . Pemberdayaan Sosial.W. dan implementasi. (1988).A.Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Tugas Di. (2002). Psikologi Sosial. Rural development: Putting the last first. Depsos R. analysis and practice. (1995). konsep. Ditjen. Australia.I.I. essex. Ife.

.

upaya ini menurut pengelola panti tetap belum bisa membantu biaya operasional panti.Sos dan Muslim Sabarisman. Panti-panti sosial pada umumnya masih tetap mengharapkan agar subsidi masih diterima pada masa-masa mendatang. (2) pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomi produktif. yang hasilnya menunjukkan perubahan positif meskipun baru sebagian kecil panti sosial mengalami peningkatan omset dan aset setelah mendapatkan subsidi. S. dan (3) upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). Penerbit Puslitbang Kesos Depsos RI. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 129 . Upaya panti. Pengaruh subsidi. Adapun subsidi Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dimanfaatkan untuk membuka UEP baru atau pengembangan UEP yang sudah ada. Implikasi kebijakan 1 2 Diangkat dari hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program Subsidi Panti Dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Sosial oleh Drs.Si. Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial. MSW. Suradi. Nurdin Widodo (Ketua). M. Ivo Noviana. Drs. Penelitian ini mengambil sampel lokasi panti di Provinsi Sumatera Utara. sebagian kecil dari panti sudah memiliki upaya konkret dan sebagian lainnya masih berupa gagasan. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi.EVALUASI PROGRAM SUBSIDI PANTI DALAM MENDUKUNG KELANGSUNGAN PELAYANAN PANTI SOSIAL1 Drs. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Mujiyadi. Terkait dengan masalah tersebut adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan UEP. AKS. Hal ini menggambarkan. Data dan informasi digali melalui wawancara. DI Yogyakarta. pemanfaatan subsidi. Kata kunci: Subsidi Panti. Dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan. Nurdin Widodo 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan subsidi oleh pantipanti sosial. B. Drs. 2006 Nurdin Widodo. bahwa tingkat ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah masih sangat tinggi. Nusa Tenggara Barat. pada umumnya subsidi makanan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas makan pokok dan makanan tambahan dan memberikan pengaruh positif pada peningkatan kualitas menu makanan dan jenis makanan tambahan. Berdasarkan hasil penelitian. Harapan panti. Namun. Dra Nunung Unayah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif.

(2) kebutuhan sosial-psikologis (social-phsyicological needs). Krisis ekonomi yang hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga pelayanan sosial mengakibatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini masih merupakan hambatan. 855 panti menerima bantuan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dan 93 panti menerima pengembangan UEP.050 orang klien menerima bantuan biaya makanan. Sebab apabila tidak segera dipenuhi akan menimbulkan masalah baik yang bersifat individual (private trouble) maupun gangguan yang bersifat kolektif (public issues). yaitu (1) kebutuhan dasar (basic needs). spiritual dan sosial. Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah apabila kebutuhan dasar saja tidak dapat terpenuhi. emosional. pakaian. Disinyalir terdapat lembaga pelayanan sosial yang merasa terancam kelangsungannya dan bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menghentikan kegiatannya Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemauan politik. dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs). Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah diluncurkannya program Bantuan Biaya Makanan dan Bantuan Usaha Ekonomis Produktif bagi panti-panti sosial di seluruh Indonesia oleh Departemen Sosial.Evaluasi Program Subsidi Panti Pendahuluan Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan dan sifatnya menuntut pemenuhan dengan sesegera mungkin. program ini terus mengalami peningkatan dari segi jumlah subsidi maupun jumlah panti dan klien penerima subsidi. Menurut Neil Gilbert dan Harry Spect (dalam Sukoco. bahwa setiap manusia dimanapun dan kapanpun secara universal memiliki sejumlah kebutuhan. yaitu kebutuhan fisik. membagi kebutuhan manusia menjadi tiga jenis.308 unit. Khusus untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan makan klien. panti sosial yang menerima prorgam subsidi sebanyak 4. Selo Soemardjan (1997). Di dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/HUK/2005 tentang Standardisasi Panti Sosial. 1991). pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan ini. tempat tinggal dan kesehatan. intelektual. Sejak diluncurkan. diharapkan pihak panti sosial melakukan konsultasi dengan ahli gizi dari instansi kesehatan setempat 130 Puslitbang Kesos . dengan rincian sebanyak 149. Pada tahun 2005. ditegaskan bahwa salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh panti sosial adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi makan.

terutama untuk anak-anak. Diketahuinya pemanfaatan subsidi panti oleh panti-panti sosial. Puslitbang Kesos 131 . dan (4) meningkatkan keadilan untuk memperoleh kesempatan. pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh lembaga kesejahteraan sosial disebut dengan “pelayanan kesejahteraan sosial”. yaitu yang ditekankan pada pemberian bantuan uang dan atau barang. Di negaranegara berkembang tertentu. (2) menyediakan pilihan-pilihan kepada penerima pelayanan. (3) Pendidikan. 2. Dalam rangka memperoleh informasi tentang bagaimana realisasi subsidi panti tersebut di lapangan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan panti sosial. Diketahuinya pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomis produktif (UEP).R. (4) Program-program ketenagakerjaan. Konsep pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Alfred J. pelayanan kesejahteran sosial dimaksudkan sebagai pelayanan yang difokuskan pada bantuan untuk perorangan atau keluarga yang mengalami masalah penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi sosial atau ketelantaran. Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini. 3.Evaluasi Program Subsidi Panti guna memperoleh daftar menu makan yang memenuhi standar gizi dan kesehatan. 1980). (3) mengembangkan keberfungsian sosial. Perumahan rakyat. Menurut Anthony H. Pascal (dalam M. adalah : 1. pelayanan makan diharapkan akan mencegah atau mengendalikan gangguan fisik dan menjaga kebugaran. Diketahuinya upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). dan (5) Fasilitas umum. (2) Programprogram kesehatan yang tidak tercakup oleh program yang dikembangkan oleh swasta. Di negara lainnya digunakan istilah “pelayanan sosial” untuk mencakup apa yang terkandung dalam pengertian pelayanan kesejahteraan sosial di atas ditambah dengan : (1) Bantuan sosial. Khan (Soetarso. tidak hanya bermanfaat secara fisik. Kemudian bagi para lanjut usia. 2004) tujuan pelayanan sosial adalah: (1) memberikan perlindungan kepada orang yang mengalami kehilangan kemampuan. Siahaan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial perlu melaksanakan “Penelitian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Program Subsidi Panti dalam mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial”. Melalui konsultasi ini maka pelayanan makan bagi klien. akan tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan intelegensi dan psikomotorik.

Di setiap lokasi penelitian ditentukan panti sosial sebanyak 10 unit dengan mempertimbangkan variasi panti sosial. DI Yogyakarta. panti sosial milik pemerintah daerah tidak 132 Puslitbang Kesos . Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara. yaitu Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan pertimbangan persebaran data panti penerima program subsidi panti. maka penelitian ini dilaksanakan di 5 (lima) provinsi. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluatif research). kategorisasi. Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara. dengan pertimbangan variasi panti sosial yang menerima subsidi dari Departemen Sosial pada tahun 2005. data yang terhimpun dianalisis dengan mempertimbangkan informasi dan masukan dari tiap responden dan informan lainnya yang didapat melalui wawancara. serta suatu cara menentukan perbaikan bagi para pengambil keputusan di Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Nusa Tenggara Barat. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Data yang terkumpul. Gambaran Umum Panti Sosial Panti sosial yang menjadi sampel dalam Penelitian ini adalah panti sosial milik pemerintah daerah (74%) dan milik masyarakat (26%). 100 orang pengelola panti dan 250 klien panti). yang dilaksanakan dalam upaya mengetahui kekuatan dan kelemahan program subsidi panti sosial. dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian.Evaluasi Program Subsidi Panti Adapun manfaat yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan rasional bagi pimpinan Departemen Sosial dalam pengembangan kebijakan dan program pemberdayaan panti sosial di Indonesia. pengelola panti sosial (10 orang) dan klien (10 orang). Adapun jenis-jenis panti sosial yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah : Panti Sosial Asuhan Anak. analisis dan interpretasi. Sumber data untuk setiap provinsi terdiri dari unsur Dinas Sosial provinsi (2 orang). tabulasi. Dengan demikian jumlah responden di lima provinsi adalah 360 orang (10 orang Instansi sosial. Panti Sosial Pamardi Putra dan Panti Sosial Tuna Sosial. Analisis data dilakukan melalui tahapan editing. yang ditentukan secara purposive. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. Secara kualitatif. Panti Sosial Tresna Werdha. Panti Sosial Penyandang Cacat.

yakni Pegawai Negeri di panti-panti sosial pemerintah. bagian gudang. Jumlah tenaga di 50 panti sosial sebanyak 937 orang dan 69.05% diantaranya adalah tenaga tetap. Sedangkan pimpinan panti sosial swasta sebagian besar diangkat dan diberhentikan oleh pengurus yayasan. Sementara peralatan terapi medik. Tingkat pendidikan tenaga panti terdiri dari SLTA (44. sarjana muda. sebagian para pengurus/pengelola panti (kepala. Secara struktural panti-panti sosial pemerintah dipimpin oleh seorang kepala.11%).77%) bertugas sebagai pengemudi. sedangkan tenaga tidak tetap merupakan tenaga honor panti. sedangkan filling cabinet. 4 Panti Sosial Tuna Sosial (8%) dan 2 Panti Sosial Napza (4%).99%). Sumber dana tetap berasal dari Dinas Sosial provinsi (54%). Sarana perkantoran yang dimiliki panti sosial berdasarkan data sekunder di setiap panti menunjukkan sebanyak 26% panti sosial belum memiliki komputer. dibantu oleh beberapa orang kepala seksi yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat (Bupati/Walikota). Tenaga teknis terdiri dari pengasuh Puslitbang Kesos 133 . 7 Panti Sosial Penyandang Cacat (14%). Sumber dana tidak tetap terbesar berasal dari donatur/masyarakat (72%) dan Dinas Sosial provinsi (28%). Adapun jenis dan jumlah panti sosial terdiri dari 32 Panti Sosial Anak Terlantar (64%).) dan dari donatur/masyarakat sebesar 18%. Sebanyak 48% panti sosial memiliki kendaraan bermotor roda empat dan 96% memiliki kendaraan roda dua. calculator dan brankas dimiliki oleh sebagian kecil panti-panti sosial. Peralatan kantor lainnya seperti meja kerja dan lemari arsip sudah dimiliki oleh panti-panti sosial dengan jumlah terbatas.Evaluasi Program Subsidi Panti memperoleh subsidi panti. fisioterapi dan alat pijat refleksi dimiliki oleh panti sosial cacat dan panti sosial Napza. Sarana teknis seperti modul sebagai alat/panduan pelayanan kepada klien hanya sebagian kecil (26%) panti sosial yang memilikinya dan umumnya panti sosial milik pemerintah daerah. 10% belum memiliki telepon dan sebanyak 72% belum memiliki faxcimilie. sarjana dan pasca sarjana (44. Peralatan olah raga dan kesenian sebagian besar (88%) sudah memilikinya. sedangkan tenaga yang berpendidikan SD dan SLTP (9. bendahara. juru masak. sekretaris. 5 Panti Sosial Lanjut Usia (10%). Yayasan Dharmais (48%). pengasuh dan tenaga lainnya) ada yang berasal dari anggota keluarganya sendiri. APBD (32%.. Sementara peralatan sound system dan tape recorder baru 22% yang memilikinya. tukang cuci dan satpam.

Dukungan dalam bentuk beasiswa diberikan oleh Muhammadiyah dan gereja. kadang-kadang buah. yaitu rata-rata 3 orang per panti sosial. sayur dan lauk pauk. kadang-kadang buah bahkan kadangkadang susu. yang rata-rata per pekerja sosial mendampingi 74 orang klien. psikolog. seperti penyandang cacat dan korban napza. Kantor Urusan Agama memberikan bantuan pembimbing agama/mental kepada klien. Menu makanan rata-rata terdiri dari makanan pokok. Sedangkan makanan tambahan diwujudkan dalam bentuk kue. Pemahaman tentang pekerja sosial ini di setiap panti berbeda-beda. 134 Puslitbang Kesos .37%). kerohanian (13. kolak. Khusus tenaga teknis pekerjaan sosial secara kuantitas masih relatif terbatas.32%) dan lainnya adalah instruktur. Selain itu pihak kepolisian juga memberikan penyuluhan tentang bahaya Napza. Mengenai pemenuhan kebutuhan fisik klien. lauk dan pauk. kacang hijau dan buah-buahan. analis laboratorium dan konselor. sayur. Dinas Sosial dan BKKKS memberikan dukungan pelatihan manajemen panti. Perbedaan persepsi tentang pekerjaan sosial ini berpengaruh terhadap pelayanan sosial kepada klien Bentuk dukungan paling besar (74%) terhadap panti-panti sosial dalam jaringan kerja adalah bidang kesehatan yang diwujudkan dalam bentuk pengobatan kepada klien di puskesmas dan rumah sakit serta pelatihan keperawatan untuk lanjut usia. sayur. lauk pauk. Hanya sebagian kecil panti sosial yang memberikan menu makan empat sehat dan empat sehat plus berupa nasi. Sedangkan 36% memberikan makan tiga sehat berupa nasi. sayur. Sementara sebagian panti (terutama panti sosial swasta) menyatakan bahwa pekerja sosial yang dimaksud disini adalah relawan sosial yang melaksanakan pelayanan berdasarkan charitatif. Sedangkan pelatihan keterampilan diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja setempat. pekerja sosial (27.04%). atau yang pernah mengikuti pelatihan profesi pekerjaan sosial. Namun. pelatihan ini baru diberikan sebanyak 46% dari panti-panti sosial. buah ditambah susu. dokter/psikiater. Dinas Perindustrian memberikan dukungan magang kerja melalui kerjasama dengan dunia usaha. perawat. Sebagian besar panti-panti sosial milik pemerintah daerah berpendapat bahwa tenaga pekerja sosial merupakan tenaga profesi yang seharusnya mempunyai latar belakang pendidikan pekerjaan sosial. lauk pauk.Evaluasi Program Subsidi Panti (37. diperoleh informasi sebanyak 50% panti memberikan menu makan tiga sehat plus berupa nasi. Rasio ini sangat berat terutama untuk klien penyandang masalah pathologis.

83% klien tinggal dalam asrama dan 4. 95. pramuka dan psikoterapi. pelayanan yang diberikan meliputi P3K. Jenis bimbingan mental/psikososial yang dilaksanakan di panti-panti sosial meliputi bimbingan agama. pengabdian masyarakat dan gotong royong. handuk dan pakaian dalam. Mengenai kegiatan pembinaan fisik. Sebagian besar tempat tinggal klien menggunakan asrama (96%). Jenis bimbingan sosial yang selama ini diberikan oleh panti-panti sosial meliputi sosialisasi dengan lingkungan/masyarakat. sebagian besar panti sosial melaksanakan kegiatan senam secara rutin. Dalam bidang kesehatan. sedangkan penyuluhan kesehatan melibatkan tenaga Puskesmas setempat. Kadangkadang pakaian juga diberikan oleh para dermawan pada saat mengadakan kunjungan ke panti. sikat gigi. sehingga kegiatan ini merupakan program pokok bagi klien dalam panti. yang diberikan setiap bulan dan ada yang tidak setiap bulan. Walaupun memiliki tujuan yang berbeda. sabun cuci. bimbingan kedisiplinan. Pemahaman bimbingan sosial di setiap panti berbeda-beda sesuai dengan persepsi pimpinan/pengelola panti sosial. sebagian besar (86%) panti sosial melaksanakan bimbingan keterampilan Puslitbang Kesos 135 . Apabila dilihat dari total jumlah klien. Secara umum kegiatan ini mempunyai tujuan: (1) memberikan keterampilan kepada klien. pakaian ibadah (sarung. Sebagian besar (98%) Panti sosial juga memberikan peralatan/ perlengkapan mandi seperti sabun mandi. sedangkan bola volley. sedangkan pakaian sekolah diberikan sesuai kebutuhan klien. sepak bola dan tenis meja dilaksanakan secara insidentil pada sore hari. baju koko. odol. (2) sebagai terapi dalam usaha membantu penyembuhan klien sebagaimana kegiatan keterampilan yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Laras. rujukan ke puskesmas atau rumah sakit umum/daerah setempat. seperti yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Remaja. bimbingan bicara (spech therapy).Evaluasi Program Subsidi Panti Sebagian besar (96%) panti-panti sosial memberikan pakaian sekolah. pakaian lebaran. mukena) dan pakaian dalam. konsultasi.17% tinggal di cottage. dan (3) merupakan kegiatan ekstra kurikuler atau sekedar mengisi waktu luang. Bimbingan keterampilan yang ada di panti-panti sosial memiliki tujuan yang berbeda-beda. yang biasanya dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal. lainnya dalam bentuk wisma (cottage). Pelaksanaan bimbingan fisik sebagian besar memanfaatkan tenaga dari dalam panti.

menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. 2.693 orang. Subsidi makanan yang besarnya Rp. sebagian memanfaatkan tenaga dalam panti. Pelaksana kegiatan ini. Dengan demikian.5 jenis keterampilan.94% dari total klien dalam panti sosial. Bagi panti yang telah memiliki sumber tetap seperti dari APBD (khusus panti pemerintah). Setiap panti sosial ada yang melaksanakan 1 atau 2 jenis keterampilan ada juga yang melaksanakan 3 . subsidi panti dapat digunakan sebagai tambahan sumber dana panti. Untuk itu pemanfaatan subsidi diserahkan sepenuhnya kepada panti-panti yang menerimanya. Koperasi dan dunia usaha. Namun.450 orang atau 66.per orang sangat signifikan sebagai suplemen pemenuhan makanan klien yang digunakan 136 Puslitbang Kesos .Evaluasi Program Subsidi Panti secara rutin. yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing panti. sebagian panti memanfaatkan tenaga dari Dinas Tenaga Kerja. Tidak semua panti sosial mendapatkan subsidi makanan sesuai dengan jumlah klien. Dari 50 panti sosial dengan jumlah klien 3. 2 % melaksanakan bimbingan keterampilan secara insidentil dan 12 % panti sosial tidak melaksanakan bimbingan keterampilan. ada keleluasaan bagi pengelola panti untuk mengelola subsidi sebatas untuk biaya makanan dan bukan untuk kebutuhan yang lain. dari Yayasan pendukung utama operasional panti dan sebagainya.250.. yang mendapatkan subsidi sebanyak 2. Pemanfaatan Subsidi Panti 1. untuk tahun 2005 ini tidak semua panti yang menjadi responden mendapatkan subsidi makanan. dari Yayasan Dharmais. Subsidi Makanan Panti-panti yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah panti-panti sosial yang mendapatkan subsidi makanan pada tahun 2004 dan 2005. Padahal. yang tidak mendapatkan subsidi makanan adalah panti milik Pemerintah (pusat) bukan milik Pemerintah Daerah. Panti-panti milik pemerintah daerah untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan tidak mendapatkan subsidi makanan dengan alasan sesuai dengan Surat Edaran dari Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial yang menyatakan bahwa panti milik Pemerintah tidak mendapatkan subsidi ini. Jenis bimbingan keterampilan di setiap panti sosial bervariasi.

karena tidak memiliki Puslitbang Kesos 137 .100.000.1. Menu makanan yang diberikan panti Pemerintah mengikuti menu yang sudah ditetapkan dengan jadwal yang pasti dan masih dapat memberikan buah dan susu serta makanan tambahan seperti kacang hijau.- Panti-panti pemerintah yang mendapatkan jatah SOSH tampak terjadi defisit tiap harinya.1.Kekurangan (Rp) 2. 4. 5. secara rata-rata maka jumlah anggaran dimaksud antara kurang dan lebih dari mencukupi.150. Untuk Panti Pemerintah. Namun demikian.100. Perbandingan SOSH dengan kebutuhan tiap orang No.620. sehingga tuntutan untuk dapat memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna hampir pasti tidak dapat terpenuhi.900.500. subsidi makanan terkesan menjadi “yang utama”.540. Hal ini berkaitan dengan tidak adanya/kurangnya sumber dana tetap.10. makanan tambahan dan susu.000. untuk sebagian panti swasta standar tersebut masih dirasakan sebagai ’utopia’ karena perbandingan jatah SOSH dengan harga setempat masih relatif jauh. Hal ini berkaitan dengan sudah adanya dukungan APBD untuk menu pokok harian. 1. Apabila dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat untuk jenis barang yang dikonsumsi klien sehari-hari.11. Membandingkan jatah SOSH dengan HET setempat tampak adanya angka ’minus’ dari anggaran panti untuk mengadakan bahan makanan tiap harinya.1.140.9. Sedangkan untuk panti swasta.10. ada yang belum/ tidak dapat memberikan makanan tambahan. Provinsi Sumut NTB DI Yogya Kalbar Sulsel SOSH (Rp) 7. Untuk itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Tabel 1.Harga Kebutuhan per orang per hari (Rp) 10. ada satu panti swasta yang dapat memberikan makanan tambahan. meski tidak setiap hari.120.9. Namun demikian. 3.11. Kondisi ini lebih parah dirasakan oleh panti swasta.600.100.9. Sedangkan panti swasta. 2.11.000. Menu makanan yang diberikan panti kepada kliennya diusahakan sedemikian rupa untuk memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. subsidi dimaksud digunakan untuk menambah lauk-pauk.Evaluasi Program Subsidi Panti untuk menambah jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada klien.150.1.

Subsidi Usaha Ekonomi Produktif Tidak semua panti responden mendapatkan subsidi UEP yang besarnya Rp 10 juta (subsidi baru) dan Rp 25 juta (subsidi pengembangan usaha). Jenis Subsidi UEP yang didapatkan No. Pengembangan 3. Harga makanan ringan dimaksud ditetapkan Rp 1. Dari pengamatan pada waktu penelitian.92%).000. Jadi nilai Rp 11. Selain itu diketahui bahwa terdapat panti yang mengembangkan usahanya dalam 1 jenis atau lebih jenis usaha. Kemudian 138 Puslitbang Kesos . meskipun secara umum diketahui bahwa HET relatif lebih murah bila dibandingkan dengan provinsi lain. Baru 2..Evaluasi Program Subsidi Panti sumber dana tetap seperti yang dimiliki panti pemerintah. Tidak ada UEP Jumlah 31 panti 4 panti 15 panti % 62 8 30 Dari 31 panti yang mendapatkan subsidi UEP baru dan 4 panti yang mendapatkan subsidi pengembangan UEP dan dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha. tampak bahwa beberapa panti hanya mampu memberikan makanan seadanya kepada kliennya. Di Yogya panti milik pemda memberikan snack/ makanan ringan pada medio pagi dan sore.000.tiap kali dan dengan demikian tiap hari diperlukan Rp 2.untuk makanan ringan dimaksud. 2. Khusus untuk Yogya. Mengenai variasi jenis usaha/kerja diperoleh informasi. usaha kerja hingga usaha jasa. bahwa warung sembako menempati jumlah terbanyak (18. dari yang sifatnya ternak.150.untuk Yogya merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan panti-panti di provinsi lain. Banyak panti swasta yang hanya dapat merasakan lauk pauk enak apabila klien panti dimaksud diundang untuk acara selamatan di masyarakat sekitar panti atau panti mendapatkan hantaran dari masyarakat dalam wujud makanan matang.. Subsidi UEP 1. Klien tidak setiap saat mendapatkan jatah lauk pauk yang memenuhi standar gizi dan bahkan kalau mereka mendapatkan makanan harian hanya dalam wujud nasi dan sayur yang dimasak dengan cara diberikan banyak kuah. tampak bahwa indeks kebutuhan lebih tinggi. Untuk itu dapat dilihat tabel berikut ini.. Tabel 2.

menjahit. Sementara itu. diklat perbengkelan. Sedangkan jenis usaha lainnya. analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. foto copy. Jalinan terbesar ke dua adalah dengan PT Telkom. budidaya lele. yakni Wartel atau Warnet. Dalam memanfaatkan dana subsidi UEP. Pengaruh Subsidi Untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh program subsidi panti ini. Jalinan dimaksud terutama dalam rangka pengadaan bahan dagangan. kambing dan sapi. Adapun jalinan kerja dimaksud. Kerja sama dengan pihak lain baik dunia usaha maupun institusi dimaksudkan sebagai praktek kerja. untuk jalinan dengan lembaga/institusi lain adalah dalam rangka peningkatan keterampilan dan pemeliharaan usaha. Bentuk kerjasama/dukungan terhadap Panti Sosial antara lain praktek kerja. tanaman hias. Pilihan ini tentunya berkaitan dengan kemudahan pemasaran dari hasil usaha/ kerja yang dipilih. Didapatkan informasi bahwa sebagian toko memberikan kemudahan seperti mengambil barang terlebih dahulu dan baru membayar kemudian setelah barang dagangannya terjual. Puslitbang Kesos 139 . salon. koperasi/simpan pinjam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalinan terbanyak adalah dengan toko. bengkel. Alasan pemilihan jenis usaha ini berkaitan dengan pemasaran (31. lokasi (21.33%).69%). masing-masing panti kemudian menjalin relasi dengan pihak lain sehingga diharapkan dapat mencapai peningkatan kemampuan kerja/produksi sekaligus dalam rangka pemasaran. antara lain: ternak ayam. Ini berkaitan dengan jenis usaha yang dikembangkan panti. terutama bagi panti yang mengembangkan UEP dalam bentuk jualan sembako. Meskipun demikian terdapat panti yang tidak melakukan jalinan kerja sama karena usahanya ada yang memang sudah dalam keadaan tidak operasi dan sebagian merasa dapat mengatasi sendiri masalahnya. SDM/pengelola (13.25%) dan lain alasan.81%). antara lain dengan pihak dunia usaha serta institusi milik pemerintah dan masyarakat. peningkatan kemampuan hingga upaya pemasaran.Evaluasi Program Subsidi Panti wartel dan rental komputer menempati urutan ke dua (10. yang didukung oleh tabel destribusi frekuensi dan diagram. bengkel dan pertukangan. pemasaran dan penyuluhan kesehatan.

3 kali seminggu. Sebelum menerima subsidi. empat sehat dan empat sehat plus yang menggambarkan skala ordinal. program subsidi panti tidak memberikan pengaruh yang signifikan. 96 persen panti sosial sudah memberikan makan tiga kali sehari dan kemudian menjadi 100 persen setelah menerima subsidi. Ukuran ini sebagai dasar bagi peneliti untuk mencermati menu makan yang disediakan panti sosial. Namun. maka menu makan yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 (lima) ukuran. 140 Puslitbang Kesos . tiga sehat. bahwa panti sosial belum sepenuhnya mengikuti daftar menu makanan yang yang telah disusun. untuk pemberian buah-buahan dan susu. Aspek kedua dari makanan adalah menu makan klien dalam panti sosial yang menggambarkan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh klien. sayur. menu makan (yang menggambarkan kualitas makanan) dan makanan tambahan. Menurut ahli gizi. menu yang telah disusun tersebut belum dapat dilaksanakan setiap hari karena keterbatasan anggaran. pada umumnya panti sosial memberikan 2 . Misalnya. Makanan Beberapa aspek terkait dengan makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini. Berdasarkan kondisi lapangan itu. atau ada penambahan sebesar 4 persen.Evaluasi Program Subsidi Panti 1. Perubahan ini dinilai bermakna. makanan dikatakan sehat apabila secara umum telah memenuhi empat sehat lima sempurna. Pada aspek frekuensi makan. Namun demikian. peneliti menemukan data. Di lapangan. tiga sehat plus. buah-buahan dan susu. karena dengan subsidi panti akhirnya seluruh panti kini sudah sesuai dengan Standardisasi Panti Sosial dalam pemberian makanan. yaitu dua sehat. yaitu nasi. lauk-pauk. khusunya dalam hal frekuensi makan. yaitu frekuensi makan. Pada umumnya sebagian besar panti sosial sudah menyusun menu makan per hari bersama ahli gizi setempat. data yang dikumpulkan hanya memenuhi 2 (dua) ukuran yaitu tiga sehat dan tiga sehat plus yang akan dianalisis kemudian.

Kualitas Makan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. Aspek berikutnya untuk melihat pemenuhan makanan klien adalah pemberian makanan tambahan. Dari ketiga aspek yang dicermati dalam penelitin ini bahwa : 1) Pengaruh terhadap frekuensi atau kuantitas permakanan. Menu Makanan Tiga sehat Tiga sehat plus Jumlah Sebelum F % 18 36 32 64 50 100 Sesudah F % 3 6 47 94 50 100 Berdasarkan tabel di atas. Namun. 2) Pengaruh terhadap menu atau kualitas : a) Terjadi penurunan dari semula 36 persen menjadi 6 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat (pindah ke tiga plus). 1. Perbandingan sebelum dan sesudah subsidi dari makanan tambahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 2. terjadi peningkatan dari semula 96 persen menjadi 100 persen panti sosial yang memberikan makan 3 kali sehari. program subsidi panti memberikan pengaruh positif pada penyajian menu atau kualitas makanan panti sosial. Makanan Tambahan Setiap hari Kadang-kadang Tidak ada Jumlah Sebelum F % 4 8 28 56 18 36 50 100 Sesudah F % 6 12 42 84 2 4 50 100 Berdasarkan data tersebut.Evaluasi Program Subsidi Panti Tabel 3. Makan Tambahan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. b) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 94 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat plus. program subsidi panti dapat disimpulkan berpengaruh positif dan signifikan pada kemampuan panti dalam memberikan makanan tambahan. Makanan tambahan memang tidak termasuk makanan utama. 2. klien panti sosial memerlukan makanan tambahan sebagai tambahan gizi. baik terkait dengan tumbuh kembang (bagi anak-anak) atau kesehatan (bagi orang dewasa). Puslitbang Kesos 141 . 1.

2. c) Terjadi peningkatan dari semula 56 persen menjadi 84 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan kadangkadang (2-3 kali seminggu). penambahan omzet/ minggu. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengelola panti sosial. yaitu berkisar 30 persen. program subsidi panti sangat membantu kelancaran proses pelayanan dan karenanya perlu dilanjutkan. sebesar 8 panti sosial (25%) sudah berkembang (ada penambahan jenis UEP). 142 Puslitbang Kesos .Evaluasi Program Subsidi Panti 3) Pengaruh terhadap makanan tambahan : a) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 96 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan. b) Terjadi peningkatan dari semula 8 persen menjadi 12 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan setiap hari. Berdasarkan informasi tersebut disimpulkan. bahwa pada umumnya sebelum menerima program subsidi panti. Data ini menunjukkan. penambahan aset dan pemanfaatan untuk kebutuhan operasional. mingguan maupun bulanan. Usaha Ekonomis Produktif Berbagai jenis UEP diselenggarakan oleh panti sosial. tetapi secara kualitatif memberikan manfaat yang sangat besar. yaitu rental komputer. Dalam rangka mengetahui pengaruh subsidi bidang UEP. Meskipun secara kuantitatif pengaruh program subsidi panti relatif rendah. panti sosial sudah memberikan kebutuhan makanan relatif baik. dengan rincian 5 panti menambah satu jenis usaha dan 3 panti menambah 2 jenis usaha. Hal ini menggambarkan bahwa panti sosial pada umumnya sudah memiliki pemahaman akan eksistensinya sebagai organisasi pelayanan manusia (human service organization). yang hasilnya dapat diambil harian. Jenis-jenis usaha yang merupakan usaha tambahan dari usaha utama. menu dan makanan tambahan. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi untuk kegiatan UEP. dilihat dari aspek frekuensi. bahwa pengaruh subsidi terhadap pemenuhan kebutuhan makanan pada panti-panti sosial pada kategori rendah. yaitu penambahan jenis UEP. ada 4 aspek yang dicermati dalam penelitian ini. Panti sosial sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan klien.

bahwa dalam waktu minimal 1 tahun panti sosial sudah mampu menambah asetnya dari hasil mengelola UEP. sebanyak 23 panti sosial (71.000.atau rata-rata omzet Rp. ternak ayam dan wartel. yang berkisar Rp. Aspek ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana UEP yang dikelola panti sosial mengalami perkembangan dari kondisi awal. Hal ini berarti terdapat 6 panti sosial yang menerima subsidi pengembangan UEP digunakan untuk menambah modal usaha utamanya. tanpa didukung oleh bukti tertulis berdasarkan pembukuan yang baik. bahwa UEP yang dikelola oleh panti sosial belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan. Aspek ketiga dari pemanfaatan subsidi untuk UEP adalah penambahan aset panti sosial.-/minggu. Hal ini merupakan kendala dalam penelitian ini.000. karena data obyektif dalam bentuk data kuantitatif tentang omzet ini tidak dapat diperoleh. hanya 4 panti sosial yang sudah mampu menambah aset masing-masing 1 jenis.000/minggu hingga Rp.000.000.-/bulan. yaitu peralatan rumah tangga. Aspek ini dilandasi pula oleh anggapan dasar. peralatan pesta. mereka memang tidak pernah memperoleh bimbingan pembukuan dalam pengelolaan UEP. pada panti sosial yang mengalami penambahan omzet.-/minggu atau ratarata Rp. Hal ini didasari anggapan dasar. 25. meskipun sebanyak 14 panti sosial (43.61%) memiliki omzet berkisar Rp. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. Sebagian besar (75%) panti sosial masih mengelola usaha utama dari program subsidi. 165. Perhitungan omzet ini hanya berdasarkan perkiraan pengelola saja. 25. 350. 660.Evaluasi Program Subsidi Panti traso. Namun demikian..-Rp. Aspek kedua dari UEP adalah penambahan omzet dari usaha yang dikelolanya. Dari 32 panti sosial yang mengelola UEP. Oleh karena itu. Hal ini menggambarkan. bahwa apabila panti sosial sudah mengelola UEP dengan baik minimal selama 1 tahun.88%) mengalami peningkatan omzet. sebagian besar (82. 2. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.75%) menerima subsidi untuk pengembangan UEP. Puslitbang Kesos 143 .000. Berdasar informasi yang dihimpun dari pengelola.000. maka sudah terjadi peningkatan omzet. lemahnya administrasi pengelolaan UEP ini tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak penerima program subsidi panti.

5%) yang sudah mengalami penambahan aset. Dari keempat aspek yang dicermati untuk mengetahui pengaruh program subsidi panti terhadap pengelolaan UEP. antara lain peralatan rumah tangga. bahwa ada proses dalam pengelolaan UEP yang tidak tepat. alat-alat keterampilan dan pendidikan. alat-alat penerangan. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. traso dan ternak ayam. peralatan pesta. diperoleh informasi sebagai berikut : 1) Terjadi penambahan jenis UEP pada 8 panti sosial (25%). yang menonjol pada penambahan omzet. Berdasarkan informasi tersebut. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor. Hal ini menggambarkan pula lemahnya proses monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Instansi Sosial Provinsi terhadap proses pengelolan UEP. Informasi ini menggambarkan. pengadaan alat-alat keterampilan dan pendidikan. antara lain untuk mendukung makanan tambahan.000.25% belum ada penambahan kebutuhan operasional panti.-/minggu. disimpulkan bahwa program subsidi panti berpengaruh relatif rendah terhadap pengelolaan dan pengembangan UEP.75%). yaitu penambahan pada kebutuhan makanan. keterampilan pengelola. alat penerangan. 165. penambahan omzet tersebut belum meng gambarkan keberhasilan panti dalam mengelola dan mengembangkan UEP. Sedangkan 81.88%) yang besarnya sebagian besar rata-rata Rp. Kebutuhan operasional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang mendukung secara langsung pemenuhan kebutuhan klien. antara lain penentuan jenis UEP. 3) Terjadi penambahan aset pada 4 panti sosial (12. bahan dasar. pemasaran dan pembukuannya. Namun demikian.75%) dari 32 panti sosial yang mengelola UEP sudah dapat menambah kebutuhan operasional. Jenisjenis UEP antara lain rental komputer.Evaluasi Program Subsidi Panti Aspek berikutnya terkait dengan UEP ini adalah penambahan untuk kebutuhan operasional. Pada umumnya Dinas Sosial memang melakukan 144 Puslitbang Kesos . dikarenakan besarnya omzet tersebut per minggunya masih relatif rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 6 panti sosial (6. 4) Terjadi penambahan kebutuhan operasional pada 6 panti sosial (6. 2) Terjadi penambahan omzet pada 23 panti sosial (71.

Puslitbang Kesos 145 . maksud dan tujuan dari program tersebut sulit direalisasikan. Namun demikian. 50 persen panti sosial merencanakan mengembangkan UEP. dan panti sosial masih bergantung pada bantuan pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan. Namun demikian.Evaluasi Program Subsidi Panti monitoring dan evaluasi terhadap UEP yang dikelola panti-panti sosial. termasuk kepada pemerintah. maka nantinya panti sosial tidak terlalu bergantung pada pihak lain. khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan. apabila tidak ada dukungan pemerintah. sebagian besar masih berasal dari pemerintah. Lainnya masih bergantung pada pihak luar. 72 persen panti sosial sudah memiliki rencana mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi dihentikan. Mereka masih mengharapkan program subsidi panti terus dilanjutkan. terutama untuk kebutuhan makanan. Upaya Panti Mengatasi Masalah Pembiayaan Dalam kaitannya dengan upaya panti mengatasi permasalahan pembiayaan. sebesar 28 persen panti sosial belum memiliki upaya atau jalan keluar apabila program subsidi panti ini dihentikan. dan akibatnya panti sosial mengelola UEP berdasarkan kemampuannya sendiri. Sementara itu. apabila UEP dikelola dengan baik. Oleh karena itu. Dari jumlah tersebut. Menurut para pengelola. Hal ini menunjukkan kemandirian panti sosial dalam pembiayaan program dan kegiatannya masih cukup rendah Harapan Panti Terhadap Program Subsidi Masih ada kekhawatiran para pengelola panti sosial apabila pada saatnya nanti program subsidi panti ini dihentikan. upaya untuk memotong mengurangi ketergantungan panti sosial kepada pemerintah masih sulit diwujudkan untuk beberapa tahun ke depan. Program subsidi panti yang dialokasikan untuk UEP ini didasarkan pada pemikiran. maka panti sosial akan menanggung beban yang amat berat dalam penyelenggaraan pelayanan. Informasi ini relevan dengan informasi sebelumnya bahwa sumber dana panti sosial. informasi yang diperoleh dari kegiatan itu tidak segera ditindaklanjuti. dan bahkan ada yang akan mengurangi jumlah kliennya.

rata-rata mencapai 53. Khusus untuk tahun 2005. program subsidi ini pada umumnya. program subsidi panti ini menarik karena dari tahun ke tahun besarnya anggaran yang dialokasikan terus mengalami kenaikan. merupakan titik-titik yang lemah terjadinya bias kepentingan. Harapan berikutnya adalah pelatihan pengelolaan UEP dan pendampingan. Departemen Sosial terhadap panti-panti sosial. Hasil dari UEP yang bersumber dari subsidi panti tidak dibukukan tersendiri. karena skema dari program ini rawan terjadi penyalahgunaan. Proses awal penentuan panti sosial yang layak sebagai calon penerima program. sampai dengan pertanggungjawaban administratif. terutama pada pemberian makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. Dana yang dialokasikan pemerintah pusat dalam program subsidi panti tersebut cukup besar. baik oleh penanggung jawab program di Instansi Sosial Provinsi maupun Departemen Sosial.911 per tahun.247. jumlah klien yang diusulkan. Pada umumnya pengelola panti sosial belum melakukan pencatatan atas penggunaan subsidi untuk UEP ini.Evaluasi Program Subsidi Panti Selain bantuan makanan. monitoring dan evaluasi tidak dilakukan dengan baik. 38. Hal ini menggambarkan cukup besarnya dukungan pemerintah cq. Manfaat memang telah dirasakan oleh pengelola. dari 50 panti sosial yang menjadi obyek penelitian ini. demi kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pada panti-panti sosial. Implikasi Kebijakan Sebagai suatu obyek penelitian. belum secara signifikan memberikan manfaat bagi panti-panti sosial. Sedangkan untuk UEP.48 persen. sehingga akan mengurangi ketergantungannya terhadap pemerintah dan pihak luar lainnya. maka akan memiliki sumber dana tetap yang berasal dari panti sendiri. panti sosial juga mengharapkan adanya bantuan untuk UEP. sehingga kesulitan ketika menghitung berapa besarnya manfaat ekonomis dari program subsidi panti. tetapi belum dapat diketahui secara pasti seberapa besar dampak tersebut. Pada pemanfaatan pemenuhan makanan dirasakan oleh pengelola cukup membantu. Berbagai persoalan administratif maupun teknis disinyalir terjadi secara berulang-ulang. 146 Puslitbang Kesos . Bias kepentingan ini akan semakin parah apabila proses supervisi. Apabila panti dapat mengelola UEP. rata-rata setiap panti sosial menerima dana sebesar Rp. Besarnya dana subsidi panti ini apabila dilihat dari besarnya anggaran makanan pada panti sosial.

tetapi informasi yang diperoleh terkait dengan bantuan kepada panti-panti sosial dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain program yang tepat. Hal ini menggambarkan. 28 persen panti sosial belum menyusun langkahlangkah untuk mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi panti ini dihentikan. tetapi mereka masih sangat mengharapkan program tersebut tidak dihentikan. Persoalannya adalah bagaimana kemampuan panti sosial mengelola UEP tersebut. monitoring dan evaluasi perlu dilakukan dengan baik.Evaluasi Program Subsidi Panti Meskipun diantara panti-panti sosial sudah menerima program subsidi lebih dari satu kali. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari pengembangan UEP ini. masih menghaharapkan dana pada pihak luar. Hal ini semakin menegaskan. Sementara itu. dan (3) panti-panti sosial akan semakin kreatif untuk mengembangkan skema pelayanan yang profesional. bahwa program subsidi panti belum mampu mendorong panti-panti sosial mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah. Berdasarkan hasil penelitian. yaitu: (1) mengurangi ketergantungan panti sosial pada pemerintah. bahwa program subsidi panti pada umumnya belum mampu mendorong kemandirian panti sosial. Dalam upaya menjawab permasalahan ketergantungan panti sosial tersebut. sehingga akan diperoleh informasi yang obyektif tentang efektivitas pelaksanaan program subsidi panti ini. panti sosial yang sudah menyusun langkahlangkah pun. mulai dari kegiatan seleksi panti sosial hingga terminasi. maka supervisi. Terutama mengurangi ketergantungan panti sosial terhadap pemerintah dan semakin mendorong profesionalisme panti sosial dalam penyelenggaraan pelayanan. Meskipun penelitian ini menjangkau sample panti sosial yang sangat terbatas (50 panti sosial). Perlu dilakukan evaluasi dari unit di luar penyelenggaran program atau pihak independen. maka skema program subsidi panti akan lebih tepat apabila diarahkan pada bantuan untuk pengembangan UEP. terutama dalam memilih jenis UEP yang prospektif dan dalam waktu cepat dapat memberikan hasil. Puslitbang Kesos 147 . Terkait dengan itu. (2) memperkuat komitmen dan percaya diri pengelola panti sosial di bidang pelayanan kemanusiaan. Pada kerangka inilah diperlukan peran Instansi Sosial Provinsi untuk memfasilitasi panti-panti sosial tesebut menentukan pilihan UEP yang tepat.

kondisi UEP panti setelah menerima program juga menunjukkan adanya perubahan positif. Program subsidi panti untuk biaya makanan memberikan pengaruh cukup nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien dalam panti-panti sosial. yaitu nasi. Panti-panti sosial menentukan jenis-jenis UEP didasarkan pada aspek tenaga. Baru 148 Puslitbang Kesos . Hal ini menunjukkan bahwa panti-panti sosial masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan UEP. meskipun belum signifikan. Ada perubahan positif pada peningkatan kualitas menu makanan yang semula tiga kali sehari.Evaluasi Program Subsidi Panti Kesimpulan dan Saran Panti-panti sosial pada umumnya memanfaatkan subsidi panti untuk dua kegiatan besar. Meskipun klien yang diusulkan untuk memperoleh subsidi jauh lebih kecil dari yang diusulkan. pada prakteknya baru sebagian kecil UEP yang bisa mendukung kegiatan operasional panti sosial. pada umumnya untuk makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. sayur. atau baru menjangkau 66. yaitu nasi sayur dan lauk kemudian menjadi tiga sehat plus. Sedangkan berkaitan dengan menu. yaitu pemenuhan kebutuhan makanan dan usaha ekonomi produktif (UEP). diperoleh data kualitatif. Kemudian. diarahkan pada frekuensi pemberian makanan tambahan. Penentuan UEP yang tepat sepenuhnya diserahkan kepada panti-panti sosial sendiri. bahwa subsidi panti dirasakan besar manfaatnya bagi panti-panti sosial dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien.94 persen. pasar. tetapi seluruh klien yang ada di panti sosial ikut menikmati subsidi tersebut. seperti susu dan buah meskipun pemberian susu dan buah ini pada umumnya belum setiap hari. Dana dari program subsidi panti dimanfaatkan oleh panti sosial untuk membuka UEP baru ataupun pengembangan UEP yang sudah ada. Untuk makanan tambahan. Pemanfaatan subsidi untuk makanan ini. Selain itu berpengaruh pula pada frekuensi dan jenis makanan tambahan. lauk dan buah-buhan meskipun tidak setiap hari. Diharapkan adanya perubahan kualitas dan frekuensi serta jenis makanan tambahan ini akan semakin meningkatkan derajat kesehatan klien. dalam penelitian ini sulit untuk mengetahui secara tepat dampak program subsidi untuk biaya makanan. sarana dan bahan baku. Oleh karena itu. Namun demikian. Namun demikian. subsidi dimanfaatkan untuk menambah menu. yakni dari satu jenis menjadi dua atau tiga dan dari seminggu sekali menjadi dua kali.

penyaluran bantuan UEP ini perlu diawali dengan pelatihan UEP dan diikuti dengan pendampingan. yaitu: a. tidak memperoleh prioritas sebagai penerima program subsidi panti. Sebagian besar panti sosial masih mengharapkan program subsidi ini terus diterimanya. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya panti fiktif. mark up jumlah klien dan kelayakan panti sosial untuk menerima program. bahwa sebagian besar panti sosial penerima program subsidi panti masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pemerintah untuk kelangsungan hidupnya. Hal ini menggambarkan. Terkait dengan UEP ini adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan terhadap panti sosial dalam pengelolaan UEP. Seleksi terhadap panti sosial calon penerima subsidi berdasarkan kondisi riil panti sebagaimana adanya. c. b. Hal ini menunjukkan panti justru semakin sulit melepaskan ketergantungannya pada pemerintah. Panti sosial yang sudah mandiri. Bantuan UEP perlu menjadi priroritas dibandingkan dengan subsidi untuk makanan. yang diikuti dengan kriteria dan indikator yang terukur. Diharapkan subsidi untuk kegiatan UEP ini nantinya akan mengurangi ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah. Pemerintah perlu menetapkan jangka waktu yang tegas. Sebagian kecil dari mereka telah memiliki gagasan menemukan jalan keluar apabila program subsidi ini nantinya tidak dilanjutkan.Evaluasi Program Subsidi Panti sebagian kecil panti sosial yang mengalami peningkatan omzet dan aset setelah menerima program subsidi panti. Terkait dengan itu. Panti sosial diberikan kebebasan untuk mengelola UEP menurut caranya sendiri dan pada prakteknya panti sosial tidak tepat ketika memiliki UEP yang prospektif. Puslitbang Kesos 149 . Penanggung jawab program bertanggung jawab terhadap panti sosial yang diusulkan sebagai penerima program dan memiliki data by name by address atas panti-panti sosial yang diusulkan. diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pengelola dan penanggung jawab program subsidi panti. kapan panti sosial akan dikurangi subsidinya atau dihentikan sama sekali. Berdasarkan hasil penelitian ini. sehingga panti sosial tepat dalam memilih jenis UEP dan mampu mengelolanya dengan baik.

Nomor 2/September 1997.Evaluasi Program Subsidi Panti d. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Jakarta : Ikatan Sosiologi Indonesia. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. e. Selo Soemardjan. Studi Pengembangan Panti Sosial Pamardi Putra Sebagai Panti Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Yang Komprehensif dan Profesional. f. Itjen. Program subsidi panti sangat rawan dengan penyimpangan. Jurnal Sosiologi. 2003. Mekanisme pencarian dana melalui PT POS tetap dipertahankan. “Kemiskinan Pandangan Sosiologi”. Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Tambahan Biaya Makanan/Gizi. —————————-.. Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Usaha Ekonomis Produktif. 2003. 2000. B. perlu dilakukan pengawasan lebih ketat mulai pada tahap penentuan panti-panti sosial calon penerima program sampai dengan penyaluran dananya. Social Work Practice : Model and Methode. Puslitbang Kessos dan instansi sosial di daerah untuk mengawal program subsidi panti ini agar mencapai tujuan yang diharapkan. Illinois : Peacock Publisher Inc . Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Pincus. —————————. Allen and Anne Minahan. 1973. Puslitbang UKS. Mujiyadi. sehingga setiap daerah besarnya alokasi anggaran per orang/panti akan berbeda-beda. Standardisasi Panti Sosial. Indonesia. tetapi perlu diupayakan agar pencairan dana tidak terlambat sampai ke pengelola panti sosial dan akan mempengaruhi efektifitas program itu sendiri. ————————. Besarnya subsidi hendaknya disesuaikan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat (khusus makanan). Oleh karena itu. DAFTAR PUSTAKA Departemen Sosial RI.2003. Pedoman Akreditasi Panti Sosial. Puslitbang Kesos. 2005. 150 Puslitbang Kesos . Selo. 1997. Perlu dibangun kemitraan secara sinergis antara penanggung jawab program pada unit Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. dkk.

Inc. Saint Louis: The C. New York : Mac Millan Publisher Co. Siporin. (1991).C. Max. Sukoco. Bandung : STKS Publisher. Introduction to Sosial Work Practice. Health Program Evaluation.M. Profesi Pekerjaan Sosial. (1975). 2004. and Richardson. W. Siahaan. S. Soetarso. Puslitbang Kesos 151 . MPR. Beberapa Catatan dalam Praktek Pekerjaan Sosial. Dwi Heru.V Moshy Company.Evaluasi Program Subsidi Panti Shortell. (1990). Praktek Pekerjaan Social dalam Pembangunan Masyarakat. KOPMA Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial : Bandung. Makalah dokumen pribadi (tidak diterbitkan). 1978.

.

Permasalahan lanjut usia yang paling dirasakan adalah masalah kesehatan. penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. Rusmin Tumanggor. tehnik pengumpulan data dengan wawancara. Setyo Sumarno. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.Nina Karinina. yang telah berfungsi dalam pelayanan lanjut usia secara tradisional belum dioptimalkan. kerabat merasa sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai nilai budaya dan agama yang dianutnya. Sri Gati Setiti. Namun. Drs. Dra. peneliti: Dra. belum dapat memecahkan permasalahan yang ada. Drs. Dilain pihak. Jawa Timur. Hasil penelitian bahwa pelayanan sosial dalam kerabat merupakan salah satu nilai budaya setempat yang membuat lanjut usia merasa aman dan terlindungi dalam lingkungan kerabat. lanjut usia berharap pelayanan khusus bagi lanjut usia atau Posyandu lansia yang murah dan mudah dijangkau. Berbagai kebijakan. studi dokumentasi dan observasi. secara fisik umumnya merasakan tercukupi. Sri Gati Setiti. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Sri Gati Setiti 2 ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia seiring dengan jumlah penduduk lanjut usia. Penelitian ini merekomendasikan suatu model pelayanan lanjut usia dalam kerabat melalui : penguatan ekonomi kerabat bagi lanjut usia yang tidak potensial dan ekonominya lemah. Ditinjau dari kebutuhan hidup pokok kecuali ekonomi. dkk. Nusa Tenggara Barat.PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN ( Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia)1 Dra. Lokasi penelitian di Sumatera Utara. Harapan lanjut usia maupun kerabat adalah tempat serbaguna yang berfungsi pelayanan dan kegiatan lanjut usia. FGD. program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. 1 2 Diangkat dari Penelitian Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). ed: Prof Dr. Hal ini guna mengembangkan konsep model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Departemen Sosial RI. Puslitbang Kesos 153 . permasalahan lanjut usia dan pelayanan yang dilakukan oleh kerabat. Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia ? Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan lanjut usia. Pertanyaan dalam penelitian ini.Achmadi Jayaputra M.Si. Pendekatan deskriptif kualitatif. Untuk memeriksakan penyakit. Sementara kekerabatan sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial.

Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan pengembangan lembaga organisasi lanjut usia yang memiliki berbagai kegiatan yang bersifat psikis. kita memiliki kearifan budaya. Hal ini perlu diangkat dan dikembangkan. Berbagai kebijakan dan pelayanan dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. diiringi jumlah dan persentase penduduk lanjut usia. Peran kerabat dalam masyarakat di seluruh Indonesia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. sebagai sumber kesetiakawanan sosial yang mampu memecahkan permasalahan sosial didaerahnya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial tahun 2006 melakukan penelitian ”Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan”. Hal ini sebagai prestasi sekaligus tantangan/beban. Berdasarkan beberapa hal tersebut. Kekerabatan Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup. dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. penanganan lanjut usia juga masalah lainnya. Tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan lanjut usia dihormati. pembinaan generasi muda dalam upaya pelestarian nilai budaya dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang optimal. Sebagian pelayanan cukup memadai. Dewasa ini lanjut usia yang tertangani melaui sistem panti maupun nonpanti kurang dari 2% dari 2. Pelayanan Sosial. Kata Kunci: lanjut usia. 154 Puslitbang Kesos . Pada sisi lain. Day Care Service maupun Day Care Centre. Penanganan masalah sosial merupakan bagian dari dan berakar pada nilai tolong menolong yang dikenal hampir semua suku bangsa di Indonesia. Mereka mengalami berbagai keterlantaran. Dalam berbagai budaya yang kita miliki. tetapi banyak yang memberikan pelayanan secara terbatas. sekaligus merupakan potensi yang luar biasa. maupun ekonomi. Baik melalui sistem panti maupun nonpanti atau berbasis masyarakat. diantaranya terkena tindak kekerasan oleh orang lain maupun kerabatnya. disamping kendala dana maupun petugas.3 juta lanjut usia. diatur dalam tradisi masyarakat. seperti Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). Upaya tersebut belum memadai dibanding populasi dan permasalahannya yang kompleks.

Memahami tentang kebutuhan. Puslitbang Kesos 155 . Lanjut usia yang terlantar semakin mudah kita saksikan disekitar kita. Keterlantaran baik disebabkan oleh kondisi yang berubah. Menyusun kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan Manfaat Manfaat yang dapat dipetik bagi pemerintah. menjadi materi trainers. Berdasarkan uraian tersebut. 2. merumuskan pokok-pokok pikiran tentang kerangka dasar pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan (kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Secara umum bertujuan. untuk uji coba pada penelitian tahap II tahun 2007). Keterlantaran lanjut usia juga disebabkan oleh semakin memudarnya nilai dan penghargaan kepada lanjut usia. Mengidentifikasi nilai-nilai terkait dengan pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Memahami bentuk pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan c. Secara khusus bertujuan: a. sehingga merubah pola dan kegiatan anggota keluarga yang berdampak kepada pelayanan bagi lanjut usia. d. bagaimana pelayanan dilakukan oleh kekerabatan terhadap lanjut usia? Permasalahan yang akan diteliti: Apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia? Tujuan 1. Bagi akademisi. untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan model pelayanan lanjut usia. Bagi instruktur kediklatan. permasalahan dan harapan lanjut usia. sebagai dasar ilmiah perumusan kebijakan publik untuk menyelesaikan masalah pelayanan lanjut usia.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Permasalahan Ketidakseimbangan antara pelayanan sosial yang tersedia dan permasalahan yang ada. Bagi pemberi pelayanan menjadi alternatif pelayanan. berpengaruh kepada pelayanan lanjut usia. b. Pada sisi lain belum ada pelatihan bagi pendamping kerabat yang melayani lanjut usia.

mengacu kepada UU no 13 Th 1998.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Tinjauan Teoritis Definisi lanjut usia menitik beratkan kepada usia seseorang yang lebih dari 60 tahun. Kekerabatan dalam penelitian ini adalah orang sedarah (consanguinal kin). 156 Puslitbang Kesos . maka kerangka konseptual dalam penelitian ini. Dari deskripsi teoritis tersebut. Kerangka Konseptual dalam Pelayanan Lanjut Usia Berikut preposisi teoritisnya adalah : ”Lanjut usia akan dirawat di lingkungan kerabat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. yang dipanggil ”kekerabatan”. berpedoman kepada pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Sementara pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh kerabat pada suku bangsa yang diteliti. sebagai berikut : Sosial Emosi/Spiritual Kesehatan fisik/psikis Lanjut usia Patrilineal Parental LU dilayani saudara lakilaki LU dilayani anak laki-laki LU dilayani anak perempuan dan anak laki-laki LU dilayani saudara isteri atau saudara suami Ekonomi Bagan 1. yakni pelayanan dalam panti dan pelayanan luar panti. Goode (1985) dan Koentjaraningrat (1990). kerabat angkat (adoptif kin). emosional dan spiritual serta sosial dan faktor ekonomi menjadi komponen penting dalam mencapai berbagai kebutuhan tersebut”. kerabat karena kawin mawin (afinal kin). Adapun pelayanan lanjut usia. Kekerabatan mengangkat pendapat Suryono Sukanto (1990).

Di Jawa Timur. diteliti suku Melayu dan Toba. Pada suku Sasak di NTB. wanita Puslitbang Kesos 157 . untuk perempuan disapa dengan mbah putri (halus: eyang putri). Pada suku bangsa Jawa lanjut usia lakilaki disapa dengan mbah kakung (halus: eyang kakung). Penelitian dilakukan di Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat. Pada suku Batak. Dalam budaya Melayu. wanita disapa Toa Baine. Berbeda halnya dengan Melayu Kapuas. Diskusi terbatas kepada pejabat terkait pada tingkat provinsi. sedang untuk perempuan juga disapa dengan Embah. Secara sosial budaya mewaklili sistem kekerabatan patrilineal dan parental. lanjut usia laki laki Melayu Sambas disapa Nek Aki. Tokoh Agama/masyarakat setempat. untuk perempuan disapa Nek Wan. lanjut usia laki laki disapa Nene. Suku Dayak dan Melayu. Di Kalimantan Barat. Sapaan tentang Lanjut Usia Lanjut usia dalam berbagai etnis memiliki sapaan yang berbeda. lanjut usia laki laki disapa Opung Bulang. untuk laki-laki disapa Ai dan perempuan disapa Mi. Wawancara berstruktur kepada lanjut usia. lanjut usia laki laki disapa Embah lanang. FGD pada: Kerabat.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Di Sulawesi Selatan. untuk perempuan disapa dengan Wai. Hasil Penelitian Pemahaman tentang Lanjut usia Adanya penyamaan persepsi tentang sapaan atau istilah lanjut usia. kerabat yang melayani lanjut usia. untuk wanita disapa dengan Opung Nini. Suku Jawa dan Madura. lanjut usia laki laki disapa Nenek atau Nek aki. Pada suku Madura. Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. lanjut usia Laki laki disapa Pupung. lanjut usia Laki laki disapa Ompu (Tuak /halus). Dalam etnik Bugis. yang disajikan dalam studi kasus. Pada Suku Dayak. berlaku pada masing masing daerah sebagai berikut : 1. lanjut usia Laki laki disapa Toa Baina. Suku Bugis dan Makasar. untuk perempuan disapa Kajao. Etnik Makassar. Suku Sasak dan Bima. Observasi pada lingkungan tinggal lanjut usia dirawat. Pada etnik Bima. untuk perempuan disapa Ninik. Wawancara mendalam untuk informan kunci.

Ciri lainnya termasuk mereka yang sering sakit-sakitan atau fisiknya sudah lemah. Ciri ini berlaku untuk etnik Batak. lanjut usia tinggal bersama anak perempuan. Hal ini karena adanya pengaruh budaya sekitar yang turut memberi warna pada istilah atau sapaan kepada lanjut usia yang berlaku bagi daerah tersebut. sudah memiliki cicit. Jawa dan Sasak juga Bima. yang mengikuti garis parental. Pada etnik Melayu dan Dayak. secara adat tinggal bersama anak laki laki tertua atau adiknya. 158 Puslitbang Kesos . anak yang tinggal berdekatan atau anak yang paling disenangi. berlaku sama pada semua etnik yang diteliti. Ciri ciri lanjut usia. Dalam budaya Jawa. Ciri lainnya. Perubahan yang terjadi pada semua etnik yang diteliti. lanjut usia senang untuk pulang kampung ke Bima. disapa dengan Nenek. lanjut usia cenderung memilih tinggal pada anak peremuan atau yang paling disukai. lanjut usia akan tinggal pada anak laki laki pertama atau adiknya. Etnik Bugis dan Makassar mengikuti sistem parental. Walau demikian. 3. Namun. yang disepakati dari hasil FGD adalah: lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun. Dalam Budaya Batak. kecuali di Kalbar. yang menganut garis kerabat patrilineal. walau demikian biasanya menempatkan lanjut usia bersama dengan anak tertua atau adiknya. Secara umum pola tinggal mereka mengikuti garis kerabat. disepakati lanjut usia bila telah memiliki cucu. bila sudah pensiun dan anak-anak mereka sudah menikah.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 2. Pada etnik Sasak dan etnik Bima. lanjut usia dapat secara bebas tinggal bersama kerabat pihak laki laki maupun pihak perempuan. Walau demikian panggilan tersebut kadang ada yang sedikit berbeda. Pada Etnik Bima. Temuan dilapangan lanjut usia tinggal bersama anak yang tinggalnya berdekatan. Namun. memiliki kebiasaan khusus. Berlaku untuk semua etnik yang diteliti. banyak ditemukan lanjut usia senang tinggal di rumah panjang. Bila tidak dapat dilakukan. maka kewajiban akan berpindah kepada adik laki lakinya. Pola tempat tinggal bagi Lanjut Usia. secara budaya lanjut usia tinggal bersama kerabat ayah. ditemukan lanjut usia tinggal pada kerabat garis Ibu atau tinggal berpindah antara anak satu dan lainnya. Kerabat yang tinggal di rumah panjang itulah yang bertanggung jawab kepadanya.

Kebutuhan papan. Model yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka. selain itu juga dilakukan oleh kerabat atas hubungan perkawinan atau adopsi. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sangat vital. kemenakan dan saudara sepupu. dingin. membutuhkan dikunjungi kerabat. Pilihan warna sesuai dengan budaya setempat. Bila sakit segera diobati. terlindungi dari mara bahaya dan dapat untuk melaksanakan kehidupan sehari hari.Dibutuhkan fasilitas pelayanan pengobatan rutin. Lanjut usia juga butuh rekreasi. Kebutuhan psikis. Makanan yang tidak keras. gratis dan mudah dijangkau. atau tetangga/kerabat jauh. Kebutuhan sandang. yang mengerti dan memahaminya. secara umum membutuhkan rumah tinggal yang nyaman. Mereka membutuhkan teman ngobrol. Lanjut usia membutuhkan teman yang sabar. dekat kamar kecil dan peralatan lansia secukupnya. pelayanan dilakukan oleh anak. Kebutuhan fisik lanjut usia meliputi sandang pangan. Secara umum pelayanan kepada lanjut usia dilakukan oleh kerabat yang paling dekat.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 4. angin. Kebutuhan Lanjut Usia 1. sering disapa dan didengar nasehatnya. 2. Kondisi Lanjut Usia. papan. Obat obatan ringan sebaiknya selalu siap didekatnya. murah. Kebutuhan makan umumnya tiga kali sehari ada juga dua kali. Lanjut usia dirawat oleh kerabat sedarah. Pada kenyataannya. Puslitbang Kesos 159 . Kerabat yang melayani Lanjut Usia. silaturahmi kepada kerabat dan masyarakat . tidak asin dan tidak berlemak. kondisi lanjut usia yang rentan membutuhkan lingkungan yang mengerti dan memahaminya. kesehatan dan spiritual. Frekuensi pembeliannya umumnya setahun sekali sudah mencukupi. Tidak kena panas. dibutuhkan pakaian yang nyaman dipakai. hujan.

menantu. ada juga yang tidak terpenuhi. sesuai dengan kemampuan kerabat. Pelayanan di bidang papan. Terutama kerabat. secara umum kerabat melayani makan tiga kali sehari. Pelayanan sandang. melalui kegiatan keagamaan. arisan dan lain-lain. Kebutuhan sosial lanjut usia membutuhkan orang-orang dalam berelasi sosial. Sementara kerabat menambahkan pakaian kesukaan mereka. Secara ekonomi lanjut usia yang tidak potensial membutuhkan uang untuk biaya hidup. Kadang mereka hanya memberikan obat dari warung atau ramuan tradisionil atau 160 Puslitbang Kesos . hanya mampu menyediakan tempat tinggal seadanya. Kondisi ekonomi kerabat yang terbatas. Makanan yang disajikan sesuai kemampuan mereka. Pelayanan fisik. Ada yang menyajikan nasi. Kerabat yang menyajikan makanan umumnya anak. Tetapi. sekelompok kegiatan dan masyarakat di lingkungannya. sayur dan lauk. Bagi lanjut usia yang masih produktif membutuhkan keterampilan. bagi lanjut usia yang masih potensial biasanya membeli sendiri. bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap. pencerahan dan kedamaian menghadapi hari tua. keterbatasan ekonomi membuat mereka makan seadanya. Kebutuhan spiritual. UEP dan bantuan modal usaha sebagai penguatan usahanya. Keterbatasan ekonomi juga membuat kerabat tidak mampu melayani pengobatan secara medis. Terutama yang berasal dari kerabatnya.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 3. Lanjut usia kadang mesti menyesuaikan dengan makanan apa adanya. Kebutuhan ekonomi. Secara umum kerabat membelikan satu kali setahun. keponakan perempuan yang tinggal satu rumah/berdekatan. umumnya mereka mengisi waktu untuk beribadah. Melalui Ibadah lanjut usia mendapat ketenangan jiwa. olahraga. 5. Ada juga yang ditambah dengan buah. juga teman sebaya. Pelayanan Lanjut Usia oleh Kerabat 1. membutuhkan bantuan sumber keuangan. Mereka sangat mendambakan generasi penerus yang sungguh sungguh dalam menjalani ibadah. Bagi lanjut usia yang tidak mampu biasanya diberi oleh kerabat jauh atau masyarakat. 4. Namun.

Kerabat berusaha untuk sering mengunjungi. juga teman sekelompok. olah raga. Melakukan kegiatan keterampilan untuk memperoleh penghasilan. Lanjut usia ada teman ngobrol. sebagai tempat mencurahkan isi hati. Pelayanan psikis. didengar nasehatnya dan didengar kaluhannya. Bagi yang memiliki kartu miskin. dengan oleh oleh kesukaanya. kerabat memberikan uang. Bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial. kelompok adat dan lain-lain. secara intensif mereka bekerja secara kelompok (kasus Sasak). lanjut usia diantar cucu atau kemenakan untuk bertemu dengan teman sebaya. Orang tua selalu memesan agar mengerti kepada lanjut usia. 2. 5. pengajian. bahan mentah atau memberikan makanan siap saji. ada satu dua ditemukan lanjut usia mendapat perlakuan tidak baik.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan berobat ke dukun. Lanjut usia juga diberikan kegiatan bersama kelompoknya. mereka masih harus menghadapi biaya transpotasi yang mahal. Kerabat menemani saat beribadah di rumah. rewel. kerabat juga memperhatikan lanjut usia yang ditinggal mati pasangannya. Pada sisi lain. diberikan kesempatan bekerja bersama kerabat. 4. Sekalipun demikian. pendamping dalam menjalani hidup. seperti dibentak bentak. Bagi yang masih potensial. Ketika menjalani ibadah. seperti kata ”mapakau untuk Bugis/Makassar” lanjut usia ditemani untuk ngobrol. Pelayanan spiritual dilakukan oleh kerabat dengan menyediakan sarana dan peralatan ibadah. berusaha menjauhkan dari anak agar tidak gaduh. dilakukan oleh kerabat yang mengerti dan memahami lanjut usia yang kadang perilakunya berubah seperti: kekanak kanakan. arisan. Kerabat mencarikan pasangan. prosedur yang berbelit dan pelayanan yang sering tidak menyenangkan. diantaranya kelompok keagamaan. didengar nasehatnya. Pelayanan ekonomi. kelompok silaturahmi. Puslitbang Kesos 161 . juga teman sekampung asal (kasus Bima) dll. dilakukan kerabat dengan memenuhi kebutuhan dasar hidup lanjut usia. Pelayanan sosial kerabat berusaha menemani berbicara. Selain hal tersebut diatas. mudah tersinggung dll. yasinan. dimesjid atau dimajelis taklim. Beberapa etnik yang diteliti. 3. memberikan kabar keluarga dan berita secara umum. Kesemuanya dilakukan secara gotong royong.

Pelayanan lanjut usia yang dilakukan oleh masyarakat. Hal ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Masing masing provinsi memiliki panti sosial Tresna Wreda. jaminan hidup. Setiap panti sosial memberi penampungan. kerja bakti dan penggalakkan tanaman obat. ternak kambing. olah raga. ada juga sapi (Sulsel) dan Bantuan Peningkatan Gizi pada semua provinsi. Lanjut usia merasakan kedamaian berada ditengah kerabat. Selain itu juga KUBE dan UEP. Kesehatan dan Informasi. Diskusi bersama tokoh dan Dinas terkait 162 Puslitbang Kesos . Dalam kegiatan usaha kesejahteraan sosial berupa kunjungan orang sakit dan bantuan bagi warga yang meninggal.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Pelayanan oleh Pemerintah dan Masyarakat Pelayanan sosial oleh Pemerintah melalui dua sistem. rekreasi. Sedang kerabat dapat memetik manfaat kepuasan batin dalam memberikan pengabdian. pemanfaatan waktu luang. Mereka bergabung dalam Karang Wredha. penambahan Gizi. pakaian. bimbingan sosial dan spiritual. Bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dibidang ternak itik. Kegiatan edukasi berupa keterampilan dan bantuan modal. balas budi dan membahagiakan orang tua. kesehatan. safari ibadah. Kegiatanya secara umum berupa penambahan Gizi. Pemberdayaan lanjut usia melaui DAU dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan Orsos. umumnya berbentuk Orsos. yakni sistem pelayanan sosial di dalam panti dan pelayanan diluar panti. ternak ayam. Karang Lansia dan lain lain. Pandangan Kerabat tentang Nilai-nilai yang Terkait Lanjut Usia Secara umum kerabat menghendaki lanjut usia tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat. dalam bentuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Program pelayanan diluar panti berupa: pemberdayaan lanjut usia melalui dana Dekon.

dilakukan sesuai garis kerabat yang dianutnya. Bila tidak sanggup melakukan. Bila lanjut usia sakit. Lanjut usia perlu” diisi perutnya dan dipelihara mata dan telinganya”.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Cara ini sesuai dengan agama. bersama anak perempuan/anak bungsu atau anak yang paling disayangi. lanjut usia potensial memerlukan silaturahmi dan anjang sana. Kerabat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan lanjut usia. Pelayanan psikis. sepanjang tidak mencelakakan. Ada yang menemani ketika berobat. Kondisi fisik yang mengalami kemunduran. banyak ditemui lanjut usia tinggal dan dirawat oleh anak yang tinggal berdekatan. cepat dan mudah. Kondisi ini kini mulai bergeser. memenuhi perintahnya. Mereka memerlukan wadah (Karang lansia/karang wredha) atau bentuk lainnya. Bagi yang potensial tetapi miskin. Pelayanan sosial bagi lanjut usia perlu dipisahkan antara yang potensial dan yang tidak potensial. baik ucapan atau perlakuan fisik. Kerabat sebaiknya mengerti dan memahami yang baik dan tidak baik dilakukan kepada lanjut usia. masyarakat dan pemerintah Harapan kepada kerabat: pelayanan dinjalani secara ikhlas dan wajar. memperlakukan secara kasar. Hal yang buruk . ada yang melayani ketika memerlukan bantuan. tidak sabar. memerlukan pelayanan sesuai kondisinya. yang ditanggung secara bersama. Melayani lanjut usia harus bisa berlaku sabar. sumber dana yang digunakan untuk merawat lanjut usia berasal dari kerabat. lanjut usia sebaiknya dirawat di panti sosial. Bagi lanjut usia yang tidak memiliki kerabat. Bagi yang tidak potensial memerlukan bantuan ekonomi. Bila ada perbedaan. sebaiknya dirawat masyarakat sekitarnya. Puslitbang Kesos 163 . Mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya. Secara ekonomi. segera diberikan obat atau dibawa berobat. Harapan kepada kerabat. maupun budaya yang mengikat mereka. memerlukan kegiatan usaha ekonomi produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Lanjut usia memerlukan pelayanan kesehatan rutin yang murah (gratis). Lanjut usia mengalami berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit non infeksi yang sulit disembuhkan. Permasalahan penting bagi lanjut usia adalah permasalahan kesehatan. Melalui wadah ini lanjut usia dapat melakukan aktifitas sesuai dengan keinginan mereka. dapat menyampaikan dengan cara yang tidak menyinggung. melalui keluarga yang merawat. Kerabat masih mendengarkan dan menjalani nasehat lanjut usia.

menjaga dan meneruskan nilai nilai demi masa depan yang baik. gotong royong. Penguatan & pemberdayaan pranata lanjut usia yang OBH maupun OTBH. juga jaminan hari tua bagi lanjut usia. kerja keras. Menyumbangkan ilmu dan pengalamannya. murah/gratis). Memberikan penyuluhan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkait dengan lanjut usia kepada generasi muda tentang: 1. bagi lanjut usia potensial. 5. Memberi fasilitas pengobatan rutin.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Harapan yang sangat tinggi kepada kerabat untuk tekun beribadah. hidup bersama masyarakat. Harapan kepada masyarakat: Memperlakukan lanjut usia dengan wajar. Memberi jaminan hidup kepada lanjut usia yang tidak potensial dengan kerabat tidak mampu. Mendorong dan memfasilitasi bagi yang sudah terbentuk. mudah dan gratis dengan memberi kartu sehat lansia. Kerabat yang merawat lanjut usia nonpotensial 2. setia dengan adat budayanya. Membentuk wadah kegiatan lanjut usia seperti: Karang wredha/Karang Lansia. 4. Harapan kepada Pemerintah: agar mengembangkan program penanganan ekonomi. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia ( dekat. Menyediakan fasilitas umum untuk lanjut usia. mudah. rajin belajar. Penyuluhan bagi generasi muda tentang nilai nilai yang terkait dengan lanjut usia. Lanjut usia yang masih potensial 3. KONSEP MODEL PELAYANAN LANJUT USIA 164 Puslitbang Kesos . sekalipun tenaga/dana yang disumbangkan tidak seberapa. Berpartisipasi dalam iuran. Konsep Model KERABAT LANJUT USIA POTENSIAL PEMBERDAYAAN EKONOMI PEMBERDAYAAN GENERASI MUDA PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN PRANATA LANJUT USIA PENGUATAN KESEHATAN LANJUT USIA Bagan 2.

Permasalahan kesehatan: yang sulit disembuhkan/tidak bisa sembuh karena usia. keponakan. umumnya terlantar dan tinggal di daerah rawan. Kebutuhan lanjut usia meliputi: (a) Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang paling dirasakan lanjut usia. tetapi tidak ada biaya untuk menyediakannya. (c) Kebutuhan makan. ingin beribadah sesuai agama masing masing. (b) Kebutuhan rohani. perlak dan lainlain.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Kesimpulan dan Rekomendasi 1. lanjut usia memerlukan makanan bergizi sesuai kebutuhannya. bagi lanjut usia yang masih sehat dan kuat. tinggal di rumahnya sendiri. cucu dan lain lain. Pelayanan lanjut usia oleh kekerabatan memiliki nilai budaya sebagai berikut: (a) lanjut usia sebaiknya dirawat oleh anaknya/keluarga/ kerabat. 4. Bagi yang sudah terbaring di tempat tidur memerlukan perlengkapan seperti pampers. katarak. (e) Secara sosial lanjut usia menginginkan dikunjungi kerabat. Umumnya menderita kaku sendi/lengan dan sulit bergerak. mereka terorganisir dalam Karang Wredha/Karang Lansia dan lain lain. (b) Lanjut usia potensial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). (c) bilamana tidak memiliki kerabat. Kesimpulan 1. dirawat oleh tetangga. Lanjut usia yang sakit dapat beribadah dan mendengarkan radio/televisi. (d) Kebutuhan pakaian. (b) lanjut usia yang tidak punya anak.. (e) Lanjut usia dirawat oleh sepupu/ keponakan. (b) Lanjut usia yang tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat (c) Lanjut usia yang tinggal di rumahnya sendiri. kurang pendengaran. yang berpotensi sebagai sumber kesos. Puslitbang Kesos 165 . osteoporosis dan penyakit penuaan lain. sebaiknya dirawat oleh kerabat: adik kandung/sepupu. Ada dua kategori lanjut usia: (a) Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). 2. darah tinggi. 3. Bilamana tetangga tidak ada yang merawatnya. sesuai budaya dan kebutuhannya. sebaiknya dirawat tetangga. 5. alternatif terakhir dirawat di Panti Sosial Lanjut Usia. penyakit jantung. Sedangkan bagi lanjut usia potensial ingin berkunjung ke teman/ kerabat. Pola tinggal lanjut usia yang diteliti : (a) Lanjut usia tinggal mandiri dan dirawat oleh kerabat. (d) Lanjut usia suami isteri.

bimbingan dari pemerintah. 5. organisasi sosial maupun kelompok peduli. 3. (e) Pelayanan lanjut usia dalam kerabat yang diteliti sudah memenuhi harapan. mudah dan gratis. agar lanjut usia dapat menyumbangkan ilmu dan keterampilannya.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 6. Para lanjut usia merasa aman dan terlindungi berada dilingkungan kerabat. (d) Pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan dapat dikembangkan karena sistem nilai budaya setempat di lima wilayah yang diteliti mendukung upaya tersebut. (c) Lanjut usia potensial yang mempunyai UEP barhasil memberi lapangan pekerjaan. Pembinaan generasi muda dilakukan dengan memperkuat sistem nilai budaya masing masing. Pengembangan lembaga/organisasi lanjut usia. Meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan cara pelayanan kesehatan lanjut usia. Posyandu. pertemuan/arisan dan pameran hasil keterampilan. Harapan para lanjut usia: (a) Menginginkan tempat pertemuan serbaguna. memberikan berbagai motivasi melalui penyuluhan dan mempraktekannya dalam bersikap dan berperilaku sehari hari. (b) untuk memeriksakan penyakit. Penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. terutama untuk pemenuhan gizi dan berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal. ketrampilan. 2. ingin dicontoh generasi muda dan didukung pemerintah. 166 Puslitbang Kesos . murah/gratis dan dekat. 2. yang memiliki UEP. yang didukung dengan tenaga dan pelayanan medis secara memadai. mudah. rutin. agar ada peningkatan ekonomi dan dapat mencukupi kebutuhan lanjut usia secara lebih baik. menginginkan pelayanan khusus yang dekat. dengan memberi dukungan dana. 4. Rekomendasi 1. Penguatan ekonomi bagi kerabat yang lemah. untuk pelayanan kesehatan. sekaligus sebagai kegiatan ekonomi maupun sosial kepada mesyarakat.

the Challange and Promise of the Later Year. San Fransisco. Kajian Tentang Model-model Pelayanan lanjut usia Berbasis Masyarakat Melalui Pusat Santunan Asuhan Dalam Keluarga. Koentjaraningrat. Jakarta . Pramuwito. Hardywinoto. Belmont California. Scripps Foundation Gerontology Center. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1983. 1977. Jayaputra. Achmadi dan Setyo Sumarno. 1997. Manusia Bugis Makassar. Jakarta . 1990. Robert C. ___________ . Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup Para lanjut usia ”Panduan Gerentologi” Tinjauan dari Berbagai Aspek. Miami University. 1982. & Toni Setyabudhi. Gramedia. 1985.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Loius Lowy. Puslitbang Kesos 167 . Philadephia. BPPKS. Aging Community and Change. Social with the Aging. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Selatan. New York. Wadsworth Publishing Company. Atchley. Jambatan. ________. Jakarta . Direktorat Jenderal Kebudayaan. Penelitian Uji Coba Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia Berbasis Masyarakat. Jakarta. Jakarta. Harver & Row Publisher. 1999. California Division Wadsworth Inc. Jakarta . Jakarta. Wadswort Publishing Company. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. 1983. Hamid. Idayu Press. Adat Istiadat Daerah Jawa Timur. Belmont. 1999. BPPKS. 1991. Aging Community and Change. dkk.

.

kelompok bermain dan TK.PENGEMBANGAN KOMUNITAS PEDULI ANAK 1 Dra. taman bacaan anak. Puslitbang Kesos 169 . Departemen Sosial RI. Pandangan tentang anak dan kebutuhannya memotivasi komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan hak anak. Banyaknya permasalahan anak-anak terlantar dan anak jalanan telah memprakarsai tokoh agama. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi kasus yang dilakukan di 6 wilayah (Sumatera Utara/Medan. Dukungan pemerintah melalui paket belajar dan pelatihan keterampilan telah memberi warna pada kegiatan komunitas. Adapun hambatan yang dihadapi komunitas seperti terbatasnya jaringan kerja komunitas. Pada beberapa wilayah. termasuk mengikutsertakan keluarga pada pelatihan usaha ekonomi produktif. Sri Utami. Sulawesi Selatan/Makasar. Alit Kurniasari. Dukungan pengusaha setempat terhadap kelanjutan pendidikan serta keterlibatan LSM yang peduli pada kesehatan dan pendidikan anak. tetapi juga menjangkau keluarga atau orang tua. Nusa Tenggara Timur/Timor Tengah Selatan). melalui pemberian keterampilan usaha. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. yang berpihak pada anak dan tidak bias gender. Kalimantan Barat/Pontianak. Jawa Timur/Surabaya. Pendampingan secara intensif dari tokoh komunitas. lembaga sosial masyarakat yang peduli anak didukung keterlibatan pengusaha setempat maupun pemerintah menjadi sumber motivasi bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi aktif kedalam komunitas. Sumatera Selatan/Palembang. Potensi dan sumber pendukung untuk mengembangkan komunitas seperti nilai ajaran agama sebagai pengikat kegiatan komunitas. mengidentifikasi potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas serta mengidentifikasi bagaimana bentukbentuk kepedulian komunitas. minimnya pemahaman 1 2 Diangkat dari penelitian Komunitas Peduli Anak dengan anggota Alit Kurniasari (Ketua). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komunitas peduli anak dilatarbelakangi oleh kondisi faktual di masing-masing wilayah. kelompok remaja mesjid dan praktisi sosial. pelayanan sosial tidak hanya bagi anak. Tety Ati Padmi. Neni Riani. pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang mampu sekolah dan pelatihan keterampilan. Alit Kurniasari. selain pandangan masyarakat tentang hak anak dan kebutuhannya. Kepedulian diwujudkan dalam bentuk kelompok belajar. untuk membangun komunitas peduli anak. Gunawan. MPM 2 ABSTRAK Penelitian pengembangan komunitas peduli anak bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang pembentukan komunitas peduli anak.

baik secara kuantitas maupun kualitas. fasilitasi pemerintah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas.Pengembangan komunitas Peduli Anak masyarakat bahwa komunitas sebagai ‘modal sosial’ yang dapat dikembangkan. Jumlah anak terlantar. Departemen Sosial melalui Direktorat Pelayanan Sosial Anak yang telah lama dan berpengalaman dalam membina dan memfasilitasi pelayanan sosial anak baik dalam maupun luar panti. perlunya mengkampanyekan kegiatan peduli anak agar kesadaran masyarakat pada kebutuhan dan hak anak semakin meningkat. mulai dari legalitas tingkat global sampai tingkat nasional. peningkatan kemampuan pekerja komunitas. belum adanya kesamaan antara dukungan pemerintah dengan kebutuhan komunitas. Orsos. Kata kunci: Hak Anak. Berbagai upaya telah dilakukan. dunia usaha. Komunitas Peduli Anak Pendahuluan Kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak menjadi bagian penting dari pembangunan kesejahteraan sosial. telah melahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan berbagai peraturan perundang-undangan di bawahnya. untuk mengembangkan komunitas peduli anak perlu membentuk jejaring kolaboratif antar sektor terkait. Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak awal agar tujuan anak sebagai pemilik era masa datang dapat tercapai. juga memfasilitasi pembentukan Komite Aksi Nasional. 170 Puslitbang Kesos . Oleh karenanya. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. kebijakan tentang keberadaan komunitas sebagai bagian dari Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah gencarnya dengan kegiatan lembaga nonpemerintahan lainnya. Pelayanan Sosial Anak. Pada kenyataannya. Pemerintah melakukan berbagai aksi. Komisi Nasional Perlindungan Anak. kemampuan pemerintah tidak sebanding dengan meningkatnya permasalahan anak. termasuk anak jalanan cenderung semakin meningkat. Lembaga Perlindungan Anak di daerah yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan dan elemen masyarakat. Dunia Usaha dan pemerintah berupaya merealisasikannya dalam berbagai kegiatan. Gugus Tugas. Implikasinya adalah berbagai elemen seperti LSM. masyarakat peduli anak dan pemerintah. Rativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. yang bertujuan untuk mengupayakan tingkat kesejahteraan dan perlindungan anak seoptimal mungkin.

yaitu kota-kota yang memiliki jumlah permasalahan anak terlantar cukup tinggi yaitu Kota Medan. terutama masalah kemiskinan. yang bertujuan semaksimal mungkin memperoleh pandangan lengkap dan mendalam mengenai komunitas peduli anak. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan besaran permasalahan anak.815. Lokasi yang terpilih dengan cara purposive. Pontianak dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Makasar. Sumber informan pada tokoh komunitas. tokoh masyarakat. merasa perlu melakukan penelitian tentang pengembangan komunitas peduli anak. Upaya penanganan permasalahan anak berbasis masyarakat semakin banyak ditemukan. anggota komunitas. anak-anak dan Instansi Sosial. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. Pembahasan yang dilakukan berusaha untuk menjawab ”Why and How”. Keberadaan komunitas tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yaitu meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan. Oleh karena itu. Kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama terhadap kesejahteraan anak. Permasalahan anak tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. apa latar belakang terbentuknya komunitas serta sumber dan potensi apa yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas? Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang digunakan metode kualitatif dengan studi kasus. yang selanjutnya disebut sebagai komunitas peduli anak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kessos). Untuk menjelaskan komunitas peduli anak maka digunakan teori sikap dari Mar’at yang beranggapan Puslitbang Kesos 171 . observasi dan penelaahan dokumen. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai komunitas peduli anak yang ada di masyarakat. Palembang. Surabaya. telah banyak melakukan kegiatan pelayanan anak. guna memberi penjelasan komprehensif mengenai komunitas peduli anak di wilayah yang terpilih. Dalam penelitian ini akan menelusuri bagaimana bentuk kegiatan komunitas. sehingga peran aktif masyarakat sangat diperlukan. Berdasarkan data Pusdatin Departemen Sosial RI (2006) menunjukkan jumlah anak terlantar sebanyak 2.383 anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak seiring dengan permasalahan kemiskinan yang belum dapat diatasi.

Kasus di Timor Tengah Selatan. Meningkatnya permasalahan anak telah mendorong munculnya komunitas peduli anak yang diprakarsai oleh kalangan praktisi dan masyarakat terdidik dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat lokal baik yang diikat oleh satu rumpun agama maupun budaya. sepenanggungan dan saling membutuhkan. Komunitas di Kota Palembang dan Makasar dengan posisi wilayahnya yang cukup strategis sebagai pintu gerbang bagi wilayah lainnya. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa bentuk kegiatan komunitas ada hubungannya dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi wilayah setempat. sehingga keterlantaran anak harus ditanggung oleh keluarga bersangkutan.Pengembangan komunitas Peduli Anak bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui pendekatan teori stimulus respon. sebagai perilaku sosial yang dipengaruhi oleh penghargaan maupun dukungan terhadap kegiatan komunitas. komunitas peduli anak dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sebagai bentuk partisipasi aktif dan prakarsa komunitas terhadap penanganan permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. turut menangani permasalahan anak dan melakukan kegiatan demi menyelamatkan anak-anak dari keterpurukan. yang dapat berfungsi sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh komunitas. Konsep komunitas dari Ferdinan Tonny yang membagi komunitas pada 3 aspek yaitu seperasaan. Selanjutnya komunitas peduli anak. Peran kekerabatan dan tanggung jawab sosial keluarga pada kenyataannya tidak mampu menyelamatkan anak dari keterlantaran. Berdasarkan hal tersebut. sebagaimana kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat persinggahan bagi penduduk di wilayah sekitarnya memiliki permasalahan anak jalanan cukup tinggi. Seperti kasus di Medan. Komunitas di Kota Medan dan Surabaya. kondisi kemiskinan keluarga semakin menjauhkan keluarga dari interaksinya dengan kerabat lainnya. diwarnai tingginya permasalahan anak terlantar. dapat menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat. telah mendorong komunitas untuk peduli terhadap maraknya masalah trafficking dan melakukan pendampingan bagi anak yang berkonflik hukum. didukung oleh hukuman dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. berawal dari kegiatan 172 Puslitbang Kesos . Artinya perilaku komunitas peduli anak. artinya perilaku sosial dianalisis sebagai respon spesifik terhadap stimuli yang diberikan. komunitas di Kota Pontianak yang berbatasan dengan wilayah negara lain. Misalnya.

Semangat tersebut telah mampu memotivasi kelompok pemuda dan wanita. Perilaku sosial yang ditampilkan oleh komunitas dipahami sebagai wujud dari pandangan masyarakat tentang konsep anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi anak. Konsep Puslitbang Kesos 173 . sesuai dengan ajaran agama yang dianut” menjadi landasan komunitas untuk peduli pada anak. dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. Konsep tentang anak diawali dengan pandangan tentang usia anak. berpartisipasi pada kegiatan komunitas. dengan alasan perilaku anak usia 18 sudah tidak mencerminkan perilaku seorang anak demikian juga memperlakukannya sudah harus berbeda. telah melahirkan sanggar anak-anak jalanan yang diakui keberadaannya di masyarakat dan menjadi contoh kegiatan di berbagai provinsi lainnya. “Nilai kasih sayang antar sesama karena saling membutuhkan. tetapi ada diantaranya yang berpendapat bahwa sebaiknya usia anak sampai dengan usia 16 tahun. seperti kasus komunitas di Kota Palembang. Motivasi atas jiwa kemanusiaan dan dilandasi nilai-nilai agama telah mendorong komunitas untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak. tetapi kegiatannya berlanjut menjadi terorganisir setelah memperoleh dukungan dari berbagai pihak. Kasus di Surabaya. sehingga perlu merubahnya dengan sebutan ’anak negeri’ yang lebih mencerminkan keberpihakan pada anak. telah berkembang menjadi embrio organisasi. diantaranya mampu membentuk lembaga pendidikan. mampu mengembangkan kegiatan pelayanan anak seperti pemberian beasiswa. Sebutan anak jalanan telah memberi stigmatisasi yang menghambat keberadaan anak untuk pemenuhan kebutuhannya di masyarakat. Kepedulian tokoh masyarakat telah membangkitkan motivasi masyarakat setempat untuk peduli pada kehidupan anak jalanan. yang telah menimbulkan empathy untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan selanjutnya diwujudkan dalam kegiatan komunitas yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan melindungi anak dari keterpurukan. Batasan usia sebagai anak adalah 18 tahun kebawah dan belum menikah.Pengembangan komunitas Peduli Anak keagamaan untuk membantu anak terlantar melalui pelayanan sosial bersifat insidental. Keberhasilan komunitas terhadap pelayanan pada anak terlantar dan anak jalanan. pelayanan perlindungan bagi anak remaja dari tindak kekerasan seksual dan anak yang dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. Perilaku yang ditunjukkan anggota komunitas semakin meningkat manakala adanya keberhasilan mengentaskan anak dari keterpurukan dan semakin meningkatnya partisipasi tokoh masyarakat dan agama serta kelembagaan yang ada di masyarakat. Kasus komunitas di Surabaya.

Sebaliknya. kasih sayang. fitrah yang harus dijaga yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. Pandangan demikian memberi pengertian bahwa keberadaan anak seolah-olah sangat tergantung pada orang tua. harapan bangsa. sablon. (3) hak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan. perhatian dari orang tua. Selain itu. budi pekerti serta memperoleh keterampilan. menjadi kekayaan berharga dan ahli waris. sebagai manusia lemah dan rawan. memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan di jalanan. penyejuk hati. perhatian atau kasih sayang. yang telah menyelamatkan anak dari tidak bersekolah menjadi bersekolah. anak tidak memiliki hak untuk berkembang. Kebutuhan tersebut sebenarnya sebagai bagian dari hak anak yang harus dipenuhi. ada yang melihat dari sudut pandang positif. mempunyai waktu bermain dan diperlakukan secara manusiawi. Bentuk kegiatan pelayanan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan anak untuk memperoleh tempat tinggal memadai. teater. meskipun hak anak untuk berpartisipasi masih belum nampak. memberi kesempatan pada anak untuk mengikuti pendidikan luar sekolah. Kegiatan komunitas berupa pendampingan intensif pada anak jalanan. tetapi juga memiliki kepercayaan 174 Puslitbang Kesos . Pandangan tersebut. namun sebagian besar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan. titipan Tuhan. juga memberikan kebutuhan akan pendidikan dan keterampilan seperti bermain musik. yang tidak memiliki kemampuan. ada yang berpandangan tradisional. masa depannya tergantung pada orang dewasa. tempat berlindung. telah menjadikan anggota komunitas merasa terpanggil untuk mewujudkannya melalui kegiatan pelayanan yang sesuai dengan hak dan kebutuhan anak. yaitu: (1) hak untuk hidup. (2) hak untuk tumbuh kembang. Meskipun konsep tentang anak berbeda-beda. memperoleh makanan sehat. penerus estafet pembangunan. bahwa anak diibaratkan sebagai kertas putih. kesempatan bersekolah. memberi kemudahan memperoleh akte kelahiran dan memberi perlindungan dari tindak kekerasan. (kasus di Surabaya dan Medan) dan dari tindakan hukum seperti kasus di Pontianak.Pengembangan komunitas Peduli Anak tentang anak cukup bervariasi. Kebutuhan dimaksud. bimbingan dan pengarahan. bahwa anak sebagai potensi dan aset generasi penerus cita-cita bangsa. kesempatan berpendapat dan berkreativitas dan memperoleh pendidikan formal sesuai dengan kemampuan dan usianya. menjadi figur yang harus membantu keluarga. Pelatihan keterampilan bermusik pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk terampil bermain musik. Perlu pengarahan melalui pendidikan agama. dorsmeer. seperti hidup layak sebagai mana seorang anak. menjadi bagian dari diri kita.

sumbangan harta benda. melalui curahan tenaga. menciptakan kepedulian masyarakat dengan prinsip memberikan yang terbaik bagi anak. maupun penggalangan dana. tidak terbatas pada pemenuhan tumbuh kembang anak. dimana anak merasa lebih dihargai dan berguna bagi orang lain. setidaknya berdampak pada pribadi dan perilaku anak jalanan. yang Puslitbang Kesos 175 . Kondisi ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Komunitas di Makasar. Meningkatnya kepercayaan diri pada anak. bertujuan agar anak dengan segala keterbatasan yang ada tetapi masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. kegiatan komunitas tidak terbatas pada anak. Gambar 1 : Anak jalanan di Surabaya berlatih musik Keterlibatan dunia usaha/swasta. tetapi juga pendidikan informal. lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah menjadi kekhasan tersendiri dari masing-masing komunitas. Pada kenyatannya. Komunitas di Kabupaten Timor Tengah Selatan. tetapi lebih luas mampu menjangkau kesejahteraan keluarga. tetapi juga membantu keluarganya dalam kemampuan ekonomi serta memberi akses bagi pelayanan kesehatan serta memberikan pembekalan keterampilan bagi keluarganya. Bimbingan etika dan agama termasuk kegiatan yang penting diberikan pada anak dan orang tua. tidak terbatas pada pendidikan formal. Kasus di Kota Palembang dengan dukungan lembaga international mampu membangun komunitas peduli anak. kontribusi pemikiran.Pengembangan komunitas Peduli Anak diri untuk tampil di tempat umum. Kegiatan dimaksud bertujuan agar keluarga dapat meningkatkan pendapatannya sehingga dapat meringankan beban pengeluaran untuk membesarkan anaknya. didukung lembaga masyarakat setempat mampu menciptakan kepedulian pada permasalahan anak lainnya. Partisipasi dan kegiatan yang dilakukan komunitas. karena masyarakat telah ikut terlibat dalam menangani masalah anak.

Di dalamnya terkandung semangat karitas (charity). lembaga permodalan dan masyarakat itu sendiri.Pengembangan komunitas Peduli Anak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing komunitas. terutama dalam rangka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas. memotivasi komunitas untuk menyelamatkan anak dari keterlantaran. Gambar 2 : Kegiatan Bimbingan agama bagi Orang Tua dan Anak di Surabaya Dukungan kepedulian sosial yang dikembangkan secara tradisional maupun profesional. mengandalkan komitmen. melalui pertukaran informasi. Organisasi Masyarakat. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. seperti dari Perguruan Tinggi. lembaga legislatif. menampilkan kesetaraan. Keikutsertaan unsur-unsur tersebut dalam penyelesaian masalah. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan komunitas masih banyak memerlukan keterlibatan pihak lain. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas. mensinergikan upaya dan mengembangkan kesadaran kritis serta berfungsi pula sebagai kontrol sosial. terutama masalah anak-anak. transparan. Pengusaha. tingkat kabupaten. pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas. kepedulian sosial (volunteerism) dan kepedulian sesama warga (civic involvement). tingkat provinsi dan tingkat pusat. telah tumbuh menjadi modal sosial melalui tindakan kolektif komunitas guna mengatasi masalah yang dihadapi sesama warga masyarakat. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak dapat dilihat dari gambar berikut ini: 176 Puslitbang Kesos . lembaga swadaya masyarakat. perlu ditata dengan baik yaitu melalui pembentukkan jejaring (network) antar lembaga secara kolaboratif. Jejaring kolaboratif bersifat informal.

LSM. berperan penting dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan sosial dan implementasi program kesejahteraan sosial anak. Orsos. keahlian dan sumber daya yang dapat digunakan untuk kegiatan pengembangan komunitas peduli anak. yang menyebutkan bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan kesejahteraan (anak) tidak lagi dimonopoli Negara. Pemerintah Daerah) Private Sector (Dunia usaha. Gagasan tersebut sejalan gagasan Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. Collective Sector Action atau dapat disebut sebagai masyarakat sipil yang diantaranya adalah komunitas peduli anak. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak Masing-masing sektor memiliki fungsi tersendiri. Sektor swasta (private sector) berkomitmen membantu mewujudkan kesejahteraan sosial anak. Masyarakat peduli) Bagan 3. Penting diperhitungkan juga lembaga-lembaga filantropi dan pembangunan international sebagai salah satu komponen pelaku atau sumber daya pengembangan komunitas peduli anak. Langkah-langkah perlindungan sosial bagi anak terlantar sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar warganya yang tidak mampu. lembagalembaga sosial masyarakat (termasuk organisasi keagamaan) dan lembagalembaga kerelawanan (seperti LSM yang mengumpulkan dana-dana amal). tetapi dibagi bersama-sama kalangan swasta (perusahaan-perusahaan). miskin atau marginal. Puslitbang Kesos 177 .Pengembangan komunitas Peduli Anak Collective Action Sector (Komunitas Peduli Anak) Jaringan Kelembagaan Peduli Anak Public Sector (Pemerintah Pusat. misalnya public sector atau pemerintah harus diletakkan secara strategis untuk mendorong inisiatif warga masyarakat agar dapat mengembangkan berbagai potensi kemandirian mereka dalam rangka membantu sesama warganya. dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang menyediakan dana.

Meskipun selama ini dunia usaha cukup mendukung kegiatan komunitas. ketergantungan masyarakat pada pemerintah masih cukup melekat. semakin menuntut komunitas untuk memperluas jaringan kerja (network). Hanya saja keberadaan komunitas berikut kasus-kasus keberhasilan. Semakin meningkatnya minat anakanak terlantar yang membutuhkan pelayanan dari komunitas. belum sepenuhnya mampu menjangkau kalangan swasta. bahwa terbentuknya komunitas peduli anak. selain sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan. keilmuan bahkan atas dasar panggilan hati nurani sekalipun. Kegiatan komunitas tidak dapat terselengara tanpa dukungan pemerintah dan keterlibatan dunia usaha. sebagai funding bagi keberlangsungan komunitas. Keberadan komunitas menjadi bagian yang dibutuhkan anggotanya. Masyarakat belum terbiasa menjadi mandiri. Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala bagi upaya pemberdayaan masyarakat. memberi andil besar terutama dalam dana dan program pelayanan sosial anak. Kurangnya koordinasi diantara lembaga yang bergerak dalam pelayanan sosial anak. maupun lembaga sosial masyarakat lainnya. Hal tersebut bukan tidak mungkin kepercayaan dari dunia usaha untuk berkolaborasi menjadi minim. menjadi kendala yang dialami komunitas. Permasalahannya adalah komunitas belum mampu mandiri selepas berakhirnya program. terutama anak-anak terlantar dan anak jalanan menerima pelayanan yang selama ini hak dan kebutuhannya terabaikan. Keberadaan 178 Puslitbang Kesos . karena adanya kesamaan perasaan terhadap keterlantaran anak. memiliki kepentingan bersama untuk memberikan pelayanan bagi anak agar terhindar dari keterpurukan lebih lanjut. serta manfaat yang telah diperoleh anak beserta keluarganya kurang tersosialisasikan.Pengembangan komunitas Peduli Anak Komunitas peduli anak. Tindakan kolektif komunitas dapat diprakasai oleh berbagai lapisan masyarakat. dalam hal ini dunia usaha. menjadi kelemahan yang dirasakan komunitas. Kesimpulan dan Saran Secara garis besar dapat disimpulkan. sebagai lembaga sosial masyarakat pada kenyataannya berdiri sendiri. Terpenting adalah motivasi yang dimiliki komunitas mampu menggerakkan partisipasi aktif anggotanya guna menciptakan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak. belum mampu menciptakan program terencana dan berkelanjutan. Keterbatasan petugas pendamping bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan. baik yang berlatar belakang agama. tetapi masih bersifat insidental. Peran Lembaga kerelawanan. karena kondisi tersebut telah dibentuk sejak masa lampau. seperti yang dialami pada kasus di Palembang.

melalui dialog interaktif pada media masa dan elektronik. 1981. 2002. Hurlock. penyebarluasan informasi melalui media masa dan elektronik. Toronto. program Pasca Sarjana IPB. Puslitbang Kesos 179 . pengakuan terhadap petugas pendamping sebagai tenaga Pekerja Sosial dari Dinas Sosial setempat. Sosiologi untuk Pengembangan Masyarakat. sehingga aksesibilitas komunitas peduli anak terhadap sumber-sumber daya kesejahteraan sosial seperti dunia usaha dan instansi pemerintah mendapat legalitas yang sah. 1989. khususnya pekerjaan sosial agar lebih terarah. Bandung. perlu direkomendasikan peningkatan sosialisasi atau mengkampanyekan komunitas peduli anak. Bandung. 2001. Humaniora Utama Pers. 2003. Harry Hikmat. Selain itu. yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Hal yang penting lainnya adalah kebijakan berlandaskan pada Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional Indonesia yang dapat memperkuat keberadaan komunitas peduli anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak komunitas paduli anak. _______. DAFTAR PUSTAKA Deddy Mulyana. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Melakukan peningkatan kemampuan petugas pendamping melalui kegiatan pemantapan. Development Psychology. Untuk itu. memfasilitasi sarana prasarana komunitas. Remaja Karya. Mc Graw Hill. Depsos RI. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Teori Sikap. draft IX. PT. menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. upaya pengembangan komunitas peduli anak melalui fasilitasi program pemberdayaan kepada keluarga dengan anak terlantar. Mar’at. Elizabeth. PT. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Tonny F Nasdian & Lala Kolopaking. 2005. Remaja Rosdakarya.

.

Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar di tengah keluarganya. sehingga relatif kurang harmonis. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik. yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Analisis data dilakukan dengan pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position dan kesetaraan antara suami dan isteri. Malang dan Makassar. Penentuan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan snowball. Puslitbang Kesos 181 . Dengan konsep relasi gender ini. Togiaratua Nainggolan. Ruaida Murni. keluarga mengalami konflik secara potensial dan manifest. hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah keluarga buruh migran termasuk pergeseran pola relasi gender pasca migrasi sebagai TKW.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Namun demikian. bahwa Pasca kepulangan sebagai TKW. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur. Untuk memahami hal itu. oleh Togiaratua Nainggolan. Hasil penelitian menunjukkan. Suami mulai terlibat pada sektor domestik dan permisif pada nilai-nilai pemingitan.GENDER DAN KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Drs. M. Togiaratua Nainggolan. dan Sudibyonoto. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. mertua. Indramayu. Lebih jauh. Rachmanto Widjopranoto. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) seperti Lampung. 1 2 Diangkat dari hasil penelitian tentang Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Di Indonesia. anak. TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. Faida Normawati. Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah.

2001) dalam sebuah tulisannya bahwa masalah buruh migran sangat komplek karena konteksnya tidak saja soal perburuhan tetapi juga menyangkut migran internasional. Keluarga Migran Pendahuluan Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan. Lebih jauh hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah pada buruh migran.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKW dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. dan (2) mendeskripsikan gambaran keharmonisan keluarga mereka pasca migrasi sebagai TKW. kapitalisme dunia dan globalisasi. bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender. diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga. kesalahan konsep pembangunan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan secara khusus bagi TKW menyangkut masalah perempuan. Ketimpangan pendapatan negara maju dan negara dunia ketiga. 182 Puslitbang Kesos . Selain itu. Tenaga Kerja Wanita. yaitu masalah gender. dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program yang ditujukan bagi TKW dan keluarganya. Selain masalah gender. sadar atau tidak. penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1) mendeskripsikan pergeseran pola relasi gender pada keluarga migran pasca migrasi sebagai buruh TKW. dan (2) bagi Departemen Sosial RI dan pihak terkait lainnya. Pendapat senada dikemukakan oleh Krisnawati & Safitri (dalam Daulay. untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi calon TKW dan keluarganya dalam membuat keputusan untuk migrasi sebagai TKW . Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. langsung atau tidak langsung perubahan peta situasi keluarga pasca TKW dapat mempengaruhi tingkat keharmonisan keluarga buruh migran yang bersangkutan. Hasil penelitian diharapkan mampu : (1) menyajikan realitas positif maupun negatif dari tindakan migrasi TKW terhadap keluarga. Sejalan dengan hal tersebut di atas.

Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosial kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. Teknik analisis data diarahkan pada pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position antara suami dan isteri serta menyangkut kesetaraan posisi di antara mereka. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. Jawa Barat. Dalam prakteknya. mertua. Hasil dan Pembahasan 1. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah yang menjadi pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri seperti Nusa Tenggara Barat. Akibatnya. anak. pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara. sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap substansi persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. terutama dengan melihat kondisi isteri yang pernah bekerja ke luar negeri menjadi TKW. selain peluang yang dapat Puslitbang Kesos 183 . prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. Namun. Pengambilan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan cara snowball dimana dari satu informan akan berkembang ke informan selanjutnya. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. Jawa Timur. dan Lampung. Sulawesi Selatan.

bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (dalam Berry dkk. Hal senada dipertegas oleh Goode (1985). walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. Sementara pada sisi lain. Dalam konteks ini. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa. juga harus memanfaatkan peluang dari aspek sosial budaya. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. Sadar atau 184 Puslitbang Kesos . ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. bahkan ideologi masyarakat. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi. Pada satu sisi. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. Pada tataran global. baik yang positif maupun negatif.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia dimanfaatkan secara ekonomi. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. “Mengekspor” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek. 1999) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa. Secara bersamaan. walaupun secara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup.

Akibatnya muncul berbagai efek samping yang justru tidak diharapkan.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia tidak. Tetapi hal itu lebih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat yang memberikan peluang Puslitbang Kesos 185 . Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. akan tetapi juga pada tingkat makro. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah. Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. 2. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang membawa nama harum bangsa dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. bukan saja pada tingkat mikro. persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri. pemerintah memang melakukan intervensi. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. Secara makro. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. Pada tingkat mikro. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran.

186 Puslitbang Kesos . Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia sekaligus pembatasan berupa etika. pembagian kerja menjadi sexist (didasarkan pada jenis kelamin) dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW. Artinya secara tidak langsung. kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. pola relasi gender ini merupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. Dengan kata lain. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal. Bagi kaum perempuan. Walaupun hal itu. pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi. sadar atau tidak. Dalam hal ini. Dalam konteks ini. khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. Kecenderungan tersebut terefleksikan dalam konteks yang lebih luas. Selain itu. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. khususnya budaya majikan di luar negeri. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan di sektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program.

Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan afektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional. 7. 8. Pencari nafkah utama adalah suami 2. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist (pembagian kerja tidak didasarkan pada jenis kelamin).Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan tapi pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. 3. hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. Lebih jauh. Keadaan sebelum menjadi TKW 1. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian. bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya. Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independen dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih didominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatif harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Isteri mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independen dalam membuat keputusan Sebagian suami terjun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur. Pengakuan ini menunjukkan. Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi sebagai TKW No. 5. Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya. Secara umum pergeseran pola relasi gender tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut : Tabel 1. 6. 4. 10. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal sebagaimana dikemukakan oleh Daulay (2001). 9. tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Puslitbang Kesos 187 .

Penegasan ini kiranya cukup beralasan. dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. dalam perspektif gender. Adapun bagi keluarga. TKW menyangkut persoalan devisa. Dinas Sosial. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefinisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. serta menajemen keluarga. Departemen Tenaga Kerja. Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya. mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. dengan mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah. Lebih khusus lagi. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. khususnya yang mempunyai status isteri. Dari perspektif global dan makro. Sementara dalam prespektif negara. dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. Dalam prakteknya. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. 188 Puslitbang Kesos . Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak.

(1985). Riset dan Aplikasinya (terjemahan Edi Suhardono). Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga di Keluarga Migran. Daulay. Puslitbang Kesos 189 . (1999). Goode. Gramedia. William. Harmona. (2001). J. Psikologi Lintas Budaya. Galang Press. Yogyakarta. Studi Kasus TKIW di Kecamatan Rawamarta Kab.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia DAFTAR PUSTAKA Berry dkk. Sosiologi Keluarga. Bina Aksara. Jakarta. Karawang Jawa Barat. Jakarta.

.

154 Dayak. 183 Basic needs. 51 C Chambers (1983). 44. 41 Bargaining Position. 9. 116 Banglades. 44 Adoptif kin. 134 Charity. 176 Civic Involvement. 33 Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 181 Anne Minahan. 34 191 . 4. 176 Civil society. 56 Collective Sector Action. 177 Culture shock. 32 Akurat. Chaniago (2001:316). 82 Concept of deprivation trap.INDEKS A Abddurazak dkk (1989). 30 Bantuan Khusus Murid (BKM). 82. i. 89 Bali. 55 Bugis. 50 Bukaka. 5. 3 Allan Pincus. 5 Desa Setabu. 122 Consanguinal kin. 156 Corporate social responsibility. 120 B Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). 130 Belu. 45. 6. 156 Adrinof A. 33. 30 Degeneratif. 125 Bintan. 13 Desa Binalawan. 163 Desa Aji Kuning. 48 Afinal kin. 5 Desa Liang Bunyu. 177 Community based development. 50. 156 Aksesibilitas. 54 Puslitbang Kesos Brazil. 181. 100 Australia. 55 Banjar. 44. 125 Bone. 154 Day Care Service. 122 Charitatif. 13 Desa Sungai Pancang. 3 Androgini. 5 Desa Talio. 185 D Day Care Centre. 3 Aplicable. 120. 5. 4.

130 Diagnosa. 5 Developmental needs. 30 Jayapura. 116 Isolation. 27 Diagnostik. 119. 122 Epicentrum. 55 H Heterogen. 4 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). 54 Inferior. 174 Dove (1985). 56. 156 Grameen Bank. 56 Life Expectation. 16 Empathy. 113 192 Puslitbang Kesos . 122 J Jawa. 31 Home visit. 123 Dorsmeer. 57 Koentjaraningrat (1990). 172 Focus Group Discussion (FGD).Indeks Desa Tanjung Aru. 55. 29 Kalimantan Timur. 3. 34 L Leading Sector. 50 Evaluatif Research. 92 E Edukatif. 88 Lembaga Pembardayaan Masyarakat (LPM). 4 Disorientasi. 58 Lokalitas Ekosistem. 142 I Ife (1995). 57. 125 K Kalimantan Barat. 3 Komunitas Adat Terpencil (KAT). 123 G Goode (1985). 156 Komprehensif. 88 Ekonomis Produktif. 83. 181 Indepth Interview. 173 Empowerment. 129 Kalimantan Tengah. 3 Human Development Index (HDI). 122 Independent. 132 F Ferdinan Tonny. 16 Ekologis. 19. 45 Human Service Organization. 185 Distributive Frekuentif. 5 Desa Tanjung Karang. 45 Local Budgeting Forum. 28 Dwi Heru Sukoco (1991).

100 Nusa Tenggara Timur. 81. i. 130 Psikologis. 134 Patriarkhi. 175 Pandih Batu. 30 Mainstream.Indeks M Madura. 125 Participatory Budgeting Forum. 18. 122 Poverty. 77 Private Sector. 52. 92. 82. 5 Malaysia. 123 Prestise. 33 Participatory Action Research (PAR). 3 Public issues. 1. 51 Max Siporin. 67. 9. 55 Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). 4. 177 Puslitbang Kesos 193 . 5. 99. 112. 1. 2. 100 Permisif. 123 P Palembang. 104. 74. 49 Participatory Budgeting. 130 Public sector. 2. 114. 43 Malaysia Timur. 2. 129 O Oakley & Marsden (1984). 116. 88. 125 Nusa Tenggara Barat. 3. 10 Maliku. 95 NAPZA. 15. 2 Network. 4. 102. 65. 100 Participatory Wealth Ranking (PWR). 80 Power Oriented. 114 People Centred Development. 29 Manado. 3 Ndaraha (1990). 56 Participatory Rural Apraisal (PRA). i Manifest. 176 Non Governmental Organization International (NGO). 116 Minahasa. 116 Nunukan. 57. 82. 68 Medan. 83. 25. 186 Pekerja Sosial Masyarakat. 181 Manurung Rimatajang. 12. 55 N Nagari. 5. 29. 16. 117 Paruik. 66 Powerlessness. 67. 181 Physical weakness. 17 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 79 Muhamad Yunus. 3. 122 Pranarka & Moeljarto (1996). 6. 93 Pathologis. 44 Manurungge. 122 Porto Alegre. 177 Private Trouble.

139. 172 Trainers. 172 Subang. 50. 147. 81. 155 Triangulasi. 10. 186 Simptom. i. 29 Purposive. 3. 13 The cut of point. 51 Wonogiri. 177 Stimulus Respon. 12. 1. i Responsif. 55 Tatamba. 129 Sumatera Barat. 6. 146. 57 Sexist. 30 Sungai Nyamuk. 48 S Samarinda. 4. 51. 25. 156 T Tanete Riattang. 171 Puslitbang UKS. 74 Trafficking. 181. 176 Vulnerrebality. 135 State obligation. 129 Sunda. 2 194 Puslitbang Kesos . 100 Tomohon. 2 R Rakorbang Partisipatif. 4 Rudito (2003. 11. 87 Suryono Sukanto (1990). 9. 105 Sukoco (1991). 105 Warren & Cottrell. 160 V Volunteerism. 89 Sumatera Utara. 2005:23). 68 Sulawesi Selatan. 149. 105 Sanggau. 102 Speech therapy. 70. 17. 143. 130 Sorting. 8. 101 U Usaha Ekonomis Produktif (UEP).Indeks Pulang Pisau. 18 Sebatik Timur. 28 Snowball. 104. 26. 123. 122 W Watampone. 112 The Small Enterprise Foundation (SEF). 54. 125 Sebatik Barat. 5 Survival Strategy. 5 Sungai Pancang. 2. 72. 27. 49 Reliable. 13. 183 Social-phsyicological needs. 130. 7. 52. 144. 15. 119. 5 Segregasi Sosial. 3. 26 Research minded.

Si. R. Departemen Sosial RI. dan Pra jabatan tingkat III (1981). Kegiatan pelatihan yang telah diikuti. Charles S. Kepala Kursus Tenaga Sosial (KTS) Ujung Pandang. Kepala Bidang Penyuluhan Sosial. Manajemen Penanggulangan Kemiskinan-ESCAP Bangkok 1999. Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti. Diklat Penyuluhan Sosial (1983). Sebelumnya Sarjana Statistika di FMIPA Institut Pertanian Bogor tahun 1987. 1988). Financial and Budgeting Management Program–IMDI–University of Pittsburgh USA 1999. antara lain Pelatihan Penyusunan Indikator Sosial (Kantor Meneg LH. International Course for National Economic Management and Poverty Eradication in National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia tahun 2000. Talimbo. TOC ADAB Australia – LAN RI (1984).SEKILAS EDITOR Drs. lahir di Ternate. Sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Memperoleh gelar Master untuk Ilmu Pekerjaan Sosial di Universitas Indonesia tahun 1996. 27 Juli 1952.Si. Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar (SPADIA) Depsos tahun 2003. Swedia and Beijing (2004-2005). antara lain : Diklat Pim II LAN RI (2000). Asuransi Sosial– JICWELS Jepang 1997. TOT. tanggal 9 Juli 1963. M. Selama berkerja di Departemen Sosial RI. pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial. Puslitbang Kesos 195 . memperoleh gelar Doktor untuk Ilmu Sosial tahun 2003 di Universitas Padjadjaran Bandung dengan disertasi Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). Makassar. Ir. Pelatihan metodologi penelitian kualitatif (UI. Statistics in Poverty Policies – Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) in Cambodia. Pernah sebagai Sales dan Marketing PT BAT. Kepala Bidang Program Pusdiklat Pegawai. Harry Hikmat. memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis tahun 1997 di Universitas Hasanudin. Dr. Sepadya (1990). M. Badiklit Kesos. 1989). dilahirkan di Denpasar. Kepala Balai Diklat Pegawai Depsos Ujung Pandang.

Aktivitas organisasi antara lain menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN) 1999-2004 dan Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak periode 2001-2005. Studi Pengembangan Program Community Development Pupuk Kaltim (2002). 1992). 196 Puslitbang Kesos . Riwayat pekerjaan. Studi Kesiapan Daerah dalam Pelayanan Sosial Dasar di Era Desentralisasi (ADB & Bappenas. Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Studi Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (ADB & Bappenas. Energi & Sumberdaya Mineral. Aspek-Aspek Hak Anak yang Berkonflik Dengan Hukum (Departemen Kehakiman dan HAM. Kegiatan Motivasi dalam Proyek Kelangsungan Hidup Anak (Unicef dan Departemen Agama.d sekarang sebagai Kabag Analisis Kebijakan Perencanaan Kesejahteraan Sosial di Biro Perencanaan Depsos. perencanaan. Analisis Kebijakan Pengentasan Orang Miskin melalui Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Indonesia (Ditbangdes. 2003). 2002).1993). dan Bappenas. pekerjaan sosial. 1995). LSM. Manajemen Perencanaan dan Keuangan. 2002). Evaluasi Gerakan Rereongan Sarupi Propinsi Jawa Barat (Pemda Jabar. Karya penelitian antara lain Kualitas Pelayanan Panti Sosial Anak (Save The Children. tahun 1996-1997 sebagai Kaur Penelitian dan Pengembangan di STKS Bandung. 2001). Depdiknas. Lab Sosio UI. tahun 2004-2006 sebagai Kabag Bantuan Usaha Kelompok di Dit. 2004). Profil dan efektivitas LSM dalam mengatasi penyebarluasan AIDS di Indonesia (STKS. Fasilitator dalam berbagai kegiatan pelatihan Participatory Research Appraisal. Unicef & Depsos. 2006). Selain itu menjadi Dosen STKS Bandung tahun 1987 s. dan analisis kebijakan di Depsos.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjadi Dosen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Sosial. Pemenuhan Hak atas Pendidikan Dasar di Daerah Konflik (Departemen Kehakiman dan HAM. 2002). tahun 2006 s. Dep.d 1997 dan Dosen Pasca Sarjana Spesialis Pekerjaan Sosial di STKS Bandung untuk mata kuliah Metodologi Penelitian Pekerjaan Sosial dan Pengembangan Modal Sosial. penelitian sosial. 1996). Statistika Sosial. UNPAD. Studi Manajemen dan Standarisasi Panti Sosial di DKI Jakarta (Dinas Bintal & Kesos. Pemberdayaan Fakir Miskin. tahun 1997 – 1998 sebagai Kasubag Perencanaan Program Wilayah Timur di Biro Perencanaan Depsos. Manajemen Pengembangan Masyarakat.

dan Perencanaan Partisipatif (Cipruy:. Strategi Pemberdayaan Masyarakat (HUP: 2001). 2002). Karya ilmiah yang telah diterbitkan yaitu : Participatory Research Apprasial dalam Pengabdian Pada Masyarakat (HUP: 2001). DT I Jawa Barat tahun 1991). 1993). Paradigma pembangunan dan perencanaan sosial (1995). Puslitbang Kesos 197 . Metode Monitoring dan Evaluasi Program (1998). Analisis Dampak Sosial (1999). Karya ilmiah yang pernah disusun antara lain : Penerapan Statistika dalam Penelitian Pekerjaaan Sosial (1987). Penelitian Keberhasilan Desa-Desa Juara di Jawa Barat (Ditbangdes Prov.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Desa/kelurahan Juara Perlombaan Desa di Propinsi DT I Jawa Barat (Ditbangdes Prop. DT I Jawa Barat tahun 1989 s. Model Pembangunan Sosial di Indonesia (1997). Filsafat dan Etika Ilmuwan (1998). Teknik ilustrasi dalam penulisan artikel ilmiah (1999).d. Metodologi penelitian sosial (1999).

.

antara lain yaitu: (1) Identifikasi Kebutuhan Pelayanan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (2003). (4) Prilaku Remaja di Daerah Pinggiran Kota (2004). 2003). (4) Studi Persiapan Daerah dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial bagi Anjal (YASHINTHA. (3) Kekerasan Masyarakat Daerah Perkotaan (Pusbangtansosmas. Pendidikan Sarjana Muda diperolehnya dari UMJ (1980) dan S1 dari STKS Bandung (1984). Memulai karir sebagai PNS di PPA Bambu Apus (1975). antara lain beberapa artikel pada majalah Jurnal dan Informasi yang diterbitkan oleh Puslit PKS maupun Puslitbang UKS Balatbangsos Depsos R. Diklat yang pernah diikuti. Penelitian yang dilakukan kerjasama dengan institusi lain sedikitnya ada 10 buah. Sutaat. 2002). selanjutnya alih tugas ke Balitbang Kessos (1985). 2002). Diklat Dasar Demografi. 2002).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun SEKILAS PENYUSUN Drs. dan (5) Persepsi Legislatif Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2004). Informasi Puslit PKS maupun Puslitbang UKS. dan (5) Tanggung Jawab Sosial Industri (Kantor MASKAT. antara lain yaitu: (1) Survey on Accessibility Problems to Pantis and Vocational Rehabilitation Service after Decentralization in Indonesia (Yayasan Kandidat. Disamping itu. Jabatan struktural yang pernah diembannya adalah kasubid perumusan program Puslit PKS Balitbang Kessos (1986-1997) dan jabatan sekarang adalah Peneliti Muda (2005-sekarang). (2) Analisis Kebutuhan Pekerja Sosial di Pusat Pelayanan Korban Bencana (2003). Pengalaman dibidang publikasi sebagai dewan redaksi. (3) Partisipasi Masyarakat Kota dalam Mengatasi Masalah Sosial Pasca Krisis (2003). Karya ilmiah yang telah diterbitkan. Diklat Penyusunan Kerangka Acuan (Proposal) Sosbud. juga sebagai editor beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Balatbangsos.I Puslitbang Kesos 199 .I. lahir di Tegal (1951). (2) Kajian Managemen Kessos Panti Sosial DKI Jakarta (YASHINTHA. Penelitian internal (Litbang Kessos) yang telah dilakukan dan dibukukan sedikitnya 21 buah. antara lain adalah diklat tenaga peneliti. Pengembangan Tenaga Peneliti. dan Diklat SEPALA dan SEPAMA. Pelatihan Komputer. Balatbangsos Depsos R. baik majalah Jurnal. 2000).

11 November 1967. beberapa kali mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkait dengan bidang penelitian. di Panti Sosial Petirahan Anak. antara lain: berkaitan dengan Masalah Anak di Tempat Penitipan Anak. Penelitian masalah kemiskinan juga pernah dilakukan. Drs.Si. Mapping and Social Survey of Street Children bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. M. baik yang diselenggarakan oleh Balitbang Sosial maupun kerjasama dengan laboratorium Sosiologi FISIP UI. Sejak tahun 1995 mulai aktif mengajar pada beberapa perguruan tinggi 200 Puslitbang Kesos . Pengalaman kerja sebagai Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial sejak 1986 dan jabatan sekarang adalah Peneliti Madya. Profil Anak Jalanan.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Dra. lahir di Jakarta. Bambang Pudjianto. serta diklat penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Departemen Sosial bekerjasama dengan majalah Tempo. antara lain: pelatihan tenaga peneliti. pelatihan metodologi kualitatif yang diselenggarakan Balitbang Sosial. pelatihan pengolahan data yang diselenggarakan oleh BPS. Selain mengikuti diklat-diklat. lahir di Jakarta. Pendidikan terakhir Sarjana Antropologi. Pemetaan Anak Jalanan dan Orangtuanya di Kotakota Besar di Indonesia. Pengalaman menulis ilmiah diperoleh penulis dari berbagai kegiatan. Indah Huruswati. antara lain menjadi anggota redaksi pada majalah Jurnal Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta tahun 2000. sejak tahun 1998-2000. Anak Terlantar melalui Sistem Panti. Selain aktif menulis di media jurnal dan informasi Puslitbang Kesos juga sebagai tim editor Jurnal Penelitian dan Pengembangan UKS. dan Penelitian Permasalahan Remaja di Kota-kota Besar. Sejak bekerja di Badan Litbang Sosial ini. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI). Menamatkan program S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung dan memperoleh gelar Magister pada Bidang Psikologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada D. di Panti-panti Sosial Asuhan Anak. Saat ini menjabat Peneliti Muda dan sebagai Kasub Analisa Kebutuhan Puslitbang Kesos Badiklit Departemen Sosial RI. antara lain tentang Pola Penanganan Kemiskinan di Perkotaan yang dilakukan hingga kegiatan ujicoba pada beberapa kota. penulis juga banyak memiliki pengalaman penelitian dan penulisan di bidang sosial.I.

Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan. Kepala Sub Bidang Rencana dan Program di Puslitbang PKS (1998 – 1999). Pendidikan Sarjana Manajemen (S1). 11 Juli 1958. Sejak tahun 1986 sampai sekarang sebagai pengajar Antropologi dan Sistem Budaya Indonesia di Universitas Muhamadiyah Jakarta. antara lain: Penelitian Uji Coba Model Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. lahir di Jakarta. Kepala Bidang Analisis dan Bimbingan Sosial di Pusbang Tansosmas (2000 – 2004). Karya ilmiah antara lain. khususnya pada bidang Psikologi Sosial. Magister Pengembangan Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2000 – 2002). Diploma Ilmu Tauhid dari Uniersitas Islam Syekh Yusuf (1984 – 1986). Rusmiyati. M. Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam). Mulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil di Balitbang Sosial Puslitbang Kesos bidang Program dan Anggaran sampai sekarang.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun swasta di Jakarta. Penyandang Cacat. Ujicoba Indikator Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara. Achmadi Jayaputra. Kajian konflik Sosial Suku Bangsa Madura di Kabupaten Sambas (2001). Pemetaan Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Kotamadya Tomohon. Kepala Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi di Puslitbang UKS (1994 – 1998). diantaranya KAT.Si. Suku Bangsa di Indonesia. Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Lanjut Usia di DKI Jakarta (2002). Asisten Peneliti Madya (1986) sampai dengan Ahli Peneliti Muda (2002) di Badan Litbang Sosial. SMA Negeri 30 dan SLTP Negeri 76 di Jakarta (1971 – 1977). Asisten Peneliti di Leknas LIPI (1983 – 1985). Pendidikan. SD di Banda Aceh dan Jakarta (1965 – 1970). Efektivitas Bantuan Pinjaman Modal Usaha RSDK (1999). SE. Sarjana Antropologi dari FSUI (1978 – 1984). Drs. Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi di Puslit PKS (2004 – 2005) dan sampai sekarang sebagai Kepala Bidang Program di Puslitbang Kesos. Jabatan Struktural. Kabupaten Aceh Tengah. lahir tanggal 2 November di Takengon. Nilai Kesetiakawanan Sosial dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Pembinaan Masyarakat pedalaman Irian Jaya (1986 – 1992). Konflik dan Kedamaian Sosial dan Penyalahgunaan Napza. Jabatan Fungsional. Pengaruh Budaya dalam Puslitbang Kesos 201 . Penelitian Eks Penderita Penyakit Kronis Tuberkulosis (TBC). Penelitian Uji Coba Model Komunitas Adat Terpencil (KAT). Penelitian yang pernah dilakukan. Akreditasi Panti Sosial. Otonomi Daerah dalam Perspektif Budaya (2000).

Pelatihan teknis kelitbangan yang pernah diikuti antara lain: Peningkatan Kemampuan Tenaga Peneliti Balitbangsos pada Laboratorium Sosiologi. lahir di Sukanalu. awalnya pada Sekretariat kemudian masuk pada Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial. kerjasama Pusdiklat Pegawai Dep. dan Pendidikan dan Pelatihan Analisa Data. 202 Puslitbang Kesos . Depok. Jakarta. Dampak Judi “Togel” pada Kehidupan Keluarga Miskin di Kota Medan. 4 September 1958. Akreditasi Panti Sosial di Bandar Lampung. MP. tahun 1992. antara lain: Pola Konsentrasi Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Tanah Grogot Kabupaten Pasir Kalimanatan Timur. Permasalahan Pengungsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pengalaman lapangan melakukan pengkajian dan penelitian di berbagai daerah yang berkaitan dengan Komunitas Adat Terpencil. Drs. Pola Hubungan Sosial Antara Kelompok Etnis di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. tahun 1986.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (2003). dan pendidikan S2 Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor di Bandung dan Bogor. Anwar Sitepu. Jakarta. di Tanjung Priok. tahun 1998. Bekerja untuk Departemen Sosial sejak tahun 1990. lanjut usia. Pelayanan Sosial Lanjut Usia di Indonesia. Penelitian yang pernah dilakukan. tahun 1982 sampai 1987. pengembangan potensi masyarakat pedesaan. bekerja sebagai pekerja sosial dan koordinator program pada Family Helper Project kerjasama Yayasan Pelita Kasih dengan Christian Children’s Fund Inc. Jakarta. langsung bergabung pada Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial di Jakarta. Pola Pembinaan Remaja melalui Karang Taruna di Kota Medan dan Bekasi. Sosial – Badan Pusat Statistik (BPS).. tahun 2004. FISIP Universitas Indonesia. konflik dan solidaritas sosial. tahun 1994. Pola Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perkotaan (Surabaya dan Bandung). Sebelum bergabung dengan Departemen Sosial. tahun 1999 sampai sekarang. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD-FEUI). Pelatihan Komputer dan Statistik untuk Pengolahan Data Hasil Penelitian pada Lembaga Demografi. menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Kesejahteraan Sosial pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri di Jakarta.

Strata 1 di FISIP jurusan Anthropologi UNHAS Ujung Pandang. diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2005) dan S1 (Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994). menamatkan program S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraaan Sosial Bandung. 8 Januari 1961. Jabatan peneliti: Ajun Peneliti Muda bidang Kesejahteraan Sosial (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial) Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial. dan Penelitian Uji Coba Model Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan.Pd. Selain itu juga menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Penelitian Puslitbang Kesos 203 . Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik dan Kerusuhan Sosial. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Hubungan Antar Kelompok Pribumi dan Etnis Cina di Jakarta. Departemen Sosial RI. Konflik Serta Modal Kedamaian Sosial dalam Konsepsi Lintas Kalangan Masyarakat di Tanah Air. Penelitian yang telah dilakukan meliputi topik-topik yang berkaitan dengan Pelayanan Anak Terlantar Putus Sekolah Melalui Panti Sosial Bina Remaja. Aktif mengikuti mengikuti kegiatan penelitian bidang kesejahteraan sosial.Si. Pemberdayaan Pranata Sosial. Permasalahan Sosial Pengungsi Korban Poso dan Upaya Penanggulangannya. baik secara mandiri maupun kelompok. Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna. sebagai editor Jurnal Puslitbang Kesos dan anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Departemen Sosial RI. S.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sugiyanto. Sri Gati Setiti. Nurdin Widodo. Disamping itu. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Madya pada Puslitbang Kessos-Badiklit Kessos Departemen Sosial RI. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. Dra. menamatkan program Sarjana Muda di Fakultas Sastra dan Budaya Jurusan Anthropologi UGM Jogyakarta. Potensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ketahanan Sosial Masyarakat di Kota Kendari. dan berbagai seminar permasalahan sosial di Indonesia. dan kumpulan tulisannya pernah diterbitkan di JURNAL maupun INFORMASI. Drs. Beberapa hasil penelitiannya telah diterbitkan. Magister Sains Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Publik. Kekhususan Pengembangan Masyarakat (S2). Peran Lembaga Sosial dalam Penanganan Pengungsi. lahir di Tawangharjo. M.

pemberdayaan keluarga dalam mencegah tindak tuna sosial. Pelayanan Sosial bagi Eks Penyandang Penyakit TBC Berbasis Masyarakat (2002). Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2006). masalah narkotika di sekolah. peranan wanita. Menjadi anggota panitia pembina ilmiah (PPI). Permasalahan Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik. Mengikuti diklat dosen dan peneliti di LD-UI dan berbagai diklat penjenjangan peneliti. pada mata kuliah Psikologi Anak. Sarjana Psikologi Perkembangan Universitas Pajajaran Bandung. tanggung jawab sosial dunia usaha terhadap masyarakat sekitar. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Pertama di Puslitbang Kesos. efektivitas GN-OTA dalam pemberian kesejahteraan anak. Psikologi Abnormal dan Psikologi Sosial. anak jalanan. Alit Kurniasari. dan pemberdayaan migran. Penelitian Kualitas Pengasuhan dan Pelayanan Panti Sosial Asuhan anak (PSAA) di Indonesia. karang taruna. Tulisan di Jurnal Puslitbang Kesos. MP. Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga (2006). Dra. Selain itu mengikuti berbagai seminar tingkat nasional. dari tahun 1986 – 1995. perlindungan tenaga kerja wanita di sektor industri. dampak sosial industri. Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (2004). pola rekonsiliasi masyarakat antar etnis di daerah konflik di Indonesia. lanjut usia. panitia penilai lomba karya tulis masalah-masalah sosial tingkat nasional. menjadi dosen tidak tetap di UMJ dan dosen di Universitas Satyanegara (USNI) Jakarta.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun dan Pengembangan Sosial. permukiman kumuh. Penelitian yang pernah dilakukan meliputi topiktopik yang berkaitan dengan: penanganan penyandang cacat. pada tahun 1984. profesionalisme pengelolaan Orsos. 204 Puslitbang Kesos . Penelitian yang pernah dilakukan: Penelitian tentang Anak Jalanan. Pernah menjadi staf pengajar di STKS Bandung.

Sejak tahun 1993 bekerja sebagai staf Pusdiklat Pegawai Departemen Sosial RI.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Drs. Dalam perjalanan karir sebagai PNS. melanjut ke IKIP Padang hingga tamat 1991. Togiaratua Nainggolan. lahir 3 Maret 1966 di Samosir. Sumatera Utara. hingga tamat tahun 2002. Puslitbang Kesos 205 . tahun 1999 mengikuti tugas belajar ke Fakultas Psikologi-Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pada tahun 1982 hijrah ke Payakumbuh Sumatra Barat. M. bertugas sebagai staf di Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial hingga menjadi peneliti fungsional hingga sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. Setelah tamat dari SMPP 25 Payakumbuh tahun 1985.Tamat dari UGM Yogyakarta. sejak tahun 2002 mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta dalam mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Lintas Budaya.Si. Pekerjaan lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful