EXECUTIVE SUMMARY

Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial

Editor Drs. Charles S. Talimbo, M.Si DR. Harry Hikmat, M.Si Penyusun Drs. Sutaat Dra. Indah Huruswati Drs. Bambang Pudjianto, M.Si Rusmiyati, SE Drs. Achmadi Jayaputra, M.Si Drs. Anwar Sitepu, MP Sugiyanto, S.Pd, M.Si Drs. Nurdin Widodo Dra. Sri Gati Setiti Dra. Alit Kurniasari, MP Drs. Togiaratua Nainggolan, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY
Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial
Hak Cipta Setiap Tulisan pada : masing-masing Penulis Hak Cipta Penerbitan pada : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badiklit Kesos, Departemen Sosial RI. Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126 Design Cover : Pradjwalita Setting & Layout : Sarif Hidayat

All Right Reserved Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Tidak dibenarkan memproduksi ulang setiap bagian artikel, ilustrasi dan isi buku ini dalam bentuk apapun juga, baik secara elektronik, fotokopi, mekanik, rekaman atau cara lain sebelum mendapat izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Executive Summary, Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Kesos / editor, Charles S. Talimbo, Harry Hikmat. iv + 205 hlm. ; 14,5 x 21 cm, (Executive Summary Tahun 2006)

ISBN : 978-979-5379-20-7
Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126

KATA PENGANTAR
Selama tahun 2006 telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa tema yang dinilai mendesak seperti Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasan yang Berbasis Institusi Lokal, Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Keluarga), Evaluasi Program Subsidi Panti, Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Komunitas Peduli Anak, Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Migran maupun Penelitian Diagnostik tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Nunukan, Pulang Pisau, Bone dan Manado. Selain itu, ada penelitian yang merupakan pengembangan salah satu metode untuk menentukan secara efektif data kemiskinan di suatu komunitas, yaitu Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi. Hasilnya telah dicetak dalam bentuk buku. Tetapi untuk memudahkan pembaca, terutama pihak eksekutif yang ingin memanfaatkan sebagai acuan berkaitan dengan penentuan kebijakan, maka kami berusaha menyajikannya dalam bentuk Executive Summary. Sudah barang tentu sajian ini lebih komunikatif. Dan bila pembaca memerlukan yang lebih spesifik dan detail, tidak ada salahnya menelaah buku-buku hasil penelitiannya. Kami percaya, eksekutif masa kini adalah tipe ”research minded” karenanya setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada wangsit, tetapi melalui suatu proses kajian yang matang. Semoga. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Charles S. Talimbo NIP. 170011051
Puslitbang Kesos

i

........Pd...... Sutaat ) ..... 119 Puslitbang Kesos iii ......... Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan) ( Sugiyanto................................................. Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan Di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat ( Drs.. 1............... Achmadi Jayaputra..........Si ) .......... 65 5........... Indah Huruswati ) ....... 43 4.......... MP ) ....................................................... Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon .............. Sebuah Alternatif Teknik Indentifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin ( Drs...... Peta Masalah Sosial di Bone: Potensi.... SE ) ........... S..Si ) ................. Participatory Wealth Ranking.............. 81 6......................Minahasa ( Rusmiyati............................ Bambang Pudjianto. M........ Anwar Sitepu............................... 2..................................... Problem dan Strategi Penanganannya ( Drs...................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ....................... DAFTAR ISI ............... 99 7........................... Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kabupaten Nunukan ( Drs........... M....... Diagnosa tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah ( Dra... i iii 1 25 3....................Si ) ................................................................... M...................................

......................................... Nurdin Widodo ) .... 11........................................................................................................... SEKILAS PENYUSUN ........ SEKILAS EDITOR .8............. Gender dan Keluarga Migran di Indonesia ( Drs........................... Togiaratua Nainggolan.............................................. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah di Indonesia) ( Dra............... Alit Kurniasari.................... Evaluasi Program Subsidi Panti dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial ( Drs....................................................................... Sri Gati Setiti ) ..... M........ MP ) ................................................................ INDEKS .Si ) .......... 129 9............ 153 169 181 191 195 199 10................... Pengembangan Komunitas Peduli Anak ( Dra................. iv Puslitbang Kesos .

perbaikan lingkungan dan perumahan. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial 1 2 Ditulis dari hasil penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Sebatik Barat. berbentuk pranata sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan. Sutaat. keterlantaran. antara lain masalah fakir miskin. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosial budaya. (2) Program-program sektor sosial bagi masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat kurang mampu. dan keluarga rentan. Sutaat 2 ABSTRAK Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah pemekaran memiliki permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. terutama sarana pendidikan dan transportasi/ perhubungan dalam pulau dan antar pulau. oleh Puslitbang Kesos. dan memimpin berbagai kegiatan penelitian di lingkungan Puslitbang Kesos. Pranata sosial dapat dipahami sebagai sistem antar hubungan peran dan norma berkenaan dengan aktivitas yang dianggap penting oleh anggota komuniti. Puslitbang Kesos 1 . Perwujudan kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan tampak dalam kehidupan komuniti. perumahan tidak layak huni. Masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Penelitian ini mencoba menggambarkan mendiagnosa kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Nunukan.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN1 Drs. Peneliti Madya pada Puslitbang Kesos. termasuk dalam penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Empat Kabupaten tahun 2005. serta peningkatan fungsi dan peningkatan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial (PSKS) Kata kunci: Masalah Sosial. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat sebagai daerah pemekaran baru. berpendidikan S1 bidang kesejahteraan sosial. Hal ini menjadikan wilayah tersebut jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya. Akses penduduk pada pendidikan yang lebih tinggi masih terbatas. penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) guna memacu kemajuan wilayah dan penduduk diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. Untuk itu. terutama belum tersedianya database yang akurat sebagai bahan penyusunan rencana program pembangunan di wilayahnya. Hal ini terkait dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. Kabupaten Nunukan. tahun 2006. berpengalaman dalam berbagai kegiatan penelitian. bahwa program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat.

masalah sosial hanya dapat diidentifikasi menurut cara pandang komuniti. individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). sehingga sulit atau jauh dari sentuhan program pembangunan. Menurut konsep sosial budaya. antara lain: balita terlantar. mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya (Warren. Perbedaan kebudayaan pada masing-masing komuniti akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. masalah sosial pada masyarakat tertentu belum tentu dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang lainnya (Rudito. anak nakal. anak cacat. wanita rawan sosial ekonomi. Cottrell dalam Ndaraha: 1990) Di lingkungan Departemen Sosial. mempunyai pembagian peran dan status yang jelas. yakni bagaimana komuniti tersebut memberikan makna pada gejala yang ada sebagai masalah sosial atau tidak. Saat ini terdapat 27 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang telah diidentifikasi Departemen Sosial. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. 2003). antara lain: masih terisolirnya sejumlah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbatasan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. secara umum kesejahteraan sosial dari masing-masing komuniti akan berbeda. 2005) menyebutkan bahwa berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang berbatasan dengan Malaysia. Komuniti adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh anggotanya berinteraksi satu sama lain. dan ini merupakan suatu dampak dari adanya masalah sosial yang terwujud sebagai tindakan kebudayaan. begitu juga dengan pendefinisian terhadap kesejahteraan dan masalah sosial. Nunukan Pendahuluan Hasil penelitian Puslitbang Usaha Kesejahteraan Sosial (Puslitbang UKS. anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak terlantar. Dengan demikian. Perbedaan tindakan dan tingkah laku dalam menanggapi obyek yang sama dapat menimbulkan suatu masalah antara satu komuniti dengan komuniti lainnya. dan masih rendahnya taraf hidup masyarakat terutama bila dibandingkan dengan taraf kehidupan warga Malaysia di perbatasan. anak jalanan. masih terdapatnya pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Nunukan yang belum dimanfaatkan atau belum punya nama. lanjut usia yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. lanjut usia terlantar. 2 Puslitbang Kesos . Oleh karena itu.

tampaknya mengalami masalah dalam hal penyediaan data (database) yang akurat mengenai permasalahan sosial serta sumberdaya yang ada di wilayahnya. Sistem Sumber Formal. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. Sistem Sumber Kemasyarakatan. keluarga bermasalah sosial psikologis. Oleh karena itu. sosial. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. lembaga pendidikan. kesenian. Berdasarkan berbagai uraian tersebut di atas. komunitas adat terpencil. Pengertian sumber menurut Max Siporin. dan sebagainya. Daerah pemekaran baru seperti halnya Nunukan. permasalahan sosial akan ditangani secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliabel. korban penyalahgunaan napza. gotong royong. politik. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. lembaga pelatihan kerja. korban bencana alam. Nunukan penyandang cacat. tuna susila. korban bencana sosial. penyandang HIV/AIDS. adalah sesuatu yang bermanfaat. sehingga pelaksanaan program pembangunan akan tepat sasaran dan tepat guna. tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. yaitu: Sistem Sumber Informal atau Natural. Guna mewujudkan kesejahteraan sosial. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial sumber kesejahteraan sosial sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan/program yang terarah dan komprehensif. keluarga berumah tak layak huni. Didalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. 2002). dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. bekas narapidana. Untuk mempertahankan kehidupannya. Tersedianya data yang akurat dan reliabel akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. yaitu rumah sakit. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. keluarga fakir miskin. pekerja migran terlantar. keagamaan. gelandangan. pengemis. 1991) membagi sistem sumber menjadi tiga kategori. Allan Pincus dan Anne Minahan (Dwi Heru Sukoco. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang Puslitbang Kesos 3 .

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melaksanakan penelitian diagnostik tentang permasalahan sosial di daerah. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat yang merupakan daerah pemekaran baru dan letaknya berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia Timur).Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Sementara itu Pemerintah Pusat belum mempunyai data yang cukup tentang potensi dan sumber serta permasalahan sosial. Deskriptif dimaksud untuk mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat. yakni bagian selatan merupakan wilayah Negara Republik Indonesia dan bagian utara merupakan wilayah Negara Malaysia Timur (Sabah). serta aparat pemerintah daerah yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. sehingga program pusat dirasa kurang responsif terhadap kebutuhan lokal. Sebatik Indonesia pada mulanya terdiri dari dua buah desa induk. Dengan berbagai pertimbangan kebutuhan wilayah. Nunukan ada. Sebagai akibatnya. diskusi. dan bahan-bahan dokumen. Penelitiaan ini bertujuan untuk memperoleh data kualitatif tentang jenis permasalahan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Perkembangan wilayah Desa Sungai Pancang relatif lebih maju dibandingkan Desa Setabu. Informan penelitian ini adalah warga masyarakat dan tokoh masyarakat setempat. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. lokasi penelitian ini difokuskan di Kecamatan Sebatik Barat sebagai salah satu kecamatan pemekaran yang terletak di daerah perbatasan. Pulau ini terbagi menjadi dua bagian. Keadaan Wilayah Lokasi Penelitian Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Timur yang letaknya paling utara. yaitu Desa Setabu dan Desa Sungai Pancang. serta upayaupaya penanganan yang pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Nunukan. pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. Sehubungan dengan itu. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan. dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Nunukan. Hal ini karena 4 Puslitbang Kesos . wawancara.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Sungai Pancang mempunyai akses yang lebih mudah dengan negara tetangga (Malaysia). Sementara itu, Desa Setabu yang letaknya di bagian barat menghadap Pulau Nunukan dan Daratan Kalimantan, memiliki infrastruktur transportasi ke Nunukan atau daratan Kalimantan relatif yang kurang memadai. Oleh karena itu, dari segi kemajuan wilayah Desa Setabu menjadi lebih lambat. Kecamatan Sebatik Barat yang berpusat di Desa Setabu terdiri dari empat desa, yakni Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu, dan Desa Aji Kuning (letaknya berbatasan dengan Malaysia Timur). Desa Aji Kuning ini berbatasan dengan Desa Sungai Pancang (Sebatik Timur), dan karena itu desa ini merupakan desa di wilayah Sebatik Barat yang termasuk paling maju. Kecamatan Sebatik Timur yang semula merupakan induk Desa Sungai Pancang terdiri dari empat desa, yakni Desa Tanjung Karang, Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, dan Desa Tanjung Aru. Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Puslitbang Kesos

5

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Kependudukan Penduduk Kecamatan Sebatik Barat berjumlah 10.285 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk Sebatik secara keseluruhan 30.947 jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa 1/3 jumlah penduduk Sebatik berada di Sebatik Barat, dan 2/3 lainnya merupakan penduduk Sebatik Timur. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa Sebatik Timur kondisinya lebih maju dari Sebatik Barat, baik dari segi ekonomi maupun sarana infrastruktur yang relatif lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, penduduk banyak terkonsentrasi di wilayah Timur yang jauh lebih maju. Kondisi seperti tersebut di atas tampak pula pada jumlah penduduk per kelurahan di Sebatik Barat, yakni Kelurahan Aji Kuning dengan jumlah penduduk terbesar (3.687 jiwa). Kondisi ini terkait dengan kemajuan Desa Aji Kuning yang jauh melebihi desa-desa lain di Sebatik Barat. Sejak dari awal penduduk Aji Kuning telah banyak mengadakan hubungan ekonomi perdagangan dengan negara tetangga (Malaysia).
Tabel 1. Penduduk Kecamatan Sebatik Barat
DESA Aji Kuning Setabu Binalawan Liang Bunyu JUMLAH REKAPITULASI HASIL PENDATAAN PENDUDUK TAHUN 2005 JUMLAH KEPALA JUMLAH JIWA RT/DUSUN KELUARGA RT DUSUN L P JML L P JML 17 4 908 51 959 1990 1697 3687 7 442 28 470 1156 1001 2157 6 359 14 373 1013 886 1899 11 530 28 558 1374 1168 2542 41 4 2239 121 2360 5533 4752 10285

Sumber : Monografi Kecamatan Sebatik, 2005.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa banyak penduduk Aji Kuning yang merupakan eks TKI di Malaysia. Bahkan banyak di antara mereka masih mempunyai kerabat yang berada di Malaysia (terutama di Tawao). Beberapa warga mempunyai identitas ganda, yakni warga Indonesia dan warga Malaysia; atau warga negara Malaysia tetapi merupakan penduduk tetap Desa Aji Kuning. Tampaknya memang secara sosial budaya antara warga Aji Kuning dengan Tawao-Malaysia hampir tidak ada batas. Beberapa rumah warga ada yang sebagian berada di wilayah Indonesia dan sebagian lainnya berada di wilayah Malaysia, dan bahkan ada beberapa warga yang mendirikan rumah di atas tanah wilayah Malaysia.

6

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Pranata Kehidupan Masyarakat
1. Pranata Agama/Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Sebatik Barat sebagian besar Islam, sedangkan sebagian lainnya Kristen Katholik dan Protestan. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang ada meliputi bangunan Masjid, langgar, dan Rumah Kebaktian di perumahan penduduk. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Selain menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama, penduduk di Wilayah Kecamatan Sebatik Barat juga masih ada yang mengembangkan aliran kepercayaan Suku Bangsa Tidung. Suku Tidung adalah bagian dari Suku Dayak yang tinggal di Tarakan yang menempati daerah Pulau Sebatik, dan merupakan suku asli. Kepercayaan tersebut berupa pemberian semacam sesajen yang dilakukan oleh perorangan dengan cara mengirim doa melalui pemberian sesajen hewan potong yang dilabuh di tengah laut dan dekat dengan tempat tinggalnya. Acara menjalankan ritual adat/kepercayaan/religi yang dijalankan nenek moyang Suku Dayak. Penduduk yang menjalankan dan masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka, walaupun banyak juga yang menganut Agama Islam dan Khatolik. Namun dalam kepercayaan orang Sebatik masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga sungai dan atau laut.
2. Pranata Keluarga/Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah tidak ada aturan yang mengikat, artinya dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kebebasan untuk menentukan pasangan/pilihan hidup. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Dalam sistem kekerabatan yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai keturunan ketiga. Pada dasarnya, dalam suatu keluarga besar yang masuk dalam satu keluarga batih dan dikatakan masih memiliki ikatan yang kuat,
Puslitbang Kesos

7

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

dapat mempersatukan kelompok mereka yang ditandai dengan adanya hak dan kewajiban antar anggota kerabat. Hak dan kewajiban anggota kerabat tersebut dapat dilihat dalam pola perkawinan, perawatan orang tua dan upacara kematian. • Dalam Pola Perkawinan: sebagian besar penduduk mengikuti aturan Agama Islam, misalnya dilarang oleh penduduk apabila terjadi perkawinan: (1) antara anak laki-laki dan perempuan sesama saudara laki-laki sekandung; dan (2) perkawinan antara bapak dengan anak perempuannya. Tetapi jika terjadi perkawinan sepupu silang, yakni perkawinan antara anak laki-laki antara saudara sekandung laki-laki perempuan boleh dilakukan, karena hal tersebut dianggap bukan saudara sedarah seperti halnya dengan anak saudara laki-laki seayah. • Dalam Pola Perawatan Orang Tua (lanjut usia). Jika salah satu orang tua atau salah satu anggota keluarga sakit maka seluruh anggota keluarga dilibatkan untuk membantu dan menanggung biaya perawatan yang telah dimusyawarahkan secara bersamasama. Akan tetapi untuk perawatan sehari-hari perawatan ditanggung oleh anak yang tinggal serumah, dan nantinya mewarisi tempat tinggal orang tuanya. • Dalam hal kematian, pelaksanaan penguburan baru bisa dilaksanakan setelah anggota keluargganya kumpul terutama dua generasi ke atas dan ke bawah. yakni: anak-anak, saudara kandung, paman, bibi dari bapak maupun ibu. Jika ada peristiwa kematian maka semua warga masyarakat terlibat, baik dalam upacara pemakaman ataupun dalam pesta kendurinya/membaca doa. Untuk keperluan membaca doa dalam kenduri, keperluan untuk selamatan/kenduri setiap kepala keluarga akan memberikan sumbangan sesuai dengan kedekatan hubungan antara kepala keluarga dengan keluarga yang mengalami kematian.
3. Pranata Ekonomi

Keluarga-keluarga pada masyarakat Sebatik Barat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, terutama pangan merupakan tanggung jawab bersama antara suami istri. Kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari lingkungan sekitar dan dapat juga dari

8

Puslitbang Kesos

seperti parang. dengan cara menjual hasil ladang. Pedagang pasar tersebut sebagian besar berasal dari Nunukan. seperti memakai pupuk kimia. Namun demikian dari segi peralatan kerja umumnya masih menggunakan peralatan sederhana. Jadi untuk mencari nafkah bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang suami. Sebagian dari mereka juga sudah mengenal sedikit model pertanian modern. Hasil tangkapan ikan dan hasil pertanian umumnya mereka jual ke Malaysia atau di pasar-pasar tradisional yang ada di Puslitbang Kesos 9 . dan tidak ada lagi sistem pertanian dengan cara ladang berpindah. pacul dan kampak. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya diperoleh dari warung-warung yang ada di lingkungannya. dan hasil tangkapan ikan/ nelayan. Pasar yang biasa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian/ tangkapan ikan dan membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari adalah pasar tradisional yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut. ternak mereka masih dibiarkan berkeliaran di kebun atau di jalan-jalan desa. Pasar pada masing-masing desa hanya aktif satu kali dalam satu minggu. namun hutan tersebut merupakan hutan lindung yang tidak diperkenankan untuk dikerjakan sebagai lahan pertanian penduduk. Walaupun sebagian besar wilayah Kecamatan Sebatik Barat adalah hutan. Mereka berkeliling ke desa-desa sesuai dengan jadwal pasar pada desa yang bersangkutan. Nunukan luar desa. Sistem pertanian penduduk Sebatik umumnya sudah menetap. sesuai dengan mata pencaharian penduduk. misalnya untuk Desa Setabu pasar aktif pada hari minggu. Sedangkan dalam hal peternakan masih bersifat tradisional. dimana hasil dari mata pencaharian tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. walupun masih ada juga nelayan tradisional. Pasar-pasar ini merupakan pasar keliling yang secara rutin mempunyai jadwal di tiap desa. Perkebunan dan perikanan sudah mulai terarah dengan cara modern yakni dengan cara membuat keramba terapung.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Kebutuhan sayuran penduduk sehari-hari diperoleh dari penduduk setempat yang berdagang keliling membawa sayuran hasil kebunnya. linggis. dan tidak disiapkan kandang dan pakan secara khusus. istripun juga sangat berperan untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga. pestisida dan adanya benih unggul.

karena umumnya disajikan dengan cara digoreng. dari segi transportasi dan jarak serta waktu tempuh ke Tawao relatif lebih murah dan mudah dibandingkan ke Nunukan. Bahkan di antara mereka ada yang pernah tinggal dan punya kerabat yang berada di Malaysia dan mempunyai Identity Card (ID) Malaysia. Sebelum masyarakat mengembangkan tanaman coklat. 10 Puslitbang Kesos . pisang sanggar tersebut biasa dikenal sebagai pisang “kepok”. di Sebatik pernah dikembangkan tanaman kopi terutama saat permintaan kopi dari negara tetangga cukup besar. Ada bebarapa hal yang mendorong mereka melakukan hal itu. apalagi pada musim penghujan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Ketiga. Jenis pisang di wilayah ini bagi masyarakat setempat dikenal dengan nama “pisang sanggar” (pisang goreng). hasil coklat dan pisang banyak dijual ke negara tetangga Malaysia (Tawao). Jalan penghubung antar kecamatan kondisinya rusak. Kebun coklat dan pisang tersebut cukup luas dan memberikan hasil cukup besar bagi masyarakat Sebatik Barat. Hasil yang diperoleh saat ini dari pengolahan tanah yang merupakan hasil pertanian/perkebunan rakyat. pertama karena kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan secara turun menurun untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk negara tetangga. di Sebatik sebenarnya terdapat sumber alam yang dapat mendukung kemajuan wilayah. karena biaya yang mahal dan belum lancarnya trasportasi umum. Mereka jarang membawa dan menjual barang dagangannya ke Nunukan. Kenyataan yang ada saat ini. Potensi dan Sumber Alam Berdasarkan informasi tokoh masyarakat setempat. Menurut masyarakat setempat. Setelah permintaan kopi dan harganya anjlok masyarakat mulai beralih pada tanaman coklat. Untuk masyarakat Jawa. tampaknya masyarakat masih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi daripada kesadaran sebagai WNI. adalah dari kebun coklat dan pisang. Nunukan sekitar wilayah Sebatik Barat. namun demikian hingga kini belum ada upaya untuk ekspolitasi sumber tersebut. yakni sumber minyak bumi. infrastruktur untuk jalur transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Hal ini tampaknya merupakan salah satu ciri masyarakat di daerah perbatasan. Kedua. Sumber alam yang sudah diolah saat ini adalah tanah pertanian/perkebunan.

dan masalah potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang belum menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. terutama yang dekat dengan perbatasan mempunyai ID ganda. akses komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Sementara itu. Masalah Ketertinggalan Sebatik merupakan pulau terluar dan terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu sebelah Utara Wilayah Malaysia (Sabah). Masalah-masalah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Alasan mereka adalah untuk kemudahan hubungan dengan masyarakat negara tetangga yang dirasakan memberikan banyak keuntungan. sehingga sebagian besar penduduk seolah-olah kurang menyatu dan berinteraksi secara intensif dengan penduduk lainnya di wilayah Indonesia. Ketergantungan masyarakat pada negara tetangga dapat mengurangi rasa kebangsaan dan nasionalisme. Masalah yang terkait dengan rendahnya Puslitbang Kesos 11 . masalah infrastruktur yang kurang memadai. Mereka akan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi daripada memperhatikan kedudukannya sebagai warga negara Indonesia. ada ketergantungan masyarakat dengan negara tetangga. Kondisi yang demikian menjadikan penduduk Sebatik tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat negara tetangga. penduduk Sebatik mendapat imbas kemajuan ekonomi dari penduduk negara tetangga. Hal ini tampak dari informasi yang diperoleh bahwa beberapa penduduk Sebatik.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. baik pembangunan fisik maupun non fisik. Pada sisi lain. Pada satu sisi. dan sebelah Selatan Wilayah Indonesia (Provinsi Kalimantan Timur). Nunukan Permasalahan Sosial Hasil penelitian ini mengidentifikasi ada tiga besaran permasalahan sosial di Sebatik Barat yang mendorong munculnya berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. Hal ini menjadikan Sebatik Barat tertinggal dalam berbagai pembangunan. rendahnya pendidikan. yakni masalah ketertinggalan. misalnya dalam pemasaran hasil dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga. Masalah-masalah kesejahteraan sosial yang biasanya terkait dengan daerah tertinggal antara lain rendahnya kemampuan ekonomi. dan rendahnya kualitas hidup. Demikian pula yang terjadi di Sebatik Barat. tampak dari besarnya populasi keluarga kurang mampu (kecuali miskin).

Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tiap Desa di Kecamatan Sebatik Barat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Tabel 2. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. fakir miskin. partisipasi iuran warga. yaitu keluarga miskin. Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar Penyandang Cacat Cacat Bekas Sakit Kronis Pengemis Eks Napi Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak layak Huni Kel. keterlantaran. Meskipun tidak semua keluaga miskin berkaitan dengan kondisi rumah. tetapi miliki kerabat atau warisan dari orangtuanya. Masalah-masalah tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kemiskinan. namun beberapa kasus keluarga miskin di Kecamatan Sebatik Barat. dan rumah tidak layak huni.113 12 Puslitbang Kesos . umumnya bertempat di rumah yang layak huni. seperti rumah tidak layak huni. Beberapa kasus keluarga miskin menunjukkan bahwa mereka menempati rumah yang bukan milik sendiri. Ada beberapa jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang hampir ada di setiap desa. lanjut usia. wanita rawa sosial ekonomi. Namun demikian dapat dikatakan bahwa penduduk miskin Sebatik Barat untuk pemenuhan kebutuhan pangan belum merupakan hal yang serius (belum kritis). dan penyediaan rumah yang layak huni. Kemiskinan yang mereka alami adalah kekurangmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan lainnya. Penjelasan dari kasus dimaksud adalah bila kita lihat pada status rumah atau kepemilikan rumah. Nunukan kemampuan ekonomi tampaknya cukup besar. misalnya pendidikan keluarga. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin Aji Setabu Kuning 14 22 38 8 10 4 8 47 45 57 31 6 13 7 3 3 9 7 58 346 1 2 38 674 Desa Binalawan 19 37 8 7 27 173 Liang Bunyu 2 5 10 58 11 13 5 30 228 Jml 14 62 18 17 121 183 38 20 8 3 23 461 3 1. penyandang cacat. dan wanita rawan sosial ekonomi.

Masalah Keterbatasan Infrastruktur Sebatik sebagai wilayah yang tergolong daerah tertinggal mempunyai keterbatasan infrastruktur. Prasarana dan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Barat saat ini hanya ada dua puskesmas. sehingga kalah bersaing dengan nelayan dari negara tetangga. dan kopi. Hambatan yang dialami untuk memperoleh pendapatan tinggi dari sektor pertanian. komunikasi. dan sarana kesehatan. Dampaknya adalah sebagian besar mereka membabat kebun kopi untuk diganti dengan tanaman lainnya. selama peneliti ada di lokasi tidak melihat adanya hasil laut yang berlimpah di pasar/warung lokal. Dengan demikian. Beberapa nelayan memperoleh peralatan dan modal dari penduduk negara tetangga. namun penduduk setempat masih menggunakan perahu tradisional ukuran kecil dan dengan peralatan yang sederhana. terutama kurangnya posisi tawar dengan konsumen di negara tetangga. Oleh karena itu. 2. Menurut penduduk Sebatik. banyak penduduk Sebatik Barat yang masih mengandalkan pengobatannya pada bantuan dukun melalui cara-cara tradisional. penduduk mengalami hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang ada. yang dalam bahasa daerah/lokal disebut tatamba.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. kasus komoditi kopi yang pernah memberikan penghasilan cukup besar. Sumber laut Sebatik (perikanan) sebenarnya cukup memberikan harapan. dengan jumlah dokter masing-masing satu orang. tapi dengan konsekuensi harus menjual tangkapannya kepada mereka. sarana pendidikan. penyediaan air bersih. coklat. menghasilkan komoditi pertanian yang cukup besar seperti pisang. petani hampir tidak pernah dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. Hal ini merupakan permasalahan sendiri bagi penduduk Sebatik Barat dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat. atau membiarkan kebun kopinya tidak terurus. Oleh karena itu. seperti sarana perhubungan. Bahkan terkesan sulit memperoleh ikan dari pasar lokal. yakni satu Puskesmas di Desa Setabu dan satu Puskesmas di Desa Aji Kuning. Nunukan Hal yang menguntungkan bagi masyarakat Sebatik adalah kondisi tanah yang relatif subur. Tatamba Puslitbang Kesos 13 . namun dengan berkurangnya dan bahkan berhentinya permintaan kopi dari negara tetangga menjadikan harga kopi anjlok.

Tabel 3. baik jalan antar kecamatan maupun antar desa sebagian besar berupa jalan darurat (jalan tanah dan pasir batu). Menurut mereka si sakit sembuh karena izin dari Allah. Sebagian jalan-jalan di Sebatik terutama pada musim penghujan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. 14 Puslitbang Kesos . misalnya pengobatannya dengan cara mengunyah pucuk daun jambu dan nangka. 6. Sehingga pada musim kemarau penduduk mengalami kekurangan air bersih. 4. yakni mobilitas penduduk antar desa/kecamatan sangat terbatas. penduduk harus mengangkut air dari sumber tersebut bagi kebutuhan rumahtangganya. sedikit sumber air. Sumber air bersih utama masyarakat saat ini adalah air hujan. Beberapa cara tradisional lainnya masih sering dilakukan penduduk. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No 1. 7. Untuk itu. Sarana jalan darat yang ada di Sebatik. merebus akar alang-alang. lalu diminum. 2. termasuk masalah pengangkutan hasil pertanian/perkebunan penduduk. cabe rawit. sumber air bersih yang ada meskipun rendah kualitasnya adalah sumur umum dekat sungai yang mulai mengering. Saat tidak ada hujan. Oleh karena itu. butuh (kemaluan) tupai. 3. dan dekat dengan laut menyebabkan kualitas air tanah maupun air pemukaan sangat rendah. Nunukan juga merupakan kebiasaan adat (ritual) pengobatan bagi penduduk yang terkena bisa ular. Kondisi seperti itu menjadi permasalahan tersendiri bagi penduduk Sebatik. Sementara itu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Jalan aspal baru mencapai jarak sekitar 2 km di Desa Setabu (ibukota kecamatan). Jenis Fasilitas Puskesmas Polindes Posyandu Dokter Perawat/Mantri Bidan Dukun Desa Setabu 1 4 1 5 3 2 Aji Kuning 1 4 1 1 Binalawan 1 3 9 Liang Bunyu 1 4 1 1 7 Jml 2 2 15 2 6 5 18 Kondisi tanah yang berbukit-bukit. penduduk Sebatik mengalami permasalahan dalam penyediaan air bersih. 5. jumlah sarana angkutan umum yang ada masih terbatas dan dengan biaya yang cukup mahal. tenung yaitu cara penyembuhannya disembur dengan air putih yang sudah diberi doa.

Jaringan/siaran televisi dan Puslitbang Kesos 15 . 1. Sarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas. 10. Sarana Pendidikan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. 3. Kondisi seperti ini menyebabkan banyak penduduk yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah.tergantung dari banyaknya penumpang. dan dengan jumlah yang terbatas.. beberapa desa hanya mempunyai sekolah sampai SD. baik karena masalah jarak lokasi maupun kemampuannya yang terbatas. sekolah lanjutan pertama (SMP) hanya ada dua yakni satu di Desa Setabu dan satu di Desa Aji Kuning. Sehingga bagi anak-anak penduduk desa lainnya harus menempuh jarak cukup jauh bila ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP.000. yakni sekolah milik swasta. hanya beberapa anak.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Jenis Fasilitas Pendidikan TPA Sekolah Dasar SLTP Kejar Paket A. Oleh karena itu. 4. B Jumlah Desa Setabu 3 1 1 5 Aji Kuning 1 3 1 5 Binalawan 4 1 5 Liang Bunyu 2 1 2 5 Jml 10 11 2 2 25 Saran komunikasi telepon kabel dan telepon umum di wilayah Sebatik Barat hingga saat ini belum tampak kehadiranya. 2. dari segi pendidikan penduduk Sebatik Barat sebagian besar rendah (hanya mencapai tingkat Sekolah Dasar.. Tabel 4. Sekolah lanjutan atas negeri hanya ada di Nunukan. Untuk wilayah Sebatik Barat.s/d Rp. Saat ini sekolah lanjutan atas baru ada di Kecamatan Sebatik Timur. Kepemilikannya juga masih terbatas pada penduduk yang tergolong cukup mampu. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Nunukan untuk menciptakan sarana perhubungan yang relatif mudah dijangkau masyarakat dan dengan frekuensi yang cukup memadai. khususnya dari golongan mampu yang dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 20. Untuk ke Nunukan sekali jalan beaya yang harus ditanggung per orang antara Rp. Sementara ini. penduduk banyak menggunakan sarana telepon seluler yang jaringanya masih terbatas.000. Nunukan Saat ini angkutan laut (perahu motor) ke Nunukan tiap hari umumnya hanya dua trip (berangkat pagi dan pulang siang hari). Dengan demikian. makin banyak penumpang akan semakin murah biayanya.

Jenis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mencakup kelompok/lembaga sosial dan perorangan dapat dijelaskan seperti berikut: • Perkumpulan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Nunukan radio sebagian sudah dapat ditangkap penduduk meskipun masih terbatas. Inisiasi pembentukan Karang Taruna oleh masyarakat. Kelompok pemuda ini pada umumnya memiliki kegiatan edukatif. Dusun. • PKK. dan usaha ekonomis produktif. simpan pinjam. Kelompok ini merupakan organisasi pemuda pada tingkat lokal. tabungan. menimbang balita. kelompok ini beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang memiliki anak balita. ekonomis produktif dan 16 Puslitbang Kesos . Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan balita. dan secara fungsional berada dalam pembinaan Departemen Sosial. Kelompok ini dibentuk atas prakarsa pemerintah. Tujuan kelompok ini adalah peningkatan kesejahteraan keluarga melalui berbagai kegiatan seperti arisan. Masalah Pontensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial merupakan hal yang penting dalam menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. dengan usia berkisar antara 19 tahun sampai dengan usaia 40 tahun. gotong royong. Kabupaten dan Provinsi. • Karang Taruna/kelompok pemuda. Kecamatan. Namun demikian masuknya jaringan/siaran televisi asing (negara tetangga) tampaknya tidak bisa dihindarkan mengingat letaknya yang cukup dekat. Lembaga ini mempunyai jangkauan wilayah berjenjang dari tingkat Rukun Tetangga. Bila siaran televisi Indonesia tidak lebih kuat. 3. beranggotakan kaum wanita terutama ibu rumahtangga. maka dapat menghambat masuknya informasi nasional dalam kehidupan masyarakat Sebatik. Desa. Kelompok ini dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa dari pemerintah. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ini dapat berwujud lembaga sosial maupun individu-individu yang peduli terhadap usaha-usaha kesejahteraan sosial. penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana serta peningkatan gizi keluarga.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Anggotanya sebagian besar remaja dan beberapa orang dewasa. Tujuan kelompok ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak.

Pembentukannya oleh inisiatif pemerintah dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial. • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat. • Pengajian/majlis taklim dibentuk oleh masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi kaum muslim.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. merupakan individu-individu yang berasal dari masyarakat setempat. Kelompok ini dibentuk masyarakat merupakan wadah silaturahmi. Nunukan rekreatif. bertanam sehingga diperoleh peningkatan hasil pertanian. Namun demikian kondisi saat ini sebagian besar tampaknya kurang aktif. umumnya beranggotakan sejumlah Kepala Keluarga dari etnis tertentu. • Arisan keluarga. kelompok maupun bersama dalam wadah lembaga sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungannya. Kelompok ini beranggotakan para petani dan memiliki kegiatan mulai dari pengolahan tanah. Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan pengajian dan pembinaan mental keagamaan. Kegiatan kesenian tradisional yang terkenal adalah tarian “Jepin” yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. • Kelompok kesenian terdiri dari sekumpulan warga masyarakat yang mempunyai minat dan bakat dibidang kesenian baik itu kesenian tradisional maupun modern. Arisan ini digunakan sebagai sarana tukar informasi dan saling memberikan pemikiran tentang permasalahan yang dihadapi anggota. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi dengan warga masyarakat setempat menunjukkan bahwa kondisi PSM dan KT di Sebatik Barat Puslitbang Kesos 17 . • Kelompok Tani dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa pemerintah dalam upaya peningkatan hasil pertanian. misalnya pada upacara pernikahan dan peringatan hari-hari besar nasional. Mereka bekerja secara mandiri. Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat setempat. Kelompok ini memiliki kegiatan latihan rutin dan pentas untuk mengisi acara permintaan atau acaraacara tertentu.

Hal ini terjadi karena pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam kegiatan pembinaan. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Pembinaan terhadap kelompok-kelompok sosial masyarakat di Kabupaten Nunukan dapat dikatakan masih sangat rendah. Oleh karena itu. adalah upaya pemberdayaan keluarga 18 Puslitbang Kesos . Saat ini tampaknya PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial lepas dari perhatian Kantor Sosial setempat. Upaya yang Telah Dilakukan Bila memperhatikan data PMKS seperti telah dikemukakan sebelumnya. dapat dikatakan bahwa permasalahan sosial yang ada erat kaitannya dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga. dan minimnya sumber dana maupun informasi yang mereka miliki. Hal ini antara lain disebabkan kondisi SDM yang relatif rendah (sebagian besar pendidikan SD). terutama karena faktor lokasi yang sulit dijangkau dan dukungan lainnya yang masih terbatas. Sementara itu organisasi-organisasi sosial yang ada di Kabupaten Nunukan belum menjangkau wilayah Sebatik. Hal ini menurut mereka disebabkan kurangnya bantuan dan pembinaan dari pemerintah terhadap sumber-sumber tadi. Penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kecamatan Sebatik Barat saat ini masih kekurangan sumber yang dapat diakses oleh mereka. Apalagi panti-panti rehabilitasi sosial atau lembaga rehabiliasi sosial lainnya bagi penyandang cacat saat ini belum ada di wilayah Kabupaten Nunukan. Beberapa upaya pemerintah yang masuk ke Sebatik berdasarkan informasi tokoh-tokoh setempat. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. Organisasi-organisasi sosial lokal saat ini mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. Panti-panti sosial yang ada di Kabupaten Nunukan jumlah maupun jangkauannya masih terbatas. Sehingga banyak penyandang masalah yang tidak memperoleh pelayanan yang memadai. upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat akan selalu terkait dengan upaya peningkatan dari segi ekonomi atau pendapatan penduduk. Nunukan saat ini dapat dikatakan kurang aktif lagi.

Masalah-masalah ini sebenarnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Hingga saat ini belum terlihat peran LSM/Orsos dalam usaha kesejahteraan sosial. Namun demikian masih sangat terbatas kualitas maupun jangkauannya. Hal ini antara lain disebabkan kurang/tidak adanya pembinaan secara rutin dari penyelenggara program/kegiatan. arisan. Masalah kesejahteraan sosial umumnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. transportasi dan komunikasi. Upaya penduduk sendiri untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial dilakukan melalui kelompok-kelompok yang mereka bentuk. pendidikan. dan akses pada pendidikan yang lebih tinggi terbatas. Tampaknya penanggulangan masalah kesejahteraan sosial di Sebatik Barat masih memerlukan campur tangan dari luar. PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial tampaknya lepas dari perhatian Puslitbang Kesos 19 . masalah rumah tidak layak huni. seperti kelompok kematian. Masih minimnya infrastruktur yang ada. Kesimpulan dan Saran Program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. misalnya peranserta LSM/ Orsos dan peran pemerintah pusat maupun daerah. Dari hasil observasi tampaknya KUBE tersebut tidak lagi terlihat kegiatannya. Nunukan miskin berupa bantuan stimulan ekonomi produktif melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan perbaikan rumah penduduk. Hal ini antara lain karena kurangnya pembinaan dari pemerintah setempat terhadap sumber-sumber tersebut. menjadikan mobilitas penduduk antar desa/ kecamatan sangat terbatas. Masalah kesejahteraan sosial yang cukup menonjol adalah kemiskinan. dan kelompok-kelompok yang berbasis RT. dan keterlantaran. wanita rawan sosial ekonomi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial setempat. terutama sarana air bersih. seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Karang Taruna (KT) saat ini kurang aktif melaksanakan fungsinya. menjadikan wilayah ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi.

diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. Program-program sektor sosial yang diperlukan adalah upaya pemberdayaan penduduk miskin. khususnya pendidikan formal diperlukan sarana pendidikan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. agar dengan demikian pemerintah daerah akan selalu mempunyai data yang akurat dan up to date bagi perencanaan pembangunan. Nunukan pemerintah setempat. perbaikan lingkungan dan perumahan. maka perlu dipertimbangkan oleh pusat maupun pemerintah daerah (Instansi Sosial) untuk mendirikan pantipanti rehabilitasi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat. pemerintah daerah setempat perlu secara berkesinambungan melakukan pembaharuan data permasalahan kesejahteraan sosial. serta peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal agar mampu berperan dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial. Guna memacu kemajuan kehidupan masyarakat Sebatik. maka diperlukan program-program yang terpadu antar instansi (Dinas-Dinas). Diharapkan dengan mudahnya akses pendidikan dan transportasi/perhubungan bagi penduduk akan mempunyai dampak terhadap peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat. terutama sarana pendidikan. b. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. antara lain lembaga pelayanan dalam bentuk panti rehabilitasi sosial. Sejalan dengan upaya ini. Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. c. buku-buku pelajaran dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak terlantar. Untuk itu. komunikasi. 20 Puslitbang Kesos . d. Mengingat keterbatasan lembaga pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. dan transportasi/perhubungan dalam pulau dan antar pulau. Organisasi-organisasi sosial lokal mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. antara lain: a.

Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Departemen Sosial. 1991. 2005. Rineke Cipta. Nunukan e. Ndraha. Dengan demikian. 2002. Dwi Heru Sukoco. mempunyai posisi strategis terhadap kesatuan wilayah NKRI. Bambang dkk. 2002. ICSD. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. Pusdatin. Untuk itu. Pembangunan Masyarakat. Profesi Pekerja Sosial. diharapkan tidak lagi menjadi daerah tertinggal dan menjadi salah satu daerah perbatasan yang dapat diandalkan Pemerintah RI. STKS Press Kecamatan Sebatik Barat. Wilayah Sebatik yang berbatasan langsung dengan negara lain. BPS. 1990. Taliziduhu. maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu lebih ekstra membangun wilayah yang bersangkutan. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Nunukan dengan BPS Kabupaten Nunukan. Jakarta. Nunukan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Monografi Kecamatan Sebatik Rudito. Puslitbang Kesos 21 . 2004. Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2002. Bandung. Bandung. Jakarta. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. baik fisik maupun non fisik.

183 7.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas seharihari. Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar 17 121 6. 5. dan kurang sehat. biasanya terkait dengan masalah-masalah ekonomi. cacat bawaan atau karena kecelakaan. Anak Nakal 18 4. mempunyai tanggungan anak usia sekolah. sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. keluarga dengan penghasilan tidak tetap. 1. kondisi ekonomi kurang mampu. anak usia 6 – 21 tahun. katarak dsb. hidupnya tergantung dari bantuan orang lain. sering menggunakan obat-obat terlarang. keluarga kurang mampu memberikan pelayanan. anak-anak atau dewasa. cacat akibat penyakit. rumah darurat atau kondisinya kurang sempurna. kurang harmonis. Jenis PMKS Balita Terlantar Kriteria anak usia 0 – 5 tahun. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin 461 3 1. pendidikan keluarga paling tinggi SD. lantai tidak sempurna/lantai kayu banyak yang rusak. janda. telah selesai menjalani hukuman karena pelanggaran lalu lintas. Eks Napi Keluarga Fakir Miskin 3 23 12. laki-laki atau perempuan usia 60 tahun ke atas. tidak produktif lagi. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. atap dari daun atau dari seng tapi rusak. sering mengkonsumsi alkohol. orangtua tidak mampu secara ekonomi. seperti stroke. Dinding tidak sempurna. Nunukan Lampiran 1 Jenis PMKS dan Kriteria Menurut Masyarakat Lokal di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Anak Terlantar 62 3. dan kurang atau tidak terpenuhi kebutuhannya secara memadai. usia produktif. 13. mengalami hambatan dalam beraktivitas. menderita cacat karena bawaan atau kecelakaan.113 22 Puslitbang Kesos . 20 8 10. tidak punya pekerjaan tetap. anak usia 6 – 12 tahun. anak usia 15 – 21 tahun. dan mengganggu orang lain/lingkungan. Penyandang Cacat Cacat Bekas sakit Kronis Pengemis 38 8. hanya mampu mendapatkan pendidikan sampai SD. 14. tidak mampu membiayai pendidikan anak. keluarga dengan penghasilan tetap. berasal dari keluarga kurang mampu. banyak yang bolong. suami isteri sering bertengkar. wanita. hanya mampu membiayai pendidikan anak pada tingkat SD. orang dewasa. 11. tergantung pada bantuan orang lain. Rumah Tidak layak Huni Kel. Jumlah 14 2. orang dewasa. yatim atau yatim piatu. tidak mempunyai pekerjaan tetap. orang dewasa. 9.

Nunukan Lampiran 2 PETA WILAYAH 1. Peta Wilayah Desa Binalawan Puslitbang Kesos 23 . Peta Wilayah Desa Aji Kuning 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

Nunukan 3. Peta Wilayah Desa Liang Bunyu 24 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Peta Wilayah Desa Setabu 4.

Si. selain juga anak terlantar. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten ini dapat terwujud secara tepat sasaran dan tepat guna. M. keluarga rentan dan keluarga berumah tidak layak huni. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. Syawie. salah satunya adalah dengan menyediakan data dasar (database) yang akurat dan reliable tentang permasalahan sosial serta sumberdaya. Upaya penyediaan database tersebut. Kriteria permasalahan sosial serta potensi. dilakukan melalui penelitian kerjasama antara Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial .Departemen Sosial RI dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. Kata kunci: Permasalahan Sosial 1 2 Tulisan ini diangkat dari penelitian Diagnosis Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa permasalahan sosial yang paling menonjol adalah masalah fakir miskin (kemiskinan). serta masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak. dengan tim penelitian Drs. Indah Huruswati 2 ABSTRAK Kabupaten Pulang Pisau merupakan sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas yang diresmikan pada tahun 1999. Pemerintah Daerah berupaya menata kembali sistem administrasi wilayahnya. MSc. Dampak dari pemekaran tersebut. Kabupaten ini dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Dra. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Badiklit Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos 25 .DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH1 Dra. diungkapkan dalam hasil penelitian ini berdasarkan pandangan masyarakat lokal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka miliki. Peneliti Muda pada Puslitbang Kessos. Penelitian dilakukan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang dipilih berdasarkan keragaman masalah sosial dan potensi yang dimiliki. Indah Huruswati.Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2006 lalu. yang dapat dijadikan acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. Endang Kironosasi. Moch.

Kabupaten Pulang Pisau dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Akibat lebih lanjut adalah pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat tidak dapat sepenuhnya terjangkau. kewilayahan dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam dan ekonomi. Padahal segala permasalahan sosial dapat diatasi secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliable. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. 32 tahun 2002) tentang Pemerintahan Daerah. Terkait dengan Pemerintah Pusat. Pulang Pisau yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Kapuas menjadi kabupaten baru (pemekaran). sumber daya sosial.22 tahun 1999 (yang diperbaharui menjadi UndangUndang No. Dalam kaitan dengan penataan kembali wilayah pemekaran ini tentunya memerlukan data dasar (database) yang akurat dan reliable sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program pembangunan di wilayah tersebut. Pulang Pisau Pendahuluan Sejak dicanangkannya otonomi daerah yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang No. tentunya akan berpengaruh pada program pusat yang dampaknya tidak mampu mengakomodir kebutuhan daerah. dengan kurangnya data dan peta permasalahan sosial. Sementara itu data dasar (database) mengenai permasalahan sosial serta peta sumberdaya yang ada di wilayah yang bersangkutan belum dimiliki oleh Pemerintah Daerah setempat. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. Dampak dari pemekaran tersebut. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya serta dapat berlangsung secara berkesinambungan. Beberapa wilayah yang semula merupakan kecamatan berubah menjadi kabupaten karena dianggap telah memenuhi persyaratan administrasi. masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak serta permasalahan lainnya. Tentunya berdampak pada perubahan status administrasi pada wilayah-wilayah tersebut.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di Indonesia. ekonomi dan alam yang bercirikan masyarakat lokal. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial dan sumber kesejahteraan sosial sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan yang 26 Puslitbang Kesos .

dan (4) diperolehnya gambaran tentang programprogram penanggulangan permasalahan sosial yang pernah dilaksanakan di lokasi penelitian.Kalimantan Tengah melakukan Penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial ini. Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. Tersedianya data yang akurat dan reliable akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. sehingga menjadi rentan terhadap masalah Puslitbang Kesos 27 . (3) diperolehnya gambaran mengenai lokasi dan peta penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Pulang Pisau terarah dan komprehensif.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial – Departemen Sosial RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi. Berdasarkan permasalahan tersebut. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Bagaimana kriteria dan karakteristik penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Program kesejahteraan sosial apa saja yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Pulang Pisau? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya data kualitatif tentang jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: • • • Apa dan bagaimana jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. (2) diperolehnya data kualitatif tentang kriteria dan karakteristik penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna. sebagai langkah awal upaya identifikasi sekaligus menemukenali secara lebih dalam permasalahan yang dihadapi daerah. ekonomi dan alam sebagai data dasar di lokasi penelitian.

Untuk mempertahankan kehidupannya. lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. kelompok. diobservasi. yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental. digunakan pendekatan kualitatif yang tujuannya adalah untuk memahami kondisi serta pemahaman sekelompok orang dalam satu kelompok sosial. Sumber data terdiri dari : (1) data primer yaitu perorangan atau individu. Penyakit yang dimaksud di sini adalah permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Diharapkan dengan pendekatan ini diperoleh suatu gambaran bagaimana pelaku dalam komuniti memandang dan memahami gejala sosial yang tampak. gotong royong dan sebagainya. 1985) Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut. simptom dan hasil pelbagai langkah diagnostik. Kesimpulan yang didapat melalui proses ini dikenali sebagai diagnosis. bisa termasuk intervensi pemerintah. masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. Metode Penelitian Penelitian diagnostik yang dilakukan merupakan proses mengenal pasti penyakit melalui tanda penyakit. ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat (Dove. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi pemecahan masalah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. (2) data sekunder yaitu literatur. kesenian. keagamaan. Pulang Pisau kesejahteraan sosial. sumber daya manusia. Untuk mengenal pasti permasalahan sosial yang ada. Dalam kaitannya dengan faktor eksternal. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. dicatat dan dianalisa. Sedangkan 28 Puslitbang Kesos . politik. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alam. Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan.

kriteria penduduk sebagai penyandang masalah sosial. juga wawancara. penyandang masalah sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial. berjarak paling jauh sekitar 56 km sampai 75 km dari Ibukota Kabupaten. Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang menjadi lokasi penelitian ini. dimana komposisi penduduknya berasal dari ragam sukubangsa dan agama. dan 1 kelurahan. baik yang tergolong sebagai penduduk lokal yang terdiri dari sukubangsa Puslitbang Kesos 29 . sebagian wilayahnya terdiri dari lahan gambut (277. terutama pada sektor kehutanan dan sektor lain seperti pertanian dan peternakan yang turut menyumbang potensi cukup besar sejak dari tingkat desa. Sasaran penelitian adalah penduduk yang menetap di daerah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pulang mempunyai wilayah seluas 8. Kabupaten ini meliputi 8 wilayah kecamatan. baik dari jenis kelamin maupun jenis pekerjaan yang ada. Sementara itu. diskusi. Pulang Pisau pengumpulan informasi dilakukan selain melalui pengamatan (observasi).997 km² atau 899. lokasi. Kalimantan Tengah.300 hektar). khususnya di Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. jarak dari desa-desa ke ibukota Kecamatan antara 7 km sampai 30 km yang dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten) maupun jalan air (Sungai Kahayan) dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat. penelusuran dokumen dan bahan-bahan visual. Secara umum wilayah Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang lumayan besar.700 ha. dengan waktu tempuh sekitar 4 – 6 jam. Karakteristik penduduk di dua kecamatan memiliki sifat heterogen. 83 desa definitif. Sebagian kecamatan Maliku sebelum ada pemekaran merupakan bagian dari kecamatan Pandih Batu.

dengan atap ada yang menggunakan genteng dan daun kelapa atau rumbia. Mata pencaharian warga masyarakat sebagian besar sebagai petani. Pendidikan warga masyarakat di wilayah ini pada umumnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Namun memperhatikan data yang ada di kecamatan ini tampaknya relatif banyak warga masyarakat yang belum/tidak bekerja. Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Berdasarkan urutan permasalahan yang paling tinggi frekwensinya yaitu masalah yang terkait dengan kemiskinan – yaitu masalah keluarga fakir miskin. Kondisi ini disebabkan karena sebagian warga desa (laki-laki) yang sudah menikah dalam usia muda. Akhirnya keluarga mereka menjadi terlantar. dan umumnya didirikan di tepi jalan dibuat sejajar atau mengikuti aliran sungai. Rumah mereka umumnya dibuat dari kayu atau papan. Jawa dan Sunda. Masalah lain yang juga relatif tinggi yaitu masalah rumah tidak layak huni dan wanita rawan sosial-ekonomi serta keluarga rentan. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Keluarga-keluarga yang 30 Puslitbang Kesos . demikian halnya dengan lahan yang mereka miliki juga menjadi terlantar sehingga membawa akibat pada kerentanan dan kemiskinan. meninggalkan desa dengan alasan mencari nafkah di tempat lain. karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di wilayah ini. Pulang Pisau Dayak dan Banjar maupun penduduk pendatang yang terdiri dari sukubangsa Madura. Anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat SLTP dan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA terpaksa harus pergi keluar dari desanya. Mereka lebih memilih pergi merantau ke Kota Palangkaraya untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi penambang emas di Kereng Pangi. yaitu terkonsentrasi di tepi sungai dan cabang-cabangnya. terutama para penduduk asli. Begitupun dengan pola pemukiman penduduk umumnya relatif sama yaitu mengelompok di tengah lahan wilayah desa. Diagnosis Permasalahan Sosial Berdasarkan hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua Kecamatan ditemukenali sejumlah permasalahan sosial yang ada yaitu 14 permasalahan sosial untuk Kecamatan Pandih Batu dan 19 permasalahan sosial untuk Kecamatan Maliku.

Namun karena keterbatasan dari kaum perempuan untuk bisa mengolah lahan. pada satu sisi merupakan potensi. Sifat multi-etnik (heterogen) yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat. Jawa dan Sunda. mereka menjadi rawan secara sosial-ekonomi. maka mereka akhirnya tidak bisa memperoleh penghasilan. Saat ini hubungan sosial diantara mereka yang pernah terlibat konflik relatif sudah berangsur membaik. Misalnya beberapa desa di Kecamatan Pandih Batu yaitu Desa Pantik terdapat lahan tidur seluas 970 ha. Pulang Pisau ditinggalkan oleh para kepala keluarga terpaksa harus berusaha mencari nafkah sendiri atau ikut dengan orang tua mereka. Anak-anak menjadi berhenti sekolah pada usia wajib belajar 9 tahun dan mereka tidak mendapatkan makanan bergizi. baik karena keterbatasan SDM maupun teknologi yang mereka miliki.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Potensi konflik antara sukubangsa menjadi semakin rawan karena pernah terjadi peristiwa konflik antara sukubangsa Dayak dan Banjar (melayu) dengan sukubangsa Madura sekitar buan Maret tahun 2001. karena orang tua tidak mampu memberikan kebutuhan dasar mereka. Puslitbang Kesos 31 . di Desa Pangkoh Sari terdapat lahan tidur seluas 400 ha dan di Desa Talio Muara terdapat lahan tidur seluas 391 ha. yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan aksesibilitas antar desa dengan desa lainnya atau antar desa dengan kecamatan. tetapi pada sisi yang lain potensial menimbulkan kerawanan konflik sosial. Hal ini berdampak juga terhadap anak-anak mereka yang cenderung menjadi terlantar. Kondisi lingkungan turut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa dengan tidak meratanya distribusi penduduk antar desa di dua Kecamatan. Keluarga-keluarga tersebut akhirnya menjadi rentan untuk masuk ke dalam kemiskinan dan bagi ibu-ibu. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan tidak dapat secara optimal dikelola dan dimanfaatkan. karena ibunya (orangtua) tidak mempunyai uang untuk membeli makanan bergizi. bahkan fisik. Karakteristik masyarakat yang bermukim di dua kecamatan ini terdiri dari beragam sukubangsa dan agama. Lahan tersebut belum tergarap sebagai akibat keterbatasan SDM. walaupun kondisi ini tetap harus diwaspadai melalui kebijakan atau kegiatan-kegiatan yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara “penduduk lokal” (Dayak dan Banjar) dengan “penduduk pendatang” yang terdiri dari para transmigran umum maupun swakarsa yang terdiri dari Madura. baik dari segi jumlah dan penguasaan teknologi.

baik aktivitas sosial maupun ekonomi masih menjadi kendala. maka mereka cenderung memanfaatkan infrastruktur fisik yang ada untuk memudahkan mereka pergi mencari nafkah ke luar daerahnya. Kondisi geografis dan alam yang demikian belum dilengkapi dengan sarana-prasarana transportasi yang memadai. misalnya untuk Kecamatan Pandih Batu tersedia satu unit Puskesmas yang tidak dilengkapi Puskesmas Pembantu di tingkat desa. diperlukan banyak program dan kegiatan yang dapat mengakomodasi berbagai keragaman kepentingan. sehingga diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat. Pulang Pisau Sementara itu bila melihat dukungan masyarakat terhadap program pembangunan seharusnya juga melihat kesiapan mereka dalam hal kemampuan mengelola dan memanfaatkannya. Aksesibilitas masyarakat dalam beraktivitas. sehingga melalui suatu proses tertentu keragaman karakteristik penduduk dapat saling bersinergi untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera. Dengan demikian. yaitu sekolah. Melalui potensi keswadayaan masyarakat itu sendiri di samping strategis juga memiliki nilai pemberdayaan dalam rangka proses memandirikan masyarakat untuk membantu dirinya sendiri. sementara penghasilan rumah tangga relatif rendah. Program dan kegiatan yang dikembangkan melalui pemanfaatan potensi keswadayaan masyarakat (gotong-royong) menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan. Masalah keterbatasan juga terjadi pada sarana pelayanan kesehatan. Sementara alat perhubungan (transportasi) antar desa maupun desa ke kecamatan relatif sulit dan mahal. Tanpa itu. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak biasanya terkendala oleh faktor kemiskinan yang menyebabkan anak menjadi putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tenaga dokter pun hanya satu dengan 15 tenaga medis lainnya (perawat dan bidan). Hal ini terutama menjadi kendala terhadap aksesibilitas antar desa maupun antara desa ke ibukota kecamatan. Keterbatasan sarana-prasarana transportasi menyebabkan harga kebutuhan pokok sehari-hari relatif tinggi. Tampaknya dengan melihat kondisi yang ada. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya menjadi tidak optimal. Pembangunan infrastruktur fisik perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur sosial yang baik. Adanya tanah pertanian yang tidak digarap dan kegagalan upaya masyarakat memanfaatkan lahan tidur merupakan akibat pembangunan infrastruktur 32 Puslitbang Kesos . Membangun kapasitas salah satunya adalah melalui pendidikan formal.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab.

baik dari aspek kebijakan. Penerima Raskin yang seharusnya bisa menikmati beras enak dengan harga murah terpaksa harus menjual berasnya itu ke pasar atau ke tetangga hanya untuk membiayai SPP anaknya yang masih sekolah tetapi tidak memperoleh beasiswa berupa dana Bantuan Khusus Murid (BKM) atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS). keluarga rentan. Penyandang permasalahan sosial seperti fakir miskin yang cacat karena penyakit kronis (diabetes) dan memiliki beberapa anak yang tidak terawat karena masalah keterbatasan ekonomi seharusnya memperoleh program bantuan sebagai fakir miskin. Pembinaan dan pelatihan dilakukan pula kepada beberapa jenis penyandang masalah sosial untuk meningkatkan keterampilan (anyaman) dan bantuan lainnya berbentuk bantuan kursi roda bagi penyandang cacat dan bantuan ternak sapi kepada lansia terlantar. Seharusnya setiap keluarga miskin/fakir miskin memperoleh beragam program bantuan. permodalan maupun aspek teknologi tepat guna. yaitu program bantuan untuk anak terlantar. Dinas Sosial Puslitbang Kesos 33 . Askeskin atau pun BLT-BBM. regulasi. Upaya meningkatkan kesejahteraan sosial diperlukan suatu perencanaan sosial yang baik. Seperti penerima BLTBBM karena tidak memperoleh Askeskin. Perencanaan akan berjalan baik bila dilengkapi dan didasari data yang akurat. Mencermati pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan upaya penanganan permasalahan sosial yang ada menunjukkan bahwa sasaran program kurang tepat. Apapun alasannya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. maka dana BLT yang diperolehnya dan seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa digunakan untuk berobat. Dalam hal ini sudah tentu pihak Pemerintah berperan penting untuk memfasilitasi. Dinas Sosial dan Dinas terkait lainnya telah melakukan upaya penanganan permasalahan sosial melalui pendataan terhadap rumah tak layak huni. wanita rawan sosial. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan alasan bahwa alokasi bantuan kurang sesuai dengan jumlah keluarga miskin atau fakir miskin yang ada. maka program bantuan yang ada menjadi kurang efektif. walaupun sebagian besar ternak sapi kini sudah mati akibat terkena wabah penyakit. Pulang Pisau sosial-ekonomi belum dilakukan sesuai harapan masyarakat. penyandang cacat akibat penyakit kronis serta program bantuan bagi anaknya. keluarga miskin atau fakir miskin tidak secara merata memperoleh bantuan Raskin. Di Kecamatan Pandih Batu. remaja nakal dan lahan tidur.

Berkaitan dengan penggunaan kriteria untuk menggolongkan jenis penyandang masalah sosial (Anak Terlantar. akan tetapi pelaksanaannya masih terkendala oleh kekurangan modal dan kurang kompaknya warga masyarakat. Remaja Nakal. Anak Yatim/Piatu. Dinas Kesehatan juga membantu memberikan pelayanan kesehatan melalui kegiatan Posling dan Posyandu kepada anak-anak terlantar. Keluarga Rentan dan sebagainya). penanganan lahan tidur sudah dilakukan melalui musyawarah desa maupun sosialisasi. 34 Puslitbang Kesos . Demikian pula keluarga rentan yang sampai saat ini masih dalam proses pendataan. Pulang Pisau melakukan program bantuan untuk Komunitas Adat Terpencil yang ada di Desa Talio melalui program pemberantasan buta aksara.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. khususnya yang berada di Desa Kantan Muara berjumlah sekitar 96 unit dan di Desa Pangkoh Sari bahkan baru dalam proses pendataan. Anak Cacat. Fakir Miskin. tampaknya dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua kecamatan masih terlihat perbedaan dalam menentukan usia anak dan remaja. Lansia Terlantar. penajaman kriteria menjadi sangat penting. termasuk permasalahan sosial bagi penyandang cacat akibat penyakit kronis. Di samping perbedaan kriteria. Anak Balita Terlantar. Penyandang Cacat. Wanita Rawan Sosial. Sementara itu. Permasalahan sosial yang belum ditangani dengan upaya-upaya tertentu adalah masalah rumah tak layak huni.

Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan buruk. Ukuran bangunan rumah relatif kecil. Usia antara 16 tahun sampai 60 tahun. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamatan Pandih Batu No. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut. sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. dan lain-lain). bahkan tidak ada sama sekali.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. lantainya masih beralaskan tanah. 2. baik dengan orangtua/mertua/ kerabat lainnya. ukuran rumah 4 x 4 m dengan anggota keluarga lebih dari 5 orang. Lansia Terlantar Puslitbang Kesos 35 . Tingkat produktifitas KK rendah. Banyak anak/tanggungan yang belum bekerja. Kepadatan hunian yang cukup tinggi (rumah ukuran 4 x 4 m dihuni lebih dari 5 orang). 2. Pulang Pisau Tabel 1. tidak memiliki jendela. 2. 1. Bahan atap dari daun. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. 1. Penghasilan kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. baik dengan orangtua/mertua/ kerabatan lainnya. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 5. 4. 5. 3. baik karena alasan ekonomi maupun alasan non-ekonomi. 3. Usia di atas 61 tahun. Kondisi rumah / fisik bangunannya tidak layak ditempati (seperti bangunannya bocor. yaitu antara 4 x 4 m atau 4 x 6 meter dan umumnya tidak memiliki penyekat ruangan. Bangunan rumah tidak dilengkapi fasilitas MCK. dinding dari seng atau kayu rapuh dengan lantai tanah atau papan (jenis rumah panggung). Hidup sendiri atau bersama kerabat/non kerabat. Penghasilan kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 2. Wanita Rawan Sosial 4. Rumah Tidak Layak Huni 3. Pengangguran atau tidak ada pekerjaan/penghasilan sama sekali. 2. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 1. Status janda ditinggal mati suami atau status belum menikah. Penghasilan kecil. 1. tetapi kurang diperhatikan/perawatan dari sanakkeluarganya. JENIS PMKS Fakir Miskin KRITERIA 1. 3. 5. 4. 4. 3.

Anak Balita Terlantar Usia 0 – 4 tahun. Ditinggal orangtua/satu atau kedua orangtua meninggal. Usia nikah sudah 10 tahun dan masih menumpang orangtua/mertua (ada di Desa Gadabung). Lahan tidak digarap pemilik lebih dari 15 tahun. Komunitas Adat Terpencil (KAT) 13. 3. Penyandang Cacat Fisik/ Mental 9. 6. Keluarga muda yang baru menikah sampai 5 tahun dan kurang serasi (ada di Desa Kantan Muara). Kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Usia 13 – 1 6 tahun. Kurang perawatan orangtua karena kurang mampu secara ekonomi. Memiliki kelainan fisik atau mental saja 1. Kurang gizi dan kondisi sering sakit. Remaja Nakal 14. 1. 3. 2. 1. 3. Keluarga Rentan 7. 4.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Masyarakatnya masih amat terikat dengan sumberdaya alam dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. 3. Usia 5 – 12 tahun. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan 1. Adanya kelainan fisik/mental akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir (bisu-tuli. Anak Cacat 12. 3. Mantan penderita penyakit kronis yang dinyatakan secara medis telah sembuh. Penyandang Cacat Fisik/ Mental akibat Penyakit Kronis Anak Terlantar 11. 2. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau paspasan untuk memenuhi kebutuhan seharihari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan. sehingga menghambat perekonomian/produktivitas pertanian. keterbelakangan mental). Berasal dari keluarga tidak mampu. Lahan ditinggal pemilik tanpa ada yang mengurus. 2. 2. Usia antara 5 tahun sampai 16 tahun. 10. Lahan tidur 36 Puslitbang Kesos . 3. Memiliki cacat fisik/mental akibat penyakitnya itu 1. Pulang Pisau 5. 3. Perilaku mengganggu lingkungan atau membuat resah lingkungan. 2. Usia di atas 18 tahun 1. 4. 1. pendidikan dan kesehatan. 2. Keterbelakangan ekonomi. Memiliki kelainan fisik dan mental. Lokasi kesatuan fisik dan sosial yang terpencil. Kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam satu kesatuan fisik dan sosial yang relatif kecil. Kurang pergaulan dan komunikasi 1. 4. kaki pincang. 2. 3. khususnya ada di Desa Pantik 1. 1. 2. Anak Yatim Piatu 8. Kurang perawatan/perhatian orangtua. Fungsi jasmani dan sosial terganggu. 2. Usia 5 – 12 tahun dan ada pula yang menetapkan 5 – 18 tahun. Orangtua tergolong kurang mampu secara ekonomi. 2.

lantai tanah. 2. JENIS PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal KRITERIA 0 – 4 tahun. Hubungan sex dengan lawan jenis berulang-ulang tanpa menikah dan tidak mengharapkan imbalan. 5 – 13 tahun. 6. 7. Rumah ukuran kurang dari 4 x 4 m. mental tidak normal. 9. Merantau. dirampas hak-haknya (tergantung lokal). pendatang yang mencari kerja di suatu tempat tidak memperoleh yang diharapkan dan menjadi masalah di tempat tersebut. kurang perawatan dari orang tua/keluarga luas (laki-laki / perempuan) 5 – 13 tahun. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamata Maliku No. 14 – 18 tahun. 5. 11. Sudah menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar. Masyarakat yang Tinggal di daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar 19. fisik tidak normal. Remaja Laki-laki Nakal Remaja Perempuan Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Kekerasan Penyandang Cacat Tuna Susila 13. penghasilan tidak mencukupi. 14 – 18 tahun. 60 tahun ke atas. laki-laki/ perempuan). 10.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Mempunyai pekerjaan tapi tidak tetap. transportasi hanya dari sungai. Keluarga Fakir Miskin 15. Kelompok orang yang jauh dari keramaian. 1. tempat tinggal. dan pendidikan (jumlahnya paling besar). Individu sejak lahir mengalami kelainan fisik dan mental serta karena penyakit kronik. Orang yang selesai menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat (stigma sama tetapi perlakuan berbeda terhadap pelaku perampokan dan menabrak orang sampai meninggal karena tidak sengaja). terganggu dalam aktifitasnya. 16 – 60 tahun. pakaian. kebiasaan). kesehatan. Keluarga Berumah Tidak Layak Komunitas Adat Terpencil 17. 8. disakiti secara fisik dan mental. ekonomi. 18. termasuk untuk kebutuhan pangan. Keluarga Rentan Puslitbang Kesos 37 . Pulang Pisau Tabel 2. Keluarga yang banyak masalah (sosial. 12. sering begadang. perilaku mengganggu kebiasaan umum (tetapi tidak masalah karena masih anak-anak. dinding dari jabuk (papan lapuk). Kelompok orang yang tinggal di daerah secara fisik dan mental tertekan oleh proses alam dan sosial. 4. 16 – 60 tahun. 16. 0 – 13 tahun. tidak terlalu diperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan dasar oleh orang tua/keluarga luas. atap bocor. belum menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar baik jasmani ataupun rohani. Bekas Narapidana 14. kebiasaan tidak berbeda dengan orang dari lokasi lain. perilaku mengganggu dan dipermasalahkan. baik barang maupun jasa. 3.

Sementara untuk saat ini. Hal ini tentunya memerlukan komitmen dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama baik antara pemerintah dan masyarakat serta melakukan program pemberdayaan secara berkesinambungan. Prasarana jalan ini dianggap penting karena dapat memudahkan pemasaran hasil pertanian yang sangat potensial bagi masyarakat setempat. transportasi ini relatif mahal khususnya bagi warga masyarakat yang akan menjangkau wilayah lain maupun untuk memasarkan hasil pertanian dan perkebunan mereka (dalam bidang pertanian). Permasalahan lain adalah keterbatasan sarana pendidikan dan transportasi yang dimiliki daerah. sehingga masyarakat harus menjangkaunya keluar desa atau kecamatan. Hampir di seluruh desa masalah kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh warga masyarakat. Sementara kondisi ekonomi keluarga menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi kemiskinan terkait dengan keterbatasan atau hambatanhambatan yang dihadapi oleh masyarakat setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. yang paling menonjol adalah terkait dengan kemiskinan. Permasalahan lain yang ada. Program bantuan bagi keluarga miskin yang tidak seluruhnya mendapat bantuan dan yang sifatnya hanya sesaat merupakan program yang klise tetapi terus berlangsung. belum diupayakan penanganannya melalui program pemberdayaan secara maksimal dan berkesinambungan. Melihat kondisi permasalahan tersebut. sarana transportasi dan hambatan dalam upaya pengolahan lahan. rumah tidak layak huni serta Wanita Rawan Sosial Ekonomi. Masalah kemiskinan yang merupakan masalah terbesar di wilayah ini. Hambatan tersebut antara lain terkait dengan infrastruktur. Demikian pula halnya dengan akses untuk mendapatkan 38 Puslitbang Kesos . Pulang Pisau Kesimpulan dan Saran Masalah yang menjadi prioritas mendapat perhatian adalah masalah fakir miskin dan keluarga miskin. Kemiskinan ini antara lain juga sebagai dampak dari gagalnya proyek lahan gambut (sejuta hektar lahan gambut). mengingat bahwa lokasi ini merupakan lokasi transmigrasi. berkaitan dengan infrastruktur jalan. Hambatan ini menyebabkan relatif banyak lahan (lahan tidur) yang tidak dapat diolah oleh masyarakat (petani). sarana transportasi yang utama di wilayah ini adalah sungai.

Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar Dinas-Dinas Provinsi maupun Kabupaten. Lahan kosong yang dimiliki oleh sebagian warga. diajukan saran-saran sebagai berikut: 1. sumberdaya yang masih dimiliki adalah adanya rasa kebersamaan di antara warga masyarakat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Puslitbang Kesos 39 . Keterbatasan dalam hal penyediaan sarana pengolah lahan dan bibit tanaman merupakan salah satu hambatan dimana lahan yang luas akhirnya hanya menjadi lahan tidur. Prasarana jalan dan saluran irigasi 2. Sementara pada sisi lain. Dinas Teknis seperti Pekerjaan Umum. Kerjasama dalam bentuk tolong menolong atau gotong royong serta semangat untuk mengolah lahan secara maksimal merupakan pranata yang dapat dijadikan sumberdaya sosial dari warga masyarakat di wilayah ini untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. merupakan masalah lain yang dihadapi oleh warga masyarakat karena sarana kesehatan (Puskesmas) hanya ada di Kecamatan dan Rumah Sakit Umum di provinsi. meskipun memiliki keterbatasan modal usaha namun masyarakat masih memiliki modal sosial berupa rasa kebersamaan atau tolong menolong dan semangat membangun atau mengembangkan lahan untuk pertanian dan perkebunan. karena mereka merasa sebagai orang perantauan (transmigran). Pulang Pisau pelayanan kesehatan. saluran irigasi dan penyediaan perumahan sosial bagi warga masyarakat miskin. Dengan kata lain. Sumberdaya alam yang potensial berupa lahan yang luas dan sumberdaya sosial yang dimiliki warga masyarakat (keterampilan dalam bidang pertanian dan beternak serta masih adanya rasa kebersamaan/tolong menolong) bisa merupakan modal utama dalam membangun masyarakat setempat. dalam upaya mengatasi kemiskinan yang dihadapi. bisa menjadi sumberdaya alam yang potensial jika diolah dengan baik. guna membangun wilayah ini secara ber-kesinambungan. Perumahan dan Permukiman membangun prasarana jalan. Mengingat lahan di wilayah ini dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman jika saja ada kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga masyarakat. Peningkatan kesejahteraan ini tampaknya tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat namun masih diperlukan peran Pemerintah Daerah setempat.

perlu meningkatkan kesejahteraan melalui program perlindungan dan asuransi sosial bagi keluarga miskin. mengingat lahan yang digarap di wilayah ini berbeda dengan lahan di Jawa. Demikian pula halnya dengan Dinas Sosial. Misalnya program Puslitbang Kesos 4. Kehutanan. 3. Perkebunan. perlu dilakukan sosialisasi pengolahan tanah yang berkesinambungan di tingkat daerah. Direktorat Lanjut Usia. Dinas Kesehatan diperlukan berkaitan dengan penyediaan air bersih. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. palawija serta karet. Hal ini seharusnya didukung dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah ini. Rumah tidak Layak Huni. 40 . dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak. Direktorat Pemberdayaan Keluarga. dapat berperan melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama dan berkesinambungan. Selain itu. Masyarakat desa memiliki kemampuan yang potensial dalam hal pertanian dan peternakan. Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sangat diperlukan untuk meluncurkan program mereka ke wilayah ini. Keluarga Rentan. Pulang Pisau sangat penting dan diperlukan oleh wilayah ini untuk membangun ekonomi masyarakat. dan Lanjut Usia Terlantar. Hal ini sangat diperlukan mengingat hasil diagnosis permasalahan sosial di wilayah ini menunjukkan permasalahan sosial yang menonjol adalah masalah Kemiskinan (keluarga fakir miskin). sehingga pemberdayaan dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat desa. Dinas Koperasi dan UKM diperlukan sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi kredit usaha kecil bagi para petani khususnya terkait dengan keterbatasan modal usaha mereka dalam mengolah lahan pertanian atau mengembangkan usaha peternakan mereka. Berkaitan dengan hal tersebut maka Dinas Pertanian. Mereka siap untuk memanfaatkan sumberdaya alam (lahan) yang ada namun mereka sangat memerlukan stimulan berupa peralatan pengolah lahan dan penyediaan bibit padi. Program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa diperlukan secara bersama-sama dan berkesinambungan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Dinas Sosial melalui Direktorat Fakir Miskin. Penyandang Cacat (termasuk Anak Cacat). 6. tidak sebagian-sebagian dan sesaat saja. Anak Terlantar. Peternakan. 5.

2003 Maneser Panatau Tatu Hiang.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Tjilik. tetapi harus lebih bersifat kesinambungan. (ed). Program bantuan atau pemberdayaan bagi keluarga miskin sebaiknya diberikan untuk seluruh keluarga yang bersangkutan. 1985 Peranan Kebudayaan Tradisional di Indonesia dalam Modernisasi. Bantuan ini tidak berhenti sesaat. Yayasan Obor Indonesia. DAFTAR PUSTAKA BPS. Kerjasama BPS dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pulang Pisau.R. Bila yang terjadi hal demikian. Riwut. pemberdayaan keluarga miskin tidak disarankan untuk memberikan bantuan tunai berupa uang namun diberikan dalam bentuk barang seperti traktor. baik bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan bantuan beasiswa sekolah (BOS) serta asuransi kesehatan bagi keluarga yang bersangkutan maupun jaminan sosial bagi keluarga tersebut. dianggap sangat penting. Puslitbang Kesos 41 . maka orientasi masa depan anak-anak akan cenderung memilih pergi ke kota. Jakarta. Merantau menjadi pilihan pemuda karena mereka tidak lagi mempunyai pengetahuan kedaerahan. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau. 2006. Dove. Pulang Pisau 7. 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). Sosialisasi pendidikan kedaerahan bagi anak-anak di tingkat desa. dimana alat tersebut dapat dikelola secara bersamasama oleh seluruh warga masyarakat. Pusaka Lima. karena anak-anak perlu banyak diberi pengetahuan tentang daerahnya untuk membangun desa mereka. Palangkaraya. Pulang Pisau dalam Angka tahun 2005. M. Bukan pengetahuan perkotaan atau pengetahuan tingkat nasional yang diberikan.

.

Di sisi lain. Analisis Kebutuhan Bidang Program Puslitbang Kesos dan Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Kata kunci: Pranata Sosial. Karena itu.Si. M. Rondang Siahaan. dan peta wilayah Hasil penelitian dapat diketahui. sosial. Indah Huruswati. DR Bambang Rudito. utamanya bagi warga masyarakat menengah-bawah. pedoman FGD. PROBLEM DAN STRATEGI PENANGANANNYA1 Drs. dan kultural yang dimilikinya. Sekretariat: Dini Khairunnisa. pada praktiknya jaringan sosial tidaklah begitu saja menciptakan modal fisik dan modal finansial. pranata pendidikan. M. penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa jenis permasalahan sosial yang bermuara pada masalah kemiskinan. Bambang Pudjianto. Drs. Dra. dan alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam.Si 2 ABSTRAK Pemerintah daerah pada umumnya lebih mengutamakan pembangunan fisik dan ekonomi di wilayahnya daripada pembangunan kesejahteraan sosial. bahwa di wilayah lokasi penelitian telah memiliki potensi sumber kessos berupa. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah yang baru dimekarkan adalah masalah infrastruktur dan pembangunan ekonomi. Potensi dan Sumber Daya. Endang Kironosasi.Kom Bambang Pudjianto. Namun dengan berbagai potansi ekonomi. Suyanto. Drs. Akibatnya. Namun kedua hal tersebut sangat terkait dengan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat setempat. M. pranata sosial. penting untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut. pertalian-pertalian sosial yang ada di tingkat lokal tidak secara langsung mampu memberikan manfaat ekonomis (tingkat kesejahteraan yang lebih baik). Anggota: Dra. S. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 43 . M. Masalah Sosial 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota Tim : Konsultan Drs. namun sulit untuk mengakses peluang dan sumber daya melalui jaringan-jaringan yang ada (mainstream). serta pranata jaringan kerja. Dalam konteks penelitian ini banyak warga masyarakat yang memiliki pertalian-pertalian sosial yang kuat. Bambang Pudjianto. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat.Sutaat. pranata kesehatan. yaitu agar digunakan strategi yang berprinsip pada partisipasi masyarakat dengan bersinergi pada peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber lokal.PETA MASALAH SOSIAL DI BONE: POTENSI. Kasub Bid. Ketua Tim : Drs.Si.

Data sensus penduduk tahun 2003 menunjukkan bahwa 72. Barebbo. kacang hijau. kelapa.2 persen penduduk Bone berusia 15 tahun ke atas bekerja dan hidup dari sektor pertanian. Bahkan bukan hanya di Sulawesi Selatan. Tahun 2002 Bone menghasilkan 517. Awangpone.000 ton. Produksi jagung. handal dan produktif.5 Hasil yang menonjol dari perkebunan adalah tebu. meningkat mendekati 560.go. pertengahan abad ke-17 (Abddurazak dkk. melainkan juga petani yang ulet. jambu mete. terutama padi.535 ton padi. Tonra. Tanah yang digarap para petani tidak hanya menghasilkan padi. Salomekko. Sibulue. Ajangale. 44 Puslitbang Kesos .3 Cermin kemasyhuran warga Bone dan suku Bugis khususnya dibidang pertanian masih terlihat sampai sekarang.159 hektar perkebunan rakyat ikut memperkuat peran sektor pertanian. selalu surplus. dan cengkeh. 2006. Sedangkan tahun 2003. Dari jumlah itu. Hampir setiap kecamatan menjadi penghasil padi.id Lihat “Kabupaten Bone dalam Angka tahun 2003” diterbitkan BPS Kabupaten Bone Tahun 2004. Produksi 84.Bone. menurut estimasi Dinas Pertanian Kabupaten Bone. Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. Etos kerja yang tinggi dan sistem pertanian yang baik membuat Bone di kenal sebagai lumbung padi. kakao. melainkan juga di kawasan timur Indonesia. Kerajaan Bone yang didirikan oleh Manurung Rimatajang pada tahun 1330. Sentra penghasil padi berada di Kecamatan Kahu. 1989:9). WWW.4 Produksi tanaman bahan makanan. Bengo. Dua Boccoe. ubi kayu.760 ton) merupakan produksi tertinggi di Sulsel. sebesar 97. pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroeri Bontoala. kemiri.4 persen adalah warga suku Bugis.906 ton) dan kedelai (8.Peta Masalah Sosial di Bone Pendahuluan Potret Kesejahteraan di Tengah Kelimpahan Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Bahkan tahun 2002 produksi kacang tanah (13. kacang tanah dan kedelai juga berlimpah. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2003/2004. masyarakat Bone yang didominasi oleh suku Bugis tersohor bukan hanya sebagai pelaut dan pedagang yang tangguh. 3 4 5 lihat profil Bone yang dirilis dalam situs resmi Kabupaten Bone. dan Cina. Pada masa itu.

Survey ini menyimpulkan bahwa Human Development Index (HDI) warga Bone tergolong rendah.Peta Masalah Sosial di Bone Tebu merupakan bahan baku gula Pabrik Gula Bone dan Pabrik Gula Camming di Kabupaten Bone. Sementara itu life expectation juga rendah. Partispasi jender dalam ekonomi juga masih sangat terbatas.449 ha merupakan lahan persawahan. dimana wanita bekerja yang berpendapatan hanya 28.052 ha lahan perkebunan. Yang merupakan 65 persen total kegiatan daerah.559 km persegi luas Kabupaten Bone. Data BPS tahun 2002 menyebutkan.6 Pertanian telah menjadi tiang utama kegiatan ekonomi Bone. dibawah 65 tahun.3 persen. Ibid Puslitbang Kesos 45 . mencapai 27%. para petani yang notabene menjadi aktor utama produksi dan merupakan mayoritas penduduk Bone justru tidak bisa menikmati keuntungan yang memadai.7 Meskipun Bone menjadi daerah sentra penghasil bahan makanan. Tidak sulit untuk mendapatkan petani Bone yang terlilit hutang para tengkulak. 22/10/2002.7% (yang seharusnya di atas 80-90%).8 6 7 8 Laporan Litbang Kompas. Dominannya sektor pertanian di Bone juga tercermin dari luas wilayah Kabupaten Bone yang sebagian besar merupakan lahan persawahan dan tegalan.148 ha lahan untuk tambak/empang dan 145. Segelintir spekulan dan tengkulak yang menguasai jalur perdagangan yang justru selama ini meraup untung besar.7 dan 66. dalam mata rantai perdagangan hasil pertanian. dengan balita penderita gizi buruk yang cukup tinggi. Rendahnya taraf hidup masyarakat Bone terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh BPS-UNDP pada tahun 2004. dan 43.524 ha lahan tegalan/ladang. ‘Hanya’ 11.073 ha merupakan hutan. dari 4. Tanaman bahan makanan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. Angka itu lebih kecil dibanding tahun 1999 dan 2000 yang mencapai 67.1%.atau lihat juga Laporan BPS-Bappenas-UNDP tentang “The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia” tahun 2004 Ibid. 88. Yakni ditunjukkan dengan angka partisipasi bidang pendidikan yaitu hanya 60. 120.2 trilyun. Akibatnya taraf hidup masyarakat Bone terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan berproduksi yang mereka miliki. Tahun 2002 nilainya mencapai Rp 2.

bagaimanakah gambaran tentang potensi dan sumberdaya sosial. Ini jelas potensi ekonomi yang sangat menjanjikan.Peta Masalah Sosial di Bone Data-data tersebut di atas jelas sangat memprihatinkan (terlebih pada kasus bayi penderita gizi buruk).7 persen. ekonomi dan alam di Kabupaten Bone memberi solusi atas permasalahan penyandang masalah sosial yang timbul akibat timpangnya strategi pembangunan dengan penguatan sumber daya lokal selama ini. mengingat posisi Bone sebagai sentra penghasil padi di Sulsel. 10 di antaranya memiliki garis pantai sepanjang 127 kilometer. selain unggul di sektor pertanian. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gejala yang muncul akibat fakta sosial yang dijelaskan di atas. Lebih memprihatinkan lagi karena Bone sejak tahun 2000-an. jangan terkaget jika tanpa upaya dan strategi yang tepat dalam mengatasinya. Namun sebaliknya. maka meletusnya berbagai permasalahan sosial hanya tinggal menunggu waktu saja. jika tidak dimanage secara benar. Artinya.2 persen pendapatan daerah. 46 Puslitbang Kesos . yaitu dari 27 kecamatan di kabupaten Bone. Karena itu. yaitu sebuah potret buram (kemiskinan) di tengah kelimpahan. sektor perikanan telah menyumbang 9. Hal ini ditunjang oleh letak geografisnya. kasus pada sektor pertanian tidak mustahil berulang pada sektor perikanan dan sektor perekonomian lainnya. Pada tahun 1997 misalnya. kontribusi sektor perikanan juga tak kalah produktifnya. dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 16.

(5) ketimpangan laju ekonomi antar sektor.9 Artinya. bertambahnya keluarga miskin yang diikuti kemudian dengan meningkatnya kuantitas dan kompleksitas permasalahan sosial besar kemungkinan adalah akibat dari ketidakselarasan antara strategi pembangunan kesejahteraan dengan strategi pembangunan ekonomi dalam 9 Ketimpangan pembangunan masa Orde Baru terjadi dalam bentuk-bentuk: (1) ketimpangan antar golongan ekonomi masyarakat. Puslitbang Kesos 47 . (6) ketimpangan antara ekonomi perkotaan dan pedesaan.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 1 : Peta Kota Watampone. (3) ketimpangan antar wilayah. Lihat Adrinof A. Chaniago. (2) ketimpangan antara kelompok pengusaha besar-kecil. Diantaranya untuk konteks penelitian ini terlihat pada masalah ketimpangan pembangunan SDM khususnya masyarakat lapisan paling bawah. dan (7) ketimpangan pembangunan diri manusia Indonesia di lapisan masyarakat bawah. Kabupaten Bone Kerangka Fikir Kelemahan mendasar dari pembenahan struktur perekonomian kita di tengah masa krisis (baik regional dan nasional) dinilai oleh banyak kalangan adalah karena diabaikannya variabel kondisi sosial-ekonomi sebagai bagian dari penyebab krisis. 2001:309. (4) ketimpangan antar subwilayah di daerah yang pertumbuhan ekonominya tinggi.

program-program intervensionis10 dari pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah diakui menunjukkan kemajuan dalam beberapa indikator keberhasilan di bidang kesejahteraan. (2) rehabilitasi. 2001:316). Akibatnya pengangguran semakin bertambah cepat.sekarang). Bahkan komuniti-komuniti yang pada awalnya telah atau hampir “terkubur” di era Orde Baru. mereka berusaha sekuat tenaga membangun kembali sisa-sisa warisan kejayaan masa lalu dari sukubangsanya demi untuk turut bagian dalam sistem pencaharian ekonomi di era ini (Rudito. jumlah keluarga fakir miskin meningkat. ditujukan untuk pemeliharaan dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan potensi dirinya. ancaman eksploitasi seksual komersiil. Dengan bahasa lain. 2005: 36. angka kematian bayi semakin dapat ditekan. hampir semua golongan lapisan bawah dipastikan tidak mampu “bertahan” di masa krisis tersebut. Pasalnya ketika arus krisis mendera pelbagai wilayah di Indonesia (1998. (3) pengembangan. misalnya dengan penjelasan angka pendapatan perkapita penduduk yang terus mengalami kenaikan. Untuk ukuran tertentu. dan usia tingkat harapan hidup semakin panjang.Chaniago. ditujukan untuk memfungsikan kembali dan memantapkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. dan seterusnya Terpaan krisis ekonomi dan dilanjutkan dengan perubahan orientasi sosial-politik pembangunan nasional melalui bergulirnya masa transisi yang disebut “era reformasi” tak pelak juga telah memunculkan kembali apresiasi masyarakat lokal yang (tak lain adalah kelompok masyarakat lapisan menengah-bawah) terbagi-bagi dalam wilayah kesukubangsaan berusaha menciptakan akses terhadap sumber daya yang ada di wilayah kesukubangsaannya. tidak terkecuali masyarakat di wilayah kajian ini. perdagangan obat-obatan terlarang.Peta Masalah Sosial di Bone praktik. 10 Fungsi intervensi sosial. menurunnya jumlah angka orang buta huruf. 48 Puslitbang Kesos . yaitu: (1) prevensi ditujukan untuk mencegah timbul dan meluasnya permaslahan kesejahteraan sosial dalam kehidupan masyarakat. menurunnya kadar asupan gizi dan tingkat kesehatan (cacat). bahwasanya masalah kemiskinan dan rawan sosial-ekonomi adalah karena lemahnya ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat (modal sosial) golongan menengah-bawah dalam menghadapi guncangan besar arus krisis (Adrinof A. Akan tetapi tingkat kesejahteraan tersebut di sisi lain tidak serta merta dapat menjamin kemampuan dan kualitas hidup mereka secara lebih baik. rebaknya anak jalanan dan terlantar. Lihat Bambang Rudito dkk. 2005:23).

Puslitbang Kesos 49 . atau dalam bahasa lain sumber daya perekonomian di wilayahnya. sosial dan politik “versi terbaru”. Praktiknya. kecamatan atau kabupaten yang umumnya para staf pemerintah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengelola aset desa/kecamatan dan dana pendapatan desa/kecamatan dengan baik. maka sepatutya dicarikan alternatif langkah-langkah dan strategi penanganan yang tidak sepenuhnya menggantungkan pada anggaran pemerintah. surat edaran menteri ini masih semata bersifat “himbauan” yang jarang (sulit) implementasinya dilakukan di lapangan secara tuntas. Berhadapan dengan kondisi faktual tersebut. sekalipun desa tidak memilik aset yang cukup untuk melakukan pembangunan. kita akan mengulang kembali kesalahan model pembangunan masa lalu yang pada akhirnya akan melahirkan tipe-tipe ketimpangan ekonomi. Karena itu penting memper-timbangkan konteks representasi identitas. Jika tidak. kecenderungan untuk menolak transparansi dan partisipasi sangat besar. serta pemerataan pembangunan di setiap kewilayahan. memperkecil ketimpangan ekonomi antar sektor. sistem kehidupan lokal. Yakni menjadikan sumber ekonomi sektor tradisional sebagai kekuatan potensial yang dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial mereka secara proporsional.Peta Masalah Sosial di Bone Karena itu kini hendaknya pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan perlu memperhatikan secara serius variabel pelapisan masyarakat baik secara sosial-ekonomi dan antar wilayah. Salah satu kekhwatiran yang mengancam adalah kegagalan mengangkat kualitas hidup penduduk yang mayoritas bekerja di sektor tradisional (seperti pertanian dan peternakan). lagi-lagi pedekatan seperti ini terbentur oleh masalah internal pemerintah desa. serta terus mengupayakan perbaikan kualitas SDM lapisan menengah-bawah. golongan. Namun. obyektif dan lebih berdaya-guna maksimal bagi kebutuhan riil warga masyarakatnya. Misalnya dengan melakukan participatory budgeting forum sebagaimana diamanatkan dalam SE Mendagri No. Oleh karenanya. 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (Rakorbang Partisipatif). Padahal dengan penganggaran keuangan daerah secara partisipatif memungkinkan penanganan pelbagai masalah sosial dan pembangunan daerah dapat lebih terarah. Dalam lintasan sejarahnya. suku-bangsa di Bone terkenal gigih dalam menjaga wilayah teritorialnya.

Dari sejumlah kelurahan di kecamatan ini. Posisi geografis yang strategis dan warisan kultural yang kaya membuat Tanete Riattang menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar untuk didayagunakan menjadi keunggulan wilayah. pertanian 11 Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. Secara historis-kultural. dan Walennae sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. secara demografis.Peta Masalah Sosial di Bone Potensi dan Masalah Tanete Riattang : Sebuah Analisa Sosial Di bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Bone. Kelurahan Manurungge dan Watampone yang dapat dibilang sebagai ‘epicentrum’ Kabupaten Bone merupakan bagian sentral dari perekonomian Tanete Riattang khususnya. Museum Saoraja Lapawawoi Kr. Akibatnya. tiga diantaranya yakni Kelurahan Pappolo. Kekayaan warisan kultural seperti rumah adat Bugis (Bola Somba) di Kelurahan Watampone. Sigeri dan makam raja-raja Bone di kelurahan Bukaka juga dapat menjadi objek pariwisata potensial. kecamatan Tanete Riattang memiliki keistimewaan tersendiri. Tak berlebihan kiranya. jika kecamatan ini disebut sebagai ‘pewaris sah’ kebudayaan Kerajaan Bone pada abad pertengahan.bone. karena pusat Kerajaan Bone pada masa silam terletak di kecamatan ini. posisi kecamatan yang tepat berada di tengah Kabupaten Bone memberikan keuntungan berupa infrastruktur pemerintahan dan layanan publik yang relatif lebih baik jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya. dan Bone umumnya.11 Hanya di Tanete Riattang. dalam http://www. Ta’. Tanete Riattang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi.php 50 Puslitbang Kesos . Kelurahan-kelurahan tersebut merupakan kelurahan di wilayah pinggiran kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk relatif rendah. Tidak mengherankan jika di kecamatan ini pula terdapat cagar budaya berupa makan raja-raja bone. Dengan lahan yang subur. berbagai peninggalan dan artefak budaya Kerajaan Bone dan sebuah museum penting yang menyimpan warisan budaya kebesaran Kerajaan Bone dahulu kala. diversifikasi mata pencaharian penduduk terjadi dalam porsi yang relatif berimbang. Posisi geografis Tanete Riattang yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan juga membuat kecamatan ini menjadi tujuan bagi warga Bone di wilayah pinggiran untuk mengadu peruntungan.id/pariwisata. Tanete Riattang juga menempati posisi istimewa di Bone. Secara geografis.go.

Namun dengan berbagai potensi ekonomi. saat ini Kecamatan Tanete Riattang juga tengah mengembangkan sektor peternakan sebagai bagian dari keunggulan wilayah. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2004/2005. serta pranata hubungan dan jaringan kerja yang baik dan mapan. 2005. karang taruna (6 buah).12 Dengan berbagai potensi ekonomi tersebut. 78 perawat. PKK (28 buah). 12 13 14 15 Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. lihat BPS Kabupaten Bone. Walaupun tidak sangat kompleks. Tidak terdapat rumah saki di Tanete Riattang. siskamling (28 buah). pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. 2006. sektor pertanian bukanlah mata pencaharian utama penduduknya. Beberapa pranata yang telah tersedia di Tanete Riattang antara lain. sosial dan cultural yang dimilikinya. 2005. Kecamatan Tanete Riattang juga menyimpan potensi-potensi sosial strategis lainnya. 16 bidan dan 8 dukun/ pengobat tradisional. Sementara itu. TPA/TK 25 buah. BPS Kabupaten Bone. Bukaka dan Manurungge. LPM/BPD (8 buah) dan jimpitan (11 buah). Kelurahan Bukaka dan Manurungge bergerak pada perekonomian sektor industri. dasawisma (39 buah). jasa dan industri. Beberapa jenis hewan ternak yang menjadi favorit untuk dikembangkan di wilayah ini adalah antara lain ayam buras. SD/ MI 34 buah. namun berbagai persoalan yang ada tetap membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. Karena penanganan yang setengah-setengah hanya akan membuat permasalahan sosial yang muncul semakin banyak dan bukan tidak mungkin menjadi semakin kompleks. Terdapat 2 puskesmas dan 24 posyandu. pranata kesehatan15. namun jarak dengan RS kabupaten sangat dekat. Kecamatan Tanete Riattang memiliki berbagai pranata yang dapat digunakan sebagai modal bagi peningkatan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. Kecamatan Tanete Riattang yang tergolong wilayah ‘perkotaan’ juga tak lepas dari berbagai permasalahan sosial. yakni. Terdapat 6 jenis pranata sosial. SMP/MTs 7 buah dan Perguruan Tinggi 4 buah. Terdapat 74 lembaga pendidikan di Tanete Riattang dengan perincian. Sebagai wilayah yang tergolong ‘perkotaan’. berbeda halnya dengan Watampone yang lebih mengandalkan sektor jasa (administrasi) dan pariwisata. BPS Kabupaten Bone. pranata pendidikan13. Selain sektor pertanian. Puslitbang Kesos 51 . sapi dan kambing. pranata sosial14. di tiga kelurahan yakni Watampone.Peta Masalah Sosial di Bone di tiga wilayah kelurahan ini berkembang dengan baik. arisan keluarga (17 buah). 20 dokter. 2005.

napza.1% diantaranya merupakan masalah sosial berlatar belakang ekonomi. eks napi. Celakanya. keluarga fakir miskin. Berbagai jenis masalah sosial tersebut di atas merupakan bentuk ancaman secara ekonomi.9% terbagi relatif rata dalam 9 masalah sosial lainnya. 52 Puslitbang Kesos . anak cacat.3% (111 kasus) masalah rumah tidak layak huni. sejak dari masalah anak terlantar. Dari sejumlah jenis permasalahan tersebut. ancaman ini secara faktual menjadi lebih besar akibat terbatasnya anggaran belanja daerah bagi upaya penanganan dan penyelesaian pelbagai jenis PMKS tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan. masalah sosial yang berlatar belakang ekonomi menunjukkan gejala paling dominan. dan 7. 33. penyandang cacat. anak nakal. yaitu dengan perincian 49.Peta Masalah Sosial di Bone Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 12 jenis permasalahan sosial yang terjadi di Tanete Riattang. Dari 1520 kasus. Selebihnya. lanjut usia terlantar. sosial dan politik bagi proses pembangunan kesejahteraan sosial di Tanete Riattang. terindikasi 80. Terlebih dana stimulan bantuan sosial yang diharapkan menjadi bagian dari jawaban persoalan.2% (748 kasus) masalah keluarga fakir miskin. membuat pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa dan cepat menyelesaikan masalah sosial tersebut.6% (512 kasus) masalah wanita rawan sosial ekonomi. cacat bekas penyakit kronis. sebesar 19. wanita rawan sosial ekonomi. sampai keluarga bermasalah psikologi. selama ini masih sangat tergantung pada alokasi dana dari pusat dan provinsi. rumah tidak layak huni.

Deskriptif yang dimaksud adalah mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Michael Huberman. kriteria dan lokasi penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara kualitatif di Kabupaten Bone. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran/peta mengenai jenis. Puslitbang Kesos 53 .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 2. “Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru” Jakarta : UI Press. 16 16 Lebih lanjut tentang penelitian kualitatif lihat Matthew B Miles & A. 1992. Kabupaten Bone Metode Penelitian Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Yakni simbol-simbol penyampaian dan penetapan suatu gejala sosial sebagai kenyataan yang ada di sekeliling masyarakat dan yang dialami oleh anggota masyarakat. Peta Kecamatan Tanete Riattang.

lokasi. jenis pekerjaan yang ada. penerapan strategi 54 Puslitbang Kesos . Untuk mendeteksi masalah sosial diperlukan suatu pendekatan dan metodologi guna memahami dan memetakan masalah sosial yang terjadi. Sulawesi Selatan. dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial di Kabupaten Bone. Oleh karenanya. lalu ditampilkan dalam bentuk tabel. penilaian berdasar pada norma dan aturan yang menjadi acuan bagi komuniti yang mengalaminya. pedoman FGD dan peta wilayah. Pendekatan kualitatif yang dimaksudkan disini adalah untuk melakukan pemetaan sosial. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. karena masalah sosial adalah masalah perasaan. Kriteria populasi dalam penelitian ini didasarkan pada penduduk yang menetap di daerah ini. kriteria penduduk penyandang masalah sosial. kelompok. Data yang berhasil dikumpulkan diolah secara kualitatif. baik dilihat dari jenis kelamin. Sementara sumber data sekunder mencakup literatur. Seperti pernah diungkap banyak kajian bahwa menyelesaikan persoalan kemiskinan tergolong sebagai agenda yang berat dan rumit. meskipun bukan berarti tak teratasi.Peta Masalah Sosial di Bone Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bone Kecamatan Tanete Riantang. Selanjutnya dibentuk matrik pemetaan sosial yang menggambarkan permasalahan sosial dan potensi kesejahteraan. Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam (indepth interview). pemetaan terhadap pranatapranata sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan menjadikannya suatu aktivitas rutin serta berkesinambungan dilaksanakan oleh masyarakat lokal. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. Alternatif Strategi Penanganan Masalah Sosial di Tanete Riattang Masalah pokok dari berbagai jenis permasalahan sosial di Tanete Riattang sebagaimana nampak dalam data di atas adalah persoalan kemiskinan. yaitu kategori perorangan atau individu. yaitu dengan melakukan pendekatan yang sifatnya kualitatif. Penelitian ini pada dasarnya mempunyai tujuan memetakan masalah sosial yang ada dan muncul di masyarakat dan ditanggapi oleh masyarakat itu sendiri sebagai suatu masalah. Sumber data terbagi dalam bentuk sumber data primer.

pertama. memberikan pinjaman modal bagi kaum papa secara mudah dan tanpa agunan. penanganan terhadap masalah ini juga membutuhkan berbagai pendekatan. kaum perempuan diberdayakan sebagai penggerak roda perekonomian mikro. warga juga mempunyai hak untuk turut menentukan alokasi anggaran daerah tersebut. Kisah sukses beberapa negara atau komunitas dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk ditelaah sebagai pelajaran dan sumber inspirasi. lebih dari 8000 keluarga yang menjadi nasabah GB terangkat taraf 17 Lihat. pelajaran dari Porto Alegre di Brazil dan Grameen Bank di Banglades dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk dijadikan inspirasi. tanpa bermaksud melakukan simplifikasi. Banyak analisa yang menyatakan bahwa kemiskinan dipengaruhi banyak faktor. melalui mekanisme local budgeting forum. sejak dari persoalan ketertutupan akses modal. Bukan hanya itu. “Participatory Budgeting in Porto Alegre : Toward a Redistributive Democracy” Sage Publication. Hasilnya. transparansi dan partisipasi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. sebagai pendiri GB dan juga peraih nobel perdamaian 2006. Muhamad Yunus. Melalui GB. Yunus melakukan dua hal tersebut. Kedua. setiap warga kota mempunyai hak untuk tahu berapa dan untuk apa anggaran daerah dialokasikan. 1998 Puslitbang Kesos 55 . pendidikan sampai budaya.17 Strategi yang diterapkan Grameen Bank (GB) lain lagi. struktur sosial dan birokrasi yang menindas. Dan karenanya. dan sasaran pemberian pinjaman itu difokuskan kepada kaum perempuan. Hasilnya. angka kemiskinan di Porto Alegre menurun drastis karena agenda-agenda utama yang menjadi kepentingan publik seperti pengentasan kemiskinan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. berkeyakinan kemiskinan akut yang terjadi di Banglades khususnya daerahdaerah pedesaan akan dapat diatasi jika dapat dilakukan dua hal. Boaventura de Sousa Santos. Namun demikian. akses terhadap modal bagi rakyat miskin dipermudah. korupsi juga menjadi tereliminasi yang membuat tingkat kebocoran anggaran untuk rakyat menjadi kecil. Di Porto Alegre. dalam kasus Tanete Riattang. Strategi penanganan kemiskinan di Porto Alegre didasarkan atas dua strategi.Peta Masalah Sosial di Bone yang jitu yang didasarkan atas bacaan yang tepat dan akurat atas data dan realita mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Selain itu.

daerah (kabupaten/kota) mempunyai kewenangan dan otonomi penuh untuk mengembangkan kreatifitas membangun daerahnya.18 Dua kasus tersebut.Peta Masalah Sosial di Bone perekonomiannya yang berdampak pada naiknya taraf pendidikan dan kesehatannya. Demokratisasi juga membuat organisasi-organisasi sosial masyarakat sebagai bagian dari civil society tumbuh subur. Dengan berbagai argumentasi tersebut. khususnya di Tanete Riattang. efisiensi dan tata kelola pemerintahan yang baik. permudah akses modal bagi rakyat miskin. masalahnya bukan lagi seberapa mungkin strategi itu dapat 18 Lihat situs resmi Grameen Bank : www. mengajarkan kita setidaknya terdapat empat strategi yang dapat digunakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Tanete Riattang. Pertanyaannya. Oleh sebab itu. akan menjadi roda penggerak ekonomi keluarga yang sangat efektif. Keempat. Berdasarkan UU ini. penerapan strategi pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat dilakukan.org 56 Puslitbang Kesos .grameen-info. pertahanan keamanan. dengan disahkannya UU Nomor 32 Tahun 2002 memberikan peluang bagi setiap kabupaten/kota melakukan inovasi dan inisiasi dalam pembangunan wilayahnya masing-masing. partisipasi (melibatkan masyarakat) dalam penyusunan alokasi anggaran. Dengan SE ini. dan berdayakan perempuan sebagai leading sector penggerak ekonomi rumah tangga. Ketiga. hubungan luar negeri. Instrumen ini penting bagi pelaksanaan strategi-strategi tersebut di atas. fiskal dan agama. diluar lima hal. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (rakorbang partisipatif) membuka peluang bagi terjadinya participatory budgeting. Padahal jika diberdayakan. perempuan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dominan menyandang masalah sosial. yakni melalui transparansi anggaran daerah. iklim demokratisasi telah membuka kesadaran masyarakat kita akan pentingnya transparansi. mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut bacaan saya sangat mungkin! Pertama. efektivitas. Kedua. ide untuk membuat semacam participatory atau local budgeting forum di tingkat kabupaten ataupun kecamatan mempunyai pijakan hukumnya. faktanya dari data penyandang masalah sosial tersebut terdahulu. termasuk di Kabupaten Bone.

perlu ditegaskan bahwa target sasaran yang perlu diperhatikan untuk program penanganan masalah sosial di Tanete Riattang adalah rumah tangga miskin. Selain itu. berbagai keunggulan demografis dan geografis juga menjadi modal sosial tersendiri yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kecamatan ini ke depan. Selanjutnya PKK. Potensi ekonomi yang perlu untuk terus dikembangkan di Tanete Riattang terutama berada pada sektor pertanian. serta karang taruna dan LPM yang menjembatani akses pengambilan keputusan terkait hajat hidup masyarakat di lingkungannya. posyandu.Peta Masalah Sosial di Bone diterapkan. sosial dan budaya yang cukup strategis untuk dikembangkan. pembinaan penyandang cacat. bina anak terlantar dan tuna susila. termasuk sektor peternakan. strategi program/kegiatan dari pemerintah nantinya selayaknya bersinergi positif dengan pranatapranata sosial yang ada di masyarakat. Sementara potensi institusi lokal yang bisa dioptimalkan adalah kelompok tani/kelompok usaha yang diharapkan dapat bersinergi dengan KUBE. balita dan anak cacat. Kukesra dan Koperasi. Bercermin dari lingkup masalah sosial dan berbagai strategi penangannya. puskesmas dan pengajian yang diharapkan mampu bersinergi dengan dokter dan tenaga medis yang ada serta para tokoh agama. Disamping tentunya potensi budaya Tanete Riattang berupa berbagai peninggalan Puslitbang Kesos 57 . Program Peningkatan Kualitas Layanan Panti dan Program penyediaan database PMKS melalui sejumlah penelitian dan pengkajian. serta anak nakal dan anak terlantar. pola hidup dan pranata sosial yang ada di masyarakat diabaikan. kultur. Untuk potensi sosial Tanete Riattang terutama pada ketersediaan berbagai pranata yang cukup lengkap yang dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam menangani berbagai permasalahan sosial. dikhawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial. Sebagai cacatan. Program Kesehatan Terpadu yang meliputi penyuluhan balita sehat. atau sekurangnya tidak mendapatkan apresiasi masyarakat lokal. melainkan seberapa kuat kemauan kepala daerah dan pihakpihak terkait melakukannya. industri dan jasa (administrasi). Program Mitra Usaha Mandiri yang meliputi program penguatan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. Beberapa program dapat digagas untuk menjalankan berbagai strategi penanganan masalah sosial diantaranya. kelompok perempuan rawan sosial-ekonomi. perempuan dan petani. Kesimpulan Tanete Riattang sebagai salah satu kecamatan utama di Kabupaten Bone memiliki potensi ekonomi. identitas. Jika nilai. ekonomi dan etnik.

ekonomi. Puslitbang Kesos 2. serta organisasi sosial berbasis jender yang meskipun kegiatannya mengalami pergeseran (PKK dan Posyandu) tetapi perannya masih cukup efektif bagi peningkatan kualitas hidup utamanya warga miskin. disamping disebabkan oleh kebijakan internal yang tidak kondusif bagi penguatan perekonomian lokal. organisasi sosial berbasis okupasi (mata pencaharian pokok di tingkat lokal) yang umumnya cukup eksis di wilayah ini. tetapi lebih luas lagi bagaimana menggalang kekuatan untuk mengembangkan jaringan lokal (desa) guna lebih berdaya dan tetap kokoh di tengah derasnya terpaan perubahan global. Tanete Riattang tidak lepas dari sejumlah permasalahan sosial yang patut untuk segera ditangani. Mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan perempuan melalui bantuan stimulan yang digulirkan secara proporsional dan merata. Selain memiliki berbagai potensi unggulan. perlu dilakukan peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal melalui. maka masalah kemiskinan menjadi problem utama dan mendesak yang harus segera ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. budaya dan seterusnya sebagai wadah edukasi. pendidikan. tukar informasi. Karena itu penting untuk menangani berbagai masalah tersebut utamanya masalah kemiskinan. 3. partisipasi. 1.Peta Masalah Sosial di Bone budaya Kerajaan Bone yang dulu memang berlokasi di kawasan Tanete Riattang. agar digunakan strategi yang berprinsip pada transparansi. Membentuk kelompok jaringan atau forum bersama antar kelompok sosial. 58 . Peningkatan kualitas SDM para penggiat pranata sosial dan ekonomi melalui pelatihan para pengurus perkumpulan sosial-ekonomi. politik. Ditilik dari diterminan kemiskinan. Dengan demikian sebenarnya penguatan ketahanan sosial ekonomi tidak cukup dengan menemukan apa saja modal sosial yang ada. Serta menekan rebaknya spekulan dan para tengkulak (rentenir) yang memainkan “nilai hasil produksi” para petani/usaha kecil lokal. tampaknya tergesernya fungsi dan rapuhnya peran jaringan pranata sosial-ekonomi semakin memperburuk ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Selain itu. termasuk menjadi embrio bagi terbentuknya semacam local budgeting forum. mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan pemberdayaan perempuan. Dari sejumlah masalah tersebut (12 jenis PMKS).

au/A13.. tentang The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia.go.bone. maupun kalangan masyarakat untuk menjamin terlaksananya program sesuai dengan maksud dan tujuannya. provinsi dan pusat. 2005. “Peta Permasalahan Sosial di Kabupaten Sebatik”. Vol. Chaniago.php Rudito. 2003. “Measuring Social Capital: An Integrated Questionnaire. Puslitbang Kesos 59 . Cassidy. Bambang dkk.com. 49(2). “Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia”. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial.mapl. March 2001. Kabupaten Bone Dalam Angka. dan Michael Woolcock. 2003. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone. Litbang Depsos RI. 2005. April 2000. Veronica Nyhan Jones.” Current Sociology. dalam http:// www.htm. Deepa Narayan. Working Paper No.mapl. Ian Winter.com. Tim Crescent IPB.mapl.com. 21.Peta Masalah Sosial di Bone 4. BPS (Statistic Indonesia)-Bappenas-UNDP.” Australian Institute of Family Studies. “Towards a theorized understanding of family life and social capital. 2004. Pengawasan secara berkesinambungan baik dari pemerintah daerah. DAFTAR PUSTAKA Adrinof A. Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. 2001. dalam http://www.htm. Deepa Narayan and Michael F. dalam http://www. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.htm. Christiaan Grootaert.au/A13.au/A13. 2003.id/ pariwisata.” The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. “A Dimensional Approach to Measuring Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory. Lihat http://www. November. Jakarta: LP3ES.

Kelurahan Walannae. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 4. Kelurahan Pappolo.Peta Masalah Sosial di Bone Lampiran Gambar 3. Kecamatan Tanete Riattang 60 Puslitbang Kesos .

Kelurahan Bukaka. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 61 . Kelurahan Manurungnge. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 6.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 5.

Kelurahan Ta. Kecamatan Tanete Riattang 62 Puslitbang Kesos .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 7. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 8. Kelurahan Watampone.

Kelurahan Masumpu. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 10. Kelurahan Biru.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 9. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 63 .

.

MINAHASA1 Rusmiyati. dan Kelurahan Kolongan. Ahendy Priatna. dengan Tim: Drs. staff Subbid Perencanaan dan Anggaran.Si. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database) yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah. dan keluarga rentan. khususnya di Kecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat. Kemiskinan 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon. M. Sementara itu untuk beralih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai. yang antara lain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian. Agus Dairo Beke. (2) penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya. Rusmiyati. Kelurahan Matani Tiga. MM. SE. rumah tidak layak huni. Kelurahan Matani Dua. Puslitbang Kessos Puslitbang Kesos 65 . Minahasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. misalnya fakir miskin. Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon. Kata kunci: Masalah Sosial. serta meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Drs. Oleh karena itu. perlu penanganan yang lebih tuntas. Kelurahan Komasi. masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominan di wilayah ini. dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. yaitu Kelurahan Talete Satu.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTAMADYA TOMOHON . SE 2 ABSTRAK Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diri dengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. Bidang Program. Kelurahan Matani Satu. dan Rusmiyati. lanjut usia terlantar. kelurahan Talete Dua.

Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah. Tomohon Tengah-Minahasa Pendahuluan Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomi daerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahan sosial secara lokal. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru) bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan. Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah. narkoba dan sebagainya hampir terjadi di semua daerah. dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secara terselubung muncul keper mukaan. sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom). Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukan melalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. budaya 66 Puslitbang Kesos . Sebagai contoh: kenakalan remaja. dan semua harus menunggu perintah penguasa. Ilustrasi diatas memberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagai daerah dengan perbedaan kondisi geografis. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akan terlihat adanya permasalahan yang serupa. mabuk-mabukan. baik dari sisi SDM. Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin banyak. Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisi daerah masing-masing. bobot permasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat. tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru. tidak memberi ruang gerak pada masyarakat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. hanya motifnya yang berbedabeda. struktur masyarakat. Upaya memaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial. tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besar dan bertambah. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkup bidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas. maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan. kondisi eknonomi politik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. yaitu dengan munculnya masalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom. sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran.

Tomohon Tengah-Minahasa dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan yang terdapat dimasing-masing daerah. pada akhirnya menimbulkan permasalahan. Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih mengacu pada kasus sebab akibat. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang ada. baik tentang potensi penyebab tumbuh kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian. permasalahan pokok penelitian ini adalah bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya Kesejahteraan Sosial (PSKS). sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah. Oleh karena itu. dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball) dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain. sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui program di berbagai sektor. Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi Puslitbang Kesos 67 . harapannya adalah menunggu bantuan pemerintah. Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna tentang permasalahan sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. berpasrah menerima keadaan apa adanya. kemandirian menjadi hilang sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang. artinya masalah itu timbul karena ulah manusia. Kedua. Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam penanganan permasalahan. Berkaitan dengan hal tersebut. Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah. misalnya: pertama. tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat tinggi. Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat dominan. Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda.

dan sumber daya sosial. korban penyalahgunaan napza. anak nakal. Tomohon Tengah-Minahasa Departemen Sosial. 2002). penyandang HIV/ AIDS. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. 1991). gotong royong dan sebagainya. antara lain: balita terlantar. adalah sesuatu yang bermanfaat. sosial. pengemis. tetapi juga potensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapi kelemahan atau tantangan. Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumber kesejahteraan sosial. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco. anak cacat. dengan maksud mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antara lain sumber daya alami. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. keluarga bermasalah sosial psikologis. Dalam hal yang demikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal. pekerja migran terlantar. anak jalanan. sumber daya manusia. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. tuna susila. Namun demikian tidak semua golongan atau masyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik. keluarga fakir miskin. Tehnik pengumpulan data 68 Puslitbang Kesos . keluarga berumah tak layak huni. lanjut usia korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif. bekas narapidana. Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. Untuk mempertahankan kehidupannya. penyandang cacat. anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. lanjut usia terlantar. korban bencana alam. politik. kesenian. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan. komunitas adat terpencil. keagamaan. gelandangan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. anak terlantar. wanita rawan sosial ekonomi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan. korban bencana sosial.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakat umum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal) dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup (kegiatan ekonomi) potensi geografis wilayah dan sumber daya manusianya serta faktor-faktor lain yang berkaitan.

Gambaran Lokasi Penelitian
1. Kondisi Wilayah

Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Bapeda Kota Tomohon (Maret 2005) berjumlah: 6938 KK atau mencapai 16,02%. Hal ini memberi indikasi bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penduduk miskin yang nantinya berdampak pada masalah sosial dan kesehatan. Meningkatnya kasus-kasus penyakit pada akhir-akhir ini seperti demam berdarah dengue (DBD) 14 kasus, malaria: 217 kasus, TB paru klinis: 763 kasus, Hipertensi: 3860 kasus, diabetes militus: 362 kasus. Hal ini diakibatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat belum optimal, serta gaya hidup cenderung berpestapesta dengan ungkapan ”Kalau ada tada kalau tidak haga ” akhirya berdampak pada kesehatan dan masalah sosial. Meningkatnya pengangguran dan permasalahan sosial lainnya dikarenakan minimnya pendidikan formal dan keterampilan anakanak putus sekolah, dimana data menunjukkan anak terlantar sebanyak 6900 orang, anak nakal: 1236 anak. Anggapan masyarakat bahwa permasalahan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Penyandang masalah kesejahteraan sosial pada umumnya mengalami masalah kemiskinan dan kondisi ketidakberdayaan fakir miskin dapat dilihat dari tidak adanya alternatif individu, keluarga dan komunitas dalam menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Kecamatan Tomohon Tengah terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara 28 derajat celcius. Kondisi lingkungan masyarakat kondusif, tentram dengan penduduk mayoritas homogen. Jarak ke Ibu Kota Tomohon 2,5 km dengan waktu tempuh 5 menit, dari ibukota provinsi sekitar 25 km, dan
Puslitbang Kesos

69

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

dengan sarana transportansi umum yang relatif lancar dan memadai. Kecamatan Tomohon terdiri dari 7 (tujuh) Kelurahan, yaitu Kelurahan Talete Satu, Kelurhan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua, Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 18.556 jiwa, sebagian besar (90%) beragama Kristen Protestan, sebagian lainnya Katholik, Islam, dan Budha.
2. Potensi dan Sumber Alam

Hasil yang saat ini diperoleh dari pengolahan tanah berupa hasil pertanian tanaman padi dan palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Sedangkan produksi padi pada tahun 2004 menghasilkan padi sekitar 6.995 ton. Produksi tanaman sayuran tahun 2004 mencapai 9.839 ton, produktivitas tertinggi didominasi oleh tanaman terong sebesar 162,74 kw/ha. Sedangkan produksi tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, cengkeh, vanili, kopi, dan kakao. Produksi tanaman perkebunan terbanyak adalah kelapa mencapai 729,125 ton. Untuk tahun 2004, sektor peternakan populasi terbesar terdiri dari sapi, kuda, kambing dan babi. Melihat potensi alam, terutama hasil pertanian dan perkebunan, pasang surutnya tampak tergantung dari luas lahan yang semakin menyempit dikarenakan banyak pembangunan permukinan penduduk, mini market dan mall.
3. Agama dan Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Tomohon Tengah mayoritas beragama Kristen Protestan. Dan sebagian lainnya beragama Katholik, Islam, dan Budha. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang paling menonjol adalah Gereja. Di Kecamatan Tomohon Tengah hanya terdapat sarana ibadah umat Islam, yaitu satu buah Masjid. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Saat ini semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih digunakan sebagai tempat untuk ibadah umat penduduk di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah. Kelompok-kelompok yang terkait dengan keagamaan yang ada di Kecamatan Tomohon Tangah adalah kelompok kebaktian gereja.

70

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan kebaktian.
4. Sarana Pendidikan

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana pendidikan yang relatif cukup lengkap, dari mulai TK sampai pergurunan tinggi. Sekolah negeri yang dimiliki wilayah ini adalah SD (3 buah), SLTP (3 buah), dan satu perguruan Tingga Negeri. Sedangkan sebagian lainnya yang jumlahnya relatif lebih banyak adalah sekolah atau perguruan tinggi swasta, yakni terutama yang dikelola oleh yayasan atau perkumpulan agama. Tabel 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Fasilitas Pendidikan TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP. Negeri SLTA. Swasta PT.Swasta PT.Negeri Akademi Swasta SLB Sekolah Kursus Montir Kursus Menjahit BLK Jumlah 13 3 9 3 7 5 1 2 1 3 7 1

5.

Kesehatan

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan/perawatan kesehatan masyarakat di Kecamatan Tomohon Tengah, umumnya penduduk memanfaatkan sarana kesehatan yang telah ada dan letaknya relatif cukup dekat. Masing-masing Puskesmas maupun Balai Pengobatan Jemaat Gereja maupun rumah sakit swasta (dibawah yayasan gereja) di Kecamatan Tomohon Tengah saat ini memiliki seorang Dokter, Perawat, dan Bidan dan para medis/perawat.

Puslitbang Kesos

71

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Tabel 2. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jenis Fasilitas Kesehatan Apotik Rumah sakit Posyandu Dokter Praktek Bersama Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Mata Dokter THT Dokter Kulit Dokter Jiwa Dokter Hewan Bidan Mantri Kesehatan Dukun Bayi Puskesmas Puskesmas Pmbantu Toko Obat Dukun a 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 1 1 c 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 Kelurahan d e 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 f 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 g 1 2 1 2 1 1 1 1 3 -

Keterangan: a = Kel. Talete 1 b = Kel. Talete 2

c = Kel. Komasi d = Kel. Kolongan

e = Kel. Matani 1 f = Kel. Matani 2

g = Kel. Matani 3

6.

Ekonomi

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana ekonomi yang cukup lengkap, misalnya warung/toko, pasar, mall/ swalayan dan sebagainya. Secara lebih rinci sarana ekonomi yang ada dapat dilihat pada tabel 3. Oleh karena itu, kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan masyarakat Tomohon Tengah mudah diperoleh dari pasar di lingkungan sekitar. Selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut, masyarakat juga belanja di Mall dan juga di Minimarket/Supermarket yang banyak bertebaran di wilayah ini khususnya di Kota Tomohon.

72

Puslitbang Kesos

4. 5.Bioskop Hotel/Motel Restoran Losmen Pasar Biro Perjalanan Cafe Mess/asrama a 14 1 6 1 2 1 4 5 3 2 5 2 1 1 4 b 10 6 2 2 2 2 4 3 1 3 Kelurahan c d e 44 8 2 13 6 1 1 1 1 1 1 5 1 2 3 1 9 7 2 3 2 1 2 3 f 62 1 1 g 7 2 5 3 3 3 3 1 2 - Permasalahan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin merupakan masalah yang sangat menonjol di Tomohon Tengah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.Simpan Pinjam Badan Kredit Desa Lumbung Pitih Nagari Usaha Industri Kecil Usaha Industri RT Diskotik Karaoke Rumah Bilyar Gdg. Fasilitas Ekonomi PendudukKecamatan Tomohon Tengah No. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut/pensiun. 15. 16. 3. 14. 20. 17. 21. 10. b. 7. 12. serta tingkat produktivitas kepala keluarga rendah dan kondisi lain yang tidak mendukung. 9. Jenis Fasilitas Kesehatan Warung/Kios Koperasi Super Market/Toko Bank Usaha bersama Kel. 13. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 3. Warga masyarakat yang digolongkan sebagai keluarga miskin didasarkan pada tingkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari serba kekurangan. Kriteria atau pengkategorian warga masyarakat miskin menurut kondisi lokal adalah sebagai berikut: a. 19. kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni. Tingkat produktivitas Kepala Keluarga yang rendah. 2. 1. 8. 11. 6. Puslitbang Kesos 73 . 18. Penghasilan kecil/tidak tetap dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

yaitu tidak memiliki keterampilan yang memadai. dengan demikian sumber penghasilan dari cengkeh tidak lagi menjanjikan. mereka tidak siap untuk itu sehingga alternatif pilihan adalah menjadi pekerja di Mall. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang dan kontrak/sewa baik dengan orang tua/mertua maupun kerabatan lainnya. Kurangnya dukungan Pemda setempat bagi kaum petani sehingga dengan mudah para petani begitu saja meninggalkan lahan pertaniannya. Diikuti oleh kondisi rawan bencana yang juga meliputi daerah perkebunan cengkeh sehingga muncul kekhawatiran para petani sehingga tidak lagi menggarap lahan perkebunannya. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan sangat buruk dan bahan atap dari seng yang sudah tua atau menggunakan kayu yang sudah rapuh dengan lantai tanah atau papan. seperti: a. Supermarket. Pertama-tama berawal dari anjloknya harga cengkeh beberapa tahun silam sehingga semangat masyarakat petani cengkeh turun drastis. Akhirnya secara proses jumlah fakir miskin sedikit demi sedikit mulai membengkak. Ukuran bangunan rumah relatif kecil yaitu antara 5 x 4 meter atau 5 x 6 meter dan biasanya tidak mempunyai perekat ruangan. b. Pertokoan dan sebagainya. dan lagi pula lapangan kerja yang tersedia di perkotaan tidak memadai dengan jumlah pencari kerja.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Ketika para petani beralih profesi menjadi pedagang. c. Namun munculnya permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor. masyarakatnya intelek dan penghasil cengkeh terkenal. e. d. Seandainya dimotivasi agar beralih tanam hal ini masih memungkinkan adanya alternatif penghasil lain selain cengkeh. atau pengusaha rumah tangga. Namun kendala lain yang dihadapi. Sebenarnya secara jujur Wilayah Minahasa (termasuk Tomohon) tidaklah pantas menyandang predikat fakir miskin. Tomohon Tengah-Minahasa c. 74 Puslitbang Kesos . d. karena umum sudah mengetahui bahwa wilayah ini merupakan daerah subur. Karena pergeseran gaya hidup dengan perkembangan kota desa sehingga masyarakat lebih cenderung beralih ke pola hidup kota (modern).

5. 6. 11. Data Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Setiap Kelurahan No. 1. 8.Pnykt Kronis 10 Jenis PMKS Tabel 5. 12. 13 14 Jenis PSKS Arisan PKK PSM Orsos Kemasy. 4. 5.Bermasalah Sos. 13. 7. 15. 10. 11. 14.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 6. 3. 7. Alam 15 Kel. Pemuda Dunia Usaha Peduli Kesos Panti Asuhan Koperasi Org.Rmh tdk layak 38 20 24 30 20 Kel. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Setiap Kelurahan No. 10. 17. 12. 16. 2. 9. 2. 9. Karang Taruna Orsos LKMD Org. Profesi Panti Werdha Rmh Jompo a 2 2 4 1 1 1 2 1 2 8 b 1 2 4 2 2 1 2 2 c 1 1 5 1 1 1 1 Kelurahan d e 3 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 f 1 1 1 4 2 1 1 1 1 g 1 1 2 1 1 1 1 1 1 - Puslitbang Kesos 75 . 2 Eks. 4. Psik. 3. 8. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 4. Kelurahan a b c d e f g Anak Nakal 33 75 Anak Jalanan 16 Anak Cacat 4 Wanita Rawan Sosek 4 6 54 Penyandang cacat 21 9 28 25 16 15 Eks Napi 10 6 6 Kel.Rentan 24 Pengungsi 3 Anak Terlantar 24 50 40 16 60 Wanita Krbn Kekerasan 16 15 97 16 10 26 LU Terlantar 30 55 10 25 115 96 Rawan Banjir 46 50 Korban benc.Fakir Miskin 106 109 258 215 96 126 166 Kel. 1.

Kelurahan Matani I. Status kepemilikan bangunan rumah masih menumpang e. Kurangnya perlengkapan fasilitas MCK. sebagai berikut: 76 Puslitbang Kesos . II. c. Usia antara 20 hingga 60 tahun b. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh c. Karena ketiadaan biaya perbaikan. Sedangkan kriteria yang digunakan di Tomohon Tengah. Penghasilan kecil e. Warga masyarakat di golongkan lanjut usia terlantar didasarkan pada usia. Kategori wanita korban kekerasan didasarkan pada kriteria lokal. maka rumah–rumah ini semakin lama semakin rusak dan kondisinya tampak tidak layak huni. sebagai berikut: a. d. Lanjut Usia terlantar terdapat hampir disemua kelurahan. Tomohon Tengah-Minahasa Rumah tidak layak huni di beberapa kelurahan hampir sama dengan kondisi di kelurahan lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah yaitu Kelurahan Talete I dan II. Kriteria rumah tidak layak huni menurut kondisi lokal. kondisi ekonomi. Wanita yang digolongkan sebagai wanita korban kekerasan didasarkan pada status perkawinan. Memiliki sumber penghasilan yang tidak menentu. Jumlah rumah tak layak huni pada kelurahan yang mempunyai permasalahan ini berkisar antara: 20 hingga 30 keluarga. Wanita korban tindak kekerasan terdapat hampir di setiap kelurahan (ada enam kelurahan). Ukuran bangunan rumah relatif kecil d. III. serta seberapa besar perhatian dan perawatan yang diberikan oleh anak/cucu atau keluarga lainnya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. sebagai berikut: a. Kelurahan Komasi dan Kelurahan Kolongan. tingkat penghasilan dan jumlah beban tanggungan. Para penghuninya tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah–rumah tersebut sehingga melapor dan meminta bantuan melalui dinas sosial setempat. Status perkawinan: janda ditinggal mati suami atau belum menikah. Rumah-rumah tersebut adalah rumah dalam bentuk rumah asli Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu. Banyak anak dan belum ada yang menikah. Ada di 6 (enam) kelurahan yang ada di Kecamatan Tomohon Tengah. Jumlah penghuni yang tidak sebanding dengan luas rumah b.

putra-putri mereka juga secara otomatis mewarisi gaya hidup ini dengan tidak disebut sebagai anak petani dan lebih prestise kalau disebut sebagai anak pengusaha (ala kota pedesaan).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. sehingga untuk mengisi kekosongan terjadilah pertemuan antar remaja dan kalau sudah berkumpul mulai bertindak yang tidak wajar. atau diskotik. café. selepas sekolah mereka tidak mempunyai kegiatan. Hidup sendiri atau bersama anak/cucu atau keluarga lainnya tetapi sangat kurang diperhatikan dalam perawatan. yakni para remaja yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan secara tidak menentu. Pada mulanya masyarakat di wilayah Tomohon terkenal sebagai petani cengkeh yang ulung. Hal yang sama dilakukan di café-café atau tempat hiburan lainnya. pengusaha versi perkotaan. Masalah yang dekat dengan anak nakal dan anak terlantar yaitu anak jalanan. Bentuk kenakalan anak menurut definisi wilayah ini adalah menggangu ketertiban masyarakat setempat dengan tindakan kumpul-kumpul yang disertai mabuk–mabukan. Tomohon Tengah-Minahasa a. Contoh kasus lapangan yang dilihat langsung adalah di salah satu supermarket. yang menyebabkan para remaja mulai beradaptasi diri dengan tempat–tempat ini. Faktor penyebabnya adalah faktor putus sekolah. Dari sinilah timbul kenakalan-kenakalan remaja. Akibatnya. baik karena ketidakmampuan ekonomi maupun non ekonomi. ketiadaan kegiatan yang pasti dan ketidaksadaran akan makna Puslitbang Kesos 77 . Umur diatas 60 (enam puluh) tahun keatas. Perkembangan kota desa yang memang berkembang dewasa ini menyebabkan juga adanya perubahan perkembangan perilaku anak. sejak supermarket buka hingga ditutup pada malam harinya. misalnya munculnya tempat belanja berupa supermarket. Oleh karena itu. tindak kriminal walaupun dalam skala Desa/kelurahan dalam bentuk mengganggu milik masyarakat. Masalah Anak Nakal merupakan masalah yang bersifat embrio yang muncul melalui tahapan-tahapan proses yang kelihatannya bersumber dari faktor lingkungan. Keterangan-keterangan yang diperoleh di lapangan menggambarkan proses seperti itu. b. dengan mengkonsumsi minuman keras (miras). permakanan dan kebutuhan hidup lainnya. polisi piket di depan supermarket dengan maksud menghindari masuknya para remaja siswa sekolah terutama pada jam-jam pelajaran sekolah (baik siswa pagi maupun siswa siang). sekarang pola hidup sudah mulai bergesar dengan perubahan paradigma sebagai pedagang.

Permasalahan kecacatan secara khusus merupakan masalah yang tidak semata karena kelalaian manusia. Sebagai wilayah kelurahan yang kapasitas pertumbuhan industri tidak memungkinkan. namun karena kembali lagi terjadi perkembangan kota pedesaan maka cukup membawa pengaruh pada kebiasaaan hidup anak. Tomohon Tengah-Minahasa mencari hidup. Dimanapun permasalahan narapidana ini hadir menjadi permasalahan yang memerlukan penanganan yang sangat bijak agar persepsi masyarakat terhadap para penyandangnya tidak ditolak oleh masyarakat setempat. seperti misalnya cacat karena faktor bawaan. bahwa permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan menurunya secara drastis pertanian cengkeh yang tadinya menjadi idola di wilayah ini. Selepas dari itu para wanita ini sama sekali tidak punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan mereka. Masalah yang terkesan rawan bagi masyarakat adalah eks narapidana. Faktor penyebab munculnya anak jalanan ini. berawal dari kurangnya pengawasan orang tua. maka sulit bagi para wanita untuk mendapatkan sumber penghidupan yang tetap. 78 Puslitbang Kesos . maka permasalahan yang dihadapi di kelurahan ini merupakan masalah sosial umum yang penanganannya berada dibawah Pemerintah Daerah setempat. Diawali dengan jarang tinggal di rumah kemudian menjadi keseringan maka pada akhirnya hidup di luar menjadi suatu yang merupakan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi pilihan. Narapidana berawal mula dari kenakalan remaja. Minimnya lapangan kerja bagi kaum wanita di Kelurahan ini menjadi sumber permasalahan. Informasi lapangan yang diperoleh menyatakan. Hal ini ditambah pula dengan ketiadaan keterampilan yang dimiliki para wanita ini. Para napi pun ini sadar bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat kurang dapat diterima. dimana para wanita ini tidak mempunyai sumber penghasilan yang tetap. Jumlah kasusnya cukup banyak yakni 114 kasus. dengan alasan kalau–kalau suatu saat nanti perilakunya akan muncul kembali. lama kelamaan meningkat ke tindakan kriminal dan akhirnya sebagai penghuni rutan. Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah suatu permasalahan yang dialami oleh sekelompok wanita. Dari sejumlah penyandang terdapat banyak diantaranya yang dapat dibina untuk melakukan kegiatan mandiri dengan dimodali oleh Pemda setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.

Masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman penanganannya. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal masalah penelitian. sehingga diperoleh cara penyelesaian yang tepat. Puslitbang Kesos 79 . memerlukan langkah-langkah kegiatan yang lebih praktis dan nyata. sehingga penanganannya dapat lebih tuntas. dengan memperhatikan kriteria lokal dan sumber-sumber yang tersedia. 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 3. masalah yang juga masalah prioritas kedua adalah masalah lanjut usia terlantar. khususnya bagi permasalahan fakir miskin yang sesuai dengan sumber permasalahan lokal. sebagai berikut : 1. Perlu program yang baku. Sebenarnya keluarga rentan ini bisa ditangani oleh masing–masing keluarga. Di beberapa kelurahan. Dari kesimpulan yang diambil dari hasil kajian akan diberikan saransaran/rekomendasi. sebagai berikut: 1. Permasalahan ini merata terdapat di semua kelurahan (7 kelurahan). namun karena kondisi keluarga dalam kondisi yang sama yaitu ketidakmampuan ekonomi sehingga permasalahan keluarga rentan ini menjadi permasalahan tersendiri. program yang tepat adalah pemberdayaan fakir miskin melalui bantuan dan jaminan sosial. Masalah-masalah lain berdasarkan pengamatan dan hasil kajian penelitian merupakan masalah yang terkait dan bersumber dari masalah-masalah prioritas seperti kemiskinan. Tomohon Tengah-Minahasa Keluarga rentan termasuk kategori keluarga manula yang perlu mendapat pertolongan. Masalah yang paling menonjol dan merupakan masalah prioritas di kelurahan-kelurahan wilayah Tomohon Tengah adalah masalah fakir miskin. Sayangnya di Minahasa ini belum begitu terdengar hal penampung keluarga rentan atau semacam panti penampungan. Untuk itu. 2.. Yang terutama memberi perhatian adalah kepedulian pemerintah setempat. Keluarga–keluarga rentan ini dalam keadaan pasrah menunggu pertolongan pemerintah. mudah diacu atau diikuti masyarakat.

Tomohon Tengah-Minahasa 3. 2005. misalnya melalui penyuluhan. Jakarta. 2002. Jakarta.. Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial...Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 2003. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon.. Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial.. Bandung. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. Profesi Pekerja Sosial. . STKS Press Tim Crescent IPB. Tomohon Dalam Angka (Tomohon In Figures) Departemen Sosial.. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. 1991.. 2005 Rencana Strategis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon Tahun 2005-2009 Dwi Heru Sukoco. Pusdatin... Masalah-masalah terkait lainnya perlu ditangani dengan upaya pencegahan.... Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama 80 Puslitbang Kesos . membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. dan meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Konsep dan Strategi. 2004. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Tomohon dengan BPS Kabupaten Minahasa.

krisis ekonomi dan kebudayaan. Penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas. urang susah. Padang. (2) sebutan orang miskin yaitu urang indak bapunyo. rendahnya akses. Untuk mempertahankan hidupnya (survival strategy) secara sosial dan ekonomi. Kepala Bidang Program Puslitbang Kesos. (3) pekerjaan utama mereka yaitu buruh tani. Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan. tokoh masyarakat.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memetakan kantong-kantong dan merumuskan strategi pengentasan kemiskinan berdasarkan institusi lokal. Penelitian ini merupakan penelitian terapan melalui survey terhadap 12 nagari dan 4 kelurahan dalam tiga kabupaten dan dua kota. orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik atau urang ino. Pasaman. (1) Kantong kemiskinan terdapat di Kabupaten Mentawai. Kota Padang dan Kota Payakumbuh. Pesisir Selatan. (4) penyebab kemiskinan yaitu lokalitas ekosistem. Anggotanya terdiri dari orang miskin. urang indak mampu. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra kerja. Penanggulangan Kemiskinan. wawancara mendalam dan diskusi kelompok. antara lain melakukan pekerjaan secara tetap dan memperbanyak jumlah anggota rumah tangga untuk bekerja. Achmadi Jayaputra. Strategi pengentasan kemiskinan dengan membentuk suatu panitia berbasis institusi lokal (Nagari/kelurahan). Temuan lapangan antara lain. Puslitbang Kesos 81 . Achmadi Jayaputra. urang sulit. Sumatera Barat. Pasaman Barat.PEMETAAN KEMISKINAN DAN STRATEGI PENGENTASANNYA BERBASIS INSTITUSI LOKAL DAN BERKELANJUTAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA BARAT1 Drs. M. Kata Kunci: Kemiskinan. tukang dan buruh kasar. Keanggotaan harus mempunyai komitmen yang tinggi. laki-laki dan perempuan. Nagari Kelurahan 1 2 Judul asli dari penelitian Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat.

82 Puslitbang Kesos . dan sebagainya. Faktor lain berkaitan dengan kelemahan organisai pelaksana seperti pemerintah lokal dan pemerintah kelurahan atau desa (nagari). antara lain: • Program tidak tepat sasaran • Program tidak bertahan lama (tidak berkesinambungan) • Program dipaksakan dari atas. Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan. Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan.70%) tergolong miskin. karena dihadapkan pada beberapa hal. Oleh karena itu. Berarti memecahkan masalah kemiskinan secara tidak langsung memecahkan PMKS.4 juta jiwa (23%).100 jiwa. Penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan bersifat karitatif (charity) cenderung menjadikan orang miskin semakin tergantung pada bantuan pihak luar. Khususnya di Provinsi Sumatera Barat. Termasuk permasalahan sosial yang disebutkan Departemen Sosial sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pelacuran. Akibatnya perekonomian mereka rentan dan mereka dengan mudah kembali ke garis kemiskinan. tahun 2003 menurun hanya 501.46 juta jiwa terdapat 935. Pengentasan kemiskinan sejak bergulirnya otonomi daerah belum berhasil dengan baik.100 jiwa dan tahun 2004 menjadi 472. terutama sejak diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah. diperlukan strategi baru dengan menggunakan potensi sosial lokal untuk membantu orang miskin agar terbebas dari kemiskinannya. Namun tahun 2005 dari jumlah penduduk 4.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Pendahuluan Penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama pembangunan nasional dan daerah. Strategi yang dikembangkan itu termasuk dalam community based development. sayangnya penduduk miskin di Indonesia makin bertambah. Hal tersebut seharusnya dijadikan momentum dan peluang untuk mewujudkan desentralisasi pembangunan yang sensitif terhadap persoalan lokal.300 jiwa (20. misalnya tahun 2001 penduduk miskin tercatat 1. dan • Program tidak diakses karena hambatan struktual. sekaligus membuka pintu untuk pemecahan PMKS lainnya. anak jalanan. penyandang cacat.

pertama. Apa strategi dalam pengentasan kemiskinan yang berbasis institusi lokal yang dapat diterapkan di Provinsi Sumatera Barat? Tujuan penelitian yaitu. diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) dan pengumpulan data skunder. wawancara mendalam. Responden seluruhnya berjumlah 224 orang. petani lahan basah.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Permasalahan dalam penelitian. tokoh masyarakat yang berpengalaman melaksanakan program anti kemiskinan. nelayan dan bukan nelayan. sosial. Memetakan kantong-kantong kemiskinan berdasarkan tipologi ekologis dan sumber mata pendapatan dan mengidentifikasi karakteristik budaya. Diskusi dengan menghadirkan masing-masing 14 orang terbagi dalam dua kelompok. a. serta 2 kota yaitu Padang dan Payakumbuh. b. yaitu: a. Penelitian ini akan merumuskan model penanggulangan kemiskinan yang dapat diadopsi untuk memecahkan PMKS lainnya karena bertumpu pada pemberdayaan komunitas lokal. Selain itu berdasarkan mata pencaharian penduduk yaitu petani lahan kering. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dari instansi pemerintah di 3 kabupaten dan 2 kota tersebut terdiri Puslitbang Kesos 83 . ekonomi dan politik rumah tangga miskin tersebut? c. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu survey. Mengapa anggota rumah tangga tetap miskin. sosial. Dimana rumah tangga miskin tersebut berkonsentrasi terhadap tipologi ekologis dan sumber pendapatan? b. walaupun telah ada program pengentasan kemiskinan? d. Merumuskan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan institusi lokal. ekonomi dan politik rumah tangga miskin. kelompok pendudukan miskin yang mengikuti program anti kemiskinan. Lokasi dipilih secara sengaja berdasarkan angka kemiskinan yang tinggi dan kondisi ekologis. tokoh komunitas setempat dan pemerintah lokal. Solok dan Pesisir Selatan. Survey dilakukan terhadap 12 Nagari dan 4 kelurahan yang terdapat dalam 3 kabupaten yaitu Pasaman. Bagaimana kondisi budaya. kedua.

84 Puslitbang Kesos . 159. Kantong Kemiskinan Di Sumatera Barat. Dinas Kelautan. Kecamatan Linggo Sari Baganti di Nagari Lumpo. c. Kota Padang.671. 34. Kabupaten Solok.dan di perdesaan sebesar Rp. peternakan. Camat dan Wali Nagari. yang terbanyak adalah pertanian 25. d. Kota Payakumbuh. Kecamatan Bonjol di Nagari Koto Kaciak dan Gonggo Halia. Kinerja ekonomi di provinsi ini. Wilayahnya 42.863.59%) dan selebihnya tanah yang belum dimanfaatkan. 48. tanah yang dimanfaatkan untuk permukiman (28. kehutanan dan perikanan laut. Sedangkan tahun 2006. Kecamatan II Koto Diateh di Nagari Paninjauwan dan Kuncir. 225. b. Lokasi Penelitian.dan di perdesaan sebesar Rp. tahun 1996 angka atau garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. a. 1.389.-. Kabupaten Pasaman. Kecamatan Kubung di Nagari Gaung dan Panyangkalan. Khusus di provinsi ini.297 Km2. Kecamatan IV Jurai di Nagari Painan. Pemberdayaan Masyarakat.. Kabupaten Pesisir Selatan. istilah Nagari digunakan untuk daerah kabupaten dan Kelurahan untuk daerah kota. Air Haji dan Pungasan. Kecamatan Payakumbuh Barat di Kelurahan Parit Rantang dan Padang Karambie. Hasil Penelitian Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota. Kecamatan II Koto di Nagari Simpang Tonang dan Cubadak. Dinas Sosial. untuk tahun 2003 pertumbuhan ekonomi 5%-7% per tahun. perkebunan.16% dan didukung lima sub sektor yaitu tanaman pangan dan hortikultura.. Diantaranya.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya dari Bappeda. diketahui garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp.-.904. dilihat dari kondisi dan penggunaan lahan sebagian terdiri dari hutan (61%). Kecamatan Lubuk Bagalung di Kelurahan Kampung Baru dan Gates e. 157 kecamatan dan terdiri dari 517 Nagari/Kelurahan.

nelayan kaya yang memiliki alat tangkap lengkap dan kapal bermotor. Pasaman 19.07%) dan Payakumbuh 4. nelayan miskin yang terdiri dari buruh angkut. Padang 35.002 (51. Sedangkan di perkotaan angka yang tinggi karena tingginya jumlah penduduk.922 rumah tangga (35. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatannya dari pekerjaan buruh tani. urang indak mampu (orang tidak mampu).162 rumah tangga (21. Diantaranya nelayan yang tergolong miskin yang dilihat dari kepemilikan alat tangkap.250 rumah tangga (17.337 rumah tangga (25.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Tahun 2005. 3) Kesuburan tanah dan ketersediaan air rendah. kedua.17%).98%). buruh dan pedagang kecil. pertama. 4) Areal sawah sangat sedikit. Penyebabnya antara lain : 1) Tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas.12%). nelayan yang tidak punya alat tangkap. ketiga.186 rumah tangga (29. Nelayan terbagi tiga kelompok yaitu. Ditemukan beberapa sebutan orang miskin dalam istilah lokal yaitu urang indak bapunyo (orang tidak punya). Pesisir Selatan 26. Mereka yang tergolong rumah tangga miskin kebanyakan di perdesaan dengan mata pencaharian pokok sebagai petani di lahan kering atau perladangan. sehingga mereka harus membeli beras. nelayan sedang yang memiliki kapal dan bermotor tempel. selalu dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga. Pada daerah yang berbasis pertanian sawah. terdapat 223. 2) Produktivitas rendah karena hama babi dan kera yang susah ditanggulangi masyarakat setempat.07% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Rumah tangga miskin banyak terdapat dalam enam daerah yaitu Kabupaten Mentawai 8.825 rumah tangga miskin atau 22. urang susah (orang susah). Orang miskin sebagai keadaan negatif. Ini terjadi karena tidak memiliki lahan sendiri atau lahan sempit seperti petani penggarap yang Puslitbang Kesos 85 . Orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik (orang bangsat) atau urang ino (orang hina). Orang miskin dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga seperti buruh tani.12%). urang sulit (orang sulit). Pasaman Barat 21.41%).

600. berpendapatan Rp. 400. nelayan kecil atau buruh nelayan (16. kebanyakan rumah tangga yang dikepalai perempuan termasuk dalam kategori rumah tangga miskin. Apabila ingin memperbaiki ekonomi. Dikalangan nelayan. seorang buruh nelayan dapat saja merangkap sebagai tukang atau buruh angkat. tukang dan buruh lainnya. seorang pegawai rendahan merangkap sebagai tukang ojek atau buruh serabutan. Kebanyakan orang miskin melakukan pekerjaan ganda.000. pedagang kaki lima dan lain-lain (23. Oleh karena itu.(16. penyebab kemiskinan antara lain. Hasil survai secara keseluruhan. Pada tipologi yang berbasis nelayan.000. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatan dari buruh dan sektor informal.30%).(28. ternyata ekonomi rumah tangga miskin banyak yang merasa pesimis melihat perbaikan ekonominya. Rp. 200.. usia sekolah.10%).Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya tidak mempunyai lahan pertanian.000.(35. Misalnya di daerah perdesaan seorang sebagai petani sawah dapat saja menjadi buruh tani.sampai dengan Rp.000. Biasanya buruh nelayan hanya memiliki sampan saja atau perahu tidak bermotor. merasa lebih buruk (28..000. belum bekerja atau belum menikah.50%).20%) dari tahun sebelumnya. pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani (54.20%). Demikian juga daerah perkotaan.30%) dan yang berpendapatan diatas Rp. 86 Puslitbang Kesos .sampai dengan Rp. Adapun tipologi di daerah perkotaan. Rumah tangga miskin memiliki jumlah anak yang lebih banyak dan sebagian besar menjadi tanggungan keluarga karena masih bayi. pedagang yang tidak bermodal atau bermodal kecil. 1) Alternatif pekerjaan di daerahnya terbatas dan berkaitan dengan perkembangan ekonomi makro. Hasil survey.000.per bulan (20.10%). Di tengah banyaknya program anti kemiskinan. 200. 399. Namun mereka tidak mampu karena terbatas pengetahuan dan keterampilan. Khususnya sektor informal sangat bervariasi seperti buruh kasar. Karakteristik sosial. ada yang merasa ekonominya lebih baik (4. 599..5%). golongan miskin menunjuk pada rumah tangga buruh nelayan yang tidak memiliki sarana penangkap ikan yang lengkap. tukang atau buruh (3. maka perlu mengakses peluang.5%). Pendapatan yang mereka peroleh antara lain terendah Rp.60%) dan yang menjawab tidak ada perubahan (48.10%).

Puslitbang Kesos 87 .50%) menerima bantuan dari anggota keluarga (14.80%). Orang miskin atau rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan yang dialami melakukan upaya adaptasi. maka orang miskin bergantung pada pekerjaan yang tidak memberi pendapatan yang mencukupi. Ini menunjukkan mereka bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang. sementara luas lahan tetap dan dipengaruhi sistem pemilikan lahan secara adat. Strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya secara sosial dan ekonomi.70%) atau berhutang kepada bos atau tauke (12. Sementara meminjam kepada lembaga keuangan perbankan atau lembaga keuangan mikro tidak menjadi alternatif karena masih kurangnya lembaga keuangan tersebut. Pilihan diversifikasi pekerjaan dan pendapatan melalui pola nafkah ganda. Alasannya tidak tahu alternatif yang tersedia dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tetap lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan resiko pilihannya. 4) Orang miskin tidak mampu mengakses sumber daya karena ketiadaan teknologi dan minimnya modal. 1) Pekerjaan Tetap Mereka tidak berusaha pindah pekerjaan. 3) Produktivitas rendah karena orang miskin tidak memiliki aset lahan yang memadai. Tujuannya untuk bertahan hidup (survival strategy).Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Ketiadaan alternatif dan tidak mampu mengkreasi peluang baru. berhutang kepada anggota keluarga (20. Adapun strategi adaptasi tersebut yaitu. Pola ini merupakan bagian dari strategi adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan.10%). Pertumbuhan penduduk terus berlangsung. Cara lain yang mendorong orang miskin memecahkan masalah keuangan rumah tangganya yaitu berhutang kepada tetangga (38. 2) Anggota Rumah Tangga Rumah tangga miskin cenderung memperbanyak jumlah anggota rumah tangga ikut bekerja untuk memecahkan kesulitan hidup.

Akan tetapi tidak ada irigasi yang baik atau sumber air terbatas. antara lain. kini kembali ke kampung. tetapi lahan terbatas. terkena PHK dan usahanya bangkrut. 1) Lokalitas Ekosistem Di kalangan petani perdesaan atau lahan kering ketergantungan terhadap lahan secara mutlak. Selain itu status tanahnya sebagai tanah adat atau ulayat atau hutan lindung tidak dapat digunakan sembarangan karena pengaturannya yang berbeda. sehingga tidak dapat menggunakan lahan yang ada. Banyak orang miskin di nagari dari kalangan pendatang. musim angin dan bulan. tetapi lahan yang ada sangat terbatas. Tanah telah dibagi habis. sehingga produksi lahan sawah rendah. Pada masyarakat petani ladang yang terjadi meningkatnya biaya produksi seperti bibit dan pupuk. Sedangkan petani sawah ketersediaan air mutlak. Ada golongan keluarga atau masyarakat yang hidup turun-temurun dalam kekurangan aset ekonomi atau rendah aksesnya terhadap sumber daya setempat. Sementara pendapatan tidak seimbang dengan biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk pangan dan konsumsi rumah tangga. 3) Krisis Ekonomi Krisis ekonomi diikuti dengan kenaikan harga berbagai alat produksi dan kebutuhan konsumsi telah menyebabkan semakin beratnya kehidupan masyarakat. Ada pula di perkotaan yang dahulu merantau. sedangkan anggota kaum bertambah.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Secara umum penyebab kemiskinan. Secara umum 88 Puslitbang Kesos . rendahnya akses kepemilikan alat tangkap ikan seperti perahu motor. Daerah perladangan dengan tanaman tua yang diusahakan membutuhkan lahan yang luas. Termasuk kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi naik. disebabkan tanah ulayat hanya digunakan oleh anak kemenakan pemilik ulayat. Pengaruh ekologis sangat dirasakan di kalangan nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tidak selalu sama atau tergantung iklim. Di kalangan komunitas nelayan miskin. 2) Rendahnya Akses Ada keluarga yang kekurangan lahan.

Tugas komite tersebut yaitu menyiapkan data. Namun dalam pelaksanaan kegiatan belum menunjukkan hasilnya dalam penanggulangan kemiskinan. Kredit kelompok Kepada Kelompok Masyarakat (K3M) 4) Program Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) 5) Program Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS) dari BKKBN 6) Program perbaikan rumah tidak layak huni dari Departemen Kimpraswil 7) Program bantuan pendidikan bagi anak miskin 8) Program bantuan pengobatan orang miskin 9) Program bantuan beras miskin (Raskin) dari BULOG Puslitbang Kesos 89 .Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya yang paling dirasakan yaitu kenaikan harga kebutuhan dasar dan membiayai modal usaha. 2. Kredit Usaha Kecil (KUK). mengkoordinasikan kegiatan. sejak tahun 1983 sudah masuk program pengentasan kemiskinan atau program anti kemiskinan yang dilakukan oleh beberapa departemen atau instansi pemerintah lainnya. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). Ternyata. memfasilitasi dana. Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes). Kinerja Anti Kemiskinan Tahun 2002 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang diketuai oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan Gubernur Sumatera Barat sebagai penanggung jawab. sehingga tidak ada alternatif pekerjaan lain. Namun hanya tahu terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diketahui saja. 4) Kebudayaan Semua rumah tangga miskin mempunyai pengetahuan dan keterampilan. melakukan pemantauan dan pengendalian. Adapun program kemiskinan yang pernah dialami antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Departemen Sosial RI 2) Inpres Desa Tertinggal (IDT) dari Departemen Dalam Negeri 3) Kredit Investasi Kecil (KIK).

PMP dan P2P. BAZIS. bahkan sebanyak 60% lebih pernah mengikuti dua sampai empat macam program anti kemiskinan. Juga diakui responden. GEKS.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 10)Bantuan Langsung Tunai (BLT) 11)Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari Departemen Dalam Negeri 12)Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) 13)Program Pengentasan Perkotaan (P2P) 14)Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPMP) 15)Badan Amil Zakat. Infaq dan Shadaqah (BAZIS) 16)Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 17)Subsidi BBM Menurut bantuan yang diberikan. sebagian besar (80%) responden mengaku ekonomi mereka tidak berubah dari sebelumnya dan selebihnya (20%) menyatakan lebih buruk dari tahun sebelumnya. program yang bersifat jaring pengaman atau program yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sesaat dengan model bantuan karitatif seperti Raskin. BLT. pengembangan keuangan mikro dengan memberikan bantuan modal kepada kelompok simpan pinjam seperti IDT. keempat. Secara umum program anti kemiskinan yang pernah diikuti belum membuat perekonomian mereka membaik.. pertama. ketiga. Dampak program yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Program Tidak Efektif Program-program anti kemiskinan tidak efektif membebaskan penerima bantuan dari kemiskinannya. PPK dan Subsidi BBM. program memberdayakan keluarga miskin dengan bantuan modal usaha seperti IDT. KUBE. kelima. PDM-DKE dan PMP. semua program yang ada terbagi lima. Ratarata tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena penghasilan yang diperoleh dibawah Rp. program bantuan pendidikan seperti BOS dan PPK. program.000. Bantuan yang bersifat jaring pengaman sosial hanya untuk memenuhi kebutuhan 90 Puslitbang Kesos . 600. Pada umumnya (90%) pernah mengikuti program anti kemiskinan. kedua. Kartu Sehat. program pembangunan infrastruktur seperti IDT.per bulan. PPK.

Beras Raskin lebih banyak dimanfaatkan penduduk miskin di perkotaan daripada penduduk miskin di perdesaan. 4) Bantuan Bergulir Kurang Berhasil Bantuan yang diterima dalam kelompok tidak bergulir karena sapi yang diterima terlebih dahulu dijual sebelum beranak. tidak mampu membayar cicilan dana bantuan dan pendapatan kecil dengan biaya operasional yang tinggi. Penyebab lain kemacetan tinggi karena cicilan terlalu besar dan anggapan uang pemerintah tidak perlu dikembalikan. Namun daerah penerima bantuan tetap saja menjadi kantong-kantong kemiskinan. Penyebab ketidakberhasilan program. 1) Sifat Program Bantuan yang diberikan menyelesaikan kebutuhan sesaat karena bersifat karitatif dan parsial. 5) Bantuan Alat Tidak Efektif Program bantuan peralatan usaha tidak efektif karena penerima tidak mampu mengoperasikan alat yang diterima. Hal tersebut disebabkan kelompok simpan pinjam tidak bertahan lama dan kelompok cepat bubar. hanya menyentuh sebagian rumah tangga. 3) Keuangan Mikro Kurang Berhasil Program pengembangan keuangan mikro bukan perbankan. sehingga tidak memberdayakan penerimanya. 2) Pengembangan Infrastruktur Program pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang dibangun telah memudahkan penduduk setempat untuk memasarkan produksinya. Terutama dalam bentuk simpan pinjam tidak bermanfaat dalam waktu jangka panjang. kendaraan bermotor dapat menjangkau desanya. Puslitbang Kesos 91 . Selain itu tidak ada pengawasan dan pembinaan dari penyelenggara program dan tidak ada perhatian dari tokoh masyarakat setempat. yaitu. Ikatan anggota dengan kelompok rendah karena kebanyakan anggota dan perlu uang.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya hidup sehari-hari dan tidak membuat mereka menyimpan karena bantuan jumlahnya terlalu kecil.

Lembaga nagari/kelurahan tidak aktif memantau dan membenahi program yang ada. pertama. Kantor tidak tiap hari dibuka. kedua. Pemerintah nagari/ kelurahan diperlakukan sebagai ujung tombak yang tumpul karena program-program tidak memberdayakan organisasi lokal. 3. hanya kalau ada keperluan atau pekerjaan tertentu barulah dibuka seperti ada kegiatan dari kecamatan atau instansi pemerintah lainnya. Badan Perwakilan Adat Nagari (BPAN) atau Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan belum peduli terhadap program kemiskinan dan belum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Sedangkan dalam pemerintah kota (Kelurahan) ada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Hal itu dianggap bukan menjadi urusan mereka dan tidak ada mekanisme pertanggungjawabannya. Keragaan Energi Sosial Lokal 1) Peran Institusi Formal Institusi formal lokal dalam pemerintah kabupaten (Nagari) dipimpin Wali Nagari. Namun dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum dapat mengeluarkan aturan-aturan bagi nagarinya. Lembaga tersebut banyak berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan lembaga pimpinan adat (nini mamak ). komunitas perdesaan beranggapan penanggulangan kemiskinan merupakan tugas pemerintah. Kegiatan yang dilakukan terbatas pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja nagari/kelurahan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Pengelolaan Program bantuan tidak berkelanjutan dan kelompok yang dibentuk tidak efektif. Gagalnya program anti kemiskinan disebabkan. program-program tersebut tidak ada yang mendorong lembaga lokal untuk aktif terlibat dan bertanggung jawab terhadap program anti kemiskinan. 3) Partisipasi Lokal Partisipasi organisasi sosial dan tokoh lokal rendah karena mereka tidak melakukan langkah-langkah untuk melanjutkan program. 92 Puslitbang Kesos .

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

2) Peran Institusi Informal Lembaga informal yang ada merupakan lembaga yang tidak terkait dengan pemerintah seperti Kerapatan/Lembaga Adat Nagari (K/LAN), Badan Musyawarah Adat dan Syara (BMAS), organisasi berbasis agama dan kekerabatan. Khususnya organisasi yang berbasis keagamaan seperti majlis taklim dan kelompok yasinan, perannya muncul ketika perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Lembaga tersebut mempunyai tugas mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah untuk dibagikan kepada keluarga miskin. 3) Peran Kekerabatan Kebutuhan anggota kerabat atau keluarga yang dialami selalu dikaitkan dengan fungsi keluarga luas matrilineal. Bantuan sosial ekonomi diberikan kepada seluruh anggota keluarga yang memerlukan. Terutama berkaitan dengan keperluan yang sifatnya mendadak seperti sakit, kebakaran, meninggal dan musibah lainnya. Unsur matrilineal menjadi pokok perhatian yaitu; pertama, harta pusaka sebagai sumber ekonomi keluarga luas matrilineal; kedua, pola tempat tinggal keluarga luas matrilineal dalam menjalankan perannya; ketiga, aktualisasi adat. Hubungan sosial ekonomi dimulai dari hubungan timbal balik. Semangat akan timbul saat membantu dalam pelaksanaan perkawinan. Bantuan yang diberikan biasanya dalam bentuk uang dan tenaga, sedangkan dalam biaya pendidikan tidak karena menjadi urusan masing-masing. Bantuan terhadap orang miskin, lanjut usia dan yatim piatu menjadi urusan paruiknya. Mereka lebih baik dipelihara oleh paruik dan masyarakat setempat yang telah saling mengenal dan dijamin lebih baik. Masyarakat tidak mau dan merasa malu menempatkan lanjut usia dan anak yatim ke panti asuhan. Peran tokoh lokal membantu orang miskin dalam bentuk memberikan fasilitas atau modal usaha. 4) Nilai-nilai dan Solidaritas Lokal Nilai-nilai dan praktek solidaritas sosial lokal tumbuh dan berkembang dalam masyarakat didasarkan rasa tanggung jawab dan rasa kebersamaan. Tujuannya untuk membantu seluruh anggota
Puslitbang Kesos

93

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

keluarga dan masyarakat. Pepatah Minangkabau; bakampung mamaga kampung, tagak basuku mamaga suku, tagak banagari mamaga nagari, sandar menyandar bagaikan aur dengan tebing. Nilai yang terkandung dalam pepatah tersebut mencerminkan kehidupan keluarga yang saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Namun, dalam perkembangannya nilai-nilai tersebut tidak lagi dijalankan. Masyarakat menggunakan kata individualis untuk menyebut perilaku dari sebagian masyarakat yang tidak lagi memikirkan sanak saudara dan para tetangga dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi sosial yang sangat dikenal yaitu Kelompok simpan pinjam, Kongsi dan Julo-julo. Kelompok simpan pinjam terdiri dari beberapa orang yang mengelompokkan diri yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan anggota atau kelompoknya. Ada kelompok laki-laki atau kelompok perempuan. Kelompok juga yang berhubungan dengan pihak luar atau organisasi sosial untuk memperoleh pinjaman. Kelompok simpan pinjam sering cepat bubar karena menjadi pengurus tidak semuanya disenangi masyarakat, kecurigaan anggota terhadap pengurus sangat tinggi. Kongsi suatu istilah yang dimulai dari individu yang menjual jasa dalam pengolahan lahan pertanian terhadap anggotanya. Kegiatannya bertujuan untuk mengatasi kesulitan mereka dalam membayar tenaga kerja. Biasanya, awal kegiatan kongsi berjalan baik dan selanjutnya sering anggota kongsi malas dengan berbagai alasan. Upah yang dibayarkan berbeda berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebesar Rp. 20.000,- per hari dan perempuan sebesar Rp. 10.000,- per hari. Julo-julo (Arisan) yang merupakan kelompok penabung, dipelopori ibu-ibu. Setiap anggota akan menabung sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan dan waktu penarikan yang ditentukan. Biasanya terdiri dari 10 orang, tiap orang akan menerima bagian sesuai dengan jumlah uang yang ditabung dan paling murah Rp. 5.000,-. Keberadaan kelompok ini sangat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah keuangan terutama untuk biaya pendidikan dan modal kerja.

94

Puslitbang Kesos

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Kesimpulan dan Saran Pemetaan kemiskinan telah menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dalam beberapa kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penelitian. Kantong-kantong kemiskinan tersebut berdasarkan tingkat nagari/kelurahan yang terbagi dalam kelompok petani lahan kering, persawahan dan nelayan. Dirumuskannya strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang disebutkan berbasis nagari/kelurahan. Adanya model strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang akan diujicobakan pada tingkat nagari/kelurahan yaitu; a. Konsep Pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal diartikan program yang bertumpu kepada kekuatan komunitas lokal dengan mengandalkan organiasi sosial yang telah ada. Tujuannya agar komunitas lokal dan tokoh masyarakat pelaku aktif pengentasan kemiskinan. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra. Partisipasi diperlukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemeliharaan. b. Prinsip Organisasi sosial dan tokoh masyarakat harus aktif dan proaktif dalam pengentasan kemiskinan yang disusun sesuai potensi dan aspirasi masyarakat. Diperlukan badan atau organisasi sosial yang bertugas mengkoordinasikan upaya pengentasan kemiskinan. Diperlukan pendampingan yang menguasai tentang strategi dan teknik penanggulangan kemiskinan. Program bersifat pemberdayaan komunitas. c. Sasaran Komunitas nagari/kelurahan dengan angka kemiskinan tinggi melalui lembaga-lembaga dan rumah tangga miskin. Meningkatkan peran nagari/kelurahan yang mempunyai program anti kemiskinan berdasarkan potensi dan aspirasi lokal. Di lokasi dibentuk organisasi dengan sebutan Panitia Penanggulangan Kemiskinan Nagari/ Kelurahan.

Puslitbang Kesos

95

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Ketentuan panitia antara lain; Lembaga tersebut dibentuk melalui musyawarah di nagari/kelurahan masing-masing, Panitia beranggotakan kaum laki-laki dan perempuan secara proporsional Struktur organisasi tediri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan sekurang-kurangnya lima anggota, Tokoh-tokoh terseleksi yang mempunyai komitmen tinggi, Mempunyai anggaran khusus, Menggali sumber-sumber lokal, Perlu pemecahan faktor-faktor struktural lokal Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1) Rekruitment Tenaga Pendamping Pendamping dalam nagari/kelurahan sebanyak dua orang. Pendamping selalu berkoordinasi dengan peneliti dan pemerintahan nagari/ kelurahan. 2) Upaya Penyadaran Pendamping melakukan upaya penyadaran kepada lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat nagari/kelurahan agar mereka aktif melakukamn usaha pengentasan kemiskinan. 3) Membentuk Panitia Berkoordinasi dengan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk panitia. 4) Pelatihan Dilakukan terhadap panitia penanggulangan kemiskinan agar memahami kegiatannya. 5) Pendataan Melakukan pendataan rumah tangga miskin dengan merumuskan kriteria kemiskinan yang sesuai dengan persepsi setempat. 6) Merumuskan Program Merumuskan program dan kegiatan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tenaga ahli, pejabat pemerintah dan pihak lain untuk membantu rumah tangga miskin.

96

Puslitbang Kesos

2005. Nomor 3 . Yogyakarta. Ancok. 2006. Pusdatin Kesos. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. “Ikatan Kekerabatan sebagai Sebuah Jaringan Sosial Ekonomi: Diskusi tentang Isu-isu Perubahan pada Ikatan Kekerabatan Matrilineal Minangkabau” dalam Jurnal Pembangunan dan Perubahan Sosial. dkk (ed). Pusbangtansosmas. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia. 2003. Jakarta. 1987. Perspektif Teoritik. Sherraden. 1995. Aditya. “Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Membangun Keterlibatan Keterlibatan organisasi-organisasi sosial dan pemerintah dalam melakukan monitoring pengentasan kemiskinan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 7) 8) 9) Membuat Peraturan Panitia dan tokoh masyarakat perlu membuat peraturan dalam pengentasan kemiskinan di daerahnya. DAFTAR PUSTAKA Afrizal. Jakarta. Puslitbang Kesos 97 . Jakarta. LP3ES Hikmat. Raja Grafindo Persada. Rencana Pembangunan Jangka Menangah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006 – 2010: Agenda 6 Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan.4. Djamaluddin. Jakarta. 2006. Departemen Sosial RI. Data dan Informasi PMKS dan PSKS Tahun 2004. “Pemberdayaan Pranata Sosial Pengalaman Empiris” dalam Umi Ratih Santoso. Aset untuk orang Miskin: Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. Metodologis dan Empiris. Pelaksanaan Program Panitia penanganan kemiskinan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. dkk (ed). M. Chambers. Menemukan Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat. Padang. R. Harry. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. 1997.

.

Teknik ini dikembangkan oleh The Small 1 2 Dikembangkan dari Laporan Penelitian Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. MPM 2 ABSTRAK Participatory Wealth Ranking (PWR) merupakan alternatif teknik mengidentifikasi keluarga termiskin dan miskin. Agus Budi Purwanto (anggota). Data yang dihasilkan berupa data mikro. M. Puslitbang Kesos 99 . Siti Aminah (sekretariat). Departemen Sosial RI tahun 2006. Apabila pemberdayaan fakir miskin berniat untuk merangsang prakarsa masyarakat mengatasi permasalahannya maka PWR adalah sebuah pilihan tepat untuk mengawali langkah. petugas lembaga tinggal menetapkan titik batas nilai. memperoleh gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Anwar Sitepu.ST (sekretariat). Dengan menggunakan teknik PWR tampak dengan nyata bahwa masyarakat tidak saja diberi kesempatan berpartisipasi tetapi diakui dan dihargai martabatnya. Anwar Sitepu. Hendriyati. berupa daftar nama dan alamat keluarga menurut urutan (peringkat) kemiskinan. Drs. Kata kunci: Participatory Wealth Ranking. MP (ketua). Ir. Tim peneliti terdiri dari: Drs. Badiklit Kesos. Yanuar Farida Wismayanti. Mengatasi hal tersebut Puslitbang Kessos bermaksud menawarkan sebuah teknik yang disebut Participatory Wealth Ranking (PWR).Si (anggota). Dra.PARTICIPATORY WEALTH RANKING Sebuah Alternatif Teknik Identifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin1 Drs. dan Dra. Penyesuaian yang perlu dilakukan adalah pada sistem penilaian yaitu nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Haryati Roebiyantho (anggota). keluarga miskin Pendahuluan Salah satu titik rawan dalam penyelenggaraan Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) adalah pada tahap identifikasi dan seleksi sasaran. Anwar Sitepu. Manual PWR mudah dijabarkan oleh fasilitator untuk memfasilitasi masyarakat melakukan pemeringkatan. S. Tahap ini rawan karena pada satu sisi sangat menentukan efektivitas program secara keseluruhan pada sisi lain sering dianggap pekerjaan mudah sehingga kurang diperhatikan atau bahkan disepelekan. Untuk seleksi sasaran program.

Tekanan penting pada metode partisipatif bukan sebatas pada aktivitas pengkajian/penelitian atau pengumpulan data tetapi pada aspek pembelajaran masyarakat (Rianingsih (Ed). sebelum dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas dalam pelaksanaan P2FM.1996:14). 100 Puslitbang Kesos . Lazimnya sebuah produk luar. Berdasarkan kajian awal teknik ini dipandang layak digunakan karena prosesnya dinilai aplicable dan teknisnya dikembangkan berlandaskan pendekatan partisipatif. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan di lapangan manual PWR yang disusun oleh The SEF. Konsep dan Teknik PWR Participatory Wealth Ranking (PWR) adalah sebuah teknik pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi berlandaskan pada pendekatan partisipatif. Visi metode/ pendekatan partisipatif adalah perubahan sosial dan pemberdayaan (penguatan) masyarakat agar ketimpangan ditiadakan. sekaligus bertindak sebagai fasilitator. dan Lingkungan. Tujuannya adalah mengetahui efektivitasnya. PWR adalah salah satu bentuk dari metode-metode partisipatif. Penelitian dilakukan di enam lokasi di provinsi berbeda. PWR adalah sebuah teknik penelitian tetapi bukan sekedar teknik penelitian biasa. Tulisan ini merupakan pengembangan dari laporan uji aplikasi PWR di lapangan. Peneliti. untuk mengidentifikasi dan menyeleksi penerima pelayanannya di Afrika Selatan. masing-masing sebagai satuan pemukiman setingkat atau bagian dari Dusun. senada dan selaras dengan paradigma. terlebih dahulu perlu dilakukan uji aplikasi. PWR dalam perkembangannya sudah diadopsi oleh NGO yang beroperasi di seluruh dunia. termasuk di Indonesia. Bentuk lain yang relatif sudah dikenal lebih banyak orang adalah Participatory Rural Apraisal (PRA). visi dan misi serta strategi P2FM. Seperti PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers. Tujuan PWR adalah untuk menemukan keluarga termiskin di suatu masyarakat menurut ukuran mereka sendiri dan oleh mereka sendiri. seluruh pengalaman dan hasilnya dicatat dan diabstraksikan. yang sebelumnya dilatih secara singkat. Dengan Teknik PWR konsep dan indikator miskin tidak disiapkan dari luar sebelum pengumpulan data dilakukan. kendala dan kemudahannya.Participatory Wealth Ranking Enterprise Foundation (SEF) sebuah Non Governmental Organization (NGO International). Metode-metode/ Teknik-teknik participatory dikembangkan sebagai salah satu upaya menempatkan rakyat sebagai titik pusat pembangunan (people centred development). Rukun Warga. Proses aplikasi di lapangan diobservasi.

Participatory Wealth Ranking

Penggunaan teknik ini efektif dilakukan di masyarakat yang warganya saling mengenal dengan baik. Pemeringkatan keluarga dilakukan oleh perwakilan warga, dengan asumsi mereka lebih tahu kondisi sesamanya. Perwakilan warga ditetapkan secara proporsional, minimal sebanyak 9 orang dan maksimal 15 orang. Pemeringkatan dilakukan melalui proses penilaian berlapis, yaitu sebanyak tiga kali (triangulasi). Setiap penilaian dilakukan oleh kelompok kecil (tiga sampai lima orang) perwakilan warga. Penilaian dilakukan dengan teknik pengelompokkan, setiap keluarga dibandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lain. Keluarga yang sama atau seimbang kondisi sosial ekonominya dikelompokkan menjadi satu kelompok. Sumber data adalah perwakilan warga itu juga, sehingga mereka bertindak sekaligus sebagai pengumpul data dan informan. Orang luar, petugas lembaga bertindak sebagai fasilitator. Pemeringkatan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan Tahap Penghitungan Nilai.
1. Tahap Persiapan

Tahap Persiapan bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melakukan pemeringkatan. Kegiatan pada tahap ini meliputi tiga besaran, yaitu: perkenalan dan penjelasan, merencanakan pertemuan pemeringkatan dan pengaturan logistik. Perkenalan yang dimaksud dilakukan dengan aparat setempat. Kepada aparat dikenalkan siapa fasilitator, dijelaskan apa tujuannya dan bagaimana teknis pemeringkatan, termasuk cara kerja, dan dukungan apa yang diperlukan sampai pada kesepakatan melakukan pemeringkatan. Jika aparat setempat sudah jelas dan tidak keberatan, lanjutkan dengan pengaturan pelaksanaan kegiatan, termasuk waktu, tempat dan peserta. Pada kesempatan tersebut fasilitator menjelaskan persyaratan peserta, lokasi pertemuan yang diperlukan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini bertujuan untuk memisahkan atau mengelompokkan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Semua keluarga yang sama atau seimbang dari segi sosial ekonomi dikelompokkan menjadi satu kelompok, sehingga seluruh keluarga akan masuk dalam salah satu
Puslitbang Kesos

101

Participatory Wealth Ranking

kelompok. Tujuan tersebut dicapai melalui sejumlah kegiatan yaitu: pemetaan, pendaftaran keluarga, pembuatan kartu, diskusi konsep, dan sorting. Pemetaan bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh keluarga yang tinggal di suatu wilayah dimana PWR dilakukan, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Peta memuat lokasi rumah setiap keluarga di masyarakat tersebut. Setiap rumah di peta diberi nomor urut. Nama masing-masing Kepala Keluarga dan identitas lain seperti nama panggilan, pekerjaan dan nama isteri, kemudian didaftarkan pada form khusus yang sudah disiapkan. Berikutnya, nama dan nomor urut masing-masing KK ditulis kembali di atas sebuah potongan kertas karton sehingga menjadi sebuah kartu. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat sorting. Sorting adalah pembandingan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi konsep. Peserta diajak merumuskan apa yang dimaksud dengan ”miskin” dan ”sangat miskin” atau mengidentifikasi apa ciri-ciri sebuah keluarga miskin atau sangat miskin. Diskusi dimaksudkan agar peserta berpikir dan memiliki pemahaman yang sama tentang miskin dan sangat miskin. Kesamaan pemahaman diperlukan untuk mempermudah proses sorting. Sorting dilakukan dengan cara: • Fasilitator menunjukkan kartu nama keluarga kepada kelompok. Dijelaskan bahwa masing-masing kartu tersebut mewakili sebuah keluarga. • Kemudian, fasilitator mengambil dua kartu pertama, seraya memperlihatkan dan menanyakan kepada peserta, apakah mereka mengenal kedua keluarga yang namanya tertera pada masing-masing kartu tersebut? ”Keluarga mana yang lebih miskin?” Disini akan berlansung diskusi, masing-masing peserta akan menyampaikan informasi dan pendapatnya. • Setelah diperoleh kesepakatan, kedua kartu diletakkan bersebelahan, yang lebih miskin di sebelah kiri dan yang lebih kaya sebelah kanan. Alasan penempatan dicatat pada form yang telah disiapkan. Dilanjutkan dengan kartu berikutnya, bandingkan dengan dua kartu yang sudah diletakkan. Jika sama atau seimbang dengan

102

Puslitbang Kesos

Participatory Wealth Ranking

salah satu kartu yang sudah diletakkan tadi, maka kartu ketiga diletakkan di atasnya. Jika lebih kaya dari kartu sebelah kanan, maka kartu ketiga diletakkan di sebelah kanannya lagi, atau jika lebih miskin dari yang paling kiri, maka kartu ketiga itu diletakkan di sebelah kirinya lagi. • Demikian seterusnya, satu demi satu dibandingkan dan diletakkan di tempat yang sesuai. Pada akhirnya seluruh kartu akan masuk pada salah satu kelompok atau tumpukan kartu. • Sorting dilakukan sebanyak tiga kali masing-masing oleh kelompok (3 sampai 5 orang) perwakilan warga, pada waktu dan tempat berbeda. Menurut The SEF tidak menjadi soal, berapa pun banyaknya tumpukan, yang penting adalah bahwa masing-masing tumpukan berbeda menurut kondisi sosial ekonomi. The SEF menganjurkan sebaiknya minimal 4 tumpukan. Hal yang harus diingat bahwa sorting adalah membandingkan kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga, bukan bagaimana orang mencari uang atau berapa besar pendapatan sebuah keluarga. Contoh, walau pun seseorang memiliki penghasilan besar tetapi uangnya tidak dibawa ke rumah untuk kepentingan keluarganya, maka itu percuma saja, tidak memberi dampak pada kesejahteraan keluarganya. Seluruh kegiatan di atas, mulai dari membuat peta, pendaftaran nama KK, pembuatan kartu, diskusi konsep dan sorting dilakukan oleh perwakilan warga. Petugas dari lembaga hanya sebagai fasilitator. PWR harus berlangsung dalam suasana santai tetapi tetap serius.
3. Tahap Penghitungan Nilai

Akhir dari sorting adalah terpisahnya kartu keluarga menjadi beberapa tumpukan. Tumpukan paling kiri di mana keluarga termiskin berada diberi nilai 100, artinya 100% miskin. Nilai masing-masing keluarga lain tergantung pada jumlah tumpukan (pengelompokkan) dan di tumpukan mana dia berada. Contoh: Anggaplah kelompok membagi keluarga ke dalam 4 kategori atau tumpukan menurut kondisi sosial ekonominya. Menghitung seberapa miskin setiap tumpukan, 100 dibagi dengan jumlah kategori. 100 dibagi 4 = 25 kalikan dengan nomor tumpukan. Tumpukan 4 = 100 : 4 x 4 = 100;
Puslitbang Kesos

103

Participatory Wealth Ranking

Tumpukan 3 = 100 : 4 x 3 = 75 ; Tumpukan 2 = 100 : 4 x 2 = 50; Tumpukan 1 = 100 : 4 x 1 = 25. Nilai dari masing-masing kelompok penilai dimasukan pada kolom tersendiri pada form yang sudah disiapkan. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh nilai rata-rata masingmasing keluarga. Nilai rata-rata berfungsi untuk menentukan peringkat akhir keluarga di masyarakatnya. Karena masing-masing keluarga dinilai sebanyak tiga kali maka setiap keluarga memperoleh tiga nilai. Nilai rata-rata setiap keluarga adalah jumlah tiga nilai dibagi tiga. Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah, maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Maksudnya tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat.

Uji Aplikasi PWR Uji aplikasi dilakukan di 6 provinsi, masing-masing satu lokasi. Peneliti bertindak sekaligus sebagai fasilitator. Menurut tipe masyarakatnya, 4 lokasi berupa masyarakat perdesaan dan dua lokasi berupa masyarakat perkotaan. Keenam lokasi merupakan calon lokasi program pemberdayaan fakir miskin. Berikut adalah deskripsi aplikasi setiap tahap PWR.
1. Tahap Persiapan

Seluruh kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan dengan baik di semua lokasi. Kegiatan diawali dengan menemui Kepala Kelurahan/ Desa. Tim Fasilitator didampingi oleh aparat Dinas Sosial Provinsi dan atau Dinas Sosial Kota/Kabupaten. Perkenalan dengan Kepala Kelurahan/Kepala Desa berlangsung dengan baik. Kepada mereka dijelaskan bahwa kegiatan dilakukan masih sebatas mengujicobakan teknik. Kepada masing-masing juga dijelaskan secara singkat tujuan dan teknik pelaksanaan PWR. Masing-masing tidak keberatan di wilayahnya dilakukan kegiatan dan bersedia membantu. Bersama Kepala Desa/Kelurahan ditetapkan bagian wilayahnya yang akan

104

Puslitbang Kesos

pengaturan jadwal dan logistik. Lamaknen Kota Samarinda Kec. Pelaksanaan PWR di Samarinda (Kaltim). Tabel 1. Abistas Rukun Tetangga (2): RT 29 dan RT 30 TIPE Kota 2. Bersama Ketua RT/ RW/Lingkungan/Dusun dilakukan: pemilihan perwakilan warga. di Medan meliputi satu lingkungan. Pemilihan dilakukan dengan melibatkan ketua-ketua wilayah masing-masing dan sejumlah tokoh setempat. Cakupan lokasi menjadi berbeda. Desa 3. Kepada mereka juga ditanyakan apakah warganya saling mengenal satu dengan yang lain. 1. Intensitas kerja lebih banyak dilakukan bersama aparat terbawah. Dusun Jati Desa Kenteng Desa Kayubihi Desa Lakmaras Kelurahan Selili SATUAN Lingkungan (1): L IX Rukun Tetangga (2): RT 22 dan RT 23 RW 5 Dusun (1) : Dusun Ploso Jenar Dusun (1) : Dusun Pucangan Dusun (3): Sabulmil. Hal tersebut terjadi dalam upaya mencapai jumlah KK sebanyak antara 150 sampai 200 KK. Persiapan lebih krusial berlangsung bersama mereka. 6. Perkenalan dan penjelasan lebih lanjut dilakukan dengan aparat pemerintah di tingkat RT/RW/Kepala Dusun/Kepala Lingkungan. Subang (Jabar) dan Wonogiri (Jatim) bertepatan dengan bulan puasa. Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Desa Kota Puslitbang Kesos 105 . Purwantoro Kabupaten Buleleng Kec. sekaligus dengan memperhatikan keseimbangan menurut jenis kelamin. Cipunagara Kabupaten Wonogiri Kec. di Bali satu dusun. PROVINSI Sumatera Utara Jawa Barat KOTA/KAB Kecamatan Kota Medan Kec. Jawa Tengah Bali Desa 4. di Subang dan Samarinda dua RT. Kelurahan Tegalsari Mandala 1 Desa Jati. Lokasi Aplikasi PWR dan Tipe Masyarakatnya No. Bangli Kabupaten Belu.Participatory Wealth Ranking dijadikan lokasi. Pada akhirnya lokasi terpilih menjadi bervariasi di masing-masing provinsi. dan seterusnya (lihat Tabel 1). Fasilitator menjelaskan kriteria lokasi uji coba PWR yang diinginkan. Desa 5. penetapan lokasi pertemuan. Samarinda Seberang DESA/KEL. Obipul. Perwakilan warga di lokasi yang terdiri dari dua atau lebih satuan administrasi (misal di Samarinda dua RT dan di Belu tiga dusun) ditetapkan secara proporsional. Kegiatan dilaksanakan pada waktu dan tempat yang disepakati. Kec. Medan Denai Kabupaten Subang Kec.

Pendaftaran KK di semua lokasi berlangsung lancar. Peta dibuat menurut wilayah satuan administrasi.Participatory Wealth Ranking 2. karena pemerintah sudah memiliki ukuran sendiri. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini. Hal ini dapat dipahami sebagai indikasi. Seperti meminta memperlihatkan KTP. Di semua lokasi pertemuan berjalan dengan baik. masing-masing untuk RT 22 dan RT 23. Kejadian berbeda terjadi di Buleleng (Bali). Kesan umum yang muncul adalah sepertinya mereka tidak percaya bahwa mereka dapat melakukan pemeringkatan atau mereka meragukan manfaatnya. semua peserta aktif. saling mengingatkan. Proses kemudian diulang lagi. perwakilan warga dalam sesi tanya jawab seperti ”menginterogasi” fasilitator dengan cara sangat halus. Nama masing-masing KK sesuai nomor urut pada peta ditulis pada form yang sudah disiapkan. tidak percaya diri. Surat Tugas. kehilangan inisiatif. Di beberapa tempat Tim Perwakilan warga minta agar fasilitator terlebih dahulu menetapkan ukuran miskin atau tidak miskin. terlebih dahulu membuat sketsa kemudian disalin kembali di atas kertas karton. Demikian juga di lokasi lain yang kegiatan mencakup lebih dari satu wilayah administrasi. Pembuatan peta berlangsung melalui dua cara berbeda: pertama. misalnya di Subang dibuat dua peta. suasana rileks dan santai. Pertanyaan yang banyak disampaikan warga adalah seputar tidak lanjut. seharusnya pembuatan peta diserahkan kepada warga. salah seorang aparat Dinas Sosial setempat mengambil alih proses pembuatan peta akibatnya muncul kesulitan. fasilitator bekerja bersama perwakilan warga atau disebut juga Tim Pemeringkat. Pada pertemuan pertama diawali dengan perkenalan dan penjelasan. langsung sekali jadi. Hubungan dengan fasilitator mulai cair. Perwakilan Warga (Tim Pemeringkat) berhasil mengidentifikasi semua 106 Puslitbang Kesos . kedua. Pelajaran berharga diperoleh dari Wonogiri. Di semua lokasi tidak ditemukan kesulitan berarti. apakah akan ada bantuan untuk warga setempat. dan Rekomendasi Badan Linmas setempat. bahwa warga masyarakat sudah lama demikian tergantung pada instruksi. fasilitator dapat menyampaikan penjelasan dan hingga dipahami perwakilan warga. Pembuatan peta di semua lokasi berjalan mulus. memberi informasi.

Hasil kegiatan ini adalah daftar nama KK berikut alamat. nama panggilan dan nama isteri masing-masing. atau keluarga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di lingkungan setempat. Kab. Sesuai dengan semangat pemberdayaan. Fenomena yang menarik adalah jumlah KK yang dilaporkan sebelumnya oleh aparat pemerintah setempat ternyata berbeda dengan temuan penelitian (lihat Tabel 2). 6. Tabel 2. semua kasus-kasus seperti di atas didaftar sebagai keluarga tersendiri. Lamaknen. PROVINSI/KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Selili Jabar. Kecuali di Belu (NTT). Kec. Kabupaten Bangli. Kec. 2. Belu. Dalam konteks pemberdayaan. seorang anak yang sudah menikah kemudian cerai dan kembali bersama orangtuanya. Mdn Denai Kel.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. 3.Kota Medan Kec. seorang anak yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtuanya. Banyaknya Kepala Keluarga Menurut Data dan Temuan di Lokasi Penelitian LOKASI NO. Pertanyaan yang banyak muncul di semua lokasi adalah seputar siapa yang dimaksud keluarga. Kab. jumlah KK hasil pemetaan lebih banyak dibanding data pemerintah setempat. Misalnya. Desa Ploso Jenar Dusun Ploso Jenar SATUAN PEMUKIMAN SETEMPAT L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT1/5 RT2/5 RT3/5 RT4/5 RT1/6 RT2/6 Jumlah Dusun Pucangan Dusun Sabulmil Dusun Obipul Dusun Abistas Jumlah BANYAKNYA KEPALA KELUARGA DATA DESA 183 63 86 149 70 82 152 DITEMUKAN 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 PERBEDAAN 122 7 23 30 6 8 14 1. 5.Desa kayubihi NTT. Kab Subang. 4. hal demikian sama artinya dengan menghilangkan akses sejumlah keluarga untuk masuk pada program yang diselenggarakan untuk mereka. Kec.Participatory Wealth Ranking KK setempat. Cipunagara.Purwantoro. Desa Jati. seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. Hal demikian patut diwaspadai karena dapat dibaca sebagai indikasi adanya sejumlah keluarga yang tidak tercover.Bangli. Dusun Jati Jateng. Bali. Wonogiri. Samarinda Seberang Kel. Desa Lakmaras 212 189 63 43 53 159 131 -3 -1 -2 -6 Puslitbang Kesos 107 . Kec.

Setelah dilakukan pemetaan. Mereka mengenal wajahnya tetapi tidak tahu siapa namanya. semua kegiatan dilakukan oleh Tim Perwakilan Warga. Selama pembuatan kartu tidak ditemukan kesulitan serius. Pertama. Rumah numpang (pada orangtua. Jika tidak cukup di fasilitasi. yaitu 187 KK. Pendidikan anak putus sekolah sebelum tamat SD atau SLTP. mertua atau saudara). (2). Ada dua persoalan pada kasus ini yang tidak diantisipasi sebelumnya. hubungan antar dua kelompok besar penduduk ternyata kurang harmonis. (3). Fasilitator dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kedua. Pada kegiatan ini fasilitator dituntut mampu menggali pendapat peserta. salah satu faktor yang cukup mendukung kelancaran kegiatan adalah terdapatnya anggota perwakilan warga yang mampu menulis dengan jelas dan cepat.Selili. Memperoleh makanan dari bantuan orang lain atau mengharap dari “raskin”. 108 Puslitbang Kesos . b) RT 29 dan RT 30 Kel. Berikut adalah contoh definisi miskin: a) Lingkungan 9 Kel. Kota Samarinda. Ciri-ciri sebuah keluarga miskin menurut hasil diskusi adalah: (1). Tidak sanggup membayar biaya pengobatan apabila salah seorang anggotanya perlu berobat di rumah sakit. Makan dari pemberian orang (anak/saudara/tetangga) atau mengemis. Pembuatan kartu keluarga di semua lokasi dilakukan sekaligus dengan pendaftaran nama KK. (4). jumlah penduduk di lokasi jauh melebihi data yang disampaikan Ketua Lingkungan sebelumnya. (1) Makan seadanya. Sebelum sorting.Participatory Wealth Ranking Kesulitan terjadi di Medan (Sumut). Lauk asal ada: contohnya ikan asin murahan. Biasanya cari pinjaman. TSM 1 Kota Medan. salah satu kelompok tertutup bagi kelompok yang lain. Kendala yang dihadapi di beberapa lokasi adalah form dan blanko yang disiapkan tidak mencukupi karena jumlah penduduk melampaui perkiraan. Kedua kegiatan dilakukan setelah peta selesai digambar. ditemukan sebanyak 305 KK. pengertian yang disampaikan cenderung abstrak. Sementara itu. terlebih dahulu dilakukan diskusi konsep. Pekerjaan tidak tetap (serabutan). perwakilan warga ternyata tidak hafal nama sebagian KK setempat. Di semua lokasi berhasil dirumuskan pengertian konsep ”miskin” dan ”sangat miskin”. (5).

. Penghasilan rata-rata per hari kurang dari Rp. Pada sorting dengan model paralel kartu keluarga perlu disiapkan sedemikian rupa.750. seperti dinding. (8) Tidak mampu menyediakan biaya pendidikan anak hingga minimal tamat SLTP. secara simultan. Cara kedua ini dilakukan di kebanyakan lokasi karena di pandang lebih mudah dan mengirit waktu. Model pertama. Misalnya di buat rangkap tiga (pengalaman di Subang dan Samarinda) atau tetap di buat rangkap satu. Untuk memenuhi kebutuhan makan (pokok) selalu utang. ketiga kelompok penilai bekerja secara bergantian. Model kedua. sementara kelompoknya disebut juga Kelompok Penilai.000. sehingga ketiga kelompok penilai dapat melakukan tugasnya.per bulan. Setelah diskusi konsep selesai dilanjutkan dengan penjelasan dan peragaan bagaimana melakukan sorting. Kegiatan ini disebut juga sorting. Pelaksanaan sorting berlangsung dalam dua model. Tugas masingmasing kelompok adalah menilai seluruh keluarga dengan memperbandingkan satu dengan yang lain berdasar kondisi sosial ekonomi. Biasanya numpang pada keluarga lain atau menyewa rumah yang tidak layak.. Rumah Tidak layak huni yang dimaksud adalah rumah yang komponen-komponennya. Misalnya tidak punya TV. Teknik sorting seperti pada manual The SEF tampak cukup mudah dijelaskan oleh fasilitator dan mudah dipahami serta mudah dilakukan perwakilan warga di semua lokasi. kelompok penilai melakukan sorting secara terpisah pada waktu bersamaan di lokasi yang sama. (3) Tidak punya tempat tinggal sendiri yang layak huni.atau kurang Rp.000. Puslitbang Kesos 109 . secara paralel. (5) Tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit. lantai dan atap sudah lapuk atau bocor.25. tetapi dibagi tiga bagian (pengalaman di Medan). (4) Anggota keluarga sering sakit karena kurang gizi.Participatory Wealth Ranking (2) Pekerjaan dan penghasilan tidak tetap. (7) Tidak mampu membeli air bersih. Perwakilan warga kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing dengan 3 sampai 4 orang anggota. (6) Peralatan rumah tangga sangat minim.

yaitu nilai tertinggi selalu diberikan kepada yang terbaik. sejumlah keluarga tidak dikenal dengan baik oleh Kelompok Penilai. sehingga nilai yang dihasilkan tidak konsisten. Sistem ini diterima dengan pertimbangan tidak merubah substansi pengelompokkan. Karena itu sorting dapat disebut juga sebagai proses penilaian. Mereka mudah memahami nilai tertinggi ditetapkan sebesar 100 diberikan kepada setiap keluarga termiskin yang kartunya berada pada tumpukan paling kiri. apabila sebuah kelompok penilai membagi penduduk menjadi 4 kategori (tumpukan). Analog dengan sistem penilaian anak sekolah. tumpukan ke-4. Pertama. Keberatan warga diterima oleh fasilitator di semua lokasi. nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Nilai berasal dari atau tergantung pada tumpukan mana dia ditempatkan dan jumlah seluruh tumpukan (lihat sub bagian penghitungan nilai di atas). catatan pada kategori mana sebuah keluarga ditempatkan dan alasan informatif mengapa ditempatkan pada kategori tertentu. Tahap Penghitungan Nilai Penghitungan nilai yang dimaksud adalah mulai dari menetapkan nilai setiap keluarga sampai mencari nilai rata-rata. Menetapkan nilai masing-masing keluarga dilakukan oleh tiga Kelompok Penilai melalui proses sorting. Kelompok penilai di semua lokasi tidak mengalami kesulitan memahami sistem menetapkan nilai. Alasan mereka seragam. Hasil sorting terdiri dari dua bagian penting. Kejadian seperti ini dialami di Medan.Participatory Wealth Ranking Dalam prakteknya sorting berlangsung lancar. Hal tersebut dimungkinkan karena semua anggota Kelompok Penilai mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. kelompok penilai dapat menilai setiap keluarga dan menempatkannya ke dalam kelompok atau kategori tertentu. mulai dari 4 sampai 6 kategori. Karena sorting dilakukan sebanyak tiga kali maka masing-masing keluarga memperoleh tiga nilai dan tiga catatan alasan. Banyaknya kategori bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lain. maka nilai masing-masing keluarga mulai dari termiskin sampai terkaya adalah 110 Puslitbang Kesos . 3. Dengan ketentuan demikian. nilai bagi masing-masing keluarga. Sistem penetapan nilai demikian ternyata ditolak para peserta (anggota kelompok Penilai) di semua lokasi. Kedua. Kesulitan terjadi apabila Kelompok Penilai tidak mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat.

6. Berdasarkan nilai rata-rata diketahui peringkat kemiskinan setiap keluarga. 75 dan 100. Wonogiri. Sistem penilaian tetap sama. Belu. 4. Kec. LOKASI PROVINSI/ KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut.Bangli. Desa Jati.Purwantoro. sebanyak 4. Dusun Jati Jateng. Nilai masing-masing keluarga dengan mudah dapat dimasukkan kelompok penilai ke form yang disiapkan.50. Kab Subang. Mdn Denai Kel. Distribusi Keluarga menurut Golongan Peringkat Kondisi Sosial Ekonomi Di Lokasi Penelitian NO. Selili Jabar. Desa Kenteng SPS JML PEND GOLONGAN PERINGKAT Sosial Ekonomi I 52 6 5 11 25 18 43 12 10 6 10 11 10 65 108 4 2 8 14 II 97 28 34 72 22 37 59 22 14 23 25 26 22 155 104 7 1 2 1 III 68 41 63 104 29 31 60 15 14 10 9 6 6 68 60 4 4 4 14 IV 73 5 7 12 4 4 9 4 7 11 4 3 40 4 28 21 21 70 V 15 5 1 2 6 1 15 13 11 14 38 VI 4 2 2 8 L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT 1/5 RT 2/5 RT 3/5 RT 4/5 RT 1/6 RT 2/6 Jumlah Dusun Pucangan Sabulmil Obipul Abistas Jumlah 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 2. Masing-masing peserta ternyata memperhatikan keluarga siapa dapat nilai berapa. Desa Kayubihi NTT. Kab. Kec. Kota Medan Kec. Mudah bagi mereka menghitung (25 + 25 + 50) : 3. Mereka spontan mengajukan protes jika merasa ada keluarga yang diberi nilai tidak semestinya. Cipunagara. 5. Dalam upaya penyederhanaan. Keluarga dengan nilai terendah adalah keluarga termiskin. Smrd Seberang Kel.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. Tabel 3. 1. Pada umumnya jumlah kategori yang ditetapkan oleh tiga Kelompok Penilai di suatu lokasi adalah sama. Desa Lakmaras Puslitbang Kesos 111 . Kec. Kab. 5 atau 6. Kabupaten Bangli. peringkat keluarga digolongkan menjadi 4 sampai 6 golongan peringkat (lihat Tabel 3). Kesempatan memasukkan nilai ke form ternyata sekaligus berfungsi melakukan kontrol. Kec. Keluarga dengan nilai tertinggi adalah keluarga terkaya. Bali.Participatory Wealth Ranking 25. Lamaknen. Penghitungan nilai rata-rata dapat dilakukan dengan lancar oleh peserta. 3.

Tabel 4. Hal ini harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran program yang dirancang sebelumnya. 5. Sedangkat di NTT menjadi 6 peringkat keluarga. 10. Contoh: Penduduk dibagi menjadi 4 kategori maka terdapat 10 variasi nilai rata-rata yang muncul.Participatory Wealth Ranking 4. Di Sumatera Utara dan di Jawa Tengah dibagi menjadi lima peringkat keluarga. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat. Peringkat tertinggi. Penggolongan keluarga bervariasi di setiap lokasi. Menetapkan Sasaran Program Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). mungkin keluarga dengan nilai 33 sampai 41. 1. Maksudnya. A 25 25 25 50 50 50 75 75 75 100 B 25 25 50 50 50 75 75 75 100 100 NILAI C 25 50 50 50 75 75 75 100 100 100 JML 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 RATA2 25 33 41 50 58 66 75 83 92 100 PERINGKAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 GOLONGAN PERINGKAT I Paling Miskin II Miskin III IV Dengan memperhatikan karakteristik umum keluarga sesuai nilai rata-rata atau peringkatnya dapat ditentukan “titik batas poin” keluarga yang berhak menjadi sasaran program. Di tiga lokasi. 7. 9. Sasaran program P2FM kemungkinan bukan keluarga dengan nilai terendah. Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah. Jabar dan Bali keluarga digolongkan menjadi 4 peringkat. Variasi Nilai Rata-Rata yang berpeluang Muncul dan Peringkatnya No. 2. maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. (yaitu 112 Puslitbang Kesos . yaitu di Kaltim. yaitu (lihat Tabel). tidak bisa seragam untuk semua lokasi. 4. 6. 8. Keberhasilan Teknik PWR Teknik PWR berhasil dengan baik mengelompokkan secara relatif semua keluarga di setiap lokasi menurut peringkat sosial ekonomi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. 3. Dengan teknik PWR berhasil diidentifikasi keluarga termiskin di setiap lokasi.

Konsistensi nilai di semua lokasi ternyata di atas 90%. Apabila Kelompok Penilai B memberi nilai pada keluarga yang sama sebesar 60 maka nilai tersebut dianggap tidak konsisten.6%) 47 (15. Di bawahnya berturutturut keluarga yang lebih rendah secara sosial ekonomi. Tabel 5. tampak bahwa penilaian yang diberikan Tim Pemeringkat cukup objektif. Sebaliknya apabila skor tidak konsisten lebih dari 10% maka hasil penilaian kelompok itu perlu diragukan. Contoh: Kelompok Penilai A memberi nilai kepada keluarga nomor urut 1 sebesar 20. Di Jabar dan Kaltim konsistensi nilai bahkan mencapai 100%.1%) 276 NTT 151 (98. Jabar dan Bali. Hal tersebut diyakini karena home visit di ke-6 lokasi memperlihatkan keluarga yang memperoleh nilai rata-rata rendah.5%) 0 12 (0%) (3.5%) 166 343 Bali 273 (99. yaitu: konsistensi skor. Standar Keabsahan Data Teknik PWR dilengkapi dengan ukuran keabsahan tersendiri. 2.3%) 153 Puslitbang Kesos 113 . Di setiap lokasi.7%) 2 (1.Participatory Wealth Ranking peringkat 4 di Kaltim. di Bali. Jateng dan NTT nyaris 100%. Distribusi dan persentase keluarga menurut perbedaan nilai No. PERBEDAAN NILAI 0 – 25 (Konsisten) 26 > (inkonsisten) Jumlah Sumut 258 (84. Hasil observasi atas beberapa keluarga miskin setelah proses penilaian selesai.4%) 305 Kaltim 179 (100%) 0 (0%) 179 LOKASI Jabar Jateng 166 331 (100%) (96. Keluarga termiskin adalah keluarga yang masuk pada peringkat satu. peringkat 5 di Jateng dan Sumut dan peringkat 6 di NTT) terdiri dari keluarga terkaya. memang kondisinya miskin. Nilai konsisten yang dimaksud adalah apabila nilai yang diberikan oleh tiga kelompok penilai adalah sama atau kalau berbeda maksimal perbedaan sebesar 25 poin. Apabila 90% konsisten maka hasil penilaian kelompok tersebut dianggap dapat dipercaya. Dengan demikian tampak bahwa teknik PWR dapat menghasilkan data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan. masingmasing peringkat berhasil dideskripsikan gambaran kondisi sosial ekonominya.9%) 3 (0. 1. Alasan lain untuk tidak meragukan keabsahan data yang diperoleh dengan teknik ini adalah: 1.

114 Puslitbang Kesos .4%. nama panggilan. pekerjaan dan nama isteri. Ketika aplikasi PWR dilakukan di lapangan. alamat dan nama isteri. f) Pada proses pemetaan versi The SEF. nilai inkonsisten meliputi 15. PWR cukup cermat. ada saling mengontrol antara peserta. Kelebihan dan Kendala Kelebihan PWR adalah: a) Teknik PWR mudah dipahami dan mudah dilakukan meskipun oleh warga berpendidikan rendah. g) Pada proses pendaftaran nama KK versi The SEF informasi yang dikumpulkan meliputi nama KK. ketiga. Karena: pertama. kedua. proses penilaian dengan kartu memperkecil peluang. peta dapat diperluas sehingga memuat unsur PSKS dan PMKS.Participatory Wealth Ranking 2. d) Dapat mengidentifikasi seluruh keluarga yang bertempat tinggal di wilayah setempat. lebih kaya atau menjadi lebih miskin. c) Masyarakat merasa dihargai karena seluruh proses dilakukan oleh mereka dan sesuai dengan ukuran yang berlaku sehari-hari di masyarakatnya.. masih ada rasa malu para perwakilan warga untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai. tampak bahwa pengumpulan data dapat diperluas/diperdalam sesuai kepentingan. tampak sulit terjadi. PWR berpeluang untuk mengumpulkan data PSKS (Potensi Sosial Kesejahteraan Sosial) dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lebih luas/banyak. Hasil penilaian tiga kelompok penilai di Medan ternyata tidak dapat dipercaya sepenuhnya. atau anak yang sudah menikah tetapi tinggal bersama orangtua/mertua dihitung sebagai keluarga tersendiri. dapat dilakukan di luar jam kerja. Pengecualian terjadi di Medan. b) Waktu pelaksanaan fleksibel. penilaian dilakukan berlapis. e) PWR dengan konsep keluarga lebih membawa nuansa keadilan. Mengamati proses yang terjadi. Upaya seseorang untuk menempatkan sebuah keluarga pada peringkat yang tidak sesuai. Data yang diperoleh tidak sekedar angka tetapi lengkap dengan identitas mulai dari nama KK. seperti janda yang tinggal serumah dengan keluarga anaknya. pekerjaan. peta semata-mata untuk mengidentifikasi keluarga. Keluarga yang sudah tidak lengkap.

Puslitbang Kesos 115 . pemilihan informan (perwakilan warga) harus hati-hati. ketika melakukan penilaian/perbandingan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Kendala dalam pelaksanaan PWR adalah: a) Masyarakat kita sudah terbiasa dengan instruksi. Daftar nilai seluruh KK 6. b) Diperlukan kesabaran fasilitator untuk melakukan seluruh proses. Daftar nama KK seluruh penduduk SPS. Dengan waktu dan tenaga seperti tersebut di atas.Participatory Wealth Ranking h) Pada proses sorting. 4. Daftar nama KK menurut peringkat sosial ekonomi. Hasil lain yang juga tidak ternilai harganya adalah dampak yang ditimbulkan pada pribadi perwakilan warga dan pada masyarakat sebagai kesatuan sosial. dikumpulkan informasi lanjutan tentang kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga. mulai dari termiskin sampai terkaya. seperti dialami selama penelitian. dengan tenaga dan waktu yang sama dapat memperingkatkan lebih dari 200 KK. 5. Indomie VS Jagung Pemeringkatan keluarga dengan Teknik PWR. d) Bahasa dapat menjadi kendala jika tidak ada penterjemah. dapat dilakukan oleh dua orang fasilitator bersama sebanyak 9 orang perwakilan warga untuk sebanyak 150 sampai 200 KK dalam waktu tiga hari. Untuk wilayah perdesaan. Peta wilayah pemukiman setempat 2. seperti pada kasus Wonogiri dan Bangli. Daftar alasan penempatan setiap keluarga pada peringkat tertentu. hasil yang diperoleh meliputi: 1. e) Masyarakat cenderung mengharapkan bantuan. Konsep miskin menurut masyarakat setempat. melibatkan semua kelompok. c) Pada masyarakat di mana hubungan sosial antara kelompok tidak harmonis atau renggang. di setiap SPS. 3. di mana penduduknya homogen dan memiliki interaksi sosial yang relatif tinggi.

Bandingkan jika petugas datang lalu melakukan survey tanpa peduli pendapat masyarakat setempat. Pelaksanaan PWR selain berguna untuk pengumpulan data sekaligus dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi program. Rasa percaya diri tumbuh. 2. PWR menjadi super murah. fasilitator dapat menangkap situasi umum masyarakat. 3. PWR memungkinkan partisipasi masyarakat disalurkan secara representatif dan menghasilkan data secara sistematik. 5. seperti: kecurigaan warga terhadap pendatang (di Bali). Apakah teknik PWR efesien? Mahal atau murah. 6. Mereka dapat melaksanakan sendiri PWR secara berkala baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun kepentingan pihak lain. masyarakat diakui dan dihargai eksistensinya. Pelaksanaan PWR dapat menjadi titik awal (merangsang) muncul dan berkembangnya kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama sesama warga untuk memecahkan masalah masyarakat. hubungan sosial yang kurang harmonis antara kelompok penduduk pribumi dan non pribumi (di Medan). Kesimpulan dan Saran PWR cukup efektif digunakan untuk mengidentifikasi keluarga menurut urutan kemiskinannya secara partisipatif. 4. 116 Puslitbang Kesos . Kalau pembangunan hendak mengejar ”setoran” maka teknik PWR terasa boros dan mahal. Pada pribadi perwakilan warga mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya. ketidakpecayaan warga atas penjelasan aparat pemerintah (di NTT). Pengalaman perwakilan warga mengikuti kegiatan ini dapat dijadikan landasan membangun sistem pegumpulan data PSKS dan PMKS secara berkesinambungan. termasuk pemerintah. Apabila pembangunan kesejahteraan sosial ingin konsisten hendak membangun masyarakat sebagai basis perkembangan mandiri. Perasaan inferior warga bisa diangkat. Sikap selalu menunggu instruksi bisa berkurang. mendidik manusia. Melalui proses pelaksanaan PWR. Sebagai kesatuan sosial.Participatory Wealth Ranking 1. praktis seperti memasak mie instan atau memerlukan waktu relatif lama seperti memasak jagung? Sangat tergantung dari sisi mana pengukuran dilakukan. Teknik ini mudah dilakukan oleh fasilitator yang dilatih secara singkat dan perwakilan masyarakat sekali pun berpendidikan rendah.

maka PWR dapat dijadikan pilihan teknik. 1999. ben Nkuna. sehingga diperoleh pengalaman riil. 1996. Bandung Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusatenggara. DAFTAR PUSTAKA David S Gibbon. CASHPOR Technical Service. Walapun teknik sudah cukup partisipatif tetapi jika tidak digunakan dengan benar hasil akhirnya akan berbeda. Apabila identifikasi dan seleksi sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin hendak dijadikan kegiatan produktif. Puslitbang Kesos 117 . PWR perlu terlebih dahulu digunakan secara terbatas di beberapa kabupaten. Malaysia. Pada aplikasi PWR harus diwaspadai prosesnya dilakukan dengan benar.Participatory Wealth Ranking PWR potensial digunakan untuk menjaring informasi lebih dalam (spesifik) maupun lebih luas. Cost Effective Targeting: Two Tools to Identify the Poor. Berbuat Bersama Berperan Setara: Penerapan Participatory Rural Appraisal. PWR juga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan sistem pengumpulan data berkelanjutan berbasis masyarakat. PWR tidak sekedar mengidentifikasi keluarga miskin dan termiskin. Rianingsih (Ed). Djohani. Negeri Sembilan. Anton Simanowitz. tetapi sekaligus merangsang prakarsa masyarakat. Namun sebelum digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan seleksi sasaran P2FM.

.

Informan ditentukan secara purposive dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi.Pd. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif wawancara dengan para informan. M. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari responden yang bersifat kuantitatif. Adapun 1 2 Diangkat dari penelitian “Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan”-Identifikasi Masalah dan Kebutuhan. Muchtar. Agus Suradika. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif.Pd. observasi. Dr. Drs. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. kebutuhan dan potensi serta untuk mendapatkan konsep model pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan. Rukmini Dahlan. SST.Si. dokumentasi dan focus group discussion. M.Si. M. Anggota : Ir. 2 ABSTRAK Penelitian ini. Hum. Ketua Tim : Drs. Nusa Tenggara Timur dan Papua). Kalimatan Barat.PEMBERDAYAAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN (Identifikasi Masalah dan Kebutuhan)1 Sugiyanto. H. merupakan studi kasus wilayah perbatasan di lima propinsi (Kepulauan Riau. yaitu: pemuka masyarakat (formal. Perguruan Tinggi dan aparat instansi daerah terkait. pengetahun.. S. S. Sekretariat : Bahder Husni. keterampilan serta ketidakmenentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. kesehatan dan lainnya). Untuk itu kebutuhan yang dibutuhkannya antara lain memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi.Sc. Kalimantan Timur. yang diikuti penyajian data. keterampilan.Si. Sugiyanto. M. M.. Ajun Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial.Pd. dan Haryanto. Erliwati Suin. Orsos. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. Masngudin. Marzuki. dengan anggota Tim : Konsultan : Dr. informal).. dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah. ekonomi. Sugiyanto. Prof. Secara umum. LSM.Sos. S. Badan Pendididkan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial.. Departemen Sosial RI. Puslitbang Kesos 119 . M. permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di wilayah perbatasan adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan. BA.

menegaskan.I. termasuk pulau-pulau terluar. sebarannya sangat jarang. penyebaran penduduk di wilayah perbatasan umumnya jarang dan sporadis. misalnya: Kalbar.mil. 120 Puslitbang Kesos . Kaltim. NTT jumlah penduduknya sedikit. Rencana pembangunan itu antara lain: peningkatan keamanan. arus informasi dari dalam negeri kurang dan lebih deras arus dari negeri tetangga. Konsep model pemberdayaan keluarga yang ditawarkan adalah konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. Secara demografis. Abdulhadi (LIPI) mengidentifikasi sejumlah permasalahan di wilayah perbatasan. Di wilayah yang berbatasan darat.dalam Rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar yang beranggotakan 17 menteri . Karena program yang telah dilakukan masih bersifat charity. Kata kunci: Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17. Sedangkan pada perbatasan laut. Oleh karena itu. kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga. yaitu: pergeseran batas negara. Lemhanas R.. 2 Januari 2006).000-an km dan terletak diantara dua benua (Australia dan Asia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) memiliki perbatasan baik darat maupun laut (http//www. sampai kurangnya perhatian dari sektor-sektor terhadap pembangunan wilayah perbatasan (MI. Secara umum intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah dan Orsos telah dilakukan tetapi secara spesifik yang mengarah terhadap pemberdayaan keluarga belum dilakukan. Konsep model tersebut masih perlu diujicobakan dan disosialisasikan ke berbagai pihak agar dapat menjadi program yang lebih efisien dan efektif. pelayanan bagi masyarakat serta penyediaan navigasi pelayaran (MI.504 pulau. masalah perbatasan saat ini merupakan masalah krusial yang harus mendapatkan perhatian khusus. 2004). Menko Polhukkam .Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan potensi (sosial. kemiskinan penduduk. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari perairan dengan garis pantai sekitar 81. 30 Januari 2006). minimnya pembangunan infrastruktur.id). bahkan tidak berpenghuni (KRA XXXVIII.tnial. alam dan SDM) masih sangat terbuka sekali untuk dapat didayagunakan.

tingkat pendidikan rendah. anak-anak yang tidak sekolah dan berbagai masalah sosial lainnya. dan (4) merupakan wadah terjadinya proses sosialisasi awal bagi manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. agar ketenteraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut. dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Keluarga dan pihak terkait lainnya. bahkan tidak tersedia). Menurut para ahli. Pemda. Yang pada umumnya mereka dalam kondisi keterbatasan baik secara fisik (sarana transportasi. unsur Pemda maupun masyarakat (LSM). Soekanto (1990) juga menyatakan. derajat kesehatan rendah dan lain sebagainya). Mutu suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas kesatuan primer ini. Puslitbang Kessos Depsos RI (2006) melakukan penelitian. Akan tetapi. LSM/Orsos dan Perguruan Tinggi. Dalam Undang-Undang Nomor :10 Tahun 1992 dinyatakan. keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia. Dunia Usaha.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Sejalan dengan pemikiran itu. yang dimaksud keluarga adalah keluarga miskin yang tinggal di wilayah berbatasan langsung dengan negara lain. Terkait dengan itu. banyak keluarga (di perbatasan) di dera berbagai masalah seperti: kemiskinan.I. Penelitian ini merupakan input bagi penyusunan konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. kenyataan empirik menunjukkan. (3) menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah pergaulan hidup. komunikasi & lainnya yang tidak memadai. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan. keluarga adalah: (1) pelindung bagi pribadi-pribadi anggotanya. Puslitbang Kesos 121 . bertujuan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan keluarga di daerah perbatasan. rendahnya tingkat pendidikan. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. 1988). atau suami istri dan anaknya. rendahnya kesehatan & nutrisi. perumahan dan sanitasi yang tidak layak. maupun nonfisik (tingkat pendapatan rendah. serta ekplorasi model-model pemberdayaan keluarga baik yang telah maupun sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak di daerah. Dalam konteks penelitian ini. atau ayah dan anaknya. pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan merupakan keharusan. atau ibu dan anaknya. karena keluarga mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. yang nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh unit operasional Departemen Sosial R. (2) unit sosial ekonomi yang secara material memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.

Chambers (1983) mengemukakan konsep perangkap deprivasi (concept of deprivation trap).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Adapun arti dari pemberdayaan (empowerment) itu sendiri merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat. hilangnya kekuatan tawar menawar. Ia menganalisis penyebab kemiskinan sebagai hubungan sebab akibat yang saling berkait dari powerlessness (ketidakberdayaan). utamanya Eropa. Chambers lebih lanjut menjelaskan. Dalam konsep pemberdayaan. membuat rakyat semakin tidak mempunyai kemampuan terhadap permintaan mendadak untuk pembayaran pinjaman atau terhadap permintaan uang suap dalam suatu sengketa. Saling keterkaitan kelima itu dapat dicermati pada gambar berikut: Ketidakberdayaan Isolasi Kerentanan Kemiskinan Kelemahan Fisik Bagan 1. Perangkap Depriasi (Sumber : Chambers. pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan memenuhi kehidupan komunitas mereka. memperumit keadilan hukum terhadap penyelewengan. 1983) 122 Puslitbang Kesos . ketidakberdayaan membatasi akses terhadap sumber daya negara. kesempatan. Ife (1995) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber. vulnerrebality (kerentanan). physical weakness (kelemahan fisik). terdapat dua hal yang saling berkait. yaitu: kondisi berdaya dan ketidakberdayaan. Terkait dengan ketidakberdayaan. poverty (kemiskinan) dan isolation (keterisolisasian).

informan dalam penelitian ini adalah: (a) pemuka masyarakat setempat (formal-informal). dengan menekankan pada menstimuli. Informan ditentukan secara purposive mereka memahami secara baik kondisi daerah perbatasan. (b) orsos/LSM. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. Lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan. dan (e) Desa Silawan (Belu NTT) berbatasan darat dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). dan (2) proses sekunder. Agar kecenderungan primer terwujud. dan focus group discussion. sejumlah permasalahan keluarga yang mengedepan di daerah perbatasan lokasi penelitian adalah: kemiskinan penduduk. observasi. yang diikuti penyajian data. (d) Desa Berakit (Bintan Kepri) berbatasan laut dengan Malaysia & Singapura.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Menurut Oakley & Marsden (1984) dalam Pranarka & Moeljarto (1996). Puslitbang Kesos 123 . memotivasi masyarakat. agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka. mendorong. Responden ditentukan secara random sampling . dokumentasi.kepala keluarga di daerah berbatasan. (c) perguruan tinggi. kekuatan. yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan. tetapi saling terkait. proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. Data kuantitatif dianalisis secara distributive-frekuentif. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan serta keterampilan dan ketidak menentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku. yaitu: (1) proses primer. Atas dasar itu. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. atau kemampuan kepada masyarakat. (c) Dusun Bungkang (Sanggau Kalbar) berbatasan darat dengan Malaysia. Atas pertimbangan itu. lokasi terpilih adalah: (a) Kampung Skouw Sae (Jayapura Papua) berbatasan darat dengan PNG. (b) Desa Pancang (Nunukan Kaltim) berbatasan darat & laut dengan Malaysia. (d) aparat instansi Pemerintah Daerah terkait. seringkali harus melalui proses sekunder terlebih dahulu. lokasi tersebut berbatasan langsung dengan negara lain. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan. agar mempunyai kemampuan/ keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya.

keterampilan. juga bersifat philantropy. Orsos. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. luar negeri). Demikian juga potensi alam (laut. dan ekonomi (pasar). tidak berkelanjutan. Dengan demikian. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. model yang ditawarkan (yang dilihat dari pelatihan. lahan pertanian. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. potensi tersebut model yang ditawarkan ini akan diuraikan melalui variabel-variabel: lokasi penelitian (desa/kecamatan/ kabupaten). raskin. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan adalah: memfasilitasi mereka. potensi. Disamping itu. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. antara lain: jalan. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. juga adanya lembaga-lembaga (informal. permasalahan. dan ketidakberdayan secara sosial. Demikian halnya intervensi sosial yang dilakukan oleh Masyarakat (Orsos/LSM: dalam. BLT/SLT. Disamping itu. transportasi. ekonomi (pasar) dan pemukiman. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. Adapun intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di wilayah perbatasan. serta belum ada program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. adalah: adanya rasa kebersamaan. UEP. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). dan psikologis. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Berdasarkan permasalahan. sekolah. pengetahun. Adapun potensi (sosial. metode. 124 Puslitbang Kesos . baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. kesehatan. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. adalah: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. kebutuhan. penyuluhan. kebutuhan. pendidikan. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi). Intervensi kebijakan pemerintah tersebut di rasakan masih jauh dari yang diharapkan. ekonomi. kesehatan. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. kesehatan. keterisolasian. non formal) lokal. karena masih lebih bersifat charity. kesehatan dan lainnya). politik. untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi.

bahan bangunan perbaikan rumah. Sehingga nantinya didapatkan/dihasilkan model yang variatif untuk setiap jenis wilayah perbatasan. keterisolasian dan ketidakberdayan Puslitbang Kesos 125 . Namun. maka untuk menghasilkan model yang diharapkan memerlukan proses yang panjang. uji coba perlu dilaksanakan berkali-kali untuk meredesign sesuai dengan hasil uji coba. adalah kemiskinan penduduk. Keluarga di daerah perbatasan Diperolehnya pengetahuan. masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam usaha memperkecil kelemahan dan menjawab ancaman. & bantuan UEP Keberdayaan Keluarga Pengawasan Bagan 2. yang mewakili perbatasan darat maupun laut dengan negara tetangga. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa permasalahan umum keluarga di daerah perbatasan. bahan bangunan perbaikan rumah. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan. kebutuhan pokok. keterampilan. tentunya selain di lima wilayah perbatasan yang menjadi sampel penelitiaan ini. Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. bantuan: Pendamping. Model tersebut memungkinkan untuk direplikasikan di tempat lain. Setelah itu bisa di uji cobakan lagi pada daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Nunukan. bimbingan Bantuan teknis (pendampingan) Bantuan: Kebutuhan pokok. Belu dan Jayapura). Oleh karena itu. Model tersebut seperti terlihat pada bagan tersebut di bawah ini : Masyarakat (Pelaku perubahan) Pemerintah (Fasilitator) LMS/Orsos Pemuka Masyarakat Intervensi: Pelatihan. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini nantinya masih terbatas pada lima lokasi penelitian awal (Bintan. & UEP.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan pendampingan) dan user. Sesuai dengan prinsip participatory action research (PAR). Sanggau.

fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi melalui KUBE. kesehatan. antara lain: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. setidaknya untuk dapat mengakses terhadap sistem sumber informasi. serta belum adanya program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. sekolah. kesehatan dan lainnya. Sedangkan intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di daerah perbatasan lokasi penelitian. yang khusus menangani daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. juga adanya lembagalembaga (informal. antara lain: masih kentalnya rasa kebersamaan. Dengan demikian. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. dipandang perlu: (a) penyusunan rancangan perundang-undangan tentang daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. kesehatan.) perlu dirancang suatu konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. (b) membentuk semacam lembaga nasional. pertama: secara internal (Depsos R. kesehatan dan ekonomi (pasar). ekonomi (pasar) dan pemukiman. BLT/SLT. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan antara lain: memfasilitasi mereka. masih jauh dari yang diharapkan. karena masih lebih bersifat charity tidak berkelanjutan. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. Demikian juga potensi alam (laut. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). untuk itu direkomendasikan. 126 Puslitbang Kesos . lahan pertanian. pendidikan. raskin. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. Seperti konsep model yang ditawarkan (prescriptive) tersebut di atas. Disamping itu. Dalam upaya pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. ekonomi. transportasi. Kedua: secara eksternal. sebagai acuan secara nasional dalam upaya mengembangkan daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/ terpencil tersebut dalam rangka memperkokoh rasa nasionalisme dan tetap utuhnya NKRI. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan secara sosial. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. Disamping itu. antara lain: jalan. non formal) lokal.Adapun potensi (sosial.I. misalnya). keterampilan. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. politik dan psikologis. pengetahun.

essex.M. (1988). Pemberdayaan Peran Keluarga Gerungan. analysis and practice. R.W.I. Pranarka. Ife.I. United Kingdom.. Depsos R. Pemberdayaan (Empowerment). W. Jim. (2002). Australia. A. Ditjen. Published by Longman scientific and technical. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco. Pemberdayaan. konsep. Longman Pty Ltd.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan DAFTAR PUSTAKA Chambers. Community Development: Creating community alternatives-vision. (1983). Pemberdayaan Peran Keluarga. Puslitbang Kesos 127 . Robert. dan implementasi. Jakarta: Centre for Strategic and Intenational Studies (CSIS). Rural development: Putting the last first. UU.Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Tugas Di. (1996). D it.A. (1995). & Moeljarto. Nomor: 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluar ga Sejahtera. Vindyandika. Pemberdayaan Sosial.

.

Mujiyadi. dan (3) upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif. S.EVALUASI PROGRAM SUBSIDI PANTI DALAM MENDUKUNG KELANGSUNGAN PELAYANAN PANTI SOSIAL1 Drs. M. Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial. Implikasi kebijakan 1 2 Diangkat dari hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program Subsidi Panti Dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Sosial oleh Drs. Suradi. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 129 . yang hasilnya menunjukkan perubahan positif meskipun baru sebagian kecil panti sosial mengalami peningkatan omset dan aset setelah mendapatkan subsidi. Terkait dengan masalah tersebut adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan UEP. Adapun subsidi Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dimanfaatkan untuk membuka UEP baru atau pengembangan UEP yang sudah ada. Nurdin Widodo (Ketua). Pengaruh subsidi. upaya ini menurut pengelola panti tetap belum bisa membantu biaya operasional panti. Hal ini menggambarkan. Berdasarkan hasil penelitian. Panti-panti sosial pada umumnya masih tetap mengharapkan agar subsidi masih diterima pada masa-masa mendatang. Namun. Data dan informasi digali melalui wawancara. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. pemanfaatan subsidi. bahwa tingkat ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah masih sangat tinggi. Kata kunci: Subsidi Panti. Penerbit Puslitbang Kesos Depsos RI. Dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan. 2006 Nurdin Widodo. B. Nurdin Widodo 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan subsidi oleh pantipanti sosial.Si. Dra Nunung Unayah. (2) pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Harapan panti. Ivo Noviana. sebagian kecil dari panti sudah memiliki upaya konkret dan sebagian lainnya masih berupa gagasan. Drs. DI Yogyakarta. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. AKS. Upaya panti. pada umumnya subsidi makanan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas makan pokok dan makanan tambahan dan memberikan pengaruh positif pada peningkatan kualitas menu makanan dan jenis makanan tambahan. Penelitian ini mengambil sampel lokasi panti di Provinsi Sumatera Utara. MSW. Nusa Tenggara Barat. Drs.Sos dan Muslim Sabarisman.

dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs). pakaian. 1991). (2) kebutuhan sosial-psikologis (social-phsyicological needs). Khusus untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan makan klien. pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan ini. Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah apabila kebutuhan dasar saja tidak dapat terpenuhi. emosional. tempat tinggal dan kesehatan. Disinyalir terdapat lembaga pelayanan sosial yang merasa terancam kelangsungannya dan bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menghentikan kegiatannya Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemauan politik. yaitu (1) kebutuhan dasar (basic needs). Sebab apabila tidak segera dipenuhi akan menimbulkan masalah baik yang bersifat individual (private trouble) maupun gangguan yang bersifat kolektif (public issues). Pada tahun 2005. membagi kebutuhan manusia menjadi tiga jenis.050 orang klien menerima bantuan biaya makanan. yaitu kebutuhan fisik. program ini terus mengalami peningkatan dari segi jumlah subsidi maupun jumlah panti dan klien penerima subsidi. Di dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/HUK/2005 tentang Standardisasi Panti Sosial. 855 panti menerima bantuan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dan 93 panti menerima pengembangan UEP. intelektual. Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah diluncurkannya program Bantuan Biaya Makanan dan Bantuan Usaha Ekonomis Produktif bagi panti-panti sosial di seluruh Indonesia oleh Departemen Sosial. Selo Soemardjan (1997).Evaluasi Program Subsidi Panti Pendahuluan Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan dan sifatnya menuntut pemenuhan dengan sesegera mungkin. Sejak diluncurkan. spiritual dan sosial. ditegaskan bahwa salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh panti sosial adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi makan.308 unit. Krisis ekonomi yang hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga pelayanan sosial mengakibatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini masih merupakan hambatan. Menurut Neil Gilbert dan Harry Spect (dalam Sukoco. panti sosial yang menerima prorgam subsidi sebanyak 4. bahwa setiap manusia dimanapun dan kapanpun secara universal memiliki sejumlah kebutuhan. diharapkan pihak panti sosial melakukan konsultasi dengan ahli gizi dari instansi kesehatan setempat 130 Puslitbang Kesos . dengan rincian sebanyak 149.

Menurut Anthony H. 1980). Melalui konsultasi ini maka pelayanan makan bagi klien. (2) menyediakan pilihan-pilihan kepada penerima pelayanan. Puslitbang Kesos 131 . 2. (2) Programprogram kesehatan yang tidak tercakup oleh program yang dikembangkan oleh swasta. dan (5) Fasilitas umum. Siahaan. yaitu yang ditekankan pada pemberian bantuan uang dan atau barang. 3. Khan (Soetarso. Di negara lainnya digunakan istilah “pelayanan sosial” untuk mencakup apa yang terkandung dalam pengertian pelayanan kesejahteraan sosial di atas ditambah dengan : (1) Bantuan sosial. (4) Program-program ketenagakerjaan. Konsep pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Alfred J. dan (4) meningkatkan keadilan untuk memperoleh kesempatan. Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini. pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh lembaga kesejahteraan sosial disebut dengan “pelayanan kesejahteraan sosial”. (3) Pendidikan. Diketahuinya pemanfaatan subsidi panti oleh panti-panti sosial. tidak hanya bermanfaat secara fisik. terutama untuk anak-anak. pelayanan makan diharapkan akan mencegah atau mengendalikan gangguan fisik dan menjaga kebugaran. Diketahuinya upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan).R. Di negaranegara berkembang tertentu. Kemudian bagi para lanjut usia. adalah : 1. 2004) tujuan pelayanan sosial adalah: (1) memberikan perlindungan kepada orang yang mengalami kehilangan kemampuan.Evaluasi Program Subsidi Panti guna memperoleh daftar menu makan yang memenuhi standar gizi dan kesehatan. Pascal (dalam M. pelayanan kesejahteran sosial dimaksudkan sebagai pelayanan yang difokuskan pada bantuan untuk perorangan atau keluarga yang mengalami masalah penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi sosial atau ketelantaran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial perlu melaksanakan “Penelitian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Program Subsidi Panti dalam mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial”. Perumahan rakyat. akan tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan intelegensi dan psikomotorik. Diketahuinya pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomis produktif (UEP). (3) mengembangkan keberfungsian sosial. Dalam rangka memperoleh informasi tentang bagaimana realisasi subsidi panti tersebut di lapangan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan panti sosial.

Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara. data yang terhimpun dianalisis dengan mempertimbangkan informasi dan masukan dari tiap responden dan informan lainnya yang didapat melalui wawancara. maka penelitian ini dilaksanakan di 5 (lima) provinsi. yang ditentukan secara purposive. analisis dan interpretasi. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. Di setiap lokasi penelitian ditentukan panti sosial sebanyak 10 unit dengan mempertimbangkan variasi panti sosial. Analisis data dilakukan melalui tahapan editing. Secara kualitatif. Panti Sosial Pamardi Putra dan Panti Sosial Tuna Sosial. DI Yogyakarta. Data yang terkumpul. Gambaran Umum Panti Sosial Panti sosial yang menjadi sampel dalam Penelitian ini adalah panti sosial milik pemerintah daerah (74%) dan milik masyarakat (26%). yang dilaksanakan dalam upaya mengetahui kekuatan dan kelemahan program subsidi panti sosial. Sumber data untuk setiap provinsi terdiri dari unsur Dinas Sosial provinsi (2 orang). kategorisasi. Panti Sosial Tresna Werdha. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Dengan demikian jumlah responden di lima provinsi adalah 360 orang (10 orang Instansi sosial. Berdasarkan pertimbangan persebaran data panti penerima program subsidi panti.Evaluasi Program Subsidi Panti Adapun manfaat yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan rasional bagi pimpinan Departemen Sosial dalam pengembangan kebijakan dan program pemberdayaan panti sosial di Indonesia. dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Panti Sosial Penyandang Cacat. Adapun jenis-jenis panti sosial yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah : Panti Sosial Asuhan Anak. panti sosial milik pemerintah daerah tidak 132 Puslitbang Kesos . dengan pertimbangan variasi panti sosial yang menerima subsidi dari Departemen Sosial pada tahun 2005. serta suatu cara menentukan perbaikan bagi para pengambil keputusan di Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Nusa Tenggara Barat. pengelola panti sosial (10 orang) dan klien (10 orang). 100 orang pengelola panti dan 250 klien panti). yaitu Provinsi Sumatera Utara. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluatif research). tabulasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara.

bendahara. Sementara peralatan sound system dan tape recorder baru 22% yang memilikinya. pengasuh dan tenaga lainnya) ada yang berasal dari anggota keluarganya sendiri. Sedangkan pimpinan panti sosial swasta sebagian besar diangkat dan diberhentikan oleh pengurus yayasan. Sebanyak 48% panti sosial memiliki kendaraan bermotor roda empat dan 96% memiliki kendaraan roda dua. Tingkat pendidikan tenaga panti terdiri dari SLTA (44. Sementara peralatan terapi medik.05% diantaranya adalah tenaga tetap. Sumber dana tidak tetap terbesar berasal dari donatur/masyarakat (72%) dan Dinas Sosial provinsi (28%). Sarana teknis seperti modul sebagai alat/panduan pelayanan kepada klien hanya sebagian kecil (26%) panti sosial yang memilikinya dan umumnya panti sosial milik pemerintah daerah.) dan dari donatur/masyarakat sebesar 18%.11%). dibantu oleh beberapa orang kepala seksi yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat (Bupati/Walikota). sarjana dan pasca sarjana (44. Sarana perkantoran yang dimiliki panti sosial berdasarkan data sekunder di setiap panti menunjukkan sebanyak 26% panti sosial belum memiliki komputer.. Yayasan Dharmais (48%). sekretaris. yakni Pegawai Negeri di panti-panti sosial pemerintah. sedangkan tenaga tidak tetap merupakan tenaga honor panti. Peralatan olah raga dan kesenian sebagian besar (88%) sudah memilikinya.Evaluasi Program Subsidi Panti memperoleh subsidi panti. calculator dan brankas dimiliki oleh sebagian kecil panti-panti sosial. sedangkan filling cabinet.99%). Peralatan kantor lainnya seperti meja kerja dan lemari arsip sudah dimiliki oleh panti-panti sosial dengan jumlah terbatas. APBD (32%. tukang cuci dan satpam. juru masak. sarjana muda. Tenaga teknis terdiri dari pengasuh Puslitbang Kesos 133 . Secara struktural panti-panti sosial pemerintah dipimpin oleh seorang kepala. 5 Panti Sosial Lanjut Usia (10%). 7 Panti Sosial Penyandang Cacat (14%). fisioterapi dan alat pijat refleksi dimiliki oleh panti sosial cacat dan panti sosial Napza. 10% belum memiliki telepon dan sebanyak 72% belum memiliki faxcimilie. sedangkan tenaga yang berpendidikan SD dan SLTP (9.77%) bertugas sebagai pengemudi. Sumber dana tetap berasal dari Dinas Sosial provinsi (54%). Adapun jenis dan jumlah panti sosial terdiri dari 32 Panti Sosial Anak Terlantar (64%). bagian gudang. sebagian para pengurus/pengelola panti (kepala. Jumlah tenaga di 50 panti sosial sebanyak 937 orang dan 69. 4 Panti Sosial Tuna Sosial (8%) dan 2 Panti Sosial Napza (4%).

sayur dan lauk pauk. buah ditambah susu.Evaluasi Program Subsidi Panti (37. Rasio ini sangat berat terutama untuk klien penyandang masalah pathologis. Sementara sebagian panti (terutama panti sosial swasta) menyatakan bahwa pekerja sosial yang dimaksud disini adalah relawan sosial yang melaksanakan pelayanan berdasarkan charitatif. pekerja sosial (27. sayur. Menu makanan rata-rata terdiri dari makanan pokok. Namun. perawat. Selain itu pihak kepolisian juga memberikan penyuluhan tentang bahaya Napza. lauk pauk. yaitu rata-rata 3 orang per panti sosial. Hanya sebagian kecil panti sosial yang memberikan menu makan empat sehat dan empat sehat plus berupa nasi. analis laboratorium dan konselor. seperti penyandang cacat dan korban napza. kolak. diperoleh informasi sebanyak 50% panti memberikan menu makan tiga sehat plus berupa nasi. kadang-kadang buah bahkan kadangkadang susu.04%).37%). Sebagian besar panti-panti sosial milik pemerintah daerah berpendapat bahwa tenaga pekerja sosial merupakan tenaga profesi yang seharusnya mempunyai latar belakang pendidikan pekerjaan sosial. Pemahaman tentang pekerja sosial ini di setiap panti berbeda-beda. kacang hijau dan buah-buahan. Dinas Sosial dan BKKKS memberikan dukungan pelatihan manajemen panti. Sedangkan pelatihan keterampilan diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja setempat. dokter/psikiater. Dinas Perindustrian memberikan dukungan magang kerja melalui kerjasama dengan dunia usaha. sayur. psikolog. Sedangkan 36% memberikan makan tiga sehat berupa nasi. sayur. Perbedaan persepsi tentang pekerjaan sosial ini berpengaruh terhadap pelayanan sosial kepada klien Bentuk dukungan paling besar (74%) terhadap panti-panti sosial dalam jaringan kerja adalah bidang kesehatan yang diwujudkan dalam bentuk pengobatan kepada klien di puskesmas dan rumah sakit serta pelatihan keperawatan untuk lanjut usia. Mengenai pemenuhan kebutuhan fisik klien. kadang-kadang buah.32%) dan lainnya adalah instruktur. atau yang pernah mengikuti pelatihan profesi pekerjaan sosial. pelatihan ini baru diberikan sebanyak 46% dari panti-panti sosial. Kantor Urusan Agama memberikan bantuan pembimbing agama/mental kepada klien. Khusus tenaga teknis pekerjaan sosial secara kuantitas masih relatif terbatas. Dukungan dalam bentuk beasiswa diberikan oleh Muhammadiyah dan gereja. lauk pauk. 134 Puslitbang Kesos . yang rata-rata per pekerja sosial mendampingi 74 orang klien. lauk dan pauk. Sedangkan makanan tambahan diwujudkan dalam bentuk kue. kerohanian (13.

bimbingan bicara (spech therapy). sedangkan bola volley. lainnya dalam bentuk wisma (cottage). Jenis bimbingan mental/psikososial yang dilaksanakan di panti-panti sosial meliputi bimbingan agama. Walaupun memiliki tujuan yang berbeda. sebagian besar panti sosial melaksanakan kegiatan senam secara rutin.83% klien tinggal dalam asrama dan 4. Apabila dilihat dari total jumlah klien. pengabdian masyarakat dan gotong royong. Sebagian besar tempat tinggal klien menggunakan asrama (96%). yang biasanya dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal. Kadangkadang pakaian juga diberikan oleh para dermawan pada saat mengadakan kunjungan ke panti. rujukan ke puskesmas atau rumah sakit umum/daerah setempat. Mengenai kegiatan pembinaan fisik. sikat gigi. pelayanan yang diberikan meliputi P3K. seperti yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Remaja. pakaian lebaran. Sebagian besar (98%) Panti sosial juga memberikan peralatan/ perlengkapan mandi seperti sabun mandi. Pemahaman bimbingan sosial di setiap panti berbeda-beda sesuai dengan persepsi pimpinan/pengelola panti sosial. baju koko. Bimbingan keterampilan yang ada di panti-panti sosial memiliki tujuan yang berbeda-beda. yang diberikan setiap bulan dan ada yang tidak setiap bulan. sedangkan pakaian sekolah diberikan sesuai kebutuhan klien. Pelaksanaan bimbingan fisik sebagian besar memanfaatkan tenaga dari dalam panti. dan (3) merupakan kegiatan ekstra kurikuler atau sekedar mengisi waktu luang. sabun cuci. bimbingan kedisiplinan. pramuka dan psikoterapi. Secara umum kegiatan ini mempunyai tujuan: (1) memberikan keterampilan kepada klien. Jenis bimbingan sosial yang selama ini diberikan oleh panti-panti sosial meliputi sosialisasi dengan lingkungan/masyarakat. sebagian besar (86%) panti sosial melaksanakan bimbingan keterampilan Puslitbang Kesos 135 . handuk dan pakaian dalam. 95. pakaian ibadah (sarung. konsultasi. sedangkan penyuluhan kesehatan melibatkan tenaga Puskesmas setempat. mukena) dan pakaian dalam. (2) sebagai terapi dalam usaha membantu penyembuhan klien sebagaimana kegiatan keterampilan yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Laras. odol.Evaluasi Program Subsidi Panti Sebagian besar (96%) panti-panti sosial memberikan pakaian sekolah. sehingga kegiatan ini merupakan program pokok bagi klien dalam panti. Dalam bidang kesehatan.17% tinggal di cottage. sepak bola dan tenis meja dilaksanakan secara insidentil pada sore hari.

yang mendapatkan subsidi sebanyak 2. Panti-panti milik pemerintah daerah untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan tidak mendapatkan subsidi makanan dengan alasan sesuai dengan Surat Edaran dari Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial yang menyatakan bahwa panti milik Pemerintah tidak mendapatkan subsidi ini. Setiap panti sosial ada yang melaksanakan 1 atau 2 jenis keterampilan ada juga yang melaksanakan 3 . 2 % melaksanakan bimbingan keterampilan secara insidentil dan 12 % panti sosial tidak melaksanakan bimbingan keterampilan. Pelaksana kegiatan ini.450 orang atau 66. yang tidak mendapatkan subsidi makanan adalah panti milik Pemerintah (pusat) bukan milik Pemerintah Daerah.693 orang. Dengan demikian.250. Dari 50 panti sosial dengan jumlah klien 3. Bagi panti yang telah memiliki sumber tetap seperti dari APBD (khusus panti pemerintah).per orang sangat signifikan sebagai suplemen pemenuhan makanan klien yang digunakan 136 Puslitbang Kesos . Subsidi makanan yang besarnya Rp. menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. sebagian memanfaatkan tenaga dalam panti. dari Yayasan pendukung utama operasional panti dan sebagainya.5 jenis keterampilan.Evaluasi Program Subsidi Panti secara rutin. ada keleluasaan bagi pengelola panti untuk mengelola subsidi sebatas untuk biaya makanan dan bukan untuk kebutuhan yang lain. yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing panti. Pemanfaatan Subsidi Panti 1. 2.. Subsidi Makanan Panti-panti yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah panti-panti sosial yang mendapatkan subsidi makanan pada tahun 2004 dan 2005. sebagian panti memanfaatkan tenaga dari Dinas Tenaga Kerja. Padahal. Tidak semua panti sosial mendapatkan subsidi makanan sesuai dengan jumlah klien. Koperasi dan dunia usaha.94% dari total klien dalam panti sosial. Jenis bimbingan keterampilan di setiap panti sosial bervariasi. Namun. dari Yayasan Dharmais. Untuk itu pemanfaatan subsidi diserahkan sepenuhnya kepada panti-panti yang menerimanya. subsidi panti dapat digunakan sebagai tambahan sumber dana panti. untuk tahun 2005 ini tidak semua panti yang menjadi responden mendapatkan subsidi makanan.

9. Tabel 1.Evaluasi Program Subsidi Panti untuk menambah jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada klien.100. meski tidak setiap hari. subsidi dimaksud digunakan untuk menambah lauk-pauk. Menu makanan yang diberikan panti kepada kliennya diusahakan sedemikian rupa untuk memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna.500. 1.11.600.9.1.Harga Kebutuhan per orang per hari (Rp) 10.- Panti-panti pemerintah yang mendapatkan jatah SOSH tampak terjadi defisit tiap harinya. Sedangkan untuk panti swasta.1. Membandingkan jatah SOSH dengan HET setempat tampak adanya angka ’minus’ dari anggaran panti untuk mengadakan bahan makanan tiap harinya. 4.Kekurangan (Rp) 2. ada satu panti swasta yang dapat memberikan makanan tambahan.140. Untuk Panti Pemerintah.000. karena tidak memiliki Puslitbang Kesos 137 . Kondisi ini lebih parah dirasakan oleh panti swasta.000. Hal ini berkaitan dengan sudah adanya dukungan APBD untuk menu pokok harian.000. subsidi makanan terkesan menjadi “yang utama”. sehingga tuntutan untuk dapat memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna hampir pasti tidak dapat terpenuhi. Menu makanan yang diberikan panti Pemerintah mengikuti menu yang sudah ditetapkan dengan jadwal yang pasti dan masih dapat memberikan buah dan susu serta makanan tambahan seperti kacang hijau.100.10. Perbandingan SOSH dengan kebutuhan tiap orang No.900. Provinsi Sumut NTB DI Yogya Kalbar Sulsel SOSH (Rp) 7. secara rata-rata maka jumlah anggaran dimaksud antara kurang dan lebih dari mencukupi.1. Hal ini berkaitan dengan tidak adanya/kurangnya sumber dana tetap. 2.1.150.540.11.120.150.11. untuk sebagian panti swasta standar tersebut masih dirasakan sebagai ’utopia’ karena perbandingan jatah SOSH dengan harga setempat masih relatif jauh. ada yang belum/ tidak dapat memberikan makanan tambahan. 5. Apabila dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat untuk jenis barang yang dikonsumsi klien sehari-hari.9. Namun demikian. Untuk itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini. 3. Sedangkan panti swasta. Namun demikian.10.100. makanan tambahan dan susu.620.

dari yang sifatnya ternak.000.. Harga makanan ringan dimaksud ditetapkan Rp 1. Untuk itu dapat dilihat tabel berikut ini. Khusus untuk Yogya. bahwa warung sembako menempati jumlah terbanyak (18.. Kemudian 138 Puslitbang Kesos . Subsidi Usaha Ekonomi Produktif Tidak semua panti responden mendapatkan subsidi UEP yang besarnya Rp 10 juta (subsidi baru) dan Rp 25 juta (subsidi pengembangan usaha). Mengenai variasi jenis usaha/kerja diperoleh informasi. tampak bahwa indeks kebutuhan lebih tinggi. Subsidi UEP 1. Jenis Subsidi UEP yang didapatkan No.untuk makanan ringan dimaksud..92%).untuk Yogya merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan panti-panti di provinsi lain. tampak bahwa beberapa panti hanya mampu memberikan makanan seadanya kepada kliennya. Tidak ada UEP Jumlah 31 panti 4 panti 15 panti % 62 8 30 Dari 31 panti yang mendapatkan subsidi UEP baru dan 4 panti yang mendapatkan subsidi pengembangan UEP dan dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha.150. Banyak panti swasta yang hanya dapat merasakan lauk pauk enak apabila klien panti dimaksud diundang untuk acara selamatan di masyarakat sekitar panti atau panti mendapatkan hantaran dari masyarakat dalam wujud makanan matang. Di Yogya panti milik pemda memberikan snack/ makanan ringan pada medio pagi dan sore.Evaluasi Program Subsidi Panti sumber dana tetap seperti yang dimiliki panti pemerintah. Dari pengamatan pada waktu penelitian. meskipun secara umum diketahui bahwa HET relatif lebih murah bila dibandingkan dengan provinsi lain. Klien tidak setiap saat mendapatkan jatah lauk pauk yang memenuhi standar gizi dan bahkan kalau mereka mendapatkan makanan harian hanya dalam wujud nasi dan sayur yang dimasak dengan cara diberikan banyak kuah. Pengembangan 3. usaha kerja hingga usaha jasa.tiap kali dan dengan demikian tiap hari diperlukan Rp 2. 2. Baru 2. Jadi nilai Rp 11. Tabel 2.000. Selain itu diketahui bahwa terdapat panti yang mengembangkan usahanya dalam 1 jenis atau lebih jenis usaha.

masing-masing panti kemudian menjalin relasi dengan pihak lain sehingga diharapkan dapat mencapai peningkatan kemampuan kerja/produksi sekaligus dalam rangka pemasaran. Didapatkan informasi bahwa sebagian toko memberikan kemudahan seperti mengambil barang terlebih dahulu dan baru membayar kemudian setelah barang dagangannya terjual. analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. kambing dan sapi. Adapun jalinan kerja dimaksud. foto copy. terutama bagi panti yang mengembangkan UEP dalam bentuk jualan sembako. Jalinan terbesar ke dua adalah dengan PT Telkom. Ini berkaitan dengan jenis usaha yang dikembangkan panti.25%) dan lain alasan. yakni Wartel atau Warnet. peningkatan kemampuan hingga upaya pemasaran. Sedangkan jenis usaha lainnya.69%).33%). bengkel. pemasaran dan penyuluhan kesehatan. menjahit. Pengaruh Subsidi Untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh program subsidi panti ini. tanaman hias.Evaluasi Program Subsidi Panti wartel dan rental komputer menempati urutan ke dua (10. Jalinan dimaksud terutama dalam rangka pengadaan bahan dagangan. antara lain: ternak ayam. diklat perbengkelan. yang didukung oleh tabel destribusi frekuensi dan diagram.81%). Alasan pemilihan jenis usaha ini berkaitan dengan pemasaran (31. Sementara itu. salon. Dalam memanfaatkan dana subsidi UEP. Bentuk kerjasama/dukungan terhadap Panti Sosial antara lain praktek kerja. SDM/pengelola (13. bengkel dan pertukangan. lokasi (21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalinan terbanyak adalah dengan toko. Pilihan ini tentunya berkaitan dengan kemudahan pemasaran dari hasil usaha/ kerja yang dipilih. budidaya lele. Puslitbang Kesos 139 . Meskipun demikian terdapat panti yang tidak melakukan jalinan kerja sama karena usahanya ada yang memang sudah dalam keadaan tidak operasi dan sebagian merasa dapat mengatasi sendiri masalahnya. koperasi/simpan pinjam. untuk jalinan dengan lembaga/institusi lain adalah dalam rangka peningkatan keterampilan dan pemeliharaan usaha. Kerja sama dengan pihak lain baik dunia usaha maupun institusi dimaksudkan sebagai praktek kerja. antara lain dengan pihak dunia usaha serta institusi milik pemerintah dan masyarakat.

Pada aspek frekuensi makan. Namun. Sebelum menerima subsidi. lauk-pauk. Misalnya. menu yang telah disusun tersebut belum dapat dilaksanakan setiap hari karena keterbatasan anggaran. yaitu frekuensi makan. Menurut ahli gizi. makanan dikatakan sehat apabila secara umum telah memenuhi empat sehat lima sempurna. Di lapangan. yaitu nasi. empat sehat dan empat sehat plus yang menggambarkan skala ordinal. 140 Puslitbang Kesos . Makanan Beberapa aspek terkait dengan makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini. Aspek kedua dari makanan adalah menu makan klien dalam panti sosial yang menggambarkan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh klien. bahwa panti sosial belum sepenuhnya mengikuti daftar menu makanan yang yang telah disusun. untuk pemberian buah-buahan dan susu. Namun demikian. khusunya dalam hal frekuensi makan. buah-buahan dan susu. Pada umumnya sebagian besar panti sosial sudah menyusun menu makan per hari bersama ahli gizi setempat. pada umumnya panti sosial memberikan 2 . program subsidi panti tidak memberikan pengaruh yang signifikan. sayur. atau ada penambahan sebesar 4 persen. tiga sehat. 96 persen panti sosial sudah memberikan makan tiga kali sehari dan kemudian menjadi 100 persen setelah menerima subsidi. data yang dikumpulkan hanya memenuhi 2 (dua) ukuran yaitu tiga sehat dan tiga sehat plus yang akan dianalisis kemudian. Perubahan ini dinilai bermakna. Ukuran ini sebagai dasar bagi peneliti untuk mencermati menu makan yang disediakan panti sosial.3 kali seminggu.Evaluasi Program Subsidi Panti 1. maka menu makan yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 (lima) ukuran. peneliti menemukan data. karena dengan subsidi panti akhirnya seluruh panti kini sudah sesuai dengan Standardisasi Panti Sosial dalam pemberian makanan. Berdasarkan kondisi lapangan itu. tiga sehat plus. menu makan (yang menggambarkan kualitas makanan) dan makanan tambahan. yaitu dua sehat.

Makanan Tambahan Setiap hari Kadang-kadang Tidak ada Jumlah Sebelum F % 4 8 28 56 18 36 50 100 Sesudah F % 6 12 42 84 2 4 50 100 Berdasarkan data tersebut. Dari ketiga aspek yang dicermati dalam penelitin ini bahwa : 1) Pengaruh terhadap frekuensi atau kuantitas permakanan. Namun. baik terkait dengan tumbuh kembang (bagi anak-anak) atau kesehatan (bagi orang dewasa). Perbandingan sebelum dan sesudah subsidi dari makanan tambahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Aspek berikutnya untuk melihat pemenuhan makanan klien adalah pemberian makanan tambahan. 2) Pengaruh terhadap menu atau kualitas : a) Terjadi penurunan dari semula 36 persen menjadi 6 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat (pindah ke tiga plus). 2. Kualitas Makan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. klien panti sosial memerlukan makanan tambahan sebagai tambahan gizi. b) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 94 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat plus. Makan Tambahan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. Menu Makanan Tiga sehat Tiga sehat plus Jumlah Sebelum F % 18 36 32 64 50 100 Sesudah F % 3 6 47 94 50 100 Berdasarkan tabel di atas. terjadi peningkatan dari semula 96 persen menjadi 100 persen panti sosial yang memberikan makan 3 kali sehari. Makanan tambahan memang tidak termasuk makanan utama. program subsidi panti memberikan pengaruh positif pada penyajian menu atau kualitas makanan panti sosial. 1. Puslitbang Kesos 141 . program subsidi panti dapat disimpulkan berpengaruh positif dan signifikan pada kemampuan panti dalam memberikan makanan tambahan. 2.Evaluasi Program Subsidi Panti Tabel 3. 1.

bahwa pengaruh subsidi terhadap pemenuhan kebutuhan makanan pada panti-panti sosial pada kategori rendah. Usaha Ekonomis Produktif Berbagai jenis UEP diselenggarakan oleh panti sosial. penambahan omzet/ minggu. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengelola panti sosial. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi untuk kegiatan UEP. panti sosial sudah memberikan kebutuhan makanan relatif baik. Jenis-jenis usaha yang merupakan usaha tambahan dari usaha utama. bahwa pada umumnya sebelum menerima program subsidi panti. dengan rincian 5 panti menambah satu jenis usaha dan 3 panti menambah 2 jenis usaha. tetapi secara kualitatif memberikan manfaat yang sangat besar. 2. Berdasarkan informasi tersebut disimpulkan. program subsidi panti sangat membantu kelancaran proses pelayanan dan karenanya perlu dilanjutkan. dilihat dari aspek frekuensi. yang hasilnya dapat diambil harian. b) Terjadi peningkatan dari semula 8 persen menjadi 12 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan setiap hari. ada 4 aspek yang dicermati dalam penelitian ini. 142 Puslitbang Kesos . Hal ini menggambarkan bahwa panti sosial pada umumnya sudah memiliki pemahaman akan eksistensinya sebagai organisasi pelayanan manusia (human service organization). Meskipun secara kuantitatif pengaruh program subsidi panti relatif rendah. c) Terjadi peningkatan dari semula 56 persen menjadi 84 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan kadangkadang (2-3 kali seminggu). Dalam rangka mengetahui pengaruh subsidi bidang UEP. mingguan maupun bulanan.Evaluasi Program Subsidi Panti 3) Pengaruh terhadap makanan tambahan : a) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 96 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan. menu dan makanan tambahan. yaitu penambahan jenis UEP. sebesar 8 panti sosial (25%) sudah berkembang (ada penambahan jenis UEP). yaitu berkisar 30 persen. yaitu rental komputer. penambahan aset dan pemanfaatan untuk kebutuhan operasional. Panti sosial sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan klien. Data ini menunjukkan.

peralatan pesta. Aspek ini dilandasi pula oleh anggapan dasar. lemahnya administrasi pengelolaan UEP ini tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak penerima program subsidi panti.61%) memiliki omzet berkisar Rp.000/minggu hingga Rp. bahwa dalam waktu minimal 1 tahun panti sosial sudah mampu menambah asetnya dari hasil mengelola UEP. Hal ini menggambarkan. maka sudah terjadi peningkatan omzet. yaitu peralatan rumah tangga. mereka memang tidak pernah memperoleh bimbingan pembukuan dalam pengelolaan UEP. Oleh karena itu. sebagian besar (82. pada panti sosial yang mengalami penambahan omzet. karena data obyektif dalam bentuk data kuantitatif tentang omzet ini tidak dapat diperoleh.000. 2. Perhitungan omzet ini hanya berdasarkan perkiraan pengelola saja. Hal ini berarti terdapat 6 panti sosial yang menerima subsidi pengembangan UEP digunakan untuk menambah modal usaha utamanya. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP..-/minggu atau ratarata Rp. Sebagian besar (75%) panti sosial masih mengelola usaha utama dari program subsidi.-/bulan. Berdasar informasi yang dihimpun dari pengelola. yang berkisar Rp. Namun demikian.88%) mengalami peningkatan omzet. Hal ini merupakan kendala dalam penelitian ini. Aspek kedua dari UEP adalah penambahan omzet dari usaha yang dikelolanya. Dari 32 panti sosial yang mengelola UEP. 165.000. 25. Aspek ketiga dari pemanfaatan subsidi untuk UEP adalah penambahan aset panti sosial. Aspek ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana UEP yang dikelola panti sosial mengalami perkembangan dari kondisi awal. tanpa didukung oleh bukti tertulis berdasarkan pembukuan yang baik. 660. meskipun sebanyak 14 panti sosial (43.-/minggu.000. ternak ayam dan wartel. Puslitbang Kesos 143 . 350. bahwa apabila panti sosial sudah mengelola UEP dengan baik minimal selama 1 tahun.000.000.75%) menerima subsidi untuk pengembangan UEP.-Rp. bahwa UEP yang dikelola oleh panti sosial belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan.atau rata-rata omzet Rp.000. hanya 4 panti sosial yang sudah mampu menambah aset masing-masing 1 jenis. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.Evaluasi Program Subsidi Panti traso. 25. Hal ini didasari anggapan dasar. sebanyak 23 panti sosial (71.

Berdasarkan informasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 6 panti sosial (6. bahan dasar. Sedangkan 81. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. 3) Terjadi penambahan aset pada 4 panti sosial (12. diperoleh informasi sebagai berikut : 1) Terjadi penambahan jenis UEP pada 8 panti sosial (25%). dikarenakan besarnya omzet tersebut per minggunya masih relatif rendah. Kebutuhan operasional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang mendukung secara langsung pemenuhan kebutuhan klien. Pada umumnya Dinas Sosial memang melakukan 144 Puslitbang Kesos . alat penerangan.000. yang menonjol pada penambahan omzet. pengadaan alat-alat keterampilan dan pendidikan. Informasi ini menggambarkan.5%) yang sudah mengalami penambahan aset. antara lain peralatan rumah tangga. 4) Terjadi penambahan kebutuhan operasional pada 6 panti sosial (6.25% belum ada penambahan kebutuhan operasional panti.Evaluasi Program Subsidi Panti Aspek berikutnya terkait dengan UEP ini adalah penambahan untuk kebutuhan operasional.-/minggu. bahwa ada proses dalam pengelolaan UEP yang tidak tepat. Dari keempat aspek yang dicermati untuk mengetahui pengaruh program subsidi panti terhadap pengelolaan UEP. Hal ini menggambarkan pula lemahnya proses monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Instansi Sosial Provinsi terhadap proses pengelolan UEP.75%). traso dan ternak ayam.88%) yang besarnya sebagian besar rata-rata Rp. penambahan omzet tersebut belum meng gambarkan keberhasilan panti dalam mengelola dan mengembangkan UEP. alat-alat penerangan. 2) Terjadi penambahan omzet pada 23 panti sosial (71. Jenisjenis UEP antara lain rental komputer. alat-alat keterampilan dan pendidikan. antara lain untuk mendukung makanan tambahan. antara lain penentuan jenis UEP. Namun demikian. pemasaran dan pembukuannya. 165. keterampilan pengelola. peralatan pesta. disimpulkan bahwa program subsidi panti berpengaruh relatif rendah terhadap pengelolaan dan pengembangan UEP. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor. yaitu penambahan pada kebutuhan makanan.75%) dari 32 panti sosial yang mengelola UEP sudah dapat menambah kebutuhan operasional.

maksud dan tujuan dari program tersebut sulit direalisasikan. 50 persen panti sosial merencanakan mengembangkan UEP. dan bahkan ada yang akan mengurangi jumlah kliennya. Puslitbang Kesos 145 . termasuk kepada pemerintah.Evaluasi Program Subsidi Panti monitoring dan evaluasi terhadap UEP yang dikelola panti-panti sosial. terutama untuk kebutuhan makanan. Hal ini menunjukkan kemandirian panti sosial dalam pembiayaan program dan kegiatannya masih cukup rendah Harapan Panti Terhadap Program Subsidi Masih ada kekhawatiran para pengelola panti sosial apabila pada saatnya nanti program subsidi panti ini dihentikan. Informasi ini relevan dengan informasi sebelumnya bahwa sumber dana panti sosial. khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan. Lainnya masih bergantung pada pihak luar. Namun demikian. sebagian besar masih berasal dari pemerintah. Program subsidi panti yang dialokasikan untuk UEP ini didasarkan pada pemikiran. dan akibatnya panti sosial mengelola UEP berdasarkan kemampuannya sendiri. Mereka masih mengharapkan program subsidi panti terus dilanjutkan. Namun demikian. Oleh karena itu. Menurut para pengelola. informasi yang diperoleh dari kegiatan itu tidak segera ditindaklanjuti. Upaya Panti Mengatasi Masalah Pembiayaan Dalam kaitannya dengan upaya panti mengatasi permasalahan pembiayaan. apabila tidak ada dukungan pemerintah. apabila UEP dikelola dengan baik. sebesar 28 persen panti sosial belum memiliki upaya atau jalan keluar apabila program subsidi panti ini dihentikan. 72 persen panti sosial sudah memiliki rencana mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi dihentikan. Sementara itu. maka nantinya panti sosial tidak terlalu bergantung pada pihak lain. dan panti sosial masih bergantung pada bantuan pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan. upaya untuk memotong mengurangi ketergantungan panti sosial kepada pemerintah masih sulit diwujudkan untuk beberapa tahun ke depan. Dari jumlah tersebut. maka panti sosial akan menanggung beban yang amat berat dalam penyelenggaraan pelayanan.

Sedangkan untuk UEP. demi kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pada panti-panti sosial. Berbagai persoalan administratif maupun teknis disinyalir terjadi secara berulang-ulang. sehingga kesulitan ketika menghitung berapa besarnya manfaat ekonomis dari program subsidi panti. jumlah klien yang diusulkan. Harapan berikutnya adalah pelatihan pengelolaan UEP dan pendampingan. Dana yang dialokasikan pemerintah pusat dalam program subsidi panti tersebut cukup besar. 38. sehingga akan mengurangi ketergantungannya terhadap pemerintah dan pihak luar lainnya. belum secara signifikan memberikan manfaat bagi panti-panti sosial.Evaluasi Program Subsidi Panti Selain bantuan makanan.911 per tahun. Pada pemanfaatan pemenuhan makanan dirasakan oleh pengelola cukup membantu. Khusus untuk tahun 2005. Departemen Sosial terhadap panti-panti sosial. rata-rata setiap panti sosial menerima dana sebesar Rp. Hasil dari UEP yang bersumber dari subsidi panti tidak dibukukan tersendiri. program subsidi ini pada umumnya. sampai dengan pertanggungjawaban administratif.247. maka akan memiliki sumber dana tetap yang berasal dari panti sendiri. Implikasi Kebijakan Sebagai suatu obyek penelitian. tetapi belum dapat diketahui secara pasti seberapa besar dampak tersebut.48 persen. terutama pada pemberian makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. Hal ini menggambarkan cukup besarnya dukungan pemerintah cq. rata-rata mencapai 53. Manfaat memang telah dirasakan oleh pengelola. Proses awal penentuan panti sosial yang layak sebagai calon penerima program. 146 Puslitbang Kesos . Pada umumnya pengelola panti sosial belum melakukan pencatatan atas penggunaan subsidi untuk UEP ini. Bias kepentingan ini akan semakin parah apabila proses supervisi. monitoring dan evaluasi tidak dilakukan dengan baik. dari 50 panti sosial yang menjadi obyek penelitian ini. karena skema dari program ini rawan terjadi penyalahgunaan. merupakan titik-titik yang lemah terjadinya bias kepentingan. baik oleh penanggung jawab program di Instansi Sosial Provinsi maupun Departemen Sosial. panti sosial juga mengharapkan adanya bantuan untuk UEP. Apabila panti dapat mengelola UEP. Besarnya dana subsidi panti ini apabila dilihat dari besarnya anggaran makanan pada panti sosial. program subsidi panti ini menarik karena dari tahun ke tahun besarnya anggaran yang dialokasikan terus mengalami kenaikan.

dan (3) panti-panti sosial akan semakin kreatif untuk mengembangkan skema pelayanan yang profesional.Evaluasi Program Subsidi Panti Meskipun diantara panti-panti sosial sudah menerima program subsidi lebih dari satu kali. Sementara itu. 28 persen panti sosial belum menyusun langkahlangkah untuk mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi panti ini dihentikan. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari pengembangan UEP ini. maka skema program subsidi panti akan lebih tepat apabila diarahkan pada bantuan untuk pengembangan UEP. terutama dalam memilih jenis UEP yang prospektif dan dalam waktu cepat dapat memberikan hasil. Dalam upaya menjawab permasalahan ketergantungan panti sosial tersebut. mulai dari kegiatan seleksi panti sosial hingga terminasi. Hal ini semakin menegaskan. yaitu: (1) mengurangi ketergantungan panti sosial pada pemerintah. Persoalannya adalah bagaimana kemampuan panti sosial mengelola UEP tersebut. Puslitbang Kesos 147 . Meskipun penelitian ini menjangkau sample panti sosial yang sangat terbatas (50 panti sosial). Perlu dilakukan evaluasi dari unit di luar penyelenggaran program atau pihak independen. masih menghaharapkan dana pada pihak luar. Berdasarkan hasil penelitian. panti sosial yang sudah menyusun langkahlangkah pun. maka supervisi. Terutama mengurangi ketergantungan panti sosial terhadap pemerintah dan semakin mendorong profesionalisme panti sosial dalam penyelenggaraan pelayanan. bahwa program subsidi panti belum mampu mendorong panti-panti sosial mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah. tetapi informasi yang diperoleh terkait dengan bantuan kepada panti-panti sosial dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain program yang tepat. monitoring dan evaluasi perlu dilakukan dengan baik. tetapi mereka masih sangat mengharapkan program tersebut tidak dihentikan. Pada kerangka inilah diperlukan peran Instansi Sosial Provinsi untuk memfasilitasi panti-panti sosial tesebut menentukan pilihan UEP yang tepat. (2) memperkuat komitmen dan percaya diri pengelola panti sosial di bidang pelayanan kemanusiaan. Hal ini menggambarkan. Terkait dengan itu. bahwa program subsidi panti pada umumnya belum mampu mendorong kemandirian panti sosial. sehingga akan diperoleh informasi yang obyektif tentang efektivitas pelaksanaan program subsidi panti ini.

dalam penelitian ini sulit untuk mengetahui secara tepat dampak program subsidi untuk biaya makanan. yaitu nasi. yakni dari satu jenis menjadi dua atau tiga dan dari seminggu sekali menjadi dua kali. Kemudian. Meskipun klien yang diusulkan untuk memperoleh subsidi jauh lebih kecil dari yang diusulkan. lauk dan buah-buhan meskipun tidak setiap hari. tetapi seluruh klien yang ada di panti sosial ikut menikmati subsidi tersebut. atau baru menjangkau 66. pada umumnya untuk makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. Diharapkan adanya perubahan kualitas dan frekuensi serta jenis makanan tambahan ini akan semakin meningkatkan derajat kesehatan klien. Selain itu berpengaruh pula pada frekuensi dan jenis makanan tambahan. Pemanfaatan subsidi untuk makanan ini. Penentuan UEP yang tepat sepenuhnya diserahkan kepada panti-panti sosial sendiri. Baru 148 Puslitbang Kesos . yaitu pemenuhan kebutuhan makanan dan usaha ekonomi produktif (UEP). Namun demikian. sarana dan bahan baku. meskipun belum signifikan. Untuk makanan tambahan. kondisi UEP panti setelah menerima program juga menunjukkan adanya perubahan positif. sayur. Dana dari program subsidi panti dimanfaatkan oleh panti sosial untuk membuka UEP baru ataupun pengembangan UEP yang sudah ada. pada prakteknya baru sebagian kecil UEP yang bisa mendukung kegiatan operasional panti sosial. bahwa subsidi panti dirasakan besar manfaatnya bagi panti-panti sosial dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien. Ada perubahan positif pada peningkatan kualitas menu makanan yang semula tiga kali sehari. diperoleh data kualitatif. diarahkan pada frekuensi pemberian makanan tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa panti-panti sosial masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan UEP. subsidi dimanfaatkan untuk menambah menu.94 persen.Evaluasi Program Subsidi Panti Kesimpulan dan Saran Panti-panti sosial pada umumnya memanfaatkan subsidi panti untuk dua kegiatan besar. pasar. Sedangkan berkaitan dengan menu. Namun demikian. Oleh karena itu. seperti susu dan buah meskipun pemberian susu dan buah ini pada umumnya belum setiap hari. yaitu nasi sayur dan lauk kemudian menjadi tiga sehat plus. Program subsidi panti untuk biaya makanan memberikan pengaruh cukup nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien dalam panti-panti sosial. Panti-panti sosial menentukan jenis-jenis UEP didasarkan pada aspek tenaga.

kapan panti sosial akan dikurangi subsidinya atau dihentikan sama sekali. Sebagian kecil dari mereka telah memiliki gagasan menemukan jalan keluar apabila program subsidi ini nantinya tidak dilanjutkan. mark up jumlah klien dan kelayakan panti sosial untuk menerima program. sehingga panti sosial tepat dalam memilih jenis UEP dan mampu mengelolanya dengan baik. Diharapkan subsidi untuk kegiatan UEP ini nantinya akan mengurangi ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah. penyaluran bantuan UEP ini perlu diawali dengan pelatihan UEP dan diikuti dengan pendampingan.Evaluasi Program Subsidi Panti sebagian kecil panti sosial yang mengalami peningkatan omzet dan aset setelah menerima program subsidi panti. Hal ini menunjukkan panti justru semakin sulit melepaskan ketergantungannya pada pemerintah. Terkait dengan UEP ini adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan terhadap panti sosial dalam pengelolaan UEP. c. Seleksi terhadap panti sosial calon penerima subsidi berdasarkan kondisi riil panti sebagaimana adanya. Berdasarkan hasil penelitian ini. Puslitbang Kesos 149 . Sebagian besar panti sosial masih mengharapkan program subsidi ini terus diterimanya. b. Hal ini menggambarkan. Pemerintah perlu menetapkan jangka waktu yang tegas. diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pengelola dan penanggung jawab program subsidi panti. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya panti fiktif. Panti sosial diberikan kebebasan untuk mengelola UEP menurut caranya sendiri dan pada prakteknya panti sosial tidak tepat ketika memiliki UEP yang prospektif. Bantuan UEP perlu menjadi priroritas dibandingkan dengan subsidi untuk makanan. yaitu: a. tidak memperoleh prioritas sebagai penerima program subsidi panti. Panti sosial yang sudah mandiri. Terkait dengan itu. Penanggung jawab program bertanggung jawab terhadap panti sosial yang diusulkan sebagai penerima program dan memiliki data by name by address atas panti-panti sosial yang diusulkan. bahwa sebagian besar panti sosial penerima program subsidi panti masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pemerintah untuk kelangsungan hidupnya. yang diikuti dengan kriteria dan indikator yang terukur.

Social Work Practice : Model and Methode. B. Studi Pengembangan Panti Sosial Pamardi Putra Sebagai Panti Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Yang Komprehensif dan Profesional. ————————. perlu dilakukan pengawasan lebih ketat mulai pada tahap penentuan panti-panti sosial calon penerima program sampai dengan penyaluran dananya. Jakarta : Ikatan Sosiologi Indonesia. 2000. Perlu dibangun kemitraan secara sinergis antara penanggung jawab program pada unit Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Puslitbang Kesos. Pincus. Itjen. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. sehingga setiap daerah besarnya alokasi anggaran per orang/panti akan berbeda-beda. Allen and Anne Minahan.Evaluasi Program Subsidi Panti d. 2003. Oleh karena itu. DAFTAR PUSTAKA Departemen Sosial RI. Program subsidi panti sangat rawan dengan penyimpangan. Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Usaha Ekonomis Produktif. Mujiyadi. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. 1997. dkk. “Kemiskinan Pandangan Sosiologi”. e. Selo Soemardjan. Indonesia.. 150 Puslitbang Kesos . Puslitbang UKS. Jurnal Sosiologi. Nomor 2/September 1997. Puslitbang Kessos dan instansi sosial di daerah untuk mengawal program subsidi panti ini agar mencapai tujuan yang diharapkan. 2005. tetapi perlu diupayakan agar pencairan dana tidak terlambat sampai ke pengelola panti sosial dan akan mempengaruhi efektifitas program itu sendiri. Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Tambahan Biaya Makanan/Gizi.2003. f. 1973. Besarnya subsidi hendaknya disesuaikan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat (khusus makanan). Pedoman Akreditasi Panti Sosial. —————————. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Mekanisme pencarian dana melalui PT POS tetap dipertahankan. 2003. —————————-. Illinois : Peacock Publisher Inc . Standardisasi Panti Sosial. Selo.

Introduction to Sosial Work Practice. Makalah dokumen pribadi (tidak diterbitkan).Evaluasi Program Subsidi Panti Shortell. Saint Louis: The C. S. 2004. Puslitbang Kesos 151 . Dwi Heru. New York : Mac Millan Publisher Co. Bandung : STKS Publisher. Health Program Evaluation. Siporin. Siahaan. W. 1978. Max. Soetarso. KOPMA Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial : Bandung. Inc. MPR. Profesi Pekerjaan Sosial. Praktek Pekerjaan Social dalam Pembangunan Masyarakat. Sukoco. Beberapa Catatan dalam Praktek Pekerjaan Sosial.M.C. (1975).V Moshy Company. and Richardson. (1990). (1991).

.

Achmadi Jayaputra M. penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. Penelitian ini merekomendasikan suatu model pelayanan lanjut usia dalam kerabat melalui : penguatan ekonomi kerabat bagi lanjut usia yang tidak potensial dan ekonominya lemah. Setyo Sumarno. Namun.Si.Nina Karinina. dkk. Berbagai kebijakan. Lokasi penelitian di Sumatera Utara. Hasil penelitian bahwa pelayanan sosial dalam kerabat merupakan salah satu nilai budaya setempat yang membuat lanjut usia merasa aman dan terlindungi dalam lingkungan kerabat. permasalahan lanjut usia dan pelayanan yang dilakukan oleh kerabat. Puslitbang Kesos 153 . belum dapat memecahkan permasalahan yang ada. Drs. FGD. Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. peneliti: Dra.PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN ( Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia)1 Dra. Nusa Tenggara Barat. secara fisik umumnya merasakan tercukupi. Jawa Timur. apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia ? Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan lanjut usia. Permasalahan lanjut usia yang paling dirasakan adalah masalah kesehatan. Sri Gati Setiti. yang telah berfungsi dalam pelayanan lanjut usia secara tradisional belum dioptimalkan. Dra. Untuk memeriksakan penyakit. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Sri Gati Setiti. Dilain pihak. Departemen Sosial RI. program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Pertanyaan dalam penelitian ini. Sementara kekerabatan sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial. Harapan lanjut usia maupun kerabat adalah tempat serbaguna yang berfungsi pelayanan dan kegiatan lanjut usia. Ditinjau dari kebutuhan hidup pokok kecuali ekonomi. studi dokumentasi dan observasi. kerabat merasa sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai nilai budaya dan agama yang dianutnya. Sri Gati Setiti 2 ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia seiring dengan jumlah penduduk lanjut usia. Hal ini guna mengembangkan konsep model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. lanjut usia berharap pelayanan khusus bagi lanjut usia atau Posyandu lansia yang murah dan mudah dijangkau. Drs. 1 2 Diangkat dari Penelitian Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). ed: Prof Dr. tehnik pengumpulan data dengan wawancara. Pendekatan deskriptif kualitatif. Rusmin Tumanggor. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial.

Pada sisi lain.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan pengembangan lembaga organisasi lanjut usia yang memiliki berbagai kegiatan yang bersifat psikis. Upaya tersebut belum memadai dibanding populasi dan permasalahannya yang kompleks. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial tahun 2006 melakukan penelitian ”Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan”. dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. sebagai sumber kesetiakawanan sosial yang mampu memecahkan permasalahan sosial didaerahnya. Day Care Service maupun Day Care Centre. Berdasarkan beberapa hal tersebut. Penanganan masalah sosial merupakan bagian dari dan berakar pada nilai tolong menolong yang dikenal hampir semua suku bangsa di Indonesia. pembinaan generasi muda dalam upaya pelestarian nilai budaya dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang optimal. kita memiliki kearifan budaya. diiringi jumlah dan persentase penduduk lanjut usia. Kata Kunci: lanjut usia. Mereka mengalami berbagai keterlantaran. Berbagai kebijakan dan pelayanan dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. 154 Puslitbang Kesos . Pelayanan Sosial. diantaranya terkena tindak kekerasan oleh orang lain maupun kerabatnya. Peran kerabat dalam masyarakat di seluruh Indonesia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. Hal ini sebagai prestasi sekaligus tantangan/beban. sekaligus merupakan potensi yang luar biasa. Baik melalui sistem panti maupun nonpanti atau berbasis masyarakat. Dalam berbagai budaya yang kita miliki. Tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan lanjut usia dihormati. Kekerabatan Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup. disamping kendala dana maupun petugas. Dewasa ini lanjut usia yang tertangani melaui sistem panti maupun nonpanti kurang dari 2% dari 2. Hal ini perlu diangkat dan dikembangkan. penanganan lanjut usia juga masalah lainnya. maupun ekonomi. seperti Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). Sebagian pelayanan cukup memadai. tetapi banyak yang memberikan pelayanan secara terbatas. diatur dalam tradisi masyarakat.3 juta lanjut usia.

Memahami tentang kebutuhan. Mengidentifikasi nilai-nilai terkait dengan pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Secara umum bertujuan. Bagi instruktur kediklatan. untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan model pelayanan lanjut usia. Bagi pemberi pelayanan menjadi alternatif pelayanan. 2. b. merumuskan pokok-pokok pikiran tentang kerangka dasar pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan (kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. sehingga merubah pola dan kegiatan anggota keluarga yang berdampak kepada pelayanan bagi lanjut usia. Menyusun kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan Manfaat Manfaat yang dapat dipetik bagi pemerintah. Lanjut usia yang terlantar semakin mudah kita saksikan disekitar kita. Keterlantaran baik disebabkan oleh kondisi yang berubah. bagaimana pelayanan dilakukan oleh kekerabatan terhadap lanjut usia? Permasalahan yang akan diteliti: Apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia? Tujuan 1. Secara khusus bertujuan: a. permasalahan dan harapan lanjut usia. Puslitbang Kesos 155 . Keterlantaran lanjut usia juga disebabkan oleh semakin memudarnya nilai dan penghargaan kepada lanjut usia. sebagai dasar ilmiah perumusan kebijakan publik untuk menyelesaikan masalah pelayanan lanjut usia. Bagi akademisi.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Permasalahan Ketidakseimbangan antara pelayanan sosial yang tersedia dan permasalahan yang ada. d. menjadi materi trainers. Memahami bentuk pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan c. Pada sisi lain belum ada pelatihan bagi pendamping kerabat yang melayani lanjut usia. berpengaruh kepada pelayanan lanjut usia. Berdasarkan uraian tersebut. untuk uji coba pada penelitian tahap II tahun 2007).

Kekerabatan mengangkat pendapat Suryono Sukanto (1990). yang dipanggil ”kekerabatan”. yakni pelayanan dalam panti dan pelayanan luar panti. berpedoman kepada pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. mengacu kepada UU no 13 Th 1998. Dari deskripsi teoritis tersebut. Kerangka Konseptual dalam Pelayanan Lanjut Usia Berikut preposisi teoritisnya adalah : ”Lanjut usia akan dirawat di lingkungan kerabat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. Goode (1985) dan Koentjaraningrat (1990). Sementara pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh kerabat pada suku bangsa yang diteliti. kerabat angkat (adoptif kin). emosional dan spiritual serta sosial dan faktor ekonomi menjadi komponen penting dalam mencapai berbagai kebutuhan tersebut”. sebagai berikut : Sosial Emosi/Spiritual Kesehatan fisik/psikis Lanjut usia Patrilineal Parental LU dilayani saudara lakilaki LU dilayani anak laki-laki LU dilayani anak perempuan dan anak laki-laki LU dilayani saudara isteri atau saudara suami Ekonomi Bagan 1. kerabat karena kawin mawin (afinal kin).Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Tinjauan Teoritis Definisi lanjut usia menitik beratkan kepada usia seseorang yang lebih dari 60 tahun. 156 Puslitbang Kesos . Adapun pelayanan lanjut usia. Kekerabatan dalam penelitian ini adalah orang sedarah (consanguinal kin). maka kerangka konseptual dalam penelitian ini.

Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. Suku Bugis dan Makasar. lanjut usia laki laki disapa Nene. Dalam etnik Bugis. lanjut usia laki laki Melayu Sambas disapa Nek Aki. lanjut usia laki laki disapa Opung Bulang. wanita disapa Toa Baine. untuk perempuan disapa Nek Wan. untuk laki-laki disapa Ai dan perempuan disapa Mi. Nusa Tenggara Barat. Suku Dayak dan Melayu. sedang untuk perempuan juga disapa dengan Embah. Penelitian dilakukan di Sumatera Utara. Pada suku Sasak di NTB. Hasil Penelitian Pemahaman tentang Lanjut usia Adanya penyamaan persepsi tentang sapaan atau istilah lanjut usia. untuk perempuan disapa dengan Wai. Wawancara berstruktur kepada lanjut usia. lanjut usia laki laki disapa Nenek atau Nek aki. Di Sulawesi Selatan. Pada etnik Bima. Wawancara mendalam untuk informan kunci. Pada suku Madura. Sapaan tentang Lanjut Usia Lanjut usia dalam berbagai etnis memiliki sapaan yang berbeda. Di Kalimantan Barat. Suku Sasak dan Bima.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. untuk perempuan disapa dengan mbah putri (halus: eyang putri). diteliti suku Melayu dan Toba. Etnik Makassar. lanjut usia Laki laki disapa Pupung. untuk perempuan disapa Kajao. Dalam budaya Melayu. Observasi pada lingkungan tinggal lanjut usia dirawat. Pada suku bangsa Jawa lanjut usia lakilaki disapa dengan mbah kakung (halus: eyang kakung). Diskusi terbatas kepada pejabat terkait pada tingkat provinsi. kerabat yang melayani lanjut usia. FGD pada: Kerabat. Berbeda halnya dengan Melayu Kapuas. Di Jawa Timur. lanjut usia Laki laki disapa Ompu (Tuak /halus). untuk wanita disapa dengan Opung Nini. Secara sosial budaya mewaklili sistem kekerabatan patrilineal dan parental. Pada suku Batak. berlaku pada masing masing daerah sebagai berikut : 1. Suku Jawa dan Madura. Pada Suku Dayak. lanjut usia Laki laki disapa Toa Baina. wanita Puslitbang Kesos 157 . yang disajikan dalam studi kasus. lanjut usia laki laki disapa Embah lanang. untuk perempuan disapa Ninik. Tokoh Agama/masyarakat setempat.

anak yang tinggal berdekatan atau anak yang paling disenangi. berlaku sama pada semua etnik yang diteliti. maka kewajiban akan berpindah kepada adik laki lakinya. Berlaku untuk semua etnik yang diteliti. Dalam budaya Jawa. Perubahan yang terjadi pada semua etnik yang diteliti. disapa dengan Nenek. lanjut usia tinggal bersama anak perempuan. lanjut usia cenderung memilih tinggal pada anak peremuan atau yang paling disukai. Jawa dan Sasak juga Bima. Pada etnik Melayu dan Dayak. sudah memiliki cicit. lanjut usia senang untuk pulang kampung ke Bima. Namun. ditemukan lanjut usia tinggal pada kerabat garis Ibu atau tinggal berpindah antara anak satu dan lainnya.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 2. Namun. Kerabat yang tinggal di rumah panjang itulah yang bertanggung jawab kepadanya. yang menganut garis kerabat patrilineal. Ciri ini berlaku untuk etnik Batak. Hal ini karena adanya pengaruh budaya sekitar yang turut memberi warna pada istilah atau sapaan kepada lanjut usia yang berlaku bagi daerah tersebut. walau demikian biasanya menempatkan lanjut usia bersama dengan anak tertua atau adiknya. Ciri ciri lanjut usia. kecuali di Kalbar. secara budaya lanjut usia tinggal bersama kerabat ayah. 3. disepakati lanjut usia bila telah memiliki cucu. Pada etnik Sasak dan etnik Bima. banyak ditemukan lanjut usia senang tinggal di rumah panjang. Temuan dilapangan lanjut usia tinggal bersama anak yang tinggalnya berdekatan. yang disepakati dari hasil FGD adalah: lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun. Secara umum pola tinggal mereka mengikuti garis kerabat. Dalam Budaya Batak. Ciri lainnya. Pada Etnik Bima. yang mengikuti garis parental. bila sudah pensiun dan anak-anak mereka sudah menikah. 158 Puslitbang Kesos . Walau demikian panggilan tersebut kadang ada yang sedikit berbeda. Ciri lainnya termasuk mereka yang sering sakit-sakitan atau fisiknya sudah lemah. lanjut usia dapat secara bebas tinggal bersama kerabat pihak laki laki maupun pihak perempuan. Walau demikian. lanjut usia akan tinggal pada anak laki laki pertama atau adiknya. Bila tidak dapat dilakukan. Etnik Bugis dan Makassar mengikuti sistem parental. secara adat tinggal bersama anak laki laki tertua atau adiknya. memiliki kebiasaan khusus. Pola tempat tinggal bagi Lanjut Usia.

atau tetangga/kerabat jauh. Model yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka. dingin. Makanan yang tidak keras. Bila sakit segera diobati. Lanjut usia membutuhkan teman yang sabar. Kebutuhan fisik lanjut usia meliputi sandang pangan. angin. sering disapa dan didengar nasehatnya. Puslitbang Kesos 159 . terlindungi dari mara bahaya dan dapat untuk melaksanakan kehidupan sehari hari. Secara umum pelayanan kepada lanjut usia dilakukan oleh kerabat yang paling dekat. membutuhkan dikunjungi kerabat. Lanjut usia dirawat oleh kerabat sedarah. tidak asin dan tidak berlemak. 2. Kebutuhan makan umumnya tiga kali sehari ada juga dua kali. Tidak kena panas. Kondisi Lanjut Usia. Obat obatan ringan sebaiknya selalu siap didekatnya. Lanjut usia juga butuh rekreasi. Kebutuhan psikis.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 4. yang mengerti dan memahaminya. Kerabat yang melayani Lanjut Usia. kondisi lanjut usia yang rentan membutuhkan lingkungan yang mengerti dan memahaminya. dekat kamar kecil dan peralatan lansia secukupnya. Kebutuhan papan. dibutuhkan pakaian yang nyaman dipakai. silaturahmi kepada kerabat dan masyarakat . Mereka membutuhkan teman ngobrol. murah. Kebutuhan Lanjut Usia 1. kemenakan dan saudara sepupu. Kebutuhan sandang. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sangat vital. Pilihan warna sesuai dengan budaya setempat. hujan. selain itu juga dilakukan oleh kerabat atas hubungan perkawinan atau adopsi.Dibutuhkan fasilitas pelayanan pengobatan rutin. gratis dan mudah dijangkau. pelayanan dilakukan oleh anak. kesehatan dan spiritual. secara umum membutuhkan rumah tinggal yang nyaman. Pada kenyataannya. papan. Frekuensi pembeliannya umumnya setahun sekali sudah mencukupi.

ada juga yang tidak terpenuhi. Bagi lanjut usia yang masih produktif membutuhkan keterampilan. melalui kegiatan keagamaan. Tetapi. UEP dan bantuan modal usaha sebagai penguatan usahanya. Secara umum kerabat membelikan satu kali setahun. sekelompok kegiatan dan masyarakat di lingkungannya. sesuai dengan kemampuan kerabat. menantu. secara umum kerabat melayani makan tiga kali sehari. Kadang mereka hanya memberikan obat dari warung atau ramuan tradisionil atau 160 Puslitbang Kesos . Kondisi ekonomi kerabat yang terbatas. Terutama yang berasal dari kerabatnya.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 3. Pelayanan Lanjut Usia oleh Kerabat 1. Kebutuhan sosial lanjut usia membutuhkan orang-orang dalam berelasi sosial. Ada yang menyajikan nasi. umumnya mereka mengisi waktu untuk beribadah. Pelayanan fisik. Pelayanan di bidang papan. hanya mampu menyediakan tempat tinggal seadanya. Pelayanan sandang. Kerabat yang menyajikan makanan umumnya anak. Lanjut usia kadang mesti menyesuaikan dengan makanan apa adanya. Ada juga yang ditambah dengan buah. olahraga. 5. bagi lanjut usia yang masih potensial biasanya membeli sendiri. Kebutuhan ekonomi. sayur dan lauk. Mereka sangat mendambakan generasi penerus yang sungguh sungguh dalam menjalani ibadah. Melalui Ibadah lanjut usia mendapat ketenangan jiwa. Keterbatasan ekonomi juga membuat kerabat tidak mampu melayani pengobatan secara medis. keponakan perempuan yang tinggal satu rumah/berdekatan. juga teman sebaya. Namun. membutuhkan bantuan sumber keuangan. arisan dan lain-lain. keterbatasan ekonomi membuat mereka makan seadanya. Terutama kerabat. pencerahan dan kedamaian menghadapi hari tua. Bagi lanjut usia yang tidak mampu biasanya diberi oleh kerabat jauh atau masyarakat. Makanan yang disajikan sesuai kemampuan mereka. Kebutuhan spiritual. bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap. Secara ekonomi lanjut usia yang tidak potensial membutuhkan uang untuk biaya hidup. Sementara kerabat menambahkan pakaian kesukaan mereka. 4.

Pelayanan sosial kerabat berusaha menemani berbicara. Lanjut usia ada teman ngobrol.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan berobat ke dukun. bahan mentah atau memberikan makanan siap saji. ada satu dua ditemukan lanjut usia mendapat perlakuan tidak baik. diantaranya kelompok keagamaan. Selain hal tersebut diatas. dilakukan kerabat dengan memenuhi kebutuhan dasar hidup lanjut usia. juga teman sekampung asal (kasus Bima) dll. Bagi yang memiliki kartu miskin. seperti kata ”mapakau untuk Bugis/Makassar” lanjut usia ditemani untuk ngobrol. Bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial. sebagai tempat mencurahkan isi hati. 4. 2. berusaha menjauhkan dari anak agar tidak gaduh. Kesemuanya dilakukan secara gotong royong. lanjut usia diantar cucu atau kemenakan untuk bertemu dengan teman sebaya. Kerabat mencarikan pasangan. Pada sisi lain. mudah tersinggung dll. dimesjid atau dimajelis taklim. pengajian. kerabat juga memperhatikan lanjut usia yang ditinggal mati pasangannya. Pelayanan ekonomi. memberikan kabar keluarga dan berita secara umum. dilakukan oleh kerabat yang mengerti dan memahami lanjut usia yang kadang perilakunya berubah seperti: kekanak kanakan. diberikan kesempatan bekerja bersama kerabat. secara intensif mereka bekerja secara kelompok (kasus Sasak). Pelayanan spiritual dilakukan oleh kerabat dengan menyediakan sarana dan peralatan ibadah. juga teman sekelompok. Bagi yang masih potensial. 3. seperti dibentak bentak. Kerabat menemani saat beribadah di rumah. Pelayanan psikis. rewel. dengan oleh oleh kesukaanya. didengar nasehatnya dan didengar kaluhannya. mereka masih harus menghadapi biaya transpotasi yang mahal. Lanjut usia juga diberikan kegiatan bersama kelompoknya. Kerabat berusaha untuk sering mengunjungi. olah raga. yasinan. kelompok adat dan lain-lain. Orang tua selalu memesan agar mengerti kepada lanjut usia. Melakukan kegiatan keterampilan untuk memperoleh penghasilan. didengar nasehatnya. 5. kelompok silaturahmi. arisan. Sekalipun demikian. prosedur yang berbelit dan pelayanan yang sering tidak menyenangkan. Beberapa etnik yang diteliti. Puslitbang Kesos 161 . kerabat memberikan uang. Ketika menjalani ibadah. pendamping dalam menjalani hidup.

dalam bentuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). olah raga. pakaian. penambahan Gizi. pemanfaatan waktu luang. ternak ayam. safari ibadah. yakni sistem pelayanan sosial di dalam panti dan pelayanan diluar panti. rekreasi. Mereka bergabung dalam Karang Wredha. Setiap panti sosial memberi penampungan. balas budi dan membahagiakan orang tua. Sedang kerabat dapat memetik manfaat kepuasan batin dalam memberikan pengabdian. Karang Lansia dan lain lain. jaminan hidup. bimbingan sosial dan spiritual. Kegiatanya secara umum berupa penambahan Gizi. Kegiatan edukasi berupa keterampilan dan bantuan modal. Pelayanan lanjut usia yang dilakukan oleh masyarakat. umumnya berbentuk Orsos. Lanjut usia merasakan kedamaian berada ditengah kerabat. ada juga sapi (Sulsel) dan Bantuan Peningkatan Gizi pada semua provinsi. Bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dibidang ternak itik. ternak kambing. Selain itu juga KUBE dan UEP. Kesehatan dan Informasi. kesehatan. Program pelayanan diluar panti berupa: pemberdayaan lanjut usia melalui dana Dekon. Masing masing provinsi memiliki panti sosial Tresna Wreda. Diskusi bersama tokoh dan Dinas terkait 162 Puslitbang Kesos . Pemberdayaan lanjut usia melaui DAU dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan Orsos. Dalam kegiatan usaha kesejahteraan sosial berupa kunjungan orang sakit dan bantuan bagi warga yang meninggal. Pandangan Kerabat tentang Nilai-nilai yang Terkait Lanjut Usia Secara umum kerabat menghendaki lanjut usia tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat. kerja bakti dan penggalakkan tanaman obat.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Pelayanan oleh Pemerintah dan Masyarakat Pelayanan sosial oleh Pemerintah melalui dua sistem. Hal ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak.

Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Cara ini sesuai dengan agama. yang ditanggung secara bersama. cepat dan mudah. Kerabat masih mendengarkan dan menjalani nasehat lanjut usia. Lanjut usia mengalami berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit non infeksi yang sulit disembuhkan. Pelayanan sosial bagi lanjut usia perlu dipisahkan antara yang potensial dan yang tidak potensial. memperlakukan secara kasar. Ada yang menemani ketika berobat. masyarakat dan pemerintah Harapan kepada kerabat: pelayanan dinjalani secara ikhlas dan wajar. Secara ekonomi. Bila ada perbedaan. ada yang melayani ketika memerlukan bantuan. tidak sabar. Puslitbang Kesos 163 . Bagi yang tidak potensial memerlukan bantuan ekonomi. Kondisi ini kini mulai bergeser. baik ucapan atau perlakuan fisik. bersama anak perempuan/anak bungsu atau anak yang paling disayangi. melalui keluarga yang merawat. sebaiknya dirawat masyarakat sekitarnya. memerlukan kegiatan usaha ekonomi produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerabat sebaiknya mengerti dan memahami yang baik dan tidak baik dilakukan kepada lanjut usia. sepanjang tidak mencelakakan. Mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya. Harapan kepada kerabat. Melayani lanjut usia harus bisa berlaku sabar. dilakukan sesuai garis kerabat yang dianutnya. Bagi yang potensial tetapi miskin. Bila lanjut usia sakit. Bila tidak sanggup melakukan. Permasalahan penting bagi lanjut usia adalah permasalahan kesehatan. memenuhi perintahnya. Lanjut usia perlu” diisi perutnya dan dipelihara mata dan telinganya”. dapat menyampaikan dengan cara yang tidak menyinggung. Melalui wadah ini lanjut usia dapat melakukan aktifitas sesuai dengan keinginan mereka. Kerabat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan lanjut usia. segera diberikan obat atau dibawa berobat. memerlukan pelayanan sesuai kondisinya. Pelayanan psikis. Bagi lanjut usia yang tidak memiliki kerabat. banyak ditemui lanjut usia tinggal dan dirawat oleh anak yang tinggal berdekatan. Kondisi fisik yang mengalami kemunduran. Mereka memerlukan wadah (Karang lansia/karang wredha) atau bentuk lainnya. Hal yang buruk . Lanjut usia memerlukan pelayanan kesehatan rutin yang murah (gratis). lanjut usia potensial memerlukan silaturahmi dan anjang sana. sumber dana yang digunakan untuk merawat lanjut usia berasal dari kerabat. lanjut usia sebaiknya dirawat di panti sosial. maupun budaya yang mengikat mereka.

5. Memberikan penyuluhan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkait dengan lanjut usia kepada generasi muda tentang: 1. Membentuk wadah kegiatan lanjut usia seperti: Karang wredha/Karang Lansia. kerja keras. Memberi jaminan hidup kepada lanjut usia yang tidak potensial dengan kerabat tidak mampu. hidup bersama masyarakat. Kerabat yang merawat lanjut usia nonpotensial 2. sekalipun tenaga/dana yang disumbangkan tidak seberapa. setia dengan adat budayanya. Mendorong dan memfasilitasi bagi yang sudah terbentuk. Konsep Model KERABAT LANJUT USIA POTENSIAL PEMBERDAYAAN EKONOMI PEMBERDAYAAN GENERASI MUDA PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN PRANATA LANJUT USIA PENGUATAN KESEHATAN LANJUT USIA Bagan 2. KONSEP MODEL PELAYANAN LANJUT USIA 164 Puslitbang Kesos . bagi lanjut usia potensial. Harapan kepada masyarakat: Memperlakukan lanjut usia dengan wajar. Menyediakan fasilitas umum untuk lanjut usia. Harapan kepada Pemerintah: agar mengembangkan program penanganan ekonomi. juga jaminan hari tua bagi lanjut usia. mudah. rajin belajar. 4. Menyumbangkan ilmu dan pengalamannya. Lanjut usia yang masih potensial 3. Memberi fasilitas pengobatan rutin. murah/gratis). Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia ( dekat.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Harapan yang sangat tinggi kepada kerabat untuk tekun beribadah. Penyuluhan bagi generasi muda tentang nilai nilai yang terkait dengan lanjut usia. Penguatan & pemberdayaan pranata lanjut usia yang OBH maupun OTBH. menjaga dan meneruskan nilai nilai demi masa depan yang baik. Berpartisipasi dalam iuran. mudah dan gratis dengan memberi kartu sehat lansia. gotong royong.

Umumnya menderita kaku sendi/lengan dan sulit bergerak. (c) Kebutuhan makan. (b) Lanjut usia yang tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat (c) Lanjut usia yang tinggal di rumahnya sendiri. (b) Lanjut usia potensial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). lanjut usia memerlukan makanan bergizi sesuai kebutuhannya. Pola tinggal lanjut usia yang diteliti : (a) Lanjut usia tinggal mandiri dan dirawat oleh kerabat. Puslitbang Kesos 165 . (d) Lanjut usia suami isteri. 4.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Kesimpulan dan Rekomendasi 1. Pelayanan lanjut usia oleh kekerabatan memiliki nilai budaya sebagai berikut: (a) lanjut usia sebaiknya dirawat oleh anaknya/keluarga/ kerabat. Lanjut usia yang sakit dapat beribadah dan mendengarkan radio/televisi. Bilamana tetangga tidak ada yang merawatnya. alternatif terakhir dirawat di Panti Sosial Lanjut Usia. (b) lanjut usia yang tidak punya anak. Kebutuhan lanjut usia meliputi: (a) Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang paling dirasakan lanjut usia. cucu dan lain lain. (e) Secara sosial lanjut usia menginginkan dikunjungi kerabat. (c) bilamana tidak memiliki kerabat. Permasalahan kesehatan: yang sulit disembuhkan/tidak bisa sembuh karena usia. sesuai budaya dan kebutuhannya. sebaiknya dirawat tetangga. Kesimpulan 1. (b) Kebutuhan rohani. katarak. 3. darah tinggi. bagi lanjut usia yang masih sehat dan kuat. dirawat oleh tetangga. osteoporosis dan penyakit penuaan lain. yang berpotensi sebagai sumber kesos. kurang pendengaran. sebaiknya dirawat oleh kerabat: adik kandung/sepupu. Bagi yang sudah terbaring di tempat tidur memerlukan perlengkapan seperti pampers. umumnya terlantar dan tinggal di daerah rawan. (d) Kebutuhan pakaian. Sedangkan bagi lanjut usia potensial ingin berkunjung ke teman/ kerabat. tinggal di rumahnya sendiri. tetapi tidak ada biaya untuk menyediakannya. 2. Ada dua kategori lanjut usia: (a) Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). penyakit jantung. (e) Lanjut usia dirawat oleh sepupu/ keponakan. ingin beribadah sesuai agama masing masing. keponakan.. mereka terorganisir dalam Karang Wredha/Karang Lansia dan lain lain. perlak dan lainlain. 5.

(d) Pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan dapat dikembangkan karena sistem nilai budaya setempat di lima wilayah yang diteliti mendukung upaya tersebut. menginginkan pelayanan khusus yang dekat. Rekomendasi 1. bimbingan dari pemerintah. terutama untuk pemenuhan gizi dan berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal. agar ada peningkatan ekonomi dan dapat mencukupi kebutuhan lanjut usia secara lebih baik. 2. (b) untuk memeriksakan penyakit. untuk pelayanan kesehatan. (e) Pelayanan lanjut usia dalam kerabat yang diteliti sudah memenuhi harapan. yang memiliki UEP. pertemuan/arisan dan pameran hasil keterampilan. sekaligus sebagai kegiatan ekonomi maupun sosial kepada mesyarakat. mudah. dengan memberi dukungan dana. Penguatan ekonomi bagi kerabat yang lemah. Penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 6. (c) Lanjut usia potensial yang mempunyai UEP barhasil memberi lapangan pekerjaan. Harapan para lanjut usia: (a) Menginginkan tempat pertemuan serbaguna. 3. 5. 4. yang didukung dengan tenaga dan pelayanan medis secara memadai. Posyandu. rutin. mudah dan gratis. memberikan berbagai motivasi melalui penyuluhan dan mempraktekannya dalam bersikap dan berperilaku sehari hari. Para lanjut usia merasa aman dan terlindungi berada dilingkungan kerabat. agar lanjut usia dapat menyumbangkan ilmu dan keterampilannya. Pembinaan generasi muda dilakukan dengan memperkuat sistem nilai budaya masing masing. 166 Puslitbang Kesos . organisasi sosial maupun kelompok peduli. ketrampilan. Meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan cara pelayanan kesehatan lanjut usia. 2. murah/gratis dan dekat. Pengembangan lembaga/organisasi lanjut usia. ingin dicontoh generasi muda dan didukung pemerintah.

Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Selatan. Idayu Press. Philadephia. Jakarta . Miami University. Jakarta . Hamid. Scripps Foundation Gerontology Center. 1985. 1997. dkk. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Aging Community and Change. San Fransisco. Wadswort Publishing Company. California Division Wadsworth Inc. 1983. ________. Jayaputra. Wadsworth Publishing Company. Direktorat Jenderal Kebudayaan. BPPKS. 1991. Manusia Bugis Makassar. Adat Istiadat Daerah Jawa Timur. Harver & Row Publisher. the Challange and Promise of the Later Year. Gramedia. Kajian Tentang Model-model Pelayanan lanjut usia Berbasis Masyarakat Melalui Pusat Santunan Asuhan Dalam Keluarga. Atchley. Jambatan. 1977. 1990. 1999. Hardywinoto. Pramuwito. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Achmadi dan Setyo Sumarno. 1999. BPPKS. Jakarta . Aging Community and Change. Puslitbang Kesos 167 . Koentjaraningrat. Jakarta.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Jakarta. Jakarta . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1983. Penelitian Uji Coba Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia Berbasis Masyarakat. Robert C. Jakarta. Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup Para lanjut usia ”Panduan Gerentologi” Tinjauan dari Berbagai Aspek. Belmont California. & Toni Setyabudhi. 1982. New York. Loius Lowy. Social with the Aging. Belmont. ___________ .

.

taman bacaan anak. Puslitbang Kesos 169 . MPM 2 ABSTRAK Penelitian pengembangan komunitas peduli anak bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang pembentukan komunitas peduli anak. selain pandangan masyarakat tentang hak anak dan kebutuhannya. pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang mampu sekolah dan pelatihan keterampilan. Kepedulian diwujudkan dalam bentuk kelompok belajar. termasuk mengikutsertakan keluarga pada pelatihan usaha ekonomi produktif. Alit Kurniasari. mengidentifikasi potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas serta mengidentifikasi bagaimana bentukbentuk kepedulian komunitas. Kalimantan Barat/Pontianak. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi kasus yang dilakukan di 6 wilayah (Sumatera Utara/Medan. Dukungan pemerintah melalui paket belajar dan pelatihan keterampilan telah memberi warna pada kegiatan komunitas. Neni Riani. minimnya pemahaman 1 2 Diangkat dari penelitian Komunitas Peduli Anak dengan anggota Alit Kurniasari (Ketua). Sumatera Selatan/Palembang. Pendampingan secara intensif dari tokoh komunitas. pelayanan sosial tidak hanya bagi anak. tetapi juga menjangkau keluarga atau orang tua. Banyaknya permasalahan anak-anak terlantar dan anak jalanan telah memprakarsai tokoh agama. kelompok bermain dan TK. kelompok remaja mesjid dan praktisi sosial. Adapun hambatan yang dihadapi komunitas seperti terbatasnya jaringan kerja komunitas. melalui pemberian keterampilan usaha. Pandangan tentang anak dan kebutuhannya memotivasi komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan hak anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komunitas peduli anak dilatarbelakangi oleh kondisi faktual di masing-masing wilayah. Gunawan. Sulawesi Selatan/Makasar. Departemen Sosial RI. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Dukungan pengusaha setempat terhadap kelanjutan pendidikan serta keterlibatan LSM yang peduli pada kesehatan dan pendidikan anak. untuk membangun komunitas peduli anak. yang berpihak pada anak dan tidak bias gender. Pada beberapa wilayah.PENGEMBANGAN KOMUNITAS PEDULI ANAK 1 Dra. Sri Utami. Nusa Tenggara Timur/Timor Tengah Selatan). Alit Kurniasari. Potensi dan sumber pendukung untuk mengembangkan komunitas seperti nilai ajaran agama sebagai pengikat kegiatan komunitas. Jawa Timur/Surabaya. lembaga sosial masyarakat yang peduli anak didukung keterlibatan pengusaha setempat maupun pemerintah menjadi sumber motivasi bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi aktif kedalam komunitas. Tety Ati Padmi.

Departemen Sosial melalui Direktorat Pelayanan Sosial Anak yang telah lama dan berpengalaman dalam membina dan memfasilitasi pelayanan sosial anak baik dalam maupun luar panti. Implikasinya adalah berbagai elemen seperti LSM. kemampuan pemerintah tidak sebanding dengan meningkatnya permasalahan anak. Rativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990.Pengembangan komunitas Peduli Anak masyarakat bahwa komunitas sebagai ‘modal sosial’ yang dapat dikembangkan. fasilitasi pemerintah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. mulai dari legalitas tingkat global sampai tingkat nasional. baik secara kuantitas maupun kualitas. 170 Puslitbang Kesos . Komunitas Peduli Anak Pendahuluan Kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak menjadi bagian penting dari pembangunan kesejahteraan sosial. Lembaga Perlindungan Anak di daerah yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan dan elemen masyarakat. peningkatan kemampuan pekerja komunitas. Pemerintah melakukan berbagai aksi. Dunia Usaha dan pemerintah berupaya merealisasikannya dalam berbagai kegiatan. Kata kunci: Hak Anak. yang bertujuan untuk mengupayakan tingkat kesejahteraan dan perlindungan anak seoptimal mungkin. Jumlah anak terlantar. untuk mengembangkan komunitas peduli anak perlu membentuk jejaring kolaboratif antar sektor terkait. kebijakan tentang keberadaan komunitas sebagai bagian dari Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah gencarnya dengan kegiatan lembaga nonpemerintahan lainnya. perlunya mengkampanyekan kegiatan peduli anak agar kesadaran masyarakat pada kebutuhan dan hak anak semakin meningkat. juga memfasilitasi pembentukan Komite Aksi Nasional. Pelayanan Sosial Anak. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Gugus Tugas. belum adanya kesamaan antara dukungan pemerintah dengan kebutuhan komunitas. Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak awal agar tujuan anak sebagai pemilik era masa datang dapat tercapai. Berbagai upaya telah dilakukan. masyarakat peduli anak dan pemerintah. Orsos. Oleh karenanya. telah melahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan berbagai peraturan perundang-undangan di bawahnya. termasuk anak jalanan cenderung semakin meningkat. Komisi Nasional Perlindungan Anak. dunia usaha. Pada kenyataannya.

yang bertujuan semaksimal mungkin memperoleh pandangan lengkap dan mendalam mengenai komunitas peduli anak. Keberadaan komunitas tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yaitu meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan. apa latar belakang terbentuknya komunitas serta sumber dan potensi apa yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas? Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang digunakan metode kualitatif dengan studi kasus. terutama masalah kemiskinan. Lokasi yang terpilih dengan cara purposive. Untuk menjelaskan komunitas peduli anak maka digunakan teori sikap dari Mar’at yang beranggapan Puslitbang Kesos 171 . Permasalahan anak tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. Palembang. tokoh masyarakat. sehingga peran aktif masyarakat sangat diperlukan. Oleh karena itu. Upaya penanganan permasalahan anak berbasis masyarakat semakin banyak ditemukan. yang selanjutnya disebut sebagai komunitas peduli anak. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan besaran permasalahan anak. merasa perlu melakukan penelitian tentang pengembangan komunitas peduli anak.815. Berdasarkan data Pusdatin Departemen Sosial RI (2006) menunjukkan jumlah anak terlantar sebanyak 2.383 anak. yaitu kota-kota yang memiliki jumlah permasalahan anak terlantar cukup tinggi yaitu Kota Medan. anggota komunitas. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kessos). Dalam penelitian ini akan menelusuri bagaimana bentuk kegiatan komunitas. guna memberi penjelasan komprehensif mengenai komunitas peduli anak di wilayah yang terpilih.Pengembangan komunitas Peduli Anak seiring dengan permasalahan kemiskinan yang belum dapat diatasi. Kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama terhadap kesejahteraan anak. Pembahasan yang dilakukan berusaha untuk menjawab ”Why and How”. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai komunitas peduli anak yang ada di masyarakat. telah banyak melakukan kegiatan pelayanan anak. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. Makasar. Sumber informan pada tokoh komunitas. anak-anak dan Instansi Sosial. Pontianak dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). observasi dan penelaahan dokumen. Surabaya.

Seperti kasus di Medan. Berdasarkan hal tersebut. komunitas di Kota Pontianak yang berbatasan dengan wilayah negara lain. turut menangani permasalahan anak dan melakukan kegiatan demi menyelamatkan anak-anak dari keterpurukan. sepenanggungan dan saling membutuhkan. Selanjutnya komunitas peduli anak. Komunitas di Kota Palembang dan Makasar dengan posisi wilayahnya yang cukup strategis sebagai pintu gerbang bagi wilayah lainnya. Misalnya. Komunitas di Kota Medan dan Surabaya. kondisi kemiskinan keluarga semakin menjauhkan keluarga dari interaksinya dengan kerabat lainnya. dapat menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat. berawal dari kegiatan 172 Puslitbang Kesos . yang dapat berfungsi sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh komunitas. artinya perilaku sosial dianalisis sebagai respon spesifik terhadap stimuli yang diberikan. sebagaimana kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat persinggahan bagi penduduk di wilayah sekitarnya memiliki permasalahan anak jalanan cukup tinggi. telah mendorong komunitas untuk peduli terhadap maraknya masalah trafficking dan melakukan pendampingan bagi anak yang berkonflik hukum. Peran kekerabatan dan tanggung jawab sosial keluarga pada kenyataannya tidak mampu menyelamatkan anak dari keterlantaran. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa bentuk kegiatan komunitas ada hubungannya dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi wilayah setempat. Meningkatnya permasalahan anak telah mendorong munculnya komunitas peduli anak yang diprakarsai oleh kalangan praktisi dan masyarakat terdidik dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat lokal baik yang diikat oleh satu rumpun agama maupun budaya. sebagai perilaku sosial yang dipengaruhi oleh penghargaan maupun dukungan terhadap kegiatan komunitas. komunitas peduli anak dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sebagai bentuk partisipasi aktif dan prakarsa komunitas terhadap penanganan permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat.Pengembangan komunitas Peduli Anak bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui pendekatan teori stimulus respon. diwarnai tingginya permasalahan anak terlantar. didukung oleh hukuman dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. sehingga keterlantaran anak harus ditanggung oleh keluarga bersangkutan. Kasus di Timor Tengah Selatan. Konsep komunitas dari Ferdinan Tonny yang membagi komunitas pada 3 aspek yaitu seperasaan. Artinya perilaku komunitas peduli anak.

tetapi kegiatannya berlanjut menjadi terorganisir setelah memperoleh dukungan dari berbagai pihak. berpartisipasi pada kegiatan komunitas. Perilaku yang ditunjukkan anggota komunitas semakin meningkat manakala adanya keberhasilan mengentaskan anak dari keterpurukan dan semakin meningkatnya partisipasi tokoh masyarakat dan agama serta kelembagaan yang ada di masyarakat. “Nilai kasih sayang antar sesama karena saling membutuhkan. Konsep Puslitbang Kesos 173 . dengan alasan perilaku anak usia 18 sudah tidak mencerminkan perilaku seorang anak demikian juga memperlakukannya sudah harus berbeda. sesuai dengan ajaran agama yang dianut” menjadi landasan komunitas untuk peduli pada anak. pelayanan perlindungan bagi anak remaja dari tindak kekerasan seksual dan anak yang dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. Semangat tersebut telah mampu memotivasi kelompok pemuda dan wanita. Konsep tentang anak diawali dengan pandangan tentang usia anak. seperti kasus komunitas di Kota Palembang. Kepedulian tokoh masyarakat telah membangkitkan motivasi masyarakat setempat untuk peduli pada kehidupan anak jalanan. Kasus di Surabaya. Keberhasilan komunitas terhadap pelayanan pada anak terlantar dan anak jalanan. Motivasi atas jiwa kemanusiaan dan dilandasi nilai-nilai agama telah mendorong komunitas untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak. Sebutan anak jalanan telah memberi stigmatisasi yang menghambat keberadaan anak untuk pemenuhan kebutuhannya di masyarakat. dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. yang telah menimbulkan empathy untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan selanjutnya diwujudkan dalam kegiatan komunitas yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan melindungi anak dari keterpurukan. Batasan usia sebagai anak adalah 18 tahun kebawah dan belum menikah. sehingga perlu merubahnya dengan sebutan ’anak negeri’ yang lebih mencerminkan keberpihakan pada anak. tetapi ada diantaranya yang berpendapat bahwa sebaiknya usia anak sampai dengan usia 16 tahun. Perilaku sosial yang ditampilkan oleh komunitas dipahami sebagai wujud dari pandangan masyarakat tentang konsep anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak keagamaan untuk membantu anak terlantar melalui pelayanan sosial bersifat insidental. Kasus komunitas di Surabaya. diantaranya mampu membentuk lembaga pendidikan. telah melahirkan sanggar anak-anak jalanan yang diakui keberadaannya di masyarakat dan menjadi contoh kegiatan di berbagai provinsi lainnya. mampu mengembangkan kegiatan pelayanan anak seperti pemberian beasiswa. telah berkembang menjadi embrio organisasi.

(kasus di Surabaya dan Medan) dan dari tindakan hukum seperti kasus di Pontianak. teater. tetapi juga memiliki kepercayaan 174 Puslitbang Kesos . tempat berlindung. Kegiatan komunitas berupa pendampingan intensif pada anak jalanan. bimbingan dan pengarahan. masa depannya tergantung pada orang dewasa. fitrah yang harus dijaga yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan di jalanan. kasih sayang. Perlu pengarahan melalui pendidikan agama. Pandangan demikian memberi pengertian bahwa keberadaan anak seolah-olah sangat tergantung pada orang tua. bahwa anak sebagai potensi dan aset generasi penerus cita-cita bangsa. (2) hak untuk tumbuh kembang. Meskipun konsep tentang anak berbeda-beda. yang tidak memiliki kemampuan. budi pekerti serta memperoleh keterampilan.Pengembangan komunitas Peduli Anak tentang anak cukup bervariasi. penerus estafet pembangunan. Selain itu. perhatian dari orang tua. sebagai manusia lemah dan rawan. ada yang berpandangan tradisional. dorsmeer. namun sebagian besar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan. memberi kemudahan memperoleh akte kelahiran dan memberi perlindungan dari tindak kekerasan. meskipun hak anak untuk berpartisipasi masih belum nampak. perhatian atau kasih sayang. harapan bangsa. Kebutuhan tersebut sebenarnya sebagai bagian dari hak anak yang harus dipenuhi. yaitu: (1) hak untuk hidup. Pandangan tersebut. mempunyai waktu bermain dan diperlakukan secara manusiawi. telah menjadikan anggota komunitas merasa terpanggil untuk mewujudkannya melalui kegiatan pelayanan yang sesuai dengan hak dan kebutuhan anak. anak tidak memiliki hak untuk berkembang. seperti hidup layak sebagai mana seorang anak. Sebaliknya. Kebutuhan dimaksud. kesempatan berpendapat dan berkreativitas dan memperoleh pendidikan formal sesuai dengan kemampuan dan usianya. juga memberikan kebutuhan akan pendidikan dan keterampilan seperti bermain musik. memberi kesempatan pada anak untuk mengikuti pendidikan luar sekolah. bahwa anak diibaratkan sebagai kertas putih. penyejuk hati. (3) hak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan. ada yang melihat dari sudut pandang positif. menjadi bagian dari diri kita. memperoleh makanan sehat. titipan Tuhan. sablon. menjadi figur yang harus membantu keluarga. Bentuk kegiatan pelayanan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan anak untuk memperoleh tempat tinggal memadai. Pelatihan keterampilan bermusik pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk terampil bermain musik. kesempatan bersekolah. yang telah menyelamatkan anak dari tidak bersekolah menjadi bersekolah. menjadi kekayaan berharga dan ahli waris.

kontribusi pemikiran. sumbangan harta benda. tetapi juga pendidikan informal. tidak terbatas pada pemenuhan tumbuh kembang anak. Komunitas di Makasar. menciptakan kepedulian masyarakat dengan prinsip memberikan yang terbaik bagi anak. Komunitas di Kabupaten Timor Tengah Selatan. setidaknya berdampak pada pribadi dan perilaku anak jalanan. Kasus di Kota Palembang dengan dukungan lembaga international mampu membangun komunitas peduli anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak diri untuk tampil di tempat umum. tidak terbatas pada pendidikan formal. didukung lembaga masyarakat setempat mampu menciptakan kepedulian pada permasalahan anak lainnya. Bimbingan etika dan agama termasuk kegiatan yang penting diberikan pada anak dan orang tua. Partisipasi dan kegiatan yang dilakukan komunitas. Kondisi ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Gambar 1 : Anak jalanan di Surabaya berlatih musik Keterlibatan dunia usaha/swasta. bertujuan agar anak dengan segala keterbatasan yang ada tetapi masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. karena masyarakat telah ikut terlibat dalam menangani masalah anak. tetapi lebih luas mampu menjangkau kesejahteraan keluarga. kegiatan komunitas tidak terbatas pada anak. melalui curahan tenaga. dimana anak merasa lebih dihargai dan berguna bagi orang lain. Meningkatnya kepercayaan diri pada anak. yang Puslitbang Kesos 175 . Kegiatan dimaksud bertujuan agar keluarga dapat meningkatkan pendapatannya sehingga dapat meringankan beban pengeluaran untuk membesarkan anaknya. lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah menjadi kekhasan tersendiri dari masing-masing komunitas. Pada kenyatannya. maupun penggalangan dana. tetapi juga membantu keluarganya dalam kemampuan ekonomi serta memberi akses bagi pelayanan kesehatan serta memberikan pembekalan keterampilan bagi keluarganya.

perlu ditata dengan baik yaitu melalui pembentukkan jejaring (network) antar lembaga secara kolaboratif. mensinergikan upaya dan mengembangkan kesadaran kritis serta berfungsi pula sebagai kontrol sosial. kepedulian sosial (volunteerism) dan kepedulian sesama warga (civic involvement). Pengusaha. Organisasi Masyarakat. telah tumbuh menjadi modal sosial melalui tindakan kolektif komunitas guna mengatasi masalah yang dihadapi sesama warga masyarakat. lembaga legislatif.Pengembangan komunitas Peduli Anak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing komunitas. melalui pertukaran informasi. terutama dalam rangka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas. transparan. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas. pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas. menampilkan kesetaraan. Gambar 2 : Kegiatan Bimbingan agama bagi Orang Tua dan Anak di Surabaya Dukungan kepedulian sosial yang dikembangkan secara tradisional maupun profesional. lembaga swadaya masyarakat. tingkat provinsi dan tingkat pusat. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak dapat dilihat dari gambar berikut ini: 176 Puslitbang Kesos . terutama masalah anak-anak. memotivasi komunitas untuk menyelamatkan anak dari keterlantaran. Di dalamnya terkandung semangat karitas (charity). seperti dari Perguruan Tinggi. lembaga permodalan dan masyarakat itu sendiri. mengandalkan komitmen. Keikutsertaan unsur-unsur tersebut dalam penyelesaian masalah. Jejaring kolaboratif bersifat informal. tingkat kabupaten. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan komunitas masih banyak memerlukan keterlibatan pihak lain.

keahlian dan sumber daya yang dapat digunakan untuk kegiatan pengembangan komunitas peduli anak. Orsos.Pengembangan komunitas Peduli Anak Collective Action Sector (Komunitas Peduli Anak) Jaringan Kelembagaan Peduli Anak Public Sector (Pemerintah Pusat. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak Masing-masing sektor memiliki fungsi tersendiri. Collective Sector Action atau dapat disebut sebagai masyarakat sipil yang diantaranya adalah komunitas peduli anak. Sektor swasta (private sector) berkomitmen membantu mewujudkan kesejahteraan sosial anak. dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang menyediakan dana. Langkah-langkah perlindungan sosial bagi anak terlantar sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar warganya yang tidak mampu. LSM. Gagasan tersebut sejalan gagasan Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. Penting diperhitungkan juga lembaga-lembaga filantropi dan pembangunan international sebagai salah satu komponen pelaku atau sumber daya pengembangan komunitas peduli anak. Pemerintah Daerah) Private Sector (Dunia usaha. berperan penting dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan sosial dan implementasi program kesejahteraan sosial anak. tetapi dibagi bersama-sama kalangan swasta (perusahaan-perusahaan). Masyarakat peduli) Bagan 3. yang menyebutkan bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan kesejahteraan (anak) tidak lagi dimonopoli Negara. misalnya public sector atau pemerintah harus diletakkan secara strategis untuk mendorong inisiatif warga masyarakat agar dapat mengembangkan berbagai potensi kemandirian mereka dalam rangka membantu sesama warganya. Puslitbang Kesos 177 . lembagalembaga sosial masyarakat (termasuk organisasi keagamaan) dan lembagalembaga kerelawanan (seperti LSM yang mengumpulkan dana-dana amal). miskin atau marginal.

Semakin meningkatnya minat anakanak terlantar yang membutuhkan pelayanan dari komunitas. Peran Lembaga kerelawanan. memberi andil besar terutama dalam dana dan program pelayanan sosial anak. Masyarakat belum terbiasa menjadi mandiri. menjadi kendala yang dialami komunitas. karena adanya kesamaan perasaan terhadap keterlantaran anak. Kegiatan komunitas tidak dapat terselengara tanpa dukungan pemerintah dan keterlibatan dunia usaha. bahwa terbentuknya komunitas peduli anak. Terpenting adalah motivasi yang dimiliki komunitas mampu menggerakkan partisipasi aktif anggotanya guna menciptakan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak. Permasalahannya adalah komunitas belum mampu mandiri selepas berakhirnya program. belum sepenuhnya mampu menjangkau kalangan swasta. Keberadan komunitas menjadi bagian yang dibutuhkan anggotanya. Tindakan kolektif komunitas dapat diprakasai oleh berbagai lapisan masyarakat. Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala bagi upaya pemberdayaan masyarakat. terutama anak-anak terlantar dan anak jalanan menerima pelayanan yang selama ini hak dan kebutuhannya terabaikan. maupun lembaga sosial masyarakat lainnya. menjadi kelemahan yang dirasakan komunitas. Keterbatasan petugas pendamping bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan. Hanya saja keberadaan komunitas berikut kasus-kasus keberhasilan. seperti yang dialami pada kasus di Palembang. memiliki kepentingan bersama untuk memberikan pelayanan bagi anak agar terhindar dari keterpurukan lebih lanjut. tetapi masih bersifat insidental. sebagai funding bagi keberlangsungan komunitas. ketergantungan masyarakat pada pemerintah masih cukup melekat. belum mampu menciptakan program terencana dan berkelanjutan. Kesimpulan dan Saran Secara garis besar dapat disimpulkan. baik yang berlatar belakang agama. selain sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan. semakin menuntut komunitas untuk memperluas jaringan kerja (network).Pengembangan komunitas Peduli Anak Komunitas peduli anak. Kurangnya koordinasi diantara lembaga yang bergerak dalam pelayanan sosial anak. Hal tersebut bukan tidak mungkin kepercayaan dari dunia usaha untuk berkolaborasi menjadi minim. karena kondisi tersebut telah dibentuk sejak masa lampau. dalam hal ini dunia usaha. keilmuan bahkan atas dasar panggilan hati nurani sekalipun. Meskipun selama ini dunia usaha cukup mendukung kegiatan komunitas. Keberadaan 178 Puslitbang Kesos . serta manfaat yang telah diperoleh anak beserta keluarganya kurang tersosialisasikan. sebagai lembaga sosial masyarakat pada kenyataannya berdiri sendiri.

Mc Graw Hill. Bandung. khususnya pekerjaan sosial agar lebih terarah. Elizabeth. yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. 1981. draft IX. pengakuan terhadap petugas pendamping sebagai tenaga Pekerja Sosial dari Dinas Sosial setempat. Depsos RI. 2005. 2002. menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. Bandung. _______. 1989. upaya pengembangan komunitas peduli anak melalui fasilitasi program pemberdayaan kepada keluarga dengan anak terlantar. Remaja Karya. melalui dialog interaktif pada media masa dan elektronik. penyebarluasan informasi melalui media masa dan elektronik. Humaniora Utama Pers. Puslitbang Kesos 179 . 2001. 2003. Sosiologi untuk Pengembangan Masyarakat. Selain itu. Remaja Rosdakarya. Hal yang penting lainnya adalah kebijakan berlandaskan pada Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional Indonesia yang dapat memperkuat keberadaan komunitas peduli anak. perlu direkomendasikan peningkatan sosialisasi atau mengkampanyekan komunitas peduli anak. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Toronto. Teori Sikap. Development Psychology. memfasilitasi sarana prasarana komunitas. Untuk itu. DAFTAR PUSTAKA Deddy Mulyana. sehingga aksesibilitas komunitas peduli anak terhadap sumber-sumber daya kesejahteraan sosial seperti dunia usaha dan instansi pemerintah mendapat legalitas yang sah. Melakukan peningkatan kemampuan petugas pendamping melalui kegiatan pemantapan. Mar’at. Metodologi Penelitian Kualitatif. Harry Hikmat. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. program Pasca Sarjana IPB. Hurlock.Pengembangan komunitas Peduli Anak komunitas paduli anak. Bandung. PT. PT. Tonny F Nasdian & Lala Kolopaking.

.

GENDER DAN KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Drs. Suami mulai terlibat pada sektor domestik dan permisif pada nilai-nilai pemingitan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position dan kesetaraan antara suami dan isteri. yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. bahwa Pasca kepulangan sebagai TKW. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. oleh Togiaratua Nainggolan. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya. keluarga mengalami konflik secara potensial dan manifest.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Rachmanto Widjopranoto. Puslitbang Kesos 181 . mertua. Untuk memahami hal itu. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. sehingga relatif kurang harmonis. TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur. Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Indramayu. 1 2 Diangkat dari hasil penelitian tentang Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Di Indonesia. Lebih jauh. Dengan konsep relasi gender ini. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. Faida Normawati. Togiaratua Nainggolan. M. Togiaratua Nainggolan. anak. Ruaida Murni. Namun demikian. dan Sudibyonoto. hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah keluarga buruh migran termasuk pergeseran pola relasi gender pasca migrasi sebagai TKW. Hasil penelitian menunjukkan. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) seperti Lampung. sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik. Penentuan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan snowball. Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar di tengah keluarganya. Malang dan Makassar.

Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. 2001) dalam sebuah tulisannya bahwa masalah buruh migran sangat komplek karena konteksnya tidak saja soal perburuhan tetapi juga menyangkut migran internasional. dan (2) mendeskripsikan gambaran keharmonisan keluarga mereka pasca migrasi sebagai TKW. Selain itu. sadar atau tidak. dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program yang ditujukan bagi TKW dan keluarganya.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKW dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. langsung atau tidak langsung perubahan peta situasi keluarga pasca TKW dapat mempengaruhi tingkat keharmonisan keluarga buruh migran yang bersangkutan. Keluarga Migran Pendahuluan Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan. Selain masalah gender. kesalahan konsep pembangunan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan secara khusus bagi TKW menyangkut masalah perempuan. Sejalan dengan hal tersebut di atas. kapitalisme dunia dan globalisasi. Tenaga Kerja Wanita. penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1) mendeskripsikan pergeseran pola relasi gender pada keluarga migran pasca migrasi sebagai buruh TKW. diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga. Lebih jauh hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah pada buruh migran. 182 Puslitbang Kesos . Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender. untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi calon TKW dan keluarganya dalam membuat keputusan untuk migrasi sebagai TKW . Pendapat senada dikemukakan oleh Krisnawati & Safitri (dalam Daulay. Hasil penelitian diharapkan mampu : (1) menyajikan realitas positif maupun negatif dari tindakan migrasi TKW terhadap keluarga. bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Ketimpangan pendapatan negara maju dan negara dunia ketiga. dan (2) bagi Departemen Sosial RI dan pihak terkait lainnya. yaitu masalah gender.

Sulawesi Selatan. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. Jawa Barat. Pengambilan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan cara snowball dimana dari satu informan akan berkembang ke informan selanjutnya. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas. Teknik analisis data diarahkan pada pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position antara suami dan isteri serta menyangkut kesetaraan posisi di antara mereka.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah yang menjadi pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri seperti Nusa Tenggara Barat. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. Namun. Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosial kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. terutama dengan melihat kondisi isteri yang pernah bekerja ke luar negeri menjadi TKW. Dalam prakteknya. prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. anak. sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap substansi persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini. Jawa Timur. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. selain peluang yang dapat Puslitbang Kesos 183 . Akibatnya. Hasil dan Pembahasan 1. dan Lampung. mertua. pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu.

Secara bersamaan. ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa. Pada tataran global. Pada satu sisi. “Mengekspor” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek. bahkan ideologi masyarakat. Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak. 1999) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. baik yang positif maupun negatif. dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. Sadar atau 184 Puslitbang Kesos . walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. Hal senada dipertegas oleh Goode (1985). Sementara pada sisi lain.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia dimanfaatkan secara ekonomi. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. juga harus memanfaatkan peluang dari aspek sosial budaya. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. walaupun secara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (dalam Berry dkk. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup. Dalam konteks ini.

bukan saja pada tingkat mikro. Tetapi hal itu lebih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. pemerintah memang melakukan intervensi. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik. Akibatnya muncul berbagai efek samping yang justru tidak diharapkan. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat yang memberikan peluang Puslitbang Kesos 185 . persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. Pada tingkat mikro. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. Secara makro. tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah. akan tetapi juga pada tingkat makro. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang membawa nama harum bangsa dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia tidak. 2.

pembagian kerja menjadi sexist (didasarkan pada jenis kelamin) dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. 186 Puslitbang Kesos . Selain itu. kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. khususnya budaya majikan di luar negeri.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia sekaligus pembatasan berupa etika. Dalam hal ini. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW. Walaupun hal itu. pola relasi gender ini merupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. sadar atau tidak. Dalam konteks ini. Bagi kaum perempuan. Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan di sektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. Dengan kata lain. Artinya secara tidak langsung. Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. Kecenderungan tersebut terefleksikan dalam konteks yang lebih luas. khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal.

Pengakuan ini menunjukkan. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda. 4. Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi sebagai TKW No. 3. 6. bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian. 10. 8. 7. Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan afektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional. Pencari nafkah utama adalah suami 2. Keadaan sebelum menjadi TKW 1.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan tapi pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Puslitbang Kesos 187 . 9. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal sebagaimana dikemukakan oleh Daulay (2001). Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya. 5. hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist (pembagian kerja tidak didasarkan pada jenis kelamin). Lebih jauh. Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independen dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih didominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatif harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Isteri mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independen dalam membuat keputusan Sebagian suami terjun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur. Secara umum pergeseran pola relasi gender tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut : Tabel 1.

Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. Adapun bagi keluarga. 188 Puslitbang Kesos . TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. TKW menyangkut persoalan devisa. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. Lebih khusus lagi. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya. Dalam prakteknya. Sementara dalam prespektif negara. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefinisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. Dinas Sosial. Departemen Tenaga Kerja. Dari perspektif global dan makro. mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. dalam perspektif gender. dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. serta menajemen keluarga. khususnya yang mempunyai status isteri. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai. Penegasan ini kiranya cukup beralasan. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah. Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. dengan mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan.

Studi Kasus TKIW di Kecamatan Rawamarta Kab. Bina Aksara. William. (1999). Gramedia. (1985). Riset dan Aplikasinya (terjemahan Edi Suhardono). Puslitbang Kesos 189 . Yogyakarta. Daulay. Jakarta. Psikologi Lintas Budaya. Karawang Jawa Barat. Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga di Keluarga Migran. Harmona. Jakarta. Goode. (2001). Galang Press.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia DAFTAR PUSTAKA Berry dkk. Sosiologi Keluarga. J.

.

30 Degeneratif. 82 Concept of deprivation trap. 30 Bantuan Khusus Murid (BKM). 156 Adrinof A. 116 Banglades. 156 Corporate social responsibility. 134 Charity. 54 Puslitbang Kesos Brazil. 122 Charitatif. 55 Bugis. 5 Desa Talio. 183 Basic needs. 9. 56 Collective Sector Action. 100 Australia. 120. 130 Belu. 51 C Chambers (1983). 125 Bone. 5. 3 Allan Pincus. 154 Dayak. 120 B Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). 177 Culture shock. 4. i. 176 Civil society. 13 Desa Sungai Pancang. 163 Desa Aji Kuning. 181 Anne Minahan. 50. 176 Civic Involvement. 177 Community based development. 44 Adoptif kin.INDEKS A Abddurazak dkk (1989). 33. 156 Aksesibilitas. 125 Bintan. 41 Bargaining Position. 48 Afinal kin. 44. 82. 45. 32 Akurat. 154 Day Care Service. 13 Desa Binalawan. 34 191 . 181. 44. 5. 3 Aplicable. 50 Bukaka. 55 Banjar. 5 Desa Liang Bunyu. 89 Bali. 185 D Day Care Centre. 33 Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 122 Consanguinal kin. 5 Desa Setabu. 4. Chaniago (2001:316). 3 Androgini. 6.

123 G Goode (1985). 5 Desa Tanjung Karang. 132 F Ferdinan Tonny. 92 E Edukatif. 88 Lembaga Pembardayaan Masyarakat (LPM). 185 Distributive Frekuentif. 181 Indepth Interview. 57 Koentjaraningrat (1990). 54 Inferior. 4 Disorientasi. 56. 45 Human Service Organization. 129 Kalimantan Tengah. 119. 3 Human Development Index (HDI). 45 Local Budgeting Forum. 55 H Heterogen. 27 Diagnostik. 88 Ekonomis Produktif. 156 Grameen Bank. 16 Empathy. 125 K Kalimantan Barat. 142 I Ife (1995). 83. 122 Independent. 58 Lokalitas Ekosistem. 116 Isolation. 5 Developmental needs. 29 Kalimantan Timur. 172 Focus Group Discussion (FGD). 174 Dove (1985). 3 Komunitas Adat Terpencil (KAT). 31 Home visit. 123 Dorsmeer. 30 Jayapura. 122 Epicentrum. 4 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). 56 Life Expectation. 28 Dwi Heru Sukoco (1991). 113 192 Puslitbang Kesos . 173 Empowerment. 19. 122 J Jawa. 55. 34 L Leading Sector.Indeks Desa Tanjung Aru. 57. 130 Diagnosa. 16 Ekologis. 3. 50 Evaluatif Research. 156 Komprehensif.

100 Participatory Wealth Ranking (PWR). 181 Physical weakness. 2. 10 Maliku. 5.Indeks M Madura. 16. 77 Private Sector. 65. 102. 9. 122 Porto Alegre. 3. 112. 92. 12. 17 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 99. 123 P Palembang. 55 Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). 3 Ndaraha (1990). 57. 117 Paruik. 4. 116 Minahasa. 29. 25. 49 Participatory Budgeting. 177 Puslitbang Kesos 193 . 186 Pekerja Sosial Masyarakat. 66 Powerlessness. 51 Max Siporin. i. 52. 67. 67. 130 Psikologis. 100 Nusa Tenggara Timur. 2. 82. 175 Pandih Batu. 129 O Oakley & Marsden (1984). 82. 125 Nusa Tenggara Barat. 116 Nunukan. 176 Non Governmental Organization International (NGO). 83. 79 Muhamad Yunus. 104. 134 Patriarkhi. 5 Malaysia. 15. 130 Public sector. 5. 80 Power Oriented. 116. i Manifest. 122 Pranarka & Moeljarto (1996). 1. 6. 93 Pathologis. 44 Manurungge. 33 Participatory Action Research (PAR). 95 NAPZA. 56 Participatory Rural Apraisal (PRA). 3. 2 Network. 125 Participatory Budgeting Forum. 2. 55 N Nagari. 122 Poverty. 177 Private Trouble. 30 Mainstream. 3 Public issues. 74. 1. 123 Prestise. 181 Manurung Rimatajang. 114. 43 Malaysia Timur. 68 Medan. 81. 114 People Centred Development. 4. 88. 18. 29 Manado. 100 Permisif.

3. 156 T Tanete Riattang. 51. 4. 9. 3. 172 Trainers. 139. 5 Segregasi Sosial. 12. 2. 74 Trafficking. 101 U Usaha Ekonomis Produktif (UEP). 2005:23). 70. 123.Indeks Pulang Pisau. 17. 129 Sumatera Barat. 155 Triangulasi. 172 Subang. 68 Sulawesi Selatan. 160 V Volunteerism. 50. 130 Sorting. 105 Sanggau. 6. 130. 176 Vulnerrebality. 8. 183 Social-phsyicological needs. 102 Speech therapy. 15. 10. i. 122 W Watampone. 129 Sunda. 48 S Samarinda. 30 Sungai Nyamuk. 143. 146. 1. 72. 5 Sungai Pancang. 144. 26. 54. 57 Sexist. i Responsif. 7. 81. 119. 171 Puslitbang UKS. 11. 100 Tomohon. 181. 18 Sebatik Timur. 104. 5 Survival Strategy. 4 Rudito (2003. 27. 29 Purposive. 2 R Rakorbang Partisipatif. 89 Sumatera Utara. 49 Reliable. 177 Stimulus Respon. 25. 186 Simptom. 13 The cut of point. 52. 28 Snowball. 149. 125 Sebatik Barat. 26 Research minded. 51 Wonogiri. 135 State obligation. 105 Warren & Cottrell. 105 Sukoco (1991). 147. 112 The Small Enterprise Foundation (SEF). 87 Suryono Sukanto (1990). 2 194 Puslitbang Kesos . 55 Tatamba. 13.

Financial and Budgeting Management Program–IMDI–University of Pittsburgh USA 1999.Si. memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis tahun 1997 di Universitas Hasanudin. Puslitbang Kesos 195 . Kegiatan pelatihan yang telah diikuti. TOC ADAB Australia – LAN RI (1984). Ir. dan Pra jabatan tingkat III (1981). Sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Diklat Penyuluhan Sosial (1983). Sebelumnya Sarjana Statistika di FMIPA Institut Pertanian Bogor tahun 1987. Kepala Kursus Tenaga Sosial (KTS) Ujung Pandang. 27 Juli 1952. Kepala Bidang Penyuluhan Sosial.Si. Sepadya (1990). pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial. R. antara lain Pelatihan Penyusunan Indikator Sosial (Kantor Meneg LH. Departemen Sosial RI. Statistics in Poverty Policies – Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) in Cambodia. Kepala Bidang Program Pusdiklat Pegawai. 1988).SEKILAS EDITOR Drs. Dr. M. Pernah sebagai Sales dan Marketing PT BAT. tanggal 9 Juli 1963. Manajemen Penanggulangan Kemiskinan-ESCAP Bangkok 1999. Selama berkerja di Departemen Sosial RI. M. Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar (SPADIA) Depsos tahun 2003. Harry Hikmat. 1989). memperoleh gelar Doktor untuk Ilmu Sosial tahun 2003 di Universitas Padjadjaran Bandung dengan disertasi Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti. Talimbo. antara lain : Diklat Pim II LAN RI (2000). dilahirkan di Denpasar. Asuransi Sosial– JICWELS Jepang 1997. Badiklit Kesos. lahir di Ternate. Memperoleh gelar Master untuk Ilmu Pekerjaan Sosial di Universitas Indonesia tahun 1996. Kepala Balai Diklat Pegawai Depsos Ujung Pandang. Makassar. Charles S. International Course for National Economic Management and Poverty Eradication in National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia tahun 2000. TOT. Pelatihan metodologi penelitian kualitatif (UI. Swedia and Beijing (2004-2005).

196 Puslitbang Kesos . Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Manajemen Perencanaan dan Keuangan. Riwayat pekerjaan. penelitian sosial. Studi Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (ADB & Bappenas. Statistika Sosial. Energi & Sumberdaya Mineral. 1995). Evaluasi Gerakan Rereongan Sarupi Propinsi Jawa Barat (Pemda Jabar.d sekarang sebagai Kabag Analisis Kebijakan Perencanaan Kesejahteraan Sosial di Biro Perencanaan Depsos. Selain itu menjadi Dosen STKS Bandung tahun 1987 s. tahun 2004-2006 sebagai Kabag Bantuan Usaha Kelompok di Dit. 2002). Aspek-Aspek Hak Anak yang Berkonflik Dengan Hukum (Departemen Kehakiman dan HAM. 2001). LSM. dan Bappenas. Analisis Kebijakan Pengentasan Orang Miskin melalui Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Indonesia (Ditbangdes. 2003). tahun 1997 – 1998 sebagai Kasubag Perencanaan Program Wilayah Timur di Biro Perencanaan Depsos. Unicef & Depsos. tahun 1996-1997 sebagai Kaur Penelitian dan Pengembangan di STKS Bandung. Lab Sosio UI. 2006).d 1997 dan Dosen Pasca Sarjana Spesialis Pekerjaan Sosial di STKS Bandung untuk mata kuliah Metodologi Penelitian Pekerjaan Sosial dan Pengembangan Modal Sosial. Pemberdayaan Fakir Miskin. Depdiknas. pekerjaan sosial. perencanaan. Dep. Studi Kesiapan Daerah dalam Pelayanan Sosial Dasar di Era Desentralisasi (ADB & Bappenas. Karya penelitian antara lain Kualitas Pelayanan Panti Sosial Anak (Save The Children. tahun 2006 s. 2002). Studi Manajemen dan Standarisasi Panti Sosial di DKI Jakarta (Dinas Bintal & Kesos.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjadi Dosen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Sosial. 1992). UNPAD. 1996). Aktivitas organisasi antara lain menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN) 1999-2004 dan Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak periode 2001-2005. Profil dan efektivitas LSM dalam mengatasi penyebarluasan AIDS di Indonesia (STKS. Manajemen Pengembangan Masyarakat. Pemenuhan Hak atas Pendidikan Dasar di Daerah Konflik (Departemen Kehakiman dan HAM.1993). Fasilitator dalam berbagai kegiatan pelatihan Participatory Research Appraisal. dan analisis kebijakan di Depsos. Studi Pengembangan Program Community Development Pupuk Kaltim (2002). Kegiatan Motivasi dalam Proyek Kelangsungan Hidup Anak (Unicef dan Departemen Agama. 2002). 2004).

DT I Jawa Barat tahun 1991). Penelitian Keberhasilan Desa-Desa Juara di Jawa Barat (Ditbangdes Prov.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Desa/kelurahan Juara Perlombaan Desa di Propinsi DT I Jawa Barat (Ditbangdes Prop. Metode Monitoring dan Evaluasi Program (1998). Model Pembangunan Sosial di Indonesia (1997). 2002). Metodologi penelitian sosial (1999). Puslitbang Kesos 197 .d. Teknik ilustrasi dalam penulisan artikel ilmiah (1999). DT I Jawa Barat tahun 1989 s. Filsafat dan Etika Ilmuwan (1998). Strategi Pemberdayaan Masyarakat (HUP: 2001). dan Perencanaan Partisipatif (Cipruy:. Analisis Dampak Sosial (1999). Paradigma pembangunan dan perencanaan sosial (1995). 1993). Karya ilmiah yang pernah disusun antara lain : Penerapan Statistika dalam Penelitian Pekerjaaan Sosial (1987). Karya ilmiah yang telah diterbitkan yaitu : Participatory Research Apprasial dalam Pengabdian Pada Masyarakat (HUP: 2001).

.

antara lain yaitu: (1) Survey on Accessibility Problems to Pantis and Vocational Rehabilitation Service after Decentralization in Indonesia (Yayasan Kandidat. Karya ilmiah yang telah diterbitkan.I. Diklat Penyusunan Kerangka Acuan (Proposal) Sosbud. juga sebagai editor beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Balatbangsos. 2002). Balatbangsos Depsos R. Pendidikan Sarjana Muda diperolehnya dari UMJ (1980) dan S1 dari STKS Bandung (1984). 2000). dan Diklat SEPALA dan SEPAMA. Pengalaman dibidang publikasi sebagai dewan redaksi. dan (5) Tanggung Jawab Sosial Industri (Kantor MASKAT. 2003).I Puslitbang Kesos 199 . Pengembangan Tenaga Peneliti. Penelitian yang dilakukan kerjasama dengan institusi lain sedikitnya ada 10 buah. Penelitian internal (Litbang Kessos) yang telah dilakukan dan dibukukan sedikitnya 21 buah. antara lain yaitu: (1) Identifikasi Kebutuhan Pelayanan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (2003). Informasi Puslit PKS maupun Puslitbang UKS. Diklat yang pernah diikuti. Disamping itu. (2) Analisis Kebutuhan Pekerja Sosial di Pusat Pelayanan Korban Bencana (2003). baik majalah Jurnal. 2002).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun SEKILAS PENYUSUN Drs. (3) Kekerasan Masyarakat Daerah Perkotaan (Pusbangtansosmas. Pelatihan Komputer. Sutaat. antara lain beberapa artikel pada majalah Jurnal dan Informasi yang diterbitkan oleh Puslit PKS maupun Puslitbang UKS Balatbangsos Depsos R. (4) Studi Persiapan Daerah dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial bagi Anjal (YASHINTHA. Diklat Dasar Demografi. Jabatan struktural yang pernah diembannya adalah kasubid perumusan program Puslit PKS Balitbang Kessos (1986-1997) dan jabatan sekarang adalah Peneliti Muda (2005-sekarang). dan (5) Persepsi Legislatif Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2004). selanjutnya alih tugas ke Balitbang Kessos (1985). (4) Prilaku Remaja di Daerah Pinggiran Kota (2004). antara lain adalah diklat tenaga peneliti. (2) Kajian Managemen Kessos Panti Sosial DKI Jakarta (YASHINTHA. (3) Partisipasi Masyarakat Kota dalam Mengatasi Masalah Sosial Pasca Krisis (2003). 2002). Memulai karir sebagai PNS di PPA Bambu Apus (1975). lahir di Tegal (1951).

M. di Panti Sosial Petirahan Anak. Profil Anak Jalanan. antara lain: pelatihan tenaga peneliti. Indah Huruswati. di Panti-panti Sosial Asuhan Anak. Selain aktif menulis di media jurnal dan informasi Puslitbang Kesos juga sebagai tim editor Jurnal Penelitian dan Pengembangan UKS. Sejak tahun 1995 mulai aktif mengajar pada beberapa perguruan tinggi 200 Puslitbang Kesos . Anak Terlantar melalui Sistem Panti. lahir di Jakarta. antara lain: berkaitan dengan Masalah Anak di Tempat Penitipan Anak. Menamatkan program S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung dan memperoleh gelar Magister pada Bidang Psikologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada D. 11 November 1967. Pengalaman menulis ilmiah diperoleh penulis dari berbagai kegiatan. antara lain menjadi anggota redaksi pada majalah Jurnal Kesejahteraan Sosial. beberapa kali mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkait dengan bidang penelitian. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI). Pengalaman kerja sebagai Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial sejak 1986 dan jabatan sekarang adalah Peneliti Madya. Pendidikan terakhir Sarjana Antropologi. Mapping and Social Survey of Street Children bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. pelatihan pengolahan data yang diselenggarakan oleh BPS. lahir di Jakarta. Sejak bekerja di Badan Litbang Sosial ini.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Dra. Bambang Pudjianto.I.Si. baik yang diselenggarakan oleh Balitbang Sosial maupun kerjasama dengan laboratorium Sosiologi FISIP UI. antara lain tentang Pola Penanganan Kemiskinan di Perkotaan yang dilakukan hingga kegiatan ujicoba pada beberapa kota. Penelitian masalah kemiskinan juga pernah dilakukan. Selain mengikuti diklat-diklat. dan Penelitian Permasalahan Remaja di Kota-kota Besar. serta diklat penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Departemen Sosial bekerjasama dengan majalah Tempo. sejak tahun 1998-2000. Saat ini menjabat Peneliti Muda dan sebagai Kasub Analisa Kebutuhan Puslitbang Kesos Badiklit Departemen Sosial RI. Yogyakarta tahun 2000. pelatihan metodologi kualitatif yang diselenggarakan Balitbang Sosial. Pemetaan Anak Jalanan dan Orangtuanya di Kotakota Besar di Indonesia. Drs. penulis juga banyak memiliki pengalaman penelitian dan penulisan di bidang sosial.

Pemetaan Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Kotamadya Tomohon. 11 Juli 1958. Asisten Peneliti di Leknas LIPI (1983 – 1985). khususnya pada bidang Psikologi Sosial. Karya ilmiah antara lain. Sarjana Antropologi dari FSUI (1978 – 1984). Ujicoba Indikator Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara. Achmadi Jayaputra. diantaranya KAT. Pendidikan Sarjana Manajemen (S1).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun swasta di Jakarta. Suku Bangsa di Indonesia. SE. Diploma Ilmu Tauhid dari Uniersitas Islam Syekh Yusuf (1984 – 1986). Penelitian yang pernah dilakukan. Otonomi Daerah dalam Perspektif Budaya (2000). Akreditasi Panti Sosial. Jabatan Struktural. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan. SMA Negeri 30 dan SLTP Negeri 76 di Jakarta (1971 – 1977). Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Lanjut Usia di DKI Jakarta (2002). Jabatan Fungsional. M.Si. Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam). Asisten Peneliti Madya (1986) sampai dengan Ahli Peneliti Muda (2002) di Badan Litbang Sosial. antara lain: Penelitian Uji Coba Model Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Konflik dan Kedamaian Sosial dan Penyalahgunaan Napza. Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi di Puslit PKS (2004 – 2005) dan sampai sekarang sebagai Kepala Bidang Program di Puslitbang Kesos. Penyandang Cacat. lahir tanggal 2 November di Takengon. Penelitian Uji Coba Model Komunitas Adat Terpencil (KAT). Pengaruh Budaya dalam Puslitbang Kesos 201 . Sejak tahun 1986 sampai sekarang sebagai pengajar Antropologi dan Sistem Budaya Indonesia di Universitas Muhamadiyah Jakarta. lahir di Jakarta. Kajian konflik Sosial Suku Bangsa Madura di Kabupaten Sambas (2001). SD di Banda Aceh dan Jakarta (1965 – 1970). Nilai Kesetiakawanan Sosial dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Pendidikan. Drs. Pembinaan Masyarakat pedalaman Irian Jaya (1986 – 1992). Efektivitas Bantuan Pinjaman Modal Usaha RSDK (1999). Kepala Bidang Analisis dan Bimbingan Sosial di Pusbang Tansosmas (2000 – 2004). Magister Pengembangan Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2000 – 2002). Kabupaten Aceh Tengah. Rusmiyati. Penelitian Eks Penderita Penyakit Kronis Tuberkulosis (TBC). Kepala Sub Bidang Rencana dan Program di Puslitbang PKS (1998 – 1999). Kepala Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi di Puslitbang UKS (1994 – 1998). Mulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil di Balitbang Sosial Puslitbang Kesos bidang Program dan Anggaran sampai sekarang.

tahun 1998. Jakarta. Anwar Sitepu. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD-FEUI).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (2003). Pola Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perkotaan (Surabaya dan Bandung). dan pendidikan S2 Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor di Bandung dan Bogor. Sosial – Badan Pusat Statistik (BPS). lanjut usia. Pelayanan Sosial Lanjut Usia di Indonesia. dan Pendidikan dan Pelatihan Analisa Data. antara lain: Pola Konsentrasi Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Tanah Grogot Kabupaten Pasir Kalimanatan Timur. 4 September 1958. 202 Puslitbang Kesos . Jakarta. FISIP Universitas Indonesia. Pengalaman lapangan melakukan pengkajian dan penelitian di berbagai daerah yang berkaitan dengan Komunitas Adat Terpencil. Pelatihan Komputer dan Statistik untuk Pengolahan Data Hasil Penelitian pada Lembaga Demografi. Permasalahan Pengungsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. pengembangan potensi masyarakat pedesaan. bekerja sebagai pekerja sosial dan koordinator program pada Family Helper Project kerjasama Yayasan Pelita Kasih dengan Christian Children’s Fund Inc. tahun 2004. tahun 1999 sampai sekarang. awalnya pada Sekretariat kemudian masuk pada Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial. Pelatihan teknis kelitbangan yang pernah diikuti antara lain: Peningkatan Kemampuan Tenaga Peneliti Balitbangsos pada Laboratorium Sosiologi. di Tanjung Priok. kerjasama Pusdiklat Pegawai Dep. Penelitian yang pernah dilakukan. Bekerja untuk Departemen Sosial sejak tahun 1990. tahun 1982 sampai 1987. konflik dan solidaritas sosial. lahir di Sukanalu. Pola Hubungan Sosial Antara Kelompok Etnis di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. langsung bergabung pada Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial di Jakarta.. MP. tahun 1986. tahun 1994. Pola Pembinaan Remaja melalui Karang Taruna di Kota Medan dan Bekasi. Akreditasi Panti Sosial di Bandar Lampung. Sebelum bergabung dengan Departemen Sosial. Jakarta. menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Kesejahteraan Sosial pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri di Jakarta. Drs. tahun 1992. Dampak Judi “Togel” pada Kehidupan Keluarga Miskin di Kota Medan. Depok.

Disamping itu. lahir di Tawangharjo. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. M. baik secara mandiri maupun kelompok.Pd. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Madya pada Puslitbang Kessos-Badiklit Kessos Departemen Sosial RI. Dra. Departemen Sosial RI. Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik dan Kerusuhan Sosial. Hubungan Antar Kelompok Pribumi dan Etnis Cina di Jakarta. S. Nurdin Widodo. dan kumpulan tulisannya pernah diterbitkan di JURNAL maupun INFORMASI. menamatkan program S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraaan Sosial Bandung. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Beberapa hasil penelitiannya telah diterbitkan. Penelitian yang telah dilakukan meliputi topik-topik yang berkaitan dengan Pelayanan Anak Terlantar Putus Sekolah Melalui Panti Sosial Bina Remaja. Permasalahan Sosial Pengungsi Korban Poso dan Upaya Penanggulangannya. Peran Lembaga Sosial dalam Penanganan Pengungsi. menamatkan program Sarjana Muda di Fakultas Sastra dan Budaya Jurusan Anthropologi UGM Jogyakarta.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sugiyanto. dan Penelitian Uji Coba Model Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Drs. Jabatan peneliti: Ajun Peneliti Muda bidang Kesejahteraan Sosial (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial) Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial.Si. Sri Gati Setiti. sebagai editor Jurnal Puslitbang Kesos dan anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Departemen Sosial RI. Pemberdayaan Pranata Sosial. dan berbagai seminar permasalahan sosial di Indonesia. diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2005) dan S1 (Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994). Kekhususan Pengembangan Masyarakat (S2). Aktif mengikuti mengikuti kegiatan penelitian bidang kesejahteraan sosial. Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna. 8 Januari 1961. Konflik Serta Modal Kedamaian Sosial dalam Konsepsi Lintas Kalangan Masyarakat di Tanah Air. Potensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ketahanan Sosial Masyarakat di Kota Kendari. Magister Sains Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Publik. Strata 1 di FISIP jurusan Anthropologi UNHAS Ujung Pandang. Selain itu juga menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Penelitian Puslitbang Kesos 203 .

masalah narkotika di sekolah. pada tahun 1984. karang taruna. Pelayanan Sosial bagi Eks Penyandang Penyakit TBC Berbasis Masyarakat (2002). Selain itu mengikuti berbagai seminar tingkat nasional.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun dan Pengembangan Sosial. Menjadi anggota panitia pembina ilmiah (PPI). Alit Kurniasari. lanjut usia. MP. pada mata kuliah Psikologi Anak. Penelitian yang pernah dilakukan meliputi topiktopik yang berkaitan dengan: penanganan penyandang cacat. Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga (2006). panitia penilai lomba karya tulis masalah-masalah sosial tingkat nasional. perlindungan tenaga kerja wanita di sektor industri. anak jalanan. dampak sosial industri. Tulisan di Jurnal Puslitbang Kesos. peranan wanita. pemberdayaan keluarga dalam mencegah tindak tuna sosial. tanggung jawab sosial dunia usaha terhadap masyarakat sekitar. Psikologi Abnormal dan Psikologi Sosial. dari tahun 1986 – 1995. Mengikuti diklat dosen dan peneliti di LD-UI dan berbagai diklat penjenjangan peneliti. Permasalahan Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik. menjadi dosen tidak tetap di UMJ dan dosen di Universitas Satyanegara (USNI) Jakarta. pola rekonsiliasi masyarakat antar etnis di daerah konflik di Indonesia. Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2006). Saat ini menjabat sebagai Peneliti Pertama di Puslitbang Kesos. Sarjana Psikologi Perkembangan Universitas Pajajaran Bandung. Penelitian Kualitas Pengasuhan dan Pelayanan Panti Sosial Asuhan anak (PSAA) di Indonesia. dan pemberdayaan migran. 204 Puslitbang Kesos . Pernah menjadi staf pengajar di STKS Bandung. profesionalisme pengelolaan Orsos. Dra. Penelitian yang pernah dilakukan: Penelitian tentang Anak Jalanan. Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (2004). permukiman kumuh. efektivitas GN-OTA dalam pemberian kesejahteraan anak.

Si. Pekerjaan lainnya.Tamat dari UGM Yogyakarta. Sumatera Utara. Dalam perjalanan karir sebagai PNS. Puslitbang Kesos 205 . bertugas sebagai staf di Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial hingga menjadi peneliti fungsional hingga sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI.Sejak tahun 1993 bekerja sebagai staf Pusdiklat Pegawai Departemen Sosial RI. sejak tahun 2002 mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta dalam mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Lintas Budaya. hingga tamat tahun 2002. lahir 3 Maret 1966 di Samosir. tahun 1999 mengikuti tugas belajar ke Fakultas Psikologi-Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Setelah tamat dari SMPP 25 Payakumbuh tahun 1985. Togiaratua Nainggolan.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Drs. melanjut ke IKIP Padang hingga tamat 1991. M. Pada tahun 1982 hijrah ke Payakumbuh Sumatra Barat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful