EXECUTIVE SUMMARY

Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial

Editor Drs. Charles S. Talimbo, M.Si DR. Harry Hikmat, M.Si Penyusun Drs. Sutaat Dra. Indah Huruswati Drs. Bambang Pudjianto, M.Si Rusmiyati, SE Drs. Achmadi Jayaputra, M.Si Drs. Anwar Sitepu, MP Sugiyanto, S.Pd, M.Si Drs. Nurdin Widodo Dra. Sri Gati Setiti Dra. Alit Kurniasari, MP Drs. Togiaratua Nainggolan, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY
Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial
Hak Cipta Setiap Tulisan pada : masing-masing Penulis Hak Cipta Penerbitan pada : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badiklit Kesos, Departemen Sosial RI. Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126 Design Cover : Pradjwalita Setting & Layout : Sarif Hidayat

All Right Reserved Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Tidak dibenarkan memproduksi ulang setiap bagian artikel, ilustrasi dan isi buku ini dalam bentuk apapun juga, baik secara elektronik, fotokopi, mekanik, rekaman atau cara lain sebelum mendapat izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Executive Summary, Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Kesos / editor, Charles S. Talimbo, Harry Hikmat. iv + 205 hlm. ; 14,5 x 21 cm, (Executive Summary Tahun 2006)

ISBN : 978-979-5379-20-7
Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126

KATA PENGANTAR
Selama tahun 2006 telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa tema yang dinilai mendesak seperti Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasan yang Berbasis Institusi Lokal, Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Keluarga), Evaluasi Program Subsidi Panti, Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Komunitas Peduli Anak, Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Migran maupun Penelitian Diagnostik tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Nunukan, Pulang Pisau, Bone dan Manado. Selain itu, ada penelitian yang merupakan pengembangan salah satu metode untuk menentukan secara efektif data kemiskinan di suatu komunitas, yaitu Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi. Hasilnya telah dicetak dalam bentuk buku. Tetapi untuk memudahkan pembaca, terutama pihak eksekutif yang ingin memanfaatkan sebagai acuan berkaitan dengan penentuan kebijakan, maka kami berusaha menyajikannya dalam bentuk Executive Summary. Sudah barang tentu sajian ini lebih komunikatif. Dan bila pembaca memerlukan yang lebih spesifik dan detail, tidak ada salahnya menelaah buku-buku hasil penelitiannya. Kami percaya, eksekutif masa kini adalah tipe ”research minded” karenanya setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada wangsit, tetapi melalui suatu proses kajian yang matang. Semoga. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Charles S. Talimbo NIP. 170011051
Puslitbang Kesos

i

.........................................................Si ) ................................................ 65 5........................................... M. Participatory Wealth Ranking......... Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon ...Pd........ M..... DAFTAR ISI . 1........................ Achmadi Jayaputra...............................................Si ) ......................................... Problem dan Strategi Penanganannya ( Drs................. 2..................... Diagnosa tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah ( Dra...... 99 7........... Sebuah Alternatif Teknik Indentifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin ( Drs.. 119 Puslitbang Kesos iii .......................................... i iii 1 25 3. SE ) .... Bambang Pudjianto............... Sutaat ) .................... Indah Huruswati ) .........................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .... Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kabupaten Nunukan ( Drs...................................... Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan) ( Sugiyanto.. Anwar Sitepu...... 81 6.................. MP ) ...Si ) ...... Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan Di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat ( Drs.................................................... M................. 43 4......... Peta Masalah Sosial di Bone: Potensi....... S....................Minahasa ( Rusmiyati..

........ Pengembangan Komunitas Peduli Anak ( Dra........ 11.................................. Togiaratua Nainggolan............ MP ) ........................... Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah di Indonesia) ( Dra........... 153 169 181 191 195 199 10...................................... Nurdin Widodo ) ................................................................. Sri Gati Setiti ) ........................................... M...... Evaluasi Program Subsidi Panti dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial ( Drs........... SEKILAS EDITOR ................................................... SEKILAS PENYUSUN ................................... Alit Kurniasari..............................Si ) .............................. 129 9............................................... iv Puslitbang Kesos .......... INDEKS .........8..... Gender dan Keluarga Migran di Indonesia ( Drs..........

dan memimpin berbagai kegiatan penelitian di lingkungan Puslitbang Kesos. tahun 2006. penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) guna memacu kemajuan wilayah dan penduduk diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. Untuk itu. dan keluarga rentan. Peneliti Madya pada Puslitbang Kesos. Pranata sosial dapat dipahami sebagai sistem antar hubungan peran dan norma berkenaan dengan aktivitas yang dianggap penting oleh anggota komuniti. Kabupaten Nunukan. berpengalaman dalam berbagai kegiatan penelitian. berbentuk pranata sosial. antara lain masalah fakir miskin. Sutaat 2 ABSTRAK Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah pemekaran memiliki permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. bahwa program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. Penelitian ini mencoba menggambarkan mendiagnosa kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Nunukan. Sutaat. (2) Program-program sektor sosial bagi masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Perwujudan kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan tampak dalam kehidupan komuniti. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat sebagai daerah pemekaran baru. keterlantaran. termasuk dalam penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Empat Kabupaten tahun 2005. oleh Puslitbang Kesos. berpendidikan S1 bidang kesejahteraan sosial.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN1 Drs. Hal ini terkait dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial 1 2 Ditulis dari hasil penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Sebatik Barat. serta peningkatan fungsi dan peningkatan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial (PSKS) Kata kunci: Masalah Sosial. Masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Akses penduduk pada pendidikan yang lebih tinggi masih terbatas. Hal ini menjadikan wilayah tersebut jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya. terutama belum tersedianya database yang akurat sebagai bahan penyusunan rencana program pembangunan di wilayahnya. perumahan tidak layak huni. Puslitbang Kesos 1 . Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosial budaya. terutama sarana pendidikan dan transportasi/ perhubungan dalam pulau dan antar pulau. Hasil penelitian ini menunjukkan. perbaikan lingkungan dan perumahan.

Dengan demikian. wanita rawan sosial ekonomi. lanjut usia terlantar. masalah sosial pada masyarakat tertentu belum tentu dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang lainnya (Rudito. individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Menurut konsep sosial budaya. masalah sosial hanya dapat diidentifikasi menurut cara pandang komuniti. anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak jalanan. Saat ini terdapat 27 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang telah diidentifikasi Departemen Sosial. mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya (Warren. sehingga sulit atau jauh dari sentuhan program pembangunan. anak cacat. masih terdapatnya pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Nunukan yang belum dimanfaatkan atau belum punya nama. anak nakal. Perbedaan tindakan dan tingkah laku dalam menanggapi obyek yang sama dapat menimbulkan suatu masalah antara satu komuniti dengan komuniti lainnya. dan masih rendahnya taraf hidup masyarakat terutama bila dibandingkan dengan taraf kehidupan warga Malaysia di perbatasan. Nunukan Pendahuluan Hasil penelitian Puslitbang Usaha Kesejahteraan Sosial (Puslitbang UKS. antara lain: masih terisolirnya sejumlah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbatasan. 2 Puslitbang Kesos . Perbedaan kebudayaan pada masing-masing komuniti akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. 2005) menyebutkan bahwa berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang berbatasan dengan Malaysia. anak terlantar. 2003). lanjut usia yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. begitu juga dengan pendefinisian terhadap kesejahteraan dan masalah sosial. Komuniti adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh anggotanya berinteraksi satu sama lain. mempunyai pembagian peran dan status yang jelas. Oleh karena itu. yakni bagaimana komuniti tersebut memberikan makna pada gejala yang ada sebagai masalah sosial atau tidak. Cottrell dalam Ndaraha: 1990) Di lingkungan Departemen Sosial. dan ini merupakan suatu dampak dari adanya masalah sosial yang terwujud sebagai tindakan kebudayaan. antara lain: balita terlantar. secara umum kesejahteraan sosial dari masing-masing komuniti akan berbeda.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. 1991) membagi sistem sumber menjadi tiga kategori. keluarga fakir miskin. adalah sesuatu yang bermanfaat. gelandangan. korban penyalahgunaan napza. bekas narapidana. yaitu rumah sakit. korban bencana alam. sehingga pelaksanaan program pembangunan akan tepat sasaran dan tepat guna. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial sumber kesejahteraan sosial sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan/program yang terarah dan komprehensif. Tersedianya data yang akurat dan reliabel akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. kesenian. keluarga berumah tak layak huni. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. Sistem Sumber Formal. keagamaan. politik. tuna susila. dan sebagainya. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. penyandang HIV/AIDS. tampaknya mengalami masalah dalam hal penyediaan data (database) yang akurat mengenai permasalahan sosial serta sumberdaya yang ada di wilayahnya. Sistem Sumber Kemasyarakatan. permasalahan sosial akan ditangani secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliabel. Untuk mempertahankan kehidupannya. gotong royong. 2002). Daerah pemekaran baru seperti halnya Nunukan. pekerja migran terlantar. lembaga pendidikan. korban bencana sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Didalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. Nunukan penyandang cacat. sosial. keluarga bermasalah sosial psikologis. tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. lembaga pelatihan kerja. Guna mewujudkan kesejahteraan sosial. Allan Pincus dan Anne Minahan (Dwi Heru Sukoco. yaitu: Sistem Sumber Informal atau Natural. pengemis. Oleh karena itu. setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang Puslitbang Kesos 3 . komunitas adat terpencil. Berdasarkan berbagai uraian tersebut di atas. Pengertian sumber menurut Max Siporin.

Hal ini karena 4 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Pulau ini terbagi menjadi dua bagian. Keadaan Wilayah Lokasi Penelitian Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Timur yang letaknya paling utara. serta upayaupaya penanganan yang pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Nunukan. Deskriptif dimaksud untuk mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat. Penelitiaan ini bertujuan untuk memperoleh data kualitatif tentang jenis permasalahan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat yang merupakan daerah pemekaran baru dan letaknya berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia Timur). lokasi penelitian ini difokuskan di Kecamatan Sebatik Barat sebagai salah satu kecamatan pemekaran yang terletak di daerah perbatasan. pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. Dengan berbagai pertimbangan kebutuhan wilayah. Informan penelitian ini adalah warga masyarakat dan tokoh masyarakat setempat. yaitu Desa Setabu dan Desa Sungai Pancang. Sehubungan dengan itu. dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Sebatik Indonesia pada mulanya terdiri dari dua buah desa induk. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Nunukan. Nunukan ada. Perkembangan wilayah Desa Sungai Pancang relatif lebih maju dibandingkan Desa Setabu. wawancara. serta aparat pemerintah daerah yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. diskusi. dan bahan-bahan dokumen. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melaksanakan penelitian diagnostik tentang permasalahan sosial di daerah. yakni bagian selatan merupakan wilayah Negara Republik Indonesia dan bagian utara merupakan wilayah Negara Malaysia Timur (Sabah). Sebagai akibatnya. Sementara itu Pemerintah Pusat belum mempunyai data yang cukup tentang potensi dan sumber serta permasalahan sosial. sehingga program pusat dirasa kurang responsif terhadap kebutuhan lokal.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Sungai Pancang mempunyai akses yang lebih mudah dengan negara tetangga (Malaysia). Sementara itu, Desa Setabu yang letaknya di bagian barat menghadap Pulau Nunukan dan Daratan Kalimantan, memiliki infrastruktur transportasi ke Nunukan atau daratan Kalimantan relatif yang kurang memadai. Oleh karena itu, dari segi kemajuan wilayah Desa Setabu menjadi lebih lambat. Kecamatan Sebatik Barat yang berpusat di Desa Setabu terdiri dari empat desa, yakni Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu, dan Desa Aji Kuning (letaknya berbatasan dengan Malaysia Timur). Desa Aji Kuning ini berbatasan dengan Desa Sungai Pancang (Sebatik Timur), dan karena itu desa ini merupakan desa di wilayah Sebatik Barat yang termasuk paling maju. Kecamatan Sebatik Timur yang semula merupakan induk Desa Sungai Pancang terdiri dari empat desa, yakni Desa Tanjung Karang, Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, dan Desa Tanjung Aru. Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Puslitbang Kesos

5

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Kependudukan Penduduk Kecamatan Sebatik Barat berjumlah 10.285 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk Sebatik secara keseluruhan 30.947 jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa 1/3 jumlah penduduk Sebatik berada di Sebatik Barat, dan 2/3 lainnya merupakan penduduk Sebatik Timur. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa Sebatik Timur kondisinya lebih maju dari Sebatik Barat, baik dari segi ekonomi maupun sarana infrastruktur yang relatif lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, penduduk banyak terkonsentrasi di wilayah Timur yang jauh lebih maju. Kondisi seperti tersebut di atas tampak pula pada jumlah penduduk per kelurahan di Sebatik Barat, yakni Kelurahan Aji Kuning dengan jumlah penduduk terbesar (3.687 jiwa). Kondisi ini terkait dengan kemajuan Desa Aji Kuning yang jauh melebihi desa-desa lain di Sebatik Barat. Sejak dari awal penduduk Aji Kuning telah banyak mengadakan hubungan ekonomi perdagangan dengan negara tetangga (Malaysia).
Tabel 1. Penduduk Kecamatan Sebatik Barat
DESA Aji Kuning Setabu Binalawan Liang Bunyu JUMLAH REKAPITULASI HASIL PENDATAAN PENDUDUK TAHUN 2005 JUMLAH KEPALA JUMLAH JIWA RT/DUSUN KELUARGA RT DUSUN L P JML L P JML 17 4 908 51 959 1990 1697 3687 7 442 28 470 1156 1001 2157 6 359 14 373 1013 886 1899 11 530 28 558 1374 1168 2542 41 4 2239 121 2360 5533 4752 10285

Sumber : Monografi Kecamatan Sebatik, 2005.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa banyak penduduk Aji Kuning yang merupakan eks TKI di Malaysia. Bahkan banyak di antara mereka masih mempunyai kerabat yang berada di Malaysia (terutama di Tawao). Beberapa warga mempunyai identitas ganda, yakni warga Indonesia dan warga Malaysia; atau warga negara Malaysia tetapi merupakan penduduk tetap Desa Aji Kuning. Tampaknya memang secara sosial budaya antara warga Aji Kuning dengan Tawao-Malaysia hampir tidak ada batas. Beberapa rumah warga ada yang sebagian berada di wilayah Indonesia dan sebagian lainnya berada di wilayah Malaysia, dan bahkan ada beberapa warga yang mendirikan rumah di atas tanah wilayah Malaysia.

6

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Pranata Kehidupan Masyarakat
1. Pranata Agama/Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Sebatik Barat sebagian besar Islam, sedangkan sebagian lainnya Kristen Katholik dan Protestan. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang ada meliputi bangunan Masjid, langgar, dan Rumah Kebaktian di perumahan penduduk. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Selain menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama, penduduk di Wilayah Kecamatan Sebatik Barat juga masih ada yang mengembangkan aliran kepercayaan Suku Bangsa Tidung. Suku Tidung adalah bagian dari Suku Dayak yang tinggal di Tarakan yang menempati daerah Pulau Sebatik, dan merupakan suku asli. Kepercayaan tersebut berupa pemberian semacam sesajen yang dilakukan oleh perorangan dengan cara mengirim doa melalui pemberian sesajen hewan potong yang dilabuh di tengah laut dan dekat dengan tempat tinggalnya. Acara menjalankan ritual adat/kepercayaan/religi yang dijalankan nenek moyang Suku Dayak. Penduduk yang menjalankan dan masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka, walaupun banyak juga yang menganut Agama Islam dan Khatolik. Namun dalam kepercayaan orang Sebatik masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga sungai dan atau laut.
2. Pranata Keluarga/Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah tidak ada aturan yang mengikat, artinya dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kebebasan untuk menentukan pasangan/pilihan hidup. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Dalam sistem kekerabatan yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai keturunan ketiga. Pada dasarnya, dalam suatu keluarga besar yang masuk dalam satu keluarga batih dan dikatakan masih memiliki ikatan yang kuat,
Puslitbang Kesos

7

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

dapat mempersatukan kelompok mereka yang ditandai dengan adanya hak dan kewajiban antar anggota kerabat. Hak dan kewajiban anggota kerabat tersebut dapat dilihat dalam pola perkawinan, perawatan orang tua dan upacara kematian. • Dalam Pola Perkawinan: sebagian besar penduduk mengikuti aturan Agama Islam, misalnya dilarang oleh penduduk apabila terjadi perkawinan: (1) antara anak laki-laki dan perempuan sesama saudara laki-laki sekandung; dan (2) perkawinan antara bapak dengan anak perempuannya. Tetapi jika terjadi perkawinan sepupu silang, yakni perkawinan antara anak laki-laki antara saudara sekandung laki-laki perempuan boleh dilakukan, karena hal tersebut dianggap bukan saudara sedarah seperti halnya dengan anak saudara laki-laki seayah. • Dalam Pola Perawatan Orang Tua (lanjut usia). Jika salah satu orang tua atau salah satu anggota keluarga sakit maka seluruh anggota keluarga dilibatkan untuk membantu dan menanggung biaya perawatan yang telah dimusyawarahkan secara bersamasama. Akan tetapi untuk perawatan sehari-hari perawatan ditanggung oleh anak yang tinggal serumah, dan nantinya mewarisi tempat tinggal orang tuanya. • Dalam hal kematian, pelaksanaan penguburan baru bisa dilaksanakan setelah anggota keluargganya kumpul terutama dua generasi ke atas dan ke bawah. yakni: anak-anak, saudara kandung, paman, bibi dari bapak maupun ibu. Jika ada peristiwa kematian maka semua warga masyarakat terlibat, baik dalam upacara pemakaman ataupun dalam pesta kendurinya/membaca doa. Untuk keperluan membaca doa dalam kenduri, keperluan untuk selamatan/kenduri setiap kepala keluarga akan memberikan sumbangan sesuai dengan kedekatan hubungan antara kepala keluarga dengan keluarga yang mengalami kematian.
3. Pranata Ekonomi

Keluarga-keluarga pada masyarakat Sebatik Barat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, terutama pangan merupakan tanggung jawab bersama antara suami istri. Kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari lingkungan sekitar dan dapat juga dari

8

Puslitbang Kesos

Mereka berkeliling ke desa-desa sesuai dengan jadwal pasar pada desa yang bersangkutan. dimana hasil dari mata pencaharian tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. pacul dan kampak. Sedangkan dalam hal peternakan masih bersifat tradisional. dengan cara menjual hasil ladang. Jadi untuk mencari nafkah bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang suami.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. istripun juga sangat berperan untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga. Hasil tangkapan ikan dan hasil pertanian umumnya mereka jual ke Malaysia atau di pasar-pasar tradisional yang ada di Puslitbang Kesos 9 . walupun masih ada juga nelayan tradisional. dan hasil tangkapan ikan/ nelayan. linggis. dan tidak disiapkan kandang dan pakan secara khusus. pestisida dan adanya benih unggul. Nunukan luar desa. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya diperoleh dari warung-warung yang ada di lingkungannya. Sebagian dari mereka juga sudah mengenal sedikit model pertanian modern. seperti parang. Namun demikian dari segi peralatan kerja umumnya masih menggunakan peralatan sederhana. Walaupun sebagian besar wilayah Kecamatan Sebatik Barat adalah hutan. sesuai dengan mata pencaharian penduduk. selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut. misalnya untuk Desa Setabu pasar aktif pada hari minggu. Perkebunan dan perikanan sudah mulai terarah dengan cara modern yakni dengan cara membuat keramba terapung. Pedagang pasar tersebut sebagian besar berasal dari Nunukan. ternak mereka masih dibiarkan berkeliaran di kebun atau di jalan-jalan desa. Pasar pada masing-masing desa hanya aktif satu kali dalam satu minggu. Sistem pertanian penduduk Sebatik umumnya sudah menetap. Kebutuhan sayuran penduduk sehari-hari diperoleh dari penduduk setempat yang berdagang keliling membawa sayuran hasil kebunnya. Pasar yang biasa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian/ tangkapan ikan dan membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari adalah pasar tradisional yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. namun hutan tersebut merupakan hutan lindung yang tidak diperkenankan untuk dikerjakan sebagai lahan pertanian penduduk. seperti memakai pupuk kimia. dan tidak ada lagi sistem pertanian dengan cara ladang berpindah. Pasar-pasar ini merupakan pasar keliling yang secara rutin mempunyai jadwal di tiap desa.

Hasil yang diperoleh saat ini dari pengolahan tanah yang merupakan hasil pertanian/perkebunan rakyat. di Sebatik pernah dikembangkan tanaman kopi terutama saat permintaan kopi dari negara tetangga cukup besar. tampaknya masyarakat masih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi daripada kesadaran sebagai WNI. yakni sumber minyak bumi. Sumber alam yang sudah diolah saat ini adalah tanah pertanian/perkebunan. Setelah permintaan kopi dan harganya anjlok masyarakat mulai beralih pada tanaman coklat. Menurut masyarakat setempat. Kedua. Nunukan sekitar wilayah Sebatik Barat. Hal ini tampaknya merupakan salah satu ciri masyarakat di daerah perbatasan. Untuk masyarakat Jawa. hasil coklat dan pisang banyak dijual ke negara tetangga Malaysia (Tawao). karena biaya yang mahal dan belum lancarnya trasportasi umum. Sebelum masyarakat mengembangkan tanaman coklat. Kenyataan yang ada saat ini. 10 Puslitbang Kesos . Kebun coklat dan pisang tersebut cukup luas dan memberikan hasil cukup besar bagi masyarakat Sebatik Barat. Jenis pisang di wilayah ini bagi masyarakat setempat dikenal dengan nama “pisang sanggar” (pisang goreng). pertama karena kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan secara turun menurun untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk negara tetangga. namun demikian hingga kini belum ada upaya untuk ekspolitasi sumber tersebut. karena umumnya disajikan dengan cara digoreng. pisang sanggar tersebut biasa dikenal sebagai pisang “kepok”. dari segi transportasi dan jarak serta waktu tempuh ke Tawao relatif lebih murah dan mudah dibandingkan ke Nunukan. infrastruktur untuk jalur transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. adalah dari kebun coklat dan pisang. di Sebatik sebenarnya terdapat sumber alam yang dapat mendukung kemajuan wilayah. Ketiga. Ada bebarapa hal yang mendorong mereka melakukan hal itu. Potensi dan Sumber Alam Berdasarkan informasi tokoh masyarakat setempat. Mereka jarang membawa dan menjual barang dagangannya ke Nunukan. Bahkan di antara mereka ada yang pernah tinggal dan punya kerabat yang berada di Malaysia dan mempunyai Identity Card (ID) Malaysia. Jalan penghubung antar kecamatan kondisinya rusak. apalagi pada musim penghujan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

Ketergantungan masyarakat pada negara tetangga dapat mengurangi rasa kebangsaan dan nasionalisme. masalah infrastruktur yang kurang memadai. ada ketergantungan masyarakat dengan negara tetangga. Hal ini menjadikan Sebatik Barat tertinggal dalam berbagai pembangunan. Demikian pula yang terjadi di Sebatik Barat. terutama yang dekat dengan perbatasan mempunyai ID ganda. Pada satu sisi. rendahnya pendidikan. yakni masalah ketertinggalan. Nunukan Permasalahan Sosial Hasil penelitian ini mengidentifikasi ada tiga besaran permasalahan sosial di Sebatik Barat yang mendorong munculnya berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. Kondisi yang demikian menjadikan penduduk Sebatik tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat negara tetangga. Masalah Ketertinggalan Sebatik merupakan pulau terluar dan terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu sebelah Utara Wilayah Malaysia (Sabah). baik pembangunan fisik maupun non fisik. Mereka akan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi daripada memperhatikan kedudukannya sebagai warga negara Indonesia. tampak dari besarnya populasi keluarga kurang mampu (kecuali miskin). penduduk Sebatik mendapat imbas kemajuan ekonomi dari penduduk negara tetangga. Masalah yang terkait dengan rendahnya Puslitbang Kesos 11 . Masalah-masalah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Pada sisi lain. Masalah-masalah kesejahteraan sosial yang biasanya terkait dengan daerah tertinggal antara lain rendahnya kemampuan ekonomi. sehingga sebagian besar penduduk seolah-olah kurang menyatu dan berinteraksi secara intensif dengan penduduk lainnya di wilayah Indonesia. akses komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. misalnya dalam pemasaran hasil dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga. dan rendahnya kualitas hidup. dan masalah potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang belum menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. Hal ini tampak dari informasi yang diperoleh bahwa beberapa penduduk Sebatik. dan sebelah Selatan Wilayah Indonesia (Provinsi Kalimantan Timur). Sementara itu. Alasan mereka adalah untuk kemudahan hubungan dengan masyarakat negara tetangga yang dirasakan memberikan banyak keuntungan.

Nunukan kemampuan ekonomi tampaknya cukup besar. Meskipun tidak semua keluaga miskin berkaitan dengan kondisi rumah. keterlantaran. Namun demikian dapat dikatakan bahwa penduduk miskin Sebatik Barat untuk pemenuhan kebutuhan pangan belum merupakan hal yang serius (belum kritis). Penjelasan dari kasus dimaksud adalah bila kita lihat pada status rumah atau kepemilikan rumah.113 12 Puslitbang Kesos . Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. penyandang cacat. Ada beberapa jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang hampir ada di setiap desa. dan rumah tidak layak huni. Masalah-masalah tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kemiskinan. misalnya pendidikan keluarga. fakir miskin. Kemiskinan yang mereka alami adalah kekurangmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan lainnya. wanita rawa sosial ekonomi. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin Aji Setabu Kuning 14 22 38 8 10 4 8 47 45 57 31 6 13 7 3 3 9 7 58 346 1 2 38 674 Desa Binalawan 19 37 8 7 27 173 Liang Bunyu 2 5 10 58 11 13 5 30 228 Jml 14 62 18 17 121 183 38 20 8 3 23 461 3 1. dan penyediaan rumah yang layak huni. lanjut usia. namun beberapa kasus keluarga miskin di Kecamatan Sebatik Barat. seperti rumah tidak layak huni. tetapi miliki kerabat atau warisan dari orangtuanya. Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar Penyandang Cacat Cacat Bekas Sakit Kronis Pengemis Eks Napi Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak layak Huni Kel.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tiap Desa di Kecamatan Sebatik Barat. dan wanita rawan sosial ekonomi. Tabel 2. Beberapa kasus keluarga miskin menunjukkan bahwa mereka menempati rumah yang bukan milik sendiri. yaitu keluarga miskin. umumnya bertempat di rumah yang layak huni. partisipasi iuran warga.

sehingga kalah bersaing dengan nelayan dari negara tetangga. Sumber laut Sebatik (perikanan) sebenarnya cukup memberikan harapan. petani hampir tidak pernah dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. namun penduduk setempat masih menggunakan perahu tradisional ukuran kecil dan dengan peralatan yang sederhana. Hambatan yang dialami untuk memperoleh pendapatan tinggi dari sektor pertanian. penyediaan air bersih. seperti sarana perhubungan. Dampaknya adalah sebagian besar mereka membabat kebun kopi untuk diganti dengan tanaman lainnya. Menurut penduduk Sebatik. Prasarana dan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Barat saat ini hanya ada dua puskesmas. coklat. sarana pendidikan. banyak penduduk Sebatik Barat yang masih mengandalkan pengobatannya pada bantuan dukun melalui cara-cara tradisional. namun dengan berkurangnya dan bahkan berhentinya permintaan kopi dari negara tetangga menjadikan harga kopi anjlok. tapi dengan konsekuensi harus menjual tangkapannya kepada mereka. penduduk mengalami hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang ada. Oleh karena itu. selama peneliti ada di lokasi tidak melihat adanya hasil laut yang berlimpah di pasar/warung lokal. Dengan demikian. menghasilkan komoditi pertanian yang cukup besar seperti pisang. terutama kurangnya posisi tawar dengan konsumen di negara tetangga.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. atau membiarkan kebun kopinya tidak terurus. Beberapa nelayan memperoleh peralatan dan modal dari penduduk negara tetangga. Hal ini merupakan permasalahan sendiri bagi penduduk Sebatik Barat dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat. Nunukan Hal yang menguntungkan bagi masyarakat Sebatik adalah kondisi tanah yang relatif subur. Bahkan terkesan sulit memperoleh ikan dari pasar lokal. Masalah Keterbatasan Infrastruktur Sebatik sebagai wilayah yang tergolong daerah tertinggal mempunyai keterbatasan infrastruktur. Oleh karena itu. 2. dengan jumlah dokter masing-masing satu orang. dan kopi. yang dalam bahasa daerah/lokal disebut tatamba. komunikasi. kasus komoditi kopi yang pernah memberikan penghasilan cukup besar. Tatamba Puslitbang Kesos 13 . dan sarana kesehatan. yakni satu Puskesmas di Desa Setabu dan satu Puskesmas di Desa Aji Kuning.

Sebagian jalan-jalan di Sebatik terutama pada musim penghujan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. yakni mobilitas penduduk antar desa/kecamatan sangat terbatas.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No 1. Nunukan juga merupakan kebiasaan adat (ritual) pengobatan bagi penduduk yang terkena bisa ular. Untuk itu. Sehingga pada musim kemarau penduduk mengalami kekurangan air bersih. sedikit sumber air. 6. lalu diminum. Menurut mereka si sakit sembuh karena izin dari Allah. sumber air bersih yang ada meskipun rendah kualitasnya adalah sumur umum dekat sungai yang mulai mengering. jumlah sarana angkutan umum yang ada masih terbatas dan dengan biaya yang cukup mahal. penduduk harus mengangkut air dari sumber tersebut bagi kebutuhan rumahtangganya. Sementara itu. cabe rawit. misalnya pengobatannya dengan cara mengunyah pucuk daun jambu dan nangka. baik jalan antar kecamatan maupun antar desa sebagian besar berupa jalan darurat (jalan tanah dan pasir batu). dan dekat dengan laut menyebabkan kualitas air tanah maupun air pemukaan sangat rendah. Oleh karena itu. 2. 7. 14 Puslitbang Kesos . Jenis Fasilitas Puskesmas Polindes Posyandu Dokter Perawat/Mantri Bidan Dukun Desa Setabu 1 4 1 5 3 2 Aji Kuning 1 4 1 1 Binalawan 1 3 9 Liang Bunyu 1 4 1 1 7 Jml 2 2 15 2 6 5 18 Kondisi tanah yang berbukit-bukit. Jalan aspal baru mencapai jarak sekitar 2 km di Desa Setabu (ibukota kecamatan). 5. Beberapa cara tradisional lainnya masih sering dilakukan penduduk. penduduk Sebatik mengalami permasalahan dalam penyediaan air bersih. 4. Sarana jalan darat yang ada di Sebatik. Kondisi seperti itu menjadi permasalahan tersendiri bagi penduduk Sebatik. Saat tidak ada hujan. butuh (kemaluan) tupai. Tabel 3. tenung yaitu cara penyembuhannya disembur dengan air putih yang sudah diberi doa. Sumber air bersih utama masyarakat saat ini adalah air hujan. termasuk masalah pengangkutan hasil pertanian/perkebunan penduduk. 3. merebus akar alang-alang.

sekolah lanjutan pertama (SMP) hanya ada dua yakni satu di Desa Setabu dan satu di Desa Aji Kuning. 4. Sarana Pendidikan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. Dengan demikian. Untuk wilayah Sebatik Barat. 10. Kondisi seperti ini menyebabkan banyak penduduk yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah.tergantung dari banyaknya penumpang. hanya beberapa anak.000.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.. penduduk banyak menggunakan sarana telepon seluler yang jaringanya masih terbatas. Sekolah lanjutan atas negeri hanya ada di Nunukan. 1. Sehingga bagi anak-anak penduduk desa lainnya harus menempuh jarak cukup jauh bila ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP. 20. Nunukan Saat ini angkutan laut (perahu motor) ke Nunukan tiap hari umumnya hanya dua trip (berangkat pagi dan pulang siang hari). B Jumlah Desa Setabu 3 1 1 5 Aji Kuning 1 3 1 5 Binalawan 4 1 5 Liang Bunyu 2 1 2 5 Jml 10 11 2 2 25 Saran komunikasi telepon kabel dan telepon umum di wilayah Sebatik Barat hingga saat ini belum tampak kehadiranya.s/d Rp. makin banyak penumpang akan semakin murah biayanya.000. dan dengan jumlah yang terbatas. Saat ini sekolah lanjutan atas baru ada di Kecamatan Sebatik Timur. Oleh karena itu. Jaringan/siaran televisi dan Puslitbang Kesos 15 . Sarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas. yakni sekolah milik swasta. Kepemilikannya juga masih terbatas pada penduduk yang tergolong cukup mampu. dari segi pendidikan penduduk Sebatik Barat sebagian besar rendah (hanya mencapai tingkat Sekolah Dasar. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Nunukan untuk menciptakan sarana perhubungan yang relatif mudah dijangkau masyarakat dan dengan frekuensi yang cukup memadai. khususnya dari golongan mampu yang dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 3. beberapa desa hanya mempunyai sekolah sampai SD. 2. Jenis Fasilitas Pendidikan TPA Sekolah Dasar SLTP Kejar Paket A.. Tabel 4. Untuk ke Nunukan sekali jalan beaya yang harus ditanggung per orang antara Rp. Sementara ini. baik karena masalah jarak lokasi maupun kemampuannya yang terbatas.

Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ini dapat berwujud lembaga sosial maupun individu-individu yang peduli terhadap usaha-usaha kesejahteraan sosial. 3. tabungan. Kelompok pemuda ini pada umumnya memiliki kegiatan edukatif. Desa. Nunukan radio sebagian sudah dapat ditangkap penduduk meskipun masih terbatas. • PKK. Masalah Pontensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial merupakan hal yang penting dalam menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. Kelompok ini merupakan organisasi pemuda pada tingkat lokal. Jenis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mencakup kelompok/lembaga sosial dan perorangan dapat dijelaskan seperti berikut: • Perkumpulan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). dan secara fungsional berada dalam pembinaan Departemen Sosial. Kelompok ini dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa dari pemerintah. penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana serta peningkatan gizi keluarga. ekonomis produktif dan 16 Puslitbang Kesos . Inisiasi pembentukan Karang Taruna oleh masyarakat. Tujuan kelompok ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Dusun.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. maka dapat menghambat masuknya informasi nasional dalam kehidupan masyarakat Sebatik. Anggotanya sebagian besar remaja dan beberapa orang dewasa. kelompok ini beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang memiliki anak balita. Kabupaten dan Provinsi. dengan usia berkisar antara 19 tahun sampai dengan usaia 40 tahun. menimbang balita. dan usaha ekonomis produktif. Namun demikian masuknya jaringan/siaran televisi asing (negara tetangga) tampaknya tidak bisa dihindarkan mengingat letaknya yang cukup dekat. Kelompok ini dibentuk atas prakarsa pemerintah. Lembaga ini mempunyai jangkauan wilayah berjenjang dari tingkat Rukun Tetangga. gotong royong. beranggotakan kaum wanita terutama ibu rumahtangga. Kecamatan. Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan balita. Tujuan kelompok ini adalah peningkatan kesejahteraan keluarga melalui berbagai kegiatan seperti arisan. • Karang Taruna/kelompok pemuda. simpan pinjam. Bila siaran televisi Indonesia tidak lebih kuat.

Nunukan rekreatif.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. bertanam sehingga diperoleh peningkatan hasil pertanian. merupakan individu-individu yang berasal dari masyarakat setempat. Kelompok ini beranggotakan para petani dan memiliki kegiatan mulai dari pengolahan tanah. Mereka bekerja secara mandiri. Kelompok ini memiliki kegiatan latihan rutin dan pentas untuk mengisi acara permintaan atau acaraacara tertentu. • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat. Kegiatan kesenian tradisional yang terkenal adalah tarian “Jepin” yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. Arisan ini digunakan sebagai sarana tukar informasi dan saling memberikan pemikiran tentang permasalahan yang dihadapi anggota. • Kelompok Tani dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa pemerintah dalam upaya peningkatan hasil pertanian. • Kelompok kesenian terdiri dari sekumpulan warga masyarakat yang mempunyai minat dan bakat dibidang kesenian baik itu kesenian tradisional maupun modern. kelompok maupun bersama dalam wadah lembaga sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungannya. Namun demikian kondisi saat ini sebagian besar tampaknya kurang aktif. • Arisan keluarga. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi dengan warga masyarakat setempat menunjukkan bahwa kondisi PSM dan KT di Sebatik Barat Puslitbang Kesos 17 . umumnya beranggotakan sejumlah Kepala Keluarga dari etnis tertentu. • Pengajian/majlis taklim dibentuk oleh masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi kaum muslim. Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat setempat. Pembentukannya oleh inisiatif pemerintah dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial. Kelompok ini dibentuk masyarakat merupakan wadah silaturahmi. misalnya pada upacara pernikahan dan peringatan hari-hari besar nasional. Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan pengajian dan pembinaan mental keagamaan.

dapat dikatakan bahwa permasalahan sosial yang ada erat kaitannya dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Sementara itu organisasi-organisasi sosial yang ada di Kabupaten Nunukan belum menjangkau wilayah Sebatik. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kecamatan Sebatik Barat saat ini masih kekurangan sumber yang dapat diakses oleh mereka. Apalagi panti-panti rehabilitasi sosial atau lembaga rehabiliasi sosial lainnya bagi penyandang cacat saat ini belum ada di wilayah Kabupaten Nunukan. Upaya yang Telah Dilakukan Bila memperhatikan data PMKS seperti telah dikemukakan sebelumnya. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. Organisasi-organisasi sosial lokal saat ini mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. dan minimnya sumber dana maupun informasi yang mereka miliki. Sehingga banyak penyandang masalah yang tidak memperoleh pelayanan yang memadai. Beberapa upaya pemerintah yang masuk ke Sebatik berdasarkan informasi tokoh-tokoh setempat. adalah upaya pemberdayaan keluarga 18 Puslitbang Kesos . Hal ini antara lain disebabkan kondisi SDM yang relatif rendah (sebagian besar pendidikan SD). Hal ini menurut mereka disebabkan kurangnya bantuan dan pembinaan dari pemerintah terhadap sumber-sumber tadi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Saat ini tampaknya PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial lepas dari perhatian Kantor Sosial setempat. terutama karena faktor lokasi yang sulit dijangkau dan dukungan lainnya yang masih terbatas. Oleh karena itu. upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat akan selalu terkait dengan upaya peningkatan dari segi ekonomi atau pendapatan penduduk. Pembinaan terhadap kelompok-kelompok sosial masyarakat di Kabupaten Nunukan dapat dikatakan masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam kegiatan pembinaan. Panti-panti sosial yang ada di Kabupaten Nunukan jumlah maupun jangkauannya masih terbatas. Nunukan saat ini dapat dikatakan kurang aktif lagi.

dan kelompok-kelompok yang berbasis RT.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Dari hasil observasi tampaknya KUBE tersebut tidak lagi terlihat kegiatannya. dan keterlantaran. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Hal ini antara lain karena kurangnya pembinaan dari pemerintah setempat terhadap sumber-sumber tersebut. Upaya penduduk sendiri untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial dilakukan melalui kelompok-kelompok yang mereka bentuk. Masalah-masalah ini sebenarnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Hingga saat ini belum terlihat peran LSM/Orsos dalam usaha kesejahteraan sosial. menjadikan wilayah ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial tampaknya lepas dari perhatian Puslitbang Kesos 19 . seperti kelompok kematian. Masalah kesejahteraan sosial umumnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. wanita rawan sosial ekonomi. menjadikan mobilitas penduduk antar desa/ kecamatan sangat terbatas. arisan. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Namun demikian masih sangat terbatas kualitas maupun jangkauannya. dan akses pada pendidikan yang lebih tinggi terbatas. terutama sarana air bersih. Kesimpulan dan Saran Program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. Masalah kesejahteraan sosial yang cukup menonjol adalah kemiskinan. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial setempat. Masih minimnya infrastruktur yang ada. Nunukan miskin berupa bantuan stimulan ekonomi produktif melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan perbaikan rumah penduduk. masalah rumah tidak layak huni. Hal ini antara lain disebabkan kurang/tidak adanya pembinaan secara rutin dari penyelenggara program/kegiatan. misalnya peranserta LSM/ Orsos dan peran pemerintah pusat maupun daerah. seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Karang Taruna (KT) saat ini kurang aktif melaksanakan fungsinya. transportasi dan komunikasi. Tampaknya penanggulangan masalah kesejahteraan sosial di Sebatik Barat masih memerlukan campur tangan dari luar. pendidikan.

b. serta peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal agar mampu berperan dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial. Diharapkan dengan mudahnya akses pendidikan dan transportasi/perhubungan bagi penduduk akan mempunyai dampak terhadap peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat. Organisasi-organisasi sosial lokal mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. Untuk itu. Guna memacu kemajuan kehidupan masyarakat Sebatik. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. buku-buku pelajaran dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak terlantar. c. terutama sarana pendidikan. d. Mengingat keterbatasan lembaga pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. pemerintah daerah setempat perlu secara berkesinambungan melakukan pembaharuan data permasalahan kesejahteraan sosial. komunikasi. perbaikan lingkungan dan perumahan. Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. Nunukan pemerintah setempat. maka diperlukan program-program yang terpadu antar instansi (Dinas-Dinas).Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Sejalan dengan upaya ini. antara lain: a. agar dengan demikian pemerintah daerah akan selalu mempunyai data yang akurat dan up to date bagi perencanaan pembangunan. 20 Puslitbang Kesos . maka perlu dipertimbangkan oleh pusat maupun pemerintah daerah (Instansi Sosial) untuk mendirikan pantipanti rehabilitasi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Program-program sektor sosial yang diperlukan adalah upaya pemberdayaan penduduk miskin. antara lain lembaga pelayanan dalam bentuk panti rehabilitasi sosial. dan transportasi/perhubungan dalam pulau dan antar pulau. khususnya pendidikan formal diperlukan sarana pendidikan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan.

Rineke Cipta. Nunukan. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Nunukan dengan BPS Kabupaten Nunukan. Untuk itu. Jakarta. ICSD. Pusdatin. baik fisik maupun non fisik. 1991. Puslitbang Kesos 21 . Monografi Kecamatan Sebatik Rudito. Nunukan e. Bandung. Wilayah Sebatik yang berbatasan langsung dengan negara lain. Profesi Pekerja Sosial. 2005. Bandung. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Pembangunan Masyarakat. 2004. mempunyai posisi strategis terhadap kesatuan wilayah NKRI. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. 2002. 1990. Bambang dkk. diharapkan tidak lagi menjadi daerah tertinggal dan menjadi salah satu daerah perbatasan yang dapat diandalkan Pemerintah RI. maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu lebih ekstra membangun wilayah yang bersangkutan. Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2002. Taliziduhu. Dwi Heru Sukoco.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Dengan demikian. Departemen Sosial. 2002. Jakarta. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. STKS Press Kecamatan Sebatik Barat. Ndraha. BPS.

hidupnya tergantung dari bantuan orang lain. sering menggunakan obat-obat terlarang. Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar 17 121 6. banyak yang bolong. hanya mampu mendapatkan pendidikan sampai SD. Penyandang Cacat Cacat Bekas sakit Kronis Pengemis 38 8. seperti stroke. Anak Terlantar 62 3. anak-anak atau dewasa. Jenis PMKS Balita Terlantar Kriteria anak usia 0 – 5 tahun. keluarga dengan penghasilan tetap. Dinding tidak sempurna. telah selesai menjalani hukuman karena pelanggaran lalu lintas. Jumlah 14 2. keluarga dengan penghasilan tidak tetap. biasanya terkait dengan masalah-masalah ekonomi. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarga.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Rumah Tidak layak Huni Kel. tidak produktif lagi. sering mengkonsumsi alkohol. mengalami hambatan dalam beraktivitas. laki-laki atau perempuan usia 60 tahun ke atas. 183 7. atap dari daun atau dari seng tapi rusak. mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas seharihari. 20 8 10. katarak dsb. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin 461 3 1. tidak mampu membiayai pendidikan anak. kurang harmonis. anak usia 6 – 12 tahun. kondisi ekonomi kurang mampu. orang dewasa. Nunukan Lampiran 1 Jenis PMKS dan Kriteria Menurut Masyarakat Lokal di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. keluarga kurang mampu memberikan pelayanan. orangtua tidak mampu secara ekonomi. 5. cacat akibat penyakit. orang dewasa. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. cacat bawaan atau karena kecelakaan. Eks Napi Keluarga Fakir Miskin 3 23 12. lantai tidak sempurna/lantai kayu banyak yang rusak. tidak punya pekerjaan tetap. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. janda. hanya mampu membiayai pendidikan anak pada tingkat SD. wanita. sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. dan kurang atau tidak terpenuhi kebutuhannya secara memadai. Anak Nakal 18 4.113 22 Puslitbang Kesos . 1. pendidikan keluarga paling tinggi SD. tidak mempunyai pekerjaan tetap. 11. anak usia 15 – 21 tahun. menderita cacat karena bawaan atau kecelakaan. tergantung pada bantuan orang lain. 14. dan mengganggu orang lain/lingkungan. rumah darurat atau kondisinya kurang sempurna. usia produktif. dan kurang sehat. yatim atau yatim piatu. suami isteri sering bertengkar. mempunyai tanggungan anak usia sekolah. 13. 9. orang dewasa. anak usia 6 – 21 tahun. berasal dari keluarga kurang mampu.

Peta Wilayah Desa Aji Kuning 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Peta Wilayah Desa Binalawan Puslitbang Kesos 23 . Nunukan Lampiran 2 PETA WILAYAH 1.

Peta Wilayah Desa Liang Bunyu 24 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Peta Wilayah Desa Setabu 4. Nunukan 3.

MSc.Departemen Sosial RI dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau .Si. Kriteria permasalahan sosial serta potensi. serta masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak.Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2006 lalu. Endang Kironosasi. selain juga anak terlantar. dilakukan melalui penelitian kerjasama antara Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial . Indah Huruswati. Penelitian dilakukan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang dipilih berdasarkan keragaman masalah sosial dan potensi yang dimiliki. Peneliti Muda pada Puslitbang Kessos. Upaya penyediaan database tersebut. Moch. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten ini dapat terwujud secara tepat sasaran dan tepat guna.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH1 Dra. keluarga rentan dan keluarga berumah tidak layak huni. dengan tim penelitian Drs. Dra. Kabupaten ini dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Syawie. M. Indah Huruswati 2 ABSTRAK Kabupaten Pulang Pisau merupakan sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas yang diresmikan pada tahun 1999. Pemerintah Daerah berupaya menata kembali sistem administrasi wilayahnya. Dampak dari pemekaran tersebut. salah satunya adalah dengan menyediakan data dasar (database) yang akurat dan reliable tentang permasalahan sosial serta sumberdaya. yang dapat dijadikan acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa permasalahan sosial yang paling menonjol adalah masalah fakir miskin (kemiskinan). Kata kunci: Permasalahan Sosial 1 2 Tulisan ini diangkat dari penelitian Diagnosis Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. diungkapkan dalam hasil penelitian ini berdasarkan pandangan masyarakat lokal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka miliki. Badiklit Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos 25 . antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai.

sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya serta dapat berlangsung secara berkesinambungan. sumber daya sosial. Pulang Pisau Pendahuluan Sejak dicanangkannya otonomi daerah yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang No. tentunya akan berpengaruh pada program pusat yang dampaknya tidak mampu mengakomodir kebutuhan daerah. kewilayahan dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam dan ekonomi. Dampak dari pemekaran tersebut. Terkait dengan Pemerintah Pusat. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. Tentunya berdampak pada perubahan status administrasi pada wilayah-wilayah tersebut. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Beberapa wilayah yang semula merupakan kecamatan berubah menjadi kabupaten karena dianggap telah memenuhi persyaratan administrasi. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial dan sumber kesejahteraan sosial sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan yang 26 Puslitbang Kesos . Akibat lebih lanjut adalah pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat tidak dapat sepenuhnya terjangkau. ekonomi dan alam yang bercirikan masyarakat lokal. Kabupaten Pulang Pisau dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak serta permasalahan lainnya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab.22 tahun 1999 (yang diperbaharui menjadi UndangUndang No. terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di Indonesia. 32 tahun 2002) tentang Pemerintahan Daerah. dengan kurangnya data dan peta permasalahan sosial. Pulang Pisau yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Kapuas menjadi kabupaten baru (pemekaran). Sementara itu data dasar (database) mengenai permasalahan sosial serta peta sumberdaya yang ada di wilayah yang bersangkutan belum dimiliki oleh Pemerintah Daerah setempat. Padahal segala permasalahan sosial dapat diatasi secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliable. Dalam kaitan dengan penataan kembali wilayah pemekaran ini tentunya memerlukan data dasar (database) yang akurat dan reliable sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program pembangunan di wilayah tersebut.

(3) diperolehnya gambaran mengenai lokasi dan peta penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: • • • Apa dan bagaimana jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna. dan (4) diperolehnya gambaran tentang programprogram penanggulangan permasalahan sosial yang pernah dilaksanakan di lokasi penelitian. (2) diperolehnya data kualitatif tentang kriteria dan karakteristik penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Berdasarkan permasalahan tersebut. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi. Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait. sebagai langkah awal upaya identifikasi sekaligus menemukenali secara lebih dalam permasalahan yang dihadapi daerah.Kalimantan Tengah melakukan Penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial ini. sehingga menjadi rentan terhadap masalah Puslitbang Kesos 27 . ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Bagaimana kriteria dan karakteristik penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. ekonomi dan alam sebagai data dasar di lokasi penelitian. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Program kesejahteraan sosial apa saja yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Pulang Pisau? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya data kualitatif tentang jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial – Departemen Sosial RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . Pulang Pisau terarah dan komprehensif. Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. ekonomi dan alam di lokasi penelitian.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Tersedianya data yang akurat dan reliable akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial.

1985) Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut. politik. Sedangkan 28 Puslitbang Kesos . gotong royong dan sebagainya. Untuk mempertahankan kehidupannya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Kesimpulan yang didapat melalui proses ini dikenali sebagai diagnosis. Dalam kaitannya dengan faktor eksternal. Untuk mengenal pasti permasalahan sosial yang ada. dicatat dan dianalisa. bisa termasuk intervensi pemerintah. masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. keagamaan. Penyakit yang dimaksud di sini adalah permasalahan sosial yang ada di masyarakat. simptom dan hasil pelbagai langkah diagnostik. dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. sumber daya manusia. lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat (Dove. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alam. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi pemecahan masalah. Diharapkan dengan pendekatan ini diperoleh suatu gambaran bagaimana pelaku dalam komuniti memandang dan memahami gejala sosial yang tampak. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. digunakan pendekatan kualitatif yang tujuannya adalah untuk memahami kondisi serta pemahaman sekelompok orang dalam satu kelompok sosial. (2) data sekunder yaitu literatur. yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental. kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi. kelompok. Pulang Pisau kesejahteraan sosial. Metode Penelitian Penelitian diagnostik yang dilakukan merupakan proses mengenal pasti penyakit melalui tanda penyakit. kesenian. Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan. Sumber data terdiri dari : (1) data primer yaitu perorangan atau individu. diobservasi.

terutama pada sektor kehutanan dan sektor lain seperti pertanian dan peternakan yang turut menyumbang potensi cukup besar sejak dari tingkat desa. khususnya di Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pulang mempunyai wilayah seluas 8. lokasi. baik yang tergolong sebagai penduduk lokal yang terdiri dari sukubangsa Puslitbang Kesos 29 . diskusi.300 hektar). sebagian wilayahnya terdiri dari lahan gambut (277.997 km² atau 899. penyandang masalah sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial. Pulang Pisau pengumpulan informasi dilakukan selain melalui pengamatan (observasi). Karakteristik penduduk di dua kecamatan memiliki sifat heterogen. Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang menjadi lokasi penelitian ini. penelusuran dokumen dan bahan-bahan visual. jarak dari desa-desa ke ibukota Kecamatan antara 7 km sampai 30 km yang dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten) maupun jalan air (Sungai Kahayan) dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat. 83 desa definitif. Kabupaten ini meliputi 8 wilayah kecamatan. dimana komposisi penduduknya berasal dari ragam sukubangsa dan agama. Kalimantan Tengah. baik dari jenis kelamin maupun jenis pekerjaan yang ada. dengan waktu tempuh sekitar 4 – 6 jam. Sementara itu. dan 1 kelurahan.700 ha. Secara umum wilayah Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang lumayan besar. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau. kriteria penduduk sebagai penyandang masalah sosial. juga wawancara. Sasaran penelitian adalah penduduk yang menetap di daerah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. berjarak paling jauh sekitar 56 km sampai 75 km dari Ibukota Kabupaten. Sebagian kecamatan Maliku sebelum ada pemekaran merupakan bagian dari kecamatan Pandih Batu.

Jawa dan Sunda. Anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat SLTP dan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA terpaksa harus pergi keluar dari desanya. Mereka lebih memilih pergi merantau ke Kota Palangkaraya untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi penambang emas di Kereng Pangi. Begitupun dengan pola pemukiman penduduk umumnya relatif sama yaitu mengelompok di tengah lahan wilayah desa. yaitu terkonsentrasi di tepi sungai dan cabang-cabangnya. Akhirnya keluarga mereka menjadi terlantar. Namun memperhatikan data yang ada di kecamatan ini tampaknya relatif banyak warga masyarakat yang belum/tidak bekerja. Mata pencaharian warga masyarakat sebagian besar sebagai petani. Keluarga-keluarga yang 30 Puslitbang Kesos . meninggalkan desa dengan alasan mencari nafkah di tempat lain.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Berdasarkan urutan permasalahan yang paling tinggi frekwensinya yaitu masalah yang terkait dengan kemiskinan – yaitu masalah keluarga fakir miskin. Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. dan umumnya didirikan di tepi jalan dibuat sejajar atau mengikuti aliran sungai. Pendidikan warga masyarakat di wilayah ini pada umumnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). dengan atap ada yang menggunakan genteng dan daun kelapa atau rumbia. Pulang Pisau Dayak dan Banjar maupun penduduk pendatang yang terdiri dari sukubangsa Madura. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. demikian halnya dengan lahan yang mereka miliki juga menjadi terlantar sehingga membawa akibat pada kerentanan dan kemiskinan. Rumah mereka umumnya dibuat dari kayu atau papan. terutama para penduduk asli. karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di wilayah ini. Masalah lain yang juga relatif tinggi yaitu masalah rumah tidak layak huni dan wanita rawan sosial-ekonomi serta keluarga rentan. Kondisi ini disebabkan karena sebagian warga desa (laki-laki) yang sudah menikah dalam usia muda. Diagnosis Permasalahan Sosial Berdasarkan hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua Kecamatan ditemukenali sejumlah permasalahan sosial yang ada yaitu 14 permasalahan sosial untuk Kecamatan Pandih Batu dan 19 permasalahan sosial untuk Kecamatan Maliku.

tetapi pada sisi yang lain potensial menimbulkan kerawanan konflik sosial. karena orang tua tidak mampu memberikan kebutuhan dasar mereka. Lahan tersebut belum tergarap sebagai akibat keterbatasan SDM. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa dengan tidak meratanya distribusi penduduk antar desa di dua Kecamatan. Puslitbang Kesos 31 . Misalnya beberapa desa di Kecamatan Pandih Batu yaitu Desa Pantik terdapat lahan tidur seluas 970 ha. Anak-anak menjadi berhenti sekolah pada usia wajib belajar 9 tahun dan mereka tidak mendapatkan makanan bergizi. Keluarga-keluarga tersebut akhirnya menjadi rentan untuk masuk ke dalam kemiskinan dan bagi ibu-ibu. yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan aksesibilitas antar desa dengan desa lainnya atau antar desa dengan kecamatan. baik karena keterbatasan SDM maupun teknologi yang mereka miliki. Saat ini hubungan sosial diantara mereka yang pernah terlibat konflik relatif sudah berangsur membaik. Potensi konflik antara sukubangsa menjadi semakin rawan karena pernah terjadi peristiwa konflik antara sukubangsa Dayak dan Banjar (melayu) dengan sukubangsa Madura sekitar buan Maret tahun 2001. Sifat multi-etnik (heterogen) yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat. pada satu sisi merupakan potensi. Pulang Pisau ditinggalkan oleh para kepala keluarga terpaksa harus berusaha mencari nafkah sendiri atau ikut dengan orang tua mereka. Namun karena keterbatasan dari kaum perempuan untuk bisa mengolah lahan. Karakteristik masyarakat yang bermukim di dua kecamatan ini terdiri dari beragam sukubangsa dan agama. karena ibunya (orangtua) tidak mempunyai uang untuk membeli makanan bergizi. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan tidak dapat secara optimal dikelola dan dimanfaatkan. Hal ini berdampak juga terhadap anak-anak mereka yang cenderung menjadi terlantar. Jawa dan Sunda. baik dari segi jumlah dan penguasaan teknologi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. bahkan fisik. di Desa Pangkoh Sari terdapat lahan tidur seluas 400 ha dan di Desa Talio Muara terdapat lahan tidur seluas 391 ha. mereka menjadi rawan secara sosial-ekonomi. walaupun kondisi ini tetap harus diwaspadai melalui kebijakan atau kegiatan-kegiatan yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara “penduduk lokal” (Dayak dan Banjar) dengan “penduduk pendatang” yang terdiri dari para transmigran umum maupun swakarsa yang terdiri dari Madura. maka mereka akhirnya tidak bisa memperoleh penghasilan. Kondisi lingkungan turut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

baik aktivitas sosial maupun ekonomi masih menjadi kendala. yaitu sekolah. Dengan demikian. sementara penghasilan rumah tangga relatif rendah. Adanya tanah pertanian yang tidak digarap dan kegagalan upaya masyarakat memanfaatkan lahan tidur merupakan akibat pembangunan infrastruktur 32 Puslitbang Kesos . Masalah keterbatasan juga terjadi pada sarana pelayanan kesehatan. Keterbatasan sarana-prasarana transportasi menyebabkan harga kebutuhan pokok sehari-hari relatif tinggi. sehingga melalui suatu proses tertentu keragaman karakteristik penduduk dapat saling bersinergi untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Hal ini terutama menjadi kendala terhadap aksesibilitas antar desa maupun antara desa ke ibukota kecamatan. Sementara alat perhubungan (transportasi) antar desa maupun desa ke kecamatan relatif sulit dan mahal. Pulang Pisau Sementara itu bila melihat dukungan masyarakat terhadap program pembangunan seharusnya juga melihat kesiapan mereka dalam hal kemampuan mengelola dan memanfaatkannya. misalnya untuk Kecamatan Pandih Batu tersedia satu unit Puskesmas yang tidak dilengkapi Puskesmas Pembantu di tingkat desa. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak biasanya terkendala oleh faktor kemiskinan yang menyebabkan anak menjadi putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. sehingga diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat. Tenaga dokter pun hanya satu dengan 15 tenaga medis lainnya (perawat dan bidan). Program dan kegiatan yang dikembangkan melalui pemanfaatan potensi keswadayaan masyarakat (gotong-royong) menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan. Melalui potensi keswadayaan masyarakat itu sendiri di samping strategis juga memiliki nilai pemberdayaan dalam rangka proses memandirikan masyarakat untuk membantu dirinya sendiri. Tanpa itu. diperlukan banyak program dan kegiatan yang dapat mengakomodasi berbagai keragaman kepentingan. maka mereka cenderung memanfaatkan infrastruktur fisik yang ada untuk memudahkan mereka pergi mencari nafkah ke luar daerahnya. Aksesibilitas masyarakat dalam beraktivitas. Membangun kapasitas salah satunya adalah melalui pendidikan formal. Tampaknya dengan melihat kondisi yang ada. Pembangunan infrastruktur fisik perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur sosial yang baik. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya menjadi tidak optimal. Kondisi geografis dan alam yang demikian belum dilengkapi dengan sarana-prasarana transportasi yang memadai.

Pulang Pisau sosial-ekonomi belum dilakukan sesuai harapan masyarakat. keluarga miskin atau fakir miskin tidak secara merata memperoleh bantuan Raskin. baik dari aspek kebijakan. permodalan maupun aspek teknologi tepat guna. remaja nakal dan lahan tidur. Pembinaan dan pelatihan dilakukan pula kepada beberapa jenis penyandang masalah sosial untuk meningkatkan keterampilan (anyaman) dan bantuan lainnya berbentuk bantuan kursi roda bagi penyandang cacat dan bantuan ternak sapi kepada lansia terlantar. Askeskin atau pun BLT-BBM. maka dana BLT yang diperolehnya dan seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa digunakan untuk berobat. Dinas Sosial dan Dinas terkait lainnya telah melakukan upaya penanganan permasalahan sosial melalui pendataan terhadap rumah tak layak huni. regulasi. Dalam hal ini sudah tentu pihak Pemerintah berperan penting untuk memfasilitasi. Seharusnya setiap keluarga miskin/fakir miskin memperoleh beragam program bantuan. Apapun alasannya. Upaya meningkatkan kesejahteraan sosial diperlukan suatu perencanaan sosial yang baik. Mencermati pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan upaya penanganan permasalahan sosial yang ada menunjukkan bahwa sasaran program kurang tepat. keluarga rentan. walaupun sebagian besar ternak sapi kini sudah mati akibat terkena wabah penyakit. penyandang cacat akibat penyakit kronis serta program bantuan bagi anaknya. wanita rawan sosial. maka program bantuan yang ada menjadi kurang efektif.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. yaitu program bantuan untuk anak terlantar. Penyandang permasalahan sosial seperti fakir miskin yang cacat karena penyakit kronis (diabetes) dan memiliki beberapa anak yang tidak terawat karena masalah keterbatasan ekonomi seharusnya memperoleh program bantuan sebagai fakir miskin. Penerima Raskin yang seharusnya bisa menikmati beras enak dengan harga murah terpaksa harus menjual berasnya itu ke pasar atau ke tetangga hanya untuk membiayai SPP anaknya yang masih sekolah tetapi tidak memperoleh beasiswa berupa dana Bantuan Khusus Murid (BKM) atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Seperti penerima BLTBBM karena tidak memperoleh Askeskin. Dinas Sosial Puslitbang Kesos 33 . Perencanaan akan berjalan baik bila dilengkapi dan didasari data yang akurat. Di Kecamatan Pandih Batu. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan alasan bahwa alokasi bantuan kurang sesuai dengan jumlah keluarga miskin atau fakir miskin yang ada.

Berkaitan dengan penggunaan kriteria untuk menggolongkan jenis penyandang masalah sosial (Anak Terlantar. 34 Puslitbang Kesos . penanganan lahan tidur sudah dilakukan melalui musyawarah desa maupun sosialisasi. Anak Yatim/Piatu. tampaknya dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua kecamatan masih terlihat perbedaan dalam menentukan usia anak dan remaja. khususnya yang berada di Desa Kantan Muara berjumlah sekitar 96 unit dan di Desa Pangkoh Sari bahkan baru dalam proses pendataan. Fakir Miskin. Anak Cacat. akan tetapi pelaksanaannya masih terkendala oleh kekurangan modal dan kurang kompaknya warga masyarakat. Permasalahan sosial yang belum ditangani dengan upaya-upaya tertentu adalah masalah rumah tak layak huni. termasuk permasalahan sosial bagi penyandang cacat akibat penyakit kronis. Dinas Kesehatan juga membantu memberikan pelayanan kesehatan melalui kegiatan Posling dan Posyandu kepada anak-anak terlantar.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Sementara itu. Pulang Pisau melakukan program bantuan untuk Komunitas Adat Terpencil yang ada di Desa Talio melalui program pemberantasan buta aksara. Demikian pula keluarga rentan yang sampai saat ini masih dalam proses pendataan. Anak Balita Terlantar. Di samping perbedaan kriteria. Keluarga Rentan dan sebagainya). Remaja Nakal. Wanita Rawan Sosial. penajaman kriteria menjadi sangat penting. Penyandang Cacat. Lansia Terlantar.

5. 4. Usia di atas 61 tahun. Kepadatan hunian yang cukup tinggi (rumah ukuran 4 x 4 m dihuni lebih dari 5 orang). Banyak anak/tanggungan yang belum bekerja. Usia antara 16 tahun sampai 60 tahun. 3. sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. 2. Wanita Rawan Sosial 4. Status janda ditinggal mati suami atau status belum menikah. Kondisi rumah / fisik bangunannya tidak layak ditempati (seperti bangunannya bocor. lantainya masih beralaskan tanah. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan buruk. 4. Hidup sendiri atau bersama kerabat/non kerabat. dan lain-lain). Penghasilan kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 3. yaitu antara 4 x 4 m atau 4 x 6 meter dan umumnya tidak memiliki penyekat ruangan. 2. dinding dari seng atau kayu rapuh dengan lantai tanah atau papan (jenis rumah panggung). Bahan atap dari daun. Pulang Pisau Tabel 1. Penghasilan kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 5. 1. Lansia Terlantar Puslitbang Kesos 35 . tetapi kurang diperhatikan/perawatan dari sanakkeluarganya. Ukuran bangunan rumah relatif kecil. tidak memiliki jendela. 2. JENIS PMKS Fakir Miskin KRITERIA 1. 3. baik dengan orangtua/mertua/ kerabat lainnya. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamatan Pandih Batu No. 2. 1. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut. Penghasilan kecil. Pengangguran atau tidak ada pekerjaan/penghasilan sama sekali. Tingkat produktifitas KK rendah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. ukuran rumah 4 x 4 m dengan anggota keluarga lebih dari 5 orang. 1. 2. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 1. 3. Rumah Tidak Layak Huni 3. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. 4. bahkan tidak ada sama sekali. baik karena alasan ekonomi maupun alasan non-ekonomi. Bangunan rumah tidak dilengkapi fasilitas MCK. baik dengan orangtua/mertua/ kerabatan lainnya. 5.

Ditinggal orangtua/satu atau kedua orangtua meninggal. Penyandang Cacat Fisik/ Mental 9. keterbelakangan mental). Komunitas Adat Terpencil (KAT) 13. 3. 1. Usia 13 – 1 6 tahun. Anak Yatim Piatu 8. Memiliki kelainan fisik atau mental saja 1. 2. khususnya ada di Desa Pantik 1. 1.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 2. 1. 2. 4. Penyandang Cacat Fisik/ Mental akibat Penyakit Kronis Anak Terlantar 11. Kurang gizi dan kondisi sering sakit. Lahan tidur 36 Puslitbang Kesos . 3. Fungsi jasmani dan sosial terganggu. Memiliki cacat fisik/mental akibat penyakitnya itu 1. Usia 5 – 12 tahun. Lokasi kesatuan fisik dan sosial yang terpencil. Keterbelakangan ekonomi. pendidikan dan kesehatan. sehingga menghambat perekonomian/produktivitas pertanian. 4. 3. Mantan penderita penyakit kronis yang dinyatakan secara medis telah sembuh. Usia 5 – 12 tahun dan ada pula yang menetapkan 5 – 18 tahun. Kurang perawatan/perhatian orangtua. 2. Masyarakatnya masih amat terikat dengan sumberdaya alam dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Adanya kelainan fisik/mental akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir (bisu-tuli. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau paspasan untuk memenuhi kebutuhan seharihari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan. Kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam satu kesatuan fisik dan sosial yang relatif kecil. Lahan tidak digarap pemilik lebih dari 15 tahun. Usia nikah sudah 10 tahun dan masih menumpang orangtua/mertua (ada di Desa Gadabung). Memiliki kelainan fisik dan mental. 2. 1. 3. Pulang Pisau 5. Remaja Nakal 14. 2. 3. Keluarga muda yang baru menikah sampai 5 tahun dan kurang serasi (ada di Desa Kantan Muara). Usia di atas 18 tahun 1. 2. 10. Kurang perawatan orangtua karena kurang mampu secara ekonomi. Orangtua tergolong kurang mampu secara ekonomi. 2. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan 1. 2. Keluarga Rentan 7. Kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Berasal dari keluarga tidak mampu. Anak Balita Terlantar Usia 0 – 4 tahun. Kurang pergaulan dan komunikasi 1. 3. Anak Cacat 12. Perilaku mengganggu lingkungan atau membuat resah lingkungan. 6. 3. Lahan ditinggal pemilik tanpa ada yang mengurus. 4. 3. 2. kaki pincang. Usia antara 5 tahun sampai 16 tahun.

Kelompok orang yang jauh dari keramaian. tempat tinggal. 6. Individu sejak lahir mengalami kelainan fisik dan mental serta karena penyakit kronik. 4. JENIS PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal KRITERIA 0 – 4 tahun. Sudah menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar. 60 tahun ke atas. 18. Orang yang selesai menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat (stigma sama tetapi perlakuan berbeda terhadap pelaku perampokan dan menabrak orang sampai meninggal karena tidak sengaja). terganggu dalam aktifitasnya. Keluarga Fakir Miskin 15. dan pendidikan (jumlahnya paling besar). Merantau. Keluarga yang banyak masalah (sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Remaja Laki-laki Nakal Remaja Perempuan Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Kekerasan Penyandang Cacat Tuna Susila 13. kurang perawatan dari orang tua/keluarga luas (laki-laki / perempuan) 5 – 13 tahun. disakiti secara fisik dan mental. 7. termasuk untuk kebutuhan pangan. 0 – 13 tahun. 16. 5 – 13 tahun. transportasi hanya dari sungai. Masyarakat yang Tinggal di daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar 19. kebiasaan). perilaku mengganggu kebiasaan umum (tetapi tidak masalah karena masih anak-anak. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamata Maliku No. 16 – 60 tahun. 11. belum menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar baik jasmani ataupun rohani. Rumah ukuran kurang dari 4 x 4 m. pendatang yang mencari kerja di suatu tempat tidak memperoleh yang diharapkan dan menjadi masalah di tempat tersebut. Bekas Narapidana 14. 5. 10. Pulang Pisau Tabel 2. 12. baik barang maupun jasa. atap bocor. 3. Mempunyai pekerjaan tapi tidak tetap. dinding dari jabuk (papan lapuk). sering begadang. fisik tidak normal. 2. Keluarga Rentan Puslitbang Kesos 37 . ekonomi. pakaian. kesehatan. 9. Kelompok orang yang tinggal di daerah secara fisik dan mental tertekan oleh proses alam dan sosial. dirampas hak-haknya (tergantung lokal). mental tidak normal. Keluarga Berumah Tidak Layak Komunitas Adat Terpencil 17. tidak terlalu diperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan dasar oleh orang tua/keluarga luas. penghasilan tidak mencukupi. 14 – 18 tahun. 16 – 60 tahun. kebiasaan tidak berbeda dengan orang dari lokasi lain. 8. laki-laki/ perempuan). lantai tanah. 14 – 18 tahun. Hubungan sex dengan lawan jenis berulang-ulang tanpa menikah dan tidak mengharapkan imbalan. perilaku mengganggu dan dipermasalahkan. 1.

Melihat kondisi permasalahan tersebut. sarana transportasi yang utama di wilayah ini adalah sungai. sarana transportasi dan hambatan dalam upaya pengolahan lahan. sehingga masyarakat harus menjangkaunya keluar desa atau kecamatan. Kondisi kemiskinan terkait dengan keterbatasan atau hambatanhambatan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. mengingat bahwa lokasi ini merupakan lokasi transmigrasi. Prasarana jalan ini dianggap penting karena dapat memudahkan pemasaran hasil pertanian yang sangat potensial bagi masyarakat setempat. Hal ini tentunya memerlukan komitmen dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama baik antara pemerintah dan masyarakat serta melakukan program pemberdayaan secara berkesinambungan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Masalah kemiskinan yang merupakan masalah terbesar di wilayah ini. Hampir di seluruh desa masalah kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh warga masyarakat. Hambatan tersebut antara lain terkait dengan infrastruktur. Kemiskinan ini antara lain juga sebagai dampak dari gagalnya proyek lahan gambut (sejuta hektar lahan gambut). transportasi ini relatif mahal khususnya bagi warga masyarakat yang akan menjangkau wilayah lain maupun untuk memasarkan hasil pertanian dan perkebunan mereka (dalam bidang pertanian). yang paling menonjol adalah terkait dengan kemiskinan. Sementara kondisi ekonomi keluarga menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan akses untuk mendapatkan 38 Puslitbang Kesos . rumah tidak layak huni serta Wanita Rawan Sosial Ekonomi. belum diupayakan penanganannya melalui program pemberdayaan secara maksimal dan berkesinambungan. Pulang Pisau Kesimpulan dan Saran Masalah yang menjadi prioritas mendapat perhatian adalah masalah fakir miskin dan keluarga miskin. Permasalahan lain adalah keterbatasan sarana pendidikan dan transportasi yang dimiliki daerah. berkaitan dengan infrastruktur jalan. Sementara untuk saat ini. Program bantuan bagi keluarga miskin yang tidak seluruhnya mendapat bantuan dan yang sifatnya hanya sesaat merupakan program yang klise tetapi terus berlangsung. Permasalahan lain yang ada. Hambatan ini menyebabkan relatif banyak lahan (lahan tidur) yang tidak dapat diolah oleh masyarakat (petani).

Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar Dinas-Dinas Provinsi maupun Kabupaten. saluran irigasi dan penyediaan perumahan sosial bagi warga masyarakat miskin. sumberdaya yang masih dimiliki adalah adanya rasa kebersamaan di antara warga masyarakat. meskipun memiliki keterbatasan modal usaha namun masyarakat masih memiliki modal sosial berupa rasa kebersamaan atau tolong menolong dan semangat membangun atau mengembangkan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Perumahan dan Permukiman membangun prasarana jalan. Sumberdaya alam yang potensial berupa lahan yang luas dan sumberdaya sosial yang dimiliki warga masyarakat (keterampilan dalam bidang pertanian dan beternak serta masih adanya rasa kebersamaan/tolong menolong) bisa merupakan modal utama dalam membangun masyarakat setempat. diajukan saran-saran sebagai berikut: 1. Dengan kata lain. merupakan masalah lain yang dihadapi oleh warga masyarakat karena sarana kesehatan (Puskesmas) hanya ada di Kecamatan dan Rumah Sakit Umum di provinsi. Prasarana jalan dan saluran irigasi 2. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Mengingat lahan di wilayah ini dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman jika saja ada kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga masyarakat. Sementara pada sisi lain. Puslitbang Kesos 39 . karena mereka merasa sebagai orang perantauan (transmigran). dalam upaya mengatasi kemiskinan yang dihadapi. guna membangun wilayah ini secara ber-kesinambungan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Lahan kosong yang dimiliki oleh sebagian warga. Pulang Pisau pelayanan kesehatan. Peningkatan kesejahteraan ini tampaknya tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat namun masih diperlukan peran Pemerintah Daerah setempat. Keterbatasan dalam hal penyediaan sarana pengolah lahan dan bibit tanaman merupakan salah satu hambatan dimana lahan yang luas akhirnya hanya menjadi lahan tidur. bisa menjadi sumberdaya alam yang potensial jika diolah dengan baik. Dinas Teknis seperti Pekerjaan Umum. Kerjasama dalam bentuk tolong menolong atau gotong royong serta semangat untuk mengolah lahan secara maksimal merupakan pranata yang dapat dijadikan sumberdaya sosial dari warga masyarakat di wilayah ini untuk meningkatkan kesejahteraan sosial.

Dinas Sosial melalui Direktorat Fakir Miskin. 3. 5. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak. Perkebunan. Selain itu. tidak sebagian-sebagian dan sesaat saja.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Mereka siap untuk memanfaatkan sumberdaya alam (lahan) yang ada namun mereka sangat memerlukan stimulan berupa peralatan pengolah lahan dan penyediaan bibit padi. Program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa diperlukan secara bersama-sama dan berkesinambungan. Dinas Koperasi dan UKM diperlukan sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi kredit usaha kecil bagi para petani khususnya terkait dengan keterbatasan modal usaha mereka dalam mengolah lahan pertanian atau mengembangkan usaha peternakan mereka. Kehutanan. Hal ini sangat diperlukan mengingat hasil diagnosis permasalahan sosial di wilayah ini menunjukkan permasalahan sosial yang menonjol adalah masalah Kemiskinan (keluarga fakir miskin). Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sangat diperlukan untuk meluncurkan program mereka ke wilayah ini. Rumah tidak Layak Huni. Keluarga Rentan. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut maka Dinas Pertanian. dan Lanjut Usia Terlantar. Misalnya program Puslitbang Kesos 4. Hal ini seharusnya didukung dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah ini. sehingga pemberdayaan dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat desa. Dinas Kesehatan diperlukan berkaitan dengan penyediaan air bersih. mengingat lahan yang digarap di wilayah ini berbeda dengan lahan di Jawa. Demikian pula halnya dengan Dinas Sosial. dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat. dapat berperan melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama dan berkesinambungan. perlu dilakukan sosialisasi pengolahan tanah yang berkesinambungan di tingkat daerah. 6. Anak Terlantar. Penyandang Cacat (termasuk Anak Cacat). Direktorat Lanjut Usia. Peternakan. palawija serta karet. Masyarakat desa memiliki kemampuan yang potensial dalam hal pertanian dan peternakan. Direktorat Pemberdayaan Keluarga. 40 . perlu meningkatkan kesejahteraan melalui program perlindungan dan asuransi sosial bagi keluarga miskin. Pulang Pisau sangat penting dan diperlukan oleh wilayah ini untuk membangun ekonomi masyarakat.

Tjilik. 1985 Peranan Kebudayaan Tradisional di Indonesia dalam Modernisasi. Bantuan ini tidak berhenti sesaat. Yayasan Obor Indonesia. Puslitbang Kesos 41 . tetapi harus lebih bersifat kesinambungan. Bukan pengetahuan perkotaan atau pengetahuan tingkat nasional yang diberikan. Program bantuan atau pemberdayaan bagi keluarga miskin sebaiknya diberikan untuk seluruh keluarga yang bersangkutan. Pusaka Lima. Pulang Pisau dalam Angka tahun 2005. baik bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan bantuan beasiswa sekolah (BOS) serta asuransi kesehatan bagi keluarga yang bersangkutan maupun jaminan sosial bagi keluarga tersebut. Kerjasama BPS dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pulang Pisau. DAFTAR PUSTAKA BPS.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau. dianggap sangat penting. 2006. Sosialisasi pendidikan kedaerahan bagi anak-anak di tingkat desa. Pulang Pisau 7. maka orientasi masa depan anak-anak akan cenderung memilih pergi ke kota. Merantau menjadi pilihan pemuda karena mereka tidak lagi mempunyai pengetahuan kedaerahan.R. Palangkaraya. Jakarta. Dove. 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). 2003 Maneser Panatau Tatu Hiang. Bila yang terjadi hal demikian. (ed). M. Riwut. dimana alat tersebut dapat dikelola secara bersamasama oleh seluruh warga masyarakat. pemberdayaan keluarga miskin tidak disarankan untuk memberikan bantuan tunai berupa uang namun diberikan dalam bentuk barang seperti traktor. karena anak-anak perlu banyak diberi pengetahuan tentang daerahnya untuk membangun desa mereka.

.

pertalian-pertalian sosial yang ada di tingkat lokal tidak secara langsung mampu memberikan manfaat ekonomis (tingkat kesejahteraan yang lebih baik). serta pranata jaringan kerja. penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa jenis permasalahan sosial yang bermuara pada masalah kemiskinan. Rondang Siahaan. Analisis Kebutuhan Bidang Program Puslitbang Kesos dan Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Namun dengan berbagai potansi ekonomi.Sutaat. PROBLEM DAN STRATEGI PENANGANANNYA1 Drs. sosial.Si 2 ABSTRAK Pemerintah daerah pada umumnya lebih mengutamakan pembangunan fisik dan ekonomi di wilayahnya daripada pembangunan kesejahteraan sosial. utamanya bagi warga masyarakat menengah-bawah. Dra. bahwa di wilayah lokasi penelitian telah memiliki potensi sumber kessos berupa. Namun kedua hal tersebut sangat terkait dengan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat setempat. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. Potensi dan Sumber Daya. Bambang Pudjianto. dan kultural yang dimilikinya. M.Si. namun sulit untuk mengakses peluang dan sumber daya melalui jaringan-jaringan yang ada (mainstream). Masalah Sosial 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota Tim : Konsultan Drs. M. Bambang Pudjianto. Dalam konteks penelitian ini banyak warga masyarakat yang memiliki pertalian-pertalian sosial yang kuat. Endang Kironosasi. S. Indah Huruswati. Drs. yaitu agar digunakan strategi yang berprinsip pada partisipasi masyarakat dengan bersinergi pada peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber lokal. DR Bambang Rudito. pranata kesehatan. Ketua Tim : Drs. Suyanto. Akibatnya. Di sisi lain. pedoman FGD. M. Kata kunci: Pranata Sosial. Sekretariat: Dini Khairunnisa. dan peta wilayah Hasil penelitian dapat diketahui. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Anggota: Dra.Kom Bambang Pudjianto.Si. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 43 . Karena itu. pada praktiknya jaringan sosial tidaklah begitu saja menciptakan modal fisik dan modal finansial. Kasub Bid. penting untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut. pranata sosial. Drs. M. pranata pendidikan. dan alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam.PETA MASALAH SOSIAL DI BONE: POTENSI. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah yang baru dimekarkan adalah masalah infrastruktur dan pembangunan ekonomi.

terutama padi. dan cengkeh. pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroeri Bontoala. pertengahan abad ke-17 (Abddurazak dkk. Kerajaan Bone yang didirikan oleh Manurung Rimatajang pada tahun 1330.906 ton) dan kedelai (8. kemiri. sebesar 97.159 hektar perkebunan rakyat ikut memperkuat peran sektor pertanian.Bone. Sibulue. meningkat mendekati 560. 3 4 5 lihat profil Bone yang dirilis dalam situs resmi Kabupaten Bone. Tanah yang digarap para petani tidak hanya menghasilkan padi. Dua Boccoe. melainkan juga petani yang ulet.2 persen penduduk Bone berusia 15 tahun ke atas bekerja dan hidup dari sektor pertanian. Dari jumlah itu.4 Produksi tanaman bahan makanan. Tonra. Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. Barebbo. 44 Puslitbang Kesos .5 Hasil yang menonjol dari perkebunan adalah tebu. Bahkan tahun 2002 produksi kacang tanah (13.3 Cermin kemasyhuran warga Bone dan suku Bugis khususnya dibidang pertanian masih terlihat sampai sekarang. Data sensus penduduk tahun 2003 menunjukkan bahwa 72. kacang hijau. menurut estimasi Dinas Pertanian Kabupaten Bone. 1989:9).000 ton. 2006. Tahun 2002 Bone menghasilkan 517. WWW. Salomekko. selalu surplus. masyarakat Bone yang didominasi oleh suku Bugis tersohor bukan hanya sebagai pelaut dan pedagang yang tangguh.id Lihat “Kabupaten Bone dalam Angka tahun 2003” diterbitkan BPS Kabupaten Bone Tahun 2004. Produksi jagung. kelapa.4 persen adalah warga suku Bugis. kacang tanah dan kedelai juga berlimpah. ubi kayu. Bahkan bukan hanya di Sulawesi Selatan. Sedangkan tahun 2003. Sentra penghasil padi berada di Kecamatan Kahu. Hampir setiap kecamatan menjadi penghasil padi. melainkan juga di kawasan timur Indonesia. Ajangale. Awangpone.535 ton padi. Etos kerja yang tinggi dan sistem pertanian yang baik membuat Bone di kenal sebagai lumbung padi. dan Cina. Produksi 84.go. jambu mete. kakao.Peta Masalah Sosial di Bone Pendahuluan Potret Kesejahteraan di Tengah Kelimpahan Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu.760 ton) merupakan produksi tertinggi di Sulsel. handal dan produktif. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2003/2004. Bengo. Pada masa itu.

052 ha lahan perkebunan.524 ha lahan tegalan/ladang.6 Pertanian telah menjadi tiang utama kegiatan ekonomi Bone.atau lihat juga Laporan BPS-Bappenas-UNDP tentang “The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia” tahun 2004 Ibid. Data BPS tahun 2002 menyebutkan. dalam mata rantai perdagangan hasil pertanian. Segelintir spekulan dan tengkulak yang menguasai jalur perdagangan yang justru selama ini meraup untung besar. Akibatnya taraf hidup masyarakat Bone terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan berproduksi yang mereka miliki. ‘Hanya’ 11.7 Meskipun Bone menjadi daerah sentra penghasil bahan makanan.1%. mencapai 27%.073 ha merupakan hutan.8 6 7 8 Laporan Litbang Kompas.Peta Masalah Sosial di Bone Tebu merupakan bahan baku gula Pabrik Gula Bone dan Pabrik Gula Camming di Kabupaten Bone. dimana wanita bekerja yang berpendapatan hanya 28. Sementara itu life expectation juga rendah. 22/10/2002. Yakni ditunjukkan dengan angka partisipasi bidang pendidikan yaitu hanya 60. dengan balita penderita gizi buruk yang cukup tinggi. Yang merupakan 65 persen total kegiatan daerah.449 ha merupakan lahan persawahan.3 persen. dan 43. Partispasi jender dalam ekonomi juga masih sangat terbatas.7 dan 66. Dominannya sektor pertanian di Bone juga tercermin dari luas wilayah Kabupaten Bone yang sebagian besar merupakan lahan persawahan dan tegalan. Tahun 2002 nilainya mencapai Rp 2. dari 4. Rendahnya taraf hidup masyarakat Bone terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh BPS-UNDP pada tahun 2004. Angka itu lebih kecil dibanding tahun 1999 dan 2000 yang mencapai 67. Tidak sulit untuk mendapatkan petani Bone yang terlilit hutang para tengkulak.7% (yang seharusnya di atas 80-90%). 120. Survey ini menyimpulkan bahwa Human Development Index (HDI) warga Bone tergolong rendah. Tanaman bahan makanan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. Ibid Puslitbang Kesos 45 . dibawah 65 tahun. para petani yang notabene menjadi aktor utama produksi dan merupakan mayoritas penduduk Bone justru tidak bisa menikmati keuntungan yang memadai.2 trilyun.148 ha lahan untuk tambak/empang dan 145. 88.559 km persegi luas Kabupaten Bone.

jika tidak dimanage secara benar. Pada tahun 1997 misalnya. Namun sebaliknya. sektor perikanan telah menyumbang 9. mengingat posisi Bone sebagai sentra penghasil padi di Sulsel. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gejala yang muncul akibat fakta sosial yang dijelaskan di atas. Hal ini ditunjang oleh letak geografisnya.7 persen. bagaimanakah gambaran tentang potensi dan sumberdaya sosial. 10 di antaranya memiliki garis pantai sepanjang 127 kilometer.Peta Masalah Sosial di Bone Data-data tersebut di atas jelas sangat memprihatinkan (terlebih pada kasus bayi penderita gizi buruk). ekonomi dan alam di Kabupaten Bone memberi solusi atas permasalahan penyandang masalah sosial yang timbul akibat timpangnya strategi pembangunan dengan penguatan sumber daya lokal selama ini. Lebih memprihatinkan lagi karena Bone sejak tahun 2000-an. Ini jelas potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. kontribusi sektor perikanan juga tak kalah produktifnya. yaitu dari 27 kecamatan di kabupaten Bone. yaitu sebuah potret buram (kemiskinan) di tengah kelimpahan. selain unggul di sektor pertanian. kasus pada sektor pertanian tidak mustahil berulang pada sektor perikanan dan sektor perekonomian lainnya.2 persen pendapatan daerah. Karena itu. maka meletusnya berbagai permasalahan sosial hanya tinggal menunggu waktu saja. jangan terkaget jika tanpa upaya dan strategi yang tepat dalam mengatasinya. 46 Puslitbang Kesos . dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 16. Artinya.

(3) ketimpangan antar wilayah.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 1 : Peta Kota Watampone. Diantaranya untuk konteks penelitian ini terlihat pada masalah ketimpangan pembangunan SDM khususnya masyarakat lapisan paling bawah. Puslitbang Kesos 47 . 2001:309. dan (7) ketimpangan pembangunan diri manusia Indonesia di lapisan masyarakat bawah.9 Artinya. Lihat Adrinof A. (4) ketimpangan antar subwilayah di daerah yang pertumbuhan ekonominya tinggi. Kabupaten Bone Kerangka Fikir Kelemahan mendasar dari pembenahan struktur perekonomian kita di tengah masa krisis (baik regional dan nasional) dinilai oleh banyak kalangan adalah karena diabaikannya variabel kondisi sosial-ekonomi sebagai bagian dari penyebab krisis. (2) ketimpangan antara kelompok pengusaha besar-kecil. Chaniago. (6) ketimpangan antara ekonomi perkotaan dan pedesaan. bertambahnya keluarga miskin yang diikuti kemudian dengan meningkatnya kuantitas dan kompleksitas permasalahan sosial besar kemungkinan adalah akibat dari ketidakselarasan antara strategi pembangunan kesejahteraan dengan strategi pembangunan ekonomi dalam 9 Ketimpangan pembangunan masa Orde Baru terjadi dalam bentuk-bentuk: (1) ketimpangan antar golongan ekonomi masyarakat. (5) ketimpangan laju ekonomi antar sektor.

2005:23).Chaniago. program-program intervensionis10 dari pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah diakui menunjukkan kemajuan dalam beberapa indikator keberhasilan di bidang kesejahteraan. mereka berusaha sekuat tenaga membangun kembali sisa-sisa warisan kejayaan masa lalu dari sukubangsanya demi untuk turut bagian dalam sistem pencaharian ekonomi di era ini (Rudito.sekarang). menurunnya kadar asupan gizi dan tingkat kesehatan (cacat). perdagangan obat-obatan terlarang. (2) rehabilitasi. 48 Puslitbang Kesos . Pasalnya ketika arus krisis mendera pelbagai wilayah di Indonesia (1998. rebaknya anak jalanan dan terlantar. ditujukan untuk memfungsikan kembali dan memantapkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. yaitu: (1) prevensi ditujukan untuk mencegah timbul dan meluasnya permaslahan kesejahteraan sosial dalam kehidupan masyarakat. bahwasanya masalah kemiskinan dan rawan sosial-ekonomi adalah karena lemahnya ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat (modal sosial) golongan menengah-bawah dalam menghadapi guncangan besar arus krisis (Adrinof A. angka kematian bayi semakin dapat ditekan. Lihat Bambang Rudito dkk. menurunnya jumlah angka orang buta huruf. dan usia tingkat harapan hidup semakin panjang. Akan tetapi tingkat kesejahteraan tersebut di sisi lain tidak serta merta dapat menjamin kemampuan dan kualitas hidup mereka secara lebih baik.Peta Masalah Sosial di Bone praktik. misalnya dengan penjelasan angka pendapatan perkapita penduduk yang terus mengalami kenaikan. Dengan bahasa lain. tidak terkecuali masyarakat di wilayah kajian ini. dan seterusnya Terpaan krisis ekonomi dan dilanjutkan dengan perubahan orientasi sosial-politik pembangunan nasional melalui bergulirnya masa transisi yang disebut “era reformasi” tak pelak juga telah memunculkan kembali apresiasi masyarakat lokal yang (tak lain adalah kelompok masyarakat lapisan menengah-bawah) terbagi-bagi dalam wilayah kesukubangsaan berusaha menciptakan akses terhadap sumber daya yang ada di wilayah kesukubangsaannya. hampir semua golongan lapisan bawah dipastikan tidak mampu “bertahan” di masa krisis tersebut. Bahkan komuniti-komuniti yang pada awalnya telah atau hampir “terkubur” di era Orde Baru. (3) pengembangan. Akibatnya pengangguran semakin bertambah cepat. 10 Fungsi intervensi sosial. Untuk ukuran tertentu. ancaman eksploitasi seksual komersiil. ditujukan untuk pemeliharaan dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan potensi dirinya. jumlah keluarga fakir miskin meningkat. 2001:316). 2005: 36.

Puslitbang Kesos 49 . serta terus mengupayakan perbaikan kualitas SDM lapisan menengah-bawah. Padahal dengan penganggaran keuangan daerah secara partisipatif memungkinkan penanganan pelbagai masalah sosial dan pembangunan daerah dapat lebih terarah. maka sepatutya dicarikan alternatif langkah-langkah dan strategi penanganan yang tidak sepenuhnya menggantungkan pada anggaran pemerintah. kecamatan atau kabupaten yang umumnya para staf pemerintah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengelola aset desa/kecamatan dan dana pendapatan desa/kecamatan dengan baik. 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (Rakorbang Partisipatif). Karena itu penting memper-timbangkan konteks representasi identitas.Peta Masalah Sosial di Bone Karena itu kini hendaknya pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan perlu memperhatikan secara serius variabel pelapisan masyarakat baik secara sosial-ekonomi dan antar wilayah. atau dalam bahasa lain sumber daya perekonomian di wilayahnya. Oleh karenanya. memperkecil ketimpangan ekonomi antar sektor. suku-bangsa di Bone terkenal gigih dalam menjaga wilayah teritorialnya. Salah satu kekhwatiran yang mengancam adalah kegagalan mengangkat kualitas hidup penduduk yang mayoritas bekerja di sektor tradisional (seperti pertanian dan peternakan). Namun. Praktiknya. Berhadapan dengan kondisi faktual tersebut. Misalnya dengan melakukan participatory budgeting forum sebagaimana diamanatkan dalam SE Mendagri No. serta pemerataan pembangunan di setiap kewilayahan. sekalipun desa tidak memilik aset yang cukup untuk melakukan pembangunan. kecenderungan untuk menolak transparansi dan partisipasi sangat besar. sosial dan politik “versi terbaru”. kita akan mengulang kembali kesalahan model pembangunan masa lalu yang pada akhirnya akan melahirkan tipe-tipe ketimpangan ekonomi. obyektif dan lebih berdaya-guna maksimal bagi kebutuhan riil warga masyarakatnya. Dalam lintasan sejarahnya. surat edaran menteri ini masih semata bersifat “himbauan” yang jarang (sulit) implementasinya dilakukan di lapangan secara tuntas. lagi-lagi pedekatan seperti ini terbentur oleh masalah internal pemerintah desa. sistem kehidupan lokal. golongan. Jika tidak. Yakni menjadikan sumber ekonomi sektor tradisional sebagai kekuatan potensial yang dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial mereka secara proporsional.

Museum Saoraja Lapawawoi Kr. Posisi geografis yang strategis dan warisan kultural yang kaya membuat Tanete Riattang menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar untuk didayagunakan menjadi keunggulan wilayah. posisi kecamatan yang tepat berada di tengah Kabupaten Bone memberikan keuntungan berupa infrastruktur pemerintahan dan layanan publik yang relatif lebih baik jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya. jika kecamatan ini disebut sebagai ‘pewaris sah’ kebudayaan Kerajaan Bone pada abad pertengahan. Ta’. karena pusat Kerajaan Bone pada masa silam terletak di kecamatan ini. Dari sejumlah kelurahan di kecamatan ini. Tanete Riattang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Secara geografis. Kekayaan warisan kultural seperti rumah adat Bugis (Bola Somba) di Kelurahan Watampone. dalam http://www. kecamatan Tanete Riattang memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak mengherankan jika di kecamatan ini pula terdapat cagar budaya berupa makan raja-raja bone. pertanian 11 Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. dan Walennae sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. berbagai peninggalan dan artefak budaya Kerajaan Bone dan sebuah museum penting yang menyimpan warisan budaya kebesaran Kerajaan Bone dahulu kala.bone.php 50 Puslitbang Kesos .id/pariwisata. Posisi geografis Tanete Riattang yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan juga membuat kecamatan ini menjadi tujuan bagi warga Bone di wilayah pinggiran untuk mengadu peruntungan. Akibatnya.11 Hanya di Tanete Riattang. diversifikasi mata pencaharian penduduk terjadi dalam porsi yang relatif berimbang. Tanete Riattang juga menempati posisi istimewa di Bone.go. Dengan lahan yang subur. Secara historis-kultural.Peta Masalah Sosial di Bone Potensi dan Masalah Tanete Riattang : Sebuah Analisa Sosial Di bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Bone. Kelurahan-kelurahan tersebut merupakan kelurahan di wilayah pinggiran kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk relatif rendah. secara demografis. dan Bone umumnya. Kelurahan Manurungge dan Watampone yang dapat dibilang sebagai ‘epicentrum’ Kabupaten Bone merupakan bagian sentral dari perekonomian Tanete Riattang khususnya. Tak berlebihan kiranya. Sigeri dan makam raja-raja Bone di kelurahan Bukaka juga dapat menjadi objek pariwisata potensial. tiga diantaranya yakni Kelurahan Pappolo.

Bukaka dan Manurungge.Peta Masalah Sosial di Bone di tiga wilayah kelurahan ini berkembang dengan baik. Beberapa jenis hewan ternak yang menjadi favorit untuk dikembangkan di wilayah ini adalah antara lain ayam buras. Terdapat 2 puskesmas dan 24 posyandu. lihat BPS Kabupaten Bone. sektor pertanian bukanlah mata pencaharian utama penduduknya. BPS Kabupaten Bone. sapi dan kambing. PKK (28 buah). pranata pendidikan13. Selain sektor pertanian. berbeda halnya dengan Watampone yang lebih mengandalkan sektor jasa (administrasi) dan pariwisata. Kecamatan Tanete Riattang juga menyimpan potensi-potensi sosial strategis lainnya. serta pranata hubungan dan jaringan kerja yang baik dan mapan. Terdapat 74 lembaga pendidikan di Tanete Riattang dengan perincian. TPA/TK 25 buah. yakni. Kecamatan Tanete Riattang memiliki berbagai pranata yang dapat digunakan sebagai modal bagi peningkatan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. 20 dokter. Kecamatan Tanete Riattang yang tergolong wilayah ‘perkotaan’ juga tak lepas dari berbagai permasalahan sosial. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. BPS Kabupaten Bone. 78 perawat. pranata sosial14. Namun dengan berbagai potensi ekonomi. saat ini Kecamatan Tanete Riattang juga tengah mengembangkan sektor peternakan sebagai bagian dari keunggulan wilayah. SMP/MTs 7 buah dan Perguruan Tinggi 4 buah. 2005. Kelurahan Bukaka dan Manurungge bergerak pada perekonomian sektor industri. Tidak terdapat rumah saki di Tanete Riattang. Terdapat 6 jenis pranata sosial. jasa dan industri. namun jarak dengan RS kabupaten sangat dekat. arisan keluarga (17 buah). 2006. sosial dan cultural yang dimilikinya. Sementara itu. namun berbagai persoalan yang ada tetap membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. Puslitbang Kesos 51 . dasawisma (39 buah). LPM/BPD (8 buah) dan jimpitan (11 buah). 12 13 14 15 Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. 2005. pranata kesehatan15. Walaupun tidak sangat kompleks. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2004/2005. karang taruna (6 buah). siskamling (28 buah). Karena penanganan yang setengah-setengah hanya akan membuat permasalahan sosial yang muncul semakin banyak dan bukan tidak mungkin menjadi semakin kompleks. Beberapa pranata yang telah tersedia di Tanete Riattang antara lain.12 Dengan berbagai potensi ekonomi tersebut. Sebagai wilayah yang tergolong ‘perkotaan’. di tiga kelurahan yakni Watampone. 2005. SD/ MI 34 buah. 16 bidan dan 8 dukun/ pengobat tradisional.

1% diantaranya merupakan masalah sosial berlatar belakang ekonomi. rumah tidak layak huni. terindikasi 80. anak cacat. ancaman ini secara faktual menjadi lebih besar akibat terbatasnya anggaran belanja daerah bagi upaya penanganan dan penyelesaian pelbagai jenis PMKS tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan. sosial dan politik bagi proses pembangunan kesejahteraan sosial di Tanete Riattang. masalah sosial yang berlatar belakang ekonomi menunjukkan gejala paling dominan. cacat bekas penyakit kronis.6% (512 kasus) masalah wanita rawan sosial ekonomi. selama ini masih sangat tergantung pada alokasi dana dari pusat dan provinsi. Selebihnya. Berbagai jenis masalah sosial tersebut di atas merupakan bentuk ancaman secara ekonomi. yaitu dengan perincian 49.2% (748 kasus) masalah keluarga fakir miskin. membuat pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa dan cepat menyelesaikan masalah sosial tersebut. 52 Puslitbang Kesos . eks napi. anak nakal.3% (111 kasus) masalah rumah tidak layak huni. sejak dari masalah anak terlantar. sampai keluarga bermasalah psikologi. wanita rawan sosial ekonomi. penyandang cacat. Terlebih dana stimulan bantuan sosial yang diharapkan menjadi bagian dari jawaban persoalan.9% terbagi relatif rata dalam 9 masalah sosial lainnya. napza. sebesar 19. 33. keluarga fakir miskin. Celakanya. Dari sejumlah jenis permasalahan tersebut. Dari 1520 kasus. lanjut usia terlantar. dan 7.Peta Masalah Sosial di Bone Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 12 jenis permasalahan sosial yang terjadi di Tanete Riattang.

Deskriptif yang dimaksud adalah mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. kriteria dan lokasi penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara kualitatif di Kabupaten Bone. “Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru” Jakarta : UI Press. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran/peta mengenai jenis. Yakni simbol-simbol penyampaian dan penetapan suatu gejala sosial sebagai kenyataan yang ada di sekeliling masyarakat dan yang dialami oleh anggota masyarakat. Puslitbang Kesos 53 .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 2. Michael Huberman. 16 16 Lebih lanjut tentang penelitian kualitatif lihat Matthew B Miles & A. Kabupaten Bone Metode Penelitian Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. 1992. Peta Kecamatan Tanete Riattang.

Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam (indepth interview). meskipun bukan berarti tak teratasi. kriteria penduduk penyandang masalah sosial.Peta Masalah Sosial di Bone Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bone Kecamatan Tanete Riantang. Alternatif Strategi Penanganan Masalah Sosial di Tanete Riattang Masalah pokok dari berbagai jenis permasalahan sosial di Tanete Riattang sebagaimana nampak dalam data di atas adalah persoalan kemiskinan. yaitu dengan melakukan pendekatan yang sifatnya kualitatif. Untuk mendeteksi masalah sosial diperlukan suatu pendekatan dan metodologi guna memahami dan memetakan masalah sosial yang terjadi. dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial di Kabupaten Bone. Kriteria populasi dalam penelitian ini didasarkan pada penduduk yang menetap di daerah ini. pemetaan terhadap pranatapranata sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan menjadikannya suatu aktivitas rutin serta berkesinambungan dilaksanakan oleh masyarakat lokal. Penelitian ini pada dasarnya mempunyai tujuan memetakan masalah sosial yang ada dan muncul di masyarakat dan ditanggapi oleh masyarakat itu sendiri sebagai suatu masalah. yaitu kategori perorangan atau individu. Seperti pernah diungkap banyak kajian bahwa menyelesaikan persoalan kemiskinan tergolong sebagai agenda yang berat dan rumit. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. Pendekatan kualitatif yang dimaksudkan disini adalah untuk melakukan pemetaan sosial. jenis pekerjaan yang ada. Sulawesi Selatan. Selanjutnya dibentuk matrik pemetaan sosial yang menggambarkan permasalahan sosial dan potensi kesejahteraan. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. Sementara sumber data sekunder mencakup literatur. pedoman FGD dan peta wilayah. kelompok. lokasi. Data yang berhasil dikumpulkan diolah secara kualitatif. penerapan strategi 54 Puslitbang Kesos . Sumber data terbagi dalam bentuk sumber data primer. baik dilihat dari jenis kelamin. lalu ditampilkan dalam bentuk tabel. Oleh karenanya. karena masalah sosial adalah masalah perasaan. penilaian berdasar pada norma dan aturan yang menjadi acuan bagi komuniti yang mengalaminya.

kaum perempuan diberdayakan sebagai penggerak roda perekonomian mikro. Strategi penanganan kemiskinan di Porto Alegre didasarkan atas dua strategi. dalam kasus Tanete Riattang. Hasilnya. Melalui GB. Namun demikian. Yunus melakukan dua hal tersebut. pelajaran dari Porto Alegre di Brazil dan Grameen Bank di Banglades dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk dijadikan inspirasi. berkeyakinan kemiskinan akut yang terjadi di Banglades khususnya daerahdaerah pedesaan akan dapat diatasi jika dapat dilakukan dua hal. Boaventura de Sousa Santos. korupsi juga menjadi tereliminasi yang membuat tingkat kebocoran anggaran untuk rakyat menjadi kecil. “Participatory Budgeting in Porto Alegre : Toward a Redistributive Democracy” Sage Publication. lebih dari 8000 keluarga yang menjadi nasabah GB terangkat taraf 17 Lihat. Hasilnya. penanganan terhadap masalah ini juga membutuhkan berbagai pendekatan. Di Porto Alegre. warga juga mempunyai hak untuk turut menentukan alokasi anggaran daerah tersebut. Banyak analisa yang menyatakan bahwa kemiskinan dipengaruhi banyak faktor.Peta Masalah Sosial di Bone yang jitu yang didasarkan atas bacaan yang tepat dan akurat atas data dan realita mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Kedua. melalui mekanisme local budgeting forum. akses terhadap modal bagi rakyat miskin dipermudah. Selain itu. Bukan hanya itu. Kisah sukses beberapa negara atau komunitas dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk ditelaah sebagai pelajaran dan sumber inspirasi. 1998 Puslitbang Kesos 55 . pertama. sejak dari persoalan ketertutupan akses modal. dan sasaran pemberian pinjaman itu difokuskan kepada kaum perempuan. struktur sosial dan birokrasi yang menindas. sebagai pendiri GB dan juga peraih nobel perdamaian 2006. angka kemiskinan di Porto Alegre menurun drastis karena agenda-agenda utama yang menjadi kepentingan publik seperti pengentasan kemiskinan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. tanpa bermaksud melakukan simplifikasi. Muhamad Yunus. Dan karenanya. transparansi dan partisipasi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. memberikan pinjaman modal bagi kaum papa secara mudah dan tanpa agunan. setiap warga kota mempunyai hak untuk tahu berapa dan untuk apa anggaran daerah dialokasikan.17 Strategi yang diterapkan Grameen Bank (GB) lain lagi. pendidikan sampai budaya.

perempuan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dominan menyandang masalah sosial.Peta Masalah Sosial di Bone perekonomiannya yang berdampak pada naiknya taraf pendidikan dan kesehatannya. Berdasarkan UU ini. faktanya dari data penyandang masalah sosial tersebut terdahulu. Oleh sebab itu. dengan disahkannya UU Nomor 32 Tahun 2002 memberikan peluang bagi setiap kabupaten/kota melakukan inovasi dan inisiasi dalam pembangunan wilayahnya masing-masing. permudah akses modal bagi rakyat miskin. masalahnya bukan lagi seberapa mungkin strategi itu dapat 18 Lihat situs resmi Grameen Bank : www. Dengan SE ini. Pertanyaannya. penerapan strategi pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat dilakukan. dan berdayakan perempuan sebagai leading sector penggerak ekonomi rumah tangga. Ketiga. pertahanan keamanan. Instrumen ini penting bagi pelaksanaan strategi-strategi tersebut di atas.18 Dua kasus tersebut. ide untuk membuat semacam participatory atau local budgeting forum di tingkat kabupaten ataupun kecamatan mempunyai pijakan hukumnya. partisipasi (melibatkan masyarakat) dalam penyusunan alokasi anggaran. Demokratisasi juga membuat organisasi-organisasi sosial masyarakat sebagai bagian dari civil society tumbuh subur.grameen-info. termasuk di Kabupaten Bone. efisiensi dan tata kelola pemerintahan yang baik. Kedua. mengajarkan kita setidaknya terdapat empat strategi yang dapat digunakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Tanete Riattang. Padahal jika diberdayakan. fiskal dan agama. efektivitas. iklim demokratisasi telah membuka kesadaran masyarakat kita akan pentingnya transparansi. hubungan luar negeri. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (rakorbang partisipatif) membuka peluang bagi terjadinya participatory budgeting. yakni melalui transparansi anggaran daerah. diluar lima hal. Keempat. akan menjadi roda penggerak ekonomi keluarga yang sangat efektif. Dengan berbagai argumentasi tersebut. khususnya di Tanete Riattang. daerah (kabupaten/kota) mempunyai kewenangan dan otonomi penuh untuk mengembangkan kreatifitas membangun daerahnya.org 56 Puslitbang Kesos . mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut bacaan saya sangat mungkin! Pertama.

Jika nilai. kelompok perempuan rawan sosial-ekonomi. Untuk potensi sosial Tanete Riattang terutama pada ketersediaan berbagai pranata yang cukup lengkap yang dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam menangani berbagai permasalahan sosial. pembinaan penyandang cacat. bina anak terlantar dan tuna susila. atau sekurangnya tidak mendapatkan apresiasi masyarakat lokal. ekonomi dan etnik. Program Mitra Usaha Mandiri yang meliputi program penguatan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. melainkan seberapa kuat kemauan kepala daerah dan pihakpihak terkait melakukannya. sosial dan budaya yang cukup strategis untuk dikembangkan. industri dan jasa (administrasi). dikhawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial. strategi program/kegiatan dari pemerintah nantinya selayaknya bersinergi positif dengan pranatapranata sosial yang ada di masyarakat. perempuan dan petani. kultur. Selain itu. Bercermin dari lingkup masalah sosial dan berbagai strategi penangannya. berbagai keunggulan demografis dan geografis juga menjadi modal sosial tersendiri yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kecamatan ini ke depan. balita dan anak cacat. posyandu. Program Kesehatan Terpadu yang meliputi penyuluhan balita sehat. puskesmas dan pengajian yang diharapkan mampu bersinergi dengan dokter dan tenaga medis yang ada serta para tokoh agama. Kukesra dan Koperasi. Disamping tentunya potensi budaya Tanete Riattang berupa berbagai peninggalan Puslitbang Kesos 57 .Peta Masalah Sosial di Bone diterapkan. Beberapa program dapat digagas untuk menjalankan berbagai strategi penanganan masalah sosial diantaranya. Potensi ekonomi yang perlu untuk terus dikembangkan di Tanete Riattang terutama berada pada sektor pertanian. serta anak nakal dan anak terlantar. pola hidup dan pranata sosial yang ada di masyarakat diabaikan. Sementara potensi institusi lokal yang bisa dioptimalkan adalah kelompok tani/kelompok usaha yang diharapkan dapat bersinergi dengan KUBE. serta karang taruna dan LPM yang menjembatani akses pengambilan keputusan terkait hajat hidup masyarakat di lingkungannya. Sebagai cacatan. perlu ditegaskan bahwa target sasaran yang perlu diperhatikan untuk program penanganan masalah sosial di Tanete Riattang adalah rumah tangga miskin. Program Peningkatan Kualitas Layanan Panti dan Program penyediaan database PMKS melalui sejumlah penelitian dan pengkajian. termasuk sektor peternakan. Kesimpulan Tanete Riattang sebagai salah satu kecamatan utama di Kabupaten Bone memiliki potensi ekonomi. identitas. Selanjutnya PKK.

Dari sejumlah masalah tersebut (12 jenis PMKS). budaya dan seterusnya sebagai wadah edukasi. Selain itu. Serta menekan rebaknya spekulan dan para tengkulak (rentenir) yang memainkan “nilai hasil produksi” para petani/usaha kecil lokal. 1. organisasi sosial berbasis okupasi (mata pencaharian pokok di tingkat lokal) yang umumnya cukup eksis di wilayah ini. Mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan perempuan melalui bantuan stimulan yang digulirkan secara proporsional dan merata. tetapi lebih luas lagi bagaimana menggalang kekuatan untuk mengembangkan jaringan lokal (desa) guna lebih berdaya dan tetap kokoh di tengah derasnya terpaan perubahan global. maka masalah kemiskinan menjadi problem utama dan mendesak yang harus segera ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian sebenarnya penguatan ketahanan sosial ekonomi tidak cukup dengan menemukan apa saja modal sosial yang ada. Peningkatan kualitas SDM para penggiat pranata sosial dan ekonomi melalui pelatihan para pengurus perkumpulan sosial-ekonomi. Membentuk kelompok jaringan atau forum bersama antar kelompok sosial. agar digunakan strategi yang berprinsip pada transparansi. ekonomi.Peta Masalah Sosial di Bone budaya Kerajaan Bone yang dulu memang berlokasi di kawasan Tanete Riattang. Tanete Riattang tidak lepas dari sejumlah permasalahan sosial yang patut untuk segera ditangani. Karena itu penting untuk menangani berbagai masalah tersebut utamanya masalah kemiskinan. politik. partisipasi. Ditilik dari diterminan kemiskinan. perlu dilakukan peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal melalui. Puslitbang Kesos 2. tampaknya tergesernya fungsi dan rapuhnya peran jaringan pranata sosial-ekonomi semakin memperburuk ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. 3. tukar informasi. 58 . Selain memiliki berbagai potensi unggulan. termasuk menjadi embrio bagi terbentuknya semacam local budgeting forum. serta organisasi sosial berbasis jender yang meskipun kegiatannya mengalami pergeseran (PKK dan Posyandu) tetapi perannya masih cukup efektif bagi peningkatan kualitas hidup utamanya warga miskin. mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan pemberdayaan perempuan. disamping disebabkan oleh kebijakan internal yang tidak kondusif bagi penguatan perekonomian lokal. pendidikan.

Deepa Narayan.mapl. DAFTAR PUSTAKA Adrinof A. BPS (Statistic Indonesia)-Bappenas-UNDP. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. “A Dimensional Approach to Measuring Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory.au/A13. Chaniago. tentang The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia.” Australian Institute of Family Studies. Cassidy. dalam http:// www. Jakarta: LP3ES.Peta Masalah Sosial di Bone 4.au/A13. 2005. “Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia”. Puslitbang Kesos 59 . April 2000. Litbang Depsos RI. dalam http://www.com. Tim Crescent IPB. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Pengawasan secara berkesinambungan baik dari pemerintah daerah. Veronica Nyhan Jones. “Peta Permasalahan Sosial di Kabupaten Sebatik”. 2005. Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone.go. Bambang dkk. Working Paper No. March 2001. dalam http://www. “Towards a theorized understanding of family life and social capital. 49(2). Vol. maupun kalangan masyarakat untuk menjamin terlaksananya program sesuai dengan maksud dan tujuannya.htm.au/A13. Deepa Narayan and Michael F. 2003. Christiaan Grootaert. 2004. Kabupaten Bone Dalam Angka.com.mapl. “Measuring Social Capital: An Integrated Questionnaire.” Current Sociology.bone. Ian Winter.com.mapl.htm.id/ pariwisata.” The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank.htm. Lihat http://www.. 2003. 21. November. 2003. dan Michael Woolcock. 2001.php Rudito. provinsi dan pusat.

Peta Masalah Sosial di Bone Lampiran Gambar 3. Kelurahan Walannae. Kecamatan Tanete Riattang 60 Puslitbang Kesos . Kelurahan Pappolo. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 4.

Kelurahan Manurungnge. Kelurahan Bukaka.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 5. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 6. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 61 .

Kecamatan Tanete Riattang Gambar 8.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 7. Kelurahan Watampone. Kecamatan Tanete Riattang 62 Puslitbang Kesos . Kelurahan Ta.

Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 63 . Kelurahan Masumpu. Kelurahan Biru.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 9. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 10.

.

Agus Dairo Beke. Kelurahan Matani Dua. kelurahan Talete Dua. dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. dan keluarga rentan. SE. Kemiskinan 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTAMADYA TOMOHON . dengan Tim: Drs. dan Rusmiyati. M. lanjut usia terlantar. misalnya fakir miskin. perlu penanganan yang lebih tuntas. Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon. Ahendy Priatna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Kelurahan Matani Satu. Kelurahan Matani Tiga. khususnya di Kecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. Oleh karena itu.Si.MINAHASA1 Rusmiyati. staff Subbid Perencanaan dan Anggaran. MM. Puslitbang Kessos Puslitbang Kesos 65 . (2) penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database) yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah. masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominan di wilayah ini. Sementara itu untuk beralih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat. Kelurahan Komasi. rumah tidak layak huni. Bidang Program. Rusmiyati. dan Kelurahan Kolongan. Minahasa. yang antara lain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian. serta meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Kata kunci: Masalah Sosial. yaitu Kelurahan Talete Satu. Drs. SE 2 ABSTRAK Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diri dengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian.

Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah. maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan. Sebagai contoh: kenakalan remaja. dan semua harus menunggu perintah penguasa. tidak memberi ruang gerak pada masyarakat. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru) bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan. Tomohon Tengah-Minahasa Pendahuluan Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomi daerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahan sosial secara lokal. tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besar dan bertambah. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkup bidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas. tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akan terlihat adanya permasalahan yang serupa. Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah. Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukan melalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran. Upaya memaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial. struktur masyarakat. Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin banyak. hanya motifnya yang berbedabeda. kondisi eknonomi politik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. mabuk-mabukan. sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secara terselubung muncul keper mukaan. baik dari sisi SDM. Ilustrasi diatas memberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagai daerah dengan perbedaan kondisi geografis. yaitu dengan munculnya masalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom. Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisi daerah masing-masing. bobot permasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat. narkoba dan sebagainya hampir terjadi di semua daerah. budaya 66 Puslitbang Kesos .

Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat dominan. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang ada.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. harapannya adalah menunggu bantuan pemerintah. tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat tinggi. Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda. dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball) dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain. artinya masalah itu timbul karena ulah manusia. sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui program di berbagai sektor. pada akhirnya menimbulkan permasalahan. Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna tentang permasalahan sosial. sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah. baik tentang potensi penyebab tumbuh kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian. Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam penanganan permasalahan. misalnya: pertama. berpasrah menerima keadaan apa adanya. Kedua. permasalahan pokok penelitian ini adalah bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya Kesejahteraan Sosial (PSKS). Berkaitan dengan hal tersebut. Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi Puslitbang Kesos 67 . Tomohon Tengah-Minahasa dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan yang terdapat dimasing-masing daerah. Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah. Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih mengacu pada kasus sebab akibat. kemandirian menjadi hilang sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang. Oleh karena itu.

keagamaan. Tomohon Tengah-Minahasa Departemen Sosial. tuna susila. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. komunitas adat terpencil. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. dengan maksud mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. 1991). Namun demikian tidak semua golongan atau masyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik. keluarga bermasalah sosial psikologis. sosial. lanjut usia terlantar. 2002). sumber daya manusia. korban penyalahgunaan napza. antara lain: balita terlantar. anak nakal. dan sumber daya sosial. Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antara lain sumber daya alami. wanita rawan sosial ekonomi. adalah sesuatu yang bermanfaat. anak terlantar.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. korban bencana sosial. korban bencana alam. kesenian. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan. bekas narapidana. pengemis. penyandang cacat. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. gotong royong dan sebagainya. anak cacat. Untuk mempertahankan kehidupannya. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco. politik. Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumber kesejahteraan sosial. Dalam hal yang demikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal. anak jalanan. penyandang HIV/ AIDS. tetapi juga potensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapi kelemahan atau tantangan. pekerja migran terlantar. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. lanjut usia korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. gelandangan. Tehnik pengumpulan data 68 Puslitbang Kesos . dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. keluarga fakir miskin. keluarga berumah tak layak huni. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakat umum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal) dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup (kegiatan ekonomi) potensi geografis wilayah dan sumber daya manusianya serta faktor-faktor lain yang berkaitan.

Gambaran Lokasi Penelitian
1. Kondisi Wilayah

Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Bapeda Kota Tomohon (Maret 2005) berjumlah: 6938 KK atau mencapai 16,02%. Hal ini memberi indikasi bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penduduk miskin yang nantinya berdampak pada masalah sosial dan kesehatan. Meningkatnya kasus-kasus penyakit pada akhir-akhir ini seperti demam berdarah dengue (DBD) 14 kasus, malaria: 217 kasus, TB paru klinis: 763 kasus, Hipertensi: 3860 kasus, diabetes militus: 362 kasus. Hal ini diakibatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat belum optimal, serta gaya hidup cenderung berpestapesta dengan ungkapan ”Kalau ada tada kalau tidak haga ” akhirya berdampak pada kesehatan dan masalah sosial. Meningkatnya pengangguran dan permasalahan sosial lainnya dikarenakan minimnya pendidikan formal dan keterampilan anakanak putus sekolah, dimana data menunjukkan anak terlantar sebanyak 6900 orang, anak nakal: 1236 anak. Anggapan masyarakat bahwa permasalahan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Penyandang masalah kesejahteraan sosial pada umumnya mengalami masalah kemiskinan dan kondisi ketidakberdayaan fakir miskin dapat dilihat dari tidak adanya alternatif individu, keluarga dan komunitas dalam menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Kecamatan Tomohon Tengah terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara 28 derajat celcius. Kondisi lingkungan masyarakat kondusif, tentram dengan penduduk mayoritas homogen. Jarak ke Ibu Kota Tomohon 2,5 km dengan waktu tempuh 5 menit, dari ibukota provinsi sekitar 25 km, dan
Puslitbang Kesos

69

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

dengan sarana transportansi umum yang relatif lancar dan memadai. Kecamatan Tomohon terdiri dari 7 (tujuh) Kelurahan, yaitu Kelurahan Talete Satu, Kelurhan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua, Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 18.556 jiwa, sebagian besar (90%) beragama Kristen Protestan, sebagian lainnya Katholik, Islam, dan Budha.
2. Potensi dan Sumber Alam

Hasil yang saat ini diperoleh dari pengolahan tanah berupa hasil pertanian tanaman padi dan palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Sedangkan produksi padi pada tahun 2004 menghasilkan padi sekitar 6.995 ton. Produksi tanaman sayuran tahun 2004 mencapai 9.839 ton, produktivitas tertinggi didominasi oleh tanaman terong sebesar 162,74 kw/ha. Sedangkan produksi tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, cengkeh, vanili, kopi, dan kakao. Produksi tanaman perkebunan terbanyak adalah kelapa mencapai 729,125 ton. Untuk tahun 2004, sektor peternakan populasi terbesar terdiri dari sapi, kuda, kambing dan babi. Melihat potensi alam, terutama hasil pertanian dan perkebunan, pasang surutnya tampak tergantung dari luas lahan yang semakin menyempit dikarenakan banyak pembangunan permukinan penduduk, mini market dan mall.
3. Agama dan Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Tomohon Tengah mayoritas beragama Kristen Protestan. Dan sebagian lainnya beragama Katholik, Islam, dan Budha. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang paling menonjol adalah Gereja. Di Kecamatan Tomohon Tengah hanya terdapat sarana ibadah umat Islam, yaitu satu buah Masjid. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Saat ini semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih digunakan sebagai tempat untuk ibadah umat penduduk di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah. Kelompok-kelompok yang terkait dengan keagamaan yang ada di Kecamatan Tomohon Tangah adalah kelompok kebaktian gereja.

70

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan kebaktian.
4. Sarana Pendidikan

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana pendidikan yang relatif cukup lengkap, dari mulai TK sampai pergurunan tinggi. Sekolah negeri yang dimiliki wilayah ini adalah SD (3 buah), SLTP (3 buah), dan satu perguruan Tingga Negeri. Sedangkan sebagian lainnya yang jumlahnya relatif lebih banyak adalah sekolah atau perguruan tinggi swasta, yakni terutama yang dikelola oleh yayasan atau perkumpulan agama. Tabel 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Fasilitas Pendidikan TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP. Negeri SLTA. Swasta PT.Swasta PT.Negeri Akademi Swasta SLB Sekolah Kursus Montir Kursus Menjahit BLK Jumlah 13 3 9 3 7 5 1 2 1 3 7 1

5.

Kesehatan

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan/perawatan kesehatan masyarakat di Kecamatan Tomohon Tengah, umumnya penduduk memanfaatkan sarana kesehatan yang telah ada dan letaknya relatif cukup dekat. Masing-masing Puskesmas maupun Balai Pengobatan Jemaat Gereja maupun rumah sakit swasta (dibawah yayasan gereja) di Kecamatan Tomohon Tengah saat ini memiliki seorang Dokter, Perawat, dan Bidan dan para medis/perawat.

Puslitbang Kesos

71

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Tabel 2. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jenis Fasilitas Kesehatan Apotik Rumah sakit Posyandu Dokter Praktek Bersama Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Mata Dokter THT Dokter Kulit Dokter Jiwa Dokter Hewan Bidan Mantri Kesehatan Dukun Bayi Puskesmas Puskesmas Pmbantu Toko Obat Dukun a 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 1 1 c 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 Kelurahan d e 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 f 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 g 1 2 1 2 1 1 1 1 3 -

Keterangan: a = Kel. Talete 1 b = Kel. Talete 2

c = Kel. Komasi d = Kel. Kolongan

e = Kel. Matani 1 f = Kel. Matani 2

g = Kel. Matani 3

6.

Ekonomi

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana ekonomi yang cukup lengkap, misalnya warung/toko, pasar, mall/ swalayan dan sebagainya. Secara lebih rinci sarana ekonomi yang ada dapat dilihat pada tabel 3. Oleh karena itu, kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan masyarakat Tomohon Tengah mudah diperoleh dari pasar di lingkungan sekitar. Selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut, masyarakat juga belanja di Mall dan juga di Minimarket/Supermarket yang banyak bertebaran di wilayah ini khususnya di Kota Tomohon.

72

Puslitbang Kesos

Tingkat produktivitas Kepala Keluarga yang rendah. 10. 4. 6. Jenis Fasilitas Kesehatan Warung/Kios Koperasi Super Market/Toko Bank Usaha bersama Kel. 21. Kriteria atau pengkategorian warga masyarakat miskin menurut kondisi lokal adalah sebagai berikut: a. 5. Puslitbang Kesos 73 . Penghasilan kecil/tidak tetap dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 15. 7. 12. 14. Fasilitas Ekonomi PendudukKecamatan Tomohon Tengah No. 13. 18. 8. 17.Simpan Pinjam Badan Kredit Desa Lumbung Pitih Nagari Usaha Industri Kecil Usaha Industri RT Diskotik Karaoke Rumah Bilyar Gdg. 1. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 3. 19. serta tingkat produktivitas kepala keluarga rendah dan kondisi lain yang tidak mendukung. 3.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Warga masyarakat yang digolongkan sebagai keluarga miskin didasarkan pada tingkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari serba kekurangan. 20. 16. 9. 2. kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut/pensiun.Bioskop Hotel/Motel Restoran Losmen Pasar Biro Perjalanan Cafe Mess/asrama a 14 1 6 1 2 1 4 5 3 2 5 2 1 1 4 b 10 6 2 2 2 2 4 3 1 3 Kelurahan c d e 44 8 2 13 6 1 1 1 1 1 1 5 1 2 3 1 9 7 2 3 2 1 2 3 f 62 1 1 g 7 2 5 3 3 3 3 1 2 - Permasalahan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin merupakan masalah yang sangat menonjol di Tomohon Tengah. 11. b.

masyarakatnya intelek dan penghasil cengkeh terkenal. Pertokoan dan sebagainya. d. yaitu tidak memiliki keterampilan yang memadai. e. Pertama-tama berawal dari anjloknya harga cengkeh beberapa tahun silam sehingga semangat masyarakat petani cengkeh turun drastis. 74 Puslitbang Kesos . Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan sangat buruk dan bahan atap dari seng yang sudah tua atau menggunakan kayu yang sudah rapuh dengan lantai tanah atau papan. Namun kendala lain yang dihadapi. Akhirnya secara proses jumlah fakir miskin sedikit demi sedikit mulai membengkak. Tomohon Tengah-Minahasa c. Ukuran bangunan rumah relatif kecil yaitu antara 5 x 4 meter atau 5 x 6 meter dan biasanya tidak mempunyai perekat ruangan. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang dan kontrak/sewa baik dengan orang tua/mertua maupun kerabatan lainnya. c. dengan demikian sumber penghasilan dari cengkeh tidak lagi menjanjikan. Sebenarnya secara jujur Wilayah Minahasa (termasuk Tomohon) tidaklah pantas menyandang predikat fakir miskin.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Supermarket. Namun munculnya permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor. Karena pergeseran gaya hidup dengan perkembangan kota desa sehingga masyarakat lebih cenderung beralih ke pola hidup kota (modern). dan lagi pula lapangan kerja yang tersedia di perkotaan tidak memadai dengan jumlah pencari kerja. mereka tidak siap untuk itu sehingga alternatif pilihan adalah menjadi pekerja di Mall. Diikuti oleh kondisi rawan bencana yang juga meliputi daerah perkebunan cengkeh sehingga muncul kekhawatiran para petani sehingga tidak lagi menggarap lahan perkebunannya. d. b. seperti: a. Ketika para petani beralih profesi menjadi pedagang. Kurangnya dukungan Pemda setempat bagi kaum petani sehingga dengan mudah para petani begitu saja meninggalkan lahan pertaniannya. karena umum sudah mengetahui bahwa wilayah ini merupakan daerah subur. atau pengusaha rumah tangga. Seandainya dimotivasi agar beralih tanam hal ini masih memungkinkan adanya alternatif penghasil lain selain cengkeh.

2. 3. 4.Pnykt Kronis 10 Jenis PMKS Tabel 5. 7.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 2. 16. 2 Eks. 3. 6. Kelurahan a b c d e f g Anak Nakal 33 75 Anak Jalanan 16 Anak Cacat 4 Wanita Rawan Sosek 4 6 54 Penyandang cacat 21 9 28 25 16 15 Eks Napi 10 6 6 Kel. Psik. 5. Alam 15 Kel. 6. 1.Fakir Miskin 106 109 258 215 96 126 166 Kel.Rentan 24 Pengungsi 3 Anak Terlantar 24 50 40 16 60 Wanita Krbn Kekerasan 16 15 97 16 10 26 LU Terlantar 30 55 10 25 115 96 Rawan Banjir 46 50 Korban benc. 17. 13. 15. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Setiap Kelurahan No. 8. 14. 8. 10. 1. 9. 7. Profesi Panti Werdha Rmh Jompo a 2 2 4 1 1 1 2 1 2 8 b 1 2 4 2 2 1 2 2 c 1 1 5 1 1 1 1 Kelurahan d e 3 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 f 1 1 1 4 2 1 1 1 1 g 1 1 2 1 1 1 1 1 1 - Puslitbang Kesos 75 . 12. 13 14 Jenis PSKS Arisan PKK PSM Orsos Kemasy. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 4. Karang Taruna Orsos LKMD Org. 4. 12. 11. Data Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Setiap Kelurahan No.Bermasalah Sos. 11. 10. 9.Rmh tdk layak 38 20 24 30 20 Kel. Pemuda Dunia Usaha Peduli Kesos Panti Asuhan Koperasi Org. 5.

Lanjut Usia terlantar terdapat hampir disemua kelurahan. d. Para penghuninya tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah–rumah tersebut sehingga melapor dan meminta bantuan melalui dinas sosial setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. tingkat penghasilan dan jumlah beban tanggungan. Memiliki sumber penghasilan yang tidak menentu. Rumah-rumah tersebut adalah rumah dalam bentuk rumah asli Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu. III. Kelurahan Matani I. c. Ukuran bangunan rumah relatif kecil d. II. Penghasilan kecil e. Warga masyarakat di golongkan lanjut usia terlantar didasarkan pada usia. Banyak anak dan belum ada yang menikah. Status kepemilikan bangunan rumah masih menumpang e. Kategori wanita korban kekerasan didasarkan pada kriteria lokal. Wanita yang digolongkan sebagai wanita korban kekerasan didasarkan pada status perkawinan. sebagai berikut: a. Wanita korban tindak kekerasan terdapat hampir di setiap kelurahan (ada enam kelurahan). Sedangkan kriteria yang digunakan di Tomohon Tengah. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh c. Ada di 6 (enam) kelurahan yang ada di Kecamatan Tomohon Tengah. kondisi ekonomi. Karena ketiadaan biaya perbaikan. Jumlah penghuni yang tidak sebanding dengan luas rumah b. Jumlah rumah tak layak huni pada kelurahan yang mempunyai permasalahan ini berkisar antara: 20 hingga 30 keluarga. serta seberapa besar perhatian dan perawatan yang diberikan oleh anak/cucu atau keluarga lainnya. sebagai berikut: a. Status perkawinan: janda ditinggal mati suami atau belum menikah. Tomohon Tengah-Minahasa Rumah tidak layak huni di beberapa kelurahan hampir sama dengan kondisi di kelurahan lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah yaitu Kelurahan Talete I dan II. Kurangnya perlengkapan fasilitas MCK. sebagai berikut: 76 Puslitbang Kesos . Kelurahan Komasi dan Kelurahan Kolongan. Usia antara 20 hingga 60 tahun b. maka rumah–rumah ini semakin lama semakin rusak dan kondisinya tampak tidak layak huni. Kriteria rumah tidak layak huni menurut kondisi lokal.

Hidup sendiri atau bersama anak/cucu atau keluarga lainnya tetapi sangat kurang diperhatikan dalam perawatan. permakanan dan kebutuhan hidup lainnya. Masalah yang dekat dengan anak nakal dan anak terlantar yaitu anak jalanan. Contoh kasus lapangan yang dilihat langsung adalah di salah satu supermarket. misalnya munculnya tempat belanja berupa supermarket. Perkembangan kota desa yang memang berkembang dewasa ini menyebabkan juga adanya perubahan perkembangan perilaku anak. sejak supermarket buka hingga ditutup pada malam harinya. polisi piket di depan supermarket dengan maksud menghindari masuknya para remaja siswa sekolah terutama pada jam-jam pelajaran sekolah (baik siswa pagi maupun siswa siang). Tomohon Tengah-Minahasa a. sehingga untuk mengisi kekosongan terjadilah pertemuan antar remaja dan kalau sudah berkumpul mulai bertindak yang tidak wajar. Pada mulanya masyarakat di wilayah Tomohon terkenal sebagai petani cengkeh yang ulung. Faktor penyebabnya adalah faktor putus sekolah. yakni para remaja yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan secara tidak menentu. Masalah Anak Nakal merupakan masalah yang bersifat embrio yang muncul melalui tahapan-tahapan proses yang kelihatannya bersumber dari faktor lingkungan. sekarang pola hidup sudah mulai bergesar dengan perubahan paradigma sebagai pedagang. putra-putri mereka juga secara otomatis mewarisi gaya hidup ini dengan tidak disebut sebagai anak petani dan lebih prestise kalau disebut sebagai anak pengusaha (ala kota pedesaan). Dari sinilah timbul kenakalan-kenakalan remaja. Keterangan-keterangan yang diperoleh di lapangan menggambarkan proses seperti itu. selepas sekolah mereka tidak mempunyai kegiatan. b. ketiadaan kegiatan yang pasti dan ketidaksadaran akan makna Puslitbang Kesos 77 . dengan mengkonsumsi minuman keras (miras). atau diskotik. café. pengusaha versi perkotaan. Hal yang sama dilakukan di café-café atau tempat hiburan lainnya. Oleh karena itu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Umur diatas 60 (enam puluh) tahun keatas. Bentuk kenakalan anak menurut definisi wilayah ini adalah menggangu ketertiban masyarakat setempat dengan tindakan kumpul-kumpul yang disertai mabuk–mabukan. Akibatnya. tindak kriminal walaupun dalam skala Desa/kelurahan dalam bentuk mengganggu milik masyarakat. yang menyebabkan para remaja mulai beradaptasi diri dengan tempat–tempat ini. baik karena ketidakmampuan ekonomi maupun non ekonomi.

bahwa permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan menurunya secara drastis pertanian cengkeh yang tadinya menjadi idola di wilayah ini. Minimnya lapangan kerja bagi kaum wanita di Kelurahan ini menjadi sumber permasalahan. dengan alasan kalau–kalau suatu saat nanti perilakunya akan muncul kembali. Para napi pun ini sadar bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat kurang dapat diterima. maka sulit bagi para wanita untuk mendapatkan sumber penghidupan yang tetap. Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah suatu permasalahan yang dialami oleh sekelompok wanita. Dari sejumlah penyandang terdapat banyak diantaranya yang dapat dibina untuk melakukan kegiatan mandiri dengan dimodali oleh Pemda setempat. Diawali dengan jarang tinggal di rumah kemudian menjadi keseringan maka pada akhirnya hidup di luar menjadi suatu yang merupakan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi pilihan. lama kelamaan meningkat ke tindakan kriminal dan akhirnya sebagai penghuni rutan. 78 Puslitbang Kesos . Masalah yang terkesan rawan bagi masyarakat adalah eks narapidana. berawal dari kurangnya pengawasan orang tua. Narapidana berawal mula dari kenakalan remaja. seperti misalnya cacat karena faktor bawaan. Faktor penyebab munculnya anak jalanan ini. dimana para wanita ini tidak mempunyai sumber penghasilan yang tetap. Tomohon Tengah-Minahasa mencari hidup. Permasalahan kecacatan secara khusus merupakan masalah yang tidak semata karena kelalaian manusia. namun karena kembali lagi terjadi perkembangan kota pedesaan maka cukup membawa pengaruh pada kebiasaaan hidup anak. Hal ini ditambah pula dengan ketiadaan keterampilan yang dimiliki para wanita ini.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Selepas dari itu para wanita ini sama sekali tidak punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan mereka. Sebagai wilayah kelurahan yang kapasitas pertumbuhan industri tidak memungkinkan. maka permasalahan yang dihadapi di kelurahan ini merupakan masalah sosial umum yang penanganannya berada dibawah Pemerintah Daerah setempat. Jumlah kasusnya cukup banyak yakni 114 kasus. Dimanapun permasalahan narapidana ini hadir menjadi permasalahan yang memerlukan penanganan yang sangat bijak agar persepsi masyarakat terhadap para penyandangnya tidak ditolak oleh masyarakat setempat. Informasi lapangan yang diperoleh menyatakan.

Sebenarnya keluarga rentan ini bisa ditangani oleh masing–masing keluarga. memerlukan langkah-langkah kegiatan yang lebih praktis dan nyata. Masalah-masalah lain berdasarkan pengamatan dan hasil kajian penelitian merupakan masalah yang terkait dan bersumber dari masalah-masalah prioritas seperti kemiskinan. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal masalah penelitian. program yang tepat adalah pemberdayaan fakir miskin melalui bantuan dan jaminan sosial. Di beberapa kelurahan. Tomohon Tengah-Minahasa Keluarga rentan termasuk kategori keluarga manula yang perlu mendapat pertolongan. mudah diacu atau diikuti masyarakat. sehingga diperoleh cara penyelesaian yang tepat. namun karena kondisi keluarga dalam kondisi yang sama yaitu ketidakmampuan ekonomi sehingga permasalahan keluarga rentan ini menjadi permasalahan tersendiri. Masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman penanganannya. Masalah yang paling menonjol dan merupakan masalah prioritas di kelurahan-kelurahan wilayah Tomohon Tengah adalah masalah fakir miskin. sebagai berikut: 1. Sayangnya di Minahasa ini belum begitu terdengar hal penampung keluarga rentan atau semacam panti penampungan. Dari kesimpulan yang diambil dari hasil kajian akan diberikan saransaran/rekomendasi. Perlu program yang baku. masalah yang juga masalah prioritas kedua adalah masalah lanjut usia terlantar. Untuk itu. 2. dengan memperhatikan kriteria lokal dan sumber-sumber yang tersedia. sehingga penanganannya dapat lebih tuntas. Keluarga–keluarga rentan ini dalam keadaan pasrah menunggu pertolongan pemerintah. Puslitbang Kesos 79 .Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.. Yang terutama memberi perhatian adalah kepedulian pemerintah setempat. khususnya bagi permasalahan fakir miskin yang sesuai dengan sumber permasalahan lokal. 3. Permasalahan ini merata terdapat di semua kelurahan (7 kelurahan). 2. sebagai berikut : 1.

. 2003. 1991. Bandung.. STKS Press Tim Crescent IPB. Pusdatin.. 2005. dan meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. 2002.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Konsep dan Strategi. misalnya melalui penyuluhan. Tomohon Dalam Angka (Tomohon In Figures) Departemen Sosial. Masalah-masalah terkait lainnya perlu ditangani dengan upaya pencegahan. Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial.. . DAFTAR PUSTAKA Bappeda Tomohon dengan BPS Kabupaten Minahasa.. Jakarta. Jakarta. membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. 2004. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama 80 Puslitbang Kesos .. Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial.. Tomohon Tengah-Minahasa 3.. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.... Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. 2005 Rencana Strategis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon Tahun 2005-2009 Dwi Heru Sukoco.. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon. Profesi Pekerja Sosial.

Sumatera Barat. Penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas. (4) penyebab kemiskinan yaitu lokalitas ekosistem. (1) Kantong kemiskinan terdapat di Kabupaten Mentawai. Kota Padang dan Kota Payakumbuh. (2) sebutan orang miskin yaitu urang indak bapunyo. Kepala Bidang Program Puslitbang Kesos. Achmadi Jayaputra. Pasaman.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memetakan kantong-kantong dan merumuskan strategi pengentasan kemiskinan berdasarkan institusi lokal. Pesisir Selatan. laki-laki dan perempuan. (3) pekerjaan utama mereka yaitu buruh tani. wawancara mendalam dan diskusi kelompok. urang sulit. Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan. Nagari Kelurahan 1 2 Judul asli dari penelitian Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat. Puslitbang Kesos 81 . Anggotanya terdiri dari orang miskin. orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik atau urang ino. antara lain melakukan pekerjaan secara tetap dan memperbanyak jumlah anggota rumah tangga untuk bekerja. urang indak mampu. Penanggulangan Kemiskinan. urang susah. tukang dan buruh kasar. Penelitian ini merupakan penelitian terapan melalui survey terhadap 12 nagari dan 4 kelurahan dalam tiga kabupaten dan dua kota. Untuk mempertahankan hidupnya (survival strategy) secara sosial dan ekonomi. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra kerja. Padang. Achmadi Jayaputra. Kata Kunci: Kemiskinan. M. Temuan lapangan antara lain. Keanggotaan harus mempunyai komitmen yang tinggi.PEMETAAN KEMISKINAN DAN STRATEGI PENGENTASANNYA BERBASIS INSTITUSI LOKAL DAN BERKELANJUTAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA BARAT1 Drs. rendahnya akses. Pasaman Barat. krisis ekonomi dan kebudayaan. Strategi pengentasan kemiskinan dengan membentuk suatu panitia berbasis institusi lokal (Nagari/kelurahan). tokoh masyarakat.

Berarti memecahkan masalah kemiskinan secara tidak langsung memecahkan PMKS. Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan.46 juta jiwa terdapat 935. Termasuk permasalahan sosial yang disebutkan Departemen Sosial sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pelacuran.300 jiwa (20. Faktor lain berkaitan dengan kelemahan organisai pelaksana seperti pemerintah lokal dan pemerintah kelurahan atau desa (nagari). Akibatnya perekonomian mereka rentan dan mereka dengan mudah kembali ke garis kemiskinan.4 juta jiwa (23%).100 jiwa dan tahun 2004 menjadi 472. penyandang cacat.70%) tergolong miskin. Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan. Namun tahun 2005 dari jumlah penduduk 4. Strategi yang dikembangkan itu termasuk dalam community based development. Oleh karena itu. dan • Program tidak diakses karena hambatan struktual. anak jalanan. Pengentasan kemiskinan sejak bergulirnya otonomi daerah belum berhasil dengan baik. 82 Puslitbang Kesos . Khususnya di Provinsi Sumatera Barat. diperlukan strategi baru dengan menggunakan potensi sosial lokal untuk membantu orang miskin agar terbebas dari kemiskinannya. Hal tersebut seharusnya dijadikan momentum dan peluang untuk mewujudkan desentralisasi pembangunan yang sensitif terhadap persoalan lokal. sekaligus membuka pintu untuk pemecahan PMKS lainnya. sayangnya penduduk miskin di Indonesia makin bertambah. misalnya tahun 2001 penduduk miskin tercatat 1. dan sebagainya. terutama sejak diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah.100 jiwa. tahun 2003 menurun hanya 501. karena dihadapkan pada beberapa hal. Penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan bersifat karitatif (charity) cenderung menjadikan orang miskin semakin tergantung pada bantuan pihak luar. antara lain: • Program tidak tepat sasaran • Program tidak bertahan lama (tidak berkesinambungan) • Program dipaksakan dari atas.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Pendahuluan Penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama pembangunan nasional dan daerah.

Bagaimana kondisi budaya. Penelitian ini akan merumuskan model penanggulangan kemiskinan yang dapat diadopsi untuk memecahkan PMKS lainnya karena bertumpu pada pemberdayaan komunitas lokal. ekonomi dan politik rumah tangga miskin tersebut? c. Diskusi dengan menghadirkan masing-masing 14 orang terbagi dalam dua kelompok. walaupun telah ada program pengentasan kemiskinan? d. Apa strategi dalam pengentasan kemiskinan yang berbasis institusi lokal yang dapat diterapkan di Provinsi Sumatera Barat? Tujuan penelitian yaitu. Selain itu berdasarkan mata pencaharian penduduk yaitu petani lahan kering. b. kedua. pertama. tokoh komunitas setempat dan pemerintah lokal. Mengapa anggota rumah tangga tetap miskin. nelayan dan bukan nelayan. Solok dan Pesisir Selatan. wawancara mendalam. a. Lokasi dipilih secara sengaja berdasarkan angka kemiskinan yang tinggi dan kondisi ekologis. diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) dan pengumpulan data skunder. ekonomi dan politik rumah tangga miskin. petani lahan basah.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Permasalahan dalam penelitian. tokoh masyarakat yang berpengalaman melaksanakan program anti kemiskinan. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu survey. Merumuskan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan institusi lokal. serta 2 kota yaitu Padang dan Payakumbuh. Dimana rumah tangga miskin tersebut berkonsentrasi terhadap tipologi ekologis dan sumber pendapatan? b. Survey dilakukan terhadap 12 Nagari dan 4 kelurahan yang terdapat dalam 3 kabupaten yaitu Pasaman. kelompok pendudukan miskin yang mengikuti program anti kemiskinan. sosial. yaitu: a. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dari instansi pemerintah di 3 kabupaten dan 2 kota tersebut terdiri Puslitbang Kesos 83 . sosial. Responden seluruhnya berjumlah 224 orang. Memetakan kantong-kantong kemiskinan berdasarkan tipologi ekologis dan sumber mata pendapatan dan mengidentifikasi karakteristik budaya.

istilah Nagari digunakan untuk daerah kabupaten dan Kelurahan untuk daerah kota. c. d.59%) dan selebihnya tanah yang belum dimanfaatkan. Kecamatan Kubung di Nagari Gaung dan Panyangkalan. 34. Kabupaten Pesisir Selatan. Camat dan Wali Nagari. dilihat dari kondisi dan penggunaan lahan sebagian terdiri dari hutan (61%). Kantong Kemiskinan Di Sumatera Barat. Kota Padang. Kabupaten Pasaman.16% dan didukung lima sub sektor yaitu tanaman pangan dan hortikultura. 1. tanah yang dimanfaatkan untuk permukiman (28. b. Pemberdayaan Masyarakat..dan di perdesaan sebesar Rp.389. Hasil Penelitian Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota. Lokasi Penelitian. 48.904. Kecamatan Linggo Sari Baganti di Nagari Lumpo.297 Km2. Diantaranya. Kecamatan Lubuk Bagalung di Kelurahan Kampung Baru dan Gates e.. yang terbanyak adalah pertanian 25. 157 kecamatan dan terdiri dari 517 Nagari/Kelurahan. a. 159.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya dari Bappeda.863. Khusus di provinsi ini. Kota Payakumbuh. 84 Puslitbang Kesos . Kinerja ekonomi di provinsi ini. diketahui garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. Kecamatan II Koto di Nagari Simpang Tonang dan Cubadak.671. tahun 1996 angka atau garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. kehutanan dan perikanan laut. Dinas Sosial. Kecamatan Payakumbuh Barat di Kelurahan Parit Rantang dan Padang Karambie. Kabupaten Solok. Sedangkan tahun 2006. 225. Air Haji dan Pungasan. perkebunan.dan di perdesaan sebesar Rp. untuk tahun 2003 pertumbuhan ekonomi 5%-7% per tahun.-. Kecamatan IV Jurai di Nagari Painan. Dinas Kelautan.-. peternakan. Kecamatan Bonjol di Nagari Koto Kaciak dan Gonggo Halia. Kecamatan II Koto Diateh di Nagari Paninjauwan dan Kuncir. Wilayahnya 42.

Pasaman 19. Pasaman Barat 21. 3) Kesuburan tanah dan ketersediaan air rendah. Orang miskin sebagai keadaan negatif. terdapat 223.98%). nelayan kaya yang memiliki alat tangkap lengkap dan kapal bermotor. urang susah (orang susah).07%) dan Payakumbuh 4.825 rumah tangga miskin atau 22.186 rumah tangga (29. Nelayan terbagi tiga kelompok yaitu. Sedangkan di perkotaan angka yang tinggi karena tingginya jumlah penduduk. nelayan yang tidak punya alat tangkap.002 (51. Pada daerah yang berbasis pertanian sawah.41%). Diantaranya nelayan yang tergolong miskin yang dilihat dari kepemilikan alat tangkap. selalu dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga. Penyebabnya antara lain : 1) Tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas.337 rumah tangga (25. Orang miskin dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga seperti buruh tani.162 rumah tangga (21. Mereka yang tergolong rumah tangga miskin kebanyakan di perdesaan dengan mata pencaharian pokok sebagai petani di lahan kering atau perladangan.17%). Rumah tangga miskin banyak terdapat dalam enam daerah yaitu Kabupaten Mentawai 8. 4) Areal sawah sangat sedikit. pertama.07% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. sehingga mereka harus membeli beras. buruh dan pedagang kecil. nelayan sedang yang memiliki kapal dan bermotor tempel. kedua.12%). urang sulit (orang sulit). Ini terjadi karena tidak memiliki lahan sendiri atau lahan sempit seperti petani penggarap yang Puslitbang Kesos 85 . Pesisir Selatan 26. Padang 35. Orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik (orang bangsat) atau urang ino (orang hina). nelayan miskin yang terdiri dari buruh angkut. Ditemukan beberapa sebutan orang miskin dalam istilah lokal yaitu urang indak bapunyo (orang tidak punya). golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatannya dari pekerjaan buruh tani.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Tahun 2005. urang indak mampu (orang tidak mampu).250 rumah tangga (17.922 rumah tangga (35. 2) Produktivitas rendah karena hama babi dan kera yang susah ditanggulangi masyarakat setempat. ketiga.12%).

Karakteristik sosial. nelayan kecil atau buruh nelayan (16. 399.per bulan (20. Pendapatan yang mereka peroleh antara lain terendah Rp.30%) dan yang berpendapatan diatas Rp. 400.(28. kebanyakan rumah tangga yang dikepalai perempuan termasuk dalam kategori rumah tangga miskin. berpendapatan Rp.000. Hasil survai secara keseluruhan.(16. Rp. merasa lebih buruk (28. Di tengah banyaknya program anti kemiskinan. ada yang merasa ekonominya lebih baik (4.. Khususnya sektor informal sangat bervariasi seperti buruh kasar. maka perlu mengakses peluang. Dikalangan nelayan.000. Oleh karena itu.10%). usia sekolah. Adapun tipologi di daerah perkotaan. belum bekerja atau belum menikah.(35. Pada tipologi yang berbasis nelayan. 86 Puslitbang Kesos ..000.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya tidak mempunyai lahan pertanian.30%). golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatan dari buruh dan sektor informal. tukang dan buruh lainnya. Namun mereka tidak mampu karena terbatas pengetahuan dan keterampilan. 200.60%) dan yang menjawab tidak ada perubahan (48.000.20%) dari tahun sebelumnya.000. seorang buruh nelayan dapat saja merangkap sebagai tukang atau buruh angkat. 1) Alternatif pekerjaan di daerahnya terbatas dan berkaitan dengan perkembangan ekonomi makro. Biasanya buruh nelayan hanya memiliki sampan saja atau perahu tidak bermotor. pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani (54..50%). Kebanyakan orang miskin melakukan pekerjaan ganda. Rumah tangga miskin memiliki jumlah anak yang lebih banyak dan sebagian besar menjadi tanggungan keluarga karena masih bayi.5%). 600. Misalnya di daerah perdesaan seorang sebagai petani sawah dapat saja menjadi buruh tani. golongan miskin menunjuk pada rumah tangga buruh nelayan yang tidak memiliki sarana penangkap ikan yang lengkap. pedagang kaki lima dan lain-lain (23.20%).5%). 200. 599.10%). Demikian juga daerah perkotaan.000. Apabila ingin memperbaiki ekonomi.sampai dengan Rp.sampai dengan Rp. seorang pegawai rendahan merangkap sebagai tukang ojek atau buruh serabutan. ternyata ekonomi rumah tangga miskin banyak yang merasa pesimis melihat perbaikan ekonominya. Hasil survey. pedagang yang tidak bermodal atau bermodal kecil. tukang atau buruh (3. penyebab kemiskinan antara lain.10%).

Strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya secara sosial dan ekonomi. Adapun strategi adaptasi tersebut yaitu.50%) menerima bantuan dari anggota keluarga (14. 1) Pekerjaan Tetap Mereka tidak berusaha pindah pekerjaan. Cara lain yang mendorong orang miskin memecahkan masalah keuangan rumah tangganya yaitu berhutang kepada tetangga (38. 2) Anggota Rumah Tangga Rumah tangga miskin cenderung memperbanyak jumlah anggota rumah tangga ikut bekerja untuk memecahkan kesulitan hidup. 4) Orang miskin tidak mampu mengakses sumber daya karena ketiadaan teknologi dan minimnya modal. Sementara meminjam kepada lembaga keuangan perbankan atau lembaga keuangan mikro tidak menjadi alternatif karena masih kurangnya lembaga keuangan tersebut.10%). Pertumbuhan penduduk terus berlangsung. Pola ini merupakan bagian dari strategi adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan.80%). 3) Produktivitas rendah karena orang miskin tidak memiliki aset lahan yang memadai. maka orang miskin bergantung pada pekerjaan yang tidak memberi pendapatan yang mencukupi. Puslitbang Kesos 87 .Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Ketiadaan alternatif dan tidak mampu mengkreasi peluang baru. Orang miskin atau rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan yang dialami melakukan upaya adaptasi. sementara luas lahan tetap dan dipengaruhi sistem pemilikan lahan secara adat.70%) atau berhutang kepada bos atau tauke (12. Tujuannya untuk bertahan hidup (survival strategy). berhutang kepada anggota keluarga (20. Alasannya tidak tahu alternatif yang tersedia dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tetap lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan resiko pilihannya. Pilihan diversifikasi pekerjaan dan pendapatan melalui pola nafkah ganda. Ini menunjukkan mereka bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang.

sedangkan anggota kaum bertambah. disebabkan tanah ulayat hanya digunakan oleh anak kemenakan pemilik ulayat. tetapi lahan terbatas. Secara umum 88 Puslitbang Kesos . Termasuk kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi naik. 2) Rendahnya Akses Ada keluarga yang kekurangan lahan. Pada masyarakat petani ladang yang terjadi meningkatnya biaya produksi seperti bibit dan pupuk. Sedangkan petani sawah ketersediaan air mutlak. rendahnya akses kepemilikan alat tangkap ikan seperti perahu motor. antara lain. Daerah perladangan dengan tanaman tua yang diusahakan membutuhkan lahan yang luas.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Secara umum penyebab kemiskinan. Tanah telah dibagi habis. 3) Krisis Ekonomi Krisis ekonomi diikuti dengan kenaikan harga berbagai alat produksi dan kebutuhan konsumsi telah menyebabkan semakin beratnya kehidupan masyarakat. Pengaruh ekologis sangat dirasakan di kalangan nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tidak selalu sama atau tergantung iklim. 1) Lokalitas Ekosistem Di kalangan petani perdesaan atau lahan kering ketergantungan terhadap lahan secara mutlak. Sementara pendapatan tidak seimbang dengan biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk pangan dan konsumsi rumah tangga. terkena PHK dan usahanya bangkrut. kini kembali ke kampung. musim angin dan bulan. Ada golongan keluarga atau masyarakat yang hidup turun-temurun dalam kekurangan aset ekonomi atau rendah aksesnya terhadap sumber daya setempat. tetapi lahan yang ada sangat terbatas. Akan tetapi tidak ada irigasi yang baik atau sumber air terbatas. Di kalangan komunitas nelayan miskin. sehingga tidak dapat menggunakan lahan yang ada. Selain itu status tanahnya sebagai tanah adat atau ulayat atau hutan lindung tidak dapat digunakan sembarangan karena pengaturannya yang berbeda. Banyak orang miskin di nagari dari kalangan pendatang. Ada pula di perkotaan yang dahulu merantau. sehingga produksi lahan sawah rendah.

mengkoordinasikan kegiatan. 2. Adapun program kemiskinan yang pernah dialami antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Departemen Sosial RI 2) Inpres Desa Tertinggal (IDT) dari Departemen Dalam Negeri 3) Kredit Investasi Kecil (KIK). Kinerja Anti Kemiskinan Tahun 2002 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang diketuai oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan Gubernur Sumatera Barat sebagai penanggung jawab. Namun dalam pelaksanaan kegiatan belum menunjukkan hasilnya dalam penanggulangan kemiskinan. melakukan pemantauan dan pengendalian. Kredit kelompok Kepada Kelompok Masyarakat (K3M) 4) Program Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) 5) Program Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS) dari BKKBN 6) Program perbaikan rumah tidak layak huni dari Departemen Kimpraswil 7) Program bantuan pendidikan bagi anak miskin 8) Program bantuan pengobatan orang miskin 9) Program bantuan beras miskin (Raskin) dari BULOG Puslitbang Kesos 89 . Ternyata. memfasilitasi dana. Tugas komite tersebut yaitu menyiapkan data. Namun hanya tahu terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diketahui saja. Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes).Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya yang paling dirasakan yaitu kenaikan harga kebutuhan dasar dan membiayai modal usaha. sejak tahun 1983 sudah masuk program pengentasan kemiskinan atau program anti kemiskinan yang dilakukan oleh beberapa departemen atau instansi pemerintah lainnya. Kredit Usaha Kecil (KUK). sehingga tidak ada alternatif pekerjaan lain. 4) Kebudayaan Semua rumah tangga miskin mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP).

kelima. program bantuan pendidikan seperti BOS dan PPK.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 10)Bantuan Langsung Tunai (BLT) 11)Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari Departemen Dalam Negeri 12)Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) 13)Program Pengentasan Perkotaan (P2P) 14)Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPMP) 15)Badan Amil Zakat. BLT.per bulan. Bantuan yang bersifat jaring pengaman sosial hanya untuk memenuhi kebutuhan 90 Puslitbang Kesos . pengembangan keuangan mikro dengan memberikan bantuan modal kepada kelompok simpan pinjam seperti IDT. 600. semua program yang ada terbagi lima. program yang bersifat jaring pengaman atau program yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sesaat dengan model bantuan karitatif seperti Raskin. PDM-DKE dan PMP. kedua. Juga diakui responden. PPK. PMP dan P2P. Pada umumnya (90%) pernah mengikuti program anti kemiskinan. ketiga. program. GEKS. pertama. Kartu Sehat. keempat.. Infaq dan Shadaqah (BAZIS) 16)Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 17)Subsidi BBM Menurut bantuan yang diberikan. program pembangunan infrastruktur seperti IDT. program memberdayakan keluarga miskin dengan bantuan modal usaha seperti IDT. bahkan sebanyak 60% lebih pernah mengikuti dua sampai empat macam program anti kemiskinan. Dampak program yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Program Tidak Efektif Program-program anti kemiskinan tidak efektif membebaskan penerima bantuan dari kemiskinannya. KUBE. BAZIS. sebagian besar (80%) responden mengaku ekonomi mereka tidak berubah dari sebelumnya dan selebihnya (20%) menyatakan lebih buruk dari tahun sebelumnya. Secara umum program anti kemiskinan yang pernah diikuti belum membuat perekonomian mereka membaik. Ratarata tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena penghasilan yang diperoleh dibawah Rp. PPK dan Subsidi BBM.000.

Puslitbang Kesos 91 . Ikatan anggota dengan kelompok rendah karena kebanyakan anggota dan perlu uang. 3) Keuangan Mikro Kurang Berhasil Program pengembangan keuangan mikro bukan perbankan. Penyebab ketidakberhasilan program. tidak mampu membayar cicilan dana bantuan dan pendapatan kecil dengan biaya operasional yang tinggi. kendaraan bermotor dapat menjangkau desanya. Selain itu tidak ada pengawasan dan pembinaan dari penyelenggara program dan tidak ada perhatian dari tokoh masyarakat setempat. 4) Bantuan Bergulir Kurang Berhasil Bantuan yang diterima dalam kelompok tidak bergulir karena sapi yang diterima terlebih dahulu dijual sebelum beranak. Hal tersebut disebabkan kelompok simpan pinjam tidak bertahan lama dan kelompok cepat bubar. Beras Raskin lebih banyak dimanfaatkan penduduk miskin di perkotaan daripada penduduk miskin di perdesaan. Penyebab lain kemacetan tinggi karena cicilan terlalu besar dan anggapan uang pemerintah tidak perlu dikembalikan. sehingga tidak memberdayakan penerimanya. yaitu. hanya menyentuh sebagian rumah tangga.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya hidup sehari-hari dan tidak membuat mereka menyimpan karena bantuan jumlahnya terlalu kecil. Terutama dalam bentuk simpan pinjam tidak bermanfaat dalam waktu jangka panjang. 2) Pengembangan Infrastruktur Program pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang dibangun telah memudahkan penduduk setempat untuk memasarkan produksinya. 1) Sifat Program Bantuan yang diberikan menyelesaikan kebutuhan sesaat karena bersifat karitatif dan parsial. Namun daerah penerima bantuan tetap saja menjadi kantong-kantong kemiskinan. 5) Bantuan Alat Tidak Efektif Program bantuan peralatan usaha tidak efektif karena penerima tidak mampu mengoperasikan alat yang diterima.

hanya kalau ada keperluan atau pekerjaan tertentu barulah dibuka seperti ada kegiatan dari kecamatan atau instansi pemerintah lainnya. Namun dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum dapat mengeluarkan aturan-aturan bagi nagarinya. Lembaga nagari/kelurahan tidak aktif memantau dan membenahi program yang ada. Gagalnya program anti kemiskinan disebabkan. komunitas perdesaan beranggapan penanggulangan kemiskinan merupakan tugas pemerintah. Hal itu dianggap bukan menjadi urusan mereka dan tidak ada mekanisme pertanggungjawabannya. Kegiatan yang dilakukan terbatas pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja nagari/kelurahan. Pemerintah nagari/ kelurahan diperlakukan sebagai ujung tombak yang tumpul karena program-program tidak memberdayakan organisasi lokal. Keragaan Energi Sosial Lokal 1) Peran Institusi Formal Institusi formal lokal dalam pemerintah kabupaten (Nagari) dipimpin Wali Nagari. Kantor tidak tiap hari dibuka. kedua. Berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan belum peduli terhadap program kemiskinan dan belum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. program-program tersebut tidak ada yang mendorong lembaga lokal untuk aktif terlibat dan bertanggung jawab terhadap program anti kemiskinan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Pengelolaan Program bantuan tidak berkelanjutan dan kelompok yang dibentuk tidak efektif. pertama. 3) Partisipasi Lokal Partisipasi organisasi sosial dan tokoh lokal rendah karena mereka tidak melakukan langkah-langkah untuk melanjutkan program. Sedangkan dalam pemerintah kota (Kelurahan) ada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). 92 Puslitbang Kesos . 3. Badan Perwakilan Adat Nagari (BPAN) atau Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Lembaga tersebut banyak berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan lembaga pimpinan adat (nini mamak ).

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

2) Peran Institusi Informal Lembaga informal yang ada merupakan lembaga yang tidak terkait dengan pemerintah seperti Kerapatan/Lembaga Adat Nagari (K/LAN), Badan Musyawarah Adat dan Syara (BMAS), organisasi berbasis agama dan kekerabatan. Khususnya organisasi yang berbasis keagamaan seperti majlis taklim dan kelompok yasinan, perannya muncul ketika perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Lembaga tersebut mempunyai tugas mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah untuk dibagikan kepada keluarga miskin. 3) Peran Kekerabatan Kebutuhan anggota kerabat atau keluarga yang dialami selalu dikaitkan dengan fungsi keluarga luas matrilineal. Bantuan sosial ekonomi diberikan kepada seluruh anggota keluarga yang memerlukan. Terutama berkaitan dengan keperluan yang sifatnya mendadak seperti sakit, kebakaran, meninggal dan musibah lainnya. Unsur matrilineal menjadi pokok perhatian yaitu; pertama, harta pusaka sebagai sumber ekonomi keluarga luas matrilineal; kedua, pola tempat tinggal keluarga luas matrilineal dalam menjalankan perannya; ketiga, aktualisasi adat. Hubungan sosial ekonomi dimulai dari hubungan timbal balik. Semangat akan timbul saat membantu dalam pelaksanaan perkawinan. Bantuan yang diberikan biasanya dalam bentuk uang dan tenaga, sedangkan dalam biaya pendidikan tidak karena menjadi urusan masing-masing. Bantuan terhadap orang miskin, lanjut usia dan yatim piatu menjadi urusan paruiknya. Mereka lebih baik dipelihara oleh paruik dan masyarakat setempat yang telah saling mengenal dan dijamin lebih baik. Masyarakat tidak mau dan merasa malu menempatkan lanjut usia dan anak yatim ke panti asuhan. Peran tokoh lokal membantu orang miskin dalam bentuk memberikan fasilitas atau modal usaha. 4) Nilai-nilai dan Solidaritas Lokal Nilai-nilai dan praktek solidaritas sosial lokal tumbuh dan berkembang dalam masyarakat didasarkan rasa tanggung jawab dan rasa kebersamaan. Tujuannya untuk membantu seluruh anggota
Puslitbang Kesos

93

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

keluarga dan masyarakat. Pepatah Minangkabau; bakampung mamaga kampung, tagak basuku mamaga suku, tagak banagari mamaga nagari, sandar menyandar bagaikan aur dengan tebing. Nilai yang terkandung dalam pepatah tersebut mencerminkan kehidupan keluarga yang saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Namun, dalam perkembangannya nilai-nilai tersebut tidak lagi dijalankan. Masyarakat menggunakan kata individualis untuk menyebut perilaku dari sebagian masyarakat yang tidak lagi memikirkan sanak saudara dan para tetangga dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi sosial yang sangat dikenal yaitu Kelompok simpan pinjam, Kongsi dan Julo-julo. Kelompok simpan pinjam terdiri dari beberapa orang yang mengelompokkan diri yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan anggota atau kelompoknya. Ada kelompok laki-laki atau kelompok perempuan. Kelompok juga yang berhubungan dengan pihak luar atau organisasi sosial untuk memperoleh pinjaman. Kelompok simpan pinjam sering cepat bubar karena menjadi pengurus tidak semuanya disenangi masyarakat, kecurigaan anggota terhadap pengurus sangat tinggi. Kongsi suatu istilah yang dimulai dari individu yang menjual jasa dalam pengolahan lahan pertanian terhadap anggotanya. Kegiatannya bertujuan untuk mengatasi kesulitan mereka dalam membayar tenaga kerja. Biasanya, awal kegiatan kongsi berjalan baik dan selanjutnya sering anggota kongsi malas dengan berbagai alasan. Upah yang dibayarkan berbeda berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebesar Rp. 20.000,- per hari dan perempuan sebesar Rp. 10.000,- per hari. Julo-julo (Arisan) yang merupakan kelompok penabung, dipelopori ibu-ibu. Setiap anggota akan menabung sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan dan waktu penarikan yang ditentukan. Biasanya terdiri dari 10 orang, tiap orang akan menerima bagian sesuai dengan jumlah uang yang ditabung dan paling murah Rp. 5.000,-. Keberadaan kelompok ini sangat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah keuangan terutama untuk biaya pendidikan dan modal kerja.

94

Puslitbang Kesos

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Kesimpulan dan Saran Pemetaan kemiskinan telah menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dalam beberapa kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penelitian. Kantong-kantong kemiskinan tersebut berdasarkan tingkat nagari/kelurahan yang terbagi dalam kelompok petani lahan kering, persawahan dan nelayan. Dirumuskannya strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang disebutkan berbasis nagari/kelurahan. Adanya model strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang akan diujicobakan pada tingkat nagari/kelurahan yaitu; a. Konsep Pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal diartikan program yang bertumpu kepada kekuatan komunitas lokal dengan mengandalkan organiasi sosial yang telah ada. Tujuannya agar komunitas lokal dan tokoh masyarakat pelaku aktif pengentasan kemiskinan. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra. Partisipasi diperlukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemeliharaan. b. Prinsip Organisasi sosial dan tokoh masyarakat harus aktif dan proaktif dalam pengentasan kemiskinan yang disusun sesuai potensi dan aspirasi masyarakat. Diperlukan badan atau organisasi sosial yang bertugas mengkoordinasikan upaya pengentasan kemiskinan. Diperlukan pendampingan yang menguasai tentang strategi dan teknik penanggulangan kemiskinan. Program bersifat pemberdayaan komunitas. c. Sasaran Komunitas nagari/kelurahan dengan angka kemiskinan tinggi melalui lembaga-lembaga dan rumah tangga miskin. Meningkatkan peran nagari/kelurahan yang mempunyai program anti kemiskinan berdasarkan potensi dan aspirasi lokal. Di lokasi dibentuk organisasi dengan sebutan Panitia Penanggulangan Kemiskinan Nagari/ Kelurahan.

Puslitbang Kesos

95

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Ketentuan panitia antara lain; Lembaga tersebut dibentuk melalui musyawarah di nagari/kelurahan masing-masing, Panitia beranggotakan kaum laki-laki dan perempuan secara proporsional Struktur organisasi tediri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan sekurang-kurangnya lima anggota, Tokoh-tokoh terseleksi yang mempunyai komitmen tinggi, Mempunyai anggaran khusus, Menggali sumber-sumber lokal, Perlu pemecahan faktor-faktor struktural lokal Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1) Rekruitment Tenaga Pendamping Pendamping dalam nagari/kelurahan sebanyak dua orang. Pendamping selalu berkoordinasi dengan peneliti dan pemerintahan nagari/ kelurahan. 2) Upaya Penyadaran Pendamping melakukan upaya penyadaran kepada lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat nagari/kelurahan agar mereka aktif melakukamn usaha pengentasan kemiskinan. 3) Membentuk Panitia Berkoordinasi dengan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk panitia. 4) Pelatihan Dilakukan terhadap panitia penanggulangan kemiskinan agar memahami kegiatannya. 5) Pendataan Melakukan pendataan rumah tangga miskin dengan merumuskan kriteria kemiskinan yang sesuai dengan persepsi setempat. 6) Merumuskan Program Merumuskan program dan kegiatan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tenaga ahli, pejabat pemerintah dan pihak lain untuk membantu rumah tangga miskin.

96

Puslitbang Kesos

Jakarta. Data dan Informasi PMKS dan PSKS Tahun 2004. Padang. 2006.4. Metodologis dan Empiris. Harry. R. 1987. Nomor 3 . 1995. 2006. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Departemen Sosial RI. 2005. DAFTAR PUSTAKA Afrizal. Pusbangtansosmas. “Ikatan Kekerabatan sebagai Sebuah Jaringan Sosial Ekonomi: Diskusi tentang Isu-isu Perubahan pada Ikatan Kekerabatan Matrilineal Minangkabau” dalam Jurnal Pembangunan dan Perubahan Sosial. Menemukan Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat. Pusdatin Kesos. Perspektif Teoritik. Membangun Keterlibatan Keterlibatan organisasi-organisasi sosial dan pemerintah dalam melakukan monitoring pengentasan kemiskinan. Sherraden. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. Yogyakarta. dkk (ed). “Pemberdayaan Pranata Sosial Pengalaman Empiris” dalam Umi Ratih Santoso. “Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta. Chambers. Jakarta. M. Pelaksanaan Program Panitia penanganan kemiskinan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Aditya. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia. dkk (ed). Rencana Pembangunan Jangka Menangah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006 – 2010: Agenda 6 Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan. LP3ES Hikmat. Jakarta. Djamaluddin.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 7) 8) 9) Membuat Peraturan Panitia dan tokoh masyarakat perlu membuat peraturan dalam pengentasan kemiskinan di daerahnya. 1997. Jakarta. Puslitbang Kesos 97 . Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Raja Grafindo Persada. Ancok. Aset untuk orang Miskin: Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. 2003.

.

Yanuar Farida Wismayanti. Badiklit Kesos. Anwar Sitepu. Apabila pemberdayaan fakir miskin berniat untuk merangsang prakarsa masyarakat mengatasi permasalahannya maka PWR adalah sebuah pilihan tepat untuk mengawali langkah. Anwar Sitepu. Dengan menggunakan teknik PWR tampak dengan nyata bahwa masyarakat tidak saja diberi kesempatan berpartisipasi tetapi diakui dan dihargai martabatnya. berupa daftar nama dan alamat keluarga menurut urutan (peringkat) kemiskinan. Siti Aminah (sekretariat). Tahap ini rawan karena pada satu sisi sangat menentukan efektivitas program secara keseluruhan pada sisi lain sering dianggap pekerjaan mudah sehingga kurang diperhatikan atau bahkan disepelekan. Ir.Si (anggota). Kata kunci: Participatory Wealth Ranking. Drs. Penyesuaian yang perlu dilakukan adalah pada sistem penilaian yaitu nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. MPM 2 ABSTRAK Participatory Wealth Ranking (PWR) merupakan alternatif teknik mengidentifikasi keluarga termiskin dan miskin. petugas lembaga tinggal menetapkan titik batas nilai. Haryati Roebiyantho (anggota).PARTICIPATORY WEALTH RANKING Sebuah Alternatif Teknik Identifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin1 Drs. keluarga miskin Pendahuluan Salah satu titik rawan dalam penyelenggaraan Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) adalah pada tahap identifikasi dan seleksi sasaran. Hendriyati. S. Agus Budi Purwanto (anggota). Anwar Sitepu. Data yang dihasilkan berupa data mikro. MP (ketua). Teknik ini dikembangkan oleh The Small 1 2 Dikembangkan dari Laporan Penelitian Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. M. memperoleh gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Untuk seleksi sasaran program. dan Dra. Dra. Manual PWR mudah dijabarkan oleh fasilitator untuk memfasilitasi masyarakat melakukan pemeringkatan. Mengatasi hal tersebut Puslitbang Kessos bermaksud menawarkan sebuah teknik yang disebut Participatory Wealth Ranking (PWR). Tim peneliti terdiri dari: Drs. Departemen Sosial RI tahun 2006. Puslitbang Kesos 99 .ST (sekretariat).

terlebih dahulu perlu dilakukan uji aplikasi. kendala dan kemudahannya. Proses aplikasi di lapangan diobservasi. Peneliti. seluruh pengalaman dan hasilnya dicatat dan diabstraksikan.1996:14). Tujuan PWR adalah untuk menemukan keluarga termiskin di suatu masyarakat menurut ukuran mereka sendiri dan oleh mereka sendiri. sebelum dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas dalam pelaksanaan P2FM. Rukun Warga. Seperti PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers. 100 Puslitbang Kesos . visi dan misi serta strategi P2FM. Tulisan ini merupakan pengembangan dari laporan uji aplikasi PWR di lapangan. Dengan Teknik PWR konsep dan indikator miskin tidak disiapkan dari luar sebelum pengumpulan data dilakukan. Tujuannya adalah mengetahui efektivitasnya. PWR dalam perkembangannya sudah diadopsi oleh NGO yang beroperasi di seluruh dunia. Visi metode/ pendekatan partisipatif adalah perubahan sosial dan pemberdayaan (penguatan) masyarakat agar ketimpangan ditiadakan. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan di lapangan manual PWR yang disusun oleh The SEF. PWR adalah salah satu bentuk dari metode-metode partisipatif. PWR adalah sebuah teknik penelitian tetapi bukan sekedar teknik penelitian biasa. Bentuk lain yang relatif sudah dikenal lebih banyak orang adalah Participatory Rural Apraisal (PRA). termasuk di Indonesia. Berdasarkan kajian awal teknik ini dipandang layak digunakan karena prosesnya dinilai aplicable dan teknisnya dikembangkan berlandaskan pendekatan partisipatif. masing-masing sebagai satuan pemukiman setingkat atau bagian dari Dusun. untuk mengidentifikasi dan menyeleksi penerima pelayanannya di Afrika Selatan. Penelitian dilakukan di enam lokasi di provinsi berbeda. sekaligus bertindak sebagai fasilitator. Metode-metode/ Teknik-teknik participatory dikembangkan sebagai salah satu upaya menempatkan rakyat sebagai titik pusat pembangunan (people centred development).Participatory Wealth Ranking Enterprise Foundation (SEF) sebuah Non Governmental Organization (NGO International). senada dan selaras dengan paradigma. Konsep dan Teknik PWR Participatory Wealth Ranking (PWR) adalah sebuah teknik pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi berlandaskan pada pendekatan partisipatif. Lazimnya sebuah produk luar. dan Lingkungan. yang sebelumnya dilatih secara singkat. Tekanan penting pada metode partisipatif bukan sebatas pada aktivitas pengkajian/penelitian atau pengumpulan data tetapi pada aspek pembelajaran masyarakat (Rianingsih (Ed).

Participatory Wealth Ranking

Penggunaan teknik ini efektif dilakukan di masyarakat yang warganya saling mengenal dengan baik. Pemeringkatan keluarga dilakukan oleh perwakilan warga, dengan asumsi mereka lebih tahu kondisi sesamanya. Perwakilan warga ditetapkan secara proporsional, minimal sebanyak 9 orang dan maksimal 15 orang. Pemeringkatan dilakukan melalui proses penilaian berlapis, yaitu sebanyak tiga kali (triangulasi). Setiap penilaian dilakukan oleh kelompok kecil (tiga sampai lima orang) perwakilan warga. Penilaian dilakukan dengan teknik pengelompokkan, setiap keluarga dibandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lain. Keluarga yang sama atau seimbang kondisi sosial ekonominya dikelompokkan menjadi satu kelompok. Sumber data adalah perwakilan warga itu juga, sehingga mereka bertindak sekaligus sebagai pengumpul data dan informan. Orang luar, petugas lembaga bertindak sebagai fasilitator. Pemeringkatan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan Tahap Penghitungan Nilai.
1. Tahap Persiapan

Tahap Persiapan bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melakukan pemeringkatan. Kegiatan pada tahap ini meliputi tiga besaran, yaitu: perkenalan dan penjelasan, merencanakan pertemuan pemeringkatan dan pengaturan logistik. Perkenalan yang dimaksud dilakukan dengan aparat setempat. Kepada aparat dikenalkan siapa fasilitator, dijelaskan apa tujuannya dan bagaimana teknis pemeringkatan, termasuk cara kerja, dan dukungan apa yang diperlukan sampai pada kesepakatan melakukan pemeringkatan. Jika aparat setempat sudah jelas dan tidak keberatan, lanjutkan dengan pengaturan pelaksanaan kegiatan, termasuk waktu, tempat dan peserta. Pada kesempatan tersebut fasilitator menjelaskan persyaratan peserta, lokasi pertemuan yang diperlukan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini bertujuan untuk memisahkan atau mengelompokkan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Semua keluarga yang sama atau seimbang dari segi sosial ekonomi dikelompokkan menjadi satu kelompok, sehingga seluruh keluarga akan masuk dalam salah satu
Puslitbang Kesos

101

Participatory Wealth Ranking

kelompok. Tujuan tersebut dicapai melalui sejumlah kegiatan yaitu: pemetaan, pendaftaran keluarga, pembuatan kartu, diskusi konsep, dan sorting. Pemetaan bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh keluarga yang tinggal di suatu wilayah dimana PWR dilakukan, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Peta memuat lokasi rumah setiap keluarga di masyarakat tersebut. Setiap rumah di peta diberi nomor urut. Nama masing-masing Kepala Keluarga dan identitas lain seperti nama panggilan, pekerjaan dan nama isteri, kemudian didaftarkan pada form khusus yang sudah disiapkan. Berikutnya, nama dan nomor urut masing-masing KK ditulis kembali di atas sebuah potongan kertas karton sehingga menjadi sebuah kartu. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat sorting. Sorting adalah pembandingan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi konsep. Peserta diajak merumuskan apa yang dimaksud dengan ”miskin” dan ”sangat miskin” atau mengidentifikasi apa ciri-ciri sebuah keluarga miskin atau sangat miskin. Diskusi dimaksudkan agar peserta berpikir dan memiliki pemahaman yang sama tentang miskin dan sangat miskin. Kesamaan pemahaman diperlukan untuk mempermudah proses sorting. Sorting dilakukan dengan cara: • Fasilitator menunjukkan kartu nama keluarga kepada kelompok. Dijelaskan bahwa masing-masing kartu tersebut mewakili sebuah keluarga. • Kemudian, fasilitator mengambil dua kartu pertama, seraya memperlihatkan dan menanyakan kepada peserta, apakah mereka mengenal kedua keluarga yang namanya tertera pada masing-masing kartu tersebut? ”Keluarga mana yang lebih miskin?” Disini akan berlansung diskusi, masing-masing peserta akan menyampaikan informasi dan pendapatnya. • Setelah diperoleh kesepakatan, kedua kartu diletakkan bersebelahan, yang lebih miskin di sebelah kiri dan yang lebih kaya sebelah kanan. Alasan penempatan dicatat pada form yang telah disiapkan. Dilanjutkan dengan kartu berikutnya, bandingkan dengan dua kartu yang sudah diletakkan. Jika sama atau seimbang dengan

102

Puslitbang Kesos

Participatory Wealth Ranking

salah satu kartu yang sudah diletakkan tadi, maka kartu ketiga diletakkan di atasnya. Jika lebih kaya dari kartu sebelah kanan, maka kartu ketiga diletakkan di sebelah kanannya lagi, atau jika lebih miskin dari yang paling kiri, maka kartu ketiga itu diletakkan di sebelah kirinya lagi. • Demikian seterusnya, satu demi satu dibandingkan dan diletakkan di tempat yang sesuai. Pada akhirnya seluruh kartu akan masuk pada salah satu kelompok atau tumpukan kartu. • Sorting dilakukan sebanyak tiga kali masing-masing oleh kelompok (3 sampai 5 orang) perwakilan warga, pada waktu dan tempat berbeda. Menurut The SEF tidak menjadi soal, berapa pun banyaknya tumpukan, yang penting adalah bahwa masing-masing tumpukan berbeda menurut kondisi sosial ekonomi. The SEF menganjurkan sebaiknya minimal 4 tumpukan. Hal yang harus diingat bahwa sorting adalah membandingkan kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga, bukan bagaimana orang mencari uang atau berapa besar pendapatan sebuah keluarga. Contoh, walau pun seseorang memiliki penghasilan besar tetapi uangnya tidak dibawa ke rumah untuk kepentingan keluarganya, maka itu percuma saja, tidak memberi dampak pada kesejahteraan keluarganya. Seluruh kegiatan di atas, mulai dari membuat peta, pendaftaran nama KK, pembuatan kartu, diskusi konsep dan sorting dilakukan oleh perwakilan warga. Petugas dari lembaga hanya sebagai fasilitator. PWR harus berlangsung dalam suasana santai tetapi tetap serius.
3. Tahap Penghitungan Nilai

Akhir dari sorting adalah terpisahnya kartu keluarga menjadi beberapa tumpukan. Tumpukan paling kiri di mana keluarga termiskin berada diberi nilai 100, artinya 100% miskin. Nilai masing-masing keluarga lain tergantung pada jumlah tumpukan (pengelompokkan) dan di tumpukan mana dia berada. Contoh: Anggaplah kelompok membagi keluarga ke dalam 4 kategori atau tumpukan menurut kondisi sosial ekonominya. Menghitung seberapa miskin setiap tumpukan, 100 dibagi dengan jumlah kategori. 100 dibagi 4 = 25 kalikan dengan nomor tumpukan. Tumpukan 4 = 100 : 4 x 4 = 100;
Puslitbang Kesos

103

Participatory Wealth Ranking

Tumpukan 3 = 100 : 4 x 3 = 75 ; Tumpukan 2 = 100 : 4 x 2 = 50; Tumpukan 1 = 100 : 4 x 1 = 25. Nilai dari masing-masing kelompok penilai dimasukan pada kolom tersendiri pada form yang sudah disiapkan. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh nilai rata-rata masingmasing keluarga. Nilai rata-rata berfungsi untuk menentukan peringkat akhir keluarga di masyarakatnya. Karena masing-masing keluarga dinilai sebanyak tiga kali maka setiap keluarga memperoleh tiga nilai. Nilai rata-rata setiap keluarga adalah jumlah tiga nilai dibagi tiga. Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah, maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Maksudnya tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat.

Uji Aplikasi PWR Uji aplikasi dilakukan di 6 provinsi, masing-masing satu lokasi. Peneliti bertindak sekaligus sebagai fasilitator. Menurut tipe masyarakatnya, 4 lokasi berupa masyarakat perdesaan dan dua lokasi berupa masyarakat perkotaan. Keenam lokasi merupakan calon lokasi program pemberdayaan fakir miskin. Berikut adalah deskripsi aplikasi setiap tahap PWR.
1. Tahap Persiapan

Seluruh kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan dengan baik di semua lokasi. Kegiatan diawali dengan menemui Kepala Kelurahan/ Desa. Tim Fasilitator didampingi oleh aparat Dinas Sosial Provinsi dan atau Dinas Sosial Kota/Kabupaten. Perkenalan dengan Kepala Kelurahan/Kepala Desa berlangsung dengan baik. Kepada mereka dijelaskan bahwa kegiatan dilakukan masih sebatas mengujicobakan teknik. Kepada masing-masing juga dijelaskan secara singkat tujuan dan teknik pelaksanaan PWR. Masing-masing tidak keberatan di wilayahnya dilakukan kegiatan dan bersedia membantu. Bersama Kepala Desa/Kelurahan ditetapkan bagian wilayahnya yang akan

104

Puslitbang Kesos

Perkenalan dan penjelasan lebih lanjut dilakukan dengan aparat pemerintah di tingkat RT/RW/Kepala Dusun/Kepala Lingkungan. Kec. pengaturan jadwal dan logistik. Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Desa Kota Puslitbang Kesos 105 . Fasilitator menjelaskan kriteria lokasi uji coba PWR yang diinginkan. Kepada mereka juga ditanyakan apakah warganya saling mengenal satu dengan yang lain. Lokasi Aplikasi PWR dan Tipe Masyarakatnya No. Jawa Tengah Bali Desa 4.Participatory Wealth Ranking dijadikan lokasi. Persiapan lebih krusial berlangsung bersama mereka. penetapan lokasi pertemuan. di Subang dan Samarinda dua RT. Pemilihan dilakukan dengan melibatkan ketua-ketua wilayah masing-masing dan sejumlah tokoh setempat. Desa 3. Pelaksanaan PWR di Samarinda (Kaltim). Kegiatan dilaksanakan pada waktu dan tempat yang disepakati. Bangli Kabupaten Belu. Abistas Rukun Tetangga (2): RT 29 dan RT 30 TIPE Kota 2. Obipul. Tabel 1. Perwakilan warga di lokasi yang terdiri dari dua atau lebih satuan administrasi (misal di Samarinda dua RT dan di Belu tiga dusun) ditetapkan secara proporsional. Cakupan lokasi menjadi berbeda. Lamaknen Kota Samarinda Kec. Subang (Jabar) dan Wonogiri (Jatim) bertepatan dengan bulan puasa. Bersama Ketua RT/ RW/Lingkungan/Dusun dilakukan: pemilihan perwakilan warga. sekaligus dengan memperhatikan keseimbangan menurut jenis kelamin. Cipunagara Kabupaten Wonogiri Kec. dan seterusnya (lihat Tabel 1). Hal tersebut terjadi dalam upaya mencapai jumlah KK sebanyak antara 150 sampai 200 KK. Kelurahan Tegalsari Mandala 1 Desa Jati. Purwantoro Kabupaten Buleleng Kec. PROVINSI Sumatera Utara Jawa Barat KOTA/KAB Kecamatan Kota Medan Kec. di Medan meliputi satu lingkungan. Dusun Jati Desa Kenteng Desa Kayubihi Desa Lakmaras Kelurahan Selili SATUAN Lingkungan (1): L IX Rukun Tetangga (2): RT 22 dan RT 23 RW 5 Dusun (1) : Dusun Ploso Jenar Dusun (1) : Dusun Pucangan Dusun (3): Sabulmil. Intensitas kerja lebih banyak dilakukan bersama aparat terbawah. Medan Denai Kabupaten Subang Kec. 1. Samarinda Seberang DESA/KEL. di Bali satu dusun. Pada akhirnya lokasi terpilih menjadi bervariasi di masing-masing provinsi. Desa 5. 6.

Kejadian berbeda terjadi di Buleleng (Bali). karena pemerintah sudah memiliki ukuran sendiri. Pembuatan peta berlangsung melalui dua cara berbeda: pertama. semua peserta aktif. terlebih dahulu membuat sketsa kemudian disalin kembali di atas kertas karton. suasana rileks dan santai. Di beberapa tempat Tim Perwakilan warga minta agar fasilitator terlebih dahulu menetapkan ukuran miskin atau tidak miskin. Pembuatan peta di semua lokasi berjalan mulus. dan Rekomendasi Badan Linmas setempat. memberi informasi. Pertanyaan yang banyak disampaikan warga adalah seputar tidak lanjut. saling mengingatkan. Pendaftaran KK di semua lokasi berlangsung lancar. misalnya di Subang dibuat dua peta. masing-masing untuk RT 22 dan RT 23. salah seorang aparat Dinas Sosial setempat mengambil alih proses pembuatan peta akibatnya muncul kesulitan. kehilangan inisiatif. Pelajaran berharga diperoleh dari Wonogiri. Pada pertemuan pertama diawali dengan perkenalan dan penjelasan. fasilitator dapat menyampaikan penjelasan dan hingga dipahami perwakilan warga. Perwakilan Warga (Tim Pemeringkat) berhasil mengidentifikasi semua 106 Puslitbang Kesos . seharusnya pembuatan peta diserahkan kepada warga. kedua. bahwa warga masyarakat sudah lama demikian tergantung pada instruksi. Kesan umum yang muncul adalah sepertinya mereka tidak percaya bahwa mereka dapat melakukan pemeringkatan atau mereka meragukan manfaatnya. Peta dibuat menurut wilayah satuan administrasi. Hal ini dapat dipahami sebagai indikasi. fasilitator bekerja bersama perwakilan warga atau disebut juga Tim Pemeringkat. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini. Hubungan dengan fasilitator mulai cair. perwakilan warga dalam sesi tanya jawab seperti ”menginterogasi” fasilitator dengan cara sangat halus. Proses kemudian diulang lagi. Demikian juga di lokasi lain yang kegiatan mencakup lebih dari satu wilayah administrasi. Di semua lokasi pertemuan berjalan dengan baik.Participatory Wealth Ranking 2. langsung sekali jadi. Di semua lokasi tidak ditemukan kesulitan berarti. apakah akan ada bantuan untuk warga setempat. Surat Tugas. Seperti meminta memperlihatkan KTP. tidak percaya diri. Nama masing-masing KK sesuai nomor urut pada peta ditulis pada form yang sudah disiapkan.

seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. Samarinda Seberang Kel. Kec. semua kasus-kasus seperti di atas didaftar sebagai keluarga tersendiri. Desa Ploso Jenar Dusun Ploso Jenar SATUAN PEMUKIMAN SETEMPAT L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT1/5 RT2/5 RT3/5 RT4/5 RT1/6 RT2/6 Jumlah Dusun Pucangan Dusun Sabulmil Dusun Obipul Dusun Abistas Jumlah BANYAKNYA KEPALA KELUARGA DATA DESA 183 63 86 149 70 82 152 DITEMUKAN 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 PERBEDAAN 122 7 23 30 6 8 14 1. 5. Misalnya.Bangli. Banyaknya Kepala Keluarga Menurut Data dan Temuan di Lokasi Penelitian LOKASI NO. 6. Cipunagara. Kec. 4. Desa Lakmaras 212 189 63 43 53 159 131 -3 -1 -2 -6 Puslitbang Kesos 107 . Tabel 2. Kab. 3. hal demikian sama artinya dengan menghilangkan akses sejumlah keluarga untuk masuk pada program yang diselenggarakan untuk mereka. Wonogiri. Selili Jabar. Lamaknen. Kec.Participatory Wealth Ranking KK setempat. Fenomena yang menarik adalah jumlah KK yang dilaporkan sebelumnya oleh aparat pemerintah setempat ternyata berbeda dengan temuan penelitian (lihat Tabel 2). Kabupaten Bangli. 2. Kecuali di Belu (NTT).Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. nama panggilan dan nama isteri masing-masing. Dusun Jati Jateng. Kab Subang. Hasil kegiatan ini adalah daftar nama KK berikut alamat. Sesuai dengan semangat pemberdayaan.Kota Medan Kec. Kec. Mdn Denai Kel.Purwantoro. Kab. Pertanyaan yang banyak muncul di semua lokasi adalah seputar siapa yang dimaksud keluarga. PROVINSI/KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Dalam konteks pemberdayaan.Desa kayubihi NTT. seorang anak yang sudah menikah kemudian cerai dan kembali bersama orangtuanya. Desa Jati. Hal demikian patut diwaspadai karena dapat dibaca sebagai indikasi adanya sejumlah keluarga yang tidak tercover. Bali. Belu. atau keluarga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di lingkungan setempat. seorang anak yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtuanya. jumlah KK hasil pemetaan lebih banyak dibanding data pemerintah setempat.

Pekerjaan tidak tetap (serabutan). Di semua lokasi berhasil dirumuskan pengertian konsep ”miskin” dan ”sangat miskin”. Pada kegiatan ini fasilitator dituntut mampu menggali pendapat peserta. pengertian yang disampaikan cenderung abstrak. Ada dua persoalan pada kasus ini yang tidak diantisipasi sebelumnya.Participatory Wealth Ranking Kesulitan terjadi di Medan (Sumut). Kota Samarinda. Fasilitator dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kendala yang dihadapi di beberapa lokasi adalah form dan blanko yang disiapkan tidak mencukupi karena jumlah penduduk melampaui perkiraan. (3). Mereka mengenal wajahnya tetapi tidak tahu siapa namanya.Selili. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan apabila salah seorang anggotanya perlu berobat di rumah sakit. Makan dari pemberian orang (anak/saudara/tetangga) atau mengemis. Jika tidak cukup di fasilitasi. ditemukan sebanyak 305 KK. 108 Puslitbang Kesos . Sementara itu. perwakilan warga ternyata tidak hafal nama sebagian KK setempat. Rumah numpang (pada orangtua. (2). Lauk asal ada: contohnya ikan asin murahan. yaitu 187 KK. semua kegiatan dilakukan oleh Tim Perwakilan Warga. Ciri-ciri sebuah keluarga miskin menurut hasil diskusi adalah: (1). mertua atau saudara). Berikut adalah contoh definisi miskin: a) Lingkungan 9 Kel. (1) Makan seadanya. Sebelum sorting. Biasanya cari pinjaman. Setelah dilakukan pemetaan. Kedua kegiatan dilakukan setelah peta selesai digambar. b) RT 29 dan RT 30 Kel. hubungan antar dua kelompok besar penduduk ternyata kurang harmonis. salah satu faktor yang cukup mendukung kelancaran kegiatan adalah terdapatnya anggota perwakilan warga yang mampu menulis dengan jelas dan cepat. Memperoleh makanan dari bantuan orang lain atau mengharap dari “raskin”. (5). jumlah penduduk di lokasi jauh melebihi data yang disampaikan Ketua Lingkungan sebelumnya. terlebih dahulu dilakukan diskusi konsep. Kedua. TSM 1 Kota Medan. Pertama. (4). Selama pembuatan kartu tidak ditemukan kesulitan serius. salah satu kelompok tertutup bagi kelompok yang lain. Pendidikan anak putus sekolah sebelum tamat SD atau SLTP. Pembuatan kartu keluarga di semua lokasi dilakukan sekaligus dengan pendaftaran nama KK.

(6) Peralatan rumah tangga sangat minim. Puslitbang Kesos 109 . Setelah diskusi konsep selesai dilanjutkan dengan penjelasan dan peragaan bagaimana melakukan sorting. secara simultan. seperti dinding. tetapi dibagi tiga bagian (pengalaman di Medan). Cara kedua ini dilakukan di kebanyakan lokasi karena di pandang lebih mudah dan mengirit waktu. Pelaksanaan sorting berlangsung dalam dua model.000. ketiga kelompok penilai bekerja secara bergantian.per bulan. (4) Anggota keluarga sering sakit karena kurang gizi. sehingga ketiga kelompok penilai dapat melakukan tugasnya. kelompok penilai melakukan sorting secara terpisah pada waktu bersamaan di lokasi yang sama. Misalnya di buat rangkap tiga (pengalaman di Subang dan Samarinda) atau tetap di buat rangkap satu.atau kurang Rp. (7) Tidak mampu membeli air bersih.. Tugas masingmasing kelompok adalah menilai seluruh keluarga dengan memperbandingkan satu dengan yang lain berdasar kondisi sosial ekonomi..25. Model pertama.Participatory Wealth Ranking (2) Pekerjaan dan penghasilan tidak tetap. Pada sorting dengan model paralel kartu keluarga perlu disiapkan sedemikian rupa. Penghasilan rata-rata per hari kurang dari Rp. Perwakilan warga kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing dengan 3 sampai 4 orang anggota. sementara kelompoknya disebut juga Kelompok Penilai.750. (5) Tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit. Model kedua. lantai dan atap sudah lapuk atau bocor. Biasanya numpang pada keluarga lain atau menyewa rumah yang tidak layak. Rumah Tidak layak huni yang dimaksud adalah rumah yang komponen-komponennya. (3) Tidak punya tempat tinggal sendiri yang layak huni. (8) Tidak mampu menyediakan biaya pendidikan anak hingga minimal tamat SLTP. secara paralel. Untuk memenuhi kebutuhan makan (pokok) selalu utang. Teknik sorting seperti pada manual The SEF tampak cukup mudah dijelaskan oleh fasilitator dan mudah dipahami serta mudah dilakukan perwakilan warga di semua lokasi. Misalnya tidak punya TV. Kegiatan ini disebut juga sorting.000.

Menetapkan nilai masing-masing keluarga dilakukan oleh tiga Kelompok Penilai melalui proses sorting. sehingga nilai yang dihasilkan tidak konsisten. Banyaknya kategori bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lain. Kejadian seperti ini dialami di Medan. mulai dari 4 sampai 6 kategori. kelompok penilai dapat menilai setiap keluarga dan menempatkannya ke dalam kelompok atau kategori tertentu. Keberatan warga diterima oleh fasilitator di semua lokasi. yaitu nilai tertinggi selalu diberikan kepada yang terbaik. Mereka mudah memahami nilai tertinggi ditetapkan sebesar 100 diberikan kepada setiap keluarga termiskin yang kartunya berada pada tumpukan paling kiri. Tahap Penghitungan Nilai Penghitungan nilai yang dimaksud adalah mulai dari menetapkan nilai setiap keluarga sampai mencari nilai rata-rata. tumpukan ke-4. Alasan mereka seragam. catatan pada kategori mana sebuah keluarga ditempatkan dan alasan informatif mengapa ditempatkan pada kategori tertentu. nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Nilai berasal dari atau tergantung pada tumpukan mana dia ditempatkan dan jumlah seluruh tumpukan (lihat sub bagian penghitungan nilai di atas). Analog dengan sistem penilaian anak sekolah. Karena itu sorting dapat disebut juga sebagai proses penilaian. Pertama. apabila sebuah kelompok penilai membagi penduduk menjadi 4 kategori (tumpukan). Dengan ketentuan demikian. Hal tersebut dimungkinkan karena semua anggota Kelompok Penilai mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Kesulitan terjadi apabila Kelompok Penilai tidak mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Kedua. nilai bagi masing-masing keluarga. sejumlah keluarga tidak dikenal dengan baik oleh Kelompok Penilai. Karena sorting dilakukan sebanyak tiga kali maka masing-masing keluarga memperoleh tiga nilai dan tiga catatan alasan. Kelompok penilai di semua lokasi tidak mengalami kesulitan memahami sistem menetapkan nilai. Sistem ini diterima dengan pertimbangan tidak merubah substansi pengelompokkan.Participatory Wealth Ranking Dalam prakteknya sorting berlangsung lancar. Hasil sorting terdiri dari dua bagian penting. 3. Sistem penetapan nilai demikian ternyata ditolak para peserta (anggota kelompok Penilai) di semua lokasi. maka nilai masing-masing keluarga mulai dari termiskin sampai terkaya adalah 110 Puslitbang Kesos .

4. Selili Jabar. Mdn Denai Kel. Keluarga dengan nilai terendah adalah keluarga termiskin. peringkat keluarga digolongkan menjadi 4 sampai 6 golongan peringkat (lihat Tabel 3). Lamaknen. Mereka spontan mengajukan protes jika merasa ada keluarga yang diberi nilai tidak semestinya. Kab Subang. Smrd Seberang Kel. Kec. Dalam upaya penyederhanaan. Kec. Cipunagara. Bali. Pada umumnya jumlah kategori yang ditetapkan oleh tiga Kelompok Penilai di suatu lokasi adalah sama. sebanyak 4. Kab. Kec. 75 dan 100. Wonogiri. 5 atau 6. 1. Desa Lakmaras Puslitbang Kesos 111 . Mudah bagi mereka menghitung (25 + 25 + 50) : 3. Dusun Jati Jateng. 3. Penghitungan nilai rata-rata dapat dilakukan dengan lancar oleh peserta. Kesempatan memasukkan nilai ke form ternyata sekaligus berfungsi melakukan kontrol.Purwantoro.50.Bangli. Desa Kayubihi NTT. Sistem penilaian tetap sama. Nilai masing-masing keluarga dengan mudah dapat dimasukkan kelompok penilai ke form yang disiapkan. 6. Kec. Tabel 3. Kota Medan Kec. Distribusi Keluarga menurut Golongan Peringkat Kondisi Sosial Ekonomi Di Lokasi Penelitian NO. Kabupaten Bangli. Desa Kenteng SPS JML PEND GOLONGAN PERINGKAT Sosial Ekonomi I 52 6 5 11 25 18 43 12 10 6 10 11 10 65 108 4 2 8 14 II 97 28 34 72 22 37 59 22 14 23 25 26 22 155 104 7 1 2 1 III 68 41 63 104 29 31 60 15 14 10 9 6 6 68 60 4 4 4 14 IV 73 5 7 12 4 4 9 4 7 11 4 3 40 4 28 21 21 70 V 15 5 1 2 6 1 15 13 11 14 38 VI 4 2 2 8 L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT 1/5 RT 2/5 RT 3/5 RT 4/5 RT 1/6 RT 2/6 Jumlah Dusun Pucangan Sabulmil Obipul Abistas Jumlah 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 2.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. Keluarga dengan nilai tertinggi adalah keluarga terkaya. LOKASI PROVINSI/ KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Masing-masing peserta ternyata memperhatikan keluarga siapa dapat nilai berapa. 5.Participatory Wealth Ranking 25. Desa Jati. Belu. Berdasarkan nilai rata-rata diketahui peringkat kemiskinan setiap keluarga. Kab.

Di Sumatera Utara dan di Jawa Tengah dibagi menjadi lima peringkat keluarga. Jabar dan Bali keluarga digolongkan menjadi 4 peringkat. (yaitu 112 Puslitbang Kesos . 4. Penggolongan keluarga bervariasi di setiap lokasi. 8. yaitu (lihat Tabel). Hal ini harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran program yang dirancang sebelumnya. mungkin keluarga dengan nilai 33 sampai 41. Di tiga lokasi. 5. 1. Sasaran program P2FM kemungkinan bukan keluarga dengan nilai terendah. 6. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. A 25 25 25 50 50 50 75 75 75 100 B 25 25 50 50 50 75 75 75 100 100 NILAI C 25 50 50 50 75 75 75 100 100 100 JML 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 RATA2 25 33 41 50 58 66 75 83 92 100 PERINGKAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 GOLONGAN PERINGKAT I Paling Miskin II Miskin III IV Dengan memperhatikan karakteristik umum keluarga sesuai nilai rata-rata atau peringkatnya dapat ditentukan “titik batas poin” keluarga yang berhak menjadi sasaran program. Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah. 7. tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Maksudnya. Menetapkan Sasaran Program Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). 3. 2. Keberhasilan Teknik PWR Teknik PWR berhasil dengan baik mengelompokkan secara relatif semua keluarga di setiap lokasi menurut peringkat sosial ekonomi. yaitu di Kaltim.Participatory Wealth Ranking 4. 10. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat. Sedangkat di NTT menjadi 6 peringkat keluarga. Peringkat tertinggi. Contoh: Penduduk dibagi menjadi 4 kategori maka terdapat 10 variasi nilai rata-rata yang muncul. Variasi Nilai Rata-Rata yang berpeluang Muncul dan Peringkatnya No. maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Dengan teknik PWR berhasil diidentifikasi keluarga termiskin di setiap lokasi. Tabel 4. 9.

Konsistensi nilai di semua lokasi ternyata di atas 90%.3%) 153 Puslitbang Kesos 113 . Jateng dan NTT nyaris 100%.5%) 0 12 (0%) (3. Di bawahnya berturutturut keluarga yang lebih rendah secara sosial ekonomi.1%) 276 NTT 151 (98. Standar Keabsahan Data Teknik PWR dilengkapi dengan ukuran keabsahan tersendiri. di Bali. Dengan demikian tampak bahwa teknik PWR dapat menghasilkan data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan. Distribusi dan persentase keluarga menurut perbedaan nilai No.5%) 166 343 Bali 273 (99. 1. peringkat 5 di Jateng dan Sumut dan peringkat 6 di NTT) terdiri dari keluarga terkaya. PERBEDAAN NILAI 0 – 25 (Konsisten) 26 > (inkonsisten) Jumlah Sumut 258 (84.4%) 305 Kaltim 179 (100%) 0 (0%) 179 LOKASI Jabar Jateng 166 331 (100%) (96. Jabar dan Bali. masingmasing peringkat berhasil dideskripsikan gambaran kondisi sosial ekonominya. tampak bahwa penilaian yang diberikan Tim Pemeringkat cukup objektif. Alasan lain untuk tidak meragukan keabsahan data yang diperoleh dengan teknik ini adalah: 1. Keluarga termiskin adalah keluarga yang masuk pada peringkat satu. Tabel 5. Di Jabar dan Kaltim konsistensi nilai bahkan mencapai 100%.7%) 2 (1. Contoh: Kelompok Penilai A memberi nilai kepada keluarga nomor urut 1 sebesar 20. Di setiap lokasi. Apabila 90% konsisten maka hasil penilaian kelompok tersebut dianggap dapat dipercaya. memang kondisinya miskin. Hal tersebut diyakini karena home visit di ke-6 lokasi memperlihatkan keluarga yang memperoleh nilai rata-rata rendah.9%) 3 (0. Apabila Kelompok Penilai B memberi nilai pada keluarga yang sama sebesar 60 maka nilai tersebut dianggap tidak konsisten. 2. Hasil observasi atas beberapa keluarga miskin setelah proses penilaian selesai.Participatory Wealth Ranking peringkat 4 di Kaltim. yaitu: konsistensi skor.6%) 47 (15. Sebaliknya apabila skor tidak konsisten lebih dari 10% maka hasil penilaian kelompok itu perlu diragukan. Nilai konsisten yang dimaksud adalah apabila nilai yang diberikan oleh tiga kelompok penilai adalah sama atau kalau berbeda maksimal perbedaan sebesar 25 poin.

nama panggilan. PWR cukup cermat. lebih kaya atau menjadi lebih miskin. masih ada rasa malu para perwakilan warga untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai. ketiga. atau anak yang sudah menikah tetapi tinggal bersama orangtua/mertua dihitung sebagai keluarga tersendiri. nilai inkonsisten meliputi 15. alamat dan nama isteri. Hasil penilaian tiga kelompok penilai di Medan ternyata tidak dapat dipercaya sepenuhnya. dapat dilakukan di luar jam kerja. c) Masyarakat merasa dihargai karena seluruh proses dilakukan oleh mereka dan sesuai dengan ukuran yang berlaku sehari-hari di masyarakatnya..Participatory Wealth Ranking 2. g) Pada proses pendaftaran nama KK versi The SEF informasi yang dikumpulkan meliputi nama KK. Keluarga yang sudah tidak lengkap. Mengamati proses yang terjadi. Kelebihan dan Kendala Kelebihan PWR adalah: a) Teknik PWR mudah dipahami dan mudah dilakukan meskipun oleh warga berpendidikan rendah. pekerjaan. Data yang diperoleh tidak sekedar angka tetapi lengkap dengan identitas mulai dari nama KK. tampak sulit terjadi. Ketika aplikasi PWR dilakukan di lapangan. e) PWR dengan konsep keluarga lebih membawa nuansa keadilan. pekerjaan dan nama isteri. Upaya seseorang untuk menempatkan sebuah keluarga pada peringkat yang tidak sesuai. b) Waktu pelaksanaan fleksibel. f) Pada proses pemetaan versi The SEF. kedua. ada saling mengontrol antara peserta. penilaian dilakukan berlapis. seperti janda yang tinggal serumah dengan keluarga anaknya. tampak bahwa pengumpulan data dapat diperluas/diperdalam sesuai kepentingan. PWR berpeluang untuk mengumpulkan data PSKS (Potensi Sosial Kesejahteraan Sosial) dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lebih luas/banyak.4%. Karena: pertama. 114 Puslitbang Kesos . proses penilaian dengan kartu memperkecil peluang. peta semata-mata untuk mengidentifikasi keluarga. Pengecualian terjadi di Medan. peta dapat diperluas sehingga memuat unsur PSKS dan PMKS. d) Dapat mengidentifikasi seluruh keluarga yang bertempat tinggal di wilayah setempat.

Kendala dalam pelaksanaan PWR adalah: a) Masyarakat kita sudah terbiasa dengan instruksi. Daftar alasan penempatan setiap keluarga pada peringkat tertentu. Untuk wilayah perdesaan. 5. ketika melakukan penilaian/perbandingan satu keluarga dengan keluarga lainnya. seperti pada kasus Wonogiri dan Bangli. Dengan waktu dan tenaga seperti tersebut di atas. Daftar nama KK menurut peringkat sosial ekonomi. pemilihan informan (perwakilan warga) harus hati-hati. e) Masyarakat cenderung mengharapkan bantuan. Konsep miskin menurut masyarakat setempat. Peta wilayah pemukiman setempat 2. di setiap SPS. b) Diperlukan kesabaran fasilitator untuk melakukan seluruh proses. mulai dari termiskin sampai terkaya.Participatory Wealth Ranking h) Pada proses sorting. d) Bahasa dapat menjadi kendala jika tidak ada penterjemah. Daftar nilai seluruh KK 6. melibatkan semua kelompok. Puslitbang Kesos 115 . dapat dilakukan oleh dua orang fasilitator bersama sebanyak 9 orang perwakilan warga untuk sebanyak 150 sampai 200 KK dalam waktu tiga hari. dikumpulkan informasi lanjutan tentang kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga. Hasil lain yang juga tidak ternilai harganya adalah dampak yang ditimbulkan pada pribadi perwakilan warga dan pada masyarakat sebagai kesatuan sosial. 4. seperti dialami selama penelitian. Indomie VS Jagung Pemeringkatan keluarga dengan Teknik PWR. hasil yang diperoleh meliputi: 1. dengan tenaga dan waktu yang sama dapat memperingkatkan lebih dari 200 KK. di mana penduduknya homogen dan memiliki interaksi sosial yang relatif tinggi. c) Pada masyarakat di mana hubungan sosial antara kelompok tidak harmonis atau renggang. Daftar nama KK seluruh penduduk SPS. 3.

seperti: kecurigaan warga terhadap pendatang (di Bali). Kalau pembangunan hendak mengejar ”setoran” maka teknik PWR terasa boros dan mahal. masyarakat diakui dan dihargai eksistensinya. Rasa percaya diri tumbuh. termasuk pemerintah. Pelaksanaan PWR dapat menjadi titik awal (merangsang) muncul dan berkembangnya kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama sesama warga untuk memecahkan masalah masyarakat. Apabila pembangunan kesejahteraan sosial ingin konsisten hendak membangun masyarakat sebagai basis perkembangan mandiri. Bandingkan jika petugas datang lalu melakukan survey tanpa peduli pendapat masyarakat setempat. hubungan sosial yang kurang harmonis antara kelompok penduduk pribumi dan non pribumi (di Medan). 116 Puslitbang Kesos . Sikap selalu menunggu instruksi bisa berkurang. Teknik ini mudah dilakukan oleh fasilitator yang dilatih secara singkat dan perwakilan masyarakat sekali pun berpendidikan rendah. 2. PWR memungkinkan partisipasi masyarakat disalurkan secara representatif dan menghasilkan data secara sistematik. Pada pribadi perwakilan warga mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya. Mereka dapat melaksanakan sendiri PWR secara berkala baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun kepentingan pihak lain. Pengalaman perwakilan warga mengikuti kegiatan ini dapat dijadikan landasan membangun sistem pegumpulan data PSKS dan PMKS secara berkesinambungan. Sebagai kesatuan sosial. Perasaan inferior warga bisa diangkat. 3. mendidik manusia.Participatory Wealth Ranking 1. Apakah teknik PWR efesien? Mahal atau murah. Melalui proses pelaksanaan PWR. 5. PWR menjadi super murah. ketidakpecayaan warga atas penjelasan aparat pemerintah (di NTT). Kesimpulan dan Saran PWR cukup efektif digunakan untuk mengidentifikasi keluarga menurut urutan kemiskinannya secara partisipatif. fasilitator dapat menangkap situasi umum masyarakat. 4. praktis seperti memasak mie instan atau memerlukan waktu relatif lama seperti memasak jagung? Sangat tergantung dari sisi mana pengukuran dilakukan. 6. Pelaksanaan PWR selain berguna untuk pengumpulan data sekaligus dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi program.

Negeri Sembilan. Apabila identifikasi dan seleksi sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin hendak dijadikan kegiatan produktif. Rianingsih (Ed). Bandung Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusatenggara. tetapi sekaligus merangsang prakarsa masyarakat. Cost Effective Targeting: Two Tools to Identify the Poor. maka PWR dapat dijadikan pilihan teknik. DAFTAR PUSTAKA David S Gibbon. Walapun teknik sudah cukup partisipatif tetapi jika tidak digunakan dengan benar hasil akhirnya akan berbeda. 1999. Namun sebelum digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan seleksi sasaran P2FM. PWR juga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan sistem pengumpulan data berkelanjutan berbasis masyarakat. Djohani. sehingga diperoleh pengalaman riil. Malaysia. Anton Simanowitz.Participatory Wealth Ranking PWR potensial digunakan untuk menjaring informasi lebih dalam (spesifik) maupun lebih luas. CASHPOR Technical Service. Puslitbang Kesos 117 . 1996. PWR perlu terlebih dahulu digunakan secara terbatas di beberapa kabupaten. Berbuat Bersama Berperan Setara: Penerapan Participatory Rural Appraisal. Pada aplikasi PWR harus diwaspadai prosesnya dilakukan dengan benar. PWR tidak sekedar mengidentifikasi keluarga miskin dan termiskin. ben Nkuna.

.

H. Untuk itu kebutuhan yang dibutuhkannya antara lain memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi.Si. S. merupakan studi kasus wilayah perbatasan di lima propinsi (Kepulauan Riau. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif.. Anggota : Ir. M. M.Pd. kesehatan dan lainnya). Sekretariat : Bahder Husni. Nusa Tenggara Timur dan Papua).Sos. informal). LSM. Informan ditentukan secara purposive dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. yaitu: pemuka masyarakat (formal. Masngudin. dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah. pengetahun.PEMBERDAYAAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN (Identifikasi Masalah dan Kebutuhan)1 Sugiyanto.. Badan Pendididkan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial.. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif wawancara dengan para informan.Si. Rukmini Dahlan. Hum. BA. keterampilan. Marzuki. yang diikuti penyajian data. Prof. M. S.Si. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. Kalimantan Timur.. dokumentasi dan focus group discussion. Dr. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari responden yang bersifat kuantitatif.Sc. dan Haryanto. Secara umum. 2 ABSTRAK Penelitian ini. Sugiyanto. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi. M. Agus Suradika. permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di wilayah perbatasan adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan. Adapun 1 2 Diangkat dari penelitian “Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan”-Identifikasi Masalah dan Kebutuhan. Puslitbang Kesos 119 . Perguruan Tinggi dan aparat instansi daerah terkait. observasi. SST. Kalimatan Barat.Pd. M.Pd. kebutuhan dan potensi serta untuk mendapatkan konsep model pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan. Ketua Tim : Drs. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. Sugiyanto. ekonomi. keterampilan serta ketidakmenentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. Orsos. M. dengan anggota Tim : Konsultan : Dr. Drs. Ajun Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Departemen Sosial RI. Erliwati Suin. Muchtar. S.

504 pulau. pelayanan bagi masyarakat serta penyediaan navigasi pelayaran (MI. NTT jumlah penduduknya sedikit. penyebaran penduduk di wilayah perbatasan umumnya jarang dan sporadis. sebarannya sangat jarang. Menko Polhukkam . 30 Januari 2006). arus informasi dari dalam negeri kurang dan lebih deras arus dari negeri tetangga. alam dan SDM) masih sangat terbuka sekali untuk dapat didayagunakan.dalam Rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar yang beranggotakan 17 menteri . Di wilayah yang berbatasan darat. Rencana pembangunan itu antara lain: peningkatan keamanan. masalah perbatasan saat ini merupakan masalah krusial yang harus mendapatkan perhatian khusus. bahkan tidak berpenghuni (KRA XXXVIII. minimnya pembangunan infrastruktur. misalnya: Kalbar. kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga. Konsep model pemberdayaan keluarga yang ditawarkan adalah konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. Secara demografis. 2 Januari 2006). 120 Puslitbang Kesos .I. kemiskinan penduduk. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari perairan dengan garis pantai sekitar 81. 2004).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan potensi (sosial. Abdulhadi (LIPI) mengidentifikasi sejumlah permasalahan di wilayah perbatasan. sampai kurangnya perhatian dari sektor-sektor terhadap pembangunan wilayah perbatasan (MI. termasuk pulau-pulau terluar. yaitu: pergeseran batas negara. Karena program yang telah dilakukan masih bersifat charity.tnial. Sedangkan pada perbatasan laut. Lemhanas R.. Secara umum intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah dan Orsos telah dilakukan tetapi secara spesifik yang mengarah terhadap pemberdayaan keluarga belum dilakukan. Oleh karena itu. Kaltim. Kata kunci: Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.mil.000-an km dan terletak diantara dua benua (Australia dan Asia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) memiliki perbatasan baik darat maupun laut (http//www.id). Konsep model tersebut masih perlu diujicobakan dan disosialisasikan ke berbagai pihak agar dapat menjadi program yang lebih efisien dan efektif.menegaskan.

LSM/Orsos dan Perguruan Tinggi. rendahnya kesehatan & nutrisi. rendahnya tingkat pendidikan. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. Menurut para ahli. Yang pada umumnya mereka dalam kondisi keterbatasan baik secara fisik (sarana transportasi. keluarga adalah: (1) pelindung bagi pribadi-pribadi anggotanya. agar ketenteraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut. banyak keluarga (di perbatasan) di dera berbagai masalah seperti: kemiskinan. atau ayah dan anaknya. bertujuan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan keluarga di daerah perbatasan. Soekanto (1990) juga menyatakan. yang dimaksud keluarga adalah keluarga miskin yang tinggal di wilayah berbatasan langsung dengan negara lain. perumahan dan sanitasi yang tidak layak. tingkat pendidikan rendah. atau suami istri dan anaknya. komunikasi & lainnya yang tidak memadai. keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia. Terkait dengan itu. Puslitbang Kessos Depsos RI (2006) melakukan penelitian. dan (4) merupakan wadah terjadinya proses sosialisasi awal bagi manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. yang nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh unit operasional Departemen Sosial R. Mutu suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas kesatuan primer ini. Dalam konteks penelitian ini. Dalam Undang-Undang Nomor :10 Tahun 1992 dinyatakan. bahkan tidak tersedia). Puslitbang Kesos 121 . (2) unit sosial ekonomi yang secara material memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya. unsur Pemda maupun masyarakat (LSM).I. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan. Pemda. serta ekplorasi model-model pemberdayaan keluarga baik yang telah maupun sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak di daerah. Penelitian ini merupakan input bagi penyusunan konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. anak-anak yang tidak sekolah dan berbagai masalah sosial lainnya. atau ibu dan anaknya. derajat kesehatan rendah dan lain sebagainya).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Sejalan dengan pemikiran itu. kenyataan empirik menunjukkan. Akan tetapi. Dunia Usaha. (3) menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah pergaulan hidup. 1988). dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Keluarga dan pihak terkait lainnya. pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan merupakan keharusan. maupun nonfisik (tingkat pendapatan rendah. karena keluarga mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

utamanya Eropa. pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan memenuhi kehidupan komunitas mereka. kesempatan. Terkait dengan ketidakberdayaan. hilangnya kekuatan tawar menawar. yaitu: kondisi berdaya dan ketidakberdayaan. Ia menganalisis penyebab kemiskinan sebagai hubungan sebab akibat yang saling berkait dari powerlessness (ketidakberdayaan). Chambers lebih lanjut menjelaskan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Adapun arti dari pemberdayaan (empowerment) itu sendiri merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat. ketidakberdayaan membatasi akses terhadap sumber daya negara. 1983) 122 Puslitbang Kesos . memperumit keadilan hukum terhadap penyelewengan. Chambers (1983) mengemukakan konsep perangkap deprivasi (concept of deprivation trap). physical weakness (kelemahan fisik). membuat rakyat semakin tidak mempunyai kemampuan terhadap permintaan mendadak untuk pembayaran pinjaman atau terhadap permintaan uang suap dalam suatu sengketa. Dalam konsep pemberdayaan. Saling keterkaitan kelima itu dapat dicermati pada gambar berikut: Ketidakberdayaan Isolasi Kerentanan Kemiskinan Kelemahan Fisik Bagan 1. poverty (kemiskinan) dan isolation (keterisolisasian). Perangkap Depriasi (Sumber : Chambers. vulnerrebality (kerentanan). terdapat dua hal yang saling berkait. Ife (1995) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber.

observasi. proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. (c) perguruan tinggi. yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan serta keterampilan dan ketidak menentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. yang diikuti penyajian data. mendorong. dan (2) proses sekunder. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan. (b) orsos/LSM. Atas pertimbangan itu. dan (e) Desa Silawan (Belu NTT) berbatasan darat dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). dokumentasi. sejumlah permasalahan keluarga yang mengedepan di daerah perbatasan lokasi penelitian adalah: kemiskinan penduduk. yaitu: (1) proses primer. agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka. Data kuantitatif dianalisis secara distributive-frekuentif. Informan ditentukan secara purposive mereka memahami secara baik kondisi daerah perbatasan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Menurut Oakley & Marsden (1984) dalam Pranarka & Moeljarto (1996). dan focus group discussion. Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. lokasi terpilih adalah: (a) Kampung Skouw Sae (Jayapura Papua) berbatasan darat dengan PNG. atau kemampuan kepada masyarakat. informan dalam penelitian ini adalah: (a) pemuka masyarakat setempat (formal-informal). Lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan. Puslitbang Kesos 123 .kepala keluarga di daerah berbatasan. seringkali harus melalui proses sekunder terlebih dahulu. Responden ditentukan secara random sampling . dengan menekankan pada menstimuli. (c) Dusun Bungkang (Sanggau Kalbar) berbatasan darat dengan Malaysia. Agar kecenderungan primer terwujud. (d) aparat instansi Pemerintah Daerah terkait. lokasi tersebut berbatasan langsung dengan negara lain. tetapi saling terkait. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan. (d) Desa Berakit (Bintan Kepri) berbatasan laut dengan Malaysia & Singapura. (b) Desa Pancang (Nunukan Kaltim) berbatasan darat & laut dengan Malaysia. Atas dasar itu. agar mempunyai kemampuan/ keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya. memotivasi masyarakat. kekuatan.

permasalahan. metode. luar negeri). serta belum ada program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. raskin. ekonomi (pasar) dan pemukiman. pendidikan. juga adanya lembaga-lembaga (informal. kebutuhan. transportasi. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. Disamping itu. lahan pertanian. dan ketidakberdayan secara sosial.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. kesehatan. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan adalah: memfasilitasi mereka. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. juga bersifat philantropy. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Berdasarkan permasalahan. Dengan demikian. Disamping itu. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). kebutuhan. Intervensi kebijakan pemerintah tersebut di rasakan masih jauh dari yang diharapkan. UEP. non formal) lokal. adalah: adanya rasa kebersamaan. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. BLT/SLT. kesehatan. Adapun intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di wilayah perbatasan. antara lain: jalan. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. model yang ditawarkan (yang dilihat dari pelatihan. potensi tersebut model yang ditawarkan ini akan diuraikan melalui variabel-variabel: lokasi penelitian (desa/kecamatan/ kabupaten). Adapun potensi (sosial. pengetahun. penyuluhan. Orsos. Demikian juga potensi alam (laut. adalah: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. tidak berkelanjutan. sekolah. ekonomi. untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi). Demikian halnya intervensi sosial yang dilakukan oleh Masyarakat (Orsos/LSM: dalam. potensi. dan psikologis. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. kesehatan dan lainnya). politik. 124 Puslitbang Kesos . dan ekonomi (pasar). karena masih lebih bersifat charity. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. kesehatan. keterisolasian. keterampilan.

maka untuk menghasilkan model yang diharapkan memerlukan proses yang panjang. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini nantinya masih terbatas pada lima lokasi penelitian awal (Bintan. Model tersebut seperti terlihat pada bagan tersebut di bawah ini : Masyarakat (Pelaku perubahan) Pemerintah (Fasilitator) LMS/Orsos Pemuka Masyarakat Intervensi: Pelatihan. Namun. Sehingga nantinya didapatkan/dihasilkan model yang variatif untuk setiap jenis wilayah perbatasan. Sanggau. masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam usaha memperkecil kelemahan dan menjawab ancaman. tentunya selain di lima wilayah perbatasan yang menjadi sampel penelitiaan ini. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa permasalahan umum keluarga di daerah perbatasan. kebutuhan pokok. & bantuan UEP Keberdayaan Keluarga Pengawasan Bagan 2. uji coba perlu dilaksanakan berkali-kali untuk meredesign sesuai dengan hasil uji coba. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan. Keluarga di daerah perbatasan Diperolehnya pengetahuan. bimbingan Bantuan teknis (pendampingan) Bantuan: Kebutuhan pokok. keterampilan. Belu dan Jayapura). yang mewakili perbatasan darat maupun laut dengan negara tetangga. Sesuai dengan prinsip participatory action research (PAR). adalah kemiskinan penduduk. & UEP. Model tersebut memungkinkan untuk direplikasikan di tempat lain. bantuan: Pendamping. Oleh karena itu. bahan bangunan perbaikan rumah. Setelah itu bisa di uji cobakan lagi pada daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan pendampingan) dan user. keterisolasian dan ketidakberdayan Puslitbang Kesos 125 . Nunukan. bahan bangunan perbaikan rumah. Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan.

kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. politik dan psikologis. kesehatan. keterampilan. juga adanya lembagalembaga (informal. BLT/SLT. kesehatan dan ekonomi (pasar). kesehatan. sebagai acuan secara nasional dalam upaya mengembangkan daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/ terpencil tersebut dalam rangka memperkokoh rasa nasionalisme dan tetap utuhnya NKRI. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan antara lain: memfasilitasi mereka. non formal) lokal. raskin. yang khusus menangani daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil.I. pertama: secara internal (Depsos R. dipandang perlu: (a) penyusunan rancangan perundang-undangan tentang daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. untuk itu direkomendasikan. 126 Puslitbang Kesos . lahan pertanian. Dengan demikian. ekonomi (pasar) dan pemukiman. serta belum adanya program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. Seperti konsep model yang ditawarkan (prescriptive) tersebut di atas. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. kesehatan dan lainnya. antara lain: masih kentalnya rasa kebersamaan. karena masih lebih bersifat charity tidak berkelanjutan.Adapun potensi (sosial. antara lain: jalan. Demikian juga potensi alam (laut. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. Kedua: secara eksternal. Disamping itu. sekolah. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi melalui KUBE. Disamping itu. masih jauh dari yang diharapkan.) perlu dirancang suatu konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. (b) membentuk semacam lembaga nasional. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. pendidikan. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. transportasi.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan secara sosial. antara lain: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. pengetahun. misalnya). Sedangkan intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di daerah perbatasan lokasi penelitian. setidaknya untuk dapat mengakses terhadap sistem sumber informasi. Dalam upaya pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). ekonomi. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana.

Depsos R.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan DAFTAR PUSTAKA Chambers. Ife. analysis and practice. essex. A. Jakarta: Centre for Strategic and Intenational Studies (CSIS). Bandung: Eresco.A. Pemberdayaan. (1988). W. Pranarka. Pemberdayaan Sosial. Pemberdayaan Peran Keluarga Gerungan. Published by Longman scientific and technical. (1995). UU. konsep. United Kingdom. Puslitbang Kesos 127 . Pemberdayaan Peran Keluarga.M.I. Australia. D it. Vindyandika. Community Development: Creating community alternatives-vision. & Moeljarto. Longman Pty Ltd. R. Nomor: 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluar ga Sejahtera. dan implementasi. Pemberdayaan (Empowerment). (1996)..W. Rural development: Putting the last first. Robert. Ditjen. Psikologi Sosial. (2002).I.Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Tugas Di. Jim. (1983).

.

EVALUASI PROGRAM SUBSIDI PANTI DALAM MENDUKUNG KELANGSUNGAN PELAYANAN PANTI SOSIAL1 Drs. Drs. Dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan. (2) pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Harapan panti. Pengaruh subsidi. yang hasilnya menunjukkan perubahan positif meskipun baru sebagian kecil panti sosial mengalami peningkatan omset dan aset setelah mendapatkan subsidi. Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial. Panti-panti sosial pada umumnya masih tetap mengharapkan agar subsidi masih diterima pada masa-masa mendatang. Adapun subsidi Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dimanfaatkan untuk membuka UEP baru atau pengembangan UEP yang sudah ada. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. Ivo Noviana. Terkait dengan masalah tersebut adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan UEP. M. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif. Nurdin Widodo (Ketua). Suradi. Upaya panti. pemanfaatan subsidi. Implikasi kebijakan 1 2 Diangkat dari hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program Subsidi Panti Dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Sosial oleh Drs.Si. sebagian kecil dari panti sudah memiliki upaya konkret dan sebagian lainnya masih berupa gagasan. Penelitian ini mengambil sampel lokasi panti di Provinsi Sumatera Utara. Data dan informasi digali melalui wawancara. Penerbit Puslitbang Kesos Depsos RI. Drs. dan (3) upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). MSW. Namun. pada umumnya subsidi makanan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas makan pokok dan makanan tambahan dan memberikan pengaruh positif pada peningkatan kualitas menu makanan dan jenis makanan tambahan. AKS. B. upaya ini menurut pengelola panti tetap belum bisa membantu biaya operasional panti. 2006 Nurdin Widodo. DI Yogyakarta. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil penelitian.Sos dan Muslim Sabarisman. Kata kunci: Subsidi Panti. bahwa tingkat ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah masih sangat tinggi. Mujiyadi. S. Nusa Tenggara Barat. Nurdin Widodo 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan subsidi oleh pantipanti sosial. Dra Nunung Unayah. Hal ini menggambarkan. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 129 .

pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan ini. yaitu (1) kebutuhan dasar (basic needs). Krisis ekonomi yang hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga pelayanan sosial mengakibatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini masih merupakan hambatan. Pada tahun 2005. diharapkan pihak panti sosial melakukan konsultasi dengan ahli gizi dari instansi kesehatan setempat 130 Puslitbang Kesos . dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs). ditegaskan bahwa salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh panti sosial adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi makan. Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah apabila kebutuhan dasar saja tidak dapat terpenuhi. bahwa setiap manusia dimanapun dan kapanpun secara universal memiliki sejumlah kebutuhan. intelektual. tempat tinggal dan kesehatan. 855 panti menerima bantuan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dan 93 panti menerima pengembangan UEP. Di dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/HUK/2005 tentang Standardisasi Panti Sosial. Sejak diluncurkan. 1991). Menurut Neil Gilbert dan Harry Spect (dalam Sukoco.050 orang klien menerima bantuan biaya makanan. membagi kebutuhan manusia menjadi tiga jenis. pakaian. panti sosial yang menerima prorgam subsidi sebanyak 4. yaitu kebutuhan fisik. Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah diluncurkannya program Bantuan Biaya Makanan dan Bantuan Usaha Ekonomis Produktif bagi panti-panti sosial di seluruh Indonesia oleh Departemen Sosial. dengan rincian sebanyak 149.Evaluasi Program Subsidi Panti Pendahuluan Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan dan sifatnya menuntut pemenuhan dengan sesegera mungkin. emosional. Disinyalir terdapat lembaga pelayanan sosial yang merasa terancam kelangsungannya dan bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menghentikan kegiatannya Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemauan politik. (2) kebutuhan sosial-psikologis (social-phsyicological needs). Selo Soemardjan (1997). program ini terus mengalami peningkatan dari segi jumlah subsidi maupun jumlah panti dan klien penerima subsidi. Sebab apabila tidak segera dipenuhi akan menimbulkan masalah baik yang bersifat individual (private trouble) maupun gangguan yang bersifat kolektif (public issues). spiritual dan sosial. Khusus untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan makan klien.308 unit.

1980). Diketahuinya pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomis produktif (UEP). pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh lembaga kesejahteraan sosial disebut dengan “pelayanan kesejahteraan sosial”. Di negaranegara berkembang tertentu. 2. adalah : 1. 2004) tujuan pelayanan sosial adalah: (1) memberikan perlindungan kepada orang yang mengalami kehilangan kemampuan. Siahaan. Puslitbang Kesos 131 . tidak hanya bermanfaat secara fisik. Konsep pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Alfred J. pelayanan makan diharapkan akan mencegah atau mengendalikan gangguan fisik dan menjaga kebugaran. pelayanan kesejahteran sosial dimaksudkan sebagai pelayanan yang difokuskan pada bantuan untuk perorangan atau keluarga yang mengalami masalah penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi sosial atau ketelantaran. terutama untuk anak-anak. 3. (3) mengembangkan keberfungsian sosial. yaitu yang ditekankan pada pemberian bantuan uang dan atau barang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial perlu melaksanakan “Penelitian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Program Subsidi Panti dalam mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial”. Di negara lainnya digunakan istilah “pelayanan sosial” untuk mencakup apa yang terkandung dalam pengertian pelayanan kesejahteraan sosial di atas ditambah dengan : (1) Bantuan sosial. Menurut Anthony H. akan tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan intelegensi dan psikomotorik. Pascal (dalam M. Diketahuinya pemanfaatan subsidi panti oleh panti-panti sosial. Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini. (4) Program-program ketenagakerjaan. Melalui konsultasi ini maka pelayanan makan bagi klien. (2) Programprogram kesehatan yang tidak tercakup oleh program yang dikembangkan oleh swasta. Perumahan rakyat. Dalam rangka memperoleh informasi tentang bagaimana realisasi subsidi panti tersebut di lapangan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan panti sosial. dan (5) Fasilitas umum.R.Evaluasi Program Subsidi Panti guna memperoleh daftar menu makan yang memenuhi standar gizi dan kesehatan. Diketahuinya upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). Khan (Soetarso. Kemudian bagi para lanjut usia. dan (4) meningkatkan keadilan untuk memperoleh kesempatan. (2) menyediakan pilihan-pilihan kepada penerima pelayanan. (3) Pendidikan.

100 orang pengelola panti dan 250 klien panti). Gambaran Umum Panti Sosial Panti sosial yang menjadi sampel dalam Penelitian ini adalah panti sosial milik pemerintah daerah (74%) dan milik masyarakat (26%). Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara. yaitu Provinsi Sumatera Utara. yang dilaksanakan dalam upaya mengetahui kekuatan dan kelemahan program subsidi panti sosial. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. serta suatu cara menentukan perbaikan bagi para pengambil keputusan di Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Berdasarkan pertimbangan persebaran data panti penerima program subsidi panti. panti sosial milik pemerintah daerah tidak 132 Puslitbang Kesos . Analisis data dilakukan melalui tahapan editing. yang ditentukan secara purposive. Adapun jenis-jenis panti sosial yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah : Panti Sosial Asuhan Anak.Evaluasi Program Subsidi Panti Adapun manfaat yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan rasional bagi pimpinan Departemen Sosial dalam pengembangan kebijakan dan program pemberdayaan panti sosial di Indonesia. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. data yang terhimpun dianalisis dengan mempertimbangkan informasi dan masukan dari tiap responden dan informan lainnya yang didapat melalui wawancara. Data yang terkumpul. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluatif research). Di setiap lokasi penelitian ditentukan panti sosial sebanyak 10 unit dengan mempertimbangkan variasi panti sosial. Nusa Tenggara Barat. dengan pertimbangan variasi panti sosial yang menerima subsidi dari Departemen Sosial pada tahun 2005. DI Yogyakarta. tabulasi. Secara kualitatif. Panti Sosial Pamardi Putra dan Panti Sosial Tuna Sosial. dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Panti Sosial Penyandang Cacat. maka penelitian ini dilaksanakan di 5 (lima) provinsi. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Dengan demikian jumlah responden di lima provinsi adalah 360 orang (10 orang Instansi sosial. Sumber data untuk setiap provinsi terdiri dari unsur Dinas Sosial provinsi (2 orang). pengelola panti sosial (10 orang) dan klien (10 orang). Panti Sosial Tresna Werdha. analisis dan interpretasi. kategorisasi.

Sarana perkantoran yang dimiliki panti sosial berdasarkan data sekunder di setiap panti menunjukkan sebanyak 26% panti sosial belum memiliki komputer. sekretaris. Sementara peralatan sound system dan tape recorder baru 22% yang memilikinya. APBD (32%. Sumber dana tetap berasal dari Dinas Sosial provinsi (54%). sedangkan tenaga yang berpendidikan SD dan SLTP (9. fisioterapi dan alat pijat refleksi dimiliki oleh panti sosial cacat dan panti sosial Napza.. Sementara peralatan terapi medik. sebagian para pengurus/pengelola panti (kepala. Tenaga teknis terdiri dari pengasuh Puslitbang Kesos 133 . Peralatan kantor lainnya seperti meja kerja dan lemari arsip sudah dimiliki oleh panti-panti sosial dengan jumlah terbatas. sarjana dan pasca sarjana (44. sedangkan filling cabinet. Jumlah tenaga di 50 panti sosial sebanyak 937 orang dan 69. yakni Pegawai Negeri di panti-panti sosial pemerintah. Secara struktural panti-panti sosial pemerintah dipimpin oleh seorang kepala.99%). Peralatan olah raga dan kesenian sebagian besar (88%) sudah memilikinya. Sedangkan pimpinan panti sosial swasta sebagian besar diangkat dan diberhentikan oleh pengurus yayasan. 7 Panti Sosial Penyandang Cacat (14%). sedangkan tenaga tidak tetap merupakan tenaga honor panti. Yayasan Dharmais (48%). Tingkat pendidikan tenaga panti terdiri dari SLTA (44.Evaluasi Program Subsidi Panti memperoleh subsidi panti. sarjana muda. Sumber dana tidak tetap terbesar berasal dari donatur/masyarakat (72%) dan Dinas Sosial provinsi (28%).11%).) dan dari donatur/masyarakat sebesar 18%. bagian gudang. 5 Panti Sosial Lanjut Usia (10%). 10% belum memiliki telepon dan sebanyak 72% belum memiliki faxcimilie.77%) bertugas sebagai pengemudi. Adapun jenis dan jumlah panti sosial terdiri dari 32 Panti Sosial Anak Terlantar (64%).05% diantaranya adalah tenaga tetap. tukang cuci dan satpam. 4 Panti Sosial Tuna Sosial (8%) dan 2 Panti Sosial Napza (4%). pengasuh dan tenaga lainnya) ada yang berasal dari anggota keluarganya sendiri. Sarana teknis seperti modul sebagai alat/panduan pelayanan kepada klien hanya sebagian kecil (26%) panti sosial yang memilikinya dan umumnya panti sosial milik pemerintah daerah. bendahara. Sebanyak 48% panti sosial memiliki kendaraan bermotor roda empat dan 96% memiliki kendaraan roda dua. dibantu oleh beberapa orang kepala seksi yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat (Bupati/Walikota). calculator dan brankas dimiliki oleh sebagian kecil panti-panti sosial. juru masak.

kadang-kadang buah bahkan kadangkadang susu. kerohanian (13. dokter/psikiater. Perbedaan persepsi tentang pekerjaan sosial ini berpengaruh terhadap pelayanan sosial kepada klien Bentuk dukungan paling besar (74%) terhadap panti-panti sosial dalam jaringan kerja adalah bidang kesehatan yang diwujudkan dalam bentuk pengobatan kepada klien di puskesmas dan rumah sakit serta pelatihan keperawatan untuk lanjut usia. sayur. Pemahaman tentang pekerja sosial ini di setiap panti berbeda-beda. Kantor Urusan Agama memberikan bantuan pembimbing agama/mental kepada klien. yang rata-rata per pekerja sosial mendampingi 74 orang klien. seperti penyandang cacat dan korban napza. kolak. sayur dan lauk pauk. yaitu rata-rata 3 orang per panti sosial. perawat. Sebagian besar panti-panti sosial milik pemerintah daerah berpendapat bahwa tenaga pekerja sosial merupakan tenaga profesi yang seharusnya mempunyai latar belakang pendidikan pekerjaan sosial. buah ditambah susu.Evaluasi Program Subsidi Panti (37.37%). Dinas Perindustrian memberikan dukungan magang kerja melalui kerjasama dengan dunia usaha. lauk dan pauk. Mengenai pemenuhan kebutuhan fisik klien.04%). Khusus tenaga teknis pekerjaan sosial secara kuantitas masih relatif terbatas. Namun. atau yang pernah mengikuti pelatihan profesi pekerjaan sosial. Sedangkan makanan tambahan diwujudkan dalam bentuk kue. 134 Puslitbang Kesos . pelatihan ini baru diberikan sebanyak 46% dari panti-panti sosial. Menu makanan rata-rata terdiri dari makanan pokok. Sedangkan 36% memberikan makan tiga sehat berupa nasi. analis laboratorium dan konselor. kadang-kadang buah. Dukungan dalam bentuk beasiswa diberikan oleh Muhammadiyah dan gereja. Rasio ini sangat berat terutama untuk klien penyandang masalah pathologis. diperoleh informasi sebanyak 50% panti memberikan menu makan tiga sehat plus berupa nasi. Sementara sebagian panti (terutama panti sosial swasta) menyatakan bahwa pekerja sosial yang dimaksud disini adalah relawan sosial yang melaksanakan pelayanan berdasarkan charitatif.32%) dan lainnya adalah instruktur. Sedangkan pelatihan keterampilan diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja setempat. Dinas Sosial dan BKKKS memberikan dukungan pelatihan manajemen panti. Hanya sebagian kecil panti sosial yang memberikan menu makan empat sehat dan empat sehat plus berupa nasi. kacang hijau dan buah-buahan. Selain itu pihak kepolisian juga memberikan penyuluhan tentang bahaya Napza. lauk pauk. sayur. sayur. lauk pauk. pekerja sosial (27. psikolog.

Pelaksanaan bimbingan fisik sebagian besar memanfaatkan tenaga dari dalam panti. mukena) dan pakaian dalam. (2) sebagai terapi dalam usaha membantu penyembuhan klien sebagaimana kegiatan keterampilan yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Laras. Apabila dilihat dari total jumlah klien.Evaluasi Program Subsidi Panti Sebagian besar (96%) panti-panti sosial memberikan pakaian sekolah. bimbingan kedisiplinan. Jenis bimbingan sosial yang selama ini diberikan oleh panti-panti sosial meliputi sosialisasi dengan lingkungan/masyarakat. pengabdian masyarakat dan gotong royong. baju koko. sabun cuci. Pemahaman bimbingan sosial di setiap panti berbeda-beda sesuai dengan persepsi pimpinan/pengelola panti sosial. sepak bola dan tenis meja dilaksanakan secara insidentil pada sore hari. Mengenai kegiatan pembinaan fisik. Walaupun memiliki tujuan yang berbeda. konsultasi. sedangkan pakaian sekolah diberikan sesuai kebutuhan klien. Secara umum kegiatan ini mempunyai tujuan: (1) memberikan keterampilan kepada klien. Bimbingan keterampilan yang ada di panti-panti sosial memiliki tujuan yang berbeda-beda. bimbingan bicara (spech therapy). sebagian besar panti sosial melaksanakan kegiatan senam secara rutin.83% klien tinggal dalam asrama dan 4. 95. sehingga kegiatan ini merupakan program pokok bagi klien dalam panti. pramuka dan psikoterapi. lainnya dalam bentuk wisma (cottage). Jenis bimbingan mental/psikososial yang dilaksanakan di panti-panti sosial meliputi bimbingan agama. odol. yang biasanya dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal. Kadangkadang pakaian juga diberikan oleh para dermawan pada saat mengadakan kunjungan ke panti. Dalam bidang kesehatan. sedangkan penyuluhan kesehatan melibatkan tenaga Puskesmas setempat. pelayanan yang diberikan meliputi P3K. pakaian lebaran. pakaian ibadah (sarung. dan (3) merupakan kegiatan ekstra kurikuler atau sekedar mengisi waktu luang.17% tinggal di cottage. seperti yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Remaja. yang diberikan setiap bulan dan ada yang tidak setiap bulan. sedangkan bola volley. sikat gigi. sebagian besar (86%) panti sosial melaksanakan bimbingan keterampilan Puslitbang Kesos 135 . Sebagian besar (98%) Panti sosial juga memberikan peralatan/ perlengkapan mandi seperti sabun mandi. handuk dan pakaian dalam. Sebagian besar tempat tinggal klien menggunakan asrama (96%). rujukan ke puskesmas atau rumah sakit umum/daerah setempat.

2. menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Subsidi Makanan Panti-panti yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah panti-panti sosial yang mendapatkan subsidi makanan pada tahun 2004 dan 2005. subsidi panti dapat digunakan sebagai tambahan sumber dana panti. Pemanfaatan Subsidi Panti 1. Koperasi dan dunia usaha. untuk tahun 2005 ini tidak semua panti yang menjadi responden mendapatkan subsidi makanan. Subsidi makanan yang besarnya Rp.per orang sangat signifikan sebagai suplemen pemenuhan makanan klien yang digunakan 136 Puslitbang Kesos . Dari 50 panti sosial dengan jumlah klien 3. Jenis bimbingan keterampilan di setiap panti sosial bervariasi. dari Yayasan Dharmais. yang mendapatkan subsidi sebanyak 2. Tidak semua panti sosial mendapatkan subsidi makanan sesuai dengan jumlah klien. Setiap panti sosial ada yang melaksanakan 1 atau 2 jenis keterampilan ada juga yang melaksanakan 3 . Panti-panti milik pemerintah daerah untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan tidak mendapatkan subsidi makanan dengan alasan sesuai dengan Surat Edaran dari Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial yang menyatakan bahwa panti milik Pemerintah tidak mendapatkan subsidi ini. sebagian panti memanfaatkan tenaga dari Dinas Tenaga Kerja. Dengan demikian. dari Yayasan pendukung utama operasional panti dan sebagainya. yang tidak mendapatkan subsidi makanan adalah panti milik Pemerintah (pusat) bukan milik Pemerintah Daerah. Namun. Pelaksana kegiatan ini. ada keleluasaan bagi pengelola panti untuk mengelola subsidi sebatas untuk biaya makanan dan bukan untuk kebutuhan yang lain. yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing panti.250. Bagi panti yang telah memiliki sumber tetap seperti dari APBD (khusus panti pemerintah).693 orang.94% dari total klien dalam panti sosial. sebagian memanfaatkan tenaga dalam panti..5 jenis keterampilan.450 orang atau 66.Evaluasi Program Subsidi Panti secara rutin. 2 % melaksanakan bimbingan keterampilan secara insidentil dan 12 % panti sosial tidak melaksanakan bimbingan keterampilan. Untuk itu pemanfaatan subsidi diserahkan sepenuhnya kepada panti-panti yang menerimanya. Padahal.

sehingga tuntutan untuk dapat memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna hampir pasti tidak dapat terpenuhi. ada satu panti swasta yang dapat memberikan makanan tambahan. Untuk itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Hal ini berkaitan dengan tidak adanya/kurangnya sumber dana tetap.900.9.Kekurangan (Rp) 2. karena tidak memiliki Puslitbang Kesos 137 . Namun demikian. Sedangkan untuk panti swasta.000.500. 4. ada yang belum/ tidak dapat memberikan makanan tambahan.10.1.9. Menu makanan yang diberikan panti Pemerintah mengikuti menu yang sudah ditetapkan dengan jadwal yang pasti dan masih dapat memberikan buah dan susu serta makanan tambahan seperti kacang hijau. Sedangkan panti swasta.10. Menu makanan yang diberikan panti kepada kliennya diusahakan sedemikian rupa untuk memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. Perbandingan SOSH dengan kebutuhan tiap orang No.000.1. 1. Apabila dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat untuk jenis barang yang dikonsumsi klien sehari-hari. Untuk Panti Pemerintah.120.Harga Kebutuhan per orang per hari (Rp) 10. 2.150. 5.11. Provinsi Sumut NTB DI Yogya Kalbar Sulsel SOSH (Rp) 7.600.540. Namun demikian.100. Kondisi ini lebih parah dirasakan oleh panti swasta. Tabel 1. subsidi dimaksud digunakan untuk menambah lauk-pauk.000. subsidi makanan terkesan menjadi “yang utama”.11.100.Evaluasi Program Subsidi Panti untuk menambah jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada klien.- Panti-panti pemerintah yang mendapatkan jatah SOSH tampak terjadi defisit tiap harinya. untuk sebagian panti swasta standar tersebut masih dirasakan sebagai ’utopia’ karena perbandingan jatah SOSH dengan harga setempat masih relatif jauh.1. makanan tambahan dan susu. Hal ini berkaitan dengan sudah adanya dukungan APBD untuk menu pokok harian. meski tidak setiap hari.9. secara rata-rata maka jumlah anggaran dimaksud antara kurang dan lebih dari mencukupi.150.11.100. Membandingkan jatah SOSH dengan HET setempat tampak adanya angka ’minus’ dari anggaran panti untuk mengadakan bahan makanan tiap harinya.140.620.1. 3.

Mengenai variasi jenis usaha/kerja diperoleh informasi. Harga makanan ringan dimaksud ditetapkan Rp 1. Jadi nilai Rp 11. bahwa warung sembako menempati jumlah terbanyak (18.untuk Yogya merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan panti-panti di provinsi lain. tampak bahwa beberapa panti hanya mampu memberikan makanan seadanya kepada kliennya. tampak bahwa indeks kebutuhan lebih tinggi. Subsidi Usaha Ekonomi Produktif Tidak semua panti responden mendapatkan subsidi UEP yang besarnya Rp 10 juta (subsidi baru) dan Rp 25 juta (subsidi pengembangan usaha). Subsidi UEP 1.. Jenis Subsidi UEP yang didapatkan No. usaha kerja hingga usaha jasa.untuk makanan ringan dimaksud. Kemudian 138 Puslitbang Kesos . Tabel 2. dari yang sifatnya ternak.000. Dari pengamatan pada waktu penelitian.150. Pengembangan 3. Baru 2. Banyak panti swasta yang hanya dapat merasakan lauk pauk enak apabila klien panti dimaksud diundang untuk acara selamatan di masyarakat sekitar panti atau panti mendapatkan hantaran dari masyarakat dalam wujud makanan matang. Tidak ada UEP Jumlah 31 panti 4 panti 15 panti % 62 8 30 Dari 31 panti yang mendapatkan subsidi UEP baru dan 4 panti yang mendapatkan subsidi pengembangan UEP dan dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha. Klien tidak setiap saat mendapatkan jatah lauk pauk yang memenuhi standar gizi dan bahkan kalau mereka mendapatkan makanan harian hanya dalam wujud nasi dan sayur yang dimasak dengan cara diberikan banyak kuah. Di Yogya panti milik pemda memberikan snack/ makanan ringan pada medio pagi dan sore.000.Evaluasi Program Subsidi Panti sumber dana tetap seperti yang dimiliki panti pemerintah.92%). Untuk itu dapat dilihat tabel berikut ini. meskipun secara umum diketahui bahwa HET relatif lebih murah bila dibandingkan dengan provinsi lain.. 2.tiap kali dan dengan demikian tiap hari diperlukan Rp 2.. Selain itu diketahui bahwa terdapat panti yang mengembangkan usahanya dalam 1 jenis atau lebih jenis usaha. Khusus untuk Yogya.

Dalam memanfaatkan dana subsidi UEP. salon. budidaya lele. yang didukung oleh tabel destribusi frekuensi dan diagram. analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. kambing dan sapi. Sedangkan jenis usaha lainnya. bengkel dan pertukangan. Alasan pemilihan jenis usaha ini berkaitan dengan pemasaran (31.25%) dan lain alasan.Evaluasi Program Subsidi Panti wartel dan rental komputer menempati urutan ke dua (10. lokasi (21. antara lain dengan pihak dunia usaha serta institusi milik pemerintah dan masyarakat.33%). terutama bagi panti yang mengembangkan UEP dalam bentuk jualan sembako. Kerja sama dengan pihak lain baik dunia usaha maupun institusi dimaksudkan sebagai praktek kerja. foto copy. Jalinan dimaksud terutama dalam rangka pengadaan bahan dagangan. koperasi/simpan pinjam. antara lain: ternak ayam. untuk jalinan dengan lembaga/institusi lain adalah dalam rangka peningkatan keterampilan dan pemeliharaan usaha.81%). Meskipun demikian terdapat panti yang tidak melakukan jalinan kerja sama karena usahanya ada yang memang sudah dalam keadaan tidak operasi dan sebagian merasa dapat mengatasi sendiri masalahnya. peningkatan kemampuan hingga upaya pemasaran. Pengaruh Subsidi Untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh program subsidi panti ini. masing-masing panti kemudian menjalin relasi dengan pihak lain sehingga diharapkan dapat mencapai peningkatan kemampuan kerja/produksi sekaligus dalam rangka pemasaran. tanaman hias. Puslitbang Kesos 139 . Adapun jalinan kerja dimaksud. Didapatkan informasi bahwa sebagian toko memberikan kemudahan seperti mengambil barang terlebih dahulu dan baru membayar kemudian setelah barang dagangannya terjual. Pilihan ini tentunya berkaitan dengan kemudahan pemasaran dari hasil usaha/ kerja yang dipilih. Ini berkaitan dengan jenis usaha yang dikembangkan panti. diklat perbengkelan. SDM/pengelola (13. Jalinan terbesar ke dua adalah dengan PT Telkom. menjahit. Sementara itu. pemasaran dan penyuluhan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalinan terbanyak adalah dengan toko. Bentuk kerjasama/dukungan terhadap Panti Sosial antara lain praktek kerja.69%). yakni Wartel atau Warnet. bengkel.

program subsidi panti tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Misalnya. atau ada penambahan sebesar 4 persen.3 kali seminggu. tiga sehat. tiga sehat plus. yaitu dua sehat. 96 persen panti sosial sudah memberikan makan tiga kali sehari dan kemudian menjadi 100 persen setelah menerima subsidi. Makanan Beberapa aspek terkait dengan makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini. yaitu nasi. buah-buahan dan susu. karena dengan subsidi panti akhirnya seluruh panti kini sudah sesuai dengan Standardisasi Panti Sosial dalam pemberian makanan. empat sehat dan empat sehat plus yang menggambarkan skala ordinal. peneliti menemukan data. pada umumnya panti sosial memberikan 2 . Aspek kedua dari makanan adalah menu makan klien dalam panti sosial yang menggambarkan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh klien. Ukuran ini sebagai dasar bagi peneliti untuk mencermati menu makan yang disediakan panti sosial. yaitu frekuensi makan. Perubahan ini dinilai bermakna. 140 Puslitbang Kesos . lauk-pauk. bahwa panti sosial belum sepenuhnya mengikuti daftar menu makanan yang yang telah disusun. Namun. khusunya dalam hal frekuensi makan.Evaluasi Program Subsidi Panti 1. menu makan (yang menggambarkan kualitas makanan) dan makanan tambahan. makanan dikatakan sehat apabila secara umum telah memenuhi empat sehat lima sempurna. maka menu makan yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 (lima) ukuran. Sebelum menerima subsidi. sayur. Berdasarkan kondisi lapangan itu. Pada umumnya sebagian besar panti sosial sudah menyusun menu makan per hari bersama ahli gizi setempat. Di lapangan. Menurut ahli gizi. untuk pemberian buah-buahan dan susu. data yang dikumpulkan hanya memenuhi 2 (dua) ukuran yaitu tiga sehat dan tiga sehat plus yang akan dianalisis kemudian. Namun demikian. Pada aspek frekuensi makan. menu yang telah disusun tersebut belum dapat dilaksanakan setiap hari karena keterbatasan anggaran.

Perbandingan sebelum dan sesudah subsidi dari makanan tambahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. baik terkait dengan tumbuh kembang (bagi anak-anak) atau kesehatan (bagi orang dewasa). Dari ketiga aspek yang dicermati dalam penelitin ini bahwa : 1) Pengaruh terhadap frekuensi atau kuantitas permakanan. Puslitbang Kesos 141 .Evaluasi Program Subsidi Panti Tabel 3. terjadi peningkatan dari semula 96 persen menjadi 100 persen panti sosial yang memberikan makan 3 kali sehari. Makan Tambahan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. Makanan tambahan memang tidak termasuk makanan utama. program subsidi panti memberikan pengaruh positif pada penyajian menu atau kualitas makanan panti sosial. Menu Makanan Tiga sehat Tiga sehat plus Jumlah Sebelum F % 18 36 32 64 50 100 Sesudah F % 3 6 47 94 50 100 Berdasarkan tabel di atas. program subsidi panti dapat disimpulkan berpengaruh positif dan signifikan pada kemampuan panti dalam memberikan makanan tambahan. 2) Pengaruh terhadap menu atau kualitas : a) Terjadi penurunan dari semula 36 persen menjadi 6 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat (pindah ke tiga plus). b) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 94 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat plus. klien panti sosial memerlukan makanan tambahan sebagai tambahan gizi. Kualitas Makan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. 1. 2. 2. 1. Makanan Tambahan Setiap hari Kadang-kadang Tidak ada Jumlah Sebelum F % 4 8 28 56 18 36 50 100 Sesudah F % 6 12 42 84 2 4 50 100 Berdasarkan data tersebut. Aspek berikutnya untuk melihat pemenuhan makanan klien adalah pemberian makanan tambahan. Namun.

Meskipun secara kuantitatif pengaruh program subsidi panti relatif rendah. yaitu berkisar 30 persen. mingguan maupun bulanan. Usaha Ekonomis Produktif Berbagai jenis UEP diselenggarakan oleh panti sosial. dilihat dari aspek frekuensi. Panti sosial sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan klien. penambahan aset dan pemanfaatan untuk kebutuhan operasional. b) Terjadi peningkatan dari semula 8 persen menjadi 12 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan setiap hari. menu dan makanan tambahan. ada 4 aspek yang dicermati dalam penelitian ini. panti sosial sudah memberikan kebutuhan makanan relatif baik. Jenis-jenis usaha yang merupakan usaha tambahan dari usaha utama. c) Terjadi peningkatan dari semula 56 persen menjadi 84 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan kadangkadang (2-3 kali seminggu). 2. tetapi secara kualitatif memberikan manfaat yang sangat besar. bahwa pada umumnya sebelum menerima program subsidi panti. Dalam rangka mengetahui pengaruh subsidi bidang UEP. Berdasarkan informasi tersebut disimpulkan. dengan rincian 5 panti menambah satu jenis usaha dan 3 panti menambah 2 jenis usaha. Hal ini menggambarkan bahwa panti sosial pada umumnya sudah memiliki pemahaman akan eksistensinya sebagai organisasi pelayanan manusia (human service organization). yaitu penambahan jenis UEP. yaitu rental komputer. 142 Puslitbang Kesos . Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi untuk kegiatan UEP. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengelola panti sosial.Evaluasi Program Subsidi Panti 3) Pengaruh terhadap makanan tambahan : a) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 96 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan. sebesar 8 panti sosial (25%) sudah berkembang (ada penambahan jenis UEP). penambahan omzet/ minggu. bahwa pengaruh subsidi terhadap pemenuhan kebutuhan makanan pada panti-panti sosial pada kategori rendah. program subsidi panti sangat membantu kelancaran proses pelayanan dan karenanya perlu dilanjutkan. yang hasilnya dapat diambil harian. Data ini menunjukkan.

Namun demikian. Hal ini didasari anggapan dasar.000. 660. bahwa dalam waktu minimal 1 tahun panti sosial sudah mampu menambah asetnya dari hasil mengelola UEP. Aspek kedua dari UEP adalah penambahan omzet dari usaha yang dikelolanya.. lemahnya administrasi pengelolaan UEP ini tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak penerima program subsidi panti. Puslitbang Kesos 143 . Hal ini berarti terdapat 6 panti sosial yang menerima subsidi pengembangan UEP digunakan untuk menambah modal usaha utamanya. ternak ayam dan wartel. Hal ini merupakan kendala dalam penelitian ini.000/minggu hingga Rp. 25.-/minggu. 350.75%) menerima subsidi untuk pengembangan UEP. 25.atau rata-rata omzet Rp. tanpa didukung oleh bukti tertulis berdasarkan pembukuan yang baik. Berdasar informasi yang dihimpun dari pengelola. meskipun sebanyak 14 panti sosial (43. Perhitungan omzet ini hanya berdasarkan perkiraan pengelola saja. 165.000. karena data obyektif dalam bentuk data kuantitatif tentang omzet ini tidak dapat diperoleh. Aspek ketiga dari pemanfaatan subsidi untuk UEP adalah penambahan aset panti sosial. pada panti sosial yang mengalami penambahan omzet. Sebagian besar (75%) panti sosial masih mengelola usaha utama dari program subsidi. peralatan pesta. sebanyak 23 panti sosial (71. hanya 4 panti sosial yang sudah mampu menambah aset masing-masing 1 jenis. yaitu peralatan rumah tangga. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.000.61%) memiliki omzet berkisar Rp.Evaluasi Program Subsidi Panti traso. Aspek ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana UEP yang dikelola panti sosial mengalami perkembangan dari kondisi awal. maka sudah terjadi peningkatan omzet. bahwa apabila panti sosial sudah mengelola UEP dengan baik minimal selama 1 tahun. Oleh karena itu. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. Hal ini menggambarkan. sebagian besar (82.88%) mengalami peningkatan omzet. Dari 32 panti sosial yang mengelola UEP.000. Aspek ini dilandasi pula oleh anggapan dasar. bahwa UEP yang dikelola oleh panti sosial belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan.-/minggu atau ratarata Rp. mereka memang tidak pernah memperoleh bimbingan pembukuan dalam pengelolaan UEP. yang berkisar Rp.000. 2.-/bulan.-Rp.000.

2) Terjadi penambahan omzet pada 23 panti sosial (71. antara lain penentuan jenis UEP. diperoleh informasi sebagai berikut : 1) Terjadi penambahan jenis UEP pada 8 panti sosial (25%). antara lain peralatan rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 6 panti sosial (6. penambahan omzet tersebut belum meng gambarkan keberhasilan panti dalam mengelola dan mengembangkan UEP. Informasi ini menggambarkan. pengadaan alat-alat keterampilan dan pendidikan. peralatan pesta.5%) yang sudah mengalami penambahan aset. Dari keempat aspek yang dicermati untuk mengetahui pengaruh program subsidi panti terhadap pengelolaan UEP. 3) Terjadi penambahan aset pada 4 panti sosial (12. Hal ini menggambarkan pula lemahnya proses monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Instansi Sosial Provinsi terhadap proses pengelolan UEP. alat penerangan. yang menonjol pada penambahan omzet. 4) Terjadi penambahan kebutuhan operasional pada 6 panti sosial (6. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor. Berdasarkan informasi tersebut. alat-alat penerangan. alat-alat keterampilan dan pendidikan. disimpulkan bahwa program subsidi panti berpengaruh relatif rendah terhadap pengelolaan dan pengembangan UEP. Namun demikian.75%) dari 32 panti sosial yang mengelola UEP sudah dapat menambah kebutuhan operasional. dikarenakan besarnya omzet tersebut per minggunya masih relatif rendah.25% belum ada penambahan kebutuhan operasional panti. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. Kebutuhan operasional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang mendukung secara langsung pemenuhan kebutuhan klien.75%). traso dan ternak ayam. antara lain untuk mendukung makanan tambahan. bahan dasar. yaitu penambahan pada kebutuhan makanan. Jenisjenis UEP antara lain rental komputer.Evaluasi Program Subsidi Panti Aspek berikutnya terkait dengan UEP ini adalah penambahan untuk kebutuhan operasional.88%) yang besarnya sebagian besar rata-rata Rp. 165. pemasaran dan pembukuannya. Pada umumnya Dinas Sosial memang melakukan 144 Puslitbang Kesos . Sedangkan 81. keterampilan pengelola. bahwa ada proses dalam pengelolaan UEP yang tidak tepat.000.-/minggu.

Upaya Panti Mengatasi Masalah Pembiayaan Dalam kaitannya dengan upaya panti mengatasi permasalahan pembiayaan. dan bahkan ada yang akan mengurangi jumlah kliennya. dan panti sosial masih bergantung pada bantuan pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan. informasi yang diperoleh dari kegiatan itu tidak segera ditindaklanjuti. Namun demikian. dan akibatnya panti sosial mengelola UEP berdasarkan kemampuannya sendiri.Evaluasi Program Subsidi Panti monitoring dan evaluasi terhadap UEP yang dikelola panti-panti sosial. apabila tidak ada dukungan pemerintah. apabila UEP dikelola dengan baik. Oleh karena itu. termasuk kepada pemerintah. maksud dan tujuan dari program tersebut sulit direalisasikan. Lainnya masih bergantung pada pihak luar. 72 persen panti sosial sudah memiliki rencana mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi dihentikan. Informasi ini relevan dengan informasi sebelumnya bahwa sumber dana panti sosial. terutama untuk kebutuhan makanan. Namun demikian. Mereka masih mengharapkan program subsidi panti terus dilanjutkan. 50 persen panti sosial merencanakan mengembangkan UEP. Program subsidi panti yang dialokasikan untuk UEP ini didasarkan pada pemikiran. maka panti sosial akan menanggung beban yang amat berat dalam penyelenggaraan pelayanan. khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan. sebesar 28 persen panti sosial belum memiliki upaya atau jalan keluar apabila program subsidi panti ini dihentikan. Menurut para pengelola. Dari jumlah tersebut. maka nantinya panti sosial tidak terlalu bergantung pada pihak lain. Sementara itu. Puslitbang Kesos 145 . Hal ini menunjukkan kemandirian panti sosial dalam pembiayaan program dan kegiatannya masih cukup rendah Harapan Panti Terhadap Program Subsidi Masih ada kekhawatiran para pengelola panti sosial apabila pada saatnya nanti program subsidi panti ini dihentikan. upaya untuk memotong mengurangi ketergantungan panti sosial kepada pemerintah masih sulit diwujudkan untuk beberapa tahun ke depan. sebagian besar masih berasal dari pemerintah.

maka akan memiliki sumber dana tetap yang berasal dari panti sendiri. rata-rata mencapai 53. Dana yang dialokasikan pemerintah pusat dalam program subsidi panti tersebut cukup besar. belum secara signifikan memberikan manfaat bagi panti-panti sosial. 38. Besarnya dana subsidi panti ini apabila dilihat dari besarnya anggaran makanan pada panti sosial. Hasil dari UEP yang bersumber dari subsidi panti tidak dibukukan tersendiri. demi kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pada panti-panti sosial. 146 Puslitbang Kesos . program subsidi panti ini menarik karena dari tahun ke tahun besarnya anggaran yang dialokasikan terus mengalami kenaikan. Departemen Sosial terhadap panti-panti sosial. sehingga akan mengurangi ketergantungannya terhadap pemerintah dan pihak luar lainnya. Apabila panti dapat mengelola UEP. Implikasi Kebijakan Sebagai suatu obyek penelitian.Evaluasi Program Subsidi Panti Selain bantuan makanan. monitoring dan evaluasi tidak dilakukan dengan baik. sampai dengan pertanggungjawaban administratif. Proses awal penentuan panti sosial yang layak sebagai calon penerima program. program subsidi ini pada umumnya. jumlah klien yang diusulkan. merupakan titik-titik yang lemah terjadinya bias kepentingan.247. sehingga kesulitan ketika menghitung berapa besarnya manfaat ekonomis dari program subsidi panti. terutama pada pemberian makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. panti sosial juga mengharapkan adanya bantuan untuk UEP. rata-rata setiap panti sosial menerima dana sebesar Rp. Sedangkan untuk UEP. baik oleh penanggung jawab program di Instansi Sosial Provinsi maupun Departemen Sosial.911 per tahun. Manfaat memang telah dirasakan oleh pengelola. dari 50 panti sosial yang menjadi obyek penelitian ini. Pada pemanfaatan pemenuhan makanan dirasakan oleh pengelola cukup membantu. Berbagai persoalan administratif maupun teknis disinyalir terjadi secara berulang-ulang. tetapi belum dapat diketahui secara pasti seberapa besar dampak tersebut. Bias kepentingan ini akan semakin parah apabila proses supervisi. Khusus untuk tahun 2005. Harapan berikutnya adalah pelatihan pengelolaan UEP dan pendampingan.48 persen. Pada umumnya pengelola panti sosial belum melakukan pencatatan atas penggunaan subsidi untuk UEP ini. Hal ini menggambarkan cukup besarnya dukungan pemerintah cq. karena skema dari program ini rawan terjadi penyalahgunaan.

Terutama mengurangi ketergantungan panti sosial terhadap pemerintah dan semakin mendorong profesionalisme panti sosial dalam penyelenggaraan pelayanan. Meskipun penelitian ini menjangkau sample panti sosial yang sangat terbatas (50 panti sosial). Perlu dilakukan evaluasi dari unit di luar penyelenggaran program atau pihak independen. Hal ini menggambarkan. Terkait dengan itu. Puslitbang Kesos 147 . Berdasarkan hasil penelitian. (2) memperkuat komitmen dan percaya diri pengelola panti sosial di bidang pelayanan kemanusiaan. 28 persen panti sosial belum menyusun langkahlangkah untuk mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi panti ini dihentikan. panti sosial yang sudah menyusun langkahlangkah pun. tetapi mereka masih sangat mengharapkan program tersebut tidak dihentikan. Pada kerangka inilah diperlukan peran Instansi Sosial Provinsi untuk memfasilitasi panti-panti sosial tesebut menentukan pilihan UEP yang tepat. dan (3) panti-panti sosial akan semakin kreatif untuk mengembangkan skema pelayanan yang profesional. monitoring dan evaluasi perlu dilakukan dengan baik. bahwa program subsidi panti pada umumnya belum mampu mendorong kemandirian panti sosial. maka skema program subsidi panti akan lebih tepat apabila diarahkan pada bantuan untuk pengembangan UEP.Evaluasi Program Subsidi Panti Meskipun diantara panti-panti sosial sudah menerima program subsidi lebih dari satu kali. Hal ini semakin menegaskan. Sementara itu. bahwa program subsidi panti belum mampu mendorong panti-panti sosial mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah. terutama dalam memilih jenis UEP yang prospektif dan dalam waktu cepat dapat memberikan hasil. yaitu: (1) mengurangi ketergantungan panti sosial pada pemerintah. Persoalannya adalah bagaimana kemampuan panti sosial mengelola UEP tersebut. mulai dari kegiatan seleksi panti sosial hingga terminasi. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari pengembangan UEP ini. maka supervisi. Dalam upaya menjawab permasalahan ketergantungan panti sosial tersebut. masih menghaharapkan dana pada pihak luar. sehingga akan diperoleh informasi yang obyektif tentang efektivitas pelaksanaan program subsidi panti ini. tetapi informasi yang diperoleh terkait dengan bantuan kepada panti-panti sosial dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain program yang tepat.

Hal ini menunjukkan bahwa panti-panti sosial masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan UEP. dalam penelitian ini sulit untuk mengetahui secara tepat dampak program subsidi untuk biaya makanan. pada umumnya untuk makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. atau baru menjangkau 66. sarana dan bahan baku. seperti susu dan buah meskipun pemberian susu dan buah ini pada umumnya belum setiap hari. Penentuan UEP yang tepat sepenuhnya diserahkan kepada panti-panti sosial sendiri. Pemanfaatan subsidi untuk makanan ini. bahwa subsidi panti dirasakan besar manfaatnya bagi panti-panti sosial dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien.Evaluasi Program Subsidi Panti Kesimpulan dan Saran Panti-panti sosial pada umumnya memanfaatkan subsidi panti untuk dua kegiatan besar. pasar. tetapi seluruh klien yang ada di panti sosial ikut menikmati subsidi tersebut. Program subsidi panti untuk biaya makanan memberikan pengaruh cukup nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien dalam panti-panti sosial. Selain itu berpengaruh pula pada frekuensi dan jenis makanan tambahan. Diharapkan adanya perubahan kualitas dan frekuensi serta jenis makanan tambahan ini akan semakin meningkatkan derajat kesehatan klien. Kemudian. pada prakteknya baru sebagian kecil UEP yang bisa mendukung kegiatan operasional panti sosial. lauk dan buah-buhan meskipun tidak setiap hari. yakni dari satu jenis menjadi dua atau tiga dan dari seminggu sekali menjadi dua kali. Sedangkan berkaitan dengan menu. Ada perubahan positif pada peningkatan kualitas menu makanan yang semula tiga kali sehari. diperoleh data kualitatif. yaitu nasi sayur dan lauk kemudian menjadi tiga sehat plus. Namun demikian. sayur. Dana dari program subsidi panti dimanfaatkan oleh panti sosial untuk membuka UEP baru ataupun pengembangan UEP yang sudah ada. Baru 148 Puslitbang Kesos . yaitu pemenuhan kebutuhan makanan dan usaha ekonomi produktif (UEP). meskipun belum signifikan. Oleh karena itu. Meskipun klien yang diusulkan untuk memperoleh subsidi jauh lebih kecil dari yang diusulkan. Untuk makanan tambahan. kondisi UEP panti setelah menerima program juga menunjukkan adanya perubahan positif. yaitu nasi.94 persen. Panti-panti sosial menentukan jenis-jenis UEP didasarkan pada aspek tenaga. subsidi dimanfaatkan untuk menambah menu. diarahkan pada frekuensi pemberian makanan tambahan. Namun demikian.

penyaluran bantuan UEP ini perlu diawali dengan pelatihan UEP dan diikuti dengan pendampingan. Terkait dengan UEP ini adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan terhadap panti sosial dalam pengelolaan UEP. c. Panti sosial yang sudah mandiri. Panti sosial diberikan kebebasan untuk mengelola UEP menurut caranya sendiri dan pada prakteknya panti sosial tidak tepat ketika memiliki UEP yang prospektif. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya panti fiktif. mark up jumlah klien dan kelayakan panti sosial untuk menerima program. Hal ini menunjukkan panti justru semakin sulit melepaskan ketergantungannya pada pemerintah. Bantuan UEP perlu menjadi priroritas dibandingkan dengan subsidi untuk makanan. bahwa sebagian besar panti sosial penerima program subsidi panti masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pemerintah untuk kelangsungan hidupnya. Terkait dengan itu. Diharapkan subsidi untuk kegiatan UEP ini nantinya akan mengurangi ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah. b. Penanggung jawab program bertanggung jawab terhadap panti sosial yang diusulkan sebagai penerima program dan memiliki data by name by address atas panti-panti sosial yang diusulkan. Sebagian besar panti sosial masih mengharapkan program subsidi ini terus diterimanya. yaitu: a. diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pengelola dan penanggung jawab program subsidi panti. sehingga panti sosial tepat dalam memilih jenis UEP dan mampu mengelolanya dengan baik. kapan panti sosial akan dikurangi subsidinya atau dihentikan sama sekali. yang diikuti dengan kriteria dan indikator yang terukur. Seleksi terhadap panti sosial calon penerima subsidi berdasarkan kondisi riil panti sebagaimana adanya.Evaluasi Program Subsidi Panti sebagian kecil panti sosial yang mengalami peningkatan omzet dan aset setelah menerima program subsidi panti. Hal ini menggambarkan. Sebagian kecil dari mereka telah memiliki gagasan menemukan jalan keluar apabila program subsidi ini nantinya tidak dilanjutkan. Puslitbang Kesos 149 . Pemerintah perlu menetapkan jangka waktu yang tegas. Berdasarkan hasil penelitian ini. tidak memperoleh prioritas sebagai penerima program subsidi panti.

Mekanisme pencarian dana melalui PT POS tetap dipertahankan. Mujiyadi. Allen and Anne Minahan. 1973. Pincus. Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Tambahan Biaya Makanan/Gizi. —————————. dkk. DAFTAR PUSTAKA Departemen Sosial RI. Selo Soemardjan. Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Usaha Ekonomis Produktif. Jakarta : Ikatan Sosiologi Indonesia. “Kemiskinan Pandangan Sosiologi”. Besarnya subsidi hendaknya disesuaikan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat (khusus makanan). ————————. 2003. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Social Work Practice : Model and Methode. Indonesia. Oleh karena itu. Standardisasi Panti Sosial. f. Nomor 2/September 1997.2003. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. e. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. 2003. Itjen. Perlu dibangun kemitraan secara sinergis antara penanggung jawab program pada unit Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Puslitbang Kesos. Illinois : Peacock Publisher Inc .Evaluasi Program Subsidi Panti d. B. 2000. Pedoman Akreditasi Panti Sosial. 2005. perlu dilakukan pengawasan lebih ketat mulai pada tahap penentuan panti-panti sosial calon penerima program sampai dengan penyaluran dananya. Program subsidi panti sangat rawan dengan penyimpangan. Selo. Puslitbang Kessos dan instansi sosial di daerah untuk mengawal program subsidi panti ini agar mencapai tujuan yang diharapkan. —————————-. 150 Puslitbang Kesos . sehingga setiap daerah besarnya alokasi anggaran per orang/panti akan berbeda-beda.. 1997. Studi Pengembangan Panti Sosial Pamardi Putra Sebagai Panti Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Yang Komprehensif dan Profesional. Puslitbang UKS. Jurnal Sosiologi. tetapi perlu diupayakan agar pencairan dana tidak terlambat sampai ke pengelola panti sosial dan akan mempengaruhi efektifitas program itu sendiri.

(1991). Inc. Beberapa Catatan dalam Praktek Pekerjaan Sosial.V Moshy Company. Saint Louis: The C. Sukoco. Siahaan.M. KOPMA Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial : Bandung. 1978. S.Evaluasi Program Subsidi Panti Shortell. Praktek Pekerjaan Social dalam Pembangunan Masyarakat. Siporin. Profesi Pekerjaan Sosial. New York : Mac Millan Publisher Co. and Richardson. Health Program Evaluation. Max. Puslitbang Kesos 151 . Bandung : STKS Publisher. Introduction to Sosial Work Practice. (1990).C. MPR. (1975). Makalah dokumen pribadi (tidak diterbitkan). Soetarso. W. Dwi Heru. 2004.

.

tehnik pengumpulan data dengan wawancara. kerabat merasa sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai nilai budaya dan agama yang dianutnya. Permasalahan lanjut usia yang paling dirasakan adalah masalah kesehatan.Achmadi Jayaputra M. Hal ini guna mengembangkan konsep model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Hasil penelitian bahwa pelayanan sosial dalam kerabat merupakan salah satu nilai budaya setempat yang membuat lanjut usia merasa aman dan terlindungi dalam lingkungan kerabat. Namun. penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. dkk. Harapan lanjut usia maupun kerabat adalah tempat serbaguna yang berfungsi pelayanan dan kegiatan lanjut usia. Ditinjau dari kebutuhan hidup pokok kecuali ekonomi. ed: Prof Dr. yang telah berfungsi dalam pelayanan lanjut usia secara tradisional belum dioptimalkan. Departemen Sosial RI. Sementara kekerabatan sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial. peneliti: Dra. Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. belum dapat memecahkan permasalahan yang ada. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia ? Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan lanjut usia. Jawa Timur. Sri Gati Setiti. Dra. secara fisik umumnya merasakan tercukupi. Dilain pihak.PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN ( Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia)1 Dra. Drs. Sri Gati Setiti 2 ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia seiring dengan jumlah penduduk lanjut usia. program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. studi dokumentasi dan observasi. Pertanyaan dalam penelitian ini. permasalahan lanjut usia dan pelayanan yang dilakukan oleh kerabat. lanjut usia berharap pelayanan khusus bagi lanjut usia atau Posyandu lansia yang murah dan mudah dijangkau. Puslitbang Kesos 153 . Rusmin Tumanggor.Si. Untuk memeriksakan penyakit. Berbagai kebijakan. Lokasi penelitian di Sumatera Utara. Drs. Setyo Sumarno. Penelitian ini merekomendasikan suatu model pelayanan lanjut usia dalam kerabat melalui : penguatan ekonomi kerabat bagi lanjut usia yang tidak potensial dan ekonominya lemah. 1 2 Diangkat dari Penelitian Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Pendekatan deskriptif kualitatif. Sri Gati Setiti. FGD.Nina Karinina. Nusa Tenggara Barat.

Upaya tersebut belum memadai dibanding populasi dan permasalahannya yang kompleks. maupun ekonomi. Kata Kunci: lanjut usia. Dalam berbagai budaya yang kita miliki. tetapi banyak yang memberikan pelayanan secara terbatas. Pelayanan Sosial. sekaligus merupakan potensi yang luar biasa. diantaranya terkena tindak kekerasan oleh orang lain maupun kerabatnya. Day Care Service maupun Day Care Centre. Pada sisi lain.3 juta lanjut usia. diatur dalam tradisi masyarakat. Berdasarkan beberapa hal tersebut. Dewasa ini lanjut usia yang tertangani melaui sistem panti maupun nonpanti kurang dari 2% dari 2. Baik melalui sistem panti maupun nonpanti atau berbasis masyarakat. Sebagian pelayanan cukup memadai.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan pengembangan lembaga organisasi lanjut usia yang memiliki berbagai kegiatan yang bersifat psikis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial tahun 2006 melakukan penelitian ”Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan”. Penanganan masalah sosial merupakan bagian dari dan berakar pada nilai tolong menolong yang dikenal hampir semua suku bangsa di Indonesia. Tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan lanjut usia dihormati. pembinaan generasi muda dalam upaya pelestarian nilai budaya dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang optimal. disamping kendala dana maupun petugas. 154 Puslitbang Kesos . Peran kerabat dalam masyarakat di seluruh Indonesia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. Hal ini sebagai prestasi sekaligus tantangan/beban. sebagai sumber kesetiakawanan sosial yang mampu memecahkan permasalahan sosial didaerahnya. penanganan lanjut usia juga masalah lainnya. Berbagai kebijakan dan pelayanan dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. diiringi jumlah dan persentase penduduk lanjut usia. Kekerabatan Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup. kita memiliki kearifan budaya. Hal ini perlu diangkat dan dikembangkan. seperti Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). Mereka mengalami berbagai keterlantaran.

2. Bagi pemberi pelayanan menjadi alternatif pelayanan. Keterlantaran baik disebabkan oleh kondisi yang berubah.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Permasalahan Ketidakseimbangan antara pelayanan sosial yang tersedia dan permasalahan yang ada. sebagai dasar ilmiah perumusan kebijakan publik untuk menyelesaikan masalah pelayanan lanjut usia. Pada sisi lain belum ada pelatihan bagi pendamping kerabat yang melayani lanjut usia. bagaimana pelayanan dilakukan oleh kekerabatan terhadap lanjut usia? Permasalahan yang akan diteliti: Apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia? Tujuan 1. Berdasarkan uraian tersebut. Bagi instruktur kediklatan. menjadi materi trainers. Mengidentifikasi nilai-nilai terkait dengan pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Lanjut usia yang terlantar semakin mudah kita saksikan disekitar kita. Puslitbang Kesos 155 . d. Secara khusus bertujuan: a. Secara umum bertujuan. merumuskan pokok-pokok pikiran tentang kerangka dasar pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan (kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Memahami tentang kebutuhan. permasalahan dan harapan lanjut usia. untuk uji coba pada penelitian tahap II tahun 2007). Keterlantaran lanjut usia juga disebabkan oleh semakin memudarnya nilai dan penghargaan kepada lanjut usia. untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan model pelayanan lanjut usia. Bagi akademisi. sehingga merubah pola dan kegiatan anggota keluarga yang berdampak kepada pelayanan bagi lanjut usia. Menyusun kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan Manfaat Manfaat yang dapat dipetik bagi pemerintah. Memahami bentuk pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan c. b. berpengaruh kepada pelayanan lanjut usia.

Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Tinjauan Teoritis Definisi lanjut usia menitik beratkan kepada usia seseorang yang lebih dari 60 tahun. 156 Puslitbang Kesos . mengacu kepada UU no 13 Th 1998. yang dipanggil ”kekerabatan”. emosional dan spiritual serta sosial dan faktor ekonomi menjadi komponen penting dalam mencapai berbagai kebutuhan tersebut”. Kerangka Konseptual dalam Pelayanan Lanjut Usia Berikut preposisi teoritisnya adalah : ”Lanjut usia akan dirawat di lingkungan kerabat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. Kekerabatan mengangkat pendapat Suryono Sukanto (1990). kerabat karena kawin mawin (afinal kin). Sementara pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh kerabat pada suku bangsa yang diteliti. kerabat angkat (adoptif kin). maka kerangka konseptual dalam penelitian ini. berpedoman kepada pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Goode (1985) dan Koentjaraningrat (1990). Dari deskripsi teoritis tersebut. Kekerabatan dalam penelitian ini adalah orang sedarah (consanguinal kin). yakni pelayanan dalam panti dan pelayanan luar panti. Adapun pelayanan lanjut usia. sebagai berikut : Sosial Emosi/Spiritual Kesehatan fisik/psikis Lanjut usia Patrilineal Parental LU dilayani saudara lakilaki LU dilayani anak laki-laki LU dilayani anak perempuan dan anak laki-laki LU dilayani saudara isteri atau saudara suami Ekonomi Bagan 1.

Di Sulawesi Selatan. Pada suku Madura. Wawancara mendalam untuk informan kunci. diteliti suku Melayu dan Toba. Pada suku bangsa Jawa lanjut usia lakilaki disapa dengan mbah kakung (halus: eyang kakung). lanjut usia laki laki disapa Embah lanang. lanjut usia Laki laki disapa Pupung. untuk wanita disapa dengan Opung Nini. Suku Jawa dan Madura. Di Kalimantan Barat. Wawancara berstruktur kepada lanjut usia. Sapaan tentang Lanjut Usia Lanjut usia dalam berbagai etnis memiliki sapaan yang berbeda. Suku Sasak dan Bima. Observasi pada lingkungan tinggal lanjut usia dirawat. Suku Bugis dan Makasar. Penelitian dilakukan di Sumatera Utara. Pada Suku Dayak. sedang untuk perempuan juga disapa dengan Embah. berlaku pada masing masing daerah sebagai berikut : 1. Pada suku Batak. wanita disapa Toa Baine. Diskusi terbatas kepada pejabat terkait pada tingkat provinsi. Etnik Makassar. untuk perempuan disapa Ninik. Berbeda halnya dengan Melayu Kapuas. Secara sosial budaya mewaklili sistem kekerabatan patrilineal dan parental. lanjut usia laki laki disapa Nenek atau Nek aki. Dalam etnik Bugis. kerabat yang melayani lanjut usia. lanjut usia Laki laki disapa Toa Baina. Hasil Penelitian Pemahaman tentang Lanjut usia Adanya penyamaan persepsi tentang sapaan atau istilah lanjut usia. Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. untuk perempuan disapa dengan mbah putri (halus: eyang putri). lanjut usia laki laki disapa Opung Bulang.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. wanita Puslitbang Kesos 157 . Pada etnik Bima. Di Jawa Timur. Dalam budaya Melayu. Tokoh Agama/masyarakat setempat. lanjut usia laki laki Melayu Sambas disapa Nek Aki. untuk perempuan disapa dengan Wai. Pada suku Sasak di NTB. untuk laki-laki disapa Ai dan perempuan disapa Mi. FGD pada: Kerabat. untuk perempuan disapa Kajao. lanjut usia Laki laki disapa Ompu (Tuak /halus). Suku Dayak dan Melayu. untuk perempuan disapa Nek Wan. lanjut usia laki laki disapa Nene. Nusa Tenggara Barat. yang disajikan dalam studi kasus.

sudah memiliki cicit. lanjut usia akan tinggal pada anak laki laki pertama atau adiknya. lanjut usia cenderung memilih tinggal pada anak peremuan atau yang paling disukai. lanjut usia tinggal bersama anak perempuan. Pada etnik Sasak dan etnik Bima. lanjut usia dapat secara bebas tinggal bersama kerabat pihak laki laki maupun pihak perempuan. Pola tempat tinggal bagi Lanjut Usia. 158 Puslitbang Kesos . Walau demikian panggilan tersebut kadang ada yang sedikit berbeda. 3. Ciri ciri lanjut usia. Pada etnik Melayu dan Dayak. memiliki kebiasaan khusus. walau demikian biasanya menempatkan lanjut usia bersama dengan anak tertua atau adiknya. disepakati lanjut usia bila telah memiliki cucu.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 2. Berlaku untuk semua etnik yang diteliti. Pada Etnik Bima. secara budaya lanjut usia tinggal bersama kerabat ayah. yang menganut garis kerabat patrilineal. lanjut usia senang untuk pulang kampung ke Bima. berlaku sama pada semua etnik yang diteliti. Temuan dilapangan lanjut usia tinggal bersama anak yang tinggalnya berdekatan. anak yang tinggal berdekatan atau anak yang paling disenangi. Namun. Ciri lainnya. Jawa dan Sasak juga Bima. disapa dengan Nenek. yang disepakati dari hasil FGD adalah: lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun. secara adat tinggal bersama anak laki laki tertua atau adiknya. Dalam Budaya Batak. Dalam budaya Jawa. Hal ini karena adanya pengaruh budaya sekitar yang turut memberi warna pada istilah atau sapaan kepada lanjut usia yang berlaku bagi daerah tersebut. Bila tidak dapat dilakukan. bila sudah pensiun dan anak-anak mereka sudah menikah. banyak ditemukan lanjut usia senang tinggal di rumah panjang. kecuali di Kalbar. Secara umum pola tinggal mereka mengikuti garis kerabat. Etnik Bugis dan Makassar mengikuti sistem parental. ditemukan lanjut usia tinggal pada kerabat garis Ibu atau tinggal berpindah antara anak satu dan lainnya. yang mengikuti garis parental. Ciri lainnya termasuk mereka yang sering sakit-sakitan atau fisiknya sudah lemah. Kerabat yang tinggal di rumah panjang itulah yang bertanggung jawab kepadanya. Ciri ini berlaku untuk etnik Batak. Perubahan yang terjadi pada semua etnik yang diteliti. Walau demikian. Namun. maka kewajiban akan berpindah kepada adik laki lakinya.

kemenakan dan saudara sepupu. hujan. yang mengerti dan memahaminya. Secara umum pelayanan kepada lanjut usia dilakukan oleh kerabat yang paling dekat. Kondisi Lanjut Usia. dingin. Bila sakit segera diobati. secara umum membutuhkan rumah tinggal yang nyaman. Kebutuhan papan. silaturahmi kepada kerabat dan masyarakat . murah. pelayanan dilakukan oleh anak. kesehatan dan spiritual. dekat kamar kecil dan peralatan lansia secukupnya. 2. kondisi lanjut usia yang rentan membutuhkan lingkungan yang mengerti dan memahaminya. sering disapa dan didengar nasehatnya. Lanjut usia juga butuh rekreasi. membutuhkan dikunjungi kerabat. Lanjut usia dirawat oleh kerabat sedarah. Kebutuhan makan umumnya tiga kali sehari ada juga dua kali. Makanan yang tidak keras. Lanjut usia membutuhkan teman yang sabar. Kerabat yang melayani Lanjut Usia. Model yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka. Kebutuhan sandang. Obat obatan ringan sebaiknya selalu siap didekatnya. Kebutuhan fisik lanjut usia meliputi sandang pangan. Mereka membutuhkan teman ngobrol. dibutuhkan pakaian yang nyaman dipakai. Puslitbang Kesos 159 .Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 4. Frekuensi pembeliannya umumnya setahun sekali sudah mencukupi. selain itu juga dilakukan oleh kerabat atas hubungan perkawinan atau adopsi. Kebutuhan psikis. tidak asin dan tidak berlemak. terlindungi dari mara bahaya dan dapat untuk melaksanakan kehidupan sehari hari. Pilihan warna sesuai dengan budaya setempat. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sangat vital. Kebutuhan Lanjut Usia 1. gratis dan mudah dijangkau. Tidak kena panas. angin.Dibutuhkan fasilitas pelayanan pengobatan rutin. papan. Pada kenyataannya. atau tetangga/kerabat jauh.

olahraga. Secara umum kerabat membelikan satu kali setahun. Lanjut usia kadang mesti menyesuaikan dengan makanan apa adanya. bagi lanjut usia yang masih potensial biasanya membeli sendiri. hanya mampu menyediakan tempat tinggal seadanya. secara umum kerabat melayani makan tiga kali sehari. 5. Bagi lanjut usia yang masih produktif membutuhkan keterampilan. Pelayanan Lanjut Usia oleh Kerabat 1. menantu. pencerahan dan kedamaian menghadapi hari tua. Makanan yang disajikan sesuai kemampuan mereka. juga teman sebaya. sekelompok kegiatan dan masyarakat di lingkungannya. keponakan perempuan yang tinggal satu rumah/berdekatan. ada juga yang tidak terpenuhi. Pelayanan di bidang papan. Ada juga yang ditambah dengan buah. Pelayanan sandang. keterbatasan ekonomi membuat mereka makan seadanya. Sementara kerabat menambahkan pakaian kesukaan mereka. Kadang mereka hanya memberikan obat dari warung atau ramuan tradisionil atau 160 Puslitbang Kesos . Ada yang menyajikan nasi.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 3. Keterbatasan ekonomi juga membuat kerabat tidak mampu melayani pengobatan secara medis. Namun. Kebutuhan sosial lanjut usia membutuhkan orang-orang dalam berelasi sosial. sesuai dengan kemampuan kerabat. Pelayanan fisik. Tetapi. sayur dan lauk. Kondisi ekonomi kerabat yang terbatas. Secara ekonomi lanjut usia yang tidak potensial membutuhkan uang untuk biaya hidup. arisan dan lain-lain. Melalui Ibadah lanjut usia mendapat ketenangan jiwa. Kerabat yang menyajikan makanan umumnya anak. Kebutuhan ekonomi. Bagi lanjut usia yang tidak mampu biasanya diberi oleh kerabat jauh atau masyarakat. membutuhkan bantuan sumber keuangan. Kebutuhan spiritual. Terutama yang berasal dari kerabatnya. melalui kegiatan keagamaan. UEP dan bantuan modal usaha sebagai penguatan usahanya. Mereka sangat mendambakan generasi penerus yang sungguh sungguh dalam menjalani ibadah. Terutama kerabat. 4. bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap. umumnya mereka mengisi waktu untuk beribadah.

Bagi yang masih potensial. Pelayanan spiritual dilakukan oleh kerabat dengan menyediakan sarana dan peralatan ibadah. Pelayanan psikis. arisan. juga teman sekampung asal (kasus Bima) dll. juga teman sekelompok. memberikan kabar keluarga dan berita secara umum. berusaha menjauhkan dari anak agar tidak gaduh. pendamping dalam menjalani hidup. Bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial. kerabat juga memperhatikan lanjut usia yang ditinggal mati pasangannya. Lanjut usia ada teman ngobrol. mudah tersinggung dll.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan berobat ke dukun. Lanjut usia juga diberikan kegiatan bersama kelompoknya. Pada sisi lain. diberikan kesempatan bekerja bersama kerabat. Melakukan kegiatan keterampilan untuk memperoleh penghasilan. Kerabat menemani saat beribadah di rumah. dimesjid atau dimajelis taklim. diantaranya kelompok keagamaan. 3. 5. secara intensif mereka bekerja secara kelompok (kasus Sasak). Orang tua selalu memesan agar mengerti kepada lanjut usia. rewel. seperti kata ”mapakau untuk Bugis/Makassar” lanjut usia ditemani untuk ngobrol. mereka masih harus menghadapi biaya transpotasi yang mahal. sebagai tempat mencurahkan isi hati. dengan oleh oleh kesukaanya. bahan mentah atau memberikan makanan siap saji. Kerabat mencarikan pasangan. Kesemuanya dilakukan secara gotong royong. didengar nasehatnya. yasinan. ada satu dua ditemukan lanjut usia mendapat perlakuan tidak baik. kerabat memberikan uang. 4. kelompok adat dan lain-lain. Beberapa etnik yang diteliti. Bagi yang memiliki kartu miskin. Selain hal tersebut diatas. Ketika menjalani ibadah. lanjut usia diantar cucu atau kemenakan untuk bertemu dengan teman sebaya. Pelayanan ekonomi. dilakukan oleh kerabat yang mengerti dan memahami lanjut usia yang kadang perilakunya berubah seperti: kekanak kanakan. Sekalipun demikian. didengar nasehatnya dan didengar kaluhannya. Pelayanan sosial kerabat berusaha menemani berbicara. seperti dibentak bentak. 2. dilakukan kerabat dengan memenuhi kebutuhan dasar hidup lanjut usia. Puslitbang Kesos 161 . Kerabat berusaha untuk sering mengunjungi. pengajian. kelompok silaturahmi. prosedur yang berbelit dan pelayanan yang sering tidak menyenangkan. olah raga.

Pelayanan lanjut usia yang dilakukan oleh masyarakat. Dalam kegiatan usaha kesejahteraan sosial berupa kunjungan orang sakit dan bantuan bagi warga yang meninggal. umumnya berbentuk Orsos. Pandangan Kerabat tentang Nilai-nilai yang Terkait Lanjut Usia Secara umum kerabat menghendaki lanjut usia tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat. bimbingan sosial dan spiritual. safari ibadah. ternak kambing. Kesehatan dan Informasi. pemanfaatan waktu luang. jaminan hidup. balas budi dan membahagiakan orang tua. ternak ayam. Kegiatan edukasi berupa keterampilan dan bantuan modal. Pemberdayaan lanjut usia melaui DAU dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan Orsos. Bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dibidang ternak itik. Setiap panti sosial memberi penampungan. Diskusi bersama tokoh dan Dinas terkait 162 Puslitbang Kesos . Selain itu juga KUBE dan UEP. kesehatan. rekreasi. Program pelayanan diluar panti berupa: pemberdayaan lanjut usia melalui dana Dekon. penambahan Gizi. Sedang kerabat dapat memetik manfaat kepuasan batin dalam memberikan pengabdian. yakni sistem pelayanan sosial di dalam panti dan pelayanan diluar panti. pakaian. Kegiatanya secara umum berupa penambahan Gizi. Karang Lansia dan lain lain. dalam bentuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). ada juga sapi (Sulsel) dan Bantuan Peningkatan Gizi pada semua provinsi.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Pelayanan oleh Pemerintah dan Masyarakat Pelayanan sosial oleh Pemerintah melalui dua sistem. Mereka bergabung dalam Karang Wredha. olah raga. Masing masing provinsi memiliki panti sosial Tresna Wreda. Lanjut usia merasakan kedamaian berada ditengah kerabat. kerja bakti dan penggalakkan tanaman obat. Hal ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak.

Hal yang buruk . Mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya. banyak ditemui lanjut usia tinggal dan dirawat oleh anak yang tinggal berdekatan. Bagi yang tidak potensial memerlukan bantuan ekonomi. Melalui wadah ini lanjut usia dapat melakukan aktifitas sesuai dengan keinginan mereka. Kondisi fisik yang mengalami kemunduran. Bagi lanjut usia yang tidak memiliki kerabat. baik ucapan atau perlakuan fisik. Pelayanan sosial bagi lanjut usia perlu dipisahkan antara yang potensial dan yang tidak potensial. segera diberikan obat atau dibawa berobat. cepat dan mudah. sepanjang tidak mencelakakan. ada yang melayani ketika memerlukan bantuan. Ada yang menemani ketika berobat. Bagi yang potensial tetapi miskin. maupun budaya yang mengikat mereka. Mereka memerlukan wadah (Karang lansia/karang wredha) atau bentuk lainnya. sumber dana yang digunakan untuk merawat lanjut usia berasal dari kerabat. masyarakat dan pemerintah Harapan kepada kerabat: pelayanan dinjalani secara ikhlas dan wajar. Permasalahan penting bagi lanjut usia adalah permasalahan kesehatan. Bila tidak sanggup melakukan. Kerabat sebaiknya mengerti dan memahami yang baik dan tidak baik dilakukan kepada lanjut usia. yang ditanggung secara bersama. memperlakukan secara kasar. Puslitbang Kesos 163 . Kerabat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan lanjut usia. Melayani lanjut usia harus bisa berlaku sabar. Lanjut usia mengalami berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit non infeksi yang sulit disembuhkan. dilakukan sesuai garis kerabat yang dianutnya. Lanjut usia perlu” diisi perutnya dan dipelihara mata dan telinganya”. memenuhi perintahnya. Secara ekonomi. Pelayanan psikis. sebaiknya dirawat masyarakat sekitarnya. Bila ada perbedaan. Lanjut usia memerlukan pelayanan kesehatan rutin yang murah (gratis). Bila lanjut usia sakit.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Cara ini sesuai dengan agama. Kerabat masih mendengarkan dan menjalani nasehat lanjut usia. melalui keluarga yang merawat. memerlukan pelayanan sesuai kondisinya. Kondisi ini kini mulai bergeser. memerlukan kegiatan usaha ekonomi produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. tidak sabar. lanjut usia sebaiknya dirawat di panti sosial. dapat menyampaikan dengan cara yang tidak menyinggung. Harapan kepada kerabat. lanjut usia potensial memerlukan silaturahmi dan anjang sana. bersama anak perempuan/anak bungsu atau anak yang paling disayangi.

gotong royong. Membentuk wadah kegiatan lanjut usia seperti: Karang wredha/Karang Lansia. 5. Menyumbangkan ilmu dan pengalamannya. mudah dan gratis dengan memberi kartu sehat lansia. hidup bersama masyarakat. rajin belajar. bagi lanjut usia potensial. sekalipun tenaga/dana yang disumbangkan tidak seberapa. juga jaminan hari tua bagi lanjut usia. Harapan kepada Pemerintah: agar mengembangkan program penanganan ekonomi. Penyuluhan bagi generasi muda tentang nilai nilai yang terkait dengan lanjut usia. murah/gratis). Berpartisipasi dalam iuran. KONSEP MODEL PELAYANAN LANJUT USIA 164 Puslitbang Kesos . Menyediakan fasilitas umum untuk lanjut usia. mudah. Memberikan penyuluhan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkait dengan lanjut usia kepada generasi muda tentang: 1. 4. setia dengan adat budayanya. Lanjut usia yang masih potensial 3. Memberi jaminan hidup kepada lanjut usia yang tidak potensial dengan kerabat tidak mampu. Kerabat yang merawat lanjut usia nonpotensial 2. menjaga dan meneruskan nilai nilai demi masa depan yang baik. Memberi fasilitas pengobatan rutin. Harapan kepada masyarakat: Memperlakukan lanjut usia dengan wajar. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia ( dekat. Konsep Model KERABAT LANJUT USIA POTENSIAL PEMBERDAYAAN EKONOMI PEMBERDAYAAN GENERASI MUDA PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN PRANATA LANJUT USIA PENGUATAN KESEHATAN LANJUT USIA Bagan 2. kerja keras.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Harapan yang sangat tinggi kepada kerabat untuk tekun beribadah. Mendorong dan memfasilitasi bagi yang sudah terbentuk. Penguatan & pemberdayaan pranata lanjut usia yang OBH maupun OTBH.

Kesimpulan 1. umumnya terlantar dan tinggal di daerah rawan.. ingin beribadah sesuai agama masing masing. Pelayanan lanjut usia oleh kekerabatan memiliki nilai budaya sebagai berikut: (a) lanjut usia sebaiknya dirawat oleh anaknya/keluarga/ kerabat. Umumnya menderita kaku sendi/lengan dan sulit bergerak. (c) bilamana tidak memiliki kerabat. Puslitbang Kesos 165 . 5. Lanjut usia yang sakit dapat beribadah dan mendengarkan radio/televisi. yang berpotensi sebagai sumber kesos. (b) lanjut usia yang tidak punya anak. sesuai budaya dan kebutuhannya. (b) Lanjut usia potensial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Bilamana tetangga tidak ada yang merawatnya. alternatif terakhir dirawat di Panti Sosial Lanjut Usia. 3. (d) Kebutuhan pakaian. mereka terorganisir dalam Karang Wredha/Karang Lansia dan lain lain. (b) Kebutuhan rohani.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Kesimpulan dan Rekomendasi 1. dirawat oleh tetangga. (c) Kebutuhan makan. tetapi tidak ada biaya untuk menyediakannya. penyakit jantung. Kebutuhan lanjut usia meliputi: (a) Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang paling dirasakan lanjut usia. Bagi yang sudah terbaring di tempat tidur memerlukan perlengkapan seperti pampers. (d) Lanjut usia suami isteri. Sedangkan bagi lanjut usia potensial ingin berkunjung ke teman/ kerabat. (e) Lanjut usia dirawat oleh sepupu/ keponakan. sebaiknya dirawat tetangga. darah tinggi. (e) Secara sosial lanjut usia menginginkan dikunjungi kerabat. Ada dua kategori lanjut usia: (a) Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). lanjut usia memerlukan makanan bergizi sesuai kebutuhannya. Permasalahan kesehatan: yang sulit disembuhkan/tidak bisa sembuh karena usia. 4. 2. keponakan. osteoporosis dan penyakit penuaan lain. bagi lanjut usia yang masih sehat dan kuat. cucu dan lain lain. (b) Lanjut usia yang tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat (c) Lanjut usia yang tinggal di rumahnya sendiri. katarak. perlak dan lainlain. tinggal di rumahnya sendiri. kurang pendengaran. Pola tinggal lanjut usia yang diteliti : (a) Lanjut usia tinggal mandiri dan dirawat oleh kerabat. sebaiknya dirawat oleh kerabat: adik kandung/sepupu.

5. 2. pertemuan/arisan dan pameran hasil keterampilan. Pengembangan lembaga/organisasi lanjut usia. ingin dicontoh generasi muda dan didukung pemerintah. (d) Pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan dapat dikembangkan karena sistem nilai budaya setempat di lima wilayah yang diteliti mendukung upaya tersebut. Penguatan ekonomi bagi kerabat yang lemah. ketrampilan.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 6. yang didukung dengan tenaga dan pelayanan medis secara memadai. untuk pelayanan kesehatan. bimbingan dari pemerintah. murah/gratis dan dekat. (e) Pelayanan lanjut usia dalam kerabat yang diteliti sudah memenuhi harapan. memberikan berbagai motivasi melalui penyuluhan dan mempraktekannya dalam bersikap dan berperilaku sehari hari. rutin. Meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan cara pelayanan kesehatan lanjut usia. mudah dan gratis. organisasi sosial maupun kelompok peduli. menginginkan pelayanan khusus yang dekat. Harapan para lanjut usia: (a) Menginginkan tempat pertemuan serbaguna. Para lanjut usia merasa aman dan terlindungi berada dilingkungan kerabat. terutama untuk pemenuhan gizi dan berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal. 2. Posyandu. 4. Penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. dengan memberi dukungan dana. (c) Lanjut usia potensial yang mempunyai UEP barhasil memberi lapangan pekerjaan. Pembinaan generasi muda dilakukan dengan memperkuat sistem nilai budaya masing masing. Rekomendasi 1. mudah. yang memiliki UEP. agar ada peningkatan ekonomi dan dapat mencukupi kebutuhan lanjut usia secara lebih baik. 166 Puslitbang Kesos . agar lanjut usia dapat menyumbangkan ilmu dan keterampilannya. 3. sekaligus sebagai kegiatan ekonomi maupun sosial kepada mesyarakat. (b) untuk memeriksakan penyakit.

Jakarta . 1991. BPPKS. 1990. Jakarta. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup Para lanjut usia ”Panduan Gerentologi” Tinjauan dari Berbagai Aspek. Idayu Press. Jayaputra.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Scripps Foundation Gerontology Center. Aging Community and Change. Loius Lowy. Penelitian Uji Coba Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia Berbasis Masyarakat. Jakarta . 1999. Belmont. & Toni Setyabudhi. Social with the Aging. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Selatan. Harver & Row Publisher. Jakarta . Hardywinoto. Hamid. the Challange and Promise of the Later Year. Jambatan. Wadsworth Publishing Company. Achmadi dan Setyo Sumarno. Belmont California. Atchley. 1999. 1983. dkk. ________. BPPKS. ___________ . San Fransisco. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1977. Robert C. Puslitbang Kesos 167 . Direktorat Jenderal Kebudayaan. Wadswort Publishing Company. Koentjaraningrat. Philadephia. Adat Istiadat Daerah Jawa Timur. New York. Kajian Tentang Model-model Pelayanan lanjut usia Berbasis Masyarakat Melalui Pusat Santunan Asuhan Dalam Keluarga. Jakarta. 1982. Aging Community and Change. Manusia Bugis Makassar. Gramedia. Miami University. 1983. California Division Wadsworth Inc. Jakarta. 1997. Pramuwito. 1985. Jakarta .

.

Departemen Sosial RI. taman bacaan anak. Adapun hambatan yang dihadapi komunitas seperti terbatasnya jaringan kerja komunitas. minimnya pemahaman 1 2 Diangkat dari penelitian Komunitas Peduli Anak dengan anggota Alit Kurniasari (Ketua). Dukungan pemerintah melalui paket belajar dan pelatihan keterampilan telah memberi warna pada kegiatan komunitas. untuk membangun komunitas peduli anak. Pandangan tentang anak dan kebutuhannya memotivasi komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan hak anak. selain pandangan masyarakat tentang hak anak dan kebutuhannya. Dukungan pengusaha setempat terhadap kelanjutan pendidikan serta keterlibatan LSM yang peduli pada kesehatan dan pendidikan anak. Kepedulian diwujudkan dalam bentuk kelompok belajar. Kalimantan Barat/Pontianak. termasuk mengikutsertakan keluarga pada pelatihan usaha ekonomi produktif. mengidentifikasi potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas serta mengidentifikasi bagaimana bentukbentuk kepedulian komunitas. Sulawesi Selatan/Makasar. Banyaknya permasalahan anak-anak terlantar dan anak jalanan telah memprakarsai tokoh agama. kelompok bermain dan TK. tetapi juga menjangkau keluarga atau orang tua. Gunawan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi kasus yang dilakukan di 6 wilayah (Sumatera Utara/Medan.PENGEMBANGAN KOMUNITAS PEDULI ANAK 1 Dra. Pada beberapa wilayah. MPM 2 ABSTRAK Penelitian pengembangan komunitas peduli anak bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang pembentukan komunitas peduli anak. pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang mampu sekolah dan pelatihan keterampilan. Alit Kurniasari. Nusa Tenggara Timur/Timor Tengah Selatan). kelompok remaja mesjid dan praktisi sosial. lembaga sosial masyarakat yang peduli anak didukung keterlibatan pengusaha setempat maupun pemerintah menjadi sumber motivasi bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi aktif kedalam komunitas. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Potensi dan sumber pendukung untuk mengembangkan komunitas seperti nilai ajaran agama sebagai pengikat kegiatan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komunitas peduli anak dilatarbelakangi oleh kondisi faktual di masing-masing wilayah. Pendampingan secara intensif dari tokoh komunitas. Tety Ati Padmi. melalui pemberian keterampilan usaha. Puslitbang Kesos 169 . Sri Utami. yang berpihak pada anak dan tidak bias gender. Sumatera Selatan/Palembang. Jawa Timur/Surabaya. Alit Kurniasari. pelayanan sosial tidak hanya bagi anak. Neni Riani.

Komisi Nasional Perlindungan Anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak masyarakat bahwa komunitas sebagai ‘modal sosial’ yang dapat dikembangkan. Jumlah anak terlantar. dunia usaha. termasuk anak jalanan cenderung semakin meningkat. Implikasinya adalah berbagai elemen seperti LSM. Oleh karenanya. mulai dari legalitas tingkat global sampai tingkat nasional. Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak awal agar tujuan anak sebagai pemilik era masa datang dapat tercapai. masyarakat peduli anak dan pemerintah. telah melahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan berbagai peraturan perundang-undangan di bawahnya. Rativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Berbagai upaya telah dilakukan. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah gencarnya dengan kegiatan lembaga nonpemerintahan lainnya. 170 Puslitbang Kesos . Pada kenyataannya. Gugus Tugas. baik secara kuantitas maupun kualitas. Departemen Sosial melalui Direktorat Pelayanan Sosial Anak yang telah lama dan berpengalaman dalam membina dan memfasilitasi pelayanan sosial anak baik dalam maupun luar panti. kebijakan tentang keberadaan komunitas sebagai bagian dari Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Pelayanan Sosial Anak. Kata kunci: Hak Anak. juga memfasilitasi pembentukan Komite Aksi Nasional. belum adanya kesamaan antara dukungan pemerintah dengan kebutuhan komunitas. peningkatan kemampuan pekerja komunitas. fasilitasi pemerintah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Pemerintah melakukan berbagai aksi. Komunitas Peduli Anak Pendahuluan Kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak menjadi bagian penting dari pembangunan kesejahteraan sosial. yang bertujuan untuk mengupayakan tingkat kesejahteraan dan perlindungan anak seoptimal mungkin. Lembaga Perlindungan Anak di daerah yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan dan elemen masyarakat. untuk mengembangkan komunitas peduli anak perlu membentuk jejaring kolaboratif antar sektor terkait. kemampuan pemerintah tidak sebanding dengan meningkatnya permasalahan anak. perlunya mengkampanyekan kegiatan peduli anak agar kesadaran masyarakat pada kebutuhan dan hak anak semakin meningkat. Orsos. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Dunia Usaha dan pemerintah berupaya merealisasikannya dalam berbagai kegiatan.

Makasar. Palembang. merasa perlu melakukan penelitian tentang pengembangan komunitas peduli anak. guna memberi penjelasan komprehensif mengenai komunitas peduli anak di wilayah yang terpilih.815. tokoh masyarakat. yaitu kota-kota yang memiliki jumlah permasalahan anak terlantar cukup tinggi yaitu Kota Medan. Lokasi yang terpilih dengan cara purposive. Sumber informan pada tokoh komunitas. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan besaran permasalahan anak. apa latar belakang terbentuknya komunitas serta sumber dan potensi apa yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas? Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang digunakan metode kualitatif dengan studi kasus. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. yang bertujuan semaksimal mungkin memperoleh pandangan lengkap dan mendalam mengenai komunitas peduli anak. sehingga peran aktif masyarakat sangat diperlukan. anggota komunitas. observasi dan penelaahan dokumen. Oleh karena itu. yang selanjutnya disebut sebagai komunitas peduli anak. Permasalahan anak tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. Untuk menjelaskan komunitas peduli anak maka digunakan teori sikap dari Mar’at yang beranggapan Puslitbang Kesos 171 . Surabaya.383 anak. terutama masalah kemiskinan. Pembahasan yang dilakukan berusaha untuk menjawab ”Why and How”. anak-anak dan Instansi Sosial. Berdasarkan data Pusdatin Departemen Sosial RI (2006) menunjukkan jumlah anak terlantar sebanyak 2. Kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama terhadap kesejahteraan anak. Keberadaan komunitas tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yaitu meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai komunitas peduli anak yang ada di masyarakat. telah banyak melakukan kegiatan pelayanan anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak seiring dengan permasalahan kemiskinan yang belum dapat diatasi. Upaya penanganan permasalahan anak berbasis masyarakat semakin banyak ditemukan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kessos). Dalam penelitian ini akan menelusuri bagaimana bentuk kegiatan komunitas. Pontianak dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

didukung oleh hukuman dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. berawal dari kegiatan 172 Puslitbang Kesos . Berdasarkan hal tersebut. sebagai perilaku sosial yang dipengaruhi oleh penghargaan maupun dukungan terhadap kegiatan komunitas. Konsep komunitas dari Ferdinan Tonny yang membagi komunitas pada 3 aspek yaitu seperasaan. yang dapat berfungsi sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh komunitas. artinya perilaku sosial dianalisis sebagai respon spesifik terhadap stimuli yang diberikan. Komunitas di Kota Palembang dan Makasar dengan posisi wilayahnya yang cukup strategis sebagai pintu gerbang bagi wilayah lainnya.Pengembangan komunitas Peduli Anak bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui pendekatan teori stimulus respon. kondisi kemiskinan keluarga semakin menjauhkan keluarga dari interaksinya dengan kerabat lainnya. Artinya perilaku komunitas peduli anak. Meningkatnya permasalahan anak telah mendorong munculnya komunitas peduli anak yang diprakarsai oleh kalangan praktisi dan masyarakat terdidik dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat lokal baik yang diikat oleh satu rumpun agama maupun budaya. Seperti kasus di Medan. sepenanggungan dan saling membutuhkan. komunitas peduli anak dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sebagai bentuk partisipasi aktif dan prakarsa komunitas terhadap penanganan permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. sebagaimana kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat persinggahan bagi penduduk di wilayah sekitarnya memiliki permasalahan anak jalanan cukup tinggi. sehingga keterlantaran anak harus ditanggung oleh keluarga bersangkutan. Misalnya. Selanjutnya komunitas peduli anak. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa bentuk kegiatan komunitas ada hubungannya dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi wilayah setempat. Komunitas di Kota Medan dan Surabaya. telah mendorong komunitas untuk peduli terhadap maraknya masalah trafficking dan melakukan pendampingan bagi anak yang berkonflik hukum. turut menangani permasalahan anak dan melakukan kegiatan demi menyelamatkan anak-anak dari keterpurukan. komunitas di Kota Pontianak yang berbatasan dengan wilayah negara lain. diwarnai tingginya permasalahan anak terlantar. Peran kekerabatan dan tanggung jawab sosial keluarga pada kenyataannya tidak mampu menyelamatkan anak dari keterlantaran. dapat menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat. Kasus di Timor Tengah Selatan.

diantaranya mampu membentuk lembaga pendidikan. Batasan usia sebagai anak adalah 18 tahun kebawah dan belum menikah. seperti kasus komunitas di Kota Palembang. Motivasi atas jiwa kemanusiaan dan dilandasi nilai-nilai agama telah mendorong komunitas untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak. dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. telah melahirkan sanggar anak-anak jalanan yang diakui keberadaannya di masyarakat dan menjadi contoh kegiatan di berbagai provinsi lainnya.Pengembangan komunitas Peduli Anak keagamaan untuk membantu anak terlantar melalui pelayanan sosial bersifat insidental. sesuai dengan ajaran agama yang dianut” menjadi landasan komunitas untuk peduli pada anak. Kasus di Surabaya. tetapi ada diantaranya yang berpendapat bahwa sebaiknya usia anak sampai dengan usia 16 tahun. Perilaku sosial yang ditampilkan oleh komunitas dipahami sebagai wujud dari pandangan masyarakat tentang konsep anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi anak. sehingga perlu merubahnya dengan sebutan ’anak negeri’ yang lebih mencerminkan keberpihakan pada anak. Kasus komunitas di Surabaya. berpartisipasi pada kegiatan komunitas. mampu mengembangkan kegiatan pelayanan anak seperti pemberian beasiswa. Keberhasilan komunitas terhadap pelayanan pada anak terlantar dan anak jalanan. yang telah menimbulkan empathy untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan selanjutnya diwujudkan dalam kegiatan komunitas yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan melindungi anak dari keterpurukan. Sebutan anak jalanan telah memberi stigmatisasi yang menghambat keberadaan anak untuk pemenuhan kebutuhannya di masyarakat. Perilaku yang ditunjukkan anggota komunitas semakin meningkat manakala adanya keberhasilan mengentaskan anak dari keterpurukan dan semakin meningkatnya partisipasi tokoh masyarakat dan agama serta kelembagaan yang ada di masyarakat. telah berkembang menjadi embrio organisasi. Konsep tentang anak diawali dengan pandangan tentang usia anak. Semangat tersebut telah mampu memotivasi kelompok pemuda dan wanita. pelayanan perlindungan bagi anak remaja dari tindak kekerasan seksual dan anak yang dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. dengan alasan perilaku anak usia 18 sudah tidak mencerminkan perilaku seorang anak demikian juga memperlakukannya sudah harus berbeda. tetapi kegiatannya berlanjut menjadi terorganisir setelah memperoleh dukungan dari berbagai pihak. Konsep Puslitbang Kesos 173 . “Nilai kasih sayang antar sesama karena saling membutuhkan. Kepedulian tokoh masyarakat telah membangkitkan motivasi masyarakat setempat untuk peduli pada kehidupan anak jalanan.

memberi kemudahan memperoleh akte kelahiran dan memberi perlindungan dari tindak kekerasan. ada yang melihat dari sudut pandang positif. bimbingan dan pengarahan. fitrah yang harus dijaga yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. tempat berlindung. anak tidak memiliki hak untuk berkembang. menjadi figur yang harus membantu keluarga. ada yang berpandangan tradisional. (kasus di Surabaya dan Medan) dan dari tindakan hukum seperti kasus di Pontianak.Pengembangan komunitas Peduli Anak tentang anak cukup bervariasi. kasih sayang. dorsmeer. telah menjadikan anggota komunitas merasa terpanggil untuk mewujudkannya melalui kegiatan pelayanan yang sesuai dengan hak dan kebutuhan anak. (3) hak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan. masa depannya tergantung pada orang dewasa. Pelatihan keterampilan bermusik pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk terampil bermain musik. yaitu: (1) hak untuk hidup. harapan bangsa. kesempatan bersekolah. Sebaliknya. Pandangan demikian memberi pengertian bahwa keberadaan anak seolah-olah sangat tergantung pada orang tua. seperti hidup layak sebagai mana seorang anak. bahwa anak sebagai potensi dan aset generasi penerus cita-cita bangsa. (2) hak untuk tumbuh kembang. namun sebagian besar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan. sablon. Pandangan tersebut. Selain itu. menjadi bagian dari diri kita. penerus estafet pembangunan. Kegiatan komunitas berupa pendampingan intensif pada anak jalanan. memperoleh makanan sehat. perhatian atau kasih sayang. Bentuk kegiatan pelayanan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan anak untuk memperoleh tempat tinggal memadai. menjadi kekayaan berharga dan ahli waris. Meskipun konsep tentang anak berbeda-beda. mempunyai waktu bermain dan diperlakukan secara manusiawi. yang telah menyelamatkan anak dari tidak bersekolah menjadi bersekolah. Kebutuhan dimaksud. titipan Tuhan. Kebutuhan tersebut sebenarnya sebagai bagian dari hak anak yang harus dipenuhi. meskipun hak anak untuk berpartisipasi masih belum nampak. teater. juga memberikan kebutuhan akan pendidikan dan keterampilan seperti bermain musik. memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan di jalanan. kesempatan berpendapat dan berkreativitas dan memperoleh pendidikan formal sesuai dengan kemampuan dan usianya. sebagai manusia lemah dan rawan. memberi kesempatan pada anak untuk mengikuti pendidikan luar sekolah. budi pekerti serta memperoleh keterampilan. yang tidak memiliki kemampuan. bahwa anak diibaratkan sebagai kertas putih. Perlu pengarahan melalui pendidikan agama. tetapi juga memiliki kepercayaan 174 Puslitbang Kesos . perhatian dari orang tua. penyejuk hati.

maupun penggalangan dana. Partisipasi dan kegiatan yang dilakukan komunitas. tetapi juga pendidikan informal. sumbangan harta benda. kegiatan komunitas tidak terbatas pada anak. tidak terbatas pada pendidikan formal. Kegiatan dimaksud bertujuan agar keluarga dapat meningkatkan pendapatannya sehingga dapat meringankan beban pengeluaran untuk membesarkan anaknya. menciptakan kepedulian masyarakat dengan prinsip memberikan yang terbaik bagi anak. Komunitas di Makasar. tidak terbatas pada pemenuhan tumbuh kembang anak. Kondisi ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan kesejahteraan sosial. dimana anak merasa lebih dihargai dan berguna bagi orang lain. karena masyarakat telah ikut terlibat dalam menangani masalah anak. lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah menjadi kekhasan tersendiri dari masing-masing komunitas. tetapi lebih luas mampu menjangkau kesejahteraan keluarga. Meningkatnya kepercayaan diri pada anak. didukung lembaga masyarakat setempat mampu menciptakan kepedulian pada permasalahan anak lainnya. bertujuan agar anak dengan segala keterbatasan yang ada tetapi masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Pada kenyatannya.Pengembangan komunitas Peduli Anak diri untuk tampil di tempat umum. tetapi juga membantu keluarganya dalam kemampuan ekonomi serta memberi akses bagi pelayanan kesehatan serta memberikan pembekalan keterampilan bagi keluarganya. Komunitas di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Bimbingan etika dan agama termasuk kegiatan yang penting diberikan pada anak dan orang tua. Kasus di Kota Palembang dengan dukungan lembaga international mampu membangun komunitas peduli anak. setidaknya berdampak pada pribadi dan perilaku anak jalanan. yang Puslitbang Kesos 175 . melalui curahan tenaga. kontribusi pemikiran. Gambar 1 : Anak jalanan di Surabaya berlatih musik Keterlibatan dunia usaha/swasta.

terutama dalam rangka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas. terutama masalah anak-anak. melalui pertukaran informasi. lembaga legislatif. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas. mensinergikan upaya dan mengembangkan kesadaran kritis serta berfungsi pula sebagai kontrol sosial. seperti dari Perguruan Tinggi.Pengembangan komunitas Peduli Anak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing komunitas. Jejaring kolaboratif bersifat informal. mengandalkan komitmen. transparan. Pengusaha. memotivasi komunitas untuk menyelamatkan anak dari keterlantaran. Gambar 2 : Kegiatan Bimbingan agama bagi Orang Tua dan Anak di Surabaya Dukungan kepedulian sosial yang dikembangkan secara tradisional maupun profesional. tingkat kabupaten. menampilkan kesetaraan. perlu ditata dengan baik yaitu melalui pembentukkan jejaring (network) antar lembaga secara kolaboratif. kepedulian sosial (volunteerism) dan kepedulian sesama warga (civic involvement). Organisasi Masyarakat. tingkat provinsi dan tingkat pusat. lembaga swadaya masyarakat. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. telah tumbuh menjadi modal sosial melalui tindakan kolektif komunitas guna mengatasi masalah yang dihadapi sesama warga masyarakat. Keikutsertaan unsur-unsur tersebut dalam penyelesaian masalah. pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas. lembaga permodalan dan masyarakat itu sendiri. Di dalamnya terkandung semangat karitas (charity). Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak dapat dilihat dari gambar berikut ini: 176 Puslitbang Kesos . Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan komunitas masih banyak memerlukan keterlibatan pihak lain.

miskin atau marginal. Collective Sector Action atau dapat disebut sebagai masyarakat sipil yang diantaranya adalah komunitas peduli anak. Penting diperhitungkan juga lembaga-lembaga filantropi dan pembangunan international sebagai salah satu komponen pelaku atau sumber daya pengembangan komunitas peduli anak. tetapi dibagi bersama-sama kalangan swasta (perusahaan-perusahaan). Puslitbang Kesos 177 . lembagalembaga sosial masyarakat (termasuk organisasi keagamaan) dan lembagalembaga kerelawanan (seperti LSM yang mengumpulkan dana-dana amal). Orsos. LSM.Pengembangan komunitas Peduli Anak Collective Action Sector (Komunitas Peduli Anak) Jaringan Kelembagaan Peduli Anak Public Sector (Pemerintah Pusat. misalnya public sector atau pemerintah harus diletakkan secara strategis untuk mendorong inisiatif warga masyarakat agar dapat mengembangkan berbagai potensi kemandirian mereka dalam rangka membantu sesama warganya. dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang menyediakan dana. keahlian dan sumber daya yang dapat digunakan untuk kegiatan pengembangan komunitas peduli anak. Gagasan tersebut sejalan gagasan Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. Pemerintah Daerah) Private Sector (Dunia usaha. Sektor swasta (private sector) berkomitmen membantu mewujudkan kesejahteraan sosial anak. berperan penting dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan sosial dan implementasi program kesejahteraan sosial anak. Langkah-langkah perlindungan sosial bagi anak terlantar sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar warganya yang tidak mampu. Masyarakat peduli) Bagan 3. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak Masing-masing sektor memiliki fungsi tersendiri. yang menyebutkan bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan kesejahteraan (anak) tidak lagi dimonopoli Negara.

Permasalahannya adalah komunitas belum mampu mandiri selepas berakhirnya program. Meskipun selama ini dunia usaha cukup mendukung kegiatan komunitas. belum sepenuhnya mampu menjangkau kalangan swasta. terutama anak-anak terlantar dan anak jalanan menerima pelayanan yang selama ini hak dan kebutuhannya terabaikan. Kesimpulan dan Saran Secara garis besar dapat disimpulkan. Kegiatan komunitas tidak dapat terselengara tanpa dukungan pemerintah dan keterlibatan dunia usaha. Keberadan komunitas menjadi bagian yang dibutuhkan anggotanya. belum mampu menciptakan program terencana dan berkelanjutan. dalam hal ini dunia usaha. baik yang berlatar belakang agama. Kurangnya koordinasi diantara lembaga yang bergerak dalam pelayanan sosial anak. Keberadaan 178 Puslitbang Kesos . Terpenting adalah motivasi yang dimiliki komunitas mampu menggerakkan partisipasi aktif anggotanya guna menciptakan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak. menjadi kelemahan yang dirasakan komunitas. karena kondisi tersebut telah dibentuk sejak masa lampau. ketergantungan masyarakat pada pemerintah masih cukup melekat. Masyarakat belum terbiasa menjadi mandiri. Tindakan kolektif komunitas dapat diprakasai oleh berbagai lapisan masyarakat. keilmuan bahkan atas dasar panggilan hati nurani sekalipun. sebagai funding bagi keberlangsungan komunitas. serta manfaat yang telah diperoleh anak beserta keluarganya kurang tersosialisasikan. Semakin meningkatnya minat anakanak terlantar yang membutuhkan pelayanan dari komunitas. sebagai lembaga sosial masyarakat pada kenyataannya berdiri sendiri. menjadi kendala yang dialami komunitas. Keterbatasan petugas pendamping bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan. semakin menuntut komunitas untuk memperluas jaringan kerja (network). memberi andil besar terutama dalam dana dan program pelayanan sosial anak. bahwa terbentuknya komunitas peduli anak. karena adanya kesamaan perasaan terhadap keterlantaran anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak Komunitas peduli anak. memiliki kepentingan bersama untuk memberikan pelayanan bagi anak agar terhindar dari keterpurukan lebih lanjut. selain sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan. Hal tersebut bukan tidak mungkin kepercayaan dari dunia usaha untuk berkolaborasi menjadi minim. tetapi masih bersifat insidental. maupun lembaga sosial masyarakat lainnya. Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala bagi upaya pemberdayaan masyarakat. seperti yang dialami pada kasus di Palembang. Peran Lembaga kerelawanan. Hanya saja keberadaan komunitas berikut kasus-kasus keberhasilan.

Development Psychology. Bandung. Selain itu. 2001. _______.Pengembangan komunitas Peduli Anak komunitas paduli anak. Mc Graw Hill. Bandung. perlu direkomendasikan peningkatan sosialisasi atau mengkampanyekan komunitas peduli anak. pengakuan terhadap petugas pendamping sebagai tenaga Pekerja Sosial dari Dinas Sosial setempat. Depsos RI. Hurlock. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. 1981. khususnya pekerjaan sosial agar lebih terarah. Remaja Rosdakarya. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. Elizabeth. DAFTAR PUSTAKA Deddy Mulyana. program Pasca Sarjana IPB. 1989. Mar’at. Remaja Karya. Toronto. Untuk itu. memfasilitasi sarana prasarana komunitas. Tonny F Nasdian & Lala Kolopaking. PT. 2002. sehingga aksesibilitas komunitas peduli anak terhadap sumber-sumber daya kesejahteraan sosial seperti dunia usaha dan instansi pemerintah mendapat legalitas yang sah. penyebarluasan informasi melalui media masa dan elektronik. Harry Hikmat. draft IX. upaya pengembangan komunitas peduli anak melalui fasilitasi program pemberdayaan kepada keluarga dengan anak terlantar. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Sosiologi untuk Pengembangan Masyarakat. Teori Sikap. Melakukan peningkatan kemampuan petugas pendamping melalui kegiatan pemantapan. melalui dialog interaktif pada media masa dan elektronik. yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Humaniora Utama Pers. 2005. Puslitbang Kesos 179 . Hal yang penting lainnya adalah kebijakan berlandaskan pada Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional Indonesia yang dapat memperkuat keberadaan komunitas peduli anak. PT. 2003.

.

Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Puslitbang Kesos 181 .GENDER DAN KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Drs. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. mertua. Malang dan Makassar. bahwa Pasca kepulangan sebagai TKW. TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. Togiaratua Nainggolan. Rachmanto Widjopranoto. Dengan konsep relasi gender ini. oleh Togiaratua Nainggolan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position dan kesetaraan antara suami dan isteri. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. dan Sudibyonoto.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. Namun demikian. yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. Suami mulai terlibat pada sektor domestik dan permisif pada nilai-nilai pemingitan. Indramayu. Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar di tengah keluarganya. Togiaratua Nainggolan. anak. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) seperti Lampung. Lebih jauh. sehingga relatif kurang harmonis. Untuk memahami hal itu. Hasil penelitian menunjukkan. Ruaida Murni. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. M. keluarga mengalami konflik secara potensial dan manifest. pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur. Penentuan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan snowball. 1 2 Diangkat dari hasil penelitian tentang Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Di Indonesia. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya. Faida Normawati. hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah keluarga buruh migran termasuk pergeseran pola relasi gender pasca migrasi sebagai TKW. sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik.

182 Puslitbang Kesos . kapitalisme dunia dan globalisasi. Ketimpangan pendapatan negara maju dan negara dunia ketiga. untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi calon TKW dan keluarganya dalam membuat keputusan untuk migrasi sebagai TKW . diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga. dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program yang ditujukan bagi TKW dan keluarganya. penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1) mendeskripsikan pergeseran pola relasi gender pada keluarga migran pasca migrasi sebagai buruh TKW. Selain masalah gender.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKW dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. sadar atau tidak. dan (2) bagi Departemen Sosial RI dan pihak terkait lainnya. yaitu masalah gender. Keluarga Migran Pendahuluan Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan. Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender. Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Sejalan dengan hal tersebut di atas. kesalahan konsep pembangunan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan secara khusus bagi TKW menyangkut masalah perempuan. Selain itu. langsung atau tidak langsung perubahan peta situasi keluarga pasca TKW dapat mempengaruhi tingkat keharmonisan keluarga buruh migran yang bersangkutan. 2001) dalam sebuah tulisannya bahwa masalah buruh migran sangat komplek karena konteksnya tidak saja soal perburuhan tetapi juga menyangkut migran internasional. Lebih jauh hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah pada buruh migran. bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. dan (2) mendeskripsikan gambaran keharmonisan keluarga mereka pasca migrasi sebagai TKW. Tenaga Kerja Wanita. Hasil penelitian diharapkan mampu : (1) menyajikan realitas positif maupun negatif dari tindakan migrasi TKW terhadap keluarga. Pendapat senada dikemukakan oleh Krisnawati & Safitri (dalam Daulay.

Hasil dan Pembahasan 1. prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah yang menjadi pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri seperti Nusa Tenggara Barat. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. dan Lampung. selain peluang yang dapat Puslitbang Kesos 183 . Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas. Jawa Timur. Namun. Dalam prakteknya. pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu. Akibatnya. anak. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan cara snowball dimana dari satu informan akan berkembang ke informan selanjutnya. mertua. sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap substansi persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini. Teknik analisis data diarahkan pada pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position antara suami dan isteri serta menyangkut kesetaraan posisi di antara mereka. Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosial kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. terutama dengan melihat kondisi isteri yang pernah bekerja ke luar negeri menjadi TKW. Jawa Barat. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. Sulawesi Selatan. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya.

Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak. dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. Pada satu sisi. Sementara pada sisi lain. ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. juga harus memanfaatkan peluang dari aspek sosial budaya. walaupun secara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. Pada tataran global. 1999) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa. Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi. Dalam konteks ini. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah. bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. Secara bersamaan. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. bahkan ideologi masyarakat. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup. “Mengekspor” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia dimanfaatkan secara ekonomi. Hal senada dipertegas oleh Goode (1985). Sadar atau 184 Puslitbang Kesos . walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (dalam Berry dkk. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. baik yang positif maupun negatif.

tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia tidak. Secara makro. Tetapi hal itu lebih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. akan tetapi juga pada tingkat makro. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran. bukan saja pada tingkat mikro. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik. Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat yang memberikan peluang Puslitbang Kesos 185 . pemerintah memang melakukan intervensi. Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. Pada tingkat mikro. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. 2. Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang membawa nama harum bangsa dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. Akibatnya muncul berbagai efek samping yang justru tidak diharapkan.

Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya. Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. khususnya budaya majikan di luar negeri. 186 Puslitbang Kesos . berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program. Dalam konteks ini. Selain itu. Dalam hal ini. dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Artinya secara tidak langsung. Dengan kata lain. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. Kecenderungan tersebut terefleksikan dalam konteks yang lebih luas.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia sekaligus pembatasan berupa etika. Bagi kaum perempuan. pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi. dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW. kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. Walaupun hal itu. pola relasi gender ini merupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. sadar atau tidak. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan di sektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. pembagian kerja menjadi sexist (didasarkan pada jenis kelamin) dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan.

4. Secara umum pergeseran pola relasi gender tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut : Tabel 1. 9. 3. 7. bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist (pembagian kerja tidak didasarkan pada jenis kelamin). tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Puslitbang Kesos 187 . 10. Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independen dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih didominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatif harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Isteri mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independen dalam membuat keputusan Sebagian suami terjun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur. Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi sebagai TKW No. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal sebagaimana dikemukakan oleh Daulay (2001). hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan afektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional. Lebih jauh. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan tapi pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. Pencari nafkah utama adalah suami 2. Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya. 5. 6. 8. Pengakuan ini menunjukkan. Keadaan sebelum menjadi TKW 1.

Penegasan ini kiranya cukup beralasan. dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefinisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. Dari perspektif global dan makro. 188 Puslitbang Kesos . Dalam prakteknya. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. Dinas Sosial. TKW menyangkut persoalan devisa. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Lebih khusus lagi. dengan mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan. khususnya yang mempunyai status isteri. dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. Departemen Tenaga Kerja. mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya. Adapun bagi keluarga. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. serta menajemen keluarga. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. Sementara dalam prespektif negara.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. dalam perspektif gender.

Harmona. (2001). Jakarta. Studi Kasus TKIW di Kecamatan Rawamarta Kab. Goode. (1985). Gramedia. Puslitbang Kesos 189 . J. Sosiologi Keluarga. Bina Aksara. (1999).Gender dan Keluarga Migran di Indonesia DAFTAR PUSTAKA Berry dkk. Daulay. Galang Press. Psikologi Lintas Budaya. Jakarta. Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga di Keluarga Migran. Riset dan Aplikasinya (terjemahan Edi Suhardono). William. Karawang Jawa Barat. Yogyakarta.

.

3 Aplicable. 177 Community based development. 122 Charitatif. 5 Desa Liang Bunyu. 5. 82. 177 Culture shock. 45. 55 Banjar. 13 Desa Sungai Pancang. 181. 185 D Day Care Centre. 134 Charity. 50 Bukaka. 5 Desa Talio. 181 Anne Minahan. 34 191 . 156 Adrinof A. 3 Allan Pincus. 156 Aksesibilitas. 56 Collective Sector Action. 13 Desa Binalawan. 154 Dayak. 33. 30 Bantuan Khusus Murid (BKM). 156 Corporate social responsibility. 130 Belu. 120 B Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). 50. 30 Degeneratif. 44. 4. 125 Bone. 163 Desa Aji Kuning.INDEKS A Abddurazak dkk (1989). 122 Consanguinal kin. 44. 125 Bintan. 3 Androgini. 154 Day Care Service. 100 Australia. 41 Bargaining Position. 6. i. 176 Civic Involvement. 116 Banglades. 5. 54 Puslitbang Kesos Brazil. 183 Basic needs. 82 Concept of deprivation trap. 44 Adoptif kin. 51 C Chambers (1983). 89 Bali. 176 Civil society. 48 Afinal kin. 33 Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 120. 4. 5 Desa Setabu. 32 Akurat. Chaniago (2001:316). 9. 55 Bugis.

57 Koentjaraningrat (1990). 116 Isolation. 132 F Ferdinan Tonny. 5 Desa Tanjung Karang. 125 K Kalimantan Barat. 31 Home visit. 55. 123 Dorsmeer. 129 Kalimantan Tengah. 123 G Goode (1985). 122 Epicentrum. 45 Local Budgeting Forum. 58 Lokalitas Ekosistem. 88 Ekonomis Produktif. 57. 130 Diagnosa. 174 Dove (1985). 4 Disorientasi. 30 Jayapura. 3 Komunitas Adat Terpencil (KAT). 122 J Jawa. 4 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). 142 I Ife (1995). 27 Diagnostik. 28 Dwi Heru Sukoco (1991). 54 Inferior. 3. 29 Kalimantan Timur. 119. 83. 19. 156 Grameen Bank. 50 Evaluatif Research. 16 Empathy. 156 Komprehensif. 185 Distributive Frekuentif. 16 Ekologis. 122 Independent. 172 Focus Group Discussion (FGD). 181 Indepth Interview. 45 Human Service Organization. 56.Indeks Desa Tanjung Aru. 88 Lembaga Pembardayaan Masyarakat (LPM). 34 L Leading Sector. 113 192 Puslitbang Kesos . 3 Human Development Index (HDI). 173 Empowerment. 55 H Heterogen. 56 Life Expectation. 92 E Edukatif. 5 Developmental needs.

12. 125 Nusa Tenggara Barat. 3 Public issues. 125 Participatory Budgeting Forum. 116 Minahasa. 116 Nunukan. 5 Malaysia. 4. 67. 9. 80 Power Oriented. 44 Manurungge. 130 Psikologis. 82. 5. 134 Patriarkhi. i Manifest. 102. 92. 122 Poverty. 57. 116. 114 People Centred Development. 52. 10 Maliku. 4. 104. 1. 1. 117 Paruik. 88. 51 Max Siporin. 56 Participatory Rural Apraisal (PRA). 100 Nusa Tenggara Timur. 93 Pathologis. 2 Network. 25. 123 P Palembang.Indeks M Madura. 100 Participatory Wealth Ranking (PWR). 16. 175 Pandih Batu. 95 NAPZA. 67. 17 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 81. 100 Permisif. 33 Participatory Action Research (PAR). 82. 3. 3. 77 Private Sector. 74. 18. 177 Private Trouble. 65. 2. 68 Medan. 176 Non Governmental Organization International (NGO). 129 O Oakley & Marsden (1984). 122 Porto Alegre. 2. 30 Mainstream. 114. 15. 43 Malaysia Timur. i. 130 Public sector. 29 Manado. 181 Manurung Rimatajang. 55 Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). 122 Pranarka & Moeljarto (1996). 79 Muhamad Yunus. 112. 5. 66 Powerlessness. 55 N Nagari. 6. 186 Pekerja Sosial Masyarakat. 181 Physical weakness. 49 Participatory Budgeting. 83. 123 Prestise. 3 Ndaraha (1990). 177 Puslitbang Kesos 193 . 99. 2. 29.

130. 146. 2 194 Puslitbang Kesos . 13. 144. 81. 122 W Watampone. 160 V Volunteerism. 50. 18 Sebatik Timur. 100 Tomohon. 104. 105 Sanggau. 181. 26. 70. 155 Triangulasi. 171 Puslitbang UKS. 13 The cut of point. 72. 51. 3. 105 Warren & Cottrell. 57 Sexist. 11. 2 R Rakorbang Partisipatif. 52. 68 Sulawesi Selatan. 55 Tatamba. 176 Vulnerrebality. 129 Sunda. 147. 8. 7. 139. 112 The Small Enterprise Foundation (SEF). 119. 123. 186 Simptom. 183 Social-phsyicological needs.Indeks Pulang Pisau. 4 Rudito (2003. 28 Snowball. 125 Sebatik Barat. 49 Reliable. 48 S Samarinda. 10. 105 Sukoco (1991). 4. 5 Survival Strategy. 6. 149. 12. 172 Trainers. 2005:23). 177 Stimulus Respon. 3. 2. 51 Wonogiri. 17. 101 U Usaha Ekonomis Produktif (UEP). 129 Sumatera Barat. 74 Trafficking. 172 Subang. 135 State obligation. 102 Speech therapy. 25. 9. 26 Research minded. i Responsif. 54. 87 Suryono Sukanto (1990). 5 Sungai Pancang. 156 T Tanete Riattang. 130 Sorting. 29 Purposive. 5 Segregasi Sosial. 89 Sumatera Utara. 143. 27. 30 Sungai Nyamuk. 15. i. 1.

Badiklit Kesos. antara lain Pelatihan Penyusunan Indikator Sosial (Kantor Meneg LH. Sebelumnya Sarjana Statistika di FMIPA Institut Pertanian Bogor tahun 1987. Kepala Kursus Tenaga Sosial (KTS) Ujung Pandang. International Course for National Economic Management and Poverty Eradication in National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia tahun 2000.Si. Kepala Bidang Program Pusdiklat Pegawai. Kegiatan pelatihan yang telah diikuti. Manajemen Penanggulangan Kemiskinan-ESCAP Bangkok 1999. dilahirkan di Denpasar. antara lain : Diklat Pim II LAN RI (2000). M. M. Diklat Penyuluhan Sosial (1983). Financial and Budgeting Management Program–IMDI–University of Pittsburgh USA 1999. memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis tahun 1997 di Universitas Hasanudin. 1988). pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial. R. Pelatihan metodologi penelitian kualitatif (UI. memperoleh gelar Doktor untuk Ilmu Sosial tahun 2003 di Universitas Padjadjaran Bandung dengan disertasi Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). Asuransi Sosial– JICWELS Jepang 1997. Ir. Dr. 1989). TOC ADAB Australia – LAN RI (1984). 27 Juli 1952. Charles S. Talimbo.SEKILAS EDITOR Drs.Si. Kepala Balai Diklat Pegawai Depsos Ujung Pandang. Sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Statistics in Poverty Policies – Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) in Cambodia. tanggal 9 Juli 1963. Memperoleh gelar Master untuk Ilmu Pekerjaan Sosial di Universitas Indonesia tahun 1996. Makassar. Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti. TOT. Departemen Sosial RI. Puslitbang Kesos 195 . dan Pra jabatan tingkat III (1981). Harry Hikmat. Kepala Bidang Penyuluhan Sosial. Selama berkerja di Departemen Sosial RI. lahir di Ternate. Swedia and Beijing (2004-2005). Sepadya (1990). Pernah sebagai Sales dan Marketing PT BAT. Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar (SPADIA) Depsos tahun 2003.

Profil dan efektivitas LSM dalam mengatasi penyebarluasan AIDS di Indonesia (STKS. Pemenuhan Hak atas Pendidikan Dasar di Daerah Konflik (Departemen Kehakiman dan HAM. tahun 2004-2006 sebagai Kabag Bantuan Usaha Kelompok di Dit.1993). Unicef & Depsos. Karya penelitian antara lain Kualitas Pelayanan Panti Sosial Anak (Save The Children. Depdiknas. Aspek-Aspek Hak Anak yang Berkonflik Dengan Hukum (Departemen Kehakiman dan HAM. Lab Sosio UI. tahun 1996-1997 sebagai Kaur Penelitian dan Pengembangan di STKS Bandung. Kegiatan Motivasi dalam Proyek Kelangsungan Hidup Anak (Unicef dan Departemen Agama. 1995). 2003). Studi Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (ADB & Bappenas. Evaluasi Gerakan Rereongan Sarupi Propinsi Jawa Barat (Pemda Jabar. 1992). dan analisis kebijakan di Depsos. penelitian sosial.d 1997 dan Dosen Pasca Sarjana Spesialis Pekerjaan Sosial di STKS Bandung untuk mata kuliah Metodologi Penelitian Pekerjaan Sosial dan Pengembangan Modal Sosial. Analisis Kebijakan Pengentasan Orang Miskin melalui Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Indonesia (Ditbangdes. perencanaan. Dep. 196 Puslitbang Kesos . LSM. Energi & Sumberdaya Mineral. Riwayat pekerjaan. pekerjaan sosial. 2002).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjadi Dosen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Sosial. Manajemen Perencanaan dan Keuangan. Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Selain itu menjadi Dosen STKS Bandung tahun 1987 s. Aktivitas organisasi antara lain menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN) 1999-2004 dan Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak periode 2001-2005. Studi Manajemen dan Standarisasi Panti Sosial di DKI Jakarta (Dinas Bintal & Kesos. 2002). Statistika Sosial. 2001).d sekarang sebagai Kabag Analisis Kebijakan Perencanaan Kesejahteraan Sosial di Biro Perencanaan Depsos. dan Bappenas. 2006). 2002). Manajemen Pengembangan Masyarakat. tahun 2006 s. Pemberdayaan Fakir Miskin. tahun 1997 – 1998 sebagai Kasubag Perencanaan Program Wilayah Timur di Biro Perencanaan Depsos. Fasilitator dalam berbagai kegiatan pelatihan Participatory Research Appraisal. 1996). UNPAD. 2004). Studi Kesiapan Daerah dalam Pelayanan Sosial Dasar di Era Desentralisasi (ADB & Bappenas. Studi Pengembangan Program Community Development Pupuk Kaltim (2002).

Penelitian Keberhasilan Desa-Desa Juara di Jawa Barat (Ditbangdes Prov. Karya ilmiah yang pernah disusun antara lain : Penerapan Statistika dalam Penelitian Pekerjaaan Sosial (1987). 1993).d. 2002). Paradigma pembangunan dan perencanaan sosial (1995). Teknik ilustrasi dalam penulisan artikel ilmiah (1999). Metode Monitoring dan Evaluasi Program (1998). DT I Jawa Barat tahun 1989 s.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Desa/kelurahan Juara Perlombaan Desa di Propinsi DT I Jawa Barat (Ditbangdes Prop. dan Perencanaan Partisipatif (Cipruy:. Filsafat dan Etika Ilmuwan (1998). Analisis Dampak Sosial (1999). Metodologi penelitian sosial (1999). Model Pembangunan Sosial di Indonesia (1997). DT I Jawa Barat tahun 1991). Puslitbang Kesos 197 . Karya ilmiah yang telah diterbitkan yaitu : Participatory Research Apprasial dalam Pengabdian Pada Masyarakat (HUP: 2001). Strategi Pemberdayaan Masyarakat (HUP: 2001).

.

lahir di Tegal (1951). antara lain beberapa artikel pada majalah Jurnal dan Informasi yang diterbitkan oleh Puslit PKS maupun Puslitbang UKS Balatbangsos Depsos R.I Puslitbang Kesos 199 . Sutaat. (3) Partisipasi Masyarakat Kota dalam Mengatasi Masalah Sosial Pasca Krisis (2003). Diklat Dasar Demografi. juga sebagai editor beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Balatbangsos. dan (5) Tanggung Jawab Sosial Industri (Kantor MASKAT. antara lain adalah diklat tenaga peneliti. Pendidikan Sarjana Muda diperolehnya dari UMJ (1980) dan S1 dari STKS Bandung (1984). Penelitian yang dilakukan kerjasama dengan institusi lain sedikitnya ada 10 buah. (2) Kajian Managemen Kessos Panti Sosial DKI Jakarta (YASHINTHA. 2002). Disamping itu. (4) Prilaku Remaja di Daerah Pinggiran Kota (2004). 2000). baik majalah Jurnal. Balatbangsos Depsos R. antara lain yaitu: (1) Identifikasi Kebutuhan Pelayanan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (2003). Memulai karir sebagai PNS di PPA Bambu Apus (1975). Jabatan struktural yang pernah diembannya adalah kasubid perumusan program Puslit PKS Balitbang Kessos (1986-1997) dan jabatan sekarang adalah Peneliti Muda (2005-sekarang). Pengembangan Tenaga Peneliti. Karya ilmiah yang telah diterbitkan. selanjutnya alih tugas ke Balitbang Kessos (1985). 2002).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun SEKILAS PENYUSUN Drs. (4) Studi Persiapan Daerah dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial bagi Anjal (YASHINTHA. Pengalaman dibidang publikasi sebagai dewan redaksi. dan Diklat SEPALA dan SEPAMA. Diklat yang pernah diikuti.I. 2003). Informasi Puslit PKS maupun Puslitbang UKS. Pelatihan Komputer. Penelitian internal (Litbang Kessos) yang telah dilakukan dan dibukukan sedikitnya 21 buah. (3) Kekerasan Masyarakat Daerah Perkotaan (Pusbangtansosmas. 2002). Diklat Penyusunan Kerangka Acuan (Proposal) Sosbud. antara lain yaitu: (1) Survey on Accessibility Problems to Pantis and Vocational Rehabilitation Service after Decentralization in Indonesia (Yayasan Kandidat. (2) Analisis Kebutuhan Pekerja Sosial di Pusat Pelayanan Korban Bencana (2003). dan (5) Persepsi Legislatif Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2004).

pelatihan pengolahan data yang diselenggarakan oleh BPS. pelatihan metodologi kualitatif yang diselenggarakan Balitbang Sosial. 11 November 1967. Pengalaman kerja sebagai Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial sejak 1986 dan jabatan sekarang adalah Peneliti Madya. lahir di Jakarta. Sejak bekerja di Badan Litbang Sosial ini.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Dra. Drs. di Panti-panti Sosial Asuhan Anak. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI).Si. Menamatkan program S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung dan memperoleh gelar Magister pada Bidang Psikologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada D. Mapping and Social Survey of Street Children bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. Sejak tahun 1995 mulai aktif mengajar pada beberapa perguruan tinggi 200 Puslitbang Kesos . Indah Huruswati. antara lain: berkaitan dengan Masalah Anak di Tempat Penitipan Anak. lahir di Jakarta. Saat ini menjabat Peneliti Muda dan sebagai Kasub Analisa Kebutuhan Puslitbang Kesos Badiklit Departemen Sosial RI. beberapa kali mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkait dengan bidang penelitian. penulis juga banyak memiliki pengalaman penelitian dan penulisan di bidang sosial. Profil Anak Jalanan. sejak tahun 1998-2000. di Panti Sosial Petirahan Anak. Pendidikan terakhir Sarjana Antropologi. Pemetaan Anak Jalanan dan Orangtuanya di Kotakota Besar di Indonesia. baik yang diselenggarakan oleh Balitbang Sosial maupun kerjasama dengan laboratorium Sosiologi FISIP UI. Selain aktif menulis di media jurnal dan informasi Puslitbang Kesos juga sebagai tim editor Jurnal Penelitian dan Pengembangan UKS. M.I. Bambang Pudjianto. antara lain menjadi anggota redaksi pada majalah Jurnal Kesejahteraan Sosial. antara lain: pelatihan tenaga peneliti. Anak Terlantar melalui Sistem Panti. Pengalaman menulis ilmiah diperoleh penulis dari berbagai kegiatan. Yogyakarta tahun 2000. Penelitian masalah kemiskinan juga pernah dilakukan. serta diklat penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Departemen Sosial bekerjasama dengan majalah Tempo. Selain mengikuti diklat-diklat. dan Penelitian Permasalahan Remaja di Kota-kota Besar. antara lain tentang Pola Penanganan Kemiskinan di Perkotaan yang dilakukan hingga kegiatan ujicoba pada beberapa kota.

Asisten Peneliti di Leknas LIPI (1983 – 1985). Pemetaan Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Kotamadya Tomohon. Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun swasta di Jakarta. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan. SMA Negeri 30 dan SLTP Negeri 76 di Jakarta (1971 – 1977). Magister Pengembangan Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2000 – 2002). antara lain: Penelitian Uji Coba Model Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Kepala Sub Bidang Rencana dan Program di Puslitbang PKS (1998 – 1999). Penyandang Cacat. Kepala Bidang Analisis dan Bimbingan Sosial di Pusbang Tansosmas (2000 – 2004). Asisten Peneliti Madya (1986) sampai dengan Ahli Peneliti Muda (2002) di Badan Litbang Sosial. Jabatan Fungsional. Penelitian Eks Penderita Penyakit Kronis Tuberkulosis (TBC). Pembinaan Masyarakat pedalaman Irian Jaya (1986 – 1992). khususnya pada bidang Psikologi Sosial.Si. Nilai Kesetiakawanan Sosial dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Efektivitas Bantuan Pinjaman Modal Usaha RSDK (1999). Sejak tahun 1986 sampai sekarang sebagai pengajar Antropologi dan Sistem Budaya Indonesia di Universitas Muhamadiyah Jakarta. Pendidikan Sarjana Manajemen (S1). Jabatan Struktural. Konflik dan Kedamaian Sosial dan Penyalahgunaan Napza. Diploma Ilmu Tauhid dari Uniersitas Islam Syekh Yusuf (1984 – 1986). Kajian konflik Sosial Suku Bangsa Madura di Kabupaten Sambas (2001). Suku Bangsa di Indonesia. Pengaruh Budaya dalam Puslitbang Kesos 201 . Akreditasi Panti Sosial. lahir tanggal 2 November di Takengon. Penelitian Uji Coba Model Komunitas Adat Terpencil (KAT). Pendidikan. Otonomi Daerah dalam Perspektif Budaya (2000). Penelitian yang pernah dilakukan. Sarjana Antropologi dari FSUI (1978 – 1984). Kabupaten Aceh Tengah. SE. Achmadi Jayaputra. Drs. 11 Juli 1958. Karya ilmiah antara lain. Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi di Puslit PKS (2004 – 2005) dan sampai sekarang sebagai Kepala Bidang Program di Puslitbang Kesos. Kepala Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi di Puslitbang UKS (1994 – 1998). SD di Banda Aceh dan Jakarta (1965 – 1970). Rusmiyati. diantaranya KAT. Mulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil di Balitbang Sosial Puslitbang Kesos bidang Program dan Anggaran sampai sekarang. Ujicoba Indikator Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara. lahir di Jakarta. M. Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Lanjut Usia di DKI Jakarta (2002).

lanjut usia. tahun 1998. Akreditasi Panti Sosial di Bandar Lampung. bekerja sebagai pekerja sosial dan koordinator program pada Family Helper Project kerjasama Yayasan Pelita Kasih dengan Christian Children’s Fund Inc. antara lain: Pola Konsentrasi Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Tanah Grogot Kabupaten Pasir Kalimanatan Timur. tahun 1994. Jakarta. MP. dan Pendidikan dan Pelatihan Analisa Data.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (2003).. Sosial – Badan Pusat Statistik (BPS). FISIP Universitas Indonesia. Pola Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perkotaan (Surabaya dan Bandung). Pola Hubungan Sosial Antara Kelompok Etnis di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. di Tanjung Priok. tahun 1986. Drs. konflik dan solidaritas sosial. Dampak Judi “Togel” pada Kehidupan Keluarga Miskin di Kota Medan. Anwar Sitepu. Bekerja untuk Departemen Sosial sejak tahun 1990. 202 Puslitbang Kesos . Pengalaman lapangan melakukan pengkajian dan penelitian di berbagai daerah yang berkaitan dengan Komunitas Adat Terpencil. tahun 1982 sampai 1987. tahun 1992. Penelitian yang pernah dilakukan. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD-FEUI). lahir di Sukanalu. Jakarta. kerjasama Pusdiklat Pegawai Dep. Depok. Permasalahan Pengungsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pelayanan Sosial Lanjut Usia di Indonesia. dan pendidikan S2 Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor di Bandung dan Bogor. Pelatihan Komputer dan Statistik untuk Pengolahan Data Hasil Penelitian pada Lembaga Demografi. menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Kesejahteraan Sosial pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri di Jakarta. Sebelum bergabung dengan Departemen Sosial. Pelatihan teknis kelitbangan yang pernah diikuti antara lain: Peningkatan Kemampuan Tenaga Peneliti Balitbangsos pada Laboratorium Sosiologi. tahun 1999 sampai sekarang. 4 September 1958. pengembangan potensi masyarakat pedesaan. langsung bergabung pada Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial di Jakarta. awalnya pada Sekretariat kemudian masuk pada Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial. Jakarta. tahun 2004. Pola Pembinaan Remaja melalui Karang Taruna di Kota Medan dan Bekasi.

Magister Sains Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Publik. baik secara mandiri maupun kelompok. Potensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ketahanan Sosial Masyarakat di Kota Kendari. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. lahir di Tawangharjo. sebagai editor Jurnal Puslitbang Kesos dan anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Departemen Sosial RI. dan berbagai seminar permasalahan sosial di Indonesia. Nurdin Widodo. Aktif mengikuti mengikuti kegiatan penelitian bidang kesejahteraan sosial. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Disamping itu. Permasalahan Sosial Pengungsi Korban Poso dan Upaya Penanggulangannya. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. dan Penelitian Uji Coba Model Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Selain itu juga menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Penelitian Puslitbang Kesos 203 . Dra. Beberapa hasil penelitiannya telah diterbitkan. menamatkan program S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraaan Sosial Bandung. diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2005) dan S1 (Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994). menamatkan program Sarjana Muda di Fakultas Sastra dan Budaya Jurusan Anthropologi UGM Jogyakarta. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Madya pada Puslitbang Kessos-Badiklit Kessos Departemen Sosial RI. Strata 1 di FISIP jurusan Anthropologi UNHAS Ujung Pandang. Sri Gati Setiti. Penelitian yang telah dilakukan meliputi topik-topik yang berkaitan dengan Pelayanan Anak Terlantar Putus Sekolah Melalui Panti Sosial Bina Remaja. 8 Januari 1961. Kekhususan Pengembangan Masyarakat (S2). M. Departemen Sosial RI. Drs.Si. S. Peran Lembaga Sosial dalam Penanganan Pengungsi. Pemberdayaan Pranata Sosial. Konflik Serta Modal Kedamaian Sosial dalam Konsepsi Lintas Kalangan Masyarakat di Tanah Air. Jabatan peneliti: Ajun Peneliti Muda bidang Kesejahteraan Sosial (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial) Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sugiyanto. dan kumpulan tulisannya pernah diterbitkan di JURNAL maupun INFORMASI. Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna. Hubungan Antar Kelompok Pribumi dan Etnis Cina di Jakarta.Pd. Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik dan Kerusuhan Sosial.

Pernah menjadi staf pengajar di STKS Bandung. Dra. Penelitian yang pernah dilakukan meliputi topiktopik yang berkaitan dengan: penanganan penyandang cacat. Pelayanan Sosial bagi Eks Penyandang Penyakit TBC Berbasis Masyarakat (2002). pola rekonsiliasi masyarakat antar etnis di daerah konflik di Indonesia. tanggung jawab sosial dunia usaha terhadap masyarakat sekitar. dampak sosial industri. efektivitas GN-OTA dalam pemberian kesejahteraan anak. profesionalisme pengelolaan Orsos. Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga (2006). pemberdayaan keluarga dalam mencegah tindak tuna sosial. Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2006). Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (2004). MP. permukiman kumuh. pada mata kuliah Psikologi Anak. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Pertama di Puslitbang Kesos. Penelitian Kualitas Pengasuhan dan Pelayanan Panti Sosial Asuhan anak (PSAA) di Indonesia. karang taruna. 204 Puslitbang Kesos . Selain itu mengikuti berbagai seminar tingkat nasional. Menjadi anggota panitia pembina ilmiah (PPI). anak jalanan. Alit Kurniasari. Psikologi Abnormal dan Psikologi Sosial. dan pemberdayaan migran. panitia penilai lomba karya tulis masalah-masalah sosial tingkat nasional.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun dan Pengembangan Sosial. lanjut usia. Sarjana Psikologi Perkembangan Universitas Pajajaran Bandung. masalah narkotika di sekolah. peranan wanita. dari tahun 1986 – 1995. Tulisan di Jurnal Puslitbang Kesos. Permasalahan Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik. menjadi dosen tidak tetap di UMJ dan dosen di Universitas Satyanegara (USNI) Jakarta. perlindungan tenaga kerja wanita di sektor industri. Penelitian yang pernah dilakukan: Penelitian tentang Anak Jalanan. pada tahun 1984. Mengikuti diklat dosen dan peneliti di LD-UI dan berbagai diklat penjenjangan peneliti.

Sejak tahun 1993 bekerja sebagai staf Pusdiklat Pegawai Departemen Sosial RI. Togiaratua Nainggolan.Tamat dari UGM Yogyakarta. Pekerjaan lainnya. Sumatera Utara.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Drs. bertugas sebagai staf di Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial hingga menjadi peneliti fungsional hingga sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. melanjut ke IKIP Padang hingga tamat 1991. hingga tamat tahun 2002. Dalam perjalanan karir sebagai PNS.Si. M. lahir 3 Maret 1966 di Samosir. Puslitbang Kesos 205 . Setelah tamat dari SMPP 25 Payakumbuh tahun 1985. sejak tahun 2002 mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta dalam mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Lintas Budaya. tahun 1999 mengikuti tugas belajar ke Fakultas Psikologi-Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pada tahun 1982 hijrah ke Payakumbuh Sumatra Barat.