EXECUTIVE SUMMARY

Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial

Editor Drs. Charles S. Talimbo, M.Si DR. Harry Hikmat, M.Si Penyusun Drs. Sutaat Dra. Indah Huruswati Drs. Bambang Pudjianto, M.Si Rusmiyati, SE Drs. Achmadi Jayaputra, M.Si Drs. Anwar Sitepu, MP Sugiyanto, S.Pd, M.Si Drs. Nurdin Widodo Dra. Sri Gati Setiti Dra. Alit Kurniasari, MP Drs. Togiaratua Nainggolan, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY
Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial
Hak Cipta Setiap Tulisan pada : masing-masing Penulis Hak Cipta Penerbitan pada : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badiklit Kesos, Departemen Sosial RI. Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126 Design Cover : Pradjwalita Setting & Layout : Sarif Hidayat

All Right Reserved Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Tidak dibenarkan memproduksi ulang setiap bagian artikel, ilustrasi dan isi buku ini dalam bentuk apapun juga, baik secara elektronik, fotokopi, mekanik, rekaman atau cara lain sebelum mendapat izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Executive Summary, Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Kesos / editor, Charles S. Talimbo, Harry Hikmat. iv + 205 hlm. ; 14,5 x 21 cm, (Executive Summary Tahun 2006)

ISBN : 978-979-5379-20-7
Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126

KATA PENGANTAR
Selama tahun 2006 telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa tema yang dinilai mendesak seperti Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasan yang Berbasis Institusi Lokal, Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Keluarga), Evaluasi Program Subsidi Panti, Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Komunitas Peduli Anak, Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Migran maupun Penelitian Diagnostik tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Nunukan, Pulang Pisau, Bone dan Manado. Selain itu, ada penelitian yang merupakan pengembangan salah satu metode untuk menentukan secara efektif data kemiskinan di suatu komunitas, yaitu Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi. Hasilnya telah dicetak dalam bentuk buku. Tetapi untuk memudahkan pembaca, terutama pihak eksekutif yang ingin memanfaatkan sebagai acuan berkaitan dengan penentuan kebijakan, maka kami berusaha menyajikannya dalam bentuk Executive Summary. Sudah barang tentu sajian ini lebih komunikatif. Dan bila pembaca memerlukan yang lebih spesifik dan detail, tidak ada salahnya menelaah buku-buku hasil penelitiannya. Kami percaya, eksekutif masa kini adalah tipe ”research minded” karenanya setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada wangsit, tetapi melalui suatu proses kajian yang matang. Semoga. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Charles S. Talimbo NIP. 170011051
Puslitbang Kesos

i

................. Diagnosa tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah ( Dra.. S...... 43 4......... Sutaat ) ............................ Peta Masalah Sosial di Bone: Potensi.............. Participatory Wealth Ranking................ 99 7......................Si ) ..........Si ) ............................... MP ) ................Minahasa ( Rusmiyati....................................... Problem dan Strategi Penanganannya ( Drs...................... 119 Puslitbang Kesos iii ........ Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kabupaten Nunukan ( Drs............. DAFTAR ISI ............... i iii 1 25 3......................... M................................................ M............. Anwar Sitepu.................................................. Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan) ( Sugiyanto................................ Indah Huruswati ) .... SE ) ....................... 1.. Sebuah Alternatif Teknik Indentifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin ( Drs............................. 65 5..... Achmadi Jayaputra............. Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon ................................ Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan Di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat ( Drs..............Si ) ............. M......Pd......... 2............DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ...................... Bambang Pudjianto... 81 6............

.......... Evaluasi Program Subsidi Panti dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial ( Drs.............................................. M............ Sri Gati Setiti ) ..................................................................... 153 169 181 191 195 199 10... INDEKS . Togiaratua Nainggolan........................... iv Puslitbang Kesos ..................8....... SEKILAS PENYUSUN ....................................... Nurdin Widodo ) ......................................................................... Alit Kurniasari.......Si ) ............................ 129 9. 11.................................... Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah di Indonesia) ( Dra......................................... SEKILAS EDITOR ......... MP ) ......... Gender dan Keluarga Migran di Indonesia ( Drs.................................................. Pengembangan Komunitas Peduli Anak ( Dra....

Penelitian ini mencoba menggambarkan mendiagnosa kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Nunukan. perumahan tidak layak huni. Peneliti Madya pada Puslitbang Kesos. Kabupaten Nunukan. Sutaat. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat sebagai daerah pemekaran baru. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial 1 2 Ditulis dari hasil penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Sebatik Barat. (2) Program-program sektor sosial bagi masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosial budaya. Untuk itu. perbaikan lingkungan dan perumahan. Akses penduduk pada pendidikan yang lebih tinggi masih terbatas. oleh Puslitbang Kesos. tahun 2006. Masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Perwujudan kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan tampak dalam kehidupan komuniti. Hal ini terkait dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. Hasil penelitian ini menunjukkan. berbentuk pranata sosial. Puslitbang Kesos 1 . Pranata sosial dapat dipahami sebagai sistem antar hubungan peran dan norma berkenaan dengan aktivitas yang dianggap penting oleh anggota komuniti. dan memimpin berbagai kegiatan penelitian di lingkungan Puslitbang Kesos. penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) guna memacu kemajuan wilayah dan penduduk diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. terutama sarana pendidikan dan transportasi/ perhubungan dalam pulau dan antar pulau. serta peningkatan fungsi dan peningkatan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial (PSKS) Kata kunci: Masalah Sosial. keterlantaran.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN1 Drs. berpengalaman dalam berbagai kegiatan penelitian. termasuk dalam penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Empat Kabupaten tahun 2005. bahwa program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. terutama belum tersedianya database yang akurat sebagai bahan penyusunan rencana program pembangunan di wilayahnya. dan keluarga rentan. berpendidikan S1 bidang kesejahteraan sosial. Hal ini menjadikan wilayah tersebut jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya. Sutaat 2 ABSTRAK Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah pemekaran memiliki permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. antara lain masalah fakir miskin.

2 Puslitbang Kesos . anak terlantar. mempunyai pembagian peran dan status yang jelas. anak cacat. Nunukan Pendahuluan Hasil penelitian Puslitbang Usaha Kesejahteraan Sosial (Puslitbang UKS.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. yakni bagaimana komuniti tersebut memberikan makna pada gejala yang ada sebagai masalah sosial atau tidak. Perbedaan kebudayaan pada masing-masing komuniti akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. Oleh karena itu. anak nakal. mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya (Warren. dan masih rendahnya taraf hidup masyarakat terutama bila dibandingkan dengan taraf kehidupan warga Malaysia di perbatasan. anak jalanan. Menurut konsep sosial budaya. Cottrell dalam Ndaraha: 1990) Di lingkungan Departemen Sosial. masalah sosial pada masyarakat tertentu belum tentu dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang lainnya (Rudito. sehingga sulit atau jauh dari sentuhan program pembangunan. anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. 2005) menyebutkan bahwa berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang berbatasan dengan Malaysia. individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). masih terdapatnya pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Nunukan yang belum dimanfaatkan atau belum punya nama. masalah sosial hanya dapat diidentifikasi menurut cara pandang komuniti. lanjut usia yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. Dengan demikian. Saat ini terdapat 27 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang telah diidentifikasi Departemen Sosial. wanita rawan sosial ekonomi. Komuniti adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh anggotanya berinteraksi satu sama lain. begitu juga dengan pendefinisian terhadap kesejahteraan dan masalah sosial. antara lain: balita terlantar. lanjut usia terlantar. secara umum kesejahteraan sosial dari masing-masing komuniti akan berbeda. 2003). Perbedaan tindakan dan tingkah laku dalam menanggapi obyek yang sama dapat menimbulkan suatu masalah antara satu komuniti dengan komuniti lainnya. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. antara lain: masih terisolirnya sejumlah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbatasan. dan ini merupakan suatu dampak dari adanya masalah sosial yang terwujud sebagai tindakan kebudayaan.

Guna mewujudkan kesejahteraan sosial. Sistem Sumber Kemasyarakatan. tampaknya mengalami masalah dalam hal penyediaan data (database) yang akurat mengenai permasalahan sosial serta sumberdaya yang ada di wilayahnya. kesenian. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. sehingga pelaksanaan program pembangunan akan tepat sasaran dan tepat guna. penyandang HIV/AIDS. gotong royong. lembaga pelatihan kerja. Oleh karena itu. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. 1991) membagi sistem sumber menjadi tiga kategori. tuna susila. yaitu: Sistem Sumber Informal atau Natural. Daerah pemekaran baru seperti halnya Nunukan. Nunukan penyandang cacat. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. pekerja migran terlantar. bekas narapidana. Berdasarkan berbagai uraian tersebut di atas. tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. keluarga berumah tak layak huni. gelandangan. yaitu rumah sakit. sosial. dan sebagainya. keagamaan. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. korban bencana alam. setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang Puslitbang Kesos 3 . adalah sesuatu yang bermanfaat. Sistem Sumber Formal. korban penyalahgunaan napza. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial sumber kesejahteraan sosial sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan/program yang terarah dan komprehensif. komunitas adat terpencil. lembaga pendidikan. Untuk mempertahankan kehidupannya. 2002).Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Tersedianya data yang akurat dan reliabel akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. permasalahan sosial akan ditangani secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliabel. korban bencana sosial. keluarga bermasalah sosial psikologis. pengemis. politik. keluarga fakir miskin. Allan Pincus dan Anne Minahan (Dwi Heru Sukoco. Didalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. Pengertian sumber menurut Max Siporin.

Hal ini karena 4 Puslitbang Kesos . sehingga program pusat dirasa kurang responsif terhadap kebutuhan lokal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melaksanakan penelitian diagnostik tentang permasalahan sosial di daerah. Sebatik Indonesia pada mulanya terdiri dari dua buah desa induk. Nunukan ada. diskusi. Penelitiaan ini bertujuan untuk memperoleh data kualitatif tentang jenis permasalahan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Informan penelitian ini adalah warga masyarakat dan tokoh masyarakat setempat. lokasi penelitian ini difokuskan di Kecamatan Sebatik Barat sebagai salah satu kecamatan pemekaran yang terletak di daerah perbatasan. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Nunukan. serta upayaupaya penanganan yang pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Nunukan. Deskriptif dimaksud untuk mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat yang merupakan daerah pemekaran baru dan letaknya berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia Timur). Sebagai akibatnya. wawancara. pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. serta aparat pemerintah daerah yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. Keadaan Wilayah Lokasi Penelitian Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Timur yang letaknya paling utara. yakni bagian selatan merupakan wilayah Negara Republik Indonesia dan bagian utara merupakan wilayah Negara Malaysia Timur (Sabah). Dengan berbagai pertimbangan kebutuhan wilayah. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan. dan bahan-bahan dokumen. Sementara itu Pemerintah Pusat belum mempunyai data yang cukup tentang potensi dan sumber serta permasalahan sosial. yaitu Desa Setabu dan Desa Sungai Pancang. Pulau ini terbagi menjadi dua bagian. Sehubungan dengan itu. Perkembangan wilayah Desa Sungai Pancang relatif lebih maju dibandingkan Desa Setabu.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Sungai Pancang mempunyai akses yang lebih mudah dengan negara tetangga (Malaysia). Sementara itu, Desa Setabu yang letaknya di bagian barat menghadap Pulau Nunukan dan Daratan Kalimantan, memiliki infrastruktur transportasi ke Nunukan atau daratan Kalimantan relatif yang kurang memadai. Oleh karena itu, dari segi kemajuan wilayah Desa Setabu menjadi lebih lambat. Kecamatan Sebatik Barat yang berpusat di Desa Setabu terdiri dari empat desa, yakni Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu, dan Desa Aji Kuning (letaknya berbatasan dengan Malaysia Timur). Desa Aji Kuning ini berbatasan dengan Desa Sungai Pancang (Sebatik Timur), dan karena itu desa ini merupakan desa di wilayah Sebatik Barat yang termasuk paling maju. Kecamatan Sebatik Timur yang semula merupakan induk Desa Sungai Pancang terdiri dari empat desa, yakni Desa Tanjung Karang, Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, dan Desa Tanjung Aru. Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Puslitbang Kesos

5

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Kependudukan Penduduk Kecamatan Sebatik Barat berjumlah 10.285 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk Sebatik secara keseluruhan 30.947 jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa 1/3 jumlah penduduk Sebatik berada di Sebatik Barat, dan 2/3 lainnya merupakan penduduk Sebatik Timur. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa Sebatik Timur kondisinya lebih maju dari Sebatik Barat, baik dari segi ekonomi maupun sarana infrastruktur yang relatif lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, penduduk banyak terkonsentrasi di wilayah Timur yang jauh lebih maju. Kondisi seperti tersebut di atas tampak pula pada jumlah penduduk per kelurahan di Sebatik Barat, yakni Kelurahan Aji Kuning dengan jumlah penduduk terbesar (3.687 jiwa). Kondisi ini terkait dengan kemajuan Desa Aji Kuning yang jauh melebihi desa-desa lain di Sebatik Barat. Sejak dari awal penduduk Aji Kuning telah banyak mengadakan hubungan ekonomi perdagangan dengan negara tetangga (Malaysia).
Tabel 1. Penduduk Kecamatan Sebatik Barat
DESA Aji Kuning Setabu Binalawan Liang Bunyu JUMLAH REKAPITULASI HASIL PENDATAAN PENDUDUK TAHUN 2005 JUMLAH KEPALA JUMLAH JIWA RT/DUSUN KELUARGA RT DUSUN L P JML L P JML 17 4 908 51 959 1990 1697 3687 7 442 28 470 1156 1001 2157 6 359 14 373 1013 886 1899 11 530 28 558 1374 1168 2542 41 4 2239 121 2360 5533 4752 10285

Sumber : Monografi Kecamatan Sebatik, 2005.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa banyak penduduk Aji Kuning yang merupakan eks TKI di Malaysia. Bahkan banyak di antara mereka masih mempunyai kerabat yang berada di Malaysia (terutama di Tawao). Beberapa warga mempunyai identitas ganda, yakni warga Indonesia dan warga Malaysia; atau warga negara Malaysia tetapi merupakan penduduk tetap Desa Aji Kuning. Tampaknya memang secara sosial budaya antara warga Aji Kuning dengan Tawao-Malaysia hampir tidak ada batas. Beberapa rumah warga ada yang sebagian berada di wilayah Indonesia dan sebagian lainnya berada di wilayah Malaysia, dan bahkan ada beberapa warga yang mendirikan rumah di atas tanah wilayah Malaysia.

6

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Pranata Kehidupan Masyarakat
1. Pranata Agama/Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Sebatik Barat sebagian besar Islam, sedangkan sebagian lainnya Kristen Katholik dan Protestan. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang ada meliputi bangunan Masjid, langgar, dan Rumah Kebaktian di perumahan penduduk. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Selain menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama, penduduk di Wilayah Kecamatan Sebatik Barat juga masih ada yang mengembangkan aliran kepercayaan Suku Bangsa Tidung. Suku Tidung adalah bagian dari Suku Dayak yang tinggal di Tarakan yang menempati daerah Pulau Sebatik, dan merupakan suku asli. Kepercayaan tersebut berupa pemberian semacam sesajen yang dilakukan oleh perorangan dengan cara mengirim doa melalui pemberian sesajen hewan potong yang dilabuh di tengah laut dan dekat dengan tempat tinggalnya. Acara menjalankan ritual adat/kepercayaan/religi yang dijalankan nenek moyang Suku Dayak. Penduduk yang menjalankan dan masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka, walaupun banyak juga yang menganut Agama Islam dan Khatolik. Namun dalam kepercayaan orang Sebatik masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga sungai dan atau laut.
2. Pranata Keluarga/Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah tidak ada aturan yang mengikat, artinya dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kebebasan untuk menentukan pasangan/pilihan hidup. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Dalam sistem kekerabatan yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai keturunan ketiga. Pada dasarnya, dalam suatu keluarga besar yang masuk dalam satu keluarga batih dan dikatakan masih memiliki ikatan yang kuat,
Puslitbang Kesos

7

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

dapat mempersatukan kelompok mereka yang ditandai dengan adanya hak dan kewajiban antar anggota kerabat. Hak dan kewajiban anggota kerabat tersebut dapat dilihat dalam pola perkawinan, perawatan orang tua dan upacara kematian. • Dalam Pola Perkawinan: sebagian besar penduduk mengikuti aturan Agama Islam, misalnya dilarang oleh penduduk apabila terjadi perkawinan: (1) antara anak laki-laki dan perempuan sesama saudara laki-laki sekandung; dan (2) perkawinan antara bapak dengan anak perempuannya. Tetapi jika terjadi perkawinan sepupu silang, yakni perkawinan antara anak laki-laki antara saudara sekandung laki-laki perempuan boleh dilakukan, karena hal tersebut dianggap bukan saudara sedarah seperti halnya dengan anak saudara laki-laki seayah. • Dalam Pola Perawatan Orang Tua (lanjut usia). Jika salah satu orang tua atau salah satu anggota keluarga sakit maka seluruh anggota keluarga dilibatkan untuk membantu dan menanggung biaya perawatan yang telah dimusyawarahkan secara bersamasama. Akan tetapi untuk perawatan sehari-hari perawatan ditanggung oleh anak yang tinggal serumah, dan nantinya mewarisi tempat tinggal orang tuanya. • Dalam hal kematian, pelaksanaan penguburan baru bisa dilaksanakan setelah anggota keluargganya kumpul terutama dua generasi ke atas dan ke bawah. yakni: anak-anak, saudara kandung, paman, bibi dari bapak maupun ibu. Jika ada peristiwa kematian maka semua warga masyarakat terlibat, baik dalam upacara pemakaman ataupun dalam pesta kendurinya/membaca doa. Untuk keperluan membaca doa dalam kenduri, keperluan untuk selamatan/kenduri setiap kepala keluarga akan memberikan sumbangan sesuai dengan kedekatan hubungan antara kepala keluarga dengan keluarga yang mengalami kematian.
3. Pranata Ekonomi

Keluarga-keluarga pada masyarakat Sebatik Barat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, terutama pangan merupakan tanggung jawab bersama antara suami istri. Kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari lingkungan sekitar dan dapat juga dari

8

Puslitbang Kesos

dan tidak disiapkan kandang dan pakan secara khusus. ternak mereka masih dibiarkan berkeliaran di kebun atau di jalan-jalan desa. Hasil tangkapan ikan dan hasil pertanian umumnya mereka jual ke Malaysia atau di pasar-pasar tradisional yang ada di Puslitbang Kesos 9 . seperti parang. seperti memakai pupuk kimia.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. misalnya untuk Desa Setabu pasar aktif pada hari minggu. Nunukan luar desa. namun hutan tersebut merupakan hutan lindung yang tidak diperkenankan untuk dikerjakan sebagai lahan pertanian penduduk. Pasar pada masing-masing desa hanya aktif satu kali dalam satu minggu. Sedangkan dalam hal peternakan masih bersifat tradisional. Pedagang pasar tersebut sebagian besar berasal dari Nunukan. dengan cara menjual hasil ladang. linggis. Mereka berkeliling ke desa-desa sesuai dengan jadwal pasar pada desa yang bersangkutan. pacul dan kampak. Sebagian dari mereka juga sudah mengenal sedikit model pertanian modern. Sistem pertanian penduduk Sebatik umumnya sudah menetap. sesuai dengan mata pencaharian penduduk. pestisida dan adanya benih unggul. selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut. Jadi untuk mencari nafkah bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang suami. Pasar-pasar ini merupakan pasar keliling yang secara rutin mempunyai jadwal di tiap desa. dan tidak ada lagi sistem pertanian dengan cara ladang berpindah. Walaupun sebagian besar wilayah Kecamatan Sebatik Barat adalah hutan. Perkebunan dan perikanan sudah mulai terarah dengan cara modern yakni dengan cara membuat keramba terapung. dimana hasil dari mata pencaharian tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. dan hasil tangkapan ikan/ nelayan. Pasar yang biasa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian/ tangkapan ikan dan membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari adalah pasar tradisional yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya diperoleh dari warung-warung yang ada di lingkungannya. walupun masih ada juga nelayan tradisional. Kebutuhan sayuran penduduk sehari-hari diperoleh dari penduduk setempat yang berdagang keliling membawa sayuran hasil kebunnya. Namun demikian dari segi peralatan kerja umumnya masih menggunakan peralatan sederhana. istripun juga sangat berperan untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga.

namun demikian hingga kini belum ada upaya untuk ekspolitasi sumber tersebut. di Sebatik pernah dikembangkan tanaman kopi terutama saat permintaan kopi dari negara tetangga cukup besar. tampaknya masyarakat masih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi daripada kesadaran sebagai WNI. Hal ini tampaknya merupakan salah satu ciri masyarakat di daerah perbatasan. infrastruktur untuk jalur transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. hasil coklat dan pisang banyak dijual ke negara tetangga Malaysia (Tawao). di Sebatik sebenarnya terdapat sumber alam yang dapat mendukung kemajuan wilayah. dari segi transportasi dan jarak serta waktu tempuh ke Tawao relatif lebih murah dan mudah dibandingkan ke Nunukan. Setelah permintaan kopi dan harganya anjlok masyarakat mulai beralih pada tanaman coklat. Kedua.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Potensi dan Sumber Alam Berdasarkan informasi tokoh masyarakat setempat. karena umumnya disajikan dengan cara digoreng. 10 Puslitbang Kesos . Jalan penghubung antar kecamatan kondisinya rusak. Untuk masyarakat Jawa. Kebun coklat dan pisang tersebut cukup luas dan memberikan hasil cukup besar bagi masyarakat Sebatik Barat. pertama karena kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan secara turun menurun untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk negara tetangga. karena biaya yang mahal dan belum lancarnya trasportasi umum. Sebelum masyarakat mengembangkan tanaman coklat. adalah dari kebun coklat dan pisang. Nunukan sekitar wilayah Sebatik Barat. yakni sumber minyak bumi. Ketiga. Mereka jarang membawa dan menjual barang dagangannya ke Nunukan. Sumber alam yang sudah diolah saat ini adalah tanah pertanian/perkebunan. Bahkan di antara mereka ada yang pernah tinggal dan punya kerabat yang berada di Malaysia dan mempunyai Identity Card (ID) Malaysia. Menurut masyarakat setempat. Kenyataan yang ada saat ini. pisang sanggar tersebut biasa dikenal sebagai pisang “kepok”. Ada bebarapa hal yang mendorong mereka melakukan hal itu. apalagi pada musim penghujan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Jenis pisang di wilayah ini bagi masyarakat setempat dikenal dengan nama “pisang sanggar” (pisang goreng). Hasil yang diperoleh saat ini dari pengolahan tanah yang merupakan hasil pertanian/perkebunan rakyat.

Pada satu sisi. yakni masalah ketertinggalan. Alasan mereka adalah untuk kemudahan hubungan dengan masyarakat negara tetangga yang dirasakan memberikan banyak keuntungan. Masalah yang terkait dengan rendahnya Puslitbang Kesos 11 . ada ketergantungan masyarakat dengan negara tetangga. tampak dari besarnya populasi keluarga kurang mampu (kecuali miskin). misalnya dalam pemasaran hasil dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga. terutama yang dekat dengan perbatasan mempunyai ID ganda. penduduk Sebatik mendapat imbas kemajuan ekonomi dari penduduk negara tetangga. Hal ini tampak dari informasi yang diperoleh bahwa beberapa penduduk Sebatik. Nunukan Permasalahan Sosial Hasil penelitian ini mengidentifikasi ada tiga besaran permasalahan sosial di Sebatik Barat yang mendorong munculnya berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. Sementara itu. dan sebelah Selatan Wilayah Indonesia (Provinsi Kalimantan Timur). Demikian pula yang terjadi di Sebatik Barat. masalah infrastruktur yang kurang memadai. Masalah Ketertinggalan Sebatik merupakan pulau terluar dan terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu sebelah Utara Wilayah Malaysia (Sabah). baik pembangunan fisik maupun non fisik. akses komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Masalah-masalah kesejahteraan sosial yang biasanya terkait dengan daerah tertinggal antara lain rendahnya kemampuan ekonomi. Hal ini menjadikan Sebatik Barat tertinggal dalam berbagai pembangunan. Masalah-masalah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Kondisi yang demikian menjadikan penduduk Sebatik tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat negara tetangga. Pada sisi lain. dan rendahnya kualitas hidup. Ketergantungan masyarakat pada negara tetangga dapat mengurangi rasa kebangsaan dan nasionalisme. dan masalah potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang belum menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. rendahnya pendidikan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. sehingga sebagian besar penduduk seolah-olah kurang menyatu dan berinteraksi secara intensif dengan penduduk lainnya di wilayah Indonesia. Mereka akan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi daripada memperhatikan kedudukannya sebagai warga negara Indonesia.

Nunukan kemampuan ekonomi tampaknya cukup besar. Namun demikian dapat dikatakan bahwa penduduk miskin Sebatik Barat untuk pemenuhan kebutuhan pangan belum merupakan hal yang serius (belum kritis). Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar Penyandang Cacat Cacat Bekas Sakit Kronis Pengemis Eks Napi Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak layak Huni Kel. keterlantaran. fakir miskin. seperti rumah tidak layak huni. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin Aji Setabu Kuning 14 22 38 8 10 4 8 47 45 57 31 6 13 7 3 3 9 7 58 346 1 2 38 674 Desa Binalawan 19 37 8 7 27 173 Liang Bunyu 2 5 10 58 11 13 5 30 228 Jml 14 62 18 17 121 183 38 20 8 3 23 461 3 1. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. umumnya bertempat di rumah yang layak huni. dan wanita rawan sosial ekonomi. Penjelasan dari kasus dimaksud adalah bila kita lihat pada status rumah atau kepemilikan rumah. Ada beberapa jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang hampir ada di setiap desa. Beberapa kasus keluarga miskin menunjukkan bahwa mereka menempati rumah yang bukan milik sendiri. tetapi miliki kerabat atau warisan dari orangtuanya. Masalah-masalah tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kemiskinan. lanjut usia. misalnya pendidikan keluarga. yaitu keluarga miskin.113 12 Puslitbang Kesos . Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tiap Desa di Kecamatan Sebatik Barat. dan penyediaan rumah yang layak huni. partisipasi iuran warga. Kemiskinan yang mereka alami adalah kekurangmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan lainnya. dan rumah tidak layak huni. penyandang cacat. namun beberapa kasus keluarga miskin di Kecamatan Sebatik Barat. wanita rawa sosial ekonomi. Tabel 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Meskipun tidak semua keluaga miskin berkaitan dengan kondisi rumah.

seperti sarana perhubungan. penyediaan air bersih. Hambatan yang dialami untuk memperoleh pendapatan tinggi dari sektor pertanian. Oleh karena itu. tapi dengan konsekuensi harus menjual tangkapannya kepada mereka. Tatamba Puslitbang Kesos 13 . Sumber laut Sebatik (perikanan) sebenarnya cukup memberikan harapan. atau membiarkan kebun kopinya tidak terurus. yakni satu Puskesmas di Desa Setabu dan satu Puskesmas di Desa Aji Kuning. petani hampir tidak pernah dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. Nunukan Hal yang menguntungkan bagi masyarakat Sebatik adalah kondisi tanah yang relatif subur. sehingga kalah bersaing dengan nelayan dari negara tetangga. komunikasi. sarana pendidikan. terutama kurangnya posisi tawar dengan konsumen di negara tetangga. Bahkan terkesan sulit memperoleh ikan dari pasar lokal. Dampaknya adalah sebagian besar mereka membabat kebun kopi untuk diganti dengan tanaman lainnya. dan kopi. Menurut penduduk Sebatik. Oleh karena itu. Beberapa nelayan memperoleh peralatan dan modal dari penduduk negara tetangga. Prasarana dan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Barat saat ini hanya ada dua puskesmas. penduduk mengalami hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang ada. coklat. selama peneliti ada di lokasi tidak melihat adanya hasil laut yang berlimpah di pasar/warung lokal. Dengan demikian. dengan jumlah dokter masing-masing satu orang. Hal ini merupakan permasalahan sendiri bagi penduduk Sebatik Barat dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat. Masalah Keterbatasan Infrastruktur Sebatik sebagai wilayah yang tergolong daerah tertinggal mempunyai keterbatasan infrastruktur. namun penduduk setempat masih menggunakan perahu tradisional ukuran kecil dan dengan peralatan yang sederhana. menghasilkan komoditi pertanian yang cukup besar seperti pisang. yang dalam bahasa daerah/lokal disebut tatamba. dan sarana kesehatan. banyak penduduk Sebatik Barat yang masih mengandalkan pengobatannya pada bantuan dukun melalui cara-cara tradisional. namun dengan berkurangnya dan bahkan berhentinya permintaan kopi dari negara tetangga menjadikan harga kopi anjlok.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. 2. kasus komoditi kopi yang pernah memberikan penghasilan cukup besar.

tenung yaitu cara penyembuhannya disembur dengan air putih yang sudah diberi doa. 7. Sumber air bersih utama masyarakat saat ini adalah air hujan. Tabel 3. sumber air bersih yang ada meskipun rendah kualitasnya adalah sumur umum dekat sungai yang mulai mengering. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No 1. 4. 3. baik jalan antar kecamatan maupun antar desa sebagian besar berupa jalan darurat (jalan tanah dan pasir batu). Sebagian jalan-jalan di Sebatik terutama pada musim penghujan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. misalnya pengobatannya dengan cara mengunyah pucuk daun jambu dan nangka. Saat tidak ada hujan. Jenis Fasilitas Puskesmas Polindes Posyandu Dokter Perawat/Mantri Bidan Dukun Desa Setabu 1 4 1 5 3 2 Aji Kuning 1 4 1 1 Binalawan 1 3 9 Liang Bunyu 1 4 1 1 7 Jml 2 2 15 2 6 5 18 Kondisi tanah yang berbukit-bukit. penduduk harus mengangkut air dari sumber tersebut bagi kebutuhan rumahtangganya. Sehingga pada musim kemarau penduduk mengalami kekurangan air bersih. jumlah sarana angkutan umum yang ada masih terbatas dan dengan biaya yang cukup mahal. Jalan aspal baru mencapai jarak sekitar 2 km di Desa Setabu (ibukota kecamatan). 5. Beberapa cara tradisional lainnya masih sering dilakukan penduduk. Sarana jalan darat yang ada di Sebatik. Untuk itu. Sementara itu. yakni mobilitas penduduk antar desa/kecamatan sangat terbatas. butuh (kemaluan) tupai. Oleh karena itu. termasuk masalah pengangkutan hasil pertanian/perkebunan penduduk. penduduk Sebatik mengalami permasalahan dalam penyediaan air bersih. 6. Nunukan juga merupakan kebiasaan adat (ritual) pengobatan bagi penduduk yang terkena bisa ular. 2. dan dekat dengan laut menyebabkan kualitas air tanah maupun air pemukaan sangat rendah. lalu diminum. Kondisi seperti itu menjadi permasalahan tersendiri bagi penduduk Sebatik. merebus akar alang-alang. Menurut mereka si sakit sembuh karena izin dari Allah. cabe rawit. sedikit sumber air. 14 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

Sarana Pendidikan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. Oleh karena itu. Kondisi seperti ini menyebabkan banyak penduduk yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah. makin banyak penumpang akan semakin murah biayanya. B Jumlah Desa Setabu 3 1 1 5 Aji Kuning 1 3 1 5 Binalawan 4 1 5 Liang Bunyu 2 1 2 5 Jml 10 11 2 2 25 Saran komunikasi telepon kabel dan telepon umum di wilayah Sebatik Barat hingga saat ini belum tampak kehadiranya.. dan dengan jumlah yang terbatas. Kepemilikannya juga masih terbatas pada penduduk yang tergolong cukup mampu. 1. khususnya dari golongan mampu yang dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Nunukan untuk menciptakan sarana perhubungan yang relatif mudah dijangkau masyarakat dan dengan frekuensi yang cukup memadai. 10. Untuk wilayah Sebatik Barat. Sementara ini. Saat ini sekolah lanjutan atas baru ada di Kecamatan Sebatik Timur. baik karena masalah jarak lokasi maupun kemampuannya yang terbatas. Nunukan Saat ini angkutan laut (perahu motor) ke Nunukan tiap hari umumnya hanya dua trip (berangkat pagi dan pulang siang hari). Untuk ke Nunukan sekali jalan beaya yang harus ditanggung per orang antara Rp. 20. dari segi pendidikan penduduk Sebatik Barat sebagian besar rendah (hanya mencapai tingkat Sekolah Dasar.000.s/d Rp.000. hanya beberapa anak. Jenis Fasilitas Pendidikan TPA Sekolah Dasar SLTP Kejar Paket A. Sarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas. Tabel 4. sekolah lanjutan pertama (SMP) hanya ada dua yakni satu di Desa Setabu dan satu di Desa Aji Kuning. Sekolah lanjutan atas negeri hanya ada di Nunukan. 4.. penduduk banyak menggunakan sarana telepon seluler yang jaringanya masih terbatas. beberapa desa hanya mempunyai sekolah sampai SD. yakni sekolah milik swasta. 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Sehingga bagi anak-anak penduduk desa lainnya harus menempuh jarak cukup jauh bila ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP. Jaringan/siaran televisi dan Puslitbang Kesos 15 . 3. Dengan demikian.tergantung dari banyaknya penumpang.

ekonomis produktif dan 16 Puslitbang Kesos . Bila siaran televisi Indonesia tidak lebih kuat. Desa. • PKK. Kelompok ini merupakan organisasi pemuda pada tingkat lokal. Kelompok pemuda ini pada umumnya memiliki kegiatan edukatif. 3. kelompok ini beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang memiliki anak balita. Lembaga ini mempunyai jangkauan wilayah berjenjang dari tingkat Rukun Tetangga. Kabupaten dan Provinsi. penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana serta peningkatan gizi keluarga. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ini dapat berwujud lembaga sosial maupun individu-individu yang peduli terhadap usaha-usaha kesejahteraan sosial. Namun demikian masuknya jaringan/siaran televisi asing (negara tetangga) tampaknya tidak bisa dihindarkan mengingat letaknya yang cukup dekat. menimbang balita. Tujuan kelompok ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Kecamatan. beranggotakan kaum wanita terutama ibu rumahtangga. dengan usia berkisar antara 19 tahun sampai dengan usaia 40 tahun. Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan balita. Tujuan kelompok ini adalah peningkatan kesejahteraan keluarga melalui berbagai kegiatan seperti arisan. Kelompok ini dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa dari pemerintah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Inisiasi pembentukan Karang Taruna oleh masyarakat. simpan pinjam. gotong royong. Kelompok ini dibentuk atas prakarsa pemerintah. dan usaha ekonomis produktif. Anggotanya sebagian besar remaja dan beberapa orang dewasa. Dusun. Nunukan radio sebagian sudah dapat ditangkap penduduk meskipun masih terbatas. • Karang Taruna/kelompok pemuda. tabungan. Jenis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mencakup kelompok/lembaga sosial dan perorangan dapat dijelaskan seperti berikut: • Perkumpulan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Masalah Pontensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial merupakan hal yang penting dalam menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. dan secara fungsional berada dalam pembinaan Departemen Sosial. maka dapat menghambat masuknya informasi nasional dalam kehidupan masyarakat Sebatik.

Kelompok ini beranggotakan para petani dan memiliki kegiatan mulai dari pengolahan tanah. • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat. bertanam sehingga diperoleh peningkatan hasil pertanian. Namun demikian kondisi saat ini sebagian besar tampaknya kurang aktif. merupakan individu-individu yang berasal dari masyarakat setempat. Kelompok ini memiliki kegiatan latihan rutin dan pentas untuk mengisi acara permintaan atau acaraacara tertentu. Kegiatan kesenian tradisional yang terkenal adalah tarian “Jepin” yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi dengan warga masyarakat setempat menunjukkan bahwa kondisi PSM dan KT di Sebatik Barat Puslitbang Kesos 17 . kelompok maupun bersama dalam wadah lembaga sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungannya. • Pengajian/majlis taklim dibentuk oleh masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi kaum muslim. • Kelompok kesenian terdiri dari sekumpulan warga masyarakat yang mempunyai minat dan bakat dibidang kesenian baik itu kesenian tradisional maupun modern. misalnya pada upacara pernikahan dan peringatan hari-hari besar nasional. Nunukan rekreatif. umumnya beranggotakan sejumlah Kepala Keluarga dari etnis tertentu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan pengajian dan pembinaan mental keagamaan. Kelompok ini dibentuk masyarakat merupakan wadah silaturahmi. Arisan ini digunakan sebagai sarana tukar informasi dan saling memberikan pemikiran tentang permasalahan yang dihadapi anggota. Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat setempat. Mereka bekerja secara mandiri. • Kelompok Tani dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa pemerintah dalam upaya peningkatan hasil pertanian. Pembentukannya oleh inisiatif pemerintah dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial. • Arisan keluarga.

Panti-panti sosial yang ada di Kabupaten Nunukan jumlah maupun jangkauannya masih terbatas. Oleh karena itu. Sehingga banyak penyandang masalah yang tidak memperoleh pelayanan yang memadai. dan minimnya sumber dana maupun informasi yang mereka miliki. Pembinaan terhadap kelompok-kelompok sosial masyarakat di Kabupaten Nunukan dapat dikatakan masih sangat rendah. terutama karena faktor lokasi yang sulit dijangkau dan dukungan lainnya yang masih terbatas. Nunukan saat ini dapat dikatakan kurang aktif lagi. Upaya yang Telah Dilakukan Bila memperhatikan data PMKS seperti telah dikemukakan sebelumnya. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam kegiatan pembinaan. Sementara itu organisasi-organisasi sosial yang ada di Kabupaten Nunukan belum menjangkau wilayah Sebatik.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. adalah upaya pemberdayaan keluarga 18 Puslitbang Kesos . gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. Beberapa upaya pemerintah yang masuk ke Sebatik berdasarkan informasi tokoh-tokoh setempat. Hal ini antara lain disebabkan kondisi SDM yang relatif rendah (sebagian besar pendidikan SD). Organisasi-organisasi sosial lokal saat ini mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat akan selalu terkait dengan upaya peningkatan dari segi ekonomi atau pendapatan penduduk. Apalagi panti-panti rehabilitasi sosial atau lembaga rehabiliasi sosial lainnya bagi penyandang cacat saat ini belum ada di wilayah Kabupaten Nunukan. dapat dikatakan bahwa permasalahan sosial yang ada erat kaitannya dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Hal ini menurut mereka disebabkan kurangnya bantuan dan pembinaan dari pemerintah terhadap sumber-sumber tadi. Saat ini tampaknya PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial lepas dari perhatian Kantor Sosial setempat. Penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kecamatan Sebatik Barat saat ini masih kekurangan sumber yang dapat diakses oleh mereka. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya.

Nunukan miskin berupa bantuan stimulan ekonomi produktif melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan perbaikan rumah penduduk. Masalah kesejahteraan sosial yang cukup menonjol adalah kemiskinan. Kesimpulan dan Saran Program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. arisan. Tampaknya penanggulangan masalah kesejahteraan sosial di Sebatik Barat masih memerlukan campur tangan dari luar. Hal ini antara lain disebabkan kurang/tidak adanya pembinaan secara rutin dari penyelenggara program/kegiatan. PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial tampaknya lepas dari perhatian Puslitbang Kesos 19 .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial setempat. masalah rumah tidak layak huni. Masih minimnya infrastruktur yang ada. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Masalah kesejahteraan sosial umumnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Masalah-masalah ini sebenarnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. terutama sarana air bersih. seperti kelompok kematian. misalnya peranserta LSM/ Orsos dan peran pemerintah pusat maupun daerah. Namun demikian masih sangat terbatas kualitas maupun jangkauannya. Hal ini antara lain karena kurangnya pembinaan dari pemerintah setempat terhadap sumber-sumber tersebut. dan akses pada pendidikan yang lebih tinggi terbatas. dan keterlantaran. pendidikan. Upaya penduduk sendiri untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial dilakukan melalui kelompok-kelompok yang mereka bentuk. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Hingga saat ini belum terlihat peran LSM/Orsos dalam usaha kesejahteraan sosial. menjadikan mobilitas penduduk antar desa/ kecamatan sangat terbatas. menjadikan wilayah ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. wanita rawan sosial ekonomi. dan kelompok-kelompok yang berbasis RT. seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Karang Taruna (KT) saat ini kurang aktif melaksanakan fungsinya. transportasi dan komunikasi. Dari hasil observasi tampaknya KUBE tersebut tidak lagi terlihat kegiatannya.

komunikasi. buku-buku pelajaran dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak terlantar. 20 Puslitbang Kesos . b. perbaikan lingkungan dan perumahan. terutama sarana pendidikan. pemerintah daerah setempat perlu secara berkesinambungan melakukan pembaharuan data permasalahan kesejahteraan sosial. antara lain lembaga pelayanan dalam bentuk panti rehabilitasi sosial. Program-program sektor sosial yang diperlukan adalah upaya pemberdayaan penduduk miskin. Sejalan dengan upaya ini. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. khususnya pendidikan formal diperlukan sarana pendidikan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. Guna memacu kemajuan kehidupan masyarakat Sebatik. Nunukan pemerintah setempat. Untuk itu. Mengingat keterbatasan lembaga pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. dan transportasi/perhubungan dalam pulau dan antar pulau. d. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. Diharapkan dengan mudahnya akses pendidikan dan transportasi/perhubungan bagi penduduk akan mempunyai dampak terhadap peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat. agar dengan demikian pemerintah daerah akan selalu mempunyai data yang akurat dan up to date bagi perencanaan pembangunan. maka perlu dipertimbangkan oleh pusat maupun pemerintah daerah (Instansi Sosial) untuk mendirikan pantipanti rehabilitasi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat. serta peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal agar mampu berperan dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial. diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. c. Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. antara lain: a. maka diperlukan program-program yang terpadu antar instansi (Dinas-Dinas).Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Organisasi-organisasi sosial lokal mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan.

DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Nunukan dengan BPS Kabupaten Nunukan. Profesi Pekerja Sosial. Pembangunan Masyarakat. Taliziduhu. Departemen Sosial. 2005. Nunukan e. Bandung. Bambang dkk. Rineke Cipta. Monografi Kecamatan Sebatik Rudito. 2002. ICSD. Bandung. Jakarta. baik fisik maupun non fisik. Untuk itu. 1990. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. Pusdatin. Puslitbang Kesos 21 . mempunyai posisi strategis terhadap kesatuan wilayah NKRI. STKS Press Kecamatan Sebatik Barat. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. diharapkan tidak lagi menjadi daerah tertinggal dan menjadi salah satu daerah perbatasan yang dapat diandalkan Pemerintah RI. BPS. Dengan demikian.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Dwi Heru Sukoco. 2002. Ndraha. Wilayah Sebatik yang berbatasan langsung dengan negara lain. 2004. Nunukan. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Jakarta. maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu lebih ekstra membangun wilayah yang bersangkutan. 1991. Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2002.

tidak mempunyai pekerjaan tetap. hanya mampu membiayai pendidikan anak pada tingkat SD. katarak dsb. 14. orang dewasa. cacat bawaan atau karena kecelakaan. keluarga kurang mampu memberikan pelayanan. kurang harmonis. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin 461 3 1. 20 8 10. anak usia 6 – 12 tahun. 11. Jenis PMKS Balita Terlantar Kriteria anak usia 0 – 5 tahun. 13. Jumlah 14 2. orangtua tidak mampu secara ekonomi. biasanya terkait dengan masalah-masalah ekonomi. Penyandang Cacat Cacat Bekas sakit Kronis Pengemis 38 8. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. anak usia 15 – 21 tahun. tergantung pada bantuan orang lain. suami isteri sering bertengkar. wanita. sering menggunakan obat-obat terlarang. tidak mampu membiayai pendidikan anak. keluarga dengan penghasilan tidak tetap. dan kurang sehat. tidak punya pekerjaan tetap. Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar 17 121 6. mempunyai tanggungan anak usia sekolah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. banyak yang bolong. pendidikan keluarga paling tinggi SD. Anak Nakal 18 4. Dinding tidak sempurna. mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas seharihari. yatim atau yatim piatu. lantai tidak sempurna/lantai kayu banyak yang rusak. Eks Napi Keluarga Fakir Miskin 3 23 12. usia produktif. hidupnya tergantung dari bantuan orang lain. orang dewasa. mengalami hambatan dalam beraktivitas. tidak produktif lagi. dan mengganggu orang lain/lingkungan. 9. orang dewasa. telah selesai menjalani hukuman karena pelanggaran lalu lintas. laki-laki atau perempuan usia 60 tahun ke atas. kondisi ekonomi kurang mampu. Anak Terlantar 62 3. atap dari daun atau dari seng tapi rusak. sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. berasal dari keluarga kurang mampu. 1. sering mengkonsumsi alkohol. seperti stroke. 183 7. 5. janda. anak usia 6 – 21 tahun. keluarga dengan penghasilan tetap.113 22 Puslitbang Kesos . cacat akibat penyakit. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Rumah Tidak layak Huni Kel. menderita cacat karena bawaan atau kecelakaan. anak-anak atau dewasa. dan kurang atau tidak terpenuhi kebutuhannya secara memadai. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Nunukan Lampiran 1 Jenis PMKS dan Kriteria Menurut Masyarakat Lokal di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. rumah darurat atau kondisinya kurang sempurna. hanya mampu mendapatkan pendidikan sampai SD.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Peta Wilayah Desa Binalawan Puslitbang Kesos 23 . Peta Wilayah Desa Aji Kuning 2. Nunukan Lampiran 2 PETA WILAYAH 1.

Nunukan 3. Peta Wilayah Desa Liang Bunyu 24 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Peta Wilayah Desa Setabu 4.

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa permasalahan sosial yang paling menonjol adalah masalah fakir miskin (kemiskinan).DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH1 Dra. dengan tim penelitian Drs. Endang Kironosasi. Dampak dari pemekaran tersebut. MSc. Upaya penyediaan database tersebut. diungkapkan dalam hasil penelitian ini berdasarkan pandangan masyarakat lokal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka miliki. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten ini dapat terwujud secara tepat sasaran dan tepat guna. Syawie. Penelitian dilakukan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang dipilih berdasarkan keragaman masalah sosial dan potensi yang dimiliki.Si. Kabupaten ini dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. yang dapat dijadikan acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. selain juga anak terlantar. Kriteria permasalahan sosial serta potensi. M. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Kata kunci: Permasalahan Sosial 1 2 Tulisan ini diangkat dari penelitian Diagnosis Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah.Departemen Sosial RI dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau .Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2006 lalu. Peneliti Muda pada Puslitbang Kessos. Moch. Badiklit Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos 25 . Indah Huruswati. Indah Huruswati 2 ABSTRAK Kabupaten Pulang Pisau merupakan sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas yang diresmikan pada tahun 1999. Pemerintah Daerah berupaya menata kembali sistem administrasi wilayahnya. salah satunya adalah dengan menyediakan data dasar (database) yang akurat dan reliable tentang permasalahan sosial serta sumberdaya. serta masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak. dilakukan melalui penelitian kerjasama antara Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial . antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. keluarga rentan dan keluarga berumah tidak layak huni. Dra.

sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya serta dapat berlangsung secara berkesinambungan. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Dampak dari pemekaran tersebut. kewilayahan dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam dan ekonomi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Tentunya berdampak pada perubahan status administrasi pada wilayah-wilayah tersebut. sumber daya sosial. Dalam kaitan dengan penataan kembali wilayah pemekaran ini tentunya memerlukan data dasar (database) yang akurat dan reliable sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program pembangunan di wilayah tersebut. ekonomi dan alam yang bercirikan masyarakat lokal. 32 tahun 2002) tentang Pemerintahan Daerah. masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak serta permasalahan lainnya. Terkait dengan Pemerintah Pusat. Pulang Pisau Pendahuluan Sejak dicanangkannya otonomi daerah yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang No. Padahal segala permasalahan sosial dapat diatasi secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliable. tentunya akan berpengaruh pada program pusat yang dampaknya tidak mampu mengakomodir kebutuhan daerah.22 tahun 1999 (yang diperbaharui menjadi UndangUndang No. Pulang Pisau yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Kapuas menjadi kabupaten baru (pemekaran). terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di Indonesia. Kabupaten Pulang Pisau dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Beberapa wilayah yang semula merupakan kecamatan berubah menjadi kabupaten karena dianggap telah memenuhi persyaratan administrasi. dengan kurangnya data dan peta permasalahan sosial. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. Sementara itu data dasar (database) mengenai permasalahan sosial serta peta sumberdaya yang ada di wilayah yang bersangkutan belum dimiliki oleh Pemerintah Daerah setempat. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial dan sumber kesejahteraan sosial sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan yang 26 Puslitbang Kesos . antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. Akibat lebih lanjut adalah pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat tidak dapat sepenuhnya terjangkau.

ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Program kesejahteraan sosial apa saja yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Pulang Pisau? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya data kualitatif tentang jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait.Kalimantan Tengah melakukan Penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial ini. Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: • • • Apa dan bagaimana jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. sehingga menjadi rentan terhadap masalah Puslitbang Kesos 27 . Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. Pulang Pisau terarah dan komprehensif. (3) diperolehnya gambaran mengenai lokasi dan peta penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Tersedianya data yang akurat dan reliable akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. ekonomi dan alam sebagai data dasar di lokasi penelitian. (2) diperolehnya data kualitatif tentang kriteria dan karakteristik penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi. Berdasarkan permasalahan tersebut. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna. Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial – Departemen Sosial RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . sebagai langkah awal upaya identifikasi sekaligus menemukenali secara lebih dalam permasalahan yang dihadapi daerah. Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. ekonomi dan alam di lokasi penelitian. dan (4) diperolehnya gambaran tentang programprogram penanggulangan permasalahan sosial yang pernah dilaksanakan di lokasi penelitian. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Bagaimana kriteria dan karakteristik penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab.

bisa termasuk intervensi pemerintah. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat (Dove. kelompok. simptom dan hasil pelbagai langkah diagnostik. gotong royong dan sebagainya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. (2) data sekunder yaitu literatur. kesenian. diobservasi. Sedangkan 28 Puslitbang Kesos . sumber daya manusia. Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi pemecahan masalah. kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi. digunakan pendekatan kualitatif yang tujuannya adalah untuk memahami kondisi serta pemahaman sekelompok orang dalam satu kelompok sosial. keagamaan. Diharapkan dengan pendekatan ini diperoleh suatu gambaran bagaimana pelaku dalam komuniti memandang dan memahami gejala sosial yang tampak. Dalam kaitannya dengan faktor eksternal. yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental. Penyakit yang dimaksud di sini adalah permasalahan sosial yang ada di masyarakat. lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. Untuk mengenal pasti permasalahan sosial yang ada. dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. Kesimpulan yang didapat melalui proses ini dikenali sebagai diagnosis. Metode Penelitian Penelitian diagnostik yang dilakukan merupakan proses mengenal pasti penyakit melalui tanda penyakit. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alam. dicatat dan dianalisa. Untuk mempertahankan kehidupannya. Sumber data terdiri dari : (1) data primer yaitu perorangan atau individu. politik. Pulang Pisau kesejahteraan sosial. 1985) Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut. masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi.

berjarak paling jauh sekitar 56 km sampai 75 km dari Ibukota Kabupaten. Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pulang mempunyai wilayah seluas 8. lokasi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau. Sasaran penelitian adalah penduduk yang menetap di daerah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. terutama pada sektor kehutanan dan sektor lain seperti pertanian dan peternakan yang turut menyumbang potensi cukup besar sejak dari tingkat desa.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. dimana komposisi penduduknya berasal dari ragam sukubangsa dan agama. Sebagian kecamatan Maliku sebelum ada pemekaran merupakan bagian dari kecamatan Pandih Batu.300 hektar). khususnya di Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. Kabupaten ini meliputi 8 wilayah kecamatan. dan 1 kelurahan. Karakteristik penduduk di dua kecamatan memiliki sifat heterogen.997 km² atau 899. Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang menjadi lokasi penelitian ini. baik dari jenis kelamin maupun jenis pekerjaan yang ada. diskusi. Kalimantan Tengah. baik yang tergolong sebagai penduduk lokal yang terdiri dari sukubangsa Puslitbang Kesos 29 . 83 desa definitif. Pulang Pisau pengumpulan informasi dilakukan selain melalui pengamatan (observasi).700 ha. penelusuran dokumen dan bahan-bahan visual. sebagian wilayahnya terdiri dari lahan gambut (277. Secara umum wilayah Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang lumayan besar. juga wawancara. dengan waktu tempuh sekitar 4 – 6 jam. jarak dari desa-desa ke ibukota Kecamatan antara 7 km sampai 30 km yang dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten) maupun jalan air (Sungai Kahayan) dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat. Sementara itu. kriteria penduduk sebagai penyandang masalah sosial. penyandang masalah sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial.

Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Mereka lebih memilih pergi merantau ke Kota Palangkaraya untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi penambang emas di Kereng Pangi. Masalah lain yang juga relatif tinggi yaitu masalah rumah tidak layak huni dan wanita rawan sosial-ekonomi serta keluarga rentan. Anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat SLTP dan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA terpaksa harus pergi keluar dari desanya. terutama para penduduk asli. Rumah mereka umumnya dibuat dari kayu atau papan. Namun memperhatikan data yang ada di kecamatan ini tampaknya relatif banyak warga masyarakat yang belum/tidak bekerja. Begitupun dengan pola pemukiman penduduk umumnya relatif sama yaitu mengelompok di tengah lahan wilayah desa. Jawa dan Sunda. Akhirnya keluarga mereka menjadi terlantar. Mata pencaharian warga masyarakat sebagian besar sebagai petani. demikian halnya dengan lahan yang mereka miliki juga menjadi terlantar sehingga membawa akibat pada kerentanan dan kemiskinan. Kondisi ini disebabkan karena sebagian warga desa (laki-laki) yang sudah menikah dalam usia muda. tidak dapat melanjutkan pendidikannya. dan umumnya didirikan di tepi jalan dibuat sejajar atau mengikuti aliran sungai. Pulang Pisau Dayak dan Banjar maupun penduduk pendatang yang terdiri dari sukubangsa Madura. Keluarga-keluarga yang 30 Puslitbang Kesos . Pendidikan warga masyarakat di wilayah ini pada umumnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Berdasarkan urutan permasalahan yang paling tinggi frekwensinya yaitu masalah yang terkait dengan kemiskinan – yaitu masalah keluarga fakir miskin. karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di wilayah ini. dengan atap ada yang menggunakan genteng dan daun kelapa atau rumbia.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. meninggalkan desa dengan alasan mencari nafkah di tempat lain. Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Diagnosis Permasalahan Sosial Berdasarkan hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua Kecamatan ditemukenali sejumlah permasalahan sosial yang ada yaitu 14 permasalahan sosial untuk Kecamatan Pandih Batu dan 19 permasalahan sosial untuk Kecamatan Maliku. yaitu terkonsentrasi di tepi sungai dan cabang-cabangnya.

mereka menjadi rawan secara sosial-ekonomi. Hal ini berdampak juga terhadap anak-anak mereka yang cenderung menjadi terlantar. baik dari segi jumlah dan penguasaan teknologi. baik karena keterbatasan SDM maupun teknologi yang mereka miliki. Misalnya beberapa desa di Kecamatan Pandih Batu yaitu Desa Pantik terdapat lahan tidur seluas 970 ha. Puslitbang Kesos 31 . Keluarga-keluarga tersebut akhirnya menjadi rentan untuk masuk ke dalam kemiskinan dan bagi ibu-ibu. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan tidak dapat secara optimal dikelola dan dimanfaatkan. Potensi konflik antara sukubangsa menjadi semakin rawan karena pernah terjadi peristiwa konflik antara sukubangsa Dayak dan Banjar (melayu) dengan sukubangsa Madura sekitar buan Maret tahun 2001. Karakteristik masyarakat yang bermukim di dua kecamatan ini terdiri dari beragam sukubangsa dan agama. walaupun kondisi ini tetap harus diwaspadai melalui kebijakan atau kegiatan-kegiatan yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara “penduduk lokal” (Dayak dan Banjar) dengan “penduduk pendatang” yang terdiri dari para transmigran umum maupun swakarsa yang terdiri dari Madura. maka mereka akhirnya tidak bisa memperoleh penghasilan. Jawa dan Sunda. bahkan fisik. karena ibunya (orangtua) tidak mempunyai uang untuk membeli makanan bergizi. Namun karena keterbatasan dari kaum perempuan untuk bisa mengolah lahan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. pada satu sisi merupakan potensi. tetapi pada sisi yang lain potensial menimbulkan kerawanan konflik sosial. yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan aksesibilitas antar desa dengan desa lainnya atau antar desa dengan kecamatan. Pulang Pisau ditinggalkan oleh para kepala keluarga terpaksa harus berusaha mencari nafkah sendiri atau ikut dengan orang tua mereka. Sifat multi-etnik (heterogen) yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat. di Desa Pangkoh Sari terdapat lahan tidur seluas 400 ha dan di Desa Talio Muara terdapat lahan tidur seluas 391 ha. Saat ini hubungan sosial diantara mereka yang pernah terlibat konflik relatif sudah berangsur membaik. Kondisi lingkungan turut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa dengan tidak meratanya distribusi penduduk antar desa di dua Kecamatan. Anak-anak menjadi berhenti sekolah pada usia wajib belajar 9 tahun dan mereka tidak mendapatkan makanan bergizi. Lahan tersebut belum tergarap sebagai akibat keterbatasan SDM. karena orang tua tidak mampu memberikan kebutuhan dasar mereka.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Kondisi geografis dan alam yang demikian belum dilengkapi dengan sarana-prasarana transportasi yang memadai. Keterbatasan sarana-prasarana transportasi menyebabkan harga kebutuhan pokok sehari-hari relatif tinggi. misalnya untuk Kecamatan Pandih Batu tersedia satu unit Puskesmas yang tidak dilengkapi Puskesmas Pembantu di tingkat desa. Pulang Pisau Sementara itu bila melihat dukungan masyarakat terhadap program pembangunan seharusnya juga melihat kesiapan mereka dalam hal kemampuan mengelola dan memanfaatkannya. maka mereka cenderung memanfaatkan infrastruktur fisik yang ada untuk memudahkan mereka pergi mencari nafkah ke luar daerahnya. diperlukan banyak program dan kegiatan yang dapat mengakomodasi berbagai keragaman kepentingan. sementara penghasilan rumah tangga relatif rendah. yaitu sekolah. Aksesibilitas masyarakat dalam beraktivitas. sehingga diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat. Tenaga dokter pun hanya satu dengan 15 tenaga medis lainnya (perawat dan bidan). Pembangunan infrastruktur fisik perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur sosial yang baik. Program dan kegiatan yang dikembangkan melalui pemanfaatan potensi keswadayaan masyarakat (gotong-royong) menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan. Dengan demikian. sehingga melalui suatu proses tertentu keragaman karakteristik penduduk dapat saling bersinergi untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera. Tanpa itu. Tampaknya dengan melihat kondisi yang ada. Sementara alat perhubungan (transportasi) antar desa maupun desa ke kecamatan relatif sulit dan mahal. Membangun kapasitas salah satunya adalah melalui pendidikan formal. Masalah keterbatasan juga terjadi pada sarana pelayanan kesehatan. Hal ini terutama menjadi kendala terhadap aksesibilitas antar desa maupun antara desa ke ibukota kecamatan. Adanya tanah pertanian yang tidak digarap dan kegagalan upaya masyarakat memanfaatkan lahan tidur merupakan akibat pembangunan infrastruktur 32 Puslitbang Kesos . baik aktivitas sosial maupun ekonomi masih menjadi kendala. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak biasanya terkendala oleh faktor kemiskinan yang menyebabkan anak menjadi putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Melalui potensi keswadayaan masyarakat itu sendiri di samping strategis juga memiliki nilai pemberdayaan dalam rangka proses memandirikan masyarakat untuk membantu dirinya sendiri. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya menjadi tidak optimal.

baik dari aspek kebijakan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. yaitu program bantuan untuk anak terlantar. maka program bantuan yang ada menjadi kurang efektif. Penyandang permasalahan sosial seperti fakir miskin yang cacat karena penyakit kronis (diabetes) dan memiliki beberapa anak yang tidak terawat karena masalah keterbatasan ekonomi seharusnya memperoleh program bantuan sebagai fakir miskin. Apapun alasannya. maka dana BLT yang diperolehnya dan seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa digunakan untuk berobat. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan alasan bahwa alokasi bantuan kurang sesuai dengan jumlah keluarga miskin atau fakir miskin yang ada. penyandang cacat akibat penyakit kronis serta program bantuan bagi anaknya. Dalam hal ini sudah tentu pihak Pemerintah berperan penting untuk memfasilitasi. walaupun sebagian besar ternak sapi kini sudah mati akibat terkena wabah penyakit. wanita rawan sosial. Upaya meningkatkan kesejahteraan sosial diperlukan suatu perencanaan sosial yang baik. Askeskin atau pun BLT-BBM. Seperti penerima BLTBBM karena tidak memperoleh Askeskin. keluarga rentan. Pembinaan dan pelatihan dilakukan pula kepada beberapa jenis penyandang masalah sosial untuk meningkatkan keterampilan (anyaman) dan bantuan lainnya berbentuk bantuan kursi roda bagi penyandang cacat dan bantuan ternak sapi kepada lansia terlantar. Dinas Sosial Puslitbang Kesos 33 . remaja nakal dan lahan tidur. keluarga miskin atau fakir miskin tidak secara merata memperoleh bantuan Raskin. Dinas Sosial dan Dinas terkait lainnya telah melakukan upaya penanganan permasalahan sosial melalui pendataan terhadap rumah tak layak huni. Penerima Raskin yang seharusnya bisa menikmati beras enak dengan harga murah terpaksa harus menjual berasnya itu ke pasar atau ke tetangga hanya untuk membiayai SPP anaknya yang masih sekolah tetapi tidak memperoleh beasiswa berupa dana Bantuan Khusus Murid (BKM) atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Mencermati pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan upaya penanganan permasalahan sosial yang ada menunjukkan bahwa sasaran program kurang tepat. Pulang Pisau sosial-ekonomi belum dilakukan sesuai harapan masyarakat. permodalan maupun aspek teknologi tepat guna. regulasi. Perencanaan akan berjalan baik bila dilengkapi dan didasari data yang akurat. Seharusnya setiap keluarga miskin/fakir miskin memperoleh beragam program bantuan. Di Kecamatan Pandih Batu.

Keluarga Rentan dan sebagainya). khususnya yang berada di Desa Kantan Muara berjumlah sekitar 96 unit dan di Desa Pangkoh Sari bahkan baru dalam proses pendataan. Permasalahan sosial yang belum ditangani dengan upaya-upaya tertentu adalah masalah rumah tak layak huni. Pulang Pisau melakukan program bantuan untuk Komunitas Adat Terpencil yang ada di Desa Talio melalui program pemberantasan buta aksara.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Dinas Kesehatan juga membantu memberikan pelayanan kesehatan melalui kegiatan Posling dan Posyandu kepada anak-anak terlantar. Anak Balita Terlantar. penanganan lahan tidur sudah dilakukan melalui musyawarah desa maupun sosialisasi. tampaknya dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua kecamatan masih terlihat perbedaan dalam menentukan usia anak dan remaja. Penyandang Cacat. Remaja Nakal. Anak Yatim/Piatu. Anak Cacat. Berkaitan dengan penggunaan kriteria untuk menggolongkan jenis penyandang masalah sosial (Anak Terlantar. termasuk permasalahan sosial bagi penyandang cacat akibat penyakit kronis. Wanita Rawan Sosial. akan tetapi pelaksanaannya masih terkendala oleh kekurangan modal dan kurang kompaknya warga masyarakat. penajaman kriteria menjadi sangat penting. Fakir Miskin. 34 Puslitbang Kesos . Lansia Terlantar. Demikian pula keluarga rentan yang sampai saat ini masih dalam proses pendataan. Sementara itu. Di samping perbedaan kriteria.

Banyak anak/tanggungan yang belum bekerja.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 2. 1. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. Penghasilan kecil. Status janda ditinggal mati suami atau status belum menikah. Ukuran bangunan rumah relatif kecil. Wanita Rawan Sosial 4. 4. Lansia Terlantar Puslitbang Kesos 35 . 1. Kepadatan hunian yang cukup tinggi (rumah ukuran 4 x 4 m dihuni lebih dari 5 orang). tidak memiliki jendela. Pulang Pisau Tabel 1. 3. 2. Penghasilan kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tingkat produktifitas KK rendah. baik dengan orangtua/mertua/ kerabatan lainnya. 5. 2. Hidup sendiri atau bersama kerabat/non kerabat. 2. 5. 3. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamatan Pandih Batu No. Bangunan rumah tidak dilengkapi fasilitas MCK. ukuran rumah 4 x 4 m dengan anggota keluarga lebih dari 5 orang. Penghasilan kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. baik dengan orangtua/mertua/ kerabat lainnya. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 1. 3. tetapi kurang diperhatikan/perawatan dari sanakkeluarganya. lantainya masih beralaskan tanah. Bahan atap dari daun. dan lain-lain). bahkan tidak ada sama sekali. 5. sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. 4. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan buruk. Usia di atas 61 tahun. baik karena alasan ekonomi maupun alasan non-ekonomi. Kondisi rumah / fisik bangunannya tidak layak ditempati (seperti bangunannya bocor. yaitu antara 4 x 4 m atau 4 x 6 meter dan umumnya tidak memiliki penyekat ruangan. Rumah Tidak Layak Huni 3. JENIS PMKS Fakir Miskin KRITERIA 1. 4. 2. dinding dari seng atau kayu rapuh dengan lantai tanah atau papan (jenis rumah panggung). 1. Pengangguran atau tidak ada pekerjaan/penghasilan sama sekali. Usia antara 16 tahun sampai 60 tahun. 3. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut.

2. 10. Kurang perawatan/perhatian orangtua. 2. 4. Usia 5 – 12 tahun. Adanya kelainan fisik/mental akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir (bisu-tuli. Lahan tidak digarap pemilik lebih dari 15 tahun. sehingga menghambat perekonomian/produktivitas pertanian. 6. 3. 2. 4. 2. Penyandang Cacat Fisik/ Mental akibat Penyakit Kronis Anak Terlantar 11. 2. Usia antara 5 tahun sampai 16 tahun. Kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam satu kesatuan fisik dan sosial yang relatif kecil. 3. 2. Orangtua tergolong kurang mampu secara ekonomi. Pulang Pisau 5. Usia 5 – 12 tahun dan ada pula yang menetapkan 5 – 18 tahun. Memiliki kelainan fisik dan mental. 3. Komunitas Adat Terpencil (KAT) 13. Berasal dari keluarga tidak mampu. 1. Kurang perawatan orangtua karena kurang mampu secara ekonomi. Keluarga Rentan 7. Mantan penderita penyakit kronis yang dinyatakan secara medis telah sembuh. 1. Anak Yatim Piatu 8. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau paspasan untuk memenuhi kebutuhan seharihari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan. 3. Anak Balita Terlantar Usia 0 – 4 tahun. Lokasi kesatuan fisik dan sosial yang terpencil. Kurang gizi dan kondisi sering sakit. 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan 1. Keluarga muda yang baru menikah sampai 5 tahun dan kurang serasi (ada di Desa Kantan Muara). Fungsi jasmani dan sosial terganggu. Ditinggal orangtua/satu atau kedua orangtua meninggal. khususnya ada di Desa Pantik 1. kaki pincang. 4. Masyarakatnya masih amat terikat dengan sumberdaya alam dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Penyandang Cacat Fisik/ Mental 9. Remaja Nakal 14. 1. 2. Memiliki kelainan fisik atau mental saja 1. keterbelakangan mental). 2. Perilaku mengganggu lingkungan atau membuat resah lingkungan. 3. Lahan ditinggal pemilik tanpa ada yang mengurus. Memiliki cacat fisik/mental akibat penyakitnya itu 1. 3. 3. Kurang pergaulan dan komunikasi 1. Keterbelakangan ekonomi. pendidikan dan kesehatan. 2. Kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Lahan tidur 36 Puslitbang Kesos . Usia di atas 18 tahun 1. Usia 13 – 1 6 tahun. Anak Cacat 12. 3. Usia nikah sudah 10 tahun dan masih menumpang orangtua/mertua (ada di Desa Gadabung). 1.

transportasi hanya dari sungai. 1. Sudah menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar. Orang yang selesai menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat (stigma sama tetapi perlakuan berbeda terhadap pelaku perampokan dan menabrak orang sampai meninggal karena tidak sengaja). dan pendidikan (jumlahnya paling besar). Kelompok orang yang tinggal di daerah secara fisik dan mental tertekan oleh proses alam dan sosial. Keluarga Rentan Puslitbang Kesos 37 . Keluarga Berumah Tidak Layak Komunitas Adat Terpencil 17. 12. laki-laki/ perempuan). penghasilan tidak mencukupi. Rumah ukuran kurang dari 4 x 4 m. 5. 18. fisik tidak normal. Pulang Pisau Tabel 2. Merantau. 11. Kelompok orang yang jauh dari keramaian. kesehatan. Masyarakat yang Tinggal di daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar 19. baik barang maupun jasa. 60 tahun ke atas. 14 – 18 tahun. termasuk untuk kebutuhan pangan. 16 – 60 tahun. 9. pendatang yang mencari kerja di suatu tempat tidak memperoleh yang diharapkan dan menjadi masalah di tempat tersebut. 16 – 60 tahun. atap bocor. 3. mental tidak normal. disakiti secara fisik dan mental. tempat tinggal. 14 – 18 tahun. Mempunyai pekerjaan tapi tidak tetap. Keluarga Fakir Miskin 15. tidak terlalu diperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan dasar oleh orang tua/keluarga luas. 0 – 13 tahun. perilaku mengganggu dan dipermasalahkan. 7. kurang perawatan dari orang tua/keluarga luas (laki-laki / perempuan) 5 – 13 tahun. kebiasaan). belum menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar baik jasmani ataupun rohani. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamata Maliku No. Hubungan sex dengan lawan jenis berulang-ulang tanpa menikah dan tidak mengharapkan imbalan. 10. Keluarga yang banyak masalah (sosial. sering begadang. dinding dari jabuk (papan lapuk). Individu sejak lahir mengalami kelainan fisik dan mental serta karena penyakit kronik. Remaja Laki-laki Nakal Remaja Perempuan Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Kekerasan Penyandang Cacat Tuna Susila 13. Bekas Narapidana 14. lantai tanah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. dirampas hak-haknya (tergantung lokal). perilaku mengganggu kebiasaan umum (tetapi tidak masalah karena masih anak-anak. pakaian. kebiasaan tidak berbeda dengan orang dari lokasi lain. terganggu dalam aktifitasnya. 8. 16. 5 – 13 tahun. JENIS PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal KRITERIA 0 – 4 tahun. ekonomi. 4. 2. 6.

Hambatan ini menyebabkan relatif banyak lahan (lahan tidur) yang tidak dapat diolah oleh masyarakat (petani). Melihat kondisi permasalahan tersebut. mengingat bahwa lokasi ini merupakan lokasi transmigrasi. Permasalahan lain adalah keterbatasan sarana pendidikan dan transportasi yang dimiliki daerah. Sementara kondisi ekonomi keluarga menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Program bantuan bagi keluarga miskin yang tidak seluruhnya mendapat bantuan dan yang sifatnya hanya sesaat merupakan program yang klise tetapi terus berlangsung. rumah tidak layak huni serta Wanita Rawan Sosial Ekonomi. transportasi ini relatif mahal khususnya bagi warga masyarakat yang akan menjangkau wilayah lain maupun untuk memasarkan hasil pertanian dan perkebunan mereka (dalam bidang pertanian). Kemiskinan ini antara lain juga sebagai dampak dari gagalnya proyek lahan gambut (sejuta hektar lahan gambut). sarana transportasi dan hambatan dalam upaya pengolahan lahan. belum diupayakan penanganannya melalui program pemberdayaan secara maksimal dan berkesinambungan. Hampir di seluruh desa masalah kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh warga masyarakat. Pulang Pisau Kesimpulan dan Saran Masalah yang menjadi prioritas mendapat perhatian adalah masalah fakir miskin dan keluarga miskin. Masalah kemiskinan yang merupakan masalah terbesar di wilayah ini. Hambatan tersebut antara lain terkait dengan infrastruktur. sehingga masyarakat harus menjangkaunya keluar desa atau kecamatan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Kondisi kemiskinan terkait dengan keterbatasan atau hambatanhambatan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Prasarana jalan ini dianggap penting karena dapat memudahkan pemasaran hasil pertanian yang sangat potensial bagi masyarakat setempat. yang paling menonjol adalah terkait dengan kemiskinan. Hal ini tentunya memerlukan komitmen dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama baik antara pemerintah dan masyarakat serta melakukan program pemberdayaan secara berkesinambungan. Sementara untuk saat ini. Permasalahan lain yang ada. Demikian pula halnya dengan akses untuk mendapatkan 38 Puslitbang Kesos . berkaitan dengan infrastruktur jalan. sarana transportasi yang utama di wilayah ini adalah sungai.

Keterbatasan dalam hal penyediaan sarana pengolah lahan dan bibit tanaman merupakan salah satu hambatan dimana lahan yang luas akhirnya hanya menjadi lahan tidur. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar Dinas-Dinas Provinsi maupun Kabupaten. Pulang Pisau pelayanan kesehatan. dalam upaya mengatasi kemiskinan yang dihadapi. Kerjasama dalam bentuk tolong menolong atau gotong royong serta semangat untuk mengolah lahan secara maksimal merupakan pranata yang dapat dijadikan sumberdaya sosial dari warga masyarakat di wilayah ini untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. diajukan saran-saran sebagai berikut: 1. Sumberdaya alam yang potensial berupa lahan yang luas dan sumberdaya sosial yang dimiliki warga masyarakat (keterampilan dalam bidang pertanian dan beternak serta masih adanya rasa kebersamaan/tolong menolong) bisa merupakan modal utama dalam membangun masyarakat setempat. Prasarana jalan dan saluran irigasi 2. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Mengingat lahan di wilayah ini dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman jika saja ada kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga masyarakat. Sementara pada sisi lain. Peningkatan kesejahteraan ini tampaknya tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat namun masih diperlukan peran Pemerintah Daerah setempat. guna membangun wilayah ini secara ber-kesinambungan. karena mereka merasa sebagai orang perantauan (transmigran). Lahan kosong yang dimiliki oleh sebagian warga. Dengan kata lain. bisa menjadi sumberdaya alam yang potensial jika diolah dengan baik. Dinas Teknis seperti Pekerjaan Umum. saluran irigasi dan penyediaan perumahan sosial bagi warga masyarakat miskin. merupakan masalah lain yang dihadapi oleh warga masyarakat karena sarana kesehatan (Puskesmas) hanya ada di Kecamatan dan Rumah Sakit Umum di provinsi. sumberdaya yang masih dimiliki adalah adanya rasa kebersamaan di antara warga masyarakat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Puslitbang Kesos 39 . Perumahan dan Permukiman membangun prasarana jalan. meskipun memiliki keterbatasan modal usaha namun masyarakat masih memiliki modal sosial berupa rasa kebersamaan atau tolong menolong dan semangat membangun atau mengembangkan lahan untuk pertanian dan perkebunan.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 5. perlu meningkatkan kesejahteraan melalui program perlindungan dan asuransi sosial bagi keluarga miskin. Program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa diperlukan secara bersama-sama dan berkesinambungan. 3. Peternakan. Dinas Kesehatan diperlukan berkaitan dengan penyediaan air bersih. 6. Pulang Pisau sangat penting dan diperlukan oleh wilayah ini untuk membangun ekonomi masyarakat. Masyarakat desa memiliki kemampuan yang potensial dalam hal pertanian dan peternakan. Kehutanan. dapat berperan melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama dan berkesinambungan. tidak sebagian-sebagian dan sesaat saja. Selain itu. Berkaitan dengan hal tersebut maka Dinas Pertanian. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak. Anak Terlantar. Keluarga Rentan. mengingat lahan yang digarap di wilayah ini berbeda dengan lahan di Jawa. Misalnya program Puslitbang Kesos 4. Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sangat diperlukan untuk meluncurkan program mereka ke wilayah ini. Perkebunan. dan Lanjut Usia Terlantar. Direktorat Lanjut Usia. sehingga pemberdayaan dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat desa. perlu dilakukan sosialisasi pengolahan tanah yang berkesinambungan di tingkat daerah. Hal ini sangat diperlukan mengingat hasil diagnosis permasalahan sosial di wilayah ini menunjukkan permasalahan sosial yang menonjol adalah masalah Kemiskinan (keluarga fakir miskin). Mereka siap untuk memanfaatkan sumberdaya alam (lahan) yang ada namun mereka sangat memerlukan stimulan berupa peralatan pengolah lahan dan penyediaan bibit padi. Dinas Koperasi dan UKM diperlukan sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi kredit usaha kecil bagi para petani khususnya terkait dengan keterbatasan modal usaha mereka dalam mengolah lahan pertanian atau mengembangkan usaha peternakan mereka. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Direktorat Pemberdayaan Keluarga. Penyandang Cacat (termasuk Anak Cacat). Dinas Sosial melalui Direktorat Fakir Miskin. Hal ini seharusnya didukung dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah ini. palawija serta karet. Rumah tidak Layak Huni. dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat. 40 . Demikian pula halnya dengan Dinas Sosial.

Bila yang terjadi hal demikian. Pulang Pisau 7. Dove. 2006. dianggap sangat penting. maka orientasi masa depan anak-anak akan cenderung memilih pergi ke kota. karena anak-anak perlu banyak diberi pengetahuan tentang daerahnya untuk membangun desa mereka. Riwut. pemberdayaan keluarga miskin tidak disarankan untuk memberikan bantuan tunai berupa uang namun diberikan dalam bentuk barang seperti traktor. Program bantuan atau pemberdayaan bagi keluarga miskin sebaiknya diberikan untuk seluruh keluarga yang bersangkutan. M. 1985 Peranan Kebudayaan Tradisional di Indonesia dalam Modernisasi.R. Palangkaraya. 2003 Maneser Panatau Tatu Hiang. DAFTAR PUSTAKA BPS. Bukan pengetahuan perkotaan atau pengetahuan tingkat nasional yang diberikan. (ed). Puslitbang Kesos 41 . tetapi harus lebih bersifat kesinambungan. Merantau menjadi pilihan pemuda karena mereka tidak lagi mempunyai pengetahuan kedaerahan. baik bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan bantuan beasiswa sekolah (BOS) serta asuransi kesehatan bagi keluarga yang bersangkutan maupun jaminan sosial bagi keluarga tersebut. Pulang Pisau dalam Angka tahun 2005. Tjilik. Pusaka Lima. Jakarta. dimana alat tersebut dapat dikelola secara bersamasama oleh seluruh warga masyarakat. Kerjasama BPS dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pulang Pisau. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau. Yayasan Obor Indonesia. Sosialisasi pendidikan kedaerahan bagi anak-anak di tingkat desa. 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). Bantuan ini tidak berhenti sesaat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab.

.

pranata kesehatan. dan alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam. serta pranata jaringan kerja. PROBLEM DAN STRATEGI PENANGANANNYA1 Drs.Si. Di sisi lain. M. pranata sosial. yaitu agar digunakan strategi yang berprinsip pada partisipasi masyarakat dengan bersinergi pada peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber lokal. bahwa di wilayah lokasi penelitian telah memiliki potensi sumber kessos berupa. M. pedoman FGD. sosial.Si. Masalah Sosial 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota Tim : Konsultan Drs. penting untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut. Drs. Analisis Kebutuhan Bidang Program Puslitbang Kesos dan Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. namun sulit untuk mengakses peluang dan sumber daya melalui jaringan-jaringan yang ada (mainstream). Akibatnya. Potensi dan Sumber Daya. Bambang Pudjianto. Kasub Bid. Dalam konteks penelitian ini banyak warga masyarakat yang memiliki pertalian-pertalian sosial yang kuat. Namun dengan berbagai potansi ekonomi. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 43 . Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah yang baru dimekarkan adalah masalah infrastruktur dan pembangunan ekonomi. dan peta wilayah Hasil penelitian dapat diketahui. Bambang Pudjianto. Suyanto. utamanya bagi warga masyarakat menengah-bawah. Anggota: Dra. Indah Huruswati. pranata pendidikan. pertalian-pertalian sosial yang ada di tingkat lokal tidak secara langsung mampu memberikan manfaat ekonomis (tingkat kesejahteraan yang lebih baik). Karena itu. Ketua Tim : Drs.PETA MASALAH SOSIAL DI BONE: POTENSI.Kom Bambang Pudjianto. Kata kunci: Pranata Sosial. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. Namun kedua hal tersebut sangat terkait dengan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat setempat. DR Bambang Rudito. Drs. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. pada praktiknya jaringan sosial tidaklah begitu saja menciptakan modal fisik dan modal finansial. M.Si 2 ABSTRAK Pemerintah daerah pada umumnya lebih mengutamakan pembangunan fisik dan ekonomi di wilayahnya daripada pembangunan kesejahteraan sosial. Endang Kironosasi.Sutaat. M. penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa jenis permasalahan sosial yang bermuara pada masalah kemiskinan. Sekretariat: Dini Khairunnisa. Rondang Siahaan. dan kultural yang dimilikinya. Dra. S.

5 Hasil yang menonjol dari perkebunan adalah tebu.000 ton. selalu surplus. WWW. terutama padi. ubi kayu. kelapa. Hampir setiap kecamatan menjadi penghasil padi. handal dan produktif.2 persen penduduk Bone berusia 15 tahun ke atas bekerja dan hidup dari sektor pertanian. Awangpone. 3 4 5 lihat profil Bone yang dirilis dalam situs resmi Kabupaten Bone. dan Cina.906 ton) dan kedelai (8. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2003/2004. Barebbo.go. Pada masa itu.Peta Masalah Sosial di Bone Pendahuluan Potret Kesejahteraan di Tengah Kelimpahan Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Produksi 84. Bahkan tahun 2002 produksi kacang tanah (13.Bone. sebesar 97.3 Cermin kemasyhuran warga Bone dan suku Bugis khususnya dibidang pertanian masih terlihat sampai sekarang. Etos kerja yang tinggi dan sistem pertanian yang baik membuat Bone di kenal sebagai lumbung padi. dan cengkeh.159 hektar perkebunan rakyat ikut memperkuat peran sektor pertanian. Bengo.535 ton padi. Dua Boccoe. jambu mete. kacang hijau. Tonra. pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroeri Bontoala. Tahun 2002 Bone menghasilkan 517. masyarakat Bone yang didominasi oleh suku Bugis tersohor bukan hanya sebagai pelaut dan pedagang yang tangguh. 44 Puslitbang Kesos . Salomekko. 1989:9). kacang tanah dan kedelai juga berlimpah. 2006. Dari jumlah itu. menurut estimasi Dinas Pertanian Kabupaten Bone. Bahkan bukan hanya di Sulawesi Selatan.760 ton) merupakan produksi tertinggi di Sulsel.id Lihat “Kabupaten Bone dalam Angka tahun 2003” diterbitkan BPS Kabupaten Bone Tahun 2004. Sedangkan tahun 2003. Sentra penghasil padi berada di Kecamatan Kahu. Tanah yang digarap para petani tidak hanya menghasilkan padi. pertengahan abad ke-17 (Abddurazak dkk. Ajangale. kakao. melainkan juga petani yang ulet. Sibulue.4 Produksi tanaman bahan makanan. Kerajaan Bone yang didirikan oleh Manurung Rimatajang pada tahun 1330. melainkan juga di kawasan timur Indonesia.4 persen adalah warga suku Bugis. Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. kemiri. Data sensus penduduk tahun 2003 menunjukkan bahwa 72. meningkat mendekati 560. Produksi jagung.

1%.Peta Masalah Sosial di Bone Tebu merupakan bahan baku gula Pabrik Gula Bone dan Pabrik Gula Camming di Kabupaten Bone.052 ha lahan perkebunan.7 dan 66.atau lihat juga Laporan BPS-Bappenas-UNDP tentang “The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia” tahun 2004 Ibid. ‘Hanya’ 11.6 Pertanian telah menjadi tiang utama kegiatan ekonomi Bone. Angka itu lebih kecil dibanding tahun 1999 dan 2000 yang mencapai 67. dan 43.2 trilyun. Segelintir spekulan dan tengkulak yang menguasai jalur perdagangan yang justru selama ini meraup untung besar. Yakni ditunjukkan dengan angka partisipasi bidang pendidikan yaitu hanya 60. Yang merupakan 65 persen total kegiatan daerah. mencapai 27%.7 Meskipun Bone menjadi daerah sentra penghasil bahan makanan. Akibatnya taraf hidup masyarakat Bone terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan berproduksi yang mereka miliki. Sementara itu life expectation juga rendah.559 km persegi luas Kabupaten Bone. dengan balita penderita gizi buruk yang cukup tinggi. Data BPS tahun 2002 menyebutkan. Ibid Puslitbang Kesos 45 . Dominannya sektor pertanian di Bone juga tercermin dari luas wilayah Kabupaten Bone yang sebagian besar merupakan lahan persawahan dan tegalan. 120. Tanaman bahan makanan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. para petani yang notabene menjadi aktor utama produksi dan merupakan mayoritas penduduk Bone justru tidak bisa menikmati keuntungan yang memadai.524 ha lahan tegalan/ladang. Partispasi jender dalam ekonomi juga masih sangat terbatas. Tidak sulit untuk mendapatkan petani Bone yang terlilit hutang para tengkulak. dimana wanita bekerja yang berpendapatan hanya 28.073 ha merupakan hutan.7% (yang seharusnya di atas 80-90%). 88. Survey ini menyimpulkan bahwa Human Development Index (HDI) warga Bone tergolong rendah. dalam mata rantai perdagangan hasil pertanian.3 persen.449 ha merupakan lahan persawahan. dibawah 65 tahun. dari 4.8 6 7 8 Laporan Litbang Kompas. Tahun 2002 nilainya mencapai Rp 2. Rendahnya taraf hidup masyarakat Bone terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh BPS-UNDP pada tahun 2004. 22/10/2002.148 ha lahan untuk tambak/empang dan 145.

ekonomi dan alam di Kabupaten Bone memberi solusi atas permasalahan penyandang masalah sosial yang timbul akibat timpangnya strategi pembangunan dengan penguatan sumber daya lokal selama ini. Pada tahun 1997 misalnya.Peta Masalah Sosial di Bone Data-data tersebut di atas jelas sangat memprihatinkan (terlebih pada kasus bayi penderita gizi buruk).2 persen pendapatan daerah. Artinya. kasus pada sektor pertanian tidak mustahil berulang pada sektor perikanan dan sektor perekonomian lainnya. Karena itu.7 persen. bagaimanakah gambaran tentang potensi dan sumberdaya sosial. Hal ini ditunjang oleh letak geografisnya. jangan terkaget jika tanpa upaya dan strategi yang tepat dalam mengatasinya. 46 Puslitbang Kesos . Lebih memprihatinkan lagi karena Bone sejak tahun 2000-an. sektor perikanan telah menyumbang 9. selain unggul di sektor pertanian. mengingat posisi Bone sebagai sentra penghasil padi di Sulsel. jika tidak dimanage secara benar. 10 di antaranya memiliki garis pantai sepanjang 127 kilometer. dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 16. yaitu dari 27 kecamatan di kabupaten Bone. maka meletusnya berbagai permasalahan sosial hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun sebaliknya. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gejala yang muncul akibat fakta sosial yang dijelaskan di atas. Ini jelas potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. yaitu sebuah potret buram (kemiskinan) di tengah kelimpahan. kontribusi sektor perikanan juga tak kalah produktifnya.

dan (7) ketimpangan pembangunan diri manusia Indonesia di lapisan masyarakat bawah.9 Artinya. (6) ketimpangan antara ekonomi perkotaan dan pedesaan. (2) ketimpangan antara kelompok pengusaha besar-kecil. Diantaranya untuk konteks penelitian ini terlihat pada masalah ketimpangan pembangunan SDM khususnya masyarakat lapisan paling bawah.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 1 : Peta Kota Watampone. 2001:309. (3) ketimpangan antar wilayah. Chaniago. bertambahnya keluarga miskin yang diikuti kemudian dengan meningkatnya kuantitas dan kompleksitas permasalahan sosial besar kemungkinan adalah akibat dari ketidakselarasan antara strategi pembangunan kesejahteraan dengan strategi pembangunan ekonomi dalam 9 Ketimpangan pembangunan masa Orde Baru terjadi dalam bentuk-bentuk: (1) ketimpangan antar golongan ekonomi masyarakat. Kabupaten Bone Kerangka Fikir Kelemahan mendasar dari pembenahan struktur perekonomian kita di tengah masa krisis (baik regional dan nasional) dinilai oleh banyak kalangan adalah karena diabaikannya variabel kondisi sosial-ekonomi sebagai bagian dari penyebab krisis. Lihat Adrinof A. (4) ketimpangan antar subwilayah di daerah yang pertumbuhan ekonominya tinggi. Puslitbang Kesos 47 . (5) ketimpangan laju ekonomi antar sektor.

menurunnya jumlah angka orang buta huruf.sekarang). tidak terkecuali masyarakat di wilayah kajian ini.Peta Masalah Sosial di Bone praktik. yaitu: (1) prevensi ditujukan untuk mencegah timbul dan meluasnya permaslahan kesejahteraan sosial dalam kehidupan masyarakat. Bahkan komuniti-komuniti yang pada awalnya telah atau hampir “terkubur” di era Orde Baru. ditujukan untuk memfungsikan kembali dan memantapkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. 48 Puslitbang Kesos . 2005: 36.Chaniago. Untuk ukuran tertentu. perdagangan obat-obatan terlarang. angka kematian bayi semakin dapat ditekan. ancaman eksploitasi seksual komersiil. (2) rehabilitasi. mereka berusaha sekuat tenaga membangun kembali sisa-sisa warisan kejayaan masa lalu dari sukubangsanya demi untuk turut bagian dalam sistem pencaharian ekonomi di era ini (Rudito. program-program intervensionis10 dari pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah diakui menunjukkan kemajuan dalam beberapa indikator keberhasilan di bidang kesejahteraan. dan seterusnya Terpaan krisis ekonomi dan dilanjutkan dengan perubahan orientasi sosial-politik pembangunan nasional melalui bergulirnya masa transisi yang disebut “era reformasi” tak pelak juga telah memunculkan kembali apresiasi masyarakat lokal yang (tak lain adalah kelompok masyarakat lapisan menengah-bawah) terbagi-bagi dalam wilayah kesukubangsaan berusaha menciptakan akses terhadap sumber daya yang ada di wilayah kesukubangsaannya. 2001:316). 2005:23). Akan tetapi tingkat kesejahteraan tersebut di sisi lain tidak serta merta dapat menjamin kemampuan dan kualitas hidup mereka secara lebih baik. Dengan bahasa lain. (3) pengembangan. 10 Fungsi intervensi sosial. bahwasanya masalah kemiskinan dan rawan sosial-ekonomi adalah karena lemahnya ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat (modal sosial) golongan menengah-bawah dalam menghadapi guncangan besar arus krisis (Adrinof A. Lihat Bambang Rudito dkk. Akibatnya pengangguran semakin bertambah cepat. Pasalnya ketika arus krisis mendera pelbagai wilayah di Indonesia (1998. menurunnya kadar asupan gizi dan tingkat kesehatan (cacat). dan usia tingkat harapan hidup semakin panjang. rebaknya anak jalanan dan terlantar. jumlah keluarga fakir miskin meningkat. hampir semua golongan lapisan bawah dipastikan tidak mampu “bertahan” di masa krisis tersebut. ditujukan untuk pemeliharaan dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan potensi dirinya. misalnya dengan penjelasan angka pendapatan perkapita penduduk yang terus mengalami kenaikan.

Salah satu kekhwatiran yang mengancam adalah kegagalan mengangkat kualitas hidup penduduk yang mayoritas bekerja di sektor tradisional (seperti pertanian dan peternakan). serta terus mengupayakan perbaikan kualitas SDM lapisan menengah-bawah. Dalam lintasan sejarahnya. suku-bangsa di Bone terkenal gigih dalam menjaga wilayah teritorialnya. Karena itu penting memper-timbangkan konteks representasi identitas. Praktiknya. Padahal dengan penganggaran keuangan daerah secara partisipatif memungkinkan penanganan pelbagai masalah sosial dan pembangunan daerah dapat lebih terarah. atau dalam bahasa lain sumber daya perekonomian di wilayahnya. maka sepatutya dicarikan alternatif langkah-langkah dan strategi penanganan yang tidak sepenuhnya menggantungkan pada anggaran pemerintah. obyektif dan lebih berdaya-guna maksimal bagi kebutuhan riil warga masyarakatnya. Yakni menjadikan sumber ekonomi sektor tradisional sebagai kekuatan potensial yang dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial mereka secara proporsional. kecamatan atau kabupaten yang umumnya para staf pemerintah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengelola aset desa/kecamatan dan dana pendapatan desa/kecamatan dengan baik. surat edaran menteri ini masih semata bersifat “himbauan” yang jarang (sulit) implementasinya dilakukan di lapangan secara tuntas. Misalnya dengan melakukan participatory budgeting forum sebagaimana diamanatkan dalam SE Mendagri No. memperkecil ketimpangan ekonomi antar sektor. Jika tidak. lagi-lagi pedekatan seperti ini terbentur oleh masalah internal pemerintah desa. Oleh karenanya. 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (Rakorbang Partisipatif). Puslitbang Kesos 49 . sistem kehidupan lokal. Berhadapan dengan kondisi faktual tersebut.Peta Masalah Sosial di Bone Karena itu kini hendaknya pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan perlu memperhatikan secara serius variabel pelapisan masyarakat baik secara sosial-ekonomi dan antar wilayah. kita akan mengulang kembali kesalahan model pembangunan masa lalu yang pada akhirnya akan melahirkan tipe-tipe ketimpangan ekonomi. sekalipun desa tidak memilik aset yang cukup untuk melakukan pembangunan. serta pemerataan pembangunan di setiap kewilayahan. Namun. sosial dan politik “versi terbaru”. golongan. kecenderungan untuk menolak transparansi dan partisipasi sangat besar.

diversifikasi mata pencaharian penduduk terjadi dalam porsi yang relatif berimbang. Kelurahan-kelurahan tersebut merupakan kelurahan di wilayah pinggiran kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk relatif rendah. Kekayaan warisan kultural seperti rumah adat Bugis (Bola Somba) di Kelurahan Watampone. Sigeri dan makam raja-raja Bone di kelurahan Bukaka juga dapat menjadi objek pariwisata potensial. Dari sejumlah kelurahan di kecamatan ini. Kelurahan Manurungge dan Watampone yang dapat dibilang sebagai ‘epicentrum’ Kabupaten Bone merupakan bagian sentral dari perekonomian Tanete Riattang khususnya. karena pusat Kerajaan Bone pada masa silam terletak di kecamatan ini. dalam http://www. jika kecamatan ini disebut sebagai ‘pewaris sah’ kebudayaan Kerajaan Bone pada abad pertengahan.bone. Tanete Riattang juga menempati posisi istimewa di Bone. Secara geografis. Ta’. Posisi geografis Tanete Riattang yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan juga membuat kecamatan ini menjadi tujuan bagi warga Bone di wilayah pinggiran untuk mengadu peruntungan. berbagai peninggalan dan artefak budaya Kerajaan Bone dan sebuah museum penting yang menyimpan warisan budaya kebesaran Kerajaan Bone dahulu kala. Tak berlebihan kiranya. Tidak mengherankan jika di kecamatan ini pula terdapat cagar budaya berupa makan raja-raja bone. Dengan lahan yang subur. Tanete Riattang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. dan Bone umumnya. Posisi geografis yang strategis dan warisan kultural yang kaya membuat Tanete Riattang menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar untuk didayagunakan menjadi keunggulan wilayah. Museum Saoraja Lapawawoi Kr. dan Walennae sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. kecamatan Tanete Riattang memiliki keistimewaan tersendiri. tiga diantaranya yakni Kelurahan Pappolo.go. posisi kecamatan yang tepat berada di tengah Kabupaten Bone memberikan keuntungan berupa infrastruktur pemerintahan dan layanan publik yang relatif lebih baik jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya.id/pariwisata. Secara historis-kultural.11 Hanya di Tanete Riattang.Peta Masalah Sosial di Bone Potensi dan Masalah Tanete Riattang : Sebuah Analisa Sosial Di bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Bone. pertanian 11 Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. secara demografis. Akibatnya.php 50 Puslitbang Kesos .

pranata sosial14. sektor pertanian bukanlah mata pencaharian utama penduduknya. BPS Kabupaten Bone. Terdapat 6 jenis pranata sosial. namun jarak dengan RS kabupaten sangat dekat. Kecamatan Tanete Riattang juga menyimpan potensi-potensi sosial strategis lainnya. sapi dan kambing. lihat BPS Kabupaten Bone. Tidak terdapat rumah saki di Tanete Riattang. TPA/TK 25 buah. berbeda halnya dengan Watampone yang lebih mengandalkan sektor jasa (administrasi) dan pariwisata. saat ini Kecamatan Tanete Riattang juga tengah mengembangkan sektor peternakan sebagai bagian dari keunggulan wilayah. namun berbagai persoalan yang ada tetap membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. karang taruna (6 buah). Karena penanganan yang setengah-setengah hanya akan membuat permasalahan sosial yang muncul semakin banyak dan bukan tidak mungkin menjadi semakin kompleks. 2005. Sementara itu. Namun dengan berbagai potensi ekonomi. Kecamatan Tanete Riattang memiliki berbagai pranata yang dapat digunakan sebagai modal bagi peningkatan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. Beberapa jenis hewan ternak yang menjadi favorit untuk dikembangkan di wilayah ini adalah antara lain ayam buras. Terdapat 2 puskesmas dan 24 posyandu. 12 13 14 15 Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2004/2005. 20 dokter. 16 bidan dan 8 dukun/ pengobat tradisional. yakni. Kecamatan Tanete Riattang yang tergolong wilayah ‘perkotaan’ juga tak lepas dari berbagai permasalahan sosial. Bukaka dan Manurungge. Sebagai wilayah yang tergolong ‘perkotaan’. 78 perawat. di tiga kelurahan yakni Watampone. arisan keluarga (17 buah). Beberapa pranata yang telah tersedia di Tanete Riattang antara lain. SMP/MTs 7 buah dan Perguruan Tinggi 4 buah. 2005. siskamling (28 buah). dasawisma (39 buah). Terdapat 74 lembaga pendidikan di Tanete Riattang dengan perincian. 2005. Kelurahan Bukaka dan Manurungge bergerak pada perekonomian sektor industri.12 Dengan berbagai potensi ekonomi tersebut. Puslitbang Kesos 51 . pranata kesehatan15. LPM/BPD (8 buah) dan jimpitan (11 buah). BPS Kabupaten Bone. Selain sektor pertanian. pranata pendidikan13. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. 2006.Peta Masalah Sosial di Bone di tiga wilayah kelurahan ini berkembang dengan baik. Walaupun tidak sangat kompleks. sosial dan cultural yang dimilikinya. jasa dan industri. SD/ MI 34 buah. serta pranata hubungan dan jaringan kerja yang baik dan mapan. PKK (28 buah).

membuat pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa dan cepat menyelesaikan masalah sosial tersebut. Dari 1520 kasus. wanita rawan sosial ekonomi.3% (111 kasus) masalah rumah tidak layak huni. anak cacat.Peta Masalah Sosial di Bone Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 12 jenis permasalahan sosial yang terjadi di Tanete Riattang. lanjut usia terlantar. sosial dan politik bagi proses pembangunan kesejahteraan sosial di Tanete Riattang. anak nakal. Selebihnya. rumah tidak layak huni. dan 7. Celakanya. cacat bekas penyakit kronis. terindikasi 80. sampai keluarga bermasalah psikologi. 52 Puslitbang Kesos . Berbagai jenis masalah sosial tersebut di atas merupakan bentuk ancaman secara ekonomi. keluarga fakir miskin.1% diantaranya merupakan masalah sosial berlatar belakang ekonomi. sejak dari masalah anak terlantar. 33. eks napi.2% (748 kasus) masalah keluarga fakir miskin. ancaman ini secara faktual menjadi lebih besar akibat terbatasnya anggaran belanja daerah bagi upaya penanganan dan penyelesaian pelbagai jenis PMKS tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan. selama ini masih sangat tergantung pada alokasi dana dari pusat dan provinsi.9% terbagi relatif rata dalam 9 masalah sosial lainnya. Terlebih dana stimulan bantuan sosial yang diharapkan menjadi bagian dari jawaban persoalan. napza. yaitu dengan perincian 49. penyandang cacat.6% (512 kasus) masalah wanita rawan sosial ekonomi. Dari sejumlah jenis permasalahan tersebut. sebesar 19. masalah sosial yang berlatar belakang ekonomi menunjukkan gejala paling dominan.

Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 2. 1992. Deskriptif yang dimaksud adalah mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Michael Huberman. Peta Kecamatan Tanete Riattang. Kabupaten Bone Metode Penelitian Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Puslitbang Kesos 53 . kriteria dan lokasi penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara kualitatif di Kabupaten Bone. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran/peta mengenai jenis. “Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru” Jakarta : UI Press. Yakni simbol-simbol penyampaian dan penetapan suatu gejala sosial sebagai kenyataan yang ada di sekeliling masyarakat dan yang dialami oleh anggota masyarakat. 16 16 Lebih lanjut tentang penelitian kualitatif lihat Matthew B Miles & A.

penerapan strategi 54 Puslitbang Kesos . baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. kriteria penduduk penyandang masalah sosial. Pendekatan kualitatif yang dimaksudkan disini adalah untuk melakukan pemetaan sosial. baik dilihat dari jenis kelamin. kelompok. Sulawesi Selatan. lalu ditampilkan dalam bentuk tabel. dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial di Kabupaten Bone. penilaian berdasar pada norma dan aturan yang menjadi acuan bagi komuniti yang mengalaminya. Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam (indepth interview).Peta Masalah Sosial di Bone Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bone Kecamatan Tanete Riantang. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. Penelitian ini pada dasarnya mempunyai tujuan memetakan masalah sosial yang ada dan muncul di masyarakat dan ditanggapi oleh masyarakat itu sendiri sebagai suatu masalah. Untuk mendeteksi masalah sosial diperlukan suatu pendekatan dan metodologi guna memahami dan memetakan masalah sosial yang terjadi. Selanjutnya dibentuk matrik pemetaan sosial yang menggambarkan permasalahan sosial dan potensi kesejahteraan. jenis pekerjaan yang ada. pedoman FGD dan peta wilayah. yaitu dengan melakukan pendekatan yang sifatnya kualitatif. Alternatif Strategi Penanganan Masalah Sosial di Tanete Riattang Masalah pokok dari berbagai jenis permasalahan sosial di Tanete Riattang sebagaimana nampak dalam data di atas adalah persoalan kemiskinan. pemetaan terhadap pranatapranata sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan menjadikannya suatu aktivitas rutin serta berkesinambungan dilaksanakan oleh masyarakat lokal. Oleh karenanya. yaitu kategori perorangan atau individu. lokasi. karena masalah sosial adalah masalah perasaan. Sumber data terbagi dalam bentuk sumber data primer. Seperti pernah diungkap banyak kajian bahwa menyelesaikan persoalan kemiskinan tergolong sebagai agenda yang berat dan rumit. Data yang berhasil dikumpulkan diolah secara kualitatif. Kriteria populasi dalam penelitian ini didasarkan pada penduduk yang menetap di daerah ini. meskipun bukan berarti tak teratasi. Sementara sumber data sekunder mencakup literatur.

sejak dari persoalan ketertutupan akses modal. Melalui GB. Hasilnya. sebagai pendiri GB dan juga peraih nobel perdamaian 2006.Peta Masalah Sosial di Bone yang jitu yang didasarkan atas bacaan yang tepat dan akurat atas data dan realita mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. warga juga mempunyai hak untuk turut menentukan alokasi anggaran daerah tersebut. tanpa bermaksud melakukan simplifikasi. Hasilnya. Dan karenanya. kaum perempuan diberdayakan sebagai penggerak roda perekonomian mikro. Namun demikian. Banyak analisa yang menyatakan bahwa kemiskinan dipengaruhi banyak faktor. Boaventura de Sousa Santos. 1998 Puslitbang Kesos 55 . dan sasaran pemberian pinjaman itu difokuskan kepada kaum perempuan. transparansi dan partisipasi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. setiap warga kota mempunyai hak untuk tahu berapa dan untuk apa anggaran daerah dialokasikan. Kedua. lebih dari 8000 keluarga yang menjadi nasabah GB terangkat taraf 17 Lihat. memberikan pinjaman modal bagi kaum papa secara mudah dan tanpa agunan. Bukan hanya itu. Kisah sukses beberapa negara atau komunitas dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk ditelaah sebagai pelajaran dan sumber inspirasi. berkeyakinan kemiskinan akut yang terjadi di Banglades khususnya daerahdaerah pedesaan akan dapat diatasi jika dapat dilakukan dua hal. angka kemiskinan di Porto Alegre menurun drastis karena agenda-agenda utama yang menjadi kepentingan publik seperti pengentasan kemiskinan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. pertama. dalam kasus Tanete Riattang. Muhamad Yunus. Selain itu. penanganan terhadap masalah ini juga membutuhkan berbagai pendekatan. melalui mekanisme local budgeting forum. korupsi juga menjadi tereliminasi yang membuat tingkat kebocoran anggaran untuk rakyat menjadi kecil. Di Porto Alegre. pendidikan sampai budaya. “Participatory Budgeting in Porto Alegre : Toward a Redistributive Democracy” Sage Publication. Strategi penanganan kemiskinan di Porto Alegre didasarkan atas dua strategi.17 Strategi yang diterapkan Grameen Bank (GB) lain lagi. Yunus melakukan dua hal tersebut. struktur sosial dan birokrasi yang menindas. pelajaran dari Porto Alegre di Brazil dan Grameen Bank di Banglades dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk dijadikan inspirasi. akses terhadap modal bagi rakyat miskin dipermudah.

Padahal jika diberdayakan. perempuan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dominan menyandang masalah sosial. efisiensi dan tata kelola pemerintahan yang baik. khususnya di Tanete Riattang. hubungan luar negeri. efektivitas. akan menjadi roda penggerak ekonomi keluarga yang sangat efektif. Instrumen ini penting bagi pelaksanaan strategi-strategi tersebut di atas. penerapan strategi pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat dilakukan. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (rakorbang partisipatif) membuka peluang bagi terjadinya participatory budgeting. Demokratisasi juga membuat organisasi-organisasi sosial masyarakat sebagai bagian dari civil society tumbuh subur. masalahnya bukan lagi seberapa mungkin strategi itu dapat 18 Lihat situs resmi Grameen Bank : www.Peta Masalah Sosial di Bone perekonomiannya yang berdampak pada naiknya taraf pendidikan dan kesehatannya. fiskal dan agama.18 Dua kasus tersebut. dengan disahkannya UU Nomor 32 Tahun 2002 memberikan peluang bagi setiap kabupaten/kota melakukan inovasi dan inisiasi dalam pembangunan wilayahnya masing-masing. Pertanyaannya. Kedua. daerah (kabupaten/kota) mempunyai kewenangan dan otonomi penuh untuk mengembangkan kreatifitas membangun daerahnya.org 56 Puslitbang Kesos . diluar lima hal. iklim demokratisasi telah membuka kesadaran masyarakat kita akan pentingnya transparansi.grameen-info. termasuk di Kabupaten Bone. Ketiga. Berdasarkan UU ini. pertahanan keamanan. mengajarkan kita setidaknya terdapat empat strategi yang dapat digunakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Tanete Riattang. ide untuk membuat semacam participatory atau local budgeting forum di tingkat kabupaten ataupun kecamatan mempunyai pijakan hukumnya. yakni melalui transparansi anggaran daerah. Keempat. dan berdayakan perempuan sebagai leading sector penggerak ekonomi rumah tangga. Dengan SE ini. partisipasi (melibatkan masyarakat) dalam penyusunan alokasi anggaran. permudah akses modal bagi rakyat miskin. Dengan berbagai argumentasi tersebut. mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut bacaan saya sangat mungkin! Pertama. Oleh sebab itu. faktanya dari data penyandang masalah sosial tersebut terdahulu.

serta karang taruna dan LPM yang menjembatani akses pengambilan keputusan terkait hajat hidup masyarakat di lingkungannya. posyandu. pola hidup dan pranata sosial yang ada di masyarakat diabaikan. berbagai keunggulan demografis dan geografis juga menjadi modal sosial tersendiri yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kecamatan ini ke depan. Selain itu. Jika nilai. melainkan seberapa kuat kemauan kepala daerah dan pihakpihak terkait melakukannya. perlu ditegaskan bahwa target sasaran yang perlu diperhatikan untuk program penanganan masalah sosial di Tanete Riattang adalah rumah tangga miskin. Potensi ekonomi yang perlu untuk terus dikembangkan di Tanete Riattang terutama berada pada sektor pertanian. Program Mitra Usaha Mandiri yang meliputi program penguatan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. serta anak nakal dan anak terlantar.Peta Masalah Sosial di Bone diterapkan. Kukesra dan Koperasi. ekonomi dan etnik. kelompok perempuan rawan sosial-ekonomi. industri dan jasa (administrasi). kultur. Beberapa program dapat digagas untuk menjalankan berbagai strategi penanganan masalah sosial diantaranya. Sebagai cacatan. pembinaan penyandang cacat. Untuk potensi sosial Tanete Riattang terutama pada ketersediaan berbagai pranata yang cukup lengkap yang dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam menangani berbagai permasalahan sosial. identitas. Selanjutnya PKK. puskesmas dan pengajian yang diharapkan mampu bersinergi dengan dokter dan tenaga medis yang ada serta para tokoh agama. perempuan dan petani. bina anak terlantar dan tuna susila. dikhawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial. strategi program/kegiatan dari pemerintah nantinya selayaknya bersinergi positif dengan pranatapranata sosial yang ada di masyarakat. Program Peningkatan Kualitas Layanan Panti dan Program penyediaan database PMKS melalui sejumlah penelitian dan pengkajian. Kesimpulan Tanete Riattang sebagai salah satu kecamatan utama di Kabupaten Bone memiliki potensi ekonomi. atau sekurangnya tidak mendapatkan apresiasi masyarakat lokal. balita dan anak cacat. sosial dan budaya yang cukup strategis untuk dikembangkan. Program Kesehatan Terpadu yang meliputi penyuluhan balita sehat. Disamping tentunya potensi budaya Tanete Riattang berupa berbagai peninggalan Puslitbang Kesos 57 . termasuk sektor peternakan. Bercermin dari lingkup masalah sosial dan berbagai strategi penangannya. Sementara potensi institusi lokal yang bisa dioptimalkan adalah kelompok tani/kelompok usaha yang diharapkan dapat bersinergi dengan KUBE.

agar digunakan strategi yang berprinsip pada transparansi. maka masalah kemiskinan menjadi problem utama dan mendesak yang harus segera ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. budaya dan seterusnya sebagai wadah edukasi. Selain memiliki berbagai potensi unggulan. Ditilik dari diterminan kemiskinan. mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan pemberdayaan perempuan. 3. Serta menekan rebaknya spekulan dan para tengkulak (rentenir) yang memainkan “nilai hasil produksi” para petani/usaha kecil lokal. Membentuk kelompok jaringan atau forum bersama antar kelompok sosial. politik. ekonomi. organisasi sosial berbasis okupasi (mata pencaharian pokok di tingkat lokal) yang umumnya cukup eksis di wilayah ini. Dengan demikian sebenarnya penguatan ketahanan sosial ekonomi tidak cukup dengan menemukan apa saja modal sosial yang ada. disamping disebabkan oleh kebijakan internal yang tidak kondusif bagi penguatan perekonomian lokal. Dari sejumlah masalah tersebut (12 jenis PMKS). partisipasi.Peta Masalah Sosial di Bone budaya Kerajaan Bone yang dulu memang berlokasi di kawasan Tanete Riattang. 58 . Mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan perempuan melalui bantuan stimulan yang digulirkan secara proporsional dan merata. 1. Selain itu. Puslitbang Kesos 2. Peningkatan kualitas SDM para penggiat pranata sosial dan ekonomi melalui pelatihan para pengurus perkumpulan sosial-ekonomi. pendidikan. Karena itu penting untuk menangani berbagai masalah tersebut utamanya masalah kemiskinan. Tanete Riattang tidak lepas dari sejumlah permasalahan sosial yang patut untuk segera ditangani. termasuk menjadi embrio bagi terbentuknya semacam local budgeting forum. tampaknya tergesernya fungsi dan rapuhnya peran jaringan pranata sosial-ekonomi semakin memperburuk ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. tetapi lebih luas lagi bagaimana menggalang kekuatan untuk mengembangkan jaringan lokal (desa) guna lebih berdaya dan tetap kokoh di tengah derasnya terpaan perubahan global. perlu dilakukan peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal melalui. serta organisasi sosial berbasis jender yang meskipun kegiatannya mengalami pergeseran (PKK dan Posyandu) tetapi perannya masih cukup efektif bagi peningkatan kualitas hidup utamanya warga miskin. tukar informasi.

tentang The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia. 49(2). “Peta Permasalahan Sosial di Kabupaten Sebatik”. November. dalam http:// www. 2005. dan Michael Woolcock. March 2001. dalam http://www. 2003.” Current Sociology. Kabupaten Bone Dalam Angka. 2001.htm. April 2000.htm. 2004.. Cassidy. Litbang Depsos RI. Deepa Narayan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.mapl. Vol. Deepa Narayan and Michael F. maupun kalangan masyarakat untuk menjamin terlaksananya program sesuai dengan maksud dan tujuannya.id/ pariwisata. Puslitbang Kesos 59 . Working Paper No. DAFTAR PUSTAKA Adrinof A.Peta Masalah Sosial di Bone 4.com.mapl. 2003. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. 21. 2003. 2005. Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. Tim Crescent IPB. “Towards a theorized understanding of family life and social capital.” The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. “Measuring Social Capital: An Integrated Questionnaire.au/A13.htm.php Rudito. “A Dimensional Approach to Measuring Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory. Pengawasan secara berkesinambungan baik dari pemerintah daerah.com. Chaniago.au/A13.bone. BPS (Statistic Indonesia)-Bappenas-UNDP. Bambang dkk.com.mapl. Lihat http://www.au/A13. Ian Winter. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone. Veronica Nyhan Jones. provinsi dan pusat.” Australian Institute of Family Studies.go. dalam http://www. “Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia”. Christiaan Grootaert. Jakarta: LP3ES.

Kecamatan Tanete Riattang 60 Puslitbang Kesos .Peta Masalah Sosial di Bone Lampiran Gambar 3. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 4. Kelurahan Walannae. Kelurahan Pappolo.

Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 5. Kelurahan Manurungnge. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 61 . Kelurahan Bukaka. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 6.

Kecamatan Tanete Riattang Gambar 8.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 7. Kecamatan Tanete Riattang 62 Puslitbang Kesos . Kelurahan Ta. Kelurahan Watampone.

Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 9. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 63 . Kelurahan Biru. Kelurahan Masumpu. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 10.

.

yang antara lain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian. Minahasa. Kelurahan Matani Satu. khususnya di Kecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. SE. kelurahan Talete Dua. Kelurahan Matani Tiga. dan Rusmiyati.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTAMADYA TOMOHON . Sementara itu untuk beralih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. perlu penanganan yang lebih tuntas. Puslitbang Kessos Puslitbang Kesos 65 . Ahendy Priatna. Oleh karena itu. masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominan di wilayah ini. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database) yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah. M. misalnya fakir miskin.Si. Kelurahan Komasi. Kemiskinan 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon. Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon. Rusmiyati. yaitu Kelurahan Talete Satu. dengan Tim: Drs. staff Subbid Perencanaan dan Anggaran. serta meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. MM. Drs. Kelurahan Matani Dua. dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat. Bidang Program. SE 2 ABSTRAK Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diri dengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. dan Kelurahan Kolongan. rumah tidak layak huni. (2) penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya. Agus Dairo Beke. dan keluarga rentan. lanjut usia terlantar.MINAHASA1 Rusmiyati. Kata kunci: Masalah Sosial.

budaya 66 Puslitbang Kesos . kondisi eknonomi politik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secara terselubung muncul keper mukaan. tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besar dan bertambah. struktur masyarakat. narkoba dan sebagainya hampir terjadi di semua daerah. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru. tidak memberi ruang gerak pada masyarakat. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akan terlihat adanya permasalahan yang serupa. Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah. hanya motifnya yang berbedabeda. baik dari sisi SDM. Upaya memaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial. bobot permasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat. yaitu dengan munculnya masalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom. Ilustrasi diatas memberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagai daerah dengan perbedaan kondisi geografis. Tomohon Tengah-Minahasa Pendahuluan Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomi daerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahan sosial secara lokal. Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisi daerah masing-masing. mabuk-mabukan. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru) bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan. Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukan melalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkup bidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas. maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan. sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran. dan semua harus menunggu perintah penguasa. Sebagai contoh: kenakalan remaja. Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin banyak. sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom).

sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah. harapannya adalah menunggu bantuan pemerintah. Kedua. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang ada. pada akhirnya menimbulkan permasalahan. Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam penanganan permasalahan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat tinggi. Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi Puslitbang Kesos 67 . sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui program di berbagai sektor. baik tentang potensi penyebab tumbuh kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian. Berkaitan dengan hal tersebut. Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah. permasalahan pokok penelitian ini adalah bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya Kesejahteraan Sosial (PSKS). Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda. kemandirian menjadi hilang sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang. Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih mengacu pada kasus sebab akibat. dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball) dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain. Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat dominan. Tomohon Tengah-Minahasa dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan yang terdapat dimasing-masing daerah. berpasrah menerima keadaan apa adanya. Oleh karena itu. Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna tentang permasalahan sosial. artinya masalah itu timbul karena ulah manusia. misalnya: pertama.

penyandang HIV/ AIDS. sumber daya manusia. komunitas adat terpencil. Untuk mempertahankan kehidupannya. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan. keagamaan. pekerja migran terlantar. adalah sesuatu yang bermanfaat. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco. politik. tuna susila. korban bencana sosial. sosial. penyandang cacat. wanita rawan sosial ekonomi. anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. dan sumber daya sosial. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. korban bencana alam. kesenian. lanjut usia terlantar. Namun demikian tidak semua golongan atau masyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik. gelandangan. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan. anak jalanan. keluarga berumah tak layak huni. Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antara lain sumber daya alami. anak cacat. Tomohon Tengah-Minahasa Departemen Sosial. lanjut usia korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. Tehnik pengumpulan data 68 Puslitbang Kesos . Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. bekas narapidana. antara lain: balita terlantar. keluarga fakir miskin. tetapi juga potensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapi kelemahan atau tantangan. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. anak terlantar. gotong royong dan sebagainya. keluarga bermasalah sosial psikologis. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. anak nakal. dengan maksud mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. 1991). Dalam hal yang demikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. pengemis. 2002). korban penyalahgunaan napza. Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumber kesejahteraan sosial.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakat umum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal) dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup (kegiatan ekonomi) potensi geografis wilayah dan sumber daya manusianya serta faktor-faktor lain yang berkaitan.

Gambaran Lokasi Penelitian
1. Kondisi Wilayah

Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Bapeda Kota Tomohon (Maret 2005) berjumlah: 6938 KK atau mencapai 16,02%. Hal ini memberi indikasi bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penduduk miskin yang nantinya berdampak pada masalah sosial dan kesehatan. Meningkatnya kasus-kasus penyakit pada akhir-akhir ini seperti demam berdarah dengue (DBD) 14 kasus, malaria: 217 kasus, TB paru klinis: 763 kasus, Hipertensi: 3860 kasus, diabetes militus: 362 kasus. Hal ini diakibatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat belum optimal, serta gaya hidup cenderung berpestapesta dengan ungkapan ”Kalau ada tada kalau tidak haga ” akhirya berdampak pada kesehatan dan masalah sosial. Meningkatnya pengangguran dan permasalahan sosial lainnya dikarenakan minimnya pendidikan formal dan keterampilan anakanak putus sekolah, dimana data menunjukkan anak terlantar sebanyak 6900 orang, anak nakal: 1236 anak. Anggapan masyarakat bahwa permasalahan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Penyandang masalah kesejahteraan sosial pada umumnya mengalami masalah kemiskinan dan kondisi ketidakberdayaan fakir miskin dapat dilihat dari tidak adanya alternatif individu, keluarga dan komunitas dalam menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Kecamatan Tomohon Tengah terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara 28 derajat celcius. Kondisi lingkungan masyarakat kondusif, tentram dengan penduduk mayoritas homogen. Jarak ke Ibu Kota Tomohon 2,5 km dengan waktu tempuh 5 menit, dari ibukota provinsi sekitar 25 km, dan
Puslitbang Kesos

69

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

dengan sarana transportansi umum yang relatif lancar dan memadai. Kecamatan Tomohon terdiri dari 7 (tujuh) Kelurahan, yaitu Kelurahan Talete Satu, Kelurhan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua, Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 18.556 jiwa, sebagian besar (90%) beragama Kristen Protestan, sebagian lainnya Katholik, Islam, dan Budha.
2. Potensi dan Sumber Alam

Hasil yang saat ini diperoleh dari pengolahan tanah berupa hasil pertanian tanaman padi dan palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Sedangkan produksi padi pada tahun 2004 menghasilkan padi sekitar 6.995 ton. Produksi tanaman sayuran tahun 2004 mencapai 9.839 ton, produktivitas tertinggi didominasi oleh tanaman terong sebesar 162,74 kw/ha. Sedangkan produksi tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, cengkeh, vanili, kopi, dan kakao. Produksi tanaman perkebunan terbanyak adalah kelapa mencapai 729,125 ton. Untuk tahun 2004, sektor peternakan populasi terbesar terdiri dari sapi, kuda, kambing dan babi. Melihat potensi alam, terutama hasil pertanian dan perkebunan, pasang surutnya tampak tergantung dari luas lahan yang semakin menyempit dikarenakan banyak pembangunan permukinan penduduk, mini market dan mall.
3. Agama dan Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Tomohon Tengah mayoritas beragama Kristen Protestan. Dan sebagian lainnya beragama Katholik, Islam, dan Budha. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang paling menonjol adalah Gereja. Di Kecamatan Tomohon Tengah hanya terdapat sarana ibadah umat Islam, yaitu satu buah Masjid. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Saat ini semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih digunakan sebagai tempat untuk ibadah umat penduduk di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah. Kelompok-kelompok yang terkait dengan keagamaan yang ada di Kecamatan Tomohon Tangah adalah kelompok kebaktian gereja.

70

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan kebaktian.
4. Sarana Pendidikan

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana pendidikan yang relatif cukup lengkap, dari mulai TK sampai pergurunan tinggi. Sekolah negeri yang dimiliki wilayah ini adalah SD (3 buah), SLTP (3 buah), dan satu perguruan Tingga Negeri. Sedangkan sebagian lainnya yang jumlahnya relatif lebih banyak adalah sekolah atau perguruan tinggi swasta, yakni terutama yang dikelola oleh yayasan atau perkumpulan agama. Tabel 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Fasilitas Pendidikan TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP. Negeri SLTA. Swasta PT.Swasta PT.Negeri Akademi Swasta SLB Sekolah Kursus Montir Kursus Menjahit BLK Jumlah 13 3 9 3 7 5 1 2 1 3 7 1

5.

Kesehatan

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan/perawatan kesehatan masyarakat di Kecamatan Tomohon Tengah, umumnya penduduk memanfaatkan sarana kesehatan yang telah ada dan letaknya relatif cukup dekat. Masing-masing Puskesmas maupun Balai Pengobatan Jemaat Gereja maupun rumah sakit swasta (dibawah yayasan gereja) di Kecamatan Tomohon Tengah saat ini memiliki seorang Dokter, Perawat, dan Bidan dan para medis/perawat.

Puslitbang Kesos

71

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Tabel 2. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jenis Fasilitas Kesehatan Apotik Rumah sakit Posyandu Dokter Praktek Bersama Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Mata Dokter THT Dokter Kulit Dokter Jiwa Dokter Hewan Bidan Mantri Kesehatan Dukun Bayi Puskesmas Puskesmas Pmbantu Toko Obat Dukun a 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 1 1 c 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 Kelurahan d e 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 f 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 g 1 2 1 2 1 1 1 1 3 -

Keterangan: a = Kel. Talete 1 b = Kel. Talete 2

c = Kel. Komasi d = Kel. Kolongan

e = Kel. Matani 1 f = Kel. Matani 2

g = Kel. Matani 3

6.

Ekonomi

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana ekonomi yang cukup lengkap, misalnya warung/toko, pasar, mall/ swalayan dan sebagainya. Secara lebih rinci sarana ekonomi yang ada dapat dilihat pada tabel 3. Oleh karena itu, kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan masyarakat Tomohon Tengah mudah diperoleh dari pasar di lingkungan sekitar. Selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut, masyarakat juga belanja di Mall dan juga di Minimarket/Supermarket yang banyak bertebaran di wilayah ini khususnya di Kota Tomohon.

72

Puslitbang Kesos

5. 12. 20.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.Simpan Pinjam Badan Kredit Desa Lumbung Pitih Nagari Usaha Industri Kecil Usaha Industri RT Diskotik Karaoke Rumah Bilyar Gdg. 8. serta tingkat produktivitas kepala keluarga rendah dan kondisi lain yang tidak mendukung. Kriteria atau pengkategorian warga masyarakat miskin menurut kondisi lokal adalah sebagai berikut: a. 6. Tingkat produktivitas Kepala Keluarga yang rendah. 9. 2. b. 1. Puslitbang Kesos 73 . 7. 18. Penghasilan kecil/tidak tetap dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.Bioskop Hotel/Motel Restoran Losmen Pasar Biro Perjalanan Cafe Mess/asrama a 14 1 6 1 2 1 4 5 3 2 5 2 1 1 4 b 10 6 2 2 2 2 4 3 1 3 Kelurahan c d e 44 8 2 13 6 1 1 1 1 1 1 5 1 2 3 1 9 7 2 3 2 1 2 3 f 62 1 1 g 7 2 5 3 3 3 3 1 2 - Permasalahan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin merupakan masalah yang sangat menonjol di Tomohon Tengah. 13. Fasilitas Ekonomi PendudukKecamatan Tomohon Tengah No. 21. 10. Jenis Fasilitas Kesehatan Warung/Kios Koperasi Super Market/Toko Bank Usaha bersama Kel. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut/pensiun. kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni. 16. 14. 11. 17. 4. 3. 15. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 3. 19. Warga masyarakat yang digolongkan sebagai keluarga miskin didasarkan pada tingkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari serba kekurangan.

dan lagi pula lapangan kerja yang tersedia di perkotaan tidak memadai dengan jumlah pencari kerja. atau pengusaha rumah tangga. karena umum sudah mengetahui bahwa wilayah ini merupakan daerah subur. b. c. yaitu tidak memiliki keterampilan yang memadai. 74 Puslitbang Kesos . Diikuti oleh kondisi rawan bencana yang juga meliputi daerah perkebunan cengkeh sehingga muncul kekhawatiran para petani sehingga tidak lagi menggarap lahan perkebunannya. Namun munculnya permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor. e. Seandainya dimotivasi agar beralih tanam hal ini masih memungkinkan adanya alternatif penghasil lain selain cengkeh. d. Sebenarnya secara jujur Wilayah Minahasa (termasuk Tomohon) tidaklah pantas menyandang predikat fakir miskin. Ketika para petani beralih profesi menjadi pedagang. Akhirnya secara proses jumlah fakir miskin sedikit demi sedikit mulai membengkak. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang dan kontrak/sewa baik dengan orang tua/mertua maupun kerabatan lainnya. mereka tidak siap untuk itu sehingga alternatif pilihan adalah menjadi pekerja di Mall. Supermarket. Pertama-tama berawal dari anjloknya harga cengkeh beberapa tahun silam sehingga semangat masyarakat petani cengkeh turun drastis. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan sangat buruk dan bahan atap dari seng yang sudah tua atau menggunakan kayu yang sudah rapuh dengan lantai tanah atau papan. masyarakatnya intelek dan penghasil cengkeh terkenal. d. Karena pergeseran gaya hidup dengan perkembangan kota desa sehingga masyarakat lebih cenderung beralih ke pola hidup kota (modern). Kurangnya dukungan Pemda setempat bagi kaum petani sehingga dengan mudah para petani begitu saja meninggalkan lahan pertaniannya. Ukuran bangunan rumah relatif kecil yaitu antara 5 x 4 meter atau 5 x 6 meter dan biasanya tidak mempunyai perekat ruangan. Namun kendala lain yang dihadapi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa c. seperti: a. dengan demikian sumber penghasilan dari cengkeh tidak lagi menjanjikan. Pertokoan dan sebagainya.

Karang Taruna Orsos LKMD Org. 5. 6. 4. 2. Profesi Panti Werdha Rmh Jompo a 2 2 4 1 1 1 2 1 2 8 b 1 2 4 2 2 1 2 2 c 1 1 5 1 1 1 1 Kelurahan d e 3 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 f 1 1 1 4 2 1 1 1 1 g 1 1 2 1 1 1 1 1 1 - Puslitbang Kesos 75 . 15. 8. 2. 14. 13. 9. 12. 2 Eks. 11. 10. Kelurahan a b c d e f g Anak Nakal 33 75 Anak Jalanan 16 Anak Cacat 4 Wanita Rawan Sosek 4 6 54 Penyandang cacat 21 9 28 25 16 15 Eks Napi 10 6 6 Kel.Fakir Miskin 106 109 258 215 96 126 166 Kel. 13 14 Jenis PSKS Arisan PKK PSM Orsos Kemasy.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec.Bermasalah Sos. 9. 16. 7.Rentan 24 Pengungsi 3 Anak Terlantar 24 50 40 16 60 Wanita Krbn Kekerasan 16 15 97 16 10 26 LU Terlantar 30 55 10 25 115 96 Rawan Banjir 46 50 Korban benc. 6. 10. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 4. 3. 1. 7.Rmh tdk layak 38 20 24 30 20 Kel. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Setiap Kelurahan No. 4.Pnykt Kronis 10 Jenis PMKS Tabel 5. Pemuda Dunia Usaha Peduli Kesos Panti Asuhan Koperasi Org. 5. 12. 3. 11. 17. 1. Alam 15 Kel. 8. Psik. Data Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Setiap Kelurahan No.

Status kepemilikan bangunan rumah masih menumpang e. Karena ketiadaan biaya perbaikan. Sedangkan kriteria yang digunakan di Tomohon Tengah. Wanita yang digolongkan sebagai wanita korban kekerasan didasarkan pada status perkawinan. Tomohon Tengah-Minahasa Rumah tidak layak huni di beberapa kelurahan hampir sama dengan kondisi di kelurahan lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah yaitu Kelurahan Talete I dan II. Kategori wanita korban kekerasan didasarkan pada kriteria lokal. Kurangnya perlengkapan fasilitas MCK.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. tingkat penghasilan dan jumlah beban tanggungan. Kriteria rumah tidak layak huni menurut kondisi lokal. Kelurahan Komasi dan Kelurahan Kolongan. Penghasilan kecil e. Lanjut Usia terlantar terdapat hampir disemua kelurahan. sebagai berikut: a. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh c. Ukuran bangunan rumah relatif kecil d. serta seberapa besar perhatian dan perawatan yang diberikan oleh anak/cucu atau keluarga lainnya. c. Ada di 6 (enam) kelurahan yang ada di Kecamatan Tomohon Tengah. Rumah-rumah tersebut adalah rumah dalam bentuk rumah asli Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu. Jumlah rumah tak layak huni pada kelurahan yang mempunyai permasalahan ini berkisar antara: 20 hingga 30 keluarga. Memiliki sumber penghasilan yang tidak menentu. Kelurahan Matani I. d. II. III. Status perkawinan: janda ditinggal mati suami atau belum menikah. Wanita korban tindak kekerasan terdapat hampir di setiap kelurahan (ada enam kelurahan). Warga masyarakat di golongkan lanjut usia terlantar didasarkan pada usia. Banyak anak dan belum ada yang menikah. sebagai berikut: 76 Puslitbang Kesos . Para penghuninya tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah–rumah tersebut sehingga melapor dan meminta bantuan melalui dinas sosial setempat. Jumlah penghuni yang tidak sebanding dengan luas rumah b. kondisi ekonomi. sebagai berikut: a. Usia antara 20 hingga 60 tahun b. maka rumah–rumah ini semakin lama semakin rusak dan kondisinya tampak tidak layak huni.

Tomohon Tengah-Minahasa a. permakanan dan kebutuhan hidup lainnya. Hal yang sama dilakukan di café-café atau tempat hiburan lainnya. Perkembangan kota desa yang memang berkembang dewasa ini menyebabkan juga adanya perubahan perkembangan perilaku anak. selepas sekolah mereka tidak mempunyai kegiatan. tindak kriminal walaupun dalam skala Desa/kelurahan dalam bentuk mengganggu milik masyarakat. Oleh karena itu. Keterangan-keterangan yang diperoleh di lapangan menggambarkan proses seperti itu. Pada mulanya masyarakat di wilayah Tomohon terkenal sebagai petani cengkeh yang ulung. café. yakni para remaja yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan secara tidak menentu. Hidup sendiri atau bersama anak/cucu atau keluarga lainnya tetapi sangat kurang diperhatikan dalam perawatan. Dari sinilah timbul kenakalan-kenakalan remaja. yang menyebabkan para remaja mulai beradaptasi diri dengan tempat–tempat ini. sejak supermarket buka hingga ditutup pada malam harinya. baik karena ketidakmampuan ekonomi maupun non ekonomi. sehingga untuk mengisi kekosongan terjadilah pertemuan antar remaja dan kalau sudah berkumpul mulai bertindak yang tidak wajar. b. ketiadaan kegiatan yang pasti dan ketidaksadaran akan makna Puslitbang Kesos 77 .Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Faktor penyebabnya adalah faktor putus sekolah. Masalah Anak Nakal merupakan masalah yang bersifat embrio yang muncul melalui tahapan-tahapan proses yang kelihatannya bersumber dari faktor lingkungan. putra-putri mereka juga secara otomatis mewarisi gaya hidup ini dengan tidak disebut sebagai anak petani dan lebih prestise kalau disebut sebagai anak pengusaha (ala kota pedesaan). atau diskotik. pengusaha versi perkotaan. Umur diatas 60 (enam puluh) tahun keatas. Akibatnya. Masalah yang dekat dengan anak nakal dan anak terlantar yaitu anak jalanan. Contoh kasus lapangan yang dilihat langsung adalah di salah satu supermarket. sekarang pola hidup sudah mulai bergesar dengan perubahan paradigma sebagai pedagang. Bentuk kenakalan anak menurut definisi wilayah ini adalah menggangu ketertiban masyarakat setempat dengan tindakan kumpul-kumpul yang disertai mabuk–mabukan. misalnya munculnya tempat belanja berupa supermarket. polisi piket di depan supermarket dengan maksud menghindari masuknya para remaja siswa sekolah terutama pada jam-jam pelajaran sekolah (baik siswa pagi maupun siswa siang). dengan mengkonsumsi minuman keras (miras).

Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah suatu permasalahan yang dialami oleh sekelompok wanita. maka sulit bagi para wanita untuk mendapatkan sumber penghidupan yang tetap. Informasi lapangan yang diperoleh menyatakan. Sebagai wilayah kelurahan yang kapasitas pertumbuhan industri tidak memungkinkan. Minimnya lapangan kerja bagi kaum wanita di Kelurahan ini menjadi sumber permasalahan. Jumlah kasusnya cukup banyak yakni 114 kasus. Diawali dengan jarang tinggal di rumah kemudian menjadi keseringan maka pada akhirnya hidup di luar menjadi suatu yang merupakan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi pilihan. Permasalahan kecacatan secara khusus merupakan masalah yang tidak semata karena kelalaian manusia. seperti misalnya cacat karena faktor bawaan. Faktor penyebab munculnya anak jalanan ini. berawal dari kurangnya pengawasan orang tua. lama kelamaan meningkat ke tindakan kriminal dan akhirnya sebagai penghuni rutan. Narapidana berawal mula dari kenakalan remaja. 78 Puslitbang Kesos . Selepas dari itu para wanita ini sama sekali tidak punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan mereka. Hal ini ditambah pula dengan ketiadaan keterampilan yang dimiliki para wanita ini. Dimanapun permasalahan narapidana ini hadir menjadi permasalahan yang memerlukan penanganan yang sangat bijak agar persepsi masyarakat terhadap para penyandangnya tidak ditolak oleh masyarakat setempat. Tomohon Tengah-Minahasa mencari hidup. Masalah yang terkesan rawan bagi masyarakat adalah eks narapidana. namun karena kembali lagi terjadi perkembangan kota pedesaan maka cukup membawa pengaruh pada kebiasaaan hidup anak. dimana para wanita ini tidak mempunyai sumber penghasilan yang tetap. maka permasalahan yang dihadapi di kelurahan ini merupakan masalah sosial umum yang penanganannya berada dibawah Pemerintah Daerah setempat. Dari sejumlah penyandang terdapat banyak diantaranya yang dapat dibina untuk melakukan kegiatan mandiri dengan dimodali oleh Pemda setempat. dengan alasan kalau–kalau suatu saat nanti perilakunya akan muncul kembali.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Para napi pun ini sadar bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat kurang dapat diterima. bahwa permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan menurunya secara drastis pertanian cengkeh yang tadinya menjadi idola di wilayah ini.

Sebenarnya keluarga rentan ini bisa ditangani oleh masing–masing keluarga. Di beberapa kelurahan. mudah diacu atau diikuti masyarakat. Perlu program yang baku. khususnya bagi permasalahan fakir miskin yang sesuai dengan sumber permasalahan lokal. Dari kesimpulan yang diambil dari hasil kajian akan diberikan saransaran/rekomendasi. 2. Tomohon Tengah-Minahasa Keluarga rentan termasuk kategori keluarga manula yang perlu mendapat pertolongan. sehingga diperoleh cara penyelesaian yang tepat. memerlukan langkah-langkah kegiatan yang lebih praktis dan nyata.. Sayangnya di Minahasa ini belum begitu terdengar hal penampung keluarga rentan atau semacam panti penampungan. 3. sebagai berikut: 1. masalah yang juga masalah prioritas kedua adalah masalah lanjut usia terlantar. 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. namun karena kondisi keluarga dalam kondisi yang sama yaitu ketidakmampuan ekonomi sehingga permasalahan keluarga rentan ini menjadi permasalahan tersendiri. Yang terutama memberi perhatian adalah kepedulian pemerintah setempat. sebagai berikut : 1. Keluarga–keluarga rentan ini dalam keadaan pasrah menunggu pertolongan pemerintah. Puslitbang Kesos 79 . Permasalahan ini merata terdapat di semua kelurahan (7 kelurahan). Masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman penanganannya. Masalah yang paling menonjol dan merupakan masalah prioritas di kelurahan-kelurahan wilayah Tomohon Tengah adalah masalah fakir miskin. program yang tepat adalah pemberdayaan fakir miskin melalui bantuan dan jaminan sosial. dengan memperhatikan kriteria lokal dan sumber-sumber yang tersedia. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal masalah penelitian. Masalah-masalah lain berdasarkan pengamatan dan hasil kajian penelitian merupakan masalah yang terkait dan bersumber dari masalah-masalah prioritas seperti kemiskinan. Untuk itu. sehingga penanganannya dapat lebih tuntas.

2004. 1991.. 2002. Tomohon Tengah-Minahasa 3. Bandung.. Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial. Jakarta. dan meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. 2005.. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial.... DAFTAR PUSTAKA Bappeda Tomohon dengan BPS Kabupaten Minahasa. STKS Press Tim Crescent IPB. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama 80 Puslitbang Kesos . Profesi Pekerja Sosial. . Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial. 2005 Rencana Strategis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon Tahun 2005-2009 Dwi Heru Sukoco. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon...Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec... Konsep dan Strategi. misalnya melalui penyuluhan. 2003.. Jakarta. membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya.. Tomohon Dalam Angka (Tomohon In Figures) Departemen Sosial. Pusdatin. Masalah-masalah terkait lainnya perlu ditangani dengan upaya pencegahan.

Nagari Kelurahan 1 2 Judul asli dari penelitian Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat. urang indak mampu. rendahnya akses. Pasaman. Anggotanya terdiri dari orang miskin. Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memetakan kantong-kantong dan merumuskan strategi pengentasan kemiskinan berdasarkan institusi lokal. Kata Kunci: Kemiskinan. Kota Padang dan Kota Payakumbuh. tukang dan buruh kasar. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra kerja. Padang. (3) pekerjaan utama mereka yaitu buruh tani. M. Achmadi Jayaputra. Pesisir Selatan. (4) penyebab kemiskinan yaitu lokalitas ekosistem. Penanggulangan Kemiskinan. Achmadi Jayaputra. Keanggotaan harus mempunyai komitmen yang tinggi. urang sulit. laki-laki dan perempuan. Temuan lapangan antara lain. Sumatera Barat. Penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas. orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik atau urang ino. Untuk mempertahankan hidupnya (survival strategy) secara sosial dan ekonomi. Strategi pengentasan kemiskinan dengan membentuk suatu panitia berbasis institusi lokal (Nagari/kelurahan). Pasaman Barat. Puslitbang Kesos 81 . Kepala Bidang Program Puslitbang Kesos. (1) Kantong kemiskinan terdapat di Kabupaten Mentawai. wawancara mendalam dan diskusi kelompok. urang susah. tokoh masyarakat.PEMETAAN KEMISKINAN DAN STRATEGI PENGENTASANNYA BERBASIS INSTITUSI LOKAL DAN BERKELANJUTAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA BARAT1 Drs. antara lain melakukan pekerjaan secara tetap dan memperbanyak jumlah anggota rumah tangga untuk bekerja. Penelitian ini merupakan penelitian terapan melalui survey terhadap 12 nagari dan 4 kelurahan dalam tiga kabupaten dan dua kota. krisis ekonomi dan kebudayaan. (2) sebutan orang miskin yaitu urang indak bapunyo.

Oleh karena itu. Faktor lain berkaitan dengan kelemahan organisai pelaksana seperti pemerintah lokal dan pemerintah kelurahan atau desa (nagari). 82 Puslitbang Kesos . Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan.70%) tergolong miskin. Termasuk permasalahan sosial yang disebutkan Departemen Sosial sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pelacuran. Hal tersebut seharusnya dijadikan momentum dan peluang untuk mewujudkan desentralisasi pembangunan yang sensitif terhadap persoalan lokal. Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan. diperlukan strategi baru dengan menggunakan potensi sosial lokal untuk membantu orang miskin agar terbebas dari kemiskinannya.300 jiwa (20. karena dihadapkan pada beberapa hal. Berarti memecahkan masalah kemiskinan secara tidak langsung memecahkan PMKS. Khususnya di Provinsi Sumatera Barat.100 jiwa dan tahun 2004 menjadi 472. Penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan bersifat karitatif (charity) cenderung menjadikan orang miskin semakin tergantung pada bantuan pihak luar.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Pendahuluan Penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama pembangunan nasional dan daerah. tahun 2003 menurun hanya 501. sekaligus membuka pintu untuk pemecahan PMKS lainnya. Akibatnya perekonomian mereka rentan dan mereka dengan mudah kembali ke garis kemiskinan.46 juta jiwa terdapat 935. Namun tahun 2005 dari jumlah penduduk 4. sayangnya penduduk miskin di Indonesia makin bertambah. terutama sejak diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah. misalnya tahun 2001 penduduk miskin tercatat 1. anak jalanan. Pengentasan kemiskinan sejak bergulirnya otonomi daerah belum berhasil dengan baik.100 jiwa. Strategi yang dikembangkan itu termasuk dalam community based development. dan • Program tidak diakses karena hambatan struktual. antara lain: • Program tidak tepat sasaran • Program tidak bertahan lama (tidak berkesinambungan) • Program dipaksakan dari atas. dan sebagainya.4 juta jiwa (23%). penyandang cacat.

Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dari instansi pemerintah di 3 kabupaten dan 2 kota tersebut terdiri Puslitbang Kesos 83 . Solok dan Pesisir Selatan. kelompok pendudukan miskin yang mengikuti program anti kemiskinan. Responden seluruhnya berjumlah 224 orang. petani lahan basah. Survey dilakukan terhadap 12 Nagari dan 4 kelurahan yang terdapat dalam 3 kabupaten yaitu Pasaman. nelayan dan bukan nelayan. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu survey. b. diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) dan pengumpulan data skunder. pertama. Selain itu berdasarkan mata pencaharian penduduk yaitu petani lahan kering. sosial. ekonomi dan politik rumah tangga miskin tersebut? c. tokoh komunitas setempat dan pemerintah lokal. Bagaimana kondisi budaya. Diskusi dengan menghadirkan masing-masing 14 orang terbagi dalam dua kelompok. serta 2 kota yaitu Padang dan Payakumbuh. a. wawancara mendalam. Penelitian ini akan merumuskan model penanggulangan kemiskinan yang dapat diadopsi untuk memecahkan PMKS lainnya karena bertumpu pada pemberdayaan komunitas lokal. Memetakan kantong-kantong kemiskinan berdasarkan tipologi ekologis dan sumber mata pendapatan dan mengidentifikasi karakteristik budaya. Merumuskan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan institusi lokal. walaupun telah ada program pengentasan kemiskinan? d. Dimana rumah tangga miskin tersebut berkonsentrasi terhadap tipologi ekologis dan sumber pendapatan? b. Lokasi dipilih secara sengaja berdasarkan angka kemiskinan yang tinggi dan kondisi ekologis.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Permasalahan dalam penelitian. ekonomi dan politik rumah tangga miskin. kedua. yaitu: a. Mengapa anggota rumah tangga tetap miskin. Apa strategi dalam pengentasan kemiskinan yang berbasis institusi lokal yang dapat diterapkan di Provinsi Sumatera Barat? Tujuan penelitian yaitu. tokoh masyarakat yang berpengalaman melaksanakan program anti kemiskinan. sosial.

16% dan didukung lima sub sektor yaitu tanaman pangan dan hortikultura. Camat dan Wali Nagari. Kecamatan II Koto Diateh di Nagari Paninjauwan dan Kuncir. Sedangkan tahun 2006.-.863. Pemberdayaan Masyarakat. Air Haji dan Pungasan.-. 225. Kecamatan Payakumbuh Barat di Kelurahan Parit Rantang dan Padang Karambie. tahun 1996 angka atau garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp.. istilah Nagari digunakan untuk daerah kabupaten dan Kelurahan untuk daerah kota. Kota Payakumbuh. Kabupaten Pasaman. Kabupaten Solok.59%) dan selebihnya tanah yang belum dimanfaatkan. Dinas Sosial. Diantaranya.dan di perdesaan sebesar Rp. 157 kecamatan dan terdiri dari 517 Nagari/Kelurahan. Hasil Penelitian Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota. peternakan. b. 1. dilihat dari kondisi dan penggunaan lahan sebagian terdiri dari hutan (61%). 159. untuk tahun 2003 pertumbuhan ekonomi 5%-7% per tahun. Dinas Kelautan. Kecamatan II Koto di Nagari Simpang Tonang dan Cubadak. kehutanan dan perikanan laut.671. Kota Padang.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya dari Bappeda. Kecamatan Lubuk Bagalung di Kelurahan Kampung Baru dan Gates e. d. Khusus di provinsi ini. 34. Kecamatan Linggo Sari Baganti di Nagari Lumpo. 48. yang terbanyak adalah pertanian 25. Lokasi Penelitian. a. Kecamatan Bonjol di Nagari Koto Kaciak dan Gonggo Halia. Kantong Kemiskinan Di Sumatera Barat.dan di perdesaan sebesar Rp. Wilayahnya 42. c..389. perkebunan. Kecamatan IV Jurai di Nagari Painan. Kinerja ekonomi di provinsi ini. diketahui garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp.904.297 Km2. Kecamatan Kubung di Nagari Gaung dan Panyangkalan. 84 Puslitbang Kesos . Kabupaten Pesisir Selatan. tanah yang dimanfaatkan untuk permukiman (28.

07% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.337 rumah tangga (25.922 rumah tangga (35. terdapat 223. urang susah (orang susah).825 rumah tangga miskin atau 22. Orang miskin dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga seperti buruh tani.07%) dan Payakumbuh 4. nelayan kaya yang memiliki alat tangkap lengkap dan kapal bermotor. Nelayan terbagi tiga kelompok yaitu. pertama.162 rumah tangga (21. Pasaman 19.98%).Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Tahun 2005. Orang miskin sebagai keadaan negatif.002 (51. Sedangkan di perkotaan angka yang tinggi karena tingginya jumlah penduduk.12%). Pesisir Selatan 26. 2) Produktivitas rendah karena hama babi dan kera yang susah ditanggulangi masyarakat setempat. nelayan yang tidak punya alat tangkap. Pada daerah yang berbasis pertanian sawah. Pasaman Barat 21.17%). urang sulit (orang sulit). Penyebabnya antara lain : 1) Tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas.186 rumah tangga (29.250 rumah tangga (17. Mereka yang tergolong rumah tangga miskin kebanyakan di perdesaan dengan mata pencaharian pokok sebagai petani di lahan kering atau perladangan. buruh dan pedagang kecil. 3) Kesuburan tanah dan ketersediaan air rendah. Ditemukan beberapa sebutan orang miskin dalam istilah lokal yaitu urang indak bapunyo (orang tidak punya).41%). selalu dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga. Rumah tangga miskin banyak terdapat dalam enam daerah yaitu Kabupaten Mentawai 8. ketiga. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatannya dari pekerjaan buruh tani. Orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik (orang bangsat) atau urang ino (orang hina). Diantaranya nelayan yang tergolong miskin yang dilihat dari kepemilikan alat tangkap. urang indak mampu (orang tidak mampu). kedua. nelayan miskin yang terdiri dari buruh angkut.12%). sehingga mereka harus membeli beras. nelayan sedang yang memiliki kapal dan bermotor tempel. 4) Areal sawah sangat sedikit. Padang 35. Ini terjadi karena tidak memiliki lahan sendiri atau lahan sempit seperti petani penggarap yang Puslitbang Kesos 85 .

86 Puslitbang Kesos . 200.5%).000. nelayan kecil atau buruh nelayan (16.20%) dari tahun sebelumnya.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya tidak mempunyai lahan pertanian.per bulan (20. 600.50%). Rp. Adapun tipologi di daerah perkotaan. Khususnya sektor informal sangat bervariasi seperti buruh kasar.000.30%) dan yang berpendapatan diatas Rp. 399. Karakteristik sosial. golongan miskin menunjuk pada rumah tangga buruh nelayan yang tidak memiliki sarana penangkap ikan yang lengkap. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatan dari buruh dan sektor informal. 400. Pendapatan yang mereka peroleh antara lain terendah Rp. usia sekolah. Namun mereka tidak mampu karena terbatas pengetahuan dan keterampilan. Dikalangan nelayan.(16.10%). Rumah tangga miskin memiliki jumlah anak yang lebih banyak dan sebagian besar menjadi tanggungan keluarga karena masih bayi.. pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani (54. ada yang merasa ekonominya lebih baik (4. berpendapatan Rp. seorang pegawai rendahan merangkap sebagai tukang ojek atau buruh serabutan.10%). 200. Misalnya di daerah perdesaan seorang sebagai petani sawah dapat saja menjadi buruh tani.000. 1) Alternatif pekerjaan di daerahnya terbatas dan berkaitan dengan perkembangan ekonomi makro. seorang buruh nelayan dapat saja merangkap sebagai tukang atau buruh angkat.(35. tukang dan buruh lainnya. Di tengah banyaknya program anti kemiskinan. maka perlu mengakses peluang.5%).(28. 599...20%). Demikian juga daerah perkotaan. Pada tipologi yang berbasis nelayan. pedagang yang tidak bermodal atau bermodal kecil.60%) dan yang menjawab tidak ada perubahan (48.10%). Kebanyakan orang miskin melakukan pekerjaan ganda. penyebab kemiskinan antara lain.sampai dengan Rp. kebanyakan rumah tangga yang dikepalai perempuan termasuk dalam kategori rumah tangga miskin.30%). Apabila ingin memperbaiki ekonomi. Oleh karena itu. Hasil survey. Biasanya buruh nelayan hanya memiliki sampan saja atau perahu tidak bermotor.000.000. ternyata ekonomi rumah tangga miskin banyak yang merasa pesimis melihat perbaikan ekonominya. Hasil survai secara keseluruhan. tukang atau buruh (3. merasa lebih buruk (28.000.sampai dengan Rp. pedagang kaki lima dan lain-lain (23. belum bekerja atau belum menikah.

Sementara meminjam kepada lembaga keuangan perbankan atau lembaga keuangan mikro tidak menjadi alternatif karena masih kurangnya lembaga keuangan tersebut. Pertumbuhan penduduk terus berlangsung. maka orang miskin bergantung pada pekerjaan yang tidak memberi pendapatan yang mencukupi. berhutang kepada anggota keluarga (20. 2) Anggota Rumah Tangga Rumah tangga miskin cenderung memperbanyak jumlah anggota rumah tangga ikut bekerja untuk memecahkan kesulitan hidup. Ini menunjukkan mereka bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang. 1) Pekerjaan Tetap Mereka tidak berusaha pindah pekerjaan. Strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya secara sosial dan ekonomi.70%) atau berhutang kepada bos atau tauke (12. Orang miskin atau rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan yang dialami melakukan upaya adaptasi.80%). 4) Orang miskin tidak mampu mengakses sumber daya karena ketiadaan teknologi dan minimnya modal.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Ketiadaan alternatif dan tidak mampu mengkreasi peluang baru.10%). Puslitbang Kesos 87 . sementara luas lahan tetap dan dipengaruhi sistem pemilikan lahan secara adat. Pola ini merupakan bagian dari strategi adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan. 3) Produktivitas rendah karena orang miskin tidak memiliki aset lahan yang memadai. Tujuannya untuk bertahan hidup (survival strategy). Cara lain yang mendorong orang miskin memecahkan masalah keuangan rumah tangganya yaitu berhutang kepada tetangga (38.50%) menerima bantuan dari anggota keluarga (14. Alasannya tidak tahu alternatif yang tersedia dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tetap lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan resiko pilihannya. Pilihan diversifikasi pekerjaan dan pendapatan melalui pola nafkah ganda. Adapun strategi adaptasi tersebut yaitu.

Pada masyarakat petani ladang yang terjadi meningkatnya biaya produksi seperti bibit dan pupuk. Daerah perladangan dengan tanaman tua yang diusahakan membutuhkan lahan yang luas. Tanah telah dibagi habis. Banyak orang miskin di nagari dari kalangan pendatang. Secara umum 88 Puslitbang Kesos . Akan tetapi tidak ada irigasi yang baik atau sumber air terbatas. Sementara pendapatan tidak seimbang dengan biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk pangan dan konsumsi rumah tangga. musim angin dan bulan. antara lain. 1) Lokalitas Ekosistem Di kalangan petani perdesaan atau lahan kering ketergantungan terhadap lahan secara mutlak. Termasuk kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi naik. kini kembali ke kampung. 3) Krisis Ekonomi Krisis ekonomi diikuti dengan kenaikan harga berbagai alat produksi dan kebutuhan konsumsi telah menyebabkan semakin beratnya kehidupan masyarakat. Ada golongan keluarga atau masyarakat yang hidup turun-temurun dalam kekurangan aset ekonomi atau rendah aksesnya terhadap sumber daya setempat. Pengaruh ekologis sangat dirasakan di kalangan nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tidak selalu sama atau tergantung iklim. terkena PHK dan usahanya bangkrut. tetapi lahan yang ada sangat terbatas. sehingga produksi lahan sawah rendah. tetapi lahan terbatas. Ada pula di perkotaan yang dahulu merantau. Di kalangan komunitas nelayan miskin. rendahnya akses kepemilikan alat tangkap ikan seperti perahu motor. disebabkan tanah ulayat hanya digunakan oleh anak kemenakan pemilik ulayat. Selain itu status tanahnya sebagai tanah adat atau ulayat atau hutan lindung tidak dapat digunakan sembarangan karena pengaturannya yang berbeda. 2) Rendahnya Akses Ada keluarga yang kekurangan lahan. sedangkan anggota kaum bertambah. Sedangkan petani sawah ketersediaan air mutlak.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Secara umum penyebab kemiskinan. sehingga tidak dapat menggunakan lahan yang ada.

2. Kredit Usaha Kecil (KUK). Namun hanya tahu terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diketahui saja. melakukan pemantauan dan pengendalian. Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes). Kredit kelompok Kepada Kelompok Masyarakat (K3M) 4) Program Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) 5) Program Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS) dari BKKBN 6) Program perbaikan rumah tidak layak huni dari Departemen Kimpraswil 7) Program bantuan pendidikan bagi anak miskin 8) Program bantuan pengobatan orang miskin 9) Program bantuan beras miskin (Raskin) dari BULOG Puslitbang Kesos 89 . sejak tahun 1983 sudah masuk program pengentasan kemiskinan atau program anti kemiskinan yang dilakukan oleh beberapa departemen atau instansi pemerintah lainnya. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). memfasilitasi dana. mengkoordinasikan kegiatan. Tugas komite tersebut yaitu menyiapkan data. Kinerja Anti Kemiskinan Tahun 2002 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang diketuai oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan Gubernur Sumatera Barat sebagai penanggung jawab. 4) Kebudayaan Semua rumah tangga miskin mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Adapun program kemiskinan yang pernah dialami antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Departemen Sosial RI 2) Inpres Desa Tertinggal (IDT) dari Departemen Dalam Negeri 3) Kredit Investasi Kecil (KIK). Ternyata. sehingga tidak ada alternatif pekerjaan lain.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya yang paling dirasakan yaitu kenaikan harga kebutuhan dasar dan membiayai modal usaha. Namun dalam pelaksanaan kegiatan belum menunjukkan hasilnya dalam penanggulangan kemiskinan.

kedua. Juga diakui responden. 600. kelima.. BAZIS. GEKS. Dampak program yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Program Tidak Efektif Program-program anti kemiskinan tidak efektif membebaskan penerima bantuan dari kemiskinannya. PMP dan P2P. program. semua program yang ada terbagi lima. Secara umum program anti kemiskinan yang pernah diikuti belum membuat perekonomian mereka membaik. Bantuan yang bersifat jaring pengaman sosial hanya untuk memenuhi kebutuhan 90 Puslitbang Kesos . sebagian besar (80%) responden mengaku ekonomi mereka tidak berubah dari sebelumnya dan selebihnya (20%) menyatakan lebih buruk dari tahun sebelumnya. ketiga. pengembangan keuangan mikro dengan memberikan bantuan modal kepada kelompok simpan pinjam seperti IDT.per bulan. PPK dan Subsidi BBM. BLT. bahkan sebanyak 60% lebih pernah mengikuti dua sampai empat macam program anti kemiskinan. Infaq dan Shadaqah (BAZIS) 16)Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 17)Subsidi BBM Menurut bantuan yang diberikan. Kartu Sehat.000.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 10)Bantuan Langsung Tunai (BLT) 11)Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari Departemen Dalam Negeri 12)Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) 13)Program Pengentasan Perkotaan (P2P) 14)Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPMP) 15)Badan Amil Zakat. program pembangunan infrastruktur seperti IDT. PDM-DKE dan PMP. Pada umumnya (90%) pernah mengikuti program anti kemiskinan. pertama. keempat. KUBE. program yang bersifat jaring pengaman atau program yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sesaat dengan model bantuan karitatif seperti Raskin. Ratarata tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena penghasilan yang diperoleh dibawah Rp. program bantuan pendidikan seperti BOS dan PPK. PPK. program memberdayakan keluarga miskin dengan bantuan modal usaha seperti IDT.

1) Sifat Program Bantuan yang diberikan menyelesaikan kebutuhan sesaat karena bersifat karitatif dan parsial. Ikatan anggota dengan kelompok rendah karena kebanyakan anggota dan perlu uang. sehingga tidak memberdayakan penerimanya.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya hidup sehari-hari dan tidak membuat mereka menyimpan karena bantuan jumlahnya terlalu kecil. Namun daerah penerima bantuan tetap saja menjadi kantong-kantong kemiskinan. tidak mampu membayar cicilan dana bantuan dan pendapatan kecil dengan biaya operasional yang tinggi. yaitu. kendaraan bermotor dapat menjangkau desanya. Hal tersebut disebabkan kelompok simpan pinjam tidak bertahan lama dan kelompok cepat bubar. 2) Pengembangan Infrastruktur Program pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang dibangun telah memudahkan penduduk setempat untuk memasarkan produksinya. hanya menyentuh sebagian rumah tangga. 5) Bantuan Alat Tidak Efektif Program bantuan peralatan usaha tidak efektif karena penerima tidak mampu mengoperasikan alat yang diterima. Penyebab lain kemacetan tinggi karena cicilan terlalu besar dan anggapan uang pemerintah tidak perlu dikembalikan. Penyebab ketidakberhasilan program. Beras Raskin lebih banyak dimanfaatkan penduduk miskin di perkotaan daripada penduduk miskin di perdesaan. Puslitbang Kesos 91 . Terutama dalam bentuk simpan pinjam tidak bermanfaat dalam waktu jangka panjang. 4) Bantuan Bergulir Kurang Berhasil Bantuan yang diterima dalam kelompok tidak bergulir karena sapi yang diterima terlebih dahulu dijual sebelum beranak. Selain itu tidak ada pengawasan dan pembinaan dari penyelenggara program dan tidak ada perhatian dari tokoh masyarakat setempat. 3) Keuangan Mikro Kurang Berhasil Program pengembangan keuangan mikro bukan perbankan.

Sedangkan dalam pemerintah kota (Kelurahan) ada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Badan Perwakilan Adat Nagari (BPAN) atau Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Lembaga tersebut banyak berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan lembaga pimpinan adat (nini mamak ). kedua. 92 Puslitbang Kesos . Berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan belum peduli terhadap program kemiskinan dan belum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Kantor tidak tiap hari dibuka. Gagalnya program anti kemiskinan disebabkan. Pemerintah nagari/ kelurahan diperlakukan sebagai ujung tombak yang tumpul karena program-program tidak memberdayakan organisasi lokal. Keragaan Energi Sosial Lokal 1) Peran Institusi Formal Institusi formal lokal dalam pemerintah kabupaten (Nagari) dipimpin Wali Nagari. hanya kalau ada keperluan atau pekerjaan tertentu barulah dibuka seperti ada kegiatan dari kecamatan atau instansi pemerintah lainnya. Hal itu dianggap bukan menjadi urusan mereka dan tidak ada mekanisme pertanggungjawabannya. komunitas perdesaan beranggapan penanggulangan kemiskinan merupakan tugas pemerintah.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Pengelolaan Program bantuan tidak berkelanjutan dan kelompok yang dibentuk tidak efektif. Kegiatan yang dilakukan terbatas pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja nagari/kelurahan. pertama. Namun dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum dapat mengeluarkan aturan-aturan bagi nagarinya. 3) Partisipasi Lokal Partisipasi organisasi sosial dan tokoh lokal rendah karena mereka tidak melakukan langkah-langkah untuk melanjutkan program. 3. Lembaga nagari/kelurahan tidak aktif memantau dan membenahi program yang ada. program-program tersebut tidak ada yang mendorong lembaga lokal untuk aktif terlibat dan bertanggung jawab terhadap program anti kemiskinan.

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

2) Peran Institusi Informal Lembaga informal yang ada merupakan lembaga yang tidak terkait dengan pemerintah seperti Kerapatan/Lembaga Adat Nagari (K/LAN), Badan Musyawarah Adat dan Syara (BMAS), organisasi berbasis agama dan kekerabatan. Khususnya organisasi yang berbasis keagamaan seperti majlis taklim dan kelompok yasinan, perannya muncul ketika perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Lembaga tersebut mempunyai tugas mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah untuk dibagikan kepada keluarga miskin. 3) Peran Kekerabatan Kebutuhan anggota kerabat atau keluarga yang dialami selalu dikaitkan dengan fungsi keluarga luas matrilineal. Bantuan sosial ekonomi diberikan kepada seluruh anggota keluarga yang memerlukan. Terutama berkaitan dengan keperluan yang sifatnya mendadak seperti sakit, kebakaran, meninggal dan musibah lainnya. Unsur matrilineal menjadi pokok perhatian yaitu; pertama, harta pusaka sebagai sumber ekonomi keluarga luas matrilineal; kedua, pola tempat tinggal keluarga luas matrilineal dalam menjalankan perannya; ketiga, aktualisasi adat. Hubungan sosial ekonomi dimulai dari hubungan timbal balik. Semangat akan timbul saat membantu dalam pelaksanaan perkawinan. Bantuan yang diberikan biasanya dalam bentuk uang dan tenaga, sedangkan dalam biaya pendidikan tidak karena menjadi urusan masing-masing. Bantuan terhadap orang miskin, lanjut usia dan yatim piatu menjadi urusan paruiknya. Mereka lebih baik dipelihara oleh paruik dan masyarakat setempat yang telah saling mengenal dan dijamin lebih baik. Masyarakat tidak mau dan merasa malu menempatkan lanjut usia dan anak yatim ke panti asuhan. Peran tokoh lokal membantu orang miskin dalam bentuk memberikan fasilitas atau modal usaha. 4) Nilai-nilai dan Solidaritas Lokal Nilai-nilai dan praktek solidaritas sosial lokal tumbuh dan berkembang dalam masyarakat didasarkan rasa tanggung jawab dan rasa kebersamaan. Tujuannya untuk membantu seluruh anggota
Puslitbang Kesos

93

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

keluarga dan masyarakat. Pepatah Minangkabau; bakampung mamaga kampung, tagak basuku mamaga suku, tagak banagari mamaga nagari, sandar menyandar bagaikan aur dengan tebing. Nilai yang terkandung dalam pepatah tersebut mencerminkan kehidupan keluarga yang saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Namun, dalam perkembangannya nilai-nilai tersebut tidak lagi dijalankan. Masyarakat menggunakan kata individualis untuk menyebut perilaku dari sebagian masyarakat yang tidak lagi memikirkan sanak saudara dan para tetangga dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi sosial yang sangat dikenal yaitu Kelompok simpan pinjam, Kongsi dan Julo-julo. Kelompok simpan pinjam terdiri dari beberapa orang yang mengelompokkan diri yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan anggota atau kelompoknya. Ada kelompok laki-laki atau kelompok perempuan. Kelompok juga yang berhubungan dengan pihak luar atau organisasi sosial untuk memperoleh pinjaman. Kelompok simpan pinjam sering cepat bubar karena menjadi pengurus tidak semuanya disenangi masyarakat, kecurigaan anggota terhadap pengurus sangat tinggi. Kongsi suatu istilah yang dimulai dari individu yang menjual jasa dalam pengolahan lahan pertanian terhadap anggotanya. Kegiatannya bertujuan untuk mengatasi kesulitan mereka dalam membayar tenaga kerja. Biasanya, awal kegiatan kongsi berjalan baik dan selanjutnya sering anggota kongsi malas dengan berbagai alasan. Upah yang dibayarkan berbeda berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebesar Rp. 20.000,- per hari dan perempuan sebesar Rp. 10.000,- per hari. Julo-julo (Arisan) yang merupakan kelompok penabung, dipelopori ibu-ibu. Setiap anggota akan menabung sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan dan waktu penarikan yang ditentukan. Biasanya terdiri dari 10 orang, tiap orang akan menerima bagian sesuai dengan jumlah uang yang ditabung dan paling murah Rp. 5.000,-. Keberadaan kelompok ini sangat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah keuangan terutama untuk biaya pendidikan dan modal kerja.

94

Puslitbang Kesos

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Kesimpulan dan Saran Pemetaan kemiskinan telah menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dalam beberapa kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penelitian. Kantong-kantong kemiskinan tersebut berdasarkan tingkat nagari/kelurahan yang terbagi dalam kelompok petani lahan kering, persawahan dan nelayan. Dirumuskannya strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang disebutkan berbasis nagari/kelurahan. Adanya model strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang akan diujicobakan pada tingkat nagari/kelurahan yaitu; a. Konsep Pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal diartikan program yang bertumpu kepada kekuatan komunitas lokal dengan mengandalkan organiasi sosial yang telah ada. Tujuannya agar komunitas lokal dan tokoh masyarakat pelaku aktif pengentasan kemiskinan. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra. Partisipasi diperlukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemeliharaan. b. Prinsip Organisasi sosial dan tokoh masyarakat harus aktif dan proaktif dalam pengentasan kemiskinan yang disusun sesuai potensi dan aspirasi masyarakat. Diperlukan badan atau organisasi sosial yang bertugas mengkoordinasikan upaya pengentasan kemiskinan. Diperlukan pendampingan yang menguasai tentang strategi dan teknik penanggulangan kemiskinan. Program bersifat pemberdayaan komunitas. c. Sasaran Komunitas nagari/kelurahan dengan angka kemiskinan tinggi melalui lembaga-lembaga dan rumah tangga miskin. Meningkatkan peran nagari/kelurahan yang mempunyai program anti kemiskinan berdasarkan potensi dan aspirasi lokal. Di lokasi dibentuk organisasi dengan sebutan Panitia Penanggulangan Kemiskinan Nagari/ Kelurahan.

Puslitbang Kesos

95

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Ketentuan panitia antara lain; Lembaga tersebut dibentuk melalui musyawarah di nagari/kelurahan masing-masing, Panitia beranggotakan kaum laki-laki dan perempuan secara proporsional Struktur organisasi tediri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan sekurang-kurangnya lima anggota, Tokoh-tokoh terseleksi yang mempunyai komitmen tinggi, Mempunyai anggaran khusus, Menggali sumber-sumber lokal, Perlu pemecahan faktor-faktor struktural lokal Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1) Rekruitment Tenaga Pendamping Pendamping dalam nagari/kelurahan sebanyak dua orang. Pendamping selalu berkoordinasi dengan peneliti dan pemerintahan nagari/ kelurahan. 2) Upaya Penyadaran Pendamping melakukan upaya penyadaran kepada lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat nagari/kelurahan agar mereka aktif melakukamn usaha pengentasan kemiskinan. 3) Membentuk Panitia Berkoordinasi dengan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk panitia. 4) Pelatihan Dilakukan terhadap panitia penanggulangan kemiskinan agar memahami kegiatannya. 5) Pendataan Melakukan pendataan rumah tangga miskin dengan merumuskan kriteria kemiskinan yang sesuai dengan persepsi setempat. 6) Merumuskan Program Merumuskan program dan kegiatan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tenaga ahli, pejabat pemerintah dan pihak lain untuk membantu rumah tangga miskin.

96

Puslitbang Kesos

Pelaksanaan Program Panitia penanganan kemiskinan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 2003.4. Menemukan Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat. 2006. “Pemberdayaan Pranata Sosial Pengalaman Empiris” dalam Umi Ratih Santoso. Rencana Pembangunan Jangka Menangah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006 – 2010: Agenda 6 Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan. Jakarta. Djamaluddin. Nomor 3 . Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. “Ikatan Kekerabatan sebagai Sebuah Jaringan Sosial Ekonomi: Diskusi tentang Isu-isu Perubahan pada Ikatan Kekerabatan Matrilineal Minangkabau” dalam Jurnal Pembangunan dan Perubahan Sosial. Ancok. Yogyakarta. Membangun Keterlibatan Keterlibatan organisasi-organisasi sosial dan pemerintah dalam melakukan monitoring pengentasan kemiskinan. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. Pusdatin Kesos.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 7) 8) 9) Membuat Peraturan Panitia dan tokoh masyarakat perlu membuat peraturan dalam pengentasan kemiskinan di daerahnya. Aset untuk orang Miskin: Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. 2005. “Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta. DAFTAR PUSTAKA Afrizal. Departemen Sosial RI. Harry. 2006. LP3ES Hikmat. Puslitbang Kesos 97 . Padang. Pusbangtansosmas. R. 1987. dkk (ed). Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Perspektif Teoritik. Aditya. Metodologis dan Empiris. Jakarta. Jakarta. Sherraden. Chambers. 1995. dkk (ed). Data dan Informasi PMKS dan PSKS Tahun 2004. Jakarta. Raja Grafindo Persada. M. 1997.

.

petugas lembaga tinggal menetapkan titik batas nilai. Kata kunci: Participatory Wealth Ranking. Agus Budi Purwanto (anggota).PARTICIPATORY WEALTH RANKING Sebuah Alternatif Teknik Identifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin1 Drs. Haryati Roebiyantho (anggota). Yanuar Farida Wismayanti. Penyesuaian yang perlu dilakukan adalah pada sistem penilaian yaitu nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya.Si (anggota). Siti Aminah (sekretariat). Departemen Sosial RI tahun 2006. Apabila pemberdayaan fakir miskin berniat untuk merangsang prakarsa masyarakat mengatasi permasalahannya maka PWR adalah sebuah pilihan tepat untuk mengawali langkah. Tahap ini rawan karena pada satu sisi sangat menentukan efektivitas program secara keseluruhan pada sisi lain sering dianggap pekerjaan mudah sehingga kurang diperhatikan atau bahkan disepelekan. S. Dengan menggunakan teknik PWR tampak dengan nyata bahwa masyarakat tidak saja diberi kesempatan berpartisipasi tetapi diakui dan dihargai martabatnya. Anwar Sitepu. memperoleh gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB). berupa daftar nama dan alamat keluarga menurut urutan (peringkat) kemiskinan. Badiklit Kesos. Puslitbang Kesos 99 . Tim peneliti terdiri dari: Drs. Dra. Hendriyati. Manual PWR mudah dijabarkan oleh fasilitator untuk memfasilitasi masyarakat melakukan pemeringkatan. Drs. MPM 2 ABSTRAK Participatory Wealth Ranking (PWR) merupakan alternatif teknik mengidentifikasi keluarga termiskin dan miskin. keluarga miskin Pendahuluan Salah satu titik rawan dalam penyelenggaraan Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) adalah pada tahap identifikasi dan seleksi sasaran. Anwar Sitepu. dan Dra. Data yang dihasilkan berupa data mikro. Teknik ini dikembangkan oleh The Small 1 2 Dikembangkan dari Laporan Penelitian Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. M. MP (ketua). Mengatasi hal tersebut Puslitbang Kessos bermaksud menawarkan sebuah teknik yang disebut Participatory Wealth Ranking (PWR). Anwar Sitepu.ST (sekretariat). Untuk seleksi sasaran program. Ir.

Peneliti. kendala dan kemudahannya. Tekanan penting pada metode partisipatif bukan sebatas pada aktivitas pengkajian/penelitian atau pengumpulan data tetapi pada aspek pembelajaran masyarakat (Rianingsih (Ed). Visi metode/ pendekatan partisipatif adalah perubahan sosial dan pemberdayaan (penguatan) masyarakat agar ketimpangan ditiadakan. Seperti PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers. termasuk di Indonesia. senada dan selaras dengan paradigma. dan Lingkungan. PWR dalam perkembangannya sudah diadopsi oleh NGO yang beroperasi di seluruh dunia. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan di lapangan manual PWR yang disusun oleh The SEF. seluruh pengalaman dan hasilnya dicatat dan diabstraksikan. Rukun Warga. Berdasarkan kajian awal teknik ini dipandang layak digunakan karena prosesnya dinilai aplicable dan teknisnya dikembangkan berlandaskan pendekatan partisipatif. Tulisan ini merupakan pengembangan dari laporan uji aplikasi PWR di lapangan. 100 Puslitbang Kesos . Proses aplikasi di lapangan diobservasi. Metode-metode/ Teknik-teknik participatory dikembangkan sebagai salah satu upaya menempatkan rakyat sebagai titik pusat pembangunan (people centred development). Dengan Teknik PWR konsep dan indikator miskin tidak disiapkan dari luar sebelum pengumpulan data dilakukan. PWR adalah sebuah teknik penelitian tetapi bukan sekedar teknik penelitian biasa. Konsep dan Teknik PWR Participatory Wealth Ranking (PWR) adalah sebuah teknik pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi berlandaskan pada pendekatan partisipatif. terlebih dahulu perlu dilakukan uji aplikasi.Participatory Wealth Ranking Enterprise Foundation (SEF) sebuah Non Governmental Organization (NGO International). masing-masing sebagai satuan pemukiman setingkat atau bagian dari Dusun. Bentuk lain yang relatif sudah dikenal lebih banyak orang adalah Participatory Rural Apraisal (PRA). untuk mengidentifikasi dan menyeleksi penerima pelayanannya di Afrika Selatan. Tujuannya adalah mengetahui efektivitasnya. PWR adalah salah satu bentuk dari metode-metode partisipatif. sekaligus bertindak sebagai fasilitator.1996:14). Tujuan PWR adalah untuk menemukan keluarga termiskin di suatu masyarakat menurut ukuran mereka sendiri dan oleh mereka sendiri. Penelitian dilakukan di enam lokasi di provinsi berbeda. Lazimnya sebuah produk luar. yang sebelumnya dilatih secara singkat. sebelum dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas dalam pelaksanaan P2FM. visi dan misi serta strategi P2FM.

Participatory Wealth Ranking

Penggunaan teknik ini efektif dilakukan di masyarakat yang warganya saling mengenal dengan baik. Pemeringkatan keluarga dilakukan oleh perwakilan warga, dengan asumsi mereka lebih tahu kondisi sesamanya. Perwakilan warga ditetapkan secara proporsional, minimal sebanyak 9 orang dan maksimal 15 orang. Pemeringkatan dilakukan melalui proses penilaian berlapis, yaitu sebanyak tiga kali (triangulasi). Setiap penilaian dilakukan oleh kelompok kecil (tiga sampai lima orang) perwakilan warga. Penilaian dilakukan dengan teknik pengelompokkan, setiap keluarga dibandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lain. Keluarga yang sama atau seimbang kondisi sosial ekonominya dikelompokkan menjadi satu kelompok. Sumber data adalah perwakilan warga itu juga, sehingga mereka bertindak sekaligus sebagai pengumpul data dan informan. Orang luar, petugas lembaga bertindak sebagai fasilitator. Pemeringkatan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan Tahap Penghitungan Nilai.
1. Tahap Persiapan

Tahap Persiapan bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melakukan pemeringkatan. Kegiatan pada tahap ini meliputi tiga besaran, yaitu: perkenalan dan penjelasan, merencanakan pertemuan pemeringkatan dan pengaturan logistik. Perkenalan yang dimaksud dilakukan dengan aparat setempat. Kepada aparat dikenalkan siapa fasilitator, dijelaskan apa tujuannya dan bagaimana teknis pemeringkatan, termasuk cara kerja, dan dukungan apa yang diperlukan sampai pada kesepakatan melakukan pemeringkatan. Jika aparat setempat sudah jelas dan tidak keberatan, lanjutkan dengan pengaturan pelaksanaan kegiatan, termasuk waktu, tempat dan peserta. Pada kesempatan tersebut fasilitator menjelaskan persyaratan peserta, lokasi pertemuan yang diperlukan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini bertujuan untuk memisahkan atau mengelompokkan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Semua keluarga yang sama atau seimbang dari segi sosial ekonomi dikelompokkan menjadi satu kelompok, sehingga seluruh keluarga akan masuk dalam salah satu
Puslitbang Kesos

101

Participatory Wealth Ranking

kelompok. Tujuan tersebut dicapai melalui sejumlah kegiatan yaitu: pemetaan, pendaftaran keluarga, pembuatan kartu, diskusi konsep, dan sorting. Pemetaan bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh keluarga yang tinggal di suatu wilayah dimana PWR dilakukan, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Peta memuat lokasi rumah setiap keluarga di masyarakat tersebut. Setiap rumah di peta diberi nomor urut. Nama masing-masing Kepala Keluarga dan identitas lain seperti nama panggilan, pekerjaan dan nama isteri, kemudian didaftarkan pada form khusus yang sudah disiapkan. Berikutnya, nama dan nomor urut masing-masing KK ditulis kembali di atas sebuah potongan kertas karton sehingga menjadi sebuah kartu. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat sorting. Sorting adalah pembandingan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi konsep. Peserta diajak merumuskan apa yang dimaksud dengan ”miskin” dan ”sangat miskin” atau mengidentifikasi apa ciri-ciri sebuah keluarga miskin atau sangat miskin. Diskusi dimaksudkan agar peserta berpikir dan memiliki pemahaman yang sama tentang miskin dan sangat miskin. Kesamaan pemahaman diperlukan untuk mempermudah proses sorting. Sorting dilakukan dengan cara: • Fasilitator menunjukkan kartu nama keluarga kepada kelompok. Dijelaskan bahwa masing-masing kartu tersebut mewakili sebuah keluarga. • Kemudian, fasilitator mengambil dua kartu pertama, seraya memperlihatkan dan menanyakan kepada peserta, apakah mereka mengenal kedua keluarga yang namanya tertera pada masing-masing kartu tersebut? ”Keluarga mana yang lebih miskin?” Disini akan berlansung diskusi, masing-masing peserta akan menyampaikan informasi dan pendapatnya. • Setelah diperoleh kesepakatan, kedua kartu diletakkan bersebelahan, yang lebih miskin di sebelah kiri dan yang lebih kaya sebelah kanan. Alasan penempatan dicatat pada form yang telah disiapkan. Dilanjutkan dengan kartu berikutnya, bandingkan dengan dua kartu yang sudah diletakkan. Jika sama atau seimbang dengan

102

Puslitbang Kesos

Participatory Wealth Ranking

salah satu kartu yang sudah diletakkan tadi, maka kartu ketiga diletakkan di atasnya. Jika lebih kaya dari kartu sebelah kanan, maka kartu ketiga diletakkan di sebelah kanannya lagi, atau jika lebih miskin dari yang paling kiri, maka kartu ketiga itu diletakkan di sebelah kirinya lagi. • Demikian seterusnya, satu demi satu dibandingkan dan diletakkan di tempat yang sesuai. Pada akhirnya seluruh kartu akan masuk pada salah satu kelompok atau tumpukan kartu. • Sorting dilakukan sebanyak tiga kali masing-masing oleh kelompok (3 sampai 5 orang) perwakilan warga, pada waktu dan tempat berbeda. Menurut The SEF tidak menjadi soal, berapa pun banyaknya tumpukan, yang penting adalah bahwa masing-masing tumpukan berbeda menurut kondisi sosial ekonomi. The SEF menganjurkan sebaiknya minimal 4 tumpukan. Hal yang harus diingat bahwa sorting adalah membandingkan kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga, bukan bagaimana orang mencari uang atau berapa besar pendapatan sebuah keluarga. Contoh, walau pun seseorang memiliki penghasilan besar tetapi uangnya tidak dibawa ke rumah untuk kepentingan keluarganya, maka itu percuma saja, tidak memberi dampak pada kesejahteraan keluarganya. Seluruh kegiatan di atas, mulai dari membuat peta, pendaftaran nama KK, pembuatan kartu, diskusi konsep dan sorting dilakukan oleh perwakilan warga. Petugas dari lembaga hanya sebagai fasilitator. PWR harus berlangsung dalam suasana santai tetapi tetap serius.
3. Tahap Penghitungan Nilai

Akhir dari sorting adalah terpisahnya kartu keluarga menjadi beberapa tumpukan. Tumpukan paling kiri di mana keluarga termiskin berada diberi nilai 100, artinya 100% miskin. Nilai masing-masing keluarga lain tergantung pada jumlah tumpukan (pengelompokkan) dan di tumpukan mana dia berada. Contoh: Anggaplah kelompok membagi keluarga ke dalam 4 kategori atau tumpukan menurut kondisi sosial ekonominya. Menghitung seberapa miskin setiap tumpukan, 100 dibagi dengan jumlah kategori. 100 dibagi 4 = 25 kalikan dengan nomor tumpukan. Tumpukan 4 = 100 : 4 x 4 = 100;
Puslitbang Kesos

103

Participatory Wealth Ranking

Tumpukan 3 = 100 : 4 x 3 = 75 ; Tumpukan 2 = 100 : 4 x 2 = 50; Tumpukan 1 = 100 : 4 x 1 = 25. Nilai dari masing-masing kelompok penilai dimasukan pada kolom tersendiri pada form yang sudah disiapkan. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh nilai rata-rata masingmasing keluarga. Nilai rata-rata berfungsi untuk menentukan peringkat akhir keluarga di masyarakatnya. Karena masing-masing keluarga dinilai sebanyak tiga kali maka setiap keluarga memperoleh tiga nilai. Nilai rata-rata setiap keluarga adalah jumlah tiga nilai dibagi tiga. Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah, maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Maksudnya tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat.

Uji Aplikasi PWR Uji aplikasi dilakukan di 6 provinsi, masing-masing satu lokasi. Peneliti bertindak sekaligus sebagai fasilitator. Menurut tipe masyarakatnya, 4 lokasi berupa masyarakat perdesaan dan dua lokasi berupa masyarakat perkotaan. Keenam lokasi merupakan calon lokasi program pemberdayaan fakir miskin. Berikut adalah deskripsi aplikasi setiap tahap PWR.
1. Tahap Persiapan

Seluruh kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan dengan baik di semua lokasi. Kegiatan diawali dengan menemui Kepala Kelurahan/ Desa. Tim Fasilitator didampingi oleh aparat Dinas Sosial Provinsi dan atau Dinas Sosial Kota/Kabupaten. Perkenalan dengan Kepala Kelurahan/Kepala Desa berlangsung dengan baik. Kepada mereka dijelaskan bahwa kegiatan dilakukan masih sebatas mengujicobakan teknik. Kepada masing-masing juga dijelaskan secara singkat tujuan dan teknik pelaksanaan PWR. Masing-masing tidak keberatan di wilayahnya dilakukan kegiatan dan bersedia membantu. Bersama Kepala Desa/Kelurahan ditetapkan bagian wilayahnya yang akan

104

Puslitbang Kesos

Lokasi Aplikasi PWR dan Tipe Masyarakatnya No. Intensitas kerja lebih banyak dilakukan bersama aparat terbawah. Desa 3. dan seterusnya (lihat Tabel 1). Desa 5. Cipunagara Kabupaten Wonogiri Kec. PROVINSI Sumatera Utara Jawa Barat KOTA/KAB Kecamatan Kota Medan Kec. Obipul. Pelaksanaan PWR di Samarinda (Kaltim). Subang (Jabar) dan Wonogiri (Jatim) bertepatan dengan bulan puasa. Abistas Rukun Tetangga (2): RT 29 dan RT 30 TIPE Kota 2. Medan Denai Kabupaten Subang Kec. Dusun Jati Desa Kenteng Desa Kayubihi Desa Lakmaras Kelurahan Selili SATUAN Lingkungan (1): L IX Rukun Tetangga (2): RT 22 dan RT 23 RW 5 Dusun (1) : Dusun Ploso Jenar Dusun (1) : Dusun Pucangan Dusun (3): Sabulmil. Hal tersebut terjadi dalam upaya mencapai jumlah KK sebanyak antara 150 sampai 200 KK. penetapan lokasi pertemuan. Pemilihan dilakukan dengan melibatkan ketua-ketua wilayah masing-masing dan sejumlah tokoh setempat.Participatory Wealth Ranking dijadikan lokasi. Fasilitator menjelaskan kriteria lokasi uji coba PWR yang diinginkan. Bersama Ketua RT/ RW/Lingkungan/Dusun dilakukan: pemilihan perwakilan warga. Samarinda Seberang DESA/KEL. pengaturan jadwal dan logistik. Tabel 1. Bangli Kabupaten Belu. sekaligus dengan memperhatikan keseimbangan menurut jenis kelamin. Kegiatan dilaksanakan pada waktu dan tempat yang disepakati. 1. Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Desa Kota Puslitbang Kesos 105 . 6. Kepada mereka juga ditanyakan apakah warganya saling mengenal satu dengan yang lain. Lamaknen Kota Samarinda Kec. Perkenalan dan penjelasan lebih lanjut dilakukan dengan aparat pemerintah di tingkat RT/RW/Kepala Dusun/Kepala Lingkungan. Perwakilan warga di lokasi yang terdiri dari dua atau lebih satuan administrasi (misal di Samarinda dua RT dan di Belu tiga dusun) ditetapkan secara proporsional. di Bali satu dusun. di Medan meliputi satu lingkungan. Purwantoro Kabupaten Buleleng Kec. Kec. Jawa Tengah Bali Desa 4. Pada akhirnya lokasi terpilih menjadi bervariasi di masing-masing provinsi. Persiapan lebih krusial berlangsung bersama mereka. di Subang dan Samarinda dua RT. Kelurahan Tegalsari Mandala 1 Desa Jati. Cakupan lokasi menjadi berbeda.

salah seorang aparat Dinas Sosial setempat mengambil alih proses pembuatan peta akibatnya muncul kesulitan. fasilitator bekerja bersama perwakilan warga atau disebut juga Tim Pemeringkat. terlebih dahulu membuat sketsa kemudian disalin kembali di atas kertas karton. Pada pertemuan pertama diawali dengan perkenalan dan penjelasan. seharusnya pembuatan peta diserahkan kepada warga. tidak percaya diri. Seperti meminta memperlihatkan KTP. kehilangan inisiatif. Di semua lokasi pertemuan berjalan dengan baik.Participatory Wealth Ranking 2. apakah akan ada bantuan untuk warga setempat. Pendaftaran KK di semua lokasi berlangsung lancar. misalnya di Subang dibuat dua peta. semua peserta aktif. bahwa warga masyarakat sudah lama demikian tergantung pada instruksi. Proses kemudian diulang lagi. suasana rileks dan santai. karena pemerintah sudah memiliki ukuran sendiri. Hubungan dengan fasilitator mulai cair. memberi informasi. Pembuatan peta berlangsung melalui dua cara berbeda: pertama. Hal ini dapat dipahami sebagai indikasi. Kesan umum yang muncul adalah sepertinya mereka tidak percaya bahwa mereka dapat melakukan pemeringkatan atau mereka meragukan manfaatnya. Kejadian berbeda terjadi di Buleleng (Bali). Perwakilan Warga (Tim Pemeringkat) berhasil mengidentifikasi semua 106 Puslitbang Kesos . Di semua lokasi tidak ditemukan kesulitan berarti. Nama masing-masing KK sesuai nomor urut pada peta ditulis pada form yang sudah disiapkan. masing-masing untuk RT 22 dan RT 23. fasilitator dapat menyampaikan penjelasan dan hingga dipahami perwakilan warga. perwakilan warga dalam sesi tanya jawab seperti ”menginterogasi” fasilitator dengan cara sangat halus. Pelajaran berharga diperoleh dari Wonogiri. Surat Tugas. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini. Peta dibuat menurut wilayah satuan administrasi. Pertanyaan yang banyak disampaikan warga adalah seputar tidak lanjut. Demikian juga di lokasi lain yang kegiatan mencakup lebih dari satu wilayah administrasi. dan Rekomendasi Badan Linmas setempat. saling mengingatkan. kedua. Pembuatan peta di semua lokasi berjalan mulus. langsung sekali jadi. Di beberapa tempat Tim Perwakilan warga minta agar fasilitator terlebih dahulu menetapkan ukuran miskin atau tidak miskin.

Desa kayubihi NTT. Pertanyaan yang banyak muncul di semua lokasi adalah seputar siapa yang dimaksud keluarga.Bangli. seorang anak yang sudah menikah kemudian cerai dan kembali bersama orangtuanya. Kab. Kec. 6. Cipunagara. Samarinda Seberang Kel. Lamaknen. Hal demikian patut diwaspadai karena dapat dibaca sebagai indikasi adanya sejumlah keluarga yang tidak tercover.Participatory Wealth Ranking KK setempat. jumlah KK hasil pemetaan lebih banyak dibanding data pemerintah setempat.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. 5. Sesuai dengan semangat pemberdayaan. Kab Subang. Dalam konteks pemberdayaan. seorang anak yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtuanya. Desa Ploso Jenar Dusun Ploso Jenar SATUAN PEMUKIMAN SETEMPAT L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT1/5 RT2/5 RT3/5 RT4/5 RT1/6 RT2/6 Jumlah Dusun Pucangan Dusun Sabulmil Dusun Obipul Dusun Abistas Jumlah BANYAKNYA KEPALA KELUARGA DATA DESA 183 63 86 149 70 82 152 DITEMUKAN 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 PERBEDAAN 122 7 23 30 6 8 14 1. Desa Lakmaras 212 189 63 43 53 159 131 -3 -1 -2 -6 Puslitbang Kesos 107 . Bali.Purwantoro. Banyaknya Kepala Keluarga Menurut Data dan Temuan di Lokasi Penelitian LOKASI NO. Misalnya. Kec. Desa Jati. 3. Kecuali di Belu (NTT). Belu. Kab. Mdn Denai Kel. 2. Fenomena yang menarik adalah jumlah KK yang dilaporkan sebelumnya oleh aparat pemerintah setempat ternyata berbeda dengan temuan penelitian (lihat Tabel 2). Wonogiri. Kabupaten Bangli. semua kasus-kasus seperti di atas didaftar sebagai keluarga tersendiri. Tabel 2. Hasil kegiatan ini adalah daftar nama KK berikut alamat. Kec. seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. Selili Jabar. Dusun Jati Jateng.Kota Medan Kec. Kec. nama panggilan dan nama isteri masing-masing. PROVINSI/KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. 4. atau keluarga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di lingkungan setempat. hal demikian sama artinya dengan menghilangkan akses sejumlah keluarga untuk masuk pada program yang diselenggarakan untuk mereka.

Ciri-ciri sebuah keluarga miskin menurut hasil diskusi adalah: (1). salah satu kelompok tertutup bagi kelompok yang lain. (2). Sebelum sorting. Selama pembuatan kartu tidak ditemukan kesulitan serius. Setelah dilakukan pemetaan. (4). pengertian yang disampaikan cenderung abstrak. semua kegiatan dilakukan oleh Tim Perwakilan Warga. Berikut adalah contoh definisi miskin: a) Lingkungan 9 Kel. Makan dari pemberian orang (anak/saudara/tetangga) atau mengemis. Jika tidak cukup di fasilitasi. Memperoleh makanan dari bantuan orang lain atau mengharap dari “raskin”. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan apabila salah seorang anggotanya perlu berobat di rumah sakit. Sementara itu. Fasilitator dapat menjalankan tugasnya dengan baik. yaitu 187 KK. ditemukan sebanyak 305 KK. Di semua lokasi berhasil dirumuskan pengertian konsep ”miskin” dan ”sangat miskin”. Lauk asal ada: contohnya ikan asin murahan. Pembuatan kartu keluarga di semua lokasi dilakukan sekaligus dengan pendaftaran nama KK. Kedua. Pekerjaan tidak tetap (serabutan). (1) Makan seadanya. salah satu faktor yang cukup mendukung kelancaran kegiatan adalah terdapatnya anggota perwakilan warga yang mampu menulis dengan jelas dan cepat. 108 Puslitbang Kesos . (3). Ada dua persoalan pada kasus ini yang tidak diantisipasi sebelumnya. perwakilan warga ternyata tidak hafal nama sebagian KK setempat. mertua atau saudara). Rumah numpang (pada orangtua. Biasanya cari pinjaman.Selili. b) RT 29 dan RT 30 Kel. Pada kegiatan ini fasilitator dituntut mampu menggali pendapat peserta. Kota Samarinda. Pendidikan anak putus sekolah sebelum tamat SD atau SLTP. hubungan antar dua kelompok besar penduduk ternyata kurang harmonis. Kendala yang dihadapi di beberapa lokasi adalah form dan blanko yang disiapkan tidak mencukupi karena jumlah penduduk melampaui perkiraan. terlebih dahulu dilakukan diskusi konsep. (5). Kedua kegiatan dilakukan setelah peta selesai digambar.Participatory Wealth Ranking Kesulitan terjadi di Medan (Sumut). TSM 1 Kota Medan. Mereka mengenal wajahnya tetapi tidak tahu siapa namanya. jumlah penduduk di lokasi jauh melebihi data yang disampaikan Ketua Lingkungan sebelumnya. Pertama.

per bulan. Rumah Tidak layak huni yang dimaksud adalah rumah yang komponen-komponennya. sehingga ketiga kelompok penilai dapat melakukan tugasnya.. secara simultan. Pada sorting dengan model paralel kartu keluarga perlu disiapkan sedemikian rupa. Kegiatan ini disebut juga sorting. Penghasilan rata-rata per hari kurang dari Rp.750.000. kelompok penilai melakukan sorting secara terpisah pada waktu bersamaan di lokasi yang sama. (7) Tidak mampu membeli air bersih. (5) Tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit. Misalnya di buat rangkap tiga (pengalaman di Subang dan Samarinda) atau tetap di buat rangkap satu. Pelaksanaan sorting berlangsung dalam dua model. Puslitbang Kesos 109 .25. secara paralel. tetapi dibagi tiga bagian (pengalaman di Medan).atau kurang Rp. Misalnya tidak punya TV. (4) Anggota keluarga sering sakit karena kurang gizi.. seperti dinding.Participatory Wealth Ranking (2) Pekerjaan dan penghasilan tidak tetap. lantai dan atap sudah lapuk atau bocor. Model pertama. sementara kelompoknya disebut juga Kelompok Penilai. Cara kedua ini dilakukan di kebanyakan lokasi karena di pandang lebih mudah dan mengirit waktu. (8) Tidak mampu menyediakan biaya pendidikan anak hingga minimal tamat SLTP. Teknik sorting seperti pada manual The SEF tampak cukup mudah dijelaskan oleh fasilitator dan mudah dipahami serta mudah dilakukan perwakilan warga di semua lokasi. ketiga kelompok penilai bekerja secara bergantian. Biasanya numpang pada keluarga lain atau menyewa rumah yang tidak layak. Perwakilan warga kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing dengan 3 sampai 4 orang anggota.000. Setelah diskusi konsep selesai dilanjutkan dengan penjelasan dan peragaan bagaimana melakukan sorting. (3) Tidak punya tempat tinggal sendiri yang layak huni. (6) Peralatan rumah tangga sangat minim. Model kedua. Untuk memenuhi kebutuhan makan (pokok) selalu utang. Tugas masingmasing kelompok adalah menilai seluruh keluarga dengan memperbandingkan satu dengan yang lain berdasar kondisi sosial ekonomi.

Kedua. Banyaknya kategori bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lain. Sistem ini diterima dengan pertimbangan tidak merubah substansi pengelompokkan. Kelompok penilai di semua lokasi tidak mengalami kesulitan memahami sistem menetapkan nilai. nilai bagi masing-masing keluarga. Keberatan warga diterima oleh fasilitator di semua lokasi. maka nilai masing-masing keluarga mulai dari termiskin sampai terkaya adalah 110 Puslitbang Kesos . catatan pada kategori mana sebuah keluarga ditempatkan dan alasan informatif mengapa ditempatkan pada kategori tertentu. Pertama. Hasil sorting terdiri dari dua bagian penting. Karena itu sorting dapat disebut juga sebagai proses penilaian. 3. Kejadian seperti ini dialami di Medan. Nilai berasal dari atau tergantung pada tumpukan mana dia ditempatkan dan jumlah seluruh tumpukan (lihat sub bagian penghitungan nilai di atas). sehingga nilai yang dihasilkan tidak konsisten. apabila sebuah kelompok penilai membagi penduduk menjadi 4 kategori (tumpukan). Kesulitan terjadi apabila Kelompok Penilai tidak mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Hal tersebut dimungkinkan karena semua anggota Kelompok Penilai mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Dengan ketentuan demikian. Mereka mudah memahami nilai tertinggi ditetapkan sebesar 100 diberikan kepada setiap keluarga termiskin yang kartunya berada pada tumpukan paling kiri. tumpukan ke-4. Karena sorting dilakukan sebanyak tiga kali maka masing-masing keluarga memperoleh tiga nilai dan tiga catatan alasan. kelompok penilai dapat menilai setiap keluarga dan menempatkannya ke dalam kelompok atau kategori tertentu. mulai dari 4 sampai 6 kategori. yaitu nilai tertinggi selalu diberikan kepada yang terbaik. Menetapkan nilai masing-masing keluarga dilakukan oleh tiga Kelompok Penilai melalui proses sorting. Analog dengan sistem penilaian anak sekolah. Alasan mereka seragam. nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Sistem penetapan nilai demikian ternyata ditolak para peserta (anggota kelompok Penilai) di semua lokasi. Tahap Penghitungan Nilai Penghitungan nilai yang dimaksud adalah mulai dari menetapkan nilai setiap keluarga sampai mencari nilai rata-rata. sejumlah keluarga tidak dikenal dengan baik oleh Kelompok Penilai.Participatory Wealth Ranking Dalam prakteknya sorting berlangsung lancar.

Kab. Keluarga dengan nilai terendah adalah keluarga termiskin. Kec. Cipunagara. Nilai masing-masing keluarga dengan mudah dapat dimasukkan kelompok penilai ke form yang disiapkan. Selili Jabar. Distribusi Keluarga menurut Golongan Peringkat Kondisi Sosial Ekonomi Di Lokasi Penelitian NO. Pada umumnya jumlah kategori yang ditetapkan oleh tiga Kelompok Penilai di suatu lokasi adalah sama.Participatory Wealth Ranking 25. Kab. LOKASI PROVINSI/ KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Desa Lakmaras Puslitbang Kesos 111 . 3. Smrd Seberang Kel.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. Desa Kayubihi NTT. sebanyak 4.50. Kota Medan Kec. Mereka spontan mengajukan protes jika merasa ada keluarga yang diberi nilai tidak semestinya. 75 dan 100. 6. Belu. Kabupaten Bangli. Kab Subang. Mudah bagi mereka menghitung (25 + 25 + 50) : 3.Bangli. Penghitungan nilai rata-rata dapat dilakukan dengan lancar oleh peserta. Dusun Jati Jateng. Kec. peringkat keluarga digolongkan menjadi 4 sampai 6 golongan peringkat (lihat Tabel 3). Desa Kenteng SPS JML PEND GOLONGAN PERINGKAT Sosial Ekonomi I 52 6 5 11 25 18 43 12 10 6 10 11 10 65 108 4 2 8 14 II 97 28 34 72 22 37 59 22 14 23 25 26 22 155 104 7 1 2 1 III 68 41 63 104 29 31 60 15 14 10 9 6 6 68 60 4 4 4 14 IV 73 5 7 12 4 4 9 4 7 11 4 3 40 4 28 21 21 70 V 15 5 1 2 6 1 15 13 11 14 38 VI 4 2 2 8 L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT 1/5 RT 2/5 RT 3/5 RT 4/5 RT 1/6 RT 2/6 Jumlah Dusun Pucangan Sabulmil Obipul Abistas Jumlah 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 2. 5. 1. Lamaknen. Berdasarkan nilai rata-rata diketahui peringkat kemiskinan setiap keluarga. Bali. Tabel 3. Kesempatan memasukkan nilai ke form ternyata sekaligus berfungsi melakukan kontrol. Kec. Sistem penilaian tetap sama. Masing-masing peserta ternyata memperhatikan keluarga siapa dapat nilai berapa. 4.Purwantoro. Desa Jati. Kec. Wonogiri. 5 atau 6. Dalam upaya penyederhanaan. Mdn Denai Kel. Keluarga dengan nilai tertinggi adalah keluarga terkaya.

Sedangkat di NTT menjadi 6 peringkat keluarga. Jabar dan Bali keluarga digolongkan menjadi 4 peringkat. mungkin keluarga dengan nilai 33 sampai 41. Di Sumatera Utara dan di Jawa Tengah dibagi menjadi lima peringkat keluarga. Keberhasilan Teknik PWR Teknik PWR berhasil dengan baik mengelompokkan secara relatif semua keluarga di setiap lokasi menurut peringkat sosial ekonomi. 2. 1. (yaitu 112 Puslitbang Kesos . Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. yaitu (lihat Tabel). Contoh: Penduduk dibagi menjadi 4 kategori maka terdapat 10 variasi nilai rata-rata yang muncul. 5. Peringkat tertinggi. Menetapkan Sasaran Program Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point).Participatory Wealth Ranking 4. Variasi Nilai Rata-Rata yang berpeluang Muncul dan Peringkatnya No. 3. 4. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat. Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah. 7. Di tiga lokasi. yaitu di Kaltim. Penggolongan keluarga bervariasi di setiap lokasi. Hal ini harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran program yang dirancang sebelumnya. 10. A 25 25 25 50 50 50 75 75 75 100 B 25 25 50 50 50 75 75 75 100 100 NILAI C 25 50 50 50 75 75 75 100 100 100 JML 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 RATA2 25 33 41 50 58 66 75 83 92 100 PERINGKAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 GOLONGAN PERINGKAT I Paling Miskin II Miskin III IV Dengan memperhatikan karakteristik umum keluarga sesuai nilai rata-rata atau peringkatnya dapat ditentukan “titik batas poin” keluarga yang berhak menjadi sasaran program. Sasaran program P2FM kemungkinan bukan keluarga dengan nilai terendah. Maksudnya. Tabel 4. 6. Dengan teknik PWR berhasil diidentifikasi keluarga termiskin di setiap lokasi. tidak bisa seragam untuk semua lokasi. 8. 9. maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri.

Jateng dan NTT nyaris 100%.1%) 276 NTT 151 (98.Participatory Wealth Ranking peringkat 4 di Kaltim. 2.9%) 3 (0. Tabel 5.3%) 153 Puslitbang Kesos 113 . Standar Keabsahan Data Teknik PWR dilengkapi dengan ukuran keabsahan tersendiri. Alasan lain untuk tidak meragukan keabsahan data yang diperoleh dengan teknik ini adalah: 1. Apabila Kelompok Penilai B memberi nilai pada keluarga yang sama sebesar 60 maka nilai tersebut dianggap tidak konsisten.4%) 305 Kaltim 179 (100%) 0 (0%) 179 LOKASI Jabar Jateng 166 331 (100%) (96.6%) 47 (15.7%) 2 (1. Distribusi dan persentase keluarga menurut perbedaan nilai No. PERBEDAAN NILAI 0 – 25 (Konsisten) 26 > (inkonsisten) Jumlah Sumut 258 (84. Jabar dan Bali. Apabila 90% konsisten maka hasil penilaian kelompok tersebut dianggap dapat dipercaya. Keluarga termiskin adalah keluarga yang masuk pada peringkat satu.5%) 0 12 (0%) (3. Di setiap lokasi. Hasil observasi atas beberapa keluarga miskin setelah proses penilaian selesai. peringkat 5 di Jateng dan Sumut dan peringkat 6 di NTT) terdiri dari keluarga terkaya. 1. Konsistensi nilai di semua lokasi ternyata di atas 90%. Sebaliknya apabila skor tidak konsisten lebih dari 10% maka hasil penilaian kelompok itu perlu diragukan. Di Jabar dan Kaltim konsistensi nilai bahkan mencapai 100%. Dengan demikian tampak bahwa teknik PWR dapat menghasilkan data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan. tampak bahwa penilaian yang diberikan Tim Pemeringkat cukup objektif. yaitu: konsistensi skor. Contoh: Kelompok Penilai A memberi nilai kepada keluarga nomor urut 1 sebesar 20. Hal tersebut diyakini karena home visit di ke-6 lokasi memperlihatkan keluarga yang memperoleh nilai rata-rata rendah. masingmasing peringkat berhasil dideskripsikan gambaran kondisi sosial ekonominya. Nilai konsisten yang dimaksud adalah apabila nilai yang diberikan oleh tiga kelompok penilai adalah sama atau kalau berbeda maksimal perbedaan sebesar 25 poin. memang kondisinya miskin.5%) 166 343 Bali 273 (99. Di bawahnya berturutturut keluarga yang lebih rendah secara sosial ekonomi. di Bali.

nilai inkonsisten meliputi 15. Hasil penilaian tiga kelompok penilai di Medan ternyata tidak dapat dipercaya sepenuhnya. dapat dilakukan di luar jam kerja. seperti janda yang tinggal serumah dengan keluarga anaknya.Participatory Wealth Ranking 2. g) Pada proses pendaftaran nama KK versi The SEF informasi yang dikumpulkan meliputi nama KK. 114 Puslitbang Kesos . nama panggilan. kedua. f) Pada proses pemetaan versi The SEF. d) Dapat mengidentifikasi seluruh keluarga yang bertempat tinggal di wilayah setempat. PWR berpeluang untuk mengumpulkan data PSKS (Potensi Sosial Kesejahteraan Sosial) dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lebih luas/banyak. pekerjaan dan nama isteri. Upaya seseorang untuk menempatkan sebuah keluarga pada peringkat yang tidak sesuai. ada saling mengontrol antara peserta. PWR cukup cermat. peta dapat diperluas sehingga memuat unsur PSKS dan PMKS.4%. peta semata-mata untuk mengidentifikasi keluarga. Kelebihan dan Kendala Kelebihan PWR adalah: a) Teknik PWR mudah dipahami dan mudah dilakukan meskipun oleh warga berpendidikan rendah. atau anak yang sudah menikah tetapi tinggal bersama orangtua/mertua dihitung sebagai keluarga tersendiri. masih ada rasa malu para perwakilan warga untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai. Keluarga yang sudah tidak lengkap. penilaian dilakukan berlapis. pekerjaan. Data yang diperoleh tidak sekedar angka tetapi lengkap dengan identitas mulai dari nama KK.. Mengamati proses yang terjadi. e) PWR dengan konsep keluarga lebih membawa nuansa keadilan. tampak sulit terjadi. proses penilaian dengan kartu memperkecil peluang. lebih kaya atau menjadi lebih miskin. Pengecualian terjadi di Medan. alamat dan nama isteri. c) Masyarakat merasa dihargai karena seluruh proses dilakukan oleh mereka dan sesuai dengan ukuran yang berlaku sehari-hari di masyarakatnya. ketiga. tampak bahwa pengumpulan data dapat diperluas/diperdalam sesuai kepentingan. Ketika aplikasi PWR dilakukan di lapangan. Karena: pertama. b) Waktu pelaksanaan fleksibel.

Participatory Wealth Ranking h) Pada proses sorting. di mana penduduknya homogen dan memiliki interaksi sosial yang relatif tinggi. b) Diperlukan kesabaran fasilitator untuk melakukan seluruh proses. Daftar nama KK seluruh penduduk SPS. Daftar alasan penempatan setiap keluarga pada peringkat tertentu. dapat dilakukan oleh dua orang fasilitator bersama sebanyak 9 orang perwakilan warga untuk sebanyak 150 sampai 200 KK dalam waktu tiga hari. Dengan waktu dan tenaga seperti tersebut di atas. dikumpulkan informasi lanjutan tentang kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga. d) Bahasa dapat menjadi kendala jika tidak ada penterjemah. Peta wilayah pemukiman setempat 2. pemilihan informan (perwakilan warga) harus hati-hati. Untuk wilayah perdesaan. Konsep miskin menurut masyarakat setempat. mulai dari termiskin sampai terkaya. 5. dengan tenaga dan waktu yang sama dapat memperingkatkan lebih dari 200 KK. Kendala dalam pelaksanaan PWR adalah: a) Masyarakat kita sudah terbiasa dengan instruksi. 4. e) Masyarakat cenderung mengharapkan bantuan. melibatkan semua kelompok. 3. seperti dialami selama penelitian. Daftar nilai seluruh KK 6. Indomie VS Jagung Pemeringkatan keluarga dengan Teknik PWR. Puslitbang Kesos 115 . di setiap SPS. hasil yang diperoleh meliputi: 1. Hasil lain yang juga tidak ternilai harganya adalah dampak yang ditimbulkan pada pribadi perwakilan warga dan pada masyarakat sebagai kesatuan sosial. ketika melakukan penilaian/perbandingan satu keluarga dengan keluarga lainnya. seperti pada kasus Wonogiri dan Bangli. Daftar nama KK menurut peringkat sosial ekonomi. c) Pada masyarakat di mana hubungan sosial antara kelompok tidak harmonis atau renggang.

Mereka dapat melaksanakan sendiri PWR secara berkala baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun kepentingan pihak lain. seperti: kecurigaan warga terhadap pendatang (di Bali).Participatory Wealth Ranking 1. masyarakat diakui dan dihargai eksistensinya. PWR menjadi super murah. Sebagai kesatuan sosial. Pelaksanaan PWR dapat menjadi titik awal (merangsang) muncul dan berkembangnya kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama sesama warga untuk memecahkan masalah masyarakat. praktis seperti memasak mie instan atau memerlukan waktu relatif lama seperti memasak jagung? Sangat tergantung dari sisi mana pengukuran dilakukan. 4. hubungan sosial yang kurang harmonis antara kelompok penduduk pribumi dan non pribumi (di Medan). Pada pribadi perwakilan warga mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya. Apakah teknik PWR efesien? Mahal atau murah. Rasa percaya diri tumbuh. 2. Kalau pembangunan hendak mengejar ”setoran” maka teknik PWR terasa boros dan mahal. 6. 3. Pengalaman perwakilan warga mengikuti kegiatan ini dapat dijadikan landasan membangun sistem pegumpulan data PSKS dan PMKS secara berkesinambungan. Sikap selalu menunggu instruksi bisa berkurang. Teknik ini mudah dilakukan oleh fasilitator yang dilatih secara singkat dan perwakilan masyarakat sekali pun berpendidikan rendah. 5. PWR memungkinkan partisipasi masyarakat disalurkan secara representatif dan menghasilkan data secara sistematik. Bandingkan jika petugas datang lalu melakukan survey tanpa peduli pendapat masyarakat setempat. termasuk pemerintah. Kesimpulan dan Saran PWR cukup efektif digunakan untuk mengidentifikasi keluarga menurut urutan kemiskinannya secara partisipatif. fasilitator dapat menangkap situasi umum masyarakat. Apabila pembangunan kesejahteraan sosial ingin konsisten hendak membangun masyarakat sebagai basis perkembangan mandiri. 116 Puslitbang Kesos . Melalui proses pelaksanaan PWR. mendidik manusia. ketidakpecayaan warga atas penjelasan aparat pemerintah (di NTT). Pelaksanaan PWR selain berguna untuk pengumpulan data sekaligus dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi program. Perasaan inferior warga bisa diangkat.

maka PWR dapat dijadikan pilihan teknik. Anton Simanowitz. CASHPOR Technical Service. PWR juga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan sistem pengumpulan data berkelanjutan berbasis masyarakat. 1999. Puslitbang Kesos 117 . Berbuat Bersama Berperan Setara: Penerapan Participatory Rural Appraisal. Bandung Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusatenggara. 1996. PWR tidak sekedar mengidentifikasi keluarga miskin dan termiskin. Walapun teknik sudah cukup partisipatif tetapi jika tidak digunakan dengan benar hasil akhirnya akan berbeda. DAFTAR PUSTAKA David S Gibbon. Namun sebelum digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan seleksi sasaran P2FM. ben Nkuna. Malaysia.Participatory Wealth Ranking PWR potensial digunakan untuk menjaring informasi lebih dalam (spesifik) maupun lebih luas. Pada aplikasi PWR harus diwaspadai prosesnya dilakukan dengan benar. Djohani. sehingga diperoleh pengalaman riil. Rianingsih (Ed). Apabila identifikasi dan seleksi sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin hendak dijadikan kegiatan produktif. Negeri Sembilan. Cost Effective Targeting: Two Tools to Identify the Poor. PWR perlu terlebih dahulu digunakan secara terbatas di beberapa kabupaten. tetapi sekaligus merangsang prakarsa masyarakat.

.

observasi. Muchtar. Sekretariat : Bahder Husni. dokumentasi dan focus group discussion. Badan Pendididkan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial.Si. Rukmini Dahlan. dengan anggota Tim : Konsultan : Dr. kebutuhan dan potensi serta untuk mendapatkan konsep model pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan. Sugiyanto. Masngudin. Hum.Si. Departemen Sosial RI. M. yang diikuti penyajian data. M. Sugiyanto. Marzuki. Ketua Tim : Drs.. Kalimantan Timur. Ajun Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial.Si.Pd. Dr. Informan ditentukan secara purposive dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. Kalimatan Barat. Adapun 1 2 Diangkat dari penelitian “Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan”-Identifikasi Masalah dan Kebutuhan. Erliwati Suin. Untuk itu kebutuhan yang dibutuhkannya antara lain memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. M. S. informal). yaitu: pemuka masyarakat (formal. Nusa Tenggara Timur dan Papua). merupakan studi kasus wilayah perbatasan di lima propinsi (Kepulauan Riau. H.PEMBERDAYAAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN (Identifikasi Masalah dan Kebutuhan)1 Sugiyanto. keterampilan serta ketidakmenentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya.Pd. ekonomi. 2 ABSTRAK Penelitian ini. Secara umum. M. S. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi... Drs. Orsos. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif wawancara dengan para informan. Agus Suradika.. S. Prof. permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di wilayah perbatasan adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan. Perguruan Tinggi dan aparat instansi daerah terkait.Sos. M. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari responden yang bersifat kuantitatif. Anggota : Ir.Sc. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. kesehatan dan lainnya). Puslitbang Kesos 119 . dan Haryanto. LSM. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. keterampilan. SST.Pd. pengetahun. dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. M. BA.

Karena program yang telah dilakukan masih bersifat charity. kemiskinan penduduk.menegaskan. Kaltim.000-an km dan terletak diantara dua benua (Australia dan Asia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) memiliki perbatasan baik darat maupun laut (http//www. Konsep model pemberdayaan keluarga yang ditawarkan adalah konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. Di wilayah yang berbatasan darat.dalam Rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar yang beranggotakan 17 menteri . Secara demografis. masalah perbatasan saat ini merupakan masalah krusial yang harus mendapatkan perhatian khusus. 120 Puslitbang Kesos .I. sebarannya sangat jarang. misalnya: Kalbar. 30 Januari 2006). pelayanan bagi masyarakat serta penyediaan navigasi pelayaran (MI. kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga.504 pulau. 2004).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan potensi (sosial. Konsep model tersebut masih perlu diujicobakan dan disosialisasikan ke berbagai pihak agar dapat menjadi program yang lebih efisien dan efektif. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari perairan dengan garis pantai sekitar 81. penyebaran penduduk di wilayah perbatasan umumnya jarang dan sporadis.id). alam dan SDM) masih sangat terbuka sekali untuk dapat didayagunakan. 2 Januari 2006). arus informasi dari dalam negeri kurang dan lebih deras arus dari negeri tetangga. Kata kunci: Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17. Sedangkan pada perbatasan laut.tnial. sampai kurangnya perhatian dari sektor-sektor terhadap pembangunan wilayah perbatasan (MI. Abdulhadi (LIPI) mengidentifikasi sejumlah permasalahan di wilayah perbatasan. minimnya pembangunan infrastruktur. NTT jumlah penduduknya sedikit. termasuk pulau-pulau terluar. Oleh karena itu. Rencana pembangunan itu antara lain: peningkatan keamanan. bahkan tidak berpenghuni (KRA XXXVIII. yaitu: pergeseran batas negara.mil.. Lemhanas R. Menko Polhukkam . Secara umum intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah dan Orsos telah dilakukan tetapi secara spesifik yang mengarah terhadap pemberdayaan keluarga belum dilakukan.

keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. 1988). keluarga adalah: (1) pelindung bagi pribadi-pribadi anggotanya. pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan merupakan keharusan. komunikasi & lainnya yang tidak memadai. maupun nonfisik (tingkat pendapatan rendah. rendahnya tingkat pendidikan. karena keluarga mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menurut para ahli. unsur Pemda maupun masyarakat (LSM). atau ayah dan anaknya. rendahnya kesehatan & nutrisi. Yang pada umumnya mereka dalam kondisi keterbatasan baik secara fisik (sarana transportasi. Akan tetapi. atau suami istri dan anaknya. LSM/Orsos dan Perguruan Tinggi. banyak keluarga (di perbatasan) di dera berbagai masalah seperti: kemiskinan. dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Keluarga dan pihak terkait lainnya. Penelitian ini merupakan input bagi penyusunan konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. Pemda. derajat kesehatan rendah dan lain sebagainya).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Sejalan dengan pemikiran itu. Puslitbang Kessos Depsos RI (2006) melakukan penelitian. keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia. Mutu suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas kesatuan primer ini. Terkait dengan itu. anak-anak yang tidak sekolah dan berbagai masalah sosial lainnya. Dalam konteks penelitian ini. Dunia Usaha. serta ekplorasi model-model pemberdayaan keluarga baik yang telah maupun sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak di daerah. tingkat pendidikan rendah. agar ketenteraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan. Dalam Undang-Undang Nomor :10 Tahun 1992 dinyatakan.I. yang dimaksud keluarga adalah keluarga miskin yang tinggal di wilayah berbatasan langsung dengan negara lain. dan (4) merupakan wadah terjadinya proses sosialisasi awal bagi manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. kenyataan empirik menunjukkan. Soekanto (1990) juga menyatakan. bahkan tidak tersedia). (2) unit sosial ekonomi yang secara material memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya. (3) menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah pergaulan hidup. yang nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh unit operasional Departemen Sosial R. perumahan dan sanitasi yang tidak layak. Puslitbang Kesos 121 . atau ibu dan anaknya. bertujuan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan keluarga di daerah perbatasan.

Chambers lebih lanjut menjelaskan. Ia menganalisis penyebab kemiskinan sebagai hubungan sebab akibat yang saling berkait dari powerlessness (ketidakberdayaan). terdapat dua hal yang saling berkait. 1983) 122 Puslitbang Kesos . Chambers (1983) mengemukakan konsep perangkap deprivasi (concept of deprivation trap). Perangkap Depriasi (Sumber : Chambers. kesempatan. vulnerrebality (kerentanan). Terkait dengan ketidakberdayaan. pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan memenuhi kehidupan komunitas mereka. Dalam konsep pemberdayaan. utamanya Eropa. hilangnya kekuatan tawar menawar. poverty (kemiskinan) dan isolation (keterisolisasian). ketidakberdayaan membatasi akses terhadap sumber daya negara. yaitu: kondisi berdaya dan ketidakberdayaan. memperumit keadilan hukum terhadap penyelewengan. Saling keterkaitan kelima itu dapat dicermati pada gambar berikut: Ketidakberdayaan Isolasi Kerentanan Kemiskinan Kelemahan Fisik Bagan 1. membuat rakyat semakin tidak mempunyai kemampuan terhadap permintaan mendadak untuk pembayaran pinjaman atau terhadap permintaan uang suap dalam suatu sengketa. physical weakness (kelemahan fisik).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Adapun arti dari pemberdayaan (empowerment) itu sendiri merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat. Ife (1995) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber.

memotivasi masyarakat. proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. tetapi saling terkait. Lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan. sejumlah permasalahan keluarga yang mengedepan di daerah perbatasan lokasi penelitian adalah: kemiskinan penduduk. Atas dasar itu. (c) Dusun Bungkang (Sanggau Kalbar) berbatasan darat dengan Malaysia. yang diikuti penyajian data. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan. dan focus group discussion. yaitu: (1) proses primer. Atas pertimbangan itu. dan (e) Desa Silawan (Belu NTT) berbatasan darat dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Menurut Oakley & Marsden (1984) dalam Pranarka & Moeljarto (1996). (c) perguruan tinggi. lokasi terpilih adalah: (a) Kampung Skouw Sae (Jayapura Papua) berbatasan darat dengan PNG. Informan ditentukan secara purposive mereka memahami secara baik kondisi daerah perbatasan. (b) orsos/LSM. agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka. informan dalam penelitian ini adalah: (a) pemuka masyarakat setempat (formal-informal). agar mempunyai kemampuan/ keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya. Puslitbang Kesos 123 . Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku. dokumentasi.kepala keluarga di daerah berbatasan. yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan serta keterampilan dan ketidak menentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan. dengan menekankan pada menstimuli. (d) aparat instansi Pemerintah Daerah terkait. kekuatan. atau kemampuan kepada masyarakat. observasi. Data kuantitatif dianalisis secara distributive-frekuentif. lokasi tersebut berbatasan langsung dengan negara lain. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. dan (2) proses sekunder. Agar kecenderungan primer terwujud. (b) Desa Pancang (Nunukan Kaltim) berbatasan darat & laut dengan Malaysia. seringkali harus melalui proses sekunder terlebih dahulu. (d) Desa Berakit (Bintan Kepri) berbatasan laut dengan Malaysia & Singapura. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. mendorong. Responden ditentukan secara random sampling .

luar negeri). adalah: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. Dengan demikian. kesehatan dan lainnya). non formal) lokal. permasalahan. kebutuhan. untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. kesehatan. dan ketidakberdayan secara sosial. serta belum ada program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. metode. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. Adapun potensi (sosial. adalah: adanya rasa kebersamaan. sekolah. potensi. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. Demikian juga potensi alam (laut. Disamping itu. UEP. juga adanya lembaga-lembaga (informal. transportasi. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. dan ekonomi (pasar). dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. pengetahun. penyuluhan. kesehatan. dan psikologis. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan adalah: memfasilitasi mereka. ekonomi (pasar) dan pemukiman. politik. kebutuhan. raskin. tidak berkelanjutan. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Berdasarkan permasalahan. kesehatan. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. keterisolasian. Orsos. juga bersifat philantropy.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. pendidikan. ekonomi. antara lain: jalan. lahan pertanian. potensi tersebut model yang ditawarkan ini akan diuraikan melalui variabel-variabel: lokasi penelitian (desa/kecamatan/ kabupaten). fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. Adapun intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di wilayah perbatasan. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). model yang ditawarkan (yang dilihat dari pelatihan. karena masih lebih bersifat charity. Disamping itu. 124 Puslitbang Kesos . BLT/SLT. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi). Demikian halnya intervensi sosial yang dilakukan oleh Masyarakat (Orsos/LSM: dalam. Intervensi kebijakan pemerintah tersebut di rasakan masih jauh dari yang diharapkan. keterampilan. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan.

kebutuhan pokok. Model tersebut memungkinkan untuk direplikasikan di tempat lain. Keluarga di daerah perbatasan Diperolehnya pengetahuan. uji coba perlu dilaksanakan berkali-kali untuk meredesign sesuai dengan hasil uji coba. Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan. tentunya selain di lima wilayah perbatasan yang menjadi sampel penelitiaan ini. bahan bangunan perbaikan rumah. Setelah itu bisa di uji cobakan lagi pada daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. bahan bangunan perbaikan rumah. Namun. keterisolasian dan ketidakberdayan Puslitbang Kesos 125 . Sanggau. keterampilan. & UEP.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan pendampingan) dan user. yang mewakili perbatasan darat maupun laut dengan negara tetangga. maka untuk menghasilkan model yang diharapkan memerlukan proses yang panjang. bantuan: Pendamping. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini nantinya masih terbatas pada lima lokasi penelitian awal (Bintan. masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam usaha memperkecil kelemahan dan menjawab ancaman. & bantuan UEP Keberdayaan Keluarga Pengawasan Bagan 2. Sehingga nantinya didapatkan/dihasilkan model yang variatif untuk setiap jenis wilayah perbatasan. Sesuai dengan prinsip participatory action research (PAR). Nunukan. Belu dan Jayapura). Model tersebut seperti terlihat pada bagan tersebut di bawah ini : Masyarakat (Pelaku perubahan) Pemerintah (Fasilitator) LMS/Orsos Pemuka Masyarakat Intervensi: Pelatihan. adalah kemiskinan penduduk. bimbingan Bantuan teknis (pendampingan) Bantuan: Kebutuhan pokok. Oleh karena itu. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa permasalahan umum keluarga di daerah perbatasan.

baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Demikian juga potensi alam (laut. Disamping itu. kesehatan dan lainnya. Dalam upaya pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal.Adapun potensi (sosial. yang khusus menangani daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. antara lain: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). pertama: secara internal (Depsos R. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. (b) membentuk semacam lembaga nasional. ekonomi. kesehatan dan ekonomi (pasar). politik dan psikologis. transportasi. pendidikan.I.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan secara sosial. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan antara lain: memfasilitasi mereka. sebagai acuan secara nasional dalam upaya mengembangkan daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/ terpencil tersebut dalam rangka memperkokoh rasa nasionalisme dan tetap utuhnya NKRI. Disamping itu. BLT/SLT. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. karena masih lebih bersifat charity tidak berkelanjutan. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. Sedangkan intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di daerah perbatasan lokasi penelitian. dipandang perlu: (a) penyusunan rancangan perundang-undangan tentang daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. kesehatan. Dengan demikian.) perlu dirancang suatu konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. antara lain: masih kentalnya rasa kebersamaan. serta belum adanya program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. misalnya). masih jauh dari yang diharapkan. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. sekolah. raskin. 126 Puslitbang Kesos . setidaknya untuk dapat mengakses terhadap sistem sumber informasi. Seperti konsep model yang ditawarkan (prescriptive) tersebut di atas. ekonomi (pasar) dan pemukiman. pengetahun. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi melalui KUBE. non formal) lokal. untuk itu direkomendasikan. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. keterampilan. antara lain: jalan. Kedua: secara eksternal. lahan pertanian. juga adanya lembagalembaga (informal. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. kesehatan. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi.

(1996). Pemberdayaan Sosial. Bandung: Eresco.I. Pranarka. Vindyandika. UU. A. Pemberdayaan Peran Keluarga. analysis and practice.Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Tugas Di. D it. United Kingdom. Published by Longman scientific and technical. Ife. Ditjen. (1988). Psikologi Sosial.M. (1995). Pemberdayaan Peran Keluarga Gerungan. Jim. W. Puslitbang Kesos 127 . Longman Pty Ltd. Australia. konsep. Jakarta: Centre for Strategic and Intenational Studies (CSIS).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan DAFTAR PUSTAKA Chambers. Pemberdayaan. (2002). Rural development: Putting the last first. Depsos R. Nomor: 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluar ga Sejahtera. Community Development: Creating community alternatives-vision. R. Pemberdayaan (Empowerment)..W. Robert. (1983).I. essex.A. & Moeljarto. dan implementasi.

.

Nurdin Widodo (Ketua). Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 129 . Drs. Hal ini menggambarkan. 2006 Nurdin Widodo. Pengaruh subsidi. Terkait dengan masalah tersebut adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan UEP. DI Yogyakarta.EVALUASI PROGRAM SUBSIDI PANTI DALAM MENDUKUNG KELANGSUNGAN PELAYANAN PANTI SOSIAL1 Drs. Kata kunci: Subsidi Panti. dan (3) upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). upaya ini menurut pengelola panti tetap belum bisa membantu biaya operasional panti. B. Drs. Nusa Tenggara Barat. bahwa tingkat ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah masih sangat tinggi. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. sebagian kecil dari panti sudah memiliki upaya konkret dan sebagian lainnya masih berupa gagasan. Panti-panti sosial pada umumnya masih tetap mengharapkan agar subsidi masih diterima pada masa-masa mendatang. Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial. Dra Nunung Unayah. Penelitian ini mengambil sampel lokasi panti di Provinsi Sumatera Utara. yang hasilnya menunjukkan perubahan positif meskipun baru sebagian kecil panti sosial mengalami peningkatan omset dan aset setelah mendapatkan subsidi. S.Sos dan Muslim Sabarisman. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. MSW. Berdasarkan hasil penelitian. Adapun subsidi Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dimanfaatkan untuk membuka UEP baru atau pengembangan UEP yang sudah ada. Implikasi kebijakan 1 2 Diangkat dari hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program Subsidi Panti Dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Sosial oleh Drs. Upaya panti. Mujiyadi. Nurdin Widodo 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan subsidi oleh pantipanti sosial. Data dan informasi digali melalui wawancara. (2) pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Namun. Suradi. Dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan. pada umumnya subsidi makanan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas makan pokok dan makanan tambahan dan memberikan pengaruh positif pada peningkatan kualitas menu makanan dan jenis makanan tambahan. AKS. M. Ivo Noviana.Si. pemanfaatan subsidi. Penerbit Puslitbang Kesos Depsos RI. Harapan panti. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif.

855 panti menerima bantuan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dan 93 panti menerima pengembangan UEP. Sejak diluncurkan. membagi kebutuhan manusia menjadi tiga jenis. spiritual dan sosial. ditegaskan bahwa salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh panti sosial adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi makan.050 orang klien menerima bantuan biaya makanan. Di dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/HUK/2005 tentang Standardisasi Panti Sosial. yaitu (1) kebutuhan dasar (basic needs). Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah apabila kebutuhan dasar saja tidak dapat terpenuhi. dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs). yaitu kebutuhan fisik. Sebab apabila tidak segera dipenuhi akan menimbulkan masalah baik yang bersifat individual (private trouble) maupun gangguan yang bersifat kolektif (public issues). Pada tahun 2005. Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah diluncurkannya program Bantuan Biaya Makanan dan Bantuan Usaha Ekonomis Produktif bagi panti-panti sosial di seluruh Indonesia oleh Departemen Sosial. emosional. intelektual.Evaluasi Program Subsidi Panti Pendahuluan Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan dan sifatnya menuntut pemenuhan dengan sesegera mungkin. Krisis ekonomi yang hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga pelayanan sosial mengakibatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini masih merupakan hambatan. program ini terus mengalami peningkatan dari segi jumlah subsidi maupun jumlah panti dan klien penerima subsidi. Menurut Neil Gilbert dan Harry Spect (dalam Sukoco. (2) kebutuhan sosial-psikologis (social-phsyicological needs).308 unit. tempat tinggal dan kesehatan. dengan rincian sebanyak 149. diharapkan pihak panti sosial melakukan konsultasi dengan ahli gizi dari instansi kesehatan setempat 130 Puslitbang Kesos . Selo Soemardjan (1997). Khusus untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan makan klien. bahwa setiap manusia dimanapun dan kapanpun secara universal memiliki sejumlah kebutuhan. 1991). Disinyalir terdapat lembaga pelayanan sosial yang merasa terancam kelangsungannya dan bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menghentikan kegiatannya Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemauan politik. pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan ini. panti sosial yang menerima prorgam subsidi sebanyak 4. pakaian.

Melalui konsultasi ini maka pelayanan makan bagi klien. Di negara lainnya digunakan istilah “pelayanan sosial” untuk mencakup apa yang terkandung dalam pengertian pelayanan kesejahteraan sosial di atas ditambah dengan : (1) Bantuan sosial. Diketahuinya pemanfaatan subsidi panti oleh panti-panti sosial. adalah : 1. (3) Pendidikan. (2) Programprogram kesehatan yang tidak tercakup oleh program yang dikembangkan oleh swasta. (4) Program-program ketenagakerjaan. dan (4) meningkatkan keadilan untuk memperoleh kesempatan. 2. 1980). Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini. pelayanan kesejahteran sosial dimaksudkan sebagai pelayanan yang difokuskan pada bantuan untuk perorangan atau keluarga yang mengalami masalah penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi sosial atau ketelantaran. pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh lembaga kesejahteraan sosial disebut dengan “pelayanan kesejahteraan sosial”. 3. Dalam rangka memperoleh informasi tentang bagaimana realisasi subsidi panti tersebut di lapangan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan panti sosial. terutama untuk anak-anak. Menurut Anthony H. akan tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan intelegensi dan psikomotorik. Konsep pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Alfred J.R.Evaluasi Program Subsidi Panti guna memperoleh daftar menu makan yang memenuhi standar gizi dan kesehatan. (2) menyediakan pilihan-pilihan kepada penerima pelayanan. Diketahuinya pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomis produktif (UEP). 2004) tujuan pelayanan sosial adalah: (1) memberikan perlindungan kepada orang yang mengalami kehilangan kemampuan. tidak hanya bermanfaat secara fisik. yaitu yang ditekankan pada pemberian bantuan uang dan atau barang. Siahaan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial perlu melaksanakan “Penelitian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Program Subsidi Panti dalam mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial”. (3) mengembangkan keberfungsian sosial. Kemudian bagi para lanjut usia. pelayanan makan diharapkan akan mencegah atau mengendalikan gangguan fisik dan menjaga kebugaran. Perumahan rakyat. Puslitbang Kesos 131 . Di negaranegara berkembang tertentu. Diketahuinya upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). dan (5) Fasilitas umum. Pascal (dalam M. Khan (Soetarso.

panti sosial milik pemerintah daerah tidak 132 Puslitbang Kesos . Dengan demikian jumlah responden di lima provinsi adalah 360 orang (10 orang Instansi sosial. Panti Sosial Tresna Werdha. dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Analisis data dilakukan melalui tahapan editing. Berdasarkan pertimbangan persebaran data panti penerima program subsidi panti. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. yaitu Provinsi Sumatera Utara.Evaluasi Program Subsidi Panti Adapun manfaat yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan rasional bagi pimpinan Departemen Sosial dalam pengembangan kebijakan dan program pemberdayaan panti sosial di Indonesia. Di setiap lokasi penelitian ditentukan panti sosial sebanyak 10 unit dengan mempertimbangkan variasi panti sosial. Panti Sosial Penyandang Cacat. yang dilaksanakan dalam upaya mengetahui kekuatan dan kelemahan program subsidi panti sosial. pengelola panti sosial (10 orang) dan klien (10 orang). yang ditentukan secara purposive. tabulasi. data yang terhimpun dianalisis dengan mempertimbangkan informasi dan masukan dari tiap responden dan informan lainnya yang didapat melalui wawancara. Adapun jenis-jenis panti sosial yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah : Panti Sosial Asuhan Anak. serta suatu cara menentukan perbaikan bagi para pengambil keputusan di Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Sumber data untuk setiap provinsi terdiri dari unsur Dinas Sosial provinsi (2 orang). Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara. maka penelitian ini dilaksanakan di 5 (lima) provinsi. analisis dan interpretasi. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Gambaran Umum Panti Sosial Panti sosial yang menjadi sampel dalam Penelitian ini adalah panti sosial milik pemerintah daerah (74%) dan milik masyarakat (26%). diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara. Data yang terkumpul. dengan pertimbangan variasi panti sosial yang menerima subsidi dari Departemen Sosial pada tahun 2005. DI Yogyakarta. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluatif research). 100 orang pengelola panti dan 250 klien panti). Panti Sosial Pamardi Putra dan Panti Sosial Tuna Sosial. kategorisasi. Secara kualitatif. Nusa Tenggara Barat.

juru masak. 7 Panti Sosial Penyandang Cacat (14%). sekretaris. bagian gudang. Sarana teknis seperti modul sebagai alat/panduan pelayanan kepada klien hanya sebagian kecil (26%) panti sosial yang memilikinya dan umumnya panti sosial milik pemerintah daerah.) dan dari donatur/masyarakat sebesar 18%. Peralatan kantor lainnya seperti meja kerja dan lemari arsip sudah dimiliki oleh panti-panti sosial dengan jumlah terbatas. Sementara peralatan sound system dan tape recorder baru 22% yang memilikinya. 4 Panti Sosial Tuna Sosial (8%) dan 2 Panti Sosial Napza (4%). pengasuh dan tenaga lainnya) ada yang berasal dari anggota keluarganya sendiri. sedangkan tenaga yang berpendidikan SD dan SLTP (9.99%).05% diantaranya adalah tenaga tetap. sebagian para pengurus/pengelola panti (kepala.Evaluasi Program Subsidi Panti memperoleh subsidi panti. Sumber dana tidak tetap terbesar berasal dari donatur/masyarakat (72%) dan Dinas Sosial provinsi (28%).11%). Sumber dana tetap berasal dari Dinas Sosial provinsi (54%). sedangkan filling cabinet.77%) bertugas sebagai pengemudi. Sebanyak 48% panti sosial memiliki kendaraan bermotor roda empat dan 96% memiliki kendaraan roda dua. Adapun jenis dan jumlah panti sosial terdiri dari 32 Panti Sosial Anak Terlantar (64%). bendahara. Jumlah tenaga di 50 panti sosial sebanyak 937 orang dan 69. Tenaga teknis terdiri dari pengasuh Puslitbang Kesos 133 . Peralatan olah raga dan kesenian sebagian besar (88%) sudah memilikinya. sarjana muda. Sementara peralatan terapi medik. tukang cuci dan satpam. sarjana dan pasca sarjana (44. fisioterapi dan alat pijat refleksi dimiliki oleh panti sosial cacat dan panti sosial Napza. Tingkat pendidikan tenaga panti terdiri dari SLTA (44. dibantu oleh beberapa orang kepala seksi yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat (Bupati/Walikota).. calculator dan brankas dimiliki oleh sebagian kecil panti-panti sosial. yakni Pegawai Negeri di panti-panti sosial pemerintah. sedangkan tenaga tidak tetap merupakan tenaga honor panti. Yayasan Dharmais (48%). Sarana perkantoran yang dimiliki panti sosial berdasarkan data sekunder di setiap panti menunjukkan sebanyak 26% panti sosial belum memiliki komputer. 5 Panti Sosial Lanjut Usia (10%). Sedangkan pimpinan panti sosial swasta sebagian besar diangkat dan diberhentikan oleh pengurus yayasan. 10% belum memiliki telepon dan sebanyak 72% belum memiliki faxcimilie. APBD (32%. Secara struktural panti-panti sosial pemerintah dipimpin oleh seorang kepala.

buah ditambah susu. Sedangkan pelatihan keterampilan diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja setempat.37%). diperoleh informasi sebanyak 50% panti memberikan menu makan tiga sehat plus berupa nasi. Khusus tenaga teknis pekerjaan sosial secara kuantitas masih relatif terbatas. Kantor Urusan Agama memberikan bantuan pembimbing agama/mental kepada klien. sayur. pelatihan ini baru diberikan sebanyak 46% dari panti-panti sosial. lauk pauk. Menu makanan rata-rata terdiri dari makanan pokok. Perbedaan persepsi tentang pekerjaan sosial ini berpengaruh terhadap pelayanan sosial kepada klien Bentuk dukungan paling besar (74%) terhadap panti-panti sosial dalam jaringan kerja adalah bidang kesehatan yang diwujudkan dalam bentuk pengobatan kepada klien di puskesmas dan rumah sakit serta pelatihan keperawatan untuk lanjut usia. Sedangkan makanan tambahan diwujudkan dalam bentuk kue. dokter/psikiater. Dukungan dalam bentuk beasiswa diberikan oleh Muhammadiyah dan gereja. pekerja sosial (27. lauk dan pauk. Mengenai pemenuhan kebutuhan fisik klien. Sementara sebagian panti (terutama panti sosial swasta) menyatakan bahwa pekerja sosial yang dimaksud disini adalah relawan sosial yang melaksanakan pelayanan berdasarkan charitatif. sayur. kolak. Sebagian besar panti-panti sosial milik pemerintah daerah berpendapat bahwa tenaga pekerja sosial merupakan tenaga profesi yang seharusnya mempunyai latar belakang pendidikan pekerjaan sosial. Rasio ini sangat berat terutama untuk klien penyandang masalah pathologis. yaitu rata-rata 3 orang per panti sosial. yang rata-rata per pekerja sosial mendampingi 74 orang klien. Dinas Sosial dan BKKKS memberikan dukungan pelatihan manajemen panti. perawat. kerohanian (13. sayur. Dinas Perindustrian memberikan dukungan magang kerja melalui kerjasama dengan dunia usaha. sayur dan lauk pauk. kadang-kadang buah.04%). Sedangkan 36% memberikan makan tiga sehat berupa nasi. kacang hijau dan buah-buahan. psikolog. Selain itu pihak kepolisian juga memberikan penyuluhan tentang bahaya Napza. seperti penyandang cacat dan korban napza. 134 Puslitbang Kesos . analis laboratorium dan konselor. Namun.32%) dan lainnya adalah instruktur. lauk pauk. Hanya sebagian kecil panti sosial yang memberikan menu makan empat sehat dan empat sehat plus berupa nasi. kadang-kadang buah bahkan kadangkadang susu. atau yang pernah mengikuti pelatihan profesi pekerjaan sosial. Pemahaman tentang pekerja sosial ini di setiap panti berbeda-beda.Evaluasi Program Subsidi Panti (37.

Pelaksanaan bimbingan fisik sebagian besar memanfaatkan tenaga dari dalam panti. Sebagian besar (98%) Panti sosial juga memberikan peralatan/ perlengkapan mandi seperti sabun mandi. Kadangkadang pakaian juga diberikan oleh para dermawan pada saat mengadakan kunjungan ke panti. handuk dan pakaian dalam.83% klien tinggal dalam asrama dan 4. Jenis bimbingan sosial yang selama ini diberikan oleh panti-panti sosial meliputi sosialisasi dengan lingkungan/masyarakat. yang biasanya dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal. Dalam bidang kesehatan. Sebagian besar tempat tinggal klien menggunakan asrama (96%). rujukan ke puskesmas atau rumah sakit umum/daerah setempat. bimbingan bicara (spech therapy). (2) sebagai terapi dalam usaha membantu penyembuhan klien sebagaimana kegiatan keterampilan yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Laras. lainnya dalam bentuk wisma (cottage). pramuka dan psikoterapi. pengabdian masyarakat dan gotong royong. sehingga kegiatan ini merupakan program pokok bagi klien dalam panti. sedangkan bola volley. Pemahaman bimbingan sosial di setiap panti berbeda-beda sesuai dengan persepsi pimpinan/pengelola panti sosial. dan (3) merupakan kegiatan ekstra kurikuler atau sekedar mengisi waktu luang. sedangkan penyuluhan kesehatan melibatkan tenaga Puskesmas setempat. sikat gigi. sebagian besar (86%) panti sosial melaksanakan bimbingan keterampilan Puslitbang Kesos 135 . konsultasi. Secara umum kegiatan ini mempunyai tujuan: (1) memberikan keterampilan kepada klien. baju koko. sepak bola dan tenis meja dilaksanakan secara insidentil pada sore hari. seperti yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Remaja. 95. Walaupun memiliki tujuan yang berbeda. Mengenai kegiatan pembinaan fisik. Apabila dilihat dari total jumlah klien. sabun cuci. pakaian lebaran. yang diberikan setiap bulan dan ada yang tidak setiap bulan. pakaian ibadah (sarung. mukena) dan pakaian dalam. odol. bimbingan kedisiplinan.Evaluasi Program Subsidi Panti Sebagian besar (96%) panti-panti sosial memberikan pakaian sekolah. pelayanan yang diberikan meliputi P3K. Bimbingan keterampilan yang ada di panti-panti sosial memiliki tujuan yang berbeda-beda. sedangkan pakaian sekolah diberikan sesuai kebutuhan klien. sebagian besar panti sosial melaksanakan kegiatan senam secara rutin. Jenis bimbingan mental/psikososial yang dilaksanakan di panti-panti sosial meliputi bimbingan agama.17% tinggal di cottage.

Koperasi dan dunia usaha. Dari 50 panti sosial dengan jumlah klien 3.Evaluasi Program Subsidi Panti secara rutin. Panti-panti milik pemerintah daerah untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan tidak mendapatkan subsidi makanan dengan alasan sesuai dengan Surat Edaran dari Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial yang menyatakan bahwa panti milik Pemerintah tidak mendapatkan subsidi ini.5 jenis keterampilan. yang mendapatkan subsidi sebanyak 2. Jenis bimbingan keterampilan di setiap panti sosial bervariasi.94% dari total klien dalam panti sosial.per orang sangat signifikan sebagai suplemen pemenuhan makanan klien yang digunakan 136 Puslitbang Kesos . Setiap panti sosial ada yang melaksanakan 1 atau 2 jenis keterampilan ada juga yang melaksanakan 3 . untuk tahun 2005 ini tidak semua panti yang menjadi responden mendapatkan subsidi makanan.250. menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Subsidi makanan yang besarnya Rp. sebagian memanfaatkan tenaga dalam panti. Bagi panti yang telah memiliki sumber tetap seperti dari APBD (khusus panti pemerintah). Namun. Untuk itu pemanfaatan subsidi diserahkan sepenuhnya kepada panti-panti yang menerimanya. Subsidi Makanan Panti-panti yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah panti-panti sosial yang mendapatkan subsidi makanan pada tahun 2004 dan 2005.450 orang atau 66.. Dengan demikian. Pelaksana kegiatan ini. Pemanfaatan Subsidi Panti 1. dari Yayasan pendukung utama operasional panti dan sebagainya. 2 % melaksanakan bimbingan keterampilan secara insidentil dan 12 % panti sosial tidak melaksanakan bimbingan keterampilan. Padahal. ada keleluasaan bagi pengelola panti untuk mengelola subsidi sebatas untuk biaya makanan dan bukan untuk kebutuhan yang lain. yang tidak mendapatkan subsidi makanan adalah panti milik Pemerintah (pusat) bukan milik Pemerintah Daerah. yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing panti. Tidak semua panti sosial mendapatkan subsidi makanan sesuai dengan jumlah klien. dari Yayasan Dharmais. subsidi panti dapat digunakan sebagai tambahan sumber dana panti.693 orang. sebagian panti memanfaatkan tenaga dari Dinas Tenaga Kerja. 2.

Apabila dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat untuk jenis barang yang dikonsumsi klien sehari-hari. meski tidak setiap hari. Membandingkan jatah SOSH dengan HET setempat tampak adanya angka ’minus’ dari anggaran panti untuk mengadakan bahan makanan tiap harinya. untuk sebagian panti swasta standar tersebut masih dirasakan sebagai ’utopia’ karena perbandingan jatah SOSH dengan harga setempat masih relatif jauh.9.140.1.000.11.11. 2. Kondisi ini lebih parah dirasakan oleh panti swasta. Untuk Panti Pemerintah. Provinsi Sumut NTB DI Yogya Kalbar Sulsel SOSH (Rp) 7.120.100. ada yang belum/ tidak dapat memberikan makanan tambahan.9.100. ada satu panti swasta yang dapat memberikan makanan tambahan.- Panti-panti pemerintah yang mendapatkan jatah SOSH tampak terjadi defisit tiap harinya.Harga Kebutuhan per orang per hari (Rp) 10. subsidi dimaksud digunakan untuk menambah lauk-pauk.000. Menu makanan yang diberikan panti Pemerintah mengikuti menu yang sudah ditetapkan dengan jadwal yang pasti dan masih dapat memberikan buah dan susu serta makanan tambahan seperti kacang hijau.600. sehingga tuntutan untuk dapat memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna hampir pasti tidak dapat terpenuhi.Kekurangan (Rp) 2.000. secara rata-rata maka jumlah anggaran dimaksud antara kurang dan lebih dari mencukupi.100.9.1.Evaluasi Program Subsidi Panti untuk menambah jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada klien.10.900. Namun demikian. Hal ini berkaitan dengan sudah adanya dukungan APBD untuk menu pokok harian.620.150.540.11. 5. Tabel 1. 1.10. 3.150.1.500. subsidi makanan terkesan menjadi “yang utama”. Sedangkan untuk panti swasta. Namun demikian. Perbandingan SOSH dengan kebutuhan tiap orang No. karena tidak memiliki Puslitbang Kesos 137 . 4. Sedangkan panti swasta. makanan tambahan dan susu. Hal ini berkaitan dengan tidak adanya/kurangnya sumber dana tetap. Untuk itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini.1. Menu makanan yang diberikan panti kepada kliennya diusahakan sedemikian rupa untuk memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna.

92%).000.untuk makanan ringan dimaksud. tampak bahwa indeks kebutuhan lebih tinggi.Evaluasi Program Subsidi Panti sumber dana tetap seperti yang dimiliki panti pemerintah. meskipun secara umum diketahui bahwa HET relatif lebih murah bila dibandingkan dengan provinsi lain. Tabel 2.000. Baru 2. Pengembangan 3.. Selain itu diketahui bahwa terdapat panti yang mengembangkan usahanya dalam 1 jenis atau lebih jenis usaha. Mengenai variasi jenis usaha/kerja diperoleh informasi. Kemudian 138 Puslitbang Kesos .. bahwa warung sembako menempati jumlah terbanyak (18. Jadi nilai Rp 11. Khusus untuk Yogya. Subsidi UEP 1. Dari pengamatan pada waktu penelitian.. dari yang sifatnya ternak. tampak bahwa beberapa panti hanya mampu memberikan makanan seadanya kepada kliennya.untuk Yogya merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan panti-panti di provinsi lain. Harga makanan ringan dimaksud ditetapkan Rp 1. Di Yogya panti milik pemda memberikan snack/ makanan ringan pada medio pagi dan sore.150. Tidak ada UEP Jumlah 31 panti 4 panti 15 panti % 62 8 30 Dari 31 panti yang mendapatkan subsidi UEP baru dan 4 panti yang mendapatkan subsidi pengembangan UEP dan dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha. Untuk itu dapat dilihat tabel berikut ini. usaha kerja hingga usaha jasa. Banyak panti swasta yang hanya dapat merasakan lauk pauk enak apabila klien panti dimaksud diundang untuk acara selamatan di masyarakat sekitar panti atau panti mendapatkan hantaran dari masyarakat dalam wujud makanan matang. Jenis Subsidi UEP yang didapatkan No. 2.tiap kali dan dengan demikian tiap hari diperlukan Rp 2. Subsidi Usaha Ekonomi Produktif Tidak semua panti responden mendapatkan subsidi UEP yang besarnya Rp 10 juta (subsidi baru) dan Rp 25 juta (subsidi pengembangan usaha). Klien tidak setiap saat mendapatkan jatah lauk pauk yang memenuhi standar gizi dan bahkan kalau mereka mendapatkan makanan harian hanya dalam wujud nasi dan sayur yang dimasak dengan cara diberikan banyak kuah.

Sedangkan jenis usaha lainnya. tanaman hias. Dalam memanfaatkan dana subsidi UEP. kambing dan sapi. pemasaran dan penyuluhan kesehatan.33%).69%). Ini berkaitan dengan jenis usaha yang dikembangkan panti. Didapatkan informasi bahwa sebagian toko memberikan kemudahan seperti mengambil barang terlebih dahulu dan baru membayar kemudian setelah barang dagangannya terjual. Jalinan dimaksud terutama dalam rangka pengadaan bahan dagangan. Adapun jalinan kerja dimaksud. untuk jalinan dengan lembaga/institusi lain adalah dalam rangka peningkatan keterampilan dan pemeliharaan usaha. budidaya lele. bengkel dan pertukangan. diklat perbengkelan. antara lain dengan pihak dunia usaha serta institusi milik pemerintah dan masyarakat. Meskipun demikian terdapat panti yang tidak melakukan jalinan kerja sama karena usahanya ada yang memang sudah dalam keadaan tidak operasi dan sebagian merasa dapat mengatasi sendiri masalahnya.Evaluasi Program Subsidi Panti wartel dan rental komputer menempati urutan ke dua (10. Bentuk kerjasama/dukungan terhadap Panti Sosial antara lain praktek kerja. lokasi (21.25%) dan lain alasan.81%). Pengaruh Subsidi Untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh program subsidi panti ini. Kerja sama dengan pihak lain baik dunia usaha maupun institusi dimaksudkan sebagai praktek kerja. peningkatan kemampuan hingga upaya pemasaran. yakni Wartel atau Warnet. yang didukung oleh tabel destribusi frekuensi dan diagram. masing-masing panti kemudian menjalin relasi dengan pihak lain sehingga diharapkan dapat mencapai peningkatan kemampuan kerja/produksi sekaligus dalam rangka pemasaran. Puslitbang Kesos 139 . foto copy. Alasan pemilihan jenis usaha ini berkaitan dengan pemasaran (31. menjahit. terutama bagi panti yang mengembangkan UEP dalam bentuk jualan sembako. bengkel. Jalinan terbesar ke dua adalah dengan PT Telkom. antara lain: ternak ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalinan terbanyak adalah dengan toko. SDM/pengelola (13. Pilihan ini tentunya berkaitan dengan kemudahan pemasaran dari hasil usaha/ kerja yang dipilih. salon. koperasi/simpan pinjam. Sementara itu. analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif.

Perubahan ini dinilai bermakna. maka menu makan yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 (lima) ukuran. empat sehat dan empat sehat plus yang menggambarkan skala ordinal. Ukuran ini sebagai dasar bagi peneliti untuk mencermati menu makan yang disediakan panti sosial. 140 Puslitbang Kesos . lauk-pauk. Menurut ahli gizi. karena dengan subsidi panti akhirnya seluruh panti kini sudah sesuai dengan Standardisasi Panti Sosial dalam pemberian makanan. yaitu dua sehat. Pada aspek frekuensi makan. data yang dikumpulkan hanya memenuhi 2 (dua) ukuran yaitu tiga sehat dan tiga sehat plus yang akan dianalisis kemudian. Aspek kedua dari makanan adalah menu makan klien dalam panti sosial yang menggambarkan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh klien. Makanan Beberapa aspek terkait dengan makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini.3 kali seminggu. untuk pemberian buah-buahan dan susu. Di lapangan. yaitu nasi. Misalnya. tiga sehat. khusunya dalam hal frekuensi makan. Sebelum menerima subsidi. pada umumnya panti sosial memberikan 2 . makanan dikatakan sehat apabila secara umum telah memenuhi empat sehat lima sempurna. tiga sehat plus. Berdasarkan kondisi lapangan itu.Evaluasi Program Subsidi Panti 1. program subsidi panti tidak memberikan pengaruh yang signifikan. atau ada penambahan sebesar 4 persen. bahwa panti sosial belum sepenuhnya mengikuti daftar menu makanan yang yang telah disusun. yaitu frekuensi makan. Namun. menu yang telah disusun tersebut belum dapat dilaksanakan setiap hari karena keterbatasan anggaran. buah-buahan dan susu. Pada umumnya sebagian besar panti sosial sudah menyusun menu makan per hari bersama ahli gizi setempat. Namun demikian. 96 persen panti sosial sudah memberikan makan tiga kali sehari dan kemudian menjadi 100 persen setelah menerima subsidi. sayur. menu makan (yang menggambarkan kualitas makanan) dan makanan tambahan. peneliti menemukan data.

1. terjadi peningkatan dari semula 96 persen menjadi 100 persen panti sosial yang memberikan makan 3 kali sehari. 2. Makanan tambahan memang tidak termasuk makanan utama.Evaluasi Program Subsidi Panti Tabel 3. Namun. Makan Tambahan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. Makanan Tambahan Setiap hari Kadang-kadang Tidak ada Jumlah Sebelum F % 4 8 28 56 18 36 50 100 Sesudah F % 6 12 42 84 2 4 50 100 Berdasarkan data tersebut. klien panti sosial memerlukan makanan tambahan sebagai tambahan gizi. 2. Kualitas Makan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. b) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 94 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat plus. Perbandingan sebelum dan sesudah subsidi dari makanan tambahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Puslitbang Kesos 141 . Aspek berikutnya untuk melihat pemenuhan makanan klien adalah pemberian makanan tambahan. baik terkait dengan tumbuh kembang (bagi anak-anak) atau kesehatan (bagi orang dewasa). program subsidi panti dapat disimpulkan berpengaruh positif dan signifikan pada kemampuan panti dalam memberikan makanan tambahan. 2) Pengaruh terhadap menu atau kualitas : a) Terjadi penurunan dari semula 36 persen menjadi 6 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat (pindah ke tiga plus). program subsidi panti memberikan pengaruh positif pada penyajian menu atau kualitas makanan panti sosial. 1. Dari ketiga aspek yang dicermati dalam penelitin ini bahwa : 1) Pengaruh terhadap frekuensi atau kuantitas permakanan. Menu Makanan Tiga sehat Tiga sehat plus Jumlah Sebelum F % 18 36 32 64 50 100 Sesudah F % 3 6 47 94 50 100 Berdasarkan tabel di atas.

2. bahwa pengaruh subsidi terhadap pemenuhan kebutuhan makanan pada panti-panti sosial pada kategori rendah. Meskipun secara kuantitatif pengaruh program subsidi panti relatif rendah. b) Terjadi peningkatan dari semula 8 persen menjadi 12 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan setiap hari. penambahan omzet/ minggu. ada 4 aspek yang dicermati dalam penelitian ini. dengan rincian 5 panti menambah satu jenis usaha dan 3 panti menambah 2 jenis usaha. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengelola panti sosial. Jenis-jenis usaha yang merupakan usaha tambahan dari usaha utama. penambahan aset dan pemanfaatan untuk kebutuhan operasional. yang hasilnya dapat diambil harian. tetapi secara kualitatif memberikan manfaat yang sangat besar. yaitu rental komputer. 142 Puslitbang Kesos . Panti sosial sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan klien. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi untuk kegiatan UEP. Dalam rangka mengetahui pengaruh subsidi bidang UEP. c) Terjadi peningkatan dari semula 56 persen menjadi 84 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan kadangkadang (2-3 kali seminggu). Berdasarkan informasi tersebut disimpulkan. sebesar 8 panti sosial (25%) sudah berkembang (ada penambahan jenis UEP). yaitu berkisar 30 persen. Usaha Ekonomis Produktif Berbagai jenis UEP diselenggarakan oleh panti sosial. dilihat dari aspek frekuensi. yaitu penambahan jenis UEP. bahwa pada umumnya sebelum menerima program subsidi panti. mingguan maupun bulanan.Evaluasi Program Subsidi Panti 3) Pengaruh terhadap makanan tambahan : a) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 96 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan. program subsidi panti sangat membantu kelancaran proses pelayanan dan karenanya perlu dilanjutkan. Hal ini menggambarkan bahwa panti sosial pada umumnya sudah memiliki pemahaman akan eksistensinya sebagai organisasi pelayanan manusia (human service organization). Data ini menunjukkan. menu dan makanan tambahan. panti sosial sudah memberikan kebutuhan makanan relatif baik.

Hal ini berarti terdapat 6 panti sosial yang menerima subsidi pengembangan UEP digunakan untuk menambah modal usaha utamanya.atau rata-rata omzet Rp. 25. Aspek kedua dari UEP adalah penambahan omzet dari usaha yang dikelolanya. Perhitungan omzet ini hanya berdasarkan perkiraan pengelola saja. bahwa UEP yang dikelola oleh panti sosial belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan. mereka memang tidak pernah memperoleh bimbingan pembukuan dalam pengelolaan UEP. 350.000. sebanyak 23 panti sosial (71. Hal ini merupakan kendala dalam penelitian ini. ternak ayam dan wartel. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.000. sebagian besar (82.Evaluasi Program Subsidi Panti traso. bahwa apabila panti sosial sudah mengelola UEP dengan baik minimal selama 1 tahun. tanpa didukung oleh bukti tertulis berdasarkan pembukuan yang baik. pada panti sosial yang mengalami penambahan omzet. 2. Dari 32 panti sosial yang mengelola UEP.000. karena data obyektif dalam bentuk data kuantitatif tentang omzet ini tidak dapat diperoleh. Aspek ini dilandasi pula oleh anggapan dasar. Hal ini menggambarkan.000/minggu hingga Rp.-/bulan. yaitu peralatan rumah tangga.-/minggu. Aspek ketiga dari pemanfaatan subsidi untuk UEP adalah penambahan aset panti sosial. Hal ini didasari anggapan dasar.000. bahwa dalam waktu minimal 1 tahun panti sosial sudah mampu menambah asetnya dari hasil mengelola UEP. Berdasar informasi yang dihimpun dari pengelola.-Rp. yang berkisar Rp. Puslitbang Kesos 143 . hanya 4 panti sosial yang sudah mampu menambah aset masing-masing 1 jenis. lemahnya administrasi pengelolaan UEP ini tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak penerima program subsidi panti. 165. meskipun sebanyak 14 panti sosial (43. 25. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP.000. Sebagian besar (75%) panti sosial masih mengelola usaha utama dari program subsidi..-/minggu atau ratarata Rp.000.61%) memiliki omzet berkisar Rp. Oleh karena itu. Aspek ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana UEP yang dikelola panti sosial mengalami perkembangan dari kondisi awal. peralatan pesta. 660. Namun demikian.88%) mengalami peningkatan omzet.75%) menerima subsidi untuk pengembangan UEP. maka sudah terjadi peningkatan omzet.

Sedangkan 81. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. Informasi ini menggambarkan. pemasaran dan pembukuannya. bahan dasar. alat-alat keterampilan dan pendidikan. 2) Terjadi penambahan omzet pada 23 panti sosial (71. antara lain peralatan rumah tangga. dikarenakan besarnya omzet tersebut per minggunya masih relatif rendah. diperoleh informasi sebagai berikut : 1) Terjadi penambahan jenis UEP pada 8 panti sosial (25%).75%).5%) yang sudah mengalami penambahan aset. penambahan omzet tersebut belum meng gambarkan keberhasilan panti dalam mengelola dan mengembangkan UEP. Pada umumnya Dinas Sosial memang melakukan 144 Puslitbang Kesos . yang menonjol pada penambahan omzet.88%) yang besarnya sebagian besar rata-rata Rp. Jenisjenis UEP antara lain rental komputer. Kebutuhan operasional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang mendukung secara langsung pemenuhan kebutuhan klien. alat penerangan. Hal ini menggambarkan pula lemahnya proses monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Instansi Sosial Provinsi terhadap proses pengelolan UEP. 4) Terjadi penambahan kebutuhan operasional pada 6 panti sosial (6.000. 165.25% belum ada penambahan kebutuhan operasional panti.Evaluasi Program Subsidi Panti Aspek berikutnya terkait dengan UEP ini adalah penambahan untuk kebutuhan operasional. yaitu penambahan pada kebutuhan makanan. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor. bahwa ada proses dalam pengelolaan UEP yang tidak tepat. 3) Terjadi penambahan aset pada 4 panti sosial (12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 6 panti sosial (6. pengadaan alat-alat keterampilan dan pendidikan. keterampilan pengelola. Dari keempat aspek yang dicermati untuk mengetahui pengaruh program subsidi panti terhadap pengelolaan UEP. peralatan pesta. alat-alat penerangan.-/minggu. Berdasarkan informasi tersebut.75%) dari 32 panti sosial yang mengelola UEP sudah dapat menambah kebutuhan operasional. disimpulkan bahwa program subsidi panti berpengaruh relatif rendah terhadap pengelolaan dan pengembangan UEP. Namun demikian. traso dan ternak ayam. antara lain penentuan jenis UEP. antara lain untuk mendukung makanan tambahan.

Menurut para pengelola. Puslitbang Kesos 145 . Upaya Panti Mengatasi Masalah Pembiayaan Dalam kaitannya dengan upaya panti mengatasi permasalahan pembiayaan. maksud dan tujuan dari program tersebut sulit direalisasikan. terutama untuk kebutuhan makanan. sebagian besar masih berasal dari pemerintah. sebesar 28 persen panti sosial belum memiliki upaya atau jalan keluar apabila program subsidi panti ini dihentikan. Oleh karena itu. dan akibatnya panti sosial mengelola UEP berdasarkan kemampuannya sendiri. maka panti sosial akan menanggung beban yang amat berat dalam penyelenggaraan pelayanan.Evaluasi Program Subsidi Panti monitoring dan evaluasi terhadap UEP yang dikelola panti-panti sosial. khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan. 72 persen panti sosial sudah memiliki rencana mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi dihentikan. dan panti sosial masih bergantung pada bantuan pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan. upaya untuk memotong mengurangi ketergantungan panti sosial kepada pemerintah masih sulit diwujudkan untuk beberapa tahun ke depan. Dari jumlah tersebut. maka nantinya panti sosial tidak terlalu bergantung pada pihak lain. Sementara itu. apabila tidak ada dukungan pemerintah. 50 persen panti sosial merencanakan mengembangkan UEP. Namun demikian. Program subsidi panti yang dialokasikan untuk UEP ini didasarkan pada pemikiran. informasi yang diperoleh dari kegiatan itu tidak segera ditindaklanjuti. Lainnya masih bergantung pada pihak luar. apabila UEP dikelola dengan baik. termasuk kepada pemerintah. Informasi ini relevan dengan informasi sebelumnya bahwa sumber dana panti sosial. Mereka masih mengharapkan program subsidi panti terus dilanjutkan. Namun demikian. Hal ini menunjukkan kemandirian panti sosial dalam pembiayaan program dan kegiatannya masih cukup rendah Harapan Panti Terhadap Program Subsidi Masih ada kekhawatiran para pengelola panti sosial apabila pada saatnya nanti program subsidi panti ini dihentikan. dan bahkan ada yang akan mengurangi jumlah kliennya.

karena skema dari program ini rawan terjadi penyalahgunaan.911 per tahun. monitoring dan evaluasi tidak dilakukan dengan baik. Apabila panti dapat mengelola UEP. Berbagai persoalan administratif maupun teknis disinyalir terjadi secara berulang-ulang. sampai dengan pertanggungjawaban administratif. maka akan memiliki sumber dana tetap yang berasal dari panti sendiri. Besarnya dana subsidi panti ini apabila dilihat dari besarnya anggaran makanan pada panti sosial. program subsidi ini pada umumnya.48 persen. merupakan titik-titik yang lemah terjadinya bias kepentingan. panti sosial juga mengharapkan adanya bantuan untuk UEP. demi kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pada panti-panti sosial. program subsidi panti ini menarik karena dari tahun ke tahun besarnya anggaran yang dialokasikan terus mengalami kenaikan. belum secara signifikan memberikan manfaat bagi panti-panti sosial. Dana yang dialokasikan pemerintah pusat dalam program subsidi panti tersebut cukup besar. 146 Puslitbang Kesos . 38. Proses awal penentuan panti sosial yang layak sebagai calon penerima program. Hal ini menggambarkan cukup besarnya dukungan pemerintah cq. sehingga akan mengurangi ketergantungannya terhadap pemerintah dan pihak luar lainnya. dari 50 panti sosial yang menjadi obyek penelitian ini. tetapi belum dapat diketahui secara pasti seberapa besar dampak tersebut. Bias kepentingan ini akan semakin parah apabila proses supervisi. jumlah klien yang diusulkan. Implikasi Kebijakan Sebagai suatu obyek penelitian. baik oleh penanggung jawab program di Instansi Sosial Provinsi maupun Departemen Sosial. Departemen Sosial terhadap panti-panti sosial.Evaluasi Program Subsidi Panti Selain bantuan makanan. Sedangkan untuk UEP. Khusus untuk tahun 2005. rata-rata mencapai 53. Pada umumnya pengelola panti sosial belum melakukan pencatatan atas penggunaan subsidi untuk UEP ini. sehingga kesulitan ketika menghitung berapa besarnya manfaat ekonomis dari program subsidi panti. Hasil dari UEP yang bersumber dari subsidi panti tidak dibukukan tersendiri. Harapan berikutnya adalah pelatihan pengelolaan UEP dan pendampingan. Manfaat memang telah dirasakan oleh pengelola. terutama pada pemberian makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. rata-rata setiap panti sosial menerima dana sebesar Rp. Pada pemanfaatan pemenuhan makanan dirasakan oleh pengelola cukup membantu.247.

Persoalannya adalah bagaimana kemampuan panti sosial mengelola UEP tersebut. Meskipun penelitian ini menjangkau sample panti sosial yang sangat terbatas (50 panti sosial). bahwa program subsidi panti belum mampu mendorong panti-panti sosial mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah. Hal ini menggambarkan. Hal ini semakin menegaskan. tetapi informasi yang diperoleh terkait dengan bantuan kepada panti-panti sosial dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain program yang tepat. Terutama mengurangi ketergantungan panti sosial terhadap pemerintah dan semakin mendorong profesionalisme panti sosial dalam penyelenggaraan pelayanan. monitoring dan evaluasi perlu dilakukan dengan baik. terutama dalam memilih jenis UEP yang prospektif dan dalam waktu cepat dapat memberikan hasil. dan (3) panti-panti sosial akan semakin kreatif untuk mengembangkan skema pelayanan yang profesional. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari pengembangan UEP ini. sehingga akan diperoleh informasi yang obyektif tentang efektivitas pelaksanaan program subsidi panti ini. Sementara itu. Pada kerangka inilah diperlukan peran Instansi Sosial Provinsi untuk memfasilitasi panti-panti sosial tesebut menentukan pilihan UEP yang tepat. Terkait dengan itu. maka supervisi. Puslitbang Kesos 147 . Berdasarkan hasil penelitian. Perlu dilakukan evaluasi dari unit di luar penyelenggaran program atau pihak independen. tetapi mereka masih sangat mengharapkan program tersebut tidak dihentikan. panti sosial yang sudah menyusun langkahlangkah pun.Evaluasi Program Subsidi Panti Meskipun diantara panti-panti sosial sudah menerima program subsidi lebih dari satu kali. (2) memperkuat komitmen dan percaya diri pengelola panti sosial di bidang pelayanan kemanusiaan. bahwa program subsidi panti pada umumnya belum mampu mendorong kemandirian panti sosial. maka skema program subsidi panti akan lebih tepat apabila diarahkan pada bantuan untuk pengembangan UEP. mulai dari kegiatan seleksi panti sosial hingga terminasi. masih menghaharapkan dana pada pihak luar. Dalam upaya menjawab permasalahan ketergantungan panti sosial tersebut. 28 persen panti sosial belum menyusun langkahlangkah untuk mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi panti ini dihentikan. yaitu: (1) mengurangi ketergantungan panti sosial pada pemerintah.

diarahkan pada frekuensi pemberian makanan tambahan. bahwa subsidi panti dirasakan besar manfaatnya bagi panti-panti sosial dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien. Pemanfaatan subsidi untuk makanan ini. seperti susu dan buah meskipun pemberian susu dan buah ini pada umumnya belum setiap hari. Meskipun klien yang diusulkan untuk memperoleh subsidi jauh lebih kecil dari yang diusulkan. Program subsidi panti untuk biaya makanan memberikan pengaruh cukup nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien dalam panti-panti sosial. Sedangkan berkaitan dengan menu. Namun demikian. Selain itu berpengaruh pula pada frekuensi dan jenis makanan tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa panti-panti sosial masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan UEP. yaitu nasi sayur dan lauk kemudian menjadi tiga sehat plus. Diharapkan adanya perubahan kualitas dan frekuensi serta jenis makanan tambahan ini akan semakin meningkatkan derajat kesehatan klien. Kemudian. lauk dan buah-buhan meskipun tidak setiap hari. Panti-panti sosial menentukan jenis-jenis UEP didasarkan pada aspek tenaga. kondisi UEP panti setelah menerima program juga menunjukkan adanya perubahan positif. tetapi seluruh klien yang ada di panti sosial ikut menikmati subsidi tersebut. sarana dan bahan baku. atau baru menjangkau 66. Penentuan UEP yang tepat sepenuhnya diserahkan kepada panti-panti sosial sendiri. Namun demikian. dalam penelitian ini sulit untuk mengetahui secara tepat dampak program subsidi untuk biaya makanan. Oleh karena itu. pada umumnya untuk makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. yakni dari satu jenis menjadi dua atau tiga dan dari seminggu sekali menjadi dua kali. sayur. pasar. yaitu pemenuhan kebutuhan makanan dan usaha ekonomi produktif (UEP). Untuk makanan tambahan. diperoleh data kualitatif. Ada perubahan positif pada peningkatan kualitas menu makanan yang semula tiga kali sehari.94 persen. yaitu nasi. Baru 148 Puslitbang Kesos . meskipun belum signifikan.Evaluasi Program Subsidi Panti Kesimpulan dan Saran Panti-panti sosial pada umumnya memanfaatkan subsidi panti untuk dua kegiatan besar. subsidi dimanfaatkan untuk menambah menu. pada prakteknya baru sebagian kecil UEP yang bisa mendukung kegiatan operasional panti sosial. Dana dari program subsidi panti dimanfaatkan oleh panti sosial untuk membuka UEP baru ataupun pengembangan UEP yang sudah ada.

b. Bantuan UEP perlu menjadi priroritas dibandingkan dengan subsidi untuk makanan. diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pengelola dan penanggung jawab program subsidi panti.Evaluasi Program Subsidi Panti sebagian kecil panti sosial yang mengalami peningkatan omzet dan aset setelah menerima program subsidi panti. c. penyaluran bantuan UEP ini perlu diawali dengan pelatihan UEP dan diikuti dengan pendampingan. bahwa sebagian besar panti sosial penerima program subsidi panti masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pemerintah untuk kelangsungan hidupnya. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya panti fiktif. mark up jumlah klien dan kelayakan panti sosial untuk menerima program. sehingga panti sosial tepat dalam memilih jenis UEP dan mampu mengelolanya dengan baik. Penanggung jawab program bertanggung jawab terhadap panti sosial yang diusulkan sebagai penerima program dan memiliki data by name by address atas panti-panti sosial yang diusulkan. Berdasarkan hasil penelitian ini. Diharapkan subsidi untuk kegiatan UEP ini nantinya akan mengurangi ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah. Panti sosial yang sudah mandiri. Puslitbang Kesos 149 . tidak memperoleh prioritas sebagai penerima program subsidi panti. Hal ini menggambarkan. Pemerintah perlu menetapkan jangka waktu yang tegas. Sebagian kecil dari mereka telah memiliki gagasan menemukan jalan keluar apabila program subsidi ini nantinya tidak dilanjutkan. kapan panti sosial akan dikurangi subsidinya atau dihentikan sama sekali. yaitu: a. yang diikuti dengan kriteria dan indikator yang terukur. Seleksi terhadap panti sosial calon penerima subsidi berdasarkan kondisi riil panti sebagaimana adanya. Hal ini menunjukkan panti justru semakin sulit melepaskan ketergantungannya pada pemerintah. Terkait dengan itu. Terkait dengan UEP ini adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan terhadap panti sosial dalam pengelolaan UEP. Sebagian besar panti sosial masih mengharapkan program subsidi ini terus diterimanya. Panti sosial diberikan kebebasan untuk mengelola UEP menurut caranya sendiri dan pada prakteknya panti sosial tidak tepat ketika memiliki UEP yang prospektif.

Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Usaha Ekonomis Produktif. 2005. perlu dilakukan pengawasan lebih ketat mulai pada tahap penentuan panti-panti sosial calon penerima program sampai dengan penyaluran dananya. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. 1997. 2003. f. 2000. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Puslitbang UKS. Selo Soemardjan. Nomor 2/September 1997. B. DAFTAR PUSTAKA Departemen Sosial RI. Oleh karena itu.. Program subsidi panti sangat rawan dengan penyimpangan. Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Tambahan Biaya Makanan/Gizi. Indonesia. —————————. Selo. Jakarta : Ikatan Sosiologi Indonesia. e. 2003. Pincus.2003. Jurnal Sosiologi. “Kemiskinan Pandangan Sosiologi”. Perlu dibangun kemitraan secara sinergis antara penanggung jawab program pada unit Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. sehingga setiap daerah besarnya alokasi anggaran per orang/panti akan berbeda-beda. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Illinois : Peacock Publisher Inc . Pedoman Akreditasi Panti Sosial. Puslitbang Kessos dan instansi sosial di daerah untuk mengawal program subsidi panti ini agar mencapai tujuan yang diharapkan. Studi Pengembangan Panti Sosial Pamardi Putra Sebagai Panti Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Yang Komprehensif dan Profesional. Itjen. 1973. Puslitbang Kesos. Mekanisme pencarian dana melalui PT POS tetap dipertahankan. Social Work Practice : Model and Methode. 150 Puslitbang Kesos . Allen and Anne Minahan. Mujiyadi. ————————. —————————-.Evaluasi Program Subsidi Panti d. Besarnya subsidi hendaknya disesuaikan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat (khusus makanan). Standardisasi Panti Sosial. tetapi perlu diupayakan agar pencairan dana tidak terlambat sampai ke pengelola panti sosial dan akan mempengaruhi efektifitas program itu sendiri. dkk.

Evaluasi Program Subsidi Panti Shortell. S. Dwi Heru. Siporin. KOPMA Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial : Bandung. Sukoco. 1978. 2004. Siahaan. Health Program Evaluation. (1975).C. Praktek Pekerjaan Social dalam Pembangunan Masyarakat. Inc.M. (1991). and Richardson. Makalah dokumen pribadi (tidak diterbitkan). Max. Saint Louis: The C. (1990). MPR. Puslitbang Kesos 151 . New York : Mac Millan Publisher Co. Beberapa Catatan dalam Praktek Pekerjaan Sosial.V Moshy Company. Profesi Pekerjaan Sosial. Soetarso. W. Bandung : STKS Publisher. Introduction to Sosial Work Practice.

.

Sri Gati Setiti 2 ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia seiring dengan jumlah penduduk lanjut usia. Drs. tehnik pengumpulan data dengan wawancara. Hasil penelitian bahwa pelayanan sosial dalam kerabat merupakan salah satu nilai budaya setempat yang membuat lanjut usia merasa aman dan terlindungi dalam lingkungan kerabat. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Sri Gati Setiti. Sri Gati Setiti. penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. Drs. Sementara kekerabatan sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial. Hal ini guna mengembangkan konsep model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan.Nina Karinina. kerabat merasa sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai nilai budaya dan agama yang dianutnya. Ditinjau dari kebutuhan hidup pokok kecuali ekonomi. peneliti: Dra. secara fisik umumnya merasakan tercukupi. Harapan lanjut usia maupun kerabat adalah tempat serbaguna yang berfungsi pelayanan dan kegiatan lanjut usia. Untuk memeriksakan penyakit.PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN ( Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia)1 Dra. apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia ? Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan lanjut usia. Penelitian ini merekomendasikan suatu model pelayanan lanjut usia dalam kerabat melalui : penguatan ekonomi kerabat bagi lanjut usia yang tidak potensial dan ekonominya lemah. permasalahan lanjut usia dan pelayanan yang dilakukan oleh kerabat. Permasalahan lanjut usia yang paling dirasakan adalah masalah kesehatan.Achmadi Jayaputra M. Departemen Sosial RI. Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Rusmin Tumanggor. program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Jawa Timur. Nusa Tenggara Barat. FGD. Puslitbang Kesos 153 . Dra. yang telah berfungsi dalam pelayanan lanjut usia secara tradisional belum dioptimalkan. Dilain pihak. dkk. Berbagai kebijakan. Pendekatan deskriptif kualitatif.Si. Namun. ed: Prof Dr. belum dapat memecahkan permasalahan yang ada. Lokasi penelitian di Sumatera Utara. Pertanyaan dalam penelitian ini. Setyo Sumarno. 1 2 Diangkat dari Penelitian Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). lanjut usia berharap pelayanan khusus bagi lanjut usia atau Posyandu lansia yang murah dan mudah dijangkau. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. studi dokumentasi dan observasi.

disamping kendala dana maupun petugas. diiringi jumlah dan persentase penduduk lanjut usia. Peran kerabat dalam masyarakat di seluruh Indonesia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. Baik melalui sistem panti maupun nonpanti atau berbasis masyarakat. diantaranya terkena tindak kekerasan oleh orang lain maupun kerabatnya. dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. maupun ekonomi. Day Care Service maupun Day Care Centre. Hal ini sebagai prestasi sekaligus tantangan/beban. Berdasarkan beberapa hal tersebut. Kata Kunci: lanjut usia. Tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan lanjut usia dihormati. Penanganan masalah sosial merupakan bagian dari dan berakar pada nilai tolong menolong yang dikenal hampir semua suku bangsa di Indonesia. seperti Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). Upaya tersebut belum memadai dibanding populasi dan permasalahannya yang kompleks. Mereka mengalami berbagai keterlantaran. pembinaan generasi muda dalam upaya pelestarian nilai budaya dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang optimal. kita memiliki kearifan budaya. Pada sisi lain. tetapi banyak yang memberikan pelayanan secara terbatas.3 juta lanjut usia. 154 Puslitbang Kesos . penanganan lanjut usia juga masalah lainnya.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan pengembangan lembaga organisasi lanjut usia yang memiliki berbagai kegiatan yang bersifat psikis. Kekerabatan Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial tahun 2006 melakukan penelitian ”Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan”. Dalam berbagai budaya yang kita miliki. diatur dalam tradisi masyarakat. sekaligus merupakan potensi yang luar biasa. Pelayanan Sosial. Sebagian pelayanan cukup memadai. sebagai sumber kesetiakawanan sosial yang mampu memecahkan permasalahan sosial didaerahnya. Hal ini perlu diangkat dan dikembangkan. Dewasa ini lanjut usia yang tertangani melaui sistem panti maupun nonpanti kurang dari 2% dari 2. Berbagai kebijakan dan pelayanan dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat.

2. Menyusun kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan Manfaat Manfaat yang dapat dipetik bagi pemerintah. permasalahan dan harapan lanjut usia. Bagi instruktur kediklatan. bagaimana pelayanan dilakukan oleh kekerabatan terhadap lanjut usia? Permasalahan yang akan diteliti: Apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia? Tujuan 1. d.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Permasalahan Ketidakseimbangan antara pelayanan sosial yang tersedia dan permasalahan yang ada. b. Berdasarkan uraian tersebut. Lanjut usia yang terlantar semakin mudah kita saksikan disekitar kita. sehingga merubah pola dan kegiatan anggota keluarga yang berdampak kepada pelayanan bagi lanjut usia. Bagi pemberi pelayanan menjadi alternatif pelayanan. Memahami bentuk pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan c. berpengaruh kepada pelayanan lanjut usia. untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan model pelayanan lanjut usia. sebagai dasar ilmiah perumusan kebijakan publik untuk menyelesaikan masalah pelayanan lanjut usia. merumuskan pokok-pokok pikiran tentang kerangka dasar pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan (kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Puslitbang Kesos 155 . Bagi akademisi. Pada sisi lain belum ada pelatihan bagi pendamping kerabat yang melayani lanjut usia. Keterlantaran lanjut usia juga disebabkan oleh semakin memudarnya nilai dan penghargaan kepada lanjut usia. Secara khusus bertujuan: a. Memahami tentang kebutuhan. Mengidentifikasi nilai-nilai terkait dengan pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Secara umum bertujuan. Keterlantaran baik disebabkan oleh kondisi yang berubah. menjadi materi trainers. untuk uji coba pada penelitian tahap II tahun 2007).

Dari deskripsi teoritis tersebut. berpedoman kepada pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Kekerabatan dalam penelitian ini adalah orang sedarah (consanguinal kin). mengacu kepada UU no 13 Th 1998. yakni pelayanan dalam panti dan pelayanan luar panti. emosional dan spiritual serta sosial dan faktor ekonomi menjadi komponen penting dalam mencapai berbagai kebutuhan tersebut”. kerabat angkat (adoptif kin). Kekerabatan mengangkat pendapat Suryono Sukanto (1990). Goode (1985) dan Koentjaraningrat (1990). sebagai berikut : Sosial Emosi/Spiritual Kesehatan fisik/psikis Lanjut usia Patrilineal Parental LU dilayani saudara lakilaki LU dilayani anak laki-laki LU dilayani anak perempuan dan anak laki-laki LU dilayani saudara isteri atau saudara suami Ekonomi Bagan 1. Kerangka Konseptual dalam Pelayanan Lanjut Usia Berikut preposisi teoritisnya adalah : ”Lanjut usia akan dirawat di lingkungan kerabat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. yang dipanggil ”kekerabatan”. kerabat karena kawin mawin (afinal kin).Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Tinjauan Teoritis Definisi lanjut usia menitik beratkan kepada usia seseorang yang lebih dari 60 tahun. Sementara pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh kerabat pada suku bangsa yang diteliti. Adapun pelayanan lanjut usia. 156 Puslitbang Kesos . maka kerangka konseptual dalam penelitian ini.

Berbeda halnya dengan Melayu Kapuas. lanjut usia laki laki disapa Embah lanang. lanjut usia laki laki disapa Nenek atau Nek aki. Di Sulawesi Selatan. Pada etnik Bima. untuk perempuan disapa dengan Wai. untuk wanita disapa dengan Opung Nini. Suku Bugis dan Makasar. untuk perempuan disapa Ninik. Etnik Makassar. Wawancara mendalam untuk informan kunci. Diskusi terbatas kepada pejabat terkait pada tingkat provinsi. Tokoh Agama/masyarakat setempat. Observasi pada lingkungan tinggal lanjut usia dirawat. lanjut usia Laki laki disapa Ompu (Tuak /halus). wanita disapa Toa Baine. Di Jawa Timur. Pada suku bangsa Jawa lanjut usia lakilaki disapa dengan mbah kakung (halus: eyang kakung). untuk perempuan disapa Nek Wan. yang disajikan dalam studi kasus. lanjut usia Laki laki disapa Pupung. lanjut usia laki laki disapa Opung Bulang. Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. diteliti suku Melayu dan Toba. Pada suku Batak. untuk laki-laki disapa Ai dan perempuan disapa Mi. Suku Dayak dan Melayu. Nusa Tenggara Barat. berlaku pada masing masing daerah sebagai berikut : 1. sedang untuk perempuan juga disapa dengan Embah. Sapaan tentang Lanjut Usia Lanjut usia dalam berbagai etnis memiliki sapaan yang berbeda. Di Kalimantan Barat. untuk perempuan disapa Kajao. Pada suku Sasak di NTB. wanita Puslitbang Kesos 157 . Pada suku Madura. FGD pada: Kerabat.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Dalam etnik Bugis. Dalam budaya Melayu. Penelitian dilakukan di Sumatera Utara. Pada Suku Dayak. Wawancara berstruktur kepada lanjut usia. Suku Sasak dan Bima. lanjut usia Laki laki disapa Toa Baina. Suku Jawa dan Madura. kerabat yang melayani lanjut usia. Hasil Penelitian Pemahaman tentang Lanjut usia Adanya penyamaan persepsi tentang sapaan atau istilah lanjut usia. lanjut usia laki laki Melayu Sambas disapa Nek Aki. lanjut usia laki laki disapa Nene. untuk perempuan disapa dengan mbah putri (halus: eyang putri). Secara sosial budaya mewaklili sistem kekerabatan patrilineal dan parental.

disapa dengan Nenek. Bila tidak dapat dilakukan. yang disepakati dari hasil FGD adalah: lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun. walau demikian biasanya menempatkan lanjut usia bersama dengan anak tertua atau adiknya. maka kewajiban akan berpindah kepada adik laki lakinya. disepakati lanjut usia bila telah memiliki cucu. lanjut usia akan tinggal pada anak laki laki pertama atau adiknya. Ciri ini berlaku untuk etnik Batak. Namun. Berlaku untuk semua etnik yang diteliti. Kerabat yang tinggal di rumah panjang itulah yang bertanggung jawab kepadanya. Jawa dan Sasak juga Bima. Pada Etnik Bima. berlaku sama pada semua etnik yang diteliti. Pola tempat tinggal bagi Lanjut Usia. lanjut usia dapat secara bebas tinggal bersama kerabat pihak laki laki maupun pihak perempuan. anak yang tinggal berdekatan atau anak yang paling disenangi. Ciri lainnya termasuk mereka yang sering sakit-sakitan atau fisiknya sudah lemah. Temuan dilapangan lanjut usia tinggal bersama anak yang tinggalnya berdekatan. Secara umum pola tinggal mereka mengikuti garis kerabat. sudah memiliki cicit. Dalam budaya Jawa. Namun. Pada etnik Melayu dan Dayak. 3. yang menganut garis kerabat patrilineal. Walau demikian panggilan tersebut kadang ada yang sedikit berbeda. Ciri ciri lanjut usia. memiliki kebiasaan khusus. yang mengikuti garis parental. Pada etnik Sasak dan etnik Bima. Walau demikian.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 2. Etnik Bugis dan Makassar mengikuti sistem parental. lanjut usia tinggal bersama anak perempuan. Perubahan yang terjadi pada semua etnik yang diteliti. secara budaya lanjut usia tinggal bersama kerabat ayah. banyak ditemukan lanjut usia senang tinggal di rumah panjang. bila sudah pensiun dan anak-anak mereka sudah menikah. lanjut usia cenderung memilih tinggal pada anak peremuan atau yang paling disukai. 158 Puslitbang Kesos . Dalam Budaya Batak. Hal ini karena adanya pengaruh budaya sekitar yang turut memberi warna pada istilah atau sapaan kepada lanjut usia yang berlaku bagi daerah tersebut. kecuali di Kalbar. lanjut usia senang untuk pulang kampung ke Bima. Ciri lainnya. ditemukan lanjut usia tinggal pada kerabat garis Ibu atau tinggal berpindah antara anak satu dan lainnya. secara adat tinggal bersama anak laki laki tertua atau adiknya.

Pada kenyataannya. yang mengerti dan memahaminya. Lanjut usia membutuhkan teman yang sabar. atau tetangga/kerabat jauh. kesehatan dan spiritual. angin. Frekuensi pembeliannya umumnya setahun sekali sudah mencukupi. pelayanan dilakukan oleh anak. Model yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka. Kebutuhan makan umumnya tiga kali sehari ada juga dua kali. Kebutuhan psikis. Obat obatan ringan sebaiknya selalu siap didekatnya. murah. Kebutuhan sandang. Kebutuhan fisik lanjut usia meliputi sandang pangan. sering disapa dan didengar nasehatnya. dekat kamar kecil dan peralatan lansia secukupnya. kemenakan dan saudara sepupu. Puslitbang Kesos 159 . Mereka membutuhkan teman ngobrol.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 4. tidak asin dan tidak berlemak. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sangat vital. hujan. secara umum membutuhkan rumah tinggal yang nyaman. Secara umum pelayanan kepada lanjut usia dilakukan oleh kerabat yang paling dekat. dingin. membutuhkan dikunjungi kerabat. Kerabat yang melayani Lanjut Usia. Bila sakit segera diobati. dibutuhkan pakaian yang nyaman dipakai. Kebutuhan papan.Dibutuhkan fasilitas pelayanan pengobatan rutin. selain itu juga dilakukan oleh kerabat atas hubungan perkawinan atau adopsi. papan. Lanjut usia dirawat oleh kerabat sedarah. silaturahmi kepada kerabat dan masyarakat . Lanjut usia juga butuh rekreasi. Kondisi Lanjut Usia. terlindungi dari mara bahaya dan dapat untuk melaksanakan kehidupan sehari hari. Kebutuhan Lanjut Usia 1. Makanan yang tidak keras. 2. gratis dan mudah dijangkau. Pilihan warna sesuai dengan budaya setempat. kondisi lanjut usia yang rentan membutuhkan lingkungan yang mengerti dan memahaminya. Tidak kena panas.

UEP dan bantuan modal usaha sebagai penguatan usahanya. bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap. umumnya mereka mengisi waktu untuk beribadah. Sementara kerabat menambahkan pakaian kesukaan mereka. bagi lanjut usia yang masih potensial biasanya membeli sendiri. Bagi lanjut usia yang masih produktif membutuhkan keterampilan.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 3. Kondisi ekonomi kerabat yang terbatas. Keterbatasan ekonomi juga membuat kerabat tidak mampu melayani pengobatan secara medis. Makanan yang disajikan sesuai kemampuan mereka. Kadang mereka hanya memberikan obat dari warung atau ramuan tradisionil atau 160 Puslitbang Kesos . arisan dan lain-lain. Pelayanan fisik. secara umum kerabat melayani makan tiga kali sehari. Bagi lanjut usia yang tidak mampu biasanya diberi oleh kerabat jauh atau masyarakat. sesuai dengan kemampuan kerabat. membutuhkan bantuan sumber keuangan. juga teman sebaya. Kerabat yang menyajikan makanan umumnya anak. 5. Terutama kerabat. sekelompok kegiatan dan masyarakat di lingkungannya. Melalui Ibadah lanjut usia mendapat ketenangan jiwa. Terutama yang berasal dari kerabatnya. keterbatasan ekonomi membuat mereka makan seadanya. Secara ekonomi lanjut usia yang tidak potensial membutuhkan uang untuk biaya hidup. menantu. hanya mampu menyediakan tempat tinggal seadanya. Ada juga yang ditambah dengan buah. Tetapi. Ada yang menyajikan nasi. Pelayanan di bidang papan. Secara umum kerabat membelikan satu kali setahun. keponakan perempuan yang tinggal satu rumah/berdekatan. Mereka sangat mendambakan generasi penerus yang sungguh sungguh dalam menjalani ibadah. sayur dan lauk. Namun. Kebutuhan sosial lanjut usia membutuhkan orang-orang dalam berelasi sosial. olahraga. pencerahan dan kedamaian menghadapi hari tua. 4. Kebutuhan spiritual. ada juga yang tidak terpenuhi. Kebutuhan ekonomi. melalui kegiatan keagamaan. Lanjut usia kadang mesti menyesuaikan dengan makanan apa adanya. Pelayanan Lanjut Usia oleh Kerabat 1. Pelayanan sandang.

5. bahan mentah atau memberikan makanan siap saji. prosedur yang berbelit dan pelayanan yang sering tidak menyenangkan. dengan oleh oleh kesukaanya. mereka masih harus menghadapi biaya transpotasi yang mahal. 2. Bagi yang masih potensial. kelompok silaturahmi. Selain hal tersebut diatas. memberikan kabar keluarga dan berita secara umum. Kerabat berusaha untuk sering mengunjungi. olah raga. seperti kata ”mapakau untuk Bugis/Makassar” lanjut usia ditemani untuk ngobrol. yasinan. didengar nasehatnya dan didengar kaluhannya. diberikan kesempatan bekerja bersama kerabat. ada satu dua ditemukan lanjut usia mendapat perlakuan tidak baik. Beberapa etnik yang diteliti. Orang tua selalu memesan agar mengerti kepada lanjut usia.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan berobat ke dukun. Lanjut usia juga diberikan kegiatan bersama kelompoknya. kelompok adat dan lain-lain. arisan. Pelayanan sosial kerabat berusaha menemani berbicara. juga teman sekampung asal (kasus Bima) dll. mudah tersinggung dll. dilakukan kerabat dengan memenuhi kebutuhan dasar hidup lanjut usia. Sekalipun demikian. Bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial. Kesemuanya dilakukan secara gotong royong. pendamping dalam menjalani hidup. Pada sisi lain. Pelayanan psikis. lanjut usia diantar cucu atau kemenakan untuk bertemu dengan teman sebaya. diantaranya kelompok keagamaan. dimesjid atau dimajelis taklim. pengajian. secara intensif mereka bekerja secara kelompok (kasus Sasak). Ketika menjalani ibadah. kerabat juga memperhatikan lanjut usia yang ditinggal mati pasangannya. Kerabat menemani saat beribadah di rumah. Lanjut usia ada teman ngobrol. kerabat memberikan uang. juga teman sekelompok. Pelayanan ekonomi. rewel. seperti dibentak bentak. didengar nasehatnya. Melakukan kegiatan keterampilan untuk memperoleh penghasilan. Kerabat mencarikan pasangan. sebagai tempat mencurahkan isi hati. 4. Bagi yang memiliki kartu miskin. Puslitbang Kesos 161 . berusaha menjauhkan dari anak agar tidak gaduh. 3. Pelayanan spiritual dilakukan oleh kerabat dengan menyediakan sarana dan peralatan ibadah. dilakukan oleh kerabat yang mengerti dan memahami lanjut usia yang kadang perilakunya berubah seperti: kekanak kanakan.

olah raga. dalam bentuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). ternak ayam. Diskusi bersama tokoh dan Dinas terkait 162 Puslitbang Kesos .Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Pelayanan oleh Pemerintah dan Masyarakat Pelayanan sosial oleh Pemerintah melalui dua sistem. Mereka bergabung dalam Karang Wredha. Pelayanan lanjut usia yang dilakukan oleh masyarakat. Kesehatan dan Informasi. jaminan hidup. safari ibadah. ternak kambing. Setiap panti sosial memberi penampungan. rekreasi. Program pelayanan diluar panti berupa: pemberdayaan lanjut usia melalui dana Dekon. Dalam kegiatan usaha kesejahteraan sosial berupa kunjungan orang sakit dan bantuan bagi warga yang meninggal. ada juga sapi (Sulsel) dan Bantuan Peningkatan Gizi pada semua provinsi. bimbingan sosial dan spiritual. Sedang kerabat dapat memetik manfaat kepuasan batin dalam memberikan pengabdian. Karang Lansia dan lain lain. Hal ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Kegiatanya secara umum berupa penambahan Gizi. Selain itu juga KUBE dan UEP. pemanfaatan waktu luang. umumnya berbentuk Orsos. Kegiatan edukasi berupa keterampilan dan bantuan modal. Masing masing provinsi memiliki panti sosial Tresna Wreda. Pandangan Kerabat tentang Nilai-nilai yang Terkait Lanjut Usia Secara umum kerabat menghendaki lanjut usia tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat. Bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dibidang ternak itik. balas budi dan membahagiakan orang tua. kesehatan. Lanjut usia merasakan kedamaian berada ditengah kerabat. kerja bakti dan penggalakkan tanaman obat. pakaian. Pemberdayaan lanjut usia melaui DAU dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan Orsos. penambahan Gizi. yakni sistem pelayanan sosial di dalam panti dan pelayanan diluar panti.

Bagi lanjut usia yang tidak memiliki kerabat. Lanjut usia perlu” diisi perutnya dan dipelihara mata dan telinganya”. cepat dan mudah. Kerabat masih mendengarkan dan menjalani nasehat lanjut usia. Kerabat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan lanjut usia. masyarakat dan pemerintah Harapan kepada kerabat: pelayanan dinjalani secara ikhlas dan wajar. banyak ditemui lanjut usia tinggal dan dirawat oleh anak yang tinggal berdekatan. Ada yang menemani ketika berobat. sepanjang tidak mencelakakan. Harapan kepada kerabat. Pelayanan sosial bagi lanjut usia perlu dipisahkan antara yang potensial dan yang tidak potensial. Bagi yang tidak potensial memerlukan bantuan ekonomi. maupun budaya yang mengikat mereka. Melalui wadah ini lanjut usia dapat melakukan aktifitas sesuai dengan keinginan mereka.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Cara ini sesuai dengan agama. Bila ada perbedaan. Kondisi ini kini mulai bergeser. Lanjut usia memerlukan pelayanan kesehatan rutin yang murah (gratis). tidak sabar. Lanjut usia mengalami berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit non infeksi yang sulit disembuhkan. memperlakukan secara kasar. bersama anak perempuan/anak bungsu atau anak yang paling disayangi. melalui keluarga yang merawat. Bagi yang potensial tetapi miskin. Bila lanjut usia sakit. memerlukan pelayanan sesuai kondisinya. lanjut usia sebaiknya dirawat di panti sosial. Pelayanan psikis. memenuhi perintahnya. sebaiknya dirawat masyarakat sekitarnya. Permasalahan penting bagi lanjut usia adalah permasalahan kesehatan. Bila tidak sanggup melakukan. yang ditanggung secara bersama. dilakukan sesuai garis kerabat yang dianutnya. Hal yang buruk . Kerabat sebaiknya mengerti dan memahami yang baik dan tidak baik dilakukan kepada lanjut usia. Mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya. Puslitbang Kesos 163 . segera diberikan obat atau dibawa berobat. dapat menyampaikan dengan cara yang tidak menyinggung. memerlukan kegiatan usaha ekonomi produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi fisik yang mengalami kemunduran. Secara ekonomi. Melayani lanjut usia harus bisa berlaku sabar. sumber dana yang digunakan untuk merawat lanjut usia berasal dari kerabat. Mereka memerlukan wadah (Karang lansia/karang wredha) atau bentuk lainnya. lanjut usia potensial memerlukan silaturahmi dan anjang sana. baik ucapan atau perlakuan fisik. ada yang melayani ketika memerlukan bantuan.

juga jaminan hari tua bagi lanjut usia. mudah dan gratis dengan memberi kartu sehat lansia. KONSEP MODEL PELAYANAN LANJUT USIA 164 Puslitbang Kesos . 4. 5. Konsep Model KERABAT LANJUT USIA POTENSIAL PEMBERDAYAAN EKONOMI PEMBERDAYAAN GENERASI MUDA PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN PRANATA LANJUT USIA PENGUATAN KESEHATAN LANJUT USIA Bagan 2. gotong royong. Membentuk wadah kegiatan lanjut usia seperti: Karang wredha/Karang Lansia. sekalipun tenaga/dana yang disumbangkan tidak seberapa. Mendorong dan memfasilitasi bagi yang sudah terbentuk.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Harapan yang sangat tinggi kepada kerabat untuk tekun beribadah. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia ( dekat. Menyumbangkan ilmu dan pengalamannya. Memberi jaminan hidup kepada lanjut usia yang tidak potensial dengan kerabat tidak mampu. kerja keras. rajin belajar. Harapan kepada masyarakat: Memperlakukan lanjut usia dengan wajar. setia dengan adat budayanya. mudah. murah/gratis). Penguatan & pemberdayaan pranata lanjut usia yang OBH maupun OTBH. bagi lanjut usia potensial. Berpartisipasi dalam iuran. Memberikan penyuluhan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkait dengan lanjut usia kepada generasi muda tentang: 1. Menyediakan fasilitas umum untuk lanjut usia. Memberi fasilitas pengobatan rutin. Harapan kepada Pemerintah: agar mengembangkan program penanganan ekonomi. Kerabat yang merawat lanjut usia nonpotensial 2. menjaga dan meneruskan nilai nilai demi masa depan yang baik. Penyuluhan bagi generasi muda tentang nilai nilai yang terkait dengan lanjut usia. Lanjut usia yang masih potensial 3. hidup bersama masyarakat.

(d) Kebutuhan pakaian. Bilamana tetangga tidak ada yang merawatnya. keponakan. Pola tinggal lanjut usia yang diteliti : (a) Lanjut usia tinggal mandiri dan dirawat oleh kerabat. katarak. Puslitbang Kesos 165 . (e) Secara sosial lanjut usia menginginkan dikunjungi kerabat. Ada dua kategori lanjut usia: (a) Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). sebaiknya dirawat tetangga. Kebutuhan lanjut usia meliputi: (a) Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang paling dirasakan lanjut usia. (b) Lanjut usia potensial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). umumnya terlantar dan tinggal di daerah rawan. tetapi tidak ada biaya untuk menyediakannya. cucu dan lain lain. sebaiknya dirawat oleh kerabat: adik kandung/sepupu. (b) Kebutuhan rohani. Sedangkan bagi lanjut usia potensial ingin berkunjung ke teman/ kerabat.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Kesimpulan dan Rekomendasi 1. sesuai budaya dan kebutuhannya. (c) Kebutuhan makan. penyakit jantung. 3. (b) lanjut usia yang tidak punya anak. dirawat oleh tetangga. bagi lanjut usia yang masih sehat dan kuat. Umumnya menderita kaku sendi/lengan dan sulit bergerak. 2. (c) bilamana tidak memiliki kerabat. darah tinggi. Pelayanan lanjut usia oleh kekerabatan memiliki nilai budaya sebagai berikut: (a) lanjut usia sebaiknya dirawat oleh anaknya/keluarga/ kerabat. Permasalahan kesehatan: yang sulit disembuhkan/tidak bisa sembuh karena usia. (b) Lanjut usia yang tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat (c) Lanjut usia yang tinggal di rumahnya sendiri.. 5. perlak dan lainlain. 4. (d) Lanjut usia suami isteri. lanjut usia memerlukan makanan bergizi sesuai kebutuhannya. ingin beribadah sesuai agama masing masing. Lanjut usia yang sakit dapat beribadah dan mendengarkan radio/televisi. (e) Lanjut usia dirawat oleh sepupu/ keponakan. osteoporosis dan penyakit penuaan lain. tinggal di rumahnya sendiri. Kesimpulan 1. Bagi yang sudah terbaring di tempat tidur memerlukan perlengkapan seperti pampers. kurang pendengaran. alternatif terakhir dirawat di Panti Sosial Lanjut Usia. mereka terorganisir dalam Karang Wredha/Karang Lansia dan lain lain. yang berpotensi sebagai sumber kesos.

Pembinaan generasi muda dilakukan dengan memperkuat sistem nilai budaya masing masing. Harapan para lanjut usia: (a) Menginginkan tempat pertemuan serbaguna. dengan memberi dukungan dana. 166 Puslitbang Kesos . ketrampilan.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 6. yang memiliki UEP. 5. mudah. 2. Penguatan ekonomi bagi kerabat yang lemah. 4. terutama untuk pemenuhan gizi dan berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal. mudah dan gratis. 3. ingin dicontoh generasi muda dan didukung pemerintah. (b) untuk memeriksakan penyakit. Penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. (c) Lanjut usia potensial yang mempunyai UEP barhasil memberi lapangan pekerjaan. murah/gratis dan dekat. sekaligus sebagai kegiatan ekonomi maupun sosial kepada mesyarakat. yang didukung dengan tenaga dan pelayanan medis secara memadai. menginginkan pelayanan khusus yang dekat. pertemuan/arisan dan pameran hasil keterampilan. organisasi sosial maupun kelompok peduli. untuk pelayanan kesehatan. 2. agar lanjut usia dapat menyumbangkan ilmu dan keterampilannya. Pengembangan lembaga/organisasi lanjut usia. memberikan berbagai motivasi melalui penyuluhan dan mempraktekannya dalam bersikap dan berperilaku sehari hari. (e) Pelayanan lanjut usia dalam kerabat yang diteliti sudah memenuhi harapan. Para lanjut usia merasa aman dan terlindungi berada dilingkungan kerabat. (d) Pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan dapat dikembangkan karena sistem nilai budaya setempat di lima wilayah yang diteliti mendukung upaya tersebut. rutin. bimbingan dari pemerintah. agar ada peningkatan ekonomi dan dapat mencukupi kebutuhan lanjut usia secara lebih baik. Rekomendasi 1. Posyandu. Meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan cara pelayanan kesehatan lanjut usia.

BPPKS. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Jakarta . Jambatan. 1977. Manusia Bugis Makassar. Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup Para lanjut usia ”Panduan Gerentologi” Tinjauan dari Berbagai Aspek. Loius Lowy. Miami University. Penelitian Uji Coba Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia Berbasis Masyarakat. Robert C. 1990. Wadswort Publishing Company. 1997. Hamid. the Challange and Promise of the Later Year. Philadephia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Scripps Foundation Gerontology Center. Belmont California. 1999. Jakarta . Koentjaraningrat. ___________ . Belmont. Jakarta . New York.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 1985. Wadsworth Publishing Company. 1983. 1983. Idayu Press. Jakarta. Pramuwito. Harver & Row Publisher. 1982. Jayaputra. Aging Community and Change. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Puslitbang Kesos 167 . & Toni Setyabudhi. 1999. Gramedia. Aging Community and Change. Jakarta . BPPKS. Achmadi dan Setyo Sumarno. Kajian Tentang Model-model Pelayanan lanjut usia Berbasis Masyarakat Melalui Pusat Santunan Asuhan Dalam Keluarga. ________. Jakarta. Adat Istiadat Daerah Jawa Timur. San Fransisco. Hardywinoto. Jakarta. California Division Wadsworth Inc. Atchley. Social with the Aging. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Selatan. dkk. 1991. Direktorat Jenderal Kebudayaan.

.

Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Sulawesi Selatan/Makasar. Puslitbang Kesos 169 . minimnya pemahaman 1 2 Diangkat dari penelitian Komunitas Peduli Anak dengan anggota Alit Kurniasari (Ketua). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komunitas peduli anak dilatarbelakangi oleh kondisi faktual di masing-masing wilayah. Jawa Timur/Surabaya. Potensi dan sumber pendukung untuk mengembangkan komunitas seperti nilai ajaran agama sebagai pengikat kegiatan komunitas. Alit Kurniasari. Tety Ati Padmi. Pada beberapa wilayah. Neni Riani.PENGEMBANGAN KOMUNITAS PEDULI ANAK 1 Dra. kelompok remaja mesjid dan praktisi sosial. Departemen Sosial RI. Pendampingan secara intensif dari tokoh komunitas. Kepedulian diwujudkan dalam bentuk kelompok belajar. melalui pemberian keterampilan usaha. Kalimantan Barat/Pontianak. Gunawan. Nusa Tenggara Timur/Timor Tengah Selatan). yang berpihak pada anak dan tidak bias gender. Banyaknya permasalahan anak-anak terlantar dan anak jalanan telah memprakarsai tokoh agama. selain pandangan masyarakat tentang hak anak dan kebutuhannya. pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang mampu sekolah dan pelatihan keterampilan. pelayanan sosial tidak hanya bagi anak. Sumatera Selatan/Palembang. mengidentifikasi potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas serta mengidentifikasi bagaimana bentukbentuk kepedulian komunitas. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi kasus yang dilakukan di 6 wilayah (Sumatera Utara/Medan. MPM 2 ABSTRAK Penelitian pengembangan komunitas peduli anak bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang pembentukan komunitas peduli anak. untuk membangun komunitas peduli anak. Alit Kurniasari. kelompok bermain dan TK. Pandangan tentang anak dan kebutuhannya memotivasi komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan hak anak. tetapi juga menjangkau keluarga atau orang tua. Adapun hambatan yang dihadapi komunitas seperti terbatasnya jaringan kerja komunitas. Dukungan pengusaha setempat terhadap kelanjutan pendidikan serta keterlibatan LSM yang peduli pada kesehatan dan pendidikan anak. lembaga sosial masyarakat yang peduli anak didukung keterlibatan pengusaha setempat maupun pemerintah menjadi sumber motivasi bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi aktif kedalam komunitas. termasuk mengikutsertakan keluarga pada pelatihan usaha ekonomi produktif. taman bacaan anak. Sri Utami. Dukungan pemerintah melalui paket belajar dan pelatihan keterampilan telah memberi warna pada kegiatan komunitas.

Orsos. belum adanya kesamaan antara dukungan pemerintah dengan kebutuhan komunitas. termasuk anak jalanan cenderung semakin meningkat. mulai dari legalitas tingkat global sampai tingkat nasional. Komisi Nasional Perlindungan Anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak masyarakat bahwa komunitas sebagai ‘modal sosial’ yang dapat dikembangkan. Departemen Sosial melalui Direktorat Pelayanan Sosial Anak yang telah lama dan berpengalaman dalam membina dan memfasilitasi pelayanan sosial anak baik dalam maupun luar panti. telah melahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan berbagai peraturan perundang-undangan di bawahnya. Kata kunci: Hak Anak. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah gencarnya dengan kegiatan lembaga nonpemerintahan lainnya. Dunia Usaha dan pemerintah berupaya merealisasikannya dalam berbagai kegiatan. peningkatan kemampuan pekerja komunitas. Lembaga Perlindungan Anak di daerah yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan dan elemen masyarakat. Pada kenyataannya. Rativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Pemerintah melakukan berbagai aksi. Oleh karenanya. untuk mengembangkan komunitas peduli anak perlu membentuk jejaring kolaboratif antar sektor terkait. perlunya mengkampanyekan kegiatan peduli anak agar kesadaran masyarakat pada kebutuhan dan hak anak semakin meningkat. masyarakat peduli anak dan pemerintah. Komunitas Peduli Anak Pendahuluan Kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak menjadi bagian penting dari pembangunan kesejahteraan sosial. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Gugus Tugas. baik secara kuantitas maupun kualitas. yang bertujuan untuk mengupayakan tingkat kesejahteraan dan perlindungan anak seoptimal mungkin. Implikasinya adalah berbagai elemen seperti LSM. juga memfasilitasi pembentukan Komite Aksi Nasional. kemampuan pemerintah tidak sebanding dengan meningkatnya permasalahan anak. dunia usaha. Jumlah anak terlantar. 170 Puslitbang Kesos . kebijakan tentang keberadaan komunitas sebagai bagian dari Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak awal agar tujuan anak sebagai pemilik era masa datang dapat tercapai. Berbagai upaya telah dilakukan. Pelayanan Sosial Anak. fasilitasi pemerintah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas.

Dalam penelitian ini akan menelusuri bagaimana bentuk kegiatan komunitas. Sumber informan pada tokoh komunitas. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai komunitas peduli anak yang ada di masyarakat. terutama masalah kemiskinan. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan besaran permasalahan anak. yang bertujuan semaksimal mungkin memperoleh pandangan lengkap dan mendalam mengenai komunitas peduli anak. yang selanjutnya disebut sebagai komunitas peduli anak. Untuk menjelaskan komunitas peduli anak maka digunakan teori sikap dari Mar’at yang beranggapan Puslitbang Kesos 171 .Pengembangan komunitas Peduli Anak seiring dengan permasalahan kemiskinan yang belum dapat diatasi. tokoh masyarakat. Upaya penanganan permasalahan anak berbasis masyarakat semakin banyak ditemukan. Berdasarkan data Pusdatin Departemen Sosial RI (2006) menunjukkan jumlah anak terlantar sebanyak 2. sehingga peran aktif masyarakat sangat diperlukan. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. telah banyak melakukan kegiatan pelayanan anak.383 anak. anak-anak dan Instansi Sosial. Kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama terhadap kesejahteraan anak. merasa perlu melakukan penelitian tentang pengembangan komunitas peduli anak. guna memberi penjelasan komprehensif mengenai komunitas peduli anak di wilayah yang terpilih. Palembang. apa latar belakang terbentuknya komunitas serta sumber dan potensi apa yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas? Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang digunakan metode kualitatif dengan studi kasus. observasi dan penelaahan dokumen. Pontianak dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Permasalahan anak tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia.815. yaitu kota-kota yang memiliki jumlah permasalahan anak terlantar cukup tinggi yaitu Kota Medan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kessos). Makasar. anggota komunitas. Surabaya. Lokasi yang terpilih dengan cara purposive. Keberadaan komunitas tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yaitu meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan. Oleh karena itu. Pembahasan yang dilakukan berusaha untuk menjawab ”Why and How”.

Pengembangan komunitas Peduli Anak bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui pendekatan teori stimulus respon. sehingga keterlantaran anak harus ditanggung oleh keluarga bersangkutan. Misalnya. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa bentuk kegiatan komunitas ada hubungannya dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi wilayah setempat. kondisi kemiskinan keluarga semakin menjauhkan keluarga dari interaksinya dengan kerabat lainnya. sebagai perilaku sosial yang dipengaruhi oleh penghargaan maupun dukungan terhadap kegiatan komunitas. didukung oleh hukuman dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Meningkatnya permasalahan anak telah mendorong munculnya komunitas peduli anak yang diprakarsai oleh kalangan praktisi dan masyarakat terdidik dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat lokal baik yang diikat oleh satu rumpun agama maupun budaya. Komunitas di Kota Medan dan Surabaya. telah mendorong komunitas untuk peduli terhadap maraknya masalah trafficking dan melakukan pendampingan bagi anak yang berkonflik hukum. Konsep komunitas dari Ferdinan Tonny yang membagi komunitas pada 3 aspek yaitu seperasaan. sebagaimana kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat persinggahan bagi penduduk di wilayah sekitarnya memiliki permasalahan anak jalanan cukup tinggi. Selanjutnya komunitas peduli anak. sepenanggungan dan saling membutuhkan. dapat menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat. komunitas peduli anak dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sebagai bentuk partisipasi aktif dan prakarsa komunitas terhadap penanganan permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. Seperti kasus di Medan. artinya perilaku sosial dianalisis sebagai respon spesifik terhadap stimuli yang diberikan. turut menangani permasalahan anak dan melakukan kegiatan demi menyelamatkan anak-anak dari keterpurukan. Berdasarkan hal tersebut. Artinya perilaku komunitas peduli anak. diwarnai tingginya permasalahan anak terlantar. Kasus di Timor Tengah Selatan. yang dapat berfungsi sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh komunitas. berawal dari kegiatan 172 Puslitbang Kesos . komunitas di Kota Pontianak yang berbatasan dengan wilayah negara lain. Komunitas di Kota Palembang dan Makasar dengan posisi wilayahnya yang cukup strategis sebagai pintu gerbang bagi wilayah lainnya. Peran kekerabatan dan tanggung jawab sosial keluarga pada kenyataannya tidak mampu menyelamatkan anak dari keterlantaran.

dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. Konsep tentang anak diawali dengan pandangan tentang usia anak. sehingga perlu merubahnya dengan sebutan ’anak negeri’ yang lebih mencerminkan keberpihakan pada anak. Batasan usia sebagai anak adalah 18 tahun kebawah dan belum menikah. berpartisipasi pada kegiatan komunitas. sesuai dengan ajaran agama yang dianut” menjadi landasan komunitas untuk peduli pada anak. Konsep Puslitbang Kesos 173 . Kasus di Surabaya. seperti kasus komunitas di Kota Palembang. Kasus komunitas di Surabaya. pelayanan perlindungan bagi anak remaja dari tindak kekerasan seksual dan anak yang dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. dengan alasan perilaku anak usia 18 sudah tidak mencerminkan perilaku seorang anak demikian juga memperlakukannya sudah harus berbeda. telah melahirkan sanggar anak-anak jalanan yang diakui keberadaannya di masyarakat dan menjadi contoh kegiatan di berbagai provinsi lainnya. yang telah menimbulkan empathy untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan selanjutnya diwujudkan dalam kegiatan komunitas yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan melindungi anak dari keterpurukan. Keberhasilan komunitas terhadap pelayanan pada anak terlantar dan anak jalanan.Pengembangan komunitas Peduli Anak keagamaan untuk membantu anak terlantar melalui pelayanan sosial bersifat insidental. tetapi ada diantaranya yang berpendapat bahwa sebaiknya usia anak sampai dengan usia 16 tahun. Motivasi atas jiwa kemanusiaan dan dilandasi nilai-nilai agama telah mendorong komunitas untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak. telah berkembang menjadi embrio organisasi. diantaranya mampu membentuk lembaga pendidikan. “Nilai kasih sayang antar sesama karena saling membutuhkan. Kepedulian tokoh masyarakat telah membangkitkan motivasi masyarakat setempat untuk peduli pada kehidupan anak jalanan. Perilaku yang ditunjukkan anggota komunitas semakin meningkat manakala adanya keberhasilan mengentaskan anak dari keterpurukan dan semakin meningkatnya partisipasi tokoh masyarakat dan agama serta kelembagaan yang ada di masyarakat. Sebutan anak jalanan telah memberi stigmatisasi yang menghambat keberadaan anak untuk pemenuhan kebutuhannya di masyarakat. Perilaku sosial yang ditampilkan oleh komunitas dipahami sebagai wujud dari pandangan masyarakat tentang konsep anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi anak. tetapi kegiatannya berlanjut menjadi terorganisir setelah memperoleh dukungan dari berbagai pihak. mampu mengembangkan kegiatan pelayanan anak seperti pemberian beasiswa. Semangat tersebut telah mampu memotivasi kelompok pemuda dan wanita.

tempat berlindung. telah menjadikan anggota komunitas merasa terpanggil untuk mewujudkannya melalui kegiatan pelayanan yang sesuai dengan hak dan kebutuhan anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak tentang anak cukup bervariasi. menjadi figur yang harus membantu keluarga. tetapi juga memiliki kepercayaan 174 Puslitbang Kesos . kesempatan bersekolah. kesempatan berpendapat dan berkreativitas dan memperoleh pendidikan formal sesuai dengan kemampuan dan usianya. juga memberikan kebutuhan akan pendidikan dan keterampilan seperti bermain musik. memberi kesempatan pada anak untuk mengikuti pendidikan luar sekolah. Kegiatan komunitas berupa pendampingan intensif pada anak jalanan. anak tidak memiliki hak untuk berkembang. (kasus di Surabaya dan Medan) dan dari tindakan hukum seperti kasus di Pontianak. yang tidak memiliki kemampuan. (3) hak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan. memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan di jalanan. menjadi bagian dari diri kita. masa depannya tergantung pada orang dewasa. Pandangan tersebut. Pelatihan keterampilan bermusik pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk terampil bermain musik. Kebutuhan dimaksud. Pandangan demikian memberi pengertian bahwa keberadaan anak seolah-olah sangat tergantung pada orang tua. bimbingan dan pengarahan. sablon. ada yang berpandangan tradisional. perhatian atau kasih sayang. ada yang melihat dari sudut pandang positif. penerus estafet pembangunan. menjadi kekayaan berharga dan ahli waris. namun sebagian besar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan. Perlu pengarahan melalui pendidikan agama. titipan Tuhan. yaitu: (1) hak untuk hidup. sebagai manusia lemah dan rawan. seperti hidup layak sebagai mana seorang anak. Sebaliknya. (2) hak untuk tumbuh kembang. fitrah yang harus dijaga yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. memberi kemudahan memperoleh akte kelahiran dan memberi perlindungan dari tindak kekerasan. Meskipun konsep tentang anak berbeda-beda. teater. dorsmeer. harapan bangsa. yang telah menyelamatkan anak dari tidak bersekolah menjadi bersekolah. mempunyai waktu bermain dan diperlakukan secara manusiawi. meskipun hak anak untuk berpartisipasi masih belum nampak. Bentuk kegiatan pelayanan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan anak untuk memperoleh tempat tinggal memadai. kasih sayang. penyejuk hati. bahwa anak diibaratkan sebagai kertas putih. bahwa anak sebagai potensi dan aset generasi penerus cita-cita bangsa. memperoleh makanan sehat. budi pekerti serta memperoleh keterampilan. Kebutuhan tersebut sebenarnya sebagai bagian dari hak anak yang harus dipenuhi. Selain itu. perhatian dari orang tua.

Partisipasi dan kegiatan yang dilakukan komunitas. maupun penggalangan dana. Gambar 1 : Anak jalanan di Surabaya berlatih musik Keterlibatan dunia usaha/swasta. Komunitas di Makasar.Pengembangan komunitas Peduli Anak diri untuk tampil di tempat umum. Meningkatnya kepercayaan diri pada anak. Pada kenyatannya. tetapi juga membantu keluarganya dalam kemampuan ekonomi serta memberi akses bagi pelayanan kesehatan serta memberikan pembekalan keterampilan bagi keluarganya. kontribusi pemikiran. sumbangan harta benda. Kasus di Kota Palembang dengan dukungan lembaga international mampu membangun komunitas peduli anak. Kegiatan dimaksud bertujuan agar keluarga dapat meningkatkan pendapatannya sehingga dapat meringankan beban pengeluaran untuk membesarkan anaknya. bertujuan agar anak dengan segala keterbatasan yang ada tetapi masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. setidaknya berdampak pada pribadi dan perilaku anak jalanan. tetapi juga pendidikan informal. yang Puslitbang Kesos 175 . lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah menjadi kekhasan tersendiri dari masing-masing komunitas. dimana anak merasa lebih dihargai dan berguna bagi orang lain. didukung lembaga masyarakat setempat mampu menciptakan kepedulian pada permasalahan anak lainnya. menciptakan kepedulian masyarakat dengan prinsip memberikan yang terbaik bagi anak. kegiatan komunitas tidak terbatas pada anak. tetapi lebih luas mampu menjangkau kesejahteraan keluarga. Kondisi ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Bimbingan etika dan agama termasuk kegiatan yang penting diberikan pada anak dan orang tua. tidak terbatas pada pemenuhan tumbuh kembang anak. tidak terbatas pada pendidikan formal. melalui curahan tenaga. Komunitas di Kabupaten Timor Tengah Selatan. karena masyarakat telah ikut terlibat dalam menangani masalah anak.

menampilkan kesetaraan. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan komunitas masih banyak memerlukan keterlibatan pihak lain. melalui pertukaran informasi. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. mensinergikan upaya dan mengembangkan kesadaran kritis serta berfungsi pula sebagai kontrol sosial. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas. Jejaring kolaboratif bersifat informal. Keikutsertaan unsur-unsur tersebut dalam penyelesaian masalah. telah tumbuh menjadi modal sosial melalui tindakan kolektif komunitas guna mengatasi masalah yang dihadapi sesama warga masyarakat. Organisasi Masyarakat. perlu ditata dengan baik yaitu melalui pembentukkan jejaring (network) antar lembaga secara kolaboratif. mengandalkan komitmen. tingkat provinsi dan tingkat pusat. lembaga legislatif. terutama masalah anak-anak. kepedulian sosial (volunteerism) dan kepedulian sesama warga (civic involvement). Di dalamnya terkandung semangat karitas (charity). Gambar 2 : Kegiatan Bimbingan agama bagi Orang Tua dan Anak di Surabaya Dukungan kepedulian sosial yang dikembangkan secara tradisional maupun profesional. terutama dalam rangka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas. memotivasi komunitas untuk menyelamatkan anak dari keterlantaran. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak dapat dilihat dari gambar berikut ini: 176 Puslitbang Kesos .Pengembangan komunitas Peduli Anak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing komunitas. seperti dari Perguruan Tinggi. Pengusaha. lembaga permodalan dan masyarakat itu sendiri. transparan. tingkat kabupaten. pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas. lembaga swadaya masyarakat.

Penting diperhitungkan juga lembaga-lembaga filantropi dan pembangunan international sebagai salah satu komponen pelaku atau sumber daya pengembangan komunitas peduli anak. Masyarakat peduli) Bagan 3. tetapi dibagi bersama-sama kalangan swasta (perusahaan-perusahaan). Sektor swasta (private sector) berkomitmen membantu mewujudkan kesejahteraan sosial anak. misalnya public sector atau pemerintah harus diletakkan secara strategis untuk mendorong inisiatif warga masyarakat agar dapat mengembangkan berbagai potensi kemandirian mereka dalam rangka membantu sesama warganya. yang menyebutkan bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan kesejahteraan (anak) tidak lagi dimonopoli Negara. Gagasan tersebut sejalan gagasan Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. berperan penting dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan sosial dan implementasi program kesejahteraan sosial anak. lembagalembaga sosial masyarakat (termasuk organisasi keagamaan) dan lembagalembaga kerelawanan (seperti LSM yang mengumpulkan dana-dana amal). Collective Sector Action atau dapat disebut sebagai masyarakat sipil yang diantaranya adalah komunitas peduli anak. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak Masing-masing sektor memiliki fungsi tersendiri. miskin atau marginal. Pemerintah Daerah) Private Sector (Dunia usaha. Puslitbang Kesos 177 . Orsos. Langkah-langkah perlindungan sosial bagi anak terlantar sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar warganya yang tidak mampu. LSM. dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang menyediakan dana.Pengembangan komunitas Peduli Anak Collective Action Sector (Komunitas Peduli Anak) Jaringan Kelembagaan Peduli Anak Public Sector (Pemerintah Pusat. keahlian dan sumber daya yang dapat digunakan untuk kegiatan pengembangan komunitas peduli anak.

Peran Lembaga kerelawanan. Meskipun selama ini dunia usaha cukup mendukung kegiatan komunitas. tetapi masih bersifat insidental. Kegiatan komunitas tidak dapat terselengara tanpa dukungan pemerintah dan keterlibatan dunia usaha. serta manfaat yang telah diperoleh anak beserta keluarganya kurang tersosialisasikan. belum sepenuhnya mampu menjangkau kalangan swasta. keilmuan bahkan atas dasar panggilan hati nurani sekalipun. memberi andil besar terutama dalam dana dan program pelayanan sosial anak. menjadi kelemahan yang dirasakan komunitas. Tindakan kolektif komunitas dapat diprakasai oleh berbagai lapisan masyarakat. menjadi kendala yang dialami komunitas. Keberadaan 178 Puslitbang Kesos . karena kondisi tersebut telah dibentuk sejak masa lampau. sebagai funding bagi keberlangsungan komunitas. terutama anak-anak terlantar dan anak jalanan menerima pelayanan yang selama ini hak dan kebutuhannya terabaikan. Hanya saja keberadaan komunitas berikut kasus-kasus keberhasilan. sebagai lembaga sosial masyarakat pada kenyataannya berdiri sendiri. Kesimpulan dan Saran Secara garis besar dapat disimpulkan. Keberadan komunitas menjadi bagian yang dibutuhkan anggotanya. Masyarakat belum terbiasa menjadi mandiri. Hal tersebut bukan tidak mungkin kepercayaan dari dunia usaha untuk berkolaborasi menjadi minim. seperti yang dialami pada kasus di Palembang. ketergantungan masyarakat pada pemerintah masih cukup melekat. dalam hal ini dunia usaha.Pengembangan komunitas Peduli Anak Komunitas peduli anak. memiliki kepentingan bersama untuk memberikan pelayanan bagi anak agar terhindar dari keterpurukan lebih lanjut. karena adanya kesamaan perasaan terhadap keterlantaran anak. Keterbatasan petugas pendamping bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan. selain sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan. Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala bagi upaya pemberdayaan masyarakat. belum mampu menciptakan program terencana dan berkelanjutan. Kurangnya koordinasi diantara lembaga yang bergerak dalam pelayanan sosial anak. baik yang berlatar belakang agama. Permasalahannya adalah komunitas belum mampu mandiri selepas berakhirnya program. Terpenting adalah motivasi yang dimiliki komunitas mampu menggerakkan partisipasi aktif anggotanya guna menciptakan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak. Semakin meningkatnya minat anakanak terlantar yang membutuhkan pelayanan dari komunitas. semakin menuntut komunitas untuk memperluas jaringan kerja (network). maupun lembaga sosial masyarakat lainnya. bahwa terbentuknya komunitas peduli anak.

pengakuan terhadap petugas pendamping sebagai tenaga Pekerja Sosial dari Dinas Sosial setempat. yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. khususnya pekerjaan sosial agar lebih terarah. 2003. 2005. perlu direkomendasikan peningkatan sosialisasi atau mengkampanyekan komunitas peduli anak. Bandung. Hurlock. Mc Graw Hill. Harry Hikmat. Humaniora Utama Pers. memfasilitasi sarana prasarana komunitas. Melakukan peningkatan kemampuan petugas pendamping melalui kegiatan pemantapan. Bandung. PT. 1989. Hal yang penting lainnya adalah kebijakan berlandaskan pada Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional Indonesia yang dapat memperkuat keberadaan komunitas peduli anak. penyebarluasan informasi melalui media masa dan elektronik. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. melalui dialog interaktif pada media masa dan elektronik. Bandung. Selain itu. draft IX. _______. program Pasca Sarjana IPB. Elizabeth. Mar’at. Sosiologi untuk Pengembangan Masyarakat. sehingga aksesibilitas komunitas peduli anak terhadap sumber-sumber daya kesejahteraan sosial seperti dunia usaha dan instansi pemerintah mendapat legalitas yang sah. Teori Sikap. Development Psychology. 1981. Toronto. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2002. Tonny F Nasdian & Lala Kolopaking. Remaja Karya. PT. upaya pengembangan komunitas peduli anak melalui fasilitasi program pemberdayaan kepada keluarga dengan anak terlantar. Strategi Pemberdayaan Masyarakat.Pengembangan komunitas Peduli Anak komunitas paduli anak. Depsos RI. Puslitbang Kesos 179 . Remaja Rosdakarya. 2001. DAFTAR PUSTAKA Deddy Mulyana. menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. Untuk itu.

.

bahwa Pasca kepulangan sebagai TKW. keluarga mengalami konflik secara potensial dan manifest. M. Untuk memahami hal itu. sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik. Indramayu. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Togiaratua Nainggolan.GENDER DAN KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Drs. Malang dan Makassar. hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah keluarga buruh migran termasuk pergeseran pola relasi gender pasca migrasi sebagai TKW. Togiaratua Nainggolan. Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar di tengah keluarganya. Dengan konsep relasi gender ini. Ruaida Murni. Penentuan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan snowball. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. 1 2 Diangkat dari hasil penelitian tentang Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Di Indonesia. sehingga relatif kurang harmonis. Faida Normawati. anak. pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur. dan Sudibyonoto. penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. Hasil penelitian menunjukkan. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) seperti Lampung. oleh Togiaratua Nainggolan. Namun demikian. mertua. Analisis data dilakukan dengan pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position dan kesetaraan antara suami dan isteri. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. Rachmanto Widjopranoto. Lebih jauh. Puslitbang Kesos 181 . Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. Suami mulai terlibat pada sektor domestik dan permisif pada nilai-nilai pemingitan.

kapitalisme dunia dan globalisasi. dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program yang ditujukan bagi TKW dan keluarganya. langsung atau tidak langsung perubahan peta situasi keluarga pasca TKW dapat mempengaruhi tingkat keharmonisan keluarga buruh migran yang bersangkutan. penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1) mendeskripsikan pergeseran pola relasi gender pada keluarga migran pasca migrasi sebagai buruh TKW. Pendapat senada dikemukakan oleh Krisnawati & Safitri (dalam Daulay. untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi calon TKW dan keluarganya dalam membuat keputusan untuk migrasi sebagai TKW . Tenaga Kerja Wanita. 2001) dalam sebuah tulisannya bahwa masalah buruh migran sangat komplek karena konteksnya tidak saja soal perburuhan tetapi juga menyangkut migran internasional. Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Lebih jauh hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah pada buruh migran. 182 Puslitbang Kesos . Ketimpangan pendapatan negara maju dan negara dunia ketiga. Hasil penelitian diharapkan mampu : (1) menyajikan realitas positif maupun negatif dari tindakan migrasi TKW terhadap keluarga. kesalahan konsep pembangunan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan secara khusus bagi TKW menyangkut masalah perempuan. Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender. Keluarga Migran Pendahuluan Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan. diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga. sadar atau tidak. Selain itu. yaitu masalah gender. dan (2) bagi Departemen Sosial RI dan pihak terkait lainnya. Selain masalah gender.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKW dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. dan (2) mendeskripsikan gambaran keharmonisan keluarga mereka pasca migrasi sebagai TKW. bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Sejalan dengan hal tersebut di atas.

Jawa Timur. mertua. Pengambilan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan cara snowball dimana dari satu informan akan berkembang ke informan selanjutnya. prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran. Sulawesi Selatan. sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap substansi persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini. Teknik analisis data diarahkan pada pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position antara suami dan isteri serta menyangkut kesetaraan posisi di antara mereka. Jawa Barat. Hasil dan Pembahasan 1. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosial kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. dan Lampung. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah yang menjadi pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri seperti Nusa Tenggara Barat. Namun.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. terutama dengan melihat kondisi isteri yang pernah bekerja ke luar negeri menjadi TKW. Akibatnya. Dalam prakteknya. anak. selain peluang yang dapat Puslitbang Kesos 183 . pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu.

walaupun secara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya. “Mengekspor” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek. Sadar atau 184 Puslitbang Kesos . ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. Pada satu sisi. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. baik yang positif maupun negatif. 1999) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah. dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (dalam Berry dkk. juga harus memanfaatkan peluang dari aspek sosial budaya. Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa. bahkan ideologi masyarakat. Pada tataran global. Hal senada dipertegas oleh Goode (1985).Gender dan Keluarga Migran di Indonesia dimanfaatkan secara ekonomi. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. Dalam konteks ini. bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. Sementara pada sisi lain. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. Secara bersamaan. Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak.

Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang membawa nama harum bangsa dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri. pemerintah memang melakukan intervensi. Tetapi hal itu lebih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. Secara makro. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat yang memberikan peluang Puslitbang Kesos 185 . persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. Pada tingkat mikro. 2. akan tetapi juga pada tingkat makro. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. Akibatnya muncul berbagai efek samping yang justru tidak diharapkan. bukan saja pada tingkat mikro. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia tidak. Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri.

dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. pola relasi gender ini merupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan di sektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Walaupun hal itu. kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. pembagian kerja menjadi sexist (didasarkan pada jenis kelamin) dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki. khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. Bagi kaum perempuan. Kecenderungan tersebut terefleksikan dalam konteks yang lebih luas. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. Selain itu. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW. berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program. sadar atau tidak.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia sekaligus pembatasan berupa etika. Dengan kata lain. Artinya secara tidak langsung. khususnya budaya majikan di luar negeri. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. Dalam konteks ini. 186 Puslitbang Kesos . Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya.

Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independen dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih didominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatif harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Isteri mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independen dalam membuat keputusan Sebagian suami terjun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur. hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. 10. 5. 6. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal sebagaimana dikemukakan oleh Daulay (2001). Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi sebagai TKW No. Secara umum pergeseran pola relasi gender tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut : Tabel 1. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda. Keadaan sebelum menjadi TKW 1. 8. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian. tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Puslitbang Kesos 187 . Pengakuan ini menunjukkan. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist (pembagian kerja tidak didasarkan pada jenis kelamin). Lebih jauh. 7. Pencari nafkah utama adalah suami 2. Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan tapi pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. 9. Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan afektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional. 3. 4. bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya.

Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. khususnya yang mempunyai status isteri. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya. TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. Dinas Sosial.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai. Adapun bagi keluarga. TKW menyangkut persoalan devisa. Dalam prakteknya. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. Penegasan ini kiranya cukup beralasan. 188 Puslitbang Kesos . serta menajemen keluarga. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW. Dari perspektif global dan makro. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefinisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. Sementara dalam prespektif negara. dalam perspektif gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah. dengan mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan. Departemen Tenaga Kerja. dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. Lebih khusus lagi.

Puslitbang Kesos 189 . Sosiologi Keluarga. Goode. William. Galang Press. (1999). Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga di Keluarga Migran. J. Daulay. Jakarta. Psikologi Lintas Budaya. Harmona. Studi Kasus TKIW di Kecamatan Rawamarta Kab. Karawang Jawa Barat. Gramedia. (1985). Riset dan Aplikasinya (terjemahan Edi Suhardono). Bina Aksara.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia DAFTAR PUSTAKA Berry dkk. Jakarta. Yogyakarta. (2001).

.

125 Bintan. 177 Culture shock. 122 Consanguinal kin. 55 Bugis. 4. 9. 82. 5 Desa Setabu. 3 Allan Pincus. 122 Charitatif. 89 Bali. 5 Desa Liang Bunyu. 5 Desa Talio. 177 Community based development. 45. 44 Adoptif kin. 163 Desa Aji Kuning. 100 Australia. 156 Aksesibilitas.INDEKS A Abddurazak dkk (1989). 82 Concept of deprivation trap. 181. 176 Civil society. 44. 120. 154 Day Care Service. 181 Anne Minahan. 183 Basic needs. 116 Banglades. 13 Desa Sungai Pancang. 34 191 . 5. 13 Desa Binalawan. 48 Afinal kin. 30 Degeneratif. 30 Bantuan Khusus Murid (BKM). Chaniago (2001:316). 156 Corporate social responsibility. 3 Aplicable. 176 Civic Involvement. 120 B Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). 51 C Chambers (1983). 33 Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 4. 54 Puslitbang Kesos Brazil. 32 Akurat. 44. 6. 130 Belu. 154 Dayak. 185 D Day Care Centre. 134 Charity. 41 Bargaining Position. 50. 3 Androgini. 55 Banjar. 125 Bone. 56 Collective Sector Action. 50 Bukaka. 33. i. 156 Adrinof A. 5.

56. 50 Evaluatif Research. 123 Dorsmeer. 16 Empathy. 92 E Edukatif. 30 Jayapura. 125 K Kalimantan Barat. 5 Developmental needs. 19. 3 Komunitas Adat Terpencil (KAT). 3 Human Development Index (HDI). 28 Dwi Heru Sukoco (1991). 31 Home visit. 5 Desa Tanjung Karang. 113 192 Puslitbang Kesos . 57.Indeks Desa Tanjung Aru. 185 Distributive Frekuentif. 55 H Heterogen. 3. 4 Disorientasi. 83. 16 Ekologis. 27 Diagnostik. 4 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). 45 Human Service Organization. 156 Komprehensif. 119. 174 Dove (1985). 45 Local Budgeting Forum. 88 Lembaga Pembardayaan Masyarakat (LPM). 29 Kalimantan Timur. 123 G Goode (1985). 116 Isolation. 122 Epicentrum. 129 Kalimantan Tengah. 58 Lokalitas Ekosistem. 142 I Ife (1995). 54 Inferior. 55. 173 Empowerment. 34 L Leading Sector. 122 Independent. 156 Grameen Bank. 122 J Jawa. 88 Ekonomis Produktif. 57 Koentjaraningrat (1990). 172 Focus Group Discussion (FGD). 56 Life Expectation. 130 Diagnosa. 181 Indepth Interview. 132 F Ferdinan Tonny.

52. 25. 67. 93 Pathologis. 77 Private Sector. 68 Medan. 130 Psikologis. 88. 181 Manurung Rimatajang. 43 Malaysia Timur. 100 Participatory Wealth Ranking (PWR). 82. 123 P Palembang. 17 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 10 Maliku. 81. 83. 2 Network. 5. 74. 2.Indeks M Madura. 57. 1. 30 Mainstream. 114 People Centred Development. 3 Public issues. 51 Max Siporin. 2. 49 Participatory Budgeting. 12. 3. 122 Pranarka & Moeljarto (1996). 125 Nusa Tenggara Barat. 29 Manado. 134 Patriarkhi. 176 Non Governmental Organization International (NGO). 177 Private Trouble. 4. 95 NAPZA. 175 Pandih Batu. 116. 65. 186 Pekerja Sosial Masyarakat. 116 Minahasa. 82. 100 Nusa Tenggara Timur. 3. 116 Nunukan. 55 N Nagari. 2. 5. 3 Ndaraha (1990). 99. 33 Participatory Action Research (PAR). 67. 100 Permisif. 66 Powerlessness. 122 Porto Alegre. 122 Poverty. 181 Physical weakness. i. 117 Paruik. 5 Malaysia. 44 Manurungge. 114. 18. 15. 6. 1. 29. 125 Participatory Budgeting Forum. 16. 102. 56 Participatory Rural Apraisal (PRA). 123 Prestise. 104. 79 Muhamad Yunus. 80 Power Oriented. i Manifest. 177 Puslitbang Kesos 193 . 130 Public sector. 4. 129 O Oakley & Marsden (1984). 55 Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). 112. 9. 92.

176 Vulnerrebality. 2 R Rakorbang Partisipatif. 125 Sebatik Barat. 3. 147. 26. 155 Triangulasi. 70. 105 Sukoco (1991). 101 U Usaha Ekonomis Produktif (UEP). 11. 51. 102 Speech therapy. 129 Sumatera Barat. 18 Sebatik Timur. 28 Snowball. 160 V Volunteerism. 6. 2005:23). 172 Trainers. 5 Segregasi Sosial. 143. 100 Tomohon. 81. 5 Survival Strategy. 12. 57 Sexist. 2. 3. 105 Warren & Cottrell. 105 Sanggau. 25. 17. 2 194 Puslitbang Kesos . 5 Sungai Pancang. 10. 129 Sunda. 4. 72.Indeks Pulang Pisau. 27. 144. 149. 9. 177 Stimulus Respon. 55 Tatamba. 15. 68 Sulawesi Selatan. 74 Trafficking. 89 Sumatera Utara. 119. 104. 29 Purposive. i. 181. 26 Research minded. i Responsif. 112 The Small Enterprise Foundation (SEF). 123. 51 Wonogiri. 139. 8. 122 W Watampone. 4 Rudito (2003. 186 Simptom. 49 Reliable. 87 Suryono Sukanto (1990). 50. 13. 146. 130 Sorting. 54. 156 T Tanete Riattang. 171 Puslitbang UKS. 135 State obligation. 7. 130. 183 Social-phsyicological needs. 1. 30 Sungai Nyamuk. 13 The cut of point. 52. 172 Subang. 48 S Samarinda.

Manajemen Penanggulangan Kemiskinan-ESCAP Bangkok 1999. Sepadya (1990). Ir. TOT. tanggal 9 Juli 1963. Kegiatan pelatihan yang telah diikuti. lahir di Ternate. Talimbo. pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial. Kepala Balai Diklat Pegawai Depsos Ujung Pandang. antara lain Pelatihan Penyusunan Indikator Sosial (Kantor Meneg LH. Sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Charles S. 1988). M. memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis tahun 1997 di Universitas Hasanudin. Asuransi Sosial– JICWELS Jepang 1997. Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar (SPADIA) Depsos tahun 2003. 1989). R. TOC ADAB Australia – LAN RI (1984). Kepala Bidang Penyuluhan Sosial. Diklat Penyuluhan Sosial (1983). dilahirkan di Denpasar. Sebelumnya Sarjana Statistika di FMIPA Institut Pertanian Bogor tahun 1987. Kepala Kursus Tenaga Sosial (KTS) Ujung Pandang. Pelatihan metodologi penelitian kualitatif (UI. Makassar. Harry Hikmat. 27 Juli 1952. memperoleh gelar Doktor untuk Ilmu Sosial tahun 2003 di Universitas Padjadjaran Bandung dengan disertasi Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi). International Course for National Economic Management and Poverty Eradication in National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia tahun 2000. Statistics in Poverty Policies – Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) in Cambodia.Si. Kepala Bidang Program Pusdiklat Pegawai. Selama berkerja di Departemen Sosial RI.Si. Memperoleh gelar Master untuk Ilmu Pekerjaan Sosial di Universitas Indonesia tahun 1996. Badiklit Kesos. M. dan Pra jabatan tingkat III (1981). Swedia and Beijing (2004-2005). Dr. Financial and Budgeting Management Program–IMDI–University of Pittsburgh USA 1999.SEKILAS EDITOR Drs. Departemen Sosial RI. Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti. Puslitbang Kesos 195 . Pernah sebagai Sales dan Marketing PT BAT. antara lain : Diklat Pim II LAN RI (2000).

dan analisis kebijakan di Depsos. 2002). Lab Sosio UI. 2002). perencanaan. Karya penelitian antara lain Kualitas Pelayanan Panti Sosial Anak (Save The Children. 2001). 2006). penelitian sosial. Dep. Unicef & Depsos. Fasilitator dalam berbagai kegiatan pelatihan Participatory Research Appraisal.1993). Studi Pengembangan Program Community Development Pupuk Kaltim (2002). Analisis Kebijakan Pengentasan Orang Miskin melalui Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Indonesia (Ditbangdes. 1996). Pemberdayaan Fakir Miskin. Evaluasi Gerakan Rereongan Sarupi Propinsi Jawa Barat (Pemda Jabar. Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Statistika Sosial. Studi Kesiapan Daerah dalam Pelayanan Sosial Dasar di Era Desentralisasi (ADB & Bappenas.d sekarang sebagai Kabag Analisis Kebijakan Perencanaan Kesejahteraan Sosial di Biro Perencanaan Depsos. 196 Puslitbang Kesos . Studi Manajemen dan Standarisasi Panti Sosial di DKI Jakarta (Dinas Bintal & Kesos. 2002).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjadi Dosen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Sosial. Kegiatan Motivasi dalam Proyek Kelangsungan Hidup Anak (Unicef dan Departemen Agama. tahun 1997 – 1998 sebagai Kasubag Perencanaan Program Wilayah Timur di Biro Perencanaan Depsos. Aspek-Aspek Hak Anak yang Berkonflik Dengan Hukum (Departemen Kehakiman dan HAM. 1992).d 1997 dan Dosen Pasca Sarjana Spesialis Pekerjaan Sosial di STKS Bandung untuk mata kuliah Metodologi Penelitian Pekerjaan Sosial dan Pengembangan Modal Sosial. Selain itu menjadi Dosen STKS Bandung tahun 1987 s. Energi & Sumberdaya Mineral. pekerjaan sosial. Depdiknas. Manajemen Pengembangan Masyarakat. Aktivitas organisasi antara lain menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN) 1999-2004 dan Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak periode 2001-2005. tahun 1996-1997 sebagai Kaur Penelitian dan Pengembangan di STKS Bandung. 2003). Riwayat pekerjaan. Pemenuhan Hak atas Pendidikan Dasar di Daerah Konflik (Departemen Kehakiman dan HAM. 1995). tahun 2004-2006 sebagai Kabag Bantuan Usaha Kelompok di Dit. UNPAD. Manajemen Perencanaan dan Keuangan. dan Bappenas. Studi Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (ADB & Bappenas. tahun 2006 s. 2004). Profil dan efektivitas LSM dalam mengatasi penyebarluasan AIDS di Indonesia (STKS. LSM.

Filsafat dan Etika Ilmuwan (1998). Teknik ilustrasi dalam penulisan artikel ilmiah (1999). DT I Jawa Barat tahun 1991). 2002). dan Perencanaan Partisipatif (Cipruy:. Metodologi penelitian sosial (1999).d. Penelitian Keberhasilan Desa-Desa Juara di Jawa Barat (Ditbangdes Prov. Analisis Dampak Sosial (1999). 1993). Metode Monitoring dan Evaluasi Program (1998). Karya ilmiah yang pernah disusun antara lain : Penerapan Statistika dalam Penelitian Pekerjaaan Sosial (1987). DT I Jawa Barat tahun 1989 s. Puslitbang Kesos 197 .Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Desa/kelurahan Juara Perlombaan Desa di Propinsi DT I Jawa Barat (Ditbangdes Prop. Model Pembangunan Sosial di Indonesia (1997). Paradigma pembangunan dan perencanaan sosial (1995). Karya ilmiah yang telah diterbitkan yaitu : Participatory Research Apprasial dalam Pengabdian Pada Masyarakat (HUP: 2001). Strategi Pemberdayaan Masyarakat (HUP: 2001).

.

antara lain adalah diklat tenaga peneliti. baik majalah Jurnal. antara lain yaitu: (1) Identifikasi Kebutuhan Pelayanan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (2003). (2) Kajian Managemen Kessos Panti Sosial DKI Jakarta (YASHINTHA.I Puslitbang Kesos 199 . Penelitian internal (Litbang Kessos) yang telah dilakukan dan dibukukan sedikitnya 21 buah. (2) Analisis Kebutuhan Pekerja Sosial di Pusat Pelayanan Korban Bencana (2003). juga sebagai editor beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Balatbangsos. antara lain beberapa artikel pada majalah Jurnal dan Informasi yang diterbitkan oleh Puslit PKS maupun Puslitbang UKS Balatbangsos Depsos R. dan Diklat SEPALA dan SEPAMA. (3) Kekerasan Masyarakat Daerah Perkotaan (Pusbangtansosmas. Diklat Penyusunan Kerangka Acuan (Proposal) Sosbud. lahir di Tegal (1951). 2002).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun SEKILAS PENYUSUN Drs. (3) Partisipasi Masyarakat Kota dalam Mengatasi Masalah Sosial Pasca Krisis (2003).I. Pendidikan Sarjana Muda diperolehnya dari UMJ (1980) dan S1 dari STKS Bandung (1984). Pelatihan Komputer. 2002). Penelitian yang dilakukan kerjasama dengan institusi lain sedikitnya ada 10 buah. Pengalaman dibidang publikasi sebagai dewan redaksi. (4) Prilaku Remaja di Daerah Pinggiran Kota (2004). antara lain yaitu: (1) Survey on Accessibility Problems to Pantis and Vocational Rehabilitation Service after Decentralization in Indonesia (Yayasan Kandidat. Diklat Dasar Demografi. 2002). dan (5) Persepsi Legislatif Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2004). Memulai karir sebagai PNS di PPA Bambu Apus (1975). Informasi Puslit PKS maupun Puslitbang UKS. Diklat yang pernah diikuti. Balatbangsos Depsos R. (4) Studi Persiapan Daerah dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial bagi Anjal (YASHINTHA. Jabatan struktural yang pernah diembannya adalah kasubid perumusan program Puslit PKS Balitbang Kessos (1986-1997) dan jabatan sekarang adalah Peneliti Muda (2005-sekarang). 2000). selanjutnya alih tugas ke Balitbang Kessos (1985). Disamping itu. dan (5) Tanggung Jawab Sosial Industri (Kantor MASKAT. Karya ilmiah yang telah diterbitkan. Sutaat. Pengembangan Tenaga Peneliti. 2003).

Sejak tahun 1995 mulai aktif mengajar pada beberapa perguruan tinggi 200 Puslitbang Kesos . Bambang Pudjianto. M.I. pelatihan metodologi kualitatif yang diselenggarakan Balitbang Sosial. Drs. antara lain: pelatihan tenaga peneliti. Menamatkan program S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung dan memperoleh gelar Magister pada Bidang Psikologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada D. antara lain menjadi anggota redaksi pada majalah Jurnal Kesejahteraan Sosial. serta diklat penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Departemen Sosial bekerjasama dengan majalah Tempo. Pendidikan terakhir Sarjana Antropologi. Yogyakarta tahun 2000. Pengalaman menulis ilmiah diperoleh penulis dari berbagai kegiatan. di Panti-panti Sosial Asuhan Anak. Mapping and Social Survey of Street Children bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. lahir di Jakarta. 11 November 1967. antara lain tentang Pola Penanganan Kemiskinan di Perkotaan yang dilakukan hingga kegiatan ujicoba pada beberapa kota. Pemetaan Anak Jalanan dan Orangtuanya di Kotakota Besar di Indonesia. antara lain: berkaitan dengan Masalah Anak di Tempat Penitipan Anak. lahir di Jakarta. Selain mengikuti diklat-diklat.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Dra. pelatihan pengolahan data yang diselenggarakan oleh BPS. Anak Terlantar melalui Sistem Panti. Pengalaman kerja sebagai Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial sejak 1986 dan jabatan sekarang adalah Peneliti Madya. dan Penelitian Permasalahan Remaja di Kota-kota Besar. Sejak bekerja di Badan Litbang Sosial ini. Selain aktif menulis di media jurnal dan informasi Puslitbang Kesos juga sebagai tim editor Jurnal Penelitian dan Pengembangan UKS. Profil Anak Jalanan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI). Saat ini menjabat Peneliti Muda dan sebagai Kasub Analisa Kebutuhan Puslitbang Kesos Badiklit Departemen Sosial RI. di Panti Sosial Petirahan Anak. baik yang diselenggarakan oleh Balitbang Sosial maupun kerjasama dengan laboratorium Sosiologi FISIP UI. sejak tahun 1998-2000. penulis juga banyak memiliki pengalaman penelitian dan penulisan di bidang sosial. beberapa kali mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkait dengan bidang penelitian. Indah Huruswati.Si. Penelitian masalah kemiskinan juga pernah dilakukan.

khususnya pada bidang Psikologi Sosial. Rusmiyati. Pendidikan Sarjana Manajemen (S1). Efektivitas Bantuan Pinjaman Modal Usaha RSDK (1999). Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam). Penelitian Uji Coba Model Komunitas Adat Terpencil (KAT). Kepala Sub Bidang Rencana dan Program di Puslitbang PKS (1998 – 1999). Karya ilmiah antara lain. Penyandang Cacat. Jabatan Fungsional. lahir tanggal 2 November di Takengon. Nilai Kesetiakawanan Sosial dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi di Puslit PKS (2004 – 2005) dan sampai sekarang sebagai Kepala Bidang Program di Puslitbang Kesos. Mulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil di Balitbang Sosial Puslitbang Kesos bidang Program dan Anggaran sampai sekarang. SE. Penelitian yang pernah dilakukan. Pengaruh Budaya dalam Puslitbang Kesos 201 . antara lain: Penelitian Uji Coba Model Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Konflik dan Kedamaian Sosial dan Penyalahgunaan Napza. Suku Bangsa di Indonesia. Asisten Peneliti Madya (1986) sampai dengan Ahli Peneliti Muda (2002) di Badan Litbang Sosial. Kepala Bidang Analisis dan Bimbingan Sosial di Pusbang Tansosmas (2000 – 2004). Magister Pengembangan Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2000 – 2002). Pemetaan Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Kotamadya Tomohon. Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Lanjut Usia di DKI Jakarta (2002). SMA Negeri 30 dan SLTP Negeri 76 di Jakarta (1971 – 1977). Akreditasi Panti Sosial. Diploma Ilmu Tauhid dari Uniersitas Islam Syekh Yusuf (1984 – 1986). Penelitian Eks Penderita Penyakit Kronis Tuberkulosis (TBC).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun swasta di Jakarta. Kabupaten Aceh Tengah. 11 Juli 1958. Asisten Peneliti di Leknas LIPI (1983 – 1985). SD di Banda Aceh dan Jakarta (1965 – 1970). Kepala Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi di Puslitbang UKS (1994 – 1998). Pembinaan Masyarakat pedalaman Irian Jaya (1986 – 1992). Jabatan Struktural. Otonomi Daerah dalam Perspektif Budaya (2000).Si. lahir di Jakarta. Achmadi Jayaputra. Kajian konflik Sosial Suku Bangsa Madura di Kabupaten Sambas (2001). Sarjana Antropologi dari FSUI (1978 – 1984). Sejak tahun 1986 sampai sekarang sebagai pengajar Antropologi dan Sistem Budaya Indonesia di Universitas Muhamadiyah Jakarta. Pendidikan. Drs. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan. diantaranya KAT. M. Ujicoba Indikator Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara.

dan Pendidikan dan Pelatihan Analisa Data. tahun 1998.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (2003). di Tanjung Priok. Pola Hubungan Sosial Antara Kelompok Etnis di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. kerjasama Pusdiklat Pegawai Dep. Drs. tahun 1992. FISIP Universitas Indonesia. Sebelum bergabung dengan Departemen Sosial. Jakarta. tahun 1982 sampai 1987. Jakarta. pengembangan potensi masyarakat pedesaan. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD-FEUI). langsung bergabung pada Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial di Jakarta. 4 September 1958. Pola Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perkotaan (Surabaya dan Bandung). bekerja sebagai pekerja sosial dan koordinator program pada Family Helper Project kerjasama Yayasan Pelita Kasih dengan Christian Children’s Fund Inc. Anwar Sitepu. lahir di Sukanalu. Pelayanan Sosial Lanjut Usia di Indonesia. Pengalaman lapangan melakukan pengkajian dan penelitian di berbagai daerah yang berkaitan dengan Komunitas Adat Terpencil. antara lain: Pola Konsentrasi Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Tanah Grogot Kabupaten Pasir Kalimanatan Timur. tahun 1986. menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Kesejahteraan Sosial pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri di Jakarta. lanjut usia. dan pendidikan S2 Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor di Bandung dan Bogor. Dampak Judi “Togel” pada Kehidupan Keluarga Miskin di Kota Medan. awalnya pada Sekretariat kemudian masuk pada Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial. MP. Sosial – Badan Pusat Statistik (BPS). tahun 1999 sampai sekarang. Jakarta. tahun 2004. Pelatihan Komputer dan Statistik untuk Pengolahan Data Hasil Penelitian pada Lembaga Demografi. Pelatihan teknis kelitbangan yang pernah diikuti antara lain: Peningkatan Kemampuan Tenaga Peneliti Balitbangsos pada Laboratorium Sosiologi. konflik dan solidaritas sosial. Akreditasi Panti Sosial di Bandar Lampung. Permasalahan Pengungsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 202 Puslitbang Kesos . Bekerja untuk Departemen Sosial sejak tahun 1990. Depok. Penelitian yang pernah dilakukan. tahun 1994. Pola Pembinaan Remaja melalui Karang Taruna di Kota Medan dan Bekasi..

Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik dan Kerusuhan Sosial. S. diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2005) dan S1 (Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994). Selain itu juga menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Penelitian Puslitbang Kesos 203 . Dra.Pd. Strata 1 di FISIP jurusan Anthropologi UNHAS Ujung Pandang. Magister Sains Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Publik. M. Jabatan peneliti: Ajun Peneliti Muda bidang Kesejahteraan Sosial (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial) Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial. Hubungan Antar Kelompok Pribumi dan Etnis Cina di Jakarta. Disamping itu. dan berbagai seminar permasalahan sosial di Indonesia. menamatkan program S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraaan Sosial Bandung. Permasalahan Sosial Pengungsi Korban Poso dan Upaya Penanggulangannya. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Penelitian yang telah dilakukan meliputi topik-topik yang berkaitan dengan Pelayanan Anak Terlantar Putus Sekolah Melalui Panti Sosial Bina Remaja. Nurdin Widodo.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sugiyanto. lahir di Tawangharjo. Departemen Sosial RI. sebagai editor Jurnal Puslitbang Kesos dan anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Departemen Sosial RI.Si. Peran Lembaga Sosial dalam Penanganan Pengungsi. baik secara mandiri maupun kelompok. dan kumpulan tulisannya pernah diterbitkan di JURNAL maupun INFORMASI. Sri Gati Setiti. dan Penelitian Uji Coba Model Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Beberapa hasil penelitiannya telah diterbitkan. Pemberdayaan Pranata Sosial. Konflik Serta Modal Kedamaian Sosial dalam Konsepsi Lintas Kalangan Masyarakat di Tanah Air. Potensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ketahanan Sosial Masyarakat di Kota Kendari. Aktif mengikuti mengikuti kegiatan penelitian bidang kesejahteraan sosial. 8 Januari 1961. Kekhususan Pengembangan Masyarakat (S2). menamatkan program Sarjana Muda di Fakultas Sastra dan Budaya Jurusan Anthropologi UGM Jogyakarta. Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Madya pada Puslitbang Kessos-Badiklit Kessos Departemen Sosial RI. Drs.

pada mata kuliah Psikologi Anak. Menjadi anggota panitia pembina ilmiah (PPI). Sarjana Psikologi Perkembangan Universitas Pajajaran Bandung. peranan wanita. profesionalisme pengelolaan Orsos. pemberdayaan keluarga dalam mencegah tindak tuna sosial. dari tahun 1986 – 1995. karang taruna. Pernah menjadi staf pengajar di STKS Bandung. anak jalanan. Penelitian yang pernah dilakukan: Penelitian tentang Anak Jalanan. Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga (2006). pola rekonsiliasi masyarakat antar etnis di daerah konflik di Indonesia. Selain itu mengikuti berbagai seminar tingkat nasional. panitia penilai lomba karya tulis masalah-masalah sosial tingkat nasional. permukiman kumuh. efektivitas GN-OTA dalam pemberian kesejahteraan anak.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun dan Pengembangan Sosial. MP. dampak sosial industri. perlindungan tenaga kerja wanita di sektor industri. tanggung jawab sosial dunia usaha terhadap masyarakat sekitar. dan pemberdayaan migran. Alit Kurniasari. Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (2004). Tulisan di Jurnal Puslitbang Kesos. Penelitian yang pernah dilakukan meliputi topiktopik yang berkaitan dengan: penanganan penyandang cacat. lanjut usia. pada tahun 1984. 204 Puslitbang Kesos . Pelayanan Sosial bagi Eks Penyandang Penyakit TBC Berbasis Masyarakat (2002). Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2006). Mengikuti diklat dosen dan peneliti di LD-UI dan berbagai diklat penjenjangan peneliti. Permasalahan Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik. masalah narkotika di sekolah. Dra. Psikologi Abnormal dan Psikologi Sosial. Penelitian Kualitas Pengasuhan dan Pelayanan Panti Sosial Asuhan anak (PSAA) di Indonesia. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Pertama di Puslitbang Kesos. menjadi dosen tidak tetap di UMJ dan dosen di Universitas Satyanegara (USNI) Jakarta.

Sumatera Utara. M.Tamat dari UGM Yogyakarta. Pada tahun 1982 hijrah ke Payakumbuh Sumatra Barat. Puslitbang Kesos 205 . hingga tamat tahun 2002.Sejak tahun 1993 bekerja sebagai staf Pusdiklat Pegawai Departemen Sosial RI. Setelah tamat dari SMPP 25 Payakumbuh tahun 1985.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Drs. Pekerjaan lainnya. tahun 1999 mengikuti tugas belajar ke Fakultas Psikologi-Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Togiaratua Nainggolan. Dalam perjalanan karir sebagai PNS. melanjut ke IKIP Padang hingga tamat 1991. lahir 3 Maret 1966 di Samosir.Si. sejak tahun 2002 mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta dalam mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Lintas Budaya. bertugas sebagai staf di Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial hingga menjadi peneliti fungsional hingga sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful