EXECUTIVE SUMMARY

Hasil-hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial

Editor Drs. Charles S. Talimbo, M.Si DR. Harry Hikmat, M.Si Penyusun Drs. Sutaat Dra. Indah Huruswati Drs. Bambang Pudjianto, M.Si Rusmiyati, SE Drs. Achmadi Jayaputra, M.Si Drs. Anwar Sitepu, MP Sugiyanto, S.Pd, M.Si Drs. Nurdin Widodo Dra. Sri Gati Setiti Dra. Alit Kurniasari, MP Drs. Togiaratua Nainggolan, M.Si

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY
Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2006 Puslitbang Kesejahteraan Sosial
Hak Cipta Setiap Tulisan pada : masing-masing Penulis Hak Cipta Penerbitan pada : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badiklit Kesos, Departemen Sosial RI. Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126 Design Cover : Pradjwalita Setting & Layout : Sarif Hidayat

All Right Reserved Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Tidak dibenarkan memproduksi ulang setiap bagian artikel, ilustrasi dan isi buku ini dalam bentuk apapun juga, baik secara elektronik, fotokopi, mekanik, rekaman atau cara lain sebelum mendapat izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Executive Summary, Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Kesos / editor, Charles S. Talimbo, Harry Hikmat. iv + 205 hlm. ; 14,5 x 21 cm, (Executive Summary Tahun 2006)

ISBN : 978-979-5379-20-7
Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia Jl. Dewi Sartika 200, Cawang III, Jakarta Timur Telp. (021) 8017146, Fax. (021) 8017126

KATA PENGANTAR
Selama tahun 2006 telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan untuk beberapa tema yang dinilai mendesak seperti Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasan yang Berbasis Institusi Lokal, Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Keluarga), Evaluasi Program Subsidi Panti, Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan, Pengembangan Komunitas Peduli Anak, Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Migran maupun Penelitian Diagnostik tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Nunukan, Pulang Pisau, Bone dan Manado. Selain itu, ada penelitian yang merupakan pengembangan salah satu metode untuk menentukan secara efektif data kemiskinan di suatu komunitas, yaitu Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi. Hasilnya telah dicetak dalam bentuk buku. Tetapi untuk memudahkan pembaca, terutama pihak eksekutif yang ingin memanfaatkan sebagai acuan berkaitan dengan penentuan kebijakan, maka kami berusaha menyajikannya dalam bentuk Executive Summary. Sudah barang tentu sajian ini lebih komunikatif. Dan bila pembaca memerlukan yang lebih spesifik dan detail, tidak ada salahnya menelaah buku-buku hasil penelitiannya. Kami percaya, eksekutif masa kini adalah tipe ”research minded” karenanya setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada wangsit, tetapi melalui suatu proses kajian yang matang. Semoga. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Charles S. Talimbo NIP. 170011051
Puslitbang Kesos

i

.................... M............... Achmadi Jayaputra..................... Participatory Wealth Ranking...... Sutaat ) ....... 81 6.............. M..................... i iii 1 25 3.............Pd....DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .... DAFTAR ISI ...........................Si ) ..................... Bambang Pudjianto.......... Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan Di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat ( Drs........ 99 7.......................................... Anwar Sitepu................................. MP ) ....... Problem dan Strategi Penanganannya ( Drs............... Peta Masalah Sosial di Bone: Potensi........ Diagnosa tentang Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah ( Dra..... Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kabupaten Nunukan ( Drs................................ 2....................... 65 5.................. Indah Huruswati ) ........... 119 Puslitbang Kesos iii ....... 43 4............................. Sebuah Alternatif Teknik Indentifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin ( Drs..... Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon .................................................................Minahasa ( Rusmiyati..........Si ) .......................................... SE ) ................Si ) ........................................................ Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan (Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan) ( Sugiyanto.. S. 1........... M......

....................... INDEKS ...................................... Alit Kurniasari........ M....................... 11.......................................................................Si ) ... 129 9........................... Nurdin Widodo ) ............ Evaluasi Program Subsidi Panti dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial ( Drs.........................................................8........ MP ) ............................................... Gender dan Keluarga Migran di Indonesia ( Drs.................................. Pengembangan Komunitas Peduli Anak ( Dra................ Sri Gati Setiti ) ..... Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus Pada Lima Wilayah di Indonesia) ( Dra........... SEKILAS EDITOR ............... 153 169 181 191 195 199 10......................... Togiaratua Nainggolan................................ SEKILAS PENYUSUN .................. iv Puslitbang Kesos .................

terutama belum tersedianya database yang akurat sebagai bahan penyusunan rencana program pembangunan di wilayahnya. bahwa program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. berpendidikan S1 bidang kesejahteraan sosial. terutama sarana pendidikan dan transportasi/ perhubungan dalam pulau dan antar pulau. Kabupaten Nunukan. dan keluarga rentan. Sutaat. Perwujudan kebudayaan sebagai perangkat pengetahuan tampak dalam kehidupan komuniti. Penelitian ini mencoba menggambarkan mendiagnosa kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Nunukan. Hal ini menjadikan wilayah tersebut jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya. Sutaat 2 ABSTRAK Kabupaten Nunukan sebagai salah satu daerah pemekaran memiliki permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. Hasil penelitian ini menunjukkan. dan memimpin berbagai kegiatan penelitian di lingkungan Puslitbang Kesos. keterlantaran. Hal ini terkait dengan keterbatasan infrastruktur yang ada. Puslitbang Kesos 1 . (2) Program-program sektor sosial bagi masyarakat berupa pemberdayaan masyarakat kurang mampu. oleh Puslitbang Kesos. perbaikan lingkungan dan perumahan. penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) guna memacu kemajuan wilayah dan penduduk diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. termasuk dalam penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Empat Kabupaten tahun 2005. Masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Peneliti Madya pada Puslitbang Kesos. khususnya di Kecamatan Sebatik Barat sebagai daerah pemekaran baru. Pranata sosial dapat dipahami sebagai sistem antar hubungan peran dan norma berkenaan dengan aktivitas yang dianggap penting oleh anggota komuniti. perumahan tidak layak huni. serta peningkatan fungsi dan peningkatan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial (PSKS) Kata kunci: Masalah Sosial. berbentuk pranata sosial. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosial budaya. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial 1 2 Ditulis dari hasil penelitian tentang Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Sebatik Barat. Akses penduduk pada pendidikan yang lebih tinggi masih terbatas. Untuk itu. antara lain masalah fakir miskin. tahun 2006.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN1 Drs. berpengalaman dalam berbagai kegiatan penelitian.

Cottrell dalam Ndaraha: 1990) Di lingkungan Departemen Sosial. mempunyai pembagian peran dan status yang jelas. mempunyai kemampuan untuk memberikan pengaturan terhadap anggota-anggotanya (Warren. antara lain: balita terlantar. masih terdapatnya pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Nunukan yang belum dimanfaatkan atau belum punya nama. Menurut konsep sosial budaya. yakni bagaimana komuniti tersebut memberikan makna pada gejala yang ada sebagai masalah sosial atau tidak. begitu juga dengan pendefinisian terhadap kesejahteraan dan masalah sosial. 2003). anak terlantar. dan masih rendahnya taraf hidup masyarakat terutama bila dibandingkan dengan taraf kehidupan warga Malaysia di perbatasan. Oleh karena itu. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. lanjut usia terlantar. Perbedaan tindakan dan tingkah laku dalam menanggapi obyek yang sama dapat menimbulkan suatu masalah antara satu komuniti dengan komuniti lainnya. Saat ini terdapat 27 penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang telah diidentifikasi Departemen Sosial. antara lain: masih terisolirnya sejumlah masyarakat yang tinggal di pedalaman dan perbatasan. Komuniti adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dimana seluruh anggotanya berinteraksi satu sama lain.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. secara umum kesejahteraan sosial dari masing-masing komuniti akan berbeda. masalah sosial pada masyarakat tertentu belum tentu dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat yang lainnya (Rudito. anak jalanan. Perbedaan kebudayaan pada masing-masing komuniti akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). dan ini merupakan suatu dampak dari adanya masalah sosial yang terwujud sebagai tindakan kebudayaan. wanita rawan sosial ekonomi. anak nakal. 2005) menyebutkan bahwa berbagai permasalahan sosial yang dihadapi Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang berbatasan dengan Malaysia. Dengan demikian. 2 Puslitbang Kesos . lanjut usia yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. anak cacat. masalah sosial hanya dapat diidentifikasi menurut cara pandang komuniti. Nunukan Pendahuluan Hasil penelitian Puslitbang Usaha Kesejahteraan Sosial (Puslitbang UKS. sehingga sulit atau jauh dari sentuhan program pembangunan.

Nunukan penyandang cacat. yaitu: Sistem Sumber Informal atau Natural. Pengertian sumber menurut Max Siporin. korban penyalahgunaan napza. 1991) membagi sistem sumber menjadi tiga kategori. tampaknya mengalami masalah dalam hal penyediaan data (database) yang akurat mengenai permasalahan sosial serta sumberdaya yang ada di wilayahnya. Oleh karena itu. keluarga berumah tak layak huni. bekas narapidana. Berdasarkan berbagai uraian tersebut di atas. Sistem Sumber Formal. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. Tersedianya data yang akurat dan reliabel akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang Puslitbang Kesos 3 . Didalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. gotong royong. komunitas adat terpencil. keluarga bermasalah sosial psikologis. korban bencana sosial. yaitu rumah sakit. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Daerah pemekaran baru seperti halnya Nunukan. politik. pengemis. tempat-tempat rekreasi dan sebagainya. permasalahan sosial akan ditangani secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliabel.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. lembaga pendidikan. sosial. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial sumber kesejahteraan sosial sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan/program yang terarah dan komprehensif. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. dan sebagainya. lembaga pelatihan kerja. pekerja migran terlantar. penyandang HIV/AIDS. keluarga fakir miskin. tuna susila. keagamaan. Sistem Sumber Kemasyarakatan. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. kesenian. gelandangan. setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan. Untuk mempertahankan kehidupannya. sehingga pelaksanaan program pembangunan akan tepat sasaran dan tepat guna. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. 2002). Allan Pincus dan Anne Minahan (Dwi Heru Sukoco. korban bencana alam. Guna mewujudkan kesejahteraan sosial. adalah sesuatu yang bermanfaat.

khususnya di Kecamatan Sebatik Barat yang merupakan daerah pemekaran baru dan letaknya berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia Timur). diskusi. Keadaan Wilayah Lokasi Penelitian Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau di Provinsi Kalimantan Timur yang letaknya paling utara. serta upayaupaya penanganan yang pernah dilakukan di wilayah Kabupaten Nunukan. Sementara itu Pemerintah Pusat belum mempunyai data yang cukup tentang potensi dan sumber serta permasalahan sosial. Nunukan ada. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan penelitian ini adalah warga masyarakat dan tokoh masyarakat setempat. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Nunukan. Sebagai akibatnya. Deskriptif dimaksud untuk mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melaksanakan penelitian diagnostik tentang permasalahan sosial di daerah. pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau. wawancara. Pulau ini terbagi menjadi dua bagian.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. yaitu Desa Setabu dan Desa Sungai Pancang. Perkembangan wilayah Desa Sungai Pancang relatif lebih maju dibandingkan Desa Setabu. Dengan berbagai pertimbangan kebutuhan wilayah. lokasi penelitian ini difokuskan di Kecamatan Sebatik Barat sebagai salah satu kecamatan pemekaran yang terletak di daerah perbatasan. Hal ini karena 4 Puslitbang Kesos . dan bahan-bahan dokumen. Sebatik Indonesia pada mulanya terdiri dari dua buah desa induk. sehingga program pusat dirasa kurang responsif terhadap kebutuhan lokal. serta aparat pemerintah daerah yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan penelitian ini. Penelitiaan ini bertujuan untuk memperoleh data kualitatif tentang jenis permasalahan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. yakni bagian selatan merupakan wilayah Negara Republik Indonesia dan bagian utara merupakan wilayah Negara Malaysia Timur (Sabah). Sehubungan dengan itu.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Sungai Pancang mempunyai akses yang lebih mudah dengan negara tetangga (Malaysia). Sementara itu, Desa Setabu yang letaknya di bagian barat menghadap Pulau Nunukan dan Daratan Kalimantan, memiliki infrastruktur transportasi ke Nunukan atau daratan Kalimantan relatif yang kurang memadai. Oleh karena itu, dari segi kemajuan wilayah Desa Setabu menjadi lebih lambat. Kecamatan Sebatik Barat yang berpusat di Desa Setabu terdiri dari empat desa, yakni Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu, dan Desa Aji Kuning (letaknya berbatasan dengan Malaysia Timur). Desa Aji Kuning ini berbatasan dengan Desa Sungai Pancang (Sebatik Timur), dan karena itu desa ini merupakan desa di wilayah Sebatik Barat yang termasuk paling maju. Kecamatan Sebatik Timur yang semula merupakan induk Desa Sungai Pancang terdiri dari empat desa, yakni Desa Tanjung Karang, Sungai Pancang, Sungai Nyamuk, dan Desa Tanjung Aru. Gambar 1. Peta Wilayah Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

Puslitbang Kesos

5

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Kependudukan Penduduk Kecamatan Sebatik Barat berjumlah 10.285 jiwa. Sementara itu jumlah penduduk Sebatik secara keseluruhan 30.947 jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa 1/3 jumlah penduduk Sebatik berada di Sebatik Barat, dan 2/3 lainnya merupakan penduduk Sebatik Timur. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa Sebatik Timur kondisinya lebih maju dari Sebatik Barat, baik dari segi ekonomi maupun sarana infrastruktur yang relatif lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, penduduk banyak terkonsentrasi di wilayah Timur yang jauh lebih maju. Kondisi seperti tersebut di atas tampak pula pada jumlah penduduk per kelurahan di Sebatik Barat, yakni Kelurahan Aji Kuning dengan jumlah penduduk terbesar (3.687 jiwa). Kondisi ini terkait dengan kemajuan Desa Aji Kuning yang jauh melebihi desa-desa lain di Sebatik Barat. Sejak dari awal penduduk Aji Kuning telah banyak mengadakan hubungan ekonomi perdagangan dengan negara tetangga (Malaysia).
Tabel 1. Penduduk Kecamatan Sebatik Barat
DESA Aji Kuning Setabu Binalawan Liang Bunyu JUMLAH REKAPITULASI HASIL PENDATAAN PENDUDUK TAHUN 2005 JUMLAH KEPALA JUMLAH JIWA RT/DUSUN KELUARGA RT DUSUN L P JML L P JML 17 4 908 51 959 1990 1697 3687 7 442 28 470 1156 1001 2157 6 359 14 373 1013 886 1899 11 530 28 558 1374 1168 2542 41 4 2239 121 2360 5533 4752 10285

Sumber : Monografi Kecamatan Sebatik, 2005.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa banyak penduduk Aji Kuning yang merupakan eks TKI di Malaysia. Bahkan banyak di antara mereka masih mempunyai kerabat yang berada di Malaysia (terutama di Tawao). Beberapa warga mempunyai identitas ganda, yakni warga Indonesia dan warga Malaysia; atau warga negara Malaysia tetapi merupakan penduduk tetap Desa Aji Kuning. Tampaknya memang secara sosial budaya antara warga Aji Kuning dengan Tawao-Malaysia hampir tidak ada batas. Beberapa rumah warga ada yang sebagian berada di wilayah Indonesia dan sebagian lainnya berada di wilayah Malaysia, dan bahkan ada beberapa warga yang mendirikan rumah di atas tanah wilayah Malaysia.

6

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

Pranata Kehidupan Masyarakat
1. Pranata Agama/Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Sebatik Barat sebagian besar Islam, sedangkan sebagian lainnya Kristen Katholik dan Protestan. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang ada meliputi bangunan Masjid, langgar, dan Rumah Kebaktian di perumahan penduduk. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Selain menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama, penduduk di Wilayah Kecamatan Sebatik Barat juga masih ada yang mengembangkan aliran kepercayaan Suku Bangsa Tidung. Suku Tidung adalah bagian dari Suku Dayak yang tinggal di Tarakan yang menempati daerah Pulau Sebatik, dan merupakan suku asli. Kepercayaan tersebut berupa pemberian semacam sesajen yang dilakukan oleh perorangan dengan cara mengirim doa melalui pemberian sesajen hewan potong yang dilabuh di tengah laut dan dekat dengan tempat tinggalnya. Acara menjalankan ritual adat/kepercayaan/religi yang dijalankan nenek moyang Suku Dayak. Penduduk yang menjalankan dan masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka, walaupun banyak juga yang menganut Agama Islam dan Khatolik. Namun dalam kepercayaan orang Sebatik masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga sungai dan atau laut.
2. Pranata Keluarga/Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah tidak ada aturan yang mengikat, artinya dimana pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kebebasan untuk menentukan pasangan/pilihan hidup. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Dalam sistem kekerabatan yang masih dianggap kerabat dekat adalah kerabat sampai keturunan ketiga. Pada dasarnya, dalam suatu keluarga besar yang masuk dalam satu keluarga batih dan dikatakan masih memiliki ikatan yang kuat,
Puslitbang Kesos

7

Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan

dapat mempersatukan kelompok mereka yang ditandai dengan adanya hak dan kewajiban antar anggota kerabat. Hak dan kewajiban anggota kerabat tersebut dapat dilihat dalam pola perkawinan, perawatan orang tua dan upacara kematian. • Dalam Pola Perkawinan: sebagian besar penduduk mengikuti aturan Agama Islam, misalnya dilarang oleh penduduk apabila terjadi perkawinan: (1) antara anak laki-laki dan perempuan sesama saudara laki-laki sekandung; dan (2) perkawinan antara bapak dengan anak perempuannya. Tetapi jika terjadi perkawinan sepupu silang, yakni perkawinan antara anak laki-laki antara saudara sekandung laki-laki perempuan boleh dilakukan, karena hal tersebut dianggap bukan saudara sedarah seperti halnya dengan anak saudara laki-laki seayah. • Dalam Pola Perawatan Orang Tua (lanjut usia). Jika salah satu orang tua atau salah satu anggota keluarga sakit maka seluruh anggota keluarga dilibatkan untuk membantu dan menanggung biaya perawatan yang telah dimusyawarahkan secara bersamasama. Akan tetapi untuk perawatan sehari-hari perawatan ditanggung oleh anak yang tinggal serumah, dan nantinya mewarisi tempat tinggal orang tuanya. • Dalam hal kematian, pelaksanaan penguburan baru bisa dilaksanakan setelah anggota keluargganya kumpul terutama dua generasi ke atas dan ke bawah. yakni: anak-anak, saudara kandung, paman, bibi dari bapak maupun ibu. Jika ada peristiwa kematian maka semua warga masyarakat terlibat, baik dalam upacara pemakaman ataupun dalam pesta kendurinya/membaca doa. Untuk keperluan membaca doa dalam kenduri, keperluan untuk selamatan/kenduri setiap kepala keluarga akan memberikan sumbangan sesuai dengan kedekatan hubungan antara kepala keluarga dengan keluarga yang mengalami kematian.
3. Pranata Ekonomi

Keluarga-keluarga pada masyarakat Sebatik Barat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, terutama pangan merupakan tanggung jawab bersama antara suami istri. Kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari lingkungan sekitar dan dapat juga dari

8

Puslitbang Kesos

pacul dan kampak. ternak mereka masih dibiarkan berkeliaran di kebun atau di jalan-jalan desa. Hasil tangkapan ikan dan hasil pertanian umumnya mereka jual ke Malaysia atau di pasar-pasar tradisional yang ada di Puslitbang Kesos 9 . dan tidak disiapkan kandang dan pakan secara khusus. sesuai dengan mata pencaharian penduduk. dimana hasil dari mata pencaharian tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. seperti parang. Pasar-pasar ini merupakan pasar keliling yang secara rutin mempunyai jadwal di tiap desa. Sebagian dari mereka juga sudah mengenal sedikit model pertanian modern. Sementara untuk kebutuhan pokok lainnya diperoleh dari warung-warung yang ada di lingkungannya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Sedangkan dalam hal peternakan masih bersifat tradisional. Sistem pertanian penduduk Sebatik umumnya sudah menetap. walupun masih ada juga nelayan tradisional. linggis. selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut. Nunukan luar desa. namun hutan tersebut merupakan hutan lindung yang tidak diperkenankan untuk dikerjakan sebagai lahan pertanian penduduk. Pasar pada masing-masing desa hanya aktif satu kali dalam satu minggu. dan hasil tangkapan ikan/ nelayan. dan tidak ada lagi sistem pertanian dengan cara ladang berpindah. Pedagang pasar tersebut sebagian besar berasal dari Nunukan. pestisida dan adanya benih unggul. Pasar yang biasa digunakan untuk menjual hasil-hasil pertanian/ tangkapan ikan dan membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari adalah pasar tradisional yang terdekat dengan tempat tinggal mereka. istripun juga sangat berperan untuk memenuhi segala keperluan rumah tangga. Namun demikian dari segi peralatan kerja umumnya masih menggunakan peralatan sederhana. misalnya untuk Desa Setabu pasar aktif pada hari minggu. Mereka berkeliling ke desa-desa sesuai dengan jadwal pasar pada desa yang bersangkutan. Walaupun sebagian besar wilayah Kecamatan Sebatik Barat adalah hutan. Perkebunan dan perikanan sudah mulai terarah dengan cara modern yakni dengan cara membuat keramba terapung. Kebutuhan sayuran penduduk sehari-hari diperoleh dari penduduk setempat yang berdagang keliling membawa sayuran hasil kebunnya. Jadi untuk mencari nafkah bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang suami. dengan cara menjual hasil ladang. seperti memakai pupuk kimia.

adalah dari kebun coklat dan pisang. Kenyataan yang ada saat ini. di Sebatik sebenarnya terdapat sumber alam yang dapat mendukung kemajuan wilayah. Setelah permintaan kopi dan harganya anjlok masyarakat mulai beralih pada tanaman coklat. dari segi transportasi dan jarak serta waktu tempuh ke Tawao relatif lebih murah dan mudah dibandingkan ke Nunukan. Sebelum masyarakat mengembangkan tanaman coklat. namun demikian hingga kini belum ada upaya untuk ekspolitasi sumber tersebut. pertama karena kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan secara turun menurun untuk melakukan hubungan dagang dengan penduduk negara tetangga. Hal ini tampaknya merupakan salah satu ciri masyarakat di daerah perbatasan. Bahkan di antara mereka ada yang pernah tinggal dan punya kerabat yang berada di Malaysia dan mempunyai Identity Card (ID) Malaysia. Ada bebarapa hal yang mendorong mereka melakukan hal itu. Ketiga. Menurut masyarakat setempat. Hasil yang diperoleh saat ini dari pengolahan tanah yang merupakan hasil pertanian/perkebunan rakyat. di Sebatik pernah dikembangkan tanaman kopi terutama saat permintaan kopi dari negara tetangga cukup besar. karena biaya yang mahal dan belum lancarnya trasportasi umum. Sumber alam yang sudah diolah saat ini adalah tanah pertanian/perkebunan. Potensi dan Sumber Alam Berdasarkan informasi tokoh masyarakat setempat. Jenis pisang di wilayah ini bagi masyarakat setempat dikenal dengan nama “pisang sanggar” (pisang goreng). Jalan penghubung antar kecamatan kondisinya rusak. Kebun coklat dan pisang tersebut cukup luas dan memberikan hasil cukup besar bagi masyarakat Sebatik Barat. Nunukan sekitar wilayah Sebatik Barat. tampaknya masyarakat masih lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi daripada kesadaran sebagai WNI. pisang sanggar tersebut biasa dikenal sebagai pisang “kepok”. yakni sumber minyak bumi. Untuk masyarakat Jawa. apalagi pada musim penghujan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. karena umumnya disajikan dengan cara digoreng.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. 10 Puslitbang Kesos . Mereka jarang membawa dan menjual barang dagangannya ke Nunukan. infrastruktur untuk jalur transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Kedua. hasil coklat dan pisang banyak dijual ke negara tetangga Malaysia (Tawao).

Kondisi yang demikian menjadikan penduduk Sebatik tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masyarakat negara tetangga. Pada satu sisi. baik pembangunan fisik maupun non fisik. akses komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia masih kurang memadai. Demikian pula yang terjadi di Sebatik Barat. Ketergantungan masyarakat pada negara tetangga dapat mengurangi rasa kebangsaan dan nasionalisme. Alasan mereka adalah untuk kemudahan hubungan dengan masyarakat negara tetangga yang dirasakan memberikan banyak keuntungan. ada ketergantungan masyarakat dengan negara tetangga. misalnya dalam pemasaran hasil dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga. Sementara itu. Pada sisi lain. Hal ini tampak dari informasi yang diperoleh bahwa beberapa penduduk Sebatik. dan rendahnya kualitas hidup. terutama yang dekat dengan perbatasan mempunyai ID ganda. Masalah-masalah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Mereka akan lebih mementingkan kebutuhan ekonomi daripada memperhatikan kedudukannya sebagai warga negara Indonesia. masalah infrastruktur yang kurang memadai. sehingga sebagian besar penduduk seolah-olah kurang menyatu dan berinteraksi secara intensif dengan penduduk lainnya di wilayah Indonesia. Nunukan Permasalahan Sosial Hasil penelitian ini mengidentifikasi ada tiga besaran permasalahan sosial di Sebatik Barat yang mendorong munculnya berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. tampak dari besarnya populasi keluarga kurang mampu (kecuali miskin). penduduk Sebatik mendapat imbas kemajuan ekonomi dari penduduk negara tetangga. Hal ini menjadikan Sebatik Barat tertinggal dalam berbagai pembangunan. Masalah-masalah kesejahteraan sosial yang biasanya terkait dengan daerah tertinggal antara lain rendahnya kemampuan ekonomi. Masalah yang terkait dengan rendahnya Puslitbang Kesos 11 . yakni masalah ketertinggalan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Masalah Ketertinggalan Sebatik merupakan pulau terluar dan terbagi menjadi dua wilayah negara yaitu sebelah Utara Wilayah Malaysia (Sabah). rendahnya pendidikan. dan masalah potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang belum menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. dan sebelah Selatan Wilayah Indonesia (Provinsi Kalimantan Timur).

keterlantaran. Beberapa kasus keluarga miskin menunjukkan bahwa mereka menempati rumah yang bukan milik sendiri. Kemiskinan yang mereka alami adalah kekurangmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan lainnya. umumnya bertempat di rumah yang layak huni. Meskipun tidak semua keluaga miskin berkaitan dengan kondisi rumah.113 12 Puslitbang Kesos . wanita rawa sosial ekonomi. dan wanita rawan sosial ekonomi. Namun demikian dapat dikatakan bahwa penduduk miskin Sebatik Barat untuk pemenuhan kebutuhan pangan belum merupakan hal yang serius (belum kritis). namun beberapa kasus keluarga miskin di Kecamatan Sebatik Barat. Tabel 2. misalnya pendidikan keluarga. Penjelasan dari kasus dimaksud adalah bila kita lihat pada status rumah atau kepemilikan rumah. lanjut usia. seperti rumah tidak layak huni. dan rumah tidak layak huni. tetapi miliki kerabat atau warisan dari orangtuanya. fakir miskin. partisipasi iuran warga. yaitu keluarga miskin. dan penyediaan rumah yang layak huni. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin Aji Setabu Kuning 14 22 38 8 10 4 8 47 45 57 31 6 13 7 3 3 9 7 58 346 1 2 38 674 Desa Binalawan 19 37 8 7 27 173 Liang Bunyu 2 5 10 58 11 13 5 30 228 Jml 14 62 18 17 121 183 38 20 8 3 23 461 3 1. Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar Penyandang Cacat Cacat Bekas Sakit Kronis Pengemis Eks Napi Keluarga Fakir Miskin Rumah Tidak layak Huni Kel. Nunukan kemampuan ekonomi tampaknya cukup besar. Masalah-masalah tersebut tampaknya berkaitan dengan kondisi kemiskinan. penyandang cacat. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tiap Desa di Kecamatan Sebatik Barat. Ada beberapa jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang hampir ada di setiap desa.

penyediaan air bersih. tapi dengan konsekuensi harus menjual tangkapannya kepada mereka. Nunukan Hal yang menguntungkan bagi masyarakat Sebatik adalah kondisi tanah yang relatif subur. yang dalam bahasa daerah/lokal disebut tatamba. Oleh karena itu. Menurut penduduk Sebatik. penduduk mengalami hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan yang ada. Hal ini merupakan permasalahan sendiri bagi penduduk Sebatik Barat dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat. 2. Hambatan yang dialami untuk memperoleh pendapatan tinggi dari sektor pertanian. yakni satu Puskesmas di Desa Setabu dan satu Puskesmas di Desa Aji Kuning. banyak penduduk Sebatik Barat yang masih mengandalkan pengobatannya pada bantuan dukun melalui cara-cara tradisional. dan kopi. namun penduduk setempat masih menggunakan perahu tradisional ukuran kecil dan dengan peralatan yang sederhana. menghasilkan komoditi pertanian yang cukup besar seperti pisang. Dampaknya adalah sebagian besar mereka membabat kebun kopi untuk diganti dengan tanaman lainnya. seperti sarana perhubungan. Sumber laut Sebatik (perikanan) sebenarnya cukup memberikan harapan. Masalah Keterbatasan Infrastruktur Sebatik sebagai wilayah yang tergolong daerah tertinggal mempunyai keterbatasan infrastruktur. terutama kurangnya posisi tawar dengan konsumen di negara tetangga. komunikasi. sehingga kalah bersaing dengan nelayan dari negara tetangga. kasus komoditi kopi yang pernah memberikan penghasilan cukup besar. Prasarana dan sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Sebatik Barat saat ini hanya ada dua puskesmas. Oleh karena itu. namun dengan berkurangnya dan bahkan berhentinya permintaan kopi dari negara tetangga menjadikan harga kopi anjlok. atau membiarkan kebun kopinya tidak terurus. selama peneliti ada di lokasi tidak melihat adanya hasil laut yang berlimpah di pasar/warung lokal. sarana pendidikan. Tatamba Puslitbang Kesos 13 . petani hampir tidak pernah dapat menentukan harga jual hasil pertaniannya. dan sarana kesehatan. dengan jumlah dokter masing-masing satu orang.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Dengan demikian. coklat. Beberapa nelayan memperoleh peralatan dan modal dari penduduk negara tetangga. Bahkan terkesan sulit memperoleh ikan dari pasar lokal.

butuh (kemaluan) tupai. Sarana jalan darat yang ada di Sebatik.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Jalan aspal baru mencapai jarak sekitar 2 km di Desa Setabu (ibukota kecamatan). 5. Sebagian jalan-jalan di Sebatik terutama pada musim penghujan sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Beberapa cara tradisional lainnya masih sering dilakukan penduduk. 2. sumber air bersih yang ada meskipun rendah kualitasnya adalah sumur umum dekat sungai yang mulai mengering. 6. baik jalan antar kecamatan maupun antar desa sebagian besar berupa jalan darurat (jalan tanah dan pasir batu). merebus akar alang-alang. Oleh karena itu. jumlah sarana angkutan umum yang ada masih terbatas dan dengan biaya yang cukup mahal. Jenis Fasilitas Puskesmas Polindes Posyandu Dokter Perawat/Mantri Bidan Dukun Desa Setabu 1 4 1 5 3 2 Aji Kuning 1 4 1 1 Binalawan 1 3 9 Liang Bunyu 1 4 1 1 7 Jml 2 2 15 2 6 5 18 Kondisi tanah yang berbukit-bukit. Nunukan juga merupakan kebiasaan adat (ritual) pengobatan bagi penduduk yang terkena bisa ular. misalnya pengobatannya dengan cara mengunyah pucuk daun jambu dan nangka. Sumber air bersih utama masyarakat saat ini adalah air hujan. 3. penduduk Sebatik mengalami permasalahan dalam penyediaan air bersih. Sementara itu. tenung yaitu cara penyembuhannya disembur dengan air putih yang sudah diberi doa. lalu diminum. Sehingga pada musim kemarau penduduk mengalami kekurangan air bersih. penduduk harus mengangkut air dari sumber tersebut bagi kebutuhan rumahtangganya. yakni mobilitas penduduk antar desa/kecamatan sangat terbatas. sedikit sumber air. 7. Untuk itu. cabe rawit. Kondisi seperti itu menjadi permasalahan tersendiri bagi penduduk Sebatik. Saat tidak ada hujan. termasuk masalah pengangkutan hasil pertanian/perkebunan penduduk. 14 Puslitbang Kesos . Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No 1. 4. Menurut mereka si sakit sembuh karena izin dari Allah. dan dekat dengan laut menyebabkan kualitas air tanah maupun air pemukaan sangat rendah. Tabel 3.

khususnya dari golongan mampu yang dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. dari segi pendidikan penduduk Sebatik Barat sebagian besar rendah (hanya mencapai tingkat Sekolah Dasar. dan dengan jumlah yang terbatas.s/d Rp. Untuk wilayah Sebatik Barat. baik karena masalah jarak lokasi maupun kemampuannya yang terbatas. Sementara ini.tergantung dari banyaknya penumpang. Sarana pendidikan yang ada saat ini masih terbatas. 2..000.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Jenis Fasilitas Pendidikan TPA Sekolah Dasar SLTP Kejar Paket A.. B Jumlah Desa Setabu 3 1 1 5 Aji Kuning 1 3 1 5 Binalawan 4 1 5 Liang Bunyu 2 1 2 5 Jml 10 11 2 2 25 Saran komunikasi telepon kabel dan telepon umum di wilayah Sebatik Barat hingga saat ini belum tampak kehadiranya. hanya beberapa anak. 3. sekolah lanjutan pertama (SMP) hanya ada dua yakni satu di Desa Setabu dan satu di Desa Aji Kuning. Dengan demikian. Sarana Pendidikan di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. yakni sekolah milik swasta. 10. penduduk banyak menggunakan sarana telepon seluler yang jaringanya masih terbatas. Kepemilikannya juga masih terbatas pada penduduk yang tergolong cukup mampu. beberapa desa hanya mempunyai sekolah sampai SD.000. 20. makin banyak penumpang akan semakin murah biayanya. Saat ini sekolah lanjutan atas baru ada di Kecamatan Sebatik Timur. Sekolah lanjutan atas negeri hanya ada di Nunukan. Jaringan/siaran televisi dan Puslitbang Kesos 15 . Sehingga bagi anak-anak penduduk desa lainnya harus menempuh jarak cukup jauh bila ingin melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP. Kondisi seperti ini menyebabkan banyak penduduk yang mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah. 1. Nunukan Saat ini angkutan laut (perahu motor) ke Nunukan tiap hari umumnya hanya dua trip (berangkat pagi dan pulang siang hari). Untuk ke Nunukan sekali jalan beaya yang harus ditanggung per orang antara Rp. Oleh karena itu. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Nunukan untuk menciptakan sarana perhubungan yang relatif mudah dijangkau masyarakat dan dengan frekuensi yang cukup memadai. Tabel 4. 4.

Kabupaten dan Provinsi. Tujuan kelompok ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial ini dapat berwujud lembaga sosial maupun individu-individu yang peduli terhadap usaha-usaha kesejahteraan sosial. ekonomis produktif dan 16 Puslitbang Kesos . Lembaga ini mempunyai jangkauan wilayah berjenjang dari tingkat Rukun Tetangga. penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana serta peningkatan gizi keluarga. kelompok ini beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang memiliki anak balita. Kelompok ini dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa dari pemerintah. Kelompok ini merupakan organisasi pemuda pada tingkat lokal. dan secara fungsional berada dalam pembinaan Departemen Sosial. • PKK. simpan pinjam. Nunukan radio sebagian sudah dapat ditangkap penduduk meskipun masih terbatas. dengan usia berkisar antara 19 tahun sampai dengan usaia 40 tahun. Jenis Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mencakup kelompok/lembaga sosial dan perorangan dapat dijelaskan seperti berikut: • Perkumpulan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). maka dapat menghambat masuknya informasi nasional dalam kehidupan masyarakat Sebatik. tabungan. dan usaha ekonomis produktif. Anggotanya sebagian besar remaja dan beberapa orang dewasa. Desa. Inisiasi pembentukan Karang Taruna oleh masyarakat. Kecamatan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Kelompok ini dibentuk atas prakarsa pemerintah. gotong royong. Bila siaran televisi Indonesia tidak lebih kuat. menimbang balita. Masalah Pontensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial merupakan hal yang penting dalam menunjang terwujudnya kesejahteraan sosial masyarakat. 3. Kelompok pemuda ini pada umumnya memiliki kegiatan edukatif. beranggotakan kaum wanita terutama ibu rumahtangga. Dusun. Tujuan kelompok ini adalah peningkatan kesejahteraan keluarga melalui berbagai kegiatan seperti arisan. • Karang Taruna/kelompok pemuda. Namun demikian masuknya jaringan/siaran televisi asing (negara tetangga) tampaknya tidak bisa dihindarkan mengingat letaknya yang cukup dekat. Kegiatannya berupa pemeriksaan kesehatan balita.

misalnya pada upacara pernikahan dan peringatan hari-hari besar nasional.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Kelompok ini beranggotakan para petani dan memiliki kegiatan mulai dari pengolahan tanah. bertanam sehingga diperoleh peningkatan hasil pertanian. umumnya beranggotakan sejumlah Kepala Keluarga dari etnis tertentu. Nunukan rekreatif. • Arisan keluarga. • Kelompok kesenian terdiri dari sekumpulan warga masyarakat yang mempunyai minat dan bakat dibidang kesenian baik itu kesenian tradisional maupun modern. Arisan ini digunakan sebagai sarana tukar informasi dan saling memberikan pemikiran tentang permasalahan yang dihadapi anggota. • Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat. Kelompok ini memiliki kegiatan latihan rutin dan pentas untuk mengisi acara permintaan atau acaraacara tertentu. Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan pengajian dan pembinaan mental keagamaan. Pakaian yang digunakan adalah pakaian adat setempat. • Pengajian/majlis taklim dibentuk oleh masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi kaum muslim. kelompok maupun bersama dalam wadah lembaga sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungannya. • Kelompok Tani dibentuk oleh masyarakat atas prakarsa pemerintah dalam upaya peningkatan hasil pertanian. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi dengan warga masyarakat setempat menunjukkan bahwa kondisi PSM dan KT di Sebatik Barat Puslitbang Kesos 17 . Mereka bekerja secara mandiri. Pembentukannya oleh inisiatif pemerintah dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial. Kegiatan kesenian tradisional yang terkenal adalah tarian “Jepin” yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. Kelompok ini dibentuk masyarakat merupakan wadah silaturahmi. merupakan individu-individu yang berasal dari masyarakat setempat. Namun demikian kondisi saat ini sebagian besar tampaknya kurang aktif.

dapat dikatakan bahwa permasalahan sosial yang ada erat kaitannya dengan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Organisasi-organisasi sosial lokal saat ini mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. Sehingga banyak penyandang masalah yang tidak memperoleh pelayanan yang memadai. Nunukan saat ini dapat dikatakan kurang aktif lagi. Pembinaan terhadap kelompok-kelompok sosial masyarakat di Kabupaten Nunukan dapat dikatakan masih sangat rendah. upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat akan selalu terkait dengan upaya peningkatan dari segi ekonomi atau pendapatan penduduk. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Apalagi panti-panti rehabilitasi sosial atau lembaga rehabiliasi sosial lainnya bagi penyandang cacat saat ini belum ada di wilayah Kabupaten Nunukan. adalah upaya pemberdayaan keluarga 18 Puslitbang Kesos . Sementara itu organisasi-organisasi sosial yang ada di Kabupaten Nunukan belum menjangkau wilayah Sebatik. Hal ini menurut mereka disebabkan kurangnya bantuan dan pembinaan dari pemerintah terhadap sumber-sumber tadi. Hal ini terjadi karena pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam kegiatan pembinaan. terutama karena faktor lokasi yang sulit dijangkau dan dukungan lainnya yang masih terbatas. dan minimnya sumber dana maupun informasi yang mereka miliki. Panti-panti sosial yang ada di Kabupaten Nunukan jumlah maupun jangkauannya masih terbatas. Upaya yang Telah Dilakukan Bila memperhatikan data PMKS seperti telah dikemukakan sebelumnya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kecamatan Sebatik Barat saat ini masih kekurangan sumber yang dapat diakses oleh mereka. Oleh karena itu. Beberapa upaya pemerintah yang masuk ke Sebatik berdasarkan informasi tokoh-tokoh setempat. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. Hal ini antara lain disebabkan kondisi SDM yang relatif rendah (sebagian besar pendidikan SD). Saat ini tampaknya PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial lepas dari perhatian Kantor Sosial setempat.

arisan. seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Karang Taruna (KT) saat ini kurang aktif melaksanakan fungsinya. dan keterlantaran. Hingga saat ini belum terlihat peran LSM/Orsos dalam usaha kesejahteraan sosial. Dari hasil observasi tampaknya KUBE tersebut tidak lagi terlihat kegiatannya. masalah rumah tidak layak huni. Tampaknya penanggulangan masalah kesejahteraan sosial di Sebatik Barat masih memerlukan campur tangan dari luar. seperti kelompok kematian. Kesimpulan dan Saran Program pembangunan belum banyak menyentuh Sebatik Barat. Hal ini antara lain disebabkan kurang/tidak adanya pembinaan secara rutin dari penyelenggara program/kegiatan. terutama sarana air bersih. transportasi dan komunikasi.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Upaya penduduk sendiri untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial dilakukan melalui kelompok-kelompok yang mereka bentuk. misalnya peranserta LSM/ Orsos dan peran pemerintah pusat maupun daerah. Namun demikian masih sangat terbatas kualitas maupun jangkauannya. PSM dan KT yang merupakan andalan sektor sosial tampaknya lepas dari perhatian Puslitbang Kesos 19 . Masih minimnya infrastruktur yang ada. dan kelompok-kelompok yang berbasis RT. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial setempat. menjadikan wilayah ini masih tertinggal dibanding wilayah lainnya. wanita rawan sosial ekonomi. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Hal ini antara lain karena kurangnya pembinaan dari pemerintah setempat terhadap sumber-sumber tersebut. pendidikan. kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang jauh tertinggal dengan harga barang kebutuhan yang relatif cukup tinggi. Masalah kesejahteraan sosial yang cukup menonjol adalah kemiskinan. dan akses pada pendidikan yang lebih tinggi terbatas. menjadikan mobilitas penduduk antar desa/ kecamatan sangat terbatas. Masalah-masalah ini sebenarnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Masalah kesejahteraan sosial umumnya bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Nunukan miskin berupa bantuan stimulan ekonomi produktif melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan bantuan perbaikan rumah penduduk.

c. serta peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal agar mampu berperan dalam pembangunan bidang kesejahteraan sosial. Nunukan pemerintah setempat. perbaikan lingkungan dan perumahan. gotong royong dan pembinaan mental keagamaan. d. Diharapkan dengan mudahnya akses pendidikan dan transportasi/perhubungan bagi penduduk akan mempunyai dampak terhadap peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat. agar dengan demikian pemerintah daerah akan selalu mempunyai data yang akurat dan up to date bagi perencanaan pembangunan. Untuk itu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. maka diperlukan program-program yang terpadu antar instansi (Dinas-Dinas). buku-buku pelajaran dan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak terlantar. antara lain lembaga pelayanan dalam bentuk panti rehabilitasi sosial. maka perlu dipertimbangkan oleh pusat maupun pemerintah daerah (Instansi Sosial) untuk mendirikan pantipanti rehabilitasi sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat. diperlukan upaya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang ada. Sejalan dengan upaya ini. Program-program sektor sosial yang diperlukan adalah upaya pemberdayaan penduduk miskin. pemerintah daerah setempat perlu secara berkesinambungan melakukan pembaharuan data permasalahan kesejahteraan sosial. Organisasi-organisasi sosial lokal mempunyai kegiatan yang masih terbatas pada kegiatan-kegiatan arisan. khususnya pendidikan formal diperlukan sarana pendidikan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan. dan transportasi/perhubungan dalam pulau dan antar pulau. 20 Puslitbang Kesos . antara lain: a. Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. b. Tampaknya mereka belum tergugah dan kurang memahami pentingnya peran mereka dalam penanganan masalahan kesejahteraan sosial di lingkungannya. Guna memacu kemajuan kehidupan masyarakat Sebatik. Mengingat keterbatasan lembaga pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. komunikasi. terutama sarana pendidikan.

Pembangunan Masyarakat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. Nunukan e. maka baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu lebih ekstra membangun wilayah yang bersangkutan. Untuk itu. 1990. Nunukan. Dwi Heru Sukoco. Puslitbang Kesos 21 . Jakarta. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Ndraha. Bandung. diharapkan tidak lagi menjadi daerah tertinggal dan menjadi salah satu daerah perbatasan yang dapat diandalkan Pemerintah RI. Bandung. 2002. Monografi Kecamatan Sebatik Rudito. Pusdatin. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. ICSD. mempunyai posisi strategis terhadap kesatuan wilayah NKRI. Bambang dkk. 1991. Jakarta. baik fisik maupun non fisik. BPS. Departemen Sosial. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. 2005. Kabupaten Nunukan dalam Angka Tahun 2002. STKS Press Kecamatan Sebatik Barat. Dengan demikian. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Nunukan dengan BPS Kabupaten Nunukan. 2002. Taliziduhu. 2004. Profesi Pekerja Sosial. Rineke Cipta. Wilayah Sebatik yang berbatasan langsung dengan negara lain.

cacat akibat penyakit. Jumlah 14 2. wanita. menderita cacat karena bawaan atau kecelakaan. seperti stroke. anak usia 6 – 21 tahun. Dinding tidak sempurna. 20 8 10. 183 7. atap dari daun atau dari seng tapi rusak. 11. tergantung pada bantuan orang lain. sering mengkonsumsi alkohol. kondisi ekonomi kurang mampu. tidak mampu membiayai pendidikan anak.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarga. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. katarak dsb. mengalami hambatan dalam beraktivitas. Jenis PMKS Balita Terlantar Kriteria anak usia 0 – 5 tahun. Bermasalah Psikologi Keluarga miskin 461 3 1. dan mengganggu orang lain/lingkungan. berasal dari keluarga kurang mampu. dan kurang atau tidak terpenuhi kebutuhannya secara memadai. anak usia 15 – 21 tahun.113 22 Puslitbang Kesos . laki-laki atau perempuan usia 60 tahun ke atas. banyak yang bolong. biasanya terkait dengan masalah-masalah ekonomi. orang dewasa. Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi LU Terlantar 17 121 6. Rumah Tidak layak Huni Kel. sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. orang dewasa. 14. Penyandang Cacat Cacat Bekas sakit Kronis Pengemis 38 8. tidak punya pekerjaan tetap. dan kurang sehat. orangtua tidak mampu secara ekonomi. yatim atau yatim piatu. pendidikan keluarga paling tinggi SD. janda. suami isteri sering bertengkar. cacat bawaan atau karena kecelakaan. tidak produktif lagi. hidupnya tergantung dari bantuan orang lain. orang dewasa. Anak Terlantar 62 3. mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas seharihari. mempunyai tanggungan anak usia sekolah. keluarga dengan penghasilan tidak tetap. tidak mempunyai pekerjaan tetap. 13. 9. 1. lantai tidak sempurna/lantai kayu banyak yang rusak. Eks Napi Keluarga Fakir Miskin 3 23 12. telah selesai menjalani hukuman karena pelanggaran lalu lintas. 5. Anak Nakal 18 4. rumah darurat atau kondisinya kurang sempurna. anak-anak atau dewasa. hanya mampu membiayai pendidikan anak pada tingkat SD. kurang mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. usia produktif. kurang harmonis. Nunukan Lampiran 1 Jenis PMKS dan Kriteria Menurut Masyarakat Lokal di Kecamatan Sebatik Barat Tahun 2006 No. sering menggunakan obat-obat terlarang. keluarga dengan penghasilan tetap. hanya mampu mendapatkan pendidikan sampai SD. anak usia 6 – 12 tahun. keluarga kurang mampu memberikan pelayanan.

Nunukan Lampiran 2 PETA WILAYAH 1. Peta Wilayah Desa Binalawan Puslitbang Kesos 23 . Peta Wilayah Desa Aji Kuning 2.Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

Nunukan 3. Peta Wilayah Desa Setabu 4. Peta Wilayah Desa Liang Bunyu 24 Puslitbang Kesos .Diagnosa Permasalahan Sosial di Sebatik Barat Kab.

DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KABUPATEN PULANG PISAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH1 Dra. Dra. Badiklit Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos 25 . M. Endang Kironosasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa permasalahan sosial yang paling menonjol adalah masalah fakir miskin (kemiskinan). Upaya penyediaan database tersebut. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten ini dapat terwujud secara tepat sasaran dan tepat guna. Kriteria permasalahan sosial serta potensi. Kabupaten ini dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi.Si. antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. selain juga anak terlantar. diungkapkan dalam hasil penelitian ini berdasarkan pandangan masyarakat lokal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang mereka miliki. Dampak dari pemekaran tersebut. MSc. serta masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak. Kata kunci: Permasalahan Sosial 1 2 Tulisan ini diangkat dari penelitian Diagnosis Permasalahan Sosial di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. dilakukan melalui penelitian kerjasama antara Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial . dengan tim penelitian Drs.Kalimantan Tengah pada pertengahan tahun 2006 lalu. Pemerintah Daerah berupaya menata kembali sistem administrasi wilayahnya. Penelitian dilakukan di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang dipilih berdasarkan keragaman masalah sosial dan potensi yang dimiliki. yang dapat dijadikan acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. salah satunya adalah dengan menyediakan data dasar (database) yang akurat dan reliable tentang permasalahan sosial serta sumberdaya. keluarga rentan dan keluarga berumah tidak layak huni. Indah Huruswati 2 ABSTRAK Kabupaten Pulang Pisau merupakan sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas yang diresmikan pada tahun 1999. Syawie. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik. Moch. Peneliti Muda pada Puslitbang Kessos.Departemen Sosial RI dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . Indah Huruswati. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang.

antara lain permasalahan sumber daya manusia yang belum memadai. Padahal segala permasalahan sosial dapat diatasi secara sistematis dan tepat sasaran jika didasarkan pada data yang akurat dan reliable. sumber daya sosial. Terkait dengan Pemerintah Pusat. Kabupaten Pulang Pisau dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Tentunya berdampak pada perubahan status administrasi pada wilayah-wilayah tersebut. tentunya akan berpengaruh pada program pusat yang dampaknya tidak mampu mengakomodir kebutuhan daerah. Sementara itu data dasar (database) mengenai permasalahan sosial serta peta sumberdaya yang ada di wilayah yang bersangkutan belum dimiliki oleh Pemerintah Daerah setempat. Pulang Pisau yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Kapuas menjadi kabupaten baru (pemekaran). ekonomi dan alam yang bercirikan masyarakat lokal. Pulang Pisau Pendahuluan Sejak dicanangkannya otonomi daerah yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang No. dengan kurangnya data dan peta permasalahan sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. masalah kesejahteraan sosial yang semakin merebak serta permasalahan lainnya.22 tahun 1999 (yang diperbaharui menjadi UndangUndang No. Disinilah letak pentingnya data tentang masalah kesejahteraan sosial dan sumber kesejahteraan sosial sebagai dasar dalam pengembangan kebijakan yang 26 Puslitbang Kesos . Akibat lebih lanjut adalah pelayanan sosial dan kebutuhan masyarakat tidak dapat sepenuhnya terjangkau. Beberapa wilayah yang semula merupakan kecamatan berubah menjadi kabupaten karena dianggap telah memenuhi persyaratan administrasi. sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya serta dapat berlangsung secara berkesinambungan. Dalam kaitan dengan penataan kembali wilayah pemekaran ini tentunya memerlukan data dasar (database) yang akurat dan reliable sebagai dasar dalam menyusun perencanaan program pembangunan di wilayah tersebut. Dampak dari pemekaran tersebut. kewilayahan dan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam dan ekonomi. sarana dan prasarana infrastruktur yang masih kurang. terjadi pemekaran pada beberapa wilayah di Indonesia. 32 tahun 2002) tentang Pemerintahan Daerah. masalah administrasi yang belum tertata dengan baik.

ekonomi dan alam sebagai data dasar di lokasi penelitian. Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial – Departemen Sosial RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau . Faktor internal pada umumnya menunjuk pada sistem sosial yang mengandung benih ketimpangan struktural dalam masyarakat. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Program kesejahteraan sosial apa saja yang selama ini dilaksanakan di Kabupaten Pulang Pisau? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) diperolehnya data kualitatif tentang jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut akan tepat sasaran dan tepat guna. Tersedianya data yang akurat dan reliable akan menjadi acuan dalam penentuan kebijakan prioritas program pembangunan kesejahteraan sosial. Biasanya terdapat segolongan masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap peluang-peluang sosial ekonomi. sebagai langkah awal upaya identifikasi sekaligus menemukenali secara lebih dalam permasalahan yang dihadapi daerah. Masalah kesejahteraan sosial dapat terjadi di setiap wilayah dan disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkait. ekonomi dan alam di lokasi penelitian.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab.Kalimantan Tengah melakukan Penelitian Diagnosa Permasalahan Sosial ini. ekonomi dan alam di lokasi penelitian? Bagaimana kriteria dan karakteristik penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. sehingga menjadi rentan terhadap masalah Puslitbang Kesos 27 . dan (4) diperolehnya gambaran tentang programprogram penanggulangan permasalahan sosial yang pernah dilaksanakan di lokasi penelitian. Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: • • • Apa dan bagaimana jenis penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. (3) diperolehnya gambaran mengenai lokasi dan peta penyandang masalah kesejahteraan sosial serta potensi dan sumber daya sosial. (2) diperolehnya data kualitatif tentang kriteria dan karakteristik penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber daya sosial. Faktor penyebab masalah kesejahteraan sosial dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal sekaligus. Berdasarkan permasalahan tersebut. Pulang Pisau terarah dan komprehensif. ekonomi dan alam di lokasi penelitian.

keagamaan. Sedangkan 28 Puslitbang Kesos . Dalam kaitannya dengan faktor eksternal. gotong royong dan sebagainya. sumber daya manusia. Intervensi program dari pemerintah yang pada awalnya bertujuan intervensi pemecahan masalah. dan sumber daya sosial yang berupa kemampuan mengorganisir sumber daya alam atau manusia atau perpaduan keduanya. Sumber data terdiri dari : (1) data primer yaitu perorangan atau individu. Diharapkan dengan pendekatan ini diperoleh suatu gambaran bagaimana pelaku dalam komuniti memandang dan memahami gejala sosial yang tampak. (2) data sekunder yaitu literatur. yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental. Pulang Pisau kesejahteraan sosial. masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. bisa termasuk intervensi pemerintah. ternyata justru menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan/atau menimbulkan suatu jenis masalah yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat (Dove. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. Kesimpulan yang didapat melalui proses ini dikenali sebagai diagnosis. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. Metode Penelitian Penelitian diagnostik yang dilakukan merupakan proses mengenal pasti penyakit melalui tanda penyakit. kesenian. Keterbatasan aset produksi dapat juga menyebabkan kemiskinan. kelompok. Untuk mengenal pasti permasalahan sosial yang ada. digunakan pendekatan kualitatif yang tujuannya adalah untuk memahami kondisi serta pemahaman sekelompok orang dalam satu kelompok sosial. kemiskinan menyebabkan kurang pangan dan gizi. lembaga pemerintah dan pengusaha swasta. Potensi kesejahteraan sosial tersebut ada dalam bentuk sumber daya alam. dicatat dan dianalisa. simptom dan hasil pelbagai langkah diagnostik. Untuk mempertahankan kehidupannya. politik.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Penyakit yang dimaksud di sini adalah permasalahan sosial yang ada di masyarakat. diobservasi. 1985) Secara potensial setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah kesejahteraan sosial yang terjadi pada masyarakat tersebut.

terutama pada sektor kehutanan dan sektor lain seperti pertanian dan peternakan yang turut menyumbang potensi cukup besar sejak dari tingkat desa.300 hektar). kriteria penduduk sebagai penyandang masalah sosial. dan 1 kelurahan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. sebagian wilayahnya terdiri dari lahan gambut (277. Sementara itu. penelusuran dokumen dan bahan-bahan visual.997 km² atau 899. berjarak paling jauh sekitar 56 km sampai 75 km dari Ibukota Kabupaten. Kalimantan Tengah. Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pulang mempunyai wilayah seluas 8. Sebagian kecamatan Maliku sebelum ada pemekaran merupakan bagian dari kecamatan Pandih Batu.700 ha. jarak dari desa-desa ke ibukota Kecamatan antara 7 km sampai 30 km yang dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten) maupun jalan air (Sungai Kahayan) dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat. Secara umum wilayah Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang lumayan besar. Kecamatan Pandih Batu dan Maliku yang menjadi lokasi penelitian ini. lokasi. Karakteristik penduduk di dua kecamatan memiliki sifat heterogen. diskusi. baik dari jenis kelamin maupun jenis pekerjaan yang ada. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau. baik yang tergolong sebagai penduduk lokal yang terdiri dari sukubangsa Puslitbang Kesos 29 . khususnya di Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. juga wawancara. Kabupaten ini meliputi 8 wilayah kecamatan. dengan waktu tempuh sekitar 4 – 6 jam. dimana komposisi penduduknya berasal dari ragam sukubangsa dan agama. penyandang masalah sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial. Sasaran penelitian adalah penduduk yang menetap di daerah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku. Pulang Pisau pengumpulan informasi dilakukan selain melalui pengamatan (observasi). 83 desa definitif.

Rumah mereka umumnya dibuat dari kayu atau papan. Namun memperhatikan data yang ada di kecamatan ini tampaknya relatif banyak warga masyarakat yang belum/tidak bekerja. Mata pencaharian warga masyarakat sebagian besar sebagai petani. Akhirnya keluarga mereka menjadi terlantar. tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Diagnosis Permasalahan Sosial Berdasarkan hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua Kecamatan ditemukenali sejumlah permasalahan sosial yang ada yaitu 14 permasalahan sosial untuk Kecamatan Pandih Batu dan 19 permasalahan sosial untuk Kecamatan Maliku. yaitu terkonsentrasi di tepi sungai dan cabang-cabangnya. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Berdasarkan urutan permasalahan yang paling tinggi frekwensinya yaitu masalah yang terkait dengan kemiskinan – yaitu masalah keluarga fakir miskin. terutama para penduduk asli. Pulang Pisau Dayak dan Banjar maupun penduduk pendatang yang terdiri dari sukubangsa Madura.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Mereka lebih memilih pergi merantau ke Kota Palangkaraya untuk menjadi buruh bangunan atau menjadi penambang emas di Kereng Pangi. Pendidikan warga masyarakat di wilayah ini pada umumnya Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). demikian halnya dengan lahan yang mereka miliki juga menjadi terlantar sehingga membawa akibat pada kerentanan dan kemiskinan. Jawa dan Sunda. dan umumnya didirikan di tepi jalan dibuat sejajar atau mengikuti aliran sungai. Kondisi ini disebabkan karena sebagian warga desa (laki-laki) yang sudah menikah dalam usia muda. Masalah lain yang juga relatif tinggi yaitu masalah rumah tidak layak huni dan wanita rawan sosial-ekonomi serta keluarga rentan. Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. meninggalkan desa dengan alasan mencari nafkah di tempat lain. karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di wilayah ini. dengan atap ada yang menggunakan genteng dan daun kelapa atau rumbia. Keluarga-keluarga yang 30 Puslitbang Kesos . Begitupun dengan pola pemukiman penduduk umumnya relatif sama yaitu mengelompok di tengah lahan wilayah desa. Anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat SLTP dan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA terpaksa harus pergi keluar dari desanya.

Sifat multi-etnik (heterogen) yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat. baik dari segi jumlah dan penguasaan teknologi. Keluarga-keluarga tersebut akhirnya menjadi rentan untuk masuk ke dalam kemiskinan dan bagi ibu-ibu. Anak-anak menjadi berhenti sekolah pada usia wajib belajar 9 tahun dan mereka tidak mendapatkan makanan bergizi. maka mereka akhirnya tidak bisa memperoleh penghasilan. Hal ini berdampak juga terhadap anak-anak mereka yang cenderung menjadi terlantar. Namun karena keterbatasan dari kaum perempuan untuk bisa mengolah lahan. Puslitbang Kesos 31 . tetapi pada sisi yang lain potensial menimbulkan kerawanan konflik sosial. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan tidak dapat secara optimal dikelola dan dimanfaatkan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Lahan tersebut belum tergarap sebagai akibat keterbatasan SDM. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa dengan tidak meratanya distribusi penduduk antar desa di dua Kecamatan. mereka menjadi rawan secara sosial-ekonomi. yang salah satunya disebabkan oleh keterbatasan aksesibilitas antar desa dengan desa lainnya atau antar desa dengan kecamatan. Potensi konflik antara sukubangsa menjadi semakin rawan karena pernah terjadi peristiwa konflik antara sukubangsa Dayak dan Banjar (melayu) dengan sukubangsa Madura sekitar buan Maret tahun 2001. Saat ini hubungan sosial diantara mereka yang pernah terlibat konflik relatif sudah berangsur membaik. walaupun kondisi ini tetap harus diwaspadai melalui kebijakan atau kegiatan-kegiatan yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial antara “penduduk lokal” (Dayak dan Banjar) dengan “penduduk pendatang” yang terdiri dari para transmigran umum maupun swakarsa yang terdiri dari Madura. Karakteristik masyarakat yang bermukim di dua kecamatan ini terdiri dari beragam sukubangsa dan agama. di Desa Pangkoh Sari terdapat lahan tidur seluas 400 ha dan di Desa Talio Muara terdapat lahan tidur seluas 391 ha. Misalnya beberapa desa di Kecamatan Pandih Batu yaitu Desa Pantik terdapat lahan tidur seluas 970 ha. Jawa dan Sunda. karena orang tua tidak mampu memberikan kebutuhan dasar mereka. bahkan fisik. Pulang Pisau ditinggalkan oleh para kepala keluarga terpaksa harus berusaha mencari nafkah sendiri atau ikut dengan orang tua mereka. pada satu sisi merupakan potensi. Kondisi lingkungan turut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. baik karena keterbatasan SDM maupun teknologi yang mereka miliki. karena ibunya (orangtua) tidak mempunyai uang untuk membeli makanan bergizi.

Adanya tanah pertanian yang tidak digarap dan kegagalan upaya masyarakat memanfaatkan lahan tidur merupakan akibat pembangunan infrastruktur 32 Puslitbang Kesos . maka mereka cenderung memanfaatkan infrastruktur fisik yang ada untuk memudahkan mereka pergi mencari nafkah ke luar daerahnya. Keterbatasan sarana-prasarana transportasi menyebabkan harga kebutuhan pokok sehari-hari relatif tinggi. Pembangunan infrastruktur fisik perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur sosial yang baik. Melalui potensi keswadayaan masyarakat itu sendiri di samping strategis juga memiliki nilai pemberdayaan dalam rangka proses memandirikan masyarakat untuk membantu dirinya sendiri. Hal ini terutama menjadi kendala terhadap aksesibilitas antar desa maupun antara desa ke ibukota kecamatan. Sementara alat perhubungan (transportasi) antar desa maupun desa ke kecamatan relatif sulit dan mahal. Tenaga dokter pun hanya satu dengan 15 tenaga medis lainnya (perawat dan bidan). misalnya untuk Kecamatan Pandih Batu tersedia satu unit Puskesmas yang tidak dilengkapi Puskesmas Pembantu di tingkat desa. Tampaknya dengan melihat kondisi yang ada. baik aktivitas sosial maupun ekonomi masih menjadi kendala. Aksesibilitas masyarakat dalam beraktivitas. Tanpa itu. sementara penghasilan rumah tangga relatif rendah. Pulang Pisau Sementara itu bila melihat dukungan masyarakat terhadap program pembangunan seharusnya juga melihat kesiapan mereka dalam hal kemampuan mengelola dan memanfaatkannya. Program dan kegiatan yang dikembangkan melalui pemanfaatan potensi keswadayaan masyarakat (gotong-royong) menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan. yaitu sekolah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Membangun kapasitas salah satunya adalah melalui pendidikan formal. maka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya menjadi tidak optimal. diperlukan banyak program dan kegiatan yang dapat mengakomodasi berbagai keragaman kepentingan. sehingga melalui suatu proses tertentu keragaman karakteristik penduduk dapat saling bersinergi untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera. Masalah keterbatasan juga terjadi pada sarana pelayanan kesehatan. Dengan demikian. sehingga diharapkan akan mendorong partisipasi masyarakat. Kondisi geografis dan alam yang demikian belum dilengkapi dengan sarana-prasarana transportasi yang memadai. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak biasanya terkendala oleh faktor kemiskinan yang menyebabkan anak menjadi putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Mencermati pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan upaya penanganan permasalahan sosial yang ada menunjukkan bahwa sasaran program kurang tepat. Upaya meningkatkan kesejahteraan sosial diperlukan suatu perencanaan sosial yang baik. Dinas Sosial Puslitbang Kesos 33 . baik dari aspek kebijakan. yaitu program bantuan untuk anak terlantar. keluarga miskin atau fakir miskin tidak secara merata memperoleh bantuan Raskin. Apapun alasannya. Dalam hal ini sudah tentu pihak Pemerintah berperan penting untuk memfasilitasi. Askeskin atau pun BLT-BBM. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan alasan bahwa alokasi bantuan kurang sesuai dengan jumlah keluarga miskin atau fakir miskin yang ada. permodalan maupun aspek teknologi tepat guna. maka program bantuan yang ada menjadi kurang efektif. keluarga rentan. regulasi. Penerima Raskin yang seharusnya bisa menikmati beras enak dengan harga murah terpaksa harus menjual berasnya itu ke pasar atau ke tetangga hanya untuk membiayai SPP anaknya yang masih sekolah tetapi tidak memperoleh beasiswa berupa dana Bantuan Khusus Murid (BKM) atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS). walaupun sebagian besar ternak sapi kini sudah mati akibat terkena wabah penyakit. Di Kecamatan Pandih Batu. penyandang cacat akibat penyakit kronis serta program bantuan bagi anaknya. Dinas Sosial dan Dinas terkait lainnya telah melakukan upaya penanganan permasalahan sosial melalui pendataan terhadap rumah tak layak huni. Penyandang permasalahan sosial seperti fakir miskin yang cacat karena penyakit kronis (diabetes) dan memiliki beberapa anak yang tidak terawat karena masalah keterbatasan ekonomi seharusnya memperoleh program bantuan sebagai fakir miskin. Pembinaan dan pelatihan dilakukan pula kepada beberapa jenis penyandang masalah sosial untuk meningkatkan keterampilan (anyaman) dan bantuan lainnya berbentuk bantuan kursi roda bagi penyandang cacat dan bantuan ternak sapi kepada lansia terlantar.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. Seharusnya setiap keluarga miskin/fakir miskin memperoleh beragam program bantuan. Seperti penerima BLTBBM karena tidak memperoleh Askeskin. remaja nakal dan lahan tidur. Perencanaan akan berjalan baik bila dilengkapi dan didasari data yang akurat. maka dana BLT yang diperolehnya dan seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari terpaksa digunakan untuk berobat. wanita rawan sosial. Pulang Pisau sosial-ekonomi belum dilakukan sesuai harapan masyarakat.

34 Puslitbang Kesos . penanganan lahan tidur sudah dilakukan melalui musyawarah desa maupun sosialisasi. Sementara itu. penajaman kriteria menjadi sangat penting. Anak Cacat. Fakir Miskin. Berkaitan dengan penggunaan kriteria untuk menggolongkan jenis penyandang masalah sosial (Anak Terlantar. Permasalahan sosial yang belum ditangani dengan upaya-upaya tertentu adalah masalah rumah tak layak huni. Di samping perbedaan kriteria. tampaknya dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat di dua kecamatan masih terlihat perbedaan dalam menentukan usia anak dan remaja. akan tetapi pelaksanaannya masih terkendala oleh kekurangan modal dan kurang kompaknya warga masyarakat. Anak Yatim/Piatu. khususnya yang berada di Desa Kantan Muara berjumlah sekitar 96 unit dan di Desa Pangkoh Sari bahkan baru dalam proses pendataan.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. termasuk permasalahan sosial bagi penyandang cacat akibat penyakit kronis. Anak Balita Terlantar. Dinas Kesehatan juga membantu memberikan pelayanan kesehatan melalui kegiatan Posling dan Posyandu kepada anak-anak terlantar. Lansia Terlantar. Remaja Nakal. Penyandang Cacat. Pulang Pisau melakukan program bantuan untuk Komunitas Adat Terpencil yang ada di Desa Talio melalui program pemberantasan buta aksara. Demikian pula keluarga rentan yang sampai saat ini masih dalam proses pendataan. Wanita Rawan Sosial. Keluarga Rentan dan sebagainya).

dinding dari seng atau kayu rapuh dengan lantai tanah atau papan (jenis rumah panggung). Kepadatan hunian yang cukup tinggi (rumah ukuran 4 x 4 m dihuni lebih dari 5 orang). Lansia Terlantar Puslitbang Kesos 35 . Pengangguran atau tidak ada pekerjaan/penghasilan sama sekali. 2. bahkan tidak ada sama sekali. dan lain-lain). Usia di atas 61 tahun. Ukuran bangunan rumah relatif kecil. Rumah Tidak Layak Huni 3. Banyak anak/tanggungan yang belum bekerja. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 2. Hidup sendiri atau bersama kerabat/non kerabat. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. 4. Penghasilan kecil dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 5. 5. lantainya masih beralaskan tanah. Tingkat produktifitas KK rendah. Pulang Pisau Tabel 1. 4. Wanita Rawan Sosial 4. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan buruk. 2. baik dengan orangtua/mertua/ kerabatan lainnya. JENIS PMKS Fakir Miskin KRITERIA 1. baik karena alasan ekonomi maupun alasan non-ekonomi. 3. Penghasilan kecil. Penghasilan kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 2. sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. 5. Bangunan rumah tidak dilengkapi fasilitas MCK. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamatan Pandih Batu No. Kondisi rumah / fisik bangunannya tidak layak ditempati (seperti bangunannya bocor. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut. 1. 1. 2. 4. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang. 3. 1. 3. tidak memiliki jendela. ukuran rumah 4 x 4 m dengan anggota keluarga lebih dari 5 orang. Bahan atap dari daun. yaitu antara 4 x 4 m atau 4 x 6 meter dan umumnya tidak memiliki penyekat ruangan. tetapi kurang diperhatikan/perawatan dari sanakkeluarganya. baik dengan orangtua/mertua/ kerabat lainnya. 3.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 1. Status janda ditinggal mati suami atau status belum menikah. Usia antara 16 tahun sampai 60 tahun.

3. kaki pincang. 3. Usia di atas 18 tahun 1. Perilaku mengganggu lingkungan atau membuat resah lingkungan. Mantan penderita penyakit kronis yang dinyatakan secara medis telah sembuh. Kurang perawatan/perhatian orangtua. 2. Keluarga Rentan 7. sehingga menghambat perekonomian/produktivitas pertanian. 4. Usia 5 – 12 tahun dan ada pula yang menetapkan 5 – 18 tahun. 1. Memiliki kelainan fisik dan mental. 1. Adanya kelainan fisik/mental akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir (bisu-tuli. 3.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 4. 3. 2. Anak Cacat 12. 1. Ditinggal orangtua/satu atau kedua orangtua meninggal. Komunitas Adat Terpencil (KAT) 13. Lahan tidur 36 Puslitbang Kesos . Penyandang Cacat Fisik/ Mental 9. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan 1. Lahan ditinggal pemilik tanpa ada yang mengurus. pendidikan dan kesehatan. 2. 2. Keterbelakangan ekonomi. 3. 2. 3. Orangtua tergolong kurang mampu secara ekonomi. Usia nikah sudah 10 tahun dan masih menumpang orangtua/mertua (ada di Desa Gadabung). Keluarga muda yang baru menikah sampai 5 tahun dan kurang serasi (ada di Desa Kantan Muara). Penyandang Cacat Fisik/ Mental akibat Penyakit Kronis Anak Terlantar 11. keterbelakangan mental). Pulang Pisau 5. 2. 3. Kurang pergaulan dan komunikasi 1. 1. Masyarakatnya masih amat terikat dengan sumberdaya alam dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Lahan tidak digarap pemilik lebih dari 15 tahun. 3. khususnya ada di Desa Pantik 1. Berasal dari keluarga tidak mampu. Usia antara 5 tahun sampai 16 tahun. 2. 4. Anak Balita Terlantar Usia 0 – 4 tahun. Kurang gizi dan kondisi sering sakit. Kurang perawatan orangtua karena kurang mampu secara ekonomi. Fungsi jasmani dan sosial terganggu. Usia 5 – 12 tahun. 2. Kurang gizi dan sering sakit-sakitan. 6. Usia 13 – 1 6 tahun. Lokasi kesatuan fisik dan sosial yang terpencil. 10. Remaja Nakal 14. 2. 2. Memiliki kelainan fisik atau mental saja 1. Anak Yatim Piatu 8. Penghasilan kecil dan tidak mencukupi atau paspasan untuk memenuhi kebutuhan seharihari/penghasilan 10% di atas garis kemiskinan. Memiliki cacat fisik/mental akibat penyakitnya itu 1. Kelompok orang/masyarakat yang hidup dalam satu kesatuan fisik dan sosial yang relatif kecil.

14 – 18 tahun. baik barang maupun jasa. ekonomi. Remaja Laki-laki Nakal Remaja Perempuan Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Kekerasan Penyandang Cacat Tuna Susila 13. 8. Keluarga Fakir Miskin 15. tempat tinggal. terganggu dalam aktifitasnya. dirampas hak-haknya (tergantung lokal). Orang yang selesai menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat (stigma sama tetapi perlakuan berbeda terhadap pelaku perampokan dan menabrak orang sampai meninggal karena tidak sengaja). 60 tahun ke atas. pakaian. kebiasaan). fisik tidak normal. Kelompok orang yang tinggal di daerah secara fisik dan mental tertekan oleh proses alam dan sosial. disakiti secara fisik dan mental. dinding dari jabuk (papan lapuk). mental tidak normal. 16 – 60 tahun. 3. 2. 9. Sudah menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar. penghasilan tidak mencukupi. 5 – 13 tahun. Keluarga yang banyak masalah (sosial. perilaku mengganggu dan dipermasalahkan. 14 – 18 tahun. Masyarakat yang Tinggal di daerah Rawan Bencana Pekerja Migran Terlantar 19. dan pendidikan (jumlahnya paling besar). Kelompok orang yang jauh dari keramaian.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. kesehatan. Individu sejak lahir mengalami kelainan fisik dan mental serta karena penyakit kronik. belum menikah/janda tidak terpenuhi kebutuhan dasar baik jasmani ataupun rohani. perilaku mengganggu kebiasaan umum (tetapi tidak masalah karena masih anak-anak. laki-laki/ perempuan). tidak terlalu diperhatikan dan tidak terpenuhi kebutuhan dasar oleh orang tua/keluarga luas. Keluarga Rentan Puslitbang Kesos 37 . pendatang yang mencari kerja di suatu tempat tidak memperoleh yang diharapkan dan menjadi masalah di tempat tersebut. 10. atap bocor. 12. 7. sering begadang. lantai tanah. 5. 11. Mempunyai pekerjaan tapi tidak tetap. transportasi hanya dari sungai. Rumah ukuran kurang dari 4 x 4 m. Kriteria Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kecamata Maliku No. kurang perawatan dari orang tua/keluarga luas (laki-laki / perempuan) 5 – 13 tahun. Merantau. 16 – 60 tahun. Pulang Pisau Tabel 2. Bekas Narapidana 14. 6. termasuk untuk kebutuhan pangan. 16. 18. Keluarga Berumah Tidak Layak Komunitas Adat Terpencil 17. Hubungan sex dengan lawan jenis berulang-ulang tanpa menikah dan tidak mengharapkan imbalan. kebiasaan tidak berbeda dengan orang dari lokasi lain. 1. JENIS PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Nakal KRITERIA 0 – 4 tahun. 0 – 13 tahun. 4.

Sementara untuk saat ini. mengingat bahwa lokasi ini merupakan lokasi transmigrasi. belum diupayakan penanganannya melalui program pemberdayaan secara maksimal dan berkesinambungan. Pulang Pisau Kesimpulan dan Saran Masalah yang menjadi prioritas mendapat perhatian adalah masalah fakir miskin dan keluarga miskin. Kemiskinan ini antara lain juga sebagai dampak dari gagalnya proyek lahan gambut (sejuta hektar lahan gambut). Hambatan tersebut antara lain terkait dengan infrastruktur. berkaitan dengan infrastruktur jalan. Hampir di seluruh desa masalah kemiskinan merupakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh warga masyarakat. Permasalahan lain adalah keterbatasan sarana pendidikan dan transportasi yang dimiliki daerah. Permasalahan lain yang ada. sarana transportasi dan hambatan dalam upaya pengolahan lahan. Hambatan ini menyebabkan relatif banyak lahan (lahan tidur) yang tidak dapat diolah oleh masyarakat (petani). Hal ini tentunya memerlukan komitmen dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama baik antara pemerintah dan masyarakat serta melakukan program pemberdayaan secara berkesinambungan. rumah tidak layak huni serta Wanita Rawan Sosial Ekonomi. yang paling menonjol adalah terkait dengan kemiskinan. sarana transportasi yang utama di wilayah ini adalah sungai. Sementara kondisi ekonomi keluarga menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Program bantuan bagi keluarga miskin yang tidak seluruhnya mendapat bantuan dan yang sifatnya hanya sesaat merupakan program yang klise tetapi terus berlangsung. Masalah kemiskinan yang merupakan masalah terbesar di wilayah ini. Prasarana jalan ini dianggap penting karena dapat memudahkan pemasaran hasil pertanian yang sangat potensial bagi masyarakat setempat. Melihat kondisi permasalahan tersebut. sehingga masyarakat harus menjangkaunya keluar desa atau kecamatan. Demikian pula halnya dengan akses untuk mendapatkan 38 Puslitbang Kesos . transportasi ini relatif mahal khususnya bagi warga masyarakat yang akan menjangkau wilayah lain maupun untuk memasarkan hasil pertanian dan perkebunan mereka (dalam bidang pertanian). Kondisi kemiskinan terkait dengan keterbatasan atau hambatanhambatan yang dihadapi oleh masyarakat setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab.

Mengingat lahan di wilayah ini dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman jika saja ada kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga masyarakat. karena mereka merasa sebagai orang perantauan (transmigran). sumberdaya yang masih dimiliki adalah adanya rasa kebersamaan di antara warga masyarakat. guna membangun wilayah ini secara ber-kesinambungan. Prasarana jalan dan saluran irigasi 2. Puslitbang Kesos 39 . Pulang Pisau pelayanan kesehatan. Berdasarkan kesimpulan tersebut. Dengan kata lain. Sumberdaya alam yang potensial berupa lahan yang luas dan sumberdaya sosial yang dimiliki warga masyarakat (keterampilan dalam bidang pertanian dan beternak serta masih adanya rasa kebersamaan/tolong menolong) bisa merupakan modal utama dalam membangun masyarakat setempat. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar Dinas-Dinas Provinsi maupun Kabupaten. dalam upaya mengatasi kemiskinan yang dihadapi. Perumahan dan Permukiman membangun prasarana jalan. Peningkatan kesejahteraan ini tampaknya tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat namun masih diperlukan peran Pemerintah Daerah setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. meskipun memiliki keterbatasan modal usaha namun masyarakat masih memiliki modal sosial berupa rasa kebersamaan atau tolong menolong dan semangat membangun atau mengembangkan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Kerjasama dalam bentuk tolong menolong atau gotong royong serta semangat untuk mengolah lahan secara maksimal merupakan pranata yang dapat dijadikan sumberdaya sosial dari warga masyarakat di wilayah ini untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. bisa menjadi sumberdaya alam yang potensial jika diolah dengan baik. saluran irigasi dan penyediaan perumahan sosial bagi warga masyarakat miskin. Keterbatasan dalam hal penyediaan sarana pengolah lahan dan bibit tanaman merupakan salah satu hambatan dimana lahan yang luas akhirnya hanya menjadi lahan tidur. diajukan saran-saran sebagai berikut: 1. Lahan kosong yang dimiliki oleh sebagian warga. merupakan masalah lain yang dihadapi oleh warga masyarakat karena sarana kesehatan (Puskesmas) hanya ada di Kecamatan dan Rumah Sakit Umum di provinsi. Dinas Teknis seperti Pekerjaan Umum. Sementara pada sisi lain.

Direktorat Pemberdayaan Keluarga. tidak sebagian-sebagian dan sesaat saja. Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sangat diperlukan untuk meluncurkan program mereka ke wilayah ini. Misalnya program Puslitbang Kesos 4. mengingat lahan yang digarap di wilayah ini berbeda dengan lahan di Jawa. Direktorat Lanjut Usia. Selain itu. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. sehingga pemberdayaan dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat desa. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Anak. Anak Terlantar. Dinas Koperasi dan UKM diperlukan sebagai lembaga yang dapat memfasilitasi kredit usaha kecil bagi para petani khususnya terkait dengan keterbatasan modal usaha mereka dalam mengolah lahan pertanian atau mengembangkan usaha peternakan mereka. Berkaitan dengan hal tersebut maka Dinas Pertanian. Kehutanan. Masyarakat desa memiliki kemampuan yang potensial dalam hal pertanian dan peternakan. Penyandang Cacat (termasuk Anak Cacat). Hal ini sangat diperlukan mengingat hasil diagnosis permasalahan sosial di wilayah ini menunjukkan permasalahan sosial yang menonjol adalah masalah Kemiskinan (keluarga fakir miskin). perlu meningkatkan kesejahteraan melalui program perlindungan dan asuransi sosial bagi keluarga miskin. Rumah tidak Layak Huni. Mereka siap untuk memanfaatkan sumberdaya alam (lahan) yang ada namun mereka sangat memerlukan stimulan berupa peralatan pengolah lahan dan penyediaan bibit padi. 6. Keluarga Rentan. 3. Dinas Kesehatan diperlukan berkaitan dengan penyediaan air bersih. dapat berperan melakukan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat secara bersama-sama dan berkesinambungan. 5. palawija serta karet. dan Lanjut Usia Terlantar. Hal ini seharusnya didukung dengan program pemberdayaan masyarakat di wilayah ini. Perkebunan. Dinas Sosial melalui Direktorat Fakir Miskin. Pulang Pisau sangat penting dan diperlukan oleh wilayah ini untuk membangun ekonomi masyarakat. Program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa diperlukan secara bersama-sama dan berkesinambungan. Peternakan. perlu dilakukan sosialisasi pengolahan tanah yang berkesinambungan di tingkat daerah. Demikian pula halnya dengan Dinas Sosial.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. 40 . dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat.

Pusaka Lima.R. Pulang Pisau dalam Angka tahun 2005. Kerjasama BPS dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pulang Pisau. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau. Palangkaraya. Jakarta. Pulang Pisau 7. 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kab. dianggap sangat penting. maka orientasi masa depan anak-anak akan cenderung memilih pergi ke kota. Puslitbang Kesos 41 . 1985 Peranan Kebudayaan Tradisional di Indonesia dalam Modernisasi. Dove. Riwut. Bantuan ini tidak berhenti sesaat. pemberdayaan keluarga miskin tidak disarankan untuk memberikan bantuan tunai berupa uang namun diberikan dalam bentuk barang seperti traktor. baik bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan bantuan beasiswa sekolah (BOS) serta asuransi kesehatan bagi keluarga yang bersangkutan maupun jaminan sosial bagi keluarga tersebut. (ed). Yayasan Obor Indonesia. 2003 Maneser Panatau Tatu Hiang. Bukan pengetahuan perkotaan atau pengetahuan tingkat nasional yang diberikan. Bila yang terjadi hal demikian. Sosialisasi pendidikan kedaerahan bagi anak-anak di tingkat desa. Tjilik. tetapi harus lebih bersifat kesinambungan. Merantau menjadi pilihan pemuda karena mereka tidak lagi mempunyai pengetahuan kedaerahan. karena anak-anak perlu banyak diberi pengetahuan tentang daerahnya untuk membangun desa mereka. dimana alat tersebut dapat dikelola secara bersamasama oleh seluruh warga masyarakat. Program bantuan atau pemberdayaan bagi keluarga miskin sebaiknya diberikan untuk seluruh keluarga yang bersangkutan. DAFTAR PUSTAKA BPS. M. 2006.

.

Si 2 ABSTRAK Pemerintah daerah pada umumnya lebih mengutamakan pembangunan fisik dan ekonomi di wilayahnya daripada pembangunan kesejahteraan sosial. pranata pendidikan. Potensi dan Sumber Daya. pranata kesehatan. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 43 . Kasub Bid. Rondang Siahaan.PETA MASALAH SOSIAL DI BONE: POTENSI. Drs. bahwa di wilayah lokasi penelitian telah memiliki potensi sumber kessos berupa. DR Bambang Rudito. utamanya bagi warga masyarakat menengah-bawah. Drs.Sutaat. Bambang Pudjianto. S. Endang Kironosasi. Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. sosial. penting untuk menangani permasalahan-permasalahan tersebut. Analisis Kebutuhan Bidang Program Puslitbang Kesos dan Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. Sekretariat: Dini Khairunnisa. pertalian-pertalian sosial yang ada di tingkat lokal tidak secara langsung mampu memberikan manfaat ekonomis (tingkat kesejahteraan yang lebih baik).Kom Bambang Pudjianto. yaitu agar digunakan strategi yang berprinsip pada partisipasi masyarakat dengan bersinergi pada peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber lokal. dan peta wilayah Hasil penelitian dapat diketahui. dan kultural yang dimilikinya. Karena itu. Akibatnya. pranata sosial. Anggota: Dra. Bambang Pudjianto. M. M. pedoman FGD. Indah Huruswati. penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa jenis permasalahan sosial yang bermuara pada masalah kemiskinan. pada praktiknya jaringan sosial tidaklah begitu saja menciptakan modal fisik dan modal finansial. Dalam konteks penelitian ini banyak warga masyarakat yang memiliki pertalian-pertalian sosial yang kuat. serta pranata jaringan kerja. Dra.Si. Masalah Sosial 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota Tim : Konsultan Drs. Ketua Tim : Drs. Namun dengan berbagai potansi ekonomi. dan alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam. Suyanto.Si. namun sulit untuk mengakses peluang dan sumber daya melalui jaringan-jaringan yang ada (mainstream). Di sisi lain. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah yang baru dimekarkan adalah masalah infrastruktur dan pembangunan ekonomi. PROBLEM DAN STRATEGI PENANGANANNYA1 Drs. M. Namun kedua hal tersebut sangat terkait dengan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Kata kunci: Pranata Sosial. M.

Dua Boccoe. kelapa. Pada masa itu. Salomekko. kakao.2 persen penduduk Bone berusia 15 tahun ke atas bekerja dan hidup dari sektor pertanian. kacang tanah dan kedelai juga berlimpah. Bahkan tahun 2002 produksi kacang tanah (13. ubi kayu.760 ton) merupakan produksi tertinggi di Sulsel. atau lihat Bone dalam Angka tahun 2003/2004.5 Hasil yang menonjol dari perkebunan adalah tebu. Tonra. Hampir setiap kecamatan menjadi penghasil padi. menurut estimasi Dinas Pertanian Kabupaten Bone. Ajangale. Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. handal dan produktif.Peta Masalah Sosial di Bone Pendahuluan Potret Kesejahteraan di Tengah Kelimpahan Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Sentra penghasil padi berada di Kecamatan Kahu. Barebbo. Bengo.000 ton. Tanah yang digarap para petani tidak hanya menghasilkan padi. terutama padi. WWW. melainkan juga di kawasan timur Indonesia. Produksi jagung. Data sensus penduduk tahun 2003 menunjukkan bahwa 72. Sibulue. Tahun 2002 Bone menghasilkan 517. Etos kerja yang tinggi dan sistem pertanian yang baik membuat Bone di kenal sebagai lumbung padi. kemiri. pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroeri Bontoala. melainkan juga petani yang ulet.906 ton) dan kedelai (8. sebesar 97. meningkat mendekati 560.4 persen adalah warga suku Bugis. Bahkan bukan hanya di Sulawesi Selatan.159 hektar perkebunan rakyat ikut memperkuat peran sektor pertanian.id Lihat “Kabupaten Bone dalam Angka tahun 2003” diterbitkan BPS Kabupaten Bone Tahun 2004. Kerajaan Bone yang didirikan oleh Manurung Rimatajang pada tahun 1330.Bone.3 Cermin kemasyhuran warga Bone dan suku Bugis khususnya dibidang pertanian masih terlihat sampai sekarang. 1989:9). dan cengkeh.4 Produksi tanaman bahan makanan.535 ton padi. Produksi 84. pertengahan abad ke-17 (Abddurazak dkk. Sedangkan tahun 2003. jambu mete. 44 Puslitbang Kesos . kacang hijau. Awangpone. Dari jumlah itu. masyarakat Bone yang didominasi oleh suku Bugis tersohor bukan hanya sebagai pelaut dan pedagang yang tangguh.go. 3 4 5 lihat profil Bone yang dirilis dalam situs resmi Kabupaten Bone. 2006. dan Cina. selalu surplus.

Tanaman bahan makanan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah.7% (yang seharusnya di atas 80-90%). dan 43. Tahun 2002 nilainya mencapai Rp 2. 22/10/2002. Akibatnya taraf hidup masyarakat Bone terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan berproduksi yang mereka miliki.3 persen.8 6 7 8 Laporan Litbang Kompas.052 ha lahan perkebunan.7 dan 66.1%. Yang merupakan 65 persen total kegiatan daerah. Angka itu lebih kecil dibanding tahun 1999 dan 2000 yang mencapai 67.atau lihat juga Laporan BPS-Bappenas-UNDP tentang “The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia” tahun 2004 Ibid. Data BPS tahun 2002 menyebutkan. dari 4.449 ha merupakan lahan persawahan. dimana wanita bekerja yang berpendapatan hanya 28. mencapai 27%.524 ha lahan tegalan/ladang. Ibid Puslitbang Kesos 45 . 88. dalam mata rantai perdagangan hasil pertanian. Rendahnya taraf hidup masyarakat Bone terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh BPS-UNDP pada tahun 2004. Partispasi jender dalam ekonomi juga masih sangat terbatas. Sementara itu life expectation juga rendah. Dominannya sektor pertanian di Bone juga tercermin dari luas wilayah Kabupaten Bone yang sebagian besar merupakan lahan persawahan dan tegalan. dibawah 65 tahun.2 trilyun.7 Meskipun Bone menjadi daerah sentra penghasil bahan makanan.Peta Masalah Sosial di Bone Tebu merupakan bahan baku gula Pabrik Gula Bone dan Pabrik Gula Camming di Kabupaten Bone.148 ha lahan untuk tambak/empang dan 145. 120.559 km persegi luas Kabupaten Bone. Survey ini menyimpulkan bahwa Human Development Index (HDI) warga Bone tergolong rendah. Tidak sulit untuk mendapatkan petani Bone yang terlilit hutang para tengkulak.073 ha merupakan hutan. dengan balita penderita gizi buruk yang cukup tinggi.6 Pertanian telah menjadi tiang utama kegiatan ekonomi Bone. para petani yang notabene menjadi aktor utama produksi dan merupakan mayoritas penduduk Bone justru tidak bisa menikmati keuntungan yang memadai. Yakni ditunjukkan dengan angka partisipasi bidang pendidikan yaitu hanya 60. Segelintir spekulan dan tengkulak yang menguasai jalur perdagangan yang justru selama ini meraup untung besar. ‘Hanya’ 11.

Hal ini ditunjang oleh letak geografisnya. Karena itu. yaitu dari 27 kecamatan di kabupaten Bone. Ini jelas potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. mengingat posisi Bone sebagai sentra penghasil padi di Sulsel. sektor perikanan telah menyumbang 9. yaitu sebuah potret buram (kemiskinan) di tengah kelimpahan. kasus pada sektor pertanian tidak mustahil berulang pada sektor perikanan dan sektor perekonomian lainnya. 46 Puslitbang Kesos . dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 16. 10 di antaranya memiliki garis pantai sepanjang 127 kilometer.2 persen pendapatan daerah. bagaimanakah gambaran tentang potensi dan sumberdaya sosial. Pada tahun 1997 misalnya. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gejala yang muncul akibat fakta sosial yang dijelaskan di atas. selain unggul di sektor pertanian.7 persen. Artinya. Lebih memprihatinkan lagi karena Bone sejak tahun 2000-an. maka meletusnya berbagai permasalahan sosial hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun sebaliknya. jangan terkaget jika tanpa upaya dan strategi yang tepat dalam mengatasinya. jika tidak dimanage secara benar. ekonomi dan alam di Kabupaten Bone memberi solusi atas permasalahan penyandang masalah sosial yang timbul akibat timpangnya strategi pembangunan dengan penguatan sumber daya lokal selama ini.Peta Masalah Sosial di Bone Data-data tersebut di atas jelas sangat memprihatinkan (terlebih pada kasus bayi penderita gizi buruk). kontribusi sektor perikanan juga tak kalah produktifnya.

(5) ketimpangan laju ekonomi antar sektor. (6) ketimpangan antara ekonomi perkotaan dan pedesaan. Kabupaten Bone Kerangka Fikir Kelemahan mendasar dari pembenahan struktur perekonomian kita di tengah masa krisis (baik regional dan nasional) dinilai oleh banyak kalangan adalah karena diabaikannya variabel kondisi sosial-ekonomi sebagai bagian dari penyebab krisis. bertambahnya keluarga miskin yang diikuti kemudian dengan meningkatnya kuantitas dan kompleksitas permasalahan sosial besar kemungkinan adalah akibat dari ketidakselarasan antara strategi pembangunan kesejahteraan dengan strategi pembangunan ekonomi dalam 9 Ketimpangan pembangunan masa Orde Baru terjadi dalam bentuk-bentuk: (1) ketimpangan antar golongan ekonomi masyarakat. Diantaranya untuk konteks penelitian ini terlihat pada masalah ketimpangan pembangunan SDM khususnya masyarakat lapisan paling bawah. Puslitbang Kesos 47 . (3) ketimpangan antar wilayah. Lihat Adrinof A.9 Artinya. Chaniago. (2) ketimpangan antara kelompok pengusaha besar-kecil. (4) ketimpangan antar subwilayah di daerah yang pertumbuhan ekonominya tinggi.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 1 : Peta Kota Watampone. 2001:309. dan (7) ketimpangan pembangunan diri manusia Indonesia di lapisan masyarakat bawah.

Akibatnya pengangguran semakin bertambah cepat. Untuk ukuran tertentu. 2005:23). dan usia tingkat harapan hidup semakin panjang. 48 Puslitbang Kesos . 10 Fungsi intervensi sosial. ditujukan untuk pemeliharaan dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengembangan potensi dirinya. bahwasanya masalah kemiskinan dan rawan sosial-ekonomi adalah karena lemahnya ketahanan ekonomi dan ketahanan sosial masyarakat (modal sosial) golongan menengah-bawah dalam menghadapi guncangan besar arus krisis (Adrinof A. yaitu: (1) prevensi ditujukan untuk mencegah timbul dan meluasnya permaslahan kesejahteraan sosial dalam kehidupan masyarakat. Pasalnya ketika arus krisis mendera pelbagai wilayah di Indonesia (1998. 2001:316). menurunnya jumlah angka orang buta huruf. Bahkan komuniti-komuniti yang pada awalnya telah atau hampir “terkubur” di era Orde Baru. (2) rehabilitasi. menurunnya kadar asupan gizi dan tingkat kesehatan (cacat). hampir semua golongan lapisan bawah dipastikan tidak mampu “bertahan” di masa krisis tersebut. program-program intervensionis10 dari pemerintah terhadap masyarakat kelas bawah diakui menunjukkan kemajuan dalam beberapa indikator keberhasilan di bidang kesejahteraan. ancaman eksploitasi seksual komersiil. dan seterusnya Terpaan krisis ekonomi dan dilanjutkan dengan perubahan orientasi sosial-politik pembangunan nasional melalui bergulirnya masa transisi yang disebut “era reformasi” tak pelak juga telah memunculkan kembali apresiasi masyarakat lokal yang (tak lain adalah kelompok masyarakat lapisan menengah-bawah) terbagi-bagi dalam wilayah kesukubangsaan berusaha menciptakan akses terhadap sumber daya yang ada di wilayah kesukubangsaannya. perdagangan obat-obatan terlarang. Akan tetapi tingkat kesejahteraan tersebut di sisi lain tidak serta merta dapat menjamin kemampuan dan kualitas hidup mereka secara lebih baik. Dengan bahasa lain. ditujukan untuk memfungsikan kembali dan memantapkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. jumlah keluarga fakir miskin meningkat.Peta Masalah Sosial di Bone praktik. rebaknya anak jalanan dan terlantar. (3) pengembangan.sekarang). Lihat Bambang Rudito dkk.Chaniago. angka kematian bayi semakin dapat ditekan. tidak terkecuali masyarakat di wilayah kajian ini. 2005: 36. mereka berusaha sekuat tenaga membangun kembali sisa-sisa warisan kejayaan masa lalu dari sukubangsanya demi untuk turut bagian dalam sistem pencaharian ekonomi di era ini (Rudito. misalnya dengan penjelasan angka pendapatan perkapita penduduk yang terus mengalami kenaikan.

atau dalam bahasa lain sumber daya perekonomian di wilayahnya. Berhadapan dengan kondisi faktual tersebut. sistem kehidupan lokal. kecamatan atau kabupaten yang umumnya para staf pemerintah tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengelola aset desa/kecamatan dan dana pendapatan desa/kecamatan dengan baik. serta terus mengupayakan perbaikan kualitas SDM lapisan menengah-bawah. maka sepatutya dicarikan alternatif langkah-langkah dan strategi penanganan yang tidak sepenuhnya menggantungkan pada anggaran pemerintah.Peta Masalah Sosial di Bone Karena itu kini hendaknya pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan perlu memperhatikan secara serius variabel pelapisan masyarakat baik secara sosial-ekonomi dan antar wilayah. kita akan mengulang kembali kesalahan model pembangunan masa lalu yang pada akhirnya akan melahirkan tipe-tipe ketimpangan ekonomi. kecenderungan untuk menolak transparansi dan partisipasi sangat besar. Oleh karenanya. Salah satu kekhwatiran yang mengancam adalah kegagalan mengangkat kualitas hidup penduduk yang mayoritas bekerja di sektor tradisional (seperti pertanian dan peternakan). Praktiknya. Padahal dengan penganggaran keuangan daerah secara partisipatif memungkinkan penanganan pelbagai masalah sosial dan pembangunan daerah dapat lebih terarah. sosial dan politik “versi terbaru”. Puslitbang Kesos 49 . surat edaran menteri ini masih semata bersifat “himbauan” yang jarang (sulit) implementasinya dilakukan di lapangan secara tuntas. 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (Rakorbang Partisipatif). golongan. Namun. sekalipun desa tidak memilik aset yang cukup untuk melakukan pembangunan. memperkecil ketimpangan ekonomi antar sektor. Yakni menjadikan sumber ekonomi sektor tradisional sebagai kekuatan potensial yang dapat meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial mereka secara proporsional. Jika tidak. obyektif dan lebih berdaya-guna maksimal bagi kebutuhan riil warga masyarakatnya. Dalam lintasan sejarahnya. Karena itu penting memper-timbangkan konteks representasi identitas. serta pemerataan pembangunan di setiap kewilayahan. Misalnya dengan melakukan participatory budgeting forum sebagaimana diamanatkan dalam SE Mendagri No. suku-bangsa di Bone terkenal gigih dalam menjaga wilayah teritorialnya. lagi-lagi pedekatan seperti ini terbentur oleh masalah internal pemerintah desa.

Tanete Riattang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. dalam http://www.php 50 Puslitbang Kesos .Peta Masalah Sosial di Bone Potensi dan Masalah Tanete Riattang : Sebuah Analisa Sosial Di bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Bone. dan Walennae sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. diversifikasi mata pencaharian penduduk terjadi dalam porsi yang relatif berimbang. Akibatnya. Secara geografis.id/pariwisata. Dengan lahan yang subur. Kelurahan-kelurahan tersebut merupakan kelurahan di wilayah pinggiran kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk relatif rendah. posisi kecamatan yang tepat berada di tengah Kabupaten Bone memberikan keuntungan berupa infrastruktur pemerintahan dan layanan publik yang relatif lebih baik jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya.bone. Kelurahan Manurungge dan Watampone yang dapat dibilang sebagai ‘epicentrum’ Kabupaten Bone merupakan bagian sentral dari perekonomian Tanete Riattang khususnya. tiga diantaranya yakni Kelurahan Pappolo. berbagai peninggalan dan artefak budaya Kerajaan Bone dan sebuah museum penting yang menyimpan warisan budaya kebesaran Kerajaan Bone dahulu kala. Kekayaan warisan kultural seperti rumah adat Bugis (Bola Somba) di Kelurahan Watampone. secara demografis. pertanian 11 Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone. dan Bone umumnya. Dari sejumlah kelurahan di kecamatan ini. Tak berlebihan kiranya. Sigeri dan makam raja-raja Bone di kelurahan Bukaka juga dapat menjadi objek pariwisata potensial. kecamatan Tanete Riattang memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak mengherankan jika di kecamatan ini pula terdapat cagar budaya berupa makan raja-raja bone. Posisi geografis Tanete Riattang yang sangat dekat dengan pusat pemerintahan juga membuat kecamatan ini menjadi tujuan bagi warga Bone di wilayah pinggiran untuk mengadu peruntungan. jika kecamatan ini disebut sebagai ‘pewaris sah’ kebudayaan Kerajaan Bone pada abad pertengahan. Tanete Riattang juga menempati posisi istimewa di Bone. Ta’. karena pusat Kerajaan Bone pada masa silam terletak di kecamatan ini.11 Hanya di Tanete Riattang.go. Posisi geografis yang strategis dan warisan kultural yang kaya membuat Tanete Riattang menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar untuk didayagunakan menjadi keunggulan wilayah. Secara historis-kultural. Museum Saoraja Lapawawoi Kr.

2005. 12 13 14 15 Potensi Desa Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. 2005. 20 dokter. yakni. arisan keluarga (17 buah). 78 perawat. jasa dan industri. 2006. PKK (28 buah). atau lihat Bone dalam Angka tahun 2004/2005. pranata keturunan dan kekerabatan yang kuat. di tiga kelurahan yakni Watampone. berbeda halnya dengan Watampone yang lebih mengandalkan sektor jasa (administrasi) dan pariwisata. Tidak terdapat rumah saki di Tanete Riattang. Karena penanganan yang setengah-setengah hanya akan membuat permasalahan sosial yang muncul semakin banyak dan bukan tidak mungkin menjadi semakin kompleks. Selain sektor pertanian. Bukaka dan Manurungge. serta pranata hubungan dan jaringan kerja yang baik dan mapan. namun berbagai persoalan yang ada tetap membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. Namun dengan berbagai potensi ekonomi. Terdapat 74 lembaga pendidikan di Tanete Riattang dengan perincian. TPA/TK 25 buah. karang taruna (6 buah). Beberapa pranata yang telah tersedia di Tanete Riattang antara lain. Beberapa jenis hewan ternak yang menjadi favorit untuk dikembangkan di wilayah ini adalah antara lain ayam buras. BPS Kabupaten Bone. Sebagai wilayah yang tergolong ‘perkotaan’. LPM/BPD (8 buah) dan jimpitan (11 buah). namun jarak dengan RS kabupaten sangat dekat. Terdapat 2 puskesmas dan 24 posyandu. 2005. 16 bidan dan 8 dukun/ pengobat tradisional. pranata pendidikan13. pranata kesehatan15. siskamling (28 buah). Sementara itu. Kecamatan Tanete Riattang memiliki berbagai pranata yang dapat digunakan sebagai modal bagi peningkatan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat. sosial dan cultural yang dimilikinya. Puslitbang Kesos 51 .12 Dengan berbagai potensi ekonomi tersebut.Peta Masalah Sosial di Bone di tiga wilayah kelurahan ini berkembang dengan baik. sektor pertanian bukanlah mata pencaharian utama penduduknya. Kecamatan Tanete Riattang yang tergolong wilayah ‘perkotaan’ juga tak lepas dari berbagai permasalahan sosial. Kelurahan Bukaka dan Manurungge bergerak pada perekonomian sektor industri. lihat BPS Kabupaten Bone. Terdapat 6 jenis pranata sosial. dasawisma (39 buah). pranata sosial14. Walaupun tidak sangat kompleks. SMP/MTs 7 buah dan Perguruan Tinggi 4 buah. sapi dan kambing. SD/ MI 34 buah. Kecamatan Tanete Riattang juga menyimpan potensi-potensi sosial strategis lainnya. BPS Kabupaten Bone. saat ini Kecamatan Tanete Riattang juga tengah mengembangkan sektor peternakan sebagai bagian dari keunggulan wilayah.

Peta Masalah Sosial di Bone Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 12 jenis permasalahan sosial yang terjadi di Tanete Riattang. Celakanya. Berbagai jenis masalah sosial tersebut di atas merupakan bentuk ancaman secara ekonomi.6% (512 kasus) masalah wanita rawan sosial ekonomi. membuat pemerintah daerah tidak dapat secara leluasa dan cepat menyelesaikan masalah sosial tersebut. keluarga fakir miskin. rumah tidak layak huni. 52 Puslitbang Kesos . sampai keluarga bermasalah psikologi. anak nakal.9% terbagi relatif rata dalam 9 masalah sosial lainnya. Dari sejumlah jenis permasalahan tersebut. dan 7. penyandang cacat. yaitu dengan perincian 49. 33. sejak dari masalah anak terlantar. cacat bekas penyakit kronis. napza. wanita rawan sosial ekonomi. sosial dan politik bagi proses pembangunan kesejahteraan sosial di Tanete Riattang. lanjut usia terlantar. eks napi. terindikasi 80. ancaman ini secara faktual menjadi lebih besar akibat terbatasnya anggaran belanja daerah bagi upaya penanganan dan penyelesaian pelbagai jenis PMKS tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan. Dari 1520 kasus. Selebihnya. Terlebih dana stimulan bantuan sosial yang diharapkan menjadi bagian dari jawaban persoalan. anak cacat. masalah sosial yang berlatar belakang ekonomi menunjukkan gejala paling dominan.3% (111 kasus) masalah rumah tidak layak huni.1% diantaranya merupakan masalah sosial berlatar belakang ekonomi.2% (748 kasus) masalah keluarga fakir miskin. sebesar 19. selama ini masih sangat tergantung pada alokasi dana dari pusat dan provinsi.

Peta Kecamatan Tanete Riattang. 16 16 Lebih lanjut tentang penelitian kualitatif lihat Matthew B Miles & A.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 2. Puslitbang Kesos 53 . “Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru” Jakarta : UI Press. Michael Huberman. Yakni simbol-simbol penyampaian dan penetapan suatu gejala sosial sebagai kenyataan yang ada di sekeliling masyarakat dan yang dialami oleh anggota masyarakat. 1992. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran/peta mengenai jenis. Deskriptif yang dimaksud adalah mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. Kabupaten Bone Metode Penelitian Jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. kriteria dan lokasi penyandang masalah sosial serta potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara kualitatif di Kabupaten Bone.

Alternatif Strategi Penanganan Masalah Sosial di Tanete Riattang Masalah pokok dari berbagai jenis permasalahan sosial di Tanete Riattang sebagaimana nampak dalam data di atas adalah persoalan kemiskinan. Pendekatan kualitatif yang dimaksudkan disini adalah untuk melakukan pemetaan sosial. Seperti pernah diungkap banyak kajian bahwa menyelesaikan persoalan kemiskinan tergolong sebagai agenda yang berat dan rumit. penerapan strategi 54 Puslitbang Kesos . yaitu dengan melakukan pendekatan yang sifatnya kualitatif. Data yang berhasil dikumpulkan diolah secara kualitatif. Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara mendalam (indepth interview). Selanjutnya dibentuk matrik pemetaan sosial yang menggambarkan permasalahan sosial dan potensi kesejahteraan. pedoman FGD dan peta wilayah. Oleh karenanya. Sulawesi Selatan. Sementara sumber data sekunder mencakup literatur. kelompok. baik cetak maupun elektronik yang mendukung tujuan penelitian. meskipun bukan berarti tak teratasi. yaitu kategori perorangan atau individu. dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial di Kabupaten Bone. lembaga/institusi yang berkompeten yang hidup dan berkembang di daerah tersebut. Sumber data terbagi dalam bentuk sumber data primer. jenis pekerjaan yang ada. baik dilihat dari jenis kelamin. kriteria penduduk penyandang masalah sosial. Penelitian ini pada dasarnya mempunyai tujuan memetakan masalah sosial yang ada dan muncul di masyarakat dan ditanggapi oleh masyarakat itu sendiri sebagai suatu masalah. karena masalah sosial adalah masalah perasaan. penilaian berdasar pada norma dan aturan yang menjadi acuan bagi komuniti yang mengalaminya. Kriteria populasi dalam penelitian ini didasarkan pada penduduk yang menetap di daerah ini. pemetaan terhadap pranatapranata sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan menjadikannya suatu aktivitas rutin serta berkesinambungan dilaksanakan oleh masyarakat lokal. lokasi. Untuk mendeteksi masalah sosial diperlukan suatu pendekatan dan metodologi guna memahami dan memetakan masalah sosial yang terjadi. lalu ditampilkan dalam bentuk tabel.Peta Masalah Sosial di Bone Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bone Kecamatan Tanete Riantang.

korupsi juga menjadi tereliminasi yang membuat tingkat kebocoran anggaran untuk rakyat menjadi kecil. Melalui GB. transparansi dan partisipasi dalam penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah. struktur sosial dan birokrasi yang menindas. Di Porto Alegre. lebih dari 8000 keluarga yang menjadi nasabah GB terangkat taraf 17 Lihat. Hasilnya. berkeyakinan kemiskinan akut yang terjadi di Banglades khususnya daerahdaerah pedesaan akan dapat diatasi jika dapat dilakukan dua hal.17 Strategi yang diterapkan Grameen Bank (GB) lain lagi. pertama. warga juga mempunyai hak untuk turut menentukan alokasi anggaran daerah tersebut. “Participatory Budgeting in Porto Alegre : Toward a Redistributive Democracy” Sage Publication. sebagai pendiri GB dan juga peraih nobel perdamaian 2006. memberikan pinjaman modal bagi kaum papa secara mudah dan tanpa agunan. Bukan hanya itu. sejak dari persoalan ketertutupan akses modal. setiap warga kota mempunyai hak untuk tahu berapa dan untuk apa anggaran daerah dialokasikan. pelajaran dari Porto Alegre di Brazil dan Grameen Bank di Banglades dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk dijadikan inspirasi. tanpa bermaksud melakukan simplifikasi. Hasilnya. Banyak analisa yang menyatakan bahwa kemiskinan dipengaruhi banyak faktor. 1998 Puslitbang Kesos 55 . Muhamad Yunus. pendidikan sampai budaya. Yunus melakukan dua hal tersebut. dalam kasus Tanete Riattang. penanganan terhadap masalah ini juga membutuhkan berbagai pendekatan. kaum perempuan diberdayakan sebagai penggerak roda perekonomian mikro. Boaventura de Sousa Santos. Kedua.Peta Masalah Sosial di Bone yang jitu yang didasarkan atas bacaan yang tepat dan akurat atas data dan realita mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. akses terhadap modal bagi rakyat miskin dipermudah. Kisah sukses beberapa negara atau komunitas dalam mengentaskan kemiskinan patut untuk ditelaah sebagai pelajaran dan sumber inspirasi. angka kemiskinan di Porto Alegre menurun drastis karena agenda-agenda utama yang menjadi kepentingan publik seperti pengentasan kemiskinan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. dan sasaran pemberian pinjaman itu difokuskan kepada kaum perempuan. Namun demikian. Selain itu. Dan karenanya. Strategi penanganan kemiskinan di Porto Alegre didasarkan atas dua strategi. melalui mekanisme local budgeting forum.

Pertanyaannya. ide untuk membuat semacam participatory atau local budgeting forum di tingkat kabupaten ataupun kecamatan mempunyai pijakan hukumnya.Peta Masalah Sosial di Bone perekonomiannya yang berdampak pada naiknya taraf pendidikan dan kesehatannya. penerapan strategi pengentasan kemiskinan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat dilakukan. Kedua. Berdasarkan UU ini.grameen-info. efisiensi dan tata kelola pemerintahan yang baik.18 Dua kasus tersebut. Instrumen ini penting bagi pelaksanaan strategi-strategi tersebut di atas. faktanya dari data penyandang masalah sosial tersebut terdahulu. Oleh sebab itu. dan berdayakan perempuan sebagai leading sector penggerak ekonomi rumah tangga. pertahanan keamanan. diluar lima hal. daerah (kabupaten/kota) mempunyai kewenangan dan otonomi penuh untuk mengembangkan kreatifitas membangun daerahnya. mengajarkan kita setidaknya terdapat empat strategi yang dapat digunakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Tanete Riattang. permudah akses modal bagi rakyat miskin. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor 050/987 Tahun 2003 yang menawarkan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif (rakorbang partisipatif) membuka peluang bagi terjadinya participatory budgeting. Dengan berbagai argumentasi tersebut. yakni melalui transparansi anggaran daerah. akan menjadi roda penggerak ekonomi keluarga yang sangat efektif. iklim demokratisasi telah membuka kesadaran masyarakat kita akan pentingnya transparansi. mungkinkah hal itu dilakukan? Menurut bacaan saya sangat mungkin! Pertama. Keempat. dengan disahkannya UU Nomor 32 Tahun 2002 memberikan peluang bagi setiap kabupaten/kota melakukan inovasi dan inisiasi dalam pembangunan wilayahnya masing-masing. partisipasi (melibatkan masyarakat) dalam penyusunan alokasi anggaran. Padahal jika diberdayakan. efektivitas. Dengan SE ini. fiskal dan agama.org 56 Puslitbang Kesos . Demokratisasi juga membuat organisasi-organisasi sosial masyarakat sebagai bagian dari civil society tumbuh subur. masalahnya bukan lagi seberapa mungkin strategi itu dapat 18 Lihat situs resmi Grameen Bank : www. hubungan luar negeri. termasuk di Kabupaten Bone. perempuan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dominan menyandang masalah sosial. Ketiga. khususnya di Tanete Riattang.

serta anak nakal dan anak terlantar. Beberapa program dapat digagas untuk menjalankan berbagai strategi penanganan masalah sosial diantaranya. ekonomi dan etnik. Kukesra dan Koperasi. Bercermin dari lingkup masalah sosial dan berbagai strategi penangannya. termasuk sektor peternakan. dikhawatirkan akan menimbulkan segregasi sosial. industri dan jasa (administrasi). Selain itu. berbagai keunggulan demografis dan geografis juga menjadi modal sosial tersendiri yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kecamatan ini ke depan. Sebagai cacatan. strategi program/kegiatan dari pemerintah nantinya selayaknya bersinergi positif dengan pranatapranata sosial yang ada di masyarakat. atau sekurangnya tidak mendapatkan apresiasi masyarakat lokal. Kesimpulan Tanete Riattang sebagai salah satu kecamatan utama di Kabupaten Bone memiliki potensi ekonomi.Peta Masalah Sosial di Bone diterapkan. identitas. Jika nilai. Untuk potensi sosial Tanete Riattang terutama pada ketersediaan berbagai pranata yang cukup lengkap yang dapat digunakan sebagai instrumen penting dalam menangani berbagai permasalahan sosial. Program Peningkatan Kualitas Layanan Panti dan Program penyediaan database PMKS melalui sejumlah penelitian dan pengkajian. pola hidup dan pranata sosial yang ada di masyarakat diabaikan. sosial dan budaya yang cukup strategis untuk dikembangkan. Sementara potensi institusi lokal yang bisa dioptimalkan adalah kelompok tani/kelompok usaha yang diharapkan dapat bersinergi dengan KUBE. bina anak terlantar dan tuna susila. Disamping tentunya potensi budaya Tanete Riattang berupa berbagai peninggalan Puslitbang Kesos 57 . Selanjutnya PKK. Program Mitra Usaha Mandiri yang meliputi program penguatan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. kelompok perempuan rawan sosial-ekonomi. Program Kesehatan Terpadu yang meliputi penyuluhan balita sehat. kultur. posyandu. serta karang taruna dan LPM yang menjembatani akses pengambilan keputusan terkait hajat hidup masyarakat di lingkungannya. melainkan seberapa kuat kemauan kepala daerah dan pihakpihak terkait melakukannya. Potensi ekonomi yang perlu untuk terus dikembangkan di Tanete Riattang terutama berada pada sektor pertanian. pembinaan penyandang cacat. puskesmas dan pengajian yang diharapkan mampu bersinergi dengan dokter dan tenaga medis yang ada serta para tokoh agama. perempuan dan petani. perlu ditegaskan bahwa target sasaran yang perlu diperhatikan untuk program penanganan masalah sosial di Tanete Riattang adalah rumah tangga miskin. balita dan anak cacat.

serta organisasi sosial berbasis jender yang meskipun kegiatannya mengalami pergeseran (PKK dan Posyandu) tetapi perannya masih cukup efektif bagi peningkatan kualitas hidup utamanya warga miskin. tukar informasi. tetapi lebih luas lagi bagaimana menggalang kekuatan untuk mengembangkan jaringan lokal (desa) guna lebih berdaya dan tetap kokoh di tengah derasnya terpaan perubahan global. Serta menekan rebaknya spekulan dan para tengkulak (rentenir) yang memainkan “nilai hasil produksi” para petani/usaha kecil lokal. politik. 58 . termasuk menjadi embrio bagi terbentuknya semacam local budgeting forum. pendidikan. ekonomi. partisipasi.Peta Masalah Sosial di Bone budaya Kerajaan Bone yang dulu memang berlokasi di kawasan Tanete Riattang. disamping disebabkan oleh kebijakan internal yang tidak kondusif bagi penguatan perekonomian lokal. Ditilik dari diterminan kemiskinan. Karena itu penting untuk menangani berbagai masalah tersebut utamanya masalah kemiskinan. maka masalah kemiskinan menjadi problem utama dan mendesak yang harus segera ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. tampaknya tergesernya fungsi dan rapuhnya peran jaringan pranata sosial-ekonomi semakin memperburuk ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat setempat. Dari sejumlah masalah tersebut (12 jenis PMKS). Puslitbang Kesos 2. Membentuk kelompok jaringan atau forum bersama antar kelompok sosial. organisasi sosial berbasis okupasi (mata pencaharian pokok di tingkat lokal) yang umumnya cukup eksis di wilayah ini. 1. mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan pemberdayaan perempuan. 3. Mempermudah akses modal bagi rakyat miskin dan perempuan melalui bantuan stimulan yang digulirkan secara proporsional dan merata. Peningkatan kualitas SDM para penggiat pranata sosial dan ekonomi melalui pelatihan para pengurus perkumpulan sosial-ekonomi. Selain itu. agar digunakan strategi yang berprinsip pada transparansi. Tanete Riattang tidak lepas dari sejumlah permasalahan sosial yang patut untuk segera ditangani. perlu dilakukan peningkatan fungsi dan peran sumber-sumber kesejahteraan sosial lokal melalui. Selain memiliki berbagai potensi unggulan. budaya dan seterusnya sebagai wadah edukasi. Dengan demikian sebenarnya penguatan ketahanan sosial ekonomi tidak cukup dengan menemukan apa saja modal sosial yang ada.

” Australian Institute of Family Studies. maupun kalangan masyarakat untuk menjamin terlaksananya program sesuai dengan maksud dan tujuannya.au/A13. Christiaan Grootaert. 2005. BPS (Statistic Indonesia)-Bappenas-UNDP. April 2000. Jakarta: LP3ES. dan Michael Woolcock. Litbang Depsos RI.php Rudito. “Towards a theorized understanding of family life and social capital. Deepa Narayan and Michael F. Lihat http://www.au/A13.htm.” Current Sociology. Potensi Obyek Wisata di Kabupaten Bone.mapl. dalam http://www. 21. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. dalam http://www.com. November.Peta Masalah Sosial di Bone 4. Tim Crescent IPB. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. 2003. “A Dimensional Approach to Measuring Social Capital: Development and Validation of a Social Capital Inventory. tentang The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia.au/A13. 2004.htm. 2003.com. March 2001. Deepa Narayan. Cassidy. 2003.htm. Bambang dkk. 2001.mapl. Puslitbang Kesos 59 . Kabupaten Bone Dalam Angka.” The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. dalam http:// www.com. provinsi dan pusat. Vol. “Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik terhadap Akar Krisis Indonesia”. Veronica Nyhan Jones. “Peta Permasalahan Sosial di Kabupaten Sebatik”. 49(2).. Ian Winter. Chaniago.bone.go. Pengawasan secara berkesinambungan baik dari pemerintah daerah. DAFTAR PUSTAKA Adrinof A. Working Paper No.id/ pariwisata. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone. 2005.mapl. “Measuring Social Capital: An Integrated Questionnaire.

Peta Masalah Sosial di Bone Lampiran Gambar 3. Kecamatan Tanete Riattang 60 Puslitbang Kesos . Kelurahan Walannae. Kelurahan Pappolo. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 4.

Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 5. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 61 . Kelurahan Bukaka. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 6. Kelurahan Manurungnge.

Kecamatan Tanete Riattang Gambar 8. Kelurahan Watampone. Kelurahan Ta. Kecamatan Tanete Riattang 62 Puslitbang Kesos .Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 7.

Kelurahan Biru. Kecamatan Tanete Riattang Puslitbang Kesos 63 . Kelurahan Masumpu. Kecamatan Tanete Riattang Gambar 10.Peta Masalah Sosial di Bone Gambar 9.

.

serta meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya. dan Kelurahan Kolongan.DIAGNOSA PERMASALAHAN SOSIAL DI KECAMATAN TOMOHON TENGAH KOTAMADYA TOMOHON . lanjut usia terlantar. yang antara lain disebabkan oleh merosotnya pendapatan bidang pertanian. Agus Dairo Beke. kelurahan Talete Dua. yaitu Kelurahan Talete Satu. Sementara itu untuk beralih ke luar sektor pertanian belum didukung oleh kondisi SDM yang memadai. misalnya fakir miskin. Ahendy Priatna. M. rumah tidak layak huni. Untuk itu penelitian ini mengajukan rekomendasi antara lain: (1) perlunya program pemberdayaan fakir miskin sesuai dengan kondisi setempat. masalah kemiskinan dan masalah lain yang terkait cukup dominan di wilayah ini. (2) penanganan masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman pengembangannya. Penelitian ini secara deskriptif mencoba menggambarkan kondisi dan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada di wilayah Kotamadya Tomohon. dan Rusmiyati. Minahasa. Kelurahan Matani Tiga. Oleh karena itu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah-masalah kesejahteraan sosial sebagian besar bersumber dari kondisi ekonomi penduduk yang rendah. Kata kunci: Masalah Sosial. Kelurahan Komasi. Drs. SE. Puslitbang Kessos Puslitbang Kesos 65 . SE 2 ABSTRAK Kotamadya Tomohon sebagai salah satu kota yang baru memisahkan diri dengan Kabupaten Minahasa memiliki berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. dengan Tim: Drs. Rusmiyati. staff Subbid Perencanaan dan Anggaran.MINAHASA1 Rusmiyati. dan keluarga rentan. khususnya di Kecamatan Tomohon Tengah yang terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan. perlu penanganan yang lebih tuntas. Bidang Program. Kelurahan Matani Dua. Masalah dimaksud adalah belum tersedianya data (database) yang akurat sebagai bahan untuk menyusun rencana program pembangunan wilayah. Kemiskinan 1 2 Diangkat dari penelitian “Diagnosa Permasalahan Sosial di Kecamatan Tomohon Tengah Kotamadya Tomohon. Kelurahan Matani Satu. MM. dan (3) perlu membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya.Si.

dan dengan demikian semua permasalahan yang selama ini terpendam secara terselubung muncul keper mukaan. narkoba dan sebagainya hampir terjadi di semua daerah. sejalan pula dengan perkembangan suatu daerah (Otonom). bobot permasalahan baik secara kuantitas maupun kualitas cenderung meningkat. Sebagai contoh: kenakalan remaja. Upaya memaparkan dan mendiagnosa permasalahan di setiap daerah bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang sumber dan motif permasalahan yang dikaji berdasarkan struktur sosial. tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kota Tomohon menjadi semakin besar dan bertambah. tetapi dibalik itu merupakan sumber masalah baru. kondisi eknonomi politik dan budaya masyarakat di masing-masing daerah. maka kini semuanya berubah dalam bentuk keterbukaan. Ilustrasi diatas memberi gambaran bagaimana permasalahan masyarakat di berbagai daerah dengan perbedaan kondisi geografis. Sebagai upaya untuk menggali sumber permasalahan dapat dilakukan melalui suatu pengkajian berdasarkan kondisi daerah masing-masing. mabuk-mabukan. Tiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda sesuai kondisi daerah masing-masing.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. yaitu dengan munculnya masalah lain berupa berbagai konflik kepentingan di setiap daerah otonom. Persoalan-persoalan muncul secara estafet dan ragamnyapun semakin banyak. Jika pemerintahan sebelumnya (Zaman Orde Baru) bersifat sangat power oriented yang bernuansa pelestarian rezim kekuasaan. baik dari sisi SDM. tidak memberi ruang gerak pada masyarakat. dan semua harus menunggu perintah penguasa. Otonomi daerah merupakan jembatan menuju kemajuan suatu daerah. Tomohon Tengah-Minahasa Pendahuluan Perubahan sistem pemerintahan dalam negeri dengan sistem otonomi daerah membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap permasalahan sosial secara lokal. Pemerintah Kota Tomohon dituntut untuk melaksanakan pembangunan dibidang kesehatan dan kesejahteraan sosial serta menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat dalam ruang lingkup bidang tersebut dengan sumber daya atau potensi yang terbatas. struktur masyarakat. sarana dan prasarana maupun dari sisi anggaran. hanya motifnya yang berbedabeda. budaya 66 Puslitbang Kesos . Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah. Jika digeneralisir permasalahan setiap daerah akan terlihat adanya permasalahan yang serupa.

Munculnya anekaragam permasalahan sosial tersebut bila didiagnosa lebih mengacu pada kasus sebab akibat. harapannya adalah menunggu bantuan pemerintah. Akibat dari intervensi pemerintah yang sangat dominan. sehingga ketika masyarakat sedikit mengalami masalah. masih mengalami hambatan dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial yang responsif terhadap kondisi yang ada. Permasalahan sosial terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia dengan faktor dan tingkat frekuensi yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sempurna tentang permasalahan sosial. Dampaknya menimbulkan masalah baru yang secara proses dimulai dengan ketiadaan kepercayaan diri untuk bangkit berupaya keluar dari masalah. baik tentang potensi penyebab tumbuh kembangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat maupun kuantitas dan kualitas permasalahan kesejahteraan sosial di wilayah penelitian. tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah menjadi sangat tinggi. berpasrah menerima keadaan apa adanya. misalnya: pertama. sedangkan faktor eksternal lebih mengacu pada kebijakan pemerintah yang diwarnai dengan intervensi pemerintah melalui program di berbagai sektor. kemandirian menjadi hilang sehingga pola membantu mereka agar menolong dirinya sendiri jadi hilang. Berkaitan dengan hal tersebut. artinya masalah itu timbul karena ulah manusia. Oleh karena itu. Tomohon Tengah-Minahasa dan nilai masyarakat setiap daerah mewarnai jenis dan jumlah permasalahan yang terdapat dimasing-masing daerah. Permasalahan sosial bersumber dari faktor internal yakni suatu sistem sosial yang menunjuk gejala ketimpangan struktural di masyarakat dalam penanganan permasalahan. Individu-individu atau masyarakat yang mengalami masalah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dikenal sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). permasalahan pokok penelitian ini adalah bahwa daerah belum memiliki data yang akurat tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumberdaya Kesejahteraan Sosial (PSKS). Kedua. dan ketika manusia menangani masalahnya disitu timbul masalah lagi sehingga semakin lama semakin membesar ibarat bola salju (snow ball) dan berkarakter masalah yang akan menimbulkan masalah yang lain.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. pada akhirnya menimbulkan permasalahan. Ada 27 jenis PMKS yang telah diidentifikasi Puslitbang Kesos 67 .

pekerja migran terlantar. Dalam hal yang demikian diperlukan pihak luar untuk menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber yang ada secara maksimal. pengemis. lanjut usia korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. lanjut usia terlantar. anak cacat. tuna susila. potensi dan sumber kesejahteraan sosial merupakan faktor kekuatan/modal. keluarga fakir miskin. gelandangan. keluarga bermasalah sosial psikologis. penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis. dapat dimobilisasi dan dapat digunakan sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. korban penyalahgunaan napza. korban bencana sosial. keluarga berumah tak layak huni. suatu masyarakat memanfaatkan dan mengorganisasikan semua sumber daya ini dalam berbagai aktivitas seperti aktivitas ekonomi. anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif. politik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat tidak hanya mempunyai kelemahan atau tantangan. Suatu hal yang erat kaitannya dengan PMKS adalah sumber kesejahteraan sosial. sosial. Pengertian sumber menurut Max Siporin (Sukoco. dan keluarga rentan (Pusat Data dan Informasi Depsos. Namun demikian tidak semua golongan atau masyarakat mampu memanfaatkan sumber dengan baik. wanita rawan sosial ekonomi. 2002). anak jalanan. gotong royong dan sebagainya. antara lain: balita terlantar. dan sumber daya sosial. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Di dalam kerangka pembangunan kesejahteraan sosial. anak nakal.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. penyandang cacat. Tehnik pengumpulan data 68 Puslitbang Kesos . Setiap masyarakat mempunyai berbagai potensi dan sumber antara lain sumber daya alami. kesenian. Tomohon Tengah-Minahasa Departemen Sosial. Untuk mempertahankan kehidupannya. komunitas adat terpencil. sumber daya manusia. tetapi juga potensi dan sumber yang merupakan kekuatan diri untuk menghadapi kelemahan atau tantangan. dengan maksud mencari dan menggali persepsi yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggali kenyataan sosial yang ada dan mengkaitkannya dengan budaya yang dimiliki oleh anggota masyarakat. anak terlantar. bekas narapidana. 1991). adalah sesuatu yang bermanfaat. sedangkan masalah kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai faktor kelemahan atau tantangan. penyandang HIV/ AIDS. wanita yang menjadi korban tindak kekerasan. korban bencana alam. keagamaan.

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

menggunakan: data sekunder, wawancara mendalam: dengan masyarakat umum, penyandang masalah, tokoh masyarakat (formal atau informal) dan juga aparat setempat, dan observasi terhadap kondisi fisik lokasi, tata kehidupan masyarakat setempat (masyarakat lokasi penelitian), pola hidup (kegiatan ekonomi) potensi geografis wilayah dan sumber daya manusianya serta faktor-faktor lain yang berkaitan.

Gambaran Lokasi Penelitian
1. Kondisi Wilayah

Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Bapeda Kota Tomohon (Maret 2005) berjumlah: 6938 KK atau mencapai 16,02%. Hal ini memberi indikasi bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penduduk miskin yang nantinya berdampak pada masalah sosial dan kesehatan. Meningkatnya kasus-kasus penyakit pada akhir-akhir ini seperti demam berdarah dengue (DBD) 14 kasus, malaria: 217 kasus, TB paru klinis: 763 kasus, Hipertensi: 3860 kasus, diabetes militus: 362 kasus. Hal ini diakibatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehat belum optimal, serta gaya hidup cenderung berpestapesta dengan ungkapan ”Kalau ada tada kalau tidak haga ” akhirya berdampak pada kesehatan dan masalah sosial. Meningkatnya pengangguran dan permasalahan sosial lainnya dikarenakan minimnya pendidikan formal dan keterampilan anakanak putus sekolah, dimana data menunjukkan anak terlantar sebanyak 6900 orang, anak nakal: 1236 anak. Anggapan masyarakat bahwa permasalahan sosial adalah tanggung jawab pemerintah. Penyandang masalah kesejahteraan sosial pada umumnya mengalami masalah kemiskinan dan kondisi ketidakberdayaan fakir miskin dapat dilihat dari tidak adanya alternatif individu, keluarga dan komunitas dalam menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Kecamatan Tomohon Tengah terletak pada ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dengan suhu udara 28 derajat celcius. Kondisi lingkungan masyarakat kondusif, tentram dengan penduduk mayoritas homogen. Jarak ke Ibu Kota Tomohon 2,5 km dengan waktu tempuh 5 menit, dari ibukota provinsi sekitar 25 km, dan
Puslitbang Kesos

69

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

dengan sarana transportansi umum yang relatif lancar dan memadai. Kecamatan Tomohon terdiri dari 7 (tujuh) Kelurahan, yaitu Kelurahan Talete Satu, Kelurhan Talete Dua, Kelurahan Matani Satu, Kelurahan Matani Dua, Kelurahan Matani Tiga, Kelurahan Komasi, dan Kelurahan Kolongan. Jumlah penduduk seluruhnya sekitar 18.556 jiwa, sebagian besar (90%) beragama Kristen Protestan, sebagian lainnya Katholik, Islam, dan Budha.
2. Potensi dan Sumber Alam

Hasil yang saat ini diperoleh dari pengolahan tanah berupa hasil pertanian tanaman padi dan palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang kedelai. Sedangkan produksi padi pada tahun 2004 menghasilkan padi sekitar 6.995 ton. Produksi tanaman sayuran tahun 2004 mencapai 9.839 ton, produktivitas tertinggi didominasi oleh tanaman terong sebesar 162,74 kw/ha. Sedangkan produksi tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, cengkeh, vanili, kopi, dan kakao. Produksi tanaman perkebunan terbanyak adalah kelapa mencapai 729,125 ton. Untuk tahun 2004, sektor peternakan populasi terbesar terdiri dari sapi, kuda, kambing dan babi. Melihat potensi alam, terutama hasil pertanian dan perkebunan, pasang surutnya tampak tergantung dari luas lahan yang semakin menyempit dikarenakan banyak pembangunan permukinan penduduk, mini market dan mall.
3. Agama dan Kepercayaan

Agama yang dianut penduduk Kecamatan Tomohon Tengah mayoritas beragama Kristen Protestan. Dan sebagian lainnya beragama Katholik, Islam, dan Budha. Dengan demikian di lokasi kajian sarana ibadah yang paling menonjol adalah Gereja. Di Kecamatan Tomohon Tengah hanya terdapat sarana ibadah umat Islam, yaitu satu buah Masjid. Semua tempat ibadah tersebut merupakan usaha swadaya masyarakat. Saat ini semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih digunakan sebagai tempat untuk ibadah umat penduduk di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah. Kelompok-kelompok yang terkait dengan keagamaan yang ada di Kecamatan Tomohon Tangah adalah kelompok kebaktian gereja.

70

Puslitbang Kesos

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Kegiatan yang dilakukan kelompok ini diantaranya adalah mengadakan kebaktian.
4. Sarana Pendidikan

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana pendidikan yang relatif cukup lengkap, dari mulai TK sampai pergurunan tinggi. Sekolah negeri yang dimiliki wilayah ini adalah SD (3 buah), SLTP (3 buah), dan satu perguruan Tingga Negeri. Sedangkan sebagian lainnya yang jumlahnya relatif lebih banyak adalah sekolah atau perguruan tinggi swasta, yakni terutama yang dikelola oleh yayasan atau perkumpulan agama. Tabel 1. Sarana Pendidikan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Fasilitas Pendidikan TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP. Negeri SLTA. Swasta PT.Swasta PT.Negeri Akademi Swasta SLB Sekolah Kursus Montir Kursus Menjahit BLK Jumlah 13 3 9 3 7 5 1 2 1 3 7 1

5.

Kesehatan

Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan/perawatan kesehatan masyarakat di Kecamatan Tomohon Tengah, umumnya penduduk memanfaatkan sarana kesehatan yang telah ada dan letaknya relatif cukup dekat. Masing-masing Puskesmas maupun Balai Pengobatan Jemaat Gereja maupun rumah sakit swasta (dibawah yayasan gereja) di Kecamatan Tomohon Tengah saat ini memiliki seorang Dokter, Perawat, dan Bidan dan para medis/perawat.

Puslitbang Kesos

71

Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa

Tabel 2. Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Tomohon Tengah
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jenis Fasilitas Kesehatan Apotik Rumah sakit Posyandu Dokter Praktek Bersama Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Mata Dokter THT Dokter Kulit Dokter Jiwa Dokter Hewan Bidan Mantri Kesehatan Dukun Bayi Puskesmas Puskesmas Pmbantu Toko Obat Dukun a 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b 1 1 1 1 1 1 1 c 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 Kelurahan d e 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 3 1 2 1 1 2 1 1 2 f 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 g 1 2 1 2 1 1 1 1 3 -

Keterangan: a = Kel. Talete 1 b = Kel. Talete 2

c = Kel. Komasi d = Kel. Kolongan

e = Kel. Matani 1 f = Kel. Matani 2

g = Kel. Matani 3

6.

Ekonomi

Sebagai daerah perkotaan, Tomohon Tengah mempunyai sarana ekonomi yang cukup lengkap, misalnya warung/toko, pasar, mall/ swalayan dan sebagainya. Secara lebih rinci sarana ekonomi yang ada dapat dilihat pada tabel 3. Oleh karena itu, kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan masyarakat Tomohon Tengah mudah diperoleh dari pasar di lingkungan sekitar. Selain belanja langsung di pasar yang ada di wilayah kecamatan tersebut, masyarakat juga belanja di Mall dan juga di Minimarket/Supermarket yang banyak bertebaran di wilayah ini khususnya di Kota Tomohon.

72

Puslitbang Kesos

8. 3. 1. 13. 20. Kriteria atau pengkategorian warga masyarakat miskin menurut kondisi lokal adalah sebagai berikut: a. karena sebagai pencari nafkah utama sudah memasuki usia lanjut/pensiun. 21. 11. 2. 16. Warga masyarakat yang digolongkan sebagai keluarga miskin didasarkan pada tingkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari serba kekurangan.Bioskop Hotel/Motel Restoran Losmen Pasar Biro Perjalanan Cafe Mess/asrama a 14 1 6 1 2 1 4 5 3 2 5 2 1 1 4 b 10 6 2 2 2 2 4 3 1 3 Kelurahan c d e 44 8 2 13 6 1 1 1 1 1 1 5 1 2 3 1 9 7 2 3 2 1 2 3 f 62 1 1 g 7 2 5 3 3 3 3 1 2 - Permasalahan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin merupakan masalah yang sangat menonjol di Tomohon Tengah.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 12. 18. kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni. 10. serta tingkat produktivitas kepala keluarga rendah dan kondisi lain yang tidak mendukung.Simpan Pinjam Badan Kredit Desa Lumbung Pitih Nagari Usaha Industri Kecil Usaha Industri RT Diskotik Karaoke Rumah Bilyar Gdg. 5. Jenis Fasilitas Kesehatan Warung/Kios Koperasi Super Market/Toko Bank Usaha bersama Kel. 19. 17. Puslitbang Kesos 73 . 9. b. 15. Fasilitas Ekonomi PendudukKecamatan Tomohon Tengah No. 7. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 3. Tingkat produktivitas Kepala Keluarga yang rendah. Penghasilan kecil/tidak tetap dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 14. 4. 6.

dan lagi pula lapangan kerja yang tersedia di perkotaan tidak memadai dengan jumlah pencari kerja. Karena pergeseran gaya hidup dengan perkembangan kota desa sehingga masyarakat lebih cenderung beralih ke pola hidup kota (modern). Diikuti oleh kondisi rawan bencana yang juga meliputi daerah perkebunan cengkeh sehingga muncul kekhawatiran para petani sehingga tidak lagi menggarap lahan perkebunannya. dengan demikian sumber penghasilan dari cengkeh tidak lagi menjanjikan. 74 Puslitbang Kesos . seperti: a. d. Kurangnya dukungan Pemda setempat bagi kaum petani sehingga dengan mudah para petani begitu saja meninggalkan lahan pertaniannya. Pertokoan dan sebagainya. c. masyarakatnya intelek dan penghasil cengkeh terkenal. Seandainya dimotivasi agar beralih tanam hal ini masih memungkinkan adanya alternatif penghasil lain selain cengkeh. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh dan sangat buruk dan bahan atap dari seng yang sudah tua atau menggunakan kayu yang sudah rapuh dengan lantai tanah atau papan. b. Ukuran bangunan rumah relatif kecil yaitu antara 5 x 4 meter atau 5 x 6 meter dan biasanya tidak mempunyai perekat ruangan. Sebenarnya secara jujur Wilayah Minahasa (termasuk Tomohon) tidaklah pantas menyandang predikat fakir miskin. Supermarket. Ketika para petani beralih profesi menjadi pedagang. Status kepemilikan bangunan rumah sebagian adalah masih menumpang dan kontrak/sewa baik dengan orang tua/mertua maupun kerabatan lainnya. yaitu tidak memiliki keterampilan yang memadai. Pertama-tama berawal dari anjloknya harga cengkeh beberapa tahun silam sehingga semangat masyarakat petani cengkeh turun drastis. e. atau pengusaha rumah tangga. d. mereka tidak siap untuk itu sehingga alternatif pilihan adalah menjadi pekerja di Mall. karena umum sudah mengetahui bahwa wilayah ini merupakan daerah subur.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Tomohon Tengah-Minahasa c. Namun munculnya permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor. Akhirnya secara proses jumlah fakir miskin sedikit demi sedikit mulai membengkak. Namun kendala lain yang dihadapi.

Kelurahan a b c d e f g Anak Nakal 33 75 Anak Jalanan 16 Anak Cacat 4 Wanita Rawan Sosek 4 6 54 Penyandang cacat 21 9 28 25 16 15 Eks Napi 10 6 6 Kel. 5. 1. 3. 7. Tomohon Tengah-Minahasa Tabel 4. 5. 10. 2. 6. 11. 10. 2. Data Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) di Setiap Kelurahan No. Profesi Panti Werdha Rmh Jompo a 2 2 4 1 1 1 2 1 2 8 b 1 2 4 2 2 1 2 2 c 1 1 5 1 1 1 1 Kelurahan d e 3 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 f 1 1 1 4 2 1 1 1 1 g 1 1 2 1 1 1 1 1 1 - Puslitbang Kesos 75 . 12. 13. 4.Fakir Miskin 106 109 258 215 96 126 166 Kel. Alam 15 Kel. 7. 15. 16. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Setiap Kelurahan No. 3. 8.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. 11. 6.Rmh tdk layak 38 20 24 30 20 Kel. Psik. 14. 9.Bermasalah Sos.Rentan 24 Pengungsi 3 Anak Terlantar 24 50 40 16 60 Wanita Krbn Kekerasan 16 15 97 16 10 26 LU Terlantar 30 55 10 25 115 96 Rawan Banjir 46 50 Korban benc. 13 14 Jenis PSKS Arisan PKK PSM Orsos Kemasy. 9. 8. 1. 4.Pnykt Kronis 10 Jenis PMKS Tabel 5. 12. Karang Taruna Orsos LKMD Org. 17. 2 Eks. Pemuda Dunia Usaha Peduli Kesos Panti Asuhan Koperasi Org.

Karena ketiadaan biaya perbaikan. d. Lanjut Usia terlantar terdapat hampir disemua kelurahan. Jumlah rumah tak layak huni pada kelurahan yang mempunyai permasalahan ini berkisar antara: 20 hingga 30 keluarga. Usia antara 20 hingga 60 tahun b. Kurangnya perlengkapan fasilitas MCK. Kelurahan Matani I. Tomohon Tengah-Minahasa Rumah tidak layak huni di beberapa kelurahan hampir sama dengan kondisi di kelurahan lainnya yang ada di wilayah Kecamatan Tomohon Tengah yaitu Kelurahan Talete I dan II. kondisi ekonomi. Rumah-rumah tersebut adalah rumah dalam bentuk rumah asli Minahasa yang sebagian besar terbuat dari kayu. Para penghuninya tidak punya kemampuan untuk memperbaiki rumah–rumah tersebut sehingga melapor dan meminta bantuan melalui dinas sosial setempat. III. Banyak anak dan belum ada yang menikah. sebagai berikut: a. Sedangkan kriteria yang digunakan di Tomohon Tengah. Warga masyarakat di golongkan lanjut usia terlantar didasarkan pada usia. maka rumah–rumah ini semakin lama semakin rusak dan kondisinya tampak tidak layak huni. serta seberapa besar perhatian dan perawatan yang diberikan oleh anak/cucu atau keluarga lainnya. Penghasilan kecil e. Ada di 6 (enam) kelurahan yang ada di Kecamatan Tomohon Tengah. c. Status perkawinan: janda ditinggal mati suami atau belum menikah. Wanita yang digolongkan sebagai wanita korban kekerasan didasarkan pada status perkawinan. sebagai berikut: 76 Puslitbang Kesos . sebagai berikut: a. Kelurahan Komasi dan Kelurahan Kolongan. Wanita korban tindak kekerasan terdapat hampir di setiap kelurahan (ada enam kelurahan).Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Kriteria rumah tidak layak huni menurut kondisi lokal. Jumlah penghuni yang tidak sebanding dengan luas rumah b. Status kepemilikan bangunan rumah masih menumpang e. tingkat penghasilan dan jumlah beban tanggungan. Kategori wanita korban kekerasan didasarkan pada kriteria lokal. Ukuran bangunan rumah relatif kecil d. Kondisi bangunan rumah sudah rapuh c. Memiliki sumber penghasilan yang tidak menentu. II.

pengusaha versi perkotaan. Pada mulanya masyarakat di wilayah Tomohon terkenal sebagai petani cengkeh yang ulung. café. tindak kriminal walaupun dalam skala Desa/kelurahan dalam bentuk mengganggu milik masyarakat. yang menyebabkan para remaja mulai beradaptasi diri dengan tempat–tempat ini. Masalah yang dekat dengan anak nakal dan anak terlantar yaitu anak jalanan. ketiadaan kegiatan yang pasti dan ketidaksadaran akan makna Puslitbang Kesos 77 . sehingga untuk mengisi kekosongan terjadilah pertemuan antar remaja dan kalau sudah berkumpul mulai bertindak yang tidak wajar. Tomohon Tengah-Minahasa a. Oleh karena itu. putra-putri mereka juga secara otomatis mewarisi gaya hidup ini dengan tidak disebut sebagai anak petani dan lebih prestise kalau disebut sebagai anak pengusaha (ala kota pedesaan). Hal yang sama dilakukan di café-café atau tempat hiburan lainnya. dengan mengkonsumsi minuman keras (miras). Keterangan-keterangan yang diperoleh di lapangan menggambarkan proses seperti itu. polisi piket di depan supermarket dengan maksud menghindari masuknya para remaja siswa sekolah terutama pada jam-jam pelajaran sekolah (baik siswa pagi maupun siswa siang). atau diskotik. Bentuk kenakalan anak menurut definisi wilayah ini adalah menggangu ketertiban masyarakat setempat dengan tindakan kumpul-kumpul yang disertai mabuk–mabukan. sejak supermarket buka hingga ditutup pada malam harinya. selepas sekolah mereka tidak mempunyai kegiatan. misalnya munculnya tempat belanja berupa supermarket. Hidup sendiri atau bersama anak/cucu atau keluarga lainnya tetapi sangat kurang diperhatikan dalam perawatan. permakanan dan kebutuhan hidup lainnya.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Umur diatas 60 (enam puluh) tahun keatas. Contoh kasus lapangan yang dilihat langsung adalah di salah satu supermarket. baik karena ketidakmampuan ekonomi maupun non ekonomi. b. sekarang pola hidup sudah mulai bergesar dengan perubahan paradigma sebagai pedagang. Dari sinilah timbul kenakalan-kenakalan remaja. Masalah Anak Nakal merupakan masalah yang bersifat embrio yang muncul melalui tahapan-tahapan proses yang kelihatannya bersumber dari faktor lingkungan. Perkembangan kota desa yang memang berkembang dewasa ini menyebabkan juga adanya perubahan perkembangan perilaku anak. yakni para remaja yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan secara tidak menentu. Akibatnya. Faktor penyebabnya adalah faktor putus sekolah.

Permasalahan Wanita Rawan Sosial Ekonomi adalah suatu permasalahan yang dialami oleh sekelompok wanita. seperti misalnya cacat karena faktor bawaan. Selepas dari itu para wanita ini sama sekali tidak punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan mereka. Dimanapun permasalahan narapidana ini hadir menjadi permasalahan yang memerlukan penanganan yang sangat bijak agar persepsi masyarakat terhadap para penyandangnya tidak ditolak oleh masyarakat setempat.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Diawali dengan jarang tinggal di rumah kemudian menjadi keseringan maka pada akhirnya hidup di luar menjadi suatu yang merupakan kebiasaan dan pada akhirnya menjadi pilihan. maka sulit bagi para wanita untuk mendapatkan sumber penghidupan yang tetap. namun karena kembali lagi terjadi perkembangan kota pedesaan maka cukup membawa pengaruh pada kebiasaaan hidup anak. Narapidana berawal mula dari kenakalan remaja. Faktor penyebab munculnya anak jalanan ini. Sebagai wilayah kelurahan yang kapasitas pertumbuhan industri tidak memungkinkan. maka permasalahan yang dihadapi di kelurahan ini merupakan masalah sosial umum yang penanganannya berada dibawah Pemerintah Daerah setempat. Masalah yang terkesan rawan bagi masyarakat adalah eks narapidana. Jumlah kasusnya cukup banyak yakni 114 kasus. Hal ini ditambah pula dengan ketiadaan keterampilan yang dimiliki para wanita ini. Minimnya lapangan kerja bagi kaum wanita di Kelurahan ini menjadi sumber permasalahan. Para napi pun ini sadar bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat kurang dapat diterima. Permasalahan kecacatan secara khusus merupakan masalah yang tidak semata karena kelalaian manusia. bahwa permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan menurunya secara drastis pertanian cengkeh yang tadinya menjadi idola di wilayah ini. dengan alasan kalau–kalau suatu saat nanti perilakunya akan muncul kembali. dimana para wanita ini tidak mempunyai sumber penghasilan yang tetap. Dari sejumlah penyandang terdapat banyak diantaranya yang dapat dibina untuk melakukan kegiatan mandiri dengan dimodali oleh Pemda setempat. Informasi lapangan yang diperoleh menyatakan. berawal dari kurangnya pengawasan orang tua. Tomohon Tengah-Minahasa mencari hidup. lama kelamaan meningkat ke tindakan kriminal dan akhirnya sebagai penghuni rutan. 78 Puslitbang Kesos .

Dari kesimpulan yang diambil dari hasil kajian akan diberikan saransaran/rekomendasi. Sayangnya di Minahasa ini belum begitu terdengar hal penampung keluarga rentan atau semacam panti penampungan. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal masalah penelitian. mudah diacu atau diikuti masyarakat. program yang tepat adalah pemberdayaan fakir miskin melalui bantuan dan jaminan sosial. masalah yang juga masalah prioritas kedua adalah masalah lanjut usia terlantar. sehingga penanganannya dapat lebih tuntas. 2.. memerlukan langkah-langkah kegiatan yang lebih praktis dan nyata. Tomohon Tengah-Minahasa Keluarga rentan termasuk kategori keluarga manula yang perlu mendapat pertolongan. sebagai berikut : 1. 3. Untuk itu.Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. Masalah-masalah lain berdasarkan pengamatan dan hasil kajian penelitian merupakan masalah yang terkait dan bersumber dari masalah-masalah prioritas seperti kemiskinan. namun karena kondisi keluarga dalam kondisi yang sama yaitu ketidakmampuan ekonomi sehingga permasalahan keluarga rentan ini menjadi permasalahan tersendiri. Masalah yang paling menonjol dan merupakan masalah prioritas di kelurahan-kelurahan wilayah Tomohon Tengah adalah masalah fakir miskin. Puslitbang Kesos 79 . sebagai berikut: 1. Di beberapa kelurahan. Yang terutama memberi perhatian adalah kepedulian pemerintah setempat. dengan memperhatikan kriteria lokal dan sumber-sumber yang tersedia. Masalah lanjut usia yang sudah ada pedoman penanganannya. Permasalahan ini merata terdapat di semua kelurahan (7 kelurahan). khususnya bagi permasalahan fakir miskin yang sesuai dengan sumber permasalahan lokal. Perlu program yang baku. 2. Sebenarnya keluarga rentan ini bisa ditangani oleh masing–masing keluarga. sehingga diperoleh cara penyelesaian yang tepat. Keluarga–keluarga rentan ini dalam keadaan pasrah menunggu pertolongan pemerintah.

Tomohon Dalam Angka (Tomohon In Figures) Departemen Sosial... Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama 80 Puslitbang Kesos ... Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem Keterjaminan Sosial. Bandung. 1991. Konsep dan Strategi.. Tomohon Tengah-Minahasa 3. 2002. STKS Press Tim Crescent IPB. 2003. dan meningkatkan kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) agar lebih berperan dalam pembangunan kesejahteraan sosial di lingkungannya.. 2005. 2004. Jakarta. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon.. Masalah-masalah terkait lainnya perlu ditangani dengan upaya pencegahan....Diagnosa Permasalahan Sosial di Kec. misalnya melalui penyuluhan. 2005 Rencana Strategis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kota Tomohon Tahun 2005-2009 Dwi Heru Sukoco. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.. . membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya. Profesi Pekerja Sosial. Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial.. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Tomohon dengan BPS Kabupaten Minahasa. Pusdatin. Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial.

antara lain melakukan pekerjaan secara tetap dan memperbanyak jumlah anggota rumah tangga untuk bekerja. tokoh masyarakat. (2) sebutan orang miskin yaitu urang indak bapunyo. urang sulit. Kepala Bidang Program Puslitbang Kesos. M. Temuan lapangan antara lain. Untuk mempertahankan hidupnya (survival strategy) secara sosial dan ekonomi. Pasaman. Kota Padang dan Kota Payakumbuh. Penelitian kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas. orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik atau urang ino. Pesisir Selatan. Puslitbang Kesos 81 . Anggotanya terdiri dari orang miskin. Achmadi Jayaputra. Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan. Sumatera Barat. Strategi pengentasan kemiskinan dengan membentuk suatu panitia berbasis institusi lokal (Nagari/kelurahan). Padang. Keanggotaan harus mempunyai komitmen yang tinggi. (1) Kantong kemiskinan terdapat di Kabupaten Mentawai. (4) penyebab kemiskinan yaitu lokalitas ekosistem. rendahnya akses. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra kerja. wawancara mendalam dan diskusi kelompok. (3) pekerjaan utama mereka yaitu buruh tani. urang susah. tukang dan buruh kasar.PEMETAAN KEMISKINAN DAN STRATEGI PENGENTASANNYA BERBASIS INSTITUSI LOKAL DAN BERKELANJUTAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA BARAT1 Drs. Penelitian ini merupakan penelitian terapan melalui survey terhadap 12 nagari dan 4 kelurahan dalam tiga kabupaten dan dua kota. Achmadi Jayaputra.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memetakan kantong-kantong dan merumuskan strategi pengentasan kemiskinan berdasarkan institusi lokal. Nagari Kelurahan 1 2 Judul asli dari penelitian Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Berbasis Institusi Lokal dan Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Barat. Pasaman Barat. urang indak mampu. Penanggulangan Kemiskinan. Kata Kunci: Kemiskinan. krisis ekonomi dan kebudayaan. laki-laki dan perempuan.

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Pendahuluan Penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama pembangunan nasional dan daerah.4 juta jiwa (23%). anak jalanan. Khususnya di Provinsi Sumatera Barat. misalnya tahun 2001 penduduk miskin tercatat 1.100 jiwa. tahun 2003 menurun hanya 501. Berarti memecahkan masalah kemiskinan secara tidak langsung memecahkan PMKS. diperlukan strategi baru dengan menggunakan potensi sosial lokal untuk membantu orang miskin agar terbebas dari kemiskinannya. sayangnya penduduk miskin di Indonesia makin bertambah. dan sebagainya. antara lain: • Program tidak tepat sasaran • Program tidak bertahan lama (tidak berkesinambungan) • Program dipaksakan dari atas. Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan. sekaligus membuka pintu untuk pemecahan PMKS lainnya. Permasalahan tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan. Penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan bersifat karitatif (charity) cenderung menjadikan orang miskin semakin tergantung pada bantuan pihak luar. Oleh karena itu. dan • Program tidak diakses karena hambatan struktual. Termasuk permasalahan sosial yang disebutkan Departemen Sosial sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti pelacuran.70%) tergolong miskin. Strategi yang dikembangkan itu termasuk dalam community based development. Hal tersebut seharusnya dijadikan momentum dan peluang untuk mewujudkan desentralisasi pembangunan yang sensitif terhadap persoalan lokal.300 jiwa (20.46 juta jiwa terdapat 935. karena dihadapkan pada beberapa hal. Pengentasan kemiskinan sejak bergulirnya otonomi daerah belum berhasil dengan baik. Akibatnya perekonomian mereka rentan dan mereka dengan mudah kembali ke garis kemiskinan.100 jiwa dan tahun 2004 menjadi 472. Namun tahun 2005 dari jumlah penduduk 4. 82 Puslitbang Kesos . Faktor lain berkaitan dengan kelemahan organisai pelaksana seperti pemerintah lokal dan pemerintah kelurahan atau desa (nagari). terutama sejak diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah. penyandang cacat.

kedua. Solok dan Pesisir Selatan. b. nelayan dan bukan nelayan. petani lahan basah. sosial. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dari instansi pemerintah di 3 kabupaten dan 2 kota tersebut terdiri Puslitbang Kesos 83 . sosial. walaupun telah ada program pengentasan kemiskinan? d. Memetakan kantong-kantong kemiskinan berdasarkan tipologi ekologis dan sumber mata pendapatan dan mengidentifikasi karakteristik budaya. Diskusi dengan menghadirkan masing-masing 14 orang terbagi dalam dua kelompok. Dimana rumah tangga miskin tersebut berkonsentrasi terhadap tipologi ekologis dan sumber pendapatan? b. kelompok pendudukan miskin yang mengikuti program anti kemiskinan. yaitu: a. diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) dan pengumpulan data skunder.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Permasalahan dalam penelitian. pertama. Lokasi dipilih secara sengaja berdasarkan angka kemiskinan yang tinggi dan kondisi ekologis. wawancara mendalam. serta 2 kota yaitu Padang dan Payakumbuh. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu survey. Penelitian ini akan merumuskan model penanggulangan kemiskinan yang dapat diadopsi untuk memecahkan PMKS lainnya karena bertumpu pada pemberdayaan komunitas lokal. Merumuskan strategi pengentasan kemiskinan dengan melibatkan institusi lokal. ekonomi dan politik rumah tangga miskin. tokoh komunitas setempat dan pemerintah lokal. Responden seluruhnya berjumlah 224 orang. Bagaimana kondisi budaya. tokoh masyarakat yang berpengalaman melaksanakan program anti kemiskinan. Mengapa anggota rumah tangga tetap miskin. a. Selain itu berdasarkan mata pencaharian penduduk yaitu petani lahan kering. Survey dilakukan terhadap 12 Nagari dan 4 kelurahan yang terdapat dalam 3 kabupaten yaitu Pasaman. Apa strategi dalam pengentasan kemiskinan yang berbasis institusi lokal yang dapat diterapkan di Provinsi Sumatera Barat? Tujuan penelitian yaitu. ekonomi dan politik rumah tangga miskin tersebut? c.

Wilayahnya 42. 84 Puslitbang Kesos .16% dan didukung lima sub sektor yaitu tanaman pangan dan hortikultura. 159. Kecamatan Bonjol di Nagari Koto Kaciak dan Gonggo Halia. Kecamatan Payakumbuh Barat di Kelurahan Parit Rantang dan Padang Karambie.-. d.904.. Kecamatan Linggo Sari Baganti di Nagari Lumpo. Diantaranya. Kecamatan Kubung di Nagari Gaung dan Panyangkalan. kehutanan dan perikanan laut. Kota Payakumbuh. a. Kinerja ekonomi di provinsi ini. Kota Padang. Sedangkan tahun 2006. yang terbanyak adalah pertanian 25.863.-. c. diketahui garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. Kecamatan IV Jurai di Nagari Painan. 225.297 Km2. Kecamatan Lubuk Bagalung di Kelurahan Kampung Baru dan Gates e.389. Kabupaten Pesisir Selatan.671. Hasil Penelitian Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota. 34. tanah yang dimanfaatkan untuk permukiman (28. Kecamatan II Koto di Nagari Simpang Tonang dan Cubadak. Kecamatan II Koto Diateh di Nagari Paninjauwan dan Kuncir. 157 kecamatan dan terdiri dari 517 Nagari/Kelurahan. Kabupaten Pasaman. b. Camat dan Wali Nagari. Air Haji dan Pungasan.dan di perdesaan sebesar Rp. Lokasi Penelitian.. dilihat dari kondisi dan penggunaan lahan sebagian terdiri dari hutan (61%). istilah Nagari digunakan untuk daerah kabupaten dan Kelurahan untuk daerah kota.59%) dan selebihnya tanah yang belum dimanfaatkan. Kantong Kemiskinan Di Sumatera Barat. tahun 1996 angka atau garis kemiskinan di perkotaan sebesar Rp. 48. Dinas Kelautan. 1. Kabupaten Solok.dan di perdesaan sebesar Rp. Pemberdayaan Masyarakat. Khusus di provinsi ini. Dinas Sosial. untuk tahun 2003 pertumbuhan ekonomi 5%-7% per tahun.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya dari Bappeda. peternakan. perkebunan.

Diantaranya nelayan yang tergolong miskin yang dilihat dari kepemilikan alat tangkap.41%).17%). selalu dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga.002 (51. urang sulit (orang sulit). Pasaman 19.337 rumah tangga (25. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatannya dari pekerjaan buruh tani. nelayan kaya yang memiliki alat tangkap lengkap dan kapal bermotor. Orang miskin dikaitkan dengan pekerjaan dan pendapatan perorangan atau rumah tangga seperti buruh tani. Orang miskin sebagai keadaan negatif.250 rumah tangga (17.12%). ketiga. pertama. Pada daerah yang berbasis pertanian sawah. kedua. Pasaman Barat 21. nelayan sedang yang memiliki kapal dan bermotor tempel. Pesisir Selatan 26.922 rumah tangga (35. nelayan miskin yang terdiri dari buruh angkut. terdapat 223. urang indak mampu (orang tidak mampu). Ditemukan beberapa sebutan orang miskin dalam istilah lokal yaitu urang indak bapunyo (orang tidak punya). Rumah tangga miskin banyak terdapat dalam enam daerah yaitu Kabupaten Mentawai 8.186 rumah tangga (29. Orang sangat miskin disebut juga urang bangsaik (orang bangsat) atau urang ino (orang hina).98%). 2) Produktivitas rendah karena hama babi dan kera yang susah ditanggulangi masyarakat setempat.07%) dan Payakumbuh 4. nelayan yang tidak punya alat tangkap. Sedangkan di perkotaan angka yang tinggi karena tingginya jumlah penduduk. 4) Areal sawah sangat sedikit.12%). Padang 35. 3) Kesuburan tanah dan ketersediaan air rendah.162 rumah tangga (21. sehingga mereka harus membeli beras. urang susah (orang susah). Penyebabnya antara lain : 1) Tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas.825 rumah tangga miskin atau 22. Ini terjadi karena tidak memiliki lahan sendiri atau lahan sempit seperti petani penggarap yang Puslitbang Kesos 85 . Mereka yang tergolong rumah tangga miskin kebanyakan di perdesaan dengan mata pencaharian pokok sebagai petani di lahan kering atau perladangan. Nelayan terbagi tiga kelompok yaitu. buruh dan pedagang kecil.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Tahun 2005.07% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.

30%).000. golongan miskin biasanya menunjuk pada rumah tangga yang mengandalkan pendapatan dari buruh dan sektor informal..30%) dan yang berpendapatan diatas Rp. seorang pegawai rendahan merangkap sebagai tukang ojek atau buruh serabutan. Pendapatan yang mereka peroleh antara lain terendah Rp. nelayan kecil atau buruh nelayan (16. Kebanyakan orang miskin melakukan pekerjaan ganda.(28.10%). kebanyakan rumah tangga yang dikepalai perempuan termasuk dalam kategori rumah tangga miskin. Apabila ingin memperbaiki ekonomi.5%).sampai dengan Rp. ada yang merasa ekonominya lebih baik (4. 599.60%) dan yang menjawab tidak ada perubahan (48.(16. 399. Biasanya buruh nelayan hanya memiliki sampan saja atau perahu tidak bermotor. Namun mereka tidak mampu karena terbatas pengetahuan dan keterampilan. usia sekolah.000.. 400. pedagang yang tidak bermodal atau bermodal kecil.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya tidak mempunyai lahan pertanian.000. Demikian juga daerah perkotaan. penyebab kemiskinan antara lain. Dikalangan nelayan. seorang buruh nelayan dapat saja merangkap sebagai tukang atau buruh angkat. tukang dan buruh lainnya. Di tengah banyaknya program anti kemiskinan. Hasil survai secara keseluruhan. ternyata ekonomi rumah tangga miskin banyak yang merasa pesimis melihat perbaikan ekonominya. pedagang kaki lima dan lain-lain (23. maka perlu mengakses peluang.10%).000.000. belum bekerja atau belum menikah.000.5%). Hasil survey. merasa lebih buruk (28. tukang atau buruh (3.. Adapun tipologi di daerah perkotaan. Rp. Karakteristik sosial. 200.per bulan (20. Rumah tangga miskin memiliki jumlah anak yang lebih banyak dan sebagian besar menjadi tanggungan keluarga karena masih bayi. 1) Alternatif pekerjaan di daerahnya terbatas dan berkaitan dengan perkembangan ekonomi makro.50%). berpendapatan Rp.20%).20%) dari tahun sebelumnya.(35. 200. 600. pekerjaan utama sebagai petani atau buruh tani (54. 86 Puslitbang Kesos . Khususnya sektor informal sangat bervariasi seperti buruh kasar. golongan miskin menunjuk pada rumah tangga buruh nelayan yang tidak memiliki sarana penangkap ikan yang lengkap. Oleh karena itu.sampai dengan Rp. Misalnya di daerah perdesaan seorang sebagai petani sawah dapat saja menjadi buruh tani.10%). Pada tipologi yang berbasis nelayan.

3) Produktivitas rendah karena orang miskin tidak memiliki aset lahan yang memadai. berhutang kepada anggota keluarga (20. Alasannya tidak tahu alternatif yang tersedia dan pekerjaan yang dilakukan saat ini tetap lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan lain dengan resiko pilihannya. sementara luas lahan tetap dan dipengaruhi sistem pemilikan lahan secara adat.80%). Tujuannya untuk bertahan hidup (survival strategy). Orang miskin atau rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan yang dialami melakukan upaya adaptasi. Ini menunjukkan mereka bertahan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang. maka orang miskin bergantung pada pekerjaan yang tidak memberi pendapatan yang mencukupi.50%) menerima bantuan dari anggota keluarga (14. Cara lain yang mendorong orang miskin memecahkan masalah keuangan rumah tangganya yaitu berhutang kepada tetangga (38. Puslitbang Kesos 87 . Adapun strategi adaptasi tersebut yaitu. Pertumbuhan penduduk terus berlangsung.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Ketiadaan alternatif dan tidak mampu mengkreasi peluang baru. Sementara meminjam kepada lembaga keuangan perbankan atau lembaga keuangan mikro tidak menjadi alternatif karena masih kurangnya lembaga keuangan tersebut.70%) atau berhutang kepada bos atau tauke (12. 4) Orang miskin tidak mampu mengakses sumber daya karena ketiadaan teknologi dan minimnya modal. Pola ini merupakan bagian dari strategi adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi kemiskinan.10%). 2) Anggota Rumah Tangga Rumah tangga miskin cenderung memperbanyak jumlah anggota rumah tangga ikut bekerja untuk memecahkan kesulitan hidup. 1) Pekerjaan Tetap Mereka tidak berusaha pindah pekerjaan. Pilihan diversifikasi pekerjaan dan pendapatan melalui pola nafkah ganda. Strategi yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya secara sosial dan ekonomi.

rendahnya akses kepemilikan alat tangkap ikan seperti perahu motor. disebabkan tanah ulayat hanya digunakan oleh anak kemenakan pemilik ulayat. 1) Lokalitas Ekosistem Di kalangan petani perdesaan atau lahan kering ketergantungan terhadap lahan secara mutlak. terkena PHK dan usahanya bangkrut. sehingga tidak dapat menggunakan lahan yang ada. Daerah perladangan dengan tanaman tua yang diusahakan membutuhkan lahan yang luas. sedangkan anggota kaum bertambah. kini kembali ke kampung. antara lain. Banyak orang miskin di nagari dari kalangan pendatang. Sedangkan petani sawah ketersediaan air mutlak. Termasuk kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi naik. Ada pula di perkotaan yang dahulu merantau. Pada masyarakat petani ladang yang terjadi meningkatnya biaya produksi seperti bibit dan pupuk. Pengaruh ekologis sangat dirasakan di kalangan nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tidak selalu sama atau tergantung iklim. Akan tetapi tidak ada irigasi yang baik atau sumber air terbatas. Sementara pendapatan tidak seimbang dengan biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk pangan dan konsumsi rumah tangga. 2) Rendahnya Akses Ada keluarga yang kekurangan lahan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya Secara umum penyebab kemiskinan. Secara umum 88 Puslitbang Kesos . Ada golongan keluarga atau masyarakat yang hidup turun-temurun dalam kekurangan aset ekonomi atau rendah aksesnya terhadap sumber daya setempat. tetapi lahan terbatas. tetapi lahan yang ada sangat terbatas. Tanah telah dibagi habis. musim angin dan bulan. Selain itu status tanahnya sebagai tanah adat atau ulayat atau hutan lindung tidak dapat digunakan sembarangan karena pengaturannya yang berbeda. sehingga produksi lahan sawah rendah. Di kalangan komunitas nelayan miskin. 3) Krisis Ekonomi Krisis ekonomi diikuti dengan kenaikan harga berbagai alat produksi dan kebutuhan konsumsi telah menyebabkan semakin beratnya kehidupan masyarakat.

4) Kebudayaan Semua rumah tangga miskin mempunyai pengetahuan dan keterampilan. sejak tahun 1983 sudah masuk program pengentasan kemiskinan atau program anti kemiskinan yang dilakukan oleh beberapa departemen atau instansi pemerintah lainnya. memfasilitasi dana. Kinerja Anti Kemiskinan Tahun 2002 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan yang diketuai oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) dan Gubernur Sumatera Barat sebagai penanggung jawab. Tugas komite tersebut yaitu menyiapkan data. Kredit kelompok Kepada Kelompok Masyarakat (K3M) 4) Program Daerah Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDMDKE) 5) Program Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera (GEKS) dari BKKBN 6) Program perbaikan rumah tidak layak huni dari Departemen Kimpraswil 7) Program bantuan pendidikan bagi anak miskin 8) Program bantuan pengobatan orang miskin 9) Program bantuan beras miskin (Raskin) dari BULOG Puslitbang Kesos 89 . sehingga tidak ada alternatif pekerjaan lain. Kredit Usaha Kecil (KUK). melakukan pemantauan dan pengendalian. Ternyata. 2. mengkoordinasikan kegiatan. Namun dalam pelaksanaan kegiatan belum menunjukkan hasilnya dalam penanggulangan kemiskinan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya yang paling dirasakan yaitu kenaikan harga kebutuhan dasar dan membiayai modal usaha. Adapun program kemiskinan yang pernah dialami antara lain: 1) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Departemen Sosial RI 2) Inpres Desa Tertinggal (IDT) dari Departemen Dalam Negeri 3) Kredit Investasi Kecil (KIK). Namun hanya tahu terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diketahui saja. Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP). Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes).

sebagian besar (80%) responden mengaku ekonomi mereka tidak berubah dari sebelumnya dan selebihnya (20%) menyatakan lebih buruk dari tahun sebelumnya. Juga diakui responden. PPK dan Subsidi BBM. ketiga. Ratarata tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena penghasilan yang diperoleh dibawah Rp. program bantuan pendidikan seperti BOS dan PPK. BLT. 600. bahkan sebanyak 60% lebih pernah mengikuti dua sampai empat macam program anti kemiskinan.. PMP dan P2P. BAZIS. Infaq dan Shadaqah (BAZIS) 16)Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 17)Subsidi BBM Menurut bantuan yang diberikan.000. PDM-DKE dan PMP.per bulan. program. Secara umum program anti kemiskinan yang pernah diikuti belum membuat perekonomian mereka membaik. GEKS. semua program yang ada terbagi lima. kelima. program pembangunan infrastruktur seperti IDT. program yang bersifat jaring pengaman atau program yang berorientasi pemenuhan kebutuhan sesaat dengan model bantuan karitatif seperti Raskin.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 10)Bantuan Langsung Tunai (BLT) 11)Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari Departemen Dalam Negeri 12)Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) 13)Program Pengentasan Perkotaan (P2P) 14)Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PPMP) 15)Badan Amil Zakat. Bantuan yang bersifat jaring pengaman sosial hanya untuk memenuhi kebutuhan 90 Puslitbang Kesos . Kartu Sehat. KUBE. program memberdayakan keluarga miskin dengan bantuan modal usaha seperti IDT. pertama. kedua. Dampak program yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Program Tidak Efektif Program-program anti kemiskinan tidak efektif membebaskan penerima bantuan dari kemiskinannya. pengembangan keuangan mikro dengan memberikan bantuan modal kepada kelompok simpan pinjam seperti IDT. PPK. Pada umumnya (90%) pernah mengikuti program anti kemiskinan. keempat.

2) Pengembangan Infrastruktur Program pengembangan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang dibangun telah memudahkan penduduk setempat untuk memasarkan produksinya. Selain itu tidak ada pengawasan dan pembinaan dari penyelenggara program dan tidak ada perhatian dari tokoh masyarakat setempat. 5) Bantuan Alat Tidak Efektif Program bantuan peralatan usaha tidak efektif karena penerima tidak mampu mengoperasikan alat yang diterima. hanya menyentuh sebagian rumah tangga. Penyebab ketidakberhasilan program. 3) Keuangan Mikro Kurang Berhasil Program pengembangan keuangan mikro bukan perbankan. Ikatan anggota dengan kelompok rendah karena kebanyakan anggota dan perlu uang. Hal tersebut disebabkan kelompok simpan pinjam tidak bertahan lama dan kelompok cepat bubar. kendaraan bermotor dapat menjangkau desanya. Terutama dalam bentuk simpan pinjam tidak bermanfaat dalam waktu jangka panjang. Namun daerah penerima bantuan tetap saja menjadi kantong-kantong kemiskinan. Puslitbang Kesos 91 . Beras Raskin lebih banyak dimanfaatkan penduduk miskin di perkotaan daripada penduduk miskin di perdesaan. yaitu.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya hidup sehari-hari dan tidak membuat mereka menyimpan karena bantuan jumlahnya terlalu kecil. 4) Bantuan Bergulir Kurang Berhasil Bantuan yang diterima dalam kelompok tidak bergulir karena sapi yang diterima terlebih dahulu dijual sebelum beranak. Penyebab lain kemacetan tinggi karena cicilan terlalu besar dan anggapan uang pemerintah tidak perlu dikembalikan. 1) Sifat Program Bantuan yang diberikan menyelesaikan kebutuhan sesaat karena bersifat karitatif dan parsial. tidak mampu membayar cicilan dana bantuan dan pendapatan kecil dengan biaya operasional yang tinggi. sehingga tidak memberdayakan penerimanya.

Kantor tidak tiap hari dibuka. komunitas perdesaan beranggapan penanggulangan kemiskinan merupakan tugas pemerintah. 92 Puslitbang Kesos . Pemerintah nagari/ kelurahan diperlakukan sebagai ujung tombak yang tumpul karena program-program tidak memberdayakan organisasi lokal. Keragaan Energi Sosial Lokal 1) Peran Institusi Formal Institusi formal lokal dalam pemerintah kabupaten (Nagari) dipimpin Wali Nagari. hanya kalau ada keperluan atau pekerjaan tertentu barulah dibuka seperti ada kegiatan dari kecamatan atau instansi pemerintah lainnya. Lembaga nagari/kelurahan tidak aktif memantau dan membenahi program yang ada. kedua. Sedangkan dalam pemerintah kota (Kelurahan) ada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Badan Perwakilan Adat Nagari (BPAN) atau Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Namun dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari belum dapat mengeluarkan aturan-aturan bagi nagarinya. 3. Hal itu dianggap bukan menjadi urusan mereka dan tidak ada mekanisme pertanggungjawabannya. Lembaga tersebut banyak berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan lembaga pimpinan adat (nini mamak ). Gagalnya program anti kemiskinan disebabkan. Kegiatan yang dilakukan terbatas pada penetapan anggaran pendapatan dan belanja nagari/kelurahan. Berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan belum peduli terhadap program kemiskinan dan belum berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. 3) Partisipasi Lokal Partisipasi organisasi sosial dan tokoh lokal rendah karena mereka tidak melakukan langkah-langkah untuk melanjutkan program. pertama.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 2) Pengelolaan Program bantuan tidak berkelanjutan dan kelompok yang dibentuk tidak efektif. program-program tersebut tidak ada yang mendorong lembaga lokal untuk aktif terlibat dan bertanggung jawab terhadap program anti kemiskinan.

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

2) Peran Institusi Informal Lembaga informal yang ada merupakan lembaga yang tidak terkait dengan pemerintah seperti Kerapatan/Lembaga Adat Nagari (K/LAN), Badan Musyawarah Adat dan Syara (BMAS), organisasi berbasis agama dan kekerabatan. Khususnya organisasi yang berbasis keagamaan seperti majlis taklim dan kelompok yasinan, perannya muncul ketika perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan lain-lain. Lembaga tersebut mempunyai tugas mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah untuk dibagikan kepada keluarga miskin. 3) Peran Kekerabatan Kebutuhan anggota kerabat atau keluarga yang dialami selalu dikaitkan dengan fungsi keluarga luas matrilineal. Bantuan sosial ekonomi diberikan kepada seluruh anggota keluarga yang memerlukan. Terutama berkaitan dengan keperluan yang sifatnya mendadak seperti sakit, kebakaran, meninggal dan musibah lainnya. Unsur matrilineal menjadi pokok perhatian yaitu; pertama, harta pusaka sebagai sumber ekonomi keluarga luas matrilineal; kedua, pola tempat tinggal keluarga luas matrilineal dalam menjalankan perannya; ketiga, aktualisasi adat. Hubungan sosial ekonomi dimulai dari hubungan timbal balik. Semangat akan timbul saat membantu dalam pelaksanaan perkawinan. Bantuan yang diberikan biasanya dalam bentuk uang dan tenaga, sedangkan dalam biaya pendidikan tidak karena menjadi urusan masing-masing. Bantuan terhadap orang miskin, lanjut usia dan yatim piatu menjadi urusan paruiknya. Mereka lebih baik dipelihara oleh paruik dan masyarakat setempat yang telah saling mengenal dan dijamin lebih baik. Masyarakat tidak mau dan merasa malu menempatkan lanjut usia dan anak yatim ke panti asuhan. Peran tokoh lokal membantu orang miskin dalam bentuk memberikan fasilitas atau modal usaha. 4) Nilai-nilai dan Solidaritas Lokal Nilai-nilai dan praktek solidaritas sosial lokal tumbuh dan berkembang dalam masyarakat didasarkan rasa tanggung jawab dan rasa kebersamaan. Tujuannya untuk membantu seluruh anggota
Puslitbang Kesos

93

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

keluarga dan masyarakat. Pepatah Minangkabau; bakampung mamaga kampung, tagak basuku mamaga suku, tagak banagari mamaga nagari, sandar menyandar bagaikan aur dengan tebing. Nilai yang terkandung dalam pepatah tersebut mencerminkan kehidupan keluarga yang saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Namun, dalam perkembangannya nilai-nilai tersebut tidak lagi dijalankan. Masyarakat menggunakan kata individualis untuk menyebut perilaku dari sebagian masyarakat yang tidak lagi memikirkan sanak saudara dan para tetangga dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi sosial yang sangat dikenal yaitu Kelompok simpan pinjam, Kongsi dan Julo-julo. Kelompok simpan pinjam terdiri dari beberapa orang yang mengelompokkan diri yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan anggota atau kelompoknya. Ada kelompok laki-laki atau kelompok perempuan. Kelompok juga yang berhubungan dengan pihak luar atau organisasi sosial untuk memperoleh pinjaman. Kelompok simpan pinjam sering cepat bubar karena menjadi pengurus tidak semuanya disenangi masyarakat, kecurigaan anggota terhadap pengurus sangat tinggi. Kongsi suatu istilah yang dimulai dari individu yang menjual jasa dalam pengolahan lahan pertanian terhadap anggotanya. Kegiatannya bertujuan untuk mengatasi kesulitan mereka dalam membayar tenaga kerja. Biasanya, awal kegiatan kongsi berjalan baik dan selanjutnya sering anggota kongsi malas dengan berbagai alasan. Upah yang dibayarkan berbeda berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebesar Rp. 20.000,- per hari dan perempuan sebesar Rp. 10.000,- per hari. Julo-julo (Arisan) yang merupakan kelompok penabung, dipelopori ibu-ibu. Setiap anggota akan menabung sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan dan waktu penarikan yang ditentukan. Biasanya terdiri dari 10 orang, tiap orang akan menerima bagian sesuai dengan jumlah uang yang ditabung dan paling murah Rp. 5.000,-. Keberadaan kelompok ini sangat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah keuangan terutama untuk biaya pendidikan dan modal kerja.

94

Puslitbang Kesos

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Kesimpulan dan Saran Pemetaan kemiskinan telah menggambarkan kantong-kantong kemiskinan dalam beberapa kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penelitian. Kantong-kantong kemiskinan tersebut berdasarkan tingkat nagari/kelurahan yang terbagi dalam kelompok petani lahan kering, persawahan dan nelayan. Dirumuskannya strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang disebutkan berbasis nagari/kelurahan. Adanya model strategi pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal yang akan diujicobakan pada tingkat nagari/kelurahan yaitu; a. Konsep Pengentasan kemiskinan berbasis institusi lokal diartikan program yang bertumpu kepada kekuatan komunitas lokal dengan mengandalkan organiasi sosial yang telah ada. Tujuannya agar komunitas lokal dan tokoh masyarakat pelaku aktif pengentasan kemiskinan. Orang miskin sebagai pelaku utama dan pihak lain sebagai mitra. Partisipasi diperlukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemeliharaan. b. Prinsip Organisasi sosial dan tokoh masyarakat harus aktif dan proaktif dalam pengentasan kemiskinan yang disusun sesuai potensi dan aspirasi masyarakat. Diperlukan badan atau organisasi sosial yang bertugas mengkoordinasikan upaya pengentasan kemiskinan. Diperlukan pendampingan yang menguasai tentang strategi dan teknik penanggulangan kemiskinan. Program bersifat pemberdayaan komunitas. c. Sasaran Komunitas nagari/kelurahan dengan angka kemiskinan tinggi melalui lembaga-lembaga dan rumah tangga miskin. Meningkatkan peran nagari/kelurahan yang mempunyai program anti kemiskinan berdasarkan potensi dan aspirasi lokal. Di lokasi dibentuk organisasi dengan sebutan Panitia Penanggulangan Kemiskinan Nagari/ Kelurahan.

Puslitbang Kesos

95

Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya

Ketentuan panitia antara lain; Lembaga tersebut dibentuk melalui musyawarah di nagari/kelurahan masing-masing, Panitia beranggotakan kaum laki-laki dan perempuan secara proporsional Struktur organisasi tediri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan sekurang-kurangnya lima anggota, Tokoh-tokoh terseleksi yang mempunyai komitmen tinggi, Mempunyai anggaran khusus, Menggali sumber-sumber lokal, Perlu pemecahan faktor-faktor struktural lokal Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain: 1) Rekruitment Tenaga Pendamping Pendamping dalam nagari/kelurahan sebanyak dua orang. Pendamping selalu berkoordinasi dengan peneliti dan pemerintahan nagari/ kelurahan. 2) Upaya Penyadaran Pendamping melakukan upaya penyadaran kepada lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat nagari/kelurahan agar mereka aktif melakukamn usaha pengentasan kemiskinan. 3) Membentuk Panitia Berkoordinasi dengan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk panitia. 4) Pelatihan Dilakukan terhadap panitia penanggulangan kemiskinan agar memahami kegiatannya. 5) Pendataan Melakukan pendataan rumah tangga miskin dengan merumuskan kriteria kemiskinan yang sesuai dengan persepsi setempat. 6) Merumuskan Program Merumuskan program dan kegiatan nagari/kelurahan dengan mengikutsertakan tenaga ahli, pejabat pemerintah dan pihak lain untuk membantu rumah tangga miskin.

96

Puslitbang Kesos

Metodologis dan Empiris. Menemukan Model Pemberdayaan Pranata Sosial dalam Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat. Djamaluddin. “Pemberdayaan Pranata Sosial Pengalaman Empiris” dalam Umi Ratih Santoso. Data dan Informasi PMKS dan PSKS Tahun 2004. 2003. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Afrizal. dkk (ed). Pusbangtansosmas. Yogyakarta. M.4. Jakarta. Rencana Pembangunan Jangka Menangah (RPJM) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2006 – 2010: Agenda 6 Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan.Pemetaan Kemiskinan dan Strategi Pengentasannya 7) 8) 9) Membuat Peraturan Panitia dan tokoh masyarakat perlu membuat peraturan dalam pengentasan kemiskinan di daerahnya. Jakarta. 2006. Ancok. Puslitbang Kesos 97 . Aset untuk orang Miskin: Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Perspektif Teoritik. Membangun Keterlibatan Keterlibatan organisasi-organisasi sosial dan pemerintah dalam melakukan monitoring pengentasan kemiskinan. “Ikatan Kekerabatan sebagai Sebuah Jaringan Sosial Ekonomi: Diskusi tentang Isu-isu Perubahan pada Ikatan Kekerabatan Matrilineal Minangkabau” dalam Jurnal Pembangunan dan Perubahan Sosial. Raja Grafindo Persada. Aditya. R. 2006. 1995. 1997. Harry. “Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta. Pusdatin Kesos. Sherraden. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. Pelaksanaan Program Panitia penanganan kemiskinan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Jakarta. Jakarta. 2005. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Nomor 3 . Departemen Sosial RI. LP3ES Hikmat. 1987. dkk (ed). Chambers. Padang.

.

Hendriyati. Puslitbang Kesos 99 . Anwar Sitepu. M. petugas lembaga tinggal menetapkan titik batas nilai. Haryati Roebiyantho (anggota). Departemen Sosial RI tahun 2006. MPM 2 ABSTRAK Participatory Wealth Ranking (PWR) merupakan alternatif teknik mengidentifikasi keluarga termiskin dan miskin. Tahap ini rawan karena pada satu sisi sangat menentukan efektivitas program secara keseluruhan pada sisi lain sering dianggap pekerjaan mudah sehingga kurang diperhatikan atau bahkan disepelekan. Badiklit Kesos. Penyesuaian yang perlu dilakukan adalah pada sistem penilaian yaitu nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Data yang dihasilkan berupa data mikro. Agus Budi Purwanto (anggota). Yanuar Farida Wismayanti. memperoleh gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB).PARTICIPATORY WEALTH RANKING Sebuah Alternatif Teknik Identifikasi dan Seleksi Sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin1 Drs. Tim peneliti terdiri dari: Drs. berupa daftar nama dan alamat keluarga menurut urutan (peringkat) kemiskinan. MP (ketua). Kata kunci: Participatory Wealth Ranking. keluarga miskin Pendahuluan Salah satu titik rawan dalam penyelenggaraan Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) adalah pada tahap identifikasi dan seleksi sasaran. Anwar Sitepu. Teknik ini dikembangkan oleh The Small 1 2 Dikembangkan dari Laporan Penelitian Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Siti Aminah (sekretariat). Untuk seleksi sasaran program. Apabila pemberdayaan fakir miskin berniat untuk merangsang prakarsa masyarakat mengatasi permasalahannya maka PWR adalah sebuah pilihan tepat untuk mengawali langkah. Dra. Dengan menggunakan teknik PWR tampak dengan nyata bahwa masyarakat tidak saja diberi kesempatan berpartisipasi tetapi diakui dan dihargai martabatnya. Anwar Sitepu. Manual PWR mudah dijabarkan oleh fasilitator untuk memfasilitasi masyarakat melakukan pemeringkatan.ST (sekretariat). dan Dra. Ir. Drs. S. Mengatasi hal tersebut Puslitbang Kessos bermaksud menawarkan sebuah teknik yang disebut Participatory Wealth Ranking (PWR).Si (anggota).

kendala dan kemudahannya. untuk mengidentifikasi dan menyeleksi penerima pelayanannya di Afrika Selatan. seluruh pengalaman dan hasilnya dicatat dan diabstraksikan. Proses aplikasi di lapangan diobservasi. Bentuk lain yang relatif sudah dikenal lebih banyak orang adalah Participatory Rural Apraisal (PRA). Penelitian dilakukan di enam lokasi di provinsi berbeda. masing-masing sebagai satuan pemukiman setingkat atau bagian dari Dusun. Rukun Warga. Peneliti.Participatory Wealth Ranking Enterprise Foundation (SEF) sebuah Non Governmental Organization (NGO International). Lazimnya sebuah produk luar. Metode-metode/ Teknik-teknik participatory dikembangkan sebagai salah satu upaya menempatkan rakyat sebagai titik pusat pembangunan (people centred development). terlebih dahulu perlu dilakukan uji aplikasi. PWR dalam perkembangannya sudah diadopsi oleh NGO yang beroperasi di seluruh dunia. Berdasarkan kajian awal teknik ini dipandang layak digunakan karena prosesnya dinilai aplicable dan teknisnya dikembangkan berlandaskan pendekatan partisipatif. Dengan Teknik PWR konsep dan indikator miskin tidak disiapkan dari luar sebelum pengumpulan data dilakukan. Tekanan penting pada metode partisipatif bukan sebatas pada aktivitas pengkajian/penelitian atau pengumpulan data tetapi pada aspek pembelajaran masyarakat (Rianingsih (Ed). visi dan misi serta strategi P2FM. Konsep dan Teknik PWR Participatory Wealth Ranking (PWR) adalah sebuah teknik pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi berlandaskan pada pendekatan partisipatif. termasuk di Indonesia. Tujuannya adalah mengetahui efektivitasnya. senada dan selaras dengan paradigma. Tulisan ini merupakan pengembangan dari laporan uji aplikasi PWR di lapangan. dan Lingkungan. Seperti PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers.1996:14). sekaligus bertindak sebagai fasilitator. 100 Puslitbang Kesos . Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan di lapangan manual PWR yang disusun oleh The SEF. PWR adalah sebuah teknik penelitian tetapi bukan sekedar teknik penelitian biasa. sebelum dianjurkan untuk diaplikasikan secara luas dalam pelaksanaan P2FM. yang sebelumnya dilatih secara singkat. Tujuan PWR adalah untuk menemukan keluarga termiskin di suatu masyarakat menurut ukuran mereka sendiri dan oleh mereka sendiri. Visi metode/ pendekatan partisipatif adalah perubahan sosial dan pemberdayaan (penguatan) masyarakat agar ketimpangan ditiadakan. PWR adalah salah satu bentuk dari metode-metode partisipatif.

Participatory Wealth Ranking

Penggunaan teknik ini efektif dilakukan di masyarakat yang warganya saling mengenal dengan baik. Pemeringkatan keluarga dilakukan oleh perwakilan warga, dengan asumsi mereka lebih tahu kondisi sesamanya. Perwakilan warga ditetapkan secara proporsional, minimal sebanyak 9 orang dan maksimal 15 orang. Pemeringkatan dilakukan melalui proses penilaian berlapis, yaitu sebanyak tiga kali (triangulasi). Setiap penilaian dilakukan oleh kelompok kecil (tiga sampai lima orang) perwakilan warga. Penilaian dilakukan dengan teknik pengelompokkan, setiap keluarga dibandingkan kondisi sosial ekonominya dengan keluarga lain. Keluarga yang sama atau seimbang kondisi sosial ekonominya dikelompokkan menjadi satu kelompok. Sumber data adalah perwakilan warga itu juga, sehingga mereka bertindak sekaligus sebagai pengumpul data dan informan. Orang luar, petugas lembaga bertindak sebagai fasilitator. Pemeringkatan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: Tahap Persiapan, Tahap Pelaksanaan dan Tahap Penghitungan Nilai.
1. Tahap Persiapan

Tahap Persiapan bertujuan untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melakukan pemeringkatan. Kegiatan pada tahap ini meliputi tiga besaran, yaitu: perkenalan dan penjelasan, merencanakan pertemuan pemeringkatan dan pengaturan logistik. Perkenalan yang dimaksud dilakukan dengan aparat setempat. Kepada aparat dikenalkan siapa fasilitator, dijelaskan apa tujuannya dan bagaimana teknis pemeringkatan, termasuk cara kerja, dan dukungan apa yang diperlukan sampai pada kesepakatan melakukan pemeringkatan. Jika aparat setempat sudah jelas dan tidak keberatan, lanjutkan dengan pengaturan pelaksanaan kegiatan, termasuk waktu, tempat dan peserta. Pada kesempatan tersebut fasilitator menjelaskan persyaratan peserta, lokasi pertemuan yang diperlukan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini bertujuan untuk memisahkan atau mengelompokkan keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Semua keluarga yang sama atau seimbang dari segi sosial ekonomi dikelompokkan menjadi satu kelompok, sehingga seluruh keluarga akan masuk dalam salah satu
Puslitbang Kesos

101

Participatory Wealth Ranking

kelompok. Tujuan tersebut dicapai melalui sejumlah kegiatan yaitu: pemetaan, pendaftaran keluarga, pembuatan kartu, diskusi konsep, dan sorting. Pemetaan bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh keluarga yang tinggal di suatu wilayah dimana PWR dilakukan, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Peta memuat lokasi rumah setiap keluarga di masyarakat tersebut. Setiap rumah di peta diberi nomor urut. Nama masing-masing Kepala Keluarga dan identitas lain seperti nama panggilan, pekerjaan dan nama isteri, kemudian didaftarkan pada form khusus yang sudah disiapkan. Berikutnya, nama dan nomor urut masing-masing KK ditulis kembali di atas sebuah potongan kertas karton sehingga menjadi sebuah kartu. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat sorting. Sorting adalah pembandingan antar satu keluarga dengan keluarga lain. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi konsep. Peserta diajak merumuskan apa yang dimaksud dengan ”miskin” dan ”sangat miskin” atau mengidentifikasi apa ciri-ciri sebuah keluarga miskin atau sangat miskin. Diskusi dimaksudkan agar peserta berpikir dan memiliki pemahaman yang sama tentang miskin dan sangat miskin. Kesamaan pemahaman diperlukan untuk mempermudah proses sorting. Sorting dilakukan dengan cara: • Fasilitator menunjukkan kartu nama keluarga kepada kelompok. Dijelaskan bahwa masing-masing kartu tersebut mewakili sebuah keluarga. • Kemudian, fasilitator mengambil dua kartu pertama, seraya memperlihatkan dan menanyakan kepada peserta, apakah mereka mengenal kedua keluarga yang namanya tertera pada masing-masing kartu tersebut? ”Keluarga mana yang lebih miskin?” Disini akan berlansung diskusi, masing-masing peserta akan menyampaikan informasi dan pendapatnya. • Setelah diperoleh kesepakatan, kedua kartu diletakkan bersebelahan, yang lebih miskin di sebelah kiri dan yang lebih kaya sebelah kanan. Alasan penempatan dicatat pada form yang telah disiapkan. Dilanjutkan dengan kartu berikutnya, bandingkan dengan dua kartu yang sudah diletakkan. Jika sama atau seimbang dengan

102

Puslitbang Kesos

Participatory Wealth Ranking

salah satu kartu yang sudah diletakkan tadi, maka kartu ketiga diletakkan di atasnya. Jika lebih kaya dari kartu sebelah kanan, maka kartu ketiga diletakkan di sebelah kanannya lagi, atau jika lebih miskin dari yang paling kiri, maka kartu ketiga itu diletakkan di sebelah kirinya lagi. • Demikian seterusnya, satu demi satu dibandingkan dan diletakkan di tempat yang sesuai. Pada akhirnya seluruh kartu akan masuk pada salah satu kelompok atau tumpukan kartu. • Sorting dilakukan sebanyak tiga kali masing-masing oleh kelompok (3 sampai 5 orang) perwakilan warga, pada waktu dan tempat berbeda. Menurut The SEF tidak menjadi soal, berapa pun banyaknya tumpukan, yang penting adalah bahwa masing-masing tumpukan berbeda menurut kondisi sosial ekonomi. The SEF menganjurkan sebaiknya minimal 4 tumpukan. Hal yang harus diingat bahwa sorting adalah membandingkan kondisi kehidupan sosial ekonomi keluarga, bukan bagaimana orang mencari uang atau berapa besar pendapatan sebuah keluarga. Contoh, walau pun seseorang memiliki penghasilan besar tetapi uangnya tidak dibawa ke rumah untuk kepentingan keluarganya, maka itu percuma saja, tidak memberi dampak pada kesejahteraan keluarganya. Seluruh kegiatan di atas, mulai dari membuat peta, pendaftaran nama KK, pembuatan kartu, diskusi konsep dan sorting dilakukan oleh perwakilan warga. Petugas dari lembaga hanya sebagai fasilitator. PWR harus berlangsung dalam suasana santai tetapi tetap serius.
3. Tahap Penghitungan Nilai

Akhir dari sorting adalah terpisahnya kartu keluarga menjadi beberapa tumpukan. Tumpukan paling kiri di mana keluarga termiskin berada diberi nilai 100, artinya 100% miskin. Nilai masing-masing keluarga lain tergantung pada jumlah tumpukan (pengelompokkan) dan di tumpukan mana dia berada. Contoh: Anggaplah kelompok membagi keluarga ke dalam 4 kategori atau tumpukan menurut kondisi sosial ekonominya. Menghitung seberapa miskin setiap tumpukan, 100 dibagi dengan jumlah kategori. 100 dibagi 4 = 25 kalikan dengan nomor tumpukan. Tumpukan 4 = 100 : 4 x 4 = 100;
Puslitbang Kesos

103

Participatory Wealth Ranking

Tumpukan 3 = 100 : 4 x 3 = 75 ; Tumpukan 2 = 100 : 4 x 2 = 50; Tumpukan 1 = 100 : 4 x 1 = 25. Nilai dari masing-masing kelompok penilai dimasukan pada kolom tersendiri pada form yang sudah disiapkan. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh nilai rata-rata masingmasing keluarga. Nilai rata-rata berfungsi untuk menentukan peringkat akhir keluarga di masyarakatnya. Karena masing-masing keluarga dinilai sebanyak tiga kali maka setiap keluarga memperoleh tiga nilai. Nilai rata-rata setiap keluarga adalah jumlah tiga nilai dibagi tiga. Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah, maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri. Maksudnya tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat.

Uji Aplikasi PWR Uji aplikasi dilakukan di 6 provinsi, masing-masing satu lokasi. Peneliti bertindak sekaligus sebagai fasilitator. Menurut tipe masyarakatnya, 4 lokasi berupa masyarakat perdesaan dan dua lokasi berupa masyarakat perkotaan. Keenam lokasi merupakan calon lokasi program pemberdayaan fakir miskin. Berikut adalah deskripsi aplikasi setiap tahap PWR.
1. Tahap Persiapan

Seluruh kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan dengan baik di semua lokasi. Kegiatan diawali dengan menemui Kepala Kelurahan/ Desa. Tim Fasilitator didampingi oleh aparat Dinas Sosial Provinsi dan atau Dinas Sosial Kota/Kabupaten. Perkenalan dengan Kepala Kelurahan/Kepala Desa berlangsung dengan baik. Kepada mereka dijelaskan bahwa kegiatan dilakukan masih sebatas mengujicobakan teknik. Kepada masing-masing juga dijelaskan secara singkat tujuan dan teknik pelaksanaan PWR. Masing-masing tidak keberatan di wilayahnya dilakukan kegiatan dan bersedia membantu. Bersama Kepala Desa/Kelurahan ditetapkan bagian wilayahnya yang akan

104

Puslitbang Kesos

dan seterusnya (lihat Tabel 1). Medan Denai Kabupaten Subang Kec. Lamaknen Kota Samarinda Kec. Bangli Kabupaten Belu. Tabel 1. Desa 3. Intensitas kerja lebih banyak dilakukan bersama aparat terbawah. Pemilihan dilakukan dengan melibatkan ketua-ketua wilayah masing-masing dan sejumlah tokoh setempat. Cakupan lokasi menjadi berbeda. Fasilitator menjelaskan kriteria lokasi uji coba PWR yang diinginkan. Obipul. 1. Cipunagara Kabupaten Wonogiri Kec. Jawa Tengah Bali Desa 4. di Subang dan Samarinda dua RT.Participatory Wealth Ranking dijadikan lokasi. Perkenalan dan penjelasan lebih lanjut dilakukan dengan aparat pemerintah di tingkat RT/RW/Kepala Dusun/Kepala Lingkungan. sekaligus dengan memperhatikan keseimbangan menurut jenis kelamin. Hal tersebut terjadi dalam upaya mencapai jumlah KK sebanyak antara 150 sampai 200 KK. Kepada mereka juga ditanyakan apakah warganya saling mengenal satu dengan yang lain. Subang (Jabar) dan Wonogiri (Jatim) bertepatan dengan bulan puasa. PROVINSI Sumatera Utara Jawa Barat KOTA/KAB Kecamatan Kota Medan Kec. Persiapan lebih krusial berlangsung bersama mereka. Lokasi Aplikasi PWR dan Tipe Masyarakatnya No. Kegiatan dilaksanakan pada waktu dan tempat yang disepakati. Dusun Jati Desa Kenteng Desa Kayubihi Desa Lakmaras Kelurahan Selili SATUAN Lingkungan (1): L IX Rukun Tetangga (2): RT 22 dan RT 23 RW 5 Dusun (1) : Dusun Ploso Jenar Dusun (1) : Dusun Pucangan Dusun (3): Sabulmil. di Medan meliputi satu lingkungan. Abistas Rukun Tetangga (2): RT 29 dan RT 30 TIPE Kota 2. di Bali satu dusun. Kec. Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Desa Kota Puslitbang Kesos 105 . Bersama Ketua RT/ RW/Lingkungan/Dusun dilakukan: pemilihan perwakilan warga. Purwantoro Kabupaten Buleleng Kec. Samarinda Seberang DESA/KEL. Kelurahan Tegalsari Mandala 1 Desa Jati. Pelaksanaan PWR di Samarinda (Kaltim). Pada akhirnya lokasi terpilih menjadi bervariasi di masing-masing provinsi. Perwakilan warga di lokasi yang terdiri dari dua atau lebih satuan administrasi (misal di Samarinda dua RT dan di Belu tiga dusun) ditetapkan secara proporsional. penetapan lokasi pertemuan. Desa 5. pengaturan jadwal dan logistik. 6.

Pembuatan peta di semua lokasi berjalan mulus. Peta dibuat menurut wilayah satuan administrasi. masing-masing untuk RT 22 dan RT 23. Kesan umum yang muncul adalah sepertinya mereka tidak percaya bahwa mereka dapat melakukan pemeringkatan atau mereka meragukan manfaatnya. Hubungan dengan fasilitator mulai cair. Kejadian berbeda terjadi di Buleleng (Bali). dan Rekomendasi Badan Linmas setempat. Nama masing-masing KK sesuai nomor urut pada peta ditulis pada form yang sudah disiapkan. Di beberapa tempat Tim Perwakilan warga minta agar fasilitator terlebih dahulu menetapkan ukuran miskin atau tidak miskin. apakah akan ada bantuan untuk warga setempat. Pada pertemuan pertama diawali dengan perkenalan dan penjelasan. Proses kemudian diulang lagi. tidak percaya diri. Pertanyaan yang banyak disampaikan warga adalah seputar tidak lanjut. Surat Tugas. Seperti meminta memperlihatkan KTP. fasilitator bekerja bersama perwakilan warga atau disebut juga Tim Pemeringkat. memberi informasi. langsung sekali jadi. kehilangan inisiatif. Pembuatan peta berlangsung melalui dua cara berbeda: pertama. Di semua lokasi tidak ditemukan kesulitan berarti. suasana rileks dan santai. karena pemerintah sudah memiliki ukuran sendiri. saling mengingatkan. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini. fasilitator dapat menyampaikan penjelasan dan hingga dipahami perwakilan warga. terlebih dahulu membuat sketsa kemudian disalin kembali di atas kertas karton. misalnya di Subang dibuat dua peta. Pelajaran berharga diperoleh dari Wonogiri. salah seorang aparat Dinas Sosial setempat mengambil alih proses pembuatan peta akibatnya muncul kesulitan. perwakilan warga dalam sesi tanya jawab seperti ”menginterogasi” fasilitator dengan cara sangat halus. seharusnya pembuatan peta diserahkan kepada warga. semua peserta aktif. Pendaftaran KK di semua lokasi berlangsung lancar. Hal ini dapat dipahami sebagai indikasi. Di semua lokasi pertemuan berjalan dengan baik. bahwa warga masyarakat sudah lama demikian tergantung pada instruksi. Perwakilan Warga (Tim Pemeringkat) berhasil mengidentifikasi semua 106 Puslitbang Kesos . Demikian juga di lokasi lain yang kegiatan mencakup lebih dari satu wilayah administrasi.Participatory Wealth Ranking 2. kedua.

Selili Jabar. Kab. Dusun Jati Jateng.Kota Medan Kec. Wonogiri. Kab. Kec. Sesuai dengan semangat pemberdayaan. Dalam konteks pemberdayaan. semua kasus-kasus seperti di atas didaftar sebagai keluarga tersendiri. Lamaknen. seorang anak yang sudah menikah kemudian cerai dan kembali bersama orangtuanya. Kec. Fenomena yang menarik adalah jumlah KK yang dilaporkan sebelumnya oleh aparat pemerintah setempat ternyata berbeda dengan temuan penelitian (lihat Tabel 2). seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. Hal demikian patut diwaspadai karena dapat dibaca sebagai indikasi adanya sejumlah keluarga yang tidak tercover. seorang anak yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtuanya. Hasil kegiatan ini adalah daftar nama KK berikut alamat. Desa Jati. Bali. Banyaknya Kepala Keluarga Menurut Data dan Temuan di Lokasi Penelitian LOKASI NO. Kec. Samarinda Seberang Kel. Cipunagara. Desa Ploso Jenar Dusun Ploso Jenar SATUAN PEMUKIMAN SETEMPAT L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT1/5 RT2/5 RT3/5 RT4/5 RT1/6 RT2/6 Jumlah Dusun Pucangan Dusun Sabulmil Dusun Obipul Dusun Abistas Jumlah BANYAKNYA KEPALA KELUARGA DATA DESA 183 63 86 149 70 82 152 DITEMUKAN 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 PERBEDAAN 122 7 23 30 6 8 14 1. hal demikian sama artinya dengan menghilangkan akses sejumlah keluarga untuk masuk pada program yang diselenggarakan untuk mereka. jumlah KK hasil pemetaan lebih banyak dibanding data pemerintah setempat.Bangli. atau keluarga pendatang yang tinggal di rumah kontrakan di lingkungan setempat. Pertanyaan yang banyak muncul di semua lokasi adalah seputar siapa yang dimaksud keluarga. 5. 2.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. nama panggilan dan nama isteri masing-masing. Mdn Denai Kel. PROVINSI/KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. 4. Kab Subang. Misalnya.Desa kayubihi NTT.Participatory Wealth Ranking KK setempat. Kabupaten Bangli. Belu. Kecuali di Belu (NTT). Tabel 2.Purwantoro. Kec. 6. Desa Lakmaras 212 189 63 43 53 159 131 -3 -1 -2 -6 Puslitbang Kesos 107 . 3.

TSM 1 Kota Medan. Kedua. terlebih dahulu dilakukan diskusi konsep. Ciri-ciri sebuah keluarga miskin menurut hasil diskusi adalah: (1). (4). Sebelum sorting. hubungan antar dua kelompok besar penduduk ternyata kurang harmonis.Selili. Sementara itu. Kota Samarinda. (3). Kendala yang dihadapi di beberapa lokasi adalah form dan blanko yang disiapkan tidak mencukupi karena jumlah penduduk melampaui perkiraan. (5). Biasanya cari pinjaman. perwakilan warga ternyata tidak hafal nama sebagian KK setempat. salah satu kelompok tertutup bagi kelompok yang lain. ditemukan sebanyak 305 KK. Lauk asal ada: contohnya ikan asin murahan. pengertian yang disampaikan cenderung abstrak. Mereka mengenal wajahnya tetapi tidak tahu siapa namanya. Di semua lokasi berhasil dirumuskan pengertian konsep ”miskin” dan ”sangat miskin”. Pada kegiatan ini fasilitator dituntut mampu menggali pendapat peserta. Ada dua persoalan pada kasus ini yang tidak diantisipasi sebelumnya. jumlah penduduk di lokasi jauh melebihi data yang disampaikan Ketua Lingkungan sebelumnya. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan apabila salah seorang anggotanya perlu berobat di rumah sakit. (1) Makan seadanya. Pertama. Pembuatan kartu keluarga di semua lokasi dilakukan sekaligus dengan pendaftaran nama KK. Pendidikan anak putus sekolah sebelum tamat SD atau SLTP. Pekerjaan tidak tetap (serabutan). Jika tidak cukup di fasilitasi. Selama pembuatan kartu tidak ditemukan kesulitan serius. yaitu 187 KK. Berikut adalah contoh definisi miskin: a) Lingkungan 9 Kel. Makan dari pemberian orang (anak/saudara/tetangga) atau mengemis. b) RT 29 dan RT 30 Kel.Participatory Wealth Ranking Kesulitan terjadi di Medan (Sumut). Rumah numpang (pada orangtua. Memperoleh makanan dari bantuan orang lain atau mengharap dari “raskin”. mertua atau saudara). salah satu faktor yang cukup mendukung kelancaran kegiatan adalah terdapatnya anggota perwakilan warga yang mampu menulis dengan jelas dan cepat. (2). Setelah dilakukan pemetaan. semua kegiatan dilakukan oleh Tim Perwakilan Warga. Fasilitator dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kedua kegiatan dilakukan setelah peta selesai digambar. 108 Puslitbang Kesos .

secara paralel.25. Rumah Tidak layak huni yang dimaksud adalah rumah yang komponen-komponennya. kelompok penilai melakukan sorting secara terpisah pada waktu bersamaan di lokasi yang sama. Teknik sorting seperti pada manual The SEF tampak cukup mudah dijelaskan oleh fasilitator dan mudah dipahami serta mudah dilakukan perwakilan warga di semua lokasi. (8) Tidak mampu menyediakan biaya pendidikan anak hingga minimal tamat SLTP. Puslitbang Kesos 109 . Misalnya di buat rangkap tiga (pengalaman di Subang dan Samarinda) atau tetap di buat rangkap satu.000. Pelaksanaan sorting berlangsung dalam dua model. (5) Tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit..Participatory Wealth Ranking (2) Pekerjaan dan penghasilan tidak tetap. sementara kelompoknya disebut juga Kelompok Penilai. (3) Tidak punya tempat tinggal sendiri yang layak huni. Tugas masingmasing kelompok adalah menilai seluruh keluarga dengan memperbandingkan satu dengan yang lain berdasar kondisi sosial ekonomi. ketiga kelompok penilai bekerja secara bergantian.per bulan. Penghasilan rata-rata per hari kurang dari Rp. Untuk memenuhi kebutuhan makan (pokok) selalu utang.. (4) Anggota keluarga sering sakit karena kurang gizi.750. Perwakilan warga kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing dengan 3 sampai 4 orang anggota. Cara kedua ini dilakukan di kebanyakan lokasi karena di pandang lebih mudah dan mengirit waktu. Biasanya numpang pada keluarga lain atau menyewa rumah yang tidak layak. Model kedua. Pada sorting dengan model paralel kartu keluarga perlu disiapkan sedemikian rupa. Model pertama. sehingga ketiga kelompok penilai dapat melakukan tugasnya. seperti dinding.atau kurang Rp. Kegiatan ini disebut juga sorting. (7) Tidak mampu membeli air bersih.000. secara simultan. Setelah diskusi konsep selesai dilanjutkan dengan penjelasan dan peragaan bagaimana melakukan sorting. (6) Peralatan rumah tangga sangat minim. lantai dan atap sudah lapuk atau bocor. Misalnya tidak punya TV. tetapi dibagi tiga bagian (pengalaman di Medan).

kelompok penilai dapat menilai setiap keluarga dan menempatkannya ke dalam kelompok atau kategori tertentu. nilai bagi masing-masing keluarga. Kejadian seperti ini dialami di Medan. yaitu nilai tertinggi selalu diberikan kepada yang terbaik. Mereka mudah memahami nilai tertinggi ditetapkan sebesar 100 diberikan kepada setiap keluarga termiskin yang kartunya berada pada tumpukan paling kiri. Hasil sorting terdiri dari dua bagian penting. Pertama. Alasan mereka seragam. Analog dengan sistem penilaian anak sekolah. Tahap Penghitungan Nilai Penghitungan nilai yang dimaksud adalah mulai dari menetapkan nilai setiap keluarga sampai mencari nilai rata-rata. catatan pada kategori mana sebuah keluarga ditempatkan dan alasan informatif mengapa ditempatkan pada kategori tertentu. sejumlah keluarga tidak dikenal dengan baik oleh Kelompok Penilai. tumpukan ke-4. sehingga nilai yang dihasilkan tidak konsisten. apabila sebuah kelompok penilai membagi penduduk menjadi 4 kategori (tumpukan). maka nilai masing-masing keluarga mulai dari termiskin sampai terkaya adalah 110 Puslitbang Kesos . 3. nilai tertinggi diberikan kepada keluarga terkaya. Sistem penetapan nilai demikian ternyata ditolak para peserta (anggota kelompok Penilai) di semua lokasi. Hal tersebut dimungkinkan karena semua anggota Kelompok Penilai mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Menetapkan nilai masing-masing keluarga dilakukan oleh tiga Kelompok Penilai melalui proses sorting. Sistem ini diterima dengan pertimbangan tidak merubah substansi pengelompokkan. Karena sorting dilakukan sebanyak tiga kali maka masing-masing keluarga memperoleh tiga nilai dan tiga catatan alasan. Keberatan warga diterima oleh fasilitator di semua lokasi. Dengan ketentuan demikian. Kesulitan terjadi apabila Kelompok Penilai tidak mengenal dengan baik keluargakeluarga setempat. Karena itu sorting dapat disebut juga sebagai proses penilaian. Banyaknya kategori bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lain. Nilai berasal dari atau tergantung pada tumpukan mana dia ditempatkan dan jumlah seluruh tumpukan (lihat sub bagian penghitungan nilai di atas). Kedua. Kelompok penilai di semua lokasi tidak mengalami kesulitan memahami sistem menetapkan nilai. mulai dari 4 sampai 6 kategori.Participatory Wealth Ranking Dalam prakteknya sorting berlangsung lancar.

75 dan 100. Distribusi Keluarga menurut Golongan Peringkat Kondisi Sosial Ekonomi Di Lokasi Penelitian NO.Participatory Wealth Ranking 25. Penghitungan nilai rata-rata dapat dilakukan dengan lancar oleh peserta. Dalam upaya penyederhanaan. Masing-masing peserta ternyata memperhatikan keluarga siapa dapat nilai berapa.50. Desa Lakmaras Puslitbang Kesos 111 . Kec. Keluarga dengan nilai terendah adalah keluarga termiskin. peringkat keluarga digolongkan menjadi 4 sampai 6 golongan peringkat (lihat Tabel 3). sebanyak 4. Sistem penilaian tetap sama. Pada umumnya jumlah kategori yang ditetapkan oleh tiga Kelompok Penilai di suatu lokasi adalah sama. 4. Wonogiri. Kabupaten Bangli. Kec. Dusun Jati Jateng. 3. 5 atau 6. Tabel 3. Kota Medan Kec. Desa Kenteng SPS JML PEND GOLONGAN PERINGKAT Sosial Ekonomi I 52 6 5 11 25 18 43 12 10 6 10 11 10 65 108 4 2 8 14 II 97 28 34 72 22 37 59 22 14 23 25 26 22 155 104 7 1 2 1 III 68 41 63 104 29 31 60 15 14 10 9 6 6 68 60 4 4 4 14 IV 73 5 7 12 4 4 9 4 7 11 4 3 40 4 28 21 21 70 V 15 5 1 2 6 1 15 13 11 14 38 VI 4 2 2 8 L9 RT 29 RT 30 Jumlah RT 22 RT 23 Jumlah RT 1/5 RT 2/5 RT 3/5 RT 4/5 RT 1/6 RT 2/6 Jumlah Dusun Pucangan Sabulmil Obipul Abistas Jumlah 305 70 109 179 76 90 166 63 43 40 61 48 41 343 276 60 42 51 153 2.Purwantoro. Desa Kayubihi NTT. Mudah bagi mereka menghitung (25 + 25 + 50) : 3. Nilai masing-masing keluarga dengan mudah dapat dimasukkan kelompok penilai ke form yang disiapkan. Belu. Kec. Selili Jabar. Berdasarkan nilai rata-rata diketahui peringkat kemiskinan setiap keluarga. Bali.Bangli. Desa Jati. Keluarga dengan nilai tertinggi adalah keluarga terkaya. Mdn Denai Kel. Kab. Smrd Seberang Kel. 1. Kab Subang.Ts Mandala 1 Kaltim Kota Samarinda Kec. 5. LOKASI PROVINSI/ KAB/KOTA/ KEC/KEL Sumut. Kec. Cipunagara. Kab. Lamaknen. Mereka spontan mengajukan protes jika merasa ada keluarga yang diberi nilai tidak semestinya. Kesempatan memasukkan nilai ke form ternyata sekaligus berfungsi melakukan kontrol. 6.

Hal ini harus disesuaikan dengan karakteristik sasaran program yang dirancang sebelumnya. Di Sumatera Utara dan di Jawa Tengah dibagi menjadi lima peringkat keluarga. Menetapkan Sasaran Program Seleksi penerima program dilakukan dengan menetapkan titik batas nilai (the cut of point). yaitu di Kaltim. Jabar dan Bali keluarga digolongkan menjadi 4 peringkat. 3. 1. maka titik batas nilai di setiap lokasi ditentukan secara sendiri-sendiri.Participatory Wealth Ranking 4. Dengan teknik PWR berhasil diidentifikasi keluarga termiskin di setiap lokasi. tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Titik batas nilai ditentukan oleh petugas lembaga yang sudah terlatih atau memiliki kualifikasi untuk itu. (yaitu 112 Puslitbang Kesos . 9. Penggolongan keluarga bervariasi di setiap lokasi. Keberhasilan Teknik PWR Teknik PWR berhasil dengan baik mengelompokkan secara relatif semua keluarga di setiap lokasi menurut peringkat sosial ekonomi. 2. Maksudnya. Mengingat tingkat kesejahteraan di masyarakat berbeda dan bervariasi antara wilayah. Tabel 4. 10. A 25 25 25 50 50 50 75 75 75 100 B 25 25 50 50 50 75 75 75 100 100 NILAI C 25 50 50 50 75 75 75 100 100 100 JML 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 RATA2 25 33 41 50 58 66 75 83 92 100 PERINGKAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 GOLONGAN PERINGKAT I Paling Miskin II Miskin III IV Dengan memperhatikan karakteristik umum keluarga sesuai nilai rata-rata atau peringkatnya dapat ditentukan “titik batas poin” keluarga yang berhak menjadi sasaran program. Contoh: Penduduk dibagi menjadi 4 kategori maka terdapat 10 variasi nilai rata-rata yang muncul. Sedangkat di NTT menjadi 6 peringkat keluarga. mungkin keluarga dengan nilai 33 sampai 41. 5. yaitu (lihat Tabel). 7. Variasi Nilai Rata-Rata yang berpeluang Muncul dan Peringkatnya No. Titik batas nilai ditetapkan dengan mempertimbangkan ciri-ciri atau karakteristik peringkat. 4. 6. 8. Peringkat tertinggi. Di tiga lokasi. Sasaran program P2FM kemungkinan bukan keluarga dengan nilai terendah.

3%) 153 Puslitbang Kesos 113 .4%) 305 Kaltim 179 (100%) 0 (0%) 179 LOKASI Jabar Jateng 166 331 (100%) (96. Dengan demikian tampak bahwa teknik PWR dapat menghasilkan data yang kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan. Di bawahnya berturutturut keluarga yang lebih rendah secara sosial ekonomi. Keluarga termiskin adalah keluarga yang masuk pada peringkat satu. di Bali. Di Jabar dan Kaltim konsistensi nilai bahkan mencapai 100%. Distribusi dan persentase keluarga menurut perbedaan nilai No. Standar Keabsahan Data Teknik PWR dilengkapi dengan ukuran keabsahan tersendiri. masingmasing peringkat berhasil dideskripsikan gambaran kondisi sosial ekonominya. 2. peringkat 5 di Jateng dan Sumut dan peringkat 6 di NTT) terdiri dari keluarga terkaya. Alasan lain untuk tidak meragukan keabsahan data yang diperoleh dengan teknik ini adalah: 1. 1. PERBEDAAN NILAI 0 – 25 (Konsisten) 26 > (inkonsisten) Jumlah Sumut 258 (84. Contoh: Kelompok Penilai A memberi nilai kepada keluarga nomor urut 1 sebesar 20. Apabila 90% konsisten maka hasil penilaian kelompok tersebut dianggap dapat dipercaya. Apabila Kelompok Penilai B memberi nilai pada keluarga yang sama sebesar 60 maka nilai tersebut dianggap tidak konsisten.9%) 3 (0.7%) 2 (1. Konsistensi nilai di semua lokasi ternyata di atas 90%. tampak bahwa penilaian yang diberikan Tim Pemeringkat cukup objektif.5%) 0 12 (0%) (3.5%) 166 343 Bali 273 (99. Tabel 5. Hal tersebut diyakini karena home visit di ke-6 lokasi memperlihatkan keluarga yang memperoleh nilai rata-rata rendah.6%) 47 (15. Nilai konsisten yang dimaksud adalah apabila nilai yang diberikan oleh tiga kelompok penilai adalah sama atau kalau berbeda maksimal perbedaan sebesar 25 poin. Jateng dan NTT nyaris 100%. Di setiap lokasi.1%) 276 NTT 151 (98.Participatory Wealth Ranking peringkat 4 di Kaltim. Jabar dan Bali. yaitu: konsistensi skor. Sebaliknya apabila skor tidak konsisten lebih dari 10% maka hasil penilaian kelompok itu perlu diragukan. memang kondisinya miskin. Hasil observasi atas beberapa keluarga miskin setelah proses penilaian selesai.

b) Waktu pelaksanaan fleksibel. tampak sulit terjadi. e) PWR dengan konsep keluarga lebih membawa nuansa keadilan. dapat dilakukan di luar jam kerja. masih ada rasa malu para perwakilan warga untuk menempatkan dirinya pada posisi yang tidak sesuai. ketiga. Hasil penilaian tiga kelompok penilai di Medan ternyata tidak dapat dipercaya sepenuhnya. d) Dapat mengidentifikasi seluruh keluarga yang bertempat tinggal di wilayah setempat. g) Pada proses pendaftaran nama KK versi The SEF informasi yang dikumpulkan meliputi nama KK. Data yang diperoleh tidak sekedar angka tetapi lengkap dengan identitas mulai dari nama KK. c) Masyarakat merasa dihargai karena seluruh proses dilakukan oleh mereka dan sesuai dengan ukuran yang berlaku sehari-hari di masyarakatnya. Pengecualian terjadi di Medan. peta dapat diperluas sehingga memuat unsur PSKS dan PMKS. seperti janda yang tinggal serumah dengan keluarga anaknya.Participatory Wealth Ranking 2. Keluarga yang sudah tidak lengkap. kedua. peta semata-mata untuk mengidentifikasi keluarga. Karena: pertama. nilai inkonsisten meliputi 15. proses penilaian dengan kartu memperkecil peluang. PWR cukup cermat. penilaian dilakukan berlapis. PWR berpeluang untuk mengumpulkan data PSKS (Potensi Sosial Kesejahteraan Sosial) dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lebih luas/banyak. Mengamati proses yang terjadi. Kelebihan dan Kendala Kelebihan PWR adalah: a) Teknik PWR mudah dipahami dan mudah dilakukan meskipun oleh warga berpendidikan rendah. ada saling mengontrol antara peserta. nama panggilan.4%.. Upaya seseorang untuk menempatkan sebuah keluarga pada peringkat yang tidak sesuai. 114 Puslitbang Kesos . pekerjaan dan nama isteri. alamat dan nama isteri. pekerjaan. tampak bahwa pengumpulan data dapat diperluas/diperdalam sesuai kepentingan. atau anak yang sudah menikah tetapi tinggal bersama orangtua/mertua dihitung sebagai keluarga tersendiri. Ketika aplikasi PWR dilakukan di lapangan. f) Pada proses pemetaan versi The SEF. lebih kaya atau menjadi lebih miskin.

hasil yang diperoleh meliputi: 1. d) Bahasa dapat menjadi kendala jika tidak ada penterjemah. Daftar nilai seluruh KK 6. 5. Peta wilayah pemukiman setempat 2. Dengan waktu dan tenaga seperti tersebut di atas. seperti dialami selama penelitian. pemilihan informan (perwakilan warga) harus hati-hati. melibatkan semua kelompok. dapat dilakukan oleh dua orang fasilitator bersama sebanyak 9 orang perwakilan warga untuk sebanyak 150 sampai 200 KK dalam waktu tiga hari. Daftar nama KK menurut peringkat sosial ekonomi. c) Pada masyarakat di mana hubungan sosial antara kelompok tidak harmonis atau renggang. 3. e) Masyarakat cenderung mengharapkan bantuan. di setiap SPS. 4. dengan tenaga dan waktu yang sama dapat memperingkatkan lebih dari 200 KK. seperti pada kasus Wonogiri dan Bangli. Indomie VS Jagung Pemeringkatan keluarga dengan Teknik PWR. Untuk wilayah perdesaan. Daftar nama KK seluruh penduduk SPS. b) Diperlukan kesabaran fasilitator untuk melakukan seluruh proses. Hasil lain yang juga tidak ternilai harganya adalah dampak yang ditimbulkan pada pribadi perwakilan warga dan pada masyarakat sebagai kesatuan sosial. mulai dari termiskin sampai terkaya. dikumpulkan informasi lanjutan tentang kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga. Konsep miskin menurut masyarakat setempat. ketika melakukan penilaian/perbandingan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Kendala dalam pelaksanaan PWR adalah: a) Masyarakat kita sudah terbiasa dengan instruksi. Puslitbang Kesos 115 . di mana penduduknya homogen dan memiliki interaksi sosial yang relatif tinggi.Participatory Wealth Ranking h) Pada proses sorting. Daftar alasan penempatan setiap keluarga pada peringkat tertentu.

3. 5. hubungan sosial yang kurang harmonis antara kelompok penduduk pribumi dan non pribumi (di Medan). Pengalaman perwakilan warga mengikuti kegiatan ini dapat dijadikan landasan membangun sistem pegumpulan data PSKS dan PMKS secara berkesinambungan. Sebagai kesatuan sosial. Sikap selalu menunggu instruksi bisa berkurang. Mereka dapat melaksanakan sendiri PWR secara berkala baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun kepentingan pihak lain. Kalau pembangunan hendak mengejar ”setoran” maka teknik PWR terasa boros dan mahal. praktis seperti memasak mie instan atau memerlukan waktu relatif lama seperti memasak jagung? Sangat tergantung dari sisi mana pengukuran dilakukan. 6. Kesimpulan dan Saran PWR cukup efektif digunakan untuk mengidentifikasi keluarga menurut urutan kemiskinannya secara partisipatif. Teknik ini mudah dilakukan oleh fasilitator yang dilatih secara singkat dan perwakilan masyarakat sekali pun berpendidikan rendah. fasilitator dapat menangkap situasi umum masyarakat. Apakah teknik PWR efesien? Mahal atau murah. seperti: kecurigaan warga terhadap pendatang (di Bali). Pelaksanaan PWR dapat menjadi titik awal (merangsang) muncul dan berkembangnya kesadaran dan tanggung jawab sosial bersama sesama warga untuk memecahkan masalah masyarakat. mendidik manusia. Rasa percaya diri tumbuh. 116 Puslitbang Kesos . Melalui proses pelaksanaan PWR. masyarakat diakui dan dihargai eksistensinya.Participatory Wealth Ranking 1. Pelaksanaan PWR selain berguna untuk pengumpulan data sekaligus dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi program. Perasaan inferior warga bisa diangkat. Apabila pembangunan kesejahteraan sosial ingin konsisten hendak membangun masyarakat sebagai basis perkembangan mandiri. PWR memungkinkan partisipasi masyarakat disalurkan secara representatif dan menghasilkan data secara sistematik. Pada pribadi perwakilan warga mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya. ketidakpecayaan warga atas penjelasan aparat pemerintah (di NTT). PWR menjadi super murah. termasuk pemerintah. 2. Bandingkan jika petugas datang lalu melakukan survey tanpa peduli pendapat masyarakat setempat. 4.

Rianingsih (Ed). tetapi sekaligus merangsang prakarsa masyarakat. 1999. Bandung Driyamedia untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusatenggara. Djohani. maka PWR dapat dijadikan pilihan teknik. 1996. Puslitbang Kesos 117 .Participatory Wealth Ranking PWR potensial digunakan untuk menjaring informasi lebih dalam (spesifik) maupun lebih luas. Apabila identifikasi dan seleksi sasaran Program Pemberdayaan Fakir Miskin hendak dijadikan kegiatan produktif. DAFTAR PUSTAKA David S Gibbon. CASHPOR Technical Service. Namun sebelum digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan seleksi sasaran P2FM. PWR juga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan sistem pengumpulan data berkelanjutan berbasis masyarakat. Negeri Sembilan. ben Nkuna. Anton Simanowitz. Walapun teknik sudah cukup partisipatif tetapi jika tidak digunakan dengan benar hasil akhirnya akan berbeda. Malaysia. Berbuat Bersama Berperan Setara: Penerapan Participatory Rural Appraisal. sehingga diperoleh pengalaman riil. Pada aplikasi PWR harus diwaspadai prosesnya dilakukan dengan benar. PWR tidak sekedar mengidentifikasi keluarga miskin dan termiskin. Cost Effective Targeting: Two Tools to Identify the Poor. PWR perlu terlebih dahulu digunakan secara terbatas di beberapa kabupaten.

.

Si. LSM. M. S. Kalimatan Barat. permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di wilayah perbatasan adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan. Anggota : Ir. M. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi. S. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang bersifat kualitatif wawancara dengan para informan.Pd. Rukmini Dahlan.PEMBERDAYAAN KELUARGA DI WILAYAH PERBATASAN (Identifikasi Masalah dan Kebutuhan)1 Sugiyanto. dengan anggota Tim : Konsultan : Dr. Ketua Tim : Drs. Prof. yaitu: pemuka masyarakat (formal.. Adapun 1 2 Diangkat dari penelitian “Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan”-Identifikasi Masalah dan Kebutuhan. Muchtar. kesehatan dan lainnya).Sc. Sekretariat : Bahder Husni. S. Kalimantan Timur. keterampilan serta ketidakmenentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. Secara umum. Departemen Sosial RI. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dari responden yang bersifat kuantitatif. Ajun Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. yang diikuti penyajian data. Untuk itu kebutuhan yang dibutuhkannya antara lain memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. Hum. Agus Suradika. Nusa Tenggara Timur dan Papua). Masngudin. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif. ekonomi. kebutuhan dan potensi serta untuk mendapatkan konsep model pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan. informal).Pd. dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah.. dokumentasi dan focus group discussion. keterampilan.. observasi. Puslitbang Kesos 119 . Badan Pendididkan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Perguruan Tinggi dan aparat instansi daerah terkait. BA.Si. pengetahun. Informan ditentukan secara purposive dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. H. merupakan studi kasus wilayah perbatasan di lima propinsi (Kepulauan Riau. 2 ABSTRAK Penelitian ini. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. M. Drs. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan.. Erliwati Suin. Sugiyanto. dan Haryanto.Pd. M. Dr. SST. Orsos. Sugiyanto. M. M.Sos.Si. Marzuki.

Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan potensi (sosial. termasuk pulau-pulau terluar. 30 Januari 2006). Secara umum intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah dan Orsos telah dilakukan tetapi secara spesifik yang mengarah terhadap pemberdayaan keluarga belum dilakukan. Oleh karena itu.tnial. misalnya: Kalbar.504 pulau. pelayanan bagi masyarakat serta penyediaan navigasi pelayaran (MI.I. Kaltim. 2 Januari 2006). masalah perbatasan saat ini merupakan masalah krusial yang harus mendapatkan perhatian khusus. NTT jumlah penduduknya sedikit.mil.id). penyebaran penduduk di wilayah perbatasan umumnya jarang dan sporadis. Konsep model pemberdayaan keluarga yang ditawarkan adalah konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. sampai kurangnya perhatian dari sektor-sektor terhadap pembangunan wilayah perbatasan (MI.menegaskan. bahkan tidak berpenghuni (KRA XXXVIII. Rencana pembangunan itu antara lain: peningkatan keamanan. Abdulhadi (LIPI) mengidentifikasi sejumlah permasalahan di wilayah perbatasan. sebarannya sangat jarang.000-an km dan terletak diantara dua benua (Australia dan Asia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia) memiliki perbatasan baik darat maupun laut (http//www. alam dan SDM) masih sangat terbuka sekali untuk dapat didayagunakan. Kata kunci: Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.. Konsep model tersebut masih perlu diujicobakan dan disosialisasikan ke berbagai pihak agar dapat menjadi program yang lebih efisien dan efektif. minimnya pembangunan infrastruktur. kemiskinan penduduk. Secara demografis. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari perairan dengan garis pantai sekitar 81. arus informasi dari dalam negeri kurang dan lebih deras arus dari negeri tetangga. kesenjangan kehidupan dengan negara tetangga. 2004). yaitu: pergeseran batas negara. Karena program yang telah dilakukan masih bersifat charity. Lemhanas R. 120 Puslitbang Kesos .dalam Rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar yang beranggotakan 17 menteri . Sedangkan pada perbatasan laut. Di wilayah yang berbatasan darat. Menko Polhukkam .

dan (4) merupakan wadah terjadinya proses sosialisasi awal bagi manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. serta ekplorasi model-model pemberdayaan keluarga baik yang telah maupun sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak di daerah. karena keluarga mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. banyak keluarga (di perbatasan) di dera berbagai masalah seperti: kemiskinan. yang dimaksud keluarga adalah keluarga miskin yang tinggal di wilayah berbatasan langsung dengan negara lain. maupun nonfisik (tingkat pendapatan rendah. Pemda. (2) unit sosial ekonomi yang secara material memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya. Mutu suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas kesatuan primer ini. bahkan tidak tersedia). Dunia Usaha. keluarga adalah: (1) pelindung bagi pribadi-pribadi anggotanya. agar ketenteraman dan ketertiban diperoleh dalam keluarga tersebut. Akan tetapi. Terkait dengan itu. bertujuan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan keluarga di daerah perbatasan. Menurut para ahli. pemberdayaan keluarga di wilayah perbatasan merupakan keharusan. tingkat pendidikan rendah. rendahnya kesehatan & nutrisi. komunikasi & lainnya yang tidak memadai. unsur Pemda maupun masyarakat (LSM).Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Sejalan dengan pemikiran itu.I. derajat kesehatan rendah dan lain sebagainya). Puslitbang Kesos 121 . yang nantinya diharapkan dapat diterapkan oleh unit operasional Departemen Sosial R. anak-anak yang tidak sekolah dan berbagai masalah sosial lainnya. dalam hal ini Direktorat Pemberdayaan Keluarga dan pihak terkait lainnya. 1988). rendahnya tingkat pendidikan. (3) menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah pergaulan hidup. kenyataan empirik menunjukkan. Dalam konteks penelitian ini. Dalam Undang-Undang Nomor :10 Tahun 1992 dinyatakan. atau ibu dan anaknya. Soekanto (1990) juga menyatakan. Yang pada umumnya mereka dalam kondisi keterbatasan baik secara fisik (sarana transportasi. perumahan dan sanitasi yang tidak layak. Penelitian ini merupakan input bagi penyusunan konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. atau suami istri dan anaknya. tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya (Gerungan. LSM/Orsos dan Perguruan Tinggi. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. Puslitbang Kessos Depsos RI (2006) melakukan penelitian. keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia. atau ayah dan anaknya.

utamanya Eropa. hilangnya kekuatan tawar menawar. Terkait dengan ketidakberdayaan. physical weakness (kelemahan fisik). ketidakberdayaan membatasi akses terhadap sumber daya negara.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Adapun arti dari pemberdayaan (empowerment) itu sendiri merupakan konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan Barat. memperumit keadilan hukum terhadap penyelewengan. Dalam konsep pemberdayaan. Chambers (1983) mengemukakan konsep perangkap deprivasi (concept of deprivation trap). Ia menganalisis penyebab kemiskinan sebagai hubungan sebab akibat yang saling berkait dari powerlessness (ketidakberdayaan). pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan memenuhi kehidupan komunitas mereka. 1983) 122 Puslitbang Kesos . Ife (1995) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber. kesempatan. vulnerrebality (kerentanan). poverty (kemiskinan) dan isolation (keterisolisasian). Perangkap Depriasi (Sumber : Chambers. Saling keterkaitan kelima itu dapat dicermati pada gambar berikut: Ketidakberdayaan Isolasi Kerentanan Kemiskinan Kelemahan Fisik Bagan 1. membuat rakyat semakin tidak mempunyai kemampuan terhadap permintaan mendadak untuk pembayaran pinjaman atau terhadap permintaan uang suap dalam suatu sengketa. yaitu: kondisi berdaya dan ketidakberdayaan. terdapat dua hal yang saling berkait. Chambers lebih lanjut menjelaskan.

(d) aparat instansi Pemerintah Daerah terkait. (d) Desa Berakit (Bintan Kepri) berbatasan laut dengan Malaysia & Singapura. (b) Desa Pancang (Nunukan Kaltim) berbatasan darat & laut dengan Malaysia. yang akhirnya dilakukan pengambilan kesimpulan. (c) Dusun Bungkang (Sanggau Kalbar) berbatasan darat dengan Malaysia. mendorong. kekuatan. yang diikuti penyajian data. Agar kecenderungan primer terwujud. seringkali harus melalui proses sekunder terlebih dahulu. memotivasi masyarakat. informan dalam penelitian ini adalah: (a) pemuka masyarakat setempat (formal-informal). (c) perguruan tinggi. Responden ditentukan secara random sampling . atau kemampuan kepada masyarakat. Data kuantitatif dianalisis secara distributive-frekuentif. dokumentasi. (b) orsos/LSM. dan (2) proses sekunder. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif-kuantitatif. dan focus group discussion. tetapi saling terkait. dengan menekankan pada menstimuli. lokasi tersebut berbatasan langsung dengan negara lain. Kedua proses ini bukan klasifikasi kaku. yang menekankan pada pengalihan sebagian kekuasaan. Puslitbang Kesos 123 .Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Menurut Oakley & Marsden (1984) dalam Pranarka & Moeljarto (1996). sejumlah permasalahan keluarga yang mengedepan di daerah perbatasan lokasi penelitian adalah: kemiskinan penduduk. agar mempunyai kemampuan/ keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara. proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. dan (e) Desa Silawan (Belu NTT) berbatasan darat dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). yaitu: (1) proses primer.kepala keluarga di daerah berbatasan. agar menjadi lebih berdaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka. yang diakibatkan oleh rendahnya pendidikan serta keterampilan dan ketidak menentuan jenis pekerjaan yang ditekuni dan penghasilannya. lokasi terpilih adalah: (a) Kampung Skouw Sae (Jayapura Papua) berbatasan darat dengan PNG. Informan ditentukan secara purposive mereka memahami secara baik kondisi daerah perbatasan. observasi. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan. Atas pertimbangan itu. Lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan. Atas dasar itu. sedangkan data kualitatif dianalisis secara reduktif.

keterampilan. kesehatan. Intervensi kebijakan pemerintah tersebut di rasakan masih jauh dari yang diharapkan. adalah: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. penyuluhan. model yang ditawarkan (yang dilihat dari pelatihan. dan psikologis. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. juga bersifat philantropy. karena masih lebih bersifat charity. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Berdasarkan permasalahan. serta belum ada program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. Demikian halnya intervensi sosial yang dilakukan oleh Masyarakat (Orsos/LSM: dalam. potensi tersebut model yang ditawarkan ini akan diuraikan melalui variabel-variabel: lokasi penelitian (desa/kecamatan/ kabupaten). kesehatan. Orsos. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya). antara lain: jalan. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. Dengan demikian. raskin. untuk dapat mengakses sistem sumber (informasi. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. kesehatan. pengetahun. Disamping itu. ekonomi. dan ekonomi (pasar). pendidikan. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. Disamping itu. juga diperlukan sarana prasarana pendidikan. adalah: adanya rasa kebersamaan. 124 Puslitbang Kesos . yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. ekonomi (pasar) dan pemukiman. tidak berkelanjutan. metode. luar negeri). kesehatan dan lainnya). juga adanya lembaga-lembaga (informal. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan adalah: memfasilitasi mereka. kebutuhan. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi). UEP. Adapun intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di wilayah perbatasan. Adapun potensi (sosial.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. sekolah. dan ketidakberdayan secara sosial. Demikian juga potensi alam (laut. keterisolasian. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. lahan pertanian. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. kebutuhan. politik. permasalahan. BLT/SLT. non formal) lokal. transportasi. potensi.

Belu dan Jayapura). bahan bangunan perbaikan rumah. Namun. bimbingan Bantuan teknis (pendampingan) Bantuan: Kebutuhan pokok. bahan bangunan perbaikan rumah. yang mewakili perbatasan darat maupun laut dengan negara tetangga. Model Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan. keterisolasian dan ketidakberdayan Puslitbang Kesos 125 . bantuan: Pendamping. Masalah tersebut terkait erat dengan kerentanan. tentunya selain di lima wilayah perbatasan yang menjadi sampel penelitiaan ini. & bantuan UEP Keberdayaan Keluarga Pengawasan Bagan 2. Model tersebut memungkinkan untuk direplikasikan di tempat lain. maka untuk menghasilkan model yang diharapkan memerlukan proses yang panjang. adalah kemiskinan penduduk. kebutuhan pokok.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan pendampingan) dan user. keterampilan. Keluarga di daerah perbatasan Diperolehnya pengetahuan. Nunukan. Oleh karena itu. uji coba perlu dilaksanakan berkali-kali untuk meredesign sesuai dengan hasil uji coba. Sesuai dengan prinsip participatory action research (PAR). Sehingga nantinya didapatkan/dihasilkan model yang variatif untuk setiap jenis wilayah perbatasan. masih diperlukan adanya penyempurnaan dalam usaha memperkecil kelemahan dan menjawab ancaman. Sanggau. Setelah itu bisa di uji cobakan lagi pada daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. & UEP. Model tersebut seperti terlihat pada bagan tersebut di bawah ini : Masyarakat (Pelaku perubahan) Pemerintah (Fasilitator) LMS/Orsos Pemuka Masyarakat Intervensi: Pelatihan. Pelaksanaan uji coba dalam penelitian ini nantinya masih terbatas pada lima lokasi penelitian awal (Bintan. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian itu disimpulkan bahwa permasalahan umum keluarga di daerah perbatasan.

Dalam upaya pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan. masih jauh dari yang diharapkan. keterampilan. serta belum adanya program pemberdayaan secara spesifik bagi keluarga di daerah perbatasan. pendidikan. kesehatan dan ekonomi (pasar). juga diperlukan sarana prasarana pendidikan.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan secara sosial. Kedua: secara eksternal. Demikian juga potensi alam (laut. sekolah. baik yang dirancang oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Disamping itu. untuk itu direkomendasikan. BLT/SLT. politik dan psikologis. Disamping itu. pengetahun.) perlu dirancang suatu konsep model pemberdayaan keluarga di daerah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan. yang khusus menangani daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. setidaknya untuk dapat mengakses terhadap sistem sumber informasi. Dengan demikian. dipandang perlu: (a) penyusunan rancangan perundang-undangan tentang daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/terpencil. sebagai acuan secara nasional dalam upaya mengembangkan daerah perbatasan antar negara/pulau terluar/ terpencil tersebut dalam rangka memperkokoh rasa nasionalisme dan tetap utuhnya NKRI. Seperti konsep model yang ditawarkan (prescriptive) tersebut di atas. ekonomi (pasar) dan pemukiman. ekonomi. misalnya). 126 Puslitbang Kesos . non formal) lokal. kesehatan dan lainnya. kebutuhan keluarga di daerah perbatasan antara lain: memfasilitasi mereka. lahan pertanian. dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga di daerah perbatasan. perkebunan) yang masih belum diolah secara maksimal. raskin. karena masih lebih bersifat charity tidak berkelanjutan. Sedangkan intervensi kebijakan (program pembangunan) pemerintah yang telah dilakukan terhadap keluarga di daerah perbatasan lokasi penelitian. pertama: secara internal (Depsos R. antara lain: masih kentalnya rasa kebersamaan. yang dapat dimanfaatkan bagi terjadinya perubahan. alam dan SDM) yang dapat didayagunakan untuk memberdayakan keluarga di daerah perbatasan. fasilitas pasar dan berbagai bantuan (kebutuhan pokok. bantuan modal dari Meneg UKM dan lainnya).Adapun potensi (sosial. kegotongroyongan dan kesetiakawanan sosial pada keluarga di daerah perbatasan. kesehatan. (b) membentuk semacam lembaga nasional.I. Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai keterbatasan sarana prasarana. bahan bangunan untuk perbaikan rumah dan bantuan usaha ekonomi melalui KUBE. juga adanya lembagalembaga (informal. antara lain: jalan. kesehatan. tidak ada pendampingan dan tidak ada monitoring dan evaluasi. transportasi. antara lain: pembangunan sarana prasarana fisik (jalan.

dan implementasi. A. W. R. Rural development: Putting the last first. Jakarta: Centre for Strategic and Intenational Studies (CSIS). Vindyandika. konsep. essex.M. Nomor: 10 Tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluar ga Sejahtera. Depsos R. Pranarka.Pemberdayaan Keluarga di Wilayah Perbatasan DAFTAR PUSTAKA Chambers. (1995). UU. Pemberdayaan Peran Keluarga. D it. (1988). Community Development: Creating community alternatives-vision. Ife. Pemberdayaan (Empowerment). Pemberdayaan Peran Keluarga Gerungan. (2002). Jim.Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Tugas Di. Bandung: Eresco.W. analysis and practice. United Kingdom. & Moeljarto.I. Australia. Published by Longman scientific and technical.. (1983). Ditjen.A. Pemberdayaan Sosial. Psikologi Sosial. (1996). Puslitbang Kesos 127 . Longman Pty Ltd. Pemberdayaan.I. Robert.

.

Dra Nunung Unayah. Pengaruh subsidi.Si. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. yang hasilnya menunjukkan perubahan positif meskipun baru sebagian kecil panti sosial mengalami peningkatan omset dan aset setelah mendapatkan subsidi. Namun. Departemen Sosial RI Puslitbang Kesos 129 . Terkait dengan masalah tersebut adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan UEP. Drs. upaya ini menurut pengelola panti tetap belum bisa membantu biaya operasional panti. Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil penelitian. Implikasi kebijakan 1 2 Diangkat dari hasil Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program Subsidi Panti Dalam Mendukung Kelangsungan Pelayanan Sosial oleh Drs.Sos dan Muslim Sabarisman. DI Yogyakarta. dan (3) upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). Penelitian ini mengambil sampel lokasi panti di Provinsi Sumatera Utara.EVALUASI PROGRAM SUBSIDI PANTI DALAM MENDUKUNG KELANGSUNGAN PELAYANAN PANTI SOSIAL1 Drs. Nurdin Widodo 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemanfaatan subsidi oleh pantipanti sosial. Harapan panti. Drs. Data dan informasi digali melalui wawancara. pemanfaatan subsidi. S. Panti-panti sosial pada umumnya masih tetap mengharapkan agar subsidi masih diterima pada masa-masa mendatang. Adapun subsidi Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dimanfaatkan untuk membuka UEP baru atau pengembangan UEP yang sudah ada. (2) pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomi produktif. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi. Hal ini menggambarkan. B. Kata kunci: Subsidi Panti. MSW. bahwa tingkat ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah masih sangat tinggi. Dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan. Suradi. Penerbit Puslitbang Kesos Depsos RI. M. AKS. 2006 Nurdin Widodo. Upaya panti. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif. pada umumnya subsidi makanan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas makan pokok dan makanan tambahan dan memberikan pengaruh positif pada peningkatan kualitas menu makanan dan jenis makanan tambahan. Ivo Noviana. Nurdin Widodo (Ketua). Mujiyadi. Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteran Sosial. sebagian kecil dari panti sudah memiliki upaya konkret dan sebagian lainnya masih berupa gagasan.

855 panti menerima bantuan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) dan 93 panti menerima pengembangan UEP. Sebab apabila tidak segera dipenuhi akan menimbulkan masalah baik yang bersifat individual (private trouble) maupun gangguan yang bersifat kolektif (public issues). spiritual dan sosial. dengan rincian sebanyak 149. Disinyalir terdapat lembaga pelayanan sosial yang merasa terancam kelangsungannya dan bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka akan menghentikan kegiatannya Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemauan politik. Khusus untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan makan klien. dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs). yaitu kebutuhan fisik. tempat tinggal dan kesehatan. bahwa setiap manusia dimanapun dan kapanpun secara universal memiliki sejumlah kebutuhan. 1991). pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan ini. yaitu (1) kebutuhan dasar (basic needs). panti sosial yang menerima prorgam subsidi sebanyak 4. diharapkan pihak panti sosial melakukan konsultasi dengan ahli gizi dari instansi kesehatan setempat 130 Puslitbang Kesos . Selo Soemardjan (1997). membagi kebutuhan manusia menjadi tiga jenis.308 unit. emosional.050 orang klien menerima bantuan biaya makanan. Menurut Neil Gilbert dan Harry Spect (dalam Sukoco. Sejak diluncurkan. Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai masalah apabila kebutuhan dasar saja tidak dapat terpenuhi. Salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah adalah diluncurkannya program Bantuan Biaya Makanan dan Bantuan Usaha Ekonomis Produktif bagi panti-panti sosial di seluruh Indonesia oleh Departemen Sosial. Di dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/HUK/2005 tentang Standardisasi Panti Sosial. Pada tahun 2005. ditegaskan bahwa salah satu jenis pelayanan yang diberikan oleh panti sosial adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi makan. Krisis ekonomi yang hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga pelayanan sosial mengakibatkan pemenuhan kebutuhan dasar ini masih merupakan hambatan. (2) kebutuhan sosial-psikologis (social-phsyicological needs). pakaian. program ini terus mengalami peningkatan dari segi jumlah subsidi maupun jumlah panti dan klien penerima subsidi. intelektual.Evaluasi Program Subsidi Panti Pendahuluan Setiap makhluk hidup pasti memiliki kebutuhan dan sifatnya menuntut pemenuhan dengan sesegera mungkin.

(2) menyediakan pilihan-pilihan kepada penerima pelayanan. (3) Pendidikan. Konsep pelayanan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Alfred J. 1980). Pascal (dalam M. (3) mengembangkan keberfungsian sosial. adalah : 1.Evaluasi Program Subsidi Panti guna memperoleh daftar menu makan yang memenuhi standar gizi dan kesehatan. Puslitbang Kesos 131 . tidak hanya bermanfaat secara fisik. terutama untuk anak-anak. yaitu yang ditekankan pada pemberian bantuan uang dan atau barang. Diketahuinya pemanfaatan subsidi panti oleh panti-panti sosial. Di negara lainnya digunakan istilah “pelayanan sosial” untuk mencakup apa yang terkandung dalam pengertian pelayanan kesejahteraan sosial di atas ditambah dengan : (1) Bantuan sosial. Diketahuinya pengaruh subsidi panti terhadap pemenuhan kebutuhan makanan dan pengembangan usaha ekonomis produktif (UEP). Di negaranegara berkembang tertentu. pelayanan makan diharapkan akan mencegah atau mengendalikan gangguan fisik dan menjaga kebugaran. dan (4) meningkatkan keadilan untuk memperoleh kesempatan.R. 2004) tujuan pelayanan sosial adalah: (1) memberikan perlindungan kepada orang yang mengalami kehilangan kemampuan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial perlu melaksanakan “Penelitian Evaluasi terhadap Pelaksanaan Program Subsidi Panti dalam mendukung Kelangsungan Pelayanan Panti Sosial”. 3. 2. Melalui konsultasi ini maka pelayanan makan bagi klien. Dalam rangka memperoleh informasi tentang bagaimana realisasi subsidi panti tersebut di lapangan dan pengaruhnya terhadap kelangsungan panti sosial. Diketahuinya upaya panti-panti sosial dalam mengatasi masalah pembiayaan kegiatan selanjutnya (apabila subsidi dihentikan). (4) Program-program ketenagakerjaan. (2) Programprogram kesehatan yang tidak tercakup oleh program yang dikembangkan oleh swasta. Khan (Soetarso. Siahaan. Menurut Anthony H. Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini. dan (5) Fasilitas umum. pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh lembaga kesejahteraan sosial disebut dengan “pelayanan kesejahteraan sosial”. Perumahan rakyat. Kemudian bagi para lanjut usia. akan tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan intelegensi dan psikomotorik. pelayanan kesejahteran sosial dimaksudkan sebagai pelayanan yang difokuskan pada bantuan untuk perorangan atau keluarga yang mengalami masalah penyesuaian diri dan pelaksanaan fungsi sosial atau ketelantaran.

yang dilaksanakan dalam upaya mengetahui kekuatan dan kelemahan program subsidi panti sosial. Data yang terkumpul. dengan pertimbangan variasi panti sosial yang menerima subsidi dari Departemen Sosial pada tahun 2005. analisis dan interpretasi.Evaluasi Program Subsidi Panti Adapun manfaat yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan rasional bagi pimpinan Departemen Sosial dalam pengembangan kebijakan dan program pemberdayaan panti sosial di Indonesia. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi (evaluatif research). Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara. kategorisasi. Berdasarkan pertimbangan persebaran data panti penerima program subsidi panti. Secara kualitatif. panti sosial milik pemerintah daerah tidak 132 Puslitbang Kesos . Gambaran Umum Panti Sosial Panti sosial yang menjadi sampel dalam Penelitian ini adalah panti sosial milik pemerintah daerah (74%) dan milik masyarakat (26%). pengelola panti sosial (10 orang) dan klien (10 orang). Penentuan lokasi dilakukan secara purposive. yang ditentukan secara purposive. data yang terhimpun dianalisis dengan mempertimbangkan informasi dan masukan dari tiap responden dan informan lainnya yang didapat melalui wawancara. DI Yogyakarta. Panti Sosial Tresna Werdha. dianalisis secara kualitatif dan dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Panti Sosial Pamardi Putra dan Panti Sosial Tuna Sosial. serta suatu cara menentukan perbaikan bagi para pengambil keputusan di Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Adapun jenis-jenis panti sosial yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah : Panti Sosial Asuhan Anak. maka penelitian ini dilaksanakan di 5 (lima) provinsi. Sumber data untuk setiap provinsi terdiri dari unsur Dinas Sosial provinsi (2 orang). Di setiap lokasi penelitian ditentukan panti sosial sebanyak 10 unit dengan mempertimbangkan variasi panti sosial. tabulasi. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Panti Sosial Penyandang Cacat. 100 orang pengelola panti dan 250 klien panti). Dengan demikian jumlah responden di lima provinsi adalah 360 orang (10 orang Instansi sosial. Analisis data dilakukan melalui tahapan editing. Nusa Tenggara Barat. yaitu Provinsi Sumatera Utara. Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara. diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi.

4 Panti Sosial Tuna Sosial (8%) dan 2 Panti Sosial Napza (4%). 7 Panti Sosial Penyandang Cacat (14%). calculator dan brankas dimiliki oleh sebagian kecil panti-panti sosial. Secara struktural panti-panti sosial pemerintah dipimpin oleh seorang kepala. Yayasan Dharmais (48%). dibantu oleh beberapa orang kepala seksi yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat (Bupati/Walikota). sekretaris. APBD (32%. sarjana muda. tukang cuci dan satpam. yakni Pegawai Negeri di panti-panti sosial pemerintah. sedangkan tenaga yang berpendidikan SD dan SLTP (9. pengasuh dan tenaga lainnya) ada yang berasal dari anggota keluarganya sendiri.. Sumber dana tidak tetap terbesar berasal dari donatur/masyarakat (72%) dan Dinas Sosial provinsi (28%). Sementara peralatan terapi medik.77%) bertugas sebagai pengemudi. Sumber dana tetap berasal dari Dinas Sosial provinsi (54%). Adapun jenis dan jumlah panti sosial terdiri dari 32 Panti Sosial Anak Terlantar (64%). Sementara peralatan sound system dan tape recorder baru 22% yang memilikinya. Tingkat pendidikan tenaga panti terdiri dari SLTA (44. Jumlah tenaga di 50 panti sosial sebanyak 937 orang dan 69. bagian gudang.99%). Tenaga teknis terdiri dari pengasuh Puslitbang Kesos 133 . fisioterapi dan alat pijat refleksi dimiliki oleh panti sosial cacat dan panti sosial Napza. sedangkan filling cabinet.05% diantaranya adalah tenaga tetap. Sebanyak 48% panti sosial memiliki kendaraan bermotor roda empat dan 96% memiliki kendaraan roda dua. Peralatan kantor lainnya seperti meja kerja dan lemari arsip sudah dimiliki oleh panti-panti sosial dengan jumlah terbatas. bendahara. Sarana teknis seperti modul sebagai alat/panduan pelayanan kepada klien hanya sebagian kecil (26%) panti sosial yang memilikinya dan umumnya panti sosial milik pemerintah daerah. Sedangkan pimpinan panti sosial swasta sebagian besar diangkat dan diberhentikan oleh pengurus yayasan. Peralatan olah raga dan kesenian sebagian besar (88%) sudah memilikinya. sedangkan tenaga tidak tetap merupakan tenaga honor panti. 5 Panti Sosial Lanjut Usia (10%). Sarana perkantoran yang dimiliki panti sosial berdasarkan data sekunder di setiap panti menunjukkan sebanyak 26% panti sosial belum memiliki komputer. 10% belum memiliki telepon dan sebanyak 72% belum memiliki faxcimilie. juru masak. sarjana dan pasca sarjana (44.11%).Evaluasi Program Subsidi Panti memperoleh subsidi panti.) dan dari donatur/masyarakat sebesar 18%. sebagian para pengurus/pengelola panti (kepala.

Sedangkan makanan tambahan diwujudkan dalam bentuk kue.37%). pelatihan ini baru diberikan sebanyak 46% dari panti-panti sosial. Sebagian besar panti-panti sosial milik pemerintah daerah berpendapat bahwa tenaga pekerja sosial merupakan tenaga profesi yang seharusnya mempunyai latar belakang pendidikan pekerjaan sosial. Hanya sebagian kecil panti sosial yang memberikan menu makan empat sehat dan empat sehat plus berupa nasi. seperti penyandang cacat dan korban napza. Pemahaman tentang pekerja sosial ini di setiap panti berbeda-beda. Dinas Perindustrian memberikan dukungan magang kerja melalui kerjasama dengan dunia usaha. Sedangkan pelatihan keterampilan diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja setempat. Kantor Urusan Agama memberikan bantuan pembimbing agama/mental kepada klien. kadang-kadang buah bahkan kadangkadang susu.Evaluasi Program Subsidi Panti (37. Menu makanan rata-rata terdiri dari makanan pokok. yang rata-rata per pekerja sosial mendampingi 74 orang klien. kadang-kadang buah. sayur. Dinas Sosial dan BKKKS memberikan dukungan pelatihan manajemen panti. diperoleh informasi sebanyak 50% panti memberikan menu makan tiga sehat plus berupa nasi. Perbedaan persepsi tentang pekerjaan sosial ini berpengaruh terhadap pelayanan sosial kepada klien Bentuk dukungan paling besar (74%) terhadap panti-panti sosial dalam jaringan kerja adalah bidang kesehatan yang diwujudkan dalam bentuk pengobatan kepada klien di puskesmas dan rumah sakit serta pelatihan keperawatan untuk lanjut usia.32%) dan lainnya adalah instruktur. Rasio ini sangat berat terutama untuk klien penyandang masalah pathologis. Selain itu pihak kepolisian juga memberikan penyuluhan tentang bahaya Napza. yaitu rata-rata 3 orang per panti sosial. lauk dan pauk. psikolog. lauk pauk. Dukungan dalam bentuk beasiswa diberikan oleh Muhammadiyah dan gereja. Namun. 134 Puslitbang Kesos . analis laboratorium dan konselor. sayur. dokter/psikiater. perawat. atau yang pernah mengikuti pelatihan profesi pekerjaan sosial. pekerja sosial (27. kacang hijau dan buah-buahan. Khusus tenaga teknis pekerjaan sosial secara kuantitas masih relatif terbatas. sayur. kolak. kerohanian (13. Sedangkan 36% memberikan makan tiga sehat berupa nasi. buah ditambah susu. lauk pauk. sayur dan lauk pauk. Sementara sebagian panti (terutama panti sosial swasta) menyatakan bahwa pekerja sosial yang dimaksud disini adalah relawan sosial yang melaksanakan pelayanan berdasarkan charitatif.04%). Mengenai pemenuhan kebutuhan fisik klien.

rujukan ke puskesmas atau rumah sakit umum/daerah setempat. Sebagian besar (98%) Panti sosial juga memberikan peralatan/ perlengkapan mandi seperti sabun mandi. mukena) dan pakaian dalam. baju koko. seperti yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Remaja. sepak bola dan tenis meja dilaksanakan secara insidentil pada sore hari. bimbingan kedisiplinan. pakaian lebaran. Jenis bimbingan sosial yang selama ini diberikan oleh panti-panti sosial meliputi sosialisasi dengan lingkungan/masyarakat. lainnya dalam bentuk wisma (cottage). sabun cuci. pengabdian masyarakat dan gotong royong. yang biasanya dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal. Pemahaman bimbingan sosial di setiap panti berbeda-beda sesuai dengan persepsi pimpinan/pengelola panti sosial. bimbingan bicara (spech therapy). Secara umum kegiatan ini mempunyai tujuan: (1) memberikan keterampilan kepada klien.17% tinggal di cottage. konsultasi. sedangkan pakaian sekolah diberikan sesuai kebutuhan klien. sedangkan penyuluhan kesehatan melibatkan tenaga Puskesmas setempat. sikat gigi. Sebagian besar tempat tinggal klien menggunakan asrama (96%). Pelaksanaan bimbingan fisik sebagian besar memanfaatkan tenaga dari dalam panti. Apabila dilihat dari total jumlah klien. dan (3) merupakan kegiatan ekstra kurikuler atau sekedar mengisi waktu luang. Dalam bidang kesehatan. 95. (2) sebagai terapi dalam usaha membantu penyembuhan klien sebagaimana kegiatan keterampilan yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Bina Laras. sehingga kegiatan ini merupakan program pokok bagi klien dalam panti. pelayanan yang diberikan meliputi P3K. Jenis bimbingan mental/psikososial yang dilaksanakan di panti-panti sosial meliputi bimbingan agama. Kadangkadang pakaian juga diberikan oleh para dermawan pada saat mengadakan kunjungan ke panti. sedangkan bola volley.83% klien tinggal dalam asrama dan 4. Mengenai kegiatan pembinaan fisik. odol. Walaupun memiliki tujuan yang berbeda. pramuka dan psikoterapi. sebagian besar (86%) panti sosial melaksanakan bimbingan keterampilan Puslitbang Kesos 135 . handuk dan pakaian dalam.Evaluasi Program Subsidi Panti Sebagian besar (96%) panti-panti sosial memberikan pakaian sekolah. pakaian ibadah (sarung. Bimbingan keterampilan yang ada di panti-panti sosial memiliki tujuan yang berbeda-beda. yang diberikan setiap bulan dan ada yang tidak setiap bulan. sebagian besar panti sosial melaksanakan kegiatan senam secara rutin.

yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing panti. subsidi panti dapat digunakan sebagai tambahan sumber dana panti. Untuk itu pemanfaatan subsidi diserahkan sepenuhnya kepada panti-panti yang menerimanya. dari Yayasan Dharmais. Jenis bimbingan keterampilan di setiap panti sosial bervariasi.. 2. Padahal.Evaluasi Program Subsidi Panti secara rutin.5 jenis keterampilan.450 orang atau 66. Bagi panti yang telah memiliki sumber tetap seperti dari APBD (khusus panti pemerintah). Dengan demikian. Namun. ada keleluasaan bagi pengelola panti untuk mengelola subsidi sebatas untuk biaya makanan dan bukan untuk kebutuhan yang lain. menurut informasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. 2 % melaksanakan bimbingan keterampilan secara insidentil dan 12 % panti sosial tidak melaksanakan bimbingan keterampilan. yang tidak mendapatkan subsidi makanan adalah panti milik Pemerintah (pusat) bukan milik Pemerintah Daerah. Tidak semua panti sosial mendapatkan subsidi makanan sesuai dengan jumlah klien.94% dari total klien dalam panti sosial. sebagian panti memanfaatkan tenaga dari Dinas Tenaga Kerja. Subsidi makanan yang besarnya Rp. Dari 50 panti sosial dengan jumlah klien 3.693 orang. untuk tahun 2005 ini tidak semua panti yang menjadi responden mendapatkan subsidi makanan. Pelaksana kegiatan ini.per orang sangat signifikan sebagai suplemen pemenuhan makanan klien yang digunakan 136 Puslitbang Kesos . Pemanfaatan Subsidi Panti 1. dari Yayasan pendukung utama operasional panti dan sebagainya. Panti-panti milik pemerintah daerah untuk Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan tidak mendapatkan subsidi makanan dengan alasan sesuai dengan Surat Edaran dari Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial yang menyatakan bahwa panti milik Pemerintah tidak mendapatkan subsidi ini. Koperasi dan dunia usaha. sebagian memanfaatkan tenaga dalam panti.250. Subsidi Makanan Panti-panti yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah panti-panti sosial yang mendapatkan subsidi makanan pada tahun 2004 dan 2005. yang mendapatkan subsidi sebanyak 2. Setiap panti sosial ada yang melaksanakan 1 atau 2 jenis keterampilan ada juga yang melaksanakan 3 .

Kekurangan (Rp) 2.000.1. Membandingkan jatah SOSH dengan HET setempat tampak adanya angka ’minus’ dari anggaran panti untuk mengadakan bahan makanan tiap harinya. Menu makanan yang diberikan panti Pemerintah mengikuti menu yang sudah ditetapkan dengan jadwal yang pasti dan masih dapat memberikan buah dan susu serta makanan tambahan seperti kacang hijau. 4.900. meski tidak setiap hari. Namun demikian. Kondisi ini lebih parah dirasakan oleh panti swasta. 2. ada satu panti swasta yang dapat memberikan makanan tambahan.120. ada yang belum/ tidak dapat memberikan makanan tambahan. Untuk Panti Pemerintah. Apabila dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat untuk jenis barang yang dikonsumsi klien sehari-hari. Untuk itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini.600.620.500.150.100.- Panti-panti pemerintah yang mendapatkan jatah SOSH tampak terjadi defisit tiap harinya. Namun demikian. Tabel 1. 5.Evaluasi Program Subsidi Panti untuk menambah jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada klien.1.540.Harga Kebutuhan per orang per hari (Rp) 10.1. sehingga tuntutan untuk dapat memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna hampir pasti tidak dapat terpenuhi.000.11.10. secara rata-rata maka jumlah anggaran dimaksud antara kurang dan lebih dari mencukupi. subsidi makanan terkesan menjadi “yang utama”. Sedangkan panti swasta.11.140. Hal ini berkaitan dengan sudah adanya dukungan APBD untuk menu pokok harian.100. Sedangkan untuk panti swasta. Hal ini berkaitan dengan tidak adanya/kurangnya sumber dana tetap.150.100. untuk sebagian panti swasta standar tersebut masih dirasakan sebagai ’utopia’ karena perbandingan jatah SOSH dengan harga setempat masih relatif jauh. 3.9.9.000. Perbandingan SOSH dengan kebutuhan tiap orang No. makanan tambahan dan susu. karena tidak memiliki Puslitbang Kesos 137 . Menu makanan yang diberikan panti kepada kliennya diusahakan sedemikian rupa untuk memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. subsidi dimaksud digunakan untuk menambah lauk-pauk. Provinsi Sumut NTB DI Yogya Kalbar Sulsel SOSH (Rp) 7.1.10.9.11. 1.

Subsidi UEP 1. Di Yogya panti milik pemda memberikan snack/ makanan ringan pada medio pagi dan sore. Baru 2.150. bahwa warung sembako menempati jumlah terbanyak (18. usaha kerja hingga usaha jasa. Harga makanan ringan dimaksud ditetapkan Rp 1. Tidak ada UEP Jumlah 31 panti 4 panti 15 panti % 62 8 30 Dari 31 panti yang mendapatkan subsidi UEP baru dan 4 panti yang mendapatkan subsidi pengembangan UEP dan dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha. dari yang sifatnya ternak.000. meskipun secara umum diketahui bahwa HET relatif lebih murah bila dibandingkan dengan provinsi lain.000. 2.. Kemudian 138 Puslitbang Kesos . Untuk itu dapat dilihat tabel berikut ini.untuk makanan ringan dimaksud. tampak bahwa beberapa panti hanya mampu memberikan makanan seadanya kepada kliennya.. Dari pengamatan pada waktu penelitian.untuk Yogya merupakan kebutuhan paling besar dibandingkan panti-panti di provinsi lain.92%). Jenis Subsidi UEP yang didapatkan No. Mengenai variasi jenis usaha/kerja diperoleh informasi. Pengembangan 3. Khusus untuk Yogya. Jadi nilai Rp 11. tampak bahwa indeks kebutuhan lebih tinggi.. Banyak panti swasta yang hanya dapat merasakan lauk pauk enak apabila klien panti dimaksud diundang untuk acara selamatan di masyarakat sekitar panti atau panti mendapatkan hantaran dari masyarakat dalam wujud makanan matang. Tabel 2. Selain itu diketahui bahwa terdapat panti yang mengembangkan usahanya dalam 1 jenis atau lebih jenis usaha.Evaluasi Program Subsidi Panti sumber dana tetap seperti yang dimiliki panti pemerintah. Subsidi Usaha Ekonomi Produktif Tidak semua panti responden mendapatkan subsidi UEP yang besarnya Rp 10 juta (subsidi baru) dan Rp 25 juta (subsidi pengembangan usaha).tiap kali dan dengan demikian tiap hari diperlukan Rp 2. Klien tidak setiap saat mendapatkan jatah lauk pauk yang memenuhi standar gizi dan bahkan kalau mereka mendapatkan makanan harian hanya dalam wujud nasi dan sayur yang dimasak dengan cara diberikan banyak kuah.

Meskipun demikian terdapat panti yang tidak melakukan jalinan kerja sama karena usahanya ada yang memang sudah dalam keadaan tidak operasi dan sebagian merasa dapat mengatasi sendiri masalahnya. menjahit.81%). bengkel dan pertukangan. koperasi/simpan pinjam. Dalam memanfaatkan dana subsidi UEP.69%). Alasan pemilihan jenis usaha ini berkaitan dengan pemasaran (31. masing-masing panti kemudian menjalin relasi dengan pihak lain sehingga diharapkan dapat mencapai peningkatan kemampuan kerja/produksi sekaligus dalam rangka pemasaran. Didapatkan informasi bahwa sebagian toko memberikan kemudahan seperti mengambil barang terlebih dahulu dan baru membayar kemudian setelah barang dagangannya terjual. Pengaruh Subsidi Untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh program subsidi panti ini. pemasaran dan penyuluhan kesehatan. foto copy. antara lain dengan pihak dunia usaha serta institusi milik pemerintah dan masyarakat. Kerja sama dengan pihak lain baik dunia usaha maupun institusi dimaksudkan sebagai praktek kerja. budidaya lele.25%) dan lain alasan. Jalinan dimaksud terutama dalam rangka pengadaan bahan dagangan. Ini berkaitan dengan jenis usaha yang dikembangkan panti. Sementara itu. kambing dan sapi. terutama bagi panti yang mengembangkan UEP dalam bentuk jualan sembako. Bentuk kerjasama/dukungan terhadap Panti Sosial antara lain praktek kerja. Adapun jalinan kerja dimaksud. yakni Wartel atau Warnet. untuk jalinan dengan lembaga/institusi lain adalah dalam rangka peningkatan keterampilan dan pemeliharaan usaha.Evaluasi Program Subsidi Panti wartel dan rental komputer menempati urutan ke dua (10. tanaman hias. Jalinan terbesar ke dua adalah dengan PT Telkom. salon. yang didukung oleh tabel destribusi frekuensi dan diagram. SDM/pengelola (13. Sedangkan jenis usaha lainnya. Pilihan ini tentunya berkaitan dengan kemudahan pemasaran dari hasil usaha/ kerja yang dipilih. peningkatan kemampuan hingga upaya pemasaran. Puslitbang Kesos 139 . diklat perbengkelan. bengkel. antara lain: ternak ayam.33%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalinan terbanyak adalah dengan toko. analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. lokasi (21.

Menurut ahli gizi. untuk pemberian buah-buahan dan susu. menu makan (yang menggambarkan kualitas makanan) dan makanan tambahan. Aspek kedua dari makanan adalah menu makan klien dalam panti sosial yang menggambarkan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh klien. Ukuran ini sebagai dasar bagi peneliti untuk mencermati menu makan yang disediakan panti sosial. buah-buahan dan susu. maka menu makan yang digunakan dalam penelitian ini ada 5 (lima) ukuran. Sebelum menerima subsidi. tiga sehat plus. yaitu nasi. yaitu frekuensi makan. empat sehat dan empat sehat plus yang menggambarkan skala ordinal. Pada umumnya sebagian besar panti sosial sudah menyusun menu makan per hari bersama ahli gizi setempat. program subsidi panti tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Makanan Beberapa aspek terkait dengan makanan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini. Pada aspek frekuensi makan. data yang dikumpulkan hanya memenuhi 2 (dua) ukuran yaitu tiga sehat dan tiga sehat plus yang akan dianalisis kemudian. lauk-pauk. makanan dikatakan sehat apabila secara umum telah memenuhi empat sehat lima sempurna. peneliti menemukan data. yaitu dua sehat. Misalnya. bahwa panti sosial belum sepenuhnya mengikuti daftar menu makanan yang yang telah disusun. 140 Puslitbang Kesos . Perubahan ini dinilai bermakna. Namun. khusunya dalam hal frekuensi makan. sayur. atau ada penambahan sebesar 4 persen. Berdasarkan kondisi lapangan itu. Di lapangan.Evaluasi Program Subsidi Panti 1. 96 persen panti sosial sudah memberikan makan tiga kali sehari dan kemudian menjadi 100 persen setelah menerima subsidi. pada umumnya panti sosial memberikan 2 . tiga sehat. Namun demikian. karena dengan subsidi panti akhirnya seluruh panti kini sudah sesuai dengan Standardisasi Panti Sosial dalam pemberian makanan.3 kali seminggu. menu yang telah disusun tersebut belum dapat dilaksanakan setiap hari karena keterbatasan anggaran.

program subsidi panti dapat disimpulkan berpengaruh positif dan signifikan pada kemampuan panti dalam memberikan makanan tambahan. program subsidi panti memberikan pengaruh positif pada penyajian menu atau kualitas makanan panti sosial. Dari ketiga aspek yang dicermati dalam penelitin ini bahwa : 1) Pengaruh terhadap frekuensi atau kuantitas permakanan. 1. Kualitas Makan Sebelum dan Sesudah Subsidi No.Evaluasi Program Subsidi Panti Tabel 3. Namun. Puslitbang Kesos 141 . 2. Perbandingan sebelum dan sesudah subsidi dari makanan tambahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 2. 2) Pengaruh terhadap menu atau kualitas : a) Terjadi penurunan dari semula 36 persen menjadi 6 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat (pindah ke tiga plus). Makanan tambahan memang tidak termasuk makanan utama. Menu Makanan Tiga sehat Tiga sehat plus Jumlah Sebelum F % 18 36 32 64 50 100 Sesudah F % 3 6 47 94 50 100 Berdasarkan tabel di atas. 1. terjadi peningkatan dari semula 96 persen menjadi 100 persen panti sosial yang memberikan makan 3 kali sehari. Aspek berikutnya untuk melihat pemenuhan makanan klien adalah pemberian makanan tambahan. klien panti sosial memerlukan makanan tambahan sebagai tambahan gizi. Makan Tambahan Sebelum dan Sesudah Subsidi No. Makanan Tambahan Setiap hari Kadang-kadang Tidak ada Jumlah Sebelum F % 4 8 28 56 18 36 50 100 Sesudah F % 6 12 42 84 2 4 50 100 Berdasarkan data tersebut. b) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 94 persen panti sosial yang memberikan makan tiga sehat plus. baik terkait dengan tumbuh kembang (bagi anak-anak) atau kesehatan (bagi orang dewasa).

b) Terjadi peningkatan dari semula 8 persen menjadi 12 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan setiap hari. yaitu berkisar 30 persen. c) Terjadi peningkatan dari semula 56 persen menjadi 84 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan kadangkadang (2-3 kali seminggu). dilihat dari aspek frekuensi. 142 Puslitbang Kesos . Meskipun secara kuantitatif pengaruh program subsidi panti relatif rendah. Panti sosial sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan klien. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengelola panti sosial. program subsidi panti sangat membantu kelancaran proses pelayanan dan karenanya perlu dilanjutkan. Usaha Ekonomis Produktif Berbagai jenis UEP diselenggarakan oleh panti sosial. penambahan aset dan pemanfaatan untuk kebutuhan operasional. Jenis-jenis usaha yang merupakan usaha tambahan dari usaha utama. yaitu rental komputer. yaitu penambahan jenis UEP. tetapi secara kualitatif memberikan manfaat yang sangat besar. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi untuk kegiatan UEP. dengan rincian 5 panti menambah satu jenis usaha dan 3 panti menambah 2 jenis usaha. mingguan maupun bulanan. sebesar 8 panti sosial (25%) sudah berkembang (ada penambahan jenis UEP). 2. Hal ini menggambarkan bahwa panti sosial pada umumnya sudah memiliki pemahaman akan eksistensinya sebagai organisasi pelayanan manusia (human service organization). Dalam rangka mengetahui pengaruh subsidi bidang UEP.Evaluasi Program Subsidi Panti 3) Pengaruh terhadap makanan tambahan : a) Terjadi peningkatan dari semula 64 persen menjadi 96 persen panti sosial yang memberikan makanan tambahan. Berdasarkan informasi tersebut disimpulkan. bahwa pengaruh subsidi terhadap pemenuhan kebutuhan makanan pada panti-panti sosial pada kategori rendah. penambahan omzet/ minggu. yang hasilnya dapat diambil harian. bahwa pada umumnya sebelum menerima program subsidi panti. Data ini menunjukkan. ada 4 aspek yang dicermati dalam penelitian ini. panti sosial sudah memberikan kebutuhan makanan relatif baik. menu dan makanan tambahan.

bahwa UEP yang dikelola oleh panti sosial belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan. ternak ayam dan wartel. Hal ini menggambarkan. lemahnya administrasi pengelolaan UEP ini tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak penerima program subsidi panti.61%) memiliki omzet berkisar Rp.-/bulan. bahwa dalam waktu minimal 1 tahun panti sosial sudah mampu menambah asetnya dari hasil mengelola UEP. yaitu peralatan rumah tangga.000. hanya 4 panti sosial yang sudah mampu menambah aset masing-masing 1 jenis. 25.75%) menerima subsidi untuk pengembangan UEP. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor.88%) mengalami peningkatan omzet. 350. Oleh karena itu.. 660. yang berkisar Rp. 25. meskipun sebanyak 14 panti sosial (43.Evaluasi Program Subsidi Panti traso.000. Hal ini didasari anggapan dasar. Aspek ketiga dari pemanfaatan subsidi untuk UEP adalah penambahan aset panti sosial. 165. maka sudah terjadi peningkatan omzet.-Rp. sebanyak 23 panti sosial (71. Dari 32 panti sosial yang mengelola UEP. Aspek ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana UEP yang dikelola panti sosial mengalami perkembangan dari kondisi awal. Aspek ini dilandasi pula oleh anggapan dasar. Sebagian besar (75%) panti sosial masih mengelola usaha utama dari program subsidi.-/minggu.atau rata-rata omzet Rp. 2.000/minggu hingga Rp. mereka memang tidak pernah memperoleh bimbingan pembukuan dalam pengelolaan UEP. Hal ini merupakan kendala dalam penelitian ini. sebagian besar (82. peralatan pesta. bahwa apabila panti sosial sudah mengelola UEP dengan baik minimal selama 1 tahun.000. Puslitbang Kesos 143 .-/minggu atau ratarata Rp. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP.000.000. Berdasar informasi yang dihimpun dari pengelola. Perhitungan omzet ini hanya berdasarkan perkiraan pengelola saja. Aspek kedua dari UEP adalah penambahan omzet dari usaha yang dikelolanya. tanpa didukung oleh bukti tertulis berdasarkan pembukuan yang baik.000. pada panti sosial yang mengalami penambahan omzet. Hal ini berarti terdapat 6 panti sosial yang menerima subsidi pengembangan UEP digunakan untuk menambah modal usaha utamanya. karena data obyektif dalam bentuk data kuantitatif tentang omzet ini tidak dapat diperoleh. Namun demikian.

keterampilan pengelola. penambahan omzet tersebut belum meng gambarkan keberhasilan panti dalam mengelola dan mengembangkan UEP. Jenisjenis UEP antara lain rental komputer.000. 2) Terjadi penambahan omzet pada 23 panti sosial (71. Kebutuhan operasional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebutuhan yang mendukung secara langsung pemenuhan kebutuhan klien. Dari 32 panti sosial yang menerima program subsidi panti untuk UEP. pemasaran dan pembukuannya. alat-alat keterampilan dan pendidikan. bahwa ada proses dalam pengelolaan UEP yang tidak tepat. disimpulkan bahwa program subsidi panti berpengaruh relatif rendah terhadap pengelolaan dan pengembangan UEP. yaitu penambahan pada kebutuhan makanan. antara lain untuk mendukung makanan tambahan. 3) Terjadi penambahan aset pada 4 panti sosial (12.75%) dari 32 panti sosial yang mengelola UEP sudah dapat menambah kebutuhan operasional.5%) yang sudah mengalami penambahan aset. bahan dasar. diperoleh informasi sebagai berikut : 1) Terjadi penambahan jenis UEP pada 8 panti sosial (25%).25% belum ada penambahan kebutuhan operasional panti.Evaluasi Program Subsidi Panti Aspek berikutnya terkait dengan UEP ini adalah penambahan untuk kebutuhan operasional. Pada umumnya Dinas Sosial memang melakukan 144 Puslitbang Kesos . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 6 panti sosial (6. Namun demikian. pengadaan alat-alat keterampilan dan pendidikan. antara lain penentuan jenis UEP. 4) Terjadi penambahan kebutuhan operasional pada 6 panti sosial (6. antara lain peralatan rumah tangga. Sedangkan 81. rak aluminium dan alat pembuat kacang telor. alat penerangan.75%). dikarenakan besarnya omzet tersebut per minggunya masih relatif rendah. peralatan pesta. Hal ini menggambarkan pula lemahnya proses monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh Instansi Sosial Provinsi terhadap proses pengelolan UEP. alat-alat penerangan. 165.-/minggu. traso dan ternak ayam. Informasi ini menggambarkan. Dari keempat aspek yang dicermati untuk mengetahui pengaruh program subsidi panti terhadap pengelolaan UEP. yang menonjol pada penambahan omzet. Berdasarkan informasi tersebut.88%) yang besarnya sebagian besar rata-rata Rp.

Namun demikian. Sementara itu. Upaya Panti Mengatasi Masalah Pembiayaan Dalam kaitannya dengan upaya panti mengatasi permasalahan pembiayaan. upaya untuk memotong mengurangi ketergantungan panti sosial kepada pemerintah masih sulit diwujudkan untuk beberapa tahun ke depan. Dari jumlah tersebut. maksud dan tujuan dari program tersebut sulit direalisasikan. Puslitbang Kesos 145 .Evaluasi Program Subsidi Panti monitoring dan evaluasi terhadap UEP yang dikelola panti-panti sosial. Program subsidi panti yang dialokasikan untuk UEP ini didasarkan pada pemikiran. apabila tidak ada dukungan pemerintah. termasuk kepada pemerintah. Mereka masih mengharapkan program subsidi panti terus dilanjutkan. khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan. Oleh karena itu. dan bahkan ada yang akan mengurangi jumlah kliennya. terutama untuk kebutuhan makanan. maka panti sosial akan menanggung beban yang amat berat dalam penyelenggaraan pelayanan. apabila UEP dikelola dengan baik. Namun demikian. dan panti sosial masih bergantung pada bantuan pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan. Hal ini menunjukkan kemandirian panti sosial dalam pembiayaan program dan kegiatannya masih cukup rendah Harapan Panti Terhadap Program Subsidi Masih ada kekhawatiran para pengelola panti sosial apabila pada saatnya nanti program subsidi panti ini dihentikan. Lainnya masih bergantung pada pihak luar. 50 persen panti sosial merencanakan mengembangkan UEP. dan akibatnya panti sosial mengelola UEP berdasarkan kemampuannya sendiri. informasi yang diperoleh dari kegiatan itu tidak segera ditindaklanjuti. sebagian besar masih berasal dari pemerintah. Menurut para pengelola. maka nantinya panti sosial tidak terlalu bergantung pada pihak lain. 72 persen panti sosial sudah memiliki rencana mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi dihentikan. Informasi ini relevan dengan informasi sebelumnya bahwa sumber dana panti sosial. sebesar 28 persen panti sosial belum memiliki upaya atau jalan keluar apabila program subsidi panti ini dihentikan.

Berbagai persoalan administratif maupun teknis disinyalir terjadi secara berulang-ulang. 146 Puslitbang Kesos .911 per tahun. Hasil dari UEP yang bersumber dari subsidi panti tidak dibukukan tersendiri. Departemen Sosial terhadap panti-panti sosial. Hal ini menggambarkan cukup besarnya dukungan pemerintah cq. sehingga akan mengurangi ketergantungannya terhadap pemerintah dan pihak luar lainnya. merupakan titik-titik yang lemah terjadinya bias kepentingan. program subsidi panti ini menarik karena dari tahun ke tahun besarnya anggaran yang dialokasikan terus mengalami kenaikan. Sedangkan untuk UEP. tetapi belum dapat diketahui secara pasti seberapa besar dampak tersebut. Besarnya dana subsidi panti ini apabila dilihat dari besarnya anggaran makanan pada panti sosial. demi kelangsungan penyelenggaraan pelayanan pada panti-panti sosial.48 persen. Pada umumnya pengelola panti sosial belum melakukan pencatatan atas penggunaan subsidi untuk UEP ini. sampai dengan pertanggungjawaban administratif. panti sosial juga mengharapkan adanya bantuan untuk UEP. Bias kepentingan ini akan semakin parah apabila proses supervisi.Evaluasi Program Subsidi Panti Selain bantuan makanan. rata-rata setiap panti sosial menerima dana sebesar Rp. Manfaat memang telah dirasakan oleh pengelola. dari 50 panti sosial yang menjadi obyek penelitian ini. Pada pemanfaatan pemenuhan makanan dirasakan oleh pengelola cukup membantu. rata-rata mencapai 53. baik oleh penanggung jawab program di Instansi Sosial Provinsi maupun Departemen Sosial. Khusus untuk tahun 2005. belum secara signifikan memberikan manfaat bagi panti-panti sosial. Harapan berikutnya adalah pelatihan pengelolaan UEP dan pendampingan. sehingga kesulitan ketika menghitung berapa besarnya manfaat ekonomis dari program subsidi panti. 38. jumlah klien yang diusulkan. monitoring dan evaluasi tidak dilakukan dengan baik. Implikasi Kebijakan Sebagai suatu obyek penelitian. terutama pada pemberian makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. Dana yang dialokasikan pemerintah pusat dalam program subsidi panti tersebut cukup besar. Proses awal penentuan panti sosial yang layak sebagai calon penerima program. program subsidi ini pada umumnya. Apabila panti dapat mengelola UEP.247. maka akan memiliki sumber dana tetap yang berasal dari panti sendiri. karena skema dari program ini rawan terjadi penyalahgunaan.

28 persen panti sosial belum menyusun langkahlangkah untuk mengatasi permasalahan pembiayaan apabila program subsidi panti ini dihentikan. tetapi informasi yang diperoleh terkait dengan bantuan kepada panti-panti sosial dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendesain program yang tepat. Sementara itu. Persoalannya adalah bagaimana kemampuan panti sosial mengelola UEP tersebut. (2) memperkuat komitmen dan percaya diri pengelola panti sosial di bidang pelayanan kemanusiaan. monitoring dan evaluasi perlu dilakukan dengan baik.Evaluasi Program Subsidi Panti Meskipun diantara panti-panti sosial sudah menerima program subsidi lebih dari satu kali. Perlu dilakukan evaluasi dari unit di luar penyelenggaran program atau pihak independen. Pada kerangka inilah diperlukan peran Instansi Sosial Provinsi untuk memfasilitasi panti-panti sosial tesebut menentukan pilihan UEP yang tepat. mulai dari kegiatan seleksi panti sosial hingga terminasi. Meskipun penelitian ini menjangkau sample panti sosial yang sangat terbatas (50 panti sosial). yaitu: (1) mengurangi ketergantungan panti sosial pada pemerintah. masih menghaharapkan dana pada pihak luar. sehingga akan diperoleh informasi yang obyektif tentang efektivitas pelaksanaan program subsidi panti ini. Terutama mengurangi ketergantungan panti sosial terhadap pemerintah dan semakin mendorong profesionalisme panti sosial dalam penyelenggaraan pelayanan. Puslitbang Kesos 147 . Dalam upaya menjawab permasalahan ketergantungan panti sosial tersebut. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan dari pengembangan UEP ini. maka supervisi. Berdasarkan hasil penelitian. terutama dalam memilih jenis UEP yang prospektif dan dalam waktu cepat dapat memberikan hasil. Hal ini semakin menegaskan. bahwa program subsidi panti belum mampu mendorong panti-panti sosial mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan pemerintah. panti sosial yang sudah menyusun langkahlangkah pun. Hal ini menggambarkan. dan (3) panti-panti sosial akan semakin kreatif untuk mengembangkan skema pelayanan yang profesional. maka skema program subsidi panti akan lebih tepat apabila diarahkan pada bantuan untuk pengembangan UEP. tetapi mereka masih sangat mengharapkan program tersebut tidak dihentikan. Terkait dengan itu. bahwa program subsidi panti pada umumnya belum mampu mendorong kemandirian panti sosial.

pasar. tetapi seluruh klien yang ada di panti sosial ikut menikmati subsidi tersebut. Program subsidi panti untuk biaya makanan memberikan pengaruh cukup nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien dalam panti-panti sosial. diarahkan pada frekuensi pemberian makanan tambahan. yakni dari satu jenis menjadi dua atau tiga dan dari seminggu sekali menjadi dua kali. Diharapkan adanya perubahan kualitas dan frekuensi serta jenis makanan tambahan ini akan semakin meningkatkan derajat kesehatan klien. Kemudian. Panti-panti sosial menentukan jenis-jenis UEP didasarkan pada aspek tenaga. yaitu pemenuhan kebutuhan makanan dan usaha ekonomi produktif (UEP). diperoleh data kualitatif. bahwa subsidi panti dirasakan besar manfaatnya bagi panti-panti sosial dalam mendukung pemenuhan kebutuhan makanan klien. Ada perubahan positif pada peningkatan kualitas menu makanan yang semula tiga kali sehari. Oleh karena itu. sayur. yaitu nasi. sarana dan bahan baku. subsidi dimanfaatkan untuk menambah menu. Untuk makanan tambahan. Meskipun klien yang diusulkan untuk memperoleh subsidi jauh lebih kecil dari yang diusulkan. pada umumnya untuk makanan tambahan dan meningkatkan kualitas menu. Dana dari program subsidi panti dimanfaatkan oleh panti sosial untuk membuka UEP baru ataupun pengembangan UEP yang sudah ada. Namun demikian. Selain itu berpengaruh pula pada frekuensi dan jenis makanan tambahan. Penentuan UEP yang tepat sepenuhnya diserahkan kepada panti-panti sosial sendiri. kondisi UEP panti setelah menerima program juga menunjukkan adanya perubahan positif. Sedangkan berkaitan dengan menu. yaitu nasi sayur dan lauk kemudian menjadi tiga sehat plus. Pemanfaatan subsidi untuk makanan ini. meskipun belum signifikan. Baru 148 Puslitbang Kesos . pada prakteknya baru sebagian kecil UEP yang bisa mendukung kegiatan operasional panti sosial. dalam penelitian ini sulit untuk mengetahui secara tepat dampak program subsidi untuk biaya makanan. Hal ini menunjukkan bahwa panti-panti sosial masih menghadapi persoalan dalam pengelolaan UEP. Namun demikian. lauk dan buah-buhan meskipun tidak setiap hari.Evaluasi Program Subsidi Panti Kesimpulan dan Saran Panti-panti sosial pada umumnya memanfaatkan subsidi panti untuk dua kegiatan besar. seperti susu dan buah meskipun pemberian susu dan buah ini pada umumnya belum setiap hari.94 persen. atau baru menjangkau 66.

Evaluasi Program Subsidi Panti sebagian kecil panti sosial yang mengalami peningkatan omzet dan aset setelah menerima program subsidi panti. b. Sebagian besar panti sosial masih mengharapkan program subsidi ini terus diterimanya. yaitu: a. bahwa sebagian besar panti sosial penerima program subsidi panti masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pemerintah untuk kelangsungan hidupnya. Puslitbang Kesos 149 . Panti sosial diberikan kebebasan untuk mengelola UEP menurut caranya sendiri dan pada prakteknya panti sosial tidak tepat ketika memiliki UEP yang prospektif. Sebagian kecil dari mereka telah memiliki gagasan menemukan jalan keluar apabila program subsidi ini nantinya tidak dilanjutkan. Penanggung jawab program bertanggung jawab terhadap panti sosial yang diusulkan sebagai penerima program dan memiliki data by name by address atas panti-panti sosial yang diusulkan. mark up jumlah klien dan kelayakan panti sosial untuk menerima program. kapan panti sosial akan dikurangi subsidinya atau dihentikan sama sekali. Berdasarkan hasil penelitian ini. Panti sosial yang sudah mandiri. Diharapkan subsidi untuk kegiatan UEP ini nantinya akan mengurangi ketergantungan panti-panti sosial terhadap pemerintah. sehingga panti sosial tepat dalam memilih jenis UEP dan mampu mengelolanya dengan baik. Hal ini menggambarkan. Bantuan UEP perlu menjadi priroritas dibandingkan dengan subsidi untuk makanan. yang diikuti dengan kriteria dan indikator yang terukur. diajukan beberapa saran yang ditujukan kepada pengelola dan penanggung jawab program subsidi panti. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya panti fiktif. tidak memperoleh prioritas sebagai penerima program subsidi panti. c. Seleksi terhadap panti sosial calon penerima subsidi berdasarkan kondisi riil panti sebagaimana adanya. Terkait dengan itu. Pemerintah perlu menetapkan jangka waktu yang tegas. Terkait dengan UEP ini adalah kurangnya pelatihan dan pendampingan terhadap panti sosial dalam pengelolaan UEP. penyaluran bantuan UEP ini perlu diawali dengan pelatihan UEP dan diikuti dengan pendampingan. Hal ini menunjukkan panti justru semakin sulit melepaskan ketergantungannya pada pemerintah.

Puslitbang UKS. Pincus. Perlu dibangun kemitraan secara sinergis antara penanggung jawab program pada unit Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Pedoman Akreditasi Panti Sosial. —————————. Illinois : Peacock Publisher Inc . “Kemiskinan Pandangan Sosiologi”. Jakarta : Ikatan Sosiologi Indonesia. sehingga setiap daerah besarnya alokasi anggaran per orang/panti akan berbeda-beda. Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Biaya Usaha Ekonomis Produktif. 150 Puslitbang Kesos . Nomor 2/September 1997.Evaluasi Program Subsidi Panti d. Oleh karena itu. 2003. tetapi perlu diupayakan agar pencairan dana tidak terlambat sampai ke pengelola panti sosial dan akan mempengaruhi efektifitas program itu sendiri. —————————-.. Selo. Program subsidi panti sangat rawan dengan penyimpangan. e. Social Work Practice : Model and Methode. Allen and Anne Minahan. 1997. 2005. Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Tambahan Biaya Makanan/Gizi. Itjen. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Indonesia. ————————. Studi Pengembangan Panti Sosial Pamardi Putra Sebagai Panti Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Yang Komprehensif dan Profesional. Standardisasi Panti Sosial. Besarnya subsidi hendaknya disesuaikan dengan harga eceran tertinggi (HET) setempat (khusus makanan). Mujiyadi. 1973. DAFTAR PUSTAKA Departemen Sosial RI. Jurnal Sosiologi. 2000. Puslitbang Kesos. Puslitbang Kessos dan instansi sosial di daerah untuk mengawal program subsidi panti ini agar mencapai tujuan yang diharapkan. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Mekanisme pencarian dana melalui PT POS tetap dipertahankan. f.2003. perlu dilakukan pengawasan lebih ketat mulai pada tahap penentuan panti-panti sosial calon penerima program sampai dengan penyaluran dananya. B. dkk. 2003. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Selo Soemardjan.

Puslitbang Kesos 151 . Makalah dokumen pribadi (tidak diterbitkan). Siporin. (1975). Soetarso. Bandung : STKS Publisher. Saint Louis: The C. Health Program Evaluation. Praktek Pekerjaan Social dalam Pembangunan Masyarakat. Beberapa Catatan dalam Praktek Pekerjaan Sosial. 1978. (1990). Siahaan. 2004. Dwi Heru. S. Inc. KOPMA Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial : Bandung.V Moshy Company.C. Introduction to Sosial Work Practice.M. Profesi Pekerjaan Sosial. Max.Evaluasi Program Subsidi Panti Shortell. New York : Mac Millan Publisher Co. MPR. W. (1991). and Richardson. Sukoco.

.

yang telah berfungsi dalam pelayanan lanjut usia secara tradisional belum dioptimalkan. Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. Jawa Timur. Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Setyo Sumarno. Puslitbang Kesos 153 . Sri Gati Setiti. secara fisik umumnya merasakan tercukupi. tehnik pengumpulan data dengan wawancara. Sri Gati Setiti. belum dapat memecahkan permasalahan yang ada. FGD. Untuk memeriksakan penyakit. Hal ini guna mengembangkan konsep model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Harapan lanjut usia maupun kerabat adalah tempat serbaguna yang berfungsi pelayanan dan kegiatan lanjut usia. Drs. Rusmin Tumanggor. program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Lokasi penelitian di Sumatera Utara. penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. Pendekatan deskriptif kualitatif. Sri Gati Setiti 2 ABSTRAK Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia seiring dengan jumlah penduduk lanjut usia. Pertanyaan dalam penelitian ini. lanjut usia berharap pelayanan khusus bagi lanjut usia atau Posyandu lansia yang murah dan mudah dijangkau. Dilain pihak. Namun. Ditinjau dari kebutuhan hidup pokok kecuali ekonomi.Si. studi dokumentasi dan observasi.PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN ( Studi Kasus Pada Lima Wilayah Di Indonesia)1 Dra. Departemen Sosial RI. Berbagai kebijakan. 1 2 Diangkat dari Penelitian Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia).Achmadi Jayaputra M. Drs. permasalahan lanjut usia dan pelayanan yang dilakukan oleh kerabat. apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia ? Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan lanjut usia. Dra. kerabat merasa sudah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai nilai budaya dan agama yang dianutnya. Permasalahan lanjut usia yang paling dirasakan adalah masalah kesehatan. ed: Prof Dr. Sementara kekerabatan sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial. Penelitian ini merekomendasikan suatu model pelayanan lanjut usia dalam kerabat melalui : penguatan ekonomi kerabat bagi lanjut usia yang tidak potensial dan ekonominya lemah. Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian bahwa pelayanan sosial dalam kerabat merupakan salah satu nilai budaya setempat yang membuat lanjut usia merasa aman dan terlindungi dalam lingkungan kerabat. dkk. peneliti: Dra.Nina Karinina.

Penanganan masalah sosial merupakan bagian dari dan berakar pada nilai tolong menolong yang dikenal hampir semua suku bangsa di Indonesia. Kata Kunci: lanjut usia.3 juta lanjut usia. Mereka mengalami berbagai keterlantaran. sekaligus merupakan potensi yang luar biasa. penanganan lanjut usia juga masalah lainnya. Berbagai kebijakan dan pelayanan dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Berdasarkan beberapa hal tersebut. Kekerabatan Pendahuluan Peningkatan usia harapan hidup. disamping kendala dana maupun petugas. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial tahun 2006 melakukan penelitian ”Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan”. sebagai sumber kesetiakawanan sosial yang mampu memecahkan permasalahan sosial didaerahnya. Peran kerabat dalam masyarakat di seluruh Indonesia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. diantaranya terkena tindak kekerasan oleh orang lain maupun kerabatnya. 154 Puslitbang Kesos . maupun ekonomi. tetapi banyak yang memberikan pelayanan secara terbatas. Pada sisi lain.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan pengembangan lembaga organisasi lanjut usia yang memiliki berbagai kegiatan yang bersifat psikis. pembinaan generasi muda dalam upaya pelestarian nilai budaya dan pelayanan kesehatan lanjut usia yang optimal. Dewasa ini lanjut usia yang tertangani melaui sistem panti maupun nonpanti kurang dari 2% dari 2. Dalam berbagai budaya yang kita miliki. Tuntunan agama dan nilai luhur menempatkan lanjut usia dihormati. Upaya tersebut belum memadai dibanding populasi dan permasalahannya yang kompleks. Baik melalui sistem panti maupun nonpanti atau berbasis masyarakat. Hal ini sebagai prestasi sekaligus tantangan/beban. Hal ini perlu diangkat dan dikembangkan. dihargai dan dibahagiakan dalam kehidupan keluarga. kita memiliki kearifan budaya. diiringi jumlah dan persentase penduduk lanjut usia. seperti Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). diatur dalam tradisi masyarakat. Sebagian pelayanan cukup memadai. Day Care Service maupun Day Care Centre. Pelayanan Sosial.

Bagi akademisi. merumuskan pokok-pokok pikiran tentang kerangka dasar pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan (kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. Pada sisi lain belum ada pelatihan bagi pendamping kerabat yang melayani lanjut usia. permasalahan dan harapan lanjut usia. Keterlantaran baik disebabkan oleh kondisi yang berubah. Lanjut usia yang terlantar semakin mudah kita saksikan disekitar kita. Secara khusus bertujuan: a. Memahami bentuk pelayanan lanjut usia yang berbasis kekerabatan c.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Permasalahan Ketidakseimbangan antara pelayanan sosial yang tersedia dan permasalahan yang ada. bagaimana pelayanan dilakukan oleh kekerabatan terhadap lanjut usia? Permasalahan yang akan diteliti: Apakah pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan telah sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan lanjut usia? Tujuan 1. Puslitbang Kesos 155 . 2. b. sehingga merubah pola dan kegiatan anggota keluarga yang berdampak kepada pelayanan bagi lanjut usia. berpengaruh kepada pelayanan lanjut usia. Menyusun kerangka model pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan Manfaat Manfaat yang dapat dipetik bagi pemerintah. Bagi pemberi pelayanan menjadi alternatif pelayanan. Berdasarkan uraian tersebut. Memahami tentang kebutuhan. Bagi instruktur kediklatan. untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan model pelayanan lanjut usia. d. sebagai dasar ilmiah perumusan kebijakan publik untuk menyelesaikan masalah pelayanan lanjut usia. Mengidentifikasi nilai-nilai terkait dengan pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan. untuk uji coba pada penelitian tahap II tahun 2007). Secara umum bertujuan. Keterlantaran lanjut usia juga disebabkan oleh semakin memudarnya nilai dan penghargaan kepada lanjut usia. menjadi materi trainers.

Adapun pelayanan lanjut usia. kerabat angkat (adoptif kin). Kekerabatan dalam penelitian ini adalah orang sedarah (consanguinal kin). kerabat karena kawin mawin (afinal kin).Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Tinjauan Teoritis Definisi lanjut usia menitik beratkan kepada usia seseorang yang lebih dari 60 tahun. berpedoman kepada pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Dari deskripsi teoritis tersebut. Goode (1985) dan Koentjaraningrat (1990). mengacu kepada UU no 13 Th 1998. Kerangka Konseptual dalam Pelayanan Lanjut Usia Berikut preposisi teoritisnya adalah : ”Lanjut usia akan dirawat di lingkungan kerabat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan. sebagai berikut : Sosial Emosi/Spiritual Kesehatan fisik/psikis Lanjut usia Patrilineal Parental LU dilayani saudara lakilaki LU dilayani anak laki-laki LU dilayani anak perempuan dan anak laki-laki LU dilayani saudara isteri atau saudara suami Ekonomi Bagan 1. Sementara pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh kerabat pada suku bangsa yang diteliti. maka kerangka konseptual dalam penelitian ini. 156 Puslitbang Kesos . yakni pelayanan dalam panti dan pelayanan luar panti. emosional dan spiritual serta sosial dan faktor ekonomi menjadi komponen penting dalam mencapai berbagai kebutuhan tersebut”. yang dipanggil ”kekerabatan”. Kekerabatan mengangkat pendapat Suryono Sukanto (1990).

Wawancara mendalam untuk informan kunci. diteliti suku Melayu dan Toba. Pada Suku Dayak. lanjut usia laki laki Melayu Sambas disapa Nek Aki. Pada etnik Bima. yang disajikan dalam studi kasus. Pada suku Madura. Pada suku bangsa Jawa lanjut usia lakilaki disapa dengan mbah kakung (halus: eyang kakung). Pengumpulan data melalui studi dokumentasi. Berbeda halnya dengan Melayu Kapuas. Penelitian dilakukan di Sumatera Utara. wanita disapa Toa Baine. lanjut usia laki laki disapa Embah lanang.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian Pemahaman tentang Lanjut usia Adanya penyamaan persepsi tentang sapaan atau istilah lanjut usia. untuk wanita disapa dengan Opung Nini. lanjut usia Laki laki disapa Toa Baina. Observasi pada lingkungan tinggal lanjut usia dirawat. lanjut usia laki laki disapa Opung Bulang. Wawancara berstruktur kepada lanjut usia. Diskusi terbatas kepada pejabat terkait pada tingkat provinsi. Dalam budaya Melayu. untuk perempuan disapa dengan Wai. berlaku pada masing masing daerah sebagai berikut : 1. untuk perempuan disapa Nek Wan. untuk perempuan disapa Ninik. untuk perempuan disapa Kajao. FGD pada: Kerabat. Dalam etnik Bugis. Secara sosial budaya mewaklili sistem kekerabatan patrilineal dan parental. kerabat yang melayani lanjut usia. Di Sulawesi Selatan. Sapaan tentang Lanjut Usia Lanjut usia dalam berbagai etnis memiliki sapaan yang berbeda. sedang untuk perempuan juga disapa dengan Embah. Suku Bugis dan Makasar. Pada suku Sasak di NTB. Etnik Makassar. Suku Jawa dan Madura. Tokoh Agama/masyarakat setempat. untuk laki-laki disapa Ai dan perempuan disapa Mi. Di Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat. lanjut usia Laki laki disapa Pupung. wanita Puslitbang Kesos 157 . Suku Dayak dan Melayu. Suku Sasak dan Bima. untuk perempuan disapa dengan mbah putri (halus: eyang putri). Di Jawa Timur. lanjut usia laki laki disapa Nene. lanjut usia Laki laki disapa Ompu (Tuak /halus). Pada suku Batak. lanjut usia laki laki disapa Nenek atau Nek aki.

Pada etnik Melayu dan Dayak. Namun. Ciri lainnya termasuk mereka yang sering sakit-sakitan atau fisiknya sudah lemah. Hal ini karena adanya pengaruh budaya sekitar yang turut memberi warna pada istilah atau sapaan kepada lanjut usia yang berlaku bagi daerah tersebut. lanjut usia dapat secara bebas tinggal bersama kerabat pihak laki laki maupun pihak perempuan. lanjut usia akan tinggal pada anak laki laki pertama atau adiknya. Walau demikian panggilan tersebut kadang ada yang sedikit berbeda. Dalam budaya Jawa. 3. Pada etnik Sasak dan etnik Bima. secara budaya lanjut usia tinggal bersama kerabat ayah. Temuan dilapangan lanjut usia tinggal bersama anak yang tinggalnya berdekatan. Perubahan yang terjadi pada semua etnik yang diteliti. lanjut usia tinggal bersama anak perempuan. yang disepakati dari hasil FGD adalah: lanjut usia bila telah berusia lebih dari 60 tahun. berlaku sama pada semua etnik yang diteliti. Jawa dan Sasak juga Bima. Namun. Etnik Bugis dan Makassar mengikuti sistem parental. kecuali di Kalbar.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 2. sudah memiliki cicit. secara adat tinggal bersama anak laki laki tertua atau adiknya. Secara umum pola tinggal mereka mengikuti garis kerabat. Dalam Budaya Batak. banyak ditemukan lanjut usia senang tinggal di rumah panjang. yang mengikuti garis parental. bila sudah pensiun dan anak-anak mereka sudah menikah. Kerabat yang tinggal di rumah panjang itulah yang bertanggung jawab kepadanya. Ciri ciri lanjut usia. anak yang tinggal berdekatan atau anak yang paling disenangi. 158 Puslitbang Kesos . memiliki kebiasaan khusus. Pada Etnik Bima. Berlaku untuk semua etnik yang diteliti. disapa dengan Nenek. Walau demikian. maka kewajiban akan berpindah kepada adik laki lakinya. lanjut usia cenderung memilih tinggal pada anak peremuan atau yang paling disukai. walau demikian biasanya menempatkan lanjut usia bersama dengan anak tertua atau adiknya. Ciri lainnya. ditemukan lanjut usia tinggal pada kerabat garis Ibu atau tinggal berpindah antara anak satu dan lainnya. disepakati lanjut usia bila telah memiliki cucu. Bila tidak dapat dilakukan. Ciri ini berlaku untuk etnik Batak. lanjut usia senang untuk pulang kampung ke Bima. Pola tempat tinggal bagi Lanjut Usia. yang menganut garis kerabat patrilineal.

murah. Kebutuhan makan umumnya tiga kali sehari ada juga dua kali. Secara umum pelayanan kepada lanjut usia dilakukan oleh kerabat yang paling dekat. Pilihan warna sesuai dengan budaya setempat. kondisi lanjut usia yang rentan membutuhkan lingkungan yang mengerti dan memahaminya. dibutuhkan pakaian yang nyaman dipakai. membutuhkan dikunjungi kerabat. Lanjut usia membutuhkan teman yang sabar. Mereka membutuhkan teman ngobrol. Lanjut usia juga butuh rekreasi. Bila sakit segera diobati. yang mengerti dan memahaminya. atau tetangga/kerabat jauh. secara umum membutuhkan rumah tinggal yang nyaman. dekat kamar kecil dan peralatan lansia secukupnya. tidak asin dan tidak berlemak. Obat obatan ringan sebaiknya selalu siap didekatnya. selain itu juga dilakukan oleh kerabat atas hubungan perkawinan atau adopsi. dingin. Kebutuhan fisik lanjut usia meliputi sandang pangan.Dibutuhkan fasilitas pelayanan pengobatan rutin. terlindungi dari mara bahaya dan dapat untuk melaksanakan kehidupan sehari hari. Kebutuhan sandang. hujan. Kerabat yang melayani Lanjut Usia. Model yang sesuai dengan usia dan kebiasaan mereka. Kebutuhan papan. pelayanan dilakukan oleh anak. Tidak kena panas. Puslitbang Kesos 159 . kesehatan dan spiritual. Pada kenyataannya. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia sangat vital. Kebutuhan psikis. kemenakan dan saudara sepupu. 2.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 4. Frekuensi pembeliannya umumnya setahun sekali sudah mencukupi. angin. gratis dan mudah dijangkau. sering disapa dan didengar nasehatnya. papan. Lanjut usia dirawat oleh kerabat sedarah. Kebutuhan Lanjut Usia 1. Makanan yang tidak keras. silaturahmi kepada kerabat dan masyarakat . Kondisi Lanjut Usia.

Lanjut usia kadang mesti menyesuaikan dengan makanan apa adanya. membutuhkan bantuan sumber keuangan. melalui kegiatan keagamaan. Kondisi ekonomi kerabat yang terbatas. Terutama kerabat. bagi lanjut usia yang masih potensial biasanya membeli sendiri. 5. juga teman sebaya. umumnya mereka mengisi waktu untuk beribadah. menantu. Pelayanan sandang. Pelayanan Lanjut Usia oleh Kerabat 1. sayur dan lauk. Tetapi. Keterbatasan ekonomi juga membuat kerabat tidak mampu melayani pengobatan secara medis. Terutama yang berasal dari kerabatnya. bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap. arisan dan lain-lain.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 3. sekelompok kegiatan dan masyarakat di lingkungannya. keterbatasan ekonomi membuat mereka makan seadanya. Bagi lanjut usia yang tidak mampu biasanya diberi oleh kerabat jauh atau masyarakat. Kerabat yang menyajikan makanan umumnya anak. Mereka sangat mendambakan generasi penerus yang sungguh sungguh dalam menjalani ibadah. Kebutuhan spiritual. keponakan perempuan yang tinggal satu rumah/berdekatan. Sementara kerabat menambahkan pakaian kesukaan mereka. hanya mampu menyediakan tempat tinggal seadanya. Secara umum kerabat membelikan satu kali setahun. UEP dan bantuan modal usaha sebagai penguatan usahanya. ada juga yang tidak terpenuhi. Bagi lanjut usia yang masih produktif membutuhkan keterampilan. Kadang mereka hanya memberikan obat dari warung atau ramuan tradisionil atau 160 Puslitbang Kesos . 4. Namun. Secara ekonomi lanjut usia yang tidak potensial membutuhkan uang untuk biaya hidup. Pelayanan di bidang papan. Ada yang menyajikan nasi. sesuai dengan kemampuan kerabat. Ada juga yang ditambah dengan buah. Makanan yang disajikan sesuai kemampuan mereka. olahraga. secara umum kerabat melayani makan tiga kali sehari. Pelayanan fisik. Melalui Ibadah lanjut usia mendapat ketenangan jiwa. pencerahan dan kedamaian menghadapi hari tua. Kebutuhan sosial lanjut usia membutuhkan orang-orang dalam berelasi sosial. Kebutuhan ekonomi.

Kerabat berusaha untuk sering mengunjungi. prosedur yang berbelit dan pelayanan yang sering tidak menyenangkan. yasinan. kelompok adat dan lain-lain. memberikan kabar keluarga dan berita secara umum. Puslitbang Kesos 161 . dengan oleh oleh kesukaanya. Pada sisi lain. dimesjid atau dimajelis taklim. Pelayanan ekonomi. didengar nasehatnya. Pelayanan sosial kerabat berusaha menemani berbicara. Ketika menjalani ibadah. 4. Melakukan kegiatan keterampilan untuk memperoleh penghasilan. Bagi yang memiliki kartu miskin. 5. rewel. Beberapa etnik yang diteliti. ada satu dua ditemukan lanjut usia mendapat perlakuan tidak baik. Kerabat menemani saat beribadah di rumah. juga teman sekampung asal (kasus Bima) dll. kelompok silaturahmi. bahan mentah atau memberikan makanan siap saji. Kesemuanya dilakukan secara gotong royong. kerabat memberikan uang. mereka masih harus menghadapi biaya transpotasi yang mahal. Pelayanan spiritual dilakukan oleh kerabat dengan menyediakan sarana dan peralatan ibadah. Pelayanan psikis. dilakukan kerabat dengan memenuhi kebutuhan dasar hidup lanjut usia. Lanjut usia juga diberikan kegiatan bersama kelompoknya. olah raga. diantaranya kelompok keagamaan. Sekalipun demikian. kerabat juga memperhatikan lanjut usia yang ditinggal mati pasangannya. Selain hal tersebut diatas. pengajian. Orang tua selalu memesan agar mengerti kepada lanjut usia. dilakukan oleh kerabat yang mengerti dan memahami lanjut usia yang kadang perilakunya berubah seperti: kekanak kanakan. berusaha menjauhkan dari anak agar tidak gaduh. pendamping dalam menjalani hidup. 3. 2. diberikan kesempatan bekerja bersama kerabat. arisan. sebagai tempat mencurahkan isi hati. Kerabat mencarikan pasangan. Bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial. juga teman sekelompok. seperti dibentak bentak. mudah tersinggung dll.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan berobat ke dukun. seperti kata ”mapakau untuk Bugis/Makassar” lanjut usia ditemani untuk ngobrol. didengar nasehatnya dan didengar kaluhannya. secara intensif mereka bekerja secara kelompok (kasus Sasak). Bagi yang masih potensial. lanjut usia diantar cucu atau kemenakan untuk bertemu dengan teman sebaya. Lanjut usia ada teman ngobrol.

yakni sistem pelayanan sosial di dalam panti dan pelayanan diluar panti. ternak ayam.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Pelayanan oleh Pemerintah dan Masyarakat Pelayanan sosial oleh Pemerintah melalui dua sistem. balas budi dan membahagiakan orang tua. safari ibadah. Masing masing provinsi memiliki panti sosial Tresna Wreda. Hal ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Kegiatanya secara umum berupa penambahan Gizi. Pandangan Kerabat tentang Nilai-nilai yang Terkait Lanjut Usia Secara umum kerabat menghendaki lanjut usia tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat. ternak kambing. jaminan hidup. Mereka bergabung dalam Karang Wredha. pemanfaatan waktu luang. Setiap panti sosial memberi penampungan. kesehatan. Dalam kegiatan usaha kesejahteraan sosial berupa kunjungan orang sakit dan bantuan bagi warga yang meninggal. pakaian. Karang Lansia dan lain lain. ada juga sapi (Sulsel) dan Bantuan Peningkatan Gizi pada semua provinsi. rekreasi. Pemberdayaan lanjut usia melaui DAU dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan Orsos. Diskusi bersama tokoh dan Dinas terkait 162 Puslitbang Kesos . kerja bakti dan penggalakkan tanaman obat. Program pelayanan diluar panti berupa: pemberdayaan lanjut usia melalui dana Dekon. olah raga. Bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dibidang ternak itik. Kegiatan edukasi berupa keterampilan dan bantuan modal. dalam bentuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Selain itu juga KUBE dan UEP. umumnya berbentuk Orsos. bimbingan sosial dan spiritual. Sedang kerabat dapat memetik manfaat kepuasan batin dalam memberikan pengabdian. penambahan Gizi. Lanjut usia merasakan kedamaian berada ditengah kerabat. Pelayanan lanjut usia yang dilakukan oleh masyarakat. Kesehatan dan Informasi.

segera diberikan obat atau dibawa berobat. Kerabat masih mendengarkan dan menjalani nasehat lanjut usia. Lanjut usia memerlukan pelayanan kesehatan rutin yang murah (gratis). dapat menyampaikan dengan cara yang tidak menyinggung. Lanjut usia perlu” diisi perutnya dan dipelihara mata dan telinganya”. tidak sabar. Harapan kepada kerabat. Pelayanan psikis. yang ditanggung secara bersama. Permasalahan penting bagi lanjut usia adalah permasalahan kesehatan. sumber dana yang digunakan untuk merawat lanjut usia berasal dari kerabat. baik ucapan atau perlakuan fisik. ada yang melayani ketika memerlukan bantuan. Secara ekonomi. Bagi yang tidak potensial memerlukan bantuan ekonomi. maupun budaya yang mengikat mereka. Lanjut usia mengalami berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit non infeksi yang sulit disembuhkan. cepat dan mudah. Kerabat sebaiknya mengerti dan memahami yang baik dan tidak baik dilakukan kepada lanjut usia. Mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya. bersama anak perempuan/anak bungsu atau anak yang paling disayangi. Ada yang menemani ketika berobat. banyak ditemui lanjut usia tinggal dan dirawat oleh anak yang tinggal berdekatan.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Cara ini sesuai dengan agama. memerlukan kegiatan usaha ekonomi produktif agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. melalui keluarga yang merawat. Kerabat yang bertanggung jawab terhadap pelayanan lanjut usia. lanjut usia potensial memerlukan silaturahmi dan anjang sana. sebaiknya dirawat masyarakat sekitarnya. Bagi lanjut usia yang tidak memiliki kerabat. Puslitbang Kesos 163 . Kondisi fisik yang mengalami kemunduran. dilakukan sesuai garis kerabat yang dianutnya. Melayani lanjut usia harus bisa berlaku sabar. Bila ada perbedaan. memenuhi perintahnya. lanjut usia sebaiknya dirawat di panti sosial. Bila tidak sanggup melakukan. Bagi yang potensial tetapi miskin. Hal yang buruk . Mereka memerlukan wadah (Karang lansia/karang wredha) atau bentuk lainnya. memerlukan pelayanan sesuai kondisinya. masyarakat dan pemerintah Harapan kepada kerabat: pelayanan dinjalani secara ikhlas dan wajar. Kondisi ini kini mulai bergeser. Bila lanjut usia sakit. Melalui wadah ini lanjut usia dapat melakukan aktifitas sesuai dengan keinginan mereka. sepanjang tidak mencelakakan. Pelayanan sosial bagi lanjut usia perlu dipisahkan antara yang potensial dan yang tidak potensial. memperlakukan secara kasar.

Konsep Model KERABAT LANJUT USIA POTENSIAL PEMBERDAYAAN EKONOMI PEMBERDAYAAN GENERASI MUDA PELAYANAN LANJUT USIA BERBASIS KEKERABATAN PRANATA LANJUT USIA PENGUATAN KESEHATAN LANJUT USIA Bagan 2. mudah dan gratis dengan memberi kartu sehat lansia. hidup bersama masyarakat. murah/gratis). Memberikan penyuluhan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkait dengan lanjut usia kepada generasi muda tentang: 1. Lanjut usia yang masih potensial 3. Harapan kepada masyarakat: Memperlakukan lanjut usia dengan wajar. Penyuluhan bagi generasi muda tentang nilai nilai yang terkait dengan lanjut usia. Memberi fasilitas pengobatan rutin. Kerabat yang merawat lanjut usia nonpotensial 2. Berpartisipasi dalam iuran. gotong royong. mudah. kerja keras. Membentuk wadah kegiatan lanjut usia seperti: Karang wredha/Karang Lansia.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Harapan yang sangat tinggi kepada kerabat untuk tekun beribadah. 5. Menyumbangkan ilmu dan pengalamannya. Pelayanan kesehatan bagi lanjut usia ( dekat. menjaga dan meneruskan nilai nilai demi masa depan yang baik. Penguatan & pemberdayaan pranata lanjut usia yang OBH maupun OTBH. Menyediakan fasilitas umum untuk lanjut usia. setia dengan adat budayanya. Memberi jaminan hidup kepada lanjut usia yang tidak potensial dengan kerabat tidak mampu. juga jaminan hari tua bagi lanjut usia. bagi lanjut usia potensial. Mendorong dan memfasilitasi bagi yang sudah terbentuk. 4. KONSEP MODEL PELAYANAN LANJUT USIA 164 Puslitbang Kesos . Harapan kepada Pemerintah: agar mengembangkan program penanganan ekonomi. sekalipun tenaga/dana yang disumbangkan tidak seberapa. rajin belajar.

sebaiknya dirawat oleh kerabat: adik kandung/sepupu.. penyakit jantung. osteoporosis dan penyakit penuaan lain. Pola tinggal lanjut usia yang diteliti : (a) Lanjut usia tinggal mandiri dan dirawat oleh kerabat. perlak dan lainlain. tinggal di rumahnya sendiri.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan Kesimpulan dan Rekomendasi 1. (b) Lanjut usia yang tinggal bersama dan dirawat oleh kerabat (c) Lanjut usia yang tinggal di rumahnya sendiri. 2. keponakan. yang berpotensi sebagai sumber kesos. dirawat oleh tetangga. (c) Kebutuhan makan. sebaiknya dirawat tetangga. alternatif terakhir dirawat di Panti Sosial Lanjut Usia. (d) Kebutuhan pakaian. Puslitbang Kesos 165 . 3. kurang pendengaran. (b) Lanjut usia potensial sebagai Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Kesimpulan 1. Ada dua kategori lanjut usia: (a) Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). bagi lanjut usia yang masih sehat dan kuat. Permasalahan kesehatan: yang sulit disembuhkan/tidak bisa sembuh karena usia. Kebutuhan lanjut usia meliputi: (a) Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang paling dirasakan lanjut usia. tetapi tidak ada biaya untuk menyediakannya. Bilamana tetangga tidak ada yang merawatnya. (e) Secara sosial lanjut usia menginginkan dikunjungi kerabat. (d) Lanjut usia suami isteri. (b) Kebutuhan rohani. ingin beribadah sesuai agama masing masing. (b) lanjut usia yang tidak punya anak. (c) bilamana tidak memiliki kerabat. cucu dan lain lain. 4. Lanjut usia yang sakit dapat beribadah dan mendengarkan radio/televisi. umumnya terlantar dan tinggal di daerah rawan. Sedangkan bagi lanjut usia potensial ingin berkunjung ke teman/ kerabat. darah tinggi. Bagi yang sudah terbaring di tempat tidur memerlukan perlengkapan seperti pampers. (e) Lanjut usia dirawat oleh sepupu/ keponakan. katarak. sesuai budaya dan kebutuhannya. 5. mereka terorganisir dalam Karang Wredha/Karang Lansia dan lain lain. Pelayanan lanjut usia oleh kekerabatan memiliki nilai budaya sebagai berikut: (a) lanjut usia sebaiknya dirawat oleh anaknya/keluarga/ kerabat. Umumnya menderita kaku sendi/lengan dan sulit bergerak. lanjut usia memerlukan makanan bergizi sesuai kebutuhannya.

pertemuan/arisan dan pameran hasil keterampilan. mudah dan gratis. 2. bimbingan dari pemerintah. Pengembangan lembaga/organisasi lanjut usia. (e) Pelayanan lanjut usia dalam kerabat yang diteliti sudah memenuhi harapan. memberikan berbagai motivasi melalui penyuluhan dan mempraktekannya dalam bersikap dan berperilaku sehari hari. 4. dengan memberi dukungan dana. Para lanjut usia merasa aman dan terlindungi berada dilingkungan kerabat. (b) untuk memeriksakan penyakit. yang didukung dengan tenaga dan pelayanan medis secara memadai. 2. Rekomendasi 1. yang memiliki UEP. (d) Pelayanan lanjut usia berbasis kekerabatan dapat dikembangkan karena sistem nilai budaya setempat di lima wilayah yang diteliti mendukung upaya tersebut. Harapan para lanjut usia: (a) Menginginkan tempat pertemuan serbaguna.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan 6. Posyandu. sekaligus sebagai kegiatan ekonomi maupun sosial kepada mesyarakat. rutin. murah/gratis dan dekat. ketrampilan. agar ada peningkatan ekonomi dan dapat mencukupi kebutuhan lanjut usia secara lebih baik. Meningkatkan kesejahteraan lanjut usia dengan cara pelayanan kesehatan lanjut usia. agar lanjut usia dapat menyumbangkan ilmu dan keterampilannya. Penguatan ekonomi bagi kerabat yang lemah. 5. mudah. Pembinaan generasi muda dilakukan dengan memperkuat sistem nilai budaya masing masing. ingin dicontoh generasi muda dan didukung pemerintah. organisasi sosial maupun kelompok peduli. terutama untuk pemenuhan gizi dan berobat ke rumah sakit yang biayanya mahal. (c) Lanjut usia potensial yang mempunyai UEP barhasil memberi lapangan pekerjaan. 166 Puslitbang Kesos . 3. menginginkan pelayanan khusus yang dekat. Penguatan ekonomi bagi lanjut usia potensial. untuk pelayanan kesehatan.

Harver & Row Publisher.Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Jakarta. Hardywinoto. Puslitbang Kesos 167 . Aging Community and Change. BPPKS. Penelitian Uji Coba Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia Berbasis Masyarakat. Jakarta. Manusia Bugis Makassar. the Challange and Promise of the Later Year. Scripps Foundation Gerontology Center. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Wadswort Publishing Company. 1990. Pramuwito. Idayu Press. Jakarta . 1985. 1977. Jayaputra. Jakarta. Aging Community and Change. Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup Para lanjut usia ”Panduan Gerentologi” Tinjauan dari Berbagai Aspek. dkk. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Selatan. Wadsworth Publishing Company. Social with the Aging. California Division Wadsworth Inc. Belmont California. Kajian Tentang Model-model Pelayanan lanjut usia Berbasis Masyarakat Melalui Pusat Santunan Asuhan Dalam Keluarga. 1999. Jakarta . Jakarta . Jambatan. BPPKS. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1982. Robert C. & Toni Setyabudhi. ________. Jakarta . San Fransisco. ___________ . Achmadi dan Setyo Sumarno. Direktorat Jenderal Kebudayaan. New York. Belmont. Gramedia. Miami University. Philadephia. 1991. 1999. Loius Lowy. Hamid. Koentjaraningrat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Jawa Timur. 1983. 1997. Atchley. 1983.

.

MPM 2 ABSTRAK Penelitian pengembangan komunitas peduli anak bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang pembentukan komunitas peduli anak. Pendampingan secara intensif dari tokoh komunitas. Jawa Timur/Surabaya. Sumatera Selatan/Palembang. Kalimantan Barat/Pontianak. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. melalui pemberian keterampilan usaha. Neni Riani. Pandangan tentang anak dan kebutuhannya memotivasi komunitas untuk memenuhi kebutuhan dan hak anak. minimnya pemahaman 1 2 Diangkat dari penelitian Komunitas Peduli Anak dengan anggota Alit Kurniasari (Ketua). pemberian beasiswa bagi anak jalanan yang mampu sekolah dan pelatihan keterampilan. Tety Ati Padmi. lembaga sosial masyarakat yang peduli anak didukung keterlibatan pengusaha setempat maupun pemerintah menjadi sumber motivasi bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi aktif kedalam komunitas. tetapi juga menjangkau keluarga atau orang tua.PENGEMBANGAN KOMUNITAS PEDULI ANAK 1 Dra. selain pandangan masyarakat tentang hak anak dan kebutuhannya. Banyaknya permasalahan anak-anak terlantar dan anak jalanan telah memprakarsai tokoh agama. Sulawesi Selatan/Makasar. Adapun hambatan yang dihadapi komunitas seperti terbatasnya jaringan kerja komunitas. Nusa Tenggara Timur/Timor Tengah Selatan). yang berpihak pada anak dan tidak bias gender. kelompok remaja mesjid dan praktisi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komunitas peduli anak dilatarbelakangi oleh kondisi faktual di masing-masing wilayah. pelayanan sosial tidak hanya bagi anak. Gunawan. termasuk mengikutsertakan keluarga pada pelatihan usaha ekonomi produktif. Kepedulian diwujudkan dalam bentuk kelompok belajar. mengidentifikasi potensi dan sumber yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas serta mengidentifikasi bagaimana bentukbentuk kepedulian komunitas. Pada beberapa wilayah. Alit Kurniasari. Sri Utami. taman bacaan anak. kelompok bermain dan TK. untuk membangun komunitas peduli anak. Dukungan pemerintah melalui paket belajar dan pelatihan keterampilan telah memberi warna pada kegiatan komunitas. Puslitbang Kesos 169 . Pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif melalui studi kasus yang dilakukan di 6 wilayah (Sumatera Utara/Medan. Departemen Sosial RI. Alit Kurniasari. Potensi dan sumber pendukung untuk mengembangkan komunitas seperti nilai ajaran agama sebagai pengikat kegiatan komunitas. Dukungan pengusaha setempat terhadap kelanjutan pendidikan serta keterlibatan LSM yang peduli pada kesehatan dan pendidikan anak.

Pemerintah melakukan berbagai aksi. yang bertujuan untuk mengupayakan tingkat kesejahteraan dan perlindungan anak seoptimal mungkin. Pada kenyataannya. 170 Puslitbang Kesos . belum adanya kesamaan antara dukungan pemerintah dengan kebutuhan komunitas. masyarakat peduli anak dan pemerintah. Implikasinya adalah berbagai elemen seperti LSM. Dunia Usaha dan pemerintah berupaya merealisasikannya dalam berbagai kegiatan. Orsos. dunia usaha. Jumlah anak terlantar. kemampuan pemerintah tidak sebanding dengan meningkatnya permasalahan anak. Kata kunci: Hak Anak. Gugus Tugas.Pengembangan komunitas Peduli Anak masyarakat bahwa komunitas sebagai ‘modal sosial’ yang dapat dikembangkan. Oleh karenanya. fasilitasi pemerintah disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. kebijakan tentang keberadaan komunitas sebagai bagian dari Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Komunitas Peduli Anak Pendahuluan Kesejahteraan dan perlindungan terhadap anak menjadi bagian penting dari pembangunan kesejahteraan sosial. Departemen Sosial melalui Direktorat Pelayanan Sosial Anak yang telah lama dan berpengalaman dalam membina dan memfasilitasi pelayanan sosial anak baik dalam maupun luar panti. Rativikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Pelayanan Sosial Anak. Berbagai upaya telah dilakukan. juga memfasilitasi pembentukan Komite Aksi Nasional. serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah gencarnya dengan kegiatan lembaga nonpemerintahan lainnya. telah melahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan berbagai peraturan perundang-undangan di bawahnya. untuk mengembangkan komunitas peduli anak perlu membentuk jejaring kolaboratif antar sektor terkait. perlunya mengkampanyekan kegiatan peduli anak agar kesadaran masyarakat pada kebutuhan dan hak anak semakin meningkat. Komisi Nasional Perlindungan Anak. Lembaga Perlindungan Anak di daerah yang melibatkan berbagai instansi pemerintahan dan elemen masyarakat. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. baik secara kuantitas maupun kualitas. Anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak awal agar tujuan anak sebagai pemilik era masa datang dapat tercapai. termasuk anak jalanan cenderung semakin meningkat. mulai dari legalitas tingkat global sampai tingkat nasional. peningkatan kemampuan pekerja komunitas.

815. terutama masalah kemiskinan. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. apa latar belakang terbentuknya komunitas serta sumber dan potensi apa yang dapat dimanfaatkan komunitas untuk mengembangkan kepedulian komunitas? Metode Penelitian Metode pengumpulan data yang digunakan metode kualitatif dengan studi kasus. observasi dan penelaahan dokumen. merasa perlu melakukan penelitian tentang pengembangan komunitas peduli anak. Pontianak dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). yang bertujuan semaksimal mungkin memperoleh pandangan lengkap dan mendalam mengenai komunitas peduli anak. Sumber informan pada tokoh komunitas. Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah tidak sebanding dengan besaran permasalahan anak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kessos). Berdasarkan data Pusdatin Departemen Sosial RI (2006) menunjukkan jumlah anak terlantar sebanyak 2. Penelitian studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai komunitas peduli anak yang ada di masyarakat. yang selanjutnya disebut sebagai komunitas peduli anak. yaitu kota-kota yang memiliki jumlah permasalahan anak terlantar cukup tinggi yaitu Kota Medan. Oleh karena itu. Keberadaan komunitas tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pembangunan kesejahteraan sosial yaitu meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan. Untuk menjelaskan komunitas peduli anak maka digunakan teori sikap dari Mar’at yang beranggapan Puslitbang Kesos 171 . Makasar. Kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama terhadap kesejahteraan anak.383 anak. Lokasi yang terpilih dengan cara purposive.Pengembangan komunitas Peduli Anak seiring dengan permasalahan kemiskinan yang belum dapat diatasi. guna memberi penjelasan komprehensif mengenai komunitas peduli anak di wilayah yang terpilih. Surabaya. Pembahasan yang dilakukan berusaha untuk menjawab ”Why and How”. anak-anak dan Instansi Sosial. Dalam penelitian ini akan menelusuri bagaimana bentuk kegiatan komunitas. tokoh masyarakat. telah banyak melakukan kegiatan pelayanan anak. Palembang. sehingga peran aktif masyarakat sangat diperlukan. Permasalahan anak tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia. anggota komunitas. Upaya penanganan permasalahan anak berbasis masyarakat semakin banyak ditemukan.

Artinya perilaku komunitas peduli anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui pendekatan teori stimulus respon. sehingga keterlantaran anak harus ditanggung oleh keluarga bersangkutan. Konsep komunitas dari Ferdinan Tonny yang membagi komunitas pada 3 aspek yaitu seperasaan. sebagai perilaku sosial yang dipengaruhi oleh penghargaan maupun dukungan terhadap kegiatan komunitas. komunitas di Kota Pontianak yang berbatasan dengan wilayah negara lain. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa bentuk kegiatan komunitas ada hubungannya dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi wilayah setempat. Meningkatnya permasalahan anak telah mendorong munculnya komunitas peduli anak yang diprakarsai oleh kalangan praktisi dan masyarakat terdidik dari berbagai perguruan tinggi serta masyarakat lokal baik yang diikat oleh satu rumpun agama maupun budaya. yang dapat berfungsi sebagai gerakan yang dirancang untuk meningkatkan kehidupan seluruh komunitas. telah mendorong komunitas untuk peduli terhadap maraknya masalah trafficking dan melakukan pendampingan bagi anak yang berkonflik hukum. didukung oleh hukuman dan penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. turut menangani permasalahan anak dan melakukan kegiatan demi menyelamatkan anak-anak dari keterpurukan. Kasus di Timor Tengah Selatan. Peran kekerabatan dan tanggung jawab sosial keluarga pada kenyataannya tidak mampu menyelamatkan anak dari keterlantaran. Misalnya. komunitas peduli anak dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat dan sebagai bentuk partisipasi aktif dan prakarsa komunitas terhadap penanganan permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. sepenanggungan dan saling membutuhkan. diwarnai tingginya permasalahan anak terlantar. artinya perilaku sosial dianalisis sebagai respon spesifik terhadap stimuli yang diberikan. Seperti kasus di Medan. Komunitas di Kota Palembang dan Makasar dengan posisi wilayahnya yang cukup strategis sebagai pintu gerbang bagi wilayah lainnya. Komunitas di Kota Medan dan Surabaya. sebagaimana kota-kota besar lainnya yang menjadi pusat persinggahan bagi penduduk di wilayah sekitarnya memiliki permasalahan anak jalanan cukup tinggi. Selanjutnya komunitas peduli anak. kondisi kemiskinan keluarga semakin menjauhkan keluarga dari interaksinya dengan kerabat lainnya. Berdasarkan hal tersebut. berawal dari kegiatan 172 Puslitbang Kesos . dapat menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat.

tetapi ada diantaranya yang berpendapat bahwa sebaiknya usia anak sampai dengan usia 16 tahun. tetapi kegiatannya berlanjut menjadi terorganisir setelah memperoleh dukungan dari berbagai pihak. seperti kasus komunitas di Kota Palembang. Motivasi atas jiwa kemanusiaan dan dilandasi nilai-nilai agama telah mendorong komunitas untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak. Perilaku yang ditunjukkan anggota komunitas semakin meningkat manakala adanya keberhasilan mengentaskan anak dari keterpurukan dan semakin meningkatnya partisipasi tokoh masyarakat dan agama serta kelembagaan yang ada di masyarakat. telah melahirkan sanggar anak-anak jalanan yang diakui keberadaannya di masyarakat dan menjadi contoh kegiatan di berbagai provinsi lainnya. mampu mengembangkan kegiatan pelayanan anak seperti pemberian beasiswa. Kasus di Surabaya. Perilaku sosial yang ditampilkan oleh komunitas dipahami sebagai wujud dari pandangan masyarakat tentang konsep anak dan kebutuhan yang harus dipenuhi anak. Konsep tentang anak diawali dengan pandangan tentang usia anak. dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. sesuai dengan ajaran agama yang dianut” menjadi landasan komunitas untuk peduli pada anak. dengan alasan perilaku anak usia 18 sudah tidak mencerminkan perilaku seorang anak demikian juga memperlakukannya sudah harus berbeda. Kepedulian tokoh masyarakat telah membangkitkan motivasi masyarakat setempat untuk peduli pada kehidupan anak jalanan. Keberhasilan komunitas terhadap pelayanan pada anak terlantar dan anak jalanan. pelayanan perlindungan bagi anak remaja dari tindak kekerasan seksual dan anak yang dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. Sebutan anak jalanan telah memberi stigmatisasi yang menghambat keberadaan anak untuk pemenuhan kebutuhannya di masyarakat. sehingga perlu merubahnya dengan sebutan ’anak negeri’ yang lebih mencerminkan keberpihakan pada anak. telah berkembang menjadi embrio organisasi. Batasan usia sebagai anak adalah 18 tahun kebawah dan belum menikah. diantaranya mampu membentuk lembaga pendidikan. yang telah menimbulkan empathy untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan selanjutnya diwujudkan dalam kegiatan komunitas yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan melindungi anak dari keterpurukan. Kasus komunitas di Surabaya. “Nilai kasih sayang antar sesama karena saling membutuhkan. Semangat tersebut telah mampu memotivasi kelompok pemuda dan wanita.Pengembangan komunitas Peduli Anak keagamaan untuk membantu anak terlantar melalui pelayanan sosial bersifat insidental. berpartisipasi pada kegiatan komunitas. Konsep Puslitbang Kesos 173 .

anak tidak memiliki hak untuk berkembang. tempat berlindung. bahwa anak sebagai potensi dan aset generasi penerus cita-cita bangsa. bimbingan dan pengarahan. menjadi bagian dari diri kita. namun sebagian besar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan. Kebutuhan tersebut sebenarnya sebagai bagian dari hak anak yang harus dipenuhi. harapan bangsa. Pandangan demikian memberi pengertian bahwa keberadaan anak seolah-olah sangat tergantung pada orang tua. seperti hidup layak sebagai mana seorang anak. sebagai manusia lemah dan rawan. memberi kemudahan memperoleh akte kelahiran dan memberi perlindungan dari tindak kekerasan. Meskipun konsep tentang anak berbeda-beda. budi pekerti serta memperoleh keterampilan. yang tidak memiliki kemampuan. perhatian dari orang tua. sablon. kesempatan berpendapat dan berkreativitas dan memperoleh pendidikan formal sesuai dengan kemampuan dan usianya. Perlu pengarahan melalui pendidikan agama. memperoleh makanan sehat. penyejuk hati. menjadi kekayaan berharga dan ahli waris. masa depannya tergantung pada orang dewasa. (3) hak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan. kesempatan bersekolah. Sebaliknya. telah menjadikan anggota komunitas merasa terpanggil untuk mewujudkannya melalui kegiatan pelayanan yang sesuai dengan hak dan kebutuhan anak. Bentuk kegiatan pelayanan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan anak untuk memperoleh tempat tinggal memadai. Kebutuhan dimaksud. juga memberikan kebutuhan akan pendidikan dan keterampilan seperti bermain musik. tetapi juga memiliki kepercayaan 174 Puslitbang Kesos . mempunyai waktu bermain dan diperlakukan secara manusiawi.Pengembangan komunitas Peduli Anak tentang anak cukup bervariasi. perhatian atau kasih sayang. Pelatihan keterampilan bermusik pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk terampil bermain musik. memberi kesempatan pada anak untuk mengikuti pendidikan luar sekolah. menjadi figur yang harus membantu keluarga. yaitu: (1) hak untuk hidup. meskipun hak anak untuk berpartisipasi masih belum nampak. Selain itu. kasih sayang. penerus estafet pembangunan. (kasus di Surabaya dan Medan) dan dari tindakan hukum seperti kasus di Pontianak. fitrah yang harus dijaga yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. bahwa anak diibaratkan sebagai kertas putih. ada yang melihat dari sudut pandang positif. ada yang berpandangan tradisional. Kegiatan komunitas berupa pendampingan intensif pada anak jalanan. dorsmeer. teater. yang telah menyelamatkan anak dari tidak bersekolah menjadi bersekolah. titipan Tuhan. memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan di jalanan. (2) hak untuk tumbuh kembang. Pandangan tersebut.

Kasus di Kota Palembang dengan dukungan lembaga international mampu membangun komunitas peduli anak. setidaknya berdampak pada pribadi dan perilaku anak jalanan. tetapi lebih luas mampu menjangkau kesejahteraan keluarga. didukung lembaga masyarakat setempat mampu menciptakan kepedulian pada permasalahan anak lainnya. Meningkatnya kepercayaan diri pada anak. kegiatan komunitas tidak terbatas pada anak. tidak terbatas pada pendidikan formal. tetapi juga pendidikan informal. kontribusi pemikiran. yang Puslitbang Kesos 175 . Gambar 1 : Anak jalanan di Surabaya berlatih musik Keterlibatan dunia usaha/swasta. Pada kenyatannya. Komunitas di Kabupaten Timor Tengah Selatan. bertujuan agar anak dengan segala keterbatasan yang ada tetapi masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. tetapi juga membantu keluarganya dalam kemampuan ekonomi serta memberi akses bagi pelayanan kesehatan serta memberikan pembekalan keterampilan bagi keluarganya. Bimbingan etika dan agama termasuk kegiatan yang penting diberikan pada anak dan orang tua. menciptakan kepedulian masyarakat dengan prinsip memberikan yang terbaik bagi anak. dimana anak merasa lebih dihargai dan berguna bagi orang lain. Kondisi ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Komunitas di Makasar. Partisipasi dan kegiatan yang dilakukan komunitas. tidak terbatas pada pemenuhan tumbuh kembang anak. maupun penggalangan dana. Kegiatan dimaksud bertujuan agar keluarga dapat meningkatkan pendapatannya sehingga dapat meringankan beban pengeluaran untuk membesarkan anaknya. karena masyarakat telah ikut terlibat dalam menangani masalah anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak diri untuk tampil di tempat umum. melalui curahan tenaga. lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah menjadi kekhasan tersendiri dari masing-masing komunitas. sumbangan harta benda.

pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas. Keikutsertaan unsur-unsur tersebut dalam penyelesaian masalah. melalui pertukaran informasi. tingkat kabupaten. terutama masalah anak-anak. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas. kepedulian sosial (volunteerism) dan kepedulian sesama warga (civic involvement). seperti dari Perguruan Tinggi. yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. lembaga legislatif. mensinergikan upaya dan mengembangkan kesadaran kritis serta berfungsi pula sebagai kontrol sosial.Pengembangan komunitas Peduli Anak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing komunitas. menampilkan kesetaraan. terutama dalam rangka membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komunitas. lembaga permodalan dan masyarakat itu sendiri. lembaga swadaya masyarakat. memotivasi komunitas untuk menyelamatkan anak dari keterlantaran. Jejaring kolaboratif bersifat informal. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak dapat dilihat dari gambar berikut ini: 176 Puslitbang Kesos . Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan komunitas masih banyak memerlukan keterlibatan pihak lain. Di dalamnya terkandung semangat karitas (charity). Pengusaha. mengandalkan komitmen. telah tumbuh menjadi modal sosial melalui tindakan kolektif komunitas guna mengatasi masalah yang dihadapi sesama warga masyarakat. tingkat provinsi dan tingkat pusat. Organisasi Masyarakat. transparan. Gambar 2 : Kegiatan Bimbingan agama bagi Orang Tua dan Anak di Surabaya Dukungan kepedulian sosial yang dikembangkan secara tradisional maupun profesional. perlu ditata dengan baik yaitu melalui pembentukkan jejaring (network) antar lembaga secara kolaboratif.

misalnya public sector atau pemerintah harus diletakkan secara strategis untuk mendorong inisiatif warga masyarakat agar dapat mengembangkan berbagai potensi kemandirian mereka dalam rangka membantu sesama warganya. Langkah-langkah perlindungan sosial bagi anak terlantar sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar warganya yang tidak mampu. Penting diperhitungkan juga lembaga-lembaga filantropi dan pembangunan international sebagai salah satu komponen pelaku atau sumber daya pengembangan komunitas peduli anak. miskin atau marginal. berperan penting dalam pengembangan dan perbaikan kebijakan sosial dan implementasi program kesejahteraan sosial anak.Pengembangan komunitas Peduli Anak Collective Action Sector (Komunitas Peduli Anak) Jaringan Kelembagaan Peduli Anak Public Sector (Pemerintah Pusat. keahlian dan sumber daya yang dapat digunakan untuk kegiatan pengembangan komunitas peduli anak. Jaringan kelembagaan komunitas peduli anak Masing-masing sektor memiliki fungsi tersendiri. Collective Sector Action atau dapat disebut sebagai masyarakat sipil yang diantaranya adalah komunitas peduli anak. Masyarakat peduli) Bagan 3. Gagasan tersebut sejalan gagasan Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. Puslitbang Kesos 177 . dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang menyediakan dana. Orsos. lembagalembaga sosial masyarakat (termasuk organisasi keagamaan) dan lembagalembaga kerelawanan (seperti LSM yang mengumpulkan dana-dana amal). Pemerintah Daerah) Private Sector (Dunia usaha. yang menyebutkan bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan kesejahteraan (anak) tidak lagi dimonopoli Negara. LSM. tetapi dibagi bersama-sama kalangan swasta (perusahaan-perusahaan). Sektor swasta (private sector) berkomitmen membantu mewujudkan kesejahteraan sosial anak.

Keberadaan 178 Puslitbang Kesos . Kesimpulan dan Saran Secara garis besar dapat disimpulkan. menjadi kendala yang dialami komunitas. dalam hal ini dunia usaha.Pengembangan komunitas Peduli Anak Komunitas peduli anak. memberi andil besar terutama dalam dana dan program pelayanan sosial anak. karena adanya kesamaan perasaan terhadap keterlantaran anak. Meskipun selama ini dunia usaha cukup mendukung kegiatan komunitas. keilmuan bahkan atas dasar panggilan hati nurani sekalipun. baik yang berlatar belakang agama. karena kondisi tersebut telah dibentuk sejak masa lampau. Masyarakat belum terbiasa menjadi mandiri. selain sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan. Peran Lembaga kerelawanan. serta manfaat yang telah diperoleh anak beserta keluarganya kurang tersosialisasikan. menjadi kelemahan yang dirasakan komunitas. Keterbatasan petugas pendamping bagi anak-anak terlantar dan anak jalanan. semakin menuntut komunitas untuk memperluas jaringan kerja (network). seperti yang dialami pada kasus di Palembang. sebagai lembaga sosial masyarakat pada kenyataannya berdiri sendiri. sebagai funding bagi keberlangsungan komunitas. bahwa terbentuknya komunitas peduli anak. Kegiatan komunitas tidak dapat terselengara tanpa dukungan pemerintah dan keterlibatan dunia usaha. terutama anak-anak terlantar dan anak jalanan menerima pelayanan yang selama ini hak dan kebutuhannya terabaikan. Hanya saja keberadaan komunitas berikut kasus-kasus keberhasilan. maupun lembaga sosial masyarakat lainnya. Terpenting adalah motivasi yang dimiliki komunitas mampu menggerakkan partisipasi aktif anggotanya guna menciptakan kehidupan yang terbaik bagi anak-anak. Keberadan komunitas menjadi bagian yang dibutuhkan anggotanya. Kurangnya koordinasi diantara lembaga yang bergerak dalam pelayanan sosial anak. Hal tersebut bukan tidak mungkin kepercayaan dari dunia usaha untuk berkolaborasi menjadi minim. Tindakan kolektif komunitas dapat diprakasai oleh berbagai lapisan masyarakat. ketergantungan masyarakat pada pemerintah masih cukup melekat. tetapi masih bersifat insidental. belum sepenuhnya mampu menjangkau kalangan swasta. Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala bagi upaya pemberdayaan masyarakat. memiliki kepentingan bersama untuk memberikan pelayanan bagi anak agar terhindar dari keterpurukan lebih lanjut. Semakin meningkatnya minat anakanak terlantar yang membutuhkan pelayanan dari komunitas. Permasalahannya adalah komunitas belum mampu mandiri selepas berakhirnya program. belum mampu menciptakan program terencana dan berkelanjutan.

Development Psychology. Remaja Rosdakarya. menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitarnya. program Pasca Sarjana IPB. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. 2005. Elizabeth. PT. memfasilitasi sarana prasarana komunitas. Mc Graw Hill. pengakuan terhadap petugas pendamping sebagai tenaga Pekerja Sosial dari Dinas Sosial setempat. Depsos RI. Tonny F Nasdian & Lala Kolopaking. perlu direkomendasikan peningkatan sosialisasi atau mengkampanyekan komunitas peduli anak. DAFTAR PUSTAKA Deddy Mulyana. Hal yang penting lainnya adalah kebijakan berlandaskan pada Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional Indonesia yang dapat memperkuat keberadaan komunitas peduli anak. Humaniora Utama Pers. draft IX. yang disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Metodologi Penelitian Kualitatif. Toronto.Pengembangan komunitas Peduli Anak komunitas paduli anak. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Sistem Kesejahteraan Nasional Indonesia. Puslitbang Kesos 179 . Sosiologi untuk Pengembangan Masyarakat. Remaja Karya. Untuk itu. Bandung. 1989. penyebarluasan informasi melalui media masa dan elektronik. Teori Sikap. Selain itu. 1981. Bandung. Hurlock. sehingga aksesibilitas komunitas peduli anak terhadap sumber-sumber daya kesejahteraan sosial seperti dunia usaha dan instansi pemerintah mendapat legalitas yang sah. Bandung. 2003. Melakukan peningkatan kemampuan petugas pendamping melalui kegiatan pemantapan. upaya pengembangan komunitas peduli anak melalui fasilitasi program pemberdayaan kepada keluarga dengan anak terlantar. PT. 2001. Mar’at. _______. melalui dialog interaktif pada media masa dan elektronik. Harry Hikmat. khususnya pekerjaan sosial agar lebih terarah. 2002.

.

GENDER DAN KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Drs. Puslitbang Kesos 181 . keluarga mengalami konflik secara potensial dan manifest. sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik. Togiaratua Nainggolan.Si 2 ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. 1 2 Diangkat dari hasil penelitian tentang Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga Di Indonesia. penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Rachmanto Widjopranoto. Faida Normawati. Penentuan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan snowball. hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah keluarga buruh migran termasuk pergeseran pola relasi gender pasca migrasi sebagai TKW. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) seperti Lampung. anak. mertua. Lebih jauh. Hasil penelitian menunjukkan. Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. oleh Togiaratua Nainggolan. yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI. Ruaida Murni. Namun demikian. Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar di tengah keluarganya. Dengan konsep relasi gender ini. masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. dan Sudibyonoto. Untuk memahami hal itu. Analisis data dilakukan dengan pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position dan kesetaraan antara suami dan isteri. M. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami. sehingga relatif kurang harmonis. bahwa Pasca kepulangan sebagai TKW. TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. Suami mulai terlibat pada sektor domestik dan permisif pada nilai-nilai pemingitan. Togiaratua Nainggolan. Malang dan Makassar. Indramayu.

Hal ini menimbulkan dampak sosial psikologis terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Keluarga Migran Pendahuluan Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan. yaitu masalah gender. dan (2) mendeskripsikan gambaran keharmonisan keluarga mereka pasca migrasi sebagai TKW. Lebih jauh hal ini mencerminkan adanya kompleksitas masalah pada buruh migran. 182 Puslitbang Kesos . 2001) dalam sebuah tulisannya bahwa masalah buruh migran sangat komplek karena konteksnya tidak saja soal perburuhan tetapi juga menyangkut migran internasional. langsung atau tidak langsung perubahan peta situasi keluarga pasca TKW dapat mempengaruhi tingkat keharmonisan keluarga buruh migran yang bersangkutan. Tenaga Kerja Wanita. kapitalisme dunia dan globalisasi. Selain itu. dan (2) bagi Departemen Sosial RI dan pihak terkait lainnya. Sejalan dengan hal tersebut di atas. Ketimpangan pendapatan negara maju dan negara dunia ketiga. untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi calon TKW dan keluarganya dalam membuat keputusan untuk migrasi sebagai TKW . bahwa para TKW melakukan migrasi ke luar negeri dengan meninggalkan keluarganya. Hasil penelitian diharapkan mampu : (1) menyajikan realitas positif maupun negatif dari tindakan migrasi TKW terhadap keluarga. dapat digunakan sebagai bahan perumusan kebijakan dan pengembangan program yang ditujukan bagi TKW dan keluarganya. diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga. sadar atau tidak. kesalahan konsep pembangunan di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan secara khusus bagi TKW menyangkut masalah perempuan. Pendapat senada dikemukakan oleh Krisnawati & Safitri (dalam Daulay. penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1) mendeskripsikan pergeseran pola relasi gender pada keluarga migran pasca migrasi sebagai buruh TKW.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKW dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. Selain masalah gender. Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender.

sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap substansi persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini. Hasil dan Pembahasan 1. Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosial kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. Teknik analisis data diarahkan pada pendekatan patriarkhi dan analisis gender yang berkaitan dengan bargaining position antara suami dan isteri serta menyangkut kesetaraan posisi di antara mereka. Lokasi penelitian diutamakan pada wilayah yang menjadi pemasok utama tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri seperti Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Namun.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Jawa Barat. dan Lampung. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. mertua. Jawa Timur. Dalam prakteknya. selain peluang yang dapat Puslitbang Kesos 183 . masyarakat atau tokoh lainnya yang dinilai relevan. anak. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara. Sumber data dan informan penelitian adalah TKW dan keluarganya. Pengambilan keluarga yang menjadi informan dilakukan dengan cara snowball dimana dari satu informan akan berkembang ke informan selanjutnya. terutama dengan melihat kondisi isteri yang pernah bekerja ke luar negeri menjadi TKW. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas. Akibatnya. Informasi dari isteri ini selanjutnya akan dikonfirmasi ulang ke suami.

Sadar atau 184 Puslitbang Kesos . dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. 1999) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa. baik yang positif maupun negatif. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. Dalam konteks ini. Pada tataran global. Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. Sementara pada sisi lain. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup. Pada satu sisi. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. walaupun secara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. “Mengekspor” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia dimanfaatkan secara ekonomi. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (dalam Berry dkk. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. bahkan ideologi masyarakat. Hal senada dipertegas oleh Goode (1985). bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. Secara bersamaan. ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa. juga harus memanfaatkan peluang dari aspek sosial budaya.

Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. 2. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat yang memberikan peluang Puslitbang Kesos 185 . Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri. Secara makro. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. bukan saja pada tingkat mikro. Akibatnya muncul berbagai efek samping yang justru tidak diharapkan. Pada tingkat mikro. Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang membawa nama harum bangsa dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah. tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri. persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. pemerintah memang melakukan intervensi.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia tidak. Tetapi hal itu lebih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. akan tetapi juga pada tingkat makro. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik.

dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. Kecenderungan tersebut terefleksikan dalam konteks yang lebih luas. Dalam hal ini. Dengan kata lain. 186 Puslitbang Kesos . pembagian kerja menjadi sexist (didasarkan pada jenis kelamin) dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Selain itu. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. Walaupun hal itu. kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal. Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Bagi kaum perempuan. Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. Artinya secara tidak langsung. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. Dalam konteks ini.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia sekaligus pembatasan berupa etika. sadar atau tidak. khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan di sektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. khususnya budaya majikan di luar negeri. pola relasi gender ini merupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi.

Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi sebagai TKW No. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist (pembagian kerja tidak didasarkan pada jenis kelamin). tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Puslitbang Kesos 187 . 10. 8. Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan afektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan tapi pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. Pengakuan ini menunjukkan. 7. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda. 4. Lebih jauh. Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya. Pencari nafkah utama adalah suami 2. 6. 9. Secara umum pergeseran pola relasi gender tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut : Tabel 1. 3. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian. 5. hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independen dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih didominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatif harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Isteri mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independen dalam membuat keputusan Sebagian suami terjun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur. bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya. Keadaan sebelum menjadi TKW 1. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal sebagaimana dikemukakan oleh Daulay (2001).

Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. Dalam prakteknya. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. 188 Puslitbang Kesos . dengan mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan. dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. Dari perspektif global dan makro.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai. serta menajemen keluarga. Lebih khusus lagi. Departemen Tenaga Kerja. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Penegasan ini kiranya cukup beralasan. TKW menyangkut persoalan devisa. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW. Sementara dalam prespektif negara. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefinisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. Adapun bagi keluarga. dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. Dinas Sosial. dalam perspektif gender. khususnya yang mempunyai status isteri. mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefinisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis.

(1985). Karawang Jawa Barat.Gender dan Keluarga Migran di Indonesia DAFTAR PUSTAKA Berry dkk. Sosiologi Keluarga. William. Studi Kasus TKIW di Kecamatan Rawamarta Kab. (2001). Galang Press. J. Gramedia. Puslitbang Kesos 189 . Goode. Riset dan Aplikasinya (terjemahan Edi Suhardono). Jakarta. (1999). Bina Aksara. Jakarta. Daulay. Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta. Pergeseran Pola Relasi Gender Keluarga di Keluarga Migran. Harmona.

.

156 Adrinof A. 5. 55 Bugis. 44. 89 Bali. 50. 32 Akurat. 185 D Day Care Centre. 177 Community based development. 44 Adoptif kin. 183 Basic needs. 156 Aksesibilitas. 154 Day Care Service. 48 Afinal kin. 3 Allan Pincus. 4. 5 Desa Setabu. 5.INDEKS A Abddurazak dkk (1989). 34 191 . 33 Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 176 Civic Involvement. 51 C Chambers (1983). 177 Culture shock. 45. 6. 33. 13 Desa Sungai Pancang. 30 Bantuan Khusus Murid (BKM). Chaniago (2001:316). 5 Desa Liang Bunyu. 50 Bukaka. 3 Androgini. 181 Anne Minahan. 5 Desa Talio. 116 Banglades. 30 Degeneratif. 82 Concept of deprivation trap. 163 Desa Aji Kuning. 44. 120 B Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). 100 Australia. 54 Puslitbang Kesos Brazil. i. 181. 82. 122 Consanguinal kin. 176 Civil society. 154 Dayak. 156 Corporate social responsibility. 55 Banjar. 120. 9. 130 Belu. 125 Bintan. 134 Charity. 13 Desa Binalawan. 3 Aplicable. 4. 122 Charitatif. 41 Bargaining Position. 125 Bone. 56 Collective Sector Action.

57. 27 Diagnostik. 50 Evaluatif Research. 129 Kalimantan Tengah. 3 Human Development Index (HDI). 181 Indepth Interview. 55 H Heterogen. 172 Focus Group Discussion (FGD). 125 K Kalimantan Barat. 130 Diagnosa. 116 Isolation. 174 Dove (1985). 16 Ekologis. 156 Grameen Bank. 156 Komprehensif. 5 Desa Tanjung Karang. 56. 45 Human Service Organization. 5 Developmental needs. 3 Komunitas Adat Terpencil (KAT). 3. 16 Empathy. 122 Epicentrum. 45 Local Budgeting Forum. 142 I Ife (1995). 34 L Leading Sector. 83. 54 Inferior. 113 192 Puslitbang Kesos . 19. 123 G Goode (1985). 122 Independent. 29 Kalimantan Timur. 28 Dwi Heru Sukoco (1991). 88 Lembaga Pembardayaan Masyarakat (LPM). 57 Koentjaraningrat (1990). 122 J Jawa. 173 Empowerment. 58 Lokalitas Ekosistem. 4 Disorientasi. 119. 92 E Edukatif. 132 F Ferdinan Tonny. 30 Jayapura. 185 Distributive Frekuentif. 4 Kelompok Usaha Bersama (KUBE). 56 Life Expectation. 55. 123 Dorsmeer.Indeks Desa Tanjung Aru. 88 Ekonomis Produktif. 31 Home visit.

177 Private Trouble. 125 Nusa Tenggara Barat. 2. 114. 125 Participatory Budgeting Forum. 17 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 4. 29. 57. 175 Pandih Batu. 68 Medan. 3 Ndaraha (1990). 74. 56 Participatory Rural Apraisal (PRA). 116 Minahasa. 5. 134 Patriarkhi. 80 Power Oriented. 114 People Centred Development. 116 Nunukan. 100 Participatory Wealth Ranking (PWR). 4. 51 Max Siporin. 77 Private Sector. 55 Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). 100 Permisif. 2. 10 Maliku. 92. 129 O Oakley & Marsden (1984). 3. i Manifest. 55 N Nagari. 30 Mainstream. 33 Participatory Action Research (PAR). 67. 67.Indeks M Madura. 12. 52. 130 Psikologis. i. 99. 2 Network. 82. 112. 122 Poverty. 104. 18. 117 Paruik. 116. 1. 5 Malaysia. 65. 29 Manado. 3. 15. 130 Public sector. 181 Manurung Rimatajang. 44 Manurungge. 5. 83. 122 Porto Alegre. 122 Pranarka & Moeljarto (1996). 79 Muhamad Yunus. 123 Prestise. 177 Puslitbang Kesos 193 . 43 Malaysia Timur. 9. 66 Powerlessness. 6. 88. 93 Pathologis. 95 NAPZA. 82. 102. 1. 186 Pekerja Sosial Masyarakat. 181 Physical weakness. 49 Participatory Budgeting. 3 Public issues. 176 Non Governmental Organization International (NGO). 81. 2. 16. 123 P Palembang. 100 Nusa Tenggara Timur. 25.

123. 129 Sunda. 105 Sanggau. 104. 51. 72. 29 Purposive. 172 Trainers. 130 Sorting. 144. 135 State obligation. 101 U Usaha Ekonomis Produktif (UEP). 74 Trafficking. 177 Stimulus Respon. 50. 52. 186 Simptom. 15. 6. 30 Sungai Nyamuk. 51 Wonogiri. 10. 26 Research minded. 2005:23). 181. 12. 49 Reliable. 5 Segregasi Sosial. 2 194 Puslitbang Kesos . 146. 143. 4. 122 W Watampone. 68 Sulawesi Selatan. 87 Suryono Sukanto (1990). 119. 3. 1. 27. 2. 2 R Rakorbang Partisipatif. 105 Warren & Cottrell. 55 Tatamba. 3. 17. i. 48 S Samarinda. 155 Triangulasi. 129 Sumatera Barat. 18 Sebatik Timur. 112 The Small Enterprise Foundation (SEF). 7. 183 Social-phsyicological needs. 57 Sexist. 9. 102 Speech therapy. 160 V Volunteerism. 28 Snowball. 139. 130. 54. 5 Survival Strategy. 13 The cut of point. 149. 156 T Tanete Riattang.Indeks Pulang Pisau. i Responsif. 125 Sebatik Barat. 81. 5 Sungai Pancang. 147. 26. 89 Sumatera Utara. 11. 105 Sukoco (1991). 172 Subang. 171 Puslitbang UKS. 25. 100 Tomohon. 8. 13. 176 Vulnerrebality. 4 Rudito (2003. 70.

Talimbo. Swedia and Beijing (2004-2005). M.Si. dan Pra jabatan tingkat III (1981). lahir di Ternate. antara lain : Diklat Pim II LAN RI (2000). Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar (SPADIA) Depsos tahun 2003. Pelatihan metodologi penelitian kualitatif (UI. Harry Hikmat. Pernah sebagai Sales dan Marketing PT BAT. R. Ir. Pelatihan atau kursus yang pernah diikuti. M. Badiklit Kesos. Manajemen Penanggulangan Kemiskinan-ESCAP Bangkok 1999. Diklat Penyuluhan Sosial (1983). Memperoleh gelar Master untuk Ilmu Pekerjaan Sosial di Universitas Indonesia tahun 1996. Kepala Kursus Tenaga Sosial (KTS) Ujung Pandang. Asuransi Sosial– JICWELS Jepang 1997. Kepala Bidang Penyuluhan Sosial.Si. Dr. Makassar. antara lain Pelatihan Penyusunan Indikator Sosial (Kantor Meneg LH. Kepala Balai Diklat Pegawai Depsos Ujung Pandang. dilahirkan di Denpasar. 1989). memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis tahun 1997 di Universitas Hasanudin. Sebelumnya Sarjana Statistika di FMIPA Institut Pertanian Bogor tahun 1987. TOT. pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial. 1988). Kepala Bidang Program Pusdiklat Pegawai. International Course for National Economic Management and Poverty Eradication in National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia tahun 2000. Charles S. Departemen Sosial RI. TOC ADAB Australia – LAN RI (1984). 27 Juli 1952. Sepadya (1990). tanggal 9 Juli 1963. Statistics in Poverty Policies – Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) in Cambodia. Puslitbang Kesos 195 . Sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Selama berkerja di Departemen Sosial RI. memperoleh gelar Doktor untuk Ilmu Sosial tahun 2003 di Universitas Padjadjaran Bandung dengan disertasi Marginalisasi Komunitas Lokal dalam Perspektif Kontingensi Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Kota Bekasi).SEKILAS EDITOR Drs. Kegiatan pelatihan yang telah diikuti. Financial and Budgeting Management Program–IMDI–University of Pittsburgh USA 1999.

Selain itu menjadi Dosen STKS Bandung tahun 1987 s. Evaluasi Gerakan Rereongan Sarupi Propinsi Jawa Barat (Pemda Jabar. Manajemen Pengembangan Masyarakat. Profil dan efektivitas LSM dalam mengatasi penyebarluasan AIDS di Indonesia (STKS. 2002). Pemenuhan Hak atas Pendidikan Dasar di Daerah Konflik (Departemen Kehakiman dan HAM. Studi Manajemen dan Standarisasi Panti Sosial di DKI Jakarta (Dinas Bintal & Kesos. Unicef & Depsos. perencanaan. 2001). 196 Puslitbang Kesos . 1995). tahun 2006 s. penelitian sosial. Aspek-Aspek Hak Anak yang Berkonflik Dengan Hukum (Departemen Kehakiman dan HAM. Riwayat pekerjaan. UNPAD. Lab Sosio UI. Kegiatan Motivasi dalam Proyek Kelangsungan Hidup Anak (Unicef dan Departemen Agama. LSM.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang menjadi Dosen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Kebijakan Sosial. 2006). Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Kementrian Pemberdayaan Perempuan. 2003). 2002). Statistika Sosial. Fasilitator dalam berbagai kegiatan pelatihan Participatory Research Appraisal. Pemberdayaan Fakir Miskin. 2004). Energi & Sumberdaya Mineral. tahun 1997 – 1998 sebagai Kasubag Perencanaan Program Wilayah Timur di Biro Perencanaan Depsos. Studi Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (ADB & Bappenas. 1996). 1992). Depdiknas. pekerjaan sosial. Manajemen Perencanaan dan Keuangan. Aktivitas organisasi antara lain menjadi anggota Dewan Riset Nasional (DRN) 1999-2004 dan Anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak periode 2001-2005. Karya penelitian antara lain Kualitas Pelayanan Panti Sosial Anak (Save The Children.d 1997 dan Dosen Pasca Sarjana Spesialis Pekerjaan Sosial di STKS Bandung untuk mata kuliah Metodologi Penelitian Pekerjaan Sosial dan Pengembangan Modal Sosial. tahun 2004-2006 sebagai Kabag Bantuan Usaha Kelompok di Dit.1993). tahun 1996-1997 sebagai Kaur Penelitian dan Pengembangan di STKS Bandung. Analisis Kebijakan Pengentasan Orang Miskin melalui Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Indonesia (Ditbangdes. dan Bappenas. Studi Kesiapan Daerah dalam Pelayanan Sosial Dasar di Era Desentralisasi (ADB & Bappenas. dan analisis kebijakan di Depsos. Dep. 2002). Studi Pengembangan Program Community Development Pupuk Kaltim (2002).d sekarang sebagai Kabag Analisis Kebijakan Perencanaan Kesejahteraan Sosial di Biro Perencanaan Depsos.

Analisis Dampak Sosial (1999). Strategi Pemberdayaan Masyarakat (HUP: 2001). Paradigma pembangunan dan perencanaan sosial (1995). 2002). Teknik ilustrasi dalam penulisan artikel ilmiah (1999).d. DT I Jawa Barat tahun 1991). 1993). dan Perencanaan Partisipatif (Cipruy:. Puslitbang Kesos 197 . Metode Monitoring dan Evaluasi Program (1998). DT I Jawa Barat tahun 1989 s. Filsafat dan Etika Ilmuwan (1998). Karya ilmiah yang pernah disusun antara lain : Penerapan Statistika dalam Penelitian Pekerjaaan Sosial (1987). Karya ilmiah yang telah diterbitkan yaitu : Participatory Research Apprasial dalam Pengabdian Pada Masyarakat (HUP: 2001). Metodologi penelitian sosial (1999). Penelitian Keberhasilan Desa-Desa Juara di Jawa Barat (Ditbangdes Prov.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Desa/kelurahan Juara Perlombaan Desa di Propinsi DT I Jawa Barat (Ditbangdes Prop. Model Pembangunan Sosial di Indonesia (1997).

.

antara lain beberapa artikel pada majalah Jurnal dan Informasi yang diterbitkan oleh Puslit PKS maupun Puslitbang UKS Balatbangsos Depsos R. (3) Kekerasan Masyarakat Daerah Perkotaan (Pusbangtansosmas. Memulai karir sebagai PNS di PPA Bambu Apus (1975). 2002). dan Diklat SEPALA dan SEPAMA. Diklat Penyusunan Kerangka Acuan (Proposal) Sosbud. (2) Analisis Kebutuhan Pekerja Sosial di Pusat Pelayanan Korban Bencana (2003). Penelitian yang dilakukan kerjasama dengan institusi lain sedikitnya ada 10 buah.I Puslitbang Kesos 199 . Penelitian internal (Litbang Kessos) yang telah dilakukan dan dibukukan sedikitnya 21 buah. (4) Studi Persiapan Daerah dalam Pelaksanaan Strategi dan Pelayanan Sosial bagi Anjal (YASHINTHA. antara lain adalah diklat tenaga peneliti. (3) Partisipasi Masyarakat Kota dalam Mengatasi Masalah Sosial Pasca Krisis (2003).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun SEKILAS PENYUSUN Drs. juga sebagai editor beberapa tulisan yang diterbitkan oleh Balatbangsos. selanjutnya alih tugas ke Balitbang Kessos (1985). (4) Prilaku Remaja di Daerah Pinggiran Kota (2004). Pengembangan Tenaga Peneliti. antara lain yaitu: (1) Survey on Accessibility Problems to Pantis and Vocational Rehabilitation Service after Decentralization in Indonesia (Yayasan Kandidat. antara lain yaitu: (1) Identifikasi Kebutuhan Pelayanan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (2003). baik majalah Jurnal. Pendidikan Sarjana Muda diperolehnya dari UMJ (1980) dan S1 dari STKS Bandung (1984). Diklat Dasar Demografi. 2002). Pelatihan Komputer.I. Karya ilmiah yang telah diterbitkan. Pengalaman dibidang publikasi sebagai dewan redaksi. Jabatan struktural yang pernah diembannya adalah kasubid perumusan program Puslit PKS Balitbang Kessos (1986-1997) dan jabatan sekarang adalah Peneliti Muda (2005-sekarang). (2) Kajian Managemen Kessos Panti Sosial DKI Jakarta (YASHINTHA. dan (5) Persepsi Legislatif Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2004). Informasi Puslit PKS maupun Puslitbang UKS. 2000). Diklat yang pernah diikuti. Balatbangsos Depsos R. dan (5) Tanggung Jawab Sosial Industri (Kantor MASKAT. lahir di Tegal (1951). Sutaat. 2003). Disamping itu. 2002).

Saat ini menjabat Peneliti Muda dan sebagai Kasub Analisa Kebutuhan Puslitbang Kesos Badiklit Departemen Sosial RI. pelatihan pengolahan data yang diselenggarakan oleh BPS. baik yang diselenggarakan oleh Balitbang Sosial maupun kerjasama dengan laboratorium Sosiologi FISIP UI. Pengalaman kerja sebagai Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial sejak 1986 dan jabatan sekarang adalah Peneliti Madya. 11 November 1967. antara lain tentang Pola Penanganan Kemiskinan di Perkotaan yang dilakukan hingga kegiatan ujicoba pada beberapa kota. Sejak bekerja di Badan Litbang Sosial ini.Si. pelatihan metodologi kualitatif yang diselenggarakan Balitbang Sosial. Yogyakarta tahun 2000. Pendidikan terakhir Sarjana Antropologi.I. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI). Penelitian masalah kemiskinan juga pernah dilakukan. di Panti Sosial Petirahan Anak. lahir di Jakarta. Sejak tahun 1995 mulai aktif mengajar pada beberapa perguruan tinggi 200 Puslitbang Kesos . penulis juga banyak memiliki pengalaman penelitian dan penulisan di bidang sosial.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Dra. Selain mengikuti diklat-diklat. Drs. Bambang Pudjianto. antara lain: berkaitan dengan Masalah Anak di Tempat Penitipan Anak. antara lain menjadi anggota redaksi pada majalah Jurnal Kesejahteraan Sosial. Pengalaman menulis ilmiah diperoleh penulis dari berbagai kegiatan. beberapa kali mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkait dengan bidang penelitian. Selain aktif menulis di media jurnal dan informasi Puslitbang Kesos juga sebagai tim editor Jurnal Penelitian dan Pengembangan UKS. Anak Terlantar melalui Sistem Panti. Profil Anak Jalanan. dan Penelitian Permasalahan Remaja di Kota-kota Besar. serta diklat penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Departemen Sosial bekerjasama dengan majalah Tempo. M. Indah Huruswati. sejak tahun 1998-2000. Mapping and Social Survey of Street Children bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. antara lain: pelatihan tenaga peneliti. di Panti-panti Sosial Asuhan Anak. lahir di Jakarta. Pemetaan Anak Jalanan dan Orangtuanya di Kotakota Besar di Indonesia. Menamatkan program S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran Bandung dan memperoleh gelar Magister pada Bidang Psikologi Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada D.

Kabupaten Aceh Tengah. Sarjana Antropologi dari FSUI (1978 – 1984). Kepala Bidang Kerjasama dan Publikasi di Puslit PKS (2004 – 2005) dan sampai sekarang sebagai Kepala Bidang Program di Puslitbang Kesos. Penelitian Uji Coba Model Komunitas Adat Terpencil (KAT). Drs. Kepala Sub Bidang Rencana dan Program di Puslitbang PKS (1998 – 1999). Ujicoba Indikator Kesejahteraan Sosial di Sumatera Utara. Asisten Peneliti Madya (1986) sampai dengan Ahli Peneliti Muda (2002) di Badan Litbang Sosial. 11 Juli 1958. Pemetaan Permasalahan Kesejahteraan Sosial di Kotamadya Tomohon. Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Lanjut Usia di DKI Jakarta (2002). Pengaruh Budaya dalam Puslitbang Kesos 201 . Pendidikan. Sejak tahun 1986 sampai sekarang sebagai pengajar Antropologi dan Sistem Budaya Indonesia di Universitas Muhamadiyah Jakarta. Jabatan Fungsional. M. Diploma Ilmu Tauhid dari Uniersitas Islam Syekh Yusuf (1984 – 1986). Karya ilmiah antara lain. Kepala Bidang Analisis dan Bimbingan Sosial di Pusbang Tansosmas (2000 – 2004). SMA Negeri 30 dan SLTP Negeri 76 di Jakarta (1971 – 1977). Pendidikan Sarjana Manajemen (S1). Kepala Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi di Puslitbang UKS (1994 – 1998). Penyandang Cacat. antara lain: Penelitian Uji Coba Model Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan. Nilai Kesetiakawanan Sosial dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial.Si. Beberapa penelitian yang telah dilaksanakan. Asisten Peneliti di Leknas LIPI (1983 – 1985). lahir tanggal 2 November di Takengon. Suku Bangsa di Indonesia. lahir di Jakarta. Kajian konflik Sosial Suku Bangsa Madura di Kabupaten Sambas (2001). Jabatan Struktural. Achmadi Jayaputra. Mulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil di Balitbang Sosial Puslitbang Kesos bidang Program dan Anggaran sampai sekarang.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun swasta di Jakarta. khususnya pada bidang Psikologi Sosial. Akreditasi Panti Sosial. SD di Banda Aceh dan Jakarta (1965 – 1970). SE. Penelitian Eks Penderita Penyakit Kronis Tuberkulosis (TBC). Penelitian yang pernah dilakukan. diantaranya KAT. Pembinaan Masyarakat pedalaman Irian Jaya (1986 – 1992). Konflik dan Kedamaian Sosial dan Penyalahgunaan Napza. Rusmiyati. Efektivitas Bantuan Pinjaman Modal Usaha RSDK (1999). Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam). Magister Pengembangan Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2000 – 2002). Otonomi Daerah dalam Perspektif Budaya (2000).

konflik dan solidaritas sosial. langsung bergabung pada Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial di Jakarta. dan Pendidikan dan Pelatihan Analisa Data. Bekerja untuk Departemen Sosial sejak tahun 1990. FISIP Universitas Indonesia. Depok. tahun 1998. bekerja sebagai pekerja sosial dan koordinator program pada Family Helper Project kerjasama Yayasan Pelita Kasih dengan Christian Children’s Fund Inc. Jakarta. dan pendidikan S2 Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor di Bandung dan Bogor. Pola Penanganan Kemiskinan di Wilayah Perkotaan (Surabaya dan Bandung).. Pola Pembinaan Remaja melalui Karang Taruna di Kota Medan dan Bekasi. Permasalahan Pengungsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Kesejahteraan Sosial pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri di Jakarta. Akreditasi Panti Sosial di Bandar Lampung. awalnya pada Sekretariat kemudian masuk pada Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial. Pola Hubungan Sosial Antara Kelompok Etnis di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. lanjut usia. lahir di Sukanalu.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Pengembangan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (2003). Drs. tahun 1992. Jakarta. pengembangan potensi masyarakat pedesaan. Sosial – Badan Pusat Statistik (BPS). 4 September 1958. Dampak Judi “Togel” pada Kehidupan Keluarga Miskin di Kota Medan. kerjasama Pusdiklat Pegawai Dep. Pelatihan Komputer dan Statistik untuk Pengolahan Data Hasil Penelitian pada Lembaga Demografi. tahun 1994. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD-FEUI). 202 Puslitbang Kesos . Pengalaman lapangan melakukan pengkajian dan penelitian di berbagai daerah yang berkaitan dengan Komunitas Adat Terpencil. MP. tahun 1982 sampai 1987. antara lain: Pola Konsentrasi Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Tanah Grogot Kabupaten Pasir Kalimanatan Timur. tahun 1999 sampai sekarang. Sebelum bergabung dengan Departemen Sosial. Pelayanan Sosial Lanjut Usia di Indonesia. Pelatihan teknis kelitbangan yang pernah diikuti antara lain: Peningkatan Kemampuan Tenaga Peneliti Balitbangsos pada Laboratorium Sosiologi. tahun 1986. Anwar Sitepu. tahun 2004. Jakarta. di Tanjung Priok. Penelitian yang pernah dilakukan.

Strata 1 di FISIP jurusan Anthropologi UNHAS Ujung Pandang. Dra. sebagai editor Jurnal Puslitbang Kesos dan anggota tim penilai jabatan fungsional Litkayasa Departemen Sosial RI. Departemen Sosial RI. dan kumpulan tulisannya pernah diterbitkan di JURNAL maupun INFORMASI. Jabatan peneliti: Ajun Peneliti Muda bidang Kesejahteraan Sosial (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial) Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial. Aktif mengikuti mengikuti kegiatan penelitian bidang kesejahteraan sosial. Hubungan Antar Kelompok Pribumi dan Etnis Cina di Jakarta. 8 Januari 1961. lahir di Tawangharjo. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Madya pada Puslitbang Kessos-Badiklit Kessos Departemen Sosial RI. baik secara mandiri maupun kelompok. Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Magister Sains Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Publik. dan berbagai seminar permasalahan sosial di Indonesia. S. Pengembangan Uji Coba Model Pemberdayaan Remaja Melalui Karang Taruna. menamatkan program S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraaan Sosial Bandung. Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik dan Kerusuhan Sosial. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. Pemberdayaan Pranata Sosial. Nurdin Widodo. Penelitian yang telah dilakukan meliputi topik-topik yang berkaitan dengan Pelayanan Anak Terlantar Putus Sekolah Melalui Panti Sosial Bina Remaja. Selain itu juga menjadi anggota dewan redaksi Jurnal Penelitian Puslitbang Kesos 203 . M. menamatkan program Sarjana Muda di Fakultas Sastra dan Budaya Jurusan Anthropologi UGM Jogyakarta.Si.Pd. Drs. Konflik Serta Modal Kedamaian Sosial dalam Konsepsi Lintas Kalangan Masyarakat di Tanah Air. diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (2005) dan S1 (Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994). Permasalahan Sosial Pengungsi Korban Poso dan Upaya Penanggulangannya. Beberapa hasil penelitiannya telah diterbitkan. dan Penelitian Uji Coba Model Penanganan Anak Terlantar Berbasis Kekerabatan.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Sugiyanto. Peran Lembaga Sosial dalam Penanganan Pengungsi. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Kekhususan Pengembangan Masyarakat (S2). Sri Gati Setiti. Potensi Sosial Dalam Pelaksanaan Ketahanan Sosial Masyarakat di Kota Kendari. Disamping itu.

pada mata kuliah Psikologi Anak. MP. pemberdayaan keluarga dalam mencegah tindak tuna sosial. Penelitian Kualitas Pengasuhan dan Pelayanan Panti Sosial Asuhan anak (PSAA) di Indonesia. Menjadi anggota panitia pembina ilmiah (PPI). pada tahun 1984. Selain itu mengikuti berbagai seminar tingkat nasional. Pelayanan Sosial bagi Eks Penyandang Penyakit TBC Berbasis Masyarakat (2002). Sarjana Psikologi Perkembangan Universitas Pajajaran Bandung. Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial (2006).Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun dan Pengembangan Sosial. Mengikuti diklat dosen dan peneliti di LD-UI dan berbagai diklat penjenjangan peneliti. peranan wanita. permukiman kumuh. dampak sosial industri. karang taruna. Dra. Permasalahan Pengungsi Wanita dan Anak Korban Konflik. lanjut usia. panitia penilai lomba karya tulis masalah-masalah sosial tingkat nasional. menjadi dosen tidak tetap di UMJ dan dosen di Universitas Satyanegara (USNI) Jakarta. Penelitian yang pernah dilakukan meliputi topiktopik yang berkaitan dengan: penanganan penyandang cacat. Alit Kurniasari. Pernah menjadi staf pengajar di STKS Bandung. Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (2004). anak jalanan. tanggung jawab sosial dunia usaha terhadap masyarakat sekitar. Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga (2006). Tulisan di Jurnal Puslitbang Kesos. pola rekonsiliasi masyarakat antar etnis di daerah konflik di Indonesia. Saat ini menjabat sebagai Peneliti Pertama di Puslitbang Kesos. dan pemberdayaan migran. Psikologi Abnormal dan Psikologi Sosial. 204 Puslitbang Kesos . dari tahun 1986 – 1995. perlindungan tenaga kerja wanita di sektor industri. efektivitas GN-OTA dalam pemberian kesejahteraan anak. profesionalisme pengelolaan Orsos. Penelitian yang pernah dilakukan: Penelitian tentang Anak Jalanan. masalah narkotika di sekolah.

Sejak tahun 1993 bekerja sebagai staf Pusdiklat Pegawai Departemen Sosial RI. Pada tahun 1982 hijrah ke Payakumbuh Sumatra Barat. Sumatera Utara. hingga tamat tahun 2002. Setelah tamat dari SMPP 25 Payakumbuh tahun 1985. melanjut ke IKIP Padang hingga tamat 1991. M. Togiaratua Nainggolan. bertugas sebagai staf di Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial hingga menjadi peneliti fungsional hingga sekarang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI.Sekilas Editor dan Sekilas Penyusun Drs. lahir 3 Maret 1966 di Samosir.Si. tahun 1999 mengikuti tugas belajar ke Fakultas Psikologi-Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dalam perjalanan karir sebagai PNS. Pekerjaan lainnya. Puslitbang Kesos 205 .Tamat dari UGM Yogyakarta. sejak tahun 2002 mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI Jakarta dalam mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Lintas Budaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful