P. 1
Beras Emas

Beras Emas

|Views: 107|Likes:
Published by Mey Shelly Rikin

More info:

Published by: Mey Shelly Rikin on Feb 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

Bioteknologi Mey Shelly Rikin XI IPA 1

Beras Emas (Golden Rice)
Beras emas dapat dengan mudah dikenal dari warnanya yang kuning, merupakan ciri yang baik dari kandungan beta carotene yang ada di dalamnya. Sementara bagi yang belum mengenalnya, diharapkan bahwa warna kuning cerah seperti butir-butir emas akan membantu mempercepat promosi dan adopsinya. Teknologi pembuatan beras emas adalah berdasarkan prinsip-prinsip yang sederhana. Meskipun faktanya tanaman padi mempersatukan beta carotene dalam jaringan vegetative tapi tidak dalam gabah. Melalui dua langkah biosintetis beta carotene bisa muncul dalam gabah. Dengan Tanaman padi memproduksi beta carotene (pro vitamin A) dalam jaringan hijau tetapi tidak diproduksi di dalam endosperma (salah satu bagian dalam gabah). Dalam hal beras emas, dua gen dimasukkan dalam rice genome dengan Rekayasa genetika, sehingga terjadi akumulasi dari beta carotene dalam gabah. Dengan menambahkan hanya dua sifat/jenis, pertama adalah phytoene synthase (psy) dan phytoene desaturase (crt I), jaringan disusun kembali dan hasilnya beta carotene mengumpul di dalam endosperma/gabah. Intensitas warna kuning adalah ciri dari konsentrasi beta carotene dalam endosperma beras. Sejak tahun 1999 beras emas dengan galur baru telah diciptakan dan memiliki kandungan beta carotene lebih tinggi. Tujuan dari pembuatan beras emas tersebut adalah mampu menyediakan rekomendasi harian yang dianjurkan dari vitamin dalam 100-200 gram beras, yang berhubungan dengan konsumsi keseharian dari anak-anak masyarakat pemakan beras. Pada masa yang akan datang, penyaluran beras emas secara terus menerus sebagai makanan sehari-hari, merupakan kontribusi utama bagi perbaikan gizi anak-anak di pedesaan. Namun, tercapainya tujuan ini memerlukan waktu yang lama dan memerlukan usaha kerjasama di antara para ilmuwan, pemulia, pejabat pemerintah, petani, penyuluh serta masyarakat yang bekerja dengan petani dan konsumen sebagai bagian dari proses pembelajaran dan adopsi.

Beras Emas (Golden Rice) Dunia sempat dikejutkan dengan padi hasil rekayasa genetik "Golden Rice" (padi emas) pada tahun 2000. Padi varitas baru yang berhasil didapatkan ini adalah sebuah temuan mutakhir dalam bidang bioteknologi tanaman pangan. Varitas baru tersebut tidak bisa

Rekayasa Padi Golden Rice Rekayasa padi golden rice memang baru terdengar saat keberhasilan tersebut termuat dalam jurnal Science pada tahun 2000. penghambatan fungsi enzim tersebut bisa dihilangkan dengan cara mengintroduksi gen phy dari tanaman daffodil (bunga narsis/ bakung) dengan menggunakan promoter spesifik untuk endosperma. Namun demikian. Beberapa tahun berselang. pemberian vitamin A secara oral menjadi hal yang problematik karena kurangnya infrastruktur yang menunjang. . Keberhasilan ini dilanjutkan dengan uji coba pada varietas yang berbeda seperti indica (IR 64) dan japonica (Taipei 309). sakit pernafasan dan penyakit cacar air. termasuk beta-karoten. Namun sebenarnya sekitar sepuluh tahun sebelumnya. terutama Asia Tenggara dan China.6 mikrog/g. Maka sebuah alternatif sangat dibutuhkan untuk memeratakan konsumsi vitamin A khususnya pada anak-anak. IR 64 dan Taipei 309 dipilih karena kedua varitas tersebut paling banyak digemari di kawasan Asia.dihasilkan dengan persilangan biasa (breeding). Namun secara alami biji padi tidak menghasilkan phytoene karena terjadi penghambatan fungsi dari enzim phytoene synthase (PHY) dalam mengubah GGDP menjadi phytoene. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa gen CrtI mengkode enzim phytoene desaturase yang bertanggung jawab untuk mengubah phytoene menjadi lycopene. masih ada satu enzim lagi yang diperlukan untuk mengubah lycopene menjadi beta-karoten yaitu lycopene cyclase (LYC) yang juga berasal dari tanaman daffodil. Kekurangan vitamin A bisa menyebabkan kebutaan dan bisa memperburuk penderita diare. Selain itu. ilmuwan Eropa melaporkan bahwa di dalam biji padi terdapat bahan dasar (prekusor) untuk biosintesa karotenoid. yaitu geranyl geranyl diphosphate (GGDP). pada golden rice yaitu 1. Selain phy dan CrtI. Ide rekayasa padi yang mengandung beta-karoten pada awalnya muncul ketika para ahli biotek menemukan sebuah fenomena dimana terdapat banyak anak-anak yang mengalami kekurangan vitamin A terutama di benua Asia dan Afrika. ilmuwan Jepang telah mengawali mengisolasi gen yang menyandi jalur biosintesa karotenoid dari bakteri fitopatogenik Erwinia uredovora. Meskipun demikian. Padi menjadi pilihan karena merupakan bahan pangan utama bagi hampir seluruh penduduk dunia. tetapi melalui teknik DNA rekombinan atau rekayasa genetik.4 mikrog/g dan 1. Transformasi dengan menggunakan Agrobacterium menunjukkan bahwa modifikasi jalur biosintesa beta karoten berhasil dilakukan. Hal ini terbukti berdasarkan hasil analisa fotometrik dengan menggunakan HPLC (highperformance liquid chromatography) yang menunjukkan adanya karotenoid.2 mikrog/g. hasil yang dicapai masih kurang memuaskan karena kandungan karotenoid pada varitas IR 64 dan Taipei 309 tersebut masih tergolong rendah yaitu berturut-turut 0. termasuk betakaroten. Salah satu terobosan yang bisa dilakukan adalah merekayasa padi agar bisa menghasilkan beta-karoten (provitamin A) pada biji (endosperma)-nya.

31 mikrog/g-nya adalah beta-karoten. Untuk menguji kebenaran hipotesa. bahkan padi sendiri. Sedangkan untuk para petani. Dan berdasarkan berita dari IRRI (International Rice Research Institute) yang dikutip kantor berita Reuters. Dengan menggunakan faktor konversi tersebut maka bisa dibuat semacam hitungan sederhana yaitu 24 mikrog/g provitamin A. crtI dan lyc. mereka mengisolasi dan menguji efisiensi gen psy dari berbagai tanaman seperti Arabidopsis. pengujian penanaman golden rice di lahan di Asia (Philipina) telah dimulai awal April tahun ini. Namun polemik yang muncul tersebut tidak mematahkan semangat dua peneliti utama golden rice. paprika. keamanan konsumsi bagi anak-anak untuk kelengkapan kebutuhan vitamin A tetap menjadi prioritas utama. Berdasar pada hasil tersebut. Seleksi efisiensi dilakukan berdasar jumlah karotenoid yang diproduksi dan warna callus (intensitas warna) yang menunjukkan tingkat efisiensi transgene. Bahkan untuk menjawab polemik yang muncul tersebut.Munculnya golden rice pada tahun 2000 langsung mendapat reaksi keras dari para oposisi GMO (genetically modified organism). Fokus riset masih bertumpu pada tingkat efisiensi ke-3 jenis gen yang telah diintroduksikan yaitu psy. jagung. Sedangkan faktor konversi beta-karoten (provitamin A) dari total makanan adalah 12. . Dengan mudahnya para petani mendapat benih dan membudidayakan golden rice. RDA (recommended daily allowance) dari vitamin A untuk anak-anak berumur 1 sampai 3 tahun adalah 300 mikrog. untuk terus berkarya dan melakukan penelitian dengan tujuan lebih meningkatkan kandungan beta-karoten pada biji padi. Gen psy dari jagung menunjukkan tingkat efisiensi paling tinggi dibanding dengan psy dari tanaman lainnya. maka secara tidak langsung akan dapat menekan harganya. Callus dipilih karena sifat integrasinya yang stabil terhadap gen yang ditransformasikan (transgene). maka transfromasi pada padi lakukan dengan menyisipkan gen psy dari jagung bersama dengan gen crtI. tomat. Namun terlepas dari itu semua. sehingga 72 gram berat kering golden rice 2 mampu menyediakan 50% RDA untuk anak-anak. Hasil yang dicapai bisa dibilang memuaskan karena kandungan karotenoid pada biji "Golden rice 2" mencapai 37 mikrog/g. Penelitian peningkatan kandungan beta-karoten pada golden rice terus dilakukan selama kurang lebih lima tahun. Pengujian awal dilakukan dengan cara overeskpresi gen-gen psy pada callus jagung. benihnya baru bisa didapatkan pada tahun 2011. Sehingga pada akhirnya para ahli tersebut merumuskan hipotesa bahwa gen psy-lah yang paling berperan dalam jalur biosintesa karotenoid tersebut. yang berarti 23 kali lipat dibanding golden rice generasi pertama. Ingo Potrykus menulis sebuah artikel dalam jurnal Plant Physiology dengan judul "Golden Rice and Beyond" yang merupakan penjelasan menyeluruh terhadap status golden rice dan bagaimana seharusnya masyarakat umum menyikapinya. Dari total karotenoid tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa golden rice 2 memiliki sebuah potensi yang besar untuk menyelamatkan anak-anak dari kekuranga nvitamin A. Reaksi ini muncul karena adanya kekhawatiran masyarakat akan tingkat keselamatan konsumsi golden rice. yaitu Ingo Potrykus dan Peter Beyer. wortel.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->