VI.

IPTEKS DALAM ISLAM
A. Pengertian IPTEKS Dalam Islam dan Sumbernya 1. Pengertian IPTEKS Pengetahuan yang dimiliki manusia ada dua jenis, yaitu: 1. Dari luar manusia, ialah wahyu, yang hanya diyakini bagi mereka yang beriman kepada Allah swt. Ilmu dari wahyu diterima dengan yakin, sifatnya mutlak. 2. Dari dalam diri manusia, dibagi dalam tiga kategori: pengetahuan (knowledge/kenneis), ilmu pengetahuan (watenschap/science) dan filsafat. Ilmu dari manusia diterima dengan kritis, sifatnya nisbi. Al-Qur‟an dan As-Sunnah adalah sumber Islam yang isi keterangannya mutlak (absolut) dan wajib diyakini (QS. Al-Baqarah/2:1-5 dan QS. An-Najm/53:3-4). Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan oleh para filosuf, ilmuwan dan budayawan seolah-olah mereka mempunyai definisi masing-masing sesuai dengan apa yang mereka senangi. Sains diindonesiakan menjadi ilmu pengetahuan sedangkan dalam sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan firasat sedangkan, ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis kata ilmu berarti kejelasan, oleh karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur‟an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalam disebut generalis. Karena keterbatasan kemampuan manusia, maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam. Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Di sinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan teknologi. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian. Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah. Dalam pemikiran sekuler perennial knowledge yang bersumber dari wahyu Allah tidak diakui sebagai ilmu, bahkan mereka mempertentangkan antara wahyu dengan akal, agama dipertentangkan dengan ilmu. Sedangkan dalam ajaran Islam wahyu dan akal, agama dan ilmu harus sejalan tidak boleh dipertentangkan. Memang demikian adanya karena hakikat agama adalah membimbing dan mengarahkan akal. 2. Sumber IPTEKS Dalam pemikiran Islam, ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Al-Qur‟an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) tingkat kebenarannya bersifat mutlak, karena bersumber dari Allah. Ada pula ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya bersifat nisbi, karena bersumber dari akal pikiran manusia .

Dengan kedua kecenderungan tersebut. (QS. fisika. Kalau terjadi kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri. Seandainya Allah tidak menciptakan manusia. teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yang disebut Dienul Islam. santri-pelajar dan sebagainya. menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya dengan sebesarbesar kemanfaatan untuk kehidupan ummat manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan ummat manusia. iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu harus difungsikan sesuai dengan petunjuk Allah swt. syari‟ah dan akhlak. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi ummat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri. Asy-Syams/91:8). Didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah. sosiologi. Mereka tidak menjaga amanat Allah sebagai khalifah (QS. ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah. Ali-Imran/3:164). Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya. Ilmu dan Amal Menurut Islam. Menurut Al-Qur‟an. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah s. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. Kebenaran hakiki dan sumber ilmu ialah pada Allah swt. Ilmu diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan/cabang-cabang ilmu pengetahuan. dua ayat Allah dihadapkan kepada manusia: Ayat al-kauniyah (alam semesta dan manusia: individu. kimia. baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. ulama-intelektual. Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. madrasah-sekolah. sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur‟an S. antara agama. Esensi dari abdun adalah ketaatan. Dalam pandangan Islam.w. Integrasi Iman. Oleh karena itu. komunal dan temporalnya) Ayat al-qauliyah (Al-Qur‟an dan sunnah rasul) Interpretasi manusia terhadap fenomena kauniyah melahirkan ilmu pengetahuan: biologi. ilmu pada hakekatnya tidak bersifat dikotomik seperti : ilmu agama-ilmu umum. Al-Mujadalah/58:11). dengan kata lain iman. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi. ilmu dan amal shaleh/ikhsan. Interpretasi manusia terhadap fenomena qauliyah melahirkan pemahaman agama (actual). Dengan hilangnya rasa syukur mengakibatkan ia menghambakan diri kepada hawa nafsunya. fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. Tanpa menguasai IPTEKS. manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam. Fushshilat/41:53 dan QS. Keikhlasan manusia menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah penghambaan manusia kepada sesama manusia termasuk pada dirinya. maka Allah tidak perlu menciptakan alam. sejarah dan lain-lain.t. Allah menciptakan alam. antropologi. Ar-Rum/30:41). Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik (QS.B. ilmu politik.Ibrahim/14:24-25 Ayat di atas menganalogikan bangunan Dienul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Dalam konteks 'abdun. komunikasi. Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah. Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan sang pencipta berupa potensi yang sempurna yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu potensi akal. C. akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan ummat manusia termasuk bagi lingkungannya (QS. ilmu pengetahuan. manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. . Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Fungsi yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. karena Allah menciptakan manusia. sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya. karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri.

dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas. Al Mujadilah 11 ). Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi. Di samping dampak positif. Ali Imron: 102 ). akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi. maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. Manusia dengan mudah berkomunikasi. Keempat. akan jadi penentu menguasai/mempengaruhi masyarakat dunia. terperosok dalam neraka (Q. At Tahrim: 6 ). komsumerisme. sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q. Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. Hal itu didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasikomunikasi serta transportasi yang semakin melancarkan hubungan umat manusia. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja. Kedua. Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q. apabila kita lengah. dan Akhlaqul Karimah. hedonisme. Kesemuanya itu saling menjaga. Dengan demikian.Sejarah FIB UGM & Sekretaris FUI DIY . Dalam kitabullah Al Qur‟an sebagai pedoman hidup manusia ini.SU. dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka. Syari‟ah-Ibadah. sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia. informasi dari belahan dunia yang jauh dapat segera diletahui oleh manusia dibelahan dunia yang lain. agar jangan sampai dirinya. Ketiga. dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguhsungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil‟alamien.. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar. sehingga merata di seluruh dunia. Adapun dampak negatifnya antara lain. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman.UMAT ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI Umat islam dalam era globalisasi Oleh: Ahmad Adaby Darban Globalisasi atau proses mendunia. Pengaruh negative dari luar (seperti pornografipornoaksi. taktik-strategi kejahatan. Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam. dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar. adanya ledakan informasi yang menguasai kehidupan manusia. dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. dan menimbulkan dapak positif maupun negatif. Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang. sekulerisme dan sebagainya ). Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis.S. dengan leluasa masuk menusuk jantung rumah tangga kita. Dapak positifnya antara lain. dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga. Drs.S. arus Globalisasi juga menimbulkan dampak negative yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Dosen Jur. Dengan demikian itu. adalah terjadinya hubungan komunikasi umat manusia di seluruh dunia yang semakin efektif. yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat. c) Tidak membuat kerusakan di bumi. keluarganya. tidak waspada. Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi.S. sangat menonjolkan hak individunya. liberalisme. membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ). H. Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q. Bagi Umat Islam. Arus Globalisasi itu kini semakin deras. sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh. berlandaskan Ta‟awun atau gotong-royong. b). syiasyah. sehingga dapat selamat. Amaliah. akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia. umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah. sehingga terjadi iklim saling mempengaruhi semakin meluas. arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga. Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi. dan masyarakatnya.S. sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas. termasuk dapat dengan cepat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. dengan demikian yang mengusai media informasi. masyarakat dan kemudian negara. Ahmad Adaby Darban. antara lain : Pertama. dan kurang siap menghadapinya. menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan. Al Qoshos: 77).

Membaca tujuan itu. Tema yang diminta ke saya adalah telaah terhadap buku yang berjudul “Panduan Integrasi Nilai Multikultur dalam Pendidikan Agama Islam pada SMA dan SMK” – selanjutnya disingkat Panduan Integrasi. bakti. bahwa Latar belakang dan Tujuan diajarkannya pendidikan multikultur dalam PAI adalah: “Pendidikan multikultural adalah proses penanaman sejumlah nilai yang relevan agar peserta didik atau siswa dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam realitas keberagaman dan berperilaku positif. Tetapi istilah itu perlu diklarifikasi maknanya. kita diajarkan untuk tidak menutup diri terhadap istilah atau konsep-konsep baru dari luar Islam – seperti multikulturalisme. sebelum memasukkan suatu materi dalam kurikulum PAI.xi). secara konseptual maupun dalam realitas sejarah. Acara ini diselenggarakan oleh“Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMK Provinsi DKI Jakarta”. saya mendapat undangan untuk mengisi acara bernama “Kegiatan Multikultur. Andalusia dan sebagainya. agar jangan sampai muncul kesan bahwa “Pendidikan Multikultural” kita masukkan ke dalam kurikulum PAI karena desakan eksternal atau memanfaatkan peluang ketersediaan finansial yang menjanjikan. pertama di dunia. dan apakah sudah begitu mendesaknya. jauh sebelum adanya istilah multikultural ini. Sesuai undangan. bahwa kurikulum PAI selama ini tidak atau kurang berwawasan multikultural. seperti yang dilakukan para pendakwah Islam di Nusantara yang melakukan Islamisasi terhadap istilah “sorga. sehingga dapat mengelola keberagaman menjadi kekuatan untuk mencapai kemajuan Indonesia. Itu perlu dilakukan. Pembelajaran PAI Berbasis Fitrah. ini pun disebutkan contoh tentang Piagam Madinah yang memberikan jaminan kehidupan kemasyarakatan bagi pemeluk agama-agama lain. 04 April 2012 oleh: Dr.” (hal. Idealnya. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII). dikurangi. Palestina. Jika tidak sesuai dengan pandangan alam Islam (the worldview of Islam). sehingga kurikulum PAI harus dibebani dengan muatan pendidikan multikulturalisme? Jika tujuannya adalah untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat-umat lain.“Multikulturalisme dalam Pendidikan Agama Islam” Rabu. Di dalam buku Panduan Integrasi. Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan. dan Pemberdayaan Manajemen MGMP” di Jakarta. Sudah sama-sama kita pahami. Dalam buku tersebut disebutkan. maka sejak awal mula Islam sudah mencontohkan hal itu. kita tentu bertanya. atau ditambah. apakah selama ini PAI di sekolah-sekolah kita tidak mengarahkan anak didik untuk memahami multikulturalisme. pahala. Di Palestina. Baghdad. Jika memang ada. dosa. maka perlu diberikan makna baru. (Diterbitkan oleh PT Kirana Cakra Buana. TIFA Foundation dan Yayasan Rahima). pada bagian yang mana? Sebagai kaum Muslim.” dan sebagainya. Adian Husaini PADA Hari Senin. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬memelopori satu Negara dengan Konstitusi tertulis. neraka. identitas diri dan budaya. Di Madinah. diteliti dengan ilmiah. tanpa mengaburkan dan menghapuskan nilai-nilai agama. sehingga kurikulum tersebut perlu diubah. bekerjasama dengan Kementerian Agama RI. 27 Februari 2012. Islam adalah agama yang terbukti berhasil mewujudkan masyarakat multikultur di Madinah. Khalifah Umar bin Khathab adalah pemimpin pertama di dunia yang memberikan .

sekaligus jantung semua agama (the heart of religion). Padahal. bahwa konsep Negara modern sekarang ini telah melakukan diskriminasi yang sangat kejam terhadap manusia. kata Frithjop Schuon. Dr. xiv). Australia tidak mendapatkan hak libur pada Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha? Mengapa umat Islam di Swiss dilarang membangun menara masjid? Apakah di Negara-negara Barat umat Islam diberi hak sama dengan kaum Kristen atau Yahudi? Jawabnya jelas: TIDAK! Perlu dicatat. berjumpa pada ranah transendental. 34). Dari sinilah muncul renaissance yang berujung kepada sekularisme-liberalisme dan penyingkiran nilai-nilai agama dalam kehidupan. lihat Adian Husaini. Ia menulis: ”Semua agama. sebuah buku berjudul Pluralisme dan Multikulturalisme. Sejarah sosial Islam sangat berbeda dengan sejarah kehidupan keagamaan di Barat yang beratus tahun menerapkan sistem Teokrasi (pemerintahan yang dilegalisasi Tuhan melalui wakil-Nya. Perbedaan tidak identik dengan konflik. metode dan strategi yang berbeda-beda. Memahami sejarah sosial suatu perdaban sangat penting.. Kristen. dan Islam (Jakarta: Gema Insani Press. kita bertanya. Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (2011). Tinjauan Historis Konflik Yahudi. dan baru masa kini dinyatakan berhasil. Disebabkan karena klaim kebenaran inilah. yaitu Tuhan.(‫ س لم‬a Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus? Contoh ketiga.kebebasan beragama dalam perspektif Islam di Kota Jerusalem. manusia tidak pernah memilih tempat kelahirannya. Buku ini diberi kata „Pengantar Ahli‟ oleh Prof. Kesadaran akan pentingnya pluralisme dan multikulturalisme dipandang menjadi perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik-cabik.A. ada seorang guru besar sosiologi agama di sebuah Perguruan Tinggi Islam di Malang yang sangat gencar mempromosikan paham multikulturalisme. gagasan transendentalisme semacam itu tidak sesuai dengan Islam. Tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat adalah baik. dan perbedaan bersifat simbolik lainnya). (Tentang sejarah toleransi Islam.” (hal. kita patut bertanya dan bersikap kritis: Benarkah Negara-negara Barat berhasil menerapkan multikulturalisme? Mengapa di AS tidak kita jumpai ada menteri Muslim? Mengapa umat Islam di AS. Muhaimin. sehingga menimbulkan trauma sejarah dan keagamaan yang mendalam. 2005). M. sudah berabad-abad menerapkan kebijakan ini. sang profesor menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya dengan judul “Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial”. Wajah Peradaban Barat (Jakarta: Gema Insani Press. Misalnya di Amerika Serikat sendiri. ungkapan-ungkapan bahasa agama. bahwa setelah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus. Sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP yang lalu.” (hal. Jika kita renungkan. yang menggariskan. bahwa saat ini sudah “mendesak sekali “membumikan” pendidikan Islam berwawasan pluralisme dan multikulturalisme. Begitu juga Inggris. guru besar UIN Malang. Lihatlah nasib para imigran di berbagai negara! Bukankah mereka semua adalah manusia – yang katanya punya HAM dan tidak boleh diperlukan secara diskriminatif? Keberagaman makna Menyimak berbagai buku-buku tentang Pendidikan Multikulturalisme selama ini. Perancis. lihat Adian Husaini. Lihatlah. nasib TKI-TKW kita di luar negeri. nilai-nilai multikultural sekarang ini banyak didesakkan ke seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. tahun 636 M. dan Australia. Yakni. apapun bentuk eksoteriknya (tata cara beribadah.nakranebid ala‟ataW uhanahbuS hallA habmeynem arac aumes akiJ . Sang guru besar menulis. tentang sejarah sekalisasi di Barat. Dan Islam – sebagaimana diakui dalam buku ini – sudah berhasil mewujudkan kehidupan harmonis antar berbagai kelompok yang beragam. yaitu Paus) dan mengalami konflik keagamaan yang sangat parah. hanya karena tempat kelahiran dan kewarganegaraan yang berbeda. maka syariat yang berlaku bagi umat manusia adalah syariat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫و هيلع هللا ىلص‬ pa kutnu ulal . pemahaman tentang “multikulturalisme” begitu beragam. sebab makna suatu konsep tidak terlepas dari sejarah dan sistem (medan) makna yang ada dalam suatu peradaban. Jelas. penggunaan istilah “multikulturalisme sebagai paradigma baru Pendidikan Islam” itu pun . Dengan logika ini. tempat ibadah. bahwa keberhasilan negara-negara Barat ini memakan waktu atau sejarah yang panjang serta menerapkan cara. 46). lalu untuk apa dimasukkan “Pendidikan Multikulturalisme” dalam kurikulum PAI? Apa yang salah dengan kurikulum PAI selama ini? Buku Panduan Integrasi ini menjelaskan latar belakang diajarkannya Pendidikan multikulturalisme: “Harus kita sadari bersama.” (hal. Sang professor mengajukan gagasan perlunya pengembangan studi agama berbasis paham multikulturalisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama. manusia diperlakukan sangat diskriminatif. Inggris. Inilah dimensi esoterik agama. khususnya umat Islam. 2004). Menyimak pernyataan tersebut. Tahun 2009.

Terhadap definisi semacam itu. para ulama penyebar Islam di wilayah ini juga melakukan proses yang kemudian dikatakan Prof. Seorang muslim seyogyanya menggunakan worldview of Islam (pandangan alam Islam) ketika menilai konsep atau istilah. Di awal-awal perkembangan Islam. agama. Dengan menggunakan worldview of Islam. neraka. kita perlu memberikan catatan. suku. Dalam konsep multikulturalisme ini.. menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan.” (hal. ditulis: ”Sebagai risalah profetik. dan agama. atau pun agama. Dengan demikian. dsb. bahasa. “framework”. Apakah mereka tidak berwawasan multikultural? Mana yang tepat: pendidikan Islam berbasis multikulturalisme atau pendidikan Islam berbasis Tauhid? Dalam sebuah buku berjudul ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural karya Zakiuddin Baidhawi. 45-46). seperti Allah. semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik..” (hal.sebenarnya sudah bermasalah. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai proses Islamisasi. dosa. sorga. atau lebih tepatnya“worldview”. kenapa baru sekarang dijadikan paradaigma bagi Pendidikan Agama Islam? Apakah Pendidikan Agama Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw tidak berbasis multikulturalisme? Selama ratusan tahun pesantren telah berdiri di Indonesia. 65). Dalam . kalimatun sawa‟ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. Terhadap definisi semacam itu. haji. al-Quran melakukan proses adopsi istilah-istilah yang ada di masa Jahiliyah tapi diberikan makna baru. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. jender. jenis kelamin. tanpa memperdulikan perbedaan budaya. dan sebagainya. Karena itu. Jika multikulturalisme adalah konsep yang baik sejak dulu. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. Di wilayah Nusantara. warna kulit. karim. kebudayaan. seperti pahala. Pesan kesatuan ini secara tegas disinyalir alQur‟an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa‟) antara kami dan kamu. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. termasuk mereka para pengikut agama-agama. ditolak. Misalnya. (hal. penggunaan istilah ini memang perlu berate-hati. Inilah contoh-contoh pemaknaan multikulturalisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.. Itulah yang dilakukan umat Islam sepanjang zaman. bhakti. etnik. ditolak. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak. ekonomi. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan “cara pandang”. 18). sehingga harus diterima. nikah.. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. yang didefinisikan sebagai: “Kesadaran untuk memperlakukan orang lain tidak berat sebelah/tidak memihak dan tidak membedakan keberpihakan kepada sesama karena perbedaan warna kulit. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. multikultural memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Dr. Ada yang menyebut konsep in sebagai “civic pluralism”. Multikuturalisme dalam PAI Dalam buku Panduan Integrasi ini. multikulturalisme didefinisikan sebagai berikut: “Inti dan substansi dari multikultural adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan. golongan. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity). etnik. sehingga harus diterima. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini.” (hal. dan sebagainya. Di antara nilai-nilai multikultur yang harus diajarkan dalam PAI adalah nilai “keadilan”. kita perlu memberikan catatan. Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan Dengan menggunakan worldview of Islam. 65). adopsi dan Islamisasi istilah-istilah Hindu. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak.

seolah-olah tidak beragama. maka definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi dapat menjadi “liar”. Nabi Luth juga bisa dicap tidak berwawasan multikultural. Namun sebaliknya. bukan dengan sikap pasrah. Budaya dan agama seperti apa yang harus ditoleransi dan diberikan ruang yang sama di ruang publik? Apakah budaya syirik. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain.konsep multikulturalisme ini. apalagi mengajarkan kepada para murid di sekolah.*/Bogor. Guru-guru agama yang melarang muridnya merayakan Natal bersama atau mengikuti tradisi Valentine juga bisa kena tudingan anti-multikulturalisme. Bahkan. bukan hanya di dunia. 30 Maret 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik. setiap muslim diminta melepaskan konsep-konsep agamanya dalam menilai agama dan budaya lain.com Red: Cholis Akbar Friday. 13 July 2007 03:27 Ilmu-ilmu Keislaman Di Tengah Era Globalisasi Mimbar Jumat Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. sebab beliau menolak budaya paganisme dari kaumnya sendiri. Karena definisi “multikulturalisme” yang diberikan dalam buku Panduan Integrasi ini masih perlu disempurnakan. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬pun pernah dicap sebagai pemecah belah kaumnya. Sebab. Untuk menerima konsep civic pluralism atau multikulturalisme semacam ini. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. Dengan definisi yang kabur semacam itu. aliran-aliran penyembah setan atau agama yang mengajarkan free sex dan pornografi bisa diterima dan harus diperlakukan sama di ruang publik? Jika batasan agama dan budaya – dalam perspektif Islam -. Memasuki era globalisasi dengan segala imp keunggulan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. Kelemahan mendasar dari definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi. tetapi juga di akhirat. aliran-aliran sesat yang memiliki nabi baru. tanggung jawab dalam soal ini. Oleh Zulhamdi Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. Ada yang menyebut konsep ini sebagai “civic pluralism”. maka konsep semacam ini bisa diterima. dengan definisi yang sama. Dia harus bersikap netral. malas dan tidak kreatif. maka para penulis dan penerbit buku ini seyogyanya berfikir sejuta kali untuk menyebarkan buku ini. maka Nabi Ibrahim bisa jadi akan dimasukkan kategori “tidak berwawasan multicultural”. Bangsa yang tidak memiliki kesiapan dan keunggulan akan mengalami ketertinggalan. WASPADA Online. kerja keras. karena melawan budaya homoseksual yang tertanam kuat pada kaumnya sendiri. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan.tidak diberikan. Oleh karena itu kehadirannya tidak dapat dihindari dari dalam kehidupan ini. . Artinya. Jika menggunakan “secular worldview” atau cara pandang yang netral agama. adalah tidak memberikan batasan makna terhadap “budaya” dan “agama” itu sendiri. Oleh sebab itu bangsa yang dipengarruhi itu dituntut untuk melakukan filter terhadap pengaruh-pengaruh yan merupakan konsekuensi dari adanya kemudahan tekhnologis informasi dan komunikasi masa yang dampakny dan budaya. setiap Muslim harus membuang cara pandang “tauhid” dan “amar ma‟ruf nahi munkar” dari dirinya.

begitu luasnya dan begitu tinggi sekarang ini. dirasakan oleh sekelompok orang. akal berarti kecerdasan. Tanpa adanya akal mustahil ilmu pengetahuan ada. Ketiga. Akal inilah yang dibawa manusia sejak dari lahirnya sebagai modal pokok untuk hidup. Ia menyuruh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk menggali ilm pengetahuan adalah kewajiban syari’ah dan kebutuhan umat. Akal inilah yang telah mengerti akan benar dan salah. musta serba modern ini. Posisi Akal dan Nakal Dalam Melahirkan Ilmu-ilmu Ke Islaman Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang amat sempurna. Tata hubungan ini adalah jiwa kebudayaan. menjadi dewasa. ini dimiliki oleh setiap manusia yang membedakannya dari hewan dan mak orang. akal berarti ma’rifat. Islam juga adalah agama rahmatan lil memeluknya. Ibnu Rusyd. bahwa tingkatan-tingkatan aqal itu ada empat. ya Pertama. Hal ini dikarenakan globalisasi merup jawaban. Al Farabi. akal berarti pengetahuan. Manusia telah dianugerahi-Nya akal. Tata hu tidak akan berubah-ubah sebagaimana di teladankan oleh baginda Rasul. dan banyak lagi yang lainnya. masyarakat. Prinsip-prinsip kebudayaan itu bert sendiri. Dengan demikian umat Islam yang sedang mengarungi globalisasi tidak akan kaku dan tidak akan panik dalam dari segi keilmuan dan tekhnologinya. Dengan adanya akal tersebu melahirakan dan mengembangkan ilu pengetahuan. bahwa era globalisasi merupakan zaman yang menyeret man Islam. Keempat. Sementara tata hubungan manusia d selalu mengalami perubahan. dan meningkat naik setelah berusia muda. yakni oleh ilmuan-ilmuan Islam seperti. Tetapi dinikmati da masyarakat lintas negara. yang tumbuh pada manusia setelah akalnya yang pertama mulai berjalan. Sementara ituIslam yang diturunkan dari belahan Timur di relevan lagi. tetapi pelaksanaan nya selalu berubah. Di dalam islam akal dan nakal berjal dikarenakan manusia itu telah diberikan-Nya akal untuk memahaminya. Dan Islam juga telah memberikan kontribusi bagi kemajuan Barat. Kemajuan tersebut akan dimanfaatkan nya sedemikian rupa tanpa men untuk membangkitkan Islam itu kembali dengan gaya baru. Kehadirannya memperpendek jarak komunikasi dan memperluas pada mobilisasi o Di lain sisi tidak sedikit umat islam memandang. Kedua. Dan hikmah diturunkannya Al-Quran agar aqal yang ada pada manusia itu tidak tersesat dalam mengkaji sesuatu. akal berarti pengertian. Pemikiran seperti ini adalah keliru. mengkaji dan memecahkan persoalan yang ada di sekelilingnya. Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali mengemukakan. suku bangsa atau negarab tertentu. Pada dasarnya Islam telah memberikan kontribusi yang amat besar bagi p yang sedang kita rasakan sekarang. Kini islam dihadapkan dengan gelombang era g miliki. mengadakan penelitian terhadap segala ciptaan-N Islam Di Tengah Globalisasi Islam adalah tatanan yang melindugi aqidah dan menegakkan syari’at.Di era zaman serba modren ini. Karena tidak mungkin umat islam akan kembali k . Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukanlah peran dari ilmu-ilmu ke islaman yang bertu manfaatkan secara positip demi maksimalisasi keuntungan dan mengurangi eksis negativnya demi minimalisa Ilmu-ilmu ke islaman di perlukan dalam menjawab tantangan era globalisasi dikarenakan ilmu-ilmu tersebut Kedua sumber pokok dalam Islam tersebut mengatur tata hubungan antara manusia dengan Tuhan yang diseb hubungan antara manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya. yang timbul karena pengajaran dan pengalaman setelah menyelidiki dan m Akal inilah yang telah melahirkan ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya. yang merupakan puncak dari segala tingkatan akal yaitu keinsafan rohani ma dan yang membawanya kepada keluhuran budi dan akhlak seseorang serta memimpinnya kepada ketuhanan y Ghazali tersebut dapatlah dipahami bahwasanuya akal itu sudah tertanam pada diri manusia sejak ia lahir ked tuntut untuk mengembangkannya dengan cara memikirkan. dan denga dan yang buruk. Kemudian banyak berkembang ideologi-ideologi sekuler yang bertentangan dengan konsep ajaran Isla ini hendaknya umat Islam terlebih dahulu memahami peta masalahnya. dunia Barat dipandang sebagai kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo relevan dan pantas untuk diterapkan suatu bangsa. Ibn Sina. Akal yang dijalin dengan nakal (Al-Quran dan As sunnah) akan melahirkan dimensi ilmu-il sumber pokok agama Islam tersebut akan melahirkan ilmu-ilmu sekuler.

keilmuannya pada masa lampau. . Wallahu A’lam. Tetapi yang mungkin adalah mengambil nilai-nilai kejayaan tersebut dalam ilmuan-ilmuan barat.