VI.

IPTEKS DALAM ISLAM
A. Pengertian IPTEKS Dalam Islam dan Sumbernya 1. Pengertian IPTEKS Pengetahuan yang dimiliki manusia ada dua jenis, yaitu: 1. Dari luar manusia, ialah wahyu, yang hanya diyakini bagi mereka yang beriman kepada Allah swt. Ilmu dari wahyu diterima dengan yakin, sifatnya mutlak. 2. Dari dalam diri manusia, dibagi dalam tiga kategori: pengetahuan (knowledge/kenneis), ilmu pengetahuan (watenschap/science) dan filsafat. Ilmu dari manusia diterima dengan kritis, sifatnya nisbi. Al-Qur‟an dan As-Sunnah adalah sumber Islam yang isi keterangannya mutlak (absolut) dan wajib diyakini (QS. Al-Baqarah/2:1-5 dan QS. An-Najm/53:3-4). Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan oleh para filosuf, ilmuwan dan budayawan seolah-olah mereka mempunyai definisi masing-masing sesuai dengan apa yang mereka senangi. Sains diindonesiakan menjadi ilmu pengetahuan sedangkan dalam sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan firasat sedangkan, ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis kata ilmu berarti kejelasan, oleh karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur‟an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalam disebut generalis. Karena keterbatasan kemampuan manusia, maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam. Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Di sinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan teknologi. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian. Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah. Dalam pemikiran sekuler perennial knowledge yang bersumber dari wahyu Allah tidak diakui sebagai ilmu, bahkan mereka mempertentangkan antara wahyu dengan akal, agama dipertentangkan dengan ilmu. Sedangkan dalam ajaran Islam wahyu dan akal, agama dan ilmu harus sejalan tidak boleh dipertentangkan. Memang demikian adanya karena hakikat agama adalah membimbing dan mengarahkan akal. 2. Sumber IPTEKS Dalam pemikiran Islam, ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Al-Qur‟an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) tingkat kebenarannya bersifat mutlak, karena bersumber dari Allah. Ada pula ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya bersifat nisbi, karena bersumber dari akal pikiran manusia .

antara agama. Didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah. (QS. Dalam konteks 'abdun. dengan kata lain iman.w. komunikasi. manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. Fushshilat/41:53 dan QS. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi ummat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri. Kalau terjadi kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah s. Allah menciptakan alam. Oleh karena itu. Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan sang pencipta berupa potensi yang sempurna yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu potensi akal. manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam. ilmu dan amal shaleh/ikhsan. C. Dengan kedua kecenderungan tersebut. Asy-Syams/91:8). antropologi. Al-Mujadalah/58:11). karena Allah menciptakan manusia. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. madrasah-sekolah. menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya dengan sebesarbesar kemanfaatan untuk kehidupan ummat manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. fisika. Esensi dari abdun adalah ketaatan. ulama-intelektual. Tanpa menguasai IPTEKS. dua ayat Allah dihadapkan kepada manusia: Ayat al-kauniyah (alam semesta dan manusia: individu. santri-pelajar dan sebagainya. sosiologi. syari‟ah dan akhlak. Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Kebenaran hakiki dan sumber ilmu ialah pada Allah swt. ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah. iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya. Dalam pandangan Islam. komunal dan temporalnya) Ayat al-qauliyah (Al-Qur‟an dan sunnah rasul) Interpretasi manusia terhadap fenomena kauniyah melahirkan ilmu pengetahuan: biologi. Interpretasi manusia terhadap fenomena qauliyah melahirkan pemahaman agama (actual). Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi. ilmu politik. maka Allah tidak perlu menciptakan alam. Ali-Imran/3:164). Dengan hilangnya rasa syukur mengakibatkan ia menghambakan diri kepada hawa nafsunya. Ilmu dan Amal Menurut Islam. Ar-Rum/30:41). ilmu pengetahuan. Menurut Al-Qur‟an. agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan ummat manusia. sejarah dan lain-lain. Mereka tidak menjaga amanat Allah sebagai khalifah (QS.B. akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan ummat manusia termasuk bagi lingkungannya (QS. Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik (QS. Fungsi yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur‟an S. ilmu pada hakekatnya tidak bersifat dikotomik seperti : ilmu agama-ilmu umum. Seandainya Allah tidak menciptakan manusia. Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri. baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Keikhlasan manusia menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah penghambaan manusia kepada sesama manusia termasuk pada dirinya. Ilmu harus difungsikan sesuai dengan petunjuk Allah swt. . teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yang disebut Dienul Islam.t.Ibrahim/14:24-25 Ayat di atas menganalogikan bangunan Dienul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. kimia. fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. Integrasi Iman. Ilmu diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan/cabang-cabang ilmu pengetahuan. Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah.

termasuk dapat dengan cepat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. At Tahrim: 6 ). Dosen Jur. tidak waspada. Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam. menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan. informasi dari belahan dunia yang jauh dapat segera diletahui oleh manusia dibelahan dunia yang lain. Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman.S. dan masyarakatnya. Di samping dampak positif. Al Qoshos: 77). dengan leluasa masuk menusuk jantung rumah tangga kita. umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah. arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga. dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga. dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar. b). dan kurang siap menghadapinya. Dalam kitabullah Al Qur‟an sebagai pedoman hidup manusia ini. Amaliah. apabila kita lengah. Dengan demikian itu. akan jadi penentu menguasai/mempengaruhi masyarakat dunia. agar jangan sampai dirinya.S. dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas. dengan demikian yang mengusai media informasi. sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh. Manusia dengan mudah berkomunikasi. Ketiga. masyarakat dan kemudian negara. Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi. Drs. Hal itu didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasikomunikasi serta transportasi yang semakin melancarkan hubungan umat manusia. Kesemuanya itu saling menjaga.. akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia. adanya ledakan informasi yang menguasai kehidupan manusia. Ali Imron: 102 ). Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi.S. keluarganya. c) Tidak membuat kerusakan di bumi. Kedua. taktik-strategi kejahatan. Keempat. akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi. Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q. yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat. Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. Bagi Umat Islam. adalah terjadinya hubungan komunikasi umat manusia di seluruh dunia yang semakin efektif. komsumerisme.S. Dengan demikian. Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang. dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q. membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ). sangat menonjolkan hak individunya.Sejarah FIB UGM & Sekretaris FUI DIY . sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas. Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis. sekulerisme dan sebagainya ).SU. liberalisme. Dapak positifnya antara lain. dan menimbulkan dapak positif maupun negatif. arus Globalisasi juga menimbulkan dampak negative yang sangat perlu mendapatkan perhatian. memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. Arus Globalisasi itu kini semakin deras. Syari‟ah-Ibadah.UMAT ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI Umat islam dalam era globalisasi Oleh: Ahmad Adaby Darban Globalisasi atau proses mendunia. dan Akhlaqul Karimah. sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia. antara lain : Pertama. terperosok dalam neraka (Q. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja. dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguhsungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil‟alamien. sehingga merata di seluruh dunia. syiasyah. maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. hedonisme. Ahmad Adaby Darban. Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi. dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar. sehingga terjadi iklim saling mempengaruhi semakin meluas. sehingga dapat selamat. H. berlandaskan Ta‟awun atau gotong-royong. Adapun dampak negatifnya antara lain. Pengaruh negative dari luar (seperti pornografipornoaksi. Al Mujadilah 11 ).

atau ditambah. Acara ini diselenggarakan oleh“Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMK Provinsi DKI Jakarta”. identitas diri dan budaya. Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan. sebelum memasukkan suatu materi dalam kurikulum PAI. sehingga kurikulum PAI harus dibebani dengan muatan pendidikan multikulturalisme? Jika tujuannya adalah untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat-umat lain. Baghdad. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII). pahala. 27 Februari 2012. pada bagian yang mana? Sebagai kaum Muslim. secara konseptual maupun dalam realitas sejarah. dikurangi. Tema yang diminta ke saya adalah telaah terhadap buku yang berjudul “Panduan Integrasi Nilai Multikultur dalam Pendidikan Agama Islam pada SMA dan SMK” – selanjutnya disingkat Panduan Integrasi. bakti. Itu perlu dilakukan. Palestina. Tetapi istilah itu perlu diklarifikasi maknanya. Adian Husaini PADA Hari Senin. bahwa Latar belakang dan Tujuan diajarkannya pendidikan multikultur dalam PAI adalah: “Pendidikan multikultural adalah proses penanaman sejumlah nilai yang relevan agar peserta didik atau siswa dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam realitas keberagaman dan berperilaku positif. ini pun disebutkan contoh tentang Piagam Madinah yang memberikan jaminan kehidupan kemasyarakatan bagi pemeluk agama-agama lain. seperti yang dilakukan para pendakwah Islam di Nusantara yang melakukan Islamisasi terhadap istilah “sorga. (Diterbitkan oleh PT Kirana Cakra Buana. saya mendapat undangan untuk mengisi acara bernama “Kegiatan Multikultur. Di dalam buku Panduan Integrasi.” dan sebagainya. Pembelajaran PAI Berbasis Fitrah. Di Madinah. Idealnya. diteliti dengan ilmiah. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬memelopori satu Negara dengan Konstitusi tertulis. bahwa kurikulum PAI selama ini tidak atau kurang berwawasan multikultural.” (hal. maka perlu diberikan makna baru. Jika tidak sesuai dengan pandangan alam Islam (the worldview of Islam). dan apakah sudah begitu mendesaknya. Dalam buku tersebut disebutkan. jauh sebelum adanya istilah multikultural ini. pertama di dunia. agar jangan sampai muncul kesan bahwa “Pendidikan Multikultural” kita masukkan ke dalam kurikulum PAI karena desakan eksternal atau memanfaatkan peluang ketersediaan finansial yang menjanjikan. Sudah sama-sama kita pahami. tanpa mengaburkan dan menghapuskan nilai-nilai agama.“Multikulturalisme dalam Pendidikan Agama Islam” Rabu. kita tentu bertanya. neraka. Sesuai undangan. sehingga dapat mengelola keberagaman menjadi kekuatan untuk mencapai kemajuan Indonesia. apakah selama ini PAI di sekolah-sekolah kita tidak mengarahkan anak didik untuk memahami multikulturalisme. Jika memang ada.xi). kita diajarkan untuk tidak menutup diri terhadap istilah atau konsep-konsep baru dari luar Islam – seperti multikulturalisme. TIFA Foundation dan Yayasan Rahima). dosa. Membaca tujuan itu. Khalifah Umar bin Khathab adalah pemimpin pertama di dunia yang memberikan . bekerjasama dengan Kementerian Agama RI. Di Palestina. Andalusia dan sebagainya. Islam adalah agama yang terbukti berhasil mewujudkan masyarakat multikultur di Madinah. maka sejak awal mula Islam sudah mencontohkan hal itu. 04 April 2012 oleh: Dr. sehingga kurikulum tersebut perlu diubah. dan Pemberdayaan Manajemen MGMP” di Jakarta.

manusia tidak pernah memilih tempat kelahirannya. lalu untuk apa dimasukkan “Pendidikan Multikulturalisme” dalam kurikulum PAI? Apa yang salah dengan kurikulum PAI selama ini? Buku Panduan Integrasi ini menjelaskan latar belakang diajarkannya Pendidikan multikulturalisme: “Harus kita sadari bersama. yaitu Tuhan. Tinjauan Historis Konflik Yahudi. dan Australia. (Tentang sejarah toleransi Islam. Inilah dimensi esoterik agama. 46). yang menggariskan. Inggris. sebuah buku berjudul Pluralisme dan Multikulturalisme. Ia menulis: ”Semua agama. Yakni. sehingga menimbulkan trauma sejarah dan keagamaan yang mendalam. lihat Adian Husaini. Muhaimin. tahun 636 M. bahwa keberhasilan negara-negara Barat ini memakan waktu atau sejarah yang panjang serta menerapkan cara. Kristen. kita patut bertanya dan bersikap kritis: Benarkah Negara-negara Barat berhasil menerapkan multikulturalisme? Mengapa di AS tidak kita jumpai ada menteri Muslim? Mengapa umat Islam di AS.” (hal. Lihatlah nasib para imigran di berbagai negara! Bukankah mereka semua adalah manusia – yang katanya punya HAM dan tidak boleh diperlukan secara diskriminatif? Keberagaman makna Menyimak berbagai buku-buku tentang Pendidikan Multikulturalisme selama ini. Wajah Peradaban Barat (Jakarta: Gema Insani Press. ada seorang guru besar sosiologi agama di sebuah Perguruan Tinggi Islam di Malang yang sangat gencar mempromosikan paham multikulturalisme.” (hal. Tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat adalah baik. Buku ini diberi kata „Pengantar Ahli‟ oleh Prof. Dan Islam – sebagaimana diakui dalam buku ini – sudah berhasil mewujudkan kehidupan harmonis antar berbagai kelompok yang beragam. dan Islam (Jakarta: Gema Insani Press. lihat Adian Husaini. manusia diperlakukan sangat diskriminatif.nakranebid ala‟ataW uhanahbuS hallA habmeynem arac aumes akiJ . dan perbedaan bersifat simbolik lainnya). Jelas. metode dan strategi yang berbeda-beda.kebebasan beragama dalam perspektif Islam di Kota Jerusalem. M. kata Frithjop Schuon. yaitu Paus) dan mengalami konflik keagamaan yang sangat parah. bahwa saat ini sudah “mendesak sekali “membumikan” pendidikan Islam berwawasan pluralisme dan multikulturalisme. bahwa setelah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus.(‫ س لم‬a Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus? Contoh ketiga. sang profesor menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya dengan judul “Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial”. kita bertanya. tentang sejarah sekalisasi di Barat. Dengan logika ini. nasib TKI-TKW kita di luar negeri.. 2005). Menyimak pernyataan tersebut. maka syariat yang berlaku bagi umat manusia adalah syariat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫و هيلع هللا ىلص‬ pa kutnu ulal . berjumpa pada ranah transendental. xiv). Australia tidak mendapatkan hak libur pada Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha? Mengapa umat Islam di Swiss dilarang membangun menara masjid? Apakah di Negara-negara Barat umat Islam diberi hak sama dengan kaum Kristen atau Yahudi? Jawabnya jelas: TIDAK! Perlu dicatat. dan baru masa kini dinyatakan berhasil. 2004). Memahami sejarah sosial suatu perdaban sangat penting. Sang professor mengajukan gagasan perlunya pengembangan studi agama berbasis paham multikulturalisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama. Sejarah sosial Islam sangat berbeda dengan sejarah kehidupan keagamaan di Barat yang beratus tahun menerapkan sistem Teokrasi (pemerintahan yang dilegalisasi Tuhan melalui wakil-Nya. apapun bentuk eksoteriknya (tata cara beribadah. Sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP yang lalu. ungkapan-ungkapan bahasa agama. nilai-nilai multikultural sekarang ini banyak didesakkan ke seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. sekaligus jantung semua agama (the heart of religion). Lihatlah. hanya karena tempat kelahiran dan kewarganegaraan yang berbeda. gagasan transendentalisme semacam itu tidak sesuai dengan Islam. bahwa konsep Negara modern sekarang ini telah melakukan diskriminasi yang sangat kejam terhadap manusia.A. Perancis. penggunaan istilah “multikulturalisme sebagai paradigma baru Pendidikan Islam” itu pun . Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (2011). Dari sinilah muncul renaissance yang berujung kepada sekularisme-liberalisme dan penyingkiran nilai-nilai agama dalam kehidupan. Dr. Padahal. guru besar UIN Malang. Kesadaran akan pentingnya pluralisme dan multikulturalisme dipandang menjadi perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik-cabik. pemahaman tentang “multikulturalisme” begitu beragam. Sang guru besar menulis. sudah berabad-abad menerapkan kebijakan ini. sebab makna suatu konsep tidak terlepas dari sejarah dan sistem (medan) makna yang ada dalam suatu peradaban. Misalnya di Amerika Serikat sendiri. Perbedaan tidak identik dengan konflik. Tahun 2009. Jika kita renungkan.” (hal. khususnya umat Islam. Disebabkan karena klaim kebenaran inilah. Begitu juga Inggris. 34). tempat ibadah.

bhakti. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan. multikulturalisme didefinisikan sebagai berikut: “Inti dan substansi dari multikultural adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan. Inilah contoh-contoh pemaknaan multikulturalisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. golongan. dan sebagainya. Seorang muslim seyogyanya menggunakan worldview of Islam (pandangan alam Islam) ketika menilai konsep atau istilah. Apakah mereka tidak berwawasan multikultural? Mana yang tepat: pendidikan Islam berbasis multikulturalisme atau pendidikan Islam berbasis Tauhid? Dalam sebuah buku berjudul ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural karya Zakiuddin Baidhawi. Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia. Dalam konsep multikulturalisme ini. 65). Ada yang menyebut konsep in sebagai “civic pluralism”. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity). Itulah yang dilakukan umat Islam sepanjang zaman. agama. Jika multikulturalisme adalah konsep yang baik sejak dulu. menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras. jender.. 45-46). karim. Pesan kesatuan ini secara tegas disinyalir alQur‟an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa‟) antara kami dan kamu. Di wilayah Nusantara. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak. penggunaan istilah ini memang perlu berate-hati. multikultural memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. yang didefinisikan sebagai: “Kesadaran untuk memperlakukan orang lain tidak berat sebelah/tidak memihak dan tidak membedakan keberpihakan kepada sesama karena perbedaan warna kulit.” (hal. ditolak. termasuk mereka para pengikut agama-agama. dsb. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. kalimatun sawa‟ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. suku. “framework”. seperti pahala. dosa. Dengan demikian. neraka. jenis kelamin. atau pun agama. dan sebagainya. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan Dengan menggunakan worldview of Islam. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak.. kita perlu memberikan catatan. dan agama. adopsi dan Islamisasi istilah-istilah Hindu. para ulama penyebar Islam di wilayah ini juga melakukan proses yang kemudian dikatakan Prof. tanpa memperdulikan perbedaan budaya. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. 18). etnik. Dr. 65). sehingga harus diterima. Dalam . Di antara nilai-nilai multikultur yang harus diajarkan dalam PAI adalah nilai “keadilan”. sehingga harus diterima. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. Dengan menggunakan worldview of Islam. sorga. etnik. Multikuturalisme dalam PAI Dalam buku Panduan Integrasi ini. kita perlu memberikan catatan. warna kulit. kebudayaan. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan “cara pandang”. bahasa. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. haji.. Terhadap definisi semacam itu. al-Quran melakukan proses adopsi istilah-istilah yang ada di masa Jahiliyah tapi diberikan makna baru. kenapa baru sekarang dijadikan paradaigma bagi Pendidikan Agama Islam? Apakah Pendidikan Agama Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw tidak berbasis multikulturalisme? Selama ratusan tahun pesantren telah berdiri di Indonesia. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai proses Islamisasi. semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik.” (hal. ditolak. (hal. ekonomi. nikah. Di awal-awal perkembangan Islam. Terhadap definisi semacam itu. seperti Allah. Misalnya. Karena itu. atau lebih tepatnya“worldview”. ditulis: ”Sebagai risalah profetik.” (hal..sebenarnya sudah bermasalah.

tetapi juga di akhirat. kerja keras. malas dan tidak kreatif. karena melawan budaya homoseksual yang tertanam kuat pada kaumnya sendiri. Budaya dan agama seperti apa yang harus ditoleransi dan diberikan ruang yang sama di ruang publik? Apakah budaya syirik.com Red: Cholis Akbar Friday. maka Nabi Ibrahim bisa jadi akan dimasukkan kategori “tidak berwawasan multicultural”. Kelemahan mendasar dari definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi. bukan hanya di dunia. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. 13 July 2007 03:27 Ilmu-ilmu Keislaman Di Tengah Era Globalisasi Mimbar Jumat Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. 30 Maret 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). . seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan.*/Bogor. aliran-aliran penyembah setan atau agama yang mengajarkan free sex dan pornografi bisa diterima dan harus diperlakukan sama di ruang publik? Jika batasan agama dan budaya – dalam perspektif Islam -. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬pun pernah dicap sebagai pemecah belah kaumnya. Artinya. Oleh sebab itu bangsa yang dipengarruhi itu dituntut untuk melakukan filter terhadap pengaruh-pengaruh yan merupakan konsekuensi dari adanya kemudahan tekhnologis informasi dan komunikasi masa yang dampakny dan budaya. maka konsep semacam ini bisa diterima. Oleh karena itu kehadirannya tidak dapat dihindari dari dalam kehidupan ini. maka para penulis dan penerbit buku ini seyogyanya berfikir sejuta kali untuk menyebarkan buku ini. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. Dengan definisi yang kabur semacam itu. Nabi Luth juga bisa dicap tidak berwawasan multikultural. Bangsa yang tidak memiliki kesiapan dan keunggulan akan mengalami ketertinggalan.konsep multikulturalisme ini. Memasuki era globalisasi dengan segala imp keunggulan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Guru-guru agama yang melarang muridnya merayakan Natal bersama atau mengikuti tradisi Valentine juga bisa kena tudingan anti-multikulturalisme. dengan definisi yang sama.tidak diberikan. setiap Muslim harus membuang cara pandang “tauhid” dan “amar ma‟ruf nahi munkar” dari dirinya. bukan dengan sikap pasrah. apalagi mengajarkan kepada para murid di sekolah. WASPADA Online. Oleh Zulhamdi Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. maka definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi dapat menjadi “liar”. Untuk menerima konsep civic pluralism atau multikulturalisme semacam ini. Sebab. Jika menggunakan “secular worldview” atau cara pandang yang netral agama. semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. tanggung jawab dalam soal ini. setiap muslim diminta melepaskan konsep-konsep agamanya dalam menilai agama dan budaya lain. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. aliran-aliran sesat yang memiliki nabi baru. Karena definisi “multikulturalisme” yang diberikan dalam buku Panduan Integrasi ini masih perlu disempurnakan. seolah-olah tidak beragama. Dia harus bersikap netral. Namun sebaliknya. Bahkan. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. Ada yang menyebut konsep ini sebagai “civic pluralism”. adalah tidak memberikan batasan makna terhadap “budaya” dan “agama” itu sendiri. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. sebab beliau menolak budaya paganisme dari kaumnya sendiri.

Ibnu Rusyd. bahwa era globalisasi merupakan zaman yang menyeret man Islam. mengkaji dan memecahkan persoalan yang ada di sekelilingnya. dunia Barat dipandang sebagai kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo relevan dan pantas untuk diterapkan suatu bangsa. Kedua. Kehadirannya memperpendek jarak komunikasi dan memperluas pada mobilisasi o Di lain sisi tidak sedikit umat islam memandang. ya Pertama. Ketiga. Al Farabi. yang tumbuh pada manusia setelah akalnya yang pertama mulai berjalan. Karena tidak mungkin umat islam akan kembali k . Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukanlah peran dari ilmu-ilmu ke islaman yang bertu manfaatkan secara positip demi maksimalisasi keuntungan dan mengurangi eksis negativnya demi minimalisa Ilmu-ilmu ke islaman di perlukan dalam menjawab tantangan era globalisasi dikarenakan ilmu-ilmu tersebut Kedua sumber pokok dalam Islam tersebut mengatur tata hubungan antara manusia dengan Tuhan yang diseb hubungan antara manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya. ini dimiliki oleh setiap manusia yang membedakannya dari hewan dan mak orang. mengadakan penelitian terhadap segala ciptaan-N Islam Di Tengah Globalisasi Islam adalah tatanan yang melindugi aqidah dan menegakkan syari’at. akal berarti ma’rifat. Akal yang dijalin dengan nakal (Al-Quran dan As sunnah) akan melahirkan dimensi ilmu-il sumber pokok agama Islam tersebut akan melahirkan ilmu-ilmu sekuler. tetapi pelaksanaan nya selalu berubah. Ia menyuruh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk menggali ilm pengetahuan adalah kewajiban syari’ah dan kebutuhan umat. Kemajuan tersebut akan dimanfaatkan nya sedemikian rupa tanpa men untuk membangkitkan Islam itu kembali dengan gaya baru. Posisi Akal dan Nakal Dalam Melahirkan Ilmu-ilmu Ke Islaman Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang amat sempurna. dirasakan oleh sekelompok orang. Islam juga adalah agama rahmatan lil memeluknya. dan meningkat naik setelah berusia muda. yang merupakan puncak dari segala tingkatan akal yaitu keinsafan rohani ma dan yang membawanya kepada keluhuran budi dan akhlak seseorang serta memimpinnya kepada ketuhanan y Ghazali tersebut dapatlah dipahami bahwasanuya akal itu sudah tertanam pada diri manusia sejak ia lahir ked tuntut untuk mengembangkannya dengan cara memikirkan. akal berarti kecerdasan. Manusia telah dianugerahi-Nya akal. bahwa tingkatan-tingkatan aqal itu ada empat. menjadi dewasa. Ibn Sina. akal berarti pengertian. yang timbul karena pengajaran dan pengalaman setelah menyelidiki dan m Akal inilah yang telah melahirkan ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya. Keempat. dan banyak lagi yang lainnya. masyarakat. Di dalam islam akal dan nakal berjal dikarenakan manusia itu telah diberikan-Nya akal untuk memahaminya.Di era zaman serba modren ini. Tetapi dinikmati da masyarakat lintas negara. Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali mengemukakan. yakni oleh ilmuan-ilmuan Islam seperti. Pemikiran seperti ini adalah keliru. Sementara tata hubungan manusia d selalu mengalami perubahan. Tanpa adanya akal mustahil ilmu pengetahuan ada. Tata hubungan ini adalah jiwa kebudayaan. Kini islam dihadapkan dengan gelombang era g miliki. akal berarti pengetahuan. Dengan adanya akal tersebu melahirakan dan mengembangkan ilu pengetahuan. begitu luasnya dan begitu tinggi sekarang ini. musta serba modern ini. Akal inilah yang dibawa manusia sejak dari lahirnya sebagai modal pokok untuk hidup. Sementara ituIslam yang diturunkan dari belahan Timur di relevan lagi. Dan Islam juga telah memberikan kontribusi bagi kemajuan Barat. Kemudian banyak berkembang ideologi-ideologi sekuler yang bertentangan dengan konsep ajaran Isla ini hendaknya umat Islam terlebih dahulu memahami peta masalahnya. Hal ini dikarenakan globalisasi merup jawaban. Pada dasarnya Islam telah memberikan kontribusi yang amat besar bagi p yang sedang kita rasakan sekarang. suku bangsa atau negarab tertentu. Prinsip-prinsip kebudayaan itu bert sendiri. Dengan demikian umat Islam yang sedang mengarungi globalisasi tidak akan kaku dan tidak akan panik dalam dari segi keilmuan dan tekhnologinya. Akal inilah yang telah mengerti akan benar dan salah. dan denga dan yang buruk. Dan hikmah diturunkannya Al-Quran agar aqal yang ada pada manusia itu tidak tersesat dalam mengkaji sesuatu. Tata hu tidak akan berubah-ubah sebagaimana di teladankan oleh baginda Rasul.

.keilmuannya pada masa lampau. Wallahu A’lam. Tetapi yang mungkin adalah mengambil nilai-nilai kejayaan tersebut dalam ilmuan-ilmuan barat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful