VI.

IPTEKS DALAM ISLAM
A. Pengertian IPTEKS Dalam Islam dan Sumbernya 1. Pengertian IPTEKS Pengetahuan yang dimiliki manusia ada dua jenis, yaitu: 1. Dari luar manusia, ialah wahyu, yang hanya diyakini bagi mereka yang beriman kepada Allah swt. Ilmu dari wahyu diterima dengan yakin, sifatnya mutlak. 2. Dari dalam diri manusia, dibagi dalam tiga kategori: pengetahuan (knowledge/kenneis), ilmu pengetahuan (watenschap/science) dan filsafat. Ilmu dari manusia diterima dengan kritis, sifatnya nisbi. Al-Qur‟an dan As-Sunnah adalah sumber Islam yang isi keterangannya mutlak (absolut) dan wajib diyakini (QS. Al-Baqarah/2:1-5 dan QS. An-Najm/53:3-4). Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan oleh para filosuf, ilmuwan dan budayawan seolah-olah mereka mempunyai definisi masing-masing sesuai dengan apa yang mereka senangi. Sains diindonesiakan menjadi ilmu pengetahuan sedangkan dalam sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan firasat sedangkan, ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis kata ilmu berarti kejelasan, oleh karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur‟an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalam disebut generalis. Karena keterbatasan kemampuan manusia, maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam. Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Di sinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan teknologi. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian. Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah. Dalam pemikiran sekuler perennial knowledge yang bersumber dari wahyu Allah tidak diakui sebagai ilmu, bahkan mereka mempertentangkan antara wahyu dengan akal, agama dipertentangkan dengan ilmu. Sedangkan dalam ajaran Islam wahyu dan akal, agama dan ilmu harus sejalan tidak boleh dipertentangkan. Memang demikian adanya karena hakikat agama adalah membimbing dan mengarahkan akal. 2. Sumber IPTEKS Dalam pemikiran Islam, ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Al-Qur‟an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) tingkat kebenarannya bersifat mutlak, karena bersumber dari Allah. Ada pula ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya bersifat nisbi, karena bersumber dari akal pikiran manusia .

antara agama. akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan ummat manusia termasuk bagi lingkungannya (QS. Oleh karena itu. madrasah-sekolah.B. santri-pelajar dan sebagainya. ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah. Dalam pandangan Islam. Al-Mujadalah/58:11). Allah menciptakan alam. Tanpa menguasai IPTEKS. Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Seandainya Allah tidak menciptakan manusia. sosiologi. karena Allah menciptakan manusia. Integrasi Iman. C. fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang.Ibrahim/14:24-25 Ayat di atas menganalogikan bangunan Dienul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. ilmu dan amal shaleh/ikhsan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan sang pencipta berupa potensi yang sempurna yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu potensi akal. manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. Keikhlasan manusia menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah penghambaan manusia kepada sesama manusia termasuk pada dirinya. (QS. Fungsi yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Kalau terjadi kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri. Asy-Syams/91:8). sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya. Didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah. ilmu pengetahuan. Mereka tidak menjaga amanat Allah sebagai khalifah (QS. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. ilmu pada hakekatnya tidak bersifat dikotomik seperti : ilmu agama-ilmu umum. komunal dan temporalnya) Ayat al-qauliyah (Al-Qur‟an dan sunnah rasul) Interpretasi manusia terhadap fenomena kauniyah melahirkan ilmu pengetahuan: biologi. teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yang disebut Dienul Islam.w. Dengan hilangnya rasa syukur mengakibatkan ia menghambakan diri kepada hawa nafsunya. Ar-Rum/30:41). dua ayat Allah dihadapkan kepada manusia: Ayat al-kauniyah (alam semesta dan manusia: individu. Interpretasi manusia terhadap fenomena qauliyah melahirkan pemahaman agama (actual). Ali-Imran/3:164). manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam. fisika. Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya. Dengan kedua kecenderungan tersebut. iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya dengan sebesarbesar kemanfaatan untuk kehidupan ummat manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. ilmu politik. Kebenaran hakiki dan sumber ilmu ialah pada Allah swt.t. Ilmu diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan/cabang-cabang ilmu pengetahuan. Fushshilat/41:53 dan QS. Dalam konteks 'abdun. syari‟ah dan akhlak. baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Menurut Al-Qur‟an. dengan kata lain iman. Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik (QS. Ilmu dan Amal Menurut Islam. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah s. . maka Allah tidak perlu menciptakan alam. karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri. Esensi dari abdun adalah ketaatan. komunikasi. ulama-intelektual. Ilmu harus difungsikan sesuai dengan petunjuk Allah swt. Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. antropologi. kimia. agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan ummat manusia. Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi ummat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri. sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur‟an S. sejarah dan lain-lain.

Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi. masyarakat dan kemudian negara. Kesemuanya itu saling menjaga. Dengan demikian. umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah. taktik-strategi kejahatan. akan jadi penentu menguasai/mempengaruhi masyarakat dunia. sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q. apabila kita lengah. adalah terjadinya hubungan komunikasi umat manusia di seluruh dunia yang semakin efektif. Al Mujadilah 11 ). dan masyarakatnya. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar. maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. Al Qoshos: 77). Keempat. komsumerisme.S. informasi dari belahan dunia yang jauh dapat segera diletahui oleh manusia dibelahan dunia yang lain. dengan demikian yang mengusai media informasi. Dapak positifnya antara lain. Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi. agar jangan sampai dirinya. Hal itu didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasikomunikasi serta transportasi yang semakin melancarkan hubungan umat manusia. sangat menonjolkan hak individunya. Bagi Umat Islam. syiasyah. Pengaruh negative dari luar (seperti pornografipornoaksi. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja. adanya ledakan informasi yang menguasai kehidupan manusia. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman. sehingga terjadi iklim saling mempengaruhi semakin meluas. dan kurang siap menghadapinya. Dalam kitabullah Al Qur‟an sebagai pedoman hidup manusia ini. dengan leluasa masuk menusuk jantung rumah tangga kita.S. akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi. Adapun dampak negatifnya antara lain. At Tahrim: 6 ). tidak waspada. Ahmad Adaby Darban. Di samping dampak positif. Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q. sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh. Dengan demikian itu. Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis.S. keluarganya. Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga. dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. sehingga merata di seluruh dunia. dan menimbulkan dapak positif maupun negatif.Sejarah FIB UGM & Sekretaris FUI DIY .S. dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka. sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia. sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas. dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas. Drs. Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang. Ali Imron: 102 ). membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ).SU. Amaliah. Dosen Jur. Syari‟ah-Ibadah.. menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan. antara lain : Pertama. termasuk dapat dengan cepat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Akhlaqul Karimah. memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. Kedua. berlandaskan Ta‟awun atau gotong-royong. akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia. b). yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat. liberalisme.UMAT ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI Umat islam dalam era globalisasi Oleh: Ahmad Adaby Darban Globalisasi atau proses mendunia. dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar. Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam. Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q. hedonisme. sekulerisme dan sebagainya ). c) Tidak membuat kerusakan di bumi. dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguhsungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil‟alamien. Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi. arus Globalisasi juga menimbulkan dampak negative yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Arus Globalisasi itu kini semakin deras. dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga. terperosok dalam neraka (Q. H. sehingga dapat selamat. Ketiga. Manusia dengan mudah berkomunikasi.

apakah selama ini PAI di sekolah-sekolah kita tidak mengarahkan anak didik untuk memahami multikulturalisme. Tetapi istilah itu perlu diklarifikasi maknanya. ini pun disebutkan contoh tentang Piagam Madinah yang memberikan jaminan kehidupan kemasyarakatan bagi pemeluk agama-agama lain. Jika memang ada. agar jangan sampai muncul kesan bahwa “Pendidikan Multikultural” kita masukkan ke dalam kurikulum PAI karena desakan eksternal atau memanfaatkan peluang ketersediaan finansial yang menjanjikan. Adian Husaini PADA Hari Senin. Sesuai undangan. dan apakah sudah begitu mendesaknya. Pembelajaran PAI Berbasis Fitrah. Membaca tujuan itu. Dalam buku tersebut disebutkan. neraka. sehingga kurikulum PAI harus dibebani dengan muatan pendidikan multikulturalisme? Jika tujuannya adalah untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat-umat lain. pahala.xi). pertama di dunia. kita diajarkan untuk tidak menutup diri terhadap istilah atau konsep-konsep baru dari luar Islam – seperti multikulturalisme. sehingga dapat mengelola keberagaman menjadi kekuatan untuk mencapai kemajuan Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh“Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMK Provinsi DKI Jakarta”. jauh sebelum adanya istilah multikultural ini. Tema yang diminta ke saya adalah telaah terhadap buku yang berjudul “Panduan Integrasi Nilai Multikultur dalam Pendidikan Agama Islam pada SMA dan SMK” – selanjutnya disingkat Panduan Integrasi. sehingga kurikulum tersebut perlu diubah. Baghdad. 27 Februari 2012. Andalusia dan sebagainya. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬memelopori satu Negara dengan Konstitusi tertulis. TIFA Foundation dan Yayasan Rahima). kita tentu bertanya. Di Madinah. Palestina. (Diterbitkan oleh PT Kirana Cakra Buana. atau ditambah. Idealnya. Islam adalah agama yang terbukti berhasil mewujudkan masyarakat multikultur di Madinah. dosa. Di Palestina. dikurangi. Sudah sama-sama kita pahami. saya mendapat undangan untuk mengisi acara bernama “Kegiatan Multikultur. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII). seperti yang dilakukan para pendakwah Islam di Nusantara yang melakukan Islamisasi terhadap istilah “sorga. Jika tidak sesuai dengan pandangan alam Islam (the worldview of Islam). 04 April 2012 oleh: Dr. Itu perlu dilakukan. maka sejak awal mula Islam sudah mencontohkan hal itu.“Multikulturalisme dalam Pendidikan Agama Islam” Rabu. Di dalam buku Panduan Integrasi. secara konseptual maupun dalam realitas sejarah. tanpa mengaburkan dan menghapuskan nilai-nilai agama. maka perlu diberikan makna baru. pada bagian yang mana? Sebagai kaum Muslim. sebelum memasukkan suatu materi dalam kurikulum PAI. bahwa kurikulum PAI selama ini tidak atau kurang berwawasan multikultural. bahwa Latar belakang dan Tujuan diajarkannya pendidikan multikultur dalam PAI adalah: “Pendidikan multikultural adalah proses penanaman sejumlah nilai yang relevan agar peserta didik atau siswa dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam realitas keberagaman dan berperilaku positif.” dan sebagainya. dan Pemberdayaan Manajemen MGMP” di Jakarta.” (hal. bakti. bekerjasama dengan Kementerian Agama RI. diteliti dengan ilmiah. Khalifah Umar bin Khathab adalah pemimpin pertama di dunia yang memberikan . identitas diri dan budaya. Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan.

Sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP yang lalu. yaitu Tuhan. sebuah buku berjudul Pluralisme dan Multikulturalisme. Tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat adalah baik. Inggris. pemahaman tentang “multikulturalisme” begitu beragam. Wajah Peradaban Barat (Jakarta: Gema Insani Press. Tahun 2009. tempat ibadah. yang menggariskan.nakranebid ala‟ataW uhanahbuS hallA habmeynem arac aumes akiJ . sang profesor menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya dengan judul “Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial”. Disebabkan karena klaim kebenaran inilah. bahwa keberhasilan negara-negara Barat ini memakan waktu atau sejarah yang panjang serta menerapkan cara. Muhaimin. Perbedaan tidak identik dengan konflik. Kristen. kita bertanya. Dari sinilah muncul renaissance yang berujung kepada sekularisme-liberalisme dan penyingkiran nilai-nilai agama dalam kehidupan. ungkapan-ungkapan bahasa agama. Ia menulis: ”Semua agama. 46). Misalnya di Amerika Serikat sendiri. xiv). sudah berabad-abad menerapkan kebijakan ini. tentang sejarah sekalisasi di Barat. Begitu juga Inggris. manusia diperlakukan sangat diskriminatif. dan baru masa kini dinyatakan berhasil. Tinjauan Historis Konflik Yahudi. ada seorang guru besar sosiologi agama di sebuah Perguruan Tinggi Islam di Malang yang sangat gencar mempromosikan paham multikulturalisme. Jelas.” (hal. Sejarah sosial Islam sangat berbeda dengan sejarah kehidupan keagamaan di Barat yang beratus tahun menerapkan sistem Teokrasi (pemerintahan yang dilegalisasi Tuhan melalui wakil-Nya. Lihatlah nasib para imigran di berbagai negara! Bukankah mereka semua adalah manusia – yang katanya punya HAM dan tidak boleh diperlukan secara diskriminatif? Keberagaman makna Menyimak berbagai buku-buku tentang Pendidikan Multikulturalisme selama ini. dan Islam (Jakarta: Gema Insani Press. hanya karena tempat kelahiran dan kewarganegaraan yang berbeda. nilai-nilai multikultural sekarang ini banyak didesakkan ke seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Sang guru besar menulis. Dan Islam – sebagaimana diakui dalam buku ini – sudah berhasil mewujudkan kehidupan harmonis antar berbagai kelompok yang beragam. manusia tidak pernah memilih tempat kelahirannya. sekaligus jantung semua agama (the heart of religion). bahwa saat ini sudah “mendesak sekali “membumikan” pendidikan Islam berwawasan pluralisme dan multikulturalisme. lalu untuk apa dimasukkan “Pendidikan Multikulturalisme” dalam kurikulum PAI? Apa yang salah dengan kurikulum PAI selama ini? Buku Panduan Integrasi ini menjelaskan latar belakang diajarkannya Pendidikan multikulturalisme: “Harus kita sadari bersama. kita patut bertanya dan bersikap kritis: Benarkah Negara-negara Barat berhasil menerapkan multikulturalisme? Mengapa di AS tidak kita jumpai ada menteri Muslim? Mengapa umat Islam di AS. berjumpa pada ranah transendental.kebebasan beragama dalam perspektif Islam di Kota Jerusalem. Perancis. yaitu Paus) dan mengalami konflik keagamaan yang sangat parah. Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (2011).” (hal. tahun 636 M.A. khususnya umat Islam.(‫ س لم‬a Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus? Contoh ketiga. 2004). sebab makna suatu konsep tidak terlepas dari sejarah dan sistem (medan) makna yang ada dalam suatu peradaban. Australia tidak mendapatkan hak libur pada Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha? Mengapa umat Islam di Swiss dilarang membangun menara masjid? Apakah di Negara-negara Barat umat Islam diberi hak sama dengan kaum Kristen atau Yahudi? Jawabnya jelas: TIDAK! Perlu dicatat. guru besar UIN Malang. maka syariat yang berlaku bagi umat manusia adalah syariat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫و هيلع هللا ىلص‬ pa kutnu ulal . Buku ini diberi kata „Pengantar Ahli‟ oleh Prof. apapun bentuk eksoteriknya (tata cara beribadah. lihat Adian Husaini. Sang professor mengajukan gagasan perlunya pengembangan studi agama berbasis paham multikulturalisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama. lihat Adian Husaini.. Padahal. M. (Tentang sejarah toleransi Islam. Kesadaran akan pentingnya pluralisme dan multikulturalisme dipandang menjadi perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik-cabik. gagasan transendentalisme semacam itu tidak sesuai dengan Islam. dan perbedaan bersifat simbolik lainnya). 2005). Dr. sehingga menimbulkan trauma sejarah dan keagamaan yang mendalam. kata Frithjop Schuon. Menyimak pernyataan tersebut. dan Australia. nasib TKI-TKW kita di luar negeri. Jika kita renungkan. metode dan strategi yang berbeda-beda. penggunaan istilah “multikulturalisme sebagai paradigma baru Pendidikan Islam” itu pun . Yakni. Inilah dimensi esoterik agama.” (hal. Dengan logika ini. Memahami sejarah sosial suatu perdaban sangat penting. bahwa setelah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus. 34). Lihatlah. bahwa konsep Negara modern sekarang ini telah melakukan diskriminasi yang sangat kejam terhadap manusia.

etnik. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. Jika multikulturalisme adalah konsep yang baik sejak dulu. Apakah mereka tidak berwawasan multikultural? Mana yang tepat: pendidikan Islam berbasis multikulturalisme atau pendidikan Islam berbasis Tauhid? Dalam sebuah buku berjudul ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural karya Zakiuddin Baidhawi. Pesan kesatuan ini secara tegas disinyalir alQur‟an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa‟) antara kami dan kamu.. dan sebagainya. Seorang muslim seyogyanya menggunakan worldview of Islam (pandangan alam Islam) ketika menilai konsep atau istilah. sehingga harus diterima. agama. Dengan demikian. yang didefinisikan sebagai: “Kesadaran untuk memperlakukan orang lain tidak berat sebelah/tidak memihak dan tidak membedakan keberpihakan kepada sesama karena perbedaan warna kulit. Terhadap definisi semacam itu. ekonomi. seperti Allah. 65). multikultural memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. 65). termasuk mereka para pengikut agama-agama. Itulah yang dilakukan umat Islam sepanjang zaman. warna kulit. Di wilayah Nusantara. multikulturalisme didefinisikan sebagai berikut: “Inti dan substansi dari multikultural adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan. Terhadap definisi semacam itu. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity). bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. ditulis: ”Sebagai risalah profetik.” (hal. (hal. etnik. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. kebudayaan. seperti pahala. adopsi dan Islamisasi istilah-istilah Hindu. semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik. tanpa memperdulikan perbedaan budaya. Multikuturalisme dalam PAI Dalam buku Panduan Integrasi ini. menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras. haji. dsb. dan agama. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan Dengan menggunakan worldview of Islam. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. Inilah contoh-contoh pemaknaan multikulturalisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. dan sebagainya. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai proses Islamisasi. atau lebih tepatnya“worldview”. Dengan menggunakan worldview of Islam. Ada yang menyebut konsep in sebagai “civic pluralism”. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan. neraka.” (hal. dosa. karim. bhakti.. sorga. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan “cara pandang”. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak. kalimatun sawa‟ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan.. 45-46). yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. jenis kelamin. Dalam . golongan. atau pun agama. suku. sehingga harus diterima. ditolak. Di awal-awal perkembangan Islam. jender. nikah. kita perlu memberikan catatan. para ulama penyebar Islam di wilayah ini juga melakukan proses yang kemudian dikatakan Prof. Karena itu. al-Quran melakukan proses adopsi istilah-istilah yang ada di masa Jahiliyah tapi diberikan makna baru.sebenarnya sudah bermasalah. Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia. bahasa.. Dr. kenapa baru sekarang dijadikan paradaigma bagi Pendidikan Agama Islam? Apakah Pendidikan Agama Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw tidak berbasis multikulturalisme? Selama ratusan tahun pesantren telah berdiri di Indonesia. Misalnya. ditolak.” (hal. Di antara nilai-nilai multikultur yang harus diajarkan dalam PAI adalah nilai “keadilan”. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak. kita perlu memberikan catatan. “framework”. 18). Dalam konsep multikulturalisme ini. penggunaan istilah ini memang perlu berate-hati.

Kelemahan mendasar dari definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi. dengan definisi yang sama. Sebab.*/Bogor. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬pun pernah dicap sebagai pemecah belah kaumnya. Untuk menerima konsep civic pluralism atau multikulturalisme semacam ini. Jika menggunakan “secular worldview” atau cara pandang yang netral agama. bukan dengan sikap pasrah. apalagi mengajarkan kepada para murid di sekolah. seolah-olah tidak beragama. Oleh sebab itu bangsa yang dipengarruhi itu dituntut untuk melakukan filter terhadap pengaruh-pengaruh yan merupakan konsekuensi dari adanya kemudahan tekhnologis informasi dan komunikasi masa yang dampakny dan budaya. 13 July 2007 03:27 Ilmu-ilmu Keislaman Di Tengah Era Globalisasi Mimbar Jumat Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. Oleh karena itu kehadirannya tidak dapat dihindari dari dalam kehidupan ini. Nabi Luth juga bisa dicap tidak berwawasan multikultural. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. kerja keras. sebab beliau menolak budaya paganisme dari kaumnya sendiri. tetapi juga di akhirat. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa.konsep multikulturalisme ini. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. Dia harus bersikap netral. maka Nabi Ibrahim bisa jadi akan dimasukkan kategori “tidak berwawasan multicultural”. maka para penulis dan penerbit buku ini seyogyanya berfikir sejuta kali untuk menyebarkan buku ini. Bahkan. semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik. Bangsa yang tidak memiliki kesiapan dan keunggulan akan mengalami ketertinggalan. Oleh Zulhamdi Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya.com Red: Cholis Akbar Friday. maka konsep semacam ini bisa diterima. . maka definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi dapat menjadi “liar”. malas dan tidak kreatif. Artinya. Dengan definisi yang kabur semacam itu. adalah tidak memberikan batasan makna terhadap “budaya” dan “agama” itu sendiri. Budaya dan agama seperti apa yang harus ditoleransi dan diberikan ruang yang sama di ruang publik? Apakah budaya syirik. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. 30 Maret 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Guru-guru agama yang melarang muridnya merayakan Natal bersama atau mengikuti tradisi Valentine juga bisa kena tudingan anti-multikulturalisme. bukan hanya di dunia. Namun sebaliknya. aliran-aliran penyembah setan atau agama yang mengajarkan free sex dan pornografi bisa diterima dan harus diperlakukan sama di ruang publik? Jika batasan agama dan budaya – dalam perspektif Islam -. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. karena melawan budaya homoseksual yang tertanam kuat pada kaumnya sendiri. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. WASPADA Online. aliran-aliran sesat yang memiliki nabi baru. tanggung jawab dalam soal ini. Memasuki era globalisasi dengan segala imp keunggulan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Karena definisi “multikulturalisme” yang diberikan dalam buku Panduan Integrasi ini masih perlu disempurnakan.tidak diberikan. setiap muslim diminta melepaskan konsep-konsep agamanya dalam menilai agama dan budaya lain. Ada yang menyebut konsep ini sebagai “civic pluralism”. setiap Muslim harus membuang cara pandang “tauhid” dan “amar ma‟ruf nahi munkar” dari dirinya.

dunia Barat dipandang sebagai kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo relevan dan pantas untuk diterapkan suatu bangsa. Akal inilah yang dibawa manusia sejak dari lahirnya sebagai modal pokok untuk hidup. Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukanlah peran dari ilmu-ilmu ke islaman yang bertu manfaatkan secara positip demi maksimalisasi keuntungan dan mengurangi eksis negativnya demi minimalisa Ilmu-ilmu ke islaman di perlukan dalam menjawab tantangan era globalisasi dikarenakan ilmu-ilmu tersebut Kedua sumber pokok dalam Islam tersebut mengatur tata hubungan antara manusia dengan Tuhan yang diseb hubungan antara manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya.Di era zaman serba modren ini. yang tumbuh pada manusia setelah akalnya yang pertama mulai berjalan. dan meningkat naik setelah berusia muda. Tata hu tidak akan berubah-ubah sebagaimana di teladankan oleh baginda Rasul. Hal ini dikarenakan globalisasi merup jawaban. Dan Islam juga telah memberikan kontribusi bagi kemajuan Barat. mengkaji dan memecahkan persoalan yang ada di sekelilingnya. masyarakat. Keempat. mengadakan penelitian terhadap segala ciptaan-N Islam Di Tengah Globalisasi Islam adalah tatanan yang melindugi aqidah dan menegakkan syari’at. Kini islam dihadapkan dengan gelombang era g miliki. Ibnu Rusyd. Pada dasarnya Islam telah memberikan kontribusi yang amat besar bagi p yang sedang kita rasakan sekarang. Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali mengemukakan. bahwa era globalisasi merupakan zaman yang menyeret man Islam. Manusia telah dianugerahi-Nya akal. dirasakan oleh sekelompok orang. Al Farabi. Akal yang dijalin dengan nakal (Al-Quran dan As sunnah) akan melahirkan dimensi ilmu-il sumber pokok agama Islam tersebut akan melahirkan ilmu-ilmu sekuler. Karena tidak mungkin umat islam akan kembali k . Kemajuan tersebut akan dimanfaatkan nya sedemikian rupa tanpa men untuk membangkitkan Islam itu kembali dengan gaya baru. Di dalam islam akal dan nakal berjal dikarenakan manusia itu telah diberikan-Nya akal untuk memahaminya. Pemikiran seperti ini adalah keliru. Sementara tata hubungan manusia d selalu mengalami perubahan. Posisi Akal dan Nakal Dalam Melahirkan Ilmu-ilmu Ke Islaman Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang amat sempurna. Dan hikmah diturunkannya Al-Quran agar aqal yang ada pada manusia itu tidak tersesat dalam mengkaji sesuatu. Ia menyuruh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk menggali ilm pengetahuan adalah kewajiban syari’ah dan kebutuhan umat. Kehadirannya memperpendek jarak komunikasi dan memperluas pada mobilisasi o Di lain sisi tidak sedikit umat islam memandang. bahwa tingkatan-tingkatan aqal itu ada empat. tetapi pelaksanaan nya selalu berubah. Akal inilah yang telah mengerti akan benar dan salah. Dengan demikian umat Islam yang sedang mengarungi globalisasi tidak akan kaku dan tidak akan panik dalam dari segi keilmuan dan tekhnologinya. suku bangsa atau negarab tertentu. begitu luasnya dan begitu tinggi sekarang ini. Kemudian banyak berkembang ideologi-ideologi sekuler yang bertentangan dengan konsep ajaran Isla ini hendaknya umat Islam terlebih dahulu memahami peta masalahnya. ya Pertama. akal berarti pengertian. menjadi dewasa. akal berarti pengetahuan. Tetapi dinikmati da masyarakat lintas negara. Prinsip-prinsip kebudayaan itu bert sendiri. yakni oleh ilmuan-ilmuan Islam seperti. yang timbul karena pengajaran dan pengalaman setelah menyelidiki dan m Akal inilah yang telah melahirkan ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya. dan banyak lagi yang lainnya. akal berarti ma’rifat. Islam juga adalah agama rahmatan lil memeluknya. Kedua. yang merupakan puncak dari segala tingkatan akal yaitu keinsafan rohani ma dan yang membawanya kepada keluhuran budi dan akhlak seseorang serta memimpinnya kepada ketuhanan y Ghazali tersebut dapatlah dipahami bahwasanuya akal itu sudah tertanam pada diri manusia sejak ia lahir ked tuntut untuk mengembangkannya dengan cara memikirkan. akal berarti kecerdasan. dan denga dan yang buruk. Dengan adanya akal tersebu melahirakan dan mengembangkan ilu pengetahuan. ini dimiliki oleh setiap manusia yang membedakannya dari hewan dan mak orang. Ketiga. Sementara ituIslam yang diturunkan dari belahan Timur di relevan lagi. musta serba modern ini. Tata hubungan ini adalah jiwa kebudayaan. Tanpa adanya akal mustahil ilmu pengetahuan ada. Ibn Sina.

. Tetapi yang mungkin adalah mengambil nilai-nilai kejayaan tersebut dalam ilmuan-ilmuan barat.keilmuannya pada masa lampau. Wallahu A’lam.