VI.

IPTEKS DALAM ISLAM
A. Pengertian IPTEKS Dalam Islam dan Sumbernya 1. Pengertian IPTEKS Pengetahuan yang dimiliki manusia ada dua jenis, yaitu: 1. Dari luar manusia, ialah wahyu, yang hanya diyakini bagi mereka yang beriman kepada Allah swt. Ilmu dari wahyu diterima dengan yakin, sifatnya mutlak. 2. Dari dalam diri manusia, dibagi dalam tiga kategori: pengetahuan (knowledge/kenneis), ilmu pengetahuan (watenschap/science) dan filsafat. Ilmu dari manusia diterima dengan kritis, sifatnya nisbi. Al-Qur‟an dan As-Sunnah adalah sumber Islam yang isi keterangannya mutlak (absolut) dan wajib diyakini (QS. Al-Baqarah/2:1-5 dan QS. An-Najm/53:3-4). Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan oleh para filosuf, ilmuwan dan budayawan seolah-olah mereka mempunyai definisi masing-masing sesuai dengan apa yang mereka senangi. Sains diindonesiakan menjadi ilmu pengetahuan sedangkan dalam sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan firasat sedangkan, ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis kata ilmu berarti kejelasan, oleh karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur‟an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan. Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalam disebut generalis. Karena keterbatasan kemampuan manusia, maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam. Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Di sinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan teknologi. Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian. Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah. Dalam pemikiran sekuler perennial knowledge yang bersumber dari wahyu Allah tidak diakui sebagai ilmu, bahkan mereka mempertentangkan antara wahyu dengan akal, agama dipertentangkan dengan ilmu. Sedangkan dalam ajaran Islam wahyu dan akal, agama dan ilmu harus sejalan tidak boleh dipertentangkan. Memang demikian adanya karena hakikat agama adalah membimbing dan mengarahkan akal. 2. Sumber IPTEKS Dalam pemikiran Islam, ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Al-Qur‟an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) tingkat kebenarannya bersifat mutlak, karena bersumber dari Allah. Ada pula ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya bersifat nisbi, karena bersumber dari akal pikiran manusia .

Dengan kedua kecenderungan tersebut. kimia. Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi ummat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri.B. Keikhlasan manusia menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah penghambaan manusia kepada sesama manusia termasuk pada dirinya. dengan kata lain iman. iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. komunal dan temporalnya) Ayat al-qauliyah (Al-Qur‟an dan sunnah rasul) Interpretasi manusia terhadap fenomena kauniyah melahirkan ilmu pengetahuan: biologi. Integrasi Iman. Dalam konteks 'abdun. antara agama.t. ilmu politik. Ilmu dan Amal Menurut Islam.w. Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya. Ali-Imran/3:164). Ar-Rum/30:41). antropologi. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. Menurut Al-Qur‟an. dua ayat Allah dihadapkan kepada manusia: Ayat al-kauniyah (alam semesta dan manusia: individu. Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik (QS. manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. madrasah-sekolah. maka Allah tidak perlu menciptakan alam. sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya. agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan ummat manusia. Tanpa menguasai IPTEKS. Dalam pandangan Islam. Kalau terjadi kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah s. ilmu dan amal shaleh/ikhsan. ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah. Ilmu diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan/cabang-cabang ilmu pengetahuan. Asy-Syams/91:8). fisika. fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. ilmu pengetahuan. akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan ummat manusia termasuk bagi lingkungannya (QS. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi. komunikasi. Interpretasi manusia terhadap fenomena qauliyah melahirkan pemahaman agama (actual).Ibrahim/14:24-25 Ayat di atas menganalogikan bangunan Dienul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. (QS. Oleh karena itu. Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. syari‟ah dan akhlak. . Ilmu harus difungsikan sesuai dengan petunjuk Allah swt. Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya dengan sebesarbesar kemanfaatan untuk kehidupan ummat manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. ilmu pada hakekatnya tidak bersifat dikotomik seperti : ilmu agama-ilmu umum. Fungsi yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur‟an S. Seandainya Allah tidak menciptakan manusia. Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan sang pencipta berupa potensi yang sempurna yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu potensi akal. sosiologi. karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri. Esensi dari abdun adalah ketaatan. Mereka tidak menjaga amanat Allah sebagai khalifah (QS. ulama-intelektual. Al-Mujadalah/58:11). Allah menciptakan alam. santri-pelajar dan sebagainya. Fushshilat/41:53 dan QS. manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. Dengan hilangnya rasa syukur mengakibatkan ia menghambakan diri kepada hawa nafsunya. teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yang disebut Dienul Islam. sejarah dan lain-lain. Kebenaran hakiki dan sumber ilmu ialah pada Allah swt. C. karena Allah menciptakan manusia. Didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah.

dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. Dengan demikian itu. Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi. termasuk dapat dengan cepat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q.S.UMAT ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI Umat islam dalam era globalisasi Oleh: Ahmad Adaby Darban Globalisasi atau proses mendunia. informasi dari belahan dunia yang jauh dapat segera diletahui oleh manusia dibelahan dunia yang lain. keluarganya. taktik-strategi kejahatan. Amaliah. Ahmad Adaby Darban. Drs. arus Globalisasi juga menimbulkan dampak negative yang sangat perlu mendapatkan perhatian. akan jadi penentu menguasai/mempengaruhi masyarakat dunia. Dosen Jur. Ketiga. Hal itu didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasikomunikasi serta transportasi yang semakin melancarkan hubungan umat manusia. sehingga merata di seluruh dunia. hedonisme. Keempat. Dalam kitabullah Al Qur‟an sebagai pedoman hidup manusia ini. arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga.SU. dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka.. dan menimbulkan dapak positif maupun negatif. dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar. dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguhsungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil‟alamien. sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh. dan Akhlaqul Karimah. Al Mujadilah 11 ). adalah terjadinya hubungan komunikasi umat manusia di seluruh dunia yang semakin efektif. tidak waspada. sekulerisme dan sebagainya ). Adapun dampak negatifnya antara lain. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja.S. Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi. akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia. yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat. sehingga dapat selamat. sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia. umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah. Al Qoshos: 77). Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. At Tahrim: 6 ). terperosok dalam neraka (Q. adanya ledakan informasi yang menguasai kehidupan manusia. dengan demikian yang mengusai media informasi. sangat menonjolkan hak individunya. Kedua. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar. berlandaskan Ta‟awun atau gotong-royong. sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q. dengan leluasa masuk menusuk jantung rumah tangga kita. Syari‟ah-Ibadah.Sejarah FIB UGM & Sekretaris FUI DIY . Dapak positifnya antara lain. Bagi Umat Islam. Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis. masyarakat dan kemudian negara. H. syiasyah. dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga. Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang. liberalisme. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman. akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi.S. sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas. dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas. Pengaruh negative dari luar (seperti pornografipornoaksi. komsumerisme. Arus Globalisasi itu kini semakin deras. b). maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. Ali Imron: 102 ). Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q. sehingga terjadi iklim saling mempengaruhi semakin meluas. Manusia dengan mudah berkomunikasi. Dengan demikian. apabila kita lengah. Kesemuanya itu saling menjaga. agar jangan sampai dirinya. Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam. membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ).S. antara lain : Pertama. c) Tidak membuat kerusakan di bumi. dan masyarakatnya. memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan. dan kurang siap menghadapinya. Di samping dampak positif. Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi.

Pembelajaran PAI Berbasis Fitrah. pada bagian yang mana? Sebagai kaum Muslim. pertama di dunia. Jika tidak sesuai dengan pandangan alam Islam (the worldview of Islam). Idealnya. kita diajarkan untuk tidak menutup diri terhadap istilah atau konsep-konsep baru dari luar Islam – seperti multikulturalisme. sebelum memasukkan suatu materi dalam kurikulum PAI. 04 April 2012 oleh: Dr. saya mendapat undangan untuk mengisi acara bernama “Kegiatan Multikultur. agar jangan sampai muncul kesan bahwa “Pendidikan Multikultural” kita masukkan ke dalam kurikulum PAI karena desakan eksternal atau memanfaatkan peluang ketersediaan finansial yang menjanjikan. ini pun disebutkan contoh tentang Piagam Madinah yang memberikan jaminan kehidupan kemasyarakatan bagi pemeluk agama-agama lain. Itu perlu dilakukan. Sudah sama-sama kita pahami. sehingga kurikulum PAI harus dibebani dengan muatan pendidikan multikulturalisme? Jika tujuannya adalah untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat-umat lain. Tetapi istilah itu perlu diklarifikasi maknanya. Di Palestina. apakah selama ini PAI di sekolah-sekolah kita tidak mengarahkan anak didik untuk memahami multikulturalisme. jauh sebelum adanya istilah multikultural ini. tanpa mengaburkan dan menghapuskan nilai-nilai agama. Tema yang diminta ke saya adalah telaah terhadap buku yang berjudul “Panduan Integrasi Nilai Multikultur dalam Pendidikan Agama Islam pada SMA dan SMK” – selanjutnya disingkat Panduan Integrasi. maka sejak awal mula Islam sudah mencontohkan hal itu.“Multikulturalisme dalam Pendidikan Agama Islam” Rabu.” (hal. dan apakah sudah begitu mendesaknya. bekerjasama dengan Kementerian Agama RI. sehingga dapat mengelola keberagaman menjadi kekuatan untuk mencapai kemajuan Indonesia. identitas diri dan budaya. kita tentu bertanya. dikurangi. Adian Husaini PADA Hari Senin. Palestina.” dan sebagainya. maka perlu diberikan makna baru. atau ditambah. Di Madinah. bahwa Latar belakang dan Tujuan diajarkannya pendidikan multikultur dalam PAI adalah: “Pendidikan multikultural adalah proses penanaman sejumlah nilai yang relevan agar peserta didik atau siswa dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam realitas keberagaman dan berperilaku positif. secara konseptual maupun dalam realitas sejarah. bahwa kurikulum PAI selama ini tidak atau kurang berwawasan multikultural. dosa. neraka. dan Pemberdayaan Manajemen MGMP” di Jakarta. Islam adalah agama yang terbukti berhasil mewujudkan masyarakat multikultur di Madinah. Sesuai undangan. Dalam buku tersebut disebutkan. Jika memang ada. Baghdad. pahala. Acara ini diselenggarakan oleh“Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMK Provinsi DKI Jakarta”. seperti yang dilakukan para pendakwah Islam di Nusantara yang melakukan Islamisasi terhadap istilah “sorga. Khalifah Umar bin Khathab adalah pemimpin pertama di dunia yang memberikan . (Diterbitkan oleh PT Kirana Cakra Buana. diteliti dengan ilmiah. 27 Februari 2012. Di dalam buku Panduan Integrasi. Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬memelopori satu Negara dengan Konstitusi tertulis. bakti. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII). TIFA Foundation dan Yayasan Rahima).xi). sehingga kurikulum tersebut perlu diubah. Andalusia dan sebagainya. Membaca tujuan itu.

Sejarah sosial Islam sangat berbeda dengan sejarah kehidupan keagamaan di Barat yang beratus tahun menerapkan sistem Teokrasi (pemerintahan yang dilegalisasi Tuhan melalui wakil-Nya. lalu untuk apa dimasukkan “Pendidikan Multikulturalisme” dalam kurikulum PAI? Apa yang salah dengan kurikulum PAI selama ini? Buku Panduan Integrasi ini menjelaskan latar belakang diajarkannya Pendidikan multikulturalisme: “Harus kita sadari bersama. yaitu Paus) dan mengalami konflik keagamaan yang sangat parah. kata Frithjop Schuon. Tahun 2009.” (hal. tempat ibadah. dan Islam (Jakarta: Gema Insani Press.. sebab makna suatu konsep tidak terlepas dari sejarah dan sistem (medan) makna yang ada dalam suatu peradaban. Begitu juga Inggris. maka syariat yang berlaku bagi umat manusia adalah syariat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫و هيلع هللا ىلص‬ pa kutnu ulal . Sang guru besar menulis. Kesadaran akan pentingnya pluralisme dan multikulturalisme dipandang menjadi perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik-cabik. sudah berabad-abad menerapkan kebijakan ini. Dr. Yakni. Wajah Peradaban Barat (Jakarta: Gema Insani Press. bahwa saat ini sudah “mendesak sekali “membumikan” pendidikan Islam berwawasan pluralisme dan multikulturalisme. dan perbedaan bersifat simbolik lainnya). sebuah buku berjudul Pluralisme dan Multikulturalisme. lihat Adian Husaini. 34). pemahaman tentang “multikulturalisme” begitu beragam. Kristen. berjumpa pada ranah transendental. Dan Islam – sebagaimana diakui dalam buku ini – sudah berhasil mewujudkan kehidupan harmonis antar berbagai kelompok yang beragam. Sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP yang lalu. Menyimak pernyataan tersebut. tentang sejarah sekalisasi di Barat. Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (2011). 2005). Memahami sejarah sosial suatu perdaban sangat penting. hanya karena tempat kelahiran dan kewarganegaraan yang berbeda. Inilah dimensi esoterik agama. 46). nasib TKI-TKW kita di luar negeri. sehingga menimbulkan trauma sejarah dan keagamaan yang mendalam. Padahal. Lihatlah. dan Australia. Jika kita renungkan.nakranebid ala‟ataW uhanahbuS hallA habmeynem arac aumes akiJ . Tinjauan Historis Konflik Yahudi. Muhaimin. sekaligus jantung semua agama (the heart of religion). bahwa konsep Negara modern sekarang ini telah melakukan diskriminasi yang sangat kejam terhadap manusia. gagasan transendentalisme semacam itu tidak sesuai dengan Islam. penggunaan istilah “multikulturalisme sebagai paradigma baru Pendidikan Islam” itu pun . Buku ini diberi kata „Pengantar Ahli‟ oleh Prof. tahun 636 M. Misalnya di Amerika Serikat sendiri. dan baru masa kini dinyatakan berhasil.kebebasan beragama dalam perspektif Islam di Kota Jerusalem. kita patut bertanya dan bersikap kritis: Benarkah Negara-negara Barat berhasil menerapkan multikulturalisme? Mengapa di AS tidak kita jumpai ada menteri Muslim? Mengapa umat Islam di AS. khususnya umat Islam. manusia diperlakukan sangat diskriminatif. Australia tidak mendapatkan hak libur pada Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha? Mengapa umat Islam di Swiss dilarang membangun menara masjid? Apakah di Negara-negara Barat umat Islam diberi hak sama dengan kaum Kristen atau Yahudi? Jawabnya jelas: TIDAK! Perlu dicatat. metode dan strategi yang berbeda-beda. Inggris. apapun bentuk eksoteriknya (tata cara beribadah. ada seorang guru besar sosiologi agama di sebuah Perguruan Tinggi Islam di Malang yang sangat gencar mempromosikan paham multikulturalisme. kita bertanya. xiv). yang menggariskan. Lihatlah nasib para imigran di berbagai negara! Bukankah mereka semua adalah manusia – yang katanya punya HAM dan tidak boleh diperlukan secara diskriminatif? Keberagaman makna Menyimak berbagai buku-buku tentang Pendidikan Multikulturalisme selama ini.” (hal. Dengan logika ini. nilai-nilai multikultural sekarang ini banyak didesakkan ke seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. lihat Adian Husaini. Disebabkan karena klaim kebenaran inilah.” (hal. Sang professor mengajukan gagasan perlunya pengembangan studi agama berbasis paham multikulturalisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama. (Tentang sejarah toleransi Islam. Perancis. ungkapan-ungkapan bahasa agama. M. sang profesor menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya dengan judul “Silang Sengkarut Agama di Ranah Sosial”. bahwa setelah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus. Perbedaan tidak identik dengan konflik. Ia menulis: ”Semua agama. Tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat adalah baik.(‫ س لم‬a Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬diutus? Contoh ketiga. Dari sinilah muncul renaissance yang berujung kepada sekularisme-liberalisme dan penyingkiran nilai-nilai agama dalam kehidupan. yaitu Tuhan. guru besar UIN Malang. manusia tidak pernah memilih tempat kelahirannya. 2004). Jelas.A. bahwa keberhasilan negara-negara Barat ini memakan waktu atau sejarah yang panjang serta menerapkan cara.

Seorang muslim seyogyanya menggunakan worldview of Islam (pandangan alam Islam) ketika menilai konsep atau istilah. jenis kelamin. seperti pahala. yang didefinisikan sebagai: “Kesadaran untuk memperlakukan orang lain tidak berat sebelah/tidak memihak dan tidak membedakan keberpihakan kepada sesama karena perbedaan warna kulit.” (hal. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan. maka yang penting dilakukan adalah penggunaan Dengan menggunakan worldview of Islam. atau pun agama. ditulis: ”Sebagai risalah profetik. “framework”.” (hal. haji. dan sebagainya. neraka. Pesan kesatuan ini secara tegas disinyalir alQur‟an: ”Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan)! Bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa‟) antara kami dan kamu.. Inilah contoh-contoh pemaknaan multikulturalisme yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam konsep multikulturalisme ini. bahasa. etnik. Jika multikulturalisme adalah konsep yang baik sejak dulu. atau lebih tepatnya“worldview”. Karena itu. karim. Terhadap definisi semacam itu.” (hal. ditolak. Terhadap definisi semacam itu. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai proses Islamisasi. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity).. Dalam .. dan agama. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. Di wilayah Nusantara. Misalnya. Multikuturalisme dalam PAI Dalam buku Panduan Integrasi ini. sorga. Apakah mereka tidak berwawasan multikultural? Mana yang tepat: pendidikan Islam berbasis multikulturalisme atau pendidikan Islam berbasis Tauhid? Dalam sebuah buku berjudul ”Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural karya Zakiuddin Baidhawi. agama. al-Quran melakukan proses adopsi istilah-istilah yang ada di masa Jahiliyah tapi diberikan makna baru. warna kulit. 65). maka yang penting dilakukan adalah penggunaan “cara pandang”. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. dosa. Dengan menggunakan worldview of Islam. 65). kenapa baru sekarang dijadikan paradaigma bagi Pendidikan Agama Islam? Apakah Pendidikan Agama Islam sejak zaman Nabi Muhammad saw tidak berbasis multikulturalisme? Selama ratusan tahun pesantren telah berdiri di Indonesia. ditolak. kita perlu memberikan catatan. dan sebagainya. jender. (hal. termasuk mereka para pengikut agama-agama. sehingga harus diterima.. 45-46). semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik. Di awal-awal perkembangan Islam. golongan. multikulturalisme didefinisikan sebagai berikut: “Inti dan substansi dari multikultural adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan. adopsi dan Islamisasi istilah-istilah Hindu. seperti Allah. kebudayaan. suku. kalimatun sawa‟ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. kita perlu memberikan catatan. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak. multikultural memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Dr. Dengan demikian. ekonomi. dengan mudah kita bisa menilai apakah konsep multikulturalisme yang digunakan dalam buku ini sudah sesuai dengan Islam atau tidak. Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia. etnik.sebenarnya sudah bermasalah. 18). nikah. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. bahwa dalam memahami suatu istilah atau konsep. atau dilakukan proses Islamisasi dengan melakukan perubahan makna agar sesuai dengan konsep Islam? Ada satu “kemajuan” dalam pendefinisian makna multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi ini. tanpa memperdulikan perbedaan budaya. Ada yang menyebut konsep in sebagai “civic pluralism”. penggunaan istilah ini memang perlu berate-hati. sehingga harus diterima. dsb. Di antara nilai-nilai multikultur yang harus diajarkan dalam PAI adalah nilai “keadilan”. yakni menolak definisi Pluralisme Agama – yang bermakna kebenaran dan keabsahan semua agama. para ulama penyebar Islam di wilayah ini juga melakukan proses yang kemudian dikatakan Prof. Itulah yang dilakukan umat Islam sepanjang zaman. bhakti. menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras.

setiap muslim diminta melepaskan konsep-konsep agamanya dalam menilai agama dan budaya lain. Dengan definisi yang kabur semacam itu. sebab beliau menolak budaya paganisme dari kaumnya sendiri. 13 July 2007 03:27 Ilmu-ilmu Keislaman Di Tengah Era Globalisasi Mimbar Jumat Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. dengan definisi yang sama.com Red: Cholis Akbar Friday. bukan dengan sikap pasrah. maka para penulis dan penerbit buku ini seyogyanya berfikir sejuta kali untuk menyebarkan buku ini. aliran-aliran sesat yang memiliki nabi baru. Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah. Sebab.konsep multikulturalisme ini. Memasuki era globalisasi dengan segala imp keunggulan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Guru-guru agama yang melarang muridnya merayakan Natal bersama atau mengikuti tradisi Valentine juga bisa kena tudingan anti-multikulturalisme. maka definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi dapat menjadi “liar”. setiap Muslim harus membuang cara pandang “tauhid” dan “amar ma‟ruf nahi munkar” dari dirinya. . 30 Maret 2012 Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Oleh Zulhamdi Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya. Karena definisi “multikulturalisme” yang diberikan dalam buku Panduan Integrasi ini masih perlu disempurnakan. Budaya dan agama seperti apa yang harus ditoleransi dan diberikan ruang yang sama di ruang publik? Apakah budaya syirik. tetapi juga di akhirat. Oleh sebab itu bangsa yang dipengarruhi itu dituntut untuk melakukan filter terhadap pengaruh-pengaruh yan merupakan konsekuensi dari adanya kemudahan tekhnologis informasi dan komunikasi masa yang dampakny dan budaya. seolah-olah tidak beragama. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. maka Nabi Ibrahim bisa jadi akan dimasukkan kategori “tidak berwawasan multicultural”. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. semua bentuk budaya dan agama harus diperlukan sama dan adil di ruang publik. Namun sebaliknya. bukan hanya di dunia.*/Bogor. tanggung jawab dalam soal ini. Untuk menerima konsep civic pluralism atau multikulturalisme semacam ini. WASPADA Online. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. Jika menggunakan “secular worldview” atau cara pandang yang netral agama. kerja keras. Kelemahan mendasar dari definisi multikulturalisme dalam buku Panduan Integrasi. Nabi Luth juga bisa dicap tidak berwawasan multikultural. seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. maka konsep semacam ini bisa diterima. M suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain. Dia harus bersikap netral. karena melawan budaya homoseksual yang tertanam kuat pada kaumnya sendiri. aliran-aliran penyembah setan atau agama yang mengajarkan free sex dan pornografi bisa diterima dan harus diperlakukan sama di ruang publik? Jika batasan agama dan budaya – dalam perspektif Islam -. S membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. Artinya. adalah tidak memberikan batasan makna terhadap “budaya” dan “agama” itu sendiri. Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (‫ )ملس و هيلع هللا ىلص‬pun pernah dicap sebagai pemecah belah kaumnya. Bahkan.tidak diberikan. Oleh karena itu kehadirannya tidak dapat dihindari dari dalam kehidupan ini. Ada yang menyebut konsep ini sebagai “civic pluralism”. apalagi mengajarkan kepada para murid di sekolah. malas dan tidak kreatif. Bangsa yang tidak memiliki kesiapan dan keunggulan akan mengalami ketertinggalan.

Tata hubungan ini adalah jiwa kebudayaan. Ibn Sina. suku bangsa atau negarab tertentu. Ketiga. Kini islam dihadapkan dengan gelombang era g miliki. Kedua. bahwa era globalisasi merupakan zaman yang menyeret man Islam. Hal ini dikarenakan globalisasi merup jawaban. Posisi Akal dan Nakal Dalam Melahirkan Ilmu-ilmu Ke Islaman Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang amat sempurna. Akal inilah yang telah mengerti akan benar dan salah. akal berarti pengetahuan. akal berarti ma’rifat. menjadi dewasa. Kemajuan tersebut akan dimanfaatkan nya sedemikian rupa tanpa men untuk membangkitkan Islam itu kembali dengan gaya baru. Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukanlah peran dari ilmu-ilmu ke islaman yang bertu manfaatkan secara positip demi maksimalisasi keuntungan dan mengurangi eksis negativnya demi minimalisa Ilmu-ilmu ke islaman di perlukan dalam menjawab tantangan era globalisasi dikarenakan ilmu-ilmu tersebut Kedua sumber pokok dalam Islam tersebut mengatur tata hubungan antara manusia dengan Tuhan yang diseb hubungan antara manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Akal yang dijalin dengan nakal (Al-Quran dan As sunnah) akan melahirkan dimensi ilmu-il sumber pokok agama Islam tersebut akan melahirkan ilmu-ilmu sekuler. Manusia telah dianugerahi-Nya akal. yang tumbuh pada manusia setelah akalnya yang pertama mulai berjalan. dunia Barat dipandang sebagai kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo relevan dan pantas untuk diterapkan suatu bangsa.Di era zaman serba modren ini. dan banyak lagi yang lainnya. Ia menyuruh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk menggali ilm pengetahuan adalah kewajiban syari’ah dan kebutuhan umat. tetapi pelaksanaan nya selalu berubah. akal berarti kecerdasan. Di dalam islam akal dan nakal berjal dikarenakan manusia itu telah diberikan-Nya akal untuk memahaminya. bahwa tingkatan-tingkatan aqal itu ada empat. Pemikiran seperti ini adalah keliru. Sementara tata hubungan manusia d selalu mengalami perubahan. Al Farabi. Sementara ituIslam yang diturunkan dari belahan Timur di relevan lagi. Pada dasarnya Islam telah memberikan kontribusi yang amat besar bagi p yang sedang kita rasakan sekarang. Ibnu Rusyd. ini dimiliki oleh setiap manusia yang membedakannya dari hewan dan mak orang. Kemudian banyak berkembang ideologi-ideologi sekuler yang bertentangan dengan konsep ajaran Isla ini hendaknya umat Islam terlebih dahulu memahami peta masalahnya. Tata hu tidak akan berubah-ubah sebagaimana di teladankan oleh baginda Rasul. Tanpa adanya akal mustahil ilmu pengetahuan ada. Keempat. masyarakat. dan denga dan yang buruk. Islam juga adalah agama rahmatan lil memeluknya. Dengan adanya akal tersebu melahirakan dan mengembangkan ilu pengetahuan. mengadakan penelitian terhadap segala ciptaan-N Islam Di Tengah Globalisasi Islam adalah tatanan yang melindugi aqidah dan menegakkan syari’at. akal berarti pengertian. mengkaji dan memecahkan persoalan yang ada di sekelilingnya. Prinsip-prinsip kebudayaan itu bert sendiri. Dan Islam juga telah memberikan kontribusi bagi kemajuan Barat. begitu luasnya dan begitu tinggi sekarang ini. yakni oleh ilmuan-ilmuan Islam seperti. Karena tidak mungkin umat islam akan kembali k . yang merupakan puncak dari segala tingkatan akal yaitu keinsafan rohani ma dan yang membawanya kepada keluhuran budi dan akhlak seseorang serta memimpinnya kepada ketuhanan y Ghazali tersebut dapatlah dipahami bahwasanuya akal itu sudah tertanam pada diri manusia sejak ia lahir ked tuntut untuk mengembangkannya dengan cara memikirkan. Tetapi dinikmati da masyarakat lintas negara. Akal inilah yang dibawa manusia sejak dari lahirnya sebagai modal pokok untuk hidup. ya Pertama. dan meningkat naik setelah berusia muda. Kehadirannya memperpendek jarak komunikasi dan memperluas pada mobilisasi o Di lain sisi tidak sedikit umat islam memandang. Dan hikmah diturunkannya Al-Quran agar aqal yang ada pada manusia itu tidak tersesat dalam mengkaji sesuatu. yang timbul karena pengajaran dan pengalaman setelah menyelidiki dan m Akal inilah yang telah melahirkan ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya. Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali mengemukakan. dirasakan oleh sekelompok orang. musta serba modern ini. Dengan demikian umat Islam yang sedang mengarungi globalisasi tidak akan kaku dan tidak akan panik dalam dari segi keilmuan dan tekhnologinya.

Tetapi yang mungkin adalah mengambil nilai-nilai kejayaan tersebut dalam ilmuan-ilmuan barat.keilmuannya pada masa lampau. . Wallahu A’lam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful