P. 1
Laporan Kimia

Laporan Kimia

4.71

|Views: 13,106|Likes:

More info:

Published by: Bambang Waluyojati, S.Kom on Feb 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

LAPORAN Kerja REAKSI REDOKs

A. Tujuan Mengamati secara langsung peristiwa reaksi oksidasi. B. Dasar Teori Reaksi reduksi dan oksida selalu berlangsung pada saat yang sama karena itu disingkat reaksi redoks. Contoh reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pembakaran, yaitu peristiwa oksidasi zat dengan oksigen di udara yang berlangsung cepat disertai dengan terbentuknya energi panas dan cahaya (api). Selain itu metabolisme dan perkaratan juga termasuk dalam reaksi redoks. I. Perkembangan Konsep Reaksi Reduksi Oksidasi Reaksi oksidasi adalah reaksi penggabungan unsur maupun senyawa dengan oksigen. Reaksi reduksi merupakan kebalikan dari reaksi oksidasi, yaitu pelepasan oksigen dari suatu oksida. Jadi, reaksi redoks

adalah reaksi penerimaan dan pelepasan elektron atau reaksi serah terima elektron.
a. Konsep Reaksi Redoks Ditinjau dari Penggabungan dan Pelepasan Oksigen Ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen, konsep reaksi redoks dapat didefinisikan sebagai berikut.  Reaksi Oksidasi : suatu reaksi yang melibatkan pengikatan oksigen pada suatu zat, baik unsur maupun senyawa.

Contoh : - Peristiwa perkaratan besi (paku) Reaksi : 4Fe + 3O2  2Fe2O3 Pembakaran lembaran magnesium pada kembang api tetes Reaksi : Mg + ½O2  MgO  Reaksi Reduksi : reaksi pelepasan oksigen dari suatu zat. Contoh : - Pengolahan bijih besi pada tanur tinggi Reaksi : Fe2O3 + 3CO  2Fe + 3CO2 - Pengurangan kadar oksigen Reaksi : 2KNO3  2KNO2 + O2 b. Konsep Reaksi Redoks Ditinjau dari Penerimaan dan Pelepasan Elektron Menurut konsep ini, reaksi oksidasi adalah reaksi di mana salah satu zat yang terlibat dalam reaksi melepaskan elektron untuk ditangkap oleh zat lain. Reaksi reduksi adalah reaksi kebalikannya, yaitu reaksi di mana salah satu zatnya menangkap elektron yang dilepaskan oleh zat lain. Jadi, oksidasi adalah pelepasan elektron, sedangkan

reduksi

adalah

penangkapan

elektron. Contohnya :

Ca + O  Ca2+ + O2-  CaO 2e

Dari reaksi di atas, dapat diketahui bahwa dalam reaksi redoks tidak selalu melibatkan oksigen, tetapi dapat juga terjadi karena pelepasan dan penerimaan elektron. Pada reaksi yaitu antara Ca dengan O, unsur Ca melepaskan 2 elektronnya yang kemudian

ditangkap unsur O, sehingga dapat dikatakan bahwa unsur Ca mengalami reaksi oksidasi karena melepas elektron, dan unsur yang mengalami reduksi adalah O karena menangkap elektron. Pelepasan dan penangkapan elektron ini terjadi secara bersamaan, sehingga reaksi ini disebut reaksi redoks. Jadi, reaksi redoks adalah penggabungan dari setengah reaksi oksidasi dan setengah reaksi reduksi. Bila dituliskan dalam persamaan reaksi, reaksi oksidasi mempunyai elektron di ruas kanan sedangkan reaksi reduksi mempunyai elektron di ruas kiri. Notasi reaksi dituliskan sebagai berikut. 1) Ca  Ca2+ + 2e (oksidasi) (reduksi)

O + 2e  O2-

Ca + O  Ca2+ + O2- (redoks) CaO Ca mengalami reaksi oksidasi sehingga disebut sebagai reduktor. Sedangkan O mengalami reaksi reduksi disebut dengan oksidator. Dan dapat disimpulkan bahwa reduktor adalah zat yang mengalami reaksi oksidasi dan melepaskan elektron, sedangkan oksidator adalah zat yang mengalami reaksi reduksi dan menangkap elektron. c. Konsep Reaksi Redoks Ditinjau dari Peningkatan dan Penurunan Bilangan Oksidasi Karena pada reaksi yang tidak melibatkan ion sangat sulit untuk menentukan zat yang mengalami reduksi atau oksidasi, sehingga harus didasarkan pada bilangan oksidasi.

Bilangan Oksidasi didefinisikan sebagai muatan yang dimiliki
oleh satu atom, apabila atom tersebut menyerahkan elektronnya

pada atom lain yang lebih bersifat elektronegatif. Jika terdapat dua atom yang berikatan, maka atom yang keelektronegatifannya lebih kecil mempunyai bilangan oksidasi positif. Sebaliknya, atom yang keelektronegatifannya lebih besar, bilangan oksidasinya negatif. Berdasarkan konsep ini, maka dapat didefinisikan bahwa

reaksi oksidasi

adalah reaksi yang menyebabkan terjadinya adalah reaksi oksidasi.

peningkatan bilangan oksidasi, dan reaksi reduksi yang menyebabkan terjadinya penurunan

bilangan

Contohnya :

Ca + O  Ca2+ + O2-  CaO

Atom Ca bilangn oksidasinya naik dari 0 menjadi +2 setelah melepaskan 2 elektronnya. Dengan demikian, pada atom Ca terjadi reaksi oksidasi. Dalam hal ini Ca disebut sebagai reduktor. Sebaliknya bilangan oksidasi atom O turun dari 0 menjadi -2 setelah menangkap 2 elektron yang dilepaskan atom Ca. Sehingga atom O mengalami reaksi reduksi dan disebut sebagai oksidator. Adapun notasi persamaan reaksinya sebagai berikut. Ca + O  Ca2+ + O20 0 +2 -2 oksidasi reduksi II. Penentuan Bilangan Oksidasi Aturan-aturan dalam menentukan bilangan oksidasi : 1. Bilangan oksidasi atau tingkat oksidasi setiap atom dalam unsur bebas adalah nol. Contohnya unsur O2, bilangan oksidasi atom O dalam O2 adalah nol.

2. Bilangan oksidasi ion dari suatu atom adalah sama dengan muatan ion tersebut. Misalnya : Na+  bilangan oksidasi Na adalah +1

Mg2+  bilangan oksidasi Mg adalah +2 Fe3+ Cl bilangan oksidasi Fe adalah +3  bilangan oksidasi Cl adalah -1

3. Dalam suatu senyawa atau ion, umumnya bilangan oksidasi atom untuk : Golongan IA adalah +1 Golongan IIA adalah +2 Golongan VIIA adalah -1

4. Bilangan oksidasi H dalam senyawa adalah +1, kecuali pada senyawa hibrida (NaH, LiH, CaH2) bilangan oksidasi H adalah -1. 5. bilangan oksidasi O dalam senyawa adalah -2, kecuali pada senyawa perioksida seperti H2O2 bilangan oksidasi O adalah -1 dan pada senyawa superoksida seperti KO2 dan RbO2 maka bilangan oksidasi O adalah -½. Sementara itu, pada OF2 mempunyai bilangan oksidasi +2. 6. Jumlah total bilangan oksidasi (BO) atom dalam suatu senyawa adalah nol. Sementara itu jumlah total bilangan oksidasi atom dalam suatu ion adalah sama dengan muatan ion tersebut. Contoh : 1. Bilangan oksidasi N dalam HNO3 (1 X BO H) +(1 X BO N) + (3 X BO O) = 0 (1 X 1) + (1 X BO N) + (3 X (-2)) = 0 1 + BO N – 6 = 0

BO N = +5 7. Dalam Ion Poliatomik, jumlah total bilangan oksidasinya sama dengan jumlah muatannya. III. Mengidentifikasi Oksidator dan Reduktor dalam Reaksi Redoks Cara mengidentifikasi reduktor dan oksidator : Langkah 1 : tentukan bilangan oksidasi masing-masing atom atau senyawa. Langkah 2 : cermati atom-atom yang mengalami kenaikan atau penurunan bilangan oksidasi. Langkah 3 : atom yg mengalami kenaikan bilangan oksidasi berarti mengalami reaksi oksidasi dan disebut reduktor.

Sebaliknya atom yg mengalami penurunan bilangan oksidasi berarti mengalami reaksi reduksi dan disebut oksidator. Contoh : Mg + 2HCl  MgCl2 + H2 0 +1 +2 0 oksidasi reduksi

reduktor = Mg oksidator = HCl

hasil oksidasi = MgCl2 hasil reduksi = H2

IV. Reaksi Autoredoks Pada reaksi autoredoks terjadi proses reaksi redoks, tetapi yang mengalami oksidasi dan yang mengalami reduksi adalah spesi yang sama. Reaksi ini disebut sebagai reaksi disproporsionasi.

Contoh reaksi autoredoks : reduksi 0 -1 Cl2 + OH  Cl- + ClO- + H2O 0 +1 oksidasi merupakan spesi yang mengalami reduksi sekaligus mengalami

Cl2

oksidasi. Jadi, reaksi di atas termasuk reaksi autoredoks. Kebalikan dari reaksi autoredoks (disproporsionasi) adalah reaksi koproporsionasi. Dalam reaksi ini reaksi reduksi maupun reaksi oksidasi menghasilkan spesi yang sama. Contoh reaksi koproporsionasi : oksidasi -2 0 H2S + SO2  S + H2O +4 0 reduksi

C. Alat dan Bahan 1. gelas plastik 6 buah beri nomor 1-6 2. paku 5 buah 3. ampelas 4. air 5. minyak goreng 6. rivanol 7. cuka 8. kapas potong (5 potong) D. Cara Kerja 1. Oksidasi pada besi a. Ampelas paku hingga bersih b. – sediakan 5 lembar kapas potong kapas 1 dicelupkan ke dalam air kapas 2 dicelupkan ke dalam minyak goreng kapas 3 dicelupkan ke dalam rivanol kapas 4 dicelupkan ke dalam cuka kapas 5 dibiarkan seperti aslinya

c. Masukkan masing-masing kapas ke dalam gelas sesuai nomor. Taruh sebuah paku di dalamnya. d. Letakkan semua gelas di tempat terbuka tetapi terhindar dari hujan. e. Amati perubahan yang ditunjukkan pada masing-masing paku setiap hari, sampai terlihat adanya perubahan pada paku. 2. Oksidasi pada minyak a. Tuang minyak goreng ke dalam gelas

b. Letakkan gelas tersebut di tempat terbuka di dekat gelas plastik berisi paku. c. Amati perubahan yang terjadi pada minyak dengan cara membauinya setiap hari sampai terjadi perubahan bau. E. Hasil Pengamatan Hari/ Tang gal
Jumat, 24 Maret 2006 Sabtu, 25 Maret 2006

Paku+Ka pas+ Air
Belum berkarat

Paku+Ka pas+ Rivanol
Belum berkarat

Paku+Ka pas+ Minyak
Belum berkarat

Paku+Ka pas+ Cuka
Belum berkarat

Paku+K apas
Belum berkarat

Miny ak
Belu m berub ah baun ya Belu m berub ah baun ya Belu m berub ah baun ya Baun ya berub ah tengi k

Belum berkarat

Ujung paku berwarna kekuninga n

Belum berkarat

Senin, 27 Maret 2006

Ujungnya baru sedikit berkararat

Ujung paku sudah berkarat

Paku berubah warna menjadi coklat kekuningkuningan Paku sudah berkarat dengan warna kekuningkuningan

Selasa , 28 Maret 2006

Ujungnya semakin berkarat, ada noda di kapas dan ada sedikit sekali serbuk hasil
perkaratan

Ujung paku tambah berkarat dan berwarna kuning

Paku sudah berkarat dan disertai sedikit serbuk hitam Paku sudah berkarat dan serbuk hitam hasil perkaratan nya bertambah Serbuk hitamnya semakin bertambah

Belum berkarat

Ujung paku berkarat dengan adanya noda di kapas Ujung paku berkarat dengan bertamba h lebarnya noda di kapas

F. Pembahasan o Paku yang dikenai cuka lebih cepat mengalami reaksi redoks dari pada yang lain.

o Minyak mengalami reaksi redoks dalam waktu yang relatif lama. o Paku di udara terbuka mengalami reaksi redoks. G. Jawaban Pertanyaan 1. 2. 3. 4. Semua paku mengalami perubahan. Perubahan terjadi mulai hari kedua. Bentuk perubahannya adalah dengan adanya karat. Perubahan yang ditunjukkan minyak goreng adalah dengan perubahan bau. 5. Yang mengalami perubahan lebih dulu adalah paku karena paku lebih cepat mengalami reaksi redoks. 6. Perubahan pada paku adalah dengan munculnya karat. Perubahan pada minyak adalah berubahnya bau pada minyak. Penyebabnya adalah reaksi redoks. Adapun cara mencegahnya adalah: 7. 8. Paku Minyak disterilkan. 9. Peristiwa perkaratan besi + 3O2 2Fe2O3 : simpan pada ruang bebas oksigen,dilapisi zat anti karat. : sterilisasi dan simpan pada tempat yang telah

10. 4Fe

H. Kesimpulan Kesimpulan saya pada hakekatnya semua benda mengalami reaksi redoks karena semua benda di dunia ini berhubungan dengan oksigen kecuali benda yang sengaja tidak di pertemukan dengan oksigen. Hal yang membuat kita sering menafsir benda tidak mengalami reaksi redoks adalah perubahan benda yang membutuhkan waktu yang relatif lama.

LAPORAN KERJA KIMIA REAKSI REDOKS

DISUSUN OLEH : Agil Trisnasiwi/X5/04

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 3 PURWOKERTO 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->