P. 1
Fraktur Segmental CR

Fraktur Segmental CR

|Views: 40|Likes:
Published by Rosalin Ma'ruf
segmented Fractur tibia fibula
segmented Fractur tibia fibula

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Rosalin Ma'ruf on Feb 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2013

pdf

text

original

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama Umur

: Nn. P : 27 th

Status Perkawinan : Belum Menikah Jenis Kelamin Suku Bangsa Agama Alamat Pekerjaan : Perempuan : Indonesia (Jawa) : Islam : Jl. Danau Tauti : Mahasiswi

II.

ANAMNESIS

Diambil dari Tanggal Waktu

: Autoanamnesa : 2 Februari 2012 : Pk 06.00 WIB

a. Keluhan Utama Tungkai kanan sulit digerakkan post KLL

b. Keluhan Tambahan Nyeri di bagian tungkai

c. Riwayat Penyakit Pasien datang ke RSAM 4 jam setelah mengalami KLL tertabrak motor dengan keluhan tungkai kanan sulit digerakkan. Pasien mengalami benturan yang keras pada tungkai kanan bawah. Tidak terdapat luka pada tungkai, namun tungkai terasa nyeri, terlebih jika digerakkan.

Kepala pasien tidak terbentur, muntah (-), pingsan (-), anggota gerak lain tidak terdapat keluhan.

d. Riwayat Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit serupa.
1

STATUS PRESENT Keadaan Umum Kesadaran Keadaan Gizi Kulit IV. atrofi papil lidah (-) Gigi : caries (-) Leher : tidak tampak pembesaran KGB 2 . : tampak sakit sedang : composmentis : cukup : turgor tambak baik Status Umum TD HR RR T • Mata • • • • • • Konjungtiva Sklera : 110/80 mmHg : 84 x/I : 24x/I : 36. serumen (+/+) : tidak tampak deviasi septum Refleks cahaya Pupil Telinga Hidung • • • Mulut : sianosis (-).e. Riwayat masa lampau - III.7 °C Kepala : Normochepalus : anemis (+/+) : anikterik (+/+) : (+/+) : isokhor : liang lapang.

L STATUS LOKALIS : tampak pembengkakan pada proksimal tibia : tak tampak luka di ekstremitas dextra/sinistra : tak tampak deformitas pada kedua ekstremitas F : nyeri tekan 1/3 proksimal hingga 1/3 distal tibia : nyeri sumbu (+) : a. tidak ada kelainan EKSTREMITAS Superior Posterior : : Sianosis (-). simetris Hepar dan lien tidak teraba Timpani Bising usus (+) GENITALIA Laki-laki. oedem (+/-) V. dorsalis pedis teraba : sensoris dan motoris baik 3 .Dada (Thorak) • • • • I P P A : datar. simetris : fremitus taktil normal : sonor : ves (+/+). rh (-/-) ABDOMEN Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : : : : Datar. wh (-/-). oedem (-) Sianosis (-).

Tidak terdapat luka pada tungkai kanan bawah. NT(+)1/3 proksimal & 1/3 distal tibia. NVD (+). RESUME OS datang 4jam post KLL. NGP (+) VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG  Terlihat #tibia segmented 1/3 proksimal dan 1/3 distal dextra ad axim dan #fibula 1/3 proksimal dextra ad axim  Ro Cruris dextra AP. Muntah (-). terdapat udem di daerah femur. NGA (+). pingsan (-). LAT 4 . NGP (+) VII.M : NGA (+). RGA (-). dengan KU sulit menggerakkan tungkai kanan bawah.

5 .

VIII PENATALAKSANAAN Open Reduction Internal Ficsation (ORIF) IX PROGNOSA  Quo ad vitam  Quo ad funcionam  Quo ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam 6 .

DEFINISI FRAKTUR Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. m. tuberositas tibiae dan capitulum fibulae. flexorum.extensorum superior dan retinaculum mm. dan akan melekat di sekitar articulation genus ke os patella. fascia ini bersatu dengan perosteum tibia serta perostenium capitulum fibulae dan malleolus fibulae. misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. disisi lateral cruris. Ke distal. m. 7 . Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. dan m.biceps femoris femoris disebelah lateral dan tendo m.tibialis anterior dan m.semimembranosus disebelah medial. di bawah articulation genus dan tulang ini tidak ikut membentuk articulation genus. Trauma tidak langsung.gastrocnemeus dan m.FRAKTUR CRURIS A. Sartorius. Tulang ini terbentang ke proksimal untuk membentuk articulation genu dan ke distal terlihat semakin mengecil. Fascia ini menerima serabut-serabut tendo m.extensor digitorum longus. faascia ini melanjutkan diri ke raetinaculum mm. Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. mengenai pembuluh darah. otot dan persarafan. Extremitas proximalis fibula terletak agak posterior dari caput tibia.soleus. Fascia cruris merupakan tempat perleketan musculus dan bersatu dengan perosteum. sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat. ligamentum patellae. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.gracilis. fascia ini membentuk septum intermusculare anterius dan septum intermusculare posterius. Ke posterior membentuk fascis poplitea yang menutupi fossa poplitea. Ke proximal akan melanjutkan diri ke fascia lata. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung. B. Disini tersusun oleh serabut-serabut transversal yang ditembus oleh vena saphena parva. ANATOMI TIBIA FIBULA Os tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial region cruris. untuk perlekatan m. apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. misalnya sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan fraktur pada tibia dan fibula.semitendinosus. fascia ini tipis dibagian posterior yang menutupi m. tulang rawan sendi. pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Os fibula terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari tibia. Ini merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Tetapi. Fascia ini menjadi tebal dan kuat dibagian proximal dan anterior cruris. Ke anterior.

pemuntiran. cedera langsung akan menembus atau merobek kulit diatas fraktur. tulang dapat patah pada tempat yang terkena. Bila terkena kekuatan langsung. Fraktur kruris merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan dengan fraktur pada tulang panjang lainnya. Fraktur kelelahan atau tekanan Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal. Fraktur patologik Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit Paget). 8 . 3. penari. atau penarikan. Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda. salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit. yang dapat berupa pemukulan. 2. biasanya pada tingkatyang sama. Maka fraktur kruris tertutup adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh. kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. jaringan lunaknya juga pasti rusak. Pada cedera tak langsung. C. tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu. namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. penekukan. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling lazim. Bila terkena kekuatan tak langsung. penghancuran. Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena berada langsung dibawah kulit sehingga sering juga ditemukan fraktur terbuka. PENYEBAB FRAKTUR Tulang bersifat relatif rapuh. Fraktur dapat terjadi akibat: 1. tulang rawan sendi maupun tulang rawan epifisis yang terjadi pada tibia dan fibula yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek. Peristiwa trauma Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan.Fraktur kruris (L:crus = tungkai) merupakan fraktur yang terjadi pada tibia dan fibula. terutama pada atlet.

c) Fraktur Kondilus Tibia (bumper fracture) Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya trauma abduksi terhadap femur dimana kaki terfiksasi pada dasar. dan mencederai jaringan lunak pada lutut dengan hebat. d) Fraktur Kominutiva Tibia Atas Pada fraktur kominutiva tibia atas biasanya fragmen dipertahankan oleh bagian periosteum yang intak. Fraktur proksimal tibia 2. b) Fraktur Berbentuk T Terjadi karena terjatuh dari tempat yang tinggi. Fraktur dapat juga terjadi hanya pada tibia atau fibula saja. Kondilus tibia dapat terpisah. biasannya sisi lateral. Dapat dirawat dengan gips tungkai panjang. sehingga korpus tibia tergeser diantaranya. Dapat direduksi dengan traksi yang kuat. kemudian merawatnya dengan traksi tibia distal. Fraktur ini biasanya terjadi akibat tabrakan pada sisi luar kulit oleh bumper mobil. Jika fragmen tergeser. Fraktur diafisis 3. namun biasanya terjadi pergeseran lateral ringan dan tidak ada tumpang tindih atau rotasi. Fraktur tidak masuk ke dalam lututnya. Walaupun tungkai bawah dapat membengkak dalam segala arah. sama seperti fraktur pada tibia lebih distal. Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan 9 . Kemudian dapat dilepaskan dan diberdirikan denganmenggunakan tongkat untuk menahan berat badan. Traksi tibia distal sering dapat mereduksi fraktur ini secara adekuat.D. FRAKTUR DIAFISIS Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dan dislokasi pada pergelangan kaki FRAKTUR PROKSIMAL TIBIA a) Fraktur Infrakondilus Tibia Fraktur Infrakondilus tibia terjadi sebagai akibat pukulan pada tungkai pasien yang mematahkan tibia dan fibula sejauh 5cm di bawah lutut. dapat dilakukan manipulasi ke dalam posisinya dan gunakan gips tungkai panjang selama 6 minggu. menggerakkan korpus tibia ke atas diantara kondilus femur. yang menimbulkan fraktur pada salah satu kondilus tibia. KLASIFIKASI FRAKTUR TIBIA FIBULA Klasifikasi fraktur pada tibia dan fibula: 1.

c) Fraktur Tertutup Pada Korpus Fibula Gaya yang diarahkan pada sisi luar tungkai pasien dapat mematahkan fibula secara transversal. dan perlindungan. Fraktur jenis ini biasanya menyembuh dengan cepat. meninggalkan fibula dalam keadaan intak. sedangkan trauma rotasi akan menimbulkan trauma tipe spiral. Biasanya pasien masih dapat berdiri. Pada umur 5-10 tahun. Tidak diperlukan reduksi. b) Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada Anak-anak Pada bayi dan anak-anak yang muda. Jika tibia dan fibula fraktur. Pada umur 3-6 tahun. Penderita cukup diberi analgetika dan istirahat dengan tungkai tinggi sampai hematom diresorbsi. dan pergeseran akan sangat terbatas. sehingga memerlukan sinar-X untuk mengkonfirmasikan diagnosis. dan berotasi. Angulasi dan rotasi yang paling ringan sekalipun dapat mudah terlihat dan dikoreksi. fraktur besifat spiral pada tibia dengan fibula yang intak. fraktur biasanya bersifat transversaldengan atau tanpa fraktur fibula. dan mematahkan kedua tulang pada tungkai bawah secara oblik. karena itu asalkan persendian lutut normal. bertumpang tindih. Otot-otot tungkai menutupi tempat fraktur. sehingga dapat membidai fragmen. Fraktur jenis ini dapat diklasifikasikan menjadi: a) Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada Orang Dewasa Dua jenis cedera dapat mematahkan tibia dewasa tanpa mematahkan fibula: 1) Jika tungkai mendapat benturan dari samping. Perawatan tergantung pada apakah terdapat pemendekan. pembidaian. 10 . d) Fraktur Tertutup pada Tibia dan Fibula Pada fraktur ini tungkai pasien terpelintir.menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek. tinggalkan fragmen sebagaimana adanya. Jika terdapat pemendekan yang jelas. Fragmen bergeser ke arah lateral. Jika pergeseran minimal. maka traksi kalkaneus selama seminggu dapat mereduksikannya. Tibianya dapat tetap dalam keadaan intak. biasanya pada sepertiga bawah. sehingga tidak terjadi pergeseran atau hanya sedikit pergeseran ke samping. yang diperhatikan adalah reposisi tibia. biarkan pasien berjalan segera setelah cedera jaringan lunak memungkinkan. dapat mematahkan secara transversal atau oblik. biasanya terjadi stress torsional pada tibia bagian medial yang akan menimbulkan fraktur green stick pada metafisis atau diafisis proksimaldengan fibula yang intak. lakukan anestesi dan reduksikan. Jika pergeseran signifikan. 2) Kombinasi kompresi dan twisting dapat menyebabkan fraktur oblik spiral hampir tanpa pergeseran dan cedera jaringan lunak yang sangat terbatas.

Yang penting diperhatikan adalah lokaliasasi dari nyeri tekan apakah pada daerah tulang atau pada ligament. nyeri dan sering ditemukan penonjolan tulang keluar kulit.Pemendekan kurang dari satu sentimeter tidak menjadi masalah karena akan dikompensasi pada waktu pasien sudah mulai berjalan. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut. Penderita biasanya datang karena nyeri. Pada fraktur dan dislokasi sendi pergelangan kaki ditemukan adanya pembengkakan pada pergelangan kaki. PEMERIKSAAN KLINIS Kulit mungkin tidak rusak atau robek dengan jelas. Pada fraktur diafisis tulang kruris ditemukan gejala berupa pembengkakan. panggul dan abdomen. F. krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain. tertimpa benda berat. misalnya otak. namun sangat penting untuk dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk membantu mengarahkan danmenilai secara objektif keadaan yang sebenarnya. gangguan fungsi anggota gerak. B. karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi ditempat lain. baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. pemendekan sebaiknya dihindari. dan terdapat bahaya bahwa kulit itu dapat mengelupas dalam beberapa hari. sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks. Nadi dipalpasi untuk menilai sirkulasi. Kaki dapat menjadi memar dan bengkak. 11 . E. penganiayaan. Pada anamnesis dalam kasus fraktur kondilus tibia terdapat riwayat trauma pada lutut. kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olah raga. kebiruan atau deformitas. deformitas. anemia atau perdarahan. pembengkakan dan nyeri serta hemartrosis. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan awal penderita. Anamnesa Penderita biasanya datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur). kadang-kadang kulit tetap utuh tetapi melesak atau telah hancur. Kerusakan pada organ-organ lain. DIAGNOSIS Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik. Sekalipun demikian. Kaki biasanya memuntir keluar dan deformitas tampak jelas. Pada fraktur gerakan tidak boleh dicoba. Sebelum merencanakan terapi. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat. perlu dilakukan penentuan beratnya cedera. jatuh dari ketinggian atau jatuh dikamar mandi pada orang tua. tetapi pasien diminta untuk menggerakkan jari kakinya. kelainan gerak. perlu diperhatikan adanya:   Syok. dan jari kaki diraba untuk menilai sensasi. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas. A. pembengkakan.

diskrepensi (rotasi. 12 . Pembengkakan. Faktor predisposisi. Krepitasi. Refilling (pengisian) arteri pada kuku. Kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur. disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. Move (pergerakan) Nyeri bila digerakan. Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan.perpendekan atau perpanjangan). cedera itu terbuka (compound). Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak). misalnya pada fraktur patologis (penyakit Paget). tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh. Bengkak atau kebiruan. baik gerakan aktif maupun pasif. Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis. setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar. lateral. Pada penderita dengan fraktur. arteri dorsalis pedis. Hal-hal yang perlu diperhatikan: Temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan. nyeri tekan yang superfisisal biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang. Pada pemeriksaan fisik dilakukan: Look (Inspeksi) Deformitas: angulasi ( medial. posterior atau anterior). memar dan deformitas mungkin terlihat jelas. Feel (palpasi) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati. arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena.

pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat memudahkan diagnosis. Foto pada tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat. Pencitraan Khusus 13 . Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga patah. suatu fraktur mungkin sulit dilihat. Pemeriksaan dengan sinar-X harus dilakukan dengan ketentuan ´Rules of Two´:  Dua pandangan Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal dan sekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP & Lateral/Oblique).  Dua sendi Pada lengan bawah atau kaki. Untuk konfirmasi adanya fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya. Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler. maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan Penunjang Sinar -X Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur. sebagai akibatresorbsi tulang. Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak. Untuk mengetahui sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya. satu tulang dapat mengalami fraktur atau angulasi. atau suatu sendi mengalami dislokasi. Untuk melihat adanya benda asing. Sendisendi diatas dan di bawah fraktur keduanya harus disertakan dalam foto sinar-X. Untuk mengetahui teknik pengobatan.1. Tujuan pemeriksaan radiologis:         Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi. kalau ragu-ragu. Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang. Karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar-X pada pelvis dan tulang belakang. C. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan. lokasi serta eksistensi fraktur.  Dua kesempatan Segera setelah cedera.  Dua tungkai Pada sinar-X anak-anak epifise dapat mengacaukan diagnosis fraktur.  Dua cedera Kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari 1 tingkat.

Radioisotop scanning berguna untuk mendiagnosis frakturtekanan yang dicurigai atau fraktur tak bergeser yang lain. sehingga memerlukan operasi dalam penyembuhan dan perawatan lukanya. TEKNIK PENANGANAN Penatalaksanaan Fraktur : Non Operatif 1. Fraktur dengan sindroma kompartemen. apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri. Pemeriksaan dalam masa penyembuhan Dalam penyembuhan. 2. Program penyembuhan dengan latihan berjalan. CT atau MRI mungkin merupakan satusatunya cara yang dapat membantu. 14 . tulang mana yang terkena dan lokalisasinya. sesungguhnya potret transeksional sangat penting untuk visualisasi fraktur secara tepat pada tempat yang sukar. Bidai dapat dirubah dengan gips dalam 7-10 hari. pasien harus di evaluasi dengan pemeriksaan rontgen tiap 6 atau 8 minggu. rehabilitasi ankle.Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur. Kadang-kadang fraktur atau keseluruhan fraktur tidak nyata pada sinar-X biasa. Absolut Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu penyembuhan fraktur. 3. G. Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaiki jalannya darah di tungkai. memperkuat otot kuadrisef yang nantinya diharapkan dapat mengembalikan ke fungsi normal Operatif Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi. misalnya penyembuhan fraktur transversal lebihlambat dari fraktur oblik karena kontak yang kurang. yaitu: a. atau dibiarkan selama 3-4 minggu. Reduksi Reduksi adalah terapi fraktur dengan cara mengantungkan kaki dengan tarikan atau traksi. memiliki 2 indikasi. Imobilisasi Imobilisasi dengan menggunakan bidai.Tomografi mungkin berguna untuk lesi spinal atau fraktur kondilus tibia. tetapi perlu dinyatakan apakah fraktur terbuka atau tertutup.

c. Dengan cara ini. Di bawah ini merupakan gambar pemasangan ring fixators pada fraktur diafisis tibia. jika adanya: Pemendekan Fraktur tibia dengan fibula intak Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama Adapun jenis-jenis operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Di bawah ini merupakan gambar dari fiksasi eksternal tipe standar. Intramedullary nailing Cara ini baik digunakan pada fraktur displased. dan dapat juga digunakan pada fraktur terbuka dengan luka terkontaminasi. sehingga menghindari kemungkinan trauma tambahan yang dapat memperlambat kemungkinan penyembuhan. Keuntungan cara ini adalah mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan menghindarkan trauma pada jaringan lunak. Open reduction with internal fixation (ORIF) Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis. Ring Fixators Ring fixators dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakan sejenis cincin dan kawat yang dipasang pada tulang. yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien.- Cidera multipel. b. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk fraktur ke arah proksimal atau distal. Fiksasi eksternal a. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur dengan ORIF. b. Standar Fiksasi eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multipel yang hemodinamiknya tidak stabil. 15 . luka operasi yang dibuat bisa lebih kecil. Cara ini baik digunakan pada fraktur tertutup tipe kompleks. Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi lebih stabil. baik pada fraktur terbuka atau tertutup. d. Relatif. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada penyembuhan luka operasi. juga mengurangi nyeri.

2. Hal ini mengawali terjadinya peningkatan tekanan interstisial. 2) Delayed union Delayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen. 4) Avaskuler nekrosis Avaskuler nekrosis adalah kerusakan tulang yang diakibatkan adanya defisiensi suplay darah. putusnya nervus tibia dan pada crush injury dari tibia. dan diikuti dengan kematian jaringan. Amputasi Amputasi dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia. 3) Non union Non union merupakan kegagalan suatu fraktur untuk menyatu setelah 5 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti usia. kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur. pembuluh darah dan otot didalam kompatement osteofasial yang tertutup. 16 . KOMPLIKASI 1) Infeksi Infeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga dapat terjadi karena luka yang tidak steril. pemendekan. Gangguan ini biasanya disebakan karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah. deformitas atau kecacatan. 6) Mal union Terjadi pnyambungan tulang tetapi menyambung dengan tidak benar seperti adanya angulasi. H. Kompartemen Sindrom kompartemen sindrom merupakan suatu kondisi dimana terjadi penekanan terhadap syaraf. 7) Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. 5). kurangnya oksigen dari penekanan pembuluh darah. 6) Trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis.

17 . USA: The McGraw-Hill Companies. Harry B. Skinner. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi II.DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidajat R. 2006. Jakarta: EGC. Current Diagnosis & Treatment In Orthopedics. Jong W.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->