KESELAMATAN KERJA PERAWAT

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku pada tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia, telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup di dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Tenaga kesehatan yang perlu kita perhatikan yaitu semua tenaga kesehatan yang merupakan suatu institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan yang cukup besar. Kegiatan tenaga atau petugas kesehatan mempunyai risiko berasal dari faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kesehatan dan keselamatan kerja. Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi sarana dan prasarana, maka risiko yang dihadapi petugas tenaga kesehatan semakin meningkat. Petugas atau tenaga kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan yang merupakan kendala yang dihadapi untuk setipa tahunnya. Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat - alat kesehatan, berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase yang mematikan, dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukan ke jaringan hewan percobaan. Oleh karena itu penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor / Aspek Kesehatan.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. B. sehat. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan. bebas dari pencemaran lingkungan. merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. kebakaran. tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh. agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha. Semua potensi bahaya tersebut di atas. sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja. Sebagai faktor penyebab. Bahaya Yang Dihadapi Dalam Rumah Sakit Atau Instansi Kesehatan . Pengertian Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman. yaitu kecelakaan (peledakan. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS.A. mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri. keluarga dan lingkungannya. kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik. selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS. gas-gas anastesi. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. gangguan psikososial dan ergonomi. sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. bahan-bahan kimia yang berbahaya. tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS. radiasi. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. masyarakat dan lingkungan disekitarnya. setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain. jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS. para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS. sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan. dan sumber-sumber cidera lainnya). Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja. keluarga. Potensi bahaya di RS.

saluran cerna dan keluhan lain. misalnya bahaya infeksius. gangguan pada saat kehamilan. oleh karena itu K3 RS perlu . 6. Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. abrasions: 1. 3. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita).62/100 perawat per tahun. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam : 1. virus atau parasit. namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. seperti sakit telinga. bruising : 11%. Bahaya infeksi dari kuman. Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam .2%. infections: 1. Laporan lainnya yakni di Israel.3%. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum.8%. tercatat bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS. Luka bakar . insiden cedera musculoskeletal 4. Bahaya radiasi . dan lain-lain: 12. saluran pernafasan. luka bakar.4% (US Department of Laboratorium. dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. cuts.Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu. Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan. scratches. dan penyakit infeksi dan lain-lain. punctures: 10. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. Bahan beracun. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas.contussion. antara lain dengan penjelasan. 7. strains : 52%. yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. 1983). Khusus di Indonesia. yakni hipertensi. sakit pinggang. Syok akibat aliran listrik . Bureau of Laboratorium Statistics.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS.1%. terkilir. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. multiple injuries: 2. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak (obat– obatan). yaitu penyakit infeksi dan parasit. 2. Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan. 5. Selain itu. Di Australia. korosif dan kaustik . maka perlu upaya untuk mengendalikan. 87% pernah low back pain. reagensia yang toksik .5 kali dari petugas atau pekerja lain. masalah kelahiran anak. prevalensi 42% dan di AS. 4. fractures: 5. sakit kepala. anemia (kebanyakan wanita). gangguan saluran kemih. diantara 813 perawat.6%. peralatan listrik maupun peralatan kesehatan.9%. varises. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1. thermal burns: 2%. peraturan serta penerapan disiplin kerja. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. laceration. crushing. yaitu sprains. tergores/terpotong. dermatitis: 1.

efisien dan terpadu. tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian. Siapa yang mengerjakan e. /Planning /(perencanaan) B. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit dan instansi kesehatan. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. Semuanya menyebabkan risiko bahaya yang dapat terjadi dalam ( rumah sakit / instansi kesehatan ) makin besar.perencanaan ini dilakukan untuk memenuhi standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat ( hubungan timbal balik pasien – perawat / dokter. hubungan timbal balik ( sebab akibat) Kegiatan kesehatan ( rumah sakit / instansi kesehatan ) sekarang tidak lagi hanya di bidang pelayanan. Kapan harus dikerjakan f. Hal apa yang dikerjakan b. b) Organizing/ (Organisasi) Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang. juga metode-metode yang dipakai makin banyak ragamnya. Oleh karena itu usaha-usaha pengamanan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan harus ditangani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan. Bagaiman cara mengerjakannya c. dimembagi kegiatan atau fungsi manajemen tesebut menjadi : A. /Controlling /(pengawasan) a) Planning/ (Perencanaan) Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mengapa mengerjakan d. dengan mempergunakan bantuan orang lain. mulai dari tingkat rumah sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau nasional. diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malprektek) serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. Dalam perencanaan tersebut. /Actuating /(pelaksanaan) D. Dimana kegiatan itu harus dikerjakan g.dikelola dengan baik. /Organizing/ (organisasi) C. C. kegiatan yang ditentukan meliputi: a. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. serta masyarakat umum lainnya ). Untuk mencapai tujuan tersebut. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini .

Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional) perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah sakit / instansi yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : 1. 2. 2007 5/ background image Manajemen keselamatan kerja profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat (Patelki. Dan lain-lain. serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. mengerahkan aktivitas. Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul permasalahan. di samping memberlakukan Undang-Undang Keselamatan Kerja. d) Controlling/ (Pengawasan) .baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. Kemudian mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. 6. sehingga semua aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. 5. Anggota organisasi profesi atau seminat yang terkait dengan kegiatan rumah sakit / instansi kesehatan dapat diangkat menjadi anggota komisi di tingkat daerah (wilayah) maupun tingkat pusat (nasional). 3. c) Actuating/ (Pelaksanaan) Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong semangat kerja. Selain itu organisasi-organisasi profesi atau seminar tersebut dapat juga membentuk badan independen yang berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit / Instansi Kesehatan. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat (nasional) dan tingkat daerah (wilayah). Untuk itu setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah sakit / instansi kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam rumah sakit / instansi kesehatan. maka menjadi tugas semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya. HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan ini. 154. 4.an keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . pelatihan pelaksana. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . penyuluhan. mengkoordinasikan berbagai aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron). Memberikan bimbingan. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu rumah sakit / instansi kesehatan. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin rumah sakit / instansi kesehatan. keragu-raguan atau pertentangan. Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi /Cermin Dunia Kedokteran No.

Memastikan semua petugas rumah sakit / instansi kesehatan memahami cara. Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin.praktek rumah sakit / instansi kesehatan yang baik. Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah sakit (K3RS) dan Peran Dinas Kesehatan 1. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut. D. Di antara seluruh peraturan itu. kondisi fisik rumah sakit dapat membahayakan pasien. Melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan. 3. keluarga. karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. Dan lain-lain. bencana. mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di rumah sakit / instansi kesehatan. Dalam rumah sakit / instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit / instansi kesehatan yang tugasnya antara lain : 1.05/Men.Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. rumahsakit tidak terhindar dari kebakaran. Untuk dapat menjalankan pengawasan. 6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. atau dampak buruk pada kesehatan. perlu diperhatikan 2 prinsip pokok. 5. Adanya rencana b. yaitu : a.cara menghindari risiko bahaya dalam rumah sakit / instansi kesehatan. paling banyak adalah peraturan menteri (9 buah) dan belum ada sama sekali peraturan . Ringkasan studi tentang penerapan K3RS di bawah ini bisa dijadikan kasus bagaimana lemahnya komitmen rumahsakit dalam hal ini. Jika tidak dikelola. mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Peraturan Kesehatan Kerja UU Kesehatan Nomor 23 tahun 2002 pasal 23 tentang kesehatan kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan. 2. serta pekerja. Rumahsakit tidak terlepas dari peraturan-peraturan ini karena teknologi dan sarana kesehatan. benar dan aman. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus. 2006 juga mengatur bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 100 orang atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya wajib menerapkan sistem manajemen K3 (Bab III Pasal 3). 4. K3RS di Indonesia telah memiliki 22 peraturan.

Kenyataan ini barang kali bisa mencerminkan keadaan sebelum desentralisasi. 6 dari 7 rumahsakit belum memiliki sistem keamanan dan tenaga khusus bidang K3RS.  Harus tersedia alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaam (P3K) MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja. Lima rumahsakit belum memiliki sarana IPAL dan sistem pengawasan yang memadai. Penjabaran dari regulasi tersebut oleh pemerintah daerah dalam bentuk peraturan daerah belum ada sama sekali. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat sendiri tidak memiliki semua dokumen peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. kondisi kesehatan dan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat. penyebab penyakit. observasi di lapangan. Tidak ada tim khusus K3RS. . Seperti terlihat dalam tabel di bawah ini.  Disain Sarana / Prasarana Kesehatan harus mempunyai pemadam api yang tepat terhadap segala sesuatu yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran.  Disain Sarana / Prasarana Kesehatan harus mempunyai sistem yang memadai dengan sirkulasi udara yang adekuat agar suasana di dalam ruangan tersebut menjadi nyaman.daerah. Selain itu. regulasi K3RS ini lemah. Padahal mengacu pada PP No. Daerah melaksanakan apa yang menjadi keputusan pusat dan barang kali karena keputusan pusat itu pula. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai Pilihan Rasional Rumahsakit Penelitian Bambang mengukur sembilan aspek yang bisa dijadikan tolok ukur bahwa rumahsakit itu memberikan komitmen pelaksanaan K3RS. beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. FASILITAS ATAU SARANA/PRASARANA TENAGA KESEHATAN  Sarana/Prasana Kesehatan adalah sarana kesehatan yang meliputi berbagai alat / media elektronik yang harus ada di Tempat Kerja Kesehatan untuk penentuan jenis penyakit. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai otonom maka pemerintah daerah mempunyai legalitas dalam mengatur regulasi K3RS. Dinas kesehatan bahkan tidak memiliki satu staf yang mengurusi bidang ini. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. 2. Seluruh rumahsakit menyediakan sejumlah dana untuk keperluan K3RS. rumahsakit-rumahsakit ini tidak memiliki sistem pelaporan tentang kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.

Bahan dan lain-lain Lingkungan kerja Proses kerja . Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30– 40% masyarakat pekerja kurang kalori protein. akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat. Beban Kerja Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 . 2. sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja. Biasanya kecelakaan menyebabkan. Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok : 1. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI TENAGA KESEHATAN DAN PENCEGAHANNYA A. jika yang menjadi korban pasien Kecelakaan kerja. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases). Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. Kapasitas Kerja Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident). 3. yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah. Kondisi berbahaya (unsafe condition). jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu sendiri. dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. yaitu yang tidak aman dari:    Peralatan / Media Elektronik.1. Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :   Kecelakaan medis. 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia.24 jam sehari.

Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di Tempat Kerja Kesehatan Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan. tali sepatu longgar Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya. Perbuatan berbahaya (unsafe act). harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan . Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di Tempat Kerja Kesehatan. Akibat : cedera pada punggung Pencegahan :    Beban jangan terlalu berat Jangan berdiri terlalu jauh dari beban Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok  Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat. biasanya karena lantai licin. memar otak. Terpeleset . Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di Tempat Kerja Kesehatan : 1. Akibat :   Ringan à memar Berat à fraktura. pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab. yaitu perbuatan berbahaya dari manusia. yang dapat terjadi antara lain karena:     Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect) Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh. dll.  Pemeliharaan lantai dan tangga 2. dislokasi. terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi.  Sifat pekerjaan Cara kerja 2. Pencegahan :    Pakai sepatu anti slip Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi. Mengangkat beban Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat.

). Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO). epidemilogi dan desinfeksi. benda-benda yang terkontaminasi dan udara. faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis. faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada kulit. radiasi dll. Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja.kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Penyakit akibat kerja di Tempat Kerja Kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien). Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat. dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen. punya cukup kekebalan alami untuk bekerja dengan bahan infeksius. colli. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan. Kebersihan diri dari petugas. gawat darurat. Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah “penyakit dengan penyebab multifaktorial. karantina dll. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep.   Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar. zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati. bacilli dan staphylococci. tegangan tinggi. terutama kuman-kuman pyogenic. sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar    Pengelolaan limbah infeksius dengan benar Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai. Menurut Komite Ahli WHO (1973). cara mengangkat pasien salah). Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. dan dilakukan imunisasi. faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit. debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi. mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit. . yang bersumber dari pasien. dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja.) 1) Faktor Biologis Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya strain kuman yang resisten. Pencegahan :  Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan. Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar. sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta. Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat.  Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat badani. peralatan. faktor ergonomi (cara duduk salah. uap timah dan keracunan timah. misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus.

 Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata. demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik. celemek. tetrachloromethane) jika tertelan.   Hindari penggunaan lensa kontak. secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah. laboratorium. aman. Pencegahan :  ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas untuk petugas atau tenaga kesehatan laboratorium. 3) Faktor Ergonomi Ergonomi sebagai ilmu. terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik. karena dapat melekat antara mata dan lensa. misalnya tenaga operator peralatan. Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif. jas laboratorium) dengan benar. desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka.  Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol untuk petugas / tenaga kesehatan laboratorium. proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan.2) Faktor Kimia Petugas di tempat kerja kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obatobatan seperti antibiotika. sarung tangan. Bahan toksik ( trichloroethane. bahkan kematian.  Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja . nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggitingginya. cara. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar. getaran akibat alat / media elektronik dapat menyebabkan stress dan ketulian Pencahayaan yang kurang di ruang kerja. teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain). 4) Faktor Fisik Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:   Kebisingan. dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja. bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis. hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia.

Faktor Psikososial Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress :  Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang.  Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar. Untuk itu pekerja di tempat kerja kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan   Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non kesehatan     UU No.Terkena radiasi Khusus untuk radiasi. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain :  Persyaratan penerimaan tenaga medis. jenis kelamin. UU No. PENGENDALIAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DAN KECELAKAAN MELALUI PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA A. Pelindung mata untuk sinar laser Filter untuk mikroskop untuk pemeriksa demam berdarah 5. B. para medis. Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahayaPeraturan/persyaratan pembuangan limbah dll. dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara lain :  UU No. dan tenaga non medis yang meliputi batas umur. Pencegahan :       Pengendalian cahaya di ruang kerja khususnya ruang laboratorium. Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi Pengaturan jadwal kerja yang sesuai. Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja. penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal. lembur dan shift . 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. syarat kesehatan  Pengaturan jam kerja.

dan lain-lain D. C. alat-alat radiology. Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi: 1. alat kerja. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat. Pemeriksaan Awal Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan  Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya. Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi :           Anamnese umum Anamnese pekerjaan Penyakit yang pernah diderita Alrergi Imunisasi yang pernah didapat Pemeriksaan badan Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu: Tuberkulin test Psikotest . Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya  Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler. alat kerja atau proses kerja Isolasi dari bahan-bahan kimia. mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung)  Perbaikan sistim ventilasi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya. Dengan deteksi dini. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control) antara lain :   Substitusi dari bahan kimia.

masyarakat dan lingkungan tenaga kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan sehat. Pemeriksaan Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern di Tempat Kerja Kesehatan. petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja kesehatan serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3 tersebut Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau pengelola tempat kerja kesehatan mempunyai peran sentral dalam pelaksanaan program ini. yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Demikian pula dengan pihak petugas kesehatan dan non kesehatan yang menjadi sasaran program K3 ini harus berpartisipasi secara aktif. nyaman. Pemeriksaan Khusus Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu pemeriksaan berkala. bukan hanya sebagai obyek tetapi juga berperan sebagai subyek dari upaya mulia ini. makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya.2. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung-jawab terhadap kesehatan masyarakat. perlu kemauan. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut. utamanya pelayanan promotif dan preventif. Kesehatan dan keselamatan kerja di Tempat Kerja Kesehatan bertujuan agar petugas. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja atau masyarakat disekitarnya. produktif dan sejahtera. sehingga tugas sebagai pelayan kesehatan kepada masyarakat dapat ditingkatkan mutunya. meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan sebagainya. menuju Indonesia Sehat 2010. 3. sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan. . Melalui kegiatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja . Makin besar resiko kerja. memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan. selamat. diharapkan petugas kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di tempat kerja kesehatan dapat bekerja dengan lebih produktif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful