KESELAMATAN KERJA PERAWAT

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku pada tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia, telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup di dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Tenaga kesehatan yang perlu kita perhatikan yaitu semua tenaga kesehatan yang merupakan suatu institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan yang cukup besar. Kegiatan tenaga atau petugas kesehatan mempunyai risiko berasal dari faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kesehatan dan keselamatan kerja. Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi sarana dan prasarana, maka risiko yang dihadapi petugas tenaga kesehatan semakin meningkat. Petugas atau tenaga kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan yang merupakan kendala yang dihadapi untuk setipa tahunnya. Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat - alat kesehatan, berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase yang mematikan, dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukan ke jaringan hewan percobaan. Oleh karena itu penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor / Aspek Kesehatan.

Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja. mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan. sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS. radiasi. Semua potensi bahaya tersebut di atas. sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Potensi bahaya di RS. gangguan psikososial dan ergonomi. keluarga. merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh. khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan. tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS. kebakaran. jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS. Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja. selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri. yaitu kecelakaan (peledakan. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan. bebas dari pencemaran lingkungan. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha. keluarga dan lingkungannya. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. Sebagai faktor penyebab. setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja. sehat. gas-gas anastesi. Pengertian Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja.A. kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik. dan sumber-sumber cidera lainnya). Bahaya Yang Dihadapi Dalam Rumah Sakit Atau Instansi Kesehatan . B. bahan-bahan kimia yang berbahaya. masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak (obat– obatan). Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam . Khusus di Indonesia.8%.2%. antara lain dengan penjelasan. fractures: 5.9%. maka perlu upaya untuk mengendalikan. Syok akibat aliran listrik . korosif dan kaustik . luka bakar.3%. punctures: 10. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS. 7. Selain itu. 87% pernah low back pain.contussion. seperti sakit telinga.6%. 1983). Laporan lainnya yakni di Israel. sakit pinggang. infections: 1. saluran pernafasan. terkilir. dan lain-lain: 12.62/100 perawat per tahun. diantara 813 perawat. tergores/terpotong. reagensia yang toksik . laceration. yaitu sprains. dan penyakit infeksi dan lain-lain. prevalensi 42% dan di AS. gangguan pada saat kehamilan. abrasions: 1. 5. strains : 52%. cuts. dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. anemia (kebanyakan wanita). insiden cedera musculoskeletal 4. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. thermal burns: 2%. sakit kepala. oleh karena itu K3 RS perlu . Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. Luka bakar . peraturan serta penerapan disiplin kerja. peralatan listrik maupun peralatan kesehatan.Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu. Di Australia.1%. misalnya bahaya infeksius. meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. virus atau parasit. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. Bureau of Laboratorium Statistics. 6. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. dermatitis: 1. 3.5 kali dari petugas atau pekerja lain. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam : 1. varises. Bahan beracun. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. yakni hipertensi. scratches. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1. bruising : 11%. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16. saluran cerna dan keluhan lain. gangguan saluran kemih.4% (US Department of Laboratorium. Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan. namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. multiple injuries: 2. masalah kelahiran anak. 2. yaitu penyakit infeksi dan parasit. 4. Bahaya infeksi dari kuman. Bahaya radiasi . crushing. tercatat bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS.

dimembagi kegiatan atau fungsi manajemen tesebut menjadi : A. diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. b) Organizing/ (Organisasi) Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang. tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini . efisien dan terpadu. Bagaiman cara mengerjakannya c. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malprektek) serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. Dimana kegiatan itu harus dikerjakan g. Kapan harus dikerjakan f. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit dan instansi kesehatan.perencanaan ini dilakukan untuk memenuhi standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat ( hubungan timbal balik pasien – perawat / dokter. dengan mempergunakan bantuan orang lain. Hal apa yang dikerjakan b. hubungan timbal balik ( sebab akibat) Kegiatan kesehatan ( rumah sakit / instansi kesehatan ) sekarang tidak lagi hanya di bidang pelayanan. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut. /Planning /(perencanaan) B.dikelola dengan baik. serta masyarakat umum lainnya ). Semuanya menyebabkan risiko bahaya yang dapat terjadi dalam ( rumah sakit / instansi kesehatan ) makin besar. Dalam perencanaan tersebut. /Organizing/ (organisasi) C. C. /Actuating /(pelaksanaan) D. /Controlling /(pengawasan) a) Planning/ (Perencanaan) Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mengapa mengerjakan d. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. Siapa yang mengerjakan e. kegiatan yang ditentukan meliputi: a. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu usaha-usaha pengamanan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan harus ditangani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan. mulai dari tingkat rumah sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau nasional. juga metode-metode yang dipakai makin banyak ragamnya.

di samping memberlakukan Undang-Undang Keselamatan Kerja. Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. 2. 5. 2007 5/ background image Manajemen keselamatan kerja profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat (Patelki.baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan ini. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . sehingga semua aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat (nasional) dan tingkat daerah (wilayah). maka menjadi tugas semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya. penyuluhan. Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional) perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah sakit / instansi yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : 1. Selain itu organisasi-organisasi profesi atau seminar tersebut dapat juga membentuk badan independen yang berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit / Instansi Kesehatan. 6. Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin rumah sakit / instansi kesehatan. 4. Memberikan bimbingan. 3. Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul permasalahan. d) Controlling/ (Pengawasan) . Kemudian mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. keragu-raguan atau pertentangan. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu rumah sakit / instansi kesehatan. Untuk itu setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah sakit / instansi kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam rumah sakit / instansi kesehatan. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . pelatihan pelaksana. c) Actuating/ (Pelaksanaan) Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong semangat kerja.an keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . 154. mengerahkan aktivitas. serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Dan lain-lain. Anggota organisasi profesi atau seminat yang terkait dengan kegiatan rumah sakit / instansi kesehatan dapat diangkat menjadi anggota komisi di tingkat daerah (wilayah) maupun tingkat pusat (nasional). Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi /Cermin Dunia Kedokteran No. mengkoordinasikan berbagai aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron).

Peraturan Kesehatan Kerja UU Kesehatan Nomor 23 tahun 2002 pasal 23 tentang kesehatan kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan. 5. K3RS di Indonesia telah memiliki 22 peraturan. kondisi fisik rumah sakit dapat membahayakan pasien.cara menghindari risiko bahaya dalam rumah sakit / instansi kesehatan. Memastikan semua petugas rumah sakit / instansi kesehatan memahami cara.05/Men. keluarga. serta pekerja. Dan lain-lain. Melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan. yaitu : a. karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di rumah sakit / instansi kesehatan. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus. D. 6. perlu diperhatikan 2 prinsip pokok. Di antara seluruh peraturan itu. 2006 juga mengatur bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 100 orang atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya wajib menerapkan sistem manajemen K3 (Bab III Pasal 3). mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . 3. 2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.praktek rumah sakit / instansi kesehatan yang baik. Adanya rencana b. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut. rumahsakit tidak terhindar dari kebakaran. Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah sakit (K3RS) dan Peran Dinas Kesehatan 1. Dalam rumah sakit / instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit / instansi kesehatan yang tugasnya antara lain : 1.Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. 4. Rumahsakit tidak terlepas dari peraturan-peraturan ini karena teknologi dan sarana kesehatan. bencana. Untuk dapat menjalankan pengawasan. paling banyak adalah peraturan menteri (9 buah) dan belum ada sama sekali peraturan . benar dan aman. Jika tidak dikelola. atau dampak buruk pada kesehatan. Ringkasan studi tentang penerapan K3RS di bawah ini bisa dijadikan kasus bagaimana lemahnya komitmen rumahsakit dalam hal ini.

Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Lima rumahsakit belum memiliki sarana IPAL dan sistem pengawasan yang memadai. Tidak ada tim khusus K3RS. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai otonom maka pemerintah daerah mempunyai legalitas dalam mengatur regulasi K3RS. FASILITAS ATAU SARANA/PRASARANA TENAGA KESEHATAN  Sarana/Prasana Kesehatan adalah sarana kesehatan yang meliputi berbagai alat / media elektronik yang harus ada di Tempat Kerja Kesehatan untuk penentuan jenis penyakit. 2.daerah. Penjabaran dari regulasi tersebut oleh pemerintah daerah dalam bentuk peraturan daerah belum ada sama sekali. regulasi K3RS ini lemah. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai Pilihan Rasional Rumahsakit Penelitian Bambang mengukur sembilan aspek yang bisa dijadikan tolok ukur bahwa rumahsakit itu memberikan komitmen pelaksanaan K3RS.  Harus tersedia alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaam (P3K) MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat sendiri tidak memiliki semua dokumen peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Padahal mengacu pada PP No. observasi di lapangan. penyebab penyakit. Kenyataan ini barang kali bisa mencerminkan keadaan sebelum desentralisasi. kondisi kesehatan dan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat. 6 dari 7 rumahsakit belum memiliki sistem keamanan dan tenaga khusus bidang K3RS. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Dinas kesehatan bahkan tidak memiliki satu staf yang mengurusi bidang ini. Daerah melaksanakan apa yang menjadi keputusan pusat dan barang kali karena keputusan pusat itu pula. Selain itu.  Disain Sarana / Prasarana Kesehatan harus mempunyai sistem yang memadai dengan sirkulasi udara yang adekuat agar suasana di dalam ruangan tersebut menjadi nyaman. Seperti terlihat dalam tabel di bawah ini. rumahsakit-rumahsakit ini tidak memiliki sistem pelaporan tentang kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Seluruh rumahsakit menyediakan sejumlah dana untuk keperluan K3RS.  Disain Sarana / Prasarana Kesehatan harus mempunyai pemadam api yang tepat terhadap segala sesuatu yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran. beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. .

Biasanya kecelakaan menyebabkan. Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok : 1. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI TENAGA KESEHATAN DAN PENCEGAHANNYA A. kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat.1. yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah. Beban Kerja Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 . Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :   Kecelakaan medis. 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat. jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu sendiri. Kondisi berbahaya (unsafe condition). Bahan dan lain-lain Lingkungan kerja Proses kerja .24 jam sehari. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30– 40% masyarakat pekerja kurang kalori protein. yaitu yang tidak aman dari:    Peralatan / Media Elektronik. 3. sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases). jika yang menjadi korban pasien Kecelakaan kerja. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident). Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Kapasitas Kerja Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. 2.

Perbuatan berbahaya (unsafe act). biasanya karena lantai licin. tali sepatu longgar Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya.  Pemeliharaan lantai dan tangga 2. Mengangkat beban Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat. memar otak. Akibat :   Ringan à memar Berat à fraktura. dll. Terpeleset .  Sifat pekerjaan Cara kerja 2. Pencegahan :    Pakai sepatu anti slip Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi. Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di Tempat Kerja Kesehatan. Faktor Lingkungan . yaitu perbuatan berbahaya dari manusia. Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di Tempat Kerja Kesehatan Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan. dislokasi. pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab. yang dapat terjadi antara lain karena:     Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect) Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh. Akibat : cedera pada punggung Pencegahan :    Beban jangan terlalu berat Jangan berdiri terlalu jauh dari beban Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok  Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat. harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di Tempat Kerja Kesehatan : 1. terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi.

cara mengangkat pasien salah). peralatan. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat. Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja. epidemilogi dan desinfeksi.) 1) Faktor Biologis Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya strain kuman yang resisten. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep.  Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat badani. faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO). radiasi dll. dan dilakukan imunisasi. punya cukup kekebalan alami untuk bekerja dengan bahan infeksius. tegangan tinggi. Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada kulit. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan.). benda-benda yang terkontaminasi dan udara. terutama kuman-kuman pyogenic. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis. dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Pencegahan :  Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan. yang bersumber dari pasien. Menurut Komite Ahli WHO (1973). mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit. debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi.kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja.   Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar. colli. uap timah dan keracunan timah. . sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta. sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar    Pengelolaan limbah infeksius dengan benar Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai. misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. Penyakit akibat kerja di Tempat Kerja Kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien). karantina dll. Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah “penyakit dengan penyebab multifaktorial. faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit. faktor ergonomi (cara duduk salah. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar. gawat darurat. Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen. Kebersihan diri dari petugas. Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat. zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati. bacilli dan staphylococci.

sarung tangan. celemek. secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak. kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat. Pencegahan :  ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas untuk petugas atau tenaga kesehatan laboratorium. jas laboratorium) dengan benar. nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggitingginya. laboratorium. Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar. bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis. teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat. 3) Faktor Ergonomi Ergonomi sebagai ilmu. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif.  Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja . karena dapat melekat antara mata dan lensa. misalnya tenaga operator peralatan. dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton).2) Faktor Kimia Petugas di tempat kerja kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obatobatan seperti antibiotika. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain).  Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata.   Hindari penggunaan lensa kontak. tetrachloromethane) jika tertelan. desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. bahkan kematian. ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja.  Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol untuk petugas / tenaga kesehatan laboratorium. Bahan toksik ( trichloroethane. 4) Faktor Fisik Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:   Kebisingan. aman. terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar. cara. getaran akibat alat / media elektronik dapat menyebabkan stress dan ketulian Pencahayaan yang kurang di ruang kerja. hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan. demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik.

Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahayaPeraturan/persyaratan pembuangan limbah dll. PENGENDALIAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DAN KECELAKAAN MELALUI PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA A. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non kesehatan     UU No. syarat kesehatan  Pengaturan jam kerja. dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara lain :  UU No.  Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain :  Persyaratan penerimaan tenaga medis. penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. Pencegahan :       Pengendalian cahaya di ruang kerja khususnya ruang laboratorium. B. lembur dan shift . Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai. para medis. dan tenaga non medis yang meliputi batas umur. jenis kelamin. UU No. Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi Pengaturan jadwal kerja yang sesuai. Pelindung mata untuk sinar laser Filter untuk mikroskop untuk pemeriksa demam berdarah 5. Untuk itu pekerja di tempat kerja kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan   Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton. Faktor Psikososial Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress :  Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal.Terkena radiasi Khusus untuk radiasi. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja.

proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung)  Perbaikan sistim ventilasi. alat kerja atau proses kerja Isolasi dari bahan-bahan kimia. alat kerja. Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi :           Anamnese umum Anamnese pekerjaan Penyakit yang pernah diderita Alrergi Imunisasi yang pernah didapat Pemeriksaan badan Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu: Tuberkulin test Psikotest . C. Dengan deteksi dini. dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan  Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya. Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya  Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler. dan lain-lain D. Pemeriksaan Awal Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya. alat-alat radiology. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control) antara lain :   Substitusi dari bahan kimia. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat. Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi: 1. mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Demikian pula dengan pihak petugas kesehatan dan non kesehatan yang menjadi sasaran program K3 ini harus berpartisipasi secara aktif. petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja kesehatan serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3 tersebut Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau pengelola tempat kerja kesehatan mempunyai peran sentral dalam pelaksanaan program ini. kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja atau masyarakat disekitarnya. Pemeriksaan Khusus Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu pemeriksaan berkala. memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan. perlu kemauan.2. makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya. . selamat. diharapkan petugas kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di tempat kerja kesehatan dapat bekerja dengan lebih produktif. Makin besar resiko kerja. bukan hanya sebagai obyek tetapi juga berperan sebagai subyek dari upaya mulia ini. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung-jawab terhadap kesehatan masyarakat. dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya. masyarakat dan lingkungan tenaga kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan sehat. sehingga tugas sebagai pelayan kesehatan kepada masyarakat dapat ditingkatkan mutunya. meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan sebagainya. Pemeriksaan Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern di Tempat Kerja Kesehatan. produktif dan sejahtera. sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan. Kesehatan dan keselamatan kerja di Tempat Kerja Kesehatan bertujuan agar petugas. menuju Indonesia Sehat 2010. utamanya pelayanan promotif dan preventif. Melalui kegiatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja . nyaman. 3. yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful