KESELAMATAN KERJA PERAWAT

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku pada tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia, telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup di dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Tenaga kesehatan yang perlu kita perhatikan yaitu semua tenaga kesehatan yang merupakan suatu institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan yang cukup besar. Kegiatan tenaga atau petugas kesehatan mempunyai risiko berasal dari faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kesehatan dan keselamatan kerja. Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi sarana dan prasarana, maka risiko yang dihadapi petugas tenaga kesehatan semakin meningkat. Petugas atau tenaga kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan yang merupakan kendala yang dihadapi untuk setipa tahunnya. Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat - alat kesehatan, berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase yang mematikan, dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukan ke jaringan hewan percobaan. Oleh karena itu penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor / Aspek Kesehatan.

sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Potensi bahaya di RS. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Semua potensi bahaya tersebut di atas. tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS. sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. gangguan psikososial dan ergonomi. dan sumber-sumber cidera lainnya). mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha. keluarga dan lingkungannya. yaitu kecelakaan (peledakan. tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. bebas dari pencemaran lingkungan. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan. bahan-bahan kimia yang berbahaya. para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS. agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja. Bahaya Yang Dihadapi Dalam Rumah Sakit Atau Instansi Kesehatan . selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS.A. sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja. khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan. kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik. setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kesehatan. B. keluarga. jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan di RS. gas-gas anastesi. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. radiasi. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri. merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Pengertian Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman. sehat. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Sebagai faktor penyebab. kebakaran.

Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum. 6. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. Luka bakar . gangguan saluran kemih. masalah kelahiran anak. prevalensi 42% dan di AS. thermal burns: 2%. yaitu sprains. Laporan lainnya yakni di Israel.9%. saluran pernafasan. namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. 87% pernah low back pain. Di Australia. varises. scratches.contussion. peraturan serta penerapan disiplin kerja. laceration. infections: 1. sakit pinggang. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS. 7.5 kali dari petugas atau pekerja lain. misalnya bahaya infeksius. anemia (kebanyakan wanita). abrasions: 1. Syok akibat aliran listrik . 2. multiple injuries: 2. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak (obat– obatan).3%.1%. Selain itu. terkilir. maka perlu upaya untuk mengendalikan. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1. yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. korosif dan kaustik . 1983). peralatan listrik maupun peralatan kesehatan.62/100 perawat per tahun. seperti sakit telinga. tercatat bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS.4% (US Department of Laboratorium. 4. yaitu penyakit infeksi dan parasit. Bahan beracun. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas. gangguan pada saat kehamilan. meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. strains : 52%. reagensia yang toksik . bruising : 11%.8%. diantara 813 perawat. antara lain dengan penjelasan. Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan. sakit kepala. luka bakar. Bahaya infeksi dari kuman. oleh karena itu K3 RS perlu . Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam .6%. cuts. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16. insiden cedera musculoskeletal 4.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam : 1. virus atau parasit. punctures: 10. Bureau of Laboratorium Statistics. dan lain-lain: 12. crushing. 3. Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain.Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu. Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan.2%. 5. dan penyakit infeksi dan lain-lain. fractures: 5. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. dermatitis: 1. tergores/terpotong. yakni hipertensi. Bahaya radiasi . Khusus di Indonesia. saluran cerna dan keluhan lain. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS.

Kapan harus dikerjakan f. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. kegiatan yang ditentukan meliputi: a. Dalam perencanaan tersebut. serta masyarakat umum lainnya ). /Actuating /(pelaksanaan) D. /Planning /(perencanaan) B. diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit dan instansi kesehatan.perencanaan ini dilakukan untuk memenuhi standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat ( hubungan timbal balik pasien – perawat / dokter. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. dimembagi kegiatan atau fungsi manajemen tesebut menjadi : A. Untuk mencapai tujuan tersebut. C. tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malprektek) serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. dengan mempergunakan bantuan orang lain. /Organizing/ (organisasi) C. Bagaiman cara mengerjakannya c. Hal apa yang dikerjakan b. Semuanya menyebabkan risiko bahaya yang dapat terjadi dalam ( rumah sakit / instansi kesehatan ) makin besar. Siapa yang mengerjakan e. efisien dan terpadu.dikelola dengan baik. Mengapa mengerjakan d. Oleh karena itu usaha-usaha pengamanan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan harus ditangani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan. juga metode-metode yang dipakai makin banyak ragamnya. /Controlling /(pengawasan) a) Planning/ (Perencanaan) Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini . Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. Dimana kegiatan itu harus dikerjakan g. mulai dari tingkat rumah sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau nasional. hubungan timbal balik ( sebab akibat) Kegiatan kesehatan ( rumah sakit / instansi kesehatan ) sekarang tidak lagi hanya di bidang pelayanan. b) Organizing/ (Organisasi) Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang.

154. Kemudian mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. Untuk itu setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah sakit / instansi kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam rumah sakit / instansi kesehatan. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . Memberikan bimbingan. mengkoordinasikan berbagai aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron).an keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . 2. 6. maka menjadi tugas semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya. mengerahkan aktivitas. 3. Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi /Cermin Dunia Kedokteran No. 2007 5/ background image Manajemen keselamatan kerja profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat (Patelki. HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan ini. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat (nasional) dan tingkat daerah (wilayah). Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional) perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah sakit / instansi yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : 1. sehingga semua aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Dan lain-lain. Selain itu organisasi-organisasi profesi atau seminar tersebut dapat juga membentuk badan independen yang berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit / Instansi Kesehatan. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . d) Controlling/ (Pengawasan) . 4. di samping memberlakukan Undang-Undang Keselamatan Kerja. Anggota organisasi profesi atau seminat yang terkait dengan kegiatan rumah sakit / instansi kesehatan dapat diangkat menjadi anggota komisi di tingkat daerah (wilayah) maupun tingkat pusat (nasional). keragu-raguan atau pertentangan. Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit / instansi kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. pelatihan pelaksana. c) Actuating/ (Pelaksanaan) Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong semangat kerja. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu rumah sakit / instansi kesehatan. Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin rumah sakit / instansi kesehatan. 5. Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul permasalahan. penyuluhan.

Dan lain-lain. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah sakit (K3RS) dan Peran Dinas Kesehatan 1. keluarga. atau dampak buruk pada kesehatan. 2. benar dan aman. K3RS di Indonesia telah memiliki 22 peraturan.cara menghindari risiko bahaya dalam rumah sakit / instansi kesehatan. bencana. Adanya rencana b. Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. paling banyak adalah peraturan menteri (9 buah) dan belum ada sama sekali peraturan . Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus. serta pekerja. 5. 4. Memastikan semua petugas rumah sakit / instansi kesehatan memahami cara. Dalam rumah sakit / instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit / instansi kesehatan yang tugasnya antara lain : 1. Rumahsakit tidak terlepas dari peraturan-peraturan ini karena teknologi dan sarana kesehatan. Jika tidak dikelola.Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di rumah sakit / instansi kesehatan. Ringkasan studi tentang penerapan K3RS di bawah ini bisa dijadikan kasus bagaimana lemahnya komitmen rumahsakit dalam hal ini. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut. perlu diperhatikan 2 prinsip pokok. Peraturan Kesehatan Kerja UU Kesehatan Nomor 23 tahun 2002 pasal 23 tentang kesehatan kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan. rumahsakit tidak terhindar dari kebakaran. 3. Di antara seluruh peraturan itu.05/Men. kondisi fisik rumah sakit dapat membahayakan pasien. mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan . 2006 juga mengatur bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 100 orang atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya wajib menerapkan sistem manajemen K3 (Bab III Pasal 3). D. 6. Melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan. yaitu : a.praktek rumah sakit / instansi kesehatan yang baik. Untuk dapat menjalankan pengawasan. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek.

. penyebab penyakit. Dinas kesehatan bahkan tidak memiliki satu staf yang mengurusi bidang ini. Padahal mengacu pada PP No. Kenyataan ini barang kali bisa mencerminkan keadaan sebelum desentralisasi. 6 dari 7 rumahsakit belum memiliki sistem keamanan dan tenaga khusus bidang K3RS. FASILITAS ATAU SARANA/PRASARANA TENAGA KESEHATAN  Sarana/Prasana Kesehatan adalah sarana kesehatan yang meliputi berbagai alat / media elektronik yang harus ada di Tempat Kerja Kesehatan untuk penentuan jenis penyakit. Daerah melaksanakan apa yang menjadi keputusan pusat dan barang kali karena keputusan pusat itu pula. beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja.  Disain Sarana / Prasarana Kesehatan harus mempunyai pemadam api yang tepat terhadap segala sesuatu yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran. Seperti terlihat dalam tabel di bawah ini. rumahsakit-rumahsakit ini tidak memiliki sistem pelaporan tentang kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Penjabaran dari regulasi tersebut oleh pemerintah daerah dalam bentuk peraturan daerah belum ada sama sekali. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat sendiri tidak memiliki semua dokumen peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Seluruh rumahsakit menyediakan sejumlah dana untuk keperluan K3RS.daerah. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai Pilihan Rasional Rumahsakit Penelitian Bambang mengukur sembilan aspek yang bisa dijadikan tolok ukur bahwa rumahsakit itu memberikan komitmen pelaksanaan K3RS. observasi di lapangan. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai otonom maka pemerintah daerah mempunyai legalitas dalam mengatur regulasi K3RS.  Disain Sarana / Prasarana Kesehatan harus mempunyai sistem yang memadai dengan sirkulasi udara yang adekuat agar suasana di dalam ruangan tersebut menjadi nyaman. 2. regulasi K3RS ini lemah.  Harus tersedia alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaam (P3K) MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja. Lima rumahsakit belum memiliki sarana IPAL dan sistem pengawasan yang memadai. Tidak ada tim khusus K3RS. kondisi kesehatan dan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat. Selain itu.

jika yang menjadi korban pasien Kecelakaan kerja. Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu sendiri. Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases). Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30– 40% masyarakat pekerja kurang kalori protein. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat. 3. kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat. sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja. Biasanya kecelakaan menyebabkan. akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Kapasitas Kerja Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Beban Kerja Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 . Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :   Kecelakaan medis. Bahan dan lain-lain Lingkungan kerja Proses kerja . dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres. 2.24 jam sehari. yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok : 1.1. Kondisi berbahaya (unsafe condition). Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan. yaitu yang tidak aman dari:    Peralatan / Media Elektronik. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI TENAGA KESEHATAN DAN PENCEGAHANNYA A. Lingkungan Kerja Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident).

Akibat :   Ringan à memar Berat à fraktura. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di Tempat Kerja Kesehatan : 1. Mengangkat beban Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat. dislokasi. tali sepatu longgar Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya. harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Akibat : cedera pada punggung Pencegahan :    Beban jangan terlalu berat Jangan berdiri terlalu jauh dari beban Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok  Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat. Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di Tempat Kerja Kesehatan Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan.  Sifat pekerjaan Cara kerja 2. Terpeleset . Faktor Lingkungan . Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di Tempat Kerja Kesehatan. Perbuatan berbahaya (unsafe act). Pencegahan :    Pakai sepatu anti slip Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi. dll. yang dapat terjadi antara lain karena:     Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect) Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh. yaitu perbuatan berbahaya dari manusia. pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab.  Pemeliharaan lantai dan tangga 2. biasanya karena lantai licin. terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi. memar otak.

zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati. misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. terutama kuman-kuman pyogenic. . mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit. bacilli dan staphylococci. dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen. gawat darurat. radiasi dll. Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja. punya cukup kekebalan alami untuk bekerja dengan bahan infeksius. Menurut Komite Ahli WHO (1973). faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien. epidemilogi dan desinfeksi. dan dilakukan imunisasi. Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat. sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta. Kebersihan diri dari petugas. Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar. debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan.). yang bersumber dari pasien. faktor ergonomi (cara duduk salah. colli. Pencegahan :  Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan.kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja.) 1) Faktor Biologis Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya strain kuman yang resisten. benda-benda yang terkontaminasi dan udara. cara mengangkat pasien salah). Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO).  Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat badani. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah “penyakit dengan penyebab multifaktorial. faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit. Penyakit akibat kerja di Tempat Kerja Kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien). peralatan.   Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar. sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar    Pengelolaan limbah infeksius dengan benar Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai. tegangan tinggi. karantina dll. uap timah dan keracunan timah. faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada kulit. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis.

3) Faktor Ergonomi Ergonomi sebagai ilmu.  Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata. demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik. hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia.  Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol untuk petugas / tenaga kesehatan laboratorium.2) Faktor Kimia Petugas di tempat kerja kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obatobatan seperti antibiotika. laboratorium. misalnya tenaga operator peralatan. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain). aman. desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. karena dapat melekat antara mata dan lensa. dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif. sarung tangan. 4) Faktor Fisik Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:   Kebisingan. Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak. ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja. teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka.  Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja . Pencegahan :  ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas untuk petugas atau tenaga kesehatan laboratorium. tetrachloromethane) jika tertelan. terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik. nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggitingginya. cara. bahkan kematian. proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan. secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah. bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis. celemek.   Hindari penggunaan lensa kontak. Bahan toksik ( trichloroethane. jas laboratorium) dengan benar. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar. getaran akibat alat / media elektronik dapat menyebabkan stress dan ketulian Pencahayaan yang kurang di ruang kerja.

lembur dan shift . Faktor Psikososial Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress :  Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang.Terkena radiasi Khusus untuk radiasi. UU No. B. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara lain :  UU No. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja. para medis. Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi Pengaturan jadwal kerja yang sesuai. jenis kelamin. syarat kesehatan  Pengaturan jam kerja.Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal. PENGENDALIAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DAN KECELAKAAN MELALUI PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA A. Pencegahan :       Pengendalian cahaya di ruang kerja khususnya ruang laboratorium. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain :  Persyaratan penerimaan tenaga medis. penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahayaPeraturan/persyaratan pembuangan limbah dll.  Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar. dan tenaga non medis yang meliputi batas umur. dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan. Untuk itu pekerja di tempat kerja kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan   Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non kesehatan     UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai. Pelindung mata untuk sinar laser Filter untuk mikroskop untuk pemeriksa demam berdarah 5.

dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan  Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya. alat-alat radiology. maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat. dan lain-lain D. Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi :           Anamnese umum Anamnese pekerjaan Penyakit yang pernah diderita Alrergi Imunisasi yang pernah didapat Pemeriksaan badan Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu: Tuberkulin test Psikotest . Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control) antara lain :   Substitusi dari bahan kimia. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya. Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya  Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler. C. alat kerja atau proses kerja Isolasi dari bahan-bahan kimia. Pemeriksaan Awal Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Dengan deteksi dini. Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi: 1. mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. alat kerja. proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung)  Perbaikan sistim ventilasi.

Kesehatan dan keselamatan kerja di Tempat Kerja Kesehatan bertujuan agar petugas. Demikian pula dengan pihak petugas kesehatan dan non kesehatan yang menjadi sasaran program K3 ini harus berpartisipasi secara aktif. Makin besar resiko kerja. Pemeriksaan Khusus Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu pemeriksaan berkala. perlu kemauan. dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya. . sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan. yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja atau masyarakat disekitarnya. produktif dan sejahtera. Melalui kegiatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja . selamat.2. makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya. meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan sebagainya. 3. utamanya pelayanan promotif dan preventif. nyaman. masyarakat dan lingkungan tenaga kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan sehat. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern di Tempat Kerja Kesehatan. menuju Indonesia Sehat 2010. bukan hanya sebagai obyek tetapi juga berperan sebagai subyek dari upaya mulia ini. petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja kesehatan serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3 tersebut Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau pengelola tempat kerja kesehatan mempunyai peran sentral dalam pelaksanaan program ini. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung-jawab terhadap kesehatan masyarakat. diharapkan petugas kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di tempat kerja kesehatan dapat bekerja dengan lebih produktif. memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Pemeriksaan Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. sehingga tugas sebagai pelayan kesehatan kepada masyarakat dapat ditingkatkan mutunya.