P. 1
Proposal MetPen.docx

Proposal MetPen.docx

|Views: 322|Likes:
Published by Muhammad Alfian

More info:

Published by: Muhammad Alfian on Feb 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penuaan populasi dunia adalah suatu fenomena global abad 21 ini. Fenomena ini terjadi karena adanya proses penuaan struktur penduduk yang terjadi di dunia. Ratio populasi lansia sekarang yaitu 1:10 dan diperkirakan tahun 2050, ratio akan meningkat 1:5. Diperkirakan antara tahun 1970-2025 penduduk lansia dunia bertambah 694 juta atau 233% menjadi 1,2 miliar (Sidik et al, 2004). Populasi lansia di Indonesia pada satu dekade terakhir ini mengalami peningkatan cukup berarti. Menurut data Pusat Stasitik, jumlah lansia di Indonesia pada tahun 1980 adalah sebanyak 7,7 juta jiwa atau hanya 5,2% dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lansia meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9%. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 23,9 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat lagi secara signifikan sebesar 11,4% atau sebanyak 28,8 juta jiwa pada tahun 2020. Hal ini berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan yang dialami oleh masyarakat Indonesia khususnya di bidang kesehatan yang ditunjukkan dengan semakin tingginya angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Pada tahun 1980, angka harapan hidup masyarakat Indonesia hanya sebesar 52,2 tahun, sepuluh tahun kemudian meningkat menjadi 59,8 tahun pada tahun 1990 dan satu dasa warsa berikutnya naik lagi menjadi 64,5 tahun. Pada tahun 2010 usia harapan hidup lansia
1

adalah 67,4 tahun dan diperkirakan pada tahun 2020 harapan hidup penduduk Indonesia akan mencapai 71,1 tahun (Subijanto et al, 2011). Semakin bertambahnya angka harapan hidup seseorang berarti semakin banyak jumlah lansia. Di sisi lain, jumlah lansia yang semakin banyak justru menjadi permasalahan tersendiri jika tidak disertai penanganan yang tepat. Banyak masalah kesehatan yang harus dihadapi oleh kaum lansia baik fisik maupun mental (Apriani, 2009). Depresi merupakan masalah yang paling banyak ditemui pada lansia. Prevalensi depresi pada lansia di dunia sekitar 8-15%. Hasil survey dari berbagai negara di dunia diperoleh prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13,5%. Sementara prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di RS dan Panti Perawatan sebesar 30-45% (Apriani, 2009). Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga kehilangan gairah hidup, tetapi tidak mengalami gangguan dalam menilai realita dan perilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal. Salah satu penyebab depresi adalah stressor psikososial sebagai dampak dari pola hidup yang individualistis, materialistis dan sekuler. Terhadap kelompok ini pendekatan keagamaan sangat besar manfaatnya (Hawari, 2005). ADL adalah kegiatan melakukan pekerjaan rutin sehari-hari. ADL merupakan aktivitas pokok pokok bagi perawatan diri. ADL meliputi antara lain ke toilet, makan,

2

berpakaian (berdandan), mandi, dan berpindah tempat . (Hardywinito & Setiabudi, 2005). Sedangkan menurut Brunner & Suddarth (2002) ADL adalah aktifitas perawatan diri yang harus pasien lakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup sehari-hari .ADL adalah ketrampilan dasar dan tugas okupasional yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya secara mandiri yang dikerjakan seseorang sehari-harinya dengan tujuan untuk memenuhi/berhubungan dengan perannya sebagai pribadi dalam keluarga dan masyarakat (Sugiarto,2005) Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru didapatkan jumlah lansia sebanyak 110 orang, seluruhnya berusia ≥ 60 tahun. Lansia di PSTW tersebut 95,5% Muslim yaitu sebanyak 105 orang, mereka melaksanakan berbagai macam kegiatan seperti senam dan pengajian, namun diantara mereka merupakan warga yang tidak pernah dihiraukan keluarganya lagi. Oleh karena itu, calon peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai apakah terdapat hubungan antara tingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian yang dapat diajukan yaitu apakah terdapat hubungan antara tingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru.

3

3. 4 . Mengetahui tingkat depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Mengetahui aktifitas perawatan diri pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang positif terhadap berbagai pihak yaitu hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan referensi dan pengembangan penelitian selanjutnya. Tujuan khusus penelitian ini adalah: 1. 2.C. D. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat pada masyarakat untuk menambah informasi dan wawasan mengenai hubungan mengetahui hubungan antara tingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Menganalisis mengetahui hubungan antara tingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru.

Sementara batasan usia lansia menurut WHO meliputi lanjut usia (elderly). yaitu suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. 2010). lanjut usia tua (old). 1980). antara 60 sampai 74 tahun. 2. Batasan Lansia Barbara Newman dan Philip Newman membagi masa lansia ke dalam 2 periode. usia sangat tua (very old). antara 75 sampai 90 tahun. yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian (Wulansari. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Sosial membagi lansia ke dalam 2 kategori yaitu usia lanjut potensial 5 . atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat (Hurlock. diatas 90 tahun. yaitu masa dewasa akhir (later adulthood) (usia 60 sampai 75 tahun) dan usia yang sangat tua (very old age) (usia 75 tahun sampai meninggal dunia) (Hayati. Konsep Lansia 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Secara biologis lansia adalah proses penuaan secara terus menerus. Definisi Lansia Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. 2011).

dan usia lanjut non potensial. psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi. pada usia di atas 55 tahun terjadi proses menua secara alamiah (Halis et al. 3. psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama lain. Menua didefinisikan sebagai perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Usia lanjut potensial adalah usia lanjut yang memiliki potensi dan dapat membantu dirinya sendiri bahkan membantu sesamanya. Sedangkan usia lanjut non potensial adalah usia lanjut yang tidak memperoleh penghasilan dan tidak dapat mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya sendiri (Hayati. Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. 2009). Secara individu. Hal tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik. ketidakmampuan (disability) dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Santi. 2010). Proses Menua Proses menua (aging) adalah suatu keadaan alami selalu berjalan dengan disertai adanya penurunan kondisi fisik. Proses menua dapat terjadi secara fisiologis maupun patologis. 2008). kelemahan (impairment). Apabila seseorang mengalami proses menua secara fisiologis maka proses menua terjadi 6 . keterbatasan fungsional (functional limitations).

Kebutuhan fisik meliputi sandang. 2008). 4. Kebutuhan spiritual. b.secara alamiah atau sesuai dengan kronologis usianya (penuaan primer). pangan. e. 2011): a. Proses menua seseorang yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksogen. bantuan modal dan penguatan kelembagaan. d. Makin melemahnya nilai kekerabatan 7 sehingga anggota keluarga . kesehatan. 1) 2) Permasalahan umum : Makin besarnya jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan. sementara untuk lansia yang potensial membutuhkan adanya tambahan keterampilan. 5. Permasalahan pada Lansia Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lansia antara lain (Wulansari. dihormati dan mendapatkan perhatian lebih dari sekelilingnya. papan. meskipun tidak potensial lansia juga mempunyai kebutuhan secara ekonomi sehingga harus terdapat sumber pendanaan dari luar. 2011): a. c. yaitu kebutuhan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. kebutuhan lansia terbagi atas (Subijanto et al. Kebutuhan sosial. Kebutuhan ekonomi. misalnya lingkungan. Kebutuhan Hidup Lansia Secara lebih detail. Kebutuhan psikis yaitu kebutuhan untuk dihargai. sosial budaya dan gaya hidup disebut mengalami proses menua secara patologis (penuaan sekunder) (Fatimah.

6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia. 5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik. 3) Rendahnya produktivitas kerja lansia. 6. 3) Keterbatasan kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia oleh pemerintah dan masyarakat. telantar dan cacat. mental maupun sosial. b. 2011): a. Perubahan-perubahan fisik 8 . dihargai dan dihormati.yang berusia lanjut kurang diperhatikan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut (Wulansari. 4) Peningkatan mobilitas penduduk (termasuk lansia) menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan terhadap kemudahan transportasi atau komunikasi bagi para lansia saat ini belum tersedia memadai. baik berupa keterbatasan tenaga professional. 4) Banyaknya lansia yang miskin. 2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia. Permasalahan khusus : 1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. pelayanan dan fasilitas bagi para lansia.

yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman dan keluarga 5) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik : perubahan terhadap gambaran diri. gastrointestinal. kardiovaskuler. perubahan konsep diri . b. sistem respirasi. penglihatan. 2) Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya. 9 . endokrin dan integument. Perubahan-perubahan mental Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental. c. pendengaran.Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh diantaranya sistem pernafasan. hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari. yaitu: 1) Kesehatan umum 2) Tingkat pendidikan 3) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan 4) Rangkaian dari kehilangan. sistem pengaturan temperatur tubuh. genitourinaria. muskuloskletal. Perkembangan spiritual 1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.

Lansia dengan umur 85 dan lebih tua lebih mudah diserang depresi daripada kelompok umur lain. Depresi mempunyai konsekuensi kesehatan yang serius seperti biaya kesehatan meningkat. depresi akan menjadi peringkat pertama terkait dengan ketidakmampuan (Camara et al. oleh karena itu gejala dan keluhannya sering tersamar dan bertumpang tindih dengan kondisi penyakit lain yang diderita. Depresi pada masa sekarang diperkirakan dapat menjadi potensial kondisi parah dengan implikasi sosial dan klinik yang negatif. Diperkirakan pada tahun 2020. ketiadaan gairah hidup. bahkan dengan proses penuaan normal sendiri (Dewi dkk. 2011). Konsep Depresi 1. 2. gejala depresi berkaitan dengan tingginya medikasi dan penggunaan layanan kesehatan (Jeon & Ruth. Depresi pada pasien geriatri sering berkomorbid dengan penyakit lain. Pada pasien usia lanjut tampilan yang paling umum adalah keluhan somatis. perasaan tidak berguna dan putus asa (Subijanto. Pada lansia. ketidakmampuan 10 . distress pasien dan pemberi keperawatan. Depresi pada Lansia Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang sering ditemukan pada pasien geriatri. 2009). kelesuan. Definisi Depresi Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan. Dhani.B. 2008). 2007). Yoni. Lansia mempunyai risiko tinggi dalam perkembangan depresi daripada populasi umum. hilang selera makan dan gangguan pola tidur.

2008). Sebagian besar lansia yang mempunyai gejala depresif yang signifikan tidak memenuhi kriteria diagnostik depresi mayor (Carriere et al. dan faktor seperti kehilangan dan isolasi sosial membuat 11 . Faktor psikologis meliputi kondisi sosial ekonomi dan kepribadian premorbid. 2003). Depresi pada lanjut usia berhubungan dengan status ekonomi rendah. dengan lebih 74% orang dalam komunitas yang tetap terkena depresi 1 tahun setelah deteksi. 2011). Dampak gangguan depresi pada lanjut usia berasal dari faktor fisik. psikologis dan sosial yang saling berinteraksi secara merugikan dan memperburuk kualitas hidup dan produktifitas kerja pada lanjut usia. penyakit fisik yang menyertai dan isolasi sosial.fisik yang signifikan. Kondisi depresi cenderung meningkatkan produksi adrenalin dan kortisol yang diketahui dapat menurunkan tingkat kekebalan tubuh sehingga seseorang dengan depresi beresiko mudah terserang penyakit. Faktor fisik yang dimaksud adalah penyakit fisik yang diderita lanjut usia. dan meningkatkan mortalitas berkaitan penyakit medis dan bunuh diri (Diwan et al. fungsi peran dan sosial. Depresi pada lanjut usia sering tampak sebagai gejala somatik. sedangkan faktor sosial yang berpengaruh adalah berkurangnya interaksi sosial atau dukungan sosial dan kesepian yang dialami lanjut usia (Agustin & Sarah. Prognosis tingkat depresif ini buruk (Cole & Nandini. Penyakit yang mempengaruhi fisik mungkin membuat farmakologi konvensional kurang diinginkan. Prevalensi depresi mayor untuk populasi lansia umum yaitu 1-3% dan 8-16% mempunyai gejala depresif yang signifikan. 2004). kematian pasangan. Depresi mayor sering menjadi gangguan kronik pada orang lanjut usia.

2011). dan insomnia (www. 2005). Menurut Brodaty (1991) gejala yang sering tampil adalah anxietas atau kecemasan.go. Bagi tenaga kesehatan sangan penting untuk mendeteksi gejala depresif (Ryan et al. 2009). hubungan terjadinya depresi dengan umur lebih kompleks.dinkes-sulsel. kurang semangat. yang mengingatkan petugas kesehatan pentingnya mengkaji semua faktor yang berkaitan dengan penuaan dan tidak hanya memperhatikan umur lansia saja (Mitchell &Hari. preokupasi gejala fisik. hilangnya minat/hobi atau menurunnya aktivitas) sering tidak muncul.id. karena manifestasi gejala-gejala depresi klasik (perasaan sedih. Hubungan ini dimodifikasi ketika ada penggunaan antidepresan. Tidaklah mudah untuk membedakan sekuel gejala psikologik akibat penyakit fisik dari gangguan depresi atau gejala somatik depresi dari efek sistemik penyakit fisik. namun kebanyakan menyangkal adanya mood depresi. perlambatan motorik. 2008). Keduanya bisa saja terjadi pada seorang individu usia lanjut pada saat yang sama. Berdasarkan hasil penelitian. pikiran bunuh diri. Risiko mortalitas meningkat pada lakilaki dengan depresi sub-klinis. mencela diri sendiri. 12 .intervensi psikologis lebih relevan (Serfaty et al. Depresi mempunyai hubungan dengan mortalitas pada lansia dan hal berkaitan dengan gender serta variasi tingkat gejala. Seorang usia lanjut yang mengalami depresi bisa saja mengeluhkan mood yang menurun. yang mengindikasikan pentingnya memasukkan faktor ini dalam mengkaji risiko mortalitas. fatigue (kelelahan). Mengenali depresi pada usia lanjut memerlukan suatu keterampilan dan pengalaman.

13 . dari sejumlah penyelidikan yang telah dilakukan ditemukan bahwa terdapat dukungan keterlibatan herediter dalam penyakit depresi. Ketidakberdayaan. c. bersikap pasif. 2011): a. b. Genetik. dan ketidakmampuan untuk bersikap asertif pada dirinya dan orang lain. 3. Perasaan ini terjadi akibat terputusnya atau hilangnya interaksi sosial yang merupakan salah satu faktor pencetus terjadi depresi pada lansia di Panti (Sumirta. yang dipelajari menunjukan bahwa bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mampunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam hidupnya. Kehilangan objek. menyatakan bahwa penyakit depresif terjadi jika pribadi tersebut terpisah atau ditolak orang terdekat (seperti keluarga) selama 6 bulan pertama kehidupan. Orang ini percaya tidak seorang pun yang dapat membantunya dan tidak seorang pun dapat melakukan sesuatu untuknya.Lansia yang berada dalam Panti dengan berbagai alasan akan merasa kesepian bila tidak ada kegiatan yang terorganisir dan jarangnya dikunjungi oleh keluarga. Faktor Predisposisi Faktor-faktor predisposisi terhadap depresi adalah sebagai berikut (Wulansari. Keyakinan yang negatif tersebut yang menyebabkan orang tersebut putus harapan. Proses ikatan diputuskan dan individu menarik diri dari orang lain dan lingkungan. 2009).

Sampai saat ini belum ada suatu konsensus atau prosedur khusus untuk penapisan / skrining depresi pada populasi usia lanjut. terutama pada wanita. Pemeriksaan Depresi pada Lansia Salah satu langkah awal yang penting dalam penatalaksanaan depresi adalah mendeteksi atau mengidentifikasi. 2011). seseorang. Salah satu kriteria penilaian yang dapat digunakan dalam menilai status depresi lansia adalah Geriatric Depression Scale (GDS) yang terdiri atas 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh pasien sendiri. GDS ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan saja (McCormack et al. 14 . c. Faktor Pencetus Ada empat sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam perasaan (Wulansari.4. 2011): a. fungsi fisik. Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi perkembangan depresi. Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah. b. Kehilangan keterikatan yang nyata atau yang dibayangkan. kedudukan. atau harga diri. d. 5. seperti infeksi. neoplasma. dan gangguan keseimbangan metabolik dapat mencetuskan gangguan alam perasaan. termasuk kehilangan cinta.

Pemeriksaan status mental 1) Penampilan dan perilaku 2) Mood/ suasana perasaan hati 15 . Pemeriksaan kognitif Penilaian Mini Mental State Examination (MMSE) pada usia lanjut yang menunjukkan gejala depresi bermanfaat dalam tindak lanjut penatalaksanaan pasien. c. harus dilakukan lagi pemeriksaan yang lebih rinci sebagai berikut (Wulansari. Riwayat klinik / anamnesis 1) Riwayat keluarga 2) Gangguan psikiatri yang lampau 3) Kepribadian 4) Riwayat sosial 5) Ide / percobaan bunuh diri 6) Gangguan-gangguan somatik 7) Perkembangan gejala-gejala depresi b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada pasien depresi sangat penting karena gejala gejala depresi sering disertai dengan penyakit fisik. d. menunjukkan bahwa pasien dengan depresi mengalami masalah konsentrasi dan memori yang mempengaruhi fungsi kognitifnya.Bilamana ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada depresi. Perbaikan pada MMSE setelah dilakukan terapi terhadap depresi. 2011): a.

ADL dasar. dan berpindah tempat . Macam – Macam ADL (Activity Daily Living) a. toileting. ADL merupakan aktivitas pokok pokok bagi perawatan diri. Konsep ADL (Activity Daily Living) 1. Sedangkan menurut Brunner & Suddarth (2002) ADL adalah aktifitas perawatan diri yang harus pasien lakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup sehari-hari . berhias. yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya meliputi berpakaian. mandi. makan. ADL meliputi antara lain ke toilet. Dalam kepustakaan lain juga 16 .ADL adalah ketrampilan dasar dan tugas okupasional yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya secara mandiri yang dikerjakan seseorang sehari-harinya dengan tujuan untuk memenuhi/berhubungan dengan perannya sebagai pribadi dalam keluarga dan masyarakat (Sugiarto. berpakaian (berdandan). mandi.3) Pembicaraan 4) Isi pikiran 5) Gejala hipokondriakal C.2005). makan & minum. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. (Hardywinito & Setiabudi. 2. 2005). sering disebut ADL saja. Definisi ADL (Activity Daily Living) ADL adalah kegiatan melakukan pekerjaan rutin sehari-hari.

hobi.disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. menulis. yaitu ADL yang berhubungan dengan penggunaan alat atau benda penunjang kehidupan sehari-hari seperti menyiapkan makanan. mengetik. ADL non vokasional. ADL vokasional. ADL instrumental.2005) b. Dalam kepustakaan lain juga disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto. yaitu ADL yang bersifat rekreasional. mengelola uang kertas ADL dasar. sering disebut ADL saja. dan mengisi waktu luang. mandi. yaitu ADL yang berhubungan dengan pekerjaan atau kegiatan sekolah. menggunakan telefon. 17 . yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya meliputi berpakaian. berhias.2005) c. makan & minum. d. toileting.

2011). Pada lansia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Suaib. Proses ini membawa perubahan-perubahan yang mempengaruhi struktur baik fisik maupun mentalnya serta fungsi-fungsinya juga (Hurlock. Salah satu gangguan yang dapat muncul adalah gangguan mental. Landasan Teori Proses menua merupakan proses sepanjang hidup. yaitu penurunan progresif fungsi-fungsi biologis dan penurunan ketahanan terhadap berbagai bentuk stressor dan peningkatan kerentanan terhadap berbagai penyakit. Pada lansia gejala-gejala depresi sering sulit untuk diamati karena terselubung oleh kondisi medis lain sehingga sulit 18 . Depresi adalah satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya. 2011). tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu. tapi dimulai sejak permulaan kehidupan. ada peningkatan sensitifitas emosional yang dapat menjadi sumber masalah pada proses menua. Di samping itu. 1980). dan yang paling sering muncul adalah gangguan depresi (Suaib. Kemunduran-kemunduran yang telah disebutkan di atas memiliki dampak terhadap perilaku dan perasaan lansia nantinya. Ada dua aspek penting yang terkait pada proses menua.BAB III LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A.

ADL dasar dipengaruhi oleh : 1. 4. gangguan mata dan telinga 2) Kapasitas mental 3) Status mental seperti kesedihan dan depresi 4) Penerimaan terhadap fungsinya anggota tubuh 5) Dukungan anggota keluarga 19 . ADL terdiri dari aspek motorik yaitu kombinasi gerakan volunter yang terkoordinasi dan aspek propioseptif sebagai umpan balik gerakan yang dilakukan. 2011).untuk didiagnosa. memperburuk kondisi medis dan meningkatkan risiko bunuh diri (Suaib. ROM sendi Kekuatan otot Tonus otot Propioseptif Persepti visual Kognitif Koordinasi Keseimbangan (Sugiarto. 8. Akibatnya. 5. 7.2005) Menurut Hadiwynoto (2005) faktor yang mempengaruhi penurunan Activities Daily Living adalah: 1) Kondisi fisik misalnya penyakit menahun. lansia yang menderita depresi tidak akan diterapi dengan cepat dan tepat sehingga depresi akan bertambah parah dan dapat menimbulkan ketidakmampuan. 2. 3. 6.

20 .Proses Menua Kebutuhan Lansia Kemunduran Fisik Menua Psikis Sosial Fisik Relaksasi Mental Ekonomi Spiritual Religius Depresi Keterangan : : Arah yang diteliti : Arah yang tidak diteliti : Variabel diteliti : Variabel tidak diteliti Activity Daily Living Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Antara Tingkat Depresi Terhadap Activity Daily Living Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru B. Hipotesis Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru.

yaitu berjumlah 110 orang. Kriteria inklusi a. Sampel dalam penelitian ini adalah lanjut usia (lansia) yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Bersedia menjadi responden c. B. dengan kriteria inklusi dan ekslusi sebagai berikut: 1. Pengukuran dilakukan terhadap variabel bebas dan terikat secara bersamaan dalam satu waktu untuk mengetahui adanya hubungan antara rtingkat depresi terhadap activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimen. Data diperoleh dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah lanjut usia (lansia) yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Menurunnya activity daily living 21 . Dapat berkomunikasi dengan baik d. Lansia berusia minimal 60 tahun b. Memiliki gangguan jiwa depresi e.BAB IV METODE PENELITIAN A.

mobilitas. C. Kriteria ekslusi a. berpakaian. komunikasi. mandi. makan minum. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.2. toileting/higieni pribadi. sehingga nilai total adalah: <5 5-9 > 10 : baik : cukup : kurang =1 =2 =3 ADL mencakup kategori yang sangat luas dan dibagi-bagi menjadi sub kategi atau domain seperti berpakaian. vokasional. transfer. rekreasi. Meninggal dunia b. Tingkat depresi dengan menggunakan kuesioner GDS (Geriatric Depression Scale). Getriatric depresression scale (GDS) terdiri dari 15 pertanyaan dimana pada option yang bercetak tebal memiliki nilai l. Aspek yang disajikan terdiri dari identitas responden dan beberapa pertanyaan yang menyangkut tingkat depresi terhadap activity daily living. Kuesioner tidak divalidasi karena sudah divalidasi menurut data Internasional sebelumnya. Menolak mengisi kuesioner Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling method. instrumental ADL 22 . dan yang tegak memiliki nilai 0.

berhias. toileting. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. 2. Dalam kepustakaan lain juga disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto. makan & minum. toileting.Pengukuran kemandirian ADL akan lebih mudah dinilai dan dievaluasi secara kuantitatif denagn sistem skor yang sudah banyak dikemukakan oleh berbagai penulis ADL dasar. yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya meliputi berpakaian. 23 . Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. sering disebut ADL saja. sering disebut ADL saja.2005) D. berhias.2005) Pengkajian ADL penting untuk mengetahui tingkat ketergantungan atau besarnya bantuan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. makan & minum. Variabel Bebas Variabel bebas pada penelitian ini adalah tingkat depresi. mandi. mandi.dasar. Variabel Terikat Variabel terikat pada penelitian ini adalah activity daily living pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya meliputi berpakaian. Dalam kepustakaan lain juga disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto. Variabel Penelitian 1.

melakukan konsultasi dengan pembimbing untuk pembuatan proposal penelitian.E. melakukan studi pendahuluan pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. hilang minat terhadap kegiatan. lesu. Prosedur Penelitian 1. lemah. Persiapan Pada tahap persiapan yang dilakukan yaitu menetapkan tema dan judul penelitian. Pelaksanaan Calon Peneliti menentukan responden sesuai dengan kriteria inklusi. hilang semangat. F. ADL merupakan aktivitas pokok pokok bagi perawatan diri. mandi. Definisi Operasional 1. membuat kuesioner untuk pengumpulan data. makan. mengurus surat izin penelitian. Pengumpulan data dilaksanakan pada Februari-Maret 2012 di Panti Sosial Tresna 24 . berpakaian (berdandan). membuat proposal penelitian. Depresi pada lansia adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang banyak dialami oleh lansia yang ditandai oleh suasana perasaan yang murung. ADL meliputi antara lain ke toilet. Variabel depresi pada lansia tersebut menggunakan skala pengukuran ordinal. dan rasa tidak berdaya. 2. ADL adalah kegiatan melakukan pekerjaan rutin sehari-hari. dan berpindah tempat. Variabel activity daily living pada lansia tersebut menggunakan skala pengukuran ordinal. 2.

Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru yang dilakukan sendiri oleh calon peneliti. Pengisian kuesioner dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru dan didampingi dalam pengisian kuesioner. 2009). Kemudian responden yang telah mengisi informed consent. 25 . diminta mengisi kuesioner. H. Responden diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang tujuan dan manfaat penelitian serta cara pengisian kuesioner. Responden yang menyetujui penelitian ini selanjutnya diminta mengisi informed consent. Kuesioner diisi secara langsung oleh responden atau dibantu oleh calon peneliti dalam membacakan pertanyaan dan menuliskan jawaban dalam lembar kuesioner. Uji ini mengkorelasi data ordinal dan data dari kedua variabel tidak harus terdistribusi normal (Santi. Calon peneliti juga menggunakan data sekunder yang didapatkan dari pihak panti. Lembar kuesioner diperiksa kelengkapan pengisiannya dan apabila terdapat pertanyaan yang belum dijawab. Cara Analisis Data Cara analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi pada lansia dengan activity daily living pada lansia. maka responden diminta untuk melengkapi kuesioner tersebut. Kuesioner akan dikumpulkan segera setelah pengisian. Teknik Pengumpulan Data Data primer diperoleh langsung dengan menggunakan kuesioner. G.

Pengumpulan referensi 2.000. Pengetikan dan penjilidan 3. 100.000.Rp.- .000. Waktu penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada Februari-Maret 2012. Pengadaan kuesioner 26 Rp.1 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kegiatan Konsultasi Pengumpulan referensi Permintaan izin Pengambilan data sekunder Penyusunan proposal penelitian Seminar KTI I Pelaksanaan Penelitian Pengolahan Data Bulan Jan Feb Mar Nov Des Apr Mei Seminar KTI II Penggandaan dan pengumpulan KTI ke UP KTI FK UNLAM 2. 150. 200.000. Biaya Penelitian Rencana biaya yang diperlukan adalah sebagai berikut: 1. 75. Tabel 4.000. Pengumpulan data dan pengolahan data 5. J.Rp. Waktu dan Tempat Penelitian 1.Rp.I. Tempat penelitian Penelitian dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru. Transportasi 4. 150.Rp.

000. Pengandaan proposal Jumlah Biaya Rp.000.+ Rp. 200. 1..025. 150.6.Rp. Perbaikan 7.- 27 .000.

Rashmi G. Risk factors for depression among elderly community subjects: a systematic review and meta-analysis. 2008.23(4):370-384. Departemen Kesehatan Sulawesi Selatan. et al. Suryo D.pdf. outcome in a 4. Dewi SY. Panduan Kesehatan Jiwa pada Lansia. Pedro S. 2009. Laure AG. Hubungan Tingkat Depresi dengan Ketergantungan dalam ADL pada Lansia Di PSTW Darma Bhakti Pajang Surakarta. Danardi. Hubungan tingkat depresi dengan tingkat kemandirian dalam aktivitas sehari-hari pada pasien lansia di panti werda griya asih kabupaten malang.34(156):117-123. 28 . Faktor risiko yang berperan terhadap terjadinya depresi pada pasien geriatri yang dirawat di rs dr. Hubungan Disabilitas Fungsional dengan Kejadian Depresi pada Lanjut Usia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Maret 2008. Skripsi. http://dinkes-sulsel.DAFTAR PUSTAKA Agustin D. Fatimah DN. 2-5. Skripsi. dkk. Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Karine P. Differences in the structure of depression among older asian indian immigrants in the united states. Media Ners 2008. Diakses pada tanggal 20 Desember 2011. Diwan S. Journal of Applied Gerontology 2004. Jurnal Kesehatan 2008. Perbedaan tingkat depresi pada lansia sebelum dan sesudah dilakukan senam bugar lansia di panti wredha wening wardoyo ungaran.go. Europe Journal Psychiatry 2008.6(2):160-166.id/new/images/pdf/pedoman_keswa_lansia. Late life depression and incident activity limitations: influence of gender and symptom severity. Wahyuningsih. Sarah U. Carriere I. Apriani T. Cermin Dunia Kedokteran 2007.22(3):141-150.2(1):37-44.3:1-9. Cole MG. Depression in the elderly community: ii. 2-3. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Journal of Affective Disorders 2011.5 years follow-up. Camara CDL. Nandini D. Raul LA. American Journal Psychiatry 2003.160(6):1147-1156. Satya SJ. Ganif D. et al. cipto mangunkusumo. Halis F.

Home Health Care Management 2011. Ryan J. Hayati S.23(1):13-19. 380-401. Hubungan antara Senam dengan Kualitas Hidup Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.192:1-25. Hurlock EB. Hodge DR.Hawari D. Skripsi. Indriyati. Research on Aging 2009.51(4):317-326. Mardiyono. Islamic relaxation outcomes: a literature review. Adib HM. Stress and depression among the oldest. The Malaysian Journal of Nursing 2009. 2010. The British Journal of Psychiatry 2008. 2005. Praneed S. Jakarta: Erlangga. 2009. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. 10-40. Screening for depression among older adults referred to home care services: a single-item depression screener versus the geriatric depression scale.old: a longitudinal analysis. 2009 Jeon HS. Karen R. Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Kesepian pada Lansia. Late-life depression and mortality: influence of gender and antidepressant use. Rezaei M. Prognosis of depression in old age compared to middle age: systematic review of comparative studies. Surakarta : UMS. Duncan B. Prayer in iranian cancer patients undergoing chemotherapy. 1980. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.14(2):90-97.31(6):661-687.162:1588-1601. A template for spiritual assessment: a review of the jcaho requirements and guidelines for implementation. Santi NF. Complementary Therapies in Clinical Practice 2008. Hari S. McCormack B. Isabelle C.1(1):25-30. Skripsi. Sosial Work 2006. Ruth ED. Gill L.Dr. Mitchell AJ. Gavin RM. Seyedfatemi N. 29 . Hoseini F. American Journal Psychiatry 2005. 30-31. Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi. Moewardi Surakarta. Hubungan Tingkat Activity Daily Living (ADL) Dengan Tingkat Depresi Pada Pasien Stroke Di Bangsal Anggrek 1 Rs. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. 122-123. et al.

2011. 2011. 2011. Malaysian Journal of Medical Sciences 2004.2(1):77-83. selangor. Mustaqim A. Sugiarto. Pengaruh Dzikir terhadap Tingkat Depresi pada Lansia di Padokan Lor. Sumirta IN. 1-11. Arch Gen Psychiatry 2009. Martin B.11(1):52-59. Sidik SM. Andi. 2005. Wulansari D. 30 .66(12):1332-1340. 2-5. Deborah H.Penilaian Keseimbangan Dengan Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari Pada Lansia Dip Anti Werdha Pelkris Elim Semarang Dengan Menggunakan Berg Balance Scale Dan Indeks Barthel. et al.Serfaty MA. Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas lambung Mangkurat. Semarang : UNDIP. Yoni FV. Suaib A. Skripsi. Wilayah Kerja Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta. Subijanto HAA. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hubungan Dukungan Keluarga dan Tingkat Depresi Lansia Di Karang Lansia Kakak Tua Banjarmasin. Clinical effectiveness of individual cognitive behavioral therapy for depressed older people in primary care. Modul Pembinaan Posyandu Lansia guna Pelayanan Kesehatan Lansia. Physical and mental health problems of the elderly in a rural community of sepang. Hubungan antara aktivitas fisik dengan depresi pada lansia di panti pelayanan lanjut usia wana seraya denpasar. Jurnal Ilmiah Keperawatan 2009. 4-11. Dhani R. Lekhraj R.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->