P. 1
Bahan Ajar

Bahan Ajar

|Views: 138|Likes:
Published by Sorangan Erdy
pip
pip

More info:

Published by: Sorangan Erdy on Feb 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2015

pdf

text

original

Sections

  • I. VISI
  • II. MISI
  • IUCN Environmental Policy and Law Paper No. 74, IUCN
  • Istilah Wawasan Nusantara dan Sejarah Perkembangan Hukum Laut di
  • Indonesia
  • a. Klaim Wawasan Nusantara
  • Isi Pokok. a. l
  • Peraturan Pelaksanaan PP No. 8 tahun 1962
  • Perkembangan Konsep Landas Kontinen
  • Pengertian ZEE Indonesia
  • Sejarah perkembangan rezim hukum ZEE 200 mil
  • Penentuan batas ZEE
  • 4. Laut Bebas (Laut Lepas)
  • Ketentuan-ketentuan yang dimaksud adalah :
  • 1. Perairan Kepulauan
  • 2. Perairan Pedalaman
  • 3. Laut teritorial
  • 4. Laut Tambahan
  • 5. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)
  • 6. Landas Kontinen
  • 1. HAK LINTAS DAMAI
  • 2. HAK LINTAS TRANSIT
  • 3. HAK LINTAS ALUR LAUT KEPULAUAN
  • Kelayakan Kapal
  • Crew Kapal
  • Pencegahan Tubrukan dan Trayek Kapal
  • Mengenai ISPS Code
  • Konsekuensi Pelaksanaan ISPS Code bagi Pemerintah
  • Sanksi
  • Penerapan ISPS Code di Pelabuhan Tanjun Priok
  • Prosedur Akses Masuk
  • Alat Bantu Pengamanan
  • Peranan Pelabuhan Secara Ekonomis
  • Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”, Vol. V No. 1 Juni 2009
  • Permasalahan Hingga Terbit Kepres Nomor 43 Tahun 1989
  • Konvensi Hukum Laut Tahun 1982
  • Hukum Perdata International
  • Hukum Agraria Nasional
  • Hukum Perdata
  • Pemilikan Dan Penguasaan Kapal Yang Tenggelam
  • Mekanisme Pengangkutan dan Pemanfaatan Benda – Benda Berharga
  • Pengimplementasian Wawasan Nusantara”. Pada rapat kerja
  • Purbakala di Dasar Laut Perairan Indonesia (Paper)
  • 1. Desentralisasi Kelautan: Evaluasi dan Proteksi
  • 2. Pengaturan Pengelolaan Sumber Daya Alam Perikanan39
  • 1. Ruang Lingkup Hukum Nasional
  • a. Aspek pemanfaatan
  • 4. Konsep Hukum Perikanan
  • 5. Hak Penggunaan Wilayah untuk Perikanan
  • 1. Peluang dan Tantangan
  • 2. Ruang lingkup HPWP
  • 3. Bentuk dan Subjek HPWP

1

BAB 1 PENDAHULUAN

A.

Gambaran Profil Lulusan Program Studi Era Globalisasi yang berlangsung saat ini telah membuka peluang yang cukup luas bagi negara-bangsa untuk melakukan hubungan internasional. Hubungan internasional yang terjadi dewasa ini tidak lagi menjadi dominasi antar negara dan/atau pemerintah, akan tetapi juga berlangsung antar warga negara, antar perusahaan, dan antar organisasi/institusi suatu negara dengan pihak negara lainnya. Indonesia menjadi salah satu negara yang menyadari arti pentingnya hubungan internasional, khususnya dalam melakukan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan, baik di bidang ekonomi, politik, keamanan, hukum, dan sebagainya. Agar suatu hubungan internasional yang berlangsung tidak

menimbulkan ancaman bagi keamanan dan ketertiban internasional, maka hubungan yang berlangsung diletakkan dalam tatanan hukum internasional, suatu tatanan yang disepakati dan diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa beradab sebagai perwujudan kehendak bersama masyarakat internasional untuk menciptakan tatanan dunia baru yang memiliki keberadaban dan keteraturan, saling menghargai, dan saling menguntungkan satu dengan yang lain. Untuk itu, keberadaan hukum internasional menjadi sangat urgen dalam tatanan dunia yang sedang bergerak cepat dan transparan sebagai sebuah tuntutan globalisasi. Di bidang ekonomi, perkembangan kegiatan investasi dan perdagangan internasional berlangsung sangat cepat. Pemanfaatan sumberdaya alam yang dilakukan oleh perusahaan transnasional telah menjadi kecenderungan global. Hal ini juga berlangsung di Indonesia, dan seringkali menimbulkan problem lingkungan internasional, investasi internasiol, bahkan kejahatan internasional, sehingga membutuhkan penyelesaian hukum internasional yang akurat. Untuk itu, sekali lagi sumberdaya manusia yang menguasai hukum internasional akan memainkan peranan strategis dalam penyelesaian sengketa internasional yang berlangsung.

2

Sebagai konsekuensi dari semakin intensnya hubungan hukum internasional, maka permasalahan hukum internasional juga berkembang semakin kompleks. Keberadaan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam penguasaan hukum internasional secara komprehensif menjadi harapan bersama, khusunya perannya dalam memecahkan dan menemukan solusi atas permasalahan hukum internasional yang semakin kompleks. Kebutuhan sumberdaya manusia yang memiliki kapasitas penguasaan hukum internasional yang komprehensif tersebut perlu didukung oleh wawasan yang holistik. Hal ini menjadikan pentingnya penyelenggaraan program pendidikan tinggi yang berkualitas pada konsentrasi Hukum Internasional untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin merupakan Fakultas Hukum yang termapan di Kawasan Timur Indonesia yang dipandang sebagai ”maskot” perguruan tinggi terbaik di kawasan timur. Dalam menjalankan peran strategi penyelenggaraan pendidikan tinggi maka program studi ilmu hukum Fakultas Hukum Unhas diarahkan dengan tetap mengkiblati visi dan misi universitas. Penjabaran visi dan misi dimaksud kemudian tertuang sebagai berikut: I. VISI ”Menjadikan Program studi Ilmu Hukum (S1) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin sebagai Program studi Ilmu Hukum unggulan di Indonesia pada tahun 2020 dalam pengembangan ilmu hukum internasional yang berbasis pada budaya bahari”. II. MISI Untuk mewujudkan visi program studi Ilmu Hukum maka ditetapkan misi sebagai berikut: a. Mengembangkan Program studi Ilmu Hukum (S1) yang memiliki keunggulan kompetitif dalam penelitian dan pendalaman ilmu hukum yang berwawasan holistik, serta memiliki kompetensi spesifik untuk melakukan penelitian di bidang ilmu hukum secara mandiri. b. Mengembangkan Program studi Ilmu Hukum (S1) yang memiliki kemampuan dan keunggulan dalam pelaksanaan Tri Dharma

3

Perguruan Tinggi, sehingga menghasilkan profesionalisme dan intelektualitas keilmuan yang diakui secara nasional dan internasional. c. Mengembangkan Program studi Ilmu Hukum (S1) menjadi

kebanggaan Universitas Hasanuddin dengan keluaran yang memiliki kemampuan penelitian dan pemikiran keilmuan berwawasan holistik untuk dapat memberikan solusi terbaik pada setiap persoalan pembangunan Hukum Nasional dan Internasional.

B. Kompetensi Lulusan, dan Analisis Kebutuhan Pembelajaran. Uraian visi dan misi Fakultas Hukum Unhas di atas, kemudian dijabarkan dalam bentuk pilihan kompetensi lulusan. Hal ini diartikan bahwa pilihan kompetensi lulusan ditetapkan dalam rangka menggambarkan wujud lulusan program studi ilmu hukum (S1) Fakultas Hukum Unhas. Kompetensi lulusan yang ditetapkan adalah “praktisi”. Pilihan kompetensi lulusan pada “praktisi” dimaksudkan agar lulusan yang dihasilkan memiliki basis skill (keahlian) yang merupakan pasangan (tandem) dari knowledge (pengetahuan) yang tentunya telah dimiliki oleh setiap lulusan. Sehingga, setiap lulusan dipandang telah siap baik skill maupun knowledge untuk berkompetisi pada universitas yang sesungguhnya (real life). Dalam konteks pembelajaran mata kuliah Hukum Laut (PIP) maka akan terbangun suatu konstruksi bahwa lulusan dengan kompetensi praktisi akan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan strategis di bidang hukum laut khususnya terkait dengan penegak hukum di laut yang merupakan muara dari pemebelajaran hukum laut. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan harmonisasi antara apa yang hendak dicapai dengan apa yang ditetapkan terhadap lulusan maka penyediaan metode pembelajaran yang tepat merupakan pilihan bijak dalam rangka menjembatani harmonisasi yang dimaksud. Kebutuhan pembelajaran yang baik dan benar yang kemudian dikelola dengan pola menejerial yang tepat akan mempermudah tercapainya harmonisasi dimaksud. Tentunya, perubahan merode pembelajaran yang diterapkan di Unhas saat ini akan semakin mempermudah pencapaian dimaksud, khususnya ketersediaanya garis-garis Besar Pembelajaran (selanjutnya disingkat GBRP), Jadwal kegiatan mengajar (selanjutnya disingkat JKM), dan Satuan Acara Pengajaran

4

(selanjutnya disingkat SAP) baik uang dikemas dalam bentuk modul maupun powerpoint. C. Garis-garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP) MATA KULIAH SEMESTER/SKS/KODE Kompetensi Utama : HUKUM LAUT (PIP) : AKHIR 20….-2011…; 2 SKS; 419 HI 2

1. Memiliki kemampuan dan keterampilan menggunakan dan menerapkan berbagai teori, ketentuan, dan prinsip hukum laut; 2. Memiliki kemampuan dan keterampilan melakukan penelitian di bidang hukum laut (internasional) secara mandiri. Kompetensi 1. Memiliki pemahaman, kesadaran dan kearifan Pendukung tentang berbagai aspek sosial, ekonomi, budaya dan Iptek yang mempengaruhi bidang hukum laut; 2. Memiliki kemampuan dalam hal penguasaan software dan hardware komputer untuk mengakses informasi dari berbagai sumber informasi dalam bidang hukum internasional secara umum dan hukum laut secara khusus. Kompetensi Lainnya 1. Memiliki kesadaran, kepedulian, dan komitmen terhadap penegakan hukum di bidang hukum laut; 2. Memiliki kemampuan dalam menemukan korelasi antara berbagai sektor/element yang terkait dengan hukum laut, khususnya hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

GBRP Hukum Laut (PIP):
Minggu Ke Sasaran Pembelajaran Materi Pembelajaran Strategi Pembelajaran Kriteria penilaian Bobot Nilai (%)

1

Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian PIP (Pola Ilmiah Pokok), penetapan ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP, relevansi, visi dan misi PIP Unhas.

- Pengertian PIP; - Penetapan ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP, relevansi, visi dan misi PIP Unhas.

1. Kuliah; interaktif; 2. Diskusi.

1. Partisipasi dalam diskusi: 2. Kejelasan dalam mengemukaka n pendapat; 3. Ketepatan dalam menguraikan teori terkait Ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP. 1. Partisipasi dalam diskusi:

5

2

Mahasiswa dapat menjelaskan arti berbagai

Berbagai istilah seperti konsepsi nusantara,

1. Kuliah Interaktif; 2. Diskusi.

5

5 Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macam garis pangkal yang dapat diterapkan oleh Indonesia sebagai negara kepulauan. 3. Partisipasi dalam diskusi. 1. 3. 2. 2. wawasan nusantara. 2. negara nusantara. Kerjasama tim. Sejarah perkembangan hukum laut Indonesia. Landas Kontinen Indonesia. Discovery learning melalui small group work. Dan lain sebagainya. Implementasinya dapat dilihat pada: 1. Penguasaan individu. benua maritim Indonesia dan sejarah perkembangan hukum laut Indonesia. negara nusantara. Kuliah Interaktif. f. 4. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen. 1. 2. 6. 3. UU No. 2. 17 tahun 1985 tentang pengesahan Republik Indonesia atas Konvensi Hukum Laut (UNCLOS III) 1982. 2. 3. Laut territorial. 3. ZEEI. Jalur tambahan. Kemampuan menjelaskan fakta mengenai beberapa istilah dan sejarah perkembanga n hukum laut di Indonesia. Kejelasan dalam mengemukaka n pendapat. 4. Discovery learning melalui small group work. 1. Penguasaan individu. Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait jalurjalur laut. 5. Peraiaran kepulauan. Garis penutup. 1. 3. Kuliah Interaktif.. Partisipasi 5 5 . benua maritim Indonesia. 4. 4. 8 Tahun 1962 tentangg Lintas Damai. 3. c. d. Pengumuman Pemerintahan Tahun 1969 tentang Landas Kontinen. 2. Diskusi. 1. Diskusi. Kuliah Interaktif. Jalur Laut Indonesia meliputi: a. 3. Kerjasama tim. Studi kasus. 5 Tahun 1983 tentang ZEEI. Partisipasi dalam diskusi. 8. Pengumuman Pemerintahan Tahun 1980 tentang ZEEI. 5 3 Mahasiswa dapat menjelaskan implementasi asas negara nusantara dalam berbagai peraturan perundang-undangan nasional. 2. Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait jalurjalur laut. Garis Pangkal normal. Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait implementasi prinsip negara kepulauan. 1. PP No. Garis pangkal lurus kepulauan. 4 Mahasiswa dapat menjelaskan berbaga jalurjalur laut pada wilayah peraiaran Indonesia sebagai negara nusantara. UU No. Perairan pedalaman. e. 7.5 istilah seperti konsepsi nusantara. Diskusi. 2. Garis pangkal lurus. wawasan nusantara. 1. UU No. Perjanjian garis batas maritim dengan negara tetangga. b..

b.6 dalam diskusi. 1. 1. Analisis perbandingan antara ketiga lintas pelayaran itu. 2. 5 10 Mahasiswa dapat Perlindungan dan 1. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. Penempatan awak keselamatan pelayaran kapal. 2. Diskusi. 1. Diskusi. . 1. c. Persyaratanpersyaratan keamanan terkait kapal dan pelabuhan. Kuliah Interaktif. Diskusi. Sarana bantu pelayaran. Implementasi ISPS dalam hukum nasional. Mahasiswa dapat 1. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. Pencegahan tubrukan dan trayek kapal. 2. 3. Berbagai persyaratan yang harus diperhatikan ketika melakukan lintas alur kepulauan (PP No. Studi kasus. Kuliah Interaktif. Studi kasus. 3. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai prinsip keselamatan pelayaran. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai standardisasi keselamatan atau keamanan kapal dan pelabuhan. Partisipasi dalam diskusi. Kesesuaian antara teori dan kasus serta analisis. 5 . 3. (safety of navigation). 5 8 Ujian Tengah Semester Makalah Individu mengenai salah satu materi perkuliahan yang telah dipelajari 10 9 Mahasiswa dapat menjelaskan standardisasi keselamatan atau keamanan kapal dan pelabuhan (International Ship and Port facilities Security Code). Berbagai macam pengaturan hukum tentang lintas pelayaran di lintas pelayaran wilayah perairan RI internasional di wilayah serta penegertiannya. 2. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai lintas pelayaran. Kemampuan 5 7 1. Sejarah lahirnya ISPS Code. Organisasi makalah. 3. Studi kasus. Ketepatan waktu. d. hukum tentang 2. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. 3. Isi Makalah. Ruang Lingkup dan Tujuannya. 2. perairan Indonesia. Kuliah Interaktif. 3. Partisipasi dalam diskusi. 2. ISPS Code: a. 37 Tahun 2002 tentang ALKI). 3. 2. 4. Kelayakan kapal menjelaskan pengaturan untuk berlayar di laut. 3. 6 Mahasiswa dapat 1. Kuliah Interaktif. 1. Partisipasi dalam diskusi. 2. 1. 1. 3.

3. 1. Discovery learning melalui small group work. Kerjasama Tim. 1. 25 Tahun 2000. 1. Keppres No. Partisipasi dalam diskusi. Partisipasi dalam diskusi. 3. 12 Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian harta karun serta berbagai istilah. Penguasaan Individual. 3. 1. dlsb. pengaturan hukumnya. 5 13 Mahasiswa dapat menejelaskan pengaturan harta karun dalam berbagai peraturan perundangundangan nasional.7 menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. 2. 2. 2. Studi kasus. 107 Tahun 2000. 1. 1. 1. menyajikan fakta-fakta mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. 5 14 Mahasiswa dapat menjelaskan ketentuan dan prinsip-prinsip dasar - Pengantar Desentralisasi kelautan 1. Discovery learning melalui small group 5 . Kuliah Interaktif 2. Ketentuan dalam KHL III 1982. 2. 3. 3. Studi kasus. Kasus pencemaran laut Newmont dan kasus tumpahnya minyak di kepulauan Natuna. Kejelasan dalam mengungkap pendapat. Pengertian. Kuliah Interaktif. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai standardisasi keselamatan atau keamanan kapal dan pelabuhan. 3. Pelestarian Laut: a. 4. Diskusi. 2. Sumber-sumber pencemaran laut. Partisipasi dalam diskusi. UU no. Kuliah Interaktif 2. 2. 32 tahun 2004. 3. 3. Tindak lanjut 2. 1. Ketepatan dalam menguraikan teori. Partisipasi dalam diskusi. Studi kasus. 3. PP No. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. b. Diskusi. Status harta karun. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai pencemaran laut. 1. 4. 3. Pengertian. Kemampuan menyajikan fakta-fakta 5 11 Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian dan sumber-sumber pencemaran laut. 3. Penguasaan Individual. 2. Diskusi. Diskusi. 2. Kerjasama Tim. 1. KHL 1982.

Diskusi. 1. Discovery learning melalui small group work. 4. Penguasaaan teori materi pembelajaran. 5 15 Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai perikanan Indonesia ( 2) - penggunaan wilayah untuk perikanan (2). 16 Ujian Akhir Semester Ujian akhir diberikan dapat berupa makalah atau ujian tertulis. Kerjasama Tim. Penguasaan Individual. Kerjasama Tim. work. Ketepatan dalam menganilisi. 31 tahun 2004) dan peraturan perundangundangan terkait lainnya.. 2. 3. 3. Penguasaan Individual. 1. Partisipasi dalam diskusi. Kuliah Interaktif. 1. 2. - Hukum Perikanan Indonesia (UU no. mengenai pencemaran laut. 10 . 2. 3.8 mengenai perikanan Indonesia (1). 3. 3. 2. Kuliah Interaktif. 4. Partisipasi dalam diskusi. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai pencemaran laut. Ketepatan waktu dalam menyelesaika n makalah atau menyelsaikan soal-soal. Diskusi. 2.

Syarif. Achmad Amiruddin 1973 . dan ketepatan dalam menguraikan teori terkait ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP. relevansi.8 juta km2.1983 melalui beberapa kali lokakarya telah menetapkan Marine Sciences (Ilmu-Ilmu Kelautan) sebagai Pola Ilmiah Pokok Universitas Hasanuddin berdasarkan argumentasi bahwa negara Indonesia secara geografis adalah Negara-Kepulauan(Archipelagic State) yang terdiri 74. 1 . di eksplorasi dan di eksploitasi untuk kesejahteraan umat manusia umumnya dan kemakmuran bangsa Indonesia khususnya. Experts Group Meeting.7 juta km2 zona ekonomi eksklusif sangat kaya potensi sumber daya alam laut hayati dan nabati. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu partisipasi dalam diskusi. dianalisis. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik.3 % laut teritorial. IUCN Environmental Law Center. Perairan laut 74. 74. 2. dan 2. penetapan ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP. 32. perlu dikaji. diteliti. 30 October 2009. Makassar.7 % daratan meliputi 18. DR. Promotion and Management of Marine Fisheries in Indonesia. Uraian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dibawah kepemimpinan Rektor Prof. P. p. Inilah tantangan Unhas untuk memberikan jawaban konkrit melalui teori ilmu dan teknologi kelautan dalam semua aspek disiplin ilmu yang diajarkan di Unhas dan praktek melalui alumninya yang berbobot dan handal Laode M.108 pulau besar dan kecil1.3% laut dan 25. Germany. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi. Optimalizing the Indonesian Diplomacy: Challenges and Future Direction. kejelasan dalam mengemukakan pendapat. See also Vivian Louis Forbes. visi dan misi PIP Unhas”. IUCN Environmental Policy and Law Paper No.9 BAB 2 BAHAN PEMBELAJARAN 1 A. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu I bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan pengertian PIP (Pola Ilmiah Pokok). 1.8 juta km2 perairan Nusantara. B. mencakup 0.3% seluas 5.

hal yang strategis harus dilakukan adalah mengharmonisasikan dan mengsinkronnisasikan materí mata kuliah PIP yang diajarkan di Fakultas Hukum dengan materi budaya maritim yang diajarkan di Mata Kuliah Umum di Unhas (disajikan seluruh fakultas karena meruapakan mata kuliah wajib universitas). dipandang hanya menambah beban saja yang berlebihan (over load) dan tidak relevan bagi mahasiswa Fakultas Hukum. Marine Sciences adalah Ilmu dan Teknologi Kelautan untuk menjawab tantangan zaman guna melahirkan Sarjana Teknologi Kelautan yang mampu melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut baik yang terdapat di dasar laut (sea bed) maupun yang terdapat pada tanah di bawahnya (sub soil). Rady A Gani. Penambahan mata kuliah Budaya Maritim tentunya dimaksudkan untuk lebih memasyarakatkan PIP diseluruh fakultas di Unhas yang selama ini hanya merupakan domain ilmu mahasiswa Ilmu Kelautan dan Perikanan dan Fakultas Hukum. Achmad Amiruddin pada saat itu mengatakan bahwa Unhas harus tampil di depan menjadi pelopornya. Unhas harus menjadi universitas terkemuka di Indonesia dan di dunia. implementasi Pola Ilmiah Pokok itu adalah mata-kuliah Hukum Laut PIP (Pola Ilmiah Pokok) menjadi mata-kuliah Wajib Universitas bagi seluruh mahasiswa dengan bobot 2 kredit. Dalam perkembangan selanjutnya. Meskipun disisi lain. dan bukan menjadi universitas pengekor di belakang universitas lain. implementasi Pola Ilmiah Pokok itu ditambah lagi satu mata-kuliah wajib universitas yakni Budaya Maritim dengan bobot 2 kredit. Dua . aspirasi dan arah Marine Sciences pada intinya adalah Fakultas Teknologi Kelautan. Unhas telah beberapa kali melaksanakan Lokakarya dalam rangka untuk menangkap ide. Bagi Fakultas Hukum Unhas. bukan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Perlu reevaluasi atas arah yang tidak sesuai design awalnya atau grand masternya. aspirasi dan arah Pola Ilmu Pokok. Jadi.10 mengeksplorasi dan mengeksploitasi laut beserta sumber daya alamnya for benefit of mankind. Oleh karena itu. Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Sarjana Teknologi Kelautan ini masih langka di dunia apa lagi di Indonesia. ide. di masa kepemimpinan Rektor Prof. kebijakan Pimpinan Unhas setelah lebih dua dekade untuk menambah lagi mata-kuliah Budaya Maritim bersamaan matakuliah Hukum Laut PIP.

2 C. Kepemimpinan Rektor Prof. 1. 2 . Lihat Juga Abdul Rasal Rauf. hlm. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran pertama dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberpa pertanyaaan. seperti: 1. (Fakultas Hukum Unhas Makassar. Tentunya. Apa lagi salah satu visi yang juga hendak diraih oleh Unhas yakni membawa Unhas sebagai ”The World Class University”. Idrus A. dr. pembelajaran PIP (hukum laut) tidak hanya mengkaji perkembangan hukum laut dari waktu ke waktu. Mengapa Marine Sciences (Ilmu-Ilmu Kelautan) ditetapkan sebagai Pola Ilmiah Pokok Universitas Hasanuddin? Jelaskan ? Idris Buyung. strategis sifatnya jika dilakukan evaluasi dan peninjauan kembali mata-kuliah Budaya Maritim agar tidak tumpang tindih secara substansi dengan mata-kuliah PIP yang diberikan bagi mahasiswa Fakultas Hukum. Buku Ajar Hukum Laut Internasional Indonesia. Diktat. serta mendorong karya-karya intelektual baru bagi yang bisa bermanfaat bagi pembangunan nasional. Paturusi (2006 – sekarang) kemudian hendak mengejewantahkan visi universitas yakni budaya maritim atau baharí dalam bentuk yang lebih konkrit. telah diabaikan. Dr. karena tidak mampu mengikuti perkembangan zaman yang cepat berubah (up to date. (Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Sehingga kedua mata kuliah tetap dapat diajarkan tanpa menimbulkan kontroversi tentang penyelenggaraan kedua mata kuliah ini. 2007). tetapi juga sebagai ”penghargaan generasi” atas apa yang telah ditorehkan nenek moyang bangsa Indonesia dulu yang merintis budaya kemaritiman dalam memperkaya khazanah cakrawala pengetahuan kemaritiman hingga sekarang. sesuai filosofi: pantai rei). Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). karena struktur organisasi Unhas masih menerapkan sistem sentralistik yang bersifat top-down (sistem komando) dan lagi pula sudah terlihat ketinggalan zaman (out of date).11 mata-kuliah yang hampir serupa tersebut ditetapkan menjadi mata-kuliah wajib universitas. Oleh karena itu. sehingga otonomi Fakultas Hukum untuk mengatur mata-kuliah yang relevan saja bagi profesi hukum. 2007).

Diktat.12 2. Promotion and Management of Marine Fisheries in Indonesia. Vivian Louis Forbes. Germany. Syarif. Optimalizing the Indonesian Diplomacy: Challenges and Future Direction. Fakultas Hukum Unhas Makassar. Experts Group Meeting. IUCN Environmental Law Center. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. 74. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Makassar. Mengapa mata kuliah PIP dan Budaya Maritim yang diajarkan bagi mahasiswa Fakultas Hukum Unhas menjadi perdebatan? Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. Laode M. Buku Ajar Hukum Laut Internasional Indonesia. Siapakah Rektor Unhas yang berkontribusi dalam menggagas PIP? Dan bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan dan dianjurkan oleh rector berikutnya? 3. 30 October 2009. . Idris Buyung. 2007. 2007. IUCN Environmental Policy and Law Paper No.

13 BAB 3 BAHAN PEMBELAJARAN 2 A. Pada konvensi hukum laut I dan II yang dilangsungkan di Jenewa tidak mampu menyelesaikan masalah kesepakatan tentang luas laut teritorial dan hanya menetapkan lebar laut teritorial seluas 3 mul laut berdasarkan praktek kebiasaan waktu itu. negara nusantara. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu partisipasi dalam diskusi. Uraian: Istilah Wawasan Nusantara dan Sejarah Perkembangan Hukum Laut di Indonesia. wawasan nusantara. dalam konteks negara kepulauan (archipelagic state) seperti Indonesia. Klaim Wawasan Nusantara Sebelum lahirnya Konvensi Hukum Laut PBB Tahun 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS 1982) yang menetapkan lebar laut teritorial adalah 12 mil laut. . Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu I bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan arti berbagai istilah seperti konsepsi nusantara. dan kemampuan menjelaskan fakta mengenai beberapa istilah dan sejarah perkembangan hukum laut di Indonesia. B. hal ini jelas sangat merugikan. a. kejelasan dalam mengemukakan pendapat. benua maritim Indonesia dan sejarah perkembangan hukum laut Indonesia. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi. Selain itu. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. penetapan batas wilayah menurut “Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939” yang dimuat dalam Staatsblad 1939 No. 442 Pasal 1 (1) yang juga menetapkan lebar wilayah laut teritorial Indonesia adalah 3 mil.”.

dan tidak dapat dipisahkan antara pulau yang satu dengan lainnya. Bahwa penetapan batas perairan wilayah sebagaimana menurut “Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939” yang dimuat dalam Staatsblad 1939 No. 442 Pasal 1 (1) sudah tidak sesuai lagi dengan kepentingan Indonesia setelah merdeka. Perombakan yang dimaksudkan di atas untuk pertama kali dilaksanakan oleh pemerintah RI dengan mengeluarkan pengumuman pada tanggal 13 Desember 1957 yang disebut Deklarasi 13 Desember 1957. c. ternyata ada juga negara-negara lain yang menyimpanginya. agar semua kepulauan dan perairan (selat) yang ada diantaranya merupakan satu kesatuan yang utuh. Adapun pertimbangan-pertimbangan yang mendorong pemerintah RI sebagai suatu negara kepulauan sehingga mengeluarkan pernyataan mengenai wilayah perairan Indonesia. . adalah: a. atau antara pulau dengan perairannya. atau dikemudian hari dikenal dengan nama Deklarasi Djuanda karena pada saat itu Indonesia masih memakai konstitusi RIS 1949 dengan Perdana Menteri-nya Ir. Djuanda. besar dan kecil yang tersebar dilautan. Karena itu. d. demi untuk keamanan dan keselamatan negara serta bangsanya. mempunyai hak sepenuhnya dan berkewajiban untuk mengatur segala sesuatunya. Bahwa bentuk geografis Indonesia yang berwujud negara kepulauan. Bahwa Indonesia setelah berdaulat sebgai suatu negara yang merdeka. wajarlah apabila pemerintah RI mempunyai gagasan baru untuk merombak total (masalah lebar laut) dan kemudian mengembangkan ke aspek-aspek selanjutnya. yang terdiri atas tiga belas ribu lebih pulau-pulau. .14 Mengingat adanya kelemahan atas hukum yang mengatur mengenai wilayah laut (perairan) di Wilayah Negara Republik Indonesia yang masih merupakan warisan kolonial Belanda dahulu. dan Spanyol dengan jarak enam mil dari pantai. dengan tolak ukur jarak tiga mil laut dari pantai itu. b. Demi untuk kesatuan wilayah negara RI.Negara-negara itu yaitu negara-negara Skandinavia sejauh empat mil.

Lain halnya dengan Wawasan Nusantara yang dikembangkan menjadi kebudayaan politik (political culture) dan merupakan milik bangsa dan negara RI. diatas. Proklamasi tentang perikanan. yang diprakarsai oleh AD. yang merupakan konsepsi kewilayahan. dan sifatnya sektoral. Peraturan dikukuhkan pengganti Undang-Undang tersebut (dituangkan) menjadi undang-undang No. pada tanggal 18 Februari 1960 dikuatkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. pada tanggal 25 Desember 1945 mengumumkan dua pernyataan. Perairan Indonesia ialah Laut Wilayah beserta perairan Pedalaman Indonesia (Perairan Nusantara). Pada waktu itu Wawasan Nusantara dipergunakan untuk mengembangkan kekuatan pertahanan dan keamanan yang terpadu. 4 Prp. 22) dengan maksud agar klaim tersebut memiliki kekuatan hukum dan mengikat. Presiden AS. c. 1960. atau kemungkinan dapat menimbulkan terjadinya instabilitas nasional dalam kehidupan masyarakat negara. Wawasan Dirgantara yang diprakarsai oleh AU. Sebab sebelumnya. 4 tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (LN.15 Deklarasi Djuanda 1957 merupakan titik pangkal lahirnya klaim Wawasan Nusantara. Truman. yaitu: 1. 4. . Berdasarkan Pemerintah Ketetapan MPRS No. Dalam masalah pengumuman pemerintah RI tentang konsep Wilayah Perairan. Wawasan Benua. XIX/MPRS/1966. yang dapat mengakibatkan gejolak atau ketegangan dalam kehidupan politik bagsa dan negara. yatiu: a. Wawasan Bahari yang diprakarsai oleh AL. Adapun isi pokok UU No. Tahun 1960. Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia adalah: 1. Proklamasi tentang landas kontinen 2. Dua tahun setelah keluarnya Deklarasi Djuanda 1957. b. pemerintah RI bukan satu-satunya negara yang melakukan klaim atas wilayah pantainya. untuk menggantikan tiga wawasan yang pernah ada. Ketiga wawasan tersebut di atas masing-masing sebagai perwujudan konsep kekuatan (power concept) sehingga menimbulkan adu kekuatan. Istilah Wawasan Nusantara sebenarnya baru dikenal pada seminar pertahanan keamanan tahun 1966. No. S.

Wilayah Indonesia berdasarkan TZMKO 1939 luasnya hanya: 2. maka garis batas Laut Wilayah Indonesia ditarik pada tengah selat. yang berarti mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Laut Wilayah Indonesia ialah jalur laut selebar dua belas mil laut dari pulaupulau yang terluar atau bagian pulau-pulau yang terluar dengan dihubungkan garis lurus antara satu dengan lainnya. ada dua macam jalur jalur yang ditempuh pemerintah RI dalam memperjuangkan konsep wawasan nusantara.087 km2.027. 4/Prp. pemerintah RI telah dua kali meng-gol-kan klaim wawasan nusantara itu di forum internasional. tetapi belum mendapatkan hasil sebagaimana diharapkan. Hak Lintas Damai kendaraan air (kapal) asing. Implikasi posistif klaim wawasan nusantara yang tercantum dalam UU No.163 km2 (Perairan) atau lebih kurang: 145%. Apabila ada selat yang lebarnya tidak melebihi dua puluh empat mil laut. Kedua macam jalur tersebut adalah: .166. 2. km2 (daratan dan lautan). yaitu dalam konferensi hukum laut Internasional pada tahun 1958 dan tahun 1960. Dengan telah dijadikannya Deklarasi Djuanda 1957 kedalam bentuk undang-undang. luas wilayah Indonesia menjadi: 5. Juga Pasal 1 (1) UUD 1945 dapat dilaksana. setelah berlakunya UU No. 5.250. dan negara Indonesia tidak merupakan satu-satunya negara tepi (artinya ada negara tetangga). Realisasi makna ketentuan yang tercantum didalam alinea IV pembukaan UUD 1945. 6.193.16 2. Perairan Pedalaman Indonesia (Perairan Nusantara) adalah semau perairan yang terletak pada sisi dalam dari garis besar. 4. Tidak berlakunya lagi pasal 1 ayat (1) angka 1 sampai dengan 4 ‘Territoriale Zee Maritieme Kringen Ordonantie” 1939. Dalam usaha mewujudkan konsep wawasan nusantara ini. 1960 tersebut. 3. Meskipun pertambahan wilayah tersebut berwujud perairan. berarti luas wilayah bertambah 3. 4/ Prp 1960 adalah : 1. tetapi banyak mengandung sumber daya alam. diakui dan dijaman sepanjang tidak mengganggu atau bertentangang dengan keamanan serta keselamatan negara dan bangsa. Dalam hal ini.

ternyata dalam jangka waktu pendek lebih terlihat hasilnya meskipun terbatas hanya negara-negara yang berkepentingan saja adalah yang melalui jalur nasional. 6 Tahun 1973 (LN. 1980 No. Diantara dua macam jalur cara memperjuangkan klaim wawasan nusantara tersebut. UU No. yaitu seperti yang sudah dilakukan. 59) tentang Perjanjian Antara Indonesia dengan Singapura Mengenai Penetapan Garis Batas Laut Wilayah kedua negara di Selat Singapura. 66 Tahun 1972 (LN. 3) tentang Pengesahan Persetujuan Dasar Antara RI dan PNG tentang Pengaturan-Pengaturan Perbatasan Kedua Negara. 7 tahun 1973 (LN. Perjanjian dan persetujuan yang dimaksudkan antara lain.17 a) Jalur internasional. Keputusan Presiden No. Hal ini terbukti dengan adanya perundinganperundingan antar negara yang menghasilkan perjanjian (treaty) atau persetujuan (agreement). 1973 No.dan forum-forum internasional lainnya. 6 Tahun 1980 (LN. tentang Perjanjian Antara Indonesia dengan Australia Mengenai Garis-garis Batas Tertentu Antara Indonesia dengan PNG. b) Jalur nasional. Keppres No. Keppres No 24 Tahun 1978 (LN. 1978 No 37) Mengesahkan Persetujuan Antara Pemerintah RI. 2. 1971 No. 16) tentang Perjanjian antara RI dan Malaysia tentang Penetapan Garis Batas Laut kedua negara di selat Malaka. UU No. 22 tahun 1971 (LN. UU No.Australia di Laut Timor dan Laut Arafuru. 1972 No. termuat dalam: 1. . yaitu dengan langsung mengadakan perundingan baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara-negara tetangga yang berkepentingan. 58). konferensi hukum laut. mengenai perbatasan laut wilayahnya dengan wilayah RI. 5. 4. 1973 No. Pemerintah Republik India dan Pemerintah Kerajaan Thailand. 6. dengan jalan memperjuangkan dalam pembicaraan-pembicaraan di forum internasional. 45) tentang Penetapan Batas Laut Antara RI . Tentang Penetapan Titik Pertemuan Tiga Garis Batas dan Penetapan Garis Batas Ketiga Negara di Laut Andaman. 3.

4 Mustafa Abubakar. dan Sebatik. yang secara geografik meliputi: Landas atau Dataran Kontinen. Perlu diingat S. selama masih dapat dilakukan eksplorasi dan eksploitasi. 8 mil. Kedua.25-26 3 . sampai kedalaman 200 meter atau lebih.3 Wilayah ini mencakup dasar laut dan tanah dibawah dasar laut diluar laut teritorial dan merupakan kelanjutan dari wilayah daratan sampai tepi luar dari batas kontinen. 1985). kursip penulis) yang juga mengandung ketentuan tentang landas kontinen sebagaimana dimaksudkan diatas adalah sebagai berikut: a) Segala sumber kekayaan-kekayaan alam yang terdapat dalam Landas Kontinen Indonesia adalah milik eksklusif negara Indonesia. Adapun isi pokok Deklarasi (Djuanda. Toto Pandoyo. Belajar dari Kasus Sipadan. hlm 27-39. Lereng Kontinen ada pada dasar laut dan tanah dibawahnya. sehingga negara pantai dapat menetapkan batas melebihi 200 mil laut tetapi tidak boleh melebihi 350 mil laut. (Jakarta: PT Bina Aksara. Pertama wilayah yang lebarnya dari zona landas kontinen dibatasi sampai jarak 200 mil laut dari garis dasar batas teritorial diukur. hlm. Konsepsi Landas Kontinen Landas kontinen menurut pengertian Hukum Laut Internasional mencakup seluruh pengertian Tepian Kontinen (continental margin). d) Klaim di atas tidak mempengaruhi sifat serta status dari perairan di atas Landas Kontinen Indonesia dan ruang udara diatasnya. Berdasarkan batasan ini negara pantai dapat menetapkan dua kriteria landas kontinen. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas.18 b. Ligitan. 069. b) Pemerintah Indonesia bersedia menyelesaikan soal garis batas Landas Kontinen dengan negara-negara tetangga melalui perundingan c) Jika tidak ada perjanjian garis batas. Menata Pulau-Pulau Kecil Perbatasan. Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Serta Pembangunan Nasional. 2005).4 Pengundangan konsepsi negara kepulauan (archipelagic state) telah mengakibatkan perubahan pada panjang garis pantai yang tadinya melebihi jarak jumlah total sepanjang 33. maka batas Landas Kontinen Indonesia adalah suatu garis yang ditarik ditengah-tengah antara pulau terluar Indonesia dengan titik luar wilayah negara tetangga. tepi luar dari landas kontinen melebihi 200 mil dari garis dasar laut teritorial diukur. 972 mil menjadi 8.

hak lintas damai melalui perairan 5 6 S. disebutkan bahwa. hlm. termasuk bagian pulau. Konsepsi Negara Kepulauan Konsepsi negara kepulauan diterima oleh masyarakat internasional dan dimasukan kedalam UNCLOS III 1982. yaitu pernyataan Wilayah Perairan Indonesia: “Segala perairan di sekitar. . utamanya pada pasal 46. Toto Pandoyo. 41. ekonomi dan politik yang hakiki.”6 Dan dalam sejarah hukum laut Indonesia sudah dijelaskan dalam deklarasi Juanda 1957 . Op.5 c. “Negara Kepulauan” berarti suatu Negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulaupulau lain”. “Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulaupulau lain. hlm. “ kepulauan” berarti suatu gugusan pulau.” Sementara itu. dimasukannya poin-poin negara kepulauan dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut 1982 yang berisi 9 pasal. yang berisi antara lain: Ketentuan-ketentuan tentang negara-negara kepulauan. 1983). 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia disebutkan bahwa. Sedangkan dalam pasal 1 ayat 1 UU No. Dalam pasal tersebut.19 bahwa bukan hanya negara RI saja yang mengeluarkan Deklarasi tentang Landas Kontinennya. tetapi Presiden Truman dari Amerika Serikat pada tanggal 28 September 1945 juga telah mengumandangkan Proklamasi tentang Landas Kontinen (Continental Shelf) negara Amerika Serikat. (Jakarta:tp. perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya sehingga pulau-pulau. Tim Penerjemah UNCLOS 1982. dalam perairan kepulauan. atau yang secara historis diangap sebagai demikian. garis-garis pangkal lurus kepulauan. status hukum dari perairan kepulauan. penetapan perairan pedalaman. 39 Pasal 46 UNCLOS 1982. Sedangkan pengertian kepulauan disebutkan sebagai. diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan negara RI dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan RI dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada dibawah kedaulatan mutlak daripada negara RI”. Cit. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan geografi.

2. termasuk bagian pulau.20 kepulauan. perairan. perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian erat sehingga pulau-pulau. Hal ini dikarenakan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bila ingin melakukan penarikan garis pangkal lurus kepulauan. Rasio (perbandingan) antara luas wilayah perairan dengan daratan. dan historis. yaitu suatu negara kepulauan minimal harus memiliki luas perairan yang sama besar atau makasimal hanya sembilan kali dengan luas daratannya. Yaitu. yaitu: 1. Adapun persyaratan obyektif yang harus dipenuhi oleh negara kepulauan dalam melakukan penarikan garis pangkal lurus kepulauan (pasal 47). dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatui kesatuan geografis. secara yuridis. pengertian negara kepulauan akan berbeda artinya dengan definisi negara yang secara geografis wilayahnya berbentuk kepulauan. politik. ekonomi. “negara kepulauan adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain (pasal 46 butir (a). Hal ini dikarenakan. pasal 46 ini membedakan pengertian yuridis antara negara kepulauan (archipelagic state) dengan kepulauan (archipelago) itu sendiri. ekonomi dan politik yang hakiki atau yang secara historis dianggap sebagai demikian. Maksud dari pasal 46 butir (a) tersebut adalah. satu kesatuan geografis. Dengan kata lain. Perbedaan ini menimbulkan konsekuensi bahwa penarikan garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline) tidak bisa dilakukan oleh semua negara yang mengatasnamakan dirinya sebagai negara kepulauan. Pengaturan dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut 1982 dimulai dengan penggunaan istilah negara kepulauan (archipelagic state). kecuali bila tiga persen dari jumlah seluruh garis pangkal yang mengelilingi setiap kepulaaun dapat melebihi . hak dan kewajiban kapal dan pesawat udara asing dalam pelaksanan hak lintas alur-alur laut kepulauan. Pada pasal 46 butir (a) disebutkan bahwa. hak lintas alur-alur laut kepulauan. yaitu panjang setiap garis lurus yang menghubungkan dua titik pangkal ditetapkan diteteapkan tidak boleh melebihi 100 mil laut. dalam pasal 46 butir (b) disebutkan bahwa kepulauan adalah suatu gugusan pulau-pulau. Panjang maksimum setiap segmen garis pangkal.

7. Penarikan garis pangkal demikian tidak boleh menyimpang terlalu jauh dari konfigurasi umum kepulauan tersebut. dapat dibuat daftar koordinat geografis titiktitik yang secara jelas memerinci datum geodetik. Untuk maksud menghitung perbandingan perairan dengan daratan. 3. 6. zona . Apabila suatu bagian perairan kepulauan suatu negara kepulauan. tidak boleh diterapkan oleh suatu negara kepulauan dengan cara yang demikian rupa sehingga memotong laut teritorial negara lain dari laut lepas atau zona ekonomi eksklusif. hak-hak yang ada dan kepentingan-kepentingan sah lainnya yang dilaksanakan secara tradisional oleh negara tersebut terakhir diperairan mereka. Selanjutnya. Garis pangkal demikian tidak boleh ditarik ke dan dari elevasi surut. daerah daratan dapat mencakup didalamnya perairan yang terletak didalam tebaran karang pulau-pulau dan Atol. 4. diatur bahwa ketentuan yang tertuang dalam pasal 47 merupakan garis pangkal untuk pengukuran lebar laut teritorial. maka dapat digunakan batas maksimum 125 mil laut. terletak diantara dua bagian suatu negara tetangga yang langsung berdampingan. harus dicantumkan pada peta dengan skala atau skala-skala yang memadai untuk menegaskan posisinya. 8. 9. termasuk bagian plateau oceanic yang bertebing curam yang tertutup atau hampir tertutup oleh serangkaian pulau batu gamping dan karang kering diatas permukaan laut yang terletak disekeliling plateau tersebut. kecuali apabila diatasnya telah dibangun mercusuar atau instalasi serupa yang secara permanen berada diatas permukaan laut atau apabila elevasi surut tersebut terletak seluruhnya atau sebagian pada suatu jarak yang tidak melebihi lebar laut teritorial dari pulau terdekat 5.21 kepanjangan tersebut. Sistem garis pangkal demikian. Negara kepulauan harus mengumumkan sebagaimana mestinya peta atau daftar koordinat geografis demikian dan harus mendepositkan satu salinan setiap peta atau daftar demikian ke Sekjen PBB. Garis pangkal yang ditarik sesuai dengan ketentuan pasal ini. serta segala hak yang ditetapkan dalam perjanjian antara negaranegara tersebut akan tetap berlaku dan harus dicermati.

ZEE dan landas kontinen bagi suatu negara kepulauan (pasal 48). Pada pasal 25 E berbunyi ” Negara Kesatuan RI adalah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah-wilayah yang batasbatasnya dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang”. Maldives. Indonesia. Antigua dan Barbuda. Dari peraturan peundangundangan nasional yang dikumpulkan oleh UN-DOALOS ada 19 negara yang menetapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan negara kepulauan. Dari beberapa aturan yang telah diuraikan di atas. Indonesia menuangkan Konsepsi Negara Kepulauan dalam amandemen ke 2 UUD 1945 Bab IXA tentang wilayah negara. garis pangkal biasa. garis pangkal lurus kepulauan. tidak semua negara yang wilayahya terdiri dari kumpulan pulaupulau dapat di anggap sebagai negara kepulauan. Trinidad dan Tobago. Sebagaimana yang disyaratkan oleh pasal 46 Konvensi Hukum Laut PBB 1982. Fiji. Bahama. Kiribati. Saint Vincent dan Grenadines. Sedangkan penarikan garis pangkal kepulauan dilakukan dengan menggunakan. pemerintah RI mengeluarkan PP No 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia yang telah diubah dengan PP No. Selain itu. Kepulauan Solomon. pasal 48 mengukuhkan bahwa untuk suatu negara kepulauan. Sao Tome dan Principe. Cape Verde. jelas bahwa Indonesia yang berstatus sebagai negara kepulauan akan diuntungkan. PNG. seperti garis-garis pangkal biasa dan garis-garis pangkal lurus.22 tambahan. pemerintah Indonesia secara tegas menyatakan bahwa negara RI adalah negara kepulauan. Pada pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa pemerintah menarik garis pangkal kepulauan untuk menetapkan lebar laut teritorial. Dengan kata lain. Tuvalu. yaitu. garis-garis pangkal lurus kepulauan mempunyai fungsi yang sama dengan garis-garis pangkal lain yang diakui oleh Konvensi Hukum Laut 1982. Komoro. karena dapat menggunakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki cara penarikan garisgaris pangkal kepulauan. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Geografis titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia. dalam pasal 2 Undang-Undang No 6 tahun 1996 tentang Perairan indonesia. dan Vanuatu. Oleh karena itu. Seychelles. Filipina. Selanjutnya dalam peraturan pelaksanannya. Kepulauan Marshall. garis . Jamaika.

23

pangkal lurus, garis penutup teluk, garis penutup muara sungai, terusan dan kuala, serta garis penutup pada pelabuhan. Namun kepemilikan Indonesia terhadap pulau-pulau kecil, khususnya pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, masih menyisakan permasalahan. Kalahnya pulau Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia telah mamberikan pelajaran kepada Indonesia dimuka Internasional. Hal ini mencerminkan bahwa pemerintah RI hanya sekedar memilki tanpa mempunyai kemampuan untuk menguasai dan memberdayakannya. Berkaca dari

maraknya potensi konflik dipulau-pulau kecil terluar, pemerintah Indonesia mengeluarkan Perpres No 78 Tahun 2005 tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Perpres tersebut bertujuan untuk: 1. Menjaga keutuhan wilayah NKRI, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan 2. Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan 3. Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan. Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar juga diharapkan dapat mengatasi ancaman keamanan yang meliputi kejahatan transnasional penangkapan ikan ilegal, penebangan kayu ilegal, perdagangan anak-anak dan perempuan (trafficking), imigran gelap, penyelundupan manusia, penyelendupan senjata dan bahan peledak, peredaran narkotika, pintu masuk terrorisme, serta potensi konflik sosial dan politik. Hal ini penting agar kesaradaran untuk menjaga pulau-pulau kecil diperbatasan tetap ada, dan pualu-pulau kecil diperbatasan tidak dianggap sekedar halaman belakang.7 d. Kontribusi Amannagappa dalam Studi Hukum Laut Uraian konsepsi Wanus sebagaimana dijelaskan di atas termasuk konstribusi sejarah didalamnya, perlu dilengkapi dengan mencantumkan kontribusi Sulawesi selatan sebagai basis kemaritiman. Konsepsi tersebut dapat dilihat pada “Pura tagkisi” gulikku, pura babbara sompeku’ ku ulebbirengngi telling natowalie’ (Telah kupasang kemudiku, telah

7

Mustafa Abubakar , Op.cit. hlm. 26-32

24

kukembangkan

layarku

kupilih

tenggelam

daripada

surut

langkah).8

Masyarakat Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Makassar dan Mandar sejak dahulu dikenal sebagai pelaut ulung dan telah mampu melayari seluruh pesisir Asia Tenggara, Australia, Madagaskar, Afrika Selatan bahkan sampai ke Jeddah-Arab Saudi. Seiring dengan kentalnya warisan sejarah kebaharian masyarakat Sulawesi Selatan, maka pemahaman akan hukum dan lingkungan laut bagi mahasiswa Universitas Hasanuddin (selanjutnya disingkat Unhas) menjadi sangat penting.9 Dalam konteks Indonesia dan khususnya Sulawesi Selatan konsepkonsep kepemilikan laut dan pengaturan pelayaran juga telah berkembang sejak abad ke 17 yang dapat dilihat pada hukum Pelayaran Amanna Gappa. Dalam hukum Amanna Gappa lebih cenderung menganut konsep kebebasan berlayar di laut. Lebih daripada itu hukum Amanna Gappa juga telah mengatur hak dan kewajiban pemilik kapal dan anak buah kapal. Konsep-konsep kepemilikan laut kemudian diadopsi oleh Hukum Laut Modern, yang dapat dilihat pada sejumlah konvensi internasional yang akan dikemukakan kemudian. Terlepas dari tuanya sejarah kebahaarian masyarakat Sulawesi Selatan, dalam dunia internasional kita mengenal beberapa konsep pengaturan laut, yang berkembang sejak zaman romawi sampai berkembangnya hukum laut modern, seperti dewasa ini. Pada zaman Romawi, laut dianggap sebagai “rest communis omnium” (hak bersama seluruh umat manusia). Menurut konsep ini penggunaan laut bebas atau terbuka bagi semua orang. Pada Abad Pertengahan setelah keruntuhan Imperium Roma, negaranegara yang muncul di sekitar laut Tengah mulai mengklaim hak kewilayahan
8

Baharuddin Lopa, Hukum Laut dan Perniagaan, (Bandung: P.T. Alumni, 1982). Naskah dalam bahasa bugis tentang hukum laut perdata telah dibahas dalam berbagai pertemuan dan penulis antara lain Carron dalam disertasinya yang berjudul “Het Handels en Zeerecht in Adatrechtsregelen van de Rechts kring Zuid Celebes”, disertasi, (Belanda: Penerbit Van Dishoeck ,1973). Isi buku undang-undang Amanna gappa ini mengandung peraturanperaturan yang berlaku menurut hukum (adat) Bugis dibidang pengangkutan laut. Tulisan lain tentang buku undangundang amana gappa adalah Ph.D.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa, (Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1961). Lihat juga Andi Zainal Abidin, Beberapa Catatan Tentang Kitab Hukum Pelayaran dan Perniagaan Amana Gappa, (Jakarta: BPHN, 1977). Tentunya, penelitian mendalam perlu dilakukan untuk mengetahui apakah di Indonesia dahulu kala, terutama dalam hukum (adat) Bugis yang dikenal sebagai pelaut utama antara suku-suku bangsa di Indonesia, telah dikenal konsepsi-konsepsi hukum laut publik yang dapat disamakan dengan Konsepsi atau lembaga-lembaga (atau pranata) hukum laut internasional publik yang telah diterima secara umum.

Abdul Rasal Rauf, Mengurai Hukum Laut Amannagappa hingga Hukum Laut Modern, Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”, Vol. VI No. 1 Juni 2010, hlm. 37-39.

9

25

atas laut di sekitar pantai. Venetia misalnya mulai mengklaim sebagian besar dari laut Adriatik, Genoa melakukan hal yang sama atas laut Liguria, sedang Pisa yang juga negara kecil pecahan Imperium Romawi mengklaim dan melakukan tindakan-tindakan penguasaan atas laut Thyrenia. Pada masa itu, para ahli terkemuka seperti Bartolus dan Baldus telah telah meletakkan dasardasar pembagian wilayah laut, yakni bagian laut yang berada di bawah kekuasaan kedaulatan negara pantai, dan wilayah laut yang berada di luar kedaulatan pantai atau lebih dikenal dengan konsep laut teritorial dan laut lepas. Selanjutnya Baldus membedakan tiga konsepsi yang bertalian dengan wilayah laut yakni : (1) Pemilik laut, (2) Pemakaian laut dan (3) Yurisdiksi atas laut dan wewenang untuk melakukan perlindungan terhadap kepentingan di laut.10 Perkembangan pengaturan laut selanjutnya banyak ditentukan oleh pertentangan pemikiran yang beranggapan bahwa laut sebagai sesuatu yang tertutup (mare clausum) didukung oleh John Selden, dan pemikiran laut sebagai sesuatu yang terbuka (mare liberum) yang didukung oleh sarjana Belanda Hugo Gratius.11 Menurut pemikiran yang menganut mare clausum, negara memiliki kedaulatan penuh di laut, sehingga tertutup bagi negara lain. Sedangkan para pemikir mare liberum beranggapan bahwa harus ada kebebasan berlayar di laut.12 Sekilas gambaran kontribusi sebagaimana dijelaskan di atas

menggambarkan betapa Sulawesi selatan telah berpartisipasi aktif dalam sejarah perkembangan hukum laut di Indonesia.

C. Penutup

Baldus dalam Muchtar Kusumaatmadja, Hukum Laut International, (Bandung: Binacipta, 1987). Buku-buku Grotius ini dalam terjemahan bahasa Inggris diterbitkan oleh International Laws dibawah pimpinan redaksi James Brown Scott, Di Indonesia, buku-buku ini tersedia di Perpustakaan Lembaga Kebudayaan Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang disebut sebagai Kementerian Pendidikan Nasional) yang bertempat di Gedung Museum Jakarta. Dalam seri ini diterbitkannya karya-karya penulis klasik hukum internasional lain sepertinya seperti Vittoria, Gentilis, Bynkershoek, Vattel, dll. Perpustakaan ini juga berfungsi sebagai perpustakaan Rechtshogeschool (Perguruan Tinggi Hukum Zaman Hindia Belanda). 12 Hal inilah yang menyebabkan mengapa orang-orang Portugis seperti Vasco da Gama sampai di Timur Jauh (Indonesia) melalui Tanjung Harapan (Afrika Selatan) dan India (kea arah Timur), sedangkan orang Spanyol bernama Magelhaens sampai di Filipina melalui Tanjung Magelhaens di Amerika Selatan (ke arah Barat). Pembagian dunia kedalam dua lingkungan kekuasaan ini juga menerangkan mengapa sebagian dari Amerika Selatan jatuh dibawah kekuasaan Spanyol dan sebagian dibawah kekuasaan Portugal yaitu yang kemudian menjadi Brazil yang hingga sekarang berbahasa Portugis.
11

10

26

Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kedua dilakukan dalam bentuk makalah dengan merumuskan beberapa judul/topik, seperti: 1. Kontribusi Indonesia Dalam Konvensi Hukum Laut III Tahun 1982. 2. Konsepsi Negara Kepulauan: Suatu Tantangan Hukum Laut. 3. Sulawesi Selatan: Kontribusi Kelautan yang Tak terbantahkan.

Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf, Mengurai Hukum Laut Amannagappa hingga Hukum Laut Modern, Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”, Vol. VI No. 1 Juni 2010, hlm. 37-39. Andi Zainal Abidin, Beberapa Catatan Tentang Kitab Hukum Pelayaran dan Perniagaan Amana Gappa, Jakarta: BPHN, 1977. Baharuddin Lopa, Hukum Laut dan Perniagaan, Bandung: P.T. Alumni, 1982. Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Binacipta, 1987. Mustafa Abubakar, Menata Pulau-Pulau Kecil Perbatasan; Belajar dari Kasus Sipadan, Ligitan, dan Sebatik, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005. Ph.D.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa, Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1961. S. Toto Pandoyo, Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Serta Pembangunan Nasional, Jakarta: PT Bina Aksara, 1985. Laut International, Bandung:

27

BAB 4 BAHAN PEMBELAJARAN 3

A. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu ke 3 adalah “Mahasiswa dapat menjelaskan implementasi asas Negara kepulauan dalam berbagai peraturan perundangan Republik Indonesia”. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning melalui small group work, kuliah interaktif dan diskusi kelas. Adapun criteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menyajikan fakta-fakta terkait soal implementasi atau penerapan prinsip Negara kepulauan melalui partisipasi dalam diskusi, kerjasama tim dan penguasaan individual pembelajaran ini dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik.

B. Uraian Meskipun secara teknis perundang-undangan hanya terjadi perubahan terhadap pasal ayat 1 butir 1 hingga 4 dari teritoriale zee en maritieme (TZMKO) 1939 saja, perubahan system pengukuran serta kewilayahan yang termuat dalam UU No. 4 / PRP / 1960 cukup bermasalah dilihat dari hukum dan kebiasaan Internasional. Bukan saja hal itu telah meninggalkan peraturan hukum internasional, yang berlaku dan telah berjalan berabad-abad lamanya tetapi juga mengakibatkan perubahan kewilayahan yang substansial. Disamping itu juga yang merupakan hal penting adalah permasalahan lalu lintas kendaraan air asing, untuk itu dengan peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1962, diatur tentang hak lalu lintas damai kendaraan air asing. Peraturan Pemerintahan merupakan peraturan pelaksanaan dari UU no 4 tahun 1960. Ketentuan nasional tentang lau lintas damai kapal-kapal asing penting artinya sebagai bukti adanya kesungguhan dan itikad baik dari Negara pantai untuk menjamin agar dapat terus berlangsungnya hak lalu lintas damai dalam wilyah perairan Nusantara Undang-undang No.4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.

28

Isi Pokok. a. l a. Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia (Pasal 1 ayat 1) b. Laut wilayah Indonesia untuk wilayah laut selebar 12 mil yang garis luarnya diukur tegak lurus atas garis-garis dasar atau titik pada garis dasar yang terdiri dari garis-garis lurus untuk menghubungkan titik-titik terluas pada garis rendah dari pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang terluar dalam wilayah Indonesia dengan ketentuan jika ada selat yang lebarnya tidak melebihi 24 mil mil laut + Negara Indonesia tidak merupakan satu-satunya Negara tepi, maka garis batas laut wilayah Indonesia ditarik pada tengah selat (Pasal 1 ayat 1). c. Perairan pedalaman, Indonesia untuk semua perairan yang terletak pada sisi dalam dari garis dasar laut wilayah (pasal 1 ayat 3) d. lalu lintas laut damai dalam perairan pedalaman Indonesia terbuka bagi kendaraan air asing (pasal 3 ayat 1). e. dengan peraturan pemerintah dapat diatur lalulintas laut damani (pasal 3 ayat 2). f. Mulai asal berlakunya undang-undang ini (18 Februari 1960) pertama angka 1 angka 1 sampai 4 teritoriale zee am maritiesme ordonatiec 1939 dicabut (pasal 4 ayat 2). Dari undang-undang No. 4 tahun 1960 ini jelas bahwa yang dimaksudkan dengan peranan Indonesia di laut wilayah beserta perairan pedalaman di bagian laut yang terletak pada di sebelah dalam garis-garis pangkal luas laut wilayah. Peraturan Pelaksanaan PP No. 8 tahun 1962 Memberikan pengertian tentang lalu lintas damai, di pelayaran untuk maksud damai yang melintasi laut wilayah +perairan pedalaman Indonesia dari laut lepas ke teratas pelabuhan Indonesia dari laut lepas kelaut lepas (ayat 10. Ditentukan pula bahwa semua pelayanan ini harus dilakukan tanpa berhenti + membuang serta mondar mondir tanpa alasan yang sah (hovering unnua Cessarily) di perairan atau di laut lepas yang berdekatan dengan perairan tersebut tersebut tidak termasuk pengertian lalu lintas damai (ayat 3).

29

Daerah-daerah “berdekatan” yaitu daerah laut lepas sejauh 100 mil dari perairan Indonesia. Jadi di daerah 100 mil dari laut wilayah, kapal-kapal pengawas pantai Indonesia masih dapat melakukan pengawasan terhadap lalu lintas kapalkapal. Pasal-pasal ayat 2 : menentukan bahwa lalu lintas damai dianjurkan untuk mengikuti alur-alur yang dicantumkan dalam buku-buku kepanduan bahari dalam dunia pelayaran. Menurut Pasal 3 PP No. 8 Tahun 1962, lalu lintas laut termaksud dianggap damai selama tidak berlawanan dengan keamanan, keterbatasan umum, + kepentingan dan/atau tidak mengganggu perdamaian negara Republik Indonesia. Kalau lalu lintas kapal tersebut akan membahayakan Indonesia, lalu lintas tersebut tidak dapat lagi dianggap damai. Dalam hal ini, pemerintah tidak dapat lagi menjamin lautan tersebut/meminta kapal-kapal asing itu meninggalkan laut wilayahnya dengan Negara yang sekarang diakui oleh Pasal 30 KHL 1982. Suatu ketentuan yang juga sudah diterima oleh pihak Indonesia. Pantai dapat menutup untuk sementara bagian-bagian perairannya bagi kapal-kapal asing bila dianggap pula untuk menjaga keamanan dan pertahanan Nnegara. Demikian pula halnya dengan Indonesia, dapat ditemukan dalam beberapa pasal PP No. 8 tahun 1962, yaitu: Pasal 4 PP No. 8 tahun 1962 menyebutkan bahwa Presiden Indonesia memiliki kewewenangan untuk menutup bagian-bagian tentang perairan Indonesia bila dianggap perlu. Pasal 5 ayat (1) Kapal-kapal ikan asing yang lalu di perairan Indonesia harus menyimpan alat-alat penangkap ikannya dalam keadaan terbungkus. (oleh sumber daya ikan dan hak eksklusif rakyat Indonesia). Ayat (2) : kapal-kapal ikan asing tersebut harus melalui jalanan yang telah ditetapkan. Pasal 6 : Presiden dapat member izin pada kapal-kapal penelitian ilmiah di perairan Indonesia. Sepanjang tidak merugikan Indonesia. Pasal 7: Kapal perang dan kapal publik asing harus memberitahukan menteri terkait atau KSAL kecuali bila diatur 7 tahun ditetapkan. (SK Presiden No. 16 tahun 1971). Bagi kapal-kapal niaga atau swasta asing yang melakukan lintas damai, tidak ada persoalan. Kapal-kapal bebas tidak perlu diberi tahu dahulu. Tapi kapal-

Perkembangan Konsep Landas Kontinen Konsep Landas Kontinen untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang Spanyol yaitu Odon de buen pada Konferensi Perikanan di Madrid tahun 1926. Jenis bologi laut berupa phyto plankton dan zoo-plankton yang sangat digemari oleh ikan-ikan sebagai makanan pokoknya. Menurut dugaan. I Harry S Thurman. President of the United Stated of America. subject to jurisdiction and control. therefore. untuk pertama kali dapat dilihat dalam proklamasi Presiden Amerika Serikat Harry S Truman pada tanggal 28 September 1945 sebagai berikut: “Now. Having concern for the urgency of conserving and prudently utilizing its natural resources. do hereby proclaim the following policy of United States of subsoul and and seabed of the continental shelf. Pada saat itu peringatan landasan kontinen tidak dikaitkan dengan kepentingan perikanan. In cases where the continental shelf extend to the shores of another state or is share with an adjacent state the boundary shall . Kemudian konsep Landasan Kontinen yang dikaitkan dengan kekayaan alam yang terdapat di dasar laut dan tanah dibawahnya.30 kapal asing mengadakan kegiatan yang tidak bersifat lintas damai diperlukan izin pelayaran sesuai SK Presiden No. the government of the United States regard the natural resources of the sudsoil and seabed of tehe continental shelf beneath the high seas but contiguous to the coast of the United States are appertaining to the United States. Kesatuan wilayah Republik Indonesia itu selanjutnya makin di tegakkan lagi kebulatannya dan keutuhannya secara menyeluruh dengan dikeluarkannya pengumumam pemerintah Republik Indonesia tentang landas kontinen pada tanggal 17 Februari 1969. yang kemudian diundangkan dalam bentuk UU No. perairan diatas Landasan Kontinen merupakan perairan yang baik sekali bagi kehidupan ikan. 1 tahun 1973 sehingga pengaturannya telah mencakup dasar laut beserta tanah dibawahnya (seabed dan subsoil). Secara oceanografi dapat dijelaskan bahwa perairan diatas continental shelf termasuk jenis perairan “euphotic zone” yakni suatu lapisan air yang karena dangkalnya dapat mendapat cahaya matahari sehingga memudahkan terjadinya “photo sytesis” yang diperlukan bagi kesuburankehidupan biologi laut. 16 tahun 1971 tentang wewenang pemberian izin berlayar bagi segala kegiatan kendaraan air asing dalam wilayah perairan Indonesia.

Bahwa penentuan landasan Kontinen itu tidak mempengaruhi status perairan diatasnya sebagai laut bebas. Disisi lain. Pandangan tersebut dikemukakan dalam suatu kesempatan simposium internasional. Bahwa proklamasi itu bertujuan untuk melindungi kekayaan alam dan memanfaatkannya secara bijaksana. batasnya akan diatur secara bilateral berdasarkan prinsip keadilan.31 be determined by the United States and the States concerned in accordance with equitable principle. 4. Bahwa objek proklamasi itu berkaitan dengan kekayaan alam yang terdapat di dlaam tanah (subsoil) dan sasar laut (seabed) dari landas Kontinen Amerika Serikat. Bahwa Landas Kontinen itu tunduk dibawah jurisdiksi dan pengawasan Amerika Serikat. Beliau menyatakan: “I think it is no exaggeration to state that the Truman Proclamation of 1945 ate the most important causes the radical changes that have occurred in the legal rezim of the oceans”. sama sekali bukan menyangkut existensi kekayaan alam yang terkandung pada dasar laut dan tanah di bawahnya. The characteristic as high seas of the water above the continental shelf and the right to their free and unimpeded navigation are no way thus affected. 3. Misalnya. Hasjim Djalal menilai bahwa proklamasi Prsiden Truman itu mengakibatkan perubahan yang radikal dibidang houkum laut. 5. . Perubahan yang radikal memang jelas dapat dilihat dari negara-negara di Amerika Latin dan di Asia secara pasti mengikuti jejak Presiden Truman. karena motivasi ajaran Grotius itu adalah semata-mata mengenai kebebasan berlayar dan kebebasan perikanan. Bahwa dalam hal Landasan Kontinen bertemu dengan pantai Negara lain. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian berkenaan dengan proklamasi tersebut yakni : 1. 2. Menurut Mochtar Kusumaatmadja. sebagai berikut: “It must be added at once the view presented by Grotius on resources of the sea were limited to the living resources as there as there was no notion at the time of the existence of mineral and energy resources”. proklamasi Presiden Truman itu tidaklah dapat dianggap menyimpang dari ajaran Grotius tentang laut bebas.

Dengan adanya variasi-variasi itu sudah barang tentu dapat menimbulkan hambatan dan kesulitan dalam praktek internasionla. Selain tentang landas Kontinen Konferensi Jenewa 1958 juga membahas tentang Perikanan. to where the superjacent waters admits of the exploitation of the natural resources of the said areas: (b) to the seabed and subsoil of similar submarine areas adjacent to the coast of island”.32 Mexico mengeluarkan proklamasi serupa tanggal 29 Oktober 1946. Abu Dhabi. beyond that limit. Klaim Argentina ini betul-betul merupakan klaim perluasan wilayah. 9 Maret 1950. Bahkan ternyata Argentina telah melangkah sangat jauh dengan mengklaim bahwa selain landas kontinen. tidak lagi merupakan klaim jurisdiksi eksklusif. the term of continental shelf is used as refreshing: (a) to the seabed and subsoil of the submarine areas adjacent to the coast but outside the area of the territorial sea. Qatar. Sedangkan Indonesia baru mengeluarkan deklarasi yang berupa Pengumuman Pemerintah tanggal 17 Februari 1969. Batas landas kontinen adalah sampai dengan kedalaman 200 meter atau di luar itu sepanjang memungkinkan dilakuakn exploitasi. Saudi Arabia. 5 Juni 1949. Chili dan Peru misalnya mendasarkan deklarasi mereka atas “teori bioma” dan “teori kompensasi” dan mengesampingkan teori “perpanjangan secara geologi” (geological prolongation). tahun 1949. perairan yang ada diatasnya tunduk di bawah kedaulatan Negara Argentina. Mengenai hubungan hukum antar negara dengan landasan kontinennya dinyatakan dalam Pasal 2 para. Hambatan dan kesulitan itu dicoba diatasi dalam Konferensi Jenewa 1958. Bahrain. Pasal 1 dari Konvensi Jenewa 1958 tentang Landas Kontinen menyebutkan bahwa pengertian landas kontinen tidak saja berupa landas kontinen dari suatu benua tetapi juga termasuk Landas Kontinen dari suatu pulau. Akibatnya. to a depth of 200 meters or. Laut Territorial dan Laut Lepas. Costa Rica. 1 Juni 1947. Dalam perkembangan selanjutnya terlihat adanya variasi dan modifikasi. batas landasan Kontinen mereka bukan kedalaman 200 meter tetapi sejauh 200 mil dari pantai. Secara lengkap rumusan Pasal 1 adalah: “For the purposes of these articles.dan Pakistan. 10 Juni 1949 . 1 Agustus 1947. Chili. (1) sebagai berikut : 1) The coastal state exercises over the continental shelf Sovereign Right for the purpose of exploring it and its natural resources. Peru. 8 Juni 1949. 27 Juli 1948. .

33 2) The rights referred into paragraph 1 of this article are exclusive in the sense that if the coastal state does not explore the continental shelf or exploits natural resources. Satya Nandan dapat menimbulkan bermacam-macam interpretasi. Mochtar Kusumaatjaya. Berdasarkan kutipan-kutipan di atas jelaslah bahwa menurut Konvensi Jenewa 1958 negara hanya mempunyai hak berdaulat dan jurisdiksi eksklusif atas Landasan Kontinen. Tindakan Pemerintah Indonesia Mengikuti perkembangan konsep Negara Kepulauan dan Landas Kontinen. (Diluar batas itu ketika kedalaman air memungkinkan eksploitasi sumber daya alam). 1 Tahun 1973. Ian Brownlie. Dengan demikian berarti klaim Argentina yang menuntut kedaulatan penuh atas Landas Kontinen dan perairan diatasnya tidak sesuai dengan perasaan hukum masyarakat internasional yang tertuang dalam Konvensi Jenewa 1958 itu. tidak menjamin kepastian hukum sehingga perlu diadakan penyempurnaan. or make a claim to the continental shelf without the express consent of the coastal state. pengumuman pemerintah tentang Negara Kepulauan tidak sesuai dengan asas kebebasan laut lepas karena akibat hukum dari pengumuman itu berupa dimasukkannya beberapa bagian wilayah integral . Ketentuan yang ditunjuk sebagai penyebab ketidak pastian itu adalah kalimat yang berbunyi …”beyond that limit to when the superjacent water admits the exploitation of the natural resources”. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Pengumuman tentang Negara Kepulauan dan pada tanggal 17 Februari1969 mengeluarkan pengumuman itu masingmasing dikukuhkan dengan Undang-Undang No. Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Ditinjau dari segi kepentingan Internasional dan nasional kedua Pengumuman pemerintah itu mempunyai corak yang sedikit berbeda. Pada tanggal 13 Desember 1957. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata rumusan Pasal 1 tentang batas landas Kontinen seperti disinyalir oleh sarjana-sarjana Hukum Internasional misalnya. Perbedaan itu paling tidak dapat dilihat dalam dua hal yaitu : 1) Secara asas (prinsip). no one may undertake these activities. Akhirnya penyempurnaan itu terlihat dalam ketentuan pasal 76 UNCLOS 1982.

Persoalannya kini adalah bagaimanakah sikap Indonesia menghadapi adanya dua Konvensi yakni konvensi Jenewa 1958 dan UNCLOS 1982 yang sama – sama mengatur tentang Landas Kontinen tetapi satu sama lain isinya berbeda.34 Indonesia. akhirnya melalui Konvensi Jamaica (UNCLOS) 1982. lebih jaudgh diperlukan penuangan dalam bentuk tertulis berupa Konvensi Internasional. Dalam konferensi tersebut terlihat aspirasi dunia untuk menjadikan ketentuan tentang Landas Kontinen sebagai aturan hukum tertulis. prinsip Negara Kepulaaun dapat diterima oleh masyarakat internasional. namun berkat pejuangan yang gigih dari Indonesia bersama-sama dengan Negara-Negara kepulauan lainya. Sementara Pengumuman Pemerintah tentang landas Kontinen adalah sesuai dengan aspirasi masyarakaat internasional yang telah tumbuh menjadi hukum kebiasaan internasional. Terhadap persoalan ini kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut. Singkatnya konsep Negara Kepulauan adalah konsep yang sama sekali baru dan waktu itu belum terjelma dalam hukum kebiasaan internasional. Pengumuman Pemerintah tentang Negara Kepulauan bersifat memperluas wilayah negara yang berarti juga memperluas wilayah negara yang berarti juga memperluas ruang lingkup berlakunya kedaulatan negara. Disisi lain. pengumuman tentang landas Kontinen tidak memerlukan dukungan internasional kerana Pengumuman itu dikeluarkan setelah berlangsungnya konferensi Jenewa 1958. sedangkan Konsep Landas Kontinen adalah konsep yang sudah menjelma dalam hukum kebiasaan internasional walaupun untuk kepastiannya. sedangkan Pengumuman Pemerintah tentang landas kontinen tidak memperluas wilayah Negara melainkan hanya memperluas hak berdaulat serta jurisdikasi ekslusif negara. Apa yang dilakukan Indonesia melalui Pengumuman Pemerintah tanggal 17 Februari 1969 itu telah sinkron dengan apa yang terlihat dalam konferensi Jenewa mengenai landas Kontinen. 2) Secara politis. . Meskipun Pengumuman Pemerintah tentang Negara kepaulauan bersifat melawan prinsip Hukum Internasional. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pengumuman Pemerintah tersebut merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

Namun ratifikasi yang dilakukan dengan Undang – Undang No. yang dimaksud dengan ZEE adalah: “The exlusive Economic Zone is a are a beyond and adjacent to the territorial sea. 4/Prp/1960 tentang wilayah Perairan Indonesia. No. tentang Perikanan dan Perlindungan Sumber Hayati di Laut Lepas (Fishing And Conservation of The Living Resources of the High Seas). maka secara juridis sepanjang tentang landas Kontinen. Pengertian ZEE Indonesia Menurut Konvensi Hukum Laut yang baru. Indonesia tidak terikat pada konvensi Jenewa 1958. 4/Prp.19 Tahun 1961 sepanjang mengenai perikanan dan Landas Kontinen telah ditolak ole Sek Jen PBB berhubung dimuatnya persyaratan (reservation) oleh Indonesia bertalian dengan garis pangkal sesuai dengan UU. yang diterima hanyalah ratifikasi tentang Laut Lepas saja. maka pada tanggal 21 Maret 1980 Pemerintah Republik Indonesia telah mengumumkan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia selebar 200 mil (yang diukur dari garis pangkal laut territorial Indonesia sesuai dengan ketentuan UUD No. Ini berarti Indonesia hanya tunduk pada UNCLOS 1982 saja. yang tunduk kepada rezim hukum khusus sebagaimana yang ditetapkan pada bagian ini yang meliputi hak-hak dan yurisdiksi negara pantai dan hak-hak serta kebebasan-kebebasan dari pada Negara-negara lain yang ditentukan sesuai dengan konvensi ini. yang menetapkan bahwa. tentang Landas Kontinen (Continental Shelf)./1960. subject to the specific legal rezim established in this part under which the rights and jurisdiction of the coastal State and the rights and freedom of other States are governed by the relevant provisions of this Convention”. Kemudian batansan yang hampir dengan ketentuan pasal tersebut di atas adalah batasan yang diberikan oleh Pasal 2 UU No. Maksudnya adalah ZEE adalah jalur diluar dan dengan laut wilayah. 17 Tahun 1985. Berlainan dengan sifat dari jurisdiksi atau Landas Kontinen yang hanya memberikan pengaturan tentang dasar laut beserta tanah dibawahnya. Sementara itu. Indonesia telah meratifikasi UNCLOS 1982 dengan undang-undang No. Dengan demikian. Berhubung dengan hal itu. 5 tahun 1983.35 Adalah memang benar Indonesia telah meratifikasi Konvensi Jenewa 1958 yaitu Konvensi tentang Laut Lepas (High Seas). “ZEE Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan .

Dengan proklamasi Presiden Truman tahun 1945 di atas dimulailah suatu perkembangan dalam hukum Laut yakni pengertian geologi “continental shelf” atau daratan kontinen. Hal tersebut sesuai dengan isi dari proklamasi tersebut yang pada pokoknya adalah : Sudah selayaknya tindakan demikian diambil oleh negara pantai karena “continental shelf” dapat dianggap sebagai kelanjutan alamiah daripada wilayah daratan dan bagaimanapun juga usaha-usaha untuk mengelola kekayaan alam yang terdapat didalamnya memerlukan kerjasama dan perlindungan dari pantai. Tindakan sepihak Amerika Serikat mengenai landas Kontinen dan perikanan sebagaimana disebutkan di atas. terutama kekayaan mineral khususnya minyak dan gas bumi. Dnagn demikian maka demi keamanan penguasaaan sember daya alam yang terdapat dari dalam continental shelf. 2667. Tindakan Presiden Amerika serikat ini bertujuan mencadangkan kekayaan alam pada dasar laut dan tanah dibawahnya yang berbatasan dengan pantai Amerika Serikat untuk kepentingan rakyat dan bangsa Amerika Serikat. seyogyanya kekuasaan untuk mengaturnya ada pada negara pantai yang berbatasan dengan daratan yang bersangkutan”. tanah dibawahnya dan air diatasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. ternyata bahwa pasal ini hanya menegaskan dan mengukuhkan definisi geografis ZEE Indonesia sebagaimaan yang tercantum dalam pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang ZEE Indonesia tertanggal 21 Maret 1980.36 dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undangundang yang berlaku tentang perairan iNdonesia yang meliputi dasar laut. ‘Policy of the United States with respect to the Natural Resources of the Subsoil and Seabed of the Continental Shelf”. Hal ini terbukti bahwa negara-negara Amerika Latin dalam mengajukan tuntutan mereka telah mengemukakan beberapa argumentasi yang bertujuan untuk melindungi sumber-sumber kekayaan alam . Truman” telah mengeluarkan suatu proklamasi No. berpengaruh terhadap perkembangan rezim hukum ZEE 200 mil tersebut. Sejarah perkembangan rezim hukum ZEE 200 mil Pada tanggal 28 September 1945 Presiden Amerika Seriakt “Harry S.” Dari ketentuan pasal tersebut.

kemudian Ekuador. Chili. negara-negara seperti: Argentina.. namun usaha PBB tersebut ternyata gagal. Selanjutnya Winston C. Costa Rica (1950). melainkan juga meluas sampai pada negara-negara asia Afrika. Klaim-klaim ini berkembang (meluas) sekitar tahun 1960-1970. Ekuador. Guinea. walaupun Negara-negara seperti Benin. Honduras. Sehubungan dengan klaim beberapa negara mengenai ZEE 200 mil laut ini. Bangladesh. Sebagai tindak lanjut dari tuntutan negara-negara Amerika Latin maka pada tahun 1952 lahirlah suatu deklarasi baru yakni “Deklarasi Santiago” yang ditandatangani oleh Negara-Negara : Chili. PBB telah menyelenggarakan Konferensi Hukum Laut (UNCLOS) 1 tahun 1958 UNCLOS II tahun 1960 di Jenewa. Termasuk klaim yurisdiksi 200 mil. Chili dan Peru mengemukakan teori “Bloma”. termasuk dasar laut dan tanah di abwahnya. Ekuador dan Peru: sebagai motivasi utama tuntutan ketiga Negara peserta deklarasi Santiago ini adalah pelaksanaan jurisdiksi ekslusif terhadap sumber-sumber kekayaan alam (daya hayati maupun non hayati) yang terdapat diperairannya yang sejauh 200 mil laut. terutama yang mengklaim jurisdiksi 200 mil dan tidak terbatas hanay pada Nnegara-negara Amerika Latin saja. Costa Rica. Peru. Siera Leone dan Somalia tetap mengklaim jurisdiksi 200 mil laut sebagai laut wilayah. Brazilia. Ekuador. terutama bertujuan untuk menetapkan lebar laut wilayah. Iceland. Honduras (1950).E. India. Peru). yakni Meksiko (1946). Kegagalan ini mengakibatkan meluasnya praktek Negara-negara dalam mengklaim kedaulatan mereka di laut yang berbatasan dengan pantainya.37 yang banyak terdapat diperairan sejauh 200 mil. Perlu dijelaskan dalam studi ini bahwa dalam perkembangannya. panama.E. Nicaragua. Menurut Winston C. El Salvador (1950). delegasi Kenya secara resmi . El Salvador. Sumber-sumber mana sangat bermanfaat bagi pelaksanaan pembangunan di negara-negara peserta deklarasi tersebut. menjelaskan bahwa dalam lingkaran sejauh 200 mil itu hak-hak lintas damai (innocent passage) tidak terganggu (inoffensive) dan tetap diakui sebagaimana mestinya. Guatemala. Argentina menagjukan teori “Epi Continental Sea”. yang selanjutnya diikuti oleh negaranegara Amerika Latin lainnya. Uruguay dan Amerika serikat mengajukan klaim mereka yang sejalan dan selaras dengan tuntunan yang telah diajukan oleh Negara-negara peserta deklarasi Santiago tahun 1952 (Chili. Meksiko.

Perdebatan dimaksud merupakan bagian laut bebas. Negara-negara pantai diberi wewenang tertentu kekayaan alamnya. negara-negara tak berpantai (landlocked States) dan negar-negara secara geografis tidak beruntung (geographically disadvantaged States) menuntut hak-hak yang sama dengan negara-negara pantai. ataukah memiliki rezim hukum spesifik. Meyatakan bahwa. masing-masing negara dengan gigih mempertahankan kepentingannya yang menjadi latar belakang klaimnya itu. tetap terjamin bagi semua bangsa. tidak saja dibidang perikanan tetapi juga terhadap sumber-sumber kekayaan laut lainnya di dasar laut. Namun negara-negara pantai hanya bersedia memberikan surplus perikanan yang tidak dapat diambil oleh negara-negara pantai. Dalam hal ini negara-negara maritim yang kuat. yang selanjutnya dimasukkan dalam List of Subjects and Issues dan dibahas dalam UNCLOS III 1974. Inggris. b. Kebebasan lautan. Sedangkan Negara-negara pantai terutama negara-negara yang tergabung dalam kelompok 77 dengan gigih pula tetap mempertahankan pendapatnya bahwa konsep ZEE merupakan suara konsepsi suigeneris yang memiliki rezim khusus mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban negaranya. Ternyata diantara negara-negara yang mengklaim yurisdiksi laut 200 mil tersebut mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda tentang apa yang telah dideklarasikan sebelumnya. Hal ini terbukti dengan terjadinya perdebatan sengit diantara negara-negara peserta UNCLOS III. Jepang dan Jerman Barat bersitegang dengan pendapatnya bahwa ZEE 200 mil harus merupakan laut bebas dengan ketentuan bahwa : a. Dengan demikian negara-negara yang tergabung dalam kelompok 77 tersebut tetap menentang dipertahankannya status laut bebas bagi ZEE. dalam hal ini negara-negara yang tergolong landlocked dan geographically disanvantage yang . Uni Soviet. seperti Amerika Serikat. walaupun mengakui beberapa kebebasan dilaut lepas dengan ketentuan bahwa hak-hak tersebut harus diperinci secara jelas dan tegas.38 telah mengajukan usul draft article yang mengatur tentang ZEE dalam persidangan Seabed Committee 18 Agustus 1972. termasuk kebebasan menggunakannya untuk kepentingan militer. Menurut Hasjim Djalal dalam bukunya “Perjuangan Indonesia dibidang Hukum Laut”.

Penentuan batas ZEE Salahsatu masalah yang cukup rumit untuk diselesaikan adalah penentuan batas ZEE dengan negara-negara tetangga. dengan jalan perundingan dan mufaakt kemudian dapat dipertemukan. sedangkan ketiga lainnya yang termasuk dalam ketegori “distant”.39 mendasarkan tuntutan mereka atas dasar prinsip “common heritage of mankind” yang mengklaim hak yang sama dengan negara-negara pantai untuk mengambil kekayaan alam di ZEE tersebut. Konvensi Hukum laut III ini telah ditandatangani di Montego Bay. dengan makin banyaknya negara-negara yang mengumumkan ZEE 200 mil. Menlu RI Mochtar Kusumaatmadja. Nepal. dalam penjelasannya mengenai Pengumuman Pemerintah tentang ZEE Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980. dewasa ini telah menjadi Hukum Laut Internasional yang abru. namun sebagai suatu rezim sul generis. dan Zambia. sehingga perjuangan mengenai rezim hukum ZEE 200 mil akhirnay dapat dirumuskan. tealh menegaskan bahwa walaupun ketentuan-ketentuan tentang ZEE dalam bab V ICNT ini belum berhasil diresmikan menjadi suatu konvensi Hukum Laut Internasional. ZEE 200 mil dengan demikian tidak dikualifikasikan sebagai laut bebas dan tidak pula sebagai laut wilayah. yang diartikan ZEE mempunyai ketentuan hukum sendiri. Meskipun negara-negara tetangga menganut prinsip penarikan batas yang sama tentang rezim ZEE. Kemudian setelah mengalami amandemen-amandemen dalam Informal Single Negotiating Text (INST) dan Revised Singel Negotiating Text (RSNT). Komperensi Hukum Laut PBB telah berhasil . negara-negara tak berpantai dan secara geografis tidak beruntung misalnya Singapura. ketentuan-ketentuan mengenai ZEE 200 mil dimuat dalam pasal 55-75 Bab V Informal Composite Negotiating Text. Penyelesaian yang selalu menjadi tujuan hukum pada akhirnya perbedaan dan pertentangan pendapat yang pada mulanya tegang itu. (ICNT). Jamaika tanggal 10 Desember 1982. sampai akhirnya sidang ke 11 di New York yang lalu. Sebagai ilustrasi disini. maka rezim itu melalui proses pembentukan hukum kebiasaan internasional. kepentingan semua pihak dapat dapat ditampung tanpa saling merugikan. namun dalam masalah penetapan batas ini masih beluma da kesepakatan.

factor-faktor yang mempengaruhinya pun adalah berbeda. maka batas ZEE antara Indonesia dan negara tersebut adalah garis tengah atau garis sama jarak (middle line or equidistant) antara garis-garis pangkal laut wilayah Indonesia atau titik-titik terluar negara tersebut telah tercapai persetujuan tentang peraturan sementara yang berkaitan dengan batas ZEE termaksud. Keadaan khusus tersebut adalah misalnya terdapatnya suatu pulau dari negara lain yang terletak dalam jarak kurang dari 200 (dua ratus) mil laut dari garis pangkal untuk menetapkan lebarnya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. karena patokan-patokan yang dipakai. Dari ketentuan-ketentuan di atas. maka batas ZEE antara Indonesia dengan Negara-negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik Indonesia dan Negara yang bersangkutan. Apabila ZEE Indonesia tumpang tindih dengan ZEE Negara-negara yang pantainya saling berhadapan ataupun ataupun berdampingan (opposite or adjacent coastal) dengan pantai Indonesia. Persetujuan Bilateral tentang Akses Negara ketiga . kecuali jika terdapat keadaan-keadaan khusus (special circumstances) yang perlu dipertimbangkan sehingga tidak merugikan kepentingan nasional. dapat diketahui bahwa pasal ini memberikan ketentuan bahwa prinsip sama jarak (equidistant) digunaakn untuk menetapkan batas ZEE antara Indonesia dengan negara tetangga. batas ZEE 200 mil laut dengan negara-negara tetangga dimaksud tetap harus ditentukan berdasarkan pada “asas sama jauh” (equidistant principle) dengan memperhitungkan keadaan-keadaan khusus (special circumstances). khususnya mengenai penentuan batas ZEE yang menyangkut kepentingan dua negara atau lebih baik yang letaknya berdampingan maupun yang berhadapan (opposite or adjacent coastals) harus dilakukan secara damai menurut Hukum Internasional yang berlaku umum dan khususnya tidak bertantangan dengan ketentuanketentuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selama persetujuan sebagaimana dimaksud di atas belum ada dan tidak terdapat keadaan-keadaan khusus yang perlu dipertimbangkan. Akan tetapi bagi Indonesia. Selain itu Indonesia berpendirian bahwa batas ZEE tersebut tidak perlu identik dengan batas landas kontinen.40 mencapai kesepakatan dalam merumuskan penetapan batas ZEE ini.

Oleh karena itu.41 Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Konvensi Hukum Laut yang baru. Pemerintah Republk Indonesia juga perlu segera merumuskan model persetujuan induk yang mengatur secara umum masalah akses tersebut. karena Indonesia sebagai negara pantai yang tergolong dalam negara yang sedang berkembang. Sebagaimana yang dianjurkan (sarankan) oleh Dimyati Hartono bahwa : “persetujuan yang dimaksud dapat menyangkut masalah tindakan maslah perlindungan yang berupa pembatasan terhadap jenis. atau mengenai waktu dan cara-cara penangkapan ikan yang semuanya didasarkan pada rujukan untuk menjamin kelestarian sumber daya hayati di wialyah perairan tersebut”. jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh masing-masing Negara. dengan masih mempergunakan alat-alat yang tradisional dalam rangka mengelola penangkapan dalam hasil perikanan laut yang hamper mencapai 75% terdiri dari laut Indonesia dapat diperkirakan akan mempunyai surplus yang harus diberikan kepada negara ketiga tertentu. Dalam hal ini negara Singapura dan Zambia. Indonesia berada dibawah “Total Allowable Catch” (TAC) atau suatu jumlah yang diperkenankan untuk ditangkap. Selanjutnya ditegaskan bahwa sebagaimana yang dilakukan oleh negaranegara yang secara geografis kurang beruntung dan yang letaknya berhadapan ataupun berdekatan (adjenct) mengadakan tindakan demikian dapat berarti bahwa . Surplus yang demikian aka nada jika tiba musim panen (harvesting capacity). Hal ini sudah digariskan dalam konvensi yakni negaranegara yang tak berpantai (landlocked States). Indonesia sebagai salah satu Negara pantai berkewajiban untuk memberikan akses kepada Negara ketiga atas sebagian dari surplus perikanan yang ada di ZEE Indonesia. Sesuai dengan ketentuan Konvensi Hukum laut yang baru akses dimaksud harus diberikan berdasarkan persetujuan. bahwa berdasarkan prioritas. Tidak dapat kita ingkari bahwa lazimnya kesulitan untuk menentukan TAC dan harvesting capacity akan timbul. Kemudian Negara-negara ketiga lainnya termasuk kedalam distant fishing countries yaitu Korea dan Jepang. negara ketiga yang dapat menerima akses yang dimaksud. negara-negara yanag secara geografis kurang beruntung (geographically disvantages States). yang memuat syarat-syarat tentang akses-akses tersebut. Sesuai dengan ketentuan Kovensi Hukum laut yang baru. Hal ini adalah logis. baik bilateral maupun regional.

. Vietnam. 21 Desember 1971. persetujuan bilateral tersebut harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan tentang perairan di ZEE Indonesia khususnya. Selanjutnya dibawah ini akan dikemukakan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam penetapan batas-batas laut wilayah serta batas ZEE 200 mil laut dengan beberapa negara tetangga baik yang sudah dilakukan. 1. Australia. yang antara lain adalah sebagai berikut: a.Malaysia Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa sudah terdapat beberapa perjanjian antara Indonesia dan Malaysia. Tentunya. Indonesia . Adanya usaha serupa ini sudah tentu dapat mengisi gagasan-gagasan ekonomi ASEAN yang saat ini sedang digalakkan. Sifat khusus sebagai Negara Kepulauan yang berimpit batas dengan negara tetangga tidak boleh diabaikan. tidak bertentangan dengan ketentuanketentuan yang termuat dengan konvensi Hukum Laut yang baru. baik mengenai laut wilayah maupun landas kontinen telah diadakan. Adanya penangkapan-penangkapan ikan secara tradisional oleh rakyat kedua negara sehingga perlu pula pendekatan serupa terhadap Negara tetangga kita Papua Nugini mengenai kegiatan perikanan di Pantai utara dan selatan Irian Jaya. Perjanjian mengenai Lands Kontinen di Selat Malaka dan laut Cina Selatan. mengenai hukuman. 27 Oktober 1969. Tindkan serupa perlu diadakan untuk wilayah perairan Indonesia di sekitar laut Sulawesi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina. fee serta masalah berlakunya perizinan bagi daerah yang ditentukan. antara lain adalah dengan Papua Nugini. Filipina dan Malaysia dengan memanfaatkan beberapa pendapat yang ada hubungannya dengan persoalan penetapan batas-batas dimaksud. Berdasarkan persetujuan-persetujuan demikian dapatlah dibuat persetujuan-persetujuan pelaksanaan yang akan mengatur secara terperinci syarat-syarat akses.42 suatu peraturan secara regional. khususnya tentang masalh menjamin kelestarian sumber-sumber daya alam laut. b. serta aturan kebiasaan internasional dan prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab. seperti: mengenai quota. Perjanjian tentang Common Point di Selat Mlaka. pengawasan dan sebagainya. license.

d. pemerintah Malaysia telah memberikan gambaran-gambaran yang positif dalam hubungannya dengan pihak Indonesia. gambaran (penjelasan) tersebut diberitakan antara lain: . Pihak Malaysia diberitakan telah menyatakan dukungannya terhadap rezim hukum negara kepulauan (Wawasan Nusantara) Indonesia.43 c. Sehubungan dengan dihukumnya ZEE 200 mil Malaysia pada 28 April 1980. 17 Maret 1970. Perjanjian tentang Rezim Hukum Negara Kepulauan. yang selanjutnya dalam pertemuan Presiden Soeharto dengan Perdana Menteri Datok Husain Onn di Kuantan 26 Maret 1980 untuk menyelesaikan masalah tersebut telah dibicarakan cara-cara menyelesaikannya secara hubungan baik. dimana masing-masing pihak telah melakukan pembebasan terhadap draft article persetujuan dan counter draftnya. Perundinganperundingannya sudah dilakukan sejak bulan Februari 1981 di Kuala Lumpur dan di Jakarta awal bulan Juli 1981. Perjanjian tentang Garis Batas laut Wilayah di Selat Malaka. Dengan demikian baik mengenai batas laut wilayah maupun batas landas kontinen serta ZEE 200 mil laut Indonesia Malaysia sudah diwujudkan dalam bentuk persetujuan / perjanjian. Perjanjian yang disebutkan terakhir merupakan tindak lanjut daripada “Memorandum of Understanding” antara kedua negara mengenai pengakuan hak-hak dan kepentingan Malaysia berdasarkan sejarah di perairan laut Cina Selatan yang memisahkan Malaysia Barat dan Timur. Akan tetapi pihak Indonesia dikejutkan dengan adanya tindakan sepihak (unilateral act) Malaysia yang mengumumkan peta baru landas kontinen Malaysia dalam mana Pulau Sipadan dan Ligitan yang termasuk wilayah Indonesia telah dicantumkan dalam peta tersebut. sedangkan pihak Malaysia telah pula menyatakan dukungannya terhadap Wawasan Nusantara kita. Adanya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang ZEE pihak Indonesia telah menegaskan bahwa materi pengumuman dengan tersebut tidak akan mempengaruhi hak-hak Malaysia kepentingan nasionalnya. Indonesia telah mengajukan protes. Kamis 25 Februari 1982 di Jakarta.

Dibagian utara Selat Malaka dsan bagian-bagian tertentu Laut Cina Selatan.Filipina Filipina pada bulan Mei 1979. tetapi juga dibagian utara dan barat laut Selat Malaka tahun 1975.44 a. Indonesia . sebagaimana halnya sewaktu mengadakan perjanjian mengenai penentuan “Common Point” diSelat Malaka pada tanggal 21 Desember 1971 tempo hari. tealh mengumkan ZEE 200 milnya. baik di Indonesia maupun Filipina keduanya adalah negara kepulauan. tidak hanya menyangkut kepentingan Malaysia dan Indonesia saja melainkan juga dengan Thailand. termasuk dibagian utara Selat Malaka. dimana diperkirakan yang lebarnya kurang dari 400 mil. Tentu saja penetapan batas ZEE diperairanyang diseut terakhir diatas. Sistem yang dianut Filipina dalam penetapan batas landas kontinennya adalah sistem yang sama dengan yang dianut oleh Indonesia yakni “middle line atau equidistant”. Malaysia akan memperhatikan hak-hak negara tetangga yang bersangkutan Dari penegasan yang disebut dalam point b diatas. Malaysia bersedia untuk menyelesaikannya secara damai melalui perundingan dan menetapkan batas-batas ZEE sesuai dengan batas-batas ZEE sesuai dengan Hukum Internasional b. Diperairan tersebut antara Indonesia Thailand sudah dicapai persetujuan mengenai batas landas kontinen. maka di perairan tersebut Indonesia masih harus mengadakan penetapan batas ZEE 200 mil. tidak saja di Selat Malaka ytahun 1971. 2. Menteri Hukum Abdul Kadir Yusuf menjelaskan bahwa sebagai dampak dari pengumuman tersebut akan terjadi wilayah-wilayah yang dpat dipersengketaan dengan negara-negara tetangga-tetangga (termasuk Indonesia). Kemudian dicapai kesepakatan yang dituangkan dalam persetujuan tiga Negara (trilateral) antara Indonesia India dan Thailand mengenai batas landas kontinen dilaut Andaman tahun 1978. namun lebih dari 24 mil laut. dapat disimpulkan bahwa perjuangan Indonesia dalam menegakkan rezim hkum ZEE 200 mil ini sudah merupakan perjuanagn yang keberhasilannya tidak dapat diragukan dan dan disangsikan lagi. Dengan terjadinya penetapan batas ZEE 200 mil laut oleh masing- . Dari ketentuan dan penegasan diatas.

maka dibagian selatan Filipina (selatan Mindanao) dan bagian utara Indonesia (laut Sulawesi dan Sangir Talaud) perlu diadakan penetapan batas-batasnya. 3. pihak Hanoi menuntut agar suatu trench (palung laut) yang membentang sejak Pulau Anambas sampai Pulau Natuna merupakan batas landas kontinennya. terutama dengan adanya pergeseranpergeseran dari posisi masing-masing yang semula. jelas telah menggambarkan adanya batas wilayah yang masih tumapng tindih dan demi keamanan serta ketertiban masing-masing negara. keadaan demikian perlu segera diselesaikan. Sejalan dengan prinsip tersebut. Dari keenam kali perundingan yang telah dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Indonesia . bahkan dalam perundingan yang keenam di Jakarta pada pertengahan Mei 1981 pihak Vietnam telah meninggalkan sistem thalweg-nya dan pihak Indonesia telah memberikan konsensi-konsensi tertentu pula. masing-masing pihak telah menyatakan itikad baik sehingga diperoleh kemajuan-kemajuan yang positif. dikarenakan adanya perbedaan pendapat mengenai system penarikan garis batas tersebut. Dengan belum adanya kesepakatan mengenai masalah ini. Indonesia sangat berkeberatan dan menolak prinsip penarikan garis batas yang dipergunakan oleh pihak Vietnam yakni prinsip “trench” Indonesia menginginkan sistem penarikan sistem penarikan garis tengah (middle line) sebagai batas landas kontinennya. Pihak Indonesia: bagi penetapan batas landas kontinen ini. sedangkan di perairan laut Sulawesi hanya akan terjadi perhimpitan garis batas.45 masing yang mengelilingi masing-masing kepulaunnya. . Tumpang tindihnya wilayah tersebut di atas diperkirakan akan terjadi dibagian selatan Mindanao. perbedaan yang dimaksud adalah terdapatnya perbedaan prinsip sebagai berikut : a.Vietnam Penetapan garis batas landas kontinen dengan pihak vietnam ternyata mengalami kesulitan pula. Pihak Vietnam: bagi penetapan batas landas kontinennya menghendaki agar prinsip “thalweg” dipergunakan sebagaimana mestinya. b. prinsip lazim dipergunakan untuk menentukan garis batas negara yang berbatasan dengan sungai di mana alur-alur terdalamnya sangat diperhatikan.

Namun menurut Guy Sacerdotti dalam tulisannya yang berjudul “Flexing an Economic Muscle (FEER). Hal ini dikarenakan bahwa perjanjian-perjanjian antara Indonesia Australia sebelum wialyah itu merdeka masih tetap diakui dan berlaku. Sehubungan dengan penetapan batas ZEE 200 mil laut Indonesia dan adanya perntyataan seperti tersebut di atas dari pihak Vietnam dalam hal penetapan batas ZEE sesungguhnya tidak akan terjadi tumpang tindih batas. Kedua negara sudah membicarakan lagi (dalam hal ini sebelumnya yakni pada bulan Mei 1978 telah dikeluarkan pernyataan bersama (joint declaration) kedua negara. Indonesia . 4. perlu diadakan pembaharuan perjanjian batas antara kedua negara. Juga dalam pernyataan bersama tersebut disebutkan bahwa tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak Papua Nugini untuk menetapkan zona perikanan 200 mil serta kebijaksanaannya dalam pengelolaan sumber-sumber daya hayati zona tersebut diakui. dengan perincian 12 mil laut territorial. . 1980 menyebutkan bahwa pihak Indonesia tetap berpendirian bahwa tidak ada wilayah yang tumpang tindih dengan pihak Vietnam. dan tidak mengubah formula tersebut dengan sistem sgalwe. jika pihak vietnam tetap mempergunakan formulanya yang pertama yakni “normal baseline”. sehingga tumpang tindih wilayah akan terjadi. 2 mil wilayah menjangga dan selebihnya adalah ZEE. Undangundang tersebut antara lain ditetapkan bahwa wilayah maritim Vietnam adalah sejauh 200 mil laut. Sesuai dengan kebiasaan dan ketentuan Hukum Internasional yang berlaku.Papua Nugini Masalah penetapan batas ZEE 200 mil laut antara Indonesia dengan Papua Nugini sesungguhnya tidak banyak menimbulkan masalah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perjanjian-perjanjian terdahulu tetap mempunyai daya laku dan akan diadakan persetujuan final mengenai penetapan batas kedua negara. dan tidak mengubah formula tersebut dengan sistem thalweg-nya garis pangkal yang ditetapkannya akan berada lebih jauh dari apntai dan lebih jauh dari pada normal baselines tersebut.46 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Vietnam telah mengeluarkan pernyataannya mengenai wilayah perairannnya pada tanggal 12 Mei 1977 dan menetapkan Undang-undang Maritimnya pada bulan Januari 1980.

5. Di Port Mosbey mengenai batasbatas kedua Negara. Pada awal bulan Januari 1985. Indonesia . perlu diadakan penetapan batas ZEE kedua Negara. Masalah ini adalah menyangkut batas landas kontinen bagian sebelah timor-timur dan barat Timor Timur telah diselesaikan sewaktu wilayah itu masih merupakan bagian Portugal. dinyatakan bahwa dengan diumumkannya ZEE 200 mil laut Indonesia tanggal 21 Mei 1980. .Australia Perairan di sebelah selatan Timor-timor terdapat masalah yang pada waktunya harus diselesaikan antara kedua negara bertetangga yang bersangkutan.S Roosman dalam tulisannya yang berjudul “Persetujuan Perbatasan Indonesia Papua Nugini”. maka pada tanggal 29 Mei sampai dengan 6 Juni 1980 telah diadakan perundingan antara kedua negara di Port Moresby. Selanjutnya menurut Press Release Departement Luar Negeri Republik Indonesia tentang perundingan Indonesia Papua Nugini. Dengan timbulnya integrasi Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan keharusan bagi Indonesia dan Australia untuk menyelesaikan penentuan batas landas kontinen di sebelah selatan pulau tersebut. Berada dibawah pengawasan pihak Australia. terutama sebhubungan denagan tindakan sepihak Papua Nigini dalam menetapkan zona perikanan pada bulan Maret 1978. Dalam rangka mencari penyelesaian mengenai hal-hal tersebut di atas. Menurut Feter Rodgers persetujuan-persetujuan tersebut di atas adalah melengkapi perjanjian-perjanjian yang telah diadakan oleh kedua negara sebelumnya. diberbagai harian umum telah diberitakan bahwa usaha-usaha melalui perundingan untuk menetapkan batas landas kontinen di sebelah selatan Timor Timur itu kurang lancar dan mengalami ‘gap” antara garis batas bagian barat dan timur debagai hasil perjanjian 1971 dan 1972. menyebutkan bahwa pernyataan bersama kedua Negara yang dikeluarkan pada tanggal 18 Oktober 1979 di Port Moresby disebabkan bahwa telah dilangsungkan perundingan mengenai rancangan persetujuan perbatasan laut dan dasar laut dibagian utara Papua Nugini. Penetapan batas antara Indonesia-Australia di bagian barat dan timur yang berdasarkan suatu formula yang telah dirimuskan semula. telah mengakibatkan ¾ landas kontinen diperairan tersebut.47 Menurut R.

perundingan antara Indonesia Australia mengenai masalah ini telah berulang kali diadakan. pihak perusahaan minyak OEC mengharapkan agar Indonesia dapat memberi izin konsesi seperti yang diberikan oleh Portugal. jika Pihak Indonesia memenuhi permintaan tersebut memenuhi permintaan tersebut dan mengubah formula perjanjian 1971 dan 1972 maka izin konsesi itu akan memotong enam wilayah konsesi Australia. Sepanjang pengetahuan penulis. tercatat bahwa pertama di Canberra pada bulan Februari 1979.48 Sesungguhnya pada waktu Portugal masih menguasai Tim-Tim tersebut. . yang telah dicapainya. dalam hal ini dirasakan telah mendesak untuk menetapkan garis batas ZEE 200 mil di wilayah tersebut melalui perjanjian bilateral. Pada tahun 1974 Portugal memberi izin konsesi perusahaan minyak Amerika “Oceanic Exploration Company” (OEC) sampai garis batas yang diklaimnya. kedua. Namun hasilnya sampai saat ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Menurut Michael Richardson dalam tulisannya yang berjudul “Drawing The Seabed Line” 1978. Bagi Australia. Pihak Australia mengharapkan agar Indonesia melanjutkan penarikan garis batas straight archipelagic baselines joining the outermost points of the outermost islands and drying reefs of the archipelago provided that…. karena dikabarkan bahwa pihak Australia pada tanggal 1 November 1979 telah mengumumkan zona perikanan 200 mil laut.sehubungan dengan usaha-usaha penetapan landas kontinen antara Indonesia dan Australia. di Jakarta pada bulan Mei 1979. antara Portugal dan Australia tealh tibul perbedaan pendapat mmengenai garis batas landas kontine dirairan itu. Pihak Australia mengemukakan bahwa ada dua landas kontinen yang berbeda yang dipisahkan oleh lembah Timor (Timor Trough) yang terletak 60 mil Selatan Pulau Timor dan 300 mil di sebelah utara Darwin. ketiga di Canberra. yang ternyata tindakan ini diprotes oleh Australia karena perizinan itu memotong dan melampaui wilayah konsesi berbagai perusahaan minyak asing yang telah diberi izin konsesi oleh Australia sampai pada garis batas yang telah diklaimnya. Sedangkan pihak Portugal menganggap hanay ada satu landas kontinen yang berlanjut (one continous continental shelf) dan middle line seharusnya ditarik antara Australia dan Timor Timur.

2. Telah diketahui bahwa ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam undang-undang tersebut adalah sebagian besar merupakan ketentuan yang telah disesuaikan (accommodation) dengan Konvensi Hukum Laut yang baru (1982) khususnya mengenai ZEE 200 mil tersebut. Yurisdiksi yang berhubungan dengan : 1. instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya (the estabilishment and use of artificial island. Indonesia merupakan salah satu negara pantai mempunyai dan melaksanakan: a. yurisdiksi dan kewajiban Indonesia di ZEE 200 mil Hak berdaulat (sovereign rights) dan yurisdiksi (jurisdiction) dan kewajibankewajiban (duties) Indonesia atas laut selebar 200 mil dari garis dasar di sekeliling kepulauan Indonesia berlaku berdasarkan Pengumuman Pemerintah tanggal 21 Maret 1980. 3. seperti pembangkit tenaga air. Di zona Ekonomi Eksklusif tersebut. hak-hak lain. Hak berdaulat. Tercapainya kesepakatan mengenai penetapan batas landas kontinen dibagian selatan Timor Timur nanti sudah tentu akan memudahkan tercapainya kesepakatan mengenai penetapan batas ZEE. . Penelitian ilmiah mengenai kelautan (marine scientifific research). pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati dan nonhayati dari dasar laut dan tanah di bawahnya serta air diatasnya dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk ekplorasi dan eksploitasi ekonomis zona tersebut. hak berdaulat untuk melakukan ekplorasi dan eksploitasi. installations and structures). perlindungan dan pelestarian lingkungan laut (the protection and preservation of the marine environment). bahkan akan menjadi dampak positif terhadap ubungan bilateral kedua negara di berbagai kepentingan. yang kemudian dituangkan ke dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1983 tentang ZEE Indonesia. antara kedua negara. Pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan.49 Hingga kini baik Indonesia maupun pihak Australia masih menyatakan hasratnya untuk bertanding kembali dan menyelesaikan persoalan batas landas kontinen ZEE 200 mil masing-masing. arus dan angin b.

Hak berdaulat Indonesia sebagai negara pantai yang dimaksudkan di atas tidak sama atau tidak dapat disamakan dengan kedaulatan penuh yang dimilki dan dilaksanakan oleh Indonesia atas laut wialyah. perairan Nusantara dan perairan pedalaman Indonesia. misalnya kewajiban pelayaran dan penerbangan (freedom of navigation and overflight) dan kebebasan pemasangan kebal-kabel dan pipa-pipa dibawah laut (freedom of the laying of submarine cables and pipelines). Kewajiban lainnya berdasarkan Hukum Internasional adalah kewajiban Republik Indonesia untuk menghormati hak-hak negara lain. Berdasarkan hal tersebut di atas maka sanksi-sanksi yang diancam di ZEE Indonesia berbeda dengan sanksi-sanksi yang diancam diperairan yang berada dibawah kedaulatan Republik Indonesia tersebut. hak-hak lain berdasarkan Hukum Internasional adlah hak Republik Indonesia untuk melaksanakan penegakan hukum (law enforcement) dan hot pursuit terhadap kapal-kapal asing yang melakukan perlanggaran atas ketentuan-keetntuan peraturan perundang-undangan Indonesia mengenai ZEE. yurisdiksi dan kewajiban-kewajiban Indonesia sebagaimana dimaksud di atas dilaksanakan menurut perundang-undangan landas kontinen (this rights set out in this article with respect to the seabed and subsoil shall be exerciased in accordance with part VI) Indonesia. serta persetujuan-persetujuan antara republik Indonesia dengan negara-negara tetangga dan ketentuan-ketentuan hukum Internasional yang berlaku (pasal 4 ayat 2). Sepanjang yang bertalian dengan dasar laut dan tanah dibawahnya. Hak-hak lain dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan konvensi Hukum laut yang berlaku (other rights and duties provided for ini this convention).50 c. hak berdaulat. . Jelaslah bahwa ketentuan tersebut di atas menginginkan bahwa sepanjang menyangkut sumber daya alam dhayati dan non hayati didasar laut dan tanah dibawahnya yang terletak didalam batas-batas ZEE Indonesia hak berdaulat Indonesia dilaksanakan dan diatur berdasarkan perundang-undangan Indonesia yaitu yang berlaku di bidang landas kontinen serta persetujuan-persetujuan internasional tentang landas kontinen yang menetapkan batas-batas landas kontinen antara Indonesia dengan negara-negara tetangga yang pantainya saling berhadapan atau saling berdampingan dengan Indonesia. hak-hak lain.

Dengan menggunakan data-data ilmiah (the best scientific evidence available to it) terbaik yang dapat disediakan harus mencegah ekploitasi yang berlebihan (over exploitation) dengan tindakan pelestarian dan pengelolaan yang benar atas sumber daya alam hayati. Menentukan jumlah ikan yang boleh ditangkap (the coastal State Shall determine the allowable catch of the living resources in its exclusive economic zone). jika terjadi perselisihan antara negra Indonesia dengan Negra-negara lain di ZEE Indonesia harus diselesaikan atas dasar keadilan (equitable solution) dengan memperhatikan semau keadaan yang berkaitan (Pasal 59). akan diperinci sebagai berikut: 1. kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut diakui sesuai dengan prinsip-prinsip Hukum Laut Internasional yang berlaku dimaksud. Konvensi Hukum laut III (1982) mewajibkan Indonesia untuk: a. penerbangan. Semua nNegara bebas dalam pelayaran. b. baik negara pantai maupun negara tak berpantai (landlocked States) dan negara secara geografis kurang beruntung (geographically disanvantaged States).51 Di ZEE Indonesia. serta pengunaan laut yang bertalian dengan kebebasan-kebebasan tersebut seperti pengoperasian kapal-kapal pesawat udara dan pemeliharaan kabel dan pipa bawah laut. seperti yang tumbuh dari praktek negara dan dituangkan dalam konvensi Perserikatan BangsaBangsa tentang Hukum Laut yang dihasilkan oleh UNCLOS III di ZEE setiap negara. menikmati kebebasan pelayaran penerbangan Internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut. jika perlu disarankan (dianjurkan) . pesawat terbang dan kabel serta pipa dibawah laut. Untuk lebih mudah pemahamannya maka hak-hak dan kewajiban Indonesia sebagai negara pantai menurut hukum yang mengatur tentang ZEE ini. peletakan kabel dan pipa dibawah laut dan kebebasan-kebebasan internasional lain yang berhubungan dengan pengoperasian kapal-kapal.2) 2. Juga semua Negara dalam melaksanakan hak dan kewajiban di ZEE Indonesia harus menghormati hak dan Negara Indonesia dalam bidang-bidang yang diatur oleh konvensi Huku Laut yang baru atau Hukum Internasional lainnya (Pasal 58 ayat 1. Dalam rangka pelestarian sumber daya alam hayati di Zona Ekonomi Eksklusif.

which. Penentuan jenis ikan yang boleh ditangkap. b. c. Pihak asing yang menangkap ikan di ZEE Indonesai harus tunduk kepada aturan-aturan untuk pelestarian sumber alam hayati yang (akan) dibuat oleh pemerintah Indonesia. it shall. dalam hal pihak Indonesia tidak mempunyai kemampuan memanen seluruh ‘allowable catch” harus mengizinkan negara atau nelayan negara lain yang mengambil suplusnya (where the coastal state does not have the capacity to harvest the entire allowable catch. in the case of developing coastal State. dengan cara-cara sebagai berikut: 1. including payment of fish and other forms of remuneration. fishing vessels and equipment. jenis kapal dan perlengkapannya.52 bekeja sama dengan negara atau organisasi internasional lain baik subregional. quota penagkapan dan waktu penangkapan (determining the species which may be caught. througt agreements or other arrangements and pursuant to the terms). Selanjutnya Konvensi Hukum Laut yang baru mewajibkan Indonesia sebagai Negara pantai untuk mengusahakan pemanfaatan secara optimum sumber daya alam hayati di ZEE (the coastal State shall promote the objective of optimum utilization of the living resources in the ZEE without prejudice). regional maupun global (as appropriate. 2. antara lain menyangkut : a. whetever subregional. regional or global. . Lisensi nelayan. shall co-operate to this end). Menetukan kapasitas (kemampuan) penangkapan pihak Indonesia sebagai Negara pantai di ZEE (the coastal State shall determine its capacity to harvest the living resources of the ZEE). termasuk pembayaran uang perizinan yang dapat berupa perlengkapan (alat) atau teknologi yang berhubungan dengan industri pengelolaan ikan (licensing of fisherman. Melaksanakan tindakan untuk memelihara dan mengembalikan populasi (restoring populations) jenis-jenis ikan tertentu sampai “maximum sustainable yield” dan memelihara serta meningkatkan jenis-jenis yang akan punah. and fixng quotas of catch pervesser over a period of time). may consist of adequate compensation in the field of fishing industry). the coastal State and competent international organization.

Dengan perkataan lain Negara-negara pantai harus memperhatikan tentang pelestarian dan peraturan-peraturan tersebut di atas hendaknya diummukan secara layak terlebih dahulu (coastal States shall give due notice of conservation and management laws and regulations). pengaturan musim dan daerah penagkpan. Pelaksaan program penelitian perikanan tertentu dan pelaporan hasilnya (the conduct of specified fisheries research programmes and regulating the conduct of the such research and reporting associated). termasuk meningkatkan kemampuan Indonesia (negara pantai) untuk melakukan penilitian perikanan (requirements for the training of personnel and the transfer of fisheries technology. and the types. Penentuan umur dan ukuran ikan serta jenis lain yang boleh ditangkap (fixing the age and size of fish and other species that may be caught). Keharusan melatih personal dan alih teknologi. the types. sizes and number of fishing vessels that may be used).53 c. sizes and amount of gear. k. (terms and conditions relations relating to joint ventures or other cooperative arrangements). including enchancement of the coastal state’s capability of undertaking fisheries research). including catch and effort statistics and vessel posisition reports). d. g. j. penegakan hukum di laut (enforcement . Keharusan memberikan informasi mengenai hasil dan kegiatan penangkapan serta laporan posisi kapal (specifying information required of fishing vessels. h. serta jumlah ukuran dan tipe kapal ikan (regulating seasons and ares of fishing. Terhadap semua ketentuan dan/atau peraturan tersebut di atas harus diumumkan terlebih dahulu. Penempatan pengawasan atau pelajar praktek dikapal (the pacing of observesof traines on board). Peraturan-peraturan procedures). Pendaratan sebagian atau seluruh hasil tangkapan di pelabuhan Indonesia sebagai negara pantai (the landing of all of any part of the catch by such vessels in the ports of the coastal State). i. Syarat-syarat “joint venture” atau bentuk kerja sama yang lain. e. f.

arus dan angin di ZEE Indonesia. bahwa baik orang perseorangan maupun perusahaan. Oleh sebab itu uraian berikut ini hanya tinggal melihat bagaimana dan sejauh mana pengaturan hukumnya yang telah ditetapkan. harus berdasarkan izin dari pemerintah Republik Indonesia dan dilaksanakan menurut syarat-syarat perizinan atau persetujuan internasional tersebut. Jenis ikan yang ada di ZEE dua atau tiga negra atau lebih (stradling stock). Dalam syarat-syarat perjanjian atau persetujuan internasional dicantumkan hak- . orang atau badan hukum asing harus berdasarkan persetujuan internasional antara Pemerintah Republik Indonesia dengan negara asng yang bersangkutan. d. f. Jenis ikan yang bertelur di laut (catadromous species). Maksudnya adalah kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan / atau eksploitasi ekonomis seperti pembangkitan tenaga dari air. Binatang laut yang yang menyusi (marime mammals) . Jenis ikan yang bertelur di sungai (anadromous species/stock). Benis ikan beruaya (highly migratory species) . e.54 Selanjutnya Konvensi Hukum laut yang baru mewajibkan Indonesia sebagai negara pantai untuk mengadakan kerjasama dengan negara-negara lain mengenai pengelolaan jenis-jenis ikan tertentu yakni sebagai berikut : a. pengaturan pada hakikatnya tentang perundang-undangannya pelaksanaan ekonomi eksklusif ini sebagian telah dibahas pada uraian-uraian sebagaimana yang telah dikemuakakan di atas. c. apakah perusahaan negara maupun berupa perusahaan swasta. Di Indonesia. yang melakukan kegiatan eksplorasi dan / atau eksploitasi ekonomis seperti pembangkitan tanaga dari air. melalui Namun kegunaannya. Pelaksanaan (kegiatan) ZEE Indonesia Dasar pertimbangan peraturan tentang Zona Ekonomi Ekskusif mempunyai sifat serba daya guna (multifunctional) maka tinjauan tentang pelaksanaan ekonomi eksklusif ini akan di diuraikan Indonesia. b. arus dan angin di ZEE Indonesia yang dilakukan oleh warga Negara Indonesia atau badan hukum Indonesia harus berdasarkan izin dari Pemerintah Republik Indonesia. jenis ikan yang menetap di laut (sedentary species). sebagaimana yang telah ditetapkan didalam undang-undang Nomor 5 tahun 1983 tentang ZEE Indonesia). Sedangkan kegiatan-kegiatan tersebut di atas yang dilakukan oleh negara asing.

antara lain kewajiban untuk membayar pungutan kepada Pemerintah Republik Indonesia. maka negara lain boleh ikut memanfaatkan dari sisa 400 (empat ratus) ton tersebut dengan izin Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan persetujuan Internasional. Indonesia belum dapat sepenuhnya memanfaatkan seluruh jumlah tangkapan yang diperbolehkan. Dari uraian di atas dapatlah ditegaskan bahwa dalam rangka konservasi sumber daya alam hayati. negara asing dapat diizinkan jika jumlah tangkapan yang diperbolehkan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk jenis tersebut melebihi kemampuan Indonesia untuk memanfaatkannya. Dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Penunjukan pada pasal 4 ayat (2) dimaksudkan untuk menegaskan . Dalam hal usaha perikanan. boleh dimanfaatkan oleh negara lain dengan izin Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan persetujuan internasional. Pemerintah Republik Indonesia menetapkan tingkat pemanfaatan baik disebagian atau keseluruhan daerah di ZEE Indonesia. eksplorasi dan / atau eksploitasi sumber daya alam hayati harus menaati ketentuan tentang pengelolaan dan konservasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (pasal 5 ayat 2) dalam arti yang diatas diamksudkan adalah sumber daya alam hayati pada dasarnya memiliki daya pulih kembali (to maintain resources) namun tidak berarti tak berbatas. Misalnya jumlah tangkapan yang diperbolehkan antara 1000 (seribu) ton sedangkan jumlah kemampuan tangkap Indonesia baru mencapai 600 (enam ratus) ton. Indonesia berkewajiban untuk menjamin batas panen lestari tersebut. Dengan adanya sifat-sifat yang demikian. dalam melaksanakan pengelolaan dan konvensi sumber daya alam hayati. Indonesia berkewajiban pula menetapkan jumlah tangkapan sumber daya alam hayati yang diizinkan (allowable catch). Asal tidak bertentangan maupun mengurangi ketentuan sebagaimana yang diatur dalam pasal 4 ayat (2) UU. No. 5/1983 ekplorasi dan eksploitasi suatu sumber daya alam hayati di daerah tertentu di ZEE Indonesia oleh orang atau badan hukum atau pemerintah.55 hak dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi oleh mereka yang melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di zone tersebut. Selisih antara jumlah tangkapan yang diperbolehkan dan jumlah kemampuan tangkap (capacity to harvest) Indonesia. Indonesia berkewajiban pula untuk menjamin batas panen lestari tersebut.

56 bahwa jenis-jenis sedenter (sedentary species) yang terdapat pada dasar laut ZEE tunduk pada ketentuan ayat ini. b. Meskipun Indonesia mempuntai yurisdiksi eksklusif namun pulau-pulau buatan. Selanjutnya ditetapkan pula bahwa bagi siapa saja yang membuat dan/ atau instalasi-instalasi atau bangunan-bangunan lainnya di ZEE Indonesia harus berdasarkan izin dari Pemerintah Republik Indonesia dan dilaksanakan menurut syarat-syarat perizinan tersebut (pasal 6). fiskal. kesehatan. Menolak permohonan tersebut. c. mengizinkan dan mengatur pembangunan. Bahwa keterangan-keterangan yang diberikan oleh Pemohon tidak sesuai dengan kenyataan atau kurang lengkap. Kemudian ditetapkan pula bahwa bagi siapa saja yang . Dari ketentuan tersebut di atas. pengoperasian dan penggunaan pulau-pulau buatan. Jika dalam janga waktu 4 (empat) bulan setelah diterimanya permohonan tersebut pemerintah Republik Indonesia tidak menyatakan : a. Dari ketentuan pasal tersebut dapatlah ditegaskan bahwa setiap penelitian ilmiah kelautan di ZEE Indonesia hanya dapat dilaksanakan setelah permohonan untuk penilitian disetujui terlebih dahulu oleh Pemerintah Republik Indonesia. Republik Indonesia mempunyai hak eksklusif untuk membangun. Suatu proyek penelitian ilmiah kelautan dapat dilakukan 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan penelitian oleh Pemerintah Republik Indonesia (penjelasan pasal 7). ZEE Indonesia atau landas kontinen Indonesia. dapatlah dijelaskan bahwa sesuai dengan pasal 4 ayat (1). Selanjutnya ditetapkan pula bagi siapa saja yang melakukan kegiatan penelitian ilmiah (marine scientific research) kelautan ZEE Indonesia harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari dan dilaksanakan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan oelh Pemeritah Republik Indonesia. keselamatan dan imigrasi. instalasi dan bangunan-bangunan tersebut tidak memiliki laut territorial sendiri dan kehadirannya tidaklah mempengaruhi batas laut teritoria. Bahwa permohonan belum memenuhi kewajiban atas proyek penelitiannya yang terdahulu. instalasiinstalasi dan bangunan-bangunan tersebut termasuk yurisdiksi yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang bea cukai.

bahwa masalah penegakan hukum ataupun pengawasan ini menjadi lebih berat lagi jika diperhitungkan bahwa daerah-daerah yang diliputi pengawasan tersebut tidak hanya terbatas pada perairan Nusantara dan laut wilayah 12 mil itu. Pembuangan (dumping) di laut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan laut. tetapi kita sendiri tidak dapat menegakkan hukum disana. dapatlah dijelaskan bahwa wewenang perlindungan dan pelestarian sumber daya alam di ZEE Indonesia secara Internasional didasarkan pada praktek negara. kita semua menyadari bahwa bagaimana sulitnya penegakan hukum di daerah laut yang sangat luas tersebut yang merupakan bahan tambahan. cara dan frekuensi pembuangan serta jenis. membatasi. mengendalikan dan menaggulangi peraturan pencemaran lingkungan laut. Dari ketentuan ketentuan tersebut di atas. disamping itu penegakan hukum di perairan Indonesia yang sudah amat luas. Sebagaimana disebutkan di atas. pembuangan limbah yang lazimnya dilakukan oleh kapal selama pelayaran tidak memerlukan izin. Bertambah luasnya wilayah laut dan daerah-daerah kewenangan Indonesia tentu saja memerlukan perjuangan perluasan kemampuan untuk mengamankannya. sedangkan secara nasional landasan terdapat di dalam Undang-undang Nomor 4 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolahan Lingkungan Hidup. kadar dan jumlah bahan yang dibuangkan melalui perizinan. tetapi juga landas kontinen dan zona Ekonomi eksklusif Indoensia selebar 200 mil laut.57 melakukan kegiatan-kegiatan di ZEE Indonesia. akan tidak ada artinya sama sekali jika kita mempunyai hak-hak berdaulat dari yurisdiksi di ZEE. Pembuangan meliputi limbah pembuangan bahan-bahan lainnya yang menyebabkan pencemaran lingkungan laut. . yang sekarang yang diterima pula dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hukum laut. wajib melakukan langkah-langkah untuk mencegah. Penegakan Hukm (law enforcement) Masalah yang tidak kalah pentingnya dari ZEE ini adalah aspek “law enforcement” atau penegakan hukumnya. Pembuangan ZEE Indonesia hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin dari Pemerintah Republik Indonesia. Di lain pihak. terhubung dengan itu perlu diatur tempat.

MPR. pada umumnya setiap hak dan kewenangan ini dibarengi pula dengan kewajiban serta tanggung jawab tertentu pula. benda. b. Jurisdiction to enforce the law (wewenang menegakkan aturan hukum yang berlaku. dan b. Dasar hukum berlakunya (adanya) wewenang penegakan hukum ini dapat bersumber pada: a. maka negara sebagai subjek hukum internasional adalah pendukung hak dan kewajiban hukum yang tertentu dapat juga dimilki negara sepeti halnya hak berdaulat dan yurisdiksi tertentu yang dimiliki negara pantai pada zona-zona tertentu dilaut atau objek-objek tertentu di laut Dari pengertian sebagaimana disebutkan di atas. wilayah. maka berdasarkan ketentuan Hukum Internasional baik ketentuan hukum internasional yang berupa “conventional law/treaty” maupun kebiasaankebiasaan internasiona dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa / negara yang beradab. Jurisdiksi dimaksud meliputi dan mempunyai pengertian yang antara lain adalah : a. Sovereignty of State yang mendasari / melandasi segala aktivitas segala aktivitas negara baik terhadap orang. Di samping kedaulatan ini merupakan kekuasaan tertinggi dari negara maka kedaulatan juga merupakan hak dasar (fundamental rights) daripada negara yang perwujudannya berupa hak-hak dan kewenangan-kewenangan tertentu yang dituangkan dalam UUD.58 Penegakan hukum (law enforcement) disini diartikan sebagai bagian dari jurisdiksi negara. undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya. Selain hak-hak dan wewenangan yang bersumber pada kedaulatan negara. Tap. dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penegakan hukum adalah merupakan usaha atau kegiatan negara berdasarkan kedaulatan negara atau berdasarkan ketentuan- . Ketentuan hukum Internasional. Kedaulatan. Jurisdiksi of legislation atau jurisdiction to prescribe (wewenang membuat aturan-aturan hukum untuk mengatur berbagai kepentingan. negara dan lainlainnnya demi eksistensi dan kelangsungan hidup dan kegidupan bangsa dan negara.

menginspeksi. dapat diindahkan oleh setiap orang dan/atau badan-badan hukum. bahkan negara-negara lain. in the exerciase if its sovereign rights to explore. inspection. penuntutan hukum sesuai kebutuhan untuk menegakkan hukum negaranya dengan mempertimbangkan ketentuanketentuan daripada konvensi (ayat 1) . Coastal state pinalties for violations of fisheries laws and regulations in the ZEE may not include imprisonment. Arrested vessels and their crews shall be promotly released upon the posting of reasonable bond or ather security. take such resources. including boarding. Maksudnya. b. baik aturan hukum nasional negara itu sendiri maupun aturan Hukum internasional. The coastal State may. In cases of arrest or detention of foreign vessel the coastal State shall promptly notify the flag state. dalam rangka memenuhi kepentingannya namun tidak sampai mengganggu kepentinagn pihak lain. negara pantai dapat mengambil tindakan-tindakan seperti menaiki kapal. of the any penalties subsequently imposed.59 ketentuan Hukum Internasional agar segala segala aturan yang berlaku. conserve and manage the living resources in the ZEE. melestarikan dan mengelola sumber daya alam hayati di ZEE. arrest and judicial proceedings. Maksudnya bilamana sampai melakukan . dalam melaksanakan hak kedaulatannya untuk mengekplorasi. Artinya adalah kurang lebih adalah tindakan / hukuman yang boleh dijatuhkan terhadap nelayan asing di ZEE oleh Negara pantai tidak termasuk hukum penjara (ayat 3). inte absence of agreements to the contarary by the states concerned. Kalau kita hubungkan masalah penegakan hukum ini ketentuan-ketentuan penegakan hukum ZEE berdasarkan pada Konvensi Hukum Laut yang baru. as may necessary to ensure compliance with the laws and regulations adopted by it in conformity with this convention. Artinya kapal dan anakanak-anak buah kapal yang ditahan harus dilepaskan setelah tanggungan dibayarkan atau jamian keamanan lainnya (ayat 2). exploit. throght appropriate channels. maka secara garis besarnya dapat diperincikan sebagai berikut : a. menahan dan melakukan. c. or any other form of cuporal punishment. d.

Demikianlah mengenai penegakan hukum yang berkaitan dengan rezim hukum ZEE menurut Konvensi Hukum laut yang baru. c. aparatur penegak hukum Republik Indonesia yang berwenang. Jangka waktu maksimal untuk menarik / . Penangkapan tersebut tidak selalu dapat dilaksanakan sesuai dengan batas waktu penangkapan yang ditetapkan dalam UU No. Pengkapan terhadap kapal dan/atau orang-orang yang diduga melakukan pelanggaran di ZEE Indonesia meliputi tindakan penghentian kapal sampai dengan diserahkannya kapal dan/atau orang-orang tersebut di pelabuhan dimana perkara tersebut dapat diproses lebih lanjut. Untuk kepentingan penahanan. ditetapkan bahwa dalam rangka melaksanakan hak berdaulat. b. negara pantai harus segera memberitahukan hal tersebut kapada perwakilan Negara bendera kapal (ayat 4). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa terhadap kapal-kapal dan/atau orang-orang yang diduga melakukan itndak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup dilaut khususnya bagi kaapl dan/atau orang-orang tersebut. dengan pengecualian sebagai berikut : a. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Menurut ketentuan pasal 13 UU No. yaitu satu hari. hak-hak lain. yurisdiksi dan kewajibankewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1). tindak pidana yang diatur dalam pasal 16 dan pasl 17 termasuk dalam golongan tindak pidana sebagimana diamksudka pasal 21 ayat (4) huruf b. selanjutnya akan kita lihat bagaimana pengaturan penegakan hukum menurut perundang-undangan nasional kita. dapat mengambil tindakan-tindakan penegakan hukum sesuai dengan UU No.5 tahun 1983. Oleh karena itu untuk tidak tindakan penangkapan di laut perlu diberi waktu yang memungkinkan para aparat penegak hukum di laut membawa kapal dan dan atau orang-orang tersebut kepelabuhan atau penangkalan. kecuali apabila terdapat keadaan force majeure. 8 tahun 1981 tentang kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP). UU No. Penyerahan kapal dan/atau orang-orang tersebut harus dilakukan secepat mungkin dan tidak boleh melebihi jangka waktu 7 (tujuh) hari.60 penahanan. terhadap kapal-kapal dan atau orang-orang yang berkebangsaan Indonesia dapat diperintahkan (perintah ad-hoc) ke suatu pelabuhan atau pangkalan yang ditunjuk oleh penyidik dilaut untuk diproses lebih lanjut.

Komandan Pangkalan dan Komandan Stasiun Angkatan Laut sebagai aparat penyidik di ZEE Indonesia adalah sesuai dengan ketentuan pasal 30 ayat (2) UU No. alat-alat . Selanjutnya ditetapkan pula bahwa aparatur penegak hukum dibidang penyidikan di ZEE Indonesia adalah perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang ditunjuk oleh Panglima Bersenjata Republik Indonesia (pasal 14 ayat (1)). Ketentuan mengenai penahanan terhadap tindak pidana menurut UU ini belum belum diatur dalam UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. sedangkan terhadap tindak pidana tersebut penahanan adalah merupakan satu upaya untuk dapat memproses perkara lebih lanjut. Dalam ayat (2) ditetapkan bahwa penuntut umum adalah jaksa pada pengadilan Negeri sebagaimanadimaksud dalam ayat (3). Panglima daerah Angkatan Laut. Pengadilan yang berwenang mengadili perlanggaran terhadap ketentuan UU ini adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi pelabuhan dimana dilakukan penahanan terhadap kapal dan atau orang-orang sebagimana yang dimaksud dalam pasal 13 huruf a. 20 Tahun 1982 tentang ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia dan pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.61 menyeret suatu kapal dari jarak yang terjauh dari ZEE Indonesia sampai ke suatu pelabuhan atau pangkalan. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Kemudian penetapan besarnya uang jaminan ditentukan berdasarkan harga kapal. dapat dilakukan setiap waktu sebelum ada keputusan dari Pengadialn Negeri yang berwenang. UU No. sekalipun ancaman pidana yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda tersebut perlu dimasukkan dalam golongan tindak pidana sebagaiman dimaksud pasal 21 ayat (4) huruf b. dari ketentuan di atas. dapat dijelaskan bahwa permohonan membebaskan kapal/orang yang ditangkap karena melakukan perlanggaran sesuai dengan praktek yang berlaku diajukan oleh perwakilan negara dari kapal asing yang bersangkutan. Berhubung dengan hal tersebut. Kemudian ditetapkan pula bahwa permohonan untuk membebaskan kapal dan atau orang-orang yang ditangkap akarena didakwa melakukan perlanggaran terhadap UU ini. 8 tahun 1981. Dari ketentuan tersebut maka dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan laut yang dapat ditunjuk sebagai penyelidik adalah misalnya komandan kapal.

4/Prp/1960 dan UU No. Pasal 55 sampai dengan Pasal 75 Konvensi Hukum Laut III (1982). 1 tahun 1973. Hal tersebut dilakukan guna meneguhkan hak kedaulatan mereka atas sumber-sumber daya alam yang terdapat di ZEE. pada tanggal 21 Maret 1980 “Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan ZEE Indonesia” dengan mengunakan landasan “Rumusan baku tentang ZEE” sebagimana yang tercantum dalam UNCLOS III. Pemerintah Republik Indonesia dengan cara seksama memperhatikan perkembangan Hukum laut secara keseluruhannya. Tentunya. bahwa ketika Konperensi Hukum Laut PBB III melangsungkan sidangnya yang ke 9 di New York.000 mil persegi. Perlu digarisbawahi bahwa salah satu ciri khas dalam Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang ZEE tersebut adalah bahwa ZEE Indonesia ditetapkan ukuran lebarnya dan cara pemanfaatannya berdasarkan pada UU No. Menurut hasil penelitian “Ocean Education Project” dari Universitas VillanovaPensylvania Amerika Serikat. Hingga tahun 1982 kurang lebih tercatat ada 90 negara yang telah mengumumkan ZEE-nya. Menurut perhitungan tersebut. masih segar dalam ingatan kita. dapat disimpulkan bahwa ditengah-tengah meningkatnya kegiatan pengimplementasian Wawasan Nusantara secara lebih mantap dan terpadu. Terdapat 10 negara yang . khususnya dengan makin mantapnya formulasi ketentuan-ketentuan tentang ZEE dalam part V. Pengumuman yang dilakukan oleh Indonesia memberikan implikasi bertambah luasnya wilayah nasional Indonesia dengan segala isi dan kekayaannya yang menjadi milik dan modal dasar pembangunan bangsa. Oleh karena itu pula dirasakan bahwa situasi dan kondisinya telah mendesak Indonesia untuk juga mengumumkan ZEE-nya.62 perlengkapan dan hasil dari kegiatannya ditambah besarnya jumlah denda maksimum. luas wilayah ZEE di seluruh dunia yang diperebutkan oleh semua negara adalah hampir sama dengan luas daratan muka bumi. Kesimpulan dan Rekomendasi Apabila diinventarisasi kembali uraian-uraian mengenai ZEE di atas. Indonesia memperoleh kekayaan alam dalam ZEEnya yang meliputi luas 764.

telah mempunyai beberapa pembatasan. antara lain kebebasan berlayar dan terbang diatasnya. pabean. Australia. yang ditentukan oleh instansi-instansi yang yang bersangkutan. Sedangkan aspek luar negeri antara lain adalah yang menyangkut pelaksanaan dalam kaitannya dengan hukum Internasional. misalnya pengambilan kekayaan alam. pencegahan polusi laut. Namun hal itu. dimaksudkan untuk menguatkan kedudukan negara pantai di wilayah dan perairan Nusantaranya ditambah 12 mil laut untuk zona pengawasan terhadap imigrasi. baik dilihat dari segi perkembangan teknologi modern tentang peggunaan laut maupun tuntutan . perlindungan dan pelestarian laut serta penelitian ilmiah tentang kelautan. yang selalu terdapat dalam perumusan peraturan perundangan-undangan tentang aspek perikanan. antara lain adalah Amerika Serikat. Aspek dalam negeri tentunya yang menyangkut kebijakan-kebijakan nasional tentang perikanan. kesehatan (zona tambahan) dan mempunyai hak berdaulat atas kekayaan alam di ZEE selebar 200 mil laut yang diukur garis pangkal laut wilayahnya. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan Konvensi hukum laut PBB III 1982. Meskipun klaim-klaim tersebut dihubungkan dengan kegiatan-kegiatan tertentu. juga perumusan persetujuan-persetujuan bilateral tentang kerjasama di keempat bidang tersebut. disamping mempunyai hak berdaulat atas kekayaan alam di ZEE. hak-hak tertentu negra-negara yang tidak berpantai (landlocked-States) dan negara-negara secara geografis kurang beruntung (geographically disadvantaged States). memang pada prinsipnya tetap berlaku. 4/Prp/1960 tentang perairan Indonesia yang lebarnya 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wialyah Indonesia (pasal 2 UU No. namun kebebasan ini sesuai dengan perkembangan yang ada dewasa ini.63 mendapat bagian yang tergolong besar. sebagiman ditetapkan berdasarkan UU No. dan Indoensia. Perlu ditegaskan dalam kesimpulan ini bahwa yang dimaksud dengan ZEE Indonesia adalah jalur diluar laut wilayah Indonesia. penelitian ilmiah kelautan dan lain sebagainya.5/1983). lingkungan laut dan penelitian ilmiah. Indonesia juga harus mengakui hak-hak negara lain yang ada di ZEE tersebut. Kebebasan menangkap ikan sebagai salah satu kebebasan yang ada di laut lepas. Perlu pula diperhatikan bahwa pelaksanaan ZEE Indonesia ini selalu mengandung dua aspek penanganan yaitu aspek dalam negeri dan aspek luar negeri.

Peningkatan kemampuan fisik. Sistem penegakan hukum yang efektif dan terpadu. yang mampu menjamin mobilitas yang akan mencakup khususnya peralatan-peralatan untuk pengawasan (surveillance) dan armada-armada kapal yang akan dipergunakan untuk melakukan tindakan-tindakan operasional pergerakan hukum itu sendiri. Kini semua hal yang disebut di atas sebagian besar sudah mampu dilakukan. Dalam kaitan inilah maka apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam pengumuman pada tanggal 21 Maret 1980 tentang ZEE Indonesia seluas 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal laut wilayah kemudian dituangkan dalam Undang-undang No. Karena melihat kemungkinan akan terjadinya kian yang ditangkap itu berlebihan. 5 tahun 1983 adalah merupakan suatu tindakan yang sangat tepat. sehingga negara pantai mendapat jaminan bahwa sumber protein yang cadangkan bagi bangsa dan generasi berikutnya akan tetap terpelihara. Sehingga perlu diadakan pembatasan dalam bentuk perjanjian. dan tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa ZEE Indonesia adalah benar-benar merupakan “jaminan masa depan bangsa’. sehingga pada suatu saat akan mengakibatkan kurangnya persediaan sumber protein hewani bagi kehidupan manusia di masa mendatang. antara lain mengenai : a. Untuk melindungi sumber-sumber daya alam hayati yang berada di luar laut territorial. b. agar pemenuhan kebutuhan protein hewani untuk bahan makanan rakyat Indonesia akan lebih terjamin. Kemudian dalam hal penegakan hukum laut. Alasan kedua adalah sebagai konsekuensi logis dari alasan pertama. baik perjanjian bilateral maupun multilateral. c. dan kepastian yang kini diperoleh dengan batas-batas yang jelas didalam mana negara yang bersangkutan mempunyai hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber-sumber day alam hayati yang beraneka ragam didalamnya. perlu diperhatikan beberapa hal yang dirasakan mendesak.64 negara-negara pantai terhadap suatu jalur laut yang cukup luas yang berbatasan dengan pantainya untuk kepentingan ekonomis. Diingatkan pula bahwa penanganan di bidang penciptaan alat-alat ataupun prasarana dan sarana perundang-undangan bidang laut dihubungkan dengan perkembangan teknologi serta perkembangan asas-asas hukum laut Internasional sangat penting .

both for coastal and landlocked States. Konvensi-konvensi internasional yang berhubungan dengan hukum laut yang ada relevansinya dengan kepentingan Indonesia. Ketentuan-ketentuan mengenai rezim hukum laut Bebas yang tercantum dalam konvensi Hukum Laut yang baru adalah terdapat pada part VII. freedom of the high seas is exercised under the conditions laid down by this convention and by other rules or international law. baik negara pantai maupun negara yang tidak berpantai). Pada hakekatnya ketentuan-ketentuan tersebut sama dengan yang tercantum dalam “Convention on the High Seas” dari Konvensi Jenewa tahun 1958. Namun pelaksanaan negara-negara itu harus diperhatikan kepentingan negara lain menurut ketentuan konvensi atau aturan Hukum Internasional lain. whether coastal or landlocked. Prinsip tersebut melahirkan hak dan kewajiban umum tiap negara terhadap laut bebas serta hak dan kewajiban khusus dilaut bebas tertentu tersebut. (Laut bebas terbuka untuk semua negara. yang sering disingkat “SAR”. yang memadai. segera diratifikasi dan disebarluaskan kepada masyarakat. laut wilayah dan ZEE. berlaku semua bagian laut di luar laut pedalaman. baik aspek navigasi maupun aspek sumber daya alam yang diakndungnya. “inter alia”. pengejaran tidak terputus (hot pursuit) dan pelestarian lingkungan laut. Laut Bebas (Laut Lepas) Laut di luar yurisdiksi nasional negara-negara disebut laut bebas atau “high seas”. Pemanfaatan laut bebas dilaksanakan berdasarkan prinsip “warisan bersama umat manusia” (common heritage of mankind). 4. kebebasankebebasan baik bagi negara pantai maupun bagi negara-negara tak berpantai terdri dari : . Ketentuan-ketentuan yang dimaksud adalah : 1. yang berarti bahwa manfaat laut bebas. seperti menyedikan sarana pencarian dan penyelamatan (search and rescue). The high seas are open to all States. harus dapat dinikmati oleh seluruh ummat manusia dan tidak boleh dimonopoli oleh satu atau beberapa negara kuat saja.65 d. It comprises. Pasal 86 sampai dengan Pasal 120.

has the rights to sail ships flying its flag on the high seas: pasal 90) b. Kebebasan membangun pulau-pulau buatan dan instalasi-instalasi lain yang diizinkan oleh hukum Internsional (freedom to construct artificial islands and other installations promoted under international law). Tidak satu negara pun boleh mengklaim setiap bagian laut bebas menjadi miliknya atau berada dibawah kedaulatannya (no State may validly purport to subject any part of the high seas to its sovereignty. e. Setiap kapal dengan bendera suatu Negara berada dalam yurisdiksi Negara bendera.Presiden Republik Indonesia di Jakarta mengesahkan sertifikasi Indonesia terhadap konvensi perserikaatn PBB tentang Hukum Laut dengan undang-undang No. c. Hak atau kebebasan berlayar (rights of navigation) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Selama dalam pelayaran atau disuatu pelabuhan dilarang ganti bendera kecuali karena pindah. Kebebasan terbang (freedom of over flight). Kemudian Konvensi Hukum laut baru ini telah mengingatkan bahwa laut bebas hanya boleh digunakan unutk keperluan damai (the high seas shall be reseved for peaceful purposes). Usaha masyarakat internasional untuk mengatur masalah kelautan melalui Konperensi PBB tentang hukum Laut yang . secara umum konvensi Hukum Laut PBB 1982. Setiap kapal mendapatkan kebangsaan dari benderanya (every State shall fix the conditions for the grant of its nationally to ships : pasal 91 ayat 1) c. 2. Kebebasan berlayar (freedom of navigation) . Tanggal 31 Desember 1985. whether coastal or landlocked. d. pasal 89). Kebebasan meletakkan kabel dan pipa dibawah laut (freedom to lay submarine cables and pipelines) . Sebagai negara (coastal atau landlocked) mempunyai hak berlayar dengan mengibarkan benderanya (every State. f. Kebebasan melakuakn penelitian ilmiah kelautan (freedom of scientific researches). b.66 a. Kebebasan menangkap ikan (freedom of fishing). merupakan usaha masyarakat Internasional untuk mengatur masalah kelautan tersebut. 17 tahun 1985.

67

ketiga telah berhasil mewujudkan United Nations Convention on the Law of the sea (Konvensi Perserikatan Bangsa – Bangsa tentang hukum Laut), telah ditandatangani oleh 117 (seratus tujuh belas) negara peserta termasuk Indonesia dan 2 satuan bukan Negara di Montego Bay, Jamaica, pada tanggal 10 Desember 1982. Dibandingkan dengan konvensi – konvensi Jenewa 1958 tentang hukum laut, Konvensi PBB tentang hukum Laut tersebut mengatur rejim–rejim hukum laut secara lengkap dan menyeluruh, yang rejim–rejimnya satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Ditinjau dari isinya, Konvensi PBB tentang hukum laut tersebut : a. Sebagian merupakan kodifikasi ketentuan – ketentuan hukum laut yang sudah ada, misalnya kebebasan–kebebasan di laut lepas dan hak lintas damai di laut teritorial; b. Sebagian merupakan pengembangan hukum laut yang sudah ada, misalnya ketentuan mengenai lebar laut Teritorial menjadi Maksimun 12 mil laut dan criteria landas kontinen. Menurut konvensi Jenewa 1958 tentang hukum Laut kriteria bagi penentuan lebar landas kontinen adalah kedalaman air dua ratus meter atau kriteria kemampuan eksploitas. Kini dasarnya adalah kriteria kelanjutan alamiah wilayah daratan sesuatu Negara hingga pinggiran luar tepian kontinennya (Natural prolongation of its land territory to the outer edge of the continental margin) atau kriteria jarak 200 mil laut, dihitung dari garis dasar untuk mengukur lebar laut Teritorial jika pinggiran luar tepian kontinen tidak mencapai jarak 200 mil tersebut;. c. Sebagaian melahirkan rejim– ejim hukum baru, seperti asas Negara Kepulauan, Zona Ekonomi Ekslusif dan penambangan di dasar laut Internasional. Bagi bangsa dan Negara Republik Indonesia, konvensi ini mempunyai arti yang penting karena untuk pertama kalinya asas Negara Kepulauan yang selam dua puluh lima tahun secara terus menerus diperjuangkan oleh Indonesia, telah berhasil memperoleh pengakuan resmi masyarakat

internasional. Pengakuan resmi asas Negara kepulauan ini merupakan hal ynag penting dalam rangka mewujudkan satu kesatuan wilayah sesuai dengan deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, dan Wawasan Nusantara sebagaimana

68

termaktubdalam ketetapan majelis Permusyarawatan Rakyat tentang Garis – garis Besar haluan Negara, yang menjadi dasar perwujudan bagi kepulauan indonesai sebagai satu kesatuan politik, ekonomi sosial budaya dan pertahanan keamanan. “Negara Kepulauan” menurut konvensi ini adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih gugusan kepulauan dan adapat mencakup pulau–pulau lain. Konvensi menentukan pula bahwa gugusan kepulauan berarti suatu gugusan pulau–pulau termasuk bagian pulau, perairan diantara gugusan pulau–pulau tersebut dan lain–lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya sehingga gugusan pulau– pulau, perairan dan wujud alamiah lannya tersebut meruapkan kesatuan geografi dan politik yang hakiki, atau secara historis telah diangggap sebagai satu kesatuan demikian. Negara kepulauan dapat menarik garis dasar / pangkal lurus kepulauan yang manghubungkan titik – titik terluar pulau – pulau dankarang kering terluar kepulauan itu, dengan ketentuan bahwa : a. Di dalam garis dasar/pangkal demikian termasuk pulau–pulau utama dan suatu dearah dimana perbandingan antara derah perairan dan daerah daratan, termasuk atol, adalah antara satuberbanding satu ( 1 : 1 ) dan Sembilan berbanding satu ( 9:1). b. Panjang garis dasar/pangkal demikian tidak boleh melebihi 100 mil laut, kecuali bahwa hingga 3 % dari jumlah seleuruh garis dasar/pangkal yang mengelilingi setiap kepualaun dapat melebihi kepanjangan tersebut, hingga pada suatu kepanjangan maksimun 125 mil laut; c. Penarikan garis dasar/ pangkal demikian tidak boleh penyimpang dari konfirugasi umum Negara Kepulauan. Negara Kepulauan berkewajiban menetapkan garis–garis dasar/pangkal kepulauan pada peta dengan skala yang cukup untuk menetapkan posisinya. Peta atau daftar koordinat geografi demikian harus diumumkan sebagaimana mestinya dan satu salinan dari setiap peta atau daftar demikian didepositnya pada Sekretaris Jenderal PBB. Dengan diakuinya asas Negara kepulauan maka perairan yang dahulu merupakan bagian dari laut lepas kini menjadi “ perairan kepulauan” yang berarti menjadi wilayah perairan Republik Indonesia.

69

Disamping ketentuan–ketentuan sebagaimana telah disebutkan, syarat– syarat yang penting bagi pengakuan internasional atas asas Negara Kepulauan adalah ketentuan–ketentuan sebagaimana diuraikan dibawah ini. Dalam “perairan kepulauan” berlaku hak lintas damai (right of innocent passage) bagi kapal–kapal negara lain. Namun demikian Negara Kepulauan dapat menangguhkan untuk semenatara waktu hak lintas damai tersebut pada bagian– bagian tertentu dari “perairan kepulaunnya” apabila dianggap perlu untuk melindungi kepentingan keamanannya. Negara kepulauan dapat menetapkan alur laut kepulauan dan rute penerbaangan di atas alur laut tersebut. Kapal asaing dan pesawat udara asing menikmati hak lintas laur laut kepulauan melalui alur laut dan rute penerbangan tersebut untuk transit dari suatu bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Ekslusif ke bagian lain dari laut Lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif. Alur laut kepulauan dan rute penerbagangan tersebut tidak boleh berlayar atau terbang melampaui 25 mil laut sisi kiri dan sisi kanan garis poros tersebut. Sekalipun kapal dan pesawat udara asing menikmati hak lintas jalur laut kepulauan melalui laur laut dan rite penerbangan tersebut, namun hal ini di bidang lain dari pada pelayaran dan penerbangan tidak boleh mengurangi kedaulatan Negara Kepulauan atas air serta ruang udara di atasnya, dasr laut dan tanah di bawahnya dan sumber kekayaan di dalamnya. Dengan demikian hak lintas alur kepulauan melalui rute penerbangan yang diatur dalam konvensi ini hanyalah mencakup hak lintas penerbangan melewati udara di atas alur laut tanpa mempengaruhi kedaulatan negara untuk mengatur penerbangan di atas wilayahnya sesuai dengan konvensi Chicago 1944 tentang penerbangan sipil ataupun kedaulatan Negara kepulauan atas wilayah udara lainnya diatas perairan Nusantara. Sesuai dengan ketentuan konvensi, disamping harus menghormati perjanjian–perjanjian internasional yang sudah ada, Negara kepulauan

berkewajiban pula menghormati hak–hak tradisioanal penangkapan ikan dan kegiatanlain yang sah dari negara–negara tetangga yang langsung berdampingan, serta kabel laut yang telah ada dibagian tertentu perairan kepulauan yang dahulunya merupakan laut lepas. Hak–hak tradisional dan kegiatan lain yang sah tersebut tidak boleh dialihkan kepada atau dibagi dengan Negara ketiga atau warganegaranya.

70

Konvensi perserikatan Bangsa – bangsa tentang hukum Laut ini mengatur pula rejim sebagai berikut : 1. Laut Teritorial dan Zona Tambahan a. Laut tertorial Konferensi PBB tentang hukum laut yang pertama (1958) dan kedua

(1960) di Jenewa tidak dapat memecahkan masalah lebar laut teritorial Karena pada waktu itu praktek negara menunjukkan keanekaragaman dalam masalah lebar laut teritorial, yaitu dari 3 mil laut hingga 200 mil laut. Konferensi PBB tentang hukum laut ketiga pada akhirnya berhasil menentukan lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut sebagai bagian dari keseluruhan paket rejim – rejim hukum laut, khususnya : 1) Zona ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebih 200 mil laut dihitung dari garis dasar/pangkal darimana lebar laut territorial diukur dimana berlaku kebebasan pelayaran; 2) Kebebasan transit kapal – kapal asing melalui selat yang digunakan untuk pelayran internasioanal; 3) Hak akses Negara tanpa pantai ked an dari laut dan kebebasan transit; 4) Tetap dihormati hak lintas laut damai melalui laut territorial. Rejim laut teritorial memuat ketentuan sebagai berikut: 1) Negara pantai mempunyai kedaulatan penuh atas Laut territorial, ruang udara diatasnya, dasar laut dan tanah dibawahnya serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 2) Dalam laut Teritorial berlaku hak lintas laut damai bagi kendaraan– kendaraan air asing. Kendaraan air asing yang menyelenggarakan lintas laut damai di laut teritorial tidak boleh melakukan ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah atau kemrdekaan politik negara pantai serta tidak boleh melakukan pencemaran dan melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungan langsung dengan lintas laut damai. Pelayaran lintas laut damai tersebut harus dilakukan secara terus menerus, langsung serta secepatnya, sedangkan berhenti membuang jangkar hanya dapat dilakukan bagi

keperluan navigasi yang normal atau karena keadaan memaksa (force

3) Negara pantai berhak membuat peraturan tentang lintas laut damai yang berkenaan dengan keselamatan pelayaran dan penngaturan lintas laut. Penetapan lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut membawa akibat bahwa perairan dalam selat yang semula merupakan bagian dari laut lepas berubah menjadi bagian dari laut teritorial maksimal 12 mil laut. perlindungan kabel dan pipa bawah laut. fiskal imigrasi dan kesehatan. maka Konvensi PBB III 1982 kini menentukan bahwa. perlindungan alat bantuan serta fasilitas navigasi. lebar Zona Tambahan adalah maksimal 24 mil laut diukur dari garis dasar laut teritorial. 2) Menindak pelanggaran–pelanggaran atas peraturan perundang– undangan tersebut yang dilakukan di wilayah darat dan laut teritorial negara pantai.71 majeure) atau dalam keadaan bahaya atau untuk tujuan memberikan bantuan pada orang. fiskal keimigrasian dan kesehatan yang berlaku di wilayah darat dan laut teritorial negara pantai. Zona Tambahan Jika dalam Konvensi jenewa 1958. dengan ditentukannya lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut. pengurangan dan pengendalian pencemaran. penelitian ilmiah kelautan dan survey hidrografi dan pecegahan pelanggaran peraturan bea cukai. b. Oleh karena itu. lebar Zona Tambahan pada lebar tritorial diukur. konservasi kekayaan alam hayati. kapal atau pesawat udara yang berada dalam kedaan bahaya. dengan tidak mengurangi pelaksanaan kedaulatan dan yuridiksi negara– egara pantai dibidang lain dari pada lintaslaut dan lintas udara. pencegahan terhadap pelanggaran atas peraturan perikanan. kendaraan air asing pesawat udara asing mempunyai hal intas laut/udara melalui sutu selat yang digunakan untuk pelayaran . negara pantai dapat melaksanakan pengawasan dan pengendalian yang perlu. untuk : 1) Mencegah pelanggaran terhadap peraturan perundang – undangannya di bidang bea cukai. pelestarian lingkungan hidup dan pencegahan. 3) Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Di zona tambahan.

d. fiscal. pemasangan kabel atau pipa bawah laut menurut prinsip hukum internasional yang berlaku di Zona Ekonomi Eksklusif. Beberapa negara pantai. imigrasi dan kesehatan. 3. kewajiban untuk menghormati kebebasan pelayaran dan penerbanngan internasional. Jurisdiksi yang berkaitan dengan pembuatan dan penggunaan pulau– pulau buatan. Negara-negara selat. termasuk penyimpanan alat penangkapan ikan dalam palka. Pencegahan penangkapan ikan. penelitian ilmiah dan perlindungan serta pelestarian lingkungan laut. pengelolaan dan konservasi sumber kekayaan alam baik hayati maupun non hayati diruang air dan kegiatan–kegiatan lainnya untuk eksploirasi dan eksploitasi ekonomi Zona tersebut seperti pembangkitan tenaga dari air. instalasi. kewajiban untuk memberikan kesemapatan terutama kepada Negara tidak berpantai atau Negara yang secara geografis taidak beruntung untuk turut serta memanfaatkan surplus dari jumlah tangkapan ikan yang diperbolehkan. bertentangan dengan peraturan perundang – undangan bea cukai. Masalah Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut tersebut erat kaitannya dengan masalah penetapan lebar laut Teritorial 12 mil laut. b. Memuat atau membongkar komoditi.72 internasional. mata uang atau orang – orang. c. Keselamatan pelyaran dan pengaturan lintas laut. Zona Ekonomi Eksklusif Dizona Ekonomi Eksklusif. yang menganut lebar laut teritorial 200 mil laut. pengurangan dan pengendalian pencemaran. d. c. baru dapat menerima penetapan lebar laut teritorial maksimal 12 mil laut . Negara pantai mempunyai : a. dapat membuat perundang–undangan mengenai lintas laut transit melalui selat tersebut bertalian dengan : a.instalasi dan bangunan–banguanan lainnya. Hak berdaulat untuk tujuan eksploirasi. arus dan angin. dengan memperhatikan ketentuan– ketentuan Konvensi. karena : a. eksploitasi. Penecegahan. b.

3) Negara-negara maritim baru dapat menerima rejim Zona Ekonomi Eksklusif jika negara pantai tetap menghormati kebebasan pelayaran/ penerbangan melalui Zona Ekonomi Eksklusif. Berbeda dengan Konvensi Jenewa 1958 tentang Landas Kontinen yang menetapkan lebar landas kontinen berdasrkan pada kriteria kedalaman atau kriteria kemampuan eksploitasi. atau c. Tidak boleh melebihi 100 mil laut dari garis kedalaman (isobaths) 2500 meter. maka Konvensi 1982 ini mendasarkan pada berbagai kritria : a. khususnya negara–negara tanpa pantai atau negara–negara yang geografis tidak beruntung setelah konvensi juga menentukan bahwa negara pantai . Jarak sampai 200 mil laut jika tepian luar tidak mencapai jarak 200 mil laut tersebut. 4) Landas Kontinen. pada sisi lain : 1) Negara–negara tanpai pantai dan negara–negara secara geografis tidak beruntung baru dapat menerima penetapan lebar Laut teritorial maksimal 12 mil laut dan Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut dengan ketentuan bahwa mereka memperoleh kesempatan untuk turut serta memanfaatkan surplus dari jumlah tangkapan yang diperbolehkan. 2) Mereka mempunyai hak transit ke dan dari laut melalui wilayah negara pantai/negara transit. Kelanjutan alamiah wilayah daratan dibawah laut hingga tepian luar kontinen yang lebarnya tidak boleh melebihi 350 mil laut yang diukur dari garis dasar laut teritorial jika diluar 200 mil masih terdapat daerah dasar laut yang merupakan kelnjutan lamiah dari wilayah daratan dan jika memenuhi criteria kedalaman sdimentasi yang ditetapkan dalam konvensi.73 dengan adanya rejim Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut b. b. Kriteria kelanjutan alamiah wilayah daratan di bawah laut hingga tepian luar kontinen yang ditentukan dalam konvensi ini pada akhirnya dapat diterima negara–negara bukan negara pantai.

Disamping mengatur hak–hak kebebasan– kebebasan di Laut Lepas. pada dasarnya tidak terdapat perbedaan antara Konvensi Jenewa 1958 tentang laut Lepas dan Konevensi PBB tentang hukum Laut mengenai hak–hak dan Kebebasan–kebebasan dilaut lepas. Konvensi ini juga mengatur masalah konservasi dan pengelolaansumber kekayaan hayati di laut lepas yang dahulu diatur dalam Konvensi Jenewa 1958 tentang Perikanan dan konservasi sumber kekayaan hayati dilaut lepas. yang memungkinkan lebar landas kontinen melebihi lebar Zona Ekonomi Eksklusif. Zona Ekonomi Eksklusif dan . 6. Sekalipun Landas Kontinen pada mulanya termasuk dalam rejim Zona Ekonomi Eksklusif. Laut territorial perairan pedalaman dan perairan kepualauan. Konvensi ini menetapkan bahwa laut Lepas tidak mencakup Zona Ekonomi Eksklusif. Rejim Pulau Rejim pulau diatur dalam Bab tersendiri dalam konvensi ini yang dihubungkan dengan masalah Laut Teritorial. Pembayaran atau kontribusi tersebut harus dilakukan melalui Otorita Dasar Laut Internasional yang akan membagikannya kepada Negara peserta Konvensi di dasarkan pada criteria pembagian yang adil dengan memperhatikan kepentingan serta kebutuhan negara–negara berkembang. hal ini berkaitan dengan diterimanya criteria kelanjutan alamiah wilayah daratan hingga parkiran luar tepian kontinen. Laut Lepas Berbeda dengan konvensi Jenewa 1958 tentang Laut Lepas yang menetapkan laut lepas dimulai dari batas terluar laut territorial. Kecuali perbedaan–perbedaan tersebut di atas.74 mempunyai kewajiban untuk memebrikan pembayaran atau kontribusi dalam natura yang berkenaan dengan eksploitasi sumber kekayaan non–hayati Landas Kontinen di luar 200 mil laut. khususnya negara–negara yang pekembangannya masih paling rendah dan negara–negara tanpai pantai. Kebebasan–kebebasan tersebut harus dilaksanakan oleh setiap negara dengan mengindahkan hak negara lain dalam melaksanakan kebebasan di lautLepas. namun dalam Konvensi ini Landas Kontinen diatur dalam Bab tersendiri . 5.

Sesuai ketentuan– ketentuan dalam konvensi. pelaksnaan hak akses Negara tidak berpantai serta kebebasan transit melalui wilayah Negara transit dan di Zona Ekonomi Eksklusif perlu diatur dengan perjanjian bilateral subregional dan regional. tidak mempunyai Zona Ekonomi Eksklusif atau Landas KOntinen sendiri dan hanya berhak mempunyai Laut Teritorial saja. Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen dengan ketentuan bahwa pulau/ karang yang tidak dapat mendukung habitat manusia atau kehidupan ekonominya sendiri. kekayaan alam hayati dan perlindungan serta pelestarian lingkungan laut tersebut. 9. 7. Rejim akses Negara tidak berpantai ked an dari laut serta kebebasan transit Jika dalam Konvensi Jenewa 1958 tentang Laut Lepas masalah hak akses negara tanpai pantai diatur dalam salah satu pasal. Konvensi menetapkan bahwa kawasan Dasar Laut Internasional dan kekayaan alam yang . mengakibatkan bahwa perairan Laut Tertutup/ setengah yang dahulunya merupakan laut Lepas menjadi lautTeritorial atau Zona Ekonomi Eksklusif negara–negara disekitar atau berbatasan dengan laut tertutup/ setengah tertutup tersebut. Kawasan Dasar laut Internasional Kawasan Laut Internasional adalah dasar laut/samudra yang terletak di luar landas Kontinen dan berada di bawah Laut Lepas. Konvensi ini menngatur masalah rejim akses negara tanpa pantai ked an dari laut serta kebebasan transit melalui negara transit secara lebih terperinci dalam satu bab tersendiri. Rejim laut tertutup/ setengah tertutup diatur dalam satu bab tersendiri dalam konvensi ini. Rejim ini berkaitan dengan hak negara–negara tersebut untuk ikut memanfaatkan sumber kekayaan alam yang terkandung dalam Zona Ekonomi Eksklusif dan Kawasan dasar laut internasional. Penetapan lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut dan Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebih 200 mil diukur dari garis laut territorial.75 Landas Kontinen. 8. Menganjurkan antara lain agar negara negara yang berbatasan kerjasama dengan Laut Tertutup/setengah konservasi tertutup sumber mengadakan mengenai pengelolaan. Konvensi menentukan bahwa pulau / karang mempunyai Laut Teritorial. Rejim Laut tertutup / setengah tertutup.

yaitu sistem parallel. Demikian pula tidak satu negarapun atau badan hukum atau orang boleh melaksanakan pemilikan atas salah bagian dari kawasan tersebut semua kegiatan di kawasan Dasar Laut Internasional dilaksanakan untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan. yakni selama Perusahaan (Enterprises) sebagai wahana otorita belum dapat beroperasi secara penuh. Adapun pengelolaannya di dasarkan pada suatu sistem. Tidak ada satu negarapun boleh menuntut atau melaksanakan kedaulatan atau hak berdaulat atas bagian dar kawasan Dasar laut Internasional atau kekayaan alam yang terdapat didalamnya. negara–negara peserta Konvensi termasuk perusahaan negara dan swastanya dapat melakukan penambangan dikawasan Dasar Laut Internasional tersebut berdasarkan suatu hubungan keraj atau asosiasi dengan otorita. Penangkapan hidup jenis ikan selalu mengandung suatu resiko bahwa kelangsungan hidup jenis ikan tersebut dapat terancam dengan kepunahan. Disamping itu tumbuh kesadaran mengenai kelestarian lingkungan hidup. Konvensi PBB tentang hukum Laut ketiga dengan suatu revolusi I. dapat mengakibatkan tidak hanya kepunahan jenis–jenis ikan akan tetapi juga kemunduran besar bagi perusahaa-perusahaan yang tergantung dari penangkapan jenis – jenis ikan tersebut. yaitu Otorita Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority). Perlindungan dan pemeliharaan lingkunga laut. Pengembangan teknologi dibidang perikanan. yang pada akhirnya menggerakkan PBB untuk meyelenggarakan konferensi .76 terkandung di dasar laut dan tanah di bawahnya merupakan warisan bersama umat manusia. yang memungkinkan penangkapan ikan dalam skala besar. Walaupun perlahan–lahan akan tetapi pada akhirnya tumbuh kesadaran bahwa. 10. maka pengelolaannya dilaksanakan oleh suatu badan internasional. menetapkan pula pembentukan Komisi Persiapan (Preparatory Commission) yang tugasnya adalah untuk mempersiapkan antara lain pembentukan otorita Dasar Laut Internasional dan Pengadilan Internasional untuk hukum laut. sekalipun laut itu sangat luas tetapi sumber–sumber kekayaan yang terkandung didalamnya tidak tanpa batas kelestarian.

Hal tersebut berarti bahwa setiap penelitian ilmiah kelautan yang dilaksanak dalam laut teritorial/perairan kepulauan hanya dapat dilaksanakan dengan seizin negara pantai. Negara-negara secara langsung atau melalui organisasi internasional yang berwenang. konvensi menentukan bahwa setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber–sumber kekayaan alamnya sesuai dengan kewajibannya untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Pembuangan limbah secara tidak terkendali ke dalam lautan membawa akbat kerusakan yang parah pada lingkungan laut. Konvensi menetapkan pula bahwa negara pantai mempunyai yurisdiksi untuk penelitian ilmiah oleh kelautan ZEE dan Landas Kontinen. Demikian juga bagi penelitin ilmiah di Kawasan Dasr laut International berlaku prinsip kebebasan penelitian ilmiah yang tunduk pada rejim Kawasan Dasr Laut Internasional. Penelitian ilmiah oleh negara asing atau organisasi internasinal sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan–ketentuan sebagaiman diatur dalam konvensi supaya diizinkan oleh negara pantai. 11. 12. Penelitian ilmiah kelautan Konvensi menentukan bahwa kedaulatan negara pantai mencakup pula pengaturan penelitian ilmiah kelautan di Laut territorial atau perairan kepulauan. semua negara wajib memajukan pengembangan kemampuan ilmiah dann teknologi kelautan negara–negara yang memerlukan bantuan teknik . pencemaran yang diakibatkan oleh kecelakaan tangker – tangker raksasa. harus mengadakan untuk kerjasama secara sesuai dengan kemampuan masing–masing aktif memajukan pengembangan dan pengalihan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan. membawa kerusakan yang sangat parah pada lingkungan hidup. Berdasarkan kenyataan–kenyataan sebagaimana tersebut di atas. Pengembangan dan Alih Teknologi a. Untuk penelitian ilmiah kelautan yang dilakukan di Laut Lapas berlaku kebebasan penelitian dengan ketentuan bahwa penelitian ilmiah yang dilakuakan di Landas Kontinen tunduk pada rejim penelitian Landas Kontinen. seperti Torrey Canyon dalam tahun 1967 dan Amoco Cadits dalam tahun 1978. b.77 mengenai lingkungan hidup di Stockholm dalam tahun1972. Demikian pula.

lampiran Konvensi yang bertalian dengan masalah Kawasan dasar laut Internasional. yang merupakan yurisdiksi mutlak kamar sengketa dasar laut. termasuk negara–negara tanpai pantai dan yang secara geogarfis tidak beruntung.78 dalam bidang tersebut.. dengan tujuan untuk mempercepat pembangunan sosial dan ekonomi negara–negara berkembang. Sejalan dengan masalah persaiapan pembentukan organ–organ otorita dasar laut international. maka pembentukan pengadilan–internasional untuk hukum laut beserta kamar kamar di dalamnya harus dipersiapkan pula oleh Komisi persiapan sesuai dengan ketentuan Resolusi I yang diambil oleh konperensi PBB tentang hukum laut ketiga. Konvensi ini mengatur sistem penyelesaian sengketa. Konvensi 1982 ini membentuk pengadilan internasional untuk hukum laut sebagai mahkamah tetap (standing tribunal) dan Arbitrasi umum serta arbitrasi khusus sebagai mahkamah ad hoc (ad hoc Tribunal). yang memerlukan bantuan di bidang eksplorasi dan eksploitasi. konservasi dan pengelolaan sumbe –sumber kekayaan laut. Pengadilan Internasional untuk hukum Laut. Ketentuan Penutup . 14. agar dapat segera berfungsi setelah Konvensi mulai berlaku.J). Arbitrasi Umum atau Rbutrasi khusus.C. khususnya negara–negara berkembang. dimana Negara – Negara peserta berkewajiban untuk tunduk pada salah satu daripada lembaga penyelesaian sengketa sebagai berikut: Mahkamah Internasional (I. Penyelesaian Sengketa Konvensi menentukan bahwa setiap negara peserta Konvensi harus menyelesaikan suatu sengketa mengenai penafsiran dan penerapan Konvensi melalui jalan damai sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat 3 Piagam PBB. kecuali sengketa mengenai penafsiran dan penerapan BabXI konvensi mengenai Kawasan Dasar laut internasional beserta lampiran. Setiap sengketa mengenai penafsiran dan penerapan Konvensi dapat diajukan untuk diselesaikan oleh salah satu dari ke empat macam lembaga penyelesaian sengekta tersebut diatas. penelitian ilmiah kelautan. perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. 13.

C. dan oleh keran itu hanya dapat dipisahkan sebagai satu kebulatan yang utuh. Mengapa asas Negara kepulauan harus diimplementasikan dalam berbagai peraturan perundang Republik Indonesia ? 2. Apa implikasi dari ratifikasi Indonesia terhadapa konverensi hukum laut PBB 1982 ? . amandemen depositori dan lain–lainnya. Konvensi dimulai berlaku 12 bulan setelah tercapai pengesahan oleh 60 negara. Konvensi ini tidak membenarkan terhadap negara–negara mengadakan dalam pensyaratan (reservation) ketentuan–ketentuan konvensi pada eaktu mengesahkan karena seluruh ketentuan konvensi ini merupakan satu piket yang ketentuan– etentuannya sangat serta hubungannnya satu dengan yang lain.79 Sebagaimana lazimnya. konvensi memuat ketentuan–ketentuan penutup yang mengatur masalah–masalah prosedural seperti penandatanganan. b. Mengapa pengumuman pemerintah mengenai suatu obyek hukum selalu diikuti dengan undang–undang ? 3. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran ke 3 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaang seperti : 1. Konvensi ini menggantikan (prevail) konvensi – konvensi Jenewa 1958 mengenai hukum laut bagi para pihaknya. pengesahan dan konfirmasi formal. aksesia dan berlakunya konvensi. c. Beberapa ketentuan penutup yang penting yang terdapat konvensi ini antara lain adalah : a.

Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.80 Daftar Bacaan : I. UU No. AK. Landas Kontinen Dalam Hukum Laut Indonesia. Made Pasek Diantha. 8 / 1992 tentang Lalu lintas Damai Kendaraan air asing. 6 / 1996 tentang Wilayah Perairan Indonesia. Karya MasAgung. 5/ 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. 1993. Bandung: Bina Cipta. 1988. 17 / 1985 tentang Pengelolaan Konvensi Hukum Laut 1982. Bandung: Mandar Maju. Wayan Parthiana. Analisis Negara Kepulauan dan Landas Kontinen Dalam Perspektif Kepentingan Indonesia. UU No. UU No. 1 /1973 tentang Landas Kontinen Indonesia. PP No. Beberapa Perkembangan dan Masalah Hukum Laut International. CV. . UU No. 2005. 2005 ------------------. Bandung: Mandar Maju. Denpasar. Syahmin.

Perairan Kepulauan Dalam pasal 3 ayat 3 undang-undang perairan Indonesia disebutkan bahwa.81 BAB 5 BAHAN PEMBELAJARAN 4 A. dan diskusi. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Perairan Pedalaman Dalam pasal 8 ayat (1) United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS 1982) disebutkan bahwa yang dinamakan Perairan Pedalaman adalah perairan pada sisi darat garis pangkal laut teritorial. Penguasaan individu. 2.” Karena Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS III) sudah mengakui konsep negara kepulauan (archpelagic state). Kerjasama tim. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu IV bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan berbaga jalur-jalur laut pada wilayah perairan Indonesia sebagai negara nusantara”. Uraian: Jalur-jalur laut Indonesia sebagai negara nusantara atau negara kepulauan: 1. kuliah interaktif.Partisipasi dalam diskusi. “perairan pada sisi darat garis . “Perairan Kepulauan Indonesia adalah semua perairan terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan yang tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai.. B. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait jalur-jalur laut. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning melalui small group work.. maka perairan kepulauan Indonesia juga masuk kedalam perlindungan hukum laut internasional sebagaimana halnya negara-negara kepulauan lainnya. Pasal tersebut selengkapnya berbunyi.

perairan Indonesia terdiri dari laut wilayah dan perairan Pedalaman. Perairan pedalaman ini dibagi pula atas laut pedalaman dan perairan daratan. Sesuai dengan UU No. Di laut lepas. Perincian dari Perairan Indonesia berdasarkan ketentuan-ketentuan dari UU No. Sedangkan bagi Indonesia. terdapat rezim kebebasan berlayar bagi semua kapal. karena adanya bagian-bagian laut lepas atau laut wilayah yang menjadi laut pedalaman karena penarikan garis dasar lurus dari ujung ke ujung. UU No 5/1983 tentang ZEEI dan UU No 6/1996 tentang Perairan Indonesia 14 13 .14 hukum laut secara tradisional mengadakan pembagian laut atas laut lepas. “Perairan Pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia. Perairan Pedalaman Indonesia terdiri atas: laut pedalaman. 6 Tahun 1996). menikmati hak lintas damai Pasal 8 (1) UNCLOS 1982 Sekarang tidak berlaku lagi karena sudah diganti dengan UU No1/1974 tentang Landas Kontinen Indonesia. pada sisi laut dan gari air rendah. laut wilayah dan perairan pedalaman. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia disebutkan bahwa. Sedangkan Perairan Darat adalah segala perairan yang terletak pada sisa darat dari garis air rendah.82 pangkal laut territorial merupakan bagian perairan pedalaman negara tersebut”. Selanjutnya. Dilaut wilayah perairan Indonesia. termasuk kedalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup sebagaimana dimaksud dalam pasal 7. kecuali pada mulut sungai perairan darat adalah segala perairan yang terletak pada sisi darat dari garis penutup mulut sungai.13 Sedangkan dalam pasal 3 (4) UU No. 4 /Perp Tahun 1960 tersebut. Mengenai hak lintas damai di laut wilayah. dan perairan darat. kapal semua negara baik berpantai atau tidak berpantai. tidak ada persoalan karena telah merupakan suatu ketentuan yang telah diterima dan dijamin oleh hukum internasional. 4/Prp tahun 1960 (sekarang UU No. laut pedalaman menurut pengertian undang-undang ini adalah bagian laut yang terletak pada sisi darat dari garis penutup. pembagian perairan Indonesai agak sedikit berbeda dengan negara-negara lain. dilaut wilayah berlaku rezim lintas damai bagi kapal-kapal asing dan diperairan pedalaman hak lintas damai ini tidak ada.

Sebagaimana kita ketahui. . (Bandung: PT Alumni. 2005). selanjutnya dinamakan perairan daratan atau coastal waters. muara-muara sungai. Perairan pedalaman yang sebelum berlakunya Undang-Undang No. 4/Prp Tahun 1960 ini merupakan laut pedalaman yang dahulu. pelabuhan-pelabuhan. dan yang ditegaskan pula oleh pasal 8 Konvensi 1982.15 Sebagai tambahan. teluk-teluk yang mulutnya kurang dari 24 mil. yaitu: 1. Di laut pedalaman ini. 2. dan lain-lainnya. Indonesia membedakan perairan pedalaman (perairan kepulauan atas dua golongan). Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Pengertian. 4/Prp Tahun 1960 merupakan laut wilayah atau laut bebas. Di perairan daratan tidak ada hak lintas damai. Konvensi Jenewa 1957 yang membahas tentang Laut Territorial dan Jalur Tambahan meneguhkan beberapa azas tentang laut territorial yang telah berkembang sejak lahirnya hukum laut internasional dan memperoleh 15 Boer Mauna. khususnya yang membahas tentang laut teritorial dan jalur tambahan dalam era yang berbeda. Sebagai bahan perbandingan dalam mempelajari perkembangan wacana hukum laut. Hukum Internasional. hlm.83 melalui laut teritorial (pasal 17 konvensi). pemerintah Indonesia pada tahun 1985 telah meratifikasi UNCLOS III/1982 ini dengan mengeluarkan UU No 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea yang ketiga. Ini adalah suatu hal yang wajar karena kedekatannya dengan pantai seperti anak-anak laut. berikut ini kita akan mengkaji perbedaan antara Konvensi Jenewa 1957 dengan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS III 1982) yang khusus membahas tentang Laut Territorial dan Jalur Tambahan . Selanjutnya. laut pedalaman ini dulunya adalah bagian-bagian laut lepas atau laut wilayah dan sudah sewajarnya kita berikan hak lintas damai kepada kapal-kapal asing. Ketentuan yang juga dinyatakan oleh Konvensi Jenewa. 383-384. Perairan pedalaman ini disebut laut pedalaman atau internal seas. pemerintah Indonesia menjamin hak lintas damai kapal-kapal asing. Perairan pedalaman yang sebelum berlakunya UU No.

Pasal 2: menyatakan bahwa kedaulatan negara atas laut teritorial hanya meliputi juga ruang udara diatasnya dan dasar laut serta tanah dibawah dasar laut.84 perumusannya yang jelas dalam konferensi kodifikasi Den Haag tahun 1930. Dalam penjabarannya. 3. Pasal 3: memuat ketentuan mengenai garis pasang surut (low water mark) sebagai garis pangkal biasa (“normal” base-line) Pasal 4: mengatur garis pangkal lurus dari ujung ke ujung (straight baselines) sebagai cara penarikan garis pangkal yang dapat dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu.. 2. dan 5 mengenai penarikan garis pangkal. 4. Syarat kedua adalah bahwa garis-garis lurus tidak boleh diantara dua pulau atau bagian daratan yang hanya timbul diatas permukaan air . Ayat selanjutnya (2. Apabila terdapat deretan pulau yang letaknya tak jauh dari pantai. Pasal 1: menyatakan bahwa laut teritorial yang merupakan suatu jalur yang terletak disepanjang pantai suatu negara berada dibawah kedaulatan negara. ayat (1) menetapkan dalam hal-hal mana dapat dipergunakan sistem penarikan garis pangkal lurus. dan 5) memuat syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalam menggunakan penarikan garis pangkal menurut sistem garis pangkal lurus dari ujung ke ujung. Yang terpenting diantaranya adalah ketentuan-ketentuan dalam pasal 3. yakni: 1. Syarat pertama adalah bahwa garis-garis lurus tidak boleh menyimpang terlalu banyak dari arah umum daripada pantai dan bahwa bagian laut yang terletak pada sisi dalam (sisi darat) garis-garis demikian harus cukup dekat pada wilayah daratan untuk dapat diatur oleh rezim perairan pedalaman. (ayat 2). Ditempat-tempat dimana pantai banyak liku-liku tajam atau laut masuk jauh kedalam. Konvensi ini memuat ketentuan-ketentuan yang merupakan perkembangan baru dalam hukum laut internasional publik. Dalam beberapa hal.

maka isi keputusan Mahkamah Internasional tersebut yang berdasarkan pada pasal 59”.. Syarat ketiga adalah bahwa penarikan garis pangkal tidak boleh dilakukan sedemikian rupa hingga memutuskan hubungan laut wilayah negara lain dengan laut lepas... Tanggal 10 Desember 1982 (UNCLOS 1982) belum . Dengan dimuatnya ketentuan mengenai penarikan garis pangkal lurus ini dalam konvensi mengenai “Laut Territorial dan Zona Tambahan”. Ayat ini menetapkan bahwa dalam menetapkan garis pangkal lurus demikian dapat diperhatikan kebutuhan-kebutuhan istimewa yang bersifat ekonomis daripada suatu daerah yang dapat dibuktikan dengan kebiasaan-kebiasaan dan kebutuhan yang telah berlangsung lama... Hukum Laut Internasional.16 16 Mochtar Kusumaatmadj... hlm 129133....85 diwaktu pasang surut (low-tide elevations) kecuali apabila diatasnya telah didirikan mercusuar-mercusuar atau instalasi-instalasi serupayang setiap waktu ada diatas permukaan air (ayat 3).... Sifat istimewa daripada garis pangkal lurus tampak dengan lebih jelas apabila kita hubungkan ayat (1) ini dengan pasal 3 yang menyatakan garis pasang surut sebagai garis pangkal biasa (normal baseline). ditempat-tempat dimana... Sebagaimana diketahui keputusan-keputusan Konvensi I mengenai garis pangkal lurus ini didasarkan atas keputusan Mahkamah Internasional tanggal 28 Desember 1951 dalam perkara Sengketa Perikanan antara Inggeris dan Norwegia (Anglo-Norwegian Fisheries Case). tidak mengikat kecuali terhadap pihak-pihak yang bersengketa dan berkenaan dengan perkara yang bersangkutan”.. Ketentuan ini berarti suatu negara dapat emnggunakannya disebagian pantainya yang memenuhi syarat-syarat ayat (1).. Ketentuan dalam ayat 1 yang menyatakan”.... Konferensi Internasional Hukum Laut III.... (ayat 5). kini telah diakui menjadi suatu cara penarikan garis pangkal yang – dengan syaratsyarat tertentu – berlaku umum. dan seterusnya. (Bandung: Binacipta. Ayat 4 dapat dianggap sebagai tambahan pada ketentuan ayat 1 mengenai penetapan garis lurus sebagai garis pangkal. 1978).” menunjukan bahwa sistem garis pangkal lurus adalah cara penarikan garis pangkal istimewa yang dapat dipergunakan oleh suatu negara.

86 Sedangkan ketentuan mengenai laut teritorial yang tercantum dalam UNCLOS IIII/1982 menjelaskan bahwa. Artinya. instalasi pelabuhan. kedaulatan negara pantai selain diwilayah daratan dan perairan pedalamannya. Oleh karena itu. Pertahanan keselamatan negara terhadap gangguan/ serangan dari luar. Sebagaimana pernah disebutkan diatas. b. ruang udara diatasnya dan dasar laut serta lapisan tanah dibawahnya. e. c. namun tidak boleh lebih dari 24 mil laut. Kepentingan perikanan f. teluk. Pertambangan dan hasil-hasil alam lainnya. Bagian ini juga membahas tentang perairan kepulauan. jaraknya diperluas selebar 12 mil laut diukur dari batas laut teritorial. suatu negara mempunyai kedaulatan yang penuh dalam perairan teritorialnya dan dapat menyelenggarakan serta menjalankan tindakan-tindakan seperlunya untuk menjamin antara lain: a. Baca juga hasil-hasil Konvensi Hukum Laut Jenewa 1957. fiskal. Untuk negara-negara kepulauan yang mempunyai karangkarang disekitarnya. juga meliputi laut teritorial. Penyelenggaraan peraturan fiskal (bea dan cukai). penentuan lebar laut 3 mil yang tercantum dalam “Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie tahun 1939” yang dalam dilaksanakan. untuk zona tambahan. garis pangkalnya adalah garis pasang surut dari sisi karang ke arah laut. perairan kepulauannya. . Tetapi kurang lebih sebagai perbandingan dalam menganalisa dinamika perkembangan antara Konvensi Jenewa tahun 1958 dengan UNCLOS 1982 yang juga saling berkaitan. mulut sungai. dan saniter dalam wilayahnya. Pengawasan atas keluar masuknya orang asing (imigrasi). Batas laut teritorial tidak melebihi batas 12 mil laut diukur dari garis pangkal normal. menentukan bahwa negara pantai dalam zona tersebut bisa melaksanakan pengawasan yang diperlukan guna mencegah pelanggaran undang-undang menyangkut bea cukai. Pekerjaan dilapangan kesehatan (karantina). d. imigrasi. Mengenai zona tambahan. penetapan garis batas laut teritorial antara negara-negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan serta lintas damai.

87 pasal 1 ayat 1 a. Definisi laut teritorial yang terdapat dalam UU No.. Menindak pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum tersebut diatas yang dilakukan di wilayah atau laut wilayah RI.17 3.. yang berlaku di wilayah atau laut wilayah RI. (Jakarta: PT Bina Aksara. Pasal 5 yang dimaksud adalah tentang ketentuan dan tata cara penarikan garis pangkal kepulauan Indonesia. “Laut Teritorial adalah jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia sebagaimana dimaksud pasal 5”. Toto Pandoyo. hlm.. 2. Dengan adanya lebar perairan yang kurang dari 24 mil laut yang membatasi wilayah RI dengan Malaysia. yang dimaksud dengan ”Jalur Tambahan” adalah suatu daerah laut yang berdekatan dengan laut wilayah.. maupun ”sanitary”. maka dengan perairan-perairan tertentu negara kita tidak memiliki ”Jalur Tambahan”. Oleh karena itu.” dirasakan tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang dan dirasakan sudah tidak cukup lagi untuk menjamin dengan sebaik-baiknya kepentingan rakyat dan negara Indonesia yang biasanya diselenggarakan dalam batas lautan territorial suatu negara. yang lebarnya tidak lebih dari 24 mil laut dihitung dari garis dasar... 1985).. perpajakan (fiskal). dengan Singapura serta dengan Philipina. 84-85. menyatakan bahwa “laut territorial Indonesia itu lebarnya 3 mil diukur dari garis air rendah (laagwaterlijn) daripada pulau-pulau dan bagian pulau yang merupakan bagian dari wilayah daratan (grondgebied) dari Indonesia.. NKRI mempunyai kewenangankewenangan tertentu untuk: 1. Menurut ICNT. pada tahun 1996 pemerintah RI mengeluarkan UU No 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia sebagai tindak lanjut dari kesepakatan UNCLOS III/1982 yang menetapkan batas laut teritorial seluas 12 mil laut. Laut teritorial Dalam pasal 3 ayat 2 undang-undang perairan Indonesia disebutkan bahwa.. Mencegah pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum tentang keBea-an. Serta .. Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Pembangunan Nasional.l. dari mana lebar laut wilayah diukur. Pada jalur tambahan tersebut. 17 S. imirasi.

mulut sungai. Mencegah pelanggaran-pelanggaran perundang-undangannya yang berkenaan dengan masalah bea cukai (customs). tempat atau garis itu adalah garis pangkal. Untuk negara-negara kepulauan yang mempunyai karang-karang di sekitarnya. Berikut ini beberapa hal guna memperjelas tentang letak zona tambahan itu: Pertama. penetapan garis batas laut teritorial antara negara-negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan serta lintas damai. Bagian ini juga membahas tentang perairan kepulauan. Tempat atau garis dari mana lebar jalur tambahan itu harus diukur. dan sudah tidak berlaku lagi setelah adanya ketentuan baru dalam Konvensi Hukum Laut 1982. 2. batas laut teritorial tidak melebihi batas 12 mil laut diukur dari garis pangkal normal. Didalam ayat 2 ditegaskan tentang lebar maksimum dari zona tambahan tidak boleh melampaui dari 12 mil laut diukur dari garis pangkal. Kedua. teluk. garis pangkalnya adalah garis pasang surut dari sisi karang ke arah laut. instalasi pelabuhan. dan kesehatan atau saniter. 4.88 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia ini adalah mengikuti ketentuan yang tercantum dalam UNCLOS 1982. zona tambahan itu tidak boleh melebihi 24 mil laut. Menghukum pelanggaran-pelanggaran atau peraturan-peraturan perundangundangannya tersebut di atas. Menurut pasal 33 ayat 2 Konvensi Hukum Laut 1982. perpajakan (fiskal). . Dalam ketentuan ini (UNCLOS III). keimigrasian (imigration). Hal ini berarti bahwa zona tambahan itu hanya mempunyai arti bagi negara-negara yang mempunyai lebar laut teritorial kurang dari 12 mil laut (ini menurut konvensi Hukum Laut Jenewa 1958). Laut Tambahan Zona tambahan didalam pasal 24 (1) UNCLOS III dinyatakan bahwa suatu zona dalam laut lepas yang bersambungan dengan laut teritorial negara pantai tersebut dapat melaksanakan pengawasannya yang dibutuhkan untuk: 1. Lebar zona tambahan itu tidak boleh melebihi 24 mil laut. dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial itu diukur. diukur dari garis pangkal.

89 Ketiga. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) Indonesia berhak dan telah menetapkan ZEE-nya selebar 200 mil dari garis-garis pangkal nusantara (Pasal 48 dan 57). (3) Kebebasan-kebebasan laut lepas yang disebut dalam pasal 88 sampai 115. Keempat. instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum laut tentang Landas Kontinen dan ZEE. (b) Mengatur penyelidikan ilmiah kelautan. (4) Akses terhadap. mengatur dan menggunakan pulaupulau buatan. surplus perikanan yang tidak dimanfaatkan oleh negara pantai. Sovereign rights atas seluruh kekayaan alam yang terdapat di dalamnya. Hal ini tentu saja berbeda dengan laut teritorial dimana negara pantai di laut teritorial memiliki kedaulatan sepenuhnya dan hanya dibatasi oleh hak lintas damai. (2) Hak meletakkan kabel dan pipa-pipa. Yurisdiksi untuk: (a) Mendirikan. negara-negara lain mempunyai: (1) Kebebasan berlayar dan terbang. Menetapkan dalam persetujuan-persetujuan dengan negara tetangga tentang batas-batas dan ZEE Indonesia yang mungkin tumpang tindih . Pada zona tambahan. negara pantai hanya memiliki yurisdiksi yang terbats seperti yang ditegaskan dalam pasal 33 ayat 1 Konvensi Hukla 1982. 3. 2. Indonesia mempunyai: 1. Di ZEE. 5. yang mencakup berbagai bidang yang ada hubungannya dengan kapal dan pelayaran. 2. itu diukur dari garis atau batas luar laut territorial. Oleh karena zona laut selebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal adalah merupakan laut teritorial. dengan kata lain zona tambahan selalu terletak diluar dan berbatasan dengan laut teritorial. maka secara praktis lebar zona tambahan itu adalah 12 mil (24-12) mil laut. instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya (Pasal 56 dan 60). (c) Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Menetapkan batas terluar ZEE Indonesia dalam suatu peta yang disertai koordinat dan titik-titiknya. Dalam ZEE. Hak dan kewajiban-kewajiban lain yang ditetapkan dalam konvensi. Tindakan-tindakan yang diperlukan adalah: 1.

3. agar sumber-sumber perikanannya tidak over-exploited demi untuk menjaga maximum sustainable yield. 69. 71. 6.90 dengan ZEE negara tetangga. penentuan jenis ikan yang boleh ditangkap. Indonesia sebagai negara pantai juga berkewajiban memelihara. 5. karena kedua konsepsi mi (ZEE dan landas kontinen) adalah 2 konsepsi yang berbeda dan masing-masing merupakan konsep yang sui generis. Mengatur dengan negara-negara yang bersangkutan regional/internasional yang atau dengan tentang organisasi-organisasi wajar . terutama negara-negara tidak berpantai dan negara-negara yang secara geografis kurang beruntung. 4. 70. penentuan umur dan ukuran ikan yang boleh ditangkap dan lain-lain. Indonesia harus menetapkan its capacity to harvest dan memberikan kesernpatan kepada negara lain di kawasannya. untuk memanfaatkan the surplus of the allowable catch yang tidak dimanfaatkan oleh Indonesia (Pasal 62. Untuk maksud-maksud ini. Untuk mencapai optimum utilization dan kekayaan alam tersebut. misalnya tentang izin penangkapan ikan. dan 72 mengatur soal pemanfaatan surplus). Mengumumkan secara wajar pembangunan dan letak pulau-pulau buatan. 8. berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada. Batas-batas landas kontinen yang telah ditetapkan dengan negara-negara tetangga dalam berbagai persetujuan belum tentu dapat dianggap sama dengan batas ZEE. pembagian musim dan daerah penangkapan ikan. Indonesia perlu mengeluarkan peraturan-peraturan perikanan yang diperkenankan oleh konvensi (Pasal 62 ayat 4). Mengumumkan dan mendepositkan copy dan peta-peta atau daftar koordinat-koordinat tersebut pada Sekjen PBB (Pasal 75). instalasi dan bangunan-bangunan lainnya. 7. Indonesia harus menetapkan allowable catch dan sumber-sumber perikanan ZEE-nya (Pasal 61). Indonesia dirasa perlu bekerja sama dengan negara-negara lain yang berkepentingan dan dengan organisasi-organisasi internasional yang kompeten. Untuk mengatur pemanfaatan kekayaan alam di ZEE. serta safety zonenya dan membongkarnya kalau tidak dipakai lagi (Pasal 60 mengatur soal ini secara terperinci).

Selanjunya dijelaskan. Negara pantai harus menctapkan batas terluar dan continental marginnya jika continental margin tersebut berada di luar batas 200 mil. Batas terluar dan landas kontinen di continental margin yang terletak di luar 200 mil ditetapkan maksimum 350 mil dan garis pangkal atau 100 mill dan kedalaman air 2500 meter. walaupun negara-negara yang bersangkutan belum memanfaatkannya. Tindakan-tindakan lanjutan yang perlu dilakukan oleh pemerintah RI adalah: . negara pantai harus menyumbangkan sebagian dan hasil kekayaan alam landas kontinen yang diambilnya di luar batas 20 mil kepada Badan Otorita Internasional yang akan didirikan. Besarnya sumbangan itu adalah 1 persen dan produksi mulai tahun ke-6 produksi dan kemudian setiap tahun naik dengan 1 persen sehingga kontribusi tersebut maksimum menjadi 7 persen mulai tahun produksi ke-12. Batas itu harus ditetapkan dengan garis-garis lurus yang masing-masing panjangnya tidak boleh lebih dari 60 mil.91 pemeliharaan dan pengembangan sumber-sumber perikanan yang terdapat di ZEE 2 negara atau Iebih (shared stocks). Landas Kontinen Negara pantai termasuk Indonesia berhak mempunyai landas kontinen di luar laut wilayahnya throughout the natural prolongation of its land territory to the outer edge of the continental margin atau sampai 200 mil dan garis-garis pantai (Pasal 76 ayat 1). highly migratory species dan memperhatikan ketentuan-ketentuan tentang marine mammals. kecuali seperti tersebut di bawah. landas kontinennya adalah exclusive dan tidak perlu dibagi-bagi dengan negara lain. anadromous dan catadromous species dan sedentary species. Batas itu dapat diperiksa oleh suatu Commission on the Limit of the Continental Shelf yang akan didirikan dan harus diumumkan dan didepositkan pada Sekjen PBB (Pasal 76 ayat 9). Berlainan dengan hak negara pantai atas ZEE (yang memungkinkan surplus perikanan diambil oleh negara lain) hak-hak berdaulat negara pantai atas kekayaan alam. 6.

seperti: 1. terutama dengan Vietnam. Indonesia masih harus menyelesaikan batas landas kontinennya dengan negara-negara tetangga. pemeliharaan lingkungan. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran keempat dilakukan dalam bentuk kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaaan. Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Perlu ditata kembali UU/ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan penyelidikan ilniah. Hukum Internasional. C.92 1. Philipina dan Malaysia di Kalimantan Timur. 3. eksploitasi dan explorasi di landas kontinen serta penentuan jurisdiksi imigrasi. S. Australia. 1985. 2005. Jakarta: PT Bina Aksara. 1978. Jelaskan jalur-jalur laut Indonesia sebagai negara Kepulauan? 2. Mochtar Kusumaatmadja. Indonesia harus menyelidiki apakah secara geologis Indonesia mempunyai continental margin di luar batas 200 mil. Dalam hal apakah ZEEI dapat dieksplorasi dan eksploitasi semaksimal mungkin oleh Indonesia? Daftar bacaan Boer Mauna. Pengertian. 7/1973 kiranya harus diperbaharui untuk disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan baru landas kontinen mi. Juga UU Landas Kontinen Indonesia No. pengamanan instalasiinstalasi. 4. Bandung: PT Alumni. Jika ada. . Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Serta Pembangunan Nasional. 2. Hukum Laut Internasional. bea cukai. Toto Pandoyo. Bandung: Binacipta. masalah-rnasalah perdata dan pidana di landas kontinen Indonesia. maka kita harus menetapkan batas tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan konvensi dan mendepositkan peta disertai koordinat batas-batasnya pada Sekjen PBB dan International Authority (Pasal 84) yang pembentukannya pada waktu ini sedang dirundingkan.

Uraian: Ada bermacam-macam garis pangkal. 2007. Dalam hal ini garis air rendah dan fringing reefs (batu-batu karang) yang terluar juga dapat dipergunakan. 2. Garis pangkal lurus. teluk. yaitu garis lurus yang ditarik untuk menutup pantaipantai yang terlalu melekuk. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait berbagai macam garis pangkal pada umumnya. laut wilayah masing-masing perlu ditetapkan dengan perjanjian antara negara-negara tersebut (Pasal 15).. Roadsteds (tempat kapal-kapal buang jangkar di laut di depan pelabuhan) dianggap termasuk dalam laut wilayah. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Garis pangkal biasa. (Pasal 5 dan 6). yaitu18: 1. mulut sungai. (Bandung: Binacipta. hlm. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning melalui small group work.93 BAB 6 BAHAN PEMBELAJARAN 5 A. bangunan-bangunan pelabuhan. delta. Hukum Laut Internasional. 18 . Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu IV bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macam garis pangkal yang dapat diterapkan oleh Indonesia sebagai negara kepulauan. B.”.Partisipasi dalam diskusi. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). 1978). Di luar laut wilayah. dan diskusi. garis dasar dapat ditarik. Dalam hal-hal negara berdampingan atau berhadapan. low-tide elevations. Garis air rendah dan fringing reefs tersebut harus di perlihatkan dalam peta-peta yang diakui secara resmi oleh negara bersangkutan. yaitu garis air rendah di sepanjang pantai. Lihat Juga Abdul Rasal Rauf. Kerjasama tim. Dalam hal:-hal mi. Penguasaan individu. kuliah interaktif. 46-54. Makassar: Fakultas Hukum Unhas.. secara lurus tanpa mengikuti garis air rendah di pantai. negara pantai diperkenankan Mochtar Kusumaatmadja.

(c) Garis batas laut wilayah RI-Philipina. (b) Garis batas laut wilayah RI-Malaysia di pantai timur Kalimantan. Pasal 19 memperinci tindakan-tindakan kapal yang lewat yang dapat dianggap membahayakan perdamaian. ketertiban atau keamanan negara pantai tersebut. . tetapi terbatas kepada hal-hal yang terperinci dalam pasal 21 tersebut yaitu: Keselamatan pelayaran dan lalu lintas laut. Perlindungan sarana bantu pelayaran dan fasilitas atau instalasi lainnya. guna mendukung ketentuan tersebut. Pelestarian kekayaan hayati laut. Mendepositkan peta-peta dan koordinat-koordinat dan garis batas tersebut pada Sekjen PBB sesuai dengan Pasal 16 ayat 2. Kapal semua negara menikmati hak untuk lewat secara damai (innocent passage) melalui laut wilayah (Pasal 17) selama tidak membahayakan perdamaian. Perlindungan kabel-kabel dan pipa-pipa di dasar laut. Merundingkan penyelesaian batas laut wilayah Indonesia dengan negaranegara tetangga khususnya: (a) Garis batas segitiga RI-MalaysiaSingapura di selat Singapura. maka tindakantindakan yang perlu dilakukan adalah: Meninjau kembali garis-garis pangkal laut wilayah Indonesia dan menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. ketertiban atau keamanan negara pantai.94 mempunyai Lajur Tambahan (Contiguous Zone) sebesar 24 mil (12 mil di luar laut wilayah). Mendirikan/mengumumkan zone tambahan Indonesia untuk keperluankeperluan pengawasan pabean. Pemeliharaan lingkungan dan pencegahan polusi. imigrasi dan kesehatan sesuai dengan Pasal 33. Pencegahan pelanggaran ketentuan-ketentuan perikanan. Oleh karena itu. yang diukur dan garis pangkal yang dipergunakan untuk mengukur laut wilayah. keuangan. Pasal 21 memperkenankan negara pantai untuk membuat undangundang/ketentuan-ketentuan tentang lintasan laut damai tersebut. baik dengan ketentuan-ketentuan dalam laut wilayah maupun ketentuan ketentuan dalam negara-negara Nusantara. Innocent Passage melalui Laut Wilayah.

.Mengumumkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan tentang halhal tersebut. imigrasi dan kesehatan. Perlu dicatat bahwa innocent passage melalui selat yang dipakai bagi pelayaran internasional tidak boleh ditangguhkan (Pasal 45 ayat 2). . Penangguhan mi baru berlaku setelah diumumkan (Pasal 25 ayat 3). Khusus bagi Indonesia sealanes dan TSS dalarn laut wilayah haruslah sinkron dengan sealanes dan TSS melalui perairan Nusantara. 3. Laut wilayah. . Jika perlu RI boleh menangguhkan hak lalu lintas laut damai melalui laut wilayah tersebut pada waktu-waktu dan di bagian-bagian tertentu untuk keperluan keamanan. landas kontinen dan 19 Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. (Bandung: Alumni. dan Pencegahan pelanggaran aturan-aturan pabean. Garis Pangkal Lurus Kepulauan Negara nusantara boleh menarik garis pangkal lurus nusantara yang menghubungkan titik-titik terluar dan pulau-pulau dan batu-batu karang yang terluar dan kepulauan tersebut dengan ketentuan-ketentuan seperti tersebut dalam Pasal 46 dan 4719. 196-197.95 - Penyelidikan ilmiah dan survey hydrografis. P. Pasal 22 dan 23 mengatur cara-cara penetapan sealanes dan TSS melalui wilayah laut tersebut. Agoes. Tindakan-tindakan yang diperlukan diantaranya adalah: .Di mana perlu menetapkan sealanes dan TSS dan mengumumkan sealanes dan TSS yang telah ditetapkan melalui laut wilayah tersebut. - Untuk keselamatan pelayaran.Mengumumkan dangers to navigation yang diketahui yang ada di laut wilayah. zone tambahan. negara pantai juga boleh menetapkan sealanes dan traffic separation scheme (TSS) melalui laut wilayah dan mewajibkan kapal-kapal tertentu seperti tanker dan kapal yang digerakkan dengan tenaga nuklir atau membawa muatan nuklir untuk hanya lewat melalui sealanes tersebut.Menata kembali dan mengembangkan perundang-undangan Indonesia tentang innocent passage terutama tentang 8 hal tersebut di atas. Rights Over Natural Resources: The Indonesian Experience. 2002). . keuangan. misalnya jika ada weapons exercises.

teluk dan pelabuhan (Pasal 50). dengan ketentuan bahwa hak innocent passage tersebut dapat ditangguhkan untuk sementara waktu di bagian-bagian tertentu karena alasan-alasan keamanan (suspendable innocent passage). Perairan di sebelah dalarn dan GPLN yang mengelilingi kepulauan nusantara tersebut dinamakan perairan nusantara di mana pada umumnya berlaku ketentuan pelayaran innocent passage seperti dalam laut wilayah (Pasal 52 ayat 1). Indonesia harus menghormati kabel-kabel laut yang sudah ada yang diletakkan oleh negara lain dan harus mengizinkan pemeliharaan/penggantian kabel-kabel tersebut. Kapal-kapal semua negara mempunyai hak innocent passage untu1 melewati perairan nusantara. Hak archipelagic sealanes passage adalah lebih longgar dari hak innocent passage dan kira-kira sama bebasnya dengan hak trantti passage melalui selat yang dipakai untuk pelayaran internasional. Axis dan sea/tines dan TSS tersebut harus diumumkan secara terbuka. negara nusantara seperti Indonesia rnasih diperkenankan menetapkan perairan pedalaman (internal waters) di mana hak innocent passage tidak diakui misalnya pada perairan-perairan mulut sungai. Jadi negaranegara nusantara dapat menetapkan sealanes dan TSS melalui perairan nusantara tersebut. bahwa di perairan nusantara negara-negara lain juga mempunyai hak-hak seperti: 1. Pasal 53 mengatur tentang cara-cara penentuan sealanes dan TSS di perairan nusantara. Seperti telah dipaparkan di muka. Selama sealanes dan air routes belum ditetapkan maka hak lintas nusantara (archipelagic sealanes . 3. Indonesia harus mengakui traditional fishing rights dan “kegiatan-kegiatan lainnya yang sah” dari negara tetangga yang langsung berdekatan di bagian-bagian tertentu dan perairan nusantara. 2.96 ZEE Indonesia diukur ke laut dan garis pangkal lurus nusantara (GPLN) tersebut (Pasal 48). 4. Indonesia harus menghormati existing agreements dengan negara-negara lain. Semua kapal dan kapal terbang menikmati hak archipelagic sealane passage melalui archipelagic sea lanes dan air rutes di atas seaIane tersebut. Dalam perairan nusantara itu. 5.

4 Prp 1960 dan PP No. Memeriksa kembali titik-titik terluar dan pulau-pulau atau batu-batu karang kering Indonesia yang terluar apakah sudah cocok dengan ketentuan-ketentuan Konvensi sebagai titik-titik tenluar dan garis-ganis pangkal Indonesia dan menggambarkan titik-titik ganis pangkal tensebut dalam peta yang wajar atau membuat tersebut daftar dan koordinatnya. Sampai sekarang hal-hal ini baru diselesaikan dengan Malaysia. Walaupun Indonesia mempunyai kedaulatan atas perairan nusantara dan semua kekayaan alam yang terdapat di dalamnya. mendepositkan mengumumkan peta-peta/koordinat copynya pada Sekjen PBB sesuai dengan Pasal 47. dan diumumkan sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Konvensi. ditetapkan. maka untuk pembangunan Indonesia perlu diatur dan diambil tindakantindakan yang terkoordinir dan efektif dalam: a) Usaha-usaha untuk memanfaatkan kekayaan alam di laut. 5. Karena Indonesia berwenang penuh atas perairan nusantara. Untuk kewenangan Indonesia yang lebih kuat di perairan nusantara. kiranya Indonesia perlu merumuskan dan menetapkan perairan-perairan pedalaman (internal waters) dalam perairan nusantara tersebut sesuai dengan Pasal 50. namun negaranegara tetangga mempunyai hak-hak tertentu di perairan Indonesia seperti traditional fishing rights dan other legitimate activities (Pasal 51 ayat 1). Untuk lebih meluaskan pengawasan dan pengamanan laut Indonesia maka sea/tines dan TSS dalam perairan nusantara dan laut wilayah perlu disiapkan. 4.97 passage) dapat dilaksanakan through the routes normally used for international navigation (Pasal 53 ayat 12). hal ini masih harus dirundingkan dan diatur. Semua hal-hal di atas memerlukan review dan re-adjustment dan UU No. baik perikanan maupun pertambangan. Dengan negara-negara tetangga yang lain. 2. Tindakan-tindakanyang diperlukan untuk mendukung hal ini adalah: 1. 3. 8/1962 tentang innocent passage melalui perairan Indonesia. khususnya Singapura. 6. .

penyelidikan oceanologis dan hydrografis. g) Usaha-usaha untuk menata kembali dan melengkapkan perundangundangan Indonesia di bidang kelautan. dan Kuala Pada muara sungai atau terusan. maka jumlah panjang garis penutup teluk dari berbagai mulut teluk maksimum 24 mil laut. Terusan.20 Garis penutup teluk yang dimaksud adalah garis lurus yang ditarik antara titik titk teluar pada garis air rendah yang paling menonjol dan berseberangan pada muara teluk. Dalam hal garis Lihat Pasal 6 PP Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia telah diubah dengan PP No. d) Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan keselamatan pelayaran. garis penutup teluk tersebut adalah seluas atau lebih luas dari pada luas ½ lingkaran tengahnya adalah garis penutup yang ditarik pad muara teluk. garis penutup muara sungai. Apabila pada teluk terdapat pulau-pulau yang membentuk lebih dari satu muara teluk. garis penutup muara sungai atau terusan dimaksud ditarik antara titik terluar pada garis air rendah yang menonjol dan berseberangan. c) Usaha-usaha dan izin untuk melaksanakan penyelidikan ilmiah. 4. f) Usaha-usaha untuk mengatur dan membagi yuridiksi pengadilan atas wilayah laut Indonesia. b. Garis Penutup Teluk Pada lekukan pantai yang berbentuk teluk. garis pangkal untuk mengukur lebar laut territorial adalah garis penutup teluk. dan garis penutup pada pelabuhan. a. Garis Penutup Dalam konteks garis pangkal kepulauan dilakukan dengan menggunakan garis penutup. Garis Penutup Muara Sungai. garis pangkal untuk mengukur lebar laut territorial adalah garis penutup muara sungai atau terusan. e) Usaha-usaha pemeliharaan lingkungan laut Indonesia. Dalam hal ini. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia (Maore masuk dalam titik 35 dan 36 sedangkan Miangas dalam titik 38 dan 39). yang dibedakan kedalam garis penutup teluk. terusan dan kuala. 20 .98 b) Usaha-usaha peningkatan penegakan hukum dan kedaulatan di laut.

Praktek Indonesia dalam penerapan Garis Pangkal Lurus Kepulauan. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Kontroversi penerapan Garis pangkal normal dan garis pangkal lurus kepulauan dalam praktek negara-negara.22 C. seperti: 1. sebagai garis penutup kuala dipergunakan garis-garis lurus yang menghubungkan antara titik-titik kuala dengan titik-titik terluar pada air garis rendah tepian muara sungai. Garis lurus dimaksud ditarik antara titik-titik terluar pada garis air rendah pantai dan titik-titik terluar bangunan permanen terluar yang merupakan bagian integral system pelabuhan. 21 . 2002. Garis Penutup Pelabuhan Pada daerah pelabuhan. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kelima dilakukan dalam bentuk makalah dengan merumuskan beberapa judul/topik. Mochtar Kusumaatmadja. 22 Lihat Pasal 8 PP Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia telah diubah dengan PP No. Bandung: Binacipta. Bandung: Alumni. 2007. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia (Maore masuk dalam titik 35 dan 36 sedangkan Miangas dalam titik 38 dan 39). Hukum Laut Internasional. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Agoes. Rights Over Natural Resources: The Indonesian Experience. 1978. Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia (Maore masuk dalam titik 35 dan 36 sedangkan Miangas dalam titik 38 dan 39). yang meliputi bangunan permanen terluar yang merupakan bagian integral sistem pelabuhan sebagai bagian dari pantai. garis pangkal untuk mengukur lebar laut territorial adalah garis-garis lurus sebagai penutup daerah pelabuhan. Lihat Pasal 7 PP Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia telah diubah dengan PP No.99 lurus tidak dapat diterapkan karena adanya kuala pada muara sungai. 2.21 c. Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf.

Selanjutnya. Hak lintas damai. B. Uraian Untuk itu uraian selanjutnya akan memberi gambaran tentang bagaimana ketentuan-ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 mengatur ketiga jenis hak lintas bagi kapal-kapal asing tersebut secara umum. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik: 1. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu ke 6 bahwa mahasiswa dapat menjelaskan pengaturan hukum tentang lintas pelayaran internasional di wilayah perairan Indonesia. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu kemampuan mengemukakan dan menjelaskan fakta mengenai lintas pelayaran. Hak lintas alur laut kepulauan. Hak lintas transit. studi kasus dan diskusi kelas. Sasaran pembelajaran hendak dicapai dengan strategi pembelaran berupa kuliah interaktif. 1. zaman dahulu dapat dikatakan hanya ada satu pola pandangan terhadapa kegunaan laut sebagai alat transportasi dan komunikasi. kehadiran kapal-kapal asing pada jalur-jalur perairan sepanjang pantai menimbulkan suatu akibat yang menganggu kedudukan negara pantai sebagai .100 BAB 7 BAHAN PEMBELAJARAN 6 A. mengidentifikasi ketiga jenis pengaturan tersebut dengan selat-selat yang berada dalam perairan Indonesia. HAK LINTAS DAMAI Perluasan jurisdiksi nasional atas laut dan tantangan yang timbul terhadap hal tersebut dari negara–negara maritim yang ingin mempertahankan prinsip keebebasan dilautan. ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta terkait lintas pelayaran serta partisipasi individual dalam diskusi kelas. dan 3. merupakan pokok sengketa yang fundamental dalam masalah penggunaan laut. 2.

Namun. dua kepentingan yang berada tersebut akhirnya dicoba untuk diselesaikan melalui rumusan pasal–pasal 14 s/d 23 dari KHL I tentang Laut Teritorial dan jalur tambahan (untuk selanjutnya disebut sebagai Konvensi Laut Teritorial 1958). Ketentuan tersebut juga merumuskan wewenang yang diberikan kepada negara pantai untuk mengatur pelaksanaannya. Salah satu kelemahan atau kegagalan KHL I ini adalah bahwa rejim hak lintas damai yang dihasilkannya dianggap tidak memadai untuk dipakai mengatur pelayaran didunia dewasa ini. Pada KHL I di Jenewa tahun 1958. yaitu pemberian suatu hak kepada kapal-kapal asing untuk melintasi wilayah laut yang berada dalam juridiksi (dan dengan demikian kedaulatan) suatu negara dengan pembatasan–pembatasan tertentu. serta dasar laut dan tanah dibawahnya. Rancangan Pasal-pasal yang dihasilkan oleh Konperensi ini kemudian dipakai oleh panitia Hukum Internasional sebagia rancangan pasalpasal untuk disampaikan pada Konprensi laut hukum Jenewa 1958 . Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958 telah memperkuat kedaulatan negara pantai atas laut territorialnya. dalam bentuk aturan umum tentang hakhak kapal asing.101 suatu negara yang berdaulat. Rancangan Pasal 24 tentang lintas bagi kapal perang ini ditolak. . Kompromi yang dihasilkan dari adanya pertentangan diantara dua kepentingan yang sama kuatnya ini akhirnya melahirkan suatu doktrin baru yang lahir dalam bentuk konsepsi lintas damai. termasuk ruang udara diatasnya. terutama karena konfrensi tidak berhasil merumuskan ketentuan-ketentuan tentang lintas oleh kapal perang. Sayangnya. Sebetulnya masalah lintas bagi kapal perang melalui laut terrtorial suatu negara telah menjadi bahan pembicaraan pada konferensi Kodifikasi Deg Haag tahun 1930. Oleh karenanya hak lintas damai bagi kapal perang tidak akan dapat ditemui dalam naskah konvensi. karena gagal mencapai dukungan mayoritas suara yang diperlukan. Kebijakan umum yang berkembang kemudian adalah untuk sedapat mungkin untuk mengadakan pembatasan terhadap kehadiran atau kapal-kapal asing pada wilayah laut yang terletak berdampingan dengan pantai suatu negara. kedaulatan Negara pantai ini masih dibatasi oleh ketentuan–ketentuan Konvensi itu sendiri maupun ketentuan-ketentuan hukum Internasional lainnya.

yang menetapkan bahwa kertentuan-ketentuan tentang hak lintas damai di laut territorial (seksi 3. hak lintas damai ini hanya dapat diterapkan pada: (1). dengan membedakan pengaturan bagi kapalkapal asing ke dalam tiga kategori : (1) (2) Semua jenis kapal (pasal 17 – 26). Bagian II) juga berlaku pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Ketentuan– ketentuan tentang hak lintas damai dalam Konvensi Hukum Laut 1982 tetap mempertahankan bentuk yang sama seperti dalam Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958. . yang apabila pada sisi kearah laut pulau itu terdapat suatu rute melalui laut lepas atau melalui suatu zona ekonomi ekslusif yang sama fungsinya bertalian denga sifat-sifat navigasi dan hidrografis (untuk selanjutnya akan disebut sebagai “selat dengan kategori Pasal 38 ayat 1)”. terlebih dahulu memerlukan izin Negara pantai. naskah Pasal 24 ini sebenarnya berisi ketentuan yang menetapkan bahwa kapal perang asing yang hendak lewat di laut territorial.102 Menurut Mochtar Kusumaatmadja. atau sedikit-dikitnya harus terlebih dahulu memberitahukan maksudnya tersebut kepada negara pantai.Selat yang dikecualikan dari ketentuan Pasal 37. Akibatnya Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958 ini tidak memuat satu ketentuan apapun tentang lintas damai bagi kapal perang. Selat –selat yang terletak antara bagian laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dan laut territorial suatu Negara asing (untuk selanjutnya akan disebut sebagai “selat dengan kategori Pasal 45 ayat 1(b)”). Ketentuan diatas menetapkan juga bahwa hak lintas damai dapat diterapkan pada selat-selat dimana lintas transit tidak berlaku. 2. dan (3) kapal–kapal perang dan kapal–kapal pemerintah lainnya yang dioperasikan untuk tujuan non-komersial (pasal 29-32). Menurut kententuan Pasal 45 selanjutnya. Kapal-kapal dagang dan kapal-kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan komersil (pasal 27 – 28). Satu-satunya ketentuan mengenai Hak lintas damai bagi kapal–kapal asing melalui selat yang digunakan untuk pelayaran Internasional secara umum diatur dalam pasal 45. yaitu selat yang terletak antara suatu pulau dan daratan utama Nnegara yang berbatasan dengan selat.

kriteria damai bagi suatu lintasan ditetapkan sebagai so long as it not prejudicial to the peace. Kegiatan riset atau survey. (11). (7). adalah sebagai berikut: (1). (4). (3). Peluncuran. imigrasi atau saniter Negara pantai. Arti dan Maksudnya Dalam konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958. Konsepsi yang sama masih dapat ditemukan dalam pasal 19 dari Konvensi Hukum Laut 1982.103 a. (8). Setiap latihan atau praktek dengan senjata macam apapun. Peluncuran. pendaratan atau penerimaan setiap pesawat udara diatas kapal. atau dengan cara lain apapun yang merupakan pelanggaran asas hukum internasional sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB. (2). . Bongkar atau muat setiap komoditi. bea cukai. Setiap perbuatan propaganda yang bertujuan mempengaruhi pertahanan dan keamanan negara pantai. Setiap perbuatan propaganda yang bertujuan mempengaruhi pertahanan dan keamanan Negara pantai. Menurut pasal 19 ayat 2. pendaratan atau penerimaan setiap peralatan dan perlengkapan militer. good order or security of the coastal state. fiskal. Setiap ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan. ketertiban dan keamanan Negara pantai. Setiap perbuatan yang bertujuan mengganggu setiap system komunikasi atau setiap fasilitas atau instalasi lainnya Negara pantai. lintasan dianggap membahayakan perdamaian. (5). keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara pantai. Setiap perbuatan pencemaran dengan sengaja dan parah yang bertentangan dengan ketentuan Konvensi ini. mata uang atau orang secara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. (10). Perbedaanya baru dapat ditemukan dalam bagian berikutnya yang merinci tentang kegiatan kegiatan yang dianggap tidak damai. (9). (6). Setiap kegiatan perikanan.

Konvensi Hukum laut 1982 juga menjamin hak lintas damai bagi semua jenis kapal. Pasal 19 ayat 2 ini lebih menegaskan hubungan antara kegiatan-kegiatan tersebut dengan Negara pantai. Setiap kegiatan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan lintasan. memberikan suatu formula tentang sifat damai dari suatu lintasan sebagai tidak Prejudical to the peace. kecuali sesuai dengan ketentuan tentang kekecualian ini. Mengadakan diskriminasi formal atau diskriminasi nyata terhadap kapal yang mengankut muatan ke. ketentuan yang paling akhir (Pasal 19 ayat 2(1)). Dengan demikian satu-satunya wewenang yang tinggal pada negara pantai dalam hal ini adalah untuk mengambil langkah langkah yang diperlukan untuk . Meskipun usaha untuk lebih memantapkan ketentuan-ketentuan tentang lintas damai ini ditujukan untuk mendapatkan pengaturan yang lebih objektif.104 (12). Formula ini menurut Burke memerlukan perubahan yang more precise and less susceptible to the discretionary power of the coastal state. Hal yang terakhir ini dapat dilakukan pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Pasal 14 konvensi jenewa tentang Laut territorial dan Jalur Tambahan 1958. good order or security of the coastal state. Pasal 24 membebani Negara pantai dengan suatu kewajiban untuk tidak menolak dan menghalangi lintas damai. Dibandingkan dengan ketentuan pasal 14 tersebut diatas. atau (2). Disamping itu. Formula ini mengehendaki suatu pembuktian oleh Negara pantai bahwa lintasan yang akan dilakukan dapat merugikan Negara pantai. Menetapkan persyaratan-persyaratan bagi kapal asing yang secara praktis akan mengakibatkan penolakan atau paengurangan atas hak lintas damai. melalui suatu pedoman dalam bentuk daftar kegiatan yang dapat dipakai oleh Negara pantai untuk menentukan tentang sifat damai dari suatu lintasan oleh kapal asing. dari atau atas nama negara mana pun. Kegiatan-kegiatan yang dilarang tersebut diatas ditujukan untuk mencegah kegiatan–kegiatan yang berbau militer. Negara pantai tidak dibenarkan untuk : (1). dapat menimbulkan tafsiran yang subjektif.

Seperti telah diuraikan di atas adalah kurang tepat untuk menganggap penangguhan sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh negara pantai. Peraturan perundang-undangan tersebut tidak boleh mengatur tentang desain.105 mencegah lintasan yang tidak damai. (6). apa saja yang dapat dilakukan oleh negara pantai? b. Perlindungan kabel dan pipa laut. dan pencegahan pengurangan dan pengendalian pencemaran. Konservasi kekayaan hayati laut. fiskal. pengawakan atau peralatan kapal-kapal asing. Hak dan kewajiban Negara Pantai Pasal 21 memberi wewenang kepada negara pantai untuk menyusun peraturan perundang-undangannya. (4). Ketentuan ini ditujukan utnuk mencegah agar Negara pantai tidak menetapkan suatu standar bagi bentuk atau jenis kapal dan tidak memaksakan suatu persyaratan bagi pengawakannya. (3). Lalu. kecuali kalau hal tersebut dilakukan sebagai pelaksanaan dari suatu peraturan atau standar internasional yang diterima secara umum. (7). Penelitian ilmiah kelautan dan survey hidrografi. mengenai: (1). Pencegahan negara pantai. (5). kontruksi. Kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam padal 24. (2). Wewenang yang diberikan kepada Negara pantai tersebut dibatasi dalam beberapa hal yaitu : (1). Keselamatan pelayaran dan pengaturan lalu-lintas maritim. Pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan Negara pantai dibidang bea cukai. (2). Konvensi sendiri tidak memberikan suatu batasan atau pedoman pelaksanaan bagi ketentuan tersebut. Perlindungan atas sarana bantu navigasi dan fasilitas navigasi serta fasilitas – fasilitas dan instalasi lainnya. (8). Pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional jelas hal itu tidak diperkenankan. imigrasi dan saniter. Juga bagi tanker-tanker dan kapal- . pelanggaran peraturan perundang-undangan perikanan Menurut Pasal 22 negara pantai juga diberi wewenang untuk menetapkan alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas. Pelestarian lingkungan negara pantai.

Negara pantai juga dibebani dengan kewajiban untuk menjaga agar pelaksanaan hak lintas damai oleh kapal-kapal asing tersebut tidak dikurangi atau dihalangi oleh peraturan perundang–undangan atau persyaratan–persyaratan yang ditetapkan oleh negara pantai. seperti tercantum pada ayat–ayatnya.dan Kepadatan lalu lintas. Di samping itu setiap kapal yang sedang melakukan lintasan wajib untuk mematuhi peraturan perundangundangan Negara pantai yang ditetapkan untuk melaksanakan hak lintas damai tersebut. Peraturan perundang-undangan tersebut meliputi antara lain pengaturan tentang keselamatan pelayaran. sifat-sifat khusus dari kapal-kapal dan alur-alur terterntu. dapat mewajibkan untuk menggunakan alur-alur laut yang ditetapkan khusus untuk itu. Disamping hal-hal tersebut diatas. Akan tetapi apabila perbuatan yang dianggap suatu pelanggaran tersebut tidak ada kaitannya dengan ketentuan tentang pengertian lintas damai. Negara pantai dapat mencegah pelaksanaan lintas tadi. Rekomendasi yang diberikan oleh organisasi internasional yang berwenang. Kewajiban kapal pada waktu melakukan lintasan Pada garis besarnya kewajiban kapal pada waktu melakukan lintasan sudah tercakup dalam pengertian lintasan damai yang diberikan oleh pasal 19 ayat 1. alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas. Negara pantai juga tidak dibenar–benarkan untuk membeda-bedakan kapal-kapal asing satu sama lainnya negara pantai diwajibkan untuk mengumumkan secara tepat segala hal yang diketahuinya akan membahayakan pelayaran. (2). c. yaitu bahwa Negara pantai diminta untuk memperhatikan.106 kapal yang mengangkut bahan-bahan nuklir. jadi bukan . yang kemudian secara rinci digambarkan dalam bentuk kegiatan–kegiatan yang terlarang. Dalam hal penetapan alur laut dan skema pemisah lalu lintas untuk pelaksanaan hak lintas damai ini. ada satu hal yang cukup menarik. pencemaran. (3) (4) Setiap alur yang biasa digunakan untuk pelayaran internasional. (1). atau bahan-bahan yang berbahaya lainnya. Apabila suatu kapal melakukan perbuatan yang apabila dihubungkan dengan pengertian lintas damai tersebut diatas merupakan suatu pelaggaran terhadap ketentuan tersebut.

Kapal selam serta alat-alat angkut dibawah air lainnya diharuskan untuk berlayar dipermukaan air. Kapal – kapal bertenga nuklir dan kapal-kapal yang mengangkut bahan–bahan nuklir maupun bahan– bahan lainnya dapat diminta untuk berlayar melalui alur laut yang ditetapkan khusus untuk itu. dan mengibarkan benderanya. Berbeda dengan konvensi Jenewa tentang laut territorial dan jalur tambahan 1958. maka keragu-raguan tersebut berhasil dihapuskan dalam konperensi Hukum Laut III. dapat mengakibatkan penggusiran kapal tersebut dari laut territorial atau selatnya. Meskipun kapal–kapal perang mempunyai imunitas yang dijamin oleh konvensi ini. Konvensi Hukum Laut 1982 menjamin hak lintas damai bagi semua jenis kapal asalakan kapal yang melakukan lintasan tersebut tidak melakukan salah satu perbuatan yang dilarang oleh pasal 19 ayat 2 (b). Yang diakibatkan oleh tidak dipatuhinya peraturan perundang– undangan tersebut. namun tidak lepas dari kewajiban untuk mematuhi peraturan perundang-undangan Negara pantai tentang pelaksanaan hak lintas damai. Meskipun telah diberi peringatan terlebih dahulu. khususnya mengenai latihan atau praktek dengan menggunakan senjata macam apapun. Disamping itu. Konvensi Hukum laut 1982 memberikan perhatian yang cukup untuk membicarakan masalah hak lintas bagi kapal perang. ketentuan–ketentuan konvensi itu sendiri. Selain dari itu. Ketentuan tersebut tampaknya disediakan untuk mengakomodasikan kekhawatiran Negara pantai akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kapal–kapal jenis demikian. maupun terhadap peraturan perundang-undangan negara pantai pada umumnya. . maupun ketentuan– ketentuan hukum internasional lainnya. Negara mantai mempunyai wewenang untuk memerintahkan kapal tersebut untu meninggalkan laut teritorialnya (yang dalam hal ini selat). Negara pantai tidak mempunyai hak untuk mencegahnya. apabila terbukti suatu kapal perang melakukan pelanggaran terhadap peraturan tersebut.107 merupakan hal yang dilarang oleh ketentuan pasal 19 ayat 2. Negara bendera dari kapal perang atau kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan yang non komersial. bertanggung jawab atas segala kerugian atau kerusakan yang diderita oleh negara pantai. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut khususnya. apabila pada tahun 1958 Konperensi Hukum Laut I masih ragu–ragu untuk membicarakan masalah itu.

meskipun telah diberi peringatan. Kesimpulan Dari uraian tersebut dinatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri utama dari hak lintas damai bagi kapal asing pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional adalah: (1). (6). HAK LINTAS TRANSIT Hak lintas transit bagi kapal-kapal melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional diatur dalam seksi 2 dari bagian III (pasal 37-44). menurut pasal 22 apabila dianggap perlu Negara pantai dapat menetapkan alur laut khusus bagi lintasan oleh kapal nuklir dengan alasan untuk menjamin keselamatan pelayaran. Negara pantai mempunyai wewenang terbatas untuk mengatur lintas damai. Namun dalam hal ini. negara pantai tidak dapat mencegah kapal tersebut untuk melaukan lintasan. . d. (3).108 Konvensi hukum laut 1982 ini dengan demikian telah berhasil menetapkan sesuatu pengaturan yang lebih jelas tentang pelaksanaan hak lintas damai. (5). Kapal selam harus berlayar dipermukaan air. (2). 2. Sebagai contoh misalnya. (4). Negara pantai dapat meminta kapal perang untuk meniggalkan selat apabila terbukti melakukan pelanggaran. Negara pantai mempunyai hak untuk mencegah lintasan yang tidak damai Tidak ada penangguhan terhadap pelakasanaan hak lintas damai pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. dan negara pantai tidak dibenarkan untuk mengurangi atau menghalangi pelaksanaan hak tersebut. hak lintas transit hanya diatur oleh Seksi 2 ini saja. Lintasan oleh kapal asing dianggap sebagai lintas damai selama tidak melakukan kegiatan–kegiatan yang dicantumkan dalam pasal 19 ayat 2. Satu hal yang masih belum jelas dalam hal ini adalah cara pelaksanaan hak tersebut dengan memperhatikan hak serta peraturan perundang–undangan negara pantai. Berlainan dengan hak lintas damai yang diatur oleh Bagian lain tentang lintas melalui laut territorial.

maupun bagi selat dengan kategori kedua. Bagi selat demikian. Pasal 34 mengakui bahwa selatr yang digunakan untuk pelayaran internasional berada dibawah kedaulatan penuh dari Negara pantai. Ruang Lingkupnya Perbedaan antara hak lintas transit dan hak lintas damai akan segera terlihat dengan jelas dalam ketentuan–ketentuan Seksi 2. strategis maupun ekonomis. khususnya Pasal 37 yang menetapkan bahwa: “This Section applies to straits which are used for international navigation between one part of the high seas or an exlusive economic zone and another part of the high seas or an exlusive economic zone. Selat–selat yang termasuk dalam kategori Pasal 38 ayat 1. meskipun demikian lintasan melalui wilayah perairan tersebut harus tunduk pada ketentuan-ketentuan bagian ini. yaitu yang terletak diatara laut lepas atau zona ekonomi ekslusif denga laut territorial suatu negara.109 a. Adalah kurang tepat untuk memberlakukan lintas transit bagi selat yang termasuk ke dalam kategori pasal 38 ayat 1. dan Selat-selat yang termasuk dalam kategori Pasal 45 ayat 1(b). Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksudkan dengan convenience disini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat-sifat navigasi dan hidrografis. . (2). Arti dan maksudnya Pasal 38 ayat 2 memberi pengertian tentang lintas transit sebagai pelaksanaan dari kebebasan pelayaran dan penerbangan berdasarkan bagian ini. transit passage shall not apply if there exist seaward of the island a route through an exclusive economic zone of similar convenience with respect to navigantional and hydrographical characteristics”.” Pemisahan pengaturan tentang lintas transit ini juga tampak dalam ketentuan pasal 34 yang menggambarkan dengan jelas perbedaan antara lintas damai dan lintas transit. berlaku hak lintas damai. yaitu bahwa pada selat yang : “…. b. ruang lingkup berlakunya ketentuan-ketentuan ini dikecualikan bagi : (1).Formed by an island of a State bordering the strait and its mainland. disamping juga pasal 39 yang menetapkan bahwa kapal dan pesawat udara harus mematuihi ketentuan–ketentuan dari bagian ini. Jadi apabila tidak tepat apabila ada Negara pemakai selat yang mengkehendaki diberlakukannya lintas transit karena alasanalasan militer. Terlebih-lebih karena pada arah laut tersedia rute yang sama fungsinya dilihat dari segi navigasi dan hidrografis.

Lintasan melalui selat tanpa berhenti dari kedua arah. Demikian juga. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa pada selat demikian hanya berlaku rejim lintas transit saja. pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional yang menghubungkan dua wilayah laut sebagaimana yang digambarkan dalam pasal 37. Dengan demikian lintas transit hanya berlaku untuk : (1). Lintasan dari Negara pantai melalui sebagian dari selat menuju ke laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. Persyaratan tersebut tidak menutup kemungkinan bagi kapal–kapal atau pesawat udara asing yang mempunyai maksud untuk memasuki. dalam lintas transit tidak ada keharusan untuk meminta izin maupun memberitahukan terlebih dahulu. (2). dan harus mematuhi ketentuan-ketentuan untuk memasuki negara tersebut. Meskipun demikian. faktor utama yang menentukan adalah kedudukan selat sebagai perairan yang menghubungkan satu bagian dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dengan bagian dari lain dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. Lintasan melalui sebagaian dari selat untuk memasuki atau meninggakkan Negara pantai. Berbeda dengan lintas damai. pasal 38 ayat 1 menjamin lintas perbedaan berdasarkan jenis ataupun kategori. meninggalkan atau kembali dari suatu negara yang berbatasan dengan selat tersebut. karena masih dimungkinkan juga berlakunya rejim lintas damai selama lintasan tersebut bukan merupakan salah satu dari ketiga bentuk lintasan tersebut diatas. Perlu diperhatikan bahwa untuk dapat disebut sebagai suatu lintas transit. maupun kewajiban untuk meminta izin maupun memberitahukan terlebih dahulu. .110 semata-mata untuk tujuan transit yang terus-menerus. dan (3). Dengan demikian lintas transit berlaku juga bagi kapal-kapal perang maupun pesawat udara militer. suaut lintasan harus dimulai dan/atau berakhir pada satu bagian dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. tidak terdapat persyaratan– persyaratan untuk pelaksanaan lintas itu sendiri. langsung dan secepat mungkin. Disamping itu. Oleh karena itu untuk dapat dianggap sebagai lintas transit. untuk lintas transit tidak ada perbedaan pengaturan berdasarkan jenis kapal.

(4). penghambatan atau pengurangan pelaksanaan hak lintas transit. (3). yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dari Negara tepi selat tentang bea cukai. Pencegahan. mata uang atau orang. (2). konvensi membebani negara pantai yang berbatasan dengan selat (Negara tepi selat) suautu kewajiban untuk tidak menghambat lintas transit. Bagi kepala penangkap ikan. Wewenang lain yang diberikan kepada Negara pantai adalah untuk menetapkan alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Hak dan kewajiban Negara Pantai Sesuai dengan ketentuan padal 44. pencegahan penangkapan ikan termasuk cara penyimpanan alat penangkap ikan. fiskal imigrasi atau seniter. yang dalam pelaksanaannya akan member akbit praktis sebagai penolakan. dan pengendalian pencemaran dengan melaksanakan peraturan internasional yang berlaku tentang pembuangan minyak.111 c. Di samping pembatasan-pembatasan tersebut diatas. Ketentuan–ketentuan pokok tentang hak negara pantai untuk menetapkan peraturan perundang-undangan tentang lintas transit tercantum dalam pasal 42. dengan persyaratan–persyaratan sebagai berikut : . Keselamatan pelayaran dan pengaturan lalu-lintas dilaut sebagaimana ditentukan oleh pasal 41. Meneaikkan keatas kapal atau menurunkan dari kapal setiap komoditi. yang terbatas hanya pada hal–hal sebagai berikut : (1). Karena hak lintas transit ini merupakan pelaksanaan dari kebebasan pelayaran. Disamping itu negara pantai juga harus mengumumkan dengan tepat setiap adanya bahaya bagi pelayaran maupun penerbangan yang diketahuinya. pengurangan. negara pantai tidak diperkenankan untuk menangguhkan pelaksanaannya. Negara pantai juga dikenakan persyaratan untuk tidak melakukan diskriminasi secara formal maupun nyata diatara kapal–kapal asing. limbah berminyak dan bahan beracun lainnya di selat.

Pasala 233 ini pada pokoknya memberikan wewenang pada negara pantai yang berbatasan dengan selat yang digunakana utntuk pelayaran internasional. Usul ini diaujukan oleh Malaysia mengingat pentingnya pengaturan seperti itu bagi Selat Malaka – Singapura. yang meskipun tidak termasuk ke dalam seksi 2 dari bagian III ini. Setiap penentuan atau pergantian alur laut dan skema pemisah lalulintas harus berdasarkan penerimaan oleh organisasi internasional yang berwenang dan disepakati bersama dengannya. Pasal 236 memberikan jaminan hak kekebalan (imunitas) bagi kapal-kapal perang dan kapal-kapal lainnya serta pesawat udara pemenrintah yang dioperasikan untuk tujuan yang non komersial. antara lain dengan menetapkan UKC (Under Keel Clearance) setinggi 3. . Khususnya mengenai tindakan-tindakan pencegahan pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. ketentuan pasal 233 tersebut tidak berlaku bagi kapal perang. Sesuai dengan ketentuan pasal 236. ketiga negara menegaskan lagi pentingnya hal tersebut yang kemudian juga mendapatkan dukungan dari beberapa Negara maritim. dan ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 tentang perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Harus sesuai dengan peraturan internasional yang diterima secara umum. Pada sidang Konperensi Hukum Laut III yang ke 11 tahun 1982. untuk memaksakana penataan oleh kapal-kapal asing terhadap peraturan perundang-undangan negara pantai mengenai keselamatan pelayaran dan pencegahan serta pengawasan pencemaran yang dibuat sesuai dengan ketentuan Pasal 42 ayat 1 (a) dan (b). (2). adalah ketentuan Pasal 233.112 (1). (3). terutama setelah ketiga negara tepi selat tersebut berhasil mencapai persetujuan bersama untuk mengatur lalu-lintas pelayaran pada wilyah tersebut. Pasal ini merupakan hasil usaha dari Malaysia yang didukung oleh Indonesia da Singapura.5 meter bagi kapal–kapal yang akan melintasi selat tersebut. yang disampaikan pada sidang keenam Konperensi sebelum dikeluarkannya naskah ICNT pada tahun 1977. Harus mencantumkannya secara jelas pada peta yang diumumkan sebagai mestinya.

refrain from any thereat or use of force against the sovereignty.113 Pasal 236 ini disusun dengan beberapa alasan. refrain from any activities other than those incident to their normal modes of continous and expeditious transit unless rendered necessary by force majeure or by distress. Hal ini sudah barang tentu merupakan suatu hal yang tidak dikehendaki untuk terjadi pada kapal-kapal perang. sebagai berikut : (a). or in any other manner in violation of the principles of international of law embodied in the charter of the united Nations. comply with other relevant provisions of this part. akan mengakibatkan dampak timbulnya wewenang Negara pantai untuk melakukan pemeriksaan. kepada kapal-kapal perayng yang mempunyai konfigurasi dan misi tertentu. Ketentuan–ketentuan tersebut di atas adalah ketentuan-ketentuan yang berlaku umum baik bagi kapal-kapal maupun pesawat udara. d. Selain dari itu dikhawatirkan bahwa apabila ketentuan tersebut diterapkan kepada kapal-kapal perang. (c). Disamping itu juga tidak . Pokok kedua menetapkan kewajiban bagi kapal-kapal dan pesawat udara untuk mengihindarkan diri dari penggunaan ancaman kekerasan atau kekerasan dalam bentuk apapun dalam bentuk kedaulatan. (b). Disamping itu kapal-kapal perang juga dianggap bukan merupakan jenis kapal yang dapat membahayakan lingkungan laut. keutuhan wilayah. territorial integrity or political independence of states bordering the strait. Pokok utama dari kewajiban tersebut adalah bahwa dalam melakukan lintasan harus berjalan tampa terhambat (delay). Kewajiban kapal pada waktu melakukan lintasan Kewajiban kapal-kapal dan pesawat udara pada waktu melaksanakan lintas transit diatur oleh Pasal 39 dan 40 Pasal 39 . atau kemerdekaan politik dari negara pada tepi selat. proceed without delay through or over the sraits.menguraikan secara rinci rangkaian kewajiban yang harus dipenuhi tersebut. (d). Adalah tidak tepat untuk menerapkan peraturan-peraturan internasional. misalnya saja berlayar mondar mandir tidak diperkenankan.

hanya kepada cara yang normal untuk melakukan lintasan yang langsung. Kewajiban-kewajiban khusus baik bagi kapal-kapal maupun pesawat udara tersebut diatas menunjuk kepada ketentuan-ketentuan atau standard yang telah diterima secara international bagi keselamatan pelayaran maupun penerbagangan. (b). Pasal 39 juga menetapkan ketentuan-ketentuan khusus yang berlaku bagi kapal. dan secepat mungkin. padal 39 dan 40 ini tidak .” Sedangkan bagi pesawat udara. Comply with generally accepted international regulations. terusmenerus. reduction and control of pollution form ships. state aircraft will normally comply with such safety measures and will at all time operate with due regard for the safety of navigation. yaitu untuk : (a). Pokok yang ketiga dari pengaturan ini menunjuk kepada kewajiban kepalkapal dan pesawat udara selama transit. yang tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian tanpa mendapat izin terlebih dahuludari Negara pantai. (b) at all times monitor the radio frequency assigned by the competent intenationally designet air traffic control authority or the apporiete international distress radio frequency. including the intenational regulation for preventing collisions at sea.114 diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan asas-asas hukum internasional sebagaiman yang tercantum dalam piagam PBB. Pasal 40 mengatur tentang kapal-kapal yang digunakan untuk penelitian ilmiah atau survey hidrografis. Keadaan force mejure atau apabila sedang dalam kesulitan. Sedangkan pokok yang terakhir menunjuk kepada kewajiban untuk mematuhi ketentuan-ketentuan lain dari bagian ini. dan secepat mungkin. untuk memusatkan kegiatan. procedures and practices for the prevention. Berbeda dengan ketentuan Pasal 19 tentang kegiatan-kegiatan yang dapat menyebabkan suatu lintasan menjadi tidak damai. comply with generally accepted international regulations. procedures and practices for safety at sea. kewajiban-kewajiban khusus itu berupa: (a) observes the rules of air established by the international civil aviation organization as they apply to civil aircraft.

yang digambarkan pada pasal 39 ayat 1 sebagai “lewat dengan cepat” (proceed without delay). apakah Negara pantai dapat melakukan suatu tindakan untuk mencegah atau menghalanginya? Kalau dihubungkan dengan ketentuan pasal 44. Negara pantai tidak mempunyai hak untuk menghalangi lintas transit yang dilakukan oleh kapal asing. Dalam keadaan demikian. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 39 dan 40 tersebut diatas. Pasal 39 tidak memberikan penjabaran seperti pasal 19.115 menetapkan jenis atau bentuk kegiatan yang akan menyebabkan suatu lintasan tidak merupakan lintasan transit. atau kembali kewilayah Negara tepi selat. dengan demikian tidak dapat dianggap sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ketentuan pasal 38 ayat 2. pengertian lintas transit menurut konvensi adalah pelaksanaan dari kebebasan pelayaran yang langsung. Akan tetapi apakah keadaan demikian tidak menutup kemungkinan bagi Negara pantai untuk bertindak? Tolak ukur yang dapat dipakai oleh negara pantai untuk menentukan apakah suatu lintasan tersebut dapat dianggap seabagai suatu lintas transit adalah : apakah lintasan tersebut dapat dianggap sebagai suatu lintasan “terus menerus dan langsung”. karena ke dalam pengertiannya tercakup kebebasan pelayaran dan penerbangan. Karena ketentuan serupa tidak ada dalam . pasal 25 ayat 1 justru secara pasti memberikan wewenang kepada Negara pantai untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah lintas yang tidak damai. Sebaliknya. Masalahanya kemudian adalah apakah suatu pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan pasal 39 dan 40 tersebut diatas dapat menyebabkan suatu lintasan menjadi bukan lintas transit. meskipun dikaitkan dengan suatu tujuan khusus untuk “transit secara terus menerus dan langsung” tersebut. terus menerus dan secepat mungkin. dan lintasan nya tetap akan dianggap sebagai lintas transit. apabila kapal yang sedang melakukan lintasan bermaksud untuk memasuki. jadi bukan merupakan lintas transit. atau meninggalkan. Apabila hal yang serupa terjadi dalam pelaksanaan hak lintas damai. atau apakah Negara pantai dapat melakukan tindakan-tindakan pencegahan? Kalau lintas damai memakai sebagi ukuruan adalah kegiatan kapal sewaktu melakukan lintasan . Lintasan oleh sebuah kapal yang tidak cepat dan terputus-putus dapat dianggap sebagai tidak continous.

116 pelaksanaan hak lintas transit.. this provision. Ada dua cara penafsiran yang dilakukan para ahli tersebut. masing-masing dengan interpretasinya sendiri. negara pantai tampaknya tidak mempunyai wewenang apapun untuk mencegah lintasan yang tidak memenuhi persyaratan Pasal 38 tersebut di atas.” Mengenai hal ini menarik untuk kita ikuti perbedaan penafsiran yang dilakukan oleh Jhon Norton MOORE dan Michael REISMAN. a factual question. including the legal environtment. Masalah Kapal Selam Suatu hal yang menarik dalam pengaturan tentang lintas transit ini adalah tidak adanya keharusan bagi kapal selam layar untuk berlayar dipermukaan air. this interpretation is forced and unreal.refrain from any activities other than those incident to their normal modes of continous and expeditious transit…. But in the text and in general. Disamping itu diberikan alasana lain bahwa salah satu kewajiban kapal selam adalah untuk “…. Masalah ini menimbulkan suautu perdebatan akademis yang cukup menarik diatanra pada ahli hukum laut. yang dalam perjalanan Konperensi Hukum Laut III mengambil bentuk baru yang sangat berlainan dengan Konperensi Hukum Laut Jenewa 1985. ‘in the normal mode’ would seem an . Dikemukakan oleh MOORE bahwa : “Taken alone as a textual issue without benefit of a textual setting or the negotiating context. but it also has normative and contextual. ” Keragu-raguan REISMAN tersebut dijawab oleh MOORE dengan mengemukakan cara lain untuk melakukan penafsiran. in part. kedua-duanya dari Amerika Serikat Resiman mengajukan suatu masalah seperti berikut : “Do the word ‘normal modes of continous and expedettious transit’ in article 39 (1) (c) amount to a non suspandable license to traverse straits submerged? In order to reach this result ‘normal mode must be construed as non contextual’ non normative.hal ini jelas berbeda dengan ketentuan pasal 20 tentang lintas damai uang pelaksanaannya juga berlaku bagi lintas damai melalui selat. Modeles of transit of different vessels is. maka bagi kapal selam tidak ada keharusan untuk berlayar dipermukaan air. and permanently vessel specific. Kewajiban seperti itu tidak ada dalam bagian 2 ini. e. Di satu pihak ada yang berpendapat bahawa dalam pelaksanaan lintas transit sifat lintasan tersebut adalah lintasan bebas.

however. Di lain pihak seorang sarjana lain KL KOH menganalisa masalah ini secara berbeda. Pasal 39 ayat 1(b) mewajibkan kapal untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang menimbulkan ancaman atau menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun dalam Negara pantai.” Oleh karena itu perlu diperhatikan konteks dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal lain. Menurut pendapatnya yang menjadi pokok masalah dalam hal lintas oleh kapal sealam adalah kenayataan dalam pengaturan lintas damai ada keharusan bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air kedalam ketentuan-ketentuan bagi lintas damai.117 unsatisfactory basis on which to rely for a right of submerged transit. atau tapatnya tidak mencantumkannya dalam ketentuan-ketentuan tentang lintas transit. mungkin dapat ditarik . walaupun tidak ada keharusan untuk itu. MOORE mengajukan agar “recourse may be had to the negotiating context. which I believe makes abundantly clear that this pharase includes submerged transit”. tidak mungkin dilakukan apabila kapal selam tersebut berlayar dibawah permukaan air. which only an incidental indication of its exsistence. demi keselamatan pelayaran kapal selam akan “terpaksa” berlayar dipermukaan air. akan tetapi Koh juga tidak menyangkal suatu kemungkinan bahwa pada wilayah perairan tertentu. Seperti juga halnya MOORE dan REISMAN.” Oleh karena itu dalam penafsiran demikian. dan kemudian mengeluarkannya. are not rooted in this provision. Dengan menggunakan alasan ini. Lebih lanjut menurut KOH “The argument of inclusion and exelsio cannot ipso facto suffice to lend the interpretation that submerged passage was clearly contemplated by the drafters. the most important textual bases for such a right. Alasan demikian dapat dipakai oleh Negara pantai untuk berargumentasi bahwa dalam memantau apakah pada waktu melaksanakan lintasannya suatu kapal selam tidak menimbulkan ancaman atau menggunakan kekerasan terhadap Negara pantai. Argumentasi tentang ada atau tidaknya keharusan untuk berlayar dipermukaan air ini dapat juga dilihat dari sudut lain. KOH pun memakai ketentuan Pasal 39 ayat 1 (c) dan pasal 87 untuk memperkuat kesimpulannya bahwa konfensi hukum laut 1982 tidak mengenal adanya kewajiban bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air pada waktu melaksanakan hak lintas transit.

HAK LINTAS ALUR LAUT KEPULAUAN Konsepsi perairan kepualuan (archipelagic waters) merupakan konsepsi baru yang dimuat dalam konvensi hukum laut 1982. Kapal perang diwajibkan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan Negara pantai mengenai hak lintas transit. Hak lintas penerbangan bagi pesawat-pesawat udara diakui. f. pasa 39 ayat 1 ini merupakan ketentuan yang berisi kewajiban bagi kapal-kapal selama melakukan lintas transit. Kesimpulan Pada akhirnya dapat disimpulkan disini bahwa pokok-pokok utama pengaturan tentang hak lintas transit bagi kapal asing melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional adalah sebagai berikut : (1) tidak terdapat persyatatan – persyaratan dalam bentuk kegiatan-kegiatan tertentu bagi kapal-kapal yang melakukan lintasan. Selanjutnya menurut MORE. seperti kemukakan oleh MORE. Tidak ada penangguhan terhadap hak lintas transit. (3). (9). bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pelaksanaan lintas transit pada Negara pantai. (5). (6). Berdasarkan imunits kapal perang. (8). (7). Akan tetapi. ketentuan-ketentuan tentang pencegahan pencemaran dan pelestarian lingkungan laut tidak berlaku bagi kapal-kapal perang. Tidak ada keharusan untuk meminta izin atau memeberitahukan terlebih dahulu. Sebelumnya wilayah-wilayah . Tidak ada keharusan bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air. 3. agar memudahkannya untuk memantau lintasan oleh kapal selam tersebut.118 kesimpulan bahwa ada keahrusan bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air. Negara bendera kapal atau tempat terdaftarnya suatu pesawat udara. ketentuan tersebut tidak dengan begitu saja menimbulkan hak bagi Negara pantai untuk meminta agar kapal selam berlayar diatas permukaan air. Negara pantai tidak berhak untuk menghalangi atau mencegah lintasan yang dilakukan oleh kapal-kapal asing. (2). (4).

pasal ini menyebutkan adanya keharusan bahwa lintas pelayaran atau penerbangan tersebut hanya dimaksudkan untuk suatu lintasan yang terus menerus. dan ketentuan tentang hak lintas transit yang memberikan wewenang terbatas kepada Negara pantai untuk menaturnya. Pokok ketiganya menetapkan bahwa lintasan tersebut harus dilakaukan antara satu bagian dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dengan bagian lain dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dengan bagian lain dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. expeditious and unobstructed transit between one part of the high seas or an exlusive economic zone and another part of the high seas or an exlusive economic zone. hanya terbatas pada laut territorial dan selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. arti dan maksudnya Jika dibandingkan dengan ketentuan tentang hak lintas damai yang memeberikan batasan dalam bentuk larangan untuk melakukan kegiatan–kegiatan tertentu. dan disebut perairan kepualaun ini kapal-kapal asing selain mempunyai hak untuk melakukan lintas damai juga berhak untuk melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan (archipelagic sealanes passages). . Perbedaannya tampak pada pembebanan persyaratan-persyaratan bagi pelaksanaan kedua macam lintasan bagi kapal asing tersebut. seabgai berikut : “Archipelagic sealens pessage means the exescise in accordance with this Convention of the rights of navigations and overflight in the normal mode solely for the purpose of continous.119 perairan dimana Negara pantai harus memberikan akomodasi dalam bentuk hak untuk melakukan lintasan bagi kapal-kapal asing. Konvensi hukum Laut 1982 menyebutkan bahwa kedaulatan dari suatu Negara kepulauan (archipelagic baselines) yang ditarik pada ketentuan pasal 47. Kedua. a. langsung. yang dilakukan dalam cara normal. secepat mungkin dan tidak terhalang. ” Jadi pokok utama dari pengaturan tentang hak lintas alur laut kepualauan adalah bahwa lintasan ini selain dalam bentuk lintas pelayaran juga mencakup lintas penerbagan. maka Pasal 53 ayat 3 Konvensi Hukum Laut 1982 memberikan pengertian bagi hak lintas alur laut kepualauan. Kalau diperhatikan pengertian ini lebih mendekati pengertian yang diberikan oleh Konvensi terhadap hak lintas Transit.

hak lintas alur laut kepualauan lahir sebagai suatu kompromi (trade off) antara Negara sedang berkembang dengan Negara-negara maritim. sedangkan dilain pihak. dan merupakan kepentiangan bersama masyarakat internasional. Konsepsi Negara kepulauan (archipelagic state) menurut Hasjim Djalal. disatu pihak Negara pantai. dalam hal ini Negara kepulauan. Disatu pihak. Konsensepsi tersebut dianggap “mengambil” sebagai besar dar wilayah laut yang tadinya merupakan bagian dari laut lepas. Kapal-kapal diwajibkan melakukan lintasan-lintasan yang mempunyai tujuan yang serupa dengan hak lintas transit. diwajibkan untuk tidak menghalangi pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan kerena ini merupakan bagian dari pelayaran internasional.120 Dalam pelaksanaan hak lintas transit. serung dituduh bertentangan dengan kepentingan umat manusia. hak lintas transit diartikan sebagai pelaksananaan dari kebebasan pelayaran. Negara kepulauan dibebani kewajiban untuk menjamin bahwa lintasan tersebut “tidak terhalang”. Dilain pihak ketentuan tentang hak lintas alur laut kepulauan ini meletakkan beban persyaratan baik kepada kapal-kapal yang melakukan lintasan maupun kepada Negara kepaulauan itu sendiri. Masalah lintas melalui selat uang digunakan untuk pelayaran internasional dan lintas melalui perairan kepulauan mempunyai latar belakang yang sama. Ironisnya. Dilain pihak pasal pasal 49 ayat 4 memeberikan jaminan bahwa hak lintas alur laut kepualauan ini tidak akan mempengaruhi pelaksanaan kedaulatan Negara kepualauan untuk mencegah pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan merupakan hal yang membawa akibat bagi kedaulatan Negara kepualauan itu sediri? Perbedaan lain yang tampak adalah pada pengertian tentang lintasan. kapal-kapal asing dibebani persyaratan “transit yang terus menerus dan langsung”. Disini terlihat bahwa pada dasarnya ketentuan-ketentuan tentang hak lintas bagi kapal-kapal yang dirumuskan kedalam Konvensi Hukum laut 1982 ini merupakan suatu usaha kompromi. Oleh karena itu perluasan yurisdiksi . lintas alur laut kepualauan diartikan sebagai hak pelayaran (berlayar) Kalau kita tinjau sejarah penyusunan Konvensi Hukum Laut 1982 sama dengan proses perumusan hak lintas transit. yaitu terus menerus dan langsung untuk memungkinkan kapal-kapal melakukan haknya tersebut.

Kekhawatiran ini terletak pada masasalah status hukum dari perairan yang sekarang tertutup oleh garis pangkal. Usul tersebut dengan segera menimbulkan reaksi dari negara–negara maritim. yang dinamakan perairan kepulauan tersebut. Usul tersebut dengan segera menimbulkan reaksi dari negara-negara maritim. Pada akhirnya kelompok negara-negara kepulauan mengusulkan agar pengaturan yang diterapkan adalah dalam bentuk pengaturan yang bersifat dualistis. Perbedaannya adalah bahwa negara-negara maritim mengusulkan agar rejim lintas yang berlaku pada alur-alur laut khusus tersebut bukannya hak lintas alur . Usul ini kemudian berkembang menjadi suatu gabungan antara pengaturan dilaut territorial dan perairan pedalaman. hak lintas damai dijamin pada perairan kepualauan. sikap Negara-negara maritim pu berkembang dan bergerak sehingga mencapai pandangan yang hampir mendekati pandangan Negara-negara kepulaauan. Sudah dapat diduga bahwa negara-negara maritim tetap berusaha untuk mempertahankan hak lintas bebas bagi kapal-kapalnya dalam perkembangannya kemudian. kecuali pada alur-alur khusus di mana akan berlaku hak lintas alur laut kepualauan. Pada Konvensi Hukum Laut III perundingan tentang Negara kepulauan dimulai dengan munculnya usul dari negara-negara kepulauan agar pada perairan kepualauan tersebut berlaku rejim hak lintas damai bagi kapal-kapal asing seperti pada laut territorial.121 nasional yang dilakukan oleh Negara sedang berkembang ini dianggap telah “menggerogoti”prinsip kebebasan dilautan (freedom of the seas). Pada lahirnya kelompok negara-negara kepulauan mengusulkan agar pengaturan yang diterapkan adalah dalam bentuk pengaturan pada selat yang digunakan untuk pelayaran inernasional. Argumentasi yang muncul kemudian dari negara-negara maritim adalah bahwa konsepsi Negara kepulauan ini akan menganggu (kelancaran) pelayaran internasional. kecuali pada alur-alur khusus dimana berlaku hak lintas laut kepualauan. Seperti pengaturan pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. hak lintas damai dijamin pada perairan kepulauan. yaitu berupa pembentukan suatu rejim yang dualistis juga. dengan pengertian bahwa hak lintas damai akan dijamin pada alur-alur laut yang akan ditetapkan oleh NegarK.

Harus mengumumkan secara tepat setiap adanya bahaya bagi pelayaran maupun penerbangan yang diketahuinya. Dalam menetapkan peraturan perundang-undangan ini. yaitu : (1).122 laut kepualauan melainkan hak lintas bebas. imigrasi dan saniter. Pada akhirnya hasil yang dicapai tidak jauh bebeda dengan perundingan tentang rejim pelayaran melaui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Tidak diperkenankan untuk melakukan penangguhan pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan. the prevention of fishing. dan (3). Sesuai dengan ketentuan Pasal 54 itu pula Negara kepulaan dapat menetapkan peraturan perundang-undangan untuk mengatur pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan oleh kapal-kapal maupun pesawat udara asing. fiscal. oily wates and other noxious substance in the strait. immigration or sanitary laws and regulations of States bordering straits. Wewenang Negara pantai ini terbatas hanya pada : (a). as provided in article 41. Tidak menghambat pelaksanaan lintas alur laut kepulaan . yaitu melainkan ketentuan-ketentuan tentang hak lintas damai Pasal 52 dan hak lintas alur laut kepulauan pasal 53 b. (d) the loading and unloading of any commodity. . pencegahan penangkapan ikan. Ketentuan di atas membatasi wewenang Negara kepulauan hanya pada pengaturan empat masalah utama. (2). Hak dan kewajiban Negara kepulauan Seperti halnya dalam pengaturan tentang hal lintas transit melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. the safety of navigation and regulation of maritim traffic. (c) with respect to fishing vessels. serta beacukai. including the stowage of fishing gear. the prevention. currency or person in contravention of the customs. reduction and control of pollution. yaitu pelayaran. (b). by giving the effect to applicable international regulations regarding the discharge of oil. ketentuan Pasal 44 tentang kewajiban negara pantai berlaku juga bagi Negara kepualauan menurut ketentuan ini Negara Kepualauan mempunyai tiga kewajiban pokok. pencegahan dan pengendalian pencemaran.

Disamping itu Negara Kepulauan juga diberi wewenang untuk menetapkan skema pemisah lalu-lintas bagi keselamatan lintasan oleh kapal-kapal asing pada bagian-bagian yang sempit dari alur-alur tersebut. Negara kepualauan diberi wewenang untuk menetapkan alur-alur laut dan rute penerbangan demukian harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut : (1). penghambatan. Perubahan atau pergantian tersebut harus terlebih dahulu diumumkan sebagaimana mestinya. Harus melalui perairan kepualauab dan laut territorial yang berbatasan dengannya. Merupakan rute-rute lintasan yang biasa digunakan untuk pelayaran dan penerbangan internasional. Harus sesuai dengan aturan internasional yang diterima secara umum. (2). Mencakup semua alur navigasi yang biasa digunakan oleh kapalkapal. atau pengurangan terhadap pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan. Seperti juga dalam pelaksanaan hak lintas transit melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. (4). Apabila diperlukan Negara Keperluan dapat mengubah atau mengganti alur-alur laut maupun skema pemisah lalulintas yang telah ditetapkannya. (2). (3). . apabila dalam prakteknya hal tersebut akan mengakibatkan penolakan. Setiap penetapan atau penggantian tersebut harus berdasarkan kepada penerimaan oleh organisasi internasional yang berwenang dan disepakati bersama dengan Negara Kepulauan.123 Negara kepulauan tidak diperkenankan untuk bersikap diskriminatif dengan membeda-bedakan pengaturan dari kapal-kapal dan pesawat udara asing antara satu dengan yang lainnya. apabila dengan prakteknya hal tersebut akan mengakibatkan dengan yang lainnya. sepanjang tidak mengakibatkan duplikasi bagi alur keluar dan masuk untuk satu arah yang sama. Dalam penetapan alur-alur laut dan skema pemisah lalu lintas tersebut. Ditetapkan melalui suatu rangkaian garis poros (garis sumbu) yang bersambungan dan membentang mulai dari titik-titik keluar rute lintasan tersebut. Negara kepulauan harus memenuhi persyaratan-persyaratan seperti dibawah ini: (1).

124 (3). Pada waktu melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan. Pasal 39 memberikan perincian tentang rangkaian kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh kapal-kapal dan pesawat udara. (2). ketentuan yang dapat dipakai adalah ketentuanketetuan dari padal 39 dan 40. hak dan kewajiban bagi kapal-kapal yang melakukan lintasan juga tunduk pada pengaturan yang sama seperti dalam pelaksanaan hak lintas transit. Harus mencantumkan secara jelas sumbu dari alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas yang telah ditetapkannya tersebut pada peta-peta yang harus diumumkan sebagaimana mestinya. (2). Dengan sendirinya setiap referensi terhadap “selat” harus diubah menjadi perairan tersebut. maka pelaksanaan hak tersebut dapat dilakukan melalui rute-rute yang biasa digunakan untuk pelayaran maupun penerbangan internasional. setiap kapal maupun pesawat udara diwajibkan untuk: (1). Dengan demikian hak ini juga dapat dinikmati oleh kapal-kapal perang maupun pesawatpesawat militer. yang dibedakan antara : (1). Lewat dengan cepat melalui atau diatas selat : Menghindarkan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan apapun terhadap kedaulatan. keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik Negara keterbatasan dengan selat. (3). Kewajiban-kewajiban yang berlaku bagi kapal-kapal dan Kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi oleh pesawat udara. Pokok utama dari pengaturan ini adalah bahwa semua kapal dan pesawat udara dapat melakukan hak lintas alur laut kepualauan melaului alur-alur laut dan rute penerbangan yang telah ditetapkan. Hak dan kewajiban kapal yang melakukan lintasan Sesuai dengan ketentuan pasal 54. c. Ketentuan–ketentuan tersebut di atas dibatasi lagi dengan satu ketentuan khusus dimana apabila Negara kepulauan tidak penetapkan alur-alur laut atau rute penerbangan bagi pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan ini. atau dengan cara lain apa pun yang melanggar . Mengenai hal ini. Kewajiban-kewajiban yang berlaku umum baik bagi kapal-kapal maupun pesawat udara.

yaitu : (1). Memenuhi ketentuan lain dari Bagian ini yang relevan. (3). (2). Bagi pesawat udara dikenakan ketentuan yang berbeda yaitu pada waktu melakukan hak lintas penerbangan di atas perairan kepulauan. Menghindarkan diri dari kegiatan apapun selain dari transit secara terusmenerus.125 asas-asas hukum internasional seperti tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa. (4). (2). prosedur dan praktek tentang pencegahan. Memenuhi peraturan internasional yang diterima secara umum. diharuskan untuk : (1). langsung dan secepat mungkin dalam cara normal. Setiap waktu memantau frekuensi radio yang ditunjuk oleh Otorita Pengawas Lalu Lintas Udara (Air Traffic Controller) yang berwenang yang ditetapkan secara internasional atau oleh frekuensi radio darurat internasional yang tepat. Pokok-pokok utama dari pengaturan yang dapat dirinci oleh ketentuanketentuan tersebut diatas dapat digambarkan dalam bentuk kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi baik oleh kapal-kapal maupun pesawat udara. pada waktu melakukan hak lintas alur laut kepulauan. yaitu untuk: (1). pengurangan dan pengendalian pencemaran yang berasal dari kapal. prosedur praktek tentang keselamatan dilaut termasuk Peraturan Internasional tentang pencegahan Tubrukan dilaut. pesawat udara pemerintah biasanya memenuhi tindakan keselematan demikian dan setiap waktu beroperasi dengan mengindahkan keselamatan penerbangan sebagaimana mestinya. Memenuhi aturan hukum internasional yang diterima secara umum. . kecuali karena force majeure atau karena kesulitan. ketentuan-ketentuan dibawah ini harus dipatuhi. Melakukan lintasan yang cepat. Menaati Peraturan Udara yang ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan Internasional (internasional Civil Aviation Organization) sepanjang berlaku bagi pesawat udara sipil. Khusus bagi kapal-kapal. (2). Mencegah timbulnya ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap Negara kepulaun.

126 (3). untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan penelitian dan surveinya. Mematuhi peraturan maupun standar internasional yang telah diterima secara umum tentang keselamatan pelayaran atau penerbangan serta tentang pencegahan pencemaran. d. (4). Tidak melakukan tindakan – tindakan yang bertentangan dengan asas-asas umum hukum internasional seperti yang tercantum dalam Piagam Perserikatan bangsa-bangsa. kewajibankewajiban yang dibebankan kepada kapal dan pesawat udara asing ini tidak secara otomatis melahirkan hak-hak bagi Negara kepulauan. Selama melakukan lintasan tidak diperkenankan untuk menyimpang lebih dari 25 mil laut ke arah dua sisi dari garis sumbu alur-alur tadi. Disamping itu kapal-kapal tidak diperkenankan untuk berlayar mendekati pantai pada jarak kurang dari 10% dari jarak antara titik-titik terdekat pada pulau-pulau yang berbatasan dengan alur-alur laut tersebut. Dengan demikian pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Pasal 39 dan 40 ini tidak dapat dianggap sebagai perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan pasal 53 ayat 3. terus menerus dan secepat mungkin. dan (5). Seperti juga halnya dengan hak lintas transit. Memusatkan kegiatan selama melakukan lintasan hanya kepada maksud untuk melakukan lintasan yang langsung. hak Negara Kepulauan untuk mengatur pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan melalui perairan kepulauannya terbatas hanya kepada hal-hal yang tercantum dalam pasal 42 ayat 1. Pasal 40 mensyaratkan adanya izin terlebih dahulu dari Negara kepulauan. . Bagi kapal-kapal yang digunakan untuk penelitian ilmiah dan survey hidrografis. Kewajiban–kewajiban lain yang harus dipatuhi oleh kapal-kapal maupun pesawat udara adalah bahwa dalam melaksanakan haknya ini kapal-kapal dan pesawat udara tersebut hanya dapat berlayar pada alur laut dan rute penerbangan yang telah ditetapkan oleh Negara Kepulauan. Masalah Kapal Selam Seperti telah diuraikan pada bagian tentang hak lintas transit.

dapat melahrikan tafsiran yang berbeda-beda.” Sedangkan hak lintas alur laut kepualauan diartikan sebagai pelaksanaan dari “hak pelayaran dan penerbangan dalam cara normal. pesawat udara maupun bagi Negara kepulauan itu sendiri. Negara pantai dapat mencegah suatu lintasan dengan berpedoman kepada serangkaian kegiatan– kegiatan yang tidak dianggap “damai” seperti yang tercantum pada pasal 19 ayat 2. Dilain pihak. tidak dapat dipakai sebagai alasan oleh Negara-negara kepualauan untuk mencegah suatu lintasan melalui alur-alur laut pada perairan kepulauannya. Jadi pada hakekatnya hak lintas alur laut kepulauan. terutama mengenai hak dan kewajiban bagi kapal. Tampaknya para ahli hukum lautpun mempunyai pendapat yang beraneka ragam. Dengan demikian setiap pelanggaran terhadap ketentuan pasal 53 ayat 3. Pokok utama dari perbedaan ini terletak pada batasan pengertian yang diberikan oleh Konvensi seperti tercantum dalam pasal 53 ayat 3 tersebut diatas. Meskipun demikian. tidak ada bedanya dengan hak lintas transit melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Pokok utama dari perbedaan ini terletak pada batasan pengertian yang diberikan oleh konvensi meskipun tidak dapat dikatan bertentangan sama sekali. dalam penerapannya hak lintas alur laut kepulauan dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda. Dalam pelaksanaannya hak lintas alur laut kepulauan tunduk pada pengaturan yang sama dengan hak lintas transit.” . meskipun mempunyai pengertian berbeda. Perbedaan yang dapat segera dilihat adalah bahwa Konvensi memberikan pengertian untuk hak lintas transit sebagai pelaksanaan dari “kebebasan pelayaran dan penerbangan. jika dibandingkan dengan hak lintas transit. wewenang Negara pantai untuk mengatur hak lintas transit dengan wewenang Negara kepualauan untuk mengatur hak lintas damai. terutama apabila hal tersebut dikaitkan dengan hak kapal selam untuk berlayar dibawah permukaan air. meskipun tidak dapat tidak dapat dikatakana bertentangan sama sekali. kalau dihubungkan dengan pengertian tersebut diatas. Disamping itu Negara kepulauan mempunyai kewajiban untuk tidak menghalangi pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan karena lintas tersebut harus unobstructed.127 Dibandingkan dengan ketentuan pasal 21 yang memberikan wewenang yang luas kepada negara pantai dalam mengatur pelaksanaan hak lintas damai.

dan hak bagi kapal selam untuk berlayar dibawah permukaan air. tanpa adanya jaminan hak istimewa bagi kapal selam. morris F. Hal tersebut lebih ditegaskan lagi oleh penulis-penulis yang menggaris bawahi istilah in the normal mode dan menyimpulkannya bahwa kapal selam secara normal berlayar dibawah permukaan air. Akan tetapi tampaknya akan lebih banyak penulis yang berpendapat bahwa hak lintas alur laut kepulauan mempunyai derajat yang sama dengan hak lintas transit. MOORE menyimpulkan bahwa naskah ICNT yang telah disetujui pada waktu itu merupakan suatu pencerminan dari apa yang telah terjadi dalam perundingan tentang Negara kepualauan tersebut.MADURO. mengemukakan argumentasi yang berbeda dengan menyatakan bahwa pada garis besarnya kedua konsepsi tentang hak lintas itu adalah sama. oleh karena hak lintas transit mengadung unsur kebebasan pelayaran. pelaksanaannya dalam praktek tentu akan menimbulkan perbedaan. memberikan penafsiran yang berbeda dan menganggap bahwa kalau disatu pihak hak lintas transit mengandung pengertian yang mencakup pelayaran (lintasan) dibawah permukaan air. dan dengan demikian meluangkan hak kapal selam untuk berlayar dibawah permukaan air. Ketentuan – ketentuan tentang Negara kepulauan sepertu yang tercantum dalam ICNT menunjukkan bahwa Konperensi Hukum Laut III tidak akan begitu saja menerima konsepsi mid-ocean archipelago yang kemudian melahirkan konsepsi Negara kepulauan. Jhon Norton MOORE misalnya. Seorang penulis lain. Akan tetapi apabila dilihat perbedaan wilayah perairan yang sempit sedangkan yang satunya lagi cukup luas. maka hal yang samapun dapat dibenarkan pada pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan. karena pada dasarnya rejim yang dimaksudkan adalah unimpeded passage. Terlebih – lebih dengan adanya hak Negara kepulauan untuk menetapkan pengaturan tentang keselamtan pelayaran. termasuk juga hak untuk melakukan lintas penerbagan. hak lintas alur laut kepulauan yang menggunakan istilah in the normal mode.128 Memang ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa perbedaan ini tidak akan menimbulkan pelaksanaan yang berbeda dalam praktek. dapat diinterpretasikan sebagai hanya memperkenankan lintasan diatas permukaan air. .

129 e. (2). Apa perbedaan antara ke tiga lintas pelayaran yang berlaku di Indonesia 2. Tidak ada keharusan untuk meminta izin atau memberitahukan terlebih dahulu. sehingga hak lintas alur lau kepulauan tidak selalu identik dengan hak lintas transit. Negara pantai tidak mempunyai hak untuk mencegah atau menghalangi lintasan oleh kapal-kapal asing. Tidak ada persyaratan untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Negara bendera kapal atau Negara tempat pesawat undara terdaftar bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan. Penutup evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas pembelajaran ke 6 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaan seperti : 1. (10). Hak lintas alur laut kepulauan hanya dapat dilaksanakan pada laur-alur laut yang ditetapkan oleh Negara kepulauan untuk itu. (6). c. (3). Kesimpulan Oleh karena adanya persamaan pengaturan dalam pelaksanaan kedua hak lintas tersebut di atas. Hak lintas penerbangan bagi pesawat udara diakui. Kapal-kapal perang mempunyai imunitas terhadap ketentuan-ketentuan konvensi tentang pencegahan pencemaran dan pelestarian lingkungan laut. (5). (9). dapat disimpulkan bahwa keduanya mengandung pokok pengaturan yang berbeda. seperti tampak dalam pokok-pokok pengaturan tentang hak lintas alur laut kepulauan dibawah ini: (1). Kapal-kapal diwajibkan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan Negara kepulauan tentang hak lintas alur laut kepualauan. (7). (8). Apa saja persyaratan untuk melakukan lintas akan laut kepulauan? . Tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit mengharuskan kapal selam untuk berlayar dipermukaan air. Tidak ada penangguhan terhadap hak lintas alur laut kepualaun. (4). Setiap penyimpangan (deviasi) dari garis sumbu pada alur-alur laut tersebut dikenakan persyaratan-persyaratan teknis.

Selat mana saja di Indonesia yang dapat dilayari dengan lintas transit 4. . Bandung: Bina cipta. Abardin 1991. Konvensi Hukum Laut 1982. Mochtar Kusumaatmadj. Masalah Pengaturan Hak Lintas Kapal Asing. Agoes. 1986. Apa latar belakang munculnya lintas transit? Daftar Bacaan Etty.130 3. Hukum Laut Internasional. R.

yang pasti karena fakta bahwa laut dan angin (bahaya laut) dapat mengerahkan pasukan tak terpikirkan.131 BAB 8 BAHAN PEMBELAJARAN 7 A. Uraian Pelayaran merupakan salah satu penggunaan laut yang paling tua dan tetap menjadi salah satu unsure yang penting. secara umum dipahami sebagai suatu keterampilan kekuatan. dan pencegahan tubrukan dan trayek kapal. daya tahan dan teknik merupakan bagian dari konstruksi kapal dan pemeliharaan melanjutkan. standard penempakan awak. B. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembeljaran yang hendak di capai pada minggu ke 9 bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan pengaturan hukum keselamatan pelayaran (safety of navigation). Kelayakan Kapal Standar kelayakan merupakan aspek. ketetapan menggunakan teori dalam menganalisis fakta terkait dengan ISPS dan penerapannya. Tapi. serta partisipasi individual dalam diskusi kelas. yang memiliki kemampuan untuk berdiri bahaya unsur-unsur yang dapat cukup ditemui atau diharapkan selama pelayaran tanpa kehilangan atau kerusakan pada kargo . Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengamatan yang diberikan bagi peserta didik. Kebutuhan akan pengaturan dibidang pelayaran meliputi aspek kelayakan kapal untuk berlayar.” Sasaran pembelajaran demi aktual hendak dicapai dengan menggunakan afrategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi kelas serta studi kasus (case study). Kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik adalah kemampuan mengemukakan dan menjelaskan fakta mengenai keselamatan pelayaran. bersama dengan awak kapal yang kompeten. sarana bantuan pelayaran.

dan properti. ISM Code dimaksudkan untuk memastikan keselamatan di laut. dan menghindari kerusakan lingkungan. Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan kelayakan dimaksud. pengawakan kapal. Lowe. perubahan fungsi atau jenis kapal. b. Dalam konteks ini.24 Telah dibentuk International safety management (ISM Code) dalam kaitannya dengan pengoperasian kapal yang telah menyebabkan keraguan dan kecemasan di antara pemilik kapal. keselamatan kapal. kapal ditutuh (scrapping). efek hukum ISM Code dan tindakan yang diperlukan pemilik kapal lokal untuk mematuhi Kode Etik. f. f. Kode ini telah ditambahkan sebagai Bab IX dari Konvensi Internasional untuk Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS) 1974. mencegah cedera manusia atau hilangnya nyawa. kapal rusak dan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan keselamatan kapal. 255-256. hal terpenting yang harus dikedepankan mengenai suatu kapal yaitu kelayakan kapal tersebut untuk berlayar. p. kapal berganti bendera. seperti: a. manajemen keamanan kapal. status hukum kapal. perubahan ukuran utama kapal. e. operator dan manajer. h. g.V. d. kapal tenggelam atau hilang. Kode ini ditujukan untuk mewujudkan 23 R. kapal tidak sesuai lagi dengan data teknis dalam sertifikat keselamatan kapal. Pemenuhan setiap persyaratan kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud di atas harus dibuktikan dengan sertifikat dan surat kapal. kapal mengalami perombakan yang mengakibatkan perubahan konstruksi kapal. Sebuah kapal yang laik laut tidak berarti bahwa kapal tersebut tidak memiliki kemungkinan untuk tidak tenggelam. khususnya lingkungan laut. g. atau i.23 Oleh karena itu. e. (Manchester: Manchester University Press. d. 1999). tidak melaksanakan pengukuhan sertifikat (endorsement). . dan memiliki akibat hukum di tanah. b. The Law of the Sea. R. garis muat kapal dan pemuatan. Churchill & A. 24 Sertifikat kapal tidak berlaku apabila: a. kapal berubah nama. masa berlaku sudah berakhir. pencegahan pencemaran dari kapal. dan h. c. c.132 tertentu dari sebuah kapal. kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang. sebagai Negara Pihak pada Konvensi. manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal.

25 Negara biasanya dan menjamin nasionalitas kapal kapal tersebut dengan dengan cara cara mendaftarkannya mengotorisasi mengibarkan bendera di atas kapal (bendera kapal). ISPS inilah yang menjadi rambu dalam mengatur tentang keselamatan kapal. Setiap pemilik kapal atau organisasi yang telah mengambil tanggung jawab atas pengoperasian kapal dari pemilik kapal diperlukan untuk menetapkan aturan untuk pencegahan keselamatan dan polusi dan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan (SMS) oleh:  Mendirikan praktek yang aman dalam operasi kapal dan menyediakan lingkungan kerja yang aman. Flag of Convenience. . termasuk apakah hukum internasional atau aturan lainnya berlaku untuk keadaan di mana suatu negara menjamin nasionalitas kapal dimaksud. Pinto. 87 Journal du Droit International. International Maritime Organization (IMO). telah menerapkan International Ships and Port Facility Security (ISPS) Code atau Kode Internasional yang mengatur tentang keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan. Pasal 5 Konvensi mengenai Laut Lepas 1958 menyebutkan 25 R. dapat dikatakan bahwa dalam konteks kelayakan kapal untuk berlayar. Nasionalitas kapal memainkan peranan yang vital dalam pelayaran karena menyoal tentang jurisdiksi negara mana yang berlaku atas kapal tersebut.  Membangun perlindungan terhadap semua risiko yang teridentifikasi. termasuk kesiapan untuk keadaan darurat baik tentang perlindungan keselamatan dan lingkungan. Secara garis besarnya. termasuk didalamnya negara mana yang bertanggung jawab atas kapal apabila terjadi kasus dimana tindakan yang dilakukan di atau oleh kapal tersebut merupakan atribusi negara. hal lain yang tidak dapat diabaikan dalam praktek adalah nasionalitas kapal. dan perlindungan diplomatic atas nama kapal dimaksud. Disamping beberapa prasyarat yang harus terpenuhi sebagaimana disebutkan di atas. Dalam hal ini. dan  Terus meningkatkan keterampilan manajemen keselamatan personil darat dan kapal kapal. negara pendaftar atau bendera kapal memiliki kesamaan bagi negara dimana nasionalitas kapal berlaku. Desember 2002. 344-69 (1960).133 suatu standar internasional untuk pengelolaan yang aman dan pengoperasian kapal dan untuk pencegahan polusi.

cit. Certification and Watchkeeping for Seafarers (the STCW Convention). dan persoalan-persoalan lain atas kapal dimana bendera dikibarkan”. Namun karena alasan usia mereka. berpengalaman kompeten. Hal itu terlihat dalam kasus Hong Kong Shipping Co Ltd Fir v. 269. op. . R. khususnya suatu negara harus secara efektif memberlakukan jurisdiksinya dan mengkontrol administrasi. p. Dalam ranah yang dimaksud. mesin harus dipertahankan oleh staf. Dalam kasus ini terlihat bahwa mesin diesel kapal bersama dengan mesin lain dalam rangka cukup baik.26 Hal yang sama juga disebutkan pada Pasal 94 ayat 4 Konvensi Hukum Laut yang menyebutkan bahwa negara bendera harus menjamin bahwa setiap kapalnya memiliki nahkoda dan awak kapal yang berkualitas (appropriate qualifications). sehingga kapal dinyatakan layak Menurut Konvensi ILO No. STCW Convention meletakkan syaratsyarat wajib minimum yang mesti dipunyai oleh nahkoda dan awak kapal dalam melaksanakan dan mengawasi pelayaran. Sarana Bantu Pelayaran 26 R. Crew Kapal Salah satu komponen pelayaran yang sangat berarti penting yaitu awak kapal. Kawasaki Kisen Kaisha Ltd. teknik. 147 tahun 1976 tentang Standar Minimum Awak Kapal disebutkan bahwa “setiap negara naggota Konvensi harus menjamin bahwa awak kapal yang dipekerjakan atas kapal yang terdaftar dalam wilayahnya memiliki kualifikasi atau keahlian atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. dengan mesin kepala kecanduan minuman keras. Churchill & A. mesin-mati dan memadai kamar. Bahkan staf ruang mesin tidak kompeten.V. Para kru harus menjadi awak yang efisien dan kompeten. Kondisi ini menjadi salah satu faktor prinsip dalam menentukan kelayakan kapal. telah dibuat suatu Konvensi yang membidangi standar pelatihan yang disebut dengan Convention on Standards of Training. Lowe.134 bahwa “harus terdapat hubungan yang murni antara negara dankapal.

C. material. permesinan dan perlistrikan. dan g. tata susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio. c. Hal tersebut juga disebutkan dalam Konvensi Hukum Laut dan Laut Teritorial dimana negara pantai memiliki kewajiban untuk memberikan informasi yang cukup atas bahaya yang dihadapi dalam pelayaran. Sarana bantuan navigasi sebagaimana disebutkan diatur dalam Konvensi SOLAS yang mengatur negara-negara anggota untuk mengatur pemeliharaan dan pengadaan bantuan-bantuan navigasi. stabilitas. d. Penutup . Pencegahan Tubrukan dan Trayek Kapal Dibutuhkan suatu pengaturan yang jelas untuk mencegah terjadinya tabrakan di laut. Aturan hukum internasional yang membidangi masalah dimaksud yaitu the Convention on the International Regulations for Preventing Collisions at Sea of 1972. termasuk didalamnya menyediakan informasi yang berhubungan dengan bantuan navigasi yang dibutuhkan. b. elektronika kapal. konstruksi. e. f.135 Keselamatan pelayaran juga menyoal persoalan bantuan navigasi seperti: a. khususnya ketika jarak pandang di laut sangat buruk sehingga diperlukan standar yang berlaku umum dalam konteks pengadaan suara dan tanda lampu. bangunan. Secara detail dapat dilihat dalam Pasal 15 ayat (2) dan Pasal 24 ayat (2) dari Konvensi Hukum Laut dan Laut Teritorial. Konvensi ini pada prinsipnya mengatur bahwa suatu kapal berkewajiban untuk menghindari tabrakan dengan kapal lainnya.

Sebutkan beberapa contoh kasus terkait dengan keselamatan pelayaran? 2.V. R. Lowe. 1999. Pinto. Jelaskan arti penting nasionalitas kapal? Daftar Bacaan R.136 Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran ketujuh dilakukan dalam bentuk makalah dengan merumuskan beberapa judul/topik. 87 Journal du Droit International. Manchester: Manchester University Press. 344-69 (1960). . seperti: 1. Flag of Convenience. Churchill & A. The Law of the Sea. R.

Sasaran Pembelajaran Ujian tengah Semester B. Uraian: Pelaksanaan ujian tengah semester dilaksanakan dengan memberikan tugas berupa makalah individu yang dipilih dari materi hukum laut yang telah dipelajari.137 BAB 9 BAHAN PEMBELAJARAN 8 A. Penutup Kriteria evaluasi adalah makalah individu. Organisasi makalah. Kesesuaian antara teori dan kasus serta analisis. dan Ketepatan waktu. . Adapaun criteria penilaian berupa Isi Makalah. C.

penyeludupan terorisme. sekaligus mencegah insiden kemanan dilaut dan pelabuhan.138 BAB 10 BAHAN PEMBELAJARAN 9 A. ketetapan menggunakan teori dalam menganalisis fakta terkait dengan ISPS dan penerapannya. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik adalah kemampuan mengemukakan dan menjelaskan fakta mengenai standar keamanan kapal dan pelabuhan. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengamatan yang diberikan bagi peserta didik. serta partisipasi individual dalam diskusi kelas. Hal ini pun dilakukan dibidang maritime. Desember 2002. perompakan. Negara maju terutama Amerika Serikat gencar melaksanakan kampanye untuk memerangi tindakan teroris dan segala aspeknya. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembeljaran yang hendak di capai pada minggu ke 9 bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan keselamatan atau keamanan kapal maupun pelabuhan (international ship and port facilities security code). International Maritime Organization (IMO). penyelundupan senjata dan terorisme. telah menerapkan International Ships and Port Facility Security ( ISPS ) Code atau Kode Internasional yang mengatur tentang keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan. Peraturan baru ini bertujuan mendeteksi ancaman keamanan. B. terlarang. Uraian Pasca serangan bom di WTC New York pada tanggal 11 september 2001. . Kejahatan lintas Negara yang memiliki delapan kategori. penyelundupan/ senjata dan perdagangan Obat manusia. lima diantaranya terjadi dan dilaksanakan melalui laut seperti peredaran perompakan.” Sasaran pembelajaran demi actual hendak dicapai dengan menggunakan afrategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi kelas serta studi kasus (case study). penyelundupan/perdagangan manusia. obat terlarang.

Kapal. disertai dengan perencanaan dan petugas keamanan yang handal. perusahaan pelayaran mempunyai kewajiban untuk menyiapkan sertifikat keamanan dari badan khusus yang ditunjuk pemerintah. Cirebon Banten. Terminal Peti Kemas Surabaya. persiapan untuk ISPS Code adalah sebagai berikut : Bagi perusahaan pelyaran. Alat ini dalam keadaan bahaya tertentuakan terhubung dengan sentral stasiun pemancar yang ada di pelabuhan internasional.139 Ketentuan Internasional tersebut telah disepakati oleh 62 negara anggota IMO. Sedangkan bagi pelabuhan. Teluk Bayur. Tanjung Perak. kapal juga harus dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS). harus mempunyai sistem pengaman yang bagus. Indonesia sendiri telah meratifikasinya dan Kementerian Perhubungan selaku administrator harus mengumumkan pelaksanaan ISPS Code secara Nasional. dan sistem sinyal pengamanan (Ship Security Alert System/SSAS). Pontianak. termasuk Indonesia.selain itu. sehingga aparat kemanan segera datang member bentuan. harus mendapat sertifikat kemanan internasional ( Internasional Ship Security Certificate/ISSC) dari IMO. Pelabuhan–pelabuhan yang dipersiapkan adalah Tanjung Priok. Secara ringkas. Palembang. Perusahaan pelayaran juga harus segera menetapkan p[ejabat yang bertanggung jwabsoal keamanan di perusahaan (Company Security Officer/CSO) lalu membuat rencana pengamanan kapal (Ship Security Assement/SSA). Mengenai ISPS Code Menurut IMO (International Maritime Organization). JICT. harus melakukan : . Jambi. 33 tahun 2003 tanggal 14 Agustus 2003 tentang pemberlakukan Amandemen SOLAS 1974 tentang Pengamanan kapal dan Fasilitas Pelabuhan (International Ships and Port Facility Security/ ISPS Code) di wilayah Indonesia. Juklaknya sendiri telah dikeluarkan sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan No. dan selanjutnya menunjuk seorang perwira yang bertanggung jawab atas kemanan di atas kapal ( Ship Security Officer/SSo ). dan PT. AIS merupakan peralatan modern di kapal yang harganya sangat mahal.

Mengenai lingkup dan tanggung jawab dari penerapan ISPS Code. Verfication and Certification for Ship. Port Facility Security Plan ( PFSP ). Operational and Physical Security Measures. Ship Security Plan ( SSP ) 4. Company Security Officer ( CSO ) 2. Training. Ship Security Alert System ( SSAS ) . Communication of Information. 2. Konsekuensi Pelaksanaan ISPS Code bagi Pemerintah Koneskuensi dar pelaksanaan peraturan ini cukup besar bagi pemerintah harus menambah anggaran biaya negara dalam mempersiapkan pelabuhan/terminal dan kapal memberikan pelayanan dalam perdagangan internasional dan mempersiapkan peralatan minimum sebagaimana dipersyaratkan dalam ISPS Code 2002. 3. 5. 2. untuk pemeriksaan orang. pemerintah harus menetapkan Designated Authority dan menunjuk Recognized Security Organization (RSo). Training. Automatic Identification System ( AIS ). International Ship Security ( ISSC ). Port Facility Security Assesment. Persiapan Pelabuhan : 1. menetapkan Security Level. Port Facility Security Assessement ( PPSA ). 4. 3. InternationalShip Security Certificate dan Statement of Compliance of port Facility. . Kelengkapan kapal : 1. Declaration of Security ( DOS ).140 1. 6. barang dan muatan/ Kontainer. Port State Control Additional Control Measures. 4. Port Facility Security Officer( PFCO ). Ship Security Assement ( SSA ) 3. Apporoval Ship Security Plant. Declaration of Security.

141 Adalah tugas berat bagi Pemerintah dengan berbagai kewenangan sektoral yang ada untuk melakukan pembenahan berkenaan dengan pemberlakukan peraturan ini. local administration dan shipping serta port industries pada tingkat nasional dan internasional untuk menjamin keamanan maritim. diharapkan di masa mendatang.  Menyiapkan metode untuk melakukan penyelidikan awal tentang kemanan agar dapat disusun rencana dan prosedur yang tepat unutk menanggulangi setiap perubahan situasi kemanan. Denganterus dilakukannya upaya – upaya pembenahan.  Menciptakan sistem pengumpulan data dan informasi yang cepat danefisien serta pertukaran informasi berkaitan dengan kemanan. local administration. . Sanksi Bila pelabuhan–pelabuhan Indonesia ( dan kapal–kapal berbendera Indonesia ) tidak menerapkan ISPS Code. government agencies. dan shipping serta port industries untuk mendeteksi adanya ancaman keamanan dan mengambil tindakan – tindakan preventif terhadap insiden yang melibatkan kapal atau fasilitas pelbuhan yang digunakan dalam international trade. government agencies. Tujuan International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code  Menyusun kerangka kerja sama internasional menyangkut kerja sama antara Contracting government. yakni pelabuhan tersebut tidak akan disinggahi kapal dari luar negeri dan kapal–kapal ( berbendera Indonesia ) tidak akan diperkenankan masuk pelabuhan diluar negeri.  Membentuk peran dan tanggung jawab antara Contracting government. pengelolaan keamanan di pelabuhan dapat menumbuhkan kondisi pelabuhan yang lebuh kondusif dan tidak menimbulkan ekonomi biaya tinggi. maka sanksi internasional yang akan dijatuhkan sangat berat.  Untuk memastikan bahwa tindakan – tindakan maritime security yang diambil sudah tepat dan proporsional.

PT. Dharma Karya Perdana. PT. Indofod Sukses Makmur Bogasari Flour Mills. DOK dan Perkapalan Kodja dan PT. Berdasarkan hasil Assement Pengamanan Fasilitas Pelbuhan. PT. dalam hal ini Kementerian Perhubungan sebagai Designated Authoruty (DA ). pemberian rambu warna merah ( sebagai tanda restricted area ) dipagar area Lini I. telah menunjuk PT. Hasil Assessment Pengamanan Fasilitas Pelbuhan ( PFSA ) di Terminal Konvensional Pelabuhan Tanjung Priok. pengadaan pass orang (berupa pass tamu sebanyak 500 buah). ( Persero ) Pelabuhan Indonesia II. PT. Prosedur pengiriman kebutuhan barang kapal. Pertamina Unit Pemsaran III. Untuk penerapan Rancangan Pengaman Fasilitas Pelabuhan ( PFSP ) dimaksud. Pelabuhan II dan gedung PT ( persero ) Pelbuhan Indonesia II yang kemudian akan diperluas ke area Lini II dengan sistem dan prosedur pengamanan yang sama dengan area Lini I. prosedur pengawasan keamanan fasilitas pelabuhan dan prosedur masuk gedung PT. PT TPK Koja. Pelabuhan I.142 Penerapan ISPS Code di Pelabuhan Tanjun Priok Berkenaan dengan implementasi ISPS Code dimaksud. . pada tahap awal dititikberatkan di area Pelbuhan Nusantara. Dari aspek kesisteman manajemen. Berau Veritas Indonesia sebagai Recognized Security Organization (RSO) untuk melakukan Assement terhadap Pengamanan fasilitas Pelbuhan (PSFA) dan membuat Rancangan Pengamanan Fasilitas Pelabuhan PFSP) untuk diserahkan dan disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia. prosedur masuk Lini I.5 meter. Ketentuan yang diatur di dalam Rancangan Pengamanan Fasilitas Pelabuhan (PFSP) antara lain memuat sistem dan prosedur pengamanan yang meliputi prosedur pengamanan masuk Lini II. Pelabuhan Tanjung Priok di bagi menjadi 7 wilayah pengamanan yang terdiri atas terminal Konvensional Pelabuhan Tanjung Priok. pemasangan tanda peringatan”area terbatas” diseluruh pintu masuk area Lini I. sesuai persyaratan dalam ISPS Code ) yang panjangnya 3 km lebih ( catatan sementara pagar yang ada saat ini ketinggiannya baru sekitar 2 meter ) Lini I maupun Lini II. CabangTanjung Priok sedang melakukan Inventarisasi pendataan dan penataan ulang terhadap seluruh kapal – kapal domestic ( dalam negeri ) dan ocean going ( International ). JICT. manajemen Tanjung Priok telah melakukan pembenahan pos–pos dan pagar area ( dilakukan pemagaran area dengan ketinggian minimal 2. Manajemen PT (Persero) pelabuhan Indonesia II.

kondisi pengaman di Pelabuhan Tanjung Priok terbagi dalam 3 (tiga) tingkatan keamanan yakni Level I keadaan normal. anatara lain : surat jalan. sedangkan tidak memiliki pass pelabuhan. Petugas pengamanan akan memriksa berang. mega phone dan transmitter radio VHF). nomor identitas(KTP/SIM)). Disamping pengawasan dan pengamanan. nama perusahaan. nomor kendaraan. waktu masuk dan keluarnya serta meninggalkan kartu identitas dan kepadanya diberikan pass tamu ( pass visitor ).143 perlengkapan pengamanan (berupa metal detector. kendaraan dan orang. Level II ada ancaman keamanan dan Level III kondisi keamanan menjadi kewenangan DA (pemerintah). ropmi petugas pengamanan). nomor identitas (KTP/SIM/Passport)). tujuan serta waktu tiba dan keluar serta meninggalkan kartu identitas dan kepadanya diberikan pass tamu (pass visitor). Prosedur Akses Masuk Prosedur akses masuk ke fasilitas pelbuhan di derah Lini I mengatur tentang lalu lintas barang. yang bersangkutan akan di catat jati dirinya (nama. Sesuai persyaratan ISPS Code. Guna menunjang kelancaran penerapan ISPS Code . serta fasilitas penting (vital) yang berada di area pelabuhan tanjung Priok dan unsure keamanan terkait di pelabuhan. tujuan kunjungan. serta alat komunikasi (handly talky. Untuk kendaraan truk yang masuk. kendaraan. sehingga lalu lintas barang. di area Lini I juga dilakukan patrol rutin kemananan baik daerah area daratan (sisi darat) dan perairan (sisi laut). kendaraan. dan orang yang memasuki wilayah kerja pelabuhan sesuai dengan tingkatan keamanan. Bagi para pengemudi dan pembantu pengemudi yang tidak dilengkapi dengan pss pelabuhan akan di catat jati dirinya (nama. Bagi orang yang memasuki area LiniI ( restricted area ) harus memilki pass pelabuhan yang masih berlaku. handheld search mirror. manajemen Pelbuhan Tanjung Priok telah menyiapkan . dan orang akan dapt teridentifikasi dengan jelas terkendali. delivery order dan SP2/PEB/PE identitas pengemudi dan pembantu pengemudi. harus dilengkapi dengan dokumen pendukung barang. alamat.

Begitu juga terhadap kapal barang diatas GT 500 yang melakukan pelayaran internasional. juga dilengkapi dengan sinar’ Infra red”. Alat Bantu Pengamanan Disamping pengawasan keamanan yang dilaksanakan secara rutin oleh petugas keamanan pelabuhan. pergerakan atau manuvernya bisa berputar hingga 340 derajat. 69 tahun 2001 .8 dan 9 ) 5 pos pintu masuk pos LIni I sepanjang dermaga kolam Pelbuhan I. Kamera–kamera ini dilengkapi dengan infra merah yang mempunyai kemampuan memonitor diwaktu malam. area pelayanan transportasi dan sentra kegiatan ekonomi. Pelabuhan ( menurut Undang – undang No. CCTV tersebut memiliki keunggulan dari pada monitor biasa yang telah ada antara lain. dengan kemampuan putar hanya 180 derajat ). Penempatan 26 unit CCTV (bantuan dari Jepang) tersebut rencananya akan dipasang di pos – pos pintu masuk ( pos 1.144 saluran hotline service sementara di nomor 4301080 ext 2020 atau fax 439222 untuk melayani apabila terjadi kendala/hambatan atas pelaksanaan ISPS Code ini. dan III serta Dermaga 009 dan lapangan penumpukan. gudang dan lapangan penumpukan sedangkan VTIS di gunakan untuk memonitor lalu lintas kapal diperairan pelabuhan. II. mobile offshore drilling unit. CCTV digunakan untuk memonitor kegiatan bongkar muat dermaga. ISPS Code diberlakukan secara penuh pada 1 juli 2004 terhadap kapal penumpang termasuk kapal berkecepatan tinggi (high–speed craft) yang melakukan pelayaran internasional. manajemen juga menyiapkan peralatan bantu pengawasan berupa CCTV (Circuit Close Television) dan VTIS (Vessel Traffic Informatio ). (catatan: saat ini. Peranan Pelabuhan Secara Ekonomis Peranan pelabuhan tidak saja sebagai terminal point kegiatan perdagangan tetapi telah meningkat dan berfungsi sebagai sentra–sentra produksi. fasilitas monitor yang dimiliki Pelabuhan Tanjung Priok baru 9 unit. fasilitas pelabuhan –pelabuhan yang melayani kapal – kapal yang melakukan pelyaran internasional. Sehingga tetap dapat memonitor dalam suasana gelap sekalipun. Selain itu. 21 tahun 1992 joPeraturan PemrintahNo.3.

naiuk turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatn pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra danantar moda transportasi.145 tentang kepelabuhanan) adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan sekitarnya. Mengapa ISPS Code dibutuhkan padahal menyangkut keselamatan. C. ISPS Code Diterapkan Di Pelabuhan Perikanan Samudra Jakarta. Halaman 15.bagi kapal dagang dan penumpang di seluruh dunia telah diatas dalam Internasional Safety af Live at Sea ( SOLAS ) 1974? 2. Mungkinkah? Jurnal Hukum Internasional. vol 2 No. berlabuh. 1 M. Dari uraian di atas. Sebagai informasi honorarium FSO/ Konsultan di Pelabuhan Tanjung Perak. SOLAS Convention 1974 Kompas 22 Juni 2004. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas meteri pembelajaran ke 9 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhiri perkuliahan yang dikumas dalam beberapa pertanyaan seperti : 1. Surabaya adalah Rp. 3 April 2005. . Apa konsekuensi pelaksanaan ISPS code bagi pemerintah ? Daftar Bacaan Chandra Motik yusuf Djemaah. meskipun Tanjung Priok yang menjadi pelabuhan terdepan di Negara ini. Apa sanksi bila pelabuhan Indonesia dan kapal – kapal berbendara Indonesia tidak menerapkan ISPS Code ? 3. dengan batas–batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegaiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar. belum lagi harus menyiapkan petugas–petugas pengamanan yang terlatih. dapatlah disimpulakan (meskipun sementara) bahwa merupakan suatu pekerjaan yang besar untuk dapat mewujudkan diterapkannya ISPS Code (dipelabuhan). terutama di bidang dana (yang sangat tidak sedikit) untuk membeli sarana–sarana dan peralatan yang canggih. namun masih mempunyai banyak sekali kelemahan – kelemahan yang harus ditiadakan bila mematuhi ketentuan internasional mengenai ISPS Code.

mengurangi dan mengawasi pencemaran lingkungan laut {Pasal 194 (ayat 1)} dan harus mengambil segala tindakan yang perlu agar perbuatan-perbuatan yang dilakukan di bawah yurisdiksinya tidak menimbulkan polusi terhadap negara lain atau terhadap daerah di luar yurisdiksinya {Pasal 194 (ayat 2)}.. 1998). disamping hak negara-negara tersebut untuk mengeksplosit kekayaan alam mereka (pasal 193).146 BAB 11 BAHAN PEMBELAJARAN 10 A.27 Ketentuan ini memuat peraturan-peraturan pelestarian lingkungan laut dan pencegahan pencemaran lingkungan laut. standar dan praktek yang direkomendasikan untuk melindungi lingkungan laut (Pasal 197). Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning dengan small group work. dan diskusi. Kerjasama tim. (London: Sweet & Maxwell. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu X bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut”. Negara-negara harus 27 D. Uraian: Perlindungan dan pelestarian lingkungan diatur dalam pasal 145 UNCLOS 1982. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Partisipasi dalam diskusi. B.J. kuliah interaktif. Harris. . Negara-negara berkewajiban untuk mengambil segala tindakan guna mencegah. p. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Negara-negara harus berkewajiban secara global atau regional untuk merumuskan aturan-aturan. 419-455. Penguasaan individu. Konvensi ini menyebutkan bahwa negara-negara berkewajiban untuk melindungi dan memelihara lingkungan laut (pasal 192). Cases nd Materials on International Law.

dan usaha-usaha kegiatan-kegiatan di dasar laut di bawah yurisdiksinya (Pasal 208 {ayat 1}). misalnya: Banjir Floods Sumber: Patricia Parkinson. 28 . Perubahan Iklim dan Hukum Lingkungan Internasional. 1982). (Bandung: Alumni. serta kejahatan dumping (Pasal 210). 13-27.28 Setiap negara berkewajiban untuk membuat UU/aturan-aturan untuk mencegah. Beberapa gambaran apabila lingkungan yang tidak dijaga dan atau dilestarikan. Negaranegara juga berkewajiban agar kapal-kapal mematuhi ketentuan-ketentuan antipolusi internasional dan aturan-aturan yang telah dibuatnya sesuai dengan Konvensi Hukum Laut ini. Aturan-aturan juga perlu dibuat untuk menanggulangi polusi yang berasal dan atmosphere (Pasal 212). 2007. mengurangi dan mengawasi polusi lingkungan laut dan sumbersumber yang berasal dan darat (Pasal 207 {ayat 1}). atau polusi yang berasal dan kapal yang berlayar di bawah benderanya (Pasal 211). dan kapal-kapal atau instalasi-instalasinya yang beroperasi di dasar laut internasional (Pasal 209). Negara-negara juga dapat membuat aturan-aturan anti-polusi terhadap kapal-kapal yang berlayar di laut wilayah atau ZEE-nya sesuai dengan ketentuan-ketentuan Pasal 211. hlm. Bunga Rampai Hukum Lingkungan Laut Internasional.147 mengembangkan contingency plans untuk mengatasi bahaya polusi (Pasal 199) dan harus berkerjasama untuk mengembangkan penyelidikan laut untuk dapat menilai hakikat yang sebenarnya dan polusi (Pasal 200). Komar Kantaatmadja.

sehingga sering disebut pula sebagai kawasan lindung. Definisi kawasan konservasi laut pernah dikembangkan pada acara the 4th World Wilderness . Ketentuan-ketentuan pelestarian lingkungan laut yang telah dirumuskan dalam KHL 1982 kemudian harus ditindaklanjuti dalam konteks pemeliharaan dan atau konservasi laut dengan cara merumuskan kawasan konservasi laut. Mengenai keterkaitan disiplin ilmu dan konsep keterpaduan pengelolaan tersebut dapat dilihat dan definisi kawasan konservasi laut. 2007. Konservasi sumberdaya hayati laut merupakan salah satu implementasi pengelolaan ekosistem sumberdaya laut dan kerusakan akibat aktivitas manusia. Kawasan konservasi laut mempunyai peranan penting dalam program konservasi sumberdaya alam di wilayah laut.148 • Melambatnya “Aliran Teluk” •Slow down of the Gulf Stream Sumber: Patricia Parkinson. dan itu harus dilakukan secara terpadu. dan mengelolanya. Kawasan konservasi ini biasanya dilindungi oleh hukum. mendirikan. namun dibutuhkan keahlian tertentu untuk mengidentifikasi. Walaupun kawasan ini cenderung lebih baru ditetapkan dibandingkan dengan kawasan konservasi di daerah daratan. Perubahan Iklim dan Hukum Lingkungan Internasional. Hal ini karena banyaknya cabang ilmu atau departemen yang terkait dalam pengelolaanya.

park. penangkapan ikan dan biota laut lain dengan alat yang merusak lingkungan. (ii) kawasan per-lindungan setempat (sempadan pantai. Kegiatan penangkap ikan dan biota laut tersebut termasuk pula penangkapan yang berlebih. yaitu upaya penangkapan ikan yang melebihi stok alami ikan. Birnie & Alan E. 203-205. taman nasional. Berdasarkan Keppres No. Melindungi dan mengelola sistem laut dan estuaria supaya dapat dimanfaatkan secara terus menerus dalam jangka panjang dan mempertahankan keanekaragaman genetik. tekanan. di antaranya adalah reserve. ada beberapa istilah yang selama digunakan untuk menamakan kawasan konservasi laut. misalnya pelarangan kegiatan seperti penambangan minyak dan gas bumi. Untuk melindungi penurunan.fauna. 2007. 29 . serta perusakan lingkungannya untuk menjamin perlindungan yang lebih baik. termasuk perairan yang menutupinya. (Oxford: Clarendon.dan telah dilindungi oleh hukum atau peraturan lainnya untuk melindungi sebagian atau seluruhnya lingkungan tersebut. Pemanfaatan sumberdaya alam di lingkungan konservasi laut biasanya diatur melalui zona-zona. yang terkait di dalamnya. hlm. bergambut. Menurut IUCN ada beberapa tujuan kawasan konservasi atau konservasi laut. dan (iii) kawasan suaka alam dan cagar budaya (suaka alam..flora. hutan bakau. terutama pengawetan habitat untuk kelangsungan hidup mereka. sekitar danau atau waduk. 1995). p. kawasan konservasi terdiri atas: (i) kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawah (hutan lindung. Lihat juga Patricia W. International Law and the Environment. yaitu sebagai berikut: Suatu kawasan laut atau paparan subtidal. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. 32 tahun 1990. 2. Boyle. dan lainnya. yang telah ditetapkan kegiatan-kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. cagar budaya dan ilmu pengetahuan). 490. Berkaitan dengan kawasan konservasi. sungai. yaitu:29 1. resapan air).149 Congress dan diadopsi oleh IUCN pada 1 7th general Assembly pada tahun 1988. Abdul Rasal Rauf. sanctuaries. populasi dan species langka. sisi sejarah dan budaya. Namun yang jelas kesemua nama atau istilah tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu penyelamatan ekosistem sumberdaya laut. mata air). Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar).

untuk tujuan konsetvasi beritang lahan/bentang laut dan rekreasi. dan mengelola daerah-daerah mulut sungai dan estuaria yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. . yang pada akhirnya mencerminkan ciri atau tipe dan kawasan konservasi tersebut. Menyediakan sarana untuk penelitian dan pelatihan. kemudian menyusun suatu daftar pengelolaan kawasan konservasi sesuai dengan peruntukannya. dan pariwisata. 8. Mempermudah dalam menginterpretasikan sistem laut dan estuaria untuk tujuan konservasi. untuk tujuan perlindungan yang ketat (strict protection). untuk tujuan konservasi keistimewaan alam. II. Monumen Alam. Kawasan Pengelolaan Habitat/Species. Perlindungan Bentang Alam atau Bentang Laut. maka IUCN melalui Commission on National Parks and Protected Areas. Taman Nasional. Apabila disimak dengan cermat. 7. V. termasuk pengaruh langsung dan tidak langsung daripada pembangunan dan pemanfaatan lahan di daratan. untuk tujuan konservasi ekosistem dan rekreasi. Menyediakan pengelolaan yang sesuai.150 3. serta nilai-nilai estetika alam. yaitu: I. menyelamatkan. 6. III. maka terlihat bahwa tujuan konservasi laut itu sangat beranekaragam. Melindungi dan mengelola kawasan yang secara nyata merupakan siklus hidup spesis ekonomis penting. Memberikan kesejahteraan yang terus menerus kepada masyarakat dengan menciptakan kawasan konservasi laut. Kawasan Cagar Alam. Untuk mengklarifikasi tujuan konservasi yang beraneka ragam tersebut. melindungi. untuk tujuan konservasi melalui pengelolaan yang aktif. untuk generasi sekarang dan masa yang akan datang. IV. 5. dan untuk pemantauan pengaruh aktivitas manusia terhadap lingkungan. Mencegah aktivitas luar yang memungkinkan kerusakan kawasan konservasi laut. yang mempunyai spektrum luas bagi aktivitas manusia dengan tujuan utamanya adalah penataan laut dan estuaria. 4. pendidikan.

hlm.753. . dengan total area 5. antara lain World Bank. Karenanya untuk pendirian suatu MPA diperlukan rencana matang. Keberhasilan program konservasi pada kawasan konservasi laut terhadap penyelamatan keanekaragaman hayati laut sangat menentukan kelangsungan pengembangan kawasan konservasi laut pada masa-masa mendatang. telah dilakukan pengelolaan melalui program CORMAP (Coral Reef Management Program) dengan bantuan dana dan luar. Jumlah ini direncanakan akan dikembangkan sampai 30 juta ha. Saat ini ada 14 kawasan konservasi laut lainnya yang sedang dikaji kelayakannya. Kawasan Konservasi Sumberdaya Alam yang Terkelola. peran serta masyarakat. khususnya ekosistem terumbu karang. rencana pengelolaan lebih lanjut. Apabila program MPA cukup efektif dalam penyelamatan keanekaragaman hayati laut. untuk tujuan pengelolaan ekosistem alam dengan pemanfaatan yang cocok. Di Indonesia.805. Program tersebut 30 Ibid. yaitu (a) Suaka Alam Laut dan (b) Pelestarian Alam Laut. maka jumlah MPA tersebut akan dikembangkan pada masa mendatang. Menurut statusnya kawasan konservasi laut tersebut dibedakan atas dua macam.151 VI.30 Bank Dunia melalui the Global Environmental Facility menyediakan dana penelitian untuk mengetahui sejauh mana peran MPA (Kawasan Konservasi Laut) dalam konservasi keanekaragaman hayati laut secara global. peraturan perundangan yang berlaku. dan manfaat dan MPA tersebut. Asian Development Bank. Untuk penyelamatan kawasan konservasi. sampai saat ini ada sekitar 37 kawasan konservasi laut yang telah beroperasi. Suaka alam laut terdiri atas Cagar Alam (10 lokasi) dan Suaka Margasatwa (4 lokasi). namun sebaliknya mungkin program mi akan ditutup bila MPA gagal dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati laut di sekitarnya. 208-210. mulai dan pemilihan lokasi. terutama ditinjau dan aspek ekonomisnya. Sedangkan Pelestarian Alam Laut terdiri atas Taman Nasional Laut (7 lokasi). sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan atau ekosistem. Taman Hutan Raya/Taman Wisata Alam Pantai (9 lokasi) dan Taman Wisata Alam Laut (7 lokasi).85 ha. Kawasan konservasi tersebut tersebar di seluruh wilayah perairan Indonesia.

Hasil dan studi mi diharapkan dapat dikembangkan di kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Sulawesi Tenggara. Harris. baru dalam taraf mencari alternatif kemungkinan upaya penanggulangan perusakan terumbu karang. 1998. Sulawesi Selatan. khususnya di kedelapan lokasi atau kawasan wilayah studi CORMAP. Kepulauan Taka Bone Rate (Propinsi Sulawesi Selatan) dan Kepulauan Padaido (Propinsi Irian Jaya). Maluku. Cases nd Materials on International Law. Boyle.152 rencananya dikerjakan selama 15 tahun. Aktivitas CORMAP di kedua lokasi tersebut. ujicoba pengelolaan dikembangkan di kawasan konservasi. Birnie & Alan E. Papua. Patricia W. Kasus tumpahan minyak di perairan Natuna. Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. dan Sumatera Barat. Riau. yang dilakukan di 10 propinsi. 2007. . 2. Nusa Tenggara Timur. yaitu Jakarta. Kasus Showa Maru. Komar Kantaatmadja. 1995. Oxford: Clarendon. Untuk tiga tahun pertama.J. 1975. International Law and the Environment. London: Sweet & Maxwell. C. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Bunga Rampai Hukum Lingkungan Laut Internasional. 2000. Sumatera Utara. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kesepuluh dilakukan dalam bentuk makalah dengan menganalisis beberapa kasus seperti: 1. Nusa Tenggara Barat. Bandung: Alumni. D. 1982. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar).

Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning dengan small group work. B.153 BAB 12 BAHAN PEMBELAJARAN 11 A. Secara resmi. 31 .. hal menarik yang penting untuk diuraikan terlebih dahulu yaitu istilah pencemaran pertama kali digunakan dalam studi literatur Indonesia yakni pada seminar Biologi II di Ciawi Bogor pada tahun 1970. Hukum Lingkungan : Sistem Hukum Pencemaran. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. 1986).32 Pencemaran memiliki banyak dimensi yang melingkupinya. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu X bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian dan sumber-sumber pencemaran laut”. Secara garis besar pencemaran dalam konteks hukum lingkungan dapat dibedakan atas pencemaran lingkungan. istilah pencemaran ini digunakan dalam pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1972 di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. pencemaran laut. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Partisipasi dalam diskusi. Pengertian dan Sumber Pencemaran Laut Sebelum menjelaskan tentang pengertian pencemaran secara detail. pencemaran daratan. hlm. Penguasaan individu. (Bandung: Bina Cipta. pencemaran Munadjat Danusaputro. pencemaran air. akan tetapi ia memiliki makna yang luas. 30 32 Ibid. Pencemaran tidak hanya diartikan dalam arti yang sempit. Kerjasama tim. dan diskusi.31 yang merupakan terjemahan atas istilah asing “pollution”. kuliah interaktif. Uraian: 1.

dan atau tabarakan kapal. b. Instalasi minyak di lautan yang mungkin mengalami kebocoran atau rusak. Ganti Rugi Internasional Pencemaran Minyak di Laut. pencemaran laut adalah masuknya ke laut zat zat pencemaran dari lautan sendiri dan yang dibawa dan berasal dari darat. tetapi lebih dari itu pelaku pencemaran laut memahami dampak hukum yang timbul akibat aktifitas pencemaran yang dilakukannya. Pembuangan sampah ke laut (dumping). kebocoran kapal. Pemahaman tentang pengertian pencemaran laut juga penting untuk diselaraskan. 1 Juni 2009.35 Pencemaran laut yang dimaksudkan disini yaitu terjadinya peruban pada lingkungan laut yang terjadi sebagai akibat dimasukkannya oleh Komar Kantaatmadja. 16. Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”. 34 Ibid. (Bandung: Alumni. Pencemaran melalui udara. Pembuangan air buangan industri. c. Adapun pencemaran laut yang berasal dari darat dapat berupa: a. State Cooperation In Combating Transboundary Air Pollution. 33 . Menurut Komar Kantaatmadja33. V No. Dalam konteks ini yang menjadi fokus pembelajaran disini yaitu pencemaran laut. pencemaran laut yang bersumber dari pencemaran laut sendiri dapat berasal dari dari:34 a. Pembuangan air buangan sungai. 24. hlm. Vol. Stakeholders pada dasarnya merupakan subyek pencemaran laut yang dalam hal ini sebagai pelaku pencemaran laut yang secara hukum dapat dikenai dan dimintai pertanggungjawaban dari akibat-akibat pencemaran laut. kapal menjadi kandas. 1981). Dalam hal ini. dan pencemaran angkasa. 14. berasal dari pembersihan tangki kapal. hlm. lihat juga Alma Manuputty. kecelakaan kapal yang berakibat kapal menjadi pecah.154 udara. 35 Ibid. hlm. Bukan hanya memahami gambaran sumber-sumber pencemaran laut sebagaimana telah dijelaskan di atas. Pemahaman mengenai efek yang ditimbulkan dari pencemaran laut sangatlah penting untuk diketahui oleh seluruh stakeholders. b. Kapal berupa pembuangan minyak yang merupakan pembuangan rutin. dan d.

18.37 3.155 manusia secara langsung atau tidak langsung bahan-bahan atau energi ke dalam lingkungan laut (termasuk muara sungai) yang menghasilkan akibat yang demikian buruknya sehingga merupakan kerugian bagi kekayaan hayati.36 Pengertian di atas tentunya menimbulkan perdebatan panjang khususnya menyoal tentang pelaku pencemaran laut yang hanya difokuskan pada aktifitas manusia. C. penggunaan laut yang wajar. Kasus Newmont dan kasus Tumpahan minyak di Kepulauan Natuna diberikan dalam bentuk powerpoint yang diekstraksi dari data yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan power point dari Prof. op. 36 . Padahal faktanya. Beberapa kasus yang relevan. bahaya terhadap kesehatan manusia.cit. hlm. (Bandung: Universitas Padjajaran.. 37 Komar Kantaatmadja. gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan lain-lain. pencemaran laut dapat saja disebabkan oleh aktifitas alam itu sendiri. pemburukan daripada kualitas air laut dan menurunnya kualitas tempat pemukiman dan rekreasi. 5. Mochtar Kusumaatmadja. Dalam hal ini analisisnya diletakkan pada upaya eksaminasi atas putusan kedua kasus yang telah mendapat memperoleh kekuatan hukum yang tetap (incraht). hlm. Daud Silalahi yang menggambarkan bagaimana kedua kasus ini terjadi dan akibat yang timbulkannya. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kesebelas dilakukan dalam bentuk makalah dengan menganalisis beberapa kasus Newmont dan Kasus tumpahan minyak di perairan Natuna. 1977). misalnya kebocoran alami yang sering terjadi dari lapisan bumi sendiri baik dalam bentuk minyak bumi maupun dalam bentuk mineral-mineral lain yang secara terus menerus mengalir ke lautan (baik bersumber dari daratan maupun dari lautan itu sendiri. Pencemaran Laut dan Pengaturan Hukumnya..

Munadjat Danusaputro. Mochtar Kusumaatmadja. 1981.156 Daftar Bacaan Alma Manuputty. Hukum Lingkungan : Sistem Hukum Pencemaran. Ganti Rugi Internasional Pencemaran Minyak di Laut. Bandung: Alumni. State Cooperation In Combating Transboundary Air Pollution. Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”. Vol. 1977. Bandung: Bina Cipta. Pencemaran Laut dan Pengaturan Hukumnya. V No. 1986. 1 Juni 2009 : 24. Bandung: Universitas Padjajaran. . Komar Kantaatmadja.

budaya. 238 tahun 1931 sebagaiman kami kutip di bawah ini.238 tahun 1931 dengan berbagai implementasinya berupa instruksi–instruksi pimpinan–pimpinan kita ketahui bahwa dalam KEPPRES Nomor 43 tahun 1981 pasal 1 yang dimaksudkan dengan benda berharga adalah benda yang mempunyai nilai sejarah. ekonomi dan lainnya. B. Peraturan perundan –undangan yang ada kaitannya dengan penangkatan dan pemanfaatan benda–benda berharga di dasar laut perairan Indonesia yaitu Monument Ordonnantie STb. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu partisipasi dalam diskusi. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu ke 12 dan 13 adalah mahasiswa dapat menjelaskan pengertian harta karena serta berbagai istilah terkait serta pengaturannya baik pengaturan internasional maupun nasional. die in hoofdzaakkourder zijn dan 50 jaar of tot een ten minste 50 jaar oude stijil – periode behooren en voor de praehistorie. studi kasus dan diskusi kelas. “ Onder monument worden in deze ordonnantie verstaan : a. Door menschenhand tot stand gekomen ontroerende of roerrende zaken. deelen of groepen van zaken. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa kuliah interaktif. Dari pengertian tersebut jelas dapat kita kaitkan dengan apa yang menjadi kriteria dalam pasal 1 ayat (1a ) Monument Ordonnantie Stb. dan wel overblif selen daarvan.157 BAB 13 BAHAN PEMBELAJARAN 12 dan 13 A. (terjemahan bebas) . kejelasan dalam mengungkapkan pendapat dan ketepatan dalam menguraikan teori pembelajaran akan dilaksanakan selama 100 menit untuk masing – masing pembelajaran dengan media modul bagi masing– masing pembelajaran sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik. gescheidenis of kunst van groot belang worden geacht”. Uraian Peraturan perundang–undangan yang ada kaitannya dengan pengangkatan dan pemanfaatan benda–benda berharga di dasar laut perairan Indonesia.

1970 dan lain. is specially designated by each State as being of importance for archaeology. sejarah atau kesenian.art or science and wich belongs to the following categories: ……. sekali. juga dinilai dengan uang jelas akan mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi. sekali pun dalam KEPPRES tersebut ada makna yang dikandung mempunyai nilai ekonomi. Sebagai contoh kami kutip pengertian cultural property dari Covention yang disebut belakangan yaitu sebagai berikut : “The term cultural property menas property which. 14 Nov. on religious or secular ground. Benda–benda bergerak maupun tidak bergerak yang dibuat oleh tangan manusia. history. Namun jika yang dimaksud berupa benda–benda logam yang tidak mengandung nilai seni sama sekali misalnya emas balokan mungkin benda– benda tersebut dapat dianggap hanya mempunyai nilai ekeonomi. . 238 tahun 1931 tau konvensi–konvensi internasioanl UNESCO. maka jelaslah bagi kita bahwa hubungan atau kaitannya amat erat.” Pengertian – pengertian seperti monument. cultural heritage. cultural property. literature.158 “ Yang dimaksud sebagai monumen dalam ordonnantie ini : a. Jika kita simak apa yang dimaksud benda berharga seperti kemukakan dalam KEPPRES Nomor 43 tahun 1989 tersebut di atas dengan pengetian dari sudut Monumenten Ordonantie Stb. prehistory. Sebutan Benda Cagar Buadaya disesuaikan dengan apa yang dicantumkan pada pasal 14 undang– undang Republik Indonesia nomor 4 tahun 1982 tentang “ ketentuan–pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup” yang antara lain menyatakan bahwa : “ Ketentuan tentang perlindungan cagar budaya ditetapkan dengan Undang–undang”. Export dan Transfer of Cultural Property. peniggalan sejarah dan purbakala. Karena sesungguhnya jika benda–benda yang mempunyai nilai penting bagi prasejarah dan kesenian seperti dinyatakan dalam MO. Apa yang dimaksud dengan monumen dalam pengertian MO tersebut di atas biasanya ada persamaan dengan pengertian cultural heritage atau cultural property dalam berbagai International Convention dan Recommendation misalnya dalam “Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage” tahun 1972. kami mecoba menyebutnya juga Cagar Budaya atau lebih tepatnya Benda Cagar Budaya. Convention on the means of Probibiting nada Preventing the Illicit Import. Unesco.lainnya. bagian atau kelompok benda–benda dan juga sisa sisanya yang sedikit–sedikitnya berumur 50 tahun dan dianggap mempunyai nilai penting bagi presejarah.

Suatu contoh di London baru sejak tahun 1964 dibentuk suatu Committee for Nautical Archaeology yang bertujuan mengkoordinasikan penyelam–penyelam dengan ahli ahli purbakala daratan (land Archaeologist). Jim Gill. maka sisa yang jumlahnya ribuan tersebut dapat dianggap mempunyai nilai ekonomis bila dijual. . Kemudian tumbuh berkembang perhatian terhadap underwater archaeology di beberapa Negara yang sudah maju. Permasalahan Hingga Terbit Kepres Nomor 43 Tahun 1989 Dari sejumlah pasal–pasal dan ayat–ayat dalam Monument Ordonantie memang tidak ada satupun yang secara eksplisit dihubungkan dengan benda– benda atau monumen yang dikaitkan dengan masalah underwater Archaeology. Masalah ini baiklah kita bicarakan kemudian. termasuk eksploitasi perdagangan melalui sisa–sisa kapal–kapal yang hilang : penelitian mengenai lambung–lambung kapal. Oleh karena itu yang penting dalam masalah ini penilaian seksama apa yang dimaksud dengan nilai penting bagi prasejarah. Australia. Sejak itu maka ternyata penyelam–penyelam mempunyai sumbangan yang penting bagi dunia Arkeologi. Kelompok yang disebut GRASP yaitu Groupe de Recherche Archaeologique Sous Marine Post Medievale. Hal itu dimungkinkan bahwa apad tahun–tahun tiga puluhan belumlah ada suatu undang–undang keterbukaan di hampir seluruh dunia mengkaitkan atau mencantumkan masalah underwater archaeloyi atau arkeologi bawah air. seperti Amerika Serikat. Pada waktu itu tidak ada bandingnya badan atau komite tersebut di Inggris. Dibawah spronsor CAN dilaksanakan juga penyelenggaraan pendidikan berupa kursus–kursus tentang under water archaeology di School for Nautical Archaeology di Plymouth (SNAP) di bawah pimpinan Lt – Cmdr Alam Bax dan Mr.159 Jika benda–benda seperti keramik jumlahnya ribuan dan jenisnya sama apalagi kualitasnya kurang baik mungkin contoh yang disimpan dimuseum beberapa saja. sejarah atau kesenian. alat–alat perang. Jepang dan Prancis dan lain–lainnya. komite tersebut seringkali didengar dengan singkatan CAN. Berkembangnya underwater archaelogi baru–baru saja kira–kira tahun 1960 an. telah melakukan penelitian–penelitian dan penggalian–penggalian kapal–kapal dari abad 16 dan awal abad 19 dengan maksud mendapatkan dokumen sejarah ekspansi bangsa Eropa dilautan.

Delauze. dibawah Presiden Direktur Jenderal yaitu Mr. Helena (South Atlantic Ocean) 1613 dan masih banyak kapal lagi yang tidak perlu disebutkan disini. Lastdrager. Mataram. Aceh. Dengan kejadian–kejadian pencurian seperti pernah dilakukan oleh orang– orang yang tidak bertanggung jawab. Di samping itu pula berbicara tentang peraturan perundang–undangan yang ada seperti Monumenten Ordonantie atau undang–undang lainnya belum secara khusus mengatur perlindungan benda–benda berharga bawah air. navigasi dan peralatan lainnya. Demikian pula tentang penemuan benda–benda di dasar lautan biasanya dikaitkan dengan pasal–pasal tersebut di atas. Bahkan sejarah teknologi pembuatan kapal–kapal pada masa kerajaan–kerajaan kita di masa lampau seperti Sriwijaya.160 perabotannya. barang–barang yang d ipakai sehari hari dan muatannya. Pasal–pasal tersebut biasanya diterapkan benda–benda dar daratan. maka pemerintah merasa perlu membentuk Panitia Nasional untuk mengurusi masalah–masalah pengangkatan benda–benda berharga di dasar laut perairan Indonesia. Slotter Hooge. Dari segi MO yang dapat diakibatkan secara tidak langsung ada beberapa pasal misalnya pasal 6 ayat (1) dan (2) tentang pembawaan. hilang di Yeil ( Sheland ) 1653. hilang di Pulau St. Pada tanggal 14 agustus 1989 Presiden Republik Indonesia melalui KEPRES Nomor 43 tahun 1989 menetapkan . Witte Leeuw. VOC hilang di Porto Santo ( Madeira Archipelogi )1724. VOC. pemindahan. Majapahit. Benten. Henry G. GRASP telah berhasil mengangkut kapal– kapal dagang dan kapal perang seperti Wedela. Danish Asiatic Company tenggelam di Feltar (Shetland) 1937. perdagangan dan lain sebagainya yang perlu untuk melengkapi kegelapan–kegelapan sejarah tersebut. Ilmu purbakala bahwa air amat perlu bagi mengungkapkan peristiwa–peristiwa sejarah: pelayaran. Sementara tetap kita sebagai bangsa perlu mengembangkan ilmu purbakala bawah air. Kegiatan GRASP tersebut sejak tahun 1967 dan dapat bantuan dari perusahaan COMEX di Marseille. pengambilan benda cagar budaya atau monument menurut pengertian MO sedang pasal 9 hanya menyatakan masalah penggalian yang mungkin dikaitkan apabila terjadi penggalian didasar laut. karena tanah air kita jelas memerlukan untuk diteliti benda– benda bersejarah apa dan kapal – kapal apa yang tenggelam dilautan kita itu. Goa dan lainnya akan memberikan bukti tentang kebaharian bangsa kita. VOC.

(Terjemahan bebas) “ Dilarang mengeksport dari Hindia Belanda (Kini Republik Indonesia) tanpa ijin Kepala Dinas Purbakala (kini direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan sejarah Purbakala) benda–benda yang dicacat sementara atau tetap di dalam daftar monument umum pusat atau yang sesuai dengan pasal 8 ayat (2) dianggap di catat sementara maupun benda – benda yang berasal dar jaman sebelum Islam. mengenai ijin ekspor dan penjualan / pelelangan benda berharga dengan rekomendasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 34 serta JUKLAK – nya maka setiap Departemen dan Instansi masing – masing yang mempunyai peraturan . Butir–butir tersebut diatas sesuai dengan peraturan perundang–undangan yaitu dengan Monumenten Ordonantie St. geacht worden daarin voorlooping te zijn ingeschreven. zoo mede voorwerpen.161 pembentukan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfataan benda Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam.Indie uit to voeren : voor werpe. ook al zijnzij niet in genoemd register ingeschreven”. Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Central Nomor : 27 a/ Kpb/II/1970. masalah criteria nilai sejarah dan pasal 6 ayat (1) tentang keharusan ada ijin atau rekomnedasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membawa benda – benda cagar buadaya atau “monument” keluar Indonesia sebagaimana dapat kami kutip di bawah ini : “ He is verboden zonder vergunning van het hootd van den oud heidkundige dienst uit Nederlandsch. Nomor Kep. 238 tahun 1931 pasal–pasal 1 ayat (1) a. terutama penegasan pasal 7.4) Departemen Perdagangan. 62/MK/III/2/1970:Nomor : KEP.3/GBI/1970 tentang pembawaan/ pengiriaman b arang – barang keluar daerah pabean secara bebas dari ketentuan – ketentuan Devias. welke voorlooping of difinitief in het openbaar central monumentenregister zijn geschreven of ingevolve artikel 8 lid (2). mengenai benda–benda bersejarah yang mempunyai nilai budaya. dan pada butir (1. Dalam hubungan ini sudah jelas ada kaitan erat antara Deparatemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Departemen Perdagangan dan Departemen Keuangan. Dalam hubungan dengan KEPRES No. dateernde uit den voor Mohammadens chen tijd. Mengenai perijinan pembawaan keluar negeri tersbut juga diingatkan oleh SKB Menteri Perdagangan. Beberapa Kepmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan butir 1.2 “ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. meskipun tidak tercatat pada daftar tersebut.

dan kapal lain waktu perang Dunia II tenggelam di dasar laut di Wilayah Perairan Indonesia. Dari alinea itu masih dapat menimbulkan pertanyaan: bagaiman dengan kapal–kapal diluar yang disebut. Dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut tentang penelitian Arkeologi bawah air ditegaskan bahwa ijin penelitian arkeologi bawah air ditujukan kepada Panitia nasional tetapi dengan rekomendasi dar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Spanyol. Yuang. Bagaimanakah jika kerangka kapal–kapal yang ditetapkan tersebut tidak boleh diangkat? Padahal untuk penelitian arkeologi bawah air bentuk–bentuk kapal diperlukan untuk . misalnya kapal–kapal zaman sriwijaya. 43 tersebut terutama bagi dunia arkeologi bawah air dan kaitannya juga dengan peraturan perundang –undangan lainnya belum mantap betu. Suatu contoh dalam KEPRES Pasal 1 butir b disebutkan kapal yang tenggelam adalah kapal VOC. Kecuali untuk penelitian terhadap benda hasil pengangkatan benda berharga dilakukan oleh suatu Tim Penilaian Benda Cagar Budaya. Dengan demikian di harapakan kepentingan dunia pengetahuan dan sejarah. Karen itu terkoordinasi maka untuk pelaksanaan JUKLAK Ketua Panitia Nasional.162 perundang–undangan yang sudah ada tetap berlaku. Ming. masing–masing Departemen atau Instansi di haruskan membuat keputusan tentang cara pelaksanaan di bidangnya masing–masing tetapi yang jelas harusbersifat koordinatif dan interagtif. Majapahit. yang tenggelam. 9834/O/1989 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengangkatan Benda–benda Berharga khususnya yang berhubungan dengan Benda Cagar Budaya di Wilayah Perairan Indonesia. Dengan terkoordinasikan adanya hal–hal KEPRES atau No. Ching dan sebagainya. arkeologi bawah air akan lebih diperhatikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam hubungan ini telah menerbitkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. Namun demikian tentu masih ada beberapa hal yang masih merupakan masalah karena dalam KEPRES No. 43 tahun 1989 agaknya lebih masalah–masalah benda–benda berharga koordinasikan hal–hal atau masalah–masalah benda–benda berharga termasuk benda–benda historis atau arkeologis itu. Pasal 4. Mataram dan lain sebagainya ? bahkan bagaiman dengan kapal Cina dari masa dinasti T’ang. Hal ini dicantumkan pada surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bab IV. Portugis.

Kita sadar bahwa Wawasan Nusantara yang tidak terlepas dari masalah kemaritiman. Masalah lainnya ialah bagaiman mengatur benda – benda arkeologis yang terdapat diperairan diluar territorial kita.d 2 Maret 1979 di Jakarta. Mochtar Kusumaatmadja 11 tahun yang lalu sampai dimana sudah dimplementasikan oleh kita semuanya? persoalan lain dari segi hokum kelautan khususnya mengenai benda berharga dalam hal ini benda– benda bersejarah belum diimplementasikan dalam bentuk perundang–undangan. Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982.(2) Unsur Komunikasi. Jika ditemukan sebuah kapal dan muatannya dari zaman Sailendra atau Sriwijaya maka penting diketahui bagaimana sebenarnya bentuk dan teknik pembuatnnya? Apakah sama dengan apa yang terdapat pada gambaran atau relief kapal di Candi Borobudur ? hal–hal itu semuanya kita perlukan untuk mengadakan terus menerus penelitian.163 meneliti sejauh mana teknologi pembuatan perkapalan itu. dan kesempatan adalah pada underwater archeology. Beliau berkata dalam kesimpulannya: “ Bahwa segala unsure bagi diwujudkannya Wawasan Kesatuan Bangsa dan Negara itu kini telah tersedia yakni : (1) Unsur kesatuan wilayah. Kemanfaatan yang besar bukan hanya metrinya tetapi juga dari segi keilmuwan yang dapat menjadi dan membntuk Wawasan Kebaharian yang kuat pada bangsa sesuai apa yang pernah dihimbau oleh Mochtar Kusumaatmadja dalam ceramahnya “Bahan ceramah Menteri Luar negeri: Dalam Pengimplemantasian Wawasan Nusantara” pada rapat Rektor Universitas / Instuti Negri seluruh Indonesia tanggal 28 Februari s. . Yang harus dilakukan kini adalah penjbaran dan pemanfataannya dari pad aide pembinaan bangsa – bangsa berdasarkan konsepsi kesatuan di setiap bidang kehidupan Nasional.dan (3) Unsur Perencanaan. dengan memperhatikan secara khusus hak – hak yang didahulukan dari negar asal kepurbakalan”. sudah sejauh mana pelaksanannya khususnya mengenai pasal 149 benda – benda purbakala dan bersejarah yang berbunyi : “ semua benda – benda purbakala dan yang mempunyai nilai sejarah yang ditemukan di kawasan harus dipelihara atau digunakan untuk memanfaatkan umat manusia sebagai suatu keseluruhan. kelautan memerlukan penerapannya dalam bentuk atau cara antar lain mengadakan penelitian kandungan dasar lautan kita terutama dari segi marine archeology.” Apa yang dinyatakan Prof. Dr.

undangan yang dimaksudkan dalam pasal tersebut. Misalnya apabila masalah tersebut dicantumkan pada stu perundang–undangan maka jelas diperlukan cantumkan kaitannya dengan hukum–hukum yang berlaku bagi kelautan. Saran kami tentunya yang utama bagaimana mengatur tersebut dalam suatu undang – undang dan kaitannya dengan Undang – undang lain.” Kecuali sampai sejauh mana pelaksanaannya maka sampai sejauh man pula akan dikaitkan dengan hukum – hukum laut nasional kita. Semenjak . 2. Untuk mengendalikan peredaran benda–benda demikian negara pantai dapat. menaggap bahwa diambilnya benda benda tersebut dari dasar laut dalam daerah yang dimaksudkan dalam pasal yaitu. penelitian. Tiada satupun dalam pasal ini mempengaruhi hak. termasuk masalah kewenangan security. belumlah mantap secara tercantumkan pada perundang–undangan.164 Pasal 303.undangan benda .hak para pemilik yang dapat dikenal. Dari uraian di atas maka semuanya kita dapat mengambil kesimpulan pokok bahwa masalah benda– benda berharga. hokum pengangkatan kerangka kendaraan air atau lain -lain peraturan tentang pelayaran atau hukum dan praktek yang berkenaan dengan pertukaran kebudayaan. tanpa persetujuan Negara pantai bersangkutan merupakan suatu pelanggran dalam wilayah atau laut teritorialnya. terhadap hokum dan peraturan-peraturan perundang. kerna berkecamuknya perang Salib di kawasan itu. baik pengambilan. Perdagangan rempah–rempah terjadi antara Nusantara dengan Eropah yang tadinya melalui perantara pedagang Timur Tengah tidak dapat berlangsung seperti sediakala. 3.benda purbakala dan benda . Negara –negara berkewajiban untuk melindungi benda–benda purbakala dan bersejarah yang ditemukan dilaut dan harus bekerjasama untuk tujuan ini.benda bersejarah.perjanjian internasional dan peraturan hukum internasional lainnya perihal perundang . Pasal ini tidak mengurangi arti daripada perjanjian . pemanfataannya terutama hubungannya dengan perkembangan dunia arkeologi bawah air. ditemukan di laut : benda–benda purbakal dan benda–benda bersejarah yang 1. dalam menerapkan pasal 33. 4.

Dan setelah diangkat.Portugis dan Spanyol di masa silam. Lokasi dan penemuan kembali kapal – kapal yang tenggelam di Nusantara ini kini hampir dapat ditentukan. budaya. Demikian pula halnya falan survey dan eksplorasi di laut peralatan mutakhir dan canggih dipergunakan. sutera dan sebagainya. jumlahnya tidak kecil. dan juga bagaiman tata cara penangkatannya. Persoalan pertama yang harus dipecahkan ialah benda – benda berharga yang dilihat dari nilai historis. Armada dagang yang berlayar kemabli menuju Eropah bermuatan tidak hanya rempahrempah. Demikian pula halnya dengan peristiwa penemuan kapal De Geldermalsen yang pemberitannya dimuat dalam waktu yang cukup lama.165 itu 5 abad yang lalu para pedagang Eropah dengan Armada lautnya mengirim mis misi dagang langsung ke sumber asalnya rempah-rempah di Nusantara. Michael Hatcher sebelum mengangkat. Dengan demikian maka persoalan pokoknya adalah bagaimana status hukum benda–benda berharga di dasar laut dan perairan Indonesia. Permasalahannya timbul setelah diketahui dan disadari potensi kekayaan benda–benda yang terpendam di dasar laut dan di perairan Indonesia yang tenggelam bersama kapal dagang VOC. arkeologinya dan nilai ekonominya itu milik siapa. dan dijual manfaatnya untuk siapa. Selanjutnya untuk dapat melakukan pengangkatannya dari dasar laut siapa yang berwenang mengeluarkan ijin. mengambil dan menjual benda – benda berharga dari kapal Geldermalsen telah bekerja belasan tahun dimulai tahun 1972 di antaranya menyelenggarakan riset dimuseum dan perpustakaan negeri Belanda. Diantara armada dagang yang melaksanakan misinya itu tidak sedikit yang terdampar dan tenggelam dan tenggelam karena ganasnya laut. Hal ini tidak lain karena hasil riset di arsip-arsip pelbagai Negara yang juga menggunakan peralatan canggih seperti komputer. Ratusan kapal bermuatan benda–benda berharga yang tenggelam tergelatak di dasar laut di Nusantara kita ini dan sekitarnya. tetapi juga benda budaya dan seni dari Timur seperti hiasan emas permata. Terungkaplah posisi Flor de la Mar yang tenggelam diselat Malaka dengan barang-barang berharga di antaranya emas permata dan harta benda lainnya dari kerajaan Malaka. salah satu hasil jarahan Portugis di kawasan ini semasa jayanya di masa silam. piring dan mangkok serta jembatan terbuat dari tembikar dan porselin. .

Pemanfaatan adalah kegiatan yang meliputi penjualan dan pemanfaatan lain seperti penyimpanan di Museum. Zona ekonomi Eksklusif Indonesia dan Landas Kontinen Indonesia. yang di dalamnya mengandung asas persatuan kesatuan nasional. b. asas keterpaduan. survey pengangkatan benda berharga asal muatan kapal tenggelam selama dan sebelu perang dunia kedua serta kegeiatan lainnya sebelum pemenfaatan. dan hokum perdata Indonesia. sosial budaya maupun Hankam yang kaitannya tidak hanya nasional tetapi juga regional dan internasional. Karena itu pendekatan masalahnya menggunakan pendekatan Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara. dan lainnya. seperti halnya dengan Indonesia. Demikian pula hanya dengan pemilikan kapal yang mengangkut dan kemudian tenggelam bersama muatannya. meliputi perairan kepulauan dan laut wilayah serta dasar laut dan tanah di bawahnya. Status hukum benda–benda berharga yang terdampar di dasar laut dalam perairan Indonesia menyangkut masalah pemilikan yang terkait pula dengan lokasi dimana benda–benda berharga tersebut dapat dilihat dar ketentuan–ketentuan dan asas–asas hukum internasional Indonesia. Hal ini berarti Indonesia mempunyai wewenang yang mutlak atas benda–benda . Beberapa pengertian : a. seyogyanya ditinjau dari ketentuan–ketentuan dan asas hukum tersebut. Pengangkatan adalah kegiatan yang meliputi penelitian. asas kepentingan nasional dan asas integritas wilayah nasional. Konvensi Hukum Laut Tahun 1982 Konvensi Hukum laut Tahun 1982 yang telah diratifikasi Indonesia dengan undang – undang Nomor 17 Tahun 1985 (selanjutnya disingkat KHL 1982 menentukan bahwa kedaulatan suatu Negara kepulauan. budaya.166 Persoalan–persoalan tersebut tidaklah mudah di samping saling terkait juga karena menyangkut pelbagai kepentingan baik politik. d. Laut adalah perairan yang berada dalam yurisdiksi nasional Indonesia yaitu perairan Indonesia Indonesia. Zona Tambahan Indonesia. Benda berharga adalah benda yang mempunyai nilai sejarah. c. ekonomi. ekonomi. juga udara di atasnya ( video pasal 2 dan pasal 49 KHL 1982 ). arkeologi.

tetapi juga untuk mengeksplorasi landas kontinennya itu sendiri yang dikaitkan dengan “ sumber daya alam” ataupun untuk kepreluan lain. Sedangkatan pengangkatan dan pemanfataan benda–benda berharga di Zona Tambahan. Pengangkatan benda–benda berharga tersebut dari dasar laut tanpa persetujuan Indonesia akan merupakan pelanggaran peraturan perundang – undangan beacukai.167 berharga yang terpendam di dasar lautnya. seiring dengan ketentuan Pasal 303 ayat 2 jo Pasal 33 KHL 1982. Di ZEE hak berdaulat Negara di pantai ditujukan guna kepentingan eksplorasi. bukan rejim ZEE. fiskal. konservasi dan manajemen terhadap sumber daya alamsaja. Walaupun saat ini Indonesia belum secara resmi mengumumkan adanya Zona Tambahan berupa lajur laut selebar 12 mil di luar dan berdekatan dengan laut wilayahnya. keimigrasian. namun dengan diratifikasinya KHL 1982 maka Zona tambahan Indonesia dianggap telah ada. bukan hanya merupakan perwujudan pelaksanaan kedaulatannya. imigrasi ataupun saniter di dalam wilayah ataupun laut wilayahnya. eksploaitasi. harus dengan ijin dan kerja sama dengan Pemerintah Indonesia. Bahwa benda berharga letaknya berada di dasar laut. Kemudian dari pada itu bagaimana perlaukan ataupun status hokum benda benda berharga di dasar laut di ZEE Indonesia ataupun di Landas Kontinen. fiskal.nya. maka tidak pihak atau seorang pun juga boleh melakukan kegiatan dimaksud di Landas Kontinen. kita mempunyai yurisdiksi eksklusif guna melindungi kepentingan nasional dalam kebecukaian. Lagi pula jika Negara pantai tidak mengeksplorasi dan tidak mengeksplotasinya. Pengangkatan dan pemanfaatan benda–benda tersebut haruslah seijin dan kerja sama dengan Indonesia. tetapi juga didukung oleh ketentuan–ketentuan dan asas hukum lainnya diuraikan di bawah nanti. Sumber daya alam yang terkait dengan rejim Landas Kontinen tidak . dan saniter. Pernyataan mengenai status hukum benda–benda berharga yang berada di perairan Indonesia sebagai milik Indonesia merupakan tindakan sebagai Negara yang berdaulat terhadap sumber alam dan kekayaan lainnya yang ada di situ. Pernyataan yang demikian. maka dalam kaitan ini sebaiknya rejim Landas Kontinen yang di utamakan. Di Zona Tambahan Indonesia. Eksplorasi dan aksploitasi dalam rangka pengangkatan dan pemanfataan benda – benda berharga di Zona Tambahan tersebut karenanya haruslah seijin Pemerintah RI.

dengan memeprhatikan masing masing keutamaan kepentingan pihak–pihak yang terlibat maupun masyarakat internasional keseluruhannya. maka penyelesainnya akan dilakukan yang ditetapkan sesuai ketentuan pasal 59. Semua Negara berkewajiban untuk melindungi benda–benda arkeologi dan sejarah yang ditemukan di laut di manapun di temukan dan semua Negara berkewajiban untuk melindungi bendabenda arkeologi dan sejarah yang ditemukan di laut di manapun ditemukan dan semua Negara harus bekerja sama untuk maksud tersebut (vide pasal 303 ayat 1 KHL). Indonesia sebagai negara yang sangat berkepentingan dalam hal ini berkewajiban untuk mengaturnya. Karena ZEE dan Landas Kontinen bukan lagi merupakan bagian dari laut yang mempunyai ketentuan – ketentuan tersendiri. Pasal 59 KHL 1982 sebagai hasil ‘Castaneda Formula”menyatakan bahwa dalam hal–hal Konvensi Hukum Laut tidak jelas menentukan hak–hak atau yurisdiksi kepada Warga Negara pantai atau kepada Negara lain di ZEE. Dan jika nanti ada yang mempermasalakn sah atau tidaknya ketentuan yang ditetapkan itu. Sehubungan dengan hal ini patut dikemukakan selama Konperensi Hukum Laut PBB – III. Siapa yang berwewenang mengatur hal–hal yang tidak jelas diatur dalam konvensi. Dalam hubungan dengan “resource” ini termasuk dalamnya pengertian archaeological and historical objects. (Kemudian menghasilkan KHL 1982) ialah “residual power” Negara pantai atas ZEE. Dengan demikian termasuk benda–benda berharga di dasar laut yang diatasnya Negara pantai mempunyai hak berdaulat.benda berharga di ZEE dan Landas Kontinen. maka Negara pantai dapat menentukan ketentuan–ketentuan mengenai benda. kata sementara penulis. .168 hanya terbatas pada mineral saja tetapi meliputi sumber daya non hayati lainnya pada dasar laut (Other non living resources of the sea bed and subsoil ) dan tanah di bawahnya ( vide Pasal 77 KHL 1982 ). paling tidak dengan maksud untuk melindungi benda – benda berharga di Landas Kontinennya. Dengan demikian pengangkatan benda–benda berharga di Landas Kontinen Indonesia haruslah dengan persetujuan dan setidak– tidaknya kerjasama dengan Pemerintah Indonesia. maka jika kelak timbul sengketa itu harus diselesaikan berdasrkan keadilan dan dengan pertimbangan segala keadaan yang relevan.

169

Dengan demikian tidak ada kelirunya kita memikirkan pengaturan benda– benda berharga di ZEE dan di Landas Kontinen sesuai dengan arah KHL 1982 (vide pasal 303 KHL 1982), minimal untuk melindunginya. Hukum Perdata International Hukum perdata International dalam menentukan hukum apa yang berlaku terhadap suatu benda telah mengalami perubahan. Di masa yang lalu factor menentukan hukum kebendaan manakah yang berlaku adalah hukum dari letaknya benda tersebut berada (lex, situs, lexrel sitae) hanya berlaku untuk benda bergerak (movaebles) yang berlaku adalah adagium ”mbilia personam sequenter” (benda bergerak mengikuti status dar orang). Namun kini sudah umum diterima baik oleh para penulis maupun praktek hokum, bahwa kaidah “lex rei sitae” juga berlaku baik terhadap benda bergerak maupun tak bergerak, terhadap kedua jenis benda dimaksud (movables and Immobales) berlaku hukum kebendaan dimana benda tersebut terletak. Hukum perdata Internasional Indonesia kini juga mengikuti asas ini, meskipun ketentuan Pasal 17 A.B hanya memperlakukan untuk benda tak bergerak saja. Dalam lalu lintas hukum internasional kini dan di masa datang ketentuan seperti yang termuat dalam pasal 17 A.B telah lama ditinggalkan. Pakar hokum Indonesia dalam hal ini menegaskan’. Diwaktu sekarang asas inipun dipergunakan untuk benda – benda yang tak bergerak. Juga hak – hak kebendaan (zakelyke rechten) atas benda – benda bergerak tunduk kepada hukum dimana benda–benda itu berada’. Pemikiran kepentingan nasional dengan memperhatikan perkembangan internasional kiranya mau tidak mau membawa kita kea rah pemikiran dan tindakan yang demikian. Oleh karena itu terhadap benda – benda berharga yang berada di dasar laut dalam perairan Indonesia berlakukalah hukum kebendaan dimana benda berharga tersebut terletak yaitu hukum Indonesia yang disesuaikan dengan rejim hukum. Hukum Agraria Nasional Bahwa kewenagan mutlak Indonesia terhadap benda harga yang berada di laut dalam perairannya diperkuat pula filsofi Hukum Agraria Nasional kita yang

170

dalam Penjelasan UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar pokok–pokok Agraria antara lain menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia.dan seluruh bumi air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya, merupakan kekayaan nasional. Karena itu pemilikan terhadap benda–benda, apabila dilihat dari ketentuan– ketentuan perundang –undangan perairan nasional kita yang ada saat ini belum secara resmi dinyatakan sebagai milik Indonesia; maka undang–undang perairan Indonesia yang akan datang kiranya penuangnya perlu mendapat perhatian yang sungguh – sungguh.

Hukum Perdata Pemilikan ataupun penguasaan benda–benda berharga dasar laut dan perairan Indonesia oleh Pemerintah Indonesia cukup pula kuatnya dasarnya. Ketentuan–ketentuan tentang Daluwarsa dalam Bab ke Tujuh KUH Perdata memuat ketentuan yang dapat digunakan untuk menguatkan dasar kepemilikan Negara RI. Penguasaannya dari dahulu kala, terus–menerus dan dengan itikad baik, setidak–tidaknya Indonesia telah menguasai benda–benda berharga di dasar laut dan perairannya lebih dari 30 tahun. Penguasaannya dapat ditunjuk dengan penguasaan perairan Indonesia. Dengan menggunakan TZMKO 1939. Dan jik perairan Indonesia cukup pula kuat dasarnta. Ketentuan–ketentuan tentang Daluwarsa dalam Bab ketujuh KUH Perdata memuat ketentuan yang dapat digunakan untuk menguatkan dasar kepemilikan Negara RI. Penguasaannya dar dahulu kala, terus menerus dan dengan itikad baik, setidak–tidaknya Indonesia telah mengusai benda–benda berharga di dasar laut dan perairannya lebih dari 30 tahun. Penguasannya dapat ditunjuk dengan penguasaan perairan di Indonesia dengan menggunakan TZMKO 1939. Dan jika perairan Indonesia dimaksud kini sudah jauh berbeda dengan perairan pada saat lahirnya TZMKO, dihitung sejak lahirnya Deklarasi Djuanda 1957 juga cukup alasan untuk itu. Pemilikan Dan Penguasaan Kapal Yang Tenggelam Demikian pula pemilikan dan penguasaan kapal yang tenggelamdi masa silam itu atasnya berlaku pula ketentuan – ketentuan dan asas – asas yang

171

diuraikan dalm butir – butir 7,8,9 dan 10 diatas. Juga apabila dilihat dari segi pewarisan penguasa di negeri ini ataupun ada pihak yang merasa mengaku berhak atasnya, maka alasannya untuk itu adalah alasan yang mengada – ada. Mekanisme Pengangkutan dan Pemanfaatan Benda – Benda Berharga. Mekanisme bagaiman tata cara yang harus ditempuh guna mengangkat dan memanfaatkan benda–benda berharga di dasar laut dalam perairan Indonesia sudah terutang di dalam Keputusan Presiden RI Nomor 43 tahun 1989 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal MUtan Kapal Tenggelam, kemudian diikuti Keputusan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam Nomor : Kep–4 / PN/BMKT/12/1989 tentang Cara Pemberian Izin/ Security Clearance Dalam Rangka Kegiatan Pengambilan Dan Pemanfaatan Benda – Benda Berharga Yang Merupakan Muatan Kapal–Kapal Yang Tenggelam Dalam Perairan Indonesia. Bila kita simak ketentuan–ketentuan yang ada tentang tata cara pengangkatan dan pemenfaatan benda–benda berharga dimaksud diatas berulah benda–benda berharga di maksud di atas barula meliputi benda–benda tenggelam di masa silam dan yang merupakan muatan kapal–kapal VOC, Spanyol, Portugal dan dari kapal–kapal ex Perang Dunia ke II, yang telah tenggelam dalam perairan Indonesia. Namun suatu hal yang perlu menjadi catatan bahwa keputusan– keputusan dimaksud di atas jika kita pelajari dengan seksama bagaiman caranya menangani masalah pengangkatan dan pemanfataan benda–benda berharga tersebut telah melakukan pendekatan dengan menganut asas perbuatan kesatuan nasional, asas keterpaduan, asas kepentingan nasional dan asas integritas wilayah nasional. Bagaimana sikap kita terhadap benda–benda berharga di Zona tambahan Indonesia, di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia/Landas Kontinen Indonesia belumlah ada. Dari uraian di atas tadi cukup alasan bagi pemerintah RI untuk menetapkan pengaturan pengangkatan dan pemanfaatannya, setidak – tidaknya dalam upaya melindungi benda – benda berharga tersebut baik untuk kepentingan Indonesia sendiri maupun kepentingan umat manusia seleuruhnya. Di Zona tambahan jelas sudah, bahwa pengangkatan dan pengangkutan benda–benda

172

tersebut minimal harus seijin dan kerja sama dengan Pemerintah RI karena pengankatan dan tentunya nanti juga pengangkutannya berada dalam yurisdiksi RI berkaitan dengan imigrasi, fiscal, bea cukai dan sanietr sedangkan bagi benda– benda berharga di Zona Ekonomi Eksklusif setidak–tidaknya akan menyangkut masalah izin mengadakan riset dan survey dikawasan itu dalam upaya eksplorasinya atau mengeksploitasnya maka tidak seorang pun dapat melakukan kegiatan dimaksud tanpa persetujuan yang jelas tegas dari pemerintah RI ( vide pasal 77 ayat 2 KHL 1982 ). Pemilikan ataupun penguasaan benda–benda berharga yang terdapat di dasar laut dalam perairan Indonesia adalah sepenuhnya di tangan Pemerintah RI sebagai wakil Negara dan bangsa Indonesia tidak dapat dipungkiri. Tata cara pengangkatan dan pemanfaatannya telah cukup diatur dalam Keppres RI No. 13 Tahun 1989. Keputusan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang tenggelam Nomor : Kep – 4 / PN/BMKT/12 1989 dan Keputusan Menhankam RI Nomor : Kep/12/VI/1989 tentang tata cara Pemberian ijin/Security Clearance Dalam Rangka Kegiatan Pengambilam dan Pemanfaatan benda – benda berharga di Zona Tambahan dan di Landas Kontinen belumlah ada dan pemikirankita tidak ada kelirunya diarahkan bagi terwujudnya pengaturan yang demikian. Pengangkatandan pemanfaatan benda – benda berharga di Zona Tambahan harus seijin dan kerjasama dengan pemerintah RI, yurisdiksi nasional Indonesia di Zona tambahan terkait dengan ketentuan imigrasi, fiskal, bea cukai dan saniter. Di ZEE Indonesia/ landas Kontinen Indonesia pengangkatan dan pemanfaatannya harus dengan ijin dan kerja sama pemerintah RI minimal untuk perlindungannya bagi kepentingan Indonesia dan umat manusia seluruhnya memerlukan pengaturan.

C. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas meteri pembelajaran 12 dan 13 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaan, seperti : 1. Sampai sejauh mana hak Negara Republik Indonesia atas benda – benda tersebut ? 2. Benda – benda itu milik siapa ?

Siapa yang berwenang mengeluarkan izin untuk melakukan pengangkatan dari dasar laut ? 4.d 2 Maret 1979 di Jakarta. Makalah untuk peserta Kursus Perundang–undangan Lingkungan Hidup di Puncak. Peangkatan dan Pemanfaatan Benda – Benda Purbakala di Dasar Laut Perairan Indonesia (Paper).. Mochtar Kusumaatmadja. Kementerian Kelautan dan Perikanan. 43 tahun 1989 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam Beserta Implementasinya. 43 Tahun 1989 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam. Tanpa tahun. tanggal 28 Februari s. 1971. Pada rapat kerja Rektor Universitas /Institut Negeri Seluruh Indonesia. Nautical Archaelogy A Handbook. C. Sejarah Perkembangan Hukum Laut dan Kaitannya dengan Hukum Internasional.173 3. The Ceramic Load of the Witte Leeuw (1613). Safri Burhanuddin. Manfaatnya untuk siapa ? Daftar Bacaan Bill ST John Wilkes. KEPPRES No. Bass. 1975. . Amsterdam: Rijkmuseum Amsterdam. New York. Bahan ceramah Menteri Luar Negeri Dalam Pengimplementasian Wawasan Nusantara”. Perlindungan Benda Cagar Budaya Nasional (Protection Of National Vultural Heritage). London. New Ton Abbot: David & Charles.L van der pijl–Ketel (editor). George F.1985. Kewenangan Derah dan Eksploitasi Sumber Daya Non Hayati ( Paper ) Uka Tjandrasasmita. Harper Colophon Books. Konvensi Hukum laut PBB 1982 Keppres RI N0. Uka Tjandrasasmita. Archaelogy Beneat The Sea.

Otonomi Daerah (Otoda) hanya akan merusak ciri laut yang bersifat open access tersebut. Argumentasi yang mengemuka tidak jauh dari beberapa isu. Desentralisasi Kelautan: Evaluasi dan Proteksi Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22/1999 (sebelum diganti dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemda). dan lalu nelayan pun punya hak untuk “mengusir” nelayan lain (exclusion rights). Kelompok ini dimotori HNSI. dan diskusi. beberapa ahli hukum laut. yang menolak pasal 3 dan pasal 10 yang mengatur kewenangan daerah dalam pengelolaan laut. ada dua koor yang sangat kontras. sehingga siapapun boleh menangkap ikan dimana saja. Cukup kuat anggapan bahwa laut adalah milik negara (state property). khususnya seputar property right. Partisipasi dalam diskusi. Kerjasama tim. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning dengan small group work. Pertama. ikan tidak punya “KTP”. Penguasaan individu.174 BAB 14 BAHAN PEMBELAJARAN 14 dan 15 A. bahwa Otda hanya membuka ruang bagi nelayan untuk mengkavling wilayahnya. prinsip-prinsip pengelolaan perikanan Indonesia”. Menurut kelompok ini. Uraian 1. kuliah interaktif. Laut adalah pemersatu dan bukan pemisah. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu XIV dan XV bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian. Tidak ada istilah laut daerah. Padahal. B.. dan konflik nelayan. anggapan . Sehingga. dan pemerintah propinsi. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 200 menit (2 kali tatap muka) dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. lanjut kelompok ini. rezim pengelolaan sumberdaya. Argumentasi lainnya. serta mengganggu konsep keutuhan bangsa.

38 Kedua. Di sisi lain. sentralisasi itu memang merupakan kecenderungan negara-negara di dunia pasca perang dunia II. Sementara kalangan bupati yang juga mendukung desentralisasi lebih disebabkan adanya “hadiah” kewenangan baru yang cukup besar dalam pengelolaan sumberdaya laut. pada saat desentralisasi dihujat habis-habisan di Indonesia. Konsep community based management (CBM) dan co-management merupakan turunan dari konsep desentralisasi tersebut. Hal ini terlihat dari adanya kecenderungan sebagian bupati hanya mengejar pendapatan asli daerah (PAD) dari sumberdaya laut. dan ternyata negara pun tak mampu menanggung beban itu. Kelompok ini lalu diperkuat oleh Departemen Dalam Negeri. Sehingga. . 2007. Jadi. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Bagaimana sesungguhnya sejarah lahirnya keinginan terwujudnya desentralisasi kelautan ini? Secara historis. pasca-kolonialisme banyak negara di dunai memiliki semangat baru 38 Abdul Rasal Rauf. 239-250. desentralisasi dianggap memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumberdaya. enforcement cost pengelolaan oleh negara sangatlah tinggi. sentralisasi manajemen sumberdaya Sentralisasi telah mengurangi sense of stewardship para nelayan dan pemerimntah daerah terhadap lautnya. Sementara itu. yang telah menyiapkan konsep revisi UU tersebut. mendorong masyarakat untuk turut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan sumberdaya kelautan. Isi revisinya mengakomodasi suarasuara yang anti desentralisasi kelautan. Sementara itu. yang seringkali berseberangan dengan perjuangan nelayan kecil. hlm. Beberapa kalangan akademisi berada dibelakang konsep ini. dan belum sampai pada sebuah kesadaran bahwa desentralisasi adalah jembatan bagi terwujudnya keberlanjutan sumberdaya (resources sustainability).Umumnya sumberdaya akibat mereka berangkat dari fakta rusaknya kelautan. di jurnal-jurnal dan forum internasional konsep demokrasi kelautan justeru disanjung-sanjung. kalangan pengusaha sebagian anti desentralisasi karena berkaitan dengan iklim investasi yang tidak kondusif.175 bahwa otoda hanya menyebabkan konflik nelayan pun berkembang. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar).

Kombinasi nasionalisasi dan modernisasi semakin mengukuhkan peran pemerintah pusat dalam mengelola laut. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. sebagai berikut : 1. 67-83. Hlm. (Jakarta: Dian Pratama Printing. 4. Peraturan Pemerintah (PP). 2003). Jadi. Keputusan Presiden (Keppres). Aspek pemanfaatan. Pengaturan Pengelolaan Sumber Daya Alam Perikanan39 1.yang tidak memberikan kesempatan bagi hal-hal yang berbau tradisional untuk berkembang. Politik Hukum Perikanan Indonesia. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR). 3. Norma hukum tentang pemanfaatan sumber daya alam perikanan. sementara masyarakat lokal dianggap tidak bisa mengelola sumberdaya karena orang lokal dianggap tidak punya ilmu untuk itu. Ternyata ilmu manajemen sumberdaya pun dimonopoli pusat. 2. sebagaimana diatur dalam Ketetapan MPRS No. Kemudian proyek nasionalisasi ini kemudian dimanfaatkan dunia barat untuk menyukseskan proyek modernisme. 5. pertama-tama harus dicari dalam UUD 1945 sebagai sumber hukum yang berkedudukan di puncak piramida hirearki perundang-undangan.176 sebagai bangsa yang merdeka yang menganggap perlu segera menasionalisasi banyak hal. 2. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Perundangundangan. Dalam Ketetapan MPRS ini. /Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Sudirman Saad. Undang-Undang (UU/Perpu). 39 . kalangan yang pro sentralisasi kelautan secara ideologis masih terperangkap ideologi modernisme yang memang tumbuh subur selama Orde Baru. ditentukan bentuk-bentuk dan tata urutan perundang-undangan. Ruang Lingkup Hukum Nasional a. termasuk sumberdaya lautnya.

Pertama. Ketiga norma hukum tersebut. kegiatan simpan pinjam ini hanya terbatas dalam lingkungan anggota. Terdapat tiga norma hukum yang ditetapkan. prinsip koperasi dijalankan sebagai berikut : 1. dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kedua. perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Agar koperasi tersebut memperoleh status badan hukum. 2. . Koperasi sebagai badan hukum dapat melakukan berbagai usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota. seperti Peraturan Menteri dan Instruksi Menteri. koperasi juga dapat melaksanakan kegiatan usaha simpan pinjam. koperasi dibentuk oleh sekurang-kurangnya 20 orang dengan akta pendirian yang memuat anggaran dasar. Pengelolaan dilakukan secara demokratis. negara memiliki hak menguasai atats segenap sumber daya alam. Dalam menjalankan kegiatan. dalam penjelasan resminya diterngkan bahwa pasal 33 mengandung dasar demokrasi ekonomi. Namun. yaitu produksi dikerjakan oleh semua dan untuk semua di bawah pimpinan anggota-anggota perseorangan. ditentukan kerangka normatif tentang bagaimana seharusnya sumber daya alam (termasuk di dalamnya sumber daya alam perikanan) dimanfaatkan. Selain itu. Ketiga. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota. perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Karena itu. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. Di dalam UUD 1945 Pasal 33. Pengesahan akta pendirian ini diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. maka akta pendiriannya harus mendapatkan pengesahan dari pemerintah.177 6. cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasiai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. sebagaimana halnya lembaga keuangan. 3. 4. Bentuk perusahaan yang sesuai dengan karakteristik demokrasi ekonomi ini ialah koperasi.

Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daereahdaerah istimewa tersbut. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam. keberadaan hak ulayat diakui dalam hukum agraria nasional. segenap sumber daya alam tersebut harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan segala peraturan negara mengenai daerahdaerah istimewa tersebut. Diterangkan lebih jauh dalam penjelasan resmi pasal 33 UUD 1945 bahwa demi mengamankan demokrasi ekonomi yang bertujuan mewujudkan kemakmuran bagi semua orang. UUD 1945 juga mengatur mengenai sistem pemerintahan daerah (pasal 18). Pengakuan ini dilatarbelakangi oleh . Pertama. dan rakyat yang banyak ditindasnya. Dengan cara demikian. sektor-sektor yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-seorang Bumi. diharapkan tampuk produksi tidak jatuh ke tangan orang seorang yang berkuasa. sepanjang menurut kenyataannya masih ada. seperti desa di Jawa dan Bali. dan segala peraturan negara mengenai daerahdaerah itu akan memperhatikan hak-hak asal-usul daerah yang bersangkutan. Ketentuan sistam pemerintahan tersebut di atas. Pasal tiga UUPA menyebutkan bahwa pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat hukum adat. dusun serta marga di Palembang. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa didalam wilayah Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbestuterende landschappen dan volksgemeenschappen. Negeri di Minangkabau. harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah sumber-sumber kemakmuran rakyat. Penjelasan umum UUPA (II-3). menerangkan bahwa pengakuan hak ulayat didasarkan pada dua pangkal pikiran. yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi. Karena itu. Kemandirian. Hanya. memiliki arti penting manakala dihubungkan dengan UUPA.178 5. terutama mengenai hak ulayat. harus dikuasai oleh negara. maka cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak.

179 pengalaman masa penjajahan. Kemudian diatur lebih lanjut bhwa bumi. dan diperhatikan pula di dalam keputusan-keputusan hakim. Pengakuan secara resmi hak ulayat dalam UUPA. Pangkal pikiran kedua yang melatarbelakangi pengakuan hak ulayat dalam UUPA adalah kenyataan yang berkenaan dengan pembangunan daerah. meski hak ulayat nyata-nyata ada. Pertama-tama mengenai pengertian istilah air. akan diperhatikan. Konsekuensinya. Misalnya ketika akan diberikan HGU kepada suatu badan usaha. hak ulayat lebih sering diabaikan. Selama ini (sebelum tahun 1960). Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari negara tersebut digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan. air. Namun tidak berarti kepentingan masyarakat adat terabaikan sama sekali. pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. yang ketika itu. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia. pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah swatantra dan masyarakat hukum adat. dengan pengaturan hak ulayat dalam UUPA. yang mencakup baik perairan pedalaman maupun wilayah laut (pasal 1 ayat 5). seperti pemberian HGU. ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. berlaku. Kepentingan masyarakat hukum adat harus tunduk pada kepentingan nasional dan negara. . sesuai keperluan (pasal 2 UUPA). pembangunan di daerah-daerah sering terhambat karena mendapat kesukaran dari masyarakat hak ulayat. dalam UUPA juga masih dijumpai beberapa ketentuan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan. Selain ketentuan hak ulayat. maka masyarakat hukum adat yang menjadi pendukung hak ulayat tidak dibenarkan menghalang-halangi pelaksanaan pembangunan sektoral. tetapi tidak satupun peraturan perundang-undangan mengakuinya secara resmi. Oleh karena itu. Hak menguasai dari negara ini. maka masyarakat hukum yang bersangkutan sebelumnya akan didengarkan pendapatnya dan akan diberikan recognitie sebagai tanda pengakuan dan perlindungan hukum bagi masyarakat pendukung hak ulayat. mengandung makna bahwa kepentingan masyarakat hukum yang menjadi pendukung hak ulayat itu. dalam pelaksanaan hukum.

maka hukum agraria tersebut harus didasarkan pada hukum adat sebagai hukum asli. Permasalahannya kemudian adalah hukum adat manakah yang sesuai dengan politik hukum agraria nasional tersebut. dinyatakan bahwa hukum agraria harus sesuai dengan kesadaran hukum rakyat. yaitu sifat kemasyarakatan dan kekeluargaan. Untuk pernyataan ini. Penjelasannya pasal 16. dengan sosialisme Indonesia. penting karena hukum adat dalam pertumbuhannya tidak terlepas dari pengaruh politik karena hukum adat dalam pertumbuhannya tidak terlepas dari pengaruh politik dan masyarakat kolonial yang kapitalistis dan masyarakat swapraja yang feodal. Seminar Hukum Adat dan Pembangunan Hukum Nasional tahun 1975 di Yogyakarta menyimpulkan : Maka tidak ada alasan meragukan bahwa yang dimaksudkan UUPA dengan hukum adat itu adalah : hukum aslinya golongan rakyat pribumi. yang berdasarkan atas persatuan bangsa. yang berasaskan keseimbangan serta diliputi oleh suasana keagamaan. menegaskan bahwa sesuai asas yang diletakkan dalam pasal 5. Hal yang terakhir ini. perlu diberikan catatan bahwa di berbagai daerah dijumpai hukum adat yang tertulis dalam aksara-aksara . hukum adat harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan masyarakat dalam negara modern dan dalam hubungan negara Internasional. dan karena rakyat sebagian besar tunduk pada hukum adat. serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam undangundang ini dan peraturan perundang-undangan lainnya. antara lain. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara. yang merupakan hukum yang hidup dalam bentuk tidak tertulis dan mengandung unsur-unsur nasional asli. maka penentuan hak-hak atas tanah dan air didasarkan pula atas sistematika hukum adat. segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama (pasal 5 UUPA). Ikhwal defenisi hukum adat tersebut. tetapi tetap memberi ruang hidup bagi hukum adat yang pada kenyataannya sanga majemuk. Karakteristik politik hukum agraria tersebut. Di dalam penjelasan umum (III-1). Namun demikian.180 Hukum agraria berlaku di atas bumi. seperti pasal 16 dan penjelasan umum UUPA. air. dan ruang angkasa adalah hukum adat. Ketentuan ini mencerminkan politik hukum agraria nasional yang meskipun bertujuan untuk menciptakan suatu kesatuan dan kesederhanaan hukum. tercermin pula dalam berbagai pasal lainnya.

bahwa UUPA menyebutkan suatu bentuk hak yang berkaitan langsung dengan masalah perikanan. Alat penangkap ikan adalah sarana dan perlengkapan atau benda-benda lainnya yang dipergunakan untuk menangkap ikan. Beberapa istilah akan dikemukakan sebagai berikut (pasal 1): 1.40 Segala usaha bersama di sektor agraria didasarkan pada kepentingan bersama dalam rangka kepentingan nasional. yaitu HPPI (pasal 16 ayat 2b dan pasal 47 ayat 2). mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial. Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan. 1961. aspek pemanfaatan sumber daya alam perikanan sudah lebih teknis. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa. 6. Negara dapat bersama-sama dengan pihak lain menyelenggarakan usaha-usaha di sektor agraria (pasal 12 UUPA). 40 . Secara khusus. mendinginkan. Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara. mengolah. menyimpan. di dalam UU Perikanan.D. Ph. termasuk kegiatan menyimpan. termasuk kegiatanyang menggunakan kapal untuk memuat. mengangkut. Sebagai contoh dapat disebutkan hukum pelayaran dan perniagaan Ammanagappa yang berlaku dikalangan saudagar dan pelaut Bugis di Sulawesi Selatan.L. Tobing. 5. 4. Pengelolaan sumber daya ikan adalah semua upaya yang bertujuan agar sumber daya ikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berlangsung terus menerus. dalam bentuk koperasi atau bentuk-bentuk gotong royong lainnya. Penangkapan ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun. atau mengawetkannya. 2. 3.181 daerah. Sementara itu. Perkanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan. Pemanfaatan sumber daya ikan adalah kegiatan penangkapan ikan dan / atau pembudidayaan ikan.

termasuk didalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup (pasal 3). dalam hal ini bangunan bendungan. rawa. danau. dan berbentuk pelebaran alur/badan/palung/sungai (pasal 1 ayat 3). termasuk untuk melakukan survai atau eksplorasi perikanan. Wilayah perikanan Indonesia meliputi (1) perarian Indonesia. Sementara wilayah perairan Indonesia. perairan kepulauan. Laut teritorial (territorial sea) Indonesia adalah jalur laut selebar 12 mil yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia. Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Waduk didefenisikan sebagai wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bangunan sungai. dan (3) zona ekonomi ekslusif (pasal 2 UU perikanan). dan waduk diatur dalam PP Nomor 35 Tahun 1991 tentang sungai. Rawa. dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia. waduk. sebagaimana diatur dalam PP No. Dalam PP ini. 6 Tahun 1996 tentang perairan Indonesia meliputi laut teritorial. pengertian sungai. (2) sungai. adalah lahan genangan air secara alamiah secara terus menerus atau . Ketentuan-ketentuan tersebut.182 7. Adapun danau didefenisikan sebagai bagian dari sungai yang dalam dan kedalamannya secara alamiah jauh melebihi ruas-ruas lain sungai yang bersangkutan (pasal 1 ayat 2). 27 Tahun 1991 tentang rawa. Perairan pedalaman (internal waters) Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia. 8. bersesuaian dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam konvensi Perserikatan BangsaBangsa dalam Hukum Laut. Kapal perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk mrlakukan penangkapan ikan. danau. dan perairan pedalaman. menurut Undang-Undang Nomor. sungai didefenisikan sebagai tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan air mulai dari mata air sampai muara dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan (pasal 1 ayat 1). Perairan kepulauan (archipelagic waters) Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai. Selanjutnya.

Pasal 19-23). dan biologis (pasal ayat 1). Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. kimiawi. Pengecualian terhadap ketentuan ini hanya dapat diberikan dalam bidang penangkapan ikan. dapat dimintakan penggantian yang layak (Pasal 26). . yang meliputi dasar laut. hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau badan hukum Indonesia. dinyatakan batal oleh instansi yang memberikan izin tersebut. sedangkan kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi atau potensi sumber daya alam. yang segi fungsi utamanya dibagi menjadi kawasan lindung dan kawasan budi daya. Apabila izin itu diperoleh dengan itikad baik. Zona ekonomi ekslusif Indonesia (ZEEI) diatur secara khusus dalam undang-undang No. terdapat beberapa ketentuan yang relevan. yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan (pasal 1 ayat 7). disebutkan bahwa ZEEI adalah jalur diluar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup. tanah dibawahnya dan air diatasnya dengan batas terluar 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia (pasal 2).183 musiman akibat drainase alamiah yang trerhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. maka terhadap kerugian yang timbul akibat pembatalan izin tersebut. Dalam undang-undang ini. sumber daya buatan (pasal 1 ayat 8). dalam undang-undang Penataan Ruang. Diantaranya. Setiap usaha perikanan di wilayah perikanan Indonesia. sumber daya manusia. Masih berkaitan dengan aspek pemanfaatan sumber daya alam perikanan.5 Tahun 1983 tentang ZEEI. mengenai pembagian kawasan. Pemanfaatan ruang harus selalu mengikuti rencana tata ruangyang telah ditetapkan. baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (Pasal 15. sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban negara Republik Indonesia berdasarkan ketentuan persetujuan internasional atau hukum internasional yang berlaku (pasal 9 UU Perikanan).

disebutkan bahwa sumber-sumber penerimaan daerah dalam pepelaksanaan desentralisasi adalah : 1. Dana perimbangan. dan bertanggung jawab (Penjelasan Umum 1 butir h). penerimaan negara yang bersumber dari pengelolaan laut di luar 12 mil. Untuk tidak mengulangi kesalahan pelaksanaan otonomi daerah masa lalu. yakni sepertiga dari luas wilayah menjadi kewenangan daerah kabupaten atau daerah kota dan duapertiga sisanya merupakan kewenangan daerah provinsi (Pasal 10 UU Pemerintahan Daerah). sejauh menyangkut sektor perikanan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa 80 % dari pungutan pengusahaan perikanan dan pungutan hasil . Dijelaskan pula bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah.184 Khusus wilayah laut sejauh 12 mil dari garis pantai. maka kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan pemerintah pusat menjadi kewenangan daerah (Penjelasan Umum 8 butir 2). kewenangan itu dibagi lagi. Bahkan. Pinjaman daerah. 2. dibagi dengan imbangan 20 % untuk pemerintah pusat dan 80 % untuk daerah (Pasal 6 ayat 5). 3. Penjelasan ini memiliki implikasi bagi pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. nyata. maka kewenangan eksplorasi dan eksploitasi berada di tangan pemerintah daerah. Berkaitan dengan pengelolaan laut sejauh 12 mil. Pendapatan asli daerah. 4. di dalam PP Nomor 25 Tahun 2000 telah diatur secara lebih spesifik bahwa kewenangan pemerintah pusat terbatas pada aspek-aspek kelautan diluar 12 mil (Pasal 2 ayat (3) butir 2). Lain-lain penerimaan yang sah (Pasal 3). Sementara itu. yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. maka dalam UU Pemerintahan Daerah ini. maka dapat ditafsirkan bahwa seluruh penerimaan keuangan dari sumber daya alam tersebut merupakan pendapatan asli daerah. Di dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. pemberian otonomi kepada daerah kabupaten dan daerah kota didasarkan pada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. Pada tingkat daerah.

2. 5. ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan. pemeliharaan. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana. pemanfaatan. termasuk sumber daya. kelembagaan dan kewenangannya serta mekanisme penyelesaian sengketa yang muncul. baik hayati maupun nonhayati. termasuk sumber daya alam perikanan. pemulihan. sebagai berikut : 1. diatur kerangka dan arah kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. dapat ditemukan dalam Undang-undang No. sumber daya alam. 3. yang memadukan lingkungan hidup. b. Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia. zat. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup. dan produktivitas lingkungan hidup (Pasal 1 angka 4). yang meliputi kebijaksanaan penataan. dan sumber daya buatan (Pasal 1 angka 10).185 perikanan dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota di Indonesia (Penjelasan Pasal 6 ayat (5) butir c). maka beberapa aspek yang diatur dalam UUPPLH tersebut. yang penjabarannya masih memerlukan peraturan perundang-undangan lebih rendah. 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan dan perlindungan Lingkungan Hidup (selanjutnya disingkat UUPPLH). Aspek konservasi. Ketentuan-ketentuan umum mengenai konservasi sumber daya alam. kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan (Pasal 1 angka 3). Pertama-tama diawali dengan penjelasan beberapa konsep yang relevan. Di dalam UUPLH ini. seperti konsep-konsep yang digunakan. pengawasan. dan pengendalian lingkungan hidup (Pasal 1 angka 2). Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan. Sesuai dengan keperluan. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup. 4. energi. akan diberi perhatian khusus. stabilitas. pengembangan. dan/atau komponen lain .

penggunaan. 2. Untuk melaksanakan ketentuan ini. Ikhwal kelembagaan dan kewenangannya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mengatur penyediaan. 1. . 6. dalam UUPPLH ditentukan bahwa segenap sumber daya yang merupakan unsur lingkungan hidup dikelola oleh pemerintah sebagai institusi yang mewakili negara. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan (Pasal 1 angka 16). dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya (Pasal1 angka 15). pengelolaan lingkungan hidup. yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup (Pasal 1 angka 22). yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya (Pasal 1 angka 12). Di dalam pasal 8 ayat (2) dirinci kebijaksanaan yang dapat diambil pemerintah. pemerintah menetapkan kebijaksanaan yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup. 8. peruntukan. 7. dan pemanfaatan kembali sumber daya alam. 9. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya.186 ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu. serta sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana. Mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. termasuk sumber daya genetika. yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (Pasal 1 angka 14). sebagai berikut. Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat.

setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah. diupayakan melalui lekanisme perizinan. dapat dilimpahakan-sesuai dengan keperluannya-kepada perangkat pemerintahan di bawahnya. Kewenangan pemerintah pusat tersebut. Dapat juga mengikutsertakan peran pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 12). Bahkan. dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. bagi usaha dan kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting bagi lingkungan hidup (Pasal 15). Apabila terjadi sengketa lingkungan hidup. atau beracun hasil dari usaha atau kegiatannya (Pasal 16 dan 17). 5. Mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan. Efektifitas kewajiban dan tanggung jawab tersebut di atas. pengawasan. Mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial. pada tingkat nasional di-koordinasikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Untuk menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup. penyelesaiannya dapat dilakukan di luar pengadilan dan melalui pengadilan (Pasal 30).187 3. masyarakat. Demikian juga. Segenap kebijaksanaan yang akan ditetapkan pemerintah. adat istiadat. pemerintah pusat dimungkinkan pula menyerahkan sebagian urusan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kepada pemerintah daerah (Pasal 13). maka setiap usaha atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (Pasal 14). dan melibatkan instansi pemerintah terkait. harus memperhatikan nilai-nilai agama. bahan berbahaya. Mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta pelaku pembangunan lainnya (Pasal 9 ayat 1 dan 2). Selain itu. penjatuhan sanksi dan audit lingkungan hidup (Pasal 18-29). . Pelaksanaan kebijaksanaan yang sudah ditetapkan. termasuk sumber daya genetika. 4.

Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai. Berkaitan dengan sumber daya alam perikanan. Adapun kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 13 dan 14). Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya didasarkan pada kriteria keunikan kawasan tersebut berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistemnya (Pasal 25). yakni (Pasal 16): 1. kawasan sekitar danau/waduk. ditetapkan pula dua kriteria sempadan sungai. serta kawasan pantai berhutan bakau (Pasal 5 dan 6). antara lain melalui Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Mengenai penyelesaian sengketa lingkungan. di dalam UUPPLH diambil pendekatan lain. diantaranya. Di dalam Keppres tersebut di atas. sempadan sungai diperkirakan antara 10-15 meter. terdapat beberapa jenis kawasan lindung yang ditentukan dalam Keppres ini. kawasan lindungnya ditentukan antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18). Dengan fungsi yang sama. yaitu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup. sempadan sungai. Untuk kawasan sekitar danau/waduk. sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. sempadan pantai. untuk sungai yang berada di kawasan permukiman. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. diatur kriteria tertantu sehingga suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan lindung. Meskipun Keppres ini semula dimaksudkan sebagai pelaksanaan UndangUndang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup-yang dibatalkan berdasarkan Pasal 51 UUPLH-tetapi melalui ketentuan penutup (Pasal 50) UUPLH. Keppres ini secara yuridis tetap berlaku. 2. yaitu dibuka kesempatan menyelesaikan sengketa .188 UUPLH kemudian dijabarkan lebih lanjut.

dan pihak pemerintah (tripihak). pencemar.189 lingkungan di luar pengadilan. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral dengan dua bentuk pilihan. Perbandingan antara MSY dan TAC di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia Jenis MSY TAC . Untuk kepentingan konservasi sumber daya alam perikanan. pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan tentang total allowance catch (TAC) yaitu total sumber daya ikan yang diperbolehkan untuk dieksploitasi. mengenai konservasi sumber daya alam hayati. menyatakan bahwa untuk memperlancar jalannya perundingan di luar pengadilan. yakni pihak ketiga netral yang berwenang mengambil keputusan dan pihak ketiga netral yang tidak berwenang mengambil keputusan. pada tahun 1997 Menteri Negara Lingkungan Hidup menerbitkan dokumen Agenda 21 Indonesia. Melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 473a/1985. khususnya perikanan laut. telah diundangkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Penjelasan Pasal 32 UUPPLH. Upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup. mulai dikembangkan di Amerika Serikat pada permulaan tahun 1970-an. Konservasi sumber daya alam hayati diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Sementara itu. pemerintah menetapkan TAC di ZEE Indonesia. yaitu upaya mencapai kata sepakat antara pihak penderita. Selain itu. baik hayati maupun nonhayati. yang di dalamnya termuat MSY sebagai acuan bagi kegiatan masyarakat. betapa sulitnya penyelesaian sengketa lingkungan melalui prosedur yang dimungkinkan khususnya sebagaimana dicantumkan di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982. ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. Tabel 6 memberikan gambaran perbandingan antara MSY dan TAC yang berlaku di ZEE Indonesia. Pendekatan baru ini dilatarbelakangi oleh kenyataan. pada tahun 1985. Selanjutnya. yang disebut mediasi ini. yang saling tergantung dan tergantung dan pengaruh mempengaruhinya (Pasal 1). Tabel 1.

000 653. 41 . cakalang. 2010). pembudidayaan ikan. Samudera Hindia.915 88. Pada periode 19982003. diagendakan untuk mengkaji ulang MSY ikan tuna. penelitian diperluas untuk menetapkan MSY di wilayah pesisir dan lautan di seluruh Indonesia bagian Barat dan Timur. Untuk kepentingan pemanfaatan sumber daya laut yang berkesinambungan.73 1 582. 473a/1985. Pada periode 2003-2020. hlm.41 Pertimbangan yang melatarbelakangi UUP dibuat sebagaimana disebutkan di atas.123 100. 4.884 1. Laut Timor. udang.731 1. antara lain. ikan demersal. 23-24. yag merupakan acuan bagian peraturan teknis perikanan.115. terutama bagi ikan tuna. tentunya tetap mendasarkan argumentasi pada fakta sosiologis bahwa wilayah hukum perikanan Indonesia Marhaeni Ria Siombo. Laut Banda.780 (ton/tahun) 75. cakalang.462. Salahsatu pertimbangan disusunnya UUP bahwa pengelolaan sumber daya ikan perlu dilakukan sebaik-baiknya berdasarkan keadilan dan pemerataan dalam pemanfaatannya dengan mengutamakan perluasan kesempatan kerja dan peningkatan hidup nelayan.26 1 Sumber: Data MSY bersumber dari Agenda 21 Indonesia. dan Laut Arafura. Gramedia Pustaka Utama. (Jakarta: PT. Konsep Hukum Perikanan Pada saat ini pengelolaan sumber daya ikan tunduk pada domain Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan (selanjutnya disingkat UUP).432 21000 2. dan spesies-spesies lain yang secara lokal penting.323. dan udang di wilayah pesisir dan lautan dalam wilayah ZEE di Laut Cina Selatan. Hukum Perikanan Nasional dan Internasional. ikan demersal. maka di dalam agenda 21 Indonesia diusulkan rencana kegiatan periode 1998-2003 dan periode 2003-2020.863.190 Ikan Tuna Cakalang Pelagis kecil Demersal Udang Total (ton/tahun) 87. dan/atau pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan perikanan dan bahwa kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan perlu dibina. Laut Sulawesi. data TAC dari SK Mentari No.225 1.

28. Peluang dan Tantangan Situasi terkuncinya sumber daya alam perikanan. nelayan tersebut wajib memperhatikan aspek-aspek kelestarian dari sumber daya ikan yaitu melakukan penangkapan ikan yang tidak merusak lingkungan abiotik dan biotik lainnya. laut kepulauan. pemanfaatan sumber daya ikan merupakan hakhak tiap warga negara. pedalaman. sebagaimana diamantkan dalam Pasal 27 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. (Makassar: Fakultas Hukum Unhas. dan Panayotou (1982).cit. 44 Ibid. Pasal UUP menyatakan bahwa “pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran serta masyarakat”. Marhaeni Ria Siombo. op. laut.43 Seorang nelayan dapat menggunakan haknya untuk menangkap ikan sebagai mata pencahariannya. mulai dari laut tertorial. 242. 29. Apabila kewajibannya dilanggar maka nelayan akan mendapatkan sanksi hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur. akan tetapi dalam melaksanakan haknya. 45 Abdul Rasal Rauf. manajemen. loc. 43 42 .45 5.191 meliputi perairan nasional. khususnya di daerah perikanan tropis. Hak penggunaan Sudirman Saad.44 Dalam konteks yang lebih umum kemudian. hlm. keberadaan masyarakat lokal dengan kearifannya tentap mendapat pengakuan. Pasal ini dimaksudkan untuk memberian guideline kepada pemerintah sebagai penyelenggara pemerintahan agar dalam pengelolaan. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar).cit. Hak Penggunaan Wilayah untuk Perikanan 1. Semuanya mengusulkan jalan keluar berupa kontrol atas akses dan penggunaan sumber daya. Oleh karena itu. pemanfaatan sumber daya ikan dapat dilakukan oleh siapa saja sepanjang ia tunduk dan mematuhi norma dan atau kaidah sebagaimana disebutkan dalam Konstitusi Republik Indonesia dan UUP. Troadec (1981).42 Dalam konteks UUP. hlm. 2007). sampai wilayah laut ZEEI. dan regulasi. telah dibahas oleh Smith (1979). hlm.

sesudah pengelolaan sumber daya alam perikanan di bawah rezim ”milik bersama” atau ”keterbukaan akses” terbukti. Di berbagai tempat terjadi kecenderungan investasi yang lebih besar daripada yang sesungguhnya dibutuhkan. cenderung untuk digunakan hingga melampaui titik hasil lestari maksimum (MSY).192 wilayah untuk perikanan (HPWP). memang tidak semata-mata sebagai akibat dari manajemen sumber daya alam perikanan berbasis ”milik 46 Christy dalam Abdul Rasal Rauf. dengan demikian. seperti untuk kelestarian sumber daya alam. Kedua. 43. 265. kerapkali melampaui titik keseimbangan akses terbuka (open-access equilibrium). Kemiskinan nelayan ini. mengalami berbagai kegagalan. Ketiga. akan ditangkap oleh nelayan lain pada hari itu juga. keadaan ”milik bersama” telah merangsang bangkitnya naluri serakah para nelayan sehingga tidak seorang pun di antara mereka bersedia membatasi hasil tangkapannya demi tujuan-tujuan yang lebih besar. berapa pun yang disisakannya hari ini dalam rangka tujuan-tujuan jangka panjang tersebut. serta Delmendo (1993). Dalam benak mereka. upaya yang dilakukan telah melampaui titik hasil ekonomi maksimal (MEY). Bahkan. . Persediaan sumer daya alam perikanan. Smith dan Panayotou (1984). akibat tidak ada pembatasan keikutsertaan (modal dan tenaga kerja) dalam sistem pengelolaan di bawah rezim ”milik bersama”.46 Pertama. ibid. terdapat empat akibat nyata yang timbul dari situasi ”milik bersama”. dampak dari pemborosan investasi telah menyebabkan pendapatan rata-rata nelayan kecil berada pada atau di sekitar titik terendah. Setidaknya. hlm. Paling sedikit. Dalam bahasa manajemen dikatakan.yang merupakan terjemahan dari territorial use rights in fisheries (TURFs)-adalah solusi konkret yang disarankan oleh kalangan ahli perikanan. Jumlah ikan yang sama atau bahkan lebih banyak sebenarnya dapat ditangkap dengan investasi yang lebih kecil daripada yang telah ditanam secara nyata. saran yang demikian itu tercermin dalam tulisan-tulisan Christy (1982). maka pemborosan dalam artiekonomis tak terhindarkan.

hlm. Dalam konteks ini. Keadaan buruk yang ditimbulkan manajemen perikanan berbasis ”milik bersama” inilah yang merupakan latar belakang ditawarkannya HPWP sebagai solusi yang patut dipertimbangkan dengan sunguhsungguh. dan (3) anatara nelayan yang menangkap jenis ikan dan menggunakan alat tangkap yang tidak sama. seperti antara nelayan kecil dengan nelayan besar. Bunga ekonomi ini-yang merupakan selisih antara penerimaan total (total revenues) dan biaya total (total costs)-akan dibagi di antara nelayan sehingga pendapatan mereka meningkat.193 bersama”. adalah dapat menyediakan kesempatan kerja ketika alternatif pekerjaan di sektor lain sudah tertutup sama sekali. Namun. 266. Namun. seperti faktor sosial dan kultural. . tetapi menggunakan alat tangkap yang sama. mereka akan meninggalkan sektor perikanan. Perdebatan yang kemudian mengemuka di kalangan ahli perikanan. keuntungan ini hanya bersifat jangka pendek sebab begitu kesempatan kerja di sektor lain terbuka kembali. maka akan diperoleh suatu bunga ekonomi (economic rent) atau bunga sumber daya (resource rent). (2) antara nelayan yang menangkap jenis ikan yang tidak sama. sekiranya keikutsertaan dalam perikanan itu dibatasi dengan menghilangkan keadaan ”milik bersama”. 47 Ibid. Pertikaian itu berwujud dalam berbagai bentuk. sedikitnya dua persoalan hukum sangat relevan. rezim ”milik bersama” juga telah menyebabkan pertikaian di antara nelayan. Keempat. seperti antara nelayan pukat harimau yang bergerak (mobile trawlers) dengan nelayan jaring menetap (fixed nets) atau perangkap (pots). tetapi melakukan kegiatan penangkapan di daerah yang sama. yakni siapa subjek dan bagaimana bentuk-bentuk haknya.47 Satu-satunya akibat positif dari manajemen perikanan yang berbasis ”milik bersama”. ialah bagaimana HPWP itu dilembagakan dalam perundangundangan yang akan mengikat semua orang. yaitu (1) antara nelayan yang menangkap jenis ikan yang sama dan menggunakan alat tangkap yang sama pula. Ada faktor lain yang juga memberi kontribusi terhadap keadaan tersebut.

belum satupun ahli hukum yang menaruh perhatian serius berkaitan dengan persoalan tersebut di atas. Pertama. The author is fully aware that the discussion maybe legally faulty and has deficiencies but hopes that the faults and deficiencies will provoke legal scholars to address the problem of providing property rights to the users of marine fisheries. Namun demikian. akan menunjukkan bahwa intervensi ahli hukum dalam upaya merumuskan aspek hukum dan kelembagaan dari sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam perikanan. terutama karena arus investasi dan modal akan meningkat serta menyebar secara adil kepada segenap pelaku dan pengguna sumber daya alam perikanan.194 Sepanjang penelusuran kepustakaan yang telah dilakukan. baik dari segi ekonomi maupun dari segi karakteristik biologis sumber daya alam perikanan.48 Penjelasan-penjelasan selanjutnya. Secara umum terdapat tiga faktor yang menjadi hambatan dalam upaya penegakan sistem HPWP. formulasi hukum yang akan dirumuskan tentu lebih komprehensif sehingga besar kemungkinan akan memberikan kepastian hukum bagi pelaku dan pengguna sumber daya alam perikanan. jika biaya dan kegunaan semata-mata 48 Ibid. hlm. kini tidak dapat ditunda lagi. Di pihak lain. ekonomi perikanan akan semakin bergairah. Keadaan ini berlaku. That is. penegakan HPWP bukannya tanpa kesukaran. the rights that are mentioned are those that are considered necessary to achieve economic efficiency. umumnya. Di satu pihak. dari segi ekonomi umumnya dikatakan bahwa kesukaran untuk memberlakukan HPWP karena biaya (costs) untuk memperoleh dan mempertahankannya lebih besar daripada kegunaan (benefits) yang diperoleh. Hal ini secara terus terang diakui oleh mereka. seperti tercermin dalam kutipan berikut : This discussion of the rights distinguishes TURFs from common property proceeds from an economic point of view. datang dari para ahli sosial ekonomi perikanan sehingga penggunaan terminologi hukum yang ditawarkan. sering kurang cermat dan tidak konsisten. dengan aturan yang pasti. Gagasan-gagasan yang berkembang saat ini. 268 . Keterlibatan ahli hukum diharapkan bermakna jamak.

Kedua. seperti beberapa jenis ikan karang atau rumput laut. niscaya mempengaruhi para penasihat perikanan dari negaranegara Atlantik Utara untuk memberi dorongan supaya mengabaikan sistem hak-hak khusus yang mereka ketahui ada di negara-negara berkembang. khususnya UU dan PP. khususnya pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam proses produksi hukum. bersumber dari prosedur produksi dan subtansi hukum. Tentu saja. Tradisi ini. Sementara itu. dan kultural dapat diperhitungkan. Tidak ada suatu negara. telah terbukti menaikkan tingkat efisiensi ekonomi penggunaan sumber daya sekaligus memberikan kontribusi berarti terhadap peningkatan pendapatan daerah setempat. kelompok masyarakat. hambatan penegakan HPWP diperkirakan bersumber dari persepsi masyarakat. belum membuka peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi. yang masih dominan melihat sumber daya laut sebagai aset ”milik bersama”. faktor kepentingan negara Atlantik Utara untuk mempertahankan konsep ”milik bersama”. Demikian . Sistem konsesi penangkapan bibit ikan (milkfish) yang diterapkan di beberapa profinsi di Filipina. dari sisi karakter sumber daya alam perikanan yang berpindah-pindah (fugitive resources).195 didekati secara ekonomi. konsep ”milik bersama” merupakan tradisi yang tumbuh dari kebudayaan Atlantik Utara. Secara historis. Prosedur perancangan dan pembahasan produk hukum. dari sisi hukum. seperti beberapa jenis ikan tuna. Hambatan yang lain. dan perorangan yang mampu mencegah orang untuk menggunakan persediaan suatu kelompok ikan yang berenang sejauh beribu-ribu mil. seperti pembatasan keikutsertaan atau kuota nelayan. faktor ini hanya berlaku terhadap sumber daya alam perikanan yang bergerak sehingga peluang penerapan HPWP masih tetap terbuka bagi sumber daya alam perikanan yang relatif menetap. Keadaannya mungkin akan lain sama sekali apabila aspek sosial. dan karena itu tidak boleh dibatalkan dengan cara pengaturan. politik. Dalam doktrin masyarakat Atlantik Utara. siapa pun mempunyai hakkerapkali bahkan diklaim sebagai hak asasi-untuk menangkap ikan di mana saja yang disukainya. Ketiga.

Suatu . Merumuskan ruang lingkup HPWP. Juga terdapat kesukaran membuat generalisasi. Akan tetapi. Sumber daya alam itu harus cukup besar sehingga penggunaan di luar wilayah itu tidak mengurangi secara nyata nilai penggunaan di dalam wilayah HPWP. Oleh karena itu. Ruang lingkup HPWP HPWP hingga tahap tertentu menghilangkan keadaan ”milik bersama”. dapat mengenai permukaan. dasar. hingga kini belum ada satu produk hukum pun yang mengatur mengenai HPWP. Wilayah yang tercakup dalam suatu HPWP. Luas wilayah berbeda menurut jenis sumber daya alam yang dimanfaatkan dan sifat-sifat geografisnya. Elemen HPWP tersebut. beberapa jenis hak tertentu perlu diberlakukan agar HPWP berhasil guna. HPWP tidaklah menyangkut pemilikan sumber daya alam (ownership of the resource). Kegunaan tersebut. baik secara implisit maupun eksplisit. Namun. atau seluruh lajur air pada suatu daerah tertentu. mengingat tanggapan budaya yang berbeda-beda mengenai pemilika pada masyarakat yang berlainan.196 pula. tidak perlu berarti bahwa wilayah itu harus mencakup seluruh persediaan ikan sepanjang gerakan migrasinya. 2. pada tarap permulaan. Wilayah itu hendaknya dengan mudah dapat dipertahankan dan dilindungi oleh hukum serta kelembagaan negara. atau melalui persewaan atau penjualan hak-hak itu. Hak lainnya ialah kewenangan menetapkan banyaknya dan jenis penggunaan sumber daya alam dalam wilayah HPWP. Hak yang lainnya lagi ialah hak untuk mengambil kegunaan (benefits) dari pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah HPWP. Hak-hak tertentu tersebut adalah hak untuk menghalangi atau mengawasi keikutsertaan orang lain dalam wilayah HPWP. dapat diambil melalui penarikan pungutan dari pengguna sumber daya alam. bukan pekerjaan mudah karena sifat laut yang bermatra tiga dan cairnya perantara dan sumber dayanya. melainkan pemilikan suatu haka penggunaan (ownership of a right of use). batas-batas wilayah HPWP harus diberi tanda yang jelas dan mudah dikenali.

Pembentukan dan pemeliharaan HPWP memang akan mengalami kesulitan terhadap jenis-jenis ikan lainnya. seperti ikan salem dan sidat yang bermigrasi ke air tawar. serta jenis ikan yang memijah ke hulu sungai (anadromous) dan ke hilir (catadromous). walaupun jaring tersebut dipakai untuk menangkap persediaan ikan pelagis yang bermigrasi sepanjang pesisir. Ada beberapa sifat sumber daya alam yang mempunyai pengaruh terhadap efektifitas potensial dan nyata dari HPWP. sifat sumber daya alam perikanan. hak menggunakan jaring pantai dapat merupakan dasar bagi HPWP yang berhasil guna. tetapi kemungkinannya belum tertutup sama sekali. faktor kebudayaan. penentuan batas-batas. terhadap jenis ikan yang dapat dipelihara pada tempat tertutup. Jenis ikan lainnya yang memudahkan pembentukan dan pemeliharaan HPWP ialah jenis ikan yang tertarik pada sarana buatan dan berkumpul di sekitarnya. seperti kurungan ikan dan keramba. Terdapat sejumlah keadaan penting yang berkaitan erat dengan upaya pembentukan dan pemeliharaan HPWP. yaitu sifat sumber daya alam. Misalnya. walaupun wilayah itu hanya meliputi beberapa mil persegi saja untuk persediaan ikan yangberenang dalam daerah ribuan mil. Jenis ikan yang menetap dapat dengan mudah dijadikan pokok pembentukan HPWP. Umpamanya.197 HPWP bersifat khusus untuk tempatnya. Unsur penting disini bukanlah tingkat wilayah cakupan dari persediaan sumber daya alam perikanan (the degree of conslure of the stock). tetapi tingkat terdapatnya nilai yang berkaitan di wilayah itu (the degree to which there is a value associated with the territory). jenis ikan yang bermigrasi sepanjang suatu garis pantai dapat menjadi dasar pembentukan dan pemeliharaan HPWP. melalui cara kerja sama di antara mereka untuk membatasi dan mengatur . dapat menjadi dasar HPWP yang berhasil guna. Pertama. Demikian pula. suatu wilayah yang ditempati memasang alat pengumpul ikan. teknologi yang digunakan. peluang itu menjadi mungkin. Dengan sistem pengawasan melalui suatu kerjasama di antara pemilik-pemilik HPWP yang bertetangga. Demikian pula. serta sistem pemerintahan dan institusi hukum. distribusi kekayaan.

Pembagian HPWP jelas mempunyai akibat terhadap distribusi kekayaan. tersedia berbagai cara untuk menandai batas-batas tersebut. Keempat. teknik penangkapan yang memerlukan operasi di laut yang luas. Ketiga. HPWP itu memberikan nilai kepada pemiliknya tetapi mengurangi nilai penangkapan mereka yang bukan . Berbagai jenis alat tangkap yang terpancang di dasar laut. distribusi kekayaan. dapat menjadi avuan pembentukan HPWP. Tentu saja. Satu hal yang jelas dari keadaan ini adalah perlunya perhatian dicurahkan pada keadaan kebudayaan sebelum dimulai usaha menetapkan suatu sistem HPWP. perangkap (traps). seperti ditandai oleh meluasnya sistem penguasaan laut tradisional. kemudian diproyeksikan ke arah laut sejauh jarak tertentu. Kelima. Kedua. penentuan batas-batas HPWP. Seperti alat penghimpun ikan. Akan tetapi. atau keistimewaan geografis yang rrelatif kecil dan jelas. Tanggapan kebudayaan berbagai masyarakat terhadap pembentukan HPWP sangat bervariasi. Namun.198 dengan pengawasan bersama mengenai jumlah alat tangkap atau hasil tangkap masing-masing. Atau ditentukan dengan menggunakan tanda yang berhubungan dengan alat tangkap buatan yang ditempatkan secara menetap di laut. seperti pukat harimau (trawls) atau pukat pancing (purse seines). Lokasi untuk menempatkan jenis-jenis alat atngkap ini dapat menjadi dasar untuk menentukan wilayah HPWP. dan pancing ulur (trot lines). seperti bubu (pots). Keadaan wilayah perairan memang akan menyulitkan penentuan batas-batas HPWP. Besar kemungkinan sebagian besar kebudayaan mengizinkanperluasan hak-hak itu ke laut. Cara-cara penangkapan dan peralatan yang berbeda juga mempunyai akibat penting terhadap pembentukan dan pemeliharaan HPWP. Dapat juga batas-batas itu ditentukan sepanjang garis pantai. hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar kebudayaan masyarakat menerima pemberian hak (secara pribadi atau kelompok) atas sumber daya berupa tanah. teknologi penangkapan ikan. Batas-batas dapat dihubungkan dengan sebuah pulau kecil atau terumbu karang. jaring tetap (set nets). tidak dapat diberikan HPWP. faktor kebudayaan. muara sungai.

Karena itu. tetapi seperti sudah dikemukakan sebelumnya. Merujuk pada pengalaman budaya dan sejarah Filipina. Di bawah rezim kepemilikan negara (state property rezimes). Sumber daya pantai sebagai kekayaan nasional merupakan hak milik negara. sistem pemerintahan dan institusi hukum. sedangkan subyek adalah kepada siapa hak-hak itu diberikan. Bentuk dan Subjek HPWP Bentuk yang dimaksudkan sebagai penjelmaan kongkret berupa jenis-jenis hak. proses pembentukan dan pemeliharaan HPWP pada dasarnya bersifat politis. yang terjadi sesungguhnya bunga sumber daya itu hanya dinikmati oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu sehingga apa yang disebut bunga . harus pula ada peraturan dan lembaga yang mengizinkan pemerintah untuk melaksanakan wewenang yang diperlukan dan yang mendukung perlindungan dan pemeliharaan HPWP. Keenam. 3. status kepemilikan tersebut saat ini tidak efektif karena negara tidak mampu mengelola dan menegakkan hukum yang mengatur masalah perikanan. Pemberian hak milik pada negara (property rights to the state) tetap menimbulkan perdebatan. maka pemerintah harus mempunyai wewenang penuh untuk dapat membuat keputusan tentang distribusi dan melaksanakannya. Namun. atau suatu masyarakat. tidak satu pun versi itu berasal dari ahli hukum sehingga penggunaan terminologi hak. subyek yang dapat mempunyai hak milik (property rights)atas sumber daya adalah negara.199 pemilik. juga sering tidak konsisten. Ketimpangan ini mungkin dapat diatasi dengan intervensi pemerintah melalui mekanisme pembagian kembali hasil yang dipungut pemerintah dari pemberian dan pengelolaan HPWP. Merujuk pada kondisi di atas. individu (swasta). negara beerhak atas seluruh bunga sumber daya (resources rent). Akan tetapi. Anonuevo (1993) berpendapat bahwa secara teoritis dan hukum. selain kurang komprehensif dari perspektif hukum. Beberapa versi dapat dijumpai. Konsekuensinya kemudian adalah sumber daya alam perikanan pantai kembali menjadi terbuka bagi setiap orang (open-accsees). Selain itu.

selain akan memperkuat masyarakat madani juga sebagai pengejawantahan kebebasan berusaha (free enterprise) dan doktrin ”tangan tersembunyi” (invisible hand) memainkan peran penting. Pilihan berikutnya adalah pemberian hak milik atas sumber daya kepada masyarakat yang langsung tergantung kehidupannya pada sumber . Bahkan. seharusnya kekuasaan negara merupakan penjelmaan dari kekuasaan rakyat. Kenyataannya. Pemberian hak milik atas sumber daya perikanan pantai kepada pribadi atau swasta dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat masyarakat madani. Bahkan di daerah daratan tinggi telah terjadi pemusatan pemilikan sumber daya di tangan beberapa orang. kekuasaan negara berbeda sekali dengan kekuasaan rakyat.200 sumber daya itu tidak lebih dari sekadar bunga oligarkis (oligarchic rent). Idealnya. Padahal. mengukuhkan hak milik negara atas sumber daya perikanan pantai bertentangan dengan nilai demokrasi yang dianut masyarakat modern secara universal. dan telah mengakibatkan kerusakan sumber daya yang sangat parah serta semakin menyengsarakan rakyat. secara teoretis-normatif. Dengan demikian. Masyarakat madani yang kokoh dan kuat akan berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang (counterbalance) terhadap kekuasaan negara. membalikkan optimisme terhadap efektifitas hukum ekonomi dalam mengontrol perilaku usaha swasta dan perorangan. Kelemahan rezim kepemilikan negara hanya dapat direduksi dengan memperkuat masyarakat madani (civil society). khususnya Filipina. Namun. Dalam konteks hak milik negara atas sumber daya perikanan pantai. jurang kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin semakin lebar karena berhimitnya kepentingan ekonomi dan politik. pemberian hak milik kepada swasta atau pribadi atas sumber daya perikanan pantai. Banyak pendapat menilai bahwa ini merupakan pilihan paling rasional karena akan mendorong optimalisasi sumber daya melalui mekanisme hukum ekonomi. pengalaman sejarah panjang swastanisasi dan privatisasi di negara berkembang. sering penguasa oligarkis mengatasnamakan negara untuk menyingkirkan kepentingan sosial atau ekologi.

pada derajat tertentu.201 daya alam perikanan tersebut. Rezim milik swasta (private own property rezims). mereka berpendapat bahwa privatisasi terhadap sumber daya ”milik bersama”. Rezim milik negara (state own property rezims).49 Mereka sesungguhnya tidak berbicara khusus tentang sumber daya alam perikanan. Kedua ahli ekonomi tersebut termasuk pembela-pembela konsep ”milik bersama”. maka satu-satunya pilihan ialah pemberian hak milik kapada masyarakat (community property rights). 3. Keempat rezim itu adalah sebagai berikut : 1. . Rezim milik bersama (common own property rezims). Meski demikian. 271. Skenario yang sama juga terjadi ketika lahan ”milik bersama” dikonversi menjadi milik negara. sistem pengelolaan sumber daya berbasis kerakyatan (CBCRM) akan berkembang dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di 21 daerah tropis India. 2. justru merupakan awal malapetaka bagi penduduk pribumi. Pada saat yang sama. yang berarti kehilangan besar bagi penduduk pribumi. 49 Ibid. Rezim tanpa milik (non-property rezims atau open accsess). antara 84 sampai 100 persen penduduk miskin pribumi menggantungkan hidupnya secara subsistensi pada lahan ”milik bersama”. Bromley dan Cernea mengajukan empat rezim (rezimz) yang dapat dijadikan dasar pengelolaan sumber daya alam. Merujuk pada hasil penelitian Jodha di India. hlm. dapat diproyeksikan pula ke dalam sistem pengelolaan sumber daya alam perikanan. selama 30 tahun terakhir 26 sampai 63 persen lahan ”milik bersama” beralih menjadi lahan perorangan. Di bawah rezim pemilikan masyarakat. tetapi jalan pikiran yang dikemukakannya. seperti nasionalisasi hutan di Nepal. Jika tujuan pembangunan untuk pemberdayaan rakyat dan keadilan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Pendapat kedua tentang bentuk dan subyek HPWP datang dari Bromley dan Cernea. 4. 10 sampai 24 persen dari keluarga kaya menggunakan lahan tersebut untuk kolam pengendapan dari perkayuan. Akibatnya.

sudah diakui bahwa hak milik swasta (private property) merupakan rezim yang paling jelas di antara rrezim-rezim lainnya. Negara bisa langsung mengelolan sumber daya alam melalui lembaga pemerintah. Terdapat pandangan bahwa hak milik swasta sangat memadai untuk saat ini. tidak berarti hak milik atas tanah juga beralih kepadanya. seperti yang terjadi di Bengala Barat (India) dalam bentuk tree growing associations. Namun. pemilikan dan kontrol atas sumber daya berada di tangan negara. Secara yuridis dan sosiologis. Individu dan kelompok boleh menggunakan sumber daya alam. tetapi karena terjadinya konsentrasi pemilikan tanah di tangan keluarga-keluarga kuat. Bahkan. Hak milik atas tanah tetap pada negara.202 Di bawah rezim milik negara. Pertama. subjek hak milik swasta dapat mengusir orang lain. tetapi hak kepemilikannya tetap pada negara. Bisa juga disewakan kepada kelomok masyarakat atau perorangan untuk jangka waktu tertentu. dalam upaya pemanfaatan tersebut. Perubahan dari rezim milik negara ke rezim lain atau sebaliknya. Secara umum. sekelompok petani tak bertanah atau marginal diberikan petak-petak tanah untuk perkebunan. Nasionalisasi hutan desa di Nepal pada tahun 1957 oleh pemerintah. dapat saja terjadi. Bahkan. Meskipun tanah berada di bawah kekuasaan petani. merupakan contoh perubahan dari rezim milik bersama ke rezim milik negara. menurut Bromley dan Cernea. . terdapat dua fenomena yang harus dijawab oleh penganut pandangan tersebut. banyak perampasan tanah terjadi di berbagai bagian dunia bukan sebagai akibat kelangkaan persediaan tanah secara fisik. Melalui sistem ini. hak milik swasta memungkinkan pemiliknya untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan tidak melibatkan orang lain. Selanjutnya mengenai rezim milik swasta. Ada pula contoh menarik mengenai mekanisme pengelolaan sumber daya alam yang diserahkan oleh negara kepada kelompok masyarakat tertantu. Petani hanya mempunyai hak garap atau hak milik atas hasil dari tanah tersebut. Termasuk dalam rezim milik swasta adalah hak milik individu (individual property) dan hak milik perusahaan (corporate property).

open-accsess diartikan sebagai suatu situasi tanpa hak milik. tanah terbaik telah diswastakan. sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu. yang termasuk kategori public domain adalah state property. 2. common property (res communis). Situasi ini muncul umumnya karena tidak adanya atau gagalnya sistem pengolahan dan wewenang yang bertujuan menerapkan norma tingkah laku yang berhubungan dengan sumber daya alam.203 fenomena seperti ini terjadi di sebagian beasr negara-negara Amerika Latin. menurut mereka esensinya adalah hak milik swasta dalam kelompok dan kelompoklah yang menentukan siapa yang tidak diperkenankan mengambil manfaat dari sumber daya alam ”milik bersama”. dikemukakan oleh Christy. Bromley dan Cernea membedakan antara common property dan open-accsess. rezim tanpa milik muncul akibat gagaglnya ketiga rezim sebelumnya. hlm. Sementara itu. hak milik swasta seringkali mengarah pada apa yang disebut highest and best use of land. sebagai langkah awal diperlukan sedikitnya tiga macam hak yang bersifat spesifik. Pendapat ketiga tentang bentuk dan subyek HPWP. Berlainan dengan para ahli lainnya. Hak untuk menetapkan jenis dan jumlah penggunaan sumber daya alam dalam wilayah tersebut. dapat dikatakan bahwa Christy lah yang pertama kali memperkenalkan terminologi territorial use rights in fisheries (TURFs) disertai penjelasan yang relatif komprehensif. yaitu hak untuk membatasi atau menghalangi keikutsertaan dalam wilayah tertentu yang telah dijadikan objek hak. Dengan kata lain. Dengan latar belakang ini pula. Hak untuk menghalangi orang lain (the rights of exclusion). Kedua. sementara tanaman pangan berada di tanah kurus-merupakan contoh mengenai hal ini. Fenomena Amerika Latin-sebagian besar tanah subur menjadi padang penggembalaan. Dalam pandangan Bromley dan Cernea. yakni sebagai berikut: 1. 275 . 50 Ibid. sedangkan tanah yang terburuk dibiarkan menjadi public domain. Common property. Menurutnya.50 Bahkan. dan open-accsess (res nullius).

seperti: 1. Christy berpendapat bahwa HPWP dapat diberikan kepada perorangan. Hukum Perikanan Nasional dan Internasional. Marhaeni Ria Siombo. Bisa juga melalui penarikan pajak atau sewa maupun penjual-an dari hak-hak itu. relatif sukar untuk ditetapkan secara pasti. Derma dapat diperoleh antara lain. HPWP dapat pula diberikan kepada cabangcabang politik. Jakarta: PT. yakni mengangakt beberapa pertanyaan yang dilengkapi dengan penjelasan dan dilakukan pada tatap muka kelimabelas. 2007. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Mengenai subyek HPWP. atau kepada perusahaan multinasional. 2010. Khusus HPWP yang subjeknya masyarakat. pemerintah suatu negara. Sebutkan ruang lingkup Hak Penggunaan Wilayah Untuk Perikanan (HPWP)? 3. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran keempatbelas dan kelimabelas dilakukan dalam bentuk kuis. perusahaan swasta. atau masyarakat. seperti suatu kota atau propinsi. Sebutkan UU yang terkait dengan pengelolaan perikanan disertai dengan penjelasannya? 2. koperasi. jangka waktunya mungkin tidak dibatasi. melalui penarikan pungutan dari pemakai sumber daya alam. C. Adapun tentang jangka waktu HPWP. Hak untuk mengambil derma (the rights of extract benefits).204 3. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Namun. Selain itu. Sebutkan bentuk dan subjek HPWP? Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. . Gramedia Pustaka Utama. setidaknya harus cukup lama agar memungkinkan pemilik hak memperoleh pendapatan yang memuaskan atas setiap modal yang ditanamkan. Beberapa pertanyaan yang dikemukakan.

Tobing. Politik Hukum Perikanan Indonesia. Sudirman Saad. 1961. Jakarta: Dian Pratama Printing.D.205 Ph. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa.L. . 2003. Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Adapun kriteria penilaian makalah berupa Isi Makalah. Organisasi makalah. C. Pilihan makalah atau ujian tertulis oleh peserta didik akan bersifat individu yang dipilih dan atau diberikan dari materi hukum laut yang telah dipelajari. dan Ketepatan waktu. Penutup Kriteria evaluasi adalah makalah individu dan ujian tertulis. Kesesuaian antara teori dan kasus serta analisis. Sasaran Pembelajaran Ujian Akhir Semester B. . Uraian: Pelaksanaan ujian akhir semester dilaksanakan dengan memberikan pilihan pada mahasiswa untuk mengikuti ujian akhir yang diberikan dapat bentuk makalah atau ujian tertulis.206 BAB 16 BAHAN PEMBELAJARAN 16 A. Sedangkan ujian tertulis didasarkan pada kemampuan peserta didik menjelaskan materi yang dipertanyakan dilengkapi dengan analisis dan contoh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->