Manusia dan Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Manusia adalah mahluk yang memiliki sifat hakikat yang membedakan dirinya dengan hewan. Ciri – ciri yang khas tersebut membedakan secara prinsipil dunia hewan dari dunia manusia. Salah satu sifat hakikat yang istimewa adalah adanya kemampuan untuk menghayati kebahagiaan pada manusia. Manusia juga sebagai makhluk yang perlu dididik dan perlu mendidik diri. Dengan pendidikan maka manusia akan menjadi manusia yang seutuhnya, yaitu menjadi manusia yang ideal dengan kata lain manusia yang ideal itu adalah manusia yang diharapkan, dicita – citakan atau menjadi manusia yang seharusnya. Sosok manusia yang ideal antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral/berahlak mulia, cerdas berperasaan, berkemampuan, mampu berkarya, dst. B. Tujuan 1. Dapat mengetahui identifikasi dan mengetahui gambaran tentang Manusia dan Pendidikan. 2. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat mengetahui hubungan antara Manusia dengan Pendidikan secara lebih jelas dan terperinci.

Pengantar Pendidikan

1

maka para pendidik dan calon pendidik perlu memahami hakikat manusia. Evolusionisme dan kreasionisme (J. Manusia – sebagaimana halnya alam semesta – ada dengan sendirinya berkembang dari alam itu sendiri. Adapun secara filosofis penolakan tersebut antara lain didasarkan kepada empat argumen berikut ini : 1. tanpa pencipta. manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi di alam semesta. 2. He must also know how to foster desirable changes in them”. Menurut evolusionisme.Manusia dan Pendidikan BAB II PEMBAHASAN Pendidikan berfungsi untuk memanuasiakan manusia. and in their idealities. Philip H. Adanya alam semesta – termasuk manusia – adalah sebagai akibat. A. Sebaliknya. Sementara itu. the educator needs to understand human nature. filsafat creasionisme menyatakan bahwa asal usul manusia – sebagaimana halnya alam semesta – adalah ciptaan suatu creative cause atau personality. 1968). yaitu Tuhan YME. Butler. Pengantar Pendidikan 2 . He needs to understand people in their actualities in their possibillities. Hakikat manusia Manusia adalah Mahluk Tuhan Yang Maha Esa. bahwa realitas (kenyataan) lebih sempurna dari pada ide manusia. Argumen kosmolo-gis : segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Argumen Ontologis : semua manusia memiliki ide tentang tuhan.D. Phenix (1964) menegaskan : “since education is means of helping human beings to become what they can and should become.

Menurut dia jiwa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada badan. segala sesutu(realitas) tidak terjadi dengan sendirinya. ia dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang jahat. segala hal yang bersifat kejiwaan/spiritual dipandang hanya sebagai resonansi dari berfungsinya badan/organ tubuh.Jiwa berperan sebagai pemimpin badan. melainkan diciptakan oleh pengatur tujuan tersebut yaitu tuhan. Argumen moral : manusia bermoral. Sebab itu. 1968). Perbadaan ini berkenaan dengan postur Pengantar Pendidikan 3 . Sebab itu. sumber dan tujuan moralitas. Rene descartes mengungkapkan pandangan lain yang secara tegas bersifat dualistik.D Butler.itu menunjukan adanya dasar.Manusia dan Pendidikan 3. 4. Menurut Plato salah seorang penganut idealisme bahwa esensi manusia bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah. Dasar. karena itu badan memiliki ketergantungan kepada jiwa yang dikenal sebagai spiritualisme. Menurut Julien de La Mettrie dan feuerbach – dua orang penganut materialisme – bahwa esensi manusia semata-mata bersifat badani (tubuh/fisiknya). kaki untuk berjalan dsb). sumber. Manusia sebagai kesatuan badani – ruhani. Tubuhlah yang mempengaruhi jiwa pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai epiphenomenalisme (J. Argumen Teleologis segala sesuatu memiliki tujuan (contoh: mata untuk melihat. dsb. dan tujuan moralitas itu adalah tuhan. jiwalah yang mempengaruhi badan. Descartes esensi manusia terdiri atas dua substansi yaitu badan dan jiwa. Individualitas / personalitas. Manusia adalah kesatuan yang tidak dapat di bagi ia memiliki perbedaan daripada yang lainnya sehingga setiap manusia hakikatnya bersifat unik. Pandangan hubungan badan dan jiwa seperti ini dikenal sebagai interaksionisme ( Titus. 1959 ).

sehingga demikian mendapat arti sebenarnya dari aku bersama orang lain itu” (Soerjanto P. adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Sebab itu ia hakikatnya adalah pribadi. Dalam hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat) itu setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu.Manusia dan Pendidikan tubuhnya. Bertens. namun demikian sekaligus ia pun mempunyai dunia bersama dan tujuan hidup bersama dengan sesamanya.cita-cita. serta berada dalam pertumbuhan dan perkembangan. tak mungkin hidup sendirian dan tidak mungkin hanya hidup untuk hidupnya sendiri.1987).manusia takan menyadari individualitasnya kecuali melalui perantaraan pergaulan sosial.hoby.1985 ). Sosialitas.ia adalah sujek. tetapi tidak hidup sendirian. Setiap[ manusia juga memiliki subjektivitas ( kediri .sendirian ). Sekalipun setiap manusia adalah individual/ personal. menyatakan : “Manusia takan menemukan diri.bukan objek. ( Koentjaraningrat.ada 3 jenis wujud kebudayaan.1983) Keberbudayaan. Dan K. melainkan ia juga hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Theo Huijbers mengemukakan bahwa “ Dunia hidupku dipengaruhi oleh orang lain sedemikian rupa. Dsb. Dengn demikian dapat disimpulkan bahwa manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi. merupakan subjek yang otonom. mempunyai dunia dan tujuan hidupnya masing – masing.kemampuan berfikirnya. memiliki perbedaan dengan yang lainya sehingga bersifat unik. minat. Sehubungan dengan ini Aristoteles menyebut manusia sebagai mahluk sosial atau mahluk bermasyarakat (ernst cassirer. yaitu : Pengantar Pendidikan 4 .

dsb. dasar hidupnya. normanorma. ilmu pengetahuan. melainkan dinamis. Keberagamaan. yaitu pekerjaannya.Manusia dan Pendidikan 1. maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan pertanggung jawaban atas setiap perbuatannya. Manusia memiliki dimensi moralitas karena ia memiliki kata hati yang dapat membeda antara baik dan jahat. Moralitas. nilai-nilai. untuk Pengantar Pendidikan 5 . kebudayannya.demikianlah kebudayaan termasuk hakikat manusia. dan menjadi jelas pula kemana arah tujuan hidupnya. Sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. 2. seperti misalnya naluri atau akal budi. peraturan-peraturan. melainkan fungsi kehidupannya. Merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilakunya. Sebagai kompleks dari ide-ide. Karl jaspers menyatakan : “ Manusia harus tahu siapa dia tadinya. Sebagai benda-benda hasil karya manusia. 3. tata cara hidupnya. Dan ia memperoleh kejelasan tentanh asal usulnya. Ernst cassier menegaskan :” manusia tidak menjadi manusia karena sebuah faktor didalam dirinya. ia mengarah kemasa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Artinya bahwa keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya. Historisitas.Kebudayaan tidak bersifat statis. Oleh karena itu manusia mempunyai kebebasan memilih untuk bertindak/berbuat. ia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia.

sehat. N Drijarkara S. baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. berkemauan dan mampu berkarya. dunia dan Tuhan. Dilakukannya baik secara vertikal. (1986). hawa nafsunya. berperasaan.J. sehingga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Tujuan manusia mencangkup 3 dimensi.Manusia dan Pendidikan menjadi sadar kemungkinan menjadi apa dia nantinya. dunia-akhirat) 2. Dinamika. Manusia ideal adalah manusia yang mampu mewujudkan bernagai potensinya secara optimal. bermasyarakat dan B. cerdas. secara Horizontal yaitu dengan alam dan sesama manusia serta budayanya . selalu dalam keaktifan.berkepribadian. Dimensi Ruang (disini-disana. Dimensi nilai ( baik-tidak baik Komunikasi/interaksi. artinya manusia tidak pernah berhenti. berakhlak mulia. mampu mengendalikan berbudaya. dan bahkan dengan dirinya sendiri. Eksisten Manusia adalah untuk Menjadi Manusia. yaitu: 1. Dimensi waktu ( masa sekarang-masa datang) 3. mampu memenuhi kebutuhannya secara wajar. Adapun dinamika itu adalah untuk penyempurnaan diri baik dalam hubungannya dengan sesama. Menyatakan bahwa manusia mempunyai dinamika. Prinsip-prinsip Antropologis Keharusan pendidikan: Manusia sebagai Mahluk yang perlu di didik dan perlu mendidik diri Pengantar Pendidikan 6 . Dinamika mempunyai arah horizontal (kearah sesama dan dunia) maupun arah transendental (kearah yang mutlak). yaitu dengan Tuhannya.

melainkan harus diperoleh setelah kelahirannya dalam perkembangannya menuju kedewasaannya. Prinsip idealitas 3. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan atau yang seharusnya. Bahwa berbagai kemampuan yang seharusnya dimiliki manusia tidak dibawa sejak kelahirannya. Prinsip histo-risitas 2. Sebab itu sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan.Manusia dan Pendidikan Prinsip Historisitas. Pengantar Pendidikan 7 . Prinsip-prinsip kemungkinan pendidikan: manusia sebagai mahluk yang dapat di didik. Prinsip posibilitas/aktualitas. Prinsip posibilitas/aktualitas C. Prinsip potensialitas Manusia memiliki berbagai potensi. potensi untuk mampu berbuat baik. yaitu: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Dalam bereksistensi yang harus mengadakan/menjadikan diri itu hakikatnya adalah manusia itu sendiri. Dimana prinsip dimana manusia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia.1959 menyatakan : ” manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan”. 3 prinsip Antropologis yang menjadi asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perku mendidik diri yaitu : 1. Prinsip idealitas. yaitu : 1. Lima prinsip Antropologi yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat di didik. Teori pendidikannya menurut Henderson.

oleh sebab itu manusia akan dapat di didik karena ia memilik potensi untuk menjadi manusia ideal.Manusia dan Pendidikan potensi cipta. Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan oleh pendidik dan diterima oleh peserta didik. Pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak Pengantar Pendidikan 8 . artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu. 2. Prinsip individualitas Manusia sendiri. 5. Prinsip sosialitas Pendidikan hakikatnya berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). karsa. dan potensi karya. Prinsip moralitas Pendidikan bersifat normatif. Prinsip dinamika Manusia itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal yang selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. ia selalu menginginkan dan mengejar segala hal yang lebih dari apa yang telah ada atau yang telah dicapainya. Ia berupaya untuk mengaktualisasikan diri agar menjadi manusia ideal. bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya 4. 3. adalah individu yang memiliki kediri sendirian (subyektivitas). baik dalam rangka interaksi/komunikasi secara horizontal maupun vertikal. rasa.

Langeveld (1980) memberikan identitas kepada manusia sebagai “animal Educabile”.Manusia dan Pendidikan mulia.J. Sehubungan dengan ini M. jelas kiranya bahwa manusia akan dapat dididik. Atau hewan yang dapat dididik. Atas dasar berbagai asumsi di atas. Pengantar Pendidikan 9 . agar manusia berprilaku sesuai dengan nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama. manusia dan masyarakat dan budayanya.

untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri. yaitu menjadi manusia yang ideal dengan kata lain manusia yang ideal itu adalah manusia yang diharapkan. Manusia belum selesai menjadi manusia. Sosok manusia yang ideal antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Pengantar Pendidikan 10 . mampu berkarya. dengan cara di arahkan pula maka manusia akan dapat menjadi manusia yang ideal. cerdas berperasaan. Dengan mengacu kepada asumsi bahwa manusia akan dapat dididik diharapkan kita dapat bersabar dan tabah dalam melaksanakan pendidikan dengan begitu kita dapat mengintropeksi diri barangkali ada kesalahan – kesalahan dalam upaya menjalankan pendidikan tersebut. berkemampuan. Dengan pendidikan maka manusia akan menjadi manusia yang seutuhnya. bermoral/berahlak mulia. jika ia ingin menjadi manusia yang sesungguhnya maka ia memiliki keharusan untuk menjadi manusia. dicita – citakan atau menjadi manusia yang seharusnya. Manusia adalah sebagai makhluk yang dapat dididik jadi manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia yang ideal.Manusia dan Pendidikan BAB III KESIMPULAN Manusia dan Pendidikan sangat berkaitan erat karena fungsi dari pendidikan tersebut adalah untuk memanusiakan manusia. dst. Maka dari itu para pendidik dan calon pendidik perlu memahami hakikat manusia.

Kita juga harus memahami hakikat manusia lebih dalam lagi dengan demikian kita akan mengerti seberapa penting pendidikan itu bagi manusia. Manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya dengan pendidikan. Pengantar Pendidikan 11 .Manusia dan Pendidikan KRITIK DAN SARAN Dari pembahasan materi tentang manusia dan pendidikan telah kita ketahui bahwa manusia itu dapat dididik dan membutuhkan pendidikan. dan dapat menjadi manusia yang dapat menggapai cita – cita dan harapannya. Manusia dapat berkembang menjdi lebih baik dengan pendidikan dan akan menjadi manusia seutuhnya yaitu manusia yang memiliki keyakinan kepada tuhan YME. memiliki moral yang baik.

Manusia dan Pendidikan DAFTAR PUSTAKA Syarifudin. Tatang. Bandung : Percikan Ilmu. Landasan Pendidikan. Pengantar Pendidikan 12 .(2007).

Manusia dan Pendidikan Tirtarahardja dan La Sulo. L. Jakarta : PT RINEKA CIPTA.(2005). Pengantar Pendidikan.S. Pengantar Pendidikan 13 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful