Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Warga kami pun hampir keadaannya sama. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. termasuk menghadapi para maling. udara kami.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran. Selain itu. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. . yang kami punya hanyalah kesabaran. namun kami kurang percaya dengan keamanannya. Dibiarkan malah nglunjak. Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. “Walau harga sekolah semakin mahal. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. kami tinggal mengambil di hutan. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. Kami mengambil jika perlu saja. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. itu tak jadi soal. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. alam itu yang menyimpan harta kami. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. kami tak perlu menebang pohon. Ya. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. tak punya ilmu. oh kasihan para maling ini. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. Biarlah. Lik Sum putar otak. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. dengan segala macam jenisnya. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. tidak cukup untuk membayar SPP. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. Toh. Maling lagi. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. tidak toleransi nunggak SPP. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. Semahal harga nyawa ini. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. Kesabaran menghadapi hidup.

Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan. Toh harta tidak di bawa mati. Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya. Ah. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. seharusnya kamilah yang menjadi maling. Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. tak mungkin di sini. Iri hanya mematikan hati. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam.***** Dasar maling moto merem. Moto ra melek. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. Namun kami tak mau jadi maling. Seharusnya kami iri pada mereka. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. Yang menikmati pembangunan negari ini. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana. berpikir ala teori sosial. Istilahnya maling teriak maling. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini.. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta .

Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan. Namun pastinya. Sebenarnya aku ingin bertanya. Ah. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Tiang-tiang kayu berderet. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Biola itu punyaku. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. namun aku datang bukan untuk membawanya. setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. kiri menjadi kanan. Biola jendela hatimu. Tak terjawab. biarlah semua menjadi kenangan. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Sungguh. tak mungkin . Tolol. menanti waktu besuk tiba. Tataplah masa depan. bukan. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. dan pintu hitam pekat. suaramu.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. baik menjadi buruk. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Namun. itulah yang terbaik. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. Kau pernah bilang. Di setiap kamarnya. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. Kanan menjadi kiri. membuat bungabunga menjadi layu. Kamar yang bernama ruangan melati. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. Kau bilang. kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. Langit pun seperti terbelah. Sesuatu yang kau yakini indah. bahwa aku orang yang baik. bertembok putih. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. menganga sebuah jendela terbuka. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. Itulah dirimu. Senja yang menguning. Aku pun suka keindahan. Bukan juga seperti angin. dengan bangunan bertingkat dua. Semuanya serba terbalik. Gelap. kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. janganlah mengukur diri melalui cermin. tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. jangan berguru pada masa lalu. aku tak mengerti. Seperti sama padahal tak sama. Kau pun bilang. Semuanya buyar. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. 27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Katamu. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Lihatlah dirimu melalui hatimu.

Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain." jawabku. Dan setiap hari itu pula. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. tempat ini tarasa berubah menjadi indah. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. ." Aku hanya tersenyum. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. seperti ada yang mengganjal.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. Namun angin itulah yang membawaku melayang. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. Menyimpanmu di hatiku. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit. Apakah perasaan ini tulus dari hati. Tentu dengan biaya tak sedikit. Lantas kau pun tersenyum. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. “Hidup ini penuh misteri. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. kau bisa membuatku berpikir. hanya meninggalkan angin yang liar. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. meski tampak seperti barak pengungsian. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Bibirku bergetar. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Diagnosanya mengatakan. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. dan berhenti pada stasiun terakhir. Semua orang takkan bisa hidup kekal. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik. senyuman itulah yang paling indah. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. Aku tidak bisa berkata. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. Ketika reda di sore hari. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. Menurutku. "Ya. Keindahan yang keluar dari hatiku. tak tahu harus bicara apa. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. meski aku berharap kau pun merasakannya. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. Hidup bukan ramalan. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. namun tetap menelusuri kemana arahnya. Namun. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. supaya tak pernah menembus jantung. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. lalu kau mengukir namamu di situ. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu.

ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. Sumedang 45321. 17 Agustus 1990. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. Bandung. menggambar bunga layu menjadi mekar. menemanimu setiap waktu. tataplah masa depan. Lalu kau menjawab. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. atau menanyakan kondisi kesehatanmu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti. “Biarlah hidupku berakhir. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. “Aku hanya ingin bilang. Mungkin disitu kau sedang menghayal. Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. “Kau jangan berkata seperti itu.H. LPM Suaka. sekadar pengantar mimpi indahmu. Alamat: Talun kidul No 45. meski waktu itu kau sedang tertidur. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. RT 01 RW 05 Sumedang Utara. . memberikan sesuatu yang terbaik padamu. Radar Surabaya. Jurnal Sastra Sasaka. lalu kau melanjutkan. aku tak tahu. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu. “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah.” sambil membalas tatapanku. Aku bengong. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. aku mengecup keningmu. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. Tubuhku remuk. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. 2011 Oleh T. Buletin Obras. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang. Surga. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Yang aku tahu sekarang. masih banyak yang harus kau kerjakan. di tempat yang paling indah. Ketika kau benar-benar terlelap. lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. 2011).

Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Memang belakangan ini. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku.cerpen Kasur Sabtu. Tapi.. memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Lungkrah. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. Tenanglah teman. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau. aku yang salah. Yah. Aku selalu saja lupa dengan itu.. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku. Aku muak. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu.. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. . Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. Yah. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas.. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu. Sekali lagi kukatakan.

menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. bahkan sepuluh. dibuatnya aku terbang ke surga. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. apa lagi yang kurang? Aku cantik. itu aku. Aku masih senang dicumbu. Imajinasiku melayang.. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. Sejak saat itulah.. Diam bukan berarti tidak bergerak. Di atas kasur ini. aku masih benar senang dengannya. Makan malam bersama. ya tidur dengan Tian.. Aku yang putuskan. Bedanya. Aku kembali ingat. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. langit roboh saat itu juga. Padahal. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. ah masih perih rasanya. pacarmu dulu!” “Hahaha. yang aku tahu. aku menemukan dia. Sampai akhirnya. menari-nari di sekeliling kepalaku. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku.” aku tertawa. Entah. Kamu tidak pernah tahu. Asap rokok masih mengepul tebal..” Diam. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Aku terbatuk. dia mengangguk mantap. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Satu yang masih aku minta. Malamnya. bercanda. pergi nonton. Bisa sampai lima. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku. dia mengejarku atau tidak. itu kukatakan padanya. setiap malam harus tidur dengannya. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. tanpa ragu sedikit pun. Sama. Hal yang kulakukan bersamanya biasa. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. ingin tetap bersamanya. Sebenarnya. Kubuka dengan paksa kamar Endo. Hampir habis. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. masih senang dirayu. Ah. Tapi bukan itu. kenapa sekarang kamu beralih. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Kamu tentu tahu sendiri. Kuceritakan kembali padamu kasur. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. bekas pacarku. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. menciumi lehernya. aku pun sama denganmu kasur. “Lalu kenapa. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. menarik. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. seperti pasangan pada umumnya. tersenyum aku padanya. Menumpuk lekat di atas dada wanita. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Kamu tentu tidak tahu.Asalkan kamu mengerti. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. tertawa. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. memeluk erat tubuhnya. kemudian kabur. Tentu. Meski masih banyak retak di sana-sini. dan tentu tidur. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam. Aku ingat. Aku hanya bisa diam saat itu. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki.. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku. omong kosong untuk kembali memeluknya. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Kasur terdiam. Kuhisap lagi batang rokokku. .

kemudian hilang begitu saja. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. Tanpa rasa yang awet. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. bermain hingga klimaks. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. Aku yang sekarang. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah. buat muntah. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar.Aku ingat. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. bersembunyi. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya. mencekik urat leher Sama rasanya. Aku yang sekarang. Kasur semakin terdiam. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari. setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. “Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. tapi dia diam dan setelahnya.” ucapku tegas. Dia tahu dengan jelas semuanya. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya.

Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. pagar. Matanya mendelik dan berwajah beringas. Hening. Aku beranikan mengintip." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. Orang-orang belingsatan. tiang. "Ada apa. Padahal hujan baru saja turun. beberapa dinding kios roboh dijejal massa. dari balik keranjang." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. "Mati?" "Mati bu. Mukanya terbenam di genangan air. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok." katanya. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan.. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. Pistol masih di tangan kanannya. Bajunya lusuh. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Tubuhnya kurus kerempeng. "Aku takut. bersembunyi di balik meja. Bau apek menyengat hidung. Ada orang tertembak.!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. sandalnya pun lepas. sayuran. Perempuan itu diam. tanah pun menjadi becek. Perempuan tua itu tetap ngeyel. dinding sampai punggung orang di depannya. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal. Aku mencoba untuk mengenali. meja. cabe. Tangannya yang dipundakku. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. suasana pun menjadi ricuh: berpencar. "Saya duduk saja. gula. "Mati. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya.Cerpen Kematian Mat Boni Kamis. takut nyasar. Air menggenang.! Dor. Dagangan berhamburan. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. ia turunkan. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. ." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. dan lainnya menjadi satu di tanah. tercecer ke mana-mana.." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. Sementara air got sudah meluap dari tadi. ada orang mati di depan. beras. Udara bergerak lindap. tumpah daging. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata.

“Diam kau. Tak segan. Ia berjalan agak menjauh." cerocos petugas yang mabuk itu. Suamiku akan membunuhmu. Ketika tahu siapa yang berbuat. istri Mat Boni. Ia menangis tersedu. “Bajingan kau. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. Codet dengan ganas menerjangnya. Setelah membuka helmnya. Mata semuanya menyorot padanya. “Kagak usah bang. Wati mulai gelisah. Ternyata urusan cinta. angkot ke rumahmu sudah jarang. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Beberapa kali menggoda Wati. Wati merintih. kalau dirasa cukup penjualan hari itu. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. Ia terus memukuli tubuh Codet. Beberapa toko mulai tutup. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. Udara malam yang dingin mendesir. Wati masih berontak. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan. Ia melihat pinggul yang menonjol. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Sudah satu jam duduk termenung. ya dia akan pulang. Ternyata si Codet. Codet merobek pakaian atasnya. Tanpa aba-aba. Terakhir. sambil turun dari sepeda motornya. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. pasti sesudahnya. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. sayang ia keduluan sama Mat Boni. Hanya kali itu. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya. Codet melempar senyum. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. Codet menamparnya. ia ingin sekali menjemputnya. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Dari arah kiri. Codet terkenal menjahili istri orang.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. “Abang anter aja yuk. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. Tak jauh dari tempat kios Wati. Sayang. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot. Pasar Tua ini sudah sepi. Wati teriak minta tolong. "Lu belagu sih. Memang dari awal bertemu. “Iye bang.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Lepaskan!” bentaknya.” “Kagak usah bang…makasih. untuk menunggu angkot.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. Suasana tampak muram. terbenam oleh malam di kaki bukit. . Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. Ia jarang pulang sebelum magrib. Ada niat mesum di otak Codet. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. mau kau apakan aku. istri orang pun dia goda juga. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got.” Wati menjawab ketus. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. sepekan lalu. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. Wati bisa pulang naik angkot. ia menyambar Wati dari belakang. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. dan suka melecehkan perempuan. Mat Boni adalah pedagang keliling.” Codet menawarkan diri. Ia mabuk sepertinya. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. namun ia tak ingin menyetopnya.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. Codet pun mudah ditaklukkan. pemeras. Codet sudah naksir. Semua pedagang di Pasar Tua. Di ujung pasar. sampai ketika pakaiannya tersingkap. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Sudah pukul 8 malam. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar.

Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios.Malam hening. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. Dan kali ini. Wati?” ajak Codet. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. Kalibata. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. Mat Boni tahu kelakuan si Codet. dan kemudian memeras pedagang. Pejaten Timur. Ntar dia ke sini. Nugroho. hari inilah mereka duel. setelah ada tembakan peringatan. 09. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. “Hus. mak. Di daerah Tua ini. ini balas dendam Boni. Barangkali. Sayang. Jasad Boni pun diangkut ambulans. Ia meradang. 19 Juli 2010. Dan penembakan ini.huss. Aku toleh pelangi itu. Codet pun melemparkan pistolnya. “Mari kuantar kau pulang. bagus ya.. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. Ia melengkung indah di atas pasar. baru pertama untuk Boni. seorang blogger cum wartawan. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah. . Pasar pun kembali berisik. meski hanya untuk menakut-nakuti. Beberapa hari setelah itu. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Beberapa burung pun melintas di depannya. “Mak. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta..37 Andi S. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Barangkali.ada pelangi tuh.. Codet berdiri dan merapikan diri. seperti kisah-kisah masa kecilku itu. Lahir di Purworejo. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Jakarta Selatan.” seru beberapa orang di sekitarku. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu.diem. “Itu pelangi untuk Boni. jangan keras-keras. Kini ia tinggal di Jalan Damai III.” seorang laki-laki menegurnya. Ia menutupi diri dengan seadanya. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu. Dan ya.. 20 Juli 1985. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. Wati hanya terdiam.

chatting. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari. yang Rp150 ribu. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. Sama saja kan. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan. setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. Ibu tidak punya uang sebanyak itu.” Puteri hanya bisa mendesah. aku ingin mengenggam warna-warni dunia. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir. yang penting belikan Puteri hape layar sentuh. Jaman sudah berubah. Tanpa perlu repot memencet sekian tombol. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan.” “Iya. yang penting bisa telpon dan es-emes. “Put. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. Ah. dan menjelajah dunia maya. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya. tunyuk artinya menekan dengan jemari.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial. Nak.Cerpen Layar Sentuh Kamis.” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. Sebenarnya tak salah juga. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. Sayang.” “Touch screen Bu. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan. Bagaimana menerangkan istilah- . hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. Ibu terlalu sederhana pola pikirnya.

Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. ensiklopedia. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. Tentu. Puteri tak punya cukup uang . Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. Tanpa kerja keras ibu. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. Maka tertanamlah perangkat bluetooth.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. Ah. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. maupun Matematika. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik. tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. Hanya dengan sentuhan jemari. Kimia. andai saja ayahnya masih ada. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. laptop. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. Mulai dari gaya penampilan. mendengarkan radio. makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. bahkan menonton televisi. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. telepon genggam. kendaraan. cowok. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. The Extra-Terrestrial. Serumit apapun rumus itu. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. Ah. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. tempat nongkrong. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. hingga diperlukan buku-buku. hingga hari-hari menjadi asyik. Karena itu. ia memang terlalu banyak menuntut. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. kamus.

Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. Sekarang. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. Kalau kamu mau ikut Tante. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? .” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. penyanyi dangdut keliling. hingga kupu-kupu malam. “Jangankan hape layar sentuh. Apakah maksud kata. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. Tapi. tukang pijat. “Tante tidak memaksa. Harga dirinya merasa terlecehkan. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. Sambil mendengarkan musik. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. “Jika mau menerima sentuhan. “Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. tetangganya.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri. jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia. dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad. Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh.” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. engkau bisa membeli hape layar sentuh. Mulai dari pelayan café. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. eh bersalah. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya.

orangtua Shinta. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. Klik. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Entah bisikan setan darimana. ini Om Anton. Puteri menceritakan semua yang terjadi. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu.” “Baik Om. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. sahabatnya.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Bukankah. Jika ada seseorang yang datang. Puteri merasa begitu takut.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. “Maafkan Om Anton ya. “Tunggulah di kamar ini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Tanpa perlu berkata-kata. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. dengan berbagai lobi. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri.Memaksa ibunya jelas tak mungkin. tapi Om Anton juga harus berjanji.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap. Awas jangan macam-macam. Di lobi hotel. Om benar-benar menyesal. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya. Puteri sangat terkejut. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri. Dengan tangan gemetar. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. Om Anton . Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian. Tak terasa.” Sekarang. dipegangnya gagang pintu. Untung semuanya belum terjadi. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta.” “Tanpa Puteri minta pun. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Maka sore tadi. Mereka begitu akrab. Bahkan. Sekarang pulanglah. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi.

Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. DEMI HP LAYAR SENTUH. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. Sementara Tante Rini raib entah kemana. mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. 01 September 2011 SETIYO BARDONO. 2012). Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. 2007).com . seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. Email: setiakata@yahoo. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. 2012). dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing. ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok. ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak.bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. 15 Oktober 1975. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. Sementara di beranda rumah. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Ah.

Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. dan aku tidak menikmatinya. air mataku pun luruh mendengarnya. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. 31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik. Aku segan. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. bibir merahku. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. "Kenapa belum hamil juga. Aku bertemu Johan. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. kecuali mereka yang memulai. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku. Namaku Lastri." jelas suamiku. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. Kami pun menikah di desaku. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu. itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota.malam pergumulan kami yang sebenarnya.”batinku dalam hati. "Apa kamu sudah hamil. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. Sejak malam pertama itu. Selang dua hari setelah pernikahan kami." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah. aku juga trauma melihat darah.”sesalku dalam hati. di pihak lain." jawabku sambil sedikit tergagap. Hampir setiap bulan. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. Jawa Timur. akhirnya aku pun berani untuk jujur. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin. seharusnya darah itu cepat ku lap. “Ini semua memang salahku. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. sukses. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil. "Belum Bu. dan entah mengapa. Ya. Dengan dipaksa jujur olehnya. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. "Aku tidak tega melihatmu merintih. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta. "Dia itu bunga desa di sini. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. lelaki yang menjadi suamiku. ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. aku sangat canggung. juga tampan dari Jakarta. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. begitulah penjelasan suamiku. hidung bangirku. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota. . nanti kita program bayi tabung ya. Awal pertemuan dengan mertuaku. sepertinya tidak hadir lagi malam. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. "Tenang Lastri. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan.

aku seperti mendapat jalan keluar. Saat aku masih berpikir. Roy. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada. Kesibukanku mengurus Jonathan. dan ketika kulihat nama pengirimnya. aku sakit Lastri. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. aku ingat Roy. aku memang lain. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. “Aku sudah tahu semuanya mas. pasti orang tuaku sangat malu. kali ini dia membawa dua teman pria. Sampai bertemu dengan mu. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. Sehingga sepulang dari rumah sakit. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen. "Pas seperti yang kuharapkan. suamiku telah selesai mandi. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. Dulu saat aku ke Malang. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. sungguh terkejut aku. selain muak.” “Tapi aku tidak mau."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. Johan pun seperti merasa bersalah. Sejak tinggal di rumah pribadi. Esok paginya. aku dalam keadaan frustasi berat. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku. "Oh. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. aku melihat semuanya semalam. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. jika tidak ke luar kota. "Maafkan aku Lastri. bisanya nyusahin saja. lelaki tampan peranakan Jerman. dan lainnya. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Mendengar perkataanku. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. karena aku sibuk mengurus Jonathan. mereka masih terlelap. Ryan. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. Suatu malam. lalu kami nonton BF (blue film) saja. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. untuk menghilangkan stres. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya. melainkan ke rumah baru kami. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. Keesokan harinya saat suamiku mandi. putra pertama kami. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. Tapi keesokan harinya. Ini adalah hari ketujuh. Aku yang lulusan sekolah dasar. kepalaku pusing. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. karena jika nanti penyakitku ketahuan. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. setelah Roy dan Robby pulang. "Aku kangen sekali sama kamu. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. aku tak sampai hati. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini.” . hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. ternyata dari Roy. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. Air mata pun tak terbendung lagi. Johan sangat senang." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. "Ya gapapa. Walau sudah ku duga. kakiku menjadi lemas . Genap 36 minggu. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka. Ya. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. "Ternyata benar perkiraanku. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu. melainkan ada Toni. apa mungkin dia salah kirim. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. “Rupanya mereka kegerahan. "Dasar perempuan kampung. asal mas senang.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

ternyata tidak. “Apa iya aku mati?”. namun keranda mayat. Perasaanku sedikit menenang. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja. namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu. Ruang Khayal. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. terasa sedang mengendarai sebuah kereta.“Deg!”. “Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. Ah. aku masih bisa bergerak berjalan. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya. Yang kutumpangi bukan kereta biasa. Tuhan. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. Namun. 20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah. 26012011.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. Menyengat hidungku yang tersumbat. membawa dosa tak terhitung. Ternyata “aku mati”. . Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. aku agak sedikit heran. Semua tak sesuai bayanganku. 14. aku datang untuk kembali pada-Mu.

ya aku hanya mengira. populer. aku rasa semua yang ada padanya. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. Raka. Dia sosok yang selalu ada. Matanya nanar menatap jauh kosong. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember.. ya itu lah Raka. keangkuhan. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit.. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku.. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong.” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. Raka memang bukan laki-laki-.. siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. bintang kampus. Aku semakin kehilangan cara. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. . Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya. “Namaku Raka Primastya Restu... tenang. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian. Tatapnya. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore. senyumnya. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. bahkan mungkin terlalu lama. bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang.aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria.ngajor ya!!” ledekku.. Yah... aku puja.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. Dan aku sudah mengenalnya sejak lama. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut . meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan. bahkan jika aku harus jumawa. itulah Raka. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu. “Grecee. di lain waktu jadi manusia introvert... Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu.. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul.. Sosok sederhana namun memesona. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak.Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam. Tapi nyatanya. Namun sama seperti impiannya. keluhannya. “ Iya. ada yang berbeda dari polah laku Raka.. Ah. “Aku kangen Mamaku. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya.. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati.. “Woi. “ Kenapa Boy.” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu... Pendiam. telaga bagi segala keresahan. Raka Primastya Restu. “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran.. “I am sorry Friend. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau. Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu. namun memancarkan kharisma. Kadang aku merasa bodoh.” aku coba bersimpati akan dukanya. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar. lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana.. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. mungkin..

. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. “Mau Jadi Pilot”. “Mau jadi apa kalau besar nanti..Ya.. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. Grecee... . kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku. Nak…. aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali. Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi.. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). Email : riskon. “Mau Jadi Dokter”.Angan merapat pada jelajah kupu-kupu. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA. terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah..id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin.co. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam.?” Ada yang menjawab.. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. S. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman.bni. Yah. “Mau Jadi Guru”.. Semakin jauh lelah itu pergi.pulungan@mail. Meski tidak seharusnya begitu. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. entah apa maksudnya. Surat Terakhir Raka …. Oleh Riskon Pulungan. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang).

sementara Istriku lebih sering melamun. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. Yang paling menyesakan dada. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. yang belum memiliki dosa. Dari Cigombong. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. Padahal. Namun tidaklah demikian dengan Upik. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah.Macam-macam jawabannya. entah apa yang dipikirkannya. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. semua berjalan apa adanya. pakaiannya kumal. *** Hari berganti hari. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. lenyap begitu saja. Apalagi membawahnya ke orang pinter. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut. ada yang menjajakan berbagai dagangan. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. dengan dalih kemiskinan. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. pagi yang cerah. semuanya memang serba dilematis. Diam-diam. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. mulai dari anak-anak. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. minggu berganti minggu. tanpa sebab yang jelas. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. mengamen dengan berbagai alat musik. sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. Setelah berbagai upaya dilakukan.” itu alasanku. Kehidupan di sini begitu keras. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. Kata orang daerah ini terkenal rawan. sembari menenteng . jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. sering pula terjadi kekerasan. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. hilang. Aku sendiri juga sering termenung. Seorang anak perempuan. kejahatan di sekitar sini. untuk bisa meraih impiannya. atau hanya malas saja untuk menjawabnya. perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. anak-anak lugu dan lucu. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. klenik atau sejenisnya. Bahkan. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. dukun. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. generasi bangsa yang malang. apa ia tidak memiliki semangat. lirih. Macam-macam aktifitas mereka. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. seolah ada yang aneh. “Persoalan anaku. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. Akupun mulai gundah gulana.

lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. gemah ripah loh jinawi ini. hawa panas mulai mengusik. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya. Jakarta Timur 13790. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya. sembari tersenyum. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. tanpa berkedip. generasi yang malang seperti anaku. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. RT 004/RW. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. entah apa yang ada dalam pikirannya. benar-benar menyentuh. hal itu terjadi begitu saja. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. :( . yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. Dalam puisinya. tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur. Puisi itu berjudul CitaCitaku. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami. semuanya terjawab sudah. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa. Kecamatan Pasar Rebo. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. dan teman-teman sebayanya. mengharukan. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat. masratman22@yahoo. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. Kelurahan Kalisari. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32.co. bungkam. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu. entah apa yang ada dalam senyumanya. tidak sepantasnya dijalanan.02. tak terasa seolah membuka mata hatiku.

terima kasih”. terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. “Saya senang bisa ketemu kamu. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. Setelah seminggu menikah. Oke pak. "Cek dulu. ada urusan lagi. teman sekantorku. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. namanya juga customer. Semua berjalan lancar. Menurutku dia memang pria yang kucari. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang.” desah hatiku dalam hatI.” genit hatiku berkata.Cerpen Aku yang Kedua Kamis. "Benar pak. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan. Tak lama. saya mau ambil pesanan saya. Kan sebelum kenal aku. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh. Lebih tepatnya lebih baik. terus nanti di-cancel-lah. memang ada-ada saja pelanggan satu ini. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. Pernikahan pun berlangsung. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak . karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. pasti aku cek.” itu isi SMS-nya. dan sudah punya dua anak. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. "Yah." candanya. banyak maunya. Dari situ. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. harapku. dia mau bercerai dari istrinya. “Iya lah. Selang setahun berhubungan. ditunggu kedatangannya ya pak. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. baik pak. "Iya tuh. Sekarang mau ambil tiket sendiri. jelasnya. So far. Ya pesen tiketlah. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. "Huufft. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh. tapi dia ada rasa kali sama kamu. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. kita kan belum pernah ketemu. sadarku mengentikan lamunan. kami pun memutuskan menikah. Ah biarlah. bahagia menyelimuti perasaan kami. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. SMS dari Pak Anton rupanya. ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia. memang sudah dalam proses bercerai. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. Sepulang dari kantor. "Hush. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari. hihihi. "Iya. benarbenar jauh dari perkiraanku.. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. Kami pun larut dalam percakapan. hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. akhirnya bisa dipenuhi. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh. saat baru sampai di rumah.kurang lebih 45 menit. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang. hihihi. ponselku bergetar. “Selamat sore. sekalian lewat katanya. "Itu Nit. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku. Ya." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis.ngawur!" balasku. Nanti malah dilarang lagi. kilahku. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri..” sanggahku dalam hati. yang hanya ingin aku yang melayaninya. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya.

tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. Ya sudahlah. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. lalu kubuka. Minggu siang tepatnya. dia masih saja berulah dengan menikahimu. adik ayahnya yang sudah meninggal. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. terutama jika Alan sedang sakit. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. saya jadi tak tega mengusirmu. bahkan seperti kembar. Mungkin kalau tidak ada Alan. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. Kesepian sangat melandaku. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. aku sudah membunuhnya. Dia tidak bisa menceraikan saya. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. aku tak pernah melihatnya. semua masih berjalan baik. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Juga untuk menghindari cibiran tetangga. dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. batinku.terganggu. keluarga besar ku di Palembang semua. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. Tapi selama sebulan aku di sini. hanya aku yang merantau ke Jakarta. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. Di depan rumahku. Hampir setiap malam. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. dan ketika Alan sudah tidur. Dia pun bilang. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. "Siapa ya?" tegurku. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku.5 tahun. aku pun hamil. Pada akhir cuti Mas Anton. hampir setiap malam aku menangis. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. Untung saja ada bayi mungilmu itu." pikirku dangkal. semua harus ku jalani. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. istri pertama Anton. kami mengurus Alan. mimpi buruk pun dimulai. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. Bayiku masih tertidur pulas. Ya. aku pun memutuskan untuk punya anak. kami sangat bahagia sekali. karena aku sebatang kara. . namun Mas Anton. Tapi lihat. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. ya itu nama putra pertama kami. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. Tak lama pun air mataku mengalir. Karena alasan kesepian itu. Jadi ini maksud “catatan” itu. kehamilanku tidak 'rewel'. aku sendirian menjaga Alan. Waktu tak berselang lama. mereka duduk di ruang tamu. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. Sekarang Alan sudah 3. mencari suamiku yang juga suaminya. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul. Alhamdulillah. Mana si Anton?" ketusnya pedas. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. yang bilang bahwa jilbabku palsu. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. Sementara aku masih terdiam. Petir terasa menyambar diriku. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. Semua terasa sangat berat. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. "Asal kamu tahu Nita. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. karena utang-utangnya yang banyak. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. karena harus mengurus Alan. Setelah kejadian itu. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. Sepulang dari rumah sakit.

com : the_a_young@yahoo. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru. Mohon Dek Nita memikirkannya. aku sakit pilek. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. kaget. benel kan bu kata Alan. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. "Iya.Di suatu sore. "Ibu kenapa? Kok bengong. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku." oceh anakku menimpalinya. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. "Begini ya Dek Nita. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. Terima kasih ya Allah. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. Syok tepatnya. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. dia pun mulai bicara. nih liat pelutku buncit. "Iya om tau. Keesokan malamnya. Pondok Ranji. Beribu maaf jika lancang. Email widi. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku.id . dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya. S. saat menemani Alan bermain. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. Ciputat 15412. Gg H Abdul Karim 2. mendengar semua ucapan Pak Surya. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka.co. Rt 01/03." Aku hanya terdiam. "Alan. Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. Menanggapi tawaran tersebut. spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". Oleh Damatriyani. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. aku sudah makan banyak.agustian@yahoo. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku. "Iya. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut.

tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi. Hati ini lega. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. namun sedikit merasa risau. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku.” ucapku lirih saat bertemu dengannya. “Stop! Jangan bersedih nak…. kapan aku menikah???. kini di semester akhirku. Bagiku. dan galau. namun beberapa bulan berikutnya. ini perjalananmu yang pertama. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan..” celotehku disetiap rintihan doa salatku.. ***** “Tuhan…. Pertemuan tak berhenti sampai di situ. Tak berhenti sampai di situ. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. mungkin bukanlah dia pangeran itu. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki. Meski aku tak berpacaran.” pintaku di setiap doa dalam salatku. . “Inikah jodohku ya Allah. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku..CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku. itu cinta pertama dan terakhirku. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Inilah aku. Namun. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar.. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. Kesedihan pun menerpaku. Di setiap malamku. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. “Ya Allah. gelisah. 04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami.

Bersurukan laiknya seorang pengintai. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Tatapannya melirik tajam. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Anak kecil berumur 10 tahun. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. “Ya Allah.com Cerpen Penyamun Kamis. Tak pernah terpejam. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. agama. Malam itu.andriyani@yahoo. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. Begitu nyalang. Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini….” tangisku di depannya. aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Bukan hal aneh bagiku. Bak denyar halilintar. disamping aku masih mencintainya.blogspot. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Aku hanya seorang pengamen jalanan.com Blog: Roudhotulilmi. . sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. Seperti mengungkapkan amarah. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. Menyorot merah padam. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya. bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. Apalagi berpalis muka. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran. Tak lengah sepicing pun. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. Anehnya disetiap tidur akhir malamku. dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. Sungguh hati semakin gelisah. Ia bukan seorang mata-mata. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. pengamen memang cocok untukku.

seorang preman menyambi penjudi. Begitulah pekerjaannya. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. Tiap hari rokoknya ludes. bila warung itu dimusnahkan. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Menyunggingkan senyum kecut. maka para preman akan melakukan perlawanan.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. “Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. Aku hanya diam tertunduk. pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Hari ini langit cerah. Bukan hanya para preman saja. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. kalau ingin tetap mengamen di sini. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir. “Ini daerah kekuasaanku. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. Katanya merusak suasana kota. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh. Tapi sialnya. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. Bukan hanya itu saja yang dipintanya. ia datang menghampiriku. Alasannya sederhana. bukan oleh pembeli. hasil kerja payahku itu. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang. jangan pakai kecrek. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. pakai alat musik lain seperti gitar. Memang. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Di bawah warung itu mengalir air selokan. “Beneran Bang. Memiliki tanda gores di wajah. Terpapar renyuk. selalu dirampas olehnya dengan dalih. Memalak uang mereka. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. aku dan pengamen lain. Sepasang mata itu milik Bang Jali. Kalau mau ngamenmu laku. ia duduk bertinggung menatapku. sekembalinya . Menerpa pada mata setiap orang. Perawakannya pendek. Luka rebak itu hasil sabetan parang. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku.” jawabku. Hingga titik darah penghabisan. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Mungkin sejam lebih. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. Terik matahari meyorot panas. Selalu kalah. hingga sekarang. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. melainkan hari ini bukan hari libur. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu. hanya berani pada anak kecil. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Ah. Bila mendapat banyak uang pun. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. hari ini sepi.” Padahal. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu.. Di depan warung nasi milik Bi Inah. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Berotot besar tapi nyali secuil. pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. Di jalan. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. Padahal ia bukan tentara.” Namun nyatanya. selain berjudi. “Heh Udin. mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Bila di pikir-pikir. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. pertanyaan yang memuakkan.Sedang ia. Ya. Pastinya uangku akan dirampas. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. Bila uang taruhannya habis. Dan entah berapa lama ia menatapku. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. ia tak pernah ikut mengamen. Bukan karena aku malas. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Semacam tukar beli. Sebenarnya. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Jalanan tampak sepi. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. mereka selalu memesan makan di situ.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

sambil tertawa kecil. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu. hukum alam. “ Iya ya Bune….” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci. membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. Istriku. seakan prihatin. lha wong udah tua gini kok neka-neko. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. Ternyata Tuhan seakan menguji kita. Itulah aku dan istriku. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. Kedung Banteng. hari ini. Di hadapanku sebelah kanan. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“. sambil menggelengkan kepala. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. kadang kita berada di posisi bawah. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. merekapun menjadi sewenang-wenang. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds. sambil sesekali memandangnya. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at. sesuai tren zamannya…. tanyanya manja. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Sambil menyetir.” jawabnya dengan logat Jawa kental. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. 16 Juli 2018. Ya. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Memang. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. tengah. “Walah Pakne. “Dunia sudah terbalik. hidup itu seperti komidi putar. yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. Inilah janji Tuhan.” gumamku. Di dalam Kijang Inova.” kataku kepada istriku. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. “Cantik itu relatif. tambahnya menggoda. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. lotion penghitam wajah”. Nyatanya. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. ”Sudah jam setengah tujuh. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. Rasakan Hasilnya!”. Selalu berputar. saya suka dengan wajah Bune yang alami.mengembalikannya lagi ke hitam lagi. “Iya Bune. Itulah sunnatullah. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama.” Pada hari itu. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. ketika mayoritas berkuasa. Mobil berhenti karena lampu merah. diskriminatif dan menindas minoritas. Kudus tepatnya. Dan sekarang. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. bangga. Jawab istriku. tanggal/bulan/tahun. Hari ini Senin. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu.” batinku. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus. dan terkadang di puncak. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar. akan Kami putar (nasib) manusia. Di kaca depan sebelah atas.

mimpi.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. Tak hanya melihat keindahannya. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku. Aku menaiki tebing. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi. Semuanya akan baik.pelatih dari benua biru. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. Tapi karena di saat-saat seperti itu.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. bukan karena aku sedang mengalami duka. Awan mendung tampak menaungi biru pantai. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. rasa yang aku alami selalu sama. Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka.mimpimu hancur berkeping. dan perubahan sebuah bangsa. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang. tapi juga harapan bagi keluargaku. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat. Setiap aku melihat pantai itu. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. Teruntuk Akand. Ini bukan saja tentang mimpiku. aku seperti melihat sebuah . Seketika aku menyadari. Tapi sebaliknya.baik. Walaupun dengan hal. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah.hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku.tebing yang ada di sekitar pantai. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. Terlihat burung. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. Terdiam aku untuk beberapa lama. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil. ada yang dapat membuat mimpi. tapi ini tentang sebuah harapan. Dan terkadang di antara putaran tornado itu. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini. Bukan hanya itu. Pemandangannya tak pernah berubah. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri.saat kelam. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. aku tak dapat membantu mereka. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. Dan setiap kali aku melihat pantai.

Alamat blog: geoaranda. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. “Begini Mak. Langkah kaki diseret mendekat. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. Aku tak menyahut. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. Bertempat tinggal di Jakarta. rasa malas hinggap. Oleh Geri Taranda. Perasaan serba salah menghampiri. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. Sebagai balas budi. Koran. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. tetapi keadaanlah yang memaksa. jangan dipendam sendiri. hingga Emak membuka bibir. . kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. wajah perempuan baya menyembul.” Suasana mendadak bisu. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran. Bersama Emak. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. “Ayo lekas ngomong.” Aku menggeleng pelan. air akan menjajah seluruh ruangan. Tangannya yang basah memegang jidat. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. Suaranya datar. Kegiatanku kini membantu Emak. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. Bila hujan turun.harapan baru. takut ia tersinggung. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. usia menapak 14 tahun. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit.blogspot. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. majalah maupun buku semua tandas aku lahap.

ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. Awal pernikahan kami begitu bahagia. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu.” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. bagaimanapun caranya. “Jangan berkelit ya. Layaknya pengantin baru. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi. kembali kepada kami. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. Aku maklum.” “Oh gitu. Ia bergeser. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. Bagaimana jika Kang Diman. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. kepuasan terbit di sana. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. pagi-pagi udah ngelantur. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. tapi wewaler itu berlaku juga. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. seandainya Bapak mau balik ke rumah. Kali ini sorot matanya begitu lembut. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. lagi belanja ya. Kurapikan peralatan menyemir. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. “Syukurin. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. “Maafkan Emak Le. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. Kang Diman. pemuda yang selama ini merantau. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. ngepos di perempatan bawah kolong. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. sekarang Bapak tinggal sendirian. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. raut mukanya masam. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. bapaknya. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan. mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk lesu. “Sudahlah Le. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini.” melengking suara Mpok Hindun. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu.” Emak tersenyum kecut. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. Ngontrak di belakang pasar. tangannya membelai rambutku. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur. “Jangan percaya Bapakmu. Tadi pagi. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut.” sapa Mpok Hindun ramah. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul.”tanyaku memburu memendam kecewa. “Maaf. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. berharap derajat kehidupan lebih baik. kamu Marni. “Kasihan ya si Marni.” “Syukurlah.” Raut muka Emak seketika berubah. “Eh. tiada guna menimpali. “Mak. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. Walaupun tak ada rumus yang baku. sebagai seorang sopir angkot di . “Mak. sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. Dada Emak membusung. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. Aku membuntutinya.

rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Entar aku juga punya mantu laki. sudah cukuplah. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. aku kan bapaknya. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. Pardi namanya.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata.” “Nggak pengen nambah. semoga desas-desus itu keliru. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. Ah. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. Banyak pula yang bersikap acuh. ia marah besar dan kecewa. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku. khas orang Jawa sama seperti Bapak. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. Tapi dasar anak bandel. Kasihan si Wawan. “Ah kamu Man. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. sejenak dalam hening.” Segera ku naik ke boncengan. teman akrabku. waktunya suntik KB. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. “Perempuan itu siapa Mpok. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. Udara kering panas menampar wajah dekil. “Ayo kita ke warteg. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku. Emangnya kenapa. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi. pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. Dekat tapi tiada tersentuh. Spontan aku menggeleng. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. semoga ini hanyalah kabar burung belaka.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. mirip banget sama kamu Man. mata mendadak panas. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Mau nganter istri ke bidan. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. tanpa sepatah kata pun darinya. Boro-boro membelikan barang. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori. ini anak lanangku. Awalnya Bapak sering menjengukku. Mata bolaku hanya bisa menatap. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. Sekarang tinggal kami berdua. “Ini tho namanya Wawan. Tak jarang mereka bermurah hati. “Tentu saja Di. aku tak boleh mengeluh.” Jantung serasa copot saat itu juga. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya. aku pamit dulu ya. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis. Siang begitu terik. antara percaya dan tidak. melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. Oh Gusti. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. tak jera juga aku mendekat. “Kenalin Di. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. terasa kasar. “Aku pun nggak tahu pasti Mar. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. Pernah Emak mengetahuinya. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya. Duh Gusti.kebetulan aku juga belum makan. “Yo wis. Emak melarang keras aku menemuinya. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa.

Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. kali ini aku nggak bisa. Lunglai tubuh. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak…. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. Kupasang muka sejernih mungkin. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. sesali nasib malang yang menimpa. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. merasa dilecehkan. Sontak perasaan bersalah terbit. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. jadi aku berhak ketemu kapan saja. darahku seketika tersirap. walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. emosinya mulai tersulut. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja.”Aku tetap keras kepala. mulai dari bayi. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku.” Wawan beranjak dari duduknya. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. Kupandang photo Wawan di dinding.” pelan sekali suara Wawan. Rasa cemburu membuncah. pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. teganya meninggalkan anak-istri.menyayangi. menyamarkan resah. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. silahkan. kenapa?” Wawan membuatku tergagap. tadi main ke rumah Mamat dulu. Di atas kertas. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. membuat darah dagingku sengsara. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. “Maaf Mak. Pernah berpikir minta cerai darinya. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Wawan belum juga pulang. “Mak…. “Ayo Kang jawab. tetapi hubungan kami begitu jauh. Aku tak mau menjadi ibu durhaka. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. Praduga buruk hinggap. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak. “Sudahlah Wan. Biasanya ia sholat di rumah. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg. “Jangan harap. tadi aku ketemu Bapak lagi. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. kamu sudah besar sekarang. bagiku serasa restoran fast food di mal. aku mau pisah. Emak marah ya sama aku?” “Le. Kuhembus nafas sedalam mungkin. “Eh. Gelisah merambah. “Mak. Kesumat masih lekat terpatri. Kemana saja Le. berharap ketenangan tercipta. jangan melompong seperti sapi ompong. kebimbangan menyembul.” “I…iya Le. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. Kalau Emak mau marahin.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. ia harus memikirkan isi dapur. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. Ketegangan mulai merambati kami.” Kutatap wajah anakku.” “Maaf ya Mak. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin. . aku tidak suka ia menemui bapaknya.” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. Ada beberapa. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri. Muka Kang Diman menegang.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. tapi sosoknya belum juga muncul. Status pernikahan kini mengambang. “Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. Ah. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. balita sampai seumuran sekarang. kukuh pada pendirian. kamu Wan. pasrah. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu. Entah berapa kali termangu di depan pintu. membuatku mati kutu. “Kok diam saja. Rupanya anak lanangku telah berubah. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan.

Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu. mungkin aku sudah berada didunia lain. ngagetin saja. Aroma obat meruar menusuk hidung. “Ada apa Wan. “Le. Mataku terpejam ngeri. ngilu terasa. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. Karena perbuatanku kamu sengsara. yang tengah bersiap berganti penjual.” elakku gusar. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar.” “Baiklah Mar. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. “Mak setelah sembuh nanti. aku bukanlah ayah yang baik. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa. “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling. Selama ini Emak terlalu keras padamu. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman.” terasa sekali Emak mencoba menghindar. Tidak seperti sekarang. perban telah membebatnya. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. ikan dan daging yang berkuasa. Harapanku tidak muluk. aku tunggu jawabannya.” “Terima kasih Mak. Emak di sini kok. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. Sejurus kemudian ia keluar kamar.” tersendat suara Bapak. tak percaya aku telah siuman. tak hirau dengan panggilannya.“Eh.” jawab Emak bergegas menghampiri. Emak ke mana ya. matanya berbinar-binar. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. Terlambat. seperti ada yang dicari. Matanya berkaca-kaca. aku tak keliru! Matanya terbelalak. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. anak lanangku sudah sadar. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. Kecemasan terbit. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. Kepala membentur benda keras. “Maafkan Bapak ya Le. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus.” Aku hanya diam. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. Bila pagi pedagang sayur. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. dirangkum dalam dadanya yang bidang. “Ayolah Mar. tanpa diminta pun telah memaafkan. “Eh kamu Kang. Kugerakkan tubuhku sedikit. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak. Kupegang kepala. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Jelas ini bukan kamarku. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. Matur nuwun Gusti. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli. Eh. syukurlah kamu udah sadar. “Kang Diman. Dipeluknya tubuhku. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun. Kelak bila kamu . Tapi aku ingin duduk. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. Memang Bapak telah menelantarkan kami. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. Benar itu adalah Bapak. gerimis membasahi pipi. Pandangan beredar sekeliling. “Anakku Le. kamu sudah siuman. Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan.” pipi Emak bersemu dadu. kunang-kunang berseliweran di kepala. bak maling ayam yang takut ketahuan warga. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Wawan cuma ngantuk. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. Oh.” Emak muncul dari pintu. darah kalian sama.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. Entahlah. senyap.

Aku bisa bertani disana. Gemericik hujan sore ini begitu indah. aku berniat untuk pulang kampung. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. Wewaler : peringatan 2. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. Semua tinggal menunggu waktu. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah. “Oh ya Le. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir. 12 November 2012 15:44 wib . tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju. Duh Gusti. mohon belas kasihan 3.” Hatiku mendadak cerah mendengarnya. Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. mudah-mudahan ini pertanda bagus. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. Kaningoyo : sengsara 4. sorot matanya cemerlang. Sekarang tinggal di Depok. nanti kamu bisa kembali sekolah. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. 11/11/2012.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo.setuju. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab.” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan.

"Apa maksud Ibu?" "Dek. Hehe. Toh. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. "Selamat datang bapak. Mereka begitu menginginkan baju kurung. maaf apabila aku terlampau egois. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. kok. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. Ambil buatmu saja!" "Loh. Pertiwi sebutan orang. bahkan membunuh. Selamat datang ibu. Badannya yang ringkih itu babak belur. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. Sungguh. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. Dahulu kala. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. Pancaran mentari tak . tak akan ada lagi perlawanan. pesak sebelah. semenjak suaminya datang di kehidupannya. lalu mati 67 tahun yang lampau. celana dalam yang selalu dikenakannya. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. belah bakung. Untung baru seujung saja yang terkerat. Kalau tidak. seroja. "Tak perlu. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang.AKU tak habis pikir. Dia adalah manusia: bermata. Ia bukan jin. apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. kemeja buntung. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar." sapaku seramah mungkin. Entah apa tujuannya. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. seorang ibu tua. kepok. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. penjahit ulung. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. aku tidak salah. kelepak. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Jika ia mati. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. handuk. sepeda ontel. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya.. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. berhidung. jas katak. Sungguh. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. sekalipun ia melambatkan lajunya. sekalipun sedang ia kenakkan. bajang. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. telekung. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. "Bu. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini." "Iya. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. basterop. tak ubahnya seperti kau dan aku. punggungnya lurus sempurna. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. Sekonyong-konyong. Dia tetap berdiri setegak batang surian. sedikit saja. ambil saja. bukan pula malaikat atau sebangsa iblis. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. Tidak dengannya. Hanya yang membedakannya: celana dalam.. masih ada di pelataran parkir. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. ya semua ini karena aku tahu. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. kain panjang. bertelinga. Sedangkan kendaraannya. Dari bisikan yang kudengar. Ya. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. kutang. ia telah puas merasakan penderitaan. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Habislah orang itu dihajar. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. bukan rasul. apalagi dedemit. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya.

orang yang membuatku hidup. "Dek. Dia tersenyum. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana." jawabku sekenanya saja. itulah yang namanya kesempatan. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. Namun. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. kepada Istana. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku. Tanpa mengenakan pelapis lain. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. Senyumnya kian berseri. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. *** Malam setelah matinya majikanku." tolakku gemetar. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik. Aku gemetar mendengarnya." jelasnya lagi. tidak Bu. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa. Ia nekat telanjang. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. "Jadi." sejenak ia menghela nafas. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil. "Huh. Malunya sudah musnah. Namun. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya.kami hiraukan. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu.. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. "Dek. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. ia telah lupa diri. bagaimana mungkin aku tak sadar. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya." jawabku pasti. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. dan aku si buta. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana . dan aku adalah si pekak. orang memang kebanyakan berpikiran demikian. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku. Suara perempuan itu menjelma guruh. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. Tak menanggap. aku tak berani. ternyata hanya untuk dipertontonkan.. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. Tadi. Hidupku bahagia. bisa-bisa aku dipecat. "Mengapa?" tanyanya lagi." jawabku sekenanya. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. "Benar. Lama. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. tatapannya adalah kilat." Ia pegang pundakku. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan." Dari dalam rumah. mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. dengan sisa-sisa perca. Aku mendadak kaya karena buah tanganku... Orang itu. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. seharusnya kau ambil saja. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda. Mana mungkin aku berani melakukannya. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. "Ti. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua." "Ah. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu. "Seandainya aku berikan dua pilihan. Ibu itu diam. ada darah yang menyembur deras. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku..

Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu.” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah. ia enggan menerima balas jasa apa pun. Anggota UKS-UA. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. . Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. divisi musik. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. kelahiran Batusangkar. 7 Juli 1992.dalam berwarna merah putih itu. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra. Padang. Tapi aku tak mau. “Silakan Neng diminum airnya. Selain giat bermusik. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis. 19 A Padang Timur.

Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. ia lakukan dengan segenap hati. Untunglah aku bertemu Mang Durja. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. Sebab. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya. Aku sempat meragukan cerita tersebut. dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. Hanya punya satu tivi 14 inch. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan.” “Buat warga di daerah ini. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan.“Mun urang nulungan batur. Sep. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari . Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. Seperti diceritakan Mang Durja. Sep. bahkan boleh dibilang teramat sederhana. dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. Pada Bu Nyai. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini.” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Ia pun menceritakan hal yang sama. Rumahnya cukup sederhana.” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. “Bu Nyai mah A baik orangnya. menurutnya.” ujar Teh Ema.

Aku memaksakan diri pulang. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Ia terus mengucapucap subhanallah. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu. Aku semakin membeku.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Namun sesaat setelah membuka pintu. aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Mata Bu Nyai masih terpejam. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Ah. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. Lunglai. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Entah kenapa. Termasuk pada Tuhan. cepat-cepat pula aku membuka pintu. Maklum. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. Aku tak berani menghentikannya. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. Ia masih belum menghiraukanku. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Aku masih berada di kampus sore itu. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Entah apa sebabnya. ini berarti pertanda ritualnya berakhir. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Ah Alhamdulilah. Dan. Semakin mengkerut. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Beku. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Setelah sepeda kurantai. Akh! Bu Nyai membuka mata. ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Aku semakin merinding. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Hujan masih juga betah berjaga. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. Hujan di luar kembali menderas. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. Bahkan lebih. Tapi tetap tak ada. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. Hujan tinggal rintik-rintik. tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Napasnya sedikit tak teratur. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. *** Hari itu hujan deras sekali. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Salah satu tangannya. Sesekali kepalanya . Lima kali subhanallah. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. Tapi ini tidak. Bisa boros limaribu sehari. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. “Muhun Sep. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Keningnya mengkerut. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Tubuhnya juga bergetargetar. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. “Bu Nyai. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Ia menghela nafas lagi. Aku tiba di kontrakan. Aku duduk di kursi sebelahnya.

eta hartina teh nulungan urang sorangan. Dan sekarang. samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. Ia mendesah. Penikmat kopi dan sayur asem.com Cerpen . Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. Kini tinggal di Jakarta dan menulis. Energinya habis.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu. Mencoba memahami segalanya. Di sekitar sini. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya. tapi tetap tidak juga ketemu. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. Seperti tertimpa batu-batu. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa. Aku mengangguk. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data.5. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. *Mun urang nulungan batur. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra. ada di sini. sep: Kalau kita menolong orang. Bandung. “Sep.menggeleng pelan. selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah.

Tak lama dari kepergianmu. Kau juga sampaikan padaku. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu.” Sebetulnya aku malu padamu. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Tak berpikir panjang. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. kau tak ambil banyak bicara. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku. Kau ajak aku makan berdua denganmu.” kataku saat itu. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. khasmu. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Tepat pukul 3 sore.“Ahlan wa sahlan. Dengan kelihaianmu itu. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. kau dalam . Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. kau antarkan aku ke kosku. aku hanya bisa mengulum senyum padamu. Kawan…mengingatmu aku sangat malu. Ku bilang pada diriku sendiri. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Aku yang suka. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. saudaraku”. “Kau suka ? Ambillah. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Kau malah memelukku dan mengucapkan. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Aku mengharapkanmu. aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. Belum banyak kau bercerita. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Untuk menghargaimu. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Sangat memotivasi. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. Habis ceritamu. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu. kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. nanti saya yang bayar. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. “Hmm… aku suka buku ini. Aku heran padamu. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. Aku malah lupa kesukaanmu. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. Ku akui aku mulai suka padamu.

Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 . FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. Kab. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. Setelah satu bulan pencarian. Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Sobat … andai kau lihat saat ini. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku.2010). Atas izin-Nya. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. lahir di Pati. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita.keadaan selamat. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa.2010). Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. 16 Oktober 1988. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. . Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010). membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Wedarijaksa. sobat. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. Buatmu. kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. kau akhirnya ditemukan. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. Jontro. mewujudkan impian kita berdua. impian kita telah terwujud satu per satu. kini telah berteman dengan coretan garis merah. Kau ajari aku perlahan. Tinggal di Ds. Kec. Jawa Tengah. Dulu. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. Pati. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Sobat. Sobat … bagiku. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. RT 03/RW 01. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. membuat diriku tak sanggup mempercayainya.

buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. Pak Yon. Kemudian sontak bertanya padaku. Aku segera mandi. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana.” . Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. Seperti biasa ibu tidak ikut makan. Selesai sembahyang aku keluar kamar.sekarang mandi sana. Tapi bisa apa aku. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan.. disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. aku siap berangkat. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. salam-tempel. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. “Nduk. adalah nama panggilan bapakku. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. “Nduk. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. Damai dengan polisi kalau di-tilang. gundah. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. cobek. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang.. Segera kubasuh muka dengan air wudhu. hidup itu butuh pegangan. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. serangan-fajar. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu.. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur.korupsi telah membudaya di negri ini. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. Gilanya. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. Kami tidak punya meja makan. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan. Budaya Korupsi. kita berangkat bareng !”. uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. “Aida. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. badanku sudah bersih. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan. untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). kamu lihat itu. kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil. aku berusaha membangunkan tubuh ini. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu.

. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang.. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua..” pikirku. Ibu datang.. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini.. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja.” sapa ibu... Informasi ini diumumkan di Koran. kamu tenang saja nduk. Aku diam.. Kulihat ternyata banyak juga sainganku.. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. ”Wah cantiknya anak ibu ini.?” tanya bapak kepadaku. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. ibu bohong sama Aida. . ibu ndak mau kamu khawatir. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Kita langsung berangkat. Memohon doa restu.Aku agak risih mendengar nasihat itu. itu gambar benjolannya masih kecil kok... Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu.” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri. tapi karena ibu. Tapi hidup adalah pilihan.... Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu. Aku degdegan. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi. “Rencana kuliahmu besok. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Aku butuh klarifikasi dari ibu. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak.!!!’ tegur bapak. Tertulis nominal disana: Rp5 juta. Hingga selesai. Hari-hari telah berlalu. dengan raut muka campur aduk.. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk. Ternyata Aku diterima. Aku bingung dengan senyum ibu. ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”. Segera aku lari ke depan rumah. bukan karena teror ujian. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya. Sontak membuat aku kaget. baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya. Hari Minggu tiba. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat. Aku tunggui ibu. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. ”Aida. aku libur. entah aku sedang menangis atau apa. hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. bapak yakin kalau Aida bisa. ayo berangkat. Sesampainya di lokasi. bapak antar Aida ya besok!”pintaku . kalau ibu punya tumor-payudara. Sudah kutuntaskan tugasku. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu.. Ragu-ragu menyerang tubuhku.. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. ”Uang dari mana. Sekarang hari Sabtu. Ya.” ibu berusaha menenangkan aku. Lima juta harus cair dalam sehari.”.. Ujian dimulai. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku.. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. ”Buat apa nduk. ”Sudah selesai Aida.. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu.semuanya sudah selesai. ”Sudah pak. aku harus memilih.. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu.. Jatuh satu demi satu.!!!” rengekanku kepada ibu. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan..

Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. Tepat pukul dua belas siang. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya.Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu.. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong.. anak kami. berdoa. Aku malah disuruh di rumah. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut.. Bapak pergi lagi. dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos.pasti ada jalan. “Bapak tenang saja.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo. Amplop tersebut kemudian bapak buka. “Betul Pak Yon... nakal bukan kepalang.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu. ”Ya.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. Badannya panas. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali... Hanya laku dua juta. bapak dan ibu tenang saja. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami. Saya jamin. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo. karena kami semua khawatir kondisinya. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. seketika itu pun bapak terkejut.” jawab bapak. Apa ini pak?”sahut bapak. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo. akan saya cek kembali hasil . Ya. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. .. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak. Hari menjelang sore.pak”. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. agar tidak terjerumus. Aida pasti akan kuliah pak. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo. bapak bisa mendapatkan motornya lagi. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. tangannya menggigil. “Maaf. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo.” tutur bapak kepada orangtua Bimo. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu. ”Pak Yon. Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini. Ketika ujian kemarin si Bimo. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. Pikiranku melayang. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya. saya tidak bisa menerima amplop ini. amplop berwarna coklat muda dan tebal. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. Aneh glagat bapak.”Jadi kedatangan kami di sini ini.” Raut muka bapak mulai kebingungan. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu. Aku tak tahu bapak mau ke mana.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih.” tutur ibu anak itu. Beberapa saat kemudian di hadapan kami. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. nduk?” tanyanya.. apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. orangtuanya. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo. ”Untuk masalah itu. ”Begini pak. Tapi untuk masalah Mas Bimo. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu.begitulah bu anak-anak. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun...

Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya. Aida belajar dari bapak.ujiannya Mas Bimo. Silahkan orang berkata apa. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk.. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. Aku sadar sekarang. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik . kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka.” tuturku kepada bapak. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. ”Nduk.. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan.” tutur bapak. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak. Ya.. ”Tenang saja pak. Kan hakekat ilmu itu universal. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. Bapak kemudian menatapku. setelah melalui pertimbangan panjang. tapi seberat apapun hidup. Seketika itu juga. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit.apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Jadi tenang saja pak aman terkendali. yang jelas aku bangga dengan Bapakku. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu.. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu. telah aku pilih satu hal. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau.

“Huh. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. jawab kakek.” Sahut kakek dengan enteng. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. seperti dua hari lalu. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. bertelanjang dada. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. Ini hanya sedikit saja. nanti juga sembuh. “Tak usah. “Aduh. Betapa kagetnya aku saat itu. Aku paham sekali. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya.” gerutuku dalam hati. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. “Sekarang kakek pasti tahu. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. Entahlah. sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut. Yah. Selalu begini. Lihatlah kakek sudah segar kembali.” balas kakek dengan entengnya.” jawabku sewot. tanyaku serius kepada kakek. “Kakek sudah pulang?. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. “Hahaha. Aku hanya bisa menghela napas. Menunggu kakek pulang dari sawah. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. “Selalu saja begitu. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas.” masih saja setenang ucapan sebelumnya. pasti berat sekali ya Kek?”. “Hemm”. “Segar apanya. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. . Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar.Senin. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. memang benar apa yang dikatakan kakek. tidak juga Cu. Semakin dekat menuju rumah. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. besok mau makan apa? Ah. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. Sama seperti kemarin. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul.” sambutku penuh senyum. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. Melalui jendela kamarku. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku. sudah kehilangan banyak darah. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek.” balas kakek dengan senyum di bibirnya. pulang dari arah persawahan. “Ah. tanyaku lagi.” Balasku sedikit kesal. kakek menolak mentah-mentah. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku. jadi malas memikirkannya lagi. berjalan tertatih tak seperti biasanya. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. “Tak apa Cu. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. Terlihat lemas. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya.

bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. Namun. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. kita tidak punya apa-apa lagi. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. seru kakek dengan semangat. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. tanyaku tertunduk. “Hemm. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. Senada . Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. Kita tidak punya uang. timpalku keras. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain.Khekekekekek. “Hei Cu. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. kataku dengan takut. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. “Iya Kek. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian. Saat itu kenangan masa laluku muncul. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. “Kek. rumah mewahnya hilang. balas kakek.” sahut kakek pelan. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. Apa-apaan. jawabku pelan. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa.” Balas kakek dengan heran. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. Ah. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. Hanya bisa tersenyum kecut. Huh. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. Akan tetapi. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. kini hidup kakek terlunta-lunta. “Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. nanti juga berhenti. yaitu ayahku sendiri. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”. “Tunggulah sebentar. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. tabungannya habis. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan.” Aku mulai menangis lagi. luka kakek sungguh mengerikan. “Aku sedih. Aku juga merasakan hal yang sama. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. balasku mulai marah. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. sedangkan untuk makan saja kurang. Kasihan sekali kakek. Kebencianku muncul kembali.”. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. Sama seperti keadaan dua tahun silam.” Timpal kakek. “Apa yang kamu benci. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. “Lhoh. Aku diam. “Kek.

Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Kalimantan. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. aku teringat Mas Seno. Sebagai tukang kayu. “Jeng tak usah khawatir. Jakarta. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. Kalau sudah punya uang dia akan kirim. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Suamiku biasa bikin. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. Demam. dan Bali pernah dirambahnya. Bandung. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. meja. entah sakit apa. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati. Sudah dua hari ini anakku sakit. Kaki kakek sudah bersih. Tubuhnya panas dingin. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Ah. Aku punya sebuah janji. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. Aku sangat sedih. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Inilah yang kurasakan. Bu. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. suamiku sudah biasa merantau. . Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. Surabaya. Sama seperti Mas Seno. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Bikin almari. kursi. Perkakas apa saja. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. suamiku. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Tak heran.

” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak. mengumpulkan uang. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu.” “Anda harus membuat janji dulu.” “Anak saya sakit. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku. Silahkan ibu mengurus uang administrasinya. Tapi saya sedang dalam kesulitan. Apa yang bisa kami bantu. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami.“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu.” “Tak usah khawatir Mir.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon. Lembut penuh perhatian...?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar…. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname. Usia baru genap berkepala tiga. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh. menghubunginya. Anak ibu harus dirawat di RS. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah.?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu. aku malu bertemu dengannya. “Mira…” Aku mengangkat wajah. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan. terdengar suara lelaki itu. Dia masih seperti yang dulu. “Oya Mir..ini kamu Mira.. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas.” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya. Tapi hasilnya nihil. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Mas. Saya…. PT Kartika Furniture.. “Kamu masih secantik dulu.. “Hallo. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. Tak usah menunggu lama. Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi. Tapi demi kesembuhan anakku. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas.. Agar anakku bisa pulang. Dirawat di rumah sakit. “ . Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta.” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. Mas Kar rupanya tahu diri. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya. Mas Seno sedang kerja di Jakarta...” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan.saya keluarganya. Makan malam bersama Mas Kar. Aku akan membantumu. “Benarkah.saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit. Aku enak-enakkan makan di restoran.” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi …. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng. Sebenarnya aku enggan menghubunginya. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS. Seramping dulu ketika kamu belum menikah. Suaranya masih selembut dulu.” “Saya. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture. Tapi karena aku sadar diri. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya.. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas. Aku pernah berbuat dosa padanya. Mas Kar…. Tetanggaku sudah membantu.

” “Baik kalau itu keinginanmu. Pusing itu masih terasa. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel. Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu. Lembut dan penuh perhatian.” “Tapi bukan yang satu itu. 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa.. Aku membuka mataku perlahan.” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi. 2011) . Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. 2011).” “Apa maksud. Mas?” “Suamimu tak akan tahu. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir.” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. Mir.“Saya sudah melupakannya. Berulang-ulang kau membaca memo itu. Mungkin karena aku terasa capek. 2011). Suara Merdeka. Saya berutang pada Mas. Bajuku. Karya penulis pernah dimuat di Sabili. Mir. Suara Pembaruan. Mas. Oh…. Dalamanku. Aku yang masih menyayangimu Mira. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat. Utuh. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra. Tulisan latin Mas Kar. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki. “Kalau Mira bis menolong. 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. Kartini dan Annida online. Percayalah kamu masih utuh. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Yunior. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. Mira dengan senang hati menolong Mas. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. Kamu wanita dambaan lelaki.” “Saya menyayangimu. Aku juga seorang ibu. Aku…aku masih mencintaimu. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Rangkain tulisan rapi itu kukenali. Kamu adalah istri setia. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan. Tubuhku. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. fiksi dan puisi. Aku sudah istri orang.”. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku.

Sungguh. Kali ini. kamu tidak usah khawatir. Tampak olehku. Sahabatku yang malang. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Ada apa dengan Emily. Aku ingin berlari memeluknya. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. Jadi. begitu pula sebaliknya. dia tertidur. Udara serasa mendidih. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Barangkali itu bisa menghiburnya. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. Tidak lama kemudian. Pelan-pelan. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. “Din. Teruslah memintal harapan. hatiku seperti diremas-remas. janganjangan dia menangis lagi. sementara gerak kakinya ringan. karena tidak bisa melihat wajahnya. Setengah jam kemudian. Sesekali. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. Emily. ya? Aku jadi penasaran.Perjalanan Dini Senin. Wajahnya kelihatan berseri-seri. Sayang. dia terbatuk-batuk. Emily diam. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah. Aku jadi kecewa. Dia membalik tubuhnya. “Aku tahu. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. dia bertanya. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. Ada banyak lelaki di dunia ini. seperti kijang. jadi memunggungiku. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. di suatu waktu. menyembul butiran air. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . aku tidak tega melihatnya. setengah histeris. Aku khawatir. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Hap-hap-hap. Aku melihat ke luar jendela. Tapi kenapa sih. batinku. Wajahnya tetap murung. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. Aku percaya. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. Badanku rasanya gerah. Melihat keadaannya. Rupanya. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. “Din. lalu mengajaknya bicara. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. Aku semakin tidak tega melihatnya. Setidaknya. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Hidungnya tampak memerah. Aku jadi sedikit lega. hati. Hanya saja. Emily. wajahku tidak cantik. Aku ingin menciumnya. zaman sekarang ini. menuruni pipinya yang berjerawat. tapi tidak ada keringat yang keluar. dia bisa mengistirahatkan pikiran. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. Di sudut matanya yang redup. Dengan lirih. apakah suatu hari. Dia mengusap pipinya yang basah. sekedar memberikan hawa sejuk. dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Wajah sahabatku tersayang muncul.

dan rambutnya cokelat panjang sebahu. Katanya. Kalau dipikir-pikir. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. sejak pertama melihatku. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu. Sayang. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana. Dia tidak pernah lagi mendekapku. Dia menutupi kedua belah pipinya. aku langsung menerimanya. Ada Sisca. Emily diam. wajahnya juga berubah lebih menarik. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Dalam bayanganku. Emily justru memutar tubuhnya. Kalaupun bisa. Karena begitu semangat bercerita. Mungkin dia sedang berpikir. hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. “Aku tahu. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. Pulang sekolah dia selalu pergi. Aku terlalu menyayanginya. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. aku bingung harus bagaimana lagi. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Teman-teman selalu mengejekku soal ini. dia nembak aku. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Matanya lebar. Ada apa. sejak pertama kali MOS. “Hari ini.” Emily tersipu-sipu. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. Jelas aku kalah menarik dari mereka. bukan karena cinta. Aku terkejut. apapun risikonya! Soalnya. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. aku tidak bisa membenci Emily. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat. Tapi kemudian. Sayangnya. “keputusanku ini terlalu mendadak. semakin memperburuk penampilan luarku. Roni namanya. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Tapi dugaanku mengatakan. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. “Apa aku salah. baik soal make up maupun pakaian. Sayang. Kedua tangannya diangkat ke samping.” panggilnya lagi. mengajakku ngobrol. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. Begitu lama kehidupanku dengan dia. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. Bola matanya berputar-putar. kulitnya putih susu. Aku mendadak deg-degan. Emily tidak mempedulikanku lagi. Roknya yang mengembang. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu. dia sudah tertarik. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. Wajah-wajah mereka cantik.perbuat. turut berputar. meski dia mengabaikanku. semakin lama. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. “Din.” lanjutnya. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. Jerawat dan komedonya sudah hilang. dia seperti hampir lupa bernapas. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Coba kamu pikirkan lagi. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. Tidak ketinggalan. Natasya. . menengok teman yang sakit-lah. Dalam pandanganku. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. Emily sekarang jadi genit sekali. Belinda. aku jadi GR mendengarnya. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. Cecil.” Emily berhenti sejenak. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. mirip orang Eropa. Dan pada saat yang sama. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. Setelah kucermati. Aku tersenyum geli dibuatknya. kamu hanya akan disakiti olehnya. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. dia langsung memeluk dan menciumiku. Yang membuatku heran. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. Kulitku kusam dan hidungku pesek. hidungnya mancung. Tiba-tiba matanya membesar. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. “Tanpa pikir panjang. ke toko buku-lah. Waaaaah. Din?” Menurutku. dan seterusnya. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Tapi ternyata. Kamu mau menerima Roni.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. aku pasti menangis tersedu-sedu. perkiraanku keliru.” Emily mendengus.

Manis sekali! “Wah. “Lho. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. Ya. Selama perjalanan. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. Aku harus melupakan dia. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. Oleh karena itu. Bagus.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Aku harap. ‘kan?” “Senang. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. Aku diam. Jadi. Hatiku tenang. Aku merasa dingin. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. “Waaaaa…. anakku. aku merasa nyaman. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong. lelaki itu bertanya. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku. sudah berkurang. tanpa ciuman. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. biar bisa jadi teman main kamu. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. aku sudah sampai rumah lelaki itu. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. tanpa pelukan. dia tidak bicara. Dan tibatiba. kalau lima bulan silam sambil menangis. Sebelum pergi. Purwokerto. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. riang. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya.” Betul. “Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk. kamu senang. Din. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. Apakah dia sudah lupa. senyumnya manis. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. dia bertanya padaku. “Tahu nggak.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. 20 April 2012 . dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. Emily memilih mereka. Rasanya. karena dari dalam karung. Mungkin. Aku terus tersenyum. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. persahabatan kami bisa langgeng. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. Dia segera menggendongku di punggungnya. dia Sumi. Dia memandangi dengan seksama. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. “Sumiiii. dia sempat berbisik. Bibirnya tersenyum. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. sudahlah. Pak!” seru Sumi. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. Lelaki itu tersenyum. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. sementara Emily tetap saja membisu. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Namun. tapi tidak kuasa menggigil. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu. “Maafkan aku. hari ini. kita bersahabat. ya?” ujar Sumi kepadaku. Semuanya cantik. dia mau menerima keadaanku apa adanya. “Nah sekarang. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. Kepalanya bergerak. anak pemulung itu. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Bapak ambil saja. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. Entah kenapa. Aku memang hanya sebuah boneka. Bapak pikir. Aku bahagia. Gimana.

Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. sebagai penulis atau pembaca novel itu. Alia tertawa. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. Itu pun lebih disebabkan propaganda . Fakultas Sastra. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Karena aku bukan novelis. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Seperti biasa.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. Bukan pula cerpenis. ketika sebuah karya selesai ditulis. Jika Anda tidak keberatan. Kalau begitu. “Kenalin. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu. Gurih sekali. batinku. salah satu agendanya adalah bedah novel. saya bukan lagi penulis novel itu. Kaidah anak sastra ‘kan begini. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. otomatis pengarangnya mati. Empuk sekali. Sangat menggoda.” Hmm. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. “Tapi ngomong-ngomong. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. kan?” Di seberang. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. Sang Penulis. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis. Sumpah mati. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. saya Alia.

menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. Seperti mobil terendam banjir. Setiap kali mulai menulis.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. Bagiku. nama orang itu. Gila. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. yang bikin kita mikir. Pelit kata-kata. dan karenanya enggan kugeluti. soal sastra. okay. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. dibakar mobilnya. Alangkah sakitnya menjadi Clara. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Nah. baru selesai satu paragraf. sambil tiduran. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. sudah cantik apa belum bahasanya. sambil nongkrong di balkon. Serupa motor kehabisan bensin. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. Sudah indah apa belum kedengarannya. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli. sekaligus tertib ber-aa-ii. Terkadang cuma untuk memastikan. pasti terguncang-guncang. maksudku. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. Aku justru tidak suka caranya beriklan. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. puisi. Sama tidak enaknya.” Tapi rupanya. Bukan karena termakan promosinya. malam nanti mungkin giliran Saman. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai. pasti terkaget-kaget. Hemat. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. Karena kenyatannya. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen. Jadi. aku sudah gatal untuk mengeditnya. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa.” . sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. Saking edannya. Mau pegawai negeri atau swasta. “Oya?” “Begini. Mengandung unsur bunyi. kurang lebih jawabannya begini. Terlalu tergesa-gesa. jangan-jangan.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. sama saja.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. “Minggu depan. Roni. prosa. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita.seseorang. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman.” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. yang bisa dilakukan kapan aja. Rayuannya kurang “maut”. Dan. Tidak meyakinkan. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. kuputuskan untuk menyerobot buku itu. Berbeda dengan prosa. aku sudah terbiasa menulis puisi. cinta setengah mati pada dunia sastra. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. bahkan diperkosa. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional. mengerjakan tugas yang itu-itu saja. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. Tentang minatnya pada dunia sastra. Roni mungkin benar. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. Dan. dalam beberapa hal.” “Ber-aa-ii?” “Berima. puisi itu ‘kan harus padat. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. Tunggu saja. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ. Begitu seterusnya. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. Edan. baru aku bilang edan tenan. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. Pretel-pretel.

kejutan selalu muncul belakangan. hampir dua tahun dipacarinya. biografi seorang (calon) penulis yang malang. di mana seluruh ide novelku berawal. Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah.” “Terima kasih. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. Nah! Itulah sebabnya. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Hidung bangir. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. perempuan yang saat itu. Pandangan matanya mengarah entah ke mana.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku.” Aha. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum. aku cuma bisa bilang. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata. seperti kubilang sejak awal. Tak lama kemudian. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. Ingin menampar. ia selidiki. Rambut keriting. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman. Untuk menebalkan motivasinya. Sampai jumpa tanggal 25. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. Angin dingin segera menyergap. Muka tirus. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Padahal telah dicobanya segala cara. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. menulis cerita perihal Roni. Awalnya kupikir.” ♦♦♦ TANGGAL 25. Tidak salah lagi. Tiba-tiba sudah jadi buku. Cuma berteman secangkir minuman. Yang pasti bukan ke arahku. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. Sebuah undangan yang. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal.Ya. sungguh mirip pizza. Titik. Atau paling banter. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. Bukan sematamata karena (hhmm. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. Dan lihatlah. Duduk sendirian. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. Jangankan novel. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung. Sangat menggoda. ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. “Aku kan sudah bilang. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Dan. ia muncul mengajakku makan. Setiap detil ia pahami. Ingin menerjang. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. “Terima kasih kejutannya. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. Tapi semakin kutatap semakin kupandang. “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. Atas saran Alia. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk.” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku.” “Oya? Di mana?” “Maaf.

Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. Meski terkadang aku ingin. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Sari-sarinya kutulis diam-diam. harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga. padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. Kukunyah pelan-pelan. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja. 7 September 1980. Meski mungkin ia mau. Dan. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. seperti yang ia cita-citakan. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. Cerpen . tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni.” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. Pada 1998. Banjarmasin Post. Bahkan hingga sekarang. Reuni? Ah. Ke kafe ini. kulumat saja kenangan-kenangan itu.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. memang. Bukan semata-mata dari kafe ini. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. MPA.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. Aku orang kampung. Gulukguluk Sumenep (Madura). Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Ke reuni ini. Ron? “Mbak Shinta. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku. aku bergegas pergi. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. Santri. Jawa Timur. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. Sampai mewujud jadi novel.” tiba-tiba Alia mengetuk meja. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang.” “Tapi sialnya. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga. ibuku sudah tahu aku serius sama kamu.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku. novelku belum selesai juga.” “Celakanya.

” Vira mengambil mainan Amri. Putri Ishak.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. “Maafkan ayahmu ya.. “Semua itu sudah lama terjadi.” Amri membanggakan mainan barunya. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan.. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering. Tapi. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. di kebun bunga-bunga hias.” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu.. “Ya. seharusnya waktu itu aku . dan asri karena penuh dengan tanaman hias.” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing. Tapi.” Ishak tersenyum pada putrinya.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah. “Ayah terlalu berlebihan. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita. Seharusnya aku percaya pada ayah. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. Kemudian. menggigit bibirnya. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung. duduklah seorang lelaki tua. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. sayang. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan. aku tetap putri ayah satu-satunya. putra kita. Lalu memberikannya pada Vira.” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya.” Vira memeluk boneka itu erat-erat." “Ooo.ini ambil lagi mainanmu. Amri." “Ya. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. Vira.Mekar Dalam Badai Senin. “Ibu. Tak perlu dipikirkan lagi. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira. kenyataannya aku tetap darah daging ayah. kau benar. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. “Tapi. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah. “Mana biar kulihat.” ujar Vira tersipu.” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu. Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya. Ishak.. Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. “Bagus juga ya. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya. “Dulu aku begitu jahat pada ayah. Terima kasih ayah karena telah menemukanya. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. Selang beberapa menit.. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. Di atas meja." Vira menundukkan kepalanya. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. Ishak menghela nafas panjang. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya. kamu tunggu di sini.. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain.

ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya. mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak.” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya.lebih sering berada di rumah.. Bersama Vira. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. namun ia tidak mampu. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. Ada tamu yang bernama Sophian.. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Amri datang mendekati Ishak. gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan.” Vira menundukkan kepalanya. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut.?” Sophian penasaran. aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi.” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku. Pada masa itu. meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya.. aku adalah.” kata mang Husni dengan nada suara lembut.. Ayah. Sophian. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. Namun. “Oo. Sophian duduk di kursi kayu. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran. Kemudian... Kemudian. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. ia menatap pada Ishak. menghela nafas dalam-dalam. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. Di beranda rumah. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya. “Bahwa.” kata Ishak bersemangat.. bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. “Dulu. Kemudian. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu. Dia tidak mengetahui kalau. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian. Baju dinasnya terseterika dengan rapih. apa yang harus kulakukan. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa. penuh kesopanan. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah.. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. . imut sekali. lalu tersenyum padanya. ketika kita pertama kali bertemu. mang Husni mendatangi mereka.” Sophian tersenyum simpul pada Vira.” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat. Ia memandang penuh harap kepada putrinya. Di beranda rumah.” kata Vira. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda. “Maaf pak..” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya. “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. “Oo Ayah. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu.. Vira menghela nafas panjang. “Ini yang namanya Amri ya. pembantu mereka. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku. Sewaktu mereka berdua berbaikan. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. yang ingin bertemu dengan neng Vira. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Tapi nyatanya. aku adalah. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. kemudian menundukkan kepalanya. berada di dekatmu.

dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya. 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. “Ayah benar.” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. toleransi terhadap semua kesalahan orang. engkau mengatakan kebenaran ini. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini. “Jangan kau cemaskan itu. “Oo. itulah yang paling berharga. “Sudah empat bulan kita berhubungan. berjalan memasuki rumah.” kata Vira. . selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf. Cinanggung. Dan sekarang. “Menurut Ayah. Pemda Blok A-8. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil. tak menggubris Vira yang memanggil namanya. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah. Serang – Banten. Akhirnya. apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar. RT01/RW07. Janganlah terlalu kau pikirkan. Kaligandu. Dengan sekejap.. satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. Kel. “Kurasa ia takkan kembali lagi." “Ayo yah. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya.” Sophian segera bangkit. Aku harus segera pergi sekarang. merasa sedih karena telah dibohongi. ia sudah melupakan kesedihannya. Ia menundukkan kepalanya.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira.. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini. ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira. kita main lagi.“Maafkan aku. Kini tinggal di Komp. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian.” Vira tersenyum merasa lega. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah.” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya. Setidaknya kita bertiga saling memiliki. 30 Agustus 1985. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang.” tak ada semangat dari nada suara Vira. Sophian. Sambil bergandengan tangan. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. Sekarang. mereka bertiga meneruskan langkah mereka.” “Dia memang tidak pantas bagimu. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak.” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya. Aku tak bisa menerimanya. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar.

Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. Tanpa menunggu jawaban suaminya. Tatapannya terlihat sendu. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. berisi dipan kayu lebar beralas tikar. yang senantiasa menyemangatinya. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. Kang Narto. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. ia meneruskan.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. Namun. kalau ndak giat kerja siang malam. Si Narti bilang. Bener ndak. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. kesal. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak. nanti malah bikin repot orang. suaminya. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. Tak ada perabot lain. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu. Ia menyipitkan matanya.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. Kang. “Kamu ini lama-lama cerewet juga. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”. sudah bengkok. Dengan sebal. “Iya Kang. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. aku ngerti. geram. apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. ujarnya sambil menangis. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. . Dan sejak itu. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. antara marah. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. Pernah suatu hari. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. “Aku malu. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. “Eling Kang. Mbok Mini menarik nafas panjang. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. sekarang mata itu justru mengabaikannya. aku kok jadi kuwatir. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya.” sambung Mbok Mini. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. perasaannya campur-aduk. Sambil menghela nafas panjang. sampeyan ini sudah tua.

membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu. “Akhirnya sampeyan pulang juga.“ bisiknya lirih. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak.09. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. “Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. “Mbok. Kang. lalu memandang ke arah rekannya. Hingga suatu sore. pria paruh baya itu terbata-bata. “Begini Mbok. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya. “Aku Gatot. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. dielusnya benda itu dengan penuh kasih.. Mbok. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. tetangganya sebut. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah. Ika Winterholler Nürnberg. sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. sentirnya ndak dinyalain.2012 . meski tenaganya hampir habis tak tersisa. Keduanya mengangguk dengan pelan. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya. Kami mau ngasih tahu. ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak.”. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. bahwa Kang narto. kesehatan Mbok Mini mulai menurun. Dipandanginya becak itu sejenak. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya. 24. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti.“ seru pria yang satunya. Mau nganterin becaknya Kang Narto. apalagi menegur suaminya. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun. Namun. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya. sampeyan di dalam? Gelap amat. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang.

tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. kering. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. memandangku dengan belas kasihan. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. “Justru karena aku tahu kau peduli. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini. seperti menari-nari kegirangan. . kukira kau tak mengerti yang kulakukan.” jawabku asal bicara. Seingatku pohon itu dulu rimbun. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. segar. garis hina. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku.” cerita Beringin tua.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin.” jawabku terpotong-potong. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya. hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. “Maafkan aku. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu. dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini. “Tentu saja.” kutegaskan permintaan maafku. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. “Aku sudah mengamatimu lama. Kau pohon dan aku manusia. melainkan dipindahkan saja. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku.” sela suara yang sama. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. Aku memang hidup di garis bawah. Senja itu. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu.

atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua." Jawab Beringin tua. udara semakin sesak oleh polusi. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. Dengan badan yang tertusuk paku. Tapi kali ini aku sedang buru-buru. Dia tergusur oleh pembangunan. tentang populasi. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. Tentu saja aku menjawab iya. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. menempel entah apa di badanku!” terangnya.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi.” Beringin tua merintih. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. “Ya. “Aku kesakitan. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku.” tambahku.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. Kini alam mulai mengancam. Segera aku berpamitan padanya. “Maafkan dia. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. zaman telah berkembang. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. aku usahakan untuk mencopotnya. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama. saat aku masih kecil. . Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. memelihara lingkungan. pada manusia. terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. aku sering bermain di sini bersama teman-teman. Keadaan memang sudah berbeda saat ini. Setelah cukup lama. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana.“Boleh jadi manusia lebih bangga. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. Orang tadi. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. berusaha meneduhiku. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. Kau tahu kan. dia hanya lalai. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. Aku juga paham teori menjaga alam. yang memasang paku ini. "Baiklah. Aku amati batangnya. Aku mulai sadar. tunggu sebentar. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. “Biar aku teduhi tubuhmu. juga tentang keberlangsungannya. “Hei. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang. *** Dulu. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan. ya itu suara Beringin tua.

Sontak aku membayangkan. sementara hasilnya samar. Aku mulai berpikir. Proposal yang aku ajukan disetujui.” kata Beringin itu. Tidak serakah seperti kaummu. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. Aku tidak tega membiarkannya menderita. menyesali akar-akar yang musnah. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. menemani dan menjadi tempatku berbagi. tidak menginjak tanaman. upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. “Sudahlah jangan murung. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya. Tapi aku tetap bisa berusaha. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. Tergusur. saat itulah alam menangis. seperti dia paham akan kegusaranku. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. Ya.Tersentak aku. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup. Bukankah memang benar kata-kata itu. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. bagaimana jika hidupku yang tergusur. “Beringin.” ujar Beringin tua. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik.” Air mata menetes di sela penjelasanku. Burung-burung bersarang di rantingku. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. Akan tetapi. menyesali daundaun hijau yang mengering. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. Mana bisa dia mencengkeramku. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja. Beberapa bulan kemudian. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. peduli pada alam yang memberinya hidup. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. hanya itu saja.” tegas Beringin tua. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya.” kataku. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan. tentu kau bisa memanfaatkannya. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. ulat-ulat memakan dedaunanku. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. Akal pikiran dikaruniakan padamu.

serakah. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini.” Ceritanya berlanjut. “Sebenarnya samar sih. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. kami korban banjir Kali Cisari. menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air.” jawabku singkat. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya.” Dia menimpali kata-kataku. Sahabatku! Aih.” Beringin tua mulai balas bercerita. tentu sudah kurobohkan semua itu. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini.” Aku mulai bicara asal. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. “Sabar Beringin. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya. Selalu membagi cerita. Tentu bisa ditebak. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. Kalau saja aku masih kuat. Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. “Aih.” Beringin tua mencibir. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. “Bukan begitu. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. tapi aku bisa merasakannya. hanyut bersama harta benda penduduk. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. aku sudah putus asa. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. Kurasakan tubuhku semakin melemah. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita.” Tegas Beringin tua. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang. “Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. membagi perasaan suka dan duka. Sementara itu. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku.. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. biarkan mereka menikmati keserakahannya. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran. tubuhku mulai mengurus. “Kau sudah lakukan yang terbaik. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. “Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi.” Papar Beringin tua. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. Ya sekarang tinggal pasrah saja.. *** Hari ini 20 Januari 2012.” . “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. Hasilnya bisa kau lihat sendiri. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. Penduduk yang tamak.

Selepas kesedihan ini. jangan hiraukan Bunda.” suara Bunda tercekat. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir. Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. Pesan itu terngiang kembali. menjelma Malin Kundang. “Berangkatlah. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. ia bersedia menampung untuk sementara waktu. membuat iri. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. Gelisah meraja. tapi mata tak ada isyarat lelah. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta). . biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. Salah seorang sepupuku berkhabar. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa.” Seperti biasa. mata tua itu berlinang. “Le. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. kamulah satu–satunya anak Bunda.pora menghisap darah di tubuh kering ini. Apalagi hujan baru tercurah. 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini.” “Iya Bun. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. Cerpen Pesarean Kamis. Namun. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. Lima tahun. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. bangkitkan hawa malam atis menggigil. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. Lanang janji. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta. Dengkur teman satu sel menggema. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. adegan berpuluh tahun silam melela. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah. Senyum manis yang selalu menahan getir. Rasanya tak pantas berkunjung. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda.

Gusti Allah ora sare Le. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat. sebagai seorang laki-laki dewasa. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini. membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. menembus labirin waktu. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil.”selaku menunggu reaksi selanjutnya. meninggalkan sensasi khas kekeringan. “Ah. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. Wajah itu semakin dipenuhi keriput.” Kutatap sorot mata Bunda. “Nang.” “Bunda. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. Biaya kuliah ‘kan mahal. “Kalau boleh tahu. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. yang berbeda tabiat dan kebiasaan. Lina. mencari istri itu bukan seperti membeli barang.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. terlepas dari genggaman. Seiring waktu berjalan. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. “Lho. **** Masa begitu cepat berlalu. “Justru karena Lina begitu tinggi Le. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. “Kamu masih terlalu hijau Le. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. “Iya Nang. sehingga bila mencari menantu harus sederajat. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. Melangkah ke kamar. Namun rupanya belum ada hasilnya. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. Aku hanya terdiam. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. kini menjadi pacarku. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. “Jangan kuatir Le. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu.” Bunda memulai perdebatan kami. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. Bunda beranjak. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah. derajat kita tak sebanding dengannya. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. seolah pintu regol rumah Eyang . terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. kenapa diam Le. jika umatnya selalu berusaha. Seperti kisah dalam roman picisan. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan.“Tapi Bun…. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. Betapa bangga Bunda. Kututup pintu. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. demikian sebaliknya.”desahku setengah berbisik. aku segera mencari pasangan hidup. dielusnya rambutku. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu. Tatapannya begitu lembut. Serasa ada sesuatu yang hilang. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat. Lanang sangat mencintai Lina. Bau debu mengepul. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga. bebet dan bobotnya. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. Orang Jawa bilang harus jelas bibit.

Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. “Bunda memang menantu yang baik. jangan bawa makanan ke rumah Romo. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. “Jangan kau ungkit masalah itu. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. ia akan pergi sendiri. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. titik!”sergahku sengit. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. Air jeruk tertumpah di kemeja. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. Di kota pecel Madiun. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. tapi apa sambutan mereka. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Jahitan Bunda rapi dan halus. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. toh tembok karang itu tak jua tergerus. “I…iya Lin. sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. Sayang. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak. menumpahkan rasa. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda. anak lanang satu-satunya ini.” Bunda memandangku sendu. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. Pikiranku berkecamuk. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang. cinta pada pandangan pertama. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. . Terbukti ketika Ayah jatuh sakit.” “Iya saya tahu. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. tapi cukup membuatku tersedak. Simbah Nyai. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Hanya cibiran saja yang kita terima. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. Menurutku usahanya adalah kesiaan. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. “Tapi Mas. Masih membekas dalam ingatan. kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. Sabar ya. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. “Mas. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap. mukaku merona. separuh nyawanya telah tercerabut. walau terjangan ombak datang setiap saat.” kuremas jemari lentiknya. bahkan disaat kritis sekalipun. toh aku bukan anak kecil lagi.” terdengar suara mengagetkan kami. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. termasuk istri pejabat. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. “Sudah berapa kali aku bilang. matanya sembab. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya.” Ayah menggumam.” suara Lina lembut. adik ayah. bergelut hebat.

” “Apapun alasannya. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. Mbak Dini sudah menunggu. Yang menjadi korban tentu saja Anisa. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya.” Senyum Lina merekah seketika.” Lina berkata seperti tanpa beban.“Secepatnya itu kapan Mas. terkadang melalaikan urusan rumah tangga. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. Semoga memori . aku mau ke rumah Mbak Dini. “Sudahlah Mas. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. Bunda mau bilang apa. tak perlu kita berdebat soal ini. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. segera kuganti.” Kupeluk Bunda penuh keharuan. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. bagai prajurit yang menang di medan laga. Kasih keputusan segera. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. wajahnya berseri. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. Celananya basah. diam dalam ego masing-masing. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Kali ini begitu berat. “Iya Mas. aku sudah bosan tinggal di rumah. masalah sepele bisa membesar. jangan jadi suami kolot. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan. besok. melebar ke mana-mana. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa. bukankah ini kemauan Lina sendiri. membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. Demikian pula yang terjadi dengan kami.” jelas Lina pendek.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. meninggalkanku yang tercenung tak percaya. seminggu. Lain kali masalah ini kita bahas lagi. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga. “Lanang telah berketetapan Bunda. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini. Duniaku hanya seputar sumur. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. terburu kuhampiri. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. Ia tidak membelaku. Ia mau membuka butik baru. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. sebulan atau setahun lagi. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat. kubersujud di pangkuannya. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. seolah penuh tekanan yang menghimpit. Nafas menghembus pelan. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. “Iya. **** Tiga tahun berselang… “Mas. Bagai api yang disiram bensin.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. Tangisan Anisa terdengar dari kamar. Perselisihan makin meruncing. Ini jaman emansipasi wanita.” Aku bersikeras. Mas ‘kan lakilaki. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu. “Aku berangkat Mas. seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. kakak iparku itu. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. Lho. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan. Benar kata bijak.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun. kutatap Bunda mencari kepastian. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. Dandanannya begitu rapi. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. “Oke Lin. “Ke rumah Mbak Dini lagi. dapur dan tempat tidur.

tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. Bunda tersenyum kecut. . wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi. itulah nama Bunda. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. Bunda mengangguk pelan. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. mobil kami masuk jurang dan terbakar. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu.” aku masih mencoba berkelit. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. sedangkan ibunya tak begitu peduli. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. kuletakkan kembali. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. “Mas.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. “Maafkan Bunda Nang. Aku yang pegang kemudi hilang kendali.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana.” “Apa kamu bilang nggak cukup. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. Bunda mau balik ke Madiun. Malang. akhirnya tercium juga. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. samar matahari tergelincir ke barat. “Lho kenapa Bun. Mataku mengerjap.” “Enggak kok siapa bilang. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. Aku ingin hidup layak. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. Bunda sudah tahu semuanya. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran. Memang ada pengasuh. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. Bunda. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini. “Wis tho Le. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku. seperti syair lagu lama. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. Roti tawar yang siap masuk mulut. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. Demi Anisa. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. Ya. tak bisa diganggu gugat. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. Aku. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. aku tidak akan meminta bantuan Bunda.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. “Nang.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku.

Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam. Hari ini. Besok aku akan menemui putriku Anisa. kesehatan Bunda menurun drastis. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Pasti cantik seperti ibunya. Semenjak aku menjalani hukuman. Sudah seberapa besar ia sekarang. Sekarang tinggal di Depok. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. aku begitu mencintai Lina. Masih ingatkah ia padaku. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. tapi malah akrab . Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. semoga keajaiban sudi menghampiri. Aku heran ada anak kecil seperti itu. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. Sebagai seorang suami. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. Lanang janji! Rumah Hijau. ingin rasanya gantung diri waktu itu. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. Penyakit asmanya sering kambuh. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. walau dunia kita telah berbeda. keluarga Lina menuntutku ke pengadilan.com. Hatiku hancur. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16. HP : 081317500341. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. Sumpah demi Tuhan. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. Bekerja sebagai PNS.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. Sungguh. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. Hisin Jentik yang memberitahu aku. kuburan 2) Bibit.Segera setelah keluar dari rumah sakit. Selamat tinggal Bunda.

lewat kalimat yang sangat kasar. Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. Namun. “Kita ini. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. Ya. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil. Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya.” kataku. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. “masih kecil untuk bicara soal cinta. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. itu ‘kan binatang?” tanyaku. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana. Beruntung.” Karena. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. “Hey. *** SEJAK itu. “Aku dipaksa dia. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. Kukira. aku langsung tahu apa maunya. Jadi. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia. Tapi semua bukan salahku saja. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang. Aku tak habis dimarahi ibunya. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. kami bertetangga. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. ibuku datang membela. dan mendapat giliran untuk sembunyi. “Iya. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin. tidak boleh masuk sembarangan. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Kawin itu nanti kalau sudah besar. Sebelumnya. Nama tokohnya. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku. dulu. Tak mau tahu juga cinta itu . sore-sore.” kelahku membuktikan fakta. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. kupikir. Si Buta dari Goa Hantu. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. Kurasa. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. “Tunggu di sini sebentar. Iren yang genit seketika menarikku berlari. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu.” katanya penuh jumawa. “Dia jagoanku. cinta itu kawin.” sahutku. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. di bawah ranjang. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang.dengan binatang. mungkin karena malu. menghardik aku habisan-habisan. Ah. main petak umpet. Sewaktu kutanya lagi. Saat Iren buka celana. menunjukkan rasa marah. monyet!” jawabnya. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. suatu hari. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong.

Kawan main bola. Sengaja kupandang lekat. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat.seperti apa. pingpong.” Matanya itu. betapa kuat. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. tanganku selalu ingin menulis saja. Buku jarinya ada di atas. yang kira-kira setebal tiga centi. Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. Alhasil. Sampailah rekornya. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. Itu yang kusukai. aku menulis pakai tangan kiri. Kalau melihat kawan sebangku. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. saat melangkah masuk pintu kelas 1. Karenanya. layangan. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. Hari pertama masuk SD kelas 1. sungguh … Dan. Kanan bukan tangan yang baik. baiklah kutulis surat saja. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. Ah. aku meringis selama seminggu. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. dulu) Semula. apa boleh buat. dan yang duduk di kelas lain. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong. sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. Hanya itu. gambaran. rasanya tidak enak. namanya penderitaan. hm…hm. . Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. “Kawanku. Sampai sekarang pun juga … Tapi. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. dan kawan berkelahi. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. habis menulis. Karena Iren telah memberitahu aku. Keringat pasti tertitik di dahi. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. tetapi mendongak. sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). panjangnya 500 centimeter. Dan. berenang. saat pindah rumah dari kampung kami. dua bangku. SD kelas 1. guru yang baik. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. Tangan yang jadinya sedikit memar. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. Tangan ini digebuk oleh guru. Aku punya banyak kawan. Aku tak menunduk. Berapa besar. ruas tulang jari tengah tangan kanan. waktu pun berlalu. sejak itu. Penggaris. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. akibatnya. (Sungguh. mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. Maafkanlah aku ini. menimbulkan derita tersendiri. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. Alatnya memukul adalah mistar kayu. kasti.

ail hujannya netes lagi. Hisin Jentik. "Mama. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. Kata Hisin. Ma?" "Mama belum tahu. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . percaya Mama. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu. Dek. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. Lalu. tak lama lagi cekung. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan. Matanya sudah sembab. Dek. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. pintu-pintu kita buka. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini." tegur Avis. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry.*** Fort Rotterdam. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. Yang memberitahu aku. 27 September 2012 11:13 wib "MAMA. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang.Sejak itu aku menyukai mata pena." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. "Kapan. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. "Mama yang nungguin. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam.

"Kun fayakun. Belum terlihat. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis.. Depok. Berhasil. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu.. Drrtt. tapi sudah bertanda.drrt.. Suara jangkrik sudah berpadu. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku.Avis jangan memendar kemudian menghilang. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu. Larry.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku. Aah. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis.menyikut ujung-ujung kayu pintu. Entah dari mana. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya. menceburkan diri ke air. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari .. Meski terbang agak lemah.. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil.ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah. "Sabar dan sholat.." Larry. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang. siku jendela hingga kaca. Kemudian menjemput takdirnya.tik. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru.leganya. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Tik.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku. Pintu depan rumahku masih tertutup. kelopak matanya terpejam.. Plokk. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati." tepuk sebuah tangan di pundakku. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. Linangan air masih ada. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. Innallaha ma'ashobirin. menjadi santapan cicak-cicak. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. teriakku. Pelan. Kusibak korden kamar. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami. Kini makin memekakkan gendang telinga. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini.hujan sudah mereda. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang. Larry tak bisa memilih takdirnya.. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. ataukah digotong sepasukan semut rumah. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Plop. si kecil Avis masih menikmati tidurnya.

“Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. Dalam perjalanan pulang. PUISI #2 Malam itu. sungguh. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. Sama halnya dengan menulis puisi. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. Kau bilang. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. nanti saja kau telepon lagi. Aku kehilangan akal sehatku. Sejak kecil dulu. Kemanapun kau pergi. Dan. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu.Cerpen Fragmen Puisi Senin. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. Dan. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. kegelisahan selalu menyeruak. Tetapi. Dan. bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. Kau yang pertama kuhubungi. kita selalu bersama. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu. Ya. aku merasakan malam yang tidak biasa. Aku memang suka menulis puisi. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. PUISI #4 . aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. Tetapi. kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. Betapa tidak. Tapi. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. “Wah. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. Dengan segera aku meneleponmu. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. aku sedang sibuk. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu.” Impian mentraktirmu sirna sudah. Aku selalu menuruti perintahmu. Kata orang kita sahabat yang karib.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. aku baru saja pulang dari rumahmu. Namun. Malam yang penuh dengan kegelisahan.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. Namun. kukira. Aku berpikir tentangmu.

Tetapi. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Ah. kau sering memukul istrimu. bahkan tidak pulang sama sekali. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu. Layang-layang itu punyamu. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. Suatu hari. Kutahu. Kau sering dimarahi atasanmu. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. Sering kujumpai kau pulang pagi. Melihat kau yang sudah beristri. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. Maaf. Kau tarik kerah bajunya. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. Namun. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. Tapi aku tidak bisa. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Padahal. Istriku yang cantik. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Sebetulnya. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. Malam itu. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. dan kau merestui niatku. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. setidaknya membahagiakannya. aku pun juga kangen kepadamu. di tepi danau. dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. Kau kalah taruhan. Namun. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. iya. itu bukan tindakan seorang lelaki. Menurutku. kau tahu itu. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. Kudengar. Kusampaikan keinginanku padamu. Semenjak itu. kau berkunjung ke rumahku. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. Kulihat wajahmu merah padam. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Aku tahu itu. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. Sepanjang perjalanan. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. sahabatku. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. betapa bahagianya aku kini. Sebab. Bisa kau bayangkan.

Bandung. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. Belakangan kutahu. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. Namun. Nomor ponsel (085721904020). aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. aku menjalankan mobilku dengan gila. Istrimu yang sering mengeluh padaku. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. Sahabat yang kukenal sejak kecil. Kematian terlalu cepat menurutku. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. Tetapi. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Sesampainya di halaman. Istriku yang cantik. Kau tengah bersama istriku. Kupikir kau telah mati di tempat.blogspot. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna. Katanya. kau mabuk berat di sebuah bar. aku mendengar tawa istriku yang renyah. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. Aku ingin segalanya serba rahasia. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Dengan berat. 29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Aku hanya diam. Maaf.istriku. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. Tapi. Aktif menulis dan bermusik. kenapa kau harus menyeberang malam itu. Dalam pikiran yang terus berputar. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. kau tidak pernah marah. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. aku menjemputmu. Hingga suatu saat. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku. malam yang hening dan muram. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. . kecepatan yang tinggi. Perselingkuhan. Dalam pikiran yang terus berputar. istrimu pingsan. Anak-anakmu menjerit hebat. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. Namun.com/. Beruntung. PUISI #10 Kau terlanjur mati. sekali lagi maaf. Kau pun terjerembap ke selokan. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. Maaf. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. Akh. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. Ia memintaku untuk menjemputmu. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. kalaupun kubuat.

“Makan. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. “Sebentar.” Aku tergopoh ke dapur. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. Dia tak bergerak. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Tiba-tiba dia menangkis tanganku. Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. kutolong dia untuk merebah. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua. mengenai seprei dan kebayaku. tak sekali pun aku membaginya. “Hmm.” Kubantu dia duduk di ranjang. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. Setelah mengulurkan piring. Dengan sadar. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. makan dulu. Aku ganti. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. Air pun muncrat. penisnya sudah mengkerut. Kedua alisnya bertaut. Laki-laki yang malang. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. Asin sekali. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. Seperti biasa. Pak. ya. suamiku sudah berteriak.Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. ya. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna. ya? Sebentar aku bikinkan lagi. Aku yakin. akan tumbuh . apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Aku mencium gelagat buruk. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya.” kuulangi lagi. Namun.” Kuusap buku jarinya yang kisut. aku keluar kamar. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku. Ketika menikahi dia. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. sama seperti anggota tubuhnya yang lain. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. Minum?!” Kuulurkan gelas. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. “Mm. Dengan malas. “Pak. “Pak. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. lidahku kelu untuk mengatakannya. hatiku menguncup.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. tertanam ajaran orangtua. “Ha. karena kapuknya telah mati. aku beringsut ke kamar. Dalam otakku. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. Tetapi. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. “Buuu!” Belum lama aku di dapur. Kulihat akibat kata-kataku.” kudekatkan mulut ke kupingnya.

Namun. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. Tetapi. Mataku mengerjap. Tetap melayaninya. Dia menolak mengantarkanku. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. Kedudukan suamiku . Yang penting dia tak lupa memberiku uang. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. membuatku bisa berpikir jernih. Kedua. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. Kata orangtuaku. teriakan. walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. seiring berjalannya waktu. padahal aku sedang mengandung benihnya. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. karena pengabdianku. aku sakit! Dua pengertiannya. Dia majikanku dan aku budaknya. Sejauh ini. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Yang ada. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. wajah yang ramah. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. O. Namun. dia menghardikku! Menurutnya. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. Seolah-olah di mata suamiku. Selesai sudah. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. suamiku akan melembutkan sifatnya. Hal sama terus berulang setiap malam. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Kuelus perutku. Jika aku nekat purik. Aku harap. kesadaran akan posisi diriku. semuanya gelap. aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. Orangtua kami bahagia. dan setia kepadanya. Apakah aku menyesal? Terus terang. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. tapi demi diriku sendiri. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. Kutemukan diriku di ranjang. Kata ibuku. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. Dorongan itu begitu kuat mendesak. Sungguh. semua bayanganku jungkir balik. Dia mendengkur. Dengan sewenang-wenang. Budak yang berperan sebagai istri. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. melayaninya. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya. Oh. Namun. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. Aku membayangkan. Aku ada di sini karena uangnya. aku terlalu lambat. Namun. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. air ludah yang menyembur. Tak ada tutur kata halus. Dengan penuh kehendak. Dia tega berkhianat. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Pertama kali tidur bersama. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. Aku tidak mengeluh. Sebelum kawin dengan dia.jika kami sering bersama. karena melihat kami tampak rukun. Hardikan suami. tak ingin mendurhakai mereka. Dan karenanya. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku.… lalu gelap. semua yang kulakukan adalah salah. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. Kukatakan. Pertama. Namun. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. iya. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. tugasku hanyalah tidur dengan suami. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. Sungguh. tanpa kusangka-sangka. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku. Bukan demi siapa pun. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. Aku patuh melakukannya. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun. Aku ingin purik. karena kesetiaanku kepadanya.

Tulangku sudah rapuh. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Namun. Sungguh. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. Tapi. malaikat maut belum juga menjemput. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. Apakah cinta seperti itu?. Berdiri menghadap punggung suamiku. Padahal. dan tak ada cinta di hati. aku tak sabar untuk berucap. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. maka tangan ikut mengusapnya. 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. Tapi itu tidak . mengucapkan kata cinta itu mudah. E-mail totokutomo@ymail. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. 42 tahun sudah aku mengabdi. maka mata ikut menangis. selalu mengerti terhadap satu sama lain. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati. seperti orang-tua atau raja. karena di luar rumah. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta.terpandang. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan. Rumah pelesiran: Rumah bordil. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Dan di sinilah aku kini. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. Selanjutnya mata mengeluarkan air. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. suamiku!” Ledug. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. “Selamat enyah. Telepon/SMS (0281) 5730489.com. dia sangat ramah dan supel. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. rambutku memudar.

semakin susah Suci mengartikan kata cinta. Suci. “Sob. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. Suci hanya mengeluh. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini. mendustakan cinta. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. namun tak pernah ditemukannya. Namun. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta. Hendizal : Hendri : Langgam. Pernah si pernah. I. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta.” jawab sahabat Suci dengan puitis. eN. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. Hingga cinta saya itu menjadi untuh.” tanya Suci kepada sahabatnya. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. Dengan santai sahabatnya menjawab. memiliki arti kata cinta. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. Te. aku ingin bertanya kepadamu. setiap orang di dunia ini. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. Sayangnya. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. apa itu cinta. Namun. menyatu dengan cinta punjaan hati saya.mungkin. sebagian cinta saya itu. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. Suci memang sudah tumbuh dewasa. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu. “Ce. Setelah saya menemukan pujaan hati. Kalau cinta seperti itu. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. bahkan memalsukan cinta. susah baginya untuk melupakan kata cinta. ia tak pernah bercinta. A.” itu katanya. Di dalam hari-harinya. sulit dipecahkan. yah aku telah menemukannya. tapi tak masuk dalam logikanya. cinta. “Cinta. Setiap pagi Suci bangun dari tidur. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. untuk mengartikan apa itu cinta. detektif itu adalah dirinya sendiri. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. Tapi. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. Mungkin.com . Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. seperti namanya. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri.

pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. Namun. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. Petugas yang menanyainya bertampang seram. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. “Di mana Anda antara pukul 02.00 dini hari sampai pukul 06. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. “S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu …. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya.Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama.” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas. Tidak perlu kau takut. Senyap …! . hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. pada korban. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya.

Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan. *** Nurlida masih menguntitku. Ruangan seketika senyap. hingga bibir kami bertemu. lelaki dan perempuan.” perempuan itu terdiam. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. takut bersitatap. lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku. hanya satu yang perlu diketahui. “Aku sedang butuh uang. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang. “Aku mau sepuluh juta. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. belum juga diserang kuap. Lantas memakainya. Disusul debum dari arah pintu depan. Namun. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. tidak meneruskan. . Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu.Malam telah melewati puncak. tapi dua orang itu. Dahiku berkerut. “Kau boleh tidak menunggu. Atau…. otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. tidak untuk mencekikku …. “Jangan mulai lagi. yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. Namun. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ.” jawab lelaki itu begitu tenang. mengerikan. Asap tipis rokok.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang.” katanya singkat. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. yang kepalanya hanya berisikan uang. Membuat nyalang matanya terpancar. “Aku hamil. Terbatuk diriku sesaat. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. Win …. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Namun. padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. alisku bertaut. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. “Bantu aku. Sekali dua kali aku coba menghindarinya. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya. sekarang juga. Aku mengandung anakmu. Memang berbeda gelagat perempuan.” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. perempuan itu berbisik perlahan.” “Hei. sementara sang waktu terus berjalan. yang tercampakkan di atas sofa. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan ….

Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. 23 Juni 2012 3:31 AM . Perempuan itu menatap sinis. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. dinyalakannyalah pengeras suara. dengan mulut berbusa. sebelum mengecek layar ponsel. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. “Kau kenapa May.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua.” bisiknya perlahan. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. Dan akibatnya jalang itu keguguran. memastikan teleponnya benarbenar tersambung. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. Lucu ya?” celetukku. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. Membayang. “Duh. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. Malam yang bising.” “Tapi semua itu idemu. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. (*) Blitar. makin meradang. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. Nomor itu sudah tersambung.“Atau apa?” bentakku. Hari itu. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki. senengnya yang lagi berulang tahun. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya. Dan tanpa disadarinya. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat. “O. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. dua desah napas sebelum ada yang berkata. desah napas. Setiap hari …. Keterkejutan. Terdengar jelas. tolong pegang kue ini. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya.” kata Nurlida tiba-tiba. yang tertutup jilbab biru muda. “Jas. “Aku telepon ya. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. pada diriku. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. Ah. “Nur. Kesunyian. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu.

memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan. Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman.id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin. Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. tapi pembuktian. yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. Anak seorang anggota DPR. 04/RW. Sekitar 20 tahun lalu. jika kompetisi itu ada. selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya. Bulan Kebabian (2011). Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. "Thanks.co. Kecamatan Kanigoro.widya@yahoo. tetap saja semuanya tanpa ekspresi. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. tanpa ucapan. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. Pertemuan yang cukup singkat. 03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. Kurasa. lebih tepatnya. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Tapi Danang Prabowo. Cinta Pertama (2012). Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. Maaf. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana. dan Serahim Nira (2012). Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. karena bukan aku lah pemeran utamanya.Oleh W. Tak penting ku sebut namaku. Namun. Wajah tak begitu tampan . namun berarti itu dipersembahkan untukku. Tak ayal. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. yang hidup dengan berbagai fasilitas." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. Danang Prabowo. 01. Tapi. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama. N. pria terunik yang pernah ku temui.

Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Bahwa. Karena esoknya. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. Pangeran Tanpa Kata. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. Mobil yang kutumpangi terus melaju. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. Lantas hening. Soal cinta. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. cinta kadang tak perlu kata.tapi terlihat karismatik. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. berkutat dengan beritanya. Kerjanya. Dia sibuk dengan dunianya. Lagi-lagi. ku tulis namaku di kertas absensi. Priaku." pungkasnya lalu diam kembali. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Ayahnya. Tepat di depanku. memberiku tumpangan. 30 Agustus 2012 12:51 wib . dengan pena pemberiannya. kendaraan pun terus melaju. Akhirnya dia bicara. Diam. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. Sampai suatu hari. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. ibunya dan keluarganya yang lain. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. cuma terima kasih yang terlontar. Dia benar-benar bicara. Dia tengah sibuk. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas. tanpa jawaban. tangannya memberikan pena padaku. Cerpen Keroncong Senja Kamis. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. "Sudah. bak Pangeran Tanpa Kata. Penulis Risna Nur Rahayu. tapi gak tau kelanjutannya gimana. Lantas. dia bicara panjang padaku. membawa kami kembali dalam diam. Dengan sigap.

delman-delman. “Dik Sastro. Ia menyewa tukang ojek. Sudah remaja dia rupanya. nasi liwet. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku. Suara yang berat dan tersendat. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka. remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. berjenggot tipis. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas. aku tak bisa membayangkan. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. membawa gudeg dari rumahnya. Dik Sastro ini enggak percaya toh. sandal jepit. lah mereka. L’arc en ciel. Bukan apa-apa. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. menjelang matahari tenggelam. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Aku menatap senja. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. Jagung-jagung itu masih demikian segar. stasiun. diam-diam aku pandang secara lekat. dan aku selalu ketawa mendengar itu. Ia membentak angkot. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. Aerosmith atau Bon Jovi. ketika kubuka jendela kamar hotel. Ratri. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. “Masak ndak ada pria yang bener toh. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. ia sudah paham. kumis tipis. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. Tapi saya tolak. “Lah. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. Ia sudah mengenalku sejak lama. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. penjaga hotel. Sebab kami sama-sama semata wayang. menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. Ia masih setia menyajikan gudeg. yang lainnya menenteng kardus. tiang-tiang lampu. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu. yang diatur Pakdhe Jarwo. manis dan pahitnya masa terasa kental). karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. tukang becak.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. gerbang kota. anak-anak berandalan di tikungan sana. siapa mau toh. berkalung peluit butut. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. Rambut sebahu agak ikal. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi. kereta-kereta usang. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. Sudah berapa ribu motor. berkaos oblong. Gadis yang manis. Ia selalu mengatakan. yang dia carter dari pinggiran kota. Cukup mengatakan nama hotelnya. Di bawah merkuri. anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. meski aku baru . bercelana jin sedikit pudar. Ndak mau ah. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. Mbok Garwami mau curhat. Berseragam oranye. mancing-mancing nih. Aku dengar suara Pak Surat. Mbok?” tanyaku dengan harapan. aku sudah menganggap dia sebagai adik. Semburat senja. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. semenjak aku masih menetek ibuku. kepulan uap demikian hangat.

“Hati-hati di rantau. aku buka kembali surat itu. tapi tulisannya berbeda. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. Tulisan itu tidak begitu panjang. lagu itu terus yang ia mainkan. Aku kaget membaca surat itu. Tulisan latin tempo dulu. bersanding di liang suami yang ia cintai. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. “Cepatlah datang. Jakarta Selatan.” tulisnya. Ia lahir di Purworejo. Dan dia selalu berujar. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. Hati ini selalu begitu gemetar. Ia begitu agung bagi hidupku. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. Meski sudah berumur 67 tahun. Doa ibu selalu menyertaimu. Dari empat toko. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. Jangan lupa. Meneteskan air mata. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Aku simak bait-bait surat itu. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. Pertama kali aku menerimanya. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita. Suara muadzin baru saja selesai. Nugroho. sebuah harian yang baru didirikan. tulisannya ditulis oleh Ratri. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Darinyalah aku belajar sastra. . Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. sebenarnya bukan itu saja. seorang blogger cum wartawan. Kamar di lantai satu. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. Ya. membaca tulisan tangannya. 01. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. Semoga sukses.turun dari kereta eksekutif. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. Aku hafal betul tulisan itu. Mas. aku rogoh kantong jaketku. Pejaten Timur. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. pemilik hotel ini adalah paklikku. Di tumpukan baju teratas. Ia tak suka bertele-tele. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. Makanya. surat itu diletakkan di atas. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. seperti guru-guru SD-ku. Kangen memang menunggu suratnya. ia begitu dekat dengan keluargaku. selepas hujan. hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. Di dalam becak. Sepotong surat warna ungu.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. bertulis tangan. berada di depan. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. 20 Juli 1985. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. atau Danarto. Sapardi Djoko Damono. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. ia masih suka membaca. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. ya seperti senja kali ini. Ia seorang kutu buku sejak remaja.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. singkat padat dan berisi. Tapi. Ternyata. hanya enam baris. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku. Kamu harus banyak belajar.

Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Seperti biasa. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. Kalau tidak tugas. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini…. ulangan harian. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi. Ya. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. langsung mandi. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. Di antara pandangan yang gelap. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. belum lagi seragamku yang masih melekat. “Kamu itu sudah besar. Bantu-bantu sedikitlah. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. kimia dan sejarah. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini. . tidak dipungkiri lagi. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. salat. cuci piring?” Ya. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan. habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. ya.” Memang. “Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. Heh. siapa suruh bentak-bentak.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. “Ibu tahu kamu capek.” Lebay. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. Aku pun hanya mendesah. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa. Apa susahnya. Ya. sih.

seperti saat ini. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. Ku buka surat itu perlahan. “Ya. gelap. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa. Sebenarnya lapar juga sih. ada sepucuk surat terlampir di sana. maafkan ibu karena terlalu keras padamu. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. Inilah aku. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat. ibu mau pergi. Aku teringat pada Ibu. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. tapi gengsi dong. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku.” batinku. Makanan di meja ku lewati begitu saja. Aku hanya mendesah. “Au.tadinya begitu. Oh iya. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan. ah. “Ya Allah. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. sulit juga memahami tulisan yang dibaca. Nanti jaga rumah. Lagi-lagi harus jaga rumah. ampunilah dosa hambaMu ini. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. Memang. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya. Terang saja. Ibu tidak mau lagi mengurusimu. “Rafa Afifah.” Jleb. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. ya. Ini uang sakumu. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. Ibu kita telah mengandung. dan menyapih kita dengan susah payah. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami. Selain tidak konsentrasi. Jantungku serasa berdegup lebih keras. Yah. dari pada di rumah sendiri. saatnya membaca ayat suci Alquran. Tanpa tidur siang. tapi mood menolongku menghilang. Dan tentu saja. Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya.” Pura-pura tidak dengar. Untuk Rafa.” jelas mentor Sisan. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. “Ada titipan dari ibu. “Kenapa mukamu seperti itu. Rafa.” kata Pak Wiji. selalu lari dari masalah. aku tidak mahir Bahasa Inggris. aku merasa suatu sensasi yang aneh. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. . Aku memang ingin cepat pergi. Kau pasti lupa membawanya. Kita tidak boleh membentak. Tapi ternyata tidak hanya itu. Ah. Kalau seperti ini terus. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. menyusui. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama.” sahutku cemberut. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah. “Alhamdulillah. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini. kamu malah santai-santai. satpam sekolahku.

Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. teeettt… Bel pulang berbunyi. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. aku mulai melihat ada yang janggal. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. kakiku melangkah lebih cepat. “Ibu sudah memaafkanmu. Ibu. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. nak. Jawa Tengah. “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. Fa! Pak Jono sudah keluar. Meski Nysa sudah menenangkanku. Tidak mungkin! “Fa. Tidur saja pekerjaanmu. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. Ibu juga minta maaf. Bu. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi.00 WIB nanti. “Bu. Namun. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. tettt. Aku benar-benar menyesal. . Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. Fa. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. “Kamu kenapa. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku.Tapi. ibu tidak bermaksud memarahimu. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. Rafa benar-benar khilaf. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. “Bangun. mungkin saja mereka sudah pulang. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. Ternyata Paman Dika. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. tapi hatiku tetap tidak mau diam. maafkan Rafa. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. Tanpa benar-benar diperintah.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. Hatiku benar-benar tidak keruan. Tidak mungkin Ibu telah pergi. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. Aku tidak mau terlambat… Tett. Ya Allah. “Ada apa Paman?” tanyaku ragu. Yap. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat.

1945. sehingga jadi berganda. bukan? Tenang saja.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. tak jadi soal. 28 Agustus 2012 AKU dan Qazi . rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Aku bisa menebalkannya kembali. Ceritanya panjang. engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. semuanya. di mana lagi? Di ibu kota. Nomornya. cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku. Tapi tak mengapa. Begitu mudahnya… Aha. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. namun baiklah kupendekkan saja. Belum lama juga kami tinggal di sini.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. Sertifikat dipalsukan. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa.baru saja menikah. Ya. jangan heran. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. Tak seorang pun . Esoknya. Aku tidak menawar harganya lagi. Nani. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Sertifikatnya ternyata aman. Begitu mudah aku memilikinya. tentu saja. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. tak ada masalah. Tapi jangan kaget. Cuma ini rahasia di antara kita. Sebulan silam. semua akan kuceritakan kepadamu. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. di Menteng. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. setiap hari.istriku yang cantik . Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. Sesaat. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

Hanya koran-koran. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. awalnya. secara sembarangan bertanya. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. dan seorang kepala departemen. yang – sssttt… . boleh kau terka. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. ketika orang-orang mulai ribut. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. mantan artis berambut panjang. dalam sidang kasus korupsi proyek itu. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. beberapa bulan lalu. kemudian suaraku tergagap lagi. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja.boleh tahu mengenai ini cerita. Tanggung kelihatannya di mata. Untunglah. Bersembunyi diam-diam. Sehari sebelumnya.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. syukurlah. majalah-majalah. posisiku masih aman tenteram. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku.” kataku lantang. terdakwanya bekas bendahara Partai. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. Hanya kakak sulungku saja. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. kendati begitu. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. Keponakanku yang lucu. si bendahara. Lalu. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. Aku bisa santai terus. Sebab. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Setahun lalu. televisi-televisi. bintang iklan shampoo. Pesta pernikahanku dengan Qazi. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. Seorang wartawan kecil yang usil. Ketika orang mulai ribut-ribut. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka.” Aku berhasil membuat publik kagum. Eh. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai.

Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Berikutnya. menurut sebuah cerita. Di sebelah meja lainnya. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. kondisi rumah seperti tidak diurus. Sebelum kubeli. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. kami pindah ke rumah ini. Dia – istriku Qazi – tahu. Setiap sore. khutbah pernikahan. bahkan. Berdiam-diaman saja. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. tepat di samping kiri. Padahal. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. kemudian. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. sampai hukum mati. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. . Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang. yaitu Pak Amin. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. entah siapa namanya aku lupa. duduklah saksi dari mempelai perempuan. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. memang. kami sering tidak saling bicara di rumah. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku.” Lafazku tumben tidak gagap. alamak. tunai. Kalau di Negeri Jiran. Dia merajuk. entah apa jadinya. Luasnya 363 meter persegi. walaupun tinggal berdua. Mulanya. Tapi hari baik itu tiba juga. dulu. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. sedang lahannya 850 meter persegi. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. Namun. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. sedetik saja. Buat menutup isu penangkapanku. akhirnya aku menikah. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. Rumah yang modelnya bagus nian. Di seberangnya. Ah. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. Gara-gara apalagi. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. ibuku langsung jatuh pingsan.ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Setelah bulan madu keliling Eropa. Nyaris tanpa jeda. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Sebelum akad nikah. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. saksi dari mempelai laki-laki. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku.

oleh Si Belanda pertama. membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. Sebelumnya. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita. Tapi acara belum dimulai. Tak lama membaca. siang nanti. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. Dalam sebuah bayangan yang tulus. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Lalu langsung menodongkan alat perekam. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. karena mengisap narkoba. Sementara itu. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini.Para pengusut pun unjuk gigi. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. televisi. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Semua pelakunya orang Partai. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Matahari memancar. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. Dengan anak kunci itu. karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. . Kini. Enam bulan lalu. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. Bila mataku letih. Pemilik aslinya orang Belanda lain. dari ruang tengah. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Kupikir. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. Di ruang tamu banyak perabot antik. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. menembakku dengan pertanyaan klise. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. kukira. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. Bergegas aku berjalan ke garasi. Tentu saja. saya tertangkap polisi di Singapura. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. majalah.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Kini.

mungkin semuanya sudah basi. aku belajar terus supaya makin cerdas. setelah kukatakan kepada Nani.” Ya. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. “Saat ini.“Pengampunan ini. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Masuk kantor Partai. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin. Tengah malam. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku.. narkoba. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik. sebelum pergi. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK. sepi pengunjung. Bogor. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan. sekarang juga. merupakan perbuatan yang baik. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. di kantor. aku berusaha serius.” Kuberi dia senyum kecil. kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. biasa. maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. Andai saja tak ada kendaraan lewat. maka harus kuhentikan sendiri. Kukunci pintu. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- . Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. Sepi.” kataku.” Terakhir. Sudah basi. Dingin menusuk tulang. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya.. Kurogoh saku. Aku tak pernah henti-henti belajar. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi.

itu tadi. Di depan Har. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Namun seiring perjalanan waktu. Ia selalu menginap di hotel. Akibatnya. terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. yang semula menetap seatap. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. Tetapi Har lupa. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. Sama-sama kepala batu.” demikian Har pada suatu ketika. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. menyuruhnya naik ke kamar atas. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. anak bungsunya yang perempuan. Har menatap jauh menembus kabut. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Har berang bukan main. Sore tadi. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. Ia tarik napas dalam-dalam. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. Alasannya. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga.mudi. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. hingga belum tahu harus menjawab apa. akibatnya ya. Nunut saja apa kata ayahnya. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Tidak perlu mencampuri. sikap si bungsu pun mulai berubah. menempeleng sekali. Ia memarahi bayi kesayangannya. Fikri pun menyusul. ia tak banyak ulah. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Har sudah mengaturnya. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Di rumah besar milik Har. Terjatuh sekali di pintu gerbang. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. Namun yang terbaik bagi Har. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. Pikirannya sedang gundah. Har jarang pulang ke rumah. menerobos rimbunan daun teh. Menoleh. Har terhenyak dari lamunannya. dijamin beres. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. Har tersentak. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. Kepalanya terasa agak ringan. Akibatnya. Jangan tanya soal pembantu. “Terserah apa mau kalian. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. Hanya berselang dua bulan. pikiran pun mulai jernih. Pasalnya. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. Yang Har tak sadari. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. hanya mengamini sikap kakaknya. Di mana. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. Mungkin karena waktu itu masih SMP. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota.Gelagapan. Tinggal Har dan Novi.

. Sesaat mobil bergerak perlahan. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. Ke hamparan kebun-kebun teh. “Om gak bawa sopir kan. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu.” ia tersenyum.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Sama seperti Har. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Har diam. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. sekikuk dirinya. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. lalu biarkan waktu yang akan menentukan. tentu. katanya sih kembar. Serasa ada ganjalan. Dalam hatinya ia menggerutu. Ya.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. yang itu. “Oh…. hitam manis. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. menunggangi kabut di puncak pegunungan. menembus kaca jendela. nyetir sendiri. Har tak menolak untuk dimangsa. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Formil dan serba tergesa-gesa.” Si Gadis tersenyum. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. Har masih terpaku. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. tentunya wanita ini belum profesional. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. Namun yang keluar dari mulutnya malahan.dipenuhi tumbuhan teh. . Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. “Di sini dingin sekali ya Oom. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. Perempuan itu masih memandang keluar. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. Har menoleh. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har. tentunya tengah dilanda gejolak batin. berpikir menentukan sikap. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit.Namun bila menilik dari parasnya. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat.” gadis itu menyahut sambil tersenyum. “Saya ada vila di sekitar sini.. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Kulitnya agak gelap. Apa pedulinya. Om. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. “Kenapa tidak. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik. Har merasa aneh. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. “Boleh. mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak.

Tapi sebagai penjaga vila yang baik. Hanya butuh waktu lima menit. Agak berantakan. misalnya. Tadi dia kira itu Novi. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. Dan malam itu. Nama kota. Om. si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. ada bercakan merah di atas kain sprei. minum ini untuk menghangatkan badan. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. Har telah mabuk. terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah. Atau Sherly. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. siapa namamu. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Gan. ah. Hanya sesekali Imah berkomentar. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Masih terasa pusing.” “Ha…ha…ha.”Har tertawa terbahak-bahak. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota. mendidih dan menggelora. atau Melly. Imah sudah tak ada di sisinya. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. Terasa aneh juga bagi Har. Biar dibilang gadis modern. kalau bukan demi uang. Berapa biaya yang kamu butuhkan. kosong. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. “Saya Imah. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. Om. kembali mencair. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. di sela-sela mabuk dan kepuasannya.” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman.” Nama yang sederhana. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. “Saya rapikan dulu kamarnya. Har memang tidak lupa. Langsung hilang pusing Har. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. ia turun dari tempat tidur.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina. Sekarang malah ia yang mendahului. tapi sedikit melirik pada Imah.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. selebihnya berupa ribuan anggukan. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang .” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya.“Oh ya. sesederhana dandanan dan sikapnya. “Saya sedang kesulitan uang. atau….” Har memperkenalkan diri. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. Jelas. habis Agan jarang menginap ke sini. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi. tidak usah khawatir. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Saya Har. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. Haryanto. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. Belum terjawab uneg-uneg Har. Imah inginnya menolak. Sebagai penggantinya. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. Ia memeriksa isi dompet. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah.

“Imah. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. Hanya tiga ratus ribu. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta. Tapi apa mau dikata.” Har merenung. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. Begitu nistanya aku. 2012 .tak beringsut dari tempatnya. perempuan desa yang lugu.Ia tersentak. meminangnya untuk dia peristeri.”Ada sesal yang menggayut di pundak Har. sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. perempuan itu masih perawan. begitu egoisnya aku. Ingin sekali Har menyusul Imah. Tapi di mana Imah. Ia ingat. menemui orangtuanya. Har meraba bercakan merah. perempuan itu telah terbang jauh. dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. “Astaga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful