Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. Selain itu. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. tidak toleransi nunggak SPP. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. udara kami. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Toh. . namun kami kurang percaya dengan keamanannya. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. termasuk menghadapi para maling. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya. “Walau harga sekolah semakin mahal. Lik Sum putar otak. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Kesabaran menghadapi hidup. Dibiarkan malah nglunjak.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata. alam itu yang menyimpan harta kami. Kami mengambil jika perlu saja. yang kami punya hanyalah kesabaran. Ya. tak punya ilmu. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. oh kasihan para maling ini. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Maling lagi. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. Biarlah. tidak cukup untuk membayar SPP. Semahal harga nyawa ini. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. kami tinggal mengambil di hutan. itu tak jadi soal. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. Warga kami pun hampir keadaannya sama. dengan segala macam jenisnya. kami tak perlu menebang pohon.

Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. Istilahnya maling teriak maling. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. Toh harta tidak di bawa mati.. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. Ah. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Iri hanya mematikan hati. seharusnya kamilah yang menjadi maling. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. berpikir ala teori sosial. Namun kami tak mau jadi maling. tak mungkin di sini. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier. Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya.***** Dasar maling moto merem. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. Seharusnya kami iri pada mereka. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. Yang menikmati pembangunan negari ini. Moto ra melek. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana.

tak mungkin . Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Gelap. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. Namun pastinya. setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. menanti waktu besuk tiba. Tataplah masa depan. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Semuanya buyar. Kau pernah bilang. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. Biola jendela hatimu. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. Biola itu punyaku. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Namun. Tiang-tiang kayu berderet. bertembok putih. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Kamar yang bernama ruangan melati. bahwa aku orang yang baik. Itulah dirimu. Semuanya serba terbalik. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. Tak terjawab. Tolol. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. dengan bangunan bertingkat dua. Ah. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. bukan. biarlah semua menjadi kenangan. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Bukan juga seperti angin. itulah yang terbaik. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan. Sesuatu yang kau yakini indah. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. jangan berguru pada masa lalu. Senja yang menguning. tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. Sungguh. Kau bilang. membuat bungabunga menjadi layu. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. menganga sebuah jendela terbuka. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. Sebenarnya aku ingin bertanya. 27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. baik menjadi buruk. dan pintu hitam pekat. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. janganlah mengukur diri melalui cermin. Seperti sama padahal tak sama. Katamu. Di setiap kamarnya.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Lihatlah dirimu melalui hatimu. aku tak mengerti. kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. Kanan menjadi kiri. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. Aku pun suka keindahan. Kau pun bilang. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. namun aku datang bukan untuk membawanya. suaramu. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Langit pun seperti terbelah. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. kiri menjadi kanan.

terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. kau bisa membuatku berpikir. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. Menyimpanmu di hatiku. Dan setiap hari itu pula. seperti ada yang mengganjal. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. Ketika reda di sore hari." Aku hanya tersenyum. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Hidup bukan ramalan. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. senyuman itulah yang paling indah. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. Diagnosanya mengatakan. meski tampak seperti barak pengungsian. Namun angin itulah yang membawaku melayang. namun tetap menelusuri kemana arahnya. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit. "Ya. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. “Hidup ini penuh misteri. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. supaya tak pernah menembus jantung. meski aku berharap kau pun merasakannya. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. tak tahu harus bicara apa. Aku tidak bisa berkata. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. Semua orang takkan bisa hidup kekal. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik. . Namun. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Lantas kau pun tersenyum. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. Bibirku bergetar." jawabku. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Tentu dengan biaya tak sedikit. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. hanya meninggalkan angin yang liar. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. lalu kau mengukir namamu di situ. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. Menurutku. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. dan berhenti pada stasiun terakhir. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. Apakah perasaan ini tulus dari hati. tempat ini tarasa berubah menjadi indah. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. Keindahan yang keluar dari hatiku. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti.

Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. . Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka. aku tak tahu. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Ketika kau benar-benar terlelap. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu.H. di tempat yang paling indah. Aku bengong. memberikan sesuatu yang terbaik padamu. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. Yang aku tahu sekarang. LPM Suaka. sekadar pengantar mimpi indahmu. meski waktu itu kau sedang tertidur. “Aku hanya ingin bilang. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. menggambar bunga layu menjadi mekar.” sambil membalas tatapanku. masih banyak yang harus kau kerjakan. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. 2011 Oleh T. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. “Biarlah hidupku berakhir. Radar Surabaya. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti. Alamat: Talun kidul No 45. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. Tubuhku remuk. Jurnal Sastra Sasaka. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang. lalu kau melanjutkan. menemanimu setiap waktu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. “Kau jangan berkata seperti itu. Sumedang 45321. Buletin Obras. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. Mungkin disitu kau sedang menghayal. Surga. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. tataplah masa depan. ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. Lalu kau menjawab. Bandung. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah. lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. atau menanyakan kondisi kesehatanmu. RT 01 RW 05 Sumedang Utara. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu. aku mengecup keningmu. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. 17 Agustus 1990. 2011).

kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. Memang belakangan ini. . Tapi. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku.. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. Lungkrah. “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. Yah.. Tenanglah teman. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu.. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau.. Yah. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. Aku muak. Sekali lagi kukatakan. Aku selalu saja lupa dengan itu. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. aku yang salah. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur.cerpen Kasur Sabtu.

Aku ingat. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. Aku terbatuk. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam. ah masih perih rasanya. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Kasur terdiam. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Tentu. Bedanya. menarik. Menumpuk lekat di atas dada wanita. menari-nari di sekeliling kepalaku. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. Diam bukan berarti tidak bergerak. setiap malam harus tidur dengannya.. Makan malam bersama. Kubuka dengan paksa kamar Endo. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Sampai akhirnya. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. memeluk erat tubuhnya.” aku tertawa. Sebenarnya.. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku.. menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. Aku yang putuskan. Padahal. omong kosong untuk kembali memeluknya. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. bahkan sepuluh. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. masih senang dirayu. langit roboh saat itu juga. pergi nonton. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. Sama. dia mengangguk mantap. yang aku tahu. dia mengejarku atau tidak. Kuhisap lagi batang rokokku. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. Malamnya. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. kenapa sekarang kamu beralih. Hal yang kulakukan bersamanya biasa. itu aku. Entah. Aku kembali ingat. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. bekas pacarku. Aku hanya bisa diam saat itu. ya tidur dengan Tian. . Imajinasiku melayang. Meski masih banyak retak di sana-sini. Kamu tentu tahu sendiri. Asap rokok masih mengepul tebal. itu kukatakan padanya. Bisa sampai lima. tersenyum aku padanya. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Di atas kasur ini. apa lagi yang kurang? Aku cantik. Kamu tidak pernah tahu. tanpa ragu sedikit pun. pacarmu dulu!” “Hahaha. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. aku masih benar senang dengannya. aku menemukan dia. ingin tetap bersamanya. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. tertawa. Aku masih senang dicumbu. “Lalu kenapa.Asalkan kamu mengerti. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. Kuceritakan kembali padamu kasur. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. kemudian kabur.” Diam. dan tentu tidur. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. menciumi lehernya. bercanda. dibuatnya aku terbang ke surga. Tapi bukan itu. Ah. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. aku pun sama denganmu kasur. Sejak saat itulah. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Hampir habis. seperti pasangan pada umumnya. Kamu tentu tidak tahu. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya.. Satu yang masih aku minta. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku..

setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Dia tahu dengan jelas semuanya. tapi dia diam dan setelahnya. Kasur semakin terdiam. Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling.” ucapku tegas. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Aku yang sekarang. mencekik urat leher Sama rasanya. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. “Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi.Aku ingat. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. bermain hingga klimaks. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . bersembunyi. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari. muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. buat muntah. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah. kemudian hilang begitu saja. “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. Tanpa rasa yang awet. Aku yang sekarang. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku.

Aku mencoba untuk mengenali. Bajunya lusuh. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. cabe. Tubuhnya kurus kerempeng. Tangannya yang dipundakku. Perempuan itu diam. dan lainnya menjadi satu di tanah. bersembunyi di balik meja. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan. Matanya mendelik dan berwajah beringas. Sementara air got sudah meluap dari tadi. Hening. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Udara bergerak lindap. dinding sampai punggung orang di depannya. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. "Mati?" "Mati bu.. Mukanya terbenam di genangan air. beras." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. sayuran. dari balik keranjang. Padahal hujan baru saja turun. . "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Aku beranikan mengintip. tiang. ada orang mati di depan." katanya. ia turunkan. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. takut nyasar.. Ada orang tertembak. sandalnya pun lepas." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. "Mati. pagar. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. tercecer ke mana-mana. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. Pistol masih di tangan kanannya. Bau apek menyengat hidung. Orang-orang belingsatan. "Saya duduk saja. beberapa dinding kios roboh dijejal massa.Cerpen Kematian Mat Boni Kamis.! Dor. meja." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. Perempuan tua itu tetap ngeyel. tanah pun menjadi becek. "Ada apa. Dagangan berhamburan. gula. suasana pun menjadi ricuh: berpencar. Air menggenang.!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. "Aku takut. tumpah daging.

Ia jarang pulang sebelum magrib.” “Kagak usah bang…makasih.” Wati menjawab ketus. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. namun ia tak ingin menyetopnya. Memang dari awal bertemu. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Codet pun mudah ditaklukkan. Wati merintih. . Tak segan. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. istri orang pun dia goda juga. Ia terus memukuli tubuh Codet. Ia melihat pinggul yang menonjol.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. Ada niat mesum di otak Codet. "Lu belagu sih. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. Hanya kali itu. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. Udara malam yang dingin mendesir. Sudah satu jam duduk termenung. Suamiku akan membunuhmu. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. Ia menangis tersedu. dan suka melecehkan perempuan. ya dia akan pulang. Codet dengan ganas menerjangnya. Mat Boni adalah pedagang keliling.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. Beberapa kali menggoda Wati. Ketika tahu siapa yang berbuat. sambil turun dari sepeda motornya. Terakhir. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. angkot ke rumahmu sudah jarang. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. Codet merobek pakaian atasnya.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu. mau kau apakan aku. kalau dirasa cukup penjualan hari itu. pasti sesudahnya. Tanpa aba-aba. pemeras. Beberapa toko mulai tutup. Lepaskan!” bentaknya. Semua pedagang di Pasar Tua. Sayang.” Codet menawarkan diri. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. ia ingin sekali menjemputnya. Di ujung pasar. sampai ketika pakaiannya tersingkap. Pasar Tua ini sudah sepi. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya. Tak jauh dari tempat kios Wati. Ia berjalan agak menjauh. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. “Kagak usah bang. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. Ternyata si Codet. Setelah membuka helmnya. Mata semuanya menyorot padanya. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. untuk menunggu angkot. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. sepekan lalu. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. Wati bisa pulang naik angkot. Ternyata urusan cinta. Wati masih berontak. Codet terkenal menjahili istri orang. Dari arah kiri.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. terbenam oleh malam di kaki bukit. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. Codet melempar senyum. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. Suasana tampak muram. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot. “Abang anter aja yuk. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan." cerocos petugas yang mabuk itu. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got. Codet sudah naksir. Wati mulai gelisah. Sudah pukul 8 malam. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Ia mabuk sepertinya. sayang ia keduluan sama Mat Boni. istri Mat Boni. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. ia menyambar Wati dari belakang. “Bajingan kau. “Diam kau. Codet menamparnya. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. “Iye bang. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Wati teriak minta tolong.

” seru beberapa orang di sekitarku. “Mak. Barangkali. ini balas dendam Boni. Jasad Boni pun diangkut ambulans. Dan kali ini. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. Jakarta Selatan. Ntar dia ke sini. Wati?” ajak Codet. Codet berdiri dan merapikan diri. Ia menutupi diri dengan seadanya. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. Kalibata. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. hari inilah mereka duel. seorang blogger cum wartawan.Malam hening. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi. setelah ada tembakan peringatan.37 Andi S. Kini ia tinggal di Jalan Damai III. Codet pun melemparkan pistolnya. Ia meradang.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Mat Boni tahu kelakuan si Codet. bagus ya. Dan ya. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. meski hanya untuk menakut-nakuti. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Aku toleh pelangi itu. Pejaten Timur. mak.” seorang laki-laki menegurnya. Barangkali. Wati hanya terdiam. 19 Juli 2010. Ia melengkung indah di atas pasar. Dan penembakan ini. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa..huss. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Beberapa burung pun melintas di depannya. “Itu pelangi untuk Boni. Di daerah Tua ini. Pasar pun kembali berisik. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. . Lahir di Purworejo. seperti kisah-kisah masa kecilku itu. 09. dan kemudian memeras pedagang... Beberapa hari setelah itu. “Hus. 20 Juli 1985. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu. jangan keras-keras. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. Nugroho. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. baru pertama untuk Boni. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu. “Mari kuantar kau pulang.. Sayang.diem. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya.ada pelangi tuh. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba.

setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. Ibu tidak punya uang sebanyak itu.” “Touch screen Bu. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan.” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. Bagaimana menerangkan istilah- . tunyuk artinya menekan dengan jemari. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan. Jaman sudah berubah. Sayang. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. yang Rp150 ribu. “Put. Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir. Sama saja kan. yang penting bisa telpon dan es-emes.” “Iya.Cerpen Layar Sentuh Kamis. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya. yang penting belikan Puteri hape layar sentuh. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. Sebenarnya tak salah juga. dan menjelajah dunia maya. Tanpa perlu repot memencet sekian tombol. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial. Nak. aku ingin mengenggam warna-warni dunia.” Puteri hanya bisa mendesah. chatting. Ah.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari.

Puteri tak punya cukup uang . Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan. Mulai dari gaya penampilan. makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. Hanya dengan sentuhan jemari. Tentu. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. andai saja ayahnya masih ada. kendaraan. tempat nongkrong. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. ia memang terlalu banyak menuntut. hingga hari-hari menjadi asyik. laptop. hingga diperlukan buku-buku. The Extra-Terrestrial. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. Ah. Serumit apapun rumus itu. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. mendengarkan radio. Maka tertanamlah perangkat bluetooth. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. ensiklopedia. maupun Matematika. tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. kamus. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. bahkan menonton televisi. Tanpa kerja keras ibu. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. Ah. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. Karena itu. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. Kimia. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. cowok. telepon genggam. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya.

Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? . Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. penyanyi dangdut keliling.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. engkau bisa membeli hape layar sentuh. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri.” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. Apakah maksud kata. Tapi. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. “Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. hingga kupu-kupu malam. Mulai dari pelayan café. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek. jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia. tetangganya. Sambil mendengarkan musik. Kalau kamu mau ikut Tante.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. “Jika mau menerima sentuhan. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang.” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. Harga dirinya merasa terlecehkan.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. “Tante tidak memaksa. “Jangankan hape layar sentuh. Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri. eh bersalah. Sekarang. tukang pijat.

” “Tanpa Puteri minta pun.Memaksa ibunya jelas tak mungkin. Maka sore tadi. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya.” “Baik Om. Bukankah. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak. ini Om Anton. Puteri menceritakan semua yang terjadi. “Tunggulah di kamar ini. Om benar-benar menyesal. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. “Maafkan Om Anton ya. Puteri merasa begitu takut. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. Awas jangan macam-macam.” Sekarang. sahabatnya. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap. Dengan tangan gemetar. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. Klik. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. orangtua Shinta. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian. dengan berbagai lobi. Bahkan. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. dipegangnya gagang pintu. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi. Untung semuanya belum terjadi. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. Tanpa perlu berkata-kata. Sekarang pulanglah.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. Jika ada seseorang yang datang. tapi Om Anton juga harus berjanji. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Tak terasa. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. Mereka begitu akrab. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri. Entah bisikan setan darimana. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. Puteri sangat terkejut. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Di lobi hotel. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. Om Anton .

com . Sementara Tante Rini raib entah kemana. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. Ah. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing. 2012). Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok.bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. 01 September 2011 SETIYO BARDONO. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. 2007). DEMI HP LAYAR SENTUH. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. Email: setiakata@yahoo. Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. Sementara di beranda rumah. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. 15 Oktober 1975. 2012). bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini.

"Dia itu bunga desa di sini. Ya. dan entah mengapa. . sepertinya tidak hadir lagi malam. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. "Tenang Lastri. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil." jelas suamiku. air mataku pun luruh mendengarnya. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. aku juga trauma melihat darah. Jawa Timur. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah." jawabku sambil sedikit tergagap. "Kenapa belum hamil juga. "Apa kamu sudah hamil. begitulah penjelasan suamiku. dan aku tidak menikmatinya. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. "Aku tidak tega melihatmu merintih. lelaki yang menjadi suamiku. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. seharusnya darah itu cepat ku lap. Namaku Lastri. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. Kami pun menikah di desaku. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu. aku sangat canggung. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis.”batinku dalam hati. Aku segan.malam pergumulan kami yang sebenarnya. ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah. "Belum Bu. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. Awal pertemuan dengan mertuaku. 31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. di pihak lain. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. akhirnya aku pun berani untuk jujur. juga tampan dari Jakarta. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan. hidung bangirku. nanti kita program bayi tabung ya. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. sukses. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. Selang dua hari setelah pernikahan kami. Hampir setiap bulan. wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. Aku bertemu Johan. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. Sejak malam pertama itu. itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. kecuali mereka yang memulai. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin.”sesalku dalam hati. bibir merahku. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku. “Ini semua memang salahku. Dengan dipaksa jujur olehnya.

hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. melainkan ada Toni. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan. asal mas senang. aku tak sampai hati. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen. "Ya gapapa. “Rupanya mereka kegerahan. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. “Aku sudah tahu semuanya mas. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. Kesibukanku mengurus Jonathan. Johan sangat senang. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. aku ingat Roy. pasti orang tuaku sangat malu. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada. Dulu saat aku ke Malang. melainkan ke rumah baru kami. kakiku menjadi lemas ."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. Roy. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. Johan pun seperti merasa bersalah. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. lelaki tampan peranakan Jerman. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. suamiku telah selesai mandi. Walau sudah ku duga. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. aku memang lain. aku melihat semuanya semalam. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. apa mungkin dia salah kirim. aku seperti mendapat jalan keluar. ternyata dari Roy.” “Tapi aku tidak mau. dan lainnya. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. Tapi keesokan harinya. Genap 36 minggu. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka. karena jika nanti penyakitku ketahuan. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. "Pas seperti yang kuharapkan. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. lalu kami nonton BF (blue film) saja. untuk menghilangkan stres. Air mata pun tak terbendung lagi. Ya. Suatu malam. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. "Aku kangen sekali sama kamu. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. Sejak tinggal di rumah pribadi. kepalaku pusing. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. jika tidak ke luar kota. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. sungguh terkejut aku. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. karena aku sibuk mengurus Jonathan. Ryan. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. Aku yang lulusan sekolah dasar. kali ini dia membawa dua teman pria. putra pertama kami. selain muak." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. dan ketika kulihat nama pengirimnya. Mendengar perkataanku. aku dalam keadaan frustasi berat. "Ternyata benar perkiraanku. setelah Roy dan Robby pulang. Saat aku masih berpikir. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. Esok paginya. "Oh. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. Ini adalah hari ketujuh. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya.” . bisanya nyusahin saja. Sehingga sepulang dari rumah sakit. Sampai bertemu dengan mu. aku sakit Lastri. "Maafkan aku Lastri. "Dasar perempuan kampung. mereka masih terlelap. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. Keesokan harinya saat suamiku mandi. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

Yang kutumpangi bukan kereta biasa.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. . Tuhan. Ruang Khayal. membawa dosa tak terhitung. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. Ternyata “aku mati”. Semua tak sesuai bayanganku. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. Ah. aku masih bisa bergerak berjalan. aku datang untuk kembali pada-Mu. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja. Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. “Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya. Perasaanku sedikit menenang. Namun. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”. namun keranda mayat. 26012011. aku agak sedikit heran. 20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah.“Deg!”. Menyengat hidungku yang tersumbat. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu. 14. “Apa iya aku mati?”. ternyata tidak. terasa sedang mengendarai sebuah kereta.

” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. itulah Raka.” aku coba bersimpati akan dukanya. “Woi. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. ada yang berbeda dari polah laku Raka. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember. .. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul. bahkan mungkin terlalu lama. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya. “Namaku Raka Primastya Restu. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana. meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya. senyumnya. Yah... lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu. populer. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang.. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong. Dia sosok yang selalu ada. keluhannya.ngajor ya!!” ledekku. keangkuhan. Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati.. ya aku hanya mengira. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore... siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu.. Raka. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau.. di lain waktu jadi manusia introvert. mungkin. Raka Primastya Restu. bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Matanya nanar menatap jauh kosong. “ Kenapa Boy.” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. Pendiam. Aku semakin kehilangan cara. “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya. aku rasa semua yang ada padanya. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari.. aku puja.Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. Raka memang bukan laki-laki-. “Grecee. ya itu lah Raka. Ah. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. tenang. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. Sosok sederhana namun memesona. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. Tatapnya.. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. “Aku kangen Mamaku. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan... Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. “I am sorry Friend.. namun memancarkan kharisma. Tapi nyatanya... Dan aku sudah mengenalnya sejak lama.aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria. Namun sama seperti impiannya. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut . itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka... Kadang aku merasa bodoh. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya. “ Iya. bahkan jika aku harus jumawa. bintang kampus... telaga bagi segala keresahan. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja.. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian.

Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. Yah. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku.Ya.?” Ada yang menjawab. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. “Mau jadi apa kalau besar nanti. kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. “Mau Jadi Pilot”. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI).bni. S. Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. entah apa maksudnya. Grecee. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit.id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin.Angan merapat pada jelajah kupu-kupu. Surat Terakhir Raka …. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. Nak…. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam. . Email : riskon. “Mau Jadi Guru”.. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi.. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku.co.. terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah..... Semakin jauh lelah itu pergi.pulungan@mail. “Mau Jadi Dokter”. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya. Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku. Meski tidak seharusnya begitu. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011)... aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang). Oleh Riskon Pulungan.

Akupun mulai gundah gulana. Bahkan. Seorang anak perempuan. hilang. sementara Istriku lebih sering melamun. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. Dari Cigombong. Setelah berbagai upaya dilakukan. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. *** Hari berganti hari. Macam-macam aktifitas mereka. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. Kehidupan di sini begitu keras. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. pakaiannya kumal. Kata orang daerah ini terkenal rawan. dukun. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan.Macam-macam jawabannya. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. anak-anak lugu dan lucu. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. tanpa sebab yang jelas. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan.” itu alasanku. semua berjalan apa adanya. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. ada yang menjajakan berbagai dagangan. sering pula terjadi kekerasan. minggu berganti minggu. semuanya memang serba dilematis. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. entah apa yang dipikirkannya. “Persoalan anaku. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. sembari menenteng . Diam-diam. Padahal. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. apa ia tidak memiliki semangat. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya. Yang paling menyesakan dada. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. klenik atau sejenisnya. mengamen dengan berbagai alat musik. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. Aku sendiri juga sering termenung. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. kejahatan di sekitar sini. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia. perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. seolah ada yang aneh. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. untuk bisa meraih impiannya. mulai dari anak-anak. atau hanya malas saja untuk menjawabnya. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. yang belum memiliki dosa. pagi yang cerah. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah. Namun tidaklah demikian dengan Upik. Apalagi membawahnya ke orang pinter. lenyap begitu saja. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. dengan dalih kemiskinan. generasi bangsa yang malang. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. lirih.

yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya. sembari tersenyum. :( . Jakarta Timur 13790. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. hal itu terjadi begitu saja. tidak sepantasnya dijalanan. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. Puisi itu berjudul CitaCitaku. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami. semuanya terjawab sudah. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32. tak terasa seolah membuka mata hatiku. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. mengharukan. gemah ripah loh jinawi ini. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. tanpa berkedip.02. hawa panas mulai mengusik. Kelurahan Kalisari. benar-benar menyentuh. RT 004/RW. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. Dalam puisinya. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat. entah apa yang ada dalam pikirannya. tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur.co. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. entah apa yang ada dalam senyumanya. masratman22@yahoo. generasi yang malang seperti anaku. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. bungkam. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. dan teman-teman sebayanya. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. Kecamatan Pasar Rebo.

"Hush. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh. pasti aku cek.” itu isi SMS-nya.kurang lebih 45 menit. Ya pesen tiketlah. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak ." candanya. kita kan belum pernah ketemu. "Iya tuh. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. "Iya. memang ada-ada saja pelanggan satu ini. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia.” genit hatiku berkata. namanya juga customer. Ya. ada urusan lagi. So far. SMS dari Pak Anton rupanya. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. Lebih tepatnya lebih baik. memang sudah dalam proses bercerai. akhirnya bisa dipenuhi. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh.. "Cek dulu. hihihi. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. sekalian lewat katanya. Kami pun larut dalam percakapan. "Huufft. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama. Ah biarlah. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku. terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. hihihi. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. baik pak. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. "Itu Nit. dia mau bercerai dari istrinya. jelasnya. saya mau ambil pesanan saya. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang. dan sudah punya dua anak.Cerpen Aku yang Kedua Kamis. ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. Sekarang mau ambil tiket sendiri. Oke pak. “Saya senang bisa ketemu kamu. yang hanya ingin aku yang melayaninya. Menurutku dia memang pria yang kucari. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan. terima kasih”. sadarku mengentikan lamunan. tapi dia ada rasa kali sama kamu." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. saat baru sampai di rumah. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang. kami pun memutuskan menikah. bahagia menyelimuti perasaan kami. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. kilahku. Dari situ. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton. teman sekantorku. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku. Tak lama. ditunggu kedatangannya ya pak. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari.” sanggahku dalam hati. benarbenar jauh dari perkiraanku. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. ponselku bergetar. “Selamat sore. harapku. Nanti malah dilarang lagi. banyak maunya.” desah hatiku dalam hatI. "Benar pak. "Yah. Selang setahun berhubungan. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. terus nanti di-cancel-lah. Setelah seminggu menikah. karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. Kan sebelum kenal aku.ngawur!" balasku. “Iya lah. Sepulang dari kantor. Semua berjalan lancar.. Pernikahan pun berlangsung.

. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. mereka duduk di ruang tamu. Hampir setiap malam. karena utang-utangnya yang banyak. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Kesepian sangat melandaku. dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. Untung saja ada bayi mungilmu itu. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. Semua terasa sangat berat. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian.5 tahun. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. Dia tidak bisa menceraikan saya. Alhamdulillah. karena aku sebatang kara. adik ayahnya yang sudah meninggal.terganggu. tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. Bayiku masih tertidur pulas. hanya aku yang merantau ke Jakarta. Sepulang dari rumah sakit. Karena alasan kesepian itu. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. semua harus ku jalani. Tak lama pun air mataku mengalir. ya itu nama putra pertama kami. keluarga besar ku di Palembang semua. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. Tapi selama sebulan aku di sini. hampir setiap malam aku menangis. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini." pikirku dangkal. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan. saya jadi tak tega mengusirmu. dia masih saja berulah dengan menikahimu. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. Petir terasa menyambar diriku. Sementara aku masih terdiam. mencari suamiku yang juga suaminya. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. terutama jika Alan sedang sakit. Mana si Anton?" ketusnya pedas. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. Jadi ini maksud “catatan” itu. batinku. dan ketika Alan sudah tidur. kami sangat bahagia sekali. semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. Juga untuk menghindari cibiran tetangga. aku tak pernah melihatnya. Setelah kejadian itu. Sekarang Alan sudah 3. Ya. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. bahkan seperti kembar. lalu kubuka. Dia pun bilang. mimpi buruk pun dimulai. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. "Siapa ya?" tegurku. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. Di depan rumahku. karena harus mengurus Alan. Pada akhir cuti Mas Anton. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. aku sudah membunuhnya. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. Ya sudahlah. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. aku sendirian menjaga Alan. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. Waktu tak berselang lama. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. aku pun hamil. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. namun Mas Anton. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. "Asal kamu tahu Nita. semua masih berjalan baik. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. kehamilanku tidak 'rewel'. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. Mungkin kalau tidak ada Alan. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. istri pertama Anton. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama. yang bilang bahwa jilbabku palsu. aku pun memutuskan untuk punya anak. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. Minggu siang tepatnya. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. Tapi lihat. kami mengurus Alan. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul.

Beribu maaf jika lancang. Keesokan malamnya." Aku hanya terdiam. dia pun mulai bicara. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah. Rt 01/03. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya." oceh anakku menimpalinya. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. Menanggapi tawaran tersebut. Mohon Dek Nita memikirkannya. nih liat pelutku buncit.Di suatu sore. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. Syok tepatnya. "Begini ya Dek Nita. dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita. "Ibu kenapa? Kok bengong. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. Oleh Damatriyani. Terima kasih ya Allah. "Iya. benel kan bu kata Alan. Ciputat 15412. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. "Iya. "Iya om tau. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. "Alan. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Gg H Abdul Karim 2. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. aku sakit pilek. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. Email widi.agustian@yahoo. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III. kaget. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. saat menemani Alan bermain. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut. Pondok Ranji.com : the_a_young@yahoo.co. namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru. spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". mendengar semua ucapan Pak Surya. S. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku.id . Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. aku sudah makan banyak. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna.

Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. kapan aku menikah???. Meski aku tak berpacaran. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku.” pintaku di setiap doa dalam salatku. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. itu cinta pertama dan terakhirku. . “Stop! Jangan bersedih nak…. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. Inilah aku. “Inikah jodohku ya Allah. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami. tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi. dan galau.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah.. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku.. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. Namun. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. Di setiap malamku. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta. namun sedikit merasa risau. Pertemuan tak berhenti sampai di situ.. 04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang. “Ya Allah. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?. kini di semester akhirku. ***** “Tuhan…. Tak berhenti sampai di situ. Hati ini lega. ini perjalananmu yang pertama.. mungkin bukanlah dia pangeran itu. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit.CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. Kesedihan pun menerpaku.” ucapku lirih saat bertemu dengannya.” celotehku disetiap rintihan doa salatku. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. Bagiku. gelisah. namun beberapa bulan berikutnya. hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki.

Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan.” tangisku di depannya. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini…. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Anehnya disetiap tidur akhir malamku. sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. Sungguh hati semakin gelisah. Tak lengah sepicing pun. dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. Menyorot merah padam.andriyani@yahoo. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan. Begitu nyalang. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. Tak pernah terpejam. “Ya Allah. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. Apalagi berpalis muka. Bak denyar halilintar. Ia bukan seorang mata-mata. . Anak kecil berumur 10 tahun. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya.blogspot.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Bersurukan laiknya seorang pengintai. Seperti mengungkapkan amarah. agama.com Cerpen Penyamun Kamis.com Blog: Roudhotulilmi. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku. Malam itu. disamping aku masih mencintainya. bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. Bukan hal aneh bagiku. Aku hanya seorang pengamen jalanan. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Tatapannya melirik tajam. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. pengamen memang cocok untukku. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. Hampir setiap hari mata itu menatapku. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran.

Kalau mau ngamenmu laku. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. bukan oleh pembeli. ia datang menghampiriku. Bila di pikir-pikir. Alasannya sederhana. maka para preman akan melakukan perlawanan. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. pakai alat musik lain seperti gitar. sekembalinya . sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. Sebenarnya. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. selalu dirampas olehnya dengan dalih. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu.” jawabku. Memiliki tanda gores di wajah. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. hingga sekarang. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas. Katanya merusak suasana kota. kalau ingin tetap mengamen di sini. “Ini daerah kekuasaanku.” Namun nyatanya. “Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Di depan warung nasi milik Bi Inah. Aku hanya diam tertunduk. Selalu kalah. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. Mungkin sejam lebih. Berotot besar tapi nyali secuil. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. Bukan hanya itu saja yang dipintanya. Dan entah berapa lama ia menatapku. Hingga titik darah penghabisan. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu.. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. bila warung itu dimusnahkan. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Tapi sialnya. Bukan hanya para preman saja. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. melainkan hari ini bukan hari libur. Pastinya uangku akan dirampas. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. seorang preman menyambi penjudi. ia duduk bertinggung menatapku. selain berjudi. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Di jalan. mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Lengkaplah sudah kengerianku padanya.Sedang ia. pertanyaan yang memuakkan. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. Menerpa pada mata setiap orang. Hari ini langit cerah. Menyunggingkan senyum kecut. Bukan karena aku malas. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. Terik matahari meyorot panas. Luka rebak itu hasil sabetan parang. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir. “Beneran Bang. Perawakannya pendek. Bila mendapat banyak uang pun. Padahal ia bukan tentara. Memang. pekerjaannya tak lain seorang pemalak. ia tak pernah ikut mengamen. Tiap hari rokoknya ludes. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. “Heh Udin. Sepasang mata itu milik Bang Jali. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. hari ini sepi.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. jangan pakai kecrek. Di bawah warung itu mengalir air selokan. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. Jalanan tampak sepi. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. aku dan pengamen lain. Begitulah pekerjaannya. hasil kerja payahku itu. hanya berani pada anak kecil. Ya. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. mereka selalu memesan makan di situ. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku. Ah. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang. Bila uang taruhannya habis. Memalak uang mereka. Terpapar renyuk. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh.” Padahal. Semacam tukar beli.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. Di kaca depan sebelah atas. sambil tertawa kecil. membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. Itulah sunnatullah.” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci. Itulah aku dan istriku.” batinku. Mobil berhenti karena lampu merah. kadang kita berada di posisi bawah. tanyanya manja. Sambil menyetir. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. sambil menggelengkan kepala. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. lha wong udah tua gini kok neka-neko. sambil sesekali memandangnya. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds. Selalu berputar. akan Kami putar (nasib) manusia. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Ternyata Tuhan seakan menguji kita. tambahnya menggoda. “Cantik itu relatif. merekapun menjadi sewenang-wenang. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . Istriku. “ Iya ya Bune…. Memang. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at. diskriminatif dan menindas minoritas. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. Rasakan Hasilnya!”. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu. ”Sudah jam setengah tujuh. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama. saya suka dengan wajah Bune yang alami. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. Hari ini Senin. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. “Iya Bune. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini. hukum alam. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. bangga. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku.” Pada hari itu. tengah. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar. sesuai tren zamannya…. seakan prihatin. “Dunia sudah terbalik. Kudus tepatnya. Inilah janji Tuhan.” jawabnya dengan logat Jawa kental. 16 Juli 2018. maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”.” kataku kepada istriku. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. Di dalam Kijang Inova. Di hadapanku sebelah kanan. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. Dan sekarang. “Walah Pakne. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. ketika mayoritas berkuasa. Ya. hari ini. Jawab istriku. lotion penghitam wajah”. hidup itu seperti komidi putar. Kedung Banteng. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. dan terkadang di puncak. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. Nyatanya.mengembalikannya lagi ke hitam lagi. tanggal/bulan/tahun.” gumamku. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“.

Pemandangannya tak pernah berubah. Tapi karena di saat-saat seperti itu. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Teruntuk Akand. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini. tapi ini tentang sebuah harapan. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini. dan perubahan sebuah bangsa. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. Dan terkadang di antara putaran tornado itu. Tapi sebaliknya. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. Ini bukan saja tentang mimpiku. Dan setiap kali aku melihat pantai. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. aku tak dapat membantu mereka. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri. Awan mendung tampak menaungi biru pantai. Lebih tenang dan membuatku tersenyum.hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku. Terlihat burung. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun.baik.saat kelam. mimpi. Terdiam aku untuk beberapa lama.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi.mimpimu hancur berkeping. Tak hanya melihat keindahannya. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. rasa yang aku alami selalu sama. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. Seketika aku menyadari. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku. Setiap aku melihat pantai itu. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. ada yang dapat membuat mimpi. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana.tebing yang ada di sekitar pantai. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat.pelatih dari benua biru. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. Semuanya akan baik. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah. Walaupun dengan hal. bukan karena aku sedang mengalami duka.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. aku seperti melihat sebuah . tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. Aku menaiki tebing. Bukan hanya itu. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. tapi juga harapan bagi keluargaku.

Suaranya datar. tetapi keadaanlah yang memaksa. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran.” Aku menggeleng pelan. Sebagai balas budi. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. Bila hujan turun. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. Tangannya yang basah memegang jidat. air akan menjajah seluruh ruangan. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali.” Suasana mendadak bisu. “Ayo lekas ngomong.harapan baru. Bertempat tinggal di Jakarta. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki. Oleh Geri Taranda. rasa malas hinggap. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. usia menapak 14 tahun. jangan dipendam sendiri. wajah perempuan baya menyembul. Aku tak menyahut. Kegiatanku kini membantu Emak. Langkah kaki diseret mendekat. Koran. Bersama Emak. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. takut ia tersinggung. hingga Emak membuka bibir. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib. . kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. majalah maupun buku semua tandas aku lahap. Perasaan serba salah menghampiri. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara.blogspot. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. “Begini Mak. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. Alamat blog: geoaranda. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit.

bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. kembali kepada kami. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. Bagaimana jika Kang Diman. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. Walaupun tak ada rumus yang baku. ngepos di perempatan bawah kolong.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. bagaimanapun caranya. sekarang Bapak tinggal sendirian. seandainya Bapak mau balik ke rumah. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. Awal pernikahan kami begitu bahagia. sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. “Eh. “Maafkan Emak Le. terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. Layaknya pengantin baru. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu. Ia bergeser. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. Aku maklum. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan.” “Oh gitu. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. tapi wewaler itu berlaku juga. “Jangan percaya Bapakmu.” “Syukurlah. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. kamu Marni. pemuda yang selama ini merantau. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini.” Emak tersenyum kecut. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. “Jangan berkelit ya. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. lagi belanja ya. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan.” Raut muka Emak seketika berubah. ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. “Syukurin. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. Aku mengangguk lesu. Kang Diman. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. pagi-pagi udah ngelantur. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. Kurapikan peralatan menyemir. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. berharap derajat kehidupan lebih baik. raut mukanya masam. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. Aku membuntutinya. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. “Mak. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. Tadi pagi. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. bapaknya.” sapa Mpok Hindun ramah.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. tiada guna menimpali. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih.”tanyaku memburu memendam kecewa. mengalihkan pembicaraan. “Mak. “Sudahlah Le. berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi.” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. Ngontrak di belakang pasar. Kali ini sorot matanya begitu lembut. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu.” melengking suara Mpok Hindun. sebagai seorang sopir angkot di . “Kasihan ya si Marni. “Maaf. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. kepuasan terbit di sana. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. Dada Emak membusung. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. tangannya membelai rambutku.

Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. teman akrabku. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. Senyumnya merekah ketika kuhampiri.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain. “Yo wis. Emangnya kenapa. “Kenalin Di. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. Sekarang tinggal kami berdua. Emak melarang keras aku menemuinya. Udara kering panas menampar wajah dekil. Banyak pula yang bersikap acuh. semoga desas-desus itu keliru. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. Mau nganter istri ke bidan. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. Tapi dasar anak bandel. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. “Ayo kita ke warteg. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk. aku kan bapaknya. semoga ini hanyalah kabar burung belaka. Mata bolaku hanya bisa menatap. mata mendadak panas. waktunya suntik KB. ia marah besar dan kecewa. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. Ah. “Perempuan itu siapa Mpok.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. Boro-boro membelikan barang. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. sejenak dalam hening. ini anak lanangku. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis. “Ini tho namanya Wawan. tanpa sepatah kata pun darinya. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. Kasihan si Wawan. melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. Pardi namanya. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. aku tak boleh mengeluh. mirip banget sama kamu Man. rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Dekat tapi tiada tersentuh. Entar aku juga punya mantu laki. tak jera juga aku mendekat. Tak jarang mereka bermurah hati. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. terasa kasar. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya. Siang begitu terik. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor.” Jantung serasa copot saat itu juga. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. antara percaya dan tidak. Pernah Emak mengetahuinya. Awalnya Bapak sering menjengukku. Oh Gusti. Spontan aku menggeleng. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. aku pamit dulu ya. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor. Duh Gusti. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. “Aku pun nggak tahu pasti Mar. “Tentu saja Di.” Segera ku naik ke boncengan. khas orang Jawa sama seperti Bapak. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. sudah cukuplah. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang.” “Nggak pengen nambah. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan.kebetulan aku juga belum makan. “Ah kamu Man.

Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg.” pelan sekali suara Wawan. kali ini aku nggak bisa. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. pasrah. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja. membuatku mati kutu. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. Kupasang muka sejernih mungkin. pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. Kalau Emak mau marahin. tapi sosoknya belum juga muncul. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Gelisah merambah. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. “Ayo Kang jawab. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. menyamarkan resah. membuat darah dagingku sengsara. Kesumat masih lekat terpatri. darahku seketika tersirap. aku tidak suka ia menemui bapaknya. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. “Sudahlah Wan. “Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. kenapa?” Wawan membuatku tergagap. merasa dilecehkan. teganya meninggalkan anak-istri. jangan melompong seperti sapi ompong. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. berharap ketenangan tercipta. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu. Muka Kang Diman menegang. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. Ada beberapa.”Aku tetap keras kepala. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. tadi aku ketemu Bapak lagi.menyayangi. tadi main ke rumah Mamat dulu. Kemana saja Le. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. Kupandang photo Wawan di dinding. Entah berapa kali termangu di depan pintu. mulai dari bayi. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. Di atas kertas. Rasa cemburu membuncah.” Kutatap wajah anakku.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. Pernah berpikir minta cerai darinya. “Kok diam saja. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. Emak marah ya sama aku?” “Le. emosinya mulai tersulut. Sontak perasaan bersalah terbit. kamu Wan. walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. jadi aku berhak ketemu kapan saja. Status pernikahan kini mengambang. Ketegangan mulai merambati kami. “Jangan harap. “Maaf Mak.” Wawan beranjak dari duduknya. Ah. sesali nasib malang yang menimpa. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. Wawan belum juga pulang.” “I…iya Le. ia harus memikirkan isi dapur. tetapi hubungan kami begitu jauh. kamu sudah besar sekarang. “Eh. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak….” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. “Mak. Praduga buruk hinggap. “Mak…. Biasanya ia sholat di rumah. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. kukuh pada pendirian. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan.” “Maaf ya Mak. bagiku serasa restoran fast food di mal. silahkan. Kuhembus nafas sedalam mungkin. Rupanya anak lanangku telah berubah. kebimbangan menyembul. balita sampai seumuran sekarang. . aku mau pisah. Lunglai tubuh. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. Aku tak mau menjadi ibu durhaka.

Entahlah. “Ayolah Mar. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi.” Aku hanya diam. aku tak keliru! Matanya terbelalak. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa. ngilu terasa. kamu sudah siuman. yang tengah bersiap berganti penjual. “Le. ngagetin saja. Jelas ini bukan kamarku.” terasa sekali Emak mencoba menghindar.” jawab Emak bergegas menghampiri. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. tak hirau dengan panggilannya. “Ada apa Wan. aku bukanlah ayah yang baik. ikan dan daging yang berkuasa. Kugerakkan tubuhku sedikit. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun.” Emak muncul dari pintu. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. Benar itu adalah Bapak. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. “Anakku Le. Selama ini Emak terlalu keras padamu. Eh. Aroma obat meruar menusuk hidung. Dipeluknya tubuhku. tanpa diminta pun telah memaafkan. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. Sejurus kemudian ia keluar kamar. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. aku tunggu jawabannya. Emak ke mana ya. Tapi aku ingin duduk. Matanya berkaca-kaca. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. “Eh kamu Kang. Harapanku tidak muluk. mungkin aku sudah berada didunia lain. Oh. Karena perbuatanku kamu sengsara. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. Matur nuwun Gusti. Kelak bila kamu . kunang-kunang berseliweran di kepala. Memang Bapak telah menelantarkan kami. tak percaya aku telah siuman. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli. “Kang Diman. seperti ada yang dicari. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. bak maling ayam yang takut ketahuan warga.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. “Maafkan Bapak ya Le. syukurlah kamu udah sadar. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. perban telah membebatnya. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. dirangkum dalam dadanya yang bidang. Bila pagi pedagang sayur. matanya berbinar-binar. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Tidak seperti sekarang. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. Kecemasan terbit. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. senyap. Kepala membentur benda keras. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Kupegang kepala. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar. “Mak setelah sembuh nanti.“Eh. Mataku terpejam ngeri.” tersendat suara Bapak.” pipi Emak bersemu dadu. darah kalian sama. Terlambat. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan.” “Terima kasih Mak. Pandangan beredar sekeliling. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling. anak lanangku sudah sadar. gerimis membasahi pipi. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab.” “Baiklah Mar. Wawan cuma ngantuk. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan. Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku.” elakku gusar. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. Emak di sini kok.

mohon belas kasihan 3. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah. mudah-mudahan ini pertanda bagus.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. Duh Gusti. nanti kamu bisa kembali sekolah. aku berniat untuk pulang kampung. tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. Semua tinggal menunggu waktu. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa.setuju. Sekarang tinggal di Depok. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. Wewaler : peringatan 2. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. sorot matanya cemerlang. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. Kaningoyo : sengsara 4. Aku bisa bertani disana. Gemericik hujan sore ini begitu indah. Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. 11/11/2012. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih. 12 November 2012 15:44 wib .” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. “Oh ya Le.” Hatiku mendadak cerah mendengarnya.

apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. sekalipun ia melambatkan lajunya. Dia tetap berdiri setegak batang surian. "Tak perlu. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya.. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. Ya. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan.AKU tak habis pikir. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Badannya yang ringkih itu babak belur. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. bahkan membunuh. punggungnya lurus sempurna. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. Sedangkan kendaraannya. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. Hehe. bukan pula malaikat atau sebangsa iblis. basterop. aku tidak salah. Dahulu kala. ambil saja. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. Sungguh. "Selamat datang bapak. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. kepok.. penjahit ulung. belah bakung. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. Sungguh. apalagi dedemit. seorang ibu tua. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. Untung baru seujung saja yang terkerat. masih ada di pelataran parkir. Selamat datang ibu. di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. bertelinga. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. Ambil buatmu saja!" "Loh. sedikit saja. tak ubahnya seperti kau dan aku. "Apa maksud Ibu?" "Dek. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. ya semua ini karena aku tahu. Jika ia mati. sepeda ontel. Habislah orang itu dihajar. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. tak akan ada lagi perlawanan. kain panjang. kemeja buntung. Kalau tidak. Ia bukan jin. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. kelepak." sapaku seramah mungkin. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. Hanya yang membedakannya: celana dalam. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. kok. Dia adalah manusia: bermata. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi." "Iya. "Bu. seroja. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. semenjak suaminya datang di kehidupannya. bajang. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. Entah apa tujuannya. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. Toh. lalu mati 67 tahun yang lampau. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. kutang. Dari bisikan yang kudengar. berhidung. maaf apabila aku terlampau egois. Pertiwi sebutan orang. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. Tidak dengannya. ia telah puas merasakan penderitaan. Sekonyong-konyong. telekung. sekalipun sedang ia kenakkan. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. handuk. jas katak. bukan rasul. Mereka begitu menginginkan baju kurung. celana dalam yang selalu dikenakannya. pesak sebelah. Pancaran mentari tak .

Ah! dia menyerangku bertubi-tubi." jawabku sekenanya. "Ti." jawabku pasti. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. "Dek. Lama. ternyata hanya untuk dipertontonkan. Tadi.. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. Tanpa mengenakan pelapis lain. tatapannya adalah kilat. Aku gemetar mendengarnya. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. orang memang kebanyakan berpikiran demikian.. orang yang membuatku hidup. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. Ibu itu diam. Senyumnya kian berseri. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu.. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. ada darah yang menyembur deras. itulah yang namanya kesempatan. Namun. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. Malunya sudah musnah. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan." Dari dalam rumah. Orang itu. "Dek." "Ah. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. bagaimana mungkin aku tak sadar. Suara perempuan itu menjelma guruh." sejenak ia menghela nafas.. bisa-bisa aku dipecat. tidak Bu. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. Mana mungkin aku berani melakukannya. Hidupku bahagia. "Huh. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya. *** Malam setelah matinya majikanku. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana . "Seandainya aku berikan dua pilihan. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. "Benar. dan aku adalah si pekak. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik." jawabku sekenanya saja." Ia pegang pundakku. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Namun.kami hiraukan. ia telah lupa diri. mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa.. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. "Jadi. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. Ia nekat telanjang." jelasnya lagi. kepada Istana. aku tak berani. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. dan aku si buta. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. "Mengapa?" tanyanya lagi. dengan sisa-sisa perca. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana." tolakku gemetar. Tak menanggap. seharusnya kau ambil saja. Dia tersenyum.

19 A Padang Timur. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. Tapi aku tak mau. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. “Silakan Neng diminum airnya. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. kelahiran Batusangkar. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah. 7 Juli 1992. Anggota UKS-UA. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. ia enggan menerima balas jasa apa pun. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Selain giat bermusik. divisi musik.” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra. Padang.dalam berwarna merah putih itu. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. . Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun.

Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. bahkan boleh dibilang teramat sederhana. Sep. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Rumahnya cukup sederhana. eta hartina teh nulungan urang sorangan. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu.” “Buat warga di daerah ini. Untunglah aku bertemu Mang Durja.“Mun urang nulungan batur. ia lakukan dengan segenap hati. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari . Sebab. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. Seperti diceritakan Mang Durja. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai.” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah.” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan.” ujar Teh Ema. Hanya punya satu tivi 14 inch. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Pada Bu Nyai. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. Sep. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. Aku sempat meragukan cerita tersebut. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. menurutnya. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah. Ia pun menceritakan hal yang sama. “Bu Nyai mah A baik orangnya. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini.

ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Napasnya sedikit tak teratur. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Aku tiba di kontrakan. Lunglai. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Ia terus mengucapucap subhanallah. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. “Bu Nyai. Entah apa sebabnya. cepat-cepat pula aku membuka pintu. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. Keningnya mengkerut. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. Entah kenapa. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Tapi tetap tak ada. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Ia menghela nafas lagi. Ah. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Hujan masih juga betah berjaga. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Namun sesaat setelah membuka pintu. aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Beku. Akh! Bu Nyai membuka mata. Tapi ini tidak. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. Aku semakin merinding. Maklum. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Aku semakin membeku. Salah satu tangannya. Hujan di luar kembali menderas. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. Tubuhnya juga bergetargetar. tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Aku memaksakan diri pulang. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Setelah sepeda kurantai. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. Bisa boros limaribu sehari. Aku masih berada di kampus sore itu. Sesekali kepalanya . Aku duduk di kursi sebelahnya. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Hujan tinggal rintik-rintik. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. “Muhun Sep. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. ini berarti pertanda ritualnya berakhir. *** Hari itu hujan deras sekali. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Lima kali subhanallah. Bahkan lebih. Ia masih belum menghiraukanku. Ah Alhamdulilah. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Aku tak berani menghentikannya. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Mata Bu Nyai masih terpejam. Termasuk pada Tuhan. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Dan. Semakin mengkerut.

Energinya habis. Di sekitar sini. Bandung. tapi tetap tidak juga ketemu. Ia mendesah. Dan sekarang.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. Kini tinggal di Jakarta dan menulis. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya.com Cerpen . sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah.5. Seperti tertimpa batu-batu. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Aku mengangguk. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa. sep: Kalau kita menolong orang. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia. “Sep. ada di sini. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. *Mun urang nulungan batur.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo. Penikmat kopi dan sayur asem. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No. Mencoba memahami segalanya. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng.menggeleng pelan. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang.

kau dalam . Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu. Habis ceritamu. Tak berpikir panjang. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Belum banyak kau bercerita. kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. saudaraku”. Sangat memotivasi. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. aku malah membuatmu merogoh kantongmu.” kataku saat itu. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Aku malah lupa kesukaanmu. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. aku hanya bisa mengulum senyum padamu. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. nanti saya yang bayar. khasmu. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku.” Sebetulnya aku malu padamu. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. Untuk menghargaimu. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. “Kau suka ? Ambillah. Kau ajak aku makan berdua denganmu. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. Aku heran padamu.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku. Kau malah memelukku dan mengucapkan. kau tak ambil banyak bicara. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Kawan…mengingatmu aku sangat malu. Ku bilang pada diriku sendiri. Dengan kelihaianmu itu. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Tak lama dari kepergianmu. “Hmm… aku suka buku ini. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. kau antarkan aku ke kosku. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. Ku akui aku mulai suka padamu. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. Aku yang suka. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu.“Ahlan wa sahlan. Aku mengharapkanmu. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Tepat pukul 3 sore. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Kau juga sampaikan padaku.

Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu. impian kita telah terwujud satu per satu. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. lahir di Pati. Atas izin-Nya. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. Kec. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. kau akhirnya ditemukan. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. . mewujudkan impian kita berdua. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 . Tinggal di Ds. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. membuat diriku tak sanggup mempercayainya. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. 16 Oktober 1988. RT 03/RW 01. Buatmu. Dulu. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. Pati. aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. sobat. Jontro. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. Kau ajari aku perlahan. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu.2010). Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional.2010). Wedarijaksa. Jawa Tengah. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku. Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. Sobat … andai kau lihat saat ini. FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed.keadaan selamat. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010). kini telah berteman dengan coretan garis merah. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. Sobat … bagiku. Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Sobat. Setelah satu bulan pencarian. Kab. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa. kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku.

Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. Seperti biasa ibu tidak ikut makan.sekarang mandi sana.. Budaya Korupsi. Gilanya. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku.” . uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak. serangan-fajar.korupsi telah membudaya di negri ini. Tapi bisa apa aku. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin.. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. aku berusaha membangunkan tubuh ini. untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. cobek. Pak Yon. Kami tidak punya meja makan. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Damai dengan polisi kalau di-tilang. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. badanku sudah bersih. kamu lihat itu. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. Aku segera mandi. Kemudian sontak bertanya padaku. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau. Selesai sembahyang aku keluar kamar. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. kita berangkat bareng !”. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. adalah nama panggilan bapakku.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. salam-tempel. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua.. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu. “Nduk. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. gundah. “Aida. “Nduk. Segera kubasuh muka dengan air wudhu. aku siap berangkat. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. hidup itu butuh pegangan. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan.

Aku butuh klarifikasi dari ibu.. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal. bapak antar Aida ya besok!”pintaku . tapi karena ibu. Kita langsung berangkat. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. Ujian dimulai.” pikirku.”.. Aku degdegan. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama.!!!” rengekanku kepada ibu. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan.” ibu berusaha menenangkan aku. Informasi ini diumumkan di Koran. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu.. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. itu gambar benjolannya masih kecil kok. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu. ”Aida. Hari-hari telah berlalu. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. ”Sudah selesai Aida.. Sudah kutuntaskan tugasku. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Sekarang hari Sabtu.. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. “Rencana kuliahmu besok. Segera aku lari ke depan rumah. baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya.. ”Buat apa nduk. bukan karena teror ujian. Aku bingung dengan senyum ibu.. ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”.. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. ibu ndak mau kamu khawatir. ibu bohong sama Aida. Jatuh satu demi satu.. Ya. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua..Aku agak risih mendengar nasihat itu. Ibu datang. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. Aku diam.... hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. Sesampainya di lokasi.” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak. tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. kalau ibu punya tumor-payudara.. entah aku sedang menangis atau apa.. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan.. Ragu-ragu menyerang tubuhku. ”Uang dari mana.. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu. dengan raut muka campur aduk.. Hingga selesai. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. bapak yakin kalau Aida bisa..” sapa ibu. Hari Minggu tiba. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja.. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh. ayo berangkat. Kulihat ternyata banyak juga sainganku. aku libur. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya. mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. Sontak membuat aku kaget. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak.?” tanya bapak kepadaku.. Tertulis nominal disana: Rp5 juta.. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. kamu tenang saja nduk.. Ternyata Aku diterima. ”Wah cantiknya anak ibu ini. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. ”Sudah pak. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat.semuanya sudah selesai. Tapi hidup adalah pilihan. Lima juta harus cair dalam sehari. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. Aku tunggui ibu. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat. aku harus memilih. Memohon doa restu.!!!’ tegur bapak. .

nakal bukan kepalang. Allah tidak akan meninggalkan hambanya. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. Aneh glagat bapak. nduk?” tanyanya. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. karena kami semua khawatir kondisinya. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak.. bapak dan ibu tenang saja. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. Amplop tersebut kemudian bapak buka. ”Pak Yon...”Tapi bagaimana rencana kuliahmu. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun. Bapak pergi lagi. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo.pasti ada jalan. “Maaf.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. Ketika ujian kemarin si Bimo. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. ”Ya. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos.pak”.” jawab bapak.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih. “Betul Pak Yon. Hari menjelang sore. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya. amplop berwarna coklat muda dan tebal. berdoa. Hanya laku dua juta. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri..” Raut muka bapak mulai kebingungan. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan. ”Untuk masalah itu. tangannya menggigil.”Jadi kedatangan kami di sini ini.. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu..Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang.. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. anak kami. Beberapa saat kemudian di hadapan kami.” tutur bapak kepada orangtua Bimo. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah.. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo. Aku tak tahu bapak mau ke mana. bapak bisa mendapatkan motornya lagi. Apa ini pak?”sahut bapak. orangtuanya. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Aku malah disuruh di rumah. agar tidak terjerumus. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo. saya tidak bisa menerima amplop ini. . Aida pasti akan kuliah pak. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. Saya jamin.begitulah bu anak-anak. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo. Ya. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo. seketika itu pun bapak terkejut.” tutur ibu anak itu. Tepat pukul dua belas siang. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini.. ”Begini pak. Badannya panas. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. “Bapak tenang saja. Tapi untuk masalah Mas Bimo. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu... Pikiranku melayang. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong. akan saya cek kembali hasil . apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan.

Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini.. tapi seberat apapun hidup. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya. Bapak kemudian menatapku. ”Nduk. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit.. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. yang jelas aku bangga dengan Bapakku.” tuturku kepada bapak. Seketika itu juga. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan. Silahkan orang berkata apa.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk.. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. Aida belajar dari bapak. telah aku pilih satu hal. setelah melalui pertimbangan panjang.apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan..” tutur bapak. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’. Jadi tenang saja pak aman terkendali.ujiannya Mas Bimo. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik . Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. Aku sadar sekarang. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak. Kan hakekat ilmu itu universal. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. Ya. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. ”Tenang saja pak. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu.

” Sahut kakek dengan enteng. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini. Entahlah. “Kakek sudah pulang?. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas. Semakin dekat menuju rumah. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. tanyaku serius kepada kakek. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. kakek menolak mentah-mentah.” sambutku penuh senyum. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. pasti berat sekali ya Kek?”. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. “Segar apanya. “Hahaha. nanti juga sembuh. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. berjalan tertatih tak seperti biasanya. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. Aku paham sekali. Aku hanya bisa menghela napas. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. “Sekarang kakek pasti tahu. bertelanjang dada. “Aduh. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”. Betapa kagetnya aku saat itu. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. . darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. Sama seperti kemarin. pulang dari arah persawahan.” gerutuku dalam hati. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. “Tak apa Cu. jawab kakek. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki. “Ah.Senin. memang benar apa yang dikatakan kakek. Selalu begini. seperti dua hari lalu.” balas kakek dengan senyum di bibirnya. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. “Huh. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya. “Selalu saja begitu.” balas kakek dengan entengnya. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut.” masih saja setenang ucapan sebelumnya. sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. Menunggu kakek pulang dari sawah.” jawabku sewot. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. besok mau makan apa? Ah. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa. Lihatlah kakek sudah segar kembali. Terlihat lemas. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri. tidak juga Cu. Melalui jendela kamarku. “Hemm”. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. Yah. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. tanyaku lagi. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar. jadi malas memikirkannya lagi. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. sudah kehilangan banyak darah. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. Ini hanya sedikit saja. “Tak usah. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu.” Balasku sedikit kesal. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku.

balas kakek. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa.Khekekekekek. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. “Tunggulah sebentar.”. Hanya bisa tersenyum kecut. nanti juga berhenti. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. Kasihan sekali kakek. Namun. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. “Hemm.” Timpal kakek. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa. Saat itu kenangan masa laluku muncul. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. “Kek. Aku juga merasakan hal yang sama.” Aku mulai menangis lagi. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. “Kek. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. tanyaku tertunduk. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. sedangkan untuk makan saja kurang. seru kakek dengan semangat. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. “Aku sedih. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. kini hidup kakek terlunta-lunta. kataku dengan takut. Kebencianku muncul kembali. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. Huh. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. kita tidak punya apa-apa lagi. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. Aku diam.” sahut kakek pelan. bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. jawabku pelan. balasku mulai marah. apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. Sama seperti keadaan dua tahun silam. Senada . yaitu ayahku sendiri. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Kita tidak punya uang. “Hei Cu. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”. Apa-apaan. “Apa yang kamu benci. tabungannya habis. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. “Lhoh. “Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. Akan tetapi. “Iya Kek. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah.” Balas kakek dengan heran. rumah mewahnya hilang. timpalku keras. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. luka kakek sungguh mengerikan. Ah. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah.

aku teringat Mas Seno. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. suamiku. Bandung. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Bikin almari. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. dan Bali pernah dirambahnya. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. Bu. bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. Sebagai tukang kayu. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. suamiku sudah biasa merantau. “Jeng tak usah khawatir. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Tak heran. Inilah yang kurasakan. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. . entah sakit apa. Kaki kakek sudah bersih. Aku sangat sedih. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. Suamiku biasa bikin. Sudah dua hari ini anakku sakit. Ah. Perkakas apa saja. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. kursi. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. Surabaya. Kalau sudah punya uang dia akan kirim. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Kalimantan. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati. Tubuhnya panas dingin. Demam. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Sama seperti Mas Seno. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Aku punya sebuah janji. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. meja. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. Jakarta.

Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami. Suaranya masih selembut dulu. Tapi demi kesembuhan anakku.. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng. Aku pernah berbuat dosa padanya. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS. “Benarkah. Mas. Aku enak-enakkan makan di restoran. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture. Tapi saya sedang dalam kesulitan.saya keluarganya. Makan malam bersama Mas Kar.” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. Silahkan ibu mengurus uang administrasinya.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Agar anakku bisa pulang.” “Anda harus membuat janji dulu.?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar…. “Mira…” Aku mengangkat wajah.. Seramping dulu ketika kamu belum menikah.. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. Apa yang bisa kami bantu. Saya….” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi ….” “Anak saya sakit.. Tak usah menunggu lama.. Lembut penuh perhatian. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta. Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi.. menghubunginya..?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu..” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname. PT Kartika Furniture. Tetanggaku sudah membantu.saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit. Tapi hasilnya nihil. Dia masih seperti yang dulu.ini kamu Mira. mengumpulkan uang. Mas Kar….“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak.” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. “Oya Mir. Usia baru genap berkepala tiga. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas.. Aku akan membantumu. terdengar suara lelaki itu. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku. Ada hal penting yang harus saya sampaikan.” “Saya. “ . Mas Kar rupanya tahu diri. Mas Seno sedang kerja di Jakarta. Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya. “Kamu masih secantik dulu. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya.” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan. Sebenarnya aku enggan menghubunginya. Dirawat di rumah sakit. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya. Tapi karena aku sadar diri. aku malu bertemu dengannya.” “Tak usah khawatir Mir. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas. “Hallo.. Anak ibu harus dirawat di RS.

Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya.” “Tapi bukan yang satu itu.“Saya sudah melupakannya. 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. Bajuku. Mas?” “Suamimu tak akan tahu. fiksi dan puisi. Mungkin karena aku terasa capek. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Utuh. 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir. 2011). Suara Pembaruan. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku. Mas. Mira dengan senang hati menolong Mas. Pusing itu masih terasa. Kartini dan Annida online.. Aku…aku masih mencintaimu.”. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT. Percayalah kamu masih utuh.” “Saya menyayangimu. Aku juga seorang ibu. 2011). Mir. Dalamanku. atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku. “Kalau Mira bis menolong.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. 2011) .” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. Kamu wanita dambaan lelaki. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku. Tulisan latin Mas Kar. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku.” “Apa maksud.” “Baik kalau itu keinginanmu. Aku membuka mataku perlahan. Karya penulis pernah dimuat di Sabili. Oh…. Rangkain tulisan rapi itu kukenali. Aku sudah istri orang. Lembut dan penuh perhatian.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi.” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas. Saya berutang pada Mas. Tubuhku. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias. Kamu adalah istri setia. Aku yang masih menyayangimu Mira. Suara Merdeka. Berulang-ulang kau membaca memo itu. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. Mir. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. Yunior. antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra.

Aku percaya. Sungguh. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Wajahnya tetap murung. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Badanku rasanya gerah. Emily. tapi tidak ada keringat yang keluar. Ada banyak lelaki di dunia ini. setengah histeris. ya? Aku jadi penasaran. Tampak olehku. dia bisa mengistirahatkan pikiran. menyembul butiran air. Hidungnya tampak memerah. Sesekali. Dia membalik tubuhnya. dia terbatuk-batuk. “Din. begitu pula sebaliknya. seperti kijang. kamu tidak usah khawatir. Wajah sahabatku tersayang muncul. dia tertidur. dia bertanya. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. hatiku seperti diremas-remas. hati. di suatu waktu. Teruslah memintal harapan. Barangkali itu bisa menghiburnya. Aku khawatir. Dia mengusap pipinya yang basah. Dengan lirih. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. Kali ini. Ada apa dengan Emily. Udara serasa mendidih. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. janganjangan dia menangis lagi. Setidaknya. Rupanya. Aku jadi sedikit lega. Aku melihat ke luar jendela. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. aku tidak tega melihatnya. Emily. sementara gerak kakinya ringan. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. Hanya saja. Sayang. “Aku tahu. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. Setengah jam kemudian. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. Di sudut matanya yang redup. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Aku semakin tidak tega melihatnya. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. Pelan-pelan. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. zaman sekarang ini. Hap-hap-hap. jadi memunggungiku.Perjalanan Dini Senin. wajahku tidak cantik. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah. Emily diam. apakah suatu hari. menuruni pipinya yang berjerawat. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. Wajahnya kelihatan berseri-seri. Aku ingin berlari memeluknya. Aku jadi kecewa. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. Sahabatku yang malang. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. Tapi kenapa sih. Melihat keadaannya. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. lalu mengajaknya bicara. Tidak lama kemudian. batinku. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. Aku ingin menciumnya. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. sekedar memberikan hawa sejuk. “Din. Jadi. dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. karena tidak bisa melihat wajahnya.

.perbuat. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. “Hari ini. wajahnya juga berubah lebih menarik. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. Kulitku kusam dan hidungku pesek. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Tapi ternyata. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. Pulang sekolah dia selalu pergi. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. mirip orang Eropa. Jelas aku kalah menarik dari mereka. Tidak ketinggalan. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana. Bola matanya berputar-putar. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. Aku terlalu menyayanginya. sejak pertama kali MOS.” Emily mendengus. aku pasti menangis tersedu-sedu. Belinda. Natasya. Sayang. Teman-teman selalu mengejekku soal ini. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. Aku mendadak deg-degan. dan rambutnya cokelat panjang sebahu.” panggilnya lagi. “Apa aku salah. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. Dalam pandanganku. dan seterusnya. “Tanpa pikir panjang. Kalaupun bisa. Kalau dipikir-pikir. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi.” lanjutnya. Emily diam. Dalam bayanganku. Karena begitu semangat bercerita. meski dia mengabaikanku. apapun risikonya! Soalnya. aku bingung harus bagaimana lagi. baik soal make up maupun pakaian. mengajakku ngobrol. Din?” Menurutku. Coba kamu pikirkan lagi. Wajah-wajah mereka cantik.” Emily berhenti sejenak. Roni namanya. dia sudah tertarik. Begitu lama kehidupanku dengan dia. Mungkin dia sedang berpikir. Katanya. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. aku tidak bisa membenci Emily. turut berputar. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Dan pada saat yang sama. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. Kedua tangannya diangkat ke samping. dia nembak aku. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. Jerawat dan komedonya sudah hilang. aku langsung menerimanya. Yang membuatku heran. dia langsung memeluk dan menciumiku. semakin lama. sejak pertama melihatku. kamu hanya akan disakiti olehnya. Sayangnya. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. dia seperti hampir lupa bernapas. Tapi dugaanku mengatakan. Matanya lebar. Emily sekarang jadi genit sekali. Emily justru memutar tubuhnya. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. Ada apa. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat. Waaaaah.” Emily tersipu-sipu. Dia menutupi kedua belah pipinya. Aku tersenyum geli dibuatknya. bukan karena cinta. “Aku tahu. menengok teman yang sakit-lah. kulitnya putih susu. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. hidungnya mancung. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu. semakin memperburuk penampilan luarku. hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. ke toko buku-lah. perkiraanku keliru. Tiba-tiba matanya membesar. Kamu mau menerima Roni. Ada Sisca. Setelah kucermati. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. Dia tidak pernah lagi mendekapku. “Din. Aku terkejut. Emily tidak mempedulikanku lagi. aku jadi GR mendengarnya. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Roknya yang mengembang. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Sayang. Tapi kemudian. Cecil. “keputusanku ini terlalu mendadak.

karena dari dalam karung. “Nah sekarang. tanpa ciuman. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. Aku diam. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar. aku sudah sampai rumah lelaki itu. Aku terus tersenyum. Gimana. anak pemulung itu. riang. sementara Emily tetap saja membisu. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. “Maafkan aku. Aku merasa dingin. Bapak ambil saja. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. “Tahu nggak. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. ya?” ujar Sumi kepadaku. Kepalanya bergerak. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. “Waaaaa…. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. Hatiku tenang. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. kamu senang. Jadi. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya. senyumnya manis. dia tidak bicara. lelaki itu bertanya. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. hari ini. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. sudah berkurang. Bapak pikir. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. Namun. ‘kan?” “Senang. Dia memandangi dengan seksama. Emily memilih mereka. Semuanya cantik. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Dia segera menggendongku di punggungnya.” Betul. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. Entah kenapa. 20 April 2012 . Purwokerto. dia mau menerima keadaanku apa adanya. “Lho. Bibirnya tersenyum.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Manis sekali! “Wah. aku merasa nyaman. Pak!” seru Sumi. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. Ya. Selama perjalanan. Aku harus melupakan dia. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. Aku memang hanya sebuah boneka. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. “Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. tanpa pelukan. lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. anakku. “Sumiiii. dia bertanya padaku. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. kalau lima bulan silam sambil menangis. Rasanya. dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. dia sempat berbisik. kita bersahabat. Mungkin. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu. biar bisa jadi teman main kamu. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. dia Sumi. Aku harap. persahabatan kami bisa langgeng. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk. Dan tibatiba.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. Sebelum pergi. Lelaki itu tersenyum. Din. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. Aku bahagia. Apakah dia sudah lupa. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. Bagus. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Oleh karena itu. tapi tidak kuasa menggigil. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. sudahlah.

Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Sangat menggoda. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. Gurih sekali. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. Itu pun lebih disebabkan propaganda . Kalau begitu. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. Jika Anda tidak keberatan. Empuk sekali. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. salah satu agendanya adalah bedah novel. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. kan?” Di seberang. batinku. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. Karena aku bukan novelis. Sang Penulis. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. Sumpah mati. Seperti biasa. Fakultas Sastra. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. Kaidah anak sastra ‘kan begini. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. “Tapi ngomong-ngomong. sebagai penulis atau pembaca novel itu. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. “Kenalin. ketika sebuah karya selesai ditulis. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Bukan pula cerpenis. saya bukan lagi penulis novel itu. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Alia tertawa. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. saya Alia. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis.” Hmm. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu. otomatis pengarangnya mati.

baru aku bilang edan tenan. Bagiku. sama saja. “Minggu depan. puisi itu ‘kan harus padat. prosa. baru selesai satu paragraf. Sama tidak enaknya. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. Begitu seterusnya. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. Roni mungkin benar. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. pasti terguncang-guncang. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman. Alangkah sakitnya menjadi Clara. Terlalu tergesa-gesa. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. dalam beberapa hal. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. Edan. Mau pegawai negeri atau swasta. aku sudah gatal untuk mengeditnya. soal sastra. Berbeda dengan prosa. kuputuskan untuk menyerobot buku itu. okay. sambil tiduran. Bukan karena termakan promosinya. “Oya?” “Begini. kurang lebih jawabannya begini. menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. maksudku. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Saking edannya. Aku justru tidak suka caranya beriklan.” “Ber-aa-ii?” “Berima. yang bisa dilakukan kapan aja. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. dan karenanya enggan kugeluti. Pelit kata-kata. Tunggu saja. bahkan diperkosa. Sudah indah apa belum kedengarannya.” Tapi rupanya. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih. Gila. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. Dan. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. Roni. dibakar mobilnya.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis. puisi. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa. Tidak meyakinkan.” . Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional.” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. sudah cantik apa belum bahasanya. Rayuannya kurang “maut”. Nah. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. aku sudah terbiasa menulis puisi. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. jangan-jangan. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen. malam nanti mungkin giliran Saman. yang bikin kita mikir. Pretel-pretel.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. pasti terkaget-kaget. Setiap kali mulai menulis. Hemat. Mengandung unsur bunyi. Serupa motor kehabisan bensin. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita. sekaligus tertib ber-aa-ii. sambil nongkrong di balkon. sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. Dan.seseorang. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. cinta setengah mati pada dunia sastra. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli. Terkadang cuma untuk memastikan. Karena kenyatannya. Tentang minatnya pada dunia sastra. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. nama orang itu. Jadi. Seperti mobil terendam banjir. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan.

menulis cerita perihal Roni.” “Terima kasih. Bukan sematamata karena (hhmm. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil.” Aha. Tidak salah lagi. ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. hampir dua tahun dipacarinya. Ingin menampar. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum. Yang pasti bukan ke arahku. Angin dingin segera menyergap. Dan lihatlah. “Terima kasih kejutannya. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. aku cuma bisa bilang. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal. Titik. Nah! Itulah sebabnya. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer. “Aku kan sudah bilang. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. Hidung bangir. Awalnya kupikir. ia selidiki. Tapi semakin kutatap semakin kupandang. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan. Setiap detil ia pahami.” “Oya? Di mana?” “Maaf. Sampai jumpa tanggal 25. Sebuah undangan yang. Sangat menggoda. Jangankan novel. “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Duduk sendirian. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. Atau paling banter. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. Tak lama kemudian. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu.Ya. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Untuk menebalkan motivasinya.” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. sungguh mirip pizza. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. Muka tirus.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. Ingin menerjang. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. ia muncul mengajakku makan. di mana seluruh ide novelku berawal. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman. Tiba-tiba sudah jadi buku. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . Cuma berteman secangkir minuman. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata.” ♦♦♦ TANGGAL 25. perempuan yang saat itu. Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. Dan. Atas saran Alia. seperti kubilang sejak awal. Padahal telah dicobanya segala cara. biografi seorang (calon) penulis yang malang. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. Pandangan matanya mengarah entah ke mana. kejutan selalu muncul belakangan. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. Rambut keriting.

” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. Banjarmasin Post. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. seperti yang ia cita-citakan. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Reuni? Ah. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. kulumat saja kenangan-kenangan itu. Ron? “Mbak Shinta.” “Celakanya. novelku belum selesai juga. tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. Cerpen . Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Gulukguluk Sumenep (Madura).” “Tapi sialnya. Ke kafe ini. Bukan semata-mata dari kafe ini. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. Meski terkadang aku ingin. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. aku bergegas pergi. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga. Sari-sarinya kutulis diam-diam. Dan.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. Jawa Timur. ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Aku orang kampung. Pada 1998. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. 7 September 1980. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku. Santri. harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja.” tiba-tiba Alia mengetuk meja. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang. MPA. Bahkan hingga sekarang. memang. Sampai mewujud jadi novel. Meski mungkin ia mau. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. Kukunyah pelan-pelan.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu. padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. Ke reuni ini.

" “Ooo. Seharusnya aku percaya pada ayah. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah. seharusnya waktu itu aku . Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu. “Bagus juga ya.” ujar Vira tersipu. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan.” Amri membanggakan mainan barunya. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. Selang beberapa menit.” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah.” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. “Mana biar kulihat.. Tapi. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu.. “Ya. Vira." “Ya.” Ishak tersenyum pada putrinya. “Ayah terlalu berlebihan.. “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren. sayang. aku tetap putri ayah satu-satunya. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD.. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira. kamu tunggu di sini. Lalu memberikannya pada Vira. dan asri karena penuh dengan tanaman hias. menggigit bibirnya.” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu.” Vira memeluk boneka itu erat-erat." Vira menundukkan kepalanya. Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya. Kemudian.. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain. Putri Ishak. aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. Tak perlu dipikirkan lagi. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. Ishak.. Terima kasih ayah karena telah menemukanya. “Dulu aku begitu jahat pada ayah. lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya. Tapi. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh.” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. di kebun bunga-bunga hias. “Maafkan ayahmu ya. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering. kenyataannya aku tetap darah daging ayah. Di atas meja. putra kita.Mekar Dalam Badai Senin.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah. “Semua itu sudah lama terjadi.ini ambil lagi mainanmu. kau benar. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. Ishak menghela nafas panjang.” Vira mengambil mainan Amri. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. duduklah seorang lelaki tua. “Tapi. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. “Ibu. Amri. Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah.

. Dia tidak mengetahui kalau.. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai.. apa yang harus kulakukan. ia menatap pada Ishak. “Oo. Ayah. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut. Sophian. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya. ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. Bersama Vira. . Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu. “Dulu.” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya. Sophian duduk di kursi kayu. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa.lebih sering berada di rumah. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran.. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. yang ingin bertemu dengan neng Vira. gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku.” Sophian tersenyum simpul pada Vira. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku. Tapi nyatanya. “Maaf pak. Kemudian. “Ini yang namanya Amri ya. imut sekali. Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku.. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. namun ia tidak mampu. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira.. Namun. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda.” kata Ishak bersemangat. Di beranda rumah. berada di dekatmu. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi. mang Husni mendatangi mereka. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya. aku adalah.” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. Di beranda rumah. Kemudian. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian.” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya.. pembantu mereka. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. menghela nafas dalam-dalam. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak. Ada tamu yang bernama Sophian. Baju dinasnya terseterika dengan rapih. “Oo Ayah. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya.” Vira menundukkan kepalanya. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. Amri datang mendekati Ishak. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. Vira menghela nafas panjang. ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. ketika kita pertama kali bertemu.” kata Vira. mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni. penuh kesopanan. aku adalah.?” Sophian penasaran. bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab.. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah.” kata mang Husni dengan nada suara lembut. Ia memandang penuh harap kepada putrinya. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. “Bahwa. Kemudian.. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri.” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sewaktu mereka berdua berbaikan. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya. Pada masa itu.. kemudian menundukkan kepalanya. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. lalu tersenyum padanya.

“Jangan kau cemaskan itu. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian.” Vira tersenyum merasa lega." “Ayo yah. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. Sophian. Janganlah terlalu kau pikirkan. “Sudah empat bulan kita berhubungan. apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah.” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya. Akhirnya.” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja. RT01/RW07. Aku harus segera pergi sekarang. dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya.” “Dia memang tidak pantas bagimu.. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Setidaknya kita bertiga saling memiliki.” tak ada semangat dari nada suara Vira. satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan.” kata Vira. Serang – Banten. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. Cinanggung. mereka bertiga meneruskan langkah mereka. Kini tinggal di Komp. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf. Kel. selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu. “Oo. “Menurut Ayah. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini. ia sudah melupakan kesedihannya. Sekarang. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil. .” Sophian segera bangkit. 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. Dengan sekejap. kita main lagi. itulah yang paling berharga. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang. Kaligandu. Sambil bergandengan tangan. Pemda Blok A-8. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira. 30 Agustus 1985. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya. Dan sekarang..“Maafkan aku. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. Ia menundukkan kepalanya. Aku tak bisa menerimanya. “Ayah benar. toleransi terhadap semua kesalahan orang. berjalan memasuki rumah.” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. tak menggubris Vira yang memanggil namanya.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah. engkau mengatakan kebenaran ini. “Kurasa ia takkan kembali lagi. merasa sedih karena telah dibohongi.

apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. Dengan sebal. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. Tanpa menunggu jawaban suaminya. “Kamu ini lama-lama cerewet juga. Si Narti bilang. memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. Mbok Mini menarik nafas panjang. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. berisi dipan kayu lebar beralas tikar. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. aku kok jadi kuwatir. sudah bengkok. Kang Narto. Namun. ia meneruskan.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. Tak ada perabot lain. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. geram. “Iya Kang. suaminya. nanti malah bikin repot orang. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. kalau ndak giat kerja siang malam. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya. antara marah. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. kesal. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak. Ia menyipitkan matanya. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. “Aku malu. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin.” sambung Mbok Mini. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. yang senantiasa menyemangatinya. “Eling Kang. Kang. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. Pernah suatu hari. Bener ndak. perasaannya campur-aduk. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu. ujarnya sambil menangis. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. sekarang mata itu justru mengabaikannya. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. sampeyan ini sudah tua. Tatapannya terlihat sendu. . Dan sejak itu. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. aku ngerti. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah. Sambil menghela nafas panjang.

“Begini Mbok. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah. meski tenaganya hampir habis tak tersisa. Hingga suatu sore. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang. apalagi menegur suaminya. sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. bahwa Kang narto. Ika Winterholler Nürnberg. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti. kesehatan Mbok Mini mulai menurun. “Akhirnya sampeyan pulang juga. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak.. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. Mbok. Kang. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu. “Mbok. sentirnya ndak dinyalain. Mau nganterin becaknya Kang Narto. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat. dielusnya benda itu dengan penuh kasih. membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut.2012 . ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus.09. Namun. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko. Keduanya mengangguk dengan pelan.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. sampeyan di dalam? Gelap amat. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. “Aku Gatot. pria paruh baya itu terbata-bata. lalu memandang ke arah rekannya. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya.“ bisiknya lirih.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. Dipandanginya becak itu sejenak. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya.“ seru pria yang satunya. tetangganya sebut.”. “Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. Kami mau ngasih tahu. 24.

“Justru karena aku tahu kau peduli. seperti menari-nari kegirangan. “Aku sudah mengamatimu lama. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu. Kau pohon dan aku manusia. mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. . hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. “Tentu saja.” sela suara yang sama. garis hina. kering. memandangku dengan belas kasihan. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya.” jawabku terpotong-potong. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku.” cerita Beringin tua. Seingatku pohon itu dulu rimbun. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. Aku memang hidup di garis bawah. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu.” kutegaskan permintaan maafku. tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. kukira kau tak mengerti yang kulakukan. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. Senja itu. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu. “Maafkan aku. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam. dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain.” jawabku asal bicara. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin. segar. melainkan dipindahkan saja. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun.

" Jawab Beringin tua. Aku juga paham teori menjaga alam. Dengan badan yang tertusuk paku. “Ya. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. tentang populasi. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung.” tambahku. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. Kini alam mulai mengancam.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. saat aku masih kecil. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. “Hei. tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. Tapi kali ini aku sedang buru-buru.” Beringin tua merintih. memelihara lingkungan. "Baiklah. Kau tahu kan. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan. *** Dulu. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. Setelah cukup lama. aku usahakan untuk mencopotnya. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini. berusaha meneduhiku. “Biar aku teduhi tubuhmu.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. Aku amati batangnya. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. Dia tergusur oleh pembangunan. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku. pada manusia. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. yang memasang paku ini. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. zaman telah berkembang. atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. Keadaan memang sudah berbeda saat ini. ya itu suara Beringin tua. aku sering bermain di sini bersama teman-teman. udara semakin sesak oleh polusi. juga tentang keberlangsungannya. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. Tentu saja aku menjawab iya. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. “Maafkan dia. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. dia hanya lalai. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku. tunggu sebentar. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi. “Aku kesakitan. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. Segera aku berpamitan padanya.“Boleh jadi manusia lebih bangga. Orang tadi. menempel entah apa di badanku!” terangnya. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. . terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku. Aku mulai sadar.

Aku mulai berpikir. Tapi aku tetap bisa berusaha. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan.” kataku. semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. saat itulah alam menangis. Ya. Sontak aku membayangkan. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. Mana bisa dia mencengkeramku. Beberapa bulan kemudian. Tergusur. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan.” tegas Beringin tua. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman.Tersentak aku. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. tidak menginjak tanaman. “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. Proposal yang aku ajukan disetujui. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. Burung-burung bersarang di rantingku. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri.” Air mata menetes di sela penjelasanku. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku. “Sudahlah jangan murung. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. bagaimana jika hidupku yang tergusur. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. hanya itu saja. Bukankah memang benar kata-kata itu. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. Akan tetapi. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. menyesali daundaun hijau yang mengering. peduli pada alam yang memberinya hidup. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. ulat-ulat memakan dedaunanku. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. Akal pikiran dikaruniakan padamu. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup.” kata Beringin itu. Tidak serakah seperti kaummu. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . Aku tidak tega membiarkannya menderita. menyesali akar-akar yang musnah. sementara hasilnya samar. menemani dan menjadi tempatku berbagi. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. tentu kau bisa memanfaatkannya. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. seperti dia paham akan kegusaranku.” ujar Beringin tua. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. “Beringin. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam. Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu.

Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu.” Dia menimpali kata-kataku. yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. tubuhku mulai mengurus. tapi aku bisa merasakannya. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya.. tentu sudah kurobohkan semua itu. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. hanyut bersama harta benda penduduk. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini. Sementara itu. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya. “Sebenarnya samar sih. “Aih. “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. “Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu. Kalau saja aku masih kuat.” . menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis.” Ceritanya berlanjut.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. Ya sekarang tinggal pasrah saja. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. Sahabatku! Aih. kami korban banjir Kali Cisari. aku sudah putus asa. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. “Bukan begitu. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku.” Aku mulai bicara asal. “Kau sudah lakukan yang terbaik. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. Kurasakan tubuhku semakin melemah. membagi perasaan suka dan duka. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. Penduduk yang tamak. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia.” Beringin tua mencibir.” jawabku singkat.” Papar Beringin tua. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran.” Tegas Beringin tua. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. *** Hari ini 20 Januari 2012. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. “Sabar Beringin.. Hasilnya bisa kau lihat sendiri. biarkan mereka menikmati keserakahannya. Selalu membagi cerita. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. “Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. serakah. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali.” Beringin tua mulai balas bercerita. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. Tentu bisa ditebak. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan.

Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. tapi mata tak ada isyarat lelah. menjelma Malin Kundang. Namun. membuat iri. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. adegan berpuluh tahun silam melela.” suara Bunda tercekat.” Seperti biasa.Selepas kesedihan ini. Pesan itu terngiang kembali. 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. Cerpen Pesarean Kamis. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir. Lima tahun. kamulah satu–satunya anak Bunda. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah. jangan hiraukan Bunda. Rasanya tak pantas berkunjung. “Le.” “Iya Bun. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya. Salah seorang sepupuku berkhabar. Dengkur teman satu sel menggema. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. Gelisah meraja. Senyum manis yang selalu menahan getir. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. Apalagi hujan baru tercurah. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta).pora menghisap darah di tubuh kering ini. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. mata tua itu berlinang. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta. Lanang janji. “Berangkatlah. bangkitkan hawa malam atis menggigil. . Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. ia bersedia menampung untuk sementara waktu.

Lina. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. mencari istri itu bukan seperti membeli barang. menembus labirin waktu. “Jangan kuatir Le. demikian sebaliknya. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian.” Kutatap sorot mata Bunda. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. Melangkah ke kamar. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah. Aku hanya terdiam. seolah pintu regol rumah Eyang .”desahku setengah berbisik. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga. derajat kita tak sebanding dengannya. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah. Kututup pintu.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini.” “Bunda. Wajah itu semakin dipenuhi keriput. Seperti kisah dalam roman picisan. Tatapannya begitu lembut. sebagai seorang laki-laki dewasa. Namun rupanya belum ada hasilnya. Seiring waktu berjalan. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. terlepas dari genggaman. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. Bau debu mengepul. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. Bunda beranjak. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. “Kalau boleh tahu. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. Betapa bangga Bunda. “Nang. kini menjadi pacarku. meninggalkan sensasi khas kekeringan. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil. Biaya kuliah ‘kan mahal. Orang Jawa bilang harus jelas bibit. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat. terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. “Ah. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya.“Tapi Bun…. aku segera mencari pasangan hidup. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. Serasa ada sesuatu yang hilang. yang berbeda tabiat dan kebiasaan. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang. dielusnya rambutku. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. sehingga bila mencari menantu harus sederajat.” Bunda memulai perdebatan kami. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. “Justru karena Lina begitu tinggi Le. “Kamu masih terlalu hijau Le.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. Gusti Allah ora sare Le. jika umatnya selalu berusaha. **** Masa begitu cepat berlalu. “Lho.”selaku menunggu reaksi selanjutnya.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. Lanang sangat mencintai Lina. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. “Iya Nang. kenapa diam Le. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. bebet dan bobotnya. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas.

kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. “Jangan kau ungkit masalah itu. toh tembok karang itu tak jua tergerus. walau terjangan ombak datang setiap saat. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap.” suara Lina lembut. adik ayah. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. anak lanang satu-satunya ini. ia akan pergi sendiri. Pikiranku berkecamuk. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. mukaku merona. titik!”sergahku sengit. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. termasuk istri pejabat. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. Sabar ya. tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku. “Sudah berapa kali aku bilang. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina.” terdengar suara mengagetkan kami. Simbah Nyai. menumpahkan rasa.” kuremas jemari lentiknya. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya. jangan bawa makanan ke rumah Romo. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. “Bunda memang menantu yang baik. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas.” Bunda memandangku sendu. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. bahkan disaat kritis sekalipun. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. bergelut hebat. Masih membekas dalam ingatan. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. Di kota pecel Madiun. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. Menurutku usahanya adalah kesiaan. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak.” “Iya saya tahu. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. Sayang. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu.” Ayah menggumam. separuh nyawanya telah tercerabut. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. Jahitan Bunda rapi dan halus. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. “Mas. Air jeruk tertumpah di kemeja. tapi apa sambutan mereka. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. cinta pada pandangan pertama. “Tapi Mas. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. “I…iya Lin. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya. Hanya cibiran saja yang kita terima. . Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. Mereka berasal dari berbagai kalangan. matanya sembab. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit. tapi cukup membuatku tersedak. toh aku bukan anak kecil lagi. sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan.

“Aku berangkat Mas.” Kupeluk Bunda penuh keharuan.” Aku bersikeras. Tangisan Anisa terdengar dari kamar. aku mau ke rumah Mbak Dini.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa. diam dalam ego masing-masing. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. seminggu. bukankah ini kemauan Lina sendiri. Yang menjadi korban tentu saja Anisa. seolah penuh tekanan yang menghimpit. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. besok. Perselisihan makin meruncing. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. Mbak Dini sudah menunggu. wajahnya berseri.” jelas Lina pendek.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk. terkadang melalaikan urusan rumah tangga. Demikian pula yang terjadi dengan kami. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini. kakak iparku itu. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun. Kasih keputusan segera. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. terburu kuhampiri. masalah sepele bisa membesar. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu. Celananya basah. “Oke Lin. dapur dan tempat tidur. jangan jadi suami kolot. tak perlu kita berdebat soal ini. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. “Sudahlah Mas. Duniaku hanya seputar sumur.“Secepatnya itu kapan Mas. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya. Bunda mau bilang apa.” Senyum Lina merekah seketika. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. **** Tiga tahun berselang… “Mas. “Lanang telah berketetapan Bunda. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan. “Iya Mas. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. Benar kata bijak. Mas ‘kan lakilaki. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. bagai prajurit yang menang di medan laga. Dandanannya begitu rapi. Bagai api yang disiram bensin. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. Ia mau membuka butik baru. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali. Lain kali masalah ini kita bahas lagi. melebar ke mana-mana. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. Nafas menghembus pelan. kubersujud di pangkuannya. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. aku sudah bosan tinggal di rumah. Ini jaman emansipasi wanita. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. meninggalkanku yang tercenung tak percaya.” “Apapun alasannya. membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya. Kali ini begitu berat. “Ke rumah Mbak Dini lagi. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. segera kuganti. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. “Iya. Ia tidak membelaku. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. Semoga memori . Lho. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa. kutatap Bunda mencari kepastian. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak. sebulan atau setahun lagi.” Lina berkata seperti tanpa beban.

Memang ada pengasuh. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas.” “Enggak kok siapa bilang. “Mas. Bunda tersenyum kecut. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap. “Maafkan Bunda Nang.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru. . Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya.” aku masih mencoba berkelit. samar matahari tergelincir ke barat. Bunda sudah tahu semuanya. Demi Anisa. Aku. kuletakkan kembali. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. “Wis tho Le. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. akhirnya tercium juga. itulah nama Bunda. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. Aku yang pegang kemudi hilang kendali. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. sedangkan ibunya tak begitu peduli. Ya.” “Apa kamu bilang nggak cukup.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. Aku ingin hidup layak. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan. Mataku mengerjap. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi. mobil kami masuk jurang dan terbakar. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu. Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. “Nang. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. tak bisa diganggu gugat. Bunda. aku tidak akan meminta bantuan Bunda. seperti syair lagu lama. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita. “Lho kenapa Bun. Bunda mengangguk pelan. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan. Malang. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. Roti tawar yang siap masuk mulut. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan. Bunda mau balik ke Madiun. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi.

Masih ingatkah ia padaku. adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Selamat tinggal Bunda. Sebagai seorang suami. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. Sungguh. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail. walau dunia kita telah berbeda. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. Pasti cantik seperti ibunya. 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. aku begitu mencintai Lina. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. Sekarang tinggal di Depok. kuburan 2) Bibit. semoga keajaiban sudi menghampiri. Semenjak aku menjalani hukuman. Penyakit asmanya sering kambuh. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu.com. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16. kesehatan Bunda menurun drastis. Aku heran ada anak kecil seperti itu. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. ingin rasanya gantung diri waktu itu. Hatiku hancur. Sumpah demi Tuhan. Lanang janji! Rumah Hijau. HP : 081317500341. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. Sudah seberapa besar ia sekarang. Hisin Jentik yang memberitahu aku. tapi malah akrab .Segera setelah keluar dari rumah sakit. Besok aku akan menemui putriku Anisa. Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Bekerja sebagai PNS. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. Hari ini.

Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. dan mendapat giliran untuk sembunyi. Tak mau tahu juga cinta itu . Beruntung. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. Tapi semua bukan salahku saja. “masih kecil untuk bicara soal cinta. Si Buta dari Goa Hantu. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana. “Hey. di bawah ranjang. aku langsung tahu apa maunya. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil.” Karena. Kawin itu nanti kalau sudah besar. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami.” katanya penuh jumawa. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. Nama tokohnya. Ah. Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang.” kataku. sore-sore. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. mungkin karena malu. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin. “Aku dipaksa dia. ibuku datang membela. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau. Sebelumnya. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. “Dia jagoanku. kupikir. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. tidak boleh masuk sembarangan. itu ‘kan binatang?” tanyaku. “Tunggu di sini sebentar. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. Kurasa. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. Jadi. menghardik aku habisan-habisan. Aku tak habis dimarahi ibunya. suatu hari. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. Iren yang genit seketika menarikku berlari. *** SEJAK itu. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. “Kita ini.” kelahku membuktikan fakta. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Sewaktu kutanya lagi. cinta itu kawin. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku. kami bertetangga. dulu. monyet!” jawabnya. Ya. Kukira.dengan binatang. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. Saat Iren buka celana. “Iya. menunjukkan rasa marah. main petak umpet.” sahutku. lewat kalimat yang sangat kasar. Namun.

ruas tulang jari tengah tangan kanan. Tangan ini digebuk oleh guru. baiklah kutulis surat saja. sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. panjangnya 500 centimeter. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. sejak itu. guru yang baik. Sampai sekarang pun juga … Tapi. tetapi mendongak. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. namanya penderitaan. dan yang duduk di kelas lain. betapa kuat. Alatnya memukul adalah mistar kayu. Buku jarinya ada di atas. gambaran. dua bangku. Kalau melihat kawan sebangku. Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. . SD kelas 1. habis menulis. Kawan main bola. Karena Iren telah memberitahu aku. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. “Kawanku. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. aku menulis pakai tangan kiri. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. Aku punya banyak kawan. Kanan bukan tangan yang baik. Alhasil. Maafkanlah aku ini. berenang. Itu yang kusukai. dan kawan berkelahi. waktu pun berlalu. layangan. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. Tangan yang jadinya sedikit memar. Ah. dulu) Semula. Karenanya. akibatnya. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. kasti. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran.seperti apa. Dan. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. hm…hm. Berapa besar. Penggaris. pingpong. aku meringis selama seminggu. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya. apa boleh buat. Hanya itu. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. menimbulkan derita tersendiri. Keringat pasti tertitik di dahi. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. saat pindah rumah dari kampung kami. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. Aku tak menunduk. tanganku selalu ingin menulis saja. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”.” Matanya itu. rasanya tidak enak. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. saat melangkah masuk pintu kelas 1. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. Hari pertama masuk SD kelas 1. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. Sampailah rekornya. sungguh … Dan. Sengaja kupandang lekat. yang kira-kira setebal tiga centi. (Sungguh.

percaya Mama. Lalu. "Mama. Dek. "Kapan. pintu-pintu kita buka. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan." tegur Avis. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun. tak lama lagi cekung." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. 27 September 2012 11:13 wib "MAMA. "Mama yang nungguin. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik. Hisin Jentik. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. Yang memberitahu aku.Sejak itu aku menyukai mata pena." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. Kata Hisin. Dek. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang.*** Fort Rotterdam." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. ail hujannya netes lagi. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. Ma?" "Mama belum tahu. Matanya sudah sembab. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku.

Kusibak korden kamar. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku.ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah.Avis jangan memendar kemudian menghilang. Aah. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. Pelan. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku. si kecil Avis masih menikmati tidurnya. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. Entah dari mana. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. Kini makin memekakkan gendang telinga. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. Pintu depan rumahku masih tertutup. Suara jangkrik sudah berpadu. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini. Plokk. Meski terbang agak lemah. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana.. Larry. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami.. menjadi santapan cicak-cicak.. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang. "Kun fayakun. Depok.menyikut ujung-ujung kayu pintu. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi." Larry. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati. Innallaha ma'ashobirin. Berhasil..hujan sudah mereda.. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu. menceburkan diri ke air. "Sabar dan sholat. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis.. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Plop. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. siku jendela hingga kaca. kelopak matanya terpejam. Linangan air masih ada. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya. Larry tak bisa memilih takdirnya. ataukah digotong sepasukan semut rumah. Belum terlihat. Drrtt.tik.. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari . Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang. Tik. teriakku.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku.drrt." tepuk sebuah tangan di pundakku. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry. Kemudian menjemput takdirnya. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah.leganya.. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. tapi sudah bertanda.

Cerpen Fragmen Puisi Senin. Aku kehilangan akal sehatku.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. Dan. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. aku sedang sibuk. Betapa tidak. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. Kemanapun kau pergi. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. aku merasakan malam yang tidak biasa. Tetapi. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu. kegelisahan selalu menyeruak. Dalam perjalanan pulang. Kata orang kita sahabat yang karib. Kau bilang. Namun. Tapi. Aku selalu menuruti perintahmu. Aku berpikir tentangmu. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. PUISI #4 . Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit. Aku memang suka menulis puisi. PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu. Sejak kecil dulu. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. Dan.” Impian mentraktirmu sirna sudah. PUISI #2 Malam itu. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. “Wah. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. Kau yang pertama kuhubungi. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. aku baru saja pulang dari rumahmu. Tetapi. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. Ya. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. kukira. Sama halnya dengan menulis puisi. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. Dan. Malam yang penuh dengan kegelisahan. nanti saja kau telepon lagi. “Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. sungguh. Namun. Dengan segera aku meneleponmu. aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. kita selalu bersama.

iya. kau tahu itu. Kau kalah taruhan. bahkan tidak pulang sama sekali. Sepanjang perjalanan. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. Kau sering dimarahi atasanmu. Kudengar. Sebetulnya. Bisa kau bayangkan. Aku tahu itu. Sering kujumpai kau pulang pagi. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. Tetapi. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. sahabatku. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. Padahal. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Ah. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. Kau tarik kerah bajunya. Kulihat wajahmu merah padam. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. Kusampaikan keinginanku padamu. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. aku pun juga kangen kepadamu. Maaf. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Menurutku. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. Tapi aku tidak bisa. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Semenjak itu.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. Kutahu. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . Namun. betapa bahagianya aku kini. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. Istriku yang cantik. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. setidaknya membahagiakannya. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Sebab. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. Layang-layang itu punyamu. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. kau berkunjung ke rumahku. itu bukan tindakan seorang lelaki. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu. dan kau merestui niatku. Namun. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Suatu hari. yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. kau sering memukul istrimu. di tepi danau. Melihat kau yang sudah beristri. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. Malam itu.

Istrimu yang sering mengeluh padaku. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Kupikir kau telah mati di tempat. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. kau tidak pernah marah. . Tapi. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Nomor ponsel (085721904020). Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. Belakangan kutahu. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. kalaupun kubuat. Namun. sekali lagi maaf. aku mendengar tawa istriku yang renyah. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. malam yang hening dan muram. kecepatan yang tinggi. Kau tengah bersama istriku.com/. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. Maaf. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. kau mabuk berat di sebuah bar. Namun. Istriku yang cantik. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati.istriku.blogspot. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna. Sesampainya di halaman. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. Tetapi. Hingga suatu saat. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. Kematian terlalu cepat menurutku. aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. Bandung. Dalam pikiran yang terus berputar. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. 29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. Akh. Sahabat yang kukenal sejak kecil. Kau pun terjerembap ke selokan. istrimu pingsan. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Aktif menulis dan bermusik. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku. Dengan berat. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. aku menjalankan mobilku dengan gila. Ia memintaku untuk menjemputmu. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. kenapa kau harus menyeberang malam itu. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. Aku ingin segalanya serba rahasia. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. Dalam pikiran yang terus berputar. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. Anak-anakmu menjerit hebat. Perselingkuhan. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. PUISI #10 Kau terlanjur mati. Katanya. Beruntung. aku menjemputmu. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku. Maaf. Aku hanya diam.

Tiba-tiba dia menangkis tanganku. aku keluar kamar. Namun. Ketika menikahi dia. Tetapi. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. sama seperti anggota tubuhnya yang lain. lidahku kelu untuk mengatakannya. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. “Makan. Dia tak bergerak. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. Air pun muncrat. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. makan dulu. aku beringsut ke kamar. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. akan tumbuh . Pak. ya. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku.” Kuusap buku jarinya yang kisut. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. Kedua alisnya bertaut. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua.” Kubantu dia duduk di ranjang. “Ha. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. Dengan sadar. Minum?!” Kuulurkan gelas. Seperti biasa. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. karena kapuknya telah mati. Laki-laki yang malang. Dengan malas. “Pak. ya? Sebentar aku bikinkan lagi. tertanam ajaran orangtua. apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. “Buuu!” Belum lama aku di dapur.” kuulangi lagi. Aku mencium gelagat buruk.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. tak sekali pun aku membaginya. Kulihat akibat kata-kataku. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. kutolong dia untuk merebah. Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. Aku yakin. Aku ganti. Asin sekali. penisnya sudah mengkerut. “Hmm. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku.” kudekatkan mulut ke kupingnya. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. “Sebentar. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. ya. “Mm. “Pak.Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. suamiku sudah berteriak. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). Dalam otakku.” Aku tergopoh ke dapur. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. hatiku menguncup. Setelah mengulurkan piring. mengenai seprei dan kebayaku.

Aku membayangkan. Dia tega berkhianat. Selesai sudah. padahal aku sedang mengandung benihnya. melayaninya. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. Namun. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. Sungguh. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. semua yang kulakukan adalah salah. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. tugasku hanyalah tidur dengan suami. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. Aku patuh melakukannya. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Namun. kesadaran akan posisi diriku. aku terlalu lambat. Sejauh ini. Kata ibuku. Oh. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. semuanya gelap. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. Dia majikanku dan aku budaknya. karena melihat kami tampak rukun. Hal sama terus berulang setiap malam. Mataku mengerjap. Pertama kali tidur bersama. Aku harap. tapi demi diriku sendiri. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. wajah yang ramah. Namun. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. Dengan penuh kehendak. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Tak ada tutur kata halus. Aku ingin purik. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. air ludah yang menyembur. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat.jika kami sering bersama. seiring berjalannya waktu. Kukatakan. Dengan sewenang-wenang. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Orangtua kami bahagia. Budak yang berperan sebagai istri. tak ingin mendurhakai mereka. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. Sebelum kawin dengan dia. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Apakah aku menyesal? Terus terang. O. Tetapi. Dorongan itu begitu kuat mendesak. suamiku akan melembutkan sifatnya. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. Seolah-olah di mata suamiku. aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. Kedua. dia menghardikku! Menurutnya. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. Kuelus perutku. Aku ada di sini karena uangnya. Kutemukan diriku di ranjang. Tetap melayaninya. Dia mendengkur. tanpa kusangka-sangka. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. Dan karenanya. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. dan setia kepadanya. Kedudukan suamiku . Yang penting dia tak lupa memberiku uang. karena pengabdianku. semua bayanganku jungkir balik. Namun. iya. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. membuatku bisa berpikir jernih. aku sakit! Dua pengertiannya. Sungguh. Pertama. Yang ada. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. Dia menolak mengantarkanku. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. Bukan demi siapa pun. karena kesetiaanku kepadanya. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. Jika aku nekat purik. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. teriakan. Kata orangtuaku. Hardikan suami. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu.… lalu gelap. Namun. Aku tidak mengeluh. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami.

Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. maka tangan ikut mengusapnya. E-mail totokutomo@ymail. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. suamiku!” Ledug. mengucapkan kata cinta itu mudah. 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. maka mata ikut menangis. dia sangat ramah dan supel. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan. Tapi itu tidak . “Selamat enyah. Tulangku sudah rapuh. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. seperti orang-tua atau raja. 42 tahun sudah aku mengabdi. Berdiri menghadap punggung suamiku. aku tak sabar untuk berucap. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta. Apakah cinta seperti itu?. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. Tapi. karena di luar rumah. Telepon/SMS (0281) 5730489. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan. Padahal. Sungguh. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa.terpandang. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. Dan di sinilah aku kini. Namun. Rumah pelesiran: Rumah bordil. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati. Selanjutnya mata mengeluarkan air. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya.com. selalu mengerti terhadap satu sama lain. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. dan tak ada cinta di hati. malaikat maut belum juga menjemput. rambutku memudar.

mungkin.” tanya Suci kepada sahabatnya. Suci memang sudah tumbuh dewasa. namun tak pernah ditemukannya. A.” itu katanya. Tapi. Namun. Hingga cinta saya itu menjadi untuh. menyatu dengan cinta punjaan hati saya. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. semakin susah Suci mengartikan kata cinta. sebagian cinta saya itu. setiap orang di dunia ini. Sayangnya. detektif itu adalah dirinya sendiri. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta. Setelah saya menemukan pujaan hati. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. seperti namanya. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. ia tak pernah bercinta. Dengan santai sahabatnya menjawab. aku ingin bertanya kepadamu. Mungkin. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini. Suci hanya mengeluh. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri. memiliki arti kata cinta. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. susah baginya untuk melupakan kata cinta. Setiap pagi Suci bangun dari tidur. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. cinta. “Ce. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. Te. eN.” jawab sahabat Suci dengan puitis. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. apa itu cinta. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. I. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta. yah aku telah menemukannya. mendustakan cinta. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu. Hendizal : Hendri : Langgam. Pernah si pernah. Suci. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu.com . Namun. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. “Cinta. Di dalam hari-harinya. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. “Sob. untuk mengartikan apa itu cinta. tapi tak masuk dalam logikanya. Kalau cinta seperti itu. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta. sulit dipecahkan. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. bahkan memalsukan cinta.

“S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu …. “Di mana Anda antara pukul 02. pada korban. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. Tidak perlu kau takut.Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama.” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya.00 dini hari sampai pukul 06. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu. Senyap …! . ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. Namun. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah. Petugas yang menanyainya bertampang seram. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah.

yang tercampakkan di atas sofa. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. belum juga diserang kuap. lelaki dan perempuan. “Bantu aku. Terbatuk diriku sesaat. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya.” jawab lelaki itu begitu tenang. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. yang kepalanya hanya berisikan uang. takut bersitatap. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. Namun. perempuan itu berbisik perlahan. *** Nurlida masih menguntitku. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. Dahiku berkerut. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan.” “Hei. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan.” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Asap tipis rokok.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. “Aku mau sepuluh juta. . padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. alisku bertaut. otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. Atau…. Membuat nyalang matanya terpancar. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. “Aku hamil. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. “Aku sedang butuh uang. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. Disusul debum dari arah pintu depan. Sekali dua kali aku coba menghindarinya. hanya satu yang perlu diketahui. Aku mengandung anakmu. Win …. sekarang juga. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar. Namun. mengerikan. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam.Malam telah melewati puncak. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil. Namun. sementara sang waktu terus berjalan. Lantas memakainya. lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku. “Kau boleh tidak menunggu. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. “Jangan mulai lagi. tapi dua orang itu. entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. tidak untuk mencekikku …. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan ….” katanya singkat. Memang berbeda gelagat perempuan. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Ruangan seketika senyap. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling. tidak meneruskan. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira.” perempuan itu terdiam. hingga bibir kami bertemu.

” kata Nurlida tiba-tiba. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. “Jas. Setiap hari …. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. Hari itu. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. desah napas. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. dengan mulut berbusa. Nomor itu sudah tersambung. Malam yang bising. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. Membayang. dinyalakannyalah pengeras suara. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. “Aku telepon ya. “O. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. senengnya yang lagi berulang tahun. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya. memastikan teleponnya benarbenar tersambung. sebelum mengecek layar ponsel. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. tolong pegang kue ini. pada diriku. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. Keterkejutan. Dan tanpa disadarinya. Lucu ya?” celetukku. makin meradang.“Atau apa?” bentakku. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. “Duh. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. Ah. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. Kesunyian. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. “Kau kenapa May. Dan akibatnya jalang itu keguguran. “Nur. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia.” bisiknya perlahan. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. (*) Blitar. Terdengar jelas. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. yang tertutup jilbab biru muda. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya.” “Tapi semua itu idemu. dua desah napas sebelum ada yang berkata. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. Perempuan itu menatap sinis. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. 23 Juni 2012 3:31 AM .

Namun." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. Tak ayal. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah.widya@yahoo. Kecamatan Kanigoro. jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. Anak seorang anggota DPR. Bulan Kebabian (2011). 04/RW. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. Maaf.id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin. Tapi Danang Prabowo. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Kurasa. "Thanks. Danang Prabowo. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. Cinta Pertama (2012). Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. 03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. tetap saja semuanya tanpa ekspresi.Oleh W. Pertemuan yang cukup singkat. Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman. Sekitar 20 tahun lalu. lebih tepatnya. tanpa ucapan. yang hidup dengan berbagai fasilitas. jika kompetisi itu ada. namun berarti itu dipersembahkan untukku. yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. Tapi. pria terunik yang pernah ku temui. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan.co. karena bukan aku lah pemeran utamanya. 01. tapi pembuktian. Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana. Wajah tak begitu tampan . selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya. N. dan Serahim Nira (2012). Tak penting ku sebut namaku. memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan.

Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. Dia benar-benar bicara. Lantas. Diam. Dia tengah sibuk. dia bicara panjang padaku. "Sudah. Dia sibuk dengan dunianya. Sampai suatu hari. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. Kerjanya. tapi gak tau kelanjutannya gimana. Penulis Risna Nur Rahayu. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. cuma terima kasih yang terlontar. Bahwa." pungkasnya lalu diam kembali. bak Pangeran Tanpa Kata. Mobil yang kutumpangi terus melaju. cinta kadang tak perlu kata. Karena esoknya. berkutat dengan beritanya. Lantas hening.tapi terlihat karismatik. Cerpen Keroncong Senja Kamis. membawa kami kembali dalam diam. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional. tangannya memberikan pena padaku. Lagi-lagi. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. dengan pena pemberiannya. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Ayahnya. tanpa jawaban. Soal cinta. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. ibunya dan keluarganya yang lain. Priaku. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas. memberiku tumpangan. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. kendaraan pun terus melaju. Akhirnya dia bicara. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. Tepat di depanku. Pangeran Tanpa Kata. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. ku tulis namaku di kertas absensi. 30 Agustus 2012 12:51 wib . Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. Dengan sigap." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku.

nasi liwet. Ia menyewa tukang ojek. menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. menjelang matahari tenggelam. yang diatur Pakdhe Jarwo. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. membawa gudeg dari rumahnya. semenjak aku masih menetek ibuku. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. dan aku selalu ketawa mendengar itu. Bukan apa-apa. Cukup mengatakan nama hotelnya. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. diam-diam aku pandang secara lekat. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. Aku menatap senja. L’arc en ciel. Ia selalu mengatakan. “Masak ndak ada pria yang bener toh. ia sudah paham. “Lah. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas. Tapi saya tolak. yang lainnya menenteng kardus. Mbok Garwami mau curhat. Jagung-jagung itu masih demikian segar. sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. kepulan uap demikian hangat. manis dan pahitnya masa terasa kental). tukang becak. tiang-tiang lampu. Ia membentak angkot. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi. Ndak mau ah. stasiun. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. Sudah berapa ribu motor. berjenggot tipis. Semburat senja. ketika kubuka jendela kamar hotel. anak-anak berandalan di tikungan sana. penjaga hotel. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. berkalung peluit butut. Aku dengar suara Pak Surat. bercelana jin sedikit pudar. Di bawah merkuri. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Ia masih setia menyajikan gudeg. gerbang kota. delman-delman. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. siapa mau toh. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. Ratri. Rambut sebahu agak ikal. Suara yang berat dan tersendat. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. aku tak bisa membayangkan.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu. Sebab kami sama-sama semata wayang. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. Gadis yang manis. yang dia carter dari pinggiran kota. Aerosmith atau Bon Jovi. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Sudah remaja dia rupanya. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak. kumis tipis. “Dik Sastro. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Mbok?” tanyaku dengan harapan. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka. meski aku baru . aku sudah menganggap dia sebagai adik. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. Dik Sastro ini enggak percaya toh. remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. sandal jepit. berkaos oblong. karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. Ia sudah mengenalku sejak lama. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Berseragam oranye. mancing-mancing nih. kereta-kereta usang. lah mereka.

Jangan lupa. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. pemilik hotel ini adalah paklikku. Di tumpukan baju teratas. seperti guru-guru SD-ku. lagu itu terus yang ia mainkan. tulisannya ditulis oleh Ratri. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. Sapardi Djoko Damono. . hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. Aku kaget membaca surat itu.turun dari kereta eksekutif. tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. selepas hujan. Pejaten Timur. Dan dia selalu berujar. Doa ibu selalu menyertaimu. Ia seorang kutu buku sejak remaja. Ia lahir di Purworejo. Hati ini selalu begitu gemetar. tapi tulisannya berbeda. bertulis tangan. sebenarnya bukan itu saja. Tulisan latin tempo dulu. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. atau Danarto. aku rogoh kantong jaketku. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. seorang blogger cum wartawan. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Ia begitu agung bagi hidupku. Meneteskan air mata. berada di depan. Nugroho. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. Sepotong surat warna ungu. Makanya. ya seperti senja kali ini. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. “Hati-hati di rantau. Kamu harus banyak belajar. membaca tulisan tangannya. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita. Darinyalah aku belajar sastra. Kamar di lantai satu. Pertama kali aku menerimanya.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Tapi. 01. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. “Cepatlah datang. bersanding di liang suami yang ia cintai. aku buka kembali surat itu. hanya enam baris. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. Kangen memang menunggu suratnya. Suara muadzin baru saja selesai. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. ia begitu dekat dengan keluargaku. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. 20 Juli 1985. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. surat itu diletakkan di atas. Ternyata. Aku hafal betul tulisan itu. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. sebuah harian yang baru didirikan. Tulisan itu tidak begitu panjang. Semoga sukses. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta.” tulisnya. Meski sudah berumur 67 tahun. Dari empat toko. Ya. ia masih suka membaca. Mas.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. Aku simak bait-bait surat itu. Di dalam becak. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. singkat padat dan berisi. Jakarta Selatan. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. Ia tak suka bertele-tele. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku.

Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi. tidak dipungkiri lagi.” Memang. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti.” Lebay. Aku pun hanya mendesah. cuci piring?” Ya. Ya. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan. tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. ya. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Kalau tidak tugas. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini…. Apa susahnya. sih. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur. salat. Heh. “Kamu itu sudah besar. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. “Ibu tahu kamu capek. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. siapa suruh bentak-bentak. belum lagi seragamku yang masih melekat. habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. ulangan harian. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. Seperti biasa. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. Di antara pandangan yang gelap. . Bantu-bantu sedikitlah. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. langsung mandi. Ya. kimia dan sejarah. “Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang.

Inilah aku.” Jleb. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami. Kau pasti lupa membawanya. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. Terang saja. Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. gelap. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. “Alhamdulillah. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. Rafa. Jantungku serasa berdegup lebih keras. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15.” jelas mentor Sisan. Ini uang sakumu. dari pada di rumah sendiri. Lagi-lagi harus jaga rumah. Aku teringat pada Ibu.” kata Pak Wiji. Tanpa tidur siang. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. ah. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri. Ah. Untuk Rafa. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. tapi mood menolongku menghilang. selalu lari dari masalah. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini. Aku memang ingin cepat pergi. Ibu tidak mau lagi mengurusimu.” sahutku cemberut. Makanan di meja ku lewati begitu saja. Dan tentu saja. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya. aku merasa suatu sensasi yang aneh. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. “Ya.tadinya begitu. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat. “Ada titipan dari ibu. maafkan ibu karena terlalu keras padamu. “Kenapa mukamu seperti itu. ya. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. dan menyapih kita dengan susah payah. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. Tapi ternyata tidak hanya itu. “Au. sulit juga memahami tulisan yang dibaca. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. Ibu kita telah mengandung. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku.” Pura-pura tidak dengar. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. seperti saat ini. “Rafa Afifah. Yah. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru. satpam sekolahku. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas.” batinku. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. “Ya Allah. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. ibu mau pergi. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. Kalau seperti ini terus. Selain tidak konsentrasi. Aku hanya mendesah. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. menyusui. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. Memang. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. . Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. ampunilah dosa hambaMu ini. kamu malah santai-santai. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Nanti jaga rumah. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama. ada sepucuk surat terlampir di sana. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. tapi gengsi dong. Kita tidak boleh membentak. Oh iya. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. saatnya membaca ayat suci Alquran. Sebenarnya lapar juga sih. Ku buka surat itu perlahan. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. aku tidak mahir Bahasa Inggris.

Ibu. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. Bu. kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku. “Kamu kenapa. “Bu. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. tapi hatiku tetap tidak mau diam. Jawa Tengah. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. Tanpa benar-benar diperintah. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. “Ibu sudah memaafkanmu. Namun. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. Fa! Pak Jono sudah keluar. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. Ya Allah. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. aku mulai melihat ada yang janggal. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. mungkin saja mereka sudah pulang. teeettt… Bel pulang berbunyi. Tidur saja pekerjaanmu. kakiku melangkah lebih cepat. Meski Nysa sudah menenangkanku. maafkan Rafa. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. nak. Ternyata Paman Dika. . Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. “Ada apa Paman?” tanyaku ragu. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. Hatiku benar-benar tidak keruan. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang.Tapi. Fa. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab. Rafa benar-benar khilaf. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda.00 WIB nanti. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. Tidak sebelum ku buktikan sendiri.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. “Bangun. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Tidak mungkin! “Fa. Aku tidak mau terlambat… Tett. Aku benar-benar menyesal. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. tettt. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. Tidak mungkin Ibu telah pergi. Ibu juga minta maaf. ibu tidak bermaksud memarahimu. Yap. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga.

engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu.istriku yang cantik . untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. Aku bisa menebalkannya kembali. Ceritanya panjang. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Esoknya. Begitu mudah aku memilikinya. tak ada masalah. Cuma ini rahasia di antara kita. Sebulan silam. semua akan kuceritakan kepadamu. namun baiklah kupendekkan saja. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Begitu mudahnya… Aha. Nomornya. semuanya. di mana lagi? Di ibu kota. tentu saja. Sesaat. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. tak jadi soal. Tapi jangan kaget. Aku tidak menawar harganya lagi. bukan? Tenang saja. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. Sertifikatnya ternyata aman. setiap hari. Tak seorang pun . Nani. rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. 28 Agustus 2012 AKU dan Qazi . Tapi tak mengapa. Belum lama juga kami tinggal di sini. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. Sertifikat dipalsukan. sehingga jadi berganda. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. Ya. kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. 1945. di Menteng. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. jangan heran.baru saja menikah.

Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Lalu. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. mantan artis berambut panjang. Ketika orang mulai ribut-ribut. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. awalnya. Hanya koran-koran. ketika orang-orang mulai ribut. majalah-majalah. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. si bendahara. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. yang – sssttt… . dalam sidang kasus korupsi proyek itu.” Aku berhasil membuat publik kagum. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. Seorang wartawan kecil yang usil.” kataku lantang. terdakwanya bekas bendahara Partai. Setahun lalu. kendati begitu. boleh kau terka. Sebab. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. Untunglah. Tanggung kelihatannya di mata. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. Hanya kakak sulungku saja. posisiku masih aman tenteram. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. Pesta pernikahanku dengan Qazi. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai. Aku bisa santai terus. Sehari sebelumnya. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. televisi-televisi. beberapa bulan lalu. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami.boleh tahu mengenai ini cerita. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. Eh. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. Keponakanku yang lucu. Bersembunyi diam-diam. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut. dan seorang kepala departemen. syukurlah. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. secara sembarangan bertanya. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. bintang iklan shampoo. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. kemudian suaraku tergagap lagi. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai.

memang. Setiap sore. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. kami pindah ke rumah ini. entah apa jadinya. Ah. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Tapi hari baik itu tiba juga.” Lafazku tumben tidak gagap. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. walaupun tinggal berdua. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. Berikutnya. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. sedang lahannya 850 meter persegi. ibuku langsung jatuh pingsan. alamak. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. dulu. Dia merajuk. Dia – istriku Qazi – tahu. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. Setelah bulan madu keliling Eropa. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. entah siapa namanya aku lupa. Kalau di Negeri Jiran. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Sebelum akad nikah. saksi dari mempelai laki-laki. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. khutbah pernikahan. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. duduklah saksi dari mempelai perempuan. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. akhirnya aku menikah. Sebelum kubeli. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Gara-gara apalagi. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. Di sebelah meja lainnya. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. . sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Buat menutup isu penangkapanku. Rumah yang modelnya bagus nian. Padahal. kondisi rumah seperti tidak diurus. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku. bahkan. Namun. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa.ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. sedetik saja. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. sampai hukum mati.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. tunai. Nyaris tanpa jeda. yaitu Pak Amin. Di seberangnya. kemudian. menurut sebuah cerita. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang. Mulanya. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. Berdiam-diaman saja. Luasnya 363 meter persegi. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. tepat di samping kiri. kami sering tidak saling bicara di rumah.

kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Dengan anak kunci itu. Tentu saja. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. majalah. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. karena mengisap narkoba. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita. Di ruang tamu banyak perabot antik. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. . yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. kukira.Para pengusut pun unjuk gigi. Bergegas aku berjalan ke garasi. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Tak lama membaca. saya tertangkap polisi di Singapura. Kupikir. karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. menembakku dengan pertanyaan klise. dari ruang tengah. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Bila mataku letih. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. siang nanti. Dalam sebuah bayangan yang tulus. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. Sementara itu. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. Kini. Sebelumnya. Semua pelakunya orang Partai. televisi. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung. Enam bulan lalu. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Matahari memancar. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. oleh Si Belanda pertama. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. Tapi acara belum dimulai. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Kini. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. Lalu langsung menodongkan alat perekam. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels.

Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi.” Kuberi dia senyum kecil. sepi pengunjung. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. Masuk kantor Partai. maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. maka harus kuhentikan sendiri. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya.” kataku. mungkin semuanya sudah basi. aku belajar terus supaya makin cerdas. Sepi. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK. setelah kukatakan kepada Nani.“Pengampunan ini. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. Dingin menusuk tulang. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. Andai saja tak ada kendaraan lewat. Sudah basi. Tengah malam. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin.. narkoba. Bogor. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik. biasa. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. Kurogoh saku. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- .” Ya. kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. sekarang juga. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini. merupakan perbuatan yang baik. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. aku berusaha serius. Kukunci pintu. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. sebelum pergi.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. Aku tak pernah henti-henti belajar.. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku.” Terakhir. di kantor. “Saat ini.

sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. “Terserah apa mau kalian. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. Tinggal Har dan Novi. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Kepalanya terasa agak ringan. pikiran pun mulai jernih. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung.” demikian Har pada suatu ketika. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. akibatnya ya. anak bungsunya yang perempuan. Terjatuh sekali di pintu gerbang. Har terhenyak dari lamunannya. Akibatnya. menyuruhnya naik ke kamar atas. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja.mudi. Mungkin karena waktu itu masih SMP. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”. terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. menerobos rimbunan daun teh. Alasannya. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. Namun yang terbaik bagi Har. Tidak perlu mencampuri. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. yang semula menetap seatap. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. ia tak banyak ulah. Nunut saja apa kata ayahnya. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. Sore tadi. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Tetapi Har lupa. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit.Gelagapan. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun seiring perjalanan waktu. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. Yang Har tak sadari. Ia memarahi bayi kesayangannya. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. sikap si bungsu pun mulai berubah. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. hingga belum tahu harus menjawab apa. Jangan tanya soal pembantu. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. Har berang bukan main. menempeleng sekali. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. itu tadi. Har jarang pulang ke rumah. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. Fikri pun menyusul. para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. Ia tarik napas dalam-dalam. Di mana. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . Di rumah besar milik Har. Ia selalu menginap di hotel. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Har tersentak. Sama-sama kepala batu. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. dijamin beres. Pikirannya sedang gundah. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. Di depan Har. Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. Har menatap jauh menembus kabut. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. Hanya berselang dua bulan. hanya mengamini sikap kakaknya. Har sudah mengaturnya. Menoleh. Pasalnya. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Akibatnya.

sekikuk dirinya. mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. lalu biarkan waktu yang akan menentukan. Ke hamparan kebun-kebun teh. Dalam hatinya ia menggerutu. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu.. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu. “Boleh. Ya.” Si Gadis tersenyum. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. Sesaat mobil bergerak perlahan. Har tak menolak untuk dimangsa. tentunya wanita ini belum profesional. “Di sini dingin sekali ya Oom. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. menunggangi kabut di puncak pegunungan. katanya sih kembar. . Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. Har menoleh.” ia tersenyum. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Har merasa aneh. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya. Perempuan itu masih memandang keluar.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. hitam manis. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan.dipenuhi tumbuhan teh. “Saya ada vila di sekitar sini. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. Har diam. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. Namun yang keluar dari mulutnya malahan. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. tentu.Namun bila menilik dari parasnya. Om. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. yang itu.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Serasa ada ganjalan. “Om gak bawa sopir kan. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. Apa pedulinya.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. tentunya tengah dilanda gejolak batin.” gadis itu menyahut sambil tersenyum.. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan. nyetir sendiri. “Oh…. berpikir menentukan sikap. “Kenapa tidak. menembus kaca jendela. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk. Har masih terpaku. Formil dan serba tergesa-gesa. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Sama seperti Har. Kulitnya agak gelap. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan.

Sebagai penggantinya. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah. Hanya sesekali Imah berkomentar. “Saya Imah. “Saya sedang kesulitan uang.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina. Langsung hilang pusing Har. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya.” “Ha…ha…ha. atau Melly. kembali mencair. Haryanto. atau…. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. siapa namamu. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Tapi sebagai penjaga vila yang baik. Masih terasa pusing. Agak berantakan.“Oh ya. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. Ia memeriksa isi dompet.” Har memperkenalkan diri. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. Nama kota. Hanya butuh waktu lima menit. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. Tadi dia kira itu Novi. Sekarang malah ia yang mendahului. Jelas. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. ia turun dari tempat tidur. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Biar dibilang gadis modern. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. tapi sedikit melirik pada Imah. Om. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan.”Har tertawa terbahak-bahak. Dan malam itu. kosong. Belum terjawab uneg-uneg Har. Har memang tidak lupa. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Berapa biaya yang kamu butuhkan. Har telah mabuk. Har hanya mengangguk acuh tak acuh.” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. kalau bukan demi uang.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. sesederhana dandanan dan sikapnya. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk. Imah sudah tak ada di sisinya. “Saya rapikan dulu kamarnya.” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. di sela-sela mabuk dan kepuasannya. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini.” Nama yang sederhana. terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. selebihnya berupa ribuan anggukan. tidak usah khawatir. Atau Sherly. ah. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. Terasa aneh juga bagi Har. minum ini untuk menghangatkan badan. Om. Saya Har. mendidih dan menggelora. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang . si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. Gan. habis Agan jarang menginap ke sini. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. misalnya. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. Imah inginnya menolak. ada bercakan merah di atas kain sprei. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala.

dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. menemui orangtuanya. perempuan itu telah terbang jauh.”Ada sesal yang menggayut di pundak Har. “Imah. Ingin sekali Har menyusul Imah. begitu egoisnya aku. Hanya tiga ratus ribu. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya.” Har merenung. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. perempuan itu masih perawan. ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta. “Astaga.Ia tersentak. 2012 . perempuan desa yang lugu. Tapi apa mau dikata. Har meraba bercakan merah. Tapi di mana Imah. Ia ingat. sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. meminangnya untuk dia peristeri. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat.tak beringsut dari tempatnya. Begitu nistanya aku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful