Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Ya. tak punya ilmu. tidak toleransi nunggak SPP.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. “Walau harga sekolah semakin mahal. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. dengan segala macam jenisnya. Lik Sum putar otak. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik. Toh. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. alam itu yang menyimpan harta kami. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Dibiarkan malah nglunjak. . itu tak jadi soal.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. oh kasihan para maling ini. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. kami tak perlu menebang pohon. yang kami punya hanyalah kesabaran. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. Semahal harga nyawa ini. Warga kami pun hampir keadaannya sama. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. udara kami. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. tidak cukup untuk membayar SPP. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. Maling lagi. termasuk menghadapi para maling. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. kami tinggal mengambil di hutan. Selain itu. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. Kami mengambil jika perlu saja. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. Kesabaran menghadapi hidup. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. namun kami kurang percaya dengan keamanannya. Biarlah. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini.

Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. tak mungkin di sini. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. Moto ra melek. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi.***** Dasar maling moto merem. Seharusnya kami iri pada mereka. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. seharusnya kamilah yang menjadi maling.. Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. Toh harta tidak di bawa mati. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. berpikir ala teori sosial. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Istilahnya maling teriak maling.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Yang menikmati pembangunan negari ini. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini. Namun kami tak mau jadi maling. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya. Iri hanya mematikan hati. Ah. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan.

27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Tataplah masa depan. jangan berguru pada masa lalu. aku tak mengerti. dengan bangunan bertingkat dua. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. tak mungkin . kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. Sesuatu yang kau yakini indah. Tak terjawab. Langit pun seperti terbelah. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. Semuanya serba terbalik. Kau pun bilang. Bukan juga seperti angin. Namun. membuat bungabunga menjadi layu. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Namun pastinya. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. bertembok putih.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. suaramu. setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. Kamar yang bernama ruangan melati. menganga sebuah jendela terbuka. kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Gelap. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. Senja yang menguning. Kau pernah bilang. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. janganlah mengukur diri melalui cermin. Sebenarnya aku ingin bertanya. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. dan pintu hitam pekat. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan. Biola jendela hatimu. Kau bilang. Di setiap kamarnya. bahwa aku orang yang baik. baik menjadi buruk. Tiang-tiang kayu berderet. Lihatlah dirimu melalui hatimu. menanti waktu besuk tiba. bukan. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. itulah yang terbaik. kiri menjadi kanan. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Biola itu punyaku. Sungguh. Semuanya buyar. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. namun aku datang bukan untuk membawanya. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Katamu. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. Ah. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Seperti sama padahal tak sama. Kanan menjadi kiri. biarlah semua menjadi kenangan. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Itulah dirimu. Tolol. Aku pun suka keindahan. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama.

tempat ini tarasa berubah menjadi indah. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. Menurutku. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. "Ya. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari." Aku hanya tersenyum. tak tahu harus bicara apa. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. namun tetap menelusuri kemana arahnya. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. supaya tak pernah menembus jantung. “Hidup ini penuh misteri. Namun angin itulah yang membawaku melayang.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. Tentu dengan biaya tak sedikit. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. dan berhenti pada stasiun terakhir. Semua orang takkan bisa hidup kekal. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. lalu kau mengukir namamu di situ. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif." jawabku. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. senyuman itulah yang paling indah. Keindahan yang keluar dari hatiku. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. Apakah perasaan ini tulus dari hati. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. Namun. setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Diagnosanya mengatakan. Aku tidak bisa berkata. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. Dan setiap hari itu pula. Lantas kau pun tersenyum. meski tampak seperti barak pengungsian. Hidup bukan ramalan. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. . seperti ada yang mengganjal. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. hanya meninggalkan angin yang liar. Menyimpanmu di hatiku. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. kau bisa membuatku berpikir. Ketika reda di sore hari. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. Bibirku bergetar. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. meski aku berharap kau pun merasakannya. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri.

” sambil membalas tatapanku. di tempat yang paling indah. Alamat: Talun kidul No 45. aku tak tahu. 2011 Oleh T. Mungkin disitu kau sedang menghayal. tataplah masa depan. sekadar pengantar mimpi indahmu. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu. Sumedang 45321. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. meski waktu itu kau sedang tertidur. Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.H. “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. “Biarlah hidupku berakhir. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. 17 Agustus 1990. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. . Ihsan Penulis Lahir di Sumedang.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. Lalu kau menjawab. Ketika kau benar-benar terlelap. Surga. “Kau jangan berkata seperti itu. aku mengecup keningmu. ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. masih banyak yang harus kau kerjakan. Radar Surabaya. lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. menggambar bunga layu menjadi mekar. Buletin Obras. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Aku bengong. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini. lalu kau melanjutkan. memberikan sesuatu yang terbaik padamu. menemanimu setiap waktu. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. Yang aku tahu sekarang. Bandung. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. RT 01 RW 05 Sumedang Utara. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. LPM Suaka. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. 2011). atau menanyakan kondisi kesehatanmu. Tubuhku remuk. “Aku hanya ingin bilang. Jurnal Sastra Sasaka. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti.

memang malam kemarin otakku sedang tidak waras.. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. aku yang salah.. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. Aku selalu saja lupa dengan itu. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur. Yah. Tenanglah teman. Yah.. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas. Aku muak. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku.. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. Sekali lagi kukatakan. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. Memang belakangan ini. “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. Tapi. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu. Lungkrah. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku.cerpen Kasur Sabtu. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. . Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk.

Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. dia mengangguk mantap. Aku ingat.. Sejak saat itulah. aku masih benar senang dengannya. ya tidur dengan Tian. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. langit roboh saat itu juga. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Aku yang putuskan. memeluk erat tubuhnya. yang aku tahu. Tapi bukan itu. seperti pasangan pada umumnya. Bedanya. bahkan sepuluh. tanpa ragu sedikit pun.Asalkan kamu mengerti. bekas pacarku. Satu yang masih aku minta. bercanda. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. dia mengejarku atau tidak. Aku hanya bisa diam saat itu. aku pun sama denganmu kasur. Kuhisap lagi batang rokokku. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Entah. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. Asap rokok masih mengepul tebal. Menumpuk lekat di atas dada wanita. menari-nari di sekeliling kepalaku. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. Kasur terdiam. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. Padahal. ingin tetap bersamanya. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. tersenyum aku padanya. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. setiap malam harus tidur dengannya. masih senang dirayu. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. tertawa. Ah. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. apa lagi yang kurang? Aku cantik. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku.. aku menemukan dia. Aku terbatuk. itu kukatakan padanya. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. menarik.. dan tentu tidur. “Lalu kenapa. Bisa sampai lima. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. Meski masih banyak retak di sana-sini. Kamu tidak pernah tahu. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. dibuatnya aku terbang ke surga. Aku kembali ingat. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. Aku benar-benar jatuh hati padanya.” aku tertawa. . Hampir habis. Sampai akhirnya. kenapa sekarang kamu beralih. Tentu. Sebenarnya. Kubuka dengan paksa kamar Endo. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Aku masih senang dicumbu. Sama. pergi nonton.. Makan malam bersama. ah masih perih rasanya. Diam bukan berarti tidak bergerak. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku. Malamnya. menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. itu aku. Di atas kasur ini. menciumi lehernya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. omong kosong untuk kembali memeluknya. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian. kemudian kabur. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu.” Diam. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku.. Hal yang kulakukan bersamanya biasa. Kamu tentu tidak tahu. Imajinasiku melayang. Kuceritakan kembali padamu kasur. Kamu tentu tahu sendiri. pacarmu dulu!” “Hahaha.

“Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku. bersembunyi. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. Dia tahu dengan jelas semuanya. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari.” ucapku tegas. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. buat muntah. kemudian hilang begitu saja. Kasur semakin terdiam. bermain hingga klimaks.Aku ingat. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. Tanpa rasa yang awet. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling. tapi dia diam dan setelahnya. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. Aku yang sekarang. Aku yang sekarang. mencekik urat leher Sama rasanya. setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki.

dan lainnya menjadi satu di tanah." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Tubuhnya kurus kerempeng. dinding sampai punggung orang di depannya. ia turunkan. cabe. dari balik keranjang. Bau apek menyengat hidung." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. Dagangan berhamburan. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. sandalnya pun lepas. tiang. "Ada apa. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. tumpah daging. Aku beranikan mengintip.Cerpen Kematian Mat Boni Kamis. Ada orang tertembak. Air menggenang. beberapa dinding kios roboh dijejal massa. Bajunya lusuh. sayuran. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal." katanya. gula.. suasana pun menjadi ricuh: berpencar." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. . "Mati. Aku mencoba untuk mengenali. "Saya duduk saja. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. Padahal hujan baru saja turun. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. "Mati?" "Mati bu. Orang-orang belingsatan. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. takut nyasar. beras. "Aku takut. Hening. bersembunyi di balik meja. Pistol masih di tangan kanannya.. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. Perempuan tua itu tetap ngeyel." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku.! Dor. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan. pagar. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. Matanya mendelik dan berwajah beringas. tanah pun menjadi becek. ada orang mati di depan. Tangannya yang dipundakku. Sementara air got sudah meluap dari tadi. meja.!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. Perempuan itu diam. Mukanya terbenam di genangan air. tercecer ke mana-mana. Udara bergerak lindap.

Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. kalau dirasa cukup penjualan hari itu. Codet terkenal menjahili istri orang. Ternyata si Codet. Lepaskan!” bentaknya. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Sayang. "Lu belagu sih. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. sampai ketika pakaiannya tersingkap. Tak segan. “Kagak usah bang. Ia menangis tersedu. ia menyambar Wati dari belakang. pasti sesudahnya. “Abang anter aja yuk. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. dan suka melecehkan perempuan. mau kau apakan aku. Wati bisa pulang naik angkot.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. Mata semuanya menyorot padanya. namun ia tak ingin menyetopnya. “Iye bang. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. pemeras. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. Wati merintih. Codet melempar senyum.” Wati menjawab ketus. Memang dari awal bertemu. Pasar Tua ini sudah sepi. “Diam kau. Suasana tampak muram. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Tanpa aba-aba. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. Ia melihat pinggul yang menonjol. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik.” “Kagak usah bang…makasih. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Codet dengan ganas menerjangnya. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. istri Mat Boni. . Ternyata urusan cinta. Ia terus memukuli tubuh Codet. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. sepekan lalu. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. Udara malam yang dingin mendesir. Sudah satu jam duduk termenung.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. Tak jauh dari tempat kios Wati. Ia mabuk sepertinya. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. Sudah pukul 8 malam. Codet menamparnya. Mat Boni adalah pedagang keliling. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. Wati masih berontak. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan. terbenam oleh malam di kaki bukit. Terakhir. “Bajingan kau. Beberapa toko mulai tutup. sambil turun dari sepeda motornya. Semua pedagang di Pasar Tua. Wati teriak minta tolong. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya. ia ingin sekali menjemputnya. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. istri orang pun dia goda juga. Codet merobek pakaian atasnya. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet." cerocos petugas yang mabuk itu. Di ujung pasar. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Beberapa kali menggoda Wati. Codet pun mudah ditaklukkan. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. Setelah membuka helmnya.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. Suamiku akan membunuhmu. Ia jarang pulang sebelum magrib. Ketika tahu siapa yang berbuat. Hanya kali itu. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. sayang ia keduluan sama Mat Boni. angkot ke rumahmu sudah jarang. Ada niat mesum di otak Codet. untuk menunggu angkot. Codet sudah naksir. ya dia akan pulang. Ia berjalan agak menjauh. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. Wati mulai gelisah.” Codet menawarkan diri. Dari arah kiri. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu.

. dan kemudian memeras pedagang.. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat.huss. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah.Malam hening.” seorang laki-laki menegurnya. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu. “Mari kuantar kau pulang. baru pertama untuk Boni.. Wati hanya terdiam. Jakarta Selatan. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Dan kali ini. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. jangan keras-keras. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. Beberapa hari setelah itu. Kini ia tinggal di Jalan Damai III. Ia melengkung indah di atas pasar. Beberapa burung pun melintas di depannya. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. meski hanya untuk menakut-nakuti. Ntar dia ke sini. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. setelah ada tembakan peringatan. Barangkali.ada pelangi tuh. “Itu pelangi untuk Boni. Codet pun melemparkan pistolnya. Pasar pun kembali berisik. ini balas dendam Boni. Jasad Boni pun diangkut ambulans. 19 Juli 2010.” seru beberapa orang di sekitarku. Wati?” ajak Codet. hari inilah mereka duel. Dan penembakan ini. “Mak. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. 20 Juli 1985. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Dan ya. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Sayang.diem. Nugroho. Di daerah Tua ini. Ia meradang. Lahir di Purworejo. Aku toleh pelangi itu. bagus ya.. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. seperti kisah-kisah masa kecilku itu. 09.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. mak. Pejaten Timur. Barangkali. Codet berdiri dan merapikan diri. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu.. Ia menutupi diri dengan seadanya. “Hus. Kalibata. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba.37 Andi S. seorang blogger cum wartawan. Mat Boni tahu kelakuan si Codet.

Ibu tidak punya uang sebanyak itu. Jaman sudah berubah.Cerpen Layar Sentuh Kamis. Nak. chatting.” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial. aku ingin mengenggam warna-warni dunia. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari. Sama saja kan. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir. Sebenarnya tak salah juga. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya. yang Rp150 ribu. tunyuk artinya menekan dengan jemari. dan menjelajah dunia maya. setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. “Put. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan.” “Iya. yang penting belikan Puteri hape layar sentuh.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja.” “Touch screen Bu. Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. Ah. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. Bagaimana menerangkan istilah- . Sayang. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. Tanpa perlu repot memencet sekian tombol.” Puteri hanya bisa mendesah. yang penting bisa telpon dan es-emes.

kendaraan. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Puteri tak punya cukup uang . makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. ensiklopedia. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. Hanya dengan sentuhan jemari. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. Serumit apapun rumus itu. Tentu. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. Mulai dari gaya penampilan. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. hingga hari-hari menjadi asyik. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. andai saja ayahnya masih ada. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. laptop. cowok. The Extra-Terrestrial. tempat nongkrong. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. Kimia. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. Maka tertanamlah perangkat bluetooth. ia memang terlalu banyak menuntut. Karena itu. telepon genggam. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. maupun Matematika. hingga diperlukan buku-buku. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. Ah. bahkan menonton televisi. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. Ah. Tanpa kerja keras ibu. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. kamus. mendengarkan radio.

“Tante tidak memaksa. Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. “Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. engkau bisa membeli hape layar sentuh. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. Sambil mendengarkan musik. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. tetangganya. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad. Harga dirinya merasa terlecehkan.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? . Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh. Apakah maksud kata. eh bersalah. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. Kalau kamu mau ikut Tante. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. Sekarang.” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri.” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. Mulai dari pelayan café. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. hingga kupu-kupu malam. penyanyi dangdut keliling. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri. tukang pijat. “Jangankan hape layar sentuh. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah. Tapi. “Jika mau menerima sentuhan. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri.

Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Klik. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini.” “Tanpa Puteri minta pun. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. Puteri menceritakan semua yang terjadi. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Untung semuanya belum terjadi.” Sekarang. sahabatnya. Puteri merasa begitu takut. Om benar-benar menyesal. Awas jangan macam-macam. Sekarang pulanglah. dengan berbagai lobi. Om Anton . Tak terasa. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. Bahkan. ini Om Anton. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Mereka begitu akrab. Bukankah. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. tapi Om Anton juga harus berjanji. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. Entah bisikan setan darimana. “Maafkan Om Anton ya. dipegangnya gagang pintu. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya. Di lobi hotel.” “Baik Om. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Tanpa perlu berkata-kata. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. orangtua Shinta. Dengan tangan gemetar. Maka sore tadi.Memaksa ibunya jelas tak mungkin. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. Jika ada seseorang yang datang. Puteri sangat terkejut. “Tunggulah di kamar ini.

2012). ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar.com . Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Ah. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh. 01 September 2011 SETIYO BARDONO. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. 2007). seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. Sementara di beranda rumah. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok.bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing. 15 Oktober 1975. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini. DEMI HP LAYAR SENTUH. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. 2012). agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. Sementara Tante Rini raib entah kemana. Email: setiakata@yahoo.

aku sangat canggung. "Tenang Lastri. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. seharusnya darah itu cepat ku lap. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. juga tampan dari Jakarta. kecuali mereka yang memulai. lelaki yang menjadi suamiku. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. sepertinya tidak hadir lagi malam. Dengan dipaksa jujur olehnya. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. sukses. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah. Namaku Lastri. "Aku tidak tega melihatmu merintih. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. Kami pun menikah di desaku. ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris. aku juga trauma melihat darah. Selang dua hari setelah pernikahan kami. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. "Dia itu bunga desa di sini. dan entah mengapa. akhirnya aku pun berani untuk jujur. wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. . Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. Hampir setiap bulan. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil. 31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. hidung bangirku. “Ini semua memang salahku. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya.malam pergumulan kami yang sebenarnya. "Apa kamu sudah hamil. "Belum Bu. Jawa Timur." jelas suamiku.”sesalku dalam hati. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. bibir merahku. Sejak malam pertama itu. di pihak lain. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota. begitulah penjelasan suamiku. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. nanti kita program bayi tabung ya. Awal pertemuan dengan mertuaku. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku. "Kenapa belum hamil juga.”batinku dalam hati." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. air mataku pun luruh mendengarnya. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta. Aku segan. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. Ya. Aku bertemu Johan." jawabku sambil sedikit tergagap. dan aku tidak menikmatinya.

bisanya nyusahin saja. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. jika tidak ke luar kota. aku dalam keadaan frustasi berat. “Rupanya mereka kegerahan. Keesokan harinya saat suamiku mandi."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. lelaki tampan peranakan Jerman. "Dasar perempuan kampung. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku. Dulu saat aku ke Malang. asal mas senang. kepalaku pusing. Ryan. melainkan ada Toni. Sehingga sepulang dari rumah sakit. aku ingat Roy. Johan pun seperti merasa bersalah.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. "Ternyata benar perkiraanku. apa mungkin dia salah kirim. melainkan ke rumah baru kami. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. Tapi keesokan harinya. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. ternyata dari Roy. putra pertama kami. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu.” “Tapi aku tidak mau. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. Suatu malam. setelah Roy dan Robby pulang. suamiku telah selesai mandi. kakiku menjadi lemas . Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. aku sakit Lastri. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini. "Maafkan aku Lastri. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. “Aku sudah tahu semuanya mas. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. Johan sangat senang. selain muak. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Saat aku masih berpikir. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. "Pas seperti yang kuharapkan. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan. Kesibukanku mengurus Jonathan. "Aku kangen sekali sama kamu. Aku yang lulusan sekolah dasar. mereka masih terlelap. Roy. aku melihat semuanya semalam. Mendengar perkataanku. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. Sejak tinggal di rumah pribadi. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. Genap 36 minggu. "Oh. Ya. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. sungguh terkejut aku. Esok paginya. dan ketika kulihat nama pengirimnya. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada.” . pasti orang tuaku sangat malu. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. "Ya gapapa." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. kali ini dia membawa dua teman pria. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. Air mata pun tak terbendung lagi. Walau sudah ku duga. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan. karena aku sibuk mengurus Jonathan. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen. Ini adalah hari ketujuh. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. untuk menghilangkan stres. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. dan lainnya. karena jika nanti penyakitku ketahuan. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. aku memang lain. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. aku seperti mendapat jalan keluar. aku tak sampai hati. lalu kami nonton BF (blue film) saja. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. Sampai bertemu dengan mu.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah. aku masih bisa bergerak berjalan. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya.“Deg!”. Ternyata “aku mati”. namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. “Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. terasa sedang mengendarai sebuah kereta. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja. Ah. Namun. Menyengat hidungku yang tersumbat. 26012011. Tuhan. membawa dosa tak terhitung. namun keranda mayat. Ruang Khayal. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. Yang kutumpangi bukan kereta biasa. ternyata tidak. . Perasaanku sedikit menenang. Semua tak sesuai bayanganku. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. aku agak sedikit heran. “Apa iya aku mati?”. 14. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. aku datang untuk kembali pada-Mu.

Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka..Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam. bahkan mungkin terlalu lama. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. Ah. “Aku kangen Mamaku. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku. Dia sosok yang selalu ada. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. Sosok sederhana namun memesona. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar. “ Iya..aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria. Namun sama seperti impiannya... “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka.. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember.. mungkin.” aku coba bersimpati akan dukanya..” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya.. namun memancarkan kharisma.. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian. Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. di lain waktu jadi manusia introvert. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya. senyumnya. ada yang berbeda dari polah laku Raka. ya aku hanya mengira. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit. Raka memang bukan laki-laki-. “ Kenapa Boy. Pendiam... ya itu lah Raka.” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. Tatapnya. Raka. Kadang aku merasa bodoh. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu.. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya. Raka Primastya Restu. bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana. “Grecee. Aku semakin kehilangan cara. siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. keangkuhan.. Dan aku sudah mengenalnya sejak lama. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya... tenang.. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja. telaga bagi segala keresahan. aku puja.ngajor ya!!” ledekku. populer. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu. . Matanya nanar menatap jauh kosong. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan. bintang kampus. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu.. “Namaku Raka Primastya Restu.. meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. bahkan jika aku harus jumawa. “I am sorry Friend.. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau.. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang. keluhannya. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut . Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore. Tapi nyatanya. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata.. aku rasa semua yang ada padanya. lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu. “Woi. Yah. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya. itulah Raka.

...... S. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh. Yah. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah.Angan merapat pada jelajah kupu-kupu. Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA.. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. Email : riskon. “Mau Jadi Dokter”. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya.pulungan@mail.bni. Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya. Surat Terakhir Raka …. . Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali. “Mau Jadi Pilot”. kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. Semakin jauh lelah itu pergi. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya.. Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi. “Mau jadi apa kalau besar nanti. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah.co.?” Ada yang menjawab. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit.id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin.Ya. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). Oleh Riskon Pulungan. Nak…. Grecee. Meski tidak seharusnya begitu.. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang). “Mau Jadi Guru”. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi. entah apa maksudnya.

dengan dalih kemiskinan. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius. usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. tanpa sebab yang jelas. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. atau hanya malas saja untuk menjawabnya. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. Yang paling menyesakan dada. Aku sendiri juga sering termenung. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. untuk bisa meraih impiannya. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. mengamen dengan berbagai alat musik. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. ada yang menjajakan berbagai dagangan. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. entah apa yang dipikirkannya. sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. Seorang anak perempuan. yang belum memiliki dosa. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. jangan-jangan ada yang kurang beres padanya.Macam-macam jawabannya. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. sembari menenteng . perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. mulai dari anak-anak. Setelah berbagai upaya dilakukan. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. kejahatan di sekitar sini. sementara Istriku lebih sering melamun. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. apa ia tidak memiliki semangat. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut. klenik atau sejenisnya. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Namun tidaklah demikian dengan Upik. hilang.” itu alasanku. Bahkan. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. Apalagi membawahnya ke orang pinter. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. Diam-diam. Kehidupan di sini begitu keras. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. Padahal. seolah ada yang aneh. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. “Persoalan anaku. lenyap begitu saja. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. sering pula terjadi kekerasan. Macam-macam aktifitas mereka. Akupun mulai gundah gulana. minggu berganti minggu. Kata orang daerah ini terkenal rawan. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. pakaiannya kumal. dukun. anak-anak lugu dan lucu. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. Dari Cigombong. lirih. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. *** Hari berganti hari. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. semua berjalan apa adanya. pagi yang cerah. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. generasi bangsa yang malang. semuanya memang serba dilematis. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya.

Puisi itu berjudul CitaCitaku. hal itu terjadi begitu saja.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa.co. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. Kecamatan Pasar Rebo. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat. semuanya terjawab sudah.02. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. Jakarta Timur 13790. RT 004/RW. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya. sembari tersenyum. bungkam. Dalam puisinya. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. tanpa berkedip. tidak sepantasnya dijalanan. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. entah apa yang ada dalam pikirannya. tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya. hawa panas mulai mengusik. mengharukan. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. entah apa yang ada dalam senyumanya. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. Kelurahan Kalisari. tak terasa seolah membuka mata hatiku. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan. benar-benar menyentuh. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. gemah ripah loh jinawi ini. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. dan teman-teman sebayanya. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. masratman22@yahoo. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. generasi yang malang seperti anaku. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32. :( .

Ya. Oke pak. “Saya senang bisa ketemu kamu." candanya. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. Tak lama. pasti aku cek. Sekarang mau ambil tiket sendiri. Nanti malah dilarang lagi. "Yah. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. Lebih tepatnya lebih baik. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak . Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku. hihihi. Dari situ. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri. "Benar pak. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh. yang hanya ingin aku yang melayaninya. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. Selang setahun berhubungan. Setelah seminggu menikah." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. ada urusan lagi. teman sekantorku. tapi dia ada rasa kali sama kamu. "Cek dulu. ponselku bergetar. "Iya tuh. terus nanti di-cancel-lah. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. "Huufft. dia mau bercerai dari istrinya. bahagia menyelimuti perasaan kami. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. banyak maunya. hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. So far. jelasnya. “Iya lah. akhirnya bisa dipenuhi. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. harapku. Menurutku dia memang pria yang kucari.ngawur!" balasku. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun.” sanggahku dalam hati. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya. "Itu Nit. Kan sebelum kenal aku.” itu isi SMS-nya. namanya juga customer. ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari. SMS dari Pak Anton rupanya. Ya pesen tiketlah. benarbenar jauh dari perkiraanku. dan sudah punya dua anak. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. terima kasih”. kami pun memutuskan menikah. hihihi. memang sudah dalam proses bercerai.. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. Sepulang dari kantor. “Selamat sore. memang ada-ada saja pelanggan satu ini.” desah hatiku dalam hatI. saya mau ambil pesanan saya. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku.. terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. kita kan belum pernah ketemu.” genit hatiku berkata. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama. kilahku. Semua berjalan lancar. Kami pun larut dalam percakapan. sekalian lewat katanya. Pernikahan pun berlangsung. baik pak. sadarku mengentikan lamunan.kurang lebih 45 menit. "Iya. saat baru sampai di rumah. ditunggu kedatangannya ya pak. "Hush. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh. Ah biarlah. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku.Cerpen Aku yang Kedua Kamis. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh.

hanya aku yang merantau ke Jakarta. dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. kehamilanku tidak 'rewel'. Di depan rumahku. batinku. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. Pada akhir cuti Mas Anton. Setelah kejadian itu. tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam.terganggu. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. dia masih saja berulah dengan menikahimu. Jadi ini maksud “catatan” itu. aku sudah membunuhnya. kami sangat bahagia sekali. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama. mimpi buruk pun dimulai. Alhamdulillah. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. Sekarang Alan sudah 3. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. bahkan seperti kembar. Karena alasan kesepian itu. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. yang bilang bahwa jilbabku palsu. istri pertama Anton. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. Juga untuk menghindari cibiran tetangga. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk.5 tahun. Dia pun bilang. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. mereka duduk di ruang tamu. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul. mencari suamiku yang juga suaminya. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. karena utang-utangnya yang banyak. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. Mana si Anton?" ketusnya pedas. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. Waktu tak berselang lama. semua harus ku jalani. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. "Asal kamu tahu Nita. Minggu siang tepatnya. saya jadi tak tega mengusirmu. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. adik ayahnya yang sudah meninggal. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. Bayiku masih tertidur pulas. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. karena harus mengurus Alan. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Mungkin kalau tidak ada Alan. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. Semua terasa sangat berat. aku pun memutuskan untuk punya anak. semua masih berjalan baik. lalu kubuka. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. "Siapa ya?" tegurku. aku sendirian menjaga Alan. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. Dia tidak bisa menceraikan saya. Ya. dan ketika Alan sudah tidur. Tapi lihat. Hampir setiap malam. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. Petir terasa menyambar diriku. karena aku sebatang kara. Sementara aku masih terdiam. namun Mas Anton. terutama jika Alan sedang sakit. Kesepian sangat melandaku. Ya sudahlah. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. Sepulang dari rumah sakit. hampir setiap malam aku menangis. aku pun hamil. Tak lama pun air mataku mengalir. ya itu nama putra pertama kami." pikirku dangkal. . keluarga besar ku di Palembang semua. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. Tapi selama sebulan aku di sini. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. aku tak pernah melihatnya. semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. Untung saja ada bayi mungilmu itu. kami mengurus Alan.

Terima kasih ya Allah.id . Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. "Begini ya Dek Nita. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. Keesokan malamnya. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru. Syok tepatnya. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. Mohon Dek Nita memikirkannya. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku. Menanggapi tawaran tersebut. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku." Aku hanya terdiam." oceh anakku menimpalinya.agustian@yahoo. Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku.Di suatu sore. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. "Ibu kenapa? Kok bengong. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. "Alan. kaget. namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka. dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya.co. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. Beribu maaf jika lancang. "Iya. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. "Iya. nih liat pelutku buncit. aku sakit pilek. Gg H Abdul Karim 2. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. Rt 01/03. aku sudah makan banyak. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan. spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". S. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. Pondok Ranji. benel kan bu kata Alan. mendengar semua ucapan Pak Surya. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong. Email widi. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku. Ciputat 15412. saat menemani Alan bermain. "Iya om tau.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. dia pun mulai bicara. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. Oleh Damatriyani. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut.com : the_a_young@yahoo. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah.

04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami. Tak berhenti sampai di situ. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. mungkin bukanlah dia pangeran itu. Namun.. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. . kini di semester akhirku.” ucapku lirih saat bertemu dengannya. gelisah. “Inikah jodohku ya Allah. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. “Ya Allah. Inilah aku. namun beberapa bulan berikutnya.. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. dan galau.” celotehku disetiap rintihan doa salatku. hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku. Pertemuan tak berhenti sampai di situ. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta. ini perjalananmu yang pertama. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku.. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. kapan aku menikah???. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku. Meski aku tak berpacaran.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku. Kesedihan pun menerpaku. tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah. Bagiku.” pintaku di setiap doa dalam salatku. namun sedikit merasa risau. “Stop! Jangan bersedih nak…. Di setiap malamku. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. itu cinta pertama dan terakhirku. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status. ***** “Tuhan…. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki.CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa.. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku. Hati ini lega. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit.

Menyorot merah padam. Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. Tak lengah sepicing pun. Apalagi berpalis muka.blogspot. Ia bukan seorang mata-mata. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku. Begitu nyalang. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu.com Blog: Roudhotulilmi. Tatapannya melirik tajam. sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan. . Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran.com Cerpen Penyamun Kamis. Malam itu.” tangisku di depannya. Tak pernah terpejam. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini…. dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku. “Ya Allah. agama. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. Bak denyar halilintar. Bersurukan laiknya seorang pengintai. aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Seperti mengungkapkan amarah. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Sungguh hati semakin gelisah.andriyani@yahoo. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). pengamen memang cocok untukku. disamping aku masih mencintainya. Anehnya disetiap tidur akhir malamku. Bukan hal aneh bagiku. Anak kecil berumur 10 tahun.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku.

Memiliki tanda gores di wajah. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. Tapi sialnya. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Di jalan. Kalau mau ngamenmu laku. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. Memalak uang mereka. Alasannya sederhana. hanya berani pada anak kecil. melainkan hari ini bukan hari libur. ia duduk bertinggung menatapku. Terik matahari meyorot panas. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. Berotot besar tapi nyali secuil. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Selalu kalah. Sebenarnya. Luka rebak itu hasil sabetan parang. Katanya merusak suasana kota. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. sekembalinya . Mungkin sejam lebih. ia datang menghampiriku. kalau ingin tetap mengamen di sini. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. “Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh. hasil kerja payahku itu. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. selain berjudi. pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. Jalanan tampak sepi. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. jangan pakai kecrek. Padahal ia bukan tentara. mereka selalu memesan makan di situ. Ah. hingga sekarang. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Ya. Memang.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Aku hanya diam tertunduk. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. “Beneran Bang. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. Hari ini langit cerah. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku. sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. seorang preman menyambi penjudi. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu. Bila di pikir-pikir. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. pakai alat musik lain seperti gitar. ia tak pernah ikut mengamen. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. Menyunggingkan senyum kecut. selalu dirampas olehnya dengan dalih. Bukan karena aku malas. Bila mendapat banyak uang pun. bila warung itu dimusnahkan. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. hari ini sepi.” Namun nyatanya. Tiap hari rokoknya ludes.” Padahal.” jawabku. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. “Ini daerah kekuasaanku.Sedang ia. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. maka para preman akan melakukan perlawanan. Terpapar renyuk. Semacam tukar beli. Dan entah berapa lama ia menatapku. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Pastinya uangku akan dirampas. Bila uang taruhannya habis. Menerpa pada mata setiap orang. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Bukan hanya itu saja yang dipintanya.. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. “Heh Udin. aku dan pengamen lain. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. Begitulah pekerjaannya. Di bawah warung itu mengalir air selokan. Bukan hanya para preman saja. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang. bukan oleh pembeli. Di depan warung nasi milik Bi Inah. pertanyaan yang memuakkan. Hingga titik darah penghabisan. Perawakannya pendek. Sepasang mata itu milik Bang Jali. Tapi baru sedikit uang yang kudapat.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. ketika mayoritas berkuasa. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku. Istriku. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . Hari ini Senin. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. tanggal/bulan/tahun. sambil tertawa kecil. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama. Di dalam Kijang Inova. lotion penghitam wajah”. Di hadapanku sebelah kanan. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. “Iya Bune. sambil sesekali memandangnya.” Pada hari itu. Dan sekarang. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. Selalu berputar.mengembalikannya lagi ke hitam lagi.” jawabnya dengan logat Jawa kental. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. Sambil menyetir. akan Kami putar (nasib) manusia. “Walah Pakne. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. Di kaca depan sebelah atas. “Cantik itu relatif. “ Iya ya Bune….” batinku. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu. saya suka dengan wajah Bune yang alami. Kedung Banteng. seakan prihatin. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at. Jawab istriku. tambahnya menggoda. lha wong udah tua gini kok neka-neko. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. dan terkadang di puncak. sambil menggelengkan kepala. “Dunia sudah terbalik. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. Ternyata Tuhan seakan menguji kita.” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. tengah. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. Ya. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. 16 Juli 2018. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika. Itulah sunnatullah.” kataku kepada istriku. diskriminatif dan menindas minoritas. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus. Rasakan Hasilnya!”. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds. sesuai tren zamannya…. Nyatanya. hidup itu seperti komidi putar. yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar.” gumamku. Mobil berhenti karena lampu merah. ”Sudah jam setengah tujuh. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“. tanyanya manja. Memang. Inilah janji Tuhan. bangga. Itulah aku dan istriku. hari ini. merekapun menjadi sewenang-wenang. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. hukum alam. Kudus tepatnya. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. kadang kita berada di posisi bawah.

hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak.saat kelam. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku. rasa yang aku alami selalu sama. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri. bukan karena aku sedang mengalami duka. Seketika aku menyadari.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa.tebing yang ada di sekitar pantai. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat. Teruntuk Akand. Bukan hanya itu. tapi ini tentang sebuah harapan. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Pemandangannya tak pernah berubah. Setiap aku melihat pantai itu. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Ini bukan saja tentang mimpiku. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. dan perubahan sebuah bangsa. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. Tapi sebaliknya. Tapi karena di saat-saat seperti itu. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Dan terkadang di antara putaran tornado itu. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. Dan setiap kali aku melihat pantai. Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat. Awan mendung tampak menaungi biru pantai. Aku menaiki tebing.pelatih dari benua biru. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. aku seperti melihat sebuah . Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku. Walaupun dengan hal. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Terlihat burung. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. aku tak dapat membantu mereka. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. Tak hanya melihat keindahannya.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. mimpi. tapi juga harapan bagi keluargaku.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. Semuanya akan baik. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli. ada yang dapat membuat mimpi. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah. Terdiam aku untuk beberapa lama.baik.mimpimu hancur berkeping.

tetapi keadaanlah yang memaksa. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran. jangan dipendam sendiri. Koran. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. takut ia tersinggung. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios.harapan baru. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. Alamat blog: geoaranda. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. Kegiatanku kini membantu Emak. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. air akan menjajah seluruh ruangan. kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. “Begini Mak.” Aku menggeleng pelan. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. majalah maupun buku semua tandas aku lahap. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. hingga Emak membuka bibir. . atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. Tangannya yang basah memegang jidat. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki. Suaranya datar. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib. wajah perempuan baya menyembul.blogspot. Langkah kaki diseret mendekat. Oleh Geri Taranda. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit. Sebagai balas budi. usia menapak 14 tahun.” Suasana mendadak bisu. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. Perasaan serba salah menghampiri. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. Bersama Emak. rasa malas hinggap. “Ayo lekas ngomong. Aku tak menyahut. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. Bertempat tinggal di Jakarta. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. Bila hujan turun.

terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain. pagi-pagi udah ngelantur. Layaknya pengantin baru.” “Oh gitu. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi. Ngontrak di belakang pasar. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. “Eh. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. Kali ini sorot matanya begitu lembut. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. “Jangan berkelit ya. ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak. seandainya Bapak mau balik ke rumah. “Sudahlah Le. tapi wewaler itu berlaku juga. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. bagaimanapun caranya. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. bapaknya.” Emak tersenyum kecut. ngepos di perempatan bawah kolong.” sapa Mpok Hindun ramah. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. “Maafkan Emak Le. Tadi pagi. sekarang Bapak tinggal sendirian. “Jangan percaya Bapakmu. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. Bagaimana jika Kang Diman. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. Kurapikan peralatan menyemir. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. “Syukurin. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. berharap derajat kehidupan lebih baik. raut mukanya masam. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. Ia bergeser.” Raut muka Emak seketika berubah.” “Syukurlah. Aku mengangguk lesu. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. kamu Marni. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. “Maaf. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul. Walaupun tak ada rumus yang baku. bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. kepuasan terbit di sana. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. tangannya membelai rambutku. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. Awal pernikahan kami begitu bahagia. kembali kepada kami. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. “Kasihan ya si Marni. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. “Mak. pemuda yang selama ini merantau. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan.” melengking suara Mpok Hindun. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. Aku membuntutinya. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu. Aku maklum. mengalihkan pembicaraan. Kang Diman. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. sebagai seorang sopir angkot di .” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. “Mak. lagi belanja ya. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan.”tanyaku memburu memendam kecewa. Dada Emak membusung. tiada guna menimpali.

tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. Mata bolaku hanya bisa menatap. Duh Gusti. “Tentu saja Di. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor. “Ah kamu Man. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. Banyak pula yang bersikap acuh. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan.” Segera ku naik ke boncengan. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. Udara kering panas menampar wajah dekil. tak jera juga aku mendekat. terasa kasar. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. semoga ini hanyalah kabar burung belaka. mata mendadak panas. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. Pernah Emak mengetahuinya. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. Kasihan si Wawan. Dekat tapi tiada tersentuh. “Kenalin Di. mirip banget sama kamu Man. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. tanpa sepatah kata pun darinya. Spontan aku menggeleng. sudah cukuplah. semoga desas-desus itu keliru. aku kan bapaknya. Entar aku juga punya mantu laki. khas orang Jawa sama seperti Bapak. Tak jarang mereka bermurah hati.kebetulan aku juga belum makan. Sekarang tinggal kami berdua.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor. teman akrabku. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW.” “Nggak pengen nambah. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. “Perempuan itu siapa Mpok. Siang begitu terik. ini anak lanangku. ia marah besar dan kecewa. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. Mau nganter istri ke bidan. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku. “Ini tho namanya Wawan. Pardi namanya. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. waktunya suntik KB. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. Oh Gusti. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. aku pamit dulu ya. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . Emak melarang keras aku menemuinya. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk.” Jantung serasa copot saat itu juga. Awalnya Bapak sering menjengukku. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. sejenak dalam hening. aku tak boleh mengeluh. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. “Aku pun nggak tahu pasti Mar. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya. pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. Boro-boro membelikan barang. “Yo wis. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. Tapi dasar anak bandel. Ah. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain. antara percaya dan tidak. “Ayo kita ke warteg. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. Emangnya kenapa. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa.

“Sudahlah Wan. Ada beberapa. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. darahku seketika tersirap. emosinya mulai tersulut. sesali nasib malang yang menimpa. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak. menyamarkan resah.” “I…iya Le. jangan melompong seperti sapi ompong. pasrah. Kalau Emak mau marahin. kamu Wan. tadi main ke rumah Mamat dulu. bagiku serasa restoran fast food di mal. membuatku mati kutu. aku tidak suka ia menemui bapaknya. berharap ketenangan tercipta. Emak marah ya sama aku?” “Le. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan. kukuh pada pendirian. kamu sudah besar sekarang. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. aku mau pisah. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. jadi aku berhak ketemu kapan saja.” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. ia harus memikirkan isi dapur. merasa dilecehkan. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan. mulai dari bayi. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. Sontak perasaan bersalah terbit. tetapi hubungan kami begitu jauh. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. kebimbangan menyembul. Kupandang photo Wawan di dinding. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak…. Aku tak mau menjadi ibu durhaka. Kupasang muka sejernih mungkin. Status pernikahan kini mengambang. . Rasa cemburu membuncah. Di atas kertas. teganya meninggalkan anak-istri. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah.”Aku tetap keras kepala. kenapa?” Wawan membuatku tergagap. Pernah berpikir minta cerai darinya. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri. “Kok diam saja. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. silahkan. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. Biasanya ia sholat di rumah. “Ayo Kang jawab. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. Gelisah merambah. “Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. Kemana saja Le. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. Entah berapa kali termangu di depan pintu. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin. “Eh. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. balita sampai seumuran sekarang.” “Maaf ya Mak. Kesumat masih lekat terpatri. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. tapi sosoknya belum juga muncul.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan.” pelan sekali suara Wawan. Kuhembus nafas sedalam mungkin. Muka Kang Diman menegang. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. Ah. Rupanya anak lanangku telah berubah. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. tadi aku ketemu Bapak lagi. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja.” Kutatap wajah anakku. Wawan belum juga pulang. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. Lunglai tubuh.menyayangi. pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. Praduga buruk hinggap. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. Ketegangan mulai merambati kami. kali ini aku nggak bisa. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. “Maaf Mak. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. membuat darah dagingku sengsara. “Mak. “Jangan harap.” Wawan beranjak dari duduknya. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. “Mak…. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan.

ngilu terasa.“Eh. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. Kugerakkan tubuhku sedikit. yang tengah bersiap berganti penjual.” Emak muncul dari pintu. mungkin aku sudah berada didunia lain. Selama ini Emak terlalu keras padamu. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. syukurlah kamu udah sadar. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling. Kecemasan terbit. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun. “Le. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. bak maling ayam yang takut ketahuan warga. ikan dan daging yang berkuasa. Bila pagi pedagang sayur. “Eh kamu Kang. Kepala membentur benda keras.” pipi Emak bersemu dadu. kunang-kunang berseliweran di kepala. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. Oh. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Tidak seperti sekarang. “Anakku Le. Matur nuwun Gusti.” terasa sekali Emak mencoba menghindar. “Kang Diman. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. Dipeluknya tubuhku. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. dirangkum dalam dadanya yang bidang. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah.” “Baiklah Mar. Emak ke mana ya. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. perban telah membebatnya. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. anak lanangku sudah sadar.” tersendat suara Bapak. Sejurus kemudian ia keluar kamar. “Maafkan Bapak ya Le. Emak di sini kok. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. Wawan cuma ngantuk. Memang Bapak telah menelantarkan kami. Terlambat. seperti ada yang dicari. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. tak percaya aku telah siuman. “Ada apa Wan. Mataku terpejam ngeri. tak hirau dengan panggilannya. darah kalian sama.” Aku hanya diam. Matanya berkaca-kaca. Benar itu adalah Bapak. aku tak keliru! Matanya terbelalak. “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. “Mak setelah sembuh nanti. kamu sudah siuman. matanya berbinar-binar. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. aku tunggu jawabannya. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. ngagetin saja. Jelas ini bukan kamarku. Karena perbuatanku kamu sengsara. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Harapanku tidak muluk. tanpa diminta pun telah memaafkan. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. senyap. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. Pandangan beredar sekeliling. Tapi aku ingin duduk.” jawab Emak bergegas menghampiri. Kupegang kepala. Entahlah. Eh. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. “Ayolah Mar. aku bukanlah ayah yang baik. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. gerimis membasahi pipi. Kelak bila kamu .” “Terima kasih Mak. Aroma obat meruar menusuk hidung. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh.” elakku gusar.

Sekarang tinggal di Depok. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir.” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. Aku bisa bertani disana. mohon belas kasihan 3. Semua tinggal menunggu waktu. 11/11/2012. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab. Gemericik hujan sore ini begitu indah. sorot matanya cemerlang. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah. Wewaler : peringatan 2. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. aku berniat untuk pulang kampung. “Oh ya Le. 12 November 2012 15:44 wib . Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. mudah-mudahan ini pertanda bagus. Duh Gusti.setuju. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. nanti kamu bisa kembali sekolah. Kaningoyo : sengsara 4. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian.” Hatiku mendadak cerah mendengarnya.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju.

di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. Sedangkan kendaraannya. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. kepok. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana." "Iya. apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya.. maaf apabila aku terlampau egois. Badannya yang ringkih itu babak belur. Mereka begitu menginginkan baju kurung. masih ada di pelataran parkir. Selamat datang ibu. telekung. jas katak. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. Ambil buatmu saja!" "Loh. sedikit saja. Entah apa tujuannya. Hanya yang membedakannya: celana dalam. pesak sebelah. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. Dia adalah manusia: bermata.AKU tak habis pikir.. basterop. Habislah orang itu dihajar. seroja. sekalipun sedang ia kenakkan. Ya. sepeda ontel. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. kain panjang. Tidak dengannya. Toh. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. Sungguh. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. kutang." sapaku seramah mungkin. "Bu. kok. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. seorang ibu tua. ambil saja. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. berhidung. kemeja buntung. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. lalu mati 67 tahun yang lampau. handuk. celana dalam yang selalu dikenakannya. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang. Kalau tidak. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. belah bakung. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. bajang. apalagi dedemit. bukan pula malaikat atau sebangsa iblis. penjahit ulung. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. "Tak perlu. ya semua ini karena aku tahu. bahkan membunuh. aku tidak salah. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. "Selamat datang bapak. tak akan ada lagi perlawanan. Pancaran mentari tak . sekalipun ia melambatkan lajunya. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Hehe. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. Dahulu kala. bertelinga. ia telah puas merasakan penderitaan. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. Dari bisikan yang kudengar. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. Sekonyong-konyong. Pertiwi sebutan orang. bukan rasul. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. semenjak suaminya datang di kehidupannya. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya. Untung baru seujung saja yang terkerat. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. tak ubahnya seperti kau dan aku. Sungguh. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. kelepak. Dia tetap berdiri setegak batang surian. "Apa maksud Ibu?" "Dek. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. Ia bukan jin. Jika ia mati. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. punggungnya lurus sempurna.

" jawabku sekenanya. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. Tanpa mengenakan pelapis lain. "Dek. *** Malam setelah matinya majikanku. Hidupku bahagia. orang memang kebanyakan berpikiran demikian. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. Tak menanggap. Namun.. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana ." tolakku gemetar. dan aku adalah si pekak. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca. Ibu itu diam. mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. kepada Istana. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. ternyata hanya untuk dipertontonkan. itulah yang namanya kesempatan. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. Malunya sudah musnah. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. Ia nekat telanjang. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. Tadi. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. ada darah yang menyembur deras. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. Lama. dan aku si buta. bagaimana mungkin aku tak sadar. "Ti. "Huh. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. aku tak berani.kami hiraukan. dengan sisa-sisa perca. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu.." jawabku sekenanya saja. Suara perempuan itu menjelma guruh. tatapannya adalah kilat. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku." Ia pegang pundakku. bisa-bisa aku dipecat. tidak Bu. ia telah lupa diri." jelasnya lagi." sejenak ia menghela nafas. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. "Seandainya aku berikan dua pilihan. Mana mungkin aku berani melakukannya. Senyumnya kian berseri." Dari dalam rumah. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku." jawabku pasti. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. seharusnya kau ambil saja. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku.. "Dek. "Mengapa?" tanyanya lagi. Orang itu. Namun." "Ah. "Jadi. "Benar. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu. Aku gemetar mendengarnya. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil. Dia tersenyum. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini.. orang yang membuatku hidup. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas.. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami.

kelahiran Batusangkar. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. Padang. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah.” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. Anggota UKS-UA. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. 7 Juli 1992. Selain giat bermusik.dalam berwarna merah putih itu. Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. Tapi aku tak mau. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah. 19 A Padang Timur. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. ia enggan menerima balas jasa apa pun. . Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah. “Silakan Neng diminum airnya. divisi musik. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang.

” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Hanya punya satu tivi 14 inch. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri.“Mun urang nulungan batur.” “Buat warga di daerah ini. dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi.” ujar Teh Ema. menurutnya. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Pada Bu Nyai. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. Ia pun menceritakan hal yang sama. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. Rumahnya cukup sederhana. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. Untunglah aku bertemu Mang Durja. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Sebab. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari .” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. Seperti diceritakan Mang Durja. ia lakukan dengan segenap hati. Sep. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. bahkan boleh dibilang teramat sederhana. Sep. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. “Bu Nyai mah A baik orangnya. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Aku sempat meragukan cerita tersebut. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai.

Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Beku. *** Hari itu hujan deras sekali. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. ini berarti pertanda ritualnya berakhir.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Semakin mengkerut. aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Ah Alhamdulilah. Keningnya mengkerut. Hujan di luar kembali menderas. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. cepat-cepat pula aku membuka pintu. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Bisa boros limaribu sehari. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Ia terus mengucapucap subhanallah. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Aku duduk di kursi sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. “Muhun Sep. Ah. Namun sesaat setelah membuka pintu. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Setelah sepeda kurantai. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. “Bu Nyai. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Hujan masih juga betah berjaga. Napasnya sedikit tak teratur. Tapi ini tidak. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Tapi tetap tak ada. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. Hujan tinggal rintik-rintik. Akh! Bu Nyai membuka mata. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. Sesekali kepalanya . Hampir 15 menit aku menunggu hujan. tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. Salah satu tangannya. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. Entah kenapa. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Maklum. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Bahkan lebih. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Lima kali subhanallah. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Aku tak berani menghentikannya. Lunglai. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. Ia masih belum menghiraukanku. Aku memaksakan diri pulang. Aku tiba di kontrakan. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Tubuhnya juga bergetargetar. Aku semakin merinding. Mata Bu Nyai masih terpejam. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Aku semakin membeku. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Entah apa sebabnya.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. Ia menghela nafas lagi. Aku masih berada di kampus sore itu. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Termasuk pada Tuhan. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Dan. aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu.

Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng. Seperti tertimpa batu-batu. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya. Mencoba memahami segalanya. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. Penikmat kopi dan sayur asem. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Aku mengangguk. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. Dan sekarang. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. Ia mendesah. Energinya habis. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data. sep: Kalau kita menolong orang. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu. *Mun urang nulungan batur. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. Kini tinggal di Jakarta dan menulis. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. “Sep. Di sekitar sini.5. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. ada di sini.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra.com Cerpen .menggeleng pelan. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. tapi tetap tidak juga ketemu. selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah. Bandung.

Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. Kau malah memelukku dan mengucapkan. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Aku heran padamu. Ku bilang pada diriku sendiri. kau antarkan aku ke kosku. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya.“Ahlan wa sahlan. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. kau dalam . Kawan…mengingatmu aku sangat malu.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. aku hanya bisa mengulum senyum padamu. aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Aku mengharapkanmu. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. nanti saya yang bayar.” kataku saat itu. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. Untuk menghargaimu.” Sebetulnya aku malu padamu. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Tak lama dari kepergianmu. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. Habis ceritamu. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. saudaraku”. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. “Hmm… aku suka buku ini. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Kau juga sampaikan padaku. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. khasmu. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. Sangat memotivasi. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. kau tak ambil banyak bicara. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. Dengan kelihaianmu itu. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Belum banyak kau bercerita. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. Kau ajak aku makan berdua denganmu. Aku malah lupa kesukaanmu. Aku yang suka. “Kau suka ? Ambillah. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Tepat pukul 3 sore. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Tak berpikir panjang. Ku akui aku mulai suka padamu. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan.

aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. Pati. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu.2010).2010). kau akhirnya ditemukan. Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. RT 03/RW 01. Jontro. sobat. Wedarijaksa. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku.keadaan selamat. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 . mewujudkan impian kita berdua. Kab. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar. lahir di Pati. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. impian kita telah terwujud satu per satu. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . Setelah satu bulan pencarian. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. 16 Oktober 1988. Tinggal di Ds. Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. kini telah berteman dengan coretan garis merah. Sobat … bagiku. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Buatmu. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. membuat diriku tak sanggup mempercayainya. . kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. Sobat. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu. Jawa Tengah. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Sobat … andai kau lihat saat ini. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Kec. Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010). Atas izin-Nya. Dulu. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. Kau ajari aku perlahan.

Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau. disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. kamu lihat itu. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. Gilanya. “Nduk. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’.. cobek. “Aida. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya.korupsi telah membudaya di negri ini. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. Segera kubasuh muka dengan air wudhu. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. “Nduk. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan.sekarang mandi sana. badanku sudah bersih. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. aku siap berangkat. Seperti biasa ibu tidak ikut makan. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. Kemudian sontak bertanya padaku. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. gundah. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. hidup itu butuh pegangan. Pak Yon. untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn).. aku berusaha membangunkan tubuh ini. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. Selesai sembahyang aku keluar kamar. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. salam-tempel.. Damai dengan polisi kalau di-tilang. buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak.” . adalah nama panggilan bapakku. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. kita berangkat bareng !”. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. Aku segera mandi. serangan-fajar. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. Kami tidak punya meja makan.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Tapi bisa apa aku. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau. Budaya Korupsi.

.. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang.. bukan karena teror ujian.. ayo berangkat. Aku diam.. itu gambar benjolannya masih kecil kok. ”Sudah pak. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua.. Ibu datang. ”Buat apa nduk. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak.. Sontak membuat aku kaget.. Aku tunggui ibu. bapak yakin kalau Aida bisa.semuanya sudah selesai.. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. ibu ndak mau kamu khawatir. entah aku sedang menangis atau apa. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. Jatuh satu demi satu.. Sekarang hari Sabtu.” ibu berusaha menenangkan aku. aku harus memilih. ”Wah cantiknya anak ibu ini.. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal. aku libur. kalau ibu punya tumor-payudara. ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”.. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. Kulihat ternyata banyak juga sainganku.. “Rencana kuliahmu besok.. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. . baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya. dengan raut muka campur aduk.?” tanya bapak kepadaku. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk. Lima juta harus cair dalam sehari. Tapi hidup adalah pilihan. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu. Hari Minggu tiba.Aku agak risih mendengar nasihat itu. Ternyata Aku diterima. Hingga selesai. Kita langsung berangkat. tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku. ”Uang dari mana. ”Aida.. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu.!!!’ tegur bapak. Informasi ini diumumkan di Koran. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. Aku bingung dengan senyum ibu. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. Ragu-ragu menyerang tubuhku. ”Sudah selesai Aida. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. Sudah kutuntaskan tugasku. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya.” pikirku. Segera aku lari ke depan rumah.”. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. tapi karena ibu.” sapa ibu. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya. Ya.. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu.” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi.. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. Aku butuh klarifikasi dari ibu.!!!” rengekanku kepada ibu.... Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan.. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. Ujian dimulai. Tertulis nominal disana: Rp5 juta.. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. bapak antar Aida ya besok!”pintaku . mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. kamu tenang saja nduk. Sesampainya di lokasi. ibu bohong sama Aida. Aku degdegan. Memohon doa restu.. Hari-hari telah berlalu. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh.

.pak”. bapak dan ibu tenang saja.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. Beberapa saat kemudian di hadapan kami. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. ”Untuk masalah itu.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu. . Badannya panas. ”Ya. berdoa. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. akan saya cek kembali hasil . Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu. nakal bukan kepalang. Allah tidak akan meninggalkan hambanya.Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. ”Begini pak. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. Apa ini pak?”sahut bapak. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. “Maaf. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo.” tutur ibu anak itu.. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini.”Jadi kedatangan kami di sini ini. Aida pasti akan kuliah pak. Aku malah disuruh di rumah. saya tidak bisa menerima amplop ini. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. orangtuanya. setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. “Betul Pak Yon..” jawab bapak. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”. Ya. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun. Hanya laku dua juta.begitulah bu anak-anak.... Aku tak tahu bapak mau ke mana. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo..” tutur bapak kepada orangtua Bimo.. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo. “Bapak tenang saja. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. amplop berwarna coklat muda dan tebal. Saya jamin. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. Tapi untuk masalah Mas Bimo. Hari menjelang sore. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku.pasti ada jalan. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. Pikiranku melayang. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong. karena kami semua khawatir kondisinya.” Raut muka bapak mulai kebingungan. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali. tangannya menggigil. bapak bisa mendapatkan motornya lagi.. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu. agar tidak terjerumus. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih. Ketika ujian kemarin si Bimo. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo. Bapak pergi lagi. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. ”Pak Yon. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. nduk?” tanyanya. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tepat pukul dua belas siang. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak. seketika itu pun bapak terkejut. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat.. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya. anak kami. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. Aneh glagat bapak.. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu. dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos. Amplop tersebut kemudian bapak buka.

Silahkan orang berkata apa.. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. tapi seberat apapun hidup.” tuturku kepada bapak. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan. Ya.. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah.apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. Jadi tenang saja pak aman terkendali. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya.ujiannya Mas Bimo. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik .. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. Bapak kemudian menatapku. Aida belajar dari bapak. telah aku pilih satu hal. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. ”Nduk. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. setelah melalui pertimbangan panjang. Seketika itu juga. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan. yang jelas aku bangga dengan Bapakku. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa.” tutur bapak. kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau. Kan hakekat ilmu itu universal. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. ”Tenang saja pak. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan.. Aku sadar sekarang. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus.

sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja.” sambutku penuh senyum. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. kakek menolak mentah-mentah. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. Aku paham sekali. jawab kakek. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. Yah. “Tak apa Cu. sudah kehilangan banyak darah. “Huh. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. tidak juga Cu. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. “Tak usah. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut.” balas kakek dengan senyum di bibirnya. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. . Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. Selalu begini. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas. tanyaku serius kepada kakek. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. “Sekarang kakek pasti tahu. Ini hanya sedikit saja. memang benar apa yang dikatakan kakek. “Ah. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki.” masih saja setenang ucapan sebelumnya. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. tanyaku lagi. Betapa kagetnya aku saat itu. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. Sama seperti kemarin. berjalan tertatih tak seperti biasanya. pulang dari arah persawahan. Melalui jendela kamarku. “Kakek sudah pulang?. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa.Senin. Semakin dekat menuju rumah. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri. darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. nanti juga sembuh. besok mau makan apa? Ah. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar. Aku hanya bisa menghela napas. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. Entahlah. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa. bertelanjang dada. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi.” Balasku sedikit kesal.” jawabku sewot. “Aduh. “Hahaha. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. pasti berat sekali ya Kek?”.” gerutuku dalam hati. Terlihat lemas. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. “Segar apanya.” Sahut kakek dengan enteng. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”. seperti dua hari lalu. jadi malas memikirkannya lagi. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. Menunggu kakek pulang dari sawah. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. “Hemm”. “Selalu saja begitu. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. Lihatlah kakek sudah segar kembali.” balas kakek dengan entengnya. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku.

rumah mewahnya hilang. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Hanya bisa tersenyum kecut. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. Aku diam. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”. “Aku sedih. Huh. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. balasku mulai marah. Aku juga merasakan hal yang sama. “Lhoh.” sahut kakek pelan. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. yaitu ayahku sendiri. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. Ah. balas kakek. “Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. Kebencianku muncul kembali. Sama seperti keadaan dua tahun silam. “Tunggulah sebentar. “Iya Kek. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. Akan tetapi. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. Senada . Saat itu kenangan masa laluku muncul. kataku dengan takut. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya.Khekekekekek. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. Apa-apaan. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. Kasihan sekali kakek. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. “Hemm. luka kakek sungguh mengerikan. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”. nanti juga berhenti. “Kek. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. seru kakek dengan semangat. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. kini hidup kakek terlunta-lunta. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. “Kek. timpalku keras. tanyaku tertunduk. bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”.” Timpal kakek. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. “Apa yang kamu benci. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras.”. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”.” Aku mulai menangis lagi. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah. tabungannya habis. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. jawabku pelan. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. kita tidak punya apa-apa lagi.” Balas kakek dengan heran. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. “Hei Cu. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. Kita tidak punya uang. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. Namun. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. sedangkan untuk makan saja kurang. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Siluet seorang nista muncul di hadapanku.

Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. Ah. “Jeng tak usah khawatir. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. aku teringat Mas Seno. Aku punya sebuah janji. Tak heran. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati. Bandung. suamiku. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Kalau sudah punya uang dia akan kirim.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. dan Bali pernah dirambahnya. Inilah yang kurasakan. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. Perkakas apa saja. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Jakarta. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Aku sangat sedih. Tubuhnya panas dingin. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. . Sebagai tukang kayu. bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Demam. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Kalimantan. Bikin almari. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. meja. entah sakit apa. Sama seperti Mas Seno. Kaki kakek sudah bersih. Suamiku biasa bikin. kursi. suamiku sudah biasa merantau. Bu. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Surabaya. Sudah dua hari ini anakku sakit.

Tapi karena aku sadar diri. Agar anakku bisa pulang. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS.“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas.” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Usia baru genap berkepala tiga. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata.” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi …. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya.. Sebenarnya aku enggan menghubunginya. Tetanggaku sudah membantu. aku malu bertemu dengannya. Silahkan ibu mengurus uang administrasinya.” “Tak usah khawatir Mir. Lembut penuh perhatian.saya keluarganya. Apa yang bisa kami bantu. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas.” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. Seramping dulu ketika kamu belum menikah. Tapi hasilnya nihil. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Aku akan membantumu. Makan malam bersama Mas Kar.saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit. PT Kartika Furniture. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini.?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar….” “Anda harus membuat janji dulu. “Mira…” Aku mengangkat wajah.. Saya…. terdengar suara lelaki itu. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan. mengumpulkan uang. Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi. Anak ibu harus dirawat di RS. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang.” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. menghubunginya. Dirawat di rumah sakit.. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture.. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak. Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon.. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta.” “Saya. “Hallo.” “Anak saya sakit.. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku.?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya.ini kamu Mira. Mas Kar…. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami. Mas Kar rupanya tahu diri. Mas Seno sedang kerja di Jakarta. Mas.. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas.. “Oya Mir. Suaranya masih selembut dulu. Aku enak-enakkan makan di restoran. Tak usah menunggu lama. “ .. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname.” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan.. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya. “Benarkah. Aku pernah berbuat dosa padanya. “Kamu masih secantik dulu. Dia masih seperti yang dulu. Tapi saya sedang dalam kesulitan. Tapi demi kesembuhan anakku.

Kartini dan Annida online. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. Utuh. 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa. Mira dengan senang hati menolong Mas. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra.” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Mir. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku. Aku sudah istri orang. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. Aku yang masih menyayangimu Mira. Tubuhku. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki.. Aku…aku masih mencintaimu. Berulang-ulang kau membaca memo itu. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel. Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT. Tulisan latin Mas Kar. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu.” “Tapi bukan yang satu itu. Karya penulis pernah dimuat di Sabili. Pusing itu masih terasa.” “Baik kalau itu keinginanmu. Rangkain tulisan rapi itu kukenali. Dalamanku.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi. Suara Merdeka.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. fiksi dan puisi. Bajuku. Mas.” “Apa maksud. Kamu adalah istri setia. “Kalau Mira bis menolong. Kamu wanita dambaan lelaki. Aku membuka mataku perlahan. 2011). Yunior. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan. 2011) . Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. Saya berutang pada Mas. Percayalah kamu masih utuh.” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. Aku juga seorang ibu. 2011). Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Mas?” “Suamimu tak akan tahu. Mungkin karena aku terasa capek.“Saya sudah melupakannya. Suara Pembaruan. Mir.”. Lembut dan penuh perhatian. Oh….” “Saya menyayangimu. atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku.

dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Badanku rasanya gerah. Wajahnya kelihatan berseri-seri. janganjangan dia menangis lagi. Aku khawatir. kamu tidak usah khawatir. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. Wajah sahabatku tersayang muncul. batinku. Hidungnya tampak memerah. dia tertidur. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. Tapi kenapa sih. Tampak olehku. lalu mengajaknya bicara. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. Emily. Setengah jam kemudian. Hap-hap-hap. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. begitu pula sebaliknya. Ada apa dengan Emily. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. Aku jadi sedikit lega. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. “Din. Teruslah memintal harapan. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. Dia mengusap pipinya yang basah. Sahabatku yang malang. Sungguh. jadi memunggungiku. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. Emily diam. Barangkali itu bisa menghiburnya. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Aku percaya. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . setengah histeris. aku tidak tega melihatnya. Sesekali. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. Dia membalik tubuhnya. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah. karena tidak bisa melihat wajahnya. Aku ingin menciumnya. dia bisa mengistirahatkan pikiran.Perjalanan Dini Senin. sementara gerak kakinya ringan. Pelan-pelan. Setidaknya. Melihat keadaannya. di suatu waktu. apakah suatu hari. Udara serasa mendidih. Hanya saja. hati. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. ya? Aku jadi penasaran. Dengan lirih. Aku semakin tidak tega melihatnya. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. tapi tidak ada keringat yang keluar. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. Tidak lama kemudian. hatiku seperti diremas-remas. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Emily. sekedar memberikan hawa sejuk. Jadi. zaman sekarang ini. Aku ingin berlari memeluknya. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. Aku jadi kecewa. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. Wajahnya tetap murung. Di sudut matanya yang redup. menuruni pipinya yang berjerawat. “Din. Ada banyak lelaki di dunia ini. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. dia bertanya. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. seperti kijang. “Aku tahu. Aku melihat ke luar jendela. wajahku tidak cantik. dia terbatuk-batuk. menyembul butiran air. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. Kali ini. Sayang. Rupanya. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak.

hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. Katanya. mengajakku ngobrol. aku bingung harus bagaimana lagi.” lanjutnya. Dalam pandanganku. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. Wajah-wajah mereka cantik. Tiba-tiba matanya membesar. kulitnya putih susu. Sayang.” panggilnya lagi. bukan karena cinta. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. “Din. Jelas aku kalah menarik dari mereka. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. Kalaupun bisa. Jerawat dan komedonya sudah hilang. Din?” Menurutku. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. aku jadi GR mendengarnya. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. apapun risikonya! Soalnya. Matanya lebar. Sayang. Dalam bayanganku. Dia menutupi kedua belah pipinya.” Emily berhenti sejenak. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. kamu hanya akan disakiti olehnya. Emily tidak mempedulikanku lagi. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. Dan pada saat yang sama. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Aku terlalu menyayanginya. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. Yang membuatku heran. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. “Hari ini. Roni namanya. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. Coba kamu pikirkan lagi. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Tidak ketinggalan.” Emily tersipu-sipu. Sayangnya. sejak pertama melihatku. Ada Sisca. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. semakin memperburuk penampilan luarku. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. semakin lama. . Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. dia seperti hampir lupa bernapas. wajahnya juga berubah lebih menarik. Aku mendadak deg-degan. Kamu mau menerima Roni. meski dia mengabaikanku. Emily diam. turut berputar. Kulitku kusam dan hidungku pesek. aku tidak bisa membenci Emily. aku pasti menangis tersedu-sedu. Teman-teman selalu mengejekku soal ini. Waaaaah. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. mirip orang Eropa. Karena begitu semangat bercerita. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. “keputusanku ini terlalu mendadak. perkiraanku keliru. Dia tidak pernah lagi mendekapku. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. Roknya yang mengembang. aku langsung menerimanya.” Emily mendengus. Aku tersenyum geli dibuatknya. Setelah kucermati. Emily justru memutar tubuhnya. Belinda. dia sudah tertarik. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu. Tapi dugaanku mengatakan. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. Tapi ternyata. Kedua tangannya diangkat ke samping. “Tanpa pikir panjang. Tapi kemudian. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Bola matanya berputar-putar. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana. menengok teman yang sakit-lah. dia langsung memeluk dan menciumiku. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. dan rambutnya cokelat panjang sebahu. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu. ke toko buku-lah. Natasya. hidungnya mancung. sejak pertama kali MOS. baik soal make up maupun pakaian. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. Emily sekarang jadi genit sekali. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. dan seterusnya. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. “Aku tahu. “Apa aku salah. dia nembak aku. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. Ada apa.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. Cecil.perbuat. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. Kalau dipikir-pikir. Mungkin dia sedang berpikir. Pulang sekolah dia selalu pergi. Aku terkejut. Begitu lama kehidupanku dengan dia. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat.

Aku memang hanya sebuah boneka. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Aku terus tersenyum. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya. tanpa pelukan. “Tahu nggak. “Waaaaa…. Semuanya cantik. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. ‘kan?” “Senang. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. biar bisa jadi teman main kamu. Aku harus melupakan dia. Emily memilih mereka. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong.” Betul. anakku. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. Entah kenapa. Selama perjalanan. 20 April 2012 . aku sudah sampai rumah lelaki itu. Hatiku tenang. kalau lima bulan silam sambil menangis. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. Aku merasa dingin. Din. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. senyumnya manis. dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. Manis sekali! “Wah. Dia segera menggendongku di punggungnya. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. dia sempat berbisik. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. “Maafkan aku. Apakah dia sudah lupa. “Sumiiii. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. anak pemulung itu. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. Aku bahagia. Bapak ambil saja. lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. Sebelum pergi. dia bertanya padaku. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. Purwokerto. kamu senang. dia mau menerima keadaanku apa adanya. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. tapi tidak kuasa menggigil. Lelaki itu tersenyum. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar. persahabatan kami bisa langgeng. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. Ya.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. Rasanya. ya?” ujar Sumi kepadaku. dia Sumi. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. lelaki itu bertanya. Aku diam. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. Dia memandangi dengan seksama. Bapak pikir. aku merasa nyaman. “Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. Aku harap. “Lho. “Nah sekarang. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. Bagus. Jadi. Kepalanya bergerak. dia tidak bicara. hari ini. Mungkin. Dan tibatiba. Pak!” seru Sumi. tanpa ciuman. Namun. sudah berkurang. Gimana. kita bersahabat. Oleh karena itu. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. sementara Emily tetap saja membisu. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. riang. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. sudahlah. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. Bibirnya tersenyum. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. karena dari dalam karung.

Kalau begitu. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. Empuk sekali. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. sebagai penulis atau pembaca novel itu. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. Karena aku bukan novelis. saya Alia. otomatis pengarangnya mati. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. “Tapi ngomong-ngomong. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. “Kenalin. saya bukan lagi penulis novel itu. Sangat menggoda. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. Sumpah mati. Sang Penulis. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. Jika Anda tidak keberatan. Kaidah anak sastra ‘kan begini. ketika sebuah karya selesai ditulis. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. salah satu agendanya adalah bedah novel. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Bukan pula cerpenis. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. Itu pun lebih disebabkan propaganda . Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. batinku. Fakultas Sastra. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. Seperti biasa. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. kan?” Di seberang. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. Gurih sekali.” Hmm. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. Alia tertawa. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis.

Mau pegawai negeri atau swasta. Hemat. Aku justru tidak suka caranya beriklan. bahkan diperkosa. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. puisi itu ‘kan harus padat. jangan-jangan. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. soal sastra. Bagiku. pasti terguncang-guncang. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita. maksudku. okay. mengerjakan tugas yang itu-itu saja. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai. sambil nongkrong di balkon. Tidak meyakinkan. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. Sudah indah apa belum kedengarannya. Dan. Saking edannya. Sama tidak enaknya. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. Terkadang cuma untuk memastikan. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. kuputuskan untuk menyerobot buku itu. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. Jadi. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. Pretel-pretel. Roni mungkin benar. sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. dibakar mobilnya. Setiap kali mulai menulis. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. Begitu seterusnya. prosa. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa. sudah cantik apa belum bahasanya. baru aku bilang edan tenan. yang bikin kita mikir. Gila. Karena kenyatannya. Dan. yang bisa dilakukan kapan aja. sekaligus tertib ber-aa-ii.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. sama saja. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. dalam beberapa hal.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel.” “Ber-aa-ii?” “Berima. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. kurang lebih jawabannya begini. Nah. Berbeda dengan prosa. Bukan karena termakan promosinya. aku sudah terbiasa menulis puisi. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli.” Tapi rupanya. “Oya?” “Begini. puisi. Terlalu tergesa-gesa. sambil tiduran. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman. Tunggu saja. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. pasti terkaget-kaget. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. Rayuannya kurang “maut”. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Alangkah sakitnya menjadi Clara. Serupa motor kehabisan bensin. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. Mengandung unsur bunyi. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ. baru selesai satu paragraf. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. Roni. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu.” .” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. Tentang minatnya pada dunia sastra. Seperti mobil terendam banjir.seseorang. malam nanti mungkin giliran Saman.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. dan karenanya enggan kugeluti. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. Edan. aku sudah gatal untuk mengeditnya. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. Pelit kata-kata. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. nama orang itu. “Minggu depan. cinta setengah mati pada dunia sastra. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni.

ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. biografi seorang (calon) penulis yang malang. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. Yang pasti bukan ke arahku. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Muka tirus.” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. “Aku kan sudah bilang. Sebuah undangan yang. Padahal telah dicobanya segala cara. hampir dua tahun dipacarinya. Ingin menerjang. seperti kubilang sejak awal.” “Oya? Di mana?” “Maaf. aku cuma bisa bilang. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. Dan. ia muncul mengajakku makan. tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja. Sampai jumpa tanggal 25. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. Angin dingin segera menyergap. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung.” “Terima kasih. Dan lihatlah. “Terima kasih kejutannya. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. Tak lama kemudian. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. Awalnya kupikir. di mana seluruh ide novelku berawal. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. Bukan sematamata karena (hhmm. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. Sangat menggoda. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. Nah! Itulah sebabnya. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan. Tiba-tiba sudah jadi buku. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. perempuan yang saat itu. Tidak salah lagi. Atau paling banter. Titik. kejutan selalu muncul belakangan.” ♦♦♦ TANGGAL 25. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. Pandangan matanya mengarah entah ke mana. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Tapi semakin kutatap semakin kupandang. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. Cuma berteman secangkir minuman. Hidung bangir. Jangankan novel. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. Ingin menampar. sungguh mirip pizza. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. Setiap detil ia pahami. ia selidiki. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Duduk sendirian. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. menulis cerita perihal Roni. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. Untuk menebalkan motivasinya. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. Atas saran Alia. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial.Ya. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer.” Aha. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum. Rambut keriting.

Meski terkadang aku ingin. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja. Kukunyah pelan-pelan. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu. Bahkan hingga sekarang.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. Sampai mewujud jadi novel. Gulukguluk Sumenep (Madura). Cerpen .” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. Ke kafe ini. MPA. Ron? “Mbak Shinta. Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua.” tiba-tiba Alia mengetuk meja.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Aku orang kampung. memang. Pada 1998. tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. Meski mungkin ia mau. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. aku bergegas pergi. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. Dan. kulumat saja kenangan-kenangan itu. Santri. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga. Bukan semata-mata dari kafe ini. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. Reuni? Ah. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. 7 September 1980. Banjarmasin Post. ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Jawa Timur.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. novelku belum selesai juga. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram.” “Celakanya.” “Tapi sialnya. Sari-sarinya kutulis diam-diam. seperti yang ia cita-citakan. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga. Ke reuni ini. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku.

Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung. Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. seharusnya waktu itu aku . Vira. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan. Kemudian. Selang beberapa menit.” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. kenyataannya aku tetap darah daging ayah. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan. “Mana biar kulihat. Amri. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati. “Ya. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. Terima kasih ayah karena telah menemukanya." “Ooo. aku tetap putri ayah satu-satunya. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain. Ishak. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya... aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya. “Maafkan ayahmu ya. “Bagus juga ya. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya.” Ishak tersenyum pada putrinya.” Vira memeluk boneka itu erat-erat.” Amri membanggakan mainan barunya. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. di kebun bunga-bunga hias. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. dan asri karena penuh dengan tanaman hias.” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing. “Ibu.ini ambil lagi mainanmu. Putri Ishak. Ishak menghela nafas panjang. “Tapi..” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. Seharusnya aku percaya pada ayah. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering.” ujar Vira tersipu. Tapi. duduklah seorang lelaki tua. kau benar. “Ayah terlalu berlebihan. Tapi. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. kamu tunggu di sini. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah.” Vira mengambil mainan Amri.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah. Di atas meja." Vira menundukkan kepalanya. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. menggigit bibirnya. lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah. “Semua itu sudah lama terjadi.. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah.Mekar Dalam Badai Senin. “Dulu aku begitu jahat pada ayah. Tak perlu dipikirkan lagi.” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya.. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya. sayang. “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. Lalu memberikannya pada Vira. putra kita. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren." “Ya. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya.

meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya. Ayah. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu. “Maaf pak. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku.” kata mang Husni dengan nada suara lembut. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira.” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. “Oo. Amri datang mendekati Ishak. Bersama Vira. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Kemudian. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. “Dulu. “Oo Ayah. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. Tapi nyatanya. Namun. lalu tersenyum padanya. aku adalah. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh.” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab... Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya.” Sophian tersenyum simpul pada Vira. .. ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. Kemudian. “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. “Bahwa. berada di dekatmu. mang Husni mendatangi mereka. bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya.. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. pembantu mereka. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. Pada masa itu. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah.” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya. Baju dinasnya terseterika dengan rapih... penuh kesopanan. ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi. menghela nafas dalam-dalam. namun ia tidak mampu. Sophian duduk di kursi kayu. Ia memandang penuh harap kepada putrinya.. Di beranda rumah. Kemudian. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai.?” Sophian penasaran.” kata Vira. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri. aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni.” Vira menundukkan kepalanya.lebih sering berada di rumah. Vira menghela nafas panjang. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.” kata Ishak bersemangat. apa yang harus kulakukan. imut sekali. Di beranda rumah. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu. Sophian. Sewaktu mereka berdua berbaikan.. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak. ia menatap pada Ishak. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Dia tidak mengetahui kalau. “Ini yang namanya Amri ya. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya.. kemudian menundukkan kepalanya.” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat. Ada tamu yang bernama Sophian. ketika kita pertama kali bertemu. yang ingin bertemu dengan neng Vira. aku adalah.

Pemda Blok A-8. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah. Serang – Banten. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya.” tak ada semangat dari nada suara Vira. ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Dengan sekejap. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Ia menundukkan kepalanya. selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu. 30 Agustus 1985..” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil. berjalan memasuki rumah. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf. engkau mengatakan kebenaran ini. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah." “Ayo yah. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. merasa sedih karena telah dibohongi. Dan sekarang. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan. ia sudah melupakan kesedihannya. Cinanggung. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian. 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. Janganlah terlalu kau pikirkan. Sophian. Kini tinggal di Komp. “Sudah empat bulan kita berhubungan. Kaligandu. “Oo. Aku tak bisa menerimanya. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini.” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja. mereka bertiga meneruskan langkah mereka. tak menggubris Vira yang memanggil namanya.” “Dia memang tidak pantas bagimu. .” Sophian segera bangkit. Setidaknya kita bertiga saling memiliki. “Kurasa ia takkan kembali lagi. Akhirnya.” Vira tersenyum merasa lega.” kata Vira.” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya. “Ayah benar. Sambil bergandengan tangan. Kel. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira.. dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. RT01/RW07. Aku harus segera pergi sekarang. “Jangan kau cemaskan itu. itulah yang paling berharga.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. toleransi terhadap semua kesalahan orang. “Menurut Ayah. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang.“Maafkan aku. kita main lagi. Sekarang.

memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. Bener ndak. Dengan sebal. Tak ada perabot lain. “Aku malu. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. kesal. Namun. antara marah. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. Si Narti bilang. ia meneruskan. yang senantiasa menyemangatinya. aku ngerti. “Eling Kang. Ia menyipitkan matanya. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. berisi dipan kayu lebar beralas tikar. Tanpa menunggu jawaban suaminya. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. Kang Narto. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu. Mbok Mini menarik nafas panjang. sudah bengkok. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan. ujarnya sambil menangis. “Kamu ini lama-lama cerewet juga. Sambil menghela nafas panjang. perasaannya campur-aduk. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. Pernah suatu hari. . Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. suaminya. “Iya Kang. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Dan sejak itu.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. aku kok jadi kuwatir. kalau ndak giat kerja siang malam. sampeyan ini sudah tua. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak. Kang.” sambung Mbok Mini. nanti malah bikin repot orang. Tatapannya terlihat sendu. apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. sekarang mata itu justru mengabaikannya. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. geram.

Keduanya mengangguk dengan pelan. bahwa Kang narto. “Mbok.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. 24. Kami mau ngasih tahu. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. dielusnya benda itu dengan penuh kasih. “Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti. apalagi menegur suaminya. lalu memandang ke arah rekannya. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. “Aku Gatot. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya.09. Ika Winterholler Nürnberg. pria paruh baya itu terbata-bata.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya.“ seru pria yang satunya. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya.2012 . Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. sentirnya ndak dinyalain. Dipandanginya becak itu sejenak.“ bisiknya lirih. Kang. Hingga suatu sore. Namun. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah.”. ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. meski tenaganya hampir habis tak tersisa. “Akhirnya sampeyan pulang juga. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus. sampeyan di dalam? Gelap amat. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. Mbok. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah.. “Begini Mbok. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. tetangganya sebut. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti. kesehatan Mbok Mini mulai menurun. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. Mau nganterin becaknya Kang Narto.

Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. segar. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu. Kau pohon dan aku manusia. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. kukira kau tak mengerti yang kulakukan. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku.” jawabku terpotong-potong.” jawabku asal bicara. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu. melainkan dipindahkan saja. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. memandangku dengan belas kasihan.” kutegaskan permintaan maafku. warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. . hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. garis hina. “Tentu saja. “Maafkan aku. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap. “Aku sudah mengamatimu lama.” sela suara yang sama.” cerita Beringin tua. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku. Seingatku pohon itu dulu rimbun.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. “Justru karena aku tahu kau peduli. Senja itu. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. Aku memang hidup di garis bawah. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. seperti menari-nari kegirangan. kering. mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun. dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini.

aku sering bermain di sini bersama teman-teman. tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. zaman telah berkembang. ya itu suara Beringin tua. Aku mulai sadar. dia hanya lalai.” tambahku. yang memasang paku ini. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. "Baiklah.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. “Biar aku teduhi tubuhmu. tentang populasi. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. Aku amati batangnya. *** Dulu. Orang tadi. Tentu saja aku menjawab iya. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini. “Hei. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. Setelah cukup lama. Keadaan memang sudah berbeda saat ini. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. aku usahakan untuk mencopotnya. Dengan badan yang tertusuk paku. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. Segera aku berpamitan padanya. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. “Maafkan dia. menempel entah apa di badanku!” terangnya. saat aku masih kecil. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. . untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. memelihara lingkungan.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang. pada manusia. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama." Jawab Beringin tua. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. Aku juga paham teori menjaga alam. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang.” Beringin tua merintih. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. “Ya. Kini alam mulai mengancam. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. udara semakin sesak oleh polusi. Tapi kali ini aku sedang buru-buru. juga tentang keberlangsungannya. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak.“Boleh jadi manusia lebih bangga. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. Dia tergusur oleh pembangunan. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. “Aku kesakitan. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. berusaha meneduhiku.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. Kau tahu kan. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku. tunggu sebentar. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan.

Ya. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. menemani dan menjadi tempatku berbagi. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. tentu kau bisa memanfaatkannya. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. Tapi aku tetap bisa berusaha. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. bagaimana jika hidupku yang tergusur. Akal pikiran dikaruniakan padamu. Beberapa bulan kemudian. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. seperti dia paham akan kegusaranku. Sontak aku membayangkan. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. saat itulah alam menangis. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. Proposal yang aku ajukan disetujui. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. ulat-ulat memakan dedaunanku. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik. Akan tetapi. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu.” ujar Beringin tua. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini.” kata Beringin itu. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. menyesali akar-akar yang musnah. “Beringin. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. “Sudahlah jangan murung. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. tidak menginjak tanaman. Bukankah memang benar kata-kata itu. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. Tergusur. sementara hasilnya samar. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. Burung-burung bersarang di rantingku. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku.” kataku. upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. Tidak serakah seperti kaummu. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. hanya itu saja. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon. Mana bisa dia mencengkeramku. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. Aku mulai berpikir. menyesali daundaun hijau yang mengering. semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. Aku tidak tega membiarkannya menderita.Tersentak aku. peduli pada alam yang memberinya hidup. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja.” Air mata menetes di sela penjelasanku. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya.” tegas Beringin tua.

“Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. Ya sekarang tinggal pasrah saja. Penduduk yang tamak. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini.” Papar Beringin tua. menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. “Sebenarnya samar sih. hanyut bersama harta benda penduduk. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. Sahabatku! Aih. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. tubuhku mulai mengurus. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku.” Beringin tua mulai balas bercerita. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. biarkan mereka menikmati keserakahannya. “Kau sudah lakukan yang terbaik. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. “Bukan begitu. kami korban banjir Kali Cisari. Kalau saja aku masih kuat.” Ceritanya berlanjut.” Beringin tua mencibir. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. membagi perasaan suka dan duka. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita.” Aku mulai bicara asal. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. tentu sudah kurobohkan semua itu. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. “Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. Kurasakan tubuhku semakin melemah. Sementara itu.” Tegas Beringin tua. *** Hari ini 20 Januari 2012.” jawabku singkat. Selalu membagi cerita. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. aku sudah putus asa. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali. “Sabar Beringin. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. “Aih. Tentu bisa ditebak. tapi aku bisa merasakannya. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu.” Dia menimpali kata-kataku.” . dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air. serakah.. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi.. Hasilnya bisa kau lihat sendiri.

Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta.” suara Bunda tercekat. menjelma Malin Kundang. Pesan itu terngiang kembali. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta). Dengkur teman satu sel menggema. “Berangkatlah. Lanang janji. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda. jangan hiraukan Bunda.” “Iya Bun. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam.Selepas kesedihan ini. Salah seorang sepupuku berkhabar. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. .” Seperti biasa. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. Rasanya tak pantas berkunjung. adegan berpuluh tahun silam melela. Cerpen Pesarean Kamis. Senyum manis yang selalu menahan getir. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya. mata tua itu berlinang. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. membuat iri. Apalagi hujan baru tercurah. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. bangkitkan hawa malam atis menggigil.pora menghisap darah di tubuh kering ini. “Le. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. Lima tahun. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. Gelisah meraja. 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. tapi mata tak ada isyarat lelah. Namun. biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. kamulah satu–satunya anak Bunda. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah. ia bersedia menampung untuk sementara waktu.

Seperti kisah dalam roman picisan.“Tapi Bun…. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir. terlepas dari genggaman. demikian sebaliknya. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang. Bunda beranjak. dielusnya rambutku. Lanang sangat mencintai Lina. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah. Serasa ada sesuatu yang hilang. menembus labirin waktu. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. meninggalkan sensasi khas kekeringan. “Iya Nang. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. Gusti Allah ora sare Le.”desahku setengah berbisik. bebet dan bobotnya.” Kutatap sorot mata Bunda. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. seolah pintu regol rumah Eyang . derajat kita tak sebanding dengannya.”selaku menunggu reaksi selanjutnya. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. Wajah itu semakin dipenuhi keriput. sehingga bila mencari menantu harus sederajat. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. yang berbeda tabiat dan kebiasaan. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. “Kalau boleh tahu. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil. “Nang. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. Biaya kuliah ‘kan mahal. “Kamu masih terlalu hijau Le.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini. Bau debu mengepul. “Lho. Namun rupanya belum ada hasilnya. “Ah. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. Tatapannya begitu lembut. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga. membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. Seiring waktu berjalan. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. sebagai seorang laki-laki dewasa. Kututup pintu. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. jika umatnya selalu berusaha. aku segera mencari pasangan hidup. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. Betapa bangga Bunda. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja. Aku hanya terdiam. **** Masa begitu cepat berlalu. kenapa diam Le. “Justru karena Lina begitu tinggi Le.” Bunda memulai perdebatan kami. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. Orang Jawa bilang harus jelas bibit. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. “Jangan kuatir Le. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. Melangkah ke kamar. kini menjadi pacarku. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu.” “Bunda.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. mencari istri itu bukan seperti membeli barang. Lina.

Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. termasuk istri pejabat. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. bergelut hebat.” suara Lina lembut.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. Sayang. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda. jangan bawa makanan ke rumah Romo. “Sudah berapa kali aku bilang. walau terjangan ombak datang setiap saat. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. Pikiranku berkecamuk. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. titik!”sergahku sengit. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap.” “Iya saya tahu. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina. mukaku merona. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit. matanya sembab. toh tembok karang itu tak jua tergerus. “Bunda memang menantu yang baik. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. Jahitan Bunda rapi dan halus. Sabar ya. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya.” Ayah menggumam. Di kota pecel Madiun. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang. separuh nyawanya telah tercerabut. “Jangan kau ungkit masalah itu. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. Air jeruk tertumpah di kemeja. Mereka berasal dari berbagai kalangan. tapi apa sambutan mereka. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya. menumpahkan rasa. “Mas.” Bunda memandangku sendu. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. . sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. Simbah Nyai. kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. “I…iya Lin. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya. ia akan pergi sendiri. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. Hanya cibiran saja yang kita terima.” terdengar suara mengagetkan kami. toh aku bukan anak kecil lagi. tapi cukup membuatku tersedak. bahkan disaat kritis sekalipun. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. Menurutku usahanya adalah kesiaan. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak. Masih membekas dalam ingatan. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. “Tapi Mas. adik ayah. anak lanang satu-satunya ini. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung.” kuremas jemari lentiknya. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. cinta pada pandangan pertama.

diam dalam ego masing-masing. Kasih keputusan segera. terburu kuhampiri. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. Kali ini begitu berat. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali.” “Apapun alasannya.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa. Perselisihan makin meruncing.” Kupeluk Bunda penuh keharuan. Ia tidak membelaku. “Ke rumah Mbak Dini lagi. Ini jaman emansipasi wanita. bagai prajurit yang menang di medan laga. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. “Iya Mas. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun. seolah penuh tekanan yang menghimpit. kakak iparku itu. wajahnya berseri. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti.” jelas Lina pendek.“Secepatnya itu kapan Mas. **** Tiga tahun berselang… “Mas. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. aku mau ke rumah Mbak Dini. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. “Oke Lin. Yang menjadi korban tentu saja Anisa. Ia mau membuka butik baru. seminggu. meninggalkanku yang tercenung tak percaya.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. Tangisan Anisa terdengar dari kamar. Benar kata bijak. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. dapur dan tempat tidur. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. Celananya basah. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. “Aku berangkat Mas. Nafas menghembus pelan. terkadang melalaikan urusan rumah tangga.” Senyum Lina merekah seketika. Bunda mau bilang apa. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya.” Aku bersikeras. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. kutatap Bunda mencari kepastian. “Sudahlah Mas. jangan jadi suami kolot. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. Lain kali masalah ini kita bahas lagi. Duniaku hanya seputar sumur. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. besok. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. “Iya. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. bukankah ini kemauan Lina sendiri. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat. aku sudah bosan tinggal di rumah. tak perlu kita berdebat soal ini. Semoga memori . Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. Dandanannya begitu rapi. Bagai api yang disiram bensin. Mbak Dini sudah menunggu. “Lanang telah berketetapan Bunda. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. masalah sepele bisa membesar.” Lina berkata seperti tanpa beban. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak. kubersujud di pangkuannya. Demikian pula yang terjadi dengan kami. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk. Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. sebulan atau setahun lagi. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan. Mas ‘kan lakilaki. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. segera kuganti. melebar ke mana-mana. Lho.

Demi Anisa. samar matahari tergelincir ke barat. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. “Wis tho Le. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. seperti syair lagu lama. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia.” aku masih mencoba berkelit. . Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. aku tidak akan meminta bantuan Bunda. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”.” “Apa kamu bilang nggak cukup. “Nang. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. Aku ingin hidup layak. Bunda mau balik ke Madiun.” “Enggak kok siapa bilang. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. Malang. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. Bunda sudah tahu semuanya. “Lho kenapa Bun. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. Aku. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. Roti tawar yang siap masuk mulut. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding. kuletakkan kembali. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga. Ya. “Mas. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. tak bisa diganggu gugat. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. Aku yang pegang kemudi hilang kendali. wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. Bunda tersenyum kecut. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap. mobil kami masuk jurang dan terbakar. Memang ada pengasuh. Mataku mengerjap. itulah nama Bunda. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. “Maafkan Bunda Nang.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi. Bunda.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian. akhirnya tercium juga. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. Bunda mengangguk pelan. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. sedangkan ibunya tak begitu peduli.

HP : 081317500341. kesehatan Bunda menurun drastis. Selamat tinggal Bunda. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. Sebagai seorang suami. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. Sumpah demi Tuhan. Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. Lanang janji! Rumah Hijau. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. Sudah seberapa besar ia sekarang. kuburan 2) Bibit. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. Sungguh. Besok aku akan menemui putriku Anisa. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. Semenjak aku menjalani hukuman. semoga keajaiban sudi menghampiri. Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. Aku heran ada anak kecil seperti itu. aku begitu mencintai Lina. adalah nama pena dari Joko Rehutomo. tapi malah akrab . Hatiku hancur. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah.com. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. Sekarang tinggal di Depok. Pasti cantik seperti ibunya. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda.Segera setelah keluar dari rumah sakit. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Masih ingatkah ia padaku. Hari ini. Penyakit asmanya sering kambuh. Bekerja sebagai PNS. Hisin Jentik yang memberitahu aku.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. ingin rasanya gantung diri waktu itu. keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. walau dunia kita telah berbeda. 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16.

Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. main petak umpet. “Kita ini. Sebelumnya. Kawin itu nanti kalau sudah besar.dengan binatang. “Hey. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin. Saat Iren buka celana. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. mungkin karena malu. itu ‘kan binatang?” tanyaku. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan.” kataku. lewat kalimat yang sangat kasar. Nama tokohnya. di bawah ranjang. “Iya. Jadi. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. Kurasa. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami. Si Buta dari Goa Hantu. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau. Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya.” kelahku membuktikan fakta. monyet!” jawabnya. sore-sore. “masih kecil untuk bicara soal cinta. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya. ibuku datang membela. menghardik aku habisan-habisan. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. Ah. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. Aku tak habis dimarahi ibunya. aku langsung tahu apa maunya. Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. Sewaktu kutanya lagi. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia.” katanya penuh jumawa. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil. *** SEJAK itu. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. menunjukkan rasa marah. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. Beruntung.” sahutku. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. dulu.” Karena. dan mendapat giliran untuk sembunyi. Tapi semua bukan salahku saja. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. “Tunggu di sini sebentar. Tak mau tahu juga cinta itu . Kukira. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. suatu hari. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. kupikir. Ya. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. tidak boleh masuk sembarangan. cinta itu kawin. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang. Namun. “Dia jagoanku. kami bertetangga. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. “Aku dipaksa dia. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. Iren yang genit seketika menarikku berlari.

aku meringis selama seminggu. Sengaja kupandang lekat. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. Maafkanlah aku ini. waktu pun berlalu. Aku tak menunduk. Karenanya. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. dua bangku. dulu) Semula. saat melangkah masuk pintu kelas 1. Kanan bukan tangan yang baik. Berapa besar. Alhasil. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. akibatnya. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. Itu yang kusukai. SD kelas 1. dan yang duduk di kelas lain. apa boleh buat. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. baiklah kutulis surat saja. dan kawan berkelahi. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. berenang. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong.” Matanya itu. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya. Karena Iren telah memberitahu aku. tetapi mendongak. Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. Kalau melihat kawan sebangku. Ah. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. Hanya itu. Dan. Sampailah rekornya.seperti apa. Sampai sekarang pun juga … Tapi. guru yang baik. sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). Keringat pasti tertitik di dahi. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. sejak itu. Buku jarinya ada di atas. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. kasti. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. hm…hm. namanya penderitaan. Alatnya memukul adalah mistar kayu. tanganku selalu ingin menulis saja. Tangan yang jadinya sedikit memar. saat pindah rumah dari kampung kami. panjangnya 500 centimeter. betapa kuat. mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. menimbulkan derita tersendiri. “Kawanku. (Sungguh. Hari pertama masuk SD kelas 1. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. yang kira-kira setebal tiga centi. ruas tulang jari tengah tangan kanan. layangan. Tangan ini digebuk oleh guru. habis menulis. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. gambaran. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. . pingpong. rasanya tidak enak. sungguh … Dan. aku menulis pakai tangan kiri. Kawan main bola. Aku punya banyak kawan. Penggaris.

*** Fort Rotterdam. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. Hisin Jentik. 27 September 2012 11:13 wib "MAMA." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry. "Mama. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya.Sejak itu aku menyukai mata pena. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . Dek. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun. Yang memberitahu aku. Kata Hisin." tegur Avis. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. "Kapan. Matanya sudah sembab. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. pintu-pintu kita buka. ail hujannya netes lagi. Ma?" "Mama belum tahu. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. Dek. percaya Mama. tak lama lagi cekung. "Mama yang nungguin. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan. Lalu. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik.

"Sabar dan sholat. "Kun fayakun.tik.drrt.Avis jangan memendar kemudian menghilang. Linangan air masih ada. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang. Belum terlihat. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi." tepuk sebuah tangan di pundakku. Kini makin memekakkan gendang telinga.leganya. Larry.menyikut ujung-ujung kayu pintu. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Pintu depan rumahku masih tertutup. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. siku jendela hingga kaca. Plop. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. Entah dari mana. Depok. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. kelopak matanya terpejam. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. menjadi santapan cicak-cicak. Aah. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan." Larry. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku.ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah. Meski terbang agak lemah. Berhasil. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis.. Drrtt. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. Tik. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang. teriakku.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. tapi sudah bertanda. Suara jangkrik sudah berpadu. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari .. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. si kecil Avis masih menikmati tidurnya. Larry tak bisa memilih takdirnya. Kusibak korden kamar. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Pelan. ataukah digotong sepasukan semut rumah. Kemudian menjemput takdirnya. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry... Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil. menceburkan diri ke air.. Plokk.hujan sudah mereda... Innallaha ma'ashobirin..

aku sedang sibuk. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. “Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. Betapa tidak. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. Dengan segera aku meneleponmu. bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. Dan.” Impian mentraktirmu sirna sudah. sungguh. kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini. Malam yang penuh dengan kegelisahan. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. Kau yang pertama kuhubungi. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. Aku kehilangan akal sehatku. PUISI #2 Malam itu. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. Sejak kecil dulu. Tetapi. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. nanti saja kau telepon lagi. Tetapi. kukira. Kata orang kita sahabat yang karib. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. Tapi. Namun. aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. Aku memang suka menulis puisi. “Wah. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. aku baru saja pulang dari rumahmu. PUISI #4 . aku merasakan malam yang tidak biasa. Kemanapun kau pergi. Sama halnya dengan menulis puisi. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. Kau bilang. Namun. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. Aku selalu menuruti perintahmu. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. Dalam perjalanan pulang. Dan. PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. kita selalu bersama. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu.Cerpen Fragmen Puisi Senin. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu. kegelisahan selalu menyeruak. Ya. Dan. Aku berpikir tentangmu.

Sebab. Menurutku. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. Sebetulnya. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Tetapi. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. kau sering memukul istrimu. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. Kau kalah taruhan. sahabatku. betapa bahagianya aku kini. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. Sering kujumpai kau pulang pagi. Melihat kau yang sudah beristri. Malam itu. Kutahu. iya. Namun. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. dan kau merestui niatku. dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. setidaknya membahagiakannya. Bisa kau bayangkan. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. Tapi aku tidak bisa. Maaf. Istriku yang cantik.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. kau tahu itu. Kusampaikan keinginanku padamu. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Kau tarik kerah bajunya. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. Padahal. di tepi danau. Kudengar. bahkan tidak pulang sama sekali. Suatu hari. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Kulihat wajahmu merah padam. Layang-layang itu punyamu. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu. Kau sering dimarahi atasanmu. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. kau berkunjung ke rumahku. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. Sepanjang perjalanan. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Namun. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. itu bukan tindakan seorang lelaki. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Aku tahu itu. Ah. Semenjak itu. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. aku pun juga kangen kepadamu.

29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Aku hanya diam. Bandung. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. Istriku yang cantik. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. sekali lagi maaf. Maaf. kenapa kau harus menyeberang malam itu. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. kalaupun kubuat. Namun. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sesampainya di halaman. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. istrimu pingsan. Kematian terlalu cepat menurutku. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku.istriku. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Istrimu yang sering mengeluh padaku. Perselingkuhan. Ia memintaku untuk menjemputmu. aku mendengar tawa istriku yang renyah. kecepatan yang tinggi. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. Maaf. Beruntung. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. Dengan berat. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. Dalam pikiran yang terus berputar. Tapi. Kau pun terjerembap ke selokan. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna.com/. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. aku menjalankan mobilku dengan gila. Aktif menulis dan bermusik. Anak-anakmu menjerit hebat. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. Kau tengah bersama istriku. Belakangan kutahu. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Nomor ponsel (085721904020). Dalam pikiran yang terus berputar. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku.blogspot. Aku ingin segalanya serba rahasia. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. malam yang hening dan muram. Sahabat yang kukenal sejak kecil. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. Katanya. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. PUISI #10 Kau terlanjur mati. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. Hingga suatu saat. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. Tetapi. Akh. . kau tidak pernah marah. Kupikir kau telah mati di tempat. Namun. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati. aku menjemputmu. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. kau mabuk berat di sebuah bar. serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada.

Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. aku keluar kamar. Laki-laki yang malang. “Hmm. Kedua alisnya bertaut. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. Dalam otakku. Aku yakin. “Sebentar. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. “Mm. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna. Air pun muncrat.” Aku tergopoh ke dapur. tertanam ajaran orangtua. Setelah mengulurkan piring. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. Tiba-tiba dia menangkis tanganku. ya? Sebentar aku bikinkan lagi. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua. karena kapuknya telah mati. Asin sekali. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Kulihat akibat kata-kataku. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. penisnya sudah mengkerut. sama seperti anggota tubuhnya yang lain. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Seperti biasa. Aku mencium gelagat buruk. lidahku kelu untuk mengatakannya. “Pak.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. suamiku sudah berteriak. Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. Aku ganti. “Ha. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. Minum?!” Kuulurkan gelas. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. Tetapi. tak sekali pun aku membaginya. Pak. makan dulu. Dengan sadar. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku.” Kubantu dia duduk di ranjang. mengenai seprei dan kebayaku.” kuulangi lagi. “Pak.” Kuusap buku jarinya yang kisut. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. akan tumbuh . Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. “Makan. hatiku menguncup. ya. Namun.” kudekatkan mulut ke kupingnya. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. ya. apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Ketika menikahi dia. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya. “Buuu!” Belum lama aku di dapur. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. kutolong dia untuk merebah. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. aku beringsut ke kamar. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. Dia tak bergerak. Dengan malas.

walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. aku terlalu lambat. semua yang kulakukan adalah salah. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. Sebelum kawin dengan dia. air ludah yang menyembur. aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. Kukatakan. Sungguh. Yang ada. tanpa kusangka-sangka. Kedua. Aku tidak mengeluh. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. seiring berjalannya waktu. Dia menolak mengantarkanku. Namun. Aku patuh melakukannya. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Kutemukan diriku di ranjang. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. Hal sama terus berulang setiap malam. semua bayanganku jungkir balik. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. iya. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. Tetap melayaninya. karena pengabdianku. Aku ingin purik. dia menghardikku! Menurutnya. tugasku hanyalah tidur dengan suami. Aku membayangkan. Jika aku nekat purik. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. padahal aku sedang mengandung benihnya. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. tapi demi diriku sendiri. Hardikan suami. Seolah-olah di mata suamiku. Namun. Dengan sewenang-wenang. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. Kata ibuku. Kuelus perutku. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. karena melihat kami tampak rukun. Pertama kali tidur bersama. Namun. Namun. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku. Dia mendengkur. Aku harap. Dengan penuh kehendak. kesadaran akan posisi diriku. Budak yang berperan sebagai istri. teriakan. melayaninya. membuatku bisa berpikir jernih. Sejauh ini. Kata orangtuaku. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. karena kesetiaanku kepadanya. wajah yang ramah. Dia majikanku dan aku budaknya. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. suamiku akan melembutkan sifatnya. Apakah aku menyesal? Terus terang. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. Bukan demi siapa pun. Tak ada tutur kata halus. Namun. O. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Oh. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami.jika kami sering bersama. tak ingin mendurhakai mereka. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. aku sakit! Dua pengertiannya. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun.… lalu gelap. Pertama. Kedudukan suamiku . Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. Sungguh. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. dan setia kepadanya. Dorongan itu begitu kuat mendesak. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. Tetapi. Selesai sudah. Orangtua kami bahagia. semuanya gelap. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. Aku memainkan peranku dengan sempurna. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. Mataku mengerjap. Dia tega berkhianat. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. Yang penting dia tak lupa memberiku uang. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. Aku ada di sini karena uangnya. Dan karenanya.

1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. Tulangku sudah rapuh. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. karena di luar rumah. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. aku tak sabar untuk berucap. Namun. dan tak ada cinta di hati. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta. rambutku memudar. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. Sungguh. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. selalu mengerti terhadap satu sama lain. Rumah pelesiran: Rumah bordil. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan. Tapi. maka mata ikut menangis. seperti orang-tua atau raja. maka tangan ikut mengusapnya. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. Dan di sinilah aku kini. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. Apakah cinta seperti itu?.terpandang. suamiku!” Ledug. Berdiri menghadap punggung suamiku. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. malaikat maut belum juga menjemput. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. Tapi itu tidak . Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. E-mail totokutomo@ymail. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati. mengucapkan kata cinta itu mudah. Selanjutnya mata mengeluarkan air. Padahal. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. dia sangat ramah dan supel. “Selamat enyah.com. 42 tahun sudah aku mengabdi. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. Telepon/SMS (0281) 5730489.

ia tak pernah bercinta. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. untuk mengartikan apa itu cinta. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri. tapi tak masuk dalam logikanya.com . Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu. bahkan memalsukan cinta. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. menyatu dengan cinta punjaan hati saya. seperti namanya. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini. Di dalam hari-harinya. memiliki arti kata cinta. mendustakan cinta. “Ce. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. Setiap pagi Suci bangun dari tidur.” tanya Suci kepada sahabatnya. Suci memang sudah tumbuh dewasa. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. Hendizal : Hendri : Langgam. susah baginya untuk melupakan kata cinta. Te. Suci hanya mengeluh. Mungkin. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. Pernah si pernah. cinta. Dengan santai sahabatnya menjawab. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. “Cinta. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta. aku ingin bertanya kepadamu. I. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. Namun. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. setiap orang di dunia ini. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta. “Sob. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. Hingga cinta saya itu menjadi untuh. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. detektif itu adalah dirinya sendiri. Tapi. sebagian cinta saya itu. semakin susah Suci mengartikan kata cinta. apa itu cinta. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. Suci. Setelah saya menemukan pujaan hati. Kalau cinta seperti itu. sulit dipecahkan.” itu katanya. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari. A.mungkin. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. eN. yah aku telah menemukannya. Sayangnya. namun tak pernah ditemukannya. Namun.” jawab sahabat Suci dengan puitis.

***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. “Di mana Anda antara pukul 02. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan. Senyap …! . Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas. “S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu …. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. Tidak perlu kau takut. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu.Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata.” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan. yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang. pada korban. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. Namun. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu.00 dini hari sampai pukul 06. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. Petugas yang menanyainya bertampang seram. tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata.

Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. Namun. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok.” jawab lelaki itu begitu tenang. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. hingga bibir kami bertemu. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. alisku bertaut. Membuat nyalang matanya terpancar. Memang berbeda gelagat perempuan. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. lelaki dan perempuan. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya. *** Nurlida masih menguntitku.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. Ruangan seketika senyap. sekarang juga. “Bantu aku. “Kau boleh tidak menunggu. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar.” katanya singkat. yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. sementara sang waktu terus berjalan. “Aku hamil. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu.” “Hei. Disusul debum dari arah pintu depan. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang. “Aku mau sepuluh juta. Dahiku berkerut. Atau…. padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. perempuan itu berbisik perlahan. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. yang tercampakkan di atas sofa.” perempuan itu terdiam.Malam telah melewati puncak. Namun. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. “Aku sedang butuh uang. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. Terbatuk diriku sesaat. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan.” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu. belum juga diserang kuap. tidak untuk mencekikku …. “Jangan mulai lagi.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. tapi dua orang itu. tidak meneruskan. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam. takut bersitatap. Lantas memakainya. mengerikan. . entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. Sekali dua kali aku coba menghindarinya. otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. hanya satu yang perlu diketahui. Asap tipis rokok. yang kepalanya hanya berisikan uang. Win …. Aku mengandung anakmu. Namun. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan ….

” bisiknya perlahan. pada diriku. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya.” “Tapi semua itu idemu. Membayang. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. dengan mulut berbusa. “Jas. makin meradang. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. 23 Juni 2012 3:31 AM . desah napas. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. Setiap hari …. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. (*) Blitar. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. Malam yang bising. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. dua desah napas sebelum ada yang berkata. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. senengnya yang lagi berulang tahun. tolong pegang kue ini. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat. Lucu ya?” celetukku. Kesunyian. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. yang tertutup jilbab biru muda. Ah. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Keterkejutan. Dan tanpa disadarinya. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia. Hari itu. “Duh. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. “Kau kenapa May. Terdengar jelas. memastikan teleponnya benarbenar tersambung. “Nur. Perempuan itu menatap sinis. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. Dan akibatnya jalang itu keguguran. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. “Aku telepon ya.“Atau apa?” bentakku. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya. sebelum mengecek layar ponsel.” kata Nurlida tiba-tiba. dinyalakannyalah pengeras suara. “O. Nomor itu sudah tersambung. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya.

jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. namun berarti itu dipersembahkan untukku. yang hidup dengan berbagai fasilitas." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. dan Serahim Nira (2012). 03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana. Tak penting ku sebut namaku. Tapi Danang Prabowo.co. Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. Anak seorang anggota DPR. Danang Prabowo. Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. jika kompetisi itu ada. 04/RW. tanpa ucapan. Tapi.widya@yahoo.id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama. Kurasa. lebih tepatnya. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Tak ayal. Namun. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. Kecamatan Kanigoro. Pertemuan yang cukup singkat. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya.Oleh W. tetap saja semuanya tanpa ekspresi. 01. N. Wajah tak begitu tampan . memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. Cinta Pertama (2012). Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman. Sekitar 20 tahun lalu. tapi pembuktian. Bulan Kebabian (2011). Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. karena bukan aku lah pemeran utamanya. "Thanks. pria terunik yang pernah ku temui. Maaf. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum.

Kerjanya. Pangeran Tanpa Kata. cuma terima kasih yang terlontar. bak Pangeran Tanpa Kata. Akhirnya dia bicara. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. Tepat di depanku. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. Dengan sigap." pungkasnya lalu diam kembali. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Karena esoknya. "Sudah. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. dia bicara panjang padaku. Priaku. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. Penulis Risna Nur Rahayu. dengan pena pemberiannya. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku. tanpa jawaban. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. ibunya dan keluarganya yang lain. tapi gak tau kelanjutannya gimana. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. berkutat dengan beritanya. membawa kami kembali dalam diam. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional. Ayahnya. Lantas hening. Soal cinta. Dia tengah sibuk. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. tangannya memberikan pena padaku. memberiku tumpangan. Sampai suatu hari." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. cinta kadang tak perlu kata. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. 30 Agustus 2012 12:51 wib . "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Dia benar-benar bicara. kendaraan pun terus melaju. Dia sibuk dengan dunianya. ku tulis namaku di kertas absensi. Lagi-lagi. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. Diam. Mobil yang kutumpangi terus melaju. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. Bahwa." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Lantas. Cerpen Keroncong Senja Kamis.tapi terlihat karismatik. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata.

Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Ia menyewa tukang ojek. berkaos oblong. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Sudah berapa ribu motor. Ia selalu mengatakan. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Di bawah merkuri. bercelana jin sedikit pudar. diam-diam aku pandang secara lekat. stasiun. Ia sudah mengenalku sejak lama. tukang becak. berjenggot tipis. remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. penjaga hotel. nasi liwet. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. Bukan apa-apa. dan aku selalu ketawa mendengar itu. sandal jepit. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. menjelang matahari tenggelam. kereta-kereta usang. Mbok?” tanyaku dengan harapan. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. Tapi saya tolak. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. membawa gudeg dari rumahnya. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir. kumis tipis. Aku dengar suara Pak Surat. Ia masih setia menyajikan gudeg. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. manis dan pahitnya masa terasa kental). yang dia carter dari pinggiran kota. meski aku baru . berkalung peluit butut. Ia membentak angkot. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. Ratri. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. Cukup mengatakan nama hotelnya. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. “Dik Sastro. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak. Aerosmith atau Bon Jovi. Aku menatap senja. yang diatur Pakdhe Jarwo. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu. ketika kubuka jendela kamar hotel. kepulan uap demikian hangat. Berseragam oranye. Mbok Garwami mau curhat. anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. Dik Sastro ini enggak percaya toh. Semburat senja. Gadis yang manis. Suara yang berat dan tersendat. delman-delman. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. semenjak aku masih menetek ibuku. L’arc en ciel. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. Jagung-jagung itu masih demikian segar. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi. Sudah remaja dia rupanya. tiang-tiang lampu. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. Rambut sebahu agak ikal. anak-anak berandalan di tikungan sana. aku sudah menganggap dia sebagai adik. ia sudah paham.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku. Sebab kami sama-sama semata wayang. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. yang lainnya menenteng kardus. Ndak mau ah. siapa mau toh. lah mereka. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. gerbang kota. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka. mancing-mancing nih. “Masak ndak ada pria yang bener toh. aku tak bisa membayangkan. “Lah.

Aku kaget membaca surat itu. Aku hafal betul tulisan itu. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. ya seperti senja kali ini. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Sapardi Djoko Damono. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Di tumpukan baju teratas. Kamu harus banyak belajar. membaca tulisan tangannya. Tulisan itu tidak begitu panjang. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. seperti guru-guru SD-ku. Meski sudah berumur 67 tahun. selepas hujan. singkat padat dan berisi. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. 20 Juli 1985. hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Dari empat toko. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita. Suara muadzin baru saja selesai. Ia begitu agung bagi hidupku. bertulis tangan.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. Makanya. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. surat itu diletakkan di atas. Meneteskan air mata. Ya. Doa ibu selalu menyertaimu. pemilik hotel ini adalah paklikku. Ternyata. aku rogoh kantong jaketku. Kamar di lantai satu. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta.turun dari kereta eksekutif. Darinyalah aku belajar sastra. Ia tak suka bertele-tele. sebuah harian yang baru didirikan. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. tapi tulisannya berbeda. 01. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. bersanding di liang suami yang ia cintai. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. Aku simak bait-bait surat itu. seorang blogger cum wartawan. Sepotong surat warna ungu. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. . tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. Dan dia selalu berujar. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. ia begitu dekat dengan keluargaku. Semoga sukses. Mas. aku buka kembali surat itu. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku. Pejaten Timur. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. Hati ini selalu begitu gemetar. Jangan lupa. Ia lahir di Purworejo. tulisannya ditulis oleh Ratri. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. Tapi. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. “Cepatlah datang. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. Kangen memang menunggu suratnya. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. Tulisan latin tempo dulu.” tulisnya. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. “Hati-hati di rantau. Di dalam becak. hanya enam baris. Jakarta Selatan. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. sebenarnya bukan itu saja. lagu itu terus yang ia mainkan. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. ia masih suka membaca.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku. atau Danarto. Pertama kali aku menerimanya. Nugroho. berada di depan. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. Ia seorang kutu buku sejak remaja.

Heh. salat.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. “Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang. cuci piring?” Ya. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. Aku pun hanya mendesah. siapa suruh bentak-bentak. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. Seperti biasa. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini…. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. . “Ibu tahu kamu capek. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. Apa susahnya. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. ya. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. Ya. sih. belum lagi seragamku yang masih melekat. Bantu-bantu sedikitlah. ulangan harian.” Memang. Ya. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa. tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. Di antara pandangan yang gelap. tidak dipungkiri lagi. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti.” Lebay. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan. “Kamu itu sudah besar. kimia dan sejarah. langsung mandi. Kalau tidak tugas. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini.

Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. Kita tidak boleh membentak. Rafa. saatnya membaca ayat suci Alquran. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. sulit juga memahami tulisan yang dibaca. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami. maafkan ibu karena terlalu keras padamu. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. Dan tentu saja. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat. dari pada di rumah sendiri. “Kenapa mukamu seperti itu. tapi mood menolongku menghilang. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. aku tidak mahir Bahasa Inggris. Ku buka surat itu perlahan. “Ya. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah. Aku teringat pada Ibu. Yah. gelap. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama. Makanan di meja ku lewati begitu saja. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas.” jelas mentor Sisan. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat.” sahutku cemberut. menyusui. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. tapi gengsi dong. Lagi-lagi harus jaga rumah. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. Ibu kita telah mengandung. Ibu tidak mau lagi mengurusimu. “Ya Allah. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. Tapi ternyata tidak hanya itu. Sebenarnya lapar juga sih. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. Aku hanya mendesah. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. Ah. Untuk Rafa. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. Ini uang sakumu. kamu malah santai-santai. Selain tidak konsentrasi. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku. seperti saat ini. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri. Kalau seperti ini terus. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya.” batinku. aku merasa suatu sensasi yang aneh. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. selalu lari dari masalah.” kata Pak Wiji.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini.tadinya begitu. Inilah aku. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru.” Jleb. ada sepucuk surat terlampir di sana. Kau pasti lupa membawanya. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. “Ada titipan dari ibu. ibu mau pergi. ah. “Rafa Afifah. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan. Terang saja. Nanti jaga rumah. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. Jantungku serasa berdegup lebih keras. “Alhamdulillah. “Au. . Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. satpam sekolahku. dan menyapih kita dengan susah payah. Memang.” Pura-pura tidak dengar. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. Oh iya. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. ya. Tanpa tidur siang. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. ampunilah dosa hambaMu ini. Aku memang ingin cepat pergi.

tapi hatiku tetap tidak mau diam. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. Ternyata Paman Dika. Meski Nysa sudah menenangkanku. kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku. maafkan Rafa. “Bangun. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. Ibu juga minta maaf. Tidur saja pekerjaanmu. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. Ya Allah. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. . Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. Jawa Tengah.00 WIB nanti. aku mulai melihat ada yang janggal. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. ibu tidak bermaksud memarahimu.Tapi. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda. Rafa benar-benar khilaf. Fa. Tanpa benar-benar diperintah. Ibu. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab. Namun. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. “Kamu kenapa. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Fa! Pak Jono sudah keluar. kakiku melangkah lebih cepat. Aku tidak mau terlambat… Tett. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. mungkin saja mereka sudah pulang. Aku benar-benar menyesal. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. “Bu. Tidak mungkin Ibu telah pergi. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. tettt. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. nak. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. Tidak mungkin! “Fa. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. “Ada apa Paman?” tanyaku ragu. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. Hatiku benar-benar tidak keruan. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi. Yap. teeettt… Bel pulang berbunyi. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. “Ibu sudah memaafkanmu. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Bu.

rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Tapi tak mengapa. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. Sesaat. Nomornya.baru saja menikah. kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa. Begitu mudahnya… Aha.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. jangan heran. Aku tidak menawar harganya lagi. 28 Agustus 2012 AKU dan Qazi . Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. namun baiklah kupendekkan saja. setiap hari. engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. bukan? Tenang saja. sehingga jadi berganda. tak ada masalah. Esoknya. semua akan kuceritakan kepadamu. Tak seorang pun . Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. tak jadi soal. semuanya. Tapi jangan kaget. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. Ceritanya panjang. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. Sertifikatnya ternyata aman. Cuma ini rahasia di antara kita. Nani. Sertifikat dipalsukan.istriku yang cantik . 1945. Sebulan silam. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. Begitu mudah aku memilikinya. Belum lama juga kami tinggal di sini. tentu saja. Aku bisa menebalkannya kembali. Ya. di Menteng. di mana lagi? Di ibu kota.

bintang iklan shampoo. ketika orang-orang mulai ribut. Lalu. si bendahara. Eh.” Aku berhasil membuat publik kagum. majalah-majalah. Untunglah. Aku bisa santai terus. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. Pesta pernikahanku dengan Qazi. terdakwanya bekas bendahara Partai. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. syukurlah. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. mantan artis berambut panjang. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. kemudian suaraku tergagap lagi. Ketika orang mulai ribut-ribut. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Setahun lalu. Sebab. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. posisiku masih aman tenteram. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai.boleh tahu mengenai ini cerita. Bersembunyi diam-diam. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. Hanya kakak sulungku saja. Keponakanku yang lucu. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. televisi-televisi. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Seorang wartawan kecil yang usil. kendati begitu. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. dalam sidang kasus korupsi proyek itu. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Sehari sebelumnya.” kataku lantang. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. dan seorang kepala departemen. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. secara sembarangan bertanya. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. awalnya. boleh kau terka. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. yang – sssttt… . Hanya koran-koran. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. Tanggung kelihatannya di mata. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. beberapa bulan lalu.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku.

kondisi rumah seperti tidak diurus. sedang lahannya 850 meter persegi. .ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. Setelah bulan madu keliling Eropa. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Tapi hari baik itu tiba juga. Namun. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. khutbah pernikahan. menurut sebuah cerita. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. Nyaris tanpa jeda. tunai. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. Berdiam-diaman saja. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. Luasnya 363 meter persegi. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1. Berikutnya. Kalau di Negeri Jiran. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. entah siapa namanya aku lupa. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang.” Lafazku tumben tidak gagap. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. Buat menutup isu penangkapanku. Setiap sore. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. yaitu Pak Amin. akhirnya aku menikah. Di sebelah meja lainnya. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Padahal. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. bahkan. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. kemudian. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. dulu. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. Dia merajuk. alamak. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. duduklah saksi dari mempelai perempuan. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Nama besar mertuaku disegani orang di sana.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. ibuku langsung jatuh pingsan. sedetik saja. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. Mulanya. Sebelum akad nikah. entah apa jadinya. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. tepat di samping kiri. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Sebelum kubeli. kami sering tidak saling bicara di rumah. sampai hukum mati. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. memang. Gara-gara apalagi. Rumah yang modelnya bagus nian. Di seberangnya. saksi dari mempelai laki-laki. Dia – istriku Qazi – tahu. walaupun tinggal berdua. Ah. kami pindah ke rumah ini. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku.

Lalu langsung menodongkan alat perekam. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. oleh Si Belanda pertama. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Kini. siang nanti. Kupikir. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. Di ruang tamu banyak perabot antik. Kini. Tentu saja. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan. Bila mataku letih. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan.Para pengusut pun unjuk gigi. kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. Tak lama membaca. saya tertangkap polisi di Singapura.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung. dari ruang tengah. Matahari memancar. . Tapi acara belum dimulai. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Dengan anak kunci itu. Sementara itu. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. televisi. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Semua pelakunya orang Partai. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Enam bulan lalu. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. majalah. karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. Dalam sebuah bayangan yang tulus. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. karena mengisap narkoba. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir. Bergegas aku berjalan ke garasi. kukira. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. menembakku dengan pertanyaan klise. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. Sebelumnya. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita.

maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. mungkin semuanya sudah basi.. merupakan perbuatan yang baik. Bogor. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Kukunci pintu. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. Sepi. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. sekarang juga. “Saat ini. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini.” kataku. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. maka harus kuhentikan sendiri. Aku tak pernah henti-henti belajar. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. sepi pengunjung. Sudah basi. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. sebelum pergi. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- ..” Ya. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik.” Terakhir. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. Kurogoh saku. Tengah malam. Andai saja tak ada kendaraan lewat. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. biasa. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. setelah kukatakan kepada Nani. narkoba. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. di kantor. aku belajar terus supaya makin cerdas. Dingin menusuk tulang.“Pengampunan ini.” Kuberi dia senyum kecil. Masuk kantor Partai. aku berusaha serius. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan.

Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. Namun seiring perjalanan waktu. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. Har terhenyak dari lamunannya. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. Har sudah mengaturnya. Mungkin karena waktu itu masih SMP. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. Hanya berselang dua bulan. para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. menempeleng sekali.” demikian Har pada suatu ketika. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. Har berang bukan main. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. menyuruhnya naik ke kamar atas. Fikri pun menyusul. Di mana. pikiran pun mulai jernih. Sore tadi. Tetapi Har lupa. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. “Terserah apa mau kalian. sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. akibatnya ya. menerobos rimbunan daun teh. Sama-sama kepala batu. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Di depan Har. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. yang semula menetap seatap. Akibatnya. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. Tidak perlu mencampuri. Menoleh. Nunut saja apa kata ayahnya. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. Ia tarik napas dalam-dalam. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. Yang Har tak sadari. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. hingga belum tahu harus menjawab apa. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. Ia memarahi bayi kesayangannya. Pikirannya sedang gundah. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. Akibatnya. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. dijamin beres. Pasalnya. Terjatuh sekali di pintu gerbang. Kepalanya terasa agak ringan. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Har tersentak. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. itu tadi. Har jarang pulang ke rumah. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Alasannya. Ia selalu menginap di hotel. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga. Tinggal Har dan Novi. Jangan tanya soal pembantu. terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. hanya mengamini sikap kakaknya. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. anak bungsunya yang perempuan.Gelagapan.mudi. Di rumah besar milik Har. Har menatap jauh menembus kabut. ia tak banyak ulah. Namun yang terbaik bagi Har. sikap si bungsu pun mulai berubah. Dan anak gadisnya tak menyangka itu.

lalu biarkan waktu yang akan menentukan. Dalam hatinya ia menggerutu.dipenuhi tumbuhan teh. Formil dan serba tergesa-gesa. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. sekikuk dirinya. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya. Har merasa aneh.Namun bila menilik dari parasnya. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. Har menoleh. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Har masih terpaku. katanya sih kembar. Perempuan itu masih memandang keluar. tentu. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. Apa pedulinya. hitam manis. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan. “Oh…. tentunya tengah dilanda gejolak batin. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik. Har diam. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk.” ia tersenyum. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. tentunya wanita ini belum profesional.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har. Har tak menolak untuk dimangsa. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. menembus kaca jendela. Ke hamparan kebun-kebun teh. Kulitnya agak gelap. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. “Kenapa tidak. berpikir menentukan sikap. nyetir sendiri. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. “Di sini dingin sekali ya Oom.. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. Om. menunggangi kabut di puncak pegunungan. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. .. Ya.” Si Gadis tersenyum. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan. Serasa ada ganjalan. Sama seperti Har. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. Namun yang keluar dari mulutnya malahan. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata. “Om gak bawa sopir kan. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Sesaat mobil bergerak perlahan. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak.” gadis itu menyahut sambil tersenyum. “Boleh. “Saya ada vila di sekitar sini. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. yang itu.

terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. Masih terasa pusing.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. Gan. Langsung hilang pusing Har. Imah sudah tak ada di sisinya. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan.” “Ha…ha…ha. Hanya sesekali Imah berkomentar. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. ada bercakan merah di atas kain sprei. si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya.” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. Sekarang malah ia yang mendahului. ah.” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. minum ini untuk menghangatkan badan. Har telah mabuk. siapa namamu. kosong. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. habis Agan jarang menginap ke sini. Tadi dia kira itu Novi. Sebagai penggantinya. Biar dibilang gadis modern. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. kalau bukan demi uang. ia turun dari tempat tidur. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. Atau Sherly. di sela-sela mabuk dan kepuasannya. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya. Dan malam itu. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. mendidih dan menggelora. tapi sedikit melirik pada Imah.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah. misalnya. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. Har memang tidak lupa. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah.” Nama yang sederhana. Agak berantakan. atau…. Haryanto. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har.”Har tertawa terbahak-bahak. selebihnya berupa ribuan anggukan. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. “Saya sedang kesulitan uang. Terasa aneh juga bagi Har. Nama kota. Hanya butuh waktu lima menit. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. sesederhana dandanan dan sikapnya. “Saya rapikan dulu kamarnya. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Om. Saya Har. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Tapi sebagai penjaga vila yang baik. “Saya Imah. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. Imah inginnya menolak. Om. tidak usah khawatir. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. Ia memeriksa isi dompet. atau Melly. kembali mencair. Belum terjawab uneg-uneg Har. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang .Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina.“Oh ya. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. Jelas. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah. Berapa biaya yang kamu butuhkan.” Har memperkenalkan diri.

” Har merenung. sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki.”Ada sesal yang menggayut di pundak Har. Ia ingat. meminangnya untuk dia peristeri. Begitu nistanya aku. dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta. 2012 . ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit.tak beringsut dari tempatnya.Ia tersentak. Hanya tiga ratus ribu. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. Tapi apa mau dikata. perempuan itu masih perawan. Tapi di mana Imah. Ingin sekali Har menyusul Imah. begitu egoisnya aku. “Astaga. “Imah. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. Har meraba bercakan merah. perempuan desa yang lugu. menemui orangtuanya. perempuan itu telah terbang jauh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful