Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Warga kami pun hampir keadaannya sama. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. Dibiarkan malah nglunjak. Lik Sum putar otak. yang kami punya hanyalah kesabaran. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. itu tak jadi soal. Maling lagi. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. tidak toleransi nunggak SPP. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. namun kami kurang percaya dengan keamanannya. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling. Toh. udara kami. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu. kami tinggal mengambil di hutan. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Selain itu. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. Biarlah. termasuk menghadapi para maling.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh. dengan segala macam jenisnya. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami. kami tak perlu menebang pohon. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Semahal harga nyawa ini. Ya. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. “Walau harga sekolah semakin mahal. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. oh kasihan para maling ini. tak punya ilmu. . Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. alam itu yang menyimpan harta kami. tidak cukup untuk membayar SPP. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. Kesabaran menghadapi hidup. Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. Kami mengambil jika perlu saja. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek.

Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong. harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana. Ah. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. tak mungkin di sini. Istilahnya maling teriak maling. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. berpikir ala teori sosial. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. seharusnya kamilah yang menjadi maling. Iri hanya mematikan hati. Seharusnya kami iri pada mereka. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. Toh harta tidak di bawa mati. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Namun kami tak mau jadi maling. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan. Moto ra melek. Yang menikmati pembangunan negari ini. Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier..***** Dasar maling moto merem.

kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. itulah yang terbaik. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. aku tak mengerti. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. baik menjadi buruk. Namun. Sesuatu yang kau yakini indah. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. Namun pastinya. Kau pun bilang. Biola jendela hatimu. Kanan menjadi kiri. Kau bilang. Tataplah masa depan. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. membuat bungabunga menjadi layu. janganlah mengukur diri melalui cermin. Sungguh. dengan bangunan bertingkat dua. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. 27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Langit pun seperti terbelah. Ah. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Tiang-tiang kayu berderet. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. Di setiap kamarnya. Lihatlah dirimu melalui hatimu. kiri menjadi kanan. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. bukan. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Aku pun suka keindahan. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Senja yang menguning. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. Semuanya serba terbalik. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. namun aku datang bukan untuk membawanya. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. bertembok putih. tak mungkin . kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. biarlah semua menjadi kenangan. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Itulah dirimu. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. Gelap. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Tolol. tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. Semuanya buyar. menganga sebuah jendela terbuka. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. Kamar yang bernama ruangan melati. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. jangan berguru pada masa lalu. menanti waktu besuk tiba. Biola itu punyaku. Tak terjawab. Katamu. bahwa aku orang yang baik. Seperti sama padahal tak sama. Sebenarnya aku ingin bertanya. suaramu. setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. dan pintu hitam pekat. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. Kau pernah bilang. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Bukan juga seperti angin. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian.

setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. namun tetap menelusuri kemana arahnya. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. Tentu dengan biaya tak sedikit. Aku tidak bisa berkata. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Semua orang takkan bisa hidup kekal. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. dan berhenti pada stasiun terakhir. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. lalu kau mengukir namamu di situ. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. supaya tak pernah menembus jantung. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. Bibirku bergetar. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Menurutku. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. "Ya. Keindahan yang keluar dari hatiku. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku." jawabku. Menyimpanmu di hatiku. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. . Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. tempat ini tarasa berubah menjadi indah. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Ketika reda di sore hari. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Apakah perasaan ini tulus dari hati. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. meski tampak seperti barak pengungsian. hanya meninggalkan angin yang liar. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. Dan setiap hari itu pula. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. kau bisa membuatku berpikir. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Lantas kau pun tersenyum. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. senyuman itulah yang paling indah. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini." Aku hanya tersenyum. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. Diagnosanya mengatakan. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. tak tahu harus bicara apa. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu. Hidup bukan ramalan. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Namun. meski aku berharap kau pun merasakannya. Namun angin itulah yang membawaku melayang. seperti ada yang mengganjal. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. “Hidup ini penuh misteri.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit.

17 Agustus 1990. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. “Aku hanya ingin bilang. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Sumedang 45321. aku mengecup keningmu. Tubuhku remuk. 2011). Aku bengong. Mungkin disitu kau sedang menghayal. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. menggambar bunga layu menjadi mekar. Yang aku tahu sekarang. “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. RT 01 RW 05 Sumedang Utara. tataplah masa depan. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang. “Kau jangan berkata seperti itu. meski waktu itu kau sedang tertidur. menemanimu setiap waktu. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. Bandung. ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. Buletin Obras. lalu kau melanjutkan.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. masih banyak yang harus kau kerjakan. 2011 Oleh T.H. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. Jurnal Sastra Sasaka. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. di tempat yang paling indah. LPM Suaka. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini. Alamat: Talun kidul No 45. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti. sekadar pengantar mimpi indahmu. memberikan sesuatu yang terbaik padamu. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka. aku tak tahu. Surga. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu.” sambil membalas tatapanku. Ketika kau benar-benar terlelap. Radar Surabaya. . “Biarlah hidupku berakhir. atau menanyakan kondisi kesehatanmu. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. Lalu kau menjawab. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu.

Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas. Lungkrah. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun.. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau.. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Tenanglah teman. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. .cerpen Kasur Sabtu. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. Sekali lagi kukatakan. Aku muak. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk. Yah. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. Memang belakangan ini. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. aku yang salah.. Yah. Tapi. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. Aku selalu saja lupa dengan itu. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku..

yang aku tahu. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. memeluk erat tubuhnya. ya tidur dengan Tian. bekas pacarku. Sejak saat itulah. dan tentu tidur. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku.. Di atas kasur ini. pergi nonton. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian.” aku tertawa. tanpa ragu sedikit pun. itu aku. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Tentu.. Ah. Makan malam bersama. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Imajinasiku melayang. Kamu tidak pernah tahu. Sama. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. seperti pasangan pada umumnya. Aku masih senang dicumbu. dibuatnya aku terbang ke surga. ingin tetap bersamanya. tersenyum aku padanya. aku pun sama denganmu kasur. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. Kubuka dengan paksa kamar Endo. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain.. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Kuhisap lagi batang rokokku. Aku yang putuskan. Kuceritakan kembali padamu kasur. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Tapi bukan itu. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. menarik. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. Padahal. Hal yang kulakukan bersamanya biasa.Asalkan kamu mengerti. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Kasur terdiam. Entah. bercanda. itu kukatakan padanya. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. tertawa. Aku kembali ingat. kemudian kabur.. apa lagi yang kurang? Aku cantik.” Diam. Meski masih banyak retak di sana-sini. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. bahkan sepuluh. Kamu tentu tidak tahu. Kamu tentu tahu sendiri. Sebenarnya. Hampir habis. Aku ingat. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Asap rokok masih mengepul tebal. Bisa sampai lima. omong kosong untuk kembali memeluknya. langit roboh saat itu juga. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. setiap malam harus tidur dengannya.. Sampai akhirnya. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. Malamnya. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. “Lalu kenapa. Satu yang masih aku minta. Menumpuk lekat di atas dada wanita. . Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. pacarmu dulu!” “Hahaha. kenapa sekarang kamu beralih. Aku hanya bisa diam saat itu. menari-nari di sekeliling kepalaku. masih senang dirayu. Diam bukan berarti tidak bergerak. aku masih benar senang dengannya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. ah masih perih rasanya. dia mengangguk mantap. menciumi lehernya. dia mengejarku atau tidak. Bedanya. Aku terbatuk. aku menemukan dia.

Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Tanpa rasa yang awet. bersembunyi. tapi dia diam dan setelahnya. Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling. Kasur semakin terdiam. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. kemudian hilang begitu saja. “Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. bermain hingga klimaks. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. Dia tahu dengan jelas semuanya.Aku ingat. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. Aku yang sekarang. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. buat muntah.” ucapku tegas. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. mencekik urat leher Sama rasanya. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. Aku yang sekarang. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku.

tercecer ke mana-mana. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. . Tangannya yang dipundakku. "Mati?" "Mati bu. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Dagangan berhamburan. Air menggenang. Padahal hujan baru saja turun. tiang. takut nyasar.. tumpah daging. Perempuan itu diam. Hening. Orang-orang belingsatan. Ada orang tertembak. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal.!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa.Cerpen Kematian Mat Boni Kamis. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Matanya mendelik dan berwajah beringas. Udara bergerak lindap. sayuran. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. Mukanya terbenam di genangan air. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. "Mati. dari balik keranjang. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. ia turunkan. Sementara air got sudah meluap dari tadi. "Aku takut. "Saya duduk saja. Bajunya lusuh. tanah pun menjadi becek. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. cabe. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok.! Dor. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. suasana pun menjadi ricuh: berpencar. Pistol masih di tangan kanannya." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. meja. gula. ada orang mati di depan. dinding sampai punggung orang di depannya. Tubuhnya kurus kerempeng. "Ada apa." katanya. sandalnya pun lepas. beras. Bau apek menyengat hidung. pagar.. Aku beranikan mengintip. bersembunyi di balik meja." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. beberapa dinding kios roboh dijejal massa. dan lainnya menjadi satu di tanah. Perempuan tua itu tetap ngeyel. Aku mencoba untuk mengenali.

Ia jarang pulang sebelum magrib. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Codet pun mudah ditaklukkan. Wati merintih. “Diam kau. Udara malam yang dingin mendesir. pemeras. sambil turun dari sepeda motornya. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Pasar Tua ini sudah sepi. dan suka melecehkan perempuan. kalau dirasa cukup penjualan hari itu.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Semua pedagang di Pasar Tua. sampai ketika pakaiannya tersingkap. namun ia tak ingin menyetopnya. terbenam oleh malam di kaki bukit. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. ia menyambar Wati dari belakang. Ia mabuk sepertinya. Memang dari awal bertemu. Ada niat mesum di otak Codet. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. Codet merobek pakaian atasnya. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. untuk menunggu angkot. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. Ia melihat pinggul yang menonjol. Codet melempar senyum. Codet menamparnya. Ia terus memukuli tubuh Codet. Wati teriak minta tolong. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. angkot ke rumahmu sudah jarang.” Wati menjawab ketus. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. "Lu belagu sih. Dari arah kiri. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got.” “Kagak usah bang…makasih. Ia menangis tersedu. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. istri Mat Boni. Di ujung pasar. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. mau kau apakan aku. Sayang. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Codet sudah naksir. Terakhir. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. Ia berjalan agak menjauh. ia ingin sekali menjemputnya. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. “Iye bang. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. Ternyata si Codet. . Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. pasti sesudahnya. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. Ketika tahu siapa yang berbuat. Suasana tampak muram. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. Wati mulai gelisah. ya dia akan pulang. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. Tak jauh dari tempat kios Wati. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. istri orang pun dia goda juga. Mat Boni adalah pedagang keliling. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. Suamiku akan membunuhmu. Lepaskan!” bentaknya. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. Mata semuanya menyorot padanya.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. sayang ia keduluan sama Mat Boni. Tak segan." cerocos petugas yang mabuk itu. “Abang anter aja yuk. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. “Kagak usah bang. Sudah satu jam duduk termenung. Wati masih berontak. Tanpa aba-aba. “Bajingan kau. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Beberapa kali menggoda Wati. Codet dengan ganas menerjangnya. Beberapa toko mulai tutup. Wati bisa pulang naik angkot. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Codet terkenal menjahili istri orang.” Codet menawarkan diri. Setelah membuka helmnya. Ternyata urusan cinta. sepekan lalu. Hanya kali itu. Sudah pukul 8 malam. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot.

Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu. Jakarta Selatan. Kini ia tinggal di Jalan Damai III.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. 20 Juli 1985.diem. 19 Juli 2010.” seru beberapa orang di sekitarku. “Mari kuantar kau pulang. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi.ada pelangi tuh. Di daerah Tua ini. mak. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. bagus ya. Ia menutupi diri dengan seadanya. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. Jasad Boni pun diangkut ambulans.. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. Wati?” ajak Codet. Beberapa burung pun melintas di depannya. “Itu pelangi untuk Boni. Beberapa hari setelah itu. baru pertama untuk Boni. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Codet berdiri dan merapikan diri. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Nugroho. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. jangan keras-keras. Ia meradang. Mat Boni tahu kelakuan si Codet. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. Sayang. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. Wati hanya terdiam.Malam hening.” seorang laki-laki menegurnya. “Hus. hari inilah mereka duel. “Mak. seorang blogger cum wartawan. ini balas dendam Boni. Pasar pun kembali berisik. dan kemudian memeras pedagang. 09. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. seperti kisah-kisah masa kecilku itu. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba. Dan kali ini. meski hanya untuk menakut-nakuti. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. setelah ada tembakan peringatan.huss. Ia melengkung indah di atas pasar. Kalibata.. Lahir di Purworejo. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah. Barangkali. Ntar dia ke sini. Pejaten Timur. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet.. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. Codet pun melemparkan pistolnya. Aku toleh pelangi itu. Dan ya. Dan penembakan ini. Barangkali.37 Andi S. ..

Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. yang penting bisa telpon dan es-emes. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan. setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja. hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. chatting. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari. Ibu tidak punya uang sebanyak itu.Cerpen Layar Sentuh Kamis.” “Iya. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial. Bagaimana menerangkan istilah- . Tanpa perlu repot memencet sekian tombol. yang Rp150 ribu.” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. Jaman sudah berubah. Sayang. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan. Sama saja kan. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. Nak. “Put. yang penting belikan Puteri hape layar sentuh.” Puteri hanya bisa mendesah. dan menjelajah dunia maya. Sebenarnya tak salah juga.” “Touch screen Bu. aku ingin mengenggam warna-warni dunia. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. Ah. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. tunyuk artinya menekan dengan jemari.

ensiklopedia. laptop. tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. Ah. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. hingga hari-hari menjadi asyik. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. telepon genggam. mendengarkan radio. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. The Extra-Terrestrial. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. tempat nongkrong. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. Tentu. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. cowok. Tanpa kerja keras ibu. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. Serumit apapun rumus itu. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. maupun Matematika. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. Hanya dengan sentuhan jemari. bahkan menonton televisi. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Kimia. Puteri tak punya cukup uang . Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. Ah. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. Maka tertanamlah perangkat bluetooth. Karena itu. ia memang terlalu banyak menuntut. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. Mulai dari gaya penampilan. kendaraan. makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. kamus. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. hingga diperlukan buku-buku. andai saja ayahnya masih ada.

dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. Kalau kamu mau ikut Tante. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. Sekarang. tetangganya. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh.” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. eh bersalah. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. Mulai dari pelayan café. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya.” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. “Jika mau menerima sentuhan. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? . Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. penyanyi dangdut keliling. “Tante tidak memaksa. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah. “Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap. Harga dirinya merasa terlecehkan. Apakah maksud kata. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri. “Jangankan hape layar sentuh. engkau bisa membeli hape layar sentuh. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Tapi. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. Sambil mendengarkan musik. tukang pijat. hingga kupu-kupu malam.

” “Baik Om.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak.” “Tanpa Puteri minta pun. Bukankah. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. orangtua Shinta. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. Dengan tangan gemetar. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. Jika ada seseorang yang datang.” Sekarang. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. tapi Om Anton juga harus berjanji. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri. Sekarang pulanglah. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. dengan berbagai lobi. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. sahabatnya.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota. “Maafkan Om Anton ya. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. Bahkan. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. Puteri merasa begitu takut. Maka sore tadi.Memaksa ibunya jelas tak mungkin.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini. Om Anton . Tak terasa. Puteri sangat terkejut. Di lobi hotel. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri. Untung semuanya belum terjadi. Tanpa perlu berkata-kata. “Tunggulah di kamar ini. Klik. Mereka begitu akrab. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Puteri menceritakan semua yang terjadi. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian. dipegangnya gagang pintu. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. Entah bisikan setan darimana. ini Om Anton. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Om benar-benar menyesal. Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya. Awas jangan macam-macam. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini.

2012). Sementara Tante Rini raib entah kemana. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Sementara di beranda rumah. 01 September 2011 SETIYO BARDONO. ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado.bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Email: setiakata@yahoo. Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. 2012). mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Ah. 15 Oktober 1975. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. DEMI HP LAYAR SENTUH. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini. 2007). seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok.com .

Aku segan. di pihak lain. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. Kami pun menikah di desaku. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik.malam pergumulan kami yang sebenarnya. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. Ya. Selang dua hari setelah pernikahan kami. ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. "Belum Bu. air mataku pun luruh mendengarnya. sukses. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku. Hampir setiap bulan. seharusnya darah itu cepat ku lap. "Tenang Lastri. "Apa kamu sudah hamil. hidung bangirku. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. akhirnya aku pun berani untuk jujur." jelas suamiku. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. "Kenapa belum hamil juga. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota. wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. Awal pertemuan dengan mertuaku. juga tampan dari Jakarta.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. kecuali mereka yang memulai. Jawa Timur. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah. aku sangat canggung. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. dan aku tidak menikmatinya. dan entah mengapa. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu. nanti kita program bayi tabung ya. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah.”batinku dalam hati.”sesalku dalam hati. 31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. Dengan dipaksa jujur olehnya. bibir merahku. “Ini semua memang salahku. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. Namaku Lastri. Aku bertemu Johan. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil. sepertinya tidak hadir lagi malam. Sejak malam pertama itu. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta." jawabku sambil sedikit tergagap. . itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. begitulah penjelasan suamiku. "Dia itu bunga desa di sini. aku juga trauma melihat darah. "Aku tidak tega melihatmu merintih. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. lelaki yang menjadi suamiku.

Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. suamiku telah selesai mandi. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. aku seperti mendapat jalan keluar. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. Saat aku masih berpikir. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. Suatu malam. "Aku kangen sekali sama kamu. Ya." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. lalu kami nonton BF (blue film) saja. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Sehingga sepulang dari rumah sakit. karena aku sibuk mengurus Jonathan. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. aku melihat semuanya semalam. pasti orang tuaku sangat malu. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya. karena jika nanti penyakitku ketahuan. Ryan. untuk menghilangkan stres. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. Sejak tinggal di rumah pribadi.” “Tapi aku tidak mau. "Pas seperti yang kuharapkan. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. aku sakit Lastri. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. "Maafkan aku Lastri. “Rupanya mereka kegerahan. ternyata dari Roy. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. "Oh. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. kali ini dia membawa dua teman pria. selain muak. "Ya gapapa. Roy. bisanya nyusahin saja. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen. aku memang lain. mereka masih terlelap. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. Johan pun seperti merasa bersalah. "Dasar perempuan kampung. Keesokan harinya saat suamiku mandi. jika tidak ke luar kota. sungguh terkejut aku. aku dalam keadaan frustasi berat. asal mas senang. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. Walau sudah ku duga. dan lainnya. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. Genap 36 minggu. kepalaku pusing. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini. melainkan ada Toni. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis. "Ternyata benar perkiraanku. Tapi keesokan harinya. sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. Dulu saat aku ke Malang. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. aku tak sampai hati. aku ingat Roy. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. melainkan ke rumah baru kami. apa mungkin dia salah kirim. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. kakiku menjadi lemas . Ini adalah hari ketujuh. orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam.” . Aku yang lulusan sekolah dasar. Esok paginya. dan ketika kulihat nama pengirimnya. Kesibukanku mengurus Jonathan. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. Johan sangat senang. setelah Roy dan Robby pulang." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. lelaki tampan peranakan Jerman. Sampai bertemu dengan mu. Air mata pun tak terbendung lagi. “Aku sudah tahu semuanya mas. Mendengar perkataanku. putra pertama kami. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

“Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya. aku agak sedikit heran. Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. Perasaanku sedikit menenang. 14. aku masih bisa bergerak berjalan. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. Menyengat hidungku yang tersumbat. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. 26012011. Namun. Ah. . membawa dosa tak terhitung. Semua tak sesuai bayanganku. aku datang untuk kembali pada-Mu. namun keranda mayat. namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu.“Deg!”. terasa sedang mengendarai sebuah kereta. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. Ruang Khayal. Tuhan. ternyata tidak. Ternyata “aku mati”. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja. Yang kutumpangi bukan kereta biasa. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”. 20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah. “Apa iya aku mati?”.

. ya aku hanya mengira. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan.. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran. Tatapnya. Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu.” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya. Dan aku sudah mengenalnya sejak lama. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul. Matanya nanar menatap jauh kosong.aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit. populer.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. mungkin. “ Kenapa Boy. namun memancarkan kharisma. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati.. keluhannya. aku puja.Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam. bintang kampus.. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya. Raka Primastya Restu. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang. Yah.. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana... “Woi. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari. Ah. bahkan jika aku harus jumawa. siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. Sosok sederhana namun memesona. Tapi nyatanya.ngajor ya!!” ledekku. ada yang berbeda dari polah laku Raka. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata.. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku.” aku coba bersimpati akan dukanya. “Namaku Raka Primastya Restu. Raka memang bukan laki-laki-. “I am sorry Friend... Raka. senyumnya... Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka.. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. telaga bagi segala keresahan.... Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak. Dia sosok yang selalu ada.. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut . bahkan mungkin terlalu lama... ya itu lah Raka. di lain waktu jadi manusia introvert. tenang. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya. lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu.. itulah Raka. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana. “Aku kangen Mamaku. bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana.” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. Kadang aku merasa bodoh. Namun sama seperti impiannya. . Pendiam.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu. Aku semakin kehilangan cara. “ Iya. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian.. keangkuhan. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember. aku rasa semua yang ada padanya. “Grecee.

co. “Mau jadi apa kalau besar nanti. “Mau Jadi Guru”.. kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang). Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. “Mau Jadi Dokter”. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. Email : riskon. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam. aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali.Angan merapat pada jelajah kupu-kupu. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). entah apa maksudnya. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. Semakin jauh lelah itu pergi. S.id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin.bni. Oleh Riskon Pulungan. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya.. Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya. Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi. Nak…. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi. Grecee. Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya.. Meski tidak seharusnya begitu. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh.. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. Yah. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). Surat Terakhir Raka …. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku..?” Ada yang menjawab. terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah.. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA..Ya. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. “Mau Jadi Pilot”.pulungan@mail. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain.. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit.. .

usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. sementara Istriku lebih sering melamun. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. Dari Cigombong. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. mengamen dengan berbagai alat musik. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. kejahatan di sekitar sini. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. tanpa sebab yang jelas. Diam-diam. Macam-macam aktifitas mereka. semuanya memang serba dilematis. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. *** Hari berganti hari. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. dengan dalih kemiskinan. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. seolah ada yang aneh. generasi bangsa yang malang. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius. sembari menenteng . lenyap begitu saja. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah. entah apa yang dipikirkannya. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. apa ia tidak memiliki semangat. dukun. pakaiannya kumal. istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. Kata orang daerah ini terkenal rawan. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. mulai dari anak-anak. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. Akupun mulai gundah gulana. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. “Persoalan anaku. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. anak-anak lugu dan lucu.Macam-macam jawabannya. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya. Kehidupan di sini begitu keras. lirih. atau hanya malas saja untuk menjawabnya. ada yang menjajakan berbagai dagangan. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. semua berjalan apa adanya. perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. Namun tidaklah demikian dengan Upik. pagi yang cerah. klenik atau sejenisnya. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia. untuk bisa meraih impiannya. Apalagi membawahnya ke orang pinter. Seorang anak perempuan. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. Yang paling menyesakan dada.” itu alasanku. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. hilang. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. yang belum memiliki dosa. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. Bahkan. Setelah berbagai upaya dilakukan. minggu berganti minggu. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. sering pula terjadi kekerasan. Padahal. Aku sendiri juga sering termenung. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini.

:( . entah apa yang ada dalam pikirannya. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana.02. Jakarta Timur 13790. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya. hawa panas mulai mengusik. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. semuanya terjawab sudah. tak terasa seolah membuka mata hatiku. masratman22@yahoo. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. entah apa yang ada dalam senyumanya. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. Puisi itu berjudul CitaCitaku. tidak sepantasnya dijalanan. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. generasi yang malang seperti anaku. Kelurahan Kalisari. yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya. Dalam puisinya. RT 004/RW. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. hal itu terjadi begitu saja. sembari tersenyum.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. tanpa berkedip. gemah ripah loh jinawi ini. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. Kecamatan Pasar Rebo. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa. dan teman-teman sebayanya. tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat. mengharukan.co. benar-benar menyentuh. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa. bungkam.

“Selamat sore. saya mau ambil pesanan saya. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. "Yah. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari. benarbenar jauh dari perkiraanku. Ah biarlah. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. yang hanya ingin aku yang melayaninya. SMS dari Pak Anton rupanya. pasti aku cek. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun." candanya. “Saya senang bisa ketemu kamu. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh.ngawur!" balasku. Sekarang mau ambil tiket sendiri. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri. "Huufft. kilahku. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. "Hush. jelasnya. akhirnya bisa dipenuhi. Selang setahun berhubungan. "Iya. "Itu Nit. sadarku mengentikan lamunan. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. "Cek dulu. Ya pesen tiketlah. teman sekantorku. Setelah seminggu menikah. "Benar pak. banyak maunya.” sanggahku dalam hati. Lebih tepatnya lebih baik. Kan sebelum kenal aku. baik pak. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. Kami pun larut dalam percakapan. kami pun memutuskan menikah. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton. harapku. namanya juga customer. ditunggu kedatangannya ya pak. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. “Iya lah. memang ada-ada saja pelanggan satu ini. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. kita kan belum pernah ketemu. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. bahagia menyelimuti perasaan kami. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang... memang sudah dalam proses bercerai.kurang lebih 45 menit.Cerpen Aku yang Kedua Kamis. saat baru sampai di rumah. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh. "Iya tuh. hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. hihihi. dan sudah punya dua anak. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. Menurutku dia memang pria yang kucari. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet.” desah hatiku dalam hatI. terus nanti di-cancel-lah. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak . terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. sekalian lewat katanya. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. Semua berjalan lancar. Nanti malah dilarang lagi. Pernikahan pun berlangsung. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh.” genit hatiku berkata. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. Tak lama. ponselku bergetar. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama.” itu isi SMS-nya. terima kasih”. Dari situ. Ya. dia mau bercerai dari istrinya. Oke pak. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya. ada urusan lagi. Sepulang dari kantor. So far. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. tapi dia ada rasa kali sama kamu. hihihi. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton.

Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. Sepulang dari rumah sakit. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. Sementara aku masih terdiam. mimpi buruk pun dimulai. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. Dia pun bilang. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. yang bilang bahwa jilbabku palsu. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. Semua terasa sangat berat. Waktu tak berselang lama. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. Untung saja ada bayi mungilmu itu." pikirku dangkal. "Asal kamu tahu Nita. aku pun memutuskan untuk punya anak. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. semua harus ku jalani. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. Sekarang Alan sudah 3. dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. lalu kubuka. keluarga besar ku di Palembang semua. dan ketika Alan sudah tidur. hanya aku yang merantau ke Jakarta. Mungkin kalau tidak ada Alan. terutama jika Alan sedang sakit. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. Tak lama pun air mataku mengalir. semua masih berjalan baik. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. Minggu siang tepatnya. hampir setiap malam aku menangis. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. batinku. kehamilanku tidak 'rewel'.5 tahun. Juga untuk menghindari cibiran tetangga. dia masih saja berulah dengan menikahimu. Dia tidak bisa menceraikan saya. karena harus mengurus Alan. karena utang-utangnya yang banyak. kami mengurus Alan.terganggu. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. Ya. Hampir setiap malam. mencari suamiku yang juga suaminya. . saya jadi tak tega mengusirmu. Jadi ini maksud “catatan” itu. kami sangat bahagia sekali. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. "Siapa ya?" tegurku. Kesepian sangat melandaku. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. Karena alasan kesepian itu. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. Di depan rumahku. aku sendirian menjaga Alan. namun Mas Anton. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. Alhamdulillah. Setelah kejadian itu. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul. Pada akhir cuti Mas Anton. adik ayahnya yang sudah meninggal. Ya sudahlah. mereka duduk di ruang tamu. Tapi selama sebulan aku di sini. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. Mana si Anton?" ketusnya pedas. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. Petir terasa menyambar diriku. ya itu nama putra pertama kami. bahkan seperti kembar. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. aku tak pernah melihatnya. karena aku sebatang kara. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. istri pertama Anton. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. Tapi lihat. aku pun hamil. semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. aku sudah membunuhnya. Bayiku masih tertidur pulas. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak.

spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. "Alan.Di suatu sore. aku sakit pilek. Ciputat 15412. Oleh Damatriyani. Beribu maaf jika lancang. "Iya. dia pun mulai bicara.agustian@yahoo. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat.co. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. saat menemani Alan bermain. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua." Aku hanya terdiam. aku sudah makan banyak. Menanggapi tawaran tersebut. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. Syok tepatnya. "Ibu kenapa? Kok bengong. benel kan bu kata Alan. Mohon Dek Nita memikirkannya. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut. S. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah. "Iya. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. Rt 01/03. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku. "Iya om tau. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan. Gg H Abdul Karim 2. Pondok Ranji. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. mendengar semua ucapan Pak Surya.id . Keesokan malamnya.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III." oceh anakku menimpalinya. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku. kaget. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong. Terima kasih ya Allah. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. Email widi. dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. "Begini ya Dek Nita. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita. namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika.com : the_a_young@yahoo. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. nih liat pelutku buncit.

hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami. Tak berhenti sampai di situ. Di setiap malamku. kini di semester akhirku. ini perjalananmu yang pertama. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku.. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status.. namun beberapa bulan berikutnya. Inilah aku. Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. kapan aku menikah???. ***** “Tuhan…. mungkin bukanlah dia pangeran itu. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah.CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Kesedihan pun menerpaku. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku.” pintaku di setiap doa dalam salatku. Bagiku. “Stop! Jangan bersedih nak…. “Ya Allah. Pertemuan tak berhenti sampai di situ.. . Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. namun sedikit merasa risau. gelisah. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku.” celotehku disetiap rintihan doa salatku. Meski aku tak berpacaran. Namun. 04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki. tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi. dan galau. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta.. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah. “Inikah jodohku ya Allah. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. Hati ini lega.” ucapku lirih saat bertemu dengannya. itu cinta pertama dan terakhirku.

agama. Malam itu.com Blog: Roudhotulilmi. Begitu nyalang. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini…. Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. Menyorot merah padam. disamping aku masih mencintainya. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku. Bak denyar halilintar. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Tatapannya melirik tajam. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. Apalagi berpalis muka.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Sungguh hati semakin gelisah. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku. “Ya Allah. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. pengamen memang cocok untukku. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya.andriyani@yahoo.blogspot. bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Ia bukan seorang mata-mata. Tak lengah sepicing pun. sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan.” tangisku di depannya. . dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. Bersurukan laiknya seorang pengintai.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan.com Cerpen Penyamun Kamis. Anehnya disetiap tidur akhir malamku. Tak pernah terpejam. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. Bukan hal aneh bagiku. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. Seperti mengungkapkan amarah. Anak kecil berumur 10 tahun. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan.

mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Alasannya sederhana. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Selalu kalah. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. Begitulah pekerjaannya. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu. pakai alat musik lain seperti gitar. ia duduk bertinggung menatapku. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. Memang. Bila di pikir-pikir. seorang preman menyambi penjudi. Tiap hari rokoknya ludes. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Memiliki tanda gores di wajah. aku dan pengamen lain. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. hanya berani pada anak kecil. mereka selalu memesan makan di situ. Sebenarnya. ia tak pernah ikut mengamen. hari ini sepi. Berotot besar tapi nyali secuil. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. Tapi sialnya. bila warung itu dimusnahkan. “Ini daerah kekuasaanku. Mungkin sejam lebih. pertanyaan yang memuakkan. Hari ini langit cerah. pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. maka para preman akan melakukan perlawanan. Bukan karena aku malas. Dan entah berapa lama ia menatapku. sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. “Beneran Bang. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Di bawah warung itu mengalir air selokan. Katanya merusak suasana kota. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. kalau ingin tetap mengamen di sini. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. pekerjaannya tak lain seorang pemalak.Sedang ia.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. jangan pakai kecrek. Menyunggingkan senyum kecut. “Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. Aku hanya diam tertunduk. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Hingga menggeledahi kantong celanaku. kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. ia datang menghampiriku.” jawabku. Memalak uang mereka. selalu dirampas olehnya dengan dalih. hasil kerja payahku itu. Padahal ia bukan tentara. Menerpa pada mata setiap orang. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas. Bila uang taruhannya habis. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. sekembalinya . Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. Kalau mau ngamenmu laku. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. Bila mendapat banyak uang pun. Ah. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Ya. Hingga titik darah penghabisan. Terpapar renyuk. Di jalan. Di depan warung nasi milik Bi Inah. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. “Heh Udin. Bukan hanya itu saja yang dipintanya. Perawakannya pendek. bukan oleh pembeli. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. Sepasang mata itu milik Bang Jali. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku.” Namun nyatanya. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. Semacam tukar beli. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Pastinya uangku akan dirampas. hingga sekarang. Jalanan tampak sepi. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. selain berjudi. Luka rebak itu hasil sabetan parang. melainkan hari ini bukan hari libur. Bukan hanya para preman saja. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. Terik matahari meyorot panas..” Padahal.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

hari ini. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. Kudus tepatnya. yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. sambil sesekali memandangnya. akan Kami putar (nasib) manusia. sambil tertawa kecil. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. bangga. “Dunia sudah terbalik. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. sambil menggelengkan kepala. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. Kedung Banteng. Di kaca depan sebelah atas. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. Istriku. Itulah sunnatullah. Rasakan Hasilnya!”. Itulah aku dan istriku. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini.” Pada hari itu. Sambil menyetir. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. sesuai tren zamannya…. membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. diskriminatif dan menindas minoritas. Mobil berhenti karena lampu merah. Di hadapanku sebelah kanan. lha wong udah tua gini kok neka-neko. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika. Jawab istriku. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Ya. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. saya suka dengan wajah Bune yang alami. tambahnya menggoda. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu. tanggal/bulan/tahun. “Cantik itu relatif. “Iya Bune. “Walah Pakne.” batinku. seakan prihatin. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus.” gumamku. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar. Hari ini Senin. Inilah janji Tuhan. hidup itu seperti komidi putar. tengah. “ Iya ya Bune…. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. lotion penghitam wajah”. Selalu berputar. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu.” jawabnya dengan logat Jawa kental. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“.” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci. Di dalam Kijang Inova. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. hukum alam. merekapun menjadi sewenang-wenang. kadang kita berada di posisi bawah. 16 Juli 2018. Memang. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama.mengembalikannya lagi ke hitam lagi.” kataku kepada istriku. Nyatanya. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. ketika mayoritas berkuasa. Dan sekarang. ”Sudah jam setengah tujuh. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. tanyanya manja. Ternyata Tuhan seakan menguji kita. dan terkadang di puncak.

Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Pemandangannya tak pernah berubah. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini. Dan terkadang di antara putaran tornado itu. rasa yang aku alami selalu sama. Dan setiap kali aku melihat pantai. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Setiap aku melihat pantai itu. tapi ini tentang sebuah harapan.baik. Teruntuk Akand.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. tapi juga harapan bagi keluargaku. aku tak dapat membantu mereka. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya.pelatih dari benua biru. Tapi sebaliknya. Ini bukan saja tentang mimpiku. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah. Terlihat burung. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. bukan karena aku sedang mengalami duka. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku.tebing yang ada di sekitar pantai.saat kelam. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai. aku seperti melihat sebuah . Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat. Aku menaiki tebing. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. Bukan hanya itu. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. Aku menatap lurus ke arah pantai itu.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun.hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku. Seketika aku menyadari. Tak hanya melihat keindahannya. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk.mimpimu hancur berkeping. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah. dan perubahan sebuah bangsa. Walaupun dengan hal. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. Awan mendung tampak menaungi biru pantai. Semuanya akan baik. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. Terdiam aku untuk beberapa lama. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri. mimpi. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. Tapi karena di saat-saat seperti itu. ada yang dapat membuat mimpi.

blogspot. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. air akan menjajah seluruh ruangan. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. tetapi keadaanlah yang memaksa. hingga Emak membuka bibir. Tangannya yang basah memegang jidat. jangan dipendam sendiri. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. . Koran. “Ayo lekas ngomong. Bersama Emak. Sebagai balas budi. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. Bila hujan turun. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup. kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. Alamat blog: geoaranda. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. Aku tak menyahut. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. takut ia tersinggung. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib.” Suasana mendadak bisu. Suaranya datar. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. usia menapak 14 tahun. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru. rasa malas hinggap. wajah perempuan baya menyembul. Oleh Geri Taranda. Bertempat tinggal di Jakarta. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. majalah maupun buku semua tandas aku lahap. Perasaan serba salah menghampiri. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. “Begini Mak. Kegiatanku kini membantu Emak. Langkah kaki diseret mendekat. atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran.” Aku menggeleng pelan. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki.harapan baru.

Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini. berharap derajat kehidupan lebih baik. terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain.” Emak tersenyum kecut. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. “Jangan berkelit ya. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan. sebagai seorang sopir angkot di . sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu. Ia bergeser. “Sudahlah Le. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. Aku mengangguk lesu. “Kasihan ya si Marni. Dada Emak membusung. Kurapikan peralatan menyemir. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur. kembali kepada kami. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. Bagaimana jika Kang Diman. lagi belanja ya. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. “Mak. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. pagi-pagi udah ngelantur. tiada guna menimpali. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. “Eh. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan.”tanyaku memburu memendam kecewa. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu. bagaimanapun caranya. sekarang Bapak tinggal sendirian.” Raut muka Emak seketika berubah. Kang Diman. kepuasan terbit di sana. seandainya Bapak mau balik ke rumah.” “Oh gitu. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. Awal pernikahan kami begitu bahagia. pemuda yang selama ini merantau. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua.” “Syukurlah.” melengking suara Mpok Hindun. Walaupun tak ada rumus yang baku. Layaknya pengantin baru.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. tapi wewaler itu berlaku juga. Tadi pagi. Aku maklum.” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. “Mak. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. bapaknya. tangannya membelai rambutku. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak. “Jangan percaya Bapakmu. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan. “Maaf. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. kamu Marni. Aku membuntutinya.” sapa Mpok Hindun ramah. Ngontrak di belakang pasar. ngepos di perempatan bawah kolong. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi. “Maafkan Emak Le. mengalihkan pembicaraan. “Syukurin. Kali ini sorot matanya begitu lembut. raut mukanya masam. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini.

Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. aku tak boleh mengeluh. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku. khas orang Jawa sama seperti Bapak. Siang begitu terik.kebetulan aku juga belum makan. Spontan aku menggeleng. semoga ini hanyalah kabar burung belaka. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. Banyak pula yang bersikap acuh. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. Tapi dasar anak bandel. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis. “Perempuan itu siapa Mpok. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. Emangnya kenapa. Sekarang tinggal kami berdua. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. sudah cukuplah. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. Kasihan si Wawan. Mau nganter istri ke bidan. ia marah besar dan kecewa. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. aku kan bapaknya. “Ah kamu Man. Awalnya Bapak sering menjengukku. “Aku pun nggak tahu pasti Mar.” “Nggak pengen nambah. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. mirip banget sama kamu Man. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. Pernah Emak mengetahuinya. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. “Yo wis. teman akrabku. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor. aku pamit dulu ya. melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. Dekat tapi tiada tersentuh. Pardi namanya. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. Udara kering panas menampar wajah dekil. Duh Gusti.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. Mata bolaku hanya bisa menatap. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain.” Segera ku naik ke boncengan. “Ini tho namanya Wawan. semoga desas-desus itu keliru. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. terasa kasar. tanpa sepatah kata pun darinya. Ah. Oh Gusti. Emak melarang keras aku menemuinya. Entar aku juga punya mantu laki. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. waktunya suntik KB. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda. sejenak dalam hening. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap.” Jantung serasa copot saat itu juga. tak jera juga aku mendekat. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . ini anak lanangku. mata mendadak panas. “Kenalin Di. “Ayo kita ke warteg. “Tentu saja Di. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata. antara percaya dan tidak. pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. Boro-boro membelikan barang. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. Tak jarang mereka bermurah hati. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya.

Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. tadi aku ketemu Bapak lagi. teganya meninggalkan anak-istri. balita sampai seumuran sekarang. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. jadi aku berhak ketemu kapan saja. Kemana saja Le. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan. Di atas kertas. “Jangan harap.” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. tadi main ke rumah Mamat dulu. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. tapi sosoknya belum juga muncul. Sontak perasaan bersalah terbit. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. “Mak.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. membuat darah dagingku sengsara. . Muka Kang Diman menegang. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. Pernah berpikir minta cerai darinya. Biasanya ia sholat di rumah. Rasa cemburu membuncah.” Kutatap wajah anakku. Aku tak mau menjadi ibu durhaka. aku mau pisah. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. tetapi hubungan kami begitu jauh. pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. “Sudahlah Wan. Ah. Lunglai tubuh. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. kenapa?” Wawan membuatku tergagap.” “Maaf ya Mak. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. emosinya mulai tersulut. Status pernikahan kini mengambang. kamu Wan. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu. walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. berharap ketenangan tercipta. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang.”Aku tetap keras kepala. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. “Maaf Mak.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. sesali nasib malang yang menimpa. kukuh pada pendirian.” pelan sekali suara Wawan. bagiku serasa restoran fast food di mal. jangan melompong seperti sapi ompong. kebimbangan menyembul. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu.” Wawan beranjak dari duduknya. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini.menyayangi. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja. Kesumat masih lekat terpatri. menyamarkan resah. kamu sudah besar sekarang. Kupandang photo Wawan di dinding. silahkan. “Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. Gelisah merambah. Wawan belum juga pulang. Kupasang muka sejernih mungkin. “Ayo Kang jawab.” “I…iya Le. “Eh. Kuhembus nafas sedalam mungkin. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. “Mak…. Rupanya anak lanangku telah berubah. Emak marah ya sama aku?” “Le. membuatku mati kutu. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. Ketegangan mulai merambati kami. aku tidak suka ia menemui bapaknya. pasrah. mulai dari bayi. kali ini aku nggak bisa. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak…. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. ia harus memikirkan isi dapur. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. Ada beberapa. merasa dilecehkan. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan. “Kok diam saja. Kalau Emak mau marahin. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. Praduga buruk hinggap. Entah berapa kali termangu di depan pintu. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. darahku seketika tersirap. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak.

Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. yang tengah bersiap berganti penjual. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. tak hirau dengan panggilannya. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. senyap. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. Benar itu adalah Bapak. seperti ada yang dicari. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. aku tak keliru! Matanya terbelalak. Kelak bila kamu . dirangkum dalam dadanya yang bidang. gerimis membasahi pipi.” elakku gusar. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. Tapi aku ingin duduk. Matur nuwun Gusti. “Eh kamu Kang.” Aku hanya diam. tak percaya aku telah siuman. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. Memang Bapak telah menelantarkan kami. “Maafkan Bapak ya Le. aku bukanlah ayah yang baik. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling. ngilu terasa. Kecemasan terbit. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan. “Ayolah Mar. ngagetin saja. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. Pandangan beredar sekeliling. matanya berbinar-binar. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu.“Eh. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. Sejurus kemudian ia keluar kamar. “Anakku Le. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. “Mak setelah sembuh nanti. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. Tidak seperti sekarang. Jelas ini bukan kamarku. Eh. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. Kugerakkan tubuhku sedikit.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. Emak di sini kok.” Emak muncul dari pintu. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. “Le. bak maling ayam yang takut ketahuan warga. mungkin aku sudah berada didunia lain. kamu sudah siuman. syukurlah kamu udah sadar. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. Kupegang kepala. tanpa diminta pun telah memaafkan. aku tunggu jawabannya. “Ada apa Wan.” jawab Emak bergegas menghampiri. Aroma obat meruar menusuk hidung.” terasa sekali Emak mencoba menghindar. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu.” “Baiklah Mar. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. Harapanku tidak muluk.” pipi Emak bersemu dadu. “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. Emak ke mana ya. Entahlah. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. Wawan cuma ngantuk. Selama ini Emak terlalu keras padamu. perban telah membebatnya. Matanya berkaca-kaca.” tersendat suara Bapak. kunang-kunang berseliweran di kepala. Karena perbuatanku kamu sengsara. darah kalian sama. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. Dipeluknya tubuhku. anak lanangku sudah sadar. ikan dan daging yang berkuasa. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar. Mataku terpejam ngeri. Kepala membentur benda keras. Bila pagi pedagang sayur. “Kang Diman. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa.” “Terima kasih Mak. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Oh. Terlambat.

nanti kamu bisa kembali sekolah. “Oh ya Le. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. 12 November 2012 15:44 wib . Semua tinggal menunggu waktu. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail. sorot matanya cemerlang. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab. Duh Gusti.” Hatiku mendadak cerah mendengarnya. aku berniat untuk pulang kampung. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. Wewaler : peringatan 2. 11/11/2012. Kaningoyo : sengsara 4. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih.” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. Gemericik hujan sore ini begitu indah. Aku bisa bertani disana. Sekarang tinggal di Depok. mudah-mudahan ini pertanda bagus. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah.setuju. mohon belas kasihan 3.

bukan pula malaikat atau sebangsa iblis. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. seroja. Dahulu kala. kelepak. Pertiwi sebutan orang. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. "Apa maksud Ibu?" "Dek. seorang ibu tua. kemeja buntung. Ambil buatmu saja!" "Loh. basterop.. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. Jika ia mati. punggungnya lurus sempurna. Dari bisikan yang kudengar. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. Sungguh. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. Toh. ya semua ini karena aku tahu. bukan rasul. Untung baru seujung saja yang terkerat. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. kok." "Iya. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. penjahit ulung. Badannya yang ringkih itu babak belur. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. bahkan membunuh. kutang. "Tak perlu. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. jas katak. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. masih ada di pelataran parkir. apalagi dedemit. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. telekung. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. Entah apa tujuannya. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. tak akan ada lagi perlawanan. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. "Selamat datang bapak. ia telah puas merasakan penderitaan. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya. di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. semenjak suaminya datang di kehidupannya. Dia adalah manusia: bermata. sekalipun ia melambatkan lajunya. sepeda ontel. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. berhidung.AKU tak habis pikir. pesak sebelah. Ia bukan jin. ambil saja.. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. Dia tetap berdiri setegak batang surian. Sedangkan kendaraannya. aku tidak salah." sapaku seramah mungkin. Selamat datang ibu. bajang. Sungguh. Kalau tidak. Pancaran mentari tak . Hanya yang membedakannya: celana dalam. lalu mati 67 tahun yang lampau. celana dalam yang selalu dikenakannya. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. kepok. belah bakung. Mereka begitu menginginkan baju kurung. "Bu. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. Tidak dengannya. tak ubahnya seperti kau dan aku. handuk. Habislah orang itu dihajar. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang. sekalipun sedang ia kenakkan. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. Hehe. Sekonyong-konyong. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. maaf apabila aku terlampau egois. kain panjang. bertelinga. sedikit saja. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. Ya.

" Ia pegang pundakku. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda." tolakku gemetar. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu. seharusnya kau ambil saja. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku. Namun. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana . mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. "Benar. bisa-bisa aku dipecat. dan aku adalah si pekak. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. Lama. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami.. Tak menanggap. Ia nekat telanjang. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. itulah yang namanya kesempatan. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami." "Ah. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. Malunya sudah musnah. orang memang kebanyakan berpikiran demikian. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku." jawabku sekenanya saja. "Dek. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. dengan sisa-sisa perca." jawabku pasti. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa.. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. Orang itu. "Seandainya aku berikan dua pilihan. Namun." sejenak ia menghela nafas." jelasnya lagi. orang yang membuatku hidup. ada darah yang menyembur deras. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. Senyumnya kian berseri. dan aku si buta. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. "Dek. "Jadi. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung.. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. ternyata hanya untuk dipertontonkan. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana. Hidupku bahagia. Mana mungkin aku berani melakukannya. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. aku tak berani. Dia tersenyum. tidak Bu. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini. "Ti. Suara perempuan itu menjelma guruh. Aku gemetar mendengarnya. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya.." jawabku sekenanya. Ibu itu diam. "Huh. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. Tanpa mengenakan pelapis lain. Tadi. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. ia telah lupa diri. bagaimana mungkin aku tak sadar. kepada Istana. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku." Dari dalam rumah. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah.. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. "Mengapa?" tanyanya lagi.kami hiraukan. tatapannya adalah kilat. *** Malam setelah matinya majikanku. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja.

Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. 7 Juli 1992. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis. Anggota UKS-UA. 19 A Padang Timur. Padang. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun.dalam berwarna merah putih itu. Tapi aku tak mau. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. ia enggan menerima balas jasa apa pun.” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu. Selain giat bermusik. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. divisi musik. 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. kelahiran Batusangkar. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. . Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah. “Silakan Neng diminum airnya.

Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Hanya punya satu tivi 14 inch. Untunglah aku bertemu Mang Durja. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. bahkan boleh dibilang teramat sederhana.” “Buat warga di daerah ini. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar. Sebab. “Bu Nyai mah A baik orangnya. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. Pada Bu Nyai. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah. Aku sempat meragukan cerita tersebut. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Seperti diceritakan Mang Durja. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam.“Mun urang nulungan batur.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai. ia lakukan dengan segenap hati. dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai.” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. Sep. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini.” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. menurutnya. Ia pun menceritakan hal yang sama. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Sep. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya.” ujar Teh Ema. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. Rumahnya cukup sederhana. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari .

Beku. Lunglai. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. *** Hari itu hujan deras sekali. Entah kenapa. Mata Bu Nyai masih terpejam. Bisa boros limaribu sehari. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Dan. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Maklum. Tapi tetap tak ada. Entah apa sebabnya. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. Tubuhnya juga bergetargetar. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Ah Alhamdulilah. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Ah. Namun sesaat setelah membuka pintu. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Hujan masih juga betah berjaga. Ia terus mengucapucap subhanallah. cepat-cepat pula aku membuka pintu. Aku duduk di kursi sebelahnya. Keningnya mengkerut. Napasnya sedikit tak teratur. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Sesekali kepalanya . tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Bahkan lebih. Salah satu tangannya. Aku semakin membeku. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. “Bu Nyai. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Hujan tinggal rintik-rintik. Setelah sepeda kurantai. Aku memaksakan diri pulang. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Hujan di luar kembali menderas. Lima kali subhanallah. Semakin mengkerut. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Aku masih berada di kampus sore itu. Ia masih belum menghiraukanku. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu. Tapi ini tidak. Akh! Bu Nyai membuka mata. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. Ia menghela nafas lagi. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. Aku tak berani menghentikannya. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. Aku tiba di kontrakan. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. “Muhun Sep. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. Termasuk pada Tuhan. ini berarti pertanda ritualnya berakhir. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Aku semakin merinding.

selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. *Mun urang nulungan batur. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. Aku mengangguk. Kini tinggal di Jakarta dan menulis.com Cerpen . sep: Kalau kita menolong orang. tapi tetap tidak juga ketemu. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. Bandung. “Sep. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu.menggeleng pelan. sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. Ia mendesah.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo.5. Dan sekarang. ada di sini. Penikmat kopi dan sayur asem. samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data. Seperti tertimpa batu-batu.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. Energinya habis. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu. Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. Mencoba memahami segalanya. Di sekitar sini. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No.

“Ahlan wa sahlan. Tak lama dari kepergianmu. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. Ku bilang pada diriku sendiri.” Sebetulnya aku malu padamu. saudaraku”. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Ku akui aku mulai suka padamu. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. kau tak ambil banyak bicara. Kau malah memelukku dan mengucapkan. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Kau ajak aku makan berdua denganmu. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. Untuk menghargaimu. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Aku heran padamu. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. “Hmm… aku suka buku ini. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. Kawan…mengingatmu aku sangat malu. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. nanti saya yang bayar. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. Aku mengharapkanmu. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Habis ceritamu. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Kau juga sampaikan padaku. kau antarkan aku ke kosku. Aku yang suka. aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Tak berpikir panjang. Belum banyak kau bercerita. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. kau dalam . Sangat memotivasi. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. khasmu. Tepat pukul 3 sore. Dengan kelihaianmu itu. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. “Kau suka ? Ambillah. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. aku hanya bisa mengulum senyum padamu. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu.” kataku saat itu. Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Aku malah lupa kesukaanmu.

Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . Dulu. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. Kab. lahir di Pati. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. impian kita telah terwujud satu per satu. Setelah satu bulan pencarian. Tinggal di Ds. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 . Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. Atas izin-Nya. Pati. kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu. Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu. FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku. RT 03/RW 01. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. kini telah berteman dengan coretan garis merah. Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. Jontro. Kec.2010). Wedarijaksa. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa.2010).keadaan selamat. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. membuat diriku tak sanggup mempercayainya. Jawa Tengah. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. mewujudkan impian kita berdua. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. 16 Oktober 1988. Sobat … bagiku. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. Kau ajari aku perlahan. sobat. Sobat. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010). . kau akhirnya ditemukan. Sobat … andai kau lihat saat ini. Buatmu.

untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau.korupsi telah membudaya di negri ini. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. gundah. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. cobek. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. Budaya Korupsi. Damai dengan polisi kalau di-tilang. Segera kubasuh muka dengan air wudhu. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau. salam-tempel. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku.. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. Seperti biasa ibu tidak ikut makan. Kemudian sontak bertanya padaku. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. Selesai sembahyang aku keluar kamar. Pak Yon. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. hidup itu butuh pegangan. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’.” . badanku sudah bersih. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku. kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil. serangan-fajar. “Aida. Aku segera mandi. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada. aku siap berangkat. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. Kami tidak punya meja makan. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Tapi bisa apa aku. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. aku berusaha membangunkan tubuh ini. kita berangkat bareng !”. adalah nama panggilan bapakku. “Nduk.sekarang mandi sana. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati.. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu.. Gilanya. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. “Nduk. kamu lihat itu.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita.

Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu. Ujian dimulai. ”Aida. Informasi ini diumumkan di Koran.” ibu berusaha menenangkan aku. Aku tunggui ibu.!!!’ tegur bapak.. Lima juta harus cair dalam sehari. Sekarang hari Sabtu. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat.. hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi.. “Rencana kuliahmu besok.?” tanya bapak kepadaku. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja. ibu bohong sama Aida. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan.. bapak yakin kalau Aida bisa.. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. ibu ndak mau kamu khawatir... Ternyata Aku diterima. Ragu-ragu menyerang tubuhku.. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Segera aku lari ke depan rumah. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri.. Kulihat ternyata banyak juga sainganku. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak.. mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama.. Tapi hidup adalah pilihan. Hingga selesai..” sapa ibu.!!!” rengekanku kepada ibu. Ya.. Memohon doa restu. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya... ”Wah cantiknya anak ibu ini. ”Buat apa nduk. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. ayo berangkat. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”. Tertulis nominal disana: Rp5 juta. bukan karena teror ujian. Ibu datang. Kita langsung berangkat. ”Sudah selesai Aida. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. dengan raut muka campur aduk.Aku agak risih mendengar nasihat itu. . Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh... tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku.”. Aku bingung dengan senyum ibu. Jatuh satu demi satu. baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya.. ”Uang dari mana. aku libur. Sesampainya di lokasi. Aku butuh klarifikasi dari ibu. tapi karena ibu. Aku diam.” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. entah aku sedang menangis atau apa. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat.semuanya sudah selesai.. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. kamu tenang saja nduk. Hari-hari telah berlalu. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu... Sontak membuat aku kaget.” pikirku.. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. Hari Minggu tiba. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu.. Aku degdegan. kalau ibu punya tumor-payudara. Sudah kutuntaskan tugasku. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu. bapak antar Aida ya besok!”pintaku . ”Sudah pak. itu gambar benjolannya masih kecil kok. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua. aku harus memilih.

dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak.. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”. Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak.pasti ada jalan. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong. Amplop tersebut kemudian bapak buka. Tepat pukul dua belas siang. bapak dan ibu tenang saja..begitulah bu anak-anak. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo. berdoa.. Badannya panas. akan saya cek kembali hasil . ”Begini pak. “Bapak tenang saja. Ketika ujian kemarin si Bimo..” Raut muka wanita itu kelihatan sedih. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami. tangannya menggigil. ”Pak Yon.. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. Ya.. anak kami.Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. saya tidak bisa menerima amplop ini. nakal bukan kepalang.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak.. nduk?” tanyanya. Aku tak tahu bapak mau ke mana.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu.. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. bapak bisa mendapatkan motornya lagi. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. orangtuanya. Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Bapak pergi lagi. apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan. agar tidak terjerumus.. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Saya jamin. setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu.” tutur ibu anak itu.” jawab bapak. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya.”Jadi kedatangan kami di sini ini. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo. Pikiranku melayang. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya.” Raut muka bapak mulai kebingungan. seketika itu pun bapak terkejut.. Tapi untuk masalah Mas Bimo.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. Aku malah disuruh di rumah. Apa ini pak?”sahut bapak. ”Ya. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali. “Betul Pak Yon. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat. Hanya laku dua juta. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. Aida pasti akan kuliah pak.pak”. karena kami semua khawatir kondisinya. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan. “Maaf. Beberapa saat kemudian di hadapan kami. ..” tutur bapak kepada orangtua Bimo. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. amplop berwarna coklat muda dan tebal. Hari menjelang sore. Aneh glagat bapak. ”Untuk masalah itu. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu.

Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. Ya. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Aku sadar sekarang.” tutur bapak. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan.” tuturku kepada bapak. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini...apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. Aida belajar dari bapak. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. setelah melalui pertimbangan panjang. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Jadi tenang saja pak aman terkendali. kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. Kan hakekat ilmu itu universal.. telah aku pilih satu hal.ujiannya Mas Bimo.. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. ”Tenang saja pak.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk. Silahkan orang berkata apa. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. ”Nduk. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu. tapi seberat apapun hidup. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. Bapak kemudian menatapku. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau. yang jelas aku bangga dengan Bapakku. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. Seketika itu juga. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik . Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan.

Melalui jendela kamarku. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. Betapa kagetnya aku saat itu. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek. Terlihat lemas. “Segar apanya. Aku paham sekali. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. besok mau makan apa? Ah. tidak juga Cu. Menunggu kakek pulang dari sawah. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut. Yah. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. sudah kehilangan banyak darah. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya. “Tak usah. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku. pulang dari arah persawahan. sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. “Huh. “Tak apa Cu. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. “Hahaha. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”. pasti berat sekali ya Kek?”. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. berjalan tertatih tak seperti biasanya. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa. darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. jadi malas memikirkannya lagi. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan.” Sahut kakek dengan enteng. nanti juga sembuh. Aku hanya bisa menghela napas. “Hemm”. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat.” balas kakek dengan entengnya. kakek menolak mentah-mentah. bertelanjang dada. . “Aduh. tanyaku lagi. Ini hanya sedikit saja. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. “Selalu saja begitu.” balas kakek dengan senyum di bibirnya. Entahlah. tanyaku serius kepada kakek. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas.” sambutku penuh senyum. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. seperti dua hari lalu. Selalu begini.” jawabku sewot. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. “Kakek sudah pulang?. memang benar apa yang dikatakan kakek. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku.” Balasku sedikit kesal. Semakin dekat menuju rumah. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. Sama seperti kemarin. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. “Ah. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar.” gerutuku dalam hati. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki. Lihatlah kakek sudah segar kembali. jawab kakek.Senin. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. “Sekarang kakek pasti tahu.” masih saja setenang ucapan sebelumnya.

apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. jawabku pelan. Senada . “Apa yang kamu benci. “Kek. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. rumah mewahnya hilang. Kita tidak punya uang. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. Kasihan sekali kakek. “Iya Kek. “Hemm. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah. Hanya bisa tersenyum kecut. nanti juga berhenti. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”. Aku diam. kita tidak punya apa-apa lagi.”. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. Aku juga merasakan hal yang sama.” Balas kakek dengan heran. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. “Aku sedih. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”. yaitu ayahku sendiri. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati.Khekekekekek. balasku mulai marah. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. tabungannya habis. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. “Kek. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. seru kakek dengan semangat. bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. luka kakek sungguh mengerikan. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. kini hidup kakek terlunta-lunta. tanyaku tertunduk. “Tunggulah sebentar. sedangkan untuk makan saja kurang. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. Saat itu kenangan masa laluku muncul. timpalku keras. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. Ah. kataku dengan takut. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. Huh. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. Apa-apaan. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”. “Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah. Kebencianku muncul kembali. balas kakek. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. “Hei Cu. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu.” Timpal kakek.” Aku mulai menangis lagi. Namun. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng.” sahut kakek pelan. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. “Lhoh. Sama seperti keadaan dua tahun silam. Akan tetapi. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya.

suamiku. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. entah sakit apa. “Jeng tak usah khawatir. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. Tak heran. Inilah yang kurasakan. kursi. Kedua orangtua kami sudah meninggal. bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. Aku sangat sedih. suamiku sudah biasa merantau. dan Bali pernah dirambahnya. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Jakarta. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. Kaki kakek sudah bersih. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. aku teringat Mas Seno. Kalau sudah punya uang dia akan kirim. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Sama seperti Mas Seno. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. Ah. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. Surabaya. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. Bandung. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. meja. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. Aku punya sebuah janji. Perkakas apa saja. Sebagai tukang kayu. Bikin almari. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Sudah dua hari ini anakku sakit. . Tubuhnya panas dingin. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Suamiku biasa bikin. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. Bu. Kalimantan. Demam.

Mas Kar…. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas... Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya. Apa yang bisa kami bantu. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta. “Benarkah. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak. “Oya Mir. Aku pernah berbuat dosa padanya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Silahkan ibu mengurus uang administrasinya. Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi.” “Tak usah khawatir Mir.. Seramping dulu ketika kamu belum menikah.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas.?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar…. Tak usah menunggu lama. terdengar suara lelaki itu. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang. Mas. Mas Seno sedang kerja di Jakarta. Tapi karena aku sadar diri. Aku akan membantumu.. “ .” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir.” “Anak saya sakit.ini kamu Mira. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture.” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi …. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami. Saya…. Dirawat di rumah sakit.” “Saya. aku malu bertemu dengannya. menghubunginya. Aku enak-enakkan makan di restoran. PT Kartika Furniture. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS. “Mira…” Aku mengangkat wajah. Tapi saya sedang dalam kesulitan. Tapi hasilnya nihil. Anak ibu harus dirawat di RS. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu.” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan. “Hallo. Usia baru genap berkepala tiga. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. Lembut penuh perhatian.saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit.. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku.. “Kamu masih secantik dulu. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng. Dia masih seperti yang dulu. Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname.“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Suaranya masih selembut dulu.” “Anda harus membuat janji dulu.” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan..saya keluarganya. Tetanggaku sudah membantu. Makan malam bersama Mas Kar.. Sebenarnya aku enggan menghubunginya... Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata. Agar anakku bisa pulang. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas. Mas Kar rupanya tahu diri. mengumpulkan uang.” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh.?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu. Tapi demi kesembuhan anakku.

. Suara Merdeka. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. Mir. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. 2011). Oh…. fiksi dan puisi.” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas. Mas. 2011) . Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu. Aku membuka mataku perlahan. Suara Pembaruan. Saya berutang pada Mas.”. Mungkin karena aku terasa capek. Kamu adalah istri setia.” “Baik kalau itu keinginanmu. Aku…aku masih mencintaimu. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Tubuhku.” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa. “Kalau Mira bis menolong. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Tulisan latin Mas Kar. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Percayalah kamu masih utuh. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra. Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat. Kamu wanita dambaan lelaki. Mira dengan senang hati menolong Mas. 2011). Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir. Mir. Bajuku. Yunior. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. Utuh.” “Tapi bukan yang satu itu. Kartini dan Annida online.“Saya sudah melupakannya. Mas?” “Suamimu tak akan tahu. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Aku juga seorang ibu. atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku. Aku sudah istri orang. Pusing itu masih terasa. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku.” “Apa maksud. Berulang-ulang kau membaca memo itu.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi. Dalamanku. Aku yang masih menyayangimu Mira. Karya penulis pernah dimuat di Sabili.” “Saya menyayangimu. Lembut dan penuh perhatian. Rangkain tulisan rapi itu kukenali. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias.

Dia membalik tubuhnya. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . Udara serasa mendidih. aku tidak tega melihatnya. Wajahnya kelihatan berseri-seri. batinku. Wajahnya tetap murung. Hanya saja. ya? Aku jadi penasaran. dia terbatuk-batuk. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. Tidak lama kemudian. apakah suatu hari. Melihat keadaannya. seperti kijang. dia bisa mengistirahatkan pikiran. begitu pula sebaliknya. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. wajahku tidak cantik. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. sekedar memberikan hawa sejuk. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. jadi memunggungiku. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. Sungguh. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. Jadi. Aku melihat ke luar jendela. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Kali ini. Wajah sahabatku tersayang muncul. Ada banyak lelaki di dunia ini. hati. menuruni pipinya yang berjerawat. hatiku seperti diremas-remas. Aku ingin menciumnya. Rupanya. Aku semakin tidak tega melihatnya. Sahabatku yang malang. Setidaknya. Aku jadi kecewa. sementara gerak kakinya ringan. lalu mengajaknya bicara. Sesekali. karena tidak bisa melihat wajahnya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Dia mengusap pipinya yang basah. di suatu waktu. Teruslah memintal harapan. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. “Aku tahu. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Barangkali itu bisa menghiburnya. janganjangan dia menangis lagi. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. menyembul butiran air. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. Badanku rasanya gerah. Tampak olehku. kamu tidak usah khawatir. Emily diam. Sayang. “Din. Ada apa dengan Emily. Di sudut matanya yang redup. dia bertanya. Emily. setengah histeris. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah.Perjalanan Dini Senin. Hidungnya tampak memerah. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. Aku percaya. Dengan lirih. Pelan-pelan. dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Aku jadi sedikit lega. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. “Din. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. dia tertidur. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. Emily. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. Aku khawatir. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. Hap-hap-hap. tapi tidak ada keringat yang keluar. zaman sekarang ini. Tapi kenapa sih. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Aku ingin berlari memeluknya. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Setengah jam kemudian.

Belinda. Emily justru memutar tubuhnya. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Sayang. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. wajahnya juga berubah lebih menarik. Bola matanya berputar-putar. Kedua tangannya diangkat ke samping. kamu hanya akan disakiti olehnya. Din?” Menurutku. Natasya. Tapi dugaanku mengatakan. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. Dalam pandanganku. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu. hidungnya mancung.” lanjutnya. Tiba-tiba matanya membesar. Sayang. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. Dan pada saat yang sama. “Tanpa pikir panjang. dia sudah tertarik.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. Emily tidak mempedulikanku lagi. Sayangnya. turut berputar. Kulitku kusam dan hidungku pesek. aku langsung menerimanya. “Din. “Aku tahu. perkiraanku keliru.” Emily mendengus. Aku terkejut. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. meski dia mengabaikanku. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. Tapi kemudian. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. Ada apa. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. apapun risikonya! Soalnya.” Emily berhenti sejenak. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. aku bingung harus bagaimana lagi. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Pulang sekolah dia selalu pergi. Jerawat dan komedonya sudah hilang. aku jadi GR mendengarnya. dan rambutnya cokelat panjang sebahu. Emily sekarang jadi genit sekali. dia langsung memeluk dan menciumiku. Aku mendadak deg-degan. Ada Sisca. aku tidak bisa membenci Emily. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. mengajakku ngobrol. Kalau dipikir-pikir. sejak pertama kali MOS. Dia tidak pernah lagi mendekapku. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Karena begitu semangat bercerita. baik soal make up maupun pakaian. Jelas aku kalah menarik dari mereka. “keputusanku ini terlalu mendadak. Emily diam. ke toko buku-lah. Roni namanya. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Dalam bayanganku.perbuat.” Emily tersipu-sipu. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. Kamu mau menerima Roni. Waaaaah. “Hari ini. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. Setelah kucermati. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu. bukan karena cinta. semakin memperburuk penampilan luarku. Begitu lama kehidupanku dengan dia. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. mirip orang Eropa. Mungkin dia sedang berpikir. semakin lama. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana. Wajah-wajah mereka cantik. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya.” panggilnya lagi. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. sejak pertama melihatku. dia nembak aku. Cecil. aku pasti menangis tersedu-sedu. Katanya. Yang membuatku heran. Dia menutupi kedua belah pipinya. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. Tidak ketinggalan. “Apa aku salah. Roknya yang mengembang. Matanya lebar. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. kulitnya putih susu. . Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. dia seperti hampir lupa bernapas. Aku tersenyum geli dibuatknya. Kalaupun bisa. Aku terlalu menyayanginya. menengok teman yang sakit-lah. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. Teman-teman selalu mengejekku soal ini. Coba kamu pikirkan lagi. Tapi ternyata. dan seterusnya.

Manis sekali! “Wah. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. Oleh karena itu. sudahlah. dia tidak bicara. karena dari dalam karung. anak pemulung itu. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. hari ini. ya?” ujar Sumi kepadaku. “Lho. Mungkin. kamu senang. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu. Aku harus melupakan dia. lelaki itu bertanya. Aku memang hanya sebuah boneka. Aku merasa dingin. dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. dia mau menerima keadaanku apa adanya. aku merasa nyaman. biar bisa jadi teman main kamu. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. Bibirnya tersenyum. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk. Aku harap. “Maafkan aku. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar. kalau lima bulan silam sambil menangis. Hatiku tenang. 20 April 2012 . Selama perjalanan. Rasanya. Ya. Dia memandangi dengan seksama.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Namun. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. Gimana. Kepalanya bergerak. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. tanpa pelukan. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. sudah berkurang. Emily memilih mereka. Bapak ambil saja.” Betul. dia bertanya padaku. Dan tibatiba. Entah kenapa. “Tahu nggak. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Aku diam. dia sempat berbisik. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. anakku. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. “Sumiiii. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. Aku bahagia. sementara Emily tetap saja membisu. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. Aku terus tersenyum. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. “Nah sekarang. Din. “Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. Jadi. ‘kan?” “Senang. lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. Bapak pikir. riang. persahabatan kami bisa langgeng. tapi tidak kuasa menggigil. Bagus. tanpa ciuman. dia Sumi. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. senyumnya manis. Purwokerto. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. Dia segera menggendongku di punggungnya. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku. Pak!” seru Sumi. Lelaki itu tersenyum. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. kita bersahabat. Semuanya cantik. Sebelum pergi. “Waaaaa…. aku sudah sampai rumah lelaki itu.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. Apakah dia sudah lupa.

saya bukan lagi penulis novel itu. Empuk sekali. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. saya Alia. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. Kaidah anak sastra ‘kan begini. Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. “Kenalin. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. Fakultas Sastra.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. Sang Penulis. sebagai penulis atau pembaca novel itu. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. batinku. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. Alia tertawa. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. salah satu agendanya adalah bedah novel. Itu pun lebih disebabkan propaganda . Sumpah mati. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis. ketika sebuah karya selesai ditulis.” Hmm. Bukan pula cerpenis. Jika Anda tidak keberatan. kan?” Di seberang. Seperti biasa. Sangat menggoda. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. otomatis pengarangnya mati. Kalau begitu. “Tapi ngomong-ngomong. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. Gurih sekali. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Karena aku bukan novelis. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. Hemat. Pretel-pretel. baru aku bilang edan tenan. aku sudah terbiasa menulis puisi. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. bahkan diperkosa. Terkadang cuma untuk memastikan. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional. kuputuskan untuk menyerobot buku itu.” Tapi rupanya. Bagiku. Gila. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. Mengandung unsur bunyi. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. Tentang minatnya pada dunia sastra. sudah cantik apa belum bahasanya. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli. Bukan karena termakan promosinya. Dan. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. Saking edannya. Nah. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. Jadi. Setiap kali mulai menulis. pasti terguncang-guncang. dalam beberapa hal. Roni. Aku justru tidak suka caranya beriklan. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih.” “Ber-aa-ii?” “Berima. Begitu seterusnya. maksudku. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Karena kenyatannya. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. Alangkah sakitnya menjadi Clara. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. nama orang itu. aku sudah gatal untuk mengeditnya. Pelit kata-kata. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. Sudah indah apa belum kedengarannya. Serupa motor kehabisan bensin. jangan-jangan.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. prosa. Terlalu tergesa-gesa. soal sastra. yang bisa dilakukan kapan aja. malam nanti mungkin giliran Saman. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. okay. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. Tidak meyakinkan. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen. Edan. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. “Minggu depan. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. pasti terkaget-kaget. sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. Berbeda dengan prosa. Sama tidak enaknya. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. Tunggu saja. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. Roni mungkin benar. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. cinta setengah mati pada dunia sastra. puisi itu ‘kan harus padat.” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ. dan karenanya enggan kugeluti. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. Dan. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. sama saja. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman. Rayuannya kurang “maut”. sambil tiduran. kurang lebih jawabannya begini. Mau pegawai negeri atau swasta. yang bikin kita mikir. menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. puisi. baru selesai satu paragraf.seseorang. “Oya?” “Begini. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita.” . Seperti mobil terendam banjir. dibakar mobilnya. sekaligus tertib ber-aa-ii. sambil nongkrong di balkon.

Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer. perempuan yang saat itu. Duduk sendirian. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Titik. Atas saran Alia. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. Awalnya kupikir. Padahal telah dicobanya segala cara. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. Sampai jumpa tanggal 25. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. Atau paling banter. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. ia cocokkan dengan lingkungan sekitar.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. Ingin menampar. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan.” ♦♦♦ TANGGAL 25. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. Ingin menerjang. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. Bukan sematamata karena (hhmm. sungguh mirip pizza. Nah! Itulah sebabnya. ia selidiki. ia muncul mengajakku makan. Hidung bangir. Tak lama kemudian. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. Setiap detil ia pahami. Dan lihatlah. “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. Muka tirus. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Untuk menebalkan motivasinya. aku cuma bisa bilang. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal. Angin dingin segera menyergap. Tapi semakin kutatap semakin kupandang.” “Oya? Di mana?” “Maaf. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. hampir dua tahun dipacarinya. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Dan.” “Terima kasih. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung. Sangat menggoda. “Aku kan sudah bilang. menulis cerita perihal Roni. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. seperti kubilang sejak awal. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. kejutan selalu muncul belakangan. Rambut keriting. Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja. di mana seluruh ide novelku berawal. “Terima kasih kejutannya. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan. biografi seorang (calon) penulis yang malang. Jangankan novel. Sebuah undangan yang. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu.” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. Pandangan matanya mengarah entah ke mana. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. Tidak salah lagi.Ya. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. Yang pasti bukan ke arahku. Cuma berteman secangkir minuman. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. Tiba-tiba sudah jadi buku.” Aha.

memang. Pada 1998. Ke reuni ini. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. MPA. aku bergegas pergi. tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. Gulukguluk Sumenep (Madura). harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku. seperti yang ia cita-citakan.” tiba-tiba Alia mengetuk meja. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga. Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. Meski terkadang aku ingin. Meski mungkin ia mau. Reuni? Ah. Cerpen . Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu. padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Dan. Sampai mewujud jadi novel.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. Sari-sarinya kutulis diam-diam. Kukunyah pelan-pelan. Jawa Timur. Banjarmasin Post. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. Santri. Aku orang kampung. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang. kulumat saja kenangan-kenangan itu. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. Bukan semata-mata dari kafe ini. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan. 7 September 1980. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. Bahkan hingga sekarang.” “Celakanya.” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. novelku belum selesai juga.” “Tapi sialnya. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Ron? “Mbak Shinta. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. Ke kafe ini.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku.

Tapi. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya.Mekar Dalam Badai Senin. “Ibu. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu.” Amri membanggakan mainan barunya. Seharusnya aku percaya pada ayah. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya.” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya.. kenyataannya aku tetap darah daging ayah. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu. Tapi. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.” Vira memeluk boneka itu erat-erat. “Bagus juga ya. “Semua itu sudah lama terjadi." “Ya.” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang.ini ambil lagi mainanmu. di kebun bunga-bunga hias. Ishak. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya... lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya. menggigit bibirnya.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. Putri Ishak. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. “Maafkan ayahmu ya.. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. seharusnya waktu itu aku . aku tetap putri ayah satu-satunya. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. “Mana biar kulihat. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati." “Ooo.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. Vira. dan asri karena penuh dengan tanaman hias. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya. putra kita.” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira.. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy.” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya. Ishak menghela nafas panjang..” ujar Vira tersipu. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya. “Ya. kau benar. Selang beberapa menit. Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. duduklah seorang lelaki tua. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah. Tak perlu dipikirkan lagi." Vira menundukkan kepalanya. Lalu memberikannya pada Vira. “Ayah terlalu berlebihan. Terima kasih ayah karena telah menemukanya. Amri. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain. “Tapi. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu. Kemudian.” Ishak tersenyum pada putrinya. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya.” Vira mengambil mainan Amri. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah. kamu tunggu di sini. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. Di atas meja. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita. “Dulu aku begitu jahat pada ayah. sayang.

ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya.. meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut. “Oo Ayah.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya.” kata Ishak bersemangat. Kemudian. “Dulu. yang ingin bertemu dengan neng Vira. mang Husni mendatangi mereka. Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. Di beranda rumah. Sophian. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. “Ini yang namanya Amri ya. . bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Ia memandang penuh harap kepada putrinya.?” Sophian penasaran. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak.. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. Di beranda rumah. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya. ia menatap pada Ishak. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai.. namun ia tidak mampu. Kemudian. sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya... aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. Sewaktu mereka berdua berbaikan. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. kemudian menundukkan kepalanya. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa.” kata Vira. berada di dekatmu. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab.” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya. aku adalah. pembantu mereka. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya.. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya..lebih sering berada di rumah.. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku. ketika kita pertama kali bertemu. Sophian duduk di kursi kayu. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian. “Oo.. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. Pada masa itu. ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. “Maaf pak. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. Bersama Vira. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya. Vira menghela nafas panjang. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri. Tapi nyatanya. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. apa yang harus kulakukan. Amri datang mendekati Ishak.” Vira menundukkan kepalanya. “Bahwa. Baju dinasnya terseterika dengan rapih. menghela nafas dalam-dalam. lalu tersenyum padanya. “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah.” kata mang Husni dengan nada suara lembut. Namun. mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni. aku adalah.” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya.” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. Ayah. penuh kesopanan. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Ada tamu yang bernama Sophian. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. Kemudian.” Sophian tersenyum simpul pada Vira..” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat. gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. imut sekali. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Dia tidak mengetahui kalau. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi.

apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar. Dan sekarang. “Sudah empat bulan kita berhubungan. toleransi terhadap semua kesalahan orang. Ia menundukkan kepalanya. Aku tak bisa menerimanya. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. Kel. RT01/RW07. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. merasa sedih karena telah dibohongi. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah. “Ayah benar. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini. Aku harus segera pergi sekarang. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira.” Vira tersenyum merasa lega. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya. tak menggubris Vira yang memanggil namanya. “Menurut Ayah. Cinanggung. Sophian. 30 Agustus 1985. Sambil bergandengan tangan. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira.” kata Vira. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian. Akhirnya. Sekarang.” “Dia memang tidak pantas bagimu. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan. ia sudah melupakan kesedihannya. “Oo. ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Dengan sekejap. kita main lagi. Janganlah terlalu kau pikirkan. “Kurasa ia takkan kembali lagi.” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. Kaligandu. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah. berjalan memasuki rumah. satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya.“Maafkan aku. Setidaknya kita bertiga saling memiliki. Pemda Blok A-8. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini.” tak ada semangat dari nada suara Vira..” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya. itulah yang paling berharga. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf. Serang – Banten. “Jangan kau cemaskan itu. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil." “Ayo yah.. Kini tinggal di Komp. 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. engkau mengatakan kebenaran ini. .” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja.” Sophian segera bangkit. mereka bertiga meneruskan langkah mereka.

Tanpa menunggu jawaban suaminya. berisi dipan kayu lebar beralas tikar. Tatapannya terlihat sendu. Bener ndak. Mbok Mini menarik nafas panjang. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. sekarang mata itu justru mengabaikannya. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan. Kang. Dan sejak itu. ia meneruskan. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”. . Tak ada perabot lain. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. Pernah suatu hari. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. “Kamu ini lama-lama cerewet juga. Dengan sebal. kesal. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. aku ngerti. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah.” sambung Mbok Mini. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu. “Aku malu. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. ujarnya sambil menangis. perasaannya campur-aduk. Namun. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. “Eling Kang. Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. sampeyan ini sudah tua. Sambil menghela nafas panjang. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. kalau ndak giat kerja siang malam. antara marah. memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. yang senantiasa menyemangatinya. apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. Ia menyipitkan matanya. aku kok jadi kuwatir. “Iya Kang. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak. nanti malah bikin repot orang. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. geram.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. Si Narti bilang. Kang Narto. sudah bengkok. suaminya.

Kang. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti. sampeyan di dalam? Gelap amat. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah. bahwa Kang narto. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu. lalu memandang ke arah rekannya.“ seru pria yang satunya. Ika Winterholler Nürnberg.09. pria paruh baya itu terbata-bata. “Akhirnya sampeyan pulang juga. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti. sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. Mau nganterin becaknya Kang Narto. “Aku Gatot. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. apalagi menegur suaminya. Dipandanginya becak itu sejenak. tetangganya sebut.. Mbok. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak. Kami mau ngasih tahu. 24. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang. “Begini Mbok.2012 . ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. kesehatan Mbok Mini mulai menurun. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. Keduanya mengangguk dengan pelan. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya.”.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya. “Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. dielusnya benda itu dengan penuh kasih. Hingga suatu sore. meski tenaganya hampir habis tak tersisa. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. Namun. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. sentirnya ndak dinyalain.“ bisiknya lirih. “Mbok.

mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. “Aku sudah mengamatimu lama. . Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. Seingatku pohon itu dulu rimbun. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. segar. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain.” sela suara yang sama.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. “Maafkan aku. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. kering. “Tentu saja. warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu.” cerita Beringin tua. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam. memandangku dengan belas kasihan. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku. Kau pohon dan aku manusia.” jawabku terpotong-potong. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. “Justru karena aku tahu kau peduli. Senja itu. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku. seperti menari-nari kegirangan. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. kukira kau tak mengerti yang kulakukan. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. melainkan dipindahkan saja.” kutegaskan permintaan maafku. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. garis hina. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Aku memang hidup di garis bawah.” jawabku asal bicara.

tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. “Ya. tunggu sebentar. aku usahakan untuk mencopotnya. Keadaan memang sudah berbeda saat ini. Kau tahu kan. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. zaman telah berkembang. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. Orang tadi. yang memasang paku ini. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. udara semakin sesak oleh polusi. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. dia hanya lalai.“Boleh jadi manusia lebih bangga. Aku amati batangnya. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku. saat aku masih kecil. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali. Aku mulai sadar. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi. terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. Tentu saja aku menjawab iya. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini. ya itu suara Beringin tua. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan.” tambahku. Dengan badan yang tertusuk paku. "Baiklah. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. Setelah cukup lama. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. berusaha meneduhiku. Kini alam mulai mengancam. “Hei. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama.” Beringin tua merintih. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem. Dia tergusur oleh pembangunan. “Maafkan dia. “Biar aku teduhi tubuhmu. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. Aku juga paham teori menjaga alam. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku." Jawab Beringin tua. . menempel entah apa di badanku!” terangnya.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. aku sering bermain di sini bersama teman-teman. Segera aku berpamitan padanya. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau. tentang populasi. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. pada manusia.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. Tapi kali ini aku sedang buru-buru. juga tentang keberlangsungannya. “Aku kesakitan. memelihara lingkungan. *** Dulu. atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup.

Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan. Beberapa bulan kemudian.” kata Beringin itu.Tersentak aku. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman. Mana bisa dia mencengkeramku. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan.” Air mata menetes di sela penjelasanku. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. “Sudahlah jangan murung. Akan tetapi.” kataku. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. Sontak aku membayangkan. ulat-ulat memakan dedaunanku.” ujar Beringin tua. Akal pikiran dikaruniakan padamu. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. Tapi aku tetap bisa berusaha. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon. Burung-burung bersarang di rantingku. Tergusur. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu. Proposal yang aku ajukan disetujui. bagaimana jika hidupku yang tergusur. hanya itu saja. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. menemani dan menjadi tempatku berbagi. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. Aku mulai berpikir. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. seperti dia paham akan kegusaranku. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya. menyesali daundaun hijau yang mengering. tidak menginjak tanaman. tentu kau bisa memanfaatkannya. Tidak serakah seperti kaummu. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. Bukankah memang benar kata-kata itu. sementara hasilnya samar. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. Aku tidak tega membiarkannya menderita. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. Ya. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. peduli pada alam yang memberinya hidup. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. “Beringin. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik.” tegas Beringin tua. menyesali akar-akar yang musnah. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. saat itulah alam menangis. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil.

“Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. Penduduk yang tamak.” Dia menimpali kata-kataku.” Ceritanya berlanjut. hanyut bersama harta benda penduduk. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya. “Kau sudah lakukan yang terbaik. Selalu membagi cerita. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang.. biarkan mereka menikmati keserakahannya. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau.” Tegas Beringin tua. Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu. “Bukan begitu. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. membagi perasaan suka dan duka. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya.” jawabku singkat. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. tentu sudah kurobohkan semua itu. Sahabatku! Aih. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. serakah. “Sebenarnya samar sih. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini. tapi aku bisa merasakannya. aku sudah putus asa. menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. “Aih. “Sabar Beringin. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. Sementara itu. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita. Hasilnya bisa kau lihat sendiri.” Beringin tua mulai balas bercerita. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi. *** Hari ini 20 Januari 2012. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali. Kalau saja aku masih kuat. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin.” Papar Beringin tua. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih.” . Tentu bisa ditebak. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. Kurasakan tubuhku semakin melemah. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. kami korban banjir Kali Cisari. “Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana.” Aku mulai bicara asal. tubuhku mulai mengurus. Ya sekarang tinggal pasrah saja.. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan.” Beringin tua mencibir.

Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta. bangkitkan hawa malam atis menggigil. “Berangkatlah. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. ia bersedia menampung untuk sementara waktu.” “Iya Bun. Rasanya tak pantas berkunjung. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. jangan hiraukan Bunda.” Seperti biasa. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. Pesan itu terngiang kembali. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. . 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta). menjelma Malin Kundang. Cerpen Pesarean Kamis. Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. mata tua itu berlinang. kamulah satu–satunya anak Bunda. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. Apalagi hujan baru tercurah. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. adegan berpuluh tahun silam melela. Lima tahun.” suara Bunda tercekat.Selepas kesedihan ini. tapi mata tak ada isyarat lelah. Namun. Dengkur teman satu sel menggema. membuat iri.pora menghisap darah di tubuh kering ini. Senyum manis yang selalu menahan getir. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir. Salah seorang sepupuku berkhabar. biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. Lanang janji. “Le. Gelisah meraja. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok.

“Iya Nang. membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat. Seperti kisah dalam roman picisan. sebagai seorang laki-laki dewasa.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. Aku hanya terdiam. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. Tatapannya begitu lembut. ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. kini menjadi pacarku.“Tapi Bun…. demikian sebaliknya. “Nang. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah.” Kutatap sorot mata Bunda. aku segera mencari pasangan hidup.” Bunda memulai perdebatan kami. Melangkah ke kamar. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. Betapa bangga Bunda. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. terlepas dari genggaman. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. “Ah. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah. mencari istri itu bukan seperti membeli barang. Serasa ada sesuatu yang hilang. Bau debu mengepul. jika umatnya selalu berusaha. Bunda beranjak. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil. Wajah itu semakin dipenuhi keriput. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. “Justru karena Lina begitu tinggi Le. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. yang berbeda tabiat dan kebiasaan.”desahku setengah berbisik. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. Seiring waktu berjalan. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. sehingga bila mencari menantu harus sederajat. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. Lanang sangat mencintai Lina. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu. dielusnya rambutku. Biaya kuliah ‘kan mahal. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir.” “Bunda. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. Lina. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan. seolah pintu regol rumah Eyang . Gusti Allah ora sare Le. derajat kita tak sebanding dengannya. “Kamu masih terlalu hijau Le. Namun rupanya belum ada hasilnya. Kututup pintu. menembus labirin waktu. kenapa diam Le. **** Masa begitu cepat berlalu.”selaku menunggu reaksi selanjutnya. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. “Kalau boleh tahu. “Jangan kuatir Le. bebet dan bobotnya. meninggalkan sensasi khas kekeringan. “Lho. Orang Jawa bilang harus jelas bibit.

Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. toh tembok karang itu tak jua tergerus. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. Sayang. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. bergelut hebat. toh aku bukan anak kecil lagi. adik ayah. Hanya cibiran saja yang kita terima. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. titik!”sergahku sengit. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. tapi cukup membuatku tersedak. tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. . Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. “Sudah berapa kali aku bilang. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. menumpahkan rasa. cinta pada pandangan pertama. kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. Masih membekas dalam ingatan. “Mas. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. Sabar ya. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar.” suara Lina lembut. Di kota pecel Madiun. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap. Air jeruk tertumpah di kemeja. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani.” Ayah menggumam. “Jangan kau ungkit masalah itu. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak.” Bunda memandangku sendu. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku. anak lanang satu-satunya ini. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. separuh nyawanya telah tercerabut. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. bahkan disaat kritis sekalipun. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. matanya sembab. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda.” “Iya saya tahu. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. Pikiranku berkecamuk. Menurutku usahanya adalah kesiaan. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. termasuk istri pejabat. sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. mukaku merona.” terdengar suara mengagetkan kami. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang. Mereka berasal dari berbagai kalangan. jangan bawa makanan ke rumah Romo. “Bunda memang menantu yang baik. ia akan pergi sendiri. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. “Tapi Mas. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. walau terjangan ombak datang setiap saat.” kuremas jemari lentiknya. “I…iya Lin. sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. tapi apa sambutan mereka. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. Simbah Nyai. Jahitan Bunda rapi dan halus.

seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. besok. Mbak Dini sudah menunggu. aku sudah bosan tinggal di rumah. kakak iparku itu. Ia mau membuka butik baru. “Iya. Benar kata bijak. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. Kali ini begitu berat. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. Lho. Yang menjadi korban tentu saja Anisa. aku mau ke rumah Mbak Dini. wajahnya berseri. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan. diam dalam ego masing-masing. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. “Iya Mas. Celananya basah. Ini jaman emansipasi wanita. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini.” Kupeluk Bunda penuh keharuan.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. **** Tiga tahun berselang… “Mas. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. Perselisihan makin meruncing. membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun.” Senyum Lina merekah seketika. “Sudahlah Mas. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. Mas ‘kan lakilaki. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. Kasih keputusan segera.“Secepatnya itu kapan Mas. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya.” Aku bersikeras. Bunda mau bilang apa. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu. seolah penuh tekanan yang menghimpit. bukankah ini kemauan Lina sendiri. melebar ke mana-mana. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. terkadang melalaikan urusan rumah tangga. “Lanang telah berketetapan Bunda. jangan jadi suami kolot. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. Demikian pula yang terjadi dengan kami. kubersujud di pangkuannya. sebulan atau setahun lagi. masalah sepele bisa membesar. Duniaku hanya seputar sumur. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. segera kuganti. Semoga memori . Tangisan Anisa terdengar dari kamar. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. tak perlu kita berdebat soal ini. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. Ia tidak membelaku. kutatap Bunda mencari kepastian. dapur dan tempat tidur. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. “Oke Lin. Nafas menghembus pelan. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. “Aku berangkat Mas. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya. Bagai api yang disiram bensin. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat.” jelas Lina pendek. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. Dandanannya begitu rapi.” Lina berkata seperti tanpa beban. terburu kuhampiri.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. bagai prajurit yang menang di medan laga. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil.” “Apapun alasannya. “Ke rumah Mbak Dini lagi. Lain kali masalah ini kita bahas lagi. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. meninggalkanku yang tercenung tak percaya. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. seminggu.

Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. itulah nama Bunda. Mataku mengerjap. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”. . Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. Aku. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. Ya. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. aku tidak akan meminta bantuan Bunda. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. “Nang. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. “Lho kenapa Bun. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. Demi Anisa. Bunda mengangguk pelan. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan.” aku masih mencoba berkelit. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran. Aku ingin hidup layak. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. Aku yang pegang kemudi hilang kendali. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga. wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku. Bunda tersenyum kecut. mobil kami masuk jurang dan terbakar. tak bisa diganggu gugat.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap. “Wis tho Le.” “Enggak kok siapa bilang. kuletakkan kembali. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. Memang ada pengasuh. Malang. Roti tawar yang siap masuk mulut. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan. sedangkan ibunya tak begitu peduli. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. akhirnya tercium juga.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi. Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. Bunda sudah tahu semuanya.” “Apa kamu bilang nggak cukup.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan. seperti syair lagu lama. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. samar matahari tergelincir ke barat. “Maafkan Bunda Nang. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. Bunda mau balik ke Madiun. “Mas.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. Bunda. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini.

Penyakit asmanya sering kambuh. 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam.com. Semenjak aku menjalani hukuman. aku begitu mencintai Lina. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. Sudah seberapa besar ia sekarang. Sebagai seorang suami. Pasti cantik seperti ibunya. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. Sumpah demi Tuhan. Besok aku akan menemui putriku Anisa. kesehatan Bunda menurun drastis. Sungguh. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. ingin rasanya gantung diri waktu itu.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. kuburan 2) Bibit. Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Hari ini. tapi malah akrab . Selamat tinggal Bunda. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. Aku heran ada anak kecil seperti itu. Hatiku hancur. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Lanang janji! Rumah Hijau. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. walau dunia kita telah berbeda. adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Hisin Jentik yang memberitahu aku. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. Sekarang tinggal di Depok. Bekerja sebagai PNS. Masih ingatkah ia padaku.Segera setelah keluar dari rumah sakit. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail. keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. semoga keajaiban sudi menghampiri. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. HP : 081317500341.

aku langsung tahu apa maunya. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana.” kelahku membuktikan fakta. Tapi semua bukan salahku saja. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami.” katanya penuh jumawa. monyet!” jawabnya. dan mendapat giliran untuk sembunyi. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. Ya. Sewaktu kutanya lagi.” Karena. “Hey. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku. kupikir. Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. main petak umpet. menunjukkan rasa marah. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. dulu. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. “Aku dipaksa dia. kami bertetangga. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. mungkin karena malu. cinta itu kawin. Iren yang genit seketika menarikku berlari. menghardik aku habisan-habisan. itu ‘kan binatang?” tanyaku. tidak boleh masuk sembarangan. “masih kecil untuk bicara soal cinta. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. “Kita ini. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya. ibuku datang membela. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau. lewat kalimat yang sangat kasar. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. Jadi. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. Ah. “Dia jagoanku. Tak mau tahu juga cinta itu . sore-sore. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. “Iya. Kawin itu nanti kalau sudah besar. “Tunggu di sini sebentar. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu.” sahutku. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin. Aku tak habis dimarahi ibunya. *** SEJAK itu.” kataku. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami. Beruntung. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. Sebelumnya. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. di bawah ranjang. Si Buta dari Goa Hantu. Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. Namun. suatu hari. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan. Kukira. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil.dengan binatang. Saat Iren buka celana. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. Nama tokohnya. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. Kurasa. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah.

dan kawan berkelahi. sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. namanya penderitaan. gambaran. saat melangkah masuk pintu kelas 1. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. waktu pun berlalu. Berapa besar. dulu) Semula. apa boleh buat. “Kawanku. Kanan bukan tangan yang baik. Karenanya. kasti. Keringat pasti tertitik di dahi. sejak itu. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. menimbulkan derita tersendiri. Hanya itu. .seperti apa. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. Karena Iren telah memberitahu aku. Aku punya banyak kawan. pingpong. yang kira-kira setebal tiga centi. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”. Sampai sekarang pun juga … Tapi. Maafkanlah aku ini. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. layangan. baiklah kutulis surat saja. tanganku selalu ingin menulis saja. dua bangku. rasanya tidak enak. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. Kalau melihat kawan sebangku. Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. ruas tulang jari tengah tangan kanan. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. aku menulis pakai tangan kiri. berenang. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong. tetapi mendongak. akibatnya. guru yang baik. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. Itu yang kusukai. Dan. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. SD kelas 1. Tangan yang jadinya sedikit memar. Tangan ini digebuk oleh guru. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. (Sungguh. Buku jarinya ada di atas. aku meringis selama seminggu. Hari pertama masuk SD kelas 1. dan yang duduk di kelas lain. habis menulis. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). Alatnya memukul adalah mistar kayu. betapa kuat. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. sungguh … Dan. Kawan main bola. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. Ah. Penggaris. Sampailah rekornya.” Matanya itu. Sengaja kupandang lekat. saat pindah rumah dari kampung kami. hm…hm. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. Aku tak menunduk. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. Alhasil. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. panjangnya 500 centimeter. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang.

Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun. pintu-pintu kita buka. "Kapan. 27 September 2012 11:13 wib "MAMA. ail hujannya netes lagi. percaya Mama." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya.Sejak itu aku menyukai mata pena. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek. Hisin Jentik. Ma?" "Mama belum tahu. "Mama.*** Fort Rotterdam. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. "Mama yang nungguin." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang. tak lama lagi cekung." tegur Avis. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. Dek. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. Yang memberitahu aku. Dek. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . Lalu. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. Kata Hisin. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry. Matanya sudah sembab. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku.

teriakku. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku.. Pintu depan rumahku masih tertutup. Kini makin memekakkan gendang telinga. Tik. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku. ataukah digotong sepasukan semut rumah. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini. Pelan. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. Belum terlihat. Innallaha ma'ashobirin. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya.drrt.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. si kecil Avis masih menikmati tidurnya. Meski terbang agak lemah. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana.menyikut ujung-ujung kayu pintu. Linangan air masih ada. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Entah dari mana. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu.. Kemudian menjemput takdirnya. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. Plop. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air.. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang." Larry. Suara jangkrik sudah berpadu. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. Larry.. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari .tik. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. Larry tak bisa memilih takdirnya. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry. "Sabar dan sholat. "Kun fayakun. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. Plokk." tepuk sebuah tangan di pundakku. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu.. Drrtt. Aah.. tapi sudah bertanda.. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami.leganya.ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah.. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang.hujan sudah mereda. menjadi santapan cicak-cicak. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil. Kusibak korden kamar. menceburkan diri ke air. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah. kelopak matanya terpejam.Avis jangan memendar kemudian menghilang. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku. Depok. Berhasil. siku jendela hingga kaca.

kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. Kau yang pertama kuhubungi. Malam yang penuh dengan kegelisahan. kukira. Tapi. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. Aku kehilangan akal sehatku. PUISI #2 Malam itu. nanti saja kau telepon lagi. Kau bilang. Tetapi. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. aku baru saja pulang dari rumahmu. kegelisahan selalu menyeruak. Aku memang suka menulis puisi. Betapa tidak. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku. Kemanapun kau pergi. Kata orang kita sahabat yang karib. Dan. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. Sama halnya dengan menulis puisi. aku merasakan malam yang tidak biasa. kita selalu bersama.Cerpen Fragmen Puisi Senin. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. Tetapi. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. Sejak kecil dulu. Aku berpikir tentangmu.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. Dalam perjalanan pulang. Dan. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. Namun. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. sungguh. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. Dengan segera aku meneleponmu. Dan. PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. aku sedang sibuk. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu. Aku selalu menuruti perintahmu. “Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. “Wah. PUISI #4 . bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit.” Impian mentraktirmu sirna sudah. Ya. Namun.

Sebetulnya. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. betapa bahagianya aku kini. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. Padahal. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. Kau tarik kerah bajunya. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. sahabatku. dan kau merestui niatku. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. Menurutku. Kau kalah taruhan. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. kau berkunjung ke rumahku. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. Aku tahu itu. Namun. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Namun. dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. Tapi aku tidak bisa.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. kau sering memukul istrimu. Melihat kau yang sudah beristri. Kudengar. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu. Ah. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Maaf. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Kulihat wajahmu merah padam. Malam itu. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. Istriku yang cantik. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. Tetapi. aku pun juga kangen kepadamu. Sebab. Suatu hari. Kusampaikan keinginanku padamu. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. Bisa kau bayangkan. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. setidaknya membahagiakannya. kau tahu itu. Semenjak itu. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. iya. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. itu bukan tindakan seorang lelaki. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. bahkan tidak pulang sama sekali. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. Kau sering dimarahi atasanmu. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. Sepanjang perjalanan. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. Layang-layang itu punyamu. Kutahu. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. Sering kujumpai kau pulang pagi. di tepi danau. pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya.

serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. Maaf. Kau tengah bersama istriku. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Istriku yang cantik. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna. leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Dengan berat. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. Aku hanya diam. . Namun. Kematian terlalu cepat menurutku. Kupikir kau telah mati di tempat. Bandung. Istrimu yang sering mengeluh padaku. Anak-anakmu menjerit hebat. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku. aku menjalankan mobilku dengan gila. Beruntung. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. Akh.blogspot. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. Hingga suatu saat. Nomor ponsel (085721904020). aku mendengar tawa istriku yang renyah. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati. Ia memintaku untuk menjemputmu. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. Perselingkuhan. Aktif menulis dan bermusik. aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. istrimu pingsan. Dalam pikiran yang terus berputar. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. Tapi. kalaupun kubuat. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. Katanya. sekali lagi maaf. kau mabuk berat di sebuah bar. Kau pun terjerembap ke selokan. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku.istriku. Aku ingin segalanya serba rahasia. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. PUISI #10 Kau terlanjur mati.com/. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. Belakangan kutahu. kenapa kau harus menyeberang malam itu. kau tidak pernah marah. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. aku menjemputmu. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. Maaf. Dalam pikiran yang terus berputar. malam yang hening dan muram. kecepatan yang tinggi. Namun. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. Sahabat yang kukenal sejak kecil. Tetapi. Sesampainya di halaman. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. 29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. Sekujur tubuhmu basah dan kotor.

Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. ya. “Makan. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. ya. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku.” Aku tergopoh ke dapur. akan tumbuh . Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua. tertanam ajaran orangtua. “Pak. Air pun muncrat. suamiku sudah berteriak. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. makan dulu.” Kuusap buku jarinya yang kisut. Dengan malas. Dalam otakku. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. karena kapuknya telah mati. mengenai seprei dan kebayaku. tak sekali pun aku membaginya. Dengan sadar. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. Asin sekali. Laki-laki yang malang. Tetapi. “Buuu!” Belum lama aku di dapur. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Aku ganti.” kudekatkan mulut ke kupingnya. Seperti biasa. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. sama seperti anggota tubuhnya yang lain. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. Tiba-tiba dia menangkis tanganku. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. Ketika menikahi dia. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. “Ha. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. aku beringsut ke kamar.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. penisnya sudah mengkerut. hatiku menguncup. “Pak.Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. Pak. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. kutolong dia untuk merebah. ya? Sebentar aku bikinkan lagi. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya. Kulihat akibat kata-kataku. aku keluar kamar.” Kubantu dia duduk di ranjang. Aku mencium gelagat buruk. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. “Mm. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Aku yakin.” kuulangi lagi. Minum?!” Kuulurkan gelas. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. “Sebentar. apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Namun. lidahku kelu untuk mengatakannya. Setelah mengulurkan piring. “Hmm. Kedua alisnya bertaut. Dia tak bergerak.

Jika aku nekat purik. Aku harap. Tak ada tutur kata halus. Namun. Dia majikanku dan aku budaknya. Orangtua kami bahagia. Dia menolak mengantarkanku. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. semuanya gelap. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. Kedudukan suamiku . tugasku hanyalah tidur dengan suami. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami. suamiku akan melembutkan sifatnya. Sebelum kawin dengan dia. aku sakit! Dua pengertiannya. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. tanpa kusangka-sangka. karena melihat kami tampak rukun. Hal sama terus berulang setiap malam. Aku ingin purik. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. Namun. Pertama kali tidur bersama. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. Kata orangtuaku. iya. kesadaran akan posisi diriku. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. Dia mendengkur. Namun. Hardikan suami. Selesai sudah. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun. dan setia kepadanya. Aku memainkan peranku dengan sempurna. aku terlalu lambat. Sejauh ini. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. Mataku mengerjap. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. Oh. Aku ada di sini karena uangnya. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. padahal aku sedang mengandung benihnya. semua yang kulakukan adalah salah. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. tak ingin mendurhakai mereka. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. Dengan sewenang-wenang. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. Yang ada. Dan karenanya. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. Kukatakan. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. Bukan demi siapa pun. aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. Kutemukan diriku di ranjang. seiring berjalannya waktu. Seolah-olah di mata suamiku. Aku tidak mengeluh. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. semua bayanganku jungkir balik. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Namun. Kuelus perutku. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. Dia tega berkhianat. air ludah yang menyembur. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. Tetapi. Dengan penuh kehendak. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. membuatku bisa berpikir jernih. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Yang penting dia tak lupa memberiku uang. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. Dorongan itu begitu kuat mendesak. wajah yang ramah.… lalu gelap. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. Namun. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. karena kesetiaanku kepadanya. Sungguh. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. melayaninya. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. O. Tetap melayaninya. karena pengabdianku. Kata ibuku. Sungguh. teriakan. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. Kedua. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku.jika kami sering bersama. Budak yang berperan sebagai istri. Aku patuh melakukannya. dia menghardikku! Menurutnya. tapi demi diriku sendiri. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. Apakah aku menyesal? Terus terang. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. Aku membayangkan. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya. Pertama.

Apakah cinta seperti itu?. Sungguh. mengucapkan kata cinta itu mudah. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan.com. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta. E-mail totokutomo@ymail. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. dan tak ada cinta di hati. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. suamiku!” Ledug. dia sangat ramah dan supel. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. seperti orang-tua atau raja. selalu mengerti terhadap satu sama lain. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Telepon/SMS (0281) 5730489. rambutku memudar. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Rumah pelesiran: Rumah bordil. “Selamat enyah. 42 tahun sudah aku mengabdi. Dan di sinilah aku kini. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. Namun. karena di luar rumah. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. maka tangan ikut mengusapnya.terpandang. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. Tapi itu tidak . maka mata ikut menangis. aku tak sabar untuk berucap. malaikat maut belum juga menjemput. Berdiri menghadap punggung suamiku. Selanjutnya mata mengeluarkan air. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati. Tulangku sudah rapuh. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya. Tapi. Padahal. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya.

Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. sulit dipecahkan. Suci memang sudah tumbuh dewasa. “Ce. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Namun. Suci hanya mengeluh. tapi tak masuk dalam logikanya. bahkan memalsukan cinta. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. Tapi. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. semakin susah Suci mengartikan kata cinta. Pernah si pernah. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. memiliki arti kata cinta. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu.” itu katanya.” tanya Suci kepada sahabatnya. Setelah saya menemukan pujaan hati. Suci. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. aku ingin bertanya kepadamu. detektif itu adalah dirinya sendiri. Hendizal : Hendri : Langgam. eN. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. I. cinta. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. seperti namanya. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. untuk mengartikan apa itu cinta. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta. Te. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari.” jawab sahabat Suci dengan puitis. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. Hingga cinta saya itu menjadi untuh. Setiap pagi Suci bangun dari tidur. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu. Kalau cinta seperti itu.mungkin. menyatu dengan cinta punjaan hati saya. yah aku telah menemukannya. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. Sayangnya. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. namun tak pernah ditemukannya. Mungkin. sebagian cinta saya itu. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. mendustakan cinta. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. A. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. setiap orang di dunia ini. “Sob.com . “Cinta. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. ia tak pernah bercinta. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. Dengan santai sahabatnya menjawab. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta. susah baginya untuk melupakan kata cinta. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. Namun. apa itu cinta. Di dalam hari-harinya. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri.

Petugas yang menanyainya bertampang seram.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. Senyap …! . Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian.Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. “S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu …. ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. Tidak perlu kau takut. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya. yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang. hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Namun. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah. pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. pada korban.” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas. “Di mana Anda antara pukul 02. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama.00 dini hari sampai pukul 06. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan.

mengerikan.” perempuan itu terdiam.” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. “Aku mau sepuluh juta. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu. yang tercampakkan di atas sofa.” jawab lelaki itu begitu tenang. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. “Kau boleh tidak menunggu. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. Namun. sementara sang waktu terus berjalan. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam. perempuan itu berbisik perlahan. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. Aku mengandung anakmu. Atau…. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. tapi dua orang itu. padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. “Aku sedang butuh uang. Membuat nyalang matanya terpancar.” “Hei. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam. lelaki dan perempuan. belum juga diserang kuap. Disusul debum dari arah pintu depan. Namun. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya. “Aku hamil. otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. Memang berbeda gelagat perempuan. . Namun. Lantas memakainya. “Jangan mulai lagi. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar. hingga bibir kami bertemu. Dahiku berkerut. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan. alisku bertaut. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. sekarang juga. yang kepalanya hanya berisikan uang. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. Win …. Terbatuk diriku sesaat. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. Sekali dua kali aku coba menghindarinya.” katanya singkat. tidak untuk mencekikku …. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan …. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. Asap tipis rokok. takut bersitatap.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling. yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. Ruangan seketika senyap. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. *** Nurlida masih menguntitku. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. “Bantu aku.Malam telah melewati puncak. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang. hanya satu yang perlu diketahui. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. tidak meneruskan.

Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. “Kau kenapa May. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. Hari itu.” “Tapi semua itu idemu. 23 Juni 2012 3:31 AM . memastikan teleponnya benarbenar tersambung. “Nur. Nomor itu sudah tersambung. sebelum mengecek layar ponsel. dengan mulut berbusa. “Duh. Dan akibatnya jalang itu keguguran. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. “O. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. (*) Blitar. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. Setiap hari …. yang tertutup jilbab biru muda. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat. desah napas. Lucu ya?” celetukku. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia. Terdengar jelas. Kesunyian. “Jas. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. “Aku telepon ya. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. Perempuan itu menatap sinis. Ah. Dan tanpa disadarinya. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. Keterkejutan. pada diriku. dua desah napas sebelum ada yang berkata. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah.” kata Nurlida tiba-tiba. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas.” bisiknya perlahan. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. tolong pegang kue ini. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Malam yang bising. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. dinyalakannyalah pengeras suara. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. senengnya yang lagi berulang tahun. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. Membayang.“Atau apa?” bentakku. makin meradang.

jika kompetisi itu ada. Tapi Danang Prabowo. Bulan Kebabian (2011). selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya. Anak seorang anggota DPR. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. karena bukan aku lah pemeran utamanya. Sekitar 20 tahun lalu. 03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. namun berarti itu dipersembahkan untukku. memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan. yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman. Kecamatan Kanigoro. Pertemuan yang cukup singkat." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. Tak penting ku sebut namaku. Namun. yang hidup dengan berbagai fasilitas. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. Tak ayal. tetap saja semuanya tanpa ekspresi. Wajah tak begitu tampan . Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. pria terunik yang pernah ku temui. dan Serahim Nira (2012). Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. N. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia.widya@yahoo. Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. tanpa ucapan. 04/RW. Maaf. 01. Danang Prabowo. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama. Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution.Oleh W. Tapi. Cinta Pertama (2012).id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin.co. lebih tepatnya. tapi pembuktian. Kurasa. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. "Thanks.

Dia benar-benar bicara. Lantas. Ayahnya. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. Akhirnya dia bicara." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Soal cinta. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. Priaku. tanpa jawaban. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. 30 Agustus 2012 12:51 wib . Dia tengah sibuk. Bahwa. dengan pena pemberiannya. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. bak Pangeran Tanpa Kata. Penulis Risna Nur Rahayu. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional. membawa kami kembali dalam diam. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Karena esoknya. "Hubungan kamu akan baik-baik saja." pungkasnya lalu diam kembali. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. dia bicara panjang padaku. Cerpen Keroncong Senja Kamis. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. Diam. cuma terima kasih yang terlontar. memberiku tumpangan. Pangeran Tanpa Kata. Tepat di depanku. Mobil yang kutumpangi terus melaju. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. Sampai suatu hari. kendaraan pun terus melaju. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. tangannya memberikan pena padaku. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. berkutat dengan beritanya. Lagi-lagi. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. cinta kadang tak perlu kata. "Sudah.tapi terlihat karismatik. Lantas hening. ibunya dan keluarganya yang lain. Dengan sigap. Dia sibuk dengan dunianya. Kerjanya. ku tulis namaku di kertas absensi. tapi gak tau kelanjutannya gimana.

remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. Semburat senja. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. tiang-tiang lampu. sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. Ia menyewa tukang ojek. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. delman-delman. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu. diam-diam aku pandang secara lekat. mancing-mancing nih. Suara yang berat dan tersendat. Mbok Garwami mau curhat. “Lah. ia sudah paham. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. berkalung peluit butut. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. aku sudah menganggap dia sebagai adik. anak-anak berandalan di tikungan sana. Aku menatap senja. kereta-kereta usang. Ia masih setia menyajikan gudeg. aku tak bisa membayangkan. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. “Masak ndak ada pria yang bener toh. Ia selalu mengatakan. sandal jepit. karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. “Dik Sastro. berkaos oblong. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. yang lainnya menenteng kardus. Ia membentak angkot. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. kepulan uap demikian hangat. Aku dengar suara Pak Surat. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. menjelang matahari tenggelam. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Dik Sastro ini enggak percaya toh. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. Aerosmith atau Bon Jovi. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi. dan aku selalu ketawa mendengar itu. membawa gudeg dari rumahnya. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Bukan apa-apa. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. ketika kubuka jendela kamar hotel. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Ia sudah mengenalku sejak lama. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. kumis tipis. semenjak aku masih menetek ibuku. bercelana jin sedikit pudar. anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. penjaga hotel. Jagung-jagung itu masih demikian segar. L’arc en ciel. stasiun. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. yang dia carter dari pinggiran kota. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku. berjenggot tipis. Mbok?” tanyaku dengan harapan. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. Ratri. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. Ndak mau ah. Di bawah merkuri. Sebab kami sama-sama semata wayang. siapa mau toh. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. Tapi saya tolak. Sudah berapa ribu motor. tukang becak. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. Rambut sebahu agak ikal. Cukup mengatakan nama hotelnya. Gadis yang manis. Sudah remaja dia rupanya. meski aku baru . menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak. manis dan pahitnya masa terasa kental). gerbang kota. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. lah mereka. nasi liwet. yang diatur Pakdhe Jarwo. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Berseragam oranye. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka.

membaca tulisan tangannya. Nugroho. Kamar di lantai satu.turun dari kereta eksekutif. bersanding di liang suami yang ia cintai. Pertama kali aku menerimanya. berada di depan. Doa ibu selalu menyertaimu.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. bertulis tangan. Mas. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. Darinyalah aku belajar sastra.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. Di dalam becak. Ia seorang kutu buku sejak remaja. seperti guru-guru SD-ku. Pejaten Timur. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. Kangen memang menunggu suratnya. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. selepas hujan. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. aku buka kembali surat itu. Aku simak bait-bait surat itu. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku. hanya enam baris.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Sepotong surat warna ungu. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Meski sudah berumur 67 tahun. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. singkat padat dan berisi. 20 Juli 1985. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. Meneteskan air mata. tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. Aku kaget membaca surat itu. “Hati-hati di rantau. Ya. Ia lahir di Purworejo. Tulisan latin tempo dulu. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita. Dari empat toko. Hati ini selalu begitu gemetar. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. surat itu diletakkan di atas. Kamu harus banyak belajar. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. ia begitu dekat dengan keluargaku. Makanya. Tulisan itu tidak begitu panjang. Semoga sukses. “Cepatlah datang.” tulisnya. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta. Aku hafal betul tulisan itu. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku. sebenarnya bukan itu saja. seorang blogger cum wartawan. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. Jakarta Selatan. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Suara muadzin baru saja selesai. tapi tulisannya berbeda. Ia begitu agung bagi hidupku. ya seperti senja kali ini. aku rogoh kantong jaketku. Tapi. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. Jangan lupa. . lagu itu terus yang ia mainkan. 01. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. Ternyata. tulisannya ditulis oleh Ratri. atau Danarto. pemilik hotel ini adalah paklikku. ia masih suka membaca. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. Dan dia selalu berujar. Di tumpukan baju teratas. Ia tak suka bertele-tele. Sapardi Djoko Damono. sebuah harian yang baru didirikan.

“Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. Heh. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. “Kamu itu sudah besar. siapa suruh bentak-bentak. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. Apa susahnya. cuci piring?” Ya. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku.” Memang. “Ibu tahu kamu capek.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. langsung mandi. ya. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan. Di antara pandangan yang gelap. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi. salat. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang.” Lebay. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. Aku pun hanya mendesah. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. Seperti biasa. Kalau tidak tugas. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Bantu-bantu sedikitlah. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. ulangan harian. sih. . Ya. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. Ya. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini…. kimia dan sejarah. tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini. tidak dipungkiri lagi. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. belum lagi seragamku yang masih melekat.

dan menyapih kita dengan susah payah. Jantungku serasa berdegup lebih keras. “Alhamdulillah. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang.” Pura-pura tidak dengar. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. Kita tidak boleh membentak. Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. Selain tidak konsentrasi. Yah. Rafa. Ah.” jelas mentor Sisan. satpam sekolahku. menyusui. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku. “Ada titipan dari ibu. Sebenarnya lapar juga sih. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama. aku merasa suatu sensasi yang aneh. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku.” sahutku cemberut. tapi mood menolongku menghilang. selalu lari dari masalah. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah. Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. maafkan ibu karena terlalu keras padamu. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. Kau pasti lupa membawanya. Kalau seperti ini terus. sulit juga memahami tulisan yang dibaca. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. Ibu tidak mau lagi mengurusimu. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. ibu mau pergi. Tapi ternyata tidak hanya itu. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15. Ibu kita telah mengandung. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri. seperti saat ini. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. Memang. “Kenapa mukamu seperti itu. Oh iya. “Ya Allah. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat. dari pada di rumah sendiri. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya. Makanan di meja ku lewati begitu saja. ada sepucuk surat terlampir di sana. Lagi-lagi harus jaga rumah. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. Inilah aku. tapi gengsi dong. ampunilah dosa hambaMu ini. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. aku tidak mahir Bahasa Inggris. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. Ku buka surat itu perlahan. Untuk Rafa. Aku memang ingin cepat pergi. “Rafa Afifah.tadinya begitu. Tanpa tidur siang. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. ah. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Jleb. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. “Au. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. “Ya. Ini uang sakumu. .” batinku.” kata Pak Wiji. Aku teringat pada Ibu. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. kamu malah santai-santai. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. Dan tentu saja. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. gelap.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas. Aku hanya mendesah. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa. saatnya membaca ayat suci Alquran. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. Nanti jaga rumah. ya. Terang saja. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat.

Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. teeettt… Bel pulang berbunyi. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. “Ada apa Paman?” tanyaku ragu. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. Ya Allah. Ibu juga minta maaf. nak. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. “Bangun. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. Bu. Tidur saja pekerjaanmu. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. Tidak mungkin! “Fa. Namun. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. Fa. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3. kakiku melangkah lebih cepat. Aku tidak mau terlambat… Tett. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda. mungkin saja mereka sudah pulang. Fa! Pak Jono sudah keluar. Rafa benar-benar khilaf. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. Hatiku benar-benar tidak keruan. “Kamu kenapa.Tapi. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. Jawa Tengah. Tidak mungkin Ibu telah pergi.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. tettt. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. tapi hatiku tetap tidak mau diam. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. aku mulai melihat ada yang janggal. . kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. Tanpa benar-benar diperintah. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. “Bu. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. Aku benar-benar menyesal. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. Yap.00 WIB nanti. maafkan Rafa. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. Ternyata Paman Dika. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Ibu. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. Meski Nysa sudah menenangkanku. “Ibu sudah memaafkanmu. ibu tidak bermaksud memarahimu.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab.

Tapi jangan kaget. bukan? Tenang saja. semuanya. Aku bisa menebalkannya kembali. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Sertifikatnya ternyata aman. Cuma ini rahasia di antara kita. rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. Begitu mudah aku memilikinya. Ya. sehingga jadi berganda. cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku. Sebulan silam. 1945. Esoknya. semua akan kuceritakan kepadamu. Begitu mudahnya… Aha. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. di Menteng. jangan heran. Tapi tak mengapa.istriku yang cantik . kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. Sesaat. tak jadi soal. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu. Tak seorang pun . di mana lagi? Di ibu kota. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. Sertifikat dipalsukan. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa. tentu saja. tak ada masalah. namun baiklah kupendekkan saja. Nomornya. Aku tidak menawar harganya lagi. Nani. engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. setiap hari. Ceritanya panjang. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik.baru saja menikah. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. Belum lama juga kami tinggal di sini. 28 Agustus 2012 AKU dan Qazi .

Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. Aku bisa santai terus. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. Tanggung kelihatannya di mata. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai.” Aku berhasil membuat publik kagum. Bersembunyi diam-diam. beberapa bulan lalu. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. ketika orang-orang mulai ribut. Sebab. Setahun lalu. dan seorang kepala departemen. Seorang wartawan kecil yang usil. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. televisi-televisi. boleh kau terka. dalam sidang kasus korupsi proyek itu. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Hanya koran-koran. mantan artis berambut panjang. Keponakanku yang lucu. terdakwanya bekas bendahara Partai.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. Hanya kakak sulungku saja. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. secara sembarangan bertanya. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. bintang iklan shampoo. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. kemudian suaraku tergagap lagi. Eh. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. Sehari sebelumnya. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. Pesta pernikahanku dengan Qazi. syukurlah. awalnya.” kataku lantang. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. posisiku masih aman tenteram. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan.boleh tahu mengenai ini cerita. kendati begitu. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta. Untunglah. Ketika orang mulai ribut-ribut. si bendahara. majalah-majalah. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. yang – sssttt… . Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut. Lalu.

sampai hukum mati. Setiap sore. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1.ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. bahkan. . Dia – istriku Qazi – tahu. saksi dari mempelai laki-laki. sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. dulu. tepat di samping kiri. yaitu Pak Amin. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. Setelah bulan madu keliling Eropa. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. sedang lahannya 850 meter persegi.” Lafazku tumben tidak gagap. Mulanya. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. memang. akhirnya aku menikah. Berikutnya. Nyaris tanpa jeda. Namun. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. Tapi hari baik itu tiba juga. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. kemudian. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. Sebelum kubeli. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. khutbah pernikahan. Di seberangnya. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. kondisi rumah seperti tidak diurus. Padahal. tunai. Sebelum akad nikah. Ah. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Kalau di Negeri Jiran. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Berdiam-diaman saja. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. duduklah saksi dari mempelai perempuan. Dia merajuk. Di sebelah meja lainnya. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. ibuku langsung jatuh pingsan. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. alamak. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. entah apa jadinya. sedetik saja. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. entah siapa namanya aku lupa. Luasnya 363 meter persegi. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. kami sering tidak saling bicara di rumah. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Buat menutup isu penangkapanku. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. Rumah yang modelnya bagus nian. kami pindah ke rumah ini. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. menurut sebuah cerita. Gara-gara apalagi. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. walaupun tinggal berdua.

karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. karena mengisap narkoba. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. Bergegas aku berjalan ke garasi. menembakku dengan pertanyaan klise. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. Kupikir. membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. oleh Si Belanda pertama. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan.Para pengusut pun unjuk gigi. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. televisi. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Dalam sebuah bayangan yang tulus. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. Dengan anak kunci itu. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir. Tak lama membaca. Matahari memancar. Bila mataku letih. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. Sebelumnya. Di ruang tamu banyak perabot antik. Kini. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. Kini. Semua pelakunya orang Partai. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. Tapi acara belum dimulai. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. majalah. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. Lalu langsung menodongkan alat perekam. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. kukira. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. Enam bulan lalu. . dari ruang tengah. Sementara itu. saya tertangkap polisi di Singapura. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. siang nanti. Tentu saja. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung.

Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini. aku berusaha serius. maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. sepi pengunjung. Bogor.. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. sekarang juga. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. setelah kukatakan kepada Nani. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. Aku tak pernah henti-henti belajar. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik.” kataku. Masuk kantor Partai. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. merupakan perbuatan yang baik. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku.” Terakhir. kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin.” Ya. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan.“Pengampunan ini. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- . Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”..” Kuberi dia senyum kecil. Kurogoh saku. aku belajar terus supaya makin cerdas. Kukunci pintu. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK. Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. Dingin menusuk tulang. biasa. Andai saja tak ada kendaraan lewat. mungkin semuanya sudah basi. Sepi. Tengah malam. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. maka harus kuhentikan sendiri. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. sebelum pergi. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya. di kantor. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. “Saat ini. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. narkoba. Sudah basi.

Terjatuh sekali di pintu gerbang. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . Hanya berselang dua bulan. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan. Pasalnya. anak bungsunya yang perempuan. Ia memarahi bayi kesayangannya. akibatnya ya. Har tersentak. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Alasannya. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga. Nunut saja apa kata ayahnya. Sore tadi. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin.” demikian Har pada suatu ketika. “Terserah apa mau kalian. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. sikap si bungsu pun mulai berubah. itu tadi. hingga belum tahu harus menjawab apa. Di rumah besar milik Har. Har menatap jauh menembus kabut. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. Tetapi Har lupa. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. Ia selalu menginap di hotel. Di mana. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Har sudah mengaturnya. Kepalanya terasa agak ringan. sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Har jarang pulang ke rumah. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. Akibatnya. Yang Har tak sadari. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. ia tak banyak ulah. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Di depan Har. Fikri pun menyusul. Akibatnya. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. Namun yang terbaik bagi Har. Mungkin karena waktu itu masih SMP. Tinggal Har dan Novi. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. pikiran pun mulai jernih. Jangan tanya soal pembantu. menempeleng sekali. Har terhenyak dari lamunannya. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. Namun seiring perjalanan waktu. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu.mudi. Har berang bukan main. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. yang semula menetap seatap. hanya mengamini sikap kakaknya. menerobos rimbunan daun teh. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. menyuruhnya naik ke kamar atas. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. Menoleh. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. dijamin beres. Ia tarik napas dalam-dalam. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. Sama-sama kepala batu.Gelagapan. Pikirannya sedang gundah. Tidak perlu mencampuri.

Kulitnya agak gelap. “Oh…. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. Formil dan serba tergesa-gesa. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. tentunya wanita ini belum profesional. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. “Om gak bawa sopir kan.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. Har merasa aneh. Har diam. Apa pedulinya. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. “Di sini dingin sekali ya Oom. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya.” gadis itu menyahut sambil tersenyum. Perempuan itu masih memandang keluar. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk.. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan.” Si Gadis tersenyum.dipenuhi tumbuhan teh. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. Serasa ada ganjalan. hitam manis. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. tentu. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. menembus kaca jendela. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya.Namun bila menilik dari parasnya. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. Ya. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. nyetir sendiri. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. sekikuk dirinya. tentunya tengah dilanda gejolak batin. Har masih terpaku. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. “Saya ada vila di sekitar sini. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. Ke hamparan kebun-kebun teh. Sesaat mobil bergerak perlahan. berpikir menentukan sikap. Sama seperti Har. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu.” ia tersenyum. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. Om. mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak. Har tak menolak untuk dimangsa. Har menoleh. yang itu. Dalam hatinya ia menggerutu. katanya sih kembar. menunggangi kabut di puncak pegunungan. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Namun yang keluar dari mulutnya malahan. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. “Boleh. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. “Kenapa tidak. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik.. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. . Ia duduk di jok empuk dengan kikuk.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu. lalu biarkan waktu yang akan menentukan.

Imah sudah tak ada di sisinya. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah.“Oh ya.” Har memperkenalkan diri. habis Agan jarang menginap ke sini. Jelas. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya. Om. Har memang tidak lupa. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. Nama kota. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. Terasa aneh juga bagi Har.”Har tertawa terbahak-bahak. di sela-sela mabuk dan kepuasannya. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. Saya Har. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. “Saya Imah. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk.” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. atau Melly. Sekarang malah ia yang mendahului. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. Dan malam itu. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan. misalnya. Sebagai penggantinya. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini. Langsung hilang pusing Har. Agak berantakan.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. atau….” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Om. Berapa biaya yang kamu butuhkan. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. “Saya rapikan dulu kamarnya. Har telah mabuk. Haryanto. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. tidak usah khawatir. Tadi dia kira itu Novi. selebihnya berupa ribuan anggukan. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Hanya butuh waktu lima menit. Imah inginnya menolak. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. kembali mencair. kalau bukan demi uang. Masih terasa pusing.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang . Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Hanya sesekali Imah berkomentar. ia turun dari tempat tidur. Ia memeriksa isi dompet. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah.” “Ha…ha…ha. mendidih dan menggelora. kosong. Biar dibilang gadis modern. sesederhana dandanan dan sikapnya. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. Tapi sebagai penjaga vila yang baik. siapa namamu. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota. Atau Sherly. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. ah.” Nama yang sederhana. Belum terjawab uneg-uneg Har. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. minum ini untuk menghangatkan badan. “Saya sedang kesulitan uang. Gan. ada bercakan merah di atas kain sprei. tapi sedikit melirik pada Imah. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu.

”Ada sesal yang menggayut di pundak Har. Har meraba bercakan merah. Tapi di mana Imah. perempuan itu masih perawan.” Har merenung. “Astaga. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. Hanya tiga ratus ribu. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya.tak beringsut dari tempatnya. perempuan desa yang lugu. meminangnya untuk dia peristeri. begitu egoisnya aku.Ia tersentak. Begitu nistanya aku. Tapi apa mau dikata. menemui orangtuanya. ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta. 2012 . perempuan itu telah terbang jauh. “Imah. sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. Ingin sekali Har menyusul Imah. dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. Ia ingat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful