Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. oh kasihan para maling ini. Dibiarkan malah nglunjak. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Maling lagi. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Semahal harga nyawa ini. Lik Sum putar otak. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Warga kami pun hampir keadaannya sama. Selain itu. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. dengan segala macam jenisnya. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. Toh. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. Biarlah. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. Ya. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. kami tinggal mengambil di hutan. “Walau harga sekolah semakin mahal. termasuk menghadapi para maling. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. . Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. tidak cukup untuk membayar SPP. alam itu yang menyimpan harta kami. tidak toleransi nunggak SPP. udara kami. kami tak perlu menebang pohon. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. Kesabaran menghadapi hidup. namun kami kurang percaya dengan keamanannya. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. yang kami punya hanyalah kesabaran. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. tak punya ilmu. Kami mengambil jika perlu saja. itu tak jadi soal.

Toh harta tidak di bawa mati. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. Seharusnya kami iri pada mereka. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya. seharusnya kamilah yang menjadi maling. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong.. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. Namun kami tak mau jadi maling. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier. Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. Iri hanya mematikan hati. harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. tak mungkin di sini. Moto ra melek.***** Dasar maling moto merem. Istilahnya maling teriak maling. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini. Ah. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. berpikir ala teori sosial. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. Yang menikmati pembangunan negari ini. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting.

setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. menanti waktu besuk tiba. Tak terjawab. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. Tiang-tiang kayu berderet. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. tak mungkin . Kanan menjadi kiri. menganga sebuah jendela terbuka. Tolol. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. namun aku datang bukan untuk membawanya. Ah. Biola itu punyaku. suaramu. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Katamu. 27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Kau pun bilang.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. dan pintu hitam pekat. dengan bangunan bertingkat dua. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Semuanya serba terbalik. bertembok putih. janganlah mengukur diri melalui cermin. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. itulah yang terbaik. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. aku tak mengerti. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. Biola jendela hatimu. Itulah dirimu. Kau pernah bilang. Tataplah masa depan. biarlah semua menjadi kenangan. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Di setiap kamarnya. Lihatlah dirimu melalui hatimu. kiri menjadi kanan. bahwa aku orang yang baik. Sungguh. baik menjadi buruk. Bukan juga seperti angin. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. Langit pun seperti terbelah. Kau bilang. Senja yang menguning. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. membuat bungabunga menjadi layu. jangan berguru pada masa lalu. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Namun pastinya. bukan. Sebenarnya aku ingin bertanya. kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Seperti sama padahal tak sama. Namun. Kamar yang bernama ruangan melati. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. Gelap. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. Semuanya buyar. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. Sesuatu yang kau yakini indah. Aku pun suka keindahan. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram.

Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. Menyimpanmu di hatiku. Keindahan yang keluar dari hatiku. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu. Dan setiap hari itu pula. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. meski tampak seperti barak pengungsian. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini." Aku hanya tersenyum. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. "Ya. Ketika reda di sore hari." jawabku. Namun. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. kau bisa membuatku berpikir. Hidup bukan ramalan. Apakah perasaan ini tulus dari hati. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. tempat ini tarasa berubah menjadi indah. supaya tak pernah menembus jantung. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Bibirku bergetar. tak tahu harus bicara apa. Tentu dengan biaya tak sedikit. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. Aku tidak bisa berkata. Lantas kau pun tersenyum. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. meski aku berharap kau pun merasakannya. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. namun tetap menelusuri kemana arahnya. senyuman itulah yang paling indah. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. hanya meninggalkan angin yang liar. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Menurutku. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. seperti ada yang mengganjal. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. lalu kau mengukir namamu di situ. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. “Hidup ini penuh misteri. setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Diagnosanya mengatakan.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. dan berhenti pada stasiun terakhir. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. Namun angin itulah yang membawaku melayang. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Semua orang takkan bisa hidup kekal. . terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang.

Aku bengong. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. LPM Suaka. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu.H. atau menanyakan kondisi kesehatanmu. . meski waktu itu kau sedang tertidur. memberikan sesuatu yang terbaik padamu. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini. Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.” sambil membalas tatapanku. 2011 Oleh T. RT 01 RW 05 Sumedang Utara. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. menggambar bunga layu menjadi mekar. “Kau jangan berkata seperti itu. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu. Ketika kau benar-benar terlelap. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Jurnal Sastra Sasaka. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti. Alamat: Talun kidul No 45. Yang aku tahu sekarang. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. menemanimu setiap waktu. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Sumedang 45321. Bandung. “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. di tempat yang paling indah. aku tak tahu. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. Surga. Mungkin disitu kau sedang menghayal. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan. masih banyak yang harus kau kerjakan. Tubuhku remuk. sekadar pengantar mimpi indahmu. tataplah masa depan. Lalu kau menjawab. “Aku hanya ingin bilang. ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. “Biarlah hidupku berakhir. 2011). 17 Agustus 1990. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Radar Surabaya. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah. aku mengecup keningmu. Buletin Obras. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. lalu kau melanjutkan.

. Tenanglah teman. “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku.cerpen Kasur Sabtu. Lungkrah.. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. Yah. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. Memang belakangan ini.. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. aku yang salah. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu. Yah. memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Aku selalu saja lupa dengan itu. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. .. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. Tapi. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. Sekali lagi kukatakan. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Aku muak. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan.

Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. ingin tetap bersamanya. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Kamu tidak pernah tahu. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. Aku kembali ingat. Kubuka dengan paksa kamar Endo. masih senang dirayu. tersenyum aku padanya. Kuhisap lagi batang rokokku. Tentu. pergi nonton. pacarmu dulu!” “Hahaha. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya... aku menemukan dia. Ah. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. tertawa. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. kemudian kabur. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. bekas pacarku. bahkan sepuluh. Kamu tentu tahu sendiri. Sama. Di atas kasur ini. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku.Asalkan kamu mengerti. Aku terbatuk. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. ah masih perih rasanya. menciumi lehernya. Entah. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. omong kosong untuk kembali memeluknya. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian. menari-nari di sekeliling kepalaku. Satu yang masih aku minta. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Sebenarnya. bercanda. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. Sampai akhirnya. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu.” aku tertawa.. tanpa ragu sedikit pun. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. dia mengangguk mantap. menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. Bisa sampai lima. Hal yang kulakukan bersamanya biasa. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. aku masih benar senang dengannya. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. . Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam.” Diam. Meski masih banyak retak di sana-sini. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Aku ingat. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Imajinasiku melayang. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. dia mengejarku atau tidak. dan tentu tidur. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Asap rokok masih mengepul tebal. Hampir habis. Tapi bukan itu. menarik. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. langit roboh saat itu juga. Aku hanya bisa diam saat itu. Sejak saat itulah. itu aku. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. dibuatnya aku terbang ke surga. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. ya tidur dengan Tian. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku. Aku yang putuskan. apa lagi yang kurang? Aku cantik. memeluk erat tubuhnya. Padahal. Menumpuk lekat di atas dada wanita. “Lalu kenapa. kenapa sekarang kamu beralih.. Kamu tentu tidak tahu.. Kasur terdiam. seperti pasangan pada umumnya. aku pun sama denganmu kasur. Diam bukan berarti tidak bergerak. Malamnya. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Bedanya. itu kukatakan padanya. Kuceritakan kembali padamu kasur. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. Makan malam bersama. yang aku tahu. Aku masih senang dicumbu. setiap malam harus tidur dengannya.

Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku yang sekarang. kemudian hilang begitu saja. Aku yang sekarang. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya.Aku ingat. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. tapi dia diam dan setelahnya. muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. bersembunyi. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. Kasur semakin terdiam. Tanpa rasa yang awet. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling. bermain hingga klimaks. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. “Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku. buat muntah.” ucapku tegas. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. mencekik urat leher Sama rasanya. setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Dia tahu dengan jelas semuanya. “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar.

"Mati. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. Matanya mendelik dan berwajah beringas. gula. Mukanya terbenam di genangan air. dari balik keranjang. beras. bersembunyi di balik meja. cabe." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. dan lainnya menjadi satu di tanah. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. Ada orang tertembak. "Saya duduk saja. Bajunya lusuh. Dagangan berhamburan. tanah pun menjadi becek. takut nyasar." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku..Cerpen Kematian Mat Boni Kamis. sayuran. meja. Tangannya yang dipundakku. Padahal hujan baru saja turun. Udara bergerak lindap. Bau apek menyengat hidung.! Dor. dinding sampai punggung orang di depannya. Aku mencoba untuk mengenali. ia turunkan. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. Perempuan itu diam." katanya. ada orang mati di depan. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. "Ada apa. tiang. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. "Mati?" "Mati bu.. Perempuan tua itu tetap ngeyel. "Aku takut." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. Hening. Orang-orang belingsatan. suasana pun menjadi ricuh: berpencar. Air menggenang. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. ." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. beberapa dinding kios roboh dijejal massa. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. sandalnya pun lepas. tumpah daging. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Tubuhnya kurus kerempeng. tercecer ke mana-mana. Pistol masih di tangan kanannya.!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. Aku beranikan mengintip. Sementara air got sudah meluap dari tadi. pagar.

Codet merobek pakaian atasnya. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya. kalau dirasa cukup penjualan hari itu. Ia menangis tersedu. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Codet menamparnya. “Kagak usah bang. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. “Abang anter aja yuk. sayang ia keduluan sama Mat Boni. sambil turun dari sepeda motornya. Ternyata si Codet. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Ketika tahu siapa yang berbuat. Tak segan. Codet pun mudah ditaklukkan. angkot ke rumahmu sudah jarang.” Codet menawarkan diri.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. ya dia akan pulang. Codet melempar senyum. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. Ia berjalan agak menjauh. ia menyambar Wati dari belakang. Ia jarang pulang sebelum magrib. terbenam oleh malam di kaki bukit. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. namun ia tak ingin menyetopnya. mau kau apakan aku. pemeras. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. Wati merintih. Wati mulai gelisah. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. Sudah pukul 8 malam. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. istri Mat Boni. Codet terkenal menjahili istri orang. Ada niat mesum di otak Codet. Udara malam yang dingin mendesir. Terakhir. untuk menunggu angkot. Sudah satu jam duduk termenung. sepekan lalu. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. Suasana tampak muram. “Iye bang. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. pasti sesudahnya. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got. Tanpa aba-aba. ia ingin sekali menjemputnya. Ia melihat pinggul yang menonjol. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. Codet dengan ganas menerjangnya. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. Tak jauh dari tempat kios Wati. “Bajingan kau. Wati masih berontak. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. Mat Boni adalah pedagang keliling.” “Kagak usah bang…makasih. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. Setelah membuka helmnya. Suamiku akan membunuhmu.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang." cerocos petugas yang mabuk itu. sampai ketika pakaiannya tersingkap. Hanya kali itu. Wati teriak minta tolong. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. Ia mabuk sepertinya. Ternyata urusan cinta. Ia terus memukuli tubuh Codet. Memang dari awal bertemu. “Diam kau. dan suka melecehkan perempuan. Lepaskan!” bentaknya. Di ujung pasar. Sayang. "Lu belagu sih. Mata semuanya menyorot padanya. istri orang pun dia goda juga. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. Pasar Tua ini sudah sepi. Codet sudah naksir. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. . Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan. Beberapa kali menggoda Wati.” Wati menjawab ketus. Wati bisa pulang naik angkot. Dari arah kiri. Semua pedagang di Pasar Tua. Beberapa toko mulai tutup.

Dan ya.Malam hening. Beberapa hari setelah itu. Nugroho. Jakarta Selatan. dan kemudian memeras pedagang. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Pasar pun kembali berisik. 20 Juli 1985. “Mak. Lahir di Purworejo. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. Dan kali ini. mak. Codet berdiri dan merapikan diri. Ia menutupi diri dengan seadanya. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu. meski hanya untuk menakut-nakuti. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. Ia melengkung indah di atas pasar.. Ia meradang. bagus ya. Codet pun melemparkan pistolnya. Wati?” ajak Codet. 09. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi.huss. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. Dan penembakan ini. baru pertama untuk Boni. Barangkali.” seorang laki-laki menegurnya. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Sayang. Ntar dia ke sini. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. setelah ada tembakan peringatan. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. Aku toleh pelangi itu.ada pelangi tuh. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati.37 Andi S. hari inilah mereka duel. “Itu pelangi untuk Boni. seperti kisah-kisah masa kecilku itu.” seru beberapa orang di sekitarku. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. seorang blogger cum wartawan. Jasad Boni pun diangkut ambulans. . Kalibata. Kini ia tinggal di Jalan Damai III. ini balas dendam Boni. “Hus. Di daerah Tua ini. Wati hanya terdiam. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mat Boni tahu kelakuan si Codet. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba. jangan keras-keras. “Mari kuantar kau pulang.diem.. 19 Juli 2010. Barangkali. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu... Beberapa burung pun melintas di depannya. Pejaten Timur.

” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan. Ibu tidak punya uang sebanyak itu. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. yang penting bisa telpon dan es-emes. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. Tanpa perlu repot memencet sekian tombol.” Puteri hanya bisa mendesah. Nak. Sayang. Sama saja kan. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan. Ah. yang Rp150 ribu. dan menjelajah dunia maya. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. Sebenarnya tak salah juga. Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. “Put. hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. tunyuk artinya menekan dengan jemari. chatting. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya. Jaman sudah berubah.” “Iya. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir.Cerpen Layar Sentuh Kamis. Bagaimana menerangkan istilah- .” “Touch screen Bu. yang penting belikan Puteri hape layar sentuh. setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. aku ingin mengenggam warna-warni dunia.

kamus. Kimia. Puteri tak punya cukup uang . tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Ah. Maka tertanamlah perangkat bluetooth.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. telepon genggam. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. mendengarkan radio. Ah. ia memang terlalu banyak menuntut. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. bahkan menonton televisi. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. Mulai dari gaya penampilan. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik. hingga diperlukan buku-buku. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. Serumit apapun rumus itu. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. laptop. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. Karena itu. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. hingga hari-hari menjadi asyik. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. ensiklopedia. maupun Matematika. The Extra-Terrestrial. andai saja ayahnya masih ada. cowok. Hanya dengan sentuhan jemari. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. kendaraan. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. Tanpa kerja keras ibu. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. tempat nongkrong. Tentu.

Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. Sekarang. engkau bisa membeli hape layar sentuh. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? . Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. Kalau kamu mau ikut Tante. tukang pijat. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. Tapi. Mulai dari pelayan café. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. “Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad. Apakah maksud kata. “Jika mau menerima sentuhan. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. tetangganya. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. hingga kupu-kupu malam. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. eh bersalah. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. Sambil mendengarkan musik. penyanyi dangdut keliling. tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. “Tante tidak memaksa. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya.” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia.” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. “Jangankan hape layar sentuh. Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. Harga dirinya merasa terlecehkan.

” Sekarang. Om Anton . sahabatnya. Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya. Jika ada seseorang yang datang. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. Entah bisikan setan darimana. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton. ini Om Anton. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini. orangtua Shinta. Sekarang pulanglah. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri. “Tunggulah di kamar ini. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap.Memaksa ibunya jelas tak mungkin. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Mereka begitu akrab. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. dengan berbagai lobi. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. Puteri menceritakan semua yang terjadi. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Bukankah. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Tak terasa. Bahkan. dipegangnya gagang pintu. Dengan tangan gemetar.” “Baik Om. Klik. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. tapi Om Anton juga harus berjanji. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota.” “Tanpa Puteri minta pun. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Awas jangan macam-macam. Maka sore tadi. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. Di lobi hotel. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. “Maafkan Om Anton ya. Puteri sangat terkejut. Tanpa perlu berkata-kata. Untung semuanya belum terjadi.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Om benar-benar menyesal. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian. Puteri merasa begitu takut. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri.

seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. 2007). Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. 2012). Sementara di beranda rumah. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. Email: setiakata@yahoo. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. Sementara Tante Rini raib entah kemana. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. DEMI HP LAYAR SENTUH. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. Ah. bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini.com . Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. 15 Oktober 1975. 2012). 01 September 2011 SETIYO BARDONO. ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok. Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel.bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh.

ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. Aku bertemu Johan. "Aku tidak tega melihatmu merintih. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan. "Apa kamu sudah hamil." jelas suamiku. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. Awal pertemuan dengan mertuaku. akhirnya aku pun berani untuk jujur. hidung bangirku. itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. Jawa Timur. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta. sepertinya tidak hadir lagi malam. seharusnya darah itu cepat ku lap.malam pergumulan kami yang sebenarnya. Kami pun menikah di desaku. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. . "Belum Bu. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. 31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. sukses. wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. lelaki yang menjadi suamiku. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. nanti kita program bayi tabung ya. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris. Ya." jawabku sambil sedikit tergagap. “Ini semua memang salahku. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku.”batinku dalam hati. aku sangat canggung. juga tampan dari Jakarta. di pihak lain. Dengan dipaksa jujur olehnya. Selang dua hari setelah pernikahan kami. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. Hampir setiap bulan. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah. bibir merahku.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. dan entah mengapa. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. aku juga trauma melihat darah. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. Namaku Lastri. "Dia itu bunga desa di sini." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah. Aku segan. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. begitulah penjelasan suamiku. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku.”sesalku dalam hati. Sejak malam pertama itu. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. "Tenang Lastri. "Kenapa belum hamil juga. dan aku tidak menikmatinya. kecuali mereka yang memulai. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan. air mataku pun luruh mendengarnya.

orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya.” . aku ingat Roy. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. Saat aku masih berpikir. dan ketika kulihat nama pengirimnya. lelaki tampan peranakan Jerman. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. “Aku sudah tahu semuanya mas. aku dalam keadaan frustasi berat. melainkan ke rumah baru kami. Ryan. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. apa mungkin dia salah kirim. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. mereka masih terlelap. Dulu saat aku ke Malang. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. "Pas seperti yang kuharapkan.” “Tapi aku tidak mau. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. Ya. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. aku tak sampai hati. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian. "Maafkan aku Lastri. Sampai bertemu dengan mu. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. “Rupanya mereka kegerahan. Suatu malam. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku. Sehingga sepulang dari rumah sakit. Air mata pun tak terbendung lagi. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. Johan pun seperti merasa bersalah. Walau sudah ku duga. untuk menghilangkan stres. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. putra pertama kami. "Ternyata benar perkiraanku. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. kepalaku pusing. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. aku seperti mendapat jalan keluar. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. sungguh terkejut aku. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka. Kesibukanku mengurus Jonathan. pasti orang tuaku sangat malu. bisanya nyusahin saja. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. aku sakit Lastri. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. ternyata dari Roy.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. Genap 36 minggu."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. Aku yang lulusan sekolah dasar. Esok paginya. setelah Roy dan Robby pulang. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. melainkan ada Toni. "Aku kangen sekali sama kamu. Johan sangat senang. selain muak." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. "Dasar perempuan kampung. aku melihat semuanya semalam. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya. lalu kami nonton BF (blue film) saja." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. Ini adalah hari ketujuh. jika tidak ke luar kota. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen. "Oh. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. karena aku sibuk mengurus Jonathan. sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada. karena jika nanti penyakitku ketahuan. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Mendengar perkataanku. kakiku menjadi lemas . Roy. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. dan lainnya. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini. "Ya gapapa. suamiku telah selesai mandi. Tapi keesokan harinya. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. aku memang lain. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. Sejak tinggal di rumah pribadi. asal mas senang. kali ini dia membawa dua teman pria. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. Keesokan harinya saat suamiku mandi.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

Ruang Khayal. aku datang untuk kembali pada-Mu. 14. aku agak sedikit heran. Ah. 20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah. Namun.“Deg!”. “Apa iya aku mati?”. aku masih bisa bergerak berjalan. Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. Tuhan. Ternyata “aku mati”. Menyengat hidungku yang tersumbat. Yang kutumpangi bukan kereta biasa. namun keranda mayat. Semua tak sesuai bayanganku. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. membawa dosa tak terhitung. Perasaanku sedikit menenang. 26012011. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja. terasa sedang mengendarai sebuah kereta. ternyata tidak. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. “Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. . namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu.

Dan aku sudah mengenalnya sejak lama.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. Raka Primastya Restu. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak.. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata. telaga bagi segala keresahan.aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut .. “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran. bahkan jika aku harus jumawa. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. “Grecee. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku. Namun sama seperti impiannya. keangkuhan.. itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka. “Aku kangen Mamaku.” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. keluhannya. Kadang aku merasa bodoh.. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana. itulah Raka. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul. ya itu lah Raka. Matanya nanar menatap jauh kosong. Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu. populer. Raka. ada yang berbeda dari polah laku Raka. “Namaku Raka Primastya Restu.. Dia sosok yang selalu ada. “ Kenapa Boy. aku puja.” aku coba bersimpati akan dukanya. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya. mungkin. “ Iya.. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya. bahkan mungkin terlalu lama. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya.. Sosok sederhana namun memesona. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja. lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu.. bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana.. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya.ngajor ya!!” ledekku. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. Aku semakin kehilangan cara. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya.. di lain waktu jadi manusia introvert.” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore. Yah. Raka memang bukan laki-laki-. Ah.. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit.. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu. Pendiam. tenang. Tatapnya.. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka. .. aku rasa semua yang ada padanya. ya aku hanya mengira. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari. namun memancarkan kharisma.. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian.. Tapi nyatanya.. senyumnya. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan.. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong... bintang kampus. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana.Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam.. “Woi. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu. “I am sorry Friend.

.Ya. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi.bni.. entah apa maksudnya. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang). “Mau Jadi Pilot”. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali. Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya.. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh....Angan merapat pada jelajah kupu-kupu. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah.co.pulungan@mail.. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. “Mau Jadi Dokter”. Grecee. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. Meski tidak seharusnya begitu. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). Email : riskon.id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin. Yah. S.?” Ada yang menjawab. Nak…. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. . Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam.. Surat Terakhir Raka …. Semakin jauh lelah itu pergi. Oleh Riskon Pulungan.. “Mau Jadi Guru”. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit. “Mau jadi apa kalau besar nanti. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini.

istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. Apalagi membawahnya ke orang pinter. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. apa ia tidak memiliki semangat. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. Namun tidaklah demikian dengan Upik. usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. untuk bisa meraih impiannya. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut. “Persoalan anaku. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. dengan dalih kemiskinan. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. Kehidupan di sini begitu keras. Padahal. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. semuanya memang serba dilematis. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. kejahatan di sekitar sini. Macam-macam aktifitas mereka.” itu alasanku. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. entah apa yang dipikirkannya. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. dukun. klenik atau sejenisnya. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. anak-anak lugu dan lucu.Macam-macam jawabannya. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. yang belum memiliki dosa. Diam-diam. sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. semua berjalan apa adanya. Seorang anak perempuan. Kata orang daerah ini terkenal rawan. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. Dari Cigombong. sementara Istriku lebih sering melamun. sering pula terjadi kekerasan. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius. *** Hari berganti hari. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. mulai dari anak-anak. minggu berganti minggu. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. Aku sendiri juga sering termenung. atau hanya malas saja untuk menjawabnya. jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. hilang. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. Setelah berbagai upaya dilakukan. tanpa sebab yang jelas. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. Yang paling menyesakan dada. sembari menenteng . Bahkan. mengamen dengan berbagai alat musik. ada yang menjajakan berbagai dagangan. generasi bangsa yang malang. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. lirih. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. Akupun mulai gundah gulana. pagi yang cerah. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. lenyap begitu saja. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. seolah ada yang aneh. pakaiannya kumal.

Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. mengharukan. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya.02. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya. entah apa yang ada dalam pikirannya. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa. Kelurahan Kalisari. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh.co. bungkam. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. entah apa yang ada dalam senyumanya. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. tanpa berkedip. gemah ripah loh jinawi ini. Jakarta Timur 13790. Dalam puisinya. yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana. Puisi itu berjudul CitaCitaku. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32. Kecamatan Pasar Rebo. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. hawa panas mulai mengusik. hal itu terjadi begitu saja. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. :( . Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. tidak sepantasnya dijalanan. masratman22@yahoo. dan teman-teman sebayanya. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. sembari tersenyum. tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur. generasi yang malang seperti anaku. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat. tak terasa seolah membuka mata hatiku. semuanya terjawab sudah. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. RT 004/RW. benar-benar menyentuh. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya.

No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. "Hush. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. sekalian lewat katanya. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. "Iya tuh. Ah biarlah.. So far. Ya pesen tiketlah. bahagia menyelimuti perasaan kami.. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. Pernikahan pun berlangsung. Sepulang dari kantor. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. Menurutku dia memang pria yang kucari. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh. Kami pun larut dalam percakapan. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama. “Selamat sore. "Itu Nit. Setelah seminggu menikah. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini.Cerpen Aku yang Kedua Kamis." candanya. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri. akhirnya bisa dipenuhi. Sekarang mau ambil tiket sendiri. memang ada-ada saja pelanggan satu ini. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. saya mau ambil pesanan saya. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya. banyak maunya.” itu isi SMS-nya. "Benar pak.kurang lebih 45 menit. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan. “Iya lah. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. yang hanya ingin aku yang melayaninya. memang sudah dalam proses bercerai. Dari situ. Tak lama. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. saat baru sampai di rumah. pasti aku cek. "Huufft. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. terus nanti di-cancel-lah. dia mau bercerai dari istrinya. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang. "Yah. harapku. hihihi. hihihi. Lebih tepatnya lebih baik. kami pun memutuskan menikah. terima kasih”. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. ada urusan lagi. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. teman sekantorku.ngawur!" balasku. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia.” sanggahku dalam hati. jelasnya.” genit hatiku berkata. Selang setahun berhubungan. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh. “Saya senang bisa ketemu kamu. Semua berjalan lancar. ditunggu kedatangannya ya pak. terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. sadarku mengentikan lamunan. "Cek dulu. Ya. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku.” desah hatiku dalam hatI. tapi dia ada rasa kali sama kamu. Oke pak. SMS dari Pak Anton rupanya. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton. Nanti malah dilarang lagi." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. baik pak. Kan sebelum kenal aku. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. namanya juga customer. kilahku. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak . ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. benarbenar jauh dari perkiraanku. hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. dan sudah punya dua anak. karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. ponselku bergetar. "Iya. kita kan belum pernah ketemu.

aku pun memutuskan untuk punya anak. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. Mana si Anton?" ketusnya pedas. Tak lama pun air mataku mengalir. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. Bayiku masih tertidur pulas. Sepulang dari rumah sakit. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar.terganggu. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. istri pertama Anton. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. saya jadi tak tega mengusirmu. yang bilang bahwa jilbabku palsu. Mungkin kalau tidak ada Alan. namun Mas Anton. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama. semua masih berjalan baik. aku sendirian menjaga Alan. karena harus mengurus Alan. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang." pikirku dangkal. Di depan rumahku. Minggu siang tepatnya. Karena alasan kesepian itu. Setelah kejadian itu. karena utang-utangnya yang banyak. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. Kesepian sangat melandaku. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul. Untung saja ada bayi mungilmu itu. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. karena aku sebatang kara. dia masih saja berulah dengan menikahimu. Sekarang Alan sudah 3. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. Jadi teringat saat aku meminta punya anak." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. aku sudah membunuhnya. batinku. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. kehamilanku tidak 'rewel'. terutama jika Alan sedang sakit. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. Waktu tak berselang lama. Alhamdulillah. dan ketika Alan sudah tidur. Sementara aku masih terdiam. Tapi selama sebulan aku di sini. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. "Siapa ya?" tegurku. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. mimpi buruk pun dimulai. Ya sudahlah. Jadi ini maksud “catatan” itu. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. semua harus ku jalani. tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. keluarga besar ku di Palembang semua. mencari suamiku yang juga suaminya. "Asal kamu tahu Nita. Tapi lihat. Juga untuk menghindari cibiran tetangga. adik ayahnya yang sudah meninggal. Hampir setiap malam. hampir setiap malam aku menangis. Semua terasa sangat berat. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. kami sangat bahagia sekali. ya itu nama putra pertama kami. bahkan seperti kembar. Ya. hanya aku yang merantau ke Jakarta. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. lalu kubuka. Pada akhir cuti Mas Anton. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. . semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. aku tak pernah melihatnya. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan. Dia tidak bisa menceraikan saya.5 tahun. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. mereka duduk di ruang tamu. Petir terasa menyambar diriku. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. aku pun hamil. dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. Dia pun bilang. kami mengurus Alan. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya.

Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku.agustian@yahoo. "Ibu kenapa? Kok bengong. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. "Alan. "Iya. "Iya om tau. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. Rt 01/03. spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh.id .Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III. Terima kasih ya Allah. dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering.com : the_a_young@yahoo." oceh anakku menimpalinya. dia pun mulai bicara. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. Mohon Dek Nita memikirkannya. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka. Email widi. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. Syok tepatnya. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. "Iya. S." Aku hanya terdiam. aku sudah makan banyak. nih liat pelutku buncit. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. Menanggapi tawaran tersebut. "Begini ya Dek Nita. kaget. saat menemani Alan bermain. Gg H Abdul Karim 2. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. Oleh Damatriyani. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan.co. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku. Pondok Ranji. Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut.Di suatu sore. mendengar semua ucapan Pak Surya. benel kan bu kata Alan. aku sakit pilek. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua. Beribu maaf jika lancang. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong. Keesokan malamnya. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita. Ciputat 15412.

itu cinta pertama dan terakhirku. kapan aku menikah???.” pintaku di setiap doa dalam salatku. Kesedihan pun menerpaku. namun sedikit merasa risau. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami. kini di semester akhirku. Tak berhenti sampai di situ. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun. “Ya Allah. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku. ***** “Tuhan….” celotehku disetiap rintihan doa salatku. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status.. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku. Di setiap malamku. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah. Meski aku tak berpacaran. Hati ini lega. 04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku.. Inilah aku. mungkin bukanlah dia pangeran itu. “Stop! Jangan bersedih nak…. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. namun beberapa bulan berikutnya.” ucapku lirih saat bertemu dengannya. gelisah. dan galau. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. Pertemuan tak berhenti sampai di situ.. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali.CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku. Bagiku. Namun. “Inikah jodohku ya Allah.. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar. . ini perjalananmu yang pertama. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?.

Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. . *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu. “Ya Allah. Begitu nyalang. sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya. Tak pernah terpejam.” tangisku di depannya. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Menyorot merah padam. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. Tak lengah sepicing pun.com Blog: Roudhotulilmi. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. Tatapannya melirik tajam. Bersurukan laiknya seorang pengintai.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. pengamen memang cocok untukku. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Sungguh hati semakin gelisah.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran. Hampir setiap hari mata itu menatapku. aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Bukan hal aneh bagiku. disamping aku masih mencintainya. dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku. Anak kecil berumur 10 tahun. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan. Bak denyar halilintar. Apalagi berpalis muka.andriyani@yahoo. Ia bukan seorang mata-mata.blogspot. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. Seperti mengungkapkan amarah. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Anehnya disetiap tidur akhir malamku. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini….com Cerpen Penyamun Kamis. agama. Malam itu.

pakai alat musik lain seperti gitar. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Jalanan tampak sepi. “Ini daerah kekuasaanku. Bila mendapat banyak uang pun. Bukan karena aku malas. Selalu kalah.Sedang ia. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. Hari ini langit cerah. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. Tapi sialnya. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu. Tiap hari rokoknya ludes.” jawabku. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. Terik matahari meyorot panas. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. Semacam tukar beli. Kalau mau ngamenmu laku. jangan pakai kecrek.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet.” Padahal. Menerpa pada mata setiap orang. seorang preman menyambi penjudi. Begitulah pekerjaannya. Aku hanya diam tertunduk. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Bila di pikir-pikir. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. Menyunggingkan senyum kecut. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas.. “Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. hanya berani pada anak kecil. Hingga titik darah penghabisan. Dan entah berapa lama ia menatapku. ia tak pernah ikut mengamen. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. ia duduk bertinggung menatapku. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Berotot besar tapi nyali secuil. sekembalinya . pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. aku dan pengamen lain. maka para preman akan melakukan perlawanan. Alasannya sederhana. Luka rebak itu hasil sabetan parang. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. hari ini sepi. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. bila warung itu dimusnahkan. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. Di bawah warung itu mengalir air selokan. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. ia datang menghampiriku. mereka selalu memesan makan di situ. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang. selalu dirampas olehnya dengan dalih. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. hasil kerja payahku itu. kalau ingin tetap mengamen di sini. Di jalan. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. pertanyaan yang memuakkan. Sepasang mata itu milik Bang Jali. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Hingga menggeledahi kantong celanaku. sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. Bukan hanya itu saja yang dipintanya. bukan oleh pembeli. Ya. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. Pastinya uangku akan dirampas. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Terpapar renyuk. hingga sekarang. Sebenarnya.” Namun nyatanya. melainkan hari ini bukan hari libur. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Bukan hanya para preman saja. Memalak uang mereka. “Heh Udin. Memiliki tanda gores di wajah. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. selain berjudi. Ah. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. “Beneran Bang. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Mungkin sejam lebih. Perawakannya pendek. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. Katanya merusak suasana kota. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. Di depan warung nasi milik Bi Inah. Bila uang taruhannya habis. Padahal ia bukan tentara. Memang. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

Ya. membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. tambahnya menggoda. 16 Juli 2018. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku. lha wong udah tua gini kok neka-neko. Itulah aku dan istriku. ”Sudah jam setengah tujuh. tanyanya manja. Kedung Banteng. Sambil menyetir.mengembalikannya lagi ke hitam lagi. Mobil berhenti karena lampu merah. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. “Dunia sudah terbalik. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. saya suka dengan wajah Bune yang alami. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. akan Kami putar (nasib) manusia. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. Kudus tepatnya. dan terkadang di puncak. Itulah sunnatullah. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus. “ Iya ya Bune…. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“. sambil menggelengkan kepala. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . Ternyata Tuhan seakan menguji kita.” jawabnya dengan logat Jawa kental. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. tanggal/bulan/tahun. ketika mayoritas berkuasa. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. hukum alam. Inilah janji Tuhan. Jawab istriku. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu.” gumamku. Di kaca depan sebelah atas. tengah. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. Hari ini Senin. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Memang. maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”.” batinku. Di dalam Kijang Inova. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu. sambil sesekali memandangnya. kadang kita berada di posisi bawah. diskriminatif dan menindas minoritas. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. hidup itu seperti komidi putar. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds. sambil tertawa kecil. bangga. hari ini. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Istriku. sesuai tren zamannya…. lotion penghitam wajah”. Nyatanya. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at. Dan sekarang. seakan prihatin. “Iya Bune. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. merekapun menjadi sewenang-wenang. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan.” Pada hari itu. “Cantik itu relatif. yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Di hadapanku sebelah kanan. “Walah Pakne. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas.” kataku kepada istriku. Rasakan Hasilnya!”. Selalu berputar. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini.” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci.

Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini.baik.saat kelam. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku.pelatih dari benua biru. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. Seketika aku menyadari. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat.mimpimu hancur berkeping. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Pemandangannya tak pernah berubah. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli. aku tak dapat membantu mereka. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang. Tak hanya melihat keindahannya.hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri. Tapi karena di saat-saat seperti itu. ada yang dapat membuat mimpi. Dan terkadang di antara putaran tornado itu.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak. Semuanya akan baik. Teruntuk Akand.tebing yang ada di sekitar pantai. dan perubahan sebuah bangsa. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. Walaupun dengan hal. aku seperti melihat sebuah . Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi. Dan setiap kali aku melihat pantai. Ini bukan saja tentang mimpiku.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah. Tapi sebaliknya. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. mimpi. Setiap aku melihat pantai itu. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah. Bukan hanya itu. Terlihat burung. Terdiam aku untuk beberapa lama. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. tapi juga harapan bagi keluargaku.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. rasa yang aku alami selalu sama. tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini. tapi ini tentang sebuah harapan. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. Aku menaiki tebing. bukan karena aku sedang mengalami duka. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini. Awan mendung tampak menaungi biru pantai.

Tangannya yang basah memegang jidat. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali.blogspot. kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. Bersama Emak. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru. Suaranya datar. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali. Alamat blog: geoaranda. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. Koran. air akan menjajah seluruh ruangan. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. takut ia tersinggung. Bila hujan turun. wajah perempuan baya menyembul.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. “Begini Mak.” Suasana mendadak bisu. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. Sebagai balas budi. usia menapak 14 tahun. . tetapi keadaanlah yang memaksa.” Aku menggeleng pelan. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. Perasaan serba salah menghampiri. atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. hingga Emak membuka bibir.harapan baru. Aku tak menyahut. jangan dipendam sendiri. Langkah kaki diseret mendekat. Oleh Geri Taranda. Bertempat tinggal di Jakarta. Kegiatanku kini membantu Emak. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. “Ayo lekas ngomong. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. rasa malas hinggap. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. majalah maupun buku semua tandas aku lahap. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup.

Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. “Maaf. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. Ngontrak di belakang pasar. kembali kepada kami. pagi-pagi udah ngelantur. Bagaimana jika Kang Diman. tangannya membelai rambutku.” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu. terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. Kali ini sorot matanya begitu lembut. tiada guna menimpali. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur. Kang Diman. Awal pernikahan kami begitu bahagia. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul. raut mukanya masam. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini. ngepos di perempatan bawah kolong.” Raut muka Emak seketika berubah. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. Tadi pagi.” Emak tersenyum kecut. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. seandainya Bapak mau balik ke rumah. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. Aku maklum. “Mak.” sapa Mpok Hindun ramah. bapaknya. Aku mengangguk lesu. tapi wewaler itu berlaku juga. berharap derajat kehidupan lebih baik. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. sebagai seorang sopir angkot di . Sebagai seorang gadis kampung yang lugu. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. “Jangan berkelit ya. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. lagi belanja ya. “Kasihan ya si Marni. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. “Jangan percaya Bapakmu. Walaupun tak ada rumus yang baku. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik.” melengking suara Mpok Hindun. “Mak. “Syukurin. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana.” “Oh gitu. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. Layaknya pengantin baru.”tanyaku memburu memendam kecewa. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. kamu Marni. kepuasan terbit di sana. Ia bergeser. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. “Eh. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan. “Maafkan Emak Le. mengalihkan pembicaraan. ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak.” “Syukurlah. pemuda yang selama ini merantau. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. Aku membuntutinya. sekarang Bapak tinggal sendirian. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. “Sudahlah Le. Kurapikan peralatan menyemir. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. bagaimanapun caranya. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini. Dada Emak membusung. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya.

“Kenalin Di. Boro-boro membelikan barang. Kasihan si Wawan. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. tak jera juga aku mendekat. teman akrabku. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. Siang begitu terik. Pernah Emak mengetahuinya. semoga desas-desus itu keliru. “Ah kamu Man. aku tak boleh mengeluh.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. Tapi dasar anak bandel. “Ayo kita ke warteg. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak.kebetulan aku juga belum makan. pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. antara percaya dan tidak.” “Nggak pengen nambah.” Jantung serasa copot saat itu juga. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. Entar aku juga punya mantu laki. mirip banget sama kamu Man. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . khas orang Jawa sama seperti Bapak. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. Sekarang tinggal kami berdua. tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. Oh Gusti. semoga ini hanyalah kabar burung belaka. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk. “Yo wis. ini anak lanangku. waktunya suntik KB. Mata bolaku hanya bisa menatap. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. “Perempuan itu siapa Mpok. Awalnya Bapak sering menjengukku. Emangnya kenapa. ia marah besar dan kecewa. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. aku pamit dulu ya. Tak jarang mereka bermurah hati. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. “Aku pun nggak tahu pasti Mar. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis.” Segera ku naik ke boncengan. sudah cukuplah. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. “Ini tho namanya Wawan. aku kan bapaknya. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku. “Tentu saja Di. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. mata mendadak panas. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. terasa kasar. Emak melarang keras aku menemuinya. tanpa sepatah kata pun darinya. rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Duh Gusti. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. Dekat tapi tiada tersentuh. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. Banyak pula yang bersikap acuh. sejenak dalam hening. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi. Ah. Spontan aku menggeleng. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. Pardi namanya. Udara kering panas menampar wajah dekil. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. Mau nganter istri ke bidan.

pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. Ah. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. tapi sosoknya belum juga muncul. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg. jadi aku berhak ketemu kapan saja. Kesumat masih lekat terpatri. Muka Kang Diman menegang. aku tidak suka ia menemui bapaknya. bagiku serasa restoran fast food di mal. Praduga buruk hinggap. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. tadi main ke rumah Mamat dulu. “Jangan harap. “Kok diam saja. Rasa cemburu membuncah. Di atas kertas. kenapa?” Wawan membuatku tergagap. walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. Ada beberapa. sesali nasib malang yang menimpa.menyayangi. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. menyamarkan resah. merasa dilecehkan. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak…. Kupasang muka sejernih mungkin. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. Gelisah merambah. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Ketegangan mulai merambati kami. “Eh. ia harus memikirkan isi dapur. “Sudahlah Wan. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. Kalau Emak mau marahin. kamu sudah besar sekarang. “Ayo Kang jawab. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. Pernah berpikir minta cerai darinya. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang. “Maaf Mak. darahku seketika tersirap. teganya meninggalkan anak-istri. emosinya mulai tersulut. kebimbangan menyembul. “Mak…. pasrah. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. “Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. kali ini aku nggak bisa. Emak marah ya sama aku?” “Le. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. . Kemana saja Le. Lunglai tubuh. berharap ketenangan tercipta. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. mulai dari bayi.” Wawan beranjak dari duduknya. balita sampai seumuran sekarang.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. membuat darah dagingku sengsara. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan. jangan melompong seperti sapi ompong. Entah berapa kali termangu di depan pintu. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. kamu Wan. Aku tak mau menjadi ibu durhaka. silahkan. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. kukuh pada pendirian. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. tadi aku ketemu Bapak lagi.” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. Sontak perasaan bersalah terbit.” “Maaf ya Mak. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu.” Kutatap wajah anakku.” pelan sekali suara Wawan. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Status pernikahan kini mengambang. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin.” “I…iya Le. Kuhembus nafas sedalam mungkin. tetapi hubungan kami begitu jauh.”Aku tetap keras kepala. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. Biasanya ia sholat di rumah. Rupanya anak lanangku telah berubah. aku mau pisah. “Mak. Wawan belum juga pulang. membuatku mati kutu. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. Kupandang photo Wawan di dinding. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam.

“Eh. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun.” Emak muncul dari pintu. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. Tidak seperti sekarang. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. Kupegang kepala. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. mungkin aku sudah berada didunia lain. “Ayolah Mar. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku.” jawab Emak bergegas menghampiri. ikan dan daging yang berkuasa. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak. seperti ada yang dicari. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. “Eh kamu Kang.” terasa sekali Emak mencoba menghindar. “Ada apa Wan. Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. anak lanangku sudah sadar. senyap. Pandangan beredar sekeliling. darah kalian sama. Emak di sini kok. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli. Karena perbuatanku kamu sengsara. “Maafkan Bapak ya Le. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu. Sejurus kemudian ia keluar kamar.” pipi Emak bersemu dadu. “Le. tak hirau dengan panggilannya. Terlambat.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. Mataku terpejam ngeri. Kecemasan terbit. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. Matur nuwun Gusti. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. Entahlah. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. Emak ke mana ya. tak percaya aku telah siuman. Eh. Harapanku tidak muluk. syukurlah kamu udah sadar. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. tanpa diminta pun telah memaafkan. dirangkum dalam dadanya yang bidang.” tersendat suara Bapak. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. Wawan cuma ngantuk.” “Baiklah Mar. Benar itu adalah Bapak.” elakku gusar. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling.” “Terima kasih Mak. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. Kepala membentur benda keras. kamu sudah siuman. ngagetin saja. Kugerakkan tubuhku sedikit. Selama ini Emak terlalu keras padamu. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. aku tak keliru! Matanya terbelalak. Tapi aku ingin duduk. Matanya berkaca-kaca. matanya berbinar-binar. aku tunggu jawabannya. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. Bila pagi pedagang sayur. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. Jelas ini bukan kamarku. perban telah membebatnya. “Anakku Le. yang tengah bersiap berganti penjual. ngilu terasa. aku bukanlah ayah yang baik. Memang Bapak telah menelantarkan kami. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. Aroma obat meruar menusuk hidung. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. bak maling ayam yang takut ketahuan warga. “Kang Diman. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. Oh.” Aku hanya diam. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang. kunang-kunang berseliweran di kepala. “Mak setelah sembuh nanti. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. gerimis membasahi pipi. Kelak bila kamu . Dipeluknya tubuhku.

Kaningoyo : sengsara 4. Wewaler : peringatan 2. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih. “Oh ya Le. mudah-mudahan ini pertanda bagus. Gemericik hujan sore ini begitu indah. Sekarang tinggal di Depok. mohon belas kasihan 3. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. Aku bisa bertani disana. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. Semua tinggal menunggu waktu. nanti kamu bisa kembali sekolah. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan. aku berniat untuk pulang kampung. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. 11/11/2012. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16.setuju. tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju. 12 November 2012 15:44 wib .” Hatiku mendadak cerah mendengarnya.” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. Duh Gusti. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah. sorot matanya cemerlang.

kutang. Badannya yang ringkih itu babak belur. kok. di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. lalu mati 67 tahun yang lampau. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. penjahit ulung. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. kain panjang. bahkan membunuh. bajang." sapaku seramah mungkin. Entah apa tujuannya. bertelinga. Ya. sedikit saja. Ambil buatmu saja!" "Loh. "Apa maksud Ibu?" "Dek. seroja. kemeja buntung. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. kepok. Selamat datang ibu." "Iya. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya.. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini.AKU tak habis pikir. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Kalau tidak. handuk. kelepak. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang. Hehe. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. Dari bisikan yang kudengar. ambil saja. "Selamat datang bapak. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. Pancaran mentari tak . maaf apabila aku terlampau egois. Untung baru seujung saja yang terkerat. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. bukan pula malaikat atau sebangsa iblis. ia telah puas merasakan penderitaan. punggungnya lurus sempurna. sepeda ontel. sekalipun ia melambatkan lajunya. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. Dia adalah manusia: bermata. "Bu. Tidak dengannya. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. Sungguh. Mereka begitu menginginkan baju kurung. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. bukan rasul. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. telekung. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. berhidung. basterop. Pertiwi sebutan orang. apalagi dedemit. seorang ibu tua. Ia bukan jin. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. masih ada di pelataran parkir. "Tak perlu. semenjak suaminya datang di kehidupannya. ya semua ini karena aku tahu. belah bakung. Toh. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. tak ubahnya seperti kau dan aku. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. pesak sebelah. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. sekalipun sedang ia kenakkan. Habislah orang itu dihajar. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. Hanya yang membedakannya: celana dalam. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. Dia tetap berdiri setegak batang surian. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Sedangkan kendaraannya.. Sungguh. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Jika ia mati. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. celana dalam yang selalu dikenakannya. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. aku tidak salah. Dahulu kala. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. Sekonyong-konyong. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. tak akan ada lagi perlawanan. jas katak.

Dia tersenyum. "Seandainya aku berikan dua pilihan. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan." Ia pegang pundakku. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. "Dek." jawabku sekenanya saja. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. Namun." jelasnya lagi. Tanpa mengenakan pelapis lain. mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku. Orang itu. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku. Malunya sudah musnah." jawabku sekenanya. dan aku si buta. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik.. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira." "Ah.. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. "Benar. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. Tadi. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. "Tepat!" Ia kemudian berdiri." Dari dalam rumah. ada darah yang menyembur deras. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. "Jadi. Mana mungkin aku berani melakukannya. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan. bagaimana mungkin aku tak sadar.kami hiraukan. *** Malam setelah matinya majikanku. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. dengan sisa-sisa perca. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda. kepada Istana. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. "Ti. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca. orang yang membuatku hidup. itulah yang namanya kesempatan.. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. Suara perempuan itu menjelma guruh. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya.. Ia nekat telanjang. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. tidak Bu. Senyumnya kian berseri. dan aku adalah si pekak." sejenak ia menghela nafas. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. "Huh. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. Hidupku bahagia. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. orang memang kebanyakan berpikiran demikian. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. aku tak berani. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil.. bisa-bisa aku dipecat. ia telah lupa diri." jawabku pasti. Tak menanggap. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa. Namun. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu. "Mengapa?" tanyanya lagi. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana . Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. Aku gemetar mendengarnya. ternyata hanya untuk dipertontonkan. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. Ibu itu diam. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. seharusnya kau ambil saja. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol." tolakku gemetar. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. "Dek. Lama. tatapannya adalah kilat.

7 Juli 1992. Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. . 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis. Padang. kelahiran Batusangkar. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah. Anggota UKS-UA. 19 A Padang Timur. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. Selain giat bermusik. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai.dalam berwarna merah putih itu. ia enggan menerima balas jasa apa pun. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya.” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. divisi musik. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. Tapi aku tak mau. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun. “Silakan Neng diminum airnya.

dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari . ia lakukan dengan segenap hati. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. Aku sempat meragukan cerita tersebut.” “Buat warga di daerah ini. Sebab.” ujar Teh Ema. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. Hanya punya satu tivi 14 inch.” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata.“Mun urang nulungan batur. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. Sep. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. Ia pun menceritakan hal yang sama. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan. Pada Bu Nyai. “Bu Nyai mah A baik orangnya. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Untunglah aku bertemu Mang Durja. bahkan boleh dibilang teramat sederhana. Rumahnya cukup sederhana. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai. menurutnya. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Sep. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Seperti diceritakan Mang Durja. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya.” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul.

Dan. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. Ah. Aku masih berada di kampus sore itu. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Salah satu tangannya. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. Aku semakin merinding. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. ini berarti pertanda ritualnya berakhir. Aku semakin membeku. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Hujan tinggal rintik-rintik. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. Namun sebentar kemudian ia meresponku. “Muhun Sep. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Lima kali subhanallah. Keningnya mengkerut. Hujan di luar kembali menderas. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Ia menghela nafas lagi. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Sesekali kepalanya . Entah apa sebabnya. Mata Bu Nyai masih terpejam. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Aku memaksakan diri pulang. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Entah kenapa. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. Bisa boros limaribu sehari. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Napasnya sedikit tak teratur. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Ia terus mengucapucap subhanallah. aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Tapi tetap tak ada. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. Namun sesaat setelah membuka pintu. Setelah sepeda kurantai. Tapi ini tidak. Maklum. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Aku duduk di kursi sebelahnya. *** Hari itu hujan deras sekali. cepat-cepat pula aku membuka pintu. Semakin mengkerut. Bahkan lebih. Akh! Bu Nyai membuka mata. ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung. Aku tak berani menghentikannya. Ia masih belum menghiraukanku. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Beku. Lunglai. aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Aku tiba di kontrakan. Ah Alhamdulilah. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Hujan masih juga betah berjaga. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. Tubuhnya juga bergetargetar. Termasuk pada Tuhan. “Bu Nyai. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu.

ada di sini. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya.com Cerpen . Kini tinggal di Jakarta dan menulis. Penikmat kopi dan sayur asem. Ia mendesah. sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. tapi tetap tidak juga ketemu. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa. selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. Bandung.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Energinya habis. Mencoba memahami segalanya. Dan sekarang. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo. Seperti tertimpa batu-batu. sep: Kalau kita menolong orang.5. “Sep. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. Di sekitar sini. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. *Mun urang nulungan batur. Aku mengangguk. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang.menggeleng pelan. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu.

Aku heran padamu. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu. Aku yang suka.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku. Tak berpikir panjang. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. Tepat pukul 3 sore. Belum banyak kau bercerita. kau dalam . Kau juga sampaikan padaku. kau tak ambil banyak bicara. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Tak lama dari kepergianmu. “Hmm… aku suka buku ini. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. Ku bilang pada diriku sendiri.“Ahlan wa sahlan. nanti saya yang bayar.” kataku saat itu. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. Kau malah memelukku dan mengucapkan. Aku mengharapkanmu. Dengan kelihaianmu itu. kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. Untuk menghargaimu. Aku malah lupa kesukaanmu. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. saudaraku”. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Ku akui aku mulai suka padamu. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Sangat memotivasi. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. aku hanya bisa mengulum senyum padamu. kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. Kau ajak aku makan berdua denganmu. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. “Kau suka ? Ambillah. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu.” Sebetulnya aku malu padamu. Kawan…mengingatmu aku sangat malu. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. khasmu. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Habis ceritamu. kau antarkan aku ke kosku. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu.

Kec. FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. sobat. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. 16 Oktober 1988. atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. Atas izin-Nya. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa. Kab. Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. impian kita telah terwujud satu per satu. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Jawa Tengah. Sobat … andai kau lihat saat ini. . Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. Jontro. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar.2010). Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Kau ajari aku perlahan. Tinggal di Ds. Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu. Dulu. Sobat. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010).2010). Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. Buatmu. kau akhirnya ditemukan. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. kini telah berteman dengan coretan garis merah. aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua.keadaan selamat. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. Pati. Sobat … bagiku. Wedarijaksa. lahir di Pati. membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 . membuat diriku tak sanggup mempercayainya. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. RT 03/RW 01. Setelah satu bulan pencarian. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. mewujudkan impian kita berdua. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku.

Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. gundah. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. Budaya Korupsi. Selesai sembahyang aku keluar kamar. hidup itu butuh pegangan. serangan-fajar. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’. Segera kubasuh muka dengan air wudhu. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu.korupsi telah membudaya di negri ini.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada.” . adalah nama panggilan bapakku. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. “Nduk. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin.. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. badanku sudah bersih. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. kamu lihat itu. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. Aku segera mandi. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak. aku siap berangkat. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. cobek. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku. Kemudian sontak bertanya padaku. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita.. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. Tapi bisa apa aku. Seperti biasa ibu tidak ikut makan. kita berangkat bareng !”. Damai dengan polisi kalau di-tilang. uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau.sekarang mandi sana. salam-tempel. aku berusaha membangunkan tubuh ini. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. Kami tidak punya meja makan. Gilanya.. Pak Yon. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. “Nduk. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini. “Aida.

Sesampainya di lokasi. tapi karena ibu. ibu ndak mau kamu khawatir. Aku diam.. Tapi hidup adalah pilihan. ”Buat apa nduk..”. Aku tunggui ibu. ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”. Memohon doa restu. Lima juta harus cair dalam sehari. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu.. Segera aku lari ke depan rumah. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk.. Ternyata Aku diterima. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. Ujian dimulai. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar...semuanya sudah selesai. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri. Informasi ini diumumkan di Koran. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua. Ya.Aku agak risih mendengar nasihat itu. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Aku degdegan. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja..!!!’ tegur bapak. tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku.. ”Wah cantiknya anak ibu ini.!!!” rengekanku kepada ibu.” pikirku. entah aku sedang menangis atau apa. Aku butuh klarifikasi dari ibu. Sontak membuat aku kaget. Kulihat ternyata banyak juga sainganku.. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal. Sekarang hari Sabtu. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh.... Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat.. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan.. ”Aida.” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak.. ayo berangkat. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk.. ”Sudah selesai Aida. Ragu-ragu menyerang tubuhku. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. Ibu datang. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. dengan raut muka campur aduk. ibu bohong sama Aida.?” tanya bapak kepadaku. bapak yakin kalau Aida bisa. . bukan karena teror ujian... Hingga selesai. “Rencana kuliahmu besok.. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. ”Sudah pak. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya.. Hari-hari telah berlalu. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama.” ibu berusaha menenangkan aku.” sapa ibu. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. bapak antar Aida ya besok!”pintaku . itu gambar benjolannya masih kecil kok.. Aku bingung dengan senyum ibu. ”Uang dari mana.. Jatuh satu demi satu. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. aku libur. Hari Minggu tiba. baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak.. aku harus memilih. Kita langsung berangkat. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu. Sudah kutuntaskan tugasku. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. kamu tenang saja nduk. mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. kalau ibu punya tumor-payudara. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi. Tertulis nominal disana: Rp5 juta. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya.

amplop berwarna coklat muda dan tebal. “Betul Pak Yon. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. ”Pak Yon.. Ya. agar tidak terjerumus. tangannya menggigil. Saya jamin. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah.”Jadi kedatangan kami di sini ini.. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo.. Bapak pergi lagi. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya. Tapi untuk masalah Mas Bimo. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu.” tutur ibu anak itu. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya...pasti ada jalan. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami. Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo.. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. Badannya panas. Hari menjelang sore. Aida pasti akan kuliah pak. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo. karena kami semua khawatir kondisinya. Aneh glagat bapak. Hanya laku dua juta.” tutur bapak kepada orangtua Bimo.Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak... setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. Ketika ujian kemarin si Bimo. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. bapak bisa mendapatkan motornya lagi. berdoa. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. saya tidak bisa menerima amplop ini. “Bapak tenang saja. Aku malah disuruh di rumah. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali.. orangtuanya. apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan.. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu. Pikiranku melayang. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu.. nakal bukan kepalang. nduk?” tanyanya. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu.begitulah bu anak-anak.pak”. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan. Aku tak tahu bapak mau ke mana. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo. ”Ya. seketika itu pun bapak terkejut. akan saya cek kembali hasil . Beberapa saat kemudian di hadapan kami.” Raut muka bapak mulai kebingungan. “Maaf. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. ”Begini pak. bapak dan ibu tenang saja. . Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih.” jawab bapak. Amplop tersebut kemudian bapak buka. dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. ”Untuk masalah itu. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo. Tepat pukul dua belas siang. anak kami. Apa ini pak?”sahut bapak. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku.

Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. Aida belajar dari bapak. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’. tapi seberat apapun hidup. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Silahkan orang berkata apa. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan.. Aku sadar sekarang. ”Nduk.” tutur bapak. Kan hakekat ilmu itu universal. kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi.ujiannya Mas Bimo. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. yang jelas aku bangga dengan Bapakku. Jadi tenang saja pak aman terkendali. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak..” tuturku kepada bapak.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk. Ya. Seketika itu juga. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. setelah melalui pertimbangan panjang. Bapak kemudian menatapku. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik . Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. ”Tenang saja pak.apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus.. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu.. telah aku pilih satu hal. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah.

“Huh. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. “Segar apanya. tanyaku lagi. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. pulang dari arah persawahan. “Selalu saja begitu. Sama seperti kemarin. tidak juga Cu. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. seperti dua hari lalu. jadi malas memikirkannya lagi. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. memang benar apa yang dikatakan kakek. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. “Hahaha. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. sudah kehilangan banyak darah. Menunggu kakek pulang dari sawah. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas. Aku hanya bisa menghela napas. berjalan tertatih tak seperti biasanya. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar. kakek menolak mentah-mentah. sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. “Ah. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. “Kakek sudah pulang?. pasti berat sekali ya Kek?”. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. Melalui jendela kamarku. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”. Yah. darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa. “Sekarang kakek pasti tahu. jawab kakek. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut.” sambutku penuh senyum. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini. tanyaku serius kepada kakek. “Hemm”. “Tak usah. Lihatlah kakek sudah segar kembali.Senin. . Semakin dekat menuju rumah. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. bertelanjang dada.” gerutuku dalam hati. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri.” jawabku sewot. “Tak apa Cu.” Sahut kakek dengan enteng. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. “Aduh. Ini hanya sedikit saja.” balas kakek dengan senyum di bibirnya. Aku paham sekali. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. besok mau makan apa? Ah. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki. Entahlah. nanti juga sembuh. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. Selalu begini.” masih saja setenang ucapan sebelumnya. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. Betapa kagetnya aku saat itu. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya.” Balasku sedikit kesal. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. Terlihat lemas.” balas kakek dengan entengnya. Wujud kakek terlihat semakin mendekat.

“Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. kini hidup kakek terlunta-lunta. Apa-apaan. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Namun. Aku juga merasakan hal yang sama. sedangkan untuk makan saja kurang. Akan tetapi. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. “Hemm. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. “Aku sedih. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. Kasihan sekali kakek. Senada . Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. jawabku pelan. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. tanyaku tertunduk. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. rumah mewahnya hilang. bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”.” Aku mulai menangis lagi. Saat itu kenangan masa laluku muncul. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah.Khekekekekek. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. Kebencianku muncul kembali. “Hei Cu. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. yaitu ayahku sendiri. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. tabungannya habis. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. nanti juga berhenti. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Sama seperti keadaan dua tahun silam. timpalku keras. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. kataku dengan takut. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. “Kek. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. seru kakek dengan semangat. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. Aku diam. “Apa yang kamu benci. “Lhoh. Huh. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. “Tunggulah sebentar. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. kita tidak punya apa-apa lagi. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian. Kita tidak punya uang. “Iya Kek. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang.” Timpal kakek. balas kakek. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. luka kakek sungguh mengerikan.” Balas kakek dengan heran. balasku mulai marah. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. Hanya bisa tersenyum kecut. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada.” sahut kakek pelan. “Kek. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Ah. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”.”.

Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Surabaya. Kaki kakek sudah bersih. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Suamiku biasa bikin. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Kedua orangtua kami sudah meninggal. dan Bali pernah dirambahnya. “Jeng tak usah khawatir. Demam. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Sama seperti Mas Seno. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Aku punya sebuah janji. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Sebagai tukang kayu. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. Perkakas apa saja. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. meja. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. Kalimantan. aku teringat Mas Seno. Tak heran. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. Sudah dua hari ini anakku sakit. suamiku. Bandung. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. entah sakit apa. Inilah yang kurasakan. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. . kursi. Bikin almari. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Bu. suamiku sudah biasa merantau. Jakarta. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. Tubuhnya panas dingin. Ah. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Aku sangat sedih. Kalau sudah punya uang dia akan kirim.

Silahkan ibu mengurus uang administrasinya. Tapi hasilnya nihil.. Aku akan membantumu.?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu. Aku pernah berbuat dosa padanya. menghubunginya.ini kamu Mira. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu. terdengar suara lelaki itu. Suaranya masih selembut dulu.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu.. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. Agar anakku bisa pulang. Seramping dulu ketika kamu belum menikah. Usia baru genap berkepala tiga. “Oya Mir. Mas Kar rupanya tahu diri. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata. Tetanggaku sudah membantu. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya.” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. “ .” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi ….?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar…..“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu.. Mas. Tak usah menunggu lama. Makan malam bersama Mas Kar. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture. “Hallo.. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang.saya keluarganya. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya. Mas Kar…. Aku enak-enakkan makan di restoran. Mas Seno sedang kerja di Jakarta.saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit.” “Anda harus membuat janji dulu.” “Saya. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas. PT Kartika Furniture.” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan.. “Kamu masih secantik dulu. Dirawat di rumah sakit.” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan. “Mira…” Aku mengangkat wajah. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya. aku malu bertemu dengannya.. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. Saya…. mengumpulkan uang. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Tapi saya sedang dalam kesulitan. “Benarkah. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas. Dia masih seperti yang dulu. Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon. Lembut penuh perhatian. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng. Tapi demi kesembuhan anakku. Anak ibu harus dirawat di RS. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami. Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya.” “Anak saya sakit. Tapi karena aku sadar diri..” “Tak usah khawatir Mir.. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh..” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. Sebenarnya aku enggan menghubunginya. Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi. Apa yang bisa kami bantu.

Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. Percayalah kamu masih utuh. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. Aku membuka mataku perlahan. Mas. Aku…aku masih mencintaimu. Oh…. Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu.. 2011) . Kartini dan Annida online. Suara Pembaruan. Kamu wanita dambaan lelaki. Bajuku. atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku. Mas?” “Suamimu tak akan tahu. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. Suara Merdeka.” “Saya menyayangimu.” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas. fiksi dan puisi. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya.”. Dalamanku.” “Apa maksud.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Yunior. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku. Aku yang masih menyayangimu Mira. Mir. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Mungkin karena aku terasa capek.” “Baik kalau itu keinginanmu. Tubuhku. 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa. Saya berutang pada Mas.” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. “Kalau Mira bis menolong. Mira dengan senang hati menolong Mas. Aku sudah istri orang. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku. Tulisan latin Mas Kar. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Berulang-ulang kau membaca memo itu. Utuh. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Kamu adalah istri setia. Mir. Lembut dan penuh perhatian. Pusing itu masih terasa. 2011). 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. Karya penulis pernah dimuat di Sabili. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. 2011). Aku juga seorang ibu.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi.” “Tapi bukan yang satu itu. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT.“Saya sudah melupakannya. Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat. Rangkain tulisan rapi itu kukenali.

seperti kijang. setengah histeris. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. Emily. dia bisa mengistirahatkan pikiran. Aku ingin menciumnya. Wajah sahabatku tersayang muncul.Perjalanan Dini Senin. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. Hidungnya tampak memerah. Rupanya. apakah suatu hari. lalu mengajaknya bicara. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Aku semakin tidak tega melihatnya. Aku ingin berlari memeluknya. Hap-hap-hap. batinku. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Sungguh. Di sudut matanya yang redup. Sayang. Ada apa dengan Emily. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. Aku melihat ke luar jendela. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. menyembul butiran air. Wajahnya tetap murung. Sesekali. dia terbatuk-batuk. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. menuruni pipinya yang berjerawat. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Tidak lama kemudian. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. Setidaknya. Hanya saja. aku tidak tega melihatnya. Jadi. dia bertanya. Dengan lirih. janganjangan dia menangis lagi. Aku jadi sedikit lega. wajahku tidak cantik. dia membaringkan tubuhnya di ranjang. “Aku tahu. begitu pula sebaliknya. sementara gerak kakinya ringan. Dia mengusap pipinya yang basah. Kali ini. Dia membalik tubuhnya. ya? Aku jadi penasaran. tapi tidak ada keringat yang keluar. Tapi kenapa sih. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah. Ada banyak lelaki di dunia ini. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. Udara serasa mendidih. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. “Din. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. jadi memunggungiku. Pelan-pelan. Emily. karena tidak bisa melihat wajahnya. Aku khawatir. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. Wajahnya kelihatan berseri-seri. zaman sekarang ini. Badanku rasanya gerah. hatiku seperti diremas-remas. Aku jadi kecewa. Emily diam. sekedar memberikan hawa sejuk. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. Tampak olehku. Sahabatku yang malang. Melihat keadaannya. di suatu waktu. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. dia tertidur. Aku percaya. hati. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. Setengah jam kemudian. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . “Din. Teruslah memintal harapan. Barangkali itu bisa menghiburnya. kamu tidak usah khawatir. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily.

Katanya. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. ke toko buku-lah. Teman-teman selalu mengejekku soal ini. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. Matanya lebar. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu.” Emily mendengus. Setelah kucermati. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat. Sayangnya. Dalam pandanganku. wajahnya juga berubah lebih menarik. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. aku bingung harus bagaimana lagi. aku langsung menerimanya. Tapi kemudian. Karena begitu semangat bercerita.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. Dalam bayanganku. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. Jerawat dan komedonya sudah hilang. “Aku tahu. Pulang sekolah dia selalu pergi. Emily justru memutar tubuhnya. Dia tidak pernah lagi mendekapku. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. Kulitku kusam dan hidungku pesek. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. Bola matanya berputar-putar. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. Sayang. menengok teman yang sakit-lah. baik soal make up maupun pakaian. bukan karena cinta. dan seterusnya. Coba kamu pikirkan lagi. Kamu mau menerima Roni. Begitu lama kehidupanku dengan dia. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. “Hari ini. Jelas aku kalah menarik dari mereka. Dia menutupi kedua belah pipinya. Aku terkejut. “Tanpa pikir panjang. sejak pertama melihatku. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. Kedua tangannya diangkat ke samping. Emily diam. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. perkiraanku keliru. dia nembak aku. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. Tidak ketinggalan. dia seperti hampir lupa bernapas. Kalaupun bisa. Sayang.” lanjutnya. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. Tapi dugaanku mengatakan. Kalau dipikir-pikir. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. Tapi ternyata. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Din?” Menurutku. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. hidungnya mancung. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. . semakin lama. meski dia mengabaikanku. sejak pertama kali MOS. Tiba-tiba matanya membesar. Yang membuatku heran. mengajakku ngobrol. Roknya yang mengembang. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. dia sudah tertarik. apapun risikonya! Soalnya. mirip orang Eropa. dan rambutnya cokelat panjang sebahu. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Natasya. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Roni namanya. semakin memperburuk penampilan luarku.perbuat. Ada apa. Belinda. Ada Sisca. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. Cecil. Aku mendadak deg-degan. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana.” Emily berhenti sejenak. Mungkin dia sedang berpikir. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. kulitnya putih susu. Waaaaah. dia langsung memeluk dan menciumiku. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. “Din. aku pasti menangis tersedu-sedu. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. Dan pada saat yang sama. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. turut berputar. “Apa aku salah. aku jadi GR mendengarnya. aku tidak bisa membenci Emily.” Emily tersipu-sipu. kamu hanya akan disakiti olehnya. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. Emily sekarang jadi genit sekali. Wajah-wajah mereka cantik. Aku terlalu menyayanginya. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. “keputusanku ini terlalu mendadak. Aku tersenyum geli dibuatknya. Emily tidak mempedulikanku lagi.” panggilnya lagi.

kita bersahabat. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. “Tahu nggak. lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. Apakah dia sudah lupa. anakku. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. 20 April 2012 . Jadi. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku. Aku harap. “Lho. Aku memang hanya sebuah boneka. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. sudahlah. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. ‘kan?” “Senang. Oleh karena itu. tapi tidak kuasa menggigil. hari ini. Hatiku tenang. Dia segera menggendongku di punggungnya. Sebelum pergi. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. Pak!” seru Sumi. anak pemulung itu. Bibirnya tersenyum. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. ya?” ujar Sumi kepadaku. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. Manis sekali! “Wah. Aku bahagia.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. Aku terus tersenyum. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. Din. aku sudah sampai rumah lelaki itu. riang. biar bisa jadi teman main kamu. tanpa pelukan. Gimana. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. Ya.” Betul. Dia memandangi dengan seksama. dia bertanya padaku. Aku harus melupakan dia. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar. dia Sumi. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. lelaki itu bertanya. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. dia tidak bicara. tanpa ciuman.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. “Waaaaa…. Aku diam. “Maafkan aku. senyumnya manis. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya. sementara Emily tetap saja membisu. Semuanya cantik. kalau lima bulan silam sambil menangis. Lelaki itu tersenyum. persahabatan kami bisa langgeng. Kepalanya bergerak. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. Bagus. “Sumiiii. Entah kenapa. aku merasa nyaman. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong. Aku merasa dingin. Purwokerto. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk. Mungkin. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. sudah berkurang. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. dia sempat berbisik. Rasanya. “Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. “Nah sekarang. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. dia mau menerima keadaanku apa adanya. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. karena dari dalam karung. Bapak pikir. Bapak ambil saja. Emily memilih mereka. Selama perjalanan. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. Dan tibatiba. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. kamu senang. Namun. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu.

Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Empuk sekali. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. batinku. Gurih sekali. Itu pun lebih disebabkan propaganda . Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. saya Alia.” Hmm. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. ketika sebuah karya selesai ditulis. Karena aku bukan novelis. Fakultas Sastra. otomatis pengarangnya mati. sebagai penulis atau pembaca novel itu. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. Kalau begitu. kan?” Di seberang. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis. Seperti biasa. Kaidah anak sastra ‘kan begini. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. saya bukan lagi penulis novel itu. Sumpah mati. “Tapi ngomong-ngomong. Bukan pula cerpenis. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. salah satu agendanya adalah bedah novel. Sang Penulis. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. “Kenalin. Alia tertawa. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Jika Anda tidak keberatan. Sangat menggoda.

Sama tidak enaknya. puisi itu ‘kan harus padat. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. puisi. Berbeda dengan prosa. Roni. Alangkah sakitnya menjadi Clara.” Tapi rupanya. Jadi. Terkadang cuma untuk memastikan. aku sudah terbiasa menulis puisi. sama saja. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. Pretel-pretel. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. Bagiku. Pelit kata-kata. Nah. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel. “Oya?” “Begini. baru aku bilang edan tenan. Dan. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen.” . mengerjakan tugas yang itu-itu saja. jangan-jangan. soal sastra. Sudah indah apa belum kedengarannya. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. pasti terkaget-kaget. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. yang bikin kita mikir. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai.” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. sambil nongkrong di balkon. Aku justru tidak suka caranya beriklan. Saking edannya. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. “Minggu depan. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa. Hemat. Gila. sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. Rayuannya kurang “maut”. baru selesai satu paragraf. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional. Mau pegawai negeri atau swasta. Edan.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. Tunggu saja. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. Seperti mobil terendam banjir. nama orang itu. dibakar mobilnya. prosa. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. yang bisa dilakukan kapan aja. Karena kenyatannya. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih. Bukan karena termakan promosinya. kurang lebih jawabannya begini. malam nanti mungkin giliran Saman. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli. okay. Serupa motor kehabisan bensin. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. maksudku. sambil tiduran. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. kuputuskan untuk menyerobot buku itu. Dan. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. Mengandung unsur bunyi. bahkan diperkosa. sudah cantik apa belum bahasanya. Tidak meyakinkan. pasti terguncang-guncang.seseorang. Roni mungkin benar. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan.” “Ber-aa-ii?” “Berima. menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. cinta setengah mati pada dunia sastra. dan karenanya enggan kugeluti. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. dalam beberapa hal. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. Setiap kali mulai menulis. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. Begitu seterusnya. aku sudah gatal untuk mengeditnya. Tentang minatnya pada dunia sastra. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. Terlalu tergesa-gesa. sekaligus tertib ber-aa-ii.

aku cuma bisa bilang. sungguh mirip pizza. menulis cerita perihal Roni. Padahal telah dicobanya segala cara. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. Rambut keriting. Titik. Sebuah undangan yang. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman.” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. Nah! Itulah sebabnya. di mana seluruh ide novelku berawal.” ♦♦♦ TANGGAL 25. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan.” “Terima kasih. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. Ingin menampar. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. Tapi semakin kutatap semakin kupandang. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. ia muncul mengajakku makan. Atas saran Alia.Ya. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. Pandangan matanya mengarah entah ke mana. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. Tiba-tiba sudah jadi buku. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Bukan sematamata karena (hhmm. ia selidiki. itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. Hidung bangir. kejutan selalu muncul belakangan. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. Tak lama kemudian. Ingin menerjang. biografi seorang (calon) penulis yang malang.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. Angin dingin segera menyergap. Dan. Sangat menggoda.” “Oya? Di mana?” “Maaf. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. Jangankan novel. Awalnya kupikir. perempuan yang saat itu. tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. “Terima kasih kejutannya. “Aku kan sudah bilang. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. hampir dua tahun dipacarinya. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja. Cuma berteman secangkir minuman. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. seperti kubilang sejak awal. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Sampai jumpa tanggal 25. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan. Setiap detil ia pahami. Untuk menebalkan motivasinya. Tidak salah lagi. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. Yang pasti bukan ke arahku. Muka tirus. “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. Atau paling banter. Dan lihatlah. Duduk sendirian. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung.” Aha.

Banjarmasin Post. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Bahkan hingga sekarang. Cerpen . ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. 7 September 1980. memang. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku. Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang. seperti yang ia cita-citakan. Bukan semata-mata dari kafe ini. Meski terkadang aku ingin. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Pada 1998.” tiba-tiba Alia mengetuk meja. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. Aku orang kampung. aku bergegas pergi. Meski mungkin ia mau. Gulukguluk Sumenep (Madura). Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. Reuni? Ah. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Jawa Timur. novelku belum selesai juga. Sampai mewujud jadi novel.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. kulumat saja kenangan-kenangan itu. Kukunyah pelan-pelan.” “Tapi sialnya.” “Celakanya. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. Santri. Ron? “Mbak Shinta. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. Ke reuni ini. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun.” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan. Sari-sarinya kutulis diam-diam.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. MPA. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja. Dan. Ke kafe ini. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah.

aku tetap putri ayah satu-satunya..” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing. “Dulu aku begitu jahat pada ayah. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah..” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah. “Bagus juga ya. Kemudian. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD.” Amri membanggakan mainan barunya. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. “Ayah terlalu berlebihan.” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. putra kita. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. Tak perlu dipikirkan lagi. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya. Di atas meja. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh. Vira. duduklah seorang lelaki tua. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu. Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. Lalu memberikannya pada Vira. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. “Maafkan ayahmu ya.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. Terima kasih ayah karena telah menemukanya. kamu tunggu di sini. “Semua itu sudah lama terjadi. dan asri karena penuh dengan tanaman hias. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. “Mana biar kulihat.” Vira mengambil mainan Amri. di kebun bunga-bunga hias.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah. Amri.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya.Mekar Dalam Badai Senin. seharusnya waktu itu aku . Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya." Vira menundukkan kepalanya. kau benar. Seharusnya aku percaya pada ayah. “Tapi. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira.. Ishak. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan.." “Ya. “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya. Selang beberapa menit. “Ibu. Ishak menghela nafas panjang. Tapi. “Ya. Tapi.” Ishak tersenyum pada putrinya. sayang. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya.. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. menggigit bibirnya.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. kenyataannya aku tetap darah daging ayah.” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan.” ujar Vira tersipu.. Putri Ishak. lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya." “Ooo. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain.” Vira memeluk boneka itu erat-erat.ini ambil lagi mainanmu. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya.

Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu. Sophian. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab.. Vira menghela nafas panjang. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. Di beranda rumah. bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian. Sewaktu mereka berdua berbaikan. meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. berada di dekatmu. “Bahwa. aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. yang ingin bertemu dengan neng Vira. ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya.lebih sering berada di rumah. ia menatap pada Ishak.. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa..” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. Ada tamu yang bernama Sophian. Dia tidak mengetahui kalau. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah.. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya.. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. aku adalah.. menghela nafas dalam-dalam. imut sekali. Kemudian. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu. kemudian menundukkan kepalanya. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda.” kata Vira. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. Namun. .” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya.” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Pada masa itu. ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya.?” Sophian penasaran. ketika kita pertama kali bertemu. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran... gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Ia memandang penuh harap kepada putrinya. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. pembantu mereka.” kata Ishak bersemangat. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. Amri datang mendekati Ishak. apa yang harus kulakukan. aku adalah.” kata mang Husni dengan nada suara lembut.. Bersama Vira. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. Kemudian. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. “Dulu. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. penuh kesopanan. mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni.” Vira menundukkan kepalanya. “Oo Ayah. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut.” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu. namun ia tidak mampu.. Sophian duduk di kursi kayu. lalu tersenyum padanya. “Maaf pak.” Sophian tersenyum simpul pada Vira. “Ini yang namanya Amri ya. “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. “Oo. Baju dinasnya terseterika dengan rapih. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. Kemudian. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya. mang Husni mendatangi mereka. Ayah. Di beranda rumah. Tapi nyatanya. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku.

ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya.. apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar." “Ayo yah. toleransi terhadap semua kesalahan orang. Kaligandu.” Vira tersenyum merasa lega.” tak ada semangat dari nada suara Vira. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah.” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya.” “Dia memang tidak pantas bagimu. dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya. selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu.” kata Vira. Dengan sekejap. tak menggubris Vira yang memanggil namanya.” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Sophian. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. “Oo. itulah yang paling berharga. “Jangan kau cemaskan itu. Serang – Banten. Setidaknya kita bertiga saling memiliki. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian. “Sudah empat bulan kita berhubungan. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini.“Maafkan aku.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira. Janganlah terlalu kau pikirkan. kita main lagi. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. ia sudah melupakan kesedihannya.” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja. engkau mengatakan kebenaran ini. “Kurasa ia takkan kembali lagi. Kini tinggal di Komp. Cinanggung.” Sophian segera bangkit. Pemda Blok A-8. Sekarang. 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. berjalan memasuki rumah. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah. Ia menundukkan kepalanya. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira. Aku harus segera pergi sekarang. Aku tak bisa menerimanya. Sambil bergandengan tangan. merasa sedih karena telah dibohongi. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar. Kel. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf. . satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini. 30 Agustus 1985.. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang. “Ayah benar. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. mereka bertiga meneruskan langkah mereka. “Menurut Ayah. Dan sekarang. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. Akhirnya. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. RT01/RW07. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya.

berisi dipan kayu lebar beralas tikar. memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. sekarang mata itu justru mengabaikannya. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. Pernah suatu hari. Dengan sebal. sudah bengkok. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya. kalau ndak giat kerja siang malam. geram.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. ujarnya sambil menangis. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya.” sambung Mbok Mini. . suaminya. sampeyan ini sudah tua. Kang. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. Si Narti bilang. aku kok jadi kuwatir. antara marah. ia meneruskan. kesal. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. nanti malah bikin repot orang. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. Kang Narto. perasaannya campur-aduk. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. Tatapannya terlihat sendu. Dan sejak itu. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. Mbok Mini menarik nafas panjang. “Eling Kang. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. Tanpa menunggu jawaban suaminya. “Aku malu. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. Tak ada perabot lain. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. aku ngerti. Bener ndak. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. Sambil menghela nafas panjang. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. “Iya Kang. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. Namun. yang senantiasa menyemangatinya. Ia menyipitkan matanya. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. “Kamu ini lama-lama cerewet juga.

Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. lalu memandang ke arah rekannya. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. 24. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. kesehatan Mbok Mini mulai menurun. Mau nganterin becaknya Kang Narto.”.2012 . “Aku Gatot. “Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. “Mbok. Namun. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko.. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus. meski tenaganya hampir habis tak tersisa. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. Mbok. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. “Begini Mbok.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya. dielusnya benda itu dengan penuh kasih.“ seru pria yang satunya. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu. sentirnya ndak dinyalain. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. Hingga suatu sore. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti.“ bisiknya lirih. sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. Kami mau ngasih tahu. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. Keduanya mengangguk dengan pelan. sampeyan di dalam? Gelap amat. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah. “Akhirnya sampeyan pulang juga. ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. pria paruh baya itu terbata-bata. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang. Dipandanginya becak itu sejenak. Kang. bahwa Kang narto. apalagi menegur suaminya. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. Ika Winterholler Nürnberg. tetangganya sebut.09.

dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini. segar. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Seingatku pohon itu dulu rimbun. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini.” jawabku terpotong-potong.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. “Tentu saja.” sela suara yang sama. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku. kukira kau tak mengerti yang kulakukan. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. “Aku sudah mengamatimu lama. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam. “Maafkan aku. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu.” cerita Beringin tua. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. seperti menari-nari kegirangan. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. memandangku dengan belas kasihan. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya.” jawabku asal bicara. “Justru karena aku tahu kau peduli. Kau pohon dan aku manusia. melainkan dipindahkan saja. warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu.” kutegaskan permintaan maafku. Aku memang hidup di garis bawah. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. . Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku. Senja itu. tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. kering. garis hina.

tentang populasi. “Aku kesakitan. juga tentang keberlangsungannya. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali. Tapi kali ini aku sedang buru-buru. udara semakin sesak oleh polusi. ya itu suara Beringin tua. aku sering bermain di sini bersama teman-teman. *** Dulu. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku. “Hei.” Beringin tua merintih. “Ya. Setelah cukup lama. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku. “Maafkan dia.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. Aku mulai sadar. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. Dengan badan yang tertusuk paku. atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. berusaha meneduhiku. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua. terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang.” tambahku. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. saat aku masih kecil. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen.“Boleh jadi manusia lebih bangga. Tentu saja aku menjawab iya. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem. tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. yang memasang paku ini. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. dia hanya lalai. zaman telah berkembang. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. pada manusia. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. menempel entah apa di badanku!” terangnya. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. Kini alam mulai mengancam. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. “Biar aku teduhi tubuhmu." Jawab Beringin tua. Orang tadi. Dia tergusur oleh pembangunan. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku. Segera aku berpamitan padanya. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. memelihara lingkungan. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. . tunggu sebentar. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. aku usahakan untuk mencopotnya. Aku amati batangnya.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. "Baiklah. Keadaan memang sudah berbeda saat ini. Aku juga paham teori menjaga alam. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. Kau tahu kan.

semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. Beberapa bulan kemudian. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. saat itulah alam menangis. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. Bukankah memang benar kata-kata itu. “Beringin.” kataku. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. Akal pikiran dikaruniakan padamu.” kata Beringin itu. Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu. tentu kau bisa memanfaatkannya. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana.Tersentak aku. menyesali akar-akar yang musnah. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. Tergusur. Aku tidak tega membiarkannya menderita. Burung-burung bersarang di rantingku. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. Proposal yang aku ajukan disetujui. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. tidak menginjak tanaman. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya.” ujar Beringin tua. bagaimana jika hidupku yang tergusur. Mana bisa dia mencengkeramku.” Air mata menetes di sela penjelasanku. Aku mulai berpikir. menyesali daundaun hijau yang mengering. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. sementara hasilnya samar. Sontak aku membayangkan. “Sudahlah jangan murung. menemani dan menjadi tempatku berbagi. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman. peduli pada alam yang memberinya hidup. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya. Ya. ulat-ulat memakan dedaunanku. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. Akan tetapi. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. seperti dia paham akan kegusaranku. Tapi aku tetap bisa berusaha. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja. hanya itu saja. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik. Tidak serakah seperti kaummu. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam.” tegas Beringin tua. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan.

” . yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. tubuhku mulai mengurus.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. tapi aku bisa merasakannya.” Aku mulai bicara asal. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu.. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan. Kurasakan tubuhku semakin melemah. Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. Ya sekarang tinggal pasrah saja. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini.” jawabku singkat. biarkan mereka menikmati keserakahannya. Hasilnya bisa kau lihat sendiri. “Kau sudah lakukan yang terbaik.” Papar Beringin tua. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang. “Aih.” Beringin tua mulai balas bercerita. *** Hari ini 20 Januari 2012. Selalu membagi cerita. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. “Sebenarnya samar sih. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. serakah. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. hanyut bersama harta benda penduduk. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran. dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air.” Ceritanya berlanjut. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. Penduduk yang tamak. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. kami korban banjir Kali Cisari. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. Tentu bisa ditebak. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. tentu sudah kurobohkan semua itu. membagi perasaan suka dan duka. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari.” Beringin tua mencibir. aku sudah putus asa.. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. Sahabatku! Aih. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. Sementara itu. Kalau saja aku masih kuat.” Tegas Beringin tua. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu.” Dia menimpali kata-kataku. menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. “Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. “Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku. “Bukan begitu. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri. “Sabar Beringin.

. 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah.” “Iya Bun. “Le. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. Namun. adegan berpuluh tahun silam melela. Lanang janji. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. membuat iri. menjelma Malin Kundang.” Seperti biasa. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. jangan hiraukan Bunda. bangkitkan hawa malam atis menggigil. kamulah satu–satunya anak Bunda. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta). mata tua itu berlinang. Rasanya tak pantas berkunjung. Pesan itu terngiang kembali.” suara Bunda tercekat. ia bersedia menampung untuk sementara waktu. Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. “Berangkatlah.pora menghisap darah di tubuh kering ini. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. Cerpen Pesarean Kamis. tapi mata tak ada isyarat lelah. Gelisah meraja. biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. Dengkur teman satu sel menggema. Salah seorang sepupuku berkhabar. Apalagi hujan baru tercurah. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. Senyum manis yang selalu menahan getir.Selepas kesedihan ini. Lima tahun. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir.

derajat kita tak sebanding dengannya. Biaya kuliah ‘kan mahal.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. Seiring waktu berjalan. terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. meninggalkan sensasi khas kekeringan. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. yang berbeda tabiat dan kebiasaan. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. bebet dan bobotnya. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat.” “Bunda.“Tapi Bun…. kenapa diam Le. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. “Kalau boleh tahu. Wajah itu semakin dipenuhi keriput.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. “Iya Nang. sebagai seorang laki-laki dewasa. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. kini menjadi pacarku. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. Aku hanya terdiam. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. Bunda beranjak. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. jika umatnya selalu berusaha. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. seolah pintu regol rumah Eyang .” Kutatap sorot mata Bunda. terlepas dari genggaman. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil. **** Masa begitu cepat berlalu. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah. Serasa ada sesuatu yang hilang. Lina.” Bunda memulai perdebatan kami. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. menembus labirin waktu. “Nang. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. demikian sebaliknya. aku segera mencari pasangan hidup. Orang Jawa bilang harus jelas bibit. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. Tatapannya begitu lembut. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. Melangkah ke kamar. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam.”desahku setengah berbisik. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang.”selaku menunggu reaksi selanjutnya. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja. Gusti Allah ora sare Le. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. “Justru karena Lina begitu tinggi Le. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan. mencari istri itu bukan seperti membeli barang. “Jangan kuatir Le. Betapa bangga Bunda. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. Bau debu mengepul. Namun rupanya belum ada hasilnya. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir. “Lho.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini. “Kamu masih terlalu hijau Le. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. Lanang sangat mencintai Lina. Seperti kisah dalam roman picisan. sehingga bila mencari menantu harus sederajat. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. Kututup pintu. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. dielusnya rambutku. “Ah.

Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda. Jahitan Bunda rapi dan halus. sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. . “Jangan kau ungkit masalah itu. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. termasuk istri pejabat. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. tapi cukup membuatku tersedak. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu. Masih membekas dalam ingatan. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. bergelut hebat. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit. Menurutku usahanya adalah kesiaan. bahkan disaat kritis sekalipun. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja.” Bunda memandangku sendu. Hanya cibiran saja yang kita terima. “Sudah berapa kali aku bilang.” terdengar suara mengagetkan kami. Mereka berasal dari berbagai kalangan. “Mas. matanya sembab.” suara Lina lembut. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga.” “Iya saya tahu. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. walau terjangan ombak datang setiap saat. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. mukaku merona. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. anak lanang satu-satunya ini. Di kota pecel Madiun. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. titik!”sergahku sengit. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. separuh nyawanya telah tercerabut. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku. menumpahkan rasa. “I…iya Lin. toh tembok karang itu tak jua tergerus. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. adik ayah. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. “Bunda memang menantu yang baik. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. jangan bawa makanan ke rumah Romo. Simbah Nyai. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. Sabar ya.” Ayah menggumam. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. cinta pada pandangan pertama. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya. ia akan pergi sendiri. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak.” kuremas jemari lentiknya. Sayang. tapi apa sambutan mereka. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Pikiranku berkecamuk. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. toh aku bukan anak kecil lagi. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. Air jeruk tertumpah di kemeja. “Tapi Mas.

diam dalam ego masing-masing. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. **** Tiga tahun berselang… “Mas. Ia tidak membelaku. “Iya. kubersujud di pangkuannya. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. seolah penuh tekanan yang menghimpit. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. segera kuganti. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali. Nafas menghembus pelan. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. meninggalkanku yang tercenung tak percaya. Ia mau membuka butik baru. “Ke rumah Mbak Dini lagi. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. Celananya basah. besok. Ini jaman emansipasi wanita. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk. Tangisan Anisa terdengar dari kamar. membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya. Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. Kasih keputusan segera. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan. “Aku berangkat Mas. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. bukankah ini kemauan Lina sendiri. bagai prajurit yang menang di medan laga. Lain kali masalah ini kita bahas lagi. seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. Aku tidak begitu suka mendengarnya.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. Mbak Dini sudah menunggu. seminggu. sebulan atau setahun lagi. dapur dan tempat tidur. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. aku mau ke rumah Mbak Dini. aku sudah bosan tinggal di rumah. Lho. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. Perselisihan makin meruncing. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan.” Aku bersikeras. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. kakak iparku itu.” Lina berkata seperti tanpa beban. terburu kuhampiri.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. Bunda mau bilang apa. “Oke Lin. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. terkadang melalaikan urusan rumah tangga. melebar ke mana-mana. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya.” Kupeluk Bunda penuh keharuan.“Secepatnya itu kapan Mas.” “Apapun alasannya. Demikian pula yang terjadi dengan kami. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. Duniaku hanya seputar sumur. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. Benar kata bijak. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa. jangan jadi suami kolot. Bagai api yang disiram bensin. Dandanannya begitu rapi.” Senyum Lina merekah seketika. Kali ini begitu berat. Yang menjadi korban tentu saja Anisa. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat. Semoga memori . Mas ‘kan lakilaki. wajahnya berseri. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. masalah sepele bisa membesar. tak perlu kita berdebat soal ini. “Lanang telah berketetapan Bunda.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. kutatap Bunda mencari kepastian. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. “Sudahlah Mas. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah.” jelas Lina pendek. “Iya Mas.

Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. Demi Anisa. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. Bunda mau balik ke Madiun. . Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan.” “Enggak kok siapa bilang. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. Aku yang pegang kemudi hilang kendali. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. Bunda tersenyum kecut. sedangkan ibunya tak begitu peduli. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. seperti syair lagu lama. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. kuletakkan kembali. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding. Memang ada pengasuh. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. “Lho kenapa Bun. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi. Ya. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. “Wis tho Le. akhirnya tercium juga. Aku. “Mas. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran.” “Apa kamu bilang nggak cukup. Mataku mengerjap. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. Bunda. tak bisa diganggu gugat. “Maafkan Bunda Nang. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. aku tidak akan meminta bantuan Bunda. Roti tawar yang siap masuk mulut. itulah nama Bunda. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. Aku ingin hidup layak. Bunda mengangguk pelan. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. samar matahari tergelincir ke barat. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya.” aku masih mencoba berkelit. Bunda sudah tahu semuanya. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. “Nang. mobil kami masuk jurang dan terbakar. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. Malang. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan.

Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Hisin Jentik yang memberitahu aku. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. semoga keajaiban sudi menghampiri. Aku heran ada anak kecil seperti itu.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. aku begitu mencintai Lina. walau dunia kita telah berbeda. Sudah seberapa besar ia sekarang. keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. Sekarang tinggal di Depok. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. Hari ini. ingin rasanya gantung diri waktu itu. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16.Segera setelah keluar dari rumah sakit. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. Hatiku hancur. Sebagai seorang suami. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. Sungguh. Selamat tinggal Bunda. Lanang janji! Rumah Hijau. Masih ingatkah ia padaku. kuburan 2) Bibit. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Bekerja sebagai PNS. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. Semenjak aku menjalani hukuman. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. Pasti cantik seperti ibunya.com. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. HP : 081317500341. Besok aku akan menemui putriku Anisa. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah. Sumpah demi Tuhan. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. kesehatan Bunda menurun drastis. adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Penyakit asmanya sering kambuh. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. tapi malah akrab .

Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin. Nama tokohnya. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. main petak umpet. Ah. dan mendapat giliran untuk sembunyi. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. di bawah ranjang. Iren yang genit seketika menarikku berlari.” sahutku. menghardik aku habisan-habisan. “masih kecil untuk bicara soal cinta. Kukira. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. kupikir. “Tunggu di sini sebentar. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil. Sewaktu kutanya lagi.” Karena. “Dia jagoanku. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. Namun. lewat kalimat yang sangat kasar. suatu hari. Ya. ibuku datang membela. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini.” kelahku membuktikan fakta. dulu. Si Buta dari Goa Hantu. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. Tak mau tahu juga cinta itu . Aku tak habis dimarahi ibunya. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. “Iya. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia. cinta itu kawin. *** SEJAK itu. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. tidak boleh masuk sembarangan. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. Jadi. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku. Beruntung. itu ‘kan binatang?” tanyaku. Saat Iren buka celana. Kurasa. mungkin karena malu. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. Kawin itu nanti kalau sudah besar. kami bertetangga. “Hey. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. monyet!” jawabnya. aku langsung tahu apa maunya. “Aku dipaksa dia. sore-sore. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau. “Kita ini. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya. Sebelumnya.dengan binatang. Tapi semua bukan salahku saja. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana.” katanya penuh jumawa.” kataku. menunjukkan rasa marah. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami.

Aku punya banyak kawan. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. “Kawanku. Hanya itu. dan kawan berkelahi. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. Tangan ini digebuk oleh guru. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. sejak itu. Aku tak menunduk. tanganku selalu ingin menulis saja. sungguh … Dan. Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. saat pindah rumah dari kampung kami. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. yang kira-kira setebal tiga centi. dan yang duduk di kelas lain. Tangan yang jadinya sedikit memar. Sampailah rekornya. Itu yang kusukai. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. Kanan bukan tangan yang baik. tetapi mendongak. dulu) Semula. Karenanya. Berapa besar. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. . berenang. apa boleh buat.” Matanya itu. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. guru yang baik. habis menulis. aku meringis selama seminggu. pingpong. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. Keringat pasti tertitik di dahi. Kawan main bola. waktu pun berlalu. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. Penggaris. ruas tulang jari tengah tangan kanan. panjangnya 500 centimeter. Ah. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. Sengaja kupandang lekat. saat melangkah masuk pintu kelas 1. hm…hm. Kalau melihat kawan sebangku. layangan. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. Alhasil. betapa kuat. menimbulkan derita tersendiri. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. Hari pertama masuk SD kelas 1. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. kasti. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. rasanya tidak enak. aku menulis pakai tangan kiri. Dan.seperti apa. (Sungguh. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. Maafkanlah aku ini. SD kelas 1. Buku jarinya ada di atas. sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). gambaran. Karena Iren telah memberitahu aku. Sampai sekarang pun juga … Tapi. akibatnya. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”. dua bangku. baiklah kutulis surat saja. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. Alatnya memukul adalah mistar kayu. namanya penderitaan.

"Kapan. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku. "Mama yang nungguin. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil." tegur Avis. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. "Mama. Hisin Jentik. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . Lalu. Dek. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek. pintu-pintu kita buka.Sejak itu aku menyukai mata pena. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. Dek. tak lama lagi cekung. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik. Matanya sudah sembab. Ma?" "Mama belum tahu. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. Yang memberitahu aku. ail hujannya netes lagi. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. 27 September 2012 11:13 wib "MAMA.*** Fort Rotterdam. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry. percaya Mama. Kata Hisin. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu.

Depok.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku. Kusibak korden kamar. Meski terbang agak lemah. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Berhasil. Pelan.. "Sabar dan sholat. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku.. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku. Entah dari mana. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu. Kemudian menjemput takdirnya. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami.. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami.Avis jangan memendar kemudian menghilang. Plop. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi. menjadi santapan cicak-cicak. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang." Larry. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. ataukah digotong sepasukan semut rumah.. menceburkan diri ke air. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari . "Kun fayakun. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang.. Linangan air masih ada. Innallaha ma'ashobirin. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku..ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah." tepuk sebuah tangan di pundakku. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini. teriakku. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. si kecil Avis masih menikmati tidurnya.hujan sudah mereda. Tik. Plokk.. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya.menyikut ujung-ujung kayu pintu. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru.. kelopak matanya terpejam.leganya. Suara jangkrik sudah berpadu. siku jendela hingga kaca. Kini makin memekakkan gendang telinga. Larry. Larry tak bisa memilih takdirnya. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry.drrt. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah. Drrtt. Aah. tapi sudah bertanda.tik. Pintu depan rumahku masih tertutup. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. Belum terlihat.

Tapi. Aku kehilangan akal sehatku. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. kita selalu bersama.Cerpen Fragmen Puisi Senin. “Wah. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. Namun. Malam yang penuh dengan kegelisahan. PUISI #4 . Aku berpikir tentangmu. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. Kau bilang. Dalam perjalanan pulang. aku baru saja pulang dari rumahmu. Aku selalu menuruti perintahmu. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. Aku memang suka menulis puisi. kukira. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. Tetapi. Dan. “Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. aku merasakan malam yang tidak biasa.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. Tetapi. aku sedang sibuk. Kau yang pertama kuhubungi. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. Namun. Kemanapun kau pergi. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. Dan. PUISI #2 Malam itu. bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit. Sama halnya dengan menulis puisi. Ya. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. Sejak kecil dulu. Betapa tidak. sungguh.” Impian mentraktirmu sirna sudah. Dengan segera aku meneleponmu. nanti saja kau telepon lagi. Kata orang kita sahabat yang karib. kegelisahan selalu menyeruak. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. Dan.

dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. Tapi aku tidak bisa. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. itu bukan tindakan seorang lelaki. di tepi danau. Sering kujumpai kau pulang pagi. Namun. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Suatu hari. Sebetulnya. Kulihat wajahmu merah padam.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . dan kau merestui niatku. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. Sepanjang perjalanan. betapa bahagianya aku kini. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Kutahu. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. Bisa kau bayangkan. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Maaf. Kau tarik kerah bajunya. Melihat kau yang sudah beristri. Ah. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Aku tahu itu. kau tahu itu. kau berkunjung ke rumahku. aku pun juga kangen kepadamu. pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. Layang-layang itu punyamu. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Tetapi. bahkan tidak pulang sama sekali. Semenjak itu. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. Kusampaikan keinginanku padamu. Padahal. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. iya. Namun. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. Menurutku. kau sering memukul istrimu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. sahabatku. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. Kau kalah taruhan. Kudengar. Kau sering dimarahi atasanmu. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. setidaknya membahagiakannya. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. Malam itu. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. Sebab. Istriku yang cantik. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu.

29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Dengan berat. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. Kematian terlalu cepat menurutku. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. Aku ingin segalanya serba rahasia. Anak-anakmu menjerit hebat. . Istrimu yang sering mengeluh padaku. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. Namun. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. Dalam pikiran yang terus berputar. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. Maaf. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna. Nomor ponsel (085721904020). Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku.blogspot. Perselingkuhan. serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. malam yang hening dan muram. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. Tapi. Beruntung. aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. aku mendengar tawa istriku yang renyah. Aku hanya diam. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. Maaf. Kupikir kau telah mati di tempat. kecepatan yang tinggi. Katanya. kau tidak pernah marah. Sahabat yang kukenal sejak kecil. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati. Hingga suatu saat. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. Kau pun terjerembap ke selokan. Akh. Istriku yang cantik. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. Bandung. PUISI #9 Istrimu meneleponku. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Namun. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. Aktif menulis dan bermusik. Ia memintaku untuk menjemputmu. Sesampainya di halaman. kenapa kau harus menyeberang malam itu. aku menjalankan mobilku dengan gila. Tetapi. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Kau tengah bersama istriku. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. aku menjemputmu. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. kau mabuk berat di sebuah bar. Belakangan kutahu. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. sekali lagi maaf. PUISI #10 Kau terlanjur mati. Dalam pikiran yang terus berputar. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. istrimu pingsan. leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. kalaupun kubuat.com/.istriku. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku.

Dalam otakku. aku beringsut ke kamar. Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. Tetapi. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua.” Kuusap buku jarinya yang kisut. Laki-laki yang malang. hatiku menguncup.” Kubantu dia duduk di ranjang. Aku ganti. ya? Sebentar aku bikinkan lagi. suamiku sudah berteriak. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. “Pak. Dengan sadar. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). Tiba-tiba dia menangkis tanganku. “Pak. Pak. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. Ketika menikahi dia.” kudekatkan mulut ke kupingnya. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna. “Buuu!” Belum lama aku di dapur. Asin sekali. Kedua alisnya bertaut. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Namun. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya.Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. Aku yakin. “Mm. ya. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. karena kapuknya telah mati.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. tertanam ajaran orangtua. “Sebentar. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. makan dulu. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. Air pun muncrat. Setelah mengulurkan piring. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. Dengan malas.” kuulangi lagi. “Makan. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. aku keluar kamar. Dia tak bergerak. ya.” Aku tergopoh ke dapur. Kulihat akibat kata-kataku. tak sekali pun aku membaginya. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. “Hmm. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. akan tumbuh . Minum?!” Kuulurkan gelas. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya. sama seperti anggota tubuhnya yang lain. Aku mencium gelagat buruk. “Ha. kutolong dia untuk merebah. lidahku kelu untuk mengatakannya. penisnya sudah mengkerut. mengenai seprei dan kebayaku. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku. Seperti biasa.

tak ingin mendurhakai mereka. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. Namun. Dia menolak mengantarkanku. Dia majikanku dan aku budaknya. padahal aku sedang mengandung benihnya. aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. karena melihat kami tampak rukun. Dia tega berkhianat. Aku ingin purik. semuanya gelap. iya. Tetapi. walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. Jika aku nekat purik. Kata ibuku. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku. semua yang kulakukan adalah salah. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Pertama kali tidur bersama. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. Namun. Sebelum kawin dengan dia. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. Seolah-olah di mata suamiku. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Hardikan suami. seiring berjalannya waktu. wajah yang ramah. Namun. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. Budak yang berperan sebagai istri. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. Kuelus perutku. Selesai sudah. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. Sejauh ini. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. karena pengabdianku. tugasku hanyalah tidur dengan suami. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. Kukatakan. Dengan sewenang-wenang. aku sakit! Dua pengertiannya. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. aku terlalu lambat. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. Sungguh. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. Pertama. Aku ada di sini karena uangnya. Kata orangtuaku. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. Aku tidak mengeluh. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Mataku mengerjap. teriakan. kesadaran akan posisi diriku.… lalu gelap. Dia mendengkur. Dengan penuh kehendak. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. melayaninya. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. Aku membayangkan. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. Kutemukan diriku di ranjang. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. Namun. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. karena kesetiaanku kepadanya. Dorongan itu begitu kuat mendesak. Tetap melayaninya. semua bayanganku jungkir balik. Aku patuh melakukannya. Hal sama terus berulang setiap malam. tanpa kusangka-sangka. Kedudukan suamiku . tapi demi diriku sendiri. Sungguh. Namun. membuatku bisa berpikir jernih. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. O. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Oh. air ludah yang menyembur. Bukan demi siapa pun. suamiku akan melembutkan sifatnya. Orangtua kami bahagia. Yang ada. Yang penting dia tak lupa memberiku uang. Kedua. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. Dan karenanya. dia menghardikku! Menurutnya. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. Tak ada tutur kata halus. dan setia kepadanya. Aku harap. Apakah aku menyesal? Terus terang. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya.jika kami sering bersama. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun.

Telepon/SMS (0281) 5730489. seperti orang-tua atau raja. dia sangat ramah dan supel. suamiku!” Ledug. 42 tahun sudah aku mengabdi. Rumah pelesiran: Rumah bordil. 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. E-mail totokutomo@ymail. Tapi. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya. malaikat maut belum juga menjemput. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Selanjutnya mata mengeluarkan air. karena di luar rumah. Dan di sinilah aku kini. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta. Apakah cinta seperti itu?. mengucapkan kata cinta itu mudah. Sungguh. Namun. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. Tulangku sudah rapuh. selalu mengerti terhadap satu sama lain. rambutku memudar. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. maka mata ikut menangis. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. dan tak ada cinta di hati. aku tak sabar untuk berucap.com. Berdiri menghadap punggung suamiku. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. Tapi itu tidak . Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. “Selamat enyah.terpandang. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan. maka tangan ikut mengusapnya. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Padahal. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati.

Kalau kamu memang telah menemukan cintamu.com . Kalau cinta seperti itu. ia tak pernah bercinta. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. Suci hanya mengeluh. untuk mengartikan apa itu cinta. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. setiap orang di dunia ini. semakin susah Suci mengartikan kata cinta. A. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta. mendustakan cinta. memiliki arti kata cinta. Suci memang sudah tumbuh dewasa. aku ingin bertanya kepadamu. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. Pernah si pernah. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta. Setiap pagi Suci bangun dari tidur. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. I. Suci. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri. bahkan memalsukan cinta. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. Setelah saya menemukan pujaan hati. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu. Te. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. susah baginya untuk melupakan kata cinta. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit.mungkin. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. Mungkin. Di dalam hari-harinya. detektif itu adalah dirinya sendiri. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta.” jawab sahabat Suci dengan puitis. yah aku telah menemukannya. sebagian cinta saya itu. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini.” itu katanya. Hendizal : Hendri : Langgam. “Cinta. Namun. apa itu cinta. “Ce. Hingga cinta saya itu menjadi untuh. sulit dipecahkan. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari. cinta. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. Dengan santai sahabatnya menjawab. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Tapi. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta.” tanya Suci kepada sahabatnya. Namun. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. namun tak pernah ditemukannya. Sayangnya. “Sob. seperti namanya. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. menyatu dengan cinta punjaan hati saya. eN. tapi tak masuk dalam logikanya.

yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang.Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. Namun.” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. “Di mana Anda antara pukul 02.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. pada korban. pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. Petugas yang menanyainya bertampang seram. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas.00 dini hari sampai pukul 06. hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Tidak perlu kau takut. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama. Senyap …! . Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. “S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu ….

yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. hanya satu yang perlu diketahui. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu. tidak meneruskan. Dahiku berkerut. perempuan itu berbisik perlahan. padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. Sekali dua kali aku coba menghindarinya. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling.” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. “Aku sedang butuh uang. alisku bertaut. “Bantu aku.” jawab lelaki itu begitu tenang. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. Namun. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. mengerikan. sementara sang waktu terus berjalan. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Memang berbeda gelagat perempuan. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. Aku mengandung anakmu. Namun. takut bersitatap.” katanya singkat. Namun. yang kepalanya hanya berisikan uang. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. Membuat nyalang matanya terpancar.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. “Jangan mulai lagi. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. *** Nurlida masih menguntitku. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. Terbatuk diriku sesaat. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. Lantas memakainya. belum juga diserang kuap. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. “Aku hamil.” “Hei. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam. Asap tipis rokok.” perempuan itu terdiam. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. Atau…. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. “Kau boleh tidak menunggu. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan …. tidak untuk mencekikku …. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar. tapi dua orang itu. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. yang tercampakkan di atas sofa. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. lelaki dan perempuan. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam.Malam telah melewati puncak. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. hingga bibir kami bertemu. “Aku mau sepuluh juta. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. Ruangan seketika senyap. sekarang juga. . lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku. Disusul debum dari arah pintu depan. Win …. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan.

” bisiknya perlahan. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya.“Atau apa?” bentakku. makin meradang. “Aku telepon ya. senengnya yang lagi berulang tahun. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. dengan mulut berbusa. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia. “Duh. Malam yang bising. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. “O. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. Kesunyian. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. “Jas. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. Hari itu. dua desah napas sebelum ada yang berkata. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang.” “Tapi semua itu idemu. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. “Kau kenapa May. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. dinyalakannyalah pengeras suara. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya. Ah. “Nur. desah napas. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. Membayang. Dan tanpa disadarinya. Setiap hari …. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki. tolong pegang kue ini. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. (*) Blitar. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. sebelum mengecek layar ponsel. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. Lucu ya?” celetukku. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. Keterkejutan. Nomor itu sudah tersambung. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. yang tertutup jilbab biru muda. Perempuan itu menatap sinis. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. Dan akibatnya jalang itu keguguran.” kata Nurlida tiba-tiba. pada diriku. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. memastikan teleponnya benarbenar tersambung. Terdengar jelas. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. 23 Juni 2012 3:31 AM .

03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. "Thanks. Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. Tak penting ku sebut namaku. Kecamatan Kanigoro. N. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Danang Prabowo. dan Serahim Nira (2012). tetap saja semuanya tanpa ekspresi. jika kompetisi itu ada.Oleh W. Kurasa. Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. Namun. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. 04/RW. Tapi Danang Prabowo. karena bukan aku lah pemeran utamanya. Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama. namun berarti itu dipersembahkan untukku. Pertemuan yang cukup singkat. 01. tapi pembuktian. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana.co. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. Maaf. tanpa ucapan. Bulan Kebabian (2011). lebih tepatnya. Tak ayal. memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana.widya@yahoo.id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin. pria terunik yang pernah ku temui. Sekitar 20 tahun lalu. yang hidup dengan berbagai fasilitas. Wajah tak begitu tampan . yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. Anak seorang anggota DPR. selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya. Cinta Pertama (2012). Tapi.

berkutat dengan beritanya. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. membawa kami kembali dalam diam. bak Pangeran Tanpa Kata. Diam. Lantas. kendaraan pun terus melaju. Lantas hening. cinta kadang tak perlu kata. Dengan sigap. Cerpen Keroncong Senja Kamis." pungkasnya lalu diam kembali.tapi terlihat karismatik." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Akhirnya dia bicara." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. Pangeran Tanpa Kata. Dia tengah sibuk. Ayahnya. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas. tapi gak tau kelanjutannya gimana. Bahwa. tanpa jawaban. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. "Sudah. Karena esoknya. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. cuma terima kasih yang terlontar. ibunya dan keluarganya yang lain. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. Soal cinta. Dia benar-benar bicara. Kerjanya. ku tulis namaku di kertas absensi. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. 30 Agustus 2012 12:51 wib . memberiku tumpangan. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. dengan pena pemberiannya. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. tangannya memberikan pena padaku. Mobil yang kutumpangi terus melaju. Tepat di depanku. Penulis Risna Nur Rahayu. dia bicara panjang padaku. Dia sibuk dengan dunianya. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional. Priaku. Lagi-lagi. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku. Sampai suatu hari. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota.

anak-anak berandalan di tikungan sana. “Masak ndak ada pria yang bener toh. “Dik Sastro. nasi liwet. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Ratri. aku tak bisa membayangkan. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. sandal jepit. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. Ia membentak angkot. Semburat senja. kumis tipis. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak. Rambut sebahu agak ikal. lah mereka. Ia menyewa tukang ojek. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Jagung-jagung itu masih demikian segar. karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. Tapi saya tolak. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku. sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. Ndak mau ah. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. yang lainnya menenteng kardus. Bukan apa-apa. L’arc en ciel. meski aku baru . tukang becak. tiang-tiang lampu. menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. stasiun. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. bercelana jin sedikit pudar. Ia selalu mengatakan.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. Sudah berapa ribu motor. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. mancing-mancing nih. Suara yang berat dan tersendat. delman-delman. remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. berjenggot tipis. penjaga hotel. Ia sudah mengenalku sejak lama. Gadis yang manis. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Aku dengar suara Pak Surat. manis dan pahitnya masa terasa kental). anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. aku sudah menganggap dia sebagai adik. gerbang kota. Cukup mengatakan nama hotelnya. dan aku selalu ketawa mendengar itu. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Mbok?” tanyaku dengan harapan. Mbok Garwami mau curhat. yang diatur Pakdhe Jarwo. siapa mau toh. berkalung peluit butut. Di bawah merkuri. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. yang dia carter dari pinggiran kota. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. berkaos oblong. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. Ia masih setia menyajikan gudeg. menjelang matahari tenggelam. Aku menatap senja. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas. kereta-kereta usang. membawa gudeg dari rumahnya. ketika kubuka jendela kamar hotel. Sebab kami sama-sama semata wayang. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Sudah remaja dia rupanya. Aerosmith atau Bon Jovi. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. kepulan uap demikian hangat. semenjak aku masih menetek ibuku. “Lah. ia sudah paham. Berseragam oranye. Dik Sastro ini enggak percaya toh. diam-diam aku pandang secara lekat. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi.

surat itu diletakkan di atas. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. seperti guru-guru SD-ku. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Dari empat toko. bersanding di liang suami yang ia cintai. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. sebenarnya bukan itu saja. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. berada di depan. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. membaca tulisan tangannya. Meneteskan air mata. Meski sudah berumur 67 tahun. atau Danarto. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. Ia tak suka bertele-tele. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. Sepotong surat warna ungu. Ia seorang kutu buku sejak remaja. Ternyata. bertulis tangan. Semoga sukses. Sapardi Djoko Damono. ya seperti senja kali ini. Aku kaget membaca surat itu. 20 Juli 1985. tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. Tulisan itu tidak begitu panjang. ia masih suka membaca. Ya. Darinyalah aku belajar sastra. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. Aku simak bait-bait surat itu. Ia lahir di Purworejo.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. “Hati-hati di rantau. singkat padat dan berisi. Doa ibu selalu menyertaimu. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dan dia selalu berujar. Aku hafal betul tulisan itu. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. Di tumpukan baju teratas. Di dalam becak. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. . tulisannya ditulis oleh Ratri. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta. Jangan lupa. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. Kamar di lantai satu. sebuah harian yang baru didirikan. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. Jakarta Selatan. aku buka kembali surat itu. hanya enam baris. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Hati ini selalu begitu gemetar. pemilik hotel ini adalah paklikku. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. tapi tulisannya berbeda. Nugroho. Mas.” tulisnya. Pertama kali aku menerimanya. selepas hujan. Tapi. lagu itu terus yang ia mainkan. Suara muadzin baru saja selesai. Makanya. Kangen memang menunggu suratnya. aku rogoh kantong jaketku. Pejaten Timur. Ia begitu agung bagi hidupku. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku.turun dari kereta eksekutif. ia begitu dekat dengan keluargaku. Tulisan latin tempo dulu. seorang blogger cum wartawan.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Kamu harus banyak belajar. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. 01. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. “Cepatlah datang. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita.

kimia dan sejarah. tidak dipungkiri lagi. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. sih. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi.” Memang. Seperti biasa. langsung mandi. Kalau tidak tugas. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini…. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. ulangan harian. ya. habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. salat. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. Ya. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Apa susahnya. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. siapa suruh bentak-bentak. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. Heh. “Ibu tahu kamu capek. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. “Kamu itu sudah besar. “Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. . Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur.” Lebay. Bantu-bantu sedikitlah. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen. Ya. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. belum lagi seragamku yang masih melekat. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan. Di antara pandangan yang gelap. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. cuci piring?” Ya. Aku pun hanya mendesah. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa.

kamu malah santai-santai. ibu mau pergi. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. Memang. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. sulit juga memahami tulisan yang dibaca. Dan tentu saja. Aku teringat pada Ibu. Kita tidak boleh membentak. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. aku merasa suatu sensasi yang aneh. Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. ya. Ini uang sakumu. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. saatnya membaca ayat suci Alquran. Jantungku serasa berdegup lebih keras. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan.” Jleb. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. ah. Lagi-lagi harus jaga rumah. Ah. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. Aku memang ingin cepat pergi. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat. . Rafa. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15. dan menyapih kita dengan susah payah. Tanpa tidur siang. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. Oh iya. menyusui. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. “Alhamdulillah.tadinya begitu. Yah. Ibu tidak mau lagi mengurusimu. Kau pasti lupa membawanya. Ku buka surat itu perlahan. Nanti jaga rumah. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Selain tidak konsentrasi. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri. Aku hanya mendesah. tapi gengsi dong. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. Untuk Rafa. “Ada titipan dari ibu. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. “Ya Allah.” batinku. gelap. maafkan ibu karena terlalu keras padamu. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. aku tidak mahir Bahasa Inggris. Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. seperti saat ini.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini. Makanan di meja ku lewati begitu saja. “Kenapa mukamu seperti itu. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. “Rafa Afifah. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. selalu lari dari masalah. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. ada sepucuk surat terlampir di sana. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa.” kata Pak Wiji. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. dari pada di rumah sendiri. Inilah aku. “Ya. tapi mood menolongku menghilang. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat.” sahutku cemberut. Tapi ternyata tidak hanya itu. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. Kalau seperti ini terus. Terang saja. satpam sekolahku. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. Ibu kita telah mengandung. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. ampunilah dosa hambaMu ini. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya.” jelas mentor Sisan. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas.” Pura-pura tidak dengar. Sebenarnya lapar juga sih. “Au.

“Ada apa Paman?” tanyaku ragu. Jawa Tengah. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. Ibu juga minta maaf. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. Yap. ibu tidak bermaksud memarahimu. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. Ternyata Paman Dika. Meski Nysa sudah menenangkanku. Tidak mungkin! “Fa. “Bangun. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Tanpa benar-benar diperintah.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. Fa! Pak Jono sudah keluar. Tidur saja pekerjaanmu. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. nak. Ya Allah. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. teeettt… Bel pulang berbunyi. Tidak mungkin Ibu telah pergi. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. Hatiku benar-benar tidak keruan. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. “Bu. . Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. Bu. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda. tettt. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. tapi hatiku tetap tidak mau diam. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. aku mulai melihat ada yang janggal. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. Namun. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. kakiku melangkah lebih cepat. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. Fa. Aku tidak mau terlambat… Tett.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Aku benar-benar menyesal.00 WIB nanti. Ibu. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. “Ibu sudah memaafkanmu. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. “Kamu kenapa. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi. maafkan Rafa. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. mungkin saja mereka sudah pulang. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini.Tapi. Rafa benar-benar khilaf.

28 Agustus 2012 AKU dan Qazi . untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. setiap hari. bukan? Tenang saja. 1945. Ya. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya.istriku yang cantik . cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. Aku bisa menebalkannya kembali. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Cuma ini rahasia di antara kita. tak ada masalah. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. Sesaat. Nani. semuanya. namun baiklah kupendekkan saja. di Menteng.baru saja menikah. Belum lama juga kami tinggal di sini. Sertifikatnya ternyata aman. Begitu mudah aku memilikinya. di mana lagi? Di ibu kota. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. Begitu mudahnya… Aha. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. Ceritanya panjang. rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. jangan heran.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu. Esoknya. Tak seorang pun . engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. Sertifikat dipalsukan. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. sehingga jadi berganda. tentu saja. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Sebulan silam. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. Tapi tak mengapa. Tapi jangan kaget. Nomornya. tak jadi soal. Aku tidak menawar harganya lagi. semua akan kuceritakan kepadamu.

Aku bisa santai terus. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. awalnya. kendati begitu. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Keponakanku yang lucu.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut. Sebab. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. Setahun lalu.” kataku lantang. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. ketika orang-orang mulai ribut. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. dan seorang kepala departemen. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. Pesta pernikahanku dengan Qazi. syukurlah. boleh kau terka. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. Ketika orang mulai ribut-ribut. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Hanya koran-koran. dalam sidang kasus korupsi proyek itu. Seorang wartawan kecil yang usil. terdakwanya bekas bendahara Partai. Hanya kakak sulungku saja. posisiku masih aman tenteram. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. Bersembunyi diam-diam. Sehari sebelumnya. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. beberapa bulan lalu. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Tanggung kelihatannya di mata. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. kemudian suaraku tergagap lagi. televisi-televisi. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. secara sembarangan bertanya. Untunglah. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka.boleh tahu mengenai ini cerita. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. majalah-majalah. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku. Eh. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. yang – sssttt… .” Aku berhasil membuat publik kagum. Lalu. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. si bendahara. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. bintang iklan shampoo. mantan artis berambut panjang. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta.

. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. alamak. entah siapa namanya aku lupa. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku. Nyaris tanpa jeda. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. walaupun tinggal berdua. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. kondisi rumah seperti tidak diurus. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. saksi dari mempelai laki-laki. kemudian. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. Luasnya 363 meter persegi. Sebelum kubeli. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. Rumah yang modelnya bagus nian. Kalau di Negeri Jiran. dulu. Sebelum akad nikah. ibuku langsung jatuh pingsan. Mulanya. Setelah bulan madu keliling Eropa. kami sering tidak saling bicara di rumah. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit.ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri.” Lafazku tumben tidak gagap. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. Tapi hari baik itu tiba juga. Setiap sore. entah apa jadinya. Buat menutup isu penangkapanku. sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. menurut sebuah cerita. tunai. Berdiam-diaman saja. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. tepat di samping kiri. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. Dia – istriku Qazi – tahu. bahkan. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. khutbah pernikahan. akhirnya aku menikah. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. duduklah saksi dari mempelai perempuan.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Di seberangnya. Gara-gara apalagi. sampai hukum mati. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. Padahal. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. Berikutnya. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. kami pindah ke rumah ini. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. sedetik saja. Namun. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. Di sebelah meja lainnya. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1. Dia merajuk. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. Ah. yaitu Pak Amin. sedang lahannya 850 meter persegi. memang. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang.

menembakku dengan pertanyaan klise. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. Matahari memancar. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. Tapi acara belum dimulai. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. oleh Si Belanda pertama. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Kini. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. Semua pelakunya orang Partai. Di ruang tamu banyak perabot antik. Dengan anak kunci itu. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. kukira. karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. karena mengisap narkoba. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Kupikir. Bila mataku letih. . Kini.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. televisi. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung. Tentu saja. kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. Tak lama membaca. majalah. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. saya tertangkap polisi di Singapura. membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. Dalam sebuah bayangan yang tulus. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir.Para pengusut pun unjuk gigi. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Sementara itu. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan. Sebelumnya. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita. Lalu langsung menodongkan alat perekam. Enam bulan lalu. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. siang nanti. dari ruang tengah. Bergegas aku berjalan ke garasi. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala.

Kuisap asap sejarah Nagayoshi. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. Sepi. sebelum pergi. Sudah basi. Andai saja tak ada kendaraan lewat.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. merupakan perbuatan yang baik.” kataku. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan. sekarang juga. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Kurogoh saku. sepi pengunjung. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- . maka harus kuhentikan sendiri.. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin. “Saat ini. aku belajar terus supaya makin cerdas. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. narkoba. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. di kantor. kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin.“Pengampunan ini. Aku tak pernah henti-henti belajar.” Kuberi dia senyum kecil. setelah kukatakan kepada Nani. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. Masuk kantor Partai. Bogor.” Ya. Dingin menusuk tulang. biasa. aku berusaha serius. Tengah malam.” Terakhir. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. mungkin semuanya sudah basi. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK.. maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik. Kukunci pintu.

Ia selalu menginap di hotel. para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . Dan anak gadisnya tak menyangka itu. menempeleng sekali. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. Fikri pun menyusul.Gelagapan. menerobos rimbunan daun teh. yang semula menetap seatap. sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. Har jarang pulang ke rumah. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. hingga belum tahu harus menjawab apa. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. Har berang bukan main. Menoleh. ia tak banyak ulah. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. “Terserah apa mau kalian. Namun yang terbaik bagi Har. Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. menyuruhnya naik ke kamar atas. Ia memarahi bayi kesayangannya. Pasalnya. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. Har menatap jauh menembus kabut. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Namun seiring perjalanan waktu. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Ia tarik napas dalam-dalam. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. dijamin beres. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga. akibatnya ya. terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. Di depan Har. Alasannya. Har terhenyak dari lamunannya. Nunut saja apa kata ayahnya. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Akibatnya. Tinggal Har dan Novi. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. Har sudah mengaturnya. Sama-sama kepala batu. Sore tadi. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Pikirannya sedang gundah. anak bungsunya yang perempuan. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. Hanya berselang dua bulan. Mungkin karena waktu itu masih SMP. Yang Har tak sadari. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Terjatuh sekali di pintu gerbang. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. sikap si bungsu pun mulai berubah. pikiran pun mulai jernih. Jangan tanya soal pembantu. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. Kepalanya terasa agak ringan. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. hanya mengamini sikap kakaknya. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Akibatnya. Di mana. itu tadi. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Tidak perlu mencampuri.” demikian Har pada suatu ketika. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. Tetapi Har lupa. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. Di rumah besar milik Har. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”.mudi. Har tersentak. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan.

Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. Namun yang keluar dari mulutnya malahan. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. sekikuk dirinya. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. tentunya wanita ini belum profesional. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata.” Si Gadis tersenyum. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. Har merasa aneh.” gadis itu menyahut sambil tersenyum. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. tentu. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. Har diam. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu. Dalam hatinya ia menggerutu. .Namun bila menilik dari parasnya.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. Sesaat mobil bergerak perlahan.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Ke hamparan kebun-kebun teh. menunggangi kabut di puncak pegunungan. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. yang itu. nyetir sendiri. hitam manis. menembus kaca jendela. Apa pedulinya. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya..dipenuhi tumbuhan teh. Ya. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Kulitnya agak gelap. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. “Di sini dingin sekali ya Oom. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. Har masih terpaku. berpikir menentukan sikap. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. Sama seperti Har. Serasa ada ganjalan. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter.” ia tersenyum. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. “Kenapa tidak. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. “Boleh.. Om. katanya sih kembar. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. tentunya tengah dilanda gejolak batin. Formil dan serba tergesa-gesa. lalu biarkan waktu yang akan menentukan. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. “Oh…. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Har menoleh. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. Perempuan itu masih memandang keluar. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. “Saya ada vila di sekitar sini. “Om gak bawa sopir kan. Har tak menolak untuk dimangsa. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har.

Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. Biar dibilang gadis modern. Agak berantakan. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. Jelas.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah.” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. “Saya rapikan dulu kamarnya. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. Haryanto. Om. Terasa aneh juga bagi Har. kosong. Har memang tidak lupa. Nama kota. si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. mendidih dan menggelora. Sekarang malah ia yang mendahului. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota.“Oh ya.” Nama yang sederhana. di sela-sela mabuk dan kepuasannya. selebihnya berupa ribuan anggukan. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Imah sudah tak ada di sisinya. Tapi sebagai penjaga vila yang baik. Om. ia turun dari tempat tidur. “Saya Imah. Hanya sesekali Imah berkomentar. ah. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. Gan. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. kalau bukan demi uang. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. tapi sedikit melirik pada Imah. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya.” “Ha…ha…ha. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk. minum ini untuk menghangatkan badan. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Berapa biaya yang kamu butuhkan. tidak usah khawatir. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. misalnya. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Tadi dia kira itu Novi. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. Hanya butuh waktu lima menit. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. siapa namamu. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. “Saya sedang kesulitan uang. ada bercakan merah di atas kain sprei. kembali mencair. Imah inginnya menolak. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang . Ia memeriksa isi dompet. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini. Masih terasa pusing. atau…. terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. Dan malam itu. Har telah mabuk.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina. sesederhana dandanan dan sikapnya. Belum terjawab uneg-uneg Har. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali.” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman.” Har memperkenalkan diri.”Har tertawa terbahak-bahak. Sebagai penggantinya. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Langsung hilang pusing Har. Saya Har. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. habis Agan jarang menginap ke sini. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi. atau Melly. Atau Sherly.

Tapi di mana Imah. meminangnya untuk dia peristeri. begitu egoisnya aku. sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. Har meraba bercakan merah. perempuan desa yang lugu. Begitu nistanya aku.” Har merenung. Ia ingat. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta. “Astaga. 2012 .”Ada sesal yang menggayut di pundak Har. “Imah. ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. Tapi apa mau dikata.tak beringsut dari tempatnya. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. perempuan itu telah terbang jauh.Ia tersentak. dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. perempuan itu masih perawan. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. Hanya tiga ratus ribu. menemui orangtuanya. Ingin sekali Har menyusul Imah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful