Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling. Kesabaran menghadapi hidup. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. Maling lagi. Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. Toh. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami. kami tinggal mengambil di hutan. dengan segala macam jenisnya. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. Semahal harga nyawa ini. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. udara kami. Lik Sum putar otak. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata. tidak cukup untuk membayar SPP. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. alam itu yang menyimpan harta kami. Selain itu. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. itu tak jadi soal. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. yang kami punya hanyalah kesabaran. termasuk menghadapi para maling. Kami mengambil jika perlu saja. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya. tidak toleransi nunggak SPP. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini. tak punya ilmu. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. “Walau harga sekolah semakin mahal. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. Biarlah. Warga kami pun hampir keadaannya sama. Ya. Dibiarkan malah nglunjak. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. oh kasihan para maling ini. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. . Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. kami tak perlu menebang pohon. namun kami kurang percaya dengan keamanannya.

Yang menikmati pembangunan negari ini. Ah. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. berpikir ala teori sosial.. Moto ra melek. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana.***** Dasar maling moto merem. Namun kami tak mau jadi maling. Istilahnya maling teriak maling. Iri hanya mematikan hati. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. seharusnya kamilah yang menjadi maling. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. tak mungkin di sini. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. Seharusnya kami iri pada mereka. Toh harta tidak di bawa mati. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini. Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. Untuk apa mencuri di desa yang tremis.

tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Tak terjawab. janganlah mengukur diri melalui cermin. menanti waktu besuk tiba. Kau bilang. kiri menjadi kanan. Namun. bahwa aku orang yang baik. Semuanya buyar. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan. namun aku datang bukan untuk membawanya. itulah yang terbaik. aku tak mengerti. jangan berguru pada masa lalu. Sesuatu yang kau yakini indah. Bukan juga seperti angin. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. baik menjadi buruk. Sungguh. Ah. kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. suaramu. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. bukan. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung. Biola jendela hatimu. Semuanya serba terbalik. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. bertembok putih. Tataplah masa depan. Gelap. setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. biarlah semua menjadi kenangan.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. membuat bungabunga menjadi layu. Senja yang menguning. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. Langit pun seperti terbelah. Katamu. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. Kau pun bilang. Seperti sama padahal tak sama. dengan bangunan bertingkat dua. Sebenarnya aku ingin bertanya. Itulah dirimu. Namun pastinya. Lihatlah dirimu melalui hatimu. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Tolol. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. Tiang-tiang kayu berderet. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit. menganga sebuah jendela terbuka. Kau pernah bilang. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. Di setiap kamarnya. 27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. Aku pun suka keindahan. Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. Kamar yang bernama ruangan melati. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. tak mungkin . Kanan menjadi kiri. Biola itu punyaku. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. dan pintu hitam pekat. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama.

hanya meninggalkan angin yang liar. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. "Ya. Keindahan yang keluar dari hatiku." jawabku. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. senyuman itulah yang paling indah. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Hidup bukan ramalan. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. . Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. meski tampak seperti barak pengungsian. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. tak tahu harus bicara apa. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk. Bibirku bergetar. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. Aku tidak bisa berkata. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. Apakah perasaan ini tulus dari hati. namun tetap menelusuri kemana arahnya. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. Menyimpanmu di hatiku. lalu kau mengukir namamu di situ. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Namun angin itulah yang membawaku melayang. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. Ketika reda di sore hari. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik. Menurutku. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. seperti ada yang mengganjal. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. Tentu dengan biaya tak sedikit. supaya tak pernah menembus jantung. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. meski aku berharap kau pun merasakannya. dan berhenti pada stasiun terakhir. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. tempat ini tarasa berubah menjadi indah.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. “Hidup ini penuh misteri. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Diagnosanya mengatakan. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning." Aku hanya tersenyum. Dan setiap hari itu pula. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. Lantas kau pun tersenyum. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. Namun. kau bisa membuatku berpikir. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. Semua orang takkan bisa hidup kekal. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu.

Aku bengong. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti. di tempat yang paling indah. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. sekadar pengantar mimpi indahmu. 17 Agustus 1990. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. aku mengecup keningmu. Bandung. Radar Surabaya. Surga. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. Buletin Obras. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. “Kau jangan berkata seperti itu. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.” sambil membalas tatapanku. lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. Lalu kau menjawab. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu. Ketika kau benar-benar terlelap. Jurnal Sastra Sasaka. LPM Suaka. masih banyak yang harus kau kerjakan. Yang aku tahu sekarang. ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. meski waktu itu kau sedang tertidur. “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah. Sumedang 45321.H. RT 01 RW 05 Sumedang Utara. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. “Aku hanya ingin bilang. memberikan sesuatu yang terbaik padamu. menemanimu setiap waktu. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. Tubuhku remuk. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini. Mungkin disitu kau sedang menghayal. 2011). aku tak tahu. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. . Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu. menggambar bunga layu menjadi mekar. lalu kau melanjutkan. tataplah masa depan. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. atau menanyakan kondisi kesehatanmu. 2011 Oleh T.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. Alamat: Talun kidul No 45. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. “Biarlah hidupku berakhir.

Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Sekali lagi kukatakan. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Lungkrah. Aku muak. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. aku yang salah.cerpen Kasur Sabtu.. Yah. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas. Tenanglah teman. Memang belakangan ini. Yah. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. Aku selalu saja lupa dengan itu. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. . Tapi.. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku.. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik..

Hampir habis. yang aku tahu. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Makan malam bersama. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. Entah. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian. Imajinasiku melayang. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. itu aku. Satu yang masih aku minta. . omong kosong untuk kembali memeluknya.” Diam. masih senang dirayu. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku. Ah. Kamu tentu tidak tahu. Kubuka dengan paksa kamar Endo.. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. dia mengejarku atau tidak. ya tidur dengan Tian. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku. apa lagi yang kurang? Aku cantik. memeluk erat tubuhnya. Aku yang putuskan. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Sampai akhirnya.. tersenyum aku padanya. Sama. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. Tapi bukan itu.” aku tertawa. Kamu tidak pernah tahu. Asap rokok masih mengepul tebal. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam. menarik. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Sejak saat itulah. Malamnya. itu kukatakan padanya. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Kuhisap lagi batang rokokku. pergi nonton. Bedanya. tertawa. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. tanpa ragu sedikit pun. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. bercanda.. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. bekas pacarku. Kamu tentu tahu sendiri. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku.. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. aku masih benar senang dengannya. ingin tetap bersamanya. Aku ingat. Bisa sampai lima. Aku hanya bisa diam saat itu. Sebenarnya. Diam bukan berarti tidak bergerak. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Tentu. Aku kembali ingat. menari-nari di sekeliling kepalaku. Hal yang kulakukan bersamanya biasa. menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. dibuatnya aku terbang ke surga. Kasur terdiam.. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. setiap malam harus tidur dengannya. kenapa sekarang kamu beralih. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Aku terbatuk. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. Aku masih senang dicumbu. kemudian kabur. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. aku menemukan dia. pacarmu dulu!” “Hahaha. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. “Lalu kenapa. ah masih perih rasanya. Menumpuk lekat di atas dada wanita. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Di atas kasur ini. dan tentu tidur. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. seperti pasangan pada umumnya.Asalkan kamu mengerti. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Padahal. menciumi lehernya. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. Meski masih banyak retak di sana-sini. Kuceritakan kembali padamu kasur. bahkan sepuluh. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. langit roboh saat itu juga. dia mengangguk mantap. aku pun sama denganmu kasur.

tapi dia diam dan setelahnya. Aku yang sekarang. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. Tanpa rasa yang awet. bermain hingga klimaks. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. buat muntah. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Dia tahu dengan jelas semuanya. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah.” ucapku tegas. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. kemudian hilang begitu saja. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. “Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. mencekik urat leher Sama rasanya.Aku ingat. Kasur semakin terdiam. “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. bersembunyi. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku. Aku yang sekarang.

cabe. Orang-orang belingsatan. "Mati?" "Mati bu.Cerpen Kematian Mat Boni Kamis. Perempuan itu diam. sayuran. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. Mukanya terbenam di genangan air. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal. tiang. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. bersembunyi di balik meja. suasana pun menjadi ricuh: berpencar.! Dor. "Mati. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. tanah pun menjadi becek. dinding sampai punggung orang di depannya. Air menggenang. Aku mencoba untuk mengenali. .!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. "Saya duduk saja. Pistol masih di tangan kanannya. Tangannya yang dipundakku. beras. dan lainnya menjadi satu di tanah." katanya. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. dari balik keranjang. Bau apek menyengat hidung." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. Aku beranikan mengintip.. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. Tubuhnya kurus kerempeng." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. Matanya mendelik dan berwajah beringas. beberapa dinding kios roboh dijejal massa." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. gula. Hening. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. Padahal hujan baru saja turun. sandalnya pun lepas. Bajunya lusuh. Ada orang tertembak. ia turunkan. Udara bergerak lindap. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. Dagangan berhamburan. meja. ada orang mati di depan. "Aku takut. "Ada apa. pagar.. tercecer ke mana-mana. Perempuan tua itu tetap ngeyel." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. tumpah daging. Sementara air got sudah meluap dari tadi. takut nyasar. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata.

Pasar Tua ini sudah sepi.” Wati menjawab ketus. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. Ketika tahu siapa yang berbuat. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. Codet sudah naksir. Setelah membuka helmnya. Ia berjalan agak menjauh. Ternyata si Codet. Ia melihat pinggul yang menonjol. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan. ia menyambar Wati dari belakang.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Terakhir. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. terbenam oleh malam di kaki bukit. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya. “Iye bang. kalau dirasa cukup penjualan hari itu. ya dia akan pulang. Di ujung pasar. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. Tak jauh dari tempat kios Wati. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got. dan suka melecehkan perempuan.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Tak segan. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. Mata semuanya menyorot padanya.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. pasti sesudahnya. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. Wati merintih. “Abang anter aja yuk. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri. sambil turun dari sepeda motornya. "Lu belagu sih. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. Wati teriak minta tolong. Codet terkenal menjahili istri orang. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. Ternyata urusan cinta. “Bajingan kau. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Ia menangis tersedu. namun ia tak ingin menyetopnya. Codet pun mudah ditaklukkan. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. Wati mulai gelisah. pemeras. Udara malam yang dingin mendesir. angkot ke rumahmu sudah jarang. Codet melempar senyum. Codet menamparnya. “Diam kau. Beberapa kali menggoda Wati. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. Tanpa aba-aba. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. Ada niat mesum di otak Codet. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. istri Mat Boni." cerocos petugas yang mabuk itu. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. Sudah satu jam duduk termenung. Beberapa toko mulai tutup. Suamiku akan membunuhmu.” “Kagak usah bang…makasih. Hanya kali itu. Codet dengan ganas menerjangnya. istri orang pun dia goda juga. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan.” Codet menawarkan diri. Ia mabuk sepertinya. Dari arah kiri. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Memang dari awal bertemu. Ia terus memukuli tubuh Codet. mau kau apakan aku. Codet merobek pakaian atasnya. Wati bisa pulang naik angkot. Sayang. Suasana tampak muram.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. Ia jarang pulang sebelum magrib. Wati masih berontak. . Sudah pukul 8 malam. sayang ia keduluan sama Mat Boni. Semua pedagang di Pasar Tua. “Kagak usah bang.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. untuk menunggu angkot. ia ingin sekali menjemputnya. Lepaskan!” bentaknya. Mat Boni adalah pedagang keliling. sepekan lalu. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri. sampai ketika pakaiannya tersingkap.

Mat Boni tahu kelakuan si Codet. Nugroho. hari inilah mereka duel.. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. Dan kali ini. Lahir di Purworejo.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. Codet pun melemparkan pistolnya.diem. Sayang. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. Dan ya. Ia meradang. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni. Aku toleh pelangi itu. Dan penembakan ini. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa. Barangkali. Di daerah Tua ini.. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Kini ia tinggal di Jalan Damai III. “Mak. Ntar dia ke sini. Jakarta Selatan. bagus ya. Barangkali. Codet berdiri dan merapikan diri. seperti kisah-kisah masa kecilku itu. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi. Wati?” ajak Codet. meski hanya untuk menakut-nakuti.. “Mari kuantar kau pulang. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Wati hanya terdiam. Ia melengkung indah di atas pasar. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu.. . Kalibata. mak. “Hus. ini balas dendam Boni. 09.Malam hening. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu.” seorang laki-laki menegurnya. Ia menutupi diri dengan seadanya. Beberapa burung pun melintas di depannya. jangan keras-keras. Pasar pun kembali berisik. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah.37 Andi S. 19 Juli 2010.huss. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba. setelah ada tembakan peringatan. dan kemudian memeras pedagang. seorang blogger cum wartawan.ada pelangi tuh. 20 Juli 1985. Jasad Boni pun diangkut ambulans.” seru beberapa orang di sekitarku. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Beberapa hari setelah itu. “Itu pelangi untuk Boni. Pejaten Timur. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. baru pertama untuk Boni.

yang penting belikan Puteri hape layar sentuh. yang Rp150 ribu. Ah. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. yang penting bisa telpon dan es-emes. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja.Cerpen Layar Sentuh Kamis. chatting. Nak.” “Iya. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari. Bagaimana menerangkan istilah- . Tanpa perlu repot memencet sekian tombol. setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. Sama saja kan.” Puteri hanya bisa mendesah. Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan. Ibu tidak punya uang sebanyak itu. hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. tunyuk artinya menekan dengan jemari.” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya.” “Touch screen Bu. dan menjelajah dunia maya. “Put. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan. aku ingin mengenggam warna-warni dunia.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan. Jaman sudah berubah. Sebenarnya tak salah juga. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. Sayang. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial.

Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. mendengarkan radio. makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. cowok. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. hingga hari-hari menjadi asyik. maupun Matematika. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. Ah. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. bahkan menonton televisi. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. Ah. kendaraan. Hanya dengan sentuhan jemari. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. hingga diperlukan buku-buku. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. Kimia. Mulai dari gaya penampilan. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. Puteri tak punya cukup uang . Maka tertanamlah perangkat bluetooth. Tentu. The Extra-Terrestrial. kamus. Serumit apapun rumus itu. ia memang terlalu banyak menuntut. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. andai saja ayahnya masih ada. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. Karena itu. ensiklopedia. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. laptop. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. telepon genggam. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. Tanpa kerja keras ibu. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. tempat nongkrong.

“Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. Apakah maksud kata. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. Kalau kamu mau ikut Tante. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri. Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. Harga dirinya merasa terlecehkan.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. “Jika mau menerima sentuhan.” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? . tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. Mulai dari pelayan café. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. Tapi. eh bersalah. tetangganya. Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. “Tante tidak memaksa. Sekarang. engkau bisa membeli hape layar sentuh. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. tukang pijat. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. penyanyi dangdut keliling. jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya. hingga kupu-kupu malam. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap. Sambil mendengarkan musik. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad. “Jangankan hape layar sentuh. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri.

sahabatnya. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. Puteri menceritakan semua yang terjadi. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap. dipegangnya gagang pintu. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. Sekarang pulanglah. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama.Memaksa ibunya jelas tak mungkin. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. orangtua Shinta. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi.” Sekarang.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak.” “Baik Om. tapi Om Anton juga harus berjanji. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Om benar-benar menyesal. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. dengan berbagai lobi. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton. “Tunggulah di kamar ini. Tak terasa. Di lobi hotel. Puteri merasa begitu takut. Bahkan.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya. Untung semuanya belum terjadi. Dengan tangan gemetar. Maka sore tadi. Bukankah. Entah bisikan setan darimana. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. Dengan lembut dibelainya rambut Puteri.” “Tanpa Puteri minta pun. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Klik. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. Om Anton . Awas jangan macam-macam.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. “Maafkan Om Anton ya. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. Tanpa perlu berkata-kata. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Jika ada seseorang yang datang. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya. Mereka begitu akrab. ini Om Anton. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. Puteri sangat terkejut.

bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Ah. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing. Sementara di beranda rumah. ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. DEMI HP LAYAR SENTUH. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. Email: setiakata@yahoo. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. 15 Oktober 1975. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. 01 September 2011 SETIYO BARDONO. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. 2007).com . Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. 2012). Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. Sementara Tante Rini raib entah kemana. 2012). Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal. mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini. Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton.

31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. air mataku pun luruh mendengarnya. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta. hidung bangirku. dan entah mengapa. dan aku tidak menikmatinya. . seharusnya darah itu cepat ku lap. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. "Kenapa belum hamil juga. sepertinya tidak hadir lagi malam. aku sangat canggung. Namaku Lastri. Awal pertemuan dengan mertuaku. "Aku tidak tega melihatmu merintih. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan.”batinku dalam hati. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. nanti kita program bayi tabung ya. "Dia itu bunga desa di sini.malam pergumulan kami yang sebenarnya. “Ini semua memang salahku. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. aku juga trauma melihat darah. bibir merahku. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya." jawabku sambil sedikit tergagap. Sejak malam pertama itu. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. Hampir setiap bulan. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. Kami pun menikah di desaku. juga tampan dari Jakarta. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. begitulah penjelasan suamiku. akhirnya aku pun berani untuk jujur. Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin. "Belum Bu.”sesalku dalam hati. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. kecuali mereka yang memulai. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. Selang dua hari setelah pernikahan kami. Aku bertemu Johan. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota." jelas suamiku. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. Jawa Timur. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. sukses. Ya. "Tenang Lastri. di pihak lain. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah. Dengan dipaksa jujur olehnya. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. lelaki yang menjadi suamiku. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. Aku segan. itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. "Apa kamu sudah hamil.

Ryan. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. "Maafkan aku Lastri. "Ya gapapa. Ya. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. Roy. suamiku telah selesai mandi. aku dalam keadaan frustasi berat. pasti orang tuaku sangat malu. kali ini dia membawa dua teman pria. Sampai bertemu dengan mu. Genap 36 minggu. untuk menghilangkan stres. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku. "Pas seperti yang kuharapkan. lelaki tampan peranakan Jerman. sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. bisanya nyusahin saja. kakiku menjadi lemas . Johan pun seperti merasa bersalah. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. apa mungkin dia salah kirim. Kesibukanku mengurus Jonathan. selain muak. mereka masih terlelap. Aku yang lulusan sekolah dasar. Dulu saat aku ke Malang. Keesokan harinya saat suamiku mandi. Saat aku masih berpikir. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. setelah Roy dan Robby pulang." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. "Oh. putra pertama kami. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. Sehingga sepulang dari rumah sakit. Tapi keesokan harinya. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. jika tidak ke luar kota. Mendadak aku seperti kehilangan oksigen. “Aku sudah tahu semuanya mas.” “Tapi aku tidak mau. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. aku seperti mendapat jalan keluar. aku ingat Roy. karena jika nanti penyakitku ketahuan. "Dasar perempuan kampung. aku sakit Lastri. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. Air mata pun tak terbendung lagi. Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. "Aku kangen sekali sama kamu. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. aku melihat semuanya semalam. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. Johan sangat senang. hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. aku memang lain. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. karena aku sibuk mengurus Jonathan. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. ternyata dari Roy. Ini adalah hari ketujuh. melainkan ke rumah baru kami. asal mas senang."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. Sejak tinggal di rumah pribadi.” . Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. Walau sudah ku duga. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. dan ketika kulihat nama pengirimnya." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. Mendengar perkataanku. kepalaku pusing. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian. melainkan ada Toni. "Ternyata benar perkiraanku. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. aku tak sampai hati. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu. sungguh terkejut aku. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. dan lainnya. “Rupanya mereka kegerahan. Suatu malam. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. lalu kami nonton BF (blue film) saja. Esok paginya. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu. Arwahku telah dipanggil oleh-Nya. Perasaanku sedikit menenang. Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. 26012011. Semua tak sesuai bayanganku. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. aku agak sedikit heran. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”. Ruang Khayal. 20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah. “Apa iya aku mati?”. 14. Namun. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. “Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. Ternyata “aku mati”. . aku masih bisa bergerak berjalan. Ah. terasa sedang mengendarai sebuah kereta. Menyengat hidungku yang tersumbat.“Deg!”. membawa dosa tak terhitung. namun keranda mayat. Yang kutumpangi bukan kereta biasa. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. aku datang untuk kembali pada-Mu. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. Tuhan. ternyata tidak.

Tapi nyatanya. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati. aku rasa semua yang ada padanya. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya. di lain waktu jadi manusia introvert.. “Woi. Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka.ngajor ya!!” ledekku. bintang kampus. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya.. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore.. Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. Kadang aku merasa bodoh.. Dan aku sudah mengenalnya sejak lama. telaga bagi segala keresahan. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut .. bahkan jika aku harus jumawa. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan.. Pendiam.. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak.Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu. “Grecee. ada yang berbeda dari polah laku Raka. Raka. Tatapnya.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari.. “ Iya. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya. Namun sama seperti impiannya. Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu.” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. Raka memang bukan laki-laki-. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana.... Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja... Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku. “I am sorry Friend. siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember. “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran. bahkan mungkin terlalu lama. namun memancarkan kharisma. Sosok sederhana namun memesona. keluhannya. ..” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. tenang. Dia sosok yang selalu ada. Aku semakin kehilangan cara. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. ya itu lah Raka. keangkuhan. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian... “Aku kangen Mamaku. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang. populer.. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong. itulah Raka. Matanya nanar menatap jauh kosong.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati. bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana.. senyumnya. Yah. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya.. “ Kenapa Boy. “Namaku Raka Primastya Restu. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit. mungkin. Ah. ya aku hanya mengira. Raka Primastya Restu.. meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya.aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria.. itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya.” aku coba bersimpati akan dukanya. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu. aku puja.

. Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya. Email : riskon. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. “Mau Jadi Dokter”..?” Ada yang menjawab. Yah. Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi. Semakin jauh lelah itu pergi. Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi.. Nak…. Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya. “Mau Jadi Guru”. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh.. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. entah apa maksudnya. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang). “Mau Jadi Pilot”. Meski tidak seharusnya begitu.pulungan@mail. . kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda.. Surat Terakhir Raka …. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam.. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA. Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini.bni. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah. Grecee. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit..Ya. Oleh Riskon Pulungan.co. “Mau jadi apa kalau besar nanti.. S. aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali.Angan merapat pada jelajah kupu-kupu.id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya..

sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. generasi bangsa yang malang. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. mulai dari anak-anak. Apalagi membawahnya ke orang pinter. apa ia tidak memiliki semangat. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. Kehidupan di sini begitu keras. Bahkan. lirih. Diam-diam. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya. atau hanya malas saja untuk menjawabnya. “Persoalan anaku. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. Namun tidaklah demikian dengan Upik. *** Hari berganti hari. Aku sendiri juga sering termenung. Kata orang daerah ini terkenal rawan. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. pakaiannya kumal. mengamen dengan berbagai alat musik. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. Yang paling menyesakan dada. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. Seorang anak perempuan. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. dengan dalih kemiskinan. hilang. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. semua berjalan apa adanya. sementara Istriku lebih sering melamun. Dari Cigombong. Akupun mulai gundah gulana. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. minggu berganti minggu. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut. lenyap begitu saja. Padahal. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. yang belum memiliki dosa. semuanya memang serba dilematis. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia. anak-anak lugu dan lucu. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. tanpa sebab yang jelas. Setelah berbagai upaya dilakukan. sering pula terjadi kekerasan. istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. pagi yang cerah. untuk bisa meraih impiannya. dukun. Macam-macam aktifitas mereka.” itu alasanku. sembari menenteng .Macam-macam jawabannya. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. seolah ada yang aneh. perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. entah apa yang dipikirkannya. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. kejahatan di sekitar sini. ada yang menjajakan berbagai dagangan. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. klenik atau sejenisnya. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya.

tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. Dalam puisinya.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. benar-benar menyentuh. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya. Kelurahan Kalisari. Sehingga semuanya menjadi begitu lambat.co. entah apa yang ada dalam senyumanya. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan. hawa panas mulai mengusik. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. mengharukan. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. tidak sepantasnya dijalanan. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. masratman22@yahoo. Jakarta Timur 13790. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. bungkam. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. Puisi itu berjudul CitaCitaku. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. :( . tanpa berkedip. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32. RT 004/RW. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa. hal itu terjadi begitu saja.02. dan teman-teman sebayanya. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. semuanya terjawab sudah. gemah ripah loh jinawi ini. yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. sembari tersenyum. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. generasi yang malang seperti anaku. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. Kecamatan Pasar Rebo. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. entah apa yang ada dalam pikirannya. tak terasa seolah membuka mata hatiku. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu.

So far. SMS dari Pak Anton rupanya. Nanti malah dilarang lagi. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. bahagia menyelimuti perasaan kami. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. kami pun memutuskan menikah. saat baru sampai di rumah. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh. saya mau ambil pesanan saya. terus dijodohin sama orang yang tak aku suka.kurang lebih 45 menit. "Hush. ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia. ditunggu kedatangannya ya pak. Tak lama. dia mau bercerai dari istrinya. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan. tapi dia ada rasa kali sama kamu. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. “Selamat sore. Pernikahan pun berlangsung. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. “Saya senang bisa ketemu kamu. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya.” itu isi SMS-nya. Kami pun larut dalam percakapan. ada urusan lagi.” genit hatiku berkata. Lebih tepatnya lebih baik. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak . hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. dan sudah punya dua anak. Semua berjalan lancar. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. "Iya tuh." candanya. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. Sekarang mau ambil tiket sendiri. Sepulang dari kantor. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari.. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku. Ya pesen tiketlah. namanya juga customer. "Yah.Cerpen Aku yang Kedua Kamis. Setelah seminggu menikah. jelasnya. terus nanti di-cancel-lah. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. akhirnya bisa dipenuhi. terima kasih”. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku. Oke pak. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh. memang ada-ada saja pelanggan satu ini. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. "Benar pak. ponselku bergetar. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama. sadarku mengentikan lamunan.” sanggahku dalam hati. kita kan belum pernah ketemu.. Selang setahun berhubungan. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. sekalian lewat katanya. teman sekantorku. "Iya. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun.ngawur!" balasku. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. baik pak. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. "Itu Nit. pasti aku cek. “Iya lah. yang hanya ingin aku yang melayaninya. Menurutku dia memang pria yang kucari. Dari situ. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. Ah biarlah. benarbenar jauh dari perkiraanku. Kan sebelum kenal aku. memang sudah dalam proses bercerai. hihihi. Ya. hihihi. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. "Huufft.” desah hatiku dalam hatI. banyak maunya. kilahku. karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. harapku. "Cek dulu.

Hampir setiap malam. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. mereka duduk di ruang tamu. dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. kami sangat bahagia sekali. adik ayahnya yang sudah meninggal. bahkan seperti kembar. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. aku sudah membunuhnya. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. kehamilanku tidak 'rewel'. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. Ya. mimpi buruk pun dimulai. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. hampir setiap malam aku menangis. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. mencari suamiku yang juga suaminya. yang bilang bahwa jilbabku palsu. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. aku sendirian menjaga Alan. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. terutama jika Alan sedang sakit. semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. karena utang-utangnya yang banyak. Ya sudahlah. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. "Asal kamu tahu Nita. Tak lama pun air mataku mengalir. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. lalu kubuka. Semua terasa sangat berat. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. Jadi ini maksud “catatan” itu. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. Sekarang Alan sudah 3. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. karena harus mengurus Alan. aku pun memutuskan untuk punya anak. aku pun hamil. hanya aku yang merantau ke Jakarta.5 tahun. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. batinku. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. namun Mas Anton. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. "Siapa ya?" tegurku. Alhamdulillah. istri pertama Anton. dia masih saja berulah dengan menikahimu. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. Karena alasan kesepian itu. aku tak pernah melihatnya. Tapi selama sebulan aku di sini. kami mengurus Alan. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. saya jadi tak tega mengusirmu. Bayiku masih tertidur pulas. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. . Tapi lihat. ya itu nama putra pertama kami. Sementara aku masih terdiam. semua masih berjalan baik. karena aku sebatang kara. Setelah kejadian itu. Mana si Anton?" ketusnya pedas." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. Minggu siang tepatnya. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. dan ketika Alan sudah tidur. Kesepian sangat melandaku. Dia pun bilang. semua harus ku jalani. Pada akhir cuti Mas Anton. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. Untung saja ada bayi mungilmu itu. keluarga besar ku di Palembang semua.terganggu. Mungkin kalau tidak ada Alan. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul." pikirku dangkal. Di depan rumahku. Petir terasa menyambar diriku. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. Waktu tak berselang lama. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. Sepulang dari rumah sakit. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. Dia tidak bisa menceraikan saya. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. Juga untuk menghindari cibiran tetangga.

kaget. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku. mendengar semua ucapan Pak Surya. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. "Iya om tau. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. dia pun mulai bicara. Terima kasih ya Allah. benel kan bu kata Alan.co. Beribu maaf jika lancang. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III. Rt 01/03. Ciputat 15412. Syok tepatnya. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. Menanggapi tawaran tersebut. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. "Iya. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku. Gg H Abdul Karim 2. "Iya. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. Pondok Ranji. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong." Aku hanya terdiam. "Alan. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. "Ibu kenapa? Kok bengong. namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru.Di suatu sore.com : the_a_young@yahoo. Keesokan malamnya. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. Email widi. Oleh Damatriyani. nih liat pelutku buncit. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah." oceh anakku menimpalinya. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. aku sudah makan banyak. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. "Begini ya Dek Nita. S. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. Mohon Dek Nita memikirkannya. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita.id . spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. saat menemani Alan bermain. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. aku sakit pilek. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga. dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya.agustian@yahoo. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan.

Di setiap malamku. kapan aku menikah???. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status.. Tak berhenti sampai di situ. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku.. ***** “Tuhan…. mungkin bukanlah dia pangeran itu. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit. hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar. Meski aku tak berpacaran.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku.. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku. Inilah aku. “Inikah jodohku ya Allah. Kesedihan pun menerpaku.” celotehku disetiap rintihan doa salatku. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?. “Ya Allah. dan galau. .” ucapku lirih saat bertemu dengannya. “Stop! Jangan bersedih nak…. gelisah. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun.CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. Namun. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami. Bagiku. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta. namun sedikit merasa risau. Pertemuan tak berhenti sampai di situ. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah.” pintaku di setiap doa dalam salatku. itu cinta pertama dan terakhirku. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. kini di semester akhirku. namun beberapa bulan berikutnya. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku.. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku. ini perjalananmu yang pertama. Hati ini lega. 04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang.

com Blog: Roudhotulilmi. dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. pengamen memang cocok untukku.com Cerpen Penyamun Kamis. disamping aku masih mencintainya. Anak kecil berumur 10 tahun. “Ya Allah.andriyani@yahoo. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. Tatapannya melirik tajam. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan. Bak denyar halilintar. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan. Bersurukan laiknya seorang pengintai. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. . sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. Apalagi berpalis muka. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini…. Sungguh hati semakin gelisah. Anehnya disetiap tidur akhir malamku. bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Ia bukan seorang mata-mata. Seperti mengungkapkan amarah. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Menyorot merah padam. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya. Tak pernah terpejam. Begitu nyalang. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku.blogspot. aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Malam itu.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Tak lengah sepicing pun. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Bukan hal aneh bagiku.” tangisku di depannya. agama.

Kalau mau ngamenmu laku. melainkan hari ini bukan hari libur. kalau ingin tetap mengamen di sini. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. ia datang menghampiriku. pekerjaannya tak lain seorang pemalak. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. Hingga menggeledahi kantong celanaku. Tapi sialnya. Berotot besar tapi nyali secuil. Memalak uang mereka. mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu. “Beneran Bang. “Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya. sekembalinya . kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. pakai alat musik lain seperti gitar. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Semacam tukar beli. Bila mendapat banyak uang pun. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. Memang. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. Sebenarnya. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. “Ini daerah kekuasaanku.” jawabku. bukan oleh pembeli. Jalanan tampak sepi. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. Pastinya uangku akan dirampas. selalu dirampas olehnya dengan dalih. Selalu kalah.” Padahal. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. bila warung itu dimusnahkan. Bukan hanya itu saja yang dipintanya. Memiliki tanda gores di wajah. maka para preman akan melakukan perlawanan. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Terik matahari meyorot panas. Alasannya sederhana. seorang preman menyambi penjudi. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah. Hari ini langit cerah. Hingga titik darah penghabisan. ia tak pernah ikut mengamen. Di depan warung nasi milik Bi Inah. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas. Bila di pikir-pikir. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. Perawakannya pendek. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. Bukan hanya para preman saja. Ya. Sepasang mata itu milik Bang Jali. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. Bila uang taruhannya habis. hingga sekarang.Sedang ia. selain berjudi. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang.. hasil kerja payahku itu.” Namun nyatanya. Luka rebak itu hasil sabetan parang. Bukan karena aku malas. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. Menyunggingkan senyum kecut. jangan pakai kecrek. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. Di bawah warung itu mengalir air selokan. hanya berani pada anak kecil. “Heh Udin. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. hari ini sepi. Padahal ia bukan tentara. pertanyaan yang memuakkan. Katanya merusak suasana kota. Ah. Menerpa pada mata setiap orang. Begitulah pekerjaannya. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. mereka selalu memesan makan di situ. Dan entah berapa lama ia menatapku. Terpapar renyuk. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. Mungkin sejam lebih. ia duduk bertinggung menatapku. Aku hanya diam tertunduk. Tiap hari rokoknya ludes. aku dan pengamen lain. Di jalan.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

hari ini. Dan sekarang. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. tanyanya manja. hidup itu seperti komidi putar. kadang kita berada di posisi bawah. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. sambil tertawa kecil. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini. Di hadapanku sebelah kanan. sambil sesekali memandangnya. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku.” batinku. Sambil menyetir. Ya. tengah. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. saya suka dengan wajah Bune yang alami. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds.” jawabnya dengan logat Jawa kental. Ternyata Tuhan seakan menguji kita. Itulah aku dan istriku. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya. Di kaca depan sebelah atas. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. Kudus tepatnya. lha wong udah tua gini kok neka-neko. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at.mengembalikannya lagi ke hitam lagi. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. merekapun menjadi sewenang-wenang. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. Nyatanya. sesuai tren zamannya…. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar. maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. Mobil berhenti karena lampu merah. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu. seakan prihatin. Kedung Banteng. Di dalam Kijang Inova.” Pada hari itu. ketika mayoritas berkuasa. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. sambil menggelengkan kepala. Itulah sunnatullah. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. “Walah Pakne.” kataku kepada istriku. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. hukum alam. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. Rasakan Hasilnya!”. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. ”Sudah jam setengah tujuh. akan Kami putar (nasib) manusia. Hari ini Senin. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. Jawab istriku. yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. diskriminatif dan menindas minoritas. “ Iya ya Bune…. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. 16 Juli 2018. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Selalu berputar. dan terkadang di puncak. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. lotion penghitam wajah”. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama.” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci. Memang. “Cantik itu relatif. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . Inilah janji Tuhan. “Dunia sudah terbalik.” gumamku. Istriku. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu. “Iya Bune. tanggal/bulan/tahun. tambahnya menggoda. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. bangga. membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan.

pelatih dari benua biru. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. ada yang dapat membuat mimpi. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. Seketika aku menyadari. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. rasa yang aku alami selalu sama. Ini bukan saja tentang mimpiku. aku tak dapat membantu mereka. Tapi karena di saat-saat seperti itu. Awan mendung tampak menaungi biru pantai.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. mimpi. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. Setiap aku melihat pantai itu. dan perubahan sebuah bangsa. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Walaupun dengan hal. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah. tapi juga harapan bagi keluargaku. tapi ini tentang sebuah harapan. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini. Terdiam aku untuk beberapa lama. Semuanya akan baik.hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil.tebing yang ada di sekitar pantai. Dan setiap kali aku melihat pantai. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat.saat kelam. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. Tapi sebaliknya. Pemandangannya tak pernah berubah. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Dan terkadang di antara putaran tornado itu.baik. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Bukan hanya itu. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai. bukan karena aku sedang mengalami duka. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk. Teruntuk Akand. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. aku seperti melihat sebuah . Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat. Aku menaiki tebing. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku. Tak hanya melihat keindahannya. tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. Terlihat burung. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi.mimpimu hancur berkeping. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi.

Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. “Begini Mak. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. tetapi keadaanlah yang memaksa. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. air akan menjajah seluruh ruangan. Perasaan serba salah menghampiri. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali. Bila hujan turun. “Ayo lekas ngomong. Bertempat tinggal di Jakarta. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara. . wajah perempuan baya menyembul. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. hingga Emak membuka bibir. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. rasa malas hinggap. Sebagai balas budi. usia menapak 14 tahun. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib. Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. majalah maupun buku semua tandas aku lahap. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. Aku tak menyahut. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. takut ia tersinggung. Alamat blog: geoaranda. Koran. Tangannya yang basah memegang jidat.blogspot. Oleh Geri Taranda.” Suasana mendadak bisu. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. jangan dipendam sendiri. Kegiatanku kini membantu Emak. Suaranya datar. Langkah kaki diseret mendekat.harapan baru. Bersama Emak.” Aku menggeleng pelan.

” Emak tersenyum kecut. terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur.” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. “Mak. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. “Mak. raut mukanya masam. bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu.” Raut muka Emak seketika berubah. bapaknya. “Kasihan ya si Marni. pagi-pagi udah ngelantur. sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. kembali kepada kami.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. ngepos di perempatan bawah kolong. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik. bagaimanapun caranya. berharap derajat kehidupan lebih baik. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu.” sapa Mpok Hindun ramah.” melengking suara Mpok Hindun. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. “Eh. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul. Ngontrak di belakang pasar. kamu Marni.” “Oh gitu. “Maaf. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. “Jangan berkelit ya. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak. Walaupun tak ada rumus yang baku. sekarang Bapak tinggal sendirian. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. Aku maklum. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu. Kang Diman. tiada guna menimpali. tapi wewaler itu berlaku juga. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. Tadi pagi.”tanyaku memburu memendam kecewa. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini. “Sudahlah Le. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. mengalihkan pembicaraan. Awal pernikahan kami begitu bahagia. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. lagi belanja ya. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. Aku membuntutinya. sebagai seorang sopir angkot di . berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. “Maafkan Emak Le. Aku mengangguk lesu. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan. “Syukurin. Bagaimana jika Kang Diman. seandainya Bapak mau balik ke rumah. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. Kurapikan peralatan menyemir.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini.” “Syukurlah. “Jangan percaya Bapakmu. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan. pemuda yang selama ini merantau. kepuasan terbit di sana. Dada Emak membusung. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. Kali ini sorot matanya begitu lembut. tangannya membelai rambutku. Ia bergeser. Layaknya pengantin baru.

“Ah kamu Man. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku. antara percaya dan tidak. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. Kasihan si Wawan. Siang begitu terik. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku. Duh Gusti.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata. “Ini tho namanya Wawan. Mau nganter istri ke bidan. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. ia marah besar dan kecewa. Entar aku juga punya mantu laki.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda. “Kenalin Di. sejenak dalam hening. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya.kebetulan aku juga belum makan. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. Boro-boro membelikan barang. ini anak lanangku. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. Sekarang tinggal kami berdua. “Ayo kita ke warteg. waktunya suntik KB. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. teman akrabku. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. Oh Gusti.” Segera ku naik ke boncengan. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. “Aku pun nggak tahu pasti Mar. Tak jarang mereka bermurah hati.” “Nggak pengen nambah. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. semoga desas-desus itu keliru. aku tak boleh mengeluh. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap. mirip banget sama kamu Man. Banyak pula yang bersikap acuh. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. mata mendadak panas. khas orang Jawa sama seperti Bapak. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. Hujan tak sudi mampir berhari-hari. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. Emak melarang keras aku menemuinya. Pernah Emak mengetahuinya. tanpa sepatah kata pun darinya. Emangnya kenapa.” Jantung serasa copot saat itu juga. semoga ini hanyalah kabar burung belaka. pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. Ah. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya. “Tentu saja Di. aku pamit dulu ya. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . Mata bolaku hanya bisa menatap. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya. Awalnya Bapak sering menjengukku. “Yo wis. aku kan bapaknya. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. Pardi namanya. tak jera juga aku mendekat. “Perempuan itu siapa Mpok. sudah cukuplah. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Spontan aku menggeleng. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. Udara kering panas menampar wajah dekil. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor. Dekat tapi tiada tersentuh. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. Tapi dasar anak bandel. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. terasa kasar. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi.

walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga. membuat darah dagingku sengsara.” pelan sekali suara Wawan. . Kupandang photo Wawan di dinding. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. “Jangan harap. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. Rasa cemburu membuncah.” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu. kukuh pada pendirian. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin. Biasanya ia sholat di rumah. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. merasa dilecehkan. kenapa?” Wawan membuatku tergagap. kamu sudah besar sekarang. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah. silahkan. Kupasang muka sejernih mungkin. kali ini aku nggak bisa. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. tetapi hubungan kami begitu jauh. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. “Maaf Mak. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. Muka Kang Diman menegang. balita sampai seumuran sekarang. Wawan belum juga pulang. darahku seketika tersirap. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. “Mak…. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. Ketegangan mulai merambati kami. tapi sosoknya belum juga muncul. pasrah.” Kutatap wajah anakku. tadi main ke rumah Mamat dulu. aku mau pisah. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. Di atas kertas. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang. Kuhembus nafas sedalam mungkin. “Ayo Kang jawab. kamu Wan.” Wawan beranjak dari duduknya. “Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. sesali nasib malang yang menimpa. Kesumat masih lekat terpatri. Kemana saja Le. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan.”Aku tetap keras kepala. “Sudahlah Wan. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. Entah berapa kali termangu di depan pintu. aku tidak suka ia menemui bapaknya. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. “Eh. membuatku mati kutu. Gelisah merambah. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. jadi aku berhak ketemu kapan saja.” “I…iya Le. kebimbangan menyembul. Ada beberapa. Aku tak mau menjadi ibu durhaka. Lunglai tubuh. “Mak.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. Praduga buruk hinggap. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak…. ia harus memikirkan isi dapur. teganya meninggalkan anak-istri. berharap ketenangan tercipta. Rupanya anak lanangku telah berubah. Kalau Emak mau marahin. Emak marah ya sama aku?” “Le. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. mulai dari bayi. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan. jangan melompong seperti sapi ompong. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu. Sontak perasaan bersalah terbit. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. emosinya mulai tersulut. Pernah berpikir minta cerai darinya. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. tadi aku ketemu Bapak lagi.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. “Kok diam saja. Ah.menyayangi. menyamarkan resah. bagiku serasa restoran fast food di mal. Status pernikahan kini mengambang.” “Maaf ya Mak. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan.

aku tak keliru! Matanya terbelalak. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. Kelak bila kamu .” pipi Emak bersemu dadu. kamu sudah siuman. Mataku terpejam ngeri. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang.” tersendat suara Bapak. Memang Bapak telah menelantarkan kami. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. gerimis membasahi pipi. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. tanpa diminta pun telah memaafkan. Matanya berkaca-kaca. Kepala membentur benda keras. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. ngilu terasa. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli.” “Terima kasih Mak. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh. Jelas ini bukan kamarku. Tidak seperti sekarang. “Eh kamu Kang. Kugerakkan tubuhku sedikit. matanya berbinar-binar. perban telah membebatnya. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. “Ada apa Wan. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan.” “Baiklah Mar. “Maafkan Bapak ya Le. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. senyap. “Le. seperti ada yang dicari. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar. Harapanku tidak muluk.” terasa sekali Emak mencoba menghindar. darah kalian sama. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. Matur nuwun Gusti. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. Dipeluknya tubuhku. aku tunggu jawabannya. anak lanangku sudah sadar.“Eh. Kupegang kepala. Bila pagi pedagang sayur. Aroma obat meruar menusuk hidung. “Anakku Le. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. Benar itu adalah Bapak. Emak ke mana ya. Sejurus kemudian ia keluar kamar. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab.” elakku gusar. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. Tapi aku ingin duduk. “Kang Diman. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. Oh. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. ngagetin saja. kunang-kunang berseliweran di kepala. “Ayolah Mar. bak maling ayam yang takut ketahuan warga. aku bukanlah ayah yang baik.” Emak muncul dari pintu. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Kecemasan terbit. Emak di sini kok. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Eh. Pandangan beredar sekeliling. ikan dan daging yang berkuasa. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. Wawan cuma ngantuk. syukurlah kamu udah sadar. “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang. Entahlah. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. dirangkum dalam dadanya yang bidang. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit.” Aku hanya diam. Selama ini Emak terlalu keras padamu. tak hirau dengan panggilannya. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. Terlambat. tak percaya aku telah siuman. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak. Karena perbuatanku kamu sengsara. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. mungkin aku sudah berada didunia lain. yang tengah bersiap berganti penjual. “Mak setelah sembuh nanti.” jawab Emak bergegas menghampiri.

mudah-mudahan ini pertanda bagus. Wewaler : peringatan 2. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1. Kaningoyo : sengsara 4. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir.setuju. 11/11/2012. Semua tinggal menunggu waktu.” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. mohon belas kasihan 3. Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Aku bisa bertani disana. Sekarang tinggal di Depok. tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab. sorot matanya cemerlang. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. “Oh ya Le. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. 12 November 2012 15:44 wib . Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. aku berniat untuk pulang kampung. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. Duh Gusti. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail.” Hatiku mendadak cerah mendengarnya. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan. Gemericik hujan sore ini begitu indah. nanti kamu bisa kembali sekolah.

Badannya yang ringkih itu babak belur. kemeja buntung. sekalipun sedang ia kenakkan. lalu mati 67 tahun yang lampau. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. maaf apabila aku terlampau egois. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. berhidung. ya semua ini karena aku tahu. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. semenjak suaminya datang di kehidupannya. bukan pula malaikat atau sebangsa iblis.AKU tak habis pikir. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. pesak sebelah. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. kok. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. handuk. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. Dia adalah manusia: bermata. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. bajang. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. Mereka begitu menginginkan baju kurung. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. kain panjang. Sekonyong-konyong. Dari bisikan yang kudengar. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. bukan rasul. Ambil buatmu saja!" "Loh. sekalipun ia melambatkan lajunya. apalagi dedemit. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya. Tidak dengannya. seroja. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. masih ada di pelataran parkir. celana dalam yang selalu dikenakannya. Jika ia mati. di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya. Dia tetap berdiri setegak batang surian. Ya. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Hehe. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. "Tak perlu. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya. ia telah puas merasakan penderitaan. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar. tak ubahnya seperti kau dan aku. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. telekung. jas katak.." sapaku seramah mungkin. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. kepok. Hanya yang membedakannya: celana dalam. basterop. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. Toh. Habislah orang itu dihajar. penjahit ulung. belah bakung. Ia bukan jin. tak akan ada lagi perlawanan. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. Sedangkan kendaraannya. punggungnya lurus sempurna. aku tidak salah. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. bahkan membunuh. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. Dahulu kala. Sungguh. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. kutang. bertelinga. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. Pertiwi sebutan orang. "Apa maksud Ibu?" "Dek. Kalau tidak. Pancaran mentari tak . Sungguh. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. ambil saja. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. kelepak. seorang ibu tua. Selamat datang ibu. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. "Selamat datang bapak. "Bu. ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul." "Iya. sedikit saja. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. sepeda ontel.. Entah apa tujuannya. Untung baru seujung saja yang terkerat.

. Lama. mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. "Mengapa?" tanyanya lagi. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya. Aku mendadak kaya karena buah tanganku. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. ternyata hanya untuk dipertontonkan. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. "Benar.. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku.." jelasnya lagi." Ia pegang pundakku. orang yang membuatku hidup. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. orang memang kebanyakan berpikiran demikian. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil. "Seandainya aku berikan dua pilihan. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu. ia telah lupa diri.. tatapannya adalah kilat. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik. Tanpa mengenakan pelapis lain. Ia nekat telanjang.. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah.kami hiraukan. "Dek. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. Tak menanggap. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa." tolakku gemetar. Hidupku bahagia. bisa-bisa aku dipecat. bagaimana mungkin aku tak sadar. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. Ibu itu diam. Aku gemetar mendengarnya. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. Malunya sudah musnah. "Ti. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. aku tak berani. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. Dia tersenyum. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi. seharusnya kau ambil saja. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. Tadi. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan. kepada Istana. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. Suara perempuan itu menjelma guruh. *** Malam setelah matinya majikanku." sejenak ia menghela nafas. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. itulah yang namanya kesempatan." "Ah. dan aku si buta. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. "Huh. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. Namun. "Jadi." jawabku pasti. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca." Dari dalam rumah. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. tidak Bu. "Dek. Mana mungkin aku berani melakukannya. Orang itu. dengan sisa-sisa perca. dan aku adalah si pekak." jawabku sekenanya saja. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana ." jawabku sekenanya. Namun. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Senyumnya kian berseri. ada darah yang menyembur deras. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan.

Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah. Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. ia enggan menerima balas jasa apa pun. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. Tapi aku tak mau. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. . 7 Juli 1992. Selain giat bermusik. divisi musik. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu. Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Padang. kelahiran Batusangkar. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis. 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap.” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. Anggota UKS-UA. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. 19 A Padang Timur. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun. “Silakan Neng diminum airnya. Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya.dalam berwarna merah putih itu. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah.

Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. “Bu Nyai mah A baik orangnya. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. eta hartina teh nulungan urang sorangan. ia lakukan dengan segenap hati. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari . Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar.” ujar Teh Ema. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. Rumahnya cukup sederhana. Seperti diceritakan Mang Durja. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Ia pun menceritakan hal yang sama. Aku sempat meragukan cerita tersebut.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai.“Mun urang nulungan batur. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu.” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. menurutnya. Sep.” “Buat warga di daerah ini. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan. Pada Bu Nyai. Sebab. Hanya punya satu tivi 14 inch. Untunglah aku bertemu Mang Durja. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. bahkan boleh dibilang teramat sederhana. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini. Sep. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai.” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai.

Aku semakin membeku. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Semakin mengkerut. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Termasuk pada Tuhan. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. Keningnya mengkerut. Sesekali kepalanya . aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu. Akh! Bu Nyai membuka mata. Setelah sepeda kurantai. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. Lima kali subhanallah. Aku tak berani menghentikannya. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini. ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Dan. Ah. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Aku tiba di kontrakan. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. Bahkan lebih. Ia menghela nafas lagi. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. Mata Bu Nyai masih terpejam. cepat-cepat pula aku membuka pintu. *** Hari itu hujan deras sekali. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. “Muhun Sep. Aku memaksakan diri pulang. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Tapi ini tidak. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. Salah satu tangannya. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. Aku semakin merinding. Hujan di luar kembali menderas. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Bisa boros limaribu sehari. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Ah Alhamdulilah. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. Entah apa sebabnya. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Aku duduk di kursi sebelahnya. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Lunglai. Tubuhnya juga bergetargetar. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Ia masih belum menghiraukanku. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Napasnya sedikit tak teratur. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Tapi tetap tak ada. tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. Maklum. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. Aku masih berada di kampus sore itu. Ia terus mengucapucap subhanallah. Hujan masih juga betah berjaga. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. Namun sesaat setelah membuka pintu. “Bu Nyai. Hujan tinggal rintik-rintik. Entah kenapa. Beku. ini berarti pertanda ritualnya berakhir.

samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo. Kini tinggal di Jakarta dan menulis. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. tapi tetap tidak juga ketemu. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya.menggeleng pelan. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu. Penikmat kopi dan sayur asem. *Mun urang nulungan batur. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu. eta hartina teh nulungan urang sorangan. sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data. “Sep. Di sekitar sini. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng. Dan sekarang. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. Bandung.com Cerpen . ada di sini. Seperti tertimpa batu-batu.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya.5. Mencoba memahami segalanya. sep: Kalau kita menolong orang. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. Ia mendesah. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No. Aku mengangguk. Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. Energinya habis. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang. Biodata Penulis: Restu Ashari Putra.

Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Dengan kelihaianmu itu. Aku mengharapkanmu. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku.” kataku saat itu. Tak lama dari kepergianmu. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. Kau juga sampaikan padaku. Kawan…mengingatmu aku sangat malu. “Hmm… aku suka buku ini. Tepat pukul 3 sore. Tak berpikir panjang. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal. Sangat memotivasi. khasmu. kau antarkan aku ke kosku. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah.” Sebetulnya aku malu padamu. Ku bilang pada diriku sendiri. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. Ku akui aku mulai suka padamu. Aku heran padamu. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Aku malah lupa kesukaanmu. aku hanya bisa mengulum senyum padamu. Untuk menghargaimu. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. saudaraku”. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Kau ajak aku makan berdua denganmu. Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. Kau malah memelukku dan mengucapkan. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. kau tak ambil banyak bicara. kau dalam . kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. Aku yang suka. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Belum banyak kau bercerita. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku.“Ahlan wa sahlan. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. Habis ceritamu. “Kau suka ? Ambillah. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. nanti saya yang bayar. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik.

Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar. Pati. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya.keadaan selamat. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. kini telah berteman dengan coretan garis merah. RT 03/RW 01. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa. Setelah satu bulan pencarian. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. kau akhirnya ditemukan. membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. impian kita telah terwujud satu per satu. Kab. Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Atas izin-Nya. Sobat … andai kau lihat saat ini.2010). Kau ajari aku perlahan. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. Jontro. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. . membuat diriku tak sanggup mempercayainya. Buatmu. Tinggal di Ds. Dulu. lahir di Pati. atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. Kec. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . Wedarijaksa. sobat. 16 Oktober 1988. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu. Jawa Tengah. Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010). Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku.2010). Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. mewujudkan impian kita berdua. Sobat … bagiku. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. Sobat. Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 .

gundah. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu. Damai dengan polisi kalau di-tilang. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. Aku segera mandi. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. Seperti biasa ibu tidak ikut makan.” . kamu lihat itu. “Nduk. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. serangan-fajar. untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil. Selesai sembahyang aku keluar kamar. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. cobek. badanku sudah bersih. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak. Pak Yon. adalah nama panggilan bapakku. buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. kita berangkat bareng !”.korupsi telah membudaya di negri ini. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. salam-tempel. Tapi bisa apa aku. Budaya Korupsi. aku berusaha membangunkan tubuh ini. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’.. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. Segera kubasuh muka dengan air wudhu.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. hidup itu butuh pegangan. Kemudian sontak bertanya padaku. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan.sekarang mandi sana. disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. “Nduk. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. “Aida. Kami tidak punya meja makan. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. Gilanya. uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada... Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau. aku siap berangkat. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini.

. Aku degdegan.Aku agak risih mendengar nasihat itu. baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya.. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi.. dengan raut muka campur aduk. mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. Aku tunggui ibu. Sesampainya di lokasi. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. aku harus memilih... Aku bingung dengan senyum ibu. tapi karena ibu.. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. ”Wah cantiknya anak ibu ini.. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. ibu ndak mau kamu khawatir.!!!” rengekanku kepada ibu.” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak.. “Rencana kuliahmu besok. hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. Tertulis nominal disana: Rp5 juta.. Ya. Hari-hari telah berlalu. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini. tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku.” sapa ibu.. Ternyata Aku diterima. Kita langsung berangkat.” ibu berusaha menenangkan aku. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri. Jatuh satu demi satu. ”Buat apa nduk. Aku butuh klarifikasi dari ibu. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu. entah aku sedang menangis atau apa. Sontak membuat aku kaget. Sudah kutuntaskan tugasku.. Informasi ini diumumkan di Koran. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. kalau ibu punya tumor-payudara. Tapi hidup adalah pilihan. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama.. ”Sudah pak... Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar.. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Aku diam.?” tanya bapak kepadaku. aku libur. ayo berangkat.. Segera aku lari ke depan rumah. Hingga selesai. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. Hari Minggu tiba.semuanya sudah selesai.. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu. ”Uang dari mana. bapak yakin kalau Aida bisa.. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. . ”Aida. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk. Ibu datang.!!!’ tegur bapak. bapak antar Aida ya besok!”pintaku .. itu gambar benjolannya masih kecil kok. kamu tenang saja nduk.” pikirku.”. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu.. Ragu-ragu menyerang tubuhku. Ujian dimulai. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan. ”Sudah selesai Aida. Lima juta harus cair dalam sehari. Sekarang hari Sabtu. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. Memohon doa restu. ibu bohong sama Aida. Kulihat ternyata banyak juga sainganku. ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”... bukan karena teror ujian..

. . Badannya panas. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan..pak”. Aida pasti akan kuliah pak. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu. Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. Hanya laku dua juta. Tepat pukul dua belas siang. “Bapak tenang saja. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. Aku malah disuruh di rumah. bapak bisa mendapatkan motornya lagi.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa. ”Untuk masalah itu. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun. setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo. Beberapa saat kemudian di hadapan kami. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo. Apa ini pak?”sahut bapak. Aneh glagat bapak. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo.pasti ada jalan. akan saya cek kembali hasil . Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali.. bapak dan ibu tenang saja.” Raut muka bapak mulai kebingungan. Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Ketika ujian kemarin si Bimo. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. Tapi untuk masalah Mas Bimo.” tutur bapak kepada orangtua Bimo. Amplop tersebut kemudian bapak buka. saya tidak bisa menerima amplop ini.”Jadi kedatangan kami di sini ini. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian.. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. Pikiranku melayang.begitulah bu anak-anak. amplop berwarna coklat muda dan tebal. ”Ya. orangtuanya. apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih.” jawab bapak. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong.Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang. Hari menjelang sore. seketika itu pun bapak terkejut.. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos. Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri.. ”Pak Yon. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. nduk?” tanyanya. anak kami. karena kami semua khawatir kondisinya. “Betul Pak Yon. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya. ”Begini pak. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya..” tutur ibu anak itu. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. tangannya menggigil. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo.. Aku tak tahu bapak mau ke mana.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu.. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. berdoa. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo.. “Maaf. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu. agar tidak terjerumus. nakal bukan kepalang. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini.. Saya jamin. Ya. Bapak pergi lagi.

Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik . Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. Silahkan orang berkata apa. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya.ujiannya Mas Bimo. Jadi tenang saja pak aman terkendali. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. tapi seberat apapun hidup. ”Tenang saja pak. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu. Bapak kemudian menatapku. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku. Seketika itu juga. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. ”Nduk.” tutur bapak.. yang jelas aku bangga dengan Bapakku. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan. setelah melalui pertimbangan panjang. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya. telah aku pilih satu hal. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’.apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. Kan hakekat ilmu itu universal. Aku sadar sekarang. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya..” tuturku kepada bapak. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit. Aida belajar dari bapak.. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan.. Ya.

“Tak usah. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. tanyaku lagi. pulang dari arah persawahan. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. sudah kehilangan banyak darah. “Aduh. . Sama seperti kemarin. “Huh. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah. “Segar apanya. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. Terlihat lemas. besok mau makan apa? Ah. Yah. pasti berat sekali ya Kek?”. tidak juga Cu. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. tanyaku serius kepada kakek. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. seperti dua hari lalu. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. “Tak apa Cu.” Balasku sedikit kesal. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. jawab kakek. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki. “Kakek sudah pulang?. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. Semakin dekat menuju rumah. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa.” balas kakek dengan senyum di bibirnya.” sambutku penuh senyum. Betapa kagetnya aku saat itu. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”. Aku paham sekali. Aku hanya bisa menghela napas. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. “Sekarang kakek pasti tahu. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini.” masih saja setenang ucapan sebelumnya. Lihatlah kakek sudah segar kembali.Senin. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. Ini hanya sedikit saja. jadi malas memikirkannya lagi. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek. “Hemm”. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. Selalu begini. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek. “Selalu saja begitu.” balas kakek dengan entengnya. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku.” Sahut kakek dengan enteng. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan.” gerutuku dalam hati. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. kakek menolak mentah-mentah. Menunggu kakek pulang dari sawah. berjalan tertatih tak seperti biasanya. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. “Ah.” jawabku sewot. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. Entahlah. Melalui jendela kamarku. nanti juga sembuh. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. “Hahaha. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku. darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. memang benar apa yang dikatakan kakek. bertelanjang dada.

Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. “Tunggulah sebentar. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. balas kakek. timpalku keras. Huh. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. “Hemm. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. tabungannya habis.”. kita tidak punya apa-apa lagi.” Aku mulai menangis lagi. Aku juga merasakan hal yang sama. Kebencianku muncul kembali. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. kini hidup kakek terlunta-lunta. “Apa yang kamu benci. “Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. Apa-apaan. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. Akan tetapi. “Kek. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Ah. kataku dengan takut. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. tanyaku tertunduk. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. Aku diam. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. “Hei Cu. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. sedangkan untuk makan saja kurang. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. Saat itu kenangan masa laluku muncul. rumah mewahnya hilang. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Sama seperti keadaan dua tahun silam. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga.” Timpal kakek. Kasihan sekali kakek. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. seru kakek dengan semangat. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus.” sahut kakek pelan. Hanya bisa tersenyum kecut. Senada . Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”. nanti juga berhenti. “Lhoh. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. Kita tidak punya uang. Namun. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu.Khekekekekek. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. luka kakek sungguh mengerikan. “Iya Kek. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. “Kek. bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”. balasku mulai marah. “Aku sedih.” Balas kakek dengan heran. yaitu ayahku sendiri. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. jawabku pelan. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa.

Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. Sudah dua hari ini anakku sakit. aku teringat Mas Seno. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. Bu.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. Aku sangat sedih. Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. “Jeng tak usah khawatir. entah sakit apa. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. Perkakas apa saja. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. Bikin almari. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Bandung. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. Tubuhnya panas dingin. dan Bali pernah dirambahnya. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. meja. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. Kalau sudah punya uang dia akan kirim. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Surabaya. Sama seperti Mas Seno. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. Sebagai tukang kayu. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. Kaki kakek sudah bersih. Inilah yang kurasakan. Kalimantan. Aku punya sebuah janji. Ah. Demam. bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. Tak heran. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati. suamiku. Jakarta. kursi. suamiku sudah biasa merantau. . Suamiku biasa bikin.

Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya. Usia baru genap berkepala tiga. Mas Kar rupanya tahu diri. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas..ini kamu Mira. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh. Agar anakku bisa pulang. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami.. “Oya Mir. Mas Kar…. aku malu bertemu dengannya. PT Kartika Furniture.” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Dia masih seperti yang dulu. “Hallo. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku.” “Anda harus membuat janji dulu.saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS. “Benarkah. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi.” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan. mengumpulkan uang. Mas Seno sedang kerja di Jakarta.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Tapi saya sedang dalam kesulitan. Mas. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng.saya keluarganya.“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu.” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. Lembut penuh perhatian. Sebenarnya aku enggan menghubunginya.” “Anak saya sakit. Ada hal penting yang harus saya sampaikan.” “Tak usah khawatir Mir.” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi …. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname... Silahkan ibu mengurus uang administrasinya. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas..” “Saya.?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar….” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. Suaranya masih selembut dulu. Apa yang bisa kami bantu. Tapi demi kesembuhan anakku. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. Makan malam bersama Mas Kar. “Mira…” Aku mengangkat wajah.?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu. menghubunginya. Tapi karena aku sadar diri. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. Tetanggaku sudah membantu. Dirawat di rumah sakit. Aku enak-enakkan makan di restoran. “ . Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon.. Tapi hasilnya nihil. terdengar suara lelaki itu. Seramping dulu ketika kamu belum menikah. Tak usah menunggu lama. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak. Aku pernah berbuat dosa padanya.. Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan.. Aku akan membantumu. Anak ibu harus dirawat di RS... Saya…. “Kamu masih secantik dulu. Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya.

Aku harus segera ke luar dari tempat ini. atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir. Percayalah kamu masih utuh.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi. Yunior. Aku membuka mataku perlahan. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku. Aku…aku masih mencintaimu.” “Saya menyayangimu. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Aku yang masih menyayangimu Mira. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Oh….” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas. Mas?” “Suamimu tak akan tahu. 2011). Kamu adalah istri setia. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan.. Suara Pembaruan. fiksi dan puisi.“Saya sudah melupakannya. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias.” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. Dalamanku.”. Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel. Lembut dan penuh perhatian.” “Baik kalau itu keinginanmu. Suara Merdeka. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Mungkin karena aku terasa capek. Kamu wanita dambaan lelaki. 2011) .” “Apa maksud. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. Mir. 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. Tubuhku. “Kalau Mira bis menolong. Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat. Bajuku. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku. Kartini dan Annida online. Rangkain tulisan rapi itu kukenali. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT. Utuh. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki. Aku juga seorang ibu.” “Tapi bukan yang satu itu. Aku sudah istri orang. Mir. 2011). antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra. Karya penulis pernah dimuat di Sabili. Mas. Saya berutang pada Mas. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. 11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Tulisan latin Mas Kar. Pusing itu masih terasa. Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu. Mira dengan senang hati menolong Mas. Berulang-ulang kau membaca memo itu. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Aku jadi sedikit lega. Aku ingin menciumnya. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah. sementara gerak kakinya ringan. begitu pula sebaliknya. “Din. Kali ini. apakah suatu hari.Perjalanan Dini Senin. Setengah jam kemudian. Emily. menyembul butiran air. dia bisa mengistirahatkan pikiran. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. ya? Aku jadi penasaran. Aku khawatir. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. Wajah sahabatku tersayang muncul. jadi memunggungiku. Wajahnya kelihatan berseri-seri. wajahku tidak cantik. karena tidak bisa melihat wajahnya. setengah histeris. Dengan lirih. hatiku seperti diremas-remas. Sahabatku yang malang. lalu mengajaknya bicara. Sesekali. seperti kijang. Udara serasa mendidih. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. Barangkali itu bisa menghiburnya. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Emily. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Dia membalik tubuhnya. Hidungnya tampak memerah. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. aku tidak tega melihatnya. Teruslah memintal harapan. Wajahnya tetap murung. tapi tidak ada keringat yang keluar. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. Jadi. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. Sayang. Dia mengusap pipinya yang basah. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. Aku semakin tidak tega melihatnya. dia bertanya. Aku melihat ke luar jendela. kamu tidak usah khawatir. dia tertidur. Tapi kenapa sih. Tampak olehku. hati. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. batinku. “Aku tahu. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. Setidaknya. Pelan-pelan. “Din. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. zaman sekarang ini. Aku percaya. sekedar memberikan hawa sejuk. Di sudut matanya yang redup. Hanya saja. dia terbatuk-batuk. Emily diam. Badanku rasanya gerah. Melihat keadaannya. menuruni pipinya yang berjerawat. Aku jadi kecewa. di suatu waktu. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. janganjangan dia menangis lagi. Ada banyak lelaki di dunia ini. Sungguh. Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Tidak lama kemudian. Ada apa dengan Emily. Rupanya. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. Aku ingin berlari memeluknya. Hap-hap-hap.

dia langsung memeluk dan menciumiku. mengajakku ngobrol. Kulitku kusam dan hidungku pesek. Begitu lama kehidupanku dengan dia. Emily sekarang jadi genit sekali. Emily diam. dan seterusnya. meski dia mengabaikanku. “keputusanku ini terlalu mendadak. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. apapun risikonya! Soalnya. hidungnya mancung. dia sudah tertarik. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana. sejak pertama melihatku. Bola matanya berputar-putar. “Aku tahu. Karena begitu semangat bercerita. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. Sayang. Dia tidak pernah lagi mendekapku. “Din. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. aku pasti menangis tersedu-sedu. wajahnya juga berubah lebih menarik. turut berputar. Natasya. Setelah kucermati. hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. Roknya yang mengembang. Tidak ketinggalan. kulitnya putih susu. dia seperti hampir lupa bernapas. Dia menutupi kedua belah pipinya. Kamu mau menerima Roni. aku bingung harus bagaimana lagi. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu. Tapi dugaanku mengatakan. Din?” Menurutku. dan rambutnya cokelat panjang sebahu. Jelas aku kalah menarik dari mereka. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Waaaaah. menengok teman yang sakit-lah. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni.” panggilnya lagi. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. Aku terlalu menyayanginya. Emily tidak mempedulikanku lagi. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. Matanya lebar.” Emily tersipu-sipu. semakin lama.perbuat. Aku terkejut. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. kamu hanya akan disakiti olehnya. baik soal make up maupun pakaian. Dalam bayanganku. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. bukan karena cinta. Cecil. semakin memperburuk penampilan luarku. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. ke toko buku-lah. Jerawat dan komedonya sudah hilang. Kalau dipikir-pikir. Mungkin dia sedang berpikir. Pulang sekolah dia selalu pergi. Aku mendadak deg-degan.” Emily mendengus. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. Sayang. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. Katanya. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. . *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Emily justru memutar tubuhnya. Ada Sisca. sejak pertama kali MOS. Kalaupun bisa. aku langsung menerimanya. Wajah-wajah mereka cantik. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. Sayangnya. Kedua tangannya diangkat ke samping.” Emily berhenti sejenak. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. “Tanpa pikir panjang. mirip orang Eropa. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Aku tersenyum geli dibuatknya. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. Belinda. Yang membuatku heran. Coba kamu pikirkan lagi.” lanjutnya. perkiraanku keliru. “Hari ini. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. aku jadi GR mendengarnya. Tiba-tiba matanya membesar. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. Teman-teman selalu mengejekku soal ini. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. aku tidak bisa membenci Emily. Dan pada saat yang sama. “Apa aku salah. Ada apa. Roni namanya. Tapi kemudian. Tapi ternyata. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. dia nembak aku. Dalam pandanganku.

dia Sumi. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. Gimana. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. Emily memilih mereka. “Tahu nggak. Dan tibatiba. tapi tidak kuasa menggigil. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. sudahlah. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. sementara Emily tetap saja membisu. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya. “Sumiiii. senyumnya manis. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. biar bisa jadi teman main kamu. Bagus. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk. ya?” ujar Sumi kepadaku. kalau lima bulan silam sambil menangis. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. persahabatan kami bisa langgeng. kamu senang. dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. aku sudah sampai rumah lelaki itu. Jadi. Rasanya. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Aku bahagia. Aku diam. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. anakku. “Maafkan aku. Apakah dia sudah lupa. Selama perjalanan. “Waaaaa…. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. dia bertanya padaku. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. “Lho. ‘kan?” “Senang. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. Purwokerto. Kepalanya bergerak. riang. Lelaki itu tersenyum. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. Oleh karena itu. Namun. kita bersahabat. tanpa ciuman. Mungkin. tanpa pelukan. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. lelaki itu bertanya. Hatiku tenang. Dia segera menggendongku di punggungnya.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. sudah berkurang. Semuanya cantik. Aku harus melupakan dia. Aku terus tersenyum. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. dia sempat berbisik. aku merasa nyaman. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. 20 April 2012 . lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. Ya. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. Din. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. dia tidak bicara. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong. “Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. dia mau menerima keadaanku apa adanya. “Nah sekarang. hari ini. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. Sebelum pergi. Aku memang hanya sebuah boneka. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Aku harap. Bapak ambil saja. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. Dia memandangi dengan seksama. Pak!” seru Sumi. karena dari dalam karung.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Aku merasa dingin. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. Bibirnya tersenyum. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar.” Betul. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. Entah kenapa. anak pemulung itu. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. Bapak pikir. Manis sekali! “Wah. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku.

Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu. Sangat menggoda. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. Seperti biasa. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Karena aku bukan novelis. Kaidah anak sastra ‘kan begini. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. salah satu agendanya adalah bedah novel. Bukan pula cerpenis. Itu pun lebih disebabkan propaganda . Alia tertawa. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. Fakultas Sastra. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. batinku. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. Empuk sekali. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. sebagai penulis atau pembaca novel itu.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. “Tapi ngomong-ngomong.” Hmm. saya bukan lagi penulis novel itu. Jika Anda tidak keberatan. Gurih sekali. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. Sumpah mati. saya Alia. ketika sebuah karya selesai ditulis. “Kenalin. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. kan?” Di seberang. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. Sang Penulis. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. Kalau begitu. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. otomatis pengarangnya mati. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto.

Dan. Sudah indah apa belum kedengarannya. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional. Tidak meyakinkan. Terkadang cuma untuk memastikan. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. Tunggu saja. baru aku bilang edan tenan. Jadi. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. kurang lebih jawabannya begini. Mengandung unsur bunyi. dan karenanya enggan kugeluti.” Tapi rupanya. menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. dibakar mobilnya. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. yang bisa dilakukan kapan aja. Terlalu tergesa-gesa.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. prosa.” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. Bukan karena termakan promosinya. Berbeda dengan prosa. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. sambil nongkrong di balkon. puisi. malam nanti mungkin giliran Saman. Roni mungkin benar. pasti terguncang-guncang. sudah cantik apa belum bahasanya. Pelit kata-kata. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. pasti terkaget-kaget. Edan. Pretel-pretel. Mau pegawai negeri atau swasta. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih. Hemat. maksudku. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. Alangkah sakitnya menjadi Clara. Bagiku. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman. puisi itu ‘kan harus padat. aku sudah terbiasa menulis puisi. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. baru selesai satu paragraf. Begitu seterusnya. mengerjakan tugas yang itu-itu saja. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. aku sudah gatal untuk mengeditnya.” “Ber-aa-ii?” “Berima. Dan. “Oya?” “Begini.” . Seperti mobil terendam banjir. Rayuannya kurang “maut”. Sama tidak enaknya. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ. Roni. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. dalam beberapa hal. Setiap kali mulai menulis. soal sastra. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. cinta setengah mati pada dunia sastra. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. Saking edannya. Nah. okay. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. nama orang itu. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. sekaligus tertib ber-aa-ii. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. yang bikin kita mikir. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. bahkan diperkosa. Serupa motor kehabisan bensin. sambil tiduran. Karena kenyatannya. jangan-jangan. kuputuskan untuk menyerobot buku itu. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai.seseorang.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen. sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. Gila. Aku justru tidak suka caranya beriklan. “Minggu depan.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa. Tentang minatnya pada dunia sastra. sama saja.

” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. Yang pasti bukan ke arahku. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. Nah! Itulah sebabnya. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. Atas saran Alia. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum.” “Terima kasih. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. Bukan sematamata karena (hhmm. Padahal telah dicobanya segala cara. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer.” “Oya? Di mana?” “Maaf.” Aha. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. “Aku kan sudah bilang. Tiba-tiba sudah jadi buku. Atau paling banter. Sampai jumpa tanggal 25. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Ingin menerjang. Sangat menggoda. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. Setiap detil ia pahami. Jangankan novel. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja.Ya. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan. Tapi semakin kutatap semakin kupandang. Tidak salah lagi. Pandangan matanya mengarah entah ke mana. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. aku cuma bisa bilang. Muka tirus. Rambut keriting. menulis cerita perihal Roni. itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. sungguh mirip pizza. Awalnya kupikir. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. biografi seorang (calon) penulis yang malang. Sebuah undangan yang. Titik. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. Untuk menebalkan motivasinya. Hidung bangir. “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. Dan. Dan lihatlah. perempuan yang saat itu. tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa.” ♦♦♦ TANGGAL 25. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. Ingin menampar. di mana seluruh ide novelku berawal. seperti kubilang sejak awal. hampir dua tahun dipacarinya. kejutan selalu muncul belakangan. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu. Cuma berteman secangkir minuman. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan. ia selidiki. Tak lama kemudian. ia muncul mengajakku makan. ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . Duduk sendirian.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. “Terima kasih kejutannya. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. Angin dingin segera menyergap.

Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan.” “Celakanya. seperti yang ia cita-citakan. Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. Pada 1998. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. Aku orang kampung.” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. MPA. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang. Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. Cerpen . novelku belum selesai juga. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. Dan. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja. Kukunyah pelan-pelan. memang.” “Tapi sialnya. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. Meski mungkin ia mau. Jawa Timur. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku. Gulukguluk Sumenep (Madura). padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. aku bergegas pergi. Bukan semata-mata dari kafe ini. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Santri. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. Meski terkadang aku ingin. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman. Sari-sarinya kutulis diam-diam. Ke kafe ini.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah.” tiba-tiba Alia mengetuk meja. Ron? “Mbak Shinta. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. kulumat saja kenangan-kenangan itu. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan. Ke reuni ini. Reuni? Ah. Banjarmasin Post. Bahkan hingga sekarang. Sampai mewujud jadi novel.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. 7 September 1980.

. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya." “Ya.” Amri membanggakan mainan barunya. sayang.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh.. Ishak. “Ya. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. seharusnya waktu itu aku . Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. Vira. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. Ishak menghela nafas panjang. dan asri karena penuh dengan tanaman hias. Tapi. “Tapi.." Vira menundukkan kepalanya. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. Kemudian.” Vira memeluk boneka itu erat-erat. kenyataannya aku tetap darah daging ayah.” Vira mengambil mainan Amri. menggigit bibirnya. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain. “Maafkan ayahmu ya. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung.” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing. Amri. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan. kamu tunggu di sini. Tapi. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu. “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. Seharusnya aku percaya pada ayah. aku tetap putri ayah satu-satunya. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa." “Ooo. “Mana biar kulihat. Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy. “Bagus juga ya. di kebun bunga-bunga hias. Selang beberapa menit. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira. Putri Ishak. Tak perlu dipikirkan lagi. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. putra kita. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya.” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya. “Semua itu sudah lama terjadi. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya.Mekar Dalam Badai Senin. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita.” ujar Vira tersipu..” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang. duduklah seorang lelaki tua.. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. kau benar.” Ishak tersenyum pada putrinya. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu.” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya. Terima kasih ayah karena telah menemukanya. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering. “Ibu. Lalu memberikannya pada Vira. Di atas meja.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya.ini ambil lagi mainanmu. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya. “Ayah terlalu berlebihan. “Dulu aku begitu jahat pada ayah..

Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. Bersama Vira. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sewaktu mereka berdua berbaikan. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku. penuh kesopanan. apa yang harus kulakukan. yang ingin bertemu dengan neng Vira. aku adalah. Kemudian. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi.” Vira menundukkan kepalanya. ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. imut sekali. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran.. “Bahwa... “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. ketika kita pertama kali bertemu. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu.” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya. Di beranda rumah. ia menatap pada Ishak.” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya. lalu tersenyum padanya. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah.. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. namun ia tidak mampu. Tapi nyatanya. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri... mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni. mang Husni mendatangi mereka. Di beranda rumah. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Dia tidak mengetahui kalau. Sophian duduk di kursi kayu. berada di dekatmu. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya. “Ini yang namanya Amri ya. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. pembantu mereka.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. . sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. “Oo. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku.” kata Ishak bersemangat.” kata Vira. Ada tamu yang bernama Sophian. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu.lebih sering berada di rumah. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut. Kemudian. Sophian. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Vira menghela nafas panjang. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira. menghela nafas dalam-dalam. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya.” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat.. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai.. Baju dinasnya terseterika dengan rapih. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. “Maaf pak. meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya. “Dulu.” kata mang Husni dengan nada suara lembut. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda. Namun. Ayah. Kemudian. ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan.” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak. Ia memandang penuh harap kepada putrinya. Pada masa itu. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak. aku adalah. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya. Amri datang mendekati Ishak.. aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya. kemudian menundukkan kepalanya. “Oo Ayah.” Sophian tersenyum simpul pada Vira. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab..?” Sophian penasaran.

selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu. satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar.“Maafkan aku. Janganlah terlalu kau pikirkan.” tak ada semangat dari nada suara Vira. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini.” Vira tersenyum merasa lega. berjalan memasuki rumah. engkau mengatakan kebenaran ini. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira. 30 Agustus 1985. kita main lagi. toleransi terhadap semua kesalahan orang. Akhirnya. ia sudah melupakan kesedihannya. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah. tak menggubris Vira yang memanggil namanya. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil. “Sudah empat bulan kita berhubungan. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. Setidaknya kita bertiga saling memiliki.” Sophian segera bangkit. apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar. Sekarang.” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja.” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya. . RT01/RW07.. Kini tinggal di Komp. itulah yang paling berharga.” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. Ia menundukkan kepalanya. Serang – Banten." “Ayo yah. Pemda Blok A-8. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. “Oo. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Dengan sekejap. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf.” kata Vira. Sambil bergandengan tangan. “Jangan kau cemaskan itu. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. Aku tak bisa menerimanya. “Kurasa ia takkan kembali lagi. dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya. Cinanggung.” “Dia memang tidak pantas bagimu. Aku harus segera pergi sekarang. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. mereka bertiga meneruskan langkah mereka. Sophian.. 42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian. merasa sedih karena telah dibohongi. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya. Dan sekarang. “Ayah benar. “Menurut Ayah. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan. Kel. Kaligandu. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira.

yang senantiasa menyemangatinya.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. sekarang mata itu justru mengabaikannya. Tatapannya terlihat sendu. “Eling Kang. Tanpa menunggu jawaban suaminya.” sambung Mbok Mini. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya. Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya. Mbok Mini menarik nafas panjang. Si Narti bilang. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. . Bener ndak. memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. Kang Narto. berisi dipan kayu lebar beralas tikar.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. Pernah suatu hari. Namun. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. Dan sejak itu. Tak ada perabot lain. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”. sampeyan ini sudah tua. sudah bengkok. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya. apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. kesal. antara marah. ujarnya sambil menangis. geram. kalau ndak giat kerja siang malam. aku ngerti. “Aku malu. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. Dengan sebal. ia meneruskan. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. suaminya. perasaannya campur-aduk. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. aku kok jadi kuwatir. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. Sambil menghela nafas panjang. “Kamu ini lama-lama cerewet juga. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. nanti malah bikin repot orang. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. Ia menyipitkan matanya. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. “Iya Kang. Kang. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu.

“Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. meski tenaganya hampir habis tak tersisa. “Aku Gatot. sampeyan di dalam? Gelap amat. Kami mau ngasih tahu. Kang. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus. Dipandanginya becak itu sejenak. lalu memandang ke arah rekannya. Hingga suatu sore. “Akhirnya sampeyan pulang juga. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya. tetangganya sebut. sentirnya ndak dinyalain. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya.”. Ika Winterholler Nürnberg.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. Namun. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah. apalagi menegur suaminya. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya. Mbok. “Mbok.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. dielusnya benda itu dengan penuh kasih.“ seru pria yang satunya. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko. bahwa Kang narto. membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat.09. Mau nganterin becaknya Kang Narto. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. Keduanya mengangguk dengan pelan. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. “Begini Mbok. ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya.2012 . kesehatan Mbok Mini mulai menurun.“ bisiknya lirih. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun. pria paruh baya itu terbata-bata. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. 24. sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti.. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu.

“Justru karena aku tahu kau peduli.” cerita Beringin tua. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu. garis hina.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. Kau pohon dan aku manusia. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. segar. melainkan dipindahkan saja. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku. “Maafkan aku. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin. mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam.” sela suara yang sama. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap.” kutegaskan permintaan maafku.” jawabku asal bicara. hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. “Tentu saja. seperti menari-nari kegirangan. Senja itu. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. kukira kau tak mengerti yang kulakukan. Seingatku pohon itu dulu rimbun. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun. tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. “Aku sudah mengamatimu lama. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku.” jawabku terpotong-potong. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. memandangku dengan belas kasihan. kering. Aku memang hidup di garis bawah. . warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku.

zaman telah berkembang.” tambahku. "Baiklah. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang. Kau tahu kan. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku. Keadaan memang sudah berbeda saat ini. Tapi kali ini aku sedang buru-buru. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang. pada manusia. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama. Tentu saja aku menjawab iya.” Beringin tua merintih. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. “Hei. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah. dia hanya lalai. tunggu sebentar. “Ya. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku. ya itu suara Beringin tua. “Biar aku teduhi tubuhmu. Aku amati batangnya. aku sering bermain di sini bersama teman-teman. terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. aku usahakan untuk mencopotnya.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. juga tentang keberlangsungannya. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. Kini alam mulai mengancam. “Maafkan dia. Segera aku berpamitan padanya. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem. Orang tadi.“Boleh jadi manusia lebih bangga. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. . udara semakin sesak oleh polusi. menempel entah apa di badanku!” terangnya. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua." Jawab Beringin tua. “Aku kesakitan. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. Aku juga paham teori menjaga alam. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia. Dengan badan yang tertusuk paku. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. Dia tergusur oleh pembangunan.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi. Aku mulai sadar.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. saat aku masih kecil. Setelah cukup lama. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. *** Dulu. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. tentang populasi. berusaha meneduhiku. yang memasang paku ini. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan. memelihara lingkungan. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini.

hanya itu saja. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. sementara hasilnya samar. Aku tidak tega membiarkannya menderita. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri.” Air mata menetes di sela penjelasanku. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. Akal pikiran dikaruniakan padamu. “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam. saat itulah alam menangis. Tergusur. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. Proposal yang aku ajukan disetujui. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan. ulat-ulat memakan dedaunanku. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan.” tegas Beringin tua. Ya. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia. Burung-burung bersarang di rantingku. Beberapa bulan kemudian. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup. Aku mulai berpikir. Sontak aku membayangkan. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. Tidak serakah seperti kaummu. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana.” kataku. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. menyesali akar-akar yang musnah. “Sudahlah jangan murung. “Beringin. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. bagaimana jika hidupku yang tergusur. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. Tapi aku tetap bisa berusaha. upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil.Tersentak aku. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. tidak menginjak tanaman. menemani dan menjadi tempatku berbagi. tentu kau bisa memanfaatkannya. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. seperti dia paham akan kegusaranku. menyesali daundaun hijau yang mengering. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. peduli pada alam yang memberinya hidup. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. Bukankah memang benar kata-kata itu. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan.” ujar Beringin tua.” kata Beringin itu. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. Akan tetapi. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. Mana bisa dia mencengkeramku.

Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu. hanyut bersama harta benda penduduk. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian.. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi. Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya.” Papar Beringin tua. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. “Bukan begitu. Hasilnya bisa kau lihat sendiri. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing. “Aih. Ya sekarang tinggal pasrah saja. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. kami korban banjir Kali Cisari.” Beringin tua mencibir. “Sebenarnya samar sih. Kurasakan tubuhku semakin melemah. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita.” jawabku singkat. serakah. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. Sementara itu. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya. tapi aku bisa merasakannya. tubuhku mulai mengurus. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. “Sabar Beringin. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia.” Tegas Beringin tua. Tentu bisa ditebak. membagi perasaan suka dan duka. “Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. Penduduk yang tamak. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua.” . “Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. “Kau sudah lakukan yang terbaik. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu. Kalau saja aku masih kuat. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. *** Hari ini 20 Januari 2012.. biarkan mereka menikmati keserakahannya. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. Selalu membagi cerita. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali.” Dia menimpali kata-kataku. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. tentu sudah kurobohkan semua itu. yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. aku sudah putus asa. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini.” Aku mulai bicara asal. Sahabatku! Aih. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air. Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan.” Ceritanya berlanjut. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu.” Beringin tua mulai balas bercerita. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri.

biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya.” Seperti biasa. Salah seorang sepupuku berkhabar. Apalagi hujan baru tercurah. ia bersedia menampung untuk sementara waktu. . membuat iri. “Berangkatlah. Namun. Cerpen Pesarean Kamis. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah.pora menghisap darah di tubuh kering ini. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. kamulah satu–satunya anak Bunda. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. Gelisah meraja. menjelma Malin Kundang.” suara Bunda tercekat. Lanang janji. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. “Le. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. Senyum manis yang selalu menahan getir. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda.” “Iya Bun. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. bangkitkan hawa malam atis menggigil. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. Pesan itu terngiang kembali. tapi mata tak ada isyarat lelah. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. adegan berpuluh tahun silam melela. Lima tahun. 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. jangan hiraukan Bunda. Dengkur teman satu sel menggema. Rasanya tak pantas berkunjung.Selepas kesedihan ini. mata tua itu berlinang. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta). Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda.

Betapa bangga Bunda. Melangkah ke kamar. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. “Justru karena Lina begitu tinggi Le. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. sebagai seorang laki-laki dewasa. Tatapannya begitu lembut. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. Seperti kisah dalam roman picisan. **** Masa begitu cepat berlalu. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu.” Kutatap sorot mata Bunda. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. meninggalkan sensasi khas kekeringan. derajat kita tak sebanding dengannya. “Kamu masih terlalu hijau Le. demikian sebaliknya. terlepas dari genggaman.”selaku menunggu reaksi selanjutnya. jika umatnya selalu berusaha. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. Serasa ada sesuatu yang hilang. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. aku segera mencari pasangan hidup. yang berbeda tabiat dan kebiasaan. mencari istri itu bukan seperti membeli barang.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan. bebet dan bobotnya. Gusti Allah ora sare Le. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini.“Tapi Bun…. Lanang sangat mencintai Lina. sehingga bila mencari menantu harus sederajat. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. dielusnya rambutku. “Ah. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. “Kalau boleh tahu. seolah pintu regol rumah Eyang . membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil. Biaya kuliah ‘kan mahal. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. Orang Jawa bilang harus jelas bibit. Wajah itu semakin dipenuhi keriput. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni. Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. Lina. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. kenapa diam Le. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir. Kututup pintu. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. “Jangan kuatir Le. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. Namun rupanya belum ada hasilnya. kini menjadi pacarku. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. Bau debu mengepul. “Nang. menembus labirin waktu. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya.”desahku setengah berbisik. Seiring waktu berjalan. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah.” “Bunda. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. Bunda beranjak. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun.” Bunda memulai perdebatan kami. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. Aku hanya terdiam. “Iya Nang. “Lho.

sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak. tapi cukup membuatku tersedak. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda.” Bunda memandangku sendu. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya. Sayang. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah. sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu. Sabar ya. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. cinta pada pandangan pertama. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Di kota pecel Madiun. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap. adik ayah. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. termasuk istri pejabat. jangan bawa makanan ke rumah Romo. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. “Tapi Mas. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku.” terdengar suara mengagetkan kami.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. Masih membekas dalam ingatan. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. mukaku merona. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. ia akan pergi sendiri.” suara Lina lembut. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. Menurutku usahanya adalah kesiaan. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani.” “Iya saya tahu. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang.” Ayah menggumam. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan. tapi apa sambutan mereka. toh tembok karang itu tak jua tergerus. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. “Mas. Jahitan Bunda rapi dan halus. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. menumpahkan rasa.” kuremas jemari lentiknya. . tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. “I…iya Lin. “Jangan kau ungkit masalah itu. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. titik!”sergahku sengit. toh aku bukan anak kecil lagi. anak lanang satu-satunya ini. separuh nyawanya telah tercerabut. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. walau terjangan ombak datang setiap saat. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. Hanya cibiran saja yang kita terima. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. “Sudah berapa kali aku bilang. Simbah Nyai. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina. matanya sembab. “Bunda memang menantu yang baik. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. Air jeruk tertumpah di kemeja. bahkan disaat kritis sekalipun. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. bergelut hebat. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. Pikiranku berkecamuk.

Walaupun harus mengorbankan segala perasaan. terkadang melalaikan urusan rumah tangga. “Aku berangkat Mas. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa. aku sudah bosan tinggal di rumah. “Iya. dapur dan tempat tidur. bukankah ini kemauan Lina sendiri. tak perlu kita berdebat soal ini. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. “Lanang telah berketetapan Bunda.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. segera kuganti. “Iya Mas. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya. seolah penuh tekanan yang menghimpit. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. “Sudahlah Mas. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan.” Kupeluk Bunda penuh keharuan. Kasih keputusan segera. kakak iparku itu. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. besok.” jelas Lina pendek.” Senyum Lina merekah seketika. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. Lho. Ia mau membuka butik baru. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. meninggalkanku yang tercenung tak percaya. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. Lain kali masalah ini kita bahas lagi.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya.” Aku bersikeras. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. jangan jadi suami kolot. Demikian pula yang terjadi dengan kami. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali.” “Apapun alasannya. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. Bunda mau bilang apa. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. “Ke rumah Mbak Dini lagi. Kali ini begitu berat. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya. seminggu. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. Ia tidak membelaku. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. Nafas menghembus pelan. kubersujud di pangkuannya. diam dalam ego masing-masing. “Oke Lin. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu.“Secepatnya itu kapan Mas. Celananya basah. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. kutatap Bunda mencari kepastian. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. Duniaku hanya seputar sumur. Yang menjadi korban tentu saja Anisa.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa. **** Tiga tahun berselang… “Mas. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak. Ini jaman emansipasi wanita. wajahnya berseri.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. Benar kata bijak. masalah sepele bisa membesar. Bagai api yang disiram bensin.” Lina berkata seperti tanpa beban. aku mau ke rumah Mbak Dini. seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. terburu kuhampiri. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk. Tangisan Anisa terdengar dari kamar. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. sebulan atau setahun lagi. Perselisihan makin meruncing. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. Semoga memori . membakar harkatku sebagai seorang laki-laki.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. Mas ‘kan lakilaki. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. Dandanannya begitu rapi. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini. melebar ke mana-mana. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. bagai prajurit yang menang di medan laga. Mbak Dini sudah menunggu.

Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding.” “Enggak kok siapa bilang. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan. tak bisa diganggu gugat. Mataku mengerjap.” aku masih mencoba berkelit. Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan. Aku yang pegang kemudi hilang kendali. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. aku tidak akan meminta bantuan Bunda. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. samar matahari tergelincir ke barat.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. seperti syair lagu lama. Malang. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. Bunda mau balik ke Madiun. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu. Bunda tersenyum kecut. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. akhirnya tercium juga. Roti tawar yang siap masuk mulut. Memang ada pengasuh. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. . Ya. “Nang. “Wis tho Le. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan. kuletakkan kembali.” “Apa kamu bilang nggak cukup. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru. wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. Demi Anisa. Bunda sudah tahu semuanya. sedangkan ibunya tak begitu peduli. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. Aku ingin hidup layak. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. Aku. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. “Maafkan Bunda Nang. “Lho kenapa Bun. “Mas.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. mobil kami masuk jurang dan terbakar. itulah nama Bunda. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. Bunda. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. Bunda mengangguk pelan. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga.

Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. Hisin Jentik yang memberitahu aku. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. Masih ingatkah ia padaku. Semenjak aku menjalani hukuman. walau dunia kita telah berbeda. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah. Lanang janji! Rumah Hijau. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16. tapi malah akrab . keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. kesehatan Bunda menurun drastis. Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. semoga keajaiban sudi menghampiri. ingin rasanya gantung diri waktu itu. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. Sudah seberapa besar ia sekarang. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. Sumpah demi Tuhan. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. Sebagai seorang suami. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. aku begitu mencintai Lina. kuburan 2) Bibit. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. Besok aku akan menemui putriku Anisa. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. Aku heran ada anak kecil seperti itu. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. Bekerja sebagai PNS. Sungguh. HP : 081317500341. Selamat tinggal Bunda. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail.Segera setelah keluar dari rumah sakit.com. Sekarang tinggal di Depok. Penyakit asmanya sering kambuh. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. 28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam. Hatiku hancur. Hari ini. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Pasti cantik seperti ibunya. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. adalah nama pena dari Joko Rehutomo.

main petak umpet. kupikir. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. Aku tak habis dimarahi ibunya. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. “Tunggu di sini sebentar.” kataku. lewat kalimat yang sangat kasar. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. “Kita ini. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. suatu hari. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia. Ya. Iren yang genit seketika menarikku berlari.” sahutku. itu ‘kan binatang?” tanyaku. kami bertetangga. menghardik aku habisan-habisan. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. Beruntung. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. Nama tokohnya. di bawah ranjang. Kukira. sore-sore. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. tidak boleh masuk sembarangan. menunjukkan rasa marah. Tapi semua bukan salahku saja. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin.” Karena. Ah. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. “Hey.” katanya penuh jumawa. *** SEJAK itu. dulu. “Iya. Tak mau tahu juga cinta itu . Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. aku langsung tahu apa maunya. Saat Iren buka celana. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. dan mendapat giliran untuk sembunyi. Si Buta dari Goa Hantu. mungkin karena malu. monyet!” jawabnya. Jadi. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku.” kelahku membuktikan fakta. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. Kawin itu nanti kalau sudah besar. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. “masih kecil untuk bicara soal cinta. “Dia jagoanku. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. “Aku dipaksa dia. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang. cinta itu kawin.dengan binatang. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. ibuku datang membela. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. Kurasa. Namun. Sewaktu kutanya lagi. Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Sebelumnya.

sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). panjangnya 500 centimeter. sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. dulu) Semula. menimbulkan derita tersendiri. Hari pertama masuk SD kelas 1. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun.” Matanya itu. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. Tangan yang jadinya sedikit memar. aku meringis selama seminggu. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong. SD kelas 1. Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. rasanya tidak enak. tetapi mendongak. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. Kawan main bola. waktu pun berlalu. kasti. dua bangku. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. ruas tulang jari tengah tangan kanan. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. Alhasil. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. Aku tak menunduk. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. tanganku selalu ingin menulis saja. Dan. apa boleh buat. Kanan bukan tangan yang baik. Penggaris. gambaran. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. Maafkanlah aku ini. guru yang baik. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. betapa kuat. hm…hm. sejak itu. dan yang duduk di kelas lain. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. layangan. Alatnya memukul adalah mistar kayu. aku menulis pakai tangan kiri. dan kawan berkelahi. baiklah kutulis surat saja. Sampai sekarang pun juga … Tapi. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. namanya penderitaan. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”. “Kawanku. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. Tangan ini digebuk oleh guru. Sampailah rekornya. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya. sungguh … Dan. pingpong. saat melangkah masuk pintu kelas 1. Karena Iren telah memberitahu aku. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. saat pindah rumah dari kampung kami. habis menulis. mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya.seperti apa. Buku jarinya ada di atas. Itu yang kusukai. berenang. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. Aku punya banyak kawan. Sengaja kupandang lekat. . Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. yang kira-kira setebal tiga centi. (Sungguh. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. Berapa besar. Hanya itu. Kalau melihat kawan sebangku. Keringat pasti tertitik di dahi. Karenanya. akibatnya. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. Ah.

Larry pasti pengen mampir ketemu Adek. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun.*** Fort Rotterdam." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. Yang memberitahu aku." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. ail hujannya netes lagi. "Mama yang nungguin. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana. 27 September 2012 11:13 wib "MAMA. Lalu. Hisin Jentik. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . Kata Hisin." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu. Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini. "Mama.Sejak itu aku menyukai mata pena. Ma?" "Mama belum tahu. Dek. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang. percaya Mama. tak lama lagi cekung. Matanya sudah sembab." tegur Avis. "Kapan. pintu-pintu kita buka. Dek.

menceburkan diri ke air. "Sabar dan sholat. siku jendela hingga kaca. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. Larry. Suara jangkrik sudah berpadu. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku. Innallaha ma'ashobirin. Tik. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana.ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil. teriakku. Pintu depan rumahku masih tertutup. Kini makin memekakkan gendang telinga. Linangan air masih ada. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah.. Pelan. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. menjadi santapan cicak-cicak. ataukah digotong sepasukan semut rumah.Avis jangan memendar kemudian menghilang.leganya. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru. si kecil Avis masih menikmati tidurnya.. tapi sudah bertanda. Belum terlihat. Drrtt. Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Kemudian menjemput takdirnya. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku. Kusibak korden kamar. Depok. Larry tak bisa memilih takdirnya... Itu kulihat dari sungging senyumnya.." tepuk sebuah tangan di pundakku.hujan sudah mereda. Berhasil. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar.tik. Plop. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami. Plokk. Meski terbang agak lemah.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku.. "Kun fayakun. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari . Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku." Larry. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang. Aah.. kelopak matanya terpejam. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. Entah dari mana.menyikut ujung-ujung kayu pintu.drrt. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu..

PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. PUISI #4 . Aku selalu menuruti perintahmu. nanti saja kau telepon lagi. aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. Aku berpikir tentangmu. Dan. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. “Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. Kemanapun kau pergi. Namun. Tapi. Kata orang kita sahabat yang karib. kukira. Dengan segera aku meneleponmu. “Wah. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. aku sedang sibuk. Sejak kecil dulu. kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. kita selalu bersama. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. Ya. Tetapi. aku merasakan malam yang tidak biasa. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. kegelisahan selalu menyeruak. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. PUISI #2 Malam itu. Kau yang pertama kuhubungi. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. sungguh. Dan. Dalam perjalanan pulang. Aku memang suka menulis puisi.” Impian mentraktirmu sirna sudah. Aku kehilangan akal sehatku. Namun. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. Sama halnya dengan menulis puisi. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. Malam yang penuh dengan kegelisahan. Dan.Cerpen Fragmen Puisi Senin. aku baru saja pulang dari rumahmu. Betapa tidak. Kau bilang. bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit. Tetapi.

Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. Kusampaikan keinginanku padamu. Semenjak itu. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. Sebab. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Kutahu. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . Kau sering dimarahi atasanmu. Kudengar. Menurutku. kau sering memukul istrimu. Kau tarik kerah bajunya. Maaf. sahabatku. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. Layang-layang itu punyamu. iya. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. Aku tahu itu. itu bukan tindakan seorang lelaki. Sepanjang perjalanan. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. dan kau merestui niatku. Kau kalah taruhan. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. aku pun juga kangen kepadamu. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. kau berkunjung ke rumahku. Melihat kau yang sudah beristri. Tapi aku tidak bisa. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. Sering kujumpai kau pulang pagi. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. betapa bahagianya aku kini. Kulihat wajahmu merah padam. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. Tetapi. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. Malam itu. Ah. Sebetulnya. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. Namun. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. Bisa kau bayangkan. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. setidaknya membahagiakannya. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. kau tahu itu. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. di tepi danau. Namun. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. Padahal. Istriku yang cantik. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. bahkan tidak pulang sama sekali. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. Suatu hari. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal.

sekali lagi maaf. Maaf. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. kenapa kau harus menyeberang malam itu. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya.blogspot. Anak-anakmu menjerit hebat. Tetapi. Aku ingin segalanya serba rahasia. kecepatan yang tinggi. Nomor ponsel (085721904020). Perselingkuhan. aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. aku menjalankan mobilku dengan gila. Kau pun terjerembap ke selokan. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. kau tidak pernah marah. Kematian terlalu cepat menurutku.istriku. Dengan berat. Dalam pikiran yang terus berputar. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku. . Kupikir kau telah mati di tempat. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. Maaf. Istriku yang cantik. Akh. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Aku hanya diam. Kau tengah bersama istriku. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. Belakangan kutahu. aku menjemputmu. Tapi. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna. Hingga suatu saat. PUISI #10 Kau terlanjur mati. serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. istrimu pingsan. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. Bandung. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. Ia memintaku untuk menjemputmu. Katanya.com/. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. kalaupun kubuat. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. Sahabat yang kukenal sejak kecil. Dalam pikiran yang terus berputar. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. aku mendengar tawa istriku yang renyah. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. kau mabuk berat di sebuah bar. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. Beruntung. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Istrimu yang sering mengeluh padaku. Namun. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. malam yang hening dan muram. Namun. Sesampainya di halaman. 29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. Aktif menulis dan bermusik.

Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. Padahal aku hanya pakai sedikit garam. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. lidahku kelu untuk mengatakannya. “Mm. Dengan malas. Kulihat akibat kata-kataku. Dalam otakku. karena kapuknya telah mati. Namun. Pak.” kuulangi lagi. makan dulu. aku keluar kamar.” Kubantu dia duduk di ranjang. akan tumbuh . Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya. suamiku sudah berteriak. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. mengenai seprei dan kebayaku. sama seperti anggota tubuhnya yang lain. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. Kedua alisnya bertaut. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. aku beringsut ke kamar. “Pak. tak sekali pun aku membaginya. “Buuu!” Belum lama aku di dapur. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. ya? Sebentar aku bikinkan lagi.Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. ya.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. penisnya sudah mengkerut. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. Tiba-tiba dia menangkis tanganku. “Hmm. tertanam ajaran orangtua. Asin sekali. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur. kutolong dia untuk merebah. Aku ganti. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna. Laki-laki yang malang. Aku yakin. Seperti biasa. ya. “Pak.” Kuusap buku jarinya yang kisut. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa.” kudekatkan mulut ke kupingnya. Ketika menikahi dia. Minum?!” Kuulurkan gelas. apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. “Makan. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Aku mencium gelagat buruk. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. Tetapi. Setelah mengulurkan piring. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua. hatiku menguncup. Dengan sadar. “Sebentar. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia.” Aku tergopoh ke dapur. Air pun muncrat. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua). “Ha. Dia tak bergerak. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku.

aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. kesadaran akan posisi diriku. Aku membayangkan. dan setia kepadanya. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. Sebelum kawin dengan dia. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. Dengan penuh kehendak. Aku tidak mengeluh. iya. Orangtua kami bahagia. Dengan sewenang-wenang. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. air ludah yang menyembur. Kedua. Apakah aku menyesal? Terus terang. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Dia majikanku dan aku budaknya. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. Yang ada. Seolah-olah di mata suamiku. wajah yang ramah. Budak yang berperan sebagai istri. Tak ada tutur kata halus. padahal aku sedang mengandung benihnya. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. Namun. Yang penting dia tak lupa memberiku uang. karena pengabdianku. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Oh. Hardikan suami. Pertama. semua yang kulakukan adalah salah. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. membuatku bisa berpikir jernih. Kata orangtuaku. Bukan demi siapa pun. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. tugasku hanyalah tidur dengan suami.jika kami sering bersama. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Kuelus perutku. Aku ingin purik. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. seiring berjalannya waktu. dia menghardikku! Menurutnya. tapi demi diriku sendiri. Sungguh. tanpa kusangka-sangka. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. Dorongan itu begitu kuat mendesak. tak ingin mendurhakai mereka. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. Kukatakan. melayaninya. Kata ibuku. Mataku mengerjap. Aku harap. Sungguh. Dan karenanya. teriakan. Pertama kali tidur bersama. aku sakit! Dua pengertiannya. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Jika aku nekat purik. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. Namun. Kutemukan diriku di ranjang. Sejauh ini. O. Aku patuh melakukannya.… lalu gelap. aku terlalu lambat. Dia mendengkur. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. Kedudukan suamiku . Namun. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. Selesai sudah. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. Namun. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. semua bayanganku jungkir balik. karena melihat kami tampak rukun. Dia menolak mengantarkanku. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami. Tetap melayaninya. karena kesetiaanku kepadanya. Dia tega berkhianat. Aku ada di sini karena uangnya. Tetapi. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan. Hal sama terus berulang setiap malam. semuanya gelap. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. Namun. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. suamiku akan melembutkan sifatnya.

malaikat maut belum juga menjemput. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. seperti orang-tua atau raja. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Tulangku sudah rapuh. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. Berdiri menghadap punggung suamiku. E-mail totokutomo@ymail. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. suamiku!” Ledug. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. aku tak sabar untuk berucap. Namun. dan tak ada cinta di hati.com. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Rumah pelesiran: Rumah bordil. Tapi itu tidak . Suci tak pernah menemukan arti kata cinta. Selanjutnya mata mengeluarkan air. Dan di sinilah aku kini. Padahal. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. dia sangat ramah dan supel. Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. maka mata ikut menangis. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan.terpandang. Sungguh. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. 42 tahun sudah aku mengabdi. karena di luar rumah. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati. Telepon/SMS (0281) 5730489. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. “Selamat enyah. Tapi. Apakah cinta seperti itu?. mengucapkan kata cinta itu mudah. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. selalu mengerti terhadap satu sama lain. rambutku memudar. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. maka tangan ikut mengusapnya.

tapi tak masuk dalam logikanya. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta. Tapi. mendustakan cinta. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. Setiap pagi Suci bangun dari tidur. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri. Kalau cinta seperti itu. Mungkin. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. ia tak pernah bercinta. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. sulit dipecahkan. Namun. untuk mengartikan apa itu cinta. aku ingin bertanya kepadamu. cinta. Hendizal : Hendri : Langgam. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. memiliki arti kata cinta. Suci hanya mengeluh. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. bahkan memalsukan cinta. setiap orang di dunia ini. I. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta.mungkin. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. eN. Di dalam hari-harinya. namun tak pernah ditemukannya. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. Te. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. sebagian cinta saya itu. menyatu dengan cinta punjaan hati saya. A.” itu katanya. “Ce. seperti namanya. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari. Setelah saya menemukan pujaan hati. “Sob. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya.com .” jawab sahabat Suci dengan puitis. Suci. apa itu cinta. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri. Suci memang sudah tumbuh dewasa. Sayangnya. susah baginya untuk melupakan kata cinta. Hingga cinta saya itu menjadi untuh. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta. yah aku telah menemukannya. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. “Cinta. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri.” tanya Suci kepada sahabatnya. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. Namun. Dengan santai sahabatnya menjawab. detektif itu adalah dirinya sendiri. semakin susah Suci mengartikan kata cinta. Pernah si pernah. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta.

pada korban. “Di mana Anda antara pukul 02. Namun. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata.Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas. pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya. “S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu …. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah. ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. Petugas yang menanyainya bertampang seram. Tidak perlu kau takut. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu.” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka.00 dini hari sampai pukul 06. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. Senyap …! . tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian.

otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. Namun. Disusul debum dari arah pintu depan. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Terbatuk diriku sesaat. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. Dahiku berkerut. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. Sekali dua kali aku coba menghindarinya. padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. Asap tipis rokok. “Aku sedang butuh uang.” jawab lelaki itu begitu tenang. Aku mengandung anakmu. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. “Bantu aku. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan ….” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. Atau…. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil. tapi dua orang itu. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. belum juga diserang kuap. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. lelaki dan perempuan. Lantas memakainya. hingga bibir kami bertemu. sekarang juga. tidak meneruskan. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan. Namun. Memang berbeda gelagat perempuan.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling. mengerikan. hanya satu yang perlu diketahui. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar. Kita harus segera melangsungkan pernikahan.” katanya singkat. lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu.Malam telah melewati puncak. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya. sementara sang waktu terus berjalan. “Aku mau sepuluh juta. yang tercampakkan di atas sofa.” perempuan itu terdiam. *** Nurlida masih menguntitku. Ruangan seketika senyap. “Jangan mulai lagi.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. alisku bertaut. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang.” “Hei. Win …. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam. tidak untuk mencekikku …. Namun. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. perempuan itu berbisik perlahan. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. yang kepalanya hanya berisikan uang. “Kau boleh tidak menunggu. . Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. Membuat nyalang matanya terpancar. “Aku hamil. takut bersitatap.

Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. sebelum mengecek layar ponsel. Hari itu. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. Terdengar jelas. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. desah napas. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. “Aku telepon ya. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. Nomor itu sudah tersambung.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Hampir Maya lupa hari kelahirannya.” kata Nurlida tiba-tiba. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. Malam yang bising. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya. dua desah napas sebelum ada yang berkata. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki.” bisiknya perlahan. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam.“Atau apa?” bentakku. Lucu ya?” celetukku. pada diriku. (*) Blitar. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. dengan mulut berbusa. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. makin meradang. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah. 23 Juni 2012 3:31 AM . Ah. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. “O. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. yang tertutup jilbab biru muda. “Nur. Dan tanpa disadarinya. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Membayang. “Duh. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. senengnya yang lagi berulang tahun. Kesunyian. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. Perempuan itu menatap sinis. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. Dan akibatnya jalang itu keguguran. Keterkejutan. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan.” “Tapi semua itu idemu. “Kau kenapa May. “Jas. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya. memastikan teleponnya benarbenar tersambung. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. dinyalakannyalah pengeras suara. Setiap hari …. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. tolong pegang kue ini.

Bulan Kebabian (2011). Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. yang hidup dengan berbagai fasilitas. Namun. Tak ayal. 04/RW. memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan.widya@yahoo. Tapi Danang Prabowo. tetap saja semuanya tanpa ekspresi. Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. Kurasa. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. namun berarti itu dipersembahkan untukku. tapi pembuktian.co. Anak seorang anggota DPR. Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. pria terunik yang pernah ku temui. Sekitar 20 tahun lalu. jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. karena bukan aku lah pemeran utamanya. "Thanks. tanpa ucapan. Danang Prabowo. Kecamatan Kanigoro.id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin. N. Tapi. dan Serahim Nira (2012). Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. Pertemuan yang cukup singkat. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit.Oleh W. Tak penting ku sebut namaku. 03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama. Wajah tak begitu tampan . Cinta Pertama (2012). Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana. yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. lebih tepatnya. Maaf. 01. jika kompetisi itu ada. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya.

Mobil yang kutumpangi terus melaju. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. Bahwa." pungkasnya lalu diam kembali. cuma terima kasih yang terlontar. Tepat di depanku. tangannya memberikan pena padaku. Dia sibuk dengan dunianya. memberiku tumpangan. Penulis Risna Nur Rahayu. Karena esoknya. berkutat dengan beritanya." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas. Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan. dia bicara panjang padaku. tapi gak tau kelanjutannya gimana. Priaku. dengan pena pemberiannya. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. "Sudah. bak Pangeran Tanpa Kata. ku tulis namaku di kertas absensi. cinta kadang tak perlu kata. Cerpen Keroncong Senja Kamis. Soal cinta. Kerjanya. ibunya dan keluarganya yang lain. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. 30 Agustus 2012 12:51 wib . Dia tengah sibuk. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. Lantas. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Pangeran Tanpa Kata. Dengan sigap. Diam.tapi terlihat karismatik. Sampai suatu hari. tanpa jawaban. Lantas hening. Lagi-lagi. Akhirnya dia bicara. membawa kami kembali dalam diam. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional. kendaraan pun terus melaju. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Dia benar-benar bicara. Ayahnya.

Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. berjenggot tipis. berkaos oblong. Ndak mau ah. meski aku baru . Ia sudah mengenalku sejak lama. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. Ia membentak angkot. berkalung peluit butut. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. Ia masih setia menyajikan gudeg. yang dia carter dari pinggiran kota. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. semenjak aku masih menetek ibuku. kumis tipis. Sebab kami sama-sama semata wayang. penjaga hotel. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku. “Masak ndak ada pria yang bener toh. stasiun. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka. Sudah remaja dia rupanya. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. “Lah. anak-anak berandalan di tikungan sana. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. Jagung-jagung itu masih demikian segar. karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. Tapi saya tolak. delman-delman. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi. yang lainnya menenteng kardus. Mbok Garwami mau curhat. kereta-kereta usang. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. Di bawah merkuri.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. Ia selalu mengatakan. ketika kubuka jendela kamar hotel. Aerosmith atau Bon Jovi. tukang becak. menjelang matahari tenggelam. Sudah berapa ribu motor. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. bercelana jin sedikit pudar. manis dan pahitnya masa terasa kental). Suara yang berat dan tersendat. menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. Cukup mengatakan nama hotelnya. gerbang kota. Dik Sastro ini enggak percaya toh. kepulan uap demikian hangat. membawa gudeg dari rumahnya. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. Ratri. yang diatur Pakdhe Jarwo. tiang-tiang lampu. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. “Dik Sastro. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak. sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. dan aku selalu ketawa mendengar itu. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. Semburat senja. siapa mau toh. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. ia sudah paham. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. Rambut sebahu agak ikal. Berseragam oranye. Bukan apa-apa. aku tak bisa membayangkan. Gadis yang manis. lah mereka. nasi liwet. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas. sandal jepit. Aku dengar suara Pak Surat. Aku menatap senja. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir. Mbok?” tanyaku dengan harapan. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. diam-diam aku pandang secara lekat. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. L’arc en ciel. Ia menyewa tukang ojek.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. mancing-mancing nih. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. aku sudah menganggap dia sebagai adik. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu.

bersanding di liang suami yang ia cintai. sebuah harian yang baru didirikan. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. selepas hujan. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. Hati ini selalu begitu gemetar. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. ia masih suka membaca. ia begitu dekat dengan keluargaku. Suara muadzin baru saja selesai. Nugroho. Pertama kali aku menerimanya. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Kamu harus banyak belajar. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini. lagu itu terus yang ia mainkan. Ia seorang kutu buku sejak remaja. tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. Meneteskan air mata. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. “Hati-hati di rantau. Ia lahir di Purworejo. Ya.” tulisnya.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. Sapardi Djoko Damono.turun dari kereta eksekutif. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. Pejaten Timur. seorang blogger cum wartawan. Darinyalah aku belajar sastra. berada di depan. Jakarta Selatan. Sepotong surat warna ungu. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. membaca tulisan tangannya. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. pemilik hotel ini adalah paklikku. Dari empat toko. Tulisan latin tempo dulu. Tulisan itu tidak begitu panjang. Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. Makanya. Dan dia selalu berujar. singkat padat dan berisi. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Di dalam becak. tulisannya ditulis oleh Ratri. hanya enam baris. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. Mas. Kangen memang menunggu suratnya. bertulis tangan. Tapi. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. . “Cepatlah datang. Aku simak bait-bait surat itu. Jangan lupa. Semoga sukses. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kamar di lantai satu. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. ya seperti senja kali ini. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. Doa ibu selalu menyertaimu. aku buka kembali surat itu. surat itu diletakkan di atas. atau Danarto.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. aku rogoh kantong jaketku. sebenarnya bukan itu saja. Ia tak suka bertele-tele. seperti guru-guru SD-ku. Aku kaget membaca surat itu. tapi tulisannya berbeda. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta. 01. Ia begitu agung bagi hidupku. Ternyata. 20 Juli 1985. Di tumpukan baju teratas. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. Aku hafal betul tulisan itu. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. Meski sudah berumur 67 tahun.

Seperti biasa. . tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. belum lagi seragamku yang masih melekat. Apa susahnya. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. cuci piring?” Ya. Ya. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. “Ibu tahu kamu capek. siapa suruh bentak-bentak.” Memang. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Di antara pandangan yang gelap. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. kimia dan sejarah. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang. sih. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan.” Lebay. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini…. ya. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur. Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini. Aku pun hanya mendesah. Kalau tidak tugas. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi. Heh.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti. “Kamu itu sudah besar. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. Ya. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. langsung mandi. Bantu-bantu sedikitlah. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. salat. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. ulangan harian. tidak dipungkiri lagi. “Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen.

Kita tidak boleh membentak.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat. aku merasa suatu sensasi yang aneh. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama.tadinya begitu. selalu lari dari masalah. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. satpam sekolahku. seperti saat ini. Rafa. ampunilah dosa hambaMu ini. menyusui. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh.” batinku. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri.” kata Pak Wiji. Aku memang ingin cepat pergi. . Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. tapi mood menolongku menghilang. Untuk Rafa. “Au. Kalau seperti ini terus. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat. Memang. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan. Aku hanya mendesah. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku. “Ada titipan dari ibu. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. dari pada di rumah sendiri. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. Inilah aku. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. tapi gengsi dong. ah.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini. sulit juga memahami tulisan yang dibaca. Ibu tidak mau lagi mengurusimu. gelap. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya. “Ya Allah. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. dan menyapih kita dengan susah payah. Ini uang sakumu. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. Tanpa tidur siang. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. Ku buka surat itu perlahan. Selain tidak konsentrasi. Terang saja. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. Yah. saatnya membaca ayat suci Alquran. Dan tentu saja. “Kenapa mukamu seperti itu. Tapi ternyata tidak hanya itu.” Pura-pura tidak dengar. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa. Oh iya. Kau pasti lupa membawanya.” jelas mentor Sisan. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah. Ibu kita telah mengandung. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami.” Jleb. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. Aku teringat pada Ibu. “Rafa Afifah. Nanti jaga rumah. Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. Makanan di meja ku lewati begitu saja.” sahutku cemberut. ada sepucuk surat terlampir di sana. Jantungku serasa berdegup lebih keras. maafkan ibu karena terlalu keras padamu. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru. Ah. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. Lagi-lagi harus jaga rumah. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. “Alhamdulillah. aku tidak mahir Bahasa Inggris. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. ibu mau pergi. ya. kamu malah santai-santai. Sebenarnya lapar juga sih. “Ya.

Aku berjanji untuk mengubah sikapku. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. Fa! Pak Jono sudah keluar.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. Hatiku benar-benar tidak keruan. “Ada apa Paman?” tanyaku ragu.Tapi. kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Tidak mungkin! “Fa. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. Jawa Tengah. maafkan Rafa. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. Ya Allah. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Namun. “Bangun. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. teeettt… Bel pulang berbunyi. Ibu juga minta maaf. “Kamu kenapa. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. mungkin saja mereka sudah pulang. . Meski Nysa sudah menenangkanku. kakiku melangkah lebih cepat. Aku tidak mau terlambat… Tett. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Ibu. Yap. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. “Ibu sudah memaafkanmu. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat. Tidak mungkin Ibu telah pergi. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. Aku benar-benar menyesal. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. tettt. “Bu. aku mulai melihat ada yang janggal.00 WIB nanti. Ternyata Paman Dika. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. ibu tidak bermaksud memarahimu. nak. Tidur saja pekerjaanmu. “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. Bu. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi. Fa. Rafa benar-benar khilaf. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. Tanpa benar-benar diperintah. tapi hatiku tetap tidak mau diam. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya.

Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. semua akan kuceritakan kepadamu. setiap hari. Cuma ini rahasia di antara kita. untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional.istriku yang cantik . Sertifikatnya ternyata aman.baru saja menikah. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Begitu mudahnya… Aha. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. Tapi jangan kaget. 28 Agustus 2012 AKU dan Qazi . Sertifikat dipalsukan.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. Belum lama juga kami tinggal di sini. tak ada masalah. cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku. di mana lagi? Di ibu kota. Aku bisa menebalkannya kembali. di Menteng.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. sehingga jadi berganda. tak jadi soal. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. semuanya. engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. tentu saja. Sesaat. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. Begitu mudah aku memilikinya. namun baiklah kupendekkan saja. kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. Esoknya. Sebulan silam. Ceritanya panjang. Tak seorang pun . 1945. Ya. Nani. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. Nomornya. bukan? Tenang saja. jangan heran. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. Tapi tak mengapa. Aku tidak menawar harganya lagi.

“Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Lalu. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. Hanya koran-koran. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka. terdakwanya bekas bendahara Partai. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut.boleh tahu mengenai ini cerita. dan seorang kepala departemen. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. Ketika orang mulai ribut-ribut. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai. dalam sidang kasus korupsi proyek itu. beberapa bulan lalu. awalnya. Aku bisa santai terus. Bersembunyi diam-diam. ketika orang-orang mulai ribut. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. Pesta pernikahanku dengan Qazi. posisiku masih aman tenteram.” Aku berhasil membuat publik kagum. majalah-majalah. televisi-televisi. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. Tanggung kelihatannya di mata. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Sehari sebelumnya. Seorang wartawan kecil yang usil. syukurlah. Keponakanku yang lucu. Sebab. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta.” kataku lantang. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku. Hanya kakak sulungku saja. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. mantan artis berambut panjang. kendati begitu. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. secara sembarangan bertanya. boleh kau terka.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. bintang iklan shampoo. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. Untunglah. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku. si bendahara. Eh. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. Setahun lalu. yang – sssttt… . Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. kemudian suaraku tergagap lagi.

Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. kami pindah ke rumah ini. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1. Sebelum akad nikah. Ah. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. sedang lahannya 850 meter persegi. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. tunai. akhirnya aku menikah. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. duduklah saksi dari mempelai perempuan. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku.” Lafazku tumben tidak gagap. kondisi rumah seperti tidak diurus. Buat menutup isu penangkapanku. bahkan. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. Di sebelah meja lainnya. Namun. Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. menurut sebuah cerita. walaupun tinggal berdua. Dia merajuk. Padahal. Setiap sore. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. sedetik saja. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa.ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. alamak. Kalau di Negeri Jiran. entah siapa namanya aku lupa. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. Berikutnya. Tapi hari baik itu tiba juga. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Nyaris tanpa jeda. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. kemudian. Sebelum kubeli. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. Di seberangnya. dulu. khutbah pernikahan. Berdiam-diaman saja. sampai hukum mati. tepat di samping kiri. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu. memang. sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Setelah bulan madu keliling Eropa. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. entah apa jadinya. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. ibuku langsung jatuh pingsan. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. Dia – istriku Qazi – tahu. Rumah yang modelnya bagus nian. . Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. saksi dari mempelai laki-laki. Mulanya. kami sering tidak saling bicara di rumah. yaitu Pak Amin. Gara-gara apalagi. Luasnya 363 meter persegi.

membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi. Sementara itu.Para pengusut pun unjuk gigi. Kini. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. Enam bulan lalu. menembakku dengan pertanyaan klise. karena mengisap narkoba. Bila mataku letih. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita. Di ruang tamu banyak perabot antik. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. oleh Si Belanda pertama. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. televisi. Matahari memancar. Kini. Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. siang nanti. Bergegas aku berjalan ke garasi. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Tak lama membaca. Tapi acara belum dimulai. Tentu saja. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. dari ruang tengah. kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. Sebelumnya. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak. . Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. kukira. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. saya tertangkap polisi di Singapura. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. Dengan anak kunci itu. Semua pelakunya orang Partai. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. majalah. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Lalu langsung menodongkan alat perekam. Dalam sebuah bayangan yang tulus. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. Pemilik aslinya orang Belanda lain. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. Kupikir. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali.

kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. sekarang juga.. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. aku belajar terus supaya makin cerdas. Dingin menusuk tulang. Aku tak pernah henti-henti belajar. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. aku berusaha serius. Sudah basi. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. sebelum pergi. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. narkoba. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin. setelah kukatakan kepada Nani. mungkin semuanya sudah basi. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- .” Kuberi dia senyum kecil. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik.. “Saat ini. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. Kukunci pintu. maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. Masuk kantor Partai.” kataku. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. sepi pengunjung.“Pengampunan ini. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. Sepi. Andai saja tak ada kendaraan lewat. Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian.” Ya. maka harus kuhentikan sendiri. di kantor. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku. Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. merupakan perbuatan yang baik. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan.” Terakhir. biasa. Kurogoh saku.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. Tengah malam. Bogor. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini. Kuisap asap sejarah Nagayoshi.

para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. Tinggal Har dan Novi. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Har jarang pulang ke rumah. Menoleh. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. ia tak banyak ulah. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Mungkin karena waktu itu masih SMP. Kepalanya terasa agak ringan. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. Namun seiring perjalanan waktu. anak bungsunya yang perempuan. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Har tersentak. Di rumah besar milik Har. Pikirannya sedang gundah. Sore tadi. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. Ia memarahi bayi kesayangannya. itu tadi. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga. Akibatnya.” demikian Har pada suatu ketika. Hanya berselang dua bulan. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu. “Terserah apa mau kalian. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. Terjatuh sekali di pintu gerbang. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia tarik napas dalam-dalam. Sama-sama kepala batu. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. yang semula menetap seatap. menyuruhnya naik ke kamar atas. Di mana. Jangan tanya soal pembantu. menerobos rimbunan daun teh. menempeleng sekali.mudi.Gelagapan. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. sikap si bungsu pun mulai berubah. Tetapi Har lupa. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. Fikri pun menyusul. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan. akibatnya ya. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Nunut saja apa kata ayahnya. Alasannya. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. hingga belum tahu harus menjawab apa. pikiran pun mulai jernih. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Har berang bukan main. dijamin beres. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. Akibatnya. Ia selalu menginap di hotel. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Di depan Har. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. Namun yang terbaik bagi Har. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. Tidak perlu mencampuri. hanya mengamini sikap kakaknya. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . Pasalnya. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. Yang Har tak sadari. Har menatap jauh menembus kabut. Har terhenyak dari lamunannya. Har sudah mengaturnya. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”.

mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har. “Di sini dingin sekali ya Oom. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. Dalam hatinya ia menggerutu. Ke hamparan kebun-kebun teh.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. Sama seperti Har. Har diam. berpikir menentukan sikap.. Har merasa aneh. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. Kulitnya agak gelap. katanya sih kembar. “Saya ada vila di sekitar sini. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Perempuan itu masih memandang keluar. Har menoleh. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. tentunya wanita ini belum profesional. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. hitam manis. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. yang itu. lalu biarkan waktu yang akan menentukan. “Kenapa tidak. tentunya tengah dilanda gejolak batin. Ya. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan.” gadis itu menyahut sambil tersenyum. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan. Apa pedulinya. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. Om. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. . Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. nyetir sendiri. Har masih terpaku.” Si Gadis tersenyum. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. menunggangi kabut di puncak pegunungan. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. Serasa ada ganjalan. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata.Namun bila menilik dari parasnya. sekikuk dirinya.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. tentu. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. Har tak menolak untuk dimangsa. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya.dipenuhi tumbuhan teh. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Sesaat mobil bergerak perlahan. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk. menembus kaca jendela.. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. “Boleh. “Oh…. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik.” ia tersenyum. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. “Om gak bawa sopir kan. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. Formil dan serba tergesa-gesa. Ditelan hidup-hidup pun dia mau. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Namun yang keluar dari mulutnya malahan.

sesederhana dandanan dan sikapnya. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. ia turun dari tempat tidur. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. atau…. Imah inginnya menolak. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. Haryanto. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang . “Saya sedang kesulitan uang. Tadi dia kira itu Novi. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini. misalnya. Imah sudah tak ada di sisinya. Jelas. Sebagai penggantinya. Atau Sherly. Tapi sebagai penjaga vila yang baik. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina. tidak usah khawatir. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan.” Har memperkenalkan diri. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Saya Har. terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Hanya sesekali Imah berkomentar. kembali mencair. selebihnya berupa ribuan anggukan. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. Om. Sekarang malah ia yang mendahului.” “Ha…ha…ha. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. ada bercakan merah di atas kain sprei.” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. siapa namamu. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Dan malam itu. “Saya Imah. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan.”Har tertawa terbahak-bahak. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. Har telah mabuk. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. tapi sedikit melirik pada Imah. Hanya butuh waktu lima menit. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun.“Oh ya. Agak berantakan.” Nama yang sederhana. Masih terasa pusing.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah. Nama kota. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. minum ini untuk menghangatkan badan. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. kalau bukan demi uang. Berapa biaya yang kamu butuhkan. kosong. Ia memeriksa isi dompet. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. Belum terjawab uneg-uneg Har. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. ah. Langsung hilang pusing Har. di sela-sela mabuk dan kepuasannya. Gan. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah. Har memang tidak lupa. atau Melly. mendidih dan menggelora. Biar dibilang gadis modern. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. “Saya rapikan dulu kamarnya.” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. Terasa aneh juga bagi Har. Om. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya. habis Agan jarang menginap ke sini.

”Ada sesal yang menggayut di pundak Har. begitu egoisnya aku. Tapi apa mau dikata. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. menemui orangtuanya. Tapi di mana Imah. sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. perempuan desa yang lugu. Ia ingat. “Imah. dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. Hanya tiga ratus ribu.” Har merenung. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. perempuan itu telah terbang jauh. Ingin sekali Har menyusul Imah. 2012 . perempuan itu masih perawan. meminangnya untuk dia peristeri. Begitu nistanya aku. ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit.Ia tersentak. Har meraba bercakan merah. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta.tak beringsut dari tempatnya. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. “Astaga.