P. 1
Cerpen (Analisis) Tugas Kelompok Kls x.

Cerpen (Analisis) Tugas Kelompok Kls x.

|Views: 276|Likes:

More info:

Published by: Rony Corniously Nhiyny on Feb 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2014

pdf

text

original

Sections

  • Kata-Kata dalam Sebuah Surat
  • Kabar Terakhir Hanyalah Maling
  • Biola Merah Sewarna Darah
  • Kasur
  • Kematian Mat Boni
  • Layar Sentuh
  • Rahasia Pernikahanku
  • Rengkuhan Ruh Liar
  • Lembayung di Tepi Semayang
  • Cita-Cita Anakku
  • Aku yang Kedua
  • CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku
  • Penyamun
  • Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
  • Simponi Hujan Sore
  • Celana Dalam Jahit Perca
  • Kalung Bu Nyai
  • Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku
  • Negeri Tak Berhati
  • Sesal yang Terbaik
  • Perempuan Pembayar Utang
  • Perjalanan Dini
  • Kafe Bunga Tanggal 25
  • Mekar Dalam Badai
  • Penantian Mbok Mini
  • Wasiat Beringin Tua
  • Pesarean
  • Keluarga yang Pindah dari Kampung
  • CERPEN Laron-Laron Kerinduan
  • Fragmen Puisi
  • Aku dan Laki-lakiku
  • Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?"
  • Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus
  • Pangeran Tanpa Kata
  • Keroncong Senja
  • Sepucuk Surat untuk Rafa
  • CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini
  • Kesucian Imah

Cerpen

Kata-Kata dalam Sebuah Surat
Selasa, 08 Januari 2013 15:23 wib

LELAKI itu sedang duduk di teras belakang lantai dua rumah pribadinya. Ia tampak khusuk memandang langit. Di tangannya, sebuah buku digenggam. Terselip di buku, pulpen hitam yang menjadi pembatas sebuah catatan. Merasa tak mendapat sesuatu dari hampaan langit, ia beralih pada kebun pisang yang warna daun-daunnya di malam hari ini, tak jelas mana yang coklat mana yang hijau. Tak dapat apa-apa juga. Ia kembali melihat langit. Segaris senyum lalu terbentuk. Kali ini, setelah lama ia menilik bulan dan selaput awan. Diseruputnya kopi hitam yang sudah tidak mengeluarkan uap. Buku di tangan itu pun terbuka. Tutup bulpen juga. Catatan itu sepertinya akan lancar, sebelum ia terbentur oleh kedalaman perasaan. Dimanakah kata ‘bulan’ mesti diletakkan? Di depankah? Sehingga menjadi “Bulan mengintip dari balik gaun tipis sang awan malam”, atau di belakang saja, “di balik gaun tipis awan malam, bulan mengintip”. Kalau dilihat dari sisi suasana yang muncul, kalimat kedua sepertinya lebih baik. Baiklah, itu saja. Tidak. Yang pertama saja. Ya, yang pertama saja. Tapi, kata ‘mengintip’ itu, tidakkah terlalu…apa istilahnya…girly. Terlalu manis. Seakan-akan bulan itu adalah gadis kecil yang baru belajar jatuh cinta, yang mengintip dari celah gorden jendela kamarnya seorang pemuda tampan yang tinggal di seberang rumah. Tidak. Aku tidak boleh terlihat ‘manis’ di depannya. Setidaknya, jangan terlalu terang-terangan. Coba ganti kata. Misalnya ‘menatap’. Ah, terlalu garang. Terlalu serius. Aku memang serius, tapi jangan terlalu terangterangan. Bagaimana dengan ‘menyembul’. Cih, nanti dikira bulan adalah bisul. Nah, coba ‘menyibak’. Hmm… Cukup elegan. Cukup anggun. Dan tidak cengeng. Tapi, kata itu mesti memerlukan objek. Apa kah yang pantas menjadi objeknya? Lelaki itu membaca dalam hati catatannya yang hanya satu kalimat. Berulang-ulang. Ia bahkan merasa perlu mengucapkannya. Tidak keras. Sekadar gerak bibir. Kata ‘dari’ dihilangkan saja. Jadi kalimatnya akan seperti ini “bulan menyibak gaun tipis awan malam”. Huh, kata ‘gaun’ itu, nanti dikira cabul. Memang bukan maksudku, tapi bisa saja ia salah menafsirkan. Atau perlu kujelaskan; gaun adalah keanggunan, dan perasaan memang selayaknya menyandang itu. Ah, tidak. Biarkan ia membaca dengan caranya. Tapi, jelas, kata ini sebaiknya diganti. Kata ‘tabir’ mungkin bagus. Yah bagus. Dan tidak ada kemungkinan ia menganggap diriku cabul. Terdengar gesekan cepat mata bulpen di kertas. Tertulislah satu kalimat kini, satu kalimat yang lelaki itu yakini telah sangat utuh mewakili perasaan dan pemikirannya. Bulan menyibak tabir tipis awan malam. Buku kecil itu ditutup dengan bulpen masih menyangkut. Lelaki itu menarik napas panjang. Ia mengambil kopinya, lalu meninggalkan teras belakang setelah melihat sekali lagi bulan samar karena dikerubuti awan tipis. Esok hari, seusai pulang kerja dan melepas seragam kantor, lelaki itu kembali berusaha kuat merenung. Sampai turunlah malam, yang akhirnya menjadi malam yang sungguh berat baginya. Ia ingin sesegera mungkin perasaan dan pikirannya dibaca oleh seseorang. Tapi, bahkan untuk memikirkan satu kata pun kepalanya sudah menuntut obat puyeng. Bisa saja ia mencontek dari beberapa buku puisi yang tersimpan di dalam kardus di bawah ranjang. Tinggal pilih. Tersedia gaya dalam negeri, China, Eropa, Amerika, dan sedikit Arab. Toh, dia tidak akan tahu. Pasti tidak akan tahu. Namun, ia tidak ingin melakukannya. Prinsipnya akan terganggu. Cinta memang milik semua orang namun sejatinya ia adalah pengalaman masing-masing. Mengungkapkan cinta pribadi dengan pemikiran orang lain sama halnya dengan menjawab soal ujian dengan mencontek. Itu tidak fair. Begitulah anggapannya. Maka, setelah merasa teras belakang tidak lagi mampu memberi apa-apa, lelaki itu memutuskan untuk

memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas kecil, yang lalu disandingnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menyusuri lajur kiri jalan dengan motor 3 tak-nya. Yah, segelas kopi di udara luar mungkin punya banyak kata. Di sebuah kedai kopi yang memasang meja kursi di teras depan, pinggir jalan, tanpa atap, lelaki itu memarkir motor. Ia duduk di tempat yang kosong; dekat pagar halaman dan menghadap ke jalan. Di belakangnya duduk dua pria berbadan besar. Beberapa meja ke kiri, tiga orang perempuan muda cekakak-cekikik entah apa sebab. Ramai pemuda berkerumum di meja di hadapan meja gadis-gadis muda, tampak berbicang-bincang setengah serius. Tapi, lelaki itu tidak terlalu ingin memerhatikan mereka semua. Setelah seorang pelayan lelaki datang ke mejanya, menanyakan pesanan, dan ia jawab lekas “tubruk”, ia pun memulai niatnya; tenggelam dalam pencarian kata. Dari deru motor dan mobil, dari lampu-lampu merahkuning-hijau-kecil-besar, dari suara serak pengamen yang bebas berkeliaran, dari segala tulisan yang terpampang di toko-toko di hadapan, dari hamparan langit hitam yang hanya bernoda satu bintang, lelaki itu berharap menemukan susunan kalimat. Satu-satunya yang sempat mengganggunya adalah ketika pelayan lelaki kembali dengan membawa pesanan. Tidak mengganggu sesungguhnya, karena ia juga berharap menemukan yang dicarinya dalam pahit kopi tubruk yang ia tuangi gula tiga seperempat sendok teh. Mungkin 15 menit ia menjelma seperti patung pancuran kencing. Ada tapi tak ada. Beberapa orang memang sempat melihatnya, namun, yah, dia cuma patung pancuran kencing. Kondisi ini sejatinya menguntungkan. Tanpa merasa risih, ia mengeluarkan buku dan bulpoin, lalu mengaksarakan hasil pertapaan. Cepat ia menulisnya. Seakan-akan, bila terlambat beberapa hembusan napas saja, kata-kata itu akan terurai hilang bersama angin malam. Akhirnya, dengan tersenyum kecil, ia melangkah ke kasir, membayar, dan pergi. Sebelum sampai di rumah, ia menyempatkan diri untuk membeli martabak telor. Karena martabak telor itu memang enak, sudah sewajarnya ia mengantre. Tapi, itu tidak menghambatnya untuk berbahagia. Di rumah, ia menulis ulang tulisan di buku pada sebuah kertas coklat tua. Kertas putih menurutnya terlalu biasa. Perlu ada nilai estetika secara fisik untuk hal-hal mengenai perasaan, dan kertas coklat tua itu, baginya adalah suatu pelambang kealamian perasaan. Pelan-pelan ia menulis. Pelan-pelan sekali. Setiap huruf kapital harus diberi ekor. Pulpennya pun yang spesial, bukan yang tadi ia gunakan. Pulpen yang ini, yang hanya ia gunakan untuk mendandatangani buku pribadi, punya mata bisa memekatkan tinta. Aksara pun jadi lebih eksotik. Lalu, setengah jam berlalu. Lelaki itu akhirnya menuntaskan kabar perasaannya dengan sebuah lipatan kertas yang lembut dan hati-hati. Dengan sepiring martabak telor yang mulai mendingin dan kopi hitam murahan, lelaki itu melangkah ke teras belakang. Tak ada yang bisa menghentikan senyumnya kali ini. Nama-nama toko itu begitu hebat, sangat inspratif. Tak ada yang perlu diubah. Kata-kata ini sudah sempurna. Kebahagiannya memang tidak bisa diganggu, pun oleh mendung yang mulai menutupi satu-satunya bintang. ********** Pintu rumah kontrakan yang terletak dua rumah dari muka gang itu diketuk pekerja pos. Seorang gadis muda berbehel gigi membuka pintu dan tampak bingung saat disodorkan sebuah surat. Ia perlu beberapa saat demi memastikan bahwa surat itu memang tidak salah alamat. Setelah yakin, ia kemudian menandatangani lembar penerimaan. Pekerja pos pun berlalu. Seorang gadis lain yang berkacamata bulat besar –bukan kacamata yang dipakai kakek-kakek-, datang menghampir gadis berbehel, melempar tanya “Apaan tuh?” Gadis berbehel mengatakan satu-satunya jawaban yang pasti. “Buat Ive. Mana Ive?” “Masih mandi” Lalu mereka membiarkan saja surat itu tergeletak di atas kasur sampai gadis berkaca mata merasa memiliki ide cemerlang. “Buka aja yuk”. Ia tentu gadis yang memiliki sifat selalu ingin tahu dan penasaran. Satu karakter yang baik tentunya. Penyalahgunaan karakter baik itu bisa membuat gadis tersebut seorang penggosip hebat. Temannya tidak menolak. Mereka pun membukanya. Mereka pun membaca. Meledaklah tawa mereka. Pada saat bersamaan, yang berhak atas surat tersebut keluar dari kamar mandi. Gadis berkaca mata segera melantunkan yang tertera di surat dengan gaya seorang penyair klasik.

“Teruntuk, Ive –ia yang garis senyumnya adalah putih bulan purnama Terpujilah para serdadu yang menembak dan ditembak peluru, sehingga kita bisa merdeka bertemu. Terpujilah Gajah Mada yang menyatukan Nusantara sehingga kita punya latar sejarah yang sama. Terpujilah Mutiara yang terbentuk dari tangis Kerang, demi ada (semoga) di jemarimu. Terpujilah bintang kecil yang bisa bersama kita lihat meski berlainan tempat. Bulan menyibak tabik tipis awan malam. Terpujilah baginya karena aku diizinkan mengambilnya untuk menaungi gelap malammu. Ive segera bergegas merebut surat. Gadis berkaca mata membiarkan untuk lalu terpingkal di atas kasur. Gadis berbehel, yang selalu menghargai segala bentuk romantisme, bertanya “memangnya dari siapa sih?”. Tapi jelas, ia tidak bisa menahan cekikikannya. Awalnya, Ive tidak berniat memberi tahu. Ia pasti akan menjadi bahan ejekan. Namun, setelah menimbang semua ini dari sisi keleluconan duniawi, ia pun menjawab “dari kepala sekolah itu”. “Tempat magang ngajar?” Ive mengangguk. “Yang umurnya lima puluh tahun?” Ive mengangguk. Semua tertawa. Ada yang mengucapkan “tua-tua keladi”. Entah siapa. Ive tertawa juga. Segala macam kalimat pun meluncur deras dari bibir-bibir muda mereka. Silih berganti. Silang menyilang. Sampai handphone salah seorang berbunyi. “Beib mau jemput sekarang? 15 menit lagi ya. Bawa mobil kan? Aku bertiga”. Mereka lalu sibuk memilih sepatu. Surat itu, tidak jelas letaknya. Mungkin di bawah selimut, atau di atas dispenser, atau di dekat ember berisi pakaian kotor, atau... Oleh: Abroorza Ahmad Yusra Pontianak, Mei 2012

Biarah alam itu memanejemen dengan caranya sendiri. tidak toleransi nunggak SPP. Kesabaran menghadapi hidup. Rencek itulah yang dijual di pasar setiap hari pasaran. Cuma dipakai kayu bakar bukan untuk dijual. biaya operasional sekolah yang semakin mahal dan berbagai alasanalasan yang lain. oh kasihan para maling ini. Sebenarnya desa kami tak punya kewibawaan apa-apa. Jika kami butuh kayu bakar cukup mencari ranting yang jatuh. 23 Desember 2012 16:05 wib MALING lagi. Selain itu. tidak cukup untuk membayar SPP. dengan segala macam jenisnya. Uang SPP yang dicuri itu menjadikan Lik Sum sedih. Maling lagi.maling ini? Kenapa pula desaku yang harus dimalingi? Bukankah masih banyak desa yang lebih kaya dari desaku? Apakah para maling sekarang ini memang sudah tak punya mata. Lik Sum sedih karena hendak utang kemana lagi. tak punya ilmu. Semahal harga nyawa ini. . Lik Sum putar otak. Kami mengambil jika perlu saja. Dibiarkan malah nglunjak. pikir kami: apa yang mau diambil dari desa kami? Toh tak ada harta benda yang mewah di desa ini.” begitu kata Lik Sum membesarkan hati di hadapan anaknya. Lik Sum rela menjadi kuli tebu di luar desa hanya untuk menyediakan uang SPP anaknya yang sekarang lagi duduk di bangku SMA. Kami biarkan maling-maling itu berkeliaran di sana-sini. kami tak perlu menebang pohon. Padahal di sekolah anaknya tidak mengenal istilah nunggak bayaran. Bukannya kami tidak tahu dengan cara-cara menyimpan harta benda ala modern. Gaji sebulan Lik Sum sebulan hanya sepertiganya dari bayaran SPP anaknya. Kadang kami juga menitipkan kekayaan itu pada pohon-pohon di hutan. kami tinggal mengambil di hutan. yang kami punya hanyalah kesabaran. “Walau harga sekolah semakin mahal. namun kayunya berasal dari dangkel kayu besar yang sering kami sebut rencek. termasuk menghadapi para maling.Kabar Terakhir Hanyalah Maling Minggu. Kami sering mendengar dari berita radio kalau bank-bank juga sering digarongi para maling. Uang SPP anaknya Lik Sum juga turut digasak. Sebab kambing itu dipersiapkan untuk acara nyewu orangtuanya yang telah meninggal. yaitu kambingnya tapi itu tidak mungkin dijualnya. tak punya kelihaian otak untuk memilih di mana dan siapa yang harus dimalingi? Atau mungkin para maling ini memang sengaja ingin merongrong kewibawaan desaku? Kalau ya. Warga kami pun hampir keadaannya sama. Jika sudah begini maka ancamannya tidak bisa naik kelas. Kesabaran kami terhadap ulah para maling mulai terusik. memang Lik Sum ingin melihat anaknya menemukan masa depan yang baik. Memang kami tak menyimpannya di bank atau di tempat-tempat jasa penitipan. Seumpama butuh bambu untuk buat gedhek. namun kami kurang percaya dengan keamanannya. alam itu yang menyimpan harta kami. Memang ada bebarapa warga desa kami yang berprofesi sebagai penjual kayu. Kemarin uang Si Mbok yang rencananya untuk membayar tagihan listrik tak luput disikat maling. tetangganya juga lagi mendapat kesedihan. Padahal uang itu dikumpulkannya dengan susah payah. Anda tahu kan kalau uang SPP sekarang juga semakin membengkak? Dengan berbagai dalihlah sekolah menaikkan SPP: demi kemajuan sekolah. Ya. asal Si Mbok-mu ini masih bisa membayarnya. Siapa sebenarnya yang menjadi inisiator munculnya maling. udara kami. Sedih karena uang itu adalah uang bayarannya selama tiga bulan kerja. itu tak jadi soal. Sebetulnya masih ada yang bisa dijual Lik Sum. Jika sampai SPP tidak bisa dibayar maka ancamannya adalah tidak bisa ikut ujian. aliran air yang gemericik melintasi desa kami. Lik Sum harus ngutang dulu sama bosnya karena kalau menunggu tiap bulan gajian itu tidak mungkin. Kami sudah tidak betah dengan ulah mereka yang mulai ngawur. Biarlah. Toh. tidak seperti dirinya yang hanya jadi kuli tebu. Kekayaan itu kami simpan di dalam tanah kami.

Sepertinya kami harus membentuk tim investigasi. Iri hanya mematikan hati. seharusnya kamilah yang menjadi maling. dari belantara gedung-gedung yang menjulang tinggi? Tapi itu tidak mungkin. Berbagai jenis makanan ada: mulai makanannya manusia sampai makanannya anjing. Ah. tak mungkin di sini. mengapa mereka harus jadi maling? Bukankah teori-teori sosial menuliskan kalau kejahatan. kalau harta yang digunakan foya-foya lebih dari batas kewajaran tentunya daerah operasinya juga yang menyediakan jumlah nominal yang hendak digasak lebih besar. Kadang kami juga berpikir: apakah maling-maling itu berasal dari sana. Pasalnya para maling juga harus menyesuaikan kebutuhannya dong. Toh harta tidak di bawa mati. apakah para maling itu sengaja ingin melihat kami sedih. berpikir ala teori sosial. Yang menikmati pembangunan negari ini. Kami sudah bersepakat untuk membasmi para maling ini atau jika tidak dibasmi taruhannya kami harus kehilangan kebahagaian ini. Yang disetiap jeda kerjanya tersedia tempat-tempat hiburan yang memekakkan telinga. Seharusnya kami yang mencuri harta mereka. di balik pohon-pohon angker atau mungkin para maling ini bersembunyi di balik kekuasaan besar. kebahagiaan anak cucu kami dan kekayaan desa kami yang kami simpan pada alam. Moto ra melek. Kantong-kantong tebal yang berseliweran sambil nglaras barang-barang yang terpajang di emperan toko-toko modern. Namun kami tak mau jadi maling. Kalau daerah seperti desa kami apa ya mencukupi kantong para maling itu. Hanya cara kerjanya yang berbeda karena yang kami hadapi merupakan maling yang masih samar. Seharusnya kami iri pada mereka. Sebab kami sewajibnya iri pada kehidupan yang serba gemerlap di seberang sana. Tim yang mempunyai kewenangan hukum untuk menindak para maling ini. Untuk apa mencuri di desa yang tremis. Istilahnya maling teriak maling.. maling yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Oleh Khoirul Anwar Penulis Adalah Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . Kenapa harus desa ini yang dijarah? Kenapa orang-orang seperti kami yang menjadi sasarannya? Hidup kami sudah nelongso kenapa harus ditambahi dengan penderitaan yang lainnya. Ya kami akan membentuk Komisi Pemberantas Maling (KPM) seperti timnya Negara yang menangani masalah korupsi. sengsara? Apakah mereka sengaja ingin mencuri kebahagian kami? Dan yang lebih penting.***** Dasar maling moto merem. pencurian terjadi karena ada kesenjangan sosial? Lantas kalau dilihat apakah keadaan warga kami patut dicemburui? Layakkah para maling itu iri pada kehidupan kami? Kalau kami berpikir secara linier. Kalau toh ada maling di antara mereka pastinya targetnya juga di sana. Lantas siapa yang menjadi maling? Apakah warga kami sendiri yang berperilaku nista? Ataukah ada penduduk kami yang memelihara tuyul? Lho masih ada to tuyul itu? Masih eksiskah keberadaan makhluk ghaib itu? bukankah makhluk itu juga masih misteri? Artinya makhluk itu sengaja diciptakan hanya untuk menutupi kebusukan perilaku maling-maling yang sebenarnya.tidak mungkinlah mereka yang menjadi maling. Tempat-tempat belanja yang menyediakan barang-barang mulai dari ujung rambut sampi ujung kuku kaki. harga diri lebih penting dari sekedar rasa iri. Baik kekuasaan nyata atau kekausaan ghoib.

Bagaikan duduk berjam-jam di antara bangku penonton di sebuah panggung pertunjukan drama. tempat yang telah lama kau singgahi untuk melawan suatu penyakit. suaramu. baik menjadi buruk. biarlah semua menjadi kenangan. Seperti sama padahal tak sama. bertembok putih. membuat bungabunga menjadi layu. Itulah dirimu. Kau pun tahu aku bukan seperti itu. Seperti semilir angin yang masuk ke dalam kamar. 27 Januari 2013 14:51 wib BERKESIUR angin tampak menggerakan daun pohon beringin yang ada di pelataran. dan kini menjelma badai yang berkecamuk di pikiranku. Rumah sakit itu lokasinya berada di samping toko bunga. Lantai keramik putih mirip warna seragam seorang perawat yang membawa nampan perak dan membawa makanan. setiap harinya selalu tutup karena kota terus diguyur hujan deras. Gelap. jangan berguru pada masa lalu. Namun pastinya. Tataplah masa depan. dan pintu hitam pekat. tak mungkin . Kau bilang. Biola merah sewarna darah dan kental oleh banyak kenangan. Aku kembali menjengukmu di rumah sakit itu. Kanan menjadi kiri. kiri menjadi kanan. Biola itu punyaku. Senja yang menguning. sambil melihat orang-orang dengan sejuta kegelisahan dimatanya. Bukan juga seperti angin. Katamu. Apakah pikiran dan hati itu sama? Pikiran yang baik berasal dari hati yang baik? Aku tetap bingung. Jendela tak akan sanggup menahan hembusan nafasmu. Kau tahu? Suara biola yang kau mainkan itu begitu indah kudengar. Namun. Waktu itu suara langkahku seperti suara detik jam. kemudian keluar lagi melalui jendela yang terbuka. Apa yang pernah kau ucapkan itu sulit untuk aku pahami. Sesuatu yang kau yakini indah. sebelumnya kau tak pernah lupa untuk menyimpan sebuah biola di samping bantal tidurmu. kenapa mereka tampak murung di sini? Di salah satu rumah sakit yang berdiri kokoh. Tolol. Semuanya buyar. Tak terjawab. dengan bangunan bertingkat dua. aku tak mengerti. Kamar yang bernama ruangan melati. aku kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu. Sungguh. Aku telah datang melewati koridor-koridor gelap di penuhi penjenguk yang muram. namun aku datang bukan untuk membawanya. bahwa aku orang yang baik. Sebenarnya aku ingin bertanya. Di setiap kamarnya. menanti waktu besuk tiba. Kau pun bilang. pertanyaanku hanya akan kau dengar sebagai hembusan angin menggetarkan bunga melati yang menghias di samping tempat tidurmu. hanya sebuah sejarah yang tak perlu disesali. Aku pun suka keindahan. Ah. bukan. Aku masih duduk di bangku kayu ruang tunggu. Seolah nama itu mengingatkanmu pada sebuah taman bunga. Padahal kau selalu menyebut kamar itu dengan sebutan: tempat pengantar orang mati. Semuanya serba terbalik. Biola jendela hatimu. Itukah yang di maksud? Hatiku dibiarkan tertutup dan terbuka? Ah. tentang perkataanmu dua hari lalu yang tak bisa aku pahami. menganga sebuah jendela terbuka. itulah yang terbaik. Tiang-tiang kayu berderet. Lalu kau membayangkannya menjadi batu nisan tanpa nama. Kau pernah bilang. Kau yang terlihat tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kananmu. Lihatlah dirimu melalui hatimu. Aku hanya ingin melontarkan suatu pertanyaan. Semuanya telah menjadi beribu pertanyaan yang menjelma gaung.Cerpen Biola Merah Sewarna Darah Minggu. janganlah mengukur diri melalui cermin. Lalu aku berdiri di depan pintu kamarmu. Langit pun seperti terbelah. Aku selalu memainkannya di saat kau kesepian. Aku menghampirimu dengan membawa biola bermaksud untuk menghiburmu yang tengah terbaring di rumah sakit.

Menurutmu tak ada bedanya dengan mengunyah permen. Entah itu harus membayar kamar perawatan dengan harga mahal. menenggelamkan matahari yang melayang di atas awan menguning. atau hanya sekadar rasa kasihan padamu? Lelaki mana yang mau mengajakmu pergi berkencan ke suatu bukit. Hingga membeli obat atau menebus resep dari dokter. dan kau menyebutnya suatu tempat yang indah. Hanya orang yang mempunyai perasaan baik saja yang bisa menciptakan keindahan. aku selalu memberimu dorongan untuk tetap semangat menjalani hidup. Sementara suara biola yang kau anggap selalu membawamu melayang itu. setelah berjam-jam siangnya diguyur hujan yang deras. Bukankah kita tidak mengetahui kapan kematian akan datang menjemput? Ketimbang memikirkan sesuatu hal yang entah. Namun. besok atau lusa pun belum tentu seperti sekarang. dan berhenti pada stasiun terakhir." Aku hanya tersenyum. Tentu dengan biaya tak sedikit. Dan setiap hari itu pula. karena tak mengubah apa-apa pada penyakitmu. Juga pada perasaanku yang sedang terbang mengawang ke langit tak berujung. Namun angin itulah yang membawaku melayang. meski tampak seperti barak pengungsian. "Aku suka suara biolamu karena kau selalu membawaku ke tempat yang lain. kau bisa membuatku berpikir. Bibirku bergetar. Namun jawabanmu berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Lantas kau pun tersenyum. Dari matamu ada sebuah isyarat yang tak pernah menampakan rasa takut sedikitpun. Mungkin kau telah siap bila harus meregang ajal oleh penyakit itu. Semua orang takkan bisa hidup kekal. dan tetap abadi hingga hari tua kita nanti. lalu kau mengukir namamu di situ. Semua itu terlalu indah bila akhirnya harus terhapus hembusan angin. Namun aku juga tak begitu tahu tentang perasaan ini. “Hidup ini penuh misteri. Aku tidak bisa berkata.” katamu dengan tubuh yang terbaring di kasur. Sebenarnya aku ingin membawamu ke tempat yang lebih indah. supaya tak pernah menembus jantung. Aku merasa jakunku menjadi sebesar bola sepak yang ditendang keras oleh seseorang. Menurutku. Aku justru lebih memilih membiarkan masa depan tetap menjadi misteri. lebih baik berdiam di belakang peluru itu. Salah satunya Etambutol yang harus kau telan setiap hari. Kau tahu? Aku tak pernah membawamu melayang ke tempat lain. Kau sangat menyukai suara permainan biolaku. . Hidup bukan ramalan. namun tetap menelusuri kemana arahnya. sekadar menyaksikan berakhirnya pelaminan matahari di ufuk barat. tak tahu harus bicara apa. Apakah perasaan ini tulus dari hati. Kau berpikir hanya orang beruntung saja yang bisa terhindar dari ajal yang dibawa penyakit itu. Suatu tempat yang bisa membuat orang sakit menjadi tambah sakit.orang yang tak baik bisa menciptakan suara seindah itu. Aku seolah tengah melihat bunga yang merekah pada kuntum bibirmu yang merah. terlalu egois bila aku harus mengungkapkannya sekarang. Menyimpanmu di hatiku. Ternyata hidup ini tak ada bedanya dengan duduk di gerbong kereta tua berkarat yang menuju sebuah lorong kelam. seperti ada yang mengganjal. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum jelas!” kataku. Bahkan seorang dokter memvonis bahwa kau mengidap penyakit paru-paru basah. "Tapi sekarang kau sedang berada di rumah sakit. "Ya. Diagnosanya mengatakan." jawabku. Ketika reda di sore hari. hanya meninggalkan angin yang liar. lalu menggetarkan hatimu bagaikan melayang menuju sebuah titik. Tubuhmu hanya diakrabi oleh penyakit yang menggerogoti sedikit demi sedikit sisa umurmu. tak lebih hanya jelmaan dari jeritan ungkapan rasa hatiku padamu. Awan serupa anak tangga yang dipijaki burung-burung kuntul terbang ke arah barat. Suaranya bagaikan menggesek bulu kudukmu. senyuman itulah yang paling indah. rasanya begitu berat ludah mengalir di tenggorokanku. hari ini tentunya berbeda dengan kemarin. Setiap hari aku selalu menemanimu yang terbaring di rumah sakit. tapi bila aku mendengarkan suara biolamu. tempat ini tarasa berubah menjadi indah. Keindahan yang keluar dari hatiku. bahwa kau harus menjalani perawatan secara intensif. Neski hanya dengan sebuah isyarat sederhana itu saja. meski aku berharap kau pun merasakannya. “Bukankah kita hidup untuk sekarang dan masa depan? Aku harus bersiap-siap sekarang bila akhirnya aku harus mati besok!” Itulah sebabnya mengapa hidupmu secepat lesatan selongsong peluru. tapi perasaanku padamu akan tetap abadi. Waktu itu nampaknya di luar cuaca begitu muram. Bukankah itu hal yang wajar bila aku menginginkan selalu bersamamu tanpa batas? Ah. tetap saja hujan di matamu tak bisa kau cegah hanya dengan segurat senyuman. Atau menjamah bukit dadamu di antara hembusan nafas yang membuatmu kikuk.

RT 01 RW 05 Sumedang Utara. Sumedang 45321. Sudah dua hari aku tidak menjengukmu. Bukankah Itu belum tentu terjadi? Bila memang kau selalu hidup untuk mempersiapkan masa depan.” sambil membalas tatapanku. Radar Surabaya. Jurnal Sastra Sasaka. “Kau jangan berkata seperti itu. Lalu kau menjawab. LPM Suaka. apakah kau sudah merasa impianmu telah terpenuhi?” kataku. Aku bengong. namun hatiku tetap kusimpan di dalam biola itu beserta ucapanmu yang akan aku tanyakan di suatu hari nanti. “kita terlahir dari sesuatu yang tiada dan akan kembali pada ketiadaan itu sendiri!” Diam. aku lelah bila harus menjalani hidup dengan penderitaan!” jawabmu sambil berbaring memandang langit-langit kamar. Sebab berpisah denganmu adalah kematian bagi hidupku. . lupakanlah aku yang pernah hadir di masa lalumu. atau menanyakan kondisi kesehatanmu.H. Bandung. sekadar pengantar mimpi indahmu. Surga!” Aku lalu menghardik perkataan itu. “Aku hanya ingin bilang. aku tak tahu. 2011 Oleh T. menemanimu setiap waktu. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Haluan Padang. Sebelumnya aku telah berjanji akan terus menjagamu. Kau tahu? Dua hari yang lalu ketika aku hendak pulang setelah menjengukmu. Alamat: Talun kidul No 45.“Kau jangan patah semangat hanya karena hidupmu akan berakhir. mengapa sekarang malah berdiam diri serasa putus asa!” kataku yang mencoba mengingatkanmu. ruhku dituntun malaikat bersayap melayang ke suatu tempat yang indah. lalu kau melanjutkan. Tubuhku remuk. Ketika kau benar-benar terlelap. Buletin Obras. 17 Agustus 1990. Surga. tataplah masa depan. setelah berjam-jam duduk di bangku kayu ruang tunggu memikirkan ucapanmu di waktu yang lalu. Aku tak ingin semuanya menjadi kenyataan. memberikan sesuatu yang terbaik padamu. “Impianku sekarang hanya ingin kau selalu di sini. Bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka. Ihsan Penulis Lahir di Sumedang. 2011). “Hentikan! Kau bicara apa!” sambil menusukkan sorot tatapanku ke matamu. Tentang menatap masa depan? Tetapi ingin mati? Bukankah itu pemikiran yang tidak mempunyai harapan di masa depan? Sudahlah. “Biarlah hidupku berakhir. sekadar untuk mencari angin segar dan pulang ke rumah dengan meninggalkan biola bersamamu. di tempat yang paling indah. Bahkan ketika kau memintaku untuk memainkan biola pun aku penuhi. Radar Seni dan juga terhimpun dalam antologi bersama: Nyayian Anak Negeri (Pusataka Adab. sebelum aku dijemput ke tempat yang lebih indah. kemudian aku keluar dari kamar tempat kau dirawat. Yang aku tahu sekarang. Mungkin disitu kau sedang menghayal. ternyata kematian lebih dulu menjemputku dengan cara mobil yang aku kendarai tertabrak bus oleng yang salah mengambil jalur pembatas jalan disebabkan sopirnya mengantuk. menggambar bunga layu menjadi mekar. kematian datangnya lebih cepat dari hembusan angin. aku ingin terus mendengarkan suara biolamu yang indah. aku mengecup keningmu. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. masih banyak yang harus kau kerjakan. Sekarang aku kembali datang dan berdiri di pintu kamarmu. meski waktu itu kau sedang tertidur.

Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan. Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu aku ingat rasa lembut usapan tanganmu ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu. Aku muak. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku. tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku. 12 Januari 2013 10:28 wib Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api aku lupa rasa dingin dari es lupa rasa perih dari sayatan pisau. Lungkrah. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk.. kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang..cerpen Kasur Sabtu.. Tenanglah teman. tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. Sekali lagi kukatakan. memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Tapi. Aku selalu saja lupa dengan itu. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku.. Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Yah. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku. kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!” Aku menghela napas. dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku. Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur. yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam. . “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik. Memang belakangan ini. Yah. aku yang salah.

itu kukatakan padanya. aku masih benar senang dengannya. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. Bisa sampai lima. Kubuka dengan paksa kamar Endo. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. Sampai akhirnya. menarik. Bedanya. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. ya tidur dengan Tian. Aku hanya bisa diam saat itu. Di atas kasur ini. bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya.” aku tertawa. aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya. Sama. “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku. Aku terbatuk. yang aku tahu. Aku benar-benar jatuh hati padanya. itu aku. menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. Hal yang kulakukan bersamanya biasa. dia mengangguk mantap. memeluk erat tubuhnya. bekas pacarku. Apa ini sampah? Busuk? Bacin! Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. menari-nari di sekeliling kepalaku. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Tapi bukan itu.Asalkan kamu mengerti. . Menumpuk lekat di atas dada wanita. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya. dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga.. yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati. aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. tanpa ragu sedikit pun. ingin tetap bersamanya. “Lalu kenapa. Ah. tersenyum aku padanya.. pergi nonton. masih senang dirayu. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. langit roboh saat itu juga. pacarmu dulu!” “Hahaha. dibuatnya aku terbang ke surga. Entah. kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. aku menemukan dia. bercanda. Hampir habis. Meski masih banyak retak di sana-sini. “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. apa lagi yang kurang? Aku cantik. Sejak saat itulah.” Diam. tertawa. Diam bukan berarti tidak bergerak. Aku masih senang dicumbu. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. omong kosong untuk kembali memeluknya. dan tentu tidur. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Seksi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya. Kamu tidak pernah tahu. Aku kembali ingat.. dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Malamnya. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Kuceritakan kembali padamu kasur. ah masih perih rasanya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya? Aku hanya terdiam. tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. kenapa sekarang kamu beralih. Imajinasiku melayang. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. setiap malam harus tidur dengannya. Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya. Tentu. Makan malam bersama. Kuhisap lagi batang rokokku. sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu. Aku yang putuskan. Kasur terdiam. seperti pasangan pada umumnya. Sebenarnya. kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku. Aku ingat. Padahal. Asap rokok masih mengepul tebal. menciumi lehernya. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Sejak itu aku yang putuskan sendiri. Kamu tentu tahu sendiri. kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian.. Kamu tentu tidak tahu. dia mengejarku atau tidak. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk.. aku pun sama denganmu kasur. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku. Satu yang masih aku minta. bahkan sepuluh. kemudian kabur.

Mungkin di bawah kolong kehidupan atau di bawah tumpukan dosa Berpaling. bersembunyi. mencekik urat leher Sama rasanya. Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Tanpa rasa yang awet. Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah. Aku yang sekarang. 19 Juni 2012 Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY . “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian. waktu itu wajah Endo sedikit terkejut. Baris Busuk kepada: Tian Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara Nyata rasanya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu. Dia tahu dengan jelas semuanya.” ucapku tegas. tapi dia diam dan setelahnya. itu yang jelas hamba lakukan Yogya. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku. setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa Hamba yang kemudian berlari. “Tian busuk!” Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian.Aku ingat. buat muntah. kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh. Dia tahu benar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. bermain hingga klimaks. Aku yang sekarang. Kasur semakin terdiam. menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku. muntah tak bersisa Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih Beradu. kemudian hilang begitu saja. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya.

. Air menggenang. ada orang mati di depan. Pistol masih di tangan kanannya. "Aku takut. Tapi mata perempuan itu tetap penasaran dan ia mengintip juga. ia turunkan.!! DUA letupan berasal dari balik kerumunan massa. tiang. takut nyasar. "Mampus!" Tiba-tiba seorang aparat Pamong Praja keluar dari kerumunan. sandalnya pun lepas. suasana pun menjadi ricuh: berpencar. tanah pun menjadi becek. Padahal hujan baru saja turun." kata seorang perempuan tua di balik punggungku. Ada orang tertembak. Ia telungkup di tengah-tengah jalan pasar dalam kondisi tak bernyawa. Bajunya lusuh. Perempuan tua itu tetap ngeyel. tercecer ke mana-mana. Aku mencoba untuk mengenali. Ada garis codetan dari alis sampai bawah mata. Kulihat ada seorang terkapar di antara ceceran beras dan lombok. 03 Januari 2013 18:01 wib Dor. beras. Aku beranikan mengintip. Perempuan itu diam. pagar. Udara bergerak lindap. bersembunyi di balik meja." jawab dia pelan sambil menempatkan kardus di depannya untuk alas duduk. Matanya mendelik dan berwajah beringas. dan lainnya menjadi satu di tanah. namun tak ada tandatanda di dirinya yang bisa kukenal. "Saya duduk saja. Bau apek menyengat hidung." kataku pada orang yang tak kukenal di depanku. Tangannya yang dipundakku. sayuran. Mukanya terbenam di genangan air. Mata-mata menyelidik ke arah asal letupan. Padahal sudah aku bilang kalau takut tak usah melihat. "Ada apa. dinding sampai punggung orang di depannya. Hening. Sementara air got sudah meluap dari tadi. "Mati. Air yang keruh itu pun bercampur darah yang mengucur dari kepalanya. sebuah kopiah hitam masih menempel di kepalanya. Tubuhnya kurus kerempeng. Dagangan berhamburan. ." katanya." kataku pada perempuan yang masih menggelendot di punggungku. beberapa dinding kios roboh dijejal massa. tumpah daging.! Dor. cabe. meja. gula.Cerpen Kematian Mat Boni Kamis. "Mati?" "Mati bu.. Orang-orang belingsatan. Ia pun tak meneruskan matanya mengintip. dari balik keranjang.

Memang dari awal bertemu. Ia berjalan agak menjauh. pasti sesudahnya. Setelah membuka helmnya. Pasar Tua ini sudah sepi. Tapi suara teriakan itu tak ada yang mendengar. ia menyambar Wati dari belakang. Wati menunggu suaminya tapi tak kunjung datang. ya dia akan pulang. dan suka melecehkan perempuan.” Codet menawarkan diri. Dan ia sendiri jarang untuk menjemput istrinya yang punya kios baju di pasar. barangkali ada yang melintas dan sesegera mungkin ia pergi dari tempatnya berdiri sekarang. Kini tahu siapa di antara kita yang pantas. Codet merobek pakaian atasnya. Sudah satu jam duduk termenung. Ia mabuk sepertinya. Wati mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah jalan. Hanya kali itu. sebuah sepeda motor melintas dan tiba-tiba berhenti di hadapan Wati.” Wati menjawab ketus. sayang ia keduluan sama Mat Boni. Kau harus layani aku!” “Dasar keparat kau. Beberapa toko mulai tutup. Dari arah kiri. Beberapa angkutan yang ke arah rumahnya beberapa kali melintas. “Mau pulang kau Wati?” tanyanya. Beberapa kali menggoda Wati. sambil turun dari sepeda motornya. kabar burungnya telah ditiduri paksa oleh Codet. Sudah pukul 8 malam. Tanpa aba-aba. Codet sudah naksir." cerocos petugas yang mabuk itu. “Abang anter aja yuk. Codet menamparnya. terbenam oleh malam di kaki bukit. hanya lampu jalanan yang mulai menyala. Wati dibawa di balik sebuah kios di pojok pasar. untuk menunggu angkot. tahu siapa aparat Codet itu: pemabuk. Wati teriak minta tolong. Ia melihat pinggul yang menonjol. "Lu belagu sih. orang-orang di dekatku pun berbisik-bisik. Wati bisa pulang naik angkot. Semua pedagang di Pasar Tua. Ada niat mesum di otak Codet. Terakhir. pedagang cabe yang terkenal seksi dan cantik itu. Ternyata si Codet. Wati tetap berontak tapi tak mampu menghalangi nafsu bejat Codet. dia lupa dengan kembangnya yang ditinggal sendirian. Wati masih berontak. Mata semuanya menyorot padanya. Codet dengan ganas menerjangnya. ia ingin sekali menjemputnya. membuat Codet sempat berkelahi dengan Boni. Ia jarang pulang sebelum magrib. Di ujung pasar. Suamiku akan membunuhmu. Aku pun bisik-bisik dengan orang di depanku. Ia terus memukuli tubuh Codet. kekuatan Wati tak mampu melepaskan cengkeraman Codet. Ia pura-pura melongok ke arah datangnya angkot.” jawab Wati sekenanya tanpa melihat muka Codet. kakinya bergelinjang untuk melepaskan diri.” “Suamimu sibuk dengan dagangannya. Codet tersenyum ketika melihat tubuh Wati dari belakang. “Diam kau. Waktu itu sepulang dari pasar hari sudah malam. Lampu-lampu di pasar juga dipadamkan. sepekan lalu. pemeras. istri Mat Boni. kalau dirasa cukup penjualan hari itu.” “Kan lu tahu sendiri jam segini. sampai ketika pakaiannya tersingkap. Karena tubuh Boni lebih besar dan kekar. Wati menoleh ke kanan dan ke kiri.sementara tangan kirinya menggenggam sebotol bir. Ia tak memiliki jadwal kerja yang pasti. Sayang. Wati merintih. “Bajingan kau. “Iye bang. Codet terkenal menjahili istri orang. Suasana tampak muram. Codet pun mudah ditaklukkan. Ia bolak-balik melihat ke jam tangan yang dibelikan Mat Boni di hari ulang tahun pernikahannya.” Plak! Pipi Wati sekali lagi terkena tamparan Codet. namun ia tak ingin menyetopnya. Dan lampu pasar tak begitu menjangkau di balik kios itu. Ia masih yakin Mat Boni akan menjemputnya karena sudah janji pagi tadi setelah mengantarnya ke pasar. . Tak jauh dari tempat kios Wati. Wati duduk sambil melihat ke arah datangnya angkutan. Codet melempar senyum. Tak segan. Ternyata urusan cinta. istri orang pun dia goda juga. Udara malam yang dingin mendesir. Mat Boni adalah pedagang keliling. angkot ke rumahmu sudah jarang. Ia menangis tersedu. Ketika tahu siapa yang berbuat. Memang beberapa hari sebelum ini pernah terjadi keributan antara Boni dengan Codet soal itu. Wati mulai gelisah.” “Kagak usah bang…makasih. Ia saban hari keliling dengan sepeda motornya menawarkan perkakas rumah dari kampung ke kampung. “Kagak usah bang. Ia pernah dibanting Boni dan di lemparkan ke got. Lepaskan!” bentaknya. mau kau apakan aku.

Barangkali. Mat Boni tahu kelakuan si Codet. Barangkali. Codet pun melemparkan pistolnya. Dan penembakan ini. Wati sesunggukan sambil meringkuk di atas meja kios. Wati?” ajak Codet. setelah ada tembakan peringatan. Jasad Boni pun diangkut ambulans. Atau barangkali bidadari itu terbang ke sini untuk menjemput Boni? Sirine mobil polisi dari kejauhan terdengar lamat-lamat.diem. Dua orang polisi mendekat dan memborgolnya. Di daerah Tua ini. mak.” seorang laki-laki menegurnya. ini balas dendam Boni. Codet melempar senyum dan sejumlah uang berhamburan di tubuh Wati. Kini ia tinggal di Jalan Damai III. Codet berdiri dan merapikan diri. “Mak. Nugroho. orang-orang di Pasar Tua pun bergantian melihat ke arah pelangi. hari inilah mereka duel. Orang-orang di sekitarku pun menoleh pada anak itu. memang pemerintahnya membekali aparat Pamong Praja dengan senjata itu. Ntar dia ke sini. bagus ya.” seorang anak kecil dari perempuan di sampingku tiba-tiba nyeletuk ditengah hening. Codet melepaskan tembakan dari pistol revolver colt 32.. Dan ya. seorang blogger cum wartawan. Wati hanya terdiam. jangan keras-keras. . Jakarta Selatan. “Mari kuantar kau pulang. Lahir di Purworejo. dan kemudian memeras pedagang. Beberapa polisi di balik pintu memberikan perintah kepada Codet untuk menyerah. 20 Juli 1985. Tiga mobil polisi dan satu ambulans pun tiba.. dendam itu kandas lantaran peluru panas menembus dada dan kepala Boni.” seru beberapa orang di sekitarku. Pasar pun kembali berisik.huss. seperti kisah-kisah masa kecilku itu. “Itu pelangi untuk Boni. Kini mereka berani keluar dari persembunyian masing-masing dan menoleh ke arah Codet. 09. Pejaten Timur. Ia meradang. meski hanya untuk menakut-nakuti. Tiba-tiba anak kecil yag tadi berteriak-teriak lagi soal pelangi itu. Lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kalibata. Anak itu pun diam dan kembali menglendot ke perut ibunya. baru pertama untuk Boni.. Barangkali bidadari-bidadari itu baru saja melintas turun dari langit dan menuju danau. Aku toleh pelangi itu.Malam hening. Beberapa burung pun melintas di depannya. Empat mobil itu sudah pergi setelah dikerumuni massa.. Ia menutupi diri dengan seadanya. Ia melengkung indah di atas pasar.37 Andi S.ada pelangi tuh. Dan kali ini. Sayang. Mereka pun suka semena-mena dengan senjata itu. 19 Juli 2010. Beberapa hari setelah itu. “Hus.

Ah. Ibu terlalu sederhana pola pikirnya. Tanpa perlu repot memencet sekian tombol. Sebenarnya tak salah juga.” Puteri hanya tersenyum mendengar ibunya menyebut istilah tunyuk skrin.” “Touch screen Bu. yang penting bisa telpon dan es-emes. yang penting belikan Puteri hape layar sentuh. Jaman sudah berubah.” “Iya. Bagaimana menerangkan istilah- . dan menjelajah dunia maya. karena dalam bahasa daerah kampung halaman ibunya. Sama saja kan. Kecanggihan teknologi sepertinya telah berhasil menerjemahkan kekuatan penyihir. Sayang. Nak.” Puteri hanya bisa mendesah.” “Kenapa tidak beli hape biasa saja. tunyuk artinya menekan dengan jemari. hape yang harus di-tunyuk-tunyuk itu kan. kecanggihan benda mungil itu harus ditebus dengan harga mahal. aku ingin mengenggam warna-warni dunia. Sentuhan pada layar telepon genggam yang mengantarkanku pada denyut percakapan. “Terserah bagaimana Ibu mau menyebutnya. chatting. Puteri merasa perlu ikut ambil bagian dalam kehidupan jejaring sosial. 13 Desember 2012 13:54 wib DENGAN sentuhan jemari. “Put. Bahasa Indonesianya: layar sentuh. Ibu tidak punya uang sebanyak itu. riuh kata-kata dan keceriaan masa remaja. hape pakai tunyuk skrin kan harganya satu juta lebih. setiap sentuhan jemari akan diterjemahkan oleh kepekaan sensor kemudian mengantarkan kita pada fitur-fitur penuh keajaiban. yang Rp150 ribu. Itu lho yang sering muncul di iklan-iklan.Cerpen Layar Sentuh Kamis. memperbarui atau mengomentari status Facebook dan Twitter. Fungsi telepon genggam sekarang tidak hanya sekedar buat menelepon dan mengirim pesan pendek.

tentu ia tidak akan berani mengeluarkannya dari dalam tas. cowok. bahkan menonton televisi. Seperti kekuatan sosok alien dalam film lawas tapi tetap memukau. Puteri tak punya cukup uang . Karena itu. jika kita mempelajarinya dengan tekun pasti bisa ditaklukkannya. Puteri akan lebih gencar membujuk dan merajuk. Sebenarnya kerja keras ibunya sudah sangat hebat. Serumit apapun rumus itu. Mulai dari gaya penampilan. Begitu juga dengan koleksi ratusan musik yang tak usah terusik.istilah asing ini pada ibunya yang cuma penjual gado-gado? Belum lagi fasilitas yang memanjakan mata dan telinga seperti memutar video atau musik. makhluk luar angkasa itu bisa mengalirkan kekuatan dasyat. Dunia terasa ringkas dalam genggaman. Seperti kapasitas otak manusia yang terbatas. yang ditonton di rumah Shinta sahabatnya. Dengan menggenggam telepon genggam layar sentuh. benda mungil itu perlu disusupi memori eksternal dengan kapasitas sekian giga. ia memang terlalu banyak menuntut. The Extra-Terrestrial. Fitur-fitur itu akan semakin mempesona ketika kita hanya perlu menyentuh layar untuk mengoperasikannya. Teknologi canggih ternyata tidak melupakan naluri manusia untuk saling berbagi. agar setiap foto kenangan bisa mendekam dengan tenang. Seakan segenap denyut kehidupan tersaji dalam genggaman. Sebenarnya Puteri lebih suka dipusingkan dengan rumus-rumus Fisika. Tak seperti sempit ruangan di rumah kontrakan tempat Puteri dan ibunya tinggal. mendengarkan radio. Ah. Serupa rumah besar yang siap menampung aneka perabotan. Ah. Kalau memegang telepon genggam biasa seharga dua ratus ribuan. ensiklopedia. atau catatan-catatan untuk memperluas ingatan. Untuk memenuhi hasrat narsis yang diam-diam menghuni benak generasi bangsa. Dalam benda mungil itu pun tersedia aneka permainan penguji ketangkasan tangan maupun ketajaman pikiran. kehadiran kamera dengan resolusi sekian Megapiksel tentu saja sangat dibutuhkan. hingga hari-hari menjadi asyik. andai saja ayahnya masih ada. Keuntungan dari hasil mengulek dan meracik gado-gado hanya cukup untuk menghidupi mereka berdua. tempat nongkrong. kamus. tentunya Puteri akan lebih percaya diri bergaul dengan teman-temannya yang rata-rata memegang telepon genggam keren. Bisa-bisa seluruh sekolah akan mengejeknya habis-habisan. Kimia. Sejak ayahnya meninggal ketika Puteri kelas tiga Sekolah Dasar. Puteri merasa tak enak hati jika terus-terusan meminta. Maka tertanamlah perangkat bluetooth. hingga diperlukan buku-buku. Namun faktor-faktor di luar mata pelajaran justru terasa lebih memusingkan. maupun Matematika. Tapi Puteri tidak bisa berharap banyak dari ibunya. Momen-momen penting masa remaja harus ditampung dalam ingatan yang besar. Hanya dengan sentuhan jemari. Tentu. laptop. semua beban hidup beralih ke pundak ibunya. Seperti nenek sihir hanya perlu mengacungkan tongkat untuk mewujudkan keinginannya. maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan pergaulan remaja masa kini. Tanpa kerja keras ibu. Memori internal tak cukup banyak menyediakan ruang. Melihat ibu yang sudah berusaha sekuat daya. pasti Puteri tidak akan bisa berseragam putih abu-abu seperti sekarang. kendaraan. yang memungkinkan kita berbagi foto atau musik tanpa perlu sambungan kabel. karena sampai sekarang ia tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran SPP. telepon genggam.

” Pesona layar sentuh kembali menggoda hati Puteri. Kalau kamu mau ikut Tante. Dalam semalam kamu bisa dapat uang Rp500 ribu tanpa perlu bekerja keras. eh bersalah. tetangganya. Pendingin udara tak kuasa menahan laju keringat yang membasahi dahi dan wajah Puteri. Pekerjaan Tante Rini sendiri masih misterius dan tanda tanya. penyanyi dangdut keliling. ia harus membuktikan kata-kata yang terlanjut keluar dari mulutnya. “Anak tukang gado-gado punya hape layar sentuh? Mimpi kaleeee?” “Ciyus? Miapah?” Puteri kembali asyik menyusuri keajaiban layar sentuh. Kapan ia menggenggam dan memiliki benda mungil ini. Sementara ia juga tidak ingin terasing dari pergaulan teman-teman sekolahnya.untuk memenuhi tetek bengek seperti itu. Kesadarannya seperti terseret memasuki sebuah dunia yang begitu dinamis dan penuh warna. tapi kalau mau ikutlah bersama Tante malam minggu nanti. Rutinitasnya berangkat kerja selepas petang dan pulang menjelang subuh. Kapan ia bisa membuktikan kata-kata yang terlanjur meluncur pada beberapa teman sekelasnya. Entah mana yang benar? Gosip memang kadang tidak mengenal asas praduga tak berzinah. “Haruskah layar sentuh dalam genggaman harus kutebus dengan menerima sentuhan di sekujur badan?” Puteri berusaha menaklukkan debur perasaan yang bergemuruh di rongga dadanya.” Puteri tak henti mengagumi kecanggihan telepon genggam layar sentuh kepunyaan Tante Rini. Apakah maksud kata. Sambil mendengarkan musik. Puteri mencoba menduga arah pembicaraan Tante Rini. pikirannya tak lepas memikirkan ajakan Tante Rini yang terus terngiang. Pasti seluruh sekolah akan membicarakannya. Tapi kembali kesadaran hati Puteri menghembuskan pertanyaan besar. Tapi. “Aku juga bisa punya hape layar sentuh?” Kata-kata yang ternyata disambut dengan tawa cekikikan setengah mengejek.” Komputer jinjing dengan layar sentuh tentu tak pernah terlintas dalam lamunannya. mengkicaukan kabar burung seantero warga sekampung pada dugaan profesi seputar wilayah remangremang. Pikiran gelap telah menuntunnya menuju jalan yang ditawarkan Tante Rini. Mulai dari pelayan café. tukang pijat. dalam waktu tiga bulan kamu bisa memiliki Ipad. Sekarang. Harga dirinya merasa terlecehkan. Dinding kamar hotel terasa menghimpit kesadaran. Pasti akan sangat keren jika ia ke sekolah tidak sekedar hanya membawa telepon genggam layar sentuh tapi juga Ipad. “Jika mau menerima sentuhan. engkau bisa membeli hape layar sentuh. “Akan kubuktikan bahwa aku juga bisa mempunyai hape layar sentuh. Perempuan cantik itu bermurah hati meminjamkan benda mungil ini kepadanya. “Tante tidak memaksa. Tapi bagaimana cara mendapatkan uang yang tidak sedikit itu? . jemarinya asyik membuka fitur-fitur yang tersedia. hingga kupu-kupu malam. “Rela menerima sentuhan untuk mendapatkan layar sentuh.” Ejekan dan provokasi teman-temannya telah membuat Puteri kalap.” berarti ia harus merelakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. “Jangankan hape layar sentuh. Pesona layar sentuh benar-benar telah menyihir kelabilan jiwa remaja Puteri.

Bagaimana kalau peristiwa ini menimpa dirinya.” “Berjanji apa?” “Berjanji untuk setia dan tidak menghianati kepercayaan keluarga Om Anton. Tante Rini dan seorang bertubuh kekar telah siap siaga menjaga segala kemungkinan. Klik. Puteri menjerit kencang dan reflek memeluk tubuh Om Anton untuk mencari perlindungan. Di lobi hotel. kok Om Anton ada di sini?” “Puteri sendiri mengapa di sini?” Setengah terisak. Entah bisikan setan darimana. Sejenak keduanya menjadi salah tingkah dan hanya terpaku tanpa keluar sepatah kata pun. sahabatnya. dipegangnya gagang pintu. Sebuah sentuhan kasih sayang orangtua pada anaknya. Belaian yang sudah lama hilang dan tidak pernah dirasakan Puteri. air mata menetes dari sepasang mata Om Anton.” Sekarang. Tapi sepertinya sudah tak mungkin lagi. Sesosok lelaki berumur muncul bersama terbukanya daun pintu. orangtua Shinta. Bahkan. Om benar-benar menyesal. “Betapa mahal harga yang dipertaruhkan untuk menggenggam benda mungil itu. “Maafkan Om Anton ya. Jika ada seseorang yang datang.” “Tanpa Puteri minta pun. Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama. Tak terasa. Puteri seketika teringat pada ajakan Tante Rini.” Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak.” Sebuah ketukan membuat jantung Puteri berdegup kencang. ini Om Anton. Puteri mengendap-endap menuju rumah Tante Rini dan sepakat bertemu di sebuah hotel di tengah kota. Dua orang berseragam polisi mengacungkan pistol. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di tempat ini. Puteri merasa begitu takut.Memaksa ibunya jelas tak mungkin. Puteri sangat terkejut. “Tunggulah di kamar ini. orangtua Shinta telah mengganggap Puteri seperti anggota keluarga mereka. Puteri sudah mengerti gejolak yang dirasakan ayah sahabatnya itu. tapi Om Anton juga harus berjanji. “Angkat tangan! Kami dari kepolisian. Untung semuanya belum terjadi. Tanpa perlu berkata-kata. Mereka begitu akrab. dengan alasan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Maka sore tadi. Dengan tangan gemetar. Ia ingin segera lari dari kamar hotel ini. Awas jangan macam-macam. Bukankah.“ Sebagai pengusaha yang berpengaruh di kota ini. Apalagi ia sudah terlanjur menerima uang Rp500 ribu. Sekarang pulanglah. Keringat dingin kembali membasahi wajahnya. begitu juga raut muka lelaki dihadapannya. kamu hanya perlu diam dan menuruti semua kemauannya. Raut wajah lelaki itu begitu lekat dalam kehidupan Puteri. Mari kita tutup rahasia ini rapat-rapat. Tiba-tiba Om ingat pada Shinta. Om Anton akan berusaha menjaga kepercayaan itu. Puteri menceritakan semua yang terjadi. Om Anton . Dengan lembut dibelainya rambut Puteri. Kilatan lampu kamera dan hardikan suara lantang menyergap.” “Baik Om. Bagaimana sosok yang selama ini dikenal Puteri sebagai seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab bisa berada di kamar hotel untuk menemui gadis remaja sepertinya? “Lho. dengan berbagai lobi.

ibunya masih sibuk menggerus bumbu dan meracik gado-gado. Hanya karena ingin memiliki telepon genggam layar sentuh. 2012). ia telah membutakan mata hati dan nuraninya. Cerpennya sudah dimuat di berbagai media cetak. Puteri hanya bisa berharap semoga peristiwa malam itu tidak menyebar apalagi menjadi berita di surat kabar. agar Puteri menutup rapat-rapat peristiwa malam itu. 2007). Apa kata dunia? Puteri pun bebas dengan jaminan dari Om Anton. mungkin sekarang ia telah kehilangan kesucian. bagaimana perasaan Ibunya jika mendengar semua ini.bisa menutup rapat-rapat kejadian memalukan di malam itu agar tidak menyebar. Harusnya kemiskinan justru melecut kemampuan untuk mencapai prestasi tertinggi. Seorang pengusaha ditangkap sedang berduaan dengan gadis remaja di sebuah kamar hotel. 01 September 2011 SETIYO BARDONO. 2012). DEMI HP LAYAR SENTUH. Sesobek koran segera diambilnya untuk membungkus pesanan. seorang TRAINer (penumpang Kereta Rel Listrik/KRL) kelahiran Purworejo. Sementara di beranda rumah. Ah. 15 Oktober 1975. Harusnya ia menyadari kemampuan orang tuanya dan tidak mudah terprovokasi persaingan remeh-temeh bersifat kebendaan. Peristiwa malam itu benar-benar telah menguncang kesadaran jiwanya. Kesibukan membuat mata rentanya tak lagi memperhatikan selarik judul berita harian lokal.com . dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia. Email: setiakata@yahoo. SISWI SMA NEKAT JUAL DIRI Depok. Sepertinya perempuan tua itu tidak tahu peristiwa yang baru saja menimpa anak kesayangannya. Pasti berbagai isu dan spekulasi akan bermunculan. Puteri hanya bisa berkubang dengan airmata penyesalan. Beberapa hari ia mengurung diri di kamar. Ternyata Tante Rini merupakan salah satu mata rantai sindikat yang sering menjerumuskan gadis remaja ke dalam lembah nista bernama prostitusi. Buku Antologi puisi tunggalnya: Mengering Basah (Aruskata Press. Apalagi ketika aneka sayuran dan cairan bumbu menimbun berderet kata. Sementara Tante Rini raib entah kemana. Seandainya bukan Om Anton yang mengetuk pintu kamar itu. Tentu saja dengan catatan dan kesepakatan. Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Publishing.

wong aku cuma gadis desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-harinya hanya berada di sawah. karena mereka berbicara dengan Johan menggunakan Bahasa Inggris.”sesalku dalam hati." kata Pak Lurah sewaktu Johan melihatku saat melewati rumah pak Lurah sepulang dari sawah. Dengan dipaksa jujur olehnya. Selang dua hari setelah pernikahan kami." jawabku sambil sedikit tergagap." jelas suamiku. sepertinya tidak hadir lagi malam. agar saya tidak dibuat tambah malu!" cetus ibu mertuaku dengan wajah asamnya. Setiap harinya pun aku jarang bercakap-cakap dengan mertuaku. Cacian seperti itu sudah biasa kudengar semenjak setahun terakhir aku tinggal bersama mertuaku. aku juga trauma melihat darah. sukses. ini sudah enam bulan sejak pernikahan kamu dengan anak saya. Kami pun menikah di desaku. aku sangat canggung. akhirnya aku pun berani untuk jujur. Suatu hari Johan yang baru pulang dari luar kota memergokiku sedang menangis. di pihak lain. Namaku Lastri. "Kenapa belum hamil juga. Aku bertemu Johan. seharusnya darah itu cepat ku lap. hidung bangirku. juga tampan dari Jakarta. begitulah penjelasan suamiku.Cerpen Rahasia Pernikahanku Senin. dan aku tidak menikmatinya." itulah solusi suamiku yang membuat perasaanku campur aduk. ditambah lagi sepertinya mereka jarang mau menatap dan melihatku. dan entah mengapa. Kulalui hari demi hari dengan membereskan rumah dan melayani Johan jika dia sedang tidak ke luar kota. bibir merahku. namun setelah mendengar kabar pernikahan kami. “Seharusnya aku tak usah merintih kesakitan saat itu. kecuali mereka yang memulai. itu pun karena aku tertidur akibat kelelahan mencuci sekoper pakaiannya sedari liburan ke luar kota. Dahulu tak pernah terbayang dalam benakku. Sebelumnya mereka tinggal di Belanda. nanti kita program bayi tabung ya. bahkan hanya seminggu dalam sebulan dia ada di rumah. aku pun diboyong ke rumah besar Johan di Jakarta. . Saya sudah berusaha tutup mata atas hadirnya kamu di keluarga saya. Itulah alasan yang membuat kami tidak pernah berhubungan badan. Akibat rintihan dan darah dari kemaluanku saat malam pertama itulah yang membuat Johan sekarang jarang menggauliku. Ya. Kedatangan kami ternyata berbarengan dengan kedatangan ibu mertuaku yang asli Solo dan ayah mertuaku yang peranakan Belanda. Dia panik dan bingung melihat mataku yang bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Sejak malam pertama itu. "Apa kamu sudah hamil. Hampir setiap bulan. aku akan menjadi istri pengusaha cengkeh yang sukses. saat dia sedang mensurvei lahan untuk perkebunan cengkeh di Malang. Awal pertemuan dengan mertuaku. dan Johan hanya membawa teman-temannya untuk menjadi saksi pernikahan kami dikarenakan tak adanya sanak famili yang tinggal di Indonesia. Di satu pihak aku senang ada solusi yang baik. Seharusnya kamu berusaha untuk cepat hamil. mereka berniat untuk tinggal di Jakarta. membantu kedua orang tuaku mengolah sawah milik juragan tanah di desaku. aku sedih mengetahui suamiku masih trauma akan kejadian malam itu. Itulah sederetan kalimat yang mengakhiri percakapan kami saat itu. sedangkan bagaimana aku bisa hamil jika gaya hubungan kami tidak diubah. "Aku tidak tega melihatmu merintih.malam pergumulan kami yang sebenarnya. air mataku pun luruh mendengarnya.”batinku dalam hati. "Tenang Lastri. Jawa Timur. Lastri?" tanya ibu mertuaku di suatu hari. “Ini semua memang salahku. Mungkin kalimat itulah yang membuat dia bisa meminangku. tepatnya setelah setahun aku tak kunjung mengandung anak hasil pernikahan aku dengan anaknya. lelaki yang menjadi suamiku. "Belum Bu. Johan berpergian ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. Aku segan. Aku ceritakan bahwa ibunya sering mencaci karena beliau ingin segera dapat cucu. 31 Desember 2012 13:13 wib "Dasar kamu perempuan mandul pemalas!" bentak ibu mertuaku tatkala aku lupa membuatkan beliau jahe hangat di sore hari. dan kulitku yang putih sehingga sengatan matahari pun hanya membuat rona merah di pipiku yang kata orang “semakin membuat gemas”. Anugrah Tuhan atas mata bulatku yang indah. Aku sedih dan bingung apa yang harus kulakukan. Itulah yang membuat Johan menjadikan aku sebagai istrinya. sehingga Johan tidak seperti ini sekarang. Aku perempuan desa yang beruntung dipersunting oleh lelaki kaya. "Dia itu bunga desa di sini.

Mendadak aku seperti kehilangan oksigen.” “Tapi aku tidak mau. Tak lama setelah ku mendengar desahan tersebut yang kuyakin kali ini adalah desahan Johan suamiku. orang tuaku ingin menjodohkanku dengan anak kerabatnya. hanya tiga teman laki-laki papanya yang sepertinya peranakan asing semua. Genap 36 minggu. kapan kita bercumbu lagi?" isi SMS itu. selain muak." jawabku singkat yang mewakili perasaan bersalah ku karena tidak bisa memuaskan suamiku. dan ketika kulihat nama pengirimnya. Roy dan satu teman barunya yang bernama Robby. asal mas senang. Mendengar perkataanku. Johan pun seperti merasa bersalah. bisanya buang-buang duit saja!" itulah cacian terakhir yang kuingat saat dia mengetahui kami program bayi tabung. "Pas seperti yang kuharapkan. nama teman pria suamiku yang pernah datang menjenguk Jonathan pada malam hari di hari ketujuh sepulangnya Jonathan dan aku dari rumah sakit. di mana Jonathan banyak kedatangan tamu. aku mengajak Johan bicara tentang apa yang kulihat semalam. Johan memilih untuk tidur berbeda kamar dengan kami karena takut dengkurannya mengganggu tidur Jonathan. Saat aku masih berpikir. aku tak sampai hati. Ryan. karena melihat tiga kaum adam yang sedang beradegan erotis. Ketika Jonathan telah tertidur pulas. rupanya temantemannya bermalam di rumah ini. Tapi mengapa dia mengirim SMS seperti itu ke suamiku. sungguh sulit kupercaya" melas ku dalam hati. "Oh. Sampai bertemu dengan mu.” . sungguh terkejut aku mengetahui bahwa hampir seluruh isi SMS bernada sama seperti yang dikirim Roy kemarin. kepalaku pusing. biasa ke luar negeri sih!" batinku cuek. jika tidak ke luar kota. tidak pernah mengetahui ada hubungan sesama jenis. lelaki tampan peranakan Jerman. Kesibukanku mengurus Jonathan. putra pertama kami. melainkan ada Toni. aku dalam keadaan frustasi berat. aku sengaja menahan rasa kantuk untuk menunggu desahan-desahan kembali terdengar. aku mengendap-endap mengintip kamar tempat berasal suara tersebut lewat lubang angin yang berada di atas pintu. kami tak lagi pulang ke rumah mertuaku. setelah Roy dan Robby pulang. ternyata dari Roy. sepertinya sampai larut mereka asyik ngobrol. dan lainnya. kali ini dia membawa dua teman pria. karena aku sibuk mengurus Jonathan. kamu ga keberatan kan?!" jelas suamiku dengan nada tenang. lalu kami nonton BF (blue film) saja. aku pun melahirkan putra pertama kami secara normal. Air mata pun tak terbendung lagi. aku tak berani menanyakan apa yang telah kulihat. suamiku telah selesai mandi. Aku pun tak dapat menonton lebih lama. Walau sudah ku duga. “Aku sudah tahu semuanya mas. untuk menghilangkan stres. Dulu saat aku ke Malang. Suatu malam teman-teman Johan datang ke rumah untuk menjenguk Jonathan. namun mataku dan badanku begitu berat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar kamarku sana. "Ternyata benar perkiraanku. Ibu mertuaku pun sudah jarang mencaci aku. pasti orang tuaku sangat malu. Terlihat suamiku yang telanjang dada tidur berdampingan dengan temannya yang juga tanpa busana. aku memang lain. Tapi keesokan harinya. Suamiku dan teman-temannya sedang asyik meluapkan nafsu birahi mereka ke sesamanya. hatiku porak poranda melihat kenyataan yang ada." prolog ku disertai sesak tangisku yang tak bisa dibendung lagi. aku tersadar dari tidurku akibat mendengar suara desahan laki-laki. Sekuat tenaga aku beranjak keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menenangkan diri. Sejak tinggal di rumah pribadi. Johan kembali membawa menginap teman-temannya. aku seperti mendapat jalan keluar. Ini adalah hari ketujuh. aku ingat Roy. Keesokan harinya saat suamiku mandi. hampir setiap malam minggu Johan membawa pulang teman-temannya. Hanya suatu saat aku pernah menonton berita maraknya sodomi dan menonton gosip banyaknya artis luar negeri yang memadu kasih dengan sesama jenis. kali ini akan kubuktikan sendiri" tekadku dalam hati. aku penasaran ingin melihat isi SMS yang ada di hp-nya. Aku yang lulusan sekolah dasar. "Dasar perempuan kampung. tak sengaja pintu kamar suamiku terbuka."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dilakukan suamiku? Apa yang aku tak ketahui?" tanyaku memenuhi otak kosong ini. Suatu malam. aku sakit Lastri. dan aku segera menghapus jejakku memeriksa hp-nya. hanya bukan Roy saja nama pengirimnya. dia pun menghadiahi aku rumah pribadi. Roy. apa itu yang terjadi dengan Johan? tanyaku dalam hati. sungguh terkejut aku. apa mungkin dia salah kirim. "Maafkan aku Lastri. "Ya gapapa. “Rupanya mereka kegerahan. Sehingga sepulang dari rumah sakit. kakiku menjadi lemas . Adanya Jonathan lah yang membuatku tetap tinggal malam itu. Aku pun tak curiga sedikit pun hingga suatu saat aku membaca SMS di ponsel suamiku saat dia mandi. Johan sangat senang. Aku terus berusaha menyelidikinya sampai tiba di suatu malam minggu. Mereka pun hanya bertemu Jonathan sebentar karena malam sudah larut waktunya Jonathan tidur. bisanya nyusahin saja. karena jika nanti penyakitku ketahuan. Ya. kedengaran sampai kamar ya? Semalam kami bosan. Keesokan paginya aku bertanya pada Johan perihal desahan yang kudengar malam itu. saat aku ingin menyeduh susu di dapur. mereka masih terlelap. Esok paginya. Hanya malam itu tidak sebanyak biasanya. Aku pun merasa tak keberatan karena kupikir Johan tidak akan kesepian.Sekarang aku sedang mengandung tujuh bulan hasil program bayi tabung. membuatku terlupa dengan masalah 'hubungan' dengan Johan. melainkan ke rumah baru kami. "Aku kangen sekali sama kamu. aku melihat semuanya semalam.

“Selama ini aku banyak berbohong padamu, alasanku tak tega menggaulimu hanyalah bohong belaka, aku tak bisa 'melakukannya' denganmu yang berwujud perempuan. Aku pun jarang pulang karena tinggal berpindahpindah dari teman priaku yang satu ke yang lain. Maafkan aku Lastri. Aku berutang budi padamu Lastri. Aku sudah sering berusaha untuk berubah, tapi sampai saat ini tak berhasil juga. Aku juga bingung dengan diriku. Tolong jangan beri tahu keluargaku. Aku mohon, maafkan aku Lastri." jelas suamiku yang juga beruraian air mata. Sejak kejadian itu, aku semakin menjauh dari Johan. Tepatnya judul pasangan suami istri hanya lakon di depan keluarga dan juga Jonathan. Sekarang Jonathan sudah berusia tujuh tahun dan dia diboyong mertuaku ke Jerman untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Aku pun tidak bisa mengelak atas perpisahan tersebut dengan anakku. Karena tak ada Jonathan, aku pun kembali ke desa dengan seizin Johan yang sebelumnya telah membebaskanku dari tali pernikahan secara agama dengan syarat perceraian kami tidak boleh banyak yang tahu, selain kami dan orang tuaku. Sehingga di depan orang lain, keluarga besarnya dan Jonathan, kami masih sepasang suami istri. Johan pun masih belum sembuh, hanya dia berusaha mengerem nafsunya, biasanya minimal seminggu sekali, sekarang maksimal sebulan sekali, ceritanya padaku saat menelpon menanyakan kabarku di suatu hari. Kehadiran Jonathan lah yang membuat dia bersungguh- sungguh berubah. "Aku akan berusaha menyembuhkan diriku, aku ingin anakku melihat kau dan aku sebagai orang tua yang sempurna, semoga ketika Jonathan sudah besar dan mengerti, kita bisa kembali bersama lagi, apakah kamu masih bersedia Lastri mendampingiku jika aku sembuh nanti?" Itulah pertanyaan terakhir Johan yang kuingat sebelum dia tewas bunuh diri. Selang dua tahun dari percakapan terakhirku dengannya tersebut, Johan merasa putus asa, karena tidak kunjung sembuh, dia pun nekat menjatuhkan mobil yang dikemudikannya ke dalam jurang. Dan aku pun akan menepati janjiku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Semoga rahasia ini ikut terkubur tenang bersama arwahnya di alam sana. Oleh Damatriyani, S.Si Penulis tinggal di Singapura.

Cerpen

Rengkuhan Ruh Liar
Rabu, 19 Desember 2012 14:43 wib

TADINYA kuresapi kekosongan sore, namun kini ku tak tahu berada di mana aku. Semuanya gelap. Aku tak berani membuka mata. Terlalu mengerikan. Bagaimana tidak, sepasang senapan menganga tepat di ujung kedua mataku hingga menyentuh kelopak mata yang terpejam. Pisau belati mengelilingi urat-urat nadi di leherku, terasa geli namun, membuat seluruh tubuhku berdetak tak berujung. Dua pistol telah bersentuhan dengan pelipis kanan-kiriku, sungguh ku tak berdaya lagi. Bundaran celurit melingkar di kedua pergelangan tanganku. Besi panas telah seporos dengan kening basahku. Peluru runcing terarah pada jantungku yang tak henti-hentinya berdegup kencang. Ketakutan yang berlebih menghantuiku. Aku tak sanggup berucap sepatah katapun. Bahkan, untuk menyebut asma-Nya pun ku tak bisa. Aku dilema ancaman maut. Andai ada satu kata meluap dari lisanku, maka segala yang ada di sekelilingku akan beraksi dalam hitungan beberapa detik. Hembus napasku semakin terhenyak tak teratur. Benak pikirku membuntu. Dadaku tak henti mengembang dan mengempis. Air peluhku bercucuran. Semua bergetar tak

berarah dan tak beraturan. Aku benar-benar takut. Ku hanya mampu menelan air ludah di kerongkongan yang mengering. Seluruh tubuhku menggigil dingin ketakutan. Mukaku putih memucat. Segala uratku tak berdaya lagi untuk ku tegakkan. Aku tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhku. Aku terlalu lemah. Aliran darahku terhenti hingga membeku tak beralir. Kuku di ujung jariku menggelap. Hatiku berteriak tak dapat menerima semua perlakuan ini. “Apa salahku Tuhan?” Tiba-tiba cahaya indah meluluh dalam himpitan mautku. Ku sempatkan hatiku mendesah menyebut asma agung penciptaku. “Allah”. Tak terasa airmataku meleleh, cairan kental menguap dari mulutku, suara isak tangis pecah dari lisanku. Sejenak, suara senapan dan pistol menggema teriring tarikan napasku. Dorrr! Aku tak henti bertanya, “Hidupkah aku? Matikah aku?”. Namun, berkat sebutan nama agung-Nya tadi, mataku sedikit berani mengintip dunia. “Ya, aku hidup!” ternyata hanyalah tipuan syetan. Namun, pikirku terus menerus berputar berjungkil balik. “Di mana aku?”. Awan gelap pekat menaungiku, aku berdiri tepat di bawah pohon beringin besar. Tak terbayang dalam benakku tentang semua ini, terlebih pohon beringin yang besar ini. Ranting- rantingnya bersimpul satu dengan rambut gondrongku. Tanganku terangkat lemah dalam kepalan dahan pohon ini. “Ah, apa-apaan ini semua!”. Sedikit demi sedikit otakku mencoba kembali ke alam sadar, aku masih ingat benar, tadi sore aku tersimpuh lemah di surau tua kampung. Namun, mengapa kini ku berada di tengah- tengah hamparan padang batu nisan ini? “Apa apaan semua ini? Huuh Menyebalkan!” Ku tarik pelan tanganku dari pelukan beringin, perlahan ku lepas simpulan ranting tebal yang mengikat rambutku, aaw, sakit. “Ada apa denganku?” kalimat-kalimat penasaran terngiang- ngiang dalam benakku sembari mengiringi langkahku di bawah hujan deras yang membatu. Tatap mataku terhenti. Terbelalak menyaksikan jalan yang ku cari sendari tadi. “Itu dia jalan yang ke surau kampung”. Tanpa ku ambil napas panjang, langkah kakiku langsung terangkat. Mencoba mengejar keadaan di sana. Aku teramat penasaran. Bagaimana tidak, ada teriakan histeris menembus telinga dalamku. Aku sangat mengenali tarik suara itu. Seperti suara orang yang sangat ku kenal. Tapi siapa? Aku hanya merasa bahwa suara itu adalah suara orang yang sangat dekat denganku. Tapi siapa? Aku tak memiliki teman satupun. Aku anak pendiam, tak pernah sesekali bercakap dengan manusia lain. Langsung ku naik ke pelataran surau, ku coba mengintip sumber teriakan mistris itu dari sekian himpitan gerombolan orang banyak. “Haaaah? Ada apa ini semua? Apa-apaan?” ku coba bertanya pada semua orang yang mengerubungi sumber suara itu. Semua orang tak menjawab seru tanyaku, seakan mereka tuli, memancing emosiku saja. Aku semakin penasaran. “Ada apa ini Tuhan?” berontak hatiku. Dalam sekejap waktu, ku tundukkan kepala ke ujung kaki. “Deg!”. “Apa?” kakiku tak menyentuh tanah. “Aku melayang?”. “Ada apa dengan semua ini Tuhan?” Kaget dan rasa galauku telah membakar segalanya. Pemilik teriakan histeris itu aku? Aku terbaring berkejang- kejang di tengah kerubunan orang banyak. Tapi aku yang berdiri melayang di sini siapa? Dan yang menggantikan posisiku tadi di surau itu siapa? Semua seperti ku rasa bahwa itu adalah “aku”. “Apa-apaan semua ini Tuhan?” Semua jelas, yang berkejang dan berteriak gila itu adalah jisimku. Tapi apa benar bahwa aku yang melayang di sini adalah ruh? Lalu siapa yang mengisi jasad hampaku itu? Sejenak ku tatap kuat-kuat apa yang ada. Semua orang mengepal erat jasadku yang berkejang. Satu dari mereka ada yang berjubah putih bersih dan polos. Menyilaukan mataku rasanya. Dengan seenaknya dia memijat kepala jasadku dengan keras. Siapa dia? Aku benar- benar tak mengenalnya. Berani- beraninya dia membentak jasadku dengan kata yaa ma’syarol- jinn. Entahlah, sedikit demi sedikit ku mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Darahku semakin memuncak menyaksikan ini semua. Pertama, jin sialan yang mencuri ragaku itu. Orang berjubah putih itu juga, dengan seenaknya saja dia menampar pipi kiriku, mengepal erat kepalaku. Aku tak peduli dengan komat-kamit bibirnya itu. Sangat tak perduli. Ruqyah atau apalah, intinya aku tak rela. Hatiku terus saja memberontak tak terima. “Apa-apaan ini semua? Itu tubuhku, jangan kalian perlakukan seenaknya, aku saja yang memilikinya tak pernah melakukan yang sekonyol itu” teriakku beriring emosi yang semakin meninggi. Tetap saja semua membisu, tak sedikitpun menanggapi keluh kesahku. “Menyebalkan!”. Di ujung kegalauanku, gemerisik gelak tawa menyebalkan dan sangat tak enak didengar mulai berani berhembus di telinga dalam.

“Jangan memancing kemarahanku, siapa Kau? Tampakkan dirimu padaku!” “Hahahaha, betapa malangnya nasib anak Adam yang satu ini, manusia bodoh!” “Sekali lagi ku bilang, siapa Kau? Tampakkan dirimu di hadapanku!” “Hahahaha, akulah penikmat jasadmu Adam bodoh!” “Jin? Dasar Iblis kurang ajar! Di mana Kau?” darahku seakan melampaui kepalaku. “Pergilah kau dari tubuhku! Pergi!” “Bagaimana bisa aku pergi Adam bodoh? Aku sangat menyukai jasadmu!” “Maksudmu?” “Tubuhmu sejuk, darahmu semanis madu, tulangmu wangi kesturi, jantungmu hangat, daging lidahmu gurih, lidahku bergoyang menikmati jasad lezatmu!” “Iblis gila!” “Satu lagi Adam bodoh, otakmu sangat renyah. Bagaimana bisa kau selalu mengosongkannya, ajari aku Adam bodoh! Hahahaha” “Pergi dari jasadku! Sekali lagi aku bilang, pergi! Dan jangan pernah kau kembali lagi!” “Tak semudah itu Adam bodoh!” “Apa kau tak takut dengan orang berjubah itu?” “Kau pikir aku takut? Tak lama lagi aku akan pergi meninggalkan jasadmu itu tanpa mantra orang berjubah itu Adam bodoh!” “Pergi!” *** Kerumunan orang mulai mereda, akhirnya jiwaku menyatu dengan jasadku. Aku mulai memakai mataku, ku coba menatap dengan tatapan kosong. Namun, aku sedikit risih dengan tubuhku ini, kenapa harus ada bawang merah di leherku? Kenapa harus ada gelang lilitan benang di pergelangan tanganku? “Apa-apaan ini semua? Ah, bodoh!” Ku jalani hari- hariku seperti biasa. Hanyut dalam kesendirian, tenggelam dalam pikiran kosong tak berarti. Pikirku terbang ke sana ke mari. Menjadi orang pemurung memang seperti ini, tanpa ada sepatah katapun yang keluar, hanyalah meniup kapas lamunan setinggi mungkin. Tak berselang waktu lama, rebahanku di surau tua kampung ini terputus. “Deg!”, terasa ada yang menggantikan tubuhku kembali. Jiwaku kembali melayang-layang di atas bumi, “Ada apa lagi Tuhan?”. Kusaksikan kembali jasad hampaku, masih berkejang- kejang tak karuan. “Aku benar-benar tak rela Tuhan,” tuturku membatin. Lengkingan cekikan tawa kembali mendesing, kembali memancing darahku untuk meninggi. “Anak adam bodoh, tahukah kau? Aku di utus untuk menjadi rejeki penutupmu, hahahaha! Malang benar nasibmu” “Apa maksudmu Jin hina?”. “Tunggu saja waktunya sebentar lagi! Hahahaha” “Dasar Jin menyebalkan!” Lelaki berjanggut dan berjubah putih itu kembali datang bersama kerumunan warga kampung. Jasadkulah yang menjadi tontonan histeris mereka. “Aku tak rela!”. Hampir semua jariku ditekan-tekan keras oleh ahli ruqyah itu. “Kenapa kalian sakiti jasadku? Tak punya perasaan!”. Jiwaku tetap saja menonton jasad yang berkejangkejang dan berteriak tragis hingga memecah penjuru kampung itu. Benar-benar tak rela! Teriakan jasadku semakin memeking tajam tembus ke dalam telingaku ketika lelaki berjubah itu menekan jari manis kaki kiriku. “Malangnya nasib jasadku”. Sungguh teriakan itu rasanya tak mampu ditampung lagi oleh telinga semua orang. Batuk-batuk keras mengiringi teriakan menyeramkan itu. Bagaimana keadaan ragaku di sana? “Ukkkkhhhk” batuk yang terkasar menggema. Mulut jasadku memuntahkan darah bulat merah pekat. Lelaki berjubah itu bertuturan pada gerombolan manusia di surau kampung, “Segala puji bagi Allah, akhirnya jin hina itu mau keluar dari jasad pemuda ini melalui darah pekat tadi, kita tunggu anak ini siuman dulu sambil berdoa memohon pada Ilahina”. Ku coba kembali ruhku merasuki raga yang ku rindukan sedari tadi. Bismillahirrohmanirrohiim. Kulangkahkan seluruh baris ruhku menyatu pada jasadku. “Deg!” “Ruhku tertolak? Ada apa lagi Tuhan? Seperih inikah nasibku?”. Sungguh naïf diriku ini. “Ya Tuhan, beri aku petunjukmu!”. Kucoba untuk kedua kalinya merasuki jasad asalku, “Bismillahirrohmanirrohiim”. “Deg!” Lagi-lagi tertolak. “Ada apa lagi Tuhan?”. Asaku mulai memudar hilang. Jiwaku terhanyut dalam kesepian. Termangu dalam kesendirian. Tak berselang lama, suara gemericik air menyebalkan menyusup dalam pendengaranku. Ruhku terasa membasah. Kucoba menghampiri suara berisik itu.

namun keranda mayat. Keheranan kembali menyelimuti jiwaku. “Kenapa mesti berjalan terbaring? Kereta apa sebenarnya ini? Ada bau tak nyaman di indera ciumku. 20 Januari 2013 15:55 wib Pejamku Jauh pada tatap tak bersauh lelapku tak tersembunyi pada pekat kelam harap pada jenuh nan tak kunjung menjauh menuju satu titik dalam tikam rinai malam LANGIT itu indah. Yang kutumpangi bukan kereta biasa. 14. Menyengat hidungku yang tersumbat. Hingga kini aku pun tak tahu mengapa aku sedemikian suka pada langit senja. membawa dosa tak terhitung. Namun. Aku sangat tak menyukai fragmen ini. Ruang Khayal. Perasaanku sedikit menenang. “Ada apa lagi Tuhan? Aku masih mampu mandi sendiri? Kenapa harus orang lain yang memandikanku?”. aku agak sedikit heran. . Arwahku telah dipanggil oleh-Nya. 26012011. “Apa iya aku mati?”. lebih lagi di saat senja dengan riasan bintang dan warna-warna yang berpadu menyambut datangnya pekat. Semua tak sesuai bayanganku.29 Oleh Zaimil Alivin Cerpen Lembayung di Tepi Semayang Minggu. terasa sedang mengendarai sebuah kereta. aku masih bisa bergerak berjalan. namun tetap ku mengharap belas kasih dan ampun-Mu. Tuhan. Ah.“Deg!”. Tapi ini apa? Kain kafankah?”. Terutama sampir batik yang menyelimutiku. aku datang untuk kembali pada-Mu. ternyata tidak. Ternyata “aku mati”.

Raka memang bukan laki-laki-. Kadang aku merasa bodoh... ya itu lah Raka. bahkan jika aku harus jumawa. Terkadang jadi sosok yang meramaikan suasana. “Mama pergi waktu nge-lahirin aku” lanjutnya pelan. Aku hanya membayangkan di kaki langit itu tempat Mama berada dan bahagia” lirih suara Raka berkata. tapi tidak pula biasa tatapannya sayu dan tak ada tawa di sana... Bagiku langit adalah muara dari segala kegundahan. tenang. Kerinduan yang terkadang membuat sosok ini membeku bagai batu. Ah. Terkadang aku membayangkan sosok ku adalah matahari yang dengan kehangatannya bisa mencairkan keangkuhan itu... Jelas kurasa ada kepedihan dan kerinduan di sana. kerinduan dari seorang anak yang tak pernah mengenal Mama yang melahirkannya.. Aku sendiri tidak pernah benar-benar menyadari kapan kekaguman itu muncul. Dia sosok yang selalu ada.. “ Iya. ada yang berbeda dari polah laku Raka. .” tiba-tiba ia berkata lirih antara gumaman dan bisikan “ Kamu tahu Grecee. sosok “BIASA” itu yang membuat hatiku menggelepar.. Sesaat keheningan datang menyapa menghiasi riak suara ombak. Ke-liaran jiwaku seakan terpasung kala menatap langit senja. Keindahan sederhana yang biasa kami nikmati... bukan sebagai pasangan kekasih karena tidak pernah ada sepatah kata pun tentang cinta dalam berjam-jam waktu kami setiap kali berada di sana. itu ada seiring dengan keterpukauan akan sosok Raka.Ada yang bisa di bantu??” ujarku masih menggodanya. Namun sama seperti impiannya. mungkin. Raka.. Pendiam. Dan aku sudah mengenalnya sejak lama. telaga bagi segala keresahan. “Aku kangen Mamaku. namun ternyata keangkuhan itu tercipta dari endapan luka yang bersenyawa dengan kerinduan akan sosok yang sebenarnya wujudnya membingungkan baginya. Yah. Tumpukan batu karang kecil yang berdiri pasrah di bibir pantai tempat kami biasa memandang langit sore.. Tapi bagiku ada sebentuk kedamaian. Selaras dengan terlalu lamanya aku menjadi pemuja rahasianya... “Nanti sore kita ke Parthenon yuk!!” tuturnya memberikan penawaran. di lain waktu jadi manusia introvert. Raka Primastya Restu.??” ujar ku kala menemukan sumber suara itu. tapi tetap saja pencarian dermaga ketenangan adalah langit. “ Kenapa Boy. meski aku tidak pernah tahu seberapa berartinya aku baginya. Bukan ritual seorang penghayal yang memandangi langit dengan pandangan nanar dan kosong. Yang aku tahu laki-laki ini terlahir dengan zodiak Sagitarius dan berulang tahun setiap 1 Desember. Banyak tempat yang sudah aku lewati dengan beragam aneka keindahan yang sebenarnya memukau. Parthenon yang Raka maksudkan adalah tempat favorit kami di dekat Pelabuhan Semayang. Aku tahu kalau dia tidak suka ku panggil dengan sebutan itu. aku rasa semua yang ada padanya. siapa sih yang tidak berkehendak menjadi pangeran di hati ku.” aku coba bersimpati akan dukanya. Namun ternyata kedekatan kami tidak cukup mampu membuat aku tahu akan luka-nya. keluhannya. kata-kata cinta itu pun hanya terujar dalam mimpiku. keangkuhan. dan keteduhan dalam lukisan siluet maha sempurna yang selalu ku nikmati. Duka nya memang tidak akan terhapus olehku tapi setidaknya aku bisa memberikan kelembutan sosok ibu yang diimpikannya. bahkan mungkin terlalu lama. senyumnya. Tatapnya.. namun memancarkan kharisma.!!!!” aku berhenti dan menoleh mencari sumber suara itu. meski sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Matanya nanar menatap jauh kosong. Raka hanya beringsut memperbaiki duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari lembayung tempat bertemunya kaki langit dan tepi samudera. “Woi.” Hati-hati hantu laut suka keliaran tuh sore-sore gini” lanjutku berusaha menyeretnya dari alam kelananya. populer. Sore itu saat kami kembali duduk di tepi pantai itu..aku lebih suka menyebutnya laki-laki daripada cowok—yang terbiasa ceria. Aku semakin kehilangan cara.. kenapa aku selalu suka pada langit pantai di sore hari. bintang kampus. ya aku hanya mengira.ngajor ya!!” ledekku. “Namaku Raka Primastya Restu.. tapi aku suka dengan ekspresi cemberutnya dan membuat ku semakin gemas padanya. Tapi nyatanya. “I am sorry Friend. Ingin rasanya aku melebur dalam kerinduan itu. Sosok sederhana namun memesona. lembayung itu menjadi sketsa lukisan wajah Mama yang aku sendiri 'gak pernah tahu. “Grecee. Aku gadis cantik dengan segudang penghargaan. itulah Raka.Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktuku dengan hanya memandangi malam... aku puja. Bukan Booooy!!!” sahutnya dengan wajah cemberut . Aku bisa memahami duka seorang anak yang tidak pernah bertemu orang yang telah mengalirkan darah padanya meski aku belum pernah tahu jika itu terjadi pada Raka.

Aku memang bukan kekasihnya namun aku menyesali akan ketiadaanku sehingga dia akhirnya pergi. entah apa maksudnya.id Cerpen Cita-Cita Anakku Senin. Merupakan pendiri dan Sekretaris Jenderal Pertama Ikatan Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI). Aku yakin ia akan datang meski mungkin dengan dan demi hati yang lain. tapi rasa bersalah itu selalu datang dan jika rasa itu semakin tajam. Yah. Oleh Riskon Pulungan..bni... Hum Penulis adalah alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. Meski tidak seharusnya begitu. semakin terpukau aku pada sebentuk senyuman. Sejak sore itu Raka pergi entah kemana meninggalkan sekeping luka di sudut hatiku. Seperti yang aku lakukan lagi sore ini. Grecee.?” Ada yang menjawab.. Cerpennya pernah di muat di Harian Surabaya Post (Wisata Cagar Budaya) dan Majalah Gaya Nusantara (Membelah Bayang-Bayang).pulungan@mail. aku akan kembali ke Parthenon dan memandang kaki langit sembari menunggu Raka kembali. Gugahku terseret pada jejak jemari bidadari yang berlari di telaga surgawi. Surat Terakhir Raka …. Sebagai orangtua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. terima kasih telah memberiku hari-hari yang indah. Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya. Nak….Angan merapat pada jelajah kupu-kupu.. “Mau Jadi Dokter”. tergabung dalam Tim Penulis Buku Mendidik Bangsa Membangun Peradaban dan telah diterbitkan (2011). Mengintip di balik sela-sela dinding Parthenon sembari mencari dan menanti dimana Raka ku. Saat ini bekerja sebagai pegawai di sebuah bank milik pemerintah. “Mau Jadi Pilot”. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya. Berbeda? Akhirnya aku pun merasa indahnya menatap langit sore dan membayangkan sosok-sosok dalam jelajah mimpi kita terbaring jauh di kaki langit. Menjadi Pimpina Redaktur Majalah STANZA. Email : riskon. Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur” Dan lain sebagainya. Aktif menulis dan berorganisasi sejak masih kuliah. “Mau jadi apa kalau besar nanti. . “Mau Jadi Guru”. kerinduan yang membuat kami membangun Parthenon ini dan kerinduannya pula yang membuat aku terbiasa memandangi langit senja meski dengan alasan berbeda. Semakin jauh lelah itu pergi.Ya.. sore dimana ia merindukan mamanya dibayar lunas oleh Raka dengan memberi penantian tak berujung padaku....co. S. 10 Desember 2012 13:18 wib SETIAP ditanya tentang cita-citanya. Bertaut pada tangkai-tangkai yang esok mungkin akan luruh.

atau hanya malas saja untuk menjawabnya. sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya. seolah ada yang aneh. Macam-macam aktifitas mereka. sering pula terjadi kekerasan. Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya. dengan lebih bersemangat untuk meraihnya. hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya. Bahkan. Dari Cigombong. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. *** Hari berganti hari. dengan dalih kemiskinan. untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya. menyaksikan realita kehidupan di perempatan Cempaka Putih ini adalah anakanak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki di sini. mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak. mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah. Seorang anak perempuan. jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. semua berjalan apa adanya. Diam-diam. mengamen dengan berbagai alat musik. Aku sendiri juga sering termenung. Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik. untuk bisa meraih impiannya. punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku. Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung. remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. hilang. Kehidupan di sini begitu keras. apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya. semuanya memang serba dilematis. generasi bangsa yang malang. dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa. lenyap begitu saja. anak-anak lugu dan lucu. tentu saja sebagai orangtua kita akan merasa senang dan bangga. sembari menenteng . usianya kira-kira sebaya dengan Upik anakku. minggu berganti minggu. “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita. “Persoalan anaku. ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. lirih. melamun tidak ubahnya dengan Isriku. Yang paling menyesakan dada. rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit di antara kami berdua. mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa. mulai dari anak-anak. dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat. Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik. pagi yang cerah. Apalagi membawahnya ke orang pinter. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak. namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius. Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut.Macam-macam jawabannya. yang belum memiliki dosa. Padahal. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan. Seperti biasa bus keluar dari jalur tol. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini. kejahatan di sekitar sini. sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini. klenik atau sejenisnya. Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang. sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius.” itu alasanku. bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja. Namun tidaklah demikian dengan Upik. ada yang menjajakan berbagai dagangan. istriku berkali-kali menyarankan anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi. sementara Istriku lebih sering melamun. Setelah berbagai upaya dilakukan. turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman. tanpa sebab yang jelas. terus terang cukup meresahkan keluarga kami. persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian. sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih di bawah umur. Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. begitulah pikiran kita sebagai orang tua. Akupun mulai gundah gulana. entah apa yang dipikirkannya. itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh. Bogor menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat. tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan risiko yang ditanggungnya. pakaiannya kumal. dukun. seolah tak pernah ada persoalan yang serius. apa ia tidak memiliki semangat. Kata orang daerah ini terkenal rawan. menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia.

Sehingga semuanya menjadi begitu lambat. Sementara kami bertiga masih tetap membisu. sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu. meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana. Kini berdomisili di Jalan Kenanga I No 32. mengharukan. semuanya terjawab sudah. namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas. yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. Kelurahan Kalisari. lugu itulah yg di miliki anak di bawah umur. Puisi anak perempuan pengamen kumal itu. tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya. suatu gambaran dengan tidak mampu mengatakan cita'' karena anak di bawah umur tidak mendapatkan perhatian dari negara ini untuk memberikan penyuluhan'' yg baik kepada sang si kecil. tanpa berkedip. menurunkan penumpang dan memutar sembarangan. Oleh Ratman Aspari Penulis merupakan pendiri Tumah Baca Asah-Asih-Asuh. lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh. Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami. Dalam puisinya. tidak sepantasnya dijalanan.co. tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya. sembari tersenyum. Puisi itu berjudul CitaCitaku. Kecamatan Pasar Rebo. dan teman-teman sebayanya. Perjalanan sampai Terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi. anak perempuan pengamen kumal itu menyebutkan bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya ke bahuku. tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem. tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan. hal itu terjadi begitu saja. :( . bungkam. para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya. generasi yang malang seperti anaku. terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya.id KOMENTAR Cerpen yg sangat menarik untuk di baca. RT 004/RW. Jakarta Timur 13790. entah apa yang ada dalam senyumanya. entah apa yang ada dalam pikirannya. gemah ripah loh jinawi ini. tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur.02. bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa. benar-benar menyentuh. apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq.kaleng kecil yang entah diisi dengan apa. masratman22@yahoo. tak terasa seolah membuka mata hatiku. hawa panas mulai mengusik. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang. Istriku yang duduk di sampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya.

Sore ini memang dia berencana mengambil pesanan tiketnya sendiri. benarbenar jauh dari perkiraanku. Menurutku dia memang pria yang kucari. Setelah seminggu menikah. "Iya tuh.. pasti aku cek. tukar nomor handphone pun tak terlewatkan. sekalian lewat katanya.” sanggahku dalam hati. tapi dia ada rasa kali sama kamu.” desah hatiku dalam hatI. So far. Desakan orangtuaku untuk menikah secepatnya karena usiaku yang sudah 30 tahun. banyak maunya. Tak lama. lagian masa aku cantik begini jadi yang kedua!" candaku menimpalinya.." candanya. Setiap hari telepon minimal dua kali sehari. terus nanti di-cancel-lah. Pak Anton yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mas' meninggalkan kantorku. yang namanya Pak Anton? Boleh juga. “Saya senang bisa ketemu kamu. Kadang hanya dua hari dalam seminggu dia pulang. "Cek dulu. Jadi penasaran seperti apa ya orangnya? Ah sudahlah malah mikirin orang yang tidak jelas. SMS dari Pak Anton rupanya. kami pun memutuskan menikah. sadarku mengentikan lamunan. seperti yang dikhawatirkan Nia sahabatku. “Tapi kayaknya tidak mungkin deh. aku sangat menyukai semua yang ada di diri Mas Anton. No way deh! Biarlah masa lalu Mas Anton terkubur dalam-dalam. Selang setahun berhubungan. baik pak. “Kalau yang seperti ini mah tidak nolak deh. memang sudah dalam proses bercerai. Sepulang dari kantor. namanya juga customer. Kan sebelum kenal aku. Nanti malah dilarang lagi. saat baru sampai di rumah. dia mau bercerai dari istrinya. "Iya. Semua berjalan lancar. Setelah menikah kami pun mengontrak rumah petakan yang dekat dengan kantorku. itu pun biasanya pasti hari Jumat dan Sabtu saja. "Hush. ku ketahui bahwa pria yang sekarang aku sebut Mas Anton itu sudah menikah. lama-lama pegel juga nanggepinnya" jawabku.ngawur!" balasku. anda Anita?" sapa lelaki paruh baya dengan paras gagah seperti Ari Sihasale memecah konsentrasi diriku yang sedang mengkroscek jadwal penerbangan.kurang lebih 45 menit.” genit hatiku berkata." balasnya disertai senyuman yang menurutku sangat manis. 06 Desember 2012 11:19 wib “Oh. Dari situ. Oke pak. “Selamat sore. Ah biarlah. Pernikahan pun berlangsung. jelasnya. Rupanya ini toh Anton yang selalu menelponku setiap hari. namun status 'menikah' dirinya sedang digodok ulang di pengadilan agama.Cerpen Aku yang Kedua Kamis. bisa dibantu?" jawabku "Saya Anton.” itu isi SMS-nya. Sedikit pun tak terpikir diriku menjadi perusak rumah tangga orang. ditunggu kedatangannya ya pak. teman sekantorku. hihihi. Ya pesen tiketlah. memang tak bisa berkutik kalau udah maunya pelanggan. karena rumah pribadi Mas Anton sangat jauh dari kantor ku. dan sudah punya dua anak. ada urusan lagi. "Itu Nit. Kami pun larut dalam percakapan. terima kasih”. saya mau ambil pesanan saya. SMS dan telepon-teleponan antara aku dan Pak Anton pun terus berlanjut. terus dijodohin sama orang yang tak aku suka. kita kan belum pernah ketemu. Dia pun tak luput setiap hari menelpon kadang hanya menanyakan kabarku. Lebih tepatnya lebih baik. yang hanya ingin aku yang melayaninya. hihihi. Ya. Minggu dia kembali pergi karena menyiasati perjalanan yang jauh agar kerja di hari Senin tak . kilahku. padahal kan banyak customer service (CS) lain di travel ini. "Huufft. bener tuh boleh juga!" jawab konyolku. ponselku bergetar. hihihi" tanya Nia menyadarkanku yang masih senyum-senyum sendiri. "Yah. Sekarang mau ambil tiket sendiri. Kupikir keluargaku tidak perlulah mengetahui status Mas Anton yang sudah duda beranak dua. "Benar pak. “Iya lah. Mas Anton sering berpergian ke luar kota mengurusi bisnisnya di bidang perkebunan karet. harapku. jangan-jangan sudah punya istri lagi!" sarannya. akhirnya bisa dipenuhi. Spontan canda Nia membuatku berpikir apa iya ya? Memang sudah enam bulan terakhir ini pelanggan yang bernama Anton itu selalu minta aku yang melayaninya. memang ada-ada saja pelanggan satu ini. bahagia menyelimuti perasaan kami. "Kenapa Nit? Pak Anton lagi?" tanya Nia.

hampir setiap malam aku menangis. Pada akhir cuti Mas Anton. Sampai akhirnya aku melahirkan Alan. namun Mas Anton. Tapi lihat. selalu menenangkanku dengan alasan untuk masa depan. karena utang-utangnya yang banyak. Di samping rumah kontrakanku ada rumah pasangan muda yang baru dikaruniai anak. Hampir setiap setengah tahun sekali kami pindah kontrakan. Semua terasa sangat berat. bahkan seperti kembar. dan ketika Alan sudah tidur. bahwa dia tak jadi cerai karena alasan yang tadi sudah dijelaskan istri pertamanya. Mungkin kalau tidak ada Alan. tak lama pun Mas Anton masuk ke kamar. aku pun hamil. Mas Anton tidak pernah bermalam bersamaku. kehamilanku tidak 'rewel'. suamiku tak bisa tinggal barang semalam. Setelah kejadian itu. kami mengurus Alan. kami sangat bahagia sekali. adik ayahnya yang sudah meninggal. Dia tidak bisa menceraikan saya. Selama ini dia pun tidak keluar kota melainkan pulang ke rumah istri pertamanya. lalu kubuka. karena aku sebatang kara. dan yang paling memuakkan adalah ketika dia bilang bahwa semua ini dilakukan untuk aku dan Alan. Pelan-pelan Mas Anton menjelaskan. "Tidak apalah anak juga pasti ngerti kok. Hampir setiap malam. dia pulang sore lalu bermain dengan Alan. terutama jika Alan sedang sakit. semua harus ku jalani. Sekarang kami mengontrak satu rumah di suatu komplek perumahan. mimpi buruk pun dimulai." pikirku dangkal. Sepulang dari rumah sakit. Tak lama pun air mataku mengalir. Tapi hanya menangis yang bisa kulakukan. suamimu ini bekerja di perusahaan yang didirikan ayahku. Waktu tak berselang lama. sejak Mas Anton semakin jarang pulang karena pindah bersama istri pertamanya ke Kalimantan dan setelah melepas ikatan suami-istri kami secara agama.terganggu. Ya sudahlah. Yang ada hanya tangisan yang tak terbendung dari diri ini. Petir terasa menyambar diriku. Ada sosok wanita paruh baya berkulit sawo matang dengan mata agak merah seperti tidak tidur semalaman. "Kamu pasti Anita? Saya Endang. terkadang sangat iri hatiku melihat keromantisan mereka. untuk menghindari istri pertama suamiku yang sering datang hanya untuk memakiku keras-keras sebagai wanita perusak rumah tangga orang. dalam kondisi Alan sedang sakit pun. melainkan hanya keponakan laki-lakinya yang hobi bermain gitar di depan rumahku. Di depan rumahku. . dan disetujui Mas Anton dengan “catatan” bahwa aku harus siap dengan segala konsekuensi yang sering ditinggal suami. karena harus mengurus Alan. kakiku lemas sehingga bergetar karena tak kuat lagi menopang tubuhku. hanya aku yang merantau ke Jakarta. "Oh jadi ini ulahmu ton!” kata wanita itu seraya memandang tajam ke arah suamiku yang hanya menunduk. dan dia mengenal ayahnya sebagai om. Jadi ini maksud “catatan” itu. istri pertama Anton. Itulah skenario yang aku dan Mas Anton sepakati untuk Alan. Kesepian sangat melandaku. Awalnya aku sangat berat menerima kenyataan 'sering ditinggal' suamiku sendiri. keluarga besar ku di Palembang semua. Adanya Alan membuat amarahku dan kesedihanku teredakan. Wajahnya sama gantengnya dengan ayahnya. bahwa pernikahan kami hanyalah pernikahan siri dengan akta pernikahan palsu yang telah direkayasa olehnya. batinku. Jadi teringat saat aku meminta punya anak. "Asal kamu tahu Nita. Ayahnya Alan ambil cuti seminggu paska aku melahirkan. saat Alan sedang tidur pulas bersama ayahnya. Juga untuk menghindari cibiran tetangga. pintu rumah kontrakan kami pun diketuk. aku pasrahkan semua hidupku hanya pada-Nya. Mana si Anton?" ketusnya pedas. Sekarang Alan sudah 3. Ya. aku pun masih bekerja seperti sedia kala. dia tetap harus pulang ke rumah istri pertamanya. tapi tak kuasa mengganggu tidur pulas malaikat kecilku. aku memutuskan untuk berjilbab setelah kenyataan pahit ini terkuak. ya itu nama putra pertama kami. mencari suamiku yang juga suaminya. yang bilang bahwa jilbabku palsu. saya jadi tak tega mengusirmu.5 tahun. konon katanya rumah seorang duda yang ditinggal istrinya karena duda tersebut dikabarkan tidak bisa memberikan anak. semua masih berjalan baik. Minggu siang tepatnya. Tapi selama sebulan aku di sini. Bayiku masih tertidur pulas. Alhamdulillah. Sementara aku masih terdiam. Dan aku pun memutuskan berhenti bekerja. aku pun memutuskan untuk punya anak. semakin lama semakin deras seiring lariku ke kamar untuk melihat anakku dan juga untuk menghindari suamiku. Dia pun bilang. aku tak pernah melihatnya. mereka duduk di ruang tamu. "Siapa ya?" tegurku. aku sudah membunuhnya. dia kembali pulang ke rumah istri pertamanya. Wanita yang bernama Endang itu pun langsung masuk ke dalam rumah. Karena alasan kesepian itu. Kenyataan pahit yang kutelan sendirian. wanita itu pun kembali dangan suamiku yang ikut lemas juga. Untung saja ada bayi mungilmu itu. Diri ini rasanya ingin teriak dan memukul." dia pun bergegas pergi meninggalkan kami yang masih terdiam. aku sendirian menjaga Alan. dia masih saja berulah dengan menikahimu.

" Aku hanya terdiam. Kan ibumu nangisnya kedengeran sampai rumah. Awalnya kupikir mau bicara masalah kontrak kerja tapi kok beliau tidak bawa selembar kertas pun. Kebetulan aku dan Alan ikut mobil Pak Surya. saat menemani Alan bermain. Gg H Abdul Karim 2. Kok om tau kalau aku sakit?" tanya Alan dengan bicara cadelnya. Ciputat 15412.agustian@yahoo. semalam sakit ya?" tanya remaja-remaja itu. sujud syukur sembahku hanya untuk-Mu wahai Zat Yang Paling Sempurna. Insya Allah saya akan menerima apapun jawaban Dek Nita.Si Penulis tinggal di Jalan Menjangan III. ibu semalam nangis gala-gala takut sendilian jagain aku. dan untuk pertama kalinya aku bertemu sosok pak Surya. hehehe!" sambil terbahak-bahak mereka mencandai anakku.Di suatu sore. supaya menjadi halal dan rasa sayang ini tidak berubah menjadi penyakit hati yang menduakan-Nya. Makanya Alan makan yang banyak biar sehat!" jawab remaja-remaja itu yang membuatku tersedak. Keesokan malamnya. Oleh sebab itu kedatangan saya ke sini untuk melamar Dek Nita untuk menjadi istri saya dan juga untuk membantu saya dalam administrasi bisnis ini. Rt 01/03. "Begini ya Dek Nita. keponakan-keponakan Pak Surya pemilik rumah di depan kontrakanku bercanda dengan Alan. Beribu maaf jika lancang. dan sedang membutuhkan tenaga administrasi untuk mengurusi keuangan bisnisnya tersebut. Setelah kupersilahkan masuk dan menyeruput teh manis hangat buatanku. Email widi. Pak Surya datang bersama keponakan-keponakannya. aku sudah makan banyak. Menanggapi tawaran tersebut. spontan dengan senang hati dan sumringah aku jawab "boleh". namun saya selalu diajarkan agar cepat melamar wanita yang disuka. mendengar semua ucapan Pak Surya. Esok paginya kami dengan keluarga komplek mengadakan wisata ke Taman Safari. Dan tanpa kusadari Alan telah dekat dengannya lantaran sering dijajani dan diajak main ke rumahnya di kala sore aku sedang sibuk mencuci atau menyetrika. "Makanya ibumu suruh cari ayah baru dong. "Iya om tau. yang juga memperkuat keputusanku untuk aku berani memulai lembaran baru." oceh anakku menimpalinya. Dari obrolan dalam perjalanan itulah aku mengetahui bahwa Pak Surya seorang muslim yang taat. Mohon Dek Nita memikirkannya. "Iya. benel kan bu kata Alan. Aku pun ditawari pekerjaan tersebut. Oleh Damatriyani. Pak Surya adalah seorang pengusaha yang memiliki bisnis katering. yang dulu sebelum meninggal sempat berpesan. S. "Alan. Lelaki berusia kurang lebih 45 tahun dengan jenggot yang menghiasi wajah putih bersihnya. Terima kasih ya Allah. dan tak lama sorak-sorai keponakan Pak Surya yang ikut senang terdengar menyambut jawabanku. Syok tepatnya. Saat itu pun aku terbesit untuk mencari pendamping hidup tapi rasanya luka ini belum sembuh. aku sakit pilek. "Ibu kenapa? Kok bengong. Namun kali ini Insya Allah aku mendapatkan cinta sejati. bisnis kateringku ini warisan orangtuaku. "Iya. bahwa usaha ini hanya boleh dikelola oleh sanak saudara dan keluarga.co. kaget. Lembaran baru yang Insya Allah indah walau tetap jadi yang kedua.id . nih liat pelutku buncit. dia pun mulai bicara.com : the_a_young@yahoo. Pak Sulya olangnya baik!" oceh anakku yang sedang duduk di pangkuan Pak Surya memecah lamunanku. Pondok Ranji.

Untaian kata hanya akan terucap bila aku ditanya. Tak berhenti sampai di situ.CERPEN Sepenggal Kisah Istikharah Cintaku Selasa. akhirnya tak ada lagi kabar darinya selama kurang lebih satu tahun. anak kedua dari lima bersaudara yang merantau menjajaki dunia perkuliahan hingga akhirnya menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Di setiap malamku. Terbesit pikirku untuk mengistikharahkan cintaku. Inilah aku.” hibur ibuku sambil mengusap ubun-ubunku. Hanya kalimat itulah yang selalu terukir di relung batinku. kapan aku menikah???. Bahkan dia dan orangtuanya juga sudah datang ke rumah untuk memintaku.” pintaku di setiap doa dalam salatku. seketika putus ternyata mantan kekasihku yang pertama menghubungiku kembali. aku dipertemukan Allah dengan pria shaleh saat aku di rumah sakit. itu cinta pertama dan terakhirku. Pertemuan tak berhenti sampai di situ. kini di semester akhirku. 04 Desember 2012 11:36 wib ANGIN bertiup kencang. kuselipkan doa agar dimudahkan dan ditunjukkan Allah siapa yang terbaik untukku. Kegelisahanku ini berawal dari kisah asmara yang selama ini kujalin dengan beberapa lelaki.” ucapku lirih saat bertemu dengannya. . ***** “Tuhan…. Meski aku tak berpacaran. kamipun menjalin kisah asmara dan berjanji untuk menikah setelah lulus kuliah. gelisah. namun beberapa bulan berikutnya. namun sedikit merasa risau. menyibak geru tasbih debu yang tersirat di pojok rumahku. mungkin bukanlah dia pangeran itu. **** Tak terasa hubungan kami telah masuk usia empat bulan. Namun. Namun sayang sekali hubungan kami hanya terjalin selama tiga bulan saja. Dari sinilah akhirnya ku mulai istikharah cintaku pada sang pemberi rasa cinta. Hingga akhirnya kami menjalin hubungan tanpa status.. hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat dan berujung perpisahan. Setelah sekian lama aku tak menjalin kisah cinta. Akan tetapi Allah membelokkan jalan kami. sampai kapan Engkau akan mengujiku dengan problem ini?. namun hatiku bahagia karena aku punya orangtua yang hebat dan sahabat-sahabat yang selalu menyayangi dan menghiburku.. Hati ini lega. “Ya Allah. Bagiku. Kesedihan pun menerpaku. aku kembali menjalin kisah asmara dengan kakak tingkatku selama dua tahun.” celotehku disetiap rintihan doa salatku. ini perjalananmu yang pertama. Hubungan kami sudah mendapat restu dari orangtua. dan galau. “Stop! Jangan bersedih nak…. hubunganku dengan mantanku tak baik lagi ketika ia melakukan kesalahan besar. Kebanggan yang diperoleh kedua orangtua dan saudara-saudaraku kini terjawab sudah. Aku sudah mencoba menjalin kisah asmara semenjak semester dua.. tepatnya saat aku menyelesaikan skripsi.. “Inikah jodohku ya Allah.

Kini menjadi salah satu staff di Laboratorium Bahasa Arab UMM Email: fika. disamping aku masih mencintainya. Bak denyar halilintar. Tak lengah sepicing pun. Melucuti gerak-gerik yang aku lakukan. Namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah aku darinya dan berikan aku yang terbaik. Aku hanya seorang pengamen jalanan. Ia bukan seorang mata-mata. agama.andriyani@yahoo. “Ya Allah. aku juga ingin tahu sebenarnya sifat kekasihku. Tak sengaja ku buka handphone dia dan kubaca SMS tak senonoh dengan wanita lain. Malam itu. . Oleh Fika Andriyani Penulis adalah alumnus Jurusan Syari’ah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). bila Engkau mengetahui bahwa dia menjadikan kebaikan dalam diriku. aku memimpikan kekasihku yang pertama dan membuatku yakin bahwa dia jodohku. Sambil mengerakahi bibir sendiri mengungkapkan kemarahannya yang tak bisa disembunyikan. Anehnya disetiap tidur akhir malamku. Hampir setiap hari mata itu menatapku. Sungguh hati semakin gelisah. Dan akhirnya kegalauan hatiku tak kunjung usai hingga detik ini…. kumulai istikharah pertamaku dengan benar-benar tawadlu. Seperti mengungkapkan amarah. Menyorot merah padam. Ia memperhatikanku yang berdiri di tepi jalan raya.com Cerpen Penyamun Kamis.blogspot. Anak kecil berumur 10 tahun. dan kehidupanku maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusanku dengan dia. 29 November 2012 13:24 wib SEPASANG mata masih mengawasiku. Bersurukan laiknya seorang pengintai. Tatapannya melirik tajam.” Begitulah syair doa yang selalu kupanjatkan dalam istikharahku. Bukan hal aneh bagiku. sesungguhnya aku meminta petunjuk dengan ilmu-Mu. Sungguh gejolak batin ini meronta-ronta meneteskan serpihan air mata yang mengajakku untuk salat istikharah di setiap malamku.selain agar dimudahkan Allah dalam pernikahan. Begitu nyalang. Aku pun bukan seorang yang patut diselidiki. Pagi hari setelah istikharah itu dia menemuiku. Tak pernah terpejam.com Blog: Roudhotulilmi.” tangisku di depannya. aku juga sudah dilamar oleh kekasihku. Ada bara api mengangah pada binar matanya. Aku berharap Allah menunjukkan kebenaran. tanpa pernah mengenal bangku pendidikan. Apalagi berpalis muka. pengamen memang cocok untukku. Seketika itupula mantanku yang pertama menguhubungiku kembali dengan kata maafnya. “Ya Allah inikah jawaban istikharahku semalam?. *** Suara detik jam dinding seakan menghiasi setiap malam istikharahku selama lebih dari satu minggu.

“Bila besok Ibu tidak mengosongkan tempat ini. ia duduk bertinggung menatapku. tempat yang biasa aku gunakan untuk mengamen. Semacam tukar beli. hasil kerja payahku itu. atau mengganggu para pejalan kaki yang melintas. pekerjaannya tak lain seorang pemalak. melainkan diminta paksa si penyamun anyir. Alasannya sederhana. Memiliki tanda gores di wajah. Sepasang mata itu milik Bang Jali. aku dan pengamen lain. nanti kami akan memberi tempat yang lebih layak disuatu tempat. biar nantinya orang-orang memberi uang buat nyanyian ngamenmu!” katanya menyalak beringas. mereka selalu memesan makan di situ. bila warung itu dimusnahkan.” Padahal. Hingga titik darah penghabisan. kenang-kenangan setelah perkelahian dengan preman lain. Mereka selalu berjudi di bangku kayu depan warung itu. Katanya merusak suasana kota. seorang preman menyambi penjudi. Aku tidak bisa melawan meski hati menggelalar pada kelakuannya.” jawabku. Bila di pikir-pikir. Bukan hanya para preman saja. bukan oleh pembeli. Aku hanya diam tertunduk. Kalau mau ngamenmu laku. Begitulah pekerjaannya. Hari ini langit cerah. Tapi sialnya. Ketika pagi mulai merangkak berganti siang. pernah suatu hari Jupri diajak ke rumah si penyamun anyir. membuat otot kedua lengannya yang mengembang terlihat jelas. Di jalan. sudah beberapa kali petugas Satol PP menyuruh mengosongkan warung itu. tempat itu selalu digunakan oleh para preman untuk berkumpul. tentu lokasinya tidak mengganggu para pejalan kaki. Menyunggingkan senyum kecut. Jarang sekali ada mobil yang berhenti di lampu merah perempatan Jalan Dago. teman sebayaku yang berdagang minuman mineral dan rokok asongan di sebuah bus kota. hanya duduk mengawasi kami—maksudku. Selalu kalah. Bila mendapat banyak uang pun. Perawakannya pendek. ia tak pernah ikut mengamen. Tapi baru sedikit uang yang kudapat. Di depan warung nasi milik Bi Inah.. Mungkin sejam lebih. “Beneran Bang. meski setiap hari selalu mengenakan pakaian loreng ketat. Maka kami selalu menyebutnya penyamun anyir. Terik matahari meyorot panas. Ia tetap tidak percaya pada alasanku. Ah. pengamen pun bila mendapat penghasilan lebih. Hingga menggeledahi kantong celanaku. sebab lokasinya sedikit berada di atas trotoar. biasa digunakan Bi Inah untuk mencuci piring karena airnya memang tidak terlalu keruh. tak ada untungnya ia hidup apabila hanya digunakan untuk bermain kartu dan berjudi bersama kawananya sesama preman. Terpapar renyuk. seorang lelaki separuh baya dengan tubuh yang buncit. dan aku hanya mengamen pada mobil pribadi yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Tiap hari rokoknya ludes. Belum lagi tato kepala macan di punggungnya. Sepertinya orang-orang malas untuk bepergian. warung nasi itu tetap berdiri di pinggir jalan. “Ini daerah kekuasaanku. “Seharian mengamen hanya dapat segini? Mana cukup untuk berjudi. maka para preman akan melakukan perlawanan. Memalak uang mereka.” Namun nyatanya. Bukan hanya itu saja yang dipintanya. Menerpa pada mata setiap orang. Lebih parah lagi kelakuannya pada Jupri. sering terlihat bila ia telanjang dada menyombongkan badannya yang bidang. selain berjudi. selalu dirampas olehnya dengan dalih. “Jangan bohong! Mana uangmu? Aku ingin judi lagi!” bentaknya sambil melotot. Bukan karena aku malas. pakai alat musik lain seperti gitar. kalau ingin tetap mengamen di sini. Ia bergaya rambut cepak seperti tentara.” Sudah seharian aku mengamen di jalan. Jangan salahkan kami!” ucap pamong praja yang berbadan tegap pada Bi Inah beberapa hari lalu. “Hari ini aku belum dapat uang Bang. mobil-mobil tak sepenuh biasanya yang merayap macet. Lengkaplah sudah kengerianku padanya. Sebenarnya. sekembalinya . “Heh Udin. hingga sekarang. ia tak pernah beruntung dalam hal berjudi. Ya. Berkesiur angin merambak mengembuskan debu. “Apakah saya tidak punya hak untuk berjualan di kota ini?” “Bukan begitu. Luka rebak itu hasil sabetan parang. jangan pakai kecrek. Dan entah berapa lama ia menatapku. Padahal ia bukan tentara. Memang. Lalu menemukan setumpuk koin recehan dan beberapa lembar uang ribuan yang di simpan dalam kantong plastik—bila dihitung berjumlah sepuluh ribu—dan plaaak… tangannya mendarat di pipiku. Digunakannya untuk kembali taruhan judi kartu. Berkerumuk menutupi sebelah pandangannya.Sedang ia. Di bawah warung itu mengalir air selokan. ia datang menghampiriku. uang hasil mengamenmu kita bagi rata. yang dilakukannya hanya merongrong para pengamen. Bila uang taruhannya habis. pertanyaan yang memuakkan. hari ini sepi. Berotot besar tapi nyali secuil. hanya berani pada anak kecil. mulai dari pipi hingga melewati mata kirinya. melainkan hari ini bukan hari libur. Sudah berapa duit yang kau dapat hari ini?” tanyanya padaku. Pastinya uangku akan dirampas. Jalanan tampak sepi. maka kami akan meratakan warung ini dengan tanah.

Jupri dari tempat itu, ia berjalan dengan keadaan lubang pantat yang menganga dan berdarah menggenangi belakang celananya. “Heh, cepet ngamen lagi, biar dapat duit banyak, malah bengong!” paksanya sembari mendorong tubuhku terpelanting ke belakang. Terjatuh. Lalu tercatuk menatap kosong. Kemudian ia mengeloyor tanpa rasa kasihan. Kini, mataku yang balik menatapnya lekat-lekat. Menyorot tajam. Tak bisa ditahan lagi, aku menangis sesenggukan menahan amarah. Bukan tanpa alasan aku menangis seperti itu, bila ternyata uang hasil mengamenku akan digunakannya untuk berjudi. Andai saja ia seorang penjudi yang handal, mungkin uangku tidak akan diambil karena ia banyak uang hasil judinya itu. Ada sebuah pertanyaan muskil, yang suatu ketika pernah kulontarkan pada teman-temanku. Entah atau apakah doa ini salah atau tidak: aku berharap ia selalu menang dalam berjudi, supaya nantinya tidak lagi memalak. Namun jawaban mereka dari pertanyaan itu selalu menggelengkan kepala, tapi ada sebagian yang setuju. Kedua mataku bakup sehabis menangis sembari meratap. Andai saja aku tidak dilahirkan dari seorang keluarga miskin; andai saja aku tidak ditakdirkan menjadi seorang pengamen; atau andai saja kedua orangtuaku mampu membiayai sekolahku. Tentu, tentu aku tidak bakalan berada di jalanan. Mmmm… Bukannya aku seorang anak kecil yang kemaruk terhadap permintaan, seandainya doaku ini bisa terkabul, aku hanya ingin penyamun anyir itu tak lagi menggangguku. Ah, aku ingat pada kejadian tempo hari, pada sebuah malam yang mengenaskan. Ternyata bukan hanya Jupri saja yang menjadi korban tindak cabul si penyamun anyir itu. Ia pun pernah melakukan hal serupa padaku. Mulanya ia bertindak baik dengan mengatakan akan mengantarku pulang setelah seharian mengamen, katanya takut kelelahan. Kebetulan lokasi rumahku lumayan jauh dari perempatan Jalan Dago. Ketika itu aku dibonceng dengan motor RX King. Aku berpikir, ternyata ia bisa juga berbuat baik. Ups… penilaian baik dariku itu hanya sebentar. Seperti sudah direncanakannya dari awal, atau semacam tipu muslihat, ia membelokan motornya ke suatu tempat gelap, mengajakku melesap pada sebuah semak. Oh… apa hendak di kata, terpaksa aku pulang dengan berjalan kaki merasakan pantat yang perih. Apa sebab? Setelah si penyamun anyir melakukan pencabulan di semak itu, ia tak jadi mengantarku pulang, malah menelantarkanku tanpa rasa kasihan. Hingga sekarang, kejadian itu masih merumrum ingatanku, berkecamuk mencambuk-cambuk hatiku. *** SIANG masih tetap panas. Matahari bulat seperti kancing baju. Semilir angin seolah menarik cuping telingaku. Apa sebab? Tiba-tiba dari arah warung nasi Bi Inah, aku mendengar sekerumunan orang berteriak menyambat apa saja yang diingatnya. Ada apa? Tanyaku pada seseorang ketika aku menyeruak kerumunan itu. Belum sempat orang itu menjawab, aku melihat serombongan pamong praja sedang mengobrak-ngabrik warung nasi Bi Inah. Penggusuran... pikirku. Tanpa rasa ampun, warung nasi yang terbuat dari bilik bambu itu hampir hancur luluh lantak. Para preman berdatangan mencoba melawan. Pengamen hanya bisa mengutuk tindak-tanduk pamong praja itu yang dianggapnya biadab. Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam warung. “Astaga Bi Inah…” teriakku. Tanpa segan ia membuka bajunya, telanjang bulat menghadang pamong praja dengan dada yang menantang. “Apa-apaan? Hal itu tidak bisa mengubah niat kami!” tegas seorang pamong praja pada Bi Inah. “Kami sudah bilang dari dulu, Ibu harus mengosongkan tempat ini!” lanjutnya. “Tapi tempat ini sudah lama saya tempati!” jawab Bi Inah sambil menangis. Tapi bagi aku yang berumur 10 tahun, aku masih belum bisa menentukan siapa yang salah mengenai peristiwa ini. Apakah Bi Inah yang berjualan di pinggir jalan, atau para pamong praja yang menghancurkan warungnya? Usaha Bi Inah untuk mencegah orang-orang yang meenghancurkan warungnya ternyata sia-sia. Meski ia telah melakukan hal yang nekat, atau lebih tepatnya sangat ekstrim, mereka seperti tak peduli. Seluruh pamong praja terus mencoba menghancurkan warung itu. Entah dengan cara mendorong-dorong, memukul dengan martil, melempar batu, atau menginjaknya. Namun tiba-tiba saja, dari arah lain, aku melihat salah seorang pamong praja tergeletak bersimbah darah. Apa sebab? Ketika sedang mengobrak-ngabrik warung itu, si penyamun anyir datang dan memukul kepala salah seorang pamong praja dengan balok kayu. Setelah itu, si penyamun anyir ditangkap dan digiring ke tempat rehabilitasi. Entahlah. Aku tidak ikut sedih dalam persoalan ini. Mungkin saja bila warung itu musnah, para preman tak

mempunyai tempat lagi untuk berjudi, dan si penyamun anyir tak akan datang lagi untuk mengawasiku.[] Bandung, 2012 T.H. Ihsan Lahir di Sumedang, 17 Agustus 1990. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beberapa cerpennya pernah dimuat di Radar Surabaya, Haluan Padang, LPM Suaka, Jurnal Sastra Sasaka, Buletin Obras, dan Radar Seni. Kini bergiat di Rumah Baca Merpati dan Eksponen Komunitas Sastra Sasaka.

Cerpen Ketika Cantik Itu Hitam
Senin, 26 November 2012 16:28 wib

SEBUAH layar bergambar menempel di langit-langit kamar. Layar berbentuk persegi panjang berukuran 1 x 1,2 meter itu berisi gambar bergerak yang menampilkan resolusi warna yang sangat sempurna. Kukedipkan mataku, gambar layar berubah.

Ya, Televisi itu hanya membutuhkan kedipan mata untuk mengubah channel stasiun TV. Tidak seperti 10 tahun yang lalu, teknologi TV saat ini telah menggunakan perangkat canggih yang telah dihubungkan dengan sensor syaraf otak manusia. Sensor pada remote 10 tahun yang itu telah diganti dengan sensor cornea mata manusia. Melalui pemindaian yang telah di setting sebelumnya, antara cornea mata yang empunya TV dengan sensor otomatis pada TV, maka hanya dengan cornea mata yang telah discan lah yang bisa merespon teknologi sensorik ini. Pesawat TV pun bentuknya sudah sangat berbeda dengan dulu. Boks TV hanya berukuran 10 x 15 Cm, yang diset sedemikian rupa sehingga mampu memproyeksikan gambar pada bidang datar yang ada, seperti alat proyektor LCD pada beberapa tahun yang lalu. Kukedipkan mataku, channel pun berubah. Di layar tampak program TV yang secara substansi tidak banyak berubah dengan 10 tahun yang lalu. Sinetron, intertainment, reality show, audisi, berita, kuiz berhadiah adalah beberapa program yang banyak menghiasi stasiun TV swasta saat ini. Yang agak beda adalah jumlah stasiun TV yang menjamur seperti jamur dimusim penghujan. Bertambah banyak, karena hampir setiap tahun ada stasiun TV baru di launching. Kuhentikan kedipanku pada acara berita sore, program kesayanganku pada saat santai sore hari seperti ini. Aku khitmad menyaksikan berita yang merupakan hasil reportase pagi hingga sore tadi. Kemarau panjang menjadi headline siaran berita di berbagai stasiun TV. Upaya pencegahan global warming yang pada dasawarsa yang lalu ramai diperbincangkan ternyata tidak memberi effek nyata pada kehidupan saat ini. Ini buktinya, kemarau yang berkepanjangn di salah satu daerah di Jawa Tengah, di sisi lain di salah satu daerah di Kalimantan terjadi banjir bandang yang luar bisa memorakporandakan bangunan. Dulu semua negara dengan angkuhnya berkumpul, mengadakan konferensi untuk menangani pemanasan global, tapi setelah 10 tahun, industri yang menghasilkan gas rumah kaca semakin bertambah pesat, intensitas pembakaran hutan untuk lahan pertanian juga semakin mengharu biru, belum lagi kasus illegal loging yang pelakunya melenggang dengan santai tanpa proses hukum, tentu saja karena sang pelaku punya backing-an pejabat penguasa negeri ini. “Kiamat sudah dekat,” batinku, meniru salah satu judul film yang sempat tren 10 tahun lalu. Aku mungkin salah satu penduduk pribumi yang beruntung di negeri ini. Di saat pribumi yang lain makan nasi aking sebagai makanan pokoknya, aku bisa hidup bagaimana kehidupan orang kota pada umumnya. Di saat warga Negara Indonesia yang lain, mengantre makan dalam tenda-tenda pengungsian, aku yang lulusan S2 ini mampu makan dengan berbagi menu, sesuai selera. ********* Seperti biasa, waktu yang di tunggu-tunggu oleh para marketing pun tiba. Ya berita harus jeda sejenak untuk iklan. Iklan lah pemilik kedaulatan atas negeri pertelevisian. Nah ini yang sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu. Sama seperti dulu, iklan kosmetik masih merajai promosi di layar kaca. Tampak seorang wanita bertubuh sintal memamerkan wajahnya yang tampak berseri setelah menggunakan sebuah lotion wajah. Setelah itu banyak para pemuda yang terkesima melihat wajah jelita gadis tersebut tanpa berkedip. Konsep iklan tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Di sinilah letak kontrasnya, kalau 10 tahun yang lalu lotion wajah itu bertuliskan “pemutih wajah” maka sekarang lotion tersebut bertulis “penghitam wajah”. Gadis bintang iklan tersebut adalah gadis berkulit hitam, seperti orang dari Indonesia bagian timur. Ya......dunia telah berubah, entah mulai kapan. Yang jelas sejak Barack Obama, Presiden kulit hitam terpilih menjadi Presiden Amerika 10 tahun yang lalu dominasi kulit hitam sangat menonjol di Amerika. Bahkan, sampai saat ini, efek kulit hitam itu pun masih terasa. Titik balik di Amerika, salah satu Negara kiblat mode di dunia, juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hatta di sini, di negeri Nusantara tercinta. Tak pelak lagi, titik balik itu juga berlaku di Indonesia. Artis-artis, bintang sinetron, presenter, penyayi kebanyakan adalah orang-orang yang berlatar belakang kulit hitam. Orang-orang yang berkulit putih seakan mengalami sindrom “minder” yang 10 tahun dulu dialami orang kulit hitam. Yang agak beruntung adalah orang-orang melayu dan jawa. Ras yang kebanyakan berwarna kulit sawo matang ini mudah beradaptasi. Dulu orang kulit coklat ini banyak berduyung-duyung ke salon kecantikan, untuk mengoperasi kulit sawonya sehingga menjadi putih bersih berkilau, seperti bunyi iklan pemutih waktu itu. Sekarang orang-orang Jawa ini membanting kompas, menghitamkan warna sawonya menjadi hitam arang. Yang tampak aneh, adalah orang yang dulu berkulit hitam. Karena tren waktu itu, mengubah kulitnya menjadi putih. Dan sekarang

Inilah janji Tuhan. “Cantik itu relatif. membentuk gerakan – gerakan pembelaan terhadap diskriminasi ras. atau Martin Luther King Jr di Amerika seakan mencapai titik kulminasinya.” Pada hari itu. diskriminatif dan menindas minoritas. seakan prihatin. setelah beberapa minggu liburan panjang kenaikkan kelas. “ Pakne masih suka kan sama wajahku yang sawo matang ini”. lha wong udah tua gini kok neka-neko. terpampang jam digital kecil dengan format: jam. “Kekuasaan itu cenderung korup” begitu bunyi sebuah adagium. merekapun menjadi sewenang-wenang. hidup itu seperti komidi putar. Itulah sunnatullah. 16 Juli 2018. yang pagi-pagi harus meninggalkan rumah menuju rutinitas kerja. Jawab istriku. pada suatu ketika Muhamad Mustaqim Dosen STAIN Kudus. Kudus tepatnya. kulirikkan mataku ke arah jam berlayar merah itu. “Walah Pakne. bangga. saya suka dengan wajah Bune yang alami. lotion penghitam wajah”. kan malu kita sama Tuhan…” paparku agak panjang. Di dalam Kijang Inova. tengah. tanyanya manja. tampak baliho besar bergambar seorang gadis berkulit hitam tersenyum sambil membawa sebuah botol. Selalu berputar. Istriku. Seakan bersyukur dengan sepenuh hati atas keadaannya selama ini. Bune tetap bertahan dengan wajah sawo matang agak bosok itu.mengembalikannya lagi ke hitam lagi. Ya. Itulah aku dan istriku. “ Bune ingin seperti gadis itu?”. Di hadapanku sebelah kanan. Dulu ketika orang berbondong-bondong memutihkan wajahnya ke salon. kataku menggoda sambil menunjuk ke arah baliho besar itu. tambahnya menggoda. seorang penjaga menutup kembali pintu gerbang tersebut. Di kaca depan sebelah atas. duduk dua orang setengah baya di jok paling depan.” batinku. “Iya Bune. ********* Kijang Inova berseri B 2328 BZ Keluar dari garasi. dan terkadang di puncak. ketika mayoritas berkuasa. “ Iya ya Bune…. akupun memalingkan mobil dari SMA tersebut. Gusti Allah menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda adalah bukti keadilannya“. hari ini. aktif di kajian sosial pada "The Conge Institute" . Ternyata Tuhan seakan menguji kita. yang aku dengar beberapa waktu yang lalu dari Khotib Salat Jum’at. Kedung Banteng. kadang kita berada di posisi bawah.” kataku kepada istriku. Gerakan anti apartheid yang dulu diperjuangkan tokoh kulit hitam Nelson Mandela di Afrika.” gumamku. Mobil berhenti karena lampu merah. Maklum kami berdua asli Jawa Tengah. Seakan berkata “Pakailah Lotion ini. ”Sudah jam setengah tujuh. Rasakan Hasilnya!”. Hari ini Senin. Karena akan ada upacara bendera yang pertama di tahun ajaran baru. Setelah meninggalkan gerbang rumah yang cukup besar.” begitu inti sari salah satu ayat kitab suci. Di sampingnya tampak tulisan besar berbunyi “Buktikan dalam 7 Minggu Pemakaian. Memang. Karena Istriku diterima menjadi PNS di Jakarta 12 tahun yang lalu kami boyong ke Jakarta. Tak terasa SMA yang kami tuju telah ada di depan mata. kaum kulit putih pun melakukan hal yang sama. “Tapi Pakne masih cinta kan sama Bune?”. Dan sekarang. Nyatanya. “ Iya Pakne… Gusti Allah memang maha adil. sambil menggelengkan kepala. akan Kami putar (nasib) manusia. gadis itu membawa produk kecantikan bertuliskan “Punds. Setelah istriku turun dan mencium tanganku. maka wajah anda akan hitam berkilau seperti saya”. adalah hari pertama kerja bagi Istriku. Coba kalau dulu Bune tergiur dengan iklan pemutih itu. Sambil menyetir. hukum alam. seorang guru SMA Negeri di ibu kota harus sampai di sekolah tepat jam tujuh. sambil tertawa kecil.” jawabnya dengan logat Jawa kental. tanggal/bulan/tahun. dunia sudah terbalik sekarang” gumamku. sambil sesekali memandangnya. “Dunia sudah terbalik. sesuai tren zamannya….

Tapi sebaliknya. Seketika aku menyadari.saat kelam. tapi aku juga dapat merasakan betapa kuasa Sang Maha Pencipta. Sebuah pantai indah dan menakjubkan yang terletak puluhan ribu kilometer dari geografis negaraku. aku seperti melihat sebuah . Dan terkadang di antara putaran tornado itu. ada yang dapat membuat mimpi. sesekali aku terkena pecahan air yang membentur tebing. Pemandangannya tak pernah berubah.mimpimu hancur berkeping. aku mempunyai harapan yang lebih dari itu. Kelak aku berharap dengan ilmu yang aku dapat. melanjutkan pendidikan kepelatihan sepak bola.tebing yang ada di sekitar pantai. Bukan hanya itu. Setiap aku melihat pantai itu. Terdiam aku untuk beberapa lama. Teruslah berjuang untuk menggapai mimpi. aku dapat melakukan sesuatu yang lebih baik untuk dunia persepakbolaan di negaraku yang saat ini sedang sangat terpuruk. Aku menatap lurus ke arah pantai itu. Ketika aku merasa berada pada titik paling bawah dalam hidup ku. tapi ini tentang sebuah harapan. Aku tahu dalam hidup ku akan selalu ada badai yang setiap saat dapat menerbangkan ku dan kemudian menghantamkan ku dengan keras kebawah tanah.keping hingga kamu tak dapat merangkai mimpimu lagi. bukan karena aku sedang mengalami duka. Aku menaiki tebing. Lebih tenang dan membuatku tersenyum. Dulu ketika pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini. tapi juga harapan bagi keluargaku. dan perubahan sebuah bangsa. rasa yang aku alami selalu sama. Mereka harus memulai kembali dari nol untuk membangun usahanya yang sudah diarsiteki selama bepuluh tahun. Tapi karena di saat-saat seperti itu. Kamu harus bisa memotivasi dirimu sendiri.SIANG itu awan terlihat gelap namun bukan berarti hujan akan turun. Seperti saat itu! Aku terasa remuk ketika menerima sebuah email dan kemudian membacanya. Ini bukan saja tentang mimpiku. Tapi di sisi lain aku juga harus melanjutkan mimpiku di sini. seolah tak peduli angin kencang berhembus berlawanan arah.baik. Aku sangat terpukul! Bukan karena sekarang aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri. kamu yang akan menghancurkan tornado itu menjadi luluh lantak. Lebih sulit untuk mempertahankan semangat agar tetap membara dan tak padam ketika badai sedang menerpa ku. Tak usah kamu pedulikan apa yang terjadi disini. bahwa keluarga ku sedang berada pada saat. tapi aku juga dapat melihat dan menikmati keindahannya. Ku kayuh sepeda milikku begitu kencang. Walaupun dengan hal. Tapi teruslah berjuang! Karena hanya dengan kemauan dan semangat mu. Itu berarti Sang Pencipta juga memberi ku semangat yang tak akan pernah habis untuk bangkit. tetaplah berjuang dengan mimpimu di sana. mimpi. Semuanya akan baik.hal yang sederhana dan tetaplah berpikir positif. Aku ingin menjadi pelatih sebuah klub sepakbola dunia yang saat ini lebih didominasi pelatih. Dan setiap kali aku melihat pantai. Teruntuk Akand. aku tak dapat membantu mereka.pelatih dari benua biru. Tak hanya melihat keindahannya. Aku teringat akan pesan almarhum ayah kepada ku. Ketika Sang Pencipta memberikan pantai tepi yang tak terbatas. aku seakan ingin sekali pergi ke pantai. Melihat dan menikmati salah satu keindahan arsitektur maha karya Sang Maha Kuasa. Ku kayuh terus sepeda ku menuju pantai. Aku ingin sekali pulang dan kemudian membantu mereka. Sama seperti ketika pertama kali aku menapakkan kakiku di sini.” Itu alasan kenapa aku memilih pantai tatkala aku dihiasi kekecewaan dan hatiku merasa remuk.burung mengepakkan sayapnya melintas di atas gulungan ombak dan terdengar suara gemuruh ombak saling bertautan satu dengan yang lain. aku sedang berada pada puncak semangat dalam hidupku sebagai awal mula aku menempuh pendidikan kepelatihan sepak bola. Sepak bola bukan lagi hanya sekedar permainan kesukaanku ketika aku kecil. “Kelak ketika terjadi sesuatu di sini.” pesan yang pernah ibu sampaikan pada ku. walau suatu saat akan ada putaran tornado yang akan menghadang. Terkadang aku nyaris limbung tapi aku tak peduli. “Kelak ketika kamu merasa sedang jatuh dan tidak ada seorang pun yang bisa membantumu. Terlihat burung. tapi tetap saja tak mengurangi sedikitpun keindahannya. Tatkala aku melihat pantai tak hanya menenggelamkan rasa duka di hatiku. Awan mendung tampak menaungi biru pantai.

Sudah lama bangku sekolah kutinggalkan. Bila hujan turun.blogspot. 19 November 2012 14:07 wib AKU bocah laki-laki. Sebagai balas budi. “Begini Mak. Kios buku bekas satu-satunya di areal stasiun ini. aku harus berjibaku dengan debu dan panas matahari yang memanggang kulit. Enggan rasanya menceritakan kejadian kemarin sore ke Emak. wajah perempuan baya menyembul. hasrat untuk menuntut ilmu senantiasa meletup. kubantu bujangan baik hati itu merapikan kios. Aku tak menyahut. usia menapak 14 tahun. Lumayan gejolak keingintahuanku tersalurkan pada tempatnya. Koran. Sebenarnya walaupun urusan perut terus menghimpit. Kegiatanku kini membantu Emak. tapi tak terhitung pula kami mendirikannya kembali.” Suasana mendadak bisu. walaupun begitu aku harus berhati-hati bicara. Perasaan serba salah menghampiri.harapan baru. Bertempat tinggal di Jakarta. Langkah kaki diseret mendekat. mencari rupiah untuk sekedar bertahan hidup sebagai penyemir sepatu. Dikala anak seusia asyik bergelut dengan pelajaran. Jika ada waktu luang biasanya aku menumpang membaca di kios Bang Rojali. “Ada apa tho Le? Kalau ada masalah cerita. Suaranya datar.” Aku menggeleng pelan. rasa malas hinggap. aku tinggal di sebuah deretan rumah petak liar dekat stasiun. hingga Emak membuka bibir. “Ayo lekas ngomong. kemarin sore tak sengaja Wawan ketemu Bapak. jangan dipendam sendiri.com Cerpen Simponi Hujan Sore Senin. tetapi keadaanlah yang memaksa. takut ia tersinggung. air akan menjajah seluruh ruangan. . Alamat blog: geoaranda. Entah berapa kali dibongkar paksa oleh petugas Trantib. majalah maupun buku semua tandas aku lahap. Sekarang ia tidak narik angkot lagi. atau Emak punya salah ke kamu?”Emak terus menghujani dengan pertanyaan yang membuatku gelagapan. “Wan kamu belum pergi? Bantu Emak dong!” suara kencang terdengar dari tempat cucian. Pelanggan pun terasa nyaman dan betah ketika bertandang. Dinding dari triplek usang dengan atap asbes penuh lubang bertebaran. Oleh Geri Taranda. Bukan karena otak tak mampu menyerap pelajaran dari guru. Tangannya yang basah memegang jidat. membiarkan wanita yang melahirkanku ini terkepung penasaran. “Lho kenapa? Kamu sakit” tanya Emak terbalut kuatir melihatku terpekur menatap peralatan semir. “Tapi Mak janji nggak marah ya?”Emak mengangguk. Getaran kereta api melintas serasa gempa dan telinga mendadak tuli. Bersama Emak.

Seminggu setelah kami melangsungkan pernikahan.” “Kenapa Mak?Emak sudah nggak cinta lagi ya sama Bapak. Muhammad Hartawan nama lengkapnya. Aku maklum.” Emak tersenyum kecut. Tadi pagi.”tanyaku memburu memendam kecewa. “Mak. terus perempuan itu kemana?” “Kata Bapak ia kabur sama laki-laki lain. Semoga hari ini rezeki girang menghampiri. “Jangan berkelit ya. aku mengikuti Kang Diman ke Jakarta. Semua berawal dari bisik-bisik tetangga yang tak sengaja kudengar ketika mau belanja sayur pagi itu. tapi perkataan Mpok Hindun tadi telah terlanjur mengusik. “Jangan percaya Bapakmu. Perbuatan Bapakmu begitu melukai Emak.” “Syukurlah. Sebagai istri dan seorang ibu tentu saja aku menginginkan sebuah keluarga normal. Wawan melontarkan tanya yang tak pernah terpikirkan. Kali ini sorot matanya begitu lembut. Kebahagiaan berlipat ganda setelah aku hamil dan melahirkan Wawan. Walaupun tak ada rumus yang baku. Kejadian buruk telah mengguncang keluarga kecil kami. Kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan. mengalihkan pembicaraan. saat ini Emak belum bisa menerima kehadiran Bapakmu kembali. ia lebih suka tinggal sama selingkuhannya itu!” “Nggak kok Mak. begitu bangganya dipersunting laki-laki pujaan hati. tapi wewaler itu berlaku juga. terlihat satu bak besar penuh cucian siap diperas. kembali kepada kami. “Mak. Namun aku bertekad untuk tetap berusaha menyatukan kedua orangtuaku kembali. bergegas melangkahkan kaki menuju stasiun. kamu Marni. hari-hari begitu indah mencecap nikmatnya bulan madu. sebagai seorang sopir angkot di .” sapa Mpok Hindun ramah. Ia bergeser. semuanya normal tak ada yang mencurigakan. ngepos di perempatan bawah kolong.” Pupus sudah usahaku membujuk Emak saat ini. “Maaf. “Syukurin. Bagaimana jika Kang Diman. Berdua kami tinggal di rumah petak sederhana. Namun ada harapan lama melindap yang harus kusampaikan. tiada guna menimpali. berbagi suka duka walau dengan segala keterbatasan. Cepat pergi nyemir sana!” hardik Emak seraya balik badan. lalu ngomong apa saja ia ke kamu?” “Bapak bilang kangen sama Mak. Mengadu untung mengkilapkan kembali sepatu-sepatu yang berdebu.” melengking suara Mpok Hindun. Luka yang ditorehkan lelaki itu begitu dalam. Sebagai seorang gadis kampung yang lugu. emang enak dicampakkan!” Aku terdiam. Orang bilang lima tahun pertama pernikahan adalah tahap ujian suatu kehidupan rumah tangga. sekarang Bapak tinggal sendirian. apa maksud omongan Mpok tadi?” “Maaf Mar. “Maafkan Emak Le. “Eh. Aku membuntutinya. dibohongi mentah-mentah sama lakinya. Kang Diman. raut mukanya masam. Kurapikan peralatan menyemir. anak lanang yang kami citakan akan mengangkat derajat orangtua. kira-kira Bapak mau nggak ya tinggal bersama kita lagi?” “Kamu ngomong apa sih Wan. pagi-pagi udah ngelantur. telah memesona dan membuatku bertekuk lutut. “Sudahlah Le. seandainya Bapak mau balik ke rumah. **** Hati ibu mana yang sanggup melihat anak semata wayangnya sedih. Bila kutanyakan ia akan menjawab pendek kalau penumpang sepi dan setoran naik. bapaknya. Tak tercerai-berai seperti sekarang ini. Emak mau menerima nggak?” Kuulangi pertanyaan yang terlontar tadi sambil membantu memilah baju yang hendak dijemur.“Terus sekarang Bapakmu kerjanya apa?” “Narik ojek Mak. berharap derajat kehidupan lebih baik. Aku membantu mengambil baju kotor dan mengantarnya kembali setelah disetrika rapi.” “Oh gitu. Layaknya pengantin baru. “Kasihan ya si Marni. lagi belanja ya. Dada Emak membusung. Apa kamu tidak merasakan keganjilan pada suamimu akhir-akhir ini?” kucoba mengingat tingkah laku Kang Diman. maksud Mpok Hindun apa?” dengan hati berdesir kucoba menelisik. Aku mengangguk lesu. Alangkah indahnya hidup ini menyaksikan Bapak dan Emak berkumpul. tangannya membelai rambutku. Memang akhir-akhir ini uang belanja yang diberikan Kang Diman berkurang jumlahnya. kepuasan terbit di sana. kamu masih terlalu hijau untuk memahami semua ini.” Raut muka Emak seketika berubah. pemuda yang selama ini merantau. seolah ia menahan rasa untuk tidak meluapkan amarahnya. Ngontrak di belakang pasar. tak menyadari aku berdiri di belakangnya. Selama ini Emak menerima pekerjaan mencuci dari warga perumahan. Kota penuh harapan dengan sejuta impian. bagaimanapun caranya. sebelum aku menceritakan masalah ini Mpok mau tanya. Awal pernikahan kami begitu bahagia.

Hujan tak sudi mampir berhari-hari. Spontan aku menggeleng.” Mbak Sari si penjual sayur keliling mengedipkan mata. Kutuju pusat perbelanjaan modern dekat stasiun tua kurang terawat itu. Banyak pegawai kantoran yang menunaikan ibadah di sana. Tak kupedulikan satpam tegap menatap tajam dengan matanya yang besar. antara percaya dan tidak. “Perempuan itu siapa Mpok. dari jauh Bapak tampak sedang asyik mengobrol dengan temannya. ganteng kan?”seorang lelaki berbadan gempal mengulurkan tangan. sejenak dalam hening. Emangnya kenapa. ia membawa seluruh pakaiannya dan tak pernah kembali lagi. Duh Gusti. Yang pasti dalam otak kanakku tersimpan memori. Apalagi sekarang kredit kendaraan beroda dua itu begitu mudah prosesnya. “Ah kamu Man. semoga desas-desus itu keliru. Emak melarang keras aku menemuinya. aku tak boleh mengeluh. ia marah besar dan kecewa. Mau nganter istri ke bidan.” Jantung serasa copot saat itu juga. bercerita kalau ia habis dibelikan sepatu baru oleh bapaknya. Sebab di wilayah itulah aku biasa menjajakan jasa. teman akrabku. sama saja kan?” jawab Lik Pardi sambil menghidupkan motor. Tapi dasar anak bandel. Siang begitu terik. Udara kering panas menampar wajah dekil. “Aku pun nggak tahu pasti Mar. Sebentar lagi aku bisa pamer ke Mamat dan siapa saja kalau bukan hanya mereka yang mempunyai bapak yang begitu . melihat wajahnya pun adalah anugerah buatku. Tentu saja hal itu begitu menyiksa karena aku begitu menyayangi Emak. Walaupun sering pentungan karet mendera tubuh. memeluk pinggang laki-laki yang selama ini begitu kurindukan. atau ia jengah dengan kami yang sibuk bergunjing dan lupa membeli dagangannya. Pardi namanya. Senyumnya merekah ketika kuhampiri. Oh Gusti. mirip banget sama kamu Man. ini anak lanangku. aku pamit dulu ya. “Yo wis. “Ini tho namanya Wawan. Tak jarang mereka bermurah hati. memberi isyarat agar Mpok Hindun mengakhiri ceritanya. tak jera juga aku mendekat.”ledek Lik Pardi membuatku tersipu malu. Kabarnya suamimu tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Pernah Emak mengetahuinya. kamu kan belum punya anak laki?” kali ini gantian Bapak yang menggoda. Semalaman aku dibiarkan tidur diluar dan keesokan hari tiada tegur sapa. Sebelum pergi Bapak sempat mencium pipiku.” timpal Bapak sambil menepuk bahuku. Ah. rumahnya mana?”bertubi tanyaku mencoba menahan gusar. Kaki kecilku melangkah gontai dengan perut bernyanyi.Jakarta terlalu banyak saingan dan para penumpang lebih suka naik sepeda motor.” Segera ku naik ke boncengan. Banyak pula yang bersikap acuh. “Tentu saja Di. “Kenalin Di. Mungkin tidak tega melihat wajahku memerah menahan tangis. Kasihan si Wawan. menyaksikan Emak yang menjerit bercampur sedan. bila hasrat tak dapat dicegah aku mencari kelengahan Emak untuk bertemu Bapak. aku kan bapaknya. Tak terasa buliran air mata meleleh haru. Mata bolaku hanya bisa menatap. Boro-boro membelikan barang. mungkin mereka tak mempunyai uang lebih untuk berbagi… Sore ini aku berencana menemui Bapak. “Sepertinya wajar-wajar saja Mpok. Khusus hari Jum’at siang aku beralih ke masjid yang terletak tak jauh dari stasiun. menyerahkan sepatu mereka untuk disemir. terasa kasar. namun selalu saja terjadi pertengkaran hebat dengan Emak. Aku hanya bisa menelan ludah bila melihat Mamat. Entar aku juga punya mantu laki.kebetulan aku juga belum makan. ada apa dengan Kang Diman?” “Sabar Mar. Awalnya Bapak sering menjengukku. “Ayo kita ke warteg. waktunya suntik KB. Rupanya Tuhan mendengarkan doaku. Tukang ojek yang lain rupanya tengah mengantar penumpang. Kupilih sayuran dengan perasaan campur aduk. tapi sesekali waktu dengan sembunyi-sembunyi aku sering main ke tempatnya mangkal mencari penumpang. Mungkin itu yang membuatnya enggan datang walau tempat tinggal kami hanya berbeda RW. “Kamu sudah makan Le?” tanya Bapak seperti tahu cacing dalam perutku minta segera disuap. nyuwun kawelasan… **** Kapan persisnya Bapak meninggalkan rumah aku lupa. dengar-dengar ia penyanyi organ tunggal RW sebelah. Berharap ia tidak sedang mengantarkan penumpang ketika aku datang. walaupun mulutku tak henti meluncurkan rayuan. semoga ini hanyalah kabar burung belaka. Aku tak sanggup membayangkan Kang Diman bermesraan dengan perempuan lain. mata mendadak panas. Tak lama punggungnya yang kokoh telah menghilang di kelokan. Semenjak itu aku hanya tinggal berdua dengan Emak. Sekarang tinggal kami berdua. pasti perhatian bapaknya akan berkurang bila semua itu benar. Sosok seorang Bapak kukenal hanya sebatas bayangan. Dekat tapi tiada tersentuh. tanpa sepatah kata pun darinya.” “Nggak pengen nambah. khas orang Jawa sama seperti Bapak. sudah cukuplah. sama dengan kredit panci atau peralatan rumah tangga lainnya.

“Marni sudah nggak kuat Kang dimadu dengan perempuan lain. berharap ketenangan tercipta. Kesumat masih lekat terpatri. Status pernikahan kini mengambang. kaningoyo benar nasibmu Le… Apa seharusnya aku menimbang pertanyaan Wawan kemarin ya? Entah mengapa. membuat darah dagingku sengsara. Aku tak mau menjadi ibu durhaka. jadi aku berhak ketemu kapan saja. aku pulang!” suara Wawan membuatku tercabut dari alam lamun. emosinya mulai tersulut. “Eh. Tetapi bagaimana dengan Wawan? Ia masih kecil dan sangat membutuhkan perlindungan. tak pernah lalai meninggalkan kewajibannya. Anak lanangku itu walau sibuk mengais rezeki. Kupandang photo Wawan di dinding.” dengan berat hati kuutarakan maksud di suatu kesempatan. Tanpa Emak jawab pun kamu pasti tahu. jangan-jangan Kang Diman mulai mempengaruhinya. Sampai saat ini Bapak dan si Mbok di kampung tidak mengetahuinya.” “I…iya Le. Ikrar yang telah diucapkan Kang Diman di depan penghulu dan saksi telah semena-mena ia langgar. mulai dari bayi. Kuhembus nafas sedalam mungkin. tapi entah mengapa Kang Diman sampai saat ini tak pernah mengabulkan. Dikala anak sebayanya sedang giat-giatnya menimba ilmu. kali ini aku nggak bisa. silahkan. kebimbangan menyembul. memang masih resmi sebagai pasangan suami-istri. tetapi hubungan kami begitu jauh. Emak marah ya sama aku?” “Le. aku tidak suka ia menemui bapaknya. sebenarnya kamu ke mana saja?” Wawan salah tingkah. teganya meninggalkan anak-istri. merasa dilecehkan. Selama ini air liur selalu menetes bila melintas. Sebagai ibu aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Menunggu berapa waktu tiada respon membuatku gemas. sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan kamu !” dengan enteng Kang Diman beranjak pergi meninggalkanku yang tengah histeris. Hanya karena terpikat moleknya tubuh biduan itu. “Kok diam saja. Asap rokok terhembus dari bibirnya yang tebal. “Sudahlah Wan. “Jangan harap. kukuh pada pendirian. Dari nada bicaranya seperti menggugat laranganku selama ini. Bila berkhabar aku selalu bilang kalau keluarga kami baik-baik saja. Laki-laki itu hanya menghela nafas dalam. Lega melihat sosoknya telah berdiri dihadapan.” Tak kusangka Wawan berkata seperti itu. kok jam segini baru pulang? Emak kan cemas mikirin. Ketegangan mulai merambati kami. pokoknya Mak nggak mau kamu sering-sering ketemu Bapakmu. tadi main ke rumah Mamat dulu. Aku malu dan tidak ingin membuat mereka sedih. Gelisah merambah. Praduga buruk hinggap. Bagaimanapun ia adalah Bapak Wawan. aku mau pisah.” Kutatap wajah anakku. Wawan belum juga pulang. Nafkah lahir-bathin pun tidak kuterima secara layak. Kalau Emak mau marahin. jangan melompong seperti sapi ompong. pasrah. Biasanya ia sholat di rumah.menyayangi. Di atas kertas.” pelan sekali suara Wawan. . Rupanya anak lanangku telah berubah. Apalagi malam ini badannya kelihatan begitu lelah. Lunglai tubuh. bagiku serasa restoran fast food di mal. balita sampai seumuran sekarang. Ah. darahku seketika tersirap. Hmm…bayangan lezatnya ayam goreng itu melambai-lambai… **** Azan Magrib sejak tadi berkumandang. kamu Wan. tadi aku ketemu Bapak lagi. “Mak. Aku juga! Walau hanya makan ayam goreng warteg. membuatku mati kutu. Kemana saja Le. “Maaf Mak.” Wawan beranjak dari duduknya. Sontak perasaan bersalah terbit. memandang sekilas gambar besar menu yang dijual. Muka Kang Diman menegang. “Mak…. Rasa cemburu membuncah. Pernah berpikir minta cerai darinya. Entah berapa kali termangu di depan pintu. Ada beberapa. Jujur sebenarnya emosi mau meledak. tapi sosoknya belum juga muncul. Jadi laki-laki jangan pengecut!” kata-kata pedas keluar dari bibirku. Kupasang muka sejernih mungkin. “Benar kamu nggak bohong? Jujurlah pada Emak. Demi Wawan aku harus tegar! “Mak…. kamu sudah besar sekarang.” “Maaf ya Mak. sesali nasib malang yang menimpa. walaupun sudah lima tahun tapi luka ini masih tetap menganga.” “Terus aku harus bagaimana Mak? Aku kan juga pengen seperti anak-anak yang lain. “Ayo Kang jawab. menyamarkan resah. Rasanya ingin kuakhiri saja perjalanan hidup kala itu. aneh seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari matanya yang kuyu itu. kenapa?” Wawan membuatku tergagap. “Kamu minta cerai Mar?”tanyanya pendek sembari tersenyum sinis. ia harus memikirkan isi dapur. Tapi tidak elok rasanya memarahi anak yang baru pulang mencari nafkah.”Aku tetap keras kepala.

Langkahnya gesit menuju pintu meninggalkan aku yang masih terpaku. ada apa dengan Wawan?” suara berat laki-laki tergopoh mendekat. Matanya berkaca-kaca. Matur nuwun Gusti. menyewa petak yang keadaannya tak lebih baik dari petak yang aku dan Emak huni sekarang.” pipi Emak bersemu dadu. Menungguiku dalam keadaan hidup-mati pasti telah menguras tenaga dan emosi. boleh kan Wawan sering main ke tempat Bapak?” “Tentu saja boleh Wan. Jiwaku melayang ringan seperti busa sabun. kok malah melamun? Masih pusing tho?” “Nggak Pak. Lamat-lamat suara orang-orang bergumam layaknya lebah. Menjelang malam didominasi penjual makanan dan gorengan. Memang Bapak telah menelantarkan kami. mau kemana kamu? Jangan pergi!” “Ketemu Bapak!”sahut Wawan tak peduli. Kupegang kepala. Lebih baik kita konsentrasi dulu merawat Wawan agar cepat pulang. Selanjutnya tak bisa mengingat apapun. Diizinkan untuk bertemu Bapak sekedar berbincang sudah cukup bagiku.” “Terima kasih Mak. darah kalian sama. Kecemasan terbit.” terasa sekali Emak mencoba menghindar. “Anakku Le. “Eh kamu Kang. Eh. Kereta listrik melaju kencang tanpa tersadar berjarak sehadapan. terlalu bermimpi bila mengharap Bapak dan Emak rujuk. Terlambat. Tidak seperti sekarang. mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkannya. Bila pagi pedagang sayur. Harapanku tidak muluk. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan pada kalian?” Emak terdiam tak segera menjawab. ke sini Kang…Wawan Kang!” apa aku tak salah dengar dengan pendengaranku. Sampai kapanpun hubungan bapak-anak tidak bisa dipisahkan. kamu jawab pertanyaan anak lanangmu itu.” Aku hanya diam. “Ayolah Mar. tak hirau dengan panggilannya. perban telah membebatnya. ngilu terasa. lalu bagaimana dengan pertanyaan Wawan tempo hari?” “Sudahlah Le jangan berpikir macam-macam supaya kamu cepat sembuh. yang tengah bersiap berganti penjual. aku tak keliru! Matanya terbelalak.” tersendat suara Bapak. Oh. Senyum khas menyembul walaupun wajahnya terlihat lelah. anak lanangku sudah sadar. apakah hanya dengan mengalami kecelakaan seperti ini mereka berdamai? Setelah aku sembuh apakah masih bisa rukun? “Ada apa Le. Mataku terpejam ngeri. Tak terasa sampai dekat stasiun yang mulai lengang. kamu sudah siuman. Hidupku sebentar lagi usai! Mendadak seperti ada yang menarik dan mendorong tubuhku dengan kasar. Jelas ini bukan kamarku. Jujur Mar aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku ingin duduk. Dipeluknya tubuhku. Ketika membuka mata hamparan dinding putih terlihat. gerimis membasahi pipi. Kesalahan besar jika terus melarangmu bertemu Kang Diman. seperti ada yang dicari. Jarum-jarum infus menancap di lenganku yang kurus. **** Kumelangkah dengan memendam kesal pada Emak. Karena perbuatanku kamu sengsara. “Maafkan Bapak ya Le. Bapak berada di sini juga? Atau mungkin halusinasi saja setelah sekian lama tertidur? “Ada apa Mar. pasti sebentar lagi tubuhku akan remuk tergilas. mungkin aku sudah berada didunia lain. Kelak bila kamu . “Entahlah Kang aku belum bisa menjawabnya sekarang.“Eh. “Kang Diman. Sejurus kemudian ia keluar kamar.” elakku gusar. aku bukanlah ayah yang baik. mungkin trauma masa lalu teramat melukainya. Selama ini Emak terlalu keras padamu. Aroma obat meruar menusuk hidung. Tinggal menyeberang rel sampailah di pasar kumuh. “Sebenarnya Wawan telah bercerita tentang keinginannya itu. bak maling ayam yang takut ketahuan warga. Di belakang pasar inilah Bapak tinggal. Kepala membentur benda keras. dirangkum dalam dadanya yang bidang. “Le.” “Baiklah Mar. Pemakai lapak di sini bergilir sesuai kesepakatan. Wawan cuma ngantuk. Pandangan beredar sekeliling. Emak ke mana ya. ikan dan daging yang berkuasa. Kugerakkan tubuhku sedikit.” Bapak yang tadi pergi ke toilet rupanya telah menguping pembicaraan kami. Entahlah. “Mak setelah sembuh nanti. tak percaya aku telah siuman. “Ada apa Wan. tapi apakah selamanya tiada maaf? Tuhan pun masih mau memberi ampun kepada hambanya bila meyadari telah berbuat alpa.” Emak muncul dari pintu. rupanya sekarang ini aku sedang berada di rumah sakit. bosan rasanya tubuh berbaring seperti ini. senyap. Benar itu adalah Bapak. syukurlah kamu udah sadar. ngagetin saja. tanpa diminta pun telah memaafkan. matanya berbinar-binar. Kupercepat langkah tanpa peduli dengan keadaan sekeliling.” jawab Emak bergegas menghampiri. Sedetik kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai beranjak larut. aku tunggu jawabannya. kunang-kunang berseliweran di kepala. Emak di sini kok.

“Oh ya Le. nyuwun kawelasan : Oh Tuhan. 12 November 2012 15:44 wib . Dari matanya tersirat cinta tulus pada Bapak yang coba ia sembunyikan. Kaningoyo : sengsara 4.” Hatiku mendadak cerah mendengarnya. aku berniat untuk pulang kampung.” Bapak begitu bersemangat mengutarakan rencana. tapi aku yakin dilubuk hati terdalam ia pasti setuju. Dari kaca jendela terlihat rinai membasahi rumput. Duh Gusti. mohon belas kasihan 3. Sekarang tinggal di Depok. Gemericik hujan sore ini begitu indah. Ternyata kehidupan di Jakarta tak lebih baik dibanding di desa. Bergabung sebagai anggota FLP Jakarta Angkatan 16. Bisa dihubungi di rehutomosunu@gmail. kita ‘kan masih ada warisan tanah walaupun tidak luas. mengalun lembut bak simponi jiwa orang terkasih.setuju. sorot matanya cemerlang.com Cerpen Celana Dalam Jahit Perca Senin. Bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Sayang anak sepintar kamu hanya jadi tukang semir. Matur nuwun Gusti : terimakasih Tuhan Biodata Penulis : Sunu Rh adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Tuhan kumohon pada-Mu! Rumah Hijau. Kulirik Emak wajahnya tak sekeruh tadi. nanti kamu bisa kembali sekolah. 11/11/2012. Semua tinggal menunggu waktu. Tuhan luruh dan lembutkanlah hati Emakku… Walaupun Emak belum menjawab. Wewaler : peringatan 2. Aku bisa bertani disana. mudah-mudahan ini pertanda bagus. Semoga Tuhan segera mempersatukan jiwa orangtuaku yang terbelah. Oleh: Sunu Rh Catatan : 1.

ini kesempatanmu!" Urat leher perempuan itu timbul. seorang ibu tua. Ya. Orang-orang lekas menyalaminya dengan sedikit menekur. "Selamat datang bapak. sepeda ontel. kain panjang. tak ubahnya seperti kau dan aku. apalagi dedemit. Ketika majikanku asyik menyalami orang-orang. aku akan membeberkan rahasia besar itu kepadamu. kemeja buntung. bahkan membunuh. aku tidak salah. belah bakung. Sekonyong-konyong. Ibu tua itu kemudian mengajakku duduk di rimbun sebatang pohon yang cukup rindang. kalau tidak kedengaran bukan menggunting namanya. penjahit ulung. apa perlu kendaraannya saya keluarkan?" tanyaku menghampirinya yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah seberang sana. di antara jejeran kendaraan-kendaraan mewah. kok. lalu mati 67 tahun yang lampau. Ia memiliki yang tidak dimiliki sesiapa pun jua. Kulemparkan senyum kepada setiap mereka yang turun. ia telah puas merasakan penderitaan. Seorang ibu tua hadir di antara kerumunan tamu. telekung. Ambil buatmu saja!" "Loh. Terserah mau kau pakai atau kau jual" Sambarnya lagi. apa yang terjadi padanya senantiasa tak akan lepas dari kepentingan orang-orang di sekitarnya. Toh. Siang ini majikanku menggelar perhelatan besar." sapaku seramah mungkin. "Bu. sedikit saja. sekalipun sedang ia kenakkan. kepok. masih ada di pelataran parkir. namun banyak yang percaya ia tewas dibunuh. kelepak. Majikanku adalah manusia paling dari segala paling. Karena aku mencintai ibu tua itu maka aku akan menjawab rahasia besar tentang celana dalam yang jadi rebutan. majikanku marah besar mendapati celana dalamnya disobek. maaf apabila aku terlampau egois. Ibu tua itu diseret paksa keluar pagar oleh mereka. celana dalam yang ia perlihatkan kepada siapa saja. berhidung. sebab pada bangkainya diketemukan sebilah bambu runcing mengakar di buncit perutnya. Dia adalah manusia: bermata. Pancaran mentari tak . Kalau tidak.. pesak sebelah. "Tak perlu.AKU tak habis pikir. Sebenarnya ia tak akan gamang menderita bersebab hal demikian. Ia mengundang manusia-manusia yang dianggap sebagai pembesar Istana. barang tentu dengan mudah mereka mengambil celana dalam itu. mereka biasa memukul orang-orang yang menggaduh majikanku. basterop. bajang. jas katak. celana dalam yang selalu dikenakannya. Sementara punggungnya semakin jauh berjalan meninggalkan halaman Istana yang maha luas. Ia bukan jin. Hehe. *** Satu per satu kubukakan pintu kendaraan mewah yang silih berganti mendarat di halaman Istana. Sungguh. bertelinga. "Apa maksud Ibu?" "Dek. ya semua ini karena aku tahu. Hanya yang membedakannya: celana dalam. punggungnya lurus sempurna. barangkali ia ingin merasakan kesejukan udara untuk mengeringkan lukanya. Entah apa tujuannya. Bersyukurlah hari ini kau berkesempatan membuka lembaran ini. Kau tentu tak tega melihat tubuh ringkih itu terus diberondong pelor bukan? Usah terperanjak akan apa yang kubilang barusan. lebih-lebih yang satu itu: celana dalam jahit perca miliknya. Karena senyum itulah aku dapat menjadi pelayan di Istana ini. Sedangkan kendaraannya. seroja. Tidak dengannya. handuk. Badannya yang ringkih itu babak belur. Sungguh.. Selamat datang ibu. kutang. ia lekas menyobek celana dalam: barang berharga milik majikanku itu. tak akan ada lagi perlawanan. Di kerumunan orang ramai ibu itu mendekati tubuh bagian belakang majikanku. Dahulu kala. bukan pula malaikat atau sebangsa iblis. ambil saja. Habislah orang itu dihajar. semenjak suaminya datang di kehidupannya. Jika ia mati. sekalipun ia melambatkan lajunya. Dari bisikan yang kudengar. Majikanku memanggil rekan-rekanku yang berbadan besar. Aku tercekat tak tentu hendak dikata. Mereka begitu menginginkan baju kurung. Majikanku tanpa sepersekian milimeter pun beroleh hal serupa. Untung baru seujung saja yang terkerat. Ia lantas mengeluarkan sebuah gunting berkilau dari sakunya." "Iya. Dia tetap berdiri setegak batang surian. Ia merasakan yang tidak dirasakan semua orang. Pertiwi sebutan orang. mereka tak sembunyi-sembunyi lagi berniat ingin membunuhnya. Suara gunting yang beradu pastilah akan kedengaran. bahkan dagunya yang tumpul itu sengaja ia angkat. bukan rasul. Ada yang bilang lelaki itu bunuh diri lantaran malu tak punya kelamin. tentu kau tidak akan tahu dan kau akan terus merasa sok tahu selama-lamanya.

orang memang kebanyakan berpikiran demikian. apakah itu juga kesempatan?" tanyaku mengirangira. itulah yang namanya kesempatan. aku bersedia memberikan sepeda ontelku untukmu. Tak menanggap. sementara di bibirnya ada senyum yang indah menggantung. Cepat!" ujar majikanku kepada ibu tua. Tadi." jawabku sekenanya. Senyumnya kian berseri. Malunya sudah musnah. dipertontonkan? Maksudnya celana dalam itukah?" ujarku keheranan. mana yang akan kau pilih: kau akan melemparkan kerikil ini ke kaca sana saat majikanmu tidak ada di rumah atau kau akan melempar kerikil ini saat majikanmu tengah tertidur pulas? Kau harus memilih antara keduanya!" Pertanyaannya membuatku bingung luar biasa. Keriput di sekitaran pipinya membuat ia nampak lusuh. Aku masih terperanga mendapati jawabannya barusan. "Seandainya aku berikan dua pilihan. "Tolong buatkan saya sebuah celana dalam lagi. Namun. aku tak berani. "Barangkali Ibu iri dengan kekayaan majikanku. Ah! dia menyerangku bertubi-tubi." jelasnya lagi. Ibu itu mengambil sebuah kerikil di dekat dudukan kami. itulah kesempatanmu untuk memecahkan kaca. *** Malam setelah matinya majikanku.. dengan sisa-sisa perca. ternyata hanya untuk dipertontonkan. Apa maksud ibu tua ini? Kutatap matanya yang kuyu. Namun. Mereka pasti akan menjawab persis seperti jawabanmu. terlebih celana dalamnya yang paling berharga itu. "Benar. Pandangannya yang sedari tadi ke arahku. Kemudian ia ambil sebilah belati dari balik bajunya. Tanpa mengenakan pelapis lain. Aku mendadak kaya karena buah tanganku." Ia pegang pundakku. akhir-akhir ini aku merasa menjadi penjahit paling tolol. Apa lagi kata-kata yang hendak meluncur dari mulut betina ini." "Ah. Orang itu. tidak Bu.. dan aku si buta. "Tepat!" Ia kemudian berdiri. "Aku adalah seorang ahli jahit di keluarga Istana. tatapannya adalah kilat. Mana mungkin aku berani melakukannya. ia telah lupa diri. Kemungkinan terburuk: aku akan dihabisi rekan-rekanku yang berbadan besar lalu dipenjarakan. Aku telah berusaha memikirkan lekuk jahitan itu lebih dari separuh masa hidupku. Ada satu yang tak pernah aku pikirkan selama ini. Aku yakin saat itu adalah kesempatanku untuk mengabdi kepadanya. orang yang memiliki kuasa penuh atas kehidupanku. perempuan tua itu mencoba menjahit kembali celana . Aku gemetar mendengarnya. "Supaya tidak ketahuan bahwa aku pelakunya. Aku semakin penasaran dengan penjelasannya selanjutnya. Hingga tanpa malu ia mempertontonkan celana dalam itu di hadapan siapa saja. Aku bangga saat majikanmu mempercayai jahitan itu untuk dilekatkan di celana dalamnya. "Aku memilih ketika majikanku tidak ada di rumah. Suara riuh tepuk tangan dari dalam ruangan terdengar sayup sampai ke tempat kami duduk. "Kamu tahu kenapa aku melakukan tindakan tadi atas celana dalam majikanmu?" Tanyanya membuka percakapan." jawabku pasti.. ada darah yang menyembur deras. bisa-bisa aku dipecat. Ia nekat telanjang. kepada Istana. Suara perempuan itu menjelma guruh. aku melihat sesosok tubuh gagah cepat berlari menuju dudukan kami.. Hidupku bahagia. dan aku adalah si pekak. Maka itulah kesempatanmu mendapatkan sepeda. orang yang membuatku hidup. seharusnya kau ambil saja. sikap ibu tadi mencoba merusak celana dalam majikanku. "Ti. Lama." sejenak ia menghela nafas. "Dek. tentunya dengan suasana yang sedikit berbeda. yang bagiku itu adalah bentuk terindah dari sekian banyak karya-karyaku." Dari dalam rumah. "Jadi. Jawaban dari pertanyaan yang membuatku mencoba berpikir melebihi kemampuanku. "Pecahkan kaca itu sampai berkeping-keping!" ujarnya lagi dengan nada sedikit naik.. coba kau lempar kerikil ini ke arah sana!" ia naikkan telunjuknya tepat ke arah Istana." tolakku gemetar. "Mengapa?" tanyanya lagi. Segera ia menggerakan tangannya menebas dari atas. Dia tersenyum. bagaimana mungkin aku tak sadar. kini ia palingkan ke jalanan yang berada di hadapan kami. "Huh. Senyum yang menyembunyikan jawaban besar. jahitan indah yang kubuat dengan segala rasa dan karsa." jawabku sekenanya saja. Bagian depan celana dalam majikanku sobek. Ibu itu diam. "Aku kemudian memberikanmu sebutir kerikil. Segala yang ada di dunia ini dapat aku miliki. "Dek.kami hiraukan.

Sudah satu bulan aku tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Padang. Bahkan kalau tidak dipaksa-paksa menerima imbalan atas jasanya itu. Kemudian ia menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya ia kembali pulang dan polisi melacak keberadaan pencuri laptop itu hingga si pencuri diketahui ternyata adalah tetangga kamar kosnya sendiri. Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Andalas yang cinta benar kepada segala hal berbau seni.” Tamu wanita tersebut mengangguk yakin penuh harap. 7 Juli 1992. maka tiba-tiba keningnya mengerut seakan membayangkan sesuatu sambil dipejamkan matanya dan tangannya memegang tangan seseorang yang bertamu padanya untuk minta didugaduga siapa pencuri laptop yang hilang di kamar kosnya. Ia menyuruhku mencuri sepotong benang dari saku-saku sipir yang tertidur pulas. Namun Bu Nyai enggan disebut dirinya orang pintar atau semacam dukun. .” kata Bu Nyai setelah mengucap Alhamdulillah dengan penuh senyuman mempersilakan tamu tersebut minum air teh yang disuguhkan olehnya. “Silakan Neng diminum airnya. Hanya saja kemampuannya yang lebih itulah yang membuat orang jadi terlalu percaya padanya. Dan dengan agak samar-samar Bu Nyai kemudian menyebut dua huruf dari nama depan yang diduga mencuri laptop tamu tersebut dan selebihnya ia menyarankan untuk berserah diri pada Gusti Allah. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Allah. Dan selama satu bulan itu pula ada beberapa orang yang bertamu ke rumahnya hanya untuk meminta dicarikan petunjuk tentang kehilangan barang atau bahkan sanak keluarga yang hilang. Rambutnya yang memutih sedikit terlihat. Selain giat bermusik. kelahiran Batusangkar. Tapi aku tak mau. Bu Nyai pun tak pernah menganggap kelebihannya itu sebagai profesi atau pekerjaan hidupnya. Sesekali Bu Nyai membetulkan letak kerudungnya. Beralamat di Jalan Marapalam Indah X No. Ia tetap ingin dianggap sebagai orang biasa. Anggota UKS-UA. ia enggan menerima balas jasa apa pun. ia acapkali menulis di koran-koran lokal Sumatera Barat dan pelbagai antologi bersama. 08 November 2012 08:18 wib DENGAN terbengong-bengong aku menyaksikan Bu Nyai mengucap-ucap kalimat subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca Al-Fatihah. Cerpen Kalung Bu Nyai Kamis. divisi musik. “Bu Nyai mah ngan saukur tiasa masihan tanda-tanda wungkul-nya neng. 19 A Padang Timur.dalam berwarna merah putih itu. 17 Agustus 2012 Tentang Pengisah: Dafriansyah Putra.

Sep. Bu Nyai tidak menerima sembarang orang yang tinggal di kamar kontrakannya.” kata Bu Nyai lagi suatu ketika padaku sambil menyicikan air panas ke dalam termos dan aku menyeduh kopi hitam di dapur rumah Bu Nyai. Ia pun menceritakan hal yang sama. Mang Durja sebelum pindah bersama istrinya ke rumah kontrakan yang agak besar. aku memutuskan untuk tinggal di kontrakan Bu Nyai. Dan kamar yang aku tinggali ini bisa dibilang bukanlah kamar kontrakan melainkan memang kamar kosong yang sengaja disediakan untuk ditempati oleh Mang Durja dulu sebelum aku yang menggantikannya. Di rumah Bu Nyai lah ia dirawat hingga sembuh sampai akhirnya Mang Durja tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai setelah sebelumnya ia biasa tidur sehari-hari di pasar sebagai kuli panggul. Yang penting selagi dia sanggup pasti dia lakukan.“Mun urang nulungan batur. apalagi dengan kelebihannya bisa menerawang begitu. Namun banyak tetangga yang suka bercerita perihal kemampuannya itu padaku kalau aku beli kopi dan rokok ke warung atau sekadar nongkrong-nongkrong di luar. “Bu Nyai mah A baik orangnya. Dan karena Mang Durja lah akhirnya aku bisa tinggal di tempat itu. “Pokoknya ampuh weh lah terawangan Bu Nyai mah. Langsung saja aku bersama dia datang ke tempat kontrakan tersebut. Aku mengerti betul bagaimana tulusnya Bu Nyai menolong orang lain walaupun usianya sudah mencapai kepala enam. dulu Bu Nyai lah yang menolongnya saat ia kecelakaan sepeda motor dan digotong oleh warga ke rumah Bu Nyai karena rumah Bu Nyai memang tak jauh dari jalan raya. Untunglah aku bertemu Mang Durja.” timpal Bu Neneng yang sedang mengasuh anaknya dengan antusias menceritakan Bu Nyai. Sebab. Hanya punya satu tivi 14 inch.” ujar Teh Ema. menurutnya. Pada Bu Nyai. Ia yang memberi tahu ada kontrakan murah seharga Rp150 ribu per bulan. Ia bilang kalau Bu Nyai mah tidak segan-segan datang ke tempat orang yang memanggilnya hanya untuk menerawang seseorang yang kehilangan anaknya tanpa memikirkan ongkos dan biaya apa pun. Aku sempat meragukan cerita tersebut. Aku mengamini ucapan Bu Nyai sambil tersenyum-senyum walau perlu waktu lama untuk mencerna di balik ucapan Bu Nyai itu. penjaga warung dekat rumah Bu Nyai. Dari hari ke hari aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Sebulan yang lalu aku memang butuh kamar kontrakan yang baru dan murah setelah bapak tak bisa lagi menyuplai uang bulanan padaku yang masih berstatus mahasiswa ini. tetangga rumah di kampung halamanku yang sama merantau ke kota ini. Akhirnya aku bisa menempati kamar kontrakan di tempat Bu Nyai. Hingga pada akhirnya aku pelan-pelan percaya tentang kemampuan Bu Nyai tersebut setelah lebih dari . dua lemari perabotan dan tiga kursi sofa yang hampir lapuk di ruang tamu yang menyatu dengan ruang tivi. “Menerawang gimana maksudnya? “Ya bisa tahu kalau kita kehilangan sesuatu gitu lah. Selebihnya aku harus cari usaha tambahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kuliahku selesai beberapa bulan ke depan. dulu ia tinggal di kamar kontrakan Bu Nyai. Pada awalnya aku belum tahu pasti tentang kemampuannya itu. Terutama perihal kemampuannya menerawang hal-hal yang kasat mata. Dan pernah dia menolak mentah-mentah pemberian dari orang tersebut karena ada niatan untuk memfasilitasi Bu Nyai buka praktek terawang walau hal tersebut dianggapnya hanya balas jasa dari orang itu. Perihal Bu Nyai yang gemar menolong ini ternyata memang sudah banyak diketahui tetangga dekat dan orangorang sekitar. eta hartina teh nulungan urang sorangan. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Mang Durja bilang bahwa aku masih satu keluarga dengannya dan sekarang sedang butuh kamar kos di akhir-akhir masa kuliahku ini. Bahkan Mang Durja sendiri malah tak pernah bercerita apa pun perihal Bu Nyai kecuali kalau Bu Nyai itu murah tangan. Dengan uang hasil tabungan yang cukup untuk hidup dua bulan ke depan.” yakin Kang Diman sambil memutar-mutar rantai sepeda lamanya. ia lakukan dengan segenap hati.” “Buat warga di daerah ini. kemampuan Bu Nyai mah jadi berkah. Lain waktu saat aku sedang berurusan dengan Kang Diman untuk menyicil sepeda miliknya. bahkan boleh dibilang teramat sederhana. Seperti diceritakan Mang Durja. Rumahnya cukup sederhana. Namun selama dia masih ingin melakukan apa pun dengan tangannya sendiri. Sep.

Setelah sepeda kurantai. Justru aku teramat bangga walau hanya punya sebuah sepeda lama ini. Termasuk pada Tuhan. Entah apa sebabnya. tepatnya tangan kanan memegang tangan kirinya sendiri. Sepeda yang sedari tadi terguyur hujan kunaiki bak menunggang kuda menembus jarum hujan dan angin yang semakin menyekap tubuhku hingga kedinginan. Ia terus mengucapucap subhanallah. Namun sebentar kemudian ia meresponku. Aku semakin merinding. aku hendak pulang dengan sepeda yang dicicil dari Kang Diman. Akh! Bu Nyai membuka mata. Ia selalu menolak orang-orang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Bagiku naik sepeda ke kampus bukan hal memalukan. Dan tiba-tiba Bu Nyai mengucap Al-Fatihah. Sesekali kepalanya . aku masih harus dua kali lagi nyicil ke Kang Diman untuk melunasi sepeda ini. Keningnya mengkerut. Bahkan lebih. Ah Alhamdulilah. Hujan di luar kembali menderas. Sudah tiga orang tamu yang datang dan ia tolak baik-baik. Mulut Bu Nyai bergetar-getar. Sebab yang kutahu dia melakukan hal seperti itu adalah kalau ada seseorang yang meminta bantuannya untuk diterawang. Hanya yang belakangan mengkhawatirkanku adalah semakin hari memang kepercayaan terhadap kemampuannya telah melebihi kepercayaannya pada apa pun. cepat-cepat pula aku membuka pintu. Aku tiba di kontrakan. Aku memaksakan diri pulang. Tiba-tiba pikiranku kembali memikirkan Bu Nyai. aku seperti air membeku berdiri di lawang pintu. Beku. Tubuhnya juga bergetargetar. Hujan masih juga betah berjaga. Dan. Namun sesaat setelah membuka pintu. anak satu-satunya itu untuk membuka bengkel pribadi dan ia tak usah lagi jadi montir di Bengkel Abah Juned. akankah ia merasa tersinggung atas hal ini.” “Maksud Bu Nyai?” Bu Nyai mengusap wajahnya seperti orang selesai berdoa. ini berarti pertanda ritualnya berakhir. Aku mengeluarkan sebatang rokok yang dibeli keteng (eceran) tadi siang di warung. jikalau aku membicarakan kegelisahan ini pada Bu Nyai. Banyak tugas yang harus segera diselesaikan hari ini. Semakin mengkerut. Jarak kampus dan kontrakan memang agak jauh. Seakan konsentrasinya ia fokuskan kuat-kuat. Aku duduk di kursi sebelahnya. Tampak urat-urat usianya yang kian senja. Lima kali subhanallah. Pohon-pohon di seberang jalan terhuyung-huyung menahan kibasan angin yang selalu disusul gemuruh bagai batu-batu runtuh dari langit. Sekali lagi aku melihat ke sekeliling ruangan barangkali ada tamu yang sedang keluar. Bersidekap seperti orang yang sedang salat. Setelah seharian disiksa kegiatan kampus. Aku tak berani menghentikannya. Bu Nyai mampu meruak rahasia yang bagi orang biasa amatlah misteri. Hampir 15 menit aku menunggu hujan. Ia menghela nafas lagi. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Kemampuan ini memang mengagumkan bagiku. Lunglai. Tapi tetap tak ada.seminggu aku tinggal di kontrakan Bu Nyai. Sepeda kuparkir di sudut depan rumah dan selalu aku rantai. Dengan terbengongbengong kusaksikan Bu Nyai dengan tubuh menggigil duduk di kursi ruang tamu. Namun Bu Nyai masih mengkerutkan keningnya sedemikian kuat. Aku semakin membeku. “Bu Nyai. “Muhun Sep. Aku masih berada di kampus sore itu. Bisa boros limaribu sehari. tapi lumayan hemat ketimbang harus mengeluarkan ongkos naik angkot. tapi Bu Nyai benar-benar sudah tidak mampu lagi. Mulutnya komat-kamit mengucap sesuatu yang sudah aku kenal seperti biasa. Ia mulai mengaturnya pelan-pelan. Bahkan sampai tamu yang terakhir datang kemarin itu menjanjikan memberi modal Dudung. Dengan lima kali mengucap-ucap subhanallah dan sekali membaca al-fatihah. Pagar kawat depan rumah Bu Nyai yang sudah karatan kubuka cepat-cepat. Bu Nyai sedang menerawang?” Tatapannya masih melihat ke bawah. Tapi untuk siapa dia mengucap-ucap itu. Dengan memaksakan diri aku mendekat perlahan. Entah kenapa. Salah satu tangannya. Lalu aku memberanikan diri berbicara padanya. Tapi lagi-lagi dengan berat hati Bu Nyai menolaknya. Hujan tinggal rintik-rintik. Maklum. Ia masih belum menghiraukanku. ketimbang punya motor dan prestasiku di kampus anjlok. Matanya benar-benar semakin rapat terpejam. Ah. Belakangan Bu Nyai tampak tak seperti biasanya. Ia terus mengucap-ucap subhanallah. Mata Bu Nyai masih terpejam. Kuletakkan tas ranselku di sebelah. *** Hari itu hujan deras sekali. Tapi ini tidak. Dan bagi orang seperti Bu Nyai tentu yang ia lakukan ini tak ada motif apa pun kecuali berbuat baik. Napasnya sedikit tak teratur.

Kenangan sudah menyekap hatinya kuat-kuat. mungkin Asep tahu di mana kalung Bu Nyai?” Ditanya seperti itu tiba-tiba saja lidahku mengucap-ucap subhanallah hingga lima kali dan sekali membaca AlFatihah sampai keningku mengkerut seakan membayangkan sesuatu dengan mata terpejam: pencuri itu. Energinya habis.(*) Catatan: *Bu Nyai mah ngan tiasa masihan tanda-tanda we nya neng. Tadinya Bu Nyai yakin pasti nanti juga ketemu. Dan sekarang.” Bu Nyai membuka cerita dan membetulkan letak duduknya. itu artinya kita menolong diri kita sendiri. Penikmat kopi dan sayur asem. “Tiga hari ini teh Bu Nyai kehilangan kalung pemberian almarhum bapak. “Sep. Bahkan untuk menebak kalung yang ada entah di mana pun ia seperti tersekap. samudera luas itu bertepi-batas juga akhirnya. Seperti dikepung ribuan kunang-kunang. saterasna mudah-mudahan dipasihan jalan ku Gusti Alloh: Bu Nyai hanya bisa memberi tanda-tanda aja Neng. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Ia mendesah. sep: Kalau kita menolong orang. eta hartina teh nulungan urang sorangan. ada di sini. Kini tinggal di Jakarta dan menulis. Depok-Jawa Barat Email: restu_freedom@yahoo. Aku mengangguk. Alamat: Pondok Sukmajaya Permai Blok F2 No. Alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik (S1) UIN SGD Bandung. Mencoba memahami segalanya. Yang tersisa hanyalah perjalanan usia.menggeleng pelan. Bandung.” Dengan kelu gemetar Bu Nyai menceritakan segalanya. Dan aku mengerti mengapa belakangan Bu Nyai menolak menerawang tamu-tamu yang meminta bantuannya seolah Bu Nyai meragukan kemampuannya. Seperti tertimpa batu-batu. “Akhirnya Bu Nyai coba cari dengan cara terawang seperti ibu bantu nyari barang-barang milik orang lain yang hilang.5. Pernah bergiat di Komunitas Rumput dan Komunitas Kabel Data. Sebab setelah sepeninggalan suaminyalah ia memiliki kemampuan lebih yang bagi orang biasa seperti aku ini sungguh teramat luar biasa. “Bu Nyai sudah tidak mampu lagi Sep…” Aku mencoba menyandarkan punggungku ke kursi. Dan saat itulah Bu Nyai menatapku lekat-lekat. Ia merasa tak mampu lagi mengeluarkan kemampuannya. Sudah Bu Nyai cari ke mana-mana tapi tetap tidak ada. Bu Nyai benar-benar tak bisa kehilangan barang berharga yang pernah ia miliki dari almarhum suaminya itu. Di sekitar sini. sehingga tak ada lagi yang membayang dalam kepalanya kecuali suaminya. tapi tetap tidak juga ketemu. selebihnya mudah-mudahan diberi jalan oleh Gusti Allah. *Mun urang nulungan batur.com Cerpen . Biodata Penulis: Restu Ashari Putra.

Kau minta aku terus berpegang pada mimpi besarku agar aku tak mudah goyah. Kali itu kau lebih banyak bicara dibanding aku. Ku buka halaman pendahuluan dan beberapa isinya ku baca sekilas. Aku malah lupa kesukaanmu. Ku amati kau sedang khusyu’ dengan kalam-Nya di tengah taman kampus. kau ajak aku mengitari Kota Purwokerto dengan motor kesayanganmu. Masih teringat jelas dalam memoriku saat ku mengenalmu pertama kali. Kau dapati beasiswa double degree yang selama ini kau impikan. Kawan…mengingatmu aku sangat malu. kau diharuskan berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. “Kau suka ? Ambillah. Kau juga membimbingku menuliskan mimpimimpiku di atas kertas. Kau tiba-tiba meneleponku dan ternyata kau ada di depan kosku. “Hmm… aku suka buku ini. Belum banyak kau bercerita. khasmu. Ku sapa dirimu kau masih terlihat asyik. Kau tampak begitu cepat memahaminya. Melihatku dengan ransel padat isi dan tas jinjing berisi dokumen. aku malah membuatmu merogoh kantongmu. Sangat memotivasi. Ku dekati kau karena ku kagum dengan bacaanmu yang indah. Aku begitu suntuk dengan tugas-tugas kuliahku. Kawan…kini aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. ku langsung meluncur ke Jakarta untuk mencarimu. Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu. Aku yang suka. Saat itu ku raba buku yang bagiku judulnya menarik buatku…Sang Pemimpi. Aku hanya bisa melepasmu dengan satu pelukan terhangatku. kau bantu aku menaklukkan rumus fisika yang begitu rumit bagiku. Aku mengharapkanmu. Kau tak lama kenal denganku tapi kau ingat jelas kesukaanku. Untuk menghargaimu. Kau memakai baju koko hijau lumut dengan corak bergaris. Tugas kuliah yang membludak membuatku lupa denganmu. Ucapanmu saat itu masih begitu asing di telingaku. Antara sedih dan bahagia mendengar kabarmu saat itu. Suatu hari kau datang dengan wajah yang ceria ke kosku. Ku akui aku mulai suka padamu. Tempat terakhir yang kau tunjukkan padaku adalah sebuah toko buku besar yang cukup terkenal. Aku heran padamu. Ku tunggui dirimu sampai kau selesaikan tilawahmu. Kau menempelkan kertas impianku di dinding dimana aku bisa melihatnya saat ku bangun dan mulai tertidur.” kataku saat itu. Kau bergegas keluar dari kosku dan meluncur dengan motormu. akan begitu banyak pencuri mimpi berkeliaran di kehidupanku. Buku itu mengingatkanku dengan pesanmu padaku. Tak berpikir panjang. nanti saya yang bayar. Habis ceritamu.“Ahlan wa sahlan. Hingga kini buku yang kau belikan masih kusimpan dan tak bosan ku ulangi membacanya. 05 November 2012 17:10 wib ALUNAN musik Nasyid di atas panggung yang dinyanyikan oleh mahasiswa baru mengingatkanku akan sepenggal cerita antara kau dan aku. Kau bilang padaku kau akan pergi ke Negeri Sakura selama setahun. Dengan kelihaianmu itu. saudaraku”. Kau tak heran saat melihat aku di depanmu padahal kau dan aku tak saling kenal.Kau adalah Diriku yang Kini Hidup Bersamaku Senin. ternyata waktu membuat kau dan aku harus terpisah begitu cepat. kau tak ambil banyak bicara. Kau malah memelukku dan mengucapkan. Tak lama dari kepergianmu. aku hanya bisa mengulum senyum padamu.” Sebetulnya aku malu padamu. Kau juga sampaikan padaku. Hari demi hari ku jalani hidupku di kampus. kau dalam . kulihat berita di TV yang mengabarkan kecelakaan pesawat yang kau tumpangi. Kau tunjukkan padaku satu demi satu mulai dari tempat makan yang enak bagi kantong mahasiswa hingga tempat wisata jika sewaktu-waktu ku butuh refreshing. Ku bilang pada diriku sendiri. Usai berkelumit dengan tugas kuliahku. kau antarkan aku ke kosku. Kau tahu kalau aku suka sekali membaca. Kau tersenyum padaku dan kau sambung dengan pertanyaan sekaligus tawaran yang membuatku semakin menyukaimu. Aku hanya menjawab seperlunya dan menjadi pendengar setiap ceritamu. Kau buka pembicaraan hingga aku merasa yakin kau adalah teman pertamaku di kampus ini. Tepat pukul 3 sore. Kau ajak aku makan berdua denganmu. Kau bercerita bagaimana kau bisa memperolehnya. Jadilah pelaku mimpi yang sesungguhnya jika kau benar-benar ingin menyaksikan mimpimu menjadi kenyataan.

Aku tersenyum padamu saat kau pegangi foto yang pernah kau cetak bersamaku. Dulu kau rintis musik nasyid agar nasyid bukan lagi hal tabu bagi mahasiswa muslim. Sobat … meskipun kau tak lagi bersamaku. FMIPA Unpad (2010) dan sedang menempuh studi S2 di Fakultas Biologi Unsoed. Jawa Tengah. Jontro. Wedarijaksa. Pernah menjadi staf pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar di Bandung. Di foto itu kita bertiga sedang mengenakan baju kebesaran sarjana sambil memegang kertas impian antara kau dan aku. Aku harus mengikhlaskan kau tak lagi bersamaku. kau akhirnya ditemukan. Sobat…kini aku harus melepaskan kepergianmu. Telah menyelesaikan studi S1 di Jurusan Biologi. kau bukan sekedar sahabat melainkan kau adalah diriku yang kini hidup bersamaku … merangkai mimpi bersama. Kini rintisan itu telah menjadi kebanggaan para mahasiswa muslim. kini telah berteman dengan coretan garis merah. Sayatan luka dan darah yang melumuri bajumu tak membuat sedikitpun wajahmu berkerut. Kertas yang dulu berisikan tulisan yang rapi. mewujudkan impian kita berdua. sobat. Kesabaranmu dalam membimbingku dan tekadmu yang besar. Setelah satu bulan pencarian. Dulu. Di sana juga ada seorang wajah kakak yang bagiku kini dia layaknya guru dan orang tua bagiku. Sobat … andai kau lihat saat ini. 16 Oktober 1988. Pati. Sobat. aku merasakan bahwa semangatmu masih segar mengalir bersama darahku mewujudkan impian kita berdua. kali itu ku lihat paras wajahmu begitu menyejukkanku. Dia adalah pengingatku dalam pencarian jati diriku. Kau tak begitu suka melihatku menangisi sesuatu yang telah pergi dari diri kita. Kau ajari aku perlahan. Oleh Eva Seoulinda Rosani Shafa Nuur Annisa. Aku anak genk di SMA yang bisanya cuma nyanyian lagu barat yang tak karuan sumbang kalau ku nyanyikan. Kab. Setiap kali aku berhasil mewujudkan impian kita. Selamat jalan sobat…semoga kau memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. Mengingat bersamamu 10 tahun yang lalu. Sobat … bagiku. impian kita telah terwujud satu per satu.keadaan selamat. membuat diriku tak sanggup mempercayainya. membuat kita berdua bisa tampil di ajang kompetisi nasyid yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa antar universitas di Indonesia. Atas izin-Nya. Setiap tahunnya banyak generasi yang berkompetisi menelurkan karya nasyidnya bahkan tak sedikit yang kini menjadi tenar di tingkat nasional dan aku. RT 03/RW 01. Kau demikian sabar saat aku masih belepotan mengucapkan huruf hijaiyah di dalam lagu nasyid yang kau ciptakan. hal itu membuat diri kita jatuh terlalu dalam dan sulit untuk bangkit. ku tak bisa bohong padamu bahwa aku sangat mencintaimu karena-Nya. membuatku harus menjatuhkan mutiara dari kelopak mataku yang dulu sempat kau larang. Selama kuliah di S1 pernah aktif di Dewan Perwakilan Anggota sebagai Anggota dan Ketua Komisi (2007 2010). lahir di Pati. Badan Perwakilan Mahasiswa sebagai Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua (2007 .2010).2010). Jika menelisik sedikit memoriku bersamamu. Pernah menjadi asisten dosen selama 2 tahun (2008 . atas bimbinganmu saban hari menjadikanku kini sebagai seorang komposer nasyid nasional. aku tak bisa sama sekali menyanyikan lagu nasyid. . Buatmu. Kec. Tinggal di Ds. Kau juga tak marah saat aku belum mampu membedakan antara not yang satu dengan lainnya.

Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana. “Aida. Tapi bisa apa aku. Tapi bapak tidak bisa menemukan istilah lain untuk menggambarkan praktek korupsi dinegri ini yang lebih pantas selain dari kata budaya. Gilanya. Aku segera mandi.Cerpen Negeri Tak Berhati Kamis. Orang mulai lupa pada hati nurani nduk. kita berangkat bareng !”.sekarang mandi sana. ini Aida lagi siap-siap buat ujian masuk perguruan tinggi” ”Belajarlah yang giat nduk. karena khittahnya budaya itu adalah segala hal yang sifatnya baik-baik semua.. badanku sudah bersih. dan konon kabarnya dilakukan oleh segala lapisan masyarakat di negri ini.. orang-orang mengamini ’kesalahan’ sebagai sebuah kenormalan yang ’toh semua juga pernah melakukan’.” . Bapakku adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Yogja. Sarapan pun sudah terhidangkan di meja dapur. Aku tak tahan melihat raut muka bapak yang penuh dengan rasa kecewa. adalah nama panggilan bapakku. Tetapi kenapa analisis mengenai yang Haq dan Bathil itu kontras dengan semua fakta yang ada. 01 November 2012 12:41 wib KALA kumandang adzan telah bertalu bersahut-sahutan. uang-pelicin itu adalah hal ’normal’ yang semua juga pernah melakukannya. atau merasa kliru ketika melakukan praktek-praktek seperti itu. Sebagai sebuah aktifitas yang keliru atau salah. disebut budaya karena hal tersebut termanifestasi dalam kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. karena ‘pekerjaan rumah’ sudah menunggu. hidup itu butuh pegangan. Aku faham apa yang bapak rasakan di dalam hati. Kami tidak punya meja makan. biasanya lagi saat-saat seperti ini adalah saat di mana bapak akan berubah menjadi negarawan sekaligus kritikus berita. Seperti biasa ibu tidak ikut makan. Ini yang kadang membuat bapak risau karena beban kerusakan ’moral’ bangsa ini sebagian ada di pundak bapak ketika bapakmu ini diberi tanggung jawab mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Pkn) di sekolahan nduk. Pak Yon. walaupun statusnya masih ”kontrak” tapi sudah lima tahun pemilik rumah masih memperbolehkan keluarga kami memperpanjang kontrak itu hingga sekarang. cobek. Kudapati ibu sedang berkutat dengan pisau. Segera kubasuh muka dengan air wudhu.. tukas bapak untuk mencukupkan pembicaraan singkat itu. “Nduk. aku berusaha membangunkan tubuh ini. melobikan keponakan biar diterima kerja kepada bos. kamu harus bisa menemukan pegangan hidupmu agar tidak terseret dalam gelombang ke-normalan dari peng-aminan kesalahan. Damai dengan polisi kalau di-tilang. kamu lihat itu. Selesai sembahyang aku keluar kamar. “Gimana sekolahmu nduk?” ”Lancar pak. salam-tempel. kalau kita bicara mengenai terminologi yang haq dan yang bathil.korupsi telah membudaya di negri ini. aku siap berangkat. untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn). gundah. Kemudian sontak bertanya padaku. “Nduk. Sementara di luar Bapak sudah sibuk memanasi motor Pitung-nya di teras depan. Yang menunjukan bahwa tidak ada orang yang risau. Biasanya di ruang tamu sambil nonton berita di televisi. Budaya Korupsi. Bapak selalu mengajarkan kepadaku untuk membiasakan disiplin dalam hidup. kulihat bapak sedang mengkutak-katik motor kesayangannya itu. Pagi itu saat kuantarkan kopi teras depan. Bapak takut kalau yang bapak ajarkan kepada murid bapak hanyalah sebuah usaha meng-garami samudra atau melukis di atas air”. Mungkin asumsi bapakmu ini akan dibantah oleh para budayawan. ibu sibuk menyiapkan dagangannya di teras depan yang disulap menjadi warung makan ’jadi-jadian’. Segera kubuatkan segelas kopi panas untuk bapakku. sehingga kami biasa makan disembarang tempat. cepat-cepat kutuntaskan kewajiban sembahyang subuh ini. mengolah berbagai macam sayuran sembari duduk di lantai dapur yang dingin. entah untuk menghindari analisis kenegaraan bapak atau memang malas sarapan. buatkan bapakmu kopi sana…!” perintah ibu kepadaku. Bapak yakin hati nurani tiap orang pasti akan tergetar bila melakukan hal-hal yang salah. serangan-fajar.

!!!” rengekanku kepada ibu. Itu adalah tumbal dari sistem pendidikan di negri ini.. Saat mengerjakan ujian sekolah dan besok ketika ujian masuk perguruan tinggi” ”Tapi itu sama saja bohong bu. itu gambar benjolannya masih kecil kok. kalau ibu punya tumor-payudara. aku libur..!!!’ tegur bapak. Beliau baru belanja sayuran untuk dagangannya besok di warung depan. Untuk hari ini aku pilih untuk berangkat menunaikan perjuangan menentukan masa depan. Yaitu adalah ketika tidak sengaja kutemukan cetak roentgen di atas lemari ibu. Dan aku yang mendengarnya hanya bisa tersipu malu..” ”Kapan ujian masuknya?” ”Besok minggu pak.. ayo berangkat. Ujian dimulai.. ”Wah cantiknya anak ibu ini. Ternyata Aku diterima. Ya. Ibu datang. sudah kepikiran mau masuk fakultas apa?” Selamatlah aku dari kebekuan gerak dan kebingungan jawaban ”Sudah pak. Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Segera kususul dengan cetak potret-roentgen di tangan. Di dalam amplopnya tertulis diagnosa tumor-payudara stadium awal. kamu harus mulai dari sekarang itu belajar dengan pakde Mantri.. ”Uang dari mana. bapak antar Aida ya besok!”pintaku .. Jatuh satu demi satu. tidak ada persiapan khusus menjelang besok Minggu yang merupakan hari penentuan nasibku. bukan karena teror ujian. Banyak rekan-rekan sesama guru di sekolahan bapak mengucapkan selamat atas berhasil diterimanya aku di fakultas kedokteran salah satu universitas di Jogja. dengan raut muka campur aduk. entah aku sedang menangis atau apa. Tiba-tiba bapak merubah pembicaraan. toh ibu juga masih bisa beraktifitas normal.. Segera kucium-tangan ibu sebelum berangkat. Hari Minggu tiba... Memohon doa restu... Mungkin inilah kenikmatan menjadi orangtua. Lima juta harus cair dalam sehari.semuanya sudah selesai. Sudah kutuntaskan tugasku. Bapak menceritakan pengalamannya itu kepada ibu sepulang kerja dengan mata berbinar-binar. aku harus memilih.Aku agak risih mendengar nasihat itu. yang jelas perasaan dihati ini serasa campur aduk. Aku degdegan. ”Aida. Sekarang Aida tinggal tunggu pengumumannya dua minggu lagi” Dua minggu kemudian. Informasi ini diumumkan di Koran. ”Sudah pak. Aku bingung dengan senyum ibu. Sambil tersenyum ibu mengatakan hal itu. Sesampainya di lokasi. Segera aku lari ke depan rumah. Mulut ini seakan sudah kehabisan kata-kata menghadapi senyum ibu. Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. tapi setidaknya kata-kata itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang.” pikirku. ibu ndak mau kamu khawatir. tapi karena ibu.. ayo lekas selesaikan makanmu Nduk. . ”Bu ini apa bu?” ”Itu cetak-Roentgen ibu nduk”.” ibu berusaha menenangkan aku. Ibu langsung masuk kedapur dan sok sibuk dengan sayuran yang dibelinya tadi. Sontak membuat aku kaget.. bapak yakin kalau Aida bisa. Kukerjakan soal demi soal dengan sungguh-sungguh. inilah yang membedakan antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Hari-hari telah berlalu. hitungannya seperti pohon jati yang sedang ’meranggaskan’ daunnya. ”Kenapa ibu tidak kasih tahu Aida. kegundahan hati mengenai kondisi ibu memenuhi jiwaku pagi ini. “Rencana kuliahmu besok. Kita langsung berangkat. kamu tenang saja nduk.. Bapak juga tahu dari koran dinding disekolahannya.?” tanya bapak kepadaku. baru juga stadiun awal belum masuk rounde berikutnya. ”Sudah-sudah kamu ndak usah khawatir nduk... Ragu-ragu menyerang tubuhku. mengakhiri kebanggaan dari orangtuaku.. Aku tunggui ibu. ketika mengetahui syarat biaya masuk yang harus dibayar. ”Sudah selesai Aida. Aku butuh klarifikasi dari ibu. Kulihat ternyata banyak juga sainganku. ibu bohong sama Aida. mereka datang dari Sabang sampai Merauke ke kota ini untuk masuk di universitas yang sama dengan tujuanku. Tapi hidup adalah pilihan. ”Buat apa nduk. Insya Allah kedokteran” ”Bagus itu. Aku diam.. Tertulis nominal disana: Rp5 juta.. Sekarang hari Sabtu. Kebanggaan itu tidak berlangsung lama..” sapa ibu. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir-berat... Hingga selesai.”.

bapak bisa mendapatkan motornya lagi. Bapak mulai kehabisan kata-kata untuk ngeles dari curhatan wanita itu.”Tapi bagaimana rencana kuliahmu. tidak diberi nilai oleh bapak karena dia ketahuan mencontek saat ujian. Beberapa saat kemudian di hadapan kami. kubawa beliau kekamarnya untuk istirahat. ”Pak Yon. Ya. Amplop tersebut kemudian bapak buka. Tapi untuk masalah Mas Bimo. Badannya panas. Bimo tidak mau mendengakan omongan yang keluar dari mulut saya sedikitpun.Sementara bapak dan ibuku sibuk berkutat mencari pinjaman uang.. Mungkin kedatangan orangtuanya kemari untuk melobikan masalah itu kepada bapak. apalagi setelah kami mendapat laporan dari bapak tentang kelakuannya di sekolahan. Aneh glagat bapak. “Pak Yon” sahut laki-laki disamping ibu Bimo.pak”. Sebisa mungkin kita harus bisa mengarahkannya. karena kami semua khawatir kondisinya. mohon bapak berkenan menerima amplop ini sebagai tanda terimakasih dari kami sebelumnya.. seketika itu pun bapak terkejut. saya tidak bisa menerima amplop ini. Bapak ternyata telah menjual motor kesayangannya itu. Aku malah disuruh di rumah. kami berdua ini sudah menyerah pak dengan anak ini. berdoa. amplop berwarna coklat muda dan tebal. Hanya laku dua juta. Sejak saya bercerai dengan bapaknya Bimo. ”Untuk masalah itu. aku membayangkan ibu bisa segera dioperasi. Aku bilang pada bapak ”Pak uang itu sebaiknya digunakan dahulu untuk mengobati ibu” pintaku kepada bapak. entah apa yang membuat aku punya pikiran itu. walaupun dengan berat hati juga saya mengambil keputusan itu. Suatu hari di Rumah Sakit kami kedatangan kunjungan dari orangtua dari salah satu murid di sekolah bapak.!!!” aku yakinkan bapak dan hatiku. Pikiranku melayang. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku. Ketika ujian kemarin si Bimo. Laki-laki itu melirik istrinya sebentar kemudian berkata ”kami sangat mengharap kebijaksanaan bapak terhadap anak kami Bimo. Allah tidak akan meninggalkan hambanya... Di dalamnya ternyata berisi satu bendel uang senilai enam jutaan.. Kemudian Ibu segera kami antar ke Rumah Sakit. Aku sangat berharap bapak menerima uang itu. Apalagi setelah saya menikah dengan suami saya ini. toh waktu pembayaran uang registrasi kuliahnya juga masih sampai minggu depan kok. “Bapak tenang saja. nduk?” tanyanya. tapi anak ini tidak mau mendengar nasihat kami. Dalam hati aku berberkata ”pak terima saja uang itu”.. Aida pasti akan kuliah pak. Kudapati ibu tiba-tiba sakit sepulang muter-muter cari pinjaman dengan bapak. di rumah itu hampir setiap hari kalau saya berhadapan dengan anak itu rebut terus kerjaannya. setelah saya mendengar penjelasan dari ibu dan bapak tentang Mas Bimo.”Jadi kedatangan kami di sini ini. tangannya menggigil. Kami merasa malu pak dengan kelakuannya pak.apa yang bisa dilakukan seorang anak perawan lulusan SMA yang tidak memiliki ketrampilan apa-apa selain berdoa.” tutur ibu anak itu. ”Ya.” tutur bapak kepada orangtua Bimo. Aku tak tahu bapak mau ke mana. Kekhawatiran yang sudah bisa kulupakan itu tiba-tiba hadir kembali.pasti ada jalan. dia tidak pernah memperhatikan pelajaran dan suka membolos.begitulah bu anak-anak. Apa ini pak?”sahut bapak. orangtuanya. ”Begini pak. agar tidak terjerumus.” Raut muka bapak mulai kebingungan. Laki-laki segera menyerahkan amplop tersebut ketangan bapak.. Langsung kusambut ibu dengan pelukan erat. “Betul Pak Yon. nakal bukan kepalang. sebelum pergi Si pitung motor kesayangannya ’di-lap’ hingga kinclong. anak kami. Tapi aku merasa ada yang ganjil hari ini.” Raut muka wanita itu kelihatan sedih. mungkin nanti akan saya coba cek kembali pak hasil ujiannya Mas Bimo. hasratku untuk masuk ke perguruan tinggi seketika itu punah. Saya jamin.. “Maaf. laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya. akan saya cek kembali hasil . Setiap kami nasehati itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri.. saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Bapak pernah cerita kepadaku bahwa ada satu muridnya bernama Bimo. .. aku bisa bayar registrasi untuk kuliah. mungkin dalam beberapa hari ini keluarga saya memang sedang mengalami kesulitan.. kami mohon kebijaksanaan dari Pak Yon dalam menindaklanjuti perbuatan yang telah dilakukan Bimo. bapak dan ibu tenang saja. Bapak pergi lagi.” jawab bapak. Akupun terkejut mengetahui hal tersebut. tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu. tapi ini semua demi kebaikan Mas Bimo anak bapak dan ibu. Tepat pukul dua belas siang. Hari menjelang sore.

setelah melalui pertimbangan panjang. Seluruh bayang-bayang indah yang ada di kepalaku seketika itu pupus. kamu tidak apa-apakan?” tanya bapak. Bapak adalah satu-satunya orang yang benar dan berusaha bertahan di tengah-tengah dominasi kenormalan yang ternyata salah. dan sampai hari kelima inipun kami belum memiliki cukup biaya untuk dapat mengoprasi ibu ataupun membayar registrasi kuliahku.. Silahkan orang berkata apa. Aida melepaskan kesempatan itu bukan berarti Aida menyerah. tapi seberat apapun hidup. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan. Ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan. Kuliah juga tidak menjamin Aida besok jadi apa. aku ingat perbincangan dengan bapak minggu lalu tentang gelombang kenormalan dari pengaminan kesalahan. Seketika itu juga. Sementara itu setelah mendengar jawaban dari bapak kedua pasangan suami-istri itu pun kemudian berpamitan. Tahun depan kan masih bisa Aida daftar kuliah lagi kalau ibu sudah sehat dan bapak sudah tidak ada tanggungan lagi. Apakah negri ini benar-benar sudah tak berhati ?. Fisipol UGM Cerpen Sesal yang Terbaik . Bapak kemudian menatapku.. Dana yang kita punya untuk mengobati ibu dulu saja. Aida belajar dari bapak. jangan menyerah kamu !!!” tegasnya. ”Tenang saja pak. Jangan sekali-sekali kita mengorbankan keyakinan tentang suatu hal yang kita anggap benar” sambung bapak. Aku sadar sekarang.”Mengapa kau berkata seperti itu nduk. kulihat raut muka puas menghiasi wajah mereka.” tuturku kepada bapak. Yang penting kan bukan kuliahnya tapi ilmunya. ”Nduk. jadi saya harap bapak dan ibu tidak usah khawatir dengan hal tersebut. Aida bisa belajar dulu dari Pakde Mantri sekaligus bantu-bantu beliau. yang jelas aku bangga dengan Bapakku. Apakah dinegri ini ’kenormalan’ yang telah mendominasi tindakan manusianya.. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah itu. Ya.” akupun berusaha tersenyum untuk meyakinkan bapak terhadap keputusanku ini. Kan hakekat ilmu itu universal. Bapak kaget mendengar perkataanku barusan. Kujawab ”Tidak apa-apa pak”. Oleh Bagus Pradana Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan. ”Ada sesuatu yang kadang memang berat untuk diterima dalam hidup ini. ”Bapak Aida sudah memutuskan untuk mengiklaskan kesempatan kuliah Aida. Apakah di negri ini garis pembeda yang haq dan yang bathil telah kabur sehingga orang tidak dapat mengetahui lagi benar atau salah dari perbuatannya. Aku kecewa dengan jawaban bapak itu. Sudah lima hari ibu berada dirumah sakit.” tutur bapak. telah aku pilih satu hal. toh ilmu kan tidak hanya didapatkan dari bangku kuliah pak. Apakah di negri ini orang-orang yang berusaha benar akan selalu tersubordinasikan oleh iklim ’normal’.apa yang bisa kita perbuat di ’negri tak berhati’ ini selain tersenyum ’menertawai atau ditertawai’ kehidupan..ujiannya Mas Bimo. dan pertimbangan nurani sudah dilupakan. Jadi tenang saja pak aman terkendali.

Aku hanya bisa menghela napas. tanyaku serius kepada kakek. Betapa kagetnya aku saat itu. Entahlah. jawab kakek. tanyaku lagi. “Kakek sudah pulang?. besok mau makan apa? Ah. mataku melotot melihat kaki kakek bercucuran darah. akhirnya kulihat juga kakek kurus pembawa ubi kayu. jadi malas memikirkannya lagi. Kulihat kakek berjalan dengan terhuyung-huyung tanpa alas kaki. Kutuntun kakek untuk masuk ke dalam rumah dan aku tahu kakek pasti kesakitan. Menatap keluar lewat kaca yang buram melihat jalan setapak berkerikil itu lagi. “Hemm”. “Selalu saja begitu. Kalaupun ada hari di mana ia tak lewat jalan setapak itu pasti karena ubi kayunya masih ada sisa. Kakek pasti takut jika ia harus mengeluarkan rupiah dari dalam saku celanannya yang lusuh itu hanya untuk membayar biaya pengobatan. Kakek kan tahu kalau batuk kakek belum sembuh betul. sudah kehilangan banyak darah. Ini hanya sedikit saja. Lihatlah kakek sudah segar kembali. Kakek terluka! Segera kupaksa berlari tubuh ini menuju pintu keluar. sedang berbicara apa kamu Cu? Sudah dibilang tidak apa-apa. Sambil kebingungan mencari cara agar darah kakek tak terus mengalir keluar. Membasahinya dengan air sumur dan mulai mengelap darah kakek di kakinya. Dari kejauhan aku melihat kakek tak berdaya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. hari ini aku terus memperhatikan jalan setapak sepi itu. Raut muka kakek berubah saat itu menjadi sangat pucat. “Ah. .” balas kakek dengan entengnya. “Tak usah. besok kamu mau makan apa Cu?” Aku hanya diam. Hampir setiap hari laki-laki lanjut usia itu melewati jalan setapak yang ada di depan rumah. “Kalau warnanya jadi biru malah bagus kan. Selalu begini. jalan setapak yang lebarnya mungkin hanya setengah meter itu terlihat sangat jelas. Semakin dekat menuju rumah. kaki Kakek juga sudah mulai membiru tahu!. tapi mungkin bukan karena kakek takut akan jarum suntik seorang mantri.” gerutuku dalam hati. tidak juga Cu. Terlihat lemas. kakek tak pernah mau menuruti permintaanku.” sambutku penuh senyum. nanti juga sembuh. kusobek saja sedikit ujung bawah bajuku. 29 Oktober 2012 18:21 wib BOLA mataku tak henti-hentinya menatap setiap orang yang sedang berlalu lewat muka rumah kecil ini. bertelanjang dada. memang benar apa yang dikatakan kakek. “Segar apanya.” balas kakek dengan senyum di bibirnya.” Sahut kakek dengan enteng.Senin. Melalui jendela kamarku. “Bawa ke pak mantri ya Kek?” rajukku dengan isak karena takut. Aku paham sekali. Kakek tak pernah mau menyetujui usulku. Setiap aku memintanya untuk menyembuhkan sakitnya melalui tenaga medis. “Kalau kakek tidak pergi mengambil ubi hari ini. Kulihat ibu jari kakinya hampir terpotong. berjalan tertatih tak seperti biasanya. Jika tidak ambil ubi di sawah hari ini. “Sekarang kakek pasti tahu. “Kakek! Kakek! Apa yang terjadi?” tanyaku dengan gugup. Aku 16 tahun yang hanya bisa mematuhi setiap ujaran yang keluar dari mulut kakek. Jadi seperti ini kan Kek? Apa Kakek tidak ngeri melihat ibu jari kaki Kakek hampir putus?”.” Balasku sedikit kesal. pasti kakek terluka oleh cangkul tajamnya saat akan mengambil ubi kayu. Yah. apa sebabnya jika sedang sakit tetapi tetap memaksa untuk bekerja. Aku menundukan kepala terfokus pada luka di kaki kakek yang menganga dan bingung harus berbuat apa. dan hanya celana pendek hitam yang terlihat menutupi tubuh keriputnya. pasti berat sekali ya Kek?”. Hari berikutnya aku duduk diam termangu di atas ranjang tidurku. Segera kuambil alih ubi yang baru saja diturunkan dari pundak kakek.” jawabku sewot. Kubawa ke dapur untuk segera dibersihkan dan dimasukan ke dalam karung untuk dibawa ke pasar esok hari. Sama seperti kemarin. pulang dari arah persawahan. Kakek tidak perlu repot-repot bikin tato warna biru. seperti dua hari lalu. Menunggu kakek pulang dari sawah. “Tak apa Cu. kakek menolak mentah-mentah. “Aduh. Wujud kakek terlihat semakin mendekat. “Hahaha. “Huh. darah merah masih terus mengucur deras seperti tidak mau berhenti. setiap kali bertanya pasti hanya dibalas dengan deheman Kakek.” masih saja setenang ucapan sebelumnya. Kakek selalu saja begitu! Harusnya hari ini tidak usah pergi ke sawah.

kataku dengan takut.” Balas kakek dengan heran.” sahut kakek pelan. Tak bisa lagi menyepadankan diri dengan anak-anak yang lain. bagaimana ini darahnya tak mau berhenti?”. Aku kembali terisak tetapi kebencianku kepada keadaan yang kualami sekarang sedikit pudar. lalu mengalihkan pandangannya menatap langit-langit rumah yang kotor penuh dengan rumah serangga. “Sudah Kakek! Jangan bercanda terus dong!”. mataku yang sudah mulai kering menjadi basah kembali. Huh. Sama seperti keadaan dua tahun silam. “Tunggulah sebentar. Kakek juga ingin bertemu sudah setahun kita tak pernah datang untuknya”. dan semua perusahaan yang dimilikinya telah berpindah tangan untuk menutup utang. Kebencianku muncul kembali. kita tidak punya apa-apa lagi. bagiku dia bukan “ayah” tapi “setan”. Kulihat kakek hanya diam mendengar perkataanku. Hanya bisa tersenyum kecut. Kaki luka parah seperti ini masih saja menganggap enteng. Kasihan sekali kakek. balas kakek. Hanya duduk di rumah reot peninggalan orangtua kakek di desa kecil ini. apa Kakek tidak rindu dengan kehidupan kita yang dulu?”.Khekekekekek. Apa-apaan. Mempunyai segalanya tanpa kurang satupun. luka kakek sungguh mengerikan. Itu pun bukan menanam ubi di sawah miliknya sendiri tetapi di tanah pinggiran parit sawah. Ayahmu kan sudah menerima imbalannya. Dia yang membuat Kakek tua tak berdaya mengais-ngais tanah kering untuk menemukan bongkahan ubi kayu demi sebutir beras. Sebuah sosok yang disebut dengan “Ayah”. Bagaimana aku tidak menangis melihat kakek sakit seperti itu. apa yang sedang kamu lamunkan? Rindu pada Ayah? Besok kita kunjungi dia. Bagaimana tidak aku tak menyebutnya seperti itu. nanti juga berhenti. tanyaku tertunduk. “Kek. Senada . “Kek. Untuk menutupi hal yang disebut “hukuman denda”.”. “Kenapa Cu? Kok pertanyaanmu aneh. Berharap kakek pulang dengan membawa ubi kayu yang banyak dan kemudian dijual ke pasar. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuhan waktu itu mengijinkan ayah menjadi orang besar bak raja. jawabku pelan. “Apa yang kamu benci. jadi marah sendiri melihat ulah Kakek seperti itu. Aku diam. Ayah yang kemudian menjadi haus akan materi dan melupakan semua aturan yang telah ada telah memanipulasi data demi uang. Siluet seorang nista muncul di hadapanku. Semua orang juga pasti tahu jika sebenarnya lahan pinggir parit tak boleh ditanami dan tak boleh dimiliki oleh perorangan. “Iya Kek. Kakek sepertinya tahu persis kalau aku benar-benar khawatir. Meski sedikit menyesal karena tidak bisa hidup mewah lagi tapi aku tak ingin jadi kaya karena uang haram Ayah. Ah. teringat saat aku dan kakek hidup berkecukupan dengan semua yang serba ada. “Aku sedih. rumah mewahnya hilang. Akan tetapi. Aku juga merasakan hal yang sama. kenapa kamu Cu? Kok malah nangis?” tanya kakek kemudian.” Timpal kakek. Apa kamu menyesal sekarang hidup miskin dengan Kakek? Apa kamu menyesal tidak bisa lagi hidup dengan mewah seperti dulu?”.” Aku mulai menangis lagi. “Hemm. Namun. kakek ini tidak mengerti atau pura-pura tidak merasa sakit. Saat itu kenangan masa laluku muncul. Merelakan hari-hari dari hidupnya yang tersisa dengan bergantung pada ubi kayu. darah kakek yang merah menetes tak kunjung berhenti. Kakek hanya seorang penanam ubi kayu. Bodohnya aku yang waktu itu tak mengerti sama sekali akan keadaan kotor yang dilakukan ayah dalam pekerjaannya. Dalam hati aku berdoa pada Tuhan memohon pertolongan. Bagaimana bisa aku kembali bersekolah. balasku mulai marah. karena keadaan semuanya juga pasti paham dan membiarkan begitu saja jika kakek menancapkan bibit ubi kayu di sana. “Lhoh. Aku tidak mengerti sama sekali kenapa dulu ayah diperbolehkan merasakan manisnya dunia melalui istana megah yang disebut negara ini. Diam menunggu kakek pulang dari sawah. Aku memang ingin sekali bisa seperti dulu lagi. “Hei Cu. Dia yang telah mengacaukan jalan hidup yang sudah mulus. kini hidup kakek terlunta-lunta. Demi menyelamatkan anak laki-lakinya. Untuk kembali ke status pelajar pun tak bisa. sedangkan untuk makan saja kurang. seru kakek dengan semangat. tabungannya habis. Sudah ku lap berkali-kali kaki kakek. Aku tak ingin menemui Ayah! Aku benci dia Kek!”. Kaget sekali tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban kakek yang selalu menganggap ringan masalah sakitnya. Mau mengobati luka kakek saja tidak bisa. Rasa benci yang mungkin bisa membius nyawa mahluk hingga mati. yaitu ayahku sendiri. timpalku keras. Kita tidak punya uang.

Sebagai hasil menebus kesalahannya menjadi pemimpin yang serakah. Ditempatkan di kamar petak jeruji besi. Demam. Sudah dua hari ini anakku sakit. Ah. Tapi toh dia pergi untuk bekerja. dan Bali pernah dirambahnya. Aku benar-benar bingung ketika anakku sakit. Aku memang sebatang kara di Kota Pantai ini. “Jeng tak usah khawatir. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan napsu akan materi seperti ayah. Aku ingat bahwa ayah sudah dikurung. Oleh: Welly Desi Prihantari Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta Cerpen Perempuan Pembayar Utang Kamis. Tubuhnya panas dingin. Kalau sudah punya uang dia akan kirim. Aku sangat sedih.dengan langit senja yang kala itu sudah berubah jadi hitam pekat. “Bagaimana kalau anakmu dibawa ke dokter Mbak?” “Tapi saya tak memiliki uang. suamiku. Jakarta. 25 Oktober 2012 11:52 wib KESEDIHAN paling dalam seorang ibu adalah ketika anaknya sakit. Prita anak sulungku hanya kukompres dengan air dingin dan kuminumkan obat turun panas. Bu. Bandung. Sebagai tukang kayu. Mas Seno bisa menghiburku agar tabah. Sama seperti Mas Seno. Bikin almari. Mas Seno anak belum kirim uang sejak sebulan lalu pergi ke Jakarta. Surabaya. aku teringat Mas Seno. karena sejak usia 12 tahun dia sudah nukang. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Mas Seno bisa membawa Prita ke rumah sakit. Aku takut jika serupa dengan nasib ayah. Inilah yang kurasakan. Tapi kenyataan sekarang ini… Aku tak memiliki siapa-siapa. Setelah diperiksa dokter dan diadakan tes laborat…anakku dinyatakan terkena DBD? Aku sangat terkejut. entah sakit apa. Suamiku biasa bikin. kursi. . bahwa takkan pernah mau menjadi pemimpin negeri. Kesedihan yang berbeda ketika sebulan yang lalu suamiku pergi nukang ke Jakarta. Kaki kakek sudah bersih. Aku punya sebuah janji. Saat itu aku hanya sedih karena berpisah. Seandainya ada ada aku tentu takkan sebingung ini. Meski lelehan darah merah masih mengucur dari luka sayatan cangkul tajam itu. Tak heran. suamiku sudah biasa merantau. meja. Perkakas apa saja. “Jeng tak punya uang tabungan?” Aku menggeleng. Kalimantan. Kita bawa saja anak Mbak ke rumah sakit pakai uang arisan…” Dengan diantar Yu Ratmi aku membawa anakku ke rumah sakit. Untung aku memiliki tetangga-tetangga yang baik hati.

“Mira…” Aku mengangkat wajah. Siapa di kota ini yang tak mengenal sosoknya. Tapi saya sedang dalam kesulitan.” ********************* Sungguh aku telah mencari pinjaman ke sana ke mari. Suaranya masih selembut dulu. Tak usah menunggu lama. PT Kartika Furniture.?” “Maafkan apa bisa bicara dengan Bapak Kar….. Ada apa?” “Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Mas Kar telah menolong saya. “Oya Mir. Anakku yang telah sembuh Setelah seminggu lebih dirawat di RS.“Untung ibu belum terlambat membawa anak ibu. Agar anakku bisa pulang.saya keluarganya. aka akan menyingkirkan perasaan gengsi itu. Di batas keputusasaanku…sebuah nama melintas di benak. menghubunginya.” “Anda harus membuat janji dulu. Tapi sungguh aku tak bisa makan dalam suasana galau begini. Saya merasa bersalah dulu pernah menyakiti Mas. Aku harus mencari uang untuk menebus anaaku.” Sungguh aku jengah dipuji lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihku ini. Anak ibu harus dirawat di RS.?” “Maaf Mas Kar…kalau mengganggu. Mas. “Maafkan saya Mira kalau kata-kata saya kurang berkenan…” Aku menggeleng. Sekarang kamu ada di mana? Apakah kita bisa bicara empat mata. Mas Seno sedang kerja di Jakarta. Aku akan membantumu. Aku si miskin yang menjalin cinta denagn pangeran pemilik beberapa perusahaan.” “Oya…siapa nama Mbak?” “Miranti…” “Mbak Miranti tunggu sebentar saya akan menghubungi ….. Tapi demi kesembuhan anakku. Tapi hasilnya nihil. Tapi karena aku sadar diri. Aku pernah berbuat dosa padanya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. aku malu bertemu dengannya.kamu tadi bilang ingin mengatakan sesuatu. Aku harus segera melunasi biaya perawatan anakku selama opname. “Hallo..saya kesulitan uang Mas …untuk menebus anak saya dari rumah sakit. semenatra kubiarkan anakku yang baru sembuh dijaga Yu Rasminah di rumah? Oh.” “Tak usah khawatir Mir.... Tapi dana yang dikumpulkan masih kurang. Usia baru genap berkepala tiga. Lembut penuh perhatian.. “Kamu masih secantik dulu. Dirawat di rumah sakit. Aku teringat mas lalu dulu:ketika aku dan dia menjalin cinta. Seramping dulu ketika kamu belum menikah. Kabarmu baik kan?” “Ya Mas. Mir?” Aku tak keberatan dan mengiyakan keinginannya lelaki masa lalu itu… ***************** Sebuah restoran di hotel yang mewah. “Benarkah.” “Anak saya sakit. Di sebuah Wartel aku tekan nomer telepon. Mas Kar rupanya tahu diri. Makan malam bersama Mas Kar. mengumpulkan uang..” “Bisa kau jelaskan kesulitan apa Mir. terdengar suara lelaki itu.. Mengapa orang sebaik dia harus kulukai hatinya? Apakkah karena perbuatanku dulu benar dia tak membenciku? Tapi sungguh aku menolak dia bukan karena aku tak mencintainya. Apa yang bisa kami bantu.” “Bicaralah Mira…tak perlu sungkan-sungkan.” “Tapi Mas saya tak ingin berutang budi pada Mas.. Mas Kar….ini kamu Mira. Saya…. Dia masih seperti yang dulu. Tetanggaku sudah membantu. Tapi telah sukses sebagai pengusaha furniture. Sebenarnya aku enggan menghubunginya. Siapa aku dibanding dia! Aku dan dia bagai bumi langit? Apalagi orangtuanya tak merestui hubungan kami. Kalau Mas Seno telah mengirim uang nanti uangya saya ganti” “Saya membantumu ikhlas Mir. “ . Selamat pagi…” “Hallo Selamat pagi. Aku enak-enakkan makan di restoran. Aku memilih mundur! Aku memilih menikah dengan Mas Seno yang bibit-bebet dan bobot sepadan denganku! “Mengapa melamun Mir? Makanannya dimakan dong…?’ Aku menuruti permintaannya.” “Saya. Silahkan ibu mengurus uang administrasinya.

11 Januari 2012 Oleh Kartika Catur Pelita Menulis prosa. Karya penulis pernah dimuat di Sabili. Aku membuka mataku perlahan. Mir. Oh…. Mas?” “Suamimu tak akan tahu.” “Katanya kau melakukan apa saja untuk menyenangkanku. Alangkah beruntungnya wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Berulang-ulang kau membaca memo itu.” “Tapi bukan yang satu itu.. Aku…aku masih mencintaimu.” “Sungguh?” “Katakan saja Mas…apa yang bisa saya lakukan untuk Mas?” “Aku ingin kau menemaniku tidur malam ini!” “Apa?!” Petir menyambar di siang bolong! “Aku ingini kau membayar utang itu dengan dirimu!” “Jangan Mas. Tubuhku. Kamu wanita dambaan lelaki. Saya berutang pada Mas. Mira dengan senang hati menolong Mas. Mungkin karena aku terasa capek. 2011). atau jangan-jangan ada sesuatu diminumanku. 15 cerpen Inspirasi Annida Online ”Membunh Impian (Annida online. Aku yang masih menyayangimu Mira. Tapi aku semakin sadar cinta kadang memang bukan berarti memiliki. Antologi cerpen: ‘Tatapan Mata Boneka (TBJT. Apakah sesuatu hal buruk terjadi pada diriku? Mungkinkah Mas Kar tega berbuat nista padaku? Aku tak percaya kalau dia tega meminta sesuatu sebagai pembayar utang… Aku beringsut dari ranjang. Kartini dan Annida online. Tapi yakinlah kalau punya uang saya membayarnya. Mas. Aku sudah istri orang. Saya…saya tak mungkin mengkhianati pernikahan saya. antologi puisi: “Sepotong Rusuk Untukmu (Samudra. Bajuku. Samar aku teringat apa yang terjadi padaku. Utuh. seutuh ketika kamu dulu memutuskan siapa lelaki yang menjadi pendamping hidupmu. Sayang wanita itu bukan aku! Kota Ukir. Aku selalu mencintaimu karena aku kagum pada pribadimu. Setelah pertemuan ini kuharap kamu tak membenciku. Namun mataku terpacak pada sebuah memo yang diletakkan di meja rias. “Kalau Mira bis menolong. Semoga dia mendapat wanita yang melebihi segalanya dariku. fiksi dan puisi. Ternyata Mas Kar masih seperti yang dulu. Tergeragap aku memeriksa seluruh tubuhku. Kamu adalah istri setia. 2011). Tapi bolehkan kalau aku ingin balasan utangmu bukan uang. Dalamanku. Di sebuah ranjang empuk aku tergeletak.” “Apa maksud. Maafkan kalau permintaan gilaku tadi membuatmu pingsan. Mira…” “Saya…” Aku memegang kepalaku yang kurasakan terasa berat.“Saya sudah melupakannya. Mira!” “Cerita kita hanyalah masa lalu. Lembut dan penuh perhatian. Yunior. Rangkain tulisan rapi itu kukenali.” “Saya menyayangimu. Aku juga seorang ibu. Tulisan latin Mas Kar. Aku harus segera ke luar dari tempat ini. Suara Merdeka.Tuhan tolonglah hamba-Mu ini… *************** Sebuah kamar hotel. 2011) . Mir.” “Kalau begitu Mas setuju kalau bantuan Mas kemarin saya anggap utang. Suara Pembaruan.” “Baik kalau itu keinginanmu. Mas?” “Saya ingin kamu menolongku. Pusing itu masih terasa.Alangkah beruntungnya suamimu Terima kasih Mira karena kau mau menemaniku makan malam setelah hampir lima tahun kita tak berkomunikasi.”. Percayalah kamu masih utuh.

Pasti salah satunya adalah lelaki yang ditakdirkan untukmu. Wajah sahabatku tersayang muncul. seperti kijang. Aku semakin tidak tega melihatnya. menuruni pipinya yang berjerawat. Kenapa semua memperlakukanku seperti ini? Kenapa?” Butiran air di sudut mata Emily luruh. Rupanya. Pelan-pelan. Barangkali itu bisa menghiburnya. karena tidak bisa melihat wajahnya. Hanya saja. cinta sedang menunggunya di suatu tempat. menyembul butiran air. aku tidak tega melihatnya. Setengah jam kemudian. “Aku tahu. Aku ingin menciumnya. Emily. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. “Din. Badanku rasanya gerah. Sesekali. sekedar memberikan hawa sejuk. Wajahnya tetap murung. Wajahnya kelihatan berseri-seri. ya? Aku jadi penasaran. hati. Hap-hap-hap. Bruakkk!!! Pintu kamar terkuak. Diam-diam aku berharap Emily bisa lebih sabar. Emily diam. tapi tidak ada keringat yang keluar. “Diniiiiiiiiiiiiii!” teriaknya. Teruslah memintal harapan. dan raganya sejenak dari rongrongan kesedihan. Jadi. Tapi kenapa sih. Sungguh. Sahabatku yang malang. Di sudut matanya yang redup. dia bisa mengistirahatkan pikiran. Aku jadi sedikit lega. setengah histeris. Aku tetap tersenyum sambil menunggu apa yang bakal dia . apakah suatu hari. Aku jadi kecewa. dia tertidur. bisa mengurangi-kalau tidak menghilangkan kesedihan hatinya. 22 Oktober 2012 19:42 wib SEPERTI biasa. lalu mengajaknya bicara. orang lebih mementingkan penampilan daripada isi otak dan hati? Apa pikiran dan mata-hati mereka sudah tumpul?” Emily terdiam. Aku melihat ke luar jendela. batinku. sementara gerak kakinya ringan. Ada banyak lelaki di dunia ini. Sementara tak sehembus pun angin yang sudi singgah. dia membaringkan tubuhnya di ranjang. aku mendengar dentuman kaki Emily yang berlari menaiki anak tangga. Sayang. *** Matahari bersinar sangat keterlaluan. jadi memunggungiku. Kali ini. Ada apa dengan Emily. aku akan bisa mendapat kekasih yang mau menerimaku apa adanya?” Tentu. Dia membalik tubuhnya. dia terbatuk-batuk. Melihat keadaannya. Aku khawatir. Setidaknya. aku tengah memandangi wajah Emily yang murung. mungkin orang yang Emily cari belum menyadari keberadaannya. Emily berlari-lari di bawah curahan terik matahari. wajahku tidak cantik. Gadis sebaik kamu mana mungkin tidak mendapat kekasih? Aku percaya. Emily. Dia mengusap pipinya yang basah. sahabat terkasihku itu menarik napas berat. kenapa sih masalah yang aku alami selalu sama? Tidak ada yang berubah sama sekali. orang yang baik tentu ditakdirkan berjodoh dengan orang yang baik pula. Aku ingin berlari memeluknya. janganjangan dia menangis lagi. zaman sekarang ini. begitu pula sebaliknya. dia bertanya. Dengan lirih. Tampak olehku. Hidungnya tampak memerah.Perjalanan Dini Senin. Aku percaya. aku mendengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Emily. Aku bersiap menyambut dengan senyum semanis mungkin. kamu tidak usah khawatir. di suatu waktu. hatiku seperti diremas-remas. Tidak lama kemudian. “Din. Udara serasa mendidih.

Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Tapi perasaan hambar itu hanya datang dari pihaknya. Roknya yang mengembang. bukan karena cinta. Natasya. Begitu banyak sahabat baru yang dimiliki Emily. Matanya lebar. Apalagi sejak dia memiliki banyak sahabat berbagi-cerita yang baru. Dia tidak pernah lagi mendekapku. Ada apa. Sayangnya. Teman-teman selalu mengejekku soal ini.perbuat. “Akhirnya penantianku selama ini berakhir! Aku sudah menemukan kekasih hatiku!” Pipi Emily memerah. sehingga akhirnya dia putuskan: mencoret namaku dari daftar sahabatnya! Sungguh aku sangat menyesal dan sedih. Setelah kucermati. Aku menganggap dia hanya sebatas teman biasa. “Apa aku salah. Tidak ketinggalan. sejak pertama kali MOS. dan entah siapa lagi aku tidak hapal. Emily justru memutar tubuhnya. dia sudah tertarik. Din?” Menurutku. *** Hari ini adalah hari paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupanku. “Aku yakin dia yang terbaik buatku. Aku terlalu menyayanginya.” lanjutnya. “Aku tahu. kulitnya putih susu. Cecil. dia nembak aku. semakin lama. Apa kamu nggak gegabah? Aku khawatir. Emily tidak mempedulikanku lagi. Sayang. bahwa dia hanya dijadikan alat olehmu. dia justru pergi tanpa menggubrisku lagi. itu akan sangat menyakiti dia dan pada akhirnya menyakitimu juga. Dalam pandanganku. Bola matanya berputar-putar. dan seterusnya. Dia menutupi kedua belah pipinya. Pulang sekolah dia selalu pergi. mirip orang Eropa. hanya sekedar pelarian dari cercaan teman-temanmu. Emily sekarang jadi genit sekali. Yang membuatku heran. aku bingung harus bagaimana lagi.” panggilnya lagi. Aku mendadak deg-degan. dan rambutnya cokelat panjang sebahu. baik soal make up maupun pakaian. dia langsung memeluk dan menciumiku. wajahnya juga berubah lebih menarik. Tapi dugaanku mengatakan. bahkan sekedar melirikku saja dia tidak sempat. perkiraanku keliru. Belinda. “Hari ini. Wajah dia jadi licin seperti pantat bayi. Dalam bayanganku. Aku sudah nggak tahan hidup dikungkung kesendirian. sejak pertama melihatku. Jerawat dan komedonya sudah hilang. Aku telah mengenal dia sejak hidungnya masih ingusan dan rambutnya dikucir dua. hubunganku dengan Emily semakin terasa hambar. Begitu lama kehidupanku dengan dia. mengajakku ngobrol.” Ooo… jadi itu sebabnya kamu pengen cepet-cepet punya cowok. karena menemukan sepasang bintang berkejora di sana.” Emily berhenti sejenak. dia seperti hampir lupa bernapas.” Emily tersipu-sipu. aku tidak bisa membenci Emily. menengok teman yang sakit-lah. Tiba-tiba matanya membesar. sehingga rasa persaudaraan dan rasa memiliki sudah teramat menyatu. Bosen rasanya selalu jadi bahan ledekan teman-teman. Astaga! Kulihat senyum Emily lebar sekali! “Kamu tahu. Kalau Roni tahu yang sebenarnya. Aku tersenyum geli dibuatknya. Waaaaah. Roni namanya. turut berputar. aku langsung menerimanya. Kalaupun bisa. Tapi kemudian. Kulihat dia menarik napas dalam-dalam. dia pergi hanya untuk pacaran dengan Roni. “keputusanku ini terlalu mendadak. Sebuah codet yang memanjang di pipi kiriku—akibat terbentur sudut lemari yang lancip. . Mungkin dia sedang berpikir. mendarah-daging dalam keseluruhan diriku. apapun risikonya! Soalnya. meski dia mengabaikanku. Ada saja alasannya buat keluar: kerja kelompok-lah. Ada Sisca. “Din. Wajah-wajah mereka cantik. *** Hari-hari yang berganti menjadi saksi betapa hubungan Emily dengan Roni terus berlanjut. Dan pada saat yang sama. Kamu mau menerima Roni. “Tanpa pikir panjang. Sayang? Emily menghempaskan pantatnya ke tepi ranjangnya yang empuk. Tapi ternyata. kamu hanya akan disakiti olehnya. Kedua tangannya diangkat ke samping. Kalau dipikir-pikir. aku pasti menangis tersedu-sedu. sejak saat itu Emily jadi semakin jarang di rumah. Emily terlihat seperti penari Whirling Dervish. yang dibawa dan dikenalkan oleh Roni. Aku terkejut. jalan yang kamu ambil itu kurang baik. ke toko buku-lah. Kulitku kusam dan hidungku pesek.” Emily mendengus. aku jadi GR mendengarnya. semakin memperburuk penampilan luarku. Coba kamu pikirkan lagi. Jelas aku kalah menarik dari mereka. hari ini aku bahagiaaaaaaa sekali! Pokoknya beda dengan hari-hari kemarin!” cetusnya dengan bibir terus mengulas senyum. Begitu sibukkah dia sampai-sampai tega tidak mengindahkanku lagi? Sudah lupakah dia pada persahabatan kami yang 12 tahun lamanya? Sungguh. Karena begitu semangat bercerita. Emily diam. sebenarnya yang selalu membantu dan mendorongku agar tetap semangat adalah dia. Tapi aku putuskan: inilah jalan yang akan kutempuh. Katanya. Sayang. hidungnya mancung.

“Kamu mau aku ajak ke rumahku? Biar kamu jadi sahabat Sumi. riang. tiba-tiba seorang lelaki dekil dan bau sudah berdiri di depanku. Mudah-mudahan kamu menyukaiku. “Lho. Dari karung berisi barang-barang bekas yang dia gendong. Aku harus melupakan dia. Aku memang hanya sebuah boneka. aku mendengar suara derit pintu yang dibuka dan lelaki itu bersuara lantang. kalau lima bulan silam sambil menangis. Rasanya. kenapa Emily begitu cepat berubah? Apakah Roni yang mengubahnya? Atau janganjangan. Kulihat deretan giginya yang cokelat dan tidak rata. aku memastikan kalau lelaki dekil dan bau ini adalah seorang pemulung. Tangannya yang kasar mengelus kepalaku. aku merasa nyaman. dia sendirilah yang mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama sekali lain dari sebelumnya. sematamata agar tidak diejek teman-temannya? Kalau memang begitu. Aku diam. Oleh karena itu. sudah berkurang. lelaki itu bertanya. senyumnya manis. tanpa pelukan. Purwokerto. Dia segera menggendongku di punggungnya. ‘kan?” “Senang. dia mau menerima keadaanku apa adanya. sudahlah. “Waaaaa…. Selama perjalanan. Aku harap. Dan tibatiba. Sama dengan Emily yang pasti telah memulai kehidupan barunya tanpa aku. tentu karena penampilan mereka yang menarik! Karena mereka cantik! Hatiku seperti diremas. 20 April 2012 . persahabatan kami bisa langgeng. Bapak pulang!” Sambil meletakkan karung. Mungkin kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Aku akan memulai lembar kehidupan baruku dengan Sumi. Kepalanya bergerak. ya?” ujar Sumi kepadaku. kita bersahabat. sementara Emily tetap saja membisu. Bapak ambil saja. Dia segera mengantarkanku sampai pintu gerbang rumahnya. Bapak bawa oleh-oleh spesial buat kamu?” “Apa itu. anak pemulung itu. Entah kenapa. Namun. Apakah dia sudah lupa. “Nah sekarang. Pak? Lelaki itu kembali tersenyum. pasti pemiliknya sudah membuang boneka itu. Bagus. Lelaki itu tersenyum. Gimana. Dia memandangi dengan seksama. Mungkin.” Betul. dia bertanya padaku.” Kepergian Emily serasa meninggalkan lubang menganga di perutku. Kesedihan akibat dicampakkan Emily seperti barang lusuh tanpa guna. Lalu dia meninggalkanku begitu saja. dia sempat berbisik. Aku terus tersenyum. biar bisa jadi teman main kamu. kutatap satu per satu wajah sahabat baru Emily. Aku bahagia. hari ini. karena dari dalam karung. Bibirnya tersenyum.Aku tidak habis pikir: kenapa persahabatan kami yang bertahun-tahun lamanya harus berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini? Apakah aku sudah berbuat salah? Kalau iya. Ya. Hatiku tenang. Emily memilih mereka. lucunya! Bapak dapat boneka ini dari mana?” “Dari rumah orang kaya. dia Sumi. anakku. Aku juga ikut memandangi bocah dekil berkucir ekor kuda itu. Bapak pikir. Sebelum pergi. “Sumiiii. Jadi. “Jeng-jeng-jeng! Ini dia!” Lelaki itu mengeluarkanku dari karung. Pak?” Aku mendengar suara bocah perempuan. meskipun kelak penampilanku semakin jelek. bahkan menatapku saja enggan? Sebelum pergi. Bocah perempuan bernama Sumi itu langsung menggendongku. dia tidak bicara. Dia memandangiku sambil mengelus-elus rambut kusutku. apakah berarti sekarang Emily lebih mementingkan penampilan luar daripada isi otak dan hati? Emily tidak mengizinkanku berpikir lebih lama. “Maafkan aku. aku sudah sampai rumah lelaki itu. “Tahu nggak. Pak! Itu buat aku?” Lelaki pemulung itu mengangguk. Emily tidak bisa mengerti kata-kata yang kusampaikan padanya. tanpa ciuman. Pak!” seru Sumi. tapi batinku menjerit meratapi perpisahan yang begitu menyakitkanku. Manis sekali! “Wah. Din. tapi tidak kuasa menggigil. sebuah kenyataan pahit menamparku: aku baru sadar. lalu mengangkat tubuhku tinggi-tinggi. kok kamu ada di sini?” Entah dari arah mana. Aku merasa dingin. “Kenapa sekarang ini orang lebih mementingkan penampilan?” Aku bertanya-tanya. Suaranya yang serak terasa halus membelai daun telingaku. Semuanya cantik. Bapak melihatnya tergeletak di depan pintu gerbang. kamu senang. bagaimana aku bisa tahu kesalahanku.

Itu pun lebih disebabkan propaganda . Empuk sekali. Fakultas Sastra. saya Alia. “Kenalin. batinku. Bukan pula cerpenis. Belajar menulis di Sekolah Kepenulisan STAIN Press Purwokerto. sebagai apa saya diundang?” gurauku di tengah rasa bangga sekaligus gugup. “Maaf?” “Panitia mengundang saya sebagai apa. Seperti biasa. Jadi bersiap-siaplah kecewa mengundang cerpenis gadungan ke acara Pekan Bahasa!” Tawa Alia berderai-derai lagi. kami bermaksud mendiskusikan novel Anda. salah satu agendanya adalah bedah novel. otomatis pengarangnya mati. Dan jika jadwal Anda masih kosong pada tanggal 25 bulan depan. Sumpah mati. Kalau begitu. kami harap Anda bersedia mengisinya dengan menjadi pembicara dalam acara kami ini. Menjadi sastrawan tidak pernah masuk dalam daftar cita-citaku. permintaan izin yang sungguh-sungguh ramah. Saya panitia penyelenggara Pekan Bahasa yang akan diadakan bulan depan oleh fakultas saya. Jika Anda tidak keberatan. Karena aku bukan novelis. Seperti gerimis yang jatuh kecil-kecil pada hari pertama aku menggarap “novel” itu. Disertai undangan yang santun pula! Sehingga agak keterluan jika aku tidak berterimakasih terlebih dahulu. Cerpen Kafe Bunga Tanggal 25 Kamis. Aktif mengikuti Beladiri Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. kala itu aku tidak menyangka jika kelak apa yang kutulis mewujud jadi karya sastra bernama novel. Sangat menggoda. “Bagaimana kalau saya mengundang Anda sebagai Roni saja?” Kali ini aku yang tertawa. Gurih sekali. “Tapi ngomong-ngomong. “Tapi Roni tak pernah benarbenar jadi penulis lho! Tidak ada satu cerpen pun yang selesai dibuatnya meski dia ke sana-kemari mengaku cerpenis. 18 Oktober 2012 14:14 wib UNDANGAN itu sungguh mirip pizza. Simak saja suara perempuan yang meneleponku siang itu. Roni adalah tokoh utama dalam novel yang kutulis. sebagai penulis atau pembaca novel itu. Sang Penulis.Oleh: Fahrita Liza Riani & Thomas Utomo *Fahrita Liza Riani menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Guru SD. Segurih keju mozarella yang ditabur di atas senampan pizza. ketika sebuah karya selesai ditulis. Saat ini bekerja sebagai guru SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. kan?” Di seberang. Alia tertawa. Buku-buku sastra hanya satu-dua yang pernah kubaca. saya bukan lagi penulis novel itu. Kaidah anak sastra ‘kan begini. *Thomas Utomo menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto.” Hmm.

Hemat. Edan. Mau pegawai negeri atau swasta. malam nanti mungkin giliran Saman. Roni. Kalau siang ini dia bicara panjang lebar mengenai Seratus Tahun Kesunyian. “Aku tidak mau kelak jadi pegawai.” .seseorang. menunggu cerpen Roni dimuat di koran sama saja dengan menunggu Godot yang tak datangdatang. soal sastra. Bukan karena terpikat omongannya yang sarat majas hiperbola. Mengandung unsur bunyi. puisi. “Oya?” “Begini. boleh jadi sorenya dia datang ke tempatku sambil membawa halaman koran lain yang memuat cerpen Eka Kurniawan. Ada yang hanya tertulis separuh gagasan. semata-mata karena dia keturunan China! Namun. Dialah yang rajin menganjurkanku membaca karya-karya yang menurutnya bagus dan pantas diberi predikat “edan tenan”. sama saja. Setiap kali mulai menulis. inilah kalimat yang biasa dia timpalkan. mengaduk fakta dalam fiksi hingga terhidang ramuan yang menyegarkan. Rayuannya kurang “maut”. kamu bakalan lihat cerpenku nongol di situ. okay. ada apa sebenarnya dengan Roni? “Inilah celakanya kalau jadi penyair duluan sebelum menulis cerpen. Terlalu tergesa-gesa. Pretel-pretel. Terkadang cuma untuk memastikan. Kurasa dia tidak berbakat jadi salesman.” ujarnya membela diri setiap kali kutertawakan. maksudku. Aku lebih suka kerjaan yang fleksibel. bahkan diperkosa. kurang lebih jawabannya begini. Sebisa mungkin menghindar dari ungkapan-ungkapan yang biasa. pasti terguncang-guncang. Bayangkan! Betapa bosannya berangkat pagi pulang malam. Aku memang terpukau dengan kecerdikan si penulis meracik kenyataan dengan imajinasi. Juga tentang cita-citanya yang (ternyata) memang cuma satu: menjadi penulis! Kalau ditanya kenapa ingin begitu. Nah. Dan. “Edan tenan! Dahsyat benar cerpen ini! Coba lihat!” begitu puja-puji yang biasa dia lontarkan. aku sudah terbiasa menulis puisi. Tulisan-tulisannya selalu mogok kehabisan energi penciptaan. Alangkah sakitnya menjadi Clara. itu tidak serta-merta membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mengarang cerpen seperti yang Roni perkirakan. sebelum mulutnya tambah berbuih-buih. “Coba deh baca buku ini! Kamu pasti suka. Saking edannya. aku sudah gatal untuk mengeditnya. yang bisa dilakukan kapan aja. Pelit kata-kata. Roni mungkin benar. Serupa motor kehabisan bensin. sambil nongkrong di balkon. cinta setengah mati pada dunia sastra. Aku justru tidak suka caranya beriklan. Seperti mobil terendam banjir. Otak kita bisa jadi tong kosong kalau terus-terusan mengurusi hal-hal rutin yang tidak penting bagi kualitas kemanusiaan kita. Bukan karena termakan promosinya. Sudah indah apa belum kedengarannya. Tentang minatnya pada dunia sastra. Gila. Aku memang terguncang-guncang waktu harus membayangkan alangkah pedihnya menjadi warga keturunan Tionghoa di saat kerusuhan Mei 1998 meletus di negeri ini. Tentang nafsu mengarangnya yang luar biasa. “Kamu mungkin akan bertanya-tanya: kok bisa ya nulis cerita kayak gini? Istimewa sekali. Gayanya mengingatkanku pada masa kecil. kuputuskan untuk menyerobot buku itu.” Maka jangan heran jika obrolan-obrolannya melulu soal tulis-menulis. yang bikin kita mikir.” “Ber-aa-ii?” “Berima. perempuan yang oleh sejumlah orang dianggap pantas dipukuli. prosa. nanti kamu malah ingin jadi cerpenis juga!” Aku masih ingat betapa aku bergegas menyambut buku itu. sudah cantik apa belum bahasanya. Satu-satunya hal yang selalu menggelitik untuk terus kukuntit justru tentang Roni. Tunggu saja. Ada yang hanya tersusun tiga paragraf. pada tingkah Bapak jika sedang mengiming-imingi coklat asal aku mau tidur siang. Begitu seterusnya. pasti terkaget-kaget. “Minggu depan. Bagiku. Tidak meyakinkan. sambil tiduran. dalam beberapa hal. mindset kepenyairan inilah yang selalu menggangguku. sekaligus tertib ber-aa-ii. “Kalau cerpen kamu yang dimuat di situ. baru selesai satu paragraf.” katanya suatu ketika sambil mengacung-acungkan buku kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati.” itulah komentar yang biasa meluncur dari mulutku. Seharian aku membaca buku yang Roni jamin akan membuatku terguncang-guncang itu. Karena kenyatannya. jauh-jauh hari sebelum jatuh cinta pada cerpen. Jadi. dia tidak pernah berhasil menulis satu cerpen pun! Semuanya gagal di tengah jalan. Dan. nama orang itu. atau sastra secara umum tetaplah sebuah dunia yang gelap nan asing. Kalau Minggu pagi dia berulang-ulang memuji cerpen Danarto yang baru dibacanya di sebuah koran nasional. dan karenanya enggan kugeluti. baru aku bilang edan tenan. jangan-jangan.” Tapi rupanya. Bahkan tidak sedikit yang cuma berisi judul ditambah satu baris pertama! Aih-aih. Sama tidak enaknya. mengerjakan tugas yang itu-itu saja. dibakar mobilnya. Berbeda dengan prosa. puisi itu ‘kan harus padat.

Agar suasananya tidak senostalgik film-film drama. Dasar pegunungan! Tidak bosan-bosan bikin orang menggigil. Double Bitter yang ia maksud pastilah kopi superpahit yang biasa dipesan Roni di kafe ini dan kucantumkan agak sering dalam novelku. Duduk sendirian. itu dia! Seketika aku merasakan diriku terbelah jadi dua. hampir dua tahun dipacarinya. “Saya tidak punya alasan untuk menolaknya. Roni? Si penulis malang itu? Aku ingin membantah. begitulah seterusnya! Dari hari ke hari. Tapi tiba-tiba kawan-kawan bilang. aku langsung menuju hotel yang sudah dipesankannya atas namaku. Jangankan novel. sampai mondar-mandir bawa laptop ke kafe-kafe layaknya penulispenulis masa kini. Agaknya gadis ini benar-benar pembaca yang khusyuk. Aku tiba di terminal kota menjelang magrib. yummy!) bisa dijadikan ajang promosi demi “menarik” lebih banyak royalti. “Terima kasih kejutannya. Kaki kananku ingin sekali beranjak menemuinya.” “Terima kasih. Untuk menebalkan motivasinya. “Aku kan sudah bilang. Pandangan matanya mengarah entah ke mana.” ujarnya waktu itu dengan wajah beku dan senyum kaku. Ingin menerjang. Tiba-tiba sudah jadi buku. berkunjung ke rumah-rumah sastrawan.” “Oya? Di mana?” “Maaf. menulis cerita perihal Roni. Hantu yang tak bosan-bosan menggodaku untuk duduk berminggu-minggu di depan komputer. Meja di pojok kafe itu… Ah! Kenapa tidak pernah mudah melumat kekecewaan? Kenapa selalu susah melupakan apa-apa yang pernah dikatakannya di meja di pojok kafe itu? “Aku capek menjawab pertanyaanmu yang itu-itu saja. aku cuma bisa bilang. Tidak salah lagi. “Kamu bilang bab satu sejak lima bulan lalu!” “Kamu . Nah! Itulah sebabnya. Dan. lagi-lagi—tulisannya tak jadi-jadi. kejutan selalu muncul belakangan. cerpen yang cuma sebanyak enam halaman. Melainkan juga karena acara ini bakal diselenggarakan di kota di mana aku dan Roni pernah tinggal. tiba-tiba aku diundang Alia untuk jadi pembicara di acara Pekan Bahasa. Angin dingin segera menyergap. Cuma berteman secangkir minuman. perempuan yang saat itu. nakal juga anak ini rupanya! Dan terasa semakin nakal saja ketika ternyata. Yang pasti bukan ke arahku. Tak lama kemudian. di mana seluruh ide novelku berawal. Mulai dari membaca lebih banyak lagi buku-buku cerita. Atau paling banter. kenyataan bahwa laki-laki itu adalah Roni semakin tak terbantahkan. “tempat spesial” yang dimaksudnya adalah Kafe Bunga. ini novel! Tiba-tiba ada yang berinisiatif menerbitkan. pun tidak! Berjuta kenangan tentang Roni itulah yang terus-menerus bergentayangan dalam pikiranku. Awalnya kupikir.” “Anda pesan apa? Double Bitter?” Aku tersenyum untuk kesekian kali. Sampai jumpa tanggal 25.Ya. ia cocokkan dengan lingkungan sekitar. berpartisipasi aktif dalam komunitas-komunitas sastra. Dan lihatlah. betapa ia amat sumringah melihatku senyum-senyum dihajar kenangan! Namun senyumku mendadak tercekat begitu melihat seseorang di pojok ruangan. Atas saran Alia. ia bahkan bernazar untuk tidak menikah sebelum novelnya terbit! Tapi tetap saja tak terlahir apa-apa dari laptop-nya itu. Titik. aku baru akan menikah kalau novelku sudah terbit. Bukan sematamata karena (hhmm. apa yang kutulis itu cuma semacam kesaksian. Tapi semakin kutatap semakin kupandang. biografi seorang (calon) penulis yang malang.” Aha. ia muncul mengajakku makan. Jadi kenapa kamu masih menanyakan kapan kita tunangan sementara kamu sendiri tahu novelku baru bab satu!” Aku menggeram. seperti kubilang sejak awal. Kafe yang kuceritakan berulang-ulang dalam novelku sebagai tempat di mana aku dan Roni biasa minum kopi sembari menulis meski—ya. ketika Alia menanyakan kesediaanku menghadiri acaranya itu. Ingin menampar. “Masih kenal tempat ini?” Aku tersenyum. Tapi kaki kiriku mati-matian menahannya. Sebuah undangan yang. Lalu lama-lama menjelma jadi hantu. Bukan semata-mata karena jumlah honornya yang lumayan menggiurkan.” ♦♦♦ TANGGAL 25. Hidung bangir. Setiap detil ia pahami. Sangat menggoda. “Saya ingin mengajak Anda makan di tempat spesial. Padahal telah dicobanya segala cara. Muka tirus. Rambut keriting. Roni berpusing dengan proses kreatifnya yang tak rampungrampung. sungguh mirip pizza. Mulai dari yang bersifat teknis sampai non-teknis. ia selidiki.

Banjarmasin Post. padahal bab satu saja baru tiga halaman!” “Itu kalau kamu mau. ibuku sudah tahu aku serius sama kamu. Lebih dari itu: dari kota ini! Banyak hal yang berkaitan dengan Roni yang berhasil kubuang. novelku belum selesai juga. Tinggal satu hal yang tak bisa kubuang: kenangan. Gulukguluk Sumenep (Madura). harapanku yang membubung tinggi untuk menikah dengannya telah kusingkirkan jauh-jauh sejak malam itu juga.” “Celakanya. tidak! Tidak akan pernah ada reuni antara aku dan Roni. Meski sebetulnya aku selalu terobsesi untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa menulis novel seperti yang ia perjuangkan.” “Kalau tidak?” Aku tidak pernah bisa menceritakan kelanjutan jawabannya. memang. Ron? “Mbak Shinta. Ke kafe ini. Saat ini bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Mojokerto. 7 September 1980. Bukan semata-mata dari kafe ini. Novel yang mengantarkanku kembali ke kota ini. MPA. Buku-buku yang dihadiahkannya padaku kuhibahkan ke teman-teman.” “Bilang saja kamu belum dapat laki-laki yang pas. Meski mungkin ia mau. Kukunyah pelan-pelan. “Anda pesan apa?” “Kita balik ke hotel saja. seperti yang ia cita-citakan. Ke reuni ini. Beberapa tulisannya yang lain pernah dimuat di Horison. Meski sebenarnya aku ingin bertanya: sudah selesaikah novelmu. kulumat saja kenangan-kenangan itu. Santri.” tiba-tiba Alia mengetuk meja. tanpa pernah terceritakan pada siapa pun. Jawa Timur.pikir mudah menulis novel?” “Kamu pikir mudah pacaran dengan orang tidak jelas macam kamu? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah 27. Kartu ponselku kugunting jadi dua sepulang dari kafe malam itu juga.” “Maumu aku menunggu sampai novelmu selesai. Wajar dong kalau ibuku bolak-balik tanya kapan aku menikah. Sari-sarinya kutulis diam-diam. Maka ketika aku benar-benar sadar bahwa mustahil mengelabui ingatan.” Oleh Hammad Riyadi Penulis lahir di Situbondo. Aku orang kampung. Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah.” “Tapi sialnya. Reuni? Ah. Jawaban itu masih menggantung di ujung lidahku. Bahkan hingga sekarang. Dan. salah satu cerpennya menjuarai lomba menulis cerpen tingkat SLTA se-Madura. Ron! Ingat itu! Umur 20 saja sudah dibilang perawan tua. Pada 1998. aku bergegas pergi. Semakin keras usahaku menyingkirkan semakin kuat ia mencengkeram. Sampai mewujud jadi novel. Sudah sarjana sejak tiga tahun lalu. Yang bisa kuceritakan padamu hanyalah bahwa usai mendapat jawaban itu. Cerpen . Sehingga ia tidak punya lagi akses untuk menghubungiku. Meski terkadang aku ingin.

. ia sudah tak sabar lagi menunggu putrinya untuk membawakan minuman teh hangat bagi dirinya. Sudah satu jam Ishak duduk-duduk santai di halaman belakang rumahnya sambil mengawasi cucunya yang sibuk bermain mobil-mobilan. Ishak meminum teh hangat buatan putrinya dengan pelan-pelan. “Apakah kau masih ingat dengan boneka beruang ini? Aku menemukannya di lemari almarhumah ibumu ketika membersihkan kamar. Tapi.. lalu kembali duduk di samping putri semata wayangnya.” Vira mengambil mainan Amri. menggigit bibirnya. lihat! Ayah telah membelikanku mainan mobilan yang sangat keren.” Ishak mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Ya. Kemudian. “Ayah terlalu berlebihan. Pernah sekali waktu aku mencoba berpikir kalau aku tak punya ayah." “Ooo. “Maafkan ayahmu ya. “Dulu aku begitu jahat pada ayah. dan ia tampak anggun ketika tengah mendekati ayahnya sambil membawakan minuman teh. Amri. 15 Oktober 2012 15:04 wib DI HALAMAN belakang rumah yang teduh oleh pepohonan.” Vira menatap lekat-lekat ayahnya.” Ishak tersenyum pada putrinya. “Mana biar kulihat.” Amri segera mengambil mainan barunya dari ibunya. dan memainkan mainan mobilnya di tempat semula. Sekarang kita pikirkan saja masa depan putramu.ini ambil lagi mainanmu.” Ishak membelai kepala Vira dengan penuh kasih sayang. dan asri karena penuh dengan tanaman hias. putra kita." “Ya.” Ishak meletakkan kembali gelasnya di meja. “Teh buatan tanganmu itu tiada bandingannya.” Vira memeluk boneka itu erat-erat. bukan anak ayah!” Vira menatap ayahnya lekat-lekat. ia tersenyum pada Vira yang ikut duduk-duduk di sampingnya. Cuaca pada Sabtu pagi ini terasa cerah dan ramah. kenyataannya aku tetap darah daging ayah. dan kemudian menggelenggelengkan kepalanya. Putri Ishak. satu gelas teh hangat disajikan oleh Vira. Amri memamerkan mainan mobil barunya kepada ibunya. di kebun bunga-bunga hias.” Vira masih belum merasa tenang batinnya. sayang. Menganggap diriku tak pernah menjadi putri ayah. jangan kemana-mana!” Ishak kemudian bangkit lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.” ujar Vira tersipu. Tapi. aku tetap putri ayah satu-satunya. Maafkan aku karena pernah meragukan ayah. Ishak. Tak perlu dipikirkan lagi.Mekar Dalam Badai Senin." Vira menundukkan kepalanya. seharusnya waktu itu aku . “Lihat! Betapa menggemaskannya putramu itu. Selang beberapa menit. Di atas meja. aku kembali kemari dalam keadaan menyedihkan. dan tak lama kemudian ia tersenyum pada Vira “Ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu. kamu tunggu di sini. kau benar. aku bisa menjadi ayah sekaligus kakeknya. Ishak sudah keluar dari dalam rumahnya sambil membawa boneka beruang Teddy.” “Tapi Amri seharusnya menjadi cucu ayah.. Ishak dan Vira merasa terharu sekaligus bangga sewaktu melihat Amri berlari menjauh. Vira.” Ishak memberikan boneka beruang Teddy itu kepada Vira. Itu terbukti ketika aku tak memiliki siapa-siapa lagi untuk tempat bernaung. Lalu memberikannya pada Vira. “Bagus juga ya. Seharusnya aku tidak meninggalkan ayah sendirian waktu itu.” Amri membanggakan mainan barunya. “Seandainya ibu masih di sini bersama kita. Kehadiran anak lelaki berusia enam tahun itu telah mengisi hari-hari yang sepi dari kehidupan lelaki tua itu. Cukup lama Ishak mengawasi cucunya bermain. “Aku tak malu menjadi ayah dari putramu. “Ibu. “Tapi. Seharusnya aku percaya pada ayah..” Ishak tersenyum simpul pada Vira hingga matanya memicing. “Semua itu sudah lama terjadi. Aku telah banyak berbohong kepada ayah. “Seharusnya aku tak membuat ayah malu. duduklah seorang lelaki tua. “Ibu membelikan boneka beruang ini ketika aku masih duduk di kelas 4 SD. Terima kasih ayah karena telah menemukanya.. Percakapan antara Ishak dan putrinya itu belumlah usai ketika Amri berlari mendatangi orangtuanya. lalu kembali bermain-main dengan mobilnya.. adalah seorang wanita yang bertubuh sempurna bagai peragawati. dan sekarang lelaki tua itu merasa tenggorokannya kering. Tidak seharusnya aku meninggalkan rumah. Ishak menghela nafas panjang.

Vira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Sophian merasa aneh sekaligus geli dengan pemandangan yang baru dilihatnya. Sophian adalah seorang pegawai pemerintah propinsi yang dihormati. mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan perkatannya. hendak mengajaknya bermain kembali di halaman belakang rumah. Vira menghela nafas panjang. pada saat mereka bertiga larut dalam suasana percakapan yang santai. Ketika diharapkan untuk jujur oleh ayahnya. “Oo Ayah.” kata Ishak bersemangat. ketika kita pertama kali bertemu.. Dia hanya mengetahui bahwa aku adalah janda beranak satu. apa yang harus kulakukan.” Ishak tercenung mendengar perkataan Sophian. Baju dinasnya terseterika dengan rapih. Semua ini dilakukan demi menghindari rasa malu. agar Amri memiliki Bin yang jelas pada akta kelahirannya. “Oo..” kata Vira.lebih sering berada di rumah.. Saat itu ayah lebih terobsesi untuk menghabiskan waktu di dalam pekerjaan. berada di dekatmu. Bibir tipis nan indah milik Vira terlihat bergemik-gemik. Karena ayah aslinya tidak mau bertanggung jawab. dipegangnya tangan Sophian yang kaku dengan lembut. Amri datang mendekati Ishak.” Vira menggenggam lengan ayahnya dengan erat-erat.. Sewaktu Ishak melihat penampilan Sophian yang serba resmi. Dia tidak mengetahui kalau.. Namun. Coba dipandangnya muka Sophian dengan tatapan kasih sayang yang penuh harapan. Badannya terasa lemas seakan tak bertulang. aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ini adalah seorang janda dengan satu anak.” Vira berusaha untuk meneruskan perkataannya. ia akan membiarkan Vira menjelaskan segalanya dengan sendirinya. “Dulu.” Vira memegang kedua tangan Sophian dengan lembut dan menatapnya dengan penuh harap. Vira tak tahu harus memulai darimana untuk memulainya.?” Sophian penasaran.” kata mang Husni dengan nada suara lembut. . bersedia memberikan nama keluarganya kepada Amri. “Tapi dia tidak mengetahui mengenai siapa diriku yang sebenarnya. Kemudian. “Ini yang namanya Amri ya. maka ayahku-lah yang bersedia menjadi ayah Amri. Di beranda rumah. ia berharap kalau Sophian adalah lelaki yang pantas untuk Vira. Ayah. aku selalu mengikuti hawa nafsuku. sepatu pentopelnya mengkilat karena baru disemir. berharap agar Vira segera mengatakan yang sebenarnya kepada Sophian.” Vira memalingkan mukanya dari ayahnya. imut sekali.” Vira menundukkan kepalanya. apakah aku harus jujur padanya?” Ishak memegang pundak Vira yang rapuh dengan sentuhan kasih “Awali hubungan kalian yang serius itu dengan kejujuran. “Maksudmu?” Sophian mengernyitkan dahinya. Di beranda rumah. “Aku selalu menentang orang tuaku ketika aku masih muda. aku adalah. Sophian duduk di kursi kayu. pembantu mereka. tapi ia tetap menahan diri untuk tidak bertanya. Ishak juga mempererat lengan putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah.. “Bapak juga sudah dianggap ayah olehnya. “Maaf pak. aku adalah. ia menatap pada Ishak. yang ingin bertemu dengan neng Vira. ia berjalan menuju beranda rumah untuk menyambut Sophian. Tentu akan jadi pemandangan yang aneh jika ada orang lain yang melihat bapak yang sudah kakek-kakek memiliki anak sekecil Amri. aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini Sophian hendak berkunjung menemui ayah.. mereka bertiga duduk-duduk di beranda rumah sambil menikmati minuman teh yang dibawakan oleh mang Husni. menghela nafas dalam-dalam. Sewaktu mereka berdua berbaikan. membangun kembali hubungan ayah dan anak yang dulu pernah retak.. Sophian diperkenalkan pada Ishak oleh Vira. Bersama Vira. Kemudian. namun ia tidak mampu. Tapi nyatanya. Ayah menyesal karena tidak bisa mengikuti pemakaman ibumu. “Bahwa Amri merupakan anak hasil dari hubungan di luar nikah. “Sebenarnya aku ini bukanlah seperti apa yang kamu kira selama ini. Dia ingin mengatakan langsung kepada ayah mengenai keseriusannya menjalin hubungan denganku. Sophian merasa bingung dengan sikap Vira. selalu mengikuti apa kata teman-temanku daripada perkataan orangtuaku. Ia memandang penuh harap kepada putrinya. penuh kesopanan. Kemudian. lalu tersenyum padanya. Pada masa itu. tapi kurasa itu bukanlah alasan pembenaran atas kesalahanku. aku tak bisa menghiburmu di kala engkau tengah rapuh. dimana Amri dengan akrabnya memanggil Ishak dengan sebutan ayah. gemerlap kehidupan di klub malam adalah gaya hidupku yang tidak bisa terpisahkan. Ada tamu yang bernama Sophian. terkejut dengan berita kedatangan pacarnya. Sophian. meski itu akan terasa pahit!” Ishak kemudian bangkit dari duduknya.” Sophian tersenyum simpul pada Vira.. kemudian menundukkan kepalanya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. mang Husni mendatangi mereka.” “Kalau begitu saya harus bertemu dengannya. Sekarang aku harus mengatakan padamu dengan sejujur-jujurnya bahwa.. “Bahwa.

42151 dan bekerja sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT Nikomas Gemilang. “Sudah empat bulan kita berhubungan. “Menurut Ayah. Aku perlu sendirian untuk bisa berpikir jernih mengenai segala kejujuran yang baru saja kau katakan. Cinanggung. Aku tak bisa menerimanya. selama ini aku telah merahasiakan semua ini darimu. engkau mengatakan kebenaran ini. Sekarang. toleransi terhadap semua kesalahan orang.” kata Ishak mencoba menenangkan putrinya.” Sophian menarik lengannya agar tidak digenggam Vira. “Oo.. Pemda Blok A-8. satu langkah awal bagi mereka untuk memulai hidup baru. “Kurasa ia takkan kembali lagi. Amri pasti akan mengerti! Dia akan tumbuh menjadi lelaki santun yang pemaaf. mereka bertiga meneruskan langkah mereka. Dengan sikap dingin ia masuk ke dalam mobilnya. kita main lagi.” Sophian segera bangkit. itulah yang paling berharga.. Janganlah terlalu kau pikirkan. tak ada sedikitpun usaha yang dilakukan mereka untuk menghentikan Sophian. Pengakuan dari Vira telah membuat seluruh tubuh Sophian bergetar. Ia menundukkan kepalanya. Dan sekarang. Aku harus segera pergi sekarang. Dan ketika ia berhadapan dengan Vira." “Ayo yah. 30 Agustus 1985. lebih baik kita temani lagi Amri main di belakang rumah. “Maukah kamu main lagi dengan ayah di belakang. Dengan sekejap. Serang – Banten. Kaligandu.” “Dia memang tidak pantas bagimu. ia bersalaman dengan Ishak dengan sangat tergesa-gesa. kita akan tanamkan nilai-nilai itu padanya. Sophian tetap pula berjalan menuju mobil. apakah Amri akan memaafkanku jika nanti ia sudah besar.” Vira tersenyum merasa lega. berjalan memasuki rumah. “Ayah benar. “Jangan kau cemaskan itu.“Maafkan aku. Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian mobil sedan Baleno yang ber-plat warna merah itu meninggalkan rumah. Sophian merasa tidak kerasan untuk tinggal lebih lama lagi di beranda rumah Ishak. Ketika ia sadar bahwa engkau adalah kakeknya?” Vira menatap ayahnya dengan cemas. merasa sedih karena telah dibohongi.” Ishak menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. kemudian ia tersenyum dan menatap ramah pada Amri yang berdiri di sampingnya. ia sudah melupakan kesedihannya. . Kel. Oleh Rully Ferdiansyah Penulis kahir di Serang. menuju halaman belakang rumah tanpa pernah lagi menoleh ke belakang. dan rahangnya menjadi keras seolah menahan sesuatu yang ingin meluap dari dalam dirinya. Sophian.” Amri menarik-narik tangan Ishak dengan sangat manja. Kini tinggal di Komp.” tak ada semangat dari nada suara Vira. ia mengacuhkannya dan mulai berjalan menuju mobil sedannya yang terparkir di depan pagar rumah. Sambil bergandengan tangan. Akhirnya. Aku butuh waktu untuk memikirkan kembali semua ini. RT01/RW07. ketika aku hendak berniat untuk melamarmu di sini. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vira dan ayahnya. Setidaknya kita bertiga saling memiliki. tak menggubris Vira yang memanggil namanya. Lebih baik kita lanjutkan kembali kegiatan minum teh di belakang rumah.” kata Vira.

kalau ndak giat kerja siang malam. “Kamu ini lama-lama cerewet juga. Kang. suaminya. hanya bungkam sibuk mengunyah sepotong singkong rebus yang masih panas. Namun. Dan sejak itu. Tak ada perabot lain. Mbok Mini menarik nafas panjang. sebuah ruangan yang hanya sepetak dan berdinding kayu lapuk. tangannya memegang gelas berisi kopi hangat yang baru saja diseduhnya. mau makan apa kita?” sembur Kang Narto dengan beberapa butir parutan kelapa yang meluncur keluar dari mulutnya. Nek sampeyan kenapa-napa di jalan.Cerpen Penantian Mbok Mini Kamis. sudah bengkok. “Eling Kang. ia meneruskan. apa ndak bisa kalau sampeyan pulang tiap hari. Pernah suatu hari. meninggalkan istrinya dengan setumpuk piring kotor bekas makan sore. Tatapannya terlihat sendu. “Aku malu. Tanpa menunggu jawaban suaminya. kesal. Mbok Mini menyeruput kopi hangatnya yang sudah mulai dingin. sampeyan ini sudah tua. lantas diberikannya piring itu kepada suaminya.” tanya Mbok Mini sambil meletakkan tiga potong singkong rebus yang masih mengepul panas di atas piring kosong. serta kompor minyak tanah yang sudah berkarat. Kang?“ Dipandanginya kedua mata lelaki tua yang telah dinikahinya selama lebih dari 40 tahun itu. Bener ndak. Sambil menghela nafas panjang. 12 minggu sudah Kang Narto tidak pernah lagi menginjakan kaki ke rumah. . aku ngerti. antara marah. Ia mengayuh becaknya cepat-cepat. Bukan sekali ini saja suaminya mengacuhkan pertanyaannya. sampeyan suka nginep di rumahnya Marni si biduan dangdut kampung sebelah. Si Narti bilang. Ia menaburkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam di atasnya. Kang Narto. aku kok jadi kuwatir. Kang Narto meletakkan piring yang telah kosong di atas meja. ujarnya sambil menangis. Diedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. sekarang mata itu justru mengabaikannya.” sambung Mbok Mini. Tapi apa harus ndak pulang sampai seminggu? Aku lebih suka sampeyan pulang tiap hari walau ndak bawa duit”. Mulutnya belepotan penuh parutan kelapa. “Iya Kang. Kang Narto melengos pergi bersama becaknya. memberinya kekuatan atas kutukan nasib yang mengharuskannya menjadi perempuan mandul. Dengan sebal. Rasa pahit kopi itu langsung terasa di pangkal lidahnya. Mata yang dulu selalu memberinya keteduhan. memandang kuat ke arah becak tua yang terparkir di serambi rumahnya. namun ada segurat senyum tipis yang terukir di wajah keriputnya… “Kang. Ia menyipitkan matanya. 11 Oktober 2012 16:46 wib MBOK Mini masih terduduk di atas dipan kayunya. geram. diletakkannya gelas berisi cairan hitam pekat itu diatas meja. yang senantiasa menyemangatinya. nanti malah bikin repot orang. Sampeyan jarang pulang itu ke mana saja? Mosok hampir dua bulan ini sampeyan pulang cuma tiap minggu. tak menghiraukan jeritan istrinya yang terus memanggil namanya. sepasang kursi dan sebuah meja kayu kusam dengan beberapa tumpuk piring dan gelas di atasnya. perasaannya campur-aduk. berisi dipan kayu lebar beralas tikar. kecuali beberapa panci dan wajan berpantat hitam yang tergantung di sisi-sisi tembok kayu ruangan itu. sudah untung aku pulang bawa duit! Namanya saja tukang becak.

“Begini Mbok.. lalu memandang ke arah rekannya.”. karena ia masih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk mengayuh pedal becaknya demi beberapa lembar ribuan rupiah. tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan becak tua milik suaminya terparkir di sudut rumah si biduan dangdut yang sering Narti. Ia lebih senang membiarkan imajinasinya berkeliaran menguasai pikirannya. suaminya tercinta belum sempat menginjakan kaki ke rumah. Mau nganterin becaknya Kang Narto. Sehari-hari ia hanya berbaring di dipan kayunya. 24. Hingga suatu sore. Digenggamnya handuk yang sudah kumal dan bau apek itu kuat-kuat. Ia meraih sehelai handuk kecil yang terselip di sela-sela jok becak. kalau bojone sampeyan ketabrak truk pasir tadi siang. dielusnya benda itu dengan penuh kasih. sebelumnya sampeyan kudu sabar ya. Terkadang dipaksanya tubuh yang semakin kurus itu untuk bangun. membuat dua pria yang ada di hadapannya terkejut.“ bisiknya lirih. “Anu Mbok…bojone sampeyan…anu. ia telah menerima takdir bahwa pada akhirnya ia harus merelakan suaminya yang lebih memilih gundiknya ketimbang dirinya. “Akhirnya sampeyan pulang juga. sekedar untuk duduk bersandar atau berjalan pelan dengan tangan bertumpu pada dinding kayu rumah. waktu lagi joget dangdut bareng di acara mantennya si Joko. to?“ Seru seorang pria paruh baya sambil memincingkan matanya. Mendengar nama suami dan becaknya disebut membuatnya kaget dan sedikit terperanjak.” sambung pria satunya dengan raut wajah penuh sesal. bahwa Kang narto. Namun. dua orang tetangganya datang dengan membawa becak tua milik suaminya. Kami mau ngasih tahu. sampeyan di dalam? Gelap amat. Sudah lewat dua minggu ini ia memutuskan untuk berhenti berimajinasi. berusaha menangkap bayangan Mbok Mini di dalam rumah.09. “Orangnya wis mati?” tanya Mbok Mini dengan tenang. tetangganya sebut. “Mbok. Mbok Mini meletakkan mangkuk buburnya di atas meja dan terduyun-duyun berjalan menuju pintu. kesehatan Mbok Mini mulai menurun. Kang. apalagi menegur suaminya. meski tenaganya hampir habis tak tersisa. saat ia sedang menyantap bubur nasi pemberian si Narti. Entah karena terlalu lelah berimajinasi atau karena sirkulasi udara rumahnya yang kurang bagus. Mbok Mini lalu berjalan mendekati becak tua itu.2012 . sebelum akhirnya dua orang tetangganya meninggalkannya sendiri dengan becak tua yang tak lagi berempu itu. ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekat. “Aku Gatot.“ seru pria yang satunya. Keduanya mengangguk dengan pelan.saat Mbok Mini seperti biasanya pergi di pagi buta menuju pasar untuk menjual singkong beserta daunnya. pria paruh baya itu terbata-bata. Mbok. kemudian menoleh ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Dipandanginya becak itu sejenak. sentirnya ndak dinyalain. Ika Winterholler Nürnberg.

” cerita Beringin tua. Baru di senja itu mataku terbuka pada kenyataan bahwa sebatang pohonpun punya alasan untuk mencurahkan isi hatinya seperti layaknya manusia yang ingin selalu dipahami kemauannya. Walau kenyataannya tidak ada keteduhan yang cukup darinya rasanya nyaman mendengar cerita-ceritanya. Beberapa warga tidak setuju dan menolak usulan yang tentu sangat merepotkan itu. Senja itu. di sebelah kiri perempatan kecil menuju desaku. Rupanya suara yang mengiang-ngiang selama ini berasal darinya. warna oranyenya seperti menghapus siluet yang lama menggelantung di pelupuk mataku.Cerpen Wasiat Beringin Tua Senin. tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!” Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku.” kutegaskan permintaan maafku.” jawabnya sembari mengibaskan beberapa helai daun. kukira kau tak mengerti yang kulakukan. “Aku sangat bersyukur terlahir sebagai sebatang beringin. “Emm a… aku hanya tak habis pikir kau mau membagi cerita padaku. “Justru karena aku tahu kau peduli. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu. tapi beberapa warga lain yang setuju akhirnya memindahkan pohon itu ke tempatku berdiri saat ini. ka… karena setahuku kau… kau memang banyak melakukan e… hal baik untuk makhluk lain. “Tentu saja. daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun. Aku memang hidup di garis bawah. . Pak Sugeng seorang tetanggaku yang mengusulkan agar pohon beringin itu tidak ditebang. “Aku sudah mengamatimu lama. mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. dalam anganku banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pengabdianku pada Tuhan di dunia ini. seperti menari-nari kegirangan. kering. daunnya lebat dan mampu memberi kesejukan pada lingkungan sekitarnya.” sela suara yang sama. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Seingatku pohon itu dulu rimbun. “Maafkan aku. garis hina. hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. melainkan dipindahkan saja. mengagetkan lamunanku akan masa lalu Beringin tua yang aku pandang. Sungguh miris menatap Beringin tua yang sakit-sakitan itu. 08 Oktober 2012 17:23 wib “HIDUPKU terancam. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. *** Setelah obrolan tempo hari aku jadi semakin sering meluangkan waktuku untuk duduk-duduk di bawah pohon beringin tua itu. memandangku dengan belas kasihan.” jawabku terpotong-potong. Setiap pagi kau lewat perempatan jalan di depanku. Itu dulu sebelum proyek pembangunan perumahan di depan desa digarap.” jawabku asal bicara. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut. Lalu di sore hari kau lewat lagi dengan lirikan prihatinmu memandangku. “Kau takut melihat rupaku yang mengerikan?” tanyanya menunduk lesu. Aku mulai terbiasa mendapatinya berbicara padaku. Kau pohon dan aku manusia. Sebelum tanah tempat pohon itu berdiri pindah di perempatan ini. segar.

juga tentang keberlangsungannya. Kau tahu kan. *** Dulu. Kini alam mulai mengancam. memang benar ada sebuah papan pengumuman jasa reparasi barang-barang elektronik terpampang di sana. “Yang tergusur itu tidak hanya akarku. Dibentangkannya ranting-ranting pohon. karena mengunjunginya seperti mengunjungi seorang sahabat dimana kita akan saling mencurahkan isi hati. untuk berpindah tempat saja aku tak bisa. Sembari berusaha mencabut paku-paku yang tertancap di batang Beringin tua pikiranku melayang membayangkan bagaimana rasa sakit Beringin itu jika ditimpakan pada manusia.” Jelas Beringin tua dengan sabarnya. pohon beringin yang dulu tumbuh subur kini tinggal menunggu waktu untuk tumbang." Jawab Beringin tua. yang memasang paku ini.” katanya di suatu pagi saat aku sengaja ingin menghabiskan libur sekolahku untuk bermain layang-layang di dekatnya. menempel entah apa di badanku!” terangnya.“Boleh jadi manusia lebih bangga. zaman telah berkembang. “Hei. aku usahakan untuk mencopotnya. Sebagai seorang pelajar yang mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sedikit-sedikit aku tahu tentang ekosistem.” Beringin tua merintih. Bagaimana tidak? Suhu semakin panas. Sekarang aku tak pernah menemui anak kecil dengan permainan yang sama. “Ada apa Beringin? Aku sedang buru-buru. “Aku kesakitan. Diam dalam kepasrahan menahan rasa sakit yang menjalar. Sementara aku tinggal menanti hari terakhirku. dia hanya lalai. “Manusia jelas tak akan menyakiti temannya dengan cara seperti ini. Aku mulai sadar. menanam pondasi-pondasi beton daripada membiarkan akarku menjalar mencari makanan di dalam tanah. Tapi nyata saja sia-sia karena tak cukup daun-daunnya menahan tetesan hujan agar tak mengenaiku. atau orang-orang paham mengejanya sebagai akibat globalisasi. "Manusia? Beberapa saja!” jawabnya ringkas. tak tahan dengan dingin hujan yang sedari tadi tumpah. “Astaga paku ini susah sekali kucabut. udara semakin sesak oleh polusi. seperti mendengar rintihan peminta-minta yang mengharap belas kasihanku tapi aku terlalu naïf untuk memberinya bantuan. Aku amati batangnya.” tambahku. tentang populasi. dan ambillah paku-paku itu dengan hati-hati! Sakit sekali. sementara tangan tak ada untuk mencabutnya. tunggu sebentar. Sayangnya perkembangan itu tidak dibarengi dengan kepedulian menjaga lingkungan. "Baiklah. terlalu dalam untuk aku tarik dengan tangan telanjang. Bisakah kau cabut paku di batangku ini? Seseorang menancapkannya paksa siang tadi. Orang tadi. ya! Lagi pula aku juga tidak punya kuasa untuk membalasnya. “Ya. aku sering bermain di sini bersama teman-teman. Tentu saja aku menjawab iya. tapi akar-akar rerumputan yang biasa memberimu alam hijau. saat aku masih kecil. mana tanganku bisa berbuat seperti itu. Sungguh beban berat yang musti ditanggung anak-cucuku kelak. pasti mengerikan rasanya!” Kataku memecah kesunyian. berhentilah sebentar!” Suara yang sudah tidak asing lagi. Dia tergusur oleh pembangunan. berganti jalan aspal dan ceceran semen-semen. Keadaan memang sudah berbeda saat ini.” pohon beringin itu berbisik kepadaku bersama gemerisik daun-daun kering di tanah. ya itu suara Beringin tua. Menangkap capung dan kupukupu juga mendengar kicau burung. Tapi kali ini aku sedang buru-buru. Tapi sungguhpun begitu cepat atau lambat mereka akan menyesal. Dengan badan yang tertusuk paku. memelihara lingkungan. ditambah air hujan yang membasahi sempurnalah kesulitanku mencabutnya!” gerutuku dalam hati. Bisa saja jawaban singkatnya tadi untuk menegaskan kekecewaanya padaku. Aku juga paham teori menjaga alam. kini kau lihat sendiri tanahmu kering kerontang. hujan sangat deras dan aku sudah basah kuyup. Rintihan pohon beringin itu semakin sering aku dengar sesering aku melewatinya setiap pagi dan sore hari. Tapi kenyataannya semua itu hanya teori yang setiap hari mengendap dalam otakku tanpa aku tahu bagaimana memulai teori itu menjadi sebuah tindakan. “Maafkan dia.” jawabku sambil mendekap erat tas sekolah di bagian perut agar tak basah. “Aku tak pernah berpikir bagaimana jika tubuhku yang ditusuk paku seperti ini. “Apa kau dendam pada kami? Pada manusia?” tanyaku serius. Setelah cukup lama. pada manusia. pasti tidak berpikir kalau aku masih makhluk hidup yang bisa merasai. Demi mendengarkannya itu hatiku sakit. berusaha meneduhiku. lepas juga paku-paku dari batang Beringin tua. Segera aku berpamitan padanya.” jawabku sambil melepas beberapa tali rafia pengikat papan itu. getahku seperti darahmu yang mengalir jika kulitmu tertusuk paku. Pohon beringin tua mengucap terimakasih dan menyuruhku datang padanya lagi besok. . “Biar aku teduhi tubuhmu.

“Sudahlah jangan murung. menyesali pohon-pohon yang tergusur kenyamanan hidupnya oleh pikiran picik sebagian manusia yang hanya berpikir pada kemakmurannya tanpa paham pada kebutuhan lingkungan. Menebang seribu pohon sangat menggiurkan nilai rupiahnya. mengalah pada gedung-gedung yang harus menggusur hidupku. Tidak serakah seperti kaummu. upayaku memprakarsai kegiatan penanaman seribu pohon oleh sekolahku berhasil. Mana bisa dia mencengkeramku. “Sebenarnya kau bisa melakukan sesuatu untukku dan untuk kaumku agar kami bisa mendapatkan kehidupan yang layak di bumi ini. tapi hanya dari hal-hal kecil saja. sementara aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan diri. Mungkinkah aku bisa mengubah cara pandang manusia pada alam? Mungkinkah aku bisa menjadi seorang pelopor pecinta alam lengkap dengan hewan dan tumbuhan di dalamnya? Ah! Rasanya semua itu mustahil. bukankah yang terpenting pelestarian kaumku? dimana . Tapi aku tetap bisa berusaha. Alhasil dipilihlah desa tertinggal yang masih banyak tersedia lahan kosong di sana. Kalau pun akhirnya aku tidak melakukan apa-apa untuk meyelamatkan Beringin tua itu. hanya itu saja. seperti dia paham akan kegusaranku. Paling-paling sekedar tidak buang sampah sembarangan. Tergusur. Aku memang termasuk anak yang peduli lingkungan.” kataku.Tersentak aku. “Buat apa kau lahir sebagai manusia? Katanya makhluk Tuhan yang paling mulia.” tegas Beringin tua. menyesali daundaun hijau yang mengering. peduli pada alam yang memberinya hidup. “Lihatlah rumput-rumput masih teduh mensyukuri nikmatnya. Belum pernah aku berpikir pada hal-hal besar yang mampu menyelamatkan alam.” Air mata menetes di sela penjelasanku. tidak menginjak tanaman. tentu pengaruhnya tidak besar bagi alam seluas lingkaran bumi ini. Sontak aku membayangkan. Burung-burung bersarang di rantingku. Andai pun bisa aku lakukan hal-hal untuk menjaga alam. Tetapi aku harus menanggung kenistaan saat ini. Akal pikiran dikaruniakan padamu. “Sial! Pikiran semacam ini lama-lama membuatku frustrasi!” Gerutuku. Mengalah karena tak bisa mendapat makanan yang lebih layak. persahabatanku dengan Beringin tua menuntunku untuk peduli pada nasibnya dan kaumnya. Akan tetapi. Beringin tua tidak keberatan dengan aksi itu. Sebenarnya aku hidup untuk memberi kehidupan bagi makhluk lain. Saat pekerja-pekerja proyek sibuk membangun perumahan-perumahan megah. Ya. Mengalah karena akar-akarku tak bisa menjalar dengan leluasa. “Tapi aku bingung bagaimana memulainya. tentu kau bisa memanfaatkannya. “Beringin. buat apa aku peduli pada nasib sebatang pohon.” ujar Beringin tua. menari-nari bersama angin walau mereka tinggal satu jengkal diantara hektaran bangunan yang terus menjulang. ulat-ulat memakan dedaunanku. dan sesekali membantu ibu menyirami koleksi bunganya. Aku tidak tega membiarkannya menderita. Hal tersebut dikarenakan sebuah alasan pemulihan lahan panas atau rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan. Beberapa bulan kemudian. menemani dan menjadi tempatku berbagi. aku menyesal tidak bisa membantu apa-apa untukmu. Dia sudah seperti orang yang benar-benar hidup. bagaimana jika hidupku yang tergusur. Memang semestinya aku bisa mencarikannya teman. Mengganti lahan pertanian dan perkebunan dengan pembangunan perumahan tentu lebih menjanjikan rupiahnya. sementara hasilnya samar. Hanya saja kau terlalu malas dan tak mau tahu pada kebutuhan kami. Menjaga alam hanya membuang waktu dan tenaga saja. Aku yang seorang diri tentu tak sanggup menyuruh manusia yang sangat banyak jumlahnya untuk peduli padamu. “Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?” pertanyaan retorik.” kata Beringin itu. Bukankah memang benar kata-kata itu. Perdebatanku dengan Beringin hari itu membawaku pada pemikiran-pemikiran luas yang melanglang buana. Proposal yang aku ajukan disetujui. toh dia tak akan mampu mencengkeramku. “Tapi kau tak tahu berapa besar ketamakan manusia!” aku membela diri. bukankah mereka tidak begitu penting dalam hidupku. saat itulah alam menangis. dan akhirnya musnah! Bagaimana jika akulah pohon beringin yang menanggung kenistaan itu. tapi hal itu jelas tidak bisa aku lakukan. semut-semut mengais makanan dari dahan-dahanku. Tentu saja kriteria seperti itu tidak cocok untuk tempat tinggalku yang sudah sesak oleh bangunan. menyesali akar-akar yang musnah. Hanya saja penanaman dilakukan di desa yang jauh dari tempat tinggalku. Aku mulai berpikir.

” Papar Beringin tua. “Bukan begitu. Alam benar-benar menunjukkan kuasanya. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan nyawa dari amukan arus Kali Cisari. aku selalu terbayang akan wajahmu!” Kubuali saja Beringin itu biar sadar kalau aku benar-benar sedang dalam keadaan kacau. Mungkin saja aku akan segera rapuh dan tumbang. Daerah yang benar-benar menyesakkan! Betapa aku merindukan hidup diantara hijau dedaunan. Ah tapi lupakan! Akarku mulai kelelahan mencari air. Selalu membagi cerita. “Sebenarnya samar sih. Sementara itu. “Memangnya kenapa? Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaanku!” Protesku. Hujan deras mengguyur wilayah desaku dan sekitarnya sejak dua hari kemarin. Tentu bisa ditebak. Tidak usah ngoyo karena kau seorang diri tidak mungkin bisa membuka mata manusia-manusia tamak itu. Ribuan warga terpaksa meninggalkan desa karena hujan yang tak kunjung reda. dimana harta benda yang diagungkan telah raib bersama air. “Berarti kau mulai paham pada bahasaku haha!” jawabnya senang. Hasilnya bisa kau lihat sendiri. ya walau Cuma hal-hal kecil sih!” Aku mulai ikut mengambil jatah bicara. Dia tahu aku harus pergi ke pengungsian. “Memang berat perjuanganku akhir-akhir ini. Mana bisa aku bertahan hidup hanya dengan seember air. aku sudah putus asa. kami benar-benar tak tahan lagi hanya merintih. Kurasakan tubuhku semakin melemah.” Aku mulai bicara asal. Kali ini memuntahkan isinya ke seluruh penjuru tak memandang warga miskin atau kaya. yang hidup di desa atau para pendiam perumahan semua menjadi satu nasib: pengungsi. Percakapan itu nyatanya jadi yang terakhir kali. tapi aku bisa merasakannya. Tuhan tentu tahu akan pembalasan-pembalasan. aku masih mengupayakan beberapa hal untuk menyelamatkanmu.” Tegas Beringin tua.pun tempatnya aku sangat senang kau melakukannya!” Hibur Beringin tua setelah aku selesai bercerita. “Kau sudah lakukan yang terbaik. kami korban banjir Kali Cisari. Pun percandaan itu juga jadi yang terakhir kalinya. “Suatu saat nanti bukan aku yang mengingatkanmu. *** Hari ini 20 Januari 2012. “Aih. membagi perasaan suka dan duka. Penduduk yang tamak.” Ceritanya berlanjut.” . Aku benarbenar telah kehilangan kekasihku sekarang. hanyut bersama harta benda penduduk. menyemangati untuk saling menyelamatkan hidup masing-masing.” jawabku singkat. “Bagaimana kalau aku sirami kau setiap pagi? Aku bisa kesini bawakan seember air setiap hari tentu!” Aku mencoba menghiburnya. “Kau tahu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat apa yang dilihat oleh ujung akarku jauh di dalam tanah sana. Lalu bersama-sama alam Tuhan akan memberi pelajaran. Aku masih teringat pada perkataan Beringin tua. “Apa kau bisa lihat senyum mengembang di wajahku?” tanyanya... Kau sungguh berjasa membukakan mataku selama ini! Sungguh! Andai saja kau seorang pria tampan. menghirup udara segar dan cahaya matahari yang cukup untuk fotosintesis. tetes air mataku mengantarkan kepergiannya dari sudut mataku. hingga suatu saat nanti mereka akan termakan senjata mereka sendiri.” Dia menimpali kata-kataku. baru kali ini aku memanggil kau sahabat! Tidakkah kau suka panggilan itu?” Beringin tua mulai mengalihkan pembicaraan.” Beringin tua mencibir. kau mulai pintar membual sekarang!” Jawabnya. yang sekarang merasakan sendiri akibat dari keserakahannya. “Seember air katamu? Hahaaa itu hanya serasa seteguk air jika kau minum. Bisa-bisa kau ngeri dan pingsan kalau tahu apa yang bakal terjadi di hari esok untuk umat manusia. Ya sekarang tinggal pasrah saja. Baru saja kusaksikan jasadnya terapung. tapi aku kalah perkasa dibanding kuasa manusia. “Aku malah berpikir kau bagaikan kekasihku selama ini! Ahahaaa andai kau tau. Kalau saja aku masih kuat. serakah. Apalagi aku semakin muak dan tidak tahan dengan semen-semen yang semakin melebar saja. biarkan mereka menikmati keserakahannya. bukan aku yang mengingatkan orang-orang serakah itu atas keadaan alammu sekarang ini. “Sial! Kenapa kau bisa secerdas itu sekarang! Hmm tapi memang kau dan aku serasa sepasang kekasih. aku saja bersyukur bisa bertahan hidup di daerah macam ini. “Ya setidaknya mampu menghapus dahagamu kan?” Tukasku. aku dan warga desa yang lain berada di balai pengungsian. Penduduk yang selama ini tidak sadar telah menyiksa batinnya. Sahabatku! Aih. “Sabar Beringin.” Beringin tua mulai balas bercerita. Kemarin aku sempat berpamitan pada Beringin tua. “Kalau di tempat ini memang tak ada tempat lagi. tentu sudah kurobohkan semua itu. tubuhku mulai mengurus. “Alam hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” Katanya. “Hush! Jangan main-main kau! Bisa-bisa kau benar-benar jatuh cinta padaku.

Gelisah meraja.” suara Bunda tercekat. membuat iri. 04 Oktober 2012 08:25 wib ENTAH berapa kali aku berjalan mondar-mandir di ruangan pengap berjeruji ini. biar setelah ini akan damai manusia dan alam untuk selamanya. Apalagi hujan baru tercurah. wanita tegar yang telah melahirkan aku itu hanya tersenyum. kamulah satu–satunya anak Bunda. Oleh Uswatun Khasanah Mahasiswi semester 5 (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta).” “Iya Bun. Menabur bunga di pusara Bunda pun belum pernah kulakukan. Aroma karat menyengat menambah dada semakin sesak. Kuabaikan nyamuk-nyamuk serakah berpesta. ia bersedia menampung untuk sementara waktu. . tapi mata tak ada isyarat lelah. aku menekan hasrat untuk menjejak tanah peristirahatan terakhir itu. Lanang janji. dengan segala alpa yang telah kuperbuat. Rasanya tak pantas berkunjung. jangan hiraukan Bunda. tak sabar menunggu detik-detik pembebasan besok. “Berangkatlah. bangkitkan hawa malam atis menggigil. Lebih dari sejam lalu sipir jaga melakukan pemeriksaan terakhir. Secepatnya akan menyelesaikan kuliah. Tentu setelah pembalasan ini berakhir. “Le. Rasa ego telah membuatku menjadi seorang anak durhaka. Insya Allah aku baik-baik saja di sini. Lima tahun. Salah seorang sepupuku berkhabar. Jadi kepadamulah masa depan tersandar. mata tua itu berlinang. Senyum manis yang selalu menahan getir. Dengkur teman satu sel menggema. Akan kubiarkan me mereka menumbuhkan tunasnya.Selepas kesedihan ini. semenjak Ayah meninggalkan kami selamanya. tempat pertama yang ingin kukunjungi dan rindukan adalah pesarean Bunda. Cerpen Pesarean Kamis.” Seperti biasa. menjelma Malin Kundang. Pesan itu terngiang kembali. Segumpal sesal dan rasa bersalah selalu bersemayam. Aku ingin secepatnya pulang ke Madiun. adegan berpuluh tahun silam melela. Namun. aku akan membuktikan janji pada akar-akar yang masih tersisa. Cari pekerjaan yang bagus dan membahagiakan Bunda.pora menghisap darah di tubuh kering ini.

ada yang membebani pikiranmu?” “I…iya Bun. Lanang sangat mencintai Lina. demikian sebaliknya. Awal perselisihan dengan Bunda tumbuh dari sini. kenapa diam Le. mencari istri itu bukan seperti membeli barang. Pernikahan berlangsung sederhana tanpa kehadiran seorangpun dari keluarga pihak Ayah.“Tapi Bun…. Bukan berarti Ayah dan Bunda tidak berusaha mendekati Eyang. namun kehadiranku belum juga meluluhkan hati Eyang yang tergores. “Bukannya Lina sudah memenuhi semuanya? Ia cantik. ada yang ingin kamu sampaikan?” diletakkannya kebaya warna ungu tua itu. Bunda yang berasal dari keluarga sederhana selalu menjadi bahan cibiran keluarga mertuanya yang masih keturunan ningrat.” “Bunda. Mereka begitu mengagungkan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya. Bunda beranjak. tak ada gunanya untuk terus mendesak Bunda dengan berbagai macam alasan dan logika. agar tempias hujan yang semakin menderas tidak masuk rumah mungil kami. Aku tidak ingin kisah kami terulang pada kalian. membuatku sedikit ragu mengutarakan maksud. kini menjadi pacarku. Karierku cukup cemerlang dan tentu saja. Lina. bisa ditebak Ayah dan Bunda akhirnya menikah tanpa restu Eyang dan keluarga besarnya. sebagai seorang laki-laki dewasa. Bau debu mengepul. derajat kita tak sebanding dengannya.”selaku menunggu reaksi selanjutnya. terlepas dari genggaman.” Aku mencoba mempengaruhi jalan pikiran wanita sepuh ini. “Ah. yang berbeda tabiat dan kebiasaan. terlihat dari wajahnya menggurat kegelisahan. dengan uang pensiun dan hasil jahitan Bunda rasa cukup. “Kamu masih terlalu hijau Le. jika umatnya selalu berusaha. bebet dan bobotnya. Seperti kisah dalam roman picisan. aku berhasil menjadi pegawai di bank swasta yang cukup ternama. Ibaratnya seperti bumi dengan langit. Tapi harus dilihat dari berbagai sisi. Setelah dua tahun pernikahan aku lahir. Terpekur sambil kutatap rinai hujan dari jendela sore itu. berbekal kegigihan dan doa yang tak pernah putus. tapi entah mengapa kali ini hatiku masih diselimuti kegamangan.” Bunda menghela nafas dalam sebelum meluncur kata-kata getir dari bibirnya. **** Masa begitu cepat berlalu. tapi kecantikan masa lalunya masih tergurat jelas. apa sih alasan Bunda tidak merestui hubunganku dengan Lina?”selidikku penasaran. seolah pintu regol rumah Eyang . Trauma telah mengendap dalam memorinya selama berpuluh tahun. aku segera mencari pasangan hidup. dielusnya rambutku. Aku hanya terdiam. Ini adalah hujan pertama sejak enam bulan lalu. Bunda dapat uang dari mana?” kembali senyum itu berkembang. Orang Jawa bilang harus jelas bibit. Serasa ada sesuatu yang hilang. gadis cantik yang kutemui di kala melihat pameran lukisan di sebuah galeri seni. meninggalkan sensasi khas kekeringan. menembus labirin waktu. Namun rupanya belum ada hasilnya. “Jangan kuatir Le. Tatapannya begitu lembut.” Tutur Bunda biasanya selalu bisa menentramkan. mempersiapkan kepergianku besok dengan pikiran menggelayut. sehingga bila mencari menantu harus sederajat. “Kalau boleh tahu. Seiring waktu berjalan. Bunda besok Lanang akan meninggalkanmu. Kututup pintu.”desahku setengah berbisik. Nama Ayah telah dicoret dari silsilah keluarga RM Haryo Kusumo. Ia mau menerima apa adanya dan tak mempersoalkan darimana kita berasal. “Lho. jadi Bunda merasa rendah diri menjadikannya menantu. Ia tidak berkenan dengan Lina sebagai calon menantunya. Gusti Allah ora sare Le. Semua cara telah dilakukan tapi hasilnya nihil. “Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga. kudapati disana tersimpan cerita kelam di masa silam. Wajah itu semakin dipenuhi keriput.” sejenak kupandang Bunda yang tengah sibuk membordir kebaya pesanan seorang istri pejabat. Bunda masih tekun dengan pekerjaannya. Untuk menapak dan membangun kehidupan rumah tangga tidak hanya cukup menyatukan dua orang yang tengah dimabuk cinta. terutama Eyang Kakung yang paling keras menentang perkawinannya. sampai air matanya tak henti bercucuran sepanjang acara wisuda. Biaya kuliah ‘kan mahal. pendidikan dan akhlaknya bagus serta berasal dari keluarga terpandang. Melangkah ke kamar. Betapa bangga Bunda.” Bunda memulai perdebatan kami. “Iya Nang. Pernikahan Ayah-Bunda tidak pernah diterima oleh keluarga besar Eyang dari pihak Ayah. “Justru karena Lina begitu tinggi Le. kuliah terselesaikan tepat waktu dengan hasil yang cukup memuaskan.” Kutatap sorot mata Bunda. “Nang. Berkat jerih payah Bunda dan beasiswa yang kudapat. walau mendiang ayahmu tak mewariskan harta melimpah.

toh tembok karang itu tak jua tergerus. “Bunda memang menantu yang baik. Hanya Aku dan Bunda yang setia menemani kepergian Ayah disaat-saat terakhir.” “Iya saya tahu. Pikiranku berkecamuk. Sayang. Apakah ini yang dinamakan kasmaran? Ya. bahkan disaat kritis sekalipun. sehingga pelan tapi pasti langganannya pun semakin bertambah. Setiap menjelang bulan Ramadhan Bunda selalu mengajakku untuk berziarah. Kejadian seperti itu berlangsung berulang kali. Di kota pecel Madiun. matanya sembab. Bunda kembali menekuni keahliannya menjahit yang sempat ditinggalkan setelah berumah tangga. walau terjangan ombak datang setiap saat. meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. mengirim makanan kepada yang lebih sepuh adalah kewajiban. mukaku merona. sampai Romo dan ibu menerima keluarga kita. ia akan pergi sendiri. begitu aku memanggil nenek-ibu dari Bunda. “Tapi Mas. mengurus keperluanku untuk sementara waktu. perkara pasangan hidup terserah di tangan yang menjalani. Di pusara Ayahlah Bunda akan berkeluh kesah. Mungkin juga ia mengadu akan kenakalanku. Aku yang waktu itu masih SD hanya menatap iba.” suara Lina lembut. Air jeruk tertumpah di kemeja. titik!”sergahku sengit.yang megah telah tertutup untuk kami selamanya. tapi restu Bunda belum aku dapatkan. **** Tanpa sepengetahuan Bunda hubunganku dengan Lina semakin erat. bagaimana ini? Bukankah surga terletak di telapak kaki ibu? Dan aku tidak mau disematkan gelar anak durhaka. Berhari-hari Bunda mengurung diri di kamar. Eyang memberi sejumlah uang untuk biaya pemakaman lewat Om Bagus. bergelut hebat. .” Ayah menggumam. “I…iya Lin. Nasihat dan petuah Bunda aku abaikan. Simbah Nyai. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. secepatnya Mas akan menemui orangtuamu. “Jangan kau ungkit masalah itu. aku benar-benar jatuh cinta pada Lina. Lagian ini ‘kan suasana lebaran. Terbukti ketika Ayah jatuh sakit. Bagaimana aku mengatakan pada Bunda tentang permintaan Lina yang begitu mendadak? Secara materi aku memang sudah siap. tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. Hanya cibiran saja yang kita terima. menumpahkan rasa. tetapi bila kangen Bunda kepada Ayah tak bisa ditahan. Tak bosankah Bunda diperlakukan seperti itu?” “Sampai kapan pun aku tak pernah bosan Mas. termasuk istri pejabat. “Sudah berapa kali aku bilang. Untuk urusan jodoh aku tak mau diatur. Dengan lesu ditaruhnya rantang yang berisi makanan di atas meja. karena ia tahu pasti tidak akan diizinkan. Sabar ya. toh aku bukan anak kecil lagi. Senyum tulusnya tak mampu menyamarkan.” kuremas jemari lentiknya. anak lanang satu-satunya ini. jangan bawa makanan ke rumah Romo. Pokoknya secepatnya Mas akan ke rumahmu. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Kasihan Lanang tak pernah bercengkerama dengan Eyangnya seperti anak-anak lain. Jahitan Bunda rapi dan halus. Kami adalah trah yang terbuang dan disingkirkan. Bunda memang tidak pamit kepada Ayah kalau pergi ke rumah Eyang.” Bunda memandangku sendu. tetapi ditolak dengan halus oleh Bunda. berharap perempuan cantik di depanku itu tak merajuk lagi. tapi cukup membuatku tersedak. separuh nyawanya telah tercerabut. sebagai menantu saya ingin berbakti kepada mertua. tapi Bunda tetap berkeras hati menaklukkan kebekuan hati Eyang. Menurutku usahanya adalah kesiaan. kapan datang ke orangtuaku untuk melamar? Bapak-ibu sudah menanyakan lho. ketika itu Bunda menangis setelah pulang dari rumah Eyang. Ia memang sudah mengetahui sikap Bunda akan hubungan ini. kami menata kehidupan lepas dari bayang-bayang keluarga Eyang Harjo Kusumo. terlihat jelas tilas air mata yang terselip. tak ada satupun kerabat Ayah yang menjenguk. tapi apa sambutan mereka. Semula Bunda menolak tapi Simbah Nyai tak mau menyerah begitu saja. hingga Bunda luluh dan tak kuasa menolak. Kepergian Ayah begitu memukul jiwanya.” terdengar suara mengagetkan kami. “Kamu bimbang ya Mas mau melamarku? Karena ibumu belum merestui hubungan kita?” rentetan pertanyaan Lina kembali memojokkanku. Ayah keluar dari kamar dengan wajah murung. Masih membekas dalam ingatan. adik ayah. seolah pasrah dengan nasib yang tengah dijalani. sampai Bunda bangkit dan melupakan semuanya. Beberapa pengunjung restoran yang melintas terlihat tersenyum simpul melihat kekonyolanku. seolah tak memberi ruang sedetikpun untuk bernafas. Atas ajakan Simbah Nyailah kami pindah ke kota Madiun. “Mas. cinta pada pandangan pertama.

Bunda akhirnya melepaskanku untuk menempuh bahtera rumah tangga dengan wanita yang menjadi pilihanku. “Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. diam dalam ego masing-masing. Hampir setengah jam kami tak bertegur sapa.” Tak lama punggung Lina menghilang di balik pintu. “Oke Lin. besok. tak perlu kita berdebat soal ini. minggu depan aku akan melamarmu!”teriakku lantang. Kasih keputusan segera. dengan atau tanpa restu akan melamar Lina. wangi parfum menyeruak menggoda hidung. Tentu saja sebagai suaminya aku tidak terima dan merasa dilecehkan. Semoga yang Bunda takutkan selama ini tidak terjadi pada rumah tangga kalian kelak. “Iya. segera kuganti. Demikian pula yang terjadi dengan kami. seolah menahan gemuruh yang berkecamuk di dadanya yang tipis. Semoga kalian dapat menjadi keluarga yang sakinah. **** Bunda tercenung lama mendengar maksudku untuk melamar Lina. malah marah besar ketika tahu aku mengajukan protes dan memintanya untuk berhenti. Bunda kembali menghembuskan nafas sebelum meluncur kata-kata dari bibirnya.” Kupeluk Bunda penuh keharuan. wajahnya berseri. “Sudahlah Mas. Nanti kalau Anisa bangun kasih susunya ya. Celananya basah.” Senyum Lina merekah seketika. Akhir-akhir ini kerjaan kantor menumpuk. “Aku buktikan aku bukan laki-laki pengecut. Dalam usianya yang belum menginjak dua tahun. Mbak Dini sudah menunggu. aku mau ke rumah Mbak Dini.” Lina berkata seperti tanpa beban. sehingga tega mengizinkan istrinya untuk mencari tambahan nafkah. tetapi apa jawaban yang aku terima? Kata-kata pedas meluncur ringan. Mas ‘kan lakilaki. Bahkan kini ia telah dipercaya Mbak Dini memegang penuh butiknya. Kusampaikan keberatan kepada Mbak Dini. Ia bukanlah wanita yang kukenal tiga tahun yang lalu. bahkan menyerang balik dan menganggapku sebagai suami yang tak bisa mencukupi kehidupan rumah tangga.” “Ja…jadi Bunda merestui hubungan kami?” mataku terbelalak tak percaya. bagai prajurit yang menang di medan laga. Lho. Anak lanang yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih dan dibesarkan dengan cucuran keringat serta air mata kini telah berani menentangnya. dapur dan tempat tidur. “Apakah uang belanja yang Mas kasih kurang Din. Bagai api yang disiram bensin. ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangannya yang mungil. sehingga aku harus kerja lembur di rumah. Kamu adalah anak satu-satunya Bunda. **** Tiga tahun berselang… “Mas. sebulan atau setahun lagi. jangan jadi suami kolot. Walaupun harus mengorbankan segala perasaan. kakak iparku itu. seminggu. Bunda akan melamar Lina untuk menjadi istrimu. bukankah kemarin kamu sudah ke sana?”Aku letakkan lembaran laporan keuangan yang sedang kusimak. bukankah ini kemauan Lina sendiri. Ini jaman emansipasi wanita. Bunda mau bilang apa. harus tegas dong!” kata-kata Lina kali ini begitu menyengat. terkadang melalaikan urusan rumah tangga.tidaklah elok bila aku memaksakan kehendak. Lain kali masalah ini kita bahas lagi.” jelas Lina pendek. Tangisan Anisa terdengar dari kamar.” Aku bersikeras. melebar ke mana-mana. Mas tidak setuju kamu bekerja lagi. Kali ini begitu berat. Perselisihan makin meruncing. seolah penuh tekanan yang menghimpit. Susah payah aku berusaha meninabobokan agar terlelap kembali. “Lanang telah berketetapan Bunda. Aku tidak begitu suka mendengarnya. Semoga memori . Benar kata bijak. hingga kamu harus bekerja lagi?Meninggalkan Anisa yang masih kecil?” “Bukan begitu Mas. Lina semakin asik dengan kegiatannya di luar. Nafas menghembus pelan. justru kenapa kini aku yang disalahkan? Sikap Lina setali tiga uang dengan kakaknya. Mbak Dini mengajakku menangani bisnisnya. Satu pertengkaran biasanya berlanjut dengan serentetan pertengkaran berikutnya. “Iya Mas. kasih sayang ibu sepanjang jalan sedangkan kasih sayang anak sepanjang penggalah. Ia mau membuka butik baru. Ia tidak membelaku. Duniaku hanya seputar sumur.” “Apapun alasannya. membakar harkatku sebagai seorang laki-laki. Ruang keluarga yang sempit kian terasa pengap. masalah sepele bisa membesar.” Kucoba mencairkan kebekuan yang semakin menyiksa.”tiba-tiba Lina berdiri di depan meja kerjaku. kutatap Bunda mencari kepastian. balita ini harus menyaksikan orangtuanya saling menyakiti. kubersujud di pangkuannya. Yang menjadi korban tentu saja Anisa.“Secepatnya itu kapan Mas. terburu kuhampiri. meninggalkanku yang tercenung tak percaya. “Aku berangkat Mas. seolah ia makhluk asing dari dunia lain. “Ke rumah Mbak Dini lagi. aku sudah bosan tinggal di rumah. Dandanannya begitu rapi.

“Wis tho Le. Sebagai seorang ayah aku kurang telaten mengurus balita. Aku. Bunda tersenyum kecut.” permintaan Bunda pagi ini begitu mengagetkanku. anak laki-laki semata wayang yang begitu dibanggakan telah mencoreng aib di mukanya. aku sering meminta bantuan Bunda untuk mengawasinya. Anisa sekarang sering rewel dan banyak kemauan.diotaknya tidak merekam kejadian yang tersaji hampir tiap hari. Bunda. Candik ala menambah sendu hati yang tengah gulana. seperti syair lagu lama. Malang. samar matahari tergelincir ke barat. Aku yang pegang kemudi hilang kendali. itulah nama Bunda.” “Apa kamu bilang nggak cukup. Kusingkirkan kuntum kamboja yang berguguran. Aku ingin hidup layak. “Serius Bunda mau balik? Lalu bagaimana dengan Anisa?” tanyaku mencoba memperjelas bercampur cemas. . Tapi sebelumnya aku sudah merasakan perubahan mencolok dalam hubungan kalian sebagai suami-istri yang hambar akhir-akhir ini. menjadi penghuni tetap sebuah Lapas di Surabaya. kuletakkan kembali. Itu akibat apa yang diminta selalu dituruti oleh neneknya. akhirnya tercium juga. Setelah kepulangan Bunda ke Madiun. Sering Bunda datang sendiri tidak dijemput karena tugas dikantor tidak dapat ditinggalkan. Saya rasa kamu terlalu boros dan royal!” “Terserah Mas mau bilang apa. besok antarkan ke Stasiun Turi ya. Ia tidak mau Anisa diasuh oleh neneknya karena menurutnya anak menjadi manja. melihat raga renta itu tertatih naik bus dari Madiun ke Surabaya sendiri. Roti tawar yang siap masuk mulut. lebih dari yang Mas bisa berikan!” umpat Lina ketus. Memang ada pengasuh. Sebagai seorang wanita yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Serapat-rapatnya aku menutupi kekisruhan rumah tangga kami. Hampir tiap malam kami tidur beradu punggung. tapi aku gamang melepas Anisa dalam pengawasannya sendiri. “Nang. Ya. aku tidak akan meminta bantuan Bunda. hingga menganggu perkembangan psikologisnya kelak. Bunda mau balik ke Madiun.” “Enggak kok siapa bilang. maafkan anak lanangmu ini yang tak pernah berhenti merepotkanmu. Tak terbayang betapa repotnya nanti mengurus Anisa tanpa kehadiran neneknya. **** Entah berapa lama tubuhku tertelungkup di tanah pesarean ini. Lima tahun lebih diriku mendekam di balik terali besi. Aku harus mempertanggungjawabkan kematian Lina dalam sebuah kecelakaan tragis. Di tengah perjalanan balik pertengkaran hebat terjadi. Demi Anisa. Aku lolos dari maut dengan luka cukup parah namun Lina tidak dapat diselamatkan. mobil kami masuk jurang dan terbakar. aku tidak mau Bunda sering-sering ke sini. kami mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan menginap di sebuah hotel di kawasan kota Batu. kok mendadak begini?”tanyaku sewajar mungkin menyamarkan kegelisahan. Bunda sudah tahu semuanya. penuh kemesraan seolah dunia hanya milik berdua. ditariknya kursi duduk persis di hadapanku. Lagian kalau kamu lebih banyak meluangkan waktu untuk dia. Pokoknya aku tak mau berhenti kerja. wanita sederhana yang sebagian besar hidupnya selalu prihatin. “Wajarlah Lin nenek memanjakan cucunya. sedangkan ibunya tak begitu peduli. kehadiranku disini rupanya membuat Lina kurang berkenan.” semprot Lina ketika aku belum sempat meletakkan pantat sepulang dari kantor.” “Kok aku yang disalahkan? Aku bekerja ‘kan buat keluarga.” aku masih mencoba berkelit. Tertulis di nisan sebuah nama: “SUPRIHATINI BINTI HADIKROMO”. Mataku mengerjap. “Lho kenapa Bun. Bunda tentu saja merasakan kejanggalan yang terjadi. “Maafkan Bunda Nang. Semua tergantung bagaimana kamu mengelolanya. Bunda mengangguk pelan. Aku tak mau menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian.Tanpa sengaja aku mendengar pertengkaran kalian. Kehadiran Bunda ternyata tidak membuat Lina berkenan. Terus terang gajimu sudah nggak cukup lagi Mas. “Mas. justru kehadiran Bunda membuat tugas kami merawat Anisa menjadi ringan. tercium sisa wangi membuat bulu roma merinding.” Sekarang aku tidak bisa bersandiwara lagi. tapi sudah cukup memberikan kepastian kalau keputusannya sudah mantap. Terkadang aku begitu merindukan saat pengantin baru. Terselip rasa tak tega dalam hati kecilku. segala yang dituturkan Bunda benar adanya. Seperti biasa pertengkaran kami tak pernah menemui titik temu. tak bisa diganggu gugat. Sekarang kami tak pernah sarapan berdua lagi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan belakangan.

28082012 Keterangan : 1) Pesarean : Makam. Tentu ia begitu terpukul melihat anak lanangnya ini harus mengisi hari-harinya di sel. Aku tahu Hisin Jentik dengan Ipin ini kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. adalah nama pena dari Joko Rehutomo. Sekarang tinggal di Depok. Besok aku akan menemui putriku Anisa. tak sedikitpun terbersit niat untuk membuatnya kehilangan nyawa. dan aku tak mau Anisa menjadi seorang piatu. kesehatan Bunda menurun drastis. berwarna jingga Biodata Penulis: Sunu Rh. Bunda berpulang tanpa kehadiranku di sisinya. semoga keajaiban sudi menghampiri. Bekerja sebagai PNS. apakah orangtua Lina mengizinkanku menemui cucunya? Entahlah. bukan bermain-main dengan kawan sebaya. Bergabung dengan FLP Jakarta Angkatan 16. Cerpen Keluarga yang Pindah dari Kampung Arpan Rachman Senin. Aku heran ada anak kecil seperti itu. ingin rasanya gantung diri waktu itu. 01 Oktober 2012 10:48 wib AKU akhirnya tahu ke mana mereka sekeluarga pindah. ayahnya? Rasa bimbang kuat menyeruak. Sudah seberapa besar ia sekarang. Sebagai seorang suami. Sungguh.mulai sekarang Lanang akan selalu menjagamu. bebet dan bobotnya : sejarah garis keturunan 3) Sepuh : tua 4) Gusti Alloh ora sare Le : Tuhan tidak tidur. Bisa dihubungi di e-mail : rehutomosunu@gmail. aku begitu mencintai Lina. aku dianggap lalai menjaga istri dan dituduh menjadi biang kerok kecelakaan itu. Tepat belum genap setengah tahun aku di penjara. Nak 5) Trah : keturunan 6) Wis tho Le : Ya sudah Nak 7) Candik ala : langit di waktu sore. Hisin Jentik yang memberitahu aku. Lanang janji! Rumah Hijau. Hatiku hancur.Segera setelah keluar dari rumah sakit. Sumpah demi Tuhan. tapi sipir berhasil memergoki hingga nyawaku masih menyatu dengan badan sampai sekarang. badannya begitu kurus ketika terakhir menjengukku.com. walau dunia kita telah berbeda. Masih ingatkah ia padaku. Pasti cantik seperti ibunya. tapi malah akrab . HP : 081317500341. Hari ini. kuburan 2) Bibit. Kupandang lekat batu nisan Bunda sebelum beranjak pergi. Sedangkan aku bermusuhan dengan Ipin sebab aku tak suka dia ke mana-mana selalu bawa monyet. Bagaimanapun ia adalah Ibu dari anakku. Penyakit asmanya sering kambuh. Semenjak aku menjalani hukuman. keluarga Lina menuntutku ke pengadilan. pertama kali ku menjenguk pesarean Bunda. Selamat tinggal Bunda.

dengan binatang. Aku tak habis dimarahi ibunya. Beruntung. lewat kalimat yang sangat kasar. aku langsung tahu apa maunya. itulah cinta! AKU sudah tidak lagi ingin tahu tentang mereka sekeluarga seperti dulu. Jadi. “Dia jagoanku. Insiden itu membuat mereka sekeluarga pindah. ibuku datang membela. Jelas saja kami – aku dan Iren – saling berpandangan. tiba-tiba saja terjadi skandal kecil. itu pandangan untuk yang terakhir kalinya.” katanya penuh jumawa. Takut benar aku melihatnya berubah mirip gorila King Kong. Dia Si Buta itu berkawan dengan seekor monyet yang selalu mengganduli bahunya. “Hey. itu ‘kan binatang?” tanyaku. Ipin menjawab bahwa dia gemar membaca komik dan ingin benar jadi tokoh komik itu. Kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. kupikir. Aku dipergokinya bersembunyi di bawah ranjang bersama adik perempuannya yang tersayang. “Apa yang kalian lakukan?” Kujawab. monyet!” jawabnya. Saat Iren buka celana. pengecut itu malah lari terbirit-birit masuk rumah. sore-sore. Tapi sebelumnya memang terjadi sesuatu. Ya. “Kita ini. cinta itu kawin. Kami berdua sempat main ‘dokter-dokteran’ di bawah ranjang dalam kamar pengantin. Iren masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barangbarang yang mereka angkut secara gotong-royong. Sementara ibuku langsung menarik tanganku supaya segera bergegas pergi dari sana. Dia tanyakan kami-tentu saja ibuku tak pernah marah: lantunan kalimat baik-baik dan secara penuh sahaja. di bawah ranjang. Sewaktu kutanya lagi. lain pula yang gadis kecil itu minta aku lakukan padanya. Beberapa ibu tetangga lain menjadi saksi peristiwa memalukan itu. Kawin itu nanti kalau sudah besar. Tapi semua bukan salahku saja. aku tak mau bersembunyi di sana sebab aku tahu itu kamar pengantin orang. “Tunggu di sini sebentar. Kukira. Kurasa. Seperti pamannya yang menikah dengan pesta meriah di hari yang paling sial dalam hidup kami. Nama tokohnya.” kataku. “Aku dipaksa dia. tidak boleh masuk sembarangan. mereka sekeluarga pun pindah dari kampung kami. mengapa dia suka membawa-bawa monyetnya saat bermain dengan kami. “Iya. Mulutnya yang penuh kata-kata kasar seperti ternganga sengaja dia buka selebar-lebarnya untuk menelan diriku yang kecil ini. “masih kecil untuk bicara soal cinta. dulu. mungkin karena malu. suatu hari. menunjukkan rasa marah. Saat itu kami anak-anak kecil di tengah pesta pernikahan pamannya. Rumah mereka sekeluarga hanya berseberangan jalan dengan rumah kami. Kepindahan mereka terkesan amat tiba-tiba. Iren yang genit seketika menarikku berlari. Sebelumnya. Saat itu – sumpah – aku ingin sekali mencongkel matanya! Seketika aku tegak berdiri bermaksud mengambil pisau dari dapur untuk membutakan matanya supaya dia jadi mirip dengan tokoh idolanya. kami bertetangga. Tapi – sungguh – aku memang tidak cinta dia.” kelahku membuktikan fakta. Tak mau tahu juga cinta itu . dan mendapat giliran untuk sembunyi. Mereka berusaha menyabarkan ibunya. Seperti yang coba-coba didesakkan Iren agar aku telungkup di atas tubuhnya yang telentang. Ibunya yang cerewet menukas nyaring seperti gorila King Kong yang mengajak bertengkar dengan gaya berpencak silat. Si Buta dari Goa Hantu.” Karena. *** SEJAK itu. Itulah bantahanku demi membalas hardikan kasar Si Ibu. Namun. main petak umpet. tanganku ditarik dan aku diajak bersembunyi di bawah ranjang. Tapi ketika aku datang lagi ke bawah pekarangan rumahku. menemui dia dan monyetnya sambil menghunus pisau.” sahutku. menghardik aku habisan-habisan. Ah.

tetapi mendongak. Aku dan si guru! Mengawasi matanya. aku menulis pakai tangan kiri. Keringat pasti tertitik di dahi.” Matanya itu. DIA pasti ikut masuk kelas 1 … Kebolehan tanganku itu semula bisa memanjang-manjangkan kalimat. Tangan terbuka dalam posisi diam tak bergerak di atas meja. energi yang diakselerasikannya dengan emosi membara. guru yang baik. mata Sang Guru saat melayangkan mistarnya. sambil tetap tak berkedip dalam diam (supaya aku tahu bentuk angkara murka itu). Aku menyukai mata … Sejak hari pertama. panjangnya 500 centimeter. Karenanya. waktu pun berlalu. Ah. habis menulis. Ajaran “kanan” ternyata berlaku di hari yang menyakitkan itu. Tapi tak kusangka ibunya menaruh dendam! Saat umurku cukup buat sekolah. Kawan main bola. . sore-sore) Jelas saja kami saling berpandangan. Maafkanlah aku ini. sejak itu. Itu yang kusukai. Sengaja kupandang lekat. (Sungguh. sungguh … Dan. betapa kuat. kasti. Itu tangan mungkin lebih berbakat kalau kupakai menghunuskan sebilah pisau untuk membutakan mata seseorang. aku meringis selama seminggu. Hari pertama masuk SD kelas 1. Tangan ini digebuk oleh guru. Kanan bukan tangan yang baik. Buku jarinya ada di atas. dua bangku. dulu) Semula. (Sambil mengingat-ingat kenangan tentang Iren yang kulihat secara sembunyi-sembunyi dari balik jendela rumahku di tingkat dua. rasanya tidak enak. yang kira-kira setebal tiga centi. Sampailah rekornya. hm…hm. Tapi di sana siksaan bukan pendidikan yang kualami. dan kawan berkelahi. Hanya itu. Mengapa dia memukul? Hanya Tuhan yang Maha Tahu alasannya. namanya penderitaan. ayahku memasukkan aku ke Sekolah Dasar di dekat rumah kami. Mereka baru susah-payah mengukir bagaimana tepatnya lurus-lurus menegakkan bentuk dua kaki di huruf “H”. tanganku selalu ingin menulis saja. ketika menulis surat ini aku tidak tahu kalau guruku itu ternyata masih kerabat Ibu Iren yang kupermalukan. menimbulkan derita tersendiri. Tepat dua halaman penuh bergaris-garis buku tulis harga murahan yang bisa dibeli di pasar. Alatnya memukul adalah mistar kayu. Berapa besar. ruas tulang jari tengah tangan kanan. SD kelas 1. (Baru aku tahu pemukulan itu ternyata pembalasan dendam atas perbuatanku dengan Iren. Bila kuketahui kecepatan tangan guru itu saat menggebuk itu 75 kilometer per jam. saat melangkah masuk pintu kelas 1. Sampai sekarang pun juga … Tapi. Si Mistar Kayu jadi jijik naik pitam. Tangan yang jadinya sedikit memar. gambaran. Karena Iren telah memberitahu aku. saat pindah rumah dari kampung kami. baiklah kutulis surat saja. Dan. pingpong. apa boleh buat. Tapi batin ini rupanya kena derita lebih sakit dari tangan. Kini cacat bergeser dari tempat semestinya. Aku punya banyak kawan. Penggaris. “Kawanku. Kurun waktu lima belas menit menulis cepat. Aku tak menunduk. layangan. Ketakutan yang menghantu! Guru dari zaman gelap itu masih suka muncul di mimpi-mimpi yang terburuk selama 32 tahun. Kekidalan mungkin di matanya adalah kekotoran. Tidak kuat jadi tumpuan kuda-kuda untuk menggenggam bila antara jempol dan telunjuknya diselipkan pensil. Sebab aku tak mampu menceritakan penderitaan ini dengan kata-kata secara langsung dengan kamu. dulu) “Ganti tangan kanan!” terkecam nian rasanya.seperti apa. berenang. Kalau melihat kawan sebangku. akibatnya. Alhasil. ketika dia masih mencoba diam-diam mendongak ke jendela rumahku saat membawa barang yang mereka angkut secara gotong-royong. dan yang duduk di kelas lain.

27 September 2012 11:13 wib "MAMA. kapan Larry mampil ke sini?" tanya Avis di sebuah siang yang terik. "Larry datang kalau musim hujan sudah dekat. Dia dengan Ipin kawan sebangku yang lengket seperti permen karet. 3 Mei Penulis: Arpan Rachman CERPEN Laron-Laron Kerinduan Kamis. Yang memberitahu aku. Ma?" "Mama belum tahu. "Mama." tegur Avis. Larry pasti pengen mampir ketemu Adek.*** Fort Rotterdam. Dek." Avis mulai menunjukkan sifat keras kepalanya yang menurun dariku. Kisah 1001 Malam sudah terekam utuh di memori otaknya. pintu-pintu kita buka. Matanya sudah sembab.Sejak itu aku menyukai mata pena. Kata Hisin. "Kapan. Bersamanya selalu hangat kala suamiku masih meniti kariernya dari pagi hingga petang. Lalu. Kalimat cedalnya menghentikan lamunanku di temaram senja. punya cita-cita mau jadi penulis cerita … AKHIRNYA aku tahu mereka sekeluarga pindah ke mana." Aku pun bangkit dari kasur menyalakan kipas angin . Pipinya kerap memerah seusai berlarian di taman depan kecil rumahku. My baby boy satu ini selalu menyimak dongeng-dongengku sebelum jatuh tertidur siang harinya. Segera saja aku geser lemari buku dan meletakkan sebuah ember besar menadahi tempias air dari sela gurat retakan plafon. Nanti Mama kasih tahu ke Adek kalau Larry mau main ke sini. Hisin Jentik. Kurengkuh bocah lelakiku yang umurnya sekira menapak dua tahun." jawabku sambil mengelus dahinya yang mulai timbul bulir-bulir keringat kecil. Parasnya terlalu manis dengan hidung bangir mirip ayahnya. ail hujannya netes lagi. Tapi cerita kesayangannya selalu tentang Larry. percaya Mama. Dek. "Kalau Adek bobok nanti enggak ketemu Larry. tak lama lagi cekung." jelasku mulai gusar karena Avis belum terpejam. “Mereka pindah ke Kebon Duku!” Tapi aku sudah tak mau tahu. Ahmad Avisenna berambut ikal dengan kulit kuning langsat. seekor laron yang kesepian tapi gemar berpetualang mencari sumber-sumber cahaya paling terang. "Mama yang nungguin. Yang penting lampu-lampu rumah kita nyalakan.

Terpesona aku tanpa ingat janji pada Avis. Berilah aku harapan bersama nur abadi-Mu. Linangan air masih ada. Ada puluhan bilah tipis coklat menelusup ventilasi rumah.keduanya lenyap bermetamorfosis menjadi serpihan bisikan di telingaku. Kini makin memekakkan gendang telinga. Itu kulihat dari sungging senyumnya. Membawa keriaan antara musim paceklik dengan hujan.. menjadi santapan cicak-cicak..ada yang jatuh dari gurat tipis plafon rumah. Aku baru tersadar yang dinanti telah tiba saat sebilah sayap coklat tipis menyelundup lewat sela bawah pintu. Dari kerai kuintip sembari memicingkan mata. Entah dari mana. Mungkin dia lagi bercanda dengan teman khayalannya.dengan harapan sepoi angin menaklukkan pria kecilku..menyikut ujung-ujung kayu pintu. ataukah digotong sepasukan semut rumah. siku jendela hingga kaca.. Lampu-lampu putih menerangi rumah mungilku. Bakda Maghrib hawa rumah mulai segar menghela di paru-paru. Ratusan laron-laron menyerbu lelampu tanpa ampun. "Sabar dan sholat. Mengelilingi bulatannya dengan pelan tapi pasti. Drrtt. si kecil Avis masih menikmati tidurnya." Larry. menceburkan diri ke air. tapi sudah bertanda. Larry mendaratkan tubuhnya ke dada kecil itu. Meski terbang agak lemah. Sekarang tinggal aku berdoa agar Larry si laron memenuhi permintaan kami. Mungkinkah dia? Aku belum berani menengok ke luar. Mata Avis terbuka menikmati rapuhnya tubuh Larry. Plop. bunyi-bunyi gesekan mulai terdengar. Suara jangkrik sudah berpadu. Kemudian menjemput takdirnya. Kusibak korden kamar. Puluhan di antaranya menabraki tubuhku yang terduduk di keramik lantai penuh bilah kecoklatan. Tik. Tubuh Larry yang sudah puas beterbangan duluan daripada teman-temanya mulai mendekatiku. Entah kontak batin apa yang terjadi antara dua makhluk mungil kesukaanku ini. Depok. Dia hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari pendaran cahaya di rumahrumah. 25 September 2012 Inspired by my little fam and the couple of Andi 'ucup' + Anita Wepe Oleh Indah Wulandari .drrt. Pelan. Belum terlihat.. Larry tak bisa memilih takdirnya. badan tipis berbuku-buku itu ternyata masuk dari sana. Meliuk-liuk di lantai dengan tubuh coklatnya yang menjadi nampak seperti telanjang. kelopak matanya terpejam.. "Kun fayakun. Aah..leganya. Pintu tiba-tiba terbuka diserang angin kencang. Larry.tik. Tangannya memegang guling kumalnya sembari menggeliat-geliat kecil.hujan sudah mereda. Suamiku pulang membawa pengharapan lagi. Berhasil. Plokk. Pintu depan rumahku masih tertutup. kamu sudah mendekat membawa harapan bagi aku dan Avis. Menjejaki pancaroba musim seakan petunjuk bagi manusia untuk menyambut peralihan dari masa tandus ke masa penuh limpahan air. Menuntun pandanganku mengikutinya menuju kamar Avis berbaring. dia berhasil membumbung ke arah lampu pendar putihku.. Ya ayyuhaladzina amanus ta'inuu bishobri shollati." tepuk sebuah tangan di pundakku. Lagi-lagi seruan d balik tembok menderu. Menyirami kami dengan sayap-sayapnya yang bakalan rontok usai menari di kerlip neon rumah kami. Innallaha ma'ashobirin.Avis jangan memendar kemudian menghilang. teriakku.

“Wah. Dan. bagaimana kelak jika puisiku menjadi pengantar kematianmu? Kini kau terbaring lemah di rumah sakit. Aku kehilangan akal sehatku. Kau yang pertama kuhubungi. nanti saja kau telepon lagi. aku merasakan malam yang tidak biasa. apakah aku juga harus membuatkan puisi untuk mengantar kematianmu? Bagaimana jadinya jika nanti puisi itu akan gentayangan menghantuiku dan kembali menceritakan perihal kematianmu? Mati itu menyenangkan. setelah ditabrak lari oleh sebuah mobil. Ya.” Kau yang seorang perokok berat memang tidak akan menomorduakan rokok dan kopi. kita selalu bersama. Namun. Kemanapun kau pergi. Sejak kecil dulu. Kita berbincang apa saja sambil ditemani rokok dan kopi. termasuk suasana ketika seseorang menunggu ajalnya tiba. tentu saja kelulusan ini harus dirayakan bersamamu. kegelisahan selalu menyeruak.” Impian mentraktirmu sirna sudah. kau lulus ya? Selamat kalau begitu. Jadilah kita sahabat karib yang selalu bersama hingga saat ini. Namun. Sama halnya dengan menulis puisi. Tetapi. seperti kata-kata yang hilang kendali ketika aku menulis puisi. PUISI #3 “Aku lulus!” teriakku di lorong kampus itu. Kata orang kita sahabat yang karib. sungguh. Kau bilang. PUISI #2 Malam itu. aku selalu membuntutimu karena aku anggap sebagai kakak yang melindungi adiknya. Rasa bahagia itu ingin kusampaikan padamu juga. kawan yang telah kuanggap sebagai kakak kandungku. Aku berpikir tentangmu. Tapi. 17 September 2012 16:55 wib PUISI #1 “Buatkan aku satu puisi sebelum kematianku. Dua hal itu telah menjadi candu bagimu. Dengan segera aku meneleponmu. Dan. aku baru saja pulang dari rumahmu. Aku memang menyukai suasana yang dramatis. kukira. kini kau tengah menunggu malaikat mencabut nyawamu.” pintamu ketika aku menjegukmu kemarin. Dan. Dalam perjalanan pulang. Mungkin pergi ke bar sambil minum-minum adalah perayaan terbaik. aku takut untuk menulis puisi untukmu kini. aku akhirnya lulus dari kampus tempatku berkuliah setelah beberapa tahun lamanya berkutat dengan teori-teori yang mungkin tidak semuanya kumengerti. Aku selalu menuruti perintahmu. Malam yang penuh dengan kegelisahan. aku sedang sibuk. karena waktu itu kuanggap perintahmu tidak boleh kuabaikan. PUISI #4 . Aku memang suka menulis puisi.Cerpen Fragmen Puisi Senin. Tetapi. Betapa tidak. sama seperti kehilangan kata-kata ketika aku menulis puisi. “Perbincangan tidak akan menarik apabila tidak ditemani oleh rokok dan kopi. perlahan aku mulai membenci kata-kata itu. kata-kata telah membuatku menjadi gelisah kali ini.

Kau sering dimarahi atasanmu. setidaknya membahagiakannya. Kuterima kau dan kita mengobrol dengan tetap ditemani rokok dan kopi yang dibuatkan istriku. karena kata-kataku hanya bisa kuucapkan lewat puisi saja. dan sudah sewajarnya kau harus mengalah. Pekerjaanmu banyak yang terbengkalai. Aku tahu itu. Memaki kepada anak-anak lain yang tengah memperebutkan layang-layang itu. Ah. aku ingin secepatnya bertemu dengan istriku yang selalu menunggu kepulanganku. Istriku yang cantik. layang-layang itu kau beli dengan harga yang mahal. Layang-layangmu akhirnya dengan mudah dijatuhkan. dan dengan pukulan yang keras kau pukul dirinya. kuanggap itu hanyalah lirikan biasa sebagai seorang sahabat yang kagum atas sahabatnya. Lalu kau pun pulang dengan penuh dendam. kau berkunjung ke rumahku. Sepanjang perjalanan. PUISI #6 Aku berkenalan dengan seorang wanita. Istrimu berkali-kali menghubungiku meminta aku untuk menasihatimu. Namun. Kau datangi seorang anak yang kau duga orang yang menjatuhkan layanganmu itu. Segera kuselesaikan tugasku di sana dengan harapan ingin segera bertemu dengan istriku. kemampuan bermain layang-layangmu rendah. Aku hanya bisa terdiam ketika istrimu tertidur lelap di rumahku. aku pun juga kangen kepadamu. Menurutku. Tapi aku tidak bisa. Namun. itu bukan tindakan seorang lelaki. istrimu memutuskan untuk enggan kembali ke rumahmu. Aku berkenalan dengannya saat mengunjungi sebuah pameran lukisan. maka aku pun ingin sekali menikah dengannya. PUISI #5 Layang-layang itu akhirnya putus dan tertiup angin entah kemana. Kehidupanku terus berjalan bersama istriku tercinta.Kau selalu uring-uringan akhir-akhir ini. Lelaki yang baik adalah lelaki yang mau menghargai wanita. Ada kerinduan yang terasa dalam dada ketika aku meninggalkannya. Melihat kau yang sudah beristri. Sementara kau mungkin sedang bahagia dalam pelukan pelacur di suatu kamar. yang menjatuhkan layanganmu adalah aku. Sering kujumpai kau pulang pagi. yang terlihat hanya bayangan wajahnya yang bermain-main di imajinasiku. Matanya menyimpan luka kehidupan yang dalam. Tangisannya menggema menyayat perasaanku yang menjadi rawan. kau malah melakukan hal yang sebaliknya. Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengannya. Sebab. pertemuan demi pertemuan mengalir bagai sungai hingga akhirnya aku mulai mencintainya. Bagaimana kabarmu? Beberapa meter lagi aku sampai di rumah. PUISI #7 Suatu hari aku bertugas ke luar kota selama beberapa minggu. Kutahu. di tepi danau. Melayang-layang di cakrawala sementara di bawahnya berkerumun anak-anak berlarian mengejar layangan itu. Kau tarik kerah bajunya. Kudengar. Padahal. sahabatku. dan kau merestui niatku. yang kalah setelah bertanding dengan layang-layang lain di angkasa. bahagia sekali apabila kuketahui ada kehangatan yang selalu menunggu di rumah. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajah istrimu penuh luka. Malam itu. Suatu hari. Semenjak itu. kau tahu itu. Sebetulnya. Istriku sengaja kutinggal untuk mengurus rumah. Kulihat wajahmu merah padam. betapa bahagianya aku kini. Kusampaikan keinginanku padamu. Tetapi. iya. Layang-layang itu punyamu. Maaf. Bisa kau bayangkan. kau sering memukul istrimu. kau sempat melirik kepada istriku yang kutafsirkan cantik. Aku tidak sengaja dan aku tidak tahu bahwa layangan itu punyamu. Kau kalah taruhan. Dua giginya tanggal dengan darah yang terus mengucur. Aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku. Langkah sengaja kuendap-endap karena aku ingin mengejutkan . bahkan tidak pulang sama sekali.

Katanya. Segala kenangan denganmu tergambar jelas di hadapanku. PUISI #9 Istrimu meneleponku. Dalam pikiran yang terus berputar. Kematian terlalu cepat menurutku.com/. apakah maaf itu masih kau dengar dalam kematianmu? Aku tak pernah menangis melihatmu mati. Sesampainya di halaman. secara tidak sengaja aku menabrakmu yang tengah memperhatikan laju sepedaku. kau tidak mengetahui bahwa yang menabrakmu adalah aku. aku menjemputmu. Dengan berat. Perselingkuhan. sekali lagi maaf. kau mabuk berat di sebuah bar. apakah kau akan mendengarkannya dengan jelas? Apakah kau bisa menafsirkan puisiku? Aku ingat. Memeluknya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kalian berdua. Akh. Aktif menulis dan bermusik. Kau tengah bersama istriku. Tetapi.istriku. Sekujur tubuhmu basah dan kotor. Dengan siapa ia di dalam? Kuputuskan untuk mengintipnya di jendela. 29 Juli 2012 Arief Maulana Penulis lahir di Bandung tanggal 15 Oktober 1989. kenapa kau harus menyeberang malam itu. dan kudapati pemandangan yang mengejutkan. serta jarak yang semakin mendekati bar tempatmu berada. dan entah kenapa aku tak pernah menangis melihat jasadmu ditimbun tanah. Ia memintaku untuk menjemputmu. Berharap ingin kutuntaskan persoalan ini dengan caraku sendiri. Kau malah tertawa padaku sambil melemparkan beberapa kotoran ke tubuhku yang tertindih sepeda. Istriku yang cantik. Mobil kujalankan dengan sangat kencang. kau tidak pernah marah. Kau yang kuanggap sebagai kakakku sendiri. kau selalu menyemagatiku untuk naik lagi dan terus mengayuh sampai aku bisa. Istriku kubiarkan sendiri karena tidak mungkin kau yang tengah mabuk akan menemuinya. Kuanggap itu adalah leluconmu yang paling lucu. kecepatan yang tinggi. Aku ingin segalanya serba rahasia. Dalam pikiran yang terus berputar. Namun. Aku hanya diam. kini aktif sebagai Reporter di Humas Universitas Padjadjaran. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran tahun 2011. aku menjalankan mobilku dengan gila.blogspot. sediam puisi kematianmu yang tidak akan pernah kuselesaikan lagi. kau sering tidur dengan istriku ketika aku tak ada. Meskipun aku terjatuh beberapa kali. kalaupun kubuat. Belakangan kutahu. Istrimu yang sering mengeluh padaku. Karyakaryanya bisa dilihat di http://antararuangmakna. Hingga suatu saat. Maaf. Bandung. aku mendengar tawa istriku yang renyah. Kupikir kau telah mati di tempat. Namun. sebelum aku sempat menuntaskan puisiku. Beruntung. malam yang hening dan muram. karena belum sempat kubuat puisi untuk mengantar kematianmu. . PUISI #10 Kau terlanjur mati. Dan aku pun tertawa sambil menahan luka di kakiku. aku telah menabrakmu dan meninggalkanmu di tengah jalan. Nomor ponsel (085721904020). leluconmu yang dulu kini menjadi kenyataan. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku sekaligus kakakku. Kau pun terjerembap ke selokan. Anak-anakmu menjerit hebat. Tapi. “Hahaha! Barangkali nanti aku akan mati ditabrak olehmu!” candanya. aku belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Sahabat yang kukenal sejak kecil. istrimu pingsan. sehingga menjadi suatu kejutan yang sangat menyenangkan bagiku dan juga baginya. Maaf. Sengaja aku tidak menghubunginya untuk mengabarkan kepulangannya. PUISI #8 Dulu kau sempat mengajariku naik sepeda. Aku hanya bisa terdiam melihat matamu yang cekung dan hitam.

karena kapuknya telah mati. “Mana?” Kuraih piring dan menyuapkan sesendok bubur ke mulutku. “Sebentar. hendak meneruskan pekerjaanku di dapur.” kuulangi lagi. Laki-laki yang malang. Seperti biasa. ya. Pak. Dia tak bergerak. tertanam ajaran orangtua. Aku mencium gelagat buruk. “Pak. Tiba-tiba aku disergap pikiran jahat. “Hmm. “Buuu!” Belum lama aku di dapur. Asin sekali. tak sekali pun aku membaginya. Aku ganti. Namun. aku keluar kamar. Dengan malas. Menyebalkan! Bahkan di saat sakit pun dia masih bisa menyalak dan berlaku seenak perutnya. Air pun muncrat. Setelah mengulurkan piring. aku bertekad akan mengabdikan diriku sepenuh jiwa. aku kembali harus mengakui kalau aku adalah wanita pengecut! Aku juga wanita yang kikir! Berpuluh tahun aku menabung kata-kata dan airmata untuk suamiku. Padahal aku hanya pakai sedikit garam.” kudekatkan mulut ke kupingnya. hatiku menguncup. ya. Dia memutar tubuhnya untuk memunggungiku. Dengan sadar. “Makan.” Kuusap buku jarinya yang kisut. Tiba-tiba dia menangkis tanganku. Ketika menikahi dia. Tetapi.” Kubantu dia duduk di ranjang. Dalam otakku. Kupandangi punggungnya dengan kemuakan yang menghimpit dada. Aku yakin. “Ada apa?” “Bubur kok asin sekali?!” suaranya keras bertanya. Kulihat akibat kata-kataku. mengenai seprei dan kebayaku.Cerpen Aku dan Laki-lakiku Kamis. aku beringsut ke kamar. Kerut-merut wajahnya merekam jejak usia. Tubuhnya kerontang digerogoti penyakit tua. cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. “Mm. ya? Sebentar aku bikinkan lagi. makan dulu. “Ha. Dia menggeletak di ranjang yang kasurnya mengeras. Suatu keinginan untuk menyakiti hatinya. “Teeeh!” Dia membelalakkan matanya. yang pasti juga sudah aus digerogoti umur. Kedua alisnya bertaut. akan tumbuh . sama seperti anggota tubuhnya yang lain. lidahku kelu untuk mengatakannya. Setelah suami membasahi tenggorokannya dengan dua teguk air teh. Sudah dua pekan dia bergolek tak berdaya. Aku meletakkan sepiring bubur dan segelas air di meja samping ranjang. suamiku sudah berteriak. bahwa witing tresna jalaran saka kulina. penisnya sudah mengkerut. apa?” dia membuka mata dan menengok dengan wajah bertanya. Minum?!” Kuulurkan gelas. Kurangkai umpatanumpatan keji yang ingin kumuntahkan ke wajahnya yang seakan-akan tanpa dosa itu. Inikah saatnya? Sebentar lagikah? Diam-diam aku menghitung bilangan waktu tanpa sabar. kutolong dia untuk merebah. 13 September 2012 13:45 wib Maka risau hati kubiarkan menganga Menjadi sajak di bibir senja Sungguhpun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa Bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota *** Kutatap laki-laki yang telah kuberi kesetiaan dan keperawananku.” “Goblok! Sudah! Aku tak mau makan. Aku akan belajar mencintainya (karena kami menikah dijodohkan orangtua).” Aku tergopoh ke dapur. “Pak. menggelayut sia-sia seperti terong layu tanpa guna.

Dan dalam kepayahan menggendong bayi dalam perut. Aku ingin purik. Sungguh. Namun. Hanya soal uang bulanan-lah suamiku “dapat diandalkan”. tapi demi diriku sendiri. Yang penting dia tak lupa memberiku uang. air ludah yang menyembur. kesadaran akan posisi diriku. namun aku bersyukur atas uang yang kudapat. tak satu malam pun suamiku absen dari menindih tubuhku. Namun rasa hempas dalam hati jauh lebih mengiris ketimbang rasa sakit di badan. Dan karenanya aku merasa perlu menjaga lidah dan sikapku. Pertama. kepalaku nyaris pecah jika membaca ulang hari itu. sikap yang urakan dan hari-hari penuh perlakuan kasar serta caci-maki. Orangtua kami bahagia. mungkin aku malah akan menambah beban pikiran orangtua dan justru membebaskan kekasih suamiku menguasai ranjang kami. Tetangga dan kaum kerabat selalu menghormati kami. aku tidak bertanya lebih jauh tentang bakal suamiku. Hardikan suami. karena pengabdianku. Seolah-olah di mata suamiku. mataku mulai terbuka mengenali sifat-sifatnya yang semula asing. seiring berjalannya waktu. tamparan dan tinju yang bertubi-tubi. Maka aku masa bodoh ketika suamiku jarang pulang. Yang ada. Kukatakan. aku justru disambut dari bepergian dengan adegan perselingkuhan suami. Meskipun aku yakin bahwa dia tidak menyerahkan seluruh gajinya. pekerjaan kepala sekolah mengesankan hormat dan wibawa di masyarakat. tidak! Aku hanya pergi dua hari ke rumah orangtua untuk sowan. teriakan. mengulang kembali peristiwa itu dalam adegan-adegan lambat. Bukan demi siapa pun.… lalu gelap. Kuelus perutku. suamiku memunggungiku setelah puas memuntahkan nafsunya. Aku berusaha ikhlas menjadi budaknya: budak nafsu dan budak segala perintahnya. sementara aku terisak dengan hati penuh tanya. Aku terbaring dengan tubuh babak-bunyak. Aku hanya memikirkan kelanjutan hidupku. Calon anakku sudah aman di sisi Tuhan. Namun. aku sakit! Dua pengertiannya. Aku tidak mengeluh. Kata ibuku. Karena kuanggap dia telah membeli tubuhku. Oh. Pertama kali tidur bersama. aku menganggap permainan sandiwaraku hebat. Kupikir kepatuhanku akan menyenangkan hatinya. Tetap melayaninya. Sungguh. sakit oleh rasa yang menusuk-nusuk bawah perutku. tak ingin mendurhakai mereka. aku hanya tahu dia seorang priyayi yang bekerja sebagai kepala sekolah rakyat. iya. dia memaksaku melakukan gaya-gaya bercintaan dari sebuah buku bergambar yang dia tunjukkan.jika kami sering bersama. Tak ada tutur kata halus. Dia akan mulai mencintaiku atas dasar belas kasihan. karena aku yakin orangtuaku memilihkanku pasangan terbaik. hatiku sakit akibat perlakuan kasarnya. Demi kebutuhanku akan gaji bulanannya. Aku harap. suamiku akan melembutkan sifatnya. Aku membayangkan. aku bersumpah tidak akan memberikan hatiku kepada suami! Aku berjanji akan tetap menyetiainya. melayaninya. dia menghardikku! Menurutnya. Dan karenanya. dan setia kepadanya. Namun. Namun. wajah yang ramah. ternyata ini yang dia perbuat! Aku meledak! Lima menit kemudian. Aku patuh melakukannya. Dia mendengkur. Kedua. Aku ada di sini karena uangnya. Dengan penuh kehendak. persetan! Terserah dia mau tidur dengan perempuan mana pun. Sejauh ini. Ada nyeri menyengat-nyengat dan perih yang menyergap-nyergap. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Namun. Kutemukan diriku di ranjang. Tetapi. Sebelum kawin dengan dia. aku tak hendak menyakiti orangtuaku. Dia majikanku dan aku budaknya. semua bayanganku jungkir balik. Dia tega berkhianat. Apakah aku menyesal? Terus terang. Kedudukan suamiku . Kata orangtuaku. aku terlalu lambat. Dengan sewenang-wenang. karena melihat kami tampak rukun. semua yang kulakukan adalah salah. padahal aku sedang mengandung benihnya. Dia menolak mengantarkanku. tanpa kusangka-sangka. Jika aku nekat purik. Selesai sudah. Hal sama terus berulang setiap malam. O. sikap miyayéni dan berpendidikan akan melingkungi hari-hariku. atau rasa kasih sayang yang dia tunjukkan kepadaku. walau tidak pernah disertakan dan dimintai pendapat mengenai pertimbangan suatu keputusan. karena kesetiaanku kepadanya. Mataku mengerjap. Budak yang berperan sebagai istri. Kutemukan dia tengah bergulat dengan perempuan lain di ranjang kami. Aku tidak menangis meski dia caci-maki. Barangkali dia menginap di rumah kekasihnya atau mengunjungi rumah pelesiran. semuanya gelap. membuatku bisa berpikir jernih. Dorongan itu begitu kuat mendesak. tugasku hanyalah tidur dengan suami. tidak! Aku tidak boleh kalah! Aku akan bertahan.

Aku menderita oleh kehendak tak terterakan. malaikat maut belum juga menjemput. Tangannya amat ringan membantu kesusahan tetangga. tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. 10 September 2012 11:46 wib SUCI pernah berkata. Telepon/SMS (0281) 5730489. Tapi itu tidak . Sungguh. Ia selalu bertanya apa itu cinta? Mungkin cinta adalah seperti kaki kanan dan kaki kiri yang selalu berpasangan. 42 tahun sudah aku mengabdi. Tulangku sudah rapuh. suamiku!” Ledug. Tapi. apabila salah satunya terluka yang lain ikut merasakan? Tangan terluka. mengucapkan kata cinta itu mudah. rambutku memudar. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Aku selalu menenggak jamu penggugur kandungan. Rumah pelesiran: Rumah bordil. aku tidak sudi punya anak dari laki-laki yang terpaksa harus kupanggil dengan nama “suami”. untuk mengerti apa artinya sangat sulit. Cerpen Pertanyaan Suci "Apa Itu Cinta?" Senin. Dimuat di Kakilangit (Majalah Horison) edisi Desember 2009. Apakah cinta seperti itu?. Purik : Istri pulang ke rumah orangtua. dia sangat ramah dan supel. sebegitu tahu bahwa ada janin yang bersarang di perutku. Sowan: Berkunjung atau menghadap orang yang dianggap harus dihormati. Berdiri menghadap punggung suamiku. 1 Juni 2010 Catatan: Puisi pembuka di atas adalah cukilan dari puisi karya Imam Al-Ghazali berjudul Perpisahan. selalu mengerti terhadap satu sama lain. Juga tak ada lagi bayi yang lahir dari rahimku. seperti orang-tua atau raja. aku tak sabar untuk berucap. Hal yang dulu sangat kusesali—karena dia lebih mementingkan orang lain daripada aku—tapi sekarang sudah kumasabodohkan. E-mail totokutomo@ymail. “Selamat enyah. dan tak ada cinta di hati. Dan di sinilah aku kini. Selanjutnya mata mengeluarkan air. Tiba-tiba aku disergap kebosanan yang menyiksa. tak pernah lelah untuk menopang tubuhnya? Atau mungkin cinta adalah seperti tubuhnya.terpandang. Dua pekan sudah suamiku tergolek tak berdaya. maka mata ikut menangis. Oleh Thomas Utomo Penulis menyelesaikan kuliah di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.com. karena di luar rumah. maka tangan ikut mengusapnya. Namun. Padahal. Suci tak pernah menemukan arti kata cinta.

cinta. Suci selalu mengeja huruf demi huruf dari kata cinta. Sahabatnya telah menemukan cintanya sendiri. Namun. Suci memang sudah tumbuh dewasa. Apalagi ia harus berperan memainkan kata cinta. menyatu dengan cinta punjaan hati saya. Setelah saya menemukan pujaan hati. Suci. “Ce. Suci tak juga memiliki arti kata cinta untuk dirinya sendiri. eN.” jawab sahabat Suci dengan puitis. “Cinta. Sebagian cinta itu tumbuh dalam hati saya. Tak terhitung lagi ia mengucapkan kata itu. I. apa itu cinta? Kata cinta telah dibawanya pergi ke alam akhirat untuk selamanya. Te. seperti namanya. namun tak pernah ditemukannya. Yang penting baginya tercerna oleh akal sehatnya. susah baginya untuk melupakan kata cinta. Arti cinta seperti apa yang ia inginkan? ia pun tak tahu seperti apa. sulit dipecahkan. ia tidak pernah lupa bertanya pada dirinya sendiri apa itu cinta?. Dari ia masih remaja hingga dewasa ia mencari dan mengartikan kata cinta. 08 Mei 1994 : Membaca : Hendrizal588@yahoo. aku ingin bertanya kepadamu. Waktu senja Suci telah menjemput dan hingga saat Suci menutup matanya kembali untuk yang terakhir. Hingga cinta saya itu menjadi untuh. A. Tapi. ia tak pernah bercinta. Namun. mengapa begitu rumit sekali mengartikan kata cinta. Harus ada seorang detektif untuk memecahkan misteri ini. “Sob. Suci hanya mengeluh. Suci belum juga menemukan arti pertanyaan yang selalu bersamanya setiap hari. Sekarang kata cinta telah dimakan usia. detektif itu adalah dirinya sendiri. mendustakan cinta. memiliki arti kata cinta. Kalau kamu memang telah menemukan cintamu. bahkan memalsukan cinta. semakin susah Suci mengartikan kata cinta. Pernah si pernah. Sepertinya ada magnet yang selalu melekatkan Suci dengan kata cinta. Suci pernah bertanya kepada sahabatnya. aku tak bisa mengartikan kata cinta itu sendiri.com . Sayangnya. Penulis: M Hendizal Biodata penulis Nama Panggilan Tanggal Lahir Hobi Email : M. Kalau cinta seperti itu. sebagian cinta saya itu. Semoga Suci menemukan arti kata cinta dan cinta sejatinya yang suci di surga. Memikirkan arti cinta saja hidupnya Suci sudah rumit. Mungkin. yah aku telah menemukannya. untuk mengartikan apa itu cinta. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak. Semakin sering Suci mengucapkan kata cinta. Tidak mungkin baginya untuk memainkan peran itu. Hendizal : Hendri : Langgam. Suci selalu menghubungkan semuanya dengan cinta untuk menemukan arti kata cinta itu sendiri. Kata cinta seperti misteri aneh di dalam hidup Suci. tapi tak masuk dalam logikanya. Suci mengucapakan kata cinta dan apa itu cinta. setiap orang di dunia ini. Setiap pagi Suci bangun dari tidur. mengapa ada orang yang mengkhianati cinta.mungkin. Dengan santai sahabatnya menjawab.” itu katanya. Sudah beribu cara telah Suci lakukan untuk mengartikan kata cinta. apa itu cinta.” tanya Suci kepada sahabatnya. Di dalam hari-harinya.

Cerpen Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Kamis. Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. Senyap …! . Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama. pada korban. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah. Petugas yang menanyainya bertampang seram.00 dini hari sampai pukul 06. Tidak perlu kau takut. pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata. Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan. hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata. Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun. “Di mana Anda antara pukul 02. “S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu ….” Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya. dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan. dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. Namun. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata. Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat. 06 September 2012 08:16 wib KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu. ***** Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan.

Disusul debum dari arah pintu depan. Memang berbeda gelagat perempuan. hanya satu yang perlu diketahui.” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. Kita harus segera melangsungkan pernikahan. ***** “Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan …. Membuat nyalang matanya terpancar. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. lelaki dan perempuan. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak.” kata perempuan itu dengan wajah terpaling. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil. Namun.Malam telah melewati puncak. otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. “Kau boleh tidak menunggu. bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal.” jawab lelaki itu begitu tenang. Dahiku berkerut. Asap tipis rokok. entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. Aku mengandung anakmu. Terbatuk diriku sesaat. Atau…. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok. takut bersitatap. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan.” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi. sementara sang waktu terus berjalan. “Jangan mulai lagi. “Aku sedang butuh uang. Ah!” Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya. “Kapan kau akan melamarku?” “Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan. “Aku mau sepuluh juta. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. Namun. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. tidak meneruskan. tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar. Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam. sekarang juga. Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku. “Tidak mungkin aku menunggu selama itu. tidak untuk mencekikku …. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu.” katanya singkat. Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. perempuan itu berbisik perlahan. yang tercampakkan di atas sofa. belum juga diserang kuap. padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!” “Tetapi tidak di waktu-wak …. yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan. “Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. Ruangan seketika senyap.” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat. Win …. makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. “Bantu aku. .” perempuan itu terdiam. Namun. lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku. Lantas memakainya. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan. hingga bibir kami bertemu. mengerikan. “Aku hamil. Sekali dua kali aku coba menghindarinya. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan. Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. tapi dua orang itu.” “Hei. bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?” Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. alisku bertaut. *** Nurlida masih menguntitku. yang kepalanya hanya berisikan uang. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang.

desah napas. jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain.” bisiknya perlahan. yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya. yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. “Kau kenapa May. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya.” “Tapi semua itu idemu. yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap. **** Maya terbangun diiringi jeritan panjang. menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. (*) Blitar. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi. Keterkejutan. bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. dengan mulut berbusa. Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya. senengnya yang lagi berulang tahun. sebelum mengecek layar ponsel. Lucu ya?” celetukku. makin meradang. Terdengar jelas. Nomor itu sudah tersambung. Jas…” “Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan. tolong pegang kue ini. Setiap hari …. “Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. 23 Juni 2012 3:31 AM . Perempuan itu menatap sinis. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia. mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat.” kata Nurlida tiba-tiba. Kesunyian itu belum juga terpecahkan. “Duh. Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam. memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas. kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki. Malam yang bising. ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida. bahkan ketika Nurlida kutinggalkan. Dan tanpa disadarinya. “O. tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. Ah.” Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. ngapain kamu telepon malam-malam?” *** “Wah. yang tertutup jilbab biru muda. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?” Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya. “Halo… halo? Win?” Nurlida menatap Maya penuh tanya. teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. Membayang. “Jas. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. dinyalakannyalah pengeras suara. Membuat sesak! “Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi. memastikan teleponnya benarbenar tersambung. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya. pada diriku. dua desah napas sebelum ada yang berkata. Hampir Maya lupa hari kelahirannya.“Atau apa?” bentakku. Hari itu. Dan akibatnya jalang itu keguguran. yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang. Kesunyian. bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya. “Aku telepon ya. “Nur. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat.

Danang Prabowo.Oleh W. Wajah ini juga masih memesona sejumlah pria yang percaya kalau sifat serupa dengan wajahku. jika kompetisi itu ada. yang hidup dengan berbagai fasilitas.widya@yahoo. lebih tepatnya. Sudah kesekian kalinya tindakan sederhana. namun berarti itu dipersembahkan untukku. pria terunik yang pernah ku temui. Namun. saat tubuh ini masih kuat tak termakan usia. yang belakangan ku ketahui adalah seorang pembalap. Tapi. tapi mungkin bakal jadi episode hidup yang tak dilupakan. memberi pelajaran bahwa cinta tak hanya butuh rayuan. tapi pembuktian. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga. Maaf. 04/RW.id : 085 233 316 761 Cerpen Pangeran Tanpa Kata Senin. N. tetap saja semuanya tanpa ekspresi. Maklum saat itu hujan dan aku mahasiswa yang cinta transportasi umum. selempang pria unik sejagad akan menempel di badannya. Rahman Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. Wajah tak begitu tampan . dan Serahim Nira (2012). Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. "Thanks. jika rambut bahkan bajuku kebasahan ribuan bulir air yang jatuh dari angkasa sana. Tak penting ku sebut namaku. Kecamatan Kanigoro. Sekitar 20 tahun lalu. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama.co." kataku mengambil tisu yang diberikan pria itu. 03 September 2012 09:47 wib DANANG Prabowo. tanpa ucapan. Blitar Jawa Timur 66171 : S1 Pendidikan Dokter Hewan : Universitas Airlangga : nurrohman. Tiga bulan bersama pria yang sungkan berkata-kata ternyata bukan hal mudah. Biodata Penulis Nama Lengkap Alamat Lengkap Pendidikan Asal PT Email Telepon : Widya Nurrohman : Desa Tlogo 3 RT. Selembar tisu mendarat di tanganku saat memasuki ruang kuliah. 01. karena bukan aku lah pemeran utamanya. Anak seorang anggota DPR. Tak ayal. Tapi Danang Prabowo. Kurasa. Pertemuan yang cukup singkat. dia adalah navigator dari artis terkenal yang suka berpacu dengan laju kendaraan di tengah sirkuit. Cinta Pertama (2012). Bulan Kebabian (2011).

Lantas. Cerpen Keroncong Senja Kamis. Dia tengah sibuk. tangannya memberikan pena padaku. Menyediakan pulpen ketika absensi berada di depanku. Lulusan Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Medan pada 2010 silam. Sesuatu yang tak pernah ku temukan dari pria yang kerap menyediakan bangku ketika aku terlambat. Soal cinta. Satu dari sekian ribu urban asal Kota Medan yang mencoba peruntungan di ibu kota. Karena esoknya. Kakaknya yang juga menghadapi persoalan sama sepertiku. dengan pena pemberiannya. Dengan sigap. Saat ini bekerja sebagai jurnalis di salah satu media online nasional." kembali kata itu muncul meyakinkan dirinya. Sampai suatu hari. tapi gak tau kelanjutannya gimana. Penulis Risna Nur Rahayu. Dia lantas bercerita panjang tetang keluarganya. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. kendaraan pun terus melaju. cuma terima kasih yang terlontar. Sepuluh menit dua puluh menit masih hening. membawa kami kembali dalam diam. Pangeran Tanpa Kata. Akhirnya dia bicara. dia bicara panjang padaku. Priaku. berkutat dengan beritanya. "Sudah. Sesuatu yang tak pernah kutemukan sejak kenal dengannya di ruang kelas." pungkasnya lalu diam kembali. Mobil yang kutumpangi terus melaju. ku tulis namaku di kertas absensi. selembar kertas berisi nama mahasiswa di kelas sudah terbubuh. karena tingkahnya yang memang tak terbaca. cinta kadang tak perlu kata. Ayahnya. "Hubungan kamu akan baik-baik saja. Dia benar-benar bicara. saat pria yang ku harapkan menjemput tak juga datang. Tepat di depanku. Dia sibuk dengan dunianya. Kerjanya." ujarku mengingat pria yang sekian tahun belakangan menemaniku. Bahwa. Lantas hening. tanpa jawaban. "Kamu sudah punya pacar?" Aku tersentak. bak Pangeran Tanpa Kata. Diam. Lagi-lagi. memberiku tumpangan. Danang Prabowo kembali menjadi Pangeran Tanpa Kata. Jalanan ku rasa sepi di tambah suasana kaku yang tercipta tanpa ada basa-basi atau obrolan.tapi terlihat karismatik. 30 Agustus 2012 12:51 wib . Tak jarang teman-teman kampus menganggapnya sombong. ibunya dan keluarganya yang lain.

Ia sudah mengenalku sejak lama. ia selalu melayani langganan yang lebih sering kelihatan perlente dari mobil-mobil mewah terparkir. lah mereka. Sudah berapa ribu motor. Dik Sastro ini enggak percaya toh. tukang becak. Sepasang mata bola Dari balik jendela Datang dari Jakarta Menuju medan perwira … Si Mbok Garwami baru saja datang bersama anaknya. dan kopi khasnya yang benar-benar Nasgithel – panas legi tur kenthel (panas. Ratri menggelar tikar-tikar pandan. menyapu sudut-sudut kota: di jalanan. Ia selalu mengatakan. delman-delman. Ia masih setia menyajikan gudeg. Suara yang berat dan tersendat. yang lainnya menenteng kardus. ketika kubuka jendela kamar hotel. manis dan pahitnya masa terasa kental). “Lah. gerbang kota. Ndak mau ah. Aerosmith atau Bon Jovi. tiang-tiang lampu. stasiun. “Masak ndak ada pria yang bener toh. L’arc en ciel. Ia sudah di situ sejak puluhan tahun lalu. sepertinya baru saja membeli barang sama dengan kawannya itu. meski aku baru . sepeda-sepeda onthel dan di muka muda-muda tanggung di perempatan jalan. Aku dengar suara Pak Surat. sandal jepit. “Dik Sastro. Mereka baru keluar dari toko seluler seberang jalan. Dua remaja memainkan musik dari senar-senar gitarnya yang sumbang: Sepasang Mata Bola-nya Ismail Marzuki menyapaku. Sebab kami sama-sama semata wayang. Mereka seperti dua makhluk di tepi jaman dari gemuruh suara melengking Blink 182. Ia menyewa tukang ojek. ia atur setelah usia yang kini menginjak 60 tahun? Ah. yang diatur Pakdhe Jarwo. rahasia!” ujarnya sambil melengos dan meladeni para pembeli. diam-diam aku pandang secara lekat. Sudah beberapa pria datang ke rumah meminta Ratri jadi istri mereka.” cerita Si Mbok Garwami kepada saya suatu malam. Rambut sebahu agak ikal. aku sudah menganggap dia sebagai adik. Semburat senja. menatap tukang becak yang mendorong tumpukan tikar. sedang menawar jagung rebus di tepi jalan. Jagung-jagung itu masih demikian segar. Berseragam oranye. dan aku selalu ketawa mendengar itu. nasi liwet. kereta-kereta usang. ia sudah paham. Tapi saya tolak. siapa mau toh. Suara adzan Magrib dari musala belakang hotel melengking tajam. sebab mereka ini tahu muka-muka seperti aku bukanlah seorang pelancong berduit. anaknya adalah titisan Dewi Sembodro. berkaos oblong. mancing-mancing nih. membawa gudeg dari rumahnya. Hari yang serupa ketika aku baru turun di Stasiun Tugu pekan lalu. Ratri. bercelana jin sedikit pudar. Di bawah merkuri. Cukup mengatakan nama hotelnya. Gadis yang manis. Pakdhe Jarwo masih saja mengatur parkir. karena menghalangi mobil pick-up di belakangnya. Salah satu gadisnya menggegam BlackBerry. kepulan uap demikian hangat. anak-anak berandalan di tikungan sana. namun kini telah menjelma menjadi kota senja. kucermati hiruk pikuk kota ini selepas mati dihujani air beberapa jam. Ia membentak angkot. remaja-remaja SMP cekikikan begitu mereka menyeberang jalan. Sebab ia tipe orang yang suka cerita panjang lebar. Langit di kota ini begitu muram sedari pagi. Bukan apa-apa. yang dia carter dari pinggiran kota. Sudah remaja dia rupanya. menyeruak mukanya ketika tutup dandang itu terbuka.SEPASANG mata bola Seolah-olah berkata Pergilah pahlawanku Jangan bimbang ragu Bersama doaku… Di luar rembang petang. tak mungkin mereka menodong dengan patokan tinggi. Menenteng barang-barang titipan dalam guyuran hujan dan disambut tukang becak. Aku menatap senja. Bolehlah berbangga Si Mbok Garwami memiliki anak gadis semata wayangnya itu. Aku pun cukup mengeluarkan kocek yang tak begitu banyak. Ratri yang mendengar itu hanya mesam-mesem malu ketika berhadapan pandang denganku. ia selalu setia mengatur puluhan motor tiap harinya. berkalung peluit butut. kumis tipis. Kemanakah anak-anak muda sekarang? Rokok yang tinggal sebatang aku sulut. Mbok Garwami mau curhat. jadi aku suka sekali memancing hal-hal yang kira-kira hangat untuk diperbincangkan malam itu. semenjak aku masih menetek ibuku. penjaga hotel. menjelang matahari tenggelam. Wangi tanah basah demikian menusuk selepas beberapa jam hujan tumpah di pusat kota. berjenggot tipis. Mbok?” tanyaku dengan harapan. aku tak bisa membayangkan.

Dia yang membantuku kalau ada sesuatu dengan ibuku. sehingga mempunyai beranda atas yang bisa melihat kondisi jalanan di depan hotel. Tapi aku sudah paham apa isinya ketika aku tahu ibu yang mengirimkannya. Mas. Suara muadzin baru saja selesai. Sepotong surat warna ungu. 20 Juli 1985. lagu itu terus yang ia mainkan. tapi tulisannya berbeda. Jangan lupa.00 WIB – 12 Oktober 2010 Penulis: Andi S. selepas hujan. Dari empat toko. aku rogoh kantong jaketku.” demikian tertulis kalimat di penghujung surat itu. Dan itu yang selalu membuaku kangen dirinya. aku buka kembali surat itu. Makanya. Hati ini selalu begitu gemetar. seperti guru-guru SD-ku. 01. aku seringkali mengirim sesuatu melalui dia. singkat padat dan berisi. Sapardi Djoko Damono. ia masih suka membaca. Meski sudah berumur 67 tahun. bersanding di liang suami yang ia cintai. Dan dia selalu berujar. Kalimat-kalimat gusar dan hilang harapan. dan aku sering meminta kepadanya kamar yang menjadi favoritku. Ia tak suka bertele-tele. Ternyata. ya seperti senja itu yang begitu membuatmu bahagia. Ia mengirimkan beberapa pakaian dan buku yang aku pesan. ia begitu dekat dengan keluargaku. Aku menyangka itu adalah surat dari ibuku.” tulisnya. Ia tahu ibuku sendiri di kota ini.turun dari kereta eksekutif. tulisannya ditulis oleh Ratri. hanya enam baris. membaca tulisan tangannya. sebuah harian yang baru didirikan. sebenarnya bukan itu saja. Ia seorang kutu buku sejak remaja. Di situ pula aku sering mengajak ibuku menatap senja. Kagumku melihatnya Sinar sang perwira rela Hati telah terpikat Semoga kita kelak berjumpa pula Sembari menanti ke hotel. Di dalam becak. dari sanalah aku mengenal Motinggo Busye. surat itu diletakkan di atas. Surat terakhir dari ibuku sudah beberapa bulan lalu. Tulisan itu tidak begitu panjang. Pejaten Timur. Atau aku beli buku-buku baru buatnya. Aku simak bait-bait surat itu. “Bahagiakan keluargamu dan keluarga kita. Darinyalah aku belajar sastra. Aku meneteskan air mata ketika menerima surat itu di Jakarta. Doa ibu selalu menyertaimu. Surat pertama yang ia kirimkan adalah ketika aku pertama kali bekerja di Jakarta sebagai wartawan. Tapi.” Dua remaja itu mengulang-ulang lagu keroncong di tiap orang yang mereka temui. Ia begitu agung bagi hidupku. karena memang di sinilah aku sering menghabiskan waktu untuk menulis. Kamar di lantai satu. Dua lembar kertas yang pasti ia sobek dari tengah-tengah buku agendanya. Aku memutuskan untuk menginap di hotel ini. Semoga sukses. seorang blogger cum wartawan. “Hati-hati di rantau. Di situlah tempat-tempat indah dapat kupandang. . Ia lahir di Purworejo. Kangen memang menunggu suratnya. bertulis tangan. Aku kaget membaca surat itu. Jakarta Selatan. Begitu indah dan mesranya ia menulis itu. Tulisan latin tempo dulu. Tiap bulan aku kirim novel atau cerpen-cerpenku yang berhasil dibukukan. meski di rumah juga ada Paklik dan Bulik. Nugroho. Kamu harus banyak belajar. ya seperti senja kali ini. “Cepatlah datang. Aku hafal betul tulisan itu. Meneteskan air mata. sehingga mampu membuatmu selalu berdiam di sini tiap waktu. Ya. Kini ia tinggal di rumah kontrakan di Jalan Damai III. Pertama kali aku menerimanya. Di tumpukan baju teratas. pemilik hotel ini adalah paklikku. tiap habis salat kirim Al Fatihah buat bapak. atau Danarto. berada di depan. hal sama aku alami dengan yang kuterima terakhir. Ini hari ketujuh setelah ibuku kembali ke Tuhan. Ia menamatkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba … Balai Kota DKI Jakarta.

habis itu langsung cuci piring!” perintah ibuku dari luar kamar. sebagai siswa di SMA favorit se-Kebumen. bu!” jawabku tanpa berniat melalaikan tugas membantu orangtua. harusnya sudah bisa ngatur diri sendiri. aku memikirkan urutan-urutan yang akan ku lakukan ketika bangun nanti. sih. Aku pun hanya mendesah. siapa suruh bentak-bentak. Wajar bukan ketika tidak ada acara di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur? “Nanti. “Tapi tolonglah hargai sedikit usaha ibu di rumah. tentunya tidak ada waktu untuk santai-santai. Aku merogoh saku rok mengambil sebuah benda bernamakan HP. Di antara pandangan yang gelap. memang benar aku akan mengerjakan apa yang ibu suruh padaku. Padahal sebenarnya aku sengaja pulang cepat karena ingin tidur siang. Sialnya besok ada dua mata pelajaran yang diujikan. teriakan-teriakan telah memekakan telingaku. Lalu ku letakkan HP itu di bantal sebelah kanan telingaku. cuci piring?” Ya. Baru saja aku merelakan tubuhku jatuh ke tempat tidur. ku peluk guling kesayanganku dan ku letakkan satu bantal menutupi sebagian mukaku –kebiasaan aneh sejak kecil. Aku menyetel alarm di HP jadul pemberian kakakku. ibuku sudah memulai aksinya: memberi perintah tanpa memikirkan keadaan. Rumahku yang hanya tersusun dari papan-papan dapat dengan mudah ditembus oleh suara itu. Heh. belum lagi seragamku yang masih melekat. Seperti biasa. Apa susahnya. salat. Soalnya nanti malam akan menjadi Sistem Kebut Semalam (SKS) ke empat di minggu ini.” Memang. ulangan harian. “Kamu itu sudah besar.” Lebay. 29 Agustus 2012 13:59 wib “Rafa.Cerpen Sepucuk Surat untuk Rafa Rabu. . Ibu itu malu harus selalu berteriak-teriak setiap hari. “Rafa!!! Belum ganti baju langsung tidur! Mandi dulu! Salat juga belum!” Suara itu benar-benar menggangguku. langsung mandi. Selain itu aku juga menerka-nerka mau mulai dari mana dulu aku belajar. kimia dan sejarah. “Ibu tahu kamu capek. Kalau tidak tugas. Ya. Ya. Tapi nanti! Saat ini bagiku yang terpenting adalah ‘tidur’. Bantu-bantu sedikitlah. tidak dipungkiri lagi. Bagaimana tidak? Belum juga aku merasakan tenangnya alam mimpi. Begitu seterusnya hingga membuatku merasa rumah hanya warteg yang ku singgahi ketika lapar saja. ya. Ku keraskan volumenya hingga mencapai tingkat ‘keras’. benar-benar butuh tenaga ekstra malam ini….

sulit juga memahami tulisan yang dibaca. dalam sekali kata-kata itu menusuk hatiku. aku justru semakin mengantuk dibuatnya. Nanti jaga rumah. Ibu kita telah mengandung. seperti saat ini. Oh iya. Untuk Rafa. Tidak etis kan kalau minggu ini tidak ikut lagi? “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. selalu lari dari masalah.” Pura-pura tidak dengar. Sepertinya rumah kedatangan banyak tamu. “Ya. Kepanikan menggelayutiku tanpa alasan hingga akhirnya Sisan selesai. “Rafa Afifah. Toh yang akan kudengar hanya kata-kata yang sama. Ku letakkan kepalaku di atas meja tidak mampu lagi menahannya ingin jatuh. kamu malah santai-santai.” kata Pak Wiji. ibu mau pergi. Ibu lelah!” Okelah… Whatever… Ku siapkan perlengkapan sekolah terburu-buru.” jelas mentor Sisan. Ada yang dengan mudah melafalkan ayat. Sebenarnya lapar juga sih. Ah. Terlebih lagi materi Bahasa Inggris yang benar-benar garing. “Alhamdulillah. maafkan ibu karena terlalu keras padamu.” sahutku cemberut. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku. Lagi-lagi harus jaga rumah.” buka Ana yang menjadi MC Sisan kali ini. “Kenapa mukamu seperti itu.” batinku. ya!” sahutku kasar sambil membanting bantal yang sebelumnya ku gunakan untuk menutupi kepala. Selain tidak konsentrasi. Aku pun segera menghampirinya dan menerima apa yang seharusnya ku terima: uang saku. menyusui. “Ada titipan dari ibu. Makanan di meja ku lewati begitu saja. Inilah aku. Dan tentu saja. Aku juga dipastikan akan mengantuk keesokan harinya. Berputar ke kanan sampai semua anak mendapat giliran membaca. tapi mau bagaimana lagi? Bukannya semakin memahami. ada pula yang masih tertatih-tatih membacanya. ampunilah dosa hambaMu ini. “Ya Allah. Memang. “Au. Ku buka surat itu perlahan. Kau pasti lupa membawanya. Kita tidak boleh membentak. ah. Terlebih lagi ketika mentor Sisan mengatakan untuk meminta maaf pada ibu kita sebelum terlambat.tadinya begitu. gelap. bahwa kita harus berbuat baik kepada kedua orangtua kita. dan menyapih kita dengan susah payah. puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah.” Jleb. Rafa. menjalankan rencana SKS itu sangat menyiksa. aku merasa suatu sensasi yang aneh. Bosan! Keesokan harinya… “Rafa!!! Sudah jam berapa ini??? Kamu tidak mau sekolah apa?? Kalau iya lebih baik tidak usah sekolah lagi saja. “Rafa!!! Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar. Yah. ada sepucuk surat terlampir di sana. Dan tanpa ku sadari suasana kelas pun telah mengabur dari mataku. Tanpa tidur siang. “Kita tidak boleh menyakiti ibu kita. Ku kayuh sepeda biruku kembali ke asalnya dan ketika hampir sampai di tikungan terakhir. ya. Entah mengapa aku menjadi tidak tenang. Jantungku serasa berdegup lebih keras. Aku dan yang lainnya pun beranjak pulang. Untuk Sisan kali ini yang dibahas adalah tentang birrul walidain atau berbakti kepada orangtua. Fa?” tanya Nysa sesampainya aku di kelas. bahkan hanya dengan berkata ‘ah’ saja kita tidak diperkenankan. satpam sekolahku. Kalau ibu tidak mau mengurusiku lagi. Sudah dicarikan biaya ke sana ke mari. pikiranku melayang-layang menghindari ceramah-ceramah yang berebut menyerbu gendang telingaku. aku tidak mahir Bahasa Inggris. karena atas rahmat dan hidayahNya kita dapat bertemu dalam acara Sisan kali ini…” Setelah acara dibuka. “Seperti yang terdapat dalam surat Al Ahqof ayat 15. lebih baik aku ikut Sisan saja! Minggu lalu kan aku tidak hadir. Tapi ternyata tidak hanya itu. Aku teringat pada Ibu. Terang saja. Setelah tilawah masuklah ke acara inti. Kepalaku mulai mengangguk-angguk seperti ayam kalkun. Ada apa ini? Kenapa sedari tadi aku merasa tidak nyaman? Dari posisiku saat ini aku bisa melihat halaman rumahku. tapi mood menolongku menghilang. Merinding tubuhku seperti tersetrum oleh listrik. Aku hanya mendesah. tapi gengsi dong. Dengan sengaja aku membanting-bantingkan setiap benda yang ku pegang. . Aku tak tahan lagi mendengar ocehannya. Ibu tidak mau lagi mengurusimu. dari pada di rumah sendiri. Langsung ku keluarkan sepeda biruku dan ku kayuh sebisa mungkin untuk melesat secepatnya. Ini uang sakumu. it’s oke! Aku bisa menata diriku sendiri. Aku memang ingin cepat pergi.” Sebuah suara mereflek otakku melihat pintu kelas. ya! Jangan lupa masukkan ayam ke kandang. Kalau seperti ini terus. saatnya membaca ayat suci Alquran.

mungkin saja mereka sudah pulang.Tapi. tapi baru kali ini hatiku benar-benar menerimanya. Rafa!” Ku dengar suara seseorang yang sangat akrab. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama sepertiku. . “Wa’alaikusa…lam” Ku peluk ibuku erat-erat. “Ada apa Paman?” tanyaku ragu. tettt. kenapa kamu menangis?” tanya Nysa menyadarkanku.” Ibu kembali memelukku erat dan mengecupku beberapa kali. teeettt… Bel pulang berbunyi. bukankah ayah dan ibu sedang pergi? Oh. Namun. Meski Nysa sudah menenangkanku. Aku tidak mau terlambat… Tett. Tidak mungkin! “Fa. Aku tidak menyangka masih bisa mengingat detil mimpi singkat tadi. Ku beranikan diri menghampiri Pak Wiji dan benar-benar seperti mimpi! Aku menerima amplop yang sama! Aku pun segera kembali ke dekat Nysa dan membuka amplop itu.00 WIB nanti. Aku akan menjadi Rafa yang lebih baik lagi. Rafa benar-benar khilaf. maafkan Rafa. Ibu. Ku lihat kepanikan yang sama pada Nysa. Ibu tahu aku ada Sisan hari ini. tapi hatiku tetap tidak mau diam. Hatiku benar-benar tidak keruan. Ya Allah bimbinglah selalu hamba-Mu ini… Oleh Oupe Biodata Penulis Penulis adalah siswi salah satu SMA di Kebumen. Ku biarkan sepedaku terjatuh begitu saja. Bu. setelah ku amati dari jarakku yang semakin dekat. Ibu juga minta maaf. “Itu kan cuma mim…” kata-kata Nysa terhenti ketika seseorang memanggil namaku. Aku tidak akan mengecewakan kesempatan yang telah Allah berikan padaku. “Ibumu…” Apa? Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak percaya akan kata-kata Paman. Di sini dituliskan kemana ibu akan pergi dan baru akan pergi pukul 15. Tidak sebelum ku buktikan sendiri. Sudah lama aku sadar kata-kata ibu itu. Aku pun menceritakan semua yang hadir dalam mimpiku. “Kamu kenapa. “Assalamu’alaikum!” Ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah. “Bangun. Aku benar-benar resah dan ingin secepatnya pulang. Lebih suka menulis teenlit dengan genre romantis atau fantasi. Fa?” tanya Ibu tampak bingung. Fa! Pak Jono sudah keluar. Tidak mungkin Ibu tega meninggalkanku. Jawa Tengah. Tubuhku serasa beku ketika membaca tulisan di dalamnya. Aku pun meminta izin untuk tidak ikut Sisan hari ini.” Seseorang mengguncangkan tubuhku dan mataku pun terbuka. Kejadiannya terasa sangat nyata hingga membuatku sedikit tidak nyaman. Tanpa basa-basi ku sambar sepedaku dan ku kayuh sekuat tenaga. Ibu hanya ingin kau menjadi anak yang lebih baik. kakiku melangkah lebih cepat. Ternyata Paman Dika. Tidak mungkin Ibu telah pergi. Tidur saja pekerjaanmu. Sekolah? Kenapa aku ada di sekolah? “Fa. Ya Allah. Aku benar-benar menyesal. nak. aku mulai melihat ada yang janggal. apakah ibuku benar-benar akan pergi? Tapi surat ini sedikit berbeda dari yang ada dalam mimpiku. Fa. Begitu juga aku yang tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Ternyata jumlah tamu yang datang lebih banyak dari yang ku kira sebelumnya. Rafa menyesal atas perbuatan Rafa. Penulis lahir 31 Desember tujuh belas tahun yang lalu. Tanpa benar-benar diperintah. Seseorang menghampiriku yang telah turun dari sepeda.” kataku yang tidak dapat lagi membendung air mata. Yap. aku pun lega tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Aku berjanji untuk mengubah sikapku. Ku perhatikan air wajahnya tersirat kesedihan yang membawa angin ngeri pada tubuhku. ibu tidak bermaksud memarahimu. Mulai bergabung dalam dunia tulis menulis ketika duduk di bangku SMP kelas 3. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan dia. Pak Wiji! Jantungku langsung memompa darah lebih cepat. “Bu. “Ibu sudah memaafkanmu. Aku tidak peduli orang-orang menatapku curiga.

Suatu malam aku bertamu ke sana seorang diri saja. untuk mengecek sertifikat rumah itu ke Badan Tanah Nasional. Pemiliknya menyebut angka Rp26 miliar. Tapi jangan kaget. Sebulan silam. 1945. Begitu mudah aku memilikinya.baru saja menikah. Aku bisa menebalkannya kembali. Penggandaannya akan berbuntut sengketa antara sertifikat milik rakyat miskin dan sertifikat yang dipunyai pengusaha kaya. “Padahal banyak sertifikat tanah yang bermasalah di negara kita. di mana lagi? Di ibu kota. Esoknya. lalu selanjutnya membesar sebagai konflik. tentu saja. 28 Agustus 2012 AKU dan Qazi . Tak seorang pun . di Menteng. semua akan kuceritakan kepadamu. Sesaat. namun baiklah kupendekkan saja. jangan heran. Nomornya.” Nani berkomentar sambil mentransfer uang bayaran atas pembelian rumah itu ke rekening Ibu Sari. siapa yang tidak tahu letak kawasan Menteng? Di situlah kini kami berada. Ya. rumah ini baru kubeli dari Ibu Sari. Cuma ini rahasia di antara kita. kupingku yang tipis terasa seperti berdenging-denging begitu mendengar komentar Nani. Rumah besar yang terletak di simpang Jalan Pontianak dan Jalan Surabaya. setiap hari. tak ada masalah. Belum lama juga kami tinggal di sini. semuanya. Sertifikat bermasalah biasanya digandakan sendiri oleh orang dalam BPN. Hak milik atas tanah itu menjadi sengketa. Sering malah menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Nani.istriku yang cantik . Sertifikatnya ternyata aman. Nani terbiasa berkomentar polos seperti itu. cepat-cepat kuperintahkan sekretarisku. Absahlah rumah di Menteng ini jadi milikku. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman. Aku tidak menawar harganya lagi. tak jadi soal. Begitu mudahnya… Aha.CERPEN Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini Arpan Rachman 21:37 wib Selasa. Ceritanya panjang. bukan? Tenang saja. engkau pasti bertanya-tanya dari mana asal uang yang Rp 26 miliar buat membeli rumah ini. Tapi tak mengapa. sehingga jadi berganda. Sertifikat dipalsukan.

Jadi kami tidak takut karena selama ini kami clear kami tidak ada hubungan dengan dana-dana yang beredar di luar. Ketika orang mulai ribut-ribut. terdakwanya bekas bendahara Partai. memburaikan cairan tinta hitamnya untuk membutakan mata ikan-ikan kecil. Sambil menyelinap berfoya-foya dalam nikmatnya gelap ibu kota. Pandangan publik kuelakkan lewat kelicinan seekor belut yang berkelit dari genggaman tangan seorang pemburu tua kemudian mencelat kembali ke selokan. setelah itu menyedot habis mereka sebagai mangsa ke dalam nganga mulut kami. Sebagai anak bungsu dari orang yang paling berkuasa di Jakarta. Misteri ini masih tetap terbuka sedikit belaka. Mereka – kakak dan istri artisnya – kini sudah beranak satu. “Apa Anda menerima dana dari proyek Graha Olahragawan?” Kubantah keras dia. dalam sidang kasus korupsi proyek itu. dan seorang kepala departemen. para pengusut toh merasa takut juga dengan bapakku. posisiku masih aman tenteram. Seorang wartawan kecil yang usil. Hanya koran-koran. Sejauh ini pula belum ditemukan bukti-bukti yang bisa menunjukkan keterlibatan diri saya atau pun Partai. Mengapa harus jadi rahasia? Soalnya mereka sampai sekarang belum juga mengusik aku. ketika orang-orang mulai ribut. Hanya kakak sulungku saja. Panggilan itu ditujukan buat membahas pembagian peranan dan uang yang melibatkan aku. Pesta pernikahanku dengan Qazi. “Apa yang dikatakan terdakwa dalam sidang kemarin itu tidak benar sama sekali. Aku bisa santai terus. dan radio-radio saja yang ternyata “gatal tangan” membeberkan kerugian besar hilangnya uang milik rakyat di negeri ini. Publik sudah bosan menggosipkannya sejak ayahnya – mertua kakakku – yang bekas bankir itu lolos dari jerat hukuman dalam perkara skandal korupsi Bank Sentral Negara dengan jatuhnya vonis yang amat ringan. Untunglah. aku telah mengelak begitu lihainya dari pandangan publik. Hal-ihwal mengenai skandal besar ini masih tertutup rapat di balik meja. “Semua sudah diaudit secara formal dan Badan Pengaudit Keuangan tidak pernah mengatakan bahwa di dalam Partai mengalir dana ter…tertentu dari kasus-kasus ataupun isu-isu yang selama ini berkembang khususnya di media massa. Tak ada penyelidikan yang diarahkan oleh Komite Pemberangus Korupsi kepadaku.boleh tahu mengenai ini cerita. yang – sssttt… . beberapa bulan lalu. Mereka memberitakan perkara korupsi dengan kurang ajarnya justru demi uang juga. televisi-televisi. satu-satunya yang jauh dari sorotan publik. Atau apa karena profesinya tentara? Dan aku tak habis pikir: apa hubungan gosip dengan profesi? Istri kakakku. “Ter…terutama orang-orang yang…yang selama ini dituduhkan atau disebut-sebut dalam persidangan. itu tuduhan yang tidak ada buktinya. “Saya persilakan saja a…agar kasus ini diproses dan saya minta agar diberikan kesempatan kepada pihak pengadilan untuk membuka persidangan yang adil. secara sembarangan bertanya. Mungkin mereka jijik melihat perilaku kami sekeluarga yang mencaplok harta kekayaan rakyat seperti gurita raksasa bergentayangan di bawah permukaan laut.” ucapku dengan tegasnya membeberkan panjang-lebar di kantor Partai. saya katakan kasus ini tidak berkaitan dengan Partai. “Tidak ada itu dan tidak benar semua yang diisukan bahwa saya menerima dana dari kasus yang disebut-sebut selama ini. Semula aku selalu gagap menjawab wartawan. Bersembunyi diam-diam. memang mereka itu ya? Wartawan! Sejenis kumpulan orang sial dan kurang pekerjaan. syukurlah. kemudian suaraku tergagap lagi. Eh. Satu saja cara mudah mengelak gosip: aku menikah. Tapi banyak juga kalangan yang akhirnya membuang muka. Ini sebenarnya bukan tabiatku yang biasa. Mereka tidak mengejar namaku sebagai tersangka.” Aku berhasil membuat publik kagum. boleh kau terka. Lalu. kendati begitu.” kataku lantang. awalnya. Tanggung kelihatannya di mata. Soal pemeriksaan rek… rekening petinggipetinggi Partai gu…guna memperjelas kasus ini. bintang iklan shampoo. Sehari sebelumnya. Siapa yang mencurinya? Tentu saja. mengaku pernah dipanggil bapakku ke rumah kami. Sebab. Setahun lalu. majalah-majalah. Keponakanku yang lucu. si bendahara. mantan artis berambut panjang.

Bangunan bercat putih buatan tahun 1930-an. Dia merajuk. Pada suatu akhir pekan yang paling indah dalam hidupku. menurut sebuah cerita. kujawab: “Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Qazi dengan mas kawin tersebut. bahkan. tepat di samping kiri. kami pindah ke rumah ini. Nyaris tanpa jeda. dia hanya orang dusun bukan asli asal kota itu.ini rahasia ya – sejak awal sesungguhnya tak mau kusunting jadi istri. Sebelum akad nikah. Berikutnya. Gara-gara apalagi. Sebab kepikiran terus dengan keselamatanku. kasus korupsi proyek Graha Olahragawan diangkat secara besarbesaran oleh berbagai media massa. Mulanya. Luasnya 363 meter persegi. Dan begitu mengetahui aku ditangkap polisi di Negeri Singa. Beruntung aku tertangkap di Singapura bukan di sebelahnya. Rumah yang modelnya bagus nian. Setiap sore. ibuku langsung jatuh pingsan. Di sebelah meja lainnya. duduklah saksi dari mempelai perempuan. Di seberangnya. Padahal. yaitu Pak Amin. kalau bukan ketahuan mengisap narkotika? Barang laknat itu sudah sejak masa bersekolah jadi teman setiaku. Nama besar mertuaku disegani orang di sana. Anak-anak kecil di dekat situ biasanya selalu mengolok-oloknya dengan menjerit histeris “Wak Uban!” setiap memergoki kebiasaannya memungut es sisa. sedang lahannya 850 meter persegi. Akulah biang keladi semua kericuhan ini. tunai. hobinya mengumpulkan sisa es balok dari pabrik es dekat rumah kontrakannya buat dijual lagi kepada tukang es keliling. sampai hukum mati. “Ananda saya nikahkan dan kawinkan Ananda dengan anak kandungku Qazi binti Hajata dengan mas kawin keping emas 1. dia merantau dari dusunnya dan mengontrak rumah dekat stasiun kereta. Dia – istriku Qazi – tahu. Setelah menjalani pemeriksaan yang amat bertele-tele dibubuhi sebuah negosiasi yang alot! Kebebasanku kelak akan dibayar lunas dengan pengampunan narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan di Bali. Ah. Namun. Untung saja pengacara kondang yang suka memakai kalung rantai emas berkilau itu berhasil mengeluarkan aku dari kantor polisi. Sebelum kubeli.000 gram dan seperangkat alat shalat dengan dibayar tunai!” ujar mertuaku sambil menjabat tanganku. khutbah pernikahan. Aku begitu muak mendengar rumor tentang asal-usul bapakku yang katanya anak haram jadah penguasa terdahulu dari istri seorang Gerwani. Tapi hari baik itu tiba juga. saksi dari mempelai laki-laki. . kondisi rumah seperti tidak diurus.” Lafazku tumben tidak gagap. Aku yang gagah mengenakan pakaian adat Palembang duduk berhadapan dengan mertuaku. Kuingat persis hingga pada kejadian-kejadian kecilnya. memang. Sejak remaja pula rambutnya sudah putih beruban-uban semua. Kalau di Negeri Jiran. kami sering tidak saling bicara di rumah. Kalender dibalik dari bulan tua ke tanggal muda. Atau tentang bapakku yang pernah menikah dengan istri lain – bukan ibuku – saat menjalani dinas pendidikan tentara. Berdiam-diaman saja. Masalah besarnya baru terjadi tatkala aku terperangkap dalam jaring spionase intel Australia dan berakhir dengan kejadian nahas: ditangkap polisi di Singapura. alamak. kendati sejatinya hanya sebuah trik sederhana mengalihkan perhatian dari urusan lain. disambut cepat oleh saksi dari kedua belah pihak yang secara berbarengan sama-sama mengucapkan. walaupun tinggal berdua. dibacakan lantunan ayat suci merdu Al Quran. Aku bermain kartu dalam proyek yang dibangun di tempat kelahiran mertuaku. Arsitekturnya bergaya sebuah vila Hindia. Di sana diberlakukan hukuman berat buat para pemakai madat. Buat menutup isu penangkapanku. Mengisapnya membuatku menyingkir sejenak dari kenyataan yang riuh-rendahnya tak mampu kutanggungkan. entah siapa namanya aku lupa. kemudian. sedetik saja. “Sah!” Ucapan serempak itu mirip koor lagu – suara satu ditingkahi suara dua – telah dilatih sebelum acara. sampai melarikan diri ke London sebelum acara lamaran diadakan. entah apa jadinya. Setelah bulan madu keliling Eropa. selalu saja ada pengusaha media yang begitu tolol (atau pura-pura bodoh) menangkap umpan di ujung kail bernama “berita panas”. Beliau terpaksa dibawa masuk rumah sakit. Kami dipisahkan sebuah meja persegi panjang. akhirnya aku menikah. dulu.

Tak lama membaca. tapi sinarnya terhalang atap model limas yang menaungi serambi. Pemilik aslinya orang Belanda lain. saya tertangkap polisi di Singapura. Kini. Bangunan rumah hampir tidak berubah dari aslinya. Tapi Si Belanda itu bukan pemilik pertama. Di ruang tamu banyak perabot antik. Dalam sebuah bayangan yang tulus. menyebutkan bahwa namaku semakin melambung. Matahari memancar. lagi-lagi muncul wartawan usil itu! Sambil cengar-cengir. Sudah bukan saatnya lagi aku bermain di belakang layar. dan radio yang “gatal mulut-gatal tangan-gatal mata-gatal telinga” untuk ramai-ramai menyingkapkan misteri hilangnya uang milik rakyat negeri ini. karena mengisap narkoba. Nuansa suasana tempo dulu kental sekali. Ada lampu teplok kuno yang masih dapat menyala. Pemiliknya semula mulai menghuni rumah ini pada tahun 1950-an. saat beberapa bulan menikah dengan seorang pengusaha. Rumah beserta isinya itu kini sudah jadi milikku. kupandang bunga warna-warni yang tumbuh dalam pot-pot di sudut pekarangan. Bergegas aku berjalan ke garasi.” Tapi dia bukan wartawan yang pintar. Siapa yang bisa melawan si bungsu putra mahkota penguasa? Bermiliar-miliar rupiah dana sudah kukantongi. Saya berhasil dibebaskan dari sana bukan berdasarkan hak kekebalan diplomatik. Lalu langsung menodongkan alat perekam. Hukuman penjara telah dijalaninya selama 7 tahun. Pengusaha itu mendapat rumah ini dari orang Belanda setelah mengantongi vestigingbewijs atau surat izin perumahan. lelaki muda mirip anak kecil di hadapanku ini takkan mampu menyimpan jawaban off-the-record semacam itu sebagai sebuah rahasia besar sampai mati. Ada pula sofa dengan ukiran indah dari zaman Daendels. mengambil berita langsung dari dalam ruang sidang pengadilan! Setiap pagi aku membaca koran di serambi. Ia minta pendapatku soal pengampunan Dascy. komentarku akan berbunyi lancar: “Yang sedang berada dalam masalah besar sebenarnya saya sendiri. Enam bulan lalu. yakinlah… Kuraih kunci mobil di atas meja dekat layar kaca. “Bagaimana komentar Bapak?” wartawan kecilku mendesak.Para pengusut pun unjuk gigi. dia menyapa “Selamat pagi!” sebagai basa-basi. Sementara itu. Mereka – para wartawan yang kurang ajar itu – bahkan. Tapi acara belum dimulai. langit kebebasan terbentang di atas kepala berambut pirang si mata biru asal Australia. oleh Si Belanda pertama. Model jendela luar di sekeliling kusennya dihiasi ornamen. menembakku dengan pertanyaan klise. Kupikir. . Kunikmati proses pemeriksaan kasus itu dari koran. dari ruang tengah. majalah. Akulah pencuri uang milik rakyat negeri ini buat modal mencalonkan diri sebagai penguasa nanti. Kini. Bila mataku letih. Tentu saja. televisi. membubung jauh sampai ke langit tinggi percaturan politik. narapidana perempuan asal Australia yang dipenjarakan dalam kasus kepemilikan narkoba di Bali. Kugulirkan roda menuju kantor Partai. melainkan dengan balasan pengampunan si Dascy ini. Seorang tokoh muda yang cemerlang di antara tokoh-tokoh politik tua renta. siang nanti. Dengan anak kunci itu. kukira. Dascy sebelumnya dihukum 30 tahun penjara setelah tertangkap tangan membawa 2 kg daun kering cannabis sativa. rumah ini sempat dijual kepada orang Swiss. Sebelumnya. mata tajam publik terus mengawasi lekat-lekat sosok ketua Partai yang terkenal alim itu sedang diperiksa. di televisi terdengar suara penyiar membaca berita. Semua pelakunya orang Partai. Penangkapan demi penangkapan mulai dilakukan. karena aku tidak suka dengan kegiatan yang hanya membuang waktu – aku melangkah masuk melewati kusen beserta daun pintu terbuka yang terbuat dari kayu jati yang tak pernah diganti sejak pertama rumah ini berdiri. Bendahara dan sekretaris sudah dikurung dalam penjara. Sesampai di sana aku bilang kepada Nani agar dia mengatur jumpa pers. kubuka pintu sedan Porsche kesayanganku. Hari Minggu begini paling enak menyetir sendiri daripada disopiri karena arus lalu lintas lebih lengang dari hari biasa. Aku duduk menghenyakkan pantatku ke bangku sopir. Dua tahun lagi aku akan tambah hebat beraksi.

” Kuberi dia senyum kecil. Menunjukkan pada orang lain bah…bahwa kita berbuat baik kepada warga negara lain akan berpengaruh ba…baik pula bagi warga negara kita sendiri yang…yang sedang mengalami kasus hukum di negara lain. jangan mengganggu dulu: “Aku mau belajar. maka kesunyian kian terasa melingkupi daerah itu. di kantor.” kataku.” Ya. merupakan perbuatan yang baik. sepi pengunjung. Tengah malam. Malam ini bukan malam di mana orang-orang menghabiskan liburan akhir pekannya. Sepi.“Pengampunan ini. Crystal Meth atau metamfetamin berbentuk kristal dapat diisap lewat pipa. Aku tak pernah henti-henti belajar. Akan berbeda sekali dengan apa yang terjadi bila pada malam-malam akhir pekan. Kuisap asap sejarah Nagayoshi. narkoba. Dingin menusuk tulang. ter…terlepas dari diberikan kepada siapa – sekali lagi saya tekankan: ‘ter…terlepas dari diberikan ke…kepada siapa pun’. dan kejahatan berat lainnya yang kasusnya ter…terjadi di negara lain. setelah kukatakan kepada Nani. Andai saja tak ada kendaraan lewat. “ada 2…200 lebih WNI yang sudah diselamatkan da…dari dakwaan pembunuhan. Sudah basi. mungkin semuanya sudah basi. 30 Juni Cerpen Kesucian Imah Senin.. Kupintarkan nalar si wartawan itu dengan data statistik. Halimun mengambang membatasi jarak pandang. maka harus kuhentikan sendiri. 04 Februari 2013 11:59 wib PUNCAK.*** Penulis Arpan Rachman Makassar. Jalan raya hanya dilewati satu dua kendaraan. Hanya beberapa saja yang dikunjungi pasangan muda- . Obat praktis bagi kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian. “Saat ini. Wartawan itu tak bisa menghentikan langkahku lagi. biasa. Kurogoh saku. Bogor. Warung-warung kaki lima yang berjejer di tepian jalan raya. Kukunci pintu.” Terakhir. kuayunkan kakiku ke ruangan kerja pribadiku. Barang ini sekarang terkenal dengan singkatan “meth”. Hari ini pelajaran sejarah tampaknya menarik. aku berusaha serius. sekarang juga. sebelum pergi. Aku tak mau berhenti! Padahal kalau mau menyetop semua kekacauan ini. Sebab kalau nanti sampai publik tahu siapa sebenarnya aku. aku belajar terus supaya makin cerdas.. kugenggam sekepal sejarah itu: di Jepang pada 1893 Nagai Nagayoshi pertama kali membuat metamfetamin. Masuk kantor Partai.

ia tak banyak ulah. Har terhenyak dari lamunannya. Sama-sama kepala batu. anak bungsunya yang perempuan. anak gadisnya pulang dengan mulut semerbak alkohol. hingga belum tahu harus menjawab apa. Masuk rumah sambil cekikikan dengan seorang pemuda sebayanya. menempeleng sekali. Namun menghadapi sikap Har yang lebih sering otoriter. Dan anak gadisnya tak menyangka itu. Terjatuh sekali di pintu gerbang. paling lama bertahan hanya dua atau tiga bulan saja. dijamin beres. Yang Har tak sadari.” demikian Har pada suatu ketika. Alasannya. Ia tarik napas dalam-dalam. Har menaikkan krah jaketnya dan menarik resleting rapat-rapat untuk mengurangi sengatan dingin. ternyata perlu direnungkan ulang bagi para menantunya. Nunut saja apa kata ayahnya. Dan celakanya Har selalu ingin mencampuri segala macam hal. berbisik-bisik di antara pemilik warung yang menungguinya dengan terkantuk-kantuk. Bahkan para isteri kedua anak lelakinya. Hanya tadi ada sesuatu yang harus dia ambil maka ia pulang sebentar. Lalu mengusir kasar si pemuda krempeng yang terbirit-birit melarikan diri. Ia selalu menginap di hotel. sikap si bungsu pun mulai berubah. yang semula menetap seatap. Pemberontakan kecil-kecilan pun mulai meletup. Novi terlihat bagai gadis rapuh yang selalu butuh perlindungan. Fikri dan Bagas memang telah berkeluarga. Akibatnya. Har berang bukan main. Soal keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak tinggal lapor mertua. Fikri pun menyusul. Seorang perempuan manis sebaya Novi menegurnya dengan genit. anak bungsu yang selama ini selalu ia perlakukan bagai bayi kecil nan rapuh itu kedapatan pulang dalam keadaan mabuk. Akibatnya. Mungkin karena waktu itu masih SMP. Uang hasil kerja anakanaknya dianjurkan untuk ditabung. ia baru saja mendamprat habis-habisan anak gadis tunggalnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Sore tadi. Baru setengah jam Har mengaduk-aduk ruang kerja untuk mencari arsip-arsip yang dia perlukan. Di depan Har. ada hal-hal tertentu yang Har tidak boleh tahu.mudi. para menantu itupun satu persatu undur diri dan memilih ngontrak rumah di perkampungan kumuh. Har merasa seluruh tanggung jawab keluarga berada di tangannya. selanjutnya ngacir dengan motor bebeknya. akibatnya ya. Pasalnya. Namun yang terbaik bagi Har. Semua penghuni rumah lebih sering dianggap bawahannya termasuk anak-anaknya sendiri. menyuruhnya naik ke kamar atas. Sebagai seorang eksekutif sebuah bank swasta dengan segala macam kesibukannya. Menoleh. “Terserah apa mau kalian. Sejernih sayup alunan irama jaipongan dari radio pemilik warung. hanya mengamini sikap kakaknya. Di rumah besar milik Har. Ia memarahi bayi kesayangannya. “Sendirian Oom?” tiba-tiba ada alunan jernih lain yang menyelusup ke telinganya. Lalu menikahi gadis pilihannya masing-masing dan menetap bersama di perumahan “Mertua Indah”. Har menatap jauh menembus kabut. Kepalanya terasa agak ringan. Sementara posisi eksekutifnya di kantor menuntut sebuah tanggung jawab besar. Jangan tanya soal pembantu. saya hanya ingin yang terbaik bagi keluarga ini. dijejali paru-parunya dengan oksigen lembab pegunungan. Tinggal Har dan Novi. itu tadi. Bayi kecil yang selama ini selalu manja di pangkuannya. Pikirannya sedang gundah. pikiran pun mulai jernih. Har tersentak. ternyata Novi memiliki watak yang sama dengan dirinya. Tidak perlu mencampuri. Kegenitan yang terlihat agak dipaksakan.Gelagapan. mereka telah menamatkan studinya masing-masing di luar negeri sebelum ibunya meninggal. Namun seiring perjalanan waktu. sebagai manusia mereka juga merasa punya hak privasi. ternyata bisa juga mabuk berat hingga harus menggelendoti pundak seorang pemuda ceking yang diakui Novi sebagai pacarnya. apapun yang diinginkan Novi selalu dikabulkan tanpa harus diminta dua kali. Setengah kesadarannya masih mengambang di antara halimun. Dari dua jam lalu ia memang mematung sendirian di tepian jurang yang . terkadang membawa pengaruh buruk pada egonya. Persoalan di kantor menjadi campur-aduk dengan di rumah. Sikap menurutnya selama ini hanya mengendapkan rasa perlawanan yang semakin lama semakin membesar. Pertama Bagas memboyong anak isterinya untuk hidup terpisah dengan alasan ingin mandiri. mereka tak usah lagi berpikir tentang uang belanja. menerobos rimbunan daun teh. Har jarang pulang ke rumah. Har sudah mengaturnya. Hanya berselang dua bulan. memilih ngacir lalu mengontrak rumah sepetak di pinggiran kota. Di mana. Dan Har baru tadi menyadari kekeliruannya selama ini. Semenjak isterinya meninggal lima tahun lalu. Tetapi Har lupa. melingkar di lereng bukit lalu menukik menghujam jurang nan curam.

Juga lupa karena belum bertanya nama perempuan yang duduk di sebelahnya. Tetapi ia sendiri tak perlu jawaban seperti itu. “Kenapa tidak. “Di sini dingin sekali ya Oom. Perempuan itu kembali menghisap rokoknya. Har menoleh. hitam manis. sekikuk dirinya. tentunya tengah dilanda gejolak batin. Atau hanya sekedar iseng saja untuk menjauhi kepenatan keluarga.” gadis itu menyahut sambil tersenyum.” ia tersenyum.dipenuhi tumbuhan teh. Dan perempuan sederhana ini langsung memikat hatinya tanpa ada keinginan untuk menolak. Asap rokok filter bercampur kabut terhembus dari bibirnya manakala ia berkata-kata. Dalam hatinya ia menggerutu. Rokok yang terselip di bibir merekah itu lebih mirip benda asing yang tiba-tiba muncul begitu saja. “Sopirku sedang pulang kampung menjenguk isterinya yang baru melahirkan anak pertamanya. Ditelan hidup-hidup pun dia mau.. Dari caranya menghisap lalu menjepit rokok di sela-sela jari nan lentik. Formil dan serba tergesa-gesa. tentu.” Si Gadis tersenyum. Namun yang keluar dari mulutnya malahan. Ke hamparan kebun-kebun teh. itu hanya untuk kebutuhan bisnis kantor semata. Seseorang yang mematung hingga ratusan menit dengan tak peduli pada lingkungan sekitar. nyetir sendiri. mau kau kuajak ke sana?” ajak Har sopan dengan keyakinan kuat bahwa wanita ini akan jauh sekali untuk menolak. Namun di kuping Har terasa ada getaran aneh saat gadis itu berkata-kata. Har yang tengah dilanda gundah namun kesepian itu. sejak kapan gadis ini memperhatikannya hingga tahu kalau ia memang sendirian. “Apa yang sejak tadi Om perhatikan. Berhidung bangir dengan rambut terurai hingga ke bahu. Har merasa aneh. yang itu. Sudah lama ia nyaris tak pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang perempuan dalam suasana santai. Perempuan itu masih memandang keluar. “Oh….Namun bila menilik dari parasnya. “Om gak bawa sopir kan.” serasa ada nada paksaan agar Har tak menolak tawarannya. Sama seperti Har. Sesaat mobil bergerak perlahan.” meluncur juga perkataan dari bibir Har. Baginya uang si Om lebih bernilai ketimbang basa-basi membosankan. setiap kali ia menawarkan keramahan setiap kali pula ia disambut dengan keramahan yang dibuatbuat. Sebaris senyum dingin yang tak pernah tuntas. . katanya sih kembar. perempuan itu kemudian menoleh ke arah kaca mobil memandangi warung-warung pinggir jalan yang semakin menjauh. Bagai ribuan kunang-kunang kuning di kegelapan malam. memandangi perkebunan teh lalu kembali menoleh ke arah Har. Andai wanita ini berprofesi seperti yang dipikirkan Har. lalu biarkan waktu yang akan menentukan. ia tahu kalau si Om ini agak kikuk. bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di mobil. selembut angin yang mengibas rambut nan terurai itu. Ia duduk di jok empuk dengan kikuk. Har masih terpaku. Har sadar kalau perempuan ini tidak pernah merokok sepanjang hidupnya. “Boleh. Melayani perempuan yang belum dikenalnya atau biarkan semua mengalir. Mobil Om yang itu kan?” Suaranya lembut. Sejenak Har lupa pada pekerjaannya yang menumpuk. Walau berpenampilan sederhana gadis itu cukup manis di mata Har. yang memang baru terdengar beberapa patah saja. Perempuan itu melangkah ke tepian jurang. Kalaupun ada banyak wanita yang terus mengalir untuk diajak bicara setiap harinya. Dan semakin jauh pula tatapan perempuan cantik itu merambah ke kekosongan. Har diam. Kulitnya agak gelap. menunggangi kabut di puncak pegunungan. Serasa ada ganjalan. Perempuan itu akhirnya tersadar bahwa pertanyaan barusan tak semestinya ia dilontarkan.” Har kembali memperhatikan wajah manis itu. menembus kaca jendela. lupa pada Novi yang habis ditempelengnya.. Perempuan itu ngintil di belakang Har lalu naik ke mobil saat Har membukakan pintu. Posturnya sedikit pendek dibanding Novi. rupanya memang sangat perlu teman untuk curhat. ke arah kelap-kelip lampu-lampu vila di puncak hingga lereng-lereng gunung. Om. mungkin sekitar seratus enam puluh duaan meter. Har menduga pastinya wanita ini sejenis wanita malam yang tengah mencari mangsa. berpikir menentukan sikap.” Har menunjuk pada BMW keluaran terakhir. Apa pedulinya. tentunya wanita ini belum profesional. Har tak menolak untuk dimangsa. Lupa pada pacar Novi yang tadi ngacir terbirit-birit. “Boleh ditemani? Sepertinya Oom perlu teman. “Saya ada vila di sekitar sini. Ya.

Nama kota. selebihnya berupa ribuan anggukan. Hanya berisi kartu tanda pengenal dan beberapa kartu kredit yang . Langsung hilang pusing Har. Agak berantakan. Sebagai penggantinya. Dan malam itu. pokoknya banyak lagi ribuan nama yang bisa dia pinjam hanya untuk sekedar gagah-gagahan. Ia memeriksa isi dompet. soalnya tadi perempuan ini yang mendatangi Har. atau datang dari jauh bersama temanteman seprofesi. Biar dibilang gadis modern. Tadi dia kira itu Novi. ia menumpahkan seluruh isi dompet dan menyerahkannya pada Imah. Ia rupanya sedang pulas saat bunyi telepon mengusiknya. “Saya sedang kesulitan uang. sesederhana dandanan dan sikapnya. si Mamang – begitu Har memanggilnya – penjaga vila setengah tua itu muncul dengan terseok-seok membukakan gerbang vila. atau Melly.Ada genangan bening pada mata Imah yang terus tercurah hingga menjelang ayam berkokok. Har memanggil penjaga vila melalui ponselnya. kosong.” Har memperkenalkan diri. minum ini untuk menghangatkan badan. ada bercakan merah di atas kain sprei. tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. Har mengajak Imah ke ruang tengah vila. si Mamang tahu diri untuk tidak bertanya panjang lebar termasuk tentang perempuan yang berjalan gontai di sisi bosnya. tapi sedikit melirik pada Imah. Kesadarannya belum pulih benar ketika tangannya membuka gembok dicampur dengan perasaan heran karena bosnya datang dengan mendadak untuk menginap. kembali mencair. “Saya rapikan dulu kamarnya. Atau Sherly.Dan entah berapa puluh tegukan pula minuman beralkohol itu masuk ke perut Har dan Imah.Tidak berusaha untuk menutupinya dengan merobah menjadi Ina. siapa namamu. Hanya sesekali Imah berkomentar. “Tentunya kamu kedinginan sekali bukan. Jelas. Har telah mabuk. Perempuan itu agak terkejut lalu cepat-cepat menutupinya dengan seulas senyum. mobil keburu sampai di vila yang di tuju. Haryanto. Berapa biaya yang kamu butuhkan. kalau perempuan ini memang tengah butuh duit. tetap tidak membuat Har lupa bagaimana ia harus menjadi laki-laki kembali. seperti kebanyakan gadis-gadis perkotaan. membuat Har menumpahkan semua itu ke hadapan Imah yang mendengarkannya dengan tekun. Imah inginnya menolak. terdengar dari perbendaharaan bahasa Indonesia yang paspasan bercampur dengan dialek sunda yang mendayu-dayu. Namun yang terlupakan oleh Har adalah bagaimana Imah agak menjerit ketika memulai dan merintih sepanjang permainan gila yang disuguhkan Har. Mana ada perempuan yang mau mendekati seorang lelaki di tengah hawa dinginnya puncak lalu bersedia diajak ke dalam vila. di sela-sela mabuk dan kepuasannya. kelaki-lakian Har yang sempat membeku sejak lima tahun lampau. Gan. Om. Mak saya sedang sakit dan perlu banyak biaya.“Oh ya.” ujar Har sambil menyodorkan setengah gelas minuman. misalnya. Berlanjut dengan dengkuran penuh kenikmatan. ah. Kini lebih heran lagi karena bosnya turun dengan seorang perempuan sepantaran Novi.” Nama yang sederhana. Tapi ia lalu menyodorkan tangannya sambil meringis. ia turun dari tempat tidur. mendidih dan menggelora. Hanya butuh waktu lima menit. Apakah perempuan ini penduduk sekitar sini. yang telah lebih dahulu dapat “sewa”. “Saya Imah. Di sana ada satu set bangku sofa untuk bersantai juga terlihat semacam bar dengan beberapa botol minuman asing berjejer pada rak di dinding belakang bar. Bablas semua persoalan dari isi kepalanya. Imah sudah tak ada di sisinya. Om. Har yakin perempuan ini bukan berasal dari kota. Har hanya mengangguk acuh tak acuh. Meski perempuan kampung ia toh tahu kalau itu memabukkan.”Har tertawa terbahak-bahak.” “Ha…ha…ha. Sekarang malah ia yang mendahului. Saya Har. Yang menunjukkan bahwa perempuan ini hanyalah perempuan pribumi biasa. Imah pun ngomong dengan tanpa ragu. Terasa aneh juga bagi Har. Di ujung cerita panjang Har dan diambang kesadaran mereka berdua yang semakin menipis. Perasaan gundah yang tengah melanda Har ditambah beban pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Tapi sebagai penjaga vila yang baik. habis Agan jarang menginap ke sini. kalau bukan demi uang. Har memang tidak lupa. Tak meleset jauh dugaan Har sejak semula. Belum terjawab uneg-uneg Har. Kamar yang tadi telah dirapikan si Mamang sekejap berubah berantakan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Har yang mabuk dan bernapsu menelusuri seluruh lekukan tubuh Imah. tidak usah khawatir. Har terbangun saat menjelang matahari berada di atas kepala. namun tingkah lakunya terkadang lebih kampungan daripada gadis kampung itu sendiri. yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun. atau….” tutur si Mamang tersipu-sipu tak berani menatap langsung. Meski lima tahun tak pernah menyentuh perempuan ditambah lagi dalam keadaan mabuk. Masih terasa pusing.

sebagai bentuk pertanggungjawaban dari seorang laki-laki. kembali ke habitatnya di sebuah dusun yang entah dimana letaknya. Tapi di mana Imah. ia jual keperawanannya demi orangtuanya yang tengah sakit. menggosok-gosokan dengan kedua jarinya. Ingin sekali Har menyusul Imah. Perempuan desa nan lugu itu telah berhasil memporak-porandakan keteguhan yang selama ini dipertahankan Har untuk tidak menikah lagi hingga akhir hayat. perempuan itu masih perawan.”Ada sesal yang menggayut di pundak Har.tak beringsut dari tempatnya. perempuan desa yang lugu. begitu egoisnya aku. “Astaga. Tapi apa mau dikata. menemui orangtuanya.” Har merenung. 2012 .Ia tersentak. Begitu nistanya aku. dompet itu hanya berisi uang tiga ratus ribu dan telah diserahkannya semalam pada Imah. meminangnya untuk dia peristeri. di mana dusunnya? Oleh: Yoss Prabu Jakarta. Ia ingat. “Imah. Hanya tiga ratus ribu. perempuan itu telah terbang jauh. Har meraba bercakan merah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->