Hak Milik dalam Islam A.

Pengertian Hak Milik Manusia adalah mahluk sosial, dimana satu individu membutuhkan individu yang lain dalam menghadapi berbagai persoalan hidup untuk memenuhi kebutuhan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena setiap manusia mempunyai kebutuhan, sering terjadi pertentangan-pentertangan kehendak. Oleh karena itu, untuk menjaga keperluan masingmasing perlu ada aturan-aturan yang mengatur kebutuhan manusia agar tidak melanggar hak-hak yang lainnya. Maka, timbullah hak dan kewajiban diantara sesama manusia salah satunya adalah hak milik. Secara garis besar, hak dibedakan menjadi dua yaitu maal dan ghoiru maal. Hak maal adalah sesuatu yang berkaitan dengan harta seperti pemilikan benda atau hutang-hutang sedangkan ghoiru maal dibagi menjadi dua yaitu hak syakhshi dan hak „aini. Hak syakhshi adalah suatu tuntutan yang ditetapkan oleh syara‟ dari seseorang terhadap orang lain sedangkan hak „aini adalah hak orang dewasa dengan bendanya tanpa dibutuhkan orang kedua. ( Fiqh Mu‟amalah, Drs, H. Hendi Suhendi, M.Si, 2008 ) Dilihat dari pembagian diatas hak milik atau milkiyyah termasuk dalam hak „aini karena dilihat dari definisinya hak milik adalah hak yang memberikan pemiliknya hak wilayah untuk memiliki, menggunakan, mengambil manfaat, menghabiskan, merusakkan dengan syarat tidak menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Milik atau almilku berasal dari kata “ malaka – yamliku – milkan “, malaka asy syaia yang berarti memiliki atau mempunyai sesuatu. ( Kamus Arab – Indonesia, Prof. Dr. Mahmud Yunus, 1972 ). Milik menurut bahasa berarti Pemilikan atas sesuatu ( harta ) dan kewenangan bertindak secara bebas terhadapnya. Menurut Kamus Lengkap Ekonomi Islam ( Dwi Suwiknyo, SEI. MSI, 2009 ) Almilk yaitu penguasaan terhdap sesuatu yang dimiliki (harta) sedangkan kepemilikan adalah pendapatan seseorang yang diberi wewenang untuk mengalokasikan harta yang dikuasai orang lain dengan keharusan untuk selalu memperhatikan sumber (pihak) yang menguasainya. Berikut beberapa definisi hak milik atau milkiyyah yang dijelaskan oleh para fuqaha, antara lain: 1) Definisi yang disampaikan Prof. Dr. Wahbah Zuhaily: “ Milik adalah keistimewaan ( Ikhtishash ) terhadap sesuatu yang menghalangi orang lain darinya dan pemiliknya bebas melakukan tasharruf secara langsung kecuali ada halangan syar‟i “ 2) Definisi yang disampaikan oleh Musthafa Ahmad Azzarqa : “ Milik adalah keistimewaan ( Ikhtishash ) yang bersifat menghalangi orang lain yang syara‟ memberikan kewenangan kepada pemilik ber – tasharruf kecuali terdapat halangan “ 3) Definisi yang disampaikan oleh Muhammad Musthafa Assya‟labi : “ Hak milik adalah keistimewaan ( Ikhtishash ) atas suatu benda yang menghalangi pihak lain bertindak atasnya dan memungkinkan pemiliknya ber – tasharruf secara langsung atasnya selama tidak ada halangan syara‟ “ 4) Definisi yang disampaikan oleh Ali Khafifi : “ Hak milik adalah keistimewaan ( Ikhtishash ) yang memungkinkan pemiliknya bebas

ber – tasharruf dan memanfaatkannya sepanjang tidak ada halangan syara‟ “ Seluruh definisi diatas menggunakan kata ikhtishash yang berarti keistimewaan sebagai kata kunci milkiyyah. Jadi milkiyyah adalah keistimwaan, ada 2 keitimewaan dalam konsep hak milik yaitu: 1. Keistimewaan dalam menghalangi orang lain untuk memanfaatkan harta tanpa kehendak atau izin dari pemiliknya 2. Keistimewaan dalam ber – tasharruf. Tasharruf berarti sesuatu yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan kehendaknya dan syara‟ menetapkan beberapa konsekwensi yang berkaitan dengan hak Jadi kesimpulannya milkiyyah adalah kebebasan dalam bertasharruf ( berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu )terhadap harta kecuali ada halangan tertentu yang diakui oleh syara‟ dan menghalangi orang lain untuk memanfaatkan harta tanpa kehendak atau izin dari pemiliknya. Halangan syara‟ ( Al Mani‟ ) yang membatasi kebebasan pemilik dalam ber – tasharruf ada 2 macam: 1. Halangan yang disebabkan karena pemilik dipandang tidak cakap secara hukum, seperti anak kecil karena anak kecil dianggap belum mumayyiz atau karena safih ( cacat mental ), atau karena alasan taflish. 2. Halangan yang dimaksudkan untuk melindungi hak orang lain seperti yang berlaku pada harta bersama ( harta campuran ). Bila diperhatikan secara seksama hak milik adalah konsep hubungan manusia dengan harta, beserta hukum, manfaat dan akibat yang terkait dengannya. Dengan demikian milkiyyah tidak hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat kebendaan ( materi ) saja tapi juga manfaatnya. B. Sebab – sebab kepemilikan Hak milik dapat diperoleh melalui sebab – sebab berikut ini: 1. Ihrazul Mubahat ( Penguasaan harta bebas ) Al mubahat adalah harta benda yang tidak termasuk dalam milik yang dilindungi ( dikuasai oleh orang lain ) dan tidak ada larangan hukum untuk memilikinya. Jadi Ihrazul mubahat adalah cara pemilikan melalui penguasaan terhadap harta yang belum dikuasai atau dimiliki pihak lain. Harta almubahat contohnya tanah mati, ikan dilaut, hewan dan pohon dihutan. Setiap orang berhak untuk memiliki dan menguasai harta benda tersebut berdasarkan batas kemampuannya masing – masing. Berdasarkan keterangan diatas kepemilikan dengan cara Ihrazul mubahat dapat dilakukan apabila memenuhi 2 sarat berikut: a) Tidak ada pihak lain yang mandahului melakukan ihrazul mubahat. Seperti dalam kaidah: “ Barang siapa lebih dahulu menguasai harta bebas maka sungguh ia telah memilikinya” Seperti dalam kasus tanah yang telah digarap dan dicocoki tanaman kemudian ditinggalkan maka tanah tersebut tidak lagi termasuk tanah mati atau harta bebas karena tentunya ketika pemiliknya tinggalkan memberi tanda terlebih dahulu seperti memberikan batas dengan memasang pagar dan sebagainya yang menghalangi orang lain untuk memiliki tanah tersebut. b) Penguasaan harta tersebut bertujuan untuk dimiliki bukan untuk yang lain. Jadi kata kunci Ihrazul mubahat adalah harta bebas untuk tujuan dimiliki tidak untuk selain itu. Penguasaan tersebut bisa dengan cara – cara yang lazim seperti memberi batas

atau tanda pemilikan. 2. Tawallud ( Anak pinak / berkembang biak ) Tawallud adalah sesuatu yang dihasilkan dari sesuatu yag lainnya atau dalam kaidah dikatakan: “ Setiap peranakan atau segala sesuatu yang tumbuh ( muncul ) dari harta milik adalah milik pemiliknya” Prinsip tawallud ini hanya berlaku pada harta benda yang besifat produktif. Harta benda yang bersifat produktif disini berarti benda hidup atau bergerak yang dapat menghasilkan sesuatu yang lain atau baru seperti binatang yang dapat bertelur, beranak menghasilkan susu dan kebun yang dapat menghasilkan buah dan bunga. Benda mati yang tidak bersifat produktif seperti rumah dan mobil tidak berlaku prinsip tawallud karena rumah dan mobil tidak bisa berbunga, bertelur apalagi beranak. Kalau ada keuntungan yang dihasilkan dari mengusahakan harta tersebut maka keuntungannya didasarkan pada hasil usaha kerja ( Tijari ) bukan tawallud. 3. Al Khalafiyah ( penggantian ) Al khalafiyah adalah penggantian seseorang atau sesuatu yang baru menempati posisi pemilikan yang lama. Penggantian dibedakan menjadi 2 yaitu: a) Penggantian atas seseorang oleh orang lain seperti pewarisan. Dalam pewarisan seorang ahli waris menggantikan posisi pemilikan orang yang wafat terhadap harta yang ditinggalkannya. b) Penggantian benda atas benda yang lainnya seperti terjadi pada tadhmin ( pertanggungan ) ketika seseorang merusakkan atau menghilangkan harta benda orang lain , lewat tadhmin ini terjadi penggantian atau peralihan milik dari pemilik pertama kepemilik kedua. 4. Al Aqdu ( Akad ) Akad adalah pertalian antara iab dengan qabul sesuai dengan ketentuan syara‟ yang menimbulkan pengaruh terhadap objek akad. Akad merupakan sebab pemilkan yang paling kuat dan berlaku luas dalam kehidupan manusia yang membutuhkan distribusi kekayaan dibandingkan dengan sebab – sebab pemilikan diatas. Dari segi sebab pemilikannya dibedakan menjadi 2 yaitu:

a) Uqud jabbariyah ( akad secara paksa ) yang dilaksanakan oleh otoritas pengadilan secara langsung atau melalui kuasa hukumnya . seperti paksaan menjual harta untuk melunasi hutang , kekuasaan hakim untuk menjual harta timbunan dalam kasus ihtikar demi kepentingan umum. b) Tamlik jabbari ( pemilikan secara paksa ) dibedakan menjadi 2 yaitu:  Pemilikan secara paksa atas maal uqar ( harta tidak bergerak ) yang hendak diual. Hak pemilikan paksa seperti ini dalam fiqh mu‟amalah dikenal syu‟fah.  Pemilikan secara paksa untuk kepentingan umum seperti ketika ada kebutuhan untuk perluasan masji karena tidak dapat lagi menampung jama‟ah yang jumlahnya banyak, syariat membolehkan untuk pemilikan secara paksa terhadap tanah yang berdekatan dengan masjid sekalipun pemiliknya tidak mau menjualnya. Dari 4 sebab diataslah seseorang menjadi pemilik suatu harta. Pemilikan ini merupakan keistimewaan bagi seseorang untuk secara bebas ber – tasharruf atau bertindak terhadap

pemilikan jenis ini dibatasi oleh waktu dan pemilikannya dapat dibatalkan.Wakaf 4.harta yang dimilikinya. wafatnya si pengguna ( menurut Hanafiyyah ) dll. Milk Naqish. Bisa memiliki zat bendanya tanpa memiliki manfaatnya ( hak pakai atau manfaat milik orang lain ) dan hal ini tidak dapat diwariskan ( menurut Hanafiyyah ) atau memiliki manfaatnya ( kegunaannya ) saja tanpa memiliki zatnya seperti pada kasus Ijarah. Ibahah. yaitu pemindahan hak pakai dengan membaya fee 3. 2. artinya bentuk benda ( zat benda ) dan kegunaanya dapat dikuasai. Sewa (Ijarah). 3. yaitu suatu pemilikan yang meliputi benda dan manfaatnya sekaligus. seperti benda hasil meminjam. wakaf dan lainnya. Hutang wajib dibayar oleh hutang yang berhutang bahkan jika yang berhutang meninggal sebelum membayar hutangnya maka ahli warisnyalah yang berkewajban membayar hutangnya. yaitu: 1. C. motor dll. Pun demikian. yaitu bila seseorang hanya memiliki salah satu dari benda tersebut. yaitu memiliki semua benda. milik dapat dibagi menjadi tiga bagian. Keistimewaan ini tidak bersifat mutlaq karena sekalipun islam menghormati dan melindugi pemilikan harta. Pembagian macam – macam milkiyyah Milik yang dibahas dalam fiqh mu‟amalah secara garis besar dapat dibagi menjadi dua.lain. rusaknya benda atau barang yang digunakan. Pemilikan taam dapat diperoleh dengan banyak cara seperti jual beli dll. yaitu pemilikan karena adanya hutang. penggunaannya tetap tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariat islam atau berbenturan dengan kepentingan umum dan lain . yaitu seseorang hanya memiliki manfaatnya saja dari suatu benda. Hal ini sesuai dengan prinsip pemilikan. Ulama hanafiyyah dan malikiyyah berpendapat boleh sedangkan syafi‟iyyah dan hanabilah melarangnya. Milk Taam. Dilihat dari segi mahal ( tempat ). Peminjaman( I‟arah ). izin untuk menggunakan sesuatu atau memakainya Pemilikan manfaat tanpa zat bendanya ini dapat habis atau selesai apabila habis waktu pemanfaatannya sebagaimana akad awal ( seperti dalam kasus sewa atau ijarah ). yaitu: “ Pada dasarnya pemilikan sempurna tidak dibatasi oleh waktu tapi pemilikan naqish dibatasi oleh waktu “. Berbeda dengan Milk Taam. Hal ini sesuai dengan prinsip pemilikan. Berikut lima hal yang menyebabkan hak pakai/pemilikan manfaat tanpa pemilikan zat bendanya: 1. Kepemilikan jenis ini tidak dibatasi oleh waktu ( selamanya ) dan kepemilikannya tidak dapat dibatalkan kecuali dialihkan atau ada pemindahan kepemilikan kepada pihak lain sesuai ketentuan syariat. Milk dayn. yaitu: “pada prinsipnya milk al-‟ain (pemilikan atas benda) sejak awal disertai dengan milk al-manfaat (pemilikan atas manfaat). Milk „Ain atau disebut juga Milk Raqabah. tanah. 2. 2. Milk Manfa‟ah. para fuqaha berbeda pendapat tentang boleh tidaknya barang pinjaman dipinjamkan kembali. misalnua sejumlah uang dipinjamkan kepada seseorang atau pengganti benda yang dirusakkan. Dilihat dari segi shurah ( cara berpautan milik dengan yang dimiliki ). dan bukan sebaliknya”. baik benda tetap ( yang tidak dapat dipindahkan ) maupun benda-benda yang dapat dipindahkan seperti pemilikan rumah. yaitu: 1. milik dibagi . Wasiyat 5.

harta baitul maal dll. Kepemilikan individu Setiap manusia secara fitrah terdorong untuk memenuhi segala kebutuhannya. Merupakan fasilitas umum. Harta yang termasuk kepemilikan ini adalah harta yang bukan merupakan menyangkut kepentingan manusia secara umum seperti rumah. tanah. Syariat memberikan aturan-aturan berkaitan dengan hal ini seperti memberikan keterangan berkaitan sebab-sebab kepemilikan. Oleh karena itu. Benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan ini adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh syari‟ memang diperuntukan bagi suatu kominitas masyarakat. Harta yang tidak dapat dimiliki dan dihak milikkan kepada orang lain. karena mereka masing-masing saling membutuhkan dan syari‟ melarang benda tersebut dikuasai oleh seorang saja. kalau tidak ada didalam suatu negeri atau suatu komunitas maka akan menyebabkan sengketa atau perselisihan dalam mencarinya. Manusia selalu berusaha untuk memperoleh kekayaan untuk memenuhi berbagai kebutuhannya karena hal ini selain termasuk perkara yang fitri juga merupakan perkara yang pasti dan harus dilakukan. betapa besar atu betapa kecilnya kumpulan itu. Harta yang tidak dapat dimiliki kecuali dengan ketentuan syariah. sungai dll dimana harta atau barang/benda tersebut untuk keperluan umum. Misalnya memiliki sebagian rumah.menjadi dua bagian. Bendabenda ini tampak pada tiga macam. yaitu: 1. Pembagian macam – macam kepemilikan Dalam buku “ Sistem Ekonomi Islam “ ( Syekh Taqiyyuddin An-Nabhani. Milk Mutamayyiz. dan bagaimana bertasharruf dengan harta tersebut. jembatan. 2. mengusahakannya dan mengelolanya dengan cara sesuka hatinya. 2004 ) secara garis besar kepemilikan dibagi menjadi tiga. Harta yang dapat dimiliki dan dihak milikkan kepada orang lain selain yang disebutkan diatas D. 2. Milk Musya‟ yaitu milik yang berpautan dengan sesuatu yang nisbi dari kumpulan sesuatu. kebun dll. Jadi fasilitas . misalnya harta milik umum seperti jalanan. daging domba dan harta-harta lainnya yang dikongsikan seperti seekor sapi yang dibeli oleh 40 orang untuk disembelih dan dibagikan dagingnya. yaitu sesuatu yang berpautan dengan yang lain yang memiliki batasan-batasan yang dapat memisahkannya dari yang lain. 3.Seperti hata wakaf. Kepemilikan umum Kepemilikan umum adalah izin Syari‟ kepada suatu komunitas masyarakat untu samasama memanfaatkan benda/barang. setiap upaya melarang atau membatasi manusia untuk memperoleh kekayaan tersebut tentu bertentangan dengan fitrah tapi bukan berarti manusia dibiarkan untuk memperoleh kekayaan. 2. yaitu: 1. Sedangkan apabila dilihat dari segi dapat dimiliki dan dihak milikkan atau tidaknya dibagi menjadi tiga bagian. Misalnya adalah antara sebuah mobil dan seekor kerbau sudah jelas batas-batasnya. ( harta wakaf tidak bias dijual atau dihibahkan kecuali dalam kondisi tetentu sepeti mudah rusak atau biaya pengurusannya lebih besar dari nilai hatanya ). yaitu: 1. yaitu: 1.

Barang tambang yang tidak terbatas 3. Hanya saja dalam mencari kekayaan tadi tidak boleh diserahkan begitu saja kepada manusia. Oleh karena itu. Benda-benda atau harta yang termasuk kepemilikan negara adalah harta yang tidak termasuk milik umumn namun milik individu/perseorangan ( karena harta tersebut dapat dimiliki secara pribadi seperti tanah dan barang-barang bergerak) tapi karena harta tersebut terkait hak kaum muslim secara umum maka harta tersebut tidak termasuk milik individu dan umum tapi menjadi milik negara dan dikelola oleh negara untuk kemaslahatan kaum muslim bersama. Karena pada hakikatnya semua yang ada di dunia ini adalah titipan atau amanah dari Allah swt yang dimaksudkan agar manusia mampu memanfaatkannya dengan benar dalam rangka beribadah kepada Allah swt. Sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perseorangan. 3. Majlis Tarjih Muhammadiyah[19] Majlis Tarjih Sidoarjo (1968) memutuskan : 1. khususnya lembaga perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam. Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi sistem perekonomian. sebab-sebab pemilikan harta. 3. E. Drs. ( Ekonomi Miko dalam Pespektif Islam. Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal. kerusakan bahkan kenestapaan. 2. Kesimpulan Usaha munusia sebagaimana disampaikan dimuka untuk memperoleh kekayaan merupakan hal yang fitri. .umum pada intinya adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum sebagaimana sabda Rasulullah saw: " Kaum muslim bersekutu ( memiliki hak yang sama ) dalam tiga hal: air. Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik negara kepada para nasabahnya yang selama ini berlaku. padang dan api” ( HR. Kepemilikan negara Kepemilikan negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum muslim yang pengelolaannya menjadi wewenang khalifah atau dalam konteks saat ini adalah pemerintah suatu negara. termasuk perkara musyabihat. Fatwa-Fatwa Tentang Bunga Bank a. serta berusaha untuk mendapatkannya dengan semaunya. MAg. agar dia memperolehnya dengan cara sesukanya. Riba hukumnya haram dengan nash shorih Al-Qur‟an dan As-Sunnah. pembagian pemilikan dan berbagai hal yang berkaitan dengan harta yang tentunya semua hal ini tidak lepas dari universalitas islam sebagai agama agar manusia memahami batasan-batasan tentang bagaimana memperoleh harta dan memanfaatkannya. Abu Daud ) 2. Islam menjelaskan secara utuh pengertian hak milik. Sebab hal ini hal ini akan menyebabkan gejolak. 3. 4. 2004 ). serta berusaha untuk mendapatkannya dengan sesukanya dan memanfaatkannya dengan sekehendak hatinya. bahkan merupakan suatu keharusan. Muhammad.

. 1 tahun 2004 tentang bunga. Mufti Negara Republik Arab Mesir memutuskan bahwa bunga bank termasuk salah satu bentuk riba yang diharamkan. 2.) Ulama‟-ulama‟ besar dunia yang terhimpun dalam Konsul Kajian Islam Dunia (KKID) telah memutuskan hukum yang tegas terhadap bunga bank. Hukum Perdagangan Menurut Syariat Islam . yakni riba nasi‟ah. 3.. dan lembaga-lembaga lainya maupun dilakukan oleh individu. pada bulan Muharram 1385 H/ Mei 1965 M. Dengan semikian. d. Selanjutnya. koperasi.b... dan riba hukumnya adalah haram.. yaitu : 1. Terdapat tiga pendapat ulama‟ sehubungan dengan masalah ini. Mufti Negara Mesir keputusan kantor Mufti Negara Mesir terhadap hukum bunga bank senantiasa tetap dan konsisten. baik dilakukan oleh bank.. praktek pembungaan ini termasuk salah satu bentuk riba. Halal. f. Hasil kesepakatan inilah yang melatarbelakangi didirikanya Bank pembangunan Islam / Islamic Development Bank (IDB). Sidang Konferensi Islam (OKI) Semua peserta sidang OKI kedua yang berlangsung di korachi. Haram sebab termasuk utang yang dipungut rente. pakistan. pasar modal.. ditetapkan bahwa tidak ada sedikitpun kerugian atas haramnya praktik pembungaan uang seperti yang dilakukan bank-bank konvensional. Kairo.. Konsul Kajian Islam Dunia (. sebab tidak ada syarat pad awaktu akad sedangkan adat yang berlaku tidak dapat begitu saja dijadikan syarat.... hukum bank dan hukum bunganya sama seperti hukum gadai.. telah menyepakati dua hal utama. Tercatat sekurang-kurangnya sejak tahun 1900 hingg 1989. penggadaian. Perlu segera didirikan bank-bank alternatif yang menjalankan operasinya sesuai dengan prinsip-prinsip Syari‟ah. 2.. Desember 1970. Dalam lokakarya alim ulama‟ di Usaura tahun 1991 bertekad bahwa MUI harus segera mendirikan bank alternatif. Praktek bank dengan sistem bunga adalah tidak sesuai dengan Syari‟ah Islam.. e. Majelis Ulama‟ Indonesia.. Meskipun ada perbedaan pandangan lajnah memutuskan bahwa (pilihan) yang lebih berhati-hati adalah pendapat pertama yaitu menyebut bunga bank adalah haram. Lajnah Bahsul Masa‟il Nahdhlatul Ulama‟[20] menurut lajnah. Syubhat (tidak tentu halal haramnya) sebab para ahliu hukum berselisih pendapat tentangnya. bahwa praktek pembungaan uang pada saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rosululloh Saw. 1. keputusan fatwa MUI No. Dalam konferensi II KKID yang diselenggarakan di universitas Al-Azhar. asuransi. c.

akan tetapi terkadang kita tidak mengetahui apakah perdagangan yang kita lakukan itu halal atau haram menurut hukum syariah islam. 4. Seperti yang kita ketahui ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana firman Allah Swt (artinya) : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Seperti yang kita ketahui bahwasanya dalam kehidupan sehari-hari bisa dikatakan kita tidak dapat terlepas dari kegiatan perdagangan. 3. 3. ma'qud 'alaih (alat beli dan barang yang dijual) dan shighat/ma'qud bih (ijab dan qabul). antara lain : Harta Kepunyaan Allah dan Manusia Khalifah Harta Terikat dengan Aqidah. Perdagangan konvensional yang sering lakukan sehari-hari merupakan salah satu hal yang tak lepas dari perdagangan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa hukum yang mengatur perdagangan dalam islam adalah muamalat. akhlaq dan hukum (yang dalam fiqih Islam yaitu pembahasan mu'amalah). 9. Sementara dalam madzhab Hanafi rukunnya hanya satu yaitu shighat (ijab dan qabul). maka ia mempunyai beberapa karakteristik. dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. Aturan perdagangan Islam adalah Islam itu sendiri. Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh penduduk di Indonesia. yang meliputi tiga aspek pokok yaitu aqidah. 8. 2.1. Tapi tahukah Anda kalau dalam islam perdagangan juga dibahas dan ada aturannya? Kali ini saya akan membahas tentang hukum perdagangan menurut syariah islam. Muamalat adalah tukar menukar barang. Adapun perdagangan (jual-beli) yang dibahas dalam ilmu fiqh merupakan bagian pembahasan mu'amalah. yaitu aqid (penjual dan pembeli). semua aspek kehidupan dibahas di dalamnya. Ajaran Islam dapat bersumber dari Al-qur‟an dan hadist. 5. . Perdagangan sebagai salah satu sarana kegiatan ekonomi yang secara tegas sah (halal) menurut Islam. jasa atau sesuatu yang 1. dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku. 2. 4. 6. 7. Syari'ah (Hukum) dan Akhlaq (Moral) Seimbang antara Keruhanian dan Kebendaan Adil dan Seimbang dalam Melindungi Kepentingan Ekonomi Individu dan Masyarakat Tawassuth dalam Memanfaatkan Kekayaan Kelestarian Sumber Daya Alam Kerja (Tidak Menunggu) Zakat Larangan Riba Adapun syarat sebagai elemen penentu dan pengikat layak atau tidaknya sesuatu menjadi komponen pokok dari transaksi jual beli yang tertuang dalan rukun dan syarat jual beli : Madzhab Syafi'i Madzhab Hanafi Madzhab Maliki Madzhab Hambali Dari uraian diatas bahwa rukun jual beli menurut madzhab empat kecuali madzhab Hanafi adalah sama.

Berikut ini merupakan rukun jual beli menurut syariah islam : 1. 8. dinar emas. 2. Rukun adalah ketentuan dalam menegakkan pekerjaan itu sendiri atau dalam bahasa mudahnya(Rukun adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri). serikat usaha. Haram Jual beli haram hukumnya jika tidak memenuhi syarat/rukun jual beli atau melakukan larangan jual beli. menyempitkan gerakan pasar. yaitu haram. urunan atau patungan. Termasuk dalam muammalat yakni jual beli. barang atau jasa. mencelakai para pesaing. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli. 3. pemberian upah. Memjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong). dan lain-lain. Adapun dalam hukum muamalat ada hal-hal yang terlarang atau larangan dalam melakukan jual beli. 4. dan lain-lain. 10. dirham perak. 9.memberi manfaat dengan tata cara yang ditentukan. dewasa/baligh dan tidak mubadzir alias tidak sedang boros. Larangan itu meliputi : 1. Berikut ini adalah penjelasan tentang hukum jual beli : 1. Dan dalam bahasan kaliini akan menjelaskan sedikit tentang muamalat jual beli. 7. Ada penjual dan pembeli yang keduanya harus berakal sehat. Jual beli tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum. Untuk barang yang tidak terlihat karena mungkin di tempat lain namanya salam. 3. dalam melakukan jual beli atau perdagangan harus memenuhi rukun jual beli. hutang piutang. Membeli barang di atas harga pasaran 2. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi. Menjual atau membeli barang haram. Ada ijab qabul yaitu adalah ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli (penjual dan pembeli). Dalam melakukan kegiatan perdagangan atau jual beli ada beberapa hukumnya. 6. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya. 5. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan. . Ada barang atau jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar seperti uang. mubah. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat. atas kemauan sendiri. Menurut syariah islam. dan wajib. Membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain.

2. bay‟ dan Syiraa‟. yang terpenting adalah dalam kegiatan jual beli tersebut tidak ada pihak yang dirugikan. Jual beli dalam Al-Qur‟an merupakan bagian dari ungkapan perdagangan atau dapat juga disamakan dengan perdagangan. Tentang perdagangan di dalam Al-Qur‟an dengan jelas disebutkan bahwa perdagangan atau perniagaan merupakan jalan yang diperintahkan oleh Allah untuk menghindarkan manusia dari jalan yang bathil dalam pertukaran sesuatu yang menjadi milik di antara sesama manusia. Seperti yang tercantum dalam Surat An-Nisa‟ 29. Kata ini terdapat dalam 25 ayat Akan tetapi setelah diteliti. yaitu seperti menjual harta anak yatim dalam keadaaan terpaksa. jual beli merupakan pertukaran semua harta (yang dimiliki dan dapat dimanfaatkan) dengan harta lain berdasarkan keridhaan antara keduanya. Wajib Jual beli menjadi wajib hukumnya tergantung situasi dan kondisi. Selanjutnya bentuk perdagangan lain yang juga dipergunakan di dalam Al-Quran adalah AsySyiraa‟. barang yang akan diakadkan. Pengungkapan perdagangan ini ditemui dalam tiga bentuk. Barang (Ma‟kud Alaih/Subject Matter) Sedangkan syarat-syarat bagi setiap rukun-rukun tersebut adalah penting dan mesti dipenuhi. Dalam melakukan kegiatan perdagangan baik secara konvensional maupun syariah islam. yang masing-masing mempunyai pengertian lafadz yang sama dan pengertian berbeda. hal yang berkaitan dengan muamalah jual beli harus memenuhi syarat dan rukun jual beli. 3. Kata ‫ اٌزجبسح‬adalah mashdar dari kata kerja (‫)رجش َزجش رجشا و رجبسح‬ yang berarti (‫ ثبع‬dan ‫ ) ششاع‬yaitu menjual dan membeli. Artinya: Hai orang-orang yang beriman. Penjual dan Pembeli 2. Dalam Islam. Aqad (Ijab dan Qabul) 3. yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 21 dan 22. hanya 2 ayat saja yang berkonotasi perdagangan dalam konteks bisnis yang sebenarnya. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka samasuka di antara kamu. Dalam hal ini dijelaksan rukun jual beli adalah sebagai berikut: 1. Atau dengan pengertian lain memindahkan hak milik dengan hak milik orang lain berdasarkan persetujuan dan hitungan materi. Dalam syariat Islam. Jual beli secara etimologis berarti pertukaran mutlak. atau tempat berakad. Begitulah sedikit pembahasan tentang perdagangan menurut syariah islam. Kata al-bai‟ (jual) dan Asy-Syiraa‟ (beli) penggunaannya disamakan antara keduanya. yaitu tijarah. BAB II . Mubah Jual beli secara umum hukumnya adalah mubah. barang yang akan dipindahkan kepemilikannya dari salah satu pihak kepada pihak lain baik berupa harga atau barang yang ditentukan dengan nilai atau harga. Karena jual beli dinyatakan syah apabila telah memenuhi syarat-syarat atas pelaku akad. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.

rukun ariyah adalah sebagai berikut: 1. yaitu ijiab dan Kabul. Bila diganti dengan sesuatu atau ada imbalannya. Pengertian Pinjaman atau „ariyah menurut bahasa ialah pinjaman. Adapun landasan hukumnya dari nash Alquran ialah: “dan tolong-menolonglah kamu untuk berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolongmenolong untuk berbuat dosa dan permusuhan. Sedangkan menurut istilah. Kalimat mengutangkan (lafazh). hal itu tidak dapat disebut ariyah. ariyah ialah: “Memiliki manfaat dalam waktu tertentu dengan tanpa imbalan. ariyah adalah: “Kebolehan mengambil manfaat dari sesorang yang membebaskannya. Ariyah adalah kebolehan mengambil manfaat barang-barang yang diberikan oleh pemiliknya kepada orang lain dengan tanpa di ganti Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ariyah ialah memberikan manfaat suatu barang dari seseorang kepada orang lain secara Cuma-Cuma (gratis). menurut malikiyah. B.apa yang mungkin untuk dimanfaatkan.” 5. menurut Hanafiyah. Dasar Hukum „Ariyah Menurut Sayyid Sabiq. “saya utangkan benda ini kepada . menurut Hanbaliyah.” (Al-Maidah:2) “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. tidak wajib diucapkan tetapi cukup dengan menyerahkan pemilik kepada peminjam barang yang dipinjam dan boleh hukum ijiab Kabul dengan ucapan. tolong menolong („Ariyah) adalah sunnah. ialah: “barang peminjaman adalah benda yang wajib dikembalikan” (Riwayat Abu Daud) “orang kaya yang memperlambat (melalaikan) kewajiban membayar utang adalah zalim (berbuat aniaya)” (Riwayat Bukhari dan Muslim) C. landasan hukum yang kedua adalah Al-Hadis. rukun „ariyah satu. seperti seseorang berkata. serta tetap zat barangnya supaya dapat dikembalikan kepada pemiliknya.” (An-Nisa:58) Selain dari Al-Quran. Sedangkan menurut alRuyani. sebagaimana dikutif oleh Taqiy al-Din.” 4. Rukun dan Syarat „Ariyah Menurut Hanafiyah. Menurut Syafiiyah. Ariyah ialah: “kebolehan memanfaatkan suatu zat barang tanpa imbalan dari peminjam atau yang lainnya. 3.PINJAMAN (ARIYAH) A. ariyah ialah: “memiliki manfaat secara Cuma-Cuma” 2. Menurut syafiiyah. bahwa ariyah hukumnya wajib ketika awal islam. „ariyah ada beberapa pendapat: 1.

” Syarat bendanya adalah sama dengan syarat benda-benda dalam jual beli. Syarat bagi mu‟ir adalah pemilik yang berhak menyerahkannya. 3. Rasulallah Saw. kemudian beliau membayar hewan itu dengan yang lebih besar dan tua umurnya dari hewan yang beliau pinjam. maka tidak syah ariyah yang matwrinya tidak dapat digunakan. Hal ini menjadi nilai kebaikan bagi yang membayar utang. Mu‟ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan Mus‟tair yaitu orang yang menerima utang. pada rukun ketiga ini disyaratkan dua hal. yaitu:  Materi yang dipinjamkan dapat dimanfaatkan. seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpan padi. Perbuatan aniaya merupakan salah satu perbuatan dosa. Bersabda: “sesungguhnya diantara orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebaik-baiknya dalam membayar utang” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Rasulallah pernah berutang hewan. asal saja kelebihan itu merupakan kemauan dari yang berutang semata. Kemudian Rasu bersabda: “ Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang dapat membayar utangnya dengan yang lebih baik” (Riwayat Ahmad) Jika penambahan itu dikehendaki oleh orang yang berutang atau telah menjadi perjajian dalam akad berpiutang. sedangkan syarat-syarat bagi mus‟tair adalah:  baligh  berakal  orang tersebut tidak dimahjur(dibawah curatelle) atau orang yang berada dibawah perlindungan.kamu” dan yang menerima berkata “ saya mengaku berutang benda anu kepada kamu. maka tambahan itu tidak halal bagi yang berpiutang untuk mengambilnya. maka batal ariyah yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh syara. Pembayaran Pinjaman Setiap orang yang meminjam sesuatu kepada orang lain berarti peminjam memiliki utang kepada yang berpiutang (mu‟ir). maka itu adalah salah satu cara dari sekian cara riba” .  Pemanfaatan itu dibolehkan. Melebihkan bayaran dari sejumlah pinjaman diperbolehkan. Benda yang diutangkan. seperti pemboros. Rasulallah Saw. Setiap utang wajib dibayar sehingga berdosalah orang yang tidak mau membayar utang. bahkan melalaikan pembayaran utang juga termasuk aniaya. D. 2. seperti meminjam benda-benda najis. bersabda: “ Orang kaya yang melalaikan kewajiban membayar utang adalah aniaya” (Riwayat Bukhari dan Muaslim). Rasul bersabda: “ Tiap-tiap piutang yang mengambil manfaat.

Pihak yang berutang bila sudah mampu membayar pinjaman. Meminjam Pinjaman dan Menyewakan Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa pinjaman boleh meminjamkan benda-benda pinjaman kepada orang lain. kemudian rusak ditangan kedua. peminjam boleh memanfaatkan barang pinjaman atau siapa saja yang menggantikan setatusnya selama peminjaman berlangsung. Sesuai dengan QS. Bersabda: “Pemegang kewajiban menjaga apa yang ia terima. baik arena pemakaian yang berlebihan maupun karena yang lainnya. Rasulallah Saw. Dalam keadaan seperti ini.( Dikeluarkan oleh Baihaqi). Menurut Mazhab Hanbali. utang-piutang supaya dikuatkan dengan tulisan dari pihak berutang dengan disaksikan dua orang saksi laki-laki dengan dua orang saksi wanita. kemudian barang tersebut rusak. E. Tanggung Jawab Peminjam Bila peminjam telah memegang barang-barang pinjaman. maka yang berpiutang hedaknya membalaskannya. . hendaknya dipercepat pembayaran utangnya karena lalai dalam pembayaran pinjaman berari berbuat zalim. b. pemin jam tidak berkewajiban menjamin barang pinjamannya. lebih baik barang meminta jaminan kepada pihak kedua karena dialah yang memegang ketika barang itu rusak. Al-Bazaar: 282. Bersabda: “Pinjaman yang tidak berkhianat tidak berkewajiban mengganti kerusakan” (Dikeluarkan ai-Daruquthin) G. Sekalipun pemiliknya belum mengizinkan jika penggunanya untuk hal-hal yang tidak berlainan dengan tujuan pemakaian pinjaman. Jika peminjam suatu benda meminjamkan benda pinjaman tersebut kepada orang lain. d. Haram hukumnya menurut Hanbaliyah menyewakan barang pinjaman tanpa seizing pemilik barang. maka pemilik berhak meminta jaminan kepada salah seorang diantara keduanya. Abu Hurairah. Demonian menurut Idn Abbas. Bila yang meminjam tidak mampu mengembelikan. hingga ia mengambilkannya”. Pihak berpiutang hendaknya berniat memberikan pertolongan kepada pihak berutang. Aisyah. Pinjaman hendaknya dilakukan atas dasar adanya kebutuhan yang mendesak disertai niat dalam hati akan membayarnya/mengembalikannya. ia berkewajiban menjaminnya. karena Rasulallah Saw. Sementara para pengikut hanafiyah dan Malik berpendapat bahwa. c. ialah sebagai berikut: a. F. Untuk dewasa ini tulisan tresebut dibuat diatas kertas bersegel atau bermaterai. Tatakrama Berutang Ada beberapa hal yang dijadikan penekanan dalam pinjam-meminjam atau utang-piutang tentang nilai-nilia sopan-santun yang terkait di dalamnya. kecuali jika barang tersebut disewakan. kecuali karena tindakan yang berlebihan. Syai‟I dan Ishaq dalam hadis yang diriwayatkan oleh Samurah.

maka hendaklah . Gadai ialah menjadikan suatu benda bernilai menurut pandangan syara‟ sebagai tanggungan uang. Gadai adalah suatu barang yang dijadikan peneguhan atau penguat kepercayaan dalam utangpiutang.[4] C. dengan adanya benda yang menjadi tanggungan itu seluruh atau sebagian utang dapat diterima. Sifat Rahn Secara umum rahn dikatagorikan sebagai akad yang bersifat derma sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai (murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan murathin kepada rahn adalah uang. Menurut ulama Hanabilah : Harta yang dijadikan jaminan utang sebagai pembayar harga (nilai) utang ketika yang berutang berhalangan (tidak mampu membayar) utangnya kepada pemberi pinjaman. Ada pula yang menjelaskan bahwa rahn adalah tengkurung atau terjerat. titipan dan qirad. Menjadikan harta sebagai jaminan utang. yaitu dikatakan sempurna apabila sudah menyerahkan benda yang dijadikan akad. gadai (al-rahn) berarti al-stubut dan al-habs yaitu penetapan dan penahanan. Menurut ulama Syafi‟iyah: Menjadikan suatu benda sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan pembayar ketika berhalangan dalam membayar utang. 3. 2. Gadai ialah menjadikan harta benda sebagai suatu jaminan atas utang. 2.Menurut bahasa. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang ( oleh berpiutang). B. seperti hibah. 4. Rahn juga termasuk akad yang bersifat „ainiyah. 5. pinjam meminajam. Ulama fiqih berbeda pendapat dalam mendefinisikan rahn :[3] 1. yang dimaksut dengan rahn adalah: Akad yang objeknya menahan harga terhadap sesuatu hak yang mungkin diperoleh bayaran dengan sempurna darinya. Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Dasar Hukum Rahn Sebagai referensi atau landasan hukum pinjam-meminjam dengan jaminan (brog) adalah firman Alloh Swt. 1.[5] ٌ‫وإِْ وٕزُُ ػًٍَ عفَش وٌَُ رَجذُوا وبرِجًب فَشهَبْ ِمجُىضخ‬ َ َ ْ ُْ ْ َ َ َْ ٌ ِ ِ ْ َ ٍ َ Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah secara tidak tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. Menurut istilah syara‟. Bukan penukar atas barang yang digadaikan.

Bukhari. Namun ada yag berpegang pada zahir ayat.yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Alloh Tuhanny ( Al-Baqarah 283). Mujahid dan al-Dhahak. yaitu gadai hanya diperbolehkan dalam keadaan berpergian saja. antara lain: Dapat diperjual belikan Bermanfaat Jelas Milik rahin Bisa diserahkan Tidak bersatu dengan harta lain Dipegang oleh rahin 1. yaitu orang yang menggadaikan (rahin) dan yang menerima gadai (murtahin). Sedangkan jumhur (kebanyakan ulama) membolehkan gadai. bahwa perjanjian gadai hukumnya mubah (boleh). Para ulama‟ semua berpendapat. Nasai. f. e. sehingga tidak ada kekhawatiran bagi yang memberi piutang. antara lain yaitu: Akad dan ijab Kabul Aqid. Nasai. Adapun syarat yang berakad adalah ahli tasyarruf. tetapi tidak disyaratkan harus baligh. Rosul bersabda: “Setiap barang yang boleh diperjual belikan boleh dijadikan barang gadai” Menurut ulam Hanafiyah mensyaratkan marhun. D. a. yaitu mampu membelanjakan harta dan dalam hal ini memahami persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gadai. Menurut ulama Syafi‟iyah ahliyahadalah orang yang telah sah untuk jual beli. seperti paham yang di anut oleh Madhab Zahiri. Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa bermualah dibenarkan juga dengan nonmuslim dan harus ada jaminan sebagai pegangan. seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah di Madinah. yakni berakal dam mumyyis. . dan Ibnu Majah dari Anas r. syarat pada benda uyang dijadikan jaminan ialah keadaan barang itu tiddak rusak sebelum janji utang harus dibayar. Bukhari. telah meruguhkan baju besi beliau kepada seorang Yahudi di Madinah. b. c.a berkata: ْ ، ‫ي ػَٓ أََٔظ – سضً هللا ػٕه – لبي : ٌَمَذ سهََٓ إٌَّجًِ – صً هللا ػٍُه وعٍُ – دسْ ػًب ٌَهُ ثِبٌّذََٕخ ػٕذ ََهُىدي وأَخَ ز ِٕهُ شؼُشً ا‬ َِْ ِ َِْ َ ْ ُّ ِ َ ْ ِ َ َ ٍّ ِ ِ ٍ “ Rasullah Saw. seperti telah disebutkan dalam hadist di atas. Dan itu termuat dalam DNS Nomor: 25/DSN-MUI/III/2002. (HR. sewaktu beliau menghutang syair (gandum) dari orang Yahudi itu untuk keluarga itu untuk keluarga beliau”. dan Ibnu Majah). d. g. Diriwatkan oleh Ahmad. 3. 2. Rukun dan Syarat Gadai Gadai atau pinjaman dengan jaminan suatu benda memiliki beberapa rukun. Ahmad. Barang yang dijadikan jaminan (borg). baik dalam keadaan berpergian maupun tidak.

Pengambilan manfaat pada benda-benda gadai di atas ditekankan pada biaya atau tenaga untuk pemeliharaan sehingga bagi yang memgang barang-barang gadai seperti di atas punya . karena hal ini termasuk kepada utang yang terdapat menarik manfaat. yaitu: Orangnya sudah dewasa. sehingga bila dimanfaatkan termasuk riba. maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan barang gadai tersebut. 3. diantara jumhur fuqoha dan ahmad. Barang yang akan digadaikan sudah ada pada saat terjadi akad gadai dan barang gadaian itu dapat diserahkan/diserahkan kepada penggadai. maka penerima gadai dapat mengambil manfaat dari kedua benda tersebut disesuaikan dengan biaya pemeliharaan yang dikeluarkan selama kendaraaan atau binatang itu ada padanya. Barang atau benda yang dapat dijadikan jaminan itu dapat berupa emas. E. 2. bila digadaikan bagi orang yang memegang dan meminumnya wajib memberikan biaya”. binatang boleh diambil susunya untuk diminum karena pembiyayaannya. disyaratkan keadaan utang telah tetap. 4. Jumhur fuqoha berpendapat bahwa murtahin tidak boleh mengambil suatu manfaat barang-barang gadaian tersebut. Berpikiran sehat. berlian dan benda bergerak lainnya dan dapat pula surat-surat berharga ( surat tanah atau surat rumah). 4. Pengambilan Manfaat Barang Gadai Dalam pengambilan manfaat barang-barang yang digadaikan para ulama‟ berbeda pendapat. Ada utang. Menurut Imam Ahmad. Ishak.h. Menurut Sayyid Sabiq bahwa gadai itu baru dianggap sah apabila memenuhi empat syarat. hewan tunggangan dan budak ( sebagaimana dalam as-sunah) maka: Jika dia dibiayai oleh pemiliknya. misalnya: hewan perahan. dan al-Hasan. Harta yang tetap atau dapat dipindahkan.[9] Rasul bersabda: َ ُ ْ ُ‫إِرا وبَْ ِشْ هُىًٔب وػًٍَ اٌَّزي ََشْ وتُ وََششةُ َٔفَمَزُهُ اٌظَّهش َُشْ وتُ إِرا وبَْ ِشْ هُىًٔب وٌَجَُٓ اٌذسِّ َُششة‬ َ َ َ ْ َّ َ ْ َ َ ِ َ َ َ َ َ َ َ “ Binatang tunggangan boleh ditunggangi karena pembiyayaannya apabila digadaikan. tidak boleh lebih. sekalipun rahin mengizinkannya. Rasul bersbada: “Setiap orang yang menarik manfaat adalah termasuk riba” ( riwayat Harits bin Abi Usamah). Jika barang gadai butuh biaya perawatan. 1. jika barang gadaian berupa kendaraan yang dapat dipergunakan atau binatang ternak yang dapat diambil susunya. al-Laits. Jika dibiayai oleh pemilik uang maka dia boleh menggunakan barang tersebut sesuai dengan biaya yang telah dia keluarkan.

lalu terbakar barang gadaiannya itu atau gudang tidak dikunci.kewajiban tambahan? Pemegang barang gadai berkewajiban memberikan makanan bila barang gadaian itu adalah hewan. Implementasi Operasi Pegadaian Syariah Implementasi operasi Pegadaian Syariah hampir bermiripan dengan Pegadaian Konvensional. misalnya ketika akad gadai diucapkan: “ Apabila rahin tidak mampu melunasi hutangnya hingga waktu yang telah ditentukan. lalu barang-barang itu hilang dicuri orang. bila tidak demikian. Menurut hemat penulis. Risiko Kerusakan Marhun Bila marhun hilang dibawah penguasaan murtahin. maka murtahin tidak wajib menggantinya.[10] F. tidak boleh diadakan syarat-syarat. Ada hal yang sangat penting yang perlu diingat bahwa hasilnya tidak boleh menjadi sepenuhnya pegadai seperti yang berlaku dalam masyarakat dan praktek semacam inilah yang diupayakan supaya lurus dan sejalan dengan ajaran islam. kecuali bila rusak atau hilangnya itu karena kelalaian murtahin atau karena disiasiakan. mennjadi tanggung jawab murtahin. 9. Riba dan Gadai Perjanjian gadai pada dasarnya adalah perjanjian utang-piutang. Riba akan terjadi dalam gadai apabila dalam akad gadai ditentukan bahwa rahin harus memberikan tambahan kepada murtahin ketika membyar utangnya atau ketika akad gadai ditentukan syarat-syarat. kemudian syarat tersebut dilaksanakan. G. Apabila pada waktu pembayaran yang telah ditentukan rahin belum membayar utangnya. maka marhun menjadi milik murtahin sebagai pembayaran hutang”. apabila harga penjualan marhun kurang dari jumlah utang. dengan akibat apabila harga penjualan marhun lebih besar dari jumlah utang. Umpamanya murtahin bermain-main dengan api. hak murtahin ialah menjual marhun. rahin masih menanggung pembayaran kekurangannya. barang jaminan seprti sawah atau ladang hendaknya diolah supaya tidak mubadir mengenai hasilnya dapat dibagi antara pemilik dan penggadai atas kesepakatan bersama. Pegadaian Syariah juga . Penyelasaian Gadai Untuk menjaga agar tidak ada pihak yang dirugikan. Bila rahin tidak mampu memabayar utangnya hingga waktu yang telah ditentukan. pembelinya boleh murtahin sendiri atau yang lain. Seperti halnya PegadaianKonvensional. H. bila ada cacat atau kerusakan apalagi hilang. tetapi dengan harga yang umum berlaku pada waktu itu dari penjualan marhun tersebut. hanya saja dalam gadai ada jaminannya. sebab ada yang memungkinkan pada waktu pembayaran yang telah ditentukan untuk membayar hutang harga marhun akan lebih kecil dari pada utang rahin yang harus dibayar yang mengakibatkan ruginya pihak murtahin. Sebaliknya ada kemungkinan juga harga marhun pada waktu pembayaran yang ditentukan akan lebih jumlahnya daripada utang yang harus dibayar. yang akibatnya akan merugikan rahin. sisanya dikembalikan pada rahin dan sebaliknya. kemudian rahin menjual marhun dengan tidak memberikan kelebihan harga mahun kepada rahin. Hak murtahin hanya sebesar piutangnya. Murtahin diwajibkan memelihara sebagaimana layaknya. Harus membelikan bensin bila pemegang barang gadaian berupa kendaraan.

000. seluruh kegiatan Pegadaian syariah termasuk dana yang kemudian disalurkan . dan lain-lain) untuk dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal.. dan jika dalam satu tahun ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut. nasabah menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman. pembiayaan kegiatan dan pendanaan bagi nasabah. Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama maksimum empat bulan . Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai investasi tempat penyimpanan.menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 90. Dalam hal ini. Nasabah diberi kesempatan selama satu tahun untuk mengambil Uang kelebihan. Sehingga disini dapat dikatakan proses pinjam meminjam uang hanya sebagai „lipstick‟ yang akan menarik minat konsumen untuk menyimpan barangnya di Pegadaian. Prosedur untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana. masyarakat hanya cukup menyerahkan harta geraknya (emas. Untuk dapat memperoleh layanan dari Pegadaian Syariah. Pegadaian Syariah akan menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS. Setelah melalui tahapan ini. jasa simpan dan pajak merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. harus diperoleh dari sumber yang benar-benar terbebas dari unsur riba. mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dahulu jasa simpan yang sudah berjalan ditambah bea administrasi. atau hanya membayar jasa simpannya saja terlebih dahulu jika pada saat jatuh tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman uangnya. Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggaran untuk : melakukan penebusan barang/pelunasan pinjaman kapan pun sebelum jangka waktu empat bulan. Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh Pegadaian pada saat pencairan uang pinjaman. Di samping beberapa kemiripan dari beberapa segi. Maksimum uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90% dari nilai taksiran barang. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak.Penggadaian Syariah memilki ciri tersendiri yang implementasinya sangat berbeda dengan Pegadaian Konvensional Dari landasan Syariah tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian Syariah dapat digambarkan sebagai berikut: Melalui akad rahn. jika ditinjau dari aspek landasan konsep. maka Pegadaian Syarian melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara dijual. kendaraan. Aspek syariah tidak hanya menyentuh bagian operasionalnya saja. 3.( sembilan puluh rupiah ) dari kelipatan taksiran Rp 10. biaya perawatan dan keseluruhan proses kegiatannya. Pegadaian Syariah dan nasabah melakukan akad dengan kesepakatan : 1. Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya membayar jasa simpan. teknik transaksi dan pendanaan.per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman. Pegadaian Syariah akan memperoleh keutungan hanya dari bea sewa tempat yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan dari uang pinjaman. 2.. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai intrinsik dan harga pasar yang telah ditetapkan oleh Perum Pegadaian. berlian. Kemudian staf Penaksir akan menentukan nilai taksiran barang bergerak tersebut yang akan dijadikan sebagai patokan perhitungan pengenaan sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon uang pinjaman yang dapat diberikan.

yaitu hibah dalam arti umum mencakup hadiah dan sedekah Walaupun rumusan definisi yang dikemukakan oleh keempat madzhab tersebut berlainan redaksinya namun intinya tetaplah sama. Pegadaian telah melakukan kerja sama dengan Bank Muamalat sebagai fundernya. Pada mulanya kata hibah itu diambil dari kata “hubuuburr riih” artinya “nuruuruhaa” yang berarti perjalanan angin. Hibah itu hanya mengenal benda-benda yang sudah ada. dengan si pemberi hibah diwaktu hidupnya dengan Cuma-Cuma dan dengan tidak ditarik kembali. adalah memberika hak memiliki sesuatu oleh seseorang yang dibenarkan tasarrufnya atas suatu harta baik yang dapat diketahui atau. dan hanya ingin menyenangkan orang yang diberinya tanpa mengharap imbalan daro Allah. dan dilakukan pada waktu sdi pemberi masih hidup dengan tanpa syarat ada imbalan d) Menurut Madzhab Syafii. Pemberian yang mana tidak dimaksudkan untuk menghormati atau memuliakan seseorang dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan pahala dari Allah atau karena menutup kebutuhan orang yang diberikannya 2) Pengertian umum. Pengertian 1. kecuali hibah di antara orang-orang yang masih hidup. Pemberian yang mana tidak bersifat wajib.[11] PEMBAHASAN A. hibah berarti akad yang pokoknya adalah pemberian harta milik seseorang kepafa orang lain di waktu ia masih hidup tanpa imbalan apapun. hibah berarti mutlak “pemberian” baik berupa harta benda maupun yang lainnya. yakni menghibahkan sesuatu dengan mengharapkan pahala di akhirat. Secara umum hibah mempunyai pengertian hal-hal yang meliputi : a) Ibraa. Pengertian Hibah Menurut Islam Menurut pengertian bahasa. Dalam perkembangan lebih lanjut dipakai kata hibah dengan maksud memberikan kepada orang lain baik berupa harta atau selainnya. Di dalam syariat islam. Dan apabila pemberian itu semata-mata untuk meminta ridha Allah dan mengharapkan pahala maka ini dinamakan sedekah c) Menurut Madzhab Hanbali. Dalam KUH Perdata sama sekali tidak mengakui lain-lain hibah. jadi sesuai dengan motto pegadaian adalah mengatasi masalah tanta masalah bisa di buktikan. pemberian mana dilakukan pada saat si pemberi masih hidup. ke depan Pegadaian juga akan melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan syariah lain untuk memback up modal kerja. Benda yang dimilik yang akan diberika itu adalah syah milik si pemberi b) Menurut mazhab Maaliki. yaitu pemberian hanya sifatnya sunnah yang dilakukan dengan ijab qabul pada waktu si pemberi masih hidup. Harta itu ada wujudnya untuk diserahkan. adalah memberikan suatu zat materi tanpa mengharap imbalan. karena susah untuk mengetahuinya. hibah disebut schenking yang berarti suatu persetujuan. 2. b) Sedekah. hibah mengandung dua pengertian: 1) Pengertian khusus. Hibah menurut Maliki ini sama drngan dengan hadiah. Menurut istilah syara‟ ialah: a) Menurut mazhab hanafi adalah enda dengan tanpa ada syarat harus mendapat imbalan ganti. c) Hadiah yakni pemberian yang menurut orang yang diberi itu untuk memberi imbalan. menyerahkan suatu benda guna keperluan si penerima hibah untuk digunakan sebagai layaknya milik pribadi. yaitu. “hibah adalah memberikan hak memilik sesuatu benda kepada orang lain yang dilandasi oleh ketulusan hati atas dasar saling membantu kepada sesame manusia dalam hal kebaikan” 3. Dalam KUH Perdata. murni berasal dari modal sendiri ditambah dana pihak ketiga dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.kepada nasabah. yakni menghibahlan utang kepada yang berhutang. .

Dan apa saja yang kamu nafkahkan. meskipun dalam kitab-kitab fiqh tak ada batasan berapapun jumlahnya namun tak menutup kemungkinan seseorang akan menghibahkan seluruh hartanya. Pengertian ini sama dengan definisi yang banyak disebut dalam kitab fiqih tradisional bahwa yang dimaksud dengan hibah adalah pemilikan sesuatu melalui akad tanpa mengharapkan imbalan yang telah diketahui dengan jelas ketika si pemberi hibah masih hidup. Jadi asasnya adalah sukarela. seperti: sodaqoh. maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” Hibah adalah pemberian ketika yang punya harta masih hidup. perlu ada batas maksimal hibah. tidak melebihi sepertiga harta seseorang. Dalam hal demikian. B. akan mempengaruhi kepentingan dan hak-hak ahli waris. Dalam pasal 171 huruf g KHI. “ Maka untuk itulah. yang salah satunya adalah: pada dasrnya. Sedangakan hibah yang di berikan kepada non ahli waris. sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. beliau mencantumkan syarat-syarat hibah. Surat Ali-Imran:92 “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna). karena sesungguhnya Allah menyukai orangorang yang berbuat baik. KHI PASAL 210 yang berbunyi: “Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 harta bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki” Menurut Muhammad Daud Ali dalam bukunya Sistem Ekonomi Islam. dan lain-lain 2. Untuk itu. 4. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. dan berbuat baiklah. dengan ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk berbuat sunnah dalam arti berbuat kebaikan yaitu berinfak.jika benda itu meliputi benda yang akan ada di kemudian hari. hibah. 3. hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. terutama hibah itu diberikan kepada anak atau ahli waris karena akan menentukan terhadap bagian warisan apabila hibah tersebut tidak ada persetujuan ahli waris atau setidak-tidaknya ada ahli waris yang keberatan dengan adanya hibah tersebut. Landasan hukum 1. Surat Al-Baqarah:195 “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah. oleh karenanya sering terjadi sengketa antara ahli waris. hibah adalah pemberian yang tidak ada kaitannya dengan kewarisan kecuali kalau ternyata bahwa hibah itu. Zakat dan Wakaf. sedangkan warisan diberikan ketika yang punya harta telah meninggal dunia. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kerelaan dalam melakukan perbuatan hukum tanpa ada paksaan dari pihak lain merupakan unsure yang harus da dalam pelaksanaan hibah. wakaf. maka sekedar mengenai hal ini hibahnya adalah batal (pasal 1666 dan 1667 KUH Perdata) 4. Berkaitan dengan masalah di atas pasal 210 KHI telah memberikan solusi. Walaupun saat pemberiannya berbeda namun keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Hadis Nabi: ْ ُ َّ َ ِ ْ َ ُ ْ َّ َ ُ ْ َّ َ ‫دذصََٕب اٌذُّذٌُّ دذصََٕب عفَُبُْ دذصََٕب اٌضهشٌُّ لَبي أَخجَشٍِٔ ػَبِش ثُْٓ عؼذ ثٓ أَثٍِ ولَّبص ػَٓ أَثُِه لَبي ِشضْ ذ ثِّىخَ ِشضب فَأَشفَُْذ‬ ُ ِ ً َ َ َّ َ ُ ِ َ َ ِ ْ ٍ َ ْ َ َ ِ ْ َِْ ِ ْ ُّ ُ َّ َّ َ َ ُ َّ َ ُ ْ َّ ‫ِٕهُ ػًٍَ اٌّىْ د فَأَرَبٍِٔ إٌَّجٍِ صًٍَّ هللاُ ػٍَُه وعٍَُّ ََؼُىدٍِٔ فَمُ ٍْذ ََب سعُىي هللاِ إِْ ٌٍِ ِبًل وضُِشا وٌَُْظ ََشصٍُِٕ إًِل اثَٕزٍِ أَفَأَرَصذق‬ َ ِْ َ ُّ ِ َْ َ َ َ ِ ْ َ َّ ِ َ َ ً َ ً َ . selaras dengan batas wasiyat yang tidak melebihi sepertiga harta peninggalan. yang nantinya akan berakibat membahayakan ahli waris.

menurut Imam Malik dan Ahlul Zahir tidak memperbolehkannya. “aku lemah karena sakitku yang parahpadahal aku kaya dan aku tidak punya ahli wariskecuali seorang anak perempuan. Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa para ahli hukum Islam sepakat pendapatnya. 2. tetapi 2) jika hibah itu diberikan kepada anak-anak pemberi hibah. “jika kamu ditinggalkan. mengemis kepada orang lain. lengkapkan hijrah sahabatku dan jangan biarkan mereka berpaling “. meskipun untuk keperluan kebaikan. Dan rasullah SAW merasa sedih dengan meninggalnya Sa‟ad bin khaulah yang miskin di Makkah.”ya rasulullah. Kau akan memperoleh pahala dari sedekah yang dikeluarkan dengan niat karena Allah. Yang masih diperselisihkan para ahli hukum islam adalah tentang bagaimana cara penyamaan sikap dan perlakuan anak-anak itu? Ada yang berpendapat bahwa pemberian itu adalah sama . bahwa seseorang dapat menghibahkan semua hartanya kepada orang yang bukan ahli waris.{HR. apapun yang kau kerjakan akan mengangkat mu ke tempat yang tinggi. PENDAPAT PARA ULAMA‟ MENGENAI HIBAH YANG LEBIH DARI SEPERTIGA 1. Tetapi Imam Muhammad Ibnul Hasan dan sebagian pentahkiik mahdzab Hanafi mengemukakan bahwa tidak sah menghibahkan semua harta. Sa‟ad bin Abi Waqash hidup dengan umur yang panjang). Terhadap kasus Nu‟man Ibnu Basyir menunjukkan bahwa hibah orang tua terhadap anaknya haruslah disamakan bahkan banyak hadist lain yang redaksinya berbeda menjelaskan ketidakbolehan membedakan pemberian orang tua kepada anaknya secara berbeda. haruslah bersikap adill diantara anakanaknya. Haruskah aku menyedekahkan 2/3 kekayaanku? Nabi Muhammad SAW bersabda. Nabi Muhammad SAW bersabda. yang satu lebih banyak dari yang lain 3.” Ya Allah. Menurut pendapat Imam Ahmad Ishaq. Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismudalam keadaan berkecukupan daripada meninggalkan merekadalam keadaan miskin. dan sebagian yang lain mengambil kemudharatandarimu. Aku berkata.ً‫ثِضٍُُضٍَ ِبٌٍِ لَبي ًل لَبي لُ ٍْذ فَبٌشطش لَبي ًل لُ ٍْذ اٌضٍُش لَبي اٌضٍُش وجُِش إَِّٔه إِْ رَشوذَ وٌَذن أَغَُِٕبء خُش ِٓ أَْ رَزشوهُُ ػَبٌَخ‬ ُ َ َ َ َ َ ُ ْ َّ ْ َ ُ ْ ْ ْ ِ ٌ ْ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ ٌ َ ُ ُّ َ ُ ُّ ُ َ ْ َّ َ َ ْ َّ ْ ْ َ َ َ ُ َ‫ََزَىفَّفُىَْ إٌَّبط وإَِّٔه ٌَٓ رُٕفِك َٔفَمَخً إًِل أُجشْ دَ ػٍَُهَب دزًَّ اٌٍُّمّخَ رَشْ فَؼهَب إًٌَِ فٍِ اِشأَرِه فَمُ ٍْذ ََب سعُىي هللاِ آأُخٍَّفُ ػَٓ هجْ شرٍِ فَم‬ ْ َ َ ‫بي‬ ُ َ َ ْ َ َ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ َّ َ َ َ َ َ َ ْ ِ ِ َ ْ ‫ٌَٓ رُخٍَّفَ ثَؼذٌ فَزَؼًّ ػًّل رُشَذ ثِه وجْ هَ هللاِ إًِل اصددْدَ ثِه سفؼخً ودَسجخً وٌَؼً أَْ رُخٍَّفَ ثَؼذٌ دزًَّ ََٕزَفِغ ثِهَ أَلىاَ وََُش ثِه‬ َ َّ َ َ ٌ َ ْ َ ْ َّ َّ َ ْ َ ِْ ِْ َ ِ ُ ِ ًََ َ َ ْ ْ ِْ ُْ َ َّ َ ْ ِ ٌ ُ َ َُْ َ َُْ َ َ ٍَِٕ‫آخَ شُوَْ ٌَىٓ اٌجَبئِظُ عؼذ ثُْٓ خىْ ٌَخَ ََشْ صٍِ ٌَهُ سعُىي هللاِ صًٍَّ هللاُ ػٍَُْه وعٍَُّ أَْ ِبدَ ثِّىخَ لَبي عفَُبُْ وعؼذ ثُْٓ خىْ ٌَخَ سجً ِٓ ث‬ َ َّ ُ َ َ ْ َ َ َ ِ َ َّ ٌُ ْٓ‫ػَبِش ث‬ ٌٍّ‫ِ ِ ِ ؤ‬ َ Artinya: diriwayatkandari Sa‟ad bin Abi Waqosh ra: pada tahun Haji Penghabisan (wada‟)Nabi Muhammad SAW mengunjungiku seraya mendoakan kesehatanku. Aku berkata kepada nabi Muhammad SAW. (sedangkan sepeninggal nabi Muhammad SAW. sedangkan fuqaha‟ amsar menyatakan makruh. Mereka menganggap orang yang bebuat demikian itu sebagai orang dungu yang wajib dibatasi tindakannya. dan beberapa pakar hukum islam yang lain bahwa hibah batal apabila melebihkan satu dengan yang lain. tidak diperkenankan menghibahkan hartanya kepada salah seorang anaknya. Dan mungkin saja kau akan berumur panjang hingga(dating suatu saat ketika) sebagian orang mengambil keuntungan darimu.Bukhari} Dimana hadist tersebut seolah menggambarkan bahwa bersedekah yang lebih dari sepertiga merupakan tindakan yang berakibat merusak esensi dan kepentingan dari ahli waris C. Sehubungan dengan tindakan rasulullah SAW. bahkam untuk yang kau suapkan dalam mulut isteriu”. Kalau sudah terlanjur dilakukan maka harus dicabut kembali. apakah aku akan sendirian ketika para sahabatku pergi?”. “tidak” kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda bahkan 1/3 telah cukup banyak. Dalam hal ini dapat di bedakan dalam 2 hal yaitu: 1) jika hibah itu diberikan kepada orang lain (selain ahli waris) atau suatu badan hukum mayoritas pakar hukum islam sepakat tidak ada batasnya. Tsauri.

Jika hibah yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi dari ketentuan bagian waris. lebih-lebih kalau penyelesaiannya sampai ke pengadilan agama tentu akan terjadi perpecahan keluarga. 2. Karena bukan suatu hal yang aneh apabila bagian waris yang dilakuka tidak adil akan menimbulkan penderitaan bagi pihak tertentu. sehingga mereka membuat perdamaian karena sesungguhnya putusan pengadilan itu sangat menyakitkan hati dan menimbulkan penderitaan 4. 4.diantara anak laki-laki dan anak perempuan. demikian juga hadist yang menyatakan bahwa pemberian semua harta yang berbentuk hibah kepada anak-anaknya yang nakal. Menurut sebagian ahli hukum islam . sesungguhnya penyamaan itu bukan hal yang wajib dilaksanakan. karena ketika seorang isteri ketika menghibahkan harta melebihi sepertiga hartaharus mendapat izin dari suaminya b) bukan orang yang sakit. yang sudah mendekati kematian. Pendapat yang mewajibkan menyamakan pemberian semua harta berupa hibah kepada anak-anaknya adalah pendapat yang kuat. Jika harta yang dihibahkan melebihi dari sepertiga harta. Dalam berberapa hadist dikemukakan bahwa bagian mereka supaya disamakan dan tidak dibenarkan memberi semua harta kepada salah seorang anaknya. Jika menghibahkan lebih dari sepertga maka harus mendapatkan persetujuan ahli waris Wakaf adalah salah satu dari jenis sedekah yang bertujuan untuk ibadah mendekatkan diri pada Allah. 5. Yang dimaksud dengan ahli tabarru‟ adalah diantaranya adalah : a) bukan seorang isteri. jika dalam hal pemberian hibah itu tidak sesuai dengan ketentuan ini. Ulama Malikyah menetapkan dalam syarat orang yang yang menghibahkan adalah Ahlan li tabarru‟ yaitu orang yang berhak berderma dan bersedekah. sesuai dengan pembagian waris. Sikap seperti ini menurut kompilasi didasarkan pada kebiasaan yang dianggap positif oleh masyarakat. Mereka menyatakan bahwa hadist yang menyatakan menyamakan anak-anaknya dalam pemberian hibah adalah lemah. Sehubungan dengan hal ini Umar Ibnul Khttab pernah mengemukakan bahwa kembalikan putusan itu diantara sanak keluarga. ada pula yang berpendapat bahwa penyamaan antara anak laki-lakiitu dengan cara menetapkan bagian untuk seorang anak laiki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. 3. maka hibahnya adalah batal Prinsip pelaksanaan hibah orang tua terhadap anaknya haruslah sesuai petunjuk Rasulullah SAW. maka hibah tersebut dapat diperhitungkan sebagai warisan. Wakaf termasuk ibadah yang dianjurkan oleh syariah dan menjadi salah satu jalan berbuat amal kebaikan dan mendapatkan pahala bagi yang beramal apabila dibarengi dengan niat yang baik dan tujuan yang benar. DAFTAR ISI 1. tetapi sunnah saja. Oleh karena itu. Pengertian Wakaf Dasar Hukum Dalil Wakaf Hukum Melaksanakan Wakaf Persyaratan Wakaf Rukun Tata Cara Wakaf PENGERTIAN DAN DEFINISI WAKAF . Syarat ini berlaku jika harta yang dihibahkan melebihi dari sepertga.

.Hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih) dari Ibnu Umar ، ‫أصبة ػّش ثخُجش أسضب فأرً إٌجٍ صًٍ هللا ػٍُه وعٍُ فمبي : أصجذ أسضب ٌُ أصت ِبًل لط أٔفظ ِٕه فىُف رأِشٍٔ ثه‬ ً‫لبي : إْ شئذ دجغذ أصٍهب ورصذلذ ثهب ، فزصذق ػّش أٔه ًل َجبع أصٍهب وًل َىهت وًل َىسس ، فٍ اٌفمشاء واٌمشث‬ ‫واٌشلبة وفٍ عجًُ هللا واٌَُف واثٓ اٌغجًُ ًل جٕبح ػًٍ ِٓ وٌُهب أْ َأوً ِٕهب ثبٌّؼشوف أو َطؼُ صذَمب غُش ِزّىي فُه‬ Arti ringkasan: Umar bin Khattab mewakafkan tanahnya di Khaibar.Hadits sahih riwayat Bukhari ‫ِب رشن سعىي هللا صًٍ هللا ػٍُه و عٍُ إًلّ ثغٍزه اٌجَُبء وعًلده ، وأسضب ً رشوهب صذلخ‬ Artinya: Rasulullah (saat meninggal) tidak meninggalkan (apa-apa) kecuali keledai putih. mantan Menteri Wakaf Mesir Wakaf mendefinisikan wakaf sebagai harta atau tanah yang ditahan oleh pemiliknya sehingga dapat menghalang penggunaannya dengan dijual atau dibeli ataupun diberikan sebagai pemberian dengan syarat dibelanjakan faedahnya atau keuntungannya atau hasil kepada orang yang ditentukan oleh pewakaf (waqif).Hadits sahih ‫إرا ِبد اثٓ آدَ أمطغ ػٍّه إًلّ ِٓ صًلصخ : صذلخ جبسَخ ، أو ػٍُ َٕزفغ ثه ، أو وٌذ صبٌخ َذػى ٌه‬ Artinya: Apabila seorang anak Adam mati. . DASAR HUKUM DAN DALIL WAKAF Dalil-dalil yang menjadi dasar hukum atas boleh dan sunnahnya wakaf adalah sbb: . senjata dan tanah yang disedekahkan. Teks bahasa Arab menurut Imam Nawawi dalam Tahdzibul Asma wal Lughat 4/194 sbb: ًٌ‫دجظ ِبي َّىٓ اًلٔزفبع ثه ِغ ثمبء ػُٕه ثمطغ اٌزصشف فٍ سلجزه ورصشف ِٕبفؼه إًٌ اٌجش رمشثب إًٌ هللا رؼب‬ Dr. . maka putuslah amalnya kecuali tiga: sadaqah jariyah.Pengeretian wakaf dalam madzhab Syafi'i adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tapi bendanya tetap dengan cara memanfaatkannya untuk kebaikan dengan niat ibadah pada Allah. atau anak saleh yang mendoakannya.QS Ali Imron 3:92 ُّ ِ َّ َّ َْ‫ٌٓ رََٕبٌُىا اٌجش دزً رٕفِمُىا ِّب رُذجى‬ Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna). sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. atau ilmu yang bermanfaat. . Muhammad Al-Ahmad Abu Al-Nur.

(e) dapat dimanfaatkan secara terus menerus dalam arti tidak berupa benda yang mudah rusak seperti makanan. Syarat sahnya mauquf adalah (a) harus berupa harta yang berharga atau ada nilainya. 2. 3. Harta atau benda yang diwakafkan (mauquf). (b) mengandung tujuan yang tidak terputus seperti wakaf untuk tujuan kebaikan seperti AlQuran. Waqif atau orang yang mewakafkan. (d) diketahui keberadaan harta saat pelaksanaan wakaf. (c) dimiliki oleh waqif saat melakukan wakaf. Syarat sahnya menjadi waqif adalah (a) akil baligh. Mauquf atau harta yang diwakafkan boleh dalam bentuk (a) harta tunai. memberi makan. (d) pemilik dari harta yang akan diwakafkan. (b) tanah atau harta tak bergerak lain. Orang yang mewakafkan (waqif). Mauquf atau harta benda yang diwakafkan. (b) berakal sehat dan normal. 2. PERSYARATAN WAKAF Syarat yang harus terpenuhi pada unsur-unsur penting dalam wakaf 1. orang fakir miskin. (c) saham. RUKUN TATA CARA WAKAF Rukun yang harus ada saat transaksi wakaf berlangsung ada 4 (empat) yaitu: 1. dan lain-lain. Tujuan pemanfaatan harta wakaf (mauquf alaih) Syarat mauquf alaih atau tujuan wakaf adalah (a) tidak untuk sesuatu yang diharamkan syariat. Baik dalil yang bersifat umum tentang anjuran bersedekah dan amal jariyah atau khusus terakait hadits tentang Umar bin Khatab yang mewakafkan tanahnya. (c) sukarela (tidak terpaksa dan tidak ada yang memaksa). 3.HUKUM BER-WAKAF Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa wakaf hukumnya boleh dan sunnah berdasarkan dalil Al-Quran dan hadits yang tersebut di atas. Sighat atau lafadz atau kata terkait dengan harta dan tujuan wakaf. (d) segalam macam harta bergerak yang dapat diambil manfaatnya. . 4. (b) dapat dan boleh diambil manfaatnya (bukan barang haram seperti alkohol). atau wakaf untuk anak dan kerabat dalam masalah wakaf keluarga. Mauquf alaih atau tujuan pemanfaatan harta wakaf.

yakni golongan yang mengharamkan.Pendapat Ulama Tentang Bank Pada umumnya para „ulama terbagi menjadi tiga golongan dalam menghadapi masalah bunga perbankan ini. Muhammad Abdul al-„Arobi. Meskipun bunga bank dianggap musytabihat tidak berarti umat Islam diberi kebebasan untuk mengembangkan bunga. PENDAPAT ULAMA TENTANG BUNGA BANK . c. Di pihak lain bunga masih termasuk riba sebab merupakan tambahan bagi pinjaman pokok. Bunga bersifat menindas (dzalim) yang menyangkut pemerasan. yaitu para penanam modal menerima kekayaan dari bunga-bunga modalnya sehingga mereka tidak lagi bekerja untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Fachruddin. (QS. Adapun alasan mereka mengharamkan bunga bank adalah sebagai berikut : a. tapi disisi lain bunga yang relatif kecil itu bukan merupakan keuntungan perorangan melainkan keuntungan yang digunakan untuk kepentingan umum. dan Muhammad Nejatullah Shiddiqi adalah golongan yang mengharamkan bunga bank. Bunga memindahkan kekayaan dari orang miskin (lemah) kepada orang kaya (kuat) yang kemudian dapat menciptakanketidak seimbangan kekayaan. baik yang mengambilnya (penyimpan) maupun yang mengeluarkannya (peminjam). Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap perkara syubhat dengan cara menjauhinya. dan golongan yang menganggap halal. Pendapat yang ketiga adalah pendapat yang menghalalkan pengambilan atau pembayaran bunga di bank. Ulama Muhammadiyah dalam mu‟tamar Tarjih di Sidoarjo Jawa Timur tahun 1968 memutuskan bahwa bunga yang diberikan oleh bank-bank milik negara kepada para nasabahnya dan sebaliknya termasuk masalah musytabihat. Meskipun tidak terlalu besar. b. Ali Imran : 130) Jadi yang termasuk riba menurut mereka adalah bunga yang berlipat ganda. Pendapat ini dipelopori oleh A. Muhammad Abu Zahroh. Abul A‟la al-Maududi. Hasan dan Fuad Moh. Bunga dapat menciptakan kondisi manusia penganggur. Masalah musytabihat merupakan perkara yang belum jelas atau belum ditemukan kejelasan hukum halal atau haramnya. sehingga tidak termasuk riba yang diharamkan oleh agama Islam. Alasan yang digunakan mereka dalam menghalalkan bunga bank adalah firman Allah SWT : ً‫الَ تَـأْ كلـُوا الربـَا أَضـعـا فـًا مضـاعَـفَـة‬ ُ ِّ َ ُ َ ْ Artinya : “Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda”. golongan yang menganggap syubhat (samar). Bila bunga hanya 2% dari modal pinjaman itu tidak berlipat ganda.

c. berpendapat bahwa riba tidaklah sama dengan bunga bank. Musthafa Ahmad Zarqa Guru Besar Hukum Islam dan Hukum Perdata pada universitas syiria di Damaskus mengatakan. Para ulama dan cendekiawan muslim masih berbeda pendapat tentang hukum muamalah dengan bank konvensional dan bunga bank diantaranya: Abu zahrah. Pengertian riba dibatasi hanya mengenai praktek riba di kalangan jahiliyah yaitu yang benarbenar merupakan suatu pemerasan dari orang-orang mampu (kaya) terhadap orang-orang miskin dalam utang-piutang yang bersifat konsumtif. maka diperbolehkan. Ulama di negara-negara Timur Tengah dan beberapa orang pakar ekonomi di negara sekuler. System prbankan yang berlaku sampai kini dapat diterima sebagai suatu penyimpangan yang bersifat sementara. bukan utang-piutang yang bersifat produktif. Pendapat ini dikuatkan oleh AlSyirbashi. Dengan kata lain istem perbankan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari sehingga umat islam diperbolehkan bermuamalah atas dasar pertimbangan darurat. tetapi umat islam harus senantiasa berusaha mencari jalan keluar. berpendapat bsebagai berikut: a. penggunanya bukan untuk orang-orang tertentu. Jumhur (mayoritas/kebanyakan) Ulama‟ sepakat bahwa bunga bank adalah riba. kecuali dalam keadaan darurat atau terpaksa. Namun yang terpaksa.„Arabi dan yusuf Qardhawa mengatakan bahwa bunga bank itu termasuk riba nasiah yang dilarang oleh islam. baik sedikit maupun banyak. Sekalipun bank Negara mengambil bunga sebagai keuntungan. dan ahli lain seperti Dr. atau Mei 1965 di Kairo. . Berbagai forum ulama internasional yang juga mengeluarkan fatwa pengharaman bunga bank. Karena itu umat islam tidak boleh bermuamalah dengan bank yang memakai system bunga. maka agama itu membolehkan meminjam uang di bank itu dengan bunga.Ada tiga pendapat tentang persoalaan apakah bunga bank itu sama dengan riba yaitu: 1. Bunga bank haram tapi karena belum ada jalan keluar untuk mengindarinya. Membolehkan bunga ank karena dianggap tidak sama dengan riba yang diharamkan oleh syariat islam 3. Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank. Bank-bank dinasionalisasi sehingga menjadi perusahaan Negara yang akan menghilangkan unsure-unsur ekploitasi. Pertemuan 150 Ulama‟ terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H. b. abu „ala al-Maududi Abdullah al. menurut beliau bahwa bunga bank yang diperoleh seseorang yang menyimpan uang di bank termasuk jenis riba. Sayid Thantawi yang berfatwa tentang bolehnya sertifikat obligasi yang dikeluarkan Bank Nasional Mesir yang secara total masih menggunakan sistem bunga. melainkan akan menjadi kekayaan Negara yang akan digunakan untuk kepentingan umum. tetapi secara mutlak beliau mengharamkannya. Bahkan menurut Yusuf Qardhawi tidak mengenal istilah darurat atau terpaksa. Bunga bank adalah riba dan karenanya dianggap haram 2. Seperti Mufti Mesir Dr. oleh karena itulah hukumnya haram.

.Hasan Bangil. Mr. saat ini sepertinya telah terjawab. Doktor Ibrahim dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan mengatakan. a) Riba hukumnya haram dengan nash sharih Qur‟an dan sunah. Prof. Pendapat yang mengharamkan. secara tegas menyatakan bunga bank itu halal karena tidak ada unsur lipat gandanya. oleh karenanya tidak perlu didirikan bank tanpa bunga. “Sistem ekonomi perbankan ini memiliki perbedaan yang jelas dengan amal-amal ribawi yang dilarang Al-Qur‟an yang Mulia. Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV sekitar tahun 2004 lalu. 4.seperti bank muamalat dan sebagainya. d) menyarankan kepada PP muhammadiya untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi sistem perekonomian khususnya lembaga perbankan yang sesuai dengan kaidah islam. Pendapat yang membolehkan (tidak haram) Pendapat yang mengatakan subhat. c) Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik Negara kepada para nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlaku.Nurcholish Madjid berpendapat bahwa riba di mengandung unsur eksploitasi satu pihak kepada pihak lain.Ibrahim Abdullah an-Nashir. sementara dalam perbankan (konvensional) tidaklah seperti itu. 2. Pendapat yang mengharamkan bila bersifat konsumtif dan tidak haram bila bersifat produktif. Lajnah Bahtsul Masail NU berpendapat mengenai bank dan pembungaan uang meskipun ada perbedaan pandangan . memutuskan bahwa pilihan yang lebih berhati-hati ialah pendapat yang mengatakan bahwa bunga bank adalah haram. hal itu dibuktikan dengan telah menjamurnya bank-bank yang berprinsipkan syariah. Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam muktamar di sidoarjo Jawa Timur tahun 1968 memutuskan bahwa. sedangkan tidak ada perbankan tanpa riba. Asuransi menurut islam . tokoh Persatuan Islam (PERSIS). juga berpendapat bunga bank bukanlah riba. dan tidak ada kekuatan perekonomian tanpa ditopang perbankan. b) Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal. termasuk perkara musytabiat . “Perkataan yang benar bahwa tidak mungkin ada kekuatan Islam tanpa ditopang dengan kekuatan perekonomian. yang hukumnya tidak tunduk terhadap nash-nash yang pasti yang terdapat dalam Al-Qur‟an tentang pengharaman riba”. Dapat disimpulkan bahwa ada empat pendapat yang berkembang dalam masyarakat mengenai masalah bunga bank yaitu: 1. Bahkan di bank konvensional pun telah dibuka bank yang menggunakan system syariah. Karena bunga bank adalah muamalah baru. Ia juga mengatakan. 3.Dr. lebih jauh lagi MUI dalam dua tahun ini telah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya umat islam bermuamalah dengan menggunakan bank konvensional yang menggunakan system bunga. Kasman Singodimedjo berpendapat. Apa yang disarankan oleh Muktamar Muhammadiyah di atas. sistem perbankan modern diperbolehkan karena tidak mengandung unsur eksploitasi yang dzalim. hal itu karena telah banyak bank yang menggunakan system syariah. A.

al-Mâ‟idah [5]: 1) merupakan ayat yang dijadikan dalil oleh kalangan yang membolehkan.?trims (Syaiful AL Bakrie – Via Facebook) Jawab : Asuransi merupakan persoalan baru dalam fikih Islam. kata al-„uqûd(akad-akad) pada ayat itu bersifat umum yang mencakup segala macam akad. al-Mâ‟idah [5]: 2).Bagaimana menurut isLam tentang Asuransi. termasuk akad asuransi. Menurut mereka. tanpa berorientasi meraih keuntungan. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluhkan sakit. anggota badan yang lain ikut terkena dampaknya. Nah. Di sini terdapat perbedaan di kalangan ulama antara yang mengharamkan dan yang menghalalkan. Para ulama mengamati praktik asuransi dan kemudian mengelompokkannya secara garis besar ke dalam dua bentuk: (a) asuransi yang bersifat sosial. Sementara kalangan yang membolehkan berdalih bahwa pada prinsipnya asuransi itu sama dengan sumbangan dan tolong menolong. kasih sayang. Firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman. termasuk akad asuransi. sesungguhnya Allah sangat keras pembalasan-Nya. dan murâhanah (taruhan).S. di Mina.R. mengenai ketidakbolehan akad asuransi. karena prinsipnya sama dengan sumbangan (tabarru„). Salah satu sumber itu adalah firman Allah: Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan. mengandung unsur qimâr (judi. atau yang direlakan oleh . Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Asuransi yang bersifat sosial adalah semacam program asuransi atau jaminan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu. Asuransi seperti ini pada umumnya dipandang boleh dan halal oleh ulama. Oleh karena itu pendapat ulama mengenai asuransi lebih banyak bersifat ijtihad yang mereka simpulkan dari sumber utama hukum Islam. yang sering dijadikan dasar hukum asuransi. (H. Sedangkan asuransi komersial adalah asuransi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan komersial. penuhilah akad-akad itu (Q. dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Ada juga hadits Rasulullah saw. yaitu al-Qur‟an dan Hadits. “Aku menyaksikan khutbah Nabi saw. dan (b) asuransi yang bersifat komersial. Di antara kata-kata yang diucapkannya pada khutbah itu adalah: „Tidak halal bagi seseorang harta saudaranya kecuali yang direlakan. karena tidak ditemukan larangan atau peringatan Rasul saw.S. dan saling membantu dalam kebajikan. (Q. Kalau saja akad asuransi itu dilarang –kata mereka lebih jauh– tentu sejak awal Rasulullah saw. dari Nu‟man bin Basyir). gotong royong. ada sebuah riwayat dari Umar bin Yatsriy di mana ia mengatakan. dan belas kasih sesama mereka bagaikan satu tubuh. sudah mengingatkan kita. Mereka yang mengharamkan beralasan bahwa praktik asuransi yang diselenggarakan oleh perusahaan itu pada umumnya mengandung unsur gharar (semacam penipuan) yang jelas terlarang dalam fikih Islam. yaitu: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan. Muslim. adu nasib).. maka tentu yang dimaksud dengan al-„uqûd di situ adalah akad secara umum. Asuransi ini biasanya didasarkan pada ide saling menanggung atau solidaritas sosial.

Koperasi Dalam Pandangan Islam Pengertian Koperasi Dari segi etimologi kata koperasi berasal dari bahasa inggris yaitu coperation yang artinya bekerja sama. gotong-royong dan demokrasi ekonomi menuju kesejahteraan umum. atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa. Selain itu. Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja. masalah ini lebih bersifat ijtihadi yang sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mufti Mesir. dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.hati pemberinya (mâ thâbat bihi nafsuh)‟. bidang kredit atau bidang produksi. Apalagi. gambling). . sekali lagi. misalnya bidang konsumsi. sistem. Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan. kerusakan atau sakit. berpendapat bahwa asuransi jiwa tidak termasuk akad yang mengandung unsur gharar (tipuan). kedua pihak yang bertransaksi telah saling rela menyangkut pengambilan uang dengan cara-cara yang disepakati dalam akad. dalam praktik yang berkembang dewasa ini. sementara asuransi lebih didasarkan pada perhitungan yang jelas. koperasi ialah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama dengan penuh kesabaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela secara kekeluargaan. kehilangan. yang satu pihak menyediakan modal usaha sedangkan pihak lain melakukan usaha atas dasar membagi untung menurut perjanjian. Di sini. Dalam koperasi ini terdapat unsur mudharabah karena satu pihak memiliki modal dan pihak lain melakukan usaha atas modal tersebut. Rasulullah saw. Namun demikian. Sebagian ulama menyebut koperasi dengan yyirkah ta‟awuniyah (persetujuan tolong menolong) yaitu suatu perjanjian kerjasama antara dua orang atau lebih. masih menurut Syaikh Ali Jum‟ah. Syaikh Ali Jum‟ah. karena judi didasarkan pada adu nasib (untung-untungan.” (HR Ahmad bin Hanbal). yang berarti tidak ada unsur gharar di situ. Mereka juga berdalil pada kebiasaan (al„urf) dan mashâlih mursalah (kemaslahatan). [1] Istilah "diasuransikan" biasanya merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan A. unsur judi (qimâr) juga tidak ada. bahwa yang mendasari gagasan koperasi sesungguhnya adalah kerjasama. Dalam asuransi. properti. menjadikan kerelaan si pemberi sebagai salah satu cara untuk menghalalkan hartanya bagi orang lain. Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan. menurutnya. Sedangkan dari segi terminologi. para peserta asuransi sudah tahu sejak awal berapa besaran sumbangan yang harus ia setorkan dan berapa besaran dana yang akan diperolehnya. karena pada prinsipnya asuransi itu merupakan akad sumbang-menyumbang dan tolong menolong. kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian.

kekeluargaan. juga memberi motivasi dengan sabdanya dalam hadits Qudsi. Misalnya Denmark. Nejatullah Siddiqi dalam Patnership and Profit Sharing in Islamic Law.B. secara teoritis telah dikemukakan oleh filosuf Islam Al-Farabi. Meskipun. Definisi ini dari mazhab Hanafi. Masing-masing partner saling menanggung satu sama lain dalam hak dan kewajiban. yang sering jadi sapi perah pemilik modal (share holders) dengan sistem dan mekanisme tarpeting yang memeras pengelola. dan janganlah saling bekerjasama dalam dosa dan permusuhan. sebagaimana dinukil oleh M. dan halal. Singapura. menjadi substantive power perekonomian negara-negara maju. sirkah secara umum disyariatkan dengan Kitabullah. Kini. AsSyarakhsi dalam Al-Mabsuth. Koperasi Syariah merupakan sebuah konversi dari koperasi konvensional melalui pendekatan yang sesuai dengan syariat Islam dan peneladanan ekonomi yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. dan kebersamaan usaha yang sehat. Koperasi ( Sirkah Ta’awuniyah) Dalam Pandangan Islam Sirkah berarti ikhtilath (percampuran). di antaranya dengan Sai bin Syarik di Madinah. awalnya hanya countervailing power (kekuatan pengimbang) kapitalisme swasta di bidang ekonomi yang didominasi oleh perusahaan berdasarkan modal persahaman (equity based association). dan Swedia. Para fuqaha mendefinisikan sebagai Akad antara orang-orang yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan. Konsep pendirian Koperasi Syariah menggunakan konsep Syirkah Mufawadhoh yakni sebuah usaha yang didirikan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih. Sebelum membahas tentang koperasi (sirkah ta‟awuniyah). . Sunnah dan Isjma‟. selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak lainnya. Dalil Koperasi Dalam Islam. Nabi saw tidak sekadar membolehkan. maka Aku keluar dari kemitraan tersebut. Bahkan. “Dan bekerjasamalah dalam kebaikan dan ketakwaan. baik. Dan. “Allah akan mengabulkan doa bagi dua orang yang bermitra selama di antara mereka tidak saling mengkhianati. Begitu pula dalam hal keuntungan yang diperoleh maupun kerugian yang diderita harus dibagi secara sama dan proporsional. masing-masing memberikan kontribusi dana dalam porsi yang sama besar dan berpartisipasi dalam kerja dengan bobot yang sama pula. Pernah ikut dalam suatu kemitraan usaha semacam koperasi.” (Al-Bukhari) C. Jepang.” (Al-Maidah: 2). Jika salah satu pihak telah melakukan pengkhianatan terhadap mitranya. koperasi sebagai organisasi ekonomi berbasis orang atau keanggotaan (membership based association). AS. ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. dan tidak dimonopoli oleh salah seorang pemilik modal. koperasi tergolong sebagai syirkah/syarikah. Dan tidak diperkenankan salah seorang memasukan modal yang lebih besar dan memperoleh keuntungan yang lebih besar pula dibanding dengan partner lainnya. Bahkan. Azas usaha Koperasi Syariah berdasarkan konsep gotong royong. Taiwan. Koperasi berdasarkan prinsip syariah telah ada sejak abad III Hijriyah di Timur tengah dan Asia Tengah. Lembaga ini adalah wadah kemitraan. “Aku (Allah) merupakan pihak ketiga yang menyertai (untuk menolong dan memberkati) kemitraan antara dua pihak. kerjasama. Korea. Lihat juga surat An-Nisa‟: 12 dan Shaad: 24. Beliau juga bersabda.” (Abu Daud dan Hakim). lembaga yang seperti itu sangat dipuji Islam seperti dalam firman Allah.

dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (HR.. Rasulullah SAW bersabda. S. kerja sama. (Q. yaitu membari keuntungan kepada para anggota pemilik saham. Menurut Muhammad Syaltut.Nisa: 12). sedangkan pihak lain melakukan usaha atas dasar profit sharing (membagi keuntungan) menurut perjanjian. 38: 24) Di dalam As-Sunnah.”(Q. Pendapat Ulama Mengenai Koperasi Sebagian ulama menganggap koperasi (Syirkah Ta‟awuniyah) sebagai akad mudharabah. sedangkan pelaksana usaha mendapat upah yang sepadan atau pantas. Sebagaimana firman Allah SW “…. Allah amat berat siksaannya “.Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. dan saling menutupi kebutuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah. yakni suatu perjanjian kerja sama antara dua orang atau lebih. Abu Daud dari Abu Hurairah) D. maka akad mudharabah itu tidak sah (batal). misalnya 1% setahun kepada salah satu pihak dari mudharabah tersebut. Pengelolaannya demokratis dan terbuka (open management) serta membagi keuntungan dan . maka ia berhak mendapat gaji sesuai dengan sistem penggajian yang balaku. Menutupi kebutuhan dan tolong menolong kebajikan adalah salah satu wasilahuntuk mencapai ketakwaan yang sempurna (haqa tuqatih) Di dalam Kitabullah.S an. Apabila salah seorang telah berkhianat terhadap temannya Aku keluar dari antara mereka. dan seluruh keuntungan usaha jatuh kepada pemilik modal. dan di antara syarat sah mudharabah itu ialah menetapkan keuntungan setiap tahun dengan persentasi tetap. “Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain. Koperasi merupakan tolong menolong. Allah berfirman “Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga.” (Q. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Sebab Syirkah Ta‟awuniyah. di satu pihak menyediakan modal usaha. dan amat sedikitlah mereka itu. bahwa dalam koperasi ini tidak ada unsur kezaliman dan pemerasan (eksploitasi oleh manusia yang kuat/kaya atas manusia yang lemah/miskin). selama salah seorang mereka tidak mengkhianati temannya. dengan ketentuan tersebut di atas (menetapkan persentase keuntungan tertentu kepada salah satu pihak dari mudharabah). Kalau pemegang saham turut mengelola usaha koperasi itu. membori lapangan kerja kepada para karyawannya. yang artinya: “Allah SWT berfirman: “Aku ini Ketiga dari dua orang yang berserikat. Sedangkan Mahmud Syaltut tidak setuju dengan pendapat tersebut. itu termasuk mudharabah atau qiradh. Dengan demikian jelas. sebab Syirkah Ta‟awuniyah tidak mengandung unsur mudharabah yang dinimuskan oleh fuqaha. modal usahanya adalah dari sejumlah anggota pemegang saham. sekolah dan sebagainya. memberi bantuan keuangan dan sebagian hasil koperasi untuk mendirikan tempat ibadah.Penekanan manajemen usaha dilakukan secara musyawarah (Syuro) sesama anggota dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) dengan melibatkan seluruhnya potensi anggota yang dimilikinya.S Al Maidah ayat 2). koperasi merupakan syirkah baru yang diciptakan oleh para ahli ekonomi yang dimungkinkan banyak sekali manfaatnya. dan usaha koperasi itu dikelola oleh pengurus dan karyawan yang dibayar oleh koperasi menurut kedudukan dan fungsinya masing-masmg. Berdasarkan pada ayat Al-quran diatas kiranya dapat dipahami bahwa tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam ketakwaan dianjurkan oleh Allah.

Salah satu bentuk tolong-menolong adalah mendirikan kopersai. ushul al-fiqh yang lain. Argumen selanjutnya adalah didasarkan pada penilaiannya mengenai tujuan utama pembentukan koperasi dengan persyaratan anggota dan golongan ekonomi lemah yang dianggapnya hanya bermaksud untuk menenteramkan mereka dan membatasi keinginannya serta untuk mempermainkan mereka dengan ucapan-ucapan atau teori-teori yang utopis (anganangan/khayalan). perjanjian perseroan koperasi yang dibentuk atas dasar kerelaan adalah sah. Pendapat tersebut belum menjadi kesepakatan/ijma para ulama. ialah pertama disebabkan karena prinsipprinsip keorganisasian yang tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan syariah. Mendirikan koperasi dibolehkan menurut agama Islam tanpa ada keraguaraguan apapun mengenai halnya. 52-53. Penulis Timur Tengah ini berpendapat. Hukum asalnya adalah dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala “Hai orang-orang yang beriman. Argumentasinya dalam mengharamkan koperasi. Oleh sebab itu koperasi itu dapat dibenarkan oleh Islam. haram bagi ummat Islam berkoperasi. Menurut Fuad Mohd. apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. maka selain melihat segi-segi etis hukum berkoperasi dapat dipertimbangkan dari kaidah penetapan hukum. Sebagai konsekuensinya. koperasi yang memberikan persentase keuntungan tetap setiap tahun kepada para anggota pemegang saham bertentangan dengan prinsip ekonomi yang melakukan usahanya atas perjanjian keuntungan dan kerugian dibagi antara para anggota (profit and loss sharing) dan besar kecilnya persentase keuntungan dan kerugian bergantung pada kemajuan dan kemunduran koperasi. selama koperasi tidak melakukan riba atau penghasilan haram. karena menurut bentuk kerja sama dalam Islam hanya mengenal pembagian keuntungan atas dasar modal. atas dasar jerih payah atau atas dasar keduanya. hendaklah kamu menuliskannya” [Al-Baqarah : 282] . Di antara yang dipersoalkan adalah persyaratan anggota yang harus terdiri dari satu jenis golongan saja yang dianggap akan membentuk kelompok-kelompok yang eksklusif. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata [dalam Fatawa Mu'ashirah. Cara ini dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Koperasi mengenal pembagian keuntungan yang dilihat dari segi pembelian atau penjualan anggota di koperasinya. hal. Tolong menolong merupakan perbuatan terpuji menurut agama Islam. penulis ini juga mengharamkan harta yang diperoleh dari koperasi. Ini berarti bahwa ekonomi Islam harus memberi prioritas pada kesejahleraan rakyat bersama yang merupakan kepentingan masyarakat. Fachruddin.kerugian kepada para anggota menurut ketentuan yang berlaku yang telah diketahui oleh seluruh anggota pemegang saham. Telah diketahui bahwa hukum Islam mengizinkan kepentingan masyarakat atau kesejahleraan bersama melalui prinsip ishtishlah atau al-maslahah. dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin] : “Menjual dengan kredit artinya bahwa seseorang menjual sesuatu (barang) dengan harga tangguh yang dilunasi secara berjangka. maka mendirikan dan menjadi anggota koperasi merupakan salah satu perbuatan terpuji menurut agama Islam. Sebagai bagian bahasan yang bermaksud membuka spektrum hukum berkoporasi. Argumen kedua adalah mengenai ketentuan-ketentuan pembagian keuntungan. Menurut Masjfuk Zuhdi.

Irwa'ul Ghalil 1535] Mengenai penjualan kredit dengan penambahan harga. Akan tetapi yang menjadi dhabit (ketentuan yang lebih khusus) adalah bahwa setiap hal yang tujuannya untuk mendapatkan riba. “Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan. hanya akan menambahnya menjadi semakin lebih buruk karena mengandung dampak negativ Dari hal yang diharamkan dan penipuan. lebih kurang atau lebih banyak dari itu sementara saya tidak memiliki uang. karena Nabi Shallallahu „alaihi wa salam telah membolehkan jual beli As-Salam. Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah tersebut. “Saya akan pergi ke pemilik barang yang menjualkannya kepada anda dan akan melunasi harganya untuk anda. untuk membayar sisanya”. kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit).Demikian pula. sembari berkata. Teknisnya ada beberapa cara. sembari berkata. [Ibn Baththah dalam kitab Ibthalil Hiyal hal. padahal Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda “Janganlah kamu melakukan dosa sebagaimana dosa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga (karenanya) kemu menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah (sekalipun) dengan serendahrendah (bentuk) pengelabuan (siasat licik)“. maka ia adalah riba”. bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan. lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya. di antaranya : Pertama Seseorang memerlukan sebuah mobil. andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga. Jadi. Gambaran yang lebih jelek lagi dari itu. Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di kalangan orang-orang saat ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba. dia tidak akan membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut. pent). seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga. 24. “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. sebab tindakan pengelabuan tidak akan mempengaruhi segala sesuatu. “Saya telah membeli barang anu dan telah membayar seperempat harganya. Tidak dapat disangkal lagi. standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya. Dan banyak lagi gambaran-gambaran yang lain. lalu dia datang kepada si pedagang. kemudian dia memilih yang separuh harga. yaitu membeli secara kredit terhadap barang yang dijual. padahal para ulama berkata. maka ia adalah riba sekalipun dikemas dalam bentuk akad yang halal. Syaikh Muhammad Nashiruddin AlAlbani mengatakan [dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah V/419-427] : . lalu saya mengkreditkannya kepada anda lebih besar dari harga itu. Kemudian si pedagang berkata. Mengelabui hal-hal yang diharamkan oleh Allah. lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya. Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. ada orang yang membeli rumah atau barang apa saja dengan harga tertentu. seperempat atau kurang dari itu padahal dia tidak memiliki cukup uang untuk melunasinya. Kedua Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang.

Al-Baghawi di dalam "Syarh As-Sunnah (VIII/142/211)". keduanya telah ditakhrij di dalam “Irwaa Al-Ghalil (V/150-151)”. dia menambahkan dalam satu riwayat “Yaitu seseorang berkata : “Jika kontan maka (harganya) sekian dan sekian. 3461). maka baginya (harga. . Juga diriwayatkan oleh An-Nasa'i (VII/296. walaupun yang mengambil tadi tidak memakannya. At-Tirmidzi (I/232). Ibnul Jarud (286). saksinya dan penulisnya“.namun jika dengan penundaan (seharga) Rp 20. Hadits ini tersebut didalam hadits Ibnu Umar dan Ibnu Amr. dia menshahihkannya. Penerbit Dar Ihya At-Turots Al-Arabi. maka harga yang lebih tinggi adalah. 1111) dan Ath-Thabrani (41/1). beliau berkata di dalam “Gharib Al-Hadits (I/18) : “Diantara jual beli yang terlarang (ialah) dua syarat (harga) dalam satu penjualan. (Lihat Al-Fathur-Rabbani Ma'a Syarhihi Bulughul -Amani (XV/68) oleh Ahmad Abdur Rahman Al-Banna. tanpa tahun]. Ibnu Hibban di dalam "Shahihnya (1110)". dan jika tidak kontan maka (harganya) sekian dan sekian“. Ahmad (II/342. Pemberi makan riba adalah orang yang memberikan riba kepada orang yang mengambilnya. juga oleh Ibnu Hazm di dalam "Al-Muhalla (IX/16).-pent) yang paling sedikit atau (kalau tidak mau. bahkan telah dishahihkan oleh Al-Hakim. Dan semakna dengan hadits itu adalah ucapan Ibnu Mas‟ud : “Satu akad jual beli di dalam dua akad jual beli adalah riba” [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq di dalam Al-Mushannaf (VIII/138-139). dan Al-Baihaqi (V/343) kesemuanya meriwayatkan bawha telah becerita kepada kami Ibnu Abi Zaidah dari Muhammad bin Amir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu. Ibnu Abi Syaibah (VI/199). Al-Hakim (II/45).-pent) dengan lafazh : “Tidak patut dua akad jual-beli di dalam satu akad jual-beli (menurut lafazh Ibnu Hibban : Tidak halal dua akad jual beli) dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Allah melaknat pemakan (riba) [Pemakan riba adalah orang yang mengambilnya walaupun tidak makan. cetakan baru).-pent. Abu Daud dari Ibnu Abi Syaibah (no. 375. Itulah makna “dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan. diungkapkan dengan makan karena makan adalah kegunaan terbesar dari riba dan karena riba itu umumnya seputar makanan. yaitu (misalnya) seseorang membeli barang seharga dua dinar jika temponya dua bulan. sanadnya hasan. Ibnu Hibban (163. sanadnya shahih] Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/393). ia juga menshahihkannya. -pent) riba” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam "Al-Mushannaf (VI/120/502)". dan ini juga merupakan riwayat Ibnu Hibban (1112) (dari Ibnu Mas‟ud.“”Barangsiapa menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan. dan seharga tiga dinar jika temponya tiga bulan. dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. 503) dan Al-Baihaqi dari beberapa jalan dari Muhammad bin Amr dengan lafazh : "Beliau melarang dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan"] Al-Baihaqi berkata : “Bahwa Abdul Wahhab (yakni Ibnu Atha‟) berkata yaitu (si penjual) berkata : “Itu (barang) untukmu apabila kontan Rp 10..” Dan hadits itu dengan lafazh ini ["Dua syarat di dalam satu penjualan"] adalah ringkas dan shahih. Dan sanadnya juga shahih Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Nashr di dalam As-Sunnah (54).-” Imam Ibnu Qutaibah juga menerangkannya dengan (keterangan) ini. Ibnu Hibban (1109).

Kemudian para imam hadits dan lughoh (bahasa Arab) berjalan mengikuti sunnah mereka.1. dan seharga 200 dirham secara tidak kontan”. kemudian pembeli membawanya pergi.Itulah “dua penjualan di dalam satu penjualan”.Demikian juga An-Nasa‟i menerangkan seperti itu pada hadits Ibnu Amr “Tidak halal dua persyaratan di dalam satu penjualan“.-pent) membawa pergi dagangan itu (berdasarkan jual-beli dengan) dua syarat tadi?” Dia (Al-Auza‟i) menjawab : “Harga barang itu dengan harga yang terendah dengan tempo yang lebih lama“. Ibnu Hibban." tetapi dengan tambahan (riwayat) : "Kemudian (jika penjualnya. Dia berkata : “Apabila (penjual. demikian pula Ibnu Abu Syaibah (VI/120) dari jalan Laits dari Thawus dengannya (perkataan di atas. dan seharga 90 dinar secara kontan. [Hadits ini ini telah ditakhrih didalam "Al-Irwaa (1305) dan lihatlah "Shahihul Jaami (7520)". selama belum terjadi keputusan jual-beli atas salah satu harga. tanpa perkataan : "Lalu terjadi jual beli. Mengatakan bahwa. [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq juga (14631) dengan sanad yang shahih juga. Beliau berkata di dalam "Shahihnya (VII/225-Al-Ihsan)" : "Telah disebutkan larangan tentang menjual sesuatu dengan harga 100 dinar secara kredit. bahwa Ibnu Sirin membenci seseorang berkata : “Aku menjual (barang. maka itu adala dibenci. tetapi dengan (harga) sekian jika temponya sekian dan sekian.telah berubah ingatan (karena tua)]. 1.-pent) secara ringkas.-pent) mengatakan bahwa (barang) itu dengan (harga) sekian dan sekian jika temponya sekian dan sekian. [Diriwayatkan oleh Abdur Razaq (14632) dari Sufyan Ats-Tsauri]. Lalu terjadi jual beli atas (cara) ini. Dan jika telah terjadi jual-beli seperti ini. HUKUM JUAL BELI KREDIT Sesungguhnya telah disebutkan pendapat-pendapat yang lain mengenai tafsir "dua penjualan" itu. 1. Maka jika engkau mendapati barangmu masih utuh. Al-Auza‟i. 1. Ibnul Atsir.. Sufyan Ats-Tsauri. -pent) menjual dengan salah satu dari kedua harga itu sebelum (pembeli. Riwayatnya secara ringkas senada dengan di atas. karena :Laits -yaitu Ibnu Abu Salim. pent) di dalam “Ma‟alimus Sunnah (V/99)”. engkau dapat mengambil harga yang paling rendah dan waktu yang lebih lama. Al-Khaththabi menyebutkannya (riwayat ini. mungkin sebagiannya akan dijelaskan berikut ini. Namun tafsir yang telah lewat di atas adalah . Thawus.. Mereka adalah : Ibnu Sirin Ayyub. Beliau berkata dibawah bab : Dua penjualan di dalam satu penjualan: “yaitu seseorang berkata : Aku menjual kepadamu barang ini seharga 100 dirham secara kontan. Di dalam "Gharibul Hadits" dia menyebutkannya di dalam penjelasan dua hadits yang telah diisyaratkan tadi. jika engkau berkata : “Aku menjual kepadamu dengan kontan (seharga) sekian. dan dengan tidak kontan (seharga) sekian dan sekian”. Meriwayatkan darinya. -pent) berpisah dari (penjual).-pent) kepadamu seharga 10 dinar secara kontan. dan itu tertolak serta terlarang. maka (penjual harus mengambil. Abdur Razaq juga meriwayatkan (pada no 14626). atau 15 dinar secara tempo” [Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq di dalam "Al-Mushannaf (VIII/138/14630)" dengan sanad yang shahih darinya (Ibnu Sirin)]. maka dia berhak memilih di antara dua (harga) penjualan tadi. Akan tetapi ini tidak shahih dari Thawus. maka tidak mengapa". Beliau menyebutkan hal itu dibawah hadits Abu Hurairah dengan lafazh yang ringkas. diantaranya : Imam An-Nasa‟i.    Apalagi sekelompok ulama dan Fuqaha (para ahli fiqh) menyepakatinya atas hal itu. Dalam riwayat itu dikisahkan bahwa Al-Auza‟i ditanya : “Jika (pembeli. -pent) harga yang lebih rendah sampai tempo yang lebih lama.

Inilah pendapat yang mendekati kebenaran. Padahal (pendapat) ini tidak ada dalilnya. atau penjual memberikan barang dan pembeli memberikan (uang) harganya tanpa berbicara dan tanpa isyarat. (Lihat "Al-Fihul Islami wa Adillatuhu IV/99 oleh DR Wahbah Az-Zuhaili)]. . Ini dari satu sisi. adalah alasan yang tertolak. Misalnya apabila hanya disebutkan harga kreditnya saja. dan itu persis dengan apa yang sekarang ini dikenal dengan (istilah) "Jual Beli Kredit". Syaikh Al Albani berkata : "Alasan dilarangnya „dua (harga) penjualan dalam satu penjualan' disebabkan oleh ketidaktahuan harga. apakah harga kontan atau kredit. dan ada petunjuk kearah sana. sedangkan menambahinya (dengan syarat-syarat lain. baik melalui Kitab Allah maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam. 3. Bahwa hal itu tidak boleh. baik barang itu remeh atau berharga. -pent) itu dalam satu majlis akad. Karena hal itu semata-mata pendapat yang bertentangan dengan nash yang jelas di dalam hadits Abu Hurairah dan Ibnu Mas'ud bahwa (penyebab larangan) itu adalah riba. Bagaimana hukumnya ? Dalam hal ini. Maka selama ada rasa saling rela dan senang hati di dalam jual beli. Dalil madzhab yang pertama adalah zhahir larangan pada hadits-hadits yang telah lalu. hendaklah orang yang ingin memperluas (masalah ini) melihat ke sana. sedangkan dari sisi lain (yang menjadi pendapat ini tertolak. para ulama telah berselisih pendapat semenjak dahulu hingga sekarang dan menjadi tiga pendapat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga telah menjelaskan hal itu di dalam Al-Fatawa (XXIX/5-21) yang tidak memerlukan tambahan lagi. Akan tetapi apabila telah terjadi dan harga yang lebih rendah dibayarkan maka boleh. AlKhaththabi berkata : "Apabila (pembeli) tidak tahu harga (maka) jual beli itu batal. Adapun apabila dia memastikan pada salah satu dari dua perkara (harga. dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm 2. yang dengannya terwujud suasana saling rela dan senang hati adalah jual beli syar‟i yang diijinkan oleh Allah. 1. Bahwa hal itu adalah batil secara mutlak. berarti itu merupakan jual-beli yang syar'i. Itulah yang dikenal oleh sebagian ulama dengan (istilah) jual beli Al-Mu'aathaah [Yaitu akad jual beli yang terjadi tanpa ucapan atau perkataan (ijab qabul) akan tetapi dengan perbuatan saling rela. seandainya tidak ada apa yang nanti disebutkan saat membicarakan dalil bagi pendapat yang ketiga. maka (jual-beli) itu sah". Bahwa hal itu adalah tidak boleh kecuali apabila dua harga itu dipisah (ditetapkan) pada salah satu harga saja. Asy-Syaukani berkata di dalam “As-Sail Al-Jarar (III/126)” “Jual beli al-mu‟aathaah ini. -pent) ialah karena alasan mereka ini dibangun di atas pendapat wajibnya ijab dan qabul dalam jual beli. Seperti pembeli mengambil barang dagangan dan memberikan (uang) harganya kepada penjual .yang paling benar dan paling masyhur. yaitu : ketidak pastian harga . karena pada asalnya larangan itu menunjukkan batilnya (perdagangan model itu). Sedangkan para pelaku pendapat kedua berargumentasi bahwa larangan tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan harga. Bahkan di dalam (jual-beli) itu cukup (dengan) saling rela dan senang hati. pent) adalah termasuk mewajibkan apa yang tidak diwajibkan oleh syara (agama)”.

padahal jama‟ bisa dilakukan dengan mudah disini. karena Ibnu Hazm yang mempunyai pendapat itu mengklaim bahwa hadits bab ini telah dihapus (mansukh) oleh hadits-hadits yang melarang dua penjualan di dalam satu penjualan. dan Al-Auza‟i rahimahullah sebagaimana telah diterangkan di atas. Ats-Tsauri. Sesungguhnya kedua hadits tersebut sepakat bahwa : „dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan adalah riba”. bahwa pendapat yang kedua itu adalah pendapat yang paling lemah. -pent] Maka beliau Shallallahu „alaihi wa sallam mensahkan penjualan itu karena hilangnya illat (alasan/sebab yang menjadikannya terlarang). karena sesungguhnya dengan demikian berarti dia tidak menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan. sedangkan pada cara kedua yaitu pembeli membawa barang dengan menanggung harga kredit -dan inilah masalah yang sedang diperselisihkan-. dan mengambil tambahan (harga) sebagai ganti tempo. karena bertentanan dengan ushul (fiqh. ditambah atsar (hadits) Ibnu Mas‟ud. lalu mana alasan tidak mengerti harga yang dikemukakan di atas ? Khususnya lagi apabila pembayaran itu dengan angsuran. yaitu jual beli kredit. maka hal itu menjadi boleh. Bukankah anda lihat apabila (penjual) menjual barang dagangannya dengan harga pada hari itu. dan klaim itu tertolak. Pendapat ini adalah juga pendapat Thawus. baik larangan itu menjadi ada. atau (kalau tidak mau maka harga yang lebih tinggi adalah) riba” [lihat hadits yang menjadi pokok bahasan di atas. sebagaimana hal itu jelas.Syaikh Al-Albani berkata : “Apabila demikian. Jual beli dengan cara yang pertama itu sah. dan semakin panjang temponya ditambah pula harganya. mungkin dia membayar kontan atau mungkin membayar kredit. Tetapi bila mengambil harga yang lebih rendah. “Maka baginya (harga) yang paling sedikit. Ketahuilah akhi (saudaraku) Muslim ! bahwa mu‟amalah tersebut yang telah tersebar di kalangan para pedagang dewasa ini. Sebagaimana keterangan dari para ulama. maka seorang pembeli sewaktu dia telah berpaling (membawa) apa yang dia beli. Dan itulah yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam di dalam sabdanya pada hadits yang bicarakan. Beliau membatalkan harga tambahan. karena tidak ada dalil padanya kecuali akal bertentangan dengan nash. dengan tempo yang lebih lama.-pent). Dan kesimpulannya . maka angsuran yang pertama dia bayar dengan kontan sedang sisa angsurannya tergantung kesepakatan. berarti itu riba. Karena (di dalam ushul fiqh. Karenanya bila dia mengambil harga yang lebih tinggi. sebuah hadits itu. Dari sisi lain itu hanyalah mu‟amalah yang tidak syar‟i karena meniadakan ruh Islam yang berdiri di atas (prinsip) . karena hal itu adalah riba. baik melalui atsar maupun melalui penelitian. dan dia membebaskan pembeli untuk memilih antara membayar harga secara kontan atau hutang. Dari sinilah dapat diketahui gugurnya perkataan Al-Khaththabi di dalam “Ma‟alimus Sunan (V/97)”.-pent).-pent) tidak akan menjadi (pembicaraan) naskh (penghapusan hukum) kecuali apabila jama‟ (penggabungan nash) sulit dilakukan. yang telah menyatakan bahwa boleh untuk mengambil yang lebih rendah harganya. Dengan demikian maka larangan itu berjalan sesuai dengan illat (alasan)nya. maka dia tidak dikatakan : Telah menjual dengan dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan. Dalil pendapat yang ketiga adalah hadits bab ini (hadits yang dibicarakan ini . Kemudian diiringi oleh pendapat yang pertama. Jadi riba itulah yang menjadi illat (alasan)nya. ataupun menjadi tidak ada. Dengan demikian batallah illat (alasan/sebab) tidak mengertinya harga sebagai dalil.

bermanfaat dalam temanya. 938] Maka seandainya salah seorang dari mereka (para pedagang ) bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala dan menjual (barang) dengan (sistim hutang atau kredit dengan harga kontan. sesunguhnya itu lebih menguntungkannya. kasih sayang terhadap mereka.memudahkan kepada manusia.” . mudah apabila dia menagih” [Hadits Riwayat AlBukhari] Dan sabda beliau Shallallahu „alaihi wa sallam “Barangsiapa yang dermawan. karena risalah ini istimewa dalam masalah ini. Karena hal itu akan menjadikan orang-orang ridha kepadanya dan mau membeli darinya serta akan diberkati di dalam rizkinya. sesuai dengan firmanNya Azza wa Jalla “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah. niscaya Dia menjadikan jalan keluar baginya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka” [Ath-Thalaq : 2] Dan pada kesempatan ini aku nasehatkan kepada para pembaca untuk meruju kepada risalah alakh Al-Fadhil Abdurrahman Abdul Khaliq (yang berjudul) : “Al-Quuluf Fashl Fii Bari‟il Ajl”. mudah apabila dia membeli. yang lemah lembut. yang mudah apabila dia menjual. dan telah disebutkan takhrijnya no. mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kepadanya. yang dekat niscaya Allah haramkan dari neraka” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lainnya. sebagaimana di dalam sabda beliau “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang hamba. hatta dari sisi materi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful