Laporan Pendahuluan Ulkus DM

Posted on Juni 24, 2012 by rindukucintaku

Laporan Pendahuluan Ulkus DM 1. Pengertian Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati perifer, (Andyagreeni, 2010). Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Kadar LDL yang tinggi memainkan peranan penting untuk terjadinya Ulkus Uiabetik untuk terjadinya Ulkus Diabetik melalui pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah, (zaidah 2005). Ulkus kaki Diabetes (UKD) merupakan komplikasi yang berkaitan dengan morbiditas akibat Diabetes Mellitus. Ulkus kaki Diabetes merupakan komplikasi serius akibat Diabetes, (Andyagreeni, 2010). 2. Klasifikasi

Wagner (1983) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan, yaitu: Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “. Derajat I : Ulkus superfisial terbatas pada kulit. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. Derajat III : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.

3. Penyebab Faktor-faktor yang berpengaruh atas terjadinya ulkus diabetikum dibagi menjadi faktor endogen dan ekstrogen. a. Faktor endogen 1.) Genetik, metabolik. 2.) Angiopati diabetik. 3.) Neuropati diabetik. b. Faktor ekstrogen

oksigen serta antibiotika sehingga menyebabkan terjadinya luka yang sukar sembuh (Levin. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsestrasi pada kaki klien. bakteria sulit dibersihkan dan infeksi menyebar ke jaringan sekitarnya. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit pada tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. 3) Obat. Ulkus Diabetikum terdiri dari kavitas sentral biasanya lebih besar dibanding pintu masuknya. dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Akhirnya sebagai konsekuensi sistem imun yang abnormal. Drainase yang inadekuat menimbulkan closed space infection.1) Trauma. dikelilingi kalus keras dan tebal. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. kolagen. Faktor utama yang berperan pada timbulnya ulkus Diabetikum adalah angipati. disebut angiopati diabetik. Neuropati sensoris perifer memungkinkan terjadinya trauma berulang mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan dibawah area kalus. Awalnya proses pembentukan ulkus berhubungan dengan hiperglikemia yang berefek terhadap saraf perifer. (Anonim 2009). Mikroorganisme yang masuk mengadakan kolonisasi didaerah ini. Patofisiologi Penyakit Diabetes membuat gangguan/ komplikasi melalui kerusakan pada pembuluh darah di seluruh tubuh. 2) Infeksi. sehingga faktor angipati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan Ulkus Diabetikum. Adanya iskemia dan penyembuhan luka abnormal manghalangi resolusi.(Askandar 2001). keratin dan suplai vaskuler. Penyakit ini berjalan kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular) disebut makroangiopati. Selanjutnya terbentuk kavitas yang membesar dan akhirnya ruptur sampai permukaan kulit menimbulkan ulkus. 1993) infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai Ulkus Diabetikum akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. 4. .adanya neuropati perifer akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensai nyeri pada kaki. neuropati dan infeksi. Dengan adanya tekanan mekanik terbentuk keratin keras pada daerah kaki yang mengalami beban terbesar.

d. akan timbul gambaran klinis menurut pola dari fontaine: a. b. sedangkan secara akut emboli memberikan gejala klinis 5 P yaitu : a. Paresthesia (kesemutan). Stadium III : timbul nyeri saat istitrahat. Pain (nyeri). Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas (kesemutan). daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan dan biasanya teraba pulsasi arteri dibagian distal . Proses mikroangipati menyebabkan sumbatan pembuluh darah. Smeltzer dan Bare (2001: 1220). Stadium II : terjadi klaudikasio intermiten c. c. Bila terjadi sumbatan kronik. d. .5. Paleness (kepucatan). b. Manifestasi Klinik Ulkus Diabetikum akibat mikriangiopatik disebut juga ulkus panas walaupun nekrosis. Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia (ulkus). Paralysis (lumpuh). Pulselessness (denyut nadi hilang) e.

Pemeriksaan fisik 1) Penting pada neuropati untuk cegah ulkus 2) Nilon monofilament 10 G 3) Nilai positif : nilon bengkok. pulsasi ( – ) c) Ulkus :kalus tebal dank eras. absolute toe systolic pressure. kalus. Obat hiperglikemik oral (OHO). benda asing. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah : 1) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl. 2) Urine Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. penatalaksanaan Medis pada pasien dengan Diabetes Mellitus meliputi: a. b. Medis Menurut Soegondo (2006: 14). Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik pada ulkus diabetikum adalah a. Penatalaksanaan Medik 1. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). tidak normal b) Klusi arteri dingin. dan merah bata ( ++++ ). osteomielitis e. 3) Kultur pus Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman. ABI : tekanan sistolik betis dengan tekanan sistolik lengan. 7.6. kuning ( ++ ). claw toe Ulkus tergantung saat ditemukan ( 0 – 5 ) 2) Palpasi a) Kulit kering. Berdasarkan cara kerjanya OHO dibagi menjadi 4 golongan : . merah ( +++ ). Pemeriksaan fisik 1) Inspeksi Denervasi kulit menyebabkan produktivitas keringat menurun. sehingga kulit kaki kering. d. Pemeriksaan Radiologis : gas subkutan. gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl. rabut kaki / jari (-). tetapi tidak terasa 4) Positif 4 kali pada 10 tempat berbeda : spesifisitas (97%). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ). sensitifitas (83%). c. pecah. Pemeriksaan vaskuler Tes vaskuler noninvasive : pengukuran oksigen transkutaneus. pecah-pecah. ankle brachial index (ABI).

Pemantauan Dengan melakukan pemantaunan kadar glukosa darah secara mandiri diharapkan pada penderita diabetes dapat mengatur terapinya secara optimal. 2) Penambah sensitivitas terhadap insulin. 4) Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat. Latihan Dengan latihan ini misalnya dengan berolahraga yang teratur akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian kadar insulin. Alat-alat ortopedi yang secara mekanik yang dapat merata tekanan tubuh terhadap kaki yang luka amputasi mungkin diperlukan untuk kasus DM. b. untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respon kadar glukosa darah. Diet Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar untuk memberikan semua unsur makanan esensial. tujuan utama penatalaksanaan terapi pada Diabetes Mellitus adalah menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosa darah. sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi. 2) Hiperglikemia berat yang disertai ketoasidosis. Terapi Kombinasi Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah. 3) Ketoasidosis diabetik. . 2. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan : 1) Penurunan berat badan yang cepat. memenuhi kebutuhan energi. Misalnya rivanol dan larutan kalium permanganate 1 : 500 mg dan penutupan ulkus dengan kassa steril. 3) Penghambat glukoneogenesis. Ada beberapa komponen dalam penatalaksanaan Ulkus Diabetik: a. b. 4) Penghambat glukosidase alfa. Perawatan luka dengan mengompreskan ulkus dengan larutan klorida atau larutan antiseptic ringan. mencegah kadar glukosa darah yang tinggi dan menurunkan kadar lemak.1) Pemicu sekresi insulin. c. Menurut Smeltzer dan Bare (2001: 1226). Keperawatanan Usaha perawatan dan pengobatan yang ditujukan terhadap ulkus antara lain dengan antibiotika atau kemoterapi. c.

pembuluh darah tepi. pembuluh darah jantung. 4. Terapi (jika diperlukan) Penyuntikan insulin sering dilakukan dua kali per hari untuk mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada malam hari.3. b. Hal ini diperlukan karena kaki pasien sudah tidak peka lagi terhadap rasa nyeri. dan pembuluh darah otak (2) Mikroangiopati mengenai pembuluh darah kecil retinopati diabetik dan nefropati diabetik (3) Neuropati . Modifikasi weight bearing meliputi bedrest. Ketoasidosis untuk DM tipe I dan Koma hiperosmolar nonketotik untuk DM Tipe II Komplikasi kronik: (1) Makroangiopati mengenai pembuluh darah besar. 7. Sebaliknya penderita dengan hiperglikemia yang tinggi. lemak 20% dan karbohidrat 60%. memakai crutch.5 gram/dl. Pembedahan dan pemberian antibiotika pada abses atau infeksi dapat membantu mengontrol gula darah. Semua pasien yang istirahat ditempat tidur. Derajat 0 : perawatan lokal secara khusus tidak ada. Infeksi atau inflamasi dapat mengakibatkan fluktuasi kadar gula darah yang besar. Tindakan Bedah Berdasarkan berat ringannya penyakit menurut Wagner maka tindakan pengobatan atau pembedahan dapat ditentukan sebagai berikut: a. sehingga akan terjadi trauma berulang ditempat yang sama menyebabkan bakteri masuk pada tempat luka. kemampuan melawan infeksi turun sehingga kontrol gula darah yang baik harus diupayakan sebagai perawatan pasien secara total. 5. Adanya anemia dan hipoalbuminemia akan berpengaruh dalam proses penyembuhan. Derajat I – V : pengelolaan medik dan bedah minor. sepatu yang tertutup dan sepatu khusus. kursi roda. tumit dan mata kaki harus dilindungi serta kedua tungkai harus diinspeksi tiap hari. 6. Kontrol nutrisi dan metabolik Faktor nutrisi merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penyembuhan luka. Diet pada penderita DM dengan selulitis atau gangren diperlukan protein tinggi yaitu dengan komposisi protein 20%. Perlu memonitor Hb diatas 12 gram/dl dan pertahankan albumin diatas 3. Pendidikan Tujuan dari pendidikan ini adalah supaya pasien dapat mempelajari keterampilan dalam melakukan penatalaksanaan diabetes yang mandiri dan mampu menghindari komplikasi dari diabetes itu sendiri. Komplikasi diabetes Mellitus meliputi Komplikasi akut dan komlikasi kronis   Komplikasi akut adalah Kronik hipoglikemia. Stres Mekanik Perlu meminimalkan beban berat (weight bearing) pada ulkus.

Seksualitas Gejala : Impoten pada pria. latergi. d. mengantuk. disorientasi. haus Tanda : Turgor kulit jelek dan bersisik. data yang perlu dikaji meliputi : a. sakit kepala. 2000). aktivitas kejang f. Aktivitas / istirahat Gejala : Lemah. mual / muntah. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah . Lyna juall. kesulitan orgasme pada wanita i. Neurosensori Gejala : Pusing. batu dengan / tanpa sputum Tanda : Lapar udara. latergi. kram otot Tanda : Penurunan kekuatan otot. penyakit jantung. a. penurunan BB. bola mata cekung c. frekuensi pernafasn h. data pengkajian pada pasien dengan Diabetes Mellitus bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh fungsi pada organ. adanya asites. nyeri tekan abdomen Tanda : Urine berkabut. sulit bergerak / berjalan. strok. distensi abdomen e. koma b. disritmia. Pengkajian Menurut Doenges (2000: 726). Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Faktor resiko keluarga DM. hipertensi 2.diabetik (4) Rentan infeksi seperti tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih dan (5) Ulkus diabetikum ASUHAN KEPERAWATAN 1. Sirkulasi Gejala : Adanya riwayat hipertensi. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan Diabetes Millitus secara teori mnurut (Carpenito. Eliminasi Gejala : Perubahan pola berkemih ( poliuri ). Makanan / cairan Gejala : Hilang nafsu makan. bau busuk ( infeksi ). letih. Pernafasan Gejala : Merasa kekurangan oksigen. IM akut Tanda : Nadi yang menurun. gangguan penglihan Tanda : Disorientasi. ulkus pada kaki. Nyeri / kenyamanan Gejala : Nyeri tekan abdomen Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi g.

Ganguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. f. Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa : Hindari diet tinggi kolestrol. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Sensorik dan motorik membaik Rencana tindakan : 1). Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah : Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat). Potensial terjadinya penyebaran infeksi (sepsis) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah. Rasional: meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema. hindari penggunaan bantal. diet. Diagnosa no. Rasional: pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator. h. Kulit sekitar luka teraba hangat. di belakang lutut dan sebagainya. d. .gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler b. teknik relaksasi. Kriteria Hasil : a. e. hindari penyilangkan kaki. 4). Fokus Intrvensi dan Rasional a. sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien. Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah. dan penggunaan obat vasokontriksi. Rasional: kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis. e. c. 3). pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ). Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. hindari balutan ketat. merokok dapat menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah. menghentikan kebiasaan merokok. perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren. c. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah. relaksasi untuk mengurangi efek dari stres. b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iskemik jaringan.Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosi. d. 2). 3. 1 Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. g. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit.

angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati. Bau busuk luka berkurang. Rasional: Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya. Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang Kriteria hasil : a. N: 60 – 80 x /menit. pemeriksaan kultur pus pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik. dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul. Rencana tindakan : 1) Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan. frekuensi. Diagnosa no. Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri. b. sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi. d. dan reaksi nyeri yang dialami pasien. RR : 18 – 20 x /menit ). Elspresi wajah klien rileks. d. 2 Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. Tidak ada keringat dingin. Rasional: Merawat luka dengan teknik aseptik.(S : 36 – 37. 3 Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. Pus dan jaringan berkurang c. 3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin. Diagnosa no. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi nyeri. pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan. pemeriksaan kadar gula darah untuk mengetahui perkembangan penyakit. Rasional : pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien . c. T : 120/80mmHg. 2). Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka. Kriteria hasil : a. Adanya jaringan granulasi. b. Berkurangnya oedema sekitar luka.b. Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang atau hilang. c. Rencana tindakan : 1). Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. 2) Rawat luka dengan baik dan benar : Membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif. Kaji tingkat. tanda vital dalam batas normal. Rasional: insulin akan menurunkan kadar gula darah.5 0C.

Rasa nyeri berkurang. 2). Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. 4 Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Rasional : Massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan pengeluaran pus. Diagnosa no. 4). c. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien. 6). Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan. Kriteria Hasil : a. Pergerakan paien bertambah luas b. Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk. d. 7). Lakukan massage saat rawat luka. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal. Rasional : Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin. Ciptakan lingkungan yang tenang. berdiri. 3). Rasional : Obat-obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien. 5 Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal. berjalan ). Rencana tindakan : 1). Rasional : Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien. Rasional: Rangasang yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri. 5). Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik. Diagnosa no. . fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar. 4). Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi. 3). d. Rasional : Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien. 5).Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesuai kemampuan.dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan. Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri. e. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.

Rencana tindakan : 1). c. 2). Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. f. pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi. Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka. Rasional : Untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi. 6 Potensial terjadinya penyebaran infeksi (sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan. Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. b. Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal. Timbang berat badan setiap seminggu sekali. Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ). 4). Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun. 3).Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria hasil : a. Rencana Tindakan : 1). 3). Kadar gula darah dalam batas normal. 2). latihan fisik. Tanda-tanda infeksi tidak ada. Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya. Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. . Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman. b. Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S: 36 -37. Pasien mematuhi dietnya.50C ) c. Identifikasi perubahan pola makan. pengobatan yang ditetapkan. Berat badan dan tinggi badan ideal. d. 4) Anjurkan pada pasien agar menaati diet. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. Diagnosa no. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia. Kriteria Hasil : a. 5). Lakukan perawatan luka secara aseptik. Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis).

perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan katakata yang mudah dimengerti. Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan. perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya. intelektual. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren. Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga. Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya. pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin. diet. manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.Jelaskan tentang proses penyakit. Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman. 4). disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal. b. Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi. 3). latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien. 5). perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga. 2). Pasien mengetahui tentang proses penyakit. diet. teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Kriteria Hasil: a.Jelasakan prosedur yang akan dilakukan.Rasional : Diet yang tepat. Rencana Tindakan : 1). perawatan. Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secara langsung dalam tindakan yang dilakukan. g.Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh. Kaji latar belakang pendidikan pasien. . 7 Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit. 5). dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. pemberian insulin akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat. diet.Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada/memungkinkan). pengobatan yang tepat. Diagnosa no.

Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan. Evaluasi Setelah selesai implementasi. Patofisologi: konsep klinis proses-proses penyakit. DAFTAR PUSTAKA Syaifuddin (2005). Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Anatomi Fisiologi. Jakarta: EGC Price. Berhasil prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.S (1995).4. (2002). Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta: EGC Brunner dan Suddarth. dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien. A. 3. Tercapai sebagian pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan. Belum tercapai pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan. untuk mahasiswa keperawatan (edisi 3). (edisi 4). 2. Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai: 1. Jakarta: EGC .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful