Working Paper Series No.

3 April 2008, First Draft

Kebijakan Obat di Puskesmas

Pelaksanaan Kebijakan Obat Generik Di Apotik Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau

Aini Suryani, Mubasysyir Hasanbasri, Nunung Priyatni

Tidak untuk disitasi

Daftar Isi
Daftar Isi .............................................................................................................. ii Daftar Tabel....................................................................................................... iii Abstract ............................................................................................................... iv Latar Belakang .................................................................................................. 1 Metode ................................................................................................................ 2 Hasil dan Pembahasan..................................................................................... 4 Hasil ................................................................................................................. 4 Akses Obat. ............................................................................................... 4 Tingkat ketersediaan obat. .................................................................... 4 Obat Generik Kadaluarsa dan Rusak. ................................................ 6 Waktu Kekosongan Obat. ..................................................................... 7 Harga Obat. ............................................................................................. 8 Daya Beli Masyarakat.......................................................................... 12 Kesimpulan ........................................................................................................ 13 Kesimpulan .................................................................................................. 13 Saran ................................................................................................................. 13 Daftar Pustaka ................................................................................................. 14 Lampiran ........................................................................................................... 17

ii

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan

........................ 17 Tabel 3....................................... 18 Tabel 4.....................................Daftar Tabel Tabel 1.............................................. 18 Tabel 5..... 19 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan iii ....................... Resep yang Tidak Terlayani Apotik di Kabupaten Pelalawan . Resep yang Terlayani Apotik di Kabupaten Pelalawan ............ Persentase Obat Generik yang Rusak di Apotik Kabupaten Pelalawan ................................ Resep yang Diganti Apotik di Kabupaten Pelalawan ................................................................................... 17 Tabel 2........................................................ Persentase Obat Generik yang Kadaluarsa di Apotik Kabupaten Pelalawan........................................................... 19 Tabel 6........ Lama Kekosongan Obat Generik di Apotik Kabupaten Pelalawan ..............

many types of find and sufficient quality. Every pharmacy store have no damaged medicine.Abstract Implementation Of Generic Medicine Policy At Pharmacy Store On Pelalawan District In Riau Province Aini Suryani1. Digoksin.7% and for replaced medicine are 0. That is why a research need to be conduct toward implementation of the generic medicine price policy on the distribution chanel especially at the pharmacy store. It can see from generic medicine access by community are high after the release of regulation from Health Department of Republic Indonesia. can be learn that they have a purchase ability for generic medicine. But there are several medicine that sold under the HRP The highest price medicine that are sold higher than its HRP is Clorfeniramin Maleat (CTM) tablet by 515.3 months and the lowest is Pirazinamid tablet 500 mg for 4 months. Average availability of the medicine at the pharmacy store are 47.5%. This research is non experimental/observational research with qualitative and quantitative method using cross sectional design.3%. iv Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . for un available medicine are 0. the government released generic medicine policy. Result: Research result indicates that access to generic medicine at pharmacy store for available medicine are 99. properly distributed and accessible for community when its needed. availability and affordability.2%. The price of generic medicine at Pelalawan District are variable but the community still can afford to buy them. Even so they are Alopurinol. Almost all pharmacy store experiencing out of supply for medicine between 4 to 90 days. Price of the medicine sold averagely increasing from its pharmacy store Highest Retail Price (HRP). Conclusion: Implementation of generic drug price on Pelalawan district is good. data analyzed descriptively.on Pelalawan District in Riau Province. there are variety of the price still can be found on implementation of the generic medicine sold in the pharmacy store or in the market. Therefore it must be available in quantity.4% increase and Dexametason tablet is the lowest price sold under HRP by 65. 0% percentage. and can cause price uncertainty for community in finding medicine they need. Highest availability rate for medicine is Hidrocortison cream 2. In order to meet the community’s need for medicine and to guarantee medicine accessibility.7%) and KH (2%). Nunung Priyatni3 Background: Medicine is an integral part of community health service.5% for 7. Pharmacy store that have an expired medicine are PR (0. Although the price of the generic medicine has already been set up and fixed by government. and Ranitidin.3 months. the level of availability of generic medicine on pharmacy store at Pelalawan District are low but there are no expired or damaged medicine. Keyword: Generic medicine. From in depth interviews with patients. Mubasysyir Hasanbasri2.

b) ketersediaan item obat tertentu kurang dan c) permintaan item obat tertentu kurang.34 kalinya. Secara ekonomis. Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan harga obat generik Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 1 . Kebijakan obat meliputi aspek ketersediaan. Kebijakan pemerintah terhadap peningkatan akses obat diselenggarakan melalui beberapa strata kebijakan yaitu Undang-undang sampai Keputusan Menteri Kesehatan yang mengatur berbagai ketentuan berkaitan dengan obat.Latar Belakang Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. yang meliputi resep obat generik berlogo tidak banyak dan adanya obat generik berlogo yang kurang laku. Dengan demikian maka perlu dilakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan harga obat generik di sarana distribusi obat terutama di apotik. Masalah penyediaan obat generik berlogo di apotik adalah : a) persaingan antar produsen melalui pemberian potongan harga. keterjangkauan. Kebijakan pengendalian harga obat generik ditetapkan oleh pemerintah dengan acuan harga obat terjangkau oleh daya beli masyarakat serta harga obat masih memberikan margin yang dapat menjamin kontinuitas pasokan obat generik berlogo kepada masyarakat2. Walaupun harga obat generik ini sudah di tetapkan oleh pemerintah tetapi pelaksanaannya masih ditemui variasi harga obat yang beredar di apotik maupun di pasaran. Sementara rendahnya pemakaian obat generik disebabkan oleh kesulitan dalam memperoleh obat generik dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap khasiat dan mutu obat generik4. harga obat di Indonesia dinilai mahal dan struktur harga obat tidak transparan1.3722. Perbedaan harga obat generik dengan obat nama dagang sejenis di Indonesia pada tahun 1996 berkisar antara 1. mutu dan keamanan serta khasiat. Pemerintah harus mengendalikan harga obat3. Akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia. pomosi terselubung dan kemasan berbeda.

Secara khusus untuk mengetahui akses obat generik oleh masyarakat. harga obat generik di apotik sebelum dan sesudah SK Menkes RI No. pengawasan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam. memberikan informasi variasi harga obat generik yang dijual yang selanjutnya menjadi pertimbangan dalam menjual obat generik di apotik sesuai dengan SK Menkes RI serta di tingkat nasional penelitian ini berguna sebagai sumbangan pemikiran tentang dampak kebijakan penurunan harga obat generik di daerah dan sebagai bahan masukan atau bahan pembanding bagi penelitian berikutnya. observasi dan 2 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan .720/Menkes/SK/IX/2006. menilai dampak kebijakan harga obat generik terhadap ketersediaan obat generik di kabupaten Pelalawan. Bagi apotik berguna untuk meningkatkan mutu pengelolaan dan mutu pelayanan obat. Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan rancangan cross sectional.720/Menkes/SK/IX/2006 tentang harga obat generik tahun 2006.di apotik Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau setelah dikeluarkannya SK Menkes RI No. dan pengendalian terhadap pelaksanaan harga obat generik di Kabupaten Pelalawan. Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan dan Dinas Kesehatan Propinsi Riau tentang ketersediaan dan keterjangkauan dan variasi harga obat generik di apotik sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam membuat rencana pembinaan. Lokasi penelitian di apotik se-Kabupaten Pelalawan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan obat generik di apotik Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau. variasi harga jual obat generik di Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau dan keterjangkauan daya beli masyarakat Kabupaten Pelalawan terhadap obat generik.

Penelitian cross sectional merupakan penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan efek. Untuk mengetahui daya beli masyarakat dilakukan wawancara mendalam kepada masyarakat. Untuk melihat akses obat oleh pasien dilakukan dengan pengumpulan data peresepan. sehingga dapat diketahui berapa lama (bulan) tingkat ketersediaan obat di apotik.telaah dokumen. data diambil dengan melihat kartu stok obat dilanjutkan dengan pengolahan data dan analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam. Pada tahap pertama dilakukan penghitungan satu per satu nama obat yang sering diresepkan dari lembar resep. Kemudian memilih 50 nama obat terbanyak dengan maksud untuk memudahkan pengambilan 30 jenis obat di tiap apotik. dan model pendekatan atau observasi sekaligus pada satu saat atau point time approach5 Pelaksanaan penelitian meliputi kegiatan pengumpulan data. Untuk memperoleh data tentang obat rusak dan kadaluarsa dilakukan studi dokumentasi menurut jenis obat yang rusak. Kemudian melakukan pencatatan harga jual obat generik dengan melihat buku daftar harga obat sebelum dan sesudah dikeluarkannya SK Menkes RI. Tingkat ketersediaan obat dilakukan studi dokumentasi terhadap tingkat ketersediaan obat yang ada di apotik dengan membandingkan data persediaan obat di apotik terhadap pemakaian rata-rata per bulan oleh apotik. apotiker pengelola apotik dengan menggunakan pedoman wawancara. Untuk melengkapi informasi yang telah diperoleh pada penelitian kuantitatif dilakukan wawancara mendalam kepada pemilik sarana apotik. Untuk ketersediaan obat. Untuk memperoleh data tentang kekosongan obat dilihat dari kartu stok obat. jenis obat yang kadaluarsa dan obat yang tersedia. Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 3 . observasi dan telaah dokumen. Resep yang diambil adalah resep dari bulan Oktober 2006 sampai bulan Oktober 2007.

7% (Tabel 2).3% (Tabel 1). Sedangkan obat generik yang digantikan dengan obat lain yang sejenis terlebih dahulu dilakukan konsultasi dengan dokter yang menulis resep. Dalam hal ini jika pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep. Hasil pengamatan terhadap akses obat oleh pasien.5% yaitu 7.3 bulan dan yang paling rendah adalah Pirazinamid tablet 500 mg yaitu 4 bulan. yaitu (1) penggunaan obat yang rasional. Hal ini dalam rangka memenuhi kebutuhan obat pasien sesuai dengan resep. Tingkat ketersediaan obat. Tingkat ketersediaan obat di apotik Kabupaten Pelalawan rata-rata 4-7. (3) pendanaan yang berkelanjutan dan (4) sistem kesehatan serta sistem penyediaan obat yang dapat diandalkan.3 bulan. Sedangkan resep yang obatnya digantikan dengan obat lain yang sejenis adalah 0.Hasil dan Pembahasan Hasil Akses Obat. Akses obat esensial bagi masyarakat secara garis besar dipengaruhi oleh empat faktor utama. (2) harga yang terjangkau. resep yang tidak terlayani oleh apotik 0. Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketersediaan obat generik di apotik Kabupaten Pelalawan pada umumnya berada pada 4 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . apotiker wajib melakukan konsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat. Obat yang tingkat ketersediaannya paling tinggi adalah Hidrokortison krim 2. ditemukan resep yang terlayani 99.5 % (Tabel 3). Apotiker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep dengan obat paten. Sedangkan apotik rumah sakit yang bekerjasama dengan Askes komersil menyediakan obat sesuai dengan kebutuhan pasien peserta askes tersebut. Oleh karena akses terhadap obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia. Hampir semua resep yang masuk ke apotik dapat terlayani ini disebabkan rata-rata apotik di Kabupaten Pelalawan melakukan kerjasama dengan praktek dokter sehingga obat yang diresepkan disesuaikan dengan jenis obat yang disediakan apotik. maka obat esensial selayaknya dibebaskan dari pajak dan bea masuk1.

Selama banyak obat yang tidak tersedia. Salah satu upaya untuk menjamin kecukupan obat adalah memperbaiki mutu manajemen obat dan penggunaan obat. Hal ini menunjukkan bahwa apotik tidak terlalu banyak menyediakan obat generik. Salah satu prasyarat penting dari pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu adalah tersedianya obat yang cukup. Selain itu juga untuk menyeimbangkan antara pembelian dan penjualan obat di apotik. mutu dan manfaat. Ketepatan penggunaan obat perlu didukung Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 5 . Rendahnya ketersediaan obat generik di rumah sakit pemerintah dapat berimplikasi secara langsung pada akses obat generik. keamanan. sebagai gantinya pasien membeli obat generik di apotik atau di praktek dokter. baik jenis maupun jumlahnya setiap saat diperlukan oleh masyarakat dan mutu yang terjamin. Penelitian Mustika kekurangsesuaian dana pengadaan obat ternyata secara tidak langsung mengakibatkan berkurangnya kesesuaian ketersediaan obat6.kategori kurang karena tingkat ketersediaannya rata-rata kurang dari 18 bulan. pengadaan. Ketersediaan obat sebagai unsur utama dalam pelayanan kesehatan selain keterjangkauan. Dalam rangka memberikan jaminan akan ketersediaan obat maka perlu adanya upaya pemenuhan kebutuhan obat sesuai dengan jenis dan jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apotik hanya berani menyimpan obat untuk jangka waktu 4 bulan kedepan. pasien mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar obat. persediaan (inventory). ketersediaan obat terkait erat dengan pendanaan. pendistribusian dan pencatatan/pelaporan penggunaan obat serta pemantauan kecukupan obat dari waktu ke waktu7. Apotik swasta mempunyai obat generik lebih sedikit dibandingkan dengan yang disediakan oleh dokter. Mutu manajemen obat dapat dapat ditingkatkan melalui intervensi secara komprehensif mulai dari perencanaan. Sehingga apotik menyediakan obat paten lebih banyak8. Ini disebabkan karena rata-rata mereka belum mempunyai gudang sebagai tempat penyimpanan stok obat generik.

Pengadaan barang dalam sehari-hari disebut juga pembelian dan merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. 6 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan .tersedianya obat yang tepat jenis dengan jumlah serta mutu yang baik. begitu juga dengan obat yang diterima mengalami kerusakan. Total sembilan apotik yang ada. tetapi harus lebih rinci lagi yaitu antara penjualan dan pembelian dari setiap jenis obat. Obat yang laku keras harus dibeli dalam jumlah relatif banyak dibanding obat yang laku lambat10 . Keseimbangan ini tidak hanya antara pembelian dengan penjualan total. 2 apotik mempunyai obat kadaluarsa (Tabel 4). Hal ini menunjukkan ketepatan perencanaan. Obat yang kadaluarsa dikarenakan obat tersebut tidak ada pemakaiannya dan kelalaian dari petugas apotik untuk menukarkan kembali pada pedagang besar farmasi. meningkatkan kerasionalan penggunaan obat. meningkatkan keterjangkauan cakupan pelayanan kesehatan dan pengendalian harga obat9 . baiknya sistem distribusi dan baiknya pengamatan mutu dalam penyimpanan obat. Obat Generik Kadaluarsa dan Rusak. sehingga ada keseimbangan antara penjualan dan pembelian. tidak ada apotik dengan obat generik yang rusak (Tabel 5). Pembelian harus menyesuaikan dengan hasil penjualan. bila ada tambahan pesanan secara mendadak. Pemerintah menerapkan kebijakan obat esensial dan obat generik untuk meningkatkan kerasionalan penggunaan obat. Jika terdapat obat kadaluarsa pihak apotik dapat mengembalikan kepada pihak distributor. Biasanya jumlah stok obat untuk persediaan 1-2 bulan sesuai dengan kebijaksanaan apotik masingmasing. Penerapan tersebut bertujuan untuk menghemat dana pengadaan obat. Pada umumnya apotik di Kabupaten Pelalawan tidak terdapat obat generik yang kadaluarsa atau rusak. Tujuan persediaan obat adalah untuk menjaga agar pelayanan obat oleh apotik berjalan lancar yaitu dengan menjaga kemungkinan terlambat memesan serta menambah penjualan.

meminimalkan obat yang mubazir karena rusak atau kadaluarsa. Distribusi dan logistik obat merupakan salah satu titik kritis dalam rantai upaya mencapai segala tujuan kebijakan obat nasional. Pada gilirannya menjadi tembok besar penghalang akses terhadap obat11. Sebagian obat yang paling sering terjadi kekosongan di apotik adalah obat jenis antibiotika seperti Amoksisilin (Tabel 6). Sedang bahan baku untuk pembuatan obat tersebut masih mahal sehingga produksi obat Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 7 . Semua apotik di Kabupaten Pelalawan pernah mengalami kekosongan obat mulai dari 4 hari sampai 90 hari paling lama. Jika implementasinya tidak dipantau dengan baik. Amoksisilin adalah salah satu item obat yang harganya diturunkan sesuai dengan Kepmenkes nomor 720/MENKES/SK/IX/2006. memiliki catatan penyimpanan yang akurat dan pemberian informasi untuk memperkirakan kebutuhan obat. Waktu kekosongan obat adalah jumlah hari obat kosong dalam satu tahun. dan atau kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan obat. mempertahankan mutu obat yang baik selama proses distribusi. obat yang pertama masuk ke apotik akan lebih dahulu dikeluarkan dan obat yang lebih pendek masa kadaluarsa akan lebih dahulu dikeluarkan. Apotik di Pelalawan telah melaksanakan sistem First In First Out (FIFO) dan sistem First Expire First Out (FEFO) untuk menghindari terjadinya obat kadaluarsa dengan memperhatikan bahwa dalam proses distribusi. Stock out adalah keadaan persediaan obat kosong yang dibutuhkan di apotik.Distribusi obat yang efektif harus memiliki disain sistem dan manajemen yang baik dengan cara antara lain menjaga supplai obat tetap konstan.Terjadinya obat kadaluarsa mencerminkan ketidaktepatan perencanaan dan atau kurang baiknya sistem distribusi. berarti tidak akan ada evaluasi yang memadai dan tidak ada perbaikan atas kekurangan kapasitas atau implementasi strategi kebijakan obat nasional yang dilakukan. Waktu Kekosongan Obat. Adanya obat yang mengalami kadaluarsa dan mengalami kerusakan mencerminkan kurang baiknya pengelolaan obat12.

Perbekalan yang efisien dapat diartikan perbekalan yang efisien dan efektif dan tidak mahal. amoksisilin berangsur-angsur menghilang dari pasaran. Harga Obat. Seringnya terjadi kekosongan obat di apotik mempengaruhi tingginya pengambilan obat di luar apotik13. Stock out mengurangi kualitas pelayanan karena pasien harus membeli obat di luar dan mengurangi pendapatan apotik. Itu adalah dampak negatif kebijakan pemerintah menekan harga obat generik menjadi makin murah. Begitu harga obat generik turun. Stock out adalah keadaan persediaan obat kosong yang dibutuhkan di apotik.4 %.2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga jual obat generik dari 30 jenis obat yang sering diresepkan dokter yang diperoleh dari pengumpulan data di 9 apotik Kabupaten Pelalawan sangat bervariasi. sementara harga bahan baku kian mahal. Bahkan ada juga obat yang 8 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Efisiensi adalah suatu keadaan yang ketersediaan obat tidak menambah beban atau dapat menurunkan biaya. Alasan mereka dengan memproduksi obat generik akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan akibat kebijakan pemerintah yang terus menekan harga jual menjadi semakin murah. Harga obat yang dijual rata-rata mengalami kenaikan dari Harga Eceran Tertinggi apotik (HET). Kekosongan obat ini disebabkan karena obat di Pedagang Besar Farmasinya (PBF) kosong dan terlambatnya apotik memesan obat ke PBF. Sedangkan Deksametason tablet dijual paling rendah dibawah HET sampai 65. sedangkan keadaan stock out merupakan keadaan yang tidak efektif. Dampak lebih jauh adalah terjadinya kekosongan Amoksisilin pada pihak distributor dan apotik sehingga pasien menjadi sulit memperoleh obat tersebut. Tetapi ada juga beberapa obat yang dijual dengan harga dibawah HET dari Departemen Kesehatan. Beberapa industri farmasi enggan memproduksi obat generik sekarang ini. Obat yang harganya dijual diatas HET yang paling tinggi yaitu Klorfeniramin Maleat (CTM) tablet dengan kenaikan 515.menjadi berkurang yang berakibat pada kelangkaan Amoksisilin di pasar. sementara grafik harga bahan baku justru terus menanjak.

Selain itu obat yang diturunkan harganya di bawah HET berperan sebagai penyeimbang dari obat yang dinaikkan harganya. Adanya perbedaan harga jual obat generik pada apotik disebabkan oleh karena apotik dapat menentukan harga obat secara bebas atas berbagai pertimbangan bahwa harga jual obat Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 9 . Harga yang terjangkau merupakan suatu hal yang penting untuk menjamin akses obat esensial di sektor pemerintah dan sektor swasta. Untuk meningkatkan keterjangkauan obat bagi masyarakat dalam memperoleh obat yang murah.harganya sesuai dengan HET yaitu Alopurinol.2% adalah Deksametason tablet hal ini disebabkan oleh harga beli obat di distributor juga lebih murah di samping penurunan harga ini tidak mempengaruhi keuntungan apotik secara signifikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan dalam penghitungan persentase keuntungan yang diambil oleh pihak apotik sehingga terjadi perbedaan harga jual obat di masing-masing apotik. pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan harga obat dan membuat aturan tentang harga jual obat generik di apotik melalui SK Menteri Kesehatan Nomor 720/MENKES/SK/IX/2006 tentang Harga Obat Generik. Harga disepakati antara apotiker pengelola apotik dengan pemilik sarana apotik kemudian untuk selanjutnya dilaksanakan oleh asisten apotiker yang bertugas melayani pasien. kebijakan obat generik dan substitusi obat generik dan persamaan harga14. kebijakan harga obat.14% dikarenakan harga dasarnya yang sangat rendah dan obat yang mudah diperoleh. tetapi pada kenyataannya masih dijumpai adanya variasi dalam harga jual obat. Obat yang dijual di bawah HET dengan penurunan 65. Keterjangkauan adalah komponen kebijakan obat nasional yang membutuhkan dukungan politik dan legislatif yaitu dalam hal mengurangi pajak impor obat esensial. Sedangkan obat yang paling tinggi kenaikannya adalah CTM mencapai 515. Digoksin dan Ranitidin. Dari hasil wawancara mendalam diperoleh informasi bagaimana cara untuk menetapkan harga jual obat generik.

Pengadaan obat dapat dilakukan dengan cara pembelian dalam jumlah besar atau dalam jumlah kecil. obat nama dagang mengutamakan keindahan dalam penampilannya16 . Distributor merupakan mata rantai penyalur produk obat dan alat kesehatan terbesar di Indonesia. (c) kemasan. merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menunjang proses produksi yaitu biaya untuk keuntungan (marginal cost) biaya administrasi. pertama.ditentukan oleh provider secara bebas. Kedua. Ketiga. Selain itu terjadinya variasi-variasi harga tersebut dapat disebabkan oleh . Keberadaannya juga akan berpengaruh terhadap harga jual obat jika provider kesulitan dalam memperoleh obat dari distributor. komponen pembentuk harga obat Setiap perusahaan farmasi mempunyai komponen pembentuk harga obat yang berbeda. merupakan biaya langsung yang terkait dengan proses produksi. biaya produksi dan biaya distribusi. Hal ini sangat tergantung pada ketersediaan dana 10 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Hal ini biasanya terjadi disebabkan kebanyakkan distributor berada di luar kota yang mengakibatkan pemesanan obat memerlukan waktu yang lama dan tambahan biaya. Distributor. (b) biaya tidak langsung. Keberadaan distributor di suatu daerah ikut serta dalam mencukupi ketersediaan obat. metoda pengadaan dan marjin. misalnya biaya untuk pendaftaran dan biaya promosi. Pada prinsipnya ada beberapa komponen yang dapat membentuk harga obat yaitu (a) biaya langsung. Faktor lain yang menyebabkan mahalnya harga obat adalah panjangnya rantai distribusi17. Dengan demikian harga obat di tingkat pengecer seperti di apotik akan di pengaruhi oleh faktor besarnya marjin ataupun biaya operasional lainnya yang diambil oleh provider apotik15. Bagi apotik tentu saja biaya ini akan ditambahkan pada biaya belanja pengadaan obat sehingga dapat meningkatkan harga jual obat tersebut. karena itu kemasan merupakan elemen terbesar dalam strategi pemasaran dari suatu produk meskipun akan menambah biaya produk tersebut15. meliputi biaya bahan baku obat dan bahan tambahannya. seperti pemesanan melalui telepon atau faksimili. Perbedaan biaya produksi dapat menimbulkan perbedaan harga sejenis sampai 20 kali3.

Meskipun begitu masih terdapat harga jual oabt generik yang melewati batas harga yang telah ditetapkan pemerintah. kemungkinan ada kondisi diskon oleh distributor. sehingga harga obat dapat ditekan lebih rendah(16). jujur-tidak jujur dan sebagainya. Dengan meningkatnya kompetisi akan meningkatkan keterjangkauan masyarakat terhadap obat16. Seperti halnya harga barang dan jasa. belanja obat publik total dan nilai total produksi lokal yang terjual di dalam negeri menentukan secara spesifik capaian implementasi kebijakan Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 11 . Demikian pula sebaliknya jika jumlah permintaan barang dan jasa menurun sedangkan jumlah penawaran tetap maka akan berakibat menurunnya harga barang dan jasa18. Banyaknya jumlah dan jenis produk obat yang berbeda juga meningkatkan kompetisi tersebut dan banyaknya permintaan barang dan jasa dalam ilmu ekonomi akan mempengaruhi harga barang dan cenderung meningkat18. Bisnis yang baik adalah bisnis yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika seperti pertimbangan benar-salah. karena dengan meningkatnya kompetisi antar supplier biasanya terdapat harga yang rendah16. maka akan terjadi kenaikan harga. Besarnya marjin yang diambil apotik bisa saja pertimbangan harga dasar obat memang sudah rendah sehingga memperbesar marjin untuk mendapat keuntungan yang lebih. Metoda pengadaan obat juga dapat berpengaruh pada harga jual obat. Dalam hal ini seringkali provider kurang memperhatikan etika bisnis. Implementasi pricing policy sebagai strategi kunci kebijakan obat nasional memerlukan status informasi sektor obat yang baik. Untuk obat generik pemerintah telah menetapkan patokan harga jual tertinggi yang dengan sendirinya membatasi marjin tertinggi. Keempat. maka dalam hal ini obat sebagai barang ekonomis yang tersedia di apotik dapat juga dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan (supply and demand). baik-buruk. adil-tidak adil. Jika pengadaan obat dilakukan dengan pembelian obat dalam jumlah besar.apotik. Jika penawaran barang tetap atau berkurang sedangkan permintaan meningkat. Harga suatu barang termasuk harga obat sangat dipengaruhi oleh adanya kompetisi harga di pasar. Penawaran dan Permintaan.

Secara sederhana harga obat diartikan sebagai titik temu antara kemampuan penawaran produsen dan kemampuan permintaan konsumen. melalui penerapan peraturan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN). terutama dalam hal teknis yang bertanggungjawab mengenai masalah kesehatan di kabupaten adalah Dinas Kesehatan Kabupaten. audit preskripsi serta layanan farmasi19. pengadaan dan distribusi. brosur-brosur dan pendidikan formal atau pendidikan lanjutan. Menurut informan harga obat generik yang dijual harganya murah dan dapat terjangkau oleh masyarakat. Selain itu implementasi kebijakan harga juga memerlukan kapasitas sistem farmasetika yang baik khususnya komponen struktur kebijakan harga itu sendiri11. Cara kedua yaitu dengan manajerial. Dan cara regulasi dapat dilakukan dengan pengawasan. formularium dan keuangan. Harga jual obat generik yang bervariasi di apotik kabupaten Pelalawan menunjukkan kurangnya peran pemerintah sebagai regulator. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh pemerintah daerah dalam meningkatkan peran tersebut yaitu dengan edukasi. Cara edukasi dapat ditempuh dengan pemberian informasi dan komunikasi melalui media massa.harga. serta pemerintah yang berkewajiban memperhatikan kepentingan masyarakat secara seimbang bagi semua 12 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . yaitu konsumen yang menghendaki harga obat terjangkau oleh daya belinya. Daya Beli Masyarakat. pihak profesi (dokter dan apotiker) yang bertujuan untuk mengamalkan ilmunya pada masyarakat. produsen yang menginginkan tingkat harga tertentu sebagai jaminan untuk kelanjutan usahanya. manajerial dan regulasi. Harga obat setidak-tidaknya dipengaruhi oleh empat unsur yang merupakan sub sistem yang saling mempengaruhi sebagai satu kesatuan. Untuk itu di masa otonomi daerah sekarang ini perlu ditingkatkan peran pemerintah terutama yang memegang peran kunci agar dapat meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan. Pada sisi lain juga diperlukan dukungan jumlah asisten apotiker dan apotiker yang memadai. Dari hasil wawancara dengan pasien dapat diketahui bahwa pasien mempunyai daya beli terhadap obat generik yang dijual di apotik Kabupaten Pelalawan. promosi.

Sedangkan Deksametason tablet dijual paling rendah dibawah HET sampai 65. Digoksin dan Ranitidin. Harga jual obat generik di Kabupaten Pelalawan diatas HET. Tanpa orang mempunyai uang atau mampu untuk memperoleh produk.3%. Saran Apotik diharapkan menyediakan jenis obat generik lebih banyak. resep yang tidak terlayani 0. Masyarakat mempunyai daya beli terhadap obat generik yang dijual di apotik. Dalam pemasaran perlu diketahui mengenai potensi dan daya beli konsumen. Akses obat generik oleh pasien dengan resep yang terlayani 99. Kesimpulan Kesimpulan Pelaksanaan kebijakan harga obat generik di apotik Kabupaten Pelalawan sudah baik. Terdapat 8 buah apotik mengalami kekosongan obat generik mulai dari 3 sampai 90 hari. paling tinggi CTM tablet dengan kenaikan 515. seseorang tidak dapat dipandang sebagai langganan yang potensial10.7% dan resep yang diganti 0.5%.4%. Daya beli konsumen merupakan fondasi terpenting dari sebuah pangsa pasar dan juga sebagai salah satu kunci kesuksesan sebuah penjualan.2%.7%) dan di Apotik KH (2%). Daya beli merupakan elemen pokok dari permintaan. Obat yang kadaluarsa terdapat di 2 buah apotik yaitu di apotik PM (0. sehingga masyarakat lebih mudah untuk mengakseskannya. Bahkan ada juga obat yang harganya sesuai dengan HET yaitu Alopurinol.pihak20.3 bulan. Dinas Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 13 . Kalau untuk maksud pemasaran. Obat yang rusak tidak terdapat pada semua apotik di Kabupaten Pelalawan. Tingkat ketersediaan obat generik di apotik Kabupaten Pelalawan untuk obat indikator (obat yang paling banyak di gunakan) berada dalam kategori kurang yaitu 4-7. kalau konsumen tidak mempunyai daya beli untuk memperoleh kebutuhan dan keinginannya dipandang tanpa guna.

M. Reformasi Sektor Obat dan Pelaksanaan Otonomi Daerah. seperti di dalam freezer (suppositoria) ataupun lemari khusus (Narkotika dan Psikotropika). Daftar Pustaka 1. Disampaikan dalam ”Seminar Kebijakan Obat Nasional dalam Otonomi Daerah”. Yogyakarta. Herman. Penyimpanan obat harus disesuaikan dengan jenis dan sifat obat. Perlu disediakan daftar harga obat generik yang dapat dilihat oleh pasien ketika membeli obat pada masing-masing apotik. Sampurno. Departemen Kesehatan RI. Magister Manajemen dan Kebijakan obat UGM. hal. R. Buletin Penelitian Kesehatan. 28 (1).H. S. 399-408. Daya beli masyarakat terhadap obat generik perlu dipertahankan dengan memberikan informasi tentang obat generik secara terus-menerus kepada masyarakat. (2001).J. Apotik diharuskan memiliki gudang khusus tempat penyimpanan stok obat.. 2. Sasanti . Analisis Komponen Harga Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 14 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . (2006). Apotik menjual obat generik dengan harga yang sesuai peraturan perundang-undangan.Kesehatan Kabupaten Pelalawan perlu meningkatkan pengawasan dan pemantauan ketersediaan dan harga obat generik di apotik.. (2000). Dalam penyusunan kebijakan harga obat harus melibatkan pihak produsen dan distributor sehingga ada komitmen yang kuat untuk melaksanakan kebijakan tersebut sehingga tidak dijumpai obat yang tidak beredar di pasar. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 189/MENKES/SK/III/2006 Tentang Kebijakan Obat Nasional. 3.. Selain itu perlu diberi sanksi (peringatan sampai penutupan usaha) terhadap apotik yang tidak menyediakan obat generik dan memberikan reward (penghargaan) bagi apotik yang banyak menyediakan dan melayani obat generik Apotik dalam melakukan perencanaan obat harus didasarkan pada tingkat ketersediaan dan pemakaian obat. Azis.

Pendapat Dokter Praktek di Samping Apotik terhadap Obat Generik. N. (2006).. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.P. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Ketersediaan Obat Puskesmas pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Pascaotonomi Daerah..4. Affordability and Price Component : Implication for access to Drugs In Malaysia. Danu. Pedoman Supervisi dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. (2007). 69-73. 8.. Bukahri. Plos Medicine 4(3): 82. (2004). 12. 04 (01). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. (2004).. Departemen Kesehatan RI. Z. Avaibility..I.... Suryawati. E.gov/> [Accessed 14 June 2007] 9. Pengaruh Ketersediaan Dana Kontan terhadap Pengadaan dan Penggunaan Obat Tingkat Puskesmas. Ketersediaan Obat di Kabupaten dan Mutu Peresepan di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 07 (04). 5. Raja Grafindo Persada. Creese. D. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. A. (2005). Evaluating Drug Prices. (2000). S.S. 11. hal. 53-61. S. hal. H. 6.. S. A.. 219-224. S. Mustika. Evaluasi Sistem Pengadaan Obat dari Dana APBD Tahun 2001-2003 Terhadap Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 15 . Ibrahim. Berkala Ilmu Kedokteran. (2006). Sjabana. D. M. A. Struktur..I. Anief. 7. Dwiprahasto. pubmedcentral. (2001). Pratiknya.S.. hal. Prinsip dan Dasar Manajemen Pemasaran Umum dan Farmasi.38-41. Istinganah.. W. M. 13. Available from: <http://www. Annisa. 07 (02..S. 10.nih. Supardi.. Cermin Dunia Kedokteran. hal. Babar.. I. dan Suryawati. Danu. hal.. Penggunaan Indikator WHO untuk Memonitor Implementasi Kebijakan Obat Nasional ( Hubungan antara Karakter Negara dan Indikator Latar Belakang. Santoso. 36 (2). 2007. 89-96. Jakarta: PT. Singh. Proses dan Keluaran).

R. Quick. P. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. (2001). Cermin Dunia Kedokteran. Yogyakarta: Salemba Empat. (1995). Priyanto. Author. Akuntansi Manajemen..W. S. 14. (1997). 29-34. Inc. J. S. Suryawati.. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. S. Revised and Expanded.. 2nd Ed. hal.38-41. dan Tan.. Edisi 3. 16.D. 18. J. 19. Supardi.. C. Genewa.R. 14/2000 terhadap ketersediaan Obat di Puskesmas. Konsep. How to Develop and Implement a National Drug Policy Second Edition. WHO. (2003). Medika. 20.. 15. O΄Connor.L.. Ang. 09 (01). Pendapat Dokter Praktek di Samping Apotik terhadap Obat Generik. (1996) Marketing Management. S. hal. Kumarin Press. (2001). Rankin.. Evaluasi Penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Gunung Kidul No. Kotler.T. West Harford. 16 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan .H. Leong. 17. Hume.Ketersediaan dan Efisiensi Obat.100-101.M. Mulyadi.. New Jersey: Prentice-Hall.. 06 (01). M. 31-41. Managing Drug Supply. Purwaningsih. Mungkinkah Harga Obat Turun?. 2. Sunartono. Setahun Setelah Pakto. hal. Manfaat dan Rekayasa.. (1989). hal.

7 99.8 0 0 0 0 0 0.Lampiran Tabel 1.7 3.7 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 17 . Resep yang Tidak Terlayani Apotik di Kabupaten Pelalawan Apotik GM PM SH KH AM AH SI MS Prima Jumlah Jumlah resep 240 300 1860 144 8400 1200 2100 480 2580 17304 Jumlah resep yang tidak terlayani 20 14 72 4 0 0 0 0 0 122 Resep yang tidak terlayani (%) 8.3 4.1 95.9 2. Resep yang Terlayani Apotik di Kabupaten Pelalawan Apotik PR SI AH MS AM KH SH PM GM Jumlah Jumlah resep 2580 2100 1200 480 8400 144 1860 300 240 17304 Jumlah resep yang terlayani 2580 2100 1200 480 8400 140 1788 286 220 17182 % Resep yang terlayani 100 100 100 100 100 97.3 91.2 96.3 Tabel 2.

Tabel 3.7 1 0.2 0 0 0 0 0.5 Tabel 4.9 1.1 1.7 0 0 0 0 0 0 0 18 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan . Resep yang Diganti Apotik di Kabupaten Pelalawan Apotik GM PR MS AH AM SI SH PM KH Jumlah Jumlah resep 240 2580 480 1200 8400 2100 1860 300 144 17304 Jumlah resep yang diganti 5 48 8 12 20 0 0 0 0 93 Resep yang diganti (%) 2. Persentase Obat Generik yang Kadaluarsa di Apotik Kabupaten Pelalawan Apotik KH PR GM PM AH SI SH AM MS Total jenis obat generik yang kadaluarsa 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Total jenis obat generik yang tersedia 50 148 82 96 86 84 48 100 40 Obat generik yang kadaluarsa (%) 2 0.

Tabel 5.1 KH 8 Amoksisilin tab 500 mg Ranitidin tab 150 mg Rifampisin kap 600 mg Doksisiklin kap100 mg Tramadol tab 50 mg 143 90 21 4 4 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan 19 . Lama Kekosongan Obat Generik di Apotik Kabupaten Pelalawan Nama Obat G M Lama Kekosongan Obat ( hari ) S PR PM AH SH AM MS I 30 90 16 5 4 4 30 30 30 15 Jumlah % 39. Persentase Obat Generik yang Rusak di Apotik Kabupaten Pelalawan Total jenis obat generik yang rusak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Total jenis obat generik yang tersedia 82 148 96 86 84 48 100 40 50 Obat generik yang rusak (%) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Apotik GM PR PM AH SI SH AM MS KH Tabel 6.1 1.8 1. 2 24. 7 5.