KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Air bersih merupakan suatu kebutuhan yang sangat vital dalam menunjang sebagian besar aktivitas manusia. Tanpa air bersih, tidak akan ada kehidupan dimuka bumi ini karena dalam tubuh manusia itu sendiri terdiri atas 65% air. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, air bersih juga diperlukan untuk irigasi, tempat wisata, industri dan lain sebagainya. Di daerah pegunungan dan pedesaan, air minum dapat diperoleh dari sumber air atau air tanah yang dapat langsung digunakan sebagai air minum tanpa perlu pengolahan terlebih dahulu. Akan tetapi didaerah perkotaan, dimana air tanah telah tercemar dan ketersediaannya terbatas maka diperlukan tambahan sumber air sebagai air baku. Dan sebagai alternatif lain, digunakan air permukaan berupa air sungai sebagai sumber air yang baru. Namun disadari bahwa kondisi air dari sungai mengalami penurunan kualitas yang cukup besar, apalagi di daerah hilir. Air sungai yang mengalir di hilir menerima beban buangan domestik dari penduduk di sepanjang sungai serta beban dari effluen industri yang tersebar dipinggir sungai. Beban buangan tersebut dapat melebihi kapasitas alami sungai untuk melakukan self purification, akibatnya sungai tercemar dan kualitasnya turun. Oleh sebab itu air baku tersebut memerlukan suatu pengolahan yang memadai agar dapat memenuhi standar kualitas air minum. Dewasa ini, kebutuhan air bersih meningkat tajam seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup pesat. Semakin tinggi jumlah penduduk, maka semakin tinggi pula kebutuhan air bersih. Besarnya kebutuhan air bersih mendasari perencanaan instalasi

pengolahan air minum. Selain itu, faktor yang mendasari adalah sumber air baku untuk air bersih. Pada dasarnya, di alam tidak terdapat sumber air yang benar– benar murni dalam artian sesuai dengan syarat kesehatan. Sehingga diperlukan pengolahan agar air tersebut layak untuk dikonsumsi. Pengolahan air minum memerlukan tempat untuk berlangsungnya proses pengolahan yaitu bangunan pengolahan air minum. Bangunan ini harus

1|Azwari Fikri (H1E108064)

desinfeksi. 1.4 METODE PENULISAN Dalam pembuatan makalah ini. Selain itu pengumpulan data juga di dapat dari pencarian informasi-informasi dari internet. proses koagulasi-fokulasi. sedimentasi.2 BATASAN MASALAH Adapun batasan masalah dari penulisan makalah ini yakni. 1. 1.3 TUJUAN Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah memahami lebih dalam mengenai proses kimia pada unit produksi dalam sistem penyediaan air minum. Perencanaan unit pengolahan air minum ini meliputi intake. koagulasi – flokulasi.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU direncanakan dengan baik agar didapatkan hasil pengolahan yang diinginkan. Selain itu juga untuk mengetahui seberapa efektif koagulasi dan flokulasi pada unit produksi dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi. metode yang digunakan adalah metode kepustakaan. 2|Azwari Fikri (H1E108064) . yaitu koagulasi dan flokulasi. reservoir. filtrasi. yaitu dengan mengumpulkan data-data dari literatur-literatur dan jurnal penelitian yang bersangkutan dengan proses Koagulasi Flokulasi. penentuan dimensi unit instalasi pengolahan air.

Tahap selanjutnya dari proses koagulasi adalah proses flokulasi. Di antara flokulan-flokulan anorganik. Pengadukan cepat untuk mendispersikan koagulan dalam larutan dan mendorong terjadinya tumbukan partikel sangat diperlukan untuk memperoleh proses koagulasi yang bagus. mengikat flok. Mikroflok yang terbentuk pada saat proses koagulasi sebagai akibat penetralan muatan. Tumbukan tersebut akan menyebabkan mikroflok berikatan dan menghasilkan flok yang lebih besar. Pertumbuhan ukuran flok akan terus berlanjut dengan penambahan flokulan atau polimer dengan bobot molekul tinggi. Waktu yang dibutuhkan untuk proses flokulasi berkisar antara 15-20 menit hingga 1 jam. Polimer tersebut menyebabkan terbentuknya jembatan. Tahap awal dimulai dengan proses koagulasi. 1997). memperkuat ikatannya serta menambah berat flok sehingga meningkatkan rate pengendapan flok. Flokulan dapat dikategorikan ke dalam dua jenis. Agregat yang terbentuk akan saling menempel dan menyebabkan terbentuknya partikel yang lebih besar yang dinamakan mikroflok. Biasanya proses koagulasi ini membutuhkan waktu sekitar 1-3 menit. garam-garam dari berbagai 3|Azwari Fikri (H1E108064) . Hal ini dapat terjadi karena elektrolit atau konsentrasi ion yang ditambahkan cukup untuk mengurangi tekanan elektrostatis di antara kedua partikel. Flokulasi disebabkan oleh adanya penambahan sejumlah kecil bahan kimia yang disebut sebagai flokulan (Rath & Singh. dimana mikroflok ini tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. koagulasi melibatkan netralisasi dari muatan partikel dengan penambahan elektrolit. yaitu flokulan organik dan anorganik. Koagulasi dan flokulasi merupakan proses yang terjadi secara berurutan untuk mentidakstabilkan partikel tersuspensi. menyebabkan tumbukan partikel dan tumbuh menjadi flok. Dalam hal ini bahan yang ditambahkan biasanya disebut sebagai koagulan atau dengan jalan mengubah pH yang dapat menghasilkan agregat/kumpulan partikel yang dapat dipisahkan.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU BAB II TINJAUAN PUSTAKA Untuk penghilangan zat-zat berbahaya dari air salah satu cara yang dapat dilakukan adalah proses koagulasi dan flokulasi. akan saling bertumbukan dengan adanya pengadukan lambat.

alginic acid.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU logam seperti aluminium telah banyak digunakan . guar gum adalah polimer alami yang sangat sering digunakan sebagai flokulan. suspended solid halus dengan penambahan koagulan disertai dengan pengadukan cepat untuk mendispersikan bahan kimia secara merata. yaitu dapat mengurangi umur penyimpanan sehingga menurunkan efisiensi karena menurunnya berat molekul (Singh. Sejak pengenalan flokulan polimer sintetik pada tahun 1950. dan sebagainya. Bila koagulan ditambahkan ke dalam air. poly(diallyl dimethil ammonium chloride) (DADMAC). Terapan di luar industri pangan dari material ini adalah untuk penjernih air yang dapat diterapkan untuk pengolahan air dan air limbah. Sifat biodegradable pada polimer alami menjadi kelebihan sekaligus kekurangannya. poly(styrenic sulfonic acid). Flokulan organik alami seperti pati. Pada dasarnya koloid terbagi dua. Pencarian flokulan yang lebih baik terus berlanjut dan digunakan untuk aplikasi yang lebih spesifik dalam industri. poly(acrylic acid). murah. Flokulan organik dapat dibagi lagi ke dalam dua jenis. Starch merupakan salah satu polisakarida yang banyak dihasilkan di Indonesia. 4|Azwari Fikri (H1E108064) . sekarang ini telah banyak dikembangkan flokulanflokulan sintetik lainnya secara komersil. 2000). yakni koloid hidrofilik yang bersifat mudah larut dalam air (soluble) dan koloid hidrofobik yang bersifat sukar larut dalam air (insoluble). reaksi yang terjadi antara lain: * Pengurangan zeta potensial (potensial elektrostatis) hingga suatu titik di mana gaya van der walls dan agitasi yang diberikan menyebabkan partikel yang tidak stabil bergabung serta membentuk flok. Flokulan organik sintetik pada umumnya merupakan polimer linear yang larut air seperti polyacrylamide. Dalam suatu suspensi. selulosa. shear stable. yaitu sintetik dan alami. 2. dkk. dan mudah diperoleh karena diperoleh dari bahan alam yang dapat diperbaharui. koloid tidak mengendap (bersifat stabil) dan terpelihara dalam keadaan terdispersi. karena mempunyai gaya elektrostatis yang diperolehnya dari ionisasi bagian permukaan serta adsorpsi ion-ion dari larutan sekitar. Polimer alam terutama polisakarida bersifat biodegradable.1 KOAGULASI Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid.

dan kecepatan paddle. karena mudah diperoleh dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis koagulan lain. Sedangkan kapur untuk pengontrol pH air yang paling lazim dipakai adalah kapur tohor (CaCO3). Derajat keasaman air (pH). 7. berbagai cara pengadukan dapat dilakukan. bila terlalu rendah ditambah dengan pembubuhan kapur. Temperatur air. * Penangkapan partikel koloid negatif oleh flok-flok hidroksida yang mengendap. Untuk mengatasi hal ini. propeller. Pengadukan Mekanis Dapat dilakukan menggunakan turbine impeller. Karakteristik ion-ion dalam air. maka dilakukan proses recycle sejumlah settled sludge sebelum atau sesudah rapid mixing dilakukan.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU * Agregasi partikel melalui rangkaian inter partikulat antara grup-grup reaktif pada koloid. nilai ini disebut dengan gradien kecepatan (G). 6. 5|Azwari Fikri (H1E108064) . dan kesadahan. rasa. 4. kekeruhan. bau. Agar proses pencampuran koagulan berlangsung efektif dibutuhkan derajat pengadukan > 500/detik. Alkalinitas air. 3. Jumlah dan karakteristik koloid. agar konsentrasi koloid berada pada titik dimana flok-flok dapat terbentuk dengan baik. bila digunakan dosis koagulan yang terlalu besar akan mengakibatkan restabilisasi koloid. 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi antara lain: 1. warna. Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di lapangan adalah alumunium sulfat [Al2(SO4)3]. Untuk mencapai derajat pengadukan yang memadai. atau paddle impeller. Kualitas air meliputi gas-gas terlarut. diantaranya: 1. 2. Untuk suspensi encer laju koagulasi rendah karena konsentrasi koloid yang rendah sehingga kontak antar partikel tidak memadai. Tindakan ini sudah umum dilakukan pada banyak instalasi untuk meningkatkan efektifitas pengolahan. Pengadukan cepat.

Nilai headloss ditentukan menurut tipe pengadukan yang digunakan. besar nilai headloss yang digunakan sangat mempengaruhi efektifitas pengadukan. Pengadukan hidrolis Pengadukan cepat menggunakan sistem hidrolis dilakukan dengan berbagai cara. jenis dan diameter pipa. Metoda ini sangat banyak digunakan pada instalasi-instalasi berukuran kecil dengan tujuan menghemat biaya operasional dan pemeliharaan alat. b. Sementara besar headloss masing-masing tipe pengadukan hidrolis berbeda-beda tergantung pada sistem hidrolis yang dipakai. Untuk pengadukan secara hidrolis. Terjunan hidrolis Metode pengadukan terjunan air merupakan metode pengadukan hidrolis yang simple dalam operasional. 3.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU 2. Aliran dalam pipa Salah satu metoda pengadukan cepat yang paling ekonomis dan simple adalah pengadukan melalui aliran dalam pipa. Metode ini tidak membutuhkan peralatan yang bergerak dan semua peralatan yang digunakan berupa peralatan diam/statis. diantaranya melalui terjunan air. Efektivitas pengadukan dipengaruhi oleh debit. a. Nilai gradien kecepatan dihitung berdasarkan persamaan sebelumnya. aliran dalam pipa. dan aliran dalam saluran. c. Gradien kecepatan diperoleh dengan pengaturan flow rate udara yang diinjeksikan. yaitu terjunan air. dan panjang pipa pengaduk yang digunakan. Besar headloss selama pengadukan dipengaruhi oleh tinggi jarak terjunan yang dirancang. yang paling umum digunakan yaitu pola aliran mendatar (round end baffle channel) dan pola aliran vertikal (over and under baffle). Pengadukan Pneumatis Sistem ini menggunakan penginjeksian udara dengan kompresor pada bagian bawah bak koagulasi. Aliran dalam saluran (baffle) Bentuk aliran dalam saluran baffle ada dua macam. 6|Azwari Fikri (H1E108064) . aliran air dalam pipa. atau aliran dalam saluran (baffle).

dan potassium permanganat. Waktu yang dibutukan untuk zat kimia lain seperti polimer (polyelectrolites). ozone. Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan bagian integral dari proses Koagulasi. tidak optimal karena tidak mengalami reaksi hidrolisis.18H2O] adalah salah satu koagulan yang umum digunakan karena harganya murah dan mudah didapat. chlorine. karena proses hidrolisnya terjadi dalam hitungan detik dan selanjutnya terjadi adsorpsi partikel koloid. Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui air yang diolah. Pengadukan cepat yang efektif sangat penting ketika menggunakan koagulan logam seperti alum dan ferric chloride.1 Koagulasi (Rapid Mixing) Koagulasi didefinisikan sebagai proses destabilisasi muatan koloid padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus. Jenis koagulan yang sering dipakai adalah : a. Alumunium Sulfat (Alum) Alumunium sulfat [Al2(SO4)3.14H2O + 3 Ca(HCO3)2 → 3 CaSO4 + 2 Al(OH)3 + 6 CO2 + 14 H2O 7|Azwari Fikri (H1E108064) . zat kimia alkali.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU Gambar 2. Alkalinitas yang ada di dalam air bereaksi dengan alumunium sulfat (alum) menghasilkan alumunium hidroksida sesuai dengan persamaan: Al2(SO4)3. dengan suatu koagulan. sehingga akan terbentuk flok-flok halus yang dapat diendapkan.

c.0 sampai 9.14H2O + 3 Ca(OH)2 → 3 CaSO4 + 2 Al(OH)3 + 14 H2O Alkalinitas bisa juga ditambahkan dalam bentuk ion karbonat dengan penambahan natrium karbonat.7H2O + 1. pH harus dinaikkan hingga 7. Selain itu. Reaksinya adalah: 2FeSO4. Senyawa Ca(OH)2 dan NaOH biasanya ditambahkan untuk meningkatkan pH sampai titik tertentu dimana ion Fe2+ diendapkan sebagai Fe(OH)3. Ferrous Sulfate (FeSO4) Ferrous Sulfate membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan reaksi yang cepat.5. ferrous sulfate digunakan dengan mereaksikannya dengan klorin dengan reaksi: 3FeSO4. Reaksinya adalah: 2FeCl3 + 3Ca(OH)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaCl2 8|Azwari Fikri (H1E108064) . maka alkalinitas perlu ditambah.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU Bila air tidak mangandung alkalinitas untuk bereaksi dengan alum.0. Ca(OH)2 ditambahkan untuk membentuk hidroksida.7H2O + 2Ca(OH)2 + ½ O2 → 2Fe(OH)3 + 2CaSO4 + 13H2O Agar reaksi diatas terjadi. Biasanya alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida (Ca(OH)2) dengan reaksi: Al2(SO4)3.5-8.0.5Cl2 → Fe2(SO4)3 + FeCl3 + 21H2O Reaksi ini terjadi pada pH rendah sekitar 4. b. Nilai pH optimum untuk alum sekitar 4. Ferric Sulfate dan Ferric Chloride Reaksi sederhana ferric sulfate dengan alkalinitas bikarbonat alam membentuk ferric hydroxide dengan reaksi: Fe2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2 Sedangkan reaksi ferric chloride dengan alkalinitas bikarbonat alami yaitu: 2FeCl3 + 3Ca(HCO3)2 → 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2 Apabila alkalinitas alami tidak cukup untuk reaksi.

KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU Operasional dan Pemeliharaan bak koagulasi seperti: * Pemeriksaan kualitas air baku di laboratorium instalasi sangat diperlukan untuk menentukan dosis koagulan yang tepat. Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya makin lama makin besar serta mudah mengendap. Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan dengan metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses koagulasi. Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap maka bak flokulasi dibagi atas tiga kompartemen. Untuk itu nilai gradien kecepatan proses flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik. pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya mengukur kekeruhan air (turbidity) dan derajat keasaman (pH) air baku. sedangkan pH air baku ditentukan dengan komparator pH. * Pengontrolan debit koagulan yang masuk ke splitter box dilakukan setiap jam oleh operator instalasi.2 FLOKULASI Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada proses koagulasi. dan pada kompartemen ketiga terjadi pemadatan flok. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan mencegah pembentukan flok. dimana pada kompertemen pertama terjadi proses pendewasaan flok. Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam desain bak flokulasi. dan pemeriksaan clogging pada orifice diffuser. sebaliknya jika nilai gradien terlalu rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan. perbedaannya terletak pada nilai gradien kecepatan di mana pada proses flokulasi nilai gradien jauh lebih kecil dibanding gradien kecepatan koagulasi. 2. 9|Azwari Fikri (H1E108064) . Dosis koagulan ditentukan berdasarkan percobaan jar-test. pada kompartemen kedua terjadi proses penggabungan flok. * Pemeriksaan clogging pada saluran/pipa feeding dan pompa pembubuh larutan koagulan dilakukan setiap harinya oleh operator instalasi.

* Pengontrolan kecepatan mixer jika pengadukan dilakukan menggunakan mechanical mixer.2 Flokulasi (Slow Mixing) Operasional dan Pemeliharaan bak flokulasi seperti: * Penyisihan schum yang mengapung pada bak flokulasi dilakukan setiap hari secara manual menggunakan alat sederhana (jala). * Pengontrolan ukuran flok yang terbentuk melalui pengamatan visual. * Pemeriksaan kemungkinan tumbuhnya algae pada dinding tangki dan baffle. Gambar 2. 10 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) .KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU Tujuan dilakukan flokulasi pada air limbah selain lanjutan dari proses koagulasi yaitu:  Meningkatkan penyisihan Suspended Solid (SS) dan BOD dari pengolahan fisik. Pengoperasian mixer membutuhkan perawatan yang lebih besar dari penggunaan flokulator baffle. khususnya limbah industri.  Sebagai pretreatment untuk proses pembentukan secondary effluent dalam filtrasi. biasanya dilakukan pada pagi hari.  Memperlancar proses conditioning air limbah.  Meningkatkan kinerja secondary-clarifier dan proses lumpur aktif.

3 Flokulasi Partikel Koloid 2.3.3 AIR PENENTUAN DIMENSI UNIT PAKET INSTALASI PENGOLAHAN 2.1 Unit koagulasi (pengaduk cepat) Dimensi unit koagulasi (pengaduk cepat) dapat ditentukan dengan rumus: a.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU Gambar 2. Tipe hidrolis dengan jenis pengaduk statis dengan pengertian: Q D adalah Kapasitas pengolahan (m3/detik) adalah diameter pinstalasi pengolahan air (m) 11 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) .

0.) adalah putaran (rpm) gc adalah faktor konversi Newton D K ρ adalah diamater impeller (cm) adalah konstanta experimen (1.0) adalah masa jenis air (g/cm3) 12 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) .KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU v adalah kecepatan aliran (m/det) hf adalah kehilangan tekanan pada pinstalasi pengolahan air dan perlengkapannya (m kolom air) g f k μ C adalah gravitasi (9.cm/det.7 -1) adalah viskositas kinematik air (m2/detik) adalah kapasitas bak (m3) Cn adalah koefisien kekasaran pinstalasi pengolahan air S R ρ adalah kemiringan hidrolis (m/m) adalah jari-jari hidrolis (m) adalah masa jenis air (g/cm3) b.26) adalah koefisien kehilangan melalui perlengkapan pinstalasi pengolahan air (0.02 .81 m/detik) adalah koefisien kehilangan melalui pinstalasi pengolahan air (0.0 – 5. Tipe hidrolis dengan jenis pengaduk mekanis dengan pengertian: P n adalah tenaga yang diperlukan (g.

3.cm/det.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU 2. G (detik-1) kehilangan tekanan pada pinstalasi pengolahan air dan hf adalah μ g perlengkapannya (m kolom air) adalah viskositas kinematik air (m/detik) adalah gravitasi (9. Tipe hidrolis dengan jenis pengaduk statis dengan pengertian: Q p l d adalah kapasitas pengolahan (m3/detik) adalah panjang bak(m) adalah lebar bak (m) adalah tinggi (m) td adalah waktu tinggal (detik) G adalah gradien.0 – 5.81 m/detik2) b.2 Unit flokulasi (pengaduk lambat) Dimensi unit flokulasi (pengaduk lambat) dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut: a.) adalah putaran (rpm) gc adalah faktor konversi Newton D K ρ adalah diamater impeller (cm) adalah konstanta experimen (1.0) adalah masa jenis air (g/cm3) 13 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) . Tipe hidrolis dengan jenis pengaduk mekanis dengan pengertian: P n adalah tenaga yang diperlukan (g.

1982): dimana: G P = Gradien kecepatan. Pertama dengan mengurangi muatan elektrostatis sehingga menurunkan nilai potensial zeta dari koloid. Menurut Von Smoluchowski (Fair. Kedua adalah memberikan kesempatan kepada partikel untuk saling bertumbukan dan bergabung. nk dan nl adalah banyaknya partikel k dan l. akibatnya penambahan gaya mekanis seperti pengadukan akan mempermudah terjadinya tumbukan yang akan dilanjutkan dengan penggabungan partikel-partikel yang akan membentuk flok yang berukuran lebih besar. et al.4 PROSES KOAGULASI-FLOKULASI Cara mendestabilkan partikel dilakukan dalam dua tahap. Jkl adalah banyaknya tumbukan (volume per waktu). serta dv/dz adalah gradien geseran yang dapat diganti dengan G (gradien kecepatan). dk dan dl adalah diameter partikel k dan l. kecepatan penggabungan dua partikel dengan diameter berbeda akan sebanding dengan konsentrasi partikel. Di dalam air PAC akan terdisosisi melepaskan kation Al3+ yang akan menurunkan zeta potensial dari partikel. 1968). detik–1 = daya yang diberikan. Sehingga gaya tolak-menolak antar partikel menjadi berkurang. Koagulasi dan flokulasi adalah proses fisika-kimia dimana diperlukan energi dan waktu agar proses dapat berlangsung. proses ini lazim disebut sebagai koagulasi. cara ini dapat dilakukan dengan cara pengadukan. Camp dan Stein mengembangkan persamaan untuk menghitung besar energi dan waktu dengan konsep gradien kecepatan (G) sebagai berikut (Reynold. Pengurangan muatan elektris dilakukan dengan menambahkan koagulan seperti PAC. gradien kecepatan dan jumlah jari-jari dari partikel yang bergabung. (J/detik) 14 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) .KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU 2. kg m2/dtk3 . Dalam persamaan diatas. dan disebut sebagai flokulasi.

KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU μ C ε ρ g = viskositas absolut zat cair.5 fps. m3/dtk = massa jenis air. kg/m3 = kecepatan grafitasi. Harga gradien kecepatan mempunyai jangkauan yang hampir sama. dimana: P Q ρ g = energi yang dibutuhkan. m td = waktu detensi. m/detik2 hf = kehilangan tekanan yang terjadi. Kriteria desain yang umum digunakan dalam rancangan flokulator. Energi input dari masing-masing jenis flokulator dihitung dengan rumus yang berbeda. dimana mikroflok hasil koagulasi mulai menggumpalkan partikel menjadi flok-flok yang besar (makroflok) dan dapat diendapkan. hp. Tabel. Flokulator yang sering digunakan dalam pengolahan air berdasarkan sumber energi yang digunakan adalah: hidrolis. Secara umum flokulator pneumatis dan mekanis lebih fleksibel dalam power input. pnuematis dan mekanis. Sedangkan flokulator hidrolis tidak fleksibel dalam power input. antara 20 – 70 / detik. Tekanan udara yang dibutuhkan untuk flokulator pneumatis antara 50 – 75 psi. kg/m/detik = kapasitas reaktor. detik Flokulasi merupakan kelanjutan dari proses koagulasi.5 – 2. kg/m3 = kecepatan gravitasi. Kecepatan aliran bervariasi antara 0. Kriteria desain untuk masing –masing jenis flokulator disajikan dalam tabel 1. m3 = total daya yang ditimbulkan per satuan massa cairan = massa jenis air.kw = debit. m/dt2 15 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) . dimana diperlukan lahan yang luas walaupun mempunyai keunggulan pada sisi yang lain. Proses penggumpalan ini tergantung dari waktu dan pengadukan lambat dalam air.

KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU h Qa = kehilangan tekan. sehingga seringkali flok yang terjadi pecah kembali. perbedaan kecepatan aliran yang terjadi pada bagian tepi dan tengah reaktor sangat besar. m/dtk CD = koefisien drag A v = luas pengaduk. Selain itu pada flokulator hidrolis. 16 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) . Armundito (2000) meneliti lebih jauh kemungkinan penggunaan media kerikil sebagai flokulator dan memperoleh hasil bahwa ukuran butir kerikil tidak berpengaruh secara nyata bagi pembentukan flok. m2 = kecepatan aliran. Notodarmodjo et al (1998) telah meneliti kemungkinan penggunaan aliran melalui kerikil sebagai media untuk flokulator dengan hasil yang sangat baik. m = debit udara. m/dtk Pada umumnya flokulasi hidrolis mempunyai kekurangan dalam hal fleksibilitas pengaturan hf yang diperlukan sebagai energi untuk proses.

KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU BAB III PENUTUP 3. Proses koagulasi dan flokulasi adalah suatu proses pemisahan partikelpartikel halus penyebab kekeruhan dari dalam air. yaitu proses pengadukan cepat dan lambat. sehingga dapat mempercepat proses pengendapan. Waktu operasinya antara 15 – 30 menit. 2. Rapid mixing:  Hidrolis : terjunan atau hidrolik jump  Mekanis : menggunakan batang pengaduk 3. dimana mikroflok hasil koagulasi mulai menggumpalkan partikel menjadi flok-flok yang besar (makroflok) dan dapat diendapkan. suspended solid halus dengan penambahan koagulan disertai dengan pengadukan cepat (rapid mixing) untuk mendispersikan bahan kimia secara merata. 4.1 KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Pada flokulasi dilakukan pengadukan lambat (slow mixing). sehingga diperoleh suatu kondisi campuran yang homogen. Proses koagulasi dan flokulasi berlangsung dalam dua tahap. Pada proses koagulasi dilakukan pembubuhan bahan kimia yang disebut koagulan. Waktu operasinya antara 30 – 90 detik. misalnya tawas. Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid. Slow mixing:  Pneumatis  Mekanis  Hidrolis 17 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) . Flokulasi merupakan kelanjutan dari proses koagulasi. Koagulan adalah zat kimia yang dapat menggumpalkan partikel-partikel koloid dalam proses koagulasi. Terjadi pembentukan dan pembesaran flok. Pengadukan cepat dimaksudkan untuk meratakan campuran antara koagulan dengan air baku. Pengadukan lambat bertujuan mendapatkan partikelpartikel flokulen yang lebih besar dan lebih berat.

18 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) . gradient kecepatan. dan konsentrasi koagulan. suhu.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU 5. waktu pengadukan. 3. komposisi kimia air baku.2 SARAN Penulis menyarankan dan mengharapkan agar semakin kedepan nanti upaya pengolahan air di Indonesia semakin baik. khususnya PDAM di Kalimantan Selatan agar menyediakan air minum yang benar-benar bermutu bagus. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi adalah: pH. kecepatan pengadukan. Selain itu hendaknya pada tempat-tempat umum diupayakan pembuatan keran air siap minum seperti di kota-kota besar di pulau Jawa.

N. Kimia SMA Jilid 2. Jakarta. 2008. Diakses tanggal 22 Maret 2011.KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA PENGOLAHAN AIR BAKU DAFTAR PUSTAKA Dian. Optimisasi Proses Koagulasi Flokulasi Untuk Pengolahan Air Limbah Industri Jamu. 2004.upi. U. Semarang Standar Nasional Indonesia. UNDIP. Senyawa Organik dan pH. BSN. Sudarmo. 2007. TSS.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2007/fitriani%20ratnasar i%20dewi%20(044642)/KOAGULASIjadi. Jakarta. 2004. Bandung 19 | A z w a r i F i k r i ( H 1 E 1 0 8 0 6 4 ) . Suprihanto. Kajian Unit Pengolahan Menggunakan Media Berbutir dengan Parameter Kekeruhan. SNI 6774. ITB.html. R. Hal 198 http://kimia. Erlangga.