Ketrampilan dasar terkait dengan pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi

DEFINISI GANGGUAN ELIMINASI FEKAL Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar, mengakibatkan jarang buang air besar, keras, feses kering. Untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah, baik huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat melalui anus sampai ke kolon desenden dengan menggunakan kanul rekti. MASALAH-MASALAH GANGGUAN ELIMINASI FEKAL Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan yaitu: A. Konstipasi, Merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air diserap. B. Impaction Merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid. C. Diare Merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. D. Inkontinensia fecal, yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik. Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat. E. Flatulens Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. F. Hemoroid yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi 2.1.3 TANDA DAN GEJALA GANGGUAN ELIMINASI FEKAL a. Konstipasi - Menurunnya frekuensi BAB - Pengeluaran feses yang sulit, keras dan mengejan - Nyeri rektum b. Impaction - Tidak BAB - anoreksia - Kembung/kram - nyeri rektum

nyeri Pemeriksaan Penunjang 1. b.BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk . trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal e. .Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat . Inkontinensia Fekal . Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna: Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses.Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus. Flatulens .Dinding usus meregang dan distended. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi.pembengkakan vena pada dinding rectum . .Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. nyeri dan kram. Pemeriksaan laboratorium urin dan feses 2. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal. respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon.perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang . Makan yang teratur mempengaruhi defekasi.Menumpuknya gas pada lumen intestinal.Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus) f. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan . di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. .1. Cairan Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. menghasilkan feses yang keras. d.merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi .c. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan. penting untuk memperbesar volume feses. serat pada makanan.4 ETIOLOGI Gangguan Eliminasi Fekal a.Gangguan fungsi spingter anal. merasa penuh. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu. Pemeriksaan foto rontgen 3. tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. Hemoroid . Pemeriksaan USG 2. muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan.BAB encer dan jumlahnya banyak . Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine. Diare .feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. penyakit neuromuskuler. Cukupnya selulosa. .

Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. menekan aktivitas peristaltik dan kadangkadang digunakan untuk mengobati diare f. Beberapa menyebabkan diare. Obat-obatan Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi yang normal. Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu refleks defekasi instrinsik. Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses. tapi juga pengontrolannya. Ketika feses masuk kedalam rektum. melemaskan spingter . bisa jadi mempunyai komponen psikologi. Orang dewasajuga mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. kolon sigmoid.penyakit tertentu termasuk diare kronik. Usia. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. berbaring lama. Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses. yang berdampak pada konstipasi d. Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi. Obatobatan tertentu seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl). Meningkatnya stress psikologi Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. menyebabkan konstipasi. Kurang aktifitas. dan didalam rektum. Di antaranya adalahatony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses. Atau seorang klien bisa mengalami fecal inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkterani 2. Sinyal – sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik. c.5 PATOFISIOLOGI Gangguan Eliminasi Fekal Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi penurunan gerak peristaltic dan dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras e. Ditambah lagi orang yagn depresi bisa memperlambat motilitas intestinal. klien bisa mengalami konstipasi. saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 – 4) dan kemudian kembali ke kolon desenden.1. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuskular berkembang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum. kurang berolahraga. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus. sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari chime. Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi. Hal ini juga disebut bowel movement. Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein. seperti ulcus pada collitis. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus. Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang. dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung. Gangguan mobilitas bisa membatasi kemampuan klien untuk merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan. Obat-obatan ini melunakkan feses. g. paralitik ileus. Penyakit. mempermudah defekasi. Akibatnya.cairan memperlambat perjalananchyme di sepanjang intestinal. biasanya antara umur 2 – 3 tahun. pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden. Refleks defekasi kedua yaitu parasimpatis. kecelakaan pada spinal cord dan tumor. kolon sigmoid dan rektum. spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar. Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan stimulus sensori untuk defekasi. Gelombang ini menekan feses kearah anus.

kebiasaan. Gambaran asupan cairan setiap hari. Informasi ini seringkali dapat membantu menjelaskan gejala-gejala yang muncul. perawat mengkaji frekuensi drainase feses. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal. dan metode yang digunakan untuk mempertahankan fungsi ostomi. Hal ini meliputi tipe dan jumlah cairan. Penentuan pola eliminasi klien yang biasa. Klien mungkin harus memperkirakan jumlah cairan dengan menggunakan cara pengukuran yang biasa digunakan dirumah. Gambaran yang klien katakan sebagai “ normal “ atau “ tidak normal “ mungkin berbeda dari faktor dan kondisi yang cenderung meningkatkan eliminasi normal.2. 1. Cairan feses di absorpsi sehingga feses menjadi keras dan terjadi konstipasi. 8. perawat harus memastikan bahwa individu yang melengkapi lembaran pencatatan memahami informasi yang harus ia tulis. Perawat menetapkan jenis makanan yang klien inginkan dalam sehari. Pengkajian penggunaan alat bantuan buatan dirumah. dan iritasi). Informasi ini mungkin merupakan informasi yang paling penting karena pola eliminasi bervariasi dan klien dapat dengan sangat mudah mendeteksi adanya perubahan. sayur –sayuran. Riwayat diet. 1992). 7. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. 10. penggunaan laksatif. konsistensi feses yang biasanya encer atau padat atau lunak atau keras. atau mengambil waktu untuk defekasi selama kurun waktu tertentu dalam satu hari. pembengkakan. Gambaran setiap perubahan terbaru dalam pola eliminasi. Banyak riwayat keperawatan dapat dikelompokkan berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi eliminasi. tipe peralatan yang digunakan. spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan. laksatif atau makanan khusus sebelum defekasi 9. RIWAYAT KEPERAWATAN Riwayat keperawatan memfasilitasi peninjauan ulang pola dan kebiasaan defekasi klien. penampilan dan kondisi stoma (warna. Apabila klien memilki ostomi. Riwayat pembedahan atau penyakit yang mempengaruhi saluran GL. Contoh rutinitas tersebut adalah konsumsi cairan panas. menginfeksi karakteristik feses. karakter feses. Seperti pada penyuluhan klien. 3. Deskripsi klien tentang karakteristik feses. dan meninjau kembali hasil pemeriksaan yang berhubungan. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Riwayat olahraga. Perawat menentukan warna khas feses. sereal. Keberadaan dan status diversi usus. Pengkajian terkini tentang pola defekasi klien yang akurat dapat ditingkatkan dengan meminta klien atau tenaga kesehatan melingkapi lembar pencatatan eliminasi fekal atau defekasi (Doughty. Perawat meminta klien menjelaskan tipe dan jumlah olahraga yang dilakukannya setiap hari secara spesifik. Perawat menghitung penyajian buah – buahan.1 Pengkajian Untuk mengkaji pola eliminasi dan menentukan adanya kalainan. pengkonsumsian makanan tertentu. . 2. 4.anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Termasuk frekuensi dan waktu defekasi dalam sehari. perawat melakukan pengkajian riwayat keparawatan. dan roti. 2. Perawat mengkaji apakah klien menggunakan enema. Identifikasi rutinitas yang dilakukan untuk meningkatkan eliminasi normal. maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses. dan persepsi klien tentang eliminasi fekal memungkinkan perawat menentukan masalah klien. 5. Dengan mengidentifikasi pola normal dan abnormal. pengkajian fisik abdomen. 6.2 ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN ELIMINASI FEKAL 2.

dan warna kulit. Riwayat pengobatan. Inspeksi juga mencakup memeriksa adanya masa. Dalam kondisi normal. Emosi klien dapat mengubah frekuensi defekasi secara bermakna. gelombang peristaltik. suplemen zat besi dan analgesik) yang mungkin mengubah defekasi atau karakteristik feses 12. kesimetrisan. Ketidakmampuan untuk merasakan distensi rektum. gelombang peristaltis tidak terlihat. perawat menentukan orang yang akan membantu klien dan menentukan caranya. 14. Pemeriksaan fisik yang terfokus pada evaluasi PARAMETER STRATEGI PENGKAJIAN Mobilitas Pada klien yang dapat berjalan. . pola pembuluh darah vena. Kegagalan klien untuk berespon terhadap balon kateter berukuran 30 cc ini mengindikasikan adanya kerusakan fungsi Fungsi sfingter anus Inspeksi anus saat beristirahat. Observasi cara klien berjalan. Kemudian lakukan pemeriksaan secara manual sambil meminta klien mengontraksi dan merelaksasikan sfingternya yang diikuti dengan valsalva manuver. Keberadaan feses dalam jumlah besar merupakan indikasi penurunan sensasi dan atau gangguan pada proses pengosongan usus Mulut. Perawat menginspeksi keempat kuadran abdomen untuk melihat warna. mengontraksikan anus secara sadar atau mengedan merupakan indikasi terjadinya kerusakan fungsi Kontraktilitas otot abdomen Instruksikan klien untuk mengedan (atau meminta klien mendorong tangan pemeriksa) sementara mempalpasi dinding abdomen dengan perlahan. Riwayat sosial. jaringan parut. volume dan konsistesi feses di dalam rektum. Tempat klien tinggal dapat mempengaruhi kebiasaan klien dalam defekasi dan berkemih. stoma dan lesi. tetapakan adanya kebutuhan penggunaan peralatan bantuan atau seseorang untuk membantu klien. Mobilitas dan ketangkasan. Pada klien yang menggunakan kursi roda. Masukan kateter urine dengan balon berukuran 30 cc ke dalam rektum. gelombangperistaltik yang terlihat dapat merupakan tanda adanya obstruksi usus. Selama pengkajian. PENGKAJIAN FISIK Perawat melakukan pengkajian fisik sistem dan fungsi tubuh yang kemungkinan dipengaruhi oleh adanya masalah eliminasi. Gigi yang buruk atau struktur gigi yang buruk mempengeruhi kemampuan mengunyah. Klien mungkin memiliki banyak aturan dalam kehidupannya. Namun. lidah. Pengkajian meliputi inspeksi gigi. nada suara. berapa banyak kamar mandi yang tersedia? Apakah klien memilki kamar mandi sendiri atau apakah mereka perlu menggunakan kamar mandi bersamasama yang menyebabkan mereka harus menyesuaikan waktu dalam menggunakan kamar mandi untuk mengakomodasi kebutuhan orang lain yang tinggal bersama mereka? Apakah klien tinggal sendiri. Apabila klien tinggal didalam rumah yang ditempati oleh beberapa orang. Catat tingkat kebutuhan klien akan bantuan untuk berpindah dari kursi ke commode atau ke kamar mandi Ketangkasan Minta klien mendemonstrasikan pergerakan tangan yang akan dibutuhkan untuk memasukan supositoria atau melakukan stimulasi secara manual ( mis. apakah mereka mampu berjalan ke toilet dengan aman? Apakah klien tidak dapat defekasi secara mandiri. Abdomen. observasi emosi klien. gusi klien. Perawat menanyakan apakah klien mengonsumsi obat-obatan (seperti laksatif. dan sikap yang dapat menunjukkan perilaku penting yang mengindikasikan adanya stres. memegang sebuah pensil. memutar jari telunjuk Sensasi anorektal Pada klien yang mengalami rembesan feses tanpa merasa ingin defekasi.11. Status emosional. antasid. 13. gembungkan balon dengan perlahan dan instruksikan klien dengan memberitahu Anda jika ia merasakan distensi rektum. Mobilitas dan ketangkasan klien perlu di evaluasi untuk menentukan perlu tidaknya peralatan atau personel tambahan untuk membantu klien. bentuk. Periksa keberadaan.

orang dewasa setiap hari atau 2-3 kali seminggu Bayi lebih dari 6 kali . Mukosa rektum normalnya lunak dan halus. Klien adalah orang yang paling tepat untuk ditanyai tentang hal ini. Setiap karakteristik feses dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Perawat mempalpasi abdomen untuk melihat adanya masa atau area nyeri tekan. Untuk memeriksa rektum. Bising usus normal terjadi setiap 5-15 detik dan berlangsung selama ½ sampai beberapa detik.Distensi abdomen terlihat sebagai suatu tonjolan abdomen ke arah luar yang menyeluruh. Penting bagi klien untuk rileks. Mendorong jari telunjuk dengan paksa ke dinding rektum atau memasukan jari telunjuk yang terlalu jauh dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Gas di dalam usus. perawat mengoleskan lubrikan ke jari telunjuk. atau gas didalam abdomen. Perawat mengauskultasi abdomen dengan menggunakan stetoskop untuk mengkaji bising usus disetiap kuadran. Masa. inflamasi dan hemoroid. penurunan absorbsi Konstipasi Frekuensi Bervariasi. atau cairan berada dalam rongga peritonium dapat menyebabkan distensi. Peningkatan nada hentakan pada bising usus atau bunyi “tinkling” (bunyi gemerincing) dapat terdengar. tumor berukuran besar. Karakteristik Feses Karakteristik Normal Abnormal Penyebab Abnormal Warna • Bayi : kuning • Orang dewasa : coklat Putih atau warna tanah liat Hitamatau warna ter(melena) Merah Pucat mengandung lemak Tidak ada kandung empedu Pengonsumsian zat besi atau perdarahan saluran Gl bagian atas Perdarahan saluran Gl bagian bawah. perawat memeperhatikan karakter dan frekuensi bising usus. dipengaruhi oleh tipe makanan Perubahan yang berbahaya Darah didalam feses atau infeksi Konsistensi Lunak. Ketegangan otot-otot abdomen mengganggu hasil palpasi organ atau masa yang berada dibawah abdomen tersebut. Kemudian perawat meminta klien mengedan dan saat klien melakukannya. tumor dan cairan menghasilkan bunyi tumpul dalam perkusi. Perawat menginspeksi daerah disekitar anus untuk melihat adanya lesi. Kunci dalam melakukan pengkajian adalah apakah ada perubahan baru yang terjadi. KARAKTERISTIK FESES Menginspeksi karakteristik feses memberikan informasi tentang sifat perubahan eliminasi. Kelainan harus dicatat dengan cermat. perubahan warna. Sfingter biasanya berkonstriksi mengelilingi jari perawat. Pemahaman tentang lima bunyi perkusi juga memungkinkan identifikasi struktur abdominal yang berada dibawah abdomen. cairan. bayi 4-6 kali sehari (jika mengonsumsi ASI) atau 1-3 kali sehari (jika mengonsumsi susu botol). Perkusi mendeteksi lesi. perawat memasukan jari telunjuknya ke dalam sfingter anus yang sedang relaksasi menuju umbilikus klien. perawat melakukan palpasi dengan hati-hati. jika terjadi distensi. Perawat harus mempalpasi semua sisi dinding rektum klien dengan metode tertentu untuk mengetahui adanya nodul atau tekstur yang tidak teratur. Sambil mengauskultasi. seakan direnggangkan. Gas atau flatulen menghasilkan bunyi timpani. Distensi abdomen terasa kencang dan kulit tampak tegang. Rektum. hemoroid Malabsorpsi lemak Bau Bau menyengat. berbentuk Cair Padat Diare. Tidak adanya bising usus atau bising usus yang hipoaktif (bising usus kkurang dari lima kali per menit) terjadi pada obstruksi usus dan gangguan inflamasi. Setelah mengenakan sarung tangan sekali pakai.

Untuk alasan ini. Teknik aseptik medis harus diguanakan selama proses pengambilan spesimen feses. inflamasi PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK Pemeriksaaan laboratorium dan diagnostik menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk mempelajari masalah eliminasi. Perawatkemudian mencatat spesimen yang diambil ke dalam catatan medis klien. diberi label dengan benar pada wadah yang tepat. perawat memberi label dan menutup wadah penampungnya dengan rapat dan Skrining untuk Mendeteksi Kanker Kolon Faktor Resiko usia lebih dari 50 Riwayat keluarga polip kolon atau kanker kolon rektal Riwayat penyakit radang usus (penyakit kolitis. Beberapa pemeriksaan memerlukan penempatan spesimen didalam pengawet kimia. peristaltik yang cepat Unsur-unsur Makanantidak dicerna. penyakit chorn) Tinggal di daerah perkotaan Diet asupan tinggi lemak. Perawat menjelaskan bahwa feses tidak dapat dicampur dengan urine atau air. klien harus berdefekasi ke dalam pispot yang bersih dan kering atau ke wadah khusus yang ditempatkan di bawah tempat duduk toilet. Perawat bertanggung jawab secara langsung untuk memastikan bahwa spesimen di ambil dengan akurat. seperti pengukuran telur dan parasit. renadah serat Tanada Peringatan Perubahan kebiasaan defekasi Perdarahan rektum Tes Skrining Pemeriksaan rektum secara manual yang dilakukan setiap tahun. Institusi menyediakan wadah khusus untuk tempat spesimen feses. bakteri mati. Beberapa tes. Lengkapi dengan formulir laboratorium yang sesuai. Pemeriksaan yang dilakukan oleh laboratorium untuk samar darah (mikroskopik) didalam feses dan kultur feses hanya membutuhkan sedikit sampel. Analisis kandungan feses di laboratorium dapat mendeteksi kondisi patologis seperti tumor. Mencuci tangan sangat penting dilakukan setiap orang yang mungkin akan bersentuhan dengan spesimen. iritasi. materi-materi yang tertelan. orang dewasa lebih dari 3 kali sehari atau kurang dari 1 kali seminggu Hipomitilitas atau hipermitilitas Jumlah 150 gr per hari (orang dewasa) Bentuk Menyerupai diameter rektum Sempit. dan setelah 2 tahun melakukan pemeriksaan dengan hasil negatif. perawat harus mengenakan sarung tangan sekali pakai saat berhubungan dengan spesimen.sehari atau kurang dari satu kali setiap 1-2 hari. pus. infeksi. Karena sekitar 25% bagian feses yang padat merupakan bakteri dari kolon. pigmen empedu. Perawat mengumpulkan sekitar satu inci feses padat atau 15-30 ml feses diare yang encer. Semua materi feses harus disimpandi sepanjang waktu pemeriksaan. setelah klien berusia 50 tahun Proktoskopi yang dilakukan setiap 3-5 tahun setelah klien berusia 50 tahun. membutuhkan spesimen feses . dan dikirim ke laboratorium tepat waktu. materi asing. Seringkali klien dapat mengambil spesimen jika diinstruksikan dengan benar. Setelah mengambil spesimen. Spesimen feses. perdarahan dan infeksi. lendir. lemak. Pemeriksaan untuk mengukur haluaran lemak feses membutuhkan 3-5 hari pengumpulan feses.air Darah. setelah klien berusia 40 tahun Tes guaiak untuk darah samar yang dilakaukan setiap tahun. berbentuk pensil Obstruksi.sel-sel yang melapisis mukosa usus. Penting untuk tidak menunda pengiriman spesimen ke laboratorium. cacing Perdarahan internal.

lobak. Kaji riwayat medis klien yang berupa perdarahan atau gangguan saluran GI 2. Dalam kedaan normal. dan belewa yang tidak masak. Endoskop fiberoptik merupakan sebuah instrumen optik yang dilengkapi dengan lensa pengamat. khususnya faktor budaya. 4. yang menghitung jumlah darah mikroskopik di dalam tes feses. Catat obat-obatan yang dapat menyebabkan perdarahan mukosa saluran GI 3. atau userasi) harus dites dengan menggunakan tes guaiak. Restriksi tersebut termasuk restriksi sebelum pelaksanaan tes yang meliputi menghindari konsumsi daging merah yang setengah masak. sedikit darah dikeluarkan dalam feses setiap hari akibat abrasi minor peremukaan nasofaring dan permukaan mulut. Tes laboratorium umum yang dapat dilakukan dirumah atau disamping tempat tidur klien ialah tes guaiakatau pemeriksaan darah samardi feses (fecal occul blood testing. dan bagian organ tubuh. pembuluh darah. baik sebagai pasien rawat jalan maupun sebagai pasien rawat inap. lobak cina (turnip). Tes ini merupakan tes skrinig diagnostik yang sangat bermanfaat untuk kanker kolon. Alat ini memungkinkan penampakan struktur pada ujung selang dan pemasukan instrumen khusus untuk biopsi. Proktoskopi dan sigmoidoskopi merupakan instrumen yang kaku.yang dihangatkan. Ada karakteristik tertentu yang dimiliki klien. mengangkat pertumbuhan jaringan yang abnormal (polip). Instrumen ini kurang fleksibel dari pada skop fiberoptik dan lebih berpotensi menimbulkan gangguan kenyamanan. Tes guaiak yang paling umum dilakukan adalah pemeriksaan sediaan darah samar (hemoccult slide tes) Pemriksaan diagnostik. Prostokopi terlihat seperti spekulum dengan sebuah lampu. inflamasi usus. dan sebuah sumber cahaya pada bagian ujungnya. Implikasi keperawatan sebelum tes meliputi hal-hal berikut: 1. tumor usus. UGI) atau rektum (memperlihatkan saluran GI dibagian bawah) memungkinkan dokter menginspeksi integritas lendir. Endoskopi atau gastrokopi UGI memungkinkan visualisasi esofagus. Visualisasi struktur GI dapat dilakukan melalui pendekatan langsung ataupun tidak langsung. hernia. Klien melakukan puasa setelah tengah malam. berbentuk selang yang dilengkapi dengan sumber cahaya. Klien yang mendapatkan antikeagulan atau mengalami gangguan perdarahan atau gangguan pada saluran GI yang diketahui menyebabkan perdarahan (mis. Visualisasi langsung.. Klien mendatangani surat persetujuan tindakan. Tes Guaiak. inflamasi mukosa. Instrumen yang dimasukkan ke dalam mulut (memperlihatkan saluran GI bagian atas atau upper GI. Klien mungkin menjalani pemeriksaan diagnostik. Lap tisu . Mengukur Darah Samar di Dalam Feses Langkah Rasional 1. Sebuah gastrokop memampukan dokter mengambil spesimen jaringan (atau biopsi). brokoli. lambung dan duodenum. perubahan vaskular. 2. dan obstruksi. FOBT). Apabila spesimen feses dibiarkan tetap pada suhu ruangan. dan sumber-sumber darah samar dari perdarahan. Tes guaiak membantu memperlihatkan darah yang tidak terdeteksi secara visual. ulkus. Dokter menginspeksi tumor. Rujuk keprogram dokter untuk mendapatkan pengobatan atau modifikasi/pembatasan makanan sebelum pelaksanaan tes. Persiapkan peralatan dan suplai yang dibutuhkan a. Jumlah kehilangan darah lebih besar dari 50 ml yang berasal dari saluran GI bagian atas dapat disebut melena (darah di dalam feses). yang harus dipertimbangkan saat perawat merencanakan program skrining untuk kanker kolon. perubahan bakteriologis yang mengubah hasil pemeriksaan dapat terjadi. Klien tipe obat-obatan yang klien terima. selang fleksibel yang panjang.

6 Pastikan bahwa restriksi dien atau restriksi obat diikuti. Suplai tes darah samar 1. bahkan akibat trauma minor pada mukosa. Baca dan ikuti petunjuk untuk kekhususan jenis preparat darah samar dari bahan karton. Buka penutup preparat dan oleskan samar feses yang tipis pada kertas di kotak yang pertama. 2. Skrining rutin dapat dilakukan oleh perawat Antikoagulan meningkatkan resiko perdarahan pada saluran GI. d. Konsumsi daging mentah dapat menyebabkan hasil positif palsu.b. c. 5 Jelaskan tujuan tes dan bagaimana klien dapat membantu. Sarung tangan sekali pakai. 1988). Avundu. Penggunaan steroid jangka panjang. 11 Lakukan tes preparat darah samar : a. 3. Lrutan developer darah samar. Suplemen zat besi dan vitamin harus dihindari karena dapat memberikan hasil posotif semu (Eastwood. Preparat darah samar dari bahan karton. obat-obatan antiinflamasi nonsteroid dan asam asetilsalisilat dapat mengiritasi mukosa. . Makanan – makanan ini dapat memberikan hasil positif semu. Aplikator terbuat dari kayu. 7 Cuci tangan 8 Kenakan sarung tangan sekali pakai 9 Ambil spesimen feses yang tidak terkontaminasi 10 Gunakan ujung aplikator yang terbuat dari kayu untuk memindahkan sedikit bagian feses dari wadah spesimen ke preparat darah samar dari bahan karton.

Kedua tes memungkinkan dokter mengumpulkan specimen jaringan dan membekukan sumber-sumber perdarahan. 3. 2. perawat mengintruksikan klien untuk tidak makan atau minum sampai refleks menelan kembali pulih (2 sampai 4 jam). kesulitan untuk menelan dan kesulitan bernapas. demam. 4. Mengurangi penyebaran inveksi Mengurangi perpindahan mikroorganisme dari spesimen ke tangan. Perawat menjelaskan bahwa klien akan tidak mampu berbicara ketika endoskop memasuki esophagus. 2. Kertas guaiak di dalam kotak sensitif terhadap kandungan darah dalam feses.Pemahaman klien tentang tujuan pemerikasaan mengakomodasi kerjasama dan meminimalkan rasa cemas. nyeri abdomen. Klien melepaskan gigi palsu 5. perawat menempatkan spatel lidah di bagian belakang klien. Karena tenggorok klien dianestesia. Klien mungkin diizinkan untuk mendapat sarapan ringan. Perawat meletakkan specimen jaringan di dalam wadah yang diberi label dengan benar dan ditutupi dengan rapat. 4. Implikasi keperawatan sebelum tes meliputi hal-hal berikut : 1. Memastikan keakuratan hasil pemeriksaan. Klien menerima enema pada malam sebelum tes dan pagi setelah tes dilakukan. dan kolon sigmoid. Untuk memeriksa adanya refleks menelan. Spesimen ditampung dalam wadah yang kering dan bersih serta ridak terkontaminasi dengan urine. Klien mendatangi surat persetujuan tindakan. Proktoskopi memungkinkan visualisasi anus dan rectum. Implikasi keperawatan selama tes meliputi hal-hal berikut : 1. . Perawat menjelaskan bahwa suara yang serak dan luka pada tenggorokan adalah normal selama beberapa hari. 3. Perawat mempunyai persendian peralatan kedaruratan untuk mengantisipasi jika terjadi komplikasi pernapasan. perawat mengatur posisi klien pada posisi Sims kiri atau posisi lateral kiri. air. 6. Implikasi keperawatn setelah tes meliputi : 1. 2. laksatif merupakan pilihan. Perawat mengobservasi adanya perdarahan. Perawat menjelaskan bahwa klien mungkin akan merasakan sensasi penuh di tenggorokan dan sensasi menelan selama tes. 3. Perawat memberikan obat penenang dan anti-kolinergik sesuai program . rectum. cairan yang dingin dan berkumur dengan menggunakan salin normal meredakan suara yang serak. Perawat menjelaskan bahwa klien akan merasa tidak nyaman dan merasa ingin defekasi saat instrument dimasukkan. 8. 7. Perawat menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan kepada klien. Sigmoidoskopi memungkinkan visualisasi anus. atau tisu toilet Sedikit spesimen sudah cukup untuk mengukur kandungan dalam darah feses.

Perawat mengobservasi adanya perdarahan rectum. Perawat menyediakan swab kapas yang panjang untuk digunakan dokter dalam mengambil lendir. dan demam. 4. Pemeriksaan GI bagian atas adalah pemeriksaan media kontras yang ditelan dengan menggunakan sinar-X. Kadangkala klien perlu menandatangani surat persetujuan tindakan. dokter menggunakan udara untuk mengembangkan usus gunaa visualisasi yang lebih baik. Klien harus mengeluarkan barium untuk mencegah terjadinya impaksi usus. perawat meminta klien berlutut menumpukkan tubuhnya ke atas meja. 6. Perawat menentramkan klien. 2. yang memungkinkan dokter melihat esophagus bagian bawah. Perawat tetap menyelimuti klien dan mengobservasi adanya distress pernapasan (terutama pada klien yang menderita penyakit paru yang tidak dapat menoleransi posisi kepala yang menghadap ke bawah). Implikasi keperawatn selama pelaksanaan tes meliputi hal-hal berikut : 1. Klien dapat mulai mengonsumsi makanan setelah pelaksanaan tes. Implikasi keperawatan selama tes adalah sebagai berikut : 1. 4. dan duodenum. Klien menelan media kontras atau media diberikan sebagai enema. Pelaksaan tes yang berlanjut sampai ke usus kecil (kelanjutan pemeriksaanatas) memungkinkan dokter memerik usus halus. 2. tumor. Perawat menjelaskan bahwa barium memiliki rasa sepei kapur (beberapa persiapan mengandung perasa buatan). suatu substansi radiipaq berwarna putih menyerupai kapur. Implikasi keperawatan sebelum pelaksanaan tes adalah sebagai berikut : 1. Visualisasi tidak langsung. . lambung. perawat menginstruksikan klien untuk meningkatkan asupan cairannya (sekurang-kurangnya 2L setelah pelaksanaan laksatif atau enema. Salah satu media yang paling umum digunakan adalah barium. Klien mulai puasa setelah tengah malam. Klien menandatanganisurat persetujuan tindakan. dan divertikulum. 2. teknisi menjelaskan langkah-langkah selama tes. Dokter mencatat adanya ulsera. 3. Aliran barium yang melalui usus dapat menunjukkan adanya masalah motilitas. Feses berwarna terang sampai barium dikelurkan. Implikasi keperawatn sebelum tes adalah sebagai berikut: 1. Apabila visualisasi tidak memungkinkan (seperti struktuk GI yang lebih dalam). Media kontras biasanya dilengkapi dengan penyedap rasa agar rasanya lebih baik. Implikasi keperawatan setelah tes adalah sebagai berikut : 1. yang diminumkan ke klien seperti milkshake. Implikasi keperawatan setelah tes meliputi hal-hal berikut : 1. nyeri rectum atau abdomen. posisi Sims ke sebelah kiri juga dapat diterima. Barium digunakan dalam pemeriksaan Ugi dan barium enema. Barium enema memungkinkan visualisasi tidak langsung kolon bagian bawah untuk menunjukkan lokasi tumor.5. dokter mengandalkan pemerikasaan sinar-X tidak langsung. 2. Perawat menjelaskan bahwa tes akan berlansung selama beberapa jam memerlukan perubahan posisi yang sering. dan posisi organ yang tidak benar secara anatomi. Perawat meletakkan specimen jaringan ke dalam wadah yang telah diberi label dengan tepat dan ditutup dengan rapat. perawat menjelaskan bahwa ketidaknyamanan yang akan dirasakannya minimal. polip. perawat menjelaskan bahwa klien akan merasa “kembung” (gas pain). 7. kecuali. Tes dilakukan di bagian radiologi. Selama melakukan tes. Dokter juga dapat mendeteksi kelainan letak suatu organ. Apabila meja proktoskop dugunakan. 3. Juga memantau kepatenan organ dan katup pilorik. inflasimasi. Perawat memposisikan klien dengan menekuk lutut klien ke dada dan kepala ke bawah. Perawat menyelimuti klien untuk menghindari terpaparnya bagian tubuh yang tidak perlu dan meminimalkan rasa malu klien. berbaring pada meja pemeriksaan yang keras. Perawat mengingatkan klien untuk mengobservasi adanya darah di dalam feses dan untuk melaporkan adanya perdarahan.

. Apabila klientidak mampu melakukan suatu funsi atau aktivitas. . 2. 5. 2. 3. klien menerima katartik tambahan yang diberikan malalui supositoria. Apabila klien membutuhkan intervensi bedah. Pola defekasi bervariasi pada setiap individu. 2. penyuluhan kepada klien yang sangat penting. Klien mengeluarkan barium setelah paket foto sinar yang pertama (30 menit). anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan ahli terapi enterostoma (perawat ET) dapat menjadi sumber yang berharga. Perawat menginstruksikan klien untuk meningkatkan asupan cairan per oral untuk meningkatkan pengeluaran barium dan untuk meningkatkan pengeluaran barium dan untuk menetralkan efek dehidrasi akibat pemberian katartik. 8. Kadangkala.1763). perawat dan klien harus banyak bekerja sama untuk merencanakan intervensi yang efektif. Dengan demikian.3 Perencanaan Rencana keperawatn harus menetapkan tujuan dan criteria hasil dengan menggabungkan kebiasaan atau rutinitas eliminasi klien sebanyak mungkin. Klien dapat kembali mengonsumsi makanan setelah pelaksanaan tes. b. seperti perubahan citra tubuh atau kerusakan kulit.2. Pada hari pelaksanaan tes. perawat menentukan resiko klien dan kebijaksanaan lembaga untuk memastikan dipertahankannya fungsi usus yang normal. Segelas air pada 8 sampai 10 jam sebelum pelaksanaan tes. Perawat menjelaskan bahwa klien mungkin akan merasa kram dan kekenyangan setelah barium dimasukkan. Masalah-masalah terkait. perawat harus memeberikan perhatian terhadap masalah eliminasi sebanyak memberikan perhatian terhadap masalah yang terkait. Perawat menjelaskan bahwa prosedur yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan. Implikasi keperawatn selama pelaksanaan : 1. Namun pada beberapa kasus. Perawat memantau hasil pelaksanaan enema dan pemberian katartik untuk memastikan bahwa usus telah kosong sebelum tes dilaksanakan. membutuhkan intervensiyang tidak berhubungan dengan kerusakan fungsi usus. d. sangat penting melibatkan keluarga dalam rencana asuhan keperawatn. udara juga dapat dimasukkan. Katartik stimulun. Perawat mengintruksikan klien untuk memantau fesesnya guna melihat adanya barium yang keluar. 7. Likuid jernih untuk makan siang dan makan malam.2.2 Diagnosa Keperawatan Pengkajian keperawatn tentang fungsi usus klien memeberikan informasi yang dapat mengindikasikan adanya masalah eliminasi actual atau potensial atau masalah akibat perubahan eliminasi (lihat kotak diagnose keperawatan pada hlm. perawat membantu klien untuk mempelajari pola eliminasi yang baru. Kemampuan perawat untuk mengindentifikasi diagnose keperawatn yang benar tidak hanya bergantung pada pengkajian yang menyeluruh tetapi juga pada pengenalan batasan karakteristik dan factor-faktor yang dapat mengganggu eliminasi . 6.2. Apabila kebiasaan klien menyebabkan masalah eliminasi. telungkup dan miring). Enema dilakukan sampai usus bersih dari feses. klien mungkin menerima semua posedur berikut pada sore hari sebelum pelaksanaan tes : a. Perawat menjelaskan bahwa klien akan di instruksikan untuk sering mengubah posisi (telentang. foto diulangi untuk memeriksa adanya retensi barium. Karena alasan ini. Seringkali anggota kelurga memiliki kebiasaan eliminasi yang sama tidak efektifnya dengan klien. alur kritis dapat dugunakan untuk mengoordinasi aktivitas tim perawatn kesehatan multidisiplin.dokter mugkin akan memprogramkan katartik atau enema yang ringan. 3. c. 4. atau mengalamikelemahan akibat penyakit. Implikasi keperawatn setelah tes adalah sebagi berikut : 1. Perawat menjelaskan tujuan dilakukannya persiapan usus yang banyak. Persiapan usus bervariasi.

Memahami eliminasi “normal” 2. 5. Perawat menganjurkan klien u tuk mulai menetapkan waktu defekkasi yang paling memungkinkan dalam sehari yang akan dijadikan sebagai rutinitas. klien yang mampu belajar dapat diajarkan tentang kebiasaan defekasi yang efektif. Pintu kamar mandi harus ditutup. Seringkali pengajaran ini paling baik dilakukan selama waktu makan klien. frekuensi.2. Mengikuti program olahraga secara teratur. Untuk memiliki kebiasaan defekasi yang teratur. Contoh Proses Diagnostik Keperawatn untuk Masalah Defekasi AKTIVITAS PENGKAJIAN BATASAN KARAKTERISTIK DIAGNOSA KEPERAWATN Tanyakan klien tentang jadwal rutin defekasinya termasuk kemudahan. serta konsistensi fesesnya. dirumah sakit. seperti stress emosional. atau di fasilitas perawatan jangka panjang. Lampu pemanggil harus selalu ditempatkan di tempat yang dapat dijangkau klien. dan sayur-sayuran. dan factor-faktor yang menstimulasi ataau memperlambat peristalik. Minta klien melengkapi lembar catatan tentang defekasi. perawat harus menawarkan sebuah pispot atau membantu klien mencapai kamar mandi. Mengembangkan kebiasaan defekasi yang teratur.Tujuan perawatan klien dengan masalah eliminasi meliputi hal-hal berikut : 1. Memahami dan memepertahankan asupan cairan dan makanan yang tepat. karena ia tahu bahwa tidak akan terjadi gangguan. Klien juga harus mempelajari pentingnya melakukan defekasi secara teratur dan rutin serta melakukan olahraga secara teratur dan mengambil tindakan yang benar ketika muncul masalah eliminasi. buah. Dirumah. 3. dan waktu defekasi. perawat harus memastikan bahwa rutinitas pengobatan tidak menggangu jadwal defekasi. perawat harus menarik gorden di sekeliling tempat tidur klien sehingga ia dapat berelaksasi.4 Implementasi Keberhasilan intervensi keperawatn bergantung pada upaya meningkatkan pemahaman klien dan keluarganya tentang eliminasi fekal. 6. 2. asupan cairan yang adekuat.2. MENINGKATKAN KEBIASAAN DEFEKASI SECAR TERATUR Salah satu kebiasaan paling yang dapat perawat ajarkan tentang kebiasaan defekasi ialah menetapkan waktu untuk melakukan defekasi. 2. Secara optimal klien akan mampu mengeluarkan fases yang lunak . Memperoleh rasa nyaman. Banyak klien melakukan ritual untuk melakukan defekasi. Di rumah sakit atau di fasilitas perawatn jangka panjang. Apabila klien dipaksa untuk menggunakan pispot di ruangan yang diinapi bersama dengan klien lain. Tanya klien tentang asupan dietnya yang meliputi serat. sejumlah intervensi dapat menstimulasi refleks defekasi. memepengaruhi karakter feses. Memepertahankan integritas kulit. walaupun perawat dapat berdiri di dekat klien sebagai antisipasi kalau klien membutuhkan bantuan. Perawat harus mengajarkan klien dan keluarga tentang diet yang benar. Apabila klien harus menjalani tirah baring atau membutuhkan bantuan dalam berjalan. seorag klien harus mengetahui kapan keinginan untuk defekasi muncul secara normal. biasanya satu jam setelah makan.5 EVALUASI Keefektifan keperawatan bergantung pada keberhasilan dalam mencapai tujuan dan hasil akhir yang diharapkan dari perawatan. 4. Perawat juga harus menjaga privasi klien. atau meningkatkan peristaltic. MENINGKATKAN DEFEKASI NORMAL Untuk membantu klien berdefekasi secara normal dan tanpa rasa tidak nyaman.

Klien akan merasa nyaman dengan protocol ostomi dan mengidentifikasikan protocol tersebut sebagai sesuatu yang dapat dipraktikkan secara pasti. yang diukur berdasarkan interval waktu tertentu dalam suatu periode yang panjang. Klien akan mampu melakukan defekasi secara normal dengan memanipulasi komponen-komponen alamiah dalam kehidupan sehari-hari seperti diet.asupan cairan. Ketergantungan klien pada tindakan bantuan untuk membantu defekasi seperti enema dan penggunaan laksatif. menjadi minimal. Klien juga akan memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk menetapkan pola eliminasi normal dan untuk mendemonstrasikan keberhasialn yang berkelanjutan.secara teratur tanpa merasa nyeri.dan olahraga. . Contoh Evaluasi Intervensi Untuk Konstipasi TUJUAN TINDAKAN EVALUATIF HASIL YANG DIHARAPKAN Klien akan memahami dan mengonsumsi cairan serta makanan yang dibutuhkan untuk meningkatkan pengeluaran fases yang lunak.