huknah

Ketrampilan dasar terkait dengan pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi

DEFINISI GANGGUAN ELIMINASI FEKAL Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar, mengakibatkan jarang buang air besar, keras, feses kering. Untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah, baik huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat melalui anus sampai ke kolon desenden dengan menggunakan kanul rekti. MASALAH-MASALAH GANGGUAN ELIMINASI FEKAL Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan yaitu: A. Konstipasi, Merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air diserap. B. Impaction Merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid. C. Diare Merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. D. Inkontinensia fecal, yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik. Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat. E. Flatulens Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. F. Hemoroid yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi infla-masi dan pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi 2.1.3 TANDA DAN GEJALA GANGGUAN ELIMINASI FEKAL a. Konstipasi - Menurunnya frekuensi BAB - Pengeluaran feses yang sulit, keras dan mengejan - Nyeri rektum b. Impaction - Tidak BAB - anoreksia - Kembung/kram - nyeri rektum

Cairan Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna.nyeri Pemeriksaan Penunjang 1. Hemoroid . . Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna: Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses.merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi .Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus. Diare .c. Inkontinensia Fekal . Flatulens .feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. Pemeriksaan USG 2. b. tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. . merasa penuh. d. Pemeriksaan foto rontgen 3. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal. Pemeriksaan laboratorium urin dan feses 2.BAB encer dan jumlahnya banyak .perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang . Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon. nyeri dan kram.Menumpuknya gas pada lumen intestinal. . Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine.Gangguan fungsi spingter anal. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu. Cukupnya selulosa. . menghasilkan feses yang keras. di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan.4 ETIOLOGI Gangguan Eliminasi Fekal a.Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat . penting untuk memperbesar volume feses. penyakit neuromuskuler.Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus) f. trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal e. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan . serat pada makanan.Dinding usus meregang dan distended. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi.BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk .pembengkakan vena pada dinding rectum .Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa.1.

Di antaranya adalahatony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses.penyakit tertentu termasuk diare kronik. Sinyal – sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuskular berkembang.1. dan didalam rektum. menekan aktivitas peristaltik dan kadangkadang digunakan untuk mengobati diare f. signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 – 4) dan kemudian kembali ke kolon desenden. Atau seorang klien bisa mengalami fecal inkontinentia karena sangat berkurangnya fungsi dari spinkterani 2. Akibatnya. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Orang dewasajuga mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. kecelakaan pada spinal cord dan tumor. mempermudah defekasi. c. Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu refleks defekasi instrinsik. pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden. spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar. tapi juga pengontrolannya. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus. Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses. yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein. Usia. Ditambah lagi orang yagn depresi bisa memperlambat motilitas intestinal. paralitik ileus. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum. Meningkatnya stress psikologi Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Cedera pada sumsum tulang belakan dan kepala dapat menurunkan stimulus sensori untuk defekasi. yang berdampak pada konstipasi d. saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Gangguan mobilitas bisa membatasi kemampuan klien untuk merespon terhadap keinginan defekasi ketika dia tidak dapat menemukan toilet atau mendapat bantuan. berbaring lama. biasanya antara umur 2 – 3 tahun. Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses. Obat-obatan Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi yang normal. dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung. sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari chime. Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi penurunan gerak peristaltic dan dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras e. Hal ini juga disebut bowel movement. menyebabkan konstipasi.5 PATOFISIOLOGI Gangguan Eliminasi Fekal Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang. Kurang aktifitas. Penyakit. seperti ulcus pada collitis. kolon sigmoid. g. Refleks defekasi kedua yaitu parasimpatis.cairan memperlambat perjalananchyme di sepanjang intestinal. kurang berolahraga. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus. bisa jadi mempunyai komponen psikologi. Obat-obatan ini melunakkan feses. Beberapa menyebabkan diare. Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi. Obatobatan tertentu seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl). Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. melemaskan spingter . kolon sigmoid dan rektum. Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi. Ketika feses masuk kedalam rektum. klien bisa mengalami konstipasi.

1 Pengkajian Untuk mengkaji pola eliminasi dan menentukan adanya kalainan. Informasi ini mungkin merupakan informasi yang paling penting karena pola eliminasi bervariasi dan klien dapat dengan sangat mudah mendeteksi adanya perubahan.2 ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN ELIMINASI FEKAL 2. Perawat menetapkan jenis makanan yang klien inginkan dalam sehari. Dengan mengidentifikasi pola normal dan abnormal. Deskripsi klien tentang karakteristik feses. 3. Gambaran setiap perubahan terbaru dalam pola eliminasi. Cairan feses di absorpsi sehingga feses menjadi keras dan terjadi konstipasi. Perawat menghitung penyajian buah – buahan. Banyak riwayat keperawatan dapat dikelompokkan berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi eliminasi. dan persepsi klien tentang eliminasi fekal memungkinkan perawat menentukan masalah klien. Hal ini meliputi tipe dan jumlah cairan. 4. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. RIWAYAT KEPERAWATAN Riwayat keperawatan memfasilitasi peninjauan ulang pola dan kebiasaan defekasi klien. 2. Seperti pada penyuluhan klien. Klien mungkin harus memperkirakan jumlah cairan dengan menggunakan cara pengukuran yang biasa digunakan dirumah. Perawat mengkaji apakah klien menggunakan enema. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya. dan metode yang digunakan untuk mempertahankan fungsi ostomi. maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses. perawat melakukan pengkajian riwayat keparawatan. 5. dan meninjau kembali hasil pemeriksaan yang berhubungan. menginfeksi karakteristik feses. Penentuan pola eliminasi klien yang biasa. 1. 1992). Apabila klien memilki ostomi. .anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. karakter feses. 8. penampilan dan kondisi stoma (warna. sereal. kebiasaan. 6. Termasuk frekuensi dan waktu defekasi dalam sehari. perawat mengkaji frekuensi drainase feses. Keberadaan dan status diversi usus. 2. pembengkakan. pengkajian fisik abdomen. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal. atau mengambil waktu untuk defekasi selama kurun waktu tertentu dalam satu hari. konsistensi feses yang biasanya encer atau padat atau lunak atau keras. Gambaran asupan cairan setiap hari. Informasi ini seringkali dapat membantu menjelaskan gejala-gejala yang muncul. Identifikasi rutinitas yang dilakukan untuk meningkatkan eliminasi normal. Perawat meminta klien menjelaskan tipe dan jumlah olahraga yang dilakukannya setiap hari secara spesifik. Perawat menentukan warna khas feses. Gambaran yang klien katakan sebagai “ normal “ atau “ tidak normal “ mungkin berbeda dari faktor dan kondisi yang cenderung meningkatkan eliminasi normal. Riwayat olahraga. perawat harus memastikan bahwa individu yang melengkapi lembaran pencatatan memahami informasi yang harus ia tulis. tipe peralatan yang digunakan. Pengkajian terkini tentang pola defekasi klien yang akurat dapat ditingkatkan dengan meminta klien atau tenaga kesehatan melingkapi lembar pencatatan eliminasi fekal atau defekasi (Doughty. sayur –sayuran. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan. Pengkajian penggunaan alat bantuan buatan dirumah. Contoh rutinitas tersebut adalah konsumsi cairan panas. Riwayat pembedahan atau penyakit yang mempengaruhi saluran GL. 7. laksatif atau makanan khusus sebelum defekasi 9. dan iritasi). penggunaan laksatif.2. Riwayat diet. 10. pengkonsumsian makanan tertentu. dan roti.

mengontraksikan anus secara sadar atau mengedan merupakan indikasi terjadinya kerusakan fungsi Kontraktilitas otot abdomen Instruksikan klien untuk mengedan (atau meminta klien mendorong tangan pemeriksa) sementara mempalpasi dinding abdomen dengan perlahan. Klien mungkin memiliki banyak aturan dalam kehidupannya. Apabila klien tinggal didalam rumah yang ditempati oleh beberapa orang. apakah mereka mampu berjalan ke toilet dengan aman? Apakah klien tidak dapat defekasi secara mandiri. bentuk. gusi klien. jaringan parut. Perawat menanyakan apakah klien mengonsumsi obat-obatan (seperti laksatif. memegang sebuah pensil. tetapakan adanya kebutuhan penggunaan peralatan bantuan atau seseorang untuk membantu klien. antasid. berapa banyak kamar mandi yang tersedia? Apakah klien memilki kamar mandi sendiri atau apakah mereka perlu menggunakan kamar mandi bersamasama yang menyebabkan mereka harus menyesuaikan waktu dalam menggunakan kamar mandi untuk mengakomodasi kebutuhan orang lain yang tinggal bersama mereka? Apakah klien tinggal sendiri. dan warna kulit. Catat tingkat kebutuhan klien akan bantuan untuk berpindah dari kursi ke commode atau ke kamar mandi Ketangkasan Minta klien mendemonstrasikan pergerakan tangan yang akan dibutuhkan untuk memasukan supositoria atau melakukan stimulasi secara manual ( mis. Periksa keberadaan. Pemeriksaan fisik yang terfokus pada evaluasi PARAMETER STRATEGI PENGKAJIAN Mobilitas Pada klien yang dapat berjalan. Mobilitas dan ketangkasan klien perlu di evaluasi untuk menentukan perlu tidaknya peralatan atau personel tambahan untuk membantu klien. observasi emosi klien. Selama pengkajian. Pengkajian meliputi inspeksi gigi. Kemudian lakukan pemeriksaan secara manual sambil meminta klien mengontraksi dan merelaksasikan sfingternya yang diikuti dengan valsalva manuver. Namun. Abdomen. Masukan kateter urine dengan balon berukuran 30 cc ke dalam rektum. gelombang peristaltik. perawat menentukan orang yang akan membantu klien dan menentukan caranya. lidah. Riwayat pengobatan. Riwayat sosial. Mobilitas dan ketangkasan.11. gelombang peristaltis tidak terlihat. gelombangperistaltik yang terlihat dapat merupakan tanda adanya obstruksi usus. memutar jari telunjuk Sensasi anorektal Pada klien yang mengalami rembesan feses tanpa merasa ingin defekasi. Perawat menginspeksi keempat kuadran abdomen untuk melihat warna. Tempat klien tinggal dapat mempengaruhi kebiasaan klien dalam defekasi dan berkemih. gembungkan balon dengan perlahan dan instruksikan klien dengan memberitahu Anda jika ia merasakan distensi rektum. suplemen zat besi dan analgesik) yang mungkin mengubah defekasi atau karakteristik feses 12. . Keberadaan feses dalam jumlah besar merupakan indikasi penurunan sensasi dan atau gangguan pada proses pengosongan usus Mulut. volume dan konsistesi feses di dalam rektum. dan sikap yang dapat menunjukkan perilaku penting yang mengindikasikan adanya stres. Ketidakmampuan untuk merasakan distensi rektum. Observasi cara klien berjalan. Status emosional. stoma dan lesi. Inspeksi juga mencakup memeriksa adanya masa. Dalam kondisi normal. kesimetrisan. Gigi yang buruk atau struktur gigi yang buruk mempengeruhi kemampuan mengunyah. pola pembuluh darah vena. PENGKAJIAN FISIK Perawat melakukan pengkajian fisik sistem dan fungsi tubuh yang kemungkinan dipengaruhi oleh adanya masalah eliminasi. Emosi klien dapat mengubah frekuensi defekasi secara bermakna. nada suara. 13. Kegagalan klien untuk berespon terhadap balon kateter berukuran 30 cc ini mengindikasikan adanya kerusakan fungsi Fungsi sfingter anus Inspeksi anus saat beristirahat. 14. Pada klien yang menggunakan kursi roda.

inflamasi dan hemoroid. Perawat menginspeksi daerah disekitar anus untuk melihat adanya lesi. atau cairan berada dalam rongga peritonium dapat menyebabkan distensi. jika terjadi distensi. cairan. Mendorong jari telunjuk dengan paksa ke dinding rektum atau memasukan jari telunjuk yang terlalu jauh dapat menyebabkan ketidaknyamanan. perawat mengoleskan lubrikan ke jari telunjuk. atau gas didalam abdomen. hemoroid Malabsorpsi lemak Bau Bau menyengat. perubahan warna. Ketegangan otot-otot abdomen mengganggu hasil palpasi organ atau masa yang berada dibawah abdomen tersebut. perawat memasukan jari telunjuknya ke dalam sfingter anus yang sedang relaksasi menuju umbilikus klien. Sfingter biasanya berkonstriksi mengelilingi jari perawat. Peningkatan nada hentakan pada bising usus atau bunyi “tinkling” (bunyi gemerincing) dapat terdengar. seakan direnggangkan. Untuk memeriksa rektum. KARAKTERISTIK FESES Menginspeksi karakteristik feses memberikan informasi tentang sifat perubahan eliminasi. Bising usus normal terjadi setiap 5-15 detik dan berlangsung selama ½ sampai beberapa detik. perawat melakukan palpasi dengan hati-hati. Tidak adanya bising usus atau bising usus yang hipoaktif (bising usus kkurang dari lima kali per menit) terjadi pada obstruksi usus dan gangguan inflamasi. Perawat mengauskultasi abdomen dengan menggunakan stetoskop untuk mengkaji bising usus disetiap kuadran. berbentuk Cair Padat Diare. penurunan absorbsi Konstipasi Frekuensi Bervariasi. Perawat harus mempalpasi semua sisi dinding rektum klien dengan metode tertentu untuk mengetahui adanya nodul atau tekstur yang tidak teratur. bayi 4-6 kali sehari (jika mengonsumsi ASI) atau 1-3 kali sehari (jika mengonsumsi susu botol). Penting bagi klien untuk rileks. Perkusi mendeteksi lesi. Masa. Kelainan harus dicatat dengan cermat. Klien adalah orang yang paling tepat untuk ditanyai tentang hal ini. Gas atau flatulen menghasilkan bunyi timpani. Gas di dalam usus.Distensi abdomen terlihat sebagai suatu tonjolan abdomen ke arah luar yang menyeluruh. tumor dan cairan menghasilkan bunyi tumpul dalam perkusi. Setelah mengenakan sarung tangan sekali pakai. perawat memeperhatikan karakter dan frekuensi bising usus. Kunci dalam melakukan pengkajian adalah apakah ada perubahan baru yang terjadi. orang dewasa setiap hari atau 2-3 kali seminggu Bayi lebih dari 6 kali . Rektum. Pemahaman tentang lima bunyi perkusi juga memungkinkan identifikasi struktur abdominal yang berada dibawah abdomen. Setiap karakteristik feses dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Distensi abdomen terasa kencang dan kulit tampak tegang. Karakteristik Feses Karakteristik Normal Abnormal Penyebab Abnormal Warna • Bayi : kuning • Orang dewasa : coklat Putih atau warna tanah liat Hitamatau warna ter(melena) Merah Pucat mengandung lemak Tidak ada kandung empedu Pengonsumsian zat besi atau perdarahan saluran Gl bagian atas Perdarahan saluran Gl bagian bawah. Sambil mengauskultasi. Mukosa rektum normalnya lunak dan halus. Perawat mempalpasi abdomen untuk melihat adanya masa atau area nyeri tekan. tumor berukuran besar. Kemudian perawat meminta klien mengedan dan saat klien melakukannya. dipengaruhi oleh tipe makanan Perubahan yang berbahaya Darah didalam feses atau infeksi Konsistensi Lunak.

lemak. dan dikirim ke laboratorium tepat waktu. Setelah mengambil spesimen. materi asing. pigmen empedu. Beberapa tes. Seringkali klien dapat mengambil spesimen jika diinstruksikan dengan benar. Semua materi feses harus disimpandi sepanjang waktu pemeriksaan. Perawat mengumpulkan sekitar satu inci feses padat atau 15-30 ml feses diare yang encer. Karena sekitar 25% bagian feses yang padat merupakan bakteri dari kolon.sel-sel yang melapisis mukosa usus. peristaltik yang cepat Unsur-unsur Makanantidak dicerna. Pemeriksaan untuk mengukur haluaran lemak feses membutuhkan 3-5 hari pengumpulan feses. klien harus berdefekasi ke dalam pispot yang bersih dan kering atau ke wadah khusus yang ditempatkan di bawah tempat duduk toilet. setelah klien berusia 40 tahun Tes guaiak untuk darah samar yang dilakaukan setiap tahun. Spesimen feses. materi-materi yang tertelan. Pemeriksaan yang dilakukan oleh laboratorium untuk samar darah (mikroskopik) didalam feses dan kultur feses hanya membutuhkan sedikit sampel. perawat harus mengenakan sarung tangan sekali pakai saat berhubungan dengan spesimen. pus. Teknik aseptik medis harus diguanakan selama proses pengambilan spesimen feses. bakteri mati. perawat memberi label dan menutup wadah penampungnya dengan rapat dan Skrining untuk Mendeteksi Kanker Kolon Faktor Resiko usia lebih dari 50 Riwayat keluarga polip kolon atau kanker kolon rektal Riwayat penyakit radang usus (penyakit kolitis. Perawat menjelaskan bahwa feses tidak dapat dicampur dengan urine atau air. seperti pengukuran telur dan parasit. Mencuci tangan sangat penting dilakukan setiap orang yang mungkin akan bersentuhan dengan spesimen. membutuhkan spesimen feses . iritasi. berbentuk pensil Obstruksi. setelah klien berusia 50 tahun Proktoskopi yang dilakukan setiap 3-5 tahun setelah klien berusia 50 tahun. Beberapa pemeriksaan memerlukan penempatan spesimen didalam pengawet kimia. renadah serat Tanada Peringatan Perubahan kebiasaan defekasi Perdarahan rektum Tes Skrining Pemeriksaan rektum secara manual yang dilakukan setiap tahun. penyakit chorn) Tinggal di daerah perkotaan Diet asupan tinggi lemak. Lengkapi dengan formulir laboratorium yang sesuai. diberi label dengan benar pada wadah yang tepat. Perawatkemudian mencatat spesimen yang diambil ke dalam catatan medis klien.sehari atau kurang dari satu kali setiap 1-2 hari. Analisis kandungan feses di laboratorium dapat mendeteksi kondisi patologis seperti tumor. dan setelah 2 tahun melakukan pemeriksaan dengan hasil negatif. Institusi menyediakan wadah khusus untuk tempat spesimen feses. orang dewasa lebih dari 3 kali sehari atau kurang dari 1 kali seminggu Hipomitilitas atau hipermitilitas Jumlah 150 gr per hari (orang dewasa) Bentuk Menyerupai diameter rektum Sempit. Perawat bertanggung jawab secara langsung untuk memastikan bahwa spesimen di ambil dengan akurat. Untuk alasan ini. infeksi.air Darah. inflamasi PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK Pemeriksaaan laboratorium dan diagnostik menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk mempelajari masalah eliminasi. cacing Perdarahan internal. Penting untuk tidak menunda pengiriman spesimen ke laboratorium. perdarahan dan infeksi. lendir.

4. lobak. Endoskopi atau gastrokopi UGI memungkinkan visualisasi esofagus. hernia. brokoli. Alat ini memungkinkan penampakan struktur pada ujung selang dan pemasukan instrumen khusus untuk biopsi. Instrumen ini kurang fleksibel dari pada skop fiberoptik dan lebih berpotensi menimbulkan gangguan kenyamanan. Klien yang mendapatkan antikeagulan atau mengalami gangguan perdarahan atau gangguan pada saluran GI yang diketahui menyebabkan perdarahan (mis. inflamasi mukosa. FOBT). yang menghitung jumlah darah mikroskopik di dalam tes feses. Klien melakukan puasa setelah tengah malam. selang fleksibel yang panjang. atau userasi) harus dites dengan menggunakan tes guaiak. lambung dan duodenum. Tes laboratorium umum yang dapat dilakukan dirumah atau disamping tempat tidur klien ialah tes guaiakatau pemeriksaan darah samardi feses (fecal occul blood testing. Catat obat-obatan yang dapat menyebabkan perdarahan mukosa saluran GI 3.yang dihangatkan. Kaji riwayat medis klien yang berupa perdarahan atau gangguan saluran GI 2. Klien mungkin menjalani pemeriksaan diagnostik. Ada karakteristik tertentu yang dimiliki klien. Instrumen yang dimasukkan ke dalam mulut (memperlihatkan saluran GI bagian atas atau upper GI. Rujuk keprogram dokter untuk mendapatkan pengobatan atau modifikasi/pembatasan makanan sebelum pelaksanaan tes. Tes ini merupakan tes skrinig diagnostik yang sangat bermanfaat untuk kanker kolon. Dokter menginspeksi tumor. Persiapkan peralatan dan suplai yang dibutuhkan a. sedikit darah dikeluarkan dalam feses setiap hari akibat abrasi minor peremukaan nasofaring dan permukaan mulut. Endoskop fiberoptik merupakan sebuah instrumen optik yang dilengkapi dengan lensa pengamat. dan sumber-sumber darah samar dari perdarahan. 2. Proktoskopi dan sigmoidoskopi merupakan instrumen yang kaku. baik sebagai pasien rawat jalan maupun sebagai pasien rawat inap. Klien tipe obat-obatan yang klien terima. perubahan vaskular. Lap tisu . dan bagian organ tubuh. UGI) atau rektum (memperlihatkan saluran GI dibagian bawah) memungkinkan dokter menginspeksi integritas lendir. pembuluh darah. lobak cina (turnip).. Tes Guaiak. Tes guaiak yang paling umum dilakukan adalah pemeriksaan sediaan darah samar (hemoccult slide tes) Pemriksaan diagnostik. Prostokopi terlihat seperti spekulum dengan sebuah lampu. yang harus dipertimbangkan saat perawat merencanakan program skrining untuk kanker kolon. Restriksi tersebut termasuk restriksi sebelum pelaksanaan tes yang meliputi menghindari konsumsi daging merah yang setengah masak. dan obstruksi. mengangkat pertumbuhan jaringan yang abnormal (polip). Jumlah kehilangan darah lebih besar dari 50 ml yang berasal dari saluran GI bagian atas dapat disebut melena (darah di dalam feses). Sebuah gastrokop memampukan dokter mengambil spesimen jaringan (atau biopsi). Mengukur Darah Samar di Dalam Feses Langkah Rasional 1. Visualisasi struktur GI dapat dilakukan melalui pendekatan langsung ataupun tidak langsung. khususnya faktor budaya. Apabila spesimen feses dibiarkan tetap pada suhu ruangan. perubahan bakteriologis yang mengubah hasil pemeriksaan dapat terjadi. Implikasi keperawatan sebelum tes meliputi hal-hal berikut: 1. berbentuk selang yang dilengkapi dengan sumber cahaya. Klien mendatangani surat persetujuan tindakan. Dalam kedaan normal. dan belewa yang tidak masak. ulkus. Visualisasi langsung. Tes guaiak membantu memperlihatkan darah yang tidak terdeteksi secara visual. inflamasi usus. dan sebuah sumber cahaya pada bagian ujungnya. tumor usus.

c. 6 Pastikan bahwa restriksi dien atau restriksi obat diikuti. Preparat darah samar dari bahan karton. bahkan akibat trauma minor pada mukosa. obat-obatan antiinflamasi nonsteroid dan asam asetilsalisilat dapat mengiritasi mukosa. . 1988). 7 Cuci tangan 8 Kenakan sarung tangan sekali pakai 9 Ambil spesimen feses yang tidak terkontaminasi 10 Gunakan ujung aplikator yang terbuat dari kayu untuk memindahkan sedikit bagian feses dari wadah spesimen ke preparat darah samar dari bahan karton. d. 11 Lakukan tes preparat darah samar : a. 5 Jelaskan tujuan tes dan bagaimana klien dapat membantu. Penggunaan steroid jangka panjang. Suplemen zat besi dan vitamin harus dihindari karena dapat memberikan hasil posotif semu (Eastwood. Buka penutup preparat dan oleskan samar feses yang tipis pada kertas di kotak yang pertama.b. Aplikator terbuat dari kayu. Makanan – makanan ini dapat memberikan hasil positif semu. Konsumsi daging mentah dapat menyebabkan hasil positif palsu. Lrutan developer darah samar. 3. Avundu. Baca dan ikuti petunjuk untuk kekhususan jenis preparat darah samar dari bahan karton. Sarung tangan sekali pakai. Skrining rutin dapat dilakukan oleh perawat Antikoagulan meningkatkan resiko perdarahan pada saluran GI. Suplai tes darah samar 1. 2.

Pemahaman klien tentang tujuan pemerikasaan mengakomodasi kerjasama dan meminimalkan rasa cemas. Klien menerima enema pada malam sebelum tes dan pagi setelah tes dilakukan. perawat mengatur posisi klien pada posisi Sims kiri atau posisi lateral kiri. Perawat menjelaskan bahwa klien akan tidak mampu berbicara ketika endoskop memasuki esophagus. kesulitan untuk menelan dan kesulitan bernapas. 2. Kedua tes memungkinkan dokter mengumpulkan specimen jaringan dan membekukan sumber-sumber perdarahan. Implikasi keperawatn setelah tes meliputi : 1. Perawat menjelaskan bahwa suara yang serak dan luka pada tenggorokan adalah normal selama beberapa hari. cairan yang dingin dan berkumur dengan menggunakan salin normal meredakan suara yang serak. 4. Perawat menjelaskan bahwa klien mungkin akan merasakan sensasi penuh di tenggorokan dan sensasi menelan selama tes. Perawat meletakkan specimen jaringan di dalam wadah yang diberi label dengan benar dan ditutupi dengan rapat. Klien mendatangi surat persetujuan tindakan. atau tisu toilet Sedikit spesimen sudah cukup untuk mengukur kandungan dalam darah feses. Implikasi keperawatan sebelum tes meliputi hal-hal berikut : 1. 2. Memastikan keakuratan hasil pemeriksaan. 3. Perawat mempunyai persendian peralatan kedaruratan untuk mengantisipasi jika terjadi komplikasi pernapasan. rectum. Perawat menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan kepada klien. 3. perawat menempatkan spatel lidah di bagian belakang klien. 7. Karena tenggorok klien dianestesia. perawat mengintruksikan klien untuk tidak makan atau minum sampai refleks menelan kembali pulih (2 sampai 4 jam). Klien mungkin diizinkan untuk mendapat sarapan ringan. laksatif merupakan pilihan. Proktoskopi memungkinkan visualisasi anus dan rectum. Sigmoidoskopi memungkinkan visualisasi anus. Kertas guaiak di dalam kotak sensitif terhadap kandungan darah dalam feses. Implikasi keperawatan selama tes meliputi hal-hal berikut : 1. Perawat menjelaskan bahwa klien akan merasa tidak nyaman dan merasa ingin defekasi saat instrument dimasukkan. Perawat memberikan obat penenang dan anti-kolinergik sesuai program . air. dan kolon sigmoid. Mengurangi penyebaran inveksi Mengurangi perpindahan mikroorganisme dari spesimen ke tangan. 2. 4. demam. . nyeri abdomen. Spesimen ditampung dalam wadah yang kering dan bersih serta ridak terkontaminasi dengan urine. Perawat mengobservasi adanya perdarahan. Untuk memeriksa adanya refleks menelan. 6. 3. 8. Klien melepaskan gigi palsu 5.

Dokter juga dapat mendeteksi kelainan letak suatu organ. Barium enema memungkinkan visualisasi tidak langsung kolon bagian bawah untuk menunjukkan lokasi tumor. dokter menggunakan udara untuk mengembangkan usus gunaa visualisasi yang lebih baik. Juga memantau kepatenan organ dan katup pilorik. Tes dilakukan di bagian radiologi. 4. Implikasi keperawatan setelah tes adalah sebagai berikut : 1. kecuali. Perawat menjelaskan bahwa tes akan berlansung selama beberapa jam memerlukan perubahan posisi yang sering. Perawat mengingatkan klien untuk mengobservasi adanya darah di dalam feses dan untuk melaporkan adanya perdarahan. berbaring pada meja pemeriksaan yang keras. Apabila meja proktoskop dugunakan. Klien dapat mulai mengonsumsi makanan setelah pelaksanaan tes. 2. perawat menginstruksikan klien untuk meningkatkan asupan cairannya (sekurang-kurangnya 2L setelah pelaksanaan laksatif atau enema. . posisi Sims ke sebelah kiri juga dapat diterima. 4. perawat menjelaskan bahwa ketidaknyamanan yang akan dirasakannya minimal. Pelaksaan tes yang berlanjut sampai ke usus kecil (kelanjutan pemeriksaanatas) memungkinkan dokter memerik usus halus. dan posisi organ yang tidak benar secara anatomi. inflasimasi. 6. Perawat meletakkan specimen jaringan ke dalam wadah yang telah diberi label dengan tepat dan ditutup dengan rapat. Perawat menyediakan swab kapas yang panjang untuk digunakan dokter dalam mengambil lendir. Feses berwarna terang sampai barium dikelurkan. dan duodenum. Visualisasi tidak langsung. Media kontras biasanya dilengkapi dengan penyedap rasa agar rasanya lebih baik. Implikasi keperawatan sebelum pelaksanaan tes adalah sebagai berikut : 1. Aliran barium yang melalui usus dapat menunjukkan adanya masalah motilitas. tumor. nyeri rectum atau abdomen. yang memungkinkan dokter melihat esophagus bagian bawah. Perawat mengobservasi adanya perdarahan rectum. dan divertikulum. Apabila visualisasi tidak memungkinkan (seperti struktuk GI yang lebih dalam). Klien harus mengeluarkan barium untuk mencegah terjadinya impaksi usus. suatu substansi radiipaq berwarna putih menyerupai kapur. Implikasi keperawatan setelah tes meliputi hal-hal berikut : 1. Perawat menyelimuti klien untuk menghindari terpaparnya bagian tubuh yang tidak perlu dan meminimalkan rasa malu klien. Perawat menentramkan klien. polip. Klien menelan media kontras atau media diberikan sebagai enema. yang diminumkan ke klien seperti milkshake. 7.5. Klien menandatanganisurat persetujuan tindakan. Perawat memposisikan klien dengan menekuk lutut klien ke dada dan kepala ke bawah. Perawat tetap menyelimuti klien dan mengobservasi adanya distress pernapasan (terutama pada klien yang menderita penyakit paru yang tidak dapat menoleransi posisi kepala yang menghadap ke bawah). perawat meminta klien berlutut menumpukkan tubuhnya ke atas meja. teknisi menjelaskan langkah-langkah selama tes. Barium digunakan dalam pemeriksaan Ugi dan barium enema. 2. Implikasi keperawatn selama pelaksanaan tes meliputi hal-hal berikut : 1. 2. 3. perawat menjelaskan bahwa klien akan merasa “kembung” (gas pain). 3. 2. Implikasi keperawatn sebelum tes adalah sebagai berikut: 1. Klien mulai puasa setelah tengah malam. Pemeriksaan GI bagian atas adalah pemeriksaan media kontras yang ditelan dengan menggunakan sinar-X. dan demam. Implikasi keperawatan selama tes adalah sebagai berikut : 1. lambung. Salah satu media yang paling umum digunakan adalah barium. Dokter mencatat adanya ulsera. Perawat menjelaskan bahwa barium memiliki rasa sepei kapur (beberapa persiapan mengandung perasa buatan). Selama melakukan tes. dokter mengandalkan pemerikasaan sinar-X tidak langsung. Kadangkala klien perlu menandatangani surat persetujuan tindakan.

Kemampuan perawat untuk mengindentifikasi diagnose keperawatn yang benar tidak hanya bergantung pada pengkajian yang menyeluruh tetapi juga pada pengenalan batasan karakteristik dan factor-faktor yang dapat mengganggu eliminasi .2. 2.dokter mugkin akan memprogramkan katartik atau enema yang ringan. Karena alasan ini. perawat harus memeberikan perhatian terhadap masalah eliminasi sebanyak memberikan perhatian terhadap masalah yang terkait. 7. Katartik stimulun. Masalah-masalah terkait.2. Perawat memantau hasil pelaksanaan enema dan pemberian katartik untuk memastikan bahwa usus telah kosong sebelum tes dilaksanakan. . sangat penting melibatkan keluarga dalam rencana asuhan keperawatn. 6.2. Apabila klien membutuhkan intervensi bedah. 3. perawat membantu klien untuk mempelajari pola eliminasi yang baru. b. klien mungkin menerima semua posedur berikut pada sore hari sebelum pelaksanaan tes : a. Klien mengeluarkan barium setelah paket foto sinar yang pertama (30 menit).3 Perencanaan Rencana keperawatn harus menetapkan tujuan dan criteria hasil dengan menggabungkan kebiasaan atau rutinitas eliminasi klien sebanyak mungkin. perawat dan klien harus banyak bekerja sama untuk merencanakan intervensi yang efektif. Likuid jernih untuk makan siang dan makan malam. Persiapan usus bervariasi. 8. seperti perubahan citra tubuh atau kerusakan kulit. Pola defekasi bervariasi pada setiap individu. Perawat menjelaskan bahwa prosedur yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan. telungkup dan miring). Segelas air pada 8 sampai 10 jam sebelum pelaksanaan tes. 2. Implikasi keperawatn selama pelaksanaan : 1. Kadangkala. Namun pada beberapa kasus. anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan ahli terapi enterostoma (perawat ET) dapat menjadi sumber yang berharga.1763). Perawat menjelaskan bahwa klien akan di instruksikan untuk sering mengubah posisi (telentang. perawat menentukan resiko klien dan kebijaksanaan lembaga untuk memastikan dipertahankannya fungsi usus yang normal. Perawat mengintruksikan klien untuk memantau fesesnya guna melihat adanya barium yang keluar. Apabila kebiasaan klien menyebabkan masalah eliminasi. Implikasi keperawatn setelah tes adalah sebagi berikut : 1. Enema dilakukan sampai usus bersih dari feses. d.2 Diagnosa Keperawatan Pengkajian keperawatn tentang fungsi usus klien memeberikan informasi yang dapat mengindikasikan adanya masalah eliminasi actual atau potensial atau masalah akibat perubahan eliminasi (lihat kotak diagnose keperawatan pada hlm. Perawat menjelaskan tujuan dilakukannya persiapan usus yang banyak. Apabila klientidak mampu melakukan suatu funsi atau aktivitas. udara juga dapat dimasukkan. klien menerima katartik tambahan yang diberikan malalui supositoria. foto diulangi untuk memeriksa adanya retensi barium. c. Perawat menginstruksikan klien untuk meningkatkan asupan cairan per oral untuk meningkatkan pengeluaran barium dan untuk meningkatkan pengeluaran barium dan untuk menetralkan efek dehidrasi akibat pemberian katartik. 3. membutuhkan intervensiyang tidak berhubungan dengan kerusakan fungsi usus. 4. alur kritis dapat dugunakan untuk mengoordinasi aktivitas tim perawatn kesehatan multidisiplin. Klien dapat kembali mengonsumsi makanan setelah pelaksanaan tes. atau mengalamikelemahan akibat penyakit. Perawat menjelaskan bahwa klien mungkin akan merasa kram dan kekenyangan setelah barium dimasukkan. Pada hari pelaksanaan tes. penyuluhan kepada klien yang sangat penting. 2. Dengan demikian. Seringkali anggota kelurga memiliki kebiasaan eliminasi yang sama tidak efektifnya dengan klien.. 5.

Memperoleh rasa nyaman. serta konsistensi fesesnya. buah. Secara optimal klien akan mampu mengeluarkan fases yang lunak .2. walaupun perawat dapat berdiri di dekat klien sebagai antisipasi kalau klien membutuhkan bantuan. Mengikuti program olahraga secara teratur. dirumah sakit. Mengembangkan kebiasaan defekasi yang teratur. MENINGKATKAN KEBIASAAN DEFEKASI SECAR TERATUR Salah satu kebiasaan paling yang dapat perawat ajarkan tentang kebiasaan defekasi ialah menetapkan waktu untuk melakukan defekasi. Contoh Proses Diagnostik Keperawatn untuk Masalah Defekasi AKTIVITAS PENGKAJIAN BATASAN KARAKTERISTIK DIAGNOSA KEPERAWATN Tanyakan klien tentang jadwal rutin defekasinya termasuk kemudahan. Minta klien melengkapi lembar catatan tentang defekasi. 5.Tujuan perawatan klien dengan masalah eliminasi meliputi hal-hal berikut : 1. 2. sejumlah intervensi dapat menstimulasi refleks defekasi. Klien juga harus mempelajari pentingnya melakukan defekasi secara teratur dan rutin serta melakukan olahraga secara teratur dan mengambil tindakan yang benar ketika muncul masalah eliminasi. 4. Memepertahankan integritas kulit. 3. perawat harus menarik gorden di sekeliling tempat tidur klien sehingga ia dapat berelaksasi. Pintu kamar mandi harus ditutup. Perawat menganjurkan klien u tuk mulai menetapkan waktu defekkasi yang paling memungkinkan dalam sehari yang akan dijadikan sebagai rutinitas. Memahami eliminasi “normal” 2.2. Memahami dan memepertahankan asupan cairan dan makanan yang tepat. biasanya satu jam setelah makan. karena ia tahu bahwa tidak akan terjadi gangguan. 2. Perawat juga harus menjaga privasi klien. Di rumah sakit atau di fasilitas perawatn jangka panjang. dan factor-faktor yang menstimulasi ataau memperlambat peristalik. Lampu pemanggil harus selalu ditempatkan di tempat yang dapat dijangkau klien. Seringkali pengajaran ini paling baik dilakukan selama waktu makan klien. atau di fasilitas perawatan jangka panjang. Untuk memiliki kebiasaan defekasi yang teratur.5 EVALUASI Keefektifan keperawatan bergantung pada keberhasilan dalam mencapai tujuan dan hasil akhir yang diharapkan dari perawatan. Perawat harus mengajarkan klien dan keluarga tentang diet yang benar. Dirumah. Banyak klien melakukan ritual untuk melakukan defekasi. perawat harus menawarkan sebuah pispot atau membantu klien mencapai kamar mandi. asupan cairan yang adekuat. Apabila klien harus menjalani tirah baring atau membutuhkan bantuan dalam berjalan. perawat harus memastikan bahwa rutinitas pengobatan tidak menggangu jadwal defekasi. seorag klien harus mengetahui kapan keinginan untuk defekasi muncul secara normal. atau meningkatkan peristaltic. frekuensi. memepengaruhi karakter feses. dan sayur-sayuran. seperti stress emosional. Tanya klien tentang asupan dietnya yang meliputi serat. klien yang mampu belajar dapat diajarkan tentang kebiasaan defekasi yang efektif. MENINGKATKAN DEFEKASI NORMAL Untuk membantu klien berdefekasi secara normal dan tanpa rasa tidak nyaman. Apabila klien dipaksa untuk menggunakan pispot di ruangan yang diinapi bersama dengan klien lain. 6. dan waktu defekasi.4 Implementasi Keberhasilan intervensi keperawatn bergantung pada upaya meningkatkan pemahaman klien dan keluarganya tentang eliminasi fekal.

. Ketergantungan klien pada tindakan bantuan untuk membantu defekasi seperti enema dan penggunaan laksatif. yang diukur berdasarkan interval waktu tertentu dalam suatu periode yang panjang. Contoh Evaluasi Intervensi Untuk Konstipasi TUJUAN TINDAKAN EVALUATIF HASIL YANG DIHARAPKAN Klien akan memahami dan mengonsumsi cairan serta makanan yang dibutuhkan untuk meningkatkan pengeluaran fases yang lunak.dan olahraga.asupan cairan. menjadi minimal. Klien juga akan memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk menetapkan pola eliminasi normal dan untuk mendemonstrasikan keberhasialn yang berkelanjutan. Klien akan mampu melakukan defekasi secara normal dengan memanipulasi komponen-komponen alamiah dalam kehidupan sehari-hari seperti diet.secara teratur tanpa merasa nyeri. Klien akan merasa nyaman dengan protocol ostomi dan mengidentifikasikan protocol tersebut sebagai sesuatu yang dapat dipraktikkan secara pasti.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful