Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I.

Pengertian Ilmu Fiqih

Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur’an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-

pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) ‘Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi ‘Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad ‘Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada ‘Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka ‘Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan ‘Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. ‘Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka ‘Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian

persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu

Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur’an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti. Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah. 2. Abdullah Ibnu Mas’ud, mengembangkan perguruannya di Kufah. 3. Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah. 4. Abdullah bin ‘Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). 6. Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah. 7. Aisyah, Ummul Mukminin

Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. Amru bin Dinar 6. tentu aku lakukan. 11. Abu Musa Al-Asy’ari. Ikrimah maula Ibnu Abbas . Masa Tabi’in Para tabi’in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. 2. Para tabi’in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Ubaidillah bin Abdullah Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. Said bin Al Musayyab 2. Mujahid bin Jabar 4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. maka Ubay bin Ka’ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. Urwah bin Zubair 3. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. Umar berkata : “Kalau aku. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. C. Ubay bin Ka’ab. Sulaiman bin Yasar 7. Abu Hurairah. Thawus bin Kisan 3. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. 9. Pada masa tabi’in mereka melakukan dua peranan penting. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. Atha’ bin Abi Rabah 2. Apabila hal itu telah terjadi. 2. oleh Ali dan Zaid”. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Ubaid bin Umar 5.8. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. mengembangkan perguruannya di Basrah. 5. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu hal. sedangkan ra’yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Abu Darda’. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra’yu (ijtihad akal). Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. 10. mengembangkan perguruannya di Basrah. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. 4. tentu aku akan menghukumi demikian”. 3. yaitu : 1. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu.

Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. yaitu : 1. 5. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. Amru bin Salamah 2. Hasan Al Basri 5. 5. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. Muhammad bin Tsur 5. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). ‘Urwah bin Zubair (wafar 94 H). Ka’ab bin Sud 4. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Abu Bakar bin ‘Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). Yahya bin Yahya 2. Ahli hadits. Rabi’ bin Khutsam. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab’ah) Mereka adalah para tabi’in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). Qasim bin Muhammad 5. . Hisyam bin Yusuf 4. Masruq bin Al Ajda. Al Hamdany 3. Syuraih al Qadhy 4. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. guru Umar bin Abdul Azis. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. ‘Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud (wafat 99 H). Abu Maryam al-Hanafy 3. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Bakir bin Abdillah 3. Abdul Malik bin Habib 3. 4. Abdul Raziq bin Hamman 3. Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Qadly. 2. Yazid bin Abi Habib 2. Baqi bin Makhlad 4. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Muhammad bin Sirin 6.Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. 2. 3. keponakan Aisyah Ummul Mukminin.

” Imam Malik berkata : “Subhanallah. Abu Ishaq As Syuba’I. Said bin abi ‘Arubah. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Imam Syafi’i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah.” Mengenai metode Ijtihadnya. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. 7. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Syarikh Al Qadly. Ibnu Abdul hakam. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Ma’mar bin Rasyid. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak.6. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Abdullah bin Umar. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. Maimunah dan Ummu Salamah. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Abu Hurairah. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Malik bin Anas. Al Muzny. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur’an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. Sa’id bin Salim Al-Qadah. mempelajari qiraat dari Imam ‘Ashim (salah satu qurra’ tujuh). Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. ‘Amru Abdurrahman bin ‘Amru Al Auzay. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur’an). Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. Abdurrahman bin Hurmuz. Hammad bin Salamah. Abu Yusuf Al Qadly. Aisyah. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. Masa Tabi’t Tabi’in dan Imam Mazhab. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Sufyan Tsauri. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha’ bin Abi Rabah. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. D. Nasehat Syabi’ berkesan di hati Abu Hanifah. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Muhib bin Disar. Muhammad bin Mukandar. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Nafi Maula Abdullah bin Umar. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya’bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur’an) jika saya mendapatkannya. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. Setelah itu saya tidak akan keluar . Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Abdullah bin Syubramah. Abdullah bin Zubair al Humaidy.

Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. Al-Mabshuth. menggunakan porsi ra’yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. 3. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Jami’ul Kabir. AS-Sairus Kabir. akhrinya dokter datang…. 7. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. 4. karya : Muhammad bin Al Hasan. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Al-Jami’us Shaghir. Jika telah sampai kepada Ibrahim. karya : Abdul Fadha’ Hammad bin Ahmad. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. As-Sairus Shaghir. Fatwa Shabat 5. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. Pada tahun 150 H. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. 3. karya : Muhammad bin Al Hasan. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. Kalau tidak. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. 2. Al-Qur’an 2.dalam fatwa selain mereka. 6. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur dinasti Abbasyah.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. Kasusnya hampir sama. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). karya : Muhammad bin Al Hasan. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Ijma’ 4. Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. karya : Muhammad bin Al Hasan. Al-Mabshuth. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa’iq). karya : Muhammad bin Al Hasan. Hadits dari riwayat kepercayaan. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. Az-Zidayat. karya : Muhammad bin Al Hasan. sehingga hadirnya fiqih”. Tentang Masailul Nawadhir : . Qiyas 6. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. 8. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah. Ibnu Sirin. muamalah dikalangan manusia) Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih. lahir Imam Syafi’i. Al-Kafi. Al-Dabussi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. Ibnu Musayyab dan lainnya. 5. Sya’bi. sedangkan ia tidak memahami. pasti dia akan mengikutinya. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Begitu juga dari sahabat dan tabi’in. pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. 7.

Jurjaniyat. Abu Salamah. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari ‘Araj dari Abu Hurairah. Haruniyat. Urwah bin Zubair. maka ambillah hadits itu dan percayalah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Rabiah dan Nafi’. diriwayatkan oleh Abi Muthi’ Al Hakam. Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Hamid dan Salim secara bergiliran. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Gubernur Madinah.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan ‘balaghny’ telah sampai kepadaku. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur’an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. 5. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Tentang penguasaannya dalam hadits. Ja’far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya. Fiqhul Akbar. 4. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Kisaniyat. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. karya : Muhammad bin Al Hasan. Imam Syafi’i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik. Tentang Fatwa wal Waqi’at : 1. karya : Hasan bin Ziad. khususnya ilmu hadits dan fiqih. meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Artinya beliau sangat hati-hati. Belajar qiraat kepada Nafi’ bin Abu Nu’man. kemudian di jual kepasar”.000 hadits”. An Nawazil. 2. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Abdurrahman bin Hurmuz. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. 3. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. karya : Muhammad bin Al Hasan. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang . Imam Malik belajar hadits kepada Rabi’ah. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. karya : Muhammad bin Al Hasan. Al-Mujarrad. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa’ad. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa. namun Imam Malik menolak. karya : Muhammad bin Al Hasan. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. karya : Abdul Laits As Samarqandi. beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu. Az-Zuhry. Dhahirur Riwayah. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta’. Nafi’ Maula Ibnu Umar.1. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya.

maka Imam Malik berkata . Qiyas 6. 2. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid. 5. Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur’an. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar. Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma’mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta’. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur’an imam Syafi’i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah). Kitab Hadits. yaitu : Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras). Ijma’ 4. Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Perkataan Sahabat. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas : 1. diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Al Muwatta’. Al-Qur’an 2. karena sejak Masa Khalifah Usman. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H) Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh . Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras) 3. 3. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta’ untuk keluarga istana. kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) 7. justru makin melambung dan harum dimata umat. lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra’yu (Qiyas). Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi’i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas. Beliau lahir di Ghaza.belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat. Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) 4. perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H. Pada usia 10 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwatta’ karya imam Malik. mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). pengarang kitab Al Muwatta’ di Madinah. Imam Syafi’i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya.

Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir.gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi’i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Qiyas 5. Imam Laits bin Sa’ad mufti Mesir telah meninggal. Setelah bebas dibebaskan. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi’i telah hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al Muwatta’ karangannya. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur’an dan Hadist. Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi’i. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Anatolia. Hirah. Di Yaman Imam Syafi’i juga masih terus belajar. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi’i mengunjungi ulama-ulama setempat. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi’i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. memberikan fatwa-fatwa di Masjid ‘Amr bin Ash sampai wafatnya. Imam Syafi’i terus mengajar dan menjadi mufti. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Imam Syafi’i meneruskan pengembaraan ke Persia. Imam Syafi’i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta’ kepada jamaah pengajian Imam Malik. hingga akhirnya Imam Syafi’i ingin pergi ke Irak. terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. menerangkan mukashis nash yang mujmal. Sesampai di Irak. untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak. Imam Syafi’i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. imam Syafi’i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Ramlah. ketika itu beliau berusia 29 tahun. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya . Metode Ijtihad Imam Syafi’i : 1. Tapi setelah pemuda Syafi’i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar. Pada sekitar tahun 200 H. Palestina. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi’i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak. melalui kitabnya Ar Risalah. melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Kemudian Imam Syafi’i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar. Ijma’ 4. Al-Qur’an 2. Istidlal Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. Sepeninggal Imam Malik. Hadis 3. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi’i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Sekitar satu tahun Imam Syafi’i tinggal bersama Imam Malik bin Anas. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Maka akhirnya Imam Syafi’I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Dengan diantar gubernur Madinah. Imam Syafi’i mendatangi rumah Imam Malik. Imam Syafi’i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Setibanya di Mesir. maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya.

Yaman. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. 6. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Abu Zu’rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1.000. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. Syria. 2. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Setelah Al-Watsiq. Al ‘Um (kitab induk). murid utama Imam Abu Hanifah. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. dipukuli dan hampir saja dibunuh. wara’ dan zuhud. Musnad Imam Syafi’i. 4. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi’i. Ibthalul-Istihsan. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. 5. Ar-Raddu ‘ala Muhammad ibn Hasan. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. 8. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dihentikan sama sekali. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih.000 (satu juta) hadits”. Basrah. Kaum Mu’tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma’mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. Ar Risalah. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu’tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. berburu hadits. saat itu kaum Mu’tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahkluk.saling bertentangan. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza’y.000. Akibatnya beliau disiksa. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : . Imam Syafi’i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. ahli ibadah. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma’mun meninggal secara mendadak di Tharsus. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. Mukhtaliful Hadits. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. Kitab-kitab mazhab Syafi’i : 1. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma’mun. Sepeninggal Al Ma’mun. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. Mekkah dan Madinah. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. qiyas dsb. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. berisi mudhabarah. 3. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. Siyarul Auza’y. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Ayahku telah menuliskan 10. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. 7. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. Ketika berumur 16 tahun. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. menerangkan kehujahan Ijma’. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu’tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur’an. Jami’ul Ilmi.

Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara’ dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits). 3. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Musnad Imam Ahmad. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Mengikuti guru mereka.1. Tafsir Al-Qur’an. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. 12. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra’yu (qiyas). Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur’an. 10. Kitab Zuhud. Umar. Usman. 3. Aliran Ra’yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. 2. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. 9. 5. III. 5. Kitab At Tarikh. 4. 4. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. A. Jawabatul Qur’an. Kitab Ash Shalah. 2. 7. 2. 7. 6. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. . Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. 8. 11. Abu Said Al Kudry. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. seperti ketetapan Abu Bakar. Al-‘Illah. Al Manasikus Saghir. Kitab Nasikh wal Mansukh. Al-Qur’an Hadits Ijma’ Sahabat Fatwa Sahabat Atsar Tabi’in Hadits Mursal / Dhaif Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Al Manasikul Kabir. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. B. dll. 4. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra’yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. 6. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. Tha’atur Rasul. 3.

kemudian Al Auza’i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza’i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku’ dan I’tidal ?” . terutama dari kelompok Syiah Rafidah. Abu Musa Al-Asy’ari.Kelompok Khawarij. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. Ali bin Abi Thalib. Mughirah bin Sub’ah. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. 3. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Anas bin Malik. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. 5. Rabi’ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. Hudzaifah bin Al Yaman. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari’atannya. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. Pada suatu hari Al Auza’i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Rabi’ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra’yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Amar bin Yasir. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas’ud. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. 2. mencakup seluruh kemaslahatan umat. 4. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi’ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi’ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah persyaratannya. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. Sa’ad bin Abi Waqash. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. maqashid syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari’ah). penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). sedangkan ahli ra’yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal.

Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Mendengar jawaban itu. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari’ah Perbedaan Metode Ijtihad. Al Auza’i pun minta diri. saat ruku’ dan ketika I’tidal”. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. C. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra’yu. Ibrahim lebih pandai dari Salim. . Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Al Auza’i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. G. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. B. C. dari Rasulullah SAW.Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. Perbedaan memahami Al-Qur’an A. 2.Hanafi Qiyas Rasionalis D. A. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. E. walaupun seorang Shahabi”. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. F.Hanbali – Maliki – Syafi’i . B. dari ayahnya Abdullah bin Umar. F. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Al Auza’i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. D. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur’an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. C. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. Perbedaan Memahami Hadits A. E. Menolak mafhum mukhalafah ii. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Imam Abu Hanifah : a. Berpegang pada dalalatul Qur’an i. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . Adanya ayat-ayat yang ‘Am (umum) D. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur’an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Lafz umum itu statusnya Qat’i selama belum ditakshiskan 3. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat.

hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu) b. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c. Istihsan g. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. C. Imam Syafi’i lebih mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad) d. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. Berpegang pada Qiyas i. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). Taharah dari hadas . Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Berpegang pada hadis Nabi i. Kitab Taharah 1. IV.iii. Qaul shahabi e. tetapi juga melihat matan-nya c. 1. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari “Nashirus Sunnah”. Imam Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Ijma’ c. menurut Syafi’i. B. Imam Malik a. Hadis dhaif e. Bagian Ibadah. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d.1. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Qur’an dan Sunnah (artinya. zhahir Nash ii. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Qiyas D. Ijma’ d. Artinya. hadis ahad (jadi. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Imam Syafi’i a. menerima mafhum mukhalafah b.1. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a.1. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). beliau menaruh kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar. Konsekuensinya. beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur’an) menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Qiyas f.

9.24. Kitab Taflis (orang pailit) 3. Kitab Qismah (pembagian) 3.11.3.27. Kitab Aqiqah 1. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3.10. Kitab Ruhun (gadai) 3.1.19.14. Kitab Zakat 1. Kitab Dhihar 2.21. Kitab Berburu 1. Kitab Buyu’ (jual beli) 3.5. Bagian Munakahat 2. Kitab Washaya 3. Kitab Qurban 1. Kitab Zakat Fitrah 1. Kitab Talak 2. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3.20. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Kitab Nasab 2. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2.1.18.26. Kitab Janazah 1.9.5. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.4. Kitab ‘Ariyah (peminjaman barang) 3. Kitab Ju’li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3. Kitab Haji 1. Kitab Bai’il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Qiradli (berdua laba) 3. Kitab hibah 3. Kitab Radla’i (penyusuan anak) 2.2.4. Taharah dari najis 1. Kitab Nadar 1. Kitab Aiman (sumpah) 1.4. Kitab Kitab Shalat 1.22. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3.15. Kitab Sembelihan 1. Bagian Muamalat Madaniyah 3. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3. Kitab makanan dan minuman yang haram 2.3. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3.10. Kitab Li’an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) 2. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.8.11. Bai’il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3. Kitab I’tikaf 1.1.25.17.7. Kitab Faraidl (warisan) .16.14.12.15.28.9. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab Nafkah 2.2.16. Kitab Jihad 1. Kitab Nikah 2. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.8. Kitab Wadi’ah (menitipkan barang) 3.3.6.13.2. Kitab Syuf’ah 3.7.8.13.7. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3.2. Kitab Shiyam (puasa) 1. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3.6.5. Kitab Ihdad (berkabung) 3.23.1. Kitab Ila’ (sumpah talak) 2.12.6. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3.10.

. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. Mengetahui Ijma’ masa Khulafaur Rasyidin. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih.4.7. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi.2. illat hukum. Syarat-syarat Mujtahid 1. 5. Jenis Mujtahid 1. pembebasan tuntutan) 4. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. Al Muzany dari mazhab Syafi’i. Kitab Qadzaf (tukas) 4. bayan (kejelasan) dan badi’ (efektifitas bicara). Kitab Zina 4. 2.1. Memahami ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. 3. Al Ghazali dalam mazhab Syafi’I. Mufti dan Hakim A. Ar Rafi’ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi’i. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali.3. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. Bersih dari hawa nafsu.31. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. sharaf (konyugasi). yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) V. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3. Bagian Peradilan 5. seperti : nahwu (gramatika). Kitab Hirabah (perampokan. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. atsar sahabat dan tabi’in.3. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. Contohnya Al Karakhi. ma’ani. 4.30. masdar (kata dasar). Mujtahid. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi.1. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4.2. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). 8. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Akidahnya benar. dhalalah nash. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. Kitab ‘Itqi (memerdekakan budak) 3. perusuh) 5. balagah (retorika). 3. Contohnya Abu Yusuf. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. 6. 2. tasrif (konyugasi). Mujtahid fil Masa’il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang.6. 7. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. 4. 5. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi.5. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Mengetahui ilmu hadits. Kitab Sariqah (pencurian) 4. musytaq (bentuk kata turunan). bukan pada masalah pokok.29.8. penjarahan. Kitab Khamr 4. B. diat. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya.32. Kitab Jarahi (qisas.9. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4.

kerabat. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara’. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). Hukum Taqlid : a. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba’. b. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. tentunya itu akan menyulitkan. laki-laki.C. . karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba’ dalam agama disuruh. moyangleluhur. c. Tidak menghiraukan nash syara’ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. 2. wanita. famili. 4. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. sedangkan taqlid dilarang”. dalil-hujjahnya. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. pria. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. 2. 5. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. 3. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. Periode Taqlid : 1. 3. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. dalilhujjahnya. budak. Taqlid yang haram : 1. VI. orang asing. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. 4. 2. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara’ secara mendalam. Ittiba’ dan Taqlid Ittiba’ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. 3.

14. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. 2. 15. 13. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. 10. contoh = kafarah sumpah. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. An Nawawi Al Bulqini (724 – 805 H). Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada’an. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara’. 4. Pembagian Sunnat : 1. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa’ sekaligus mudhaiyaq. 8. 4. 10. Wajib Mu’aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. contoh : mengurus jenazah. B. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. 9. Ash Shan’ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. 3. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. minum. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). 14. sholat isak dari petang sampai subuh. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). 13. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. 11. contoh : shalat sunnat rawatib. 11. 2. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. 3. 12. Ibnu Rif’ah (645 – 710 H). Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. 5. Muhammad Abduh. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. puasa ramadhan. 7. VII. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. contoh shalat lima waktu. 3. Rasyid Ridha. 6. contohnya ibadah haji. contoh : sedekah. . Wajib ‘ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. contoh waktu shalat lima waktu. contoh : makan. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. 8. shalat tahajud. Ibnu Taimiyah (661-728 H). Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan.2. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. Al Asnawi (714-784 H) Al Jalalul Mahalli (791-864 H). 5. 9. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. Wajib Mu’aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. 6. contoh : zakat. 4. adat. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. 7. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada’an. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. 12. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). contoh : azan dan jama’ah. wakaf. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. Wajib Muwassa’ = wajib yang diluaskan waktunya.

Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). Safar (bepergian). E. makan jengkol. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. halangan untuk wajibnya shalat jum’at 12. Nifas 10. tetapi terpuji bila ditinggalkan. shalat dengan berdiri. c. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Halangan – halangan : 1. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Tidur 5. VIII. Lupa 4. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. d. 2. b. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. Sakit. 8. e. yaitu haram yang dalilnya belum qath’i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Jangan berlebihan. Berakal (sadar dan waras). Diketahui berdasarkan dalil. makan daging babi.C. Baligh (dewasa). Untuk melaksanakan taat (ibadah). shalat di akhir waktu. 3. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Pingsan 6. Haid 9. 2. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Gila 2. Pembagian Makruh : 1. b. contoh : merokok. D. halangan untuk puasa. Dapat dibedakan. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. Setengah gila 3. Paksaan . Silap (tidak sengaja) 13. Jangan membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Sanggup dikerjakan. Mabuk 7. c. Mati 11.

pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. Dan lain-lain. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? ‘Mu’adz menjawab : ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. ‘Rasulullah kembali bertanya : ‘Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?’ Mu’adz akhirnya menjawab : ‘ Ajtahidur ra’yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. Istihsan 3. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu’adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. Qiyas 2.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur’an. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. Ijma’ (konsensus) C. Ushul Fiqih A. Al-Qur’an . IX.’ Rasulullah bertanya lagi : ‘jika tidak didapat di Kitab Allah ?’ Mu’adz menjawab : ‘Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. Hujan. 15. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) ulil-amri. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). Macam-macam dalil : A. seraya bertahmid : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. Al-Qur’an 2. Sumber Hukum Pimer 1. B. Dalil aqli (akal) 1. Dalil naqli (teks) : 1. Hadits Mu’adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. ‘Mu’adz berkata : ‘Lalu Rasulullah menepuk dadaku. halangan untuk shalat berjama’ah. Sunnah (Hadits) B. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur’an dan atau Hadits. saya tidak putus asa.14. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur’an dan Hadits. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Tua renta pikun. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). Maslahah Mursalah 4. dsb.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas.’ “ (HR Abu Dawud).

(Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath’i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya.” (QS An-Nisa’ : 3). 3. mantuq-mafhum. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya.” (QS Al-Maidah [3] : 38). karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. potonglah tangan keduanya… . Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur’an. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. mujmal-mufassar. c. Mufassar. ‘am-khas. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya). 4. Istinbath hukum dari dalil Al-Qur’an dan Hadits 1. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). terdiri atas : a. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur’an. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. lebih jelas dari nash. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. maka (kawinilah) seorang saja. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. .Al-Qur’an adalah sumber hukum primer yang pertama. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. ta’wil dan nasakh. Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur’an. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). 6. tiga atau empat. 2. Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an bersifat qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya.” (QS AnNur : 2). lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). mutlaq-muayyad. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur’an. 5. Nash. paling rendah tingkat kejelasannya. C. 2. b. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath’i pula dhalalahnya. makna hakikat-majazmusytarak). (bilamana kamu mengawininya). Zhahir. Peranan Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sbb : 1. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua.

Imam Malik. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. ta’wil maupun nasakh. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. b. Muhkam. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). d. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). pencurian yang kurang dari 10 dirham. . Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. tidak pula pencuri buah-buahan. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Imam Syafi’i. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. Sedangkan Imam Abu Yusuf.” Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Contohnya kata ‘ain. terdiri atas : a.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. Al-Khafi. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul).” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . esensi zat dan mata-mata (intel). kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. mata air.Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). pencurian terhadap mayang kurma. c.” (QS An-nur : 4).

contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. “tangan” Allah diatas tangan mereka. 2. Maha Hidup. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. tidak mengandung kemungkinan makna lain. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. alam kubur. Ayat-ayat tentang Asma’ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. Maha Mendengar. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la ‘ad. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. zalim). Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. dan “datang” lah Tuhanmu. Riwayat lain dari Muhammad bin Sa’d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). dsb. dsb 6. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. Allah “turun” ke langit dunia. contoh : Allah Maha Melihat. Zahir. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. Inilah yang dimaksud dengan nash. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). Nash. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). Maha Berfirman (Kalam). Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). dsb 5. Riwayat Abu Ubaid. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””.d.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. alam malaikat. surga-neraka. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : . Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. 3. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. Allah “melempar”. alam jin. A. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. 2. akhirat). Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. 7. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. 4. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta’ah). Maha Mengetahui.

Mu’awwal. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. terdiri dari : 1. melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat.” 5. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. . sedangkan mu’awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a.“Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. yaitu kata “bersenggama”. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Mu’awwal berbeda dengan zahir. 3.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. jelas (zahir) sehingga itulah makna yang rajih (kuat). Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. Dalalah istida’ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Misalnya pada QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ‘ah’ . sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. Contoh yang lain pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] .” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. B. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Fahwal khitab.

Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. terdiri dari : 1. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. perbuatan lain seperti : membakar. Ulama-ulama Hanafiah. b. Mafhum syarat. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). yaitu memperhatikan syaratnya. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. Cakupan Lafazh A. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. 3. yang dimaksud adalah sifat ma’nawi. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. 3. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa.perbuatan lain seperti mencaci-maki. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. Mafhum gayah (maksimalitas). hanya). Berhujjah dengan Mafhum : a. menyia-nyiakan. merusak. 2. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. b. Misalnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). Mafhum sifat. ‘Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh ‘Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz’iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. maka berikanlah kepada mereka nafkah. 4. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. diteliti. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. Mafhum hasr (pembatasan. 2. Lahnul Khitab. memukul lebih diharamkan lagi. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa.” . tidak wajib diberi nafkah.

aina dan mata (kapan). Isim berbentuk jama’ yang diawali alif dan lam. walau sedikitpun. tidaklah dapat kamu menghitungnya. ma’asyira.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. QS Al-An’am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. Lafazh man (siapa).” 7.” 9. ma (apa saja). Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2.” 6. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. Lafazh ma’syara. Aneka Ragam bentuk ‘Am : 1. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami’un (seluruh) a. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. “Hai Nuh. qatibah dan sa’irun : a. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya.” b. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. al-lati. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka.” 3. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu. seperti : a. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). ‘ammah. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi).” 4. alladzina.” b. Dia mempunyai nama-nama yang baik. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka. al-lati dan dzu. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar.” 8. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a. QS An-Nisa’ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat.” 5. Contohnya pada QS Al-Isra’ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. Contohnya pada QS Al-Ma’idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri.” . QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya.” b.

Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari ‘Am. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. maka anak tiri itu boleh dikawini. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “. Sifat.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. b. Macam-macam penggunaan lafazh ‘am (umum) : a. c. jika ia meninggalkan harta yang banyak. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. c. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji.10. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). e. Batas. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna. ‘Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. Mukhashshish Munfashil . yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi.” Ayat itu umum untuk semua manusia.” Anak tiri haram dinikahi. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. d. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. Istitsna (pengecualian). contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. . sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf. 1. ‘Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. ‘Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya). contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : “Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. yaitu Jibril. maka tidak wajib berwasiat. QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. ‘Amr (perintah) dengan bentuk jama’ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. Syarat. contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain.” 2.

” (HR Bukhari). yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar. serta mempunyai singgasana yang besar. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. Indera (men takhsis Al-Qur’an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka.” Mukhashshish kedua.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. d. Hadits (men takhsis Al-Qur’an dengan hadits).” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma’ bagi laki-laki yang berstatus budak.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa’ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. Ijma’ (men takhsis Al-qur’an dengan Ijma’). Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “Allah mensyari’atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. f. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber ‘iddah) tiga kali quru’. Qiyas (men takhsis Al-Qur’an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. Siyaq (Mentakshis Al-Qur’an dengan siyaq) . yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.” e.a. c. dan dia dianugerahi segala sesuatu. Ayat Al-Qur’an yang lain. Akal (men takhsis Al-Qur’an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra’du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (HR Muttafaqun ‘alaihi). maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. waktu ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” Ayat tersebut bersifat umum. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. g.” b. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman.

Hukum lafazh ‘am. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A’raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. jia ia tidak mempunyai anak. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ?” Dalam ayat tersebut. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. B. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. Apabila lafazh itu bersifat ‘am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. Takhsis jenis syarat. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya.Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. Apabila didalam ayat Al-Qur’an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). khas dan takhsis : 1. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. Mubayyan Muttashil. 5.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. Misalnya dalam QS An-Nisa’ [4] : 176. 4. karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. 2. selama tidak terdapat dalil yang menta’wilkannya dan menghendaki makna lain. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. 3. supaya kamu tidak sesat. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. Katakanlah. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur’an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir.” . maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global). masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir).

maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. yaitu kata “dan”. 3. ingatlah. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. b. Mubayyan Munfashil. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Dalam hal ini bisa berupa : a.2. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). Dari Sunnah (hadits). sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Ingatlah. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. batas-batas yang dibasuh. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Dari ayat Al-Qur’an yang lain. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dengan kata lain.berkata. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. hal ini memerlukan penjelasan. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. 2. dsb.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Namun. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi’li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.‘Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. . contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. Oleh karena itu. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung.”. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti’naf).’ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal.

” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. haji dan lainnya. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. C. tidak terurai.4. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). 6. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. 5. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. 7. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : . sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. 8. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. yang maksudnya dua puluh sembilan hari.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). Mufassar oleh lafazh lainnya Yaitu lafazh yang bentuknya global. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). 2. zakat. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar’i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. haji. Macam-macam mufassar : 1. dengan cara isyarat. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya. zakat. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). Contohnya tentang lafazh : shalat. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. shiyam. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. Penjelasan dengan diam (taqrir). Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian.

Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. Contohnya.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. yaitu “darah yang mengalir.” Karena ada persamaan hukum dan sebab. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya). kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. Contohnya dalam QS An-Nisa’ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). apabila kamu hendak mengerjakan shalat. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya. Pada QS Al-An’am [6] : 145 : “Katakanlah. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. a. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa’ [4] : 43 : “…. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. baik yang mukmin maupun kafir.” 2. Sebab dan hukumya sama. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa’ [4] : 43 adalah mengusap .” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. ‘Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama.” 3. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Namun mengenai wudhu. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. minimal-maksimalnya.“Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. tidak dibatasi jumlahnya. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. darah dan daging babi. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. meliputi segala jenis budak. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak ….

pada ayat ini tentang potong tangan. Jadi Hukum lafazh mutlaq . Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. c. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. Sebab dan hukumya sama. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. Makna Majaz yaitu makna kiasan. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir ‘iddahnya. 3. maka sebabnya berbeda. b.tangan. Menunjukkan sunah. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. potonglah tangan keduanya… . Adanya makna hakikat. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Menunjukkan suruhan saja. Kaidah Makna Kata a. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. c. 4. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Menunjukkan wajib. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. yaitu “mengadakan dua orang saksi”. c. Menunjukkan kebolehan . Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. b. 1. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu).muayyad : 1. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. b. d. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum.

Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. jika ia meninggalkan harta yang banyak. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Ta’arudl Yaitu pertentangan antar dalil. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. karena bisa dikompromikan. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. b.” b. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. Al-Qur’an lebih kuat dari Hadits 2. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa’ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. c.. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. Hadits Marfu’ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) . Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. c. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. mengadakan jamuan. Larangan karena diri perbuatan. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. d. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. larangan wanita haid mengerjakan sholat.Larangan (nahi). 6. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. 5. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum’at dikumandangkan. Prinsip-prinsipnya : 1. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. seperti larangan zina.

7. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. Nasakh Sharih. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur’an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz’iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu’ (cabang). bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. didahulukan yang menghalangi. 9. 10. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. 8. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu’ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. 1. Nasakh Dlimmy. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D.” 2. (Baca kembali Ilmu Hadits. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah.” . bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. point Mukhtaliful Hadits) d. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu’ yang banyak.

Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu’ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth’i) 12. terhadap suatu hukum syara’ yang bersifat praktis ‘amaly. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. 6. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. maka baik pula dalam pandangan Allah. 7. 9. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. E. 14.Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. 11. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). barangsiapa yang ingin menempati surga. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. 5.” a. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. Jalan yang menuju haram juga haram. Ia akan lebih juah dari dua orang.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang . daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. 13. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. 4. 3. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. maka mengadakan sarana itu juga wajib. 8. bukan sebaliknya. Dalil yang menjadi dasar Ijma’ : Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an.” “Ingatlah. Ijma’ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. 2. Sumber Hukum Sekunder 3. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. 10. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) Ulil-Amri. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman.

” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. maka saya pilih. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma’ ulama Kufah. bisa jadi sedang memikirkannya.mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Ijma’ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. begitu pula Imam Malik menghargai ijma’ ulama Madinah. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. agar tidak dianggap aneh. Ijma’ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Tingkatan Ijma’ : a.” 5. Bila ada pendapat dari tabi’in maka saya teliti. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur’an atau Hadits. b. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. 4. b. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Ijma’ Sharih. Dasar kehujjahan Qiyas : a. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). artinya ada juga yang mendiamkannya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. b. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : . Ijma’ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur’an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits).” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Pada masing-masing kota yang didiami. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. Ijma’ Sukuti. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya.

“Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. c. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian, juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. d. Hadits – Hadits Nabi : 1. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar, yakni mencium istriku, sedang aku sedang berpuasa”. Lalu Rasulullah bersabda : ‘Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?’. ‘Hal itutak mengapa’, jawabku. ‘Maka mengapa (kamu menanyakan) ?’ Jawab Rasulullah”. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. 2. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi, seraya ia berkata : “Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji, akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. ‘Benar’, jawab Nabi. “kerjakan haji untuknya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang, bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? ‘Ya’, jawabnya. Rasulullah berkata : ‘Tunaikan hutang-hutang Allah, sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi’ ”. (HR Bukhary dan Nasa’i). Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. e. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy’ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara, maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. Asal, yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur’an dan hadits. 2. Furu’, yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. 3. Hukum, yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. 4. Illat, yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu’. Syarat-syarat qiyas : a. Hukum asal tidak dinasakh. b. Hukum asal jelas nashnya. c. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. d. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. e. Mempunyai illat yang sama. f. Hukum cabang sama dengan hukum asal. g. Ada illat ada hukum, tidak ada illat tidak ada hukum. h. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara’. Macam-macam Qiyas : 1. Qiyas Aula / Awlawi / Qath’i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Contoh, Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur, maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Kita pahamkan bahwa gila, pingsan, mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.

2. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Contohnya dalam QS An-Nisa’ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. 3. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. 4. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum, berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. 5. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 6. Qiyas fi Ma’nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. 7. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal, yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal, lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya, seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi, berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang, karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. 8. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak, namun perbedaan pemisah antara asal dan furu’ diyakini tidak berbekas. Misalnya, mengqiyaskan haramnya mencaci, memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan ‘cis’, dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. 9. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Misalnya, mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. 10. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Misalnya, mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. 11. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu, bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. 12. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. Contohnya, hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. Para Sahabat bertanya : ‘Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : ‘Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram, adakah dia berdosa ?, demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal, ada pahala baginya”. (HR Muslim). 13. Qiyas Ikhlati wal Munasabati

Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah, yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. a. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma’. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Sehubungan dengan ayat ini, maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. b. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama’ shalat dimasa hujan. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab, akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama’. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. 14. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Misalnya, wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya, karena menimbulkan kesukaran. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. Akan tetapi ada keterangan dari syara’ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. 15. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara’ membolehkan atau menolaknya. Misalnya, wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan, maka si pembunuh tidak mendapat warisan. F. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz’iyah (parsial), furu’iyah (cabang) yang jauh). 6. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat, contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air, tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara’ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan, contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. 8. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada, tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu., contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum, maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 9. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya), contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu, maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. 10. Sadudz Dzariah Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Contoh : Zina itu haram, maka melihat aurat wanita, berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi, bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina

bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. Istiqra’ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. 12. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin 19. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama’ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. Bara’ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara’. muamalah. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. Ta’amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14.11. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. bila mereka murtad maka dibunuh 21. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu’. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. 20. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa’I fil ‘ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi ‘itibaaril fil mu’aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. Al Ishmah . tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. 16. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. Ar Ruju’u ilal manfa’ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18.

Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Al ‘amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. ‘Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. 28. 22. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. Ma’qulun nash yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. 23. Al ‘amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. 27. Al Qur’ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” . apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. Syar’u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. Al ‘amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain.yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani.

timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara’ (maqashid syari’ah). Memelihara Nyawa (nafs). Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Syariat semuanya adil. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. Syara’ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. . Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat 36. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. Maksud-maksud syara’ yang umum : 1. X. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. e. c. d. Memelihara Agama (dien). Memelihara Akal (aqlu). Memelihara Harta (mal). Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan.34. dari rahmat kepada bala’. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara’ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. b. Ru’yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. Memelihara Nasab-keturunan (nasl). tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. yaitu : a. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. Faqdud dalil ba’dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. Segala hukum muamalah. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. dari maslahat kepada masfadat. 2. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram.

keturunan dan kehormatan. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. surga-neraka) k. Tingkatan Maksud Syara’ 1. Tingkat Dharuriyah. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang) A. g. kesusilaan. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Contoh-contoh masalah ushul : a. mashar. tauhid dan rukun iman yang enam. Dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath’i (pasti). Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. 2. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. Tidak ada tuhan selain Allah. memelihara. XI. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I’tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. Apabila yang demikian ini tidak diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. c. kemudahan-kenyamanan hidup. tata sosial kehidupan. Tingkat Tahsiniah. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Allah satu satunya tempat bergantung. b. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I’tikadnya (keyakinannya). Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama’ ketika sedang ada udzur yang syar’i. shirot. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. . Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. Salah dalam I’tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. i. h. tidak boleh tidak ada. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. perampokan tentu rusak maslahat harta. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. Yaitu tingkat yang paling rendah. akal. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. 3. d. Yaitu tingkat yang harus ada.

dsb. Fiqih Jual-Beli f. Jadi dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. seperti rincian praktek tata cara ibadah. bila salah dapat satu pahala. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Dalil Qath’i (pasti) Dalil disebut Qath’i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan.l. Qath’i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir . (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. boleh ada variasi. Jadi tidak boleh ada variasi. Dan lain-lain. Mu’atillah (baca kembali Ilmu Kalam). Para sahabat bertanya : ‘Siapakah golongan yang selamat itu ?’ Nabi menjawab : ‘golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah’. Jabariyah. Jadi dalam masalah furu’ boleh ada ijtihad. masih ‘am (umum). Fiqih muamalah h. Qadariyah. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Syiah Ghulat. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Begitu luasnya cakupan masalah furu’ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Masalah furu’ itu ibarat ranting. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. Fiqih Haji e. Detail tata cara sholat b. Masalah Furu’ (cabang) Masalah Furu’ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Musyabbihah. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. ‘Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu ?’ Nabi menjawab : ‘Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku’ “ B. sedangkan lainnya adalah binasa. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). muamalah. Dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. para sahabat bertanya lagi. Fiqih Sewa-Menyewa g. Dalam masalah furu’iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. Fiqih Zakat c. XII. bahkan banyak yang masih mujmal. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. Mujasimah. maka dalam masalah furu’iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. Fiqih Puasa d. Murjiah. Bila ada yang berani berbeda pendapat. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). urusan duniawi. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid’ah akidah seperti kaum Khawarij. Contoh-contoh masalah Furu’ a. I’tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. Dan lain-lain. dan boleh ada perbedaan pendapat. Bila benar dapat dua pahala. Urusan duniawiyah i.

dsb) B. contohnya : a. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. c. Secara istilah. Hukum haram bagi daging babi. Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath’i diatas maka menjadi dalil Qath’i yang sempurna. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid’ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. tidak boleh ditambah-dikurangi. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath’i. pelaku huru-hara. e. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi’i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” menerangkan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. b. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. bangkai. penjarah. Sultonu Ulama. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. Kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Hukum potong tangan.2. Hukum potong tangan bagi pencuri. mazhab dan harokah Islam. darah yang mengalir. istihsan. . XIII. aliran. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. Tetapi ada juga masalah furu’ yang dalilnya qoth’i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. d. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). 2. B. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid’ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid’ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. (perampok. Pengertian Bid’ah Secara Istilah. Qath’i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). yaitu : 1. tanpa reserve. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. A. pemberontak. khamr (arak) dan riba. Kebanyakan masalah furu’ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. f. seperti hadis ahad. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. atsar-fatwa sahabat. sedangkan kebanyakan masalah furu’ dalilnya tidak qath’i. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath’i. Tentang Bid’ah Pembahasan tentang bid’ah merupakan masalah yang sangat krusial. bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas.

satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. a. Sunnah Nabi. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. b. . yaitu : bid’ah wajib. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid’ah“. makruh. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan). (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid’ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Contoh-contohnya : Bid’ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur’an. mubah. atsar dan Ijma’. tetapi tidak tercela. Hadits yang mengindikasikan adanya bid’ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. bid’ah makruh dan bid’ah mubah. Tentang bid’ah. Perbuatan keagamaan yang baik. bid’ah haram. Ibnu Hajar Atsqolani. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. 2. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi’i” menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Perkara baru (bid’ah) itu ada dua macam : 1. sunnah. bid’ah mandub (sunnah). Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. Ada riwayat dari Abu Nu’im menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Bid’ah itu dua macam. terbagi menjadi lima hukum. As-Suyuthi. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur’an). Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. ini dinamakan “bid’ah dhalalah”. Bid’ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid’ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW.” 3. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. 2. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat. c. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid’ah juga. haram). Abu Syaamah.Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. Imam Nawawi. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1.

Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. Talhah. ilmu Al-Qur’an. ilmu mantiq (logika). Bid’ah yang Sunnah : a. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. b. c. seperti : a. e. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. Mua’tillah yang menolak sifat-sifat Allah. e. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). Hukum sarana itu tergantung pada tujuannya.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid’ah dhalalah. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid’ah) itu semuanya adalah sesat. e. d. menuduh Abu Bakar. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. Qadariyah yang menolak takdir. ilmu tasawuf. f. d. ilmu nahwu-sharaf. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. . b. b. ilmu kalam (ushuludin). g. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. Bid’ah yang haram : Bid’ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. Menghias masjid. Bid’ah yang Mubah : a. d. c. Shalat Tarawih berjama’ah. Melakukan haji tidak ke Mekkah. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. b. Makan menggunakan sendok. Bersalam-salaman setelah shalat berjama’ah. Memakai pakaian yang bagus. e.Kodifikasi. b. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. Membuat rumah yang besar. Menggunakan peralatan modern. ilmu balaghah. Adzan pertama pada shalat Jum’at. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. c. seperti : a. Mencaci maki Aisyah.Bid’ah dalam ibadah. Umar. d. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Bid’ah yang Makruh : a. Sarana menuju yang haram adalah haram. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. d. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta’lim. Sistem pemerintahan yang monarki. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. Dzikir berjama’ah. c. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. f. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. ilmu hadits. . ilmu Fiqih. c.

Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. Dzikir berjama’h itu bid’ah dhalalah atau tidak. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. 40. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum’at sudah dekat. Dzikir berjama’ah tidak ada dijaman Nabi. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. e. 3. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. Peringatan maulid Nabi itu bid’ah dhalalah atau tidak. Jadi tidak “semua” perkara baru bid’ah dhalalah. 7. Tahqiq : 1. Asy-Syathibi. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum’at. contohnya : a. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum (‘am). Hadits nabi “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. . Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa’h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. 4. b. d. itu termasuk bid’ah dhalalah atau tidak. e. Shalat Jum’ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. 2. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid’ah) itu adalah sesat”. d.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid’ah dhalalah.” (HR Muslim 1817) c. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. Shalat Sunah berjama’ah itu bid’ah dhalalah atau tidak. lafazh ‘am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid’ah dhalalah.a. b. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi’iyah. 100 hari orang meninggal itu bid’ah atau tidak. c. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur’an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. c. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. b. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy.

g. Dalam masalah furu’ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. Tentang adat. j. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. Syiah Ghulat. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. 5.f. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid’ah). Tidak saling mencelah. Mujasimah. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. Jadi jangan gampang memvonis bid’ah dhalalah terhadap semua perkara baru. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid’ah dhalalah. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Murjiah. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. illat hukumnya. tidak saling mencaci. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. tidak saling menyalahkan. karena sejak Masa Khalifah Usman. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. 6. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. atau masalah furu’ yang dalilnya sudah Qath’i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Qadariyah. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. Jabariyah. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. Mu’atillah. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’. yaitu kaum Khawarij. XIV. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid’ah dalam masalah akidah. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. maqashid syariahnya dan sebagainya. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. h. i. Musyabbihah. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an). Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak . jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath’i yang tegas menunjukkan hukum haramnya.

aku tidak akan mencelanya”. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” . Imam Al Auza’i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. para tabi’in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Syafi’’i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. Menanggapi kejadian itu. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi’i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. Suatu hari. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma’). Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. Karena para sahabat. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. Kata Yahya bin Mu’in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Artinya beliau sangat hati-hati. Malik. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. “Sudahlah.membatalkan wudhu. maka Imam Syafi’I menjawab : “Saat dalam kesulitan. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu’in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. suatu hari Imam Syafi’i shalat setelah bercukur rambut. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath’i yang tegas mengharamkannya. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. Dengan demikian.

karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku’ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku’. kalau imamnya tidak membaca qunut. maka . Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. sejauh yang penulis temui. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta’. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka’bah. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. “Apabila seorang makmum berjama’ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka’at ?”. Maka Ibnu Mas’ud langsung shalat empat raka’at tanpa membantah. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu.Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. para imam. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka’at ?” Mereka menjawab. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. “Empat raka’at”. Terlihat disini. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. Banyak yang mempertanyakan hal itu. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari’ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku’ atau sesudahnya. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. Sebaliknya. selayaknya dia ikut membaca qunut. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. Mereka langsung mempertanyakan. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka’bah begitu saja. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. berbeda dengan pandangan para makmumnya. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. guru besar kami. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” . Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas’ud di Mudzalifah. Ibnu Mas’ud menjawab : “Memang. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi’i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah.

Nasa’i. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. Waspadalah terhadap perpecahan. 8. Atsar riwayat Baihaqi. zindiq. 4. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu’ yang ijtihadi. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. Merasa kelompoknya paling benar. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. 3. Kalian harus tetap dalam jama’ah. seperti : a. mubtadi (pelaku bid’ah) atau mengkafirkan. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang.Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. (HR Ahmad. (QS Ali Imran : 103). menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. Hakim. Berperasangka baik kepada orang lain. 6. (QS Al Anfal : 46). f. 13. c.” (HR Turmudzi. e. Hakim. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. 7. Ibnu Khuzaimah. Persatuan adalah wajib. 11. fasik. c. b. hedonis. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. Bersikap moderat (pertengahan). Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. 12. 5. Degradasi moral dan spiritual. Kemiskinan dan kebodohan umat. d. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama’ah. f. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabi’it tabi’in). Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath’i (pasti) dan sharih (jelas). e. 10. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. . Ibnu hibban) 9. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. b. tidak ekstrim berlebih-lebihan. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. Ibnu Majah. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. Menjauhi dan menghindari perpecahan. niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. sekuleristis.

memakai jilbab. fasik. Diskusi. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. adil dalam memutuskan. dsb itu semua adalah simbol yang penting. asmaul husna. mubtadi. menyakiti. Kasar. Memvonis orang lain sesat. adu argumentasi. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. tanpa memilih dan memilah. golongan. memakai baju gamis. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. Dari emosional menuju rasional Memusuhi kelompok yang berbeda. itu semua jauh lebih penting. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. ikhlas dalam ibadah. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. Tidak mengakui pendapat lain. mazhab itu adalah aspek sentimen. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. tulus menolong sesama. puasa. Menjauhi perdebatan sengit. riset penelitian ilmiah. membawa kayu siwak. wejangan. f. seorang ulama suni kotemporer. dikenal moderat. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. Liberalis. Aspek lahir syariat : shalat. i. 4. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. bersikap agresif-ofensif menyerang. kelompok. Dari Simbol menuju substansi. berperasaan dalam etika.14. mengunggulkan pendapat sendiri. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. h. menyantuni fakir-miskin. ras. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. Buruk sangka. 6. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. hufadz (hafal Al-Qur’an). c. g. Suka men-generalisir. Memaksakan pendapat. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. beradu dalil. memakai peci. itu adalah sikap emosional. tulus menolong sesama. 3. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. maka mengutamakan kebenaran. ‘hafal’ ayat dan teks hadits. Literalis. amanat dalam muamalah. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : XV. b. melemahkan pendapat orang lain. kasih sayang dalam pergaulan. e. Fikih Kotemporer . zakat haji. rendah hati. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu’ yang ijtihadi). suku. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. Yusuf Qaradhawi. 5. Dari formalitas menuju hakikat. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. d. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. hafal teori-teori theologi : sifat 20. seminar. Memanjangkan jenggot. dsb. 2. membangun sarana pendidikan. memendekkan celana diatas mata kaki. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. DR. kafir. 15.

13. Dari jumud menuju ijtihad. c. memperluas konsep bid’ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid’ah dhalalah. sedangkan ittiba’ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. b. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. 11. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. f. Tidak mau mengambil ruksyah. b. Ahmad. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Dari menyulitkan menuju kemudahan. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. Menganggap semua yang lain pasti salah. mudah mengharamkan. 8. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. Ciri sikap fanatik : a. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. (HR Ibnu Hibban. d. illat hukum. 10. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. Menganggap dirinya paling benar. Tidak merasa yang paling benar. 12. Antara rasionalis dan literalis. c. e. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari’ah. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). Dari fanatisme menuju toleransi. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. e. Dari taklid menuju ittiba’. Keras pada masalah furu’ yang ijtihadi d. . Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. e. Dari keberingasan menuju kasih sayang. 14. (QS Al Hajj : 78).a. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. c. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. Dari perpecahan menuju persatuan. d. Ciri sikap toleran : a. (HR Bukhari. (QS Al Baqarah : 185). Tidak bersikap keras pada masalah furu’ yang ijtihadi. b. Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain.

Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari kehidupan sehari2 menurut Islam. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. Dari perselisihan menuju solidaritas. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro.. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2.15. 12 Comments » 1. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. ‫جزاك ال جيرا كثيرا‬ …assalamualaikum. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4.. . Wassalam. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. ‫السلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ‫خير المور اوساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫شكرا ياأخى‬ ‫والسلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. Assalamualikum. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. guru ngaji saya pernah berkata. salam silaturahmi. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda.

Minta izin untuk mengcopy ilmunya..sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh.. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10. Assalamu alaikum. Di umur yg kian berkurang ini (29thn).. Ilmu yang bermanfaat Muh.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong.penghafal Al-Qur’an. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 8. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran. mohon izin untuk copy materinya .semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.

8 Submit Comment 52 Bottom of Form • Top of Form Search for: Cari Bottom of Form • Artikel ○ Ahlus Sunnah Wal Jamaah . type the security word shown in the picture.rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. TrackBack URI Leave a comment Top of Form Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script).

...○ ○ ○ ○ ○ ○ Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf • Tulisan Terakhir ○ ○ ○ Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.... • Arsip • Blogroll ○ ○ ○ ○ Habib Munzir Al musawa http://aswaja. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad. pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf .net Pesantren Sidogiri yosephs • Komentar Terakhir ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad...

Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 3968654653 Top of Form Bottom of Form blogdetik.○ • • Muh.G en .com Web blogdetik ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.