P. 1
Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Ahlus Sunnah Wal Jamaah

|Views: 22|Likes:

More info:

Published by: Randy Ibrahim Muhammad on Feb 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. Pengertian Ilmu Fiqih
  • II. Perkembangan Ilmu Fiqih
  • III. Ijtihad
  • IV. Pembagian Pembahasan Fiqih
  • V. Mujtahid, Mufti dan Hakim
  • VI. Ittiba’ dan Taqlid
  • VII. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih)
  • VIII. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih)
  • IX. Ushul Fiqih
  • X. Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’)
  • XI. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang)
  • XII. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan)
  • XIII. Tentang Bid’ah
  • XIV. Ikhtilaf dan Toleransi
  • XV. Fikih Kotemporer

Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I.

Pengertian Ilmu Fiqih

Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur’an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-

pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) ‘Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi ‘Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad ‘Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada ‘Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka ‘Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan ‘Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. ‘Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka ‘Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian

persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu

Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur’an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti. Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah. 2. Abdullah Ibnu Mas’ud, mengembangkan perguruannya di Kufah. 3. Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah. 4. Abdullah bin ‘Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). 6. Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah. 7. Aisyah, Ummul Mukminin

Abu Musa Al-Asy’ari. 5. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu hal. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. tentu aku lakukan. Umar berkata : “Kalau aku. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra’yu (ijtihad akal).8. tentu aku akan menghukumi demikian”. C. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. sedangkan ra’yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. maka Ubay bin Ka’ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. oleh Ali dan Zaid”. Abu Darda’. Amru bin Dinar 6. Mujahid bin Jabar 4. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Ubaidillah bin Abdullah Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. yaitu : 1. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. 2. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Apabila hal itu telah terjadi. Atha’ bin Abi Rabah 2. 2. 10. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. mengembangkan perguruannya di Basrah. Ikrimah maula Ibnu Abbas . Para tabi’in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. 4. Urwah bin Zubair 3. Masa Tabi’in Para tabi’in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Ubay bin Ka’ab. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Thawus bin Kisan 3. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. 3. mengembangkan perguruannya di Basrah. 11. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Said bin Al Musayyab 2. Abu Hurairah. 9. Pada masa tabi’in mereka melakukan dua peranan penting. Sulaiman bin Yasar 7. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. Ubaid bin Umar 5. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar.

yaitu : 1. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Al Hamdany 3. Yahya bin Yahya 2. guru Umar bin Abdul Azis. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Abu Maryam al-Hanafy 3. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Syuraih al Qadhy 4. Ka’ab bin Sud 4. Amru bin Salamah 2. Muhammad bin Tsur 5. Bakir bin Abdillah 3. ‘Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud (wafat 99 H). Rabi’ bin Khutsam. Yazid bin Abi Habib 2. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. 5. 2. Abdul Malik bin Habib 3.Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Baqi bin Makhlad 4. Muhammad bin Sirin 6. Abu Bakar bin ‘Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). 5. 4. 2. Masruq bin Al Ajda. Qasim bin Muhammad 5. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). ‘Urwah bin Zubair (wafar 94 H). keponakan Aisyah Ummul Mukminin. paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Qadly. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Hisyam bin Yusuf 4. Abdul Raziq bin Hamman 3. Ahli hadits. Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. . guru Ibnu Syihab Az Zuhry. 3. Hasan Al Basri 5. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab’ah) Mereka adalah para tabi’in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha).

Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Aisyah. Al Muzny. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. D.6. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Masa Tabi’t Tabi’in dan Imam Mazhab. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Ibnu Abdul hakam. Imam Syafi’i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. Abu Hurairah. Ma’mar bin Rasyid. mempelajari qiraat dari Imam ‘Ashim (salah satu qurra’ tujuh). Nasehat Syabi’ berkesan di hati Abu Hanifah. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Hammad bin Salamah. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha’ bin Abi Rabah. Muhammad bin Mukandar. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Maimunah dan Ummu Salamah. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Nafi Maula Abdullah bin Umar. Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Abdullah bin Umar. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur’an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Abu Ishaq As Syuba’I. Sufyan Tsauri. Abu Yusuf Al Qadly.” Mengenai metode Ijtihadnya. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. Sa’id bin Salim Al-Qadah. Muhib bin Disar. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Syarikh Al Qadly. 7. Said bin abi ‘Arubah. Malik bin Anas. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Abdullah bin Zubair al Humaidy. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya’bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur’an). ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur’an) jika saya mendapatkannya.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Abdurrahman bin Hurmuz. ‘Amru Abdurrahman bin ‘Amru Al Auzay. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. Setelah itu saya tidak akan keluar . Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Abdullah bin Syubramah. Haitam bin Hubaib Al Sarraf.

maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. AS-Sairus Kabir.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur dinasti Abbasyah. karya : Muhammad bin Al Hasan. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. 7. Jika telah sampai kepada Ibrahim. karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. akhrinya dokter datang…. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. Kalau tidak. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa’iq). Ibnu Musayyab dan lainnya. Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). Al-Jami’ul Kabir. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. sedangkan ia tidak memahami. Begitu juga dari sahabat dan tabi’in. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. muamalah dikalangan manusia) Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih. 5. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Al-Dabussi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. 6. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. 3.dalam fatwa selain mereka. karya : Muhammad bin Al Hasan. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Tentang Masailul Nawadhir : .demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. karya : Abdul Fadha’ Hammad bin Ahmad. Ibnu Sirin. Al-Mabshuth. Ijma’ 4. 7. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. Az-Zidayat. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Pada tahun 150 H. 8. karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl. menggunakan porsi ra’yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Kasusnya hampir sama. Al-Jami’us Shaghir. Al-Mabshuth. Fatwa Shabat 5. As-Sairus Shaghir. 4. lahir Imam Syafi’i. Al-Kafi. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. pasti dia akan mengikutinya. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. 2. Al-Qur’an 2. Qiyas 6. sehingga hadirnya fiqih”. Hadits dari riwayat kepercayaan. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah. karya : Muhammad bin Al Hasan. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. karya : Muhammad bin Al Hasan. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. Sya’bi. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. karya : Muhammad bin Al Hasan.

khususnya ilmu hadits dan fiqih. beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100. sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya. Tentang penguasaannya dalam hadits.1. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur’an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. namun Imam Malik menolak. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa’ad. Gubernur Madinah. Rabiah dan Nafi’. Fiqhul Akbar. meskipun usianya baru berusia 17 tahun. diriwayatkan oleh Abi Muthi’ Al Hakam. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang . karya : Muhammad bin Al Hasan. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Tentang Fatwa wal Waqi’at : 1.000 hadits”. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Dhahirur Riwayah. 4. Nafi’ Maula Ibnu Umar. maka ambillah hadits itu dan percayalah”. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Al-Mujarrad. Abdurrahman bin Hurmuz. Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri. niscaya isnad hadits tersebut kuat”. 5. karya : Muhammad bin Al Hasan. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari ‘Araj dari Abu Hurairah. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Imam Syafi’i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan ‘balaghny’ telah sampai kepadaku. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. 2. Kisaniyat. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. karya : Abdul Laits As Samarqandi. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Haruniyat. 3. Ja’far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi’ah. Belajar qiraat kepada Nafi’ bin Abu Nu’man. An Nawazil. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Artinya beliau sangat hati-hati. kemudian di jual kepasar”. karya : Muhammad bin Al Hasan. karya : Hasan bin Ziad. Az-Zuhry. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq. karya : Muhammad bin Al Hasan. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Hamid dan Salim secara bergiliran. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Abu Salamah. Urwah bin Zubair. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta’. Jurjaniyat. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi.

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H) Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) 4. Imam Syafi’i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras) 3. mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma’mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta’. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. 2. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan. Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Beliau lahir di Ghaza. pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar. kakek generasi keempat diatas Rasulullah. perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H. justru makin melambung dan harum dimata umat. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). Al-Qur’an 2. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur’an. yaitu : Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas : 1. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Kitab Hadits. lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra’yu (Qiyas). Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). 5. Qiyas 6.belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid. Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) 7. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh . Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi’i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta’ untuk keluarga istana. Ijma’ 4. karena sejak Masa Khalifah Usman. maka Imam Malik berkata . Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur’an imam Syafi’i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah). sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Al Muwatta’. 3. Pada usia 10 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwatta’ karya imam Malik. Perkataan Sahabat. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat. pengarang kitab Al Muwatta’ di Madinah. Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih.

Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. hingga akhirnya Imam Syafi’i ingin pergi ke Irak. Imam Syafi’i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Imam Syafi’i meneruskan pengembaraan ke Persia. maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Qiyas 5. Ramlah. Dengan diantar gubernur Madinah. Setibanya di Mesir. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. Sesampai di Irak. menerangkan mukashis nash yang mujmal. Al-Qur’an 2. Metode Ijtihad Imam Syafi’i : 1. apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi’i telah hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al Muwatta’ karangannya. terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Hirah. Ijma’ 4. Imam Laits bin Sa’ad mufti Mesir telah meninggal. Pada sekitar tahun 200 H. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi’i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi’i mengunjungi ulama-ulama setempat. Imam Syafi’i terus mengajar dan menjadi mufti. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi’i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid. maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya . Imam Syafi’i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi’i. Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur’an dan Hadist. ketika itu beliau berusia 29 tahun. sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. Tapi setelah pemuda Syafi’i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar. memberikan fatwa-fatwa di Masjid ‘Amr bin Ash sampai wafatnya. Di Yaman Imam Syafi’i juga masih terus belajar. Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. melalui kitabnya Ar Risalah. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak. Sekitar satu tahun Imam Syafi’i tinggal bersama Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi’i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar. Setelah bebas dibebaskan. Anatolia. Istidlal Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Maka akhirnya Imam Syafi’I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi’i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Sepeninggal Imam Malik. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. Imam Syafi’i mendatangi rumah Imam Malik. Imam Syafi’i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta’ kepada jamaah pengajian Imam Malik. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari.gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi’i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Hadis 3. imam Syafi’i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Palestina.

2. saat itu kaum Mu’tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahkluk. Mekkah dan Madinah. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi’i. Mukhtaliful Hadits. Imam Abu Zu’rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. Basrah. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma’mun. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. berisi mudhabarah. Syria. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Ar Risalah. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. 5. Setelah Al-Watsiq. Imam Syafi’i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. 7. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Ar-Raddu ‘ala Muhammad ibn Hasan. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Akibatnya beliau disiksa. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. 8.saling bertentangan.000 (satu juta) hadits”. Sepeninggal Al Ma’mun. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. Yaman. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu’tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Ayahku telah menuliskan 10. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Jami’ul Ilmi. Musnad Imam Syafi’i. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. menerangkan kehujahan Ijma’. Al ‘Um (kitab induk). berburu hadits.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. 3. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : . berisi penilaian terhadap metode Istihsan. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. Ketika berumur 16 tahun. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza’y. 4. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma’mun meninggal secara mendadak di Tharsus. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. ahli ibadah. qiyas dsb. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. murid utama Imam Abu Hanifah. Kitab-kitab mazhab Syafi’i : 1. 6.000.000. Ibthalul-Istihsan. wara’ dan zuhud. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu’tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur’an. dipukuli dan hampir saja dibunuh. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. Kaum Mu’tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma’mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. Siyarul Auza’y.

9. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Umar. . III. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara’ dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits). Al-‘Illah. 3. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. 6. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. Al-Qur’an Hadits Ijma’ Sahabat Fatwa Sahabat Atsar Tabi’in Hadits Mursal / Dhaif Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). Kitab Ash Shalah. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. 3. Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur’an. 2. 3. seperti ketetapan Abu Bakar. 7. 12. B. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. dll. 11. Al Manasikul Kabir. 7. Musnad Imam Ahmad. 5. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. 10.1. Al Manasikus Saghir. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. 2. Abu Said Al Kudry. Aliran Ra’yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. 8. Usman. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Mengikuti guru mereka. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra’yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. 4. Jawabatul Qur’an. Kitab Zuhud. 5. 2. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. 4. Kitab At Tarikh. Tafsir Al-Qur’an. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. 6. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra’yu (qiyas). relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. A. Kitab Nasikh wal Mansukh. 4. Tha’atur Rasul.

4. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Abu Musa Al-Asy’ari. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. sedangkan ahli ra’yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah persyaratannya. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Amar bin Yasir. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra’yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. 3. Rabi’ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari’ah). Ali bin Abi Thalib. Hudzaifah bin Al Yaman.Kelompok Khawarij. Mughirah bin Sub’ah. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari’atannya. Rabi’ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. maqashid syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. 2. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. kemudian Al Auza’i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza’i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku’ dan I’tidal ?” . Sa’ad bin Abi Waqash. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi’ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi’ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Anas bin Malik. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas’ud. 5. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Pada suatu hari Al Auza’i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah.

Menolak mafhum mukhalafah ii. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari’ah Perbedaan Metode Ijtihad. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. 2. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur’an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. F. C. D.Hanafi Qiyas Rasionalis D. B. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur’an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . C. Imam Abu Hanifah : a. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. dari Rasulullah SAW. Perbedaan memahami Al-Qur’an A. F.Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. Adanya ayat-ayat yang ‘Am (umum) D. Al Auza’i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Ibrahim lebih pandai dari Salim. Mendengar jawaban itu. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra’yu. E. Perbedaan Memahami Hadits A. Berpegang pada dalalatul Qur’an i. E. saat ruku’ dan ketika I’tidal”. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. . Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). dari ayahnya Abdullah bin Umar. G. B. Lafz umum itu statusnya Qat’i selama belum ditakshiskan 3.Hanbali – Maliki – Syafi’i . Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. C. Al Auza’i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. A. walaupun seorang Shahabi”. Al Auza’i pun minta diri. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan.

Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Qiyas f. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu) b. beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur’an) menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. Imam Syafi’i lebih mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad) d. tetapi juga melihat matan-nya c. menurut Syafi’i. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. Taharah dari hadas . contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. C. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Berpegang pada Qiyas i. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. hadis ahad (jadi. Istihsan g. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Berpegang pada hadis Nabi i. zhahir Nash ii. Konsekuensinya. Kitab Taharah 1. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari “Nashirus Sunnah”.iii. Ijma’ d. Imam Syafi’i a. Ijma’ c. B. Imam Malik a.1. IV. beliau menaruh kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat).1. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. Qaul shahabi e. 1. Qur’an dan Sunnah (artinya. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. Hadis dhaif e. Qiyas D. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. Artinya. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. menerima mafhum mukhalafah b. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b.1. Bagian Ibadah. Imam Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan.

Kitab Syuf’ah 3.11.28. Kitab Jihad 1. Kitab Haji 1. Bai’il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab hibah 3.12. Kitab Zakat 1.24.5.13. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3.3.25.14.5. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3. Kitab makanan dan minuman yang haram 2. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3.27. Kitab ‘Ariyah (peminjaman barang) 3. Kitab Sembelihan 1. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3.15. Kitab Radla’i (penyusuan anak) 2.1.2.9.21. Kitab Kitab Shalat 1.20. Kitab Aiman (sumpah) 1.10.6.9. Bagian Muamalat Madaniyah 3. Kitab I’tikaf 1.4. Kitab Washaya 3. Kitab Nasab 2.6. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2. Kitab Nafkah 2. Kitab Faraidl (warisan) .19. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.23.10.2. Kitab Talak 2. Kitab Qiradli (berdua laba) 3.7.1. Kitab Zakat Fitrah 1.17.3.7. Kitab Buyu’ (jual beli) 3. Kitab Taflis (orang pailit) 3. Kitab Ila’ (sumpah talak) 2. Kitab Qismah (pembagian) 3.5.26. Kitab Nadar 1. Kitab Ruhun (gadai) 3. Kitab Ihdad (berkabung) 3.18.7.8. Kitab Aqiqah 1.22.15. Kitab Dhihar 2. Kitab Berburu 1. Kitab Shiyam (puasa) 1. Kitab Janazah 1.2. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3.16. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3.16. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3.12.4. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3.1. Bagian Munakahat 2.4.14.6. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.1. Kitab Ju’li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3.8.3. Taharah dari najis 1.10. Kitab Nikah 2. Kitab Li’an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) 2. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.2.9.8. Kitab Bai’il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Wadi’ah (menitipkan barang) 3.11. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Kitab Qurban 1.13.

29. ma’ani. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah.8. Kitab Jarahi (qisas. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. bayan (kejelasan) dan badi’ (efektifitas bicara). Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4. Kitab Qadzaf (tukas) 4. 5. Mujtahid. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Mengetahui ilmu hadits. 3. sharaf (konyugasi).3. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4.7. diat.6. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi.31. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi.5. Contohnya Abu Yusuf. illat hukum. 7. 5. perusuh) 5. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. Ar Rafi’ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi’i. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. 2. Contohnya Al Karakhi. 8. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih.1. pembebasan tuntutan) 4. atsar sahabat dan tabi’in. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Kitab Zina 4. Bersih dari hawa nafsu. bukan pada masalah pokok. . Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. Mengetahui Ijma’ masa Khulafaur Rasyidin.30.2. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). Syarat-syarat Mujtahid 1. 2. Kitab ‘Itqi (memerdekakan budak) 3. Bagian Peradilan 5.2. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”.3. B. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. balagah (retorika). 6. tasrif (konyugasi). musytaq (bentuk kata turunan). Mufti dan Hakim A. penjarahan. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. 3. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) V. Akidahnya benar. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. Kitab Sariqah (pencurian) 4. Kitab Khamr 4. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda.9. seperti : nahwu (gramatika). serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. Jenis Mujtahid 1.4. Kitab Hirabah (perampokan. Memahami ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. Al Muzany dari mazhab Syafi’i. Mujtahid fil Masa’il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. Al Ghazali dalam mazhab Syafi’I. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4.32.1. dhalalah nash. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3. masdar (kata dasar). 4. 4.

C. budak. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. b. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba’. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba’ dalam agama disuruh. Tidak menghiraukan nash syara’ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. Hukum Taqlid : a. 4. 2. VI. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. kerabat. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. 3. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. 3. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara’. Periode Taqlid : 1. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. dalil-hujjahnya. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. Taqlid yang haram : 1. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. c. orang asing. 2. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara’ secara mendalam. . Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. moyangleluhur. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. pria. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. tentunya itu akan menyulitkan. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. 3. famili. 2. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. wanita. 5. Ittiba’ dan Taqlid Ittiba’ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. dalilhujjahnya. 4. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. sedangkan taqlid dilarang”. laki-laki. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1.

Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. contoh : shalat sunnat rawatib. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. 6. wakaf. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. 10. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. 14. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. 2. contoh waktu shalat lima waktu. contoh : mengurus jenazah. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada’an. Wajib ‘ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. contoh shalat lima waktu. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). 7. 10. 8. B. Ash Shan’ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. Ibnu Rif’ah (645 – 710 H). Wajib Mu’aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . 13. 2. 15. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. 3. 11. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. 14. 6. contoh : azan dan jama’ah. 5. VII. contoh : sedekah.2. . contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. An Nawawi Al Bulqini (724 – 805 H). 7. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. Al Asnawi (714-784 H) Al Jalalul Mahalli (791-864 H). 4. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). Wajib Muwassa’ = wajib yang diluaskan waktunya. 4. 8. Ibnu Taimiyah (661-728 H). adat. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. 13. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. 12. contoh = kafarah sumpah. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. sholat isak dari petang sampai subuh. Rasyid Ridha. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa’ sekaligus mudhaiyaq. 12. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada’an. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. 5. 9. 9. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). contoh : zakat. puasa ramadhan. 3. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara’. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. shalat tahajud. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. Pembagian Sunnat : 1. Wajib Mu’aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. 3. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. contohnya ibadah haji. minum. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. 11. Muhammad Abduh. 4. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. contoh : makan.

makan jengkol. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. Sakit. Jangan membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Haid 9. Lupa 4. b. Sanggup dikerjakan. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. yaitu haram yang dalilnya belum qath’i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. Pembagian Makruh : 1. Tidur 5. e. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Silap (tidak sengaja) 13. Safar (bepergian). Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Mati 11. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. D. 2. shalat di akhir waktu. Untuk melaksanakan taat (ibadah). Jangan berlebihan. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). tetapi bila ditinggalkan terpuji. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. E. Baligh (dewasa). Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. d. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. Setengah gila 3. contoh : merokok. shalat dengan berdiri. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Berakal (sadar dan waras). 8. c. Paksaan . Gila 2. halangan untuk wajibnya shalat jum’at 12. 2. Pingsan 6.C. Diketahui berdasarkan dalil. Dapat dibedakan. c. Mabuk 7. b. VIII. 3. Halangan – halangan : 1. Nifas 10. halangan untuk puasa. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. makan daging babi. tetapi terpuji bila ditinggalkan.

yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). IX.’ Rasulullah bertanya lagi : ‘jika tidak didapat di Kitab Allah ?’ Mu’adz menjawab : ‘Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. Qiyas 2. dsb. seraya bertahmid : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. Dalil aqli (akal) 1. Al-Qur’an . Sunnah (Hadits) B. Dan lain-lain. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur’an dan Hadits. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal. Macam-macam dalil : A. Al-Qur’an 2. Ushul Fiqih A. ‘Rasulullah kembali bertanya : ‘Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?’ Mu’adz akhirnya menjawab : ‘ Ajtahidur ra’yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. 15. ‘Mu’adz berkata : ‘Lalu Rasulullah menepuk dadaku. Tua renta pikun. Hadits Mu’adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? ‘Mu’adz menjawab : ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. Sumber Hukum Pimer 1. saya tidak putus asa. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu’adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. halangan untuk shalat berjama’ah. Ijma’ (konsensus) C. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur’an. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir.14. Maslahah Mursalah 4. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). Istihsan 3. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur’an dan atau Hadits. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. B. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) ulil-amri.’ “ (HR Abu Dawud). pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. Hujan. Dalil naqli (teks) : 1.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an.

” (QS Al-Maidah [3] : 38). Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. . jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. tiga atau empat. maka (kawinilah) seorang saja. Zhahir. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina.” (QS AnNur : 2). Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an bersifat qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur’an. 3. 2. ta’wil dan nasakh. c. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. Peranan Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sbb : 1. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath’i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. terdiri atas : a. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. b. lebih jelas dari nash. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur’an. (bilamana kamu mengawininya).” (QS An-Nisa’ : 3). Istinbath hukum dari dalil Al-Qur’an dan Hadits 1. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. 5. mantuq-mafhum. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath’i pula dhalalahnya. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. mujmal-mufassar. makna hakikat-majazmusytarak). potonglah tangan keduanya… . Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur’an. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya). ‘am-khas. paling rendah tingkat kejelasannya. 6. C. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. Nash. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. Mufassar. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur’an. 2. mutlaq-muayyad. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. 4.Al-Qur’an adalah sumber hukum primer yang pertama.

Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti).” (QS An-nur : 4). Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). d. esensi zat dan mata-mata (intel). Muhkam. ta’wil maupun nasakh. tidak pula pencuri buah-buahan. mata air. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. . Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. Contohnya kata ‘ain. Sedangkan Imam Abu Yusuf. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya.” Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak.Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Imam Malik.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. c. terdiri atas : a. b. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. Al-Khafi.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. pencurian yang kurang dari 10 dirham. Imam Syafi’i.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. pencurian terhadap mayang kurma. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan.

tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. 3. Maha Mendengar. Riwayat Abu Ubaid. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta’ah). Allah “turun” ke langit dunia. dsb. dan “datang” lah Tuhanmu. dsb 6. 7. zalim). Maha Hidup. surga-neraka. alam jin. 2. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. alam malaikat. Zahir. Maha Mengetahui. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. Inilah yang dimaksud dengan nash.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la ‘ad. “tangan” Allah diatas tangan mereka. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. Riwayat lain dari Muhammad bin Sa’d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. Nash. Maha Berfirman (Kalam). Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : . alam kubur. tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. A. 4. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. akhirat). Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. 2. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash.d. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. Ayat-ayat tentang Asma’ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. contoh : Allah Maha Melihat. dsb 5.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. tidak mengandung kemungkinan makna lain. Allah “melempar”. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A.

Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. sedangkan mu’awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. 3.“Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. Mu’awwal berbeda dengan zahir. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Dalalah istida’ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. Contoh yang lain pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. terdiri dari : 1. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. Mu’awwal. B. yaitu kata “bersenggama”. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat.” 5. . yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . jelas (zahir) sehingga itulah makna yang rajih (kuat). Misalnya pada QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ‘ah’ . dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. Fahwal khitab.

Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. Cakupan Lafazh A. Misalnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. 2.” . yang dimaksud adalah sifat ma’nawi. b. 3. b. 3. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. diteliti. Mafhum hasr (pembatasan. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. Mafhum sifat.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. yaitu memperhatikan syaratnya. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. Lahnul Khitab. Ulama-ulama Hanafiah. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). 2. Berhujjah dengan Mafhum : a. merusak. 4. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa.perbuatan lain seperti mencaci-maki. Mafhum gayah (maksimalitas). hanya). walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. tidak wajib diberi nafkah. terdiri dari : 1. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. memukul lebih diharamkan lagi. perbuatan lain seperti : membakar. Mafhum syarat. maka berikanlah kepada mereka nafkah. menyia-nyiakan. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. ‘Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh ‘Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz’iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas.

Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a. qatibah dan sa’irun : a. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan.” 6. Contohnya pada QS Al-Isra’ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. Lafazh ma’syara. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.” 7.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. QS Al-An’am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. al-lati. aina dan mata (kapan). ma (apa saja). “Hai Nuh. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. Contohnya pada QS Al-Ma’idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. tidaklah dapat kamu menghitungnya.” b. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya.” b. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya.” 3. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya.” . Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami’un (seluruh) a. alladzina. QS An-Nisa’ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan.” 5. Aneka Ragam bentuk ‘Am : 1. seperti : a. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. Isim berbentuk jama’ yang diawali alif dan lam. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu. QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. ‘ammah. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. ma’asyira.” 8. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.” 9. walau sedikitpun. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).” b. Lafazh man (siapa). Dia mempunyai nama-nama yang baik. al-lati dan dzu. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” 4. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah.

Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” 2. d.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “.” Anak tiri haram dinikahi. QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. Istitsna (pengecualian). Macam-macam Mukhashshis (peng khusus).” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf. Batas. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. ‘Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya). apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. ‘Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. 1. Syarat. Sifat. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. ‘Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. Mukhashshish Munfashil . sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari ‘Am. yaitu Jibril. c. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. ‘Amr (perintah) dengan bentuk jama’ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. e. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. . Macam-macam penggunaan lafazh ‘am (umum) : a.10. b.” Ayat itu umum untuk semua manusia. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. c. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. maka tidak wajib berwasiat. jika ia meninggalkan harta yang banyak. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : “Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. maka anak tiri itu boleh dikawini.

d.a. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula.” e. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa’ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” b. waktu ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma’ bagi laki-laki yang berstatus budak. Hadits (men takhsis Al-Qur’an dengan hadits). maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. Qiyas (men takhsis Al-Qur’an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Indera (men takhsis Al-Qur’an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. dan dia dianugerahi segala sesuatu. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain.” (HR Muttafaqun ‘alaihi).” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah.” Mukhashshish kedua. c. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar. f. g. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Ayat Al-Qur’an yang lain. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya.” Ayat tersebut bersifat umum. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. Ijma’ (men takhsis Al-qur’an dengan Ijma’). bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain. Akal (men takhsis Al-Qur’an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra’du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. serta mempunyai singgasana yang besar. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber ‘iddah) tiga kali quru’.” (HR Bukhari). Siyaq (Mentakshis Al-Qur’an dengan siyaq) . contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “Allah mensyari’atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman.

maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur’an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. khas dan takhsis : 1. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. 5.Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Hukum lafazh ‘am. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A’raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Katakanlah. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. Mubayyan Muttashil. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. ?” Dalam ayat tersebut. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. B. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). 3. Apabila lafazh itu bersifat ‘am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya).” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. 2. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. Takhsis jenis syarat. selama tidak terdapat dalil yang menta’wilkannya dan menghendaki makna lain. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut.” . karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. jia ia tidak mempunyai anak. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global). maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. 4. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Apabila didalam ayat Al-Qur’an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). supaya kamu tidak sesat. Misalnya dalam QS An-Nisa’ [4] : 176. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash.

batas-batas yang dibasuh. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. Oleh karena itu. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. 2. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji.’ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. ingatlah. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti’naf). Dari ayat Al-Qur’an yang lain. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.berkata. Dari Sunnah (hadits). Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. dsb. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.”. b. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Dengan kata lain. Dalam hal ini bisa berupa : a. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. yaitu kata “dan”.‘Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Namun. hal ini memerlukan penjelasan. 3. . Ingatlah.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. lalu bersabda : “Sholatlah kalian. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih.2. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. Mubayyan Munfashil. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi’li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”.

Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. yang maksudnya dua puluh sembilan hari. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). haji. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya. shiyam. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Mufassar oleh lafazh lainnya Yaitu lafazh yang bentuknya global. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. Penjelasan dengan diam (taqrir). Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar’i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. dengan cara isyarat. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid).” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. zakat. Contohnya tentang lafazh : shalat. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. 7. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). 6. 5. Macam-macam mufassar : 1. 8. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. haji dan lainnya. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). zakat. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : . 2. tidak terurai. C.4.

Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. tidak dibatasi jumlahnya.” 2. baik yang mukmin maupun kafir. yaitu “darah yang mengalir. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya).” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. ‘Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). a. Pada QS Al-An’am [6] : 145 : “Katakanlah.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq.” 3. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.” Karena ada persamaan hukum dan sebab. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa’ [4] : 43 adalah mengusap . pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa’ [4] : 43 : “…. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. minimal-maksimalnya.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. Sebab dan hukumya sama. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. meliputi segala jenis budak.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir.“Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. darah dan daging babi. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak ….Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Contohnya dalam QS An-Nisa’ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. Contohnya. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. Namun mengenai wudhu.

maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). 1. pada ayat ini tentang potong tangan. Adanya makna hakikat. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Makna Majaz yaitu makna kiasan. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. Menunjukkan suruhan saja. 4. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. Menunjukkan kebolehan . c. Sebab dan hukumya sama. maka sebabnya berbeda. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. yaitu “mengadakan dua orang saksi”. b. Jadi Hukum lafazh mutlaq . maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Menunjukkan sunah.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. b. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir ‘iddahnya. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. c. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. Makna Hakikat yaitu makna lahir. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). b. Menunjukkan wajib. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a.tangan. d. Kaidah Makna Kata a. c. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”.muayyad : 1. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. 3. potonglah tangan keduanya… .

Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. Larangan karena diri perbuatan. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. 5. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. d. jika ia meninggalkan harta yang banyak. c. seperti larangan zina. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum’at dikumandangkan. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal.” b. Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. Ta’arudl Yaitu pertentangan antar dalil. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. c. b. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak.. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. Prinsip-prinsipnya : 1. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa’ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3.Larangan (nahi). mengadakan jamuan. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Hadits Marfu’ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) . menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. Al-Qur’an lebih kuat dari Hadits 2. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. 6. karena bisa dikompromikan. larangan wanita haid mengerjakan sholat.

menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). 10.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah.” . tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. (Baca kembali Ilmu Hadits. 1. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur.7. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu’ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. didahulukan yang menghalangi. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. Nasakh Dlimmy. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu’ yang banyak. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. Nasakh Sharih. 9. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur’an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz’iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu’ (cabang). Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. point Mukhtaliful Hadits) d. 8. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian.” 2. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh.

maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang . 2. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. 7. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. Sumber Hukum Sekunder 3. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu’ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth’i) 12. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. 11. maka baik pula dalam pandangan Allah. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. 3. 14. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). 5. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. maka mengadakan sarana itu juga wajib. terhadap suatu hukum syara’ yang bersifat praktis ‘amaly. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian.” a. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) Ulil-Amri.” “Ingatlah. 9.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. Ia akan lebih juah dari dua orang. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. Jalan yang menuju haram juga haram. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. bukan sebaliknya. 6. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. Dalil yang menjadi dasar Ijma’ : Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. E. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. barangsiapa yang ingin menempati surga. 10. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. 4. 13. Ijma’ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. 8.

Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. 4.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Ijma’ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur’an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). agar tidak dianggap aneh.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. begitu pula Imam Malik menghargai ijma’ ulama Madinah. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Dasar kehujjahan Qiyas : a. Ijma’ Sukuti. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. bisa jadi sedang memikirkannya. Ijma’ Sharih. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in.mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : .” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma’ ulama Kufah. Tingkatan Ijma’ : a. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. b. artinya ada juga yang mendiamkannya. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” 5. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. Bila ada pendapat dari tabi’in maka saya teliti. Pada masing-masing kota yang didiami. Ijma’ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. b. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. maka saya pilih. Ijma’ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur’an atau Hadits. b.

“Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. c. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian, juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. d. Hadits – Hadits Nabi : 1. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar, yakni mencium istriku, sedang aku sedang berpuasa”. Lalu Rasulullah bersabda : ‘Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?’. ‘Hal itutak mengapa’, jawabku. ‘Maka mengapa (kamu menanyakan) ?’ Jawab Rasulullah”. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. 2. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi, seraya ia berkata : “Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji, akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. ‘Benar’, jawab Nabi. “kerjakan haji untuknya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang, bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? ‘Ya’, jawabnya. Rasulullah berkata : ‘Tunaikan hutang-hutang Allah, sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi’ ”. (HR Bukhary dan Nasa’i). Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. e. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy’ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara, maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. Asal, yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur’an dan hadits. 2. Furu’, yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. 3. Hukum, yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. 4. Illat, yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu’. Syarat-syarat qiyas : a. Hukum asal tidak dinasakh. b. Hukum asal jelas nashnya. c. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. d. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. e. Mempunyai illat yang sama. f. Hukum cabang sama dengan hukum asal. g. Ada illat ada hukum, tidak ada illat tidak ada hukum. h. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara’. Macam-macam Qiyas : 1. Qiyas Aula / Awlawi / Qath’i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Contoh, Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur, maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Kita pahamkan bahwa gila, pingsan, mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.

2. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Contohnya dalam QS An-Nisa’ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. 3. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. 4. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum, berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. 5. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 6. Qiyas fi Ma’nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. 7. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal, yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal, lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya, seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi, berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang, karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. 8. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak, namun perbedaan pemisah antara asal dan furu’ diyakini tidak berbekas. Misalnya, mengqiyaskan haramnya mencaci, memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan ‘cis’, dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. 9. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Misalnya, mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. 10. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Misalnya, mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. 11. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu, bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. 12. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. Contohnya, hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. Para Sahabat bertanya : ‘Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : ‘Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram, adakah dia berdosa ?, demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal, ada pahala baginya”. (HR Muslim). 13. Qiyas Ikhlati wal Munasabati

Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah, yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. a. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma’. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Sehubungan dengan ayat ini, maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. b. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama’ shalat dimasa hujan. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab, akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama’. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. 14. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Misalnya, wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya, karena menimbulkan kesukaran. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. Akan tetapi ada keterangan dari syara’ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. 15. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara’ membolehkan atau menolaknya. Misalnya, wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan, maka si pembunuh tidak mendapat warisan. F. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz’iyah (parsial), furu’iyah (cabang) yang jauh). 6. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat, contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air, tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara’ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan, contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. 8. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada, tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu., contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum, maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 9. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya), contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu, maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. 10. Sadudz Dzariah Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Contoh : Zina itu haram, maka melihat aurat wanita, berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi, bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina

Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu’. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. Ta’amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. Istiqra’ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi.11. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama’ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara’. Bara’ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa’I fil ‘ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi ‘itibaaril fil mu’aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin 19. Al Ishmah . At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. 20. Ar Ruju’u ilal manfa’ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. 12. muamalah. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. 16. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. bila mereka murtad maka dibunuh 21.

Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. Al ‘amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24.yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. 23. Syar’u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. ‘Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. 28. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. Ma’qulun nash yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. 27. 22. Al Qur’ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. Al ‘amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). Al ‘amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” .

semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. Memelihara Nyawa (nafs). Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara’ (maqashid syari’ah). Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. Segala hukum muamalah. Memelihara Harta (mal). Faqdud dalil ba’dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba.34. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. Ru’yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. X. e. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara’ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. c. Memelihara Agama (dien). Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. dari maslahat kepada masfadat. 2. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Syara’ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Memelihara Akal (aqlu). baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. yaitu : a. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Syariat semuanya adil. . Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat 36. d. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. dari rahmat kepada bala’. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. Maksud-maksud syara’ yang umum : 1. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Memelihara Nasab-keturunan (nasl). Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. b.

Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). i. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. mashar. c. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. b. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Yaitu tingkat yang paling rendah. Tidak ada tuhan selain Allah. h. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I’tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. Contoh-contoh masalah ushul : a. kesusilaan. 3. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang) A. akal. Allah satu satunya tempat bergantung. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I’tikadnya (keyakinannya). d.Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. kemudahan-kenyamanan hidup. keturunan dan kehormatan. Apabila yang demikian ini tidak diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. . Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama’ ketika sedang ada udzur yang syar’i. shirot. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Yaitu tingkat yang harus ada. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. Dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath’i (pasti). Tingkat Tahsiniah. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. Tingkatan Maksud Syara’ 1. 2. perampokan tentu rusak maslahat harta. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. XI. tata sosial kehidupan. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. memelihara. tidak boleh tidak ada. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. surga-neraka) k. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. Salah dalam I’tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. Tingkat Dharuriyah. tauhid dan rukun iman yang enam. g.

Fiqih Haji e. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Detail tata cara sholat b. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Mujasimah. Jabariyah. Mu’atillah (baca kembali Ilmu Kalam). perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Dalil Qath’i (pasti) Dalil disebut Qath’i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid’ah akidah seperti kaum Khawarij. Dalam masalah furu’iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. I’tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. Masalah furu’ itu ibarat ranting. muamalah. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan) A. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). Begitu luasnya cakupan masalah furu’ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Bila benar dapat dua pahala. boleh ada variasi. Para sahabat bertanya : ‘Siapakah golongan yang selamat itu ?’ Nabi menjawab : ‘golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah’.l. maka dalam masalah furu’iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. Syiah Ghulat. Bila ada yang berani berbeda pendapat. Masalah Furu’ (cabang) Masalah Furu’ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Jadi tidak boleh ada variasi. Jadi dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. Urusan duniawiyah i. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). dahan dan cabang dalam sebuah pohon. dsb. urusan duniawi. Murjiah. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. bila salah dapat satu pahala. Qath’i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir . diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Qadariyah. Dan lain-lain. XII. Dan lain-lain. para sahabat bertanya lagi. Dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. dan boleh ada perbedaan pendapat. sedangkan lainnya adalah binasa. seperti rincian praktek tata cara ibadah. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. Fiqih Sewa-Menyewa g. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Fiqih Puasa d. Jadi dalam masalah furu’ boleh ada ijtihad. Fiqih muamalah h. Fiqih Jual-Beli f. ‘Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu ?’ Nabi menjawab : ‘Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku’ “ B. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. bahkan banyak yang masih mujmal. Musyabbihah. Fiqih Zakat c. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. Contoh-contoh masalah Furu’ a. masih ‘am (umum).

Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath’i. e. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). pemberontak. Kebanyakan masalah furu’ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. yaitu : 1. Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath’i diatas maka menjadi dalil Qath’i yang sempurna. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. Pengertian Bid’ah Secara Istilah. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. Qath’i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). penjarah. istihsan. Hukum potong tangan. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. . bangkai. b. Hukum potong tangan bagi pencuri. atsar-fatwa sahabat. d. contohnya : a. bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath’i. mazhab dan harokah Islam. (perampok. Tentang Bid’ah Pembahasan tentang bid’ah merupakan masalah yang sangat krusial. Secara istilah.2. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. B. Sultonu Ulama. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi’i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” menerangkan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Hukum haram bagi daging babi. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). darah yang mengalir. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. tanpa reserve. Kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. A. dsb) B. pelaku huru-hara. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). c. XIII. f. Tetapi ada juga masalah furu’ yang dalilnya qoth’i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. aliran. tidak boleh ditambah-dikurangi. sedangkan kebanyakan masalah furu’ dalilnya tidak qath’i. 2. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. seperti hadis ahad. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid’ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. khamr (arak) dan riba. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid’ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid’ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain.

Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid’ah juga. sunnah. b. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. bid’ah makruh dan bid’ah mubah. makruh. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Abu Syaamah. Bid’ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid’ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. bid’ah mandub (sunnah). terbagi menjadi lima hukum. Ibnu Hajar Atsqolani. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. Perbuatan keagamaan yang baik.” 3. c. satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. ini dinamakan “bid’ah dhalalah”. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur’an). sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. Imam Nawawi. 2. yaitu : bid’ah wajib. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan). Ada riwayat dari Abu Nu’im menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Bid’ah itu dua macam. Contoh-contohnya : Bid’ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur’an. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Hadits yang mengindikasikan adanya bid’ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. tetapi tidak tercela. bid’ah haram. . 2. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid’ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. atsar dan Ijma’. haram). Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. a. As-Suyuthi. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. Sunnah Nabi. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. mubah. Tentang bid’ah. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid’ah“. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini.Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi’i” menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Perkara baru (bid’ah) itu ada dua macam : 1. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW.

Bid’ah dalam ibadah. g. ilmu kalam (ushuludin).Kodifikasi. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. ilmu Fiqih. f. Umar. d. seperti : a. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). d. Bid’ah yang Mubah : a. ilmu tasawuf. . f. d. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Shalat Tarawih berjama’ah. ilmu Al-Qur’an. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). c. b.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid’ah dhalalah. Hukum sarana itu tergantung pada tujuannya. e. Bid’ah yang Makruh : a. c. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. Memakai pakaian yang bagus. e. seperti : a. . Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. Bid’ah yang haram : Bid’ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. Menghias masjid. e. Membuat rumah yang besar. Mencaci maki Aisyah. ilmu nahwu-sharaf. Bersalam-salaman setelah shalat berjama’ah. Mua’tillah yang menolak sifat-sifat Allah. d. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. Sarana menuju yang haram adalah haram. c. c. Dzikir berjama’ah. b. e. Qadariyah yang menolak takdir. b. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. menuduh Abu Bakar. Bid’ah yang Sunnah : a. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid’ah) itu semuanya adalah sesat. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. Adzan pertama pada shalat Jum’at. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. ilmu hadits. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. Makan menggunakan sendok. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. ilmu mantiq (logika). Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. ilmu balaghah. Menggunakan peralatan modern. d. b. b. Melakukan haji tidak ke Mekkah. Talhah. c. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta’lim. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Sistem pemerintahan yang monarki.

c. Tahqiq : 1.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid’ah dhalalah. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. d. e. 100 hari orang meninggal itu bid’ah atau tidak. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum’at sudah dekat. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. b. Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Asy-Syathibi. Peringatan maulid Nabi itu bid’ah dhalalah atau tidak. 2. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. Shalat Jum’ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. d.a. . Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum’at. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi’iyah. 40. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. b. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid’ah) itu adalah sesat”. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. contohnya : a.” (HR Muslim 1817) c. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa’h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Dzikir berjama’h itu bid’ah dhalalah atau tidak. lafazh ‘am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Jadi tidak “semua” perkara baru bid’ah dhalalah. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur’an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. b. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid’ah dhalalah. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Shalat Sunah berjama’ah itu bid’ah dhalalah atau tidak. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. 7. e. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. Dzikir berjama’ah tidak ada dijaman Nabi. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum (‘am). Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. 4. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. itu termasuk bid’ah dhalalah atau tidak. masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. c. 3. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam.

g. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid’ah).f. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. XIV. tidak saling menyalahkan. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. h. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. illat hukumnya. yaitu kaum Khawarij. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. tidak saling mencaci. 6. Qadariyah. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid’ah dhalalah. i. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak . Tidak saling mencelah. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an). tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath’i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. j. Syiah Ghulat. 5. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. maqashid syariahnya dan sebagainya. Mujasimah. Tentang adat. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. Murjiah. Musyabbihah. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Mu’atillah. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. karena sejak Masa Khalifah Usman. Dalam masalah furu’ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. atau masalah furu’ yang dalilnya sudah Qath’i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Jadi jangan gampang memvonis bid’ah dhalalah terhadap semua perkara baru. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid’ah dalam masalah akidah. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Jabariyah. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits.

“Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. maka Imam Syafi’I menjawab : “Saat dalam kesulitan. Dengan demikian. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. Karena para sahabat. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” . kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. Menanggapi kejadian itu. suatu hari Imam Syafi’i shalat setelah bercukur rambut. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi’i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah.membatalkan wudhu. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. aku tidak akan mencelanya”. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath’i yang tegas mengharamkannya. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Kata Yahya bin Mu’in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Suatu hari. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma’). ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu’in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Al Auza’i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. para tabi’in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. Malik. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. Artinya beliau sangat hati-hati. Syafi’’i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. “Sudahlah. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi.

para imam. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka’bah begitu saja. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. selayaknya dia ikut membaca qunut. “Empat raka’at”. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. guru besar kami. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka’at ?”. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. sejauh yang penulis temui.Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” . maka . Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari’ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Banyak yang mempertanyakan hal itu. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas’ud di Mudzalifah. Mereka langsung mempertanyakan. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. kalau imamnya tidak membaca qunut. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka’bah. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta’. Maka Ibnu Mas’ud langsung shalat empat raka’at tanpa membantah. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. berbeda dengan pandangan para makmumnya. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. “Apabila seorang makmum berjama’ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku’ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi’i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. Ibnu Mas’ud menjawab : “Memang. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku’. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. Terlihat disini. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku’ atau sesudahnya. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka’at ?” Mereka menjawab. Sebaliknya. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”.

12. (HR Ahmad. mubtadi (pelaku bid’ah) atau mengkafirkan. 11. Kemiskinan dan kebodohan umat. Kalian harus tetap dalam jama’ah. 3. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. Hakim. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. Persatuan adalah wajib. 5. 6. seperti : a. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama’ah. Hakim. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. Nasa’i. Menjauhi dan menghindari perpecahan. Degradasi moral dan spiritual. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. fasik. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath’i (pasti) dan sharih (jelas). niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. (QS Al Anfal : 46). “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. sekuleristis. c. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. b. Berperasangka baik kepada orang lain. Atsar riwayat Baihaqi. 13. e. f. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. zindiq. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. d. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama.Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. . e. b. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu’ yang ijtihadi. 10. c. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. 8.” (HR Turmudzi. Ibnu hibban) 9. f. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabi’it tabi’in). Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. 4. hedonis. Waspadalah terhadap perpecahan. Ibnu Khuzaimah. Merasa kelompoknya paling benar. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. Ibnu Majah. tidak ekstrim berlebih-lebihan. 7. (QS Ali Imran : 103). Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. Bersikap moderat (pertengahan). Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain.

tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. maka mengutamakan kebenaran. tanpa memilih dan memilah. kasih sayang dalam pergaulan. dsb. menyantuni fakir-miskin. Aspek lahir syariat : shalat. 15. wejangan. Buruk sangka. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. mazhab itu adalah aspek sentimen. b. f. rendah hati. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. membangun sarana pendidikan. Tidak mengakui pendapat lain. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. bersikap agresif-ofensif menyerang. i. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. Yusuf Qaradhawi. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting.14. suku. melemahkan pendapat orang lain. mubtadi. DR. Diskusi. Liberalis. ‘hafal’ ayat dan teks hadits. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. berperasaan dalam etika. 5. ras. kafir. kelompok. d. amanat dalam muamalah. tulus menolong sesama. itu semua jauh lebih penting. Memvonis orang lain sesat. Dari Simbol menuju substansi. Kasar. puasa. Fikih Kotemporer . Dari emosional menuju rasional Memusuhi kelompok yang berbeda. adu argumentasi. memakai jilbab. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu’ yang ijtihadi). matang dalam fiqih dan berwawasan luas. memendekkan celana diatas mata kaki. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. beradu dalil. riset penelitian ilmiah. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. dsb itu semua adalah simbol yang penting. Memaksakan pendapat. zakat haji. Suka men-generalisir. hafal teori-teori theologi : sifat 20. g. ikhlas dalam ibadah. seorang ulama suni kotemporer. mengunggulkan pendapat sendiri. 6. 3. dikenal moderat. asmaul husna. tulus menolong sesama. fasik. membawa kayu siwak. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. adil dalam memutuskan. memakai peci. Dari formalitas menuju hakikat. memakai baju gamis. Menjauhi perdebatan sengit. Literalis. hufadz (hafal Al-Qur’an). e. h. seminar. golongan. 4. Memanjangkan jenggot. menyakiti. 2. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : XV. c. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. itu adalah sikap emosional.

kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. 11. Tidak mau mengambil ruksyah. d. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. Ciri sikap fanatik : a. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. e. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. 12. f. e. c. sedangkan ittiba’ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. . Ciri sikap toleran : a. c. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. Dari menyulitkan menuju kemudahan. Antara rasionalis dan literalis. (QS Al Baqarah : 185). d. 14. (QS Al Hajj : 78). Menganggap semua yang lain pasti salah. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. Keras pada masalah furu’ yang ijtihadi d. 8. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari’ah. Menganggap dirinya paling benar. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. 10. 13. Dari fanatisme menuju toleransi. b. illat hukum. b. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. Dari perpecahan menuju persatuan. (HR Bukhari. Tidak merasa yang paling benar. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. c. Dari jumud menuju ijtihad. Tidak bersikap keras pada masalah furu’ yang ijtihadi. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. Dari keberingasan menuju kasih sayang. mudah mengharamkan.a. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Ahmad. memperluas konsep bid’ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid’ah dhalalah. (HR Ibnu Hibban. Dari taklid menuju ittiba’. e. b. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9.

. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari kehidupan sehari2 menurut Islam. ‫السلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ‫خير المور اوساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫شكرا ياأخى‬ ‫والسلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. salam silaturahmi.. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. 12 Comments » 1. . Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah.15. guru ngaji saya pernah berkata. Assalamualikum. Dari perselisihan menuju solidaritas. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. Wassalam. ‫جزاك ال جيرا كثيرا‬ …assalamualaikum.

Di umur yg kian berkurang ini (29thn). mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 8.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh. Ilmu yang bermanfaat Muh.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh. Minta izin untuk mengcopy ilmunya. mohon izin untuk copy materinya .. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah.. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. Assalamu alaikum. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11.penghafal Al-Qur’an. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10..apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang.

TrackBack URI Leave a comment Top of Form Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). 8 Submit Comment 52 Bottom of Form • Top of Form Search for: Cari Bottom of Form • Artikel ○ Ahlus Sunnah Wal Jamaah . type the security word shown in the picture.rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post.

pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf .. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad..○ ○ ○ ○ ○ ○ Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf • Tulisan Terakhir ○ ○ ○ Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati..net Pesantren Sidogiri yosephs • Komentar Terakhir ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad... • Arsip • Blogroll ○ ○ ○ ○ Habib Munzir Al musawa http://aswaja....

com Web blogdetik ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 3968654653 Top of Form Bottom of Form blogdetik. Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik.○ • • Muh.G en .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->