Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I.

Pengertian Ilmu Fiqih

Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur’an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-

pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) ‘Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi ‘Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad ‘Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada ‘Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka ‘Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan ‘Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. ‘Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka ‘Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian

persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu

Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur’an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti. Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah. 2. Abdullah Ibnu Mas’ud, mengembangkan perguruannya di Kufah. 3. Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah. 4. Abdullah bin ‘Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). 6. Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah. 7. Aisyah, Ummul Mukminin

lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Abu Hurairah. sedangkan ra’yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Umar berkata : “Kalau aku. Ubaidillah bin Abdullah Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. mengembangkan perguruannya di Basrah. 2. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu hal. 5. 2. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. 10. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Sulaiman bin Yasar 7.8. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. Said bin Al Musayyab 2. Ubay bin Ka’ab. Thawus bin Kisan 3. tentu aku lakukan. oleh Ali dan Zaid”. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. Abu Darda’. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. 3. Abu Musa Al-Asy’ari. Masa Tabi’in Para tabi’in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. Apabila hal itu telah terjadi. Pada masa tabi’in mereka melakukan dua peranan penting. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. tentu aku akan menghukumi demikian”. Amru bin Dinar 6. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Urwah bin Zubair 3. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. 9. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Ubaid bin Umar 5. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. C. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. 11. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. mengembangkan perguruannya di Basrah. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Mujahid bin Jabar 4. maka Ubay bin Ka’ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. yaitu : 1. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra’yu (ijtihad akal). 4. Para tabi’in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Atha’ bin Abi Rabah 2. Ikrimah maula Ibnu Abbas . Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat.

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Qadly. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. . Muhammad bin Sirin 6. Yahya bin Yahya 2. Ahli hadits. Abu Bakar bin ‘Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). yaitu : 1. 5. 3. Baqi bin Makhlad 4. Abdul Raziq bin Hamman 3. Al Hamdany 3. Bakir bin Abdillah 3. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab’ah) Mereka adalah para tabi’in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. ‘Urwah bin Zubair (wafar 94 H). Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Rabi’ bin Khutsam. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Abu Maryam al-Hanafy 3. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). ‘Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud (wafat 99 H). Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Masruq bin Al Ajda. Hasan Al Basri 5. menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. Yazid bin Abi Habib 2. Syuraih al Qadhy 4. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. 2. guru Umar bin Abdul Azis. 5. Muhammad bin Tsur 5. 4. Hisyam bin Yusuf 4. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. 2. Amru bin Salamah 2. Ka’ab bin Sud 4. Qasim bin Muhammad 5. Abdul Malik bin Habib 3.Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1.

Sufyan Tsauri. Aisyah.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. Abdullah bin Umar. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Ma’mar bin Rasyid. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Ibnu Abdul hakam. Abdullah bin Zubair al Humaidy. Abu Hurairah. Imam Syafi’i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur’an). pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Setelah itu saya tidak akan keluar . Hammad bin Salamah. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur’an) jika saya mendapatkannya. Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. D. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Abu Ishaq As Syuba’I. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Nafi Maula Abdullah bin Umar. mempelajari qiraat dari Imam ‘Ashim (salah satu qurra’ tujuh). Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Malik bin Anas. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. Abu Yusuf Al Qadly. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur’an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain.” Mengenai metode Ijtihadnya.6. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Abdurrahman bin Hurmuz. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. Said bin abi ‘Arubah. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Masa Tabi’t Tabi’in dan Imam Mazhab. Abdullah bin Syubramah. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. ‘Amru Abdurrahman bin ‘Amru Al Auzay. Sa’id bin Salim Al-Qadah. Nasehat Syabi’ berkesan di hati Abu Hanifah. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha’ bin Abi Rabah. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Muhib bin Disar. Syarikh Al Qadly. 7. Al Muzny. Maimunah dan Ummu Salamah. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Muhammad bin Mukandar. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya’bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama.

karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Al-Mabshuth. Al-Jami’us Shaghir. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. karya : Muhammad bin Al Hasan. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah. 7. karya : Muhammad bin Al Hasan. lahir Imam Syafi’i. 8. Al-Dabussi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. 3.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. karya : Muhammad bin Al Hasan. Hadits dari riwayat kepercayaan. Al-Mabshuth. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. Al-Jami’ul Kabir. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Az-Zidayat. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. 4. As-Sairus Shaghir.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. karya : Muhammad bin Al Hasan. muamalah dikalangan manusia) Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih. karya : Muhammad bin Al Hasan. sehingga hadirnya fiqih”. Jika telah sampai kepada Ibrahim. Pada tahun 150 H. akhrinya dokter datang…. Fatwa Shabat 5. AS-Sairus Kabir. pasti dia akan mengikutinya. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. 7. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Al-Kafi. Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). 6. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. Al-Qur’an 2. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. Qiyas 6. karya : Muhammad bin Al Hasan. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa’iq). Kalau tidak. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Ibnu Sirin. Tentang Masailul Nawadhir : . Begitu juga dari sahabat dan tabi’in. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur dinasti Abbasyah. Kasusnya hampir sama. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. menggunakan porsi ra’yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Sya’bi.dalam fatwa selain mereka. karya : Abdul Fadha’ Hammad bin Ahmad. Ibnu Musayyab dan lainnya. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. sedangkan ia tidak memahami. 3. karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl. 5. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. 2. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. Ijma’ 4. pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani.

Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa’ad. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. 2. namun Imam Malik menolak. Kisaniyat. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Fiqhul Akbar. 3. Tentang Fatwa wal Waqi’at : 1. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur’an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Tentang penguasaannya dalam hadits. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Abdurrahman bin Hurmuz. Ja’far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya. karya : Muhammad bin Al Hasan. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Nafi’ Maula Ibnu Umar. 5. Imam Syafi’i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik. kemudian di jual kepasar”. Hamid dan Salim secara bergiliran. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab.000 hadits”. karya : Hasan bin Ziad. khususnya ilmu hadits dan fiqih. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Abu Salamah. 4. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu.1. Gubernur Madinah. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari ‘Araj dari Abu Hurairah. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq. Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Az-Zuhry. karya : Muhammad bin Al Hasan.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan ‘balaghny’ telah sampai kepadaku. meskipun usianya baru berusia 17 tahun. karya : Muhammad bin Al Hasan. merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Artinya beliau sangat hati-hati. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi’ah. An Nawazil. sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya. Rabiah dan Nafi’. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta’. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang . para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. karya : Abdul Laits As Samarqandi. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. Urwah bin Zubair. Belajar qiraat kepada Nafi’ bin Abu Nu’man. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. diriwayatkan oleh Abi Muthi’ Al Hakam. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri. Jurjaniyat. maka ambillah hadits itu dan percayalah”. niscaya isnad hadits tersebut kuat”. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Dhahirur Riwayah. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. Haruniyat. karya : Muhammad bin Al Hasan. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Al-Mujarrad. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri.

Kitab Hadits. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma’mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta’. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H) Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. 2. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). justru makin melambung dan harum dimata umat. Al-Qur’an 2. kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) 4. perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar. Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. 5. Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. karena sejak Masa Khalifah Usman. Perkataan Sahabat. beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta’ untuk keluarga istana. yaitu : Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras). pengarang kitab Al Muwatta’ di Madinah. Al Muwatta’. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh . Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) 7. Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras) 3. Ijma’ 4. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin.belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar. Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah). Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur’an imam Syafi’i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur’an. maka Imam Malik berkata . Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan. Pada usia 10 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwatta’ karya imam Malik. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi’i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas. lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra’yu (Qiyas). diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Beliau lahir di Ghaza. “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Imam Syafi’i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Qiyas 6. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas : 1. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. 3.

Imam Syafi’i terus mengajar dan menjadi mufti. Imam Laits bin Sa’ad mufti Mesir telah meninggal. Hadis 3. memberikan fatwa-fatwa di Masjid ‘Amr bin Ash sampai wafatnya. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur’an dan Hadist. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Imam Syafi’i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta’ kepada jamaah pengajian Imam Malik. maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. melalui kitabnya Ar Risalah. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. imam Syafi’i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Kemudian Imam Syafi’i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi’i telah hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al Muwatta’ karangannya. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Qiyas 5. sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. menerangkan mukashis nash yang mujmal. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. Imam Syafi’i meneruskan pengembaraan ke Persia. Istidlal Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Setibanya di Mesir. Palestina. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak. Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Sesampai di Irak. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi’i mengunjungi ulama-ulama setempat. hingga akhirnya Imam Syafi’i ingin pergi ke Irak. maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Imam Syafi’i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Anatolia. Imam Syafi’i mendatangi rumah Imam Malik. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi’i. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. ketika itu beliau berusia 29 tahun. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi’i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Sekitar satu tahun Imam Syafi’i tinggal bersama Imam Malik bin Anas. Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf.gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi’i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Hirah. Ramlah. Imam Syafi’i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Maka akhirnya Imam Syafi’I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya . Pada sekitar tahun 200 H. untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak. Al-Qur’an 2. Dengan diantar gubernur Madinah. Tapi setelah pemuda Syafi’i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar. Di Yaman Imam Syafi’i juga masih terus belajar. Ijma’ 4. Setelah bebas dibebaskan. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Metode Ijtihad Imam Syafi’i : 1. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi’i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Sepeninggal Imam Malik. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi’i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya.

Imam Syafi’i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. 2. Kitab-kitab mazhab Syafi’i : 1. Kaum Mu’tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma’mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. 5. Basrah. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Ayahku telah menuliskan 10. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi’i. Imam Abu Zu’rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. Mekkah dan Madinah. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. Syria. Ar-Raddu ‘ala Muhammad ibn Hasan.saling bertentangan. Sepeninggal Al Ma’mun. berburu hadits. berisi mudhabarah. Al ‘Um (kitab induk). berisi penilaian terhadap metode Istihsan.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. 7. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma’mun meninggal secara mendadak di Tharsus. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. wara’ dan zuhud. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. dipukuli dan hampir saja dibunuh. ahli ibadah. Siyarul Auza’y. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Yaman. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih.000. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu’tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ketika berumur 16 tahun. Setelah Al-Watsiq. Mukhtaliful Hadits. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. 3. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma’mun. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. menerangkan kehujahan Ijma’. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Jami’ul Ilmi.000. Akibatnya beliau disiksa. 4. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : . Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. saat itu kaum Mu’tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahkluk. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Ibthalul-Istihsan. Ar Risalah. murid utama Imam Abu Hanifah. 6. qiyas dsb. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza’y.000 (satu juta) hadits”. Musnad Imam Syafi’i. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu’tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur’an. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. 8.

3. 11. III. Abu Said Al Kudry. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. Kitab Nasikh wal Mansukh. 6. 4. 2. A. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. 7. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. . 8. Kitab At Tarikh. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Al Manasikul Kabir. Musnad Imam Ahmad. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra’yu (qiyas). Tafsir Al-Qur’an. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. 2. 10. 12. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur’an. dll. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. Aliran Ra’yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. 3. 4. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara’ dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits). Mengikuti guru mereka. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. 4.1. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. Tha’atur Rasul. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. Al-Qur’an Hadits Ijma’ Sahabat Fatwa Sahabat Atsar Tabi’in Hadits Mursal / Dhaif Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). B. 6. Umar. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra’yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. 3. Jawabatul Qur’an. Al-‘Illah. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. 7. Al Manasikus Saghir. Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas. 5. Kitab Zuhud. 2. 9. Kitab Ash Shalah. 5. Usman. seperti ketetapan Abu Bakar. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa.

didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah persyaratannya. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari’atannya. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. Anas bin Malik. mencakup seluruh kemaslahatan umat. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. 5. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Ali bin Abi Thalib. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Rabi’ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi’ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi’ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Amar bin Yasir. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor.Kelompok Khawarij. 3. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. Abu Musa Al-Asy’ari. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Mughirah bin Sub’ah. Hudzaifah bin Al Yaman. Sa’ad bin Abi Waqash. sedangkan ahli ra’yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. 4. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas’ud. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra’yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. kemudian Al Auza’i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza’i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku’ dan I’tidal ?” . Rabi’ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. 2. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari’ah). penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. maqashid syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan. Pada suatu hari Al Auza’i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah.

B. C.Hanafi Qiyas Rasionalis D. Al Auza’i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”.Hanbali – Maliki – Syafi’i . yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur’an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra’yu. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. dari ayahnya Abdullah bin Umar. 2. F. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. saat ruku’ dan ketika I’tidal”. Mendengar jawaban itu. Imam Abu Hanifah : a. Al Auza’i pun minta diri. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). Perbedaan Memahami Hadits A. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. C. B. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari’ah Perbedaan Metode Ijtihad. Berpegang pada dalalatul Qur’an i. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Al Auza’i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Lafz umum itu statusnya Qat’i selama belum ditakshiskan 3. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. Ibrahim lebih pandai dari Salim. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. A. D. E. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. Adanya ayat-ayat yang ‘Am (umum) D. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur’an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. dari Rasulullah SAW. E. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits.Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Menolak mafhum mukhalafah ii. walaupun seorang Shahabi”. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . . bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. G. Perbedaan memahami Al-Qur’an A. F. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. C.

Imam Syafi’i lebih mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad) d. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Qiyas D. Berpegang pada hadis Nabi i. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur’an) menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. Kitab Taharah 1. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). Qaul shahabi e. Imam Malik a. menerima mafhum mukhalafah b. Imam Syafi’i a. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c. zhahir Nash ii. hadis ahad (jadi. Imam Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Qur’an dan Sunnah (artinya. C. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. Berpegang pada Hadis ahad (jadi.1. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. Ijma’ d. Qiyas f. Taharah dari hadas . Ijma’ c. 1.iii. tetapi juga melihat matan-nya c.1. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu) b. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). Hadis dhaif e. menurut Syafi’i. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari “Nashirus Sunnah”.1. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. IV. Berpegang pada Qiyas i. Bagian Ibadah. Konsekuensinya. Istihsan g. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. Artinya. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. beliau menaruh kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar. B. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i.

Kitab Kitab Shalat 1.8.2.19.10.4. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3. Kitab I’tikaf 1.2. Kitab Ju’li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3.8.3. Kitab Bai’il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Kitab Taflis (orang pailit) 3. Kitab Nikah 2. Kitab Aqiqah 1. Kitab makanan dan minuman yang haram 2.13.12.15. Kitab Aiman (sumpah) 1.7. Kitab Faraidl (warisan) .6.1.7. Kitab Li’an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) 2. Kitab Nasab 2. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.25.15. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3.4.8.9. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3. Taharah dari najis 1. Kitab Ila’ (sumpah talak) 2.6. Kitab Washaya 3.16. Kitab Nafkah 2. Bai’il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3.14. Kitab Radla’i (penyusuan anak) 2.28. Kitab Nadar 1.16. Kitab Haji 1. Kitab Janazah 1. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3.5. Kitab Berburu 1.5.6. Bagian Muamalat Madaniyah 3.20. Kitab Qurban 1. Kitab Buyu’ (jual beli) 3. Kitab Qismah (pembagian) 3. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.4. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Kitab Ihdad (berkabung) 3.1.24. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3. Kitab Sembelihan 1.5. Kitab Wadi’ah (menitipkan barang) 3.12. Kitab Syuf’ah 3. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3. Kitab Shiyam (puasa) 1.22.9.14.3. Kitab hibah 3.2.1.26. Kitab Zakat Fitrah 1.1. Kitab Luqathah (barang temuan) 3. Bagian Munakahat 2.13.10. Kitab Zakat 1.11. Kitab Ruhun (gadai) 3.7. Kitab Dhihar 2.17.10.11. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3.18. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3.27. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3.23. Kitab Talak 2.3.21. Kitab Qiradli (berdua laba) 3. Kitab ‘Ariyah (peminjaman barang) 3.9. Kitab Jihad 1.2.

2.4. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. seperti : nahwu (gramatika). Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. 4. Mengetahui ilmu hadits.3. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Kitab ‘Itqi (memerdekakan budak) 3. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. Al Muzany dari mazhab Syafi’i.30. Mufti dan Hakim A. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. 2. 3.6. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. Syarat-syarat Mujtahid 1. penjarahan.32. Kitab Zina 4. dhalalah nash. B. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. pembebasan tuntutan) 4. Bersih dari hawa nafsu. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3. Ar Rafi’ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi’i.8. ma’ani. Mengetahui Ijma’ masa Khulafaur Rasyidin.7. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya.9. sharaf (konyugasi). musytaq (bentuk kata turunan). Jenis Mujtahid 1. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). tasrif (konyugasi). Contohnya Al Karakhi. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”. perusuh) 5. 5. Memahami ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. Mujtahid fil Masa’il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. 3. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) V. Contohnya Abu Yusuf. 7. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. 2. diat. balagah (retorika). Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. bukan pada masalah pokok.29.5. bayan (kejelasan) dan badi’ (efektifitas bicara). Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. Mujtahid. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. Kitab Sariqah (pencurian) 4. Kitab Jarahi (qisas. Kitab Khamr 4. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. 8.1. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi.3.2. 6. Bagian Peradilan 5. Al Ghazali dalam mazhab Syafi’I. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Kitab Qadzaf (tukas) 4. masdar (kata dasar). illat hukum. Kitab Hirabah (perampokan. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. atsar sahabat dan tabi’in. Akidahnya benar. 5.31.1. 4. .

2. famili. dalilhujjahnya. b. 5. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. moyangleluhur. 3. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. 4. 2. dalil-hujjahnya. c. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. sedangkan taqlid dilarang”. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. Tidak menghiraukan nash syara’ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba’ dalam agama disuruh. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. Hukum Taqlid : a. Periode Taqlid : 1. kerabat. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba’. 4. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. orang asing. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. . 3. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. Ittiba’ dan Taqlid Ittiba’ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. 2. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. Taqlid yang haram : 1. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. tentunya itu akan menyulitkan. pria. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara’. 3. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H).C. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara’ secara mendalam. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. budak. wanita. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. VI. laki-laki.

VII. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). An Nawawi Al Bulqini (724 – 805 H). contohnya ibadah haji. 12. Ash Shan’ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada’an. 7. Ibnu Taimiyah (661-728 H). puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. contoh waktu shalat lima waktu. 10. Muhammad Abduh. 6. contoh : azan dan jama’ah. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. contoh : makan. 3. 4. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain.2. 6. contoh shalat lima waktu. 9. 7. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. 9. contoh : shalat sunnat rawatib. contoh : sedekah. 11. Wajib Mu’aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. 4. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. puasa ramadhan. Wajib Muwassa’ = wajib yang diluaskan waktunya. minum. 12. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. 3. sholat isak dari petang sampai subuh. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. 8. shalat tahajud. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. 13. Wajib Mu’aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . Ibnu Rif’ah (645 – 710 H). Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). adat. contoh : zakat. 2. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. 8. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. Rasyid Ridha. contoh : mengurus jenazah. 3. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). 13. 2. Al Asnawi (714-784 H) Al Jalalul Mahalli (791-864 H). 11. 5. contoh = kafarah sumpah. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa’ sekaligus mudhaiyaq. Wajib ‘ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. 5. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. Pembagian Sunnat : 1. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara’. 4. 15. 14. wakaf. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. 14. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada’an. . 10. B.

Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum).C. Berakal (sadar dan waras). Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Nifas 10. Gila 2. 2. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. Jangan membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. yaitu haram yang dalilnya belum qath’i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Untuk melaksanakan taat (ibadah). shalat dengan berdiri. b. E. b. 3. makan daging babi. Pembagian Makruh : 1. VIII. Mabuk 7. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. Tidur 5. Haid 9. D. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Diketahui berdasarkan dalil. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Halangan – halangan : 1. c. Pingsan 6. Jangan berlebihan. Setengah gila 3. halangan untuk puasa. Sakit. Safar (bepergian). contoh : merokok. Paksaan . Mati 11. shalat di akhir waktu. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. halangan untuk wajibnya shalat jum’at 12. Silap (tidak sengaja) 13. Lupa 4. d. 2. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. 8. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. makan jengkol. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. c. Sanggup dikerjakan. tetapi terpuji bila ditinggalkan. Dapat dibedakan. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Baligh (dewasa). e.

15. Maslahah Mursalah 4. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu’adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur’an dan atau Hadits. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). Ijma’ (konsensus) C. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) ulil-amri.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. ‘Rasulullah kembali bertanya : ‘Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?’ Mu’adz akhirnya menjawab : ‘ Ajtahidur ra’yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. Sumber Hukum Pimer 1. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur’an. B. Ushul Fiqih A. Hadits Mu’adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. IX. Dalil aqli (akal) 1. ‘Mu’adz berkata : ‘Lalu Rasulullah menepuk dadaku.’ “ (HR Abu Dawud). Al-Qur’an 2.’ Rasulullah bertanya lagi : ‘jika tidak didapat di Kitab Allah ?’ Mu’adz menjawab : ‘Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. Hujan.14. Al-Qur’an . Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. saya tidak putus asa. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Istihsan 3. Macam-macam dalil : A. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Dalil naqli (teks) : 1. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur’an dan Hadits. Tua renta pikun. Dan lain-lain. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas). halangan untuk shalat berjama’ah. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? ‘Mu’adz menjawab : ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. dsb. Qiyas 2. seraya bertahmid : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. Sunnah (Hadits) B.

‘am-khas. Zhahir. terdiri atas : a. 3. b. Peranan Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sbb : 1. paling rendah tingkat kejelasannya. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya). maka (kawinilah) seorang saja. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur’an. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur’an.” (QS Al-Maidah [3] : 38). maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath’i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. 6.” (QS AnNur : 2). lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur’an. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. mujmal-mufassar. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. lebih jelas dari nash. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur’an. 2. Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an bersifat qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. makna hakikat-majazmusytarak). Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. mutlaq-muayyad. potonglah tangan keduanya… . tiga atau empat. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya.” (QS An-Nisa’ : 3). Istinbath hukum dari dalil Al-Qur’an dan Hadits 1. C. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). mantuq-mafhum. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath’i pula dhalalahnya. Nash. Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. 4. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. (bilamana kamu mengawininya). Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). 5. . Mufassar. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. ta’wil dan nasakh.Al-Qur’an adalah sumber hukum primer yang pertama. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. c. 2.

” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan).” (QS An-nur : 4). mata air. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). d. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. ta’wil maupun nasakh. Al-Khafi. tidak pula pencuri buah-buahan. Contohnya kata ‘ain. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. Sedangkan Imam Abu Yusuf. . hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. pencurian terhadap mayang kurma. pencurian yang kurang dari 10 dirham. Muhkam.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. esensi zat dan mata-mata (intel). Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. terdiri atas : a. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. Imam Malik.Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). b. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). c. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. Imam Syafi’i.” Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya.

Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. 4. akhirat). alam malaikat. contoh : Allah Maha Melihat. Zahir. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. tidak mengandung kemungkinan makna lain. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. 2. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. dsb 6. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : . Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. Maha Mengetahui. tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. “tangan” Allah diatas tangan mereka.d. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. 7. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. 3. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. dan “datang” lah Tuhanmu. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. Nash. contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. Ayat-ayat tentang Asma’ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. alam kubur. A. zalim). Riwayat lain dari Muhammad bin Sa’d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. Maha Berfirman (Kalam). contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. 2. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. Allah “turun” ke langit dunia. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la ‘ad. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). dsb 5. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta’ah). itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. dsb. surga-neraka. Maha Hidup. alam jin.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Inilah yang dimaksud dengan nash. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). Allah “melempar”. Riwayat Abu Ubaid. Maha Mendengar.

Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. Contoh yang lain pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. Fahwal khitab. yaitu kata “bersenggama”. dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. 3.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). terdiri dari : 1.“Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. B. Mu’awwal berbeda dengan zahir.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). jelas (zahir) sehingga itulah makna yang rajih (kuat). adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. . Dalalah istida’ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Mu’awwal.” 5. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. Misalnya pada QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ‘ah’ . sedangkan mu’awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi.

maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). maka berikanlah kepada mereka nafkah.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil.perbuatan lain seperti mencaci-maki. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. ‘Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh ‘Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz’iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. merusak. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. yaitu memperhatikan syaratnya. Mafhum syarat. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. tidak wajib diberi nafkah. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). diteliti. yang dimaksud adalah sifat ma’nawi. hanya). yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. Mafhum sifat. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. menyia-nyiakan. 2. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. 4. b. perbuatan lain seperti : membakar. Lahnul Khitab. Cakupan Lafazh A. b. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. terdiri dari : 1. Mafhum gayah (maksimalitas). misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Ulama-ulama Hanafiah. Mafhum hasr (pembatasan. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. 3. 2. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. 3.” . yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. memukul lebih diharamkan lagi. Misalnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. Berhujjah dengan Mafhum : a.

” b. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. qatibah dan sa’irun : a. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. aina dan mata (kapan). Aneka Ragam bentuk ‘Am : 1. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. Lafazh man (siapa). al-lati.” b. alladzina.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. Isim berbentuk jama’ yang diawali alif dan lam. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. Contohnya pada QS Al-Isra’ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru.” 7. Contohnya pada QS Al-Ma’idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya. walau sedikitpun.” 3. ‘ammah. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. ma’asyira. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman.” b. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. ma (apa saja). Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami’un (seluruh) a. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain.” 8. QS An-Nisa’ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. Dia mempunyai nama-nama yang baik. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. al-lati dan dzu. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. “Hai Nuh. Lafazh ma’syara. seperti : a.” 9.” 4.” 5.” 6. QS Al-An’am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. tidaklah dapat kamu menghitungnya. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu.” .

” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu.” 2. 1. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. maka tidak wajib berwasiat. b. ‘Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya).” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan.” Anak tiri haram dinikahi. . yaitu Jibril. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna.” Ayat itu umum untuk semua manusia. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. c. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. maka anak tiri itu boleh dikawini. contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu.10. Istitsna (pengecualian).” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. ‘Amr (perintah) dengan bentuk jama’ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. Sifat. Syarat.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : “Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. Mukhashshish Munfashil . Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari ‘Am. Batas. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. ‘Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf. Macam-macam penggunaan lafazh ‘am (umum) : a. QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. jika ia meninggalkan harta yang banyak. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. c. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. e. ‘Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. d.

QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Indera (men takhsis Al-Qur’an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar.” Mukhashshish kedua.” (HR Muttafaqun ‘alaihi). yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.a.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Hadits (men takhsis Al-Qur’an dengan hadits). maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma’ bagi laki-laki yang berstatus budak. Qiyas (men takhsis Al-Qur’an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa’ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji.” b. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. Ijma’ (men takhsis Al-qur’an dengan Ijma’). Akal (men takhsis Al-Qur’an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra’du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber ‘iddah) tiga kali quru’. d. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai. c. g. Ayat Al-Qur’an yang lain. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan.” e. serta mempunyai singgasana yang besar. waktu ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “Allah mensyari’atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” (HR Bukhari). maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. f. Siyaq (Mentakshis Al-Qur’an dengan siyaq) .” Ayat tersebut bersifat umum. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. dan dia dianugerahi segala sesuatu.

Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A’raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. supaya kamu tidak sesat. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. 4. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global).Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i. 5.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. Apabila lafazh itu bersifat ‘am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. khas dan takhsis : 1. jia ia tidak mempunyai anak. Misalnya dalam QS An-Nisa’ [4] : 176. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. selama tidak terdapat dalil yang menta’wilkannya dan menghendaki makna lain. Mubayyan Muttashil. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. Apabila didalam ayat Al-Qur’an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). 2. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 3. B. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur’an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab.” . Katakanlah. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. ?” Dalam ayat tersebut. Takhsis jenis syarat. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Hukum lafazh ‘am. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang.

lalu bersabda : “Sholatlah kalian. b. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung.2.‘Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. Dengan kata lain. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti’naf). semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Namun.berkata. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. Dalam hal ini bisa berupa : a. 3. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih.”. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). Oleh karena itu. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). . hal ini memerlukan penjelasan. batas-batas yang dibasuh. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.’ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. Dari Sunnah (hadits). Ingatlah. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. yaitu kata “dan”. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. Dari ayat Al-Qur’an yang lain. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. ingatlah. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi’li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. dsb. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. Mubayyan Munfashil. maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. 2.

yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. zakat. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. tidak terurai. 6. 7. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Macam-macam mufassar : 1. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar’i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. 5. yang maksudnya dua puluh sembilan hari. C. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. zakat. Contohnya tentang lafazh : shalat.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : . sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya. shiyam. Mufassar oleh lafazh lainnya Yaitu lafazh yang bentuknya global. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. 8. dengan cara isyarat. haji dan lainnya. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai.4. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. Penjelasan dengan diam (taqrir). Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. haji. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. 2. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan).

kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. baik yang mukmin maupun kafir. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. yaitu “darah yang mengalir. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa’ [4] : 43 adalah mengusap . meliputi segala jenis budak. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa’ [4] : 43 : “…. apabila kamu hendak mengerjakan shalat.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.” 2. Contohnya. maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. Namun mengenai wudhu. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. Contohnya dalam QS An-Nisa’ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Pada QS Al-An’am [6] : 145 : “Katakanlah. tidak dibatasi jumlahnya. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman.” 3. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya). basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. a. Sebab dan hukumya sama. darah dan daging babi.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih).” Karena ada persamaan hukum dan sebab. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi.“Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. minimal-maksimalnya. ‘Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.

Sebab dan hukumya sama.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. b. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). potonglah tangan keduanya… . Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. Makna Hakikat yaitu makna lahir. c. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. d. Menunjukkan suruhan saja. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani.tangan. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Menunjukkan wajib.muayyad : 1. Jadi Hukum lafazh mutlaq . maka sebabnya berbeda. c. Makna Majaz yaitu makna kiasan. b. 4. pada ayat ini tentang potong tangan. c. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. Kaidah Makna Kata a. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. Menunjukkan kebolehan .” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. Adanya makna hakikat. b. 1. Menunjukkan sunah. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir ‘iddahnya. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. yaitu “mengadakan dua orang saksi”. 3. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat.

Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. d.Larangan (nahi). (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. karena bisa dikompromikan. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. c. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Larangan karena diri perbuatan. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. jika ia meninggalkan harta yang banyak. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. seperti larangan zina. Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa’ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya.” b. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. 5. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. Prinsip-prinsipnya : 1. Al-Qur’an lebih kuat dari Hadits 2. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. Hadits Marfu’ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) . Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. larangan wanita haid mengerjakan sholat. c. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. Ta’arudl Yaitu pertentangan antar dalil. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. 6. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum’at dikumandangkan.. b. mengadakan jamuan.

” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu’ yang banyak. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur’an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz’iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu’ (cabang). Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. didahulukan yang menghalangi. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya.7. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. (Baca kembali Ilmu Hadits. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. Nasakh Sharih. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. 10. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu’ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. 9. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. 1.” . 8.” 2. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. Nasakh Dlimmy. point Mukhtaliful Hadits) d. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian.

Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). 5. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. 10. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. 13. 8. 9. 14. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri.Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. Ia akan lebih juah dari dua orang. maka mengadakan sarana itu juga wajib. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. 4. Dalil yang menjadi dasar Ijma’ : Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Jalan yang menuju haram juga haram. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang . “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) Ulil-Amri. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. maka baik pula dalam pandangan Allah. terhadap suatu hukum syara’ yang bersifat praktis ‘amaly. bukan sebaliknya. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya.” “Ingatlah. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. 2. Ijma’ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. 11. 7. E. 3. 6. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). barangsiapa yang ingin menempati surga. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu’ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth’i) 12. Sumber Hukum Sekunder 3.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an.” a. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.

” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. bisa jadi sedang memikirkannya. agar tidak dianggap aneh. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. Tingkatan Ijma’ : a. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur’an atau Hadits. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur’an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). Bila ada pendapat dari tabi’in maka saya teliti. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : . jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. b. Ijma’ Sukuti.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. artinya ada juga yang mendiamkannya. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. b. Pada masing-masing kota yang didiami. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. Ijma’ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. Ijma’ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma’ ulama Kufah. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya.” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. Dasar kehujjahan Qiyas : a. Ijma’ Sharih. maka saya pilih. 4. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak).” 5. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. begitu pula Imam Malik menghargai ijma’ ulama Madinah. Ijma’ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. b. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar.mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut.

“Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. c. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian, juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. d. Hadits – Hadits Nabi : 1. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar, yakni mencium istriku, sedang aku sedang berpuasa”. Lalu Rasulullah bersabda : ‘Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?’. ‘Hal itutak mengapa’, jawabku. ‘Maka mengapa (kamu menanyakan) ?’ Jawab Rasulullah”. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. 2. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi, seraya ia berkata : “Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji, akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. ‘Benar’, jawab Nabi. “kerjakan haji untuknya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang, bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? ‘Ya’, jawabnya. Rasulullah berkata : ‘Tunaikan hutang-hutang Allah, sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi’ ”. (HR Bukhary dan Nasa’i). Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. e. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy’ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara, maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. Asal, yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur’an dan hadits. 2. Furu’, yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. 3. Hukum, yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. 4. Illat, yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu’. Syarat-syarat qiyas : a. Hukum asal tidak dinasakh. b. Hukum asal jelas nashnya. c. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. d. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. e. Mempunyai illat yang sama. f. Hukum cabang sama dengan hukum asal. g. Ada illat ada hukum, tidak ada illat tidak ada hukum. h. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara’. Macam-macam Qiyas : 1. Qiyas Aula / Awlawi / Qath’i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Contoh, Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur, maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Kita pahamkan bahwa gila, pingsan, mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.

2. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Contohnya dalam QS An-Nisa’ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. 3. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. 4. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum, berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. 5. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 6. Qiyas fi Ma’nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. 7. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal, yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal, lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya, seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi, berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang, karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. 8. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak, namun perbedaan pemisah antara asal dan furu’ diyakini tidak berbekas. Misalnya, mengqiyaskan haramnya mencaci, memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan ‘cis’, dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. 9. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Misalnya, mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. 10. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Misalnya, mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. 11. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu, bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. 12. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. Contohnya, hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. Para Sahabat bertanya : ‘Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : ‘Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram, adakah dia berdosa ?, demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal, ada pahala baginya”. (HR Muslim). 13. Qiyas Ikhlati wal Munasabati

Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah, yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. a. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma’. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Sehubungan dengan ayat ini, maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. b. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama’ shalat dimasa hujan. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab, akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama’. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. 14. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Misalnya, wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya, karena menimbulkan kesukaran. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. Akan tetapi ada keterangan dari syara’ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. 15. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara’ membolehkan atau menolaknya. Misalnya, wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan, maka si pembunuh tidak mendapat warisan. F. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz’iyah (parsial), furu’iyah (cabang) yang jauh). 6. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat, contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air, tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara’ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan, contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. 8. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada, tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu., contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum, maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 9. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya), contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu, maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. 10. Sadudz Dzariah Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Contoh : Zina itu haram, maka melihat aurat wanita, berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi, bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina

12. 16. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin 19. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama’ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara’. bila mereka murtad maka dibunuh 21. 20. Ar Ruju’u ilal manfa’ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat.11. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. muamalah. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu’. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Ta’amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. Bara’ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. Istiqra’ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. Al Ishmah . duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa’I fil ‘ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi ‘itibaaril fil mu’aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah.

yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. Al ‘amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. Ma’qulun nash yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. Syar’u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. Al ‘amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. Al ‘amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. 22. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. 23. 28. ‘Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. 27. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” . Al Qur’ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian.

Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Memelihara Nasab-keturunan (nasl). Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Memelihara Agama (dien). Segala hukum muamalah. Faqdud dalil ba’dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. c. dari rahmat kepada bala’. X. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Memelihara Harta (mal). e. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara’ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. dari maslahat kepada masfadat. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. . Maksud-maksud syara’ yang umum : 1. Ru’yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Syara’ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Syariat semuanya adil. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat 36. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara’ (maqashid syari’ah). b. yaitu : a. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. Memelihara Nyawa (nafs). timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. Memelihara Akal (aqlu). d.34. 2. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka.

tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. memelihara. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. Yaitu tingkat yang paling rendah. i. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama’ ketika sedang ada udzur yang syar’i. tidak boleh tidak ada. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. Tingkat Tahsiniah. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. tauhid dan rukun iman yang enam. kesusilaan. XI. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I’tikadnya (keyakinannya). d. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. Tingkatan Maksud Syara’ 1. Allah satu satunya tempat bergantung. c. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. perampokan tentu rusak maslahat harta. Dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath’i (pasti). shirot. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang) A. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. h. Contoh-contoh masalah ushul : a. tata sosial kehidupan. keturunan dan kehormatan. Tidak ada tuhan selain Allah. Salah dalam I’tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. akal. Apabila yang demikian ini tidak diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. 2. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. 3. g. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa.Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. kemudahan-kenyamanan hidup. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Yaitu tingkat yang harus ada. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Tingkat Dharuriyah. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. . hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. surga-neraka) k. mashar. Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I’tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. b.

Fiqih muamalah h. Qath’i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir . Musyabbihah. sedangkan lainnya adalah binasa. Murjiah. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. Mu’atillah (baca kembali Ilmu Kalam). yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. Bila ada yang berani berbeda pendapat. ‘Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu ?’ Nabi menjawab : ‘Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku’ “ B. Urusan duniawiyah i. I’tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. Syiah Ghulat. Masalah Furu’ (cabang) Masalah Furu’ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). bahkan banyak yang masih mujmal. Fiqih Haji e. Dan lain-lain. Jabariyah. Fiqih Jual-Beli f. Fiqih Puasa d. Dan lain-lain. dsb. Contoh-contoh masalah Furu’ a. Jadi dalam masalah furu’ boleh ada ijtihad. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. Para sahabat bertanya : ‘Siapakah golongan yang selamat itu ?’ Nabi menjawab : ‘golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah’. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. maka dalam masalah furu’iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. masih ‘am (umum). Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid’ah akidah seperti kaum Khawarij. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). Dalil Qath’i (pasti) Dalil disebut Qath’i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. XII. Fiqih Sewa-Menyewa g. Begitu luasnya cakupan masalah furu’ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Jadi tidak boleh ada variasi. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Qadariyah. Fiqih Zakat c. seperti rincian praktek tata cara ibadah. dan boleh ada perbedaan pendapat. urusan duniawi. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Dalam masalah furu’iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. Bila benar dapat dua pahala. Dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. Masalah furu’ itu ibarat ranting. muamalah. bila salah dapat satu pahala. Detail tata cara sholat b. boleh ada variasi. para sahabat bertanya lagi. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Jadi dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid.l. Mujasimah.

tanpa reserve. aliran. c. Hukum potong tangan bagi pencuri. 2. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid’ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid’ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. A. Secara istilah. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath’i. (perampok. Sultonu Ulama. XIII. tidak boleh ditambah-dikurangi. istihsan. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. Tentang Bid’ah Pembahasan tentang bid’ah merupakan masalah yang sangat krusial. mazhab dan harokah Islam. Hukum potong tangan. Qath’i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). sedangkan kebanyakan masalah furu’ dalilnya tidak qath’i. Pengertian Bid’ah Secara Istilah. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. Hukum haram bagi daging babi. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. penjarah. dsb) B. . Kebanyakan masalah furu’ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. B. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Tetapi ada juga masalah furu’ yang dalilnya qoth’i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath’i diatas maka menjadi dalil Qath’i yang sempurna. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath’i. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). atsar-fatwa sahabat. f. d. e. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi’i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” menerangkan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. b. yaitu : 1. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid’ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. Kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi.2. pemberontak. seperti hadis ahad. pelaku huru-hara. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. contohnya : a. bangkai. bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. darah yang mengalir. khamr (arak) dan riba. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis.

maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi’i” menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Perkara baru (bid’ah) itu ada dua macam : 1. 2. c. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. ini dinamakan “bid’ah dhalalah”. yaitu : bid’ah wajib. tetapi tidak tercela. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an. . bid’ah mandub (sunnah). Sunnah Nabi. Ibnu Hajar Atsqolani. haram). Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. As-Suyuthi. Contoh-contohnya : Bid’ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur’an. Imam Nawawi. terbagi menjadi lima hukum. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid’ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. b. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid’ah juga. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. sunnah. mubah. Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. atsar dan Ijma’. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan). Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Abu Syaamah. bid’ah makruh dan bid’ah mubah. makruh. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur’an). Tentang bid’ah. Perbuatan keagamaan yang baik.” 3. Hadits yang mengindikasikan adanya bid’ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. 2. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. a. Ada riwayat dari Abu Nu’im menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Bid’ah itu dua macam.Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. Bid’ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid’ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. bid’ah haram. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid’ah“. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW.

ilmu mantiq (logika). Mengadakan pengajian Maulid Nabi. Sarana menuju yang haram adalah haram. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). b. ilmu kalam (ushuludin). . Melakukan haji tidak ke Mekkah. Umar. d. e. Memakai pakaian yang bagus. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. f. Menggunakan peralatan modern. d. Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. ilmu Fiqih. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia.Bid’ah dalam ibadah. d. Adzan pertama pada shalat Jum’at. d. Bid’ah yang Sunnah : a. e. ilmu balaghah. c. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. d. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. seperti : a. Hukum sarana itu tergantung pada tujuannya. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. Mencaci maki Aisyah. ilmu nahwu-sharaf. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Makan menggunakan sendok. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. Mua’tillah yang menolak sifat-sifat Allah. c. Bid’ah yang Mubah : a.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid’ah dhalalah. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. c. seperti : a. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. ilmu hadits. . Qadariyah yang menolak takdir. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta’lim. Bersalam-salaman setelah shalat berjama’ah. ilmu Al-Qur’an. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. b. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. Bid’ah yang Makruh : a. f. Shalat Tarawih berjama’ah. b. b. e. b. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). Dzikir berjama’ah. c. ilmu tasawuf.Kodifikasi. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. Menghias masjid. Talhah. Membuat rumah yang besar. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. c. Sistem pemerintahan yang monarki. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. Bid’ah yang haram : Bid’ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. g. menuduh Abu Bakar. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid’ah) itu semuanya adalah sesat. e.

contohnya : a. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum (‘am). Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi’iyah. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. d. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku. Jadi tidak “semua” perkara baru bid’ah dhalalah. 4. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum’at. Shalat Sunah berjama’ah itu bid’ah dhalalah atau tidak. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum’at sudah dekat. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi.” (HR Muslim 1817) c. Tahqiq : 1. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. e. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid’ah dhalalah. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. e. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid’ah) itu adalah sesat”. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. b. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). Khalifah Usman menyatukan Al-Qur’an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Dzikir berjama’ah tidak ada dijaman Nabi. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. c. c.a. 3. b. lafazh ‘am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid’ah dhalalah. 2. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. Peringatan maulid Nabi itu bid’ah dhalalah atau tidak. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. Shalat Jum’ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. . masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa’h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. Dzikir berjama’h itu bid’ah dhalalah atau tidak. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. itu termasuk bid’ah dhalalah atau tidak. 7. d. 100 hari orang meninggal itu bid’ah atau tidak. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. 40. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Asy-Syathibi. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. b.

boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an). Perbedaan pendapat dalam masalah furu’. illat hukumnya. g. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Jabariyah. Mujasimah. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak . 5. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. Syiah Ghulat. Murjiah. j. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Qadariyah. tidak saling mencaci. Jadi jangan gampang memvonis bid’ah dhalalah terhadap semua perkara baru. 6. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. i. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath’i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. Dalam masalah furu’ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. Tentang adat. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid’ah dalam masalah akidah. atau masalah furu’ yang dalilnya sudah Qath’i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. maqashid syariahnya dan sebagainya. Musyabbihah. yaitu kaum Khawarij. tidak saling menyalahkan. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. karena sejak Masa Khalifah Usman. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid’ah). XIV. Tidak saling mencelah. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid’ah dhalalah. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. h.f. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Mu’atillah. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi.

Suatu hari. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. aku tidak akan mencelanya”. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Imam Al Auza’i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi’i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya.membatalkan wudhu. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. Kata Yahya bin Mu’in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. “Sudahlah. Malik. maka Imam Syafi’I menjawab : “Saat dalam kesulitan. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu’in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma’). tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath’i yang tegas mengharamkannya. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. Karena para sahabat. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. suatu hari Imam Syafi’i shalat setelah bercukur rambut. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. Menanggapi kejadian itu. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. Syafi’’i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” . Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. para tabi’in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. Artinya beliau sangat hati-hati. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. Dengan demikian. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”.

“Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku’. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Ibnu Mas’ud menjawab : “Memang. maka . Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari’ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. Banyak yang mempertanyakan hal itu. para imam. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. Sebaliknya. “Apabila seorang makmum berjama’ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. Maka Ibnu Mas’ud langsung shalat empat raka’at tanpa membantah. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta’. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka’bah. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. selayaknya dia ikut membaca qunut. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka’at ?”. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. kalau imamnya tidak membaca qunut. guru besar kami. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka’bah begitu saja. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku’ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. sejauh yang penulis temui. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. berbeda dengan pandangan para makmumnya. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. Mereka langsung mempertanyakan. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas’ud di Mudzalifah. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka’at ?” Mereka menjawab. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Terlihat disini. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. “Empat raka’at”. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku’ atau sesudahnya. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”.Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi’i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” . agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan.

Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. 3. (QS Ali Imran : 103). Atsar riwayat Baihaqi. Bersikap moderat (pertengahan). zindiq. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. Ibnu hibban) 9. c. seperti : a. Menjauhi dan menghindari perpecahan. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabi’it tabi’in). “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. e. mubtadi (pelaku bid’ah) atau mengkafirkan. 8.Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. 7. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. Ibnu Majah. c. tidak ekstrim berlebih-lebihan. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. 4. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. Degradasi moral dan spiritual. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. sekuleristis. hedonis.” (HR Turmudzi. . niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. 12. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. Hakim. (QS Al Anfal : 46). Ibnu Khuzaimah. 6. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. Nasa’i. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. 11. fasik. f. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. d. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. 5. Kemiskinan dan kebodohan umat. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath’i (pasti) dan sharih (jelas). (HR Ahmad. Berperasangka baik kepada orang lain. Merasa kelompoknya paling benar. 13. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. b. Persatuan adalah wajib. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. f. 10. e. Waspadalah terhadap perpecahan. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama’ah. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. b. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Kalian harus tetap dalam jama’ah. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu’ yang ijtihadi. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. Hakim.

Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. Literalis. 2. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : XV. fasik. riset penelitian ilmiah. 4. Memaksakan pendapat. suku. memendekkan celana diatas mata kaki. dikenal moderat. melemahkan pendapat orang lain. seminar. 15. Memanjangkan jenggot. 5. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. hufadz (hafal Al-Qur’an). tulus menolong sesama. zakat haji. Yusuf Qaradhawi. menyantuni fakir-miskin. maka mengutamakan kebenaran. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. adil dalam memutuskan. tulus menolong sesama. memakai jilbab. Buruk sangka. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. berperasaan dalam etika. kasih sayang dalam pergaulan. hafal teori-teori theologi : sifat 20. Tidak mengakui pendapat lain. asmaul husna. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. g. amanat dalam muamalah. tanpa memilih dan memilah. beradu dalil. e. Memvonis orang lain sesat. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. h. itu semua jauh lebih penting. Dari Simbol menuju substansi. dsb. Kasar. kafir. kelompok. wejangan. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. b. d. memakai peci. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. c. bersikap agresif-ofensif menyerang. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. rendah hati. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu’ yang ijtihadi). mubtadi. DR. dsb itu semua adalah simbol yang penting. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting.14. Aspek lahir syariat : shalat. Menjauhi perdebatan sengit. adu argumentasi. memakai baju gamis. ikhlas dalam ibadah. Dari emosional menuju rasional Memusuhi kelompok yang berbeda. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. puasa. mengunggulkan pendapat sendiri. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. golongan. Fikih Kotemporer . i. Dari formalitas menuju hakikat. ras. mazhab itu adalah aspek sentimen. membangun sarana pendidikan. itu adalah sikap emosional. 6. ‘hafal’ ayat dan teks hadits. f. Diskusi. 3. membawa kayu siwak. Suka men-generalisir. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. Liberalis. seorang ulama suni kotemporer. menyakiti.

Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. b. 8. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Menganggap dirinya paling benar. Tidak merasa yang paling benar. Dari menyulitkan menuju kemudahan. f. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). e. 14. . Antara rasionalis dan literalis. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. memperluas konsep bid’ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid’ah dhalalah. illat hukum. e. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. b. Ahmad. d. Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. e. sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. c. 13. Dari fanatisme menuju toleransi. 10. Ciri sikap fanatik : a. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. (HR Bukhari. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. Keras pada masalah furu’ yang ijtihadi d. 12. Dari taklid menuju ittiba’. Tidak bersikap keras pada masalah furu’ yang ijtihadi. Ciri sikap toleran : a. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. (QS Al Baqarah : 185). b. (HR Ibnu Hibban. Tidak mau mengambil ruksyah. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. Dari perpecahan menuju persatuan. d. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. (QS Al Hajj : 78). Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik.a. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari’ah. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Dari jumud menuju ijtihad. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. sedangkan ittiba’ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. c. mudah mengharamkan. Menganggap semua yang lain pasti salah. c. 11. Dari keberingasan menuju kasih sayang.

salam silaturahmi. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia.15. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. . Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro. ‫جزاك ال جيرا كثيرا‬ …assalamualaikum. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. ‫السلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ‫خير المور اوساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫شكرا ياأخى‬ ‫والسلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. guru ngaji saya pernah berkata. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari kehidupan sehari2 menurut Islam. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. Assalamualikum.. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. 12 Comments » 1. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4.. Dari perselisihan menuju solidaritas. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. Wassalam.

.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri. Ilmu yang bermanfaat Muh. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. Minta izin untuk mengcopy ilmunya. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran. Di umur yg kian berkurang ini (29thn). taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 8. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7.penghafal Al-Qur’an. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6.. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9.semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. mohon izin untuk copy materinya .. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. Assalamu alaikum.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh.

TrackBack URI Leave a comment Top of Form Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). 8 Submit Comment 52 Bottom of Form • Top of Form Search for: Cari Bottom of Form • Artikel ○ Ahlus Sunnah Wal Jamaah .rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post. type the security word shown in the picture.

.. pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad.. pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf . • Arsip • Blogroll ○ ○ ○ ○ Habib Munzir Al musawa http://aswaja...net Pesantren Sidogiri yosephs • Komentar Terakhir ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad...○ ○ ○ ○ ○ ○ Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf • Tulisan Terakhir ○ ○ ○ Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati..

○ • • Muh.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 3968654653 Top of Form Bottom of Form blogdetik. Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik.G en .com Web blogdetik ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful