Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I.

Pengertian Ilmu Fiqih

Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur’an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-

pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) ‘Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi ‘Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad ‘Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada ‘Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka ‘Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan ‘Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. ‘Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka ‘Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian

persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu

Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur’an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti. Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah. 2. Abdullah Ibnu Mas’ud, mengembangkan perguruannya di Kufah. 3. Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah. 4. Abdullah bin ‘Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). 6. Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah. 7. Aisyah, Ummul Mukminin

Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. Ubay bin Ka’ab. maka Ubay bin Ka’ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. C. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. mengembangkan perguruannya di Basrah. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. Said bin Al Musayyab 2. 5. Mujahid bin Jabar 4. Para tabi’in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. 4. Ubaidillah bin Abdullah Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. Abu Hurairah. Amru bin Dinar 6. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. Sulaiman bin Yasar 7. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. Umar berkata : “Kalau aku. tentu aku akan menghukumi demikian”. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. tentu aku lakukan. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. Ubaid bin Umar 5. 9. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. Abu Musa Al-Asy’ari. mengembangkan perguruannya di Basrah. 2. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra’yu (ijtihad akal). Ikrimah maula Ibnu Abbas . Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Thawus bin Kisan 3. Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. sedangkan ra’yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. 2. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. Atha’ bin Abi Rabah 2. Urwah bin Zubair 3. Masa Tabi’in Para tabi’in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Pada masa tabi’in mereka melakukan dua peranan penting. yaitu : 1. Apabila hal itu telah terjadi. oleh Ali dan Zaid”. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. 11. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu hal. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. 10.8. 3. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. Abu Darda’.

Masruq bin Al Ajda. yaitu : 1. 2. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). Muhammad bin Sirin 6. Yahya bin Yahya 2. 3. Bakir bin Abdillah 3. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. 5. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab’ah) Mereka adalah para tabi’in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). Abu Maryam al-Hanafy 3. Abdul Raziq bin Hamman 3. Qasim bin Muhammad 5. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. Abdul Malik bin Habib 3. menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Amru bin Salamah 2. Baqi bin Makhlad 4. Hasan Al Basri 5. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. 5. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. Muhammad bin Tsur 5. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Hisyam bin Yusuf 4. 2. guru Umar bin Abdul Azis.Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Rabi’ bin Khutsam. . Ka’ab bin Sud 4. ‘Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud (wafat 99 H). ‘Urwah bin Zubair (wafar 94 H). Syuraih al Qadhy 4. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Abu Bakar bin ‘Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). Al Hamdany 3. 4. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. Yazid bin Abi Habib 2. Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Qadly. Ahli hadits.

Abdullah bin Umar. Muhammad bin Mukandar. Nasehat Syabi’ berkesan di hati Abu Hanifah.6. Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha’ bin Abi Rabah. mempelajari qiraat dari Imam ‘Ashim (salah satu qurra’ tujuh). Sufyan Tsauri. Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur’an) jika saya mendapatkannya. Imam Syafi’i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Abdurrahman bin Hurmuz. Masa Tabi’t Tabi’in dan Imam Mazhab. Syarikh Al Qadly. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali.” Mengenai metode Ijtihadnya. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Abu Ishaq As Syuba’I. Aisyah. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Abdullah bin Syubramah. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. Setelah itu saya tidak akan keluar . Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. ‘Amru Abdurrahman bin ‘Amru Al Auzay. Hammad bin Salamah. Sa’id bin Salim Al-Qadah. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Abdullah bin Zubair al Humaidy. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. Ma’mar bin Rasyid. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. D. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur’an). Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur’an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. 7. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. Haitam bin Hubaib Al Sarraf. Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya’bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Ibnu Abdul hakam. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Abu Yusuf Al Qadly. Nafi Maula Abdullah bin Umar. Maimunah dan Ummu Salamah. Al Muzny. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Muhib bin Disar. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Malik bin Anas. Abu Hurairah. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Said bin abi ‘Arubah. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri.

AS-Sairus Kabir. sehingga hadirnya fiqih”. karya : Muhammad bin Al Hasan. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Begitu juga dari sahabat dan tabi’in. Pada tahun 150 H. akhrinya dokter datang…. karya : Muhammad bin Al Hasan. 3. Al-Mabshuth. 2. Jika telah sampai kepada Ibrahim. pasti dia akan mengikutinya. 7. 5. Hadits dari riwayat kepercayaan. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). 4. Kalau tidak. 8. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. Al-Jami’us Shaghir.dalam fatwa selain mereka. Al-Dabussi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa’iq). karya : Muhammad bin Al Hasan. Al-Qur’an 2. karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur dinasti Abbasyah. Al-Mabshuth. Ibnu Sirin. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. lahir Imam Syafi’i. muamalah dikalangan manusia) Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih. Tentang Masailul Nawadhir : . sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. karya : Muhammad bin Al Hasan. Ibnu Musayyab dan lainnya. memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Qiyas 6. karya : Muhammad bin Al Hasan. menggunakan porsi ra’yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. 7. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Kasusnya hampir sama. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. 3. sedangkan ia tidak memahami. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. As-Sairus Shaghir. Az-Zidayat. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. Fatwa Shabat 5. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). 6. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. karya : Muhammad bin Al Hasan. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. karya : Abdul Fadha’ Hammad bin Ahmad. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. Sya’bi.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Ijma’ 4. Al-Jami’ul Kabir. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Al-Kafi.

Jurjaniyat. Urwah bin Zubair. kemudian di jual kepasar”. Hamid dan Salim secara bergiliran. Abu Salamah. Artinya beliau sangat hati-hati. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. khususnya ilmu hadits dan fiqih. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Tentang Fatwa wal Waqi’at : 1. 4. karya : Hasan bin Ziad. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari ‘Araj dari Abu Hurairah. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. namun Imam Malik menolak. karya : Muhammad bin Al Hasan. Kisaniyat. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.1. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu. Imam Syafi’i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. 3. An Nawazil. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa. sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya. Rabiah dan Nafi’. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur’an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. 5. Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Ja’far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik.000 hadits”. Tentang penguasaannya dalam hadits. Haruniyat. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Belajar qiraat kepada Nafi’ bin Abu Nu’man. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri. karya : Muhammad bin Al Hasan. karya : Muhammad bin Al Hasan. Al-Mujarrad. 2. diriwayatkan oleh Abi Muthi’ Al Hakam. maka ambillah hadits itu dan percayalah”. karya : Muhammad bin Al Hasan. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. Dhahirur Riwayah. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq. Az-Zuhry. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi’ah. Abdurrahman bin Hurmuz. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta’. meskipun usianya baru berusia 17 tahun.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan ‘balaghny’ telah sampai kepadaku. Gubernur Madinah. Fiqhul Akbar. merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang . Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa’ad. Nafi’ Maula Ibnu Umar. karya : Abdul Laits As Samarqandi. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya.

Al-Qur’an 2. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. maka Imam Malik berkata . pengarang kitab Al Muwatta’ di Madinah.belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra’yu (Qiyas). Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). Imam Syafi’i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur’an. Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta’ untuk keluarga istana. Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras) 3. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi’i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Qiyas 6. Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) 7. Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas : 1. Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. karena sejak Masa Khalifah Usman. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat. Al Muwatta’. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Pada usia 10 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwatta’ karya imam Malik. Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan. 5. yaitu : Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras). 2. Perkataan Sahabat. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma’mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta’. Ijma’ 4. mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar. Beliau lahir di Ghaza. diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). justru makin melambung dan harum dimata umat. kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Kitab Hadits. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H) Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. 3. “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur’an imam Syafi’i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh . Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) 4. Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah). perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H.

Tapi setelah pemuda Syafi’i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar. Setelah bebas dibebaskan. imam Syafi’i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. memberikan fatwa-fatwa di Masjid ‘Amr bin Ash sampai wafatnya. hingga akhirnya Imam Syafi’i ingin pergi ke Irak. melalui kitabnya Ar Risalah. maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi’i. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak. yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i meneruskan pengembaraan ke Persia. Istidlal Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. Imam Laits bin Sa’ad mufti Mesir telah meninggal. Di Yaman Imam Syafi’i juga masih terus belajar. apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi’i telah hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al Muwatta’ karangannya. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi’i mengunjungi ulama-ulama setempat. Hirah. Sekitar satu tahun Imam Syafi’i tinggal bersama Imam Malik bin Anas.gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi’i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Sesampai di Irak. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi’i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. menerangkan mukashis nash yang mujmal. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya . Palestina. Qiyas 5. terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Imam Syafi’i terus mengajar dan menjadi mufti. beliau dibebaskan dari segala tuduhan. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Imam Syafi’i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Maka akhirnya Imam Syafi’I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Kemudian Imam Syafi’i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi’i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Setibanya di Mesir. Ramlah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Dengan diantar gubernur Madinah. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Metode Ijtihad Imam Syafi’i : 1. Al-Qur’an 2. Sepeninggal Imam Malik. Anatolia. sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H. Hadis 3. Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. Imam Syafi’i mendatangi rumah Imam Malik. maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Imam Syafi’i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur’an dan Hadist. untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi’i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid. Ijma’ 4. Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. ketika itu beliau berusia 29 tahun. Pada sekitar tahun 200 H. Imam Syafi’i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta’ kepada jamaah pengajian Imam Malik.

Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : . dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu’tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Basrah. Kitab-kitab mazhab Syafi’i : 1. Kaum Mu’tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma’mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. 4. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. berburu hadits. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. wara’ dan zuhud. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu’tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur’an.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma’mun. Ar-Raddu ‘ala Muhammad ibn Hasan. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza’y. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Ayahku telah menuliskan 10. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Akibatnya beliau disiksa. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma’mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Syria. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. ahli ibadah. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. Yaman.saling bertentangan. Mekkah dan Madinah. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. dipukuli dan hampir saja dibunuh. 8. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. berisi mudhabarah.000 (satu juta) hadits”.000. Beliau dijadikan penasehat resmi istana.000. Imam Syafi’i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. menerangkan kehujahan Ijma’. saat itu kaum Mu’tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahkluk. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Imam Abu Zu’rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. Siyarul Auza’y. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. Ibthalul-Istihsan. 2. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. Ketika berumur 16 tahun. Sepeninggal Al Ma’mun. 5. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Musnad Imam Syafi’i. 6. 7. Mukhtaliful Hadits. 3. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Jami’ul Ilmi. murid utama Imam Abu Hanifah. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi’i. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Setelah Al-Watsiq. Ar Risalah. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dihentikan sama sekali. qiyas dsb. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. Al ‘Um (kitab induk).

Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Umar. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Kitab Ash Shalah. Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas. 2. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. Al-‘Illah. Kitab At Tarikh. 5. Jawabatul Qur’an. Tha’atur Rasul. A. 9. 2. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. 3. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. Al Manasikus Saghir. 3. 8. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. seperti ketetapan Abu Bakar. . Al-Qur’an Hadits Ijma’ Sahabat Fatwa Sahabat Atsar Tabi’in Hadits Mursal / Dhaif Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. 7. 2. 7. 3. B. 10. Kitab Nasikh wal Mansukh.1. dll. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. 4. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara’ dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits). Musnad Imam Ahmad. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur’an. 6. Tafsir Al-Qur’an. 5. III. Aliran Ra’yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra’yu (qiyas). 12. 4. 4. 6. 11. Mengikuti guru mereka. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra’yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. Kitab Zuhud. Al Manasikul Kabir. Abu Said Al Kudry. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. Usman. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia.

4.Kelompok Khawarij. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Amar bin Yasir. Rabi’ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Anas bin Malik. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. Mughirah bin Sub’ah. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Ali bin Abi Thalib. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Abu Musa Al-Asy’ari. 5. 3. terutama dari kelompok Syiah Rafidah. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari’atannya. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1. Sa’ad bin Abi Waqash. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. sedangkan ahli ra’yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. maqashid syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan. kemudian Al Auza’i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza’i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku’ dan I’tidal ?” . 2. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah persyaratannya. Hudzaifah bin Al Yaman. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi’ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi’ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas’ud. Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra’yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. Pada suatu hari Al Auza’i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari’ah). Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. Rabi’ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional).

Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi.Hanafi Qiyas Rasionalis D. G. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Ibrahim lebih pandai dari Salim. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad. Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. C. Al Auza’i pun minta diri. B. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur’an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. Al Auza’i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”. B. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. dari Rasulullah SAW. D. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. E. Al Auza’i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. . Perbedaan Memahami Hadits A. Imam Abu Hanifah : a. C. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari’ah Perbedaan Metode Ijtihad. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Lafz umum itu statusnya Qat’i selama belum ditakshiskan 3. Berpegang pada dalalatul Qur’an i. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra’yu. F. E. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . Mendengar jawaban itu. dari ayahnya Abdullah bin Umar. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh.Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. A. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). walaupun seorang Shahabi”. F. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur’an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Menolak mafhum mukhalafah ii. Perbedaan memahami Al-Qur’an A.Hanbali – Maliki – Syafi’i . Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. saat ruku’ dan ketika I’tidal”. 2. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. C. Adanya ayat-ayat yang ‘Am (umum) D.

Berpegang pada hadis Nabi i.1. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. Berpegang pada Qiyas i. Taharah dari hadas . Bagian Ibadah. beliau menaruh kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar. zhahir Nash ii. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Istihsan g. Imam Syafi’i a. hadis ahad (jadi. Ijma’ c. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu) b. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. B. Artinya. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i. beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur’an) menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. Imam Malik a. Berpegang pada Hadis ahad (jadi.1. 1. Konsekuensinya. menurut Syafi’i. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya).iii. Ijma’ d. tetapi juga melihat matan-nya c. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis. Kitab Taharah 1. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. Qaul shahabi e. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. Hadis dhaif e. C.1. Imam Syafi’i lebih mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad) d. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari “Nashirus Sunnah”. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. Qur’an dan Sunnah (artinya. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. IV. Qiyas D. menerima mafhum mukhalafah b. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. Imam Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. Qiyas f. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c.

13. Bai’il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3. Kitab Nasab 2.19. Kitab Dhihar 2. Kitab Talak 2. Kitab Li’an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) 2. Bagian Munakahat 2. Kitab Haji 1. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.15.6. Kitab Bai’il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3.2. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3. Kitab Qiradli (berdua laba) 3.4.1.14.16.9. Kitab Wadi’ah (menitipkan barang) 3.16. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3.11. Kitab Janazah 1.7.9. Kitab Shiyam (puasa) 1. Kitab Aqiqah 1. Kitab Ihdad (berkabung) 3.15.18.12.21. Kitab Aiman (sumpah) 1. Kitab hibah 3. Kitab Berburu 1. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab Nafkah 2. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2.8.23. Kitab Jihad 1. Kitab Buyu’ (jual beli) 3.5. Kitab Ju’li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3.14. Kitab Sembelihan 1. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3. Kitab Qurban 1.2.24. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3. Kitab I’tikaf 1.3.20.3. Kitab Nikah 2. Kitab Zakat 1.1. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3. Kitab Nadar 1.17. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.5. Kitab Faraidl (warisan) .8.6. Kitab makanan dan minuman yang haram 2. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3.28.5. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.25.4.11. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3. Kitab Taflis (orang pailit) 3.22. Kitab Syuf’ah 3.26.27. Kitab Ila’ (sumpah talak) 2.3.2.9.4.1.7. Kitab Qismah (pembagian) 3.1.8.10. Taharah dari najis 1.10. Kitab ‘Ariyah (peminjaman barang) 3. Kitab Syarikah (berdua saham) 3. Bagian Muamalat Madaniyah 3.13. Kitab Radla’i (penyusuan anak) 2.6.2. Kitab Kitab Shalat 1.12.10. Kitab Washaya 3. Kitab Zakat Fitrah 1. Kitab Ruhun (gadai) 3.7.

4. pembebasan tuntutan) 4. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. B. 5. Jenis Mujtahid 1. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3.8. tasrif (konyugasi). bukan pada masalah pokok. 3. penjarahan. 2.1. Mujtahid fil Masa’il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang.2.2. balagah (retorika). Al Ghazali dalam mazhab Syafi’I.29. Al Muzany dari mazhab Syafi’i.6. Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4. 6. Memahami ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. bayan (kejelasan) dan badi’ (efektifitas bicara). 5. Kitab Hirabah (perampokan. . Kitab Jarahi (qisas. musytaq (bentuk kata turunan). Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. Contohnya Abu Yusuf.32.5.3.9. Bersih dari hawa nafsu. 3.7. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. seperti : nahwu (gramatika). Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. Mufti dan Hakim A.3. Kitab Khamr 4. Kitab ‘Itqi (memerdekakan budak) 3. illat hukum. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. Ar Rafi’ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi’i. Bagian Peradilan 5. Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. perusuh) 5. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”.4. Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) V. 8. Mujtahid. dhalalah nash. Kitab Zina 4. 2. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah.31.30. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. sharaf (konyugasi). 7. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. Kitab Qadzaf (tukas) 4. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. Akidahnya benar. Kitab Sariqah (pencurian) 4. atsar sahabat dan tabi’in. Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5. Contohnya Al Karakhi. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3.1. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. ma’ani. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. Syarat-syarat Mujtahid 1. masdar (kata dasar). mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. 4. Mengetahui Ijma’ masa Khulafaur Rasyidin. Mengetahui ilmu hadits. diat.

wanita. Ittiba’ dan Taqlid Ittiba’ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. . Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. 5. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba’ dalam agama disuruh. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. Taqlid yang haram : 1.C. 2. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. dalil-hujjahnya. kerabat. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. Periode Taqlid : 1. b. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara’. 3. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. Tidak menghiraukan nash syara’ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. dalilhujjahnya. VI. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. laki-laki. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. Hukum Taqlid : a. sedangkan taqlid dilarang”. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. famili. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. 2. tentunya itu akan menyulitkan. orang asing. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. 4. 3. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. moyangleluhur. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba’. 4. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara’ secara mendalam. budak. 3. c. 2. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. pria.

contoh : shalat sunnat rawatib. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa’ sekaligus mudhaiyaq. Wajib Mu’aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. 12. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. 7. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. contoh = kafarah sumpah. 4. 3. Rasyid Ridha. contoh : mengurus jenazah. An Nawawi Al Bulqini (724 – 805 H). 15. Wajib Mu’aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. 4. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H). contoh : sedekah. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada’an. 10. 8. contoh : azan dan jama’ah. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. 3. 2. 7. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada’an. contohnya ibadah haji. Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. Pembagian Sunnat : 1. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A.2. Ibnu Taimiyah (661-728 H). 6. Muhammad Abduh. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara’. 10. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. puasa ramadhan. contoh shalat lima waktu. adat. 9. Al Asnawi (714-784 H) Al Jalalul Mahalli (791-864 H). Wajib ‘ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). contoh : zakat. 5. Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. 9. contoh waktu shalat lima waktu. 13. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. 11. 14. 4. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. shalat tahajud. . 13. contoh : makan. minum. 12. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. 6. 3. B. 2. 11. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. VII. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). Ash Shan’ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. sholat isak dari petang sampai subuh. Ibnu Rif’ah (645 – 710 H). 5. wakaf. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. Wajib Muwassa’ = wajib yang diluaskan waktunya. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. 8. 14. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya.

c. makan daging babi. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Pembagian Makruh : 1. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum).C. b. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. halangan untuk puasa. Tidur 5. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. Silap (tidak sengaja) 13. makan jengkol. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Diketahui berdasarkan dalil. E. d. Baligh (dewasa). 3. Jangan membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. halangan untuk wajibnya shalat jum’at 12. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. D. 2. Untuk melaksanakan taat (ibadah). Lupa 4. 8. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Setengah gila 3. shalat di akhir waktu. Halangan – halangan : 1. VIII. Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Sanggup dikerjakan. tetapi terpuji bila ditinggalkan. Mati 11. Safar (bepergian). 2. Sakit. Dapat dibedakan. c. b. contoh : merokok. Berakal (sadar dan waras). Catatan untuk perkara yang mubah : 1. Pingsan 6. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. Paksaan . yaitu haram yang dalilnya belum qath’i (pasti) yaitu dari hadits ahad. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. shalat dengan berdiri. e. Jangan berlebihan. Gila 2. Mabuk 7. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Nifas 10. Haid 9. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat.

Maslahah Mursalah 4. Al-Qur’an . “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) ulil-amri. halangan untuk shalat berjama’ah. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? ‘Mu’adz menjawab : ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. ‘Rasulullah kembali bertanya : ‘Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?’ Mu’adz akhirnya menjawab : ‘ Ajtahidur ra’yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya.’ “ (HR Abu Dawud). pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur’an dan atau Hadits. Tua renta pikun. Istihsan 3. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas).’ Rasulullah bertanya lagi : ‘jika tidak didapat di Kitab Allah ?’ Mu’adz menjawab : ‘Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. dsb. Ijma’ (konsensus) C. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu.14. Dalil aqli (akal) 1. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. Ushul Fiqih A. Al-Qur’an 2. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur’an dan Hadits. saya tidak putus asa. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). IX. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. seraya bertahmid : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. Qiyas 2. Dalil naqli (teks) : 1. Hadits Mu’adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Sumber Hukum Pimer 1. ‘Mu’adz berkata : ‘Lalu Rasulullah menepuk dadaku. B. Macam-macam dalil : A. Dan lain-lain. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal. 15. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu’adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. Sunnah (Hadits) B.” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur’an. Hujan.

b. paling rendah tingkat kejelasannya. 2. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. 6.” (QS An-Nisa’ : 3).Al-Qur’an adalah sumber hukum primer yang pertama. (bilamana kamu mengawininya). Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur’an. c. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. 2. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur’an. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). ‘am-khas. Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an bersifat qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. 5. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. maka (kawinilah) seorang saja.” (QS AnNur : 2). Nash. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. 4. mantuq-mafhum. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). 3. tiga atau empat. Peranan Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sbb : 1.” (QS Al-Maidah [3] : 38). C. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath’i pula dhalalahnya. mutlaq-muayyad. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. mujmal-mufassar. Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur’an. lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). Zhahir. ta’wil dan nasakh. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). Mufassar. lebih jelas dari nash. Istinbath hukum dari dalil Al-Qur’an dan Hadits 1. . maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur’an. potonglah tangan keduanya… . Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. terdiri atas : a. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath’i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya). Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. makna hakikat-majazmusytarak). Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya.

kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan.” (QS An-nur : 4).” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. Imam Malik. ta’wil maupun nasakh. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. terdiri atas : a. pencurian terhadap mayang kurma. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan.” Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Al-Khafi. Muhkam. d. karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. c. b. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. . tidak pula pencuri buah-buahan. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan.Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. Imam Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Yusuf. Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. pencurian yang kurang dari 10 dirham. esensi zat dan mata-mata (intel). Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. mata air. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). Contohnya kata ‘ain. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh.

Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : . Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas. contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). akhirat). Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. sedang makna yang pertama lemah (marjuh). Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. 2. Allah “melempar”. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta’ah). Riwayat lain dari Muhammad bin Sa’d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). dsb 6.d. Nash. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. surga-neraka. Inilah yang dimaksud dengan nash. dan “datang” lah Tuhanmu. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. alam jin. tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. 7. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la ‘ad. contoh : Allah Maha Melihat. dsb. A. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. zalim). “tangan” Allah diatas tangan mereka. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. 2. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Allah “turun” ke langit dunia. lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. Riwayat Abu Ubaid.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah. kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. tidak mengandung kemungkinan makna lain. Maha Mengetahui. 3. 4. Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. Zahir. Maha Berfirman (Kalam). Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. Maha Hidup. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). Ayat-ayat tentang Asma’ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. alam kubur. dsb 5. Maha Mendengar. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. alam malaikat.

Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. Fahwal khitab. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub. Misalnya pada QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ‘ah’ . dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. terdiri dari : 1. Contoh yang lain pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. Mu’awwal berbeda dengan zahir. yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. 3. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. Dalalah istida’ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan.” 5. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). B. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. sedangkan mu’awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. . 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. jelas (zahir) sehingga itulah makna yang rajih (kuat). Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a.“Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Mu’awwal. 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. yaitu kata “bersenggama”.

yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. 3.” . menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik). ‘Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh ‘Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz’iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. Ulama-ulama Hanafiah. menyia-nyiakan. 4. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. yaitu memperhatikan syaratnya. maka berikanlah kepada mereka nafkah. Misalnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. tidak wajib diberi nafkah. terdiri dari : 1. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. perbuatan lain seperti : membakar. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. Mafhum hasr (pembatasan. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. memukul lebih diharamkan lagi. Mafhum gayah (maksimalitas). hanya). merusak. 3. b. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. diteliti. Mafhum syarat. Lahnul Khitab. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. Berhujjah dengan Mafhum : a. 2. yang dimaksud adalah sifat ma’nawi. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Mafhum sifat. b.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat.perbuatan lain seperti mencaci-maki. Cakupan Lafazh A. 2.

Dia mempunyai nama-nama yang baik. QS An-Nisa’ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan.” 9. al-lati dan dzu.” 5. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami’un (seluruh) a.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).” b. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi.” b. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. “Hai Nuh. ma (apa saja). Lafazh man (siapa).” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya.” 8.” 4. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain. al-lati. QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka. Isim berbentuk jama’ yang diawali alif dan lam. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. Aneka Ragam bentuk ‘Am : 1.” . walau sedikitpun. seperti : a. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.” b. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.” 7. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. alladzina. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. tidaklah dapat kamu menghitungnya. ‘ammah.” 6. Lafazh ma’syara. QS Al-An’am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. Contohnya pada QS Al-Ma’idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Contohnya pada QS Al-Isra’ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. aina dan mata (kapan).” 3.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. qatibah dan sa’irun : a. ma’asyira. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya.

Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. d. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” Anak tiri haram dinikahi.10. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus). apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. b. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari ‘Am. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : “Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. e. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. maka tidak wajib berwasiat. ‘Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. Mukhashshish Munfashil . maka anak tiri itu boleh dikawini. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. ‘Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya). (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain. Batas. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi. Macam-macam penggunaan lafazh ‘am (umum) : a. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna. .” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai.” Ayat itu umum untuk semua manusia. Syarat. yaitu Jibril.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. jika ia meninggalkan harta yang banyak. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. 1. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. c.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. Sifat. sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. c.” 2. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu.” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “.” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus. ‘Amr (perintah) dengan bentuk jama’ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. Istitsna (pengecualian). contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. ‘Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya.

Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. waktu ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. Hadits (men takhsis Al-Qur’an dengan hadits).” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma’ bagi laki-laki yang berstatus budak. c. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. serta mempunyai singgasana yang besar. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri. Siyaq (Mentakshis Al-Qur’an dengan siyaq) .” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. g. Ijma’ (men takhsis Al-qur’an dengan Ijma’).” b. f. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Qiyas (men takhsis Al-Qur’an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber ‘iddah) tiga kali quru’. d. Akal (men takhsis Al-Qur’an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra’du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (HR Bukhari).a. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa’ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji.” Ayat tersebut bersifat umum. Indera (men takhsis Al-Qur’an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “Allah mensyari’atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami.” e. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. dan dia dianugerahi segala sesuatu.” (HR Muttafaqun ‘alaihi).” Mukhashshish kedua. Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Ayat Al-Qur’an yang lain. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain.

Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur’an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. Misalnya dalam QS An-Nisa’ [4] : 176. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. 5. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. 4. Takhsis jenis syarat. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. supaya kamu tidak sesat. maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i. Apabila lafazh itu bersifat ‘am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. B. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global). Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. Katakanlah. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. selama tidak terdapat dalil yang menta’wilkannya dan menghendaki makna lain. Apabila didalam ayat Al-Qur’an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A’raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. 2. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. khas dan takhsis : 1. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. jia ia tidak mempunyai anak. karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. 3. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Hukum lafazh ‘am. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum.” . ?” Dalam ayat tersebut. Mubayyan Muttashil.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak.

maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. 3. b. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. dsb. maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. batas-batas yang dibasuh. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.2. Dalam hal ini bisa berupa : a. Namun. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Ingatlah. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. hal ini memerlukan penjelasan. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. Mubayyan Munfashil. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash.‘Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru. Dari ayat Al-Qur’an yang lain. Dari Sunnah (hadits). lalu bersabda : “Sholatlah kalian. Dengan kata lain. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi’li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. 2. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. Oleh karena itu.’ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1.berkata.”. penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti’naf). Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. . yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. ingatlah. yaitu kata “dan”. Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji.

Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. 2. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya. haji dan lainnya. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.4. yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. shiyam. C. Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang). haji. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya. Mufassar oleh lafazh lainnya Yaitu lafazh yang bentuknya global. tidak terurai. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar’i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas.” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. 8. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : . Macam-macam mufassar : 1. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. 7. 5. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Contohnya tentang lafazh : shalat. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. Penjelasan dengan diam (taqrir). yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. yang maksudnya dua puluh sembilan hari. zakat. 6.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. dengan cara isyarat. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. zakat. Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya.

maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. Sebab dan hukumya sama. Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid).“Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. darah dan daging babi. pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya.” Karena ada persamaan hukum dan sebab. Contohnya dalam QS An-Nisa’ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Pada QS Al-An’am [6] : 145 : “Katakanlah. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. meliputi segala jenis budak. apabila kamu hendak mengerjakan shalat.” 2. minimal-maksimalnya.” 3.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. Namun mengenai wudhu. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. ‘Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa’ [4] : 43 adalah mengusap . basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. baik yang mukmin maupun kafir. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa’ [4] : 43 : “….” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. a. tidak dibatasi jumlahnya. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Contohnya. yaitu “darah yang mengalir.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya).

potonglah tangan keduanya… . b. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. c. Adanya makna hakikat. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. Menunjukkan wajib. c. Menunjukkan suruhan saja. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). Menunjukkan sunah. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir ‘iddahnya.tangan. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”. 1.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”. Menunjukkan kebolehan . d. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Makna Majaz yaitu makna kiasan. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. b. maka sebabnya berbeda. pada ayat ini tentang potong tangan. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. b.muayyad : 1. Jadi Hukum lafazh mutlaq . Kaidah Makna Kata a. 4. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. 3. yaitu “mengadakan dua orang saksi”. c. Sebab dan hukumya sama. Makna Hakikat yaitu makna lahir.

Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. b.” b. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. mengadakan jamuan. Prinsip-prinsipnya : 1. Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa’ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. Ta’arudl Yaitu pertentangan antar dalil. c. d. jika ia meninggalkan harta yang banyak. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. 6. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. 5. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. c. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan.Larangan (nahi). Larangan karena diri perbuatan. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya. larangan wanita haid mengerjakan sholat. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. karena bisa dikompromikan. Al-Qur’an lebih kuat dari Hadits 2. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas.. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. seperti larangan zina. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum’at dikumandangkan. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Hadits Marfu’ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) .

(Baca kembali Ilmu Hadits. didahulukan yang menghalangi. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur’an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz’iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu’ (cabang). 8. Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. point Mukhtaliful Hadits) d. Nasakh Dlimmy. 9. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu’ yang banyak. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat.7. 1. Nasakh Sharih.” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur. bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. 10. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu’ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok.” 2. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya.” . Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian).

Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. 3. 7. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. 14. 2.” a. 9. 13.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. Jalan yang menuju haram juga haram. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil. 6. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. Ia akan lebih juah dari dua orang. barangsiapa yang ingin menempati surga. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). Dalil yang menjadi dasar Ijma’ : Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. E. terhadap suatu hukum syara’ yang bersifat praktis ‘amaly. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu’ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth’i) 12. 4. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) Ulil-Amri. bukan sebaliknya. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. 10. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain.” “Ingatlah. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. Ijma’ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. Sumber Hukum Sekunder 3. 5. maka mengadakan sarana itu juga wajib. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. Yang lebih kuat meliputi yang lemah. 8. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang . maka baik pula dalam pandangan Allah. 11.Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain.

begitu pula Imam Malik menghargai ijma’ ulama Madinah. Ijma’ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. 4. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masing-masing kota yang didiami. b. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya.” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma’ ulama Kufah. Dasar kehujjahan Qiyas : a. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. Ijma’ Sharih. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. Ijma’ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur’an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits). Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : . Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). b.” 5. bisa jadi sedang memikirkannya.mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Bila ada pendapat dari tabi’in maka saya teliti. Tingkatan Ijma’ : a. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. maka saya pilih. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur’an atau Hadits. artinya ada juga yang mendiamkannya. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. b. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. Ijma’ Sukuti. Ijma’ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. agar tidak dianggap aneh.

“Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. c. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian, juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. d. Hadits – Hadits Nabi : 1. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar, yakni mencium istriku, sedang aku sedang berpuasa”. Lalu Rasulullah bersabda : ‘Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?’. ‘Hal itutak mengapa’, jawabku. ‘Maka mengapa (kamu menanyakan) ?’ Jawab Rasulullah”. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. 2. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi, seraya ia berkata : “Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji, akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. ‘Benar’, jawab Nabi. “kerjakan haji untuknya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang, bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? ‘Ya’, jawabnya. Rasulullah berkata : ‘Tunaikan hutang-hutang Allah, sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi’ ”. (HR Bukhary dan Nasa’i). Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. e. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy’ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara, maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. Asal, yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur’an dan hadits. 2. Furu’, yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. 3. Hukum, yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. 4. Illat, yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu’. Syarat-syarat qiyas : a. Hukum asal tidak dinasakh. b. Hukum asal jelas nashnya. c. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. d. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. e. Mempunyai illat yang sama. f. Hukum cabang sama dengan hukum asal. g. Ada illat ada hukum, tidak ada illat tidak ada hukum. h. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara’. Macam-macam Qiyas : 1. Qiyas Aula / Awlawi / Qath’i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Contoh, Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur, maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Kita pahamkan bahwa gila, pingsan, mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.

2. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Contohnya dalam QS An-Nisa’ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. 3. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. 4. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum, berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. 5. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 6. Qiyas fi Ma’nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. 7. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal, yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal, lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya, seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi, berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang, karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. 8. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak, namun perbedaan pemisah antara asal dan furu’ diyakini tidak berbekas. Misalnya, mengqiyaskan haramnya mencaci, memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan ‘cis’, dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. 9. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Misalnya, mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. 10. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Misalnya, mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. 11. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu, bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. 12. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. Contohnya, hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. Para Sahabat bertanya : ‘Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : ‘Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram, adakah dia berdosa ?, demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal, ada pahala baginya”. (HR Muslim). 13. Qiyas Ikhlati wal Munasabati

Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah, yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. a. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma’. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Sehubungan dengan ayat ini, maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. b. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama’ shalat dimasa hujan. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab, akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama’. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. 14. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Misalnya, wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya, karena menimbulkan kesukaran. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. Akan tetapi ada keterangan dari syara’ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. 15. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara’ membolehkan atau menolaknya. Misalnya, wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan, maka si pembunuh tidak mendapat warisan. F. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz’iyah (parsial), furu’iyah (cabang) yang jauh). 6. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat, contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air, tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara’ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan, contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. 8. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada, tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu., contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum, maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 9. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya), contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu, maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. 10. Sadudz Dzariah Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Contoh : Zina itu haram, maka melihat aurat wanita, berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi, bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina

Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama’ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. Bara’ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15. Al Ishmah . Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu’. 16. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa’I fil ‘ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi ‘itibaaril fil mu’aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. muamalah. 20. Ta’amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. Ar Ruju’u ilal manfa’ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. 12. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara’. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. bila mereka murtad maka dibunuh 21. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin 19. Istiqra’ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim.11. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat.

Al ‘amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi.yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. Al ‘amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. Ma’qulun nash yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani. 23. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. Al ‘amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain. Al Qur’ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. ‘Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. Syar’u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” . contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. 22. 28. 27.

c. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara’ (maqashid syari’ah). . Memelihara Akal (aqlu). e. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. d. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Memelihara Harta (mal). Memelihara Nasab-keturunan (nasl). Memelihara Nyawa (nafs). Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. Syara’ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. Memelihara Agama (dien). Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. 2. X. Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. Segala hukum muamalah. rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. akal dapat mengetahui maksud-maksud syara’ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. dari maslahat kepada masfadat. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. Syariat semuanya adil.34. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Faqdud dalil ba’dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. yaitu : a. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat 36. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. b. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. Maksud-maksud syara’ yang umum : 1. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. dari rahmat kepada bala’. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. Ru’yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi.

Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. kemudahan-kenyamanan hidup. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I’tikadnya (keyakinannya). Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. g. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik.Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. surga-neraka) k. akal. 2. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang) A. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. perampokan tentu rusak maslahat harta. Yaitu tingkat yang paling rendah. Tingkat Dharuriyah. tauhid dan rukun iman yang enam. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. 3. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I’tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. Tingkat Tahsiniah. tidak boleh tidak ada. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. b. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. i. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. kesusilaan. . diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. Salah dalam I’tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. XI. Allah satu satunya tempat bergantung. Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. d. Yaitu tingkat yang harus ada. keturunan dan kehormatan. Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama’ ketika sedang ada udzur yang syar’i. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Tidak ada tuhan selain Allah. Contoh-contoh masalah ushul : a. tata sosial kehidupan. h. mashar. c. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. Tingkatan Maksud Syara’ 1. Dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath’i (pasti). Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. memelihara. shirot. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Apabila yang demikian ini tidak diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan.

Dalam masalah furu’iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Fiqih Zakat c. I’tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. maka dalam masalah furu’iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). Dan lain-lain. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Jadi tidak boleh ada variasi. Begitu luasnya cakupan masalah furu’ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. Dan lain-lain. sedangkan lainnya adalah binasa. XII. Mu’atillah (baca kembali Ilmu Kalam). dsb. bila salah dapat satu pahala. masih ‘am (umum). Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid’ah akidah seperti kaum Khawarij. Mujasimah. Detail tata cara sholat b. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. Masalah Furu’ (cabang) Masalah Furu’ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. Para sahabat bertanya : ‘Siapakah golongan yang selamat itu ?’ Nabi menjawab : ‘golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah’. ‘Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu ?’ Nabi menjawab : ‘Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku’ “ B. Qath’i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir . Fiqih Jual-Beli f. seperti rincian praktek tata cara ibadah. Fiqih muamalah h. boleh ada variasi. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. Jadi dalam masalah furu’ boleh ada ijtihad. muamalah. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Musyabbihah. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. Jabariyah. Syiah Ghulat. Murjiah. Urusan duniawiyah i. Dalil Qath’i (pasti) Dalil disebut Qath’i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). bahkan banyak yang masih mujmal. Bila benar dapat dua pahala. Contoh-contoh masalah Furu’ a. para sahabat bertanya lagi. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. Jadi dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. urusan duniawi. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. Fiqih Sewa-Menyewa g. dan boleh ada perbedaan pendapat. dahan dan cabang dalam sebuah pohon. Masalah furu’ itu ibarat ranting. Bila ada yang berani berbeda pendapat. Fiqih Haji e. Fiqih Puasa d. Qadariyah.l. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan).

maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. atsar-fatwa sahabat. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath’i diatas maka menjadi dalil Qath’i yang sempurna. Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath’i. (perampok. aliran. B. Secara istilah. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. darah yang mengalir. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath’i.2. istihsan. Tentang Bid’ah Pembahasan tentang bid’ah merupakan masalah yang sangat krusial. Sultonu Ulama. Tetapi ada juga masalah furu’ yang dalilnya qoth’i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut. yaitu : 1. seperti hadis ahad. . Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. contohnya : a. sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. tanpa reserve. penjarah. Hukum potong tangan bagi pencuri. Qath’i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). Pengertian Bid’ah Secara Bahasa Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui). dsb) B. bangkai. mazhab dan harokah Islam. sedangkan kebanyakan masalah furu’ dalilnya tidak qath’i. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. tidak boleh ditambah-dikurangi. e. b. Kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Imam Izzudin bin Abdus Salam. pelaku huru-hara. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid’ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. Pengertian Bid’ah Secara Istilah. XIII. f. Hukum potong tangan. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. c. 2. Hukum haram bagi daging babi. pemberontak. bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. d. Kebanyakan masalah furu’ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid’ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid’ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. A. khamr (arak) dan riba. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi’i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” menerangkan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW.

2. bid’ah mandub (sunnah). Hadits yang mengindikasikan adanya bid’ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Ada riwayat dari Abu Nu’im menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Bid’ah itu dua macam. bid’ah makruh dan bid’ah mubah. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid’ah juga. Sunnah Nabi. c. makruh. As-Suyuthi. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an. Perbuatan keagamaan yang baik. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya.Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur’an). Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. 2.” 3. b. Contoh-contohnya : Bid’ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur’an. mubah. satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid’ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. Ibnu Hajar Atsqolani. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. a. Bid’ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid’ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. atsar dan Ijma’. ini dinamakan “bid’ah dhalalah”. sunnah. yaitu : bid’ah wajib. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi’i” menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Perkara baru (bid’ah) itu ada dua macam : 1. Tentang bid’ah. Abu Syaamah. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan). Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. . tetapi tidak tercela. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. haram). terbagi menjadi lima hukum. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. bid’ah haram. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid’ah“. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Imam Nawawi. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram.

seperti : a. Menghias masjid. ilmu balaghah. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. b. d. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. Adzan pertama pada shalat Jum’at. Bid’ah yang Makruh : a. b. Bersalam-salaman setelah shalat berjama’ah. Qadariyah yang menolak takdir. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. Dzikir berjama’ah.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid’ah dhalalah. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. Menggunakan peralatan modern. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. d. ilmu tasawuf. e. c. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. Shalat Tarawih berjama’ah. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. ilmu kalam (ushuludin). . g. Talhah. Umar. c. menuduh Abu Bakar. Makan menggunakan sendok. Bid’ah yang haram : Bid’ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. Membuat rumah yang besar. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. Bid’ah yang Sunnah : a.Bid’ah dalam ibadah. Sarana menuju yang haram adalah haram. b. c. c. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid’ah) itu semuanya adalah sesat. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. ilmu Fiqih. . b. e. ilmu Al-Qur’an. f. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). Mua’tillah yang menolak sifat-sifat Allah. Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. ilmu mantiq (logika). e. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. c. b. Hukum sarana itu tergantung pada tujuannya. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. d. d. Melakukan haji tidak ke Mekkah. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta’lim. Mencaci maki Aisyah. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. Sistem pemerintahan yang monarki. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. Bid’ah yang Mubah : a. seperti : a. ilmu hadits.Kodifikasi. ilmu nahwu-sharaf. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. Memakai pakaian yang bagus. d. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. f. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). e.

masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid’ah dhalalah. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi’iyah. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid’ah dhalalah. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur’an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. e. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. 3. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. itu termasuk bid’ah dhalalah atau tidak. d. 40. Asy-Syathibi. contohnya : a. d. Peringatan maulid Nabi itu bid’ah dhalalah atau tidak. lafazh ‘am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah).” (HR Muslim 1817) c. 2. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. Tahqiq : 1. maka itu termasuk bid’ah dhalalah.a. c. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa’h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum (‘am). Shalat Jum’ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. b. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. b. . Jadi tidak “semua” perkara baru bid’ah dhalalah. Dzikir berjama’ah tidak ada dijaman Nabi. 7. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum’at sudah dekat. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. e. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. 4. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid’ah) itu adalah sesat”. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum’at. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi. Shalat Sunah berjama’ah itu bid’ah dhalalah atau tidak. 100 hari orang meninggal itu bid’ah atau tidak. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. Dzikir berjama’h itu bid’ah dhalalah atau tidak. c. b.

Perbedaan pendapat dalam masalah furu’.f. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. j. tidak saling menyalahkan. karena sejak Masa Khalifah Usman. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Dalam masalah furu’ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an). Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. illat hukumnya. Musyabbihah. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Jabariyah. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. Mujasimah. Tidak saling mencelah. Mu’atillah. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath’i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. i. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. yaitu kaum Khawarij. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid’ah dhalalah. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. g. Jadi jangan gampang memvonis bid’ah dhalalah terhadap semua perkara baru. Qadariyah. boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid’ah dalam masalah akidah. Murjiah. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. XIV. tidak saling mencaci. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid’ah). h. atau masalah furu’ yang dalilnya sudah Qath’i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Tentang adat. maqashid syariahnya dan sebagainya. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. 5. Syiah Ghulat. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. 6. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak .

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi’i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Syafi’’i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. “Sudahlah. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. Karena para sahabat. Malik. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu’in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil.membatalkan wudhu. Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. Dengan demikian. Artinya beliau sangat hati-hati. para tabi’in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. Kata Yahya bin Mu’in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. Menanggapi kejadian itu. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. maka Imam Syafi’I menjawab : “Saat dalam kesulitan. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” . Imam Al Auza’i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma’). Suatu hari. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. suatu hari Imam Syafi’i shalat setelah bercukur rambut. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. aku tidak akan mencelanya”. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath’i yang tegas mengharamkannya.

kalau imamnya tidak membaca qunut. “Empat raka’at”. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. Sebaliknya. Terlihat disini. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. para imam. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas’ud di Mudzalifah. guru besar kami. berbeda dengan pandangan para makmumnya. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. selayaknya dia ikut membaca qunut. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian.Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka’bah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” . Maka Ibnu Mas’ud langsung shalat empat raka’at tanpa membantah. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari’ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku’. dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. maka . agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka’bah begitu saja. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. Mereka langsung mempertanyakan. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta’. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku’ atau sesudahnya. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku’ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Banyak yang mempertanyakan hal itu. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi’i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Memang. sejauh yang penulis temui. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka’at ?” Mereka menjawab. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. “Apabila seorang makmum berjama’ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka’at ?”. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya.

“Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabi’it tabi’in). hedonis. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. 10. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. b. Ibnu Khuzaimah. Ibnu Majah. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. d. mubtadi (pelaku bid’ah) atau mengkafirkan. e. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. . Berperasangka baik kepada orang lain. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama’ah. niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. c. f. Atsar riwayat Baihaqi. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu’ yang ijtihadi. Bersikap moderat (pertengahan). tidak ekstrim berlebih-lebihan. 12. (QS Ali Imran : 103). Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. 7. Degradasi moral dan spiritual. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Ibnu hibban) 9. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath’i (pasti) dan sharih (jelas). Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. b. karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. 11. Waspadalah terhadap perpecahan. fasik. zindiq. f. Merasa kelompoknya paling benar. e. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. Nasa’i. sekuleristis. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat.” (HR Turmudzi. 13. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. 6. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. 5. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. (QS Al Anfal : 46). Menjauhi dan menghindari perpecahan. (HR Ahmad. Kalian harus tetap dalam jama’ah. Kemiskinan dan kebodohan umat. Persatuan adalah wajib. Hakim. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Hakim. 3.Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. seperti : a. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. 4. c. 8.

membawa kayu siwak. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. mazhab itu adalah aspek sentimen. ikhlas dalam ibadah. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. dikenal moderat. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. adil dalam memutuskan. Kasar. c. f. Diskusi. tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. 2. h. Memaksakan pendapat. i. zakat haji. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. mubtadi. memakai baju gamis. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. kelompok. hafal teori-teori theologi : sifat 20. puasa. g. Dari emosional menuju rasional Memusuhi kelompok yang berbeda. Dari Simbol menuju substansi. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. memendekkan celana diatas mata kaki. Fikih Kotemporer . mengunggulkan pendapat sendiri. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. Menjauhi perdebatan sengit. itu semua jauh lebih penting. riset penelitian ilmiah. tulus menolong sesama. seminar. memakai jilbab. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. hufadz (hafal Al-Qur’an). melemahkan pendapat orang lain. e. ‘hafal’ ayat dan teks hadits. berperasaan dalam etika. 3. suku. fasik. dsb itu semua adalah simbol yang penting. kasih sayang dalam pergaulan. seorang ulama suni kotemporer. 6. beradu dalil. Memanjangkan jenggot. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. Tidak mengakui pendapat lain. memakai peci. 4. itu adalah sikap emosional. Literalis. DR. membangun sarana pendidikan. b. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. ras. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. Aspek lahir syariat : shalat. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : XV. bersikap agresif-ofensif menyerang. golongan. Memvonis orang lain sesat. 5. kafir. menyakiti. d. Suka men-generalisir. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7.14. 15. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. tulus menolong sesama. tanpa memilih dan memilah. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. menyantuni fakir-miskin. adu argumentasi. wejangan. Dari formalitas menuju hakikat. dsb. asmaul husna. Yusuf Qaradhawi. Liberalis. amanat dalam muamalah. rendah hati. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu’ yang ijtihadi). maka mengutamakan kebenaran. Buruk sangka.

tidak mau mempertimbangkan maqashid syari’ah. Dari perpecahan menuju persatuan. Dari taklid menuju ittiba’. (QS Al Baqarah : 185). para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. . maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. e. sedangkan ittiba’ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. mudah mengharamkan. Keras pada masalah furu’ yang ijtihadi d. 8. Dari jumud menuju ijtihad. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. Ciri sikap fanatik : a.a. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. (HR Ibnu Hibban. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. Menganggap dirinya paling benar. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. b. f. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain. c. Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. Tidak mau mengambil ruksyah. e. (QS Al Hajj : 78). Tidak bersikap keras pada masalah furu’ yang ijtihadi. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. 12. Dari keberingasan menuju kasih sayang. d. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Tidak merasa yang paling benar. c. c. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. Antara rasionalis dan literalis. b. Menganggap semua yang lain pasti salah. illat hukum. Ahmad. d. 10. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. 11. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. 14. 13. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Dari menyulitkan menuju kemudahan. memperluas konsep bid’ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid’ah dhalalah. b. (HR Bukhari. Ciri sikap toleran : a. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. Dari fanatisme menuju toleransi. e.

salam silaturahmi. ‫جزاك ال جيرا كثيرا‬ …assalamualaikum.. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. . Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro.15. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain.. Assalamualikum. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari kehidupan sehari2 menurut Islam. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. Dari perselisihan menuju solidaritas. Wassalam. 12 Comments » 1. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. guru ngaji saya pernah berkata. ‫السلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ‫خير المور اوساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫شكرا ياأخى‬ ‫والسلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5.

Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10. Di umur yg kian berkurang ini (29thn). sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7. Assalamu alaikum. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 8.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri. mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11.semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. mohon izin untuk copy materinya .. Minta izin untuk mengcopy ilmunya.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran..terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong. Ilmu yang bermanfaat Muh. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah.penghafal Al-Qur’an..

TrackBack URI Leave a comment Top of Form Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). 8 Submit Comment 52 Bottom of Form • Top of Form Search for: Cari Bottom of Form • Artikel ○ Ahlus Sunnah Wal Jamaah . type the security word shown in the picture.rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post.

pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf ........ pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad.○ ○ ○ ○ ○ ○ Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf • Tulisan Terakhir ○ ○ ○ Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati.net Pesantren Sidogiri yosephs • Komentar Terakhir ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad.. • Arsip • Blogroll ○ ○ ○ ○ Habib Munzir Al musawa http://aswaja.

○ • • Muh.G en . Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 3968654653 Top of Form Bottom of Form blogdetik.com Web blogdetik ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful