Ahlus Sunnah Wal Jamaah

mengikuti sunnah Nabi & Jamaah sahabatnya, senantiasa bersatu dalam jamaah kaum muslimin

5 Februari 2009
Ilmu Fiqih
Filed under: Tak Berkategori — ahmadfaruq @ 20:18

I.

Pengertian Ilmu Fiqih

Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123; “Maka apakah tidak lebih baik dari tiap-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber “tafaqquh” (memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali; mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” Hadits Nabi : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim). Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.

II. Perkembangan Ilmu Fiqih
A. Masa Nabi Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa Nabi wahyu Al-Qur’an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadangkadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para sahabatnya. Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri. Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi. Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-

pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”. Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan. Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :

1. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) ‘Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akan

tetapi ‘Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad ‘Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada ‘Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka ‘Amr bin Ash menjawab : “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29) Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.

1. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan ‘Ammar bin Yasir sama-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat telah tiba. ‘Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka ‘Ammar bergulingguling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat. Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas besar dalam keadaan darurat.

1. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian

persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporakporandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.

Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat. B. Masa Khulafaur Rasyidin Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu

Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand. Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi : “Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani, Hakim) “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud). Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf. Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa ayat Al-Qur’an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits. Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui latar belakang turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan dan diikuti. Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal banyak memberi fatwa adalah : 1. Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah. 2. Abdullah Ibnu Mas’ud, mengembangkan perguruannya di Kufah. 3. Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah. 4. Abdullah bin ‘Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir. 5. Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria). 6. Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah. 7. Aisyah, Ummul Mukminin

Khalifah Umar bin Khatab pernah mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih. 11. Ikrimah maula Ibnu Abbas . Thawus bin Kisan 3. tentu aku akan menghukumi demikian”. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”. Mujahid bin Jabar 4. Kharijah bin Zaid bin Tsabit 5. oleh Ali dan Zaid”. mengembangkan perguruannya di Basrah. C. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd. Ubay bin Ka’ab. yaitu : 1. 3. tentu aku lakukan. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat. Ubaid bin Umar 5. 9. Atsar dari Masruq yang bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu hal. 2. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat. Abu Musa Al-Asy’ari. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. mengembangkan perguruannya di Basrah. Mufti dan Fuqaha di Madinah 1. sedangkan ra’yu itu musytarak (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut Allah. Atha’ bin Abi Rabah 2.8. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. Masa Tabi’in Para tabi’in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Abu Bakar bin Abdurrahman 6. Said bin Al Musayyab 2. Para tabi’in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq 4. 2. pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah. Umar berkata : “Kalau aku. Pada masa tabi’in mereka melakukan dua peranan penting. Urwah bin Zubair 3. Abu Hurairah. sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Ubaidillah bin Abdullah Mufti dan Fuqaha di Mekkah : 1. yaitu para Khalifah (penguasa) dan para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar. Karakteristik Ijtihad masa Sahabat : 1. maka Ubay bin Ka’ab menjawab : “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. Apabila hal itu telah terjadi. 5. Ia mengatakan : “Kita tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Amru bin Dinar 6. Toleran Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang mempunyai kasus. lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian. kami akan berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”. 4. sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab : “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah. 10. Tetapi aku mengembalikanmu pada ra’yu (ijtihad akal). Abu Darda’. Lelaki itu berkata : “Apa yang menghalangimu. Sulaiman bin Yasar 7.

Rabi’ bin Khutsam. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H). 5. Abu Maryam al-Hanafy 3. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy 2. Abdul Raziq bin Hamman 3. Mufti dan Fuqaha di Mesir : 1. 2. Ka’ab bin Sud 4. Muhammad bin Tsur 5. paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar. Bakir bin Abdillah 3. Yahya bin Yahya 2. Amru bin Al-Harits Mufti dan Fuqaha di Yaman : 1. Baqi bin Makhlad 4. Syuraih al Qadhy 4. Muslim bin Yasar Mufti dan Fuqaha di Kufah : 1. Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Qadly. ‘Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud (wafat 99 H). Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby Mufti dan Fuqaha di Andalusia : 1. Samak bin Al-Fadhl Mufti dan Fuqaha di Baghdad : 1. ‘Urwah bin Zubair (wafar 94 H). guru Umar bin Abdul Azis. 3.Mufti dan Fuqaha di Basrah : 1. Hisyam bin Yusuf 4. 5. Yazid bin Abi Habib 2. keponakan Aisyah Ummul Mukminin. Mutharrif bin Mazin al-Qadly. . Muhammad bin Sirin 6. guru Ibnu Syihab Az Zuhry. yaitu : 1. 4. Abu Bakar bin ‘Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H). Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam 2. 2. Abdul Malik bin Habib 3. Masruq bin Al Ajda. Hasan Al Basri 5. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H). Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab’ah) Mereka adalah para tabi’in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha). menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Ahli hadits. Al Hamdany 3. Amru bin Salamah 2. Qasim bin Muhammad 5.

Imam Abu Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya. Imam Syafi’i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah. Abdullah bin Syubramah. Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Mufti dan Fuqaha di Mekkah : Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji. 7. Muhammad bin Mukandar. ‘Amru Abdurrahman bin ‘Amru Al Auzay. Ma’mar bin Rasyid. Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur’an akan saya ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW. Ini karena beliau banyak menulis dan memberi fatwa. Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Abdurrahman bin Hurmuz. pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Abu Hurairah. lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Maimunah dan Ummu Salamah.” Imam Malik berkata : “Subhanallah. Abu Ishaq Al Farazy Ibnu Mubarak. Syarikh Al Qadly. Setelah itu saya tidak akan keluar . Ibnu Abdul hakam. Abu Yusuf Al Qadly. Mufti dan Fuqaha di Basrah : Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Muhib bin Disar. ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan). Said bin abi ‘Arubah. Abdullah bin Zubair al Humaidy. Mufti dan Fuqaha di Mesir : Abdullah bin Wahbin. Hammad bin Salamah. Masa Tabi’t Tabi’in dan Imam Mazhab. Nasehat Syabi’ berkesan di hati Abu Hanifah. D. Malik bin Anas. Al Muzny. meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit. Aisyah. Mufti dan Fuqaha di Syam Yahya bin Hamzah Al Qadly. kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama. Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya’bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah dan menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. saya tidak pernah melihat orang seperti dia. mempelajari qiraat dari Imam ‘Ashim (salah satu qurra’ tujuh). Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha’ bin Abi Rabah. Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. andaikan dia mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas. dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-orang kepercayaan. Haitam bin Hubaib Al Sarraf.6. Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Abu Ishaq As Syuba’I. Sufyan Tsauri. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin Sulaiman. Sa’id bin Salim Al-Qadah. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Abu Hanifah Mufti dan Fuqaha di Baghdad : Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi. Nafi Maula Abdullah bin Umar. Mufti dan Fuqaha di Kufah : Ibnu Abi Layla. tentu ia akan dapat membuktikannya melalui Qiyasnya. Mufti dan Fuqaha di Madinah : Ibnu Sihab Az Zuhri. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Muhammad Al Hasan Asy Syaibany. Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah (AlQur’an) jika saya mendapatkannya. Beliau seorang hafidz (hafal AlQur’an). Sulaiman bin Yasar (34-100 H). Abdullah bin Umar.” Mengenai metode Ijtihadnya.

2. Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi qadly. Al-Qur’an 2. 3. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara. bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. 5. Az-Zidayat. Al-Mabshuth. Ibnu Sirin. namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Begitu juga dari sahabat dan tabi’in. karya : Muhammad bin Al Hasan. Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur dinasti Abbasyah. sedangkan ia tidak memahami. Ibnu Musayyab dan lainnya. menggunakan porsi ra’yu (Qiyas) lebih banyak dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar. Sya’bi. Hadits dari riwayat kepercayaan. dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”. As-Sairus Shaghir.dalam fatwa selain mereka. Al-Mabshuth. Al-Dabussi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan berpikir. karya : Muhammad bin Al Hasan. Al-Jami’us Shaghir. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa’iq). 8. Al-Jami’ul Kabir. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan keberatankebaratan atas ijtihadnya. pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani. karya : Muhammad bin Al Hasan. sementara ia tak tahu persis untuk apa obat itu digunakan. sehingga hadirnya fiqih”. pasti dia akan mengikutinya. Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi : Tentang Masailul Ushul : 1. AS-Sairus Kabir. 3. karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh Khalifah Al Manshur. Jika telah sampai kepada Ibrahim. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah menukik dalam sampai ke akar permasalahan. maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad. Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan. karya : Muhammad bin Al Hasan. Ijma’ 4. Tentang Masailul Nawadhir : . memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan hukum-hukum. Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai kepada Abu Hanifah. karya : Abdul Fadha’ Hammad bin Ahmad. Pada tahun 150 H. Qiyas 6. karya : Muhammad bin Al Hasan. Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian.demikianlah kedudukan penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya. Al-Kafi. Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat). Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah terakhir Bani Umayyah). karya : Muhammad bin Al Hasan. akhrinya dokter datang…. karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl. lahir Imam Syafi’i. Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah : 1. Kalau tidak. 7. 4. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam penjara. Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas.” Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits. Kasusnya hampir sama. Beliau pernah mengalami dua kali masa ujian. 6. muamalah dikalangan manusia) Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih. Fatwa Shabat 5. sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat. 7. Maka Imam Abu Hanifah dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung pemerintahan Bani Umayyah.

2. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari ayahnya. Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. karya : Hasan bin Ziad. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. 3. Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu. Abu Salamah.” Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan ‘balaghny’ telah sampai kepadaku. karya : Muhammad bin Al Hasan. karya : Muhammad bin Al Hasan. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Dhahirur Riwayah. Imam Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. Hamid dan Salim secara bergiliran. diriwayatkan oleh Abi Muthi’ Al Hakam. Tentang Fatwa wal Waqi’at : 1. namun Imam Malik menolak. Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. kemudian di jual kepasar”. Jurjaniyat. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam Rasulullah SAW. beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100. karya : Muhammad bin Al Hasan. Az-Zuhry. Tentang penguasaannya dalam hadits. bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”.1. Imam Malik belajar hadits kepada Rabi’ah. khususnya ilmu hadits dan fiqih. Hadits mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri. Rabiah dan Nafi’. Abdurrahman bin Hurmuz. Ja’far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya. meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita. niscaya isnad hadits tersebut kuat”. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari ‘Araj dari Abu Hurairah. Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa. sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash yang tegas mengharamkannya. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Kisaniyat. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab. Imam Malik tidak mau mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Urwah bin Zubair. Tentang Akidah dan Ilmu Kalam : 1. karya : Abdul Laits As Samarqandi. Fiqhul Akbar. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq. Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur’an dan sudah nampak minatnya dalam ilmu agama. Beliau dikenal jujur dalam periwayatannya. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa “akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. 4. Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan gurunya Yahya bin Sa’ad. Nafi’ Maula Ibnu Umar. Gubernur Madinah.000 hadits”. Belajar qiraat kepada Nafi’ bin Abu Nu’man. Al-Mujarrad. Artinya beliau sangat hati-hati. karya : Muhammad bin Al Hasan. An Nawazil. Imam Malik bin Anas (93-179 H) Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. 5. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang . Imam Syafi’i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik. maka ambillah hadits itu dan percayalah”. Haruniyat. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta’.

Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya Al Ma’mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta’. lebih sedikit menggunakan porsi dengan ra’yu (Qiyas). Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga oleh . Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Pada usia 13 tahun bacaan Al-Qur’an imam Syafi’i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah). 5. pengarang kitab Al Muwatta’ di Madinah. kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah). pada tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau lahir di Ghaza. Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid. karena sejak Masa Khalifah Usman. Palestina (riwayat lain lahir di Asqalan. Imam Syafi’i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. Qiyas 6. Al-Qur’an 2. diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin). 2. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi fatwa di Masjidil Haram. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H) Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. Ijma’ 4. Pada usia tujuh tahun sudah dapat menghafal Al-Qur’an. Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras) 3. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa sahabat. Sejak itu namanya bukannya menjadi cemar. Atsar yang diamalkan penduduk Madinah. Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) 4. Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. maka Imam Malik berkata . yaitu : Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras). Kitab Hadits. Pada usia 10 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwatta’ karya imam Malik. Sampai suatu ketika beliau bertemu dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih. mazhab Imam Malik mewakili aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar. Kitab Kitab Mazhab Maliki : 1. 3.belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud). Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas : 1. Perkataan Sahabat. Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi’i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas. “ Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. justru makin melambung dan harum dimata umat. Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat) 7. beliau meminta Imam Malik agar datang ke Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta’ untuk keluarga istana. Al Muwatta’.

Di Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Hadis 3. maka beliau mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Ijma’ 4. Al-Qur’an 2. Imam Syafi’i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Ramlah. Mula-mula Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Gubernur Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi’i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus mufti di Mesir. Imam Syafi’i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta’ kepada jamaah pengajian Imam Malik. sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H.gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta dukungan bagi keperluan Imam Syafi’i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak. maka tidak ada lagi orang yang membantu keperluan beliau. Imam Laits bin Sa’ad mufti Mesir telah meninggal. menerangkan mukashis nash yang mujmal. Imam Syafi’i meneruskan pengembaraan ke Persia. menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara zahirnya . Imam Syafi’i mendatangi rumah Imam Malik. terutama kepada Imam Yahya bin Hasan. Maka akhirnya Imam Syafi’I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur. ketika itu beliau berusia 29 tahun. Hirah. Imam Syafi’i terus mengajar dan menjadi mufti. apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi’i telah hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al Muwatta’ karangannya. Di Yaman Imam Syafi’i juga masih terus belajar. Imam Syafi’i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Wali Negeri Yaman mengajak Imam Syafi’i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari. Setelah bebas dibebaskan. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang saku sebesar 50 dinar. Di setiap kota yang dikunjungi Imam Syafi’i mengunjungi ulama-ulama setempat. yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Istidlal Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menyusun sistematika. maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi muridnya. Tapi setelah pemuda Syafi’i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar. perumus dan yang mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi’i ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid. Kemudian Imam Syafi’i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan membantu gurunya dalam mengajar. Anatolia. Palestina. Sesampai di Irak. Pada sekitar tahun 200 H. hingga akhirnya Imam Syafi’i ingin pergi ke Irak. Sekitar satu tahun Imam Syafi’i tinggal bersama Imam Malik bin Anas. Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal berguru kepada beliau mempelajari fiqih. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Beliau menerangkan cara-cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur’an dan Hadist. Sepeninggal Imam Malik. Setibanya di Mesir. Qiyas 5. sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak. Dengan diantar gubernur Madinah. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi’i. Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. imam Syafi’i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu Hanifah). Metode Ijtihad Imam Syafi’i : 1. Setelah bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin Anas. Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. melalui kitabnya Ar Risalah. memberikan fatwa-fatwa di Masjid ‘Amr bin Ash sampai wafatnya. melakukan diskusi mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. beliau dibebaskan dari segala tuduhan.

Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal : . Kota Baghdad pada waktu itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu. kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih. Mukhtaliful Hadits. Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu. 5. berisi penilaian terhadap metode Istihsan. qiyas dsb. Al ‘Um (kitab induk). Siyarul Auza’y. Kitab-kitab mazhab Syafi’i : 1. diskusi dan bantahan terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan. Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan para ahli hadits. wara’ dan zuhud. dipukuli dan hampir saja dibunuh. Imam Abu Zu’rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih dari 1. berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh Imam Syafi’i. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah. Ar-Raddu ‘ala Muhammad ibn Hasan. 6. Sepeninggal Al Ma’mun. Rupanya Allah menyelamatkan beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma’mun meninggal secara mendadak di Tharsus. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. 7. 4. Mekkah dan Madinah. berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza’y. berisi mudhabarah. Imam Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut.000. Ibthalul-Istihsan. Akibatnya beliau disiksa. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah menentang pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal. yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. murid utama Imam Abu Hanifah. melainkan telah dihafalnya diluar kepala”. 8. Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma’mun. 3. Pada masa Al-Mutawakil inilah propaganda bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dihentikan sama sekali.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau mencatatnya hitam diatas putih.000. berburu hadits. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan mengasingkan diri. Jami’ul Ilmi. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Basrah. Ar Risalah. terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah.000 (satu juta) hadits”. berisi pembahasan berbagai masalah fiqih. Imam Syafi’i Juga melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah. Setelah Al-Watsiq. Beliau dijadikan penasehat resmi istana. menerangkan kehujahan Ijma’. 2. Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu’tazilah dan progandanya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Yaman. Musnad Imam Syafi’i. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Ayahku telah menuliskan 10. Syria. sehingga eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan. Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir saling bertentangan.saling bertentangan. Kaum Mu’tazilah yang didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma’mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat. Hampir semua ulama tidak berani menentang karena takut dihukum berat. Bahkan Khalifah menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu’tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama propaganda kemakhlukan Al-Qur’an. ahli ibadah. Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. metode maslahah mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik. Ketika berumur 16 tahun. saat itu kaum Mu’tazilah berhasil mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan pendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahkluk.

5. seperti ketetapan Abu Bakar. Muawiyah tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Shiffin. Al Manasikus Saghir. Setelah peristiwa tahkim muncul kaum Khawarij dan kelompok Syiah. sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal. Al Manasikul Kabir. kemudian berlanjut dengan perang Jamal yang menuntut balas atas darah Usman. Kitab Ash Shalah. Kitab At Tarikh. Kericuhan itu terus berlanjut sampai terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Banyaknya Hadits dan atsar yang mereka terima dan ditunjang oleh dinamika sosial yang lebih statis menyebabkan mereka kurang menggunakan daya analisis. 2. Jawabatul Qur’an. 4. AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur’an. Aliran Ra’yu Setelah terbunuhnya Khalifah Usman. Tafsir Al-Qur’an. dll. Al-Qur’an Hadits Ijma’ Sahabat Fatwa Sahabat Atsar Tabi’in Hadits Mursal / Dhaif Qiyas Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). 3. 7.1. 8. 2. 6. Mengikuti guru mereka. Aliran Hadits / Atsar Para ulama hijaz (Mekkah-Madinah) yang dipelopori oleh Said Al Musayyab dalam ber ijtihad lebih banyak bersandar kepada hadits dan atsar sahabat. 10. juga fatwa-fatwa dari : Zaid bin Tsabit. A. Kitab Zuhud. Ulama Hijaz lebih mencukupkan diri dengan memegangi teks-literalis nash. Musnad Imam Ahmad. Aisyah dan riwayat dari Abu Hurairah. Kitab-kitab mazhab Hanbali : 1. Ijtihad Ijtihad adalah mempergunakan segala kesanggupan untuk mengeluarkan (istinbath) hukum syara’ dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits). 12. 6. dengan latar belakang sebagai berikut : 1. relatif tidak banyak mengalami dinamika perubahan sosial. yaitu Abdullah bin Umar yang sangat tergantung pada hadits dan atsar dan sangat hati-hati dalam menggunakan ra’yu (qiyas). Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas. Umar. Usman. Penduduk Hijaz mewarisi kekayaan hadits dan atsar dari para Sahabat Nabi yang banyak tinggal di Hijaz. Abu Said Al Kudry. Kitab Nasikh wal Mansukh. 2. . 11. B. 4. 3. Negeri Hijaz yang berada di pedalaman semenanjung Arabia. Tha’atur Rasul. Setelah itu Bani Umayyah menguasai pemerintahan dengan cara paksa. Kelompok Hijaz ini banyak jarang menggunakan ra’yu (qiyas) dalam metode ijtihadnya. III. 4. 5. 3. 7. 9. Al-‘Illah.

Anas bin Malik. mencakup seluruh kemaslahatan umat. Menurut Ulama Kufah hukum syariat memiliki makna logis. Gambaran perbedaan paham antara ahli qiyas dan ahli hadits : Pada suatu hari Rabi’ah (ahli qiyas) bertanya kepada Said Al Musayyab (ahli hadits) tentang diyat (denda) anak jari perempuan yang terpotong : Rabi’ah :”Berapa diyat terhadap sebuah anak jari orang perempuan ?” Said Al Musayyab: “10 ekor onta”. Ulama Kufah mengikuti metode ijtihad guru mereka dari sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud yang dikenal mengikuti Umar bin Khattab yang banyak menggunakan daya analitis memperhatikan qarinah. Hal itu dilatar belakangi oleh halhal sebagai berikut : 1.Kelompok Khawarij. Jadi di Kufah mengalami dinamika perubahan sosial yang lebih tinggi yang menuntut pemikiran daripada sekedar mengandalkan teks hadits yang diterima dari riwayat sahabat di masa Nabi. Penduduk Kufah menerima hadits dari : Ibnu Mas’ud. Kufah adalah kota yang lebih ramai dibanding Hijaz. Ali bin Abi Thalib. Abu Musa Al-Asy’ari. Bagaimana diyat empat anak jari malah turun menjadi 20 ekor. Kadang-kadang mereka menolak sebagian hadits ahad karena dianggap bertentangan dengan hikmah persyaratannya. padahal diyat satu anak jari sampai tigak anak jari naik terus dari 10 sampai 30 ekor. Di Kufah mulai marak para pemalsu hadits. maqashid syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan. penduduknya sudah mempunyai peradaban dan cara berpikir yang maju (rasional). Demikianlah ahli hadits hanya menerima mentah-mentah teks hadits. Para Ulama Kufah (Iraq) yang dipelopori oleh Ibrahim An Nakhay dalam ijtihadnya menggunakan ra’yu (qiyas) dengan porsi yang lebih besar daripada ulama Hijaz. Dengan latar belakang tersebut selanjutnya para ulama Kufah sangat hati-hati dalam menerima periwayatan hadits. Pada suatu hari Al Auza’i bertemu dengan Abu Hanifah di Mekkah. Amar bin Yasir. Sa’ad bin Abi Waqash. serta menjadikan hukum itu sejalan dengan himah yang didapat. berdekatan dengan wilayah Persia yang sebelum memeluk agama Islam. Kelompok Syiah Rafidah yang bermarkas di Kufah dikenal paling banyak membuat Hadits palsu. Para Sahabat Nabi yang tinggal di Kufah tidak sebanyak yang tinggal di Hijaz. 2. sehingga Ulama Kufah lebih hati-hati dan lebih selektif dalam menerima hadits. 4. Apalagi bila mereka mendapatkan hadits/atsar yang bertentangan dengan hikmah pen syari’atannya. didasarkan pada pokok-pokok yang muhkam (jelas dan dapat dipahami) dan mengandung alasan-alasan yang tepat bagi hukum. kemudian Al Auza’i bertanya kepada Abu Hanifah : Al Auza’i : “Mengapa tuan tidak mengangkat tangan ketika ruku’ dan I’tidal ?” . Hudzaifah bin Al Yaman. sehingga kekayaan hadits dan atsar yang mereka terima tidak sebanyak yang diterima penduduk Hijaz. Disamping itu di Kufah merupakan pusat pergerakan kaum Syiah dan Khawarij. sedangkan ahli ra’yu tidak begitu saja menerima teks hadits yang tidak diketahui illlat-illat hukumnya atau yang tidak logis menurut akal. Rabi’ah : “Jika empat anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : ”Apakah makin banyak jari yang terpotong. Mughirah bin Sub’ah. Sejak itu mulai timbul hadits-hadits palsu yang dibuat untuk memperkuat kelompoknya masing-masing. Mereka berusaha meneliti alasan-alasan dari setiap penetapan hukum dan menggali hikmah yang terkandung didalamnya (qarinah dan maqashid syari’ah). 3. 5. Rabi’ah : Jika dua anak jari ?” Said Al Musayyab : “20 ekor onta” Rabi’ah : “Jika tiga anak jari ?” Said Al Musayyab :”30 ekor onta”. Syiah dan Bani Umayyah satu sama lain saling bermusuhan dan saling menumpahkan darah. semakin besar diyatnya ?” Said Al Musayyab : “Apakah anda bermazhab ulama Iraq ? itulah sunnah saya telah terangkan”. terutama dari kelompok Syiah Rafidah.

C. Aliran zahiri Dipelopori oleh Daud bin Ali Al-Zhahiri (202-268 H). Abu Hanifah : “Hammad lebih pandai dalam urusan fiqih daripada Az Zuhri. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih : 1. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global). Berpegang pada dalalatul Qur’an i. Demikianlah beberapa contoh perbedaan paham antara ahli hadits dan ahli ra’yu. Adanya ayat-ayat yang ‘Am (umum) D. Perbedaan Memahami Hadits A. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari’ah Perbedaan Metode Ijtihad. 2. Dari situ tampak bagaimana Abu hanifah sebagai tokoh ahli qiyas lebih mengutamakan kefaqihan perawi daripada ketinggian sanad.Hanbali – Maliki – Syafi’i . C. Perbedaan memahami Al-Qur’an A. Al Auza’i : “Az Zuhri telah meriwayatkan kepada saya dari Salim. F. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi. dari Rasulullah SAW. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah. Al Auza’i pun minta diri. saat ruku’ dan ketika I’tidal”. Sumber Perbedaan Pendapat Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang AlQur’an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Lafz umum itu statusnya Qat’i selama belum ditakshiskan 3. . Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi. Kalau digambarkan secara kualitatif metode para imam mazhab dalam menggunakan metode istinbath Hadist-tekstualis dan Qiyas-rasionalis kurang lebih seperti dibawah ini : Hadits Tekstualis Daud bin Ali (Zahiri) . Menolak mafhum mukhalafah ii. E. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh. Mendengar jawaban itu. B. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti). Ibrahim lebih pandai dari Salim. D. bahwasanya Nabi ada mengangkat tangan saat memulai shalat. B. yang hanya memegangi makna zhahir (tekstualis-literalis) nash Al-Qur’an dan Hadits tanpa mau memegangi makna lainnya. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits. Alqamah tidak kurang derajadnya daripada Abdullah. G. dari ayahnya Abdullah bin Umar. E. Imam Abu Hanifah : a. A. Abu Hanifah : “Telah diriwayatkan kepada kami oleh Hammad bin Sulaiman dari Alqamah dari Al Aswad dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah tidak mengangkat tangan selain dari saat memulai shalat saja”. F.Abu Hanifah : “Karena tidak ada hadits yang shahih dari Rasul”. C. walaupun seorang Shahabi”. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum. Al Auza’i : “Saya kemukakan penilaian tentang Az Zuhri dan anda kemukakan penilaian tentang Hammad”.Hanafi Qiyas Rasionalis D.

Qiyas f. B. beliau menaruh kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar. Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari “Nashirus Sunnah”. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil b. karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). hadis ahad (jadi. contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya). Qaul shahabi e. istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya Imam Ahmad bin Hanbal a. Taharah dari hadas . 1. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat). IV. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) i.1. Imam Malik a. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat) d. Berpegang pada hadis Nabi i. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan. zhahir Nash ii. Bagian Ibadah. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh) ii. Berpegang pada Qiyas i. Berpegang pada Hadis ahad (jadi. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat. beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur’an) menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i) menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) b. Hadis dhaif e. C. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis. Pembagian Pembahasan Fiqih Ibnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut : 1. Kitab Taharah 1. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah c. Ijma’ d. beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad) d. Istihsan g. Imam Syafi’i a. Imam Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas) e. Ijma’ c. Imam Syafi’i lebih mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad) d. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis. menerima mafhum mukhalafah b. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah. menurut Syafi’i. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad e. Artinya. hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu) b.iii. tetapi juga melihat matan-nya c. Qur’an dan Sunnah (artinya. Konsekuensinya.1.1. Qiyas D. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat) c.

10. Kitab Janazah 1.27. Taharah dari najis 1. Kitab Qurban 1.9. Kitab Wakalah (memberi kuasa) 3. Kitab Ihdad (berkabung) 3. Kitab Aiman (sumpah) 1. Kitab Jaminan dan Tanggungan 3.7.8. Kitab makanan dan minuman yang haram 2. Kitab Sharfi (jual beli perhiasan) 3.24. Bagian Munakahat 2.13.1. Kitab Kitab Shalat 1.3.4. Kitab Syarikah (berdua saham) 3.9. Bagian Muamalat Madaniyah 3. Kitab Zakat 1. Kitab hibah 3.16.10. Kitab Berburu 1.2. Kitab Qiradli (berdua laba) 3. Kitab Al Hajr (orang yang dilarang bertindak sendiri) 3. Kitab Nafkah 2.19. Kitab Jihad 1. Kitab Nikah 2.3.14. Kitab Ila’ (sumpah talak) 2.6. Kitab Haji 1. Kitab Hadlanah (yang berhak memelihara anak) 2.3.28.6. Kitab Salam (jual beli pesanan) 3.2.15. Kitab Nasab 2.6. Kitab ‘Ariyah (peminjaman barang) 3. Kitab I’tikaf 1.4. Kitab Khiyar (pilihan untuk meneruskan atau membatalkan transaksi) 3.17.1.2.5.11.16.15. Kitab Shulhi (kesepakatan damai dari persengketaan) 3.10.21.12.7.9.26. Kitab Talak 2. Kitab Musaqah (paroh hasil merawat kebun) 3. Kitab Nadar 1. Kitab Faraidl (warisan) .13.23.5.22. Kitab Ghasbi (penyerobotan hak milik orang lain) 3. Kitab Bai’il Ariyah (memberikan pohon untuk dimakan buahnya) 3. Bai’il Murabahah (penjualan yang ditentukan jumlah keuntungannya oleh penjual) 3. Kitab Hawalah (pemindahan hutang) 3.11. Kitab Shiyam (puasa) 1.12.2.20. Kitab Luqathah (barang temuan) 3.18. Kitab Dhihar 2. Kitab Buyu’ (jual beli) 3.8. Kitab Radla’i (penyusuan anak) 2. Kitab Ju’li (upah bagi yang menemukan barang yang hilang) 3.1. Kitab Irat (sewa-menyewa) 3. Kitab Ishtihqaq (memperoleh kembali haknya) 3.14.8. Kitab Li’an (mengatakan punggung istrinya sama dengan punggung ibunya) 2.7. Kitab Wadi’ah (menitipkan barang) 3. Kitab Taflis (orang pailit) 3.4.5. Kitab Qismah (pembagian) 3.25. Kitab Aqiqah 1. Kitab Sembelihan 1. Kitab Zakat Fitrah 1. Kitab Washaya 3.1. Kitab Ruhun (gadai) 3. Kitab Syuf’ah 3.

4.29. Jenis Mujtahid 1. Akidahnya benar. dhalalah nash. kecuali terhadap masalahmasalah yang belum dibahas oleh imam mazhab sebelumnya. 4. B. Pemahaman dan ketelitian yang cermat akan qarinah. 5. Mujtahid Muqaiyad : yaitu tidak mengeluarkan ijtihad sendiri. illat hukum. pembebasan tuntutan) 4. Mengetahui ilmu fikih dan ushul fikih. Kitab Sariqah (pencurian) 4. Contohnya Al Karakhi. Mujtahid fil Masa’il : yaitu mempunyai ijtihad sendiri dalam beberapa masalah cabang. 2. 3. Mujtahid. Bersih dari hawa nafsu. Kitab Diyat (denda pembunuhan) 4. yang sudah ada garansi dan rekomendasi dari Rasul untuk diikuti oleh umat. Al Qaduri dalam mazhab Hanafi. Al Khiraqi dalam mazhab Hanbali. 5. serta mengetahui syair-syair Arab lampau yang terkenal untuk mengetahui arti kata-kata sulit yang jarang digunakan. Syarat-syarat Mujtahid 1. Mujtahid ini mengetahui selukbeluk dan argumen para imam mazhab. 6.2. tasrif (konyugasi). Mujtahid Mustaqil : yaitu para imam mazhab fiqih yang muktabar. Kitab Umahatil Aulad (budak yang dijadikan ibu anaknya) 4. Memahami ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. Kitab Tadbir (kemerdekaan budak setelah tuannya meninggal) 3. Kitab Khamr 4.2. 7. Mujtahid Mutlaq : yaitu para Khulafaur Rasyidin. Bagian Inayat wa Uqubat (pidana) 4. diat.31. bayan (kejelasan) dan badi’ (efektifitas bicara). Muhamad Al Hasan dari mazhab hanafi.3.32. Kitab Zina 4. Kitab ‘Itqi (memerdekakan budak) 3. Mengetahui bahasa arab dengan segala cabangnya. 2.5. Al Ghazali dalam mazhab Syafi’I. Kitab Hirabah (perampokan. Kitab Jarahi (qisas. Ar Rafi’ dan An Nawawi dalam mazhab Syafi’i. Al Muzany dari mazhab Syafi’i. Kitab Qisas (pembunuhan dan melukai) 4.6. balagah (retorika). musytaq (bentuk kata turunan). Kitab Syahadah (kesaksian dan sumpah menolak tuduhan) V. 8.30. Kitab Qasamah (sumpah penduduk yang ditemukan mayat di kampungnya) 4. masdar (kata dasar). sharaf (konyugasi).8.3. Contohnya Abu Yusuf. Kitab Kitabah (menebus diri dari perbudakan) 3. penjarahan. atsar sahabat dan tabi’in. 3. Mengetahui Ijma’ masa Khulafaur Rasyidin. perusuh) 5. serta tujuan tasyri sehingga mampu menyimpulkan makna yang sejalan dengan syariat. Mufti dan Hakim A.1. Mujtahid fil Mazhab : yaitu lebih banyak mengikuti salah satu imam mazhab tapi dalam beberapa masalah pokok berbeda pendapat dengan imamnya. . 4. ma’ani. mengetahui irab (fungsi kata dalam kalimat). Kitab Aqdliyah (kehakiman) 5.7. Bagian Peradilan 5. Kitab Qadzaf (tukas) 4. bukan pada masalah pokok. Mujahid berkata : “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah (menafsirkan) apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab”.1. seperti At Tahawi dalam mazhab Hanafi. seperti : nahwu (gramatika). mampu men tarjih mana yang lebih kuat dan lebih utama dari pendapat imam mazhab yang berbeda-beda. Mengetahui ilmu hadits.9.

c. Dalam masa maraknya masa taqlid tetapi masih ada juga ulama ulama mujtahid yang tetap menghidupkan api ijtihad diantaranya : 1. sedangkan taqlid dilarang”. Taqlid kepada seseorang yang belum muktabar diakui apakah punya kompetensi untuk meng istinbath-kan hukum fiqih. 4. Hukum Taqlid : a. Mufti tidak dapat memberi putusan kecuali mufti tersebut juga menjadi hakim sedangkan hakim harus memberikan fatwa apabila telah menjadi suatu keharusan. tentunya itu akan menyulitkan. Memberi fatwa lebih luas lapangannya daripada menjatuhkan vonis putusan hukum. orang asing. laki-laki. tidak ada hubungan kerabat dengan yang bersengketa. dalilhujjahnya. Taqlid yang haram : 1.C. 4. Hakim sebaiknya tidak memberikan fatwa terhadap masalah-masalah yang mungkin muncul dalam peradilan. Fatwa boleh dilakukan oleh orang merdeka. sedangkan taqlid adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain tanpa mengetahui argumen. Fatwa mufti tidak dapat membatalkan putusan hakim. 3. Sedangkan vonis putusan hanya diberikan oleh orang merdeka. moyangleluhur. Tidak menghiraukan nash syara’ semata-mata lantaran mengikuti orang tua. karena dikhawatirkan bila hakim memutuskan putusan yang berbeda dengan fatwanya. 2. Putusan hakim mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. Imam Ghazali dalam Al Mustafa mengatakan : “Ittiba’ dalam agama disuruh. dalam istilah kaum salaf taqlid kepada Rasulullah disebut ittiba’. dalil-hujjahnya. Keduanya sama sama memutuskan hukum berdasarkan hukum syara’. terutama bagi orang awam yang tidak punya kemampuan mengetahui hukum hukum syara’ secara mendalam. Periode keempat dari masa Muhammad Abduh – sekarang. Ittiba’ dan Taqlid Ittiba’ adalah mengikuti pendapat (ijtihad) orang lain dengan mengetahui argumen. Sedangkan perbedaan antara mufti dan hakim adalah : 1. b. Syuraih Al Qadhy pernah berkata : “Saya memutuskan perkara diantara kamu bukan memberikan fatwa”. Taqlid yang dibolehkan : mengikuti pendapat ulama mujtahid yang sudah muktabar mempunyai kompetensi meng istinbathkan hukum fiqih. Taqlid yang wajib : taqlid kepada Rasulullah. Taqlid buta karena fanatik terhadap orang tertentu walaupun ada hujjah dan argumen yang lebih kuat yang bertentangan dengan pendapat orang tersebut. sedangkan hakim adalah orang yang menjatuhkan vonis keputusan hukum terhadap suatu sengketa masalah antara dua pihak yang bersengketa. Mufti dan Hakim Mufti adalah orang yang memberikan fatwa biasanya tentang hukum fiqih sesuatu masalah. Periode pertama (pasca masa Imam Mazhab. 3. VI. 5. 2. Periode ketiga dari abad ke-X H sampai masa Muhammad Abduh. sedangkan keputusan hakim dapat membatalkan fatwa mufti. Periode Taqlid : 1. 3. abad ke-IV H – jatuhnya Baghdad abad ke-VII H). Izzudin bin Abdis Salam (578-660 H). famili. 2. sedangkan fatwa mufti boleh diterima boleh tidak. wanita. pria. kerabat. budak. Periode kedua dari abad ke-IV H – abad ke-X H. .

Sunnat Yaitu bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. 10. bila sebagian individu sudah menunaikan maka gugur kewajiban individu yang lain. 4. 8. 2. Wajib Dzu Syabahain = wajib muwassa’ sekaligus mudhaiyaq. B. contoh = kafarah sumpah. Sunnat Ghairu Muakkadah = sunnat yang kadang ditinggalkan oleh Nabi. Wajib Maqdi = wajibn yang ditunaikan sesudah lewat waktunya qada’an. 11. puasa ramadhan.2. dari Al Azhar menerbitkan tabloid Al Manar. contoh : mengurus jenazah. Wajib Muwassa’ = wajib yang diluaskan waktunya. kesukaan Nabi yang bagus bila ditiru dan tidak dicela bila ditinggalkan. 13. Ash Shan’ani (abad XII H) pengarang Subulussalam. Wajib Mukhaiyar = wajib yang diberi kebebasan memilih. 11. Wjib Kifayai = wajib yang dibebankan kepada sebagian individu. Wajib Mu’aiyin = wajib yang ditentukan zatnya . 12. Hukum wajib terbagi menjadi : 1. Sunnat Zaidah = sunnat yang dikerjakan Nabi dalam urusan adat kebiasaan. puasa ramadhan waktu mulainya dan berakhirnya sama yaitu dari terbit fajar sampai maghrib. contoh : wajib membayar kafarah sumpah. 2. 5. sholat isak dari petang sampai subuh. Wajib Muthlaq = wajib yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi waktunya. 15. tapi waktunya tidak ditentukan oleh syara’. minum. shalat tahajud. 8. contoh shalat lima waktu. Pembagian Sunnat : 1. Ibnu Taimiyah (661-728 H). 6. contoh : azan dan jama’ah. Sunnat Hadyin = sunnat untuk menyempurnakan kewajiban-kewajiban agama. Rasyid Ridha. contoh : zakat. An Nawawi Al Bulqini (724 – 805 H). Ibnu Qoyyim Al Jauziah (691-751 H). 3. 10. Wajib ‘ain = wajib yang dibebankan kepada setiap individu. tidak dapat diwakilkan oleh atau kepada orang lain. Al Asnawi (714-784 H) Al Jalalul Mahalli (791-864 H). contoh : shalat sunnat rawatib. wakaf. contoh : makan. Wajib Muhaddad = wajib yang ditentukan kadarnya. contoh : shalat sunnat 4 rakaat sebelum duhur. 14. 3. Muhammad Abduh. 7. Al Jalalus Suyuthi (846 –911 H). contohnya ibadah haji. Ketentuan Hukum (Mahkum Bih) A. Wajib Ghairu Muhaddad = wajib yang tidak ditentukan kadarnya. 3. 14. 9. . Wajib Mudhaiyaq = wajib yang sempit waktunya. 7. Ibnu Daqiqil Ied (615-702 H). contoh waktu shalat lima waktu. Ibnu Rif’ah (645 – 710 H). Wajib Mu’aad = wajib yang dikerjakan mengulang karena kurang sempurnanya yang ditunaikan pertama. adat. 13. yaitu waktu mulainya sama dengan waktu berakhirnya dan waktunya panjang. Wajib Muaddaa = Wajib yang ditunaikan dalam waktunya ada’an. 4. Wajib Yaitu pekerjaan yang bila tidak dikerjakan mendapatkan dosa. contoh : sedekah. 4. Wajib Muwaqqat = wajib yang ditentukan waktunya. 12. contoh : membaca Al Fatihah dalam shalat. 5. Sunnat Muakkadah = sunnat yang sering dikerjakan Nabi (jarang ditinggalkan). VII. 6. 9. Asy Syaukani (abad XII H) pengarang Nailul Authar. Ibnu Hajar Atsqolani (773-858 H).

c. Jangan sibuk dengan perkara yang mubah sehingga melalaikan dari akhirat. b. c. Diketahui berdasarkan dalil. yaitu haram yang dalilnya belum qath’i (pasti) yaitu dari hadits ahad. tetapi bila ditinggalkan terpuji. Makruh Tanzih = makruh yang tidak dicela bila dikerjakan. makan jengkol. Baligh (dewasa). D. E. e. VIII. shalat dengan berdiri. Jangan berlebihan. halangan untuk wajibnya shalat jum’at 12. Gila 2. shalat di akhir waktu. b. Safar (bepergian). 3. Paksaan . Sanggup dikerjakan. Dapat dibedakan. Seseorang mendapat beban taklif (beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Subyek hukum adalah para mukallaf (orang yang dibebani hukum). Jangan membuat perkara baru (bid’ah) dalam agama yang tanpa ada contoh atau tanpa ada maslahatnya dalam urusan dunia atau tidak menjadi sarana kemaslahatan yang lain. Sakit. Pingsan 6. Pembagian Makruh : 1. Tidur 5. Untuk melaksanakan taat (ibadah). Obyek Hukum (Mahkum Fih) dan Subyek Hukum (Mahkum ‘Alaih) Obyek hukum dalam fiqih adalah beban pekerjaan kepada para mukallaf (orang dewasa dan berakal sejahtera yang terkenan beban hukum) apabila memenuhi beberapa syarat : a. Makruh Yaitu bila dikerjakan tidak dicela. Mabuk 7. Nifas 10. contoh : merokok. Catatan untuk perkara yang mubah : 1. Memahami perintah (beban hukum) yang dibebankan kepadanya. 2. contohnya : meninggalkan shalat lima waktu. Silap (tidak sengaja) 13. Mungkin terjadi / bukan yang mustahil terjadi. Halangan – halangan : 1. makan daging babi. Lupa 4. 2. 8. d. Setengah gila 3. Haram Yaitu bila dikerjakan mendapat dosa. Mubah Yaitu sesuatu yang dibolehkan. halangan untuk puasa. boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan.C. Berakal (sadar dan waras). tetapi terpuji bila ditinggalkan. Haid 9. Makruh Tahrim = makruh yang dekat kepada haram. Mati 11.

Maslahah Mursalah 4.14. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. saya tidak putus asa. “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas.’ “ (HR Abu Dawud). dsb. Qiyas 2. halangan untuk shalat berjama’ah. Dalil naqli (teks) : 1. Macam-macam dalil : A. Al-Qur’an 2. Hadits Mu’adz diatas juga menunjukkan ijtihad dengan akal dibolehkan oleh Rasulullah dan diridloi oleh Allah. yaitu menggunakan segala daya upaya kemampuan berpikir untuk ber ijtihad menyimpulkan hukum fiqih dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersurat (eksplisit-tekstual) maupun yang tersirat (implisitkontekstual). Ushul Fiqih A. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.’ Rasulullah bertanya lagi : ‘jika tidak didapat di Kitab Allah ?’ Mu’adz menjawab : ‘Maka aku putuskan dengan sunnah Rasulullah SAW. 15. maksudnya bandingkanlah dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada Al-Qur’an dan atau Hadits.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. Dalil aqli (akal) 1. Hadits Nabi : Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) ulil-amri. tapi dengan catatan ijtihad dengan akal baru digunakan bila tidak ditemukan dalil pada Al-Qur’an dan Hadits. IX. beliau bertanya : “Bagaimana kamu akan memutuskan hukum jika menghadapi kasus ? ‘Mu’adz menjawab : ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang ada pada kitab Allah. seraya bertahmid : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasul-nya yang diridhoi oleh-Nya. Al-Qur’an . Tua renta pikun. Sumber Hukum Pimer 1. B. ‘Rasulullah kembali bertanya : ‘Jika tidak terdapat pada Sunnah Rasulullah ?’ Mu’adz akhirnya menjawab : ‘ Ajtahidur ra’yi Saya akan ber ijtihad dengan akal-pikiran saya. Firman Allah dalam QS An-Nahl : 44 “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir. Dan lain-lain. ‘Mu’adz berkata : ‘Lalu Rasulullah menepuk dadaku. Istihsan 3. Hujan. Sunnah (Hadits) B. Pengertian Ushul fiqih adalah kaidah kaidah dan metodologi dasar yang digunakan untuk istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya yang berupa dalil-dalil yang tafshili (jelas).” Ayat diatas dengan jelas Allah memerintahkan umat Islam menggunakan akalnya untuk memikirkan AlQur’an. bahwa Rasulullah tatkala mengutus Mu’adz sebagai qadli (hakim) di Yaman. pelajari qarinah (petunjuk) hikmah syariat didalamnya. Ijma’ (konsensus) C.

Sedangkan hadits ahad (jalan sanadnya tidak mencapai derajad mutawatir) dan masih diperselisihkan ke sahihannya oleh para ulama hadits maka dalilnya bersifat dzanni (dugaan) wurudnya (Baca kembali meteri Ilmu Hadits tentang mushthalah hadits dan mukhtaliful hadits). b. 5. tiga atau empat. Melengkapi hukum yang belum ada di Al-Qur’an. Namun lafadz zhahir masih memungkinkan menerima adanya takhshis (pengkhususan). ta’wil dan nasakh. makna hakikat-majazmusytarak). Dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an bersifat qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya) yaitu berupa khabar yang sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir dan dijamin terpelihara penukilannya. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Hukum hudud dera seratus kali menunjukkan bilangan yang pasti tidak kurang tidak lebih dari seratus yang tidak menerima kemungkinan jumlah yang lain. maka (kawinilah) seorang saja. Mufassar. Contoh nash seperti pada ayat : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina. Sedangkan dhalalah (petunjuk lafazhnya) ada yang qath’i yaitu yang sharih (jelas) sehingga semua ulama menyepakati maknanya dan ada yang masih menimbulkan perbedaan pendapat dalam menafsirkan maknanya. karena ada dalil yang menafsirkan secara detail lafazh yang sebelumnya masih mujmal (global). Perhatikan firman Allah : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Sunnah (Hadits) Hadits nabi merupakan sumber hukum primer kedua. 3. Demikian pula dhalalah (petunjuk lafazh) nya. c.” (QS An-Nisa’ : 3). terdiri atas : a. Zhahir. Dari segi “zhahir” lafazh ayat membolehkan poligami maksimal sampai empat orang istri dengan syarat harus berlaku adil. potonglah tangan keduanya… .” (QS AnNur : 2). mantuq-mafhum. bila maknanya sharih dan tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama maka qath’i pula dhalalahnya. lebih jelas dari zhahir karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal). (bilamana kamu mengawininya). paling rendah tingkat kejelasannya. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. Contoh zhahir seperti pada ayat : “Dan jika kamu takut akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim. Merinci hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. Kejelasan makna lafazh Tingkat kekuatan kejelasan lafazh dalil yang jelas. mujmal-mufassar.Al-Qur’an adalah sumber hukum primer yang pertama. ‘am-khas. Memperkuat hukum yang ada di Al-Qur’an. 2. dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. C. Istinbath hukum dari dalil Al-Qur’an dan Hadits 1. 4. Masih memungkinkan adanya makna lain (ihtimal). Menerangkan (bayan) hukum yang disebutkan dalam dalam Al-Qur’an. . 6. lebih jelas dari nash. mutlaq-muayyad. Menghapus (nasakh) hukum yang ada di Al-Qur’an. Nash. Hadist nabi yang mutawatir (banyak jalan sanadnya) dan sahih maka dalilnya bersifat Qath’i (pasti) wurudnya (sumbernya). Tapi bila ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai maknanya maka menjadi dzunni dhalalahnya. (Baca kembali meteri Ushul Tafsir tentang muhkam-mutasyabih. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. Mentakhsish (meng khususkan) dari ketentuan yang umum dari Al-Qur’an. Peranan Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sbb : 1.” (QS Al-Maidah [3] : 38). 2.

Muhkam.” (QS An-nur : 4). Mujmal (global) yaitu lafazh yang maknanya mengandung cakupan dan kemungkinan yang luas yang banyak yang tidak mungkin diketahui secara pasti kecuali melalui dalil lain yang menjelaskan sehingga yang mujmal tersebut menjadi terjelaskan (mubayyan). karena pencopet mencuri dengan terangterangan tidak sembunyi-sembunyi sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. kata ini mengandung beberapa makna bisa berarti : mata. esensi zat dan mata-mata (intel). Dalil yang mufassar tidak mempunyai kemungkinan makna lain kecuali berupa nasakh.” Sedangkan lafazh yang tidak jelas maknanya. Demikian juga hadits nabi : “Jihad itu terus menerus sampai hari kiamat. . Imam Malik. maknanya tidak jelas pada sebagian pengertian cakupan makna yang dimaksud (maudlul). terdiri atas : a.” “Tidak dikenakan hukuman potong tangan. tidak pula pencuri buah-buahan. paling jelas karena tidak menerima kemungkinan makna lain (ihtimal) baik itu berupa takhsis. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan termasuk pencuri yang harus dihukum potong tangan. karena pencuri kain kafan mencuri barang yang bukan milik orang yang hidup dan tentunya juga bukan hak milik si mayat sehingga apakah harus diterapkan hukum potong tangan atau tidak. pencurian terhadap mayang kurma. Hadits nabi : “Orang yang membunuh itu tidak berhak mendapat warisan. c. Al-Khafi.” Lafazh “qatil” (pembunuh) dari segi arti maupun sasaran adalah pembunuhan yang sengaja.Ayat diatas masih bersifat mujmal (global) yang kemudian datang hadits nabi yang menafsirkannya sehingga menjadi mufassar (ditafsirkan). Sedangkan Imam Abu Yusuf.” Demikian juga tidak dilakukan hukum potong tangan bagi prajurit yang mencuri dalam pererangan dan Khalifah Umar menetapkan tidak menerapkan hukum potong tangan pada pencurian ketika musim paceklik dan kelaparan. Contohnya lafazh yang musytarak (punya lebih dari satu arti). ta’wil maupun nasakh. Maka bagaimana halnya dengan pembunuhan karena tidak sengaja. Demikian juga pencuri kain kafan (nabbasy) apakah termasuk kategori pencuri (sariq) atau bukan. Imam Abu Hanifah dan Muhammad Hasan Asy Syaibani tidak memasukkan pencopet dan pencuri kain kafan dalam katagori pencuri yang harus dihukum potong tangan. Contohya tentang perintah sholat dan manasik haji. mata air. seperti firman Allah : “Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Al-Musykil yaitu lafazh yang maknanya samar karena sebab pada lafazh itu sendiri. Imam Syafi’i. b. apakah pembunuh yang tidak sengaja juga tidak berhak mendapat warisan ? Disini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Imam mazhab. hadits yang menafsirkan ketentuan potong tangan bagi pencuri adalah : “tidak dikenakan hukuman potong tangan. kedua lafazh itu masih mujmal maka dari dalil beberapa hadits yang berupa perkataan dan contoh perbuatan nabi yang menjelaskan detail tata cara sholat dan haji . d. Maka pencopet (ath-tharar) apakah termasuk katagori pencuri atau bukan. Contoh lain yaitu lafazh “sariq” pencuri maka pengertian umumnya adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi mengambil harta orang lain yang tersimpan. pencurian yang kurang dari 10 dirham. Lafazh musykil harus diperhatikan dalam konteks apa kata itu dirangkai dengan kata yang lain menjadi kalimat dengan pengertian yang tepat dan harus dicari perbandingannya dari dalil-dalil yang lain yang dapat membantu penafsirannya. Contohnya kata ‘ain.

sedang makna yang pertama lemah (marjuh). lalu ia berkata : “Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahui. ialah lafazh yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas (sharih). 3. Jadi zahir itu sama dengan nash dalam hal petunjuk lafazhnya kepada bunyi yang tersurat. Tetapi pemakaian untuki makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (rajih). Contohnya pada QS AlBaqarah [2] : 196 : “Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri : “Hai Umar.” Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “Sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (kiasan). Maha Berfirman (Kalam). dari Anas : “Khalifah Umar pernah membaca ayat. Huruf-huruf hijaiyah pada awal surat (huruf muqatta’ah). contoh : Allah “bersemayam” diatas Arsy. dsb. “tangan” Allah diatas tangan mereka. akhirat). alam kubur. dsb 6. sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri”. Riwayat lain dari Muhammad bin Sa’d dari Anas : “Umar berkata kepada dirinya sendiri : ”Ini hal yang dipaksakan. Yang perlu diingat bahwa ayat-ayat mengenai taklif (beban kewajiban) dan yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan sendi syariat Islam didalamnya tidak ada yang mutasyabih. Misalnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 173 “famanidlthurro ghaira baghi wa la ‘ad. tidak mengandung kemungkinan makna lain. ialah lafazh yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). tetapi apakah yang dimaksud “al-ab” ?”. Mutasyabih yaitu lafazh yang sangat samar maknanya. tiada dosa bagimu bila tidak mengetahui””. Nash. Ayat-ayat mansukh (yang dihapus) dan tidak diberlakukan hukumnya atau telah dihapus lafadznya dari mushaf. Maha Mendengar. Allah “turun” ke langit dunia. sangat sulit bahkan ada yang tidak mungkin dipahami maknanya oleh akal ulama sekalipun dan hanya Allah yang tahu maknanya. alam malaikat. A. Maha Mengetahui. Petunjuk Lafazh (dhalalah) A. 2.d. Maha Hidup. Hakikat sebenarnya tentang ayat-ayat metafisika (ruh. Allah “melempar”. dan “datang” lah Tuhanmu. Mafhum yaitu makna berdasarkan pemahaman implisit yang tersurat (kontekstual). Mantuq yaitu makna berdasarkan bunyi eksplisit yang tersurat (tekstual) B. 7. Mantuq terdiri atas 5 (lima) kategori : 1. Namun dari segi lain ia berbeda dengan nash. 2. karena zahir masih disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah.” Lafazh “al-bagh” digunakan untuk makna “al-jahil” (bodoh. contoh : Allah Maha Melihat. “wafakihatan wa abban … Dan buah-buahan dan rumput-rumputan” (QS Abasa [80] : 31). contoh ayat-ayat yang mutasyabih adalah : 1. Juga dalam QS Al-Baqarah [2] : 222 : . zalim). Ayat-ayat yang mengandung kata-kata yang sulit dipahami maksudnya. dsb 5. Zahir. 4. itulah sepuluh (hari) yang sempurna. contoh : Segala sesuatu pasti binasa kecuali “wajahNya”. Inilah yang dimaksud dengan nash. Riwayat Abu Ubaid. alam jin. Mantuq Mantuq adalah makna lahir yang tersurat (eksplisit) yang tidak mengandung kemungkinan pengertian ke makna yang lain. Ayat-ayat tentang perbuatan Allah yang menyerupai perbuatan mahkluk. (Baca kembali Ushul Tafsir Point VI tentang Muhkam – Mutasyabih) 2. Ayat-ayat tentang anggota tubuh Allah. surga-neraka. Ayat-ayat tentang Asma’ Allah dan sifat-sifatNya yang menyerupai sifat mahkluk. tidak tahu) dan “az-zalim” (melampaui batas.

Mafhum muwafaqah (perbandingan sepadan). yaitu kata “bersenggama”. Misalnya pada QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ‘ah’ . sehingga maknanya yang tepat adalah “diharamkan atas kamu (bersenggama) dengan ibu-ibumu. Contoh yang lain pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu ibu-ibumu” Ayat ini memerlukan adanya adanya kata-kata yang tidak disebutkan. 187 : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. sebab ayat ini membolehkan berc ampur sampai dengan terbit fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi. Fahwal khitab. Misalnya dalam QS rendahkan SAYAP 4. sedangkan penunjukan kepada makna yang pertama (berhenti haid) adalah marjuh (lemah). melainkan berdasarkan pada pemahaman yang tersirat. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah). Membolehkan melakukan penyebab sesuatu berarti membolehkan pula melakukan sesuatu itu. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . Mafhum terdiri atas 2 (dua) jenis : a. Sedangkan jika ia tetap berpuasa maka baginya tidak ada kewajiban qada. Akan tetapi masing-masing kedua makna ini ditunjukkan oleh lafazh menurut bunyi ucapan yang tersurat. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutiah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. yaitu makna yang hukumnya sepadan dengan mantuq. Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita berpagi dalam keadaan junub. B. Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] . 184 : “Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan. Namun penunjukan kata “tuhr” kepada makna kedua (mandi) lebih tepat. maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu. zahir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh. sedangkan mu’awwal diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. . jelas (zahir) sehingga itulah makna yang rajih (kuat). dan makan minumlah hingga jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam. sebab kewajiban qada puasa bagi musafir itu hanya apabila ia berbuka dalam perjalanannya itu.“Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci …. berwudhu dan mandi pun disebut “tuhr”. mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” Ayat ini memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan yaitu “lalu ia berbuka”. Mafhum Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazah tidak berdasarkan pada bunyi ucapan yang tersurat. Dalalah Isyarah adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat berdasarkan kepada isyarat lafazh. berarti membolehkan juga berpagi dalam keadaan junub.” 5. adalah lafazh yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang lebih rajih. Dalalah istida’ adalah kebenaran petunjuk (dalalah) lafazh kepada makna yang tepat terkadang bergantung pada sesuatu yang tidak disebutkan. Mu’awwal berbeda dengan zahir.” Ayat ini mengharamkan perkataan “ah” yang tentunya akan menyakiti hati kedua orang tua. Mu’awwal. terdiri dari : 1. 3. Maka membolehkan “bercampur” sampai pada bagian waktu terakhir dari malam yang tidak ada lagi kesempatan untuk mandi sebelum terbit fajar.” Berhenti haid dinamakan “suci” (tuhr). yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus diambil hukumnbya daripada mantuq. yaitu fajar… “ Ayat ini menunjukkan sahnya puasa bagi orang-orang yang pagi-pagi hari masih dalam keadaan junub.

Ulama-ulama Hanafiah. menolak berhujjah dengan mafhum mukhalafah (perbandingan terbalik).perbuatan lain seperti mencaci-maki. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya … “ Ayat ini melarang memakan harta anak yatim. ‘Am (umum) – Khas (khusus) Lafazh ‘Am (umum) Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz’iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas.” Dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) berarti istri yang ditalak tidak sedang dalam keadaan hamil. Maka dengan pemahaman perbandingan terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa berita yang dibawa oleh orang yang tidak fasik tidak perlu diperiksa. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti … “ Ayat ini memerintahkan bertabayun (memeriksa. maka berikanlah kepada mereka nafkah. Mafhum sifat. menterlantarkan harta anak yatim juga diharamkan. tidak wajib diberi nafkah. misalnya pada QS Al-Fatihah [1] : 5 : “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan … “ Dengan pemahaman terbalik maka tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh memohon pertolongan kepada selain Allah. Mafhum Mukhalafah (perbandingan terbalik). 3. Mafhum hasr (pembatasan. meneliti) berita yang dibawa oleh “orang fasik”. Misalnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. Ulama Hanafiyah dan Syafiiyah tidak memakai mafhum laqab. b. diteliti. yaitu makna yang hukumnya kebalikan dari mantuq. Mafhum syarat. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain … “ Dengan pemahaman terbalik. walaupun tidak disebutkan dalam teks ayat. Ini berarti berita dari orang yang adil dan tsiqoh wajib diterima. terdiri dari : 1. yaitu apabila mafhum sama nilainya dengan hukum mantuq. merusak. perbuatan lain seperti : membakar. Berhujjah dengan Mafhum : a. Cakupan Lafazh A. 4. yang dimaksud adalah sifat ma’nawi. hanya). menyia-nyiakan. yaitu memperhatikan syaratnya. maka dengan pemahaman perbandingan sepadan (mafhum muwafaqah).” . Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut [29] : 33 : “Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu. Contohnya seperti pada QS At-Talaq [65] : 6 : “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil. Lahnul Khitab. b. misalnya pada QS Al-Baqarah [2] : 230 : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak kedua). 3. Mafhum gayah (maksimalitas). 2. maka bila mantan istri yang sudah ditalak tiga kali kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan kemudian bercerai maka menjadi halal dikawin lagi. contohnya pada QS AlHujurat [49] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. memukul lebih diharamkan lagi. 2.

niscaya akan diberi pembalasan (sesuai) dengan kejahatan itu. yang menyampaikan ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini … ?” b. QS Ali Imran [3] : 185 : “Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati. qatibah dan sa’irun : a.” 4. yaitu QS Hud [11] : 46 : “Allah berfirman. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat.” 9. Contohnya pada QS Al-Ma’idah [5] : 42 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. seperti : a. sesungguhnya anakku termasukkeluargaku dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar.” b. Dia mempunyai nama-nama yang baik. QS Al-Baqarah [2] : 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allah). Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami’un (seluruh) a.” . al-lati dan dzu. Contohnya pada QS Al Bawarah [2] : 48 : a.” 8. aina dan mata (kapan).” 5. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi). QS At-Taubah [9] : 36 : “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya. yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain.” 6. alladzina. Lafazh man (siapa). “Hai Nuh. al-lati. sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 10 : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.Berdasarkan keumuman lafazh “keluarga” pada firman Allah diatas yang maka Nabi Nuh menagih janji Allah ketika banjir telah melanda dengan memohon kepada Allah agar menyelamatkan anaknya yang termasuk keluarganya.” Kemudian Allah menjawab permohonan nabi Nuh tersebut pada ayat lanjutannya. Aneka Ragam bentuk ‘Am : 1. ma (apa saja).” 7. QS Al-An’am [6] : 130 : “Hai golongan jin dan manusia. QS Al-Isra’ [17] : 23 : “Maka.” Jawaban Allah ini mengecualikan anaknya dari keumuman kata “keluargamu” yang dijanjikan akan diselamatkan. QS An-Nisa’ [4] : 123 “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan.” b. Lafazh ma’syara.” b. sesungguhnya ia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). hal itu dapat kita lihat pada QS Hud [11] : 45 : “Dan nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata : “Ya Tuhanku. Isim berbentuk jama’ yang diawali alif dan lam. ‘ammah. ma’asyira. apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul Kami dari golongan kamu sendiri. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan. yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. tidaklah dapat kamu menghitungnya. Isim-isim yang berfungsi sebagai penyambung (al-maushulah) seperti ladzi. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu tidak sedikitpun dianiaya. Contohnya pada QS Al-Isra’ [17] : 110 : “Dengan nama yang mana saja kamu seru. Isim yang dinisbatkan (mudhaf) Contohnya pada QS Ibrahim [14] : 34 : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. sebagaimana mereka pun telah memerangi kamu semuanya.” 3. QS Al-Baqarah [2] : 48 : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat. walau sedikitpun. QS Al-Baqarah [2] : 29 : “Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.

sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabat secara ma’ruf. Mengganti sebagian dari keseluruhannya. contohnya dalam QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Dan janganlah kamu mencukur kepalamu. c. yaitu istrimu (itu) telah kamu campuri.” Kata “ahadan” tak seorangpun bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. kecuali orang-orang yang bertaubat …“ b. maka tidak wajib berwasiat. contohnya pada QS Al-Kahfi [18] : 49 : “Dan tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. Istitsna (pengecualian). Syarat. yaitu Jibril. contohnya pada QS Ali-Imran [3] : 97 : “Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. ‘Am yang mendapat peng-khususan Contohnya QS Ali-Imran [3] : 97 : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. QS An-Nisa’ [4] : 23 : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. Mukhashshish Munfashil .” Lafazh malaikat pada ayat diatas adalah umum tapi yang dimaksud adalah khusus.10.” Kalimat “jika ia meninggalkan harta yang banyak” adalah syarat. maka bila seseorang tidak meninggalkan harta yang banyak. Macam-macam penggunaan lafazh ‘am (umum) : a. b. Macam-macam Mukhashshis (peng khusus).” Kalimat “sebelum kurban sampai ditempat penyembelihan” merupakan batas larangan mencukur rambut kepala saat haji. Mukhashshish Muttashil (peng khusus yang bersambung) a. tapi di ayat yang lain ada peng khususan yaitu bagi yang mampu. ‘Am yang tetap dimaksudkan untuk keumumannya. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab. e. . ‘Am tetapi yang dimaksudkan adalah khas (khusus) Contohnya pada QS Ali –Imran [3] : 39 : “Kemudian malaikat memanggilnya (zakariya).” 2. jika ia meninggalkan harta yang banyak. yaitu peng khusus yang berada di tempat lain. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna. ‘Amr (perintah) dengan bentuk jama’ (plural) Contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 43 : “Dan dirikanlah shalat. Sifat. Lafazh Khas (khusus) dan Takhsis (pengkhususan) Khas merupakan kebalikan dari ‘Am. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 23 : “(Dan diharamkan bagi kamu untuk mengawini) anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu. Batas. maka anak tiri itu boleh dikawini.” Kata “ummhat” ibu-ibumu bersifat umum tanpa ada kemungkinan peng khususan. contohnya pada QS An-nur [24] : 4-5 : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi. tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “.” Ayat itu umum untuk semua manusia. 1. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. d. c. Bila belum disetubuhi kemudian bercerai. yaitu yang ibunya (yang menjadi istri) telah disetubuhi.” Anak tiri haram dinikahi.

” Ayat tersebut bersifat umum. waktu ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. Contohnya pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “Allah mensyari’atkan bgimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” (HR Muttafaqun ‘alaihi).a.” Indera kita menetapakan segala sesuatu yang dianugerahkan kepada wanita (Ratu Balqis) tidak seperti yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman. maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. Ayat Al-Qur’an yang lain. serta mempunyai singgasana yang besar. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya. bahwasanya Rasulullah saw melarang mengambil upah dari persetubuhan binatang jantan dengan binatang yang lain.” (HR Bukhari). Ijma’ (men takhsis Al-qur’an dengan Ijma’). QS Al-Baqarah [2] : 228 : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (ber ‘iddah) tiga kali quru’. maka atas mereka setengah hukuman wanitawanita merdeka yang bersuami. f. g. Kemudian ayat ini ditakhsis oleh dua ayat (mukhashshish) yang lain. dan dia dianugerahi segala sesuatu.” Akal menetapkan bahwa Allah bukan pencipta bagi diriNya sendiri. Indera (men takhsis Al-Qur’an dengan indera) Contohnya : QS An-Naml [27] : 23 : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka. yaitu seseorang membeli binatang sembelihan (dengan bayar tempo) sampai unta itu beranak dan anak onta itu beranak pula. berlaku bagi setiap wanita yang dicerai.” Mukhashshish kedua.” b.” Ayat tersebut dikecualikan bagi budak dengan dasar analogi terhadap perempuan yang berstatus budak yang dikecualikan dari ketentuan hukum dera bagi perempuanperempuan yang berbuat fahisyah sebagaimana tersebut dalam QS An-nisa’ [4] : 25 : “Jika mereka mengerjakan perbuatan keji. Yang demikian itu adalah jual-beli yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah. baik yang sedang hamil maupun tidak dan yang telah dicampuri.” e. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 275 : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Akal (men takhsis Al-Qur’an dengan akal) Contohnya pada QS Ar-Ra’du [13] : 6 : “Allah adalah pencipta segala sesuatu. QS Al-Ahzab [33] : 49 : “Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman. Qiyas (men takhsis Al-Qur’an dengan Qiyas) Contohnya QS An-nur [24] : 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina.” Dikecualikan dari jual-beli adalah jual-beli yang buruk seperti tersebut pada hadits berikut : “Dari Ibnu Umar. Siyaq (Mentakshis Al-Qur’an dengan siyaq) . Dalam riwayat lain disebutkan : “Dari Ibnu Umar. c. yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. bahwasanya Rasulullah saw melarang jual-beli (binatang) yang akan dikandung oleh yang (sekarang masih) didalam kandungan. Hadits (men takhsis Al-Qur’an dengan hadits).” Ayat tersebut dikecualikan secara ijma’ bagi laki-laki yang berstatus budak. yaitu : QS Ath-Thalaq [65] : 4 : “Dan perempuan-perempuan yang sedang hamil. d.

tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Mubayyan Muttashil. maka maknanya dapat menetapkan sebuah hukum secara pasti. Contohnya takhsis dengan siyaq adalah seperti pada QS Al-A’raf [7] : 163 : “Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil) tentang kampung yang terletak di dekat laut …. Hukum lafazh ‘am. “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah. Mujmal (global) – Mubayyan (terjelaskan) – Mufassar (ter-tafsirkan) Salah satu fungsi hadits adalah sebagai “bayan” (menjelaskan) lafazh dalam ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global). masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). Takhsis jenis syarat. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Apabila didalam ayat Al-Qur’an terdapat lafazh yang bersifat khas (khusus). maka bagi keudanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. supaya kamu tidak sesat. (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. 5. jia ia tidak mempunyai anak.” . Apabila lafazh itu bersifat umum dan terdapat dalil yang men takhsis nya.” Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. selama tidak terdapat dalil yang menta’wilkannya dan menghendaki makna lain. maka lafazh tersebut wajib diartikan kepada ke umumannya dan memberlakukan hukumnya bagi semua satuan yang dicakup makna itu secara mutlak. maka lafazh itu hendaknya diartikan kepada satuan makna yang telah dikhususkannya itu dan satuan yang khusus itu dikeluarkan dari cakupan makna yang umum tersebut. adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. yang meyatakan : “Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai anak. lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash. Dengan adanya penjelasan dari hadits maka lafazh yang mujmal tersebut dapat dipahami maknanya. Apabila lafazh itu bersifat ‘am (umum) dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya (men-takhsis-nya). Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 3. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Misalnya dalam QS An-Nisa’ [4] : 176. dilukiskan bahwa yang dipertanyakan adalah tentang suatu kampung/desa. Menurut siyaqul kalam bahwa yang dimaksud dengan desa itu adalah penduduknya. khas dan takhsis : 1. B. Ulama Hanafiah berpendapat takhsis Al-Qur’an dengan hadits hanya bisa oleh hadits mutawatir. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). ?” Dalam ayat tersebut.Siyaq adalah keterangan yang mendahului suatu kalam dan yang datang sesudahnya. 4. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. ghayah dan sifat tidak dipegangi oleh kelompok yang menolak mafhum. 2. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab. Jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan. Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i. Lafazh mujmal adalah lafazh yang global.

lalu bersabda : “Sholatlah kalian. . Oleh karena itu. Dari Sunnah (hadits). maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran [3] : 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mubayyan Munfashil. misalnya dalam QS Ali Imran [3] : 7 : “…Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti’naf). maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Penjelasan dengan perbuatan (bayan fi’li) Contohnya Rasulullah melakukan perbuatan-perbuatan yang menjelaskan cara-cara berwudhu : memulai dengan yang kanan. hal ini memerlukan penjelasan.”. 3.2. adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Dengan kata lain. ingatlah. semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. contohnya pada QS Al-Anfal [8] : 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal. yang penjelasannya ada datang dari sunnah. sebagaimana kalian telah melihat aku shalat” (HR Bukhary). maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orangorang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar. Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung.berkata. termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf wawu. Dari ayat Al-Qur’an yang lain. dsb. sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. b. batas-batas yang dibasuh. contohnya pada QS Al-Baqarah [2] : 196 : “Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu). Rasulullah mempraktekkan cara-cara haji. Penjelasan dengan perkataan (bayan bil qaul). penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. yaitu kata “dan”. maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.” Ayat tersebut merupakan bayan (penjelasan) terhadap rangkaian kalimat sebelumnya mengenai kewajiban mengganti korban (menyembelih binatang) bagi orang-orang yang tidak menemukan binatang sembelihan atau tidak mampu. 2. Namun. Maka Penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash.‘Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. diantaranya firman Allah pada QS An-Nahl [16] : 89 : “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu. Penjelasan dengan perkataan dan perbuatan sekaligus Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 : “…dan dirikanlah shalat…” Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud. Dalam hal ini bisa berupa : a. yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir : “Saya mendengar Rasulullah bersabda. Ingatlah.” Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia.’ ” Macam-macam bayan (penjelasan) terhadap lafazh mujmal : 1. “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. jika kata dan dianggap sebagai permulaan kalimat baru.

6. 8. kemudian ditulis oleh para Sahabat) dan dikirimkan kepada petugas zakat beliau. dengan cara isyarat. yaitu beliau mengangkat kesepuluh jarinya dua kali dan sembilan jari pada yang ketiga kalinya. tidak terurai. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar’i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas. 2. shiyam. 7. Yaitu ketika Rasulullah melihat suatu kejadian. Macam-macam mufassar : 1. Kalau Rasulullah diam tidak menjawab suatu pertanyaan. zakat. Penjelasan dengan meninggalkan perbuatan Contohnya seperti Qunut pada shalat. Contohnya tentang lafazh : shalat. yang maksudnya dua puluh sembilan hari. 5. Penjelasan dengan semua pen takhsis (yang mengkhususkan). maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan). Contohnya pada QS An-nur [24] : 4 : “Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera. itu artinya Rasulullah masih menunggu turunnya wahyu untuk menjawabnya. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. Mutlaq (tanpa batasan) – Muayyad (dengan batasan) Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). yang dilakukan oleh Rasulullah dengan cara menulis surat (Rasulullah mendiktekannya. yang dilakukan oleh Rasulullah saw. atau Rasulullah mendengar suatu penuturan kejadian tetapi Rasulullah mendiamkannya (tidak mengomentari atau memberi isyarat melarang).” Kata “delapan puluh” adalah lafazh mufassar dimana bilangan tertentu itu tidak mengandung kemungkinan lebih atau kurang. Kata-kata tersebut masih global (mujmal). Contoh lain pada QS At-Taubah [9] : 36 : “Perangilah orang-orang musyrik itu semuanya.4. seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat. Mufassar oleh lafazh lainnya Yaitu lafazh yang bentuknya global. lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai. Penjelasan dengan tulisan Penjelasan tentang ukuran zakat. zakat. haji dan lainnya. kemudian Rasulullah menjelaskan lafazh-lafazh tersebut dengan perbuatan dan perkataan sehingga kita memahami artinya seperti yang sudah kita pahami bersama pengertian dan tata caranya. itu artinya Rasulullah tidak melarangnya.” Kata “semuanya” itu adalah mufassar. Qunut pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam waktu yang relatif lama. Contohnya dalam QS Al-Mujadalah [58] : 3 : . Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya. C. sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya. Penjelasan dengan isyarat Contohnya seperti penjelasan tentang hitungan hari dalam satu bulan. Penjelasan dengan diam (taqrir). haji. yaitu kurang lebih satu bulan kemudian beliau meninggalkannya.

Kedua nash diatas mempunyai sebab yang sama. kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi. maka (wajib atas mereka) memerdekakan seorang budak …. darah dan daging babi.Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” Dalam hal tayamum lafazh (mengusap) tangan adalah mutlaq karena tidak dibatasi. “Tidak ada wasiat lebih dari sepertiga harta pusaka. Contohnya. basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” lafazh “(basuhlah) tanganmu sampai dengan siku” adalah muqayyad karena dibatasi sampai dengan siku. Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. a. Pada QS Al-An’am [6] : 145 : “Katakanlah. baik yang mukmin maupun kafir. tidak dibatasi jumlahnya.” Oleh sebab itu maka wasiat dalam ayat diatas menjadi tidak mutlaq lagi dan mesti diartikan dengan “wasiat yang kurang dari batas sepertiga dari harta pusaka. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. ‘Tidaklah aku peroleh dalam apa apa yang diwahyukan kepadaku (tentang) suatu (makanan) yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. yaitu “bersuci” tapi pada segi hukum terjadi perbedaan yaitu : hukum pada QS An-Nisa’ [4] : 43 adalah mengusap . selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya).” Karena ada persamaan hukum dan sebab. meliputi segala jenis budak. yaitu “darah yang mengalir.” Wasiat yang dimaksud dalamayat diatas bersifat mutlaq. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. Namun mengenai wudhu. apabila kamu hendak mengerjakan shalat.” 2.” Lafazh “budak” diatas tanpa dibatasi. yaitu dalam QS Al-Maidah [5] : 6 : “Hai orang-orang yang beriman. kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan. Sebab sama tapi hukum berbeda : dalam QS An-Nisa’ [4] : 43 : “…. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. Contohnya pada QS Al-Maidah [5] : 3 : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaknya) ia memerdekakan seorang budak yang beriman” Lafazh “budak” diatas dibatasi dengan “yang beriman” Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1.” 3.” Lafazh “darah” pada ayat diatas adalah mutlaq tanpa ada batasan. Sebab dan hukumya sama.“Dan orang-orang yang menzihar istri mereka. pada QS An-Nisa’ [4] : 11 : “(Pembagian harta pusaka) tersebut sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan sesudah dibayar hutangnya.” Lafazh “darah” pada ayat ini bersifat muqayyad karena dibatasi dengan lafazh “yang mengalir. kemudian wasiat tersebut diberi batasan oleh nash hadits yang menegaskan bahwa. Contohnya dalam QS An-Nisa’ [4] :92 : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). maka lafazh “darah” yang tersebut pada QS Al-Maidah [5] : 3 yang mutlaq wajib dibawa (diartikan) ke muayyad. minimal-maksimalnya.

Amr (perintah) dan Nahi (larangan) Lafazh amr (perintah) dapat berdampak hukum : a. b.” Lafazh “saksi” pada ayat ini mutlaq tidak dibatasi. Makna Hakikat yaitu makna lahir. pada ayat ini sebabnya pencurian dan hukumya juga berbeda. maka hendaklah kamu menuliskannya… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki (diantara kamu). Pada kalimat “Singa padang pasir menerkam musuhnya dengan pedangnya” maka kata singa itu bermakna kiasan untuk seseorang yang dikenal berani. (Baca kembali Ushul Tafsir point VIII) 5. sedangkan hukum pada QS Al-Maidah [5] : 6 adalah membasuh tangan sampai ke siku.muayyad : 1. Tetapi pada segi sebab terjadi perbedaan. maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya. c. sebab pada QS At-Thalaq [65] : 2 ialah “rujuk pada istri” sedangkan sebab pada QS Al-Baqarah [2] : 282 adalah : “hutang-piutang”.” Lafazh “saksi” pada ayat ini muqayyad karena dibatasi dengan “laki-laki”. 4. c. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya. Menunjukkan sunah. Makna Majaz yaitu makna kiasan. 1. d. Sebab dan hukumya sama. maka sebabnya berbeda.tangan.” Bila dibandingkan dengan QS Al-Maidah [3] : 6 pada point a diatas. Hukum dan sebab keduanya berbeda : pada QS Al-Maidah [3] : 38 : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. pada ayat ini tentang potong tangan. c. b. Namun pada QS Al-Baqarah [2] : 282 : “Apabila kamu berhutang piutang untuk waktu yang tertentu. Menunjukkan kebolehan . Adanya makna hakikat. majaz dan musytarak ini salah satu penyebab timbulnya perbedaan penafsiran dari para imam mujtahid yang membawa pada perbedaan pendapat. potonglah tangan keduanya… . Menunjukkan wajib. b. maka rujukilah kepada mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantara kamu. Menunjukkan suruhan saja. Jadi Hukum lafazh mutlaq . Hukum sama tapi sebab berbeda : pada QS At-Thalaq [65] : 2 : “Apabila mereka (istri-istrimu) telah mendekati masa akhir ‘iddahnya. Kaidah Makna Kata a. Pada kalimat “Singa menerkam rusa pada lehernyta” maka kata “singa” itu bermakna hakikat yaitu binatang buas. 3. Kedua ayat diatas mempunyai persamaan hukum. selama tidak ada dalil yang mengqayyid-kannya (membatasinya) 2. maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda. Musytarak yaitu kata yang punya lebih dari satu makna (ambigu). yaitu “mengadakan dua orang saksi”.

maka hendaklah yang terkemudian dipandang menasakh yang terdahulu. larangan wanita haid mengerjakan sholat. mengadakan jamuan. Secara sepintas sepertinya kedua ayat tersebut saling betentangan padahal tidak. Kompromi Firman Allah pada QS Al-Baqarah : 180 “Diwajibkan atas kamu. Hadits Masyhur lebih kuat dari hadits ahad 4. karena sudah menjadi sifat yang melekat pada hari raya untuk makan-minum. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya yang dekat” Firman Allah pada QS An-Nisa’ : 11 “Allah memerintahkan kepadamu terhadap anak-anakmu. tetapi diketahui mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. “ Ayat pertama mewajibkan berwasiat bagi orang yang akan meninggal sedangkan ayat kedua mewajibkan aturan hukum waris bagi orang yang meninggal. Kalau tak dapat ditarjihkan salah satunya. Tarjih Yaitu bila ada dua dalil yang saling bertentangan maka ditentukan mana dalil yang lebih kuat (rajih) dan mana yang lebih lemah (marjuh). Ta’arudl Yaitu pertentangan antar dalil. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. karena bisa dikompromikan. seperti larangan puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. yaitu : (warisan) bagi lelaki adalah seperti bagian dua wanita …. Laranga karena sesuatu sifat yang tidak lazim. b. Hadits sahih lebih kuat dari hasan lebih kuat dari dhaif. menurut Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul : a. jika ia meninggalkan harta yang banyak. c. c. Sedangkan hartanya yang tidak termasuk dari yang diwasiatkan harus dibagi kepada ahli waris sesuai aturan hukum waris dalam syariat Islam. 6. Hadits Mutafaq alaih (diriwayatkan Bukhari dan Muslim) lebih kuat dari Bukhari saja dan atau muslim saja.Larangan (nahi).” b. d. seperti larangan zina. Jika tak dapat dilakukan hendaklah kita ber-ijtihad untuk mentarjihkan (menentukan yang lebih kuat) salah satunya. berkata Imam Abdul Wahhab Khallaf : “Apabila bertentangan dua nash pada lahirnya. Larangan lantaran sesuatu sifat yang tidak dapat lepas. Larangan karena sesuatu bagian perbuatan. Hadits Marfu’ (disandarkan kepada Nabi) lebih kuat dari hadits mauquf (disandarkan hanya kepada Sahabat) . Al-Qur’an lebih kuat dari Hadits 2. 5. seperti jual-beli sesuatu sesudah azan sholat Jum’at dikumandangkan.. (Baca kembali Ushul Tafsir point VII) 6. Hadits Mutawatir lebih kuat dari hadits Masyhur 3. yaitu kewajiban berwasiat itu apabila meninggalkan harta warisan yang banyak dan maksimal senilai sepertiga dari hartanya untuk orang-orang yang tidak berhak mendapat warisannya. Larangan karena diri perbuatan. Jika tak dapat diketahui kedua-duanya maka ditangguhkan. Prinsip-prinsipnya : 1. Pertentangan dan Kompromi Antar Dalil a. wajiblah kita ber-ijtihad untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya. seperti larangan menjual anak binatang yang masih dalam perut induknya.

ada 5 (lima) yang kepadanya dapat dikembalikan hampir semua masalah furu’ yang banyak. 10. Apabila berlawanan anatara yang menghalangi dengan yang menghendaki. Sanad yang tinggi lebih kuat dari sanad yang lebih rendah. (maka sekarang) ziarahilah kubur karenaitu mengingatkan kamu kepada akhirat. (Baca kembali Ushul Tafsir point V) D. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapat bau” “Apabila seseorang dari kamu ragu ragu didalam sholatnya. (Baca kembali Ilmu Hadits. point Mukhtaliful Hadits) d. menetapkan hukum yang berlawanan dengan hukum sebelumnya. maka dalil yang terkemudian menasakh yang terkemudian. Nasakh Sharih. 8. tidak tahu sudah berapa rokaat yang telah dikerjakan apakah tiga rokaat atau empat rokaat. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah” Hadits nabi : “Mudahkanlah jangan dipersukar. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang meyakini. Apabila berlawanan antara yang mengharamkan dengan yang memubahkan ditarjihkan yang mengharamkan (untuk kehati-hatian). bila diketahui mana yang datang terdahulu dan mana yang datang terkemudian. Kaidah Pokok ke-3 : “Dalam kesempitan ada kelapangan” Dasarnya QS Al-Baqoroh :185 : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesukaran bagimu. Kaidah Pokok ke-1 : “segala sesuatu bergantung kepada niat” Dasarnya hadis nabi “Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah memperolah apa yang diniatkannya” Kaidah Pokok ke-2 : “yang yakin tidak dapat dihilangkan oleh yang masih ragu” Dasarnya hadis nabi “Apabila seorang dari kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya. 1. seperti pada hadits Nabi SAW : “Aku dahulu melarangmu dari menziarahi kubur.7. Nasakh Dlimmy. Jadi Kaidah Fikih ini akan membantu menyimpulkan hukum fikih suatu masalah. Mempelajari asbabun nuzul atau asbabul wurudnya. Nasakh Apabila tidak dapat dikompromikan atau ditarjihkan. 9. kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya ataukah belum. Qowaid Fiqiyah (Kaidah Fiqih) Setiap yang mempelajari ushul fikih akan menjumpai kaidah fiqih yaitu kalimat singkat berupa kaidah umum yang dipetik dari Al-Qur’an dan Hadis yang bersesuaian dengan juz’iyyah (bagian-bagian) yang banyak yang dengannya dapat diterapkan hukumnya pada masalah furu’ (cabang).” .” QS Al-Haj :78 : “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu kesukaran dalam agama” Hadis nabi “Agama itu mudah. bila ada penyataan tegas menyatakan nasakh. ulama ushul fikih berkata : “Apabila kaidah-kaidah fikih kokoh terhujam didada mudah dan lancarlah lidah menuturkan furu’ (hukum fikih)” Kaidah Fikih Global : “Mengambil maslahat dan menolak masfadat” Kaidah Pokok. didahulukan yang menghalangi.” 2.

Sumber Hukum Sekunder 3. Hukum asal segala sesuatu mubah/boleh sampai ada dalil yang jelas melarangnya. (* yang dimaksud disini hukum masalah furu’ (cabang) yang dzanni dan masalah-masalah muamalah-keduniaan bukan masalah ushul dan atau yang qoth’i) 12. 3. Hukum* dapat berubah menurut perubahan jaman. 9. 10. terhadap suatu hukum syara’ yang bersifat praktis ‘amaly. Bila tidak bisa melaksanakan semuanya maka jangan ditinggalkan seluruhnya. maka mengadakan sarana itu juga wajib. Apabila berkumpul dua perkara yang sejenis maka yang satu masuk kepada yang lain. Hukum asal masalah ibadah makdoh haram sampai ada dalil/contoh yang menyuruhnya. Dalil yang menjadi dasar Ijma’ : Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. 14. “Taatilah Rasul “ merujuk kepada sunnah (hadits) “dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu” merujuk kepada Ijma’ (konsensus) Ulil-Amri.” “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Menolak (preventif) lebih utama dari mengangkat (kuratif). karena syaitan adalah bersama orang-orang yang menyendiri. 2. daripada dari pada dari pada seorang yang menyendiri. Ijma Ijma adalah kesepakatan (konsensus) para mujtahid setelah wafatnya Rasulullah SAW. diantaranya (yang popluer dan sering digunakan) adalah : 1. maka baik pula dalam pandangan Allah. Jalan yang menuju haram juga haram. 13. 8. Mudhorot khusus (kecil) harus ditempuh untuk menghindarkan mudhorot umum (besar). Ia akan lebih juah dari dua orang. Bila untuk melaksanakan yang wajib memerlukan sarana. Hadits Nabi : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. Ijma’ Sahabat Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya. maka baik pula disisi Allah” Dari lima kaidah pokok diatas terdapat ratusan kaidah kaidah cabang yang lain. 7. 11. barangsiapa yang ingin menempati surga. Menolak masfadat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. Kemudhorotan harus dihilangkan dan jalan yang menuju kearahnya harus ditutup. bukan sebaliknya. 5. E.” “Taatilah Allah” merujuk kepada Al-Qur’an. Hak keuntungan ada bersama resiko menanggung kerugian. maka beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang .” “Ingatlah. maka bergabunglah (ikutilah) jamaah. 6.Kaidah Pokok ke-4 : “Kemudhorotan harus dihilangkan” Dasarnya Firman Allah “Dan janganlah kamu sekalian berbuat kerusakan di muka bumi” dan ayat “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” kemudian hadis nabi “tidak boleh membuat kemudhorotan pada diri sendiri dan membuat kemudhorotan pada orang lain” Kaidah Pokok ke-5 : “Adat dapat dijadikan hukum” Dasarnya ayat “Dan bergaullah dengan mereka (manusia) secara patut” dan hadis nabi “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin. 4. Bila harus memilih antara dua mudhorot maka pilih yang paling kecil.” a. Yang lebih kuat meliputi yang lemah.

Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Ijma’ sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar inilah yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Masing-masing imam mujtahid tidak mengeluarkan pendapat yang sama sekali menyalahi pendapat ulama negerinya. sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 179 : . b. Ijma’ sukuti ini masih diperdebatkan apakah dapat dijadikan hujjah.” 5.” Hadits Nabi : “Saya adalah kepercayaan sahabatku. tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat. maksudnya bandingkanlah (qiyas-kanlah) dengan yang dekat dan serupa dengan yang telah ada pada kitab Allah (Al-Qur’an) dan atau Sunnah Rasul-Nya (Hadits).” Diantara metode ijtihad Imam Abu Hanifah adalah : “Bila ada konsensus pendapat dari sahabat maka saya ambil. artinya ada juga yang mendiamkannya. maka saya pilih. Contohnya menyamakan hukum segala minuman yang memabukkan dengan hukum khamr (arak). Ijma’ Ulama Mujtahid Para sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota Madinah pada saat Khalifah Usman bin Affan dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Qaul Sahabi (Perkataan Sahabat Nabi) Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 : “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. agar tidak dianggap aneh. Maka jika kamu berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya. Dasar kehujjahan Qiyas : a. bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut. b. b. Pada masa dua khalifah pertama yaitu Abu Bakar dan Umar.mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Qiyas Qiyas adalah memberikan hukum yang sama kepada sesuatu yang mirip atau serupa dengan yang telah ada nash nya dalam Al-Qur’an atau Hadits. jika semua ulama menyatakan kesepakatannya. Tingkatan Ijma’ : a. Firman Allah dalam QS An Nisa’ [4] : 59 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil-Amri (pemegang urusan) diantara kamu. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Bila ada pendapat dari tabi’in maka saya teliti. begitu pula Imam Malik menghargai ijma’ ulama Madinah. Ijma’ Sharih. Pada masing-masing kota yang didiami. kemudian pendapatnya tersebut diketahui oleh seluruh ulama yang hidup semasa dan tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari pendapatnya. karena diamnya seseorang ulama belum tentu menyatakan kesepakatannya. Lantaran Itu Imam Abu Hanifah menghargai Ijma’ ulama Kufah.” “Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” merujuk kepada Qiyas. bila ada perbedaan pendapat diantara para sahabat. para sahabat besar mengajarkan agama sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Ijma’ Sukuti. bisa jadi sedang memikirkannya. jika seorang mujtahid menyampaikan pendapatnya. para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Mekkah. 4.

“Dan dalam qisash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu”. Dalam ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) disyariatkannya qishas adalah agar ada jaminan hidup bagi manusia. c. Firman Allah dalam QS Al-Maidah : 91 : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” Dari ayat diatas tampak bahwa illat (sebab) diharamkannya judi dan meminum khamr adalah karena menimbulkan permusuhan dan kebencian, juga karena menghalangi manusia dari mengingat Allah. d. Hadits – Hadits Nabi : 1. Dari Umar bin Khatab : “Hari ini aku telah melakukan perkara besar, yakni mencium istriku, sedang aku sedang berpuasa”. Lalu Rasulullah bersabda : ‘Bagaimana menurut pendapatmu andaikata kamu berkumur-kumur padahal kamu sedang berpuasa ?’. ‘Hal itutak mengapa’, jawabku. ‘Maka mengapa (kamu menanyakan) ?’ Jawab Rasulullah”. (HR Ahmad dan Abu Dawud) Riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah meng qiyaskan mencium istri ketika berpuasa dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. Keduanya mengandung persamaan illat yaitu mendekati membatalkan tapi belum sampai pada tahap membatalkan. 2. “Seorang wanita dari qabilah Juhainah menghadap Nabi, seraya ia berkata : “Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar untuk mengerjakan haji, akan tetapi ia tak sempat mengerjakan haji sampai ia meninggal dunia. Apakah saya berkewajiban mengerjakan haji untuknya ?. ‘Benar’, jawab Nabi. “kerjakan haji untuknya. Tahukah kamu andaikata ibumu mempunyai hutang, bukankah kamu yang paling patut melunasinya ? ‘Ya’, jawabnya. Rasulullah berkata : ‘Tunaikan hutang-hutang Allah, sebab hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi’ ”. (HR Bukhary dan Nasa’i). Riwayat diatas menunjukkan Nabi meng qiyaskan nadzar kepada Allah yang belum dipenuhi dengan hutang kepada sesama manusia. e. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy’ari yang menjabat sebagai gubernur Basrah : “Lihatlah banyak hal-hal yang serupa dan setara, maka qiyaskanlah hal-hal yang semacam itu”. Rukun Qiyas ada 4 (empat) yaitu : 1. Asal, yaitu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya pada nash Al-Qur’an dan hadits. 2. Furu’, yaitu cabang yang hukumnya disamakan dengan hukum asal. 3. Hukum, yaitu hukum yang sudah diketahui pada asal. 4. Illat, yaitu sebab yang sama yang menyebabkan hukum asal dapat disamakan juga pada hukum furu’. Syarat-syarat qiyas : a. Hukum asal tidak dinasakh. b. Hukum asal jelas nashnya. c. Hukum asal dapat diterapkan pada qiyas. d. Hukum cabang tidak boleh mendahului hukum asal. e. Mempunyai illat yang sama. f. Hukum cabang sama dengan hukum asal. g. Ada illat ada hukum, tidak ada illat tidak ada hukum. h. Illat tidak boleh bertentangan atau menyalahi syara’. Macam-macam Qiyas : 1. Qiyas Aula / Awlawi / Qath’i Yaitu qiyas hukum yang diberikan kepada asal lebih patut diberikan kepada cabang. Contoh, Nabi bersabda : “Kedua mata itu tali pengikat lubang dubur, maka apabila mata telah tidur terlepaslah tali”. Kita pahamkan bahwa gila, pingsan, mabuk dan segala yang menghilangkan akal lebih patut membatalkan wudhu.

2. Qiyas Musawi Yaitu mengqiyaskan sesuatu kepada suatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Contohnya dalam QS An-Nisa’ : 25 : “Maka atas mereka (budak-budak wanita) separoh hukuman dari yang dikenakan atas wanita-wanita yang merdeka”. Kita pahamkan bahwa menurut irama pembicaraan hukuman dera budak laki-laki kita qiyaskan dengan hukum budak wanita yaitu separoh dari hukuman dera laki-laki yang merdeka. 3. Qiyas Adna / Adwan Yaitu meng-qiyas-kan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatu yang memang patut menerima hukum itu. Misalnya kita mengqiyaskan haramnya nabiz (rendaman lain dari anggur) kepada khamr (arak anggur) karena illatnya sama sama memabukkan. 4. Qiyas Dalalah Yaitu qiyas yang menunjuki kepada hukum, berdasar dalil illat atau mengumpulkan asal dengan cabang berdasar kepada dalil illat. Misalnya mengqiyaskan ahrta anak kecil dalam soal wajib dizakati kepada harta orang dewasa atas dasar illatnya sama-sama harta yang berkembang. 5. Qiyas Illah Yaitu qiyas yang tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang dan illat itulah yang menyebabkan hukum pada asal. 6. Qiyas fi Ma’nal Ashli Yaitu qiyas yang tidak tegas illatnya yang mengumpulkan asal dengan cabang. Misalnya mengqiyaskan kadar hukuman dera buda laki-laki kepada budak wanita dengan illat sama-sama budak. 7. Qiyas Syabah Yaitu qiyas yang menjadi washaf (sebab illat) yang mengumpulkan antara cabang dengan asal hanyalah penyerupaan atau cabang yang pulang pergi dua asal, yaitu yang dapat diserupakan dengan dua asal, lalu dihubungkan dengan yang banyak persamaannya. Misalnya, seorang budak ketika merusakkan sesuatu dalam membayar ganti rugi, berubah status antara sebagai manusia karena ia anak keturunan Adam dan binatang, karena ia dipandang sebagai harta yang dapat diperjual-belikan dan diwakafkan. 8. Qiyas Jali Qiyas yang illatnya baik dinashkan atau tidak, namun perbedaan pemisah antara asal dan furu’ diyakini tidak berbekas. Misalnya, mengqiyaskan haramnya mencaci, memukul orang tua kepada keharaman mengucapkan ‘cis’, dengan illat sama-sama menyakitkan bagi keduanya. 9. Qiyas Khafi Qiyas yang illatnya dipetik dari hukum asal. Misalnya, mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat dengan benda tajam. 10. Qiyas Sabri wattaqsim Qiyas yang diketahui illatnya setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Misalnya, mengqiyaskan jagung kepada gandum dengan illat sama-sama makanan pokok yang mengenyangkan dan sama sama ditimbang. 11. Qiyas Thardi Qiyas yang dikumpulkan antara asal dengan cabang oleh suatu sebab yang adanya hukum beserta wujudnya sebab itu, bila sebab hilang maka hukumnya juga hilang. 12. Qiyas Aksi Tidak ada hukum bila tidak ada illat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan dengan tentang illatnya. Contohnya, hadits Nabi : “Dan pada kemaluan seseorang kamu ada sedekah. Para Sahabat bertanya : ‘Apakah kami memuaskan syahwat dan memperoleh pahala ? Jawab Nabi : ‘Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya pada yang haram, adakah dia berdosa ?, demikianlah apabila ia meletakkan pada yang halal, ada pahala baginya”. (HR Muslim). 13. Qiyas Ikhlati wal Munasabati

Qiyas yang menetapkan illat berdasarkan munasabah, yakni kemaslahatan memelihara dasar maksud. a. Qiyas Muatstsir Qiyas yang illatnya mengumpulkan antara asal dengan cabang dinashkan dengan terang atau dengan isyarat atau dengan ijma’. Misalnya firman Allah QS An Nur : 27 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberi salam kepada penghuninya”. Sehubungan dengan ayat ini, maka Rasululah bersabda : “Ijin dilakukan semata-ata untuk kepentingan (keselamatan) mata”. b. Qiyas bekas sebab Misalnya dibenarkan menjama’ shalat dimasa hujan. Tidak ada keterangan bahwa hujan itu menjadi sebab, akan tetapi ada keterangan bahwa safar menjadi sebab bolehnya jama’. Maka dipahamkan bahwa sebab disini adalah hujan. 14. Qiyas Mulaim Qiyas yang jenis sebabnya memberi bekas pada jenis hukum. Misalnya, wanita yang ber haid tidak perlu mengqadha shalatnya, karena menimbulkan kesukaran. Kesukaran ini tidak ada keterangannya dari nash. Akan tetapi ada keterangan dari syara’ bahwa kesukaran itu meringankan hukum. 15. Qiyas Munasib Gharib Qiyas yang dibina atas illat yang tidak tegas syara’ membolehkan atau menolaknya. Misalnya, wanita yang ditalak tiga saat suami menjelang mati dapat menerima warisan karena kita lawan maksudnya dengan mengqiyaskan kepada pembunuhan agar cepat mendapat warisan, maka si pembunuh tidak mendapat warisan. F. Sumber Hukum Tersier (digunakan untuk masalah juz’iyah (parsial), furu’iyah (cabang) yang jauh). 6. Istihsan yaitu : keluar dari nash karena sebab yang lebih kuat, contoh : menurut qiyas sumur yang kena najis harus disiram air, tapi hal itu tidak memungkinkan maka pen suciannya dengan menimba air sumur 7. Mashlahah mursalah Yaitu keluar dari Qiyas kulli karena pertimbangan memelihara hukum syara’ dengan jalan mempertimbangkan aspek kemaslahatan, contoh : dibolehkan memenjara atau meng intimidasi terdakwa untuk memperoleh pengakuannya. 8. Istihshab Yaitu mengekalkan hukum yang telah ada, tidak bisa berubah karena sesuatu yang masih ragu., contoh : seseorang yang pada mulanya punya wudhu kemudian ragu ragu apakah dia telah batal apa belum, maka hukumnya dia dianggap masih punya wudhu. 9. Istidlal Yaitu pertalian antara dua hukum tanpa menentukan illat (persamaan penyebabnya), contoh : seseorang sholat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tapi kemudian diketahui dia tidak punya wudhu, maka karena dia tidak punya wudhu sholatnya juga tidak syah. 10. Sadudz Dzariah Yaitu mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan untuk menolak kemudhorotan atau menyumbat jalan yang menuju kemudhorotan. Contoh : Zina itu haram, maka melihat aurat wanita, berduaan dengan lawan jenis bukan mahram ditempat sepi, bacaan porno itu juga haram karena semua itu jalan menuju zina

tidak membagikan tanah daerah taklukan kepada prajurit yang menaklukkan demi kepentingan kemaslahatan generasi yang kemudian. Adah yaitu sesuatu yang dikehendaki manusia pada umumnya dan berlaku terus menerus 13. duniawiyah) karena berubahnya keadaan dan jaman. At-Taharri yaitu mempergunakan segala kemampuan akal untuk mencapai ketaatan 17. contoh = Umar tidak memberikan zakat kepada para Muallaf karena Islam sudah kuat. tidak memberi zakat kepada muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan pertimbangan Islam sudah kuat. Al Ishmah . tidak memotong tangan pencuri pada saat paceklik dan kelaparan dengan pertimbangan keadaan kesulitan ekonomi. suatu ketika rosul pernah sholat duha diatas kendaraan. bila mereka murtad maka dibunuh 21. bila ada penjual ketika mengirimkan bahan bangunan ke tempat pembeli masih menagih ongkos kirim. contoh = para sahabat tidak menentang sitem Monarki Muawiyah krn takut terjadi perpecahan kaum muslimin 19. maka dipahami bahwa sholat duha itu hukumnya sunnah. Ta’amul yaitu adat-istiadat kebiasaan dalam pergaulan mumalah manusia 14. contoh = seluruh sholat fardhu nabi tidak pernah dilakukan diatas kendaraan. 12. Istiqra’ yaitu memeriksa seteliti mungkin berbagai juziyah supaya dapat dihukumkan dengannya. Yang mula-mula dan menjadi panutan dalam masalah ini adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memerintahkan sholat Tarawih berjama’ah dibawah satu imam dengan pertimbangan lebih teratur dan tertib. 16. maka hakim dapat menolak gugatan penjual berdasarkan Urf. Urf yaitu kebiasaan yang tetap pada jiwa manusia diterima oleh akal dan tidak menyalahi syara’. Al akhdzu bil akhaffi (al akhdzu biaqalli) maa qila yaitu berubahnya hukum karena berubahnya masa dan keadaan. Taghyirul Ahkam bi taghaiyuril ahwali wal azman Yaitu berubahnya hukum (masalah furu’.11. 20. Al Qaulu bin nushush wal ijmaa’I fil ‘ibadati wal muqaddarati wal qaulu bi ‘itibaaril fil mu’aamalati wabaqil ahkami mashalih yaitu menetapkan hukum dengan nash dan ijma thd soal yg pokok dan berdasarkan kemaslahatan pada urusan cabang. muamalah. contoh = sudah menjadi urf (kebiasaan) bahwa harga bahan bangunan adalah sudah termasuk ongkos kirim. Ar Ruju’u ilal manfa’ati wal madharrah yaitu menetapkan hukum berdasarkan manfaat dan mudhorot 18. Bara’ah Ashliyah yaitu : bebas dari hukum yang memberatkan 15.

28. Al akhdzu bil ihtiyath yaitu memegangi mana yang lebih kuat dari dua dalil 25. Tahkimul hal yaitu menyerahkan keputusan kepada keadaan sekarang yang sedang berlaku 30. 23. Al ‘amalu bidhadhahir awil adhar yaitu beramal dengan prioritas memegangi nash yang lahir 24. Al Qur’ah yaitu menetapkan hukum berdasarkan undian. contoh menentukan orang tua anak dengan melihat kemiripannya 32. bila tidak dapat ditafsirkan secara tekstual maka dibawa ke makna majasi. ‘Umumul balwa yaitu membolehkan sesuatu yang sulit melepaskan diri atau selalu terjadi 31. contoh = imam malik tidak mewajibkan zakat pada kuda karena ada ayat “dan kuda dan bighal dan keledai” 33. disyaratkan pada orang yang taqwa dan soleh dasarnya hadis nabi “berhati hatilah dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah” . apabila disebutkan dalam nash maka juga menjadi syariat kita. dasarnya hadis nabi : “mintalah fatwa kepada hatimu” 29. Syar’u man qablana yaitu : hukum syariat orang sebelum kita.yaitu menjadikan hujjah perkataan orang yang mendapat hak menetapkan hukum syara. Al ‘amalu bi aqawasy syabahaini yaitu memegangi mana yang lebih kuat kemiripannya. Al ‘amalu bil ashli yaitu mengamalkan dalil yang lebih rajih (kuat). untuk mencegah saling berbantah-bantahan 26. Dalalatul ilhami yaitu sesuatu yang diperoleh dari ilham. Dalalatul iqtiran yaitu menyamakan hukum karena bergandengan dengan yang lain. 22. contoh = Rosul memberikan hak kepada Saad Bin Muaz untuk menentukan hukuman bagi pengkhianatan Bani Quraizah. 27. Ma’qulun nash yaitu mengamalkan dari apa yang dipahami dari nash. Syahadatul qalbi yaitu dengan memperhatikan suara hati nurani.

baik yang mudah diketahui maupun yang belum diketahui karena akal manusia tidak mampu memahaminya. Ru’yan nabi yaitu berpegang kepada apa yang dikatakan nabi dalam mimpi. Al akhdzu bi aktsari maa qilaa yaitu mengambil jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang berbeda beda 37. Tiap masalah yang keluar dari adil kepada curang. dari maslahat kepada masfadat. yaitu : a. Syariat semuanya adil. dari rahmat kepada bala’. Faqdud dalil ba’dal fihshi yaitu menetapkan tidak ada hukum atas sesuatu lantaran tidak diperoleh dalil yang mewujudkansesuatu hukum sesudah dilaksanakan pembahasan yang luas. dasarnya hadis nabi : “mimpi seorang muslim itu 1/46 kenabian” 35. Memelihara Harta (mal). c. Segala hukum muamalah. Memelihara Akal (aqlu). Memelihara Nasab-keturunan (nasl). akal dapat mengetahui maksud-maksud syara’ dalam menetapkan hukum yaitu berdasarkan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menolak masfadat terhadap mereka. Harus diingat bahwa petunjuk-petunjuk lafazh dan ibarat-ibaratnya kepada makna yang kadang-kadang mempunyai lebih dari satu penafsiran makna. Apabila yang dharuri ini tidak terpelihara maka kacaulah tatanan kehidupan. X. semuanya rahmat dan semuanya mengandung hikmah. Jadi segala yang membawa manfaat-maslahat adalah mubah dan segala yang membawa mudharatmasfadat adalah haram. dari hukmah kepada sia-sia maka bukanlah syariat. Kita tidak dapat memahami hakikat nash terkecuali jika kita mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ dalam menetapkan nash-nash syariat itu. d. e. Ibnul Qayyim berkata : “Dasar syariat ialah kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat. .34. timbullah kekacauan dan kerusakan yang merata. Semua perintah dan larangan dalam syariat agama mengandung kemaslahatan. Memelihara Agama (dien). Maqashid Syari’ah (Tujuan Syara’) Melalui penelitian yang mendalam akan diketahui bahwa semua syariat agama mengandung maksud. Memelihara segala yang dharuri (esensial dan fital) bagi manusia dalam kehidupan mereka. Maksud-maksud syara’ yang umum : 1. Untuk mentarjih penafsiran makna yang lebih tepat maka perlu memahami maksud syara’ (maqashid syari’ah). Syara’ bermaksud dengan hukum-hukum itu untuk mewujudkan maksud-maksud umum. b. Tuhan tidak mensyariatkan hukum-hukum secara kebetulan dan tanpa hikmah. Syariat itu adalah keadilan Allah diantara hamba-Nya. Menyempurnakan segala yang dihajati manusia. tujuan dan hikmah bagi kepentingan hamba. Memelihara Nyawa (nafs). rahmat Allah diantara makhluk-nya dan bayangan Allah dibumi-Nya dan himah-Nya yang menunjukkan kepada-Nya dan kebenaran RasulNya”. 2. Al akhdzu bi aisari maa qilaa yaitu mengambil mana yang paling mudah dari dua pendapat 36.

Jadi dalam masalah ushul yang ada adalah iman atau kafir. Apabila tidak disyariatkan kita memrangi orang-orang yang merusak agama dan memaksa kembali orang yang murtad. tidaklah rusak tatanan hidup dan tidak merata kekacauan. Tidak ada tuhan selain Allah. memelihara. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. XI. kesusilaan. Masalah Ushul (pokok) – Furu’ (cabang) A. Tingkat Tahsiniah. Apabila tidak difardhukan pokok-pokok ibadat maka manusia akan lupa dan berpaling dari Tuhan dan agama. Tingkat Hajiyah Yaitu segala yang kita hajati untuk memperoleh keluasan hidup dan menolak kesempitan. 3. Salah dalam I’tikad masalah ushul bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam. Allah satu satunya tempat bergantung. hanya mengalami kesempitan dan kesukaran saja. Tingkat Dharuriyah. g. Mengimani Malaikat-malaikat Allah j. i.Yaitu segala yang diperlukan manusia untuk memudahkan dan untuk dapat menanggung kesukarankesukaran pembebanan (taklif) dan beban-beban hidup. Yaitu tingkat yang paling rendah. . Mengimani kebenaran dan kesucian Al-Qur’an. tidak boleh tidak ada. Seorang muslim dalam masalah ushul ini harus benar I’tikadnya (keyakinannya). h. akal. d. kemudahan-kenyamanan hidup. Mengimani adanya takdir yang baik dan buruk. Dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang menerangkan hal ini semuanya adalah muhkam (tidak ada kemungkinan penafsiran lain) dan sharih (jelas petunjuk lafaznya) dan Qath’i (pasti). Apabila tidak disyariatkan pokok-pokok hukum yang berkenaan dengan hak milik dan penukaran manfaat serta tidak didakan hukum membayar barang yang kita rusakkan dan tidak disyariatkan hukuman untuk pencurian. Mengimani kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang maksum. Tingkatan Maksud Syara’ 1. Mengimani adanya akhirat (alam kubur. dengan hilangnya tingkat ini tidak menghilangkan tingkat asli serta tidak menimbulkan kepicikan dan kesukaran dalam hidup. Masalah Ushul (pokok) Masalah Ushul (pokok) adalah masalah yang menyangkut I’tikad (keyakinan) dalam urusan : akidah. Tingkat ini masuk bagian kesempurnaan untuk memelihara akhlak-akhlak tinggi dan adat-adat yang baik. tentu rusaklah urusan agama dan hilanglah pemeliharaannya. Apabila yang demikian ini tidak diperoleh maka tiada cedera tatanan kehidupan. memberi rejeki seluruh makhluk-Nya). shirot. hanya saja dipandang tidak baik oleh akal yang sehat dan fitrah yang sejahtera. Tauhid Rububiyah (meyakini Allah satu satunya pencipta) e. Contoh-contoh masalah ushul : a. Umapamanya untuk memelihara agama kita dibolehkan mengqashar shalat ketika dalam safar atau menjama’ ketika sedang ada udzur yang syar’i. keturunan dan kehormatan. Tauhid Uluhiyah (meyakini Allah satu satunya yang disembah dan diibadahi) f. Tauhid Mulkiyah (meyakini Allah satu satunya yang mengatur. Yaitu tingkat yang harus ada. Segala yang dihajati dalam pengertian ini meliputi segala yang diperlukan oleh rasa kemanusiaan. tauhid dan rukun iman yang enam. 2. Tetapi bila urusan itu tidak diperoleh. c. diminum dan dipakai dan apabila tidak disyariatkan nikah dan pokok-pokok muamalah serta tidak difardhukan hukum-hukum jinayah maka akan hilang maslahat tertentu untuk memelihara jiwa. Apabila tidak dihalalkan benda-benda yang baik untuk dimakan. perampokan tentu rusak maslahat harta. b. surga-neraka) k. mashar. tata sosial kehidupan.

Fiqih Puasa d. seperti rincian praktek tata cara ibadah. Dan lain-lain. Begitu luasnya cakupan masalah furu’ ini yang berhubungan dan menyentuh hampir seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim. diantara golongan-golongan itu yang selamat hanya satu golongan saja. Jabariyah. yang tentunya tidak harus satu (sebagaimana batang pohon / akidah) melainkan ada banyak ragam cabang. masih mutlaq tanpa penjelasan (bayan). Urusan duniawiyah i. Bila ada yang berani berbeda pendapat. tidak memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan membiarkan (tidak mencelah) orang lain yang tidak sependapat. Fiqih Haji e. Dan lain-lain. Mujasimah. Dalil Qath’i (pasti) Dalil disebut Qath’i (pasti) apabila memenuhi dua persyaratan : 1. Dalil Qath’i (pasti) – Dzani (dugaan) A. Masalah furu’ itu ibarat ranting. (Lihat kembali Ilmu Kalam point terakhir) Masalah ushul yaitu akidah ibarat akar yang merupakan dasar bagi sebuah pohon. perbedaan pendapat dan ijtihad dalam masalah ushul ini. masih musytarak (mengandung lebih dari satu arti). Jadi dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini hendaknya setiap muslim bersifat saling ber toleransi yaitu mengikuti mana yang dianggap paling baik diantara pendapat-pendapat yang ada. Jadi dalam masalah furu’ boleh ada ijtihad. Fiqih muamalah h. Fiqih Jual-Beli f. para sahabat bertanya lagi. memungkinkan timbul multi penafsiran dan sebagainya. sedangkan lainnya adalah binasa. maka dalam masalah furu’iyah ini sering terjadi ijtihad dalam meng istinabtkan hukumnya. Dari sinilah sering terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama dan muijtahid. urusan duniawi. Contoh-contoh masalah Furu’ a. bahkan banyak yang masih mujmal. Masalah Furu’ (cabang) Masalah Furu’ (cabang) adalah semua hal diluar masalah ushul. boleh ada variasi. XII. Bila benar dapat dua pahala. dsb. Musyabbihah. Qath’i wurudnya (sumbernya) yaitu : Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir . masih ‘am (umum). Fiqih Zakat c. Qadariyah. Fiqih Sewa-Menyewa g. Para sahabat bertanya : ‘Siapakah golongan yang selamat itu ?’ Nabi menjawab : ‘golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah’. petunjuk lafazh dan cakupan lafazhnya tidak sharih (tidak jelas). Detail tata cara sholat b. dan boleh ada perbedaan pendapat. bila salah dapat satu pahala. muamalah. Murjiah. Kelompok sempalan dalam masalah Ushul (akidah) inilah yang dimaksud kelompok yang binasa oleh hadits Nabi : “Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. mengotak-atik masalah ushul ini maka harus ditentang dan tidak ada toleransi dalam hal ini. Jadi tidak boleh ada variasi. Dalam masalah furu’iyah ini tidak semua dalil-dalil hukumnya muhkam dan sharih. I’tikad-tauhid merupakan satu batang lurus yang tidak bercabang-cabang yang merupakan penopang. ‘Apakah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu ?’ Nabi menjawab : ‘Yaitu yang mengikuti apa-apa yang sekarang ini dipraktekkan (manhaj) saya dan para sahabatku’ “ B. dahan dan cabang dalam sebuah pohon.l. Dalam masalah furu’ yang ijtihadi ini yang ada adalah benar dan salah. Itu sebabnya para ulama sangat keras dan mencelah para pelaku bid’ah akidah seperti kaum Khawarij. Mu’atillah (baca kembali Ilmu Kalam). Syiah Ghulat.

sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya. B. Tetapi ada juga masalah furu’ yang dalilnya qoth’i sehingga semua ulama menyepakatinya dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut.2. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa Secara bahasa bid’ah itu berasal dari ba-da-’a asy-syai yang artinya adalah mengadakan dan memulai. Qath’i dhalalah-nya (petunjuk lafazhnya) yaitu : muhkam (tidak ada kemungkinan multi penafsiran) dan sharih (jelas). Kebanyakan masalah Ushul dalilnya adalah qath’i. bangkai. aliran. yaitu : 1. . Apalagi sekarang ini ada yang menjadikan kata bid’ah sebagai peluru yang sering dimuntahkan dan menjadikan kata mubtadi (pelaku bid’ah) sebagai label yang sering ditempelkan kepada kelompok lain. Pengertian Bid’ah Secara Istilah. Hukum haram bagi daging babi. pemberontak. 2. mazhab dan harokah Islam. A. f. Dalil Dzani (dugaan) Dalil dzani adalah dalil yang tidak memenuhi syarat dalil qath’i. seorang ulama terbesar dari mazhab Syafi’i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” menerangkan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Hukum potong tangan. Hukum dera 80 kali bagi orang yang mendakwakan tuduhan dusta. c. Sultonu Ulama. khamr (arak) dan riba. Tidak boleh ada ijtihadi lagi dan tidak boleh diotak-atik. Hukum rajam bagi pezina mukhson (sudah pernah menikah). darah yang mengalir. b. e. (perampok. Bila suatu dalil dari Ayat Al-Qur’an dan atau Hadits telah memenuhi semua syarat dalil Qath’i diatas maka menjadi dalil Qath’i yang sempurna. pelaku huru-hara. sedangkan kebanyakan masalah furu’ dalilnya tidak qath’i. maka hukumnya harus diterima bulat-bulat. atsar-fatwa sahabat. Imam Izzudin bin Abdus Salam. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Dzani Dhalalahnya (petunjuk lafazhnya) yaitu : masih ada kemungkinan multi penafsiran dan tidak sharih (tidak jelas) petunjuk dan cakupan lafazhnya. maslahah mursalah dan semua sumber hukum sekunder dan tersier yang diuraikan pada point IX B diatas. tanpa reserve. seperti hadis ahad. Hukum potong tangan bagi pencuri. d. istihsan. dera 100 kali bagi pezina ghoiru mukhson (belum pernah menikah). Tentang Bid’ah Pembahasan tentang bid’ah merupakan masalah yang sangat krusial. Dzani wurudnya (sumbernya) yaitu : Hadits yang tidak mencapai derajad mutawatir. penjarah. kaki dan disalip bagi pelaku kerusuhan dan tindakan anarkis. Kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. XIII. bid’ah itu didefinisikan oleh para ulama dengan sekian banyak versi dan batasan. Hukum Qisash (balas bunuh) bagi pembunuhan yang disengaja. Secara istilah. contohnya : a. karena perbedaan pendapat dan pemahaman tentang masalah bid’ah ini yang sekarang ini menjadi salah satu biang keladi dan pemicu utama terjadinya friksi diantara berbagai kelompok. dsb) B. Kebanyakan masalah furu’ yang ijtihadi dalilnya adalah Dzani. tidak boleh ditambah-dikurangi. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis yang baru (diperbaharui).

haram). karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur’an). Abu Syaamah. Imam Nawawi. ini dinamakan “bid’ah dhalalah”. c. Kelompok Pertama Kelompok yang menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. Yaitu kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram. 2. Perbuatan itu tidak ditentang oleh para sahabat Nabi yang lain dan bahkan sepeninggal Umar masih terus berlangsung sampai masa kita sekarang ini. Pada Jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab beliau membuat “perkara baru” yaitu menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah dengan satu imam. (maksudnya Ibnu Hajar Atsqolany mendukung membagi hukum bid’ah kepada hukum yang lima yaitu : wajib. Sunnah Nabi. Bid’ah terpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid’ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”. a. maksudnya ada juga perkara baru yang baik. Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi’i” menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Perkara baru (bid’ah) itu ada dua macam : 1. Dan kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat. Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Membukukan hadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits. Contoh-contohnya : Bid’ah yang wajib : Membukukan mushaf Al-Qur’an. bid’ah haram. Ibnu Hajar Atsqolani. Setelah itu Umar berkata : “ini adalah sebaik-baik bid’ah“. Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah yaitu jenis bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima dan memang begitulah. Argumennya Shalat Tarawih pada jaman Nabi dan Abu Bakar dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah berkelompokkelompok yang terpisah dalam Masjid. Dari kalangan Maliki seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanbaliah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri. atsar dan Ijma’. 2. sunnah. maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat”. . Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan). Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an. Ada riwayat dari Abu Nu’im menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata : “Bid’ah itu dua macam.Dalam Ensiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah. Perbuatan keagamaan yang baik. Bisa kita nukil pendapat Imam Izzudin bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa perkara baru yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. bid’ah makruh dan bid’ah mubah. terbagi menjadi lima hukum. pada juz XVII halaman 10 menyebutkan : 1. pada waktu itu ditunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. tetapi tidak tercela. b. Tokoh-tokohnya Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam. mubah. bid’ah mandub (sunnah). Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani. satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. makruh. As-Suyuthi.” 3. Hadits yang mengindikasikan adanya bid’ah yang baik adalah hadits berikut : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. yaitu : bid’ah wajib. Tentang bid’ah. yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid’ah juga.

seperti : a. perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yang seolah-olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir. Hukum sarana itu tergantung pada tujuannya. c. Makan menggunakan sendok. ilmu Al-Qur’an. d. ilmu balaghah. Talhah. Mengadakan pengajian Maulid Nabi. c. Bid’ah yang Sunnah : a. b. Mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta’lim. seperti : a. e. Mencaci maki Aisyah. Sistem pemerintahan yang monarki. Sarana menuju yang haram adalah haram. b. d. e. . ilmu nahwu-sharaf. Memakai pakaian yang bagus. ilmu mantiq (logika). Bid’ah yang Makruh : a. menghalalkan darah orang-orang diluar kelompoknya dan mudah mengkafirkan sesama muslim. ilmu hadits. b. Mujasimah dan Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan keadaan manusia. Membuat rumah yang besar. g. Khawarij yang memisahkan diri dan selalu memberontak terhadap Amir Kaum Muslimin yang mereka anggap berbuat zalim. Perdebatan yang sengit dalam masalah khilafiah. Murjiah yang mempunyai keyakinan iman itu cukup dengan hati. Mempelajari teknologi militer untuk menjaga kekuatan dan pertahanan kaum Muslimin. berdasarkan pemahaman tekstual keumuman lafazh hadits “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah).Kodifikasi. c. Perkataan dan perbuatan tidak termasuk iman. ilmu kalam (ushuludin). c.” Kelompok ini menganggap semua perkara baru dalam masalah syariat adalah bid’ah dhalalah. Melakukan ibadah (shalat/puasa) sunah untuk tujuan duniawi semata-mata. Bid’ah yang haram : Bid’ah dalam masalah akidah berbagai firqoh sempalan. Menggunakan peralatan modern. e. f. Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib). Bersalam-salaman setelah shalat berjama’ah. Qadariyah yang menolak takdir. Jabariyah yang menolak ikhtiar usaha bebas manusia. . Umar. menuduh Abu Bakar. sarana menuju yang wajib juga menjadi wajib. Syiah Ghulat yang mengkultuskan Imam Ali. d. b. Usman menyerobot hak kekhalifahannya. b. Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia.Bid’ah dalam ibadah. d. Menghias masjid. ilmu Fiqih. c. Mua’tillah yang menolak sifat-sifat Allah. Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati. - - Kelompok Kedua Kelompok ini menganggap bahwa yang disebut perkara baru (bid’ah) itu semuanya adalah sesat. Melakukan haji tidak ke Mekkah. f. Dzikir berjama’ah. Mu’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Shalat Tarawih berjama’ah. Menetapkan waktu tertentu untuk ibadah. Zubair dan Muawiyah yang pernah berseteru melawan Ali. Menambah atau mengurangi jumlah rokaat shalat lima waktu. d. Adzan pertama pada shalat Jum’at. ilmu tasawuf. Bid’ah yang Mubah : a. Sedangkan perkara baru dalam masalah diluar syariat dihukumi sebagai “sarana”. e.

Dalil Dalil yang mereka gunakan adalah: Bahwa Alloh SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap diantaranya adalah fiman Alloh SWT : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. b. Tahlilan tidak ada dijaman Nabi.” (HR Muslim 1817) c. Peringatan maulid Nabi itu bid’ah dhalalah atau tidak. 3. Petunjuk lafazh hadits diatas memang bersifat umum (‘am). masih memungkinkan adanya sunnah hasanah. maksudnya adan pertama untuk mengingatkan manusia bahwa waktu shalat Jum’at sudah dekat. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah. b. Contoh : Maulud Nabi tidak ada di jaman Nabi. Khalifah Usman menyatukan Al-Qur’an dalam satu rasm dan menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Shalat Jum’ah dengan Kutbah Bahasa Indonesia. c. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. 40. e. Shalat Sunah berjama’ah itu bid’ah dhalalah atau tidak. Pemilu tidak ada di jaman Nabi. padahal mereka jelasjelas termasuk muzakki yang berhak menerima zakat dengan alasan Islam sudah kuat tidak perlu lagi membujuk hati orang-orang yang baru masuk Islam. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maidah: 3) Hadits Nabi : “Bahwa semua perkara baru (bid’ah) itu adalah sesat”. Jadi tidak “semua” perkara baru bid’ah dhalalah.” Secara tekstual memang mengisyaratkan bahwa semua perkara baru itu adalah bid’ah dhalalah. lafazh ‘am masih memungkinkan menerima takhsis (peng-khususan) dan ternyata memang ada takhsisnya yaitu hadits : “Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Tahqiq : 1. itu termasuk bid’ah dhalalah atau tidak. 7. Dzikir berjama’h itu bid’ah dhalalah atau tidak. Khalifah Abu Bakar mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang tidak diperintahkan dan tidak ada contohnya dari Nabi. contohnya : a. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. Tradisi tahlilan pada hari ke-3. 4. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. yaitu sarana yang menuju kebaikan dan urusan duniawi tidak termasuk bid’ah dhalalah. Perbedaan pendapat terjadi pada : perkara baru tentang ibadah dan adat/tradisi yang mengandung unsur agama. Juga ada Al-Baihaqi serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi’iyah. 100 hari orang meninggal itu bid’ah atau tidak. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. d.a. Dzikir berjama’ah tidak ada dijaman Nabi. “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak. Tokoh Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy. maka itu termasuk bid’ah dhalalah. c. Riwayat-atsar yang menunjukkan para sahabat Nabi melakukan perkara baru yang belum dikenal dijaman Nabi : a. Hadits nabi “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat (dhalalah). e. Khalifah Umar bin Khatab melaksanakan shalat Tarawih berjamaa’h dibawah satu imam yang belum pernah dilakukan di jaman Nabi. Imam AsySyumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Khalifah Umar bin Khatab tidak memberikan zakat kepada muallaf. d. Asy-Syathibi. 2. . b. Khalifah Usman menambahkan adan menjadi dua kali pada Shalat Jum’at.

Perbedaan pendapat dalam masalah furu’. Dalam masalah ini perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan (pasti terjadi) dan harus saling ber toleransi. itulah sebabnya jangan heran kalau para ulama dengan tegas menentang pemikiran kelompok-kelompok sempalan pelaku bid’ah dalam masalah akidah. talak tiga sekaligus hanya dianggap jatuh talak satu. Murjiah. Dengan nada meninggi Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Bagaimana saya tidak mau shalat dibelakang Imam Malik bin Anas dan Said Al Musayyab ?”. tidak saling menyalahkan.f. tapi juga jangan terus seenaknya membuat perkara baru yang tanpa ada tujuan dan kemaslahatan yang nyata. Ikhtilaf dan Toleransi Dalam masalah ushul. Tidak saling mencelah. Mu’atillah. tradisi atau perkara mubah yang mengandung unsur agama. Khalifah Umar menetapkan orang yang mentalak tiga sekaligus. padahal ada hadits Nabi yang melarang menuliskan hadits (karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an). boleh ada variasi dan perbedaan pendapat. Semua atsar diatas menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru adalah bid’ah dhalalah. Padahal jaman Nabi dan Khalifah Abu Bakar. Kedua imam tersebut berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka tidak . Suatu hari kepada beliau ada yang bertanya : “Apakah engkau mau shalat dibelakang orang yang luka berdarah tetapi tidak berwudhu lagi ? “. Mujasimah. Khalifah Umar bin Abdul Azis membukukan hadits. tidak terpecah-belah dan saling ber toleransi. tidak saling mencaci. Keinginan Khalifah tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin. Maka bila ada pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam hal itu maka setiap muslim harus berteriak lantang menentangnya. yaitu kaum Khawarij. sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan ijtihad dan berfatwa. tidak saling mengkafirkan dan tidak mudah “menghukumi haram” terhadap suatu masalah yang tidak ada dalil qath’i yang tegas menunjukkan hukum haramnya. illat hukumnya. kalau isinya tidak bertentangan dengan jiwa syariat dan dampaknya tidak mendatangkan kemudharatan atau perkara baru itu menjadi sarana yang membawa manfaatmaslahat maka jangan terus mudah divonis sebagai bid’ah dhalalah. Berikut ini riwayat-riwayat yang menunjukkan manhaj generasi salaf dalam masalah ikhtilaf : Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. maqashid syariahnya dan sebagainya. Musyabbihah. Tentang adat. jadi perlu diselidiki dulu faktor maslahat dan manfaatnya. h. j. atau masalah furu’ yang dalilnya sudah Qath’i maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Khalifah Umar tidak memotong tangan pencuri ketika masa kelaparan dan paceklik. i. Syiah Ghulat. 5. 6. Setiap muslim tidak boleh bersikap keras atau fanatik terhadap pendapat atau mazhabnya. padahal Nabi membagikan tanah taklukan Khaibar kepada para perajurit. XIV. tidak boleh ada ijtihad dan tidak boleh ditambah-dikurangi. jatuh talak tiga karena pada masa itu orang memudahkan urusan talak dan sering terjadi lelaki yang menjatuhkan talak tiga sekaligus. Jadi manhaj salafus saleh adalah memaklumi perbedaan pendapat masalah ikhtilaf dan tidak memaksakan pendapatnya. Para generasi salaf berbeda pendapat tapi tetap bersatu. karena sejak Masa Khalifah Usman. Jabariyah. Dalam masalah furu’ yang dzani dan ijtihadi maka boleh ada ijtihad. g. Khalifah Umar tidak membagikan tanah taklukan di Iraq kepada para prajurit dengan perimbangan kemaslahatan generasi mendatang. Ibnu Umar menyebut bahwa shalat dhuha’ berjamaah di masjid sebagai bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. hendaknya dilihat content (isinya) dan dampaknya. Qadariyah. Jadi jangan gampang memvonis bid’ah dhalalah terhadap semua perkara baru. fiqih-amaliah yang khilafiah ini sudah terjadi sejak jaman sahabat Nabi dan masa para salafus saleh. tidak saling memvonis mubtadi (pelaku bid’ah). Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keluar darah dari hidung atau karena luka maka membatalkan wudhu.

Orang tadi lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak memandangnya baik”. seperti para pengikut mazhab Abu Hanifah. Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa rambut yang sudah dipotong hukumnya najis. tetapi bila dia tidak mau wudhu lagi. Kemudian Imam Abu Yusuf langsung bermakmum dibelakang Khalifah Harun Al Rasyid dan tidak mengulangi shalatnya. aku tidak akan mencelanya”. ada perbedaan perdebatan terbuka antara Ali bin Madini dan Yahya bin Mu’in tentang hukumnya menyentuh kemaluan : apakah membatalkan wudhu atau tidak ? Perdebatan ini dihadiri oleh Imam Ahmad bin Hanbal. dibalas lagi oleh Ali dengan pendapat Ammar bin Yasir. Menanggapi kejadian itu. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”.membatalkan wudhu. Imam Al Auza’i (mufti dan fuqaha di Damaskus Syria) menceritakan pendapatnya tentang orang yang mencium istrinya : “Kalau orang itu datang padaku bertanya bagaimana hukumnya. shalat dibelakang orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah cabang-cabang hukum fiqih. Orang-orang yang melihatnya menanyakan hal tersebut. Kemudian Yahya menyampaikan pendapat Ibnu Umar sebagai dalil tambahan. suatu hari Imam Syafi’i shalat setelah bercukur rambut. Sedangkan Ali bin Madini pendapatnya berlawanan menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Thalaq sebagai dalil. Kata Yahya bin Mu’in : “Orang itu harus wudhlu lagi”. maka akan aku katakan bahwa dia harus wudhu lagi. sementara dibajunya masih ada sisa-sisa rambut berceceran. tetap bermakmum kepada para ulama Madinah yang tidak pernah menjaharkan “Bismillahirrahmanirrahim” . maka Imam Syafi’I menjawab : “Saat dalam kesulitan. Imam Ahmad bin Hanbal langsung menengahi. Karena para sahabat. Siapa suka boleh mengambil pendapat salah satunya. ketentuan ini merupakan salah satu kesepakatan (ijma’). bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya baik”. maka menurut makna literal dari redaksi pendapat Imam Ahmad : shalat dibelakang imam itu tetap sah. tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil nash qath’i yang tegas mengharamkannya. para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Jadi manhaj salafus saleh adalah menghormati pendapat orang lain yang berbeda dan tetap menjaga ukuwah. kita mengambil pendapat penduduk Iraq (mazhab Imam Abu Hanifah)”. yang diyakini oleh makmum tetapi tidak diakui oleh imam. Suatu hari. Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sholat sunnah setelah ashar : “Kami tidak melakukannya tetapi kami tidak mencela yang melakukannya”. “Sudahlah. Suatu hari imam Abu Yusuf (pengikut mazhab Abu Hanifah) melihat bahwa Khalifah Harun Al Rasyid berbekam kemudian langsung shalat tanpa wudhu terlebih dahulu. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas memfatwakan hukumnya. Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik. ketika itu datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan tempoenam bulan lamanya. derajad Ammar dan Ibnu Umar sama. Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menceritakan bahwa Imam Syafi’i yang berpendapat menjaharkan (membaca nyaring) “Bismillahirrahmanirrahim” dalam shalat. “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang menyuruh aku datang kemari. Dalam mazhab Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya dikatakan bahwa wudhu seseorang bisa batal karena keluar darah. Dan kalau diketahui bahwa imamnya meninggalkan sebuah syarat shalat atau salah satu rukunnya. Dengan demikian.” Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mugni menceritakan sebuah ketentuan dalam mazhab Imam Ahmad bin Hanbal : “Menurut penegasan Imam Ahmad bin Hanbal. para tabi’in dan orang-orang sesudah mereka masih tetap bermakmum kepada yang lain. karena mengikuti pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa orang yang berbekam tidak batal wudhunya. Malik. walaupun berbeda pendapat dalam masalah hukum cabang itu. Syafi’’i hukumnya adalah sah dan sama sekali tidak makruh. Dia menggunakan hadits yang diriwayatkan dari Busrah binti Shafwan sebagai dalil. Artinya beliau sangat hati-hati.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa nya mengatakan. kalau dia meninggalkannya untuk menyatukan pendapat. Penulis berkata : “Tapi kenapa anda tidak mengangkat tangan anda. sejauh yang penulis temui. Lalu Al Hushain meminta jalan keluar. Ibnu Taimiyah berkata : “Karena itu. “Apabila seorang makmum berjama’ah dengan imam yang membaca qunut pada shalat subuh atau shalat witir. karena Rasulullah sendiri telah membiarkan bangunan Ka’bah begitu saja. karena orang-orang disekitar kita sekarang ini melakukan ruku’ (tanpa mengangkat tangan) berdasarkan hadits itu. maka Imam Syafii menjawab : “Aku tidak mencabut pendapatku tentang qunut pada shalat subuh tetapi aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah”. bahwa yang bersangkutan telah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang masalah sumpah yang menjurus ke arah perceraian. kemudian aku akan membuat bangunan baru yang mempunyai dua pintu. bahwa dia tidak melanggar sumpahnya (tidak jatuh talak perceraian) ?”. beliau adalah terbaik yang paling menguasai fiqih dan paling benar dalam ilmu dan agamanya”. Tetapi Usman bin Affan sekarang adalah imam kita dan saya enggan berbeda dengannya. beliau bertanya : “Amirul Mukminin (Usman bin Affan) shalat berapa raka’at ?” Mereka menjawab. maka . “Ya” Saat itu memang ada beberapa ulama Madinah yang membuka pengajian di teras Masjid Agung Baghdad. Ini bertentangan dengan mazhab beliau sendiri. berbeda dengan pandangan para makmumnya. “Bukankah anda yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah dan Abu Bakar melakukan shalat dua raka’at ?”. istri saya tetap halal ?” maka Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Ya !”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Memang. agar kami bisa mengikuti anda ?” Beliau menjawab : “Saya tidak akan berbeda dengan bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Al Qasim. “Apakah kalau mereka memberikan fatwa (berbeda). Ahmad dan lain-lainnya memandang akan lebih baik kalau seorang imam shalat meninggalkan sebuah perbuatan sunnat yang diyakininya. Diriwayatkan pula bahwa Imam Syafi’i meninggalkan qunut saat shalat subuh di Masjid Imam Abu Hanifah. Mereka langsung mempertanyakan. para imam. bahwa keinginan yang dianggap Nabi lebih baik ditinggalkan sendiri oleh beliau hanya supaya tidak menimbulkan antipati orang banyak. Sebaliknya. Banyak yang mempertanyakan hal itu. “Kalaui dia melakukanm berarti dia telah melanggar sumpahnya”. Terlihat disini. karena perbedaan pendapat (pada saat seperti) ini adalah buruk”. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : “Kamu tahu pengajian para ulama Madinah ?” Al Hushain menjawab. Dan saat mereka memasuki Masjid Mina. Dari Ibnu Abdil Barr berkata dalam At Tahmid : “Penulis pernah mendengar guru besar kami Abu umar Ahmad bin Abdul Malik berkata : “Dahulu Abu Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim. kalau imamnya tidak membaca qunut. Maka Ibnu Mas’ud langsung shalat empat raka’at tanpa membantah. “Empat raka’at”.Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Al Khallal : diceritakan kepada saya oleh Al Hushain bin Basyar Al Makhrumi. seraya bersabda : “Kalau bukan karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah…” . dan sekarang saya akan meriwayatkannya untuk kalian. kalau hal itu bisa menarik simpati orang orang yang beriman”. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra meriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid : “Dahulu kami bersama Abdullah bin Mas’ud di Mudzalifah. Dan tindakan yang berbeda dengan kebiasaan umum dalam hal-hal yang diperbolehkan bukan termasuk tradisi imam-imam kita”. selalu mengangkat tangannya sebelum dan sesudah bangun dari ruku’. Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Funun dalam bab Al Adab Ast Syari’ah berkata : “Tidak boleh keluar (menyalahi) dari adat kebiasaan masyarakat kecuali kalau perbuatan itu diharamkan. tentu tindakan ini dianggap lebih baik”. guru besar kami. Begitu juga kalau imam memandang bahwa perbuatan itu disunnatkan. aku tidak jadi menyuruh orang untuk meratakan bangunan Ka’bah. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab tegas. makmum juga dianjurkan tidak berqunut. “Bagaimana kalau ada orang lain yang memfatwakan kepada saya. satu pintu untuk masuk dan pintu yang lain untuk keluar”. berdasarkan hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Al Muwatta’. Tidak perduli apakah imamnya berqunut sebelum ruku’ atau sesudahnya. Dibagian lain dalam buku Majmu Fatwanya. selayaknya dia ikut membaca qunut. Ibnu Taimiyah kemudian mengajukan sabda Nabi kepada Aisyah sebagai dalil : “Hanya karena kaummu baru meninggalkan masa jahiliyah.

hedonis. Hakim. paling super mendekati makshum yang bebas dari kesalahan. Bersikap obyektif dan menelaah perbedaan pendapat diantara para ulama. sekuleristis.Fiqih Ikhtilaf Pokok-pokok pedoman bagi pemahaman fiqih ikhtilaf : 1. Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) adalah suatu kemestian yang pasti terjadi dan merupakan rahmat dan keluasan bagi umat. 5. “Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya disebabkan karena berlebih-lebihan dalam agama”. f. c. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Ketinggalan science dan teknologi umat islam dibanding barat yang non muslim. (QS Ali Imran : 103). Hakim. tidak ekstrim berlebih-lebihan. shahih menurut syarat Bukhary Muslim) 2. Waspadalah terhadap perpecahan. Nasa’i. Persatuan adalah wajib. “Aku wasiatkan kepada kalian (Agar mengikuti) para sahabatku kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabi’it tabi’in). e. Hadits Nabi : “Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat”. Perang pemikiran (ghazwul fikri) yang menarik umat kearah materialistis. Meneriakkan selogan bebas mazhab / tidak ber mazhab (dari empat mazhab yang sudah ada) tapi menjadikan imam yang lain sebagai mazhab ke lima. b. 12. 4. zindiq. Saling bertoleransi terhadap perbedaan pendapat masalah furu’ yang ijtihadi. 8. c. (HR Ahmad. 10. Ibnu Khuzaimah. Lebih memprioritaskan masalah yang lebih utama yang dihadapi umat daripada sekedar berkutat pada masalah ikhtilaf. Ibnu Majah. 7. Ibnu hibban) 9. e. mubtadi (pelaku bid’ah) atau mengkafirkan. Berperasangka baik kepada orang lain. Degradasi moral dan spiritual. d. . karena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. Menjauhi dan menghindari perpecahan. Merasa kelompoknya paling benar. Mewajibkan taqlid pada salah satu mazhab atau kelompok tertentu.” (HR Turmudzi. Kalian harus tetap dalam jama’ah. seperti : a. Tidak ada toleransi pada perbedaan pendapat yang nyeleneh pada masalah ushul (akidah) atau terhadap masalah yang dalilnya sudah qath’i (pasti) dan sharih (jelas). niscaya tidak ada ruksyah (keringanan) bagi kita”. Menahan diri dari “menyerang” kelompok yang berbeda pendapat dalam masalah khilafiah dari : memvonis sesat. Tidak menyakiti orang yang berbeda pendapat. 6. f. menyebutkan Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata : “Saya tidak senang bila para sahabat Nabi tidak berselisih pendapat. fasik. Kezaliman dan kesewenang-wenangang politik d. “Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah”. seandainya mereka tidak berselisih (berbeda) pendapat. Zionisme dan Kolonialisme negeri negei Islam. Atsar riwayat Baihaqi. 3. Menjauhi taqlid buta dan fanatisme a. Tidak memastikan dan tidak menolak mentah-mentah dalam masalah-masalah yang ijtihadi. Barang siapa menginginkan bau harum surga hendaknya selalu dalam jama’ah. “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”. Kemiskinan dan kebodohan umat. 13. Adanya kemungkinan pluraritas kebenaran. b. (QS Al Anfal : 46). Bersikap moderat (pertengahan). Melarang taqlid pada ulama-ulama masa lalu tapi ber taqlid penuh pada ulama masa sekarang. 11.

tapi jauh lebih penting adalah memegangi substansinya yaitu : tauhid dalam akidah. matang dalam fiqih dan berwawasan luas. ber infaq untuk yayasan yayasan amal. seorang ulama suni kotemporer. adu argumentasi. e. zakat haji. obrolan itu adalah sebatas pembicaraan maka mengamalkannya itu jauh lebih penting. suku. Fikih Kotemporer . c. mazhab itu adalah aspek sentimen. tapi jauh lebih penting adalah mengamalkan aspek hakikatnya. memakai jilbab. ‘hafal’ ayat dan teks hadits. Keras bukan pada tempatnya (pada masalah furu’ yang ijtihadi). Diskusi. mubtadi. itu semua termasuk polemik maka berlomba dalam kebaikan amal (fastabiqul khoirot) : mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. puasa. Dari ekstrim menuju moderat Ciri sikap ekstrim berlebihan : a. kelompok. ikhlas dalam ibadah. seminar. tulus menolong sesama. tulus menolong sesama. dsb. Suka men-generalisir. dsb itu semua adalah aspek formal yang penting. Memaksakan pendapat. Buruk sangka. melemahkan pendapat orang lain. hafal teori-teori theologi : sifat 20. Dari pembicaraan menuju amal Ceramah. ras.14. f. maka mengutamakan kebenaran. menjauhi rasa sombong-tinggi hati. i. asmaul husna. Memanjangkan jenggot. menyantuni fakir-miskin. memakai peci. g. wejangan. b. 3. 15. memendekkan celana diatas mata kaki. Ciri-ciri sikap moderat adalah pertengahan : XV. DR. Memvonis orang lain sesat. 5. dsb itu semua adalah simbol yang penting. Dari Simbol menuju substansi. Menjauhi perdebatan sengit. itu semua jauh lebih penting. Literalis. dalil dan argumen itu adalah sikap ilmiah. yaitu : menghambakan diri kepada Allah. amanat dalam muamalah. beliau pernah mendapat gelar “The Man of The Year” dari pemerintah Uni Emirat Arab dalam bukunya “Kebangkitan Gerakan Islam Dari Masa Transisi Menuju Kematangan” menuliskan pemikirannya yang sangat menarik. memakai baju gamis. Aspek lahir syariat : shalat. hufadz (hafal Al-Qur’an). kasih sayang dalam pergaulan. Liberalis. mengunggulkan pendapat sendiri. riset penelitian ilmiah. d. berperasaan dalam etika. 4. Tidak mengakui pendapat lain. Berdialog dengan cara yang baik dan ilmiah. bersikap agresif-ofensif menyerang. 2. rendah hati. membangun sarana pendidikan. menyakiti. Dari formalitas menuju hakikat. adil dalam memutuskan. golongan. penting dan perlu diketahui untuk menambah kematangan kita dalam memahami khazanah dan fenomena pemahaman beragama dalam masa kotemporer sekarang ini yaitu point-point menuju kematangan kebangkitan Islam yaitu : 1. itu adalah sikap emosional. kafir. dikenal moderat. Dari polemik-perdebatan menuju berlomba dalam kebaikan. maka menerima kebenaran dari kelompok lain dan 7. h. 6. Dari sentimentil menuju ilmiah Mengedepankan aspek bangsa. Kasar. Dari emosional menuju rasional Memusuhi kelompok yang berbeda. tanpa memilih dan memilah. fasik. membawa kayu siwak. beradu dalil. Yusuf Qaradhawi.

sebagaimana Dia suka dipenuhi azimah (ketentuan hukum asal bila tidak ada uzur) Nya”. Menganggap semua yang lain pasti salah. Tidak mau mengambil ruksyah. Sikap taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui argumen-argumennya. Mau menerima pendapat orang lain yang ternyata lebih kuat. . (QS Al Baqarah : 185). Antara rasionalis dan literalis. maka diperlukan sarana yang mecairkannya demi kemaslahatan umat yaitu menggalakkan kembali api ijtihad. f. Hadits Nabi : “Agama yang disukai Allah adalah agama yang mudah”. (QS Al Hajj : 78). Keras pada masalah furu’ yang ijtihadi d. 12. sedangkan ittiba’ adalah mengetahui argumen-argumen para imam dan memilih mana yang paling baik. Tidak mau menerima pendapat lain yang lebih kuat. Antara mengikuti mazhab dan non mazhab (memilih pendapat yang terbaik). Dari taklid menuju ittiba’. Antara kelompok idealis yang tidak melihat realita dan kelompok realis yang tidak percaya akan ide – ide. illat hukum. Tidak mau meninggalkan perkara yang sunnah untuk menjaga solidaritas. Mau menerima kemungkinan kebenaran ada pada orang lain.a. (HR Ibnu Hibban. Tidak bersikap keras pada masalah furu’ yang ijtihadi. memperluas konsep bid’ah dhalalah yaitu berpendapat seolah semua perkara baru yang tidak ada di jaman Nabi adalah bid’ah dhalalah. Antara yang mengabaikan politik dan yang semata mata berkutat dalam politik. Mau meninggalkan perkara sunnah untuk menjaga solidaritas persamaan. Ciri sikap fanatik : a. Hanya memegangi makna literal teks dalil yang masih dzanni. Dari menyulitkan menuju kemudahan. 14. b. c. 10. “Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian”. Padahal Allah berfirman : “Dia (Allah) tidak menghendaki adanya kesulitan bagimu”. kondisi sosial dan perkembangan jaman dan sikap taqlid kepada pendapat ulama tertentu menyebabkan sikap jumud (beku). Ahmad. (HR Bukhari. para pentaqiq tidak ada yang mendhaifkannya) 9. Dari perpecahan menuju persatuan. sehingga seolah-olah hidup sekarang ini adalah penuh dengan sekumpulan larangan. Dari keberingasan menuju kasih sayang. e. Thabrani) “Sesungguhnya Allah menyukai kalau ruksyah (keringanan)-Nya diambil. Tidak merasa yang paling benar. Ciri sikap toleran : a. e. b. 8. Antara yang terburu-buru memertik buah sebelum matang dan yang terlalu lamban memetik buah hingga dipetik orang lain. itu semua adalah pandangan yang menyulitkan. mudah mengharamkan. c. Dari jumud menuju ijtihad. e. tidak mau mempertimbangkan maqashid syari’ah. Dari eksklusifisme menuju inklusifisme. 11. Dari fanatisme menuju toleransi. Menganggap dirinya paling benar. 13. d. d. c. Antara pengikut tasawuf dan yang menentang tasawuf. b.

. Assalaamu’alaikum… Jaza kumullooh khoiron katsiiro.. Wassalam. Ferry Wijaya — 15 Nopember 2009 @ 07:12 2. : “kita lebih baik secara konsekwen berpegang pada madzhab tertentu yang kita anggap paling pas(bukan berarti menafikan madzhab yang lain) sebab pada prinsipnya metode ijtihad para mujtahid itu berbeda-beda. dan jika kita dalam keadaan leluasa kita memakai/memilih pendapat madzhab lain. ‫السلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ‫خير المور اوساطها‬ boleh saya mengcopas ya…buat referensi…ini sangat bermanfaat buat sya…‫شكرا ياأخى‬ ‫والسلم عليكم ورحمة ال وبركاته‬ ankga — 4 Agustus 2010 @ 16:18 5. salam silaturahmi. Ikitasya Ikitasya — 16 Juli 2010 @ 19:10 4.15. Karena kalau kita berpegang teguh dgn Fikih Islam Insyaallah hidup kita akan sll ada yg membimbing dan ada memberikan teguran yaitu dgn fikih tersebut. guru ngaji saya pernah berkata. 12 Comments » 1. maka hirarki pengambilan hukumpun menjadi tidak tepat karena metodenya pun saling berbeda… Asep Ismail Pamungkas — 27 April 2010 @ 22:16 3. tentu hasilnyapun kemungkinan besar tidak akan sama dan serupa. . Mudah2an materinya bisa terus dikembangkan dan ditambah. ‫جزاك ال جيرا كثيرا‬ …assalamualaikum. Pembahsan yang sangat berharga bagi kaum muslim saat ini mengingat begitu banyaknya paham yang menyimpang di masyarakat dan budaya taklid di indonesia. Pembahasan yang singkat dan padat mengenai Fikih yang merupakan dasar dari kehidupan sehari2 menurut Islam. Dari perselisihan menuju solidaritas. Assalamualikum.

mohon izin untuk copy materinya . Reza — 13 Februari 2011 @ 07:03 10.penghafal Al-Qur’an. Reza — 13 Februari 2011 @ 07:05 11. saya punya Niat ingin menjadi seorang yang ahli Ibadah. Ilmu yang bermanfaat Muh.apakah bleh jdi imam dlm rumah tangga sama istri.terima kasih ya akhii… wassalaamu’alaikum… sai — 6 September 2010 @ 03:27 6. Minta izin untuk mengcopy ilmunya.sedangkan saya memiliki ilmu agama yang sangat kurang.karena masih banyak kekurangan dalam diri ana tentang ilmu fiqh.Bagaimana dan dimana baiknya saya belajar?wassalam Muh. Assalamu alaikum. sewbenar nya yg mendekati cara ibadah nya rasul itu fiqih dari mahzab apa? beny gunarso — 22 Desember 2010 @ 14:10 9..semoga amal baikmu ya akhii dibalas oleh Allah dengan berlipat ganda… ana mohon izin untuk mengcopy tulisan ini untuk mempelajarinya. taufik — 3 Desember 2010 @ 16:39 8. mohon penjelasanya” satu lg”klo seorang muslim wanita memake anting 2 buah dlam satu daun telinga” apa adakah hukumnya dlm ilmu fikih” atas jawabnya sya ucapkan terima kasih’ wassalm di azizanzalla azizan zalla — 13 September 2010 @ 10:34 7.. Di umur yg kian berkurang ini (29thn). mohon izin untuk mengambil referensi ilmu dari artikel ini bombom — 24 Februari 2011 @ 11:05 12. mohon tolong dijelaskan secara rinci tentang dalalatul iqtiran. asslmunglaikum”’mohon bantuaanya klo seumpama seorang muslim pria itu memake anting apa hukumnya dlma fikih…dn dia sekarang udah ga make tpi daun telinganya masih bolong..

8 Submit Comment 52 Bottom of Form • Top of Form Search for: Cari Bottom of Form • Artikel ○ Ahlus Sunnah Wal Jamaah . TrackBack URI Leave a comment Top of Form Name (required) Mail (will not be published) (required) Website Anti-spam word: (Required)* To prove you're a person (not a spam script). type the security word shown in the picture.rAHMI — 26 Maret 2011 @ 07:27 RSS feed for comments on this post.

pada Ahlus Sunnah Wal Jamaah Muhammad. • Arsip • Blogroll ○ ○ ○ ○ Habib Munzir Al musawa http://aswaja...net Pesantren Sidogiri yosephs • Komentar Terakhir ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ rAHMI pada Ilmu Fiqih Abidin pada Tasawuf pranaya pada Tasawuf santri alit pada Tasawuf Muhammad..... pada Tasawuf Aaf pada Tasawuf bombom pada Ilmu Fiqih iwan Abdurahman pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf H MUKHLIS pada Tasawuf Ahmad pada Tasawuf abi suhaila pada Tasawuf iwan Abdurahman pada Tasawuf .○ ○ ○ ○ ○ ○ Harokah Islam Ilmu Fiqih Ilmu Hadis Ilmu Tafsir Ilmu Ushuludin Tasawuf • Tulisan Terakhir ○ ○ ○ Muhadits (Ulama Ahli Hadis) Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis Sekali berarti setelah itu mati...

Reza pada Ilmu Fiqih Blogdetik.com Daftar Blog Google Search pub-6880533263 1 3968654653 Top of Form Bottom of Form blogdetik.com Web blogdetik ISO-8859-1 ISO-8859-1 GALT:#008000.○ • • Muh.G en .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful