HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN SIKAP TERHADAP SEKS PRA NIKAH

Rida Bhakti Kencana
Hastutik, SST, M. Kes ABSTRAK Menurut survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah tahun 2010 di Semarang tentang pengetahuan kesehatan reproduksi menunjukkan 43,22% pengetahuannya rendah, 37,28% pengetahuan cukup, sedangkan 19,50% pengetahuannya memadai. Studi pendahuluan di SMA Negeri 2 Karanganyar didapatkan data hasil wawancara terhadap 10 siswa menyatakan 75% siswa tidak setuju terhadap sikap seks diluar nikah, sedangkan 10% siswa setuju terhadap seks diluar nikah dan 15% siswa menyatakan belum mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pranikah. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Waktu penelitian dilakukan di bulan Februari sampai dengan bulan Juli 2011 di SMAN 2 Karanganyar. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik Sistematis Random Sampling dengan respondennya 56 orang. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah sebesar 0,173, dengan taraf signifikan nilai z sebesar 1,9. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah.

PENDAHULUAN Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Disebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) remaja merupakan individu yang secara berangsur-angsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif mandiri (Notoatmodjo, 2007). Perubahan ini ditunjukan dari perkembangan organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta tumbuhnya organ genetalia sekunder. Hal ini menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Laporan Planned Parenthood Federation of America Inc (PPAF) 2004 tentang penilaian 1038 remaja berumur 13-17 tahun terhadap hubungan di luar nikah adalah 16% dari remaja mengatakan sikap setuju dalam melakukan hubungan seks di luar nikah, sedang 43% mengatakan tidak setuju melakukan hubungan seks di luar nikah (Soetjiningsih, 2004).

rasa dan raba (Wijayanti. BAHAN DAN METODE A. Menurut survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah tentang perilaku remaja saat berpacaran menunjukkan saling mengobrol 100%.3%. penciuman.9%.50% pengetahuannya memadai. Tujuan Khusus Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pranikah. 37. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat dalam membentuk tingkatan seseorang overt behavior (Notoatmodjo. mencium leher 36. 2007). 2005). Tingkat Pengetahuan . sedangkan 10% siswa setuju terhadap seks diluar nikah.22% pengetahuannya rendah. dan melakuan hubungan seks 7. Tinjauan Teori 1. Untuk mengetahui sikap remaja terhadap seks pranikah. sedangkan 19. 2009). Menurut survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah tahun 2010 di Semarang tentang pengetahuan kesehatan reproduksi menunjukkan 43.Menurut Dr. karena sama-sama mau sebanyak 12. 2009). c. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh mata dan telinga. Setelah melakukan studi pendahuluan pada tanggal 16 Mei 2011 di SMA Negeri 2 Karanganyar didapatkan data hasil wawancara terhadap 10 siswa menyatakan 75% siswa tidak setuju terhadap sikap seks diluar nikah.2%. saling meraba (payudara dan kelamin) 25%.9% dan tidak terduga sebanyak 45%. Pengetahuan (knowledge) a. 2007). penciuman.6% hal itu terjadi karena minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi (Anton. pendengaran. Selain itu dari hasil wawancara di ruangan Bimbingan Konseling didapatkan bahwa ada 1 siswa kelas 2 dikeluarkan karena hamil diluar nikah. pendengaran.1%. mencium pipi/kening 84. Alasannya untuk membuktikan cinta dan didasari atas keinginan untuk mencoba (Anonim. 2009). berpegangan tangan 93.6%. berciuman bibir 60. Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawati. Sebanyak 15% siswa menyatakan belum mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja. Seks bebas sendiri mencapai 22. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indra atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya (Wijayanti. rasa dan raba. yakni indera penglihatan. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.6% (Farid. Pengideraan terjadi melalui panca indera manusia.28% pengetahuan cukup. Sumber pengetahuan Sumber pengetahuan berasal dari pengindraan indra penglihatan. b. Boy Abidin data kehamilan remaja di Indonesia tahun 2007 yaitu hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3. Berdasarkan kasus yang terjadi di Karanganyar pada 1 Oktober 2010 yaitu 4 siswa SMA yang rata-rata berusia 15 tahun ditangkap di sebuah villa di kawasan Tawangmangu karena melakukan hubungan seks di luar nikah.

menguraikan. 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk menciptakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang paling rendah. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). mengelompokkan dan sebagainya. mendefinisikan. dapat menyusun. 4) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. membedakan. 2) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. pengetahuan yang tercangkup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan. tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. menyebutkan contoh. Penilaianpenelitian itu didasari pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada. metode. rumus. Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukumhukum. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yng ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. meliputi: 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari seebelumnya. dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. ada 7 faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu : 1) Umur . 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Menurut Notoatmodjo (2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut Hendra (2008). dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. meramalkan dan sebagainya. Misalnya dapat menjelaskan. memisahkan. Sintesis juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya. dapat merencanakan. menyimpulkan. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. dapat meringkas. menyatakan dan sebagainya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. 3) Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Misalnya menyebutkan. d.

3) Lingkungan Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahauan. 6) Informasi Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Kategori pengetahuan Tingkat pengetahun yang dimiliki oleh seseorang dapat dibagi menjadi 3 kategori. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahauan. 4) Sosial Budaya Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang.hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. 5) Pendidikan Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuannya. bila nilai responden yang diperoleh (x) < mean – 1 SD (Riwidikdo. yaitu : 1) Baik. bila nilai mean – 1SD ≤ x ≤ mean + 1 SD 3) Kurang. e. karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan. 2008). 7) Pengalaman Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memeahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. Kesehatan Reproduksi . bila nilai responden yang diperoleh ( x ) > mean + 1 SD 2) Cukup. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai lingkungan. Oleh sebab itu. radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahauan seseorang. 2) Intelegensi Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi bila ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV. 2. atau pengetahuan itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampun penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.Bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperoleh. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungan dengan orang lain. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahauan. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang dimana seseorang dapat mempelajari hal.

2010). diantara perubahan-perubahan fisik. epididimis. hormon estrogen. World Health Organization (WHO) memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. bibir kecil kemaluan (labia minora). yaitu: 1) Menurunkan risiko kehamilan dan pengguguran yang tidak dikehendaki 2) Menurunkan penularan IMS / HIV-AIDS 3) Memberikan informasi kontrasepsi (untuk pasca keguguran) 4) Konseling untuk mengambil keputusan Bila pelayanan reproduksi esensial tersebut dapat dilaksanakan akan merupakan langkah yang sangat baik untuk mengatasi masalah masalah remaja seperti yang diuraikan diatas (Soetjiningsih. fungsi serta prosesnya. Pengertian Kesehatan Reproduksi Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik. Atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman (Rejeki. rahim (uterus). psikologis. vasdeferens dan saluran kencing (uretra) 2) Alat-alat reproduksi wanita Alat reproduksi wanita terdiri dari bagian luar dan bagian dalam. mental dan sosial yang utuh. 2007). Ditinjau dari bidang kegiatan WHO yaitu kesehatan. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria. d. dan sosial ekonomi. yaitu biologis. mulut rahim (servix). Bertugas untuk mematangkan dan menyiapkan sel telur (ovum) sehingga siap untuk dibuahi. sedangkan alat reproduksi pria bagian dalam terdiri dari : testis. yaitu yang mempengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan . Selanjutnya. yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi panjang dan tinggi). 2004). Tujuan Kesehatan Reproduksi Para remaja akan tempat yang nyaman untuk memeriksakan diri atau konsultasi perlu dengan para petugas dan orang-orang yang tepat yang mengalami masalah-masalah keremajaan. mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki). bagian luar seperti bibir besar kemaluan (labia mayora). saluran telur (tuba falopii) dan indung telur (ovarium). uretra dan vagina (liang seggama). Adapun tujuan kesehatan reproduksi remaja. kelenjar prostate. Alat reproduksi bagian dalam seperti liang senggama (vagina). bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi. b. 1) Alat-alat Reproduksi pria Alat-alat reproduksi pria terdiri dari bagian luar dan bagian dalam. Alat-alat Reproduksi Menurut Sarwono (2008). Bagian luar seperti penis dan kantong Zakar (skrotum). Proses reproduksi Pada manusia terjadi proses reproduksi yang dibedakan atas : 1) Wanita Alat reproduksi wanita telah berkembang dan indung telur memproduksi : hormon progesteron. klitoris.a. masalah yang dirasakan paling mendesak berkaitan dengan kesehatan remaja adalah kehamilan yang terlalu awal (Sarwono.

3) Faktor psikologis: keretakan orang tua akan memberikan dampak pada kehidupan remaja. Sedangkan menurut Soetjiningsih. suara yang berat. 2) Faktor budaya dan lingkungan. 4) Faktor biologis. yaitu 1) Faktor sosial-ekonomi. antara lain cacat sejak lahir. dan sebagainya 3. faktor ini berhubungtan dengan kemiskiinan dan tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan mengenai perkembangan seksual dan proses reproduksi. Sel itu ditangkap oleh saluran telur untuk selanjutnya dibuahi oleh spermatozoa atau dikeluarkan bersamasama haid. Berbagai tantangan ini kadang-kadang sulit diatasi sebab secara fisik maupun sudah dewasa namun secara psikologis belum tentu. keyakinan banyak anak banyak rezeki. suara halus dan sebagainya). Remaja a. rasa tidak berharganya wanita di mata pria yang membeli kebebasan dengan materi. remaja adalah suatu masa ketika individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda sosial seksual sekundernya sampai saat mencapai kematangan seksual. Benih laki-laki (spermatozoa). libido). jakun. (Sarwono. depresi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal. seperti kumis dan jenggot.(payudara membesar. Berbagai tantangan yang sulit. 2007) e. (2004). secara umum terdapat 4 faktor yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi. antara lain adalah praktik tradisional yang berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi. Testis memproduksi : hormon androgen dan testoterone yang sejak remaja menyebabkan tumbuhnya tanda-tanda kelaki-lakian pada orang yang bersangkutan. b. dan demografi. pinggul membesar. Masa remaja adalah suatu tahap dengan perubahan yang cepat dan penuh tantangan yang sulit. Kejadian serupa tidak jarang terjadi diberbagai negara termasuk di Indonesia. Sel telur yang sudah matang dilepas dari indung telur. otot yang kuat. Testoterone juga menyebabkan timbulnya birahi (nafsu seks. bulu kemaluan dan ketiak dan sebagainya. Pengertian remaja Menurut Sarwono (2007). Batasan Remaja .Indivudu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanakkanak menjadi dewasa. cacat pada saluran reproduksi. dan remaja mengenai fungsi dan proses reproduksi. serta lokasi tempat tinggal yang terpencil. Benih inilah yang jika bertemu dengan telur (ovum) dalam rahim wanita akan membuahi telur itu sehingga menjadi kehamilan. Hormon ini juga mengatur siklus haid dan sel telur. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi Menurut Notoatmodjo (2007). Terjadi peralihan dari ketergantungan sosialekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri. 2) Pria Testis terletak dalam sebuah kantong (scrotum) yang tergantung di bawah penis.

mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. terbentuk identitas seksual yang tidak akan yang tidak akan berubah lagi. egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dalam pengalaman-pengalaman baru. egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain dan tumbuh “dinding” yang memisahkan diri dan pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public). Kerena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. 2) Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya. 2007) 4. dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Sikap a. Ada kecenderungan “narcistic”. Komponen sikap . 4) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. c. 2) Remaja madya atau pertengahan ( Middle Adolescent ) Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman. sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu : 1) Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Selain itu mereka masih mengalami kebingungan untuk menentukan pilihan. b. meliputi : 1) Remaja awal (Early Adolescent) Remaja pada tahap ini mengalami kebingungan akan perubahanperubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.Sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja indonesia dengan pertimbangan (Sarwono. Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan ada tiga tahap perkembangan remaja. 3) Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi tingkat tiga. yaitu mencintai diri sendiri. 2007). Pengertian Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup pada seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo. (Sarwono. 3) Remaja akhir (Late Adolescent) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal: minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah. 2007). adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut. Tingkatan sikap Menurut Notoatmodjo (2007).

Dalam penentuan sikap yang utuh ini. Sikap yang pada dasarnya terbentuk dari pengalaman interaksi secara langsung dengan objek sikap akan cenderung lebih konsisten dengan perilaku dari pada sikap yang terbentuk cara yang lain (Dayaksini 2010). pengetahuan berfikir. Faktor-faktor Penyebab Seks pranikah Menurut Sarwono (2008).Dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. 2) Penundaan Usia Perkawinan Penundaan usia perkawinan terjadi karena banyak hal. Karakteristik Sikap Tidak semua sikap adalah sama dengan kemampuannya memprediksi perilaku. yang sering disebut jenis kelamin (Anton. 1974 tentang perkawinan pasal 7 ayat 1 yang menyatakan bahwa usia pria . tentunya tidak terdapat PMS. a. dan emosi memegang peranan penting. yakni : 1) Kepercayaan (keyakinan) ide dan konsep terhadap suatu konsep 2) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek 3) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave) Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). ada 5 faktor penyebab seks pranikah yaitu: 1) Meningkatnya Libido Seksualitas Remaja mengalami perubahan-perubahan fisik dan peran sosial yang terjadi pada dirinya. Pengertian Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual. 2007). hal itu tidak berarti bahwa remaja yang tidak atau belum bersenggama otomatis bebas bermasalah. 2010). Pada remaja yang tidak melakukan hubungan seks. Seks pranikah adalah sebuah perilaku berisiko yang merupakan hasil akumulatif dari kombinasi sejumlah faktor sehingga menghasilkan energi. karena penyakit ini hanya bisa menular melalui hubungan seks. fokus utama dari energi seksual ini adalah perasaan-perasaan di sekitar alat kelamin. 2007). baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis (Sarwono. penjabat pemerintah. Seks Pranikah Masalah seks pada remaja sering kali mecemaskan pada orang tua. Cara bagaimana sikap itu pada awalnya terbentuk melalui hubungan sikap dengan perilaku. akan tetapi merupakan reaksi tertutup bukan merupakan reaksi terbuka. Dan juga dengan adanya Undang-Undang No. Menurut Anna Freud. Misalnya dalam kenyataan perasaan takut atau dan berdosa tetap melanda diri remaja yang melakukan mastrubasi. Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok. Di dalam upaya mengisi peran sosialnya. objek-objek dan tujuan seksual. b. Padahal jumlah remaja yang melakukan mastrubasi cukup tinggi sebagaimana terlihat dalam hasil penelitian Arswendo Atmjowiloto (Sarwono. salah satunya adalah karena kecenderungan masyarakat untuk meningkatkan taraf pendidikan. 5. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. Akan tetapi. juga pendidik. keyakinan. seorang remaja mendapat motivasinya dari meningkatkan energi seksual atau libido. para ahli dan sebagainya.

3) Tabu-Larangan Seks dianggap bersumber pada dorongan-dorongan naluri yang bertentangan dengan dorongan “moral” sehingga menyebabkan remaja pada umunya tidak mau mengakui aktivitas seksualnya dan sangat sulit diajak berdiskusi tentang seks. Akibat Pergaulan Seks Pranikah Menurut Notoatmojdo (2007) begitu banyak remaja yang tidak tahu dari akibat perilaku seksual mereka terhadap kesehatan reproduksi baik dalam keadaan waktu yang cepat ataupun dalam waktu yang lebih panjang. Orang tua cenderung membuat jarak dalam anak dalam masalah ini. pengaruh teman sebaya sangat kuat sehingga munculnya penyimpangan perilaku seksual dikaitkan dengan norma kelompok sebaya. yaitu : 1) Hamil yang tidak dikehendaki (Unwanted pregnancy) Merupakan salah satu akibat dari perilaku seksual remaja. 5) Pergaulan yang Makin Bebas Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja. d. kecenderungan pengetahuan yang makin bebas antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. 4) Kurangnya Informasi tentang Seks Pada umumnya remaja tanpa pengetahuan yang memadai tentang seks akan salah mengartikan tentang seks. Remaja mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya yang dapat lebih menampilkan perilaku seksual yang lebih sehat. naik karena ketidaktahuan maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi seks pranikah remaja Menurut Nitya (2009). kiranya di kota-kota besar. Remaja dengan presentasi rendah dan tahap aspirasi rendah cenderung lebih sering memunculkan aktifitas seksual dibandingkan remaja yang memiliki presentasi yang baik. kemampuan sosial kognitif diasosiasikan dengan pengambilan keputusan yang menyediakan pemahaman perilaku seksual dikalangan remaja. atau perempuan . atau hubungan seks jarang dilakukan. Selain itu pada masa remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. 2) Pengaruh orang tua. perilaku seksual merupakan hasil interaksi antara kepribadian dengan lingkungan sekitarnya. Persepektif sosial kognitif. Perubahan-perubahan hormonal yang hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku seksual.saat menikah harus sudah mencapai 19 tahun sedangkan wanita mencapai umur 16 tahun. 4) Persepektif akademik. yaitu: 1) Persepektif biologis. 3) Pengaruh teman sebaya. Hal ini sangat mengkhawatirkan apalagi jika kurangnya pemantauan dari orang tua. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang seks dari orang tua sehingga mereka berpaling ke sumber-sumber lain yang tidak akurat. Anggapan-anggapan yang keliru seperti : melakukan hubungan seks pertama kali. Beberapa dampak perilaku seksual remaja pranikah terhadap kesehatan reproduksi. c.

pihak perempuan atau tepatnya korban utama dalam masalah ini. e. dan kadang disertai rasa benci marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan. 7) Pertimbangkan resiko dari tiap-tiap perilaku seksual yang dipilih. Sering kali remaja melakukan hubungan seks yang aman. fungsi. dan mental yang berhubungan dengan sistem. 6) Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang masalah seksualitas dari sumber yang dapat dipercaya bukan dari BF. atau bila mengunakan tehnik coitus interuptus (senggama terputus).masih muda usianya. (Nitya. 3) Psikologis Dampak lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah konsensi psikologis. klamidia. cemas. Komitmen dalam hal ini adalah kesepakatan dalam batasan-batasan seksual yang dipilih dalam hubungan pacaran. maka keinginan untuk menoba aktifitas seksual biasanya semakin menguat. 2009) 6. . atau bila hubungan seks dilakukan sebelum dan sesudah menstruasi. seperti sivilis. pesimis terhadap masa depan. Perasaan bingung. dan AIDS. sosial. Beberapa cara untuk menghindari pergaulan seks pranikah Beberapa cara untuk menghindari pergaulan seks bebas yaitu : 1) Carilah kegiatan-kegiatan atau alternatif baru sehingga dapat menemukan kepuasan yang mendalam dari interaksi yang terjalin (bukan kepuasan seksual) 2) Membuat komitmen bersama dengan pacar dan berusaha keras untuk mematuhi komitmen itu. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. 4) Hindari frekuensi pertemuan yang terlalu sering karena jika sering bertemu tanpa adanya aktifitas pasti dan tetap. Setelah kehamilan terjadi. Dalam penentuan sikap yang utuh ini. dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilanya bercampur dengan perasaan depresi. Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular HIV / PMS. dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi. Gonore. 3) Hindari situasi atau tempat yang kondusif menimbulkan fantasi atau rangsangan seksual seperti berduaan dirumah yang tidak berpenghuni. kehamilan tidak akan terjadi merupakan penetus semakin banyaknya kasus unwanted pregnancy (Hamil yang tidak dikehendaki). Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Remaja Terhadap Seks Pranikah. dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik. 8) Mendekatkan diri pada Tuhan dan berusaha keras menghayati norma atau nilai yang berlaku. 2) Penyakit Menular Seksual (PMS) – HIV / AIDS Dampak lain dari perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah terhadap PMS termasuk HIV/AIDS. Herpes. buku stensilan dan lainlain. 5) Libatkan banyak teman atau saudara untuk berinteraksi sehingga kesempatan untuk selalu berduaan makin berkurang. malu. dipantai malam hari. tempat yang sepi dan gelap.

sampel yang diambil berjumlah 56 orang.pengetahuan. B. Baik. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XII di SMA N 2 Karanganyar sejumlah 280 siswa dari 7 kelas. bila nilai responden yang diperoleh Z > 1 b. berfikir dan memberi penjelasan tentang kesehatan reproduksi yang meliputi : pengertian. Tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi sikap dalam kehidupan sehari-hari termasuk bersikap terhadap seks pranikah (Notoatmodjo. bila nilai responden yang diperoleh Z > 1 b. τ ∑A : Jumlah rangking atas. bila nilai responden yang diperoleh Z < – 1 Skala pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja adalah ordinal Sikap remaja terhadap seks pranikah adalah respon remaja dalam hubungan) seks pra nikah Terdapat 24 pertanyaan. Cukup. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja adalah kemampuan remaja untuk mengingat. faktor yang mempengaruhi. 2005). menurut Riwikdido (2008) selanjutnya dikategorikan ke dalam bentuk: a. 2010). Cukup. Penelitian dilaksanakan di SMA N 2 Karanganyar kelas XII pada bulan Februari sampai dengan Juli 2011. datanya berbentuk ordinal. bila nilai mean – 1 ≤ Z ≤ 1 c. Dalam penelitian ini mengukur dua variabel yaitu tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah. 2003). Baik. bila nilai responden yang diperoleh Z < – 1 Skala pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja adalah ordinal Rumus analisis yang digunakan yaitu Kendall Tau ( τ ). dengan jumlah sanipel lebih dari sepuluh rumus dasar τ = ∑ A − ∑ B N ( N − 1) 2 Keterangan : : Koefisien korelasi Kendall Tau yang besarnya (-1<0<1). keyakinan. berfikir. bila nilai mean – 1 ≤ Z ≤ 1 c. dan emosi memegang peranan penting. Pedoman untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan dapat dilihat pada rumus Z sebagai berikut ini: . Proses ini akan berlangsung selama perkembangan individu (Dayaksini. artinya penelitian hanya dilakukan dan diukur sekali saja dalam waktu yang sama (Notoatmodjo. diukur dengan Skala Likert. proses reproduksi dan organ reproduksi terdapat 22 pertanyaan. Kurang. ∑B : Jumlah rangking bawah. Metode Desain penelitian ini adalah observational analitik dengan metode pendekatan cross sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel dependen dan independen yang diobservasikan dan sekaligus pada waktu yang sama. menurut Riwikdido (2008) selanjutnya dikategorikan ke dalam bentuk: a. Pembentukan dan perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam individu dan faktor diluar individu yang keduanya saling berinteraksi. N : Jumlah anggota sampel. Kurang.

76 Setelah penyebaran kuesioner pada saat penelitiaan hasil yang didapat disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4. sebaliknya jika Zhitung < Ztabel maka Ho diterima. Baik. 3 Tabel Silang Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Sikap terhadap Seks Pranikah Kategori Tingkat Kategori Sikap Jumlah Pengetahuan Baik Cukup Kurang Baik 4 9 1 14 Cukup 4 23 6 33 Kurang 3 2 4 9 Jumlah 11 34 11 56 Sumber: Data Primer.0 Cukup 33 58.2(2 N + 5) 9 N ( N − 1) Selanjutnya Zhitung dibandingkan harga Ztabel dengan taraf kesalahan (5%). 3 Tabel Silang Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi dengan Sikap terhadap Seks Pranikah Kategori Tingkat Kategori Sikap Jumlah Pengetahuan Baik Cukup Kurang Baik 4 9 1 14 Cukup 4 23 6 33 Kurang 3 2 4 9 Jumlah 11 34 11 56 Sumber: Data Primer.29 3. sedangkan Ha ditolak (Sugiyono.05 – 1. maka hasil data yang diperoleh dapat dikategorikan dalam 3 kategori yaitu 1.9 Kurang 9 16.48 – 0.1 Jumlah 56 100 Sumber : Data Primer. z= τ HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini tingkat pengetahuan remaja diukur dengan skala ordinal. bila nilai – 1 ≤ Z ≤ 1 = -0. dilakukan . 2011 Selanjutnya untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah. Apabila Zhitung > Ztabel maka koefisien korelasi yang ditemukan adalah signifikan (Ho ditolak. Kurang. 2011 Hasil hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dapat dilihat dalam tabel silang berikut: Tabel 4. 2011 Hasil hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dapat dilihat dalam tabel silang berikut: Tabel 4. bila nilai responden yang diperoleh Z > 1 = 1.81 2. Cukup. 2007).24 – -2. 1 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan Kategori Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) Baik 14 25. Ha diterima). bila nilai responden yang diperoleh Z < – 1 = -1.

dan kurang 19.7% (34 orang).9 > 0.1% (9 orang). orang tua.56(56 − 1) 0. maka Ho ditolak dan Ha diterima (1. 2008). Berdasarkan hasil dari penelitian dengan menggunakan SPSS version 17 for windows dapat disimpulkan dalam bentuk tabel berikut: Tabel 4. 56 .173 . media massa.160 56 1. berbagai informasi yang disampaikan guru.008442 z = 1. petugas kesehatan dan lain sebagainya. Semakin banyak informasi yang diperoleh semakin tinggi pula pengetahuan yang diperoleh (Hendra. 4 Kendall Tau_b Tests Kendall's tau_b Tingkat Pengetahuan Sikap Correlation Coefficient Sig. cukup 60.173 .9% (33 orang). sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang cukup.160 56 Sikap . sedangkan z tabel untuk taraf kesalahan 5% adalah 0. Hasil penelitian dari 56 responden yang berada di SMAN 2 Karanganyar didapatkan tingkat pengetahuan responden yang baik berjumlah 25% (14 orang). menurut Bimo Walgito (2007). Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman.6% (11 orang).9 Apabila z hitung > z tabel maka koefisien korelasi yang ditemukan adalah signifikan.596) sehingga hasil penelitian dinyatakan signifikan dan benar yang berarti ada hubunga tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah. (2-tailed) N Tingkat Pengetahuan 1.9).173 z= z= 234 27720 0. teman.596. Karena harga z hitung lebih besar dari pada harga tabel. 56 Sumber: Data Primer. Dari 56 responden pula diperoleh jumlah responden yang memiliki sikap baik berjumlah 19.6% (11 orang). Pada perhitungan didapatkan z= (1. dan kurang 16. 2011 Setelah didapatkan hasil. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang cukup. kemudian untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi digunakan rumus Z dengan hasil: z= τ z= 2(2 N + 5) 9 N ( N − 1) 0.56 + 5) 9. bahwa pembentukan dan . Berdasarkan hal tersebut. Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berhubungan.88 z = 1.000 .pengujian hipotesis menggunakan Kendall Tau ( τ ).173 2(2.000 . cukup 58. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig.173 0.

Karena harga z hitung > z tabel.596) sehingga hasil perolehan dinyatakan signifikan yang berarti hubungan positif antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah sebesar 1. Lingkungan yang tidak mendukung (kurang baik) akan memberikan pengaruh pada seseorang dan cenderuh kearah negatif seperti hubungan seks diluar nikah. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Fitriana.9) dengan nilai korelasi Kendall Tau = 0.9. karakter kepribadian individu. B. yaitu faktor internal (individu itu sendiri) adalah cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau ditolak dan faktor eksternal adalah keadaan-keadaan yang ada diluar individu yang merupakan stimulus untuk membentuk dan mengubah sikap. Sikap yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan. maka Ho ditolak sedangkan Ha diterima (1. SIMPULAN DAN SARAN A. SARAN a. Dengan adanya tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi yang mayoritas cukup pada siswa-siswi SMAN 2 Karanganyar. Berdasarkan hasil penelitian hubungan tingkat pengetahuan dan sikap di SMAN 2 Karanganyar dari 56 responden mayoritas cenderung memiliki tingkat pengetahuan baik 4 orang dan melakukan sikap cukup sebanyak 23 orang. agar lebih menguasai ilmu-ilmu yang sudah diberikan oleh guru disekolah. Karena harga z hitung > z tabel. trial (mencoba) dan adoption (mengadopsi) (Notoadmodjo. Higgins & Kirschenbaum (2006) menyebutkan pembentukan sikap dipengaruhi oleh tiga faktor.9>0. informasi. Disamping itu Mednick. yaitu pengaruh sosial seperti norma dan kebudayaan. A (2009) tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Remaja Terhadap Seks Diluar Nikah Kelas XI SMA N 1 Karanggede Boyolali.173. menanamkan nilai moral dan agama kepada remaja harus diperjelas dan ditingkatkan. Bagi orang tua dan keluarga diharapkan mendidik putra putrinya dengan baik dan mengajarkan agama sehingga putrinya tidak melakukan sikap terhadap seks pra nikah. 2003).05). . maka Ho ditolak sedangkan Ha diterima (1.9) dengan nilai korelasi Kendall Tau = 0. dan pengalaman. Penelitian ini mendapatkan hasil melalui z hitung (1. Kemudian hasil z hitung dibandingkan dengan z tabel (0.596) sehingga hasil perolehan dinyatakan signifikan yang berarti hubungan positif antara tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap terhadap seks pra nikah sebesar 1. Kemudian hasil z hitung dibandingkan dengan z tabel (0.596) untuk taraf kesalahan 5% (0.05).perubahan sikap akan ditentukan oleh dua faktor.9.9>0.173.596) untuk taraf kesalahan 5% (0. dilanjutkan dengan evaluation (menimbang). Dalam hal ini tanggung jawab orang tua untuk memberikan pendidikan seks. dan informasi yang selama ini diterima individu. b. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik simpulan yaitu hasil melalui z hitung (1. diharapkan semakin meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi. Dalam teori diperjelas bahwa proses mengadopsi perilaku terjadi secara berurutan dari mulai kesadaran dimana remaja tersebut menyadari dan mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus kemudian inters atau merasa tertarik terhadap stimulus.

http://rixco. 149.com. Hidayat.com. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 Farid. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2009.com. Psikologi Remaja. Hal. Jakarta: PT. Jakarta: EGC. Drhandri. Rineka Cipta. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 Fitria. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 Arikunto. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar. Hal. Jakarta: PT. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 ______. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 ______. Jakarta: PT. _____________. 141-8. Hal. http://www.com. 2007. 2003. Kehamilan Remaja. Jakarta: PT. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 ______. 116. Hubungan Tingkat Pengetahuan Kesehatan reproduksi dengan Sikap Remaja Terhadap seks diluar nikah Kelas XI SMA N 1 Karanggede Boyolali. E. Jakarta: Salemba Medika. Hal. Hal. http://drhandri. Hal.wordpress. Remaja Indonesia. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Keremajaan Indonesia. Diperoleh tanggal 22 Januari 2011 Sarwono. 2003.DAFTAR PUSTAKA Admin. http://www/nityabersama.W. Hal. Hal.N. Metode Penelitian Kebidanan: Teknik Analisa Data. Rineka Cipta. Jakarta: PT. 2009. 91. Moersintowarti. Hal. Dayakisni. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. 2001. 2003. A. Rineka Cipta. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.com. Masa Remaja. 2007. Jakarta: Salemba Medika. 2009. A. S. 2009.hanyawanita. Sejak Penyebab Seks Pranikah. T. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 2010. Rineka Cipta. Nitya. 2007. 2008. 2007. 24-25. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. http://m. Hal. 131.blogspot. http://www. Skripsi (Tidak Diterbitkan). 2008.wordpress. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Reliabilitas dan Validitas. Biostatistika uniuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Rixco.com. . http://lorenatazo. Nursalam. 2010. http://forbetterhealth.info. 87-95. 19. Hal. 52-58. S. diperoleh tanggal 20 Januari 2011 ______. Kenakalan Para Remaja.cc Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 Notoatmodjo. 70. 51-58. B. Psikologi Sosial. 2007. STIKES Semarang. Karakterislik Remaja di Masa Reproduksi. 2005. _____________. Kesehatan Reproduksi Remaja. 142-165.com. 2002. 2006. 2009. 2007. S. http://suaramerdeka. Azwar. 267-8.multiply. http://iImupsikologi.A.com. 138. Jakarta: Sagung Seto. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2008.co.wattpad. S. 2005. Rineka Cipta. http://www.kespro. _____________. Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.suaramerdeka. Psikologi Remaja. Diperoleh tanggal 20 Januari 2011 Anton. Buku Ajar Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Wanita Indonesia. Budiarto.wordpress.com.

Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalannya. 62. Klaten: CSGF. 2004. Hal. Bandung: Alfabeta. 2004. 20-30. Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan.Soetjiningsih. Taufiqurrohman. . Statistik untuk Penelitian. 45. M. 2007. 228-365. Jakarta: Sagung Seto. Hal.A. Hal. Sugiyono. 75.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful