P. 1
Metodologi Penyusunan Rpijm Jalan Kabupaten - USMAN WIRYANTO - TEKNIK SIPIL UII YOGYAKARTA

Metodologi Penyusunan Rpijm Jalan Kabupaten - USMAN WIRYANTO - TEKNIK SIPIL UII YOGYAKARTA

4.38

|Views: 3,389|Likes:
Published by usman_wir
Studi Penyusunan Program Penanganan Jalan Kabupaten
Studi Penyusunan Program Penanganan Jalan Kabupaten

More info:

Published by: usman_wir on Feb 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2015

pdf

METODOLOGI PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM investasi JANGKA MENENGAH (RPiJM) JALAN KABUPATEN DI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN ANGGARAN 2001

Ir. USMAN WIRYANTO
LAPORAN PENDAHULUAN

1.1

PENDEKATAN UMUM Pendekatan umum pelaksanaan tugas konsultan Penyusunan Rencana

Program Jangaka Menengah (RPJM) Penanganan Jalan Kabupaten di Kabupaten Purworejo Tahun Anggaran 2002 didasarkan atas pemahaman terhadap ruang lingkup dan bidang kerja Studi Perencanaan Umum dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten (SPUPP – JK). Pemahaman secara umum maupun dalam lingkup detail terhadap semua aspek kegiatan penyusunan program merupakan kebutuhan dasar yang harus dimiliki oleh konsultan agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai sepenuhnya. Dalam kaitannya dengan pemahaman terhadap tujuan dan sasaran dari pelaksanaan pekerjaan ini, maka pendekatan umum yang terpenting adalah terhadap aspek – aspek sebagai berikut : • • • • Validitas data survai Cara dan metode analisis data Penentuan skala prioritas usulan Penyusunan rekomendasi

Penjelasan secara teknis terhadap hal – hal tersebut di atas akan diuraikan pada sub bab tersendiri, sedangkan penjelasan umum adalah seperti uraian berikut. 1.1.1 Validitas Data Survai Konsultan akan melakukan segala upaya yang mungkin dan perlu untuk menjamin agar data survai yang didapat di lapangan dan yang akan

1

dipakai sebagai dasar analisis benar – benar teruji validitas atau kebenarannya. Untuk menjamin hal itu, maka jumlah, jenis dan cara pelaksanaan survai akan mengacu kepada pedoman survai untuk studi perencanaan umum dan penyusunan program jalan kabupaten yang berlaku selama ini.

1.1.2 Cara dan Metode Analisis Data Analisis data akan dilakukan dengan memakai alat bantu program KRMS (Kabupaten Road Management System) yang merupakan suatu cara untuk menjamin bahwa kegiatan studi perencanaan umum dan penyusunan program yang dilaksanakan benar – benar sesuai dengan ketentuan dalam SK – 77. Dengan menggunakan alat bantu KRMS, maka secara otomatis dapat dikatakan bahwa proses dan mekanisme yang dilakukan sudah sesuai dengan SK – 77, karena program dimaksud tidak akan bisa berjalan jika ada suatu penyimpangan terhadap proses yang sudah digariskan. 1.1.3 Penentuan Skala Prioritas Penentuan skala prioritas usulan untuk menyusun suatu ranking penanganan berdasarkan nilai atau tingkat prioritasnya akan dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Untuk menjamin agar penilaian skala prioritas yang disusun oleh konsultan benar – benar sesuai dengan aspirasi kepentingan daerah, maka aspek kuantitatif dan kualitatif tersebut sebelum dipakai menjadi pedoman akan didiskusikan terlebih dahulu dengan Sub Din Bina Marga DPU Kabupaten Purworejo, Pemimpin Proyek dan instansi lain yang terkait dengan kegiatan pengelolaan jalan kabupaten di Kabupaten Purworejo. 1.1.4 Penyusunan Rekomendasi Untuk menjamin agar rekomendasi yang diusulkan oleh konsultan sudah sesuai dengan yang diharapkan, maka dalam proses penyusunan rekomendasi dimaksud konsultan akan melakukan pembahasan secara

2

intensif dengan semua pihak yang terkait. Dari hasil pembahasan akan dapat dirumuskan rekomendasi akhir yang sudah mengakomodir aspirasi yang ada.

1.2

PENDEKATAN TEKNIS Pendekatan teknis dimaksud adalah menyangkut semua aspek

keteknik-an yang terkait dengan penyusunan program penanganan jalan kabupaten. 1.2.1 Apresiasi Teknis Pemahaman terhadap bidang kerja penyusunan program secara keseluruhan maupun dalam lingkup detail merupakan kunci utama agar dapat dihasilkan suatu rencana penanganan yang efektif dan efisien. Berikut ini adalah apresiasi (pemahaman) umum mengenai prinsip – prinsip dasar manajemen pengelolaan jalan kabupaten. 1.2.1.1 Siklus Manajemen Pengelolaan Siklus manajemen pengelolaan jalan dapat dibagai menjadi 2 (dua) kelompok utama, yaitu perumusan sasaran dan perwujudan sasaran. Perumusan sasaran meliputi penyusunan rencana jangka panjang, jangka menengah dan program tahunan. Sedangkan yang dimaksud dengan perwujudan sasaran adalah semua kegiatan mulai dari perencanaan teknik, pelaksanaan, pengawasan dan pemeliharaan. Perumusan sasaran tergantung kepada input data yang ada, sedangkan perwujudan sasaran akan dinilai dari out – put yang dihasilkan. Dalam kerangka pengelolaan pembangunan jalan yang berkesinambungan, maka out -–put dari kegiatan pengelolaan pada gilirannya akan menjadi input bagi periode atau siklus kegiatan tahun berikutnya (lihat Gambar 1 1). Kegiatan penyusunan program merupakan bagian pokok dari

perumusan sasaran, dimana sebagai input dari kegiatan ini adalah :

3

• •

Kinerja jaringan jalan, baik dilihat dari aspek kondisi maupun aspek pemanfaatannya. Jumlah dana yang tersedia.

PERUMUSAN SASASARAN

INPUT

PERWUJUDAN SASASARAN

OUT PUT
GAMBAR 1-1 : SIKLUS MANAJEMEN PENGELOLAAN JALAN DAN JEMBATAN

Mengingat semakin besarnya tanggung jawab pengelolaan jalan, dalam arti panjang jaringan jalan, kelas dan fungsi jalan, luas cakupan dan kompleksitas permasalahan yang menyangkut teknis, institusi, organisasi dan keterbatasan biaya, maka terciptanya kerangka sistem merupakan kondisi yang diharapkan dapat memberi nilai positif dalam perumusan sasaran, dimana pada akhirnya hal ini akan memberikan sumbangan pada terciptanya sistem transportasi jalan yang lancar, nyaman dan aman. 1.2.1.2 Kinerja Jaringan Jalan Sebagai Out – Put Manajemen Pengelolaan Kinerja • jaringan jalan sebagai hasil dari manajemen pengelolaan didasarkan kepada beberapa indikator makro yaitu : Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan,

4

• •

Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi, Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek pemanfaatan. A. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan : Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek kemantapan adalah merupakan kinerja gabungan dari aspek kondisi dan aspek pemanfaatan/kapasitas. Kinerja jaringan jalan dinyatakan sebagai Mantap Sempurna, Mantap Marginal dan Tidak Mantap, dimana hal tersebut lebih merupakan definisi secara kualitatif. Untuk keperluan teknis operasional diperlukan suatu definisi atau batasan / kriteria teknis (“engineering criteria”) yang lebih jelas dan bersifat kuantitatif. Dari Buku Standar Perencanaan Jalan Kabupaten serta

pedoman – pedoman lain yang terkait dengan penanganan jalan kabupaten, telah digunakan batasan atau kriteria berdasarkan beban lalu – lintas, lebar perkerasan dan nilai kondisinya. Batasan dan kriteria tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 - 2. Lebih jelasnya sebagai contoh, jika ada suatu ruas jalan dengan LHR antara 500 – 1500 kendaraan/hari, dengan lebar perkerasan 6 meter dan nilai Kondisi Jalan sebesar 8, maka jalan tersebut perlu penanganan berupa pemeliharaan periodik. Menurut definisi, jalan tersebut dapat dikatakan sebagai “Mantap Marginal” terhadap kondisi dan “Mantap” secara kapasitas (V/C ratio). Jika nilai Kondisinya lebih dari 15, maka jalan tersebut menjadi “Tidak Mantap” berdasar kondisinya, sedangkan jika lebarnya kurang dari 5,5 meter jalan tersebut juga "Tidak Mantap” menurut kapasitas. Jika baik secara kapasitas dan kondisinya mantap, maka jalan tersebut dapat dikatakan sebagai “Mantap Sempurna”. Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan dapat

dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu :

5

Mantap Sempurna, adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang sampai baik dan lebarnya memenuhi ketentuan lebar minimum perkerasan (berdasarkan LHR yang ada), atau semua ruas jalan yang mantap baik dari aspek kondisi maupun aspek pemanfaatan/kapasitas. Mantap Marginal, adalah semua ruas jalan denan kondisi sedang sampai baik tetapi lebarnya kurang dari ketentuan berdasarkan jumlah LHR yang ada, atau sebaliknya yaitu jalan dengan lebar yang cukup tetapi kondisi rusak sampai rusak berat. Dapat dikatakan juga sebagai semua ruas jalan yang mantap dari aspek kondisi tetapi tidak mantap dari aspek pemanfaatan/kapasitas atau sebaliknya. Tidak Mantap, adalah semua ruas jalan baik secara kondisi maupun kapasitas tidak mantap.

13 12 11 10 9

12 TIDAK MANTAP 10 8 6 4 MANTAP MARGINAL 3.5 3 MANTAP SEMPURNA
1000 3000 5000 7000 9000 11000 13000 15000 17000 19000 21000

NILAI IRI

8 7 6 5 4 3 2 1

2.5

AADT
3.5 4.5 5.5

4.5 6

KAPASITAS TIDAK MANTAP 7

LEBAR JALAN

6.5 7.5 8.5 9.5 10.5 11.5 12.5 14.0

KAPASITAS MANTAP

7x2 GAMBAR 1 - 2 : KRITERIA ENGINEERING UNTUK KINERJA JALAN

6

B.

Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi Kinerja jaringan berdasarkan kondisi dengan terminologi baik,

sedang, sedang rusak, rusak dan rusak berat. Terminologi ini didasarkan pada besarnya persentase tingkat kerusakan dengan penjelasan sebagai berikut : • Kondisi Baik (B) ► adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi baik menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan ≤ 6%), sehingga arus lalu – lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan kecepatan disain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan. • Kondisi Sedang (S) ► adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 6 s/d 10 %). Kerusakan yang ada belum (atau sedikit saja) menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas. • Kondisi Sedang Rusak (SR) ► adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menuju rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan lalu • – 10 lintas, s/d 16 %). Kerusakan kendaraan yang harus ada mulai menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan sehingga mengurangi kecepatannya. Kondisi Rusak (R) ► adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan 16 s/d 20 %). Kerusakan yang ada sudah sangat menghambat kelancaran arus pergerakan lalu – lintas, sehingga kendaraan harus berjalan secara perlahan – lahan, mengurangi kecepatannya, kadangkala harus berhenti akibat adanya kerusakan atau hambatan pada permukaan perkerasan.

7

Kondisi Rusak Berat (RB) ► adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan, bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak berat menurut kriteria teknis (tingkat kerusakan > 20 %). Kerusakan yang ada sudah sangat parah dan nyaris tidak dapat lagi dilewati oleh kendaraan roda – 4, atau hanya dapat dilewati dengan kecepatan sangat rendah.

C.

Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek pemanfaatan (V/C ratio) Dua hal utama yang berkaitan erat dengan kinerja jalan, baik

untuk individual segmen maupun untuk sepanjang ruas dan sistem jaringan adalah aspek kondisi dan aspek pemanfaatannya. Kondisi diukur (terutama) dengan besaran nilai Kondisi, sedangkan aspek pemanfaatan diukur dengan besaran V/C ratio. V/C ratio menunjukkan gambaran mengenai tingkat pelayanan suatu jalan dalam melayani arus (pergerakan) lalu – lintas, dimana semakin besar nilai V/C ratio berarti semakin rendahnya tingkat pelayanan jalan tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya kemacetan. Batasan nilai V/C ratio yang menunjukkan tingkat pelayanan mulai mendekati kemacetan diambil > 0,65. 1.2.1.3 Tujuan, Sasaran dan Prinsip – Prinsip Penanganan Jalan Kabupaten Tujuan pengelolaan jalan di Kabupaten Purworejo adalah untuk menyediakan prasarana jalan bagi angkutan manusia dan barang dalam tingkat pelayanan yang memadai, dalam arti lancar, nyaman dan aman, serta mendukung pengembangan potensi daerah. Dalam proses implementasi dari tujuan tersebut, maka sasaran dari kegiatan pengelolaan jalan dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) tinjauan yaitu :

8

A.

Sasaran pengelolaan jalan ditinjau dari aspek pengguna jalan Dari aspek pengguna jalan, maka sasaran pengelolaan jalan

adalah tersedianya prasarana jalan dalam tingkat pelayanan yang memadai dalam arti : • Kapasitas jalan mampu melayani jumlah kendaraan yang ada, sehingga perjalan kendaraan atau arus pergerakan lalu – lintas dapat berjalan secara lancar dan dalam kecepatan yang memadai. • Kondisi perkerasan maupun geometrik jalan memungkinkan perjalanan kendaraan dilakukan secara nyaman dan aman B. Sasaran pengelolaan ditinjau dari aspek jaringan Ditinjau dari aspek jaringan, maka sasaran pengelolaan jalan adalah terciptanya suatu sistem jaringan jalan yang ter-integrasi, baik dari aspek besaran kapasitas pelayanan maupun fungsinya mulai dari jalan desa, jalan kabupaten, jalan propinsi sampai jalan nasional. C. Sasaran pengelolaan jalan ditinjau dari aspek kinerja jalan Sasaran pengelolaan jalan ditinjau dari aspek kinerja jalan adalah untuk : • • • Mempertahankan kondisi dari ruas – ruas jalan yang masuk kategori mantap sempurna, Mengembalikan kondisi ruas – ruas jalan yang masuk kategori mantap marginal menjadi mantap sempurna, Meningkatkan kondisi ruas – ruas jalan yang masuk kategori tidak mantap menjadi mantap sempurna D Sasaran pengelolaan jalan ditinjau dari aspek kepentingan daerah Dari aspek kepentingan daerah, maka sasaran pengelolaan jalan diprioritaskan dan diarahkan untuk mendukung pengamanan

9

produksi pangan, peningkatan lapangan kerja, peningkatan usaha kecil dan menengah serta pelayanan kebutuhan dasar. Fokus kegiatannya adalah menangani ruas – ruas jalan yang : • • • • • • • Menghubungkan kawasan irigasi utama menuju jalan nasional / propinsi, Meningkatkan akses dari dan ke kawasan produksi pangan, Meningkatkan akses dari dan ke kawasan perkebunan, Menghubungkan kawasan produksi ke pusat pemasaran, Membuka akses ke daerah terisolir, Mendukung pengembangan kawasan pariwisata, Berhubungan dengan prasarana transportasi utama lainnya

Sebagai iliustrasi lihat Gambar 1 - 3.

LANCAR, AMAN DAN NYAMAN TERINTEGRASI DG JALAN PROPINSI & JALAN NASIONAL

ASPEK PENGGUNA JALAN

ASPEK JARINGAN

TUJUAN
KONDISI MANTAP SEMPURNA KONTRIBUSI MAKSIMAL UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN DAERAH ASPEK KINERJA

SASARAN

ASPEK KEPENTINGAN DAERAH

GAMBAR 1 - 3 : TUJUAN DAN SASARAN PENGELOLAAN JALAN

1.2.1.4 berkaitan

Prinsip – prinsip penanganan jalan Pembahasan dengan mengenai prinsip mengenai – prinsip kategori penanganan penanganan. jalan Pada penjelasan

umumnya penanganan jalan kabupaten dibedakan menjadi 3 (tiga) tipe pekerjaan yaitu : • • Pekerjaan Pemeliharaan Pekerjaan Peningkatan

10

Pembangunan Baru Pemilihan jenis penanganan tergantung kepada kondisi dari ruas

jalan. Jalan dengan kondisi baik sampai sedang mendapatkan penanganan pemeliharaan, sedangkan jalan dengan kondisi rusak sampai rusak berat ditangani dengan pekerjaan peningkatan. Dari sudut kepentingan program secara keseluruhan, terutama dengan mengingat keterbatasan dana, maka penanganan jalan harus mempertimbangkan urutan prioritas penanganan sebagai berikut : • Pekerjaan pemeliharaan merupakan prioritas utama. Semua jalan dalam kondisi baik sampai sedang harus mendapatkan pekerjaan pemeliharaan, baik berupa pemeliharaan rutin maupun berkala sesuai dengan tingkat kerusakannya. • Pekerjaan peningkatan merupakan prioritas ke-dua. Pekerjaan ini untuk menangani ruas – ruas jalan dalam kondisi rusak sampai rusak berat, serta ruas jalan yang tidak mantap secara kapasitas. • • Pembangunan baru merupakan prioritas terakhir. Menurut urutan prioritas penanganan seperti tersebut di atas, maka implikasinya adalah : Tidak ada pekerjaan pembangunan baru, selama masih ada ruas jalan yang kondisi maupun kapasitasnya tidak mantap, Tidak ada pekerjaan peningkatan, selama masih ada ruas jalan dengan kondisi baik sampai sedang yang tidak mendapatkan penanganan pemeliharaan. A. Pekerjaan pemeliharaan Pekerjaan pemeliharaan, baik pemeliharaan rutin maupun pemeliharaan berkala dilakukan untuk mempertahankan kondisi permukaan jalan dengan : • Memperbaiki kerusakan permukaan jalan seperti lubang – lubang, retak buaya, daerah yang lunak, alur bekas roda,

11

daerah bergelombang dan berbagai macam jenis kerusakan permukaan lainnya, • Memperbaiki bahu jalan, drainase samping, pengamanan tebing atau lereng serta perbaikan assesories jalan lainnya. Pekerjaan pemeliharaan merupakan faktor penting untuk menjaga agar umur pelayanan jalan dapat dipertahankan sesuai dengan umur rencananya. Pekerjaan pemeliharaan jalan yang dilakukan secara konsisten dan terus – menerus sesuai dengan tahun pelayanannya, bahwa akan dapat mengurangi biaya kebutuhan jauh lebih untuk besar dilaksanakannya pekerjaan berat (peningkatan), dimana diketahui pekerjaan berat memerlukan dibandingkan dengan biaya pekerjaan pemeliharaan. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 1 - 4. Dari gambar tersebut terlihat bahwa jika pekerjaan pemeliharaan tidak dilaksanakan, maka kondisi jalan akan menurun dengan cepat dan sebelum umur pelayanannya berakhir, kondisi jalan tersebut sudah berada di bawah tingkat kondisi yang direncanakan.

4.50

In d ek P e rm u k aa n (IP )

4.00 3.50 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00

PENINGKATAN

4.00

2.32
PENINGKATAN

PENINGKATAN

2.32

1.43

1.43

T A H U N 10

T A H U N 11

T A H U N 12

T A H U N 13

T A H U N 14

T A H U N 15

T A H U N 16

T A H U N 17

T A H U N 18

T A H U N 19

Tahun Pelayanan
Penurunan kondisi jalan yang mendapat penanganan pemeliharaan secara berkesinambungan Penurunan kondisi jalan yang tidak mendapatkan penanganan pemeliharaan

GAMBAR 1 - 4 : GARFIK PENURUNAN KONDISI JALAN

12

T A H U N 20

TAH UN 1

TAH UN 2

TAH UN 3

TAH UN 4

TAH UN 5

TAH UN 6

TAH UN 7

TAH UN 8

TAH UN 9

Konklusinya adalah sebagai berikut : • Pekerjaan pemeliharaan rutin harus dilaksanakan secara kontinyu • setiap tahun dari tahun pertama sejak dilaksanakannya pekerjaan berat, Biaya pekerjaan pemeliharaan rutin perkilometernya harus selalu meningkat dari tahun ke tahun (tahun ke 3 > tahun ke 2 > tahun ke 1), • Setelah tiga periode pemeliharaan rutin, perlu diberikan pemeliharaan periodik dengan biaya yang lebih besar dari pemeliharaan rutin. Penanganan pemeliharaan periodik tergantung kepada tingkat kerusakan jalan. Misalkan biaya pemeliharaan rutin tahun pertama pada suatu ruas jalan adalah sebesar Rp. 5,0 juta/km, maka tahun ke – 2 menjadi Rp. 7,5 juta/km dan tahun ke – 3 meningkat lagi sebesar Rp. 10 juta/km. Pekerjaan pemeliharaan rutin dilakukan jika tingkat kerusakan permukaan jalan lebih kecil dari 10 %, sedangkan untuk pemeliharaan berkala tingkat kerusakan berkisar antara 10 – 16 %. B. Pekerjaan peningkatan Pekerjaan peningkatan secara umum didefinisikan sebagai pekerjaan jalan yang bertujuan untuk meningkatkan struktur perkerasan dan atau meningkatkan kapasitas pelayanan jalan. Secara umum lingkup pekerjaan peningkatan adalah : • • • Meningkatkan struktur perkerasan jalan untuk mengantisipasi bertambahnya beban lalu – lintas yang dilayaninya, Meningkatkan kapasitas jalan dengan pelebaran sebagai akibat bertambahnya volume lalu – lintas yang dilayaninya, Mengembalikan kondisi permukaan dengan melakukan perbaikan kerusakan – kerusakan pada permukaan jalan dengan tingkat kerusakan > 16 %.

13

Pekerjaan peningkatan dilaksanakan pada ruas jalan yang baik secara kondisi maupun kapasitas dikategorikan tidak mantap. C. Pembangunan baru Pembangunan baru pada umumnya merupakan pekerjaan untuk meningkatkan jalan tanah agar dapat dilalui oleh kendaraan roda 4. Untuk ruang lingkup jalan propinsi, pembangunan jalan baru sebagian besar berupa jalan lingkar yang bertujuan untuk mengatasi kemacetan lalu – lintas di perkotaan. 1.2.2 Apresiasi Khusus Apresiasi khusus menyangkut kinerja jalan kabupaten di Kabupaten Purworejo berdasarkan data terakhir yang ada pada konsultan. Pemahaman terhadap kinerja jaringan yang ada akan menjadi dasar untuk merencanakan survai, analisis dan konsep – konsep awal untuk rekomendasi penanganannya. 1.2.2.1 Prasarana Infrastruktur Jalan Posisi geografis Kabupaten Purworejo merupakan titik hubung antara wilayah barat – selatan Propinsi Jawa Tengah dengan wilayah Propinsi Daerah Istimewa Ygogyakarta, serta wilayah Utara – Timur Jateng dengan wilayh barat – selatan Jateng. Posisi geografis ini menuntut Kabupaten Purworejo harus mampu memberikan pelayanan sistem transportasi jalan raya yang berkualitas. Bagian ini akan menguraikan gambaran umum wilayah kegiatan yang menyangkut lokasi, panjang jalan, kondisinya, sasaran atau target, rencana dan realisai penanganannya serta uraian lain yang terkait dengan pengelolaan jalan di Kabupaten Purworejo. Dari uraian awal ini dapat diketahui kinerja jaringan jalan yang ada serta cakupan ruang lingkup, tanggung jawab dan permasalahan pokok yang dihaapi oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Lingkungan Hidup (DPULH) Kabupaten Purworejo dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan jalan dan jembatan kabupaten.

14

A.

Panjang Jalan dan Lokasi Panjang jalan di Kabupaten Purworejo menurut daftar K – 1

(SK Gubernur Jawa Tengah Tahun 1997) adalah 738,79 km. Lokasinya tersebar di 16 kecamatan, dengan bagian terbesar terletak di Kecamatan Purworejo (86,13 km atau 11,66 %) dan terkecil di Kecamatan Kemiri (17,92 km atau 2,43 %). Distribusi panjang jalan menurut lokasi kecamatan selengkapnya terlihat seperti pada Gambar 1 – 5.

Panjang (km)

52.68

47.39

44.42

43.35

49.55

51.72

50 40 30 20 10 0

33.09

23.75

Banyuurip

17.92

28.33

Purwodadi

35.79

Butuh

41.62

100 90 80 70 60

86.13

58.82

65.44

Gebang

Purworejo

Kaligesing

Ngombol

Kutoarjo

Bagelen

Sumber : SK Gubernur Jawa Tengah Tahun 1997 (K1)

Gambar 1 - 5 : Lokasi (kecamatan) dan Panjang Jalan Kabupaten di Kabupaten Purworejo

B.

Tipe Perkerasan Tipe permukaan perkerasan jalan kabupaten di Kabupaten

Purworejo berupa Aspal, Batu, Kerikil dan Tanah. Jalan dengan tipe permukaan aspal merupakan persentase terbesar yaitu 76,62 % (565,32 km). C. Kinerja Jaringan Jalan Kinerja jaringan jalan pada bagian ini merupakan data sekunder dari hasil studi terdahulu. Kinerja terkini akan disampaikan pada laopran hasil analisis dan evaluasi pada periode pelaporan berikutnya.

15

Pituruh

Bruno

Grabag

Bener

Loano

Bayan

Kemiri

58.79

C.1.

Kinerja berdasarkan kondisi Kinerja kondisi berdasarkan data tahun 1999 adalah sebagai

berikut : • • • • • Baik Sedang Sedang Rusak Rusak Rusak Berat ► ► ► ► ► 91,57 km 301,06 km 42,88 km 222,87 km 80,41 km ► ► ► ► ► 12,39 % 40,75 % 5,80 % 30,17 % 10,88 %

800.00 600.00 500.00 300.00 200.00 100.00 0.00 Aspal Baik Sedang
222.87
42.88

Panjang (km)

565.32

700.00

400.00

278.80

118.46 33.61

91.57

41.85 38.80 82.85

91.57

301.06

45.26 8.00 73.12

42.88

19.86

17.30 0.00 17.50

Batu Sedang Rusak

0.20

Kerikil Rusak

2.20

Tanah Rusak Berat

Total Total

Sumber : SK Gubernur Jawa Tengah Tahun 1997 (K1)

Gambar 1 - 6 : Kinerja Jalan Berdasarkan Kondisi

C.2

Kinerja Berdasarkan Kapasitas Kinerja jalan berdasarkan kapasitas adalah gambaran yang

menunjukkan aspek pemanfaatan jalan, dalam hal ini diwakili oleh besaran nilai V/C ratio. Semakin besar nilai V/C ratio suatu jalan (maksimum 1) berarti semakin rendahnya tingkat pelayanan jalan tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan kendaraan (kemacetan). Analisis V/C ratio memerlukan data LHR dan lebar jalan, namun karena saat penyusunan metodologi ini data LHR belum

16

80.41

738.79

tersedia, maka kinerja aspek pemanfaatan akan ditinjau berdasarkan lebar jalan (perkerasan).

800.00 600.00 400.00 300.00 200.00 100.00 0.00 Aspal
Lebar < 3.5 m
Sumber : SK Gubernur Jawa Tengah Tahun 1997 (K1)

Panjang (km)

238.84

326.48

171.37

Non Aspal
Lebar ≥ 3.5 m

2.10

173.47

Total
Total

Gambar 1 - 7 : Kinerja Jalan Berdasarkan Lebar Jalan

C.3

Kinerja Berdasarkan Kemantapan Kinerja jalan berdasarkan kemantapan merupakan kinerja

gabungan dari aspek kondisi dan pemanfaatan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Kinerja kemantapan dibedakan menurut terminologi tingkatan : Mantap Sempurna, Mantap Marginal dan Tidak Mantap.

800.00 600.00 500.00 400.00 300.00 200.00 100.00 0.00 Aspal Batu 248.71 121.66 194.95 738.79 Kerikil Mantap Marginal 0.20 17.30 17.50 Tanah Tidak Mantap 2.20 80.65 82.85 19.86 53.26 73.12 700.00 Panjang (km) 565.32

328.58
248.71 143.92 346.16 Total Total

500.00

Mantap Sempurna
Sumber : Analisis Konsultan

Gambar 1 - 8 : Kinerja Jalan Berdasarkan Kemantapan

17

410.21

738.79

700.00

565.32

1.3

METODOLOGI PELAKSANAAN KEGIATAN Metodologi pelaksanaan kegiatan mengacu kepada ketentuan dalam

SK – 77 (Petunjuk Teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten SK – 77 / KPTS / Db / 1990). 1.3.1 Umum Kegiatan perencanaan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian kegiatan utama. Pembagian tersebut didasarkan kepada kegiatannya, yaitu kegiatan : • • Studi Perencanaan Umum Penyusunan Program

Tujuan kegiatan Studi Perencanaan Umum adalah untuk memberikan suatu pedoman dalam penyusunan usulan program tahunan jalan kabupaten. Kegiatan studi perencanaan umum jalan kabupaten meliputi : • • Pengumpulan data jalan secara sistematis melalui kegiatan survai, Analisis kelayakan ekonomis

Sedangkan tujuan kegiatan Penyusunan Program adalah membuat out – put berupa ruas – ruas jalan yang akan ditangani berdasarkan pada hasil studi perencanaan umum dan aspek perencanaan teknis. Kegiatan penyusunan program meliputi : • • • Penyusunan usulan ruas ruas jalan yang akan ditangani dengan

peningkatan,
Penyusunan usulan ruas ruas jalan yang akan ditangani dengan

pemeliharaan berkala,
Penyusunan usulan ruas ruas jalan yang akan ditangani dengan

pemeliharaan rutin,

18

1.3.2 Acuan Dasar Acuan dasar bagi seluruh kegiatan pengelolaan jalan kabupaten terbagi menjadi 2 (dua) acuan dasar pengelolaan yaitu acuan dasar umum dan acuan dasar khusus. Acuan dasar umum adalah acuan yang berlaku secara umum untuk setiap tahun anggaran, sedangkan acuan dasar khusus hanya berlaku sebagai acuan pada tahun anggaran yang bersangkutan. 1.3.2.1 1. SK – 77 Acuan Dasar Umum Petunjuk Teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten (SK No : 77 /KPTS/Db/1990) 2. Keppres No. 24 / 1995 3. UU No. 13 / 1980 4. PP No. 26 / 1985 5. UU No. 22 / 1999 6. UU No. 25 / 1999 Tentang Pelaksanaan Anggaran dan Belanja Negara Tentang Jalan Tentang Jalan Tentang Otonomi Daerah Tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah 1.3.2.2 Acuan Dasar Khusus

Pedum (Pedoman Umum) dan Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) yang menyangkut pengelolaan jalan kabupaten / kota. 1.3.3 Studi Perencanaan Umum dan Penyusunan Program (SPUPP) 1.3.3.1 Lingkup Kegiatan Secara garis besar lingkup kegiatan studi perencanaan umum dan penyusunan program jalan kabupaten dibagi dalam 5 (lima) kelompok kegiatan, yaitu : • • Survai Lapangan. Analisis Kelayakan Ekonomi.

19

• • •

Penyusunan Rangkuman Hasil Kegiatan Survai Lapangan dan Analisis Kelayakan Ekonomi. Penyusunan Usulan Program Tahunan Pemutakhiran Database

Berikut akan dijelaskan masing – masing dari kelompok kegiatan tersebut di atas. A. Survai Lapangan Berdasarkan tujuannya, survai lapangan dapat dibagi atas : (1) Survai untuk pekerjaan berat ( Peningkatan, Pembangunan Baru), dan (2) Survai untuk pekerjaan pemeliharaan A.1. Survai Untuk Pekerjaan Berat Survai dilaksanakan pada ruas jalan dengan kondisi Tidak

Mantap (Rusak s/d Rusak Berat). Jenis kegiatan survai dibagi dalam 2 (dua) kelompok kegiatan berdasarkan ada tidaknya hambatan lalu – lintas bagi kendaraan roda – 4. • Tidak ada hambatan lalu – lintas (Terbuka sepanjang tahun / TB). Ruas jalan terbuka sepanjang tahun bagi kendaraan roda – 4, maka jenis survai yang dilakukan adalah : • Penyesuaian Angka Ordometer Kendaraan Survai (S3) Untuk memberikan bacaan yang akurat pada angka ordometer kendaraan survai, maka perlu dilakukan kalibrasi/penyesuaian angka ordometer. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil bacaan ordometer dengan patok pal km sepanjang 10 km pada ruas jalan negara atau propinsi. • Survai Penyaringan Ruas Jalan (S2) Tujuan dari survai ini adalah untuk mendokumentasikan secara sistematis data karakteristik tertentu dari ruas jalan yang disurvai, baik untuk keperluan inventarisasi

20

(perbaikan database K – 1) maupun untuk analisis usulan pekerjaan. Data – data yang dihimpun dari survai ini berupa data perkerasan jalan (tipe, kondisi, lebar), data jembatan • (tipe, kondisi, panjang, lebar) dan penggunaan lahan di kiri dan kanan jalan. Survai Kecepatan (S4) Tujuan dari survai ini adalah untuk memperkirakan kecepatan normal dari kendaraan bermotor melewati ruas jalan yang disurvai. Data tersebut dapat memberi gambaran survai S2. • Survai Perhitungan Lalu – Lintas (S5A) Dimaksudkan untuk mendapatkan data Lalu – Lintas Harian Rata – Rata (LHR) serta sebaran tipe kendaraan. Survai ini dilaksanakan selama 12 jam (dari jam 0600 s/d 1800) selama 2 (dua) hari perhitungan. Data S5A dirangkum dalam formulir S5B. Data lokasi, hari serta nama pelaksana pencatat perhitungan lalu – lintas dirangkum dalam formulir S5C. • Ada hambatan lalu – lintas (Tertutup sepanjang tahun / TST atau Tertutup secara berkala bagi kendaraan roda 4 / TMH). Ruas jalan tertutup sepanjang tahun atau tertutup secara berkala (mis. Kalau hujan) bagi kendaraan roda – 4, maka jenis kegiatan survai yang diperlukan : • • Survai Penyaringan Ruas Jalan (S2) : untuk mengetahui ruas jalan yang termasuk TST atau TMH. Survai Penyebaran Penduduk (S7) : Untuk mengetahui sebaran penduduk disepanjang ruas jalan yang disurvai dan memperkirakan jumlah penduduk yang akan dilayani kondisi ruas yang bersangkutan untuk dibandingkan dengan kondisi ruas yang didapatkan dari

21

secara langsung maupun tidak langsung jika ruas jalan tersebut dibangun. • Survai Lalu – Lintas Yang Terhambat (S8) : Untuk mengetahui tingkat hambatan dari ruas jalan yang disurvai. A.2. Survai Untuk Pekerjaan Pemeliharaan (S1) Survai S1 dilakukan pada ruas – ruas jalan dalam kondisi Pemutakhiran database (K1 dan Peta), Pemeriksaan akurasi data dalam daftar P1, Menunjang pelaksanaan survai – survai selanjutnya yaitu survai detail pemeliharaan jalan aspal (MS2) dan jalan non aspal (MS2A). B. Analisis Kelayakan Ekonomi Analisis kelayakan ekonomi adalah analisis terhadap survai lapangan berdasarkan kelayakan ekonomi. Metode yang digunakan dalam melakukan analisis hasil survai lapangan untuk pekerjaan berat yaitu : • • Metode yang didasarkan atas Nilai Manfaat Lalu – Lintas. Metode yang didasarkan atas Nilai Manfaat Kependudukan.

Mantap (Baik s/d Sedang). Tujuan survai S1 adalah untuk : • • •

Dimana pemakaian pemilihan metode tersebut didasarkan atas data yang tersedia. B.1 Metode yang didasarkan atas Nilai Manfaat Lalu - Lintas Digunakan untuk ruas jalan yang terbukan sepanjang tahun bagi kendaraan roda – 4 (TB) dan tidak ada hambatan terhadap lalu – lintas yang disebabkan oleh kondisi jalan. Metode tersebut dipakai untuk analisis pekerjaan berat dan pemeliharaan periodik. Dalam kegiatan analisis digunakan data dan formulir analisis sebagai berikut :

22

• • •

Data hasil survai : S2, S3, S4, S5A, S5B, S5C Tabel Manfaat Lalu – Lintas Formulir Analisis A1 dan A2 : Formulir A2 Digunakan untuk menghitung nilai manfaat (sekarang) atas dasar data lalu - lintas per km yang diharapkan selama umur proyek Formulir A1 Digunakan untuk merangkum informasi pokok hasil survai lapangan untuk keperluan : • • Penyederhanaan analisis biaya jalan dan jembatan. Penyederhanaan penaksiran manfaat lalu – lintas.

B.2

Metode yang didasarkan atas Nilai Manfaat Kependudukan. Digunakan untuk analisis ruas jalan yang tertutup sepanjang

tahun (TST) dan tertutup secara berkala karena kondisinya (TMH) bagi kendaraan roda – 4. Dalam kegiatan analisis digunakan data dan formulir analisis sebagai berikut : • • Data hasil survai : S2, S7, S8 Formulir Analisis A1 dan A3 : Formulir A3 Digunakan untuk menghitung nilai manfaat (sekarang) atas dasar data kependudukan untuk panjang jalan per km yang diharapkan terjadi selama umur proyek. Disamping kedua metode tersebut (metode standard), ada metode non standard yang dikenal sebagai metode khusus. Studi khusus hanya digunakan untuk analisis ruas jalan yang tidak bisa dianalisis berdasarkan metode standar, misalnya : Analisis pengembangan jaringan jalan. Jalan pintas / pengalihan rute jalan. Jalan pertanian / aktivitas khusus.

• • •

23

Pembangunan jembatan dengan bentang yang panjang.

Metode analisis pekerjaan berat secara sistematis dapat digambarkan seperti Gambar 1 - 9.

JALAN TERBUKA SEPANJANG TAHUN BAGI KENDARAAN RODA - 4 (TB)

JALAN TERTUTUP SECARA BERKALA (TMH) ATAU TERTUTUP SEPANJANG TAHUN (TST) BAGI KENDARAAN RODA - 4

Hambatan Jalan Akses Rendah TB TMH

Hambatan Jalan Akses Sedang

Hambatan Jalan Akses Tinggi TST

METODE ANALISIS BERDASARKAN MANFAAT LALU - LINTAS METODE ANALISIS BERDASARKAN MANFAAT KEPENDUDUKAN STUDI KHUSUS Gambar 1 - 9 : Metode Analisis Pekerjaan Berat

C.

Penyusunan Rangkuman Hasil Kegiatan Survai Lapangan dan Analisis Kelayakan Ekonomi Semua ruas jalan yang menjadi sasaran kegiatan Studi

Perencanaan Umum dan Penyusunan Program (SPUPP) dirangkum dalam daftar P2, P3 dan P1.
Note : Cara penulisan dengan urutan P2, P3, dan P1 terlihat tidak lazim (kenapa bukan P1, P2, dan P3). Dari uraian selanjutnya akan dapat dipahami alasan cara penulisan tersebut.

C.1

Daftar Panjang (long list) Pekerjaan Berat (P2) Daftar P2 digunakan untuk merangkum hasil analisis (form A1)

untuk jenis pekerjaan peningkatan (PK) dan pemeliharaan periodik (MP). Berdasarkan waktu pelaksanaan survai, isi daftar P2 dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu :

24

Kelompok 1 : Proyek luncuran (P2 bagian A) Analisis proyek PK hasil studi perencanaan semenjak 3 (tiga) tahun kebelakang (2000, 1999, 1998) dan layak (NPV > 0 juta/km), tetapi karena keterbatasan alokasi dana, rencana proyek tersebut belum dilaksanakan.

Kelompok 2 : Analisis proyek PK dan MP hasil studi perencanaan tahun terakhir (tahun 2001). Kelompok ini dibagi menjadi 3 (tiga) bagian : 1. P2 bagian B : analisis proyek PK yang mempunyai nilai NPV > 0 (layak) 2. P2 bagian C : analisis proyek PK yang mempunyai nilai NPV < 0 (tidak layak) atau proyek tidak bisa dianalisis (NE, data tidak lengkap). 3. P2 bagian D : analisis proyek pemeliharaan periodik (MP)

C.2

Daftar Pendek (short list) Pekerjaan Berat (P3) Daftar P3 memuat ruas – ruas hasil studi pekerjaan berat (PK

dan PB) yang terpilih dan telah dinyatakan layak secara ekonomis (NPV > 0) untuk dimasukkan kedalam usulan proyek pekerjaan berat. Ruas jalan yang masuk dipilih daro daftar P2 bagian A dan B. Tidak semua ruas yang masuk daftar P3 tersebut diusulkan untuk ditangani dalam satu tahun anggaran. Kuantitas usulan ruas tersebut (setiap tahunnya) diurutkan berdasarkan skala prioritas dan jumlahnya dibatasi sesuai dengan perkiraan pagu alokasi yang tersedia.

25

C.3 Daftar

Daftar Penyaringan Pekerjaan Pemeliharaan (P1) Daftar P1 disusun berdasarkan K – 1 yang sudah di-validasi. ini merangkum semua ruas jalan yang layak untuk

mendapatkan program pemeliharaan. Ruas atau segmen ruas jalan yang masuk dalam daftar P1 awal adalah : • • • Jalan aspal kondisi baik dan sedang. Jalan batu / telford kondisi baik dan sedang. Jalan kerikil kondisi baik dan sedang. Dalam daftar P1, ruas atau segmen ruas tersebut langsung ditentukan jenis penanganan pemeliharaannya dengan menggunakan kode yang telah ditentukan yaitu M1 – M4 (untuk pemeliharaan rutin) dan M5 – M10 (untuk pemeliharaan periodik). Penentuan jenis penanganan tersebut berdasarkan pada : • Riwayat tahun pekerjaan berat (PB / PK) dan pemeliharaan periodik (MP) yang terakhir kali dilaksanakan. • Data Kelas Rencana Lalu – Lintas (KRLL) dari masing – masing ruas. Rincian penggunaan kode penanganan pemeliharaan (M1 – M10) dapat dijelaskan sebagai berikut :
M1 : Pemeliharaan Rutin (MR) untuk jalan aspal dan beton dengan KRLL 1, 2 dan 3, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan < 4 tahun Pemeliharaan Rutin (MR) untuk jalan aspal dan beton dengan KRLL 4, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan < 4 tahun Pemeliharaan Rutin (MR) untuk jalan kerikil dengan KRLL 1, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan < 3 tahun Pemeliharaan Rutin (MR) untuk jalan kerikil dengan KRLL 2, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan < 3 tahun Pemeliharaan Periodik (MP) untuk jalan aspal dan beton dengan KRLL 1, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan > 3 tahun Pemeliharaan Periodik (MP) untuk jalan aspal dan beton dengan KRLL 2 dan 3, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan > 3 tahun Pemeliharaan Periodik (MP) untuk jalan aspal dan beton dengan KRLL 4, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan > 3 tahun

M2 M3 M4 M5 M6

: : : : :

M7

:

26

M8 M9 M10

: : :

Pemeliharaan Periodik (MP) untuk jalan kerikil dengan KRLL 1, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan > 2 tahun Pemeliharaan Periodik (MP) untuk jalan kerikil dengan KRLL 2, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan > 2 tahun Pemeliharaan Periodik (MP) dan Pemeliharaan Rutin (MR) untuk jalan batu dengan KRLL 1 dan 2, dimana PK atau MP terakhir kali dikerjakan > 2 tahun

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan di lapangan dengan menggunakan formulir S1 untuk menguji akurasi data P1 awal dengan parameter tingkat kerusakan jalan. Ketentuan yang dipakai adalah : • • • 6 % < Tingkat Kerusakan ≤ 10 % Tingkat Kerusakan > 16 % ► ► Pemeliharaan Rutin Pemeliharaan Periodik Pekerjaan Peningkatan

10 %< Tingkat Kerusakan ≤ 16 % ►

Beberapa kemungkinan yang akan diperoleh dari survai S1 adalah : 1. Ruas atau segmen dalam P1 (awal) jenis penanganannya MR, ternyata berdasarkan S1 butuh penanganan MP, 2. Ruas atau segmen dalam P1 (awal) jenis penanganannya MP, ternyata berdasarkan S1 butuh penanganan MR, 3. Ruas atau segmen dalam P1 (awal) jenis penanganannya MR atau MP, ternyata berdasarkan S1 butuh penanganan PK. Hasil survai S1 digunakan untuk : • • Membuat daftar P1 Final (Perbaikan dari P1 awal). Menentukan jenis survai selanjutnya.

Secara skematis urutan pekerjaan dalam mempersiapkan P2, P3 dan P1 Final dapat dilihat pada Gambar 1 - 10.

27

Survei S2, S3, S4, S7, S8

No

Yes

Analisa A3, A1, A3 : analisa kependudukan A2 : analisa lalu lintas Daftar P2

VALIDASI K - 1
Berdasarkan RD - 1 JK minimum 3 tahun sebelum tahun studi Jalan terbuka utk roda 4 ?
Yes

Ada hambatan LL secara berkala ?

Bagian A Bagian B Bagian C Bagian D

Penetapan Skala Prioritas dari Bag A dan B

Survei S2, S3, S4, S5A, S5B, S5C

No

No

Jalan Mantap ?

No

Survei S1

Jalan Mantap ?

Analisa A2, A1, A1 : analisa data ruas jalan A2 : analisa lalu lintas

Yes

Yes

P2 Luncuran dr tahun sebelumnya

DAFTAR P3

Daftar P1 awal

> 16 %

DAFTAR P1 Final

Survei S1

Tingkat Kerusa kan ?

10 s/d 16 %

PEMELIHARAAN PERIODIK (MP)

SURVEI MS2 : JALAN ASPAL SURVEI MS2A : NON ASPAL

< 10 %

PEMELIHARAAN RUTIN (MR)

GAMBAR 1 - 10 : PROSES PENYIAPAN DAFTAR P2 , P3 dan P1

28

D.

Penyusunan Usulan Program Tahunan Format Usulan Program disebut Format UR – 1JK (Usulan

Rencana). Semua ruas dari hasil rangkuman survai dan analisis kelayakan dimasukkan dalam daftar Usulan Program Tahunan (UR – 1 JK). Semua ruas yang ada dalam daftar P1 dan P3 akan masuk ke dalam daftar UR – 1 JK. Berdasarkan perkiraan alokasi dana (dalam bentuk DADPD – Daftar Alokasi Dana Pembangunan Daerah) yang diterima oleh Daerah, selanjutnya kabupaten mempertajam kembali usulannya berdasarkan skala prioritas untuk disesuaikan dengan alokasi dana yang akan diterimanya. Usulan –usulan yang telah disesuaikan ini selanjutnya dirangkum dalam Format RD – 1 JK (Rencana Definitif). Secara skematis urutan – urutan pekerjaan dalam penyusunan usulan Program Tahunan dapat dilihat pada Gambar 1 - 11.

DAFTAR P1 awal

SURVEI PEMELIHARAAN S1, MS2 DAN MS2A

DAFTAR P1 Final RENCANA DEFINITIF RD. 1 JK DAFTAR P3 Hasil Audit Perkiraan alokasi dana

USULAN RENCANA (UR. 1 JK)

DAFTAR P3

AUDIT LAPANGAN

GAMBAR 1 - 11 : PROSEDUR PENYIAPAN PROGRAM TAHUNAN

E.

Pemutakhiran Database Pemutakhiran database (Formulir K1 – K14) dapat dilakukan

berdasarkan hasil dari kegiatan pada butir A, B, C dan D.

29

1.3.4 Analisis Biaya Jalan dan Manfaat Analisis biaya jalan dan manfaat secara garis besar didasarkan pada tiga komponen yaitu : (1) Biaya penanganan per kilometer, (2) Nilai manfaat per kilometer, dan (3) Nilai NPV per kilometer. 1.3.4.1 Matrik Biaya Penanganan per Kilometer

Perkiraan biaya disusun berdasarkan matrik biaya untuk pekerjaan yang sesuai dengan tingkat kerusakan, jenis lapis permukaan dan besarnya LHR (KRLL) serta nilai CBR tanah dasar. Matrik biaya disusun perdasarkan harga satuan bahan dan upah (formulir K – 9) serta disesuaikan dengan nomor desain perkerasan yang sesuai.

DAFTAR K - 9

ANALISA ALAT

ANALISA K

BIAYA PEKERJAAN

MATRIK BIAYA

KONDISI

KRLL DISAIN PERKERASAN TIPE PERMUKAAN NOMOR DISAIN

NILAI CBR TANAH DASAR

GAMBAR 1 - 12 : PROSES PENYUSUNAN MATRIK BIAYA JALAN

1.3.4.2

Tabel Manfaat Analisis manfaat disini merupakan metode pendekatan yang dengan membuat suatu tabel manfaat pembangunan /

sederhana

penanganan jalan. Tabel manfaat disusun berdasarkan skenario perhitungan yang dapat dipertanggung – jawabkan, dimana secara umum perhitungan nilai manfaat didasarkan pada manfaat yang terkait dengan biaya pemakai

30

jalan terhadap kondisi sebelum dan sesudah dilakukannya perbaikan. Manfaat tersebut antara lain menyangkut : o Efisiensi bahan bakar, pemakaian ban, olie o Pengurangan biaya pemeliharaan dan perbaikan kendaraan o Memperkecil biaya depresiasi o Manfaat terhadap waktu perjalan o Manfaat terhadap kenyamanan Manfaat yang berhubungan dengan aspek lain seperti pertumbuhan ekonomi, sosial, peningkatan investasi dan lain sebagainya tidak diperhitungkan.

1.3.4.3

Nilai NPV per kilometer Nilai NPV per kilometer dipakai sebagai indikator untuk menilai

kelayakan suatu rencana usulan proyek, dimana nilai NPV tersebut adalah : NPV = Manfaat – Biaya per kilometer

Kelayakan ekonomis usulan pekerjaan peningkatan dan pemeliharaan berkala ditentukan oleh nilai NPV, dengan batasan atau kriteria sebagai berikut : • • • • NPV < 0 0 < NPV ≤ 10 10 < NPV ≤ 20 NPV > 20 ⇒ Tidak Layak (NV) ⇒ Kelayakan Rendah (*) ⇒ Kelayakan Menengah (**) ⇒ Kelayakan Tinggi (***)

Nilai NPV (Net Present Value atau Nilai Bersih Saat Ini) merupakan selisih dari nilai manfaat dikurangi biaya yang menunjukkan gambaran kelayakan suatu investasi pembangunan/penanganan jalan. 1.3.5 Analisis Skala Prioritas Usulan Rencana Skala prioritas usulan program penanganan jalan di Kabupaten Purworejo seharusnya disusun berdasarkan kepada kriteria – kriteria yang dipilih dari hasil pemahaman secara komprehensif terhadap semua aspek

31

dalam ruang lingkup pengelolaan jalan di kabupaten tersebut. Konsep ini membagi kriteria dimaksud dalam 2 (dua) kelompok, yaitu kriteria teknis dan non teknis. Kriteria teknis bersifat kuantitatif dan meliputi semua aspek keteknik-an kinerja jaringan jalan, sedangkan kriteria non teknis yang bersifat kualitatif adalah semua aspek yang terkait dengan sasaran dan kebijakan pembinaan jaringan jalan, serta indikator keberhasilan dan pengembangannya. 1.3.5.1 Kriteria Teknis Kriteria teknis dimaksud adalah variabel–variabel keteknikan yang terkait langsung dengan proses perencanaan umum dan penyusunan program. Kriteria tersebut terdiri dari : • Tingkat kerusakan jalan yang ditunjukkan dengan indikator kondisi jalan (Baik, Sedang, Rusak Rusak Berat), Tingkat kerusakan jalan merupakan faktor terpenting dalam analisis skala prioritas usulan pekerjaan berat, sebab tingkat kerusakan menggambarkan kondisi suatu ruas jalan secara keseluruhan, mulai dari perkerasan (jalur lalu – lintas), bahu jalan dan juga kondisi saluran. Tingkat kerusakan ditentukan dari hasil survai kondisi jalan. Indikatornya ditunjukkan dengan status kondisi baik, sedang, rusak dan rusak berat. Kondisi Rusak Berat (RB) mempunyai tingkat prioritas yang lebih tinggi dari kondisi Rusak (R) dan demikian seterusnya. • Kelas Rencana Lalu – Lintas atau Lalu – Lintas Harian Rata – Rata (LHR) dan hubungannya dengan lebar perkerasan minimum. Kelas Rencana Lalu – Lintas (KRLL) yang ditentukan berdasarkan nilai LHR terkait erat dengan tingkat pelayanan suatu ruas jalan, dimana tingkat pelayanan tersebut ditunjukkan oleh suatu besaran yang

32

merupakan perbandingan antara volume lalu – lintas dengan kapasitas jalan (V/C). V/C rasio menunjukkan gambaran mengenai tingkat pelayanan suatu jalan dalam melayani arus (pergerakan) lalu – lintas, dimana semakin besar nilai V/C rasio berarti semakin rendahnya tingkat pelayanan jalan tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya kemacetan.

Formula untuk menghitung kapasitas jalan adalah : C = Co x FCw x FCsp x FCsf Dimana : C = Kapasitas jalan (smp/jam)

Co = Kapasitas dasar (smp/jam) FCw = Faktor penyesuaian lebar jalan FCsp = Faktor penyesuaian pembagian arah FCsf = Faktor gangguan samping

Dari formula di atas terlihat bahwa kapasitas jalan tergantung kepada kapasitas dasar (Co), dimana Co ini tergantung kepada tipe jalan dan tipe alinyemen. Selain itu, faktor penyesuaian untuk kapasitas jalan juga dipengaruhi oleh lebar jalan, kondisi lalu lintas dan tata guna lahan di sekitar jalan tersebut, sedangkan faktor kondisi permukaan jalan tidak diperhitungkan sebagai variabel yang mempengaruhi. Dengan demikian kita ketahui bahwa perhitungan kapasitas jalan dengan formula di atas didasarkan pada permukaan jalan dengan kondisi baik. Namun secara pasti dapat kita katakan bahwa kondisi permukaan jalan akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan lalu – lintas. Suatu jalan dengan lebar dan LHR yang sama, dimana yang satu kondisi permukaannya mulus atau baik, sedangkan yang lain kondisi

33

permukaannya jelek sudah pasti akan menunjukkan gambaran pergerakan yang berbeda. Dalam kaitan dengan penentuan skala prioritas dan hubungannya dengan KRLL, maka suatu jalan dengan KRLL 4 prioritasnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan ruas jalan dengan KRLL 3, dan demikian seterusnya. Sebagai gambaran, jalan A dan jalan B mempunyai tingkat kerusakan yang sama, tetapi KRLL jalan B lebih besar dari jalan A. Ini menunjukkan bahwa kondisi pergerakan lalu – lintas di jalan B lebih terganggu (macet) dibanding dengan jalan A. Dalam kasus ini maka jalan B lebih diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan dibanding dengan jalan A.

Kapasitas jalan yang ditunjukkan dengan indikator lebar perkerasan jalan. Kapasitas dan Tidak jalan terkait dengan kinerja kemantapan. program Kinerja kemantapan ditunjukkan dengan Mantap Sempurna, Mantap Marginal Mantap. Untuk mendapatkan penanganan pekerjaan berat, maka sudah pasti bahwa jalan yang Tidak Mantap akan lebih diprioritaskan dibanding dengan jalan yang Mantap Marginal maupun Mantap Sempurna.

Kelayakan secara ekonomis yang ditunjukkan dengan indikator nilai NPV. Tingkat kelayakan secara ekonomis didasarkan pada nilai NPV per kilometer. Nilai NPV tersebut merupakan selisih dari nilai manfaat dikurangi nilai biaya pembangunan, dan ini menunjukkan gambaran mengenai kelayakan suatu usulan program penanganan secara ekonomis. Pada analisis skala prioritas nilai NPV terbesar mendapatkan prioritas yang tertinggi.

34

Riwayat pekerjaan jalan. Catatan mengenai riwayat pekerjaan jalan, terutama yang berupa penanganan peningkatan (PK) dan pemeliharaan periodik (MP) hubungannya dengan penentuan berat ditentukan sebagai berikut : • Jalan yang akan mendapatkan pekerjaan peningkatan dibedakan menjadi : o Lebih dari 10 tahun o 5 ≤ PK ≤ 10 Tahun o Kurang dari 5 tahun • o Lebih dari 6 tahun o 3 ≤ PK ≤ 6 Tahun o Kurang dari 3 tahun prioritas utama prioritas menengah prioritas rendah prioritas utama prioritas menengah prioritas rendah skala prioritas usulan pekerjaan

Jalan yang mendapatkan penanganan pemeliharaan periodik :

1.3.5.2

Kriteria Non Teknis Kriteria non teknis dalam penentuan skala prioritas usulan

program adalah pertimbangan – pertimbangan yang bersifat kualitatif dalam proses perencanaan umum dan penyusunan program. Kriteria non teknis ini diperlukan, mengingat hasil Studi Perencanaan Umum dan Penyusunan Program (SPUPP) menurut SK – 77 tidak memperhitungkan kondisi non teknis, seperti manfaat suatu ruas jalan terhadap daerah sekitarnya atau fungsi suatu ruas jalan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dalam penyusunan daftar skala prioritas penanganan jalan, kriteria non teknis tersebut tidak dapat diabaikan, mengingat hal itu terkait dengan peranan prasarana jalan bagi masyarakat. Ini terkait dengan semua kemungkinan yang ada dalam sistem interaksi di masyarakat, seperti interaksi sosial, budaya, dan ekonomi. Penentuan kriteria non teknis dibuat dengan mengacu pada pemahaman bahwa penanganan jalan diprioritaskan dan diarahkan untuk mendukung pengamanan produksi pangan, peningkatan lapangan kerja dan

35

kemampuan ekonomi masyarakat, peningkatan usaha kecil dan menengah serta pelayanan kebutuhan dasar. Kriteria non teknis yang dipergunakan dalam analisa ini meliputi 6 (enam) hal, yaitu : 1. Fungsi jalan sebagai prasarana lintas antar kota kecamatan dalam Kabupaten Purworejo 2. Kerusakan akibat bencana alam 3. Fungsi jalan dalam peningkatan potensi ekonomi. Dimaksud disini antara lain adalah : a. Jalan yang menghubungkan kawasan irigasi utama menuju jalan nasional b. Meningkatkan akses dari dan ke kawasan produksi pangan c. Meniingkatkan akses dari dan ke kawasan perkebunan d. Menguhubungkan kawasan produksi ke pusat pemasaran 4. Mendukung pengembangan kawasan pariwisata 5. Membuka daerah terisolir / mendukung pengembangan wilayah 6. Berhubungan langsung dengan prasarana transportasi lainnya (Bandara, Terminal Bus, Stasiun KA, Pelabuan Laut, dll)

Untuk selanjutnya, kriteria non teknis tersebut harus diterjemahkan dalam suatu formula yang dapat dihitung. Sehingga penentuan skala prioritas dapat dilakukan secara matematis atas dasar variabel yang nyata. Dengan demikian, maka usulan program penanganan jalan benar – benar dapat dipertanggung-jawabkan kelayakannya.

Akan dilanjutkan dengan hasil studi (Laporan Analisis dan Evaluasi serta Laporan Rekomendasi) penyusunan RpiJM Jalan Kabupaten di Kabupaten Purworejo Tahun 2001.

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->