P. 1
Sistematika Proposal PTK

Sistematika Proposal PTK

|Views: 22|Likes:
Published by fidi_532157031
contoh proposal ptk bagi para pengajar dan yang bergelut di dunia pendidikan
contoh proposal ptk bagi para pengajar dan yang bergelut di dunia pendidikan

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: fidi_532157031 on Feb 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $9.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/08/2014

$9.99

USD

pdf

text

original

Diklat Teknis Penelitian Tindakan Kelas Guru PLB Disajikan Oleh : Budi Susetyo

Direktorat Pendidikan Luar Biasa 2005

SISTEMATIKA PROPOSAL PTK 1. JUDUL Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal. 2. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian –penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini. 3. PERMASALAHAN Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar – benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan. 4. CARA PEMECAHAN MASALAH Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan

Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya.Juga harus dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal. 5.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan. di samping bagi guru pelaksana PTK.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian – bagian sebelumnya. KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN Pada bagian ini diuraikan landasan substantive dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternative. Berbeda dari konteks penelitian formal. Dengan sendirinya. TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas. juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. yang akan diimplementasikan. Disamping tujuan PTK.artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan. Untuk keperluan itu. perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan yang dijanjikan. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK. khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif. meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru. dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelakju PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku – pelaku PTK . Dalam hubungan ini. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. bagi rekan – rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. 6.

di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan. pengadaan alat . Aras kerangka konseptual yang disusun itu. Rencana Tindakan Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran.lain disamping terhadap teori – teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. prosedur evaluasi. keterampilan bertanya. (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar. sumber belajar. seperti : 1) Perencanaan. kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan. Pembuatan scenario pembelajaran. hasil belajar siswa. b. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan. gaya mengajar guru. motivasi siswa. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa. c. juga dikemukakan pada bagian ini. bahan pelajaran. lingkungan belajar. 7. guru. Argumentasi logic dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Aspek substantive permasalahan seperti Matematika kelas II SMPLB atau bahasa inggris kelas III SMLB. RENCANA PENELITIAN a. dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa. sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.tingkat kemampuan dan lain sebagainya. yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. hipotesis tindakan dirumuskan. Variabel yang diselidiki Pada bagian ini ditentukan variabel – variabel penelitian yang dijadikan titik – titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. guru. Pelancaran tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah. cara belajar siswa. dan lain sebagainya. dan sebagainya. implementasi berbagai metode mengajar di kelas.

pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan sebagainya. observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik). Disamping itu juga diuraikan yang telah ditetapkan sebelumnya. personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya. Disamping itu juga diuraikan alternative – alternative solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah.– alat dalam rangka implementasi PTK. .selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK. Scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. 2) Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar. bukan semata – mata sebagai sumber data. kuantitatif. Di samping itu teknik pengumpilan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif. Format data dapat bersifat kualitatif. 4) Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar. dan lain – lin yang terkait bdengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. 3) Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. pembuatan juranal harian. d. Data dan cara pengumpilannya Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar. Format kemitraan antara guru dengan dosen LPTK juga dikemukakan pada bagian ini. atau kombinasi keduanya. Para guru juga harus aktif sebagai pengumoul data.

9. Tim peneliti dan tugasnya Pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama – nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. 8. pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut : . Indikator kinerja Pada bagaian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (njumlah jenis dan atau tingkat kegawatan)miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud. Penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data. JADWAL PENELITIAN Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. e.Akhirnya semu teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik. 1. RENCANA ANGGARAN Komponen – komponen pembiayaan Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian. dan pelaporan. f. Secara lebih rinci.

Penyusunan Laporan Hasil PTK Pembiayaan yang termasuk dalam bagian ini adalah penyusunan konsep laporan. review konsep laporan. lamanya. perencanaan tindakan ulang. Seminar local hasil penelitian. jumlah pesertanya. Persiapan Kegiatan persiapan antara lain meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja. Agar dapat dihitung biayanya. dan sebagainya.a. kegiatan operasional itu harus jelas namanya. Honorarium 1) Ketua Peneliti 2) Anggota tim peneliti 3) Tenaga Administrasi Besarnya honorarium tergantung pada sumber pandanaan . b. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK. dan sebagainya. menetapkan teknik analisis data. Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dari metodologi yang dikemukakan. gladi resik implementasi tindakan. perbaikan. seminar nasional hasil penelitian. 1) Beberapa patokan pembiayaan satuan kegiatan penelitian a. Sarana yang diperlukan dan output yang diharapkan. observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan. pelaksanaan tindakan perbaikan. dan sebagainya. menyusun instrument penelitian. c. menetapkan format pengumpulan data. tempatnya. penyusunan konsep laporan akhir. Kegiatan operasional di lapangan Dalam kegiatan operasional dapat tercakup antara lain pelancaran tes diagnostic dan analisis hasilnya. serta pembuatan artikel hasil PTK dalm bahasa Indonesia dan bahasa Inggris 2. pertemuan refleksi.

satu kali. Perjalanan 1) Biaya perjalanan sesuai dengan ketentuan 2) Transportasi local sesuai harga setempat 3) Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan 4) Monitoring dari PGSM minimal untuk satu orang. selama dua hari 5) Konsultasi ketua tim peneliti ke PGSM selama dua hari d.b. konsumsi sesuai harga setempat. Seminar 1) Seminar lokal. hendaknya pustaka benar – benar relevan dan sungguh – sungguh dipergunakan dalam penelitian. Daftar Pustaka Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang . biaya penyelenggaraan sesuai dengan harga setempat 2) Seminar nasionala minimal untuk dua orang (satu dosen LPTK dan satu guru pelaku PTK) D. . Bahan dan Peralatan penelitian 1) Bahan habis pakai 2) Alat habis 3) Sewa alat c. Laporan Penelitian 1) Penggandaan 2) Penyusuinan artikel berbahasa Indonesia dan inggris 3) Pengiriman e.

baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta. riwayat pendidikan. Curriculum vitae tersebut memuat identitas ketua anggota tim peneliti. . pelatihan di bidang penelitian yang telah pernah diikuti. dan pengalaman dalam penelitian termasuk di PTK.LAMPIRAN DAN LAIN – LAIN Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim inti. Hal – hal lain yang dapat memperjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan dapat disertakan dalam usulan penelitian ini.

Proposal PTK PENGGUNAAN CD PENGAJARAN BICARA SEBAGI SUPLEMEN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MAHASISWA DALAM PRAKTEK PENGAJARAN BICARA KONSONAN S PADA ANAK TUNARUNGU Disusun Oleh : Budi Susetyo.dkk JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2005 .

Melalui pengkajian dapat ditemukan dan sekaligus ditentuakn .A. maka dalam pembelajaran mata kuliah artikulasi perlu dikaji faktor utama yang memungkinkan sebagai penyebab kesulitan yang dihadapi mahasiswa. Pada umumnya mereka mengalami kesulitan. Mata kuliah artikulasi I berisikan konsep – konsep dasar pembinaan bicara pada ank tunarungu. Oleh karena itu aspek keterampilan mahasiswa dalam menangani anak tunarungu lebih ditekankan. Judul Penelitian : Penggunaan CD pengajaran bicara sebagai suplemen untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam praktek pengajaran bicara konsonan S pada anak Tunarungu B. Menyadari banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kekurang berhasilan. Oleh karena itu pada mata kuliah artikulasi I lebih menekankan pada aspek kognitif. Mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan artikulasi belum menunjukkkan hasil yang memuaskan terutama dalam praktek penanganan dan pembentukan bicara pada anak tunarungu. Kondisi semacam ini jika dianalisis banyak faktor penyebabnya salah satunya terbatasnya kemampuan mahasiswa dalam menggunakan audio visual dalam pengajaran konsonan S pada anak tunarungu. Hal ini tampak dari hasil yang diberikan mahasiswa setelah melakukan praktek di lapangan. Mata kuliah ini mempunyai dua aspek sasaran yang ingin dicapai yaitu pengetahuan tentang cara – cara pengajaran bicara dan keterampilan dalam memperbaiki serta membentuk bicara pada anak tunarungu. Latar Belakang Mata kuliah artikulasi merupakan mata kuliah yang khusus diberikan pada mahasiswa spesialisasai anak tunarungu. Pengetahuan diperlukan sebagai dasar dalam mealkukan perbaikan bicara pada anak tunarungu. sehingga dalam menagani dan memperbaiki bicara belum memuaskan. Sedangkan mata kuliah artikulasi II lebih menekankan pada praktek penanganan bicara anak tunarungu.

perubahan penyampaian materi perkuliahan. tetapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Penguasaan pengetahuan secara teoritis diperlukan sebagai media untuk menguasai keterampilan secara praktis. sehingga menyulitkan mahasiswa untuk trampil melakukan perbaikan bicara pada anak. Peningkatan dalam bidang keterampilan perlua adanya praktek dalam penanganan dan pembentukan bicara pada subyek yang sesungguhnya yaitu anak tunarungu. Berbagai upaya telah dilakukan dalam memperbaiki system perkuliahan antara lain dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium semaksimal mungkin untuk simulasi. Beberapa usaha telah dilakukan. memperhatikan perkuliahan dosen di kelas dan sebagainya. Perumusan masalah Permasalahan yang terjadi pada mata kuliah artikulasi yaitu tidak adanya subyek (anak tunarungu) untuk praktek di dalam kampus. terutam adlam keterampilan memperbaiki bicara anak. Kemampuan dalam bidang keterampilan perlu dilakukan secara sendiri –sendiri oleh mahasiswa dengan praktek di lapangan. Penggunaan audio visual dalam praktek pembentukan konsonan S pada anak tunarungu selama ini belum banyak dilakukan oleh mahasiswa.langkah – langkah untuk memperbaikinya. Untuk itu perlu dilakukan . Peningkatan kualitas mahasiswa dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan dalam bidang pengetahuan dan bidang keterampilan. Dengan demikian waktu pertemuan dalam pengajaran bicara sangat terbatas. Peningkatan dalam bidang pengetahuan dapat dilakukan dengan mengkaji berbagai literature. Satu kelemahan yang sering terjadi khususnya mahasiswa adalah penguasaan pada bidang keterampilan atau pada aplikasi di lapangan. Atas dasar kenyataan yang demikian. penambahan waktu praktek lapangan. c. maka perlu dicari alternative lainnya dengan melakukan inovasi –inovasi baik dalam metode penyampaian maupun penggunaan fasilitas laboratorium serta pemanfaatan multi media untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menangani permasalahan bicara terutama pembentukan konsonan S pada anak Tunarungu yang tidak dapat bicara. Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan praktek di berbagai SLB-B.

sehingga kemampuan mahasiswa dalam praktek pembentukan konsonan/vocal dapat meningkat. Penyiapan dengan menyusun rencana topic materi sesuai dengan tingkat kesulitan pada masing – masing konsonan maupun vocal. yaitu melakukan percobaan – percobaan dengan memggunakan media CD pembelajaran bicara yang dilakukan di laboratorium/kelas yang diberikan tentang teknik – teknik perbaikan bicara. Mengumpulakan dan menganalisis data. maka desain inovasi yang digunakan dalam pembelajaran dapat dilihat pada bagian di bawah ini : Bagan desain pembelajaran artikulasi II dengan CD pembelajaran bicara Pengkajian Materi di Kurikulim Materi Perkuliahan teori dan Praktek . Cara Pemecahan Masalah Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Dengan demikian diharapkan kesulitan mahasiswa dalampraktek pembentukan bicara yaitu konsonan S pada anak tunarungu dapat teratasi seefektif dan efisien mungkin. Memperlihatkan kepada mahasiswa masing – masing teknik dalam memperbaiki bicara lengkap dengan penggunaan berbagai sarana pembelajaran dan peralatan peraga yang di perlukan. Adapun langkah – langkah sebagai berikut : a. Melakukan diskusi tentang berbagai teknik perbaikan bicara. d. b. Inovasi yang dilakukan dalam pembelajaran yaitu memanfaatkan fasilitas yang dimiliki jurusan dan teknologi multi media semaksimal mungkin dalam proses pembelajaran. d.inovasi – inovasi dalam perkuliahan. Adapun inovasi yang dipilih dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam penggunaan audio visual sebagai sarana pembelajaran. Untuk lebih jelasnya. c.

khususnya dalam pendidikan luar biasa serta dapat diaplikasi secara praktis di lapangan dan di kelas sebagai salah satu bentuk pembelajaran di ruang kuliah.Analiss hasil praktek 2 dari Perkuliahan di perekaman audio visual dan kelas diskusi dalam rangka perbaikan praktek berikutnya Simulasi di laboratorium Perkuliahan di Perkuliahan di kelas kelas Simulasi di Simulasi di Laboratorium Laboratorium Praktek ke 2 di lapangan dan perekaman audio visual Analisis dari simulasi dan komentar Analisis hasil praktek 1 dari perekaman audio visual dan diskusi dalam rangka perbaikan praktek Praktek ke 1 Bina bicara di lapangan dan perekaman audio visual E. sehingga mahasiswa tidak mengalami kesulitan dalam . Kontribusi/Manfaat Penelitian Kontribusi yang ingin dicapai adalah bertambahnya wawasan pengetahuan dalam bidang pendidikan. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan penelitian adalah menemukan pembelajaran yang efektif dan efisien dalam pembentukan bicara pada konsonan S pada anak tunarungu. F.

dengan demikian inovasi yang telah ditemukan dapat digunakan dalam pengajaran bicara yaitu pembentukan konsonan S pada siswa tunarungu. Pembelajaran bicara (konsonan s) Belajar adalah kegiatan para siswa. sarana dan prasarana. Tinjauan Pustaka dan Hipotesis Tindakan 1. cepat. lancer. yaitu : (1) secara verbal menerangkan dengan kata – kata. Pendidik berusaha membantu agar siswa belajar lebih terarah. Sebelum mengenal pembelajaran secara khusus perlu mengenal pembelajaran secara umum. baik dalam bentuk fisik suatu hasil kerja atu suatu pola tertentu menghasilkan perilaku belajar yang baik. mengatakan model merupakan inti dari teori dalam bentuk sederhana . (1988:79). Pembelajaran agar berhasil perlu dilaksanakan ssistematis. Model pembelajaran merupakan penyederhanaan dari hubungan berbagai komponen yang ada dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Pembelajaran di dalam kelas baik secara klasikal atau individual dibutuhkan adanya model pembelajaran. G. secara bulat dengan mempertimbangkan segala aspek. Komponen – komponen pembelajaran meliputi : metode belajar. Menurut Zamroni. Atau istilah lain dengan membelajarkan siswa. kurikulum. mengatakan ada tiga cara untuk menyatakan model. siswa. Prinsip Bimbingan . Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu pengertian model secara umum. Tinjauan Pustaka a. Model dalam kehidupan sehari – hari merupakan suatu pola yang di contoh. dan sebagainya.pembentukan konsonan S. (2) secara grafis yaitu menerangkan dengan menyajikan diagram. dan berhasil baik. baik dengan bimbingan guru atau dengan usaha sendiri. alat evaluasi. Ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar pada anak tunarungu yaitu : b. dan (3) secara matematis pada ilmu pasti. guru. sehingga mudah dibaca dan dipahami. Sedangkan menurut Winardi (1986:53-55).

Pengayaan kurikulum dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu : berorientasi pada proses. Perbedaan – perbedaan tersebut dalam individu akan mengakibatkan hasil belajar yang dicapai akan berbeda – beda pula. Penguasaan terhadap tujuan sehingga dapat dikatakan tuntas memiliki standar tertentu sesuai dengan tuntutan masing – masing tujuan yang hendak dicapai. materi yang harus dipelajari. Oleh karena itu dalam pembelajaran pendidik bertugas memberikan pelayanan yang tepat dan menyediakan . intelegensi. Layanan pengajaran merupakan bantuan kepada siswa dalam mengatasi kesulitan – kesulitan dalam kegiatan pengajaran sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal. berorientasi pada konten. dan pembawaan dan lingkungan. dan berorientasi pada produk atau hasil. dan emosi. kecepatan belajar. e. d. c. Pencapaian standar dalam belajar tuntas pada umumnya para siswa diharapkan minimal menguasai 85 % dari jumlah populasi peserta didik dan dari 85 % siswa harus menguasai sekurang – kurangnya 75 % tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Belajar Tuntas Belajar tuntas merupakan suatu system belajar yang mengharapkan sebagian besar siswa tujuan (basic learning objective) tertentu secara tuntas. Kemampuan siswa dapat ditingkatkan melalui perluasan kurikulum yang dipelajari akan mengakibatkan pengetahuan mahasiswa semakin luas dan mendetail. Prinsip Pengayaan Pengayaan dalam pembelajaran dimaksudkan dengan adanya pengayaan pada kurikulum yang dipelajari oleh siswa. motif. Individu dalam proses pembelajaran Individu sebagai peserta dalam proses pembelajaran memilikiperbedaan antara individu yang satu dengan yamg lainnya dalam berbagai hal. yaitu : waktu dan irama perkembanagan .Bimbingan dapat diartikan suatu proses bantuan atau tuntutan terhadap individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran. Dalam metodologi ada dua aspek yang paling menonjol. konsep. Sedangkan penilaian adalh alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya suatu tujuan pengajaran. Pola kombinasi yang lengkap dapat digambarkan sebagai berikut : Salah satu gambar yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone of Experience (Kerucut Pengalaman dale). generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum dan dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepaad siswa. Pola pembelajaran yang memanfaatkan media pembelajarn yang memanfaatkan media pembelajaran sebagai sumber – sumber di samping guru dapat digambarkan sebagai berikut : Penetapan Isi dan Metoda Guru dengan Media Siswa Tujuan Gambar 2. sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai semaksimal mungkin oleh siswa. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret). Media (Alat Bantu) dalam pembelajaran Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta.2000) Dalam praktek pembelajaran sebenarnya tidak ada pola yang kaku antar komponen pembelajaran. prinsip.waktu yang cukup. Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tigkatan pengalaman yang dikemukakan oleh bruner. yaitu metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan sampai kepada lambing verbal (abstrak). 2.1 Pola pembelajaran dibantu media (Arifin. Semakin diatas .

. Penggunaan Komputer dalam Pembelajaran Teknologi informasi (TI) merupakan salah satu bagian teknologi yang berkembang dengan pesat dan aplikasinya sangat luas dewasa ini. Walaupun sangat bersifat administrative yaitu berupa pembuatan aplikasi database dan komputerisasi. penelitian dan administrasi. tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mempertimbangkan situasi belajarnya. namun dalam bentuk yang awal tersebut sudah mulai memasuki aspek pendidikan yang manual dan modul kerja sampai pada bentuk simulasi sederhana dalam suatu proses misalnya dalam kegiatan industri. oleh karena melibatkan indera pengluhatan. Komputer telah diterapkan dalam bidang pendidikan semenjak awal perkembangannya. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu.puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu. keterampilan.aplikasi TI yang nyata misalnya dengan hadirnya multimedia dan web. perasaan. dan peraba. Ini dikenal dengan Learning by doing karena memberi dampak langsung terhadap pemerolehan dan pertumbuhan pengetahuan. kelompok siswa yang dihadapi Gambar 2. dalam bidang pendidikan yang melahirkan terobosan baru dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran. jumlah jenis indera yang turut serta selama penerimaan isi pengajaran atau pesan. a. 1994) Dasar pengembanagan kerucut di atas bukanlah tingkat kesulitan. melainkan tingkat keabstrakan. pendengaran. dan sikap siswa. Perlu dicatat bahwa urut – urutan ini tidak berarti prosesw belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung.3 Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Hamalik. penciuman.

Suplemen tersebut biasanya berisikan hal – hal yang tidak dapat dihadirkan langsung oleh buku. Belajar terprograma ini merupakan istilah umu pada system belajar yang berbeda untuk tingkat – tingkat berbeda pula. misalnya peristiwa – peristiwa yang terjadi secara kebetualn atau sengaja dilakukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir. memungkinkan penggunaan komputer dalam pendidikan paad berbagai bentuknya. pendidikan jarak jauh lewat internet dan softwere pengajaran berbagai bidang studi dalam bentuk CD softwere multimedia yang memuat animasi. Pengajaran dengan bantuan komputer dikembangkan dari model belajar terprograma (programmed instruction). Penggunaan multimedia dalam pembelajaran bicara belum banyak diteliti. seperti yang paling akhir ini.Berkembangnya hardwere komputer dalam 2 dekade terkhir dari mainframe yang mahal sampai PC dalam bentuk sekarang yang kemampuannya secara bertahap telah meningkat drastis. Namun pada beberapa penelitian di bidang lain menunjukkan bahwa penggunaan multimedia tersebut dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep – konsep (sanger. Multimedia tersebut haruslah memfasilitasi mahasiswa untuk berpikir baik dari segi konsep maupun praktis. Penekanannya terletak paad perlunya respon dengan tujuan untuk pembentukan hasil belajar melalui control dari feedback atau reinforcement (pemberian support yang akan berpengaruh pada psikologis siswa) b. Multimedia dalam pembelajaran bicara Penggunaan komputer dalam pembelajaran kimia sebenarnya sudah ada sejak beberapa decade terakhir. musik dan suara yang interaktif. buku – buku teks banyak dilengkapi dengan softwere (multimedia) yang merupakan suplemen materi.2001) Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahn besar tersebut ialah dengan memanfaatkan multimedia yang dapat mempresentasikan semua domain berpikir dalm pembelajaran bicara. sehingga hasilnya belum banyak dipublikasikan. Penggunan alat bantu pengajaran sangat membantu mahasiswa peserta didik CD pembelajaran bicara merupakan salah satu alat bantu pembelajaran memiliki peranan . gambar. film.

Melalaui analisis tersebut. sehingga ia mengalami gangguan dalam melaksanakan kehidupan sehari – hari. Pengajaran bicara. secara potensial tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Menurut Smith. Melalui multimedia dapat dipergunakan untuk menganalisis kegiatan praktek yang dilakukan oleh masing – masing mahasiswa. sedang. paad anak tunarungu sangat diperlikan adanya peralatan bantu yang memadai. tetapi alat pendengarannya masih berfungsi. dapat diketahui mana yang perlu perbaikan jika terjadi kesalahan dalam praktek. tuli bilaman mengalami kerusakan pendengarannya dalam taraf yang berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi. sehingga pendengarannya tidak berfungsi. Namun demikian secara . Proses pembelajaran selanjutnya berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih baik. Kurang dengan bilamana ia mengalami kerusakan pendengarannya dalam taraf yang berat. Secara garis besar tunarungu dibedakan menjadi dua yaitu tuli dan kurang dengar. ada yang pandai. 1) Tunarungu dan permasalahannya Pengertian Tunarungu adalah peristilahan secara umum yang diberikan kepada anak yang mengalami kehilangan/gangguan pendengaran. 2) a) Karakteristik Tunarungu Ada beberapa karakteristik tunarungu yaitu : Intelegensi Karakteristik dalam segi intelegensi. c. Kurang dengan bilaman ia mengalami kerusakan pendengaran. karenha anak tersebut telah memiliki permasalahan dalam pendengarannya. M (1975:392-394).yang sangat membantu dalam menjelaskan hal – hal abstrak menjadi jelas dan sederhana serta lebih efisien dalam waktu. Dengan audio visual dapat dilakukan analisis pada kegiatan pembelajaran yang kemudian dapat dilakukan berbagai analisis dari kelebihan dan atau kesalahan yng dilakukan oleh mahasiswa dalam pembentukan bicara anak tunarungu. hasil praktek yang telah direkam. dan bodoh.

akan tetapi tidak mampu untuk memahami danmengikuti secra menyeluruh. dan komunikasi total. b) Emosi dan sosial Keterbatasan yang terjadi dalm berkomunikasi pada tuanrungu mengakibatkan perasaan terasing dari lingkungannya. b) Media Isyarat Media yang digunakan oleh guru dalm proses pembelajaran menggunakan isyarat – isyarat sebagai pengganti kata huruf.Isyarat yang digunakan kadang – kadang masih bersifat lokal sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan sesame tunarungu di tempat lain. 3) a) Media Komunikasi Tunarungu dalam Belajar Media komunikasi tunarungu ada tiga yaitu : oral. kata – kata yang abstrak. mudah curiga dan kurang percaya pada diri sendiri. Sebagai konsekuensi logis dalam menggunakan media oral yaitu guru harus mengajarkan bicara ada tunarungu. hal ini disebabkan adanya hubungan yang erat antara bahasa dan bicara denagn ketajaman pendengaran. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam memahami bahasa. mengingat bahasa dan bicara merupakan hasil dari proses peniruan. Media oral Media yang digunakan tunarungu dalam belajar menggunakan bicara. isyarat. sehingga menimbulkan emosi yang tidak stabil. Proses belajar mengajar yang diberikan oleh guru kepada tunarungu menggunakan media bicara sebagaimana proses pembelajaran pada anak normal dalam mengikuti pelajaran di kelas. Untuk mengatasi masalah tersebut telah disusun kamus isyarat bahasa Indonesia. c) Bahasa dan Bicara Tunarungu dalam segi bahasa dan bicara mengalami hambatan. hal ini disebabkan keterbatasan dalam berkomunikasi secara lisan. Sehingga tunarungu dalam segi bahasa yang dimiliki ciri yang khas yaitu sangat terbatas dalam kosa kata. . Tunarungu mampu melihat semua kejadian. sulit mengartikan arti kiasan. tidak menggunakan media bicara. Oleh karena itu semua tunarungu harus belajar isyarat tersebut. Dalam pergaulan cenderung memisahkan diri terutama dengan orang normal.fungsional intelegensi mereka berada di bawah anak normal.

5) Hipotesis Tindakan Berdasarkan uraian dari pengertian belajar. dapat . model pembelajaran. Dengan audio visual dapat dilakukan analisis pada proses pembelajaran yang kemudian dapat dilakukan berbagai analisis dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam kelas dan menganalisis segi kelebihan dan atau kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pembentukan direkam.c) Media komunikasi total Komunikasi total merupakan perpaduan dari kedua media yang terdahulu. tetapi menggunakan kata – kata yang singkat. prinsip – prinsip belajar dan individu sebagai peserta didik maka kegiatan pembelajaran diperlukan adanya keterpaduan diantara komponen dalam belajar. jelas dan nyata (jika memungkinkan). langkah yang pertama adalah memahami segala karakteristik tunarungu terutama dalam segi bahasa dan langkah yang kedua adalah ciri khas tunarungu adalah visual/pemata. diharapkan siswa dapat mengerti melalui isyaratnya. apalagi menggunakan kata yang abstrak. Keterpadauan ini berlaku disemua jenjang pendidikan termasuk di sekilah luar biasa. Audio visual dapat dipergunakan untuk menganalisis kegiatan praktek yang dilakukan oleh masing – masing mahasiswa. 4) Metode pengajaran yang efektif bagi tunarungu Untuk menentukan metode yang efektif bagi tunarungu. Dalam pembelajaran tidak perlu menggunakan kata – kata yang sulit untuk dipahami tunarungu. Dalam proses pembelajaran segala sesuatu yang diucapkan guru atau diisyaratkan harus berada di jangkauan mata (dapat dilihat) tuanrungu. Untuk itu tunarungu harus belajar bicara dan belajar isyarat. Penggunaan alat bantu pengajaran sangat membantu peserta didik audio visual salah satu alat bantu pembelajaran memiliki peranan yang sangat membantu dalam menjelaskan hal – hal abstrak menjadi jelas dan sederhana serta lebih efisien dalam waktu. Dengan harapan bila siswa tidak mengerti dari bentuk ucapannya. Media ini digunakan secara bersama – sama dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. jika tidak dapat dilihat oleh anak tunarungu maka pembelajaran tidak ada manfaatnya.

Di samping variable tersebut masih ada beberapa variabel yang lain yaitu : 1) input: sarana pembelajaran.diketahui mana yang perlu perbaikan jika terjadi kesalahan dalam praktek. bahan ajar. 2) proses KMB: Interaksi belajar. mereka perlu ditangani terlebuh dahulu pada komunikasi secara lisan (bicara). Rencana Penelitian a. dsb. motivasi siswa. 3)Out put : Hasil belajar siswa beruapa ucapan konsonan S pada waktu berbicara. Variabel Variabel yang menjadi sasaran dalam rangka PTK adalah peningkatan keterampilan mahasiswa dalam melakukan praktek pembentukan/perbaikan konsonan S pada anak tunarungu di SLB-B. Pembentukan bicara pada anak tunarungu merupakan pekerjaan yang tidak mudah perlu dicari inovasi – inovasi dalam pembelajaran bicara . Proses pembelanjaran selanjutnya berdasrkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih baik. c. gaya guru mengajar. Pengajaran bicara. Sebelum mereka diajarkan berbagai pengetahuan. Setting penelitian Penelitian dilakjukan di laboratorium dengan melihat tayangan CD mengenai pembelajaran konsonan S denga segala permasalahannya dan SLB B sebagai tempat praktek pembelajaran pembentukan konsonan. lingkungan belajar. karena anak tersebut telah memiliki permasalahan dalam pendengarannya. G. siswa. b. konsonan S pada anak tunarungu sangat diperlukan adanya peralatan bantu yang memadai. sehingga kesulitan yang dihadapi para pendidik dana calon pendidik dapat terpecahkan. prosedur evaluasi dsb. Berdasarkan uraian diatas maka diajukan hipotesis tindakan yaitu penggunan CD pengajaran bicara sebagai suplemen dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam praktek pengajaran bicara konsonan S pada anak tunarungu di SLB-B. guru. implementasi berbagai metode perbaikan konsonan S dsb. Rencana Tindakan .

1) Perencanaan Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa setelah memperoleh pengetahuan secara teoritik perlu di tingkatkan dengan kegiatan dilaboratorium. 2) Implementasi Tindakan Rencana yang telah disusun dicobakan sesuai dengan langkah yang telah dibuat yaitu proses perbaikan konsonan S pada anak Tunarungu. Kegiatan simulasi jika dipandang cukup maka kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penanganan pada siswa tuanarungu secara langsung di lapangan (SLB-B) dan dilakukan perekaman. Data ini . 3) Observasi dan Implementasi Observasi ini dilakaukan untuk melihat pelaksanaan apakah semua rencana yang telah dibuat dengan baik tidak ada penyimpangan – penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam perbaikan konsonan S pada anak tunarungu. termasuk sarana yang akan digunakan. Pada simulasi ini dikaji mulai dari mengetahui jenis kesulitan ynag dialami siswa pada konsonan S. khususnya untuk data langsung prosedur/proses. Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui observasi baik secra manual maupun melalui perekaman video. Observasi dilakukan oleh teman sejawat dalam satu tim dan juga dilakukan perekaman lewat video record. Kegiatan latihan ini untuk pembetulan konsonan S dengan simulasi sesame mahasiswa dengan berbagai teknik perbaikan guan memperoleh keterampilan nyata yang sesungguhnya. d. 4) Analisis dan Refleksi Hasil kegiatan pembentukan konsonan S yang telah direkam. diputar kembali untuk dianalisis untuk mengetahui kegagalan atau kesalahan yang dialami oleh praktikan dan kemudian didiskusikan dengan dosen dan sesame mahasiswa untuk mencari penyelesaiannya yang efektif pada kegiatan pembentukan bicara berikutnya pada tahap berikutnya.

Fakultas/jurusan : : : : . Disamping itu data dikumpulkan melalui tes untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengucapkan konsonan S. e. Mentyusun Laporan 2. Golongan/pangkat/NIP c.M. Aank Tunarungu/Penelitian dan Evaluasi : 15 Jam/minggu : 1. Perguruan Tinggi f. Nama Lengkap dan Gelar b. Data ini diperlukan untuk menentukan keberhasilan perencanaan perbaikan konsonan S yang telah dibuat. f. Tugas : : Drs. Indikator ini merupakan tempat dari rencana yang telah dibuat dan imlikasinya dalam rangka memperbaiki konsonan S pada anak Tunarungu. Ketua peneliti a. Terlibat dalam semua jenis kegiatan 4. Menyusun perencanaan PBM berbasis multi media 3. Waktu untuk penelitian ini h. Bidang Keahlian g. Golongan / pangkat / NIP c Jabatan Fungsional d. Indikator kinerja Sebagai tolak ukur keberhasilan bagi mahasiswa yaitu anak tunarungu dapat mengucapkan konsonan S.digunakan untuk melihat proses/prosedur pelaksanaan perbaikan konsonan S dan akan digunakan sebagai dasar penilaian pada segi perencanaan kegiatan. Budi Susetyo. Personalia Penelitian 1. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan kegiatan 2. Jabatan Fungsional d.Pd : IVa/Pembina/131 662 488 : Lektor Kepala : FIP/Pendidikan Luar Biasa : UPI : Pend. Anggota Peneliti 1 (teman sejawat) a. Nama lengkap dan gelar b. Fakultas/jurusan e.

1. Menganalisis konsep yang ada di GBPP 2. Jumlah Biaya (Rp) 1.000 2. Jadwal pelaksanaan No Jenis Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Penyusunan Proposal Analisis Pokok Bahasan dan Media Pendesainan media pembelajaran yang digunakan Pelaksanaan PBM dengan audio visual Evaluasi Hasil Belajar Siswa Evaluasi Proses Pembelajaran Analisis hasil evaluasi Seminar hasil penelitian Penyusunan Laporan h.e.000 Rp. Biaya yang diusulkan Rekapitulasi biaya No 1 2 3 4 5 Uraian Honor Pelaksana Bahan habis pakai Peralatan Perjanjian Lain – lain Jumlah Biaya Rp. 2000 Rp. Rp.000 1. Menyusun perencanaan PBM berbasis multi media 3.000 800.000 300. Rp.080.000 7.340. 480. Bidang keahlian g.000 . 1500 Jumlah Jumlah Rp. Perguruan Tinggi f.800.340.000 Bulan Ke 1 Rincian Biaya yang diusulkan 1.840. Rp. Waktu untuk penelitian ini h. Rp. Pelaksana Ketua Anggota Honor Pelaksana jumlah 1 1 Jml jam/mig 15 10 Jml mig/bl 32 32 Honor/jam Rp.000 Rp. Rp. Tugas : : : : 1. Menyusun instrument g. 960.

800. 300. 40.000 Jumlah Rp.000 Rp.000 Rp. Ketua Lokal Anggota Perjalanan Volume 1 x 32 1 x 32 Biaya Rp.2. 50.000 5. 400. 1.000 Rp. 300.000 Rp. 30. Lain –lain Uraian Foto copy Jumlah Rp.000 Rp.000 Jumlah Rp. 10. 400.000 Rp.000 4.000 Rp. 150.000 Rp. 140. 30. Perjalanan Lokal. 300.000 Rp.000 Rp.000 Jumlah Rp. 500.250. Peralatan Spesifikasi Sewa Sewa Sewa Sewa Jumlah Rp. 7000 Jumlah Jenis Peralatan Komputer dan Printer Proyektor LCD Handycam VCD Jimlah Biaya Rp.000 Rp.000 Rp.840.800. Bahan habis pakai Bahan Disket ATK Kertas HVS Tinta Printer Transfer ke CD Pita Video CD Akses Internet 3.000 Rp. 1. 50.000 Rp. 400. 300.000 Rp. 2.000 Rp. 150. 100. 750.000 Rp. 200. 300.000 Rp. 10.000 Rp. 400.000 DAFTAR PUSTAKA .000 Jumlah Rp.000 Jumlah 1 boks 2 set 5 rim 2 buah 10 buah 10 buah 20 buah Biaya Rp.

M. Fakultas 6. Pangkat/Golonagan 4. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Victoria. Engelewoods Cliffs. A. (1981).N. Auditory Training. Jakarta Kurikulum Vitae 1. M. Australia Hagen. Yogyakarta. (1985). Latihan mendengar. Perbaikan Bicara.de. (1987). Fram. dan Jong. Glendongnald School For Deaf Children. Pengalaman Penelitian • • • • • Biasa Relevensi Kurikulum SDLB-C tahun 1994 Mata Pelajaran Matematika dengan kemampuan Aanak Tunagrahita Ringan di Jabar (1998) Validasi Tes EBTANAS IPS untuk Sekolah Luar Biasa (2000) Kajian pengembangan kebijakan penanganan Diskriminasi Sosial (2001) Kesiapan Otonomi daerah dalam penyelenggaraan Pendidikan (2002) : Drs. Zikelbach E. NIP 3.pd. Jakarta Vembrianto.A. Jakarta Zamroni. M. Van. (1982). (1988). Budi Susetyo. Nama 2. Jabatan Fungsional 5. Paramita. : 131 662 488 : Penata Tingkat I/IVa : Lektor Kepala : Ilmu Pendidikan : Keefektivan bentuk Tes IPS bagi anak Tunarungu di Sekolah Dasar Luar . Vride Varecmb. (1990). Hearing Impairments inYong Children.Y. BNIKS. Vermeulen R. Practice Hall Inc.Boothroyd. Pengajaran Modul.

7. .Pd. Budi Susetyo. Bidang Keahlian : Pendidikan Anak Tunarungu (SI) Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan(S2) Bandung.M. 18 Maret Drs.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->