BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Insidensi Tuberculosis (TBC) dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada negara berkembang atau yang mempunyai tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit infeksi penyebab kematian dengan urutan atas atau angka kematian (mortalitas) tinggi, angka kejadian penyakit (morbiditas), diagnosis dan terapi yang cukup lama. Penyakit TBC dapat menyebabkan kematian terutama menyerang pada usia produktif (15-50 tahun) dan anak-anak. Dan dari satu literature disebutkan 50 % penderita TBC akan meninggal setelah 5 tahun bila tidak di obati. Di Indonesia TBC merupakan penyebab kematian utama dan angka kesakitan dengan urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India dan China dalam jumlah penderita TBC di dunia. Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Saat ini setiap menit muncul satu penderita baru TBC paru, dan setiap dua menit muncul satu penderita baru TBC paru yang menular. Bahkan setiap empat menit sekali satu orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Mengingat besarnya masalah TBC serta luasnya masalah semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Untuk memahami asuhan keperawatan anak dengan Tuberkulosis Paru. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui definisi dari Tuberkulosis paru 2. Mengetahui penyebab terjadinya Tuberkulosis paru 3. Mengetahui tanda dan gejala terjadinya Tuberkulosis paru

1

4. Mengetahui komplikasi yang dapat timbul saat mengalami Tuberkulosis paru 5. Mengetahui tindakan yang dilakukan dalam menangani pasien yang mengalami Tuberkulosis paru

1.3 Manfaat 1. Bagi penulis adalah agar dapat memperoleh pengetahuan yang lebih mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan system pernafasan khususnya TB paru. 2. Bagi mahasiswa agar pengetahuan dapat dikembangkan ketika

mempelajari Keperawatan Anak.

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian 1) Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman

Mycobakterium tuberkculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000). 2) Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001). 3) Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru (Smeltzer, 2001). 4) Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah suatu penyaki yang disebabkan oleh infeksi kompleks Mycobacterium tuberculosis (id.wikipedia.org). Berdasarkan beberapa definisi mengenai tuberkulosis diatas, maka dapat dirumuskan bahwa tuberculosis (TB) paru adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim paru, bersifat sistemis sehingga dapat mengenai organ tubuh lain, terutama meningen, tulang, dan nodus limfe.

2.2 Etiologi Agens infeksius utama, mycobakterium tuberkulosis adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultra violet, dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Yang tergolong kuman mycobakterium tuberkulosis kompleks adalah:
   

Mycobakterium tuberculosis Varian asian Varian african I Varian asfrican II

3

 For advanced tuberculosis. Tuberkulosis non aktif . tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru. yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun kedua paru. Pembagian secara aktifitas radiologis :    Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif. Tuberkulosis Paru BTA negative c. 4 . b.  Moderateli advanced tuberculosis. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru. Mycobakterium bovis Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan mycobakterial othetan Tb (mott. Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ). yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis. Berdasarkan pemeriksaan dahak. d. Pembagian secara patologis :   Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ). TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :   Tuberkulosis Paru BTA positif. jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).3 Klasifikasi a. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )  Tuberculosis minimal. adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. atipyeal) adalah :       Mycobacterium cansasli Mycobacterium avium Mycobacterium intra celulase Mycobacterium scrofulaceum Mycobacterium malma cerse Mycobacterium xenopi 2. yaitu.

Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Society memberikan klasifikasi baru:  Karegori O.  Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.   Kategori II. f. yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit. Sel efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit ( biasanya sel T ) adalah imunoresponsifnya. disini riwayat kontak positif. ventilasi yang buruk dan kelembaban.e. tes tuberculin negatif.  Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.  Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :  Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat.4 Patofisiologi Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. 2. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam. yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan.  Kategori I. tes tuberkulin negatif. yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi. yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit. Tipe imunitas seperti ini basanya lokal. Kategori III. riwayat kontak tidak pernah. tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet. 5 . Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5 mikromilimeter. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru.

Gumpalan basil yang besar cendrung tertahan dihidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit ( Dannenberg 1981 ). Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Sesudah hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . Setelah berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah. Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya. 6 . Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut nekrosis kaseosa. sehingga tidak ada sisa atau proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang biak didalam sel.Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. telinga tengah atau usus.melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limposit dan limfokinnya. basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limposit. Raspon ini desebut sebagai reaksi hipersensitifitas (lambat). Proses ini dapat terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring. Lesi primer paru dinamakn fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon yang berbeda. Respon lain yang dapat terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah tersebut dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.

Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingge menjadi peradangan aktif. Penyebaran hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. 7 .Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas. Jenis penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain.Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil. Bila peradangan mereda lumen brokus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapt dekat dengan perbatasan bronkus rongga.

2.5 Pathway Mycobacterium tuberculosis Masuk traktus respiratorius Tinggal di alveoli MK : Resiko tinggi infeksi Pertahanan primer tidak adekuat reaksi inflamasi Rrespon imun Gangguan termoregulasi Kerusakan membran alveolar kapiler Gangguan respirasi Pembentukan sputum dan sekret MK : Hipertermi Penumpukan secret Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen Sesak nafas MK : Bersihan jalan nafas tidak efektif Sianosis MK : Intoleransi aktivitas Hipoksia MK : Gangguan pertukaran gas 8 .

bradikinin dan prostaglandidn Respon tubuh menurun Batuk refleks muntah MK : Nyeri Obstruksi Anoreksia MK : Gangguan keseimbangan nutrisi 9 .Pelepasan mediator kimia seperti histamin.

7 Komplikasi Menurut Depkes RI (2002). pada muara ini akan keluar cairan nanah. suara nafas melemah yang disertai sesak.  Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak). Gejala sistemik/umum. Gejala khusus.  Bila mengenai tulang. adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).  Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru). sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik. Perasaan tidak enak (malaise). Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. antara lain sebagai berikut:  Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena.    Penurunan nafsu makan dan berat badan. antara lain sebagai berikut:  Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama. biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu : 10 . maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya.6 Manifestasi Klinis Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru. b. a.2. akan menimbulkan suara “mengi”. gejalanya adalah demam tinggi. 2. lemah. dapat disertai dengan keluhan sakit dada. bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar.

dan ginjal. ex . 7) Biopsi jarum pada jarinagn paru . Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas. simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan. karena retensi air tidak normal. adanya sel raksasa menunjukan nekrosis. potongan vollmer) . tulang. positif untuk granula TB . biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis. 3) Test kulit : (PPD. reaksi positif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal.  Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak.  Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.  Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru. 5) Foto thorax . Mantoux.Hyponaremia. dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas. 6) Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster . Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa. 2. persendian. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda. dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi . 4) Elisa / Western Blot : dapat menyatakan adanya HIV. didapat pada TB paru luas. 8) Elektrolit. urien dan cairan serebrospinal. 2) Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat. 11 .8 Pemeriksaan penunjang 1) Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.

kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas). 12 . 2. selama 13 – 18 bulan. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan. 2. dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan. Isoniazid 400 mg. Therapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja. Ethambutol. Jangka pendek.     Streptomisin inj 750 mg. tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu. Ethambutol 1000 mg. peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :    Rifampicin. Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang. Rifampicin. peningkatan ruang mati. obat yang diberikan dengan jenis :    INH. tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi.GDA dapat tidak normal tergantung lokasi. Ethambutol Dengan fase selama 2 x seminggu. berat dan kerusakan sisa pada paru. 9) Pemeriksaan fungsi pada paru .9 Penatalaksanaan Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian : 1. Isoniazid (INH). penurunan kapasitas vital. Pas 10 mg.

minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. 5. Pyridoxin (B6). Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah. 6. Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita. 13 . Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.10 Pencegahan 1. 3. 4. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut. Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah / mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran. Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan. 2. Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak. 2. Imunisasi BCG pada anak balita.

perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural).). Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut: a. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). mual. Respirasi   Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. takipnea/dispnea saat kerja. kulit kering/bersisik. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan 14 . b. Respirasi   Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. demam. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. sesak napas. kasar di daerah apeks paru. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. Pola nutrisi   Subjektif : Anoreksia. irritable. kehilangan lemak sub kutan. penurunan berat badan. terdengar bunyi ronkhi basah. mukoid kuning atau bercak darah. Pola aktivitas dan istirahat   Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. mukoid kuning atau bercak darah. Objektif : Turgor kulit jelek. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). lanjut.BAB 3 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 3. sakit dada. pembengkakan kelenjar limfe. sesak (nafas pendek). aktivitas berat timbul. kasar di daerah apeks paru. terdengar bunyi ronkhi basah. tidak enak diperut. menggigil. pembengkakan kelenjar limfe.1 Pengkajian Data dasar pengkajian pasien ( Doengoes. sesak (tahap. c. sakit dada. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. d. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. infiltrasi radang sampai setengah paru). Objektif : Takikardia.

2. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. mudah tersinggung. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan reaksi inflamasi. 4. sesak napas. masalah keuangan. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut. Gangguan keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. prilaku distraksi. g. ansietas. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). contoh AIDS.pleural). Integritas ego   Subjektif : Faktor stress lama. Rasa nyaman/nyeri   Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. e. 3. perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran. 3. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. Keamanan    Subyektif: adanya kondisi penekanan imun. 15 . 5. ketakutan. kanker. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). h. Interaksi Sosial Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular. gelisah.2 Diagnosa Keperawatan 1. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar.). f.

pernapasan meningkat. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. adanya hemoptisis. pengobatan sesuai kondisi. kecepatan.3 Planning Diagnosa Keperawatan Bersihan jalan Setelah diberikan Mandiri : napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. irama. Meningkatkan ekspansi paru. Penurunan indikasi indikasi bunyi atelektasis. dengan criteria hasil:  Tujuan Intervensi Rasional Mandiri : 1. suction bila perlu. Kaji ulang fungsi pernapasan: bunyi napas. tanpa bronchial yang memerlukan evaluasi /intervensi lanjut  Menunjukkan prilaku untuk 3. catat karakter.6. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan 16 .  jalan peningkatan gerakan agar mudah dikeluarkan. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. 2. 7. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka  Mengeluarkan sekret bantuan. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan sekret memperbaiki bersihan napas. akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan sehingga digunakan jalan napas aksesori kerja otot dan Mempertahank an jalan napas pasien. kedalaman dan penggunaan otot aksesori. Berpartisipasi dalam program 4. jumlah sputum. napas ronki 1. dan trakea. Berikan pasien posisi semi 3. Pengeluaran sulit bila sekret tebal. Mencegah obstruksi/aspirasi. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. atau Fowler. 3. Bersihkan sekret dari mulut 4. tindakan keperawatan kebersihan jalan napas efektif.

Gangguan Setelah diberikan Mandiri : 1. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan Menunjukkan perbaikan ventilasi oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam dan gejala-gejala respirasi distress. 3.  takipnea. kortikosteroid sesuai indikasi.  keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. Mandiri : pertukaran gas tindakan berhubungan dengan kerusakan membran alveolar keperawatan pertukaran efektif. 3. 2. Pertahankan intake cairan melakukan tindakan tepat. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. Kolaborasi: 1. bronkodilator. lingkaran kekentalan ukuran pengeringan lumen trakeabronkial. Akumulasi kesadaran. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. Kolaborasi : 1. 1. 5. Menurunkan sekret. Mengidentifika si potensial sekret. tandadan kulit. jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari yang inflamasi. Tuberkulosis pernapasan rnenyebabkan paru dapat meluasnya Peningkatan respirasi. Mencegah membran mukosa. Kaji bunyi gas dengan abnormal. kriteria hasil: Melaporkan tidak dispnea. bronkopneumonia meluas menjadi terjadi nekrosis. upaya dispnea. sehingga dikeluarkan. Evaluasi perubahan-tingkat 2. 6. Membantu secret mengencerkan mudah komplikasi dan 5. 6. minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. Berikan obat: agen mukolitik. secret dapat di catat sianosis warna mukosa. rentang normal. tanda perubahan membran warna kuku. Demonstrasikan/anjurkan  Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah Bebas dari untuk mengeluarkan napas 17 . dan menggangp oksigenasi organ vital dan jaringan.

Monitor GDA. menelan. adekuat atau perubahan terapi.gejala distress dengan terutama dengan bibir pada disiutkan. Kaji ulang pola diet pasien 2. intake 18 . uhan adekuat. oksigen Kolaborasi : sesuai 1.  masalah dan intervensi yang tepat. Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. riwayat mual/rnuntah atau diare. nutrisi dengan kriteria hasil: Menunjukkan berat usus. intervensi yang spesifik. Membantu yang disukai/tidak disukai. Berguna turgor kulit. 4. diet badan 2. Berikan indikasi. 5. timbang berat badan. 5. fibrosis kerusakan parenkim. 4. Membantu hipoksemia sekunder penurunan alveolar paru. Mengurangi konsumsi oksigen batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. pernapasan. Anjurkan untuk bedrest. kemampuan adanya bising mendefinisikan dari kebutuhan diharapkan kebut tubuh berhubungan dengan anoreksia. pada periode respirasi. pasien atau kolapsnya jalan napas. Kolaborasi: 1. Gangguan Setelah diberikan Mandiri : Mandiri : dalam derajat mengoreksi yang terjadi dan hipoventilasi permukaan keseimbangan tindakan nutrisi kurang keperawatan 1. kebutuhan meningkat mencapai tujuan dengan meningkatkan pasien. integritas mukosa mulut. Catat status nutrisi paasien: 1.

Gangguan rasa Setelah diberikan Mandiri : Mandiri : serum. 19 . Memberikan bantuan dalarn menentukan diet. 5. Catat tanda mual. Nilai (BUN. dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. komposisi perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. pemeriksaan 2. Buang Air meningkatkan intake nutrisi. Lakukan perawatan mulut 6. Anjurkan makan sedikit 7. Awasi frekuensi. 2. Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. Melakukan perubahan pola untuk hidup dengan medikasi. dan tetapkan jika ada hubungannya malnutrisi. dan rendah dan menunjukkan perubahan malnutrisi program terapi. adanya dan cairan. volume. Dapat menentukan jenis diet dan pemecahan mengidentifikasi masalah untuk dan 4. Rujuk ke ahli gizi untuk 1.nilai laboratoriurn normal bebas  3. Monitor intake dan output 3. muntah. 7. 4. berat 6. Mengukur keefektifan nutrisi secara periodik. Kolaborasi: Kolaborasi : 1. dan mempertahan kan badan tepat. Awasi laboratorium. konsistensi Besar (BAB). Anjurkan bedrest. Mengurangi rasa tidak enak yang sebelum dan sesudah dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. tindakan pernapasan. Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. protein albumin). meningkatkan 5. anoreksia.

dengan KH:  2. Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan mukosa. Nyeri merupakan respon nyeri. ketidaknyamanan umum. Obat ini dapat digunakan pemberian analgesik sesuai indikasi untuk menekan batuk non produktif. Observasi karakteristik 1. Selidiki perubahan subjekstif yang dapat diukur. Menyatakan nyeri berkurang atauter kontrol  Pasien tampak rileks 3. Alat dalam dada teknik selama menekan episode untuk mengontrol dada ketidaknyamanan sementara meningkatkan batukikasi. reaksi nyeridapat berkurang atau karakter nyeri. musik tenang.nyaman : nyeri tindakan berhubungan dengan inflamasi keperawatan rasa 1. diberikan non dengan analgesik sentuhan perubahan posisi. Berikan tindakan nyaman 3. konstan . Tindakan mis. Perubahan frekuensi jantung TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. ditusuk. efek dan terapi 4. relaksasi/latihan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan memperbesar analgesik. Tawarkan pembersihan 4. Kolaborasi keefektifan upaya batuk. membran potensial mulut dengan sering. kenyamanan meningkatkan 20 . Pantau TTV 2. nafas. khususnya bila alasan untuk perubahan tanda vital telah terlihat. Kolaborasi : dalam 1. pijatan punggung. 5. Anjurkan dan bantu pasien 5. mis tajam. Kolaborasi : 1. /lokasi/intensitas terkontrol.

Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui cairan dan menggunakan yang tipis menyerap keringat. 4. Anjurkan pasien untuk 4. Mandiri : 1. Observasi intake dan 5. 3. memudahkan reaksi keperawatan diharapkan tubuh normal KH :  suhu 2. panas panas Air dengan secara hangat kembali 2. Kaji suhu tubuh pasien. Berikan/anjurkan pasien 3. penting bagi pasien dengan 21 . intervensib. untuk banyak minum 15002000 cc/hari (sesuai toleransi). Kolaborasi : Kolaborasi : cairan sangat 1. 5. output. Pemberian cairan intravena 1. Memberikan rasa nyaman dan pakaian dan mudah pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. tanda vital (suhu. tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Beri kompres air hangat. nadi. Setelah diberikan Mandiri : tindakan 1. Mengetahui peningkatan suhu tubuh. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. indikasi. dengan Suhu tubuh mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa 36°C-37°C menyebabkan hipotermi atau menggigil.Hipertermi berhubungan dengan inflamasi. Pemberian dan nutrisi lewat infus. Mengurangi pemindahan konduksi. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Setelah diberikan Mandiri : tindakan keperawatan pasien diharapkan 1. kelemahan kebutuhan memudahkan intervensi. antara melakukan dan aktivitas batas ditoleransi dengan hasil:  peningkatan atau kelelahan. Pasien untuk mungkin nyaman dengan kepala tinggi. Risiko tinggi Setelah diberikan Mandiri : vital rentan 5. menghemat energy untuk penyembuhan. Jelaskan istirahat meningkatkan istirahat. Tirah baring dipertahankan dalam rencana perlunya selama fase akut untuk Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas dapat yang diukur pengobatandan menurunkan kebutuhan keseimbangan aktivitas dan istirahat. Meminimalkan kelelahan dan diri yang diperlukan. dengan adanya dispnea. kelemahan berlebihan. kemajuan aktivitas membantu keseimbanagnsuplai kebutuhan oksigen. Evaluasi terhadap Catat laporan respon Mandiri : pasien 1. Bantu aktivitas perawatan 5. dalam 2. Bantu posisi istirahat. pasien nyaman memilih 4. pasien pemilihan ketidakseimban mampu gan suplai kebutuhan oksigen. Berikan lingkungan tenang 2. metabolic. 4. dispnea. selama fase akut sesuai kriteria indikasi. pentingnya 3. Obat khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien. Mandiri : 22 . dan Berikan peningkatan selama fase penyembuhan. Menurunkan yang dan batasi pengunjung rangsanagn stress dan berlebihan.suhu tubuh yang tinggi. dan tanda dalam normal. Menetapkan kemampuan atau aktivitas.

 yang infeksi beresiko seperti teman. Identifikasi urunkan resiko penyebaran infeksi. Kebiasaan ini untuk mencegah mulut dahak dan di membuang tempat yang terjadinya penularan infeksi. Mengurangi risilio penyebaran infeksi. 5. menyanyi. 5. meningkatkan lingkungan yang.. Monitor temperatur. Orang-orang yang beresiko terkena anggota orang perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. dalam satu perkumpulan. Review patologi penyakit 1. operasi bypass intestinal. Membantu pasien agar mau fase aktif/tidak aktif. sistem limfe dan kriteria hasil: Mengidentifika si untuk intervensi infeksi bersin. 6. terjadinya infeksi. 4. 23 . Febris merupakan indikasi melakukan tindakan. mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan mencegah komplikasi. malnutrisi. Tuberkulosis paru. tertawa. Pengetahuan tentang faktorberisiko terinfeksi tinggi untuk ulang faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. Menunjukkan/ melakukan perubahan pola hidup untuk 3. tidak aktivitas infeksi.  sekitarnya atau aliran darah atau resiko batuk. aman. keluarga. Identifikasi individu yang 6.infeksi berhubungan dengan pertahanan primer adekuat. Anjurkan pasien menutup 3. orang-orang 2. atau ciuman mencegah/men 2. Gunakan masker setiap 4. penampungan tertutup jika batuk. tindakan keperawatan tidak terjadi penyebaran/ ulang dengan 1. seperti: alkoholisme. melalui meludah.

resiko. Tekankan untuk tidak 7. INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obatobat jangka lainnya. sikloserin. Kolaborasi: 1. penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. dengan kriteria evaluasi:  Mempertahankan jalan napas pasien. 3. permulaan kemoterapi sudah terjadi kavitas. Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.menggunakan penekan kortikosteroid. kanker. pendek Pengobatan INH dan etambutol. obat imun/ adanya diabetes melitus. 2. 3. Pemberian terapi Kolaborasi : INH. Rifampisin. Pemberian Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide. Dx 1:Kebersihan jalan napas efektif. 7. Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. streptomisin. amino salisik para(PAS). 1. 24 . Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah jika menghentikan terapi yang dijalani. Monitor sputum BTA. Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi 3.4 Evaluasi 1. terapi 2.

3. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. 7. kelemahan berlebihan. aman. 25 .  Bebas dari gejala distress pernapasan.    Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. dengan kriteria evaluasi:   Melaporkan tidak terjadi dispnea. 2. Dx 4: Nyeri dapat berkurang atau terkontrol. DX 7 :Tidak terjadi penyebaran/ aktivitas ulang infeksi. dengan kriteria evaluasi:   Menyatakan nyeri berkurang atauterkontrol Pasien tampak rileks 5. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.  Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. dan tanda vital dalam rentan normal. dengan kriteria evaluasi:  Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. DX 5 : Suhu tubuh kembali normal dengan kriteria evaluasi :  Suhu tubuh 36°C-37°C. Dx 2: Pertukaran gas efektif. dengan kriteria evaluasi:  Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. 4. Dx 3: Kebutuhan nutrisi adekuat. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. DX 6 : Pasien mampu melakukan aktivitas dalam batas yang ditoleransi dengan kriteria evaluasi :  Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea. 6.

Identifikasi Klien Identifikasi klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Tanggal MRS Tanggal pengkajian Diagnosa medis ii.p : 45 tahun : Islam : Banjar : SMA : Wiraswasta : Batu benawa simpang : Ny.EP : 7 tahun : Laki-laki : Batu benawa simpang empat : 20-09-2012 : 21-09-2012 : Tuberculosis Paru 26 . i.1 PENGKAJIAN I.BAB 4 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN An.EP DENGAN TUBERCULOSIS PARU DI RUANG ANAK RSUSD TANAH BUMBU 4. Identitas Orang Tua Nama Ayah Usia Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat Nama Ibu Usia Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. S : 35 : Islam : Bugis : SMP : Ibu rumah tangga : Batu benawa simpang empat : An.

sesak dan : Ibu klien mengatakan anaknya III. Polio : 3 kali : 4 kali e. 3. Batuk pasien akan bertambah parah pada malam hari. Karena khawatir dengan keadaan anaknya. Imunisasi Klien telah mendapat imunisasi yang tidak lengkap a. Kecelakaan termasuk kecelakaan lahir/persalinan. Riwayat Penyakit Sekarang : Ibu klien mengtakan anaknya batuk selama 1 minggu. 2. Penyakit kronis/akut:Klien sering menderita batuk-batuk sejak usia 6 tahun kemudian di beri obat dan sembuh. BCG : - b. Terakhir kali MRS : Tidak ada 2. Penyakit yang di derita kelurga : Ibu mengungkapakan bahwa sepupu klien menderita TBC sudah 2 bulan dan sudah mulai di obati. Keluhan Saat MRS batuk terus menerus. Campak : 1 kali c. Status Kesehatan Saat Ini 1. ibu pasien membawa pasien ke RSUD Tanah Bumbu.II. Batuk terjadi secara terus menerus disertai sekret. Riwayat Penyakit Dahulu 1. Hepatitis : 3 kali IV. bila pernah (jenis dan waktu) : Tidak ada b. sehingga anaknya kelelahan. 27 . Penyakit yang pernah dialami : a. : Klien mengalami. d. Keluhan Saat Pengkajian anoreksia. DPT d. batuk. Operasi (jenis dan waktu) : Tidak ada c. Riwayat Kesehatan Keluarga a.

menggigil. VII. kasar di daerah apeks paru. aktivitas berat timbul. pengembangan pernapasan tidak simetris 28 . pembengkakan kelenjar limfe. kehilangan lemak sub kutan. Respirasi   Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. takipnea/dispnea saat kerja. mukoid kuning atau bercak darah. irritable. menurut ibu klien selama hamil ibu sering periksa ke dokter maupun bidan praktek. penurunan berat badan. Sesak (nafas pendek). sesak napas. Presepsi kelurga terhadap penyakit : Kelurga klien sangat khawatir dengan kondisi yang di derita anaknya. Rumah klien tepat didalam gang kecil. mual. lanjut. terdengar bunyi ronkhi basah. Objektif : Turgor kulit jelek. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Klien lahir dengan berat badan dan lahir 3000 gram. d. tidak enak diperut. V. VI. lahir langsung dan menangis. Prilaku yang mempengaruhi kesehatan : ibu klien mengatakan anaknya hanya mau makan telur dan ayam tapi tidak mau makan sayur. kulit kering/bersisik. Objektif : Takikardia. sakit dada. c. demam. sesak (tahap. VIII. Lingkungan rumah dan komunitas : Ibu klien mengatakan bahwa klien dan kelurganya tinggal yang tidak padat penduduknya.b. Pola Akitivitas dan Istrahat   Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. Pola Nutri-Metabolik   Subjektif : Anoreksia. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. infiltrasi radang sampai setengah paru). takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). Klien juga di beri ASI selam 1 tahun dan din berikan susu formula samapai sekarang. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent.

XI. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). GCS c. Kesadaran b. BB SMRS d. Keamanan   XII. X. TB 2. Tanda-tanda vital a. Subyektif: adanya kondisi penekanan imun. IX. ansietas.(effusi pleura. Integritas ego   Subjektif : Faktor stress lama. a. TD :110/70 mmHg b. KeadaanUmum Anak duduk di meja pemeriksaan kesadaran compomentis. BB MRS e. Rasa nyaman dan nyeri   Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.). anak tampak batuk-batuk dan tampak sesak. Pemeriksaan fisisk 1. kanker. mudah tersinggung. contoh AIDS. HR : 85 x/menit : Compos mentis : 4-5-6 : 30 Kg : 29 Kg : 110 cm 29 . prilaku distraksi. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. masalah keuangan. Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut. Interaksi sosial Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular. gelisah. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. ketakutan. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). XIII.

simetris. akomodasi normal ki/ka. kemerahan (-). Mata  Inspeksi : Posisi simetris. krepitasi (-). diaphoresis (-). proporsional. daerah orbita normal. inflamasi (-). perdarahan (-).  6. Hidung  Inspeksi :ukuran proporsional. edema (-). bulu hidung normal. ikterik -/-. konjungtiva anemis -/-. Bibir. turgor > 2 detik. bentuk kepala sesuai. lesi (-). iris simetris.c. Palpasi :tidak ada benjolan. nyeri (-). lesi (-). tekstur kuku halus. rambut lurus. 8. alis sejajar. nyeritekan (-). mulut dan faring 30 . Palpasi :tekstur lembut. nyeri tekan tidak ada. tersebar merata dan terpotong pendek. Integumen   Inspeksi :Kulit sianosis. nyeri tekan (-). reflex pupil (+). 5.  Palpasi :nyeri tekan (-). otorea (-). capillary refill time > 2 detik. pembengkakan (-). tidakkotor. rhinorea (-). pernapasan cuping hidung (-). RR : 37 x/menit d. battle sign (-). bulu mata normal. Palpasi :Akral kering. tidak ada krepitasi dan deformitas.8°C 3. Telinga   7. serumen (-). tekstur kasar. warna hitam. Kepala   Inspeksi :Posisi kepala tegak. secret (+). proporsional. kuku sianosis. kulit kepala lembab. Inspeksi :posisi sejajar. kelopak mata normal. 4. Palpasi : edema (-). perdarahan -/-. Suhu tubuh : 37.

faring kemerahan. kontraksi (). pembesaran tiroid (-). penegangan abdomen (-). mukosa bibir kering. pembesaran jantung (-). bentuk mamae simetris. pekak. pembesaran limfe (-). 31 . gigi utuh bersih. pembesaran tiroid (-). rasio inspirasi ekspirasi 1:2. Ronki (+) + + - b. Abdomen  Inspeksi :Bentuk rata. emfisema sub kutis (-).Vokal fremitus lemah ki/ka. deviasi trakea (-).  Auskultasi : Bunyi ronki kasar pada apek paru ki/ka. Thoraks  Inspeksi :bentuk normal. retraksi otot bantu pernafasan berat.  Perkusi :Pekak. ictus cordis teraba di midclavikula sinistra 4-5 ICS. caput medusa (-). nyeri tekan (-). lidah bersih. pendarahan gusi (-). Leher  Inspeksi : M. 10. ukuran sama. pembesaran limfe (-). pembesaran vena jugularis (-). putting menonjol.  Palpasi :posisi trakea pada garis tengah. simetris. krepitasi (-). batas kanan ICS 2 SL kanan dan ICS 5 MCL kanan. eritema (-). pembengkakan (-). ekspansi dinding dada tidak simetris. 9. kulit halus. lesi (-). Inspeksi :warna sianosis. massa (-). RR 37 x/menit. fremitus lemah dekstra sinistra. tidak bau mulut. lesi (-). Sternokleidomastoideus simetris. nyeri tekan (-). 11.  Palpasi :massa (-). a. kulit pruritus. batas jantung kiri ICS 2 SL kiri dan 4 SL kiri. deformitas (-).

eritema (). VU tidak teraba. Inguinal-Genitalia-Anus Nadi femoralis teraba. 15. Palpasi :kekuatan tendon (+). urine kuning bening. deformitas (-). ReflekS Biceps :+. kekuatan otot 5/5. nyeritekan (-) padasemuaregio. 12. 5 5 5 5 14. tidak ada hernia. lien tidak teraba. Pergerakan normal. 13. feses tidak teraba. warna feses kuning lembek. -   Perkusi : Timpani. patella : +babinski : + 32 . Ekstremitas    Inspeksi :garis anatomi lurus. krepitasi (-). tidak ada hemoroid. Palpasi : Massa (-). Auskultasi : Bising usus 3 x/menit. hepar tidak teraba. kaku kuduk (-). pembengkakan pembuluh limfe tidak ada. tricep : +. persendian normal. Persyarafan Pasien dalam keadaan compos mentis. nyeri tekan (-).

Minggu.5-6.5-5. Analisa Data Nama klien : An. Labotorium No.0 g/dl 5000-10000/mm3 130 mEq/L 4.XIV.7 juta/mm3 13 g/dl 12000/mm3 3.0 juta/mm3 13. Prosedur Diagnostik dan Pengobatan 1. Tanggal : 7 tahun : Anak Analisa Data Problem Ketidak efektifan bersihan jalan nafas.5-18. Hari/Tgl Jenis Pemriksaan 1. Etiologi Respon imun menurun ↓ Pembentukan sputum dan sekret ↓ 21-09-2012 Data Subjektif : Ibu klien mengatakan anaknya batuk terusmenerus selam 1 minggu Data Objektif : TTV : 33 .0 g/dl 7 mg/dl 60 mEq/L XV. EP Umur Ruang No.0 g/dl 10-30 mg/dl 20-30 mEq/L 3. 1. Pemeriksaan Katrgori normal Hasil pemeriksaan 21-09-12 darah : Albumin BUN Karbon dioksida Natrium Eritrosit Hb Leukosit Tes Kulit : Mantoux Negatif Positif 135-145 mEq/L 4.

Data Subjektif : _ Data Objektif : .RR : 37 x/menit .Sesak (+) .TD 110/70 mmHg .8 0C Keadaan umum : . sekret (+).Karbon dioksida darah : 60 mEq/L 3.Suhu 37..RR 37x/memit .Turgor kulit > 2 Gangguan keseimban gan nutrisi kurang dari kebutuhan Repon tubuh menurun ↓ Batuk refleks muntah ↓ 34 .Membran mukosa dan kuku sianosis .Batuk (+). Data Subjektif : Ibu klien mengtakan anaknya tidak mau makan Data Objektif : .HR 85x/menit .Takipnea (+) .Fremitus lemah ki/ka .Ronki (+) + + Gangguan pertukaran gas Penumpukan secret Sesak napas ↓ Sianosis ↓ Hipoksia . 2.

2 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Klien Umur Ruang Hari dan Tanggal Jum’at 21-09-2012 Jum’at 21-09-2012 Jum’at 21-09-2012 : An.Albumin : 3 g/dl tubuh Anoreksia 4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan 1. 2.Mukosa bibir kering .Anoreksia (+) Hasil Lab : . kerusakan membran alveolar. 35 .Bising usus 3 x/menit . EP : 7 Tahun : Anak No.BUN : 7 mg/dl .detik . Diagnosa Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. Gangguan keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia 3.BB menurun .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful