P. 1
Daftar Simak Monitoring 2009

Daftar Simak Monitoring 2009

|Views: 70|Likes:
Published by Ahmad Abdul Haq

More info:

Published by: Ahmad Abdul Haq on Feb 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

DAFTAR SIMAK MONITORING PROSES PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

Penyusun: Budihardjo Hardjowijono Hayie Muhammad Editor: Kiki Bambang Kisworo Desain Cover: Iriawan Cahyadi Layout: Ohan Suhrowandi Diterbitkan oleh: Indonesia Procurement Watch Jl. Tebet Raya No. 3A, Jakarta Selatan Telp./Fax: (021) 829 6452 Didukung oleh: USAID-LGSP

PENDAHULUAN Tidak mungkin orang tidak merasakan madu atau racun yang ada di ujung lidahnya, dan sama halnya tidak mungkin orang yang mengurus uang kerajaan tidak mencicipi, walau seujung kuku, kekayaan Raja. (Kautilya, Perdana Menteri sebuah kerajaan di India Utara) Pernyataan yang diungkapkan oleh Kautilya, seorang Perdana Menteri sebuah kerajaan di India Utara 2000 tahun silam, mengisyaratkan kepada kita bahwa korupsi telah terjadi ribuan tahun lalu. Bahkan seorang arkeolog Belanda menemukan di Rakka, Syiria, sekitar 150 prasasti Cuneiform yang menunjukkan pusat administrasi peradaban Assyria pada abad ke–13 SM. Di salah satu prasasti tersebut ditemukan catatan/arsip, yang diduga milik lembaga yang setara dengan lembaga modern ”Kementerian Dalam Negeri” yang berisi nama-nama pegawai yang menerima suap, termasuk nama-nama pejabat-pejabat tinggi dan nama seorang putri Assyiria. Pernyataan di atas mengisaratkan kepada kita bahwa perilaku korupsi telah berlangsung ribuan tahun silam, dan korupsi merupakan perbuatan yang dibenci dan dikutuk oleh banyak orang tanpa memandang bangsa, ras, dan kepercayaan. Bahkan, seorang Niccolo Machciavelli, menyamakan para pemegang tampuk kekuasaan dan jabatan publik yang selalu menyalahgunaan kekuasaannya untuk melakukan tindak korupsi sebagai orang-orang kriminal yang suka merampok dan melakukan kejahatan-kejahatan, yang merusak tatanan kenegaraan. Korupsi adalah salah satu dari sekian banyak masalah besar yang sedang kita hadapi sekarang ini. Tidak ada cara mudah dan jalan pintas untuk memberantas korupsi. Korupsi, sampai tingkat tertentu akan selalu hadir di tengah-tengah kita. Korupsi saat ini telah mewabah dan sistemik menjangkau segala jenjang pemerintahan. Korupsi bukan hanya soal pejabat publik yang menyalahgunakan jabatannya, tetapi juga soal orang, setiap orang, yang menyalahgunakan kedudukannya bila dengan

ii

Daftar Simak Monitoring

demikian dapat memperoleh uang yang melimpah dengan cara mudah dalam waktu singkat. Korupsi telah merisaukan kita. Tetapi ada yang lebih merisau-kan kita; dampak korupsi pada kemiskinan. Pemerintahan yang korup tidak akan pernah keluar dari kemiskinan dan mencapai kesejahteraan. Korupsi merusak bangunan dan sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Korupsi menciptakan pemerintahan yang irasional. Segala keputusan dibelokkan untuk kepentingan pribadi, dengan akibat masyarakat tidak mendapatkan apa-apa dari aliran dana pembangunan, dan mereka tidak ada harapan akan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Rakyat terjebak adalam lingkaran setan dengan menerima hasil pembangunan bermutu rendah dan hak-hak yang terabaikan. Pada tingkat ini, gerakan memberantas korupsi dapat menjadi suatu kewajiban “jihad” bagi seluruh elemen bangsa. Korupsi itu memiliki daya rusak yang sangat luar biasa. Alasannya sederhana saja, yakni, karena keputusan-keputusan penting yang diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kepentingan pribadi, golongan dan kelompoknya, tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya bagi publik. Jika tidak dapat dikendalikan, korupsi dapat mengancam lembagalembaga demokrasi dan ekonomi pasar. Dalam lingkungan yang korup, sumber daya akan disalurkan ke bidang-bidang tidak produktif, karena kelompok elite akan selalu berusaha melindungi diri mereka, kedudukan dan harta kekayaan mereka. Undang-undang akan dibuat misalnya Undangundang Kebebasan Memperoleh Informasi (KMIP) dilawan dengan undang-undang kerahasiaan negara. Tujuan perlawanan ini jelas, yakni, untuk mengamankan kepentingan dan aset mereka. Ini pada gilirannya dapat memperlemah lembaga-lembaga demokrasi karena korupsi menjadi sumber utama untuk memperoleh keuntungan pribadi. Pada gilirannya akan menggoyahkan landasan keabsahan pemerintah dan akhirnya akan menggoyahkan keabsahan negara.

Daftar Simak Monitoring

iii

KORUPSI PENGADAAN BARANG DAN JASA Salah satu lahan korupsi yang paling subur dan sistemik adalah di bidang Pengadaan Barang dan Jasa. Lebih dari 30 persen Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dipergunakan untuk pengadaan barang dan jasa. Angka tersebut belum termasuk dana yang dikelola oleh lembaga negara lainnya seperti BUMN, kontraktor kemitraan, dan belum mencakup seluruh anggaran pemerintah daerah. Korupsi memperbesar pengeluaran untuk barang dan jasa, menurunkan standar, karena barang yang diserahkan adalah barang dengan mutu di bawah standar dan teknologi yang tidak cocok atau tidak perlu; dan menyebabkan proyek-proyek dipilih berdasarkan modal (karena lebih menguntungkan bagi pelaku korupsi), bukan berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja, yang bermanfaat bagi pembangunan. Country Procurement Assesment Report (CPAR, Bank Dunia), menyebutkan bahwa 10–50 persen Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (PBJP) di Indonesia mengalami kebocoran – baca korupsi. Bank Dunia juga mengatakan “... bahwa korupsi paling merajalela terjadi dalam pengadaan barang dan jasa publik..” Jika apa yang disinyalir oleh Bank Dunia tersebut benar adanya maka tidak kurang dari Rp. 60–90 trilyun keuangan negara jatuh ke tangan para pelaku korupsi. Kebocoran dalam pengadaan barang dan jasa bisa jadi merupakan mismanajemen yang parah, atau bisa juga merupakan bagian dari korupsi sistemik yang merajalela dalam berbagai sektor dan struktur pemerintahan Indonesia. Berbagai masalah yang bersifat struktural dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah di Indonesia, menyebabkan tidak berfungsinya sistem pengadaan barang dan jasa publik secara baik, transparan dan profesional. Berbagai masalah masih melingkupi proses dan mekanisme pengadaan barang dan jasa. Peraturan yang kurang lengkap dan tumpang tindih serta tidak adanya peraturan yang cukup tinggi, setingkat undang-undang, masih dianggap menjadi masalah dalam pengadaan barang dan jasa. Demikian pula tidak ada lembaga negara independen khusus yang memiliki kewenangan menyusun berbagai kebijakan, regulasi dan pengawasan
iv
Daftar Simak Monitoring

pengadaan barang dan jasa, yang sekaligus sebagai lembaga tempat penyelesaian sengketa yang muncul dalam proses pengadaan barang/jasa. Kurangnya pejabat publik yang mempunyai kualifikasi pengetahuan dan keterampilan memadai, membuat manajemen pengadaan barang dan jasa publik kerap tidak mencapai hasil yang optimal. Kebutuhan akan sumberdaya manusia ini bahkan semakin besar dalam era otonomi daerah dimana kegiatan pembangunan termasuk proses pengadaan barang dan jasanya didelegasikan ke berbagai pemerintah daerah. Pengabaian atau pelanggaran terhadap aturan yang mengatur sistem dan prosedur, bisa jadi merupakan kelalaian. Namun bisa juga merupakan bagian dari suatu penyalahgunaan wewenang plus persekongkolan secara sistematis demi keuntungan pribadi maupun kelompok. Keduanya merugikan rakyat yang menitipkan aset dan amanat itu kepada pejabat publik yang mengelola administrasi pemerintahan. Pengawasan dan penegakan hukum yang tidak efektif merupakan salah satu titik mendasar yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa sehingga menyuburkan praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Dalam upaya memperbaiki sistem pengadaan barang dan jasa publik, sekaligus meretas belenggu korupsi sistemik di dalamnya, tidaklah cukup bergantung pada inisiatif dan peran pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), tanpa partisipasi aktif rakyat atau berbagai komponen masyarakat sipil. Pengalaman dari beberapa dekade lalu, fungsi pengawasan internal, fungsional dan struktural pemerintah tidak kunjung memadai membendung merajalelanya korupsi. Dalam era paradigma baru kepemerintahan yang baik (good governance), dalam pengadaan barang dan jasa publik, masyarakat sipil adalah salah satu stakeholder, yaitu penerima manfaat yang tidak dapat lagi diabaikan keberadaannya. Organisasi masyarakat sipil, jurnalis media massa cetak dan elekronik, organisasi sosial, keagamaan, masyarakat/lembaga akademik, kaum profesional, pranata tradisional/adat, forum warga dan sebagainya merupakan berbagai komponen masyarakat sipil yang seyogyanya berperan dalam pengembangan kepemerintahan yang baik, termasuk mananggulangi penyakit korupsi.
Daftar Simak Monitoring

v

Peran masyarakat sipil dalam pengentasan korupsi pada pengadaan barang dan jasa dapat dilakukan dalam bentuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan kerangka hukum dan kebijakan publik melalui fungsi sosialisasi dan konsultasi. Misalnya dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat dalam Undang-Undang, Peraturan pemerintah daerah (PERDA) yang mengatur tentang pengadaan barang dan jasa publik. Termasuk juga memperjuangkan penegakan prinsip transparansi, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat dalam kerangka peraturan tersebut. Kemudian peran penting lainnya adalah melakukan pengawasan secara aktif, yang diharapkan dapat mencegah berkembangnya penyimpangan, menekan peluang atau memperbesar resiko korupsi. Namun, dalam pengembangan peran masyarakat sipil, berbagai masalah dan tantangan menghadang. Diantaranya adalah terjadinya resistensi atau keengganan berbagai institusi pemerintah di tingkat pusat maupun daerah menerima peran serta dan keterlibatan masyarakat sipil dalam sistem pengadaan. Selain itu, hambatan lainnya adalah lemahnya kapasitas masyarakat sipil itu sendiri baik pada tingkat individual, organisasi, pendanaan, kelembagaan maupun pengetahuan tentang berbagai masalah dalam proses dan mekanisme pengadaan barang. Berdasarkan berbagai kendala, hambatan dan tantangan dalam melakukan pencegahan dan melawan korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa, masyarakat sipil perlu menyusun strategi atau langkah-langkah untuk menyatukan dan menyamakan persepsi untuk berperan secara aktif melakukan pencegahan dan pengawasan pengadaan barang dan jasa publik di Indonesia. Berdasarkan kebutuhan tersebut maka IPW menerbitkan buku daftar simak monitoring ini, agar dapat digunakan sebagai buku pegangan untuk memantau pengadaan barang/jasa. Semoga buku kecil dan sederhana ini bermanfaat. Selamat berjuang melawan Korupsi!!!

Penyusun
vi
Daftar Simak Monitoring

KATA PENGANTAR Munculnya sebuah kelas baru dalam masyarakat yang menolak atau tidak ingin menjadi bagian dari sistem kuno perkoncoan, nepotisme dan mendahulukan kepentingan pribadi, dan yang menuntut keterbukaan, persaingan yang sehat, dan usaha yang bersih merupakan peluang yang tidak ada duanya. Kelas baru dalam masyarakat sipil ini melihat pemberantasan korupsi penting agar kekayaan negara tidak jatuh ke tangan segelintir orang. Sebagian besar korupsi dalam masyarakat melibatkan dua pelaku utama, pemerintah dan sektor swasta. Masyarakat sipil biasanya menjadi korban utama. Dan ketika kekuasaan dilimpahkan ke tingkat lokal peluang untuk melakukan korupsi beranjak ke tingkat lokal, ke pelaku-pelaku baru yang berada dalam hubungan lebih langsung dengan masyarakat sipil. Dengan semakin canggihnya cara orang melakukan korupsi, badan penegak hukum konvensional semakin tidak mampu – atau tidak maumengungkapkan dan membawa kasus-kasus korupsi ke pengadilan. Selain itu, sistem yang telah dihinggapi korupsi sistemik, mekanisme penegakan hukum konvensional mungkin penuh dengan pejabat korup. Dalam tahun-tahun terakhir ini muncul gelombang desakan yang sangat kuat dari masyarakat bahkan beberapa dalam bentuk gerakan untuk bahu-membahu melawan korupsi. Korupsi kini telah menjadi musuh bersama dan mampu membangkitkan solidaritas dan kesamaan nasib untuk melawan. Pada tataran itulah disusun buku daftar simak monitoring ini. Tujuan disusunnya Daftar Simak Monitoring di bidang pengadaan barang/jasa, dimaksudkan untuk menjadi alat atau instrumen bagi segenap lapisan dan kekuatan masyarakat, agar dapat secara aktif berperanserta mencegah merajalelanya korupsi di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah. Dengan buku ini masyarakat selanjutnya dapat melakukan fungsinya sebagai “peniup peluit” (whistleblower) atau semacam “watchdog” yang akan segera memberikan alarm atau upaya pencegahan dan pengungkapan penyimpangan di bidang pengadaan barang/jasa kepada pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan diperlukan.
Daftar Simak Monitoring

vii

Buku daftar simak monitoring ini dapat digunakan oleh berbagai komponen masyarakat dalam upaya mencegah dan mengungkapkan praktik korupsi di bidang pengadaan barang/jasa, baik yang terjadi di tingkat nasional maupun regional dan lokal, baik yang tergolong kecil maupun yang besar. Buku ini diharapkan dapat memberikan “public awareness” yang maksimal bagi masyarakat, disamping dapat pula memberikan pengetahuan praktis tentang modus-modus operandi korupsi di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas dalam upaya pemberantasan korupsi, khususnya di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah. Selamat berjuang melawan korupsi.

Indonesia Procurement Watch

Budihardjo Hardjowijono Direktur Eksekutif

viii

Daftar Simak Monitoring

DAFTAR ISI Pendahuluan .................................................................................................. Kata Pengantar ............................................................................................. Data Umum ................................................................................................... Cara Penggunaan Buku Daftar Simak ................................................... 1. Perencanaan ........................................................................................... 2. Pembentukan Panitia Lelang.............................................................. 3. Prakualifikasi ........................................................................................... 4. Penyusunan Dokumen Lelang .......................................................... 5. Pengumuman Lelang ............................................................................ 6. Pengambilan Dokumen Lelang .......................................................... 7. Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri ............................................ 8. Penjelasan/Aanwijzing .......................................................................... 9. Penyerahan & Pembukaan Penawaran .......................................... 10. Evaluasi Penawaran .............................................................................. 11. Pengumuman Calon Pemenang ........................................................ 12. Sanggahan Peserta Lelang................................................................... 13. Penunjukan Pemenang Lelang .......................................................... 14. Penandatanganan Kontrak ................................................................. 15. Penyerahan Barang/Jasa ...................................................................... Lampiran-Lampiran: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tahapan Pemeriksaan Pengadaan Barang Pemerintah ............... Pelaporan dan Penentuan Status Gratifikasi ............................... Alur Kerja BPK ..................................................................................... Alur Kerja Kejaksaan Dalam Memproses Kasus ........................ Prosedur Penyelesaian Perkara di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ................................................................. Mekanisme Penanganan Pengaduan pada Jaksa Agung Muda Pengawasan ................................................................................ Kode Etik Jaringan Nasional Pemantau PBJ ................................. Susunan Lengkap UU RI Nomor 31 Tahun 1999 Sebagaimana telah diubahdengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001............................................................................................ Peraturan Pemerintah RI Nomor 71 tahun 2000 ................... 17 26 27 28 29 30 31 39 65 ii vii xi xii 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Daftar Simak Monitoring

ix

CARA MEMASTIKAN PELAKU USAHA BENAR BENAR JUJUR
1. Periksa nama perusahaan, tempat didirikan, dan surat pendaftaran perusahaan. Periksa catatan keuangannya, selama 3 tahun terakhir, lihat apakah masih bonafid. Dapatkan nama-nama dan alamat para direktur dan pemegang saham. Periksa apakah perusahaan berurusan dengan pengadilan, periksa apakah ada putusan pengadilan atau putusan bangkrut. Periksa apakah alamat kegiatan dan alamat kantor yang terdaftar sama. Periksa apakah alamat email, tempat menagih dan mengantar barang sama. Dapatkan nama-nama perusahaan pemasok di Departemen Kehakiman RI.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

x

Daftar Simak Monitoring

DATA UMUM

Nama Proyek Lokasi Proyek Pemilik Proyek

: : :

Nama Provinsi/Kab/Kota : Kode DIPA Nilai Pagu DIPA Tahun Anggaran Konsultan Teknis Konsultan Pengawas : : : : :

Daftar Simak Monitoring

xi

xii

Daftar Simak Monitoring

CARA PENGGUNAAN BUKU DAFTAR SIMAK MONITORING Buku ini merupakan bagian dari buku-buku yang pernah diterbitkan oleh IPW yakni: Prinsip Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Tool Kit Anti Korupsi Pengadaan BArang/Jasa, yang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan Buku ini hanya sebagai panduan untuk monitoring. Kolom-kolom yang ada bisa saja diatur sedemikian rupa. Ada baiknya sebelum digunakan di lapangan, buatlah copi dari buku ini, atau dapat juga mendownload dari website IPW. Hal ini untuk memudahkan apabila diperlukan catatancatatan temuan dalam monitoring, yang tidak termuat dalam buku ini agar dapat digunakan untuk jangka waktu yang panjang. Pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini bisa saja belum mencakup semua permasalahan atau kondisi yang ada dilapangan. Namun pertanyaanpertanyaan ini adalah pertanyaan kunci yang sudah dapat dijadikan acuan dalam melakukan monitoring. Beberapa pertanyaan dalam buku ini, penjelasannya dapat ditemukan lebih rinci dalam buku Tool Kit Anti Korupsi di Bidang Pengadaan Barang/Jasa, yang sudah lebih dulu terbit. Buku ini dilengkapi dengan petunjuk utnuk membuat laporan kepada insatnsi atau lembaga penegak huku seperti KPK, Kejaksaan, KPPU dan BPK, yang dimuat dalam berbagai lampiran. Selain itu untuk memudahkan dan menghindari hal-hal yang apat merugikan berbagai pihak terhadap aktivitas monitoring, penyusun melengkapi buku ini dengan susunan lengkap undang-undang tentang pemberantasan korupsi, serta peraturan Pemerintah tentang peranserta masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Terakhir buku ini memuat kode etikmjaringan pemantau pengadaan barang/jasa, yang disusun dalam pertemuan nasional jaringan pemantau pengadaan barang/jasa di Yokyakarta tahun 2006. Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam upaya-upaya berbagai pihak dalam pemberantasan korupsi. Selamat berjuang membasmi korupsi.
Daftar Simak Monitoring

xiii

xiv

Daftar Simak Monitoring

1. PERENCANAAN No
1 2 3

U RA IA N
Apakah perencanaan telah melalui studi yang mendalam? Apakah perencanaan telah sesuai dengan kebutuhan? Apakah rencana yang dibuat tidak realistis dan berlebihan, jauh di atas kebutuhan yang sebenarnya? Apakah penyusunan spesifikasi teknis dan kriterianya diarahkan pada merek atau produk tertentu? Apakah spesifikasi diarahkan pada bahan tertentu? Apakah penentuan Jadwal waktu yang tidak realistis Apakah ada rekayasa pemaketan dengan maksud menguntungkan pemasok/rekanan tertentu Apakah ditemukan penggelembungan seperti: biaya, kualitas, bahan, volume dan sebagainya? Apakah terjadi kesalahan perencanaan sejak awal?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

4

5 6 7

8

9

10 Apakah ada indikasi kuat mengarah pada memperlambat proses pengadaan? 11 Apakah ada indikasi mengarah pada upaya penunjukan langsung?

12 Apakah penyusunan spesifikasi disusun oleh
Panitia atau oleh calon rekanan?

Daftar Simak Monitoring

1

2. PEMBENTUKAN PANITIA LELANG No
1 2 3 4 5 6 7 8

U RA IA N
Apakah panitia memiliki integritas dan keahlian? Apakah panitia memiliki sertifikat keahlian? Apakah panitia bekerja secara tertutup dan tidak independen? Apakah panitia sudah bekerja dengan jujur, objektif, profesional dan transparan? Apakah keputusan panitia dapat Apakah panitia memberikan keistimewaan atau memilih kelompok tertentu? Apakah panitia telah bekerja sesuai dengan aturan yang ada? Apakah PPK/Panitia mendapat tekanan atau intervensi dari atasan?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

Catatan Monitoring

2

Daftar Simak Monitoring

3. PRAKUALIFIKASI No
1

U RA IA N
Apakah guideline, kriteria dan cara memberikan penilaian sudah disosialisasikan kepada semua pihak? Apakah ada dokumen mitra kerja yang tidak memenuhi syarat? Apakah tidak dilakukan legalisasi terhadap dokumen? Apakah panitia mentolerir dokumen yang tidak lengkap dan “aspal” Apakah dokumen prakualifikasi tidak diperkuat oleh data yang otentik? Apakah evaluasi yang dilakukan tidak sesuai dengan kriteria? Apakah panitia menambahkan persyaratan yang tidak perlu?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

2 3 4 5 6 7

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

3

4. PENYUSUNAN DOKUMEN LELANG No
1 2 3 4 5 6 7 8 9

U RA IA N
Apakah dokumen lelang sesuai standar? Apakah ada dokumen lelang tidak lengkap? Apakah ada dokumen lelang Non Standar? Apakah dokumen lelang disusun mengarah pada merek, bahan dan produk tertentu? Apakah dokumen lelang disusun dengan melakukan rekayasa kriteria evaluasi? Apakah panitia telah mengumumkan secara luas terhadap perubahan/addendum. Apakah perubahan tidak diberi penjelasan? Apakah dokumen dibuat secara transparan sehingga mudah diakses oleh masyarakat? Apakah ada upaya untuk menyusun kembali persyaratan administrasi sehingga mencakup peryaratan yang perlu saja?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

10 Apakah persyaratan tentang pengadaan barang dan jasa yang dicantumkan dalam dokumen lelang dapat diperoleh publik? 11 Apakah peryaratan lelang itu mengharuskan persaingan sehat dalam lelang? 12 Apakah semua orang dapat ikut atau hanya mereka yang diundang yang dapat ikut? 13 Apakah ditemukan adanya berbagai dokumen pengadaan asli tapi palsu?
4

Daftar Simak Monitoring

5. PENGUMUMAN LELANG No
1 2 3 4 5 6 7 8 9

U RA IA N
Apakah pengumuman lelang dimuat di media yang mempunyai jangkauan publik sangat terbatas? Apakah informasi dalam pengumuman lelang dibuat tidak lengkap dan tidak memadai? Apakah panitia tidak mencantumkan nilai proyek di dalam pengumuman? Apakah jangka waktu pengumuman terlalu singkat? Apakah ditemukan tanggal pengumuman yang telah kadaluarsa? Apakah pengumuman lelang hanya dilakukan di media masa cetak dan tidak ada di papan pengumuman atau internet? Apakah dipasang iklan bagi semua pengadaan barang dan jasa sehingga publik mengetahui secara luas? Apakah undangan lelang diiklankan sehingga diketahui semua orang yang berminat ikut lelang? Apakah keputusan mengenai pengadaan barang dan jasa publik diumumkan di internet, papan pengumuman dan koran?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

5

6. PENGAMBILAN DOKUMEN LELANG No
1 2 3 4 5

U RA IA N
Apakah dokumen yang diserahkan tidak sama (inkonsisten)? Apakah waktu pendistribusian dokumen terbatas? Apakah lokasi pengambilan dokumen sulit ditemukan? Apakah untuk mendapatkan dokumen lelang dipersulit? Apakah persaingan benar-benar terjadi atau apakah persyaratan ini sering diabaikan? Apakah ada kesepakatan penandatanganan Pakta Integritas? Apakah pengambilan dokumen lelang dikenakan biaya? Apakah dokumen lelang diberikan pada peserta dalam waktu yang sempit?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

6 7 8

Catatan Monitoring

6

Daftar Simak Monitoring

7. PENYUSUNAN HARGA PERKIRAAN SENDIRI No
1 2 3 4 5 6 7

U RA IA N
Apakah harga perkiraan sendiri (HPS) ditutup-tutupi? Apakah terjadi penggelembungan harga (mark-up)? Apakah harga dasar/satuan (unit price) yang tidak standar? Apakah proses penentuan harga satuan tidak sesuai dengan aturan? Apakah ada acuan standar harga yang resmi? Apakah penentuan harga menggunakan jasa konsultan? Apakah Harga Perkiraan Sendiri (HPS) telah menguntungkan negara?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

7

8. PENJELASAN/AANWIJZING
No
1 2 3 4

U RA IA N
Apakah penjelasan/aanwijzing dilakukan hanya kepada kelompok tertentu saja? Apakah informasi dan deskripsi pekerjaan dilakukan secara terbatas? Apakah ada penjelasan yang kontroversial? Apakah informasi peninjauan lapangan hanya diberikan kepada kelompok tertentu? Apakah proses pengadaan barang dan jasa secara keseluruhan sudah transparan? Apakah ada proses yang tertutup informasinya atau menyesatkan peserta lelang? Apakah penjelasan dilakukan secara lengkap dan menyeluruh? Apakah penjelasan dan kebutuhan tinjauan lapangan dilakukan secara diam-diam atau terbatas pada peserta tertentu? Apakah ada peserta lelang yang diperlakukan secara diskriminatif?

Ya

Status Monitoring

Tidak Verifikasi

5 6

7 8

9

10 Apakah ada penjelasan tentang perlunya penerapan pakta integritas antara panitia dan peserta lelang? 11 Apakah dibuat berita acara pada saat penjelasan/Aanwijzing dilakukan? 12 Apakah semua peserta lelang diundang secara bersamaan? 13 Apakah semua peserta lelang diperlakukan sama dan setara?

8

Daftar Simak Monitoring

9. PENYERAHAN DAN PEMBUKAAN PENAWARAN No
1

U RA IA N
Apakah relokasi tempat penyerahan dokumen penawaran dilakukan panitia tanpa pemberitahuan? Apakah panitia tetap menerima penyerahan dokumen penawaran yang terlambat ketika meyampaikannya? Apakah ada penyerahan dokumen palsu atau fiktif? Apakah panitia membacakan harga perkiraan sendiri di depan peserta lelang pada saat aanwijzing? Apakah kelengkapan dokumen masingmasing peserta lelang dibacakan secara terbuka? Apakah pembukaan penawaran dilakukan bersamaan dan dilakukan secara transparan?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

2

3 4

5

6

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

9

10. EVALUASI PENAWARAN No
1 2 3 4 5

U RA IA N
Apakah ditemukan sistem atau kriteria evaluasi yang janggal atau cacat? Apakah ada penggantian dokumen penawaran ditengah proses lelang? Apakah evaluasi dilakukan tertutup dan tersembunyi? Apakah peserta lelang terpola dalam rangka berkolusi? Apakah evaluasi dilakukan dengan mencari kesalahan dokumen peserta lelang untuk menggugurkan? Apakah terjadi perubahan sistem penilaian ditengah proses lelang? Apakah sistem nilai mengarah untuk memenangkan perusahaan tertentu?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

6. 7

Catatan Monitoring

10

Daftar Simak Monitoring

11. PENGUMUMAN CALON PEMENANG No
1 2 3

U RA IA N
Apakah pengumuman dibuat secara luas dan mudah diketahui? Apakah pengumuman dibuat dengan tertutup dan terbatas? Apakah tanggal pengumuman ditundatunda sehingga menimbulkan ketidakpastian? Apakah pengumuman tidak sesuai dengan rencana awal? Apakah pengumuman tidak ditempatkan pada papan pengumuman? Apakah pengumuman dimuat di surat kabar di tingkat daerah dan tingkat nasional? Apakah pengumuman dimuat di website?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

4 5 6 7

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

11

12. SANGGAHAN PESERTA LELANG No
1 2 3 4 5 6

U RA IA N
Apakah tidak seluruh sanggahan ditanggapi? Apakah berbagai substansi sanggahan tidak ditanggapi? Apakah jawaban panitia tidak menyentuh substansi sanggahan? Apakah jawaban sanggahan hanya untuk menghindari tudingan lelang diatur? Apakah sanggahan peserta lelang disampaikan ke LKPP? Apakah Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah (LKPP) memberikan jawaban sanggahan peserta lelang? Apakah jawaban sanggah asal-asalan?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

7

Catatan Monitoring

12

Daftar Simak Monitoring

13. PENUNJUKAN PEMENANG LELANG No
1 2 3 4 5

U RA IA N
Apakah surat penunjukan tidak lengkap? Apakah surat penunjukan sengaja ditundatunda pengeluarannya? Apakah surat penunjukan dikeluarkan secara terburu-buru? Apakah surat penunjukan tidak sah? Apakah ada prosedur untuk meminta peninjauan ulang atas pengadaan barang dan jasa publik? Apakah ada elemen independen dalam proses pengadaan barang dan jasa publik sebagai cara untuk memastikan semua peserta menaati prosedur? Apakah ditemukan pemenang lelang yang mensubkontrakkan pekerjaan utama? Apakah pemenang lelang memiliki Bank Garansi? Apakah pihak Bank hanya memberikan surat keterangan selaku nasabah kepada pemenang lelang?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

6

7 8 9

10 Apakah pemenang lelang telah memenuhi seluruh syarat administrasi yang telah ditentukan?

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

13

14. PENANDATANGANAN KONTRAK No
1 2 3 4 5

U RA IA N
Apakah penandatanganan kontrak ditundatunda? Apakah penandatanganan kontrak dilakukan secara tertutup? Apakah penandatanganan kontrak cacat hukum atau tidak sah? Apakah pemenang lelang telah menandatangani pakta integritas? Apakah penandatanganan kontrak dilakukan setelah semua sanggahan (sanggah dan sanggah banding) dijawab? Apakah kontrak ditandatangani oleh pejabat yang berwenang? Apakah terjadi perubahan pada isi kontrak yang tidak wajar, sebelum ditandatangani?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

6 7

Catatan Monitoring

14

Daftar Simak Monitoring

15. PENYERAHAN BARANG/JASA No
1 2

U RA IA N
Apakah ditemukan jumlah/volume barang/ jasa tidak sama? Apakah mutu/kualitas pekerjaan lebih rendah dari ketentuan dalam spesifikasi teknik? Apakah mutu/kualitas pekerjaan tidak sama dengan spesifikasi teknik? Apakah terjadi perubahan kontrak setelah pekerjaan selesai? Apakah ketika pekerjaan diserah-terimakan ada kewajiban yang belum diselesaikan? Apakah ditemukan pekerjaan barang/jasa fiktif atau penyimpangan dalam kontrak? Apakah ada pemberlakuan masa jaminan pekerjaan? Apakah ditemukan uang jaminan telah dicairkan oleh kontraktor sebelum masa jaminan berakhir?

Status Monitoring
Ya Tidak Verifikasi

3 4 5 6 7 8

Catatan Monitoring

Daftar Simak Monitoring

15

SUSUNAN TIM MONITORING No 1 2 3 Nama JABATAN DALAM TIM Ketua Anggota Anggota

1. Hasil Temuan dalam Proses Pengadaan Barang/Jasa: a. Jumlah temuan : b. Asumsi Kerugian Negara :

............……........….., …… 200...... Koordinator Tim

( ................................. )

16

Daftar Simak Monitoring

LAMPIRAN 1

TAHAPAN PEMERIKSAAN PENGADAAN BARANG PEMERINTAH PAKET 1 PAKET 2 : :
HASIL PEMERIKSAAN

NO

Item/Jenis Penyimpangan 2

Indikator 3

Paket 1 Ya/Tidak

Paket 2 Ya/Tidak

CATATAN

1

4

5

6

A TAHAP PERSIAPAN PENGADAAN 1 Perencanaan Pengadaan a. Satker tidak membuat jadwal dan tidak mengalokasikan dana dalam DIPA b. Penggelembungan Anggaran

- Satker tidak membuat

jadwal pelaksanaan seluruh paket kegiatan. - Tidak mengumumkan rencana pengadaan secara luas pada awal TA setelah DIPA/PO turun. Harga satuan yang ada dalam DIPA/PO lebih tinggi dibandingkan dengan harga satuan yang ditetapkan oleh Pemda/harga pasar.

c. Rencana pengadaan yang Ada pengaturan dalam diarahkan

persyaratan peserta lelang yang menjurus pada produk/pihak tertentu. Ada penyatuan/ pemecahan paket yang tendensius

d. Rencana pemaketan untuk KKN

Daftar Simak Monitoring

17

1

2

3

4

5

6

e. Penentuan jadual pengadaan yang tidak realistis

Tenggang waktu lelang umum/terbatas/pemilihan langsung/penunjukan langsung tidak sesuai dengan ketentuan.

2

Panitia Lelang a. Panitia tidak trans paran, dan/atau memihak b. Panitia tidak memiliki sertifikat keahlian & integritas lemah

Ada pengaduan/informasi dari peserta lelang

Belum mempunyai sertifikat, tidak ada pakta integritas dan/atau unsur panitia tidak terpenuhi.

B.

TAHAP PEMILIHAN PENYEDIA JASA

3.

Prakualifikasi Pascakualifikasi a. Dokumen tidak sesuai dengan kriteria b. Evaluasi tidak sesuai dengan kriteria.

Panitia menambahkan persyaratan yang tidak perlu.

Ada pengaduan/informasi hasil evaluasi tidak wajar. Spesifikasi teknis mengarah ke produk tertentu

4.

Penyusunan Dokumen Lelang a. Spesifikasi yang diarahkan b. Rekayasa Kriteria Evaluasi

Kriteria yang digunakan dalam evaluasi:

18

Daftar Simak Monitoring

1

2

3

4

5

6

- Sistem Gugur

- Tidak sama dengan dokumen lelang - Gugur teknis karena analisa

- Sistem Nilai

- Pembobotan sistem evaluasi dengan nilai/ skoring tidak wajar

- Sistem penilaian biaya selama umur ekonomi

- Tidak sama dengan dokumen pengadaan

c. Dokumen lelang non standar dan atau tidak lengkap.

- Tidak menggunakan standar dokumen pelaksanaan kontrak pengadaan barang sesuai Keppres 80/2003 diantaranya surat pesanan, persiapan pelaksanaan kontrak, pabrikasi, serah terima, uji coba, asuransi dll. - Adanya indikasi rekayasa dokumen lelang dalam Addendum Dokumen lelang

5. Pengumuman Lelang a. Pengumuman lelang semua/fiktif.

- Jumlah peserta lelang yang mendaftar kurang - Media yang digunakan tidak terkenal. - Bagi yang diwajibkan tidak menggunakan e-procurement.

Daftar Simak Monitoring

19

1

2

3

4

5

6

- Tidak memasukkan data pelelangan ke PU net (khusus Jawa).

b. Pengumuman lelang tidak lengkap

Isi pengumuman tidak memenuhi syarat minimal Keppres 80 tahun 2003

c. Jangka waktu singkat

pe-

Tenggang waktu pengumuman tidak memenuhi syarat Keppres 80/2003 Tidak menandatangi Pakta

ngumuman terlalu

6. Pengambilan Dokumen Lelang a. Tidak ada Pakta Integritas.

Integritas (Pengguna, Panitia, dan seluruh calon Penyedia Jasa dalam satu kesatuan format) Jumlah peserta yang

b. Dokumen lelang yang diserahkan tidak sama (inkon-sisten).

memenuhi syarat terbatas dibandingkan dengan jumlah yang mengambil dokumen

c. Waktu pengambilan dokumen terbatas

Waktu pengambilan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku

d. Lokasi pengambilan dokumen sulit dicari 7. Penyusunan HPS a. Nilai HPS tidak diumumkan

Yang mengambil dokumen terbatas Nilai HPS tidak diumumkan ke seluruh peseta lelang

20

Daftar Simak Monitoring

1

2

3

4

5

6

b. Harga dasar yang tidak standar 8. Rapat Penjelasan (Aanwijzing) a. Rapat penjelasan yang terbatas.

Harga satuan tidak wajar

Jumlah penyedia jasa yang hadir tidak sesuai dengan yang menandatangani daftar hadir.

- Adanya penawar yang b. Penjelasan tidak dimuat dalam berita acara gugur. - Tidak ada Berita Acara Aanwijzing. 9. Penyerahan dan Pembukaan Penawaran a. Relokasi tempat penyerahan dokumen penawaran - Tidak ada peserta memasukkan penawaran. - Penawaran yang masuk terbatas.

b. Penerimaan dokumen penawaran yang terlambat. 10 Evaluasi Penawaran a. Evaluasi Cacat

Penawar yang terlambat tapi diterima oleh panitia (lihat Berita Acara) - Subjektivitas penilaian panitia tinggi - Fluktuasi penilaian masing-masing anggota terlalu berbeda, nilai yang diberikan tidak konsisten dengan kritetria evaluasi

Daftar Simak Monitoring

21

1

2

3

4

5

- Tidak setiap anggota panitia memberikan penilaian - Terdapat penilaian yang sama dari semua anggota panitia - Tidak ada paraf panitia di setiap halaman dokumen penawaran

b. Penggantian Dokumen Penawaran

Tidak ada dokumen asli yang masih tertutup di pengguna jasa - Format pengetikan/ penjilidan berkas penawaran yang sama di antara penyedia jasa. - Tingkat kesalahan pengetikan yang sama diantara penyedia jasa - Jaminan penawaran dikeluarkan dari penjamin yang sama dengan nomor seri yang berurutan. - Terdapat kesamaan metode merk, spesifikasi dari beberapa berkas penawaran yang diajukan oleh penyedia jasa.

c. Indikasi pengaturan di antara penyedia jasa.

22

Daftar Simak Monitoring

1

2

3

4

5

6

c. Indikasi pengaturan diantara penyedia jasa/ panitia/pengguna.

- Terdapat kesamaan spesifikasi, merek, cc dan lain-lain antara penawaran dengan HPS/OE. - Total penawaran yang diantara penawar mendekati HPS/OE (>95%) - Terdapat informasi masyarakat/peserta lelang mengadakan rapat sebelum pemasukan penawaran - Panitia yang tidak melaporkan adanya indikasi pengaturan.

d. Tidak dilakukan verifikasi, - Terdapat data penyedia konfirmasi dan validasi pada calon pemenang 11. Pengumuman Calon Pemenang a. Pengumuman terbatas jasa yang tidak sesuai dengan yang disyaratkan

Pengumuman tidak dilakukan pada media yang semestinya

b. Tanggal pengumuman ditunda

Tanggal pengumuman tidak sesuai jadwal

c. Pengumuman yang tidak sesuai dengan kaidah pengumuman

Substansi pengumuman tidak lengkap

Daftar Simak Monitoring

23

1

2

3

4

5

6

12. Sanggahan peserta lelang a. Tidak seluruh sanggahan ditanggapi.

- Terdapat sanggahan yang tidak ditanggapi oleh engguna jasa - Adanya sanggahan banding

b. Substansi sanggahan tidak - Jawaban Satker, sanggahan ditanggapi telah melewati waktu (terlambat) - Adanya sanggahan banding

c. Sanggahan proforma untuk menghindari tuduhan tender diatur.

- Sanggahan/jawaban tidak menyentuh substansi - Tanggal penunjukan pemenang lelang masih dalam masa sanggah.

d. Sanggahan banding

- Terdapat jawaban sanggahan banding yang: a. Legal aspek yang tidak mengena; b. Substansi tidak jelas; c. Waktu terlambat;

13 Penunjukan pemenang lelang a. Surat penunjukan tidak sesuai jadwal, sengaja ditunda pengeluarannya.

Tenggang waktu penetapan dan penunjukan pemenang tidak dipenuhi (tidak sesuai ketentuan)

24

Daftar Simak Monitoring

1

2

3

4

5

6

b. Surat penunjukan tidak sah. 14 Penandatangan Kontrak dan Pelaksanaanya yang ditunda-tunda

Ada pengaduan tentang surat penunjukan Tanggal tanda tangan kontrak tidak sesuai

a. Penandatanganan kontrak jadwal

b. Penandatanganan kontrak yang tidak sah

- Kontrak ditandatangani oleh pejabat yang tidak berwenang. - Data pendukung tidak memenuhi syarat - Kontrak tidak sesuai dengan dokumen penawaran (nilai, metode pelaksanaan)

Catatan : Jika hasil monitoring Ya, beri tanda contreng (V). Pemeriksaan harus diperdalam dan uraikan secara singkat pada lembar berikutnya. Kalau perlu lanjutkan dengan tindakan penyelidikan/investigasi lapangan

Daftar Simak Monitoring

25

LAMPIRAN 2

PELAPORAN DAN PENENTUAN STATUS GRATIFIKASI
Pasal 16, 17, dan UU No.30 Th. 2002

Penerima Gratifikasi

Laporan Tertulis Kepada KPK

Proses Penetapan Status
30 H A R I K E R J A

Memanggil Penerima Gratifikasi

Pasal 12C UU No. 20 Th. 2001

7 Hari Kerja sejak ditetapkan statusnya

Pimpinan KPK Melakukan Penelitian

Menteri Keuangan

SK Pimpinan KPK Tentang Status Gratifikasi

Penerima Gratifikasi

26

Daftar Simak Monitoring

LAMPIRAN 3

ALUR KERJA BPK
Pengumpulan Dokumen (1a) Penyusunan Laporan (6a)

Penetapan Obyek (2)

Temuan Pemeriksaan (5) Investigasi (6b)

Pengujian Terbatas (3)

Audit Lapangan 2K dan 3E (4)

Laporan Kejaksaan/ Kepolisian (7)

Pengaduan Masyarakat (1b)
27

Daftar Simak Monitoring

LAMPIRAN 4 ALUR KERJA KEJAKSAAN DALAM MEMPROSES KASUS (1) Laporan masyarakat (2) Melakukan penyelidikan (5) Mereview hasil temuan auditor (3) Melakukan penyidikan (4) Mengkalkulasi nilai kerugian negara dengan bantuan auditor

(6) Menelaah kasus dengan ketentuan hukum yang berlaku (7) Meminta pendapat para ahli (8) Membuat surat dakwaan

(9) Kemudian melimpahkan perkara pengadilan (10) Melakukan penuntutan Melaksanakan penetapan hakim
28

Daftar Simak Monitoring

PROSEDUR PENYELESAIAN PERKARA DI KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) Laporan/ Pengaduan Pemeriksaan 30 Hari setelah laporan

Setiap orang pihak yang dirugikan atau mengetahui

Pemeriksaan lanjutan 60 hari

Putusan 30 hari setelah Pemeriksaan lanjutan 60 hari Menerima

Tidak

Mengajukan keberatan 14 hari setelah putusan Menerima

Pemeriksaan PN 14 hari

Wajib melaksanakan 30 hari setelah menerima putusan

Putusan dimintakan eksekusi ke PN

Putusan PN 30 hari setelah pemeriksaan

Keberatan Kasasi ke MA 14 hari setelah putusan PN
29

Putusan MA 30 hari sejak Kasasi di terima
Daftar Simak Monitoring

Mekanisme Penanganan Pengaduan Pada Jaksa Agung Muda Pengawasan

PELAPOR: 1. Masyarakat/Korban 2. Media Masa (Surat Pembaca) 3. MENPAN 4. Kotak Pos 5000 5. Komisi Ombudsman 6. Internet/website

Hasil telaah Jaksa Agung Muda Pengawasan Memiliki Unsur Pidana

Jaksa Agung RI. Untuk Mendapat Persetujuan Agar Berkas Diserahkan Kepada Penyidik Polri

Oleh JAMWAS Diteruskan Kepada Inspektur Untuk Ditelaah Terbukti DITELAAH OLEH INSPEKTUR SESUAI KASUS: . Inspektur Pegasum . Inspektur Kepbang . Inspektur Pidum . Inspektur Intelijen . Inspektur Pidanan Datum . . . . Tidak Terbukti Dihentikan Pemeriksaan Selesai

Hasil Telaah Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan Hukuman Disiplin Sesuai PP.No. 30 Tahun 1980

Jaksa Agung RI. Untuk Mendapat Persetujuan

Hukuman Disiplin PP. No. 30 Tahun 1980

Diteruskan Kepada Unit Kerja yang Bersangkutan/ Kejati untuk Dilakukan Pemeriksaan

Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Dalam Bentuk Was 1 Yang Memuat Saran Untuk Dijatuhi Hukuman Disiplin Sesuai PP. No. 30 Tahun 1980

Disampaikan ke JAMWAS Paling Lambat 30 Hari Apabila LHP Belum Diterima Sampai dengan 30 Hari, Disampaikan Peringatan 3 Kali Dilakukan Inspeksi oleh JAMWAS

30

Daftar Simak Monitoring

LAMPIRAN:

Keputusan Jaringan Nasional Pemantau Pengadaan Barang Dan Jasa Publik Nomor : 01 Tahun 2006 Tentang KODE ETIK JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PENGADAAN BARANG DAN JASA PUBLIK

Menimbang :

a. bahwa sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat (civil society organisation) JARINGAN PPB-J bekerja atas dasar kepentingan masyarakat, b. bahwa berdasarkan sifat memantau proses pengadaan barang dan jasa publik dapat menjadi peluang untuk terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh jajaran JARINGAN PPBJ-P c. bahwa berdasarkan hal tersebut pada huruf a dan huruf b, untuk penyelenggaraan organisasi, perlu ditetapkan kode etik Jaringan PPBJ-P 1. Keputusan Pertemuan Nasional JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ 2. Kesepakatan Bersama JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ

Mengingat :

Memperhatikan: Rapat-rapat Pleno JARINGAN PPBJ-P

Daftar Simak Monitoring

31

MEMUTUSKAN Menetapkan: Pertama : Kedua : Kode Etik Penyelenggaraan JARINGAN PPBJ-P, selanjutnya disebut Kode Etik Kode Etik sebagaimana dimaksud dalam diktum Pertama adalah sebagaimana Terlampir pada keputusan ini, dan merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Keputusan ini Kode Etik sebagaimana dimaksud Diktum Kedua berlaku dan mengikat bagi seluruh Personal Lembaga-Lembaga yang menjadi anggota, Jaringan PPBJ-P Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila terdapat kekeliruan akan diadakan pembetulan seperlunya

Ketiga

:

Keempat :

BAB I PENGERTIAN Pasal 1 Kode Etik JARINGAN PPBJ-P adalah norma yang harus dilaksanakan oleh seluruh anggota JARINGAN PPBJ-P tanpa terkecuali dalam menjalankan kehidupan pribadinya, dan dalam mengelola organisasi JARINGAN PBJ-P BAB II AZAS JARINGAN Pasal 2 Azas utama adalah: “Egaliter, yaitu menjunjung tinggi persamaan tanpa membeda-bedakan kedudukan dan jabatan masing-masing anggota”

32

Daftar Simak Monitoring

Pasal 3 PRINSIP A. Kepastian Aturan, yaitu mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan dalam menjalankan kebijakan, tugas dan wewenang jaringan PPBJ-P Transparansi, yaitu membuka diri dan memberi akses kepada masyarakat dalam melaksanakan hak-haknya untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang manajemen, kinerja dan pelaksanaan tugas/fungsi Jaringan PPBJ-P Akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan Jaringan PPBJ-P harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas Partisipatif, yaitu mendahulukan kepentingan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif Profesional, yaitu mengutamakan pelaksanaan tugas, wewenang, dan tanggung jawab serta kewajiban Jaringan PPBJ-P sesuai proporsi yang diemban JANJI INTEGRITAS “Saya berjanji bahwa saya akan setia kepada Bangsa dan Negara serta akan mempertahankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, klik, keluarga dan golongan. “Saya berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan tugas dan wewenang yang diberikan JARINGAN PPBJ-P kepada saya dengan sungguh-sungguh, seksama, obyektif, jujur, berani, adil, tidak membedabedakan jabatan, suku, agama, ras, jender, dan golongan tertentu dan akan melaksanakan kewajiban saya dengan sebaik-baiknya, serta bertanggung jawab sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, bangsa dan negara” “Saya berjanji akan setia kepada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga JARINGANPPBJ-P, visi dan misi dari JARINGAN PPBJ-P yakni mengutamakan kepentingan masyarakat luas, bangsa dan negara tanpa pamrih.

B.

C. D. E.

Daftar Simak Monitoring

33

Senantiasa akan menolak atau tidak menerima atau dipengaruhi oleh campur tangan siapapun juga dan saya akan tetap teguh melaksanakan tugas dan wewenang yang diberikan kepada saya” “Saya berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya untuk melaksanakan tugas-tugas JARINGAN PPBJ-P, langsung ataupun tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apapun juga, tidak memberikan atau menjanjikan sesuatu apapun kepada siapapun juga” “Saya berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam tugas ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian” BAB III NILAI-NILAI DASAR PRIBADI Pasal 4 Anggota JARINGAN PPBJ-P diharuskan menganut nilai-nilai dasar pribadi (basic indivdual value) sebagai berikut: a. Terbuka, seluruh proses kerja dan kegiatan JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ terbuka dan dapat diketahui oleh seluruh jajaran JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ dan masyarakat Kebersaman, melaksanakan pekerjaan dan kegiatan JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ secara kolektif Jujur, menjunjung tinggi kejujuran dalam segala hal diminta maupun tidak Berani, mengambil sikap tegas dan rasional dalam membuat keputusan sulit dan atau tidak populis, demi kepentingan jangka panjang JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ Cerdas, mengutamakan pemikiran dan akal sehat dalam bertindak Integritas, mewujudkan perilaku yang bermartabat Tangguh, tegar dalam menghadapi berbagai godaan, hambatan, tantangan, ancaman, dan intimidasi dalam bentuk apapun, dan dari pihak manapun Unggul, selalu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pribadinya
Daftar Simak Monitoring

b. c. d.

e. f. g.

h.
34

BAB IV KODE ETIK Pasal 5 (1) Nilai-nilai dasar pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dilaksanakan dalam bentuk sikap, tindakan, perilaku dan ucapan (2) Anggota JARINGAN PPBJ-P wajib menjaga nama baik organisasi JARINGAN PPBJ-P baik sebagai pendiri, penasihat maupun pengawas (3) Jajaran JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ wajib menjaga nama baik organisasi JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ dalam melakukan kegiatan organisasi di dalam masyarakat (4) Jajaran JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ wajib menjaga independensi organisasi dari pengaruh manapun, termasuk pengaruh dari lembaga-lembaga donor (5) Jajaran JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ wajib menjaga perilaku, tindakan, sikap, dan ucapannya (6) Kode Etik diterapkan tanpa toleransi sedikitpun atas penyimpangannya (zero tolerance), dan mengandung sanksi tegas bagi mereka yang melanggarnya (7) Perubahan atas Kode Etik JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ menurut keputusan ini akan segera dilakukan berdasarkan tanggapan dan masukan dari masyarakat dan ditetapkan oleh keputusan JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ Pasal 6 (1) Jajaran JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ berkewajiban: a. melaksanakan ajaran agama atau keyakinannya masing-masing b. taat terhadap aturan hukum dan etika c. bersikap independen dan terbuka d. menggunakan sumber daya publik secara efisien, efektif dan akuntabel e. tegas dalam menerapkan prinsip, nilai, dan keputusan yang telah disepakati f. menarik garis tegas tentang apa yang patut dan layak dilakukan dengan apa yang tidak patut dan tidak layak dilakukan;
Daftar Simak Monitoring

35

g. h. i. j. k. l. m.

n. o. p.

tidak berpihak dalam menjalankan tugas, fungsi dan wewenangnya tidak berhenti belajar dan mendengar meningkatkan kinerja yang berkualitas meninggalkan kebiasaan kelembagaan yang negatif dan tidak sesuai dengan prinsip lembaga kemasyarakatan menghilangkan sifat arogansi individu dan sektoral mengidentifikasi setiap benturan kepentingan yang timbul atau kemungkinan benturan kepentingan yang akan timbul memberikan komitmen dan loyalitas kepada JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJ-P secara penuh di atas komitmen dan loyalitas kepada teman, sejawat mengenyampingkan kepentingan pribadi atau golongan demi tercapainya tujuan yang ditetapkan bersama menahan diri terhadap godaan yang berpotensi mempengaruhi substansi keputusan mengkonfirmasi kepada semua anggota tim kerja PPBJ-P mengenai pertemuan dengan pihak lain yang akan dan telah dilaksanakan, baik sendiri atau bersama, baik dalam hubungan dengan tugas maupun tidak

(2) Jajaran JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PBJ dilarang: a. menggunakan jabatan di JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJ-P untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan b. menggunakan nama JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJP untuk mendapatkan keuntungan pribadi c. menggunakan sumber daya JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJ-P untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan d. menerima imbalan yang bernilai uang dalam kegiatan yang berkaitan dengan hal kasus dugaan KKN e. meminta kepada atau menerima bantuan dari siapapun dalam bentuk apapun yang memiliki potensi benturan kepentingan (conflict of intrest) dengan visi dan misi gerakan pemberantas korupsi. f. melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme dalam segala kegiatan PPBJ-P
36
Daftar Simak Monitoring

(3) Jajaran yang berhenti atau diberhentikan berkewajiban; a. Mengembalikan setiap barang inventaris kantor dan dokumen atau bahan-bahan yang berkaitan dengan kerja JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJ-P b. Tidak mengungkapkan kepada publik atau menggunakan informasi rahasia yang didapatkan sebagai konsekuensi pelaksanaan tugas selama di JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJ-P, baik secara langsung maupun tidak langsung. BAB V SA N K S I Pasal 7 (1) Anggota JARINGAN NASIONAL PEMANTAU PPBJ-P yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan terhadap Kode Etik ini dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahan (2) Penjatuhan sanksi akan ditentukan oleh Komite Etik yang akan dibentuk secara ad hoc. BAB VI KOMITE ETIK Pasal 8 (1) Komite Etik dibentuk apabila terjadi pelanggaran oleh anggota jaringan PPBJ-P terhadap kode etik (2) Komite Etik sebagaimana ayat (1) sekurang-kurangnya terdiri dari 1 orang ketua merangkap anggota dan 2 orang anggota (3) Untuk menjadi anggota komite etik harus memenuhi syarat: a. memiliki integritas moral dan yang sudah teruji b. memiliki kapasitas yang cukup dalam hal PPBJ-P c. diusulkan oleh sekurang-kurangnya 3 anggota jaringan PPBJ-P di region TKP dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 50%+1dari seluruh anggota jaringan PPBJ-P di region tersebut

Daftar Simak Monitoring

37

d. penentuan Komite Etik sebagaimana dimaksud point C dilakukan melalui forum antar anggota jaringan PPBJ-P di region tersebut e. penentuan region akan diatur berdasarkan provinsi Pasal 9 Mekanisme Kerja (hukum Acara) Komite Etik (1) (2) (3) (4) Komite Etik melakukan pendalaman kasus pelanggaran Komite Etik memanggil pihak yang diduga melanggar kode etik Komite Etik melakukan sidang perkara Komite Etik melakukan pengambilan keputusan melalui sidang komite BAB VII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 10 Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini, akan diatur lebih lanjut oleh Pertemuan Nasional Jaringan PPBJ-P BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 11 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan KepUtusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan Ditetapkan di: Yogyakarta Pada tanggal : 11 Februari 2006 JARINGAN NASIONAL PENGAWAS PENGADAAN BARANG DAN JASA PUBLIK TTD ANGGOTA JARINGAN PPBJ-P
38
Daftar Simak Monitoring

LAMPIRAN 8

SUSUNAN LENGKAP UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1999 SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa; b. bahwa untuk lebih menjamin kepastian hukum, menghindari keragaman penafsiran hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat, serta perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi, perlu diadakan perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Undang-undang tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
Daftar Simak Monitoring

39

Mengingat : 1. 2. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (2) dan ayat (4) Undang-undang Dasar 1945; Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Nomor 3851); Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3874);

3.

4.

Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI PEMBERANTASAN

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.

40

Daftar Simak Monitoring

2. Pegawai Negeri adalah meliputi: a. Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Kepegawaian; b. Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undangundang Hukum Pidana; c. Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah; d. Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah, atau e. Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal dan fasilitas dari negara atau masyarakat. 3. Setiap orang adalah perseorangan atau termasuk korporasi. BAB II TINDAK PIDANA KORUPSI Pasal 2 (1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). (2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan. Pasal 3 Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun
Daftar Simak Monitoring

41

dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Pasal 4 Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. Pasal 5 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singakat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang: a. memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajiban; atau b. memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelengara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya. (2) Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 6 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling

42

Daftar Simak Monitoring

banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang: a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; atau b. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili. (2) Bagi hakim yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau advokat yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 7 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah); a. pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan, atau menjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan, melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang; b. setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf a; c. setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang; atau

Daftar Simak Monitoring

43

d. setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf e. (2) Bagi orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia dan membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf c, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 8 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah), pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut. Pasal 9 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi.

44

Daftar Simak Monitoring

Pasal 10 Dipidana dengan pidana paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja: a. menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya; atau membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut; atau membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut. Pasal 11 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. Pasal 12 Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
45

b.

c.

Daftar Simak Monitoring

a. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya. b. pegawai negeri atau penyelenggara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya; c. hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; d. seseorang yang menurut ketentuan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan, menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili; e. pegawai negeri atau penyelenggara dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri; f. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta, menerima, atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang; g. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang;
46
Daftar Simak Monitoring

h. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, telah menggunakan tanah negara yang diatasnya terdapat hak pakai, seolah-olah sesuai dengan peraturan perundangundangan, telah merugikan yang berhak, padahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundangundangan; atau i. pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan, yang pada saat dilakukan untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya. Pasal 12 A (1) Ketentuan mengenai pidana dan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12 tidak berlaku bagi tindak pidana korupsi yang nilainya kurang dari Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah). (2) Bagi pelaku tindak pidana korupsi yang nilainya kurang dari Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 12 B (1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut: a. yang nilainya Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi. b. yang nilainya kurang dari Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.

Daftar Simak Monitoring

47

(2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.0000,00 (satu miliar rupiah). Pasal 12 C (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (1) tidak berlaku, jika penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan oleh penerima gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima. (3) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal menerima laporan wajib menetapkan gratifikasi dapat menjadi milik penerima atau milik negara. (4) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan penentuan status gratifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur dalam Undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 13 Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). Pasal 14 Setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-undang yang secara tegas menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undang48

Daftar Simak Monitoring

undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi berlaku ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Pasal 15 Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, sampai dengan Pasal 14. Pasal 16 Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan untuk terjadi tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, sampai dengan Pasal 14. Pasal 17 Selain dapat dijatuhi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan Pasal 14, terdakwa dapat dijatuhi pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18. Pasal 18 (1) Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undangundang Hukum Pidana, sebagai tambahan adalah: a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut; b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi;

Daftar Simak Monitoring

49

c. penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun; d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada terpidana. (2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1(satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. (3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan. Pasal 19 (1) Putusan pengadilan mengenai perampasan barang-barang bukan kepunyaan terdakwa tidak dijatuhkan, apabila hak-hak pihak ketiga yang beritikad baik akan dirugikan. (2) Dalam hal putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk juga barang pihak ketiga yang mempunyai itikad baik, maka pihak ketiga tersebut dapat mengajukan surat keberatan kepada pengadilan yang bersangkutan, dalam waktu paling lambat 2 (dua) bulan setelah putusan pengadilan diucapkan di sidang terbuka untuk umum. (3) Pengajuan surat keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan pengadilan. (4) Dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), hakim meminta keterangan penuntut umum dan pihak yang berkepentingan. (5) Penetapan hakim atas surat keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dimintakan kasasi ke Mahkamah Agung oleh pemohon atau penuntut umum.

50

Daftar Simak Monitoring

Pasal 20 (1) Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan atau pengurusnya. (2) Tindak pidana Korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersamasama. (3) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus. (4) Pengurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat diwakili oleh orang lain. (5) Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri di pengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya pengurus tersebut dibawa ke sidang pengadilan. (6) Dalam hal tuntutan pidana terhadap korporasi, maka panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau di tempat pengurus berkantor. (7) Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda, dengan ketentuan maksimum pidana ditambah 1/3 (satu pertiga).

Daftar Simak Monitoring

51

BAB III TINDAK PIDANA LAIN YANG BERKAITAN DENGAN TINDAK PIDANA KORUPSI Pasal 21 Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka dan terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). Pasal 22 Setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, dipidana dengan pidana paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). Pasal 23 Dalam perkara korupsi, pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220, Pasal 231, Pasal 421, Pasal 422, Pasal 429 atau Pasal 430 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dipidana dengan pidana penjara paling sedikit 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Pasal 24 Saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

52

Daftar Simak Monitoring

BAB IV PENYIDIKAN, PENUNTUTAN, DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN Pasal 25 Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana korupsi harus didahulukan dari perkara lain guna penyelesaian secepatnya. Pasal 26 Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang ini. Pasal 26 A Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188 ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari: a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang diatas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna. Pasal 27 Dalam hal ditemukan tindak pidana korupsi yang sulit pembuktiannya, maka dapat dibentuk tim gabungan di bawah koordinasi Jaksa Agung

Daftar Simak Monitoring

53

Pasal 28 Untuk kepentingan penyidikan, tersangka wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau anak korporasi yang diketahui dan atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan tersangka. Pasal 29 (1) Untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta keterangan kepada bank tentang keadaaan keuangan tersangka atau terdakwa. (2) Permintaan keterangan kepada bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan kepada Gubernur Bank Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) Gubernur Bank Indonesia berkewajiban untuk memenuhi permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dalam waktu selambatlambatnya 3 (tiga) hari kerja, terhitung sejak dokumen permintaan diterima secara lengkap. (4) Penyidik, penuntut umum, atau hakim dapat meminta kepada bank untuk memblokir rekening simpanan milik tersangka atau terdakwa yang diduga hasil dari korupsi. (5) Dalam hal pemeriksaan terhadap tersangka atau terdakwa tidak diperoleh bukti yang cukup, atas permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim, bank pada hari itu juga mencabut pemblokiran. Pasal 30 Penyidik berhak membuka, memeriksa, dan menyita surat dan kiriman, melalui pos, telekomunikasi atau alat lainnya yang dicurigai mempunyai hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang sedang diperiksa.
54
Daftar Simak Monitoring

Pasal 31 (1) Dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, saksi dan orang lain yang bersangkutan dengan tindak pidana korupsi dilarang menyebut nama atau alamat pelapor, atau hal-hal yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor. (2) Sebelum pemeriksaan dilakukan, larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberitahukan kepada saksi dan orang lain tersebut. Pasal 32 (1) Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil peyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan. (2) Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut kerugian terhadap keuangan negara. Pasal 33 Dalam hak tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penyidikan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya. Pasal 34 Dalam hal terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan di sidang pengadilan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penuntut umum segera menyerahkan salinan berkas berita acara sidang tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya.

Daftar Simak Monitoring

55

Pasal 35 (1) Setiap orang wajib memberi keterangan sebagai saksi atau ahli, kecuali ayah, ibu, kakek, nenek, saudara kandung, istri atau suami, anak, dan cucu dari terdakwa. (2) Orang yang dibebaskan sebagai saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat diperiksa sebagai saksi apabila mereka menghendaki dan disetujui secara tegas oleh terdakwa. (3) Tanpa persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), mereka dapat memberikan keterangan sebagai saksi tanpa di sumpah. Pasal 36 Kewajiban memberikan kesaksian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 berlaku juga terhadap mereka yang menurut pekerjaan, harkat dan martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, kecuali petugas agama yang menurut keyakinannya harus menyimpan rahasia. Pasal 37 (1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. (2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi, maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti. Pasal 37 A (1) Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan. (2) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan tentang kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya, maka keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
56
Daftar Simak Monitoring

digunakan untuk memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak pidana atau perkara pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undangundang ini, sehingga penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Pasal 38 (1) Dalam hal terdakwa telah secara sah, dan tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah, maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa kehadirannya. (2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan, maka terdakwa wajib diperiksa, dan segala keterangan saksi dan surat-surat yang dibacakan dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkan dalam sidang yang sekarang. (3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh penuntut umum pada papan pengumuman pengadilan, kantor Pemerintah Daerah, atau diberitahukan kepada kuasanya. (4) Terdakwa atau kuasanya dapat mengajukan banding atas putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (5) Dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana korupsi, maka hakim atas tuntutan penuntut umum menetapkan perampasan barang-barang yang telah disita. (6) Penetapan perampasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tidak dapat dimohonkan upaya banding. (7) Setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan yang telah menjatuhkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman sebagaimana dimaksud dalam ayat (3).

Daftar Simak Monitoring

57

Pasal 38 A Pembuktian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (1) dilakukan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan. Pasal 38 B (1) Setiap orang yang didakwa melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini, wajib membuktikan sebaliknya terhadap harta benda miliknya yang belum didakwakan, tetapi juga diduga berasal dari tindak pidana korupsi. (2) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa harta bendanya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh bukan karena tindak pidana korupsi, harta benda tersebut dianggap diperoleh juga dari tindak pidana korupsi dan hakim berwenang memutuskan seluruh atau sebagian harta benda tersebut dirampas untuk negara. (3) Tuntutan perampasan harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan oleh penuntut umum pada saat membacakan tuntutannya pada perkara pokok. (4) Pembuktian bahwa harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bukan berasal dari tindak pidana korupsi diajukan oleh terdakwa pada saat membacakan pembelaannya dalam perkara pokok dan dapat diulangi pada memori banding dan memori kasasi. (5) Hakim wajib membuka persidangan yang khusus untuk memeriksa pembuktian yang diajukan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (4). (6) Apabila terdakwa dibebaskan atau dinyatakan lepas dari segala tuntutan hukum dari perkara pokok, maka tuntutan perampasan harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus ditolak oleh hakim.

58

Daftar Simak Monitoring

Pasal 38 C Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga didapat berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 B ayat (2), maka negara dapat melakukan gugatan perdata terhadap terpidana dan atau ahli warisnya. Pasal 39 Jaksa Agung mengkoordinasikan dan mengendalikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang yang tunduk pada Peradilan Umum dan Peradilan Militer. Pasal 40 Dalam hal terdapat cukup alasan untuk mengajukan perkara korupsi di lingkungan Peradilan Militer, maka ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 123 ayat (1) huruf g Undang-undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer tidak dapat diberlakukan.

BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 41 (1) Masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diwujudkan dalam bentuk: a. hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi;

Daftar Simak Monitoring

59

b. hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi. c. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi; d. hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari; e. hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal: 1) melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c; 2) diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan di sidang pengadilan sebagai saksi pelapor, saksi, atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; (3) Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. (4) Hak dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas atau ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menaati norma agama dan norma sosial lainnya. (5) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 42 (1) Pemerintah memberikan penghargaaan kepada anggota masyarakat yang telah berjasa membantu upaya pencegahan, pemberantasan, atau pengungkapan tindak pidana korupsi.
60

Daftar Simak Monitoring

(2) Ketentuan mengenai penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Daftar Simak Monitoring

61

BAB VI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 43 (1) Dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-undang ini mulai berlaku, dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (2) Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai tugas dan wewenang melakukan koordinasi dan supervisi, termasuk melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) Keaggotaan Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur Pemerintah dan unsur masyarakat. (4) Ketentuan mengenai pembentukan, susunan organisasi, tata kerja, pertanggungjawaban, tugas dan wewenang, serta keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3) diatur dengan Undang-undang.

BAB VIA KETENTUAN PERALIHAN Pasal 43 A (1) Tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diundangkan, diperiksa dan diputus berdasarkan ketentuan Undangundang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ketentuan maksimum pidana penjara yang menguntungkan bagi terdakwa diberlakukan ketentuan dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 Undang-undang ini dan Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (2) Ketentuan minimum pidana penjara dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 Undang-undang ini dan Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
62
Daftar Simak Monitoring

Tindak Pidana Korupsi tidak beraku bagi tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. (3) Tindak Pidana Korupsi yang terjadi sebelum Undang-undang ini diundangkan, diperiksa dan diputus berdasarkan ketentuan Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ketentuan mengenai maksimum pidana penjara bagi tindak pidana korupsi yang nilainya kurang dari Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah) berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 A ayat (2) Undang-undang ini.

BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 B Pada saat berlakunya Undang-undang ini, Pasal 209, Pasal 210, Pasal 387, Pasal 388, Pasal 415, Pasal 416, Pasal 417, Pasal 418, Pasal 419, Pasal 420, Pasal 423, Pasal 425, dan Pasal 435 Kitab Undang-undang Hukum Pidana jis. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (Berita Republik Indonesia II Nomor 9), Undang-undang Nomor 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negera Nomor 1660) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan terhadap Keamanan Negara, dinyatakan tidak berlaku. Pasal 44 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini, maka Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2958), dinyatakan tidak berlaku.
63

Daftar Simak Monitoring

Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkah di Jakarta pada tanggal 21 November 2001 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

64

Daftar Simak Monitoring

LAMPIRAN 9

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 ayat (5) dan Pasal 42 ayat (5) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Daftar Simak Monitoring

65

Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3874); MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: (1) Peran serta masyarakat adalah peran aktif perorangan, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. (2) Komisi adalah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

66

Daftar Simak Monitoring

BAB II HAK DAN TANGGUNG JAWAB MASYARAKAT Bagian Pertama Hak dan Tanggung Jawab Masyarakat Dalam Mencari, Memperoleh, Memberi Informasi, Saran, dan Pendapat Pasal 2 (1) Setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi serta menyampaikan saran dan pendapat kepada penegak hukum dan atau Komisi mengenai perkara tindak pidana korupsi. (2) Penyampain informasi, saran, dan pendapat atau permintaan informasi harus dilakukan secara bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, norma agama, kesusilaan, dan kesopanan. Pasal 3 (1) Informasi, saran, atau pendapat dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, harus disampaikan secara tertulis dan disertai: a. data mengenai nama dan alamat pelapor, pimpinan Organisasi Masyarakat, atau pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat dengan melampirkan foto kopi kartu tanda penduduk atau identitas diri lain; dan b. keterangan mengenai dugaan pelaku tindak pidana korupsi dilengkapi dengan bukti-bukti permulaan. (2) Setiap informasi, saran, atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum.

Daftar Simak Monitoring

67

Bagian Kedua Hak dan Tanggung Jawab Masyarakat Dalam Memperoleh Pelayanan dan Jawaban dari Penegak Hukum Pasal 4 (1) Setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat berhak memperoleh pelayanan dan jawaban dari penegak hukum atau Komisi atas informasi, saran, atau pendapat yang disampaikan kepada penegak hukum atau Komisi. (2) Penegak hukum atau Komisi wajib memberikan jawaban secara lisan atau tertulis atas informasi, saran, atau pendapat dari setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi, saran atau pendapat diterima. (3) Dalam hal tertentu penegak hukum atau komisi dapat menolak memberikan isi informasi atau memberikan jawaban atas saran atau pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Hak dan Tanggung Jawab Masyarakat Dalam Memperoleh Perlindungan Hukum Pasal 5 (1) Setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat sebagimana dimaksud Pasal 3 ayat (1) berhak atas perlindungan hukum baik mengenai status hukum maupun rasa aman. (2) Perlindungan mengenai status hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak diberikan apabila dari hasil penyelidikan atau penyidikan terdapat bukti yang cukup yang memperkuat keterlibatan pelapor dalam tindak pidana korupsi yang dilaporkan.

68

Daftar Simak Monitoring

(3) Perlindungan mengenai status hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) juga tidak diberikan apabila terhadap pelapor dikenakan tuntutan dalam perkara lain. Pasal 6 (1) Penegak hukum atau Komisi wajib merahasiakan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor atau isi informasi, saran, atau pendapat yang disampaikan. (2) Apabila diperlukan, atas permintaan pelapor, penegak hukum atau Komisi dapat memberikan pengamanan fisik terhadap pelapor maupun keluarganya. BAB III PEMBERIAN PENGHARGAAN Pasal 7 (1) Setiap orang, Organisasi Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat yang telah berjasa dalam usaha membantu upaya pencegahan atau pemberantasan tindak pidana korupsi berhak mendapat penghargaan. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa piagam atau premi. Pasal 8 Ketentuan mengenai tata cara pemberian penghargaan serta bentuk dan jenis piagam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) ditetapkan dengan Ketentuan Menteri Hukum dan Perundang-undangan. Pasal 9 Besar premi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) ditetapkan paling banyak sebesar 2^ (dua permil) dari nilai kerugian keuangan negara yang dikembalikan.

Daftar Simak Monitoring

69

Pasal 10 (1) Piagam diberikan kepada pelapor setelah perkara dilimpahkan ke Pengadilan Negeri. (2) Penyerahan piagam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Penegak Hukum atau Komisi. Pasal 11 (1) Premi diberikan kepada pelapor setelah putusan pengadilan yang memidana terdakwa memperoleh kekuatan hukum tetap. (2) Penyerahan premi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Jaksa Agung atau pejabat yang ditunjuk. BAB IV KETENTUAN PENUTUP Pasal 12 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Agustus 2000

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd ABDURRAHMAN WAHID

70

Daftar Simak Monitoring

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

I.

UMUM

Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam Pasal 41 ayat (5) dan Pasal 42 ayat (5) menegaskan bahwa tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dan pemberian penghargaan dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi perlu diatur dengan Peraturan Pemerintah. Peran serta masyarakat tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam penyelenggaraan negara yang bersih dari tindak pidana korupsi. Di samping itu, dengan peran serta tersebut masyarakat akan lebih bergairah untuk melaksanakan kontrol sosial terhadap tindak pidana korupsi. Peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi diwujudkan dalam bentuk antara lain mencari, memperoleh, memberikan data atau informasi tentang tindak pidana korupsi dan hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab terhadap pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang memberikan hak kepada masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.

Daftar Simak Monitoring

71

Jujur, dan tidak diskriminatif mengenai pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, maka dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mengenai hak dan tanggung jawab masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggungjawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan mentaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan Pemerintah ini juga mengatur mengenai kewajiban pejabat yang berwenang atau Komisi untuk memberikan jawaban atau menolak memberikan isi informasi, saran atau pendapat dari setiap orang, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat. Sebaliknya masyarakat berhak menyampaikan keluhan, saran, atau kritik tentang upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi yang dianggap tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengalaman dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa keluhan, saran, atau kritik masyarakat tersebut sering tidak ditanggapi dengan baik dan benar oleh pejabat yang berwenang. Dengan demikian, dalam rangka mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, pejabat yang berwenang atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diwajibkan untuk memberikan jawaban atau ketentuan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Kewajiban tersebut diimbangi pula dengan kesempatan pejabat yang berwenang atau komisi pemberantasan tindak pidana korupsi menggunakan hak jawab berupa bantahan terhadap informasi yang tidak benar dari masyarakat. Disamping itu untuk memberi motivasi yang tinggi kepada masyarakat, maka dalam Peraturan Pemerintah ini diatur pula pemberian penghargaan kepada masyarakat yang berjasa terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan tindak pidana korupsi berupa piagam atau premi.

72

Daftar Simak Monitoring

II.

PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “penegak hukum” adalah aparat kepolisian dan kejaksaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 3 Ayat (1) Ketentuan ini merupakan wujud pertanggungjawaban sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (4) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sehingga tata cara penyampaian pendapat yang diatur dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum tidak berlaku. Yang dimaksud dengan “pelapor” adalah orang yang memberi suatu informasi kepada penegak hukum atau komisi mengenai terjadinya suatu tindak pidana korupsi dan bukan pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 24 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Daftar Simak Monitoring

73

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan “dalam hal tertentu” adalah dalam hal mengenai sesuatu masalah diatur lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku misalnya yang berkaitan dengan kerahasiaan (rahasia bank dan rahasia pos). Pasal 5 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “status hukum” adalah status seseorang pada waktu menyampaikan suatu informasi, saran, atau pendapat kepada penegak hukum atau Komisi dijamin tetap, misalnya status sebagai pelapor tidak diubah menjadi sebagai tersangka. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 Cukup Jelas
74
Daftar Simak Monitoring

Daftar Simak Monitoring

75

78

Daftar Simak Monitoring

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->