P. 1
Toolkit Anti Korupsi Bidang Pengadaan Barang Dan Jasa 2009

Toolkit Anti Korupsi Bidang Pengadaan Barang Dan Jasa 2009

|Views: 141|Likes:
Published by Ahmad Abdul Haq

More info:

Published by: Ahmad Abdul Haq on Feb 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2014

pdf

text

original

BIDANG PENGADAAN BARANG DAN JASA

Toolkit Anti Korupsi

Toolkit Anti Korupsi

BIDANG PENGADAAN BARANG DAN JASA

Toolkit Anti Korupsi

AKU

TOOLKIT ANTI KORUPSI BIDANG PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH

Penyusun: Sarwedi Oemarmadi Budihardjo Hardjowiyono Hayie Muhammad Editor: Kiki Bambang Kisworo Design Cover: Iriawan Cahyadi Layout & Setting: Ohan Soehrowandi Diterbitkan oleh: Indonesia Procurement Watch Jl. Tebet Raya No.3A Jakarta Selatan Telp/Fax : 021-8296452
BARANGSIAPA MENGCOPY, MEMPERBANYAK ATAU MENGUTIP SELURUH ATAU SEBAGIAN BUKU INI, HARUS MENDAPAT IZIN DARI INDONESIA PROCUREMENT WATCH

Didukung oleh: USAID-LGSP

Toolkit Anti Korupsi

KATA PENGANTAR Korupsi adalah salah satu dari sekian banyak masalah besar yang sedang kita hadapi sekarang ini. Tidak ada cara mudah dan jalan pintas untuk memberantas korupsi. Korupsi, sampai tingkat tertentu akan selalu hadir di tengah-tengah kita. Kita sadar bahwa korupsi, tidak saja mengancam sistem kenegaraan kita tetapi juga menghambat pembangunan dan menurunkan tingkat kesejahteraan jutaan orang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Korupsi telah menciptakan pemerintahan irasional, pemerintahan yang didorong oleh keserakahan, bukan oleh tekad untuk mensejahterakan masyarakat. Salah satu lahan korupsi yang paling subur adalah pengadaan barang dan jasa. Pengadaan barang dan jasa pemerintah melibatkan dana yang sangat besar. Hampir 40 % pengeluaran belanja negara digunakan untuk pengadaan barang dan jasa. Angka tersebut tidak termasuk dana yang dikelola oleh BUMN, parastatal, kontraktor kemitraan dan belum mencakup anggaran pemerintah daerah. Hasil kajian Pemerintah Indonesia yang bekerjasama dengan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia yang tertuang dalam “Country Procurement Assesment Report (CPAR)” tahun 2001, menyebutkan 10% - 50% pengadaan barang dan jasa mengalami kebocoran. Kajian ini memperkuat dugaan bahwa pengadaan barang dan jasa adalah sasaran empuk para pelaku korupsi. Untuk itu tidak ada cara lain bahwa upaya pemberantasan korupsi harus dimulai dari pengadaan barang dan jasa. Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas maka disusunlah Toolkit Anti Korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa ini. Tujuan dari di susunnya Toolkit Anti Korupsi di bidang Pengadaan, dimaksudkan untuk menjadi ‘alat atau ‘instrumen’ dari segenap Iapisan dan kekuatan masyarakat di Indonesia, agar dapat secara aktif berperanserta mencegah merajalelanya penyakit korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Masyarakat selanjutnya dapat melakukan fungsinya sebagai ‘peniup pluit’ (whistleblower) atau semacam “Watchdog”, yang akan segera memberikan alarm atau upaya pencegahan dini yang ditujukan kepada pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan preventif maupun represif yang diperlukan.

Toolkit Anti Korupsi

iii

Sementara itu, dengan Toolkit Anti Korupsi di bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, keseluruhan pihak sipil, dapat melakukan fungsi masing-masing dalam upaya praktek korupsi di bidang pengadaan, baik yang terjadi di tingkat nasional maupun regional dan lokal, baik yang tergolong ‘petty’ atau kecil-kecilan, maupun ‘grand’ yang tergolong besarbesaran. Melalui Toolkit ini diharapkan dapat memberikan ‘public awareness’ yang maksimal bagi masyarakat, disamping dapat pula memberikan pengetahuan praktis tentang ‘modus-modus operandi’ korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa pemerintah, yang pada saat ini masih sangat ‘kurang diperhatikan’ dibanding dengan bentuk-bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme di bidang lainnya, seperti halnya korupsi terjadi di perbankan, perpajakan dan perdagangan. Ilustrasi di bawah ini menjelaskan bahwa upaya diagnostik, menentukan symptom dan terapi terhadap proses pengadaan barang dan jasa pemerintah di suatu unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan di sektor publik, bisnis maupun masyarakat sipil. Akhirnya semoga buku kecil dan sederhana ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas dalam upaya pemberantasan korupsi, khususnya di bidang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Selamat berjuang membasmi korupsi. Indonesia Procurement Watch Prof. Dr. Komaruddin Hidayat Ketua Dewan Pengurus

iv

Toolkit Anti Korupsi

PENGANTAR DARI USAID USAID/lndonesia bersyukur atas prakarsa Indonesia Procurement Watch untuk membekali anggota masyarakat dan LSM yang peduli dengan informasi dan perangkat yang diperlukan untuk memerangi korupsi. Upaya ini semakin besar artinya bila kita pertimbangkan betapa besar korupsi telah merugikan ekonomi negara ini dan dampak kerugiannya terhadap kehidupan setiap warga. Kami di USAID bertekad membantu pemerintah dan warga Indonesia dalam upaya memberantas korupsi. USAID gembira dapat mendukung IPW dalam mengembangkan perangkat ini sehingga dapat digunakan oleh masyarakat dan LSM untuk membangun pemerintahan daerah yang bertanggungjawab. Melalui program Local Governance Support Program (LGSP), kami juga membantu pemerintah daerah dengan meningkatkan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan agar mereka semakin tanggap dan mampu dalam memberi pertanggungjawaban kepada warganya. Bagi mereka yang akan memanfaatkan dokumen ini, saya ucapkan semoga berhasil!

William M. Frej USAID/lndonesia Mission/Director

Toolkit Anti Korupsi

v

UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kami ucapkan kepada ALLAH SWT, karena atas izin dan perkenanNya akhirnya buku “Toolkit Anti Korupsi Bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah” ini dapat kami terbitkan. Penerbitan buku ini sebenarnya telah lama IPW rencanakan, namun karena kesibukan dan kendala teknis baru sekarang buku ini dapat kami terbitkan. Dengan terbitnya buku Toolkit Anti Korupsi Bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ini, kiranya dapat menjadi pegangan bagi para aktivis anti korupsi, mahasiswa, praktisi hukum dan siapa saja yang berminat dan peduli terhadap pemberantasan korupsi khususnya korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa publik. Dalam kesempatan ini IPW menyampaikan terima kasih kepada Bappenas dan ADB (Asian Development Bank), sehingga buku ini dapat diketahui dan digunakan oleh masyarakat secara luas. Selain itu IPW juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada USAID-LGSP sehingga memungkinkan penerbitan buku ini. Serta pihak-pihak yang telah banyak memberikan dukungan dan dorongan yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu atas penerbitan buku ini. Semoga buku ini memberi manfaat dalam pelaksanaan good governance dan upaya-upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Indonesia Procurement Watch Budihardjo Hardjowijono Direktur Eksekutif vi
Toolkit Anti Korupsi

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ....................................................................................................................................................................................... ii Pengantar dari USAID .......................................................................................................................................................................... v Ucapan Terima Kasih ............................................................................................................................................................................. vi Daftar Isi .................................................................................................................................................................................................. vii Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa Menentang Korupsi ......................................................................................................... viii 1. Arti dan Pengertian Korupsi ......................................................................................................................................................... 2. Hakekat dari 10 Tindak Korupsi di Bidang Public Procurement ........................................................................................................ 1 3

3. Program Anti Korupsi di Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Public Procurement) ..................................... 9 a. Landasan Good Governance sebagai Platform Dasar Program Anti Korupsi di Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah .................................................................................................................................................................. 9 b. Mempelajari Patologi di Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah ...................................................................... 10 c. Tujuan dan Kegunaan dari Toolkit Anti Korupsi di Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah ...................... 19 4. Patologi Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah ....................................................................................................... 21 5. Catatan .............................................................................................................................................................................................. 81 Lampiran .................................................................................................................................................................................................. 84 Profil Indonesia Procurement Watch ............................................................................................................................................... 91

Toolkit Anti Korupsi

vii

KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENENTANG KORUPSI PEMBUKAAN Para negara pihak pada konvensi ini, Prihatin atas gawatnya masalah dan ancaman yang ditimbulkan oleh korupsi terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat yang merusak lembaga-lembaga dan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai etika dan keadilan serta mengacaukan pembangunan yang berkesinambungan dan penegakan hukum, Prihatin juga atas hubungan antara korupsi dan bentuk-bentuk lain kejahatan, khususnya kejahatan terorganisir dan kejahatan ekonomi, termasuk pencucian uang. Prihatin lebih lanjut atas kasus-kasus korupsi yang melibatkan jumlah aset yang besar yang boleh jadi merupakan bagian substansial dari sumber daya dari negara-negara, dan yang mengancam stabilitas politik dan pembangunan yang berkesinambungan negara-negara tersebut. Yakin bahwa korupsi tidak lagi merupakan masalah lokal tetapi merupakan fenomena internasional yang mempengaruhi seluruh masyarakat dan ekonomi, yang menjadikan kerjasama internasional untuk mencegah dan mengendalikannya sangat penting, Yakin juga bahwa suatu pendekatan yang komprehensif dan multidisipliner diperlukan untuk mencegah dan memberantas korupsi secara efektif. Yakin selanjutnya bahwa keberadaan bantuan teknis dapat memainkan peranan yang penting dalam meningkatkan kemampuan negara-negara, termasuk dengan memperkuat kapasitas dan dengan pembangunan lembaga untuk mencegah dan memberantas korupsi secara efektif. Yakin bahwa perolehan yang tidak sah atas kekayaan pribadi dapat secara khusus merusak lembaga-lembaga demokrasi, ekonomi nasional dan penegakan hukum, Berketetapan untuk mencegah, mendeteksi dan menghambat dengan cara yang lebih efektif pengalihan internasional atas aset yang diperoleh secara tidak sah dan untuk memperkuat kerjasama internasional dalam pengembalian aset, viii
Toolkit Anti Korupsi

Mengakui prinsip-prinsip dasar proses hukum yang semestinya dalam proses pidana dan perdata atau proses administratif untuk mengadili hak-hak atas kekayaan, Mengingat bahwa pencegahan dan pemberantasan korupsi merupakan tanggung jawab semua negara dan bahwa mereka harus saling bekerjasama, dengan dukungan dan keterlibatan perorangan dan kelompok di luar sektor publik, seperti masyarakat madani, organisasi-organisasi non pemerintah, dan organisasi-organisasi berbasis masyarakat apabila upaya-upaya mereka dalam bidang ini diharapkan efektif, Mengingat juga prinsip-prinsip pengelolaan yang layak atas urusan-urusan publik dan kekayaan publik, kejujuran, tanggung jawab dan kesetaraan di muka hukum dan kebutuhan untuk menjaga integritas dan untuk memperkuat budaya penolakan terhadap korupsi, Menghargai hasil kerja Komisi Pencegahan Kejahatan dan Pengadilan Pidana dan Dinas Perserikatan Bangsa-Bangsa Untuk Obat Bius dan Kejahatan dalam mencegah dan memberantas korupsi. Mengingat hasil kerja organisasi-organisasi internasional dan regional lainnya dalam bidang ini, termasuk kegiatankegiatan Uni Afrika, Dewan Eropa, Dewan Kerjasama Kepabeanan (juga dikenal sebagai Organisasi Kepabeanan Dunia), Uni Eropa, Liga Negara-Negara Arab, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dan Organisasi Negaranegara Amerika, Mencatat dengan perghargaan instrumen-instrumen multilateral untuk mencegah dan memberantas korupsi, termasuk antara lain Konvensi Antar Amerika Terhadap Korupsi yang diputuskan Organisasi Negara-negara Amerika pada 29 Maret 1996, Konvensi tentang Perlawanan terhadap Korupsi yang melibatkan pejabat-pejabat Masyarakat Eropa data Pejabat-pejabat Negara-Negara Anggota Uni Eropa yang diputuskan oleh Dewan Uni Eropa pada 26 Mei 1997, Konvensi tentang Memberantas Penyuapan Pejabat-pejabat Publik Asing dalam transaksi-transaksi Usaha Internasional yang diputuskan oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan pada 21 November 1997, Konvensi Hukum Pidanan tentang Korupsi, yang diputuskan oleh Komite Menteri-menteri Dewan Eropa pada 27 Januari 1999, Konvensi Hukum Perdata tentang Korupsi, yang diputuskan oleh Komite Menteri-menteri Dewan Eropa pada 4 November 1999, dan Konvensi Uni Afrika tentang Mencegah dan Memberantas Korupsi, yang diputuskan oleh Kepala-Kepala Negara dan Pemerintah Uni Afrika pada 12 Juli 2003.

Toolkit Anti Korupsi

ix

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun. Setiap orang yang: a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau memberi sesuatu kepada pengawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

b.

Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dengan ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) (Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagai mana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001) x
Toolkit Anti Korupsi

Latar Belakang
1. Arti dan Pengertian Korupsi
Pengertian 'korupsi' dari segi kaidah hukum yang bersifat normatif, berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (pasal 2 ayat 1), adalah "setiap orang yang secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara". Dalam hal tentang pengertian yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, maka secara implisit maupun eksplisit, terkandung pengertian tentang keuangan atau kekayaan milik 'pemerintah' atau 'swasta', maupun 'masyarakat', baik secara keseluruhan maupun sebagian, sebagai unsur pokok atau elemen yang tidak terpisahkan dari pengertian 'negara' atau 'state'. Pengertian lain yang sering ditemui adalah "abuse of power" atau penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan". Dalam praktek tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang ini lebih sering ditemui, bahkan hampir 90% tindak pidana korupsi melibatkan pejabat publik yang memegang jabatan publik. “...... dalam pemberantasan KKN diperlukan revitalisasi institusi hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman..” “..... harus dipilih juga pejabat yang bebas KKN, penegak hukum yang berani, tegas dalam menindak pelanggaran hukum dan akan memberikan hukuman yang berat dan setimpal kepada koruptor..” (Susilo Bambang Yudhoyono - Presiden RI) “..... Perlu ada pengawasan dan sistem yang kuat disertai shock therapy dan kontinuitas dalam tindakan. Untuk korupsi masa lalu, semua yang masih ada harus berjalan dan dibuka kembali. Pelakunya tetap diadili, siapapun dia..” (Jusuf Kalla - Wakil Presiden RI)

Toolkit Anti Korupsi

1

Pada bulan Maret 2006 Pemerintah telah meratifikasi Konvensi PBB Menentang Korupsi tahun 2003, yang dikenal dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Korupsi – UN Convention Against Corruption. Dampak dari ratifikasi tersebut sudah jelas akan ada amandemen terhadap semua produk hukum yang terkait dengan tindak pidana korupsi. Amandemen harus dilakukan karena terdapat sekian banyak ketentuan yang ada di dalam UNCAC yang tidak terdapat di dalam produk hukum tindak pidana korupsi di Indonesia. Terkait dengan yang sebelumnya menurut hukum Indonesia bukan merupakan tindak pidana namun sebagai tindak pidana menurut UNCAC (kriminalisasi dijabarkan sebagai berikut): “Konvensi ini berhasil menyepakati dan merumuskan pelbagai tindak pidana yang berkembang baik dalam kehidupan nasional maupun internasional. Pelbagai tindak pidana baru tersebut antara lain berupa pengembangan tindak pidana utama (basic form) dari tindak pidana korupsi sebagai penyuapan (bribery) dan penggelapan (embezzlement) danadana publik, tetapi juga berkaitan dengan apa yang dinamakan “trading in influence:, “Illicit enrichment”, menyembunyikan dan mencuci hasil-hasil korupsi. Di samping itu kriminalisasi juga mencakup perlbagai tindak pidana yang bersifat mendukung tindak pidana korupsi, termasuk : “money laundering” dan “obstructing justice” . Juga korupsi di sektor privat (private sector corruption). Bentuk-bentuk tindak pidana penyuapan yang dikriminalisasikan tidak hanya meliputi tindak pidana penyuapan terhadap pejabat publik domestik tetap juga penyuapan terhadap pejabat publik asing dan pejabat publik pelbagai organisasi internasional. Bentuk-bentuk tindak pidana penyuapan yang dikriminalisasikan tidak hanya meliputi tindak pidana penyuapan terhadap pejabat publik domestik tetap juga penyuapan terhadap pejabat publik asing dan pejabat publik pelbagai organisasi internasional. Dikriminalisasikan juga “bribery in the private sector” yang dilakukan dengan sengaja dalam kerangka aktivitas di bidang ekonomi, finansial dan perdagangan (commercial). Penyuapan di sektor privat ini dilakukan terhadap seseorang yang bekerja dalam suatu kapasitas, baik untuk kepentingan lembaga privat tersebut, untuk diri sendiri atau orang lain, dengan maksud agar dia berbuat atau tidak berbuat yang melanggar kewajibannya. Demikian juga penggelapan di sektor privat yang dilakukan dalam kerangka aktivitas ekonomi, financial atau komersial.
2
Toolkit Anti Korupsi

2. Hakekat dari 13 Tindak Korupsi di bidang Public Procurement
Konvensi PBB Anti Korupsi (UN Convention Against Corruption) telah di adopsi oleh Sidang Majelis Umum Perserikatan Bang-Bangsa, dalam resolusinya Nomor 58/4 tanggal 31 Oktober 2003, dan terbuka untuk di tandatangani di Merida Mexico dari tanggal 9 Desember sampai tanggal 11 Desember 2003. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 116 negara dan telah diratifikasi oleh lebih 25 negara. Indonesia meratifikasi Konvensi ini melalui UU No. 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA ANTI KORUPSI, 2003)
PENYUAPAN Pejabat Public Nasional (Bribery of National Public Officials) Keikutsertaan dan Percobaan Tanggung Jawab Badan-Badan Hukum Penghalangan Pengadilan (Obstructing Justice)
k

Penyuapan Pejabat Publik Asing (Bribery of Foreign Public Officials) Penggelapan (Emblezzlement) Bagaimana & Darimana Uang - Barang - Fasilitas Hasil Korupsi Diperoleh Memperdagangkan Pengaruh (Trading in Influenze) Penyalahgunaan Fungsi (Abuse of Function) Memperkaya Diri Secara Tidak Sah (Illicit Enrichment) Penyuapan di Sektor Swasta (Bribery in the Private Sector)

Penyembunyian (Concealment) Pencucian Hasil Kekayaan (Laundering of Proceeds of Crime) Penggelapan di Sektor Swasta (Emblezzlement in the Private Sector)

Toolkit Anti Korupsi

3

Tindakan korupsi tersebut antara lain adalah, tindakan yang dapat digolongkan sebagai tingkah laku atau perbuatan yang dapat menimbulkan terjadinya kerugian bagi negara, atau perekonomian negara. Dari referensi yang terdapat dalam Toolkit Anti Korupsi tersebut di atas, maka pengertian dari setiap Tindak Korupsi dalam "The 13 Corruption", secara ringkas dapat diuraikan dan digambarkan dalam penjelasan berikut : Tabel 1.Tiga Belas Tindak Pidana Korupsi Menurut UNCAC No. 1 BENTUK TINDAK KORUPSI Penyuapan Pejabat Publik Nasional (Bribery of national public officials) Pemberian dalam bentuk uang, barang, fasilitas dan janji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan yang akan berakibat membawa untung terhadap diri sendiri atau pihak lain, yang berhubungan dengan jabatan yang dipegangnya pada saat itu. 2 Penyuapan Pejabat Publik Asing dan Pejabat Public Organisasi Internasional (Bribery of foreign public officials and officials of public international organization) Pemberian dalam bentuk uang, barang, fasilitas dan janji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan yang akan berakibat membawa untung terhadap diri sendiri atau pihak lain, yang berhubungan dengan jabatan yang dipegangnya pada saat itu. VISUALISASI

4

Toolkit Anti Korupsi

3

Penggelapan, Penyalahgunaan, atau Penyimpangan kekayaan oleh Pejabat Publik (Embezzlement, misappropriation or other diversion of property by a public official) Perbuatan mengambil tanpa hak oleh seorang yang telah diberi kewenangan, untuk mengawasi dan bertanggung jawab penuh terhadap barang milik negara, oleh pejabat publik maupun swasta.maupun orang lain.

4

Memperdagangkan Pengaruh (Trading in influence) Melakukan transaksi publik menggunakan perusahaan milik pribadi atau keluarga, dengan cara mempergunakan kesempatan dan jabatan yang dimilikinya untuk memenangkan kontrak pemerintah

5

Penyalahgunaan Fungsi (Abuse of Function) Mempergunakan kewenangan yang dimiliki, untuk melakukan tindakan yang memihak atau pilih kasih kepada kelompok atau perorangan, sementara bersikap diskriminatif terhadap kelompok atau perorangan lainnya.

Toolkit Anti Korupsi

5

6.

Memperkaya Diri secara tidak Sah (Illicit enrichment) Melakukan transaksi publik menggunakan perusahaan milik pribadi atau keluarga, dengan cara mempergunakan kesempatan dan jabatan yang dimilikinya untuk memenangkan kontrak pemerintah.

7.

Penyuapan di Sektor Swasta (Bribery in the Private Sector) Pemberian dalam bentuk uang, barang, fasilitas dan janji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan yang akan berakibat membawa untung terhadap diri sendiri atau pihak lain, yang berhubungan dengan jabatan yang dipegangnya pada saat itu.

8.

Penggelapan Kekayaan di Sektor Swasta (Embeezlement of property in the private sector) Perbuatan mengambil tanpa hak oleh seorang yang telah diberi kewenangan, untuk mengawasi dan bertanggung jawab penuh terhadap barang milik negara, oleh pejabat publik maupun swasta.

6

Toolkit Anti Korupsi

9.

Pencucian Hasil Kekayaan (Laundering of proceeds of crime) Suatu tindakan atau perilaku untuk mengelabui orang lain atau organisasi untuk keuntungan dan kepentingan dirinya sendiri maupun orang lain.

10.

Penyembunyian (Concealment) Suatu tindakan atau perilaku untuk menyembunyikan kekayaan hasil tindak pidana korupsi, baik untuk organisasi, untuk keuntungan dan kepentingan dirinya sendiri maupun orang lain.

11.

Penghalangan Pengadilan (Obstructing justice) Suatu tindakan sendiri maupun bersama-sama melakukan upaya menghalangi atau mempersulit proses pengadilan.

Toolkit Anti Korupsi

7

12

Tanggung Jawab Badan-badan Hukum Korporasi dan badan hukum harus bertanggungjawab terhadap orang pribadi yang melakukan perbuatan yang menimbulkan tindak pidana korupsi.

13

Keikutsertaan dan Percobaan Melakukan transaksi publik menggunakan perusahaan milik pribadi atau keluarga, dengan cara mempergunakan kesempatan dan jabatan yang dimilikinya untuk memenangkan kontrak pemerintah.

8

Toolkit Anti Korupsi

3. Program Anti Korupsi di Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Public Procurement)
a. Landasan "Good Governance" atau "Pemerintahan yang Baik" sebagai Platform Dasar Program Anti Korupsi di bidang Pengadaan Barang Pemerintah Berbagai 'penyakit' yang mungkin sudah dapat dideteksi dan di-diagnosis, perlu diidentifikasi untuk kemudian dicarikan terapi pengobatannya yang paling mujarab dan efektif. Harus diakui bahwa tidak ada birokrasi pemerintahan yang sama sekali bebas dari berbagai penyakit. Sebaliknya, tidak semua jajaran birokrasi pemerintah yang menderita penyakit semacam ini. Dari analisis keadaan internal dan eksternal, dalam melakukan pendalaman tentang patologi di bidang pengadaan barang pemerintah, maka perlu terlebih dahulu dikemukakan beberapa fakta yang dapat dijadikan bahan masukan secara objektif dan proporsional, tentang praktik pengadaan barang dan jasa pemerintah yang belum berorientasi pada prinsip 'Good Procurement Governance' yang berbasis pada azas 'keterbukaan', 'akuntabilitas publik', 'partisipasi masyarakat' dan 'supremasi hukum'. Pada dasarnya pilar-pilar utama dari 'Good Governance' seperti halnya azas 'keterbukaan', 'akuntabilitas publik', 'partisipasi masyarakat' dan 'supremasi hukum' bukan lagi barang asing atau baru dalam tatanan kenegaraan dan kelembagaan di Indonesia. Mulai dari jiwa UUD 1945 beserta keseluruhan perangkat perundang-undangan dan peraturan yang berlaku di negeri ini, serta nilai-nilai etika dan moral yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, termasuk pula sistem manajemen pengadaan barang pemerintah yang berdasarkan ilmu dan pengalaman yang secara rutin diselenggarakan oleh kelompok birokrat selama hampir empat puluh tahun yang lalu, seharusnya sangat kondusif dan akomodatif terhadap adopsi dari keempat prinsip dasar pemerintahan seperti tersebut di atas. Akan tetapi sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat, maka prinsip-prinsip yang baik, akan lebih mudah untuk diucapkan dibanding dengan kewajiban untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang baik tersebut. Setidaknya dalam kaitan dengan proses-proses pengadaan barang dan jasa pemerintah, Keppres No.18 tahun 2000 yang diubah dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 dan seluruh perubahannya, telah memberikan acuan dasar dan petunjuk teknis tentang pengadaan
Toolkit Anti Korupsi

9

barang dan jasa pemerintah secara lengkap dan rinci. .............. Permasalahan yang timbul kemudian adalah terjadinya berbagai bentuk 'praktik' pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dilakukan banyak instansi pemerintah di tingkat pusat maupun daerah, yang di satu pihak kemasannya telah memenuhi segala persyaratan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku, akan tetapi apabila diamati secara cermat pada kenyataannya banyak terjadi 'praktik-praktik' yang merugikan keuangan negara dan kepentingan masyarakat. Oleh karena tidak disadari oleh masyarakat, sebagai penerima manfaat terbesar dan terpenting dalam sistem pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, ternyata pada kenyataanya menerima 'hasil akhir' dari suatu proses pengadaan yang 'tidak sesuai' dilihat dari sudut 'mutu'-nya, 'jumlah'-nya, 'manfaat'-nya, 'sasaran'-nya, 'waktu penyerahan'-nya, serta 'harga'-nya dari yang seharusnya. Sehingga pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menanggung segala kerugian, baik dari segi dana, waktu, serta kualitas pelayanan yang diterima dari pemerintah. b. Mempelajari Patologi di Bidang Pengadaan Barang Pemerintah Arti 'patologi' di bidang kedokteran adalah ilmu pengetahuan tentang penyakit. Pentingnya mempelajari patologi ialah agar setiap pihak yang berkepentingan dengan penyakit manusia, mulai dari akademisi, para praktisi seperti dokter, ahli kesehatan masyarakat, sampai kepada orang-orang kebanyakan dapat mengetahui segala hal yang berhubungan dengan eksistensi berbagai penyakit yang pada umumnya diderita oleh manusia. Dengan demikian pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan kesehatan manusia, atau siapa saja untuk dapat mempelajarinya, serta selanjutnya dapat melakukan upaya-upaya pencegahan (preventif), pengobatan (represif) dan pemulihan keadaan tubuh (recovery). Ilmu tentang penyakit atau 'patologi' di bidang kesehatan maupun kedokteran, dapat diaplikasikan secara 'analogi' bagi penyakit yang yang diderita oleh masyarakat, khususnya ihwal tentang penyakit masyarakat yang sering melanda birokrasi pemerintah. Salah satu kegiatan penting di lingkungan birokrasi pemerintah, khususnya dalam konteks 'pengadaan barang dan jasa' disebut dengan penyakit KKN. Penyakit ini sangat merugikan keuangan negara dan sekaligus dapat berakibat menurunnya atau berkurangnya mutu dan jumlah pelayanan yang seharusnya diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat, yang pada akhirnya akan menyebabkan terganggunya kelangsungan
10
Toolkit Anti Korupsi

hidup berbangsa dan bernegara. Pentingnya menguasai patologi atau ilmu penyakit di bidang 'procurement' atau kegiatan pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintah adalah agar birokrasi pemerintah dan segenap lapisan masyarakat yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung, mampu menghadapi ancaman dari bahaya penyakit yang mungkin timbul. Penyakit semacam ini dapat melanda kalangan pejabat lapisan atas maupun bawah, secara berkelompok maupun sendiri-sendiri, baik yang sifatnya kronis maupun insidental. Penyakit semacam ini dapat tumbuh subur karena sudah dianggap menjadi 'budaya' dan 'kebiasaan' yang sudah umum terjadi dari waktu ke waktu. Serta dengan latar belakang yang berbedabeda sifat dan penyebabnya, mulai dari sosio-kultural, ekonomi maupun politik. Mempelajari dan menguasai seluk beluk patologi atau penyakit KKN yang melanda kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah, maka pertama-tama harus mengetahui terlebih dahulu urutan dan pengertian dari keseluruhan proses atau segmentasi dari kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah, sebagaimana diatur dalam ketentuan Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksana Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Disamping praktek pelaksanaan pengadaan barang pemerintah yang bersumber pada guidelines dari lembaga donor internasional seperti World Bank dan ADB, serta lembaga bilateral seperti halnya JBIC (Jepang), USAID, (USA), AusAID (Australia). Sebagai suatu ilustrasi tentang proses aktivitas pengadaan barang dan jasa pemerintah, maka berikut ini diuraikan secara deskriptif tata urutan dan segmentasi proses seperti tersebut di bawah ini:

Toolkit Anti Korupsi

11

Tabel 2. 16 LANGKAH PROSEDURAL PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH (Berdasarkan Keppres 80/2003) No. 1. PROSES PENGADAAN BARANG Perencanaan Pengadaan Perencanaan pengadaan adalah tahap awal dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang bertujuan untuk membuat Rencana Pengadaan (Procurement Plan) yang mempersiapkan dan mencantumkan secara rinci mengenai target, lingkup kerja, SDM, waktu, mutu, biaya, dan manfaat dari pengadaan barang dan jasa untuk keperluan pemerintah, yang dibiayai dari dana APBN, APBD maupun BLN. Rencana Pengadaan akan menjadi acuan utama dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah per paket pekerjaan. 2. Pembentukan Panitia Lelang Panitia lelang adalah lembaga pelaksana pengadaan yang pertama-tama dibentuk dan ditunjuk oleh pemimpin proyek setelah seluruh persiapan administrasi pelaksanaan proyek baku. Penunjukkan panitia sepatutnya bersandar pada prinsip profesionalisme, responsif, akuntabel, kredibel dan mandiri. Panitia lelang memiliki kewenangan antara lain: 1) menyusun dokumen tender; 2) menyusun dan menyeleksi peserta tender; 3) melakukan kegiatan-kegiatan tender sampai dengan penetapan pemenang; dan 4) melaksanakan tugas secara profesional. VISUALISASI

12

Toolkit Anti Korupsi

3.

Prakualifikasi Perusahaan Kegiatan prakualifikasi adalah penentuan syarat administratif, teknis, dan pengalaman serta seleksi dari perusahaan (kontraktor/konsultan/dan supplier), yang diperkirakan mampu untuk melaksanakan pekerjaan yang akan ditender atau dilelangkan. Prakualifikasi dilaksanakan sebelum tender dalam rangka menjaring calon yang sanggup melaksanakan pekerjaan. Dalam tahap ini panitia menyusun kriteria kelulusan prakualifikasi dan mengumumkannya kepada masyarakat. Prioritas dalam prakualifikasi akan merujuk kepada sertifikasi, izin usaha, kemampuan keuangan, pengalaman yang sesuai, kepatuhan dalam perpajakan, pekerjaan yang sedang dikelola, serta kinerja perusahaan. Sebagaimana tahap-tahap lainnya, pelaksanaan prakualifikasi harus mengacu pada prinsip keterbukaan, kejujuran, transparansi, kemandirian, dan profesionalisme.

4.

Penyusunan Dokumen Lelang Penyusunan dokumen lelang adalah kegiatan yang bertujuan menentukan secara teknis dan rinci pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh pihak penyedia jasa, mulai dari lingkup pekerjaan, mutu, jumlah, ukuran, jenis, waktu pelaksanaan, dan metode kerja dari keseluruhan pekerjaan yang akan dilelangkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Dokumen disusun secara sederhana oleh panitia agar mudah dipahami dan menjadi pedoman baku bagi seluruh pihak. 2. Dokumen tersebut meliputi petunjuk kepada peserta lelang, syarat kontrak, syarat teknis, daftar pekerjaan yang akan dikontrakkan, usulan perjanjian, serta gambar-gambar dan referensi yang diperlukan oleh peserta tender.
13

Toolkit Anti Korupsi

5.

Pengumuman Lelang Pengumuman lelang dimaksudkan agar masyarakat mengetahui akan adanya pekerjaan yang diselenggarakan oleh pemerintah, oleh karena itu pengumuman tersebut harus disebarluaskan melalui media massa. Pada dasarnya, pengumuman tersebut mewakili proses pendaftaran bagi perusahaan yang telah lulus kualifikasi untuk mengikuti tender.

6.

Pengambilan Dokumen Lelang Kegiatan penyediaan dokumen pelelangan oleh Panitia Lelang kepada para peminat, secara lengkap dengan cuma-cuma maupun dengan biaya yang telah ditentukan, dalam waktu yang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh peraturan yang berlaku. Untuk mempermudah distribusi, dokumen lelang dapat dibagi menjadi dokumen tetap dan tidak tetap. Isi dokumen adalah instruksi standar untuk bidder, syarat-syarat umum kontrak, spesifikasi teknis umum, contoh-contoh dokumen yang umum diberlakukan seperti surat penawaran, bid bond/guarantee, performance bond/guarantee, dan surat usulan ajudicator.

14

Toolkit Anti Korupsi

7.

Penentuan Harga Perkirakan Sendiri (HPS) Harga Perkiraan Sendiri menentukan perkiraan besaran biaya pekerjaan yang akan dilelangkan berdasarkan: 1) harga pasaran yang berlaku; 2) patokan jenis, ukuran volume, metode dan pekerjaan sesuai dengan disain atau rancang bangun pekerjaan dimaksud; 3) perhitungan kenaikan harga dan waktu pelaksanaan pekerjaan; 4) Harga Perkiraan Sendiri perlu dalam penyusunan anggaran, proses pengadaan, dan pelaksanaan. Harga Perkiraan Sendiri berperan dalam penentuan pemenang; 5) setiap peserta lelang memperoleh akses untuk mengetahui Harga Perkiraan Sendiri; 6) penyusun Harga Perkiraan Sendiri harus mengkaji studi kelayakan, engineering design, data harga kontrak di sekitar pekerjaan yang dilelangkan, harga pasar yang berlaku, dan harga yang dikeluarkan oleh pemerintah/manufaktur atau perusahaan jasa.

8.

Penjelasan Lelang Aanwijzing adalah pertemuan penjelasan lisan dari pihak pemberi kerja, yang dalam hal ini diwakili oleh Panitia Pengadaan dihadap keseluruhan calon peserta pelelangan. Penjelasan dan tanya jawab dilakukan tentang hal teknis maupun administratif, agar tidak terjadi perbedaan persepsi maupun kekeliruan dalam pengajuan penawarannya. Kegiatannya meliputi antara lain: 1) kegiatan ini harus bersifat terbuka dan dibuat berita acaranya oleh panitia; 2) informasi yang diberikan dalam bentuk addendum dokumen lelang; 3) bila penjelasan lapangan diperlukan, panitia tidak diperkenankan memungut biaya untuk kegiatan tersebut.

Toolkit Anti Korupsi

15

9.

Penyerahan Penawaran Harga dan Pembukaan Penawaran Penyerahan dokumen penawaran secara tepat waktu, lengkap dan memenuhi syarat administratif dan teknis, serta dialamatkan seperti yang telah ditentukan. Penyerahan harus dapat dibuktikan dengan tanda terima dari petugas. Kegiatan ini antara lain meliputi: 1) penyampaian penawaran oleh peserta dapat dilakukan segera setelah peserta menerima addendum terakhir panitia; 2) penyampaian dokumen di luar batas waktu tidak akan diterima; 3) Pembukaan, pemberian tanda, penelitian dokumen utama disaksikan oleh peserta; 4) setelah berita acara pembukaan, panitia tidak diperkenankan lagi menerima dokumen apapun; 5) tidak ada peserta yang gugur sebelum dilakukan evaluasi terhadap dokumen.

10. Evaluasi Penawaran Kegiatan pemeriksaan, penelitian dan analisis dari keseluruhan usulan teknis dari peserta pelelangan, dalam rangka memperoleh validasi atau pembuktian terhadap harga penawaran yang benar, tidak terjadi kekeliruan, sesuai dengan persyaratan teknis yang telah ditentukan. Adapun kegiatan itu adalah: 1) evaluasi penawaran meliputi evaluasi administrasi, evaluasi teknis, dan evaluasi harga; 2) evaluasi administrasi perlu mempertimbangkan faktor redaksional, keabsahan, jaminan penawaran, dan aritmatik; 3) setelah lulus evaluasi administrasi, penawaran akan dikaji dari sisi teknis dimana perusahaan yang mengikuti tender harus memiliki sertifikasi dari lembaga akreditas yang kredibel.

16

Toolkit Anti Korupsi

11.

Pengumuman Calon Pemenang Kegiatan pengumuman urutan calon pemenang dilakukan setelah keseluruhan hasil penelitian dirumuskan oleh panitia pelelangan dinyatakan selesai dan diusulkan atau dipertanggungjawabkan kepada penanggungjawab alokasi dana atau pemilik proyek. Calon pemenang di urutan pertama akan disahkan sebagai pemenang pelelangan setelah masa sanggah selesai, dengan kegiatan sebagai berikut: 1) pengumuman dipasang di media massa dengan jangkauan yang luas sesuai besaran kontrak, pengumuman ditempelkan pula di kantor proyek; 2) pengumuman harus jelas dan rinci, sehingga sanggahan menjadi berkurang; 3) dilaksanakan dengan waktu yang cukup; 4) pelaksanaannya on time dan tidak ditunda-tunda.

12.

Sanggahan Peserta Lelang Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi para peserta pelelangan yang minta penjelasan tentang keputusan panitia pelelangan tentang urutan calon pemenang, dengan kegiatan sebagai berikut: 1) panitia harus terbuka, akomodatif, dan memproses setiap sanggahan dari masyarakat yang umumnya berkisar pada ketidakpuasan evaluasi, kurangnya transparansi, ketidakadilan, dan penggelapan data dari pemenang; 2) berdasarkan informasi tersebut, panitia harus segera melakukan investigasi untuk membuktikan kebenaran sanggahan. Bila sanggahan tersebut tidak benar, maka panitia akan melanjutkan ke penandatanganan kontrak, sebaliknya bila sanggahan dari masyarakat benar; 3) pemerintah harus memberikan sanksi administratif yakni pembatalan tender, mencoret nama pemenang, dan pembubaran panitia.

Toolkit Anti Korupsi

17

13.

Penunjukan Pemenang Lelang Setelah masa 'sanggah' berakhir maka, kepala instansi/proyek wajib mengeluarkan secara resmi surat penetapan pemenang pelelangan, agar dapat diproses dalam ikatan perjanjian kerja pelaksanaan pekerjaan atau Kontrak Kerja. Kegiatan tersebut meliputi: 1) berita acara yang telah selesai lengkap dengan tanda tangan seluruh anggota panitia; 2) catatan lengkap sanggahan dan jawaban merupakan kelengkapan data yang diperlukan untuk pengeluaran surat tersebut; 3) catatan samping-side letter yang merupakan hasil kesepakatan antara panitia dan mitra calon pemenang pada pre-award meeting.

14.

Penandatangan Kontrak Perjanjian Kegiatan akhir dari proses pelelangan adalah penandatanganan perjanjian kontrak pelaksanaan pekerjaan. Perjanjian tentang nilai harga pekerjaan, hak dan kewajiban kedua belah pihak, serta waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditentukan secara pasti.

15.

Amandemen Kontrak Amandemen Kontrak adalah ketentuan mengenai perubahan kontrak. Perubahan kontrak dapat terjadi apabila: a) perubahan pekerjaan disebabkan oleh sesuatu hal yang dilakukan oleh para pihak dalam kontrak sehingga mengubah lingkup pekerjaan dalam kontrak; b) perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan akibat adanya perubahan pekerjaan;

18

Toolkit Anti Korupsi

c) perubahan harga kontrak akibat adanya perubahan pekerjaan dan perubahan pelaksanaan pekerjaan; d) amandemen bisa dilaksanakan apabila disetujui oleh para pihak yang membuat kontrak tersebut. 16. Penyerahan Barang/Jasa kepada User Penyerahan barang dan jasa dapat dilakukan secara bertahap atau menyeluruh. Barang yang diserahkan harus sesuai dengan spesifikasi yang tertuang dalam dokumen lelang. Penyerahan final dilakukan setelah masa pemeliharaan selesai. Setelah penyerahan final selesai, tanggung jawab penyedia jasa masih belum berakhir. Penyerahan barang dan jasa dianggap memenuhi aturan yang berlaku apabila dilaksanakan: 1) tepat waktu sesuai perjanjian; 2) tepat mutu sesuai yang dipersyaratkan; 3) tepat volume sesuai yang dibutuhkan; dan 4) tepat biaya sesuai dalam isi kontrak. c. Tujuan dan Kegunaan Toolkit Anti Korupsi di Bidang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Melalui tinjauan secara parsial dari setiap segmentasi pengadaan barang dan jasa pemerintah, seperti telah diuraikan di atas, maka akan dapat dilakukan upaya untuk melakukan 'diagnosis' dari penyakit- penyakit KKN yang biasanya melanda praktik pengadaan barang dan jasa publik di Indonesia. Dari upaya diagnosis, keseluruhan kekuatan masyarakat (publik, bisnis dan masyarakat madani), akan dapat ditengarai secara kasat mata maupun terselubung 'simtom' atau indikator-indikator dari penyakit yang sedang berjangkit. Tujuan dari diformulasikannya Toolkit Anti Korupsi di bidang Pengadaan, dimaksudkan untuk menjadi 'alat' atau 'instrumen' bagi segenap lapisan dan kekuatan masyarakat
Toolkit Anti Korupsi

19

di Indonesia, agar dapat secara aktif berperan serta mencegah merajalelanya penyakit KKN di bidang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Masyarakat selanjutnya dapat melakukan fungsinya sebagai “peniup pluit” (whistleblower) atau semacam “watchdog", yang akan segera memberikan alarm atau upaya pencegahan dini yang ditujukan kepada pihak- pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan preventif maupun represif yang diperlukan. Gambar ilustrasi di bawah ini menggambarkan bahwa tanpa adanya usaha pencegahan dan pemberantasan KKN di bidang pengadaan, akan terjadi lubang- lubang kebocoran sebesar 30% dari alokasi belanja barang dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) setiap tahunnya (alokasi anggaran untuk keperluan Belanja Barang dalam APBN TA 2000 mencapai angka Rp. 70 triliun. Sementara itu, dengan Toolkit Anti Korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa pemerintah, keseluruhan pihak di sektor publik, swasta maupun masyarakat sipil, dapat melakukan fungsi masing- masing dalam upaya mencegah, mengurangi atau menghilangkan praktik KKN di bidang pengadaan, baik yang terjadi di tingkat nasional maupun regional dan lokal, KKN yang terjadi di tingkat makro maupun mikro, di tingkat akar rumput, baik yang tergolong 'petty' atau kecil-kecilan, maupun 'grand' yang tergolong besar-besaran. Melalui Toolkit ini diharapkan dapat memberikan 'public awareness' yang maksimal bagi masyarakat, di samping dapat pula memberikan pengetahuan praktis tentang 'modus-modus operandi' KKN di bidang pengadaan barang dan jasa pemerintah, yang pada saat ini masih sangat 'kurang diperhatikan' dibanding dengan bentuk-bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme di bidang lainnya, seperti halnya KKN terjadi di wacana politik, perbankan, perpajakan dan perdagangan. Ilustrasi di bawah ini menjelaskan bahwa upaya diagnostik, menentukan simtom dan terapi terhadap proses pengadaan barang dan jasa pemerintah di suatu unit kerja pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan di sektor publik, bisnis maupun masyarakat sipil.

20

Toolkit Anti Korupsi

PAT O L O G I
BIDANG PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

P

Enam Belas Langkah Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Toolkit Anti Korupsi

21

PERENCANAAN PENGADAAN

1

Perencanaan pengadaan adalah tahap awal dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang peranannya sangat strategis dan menentukan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan secara rinci mengenai target, waktu, mutu, biaya, dan manfaat dari paket-paket pengadaan barang dan jasa untuk keperluan pemerintah, yang dibiayai dari dana APBN maupun Bantuan Luar Negeri. KKN dalam kegiatan pengadaan pemerintah, pada umumnya dimulai dari segmen Perencanaan Pengadaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa 'asal muasal' dari penyakit KKN bermula dari kegiatan penyusunan Rencana Pengadaan, di antaranya adalah: 1. 2. 3. 4. Penggelembungan Anggaran Rencana Pengadaan yang Diarahkan Penentuan Jadwal Waktu yang Tidak Realistis Pemaketan Pekerjaan yang Direkayasa

Penyakit 1A PENGGELEMBUNGAN ANGGARAN SIMTOM Penggelembungan rencana pengadaan, dapat terjadi pada berbagai aspek: biaya, kualitas, bahan, volume dan sebagainya. Rencana yang dibuat tidak realistis dan biasanya berlebihan, jauh di atas kebutuhan yang sebenarnya. Akibatnya, terjadi pembengkakan jumlah anggaran APBN/APBD yang merupakan pemborosan dan memperbesar peluang kebocoran.

22

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 1B RENCANA PENGADAAN YANG DIARAHKAN SIMTOM Penyusunan spesifikasi teknis dan kriterianya diarahkan untuk memperbesar peluang agar suatu produk dan pengusaha tertentu dapat memenangkan tender. Bahkan ada yang sedemikian terfokus sehingga menutup peluang pengusaha lain. Dengan demikian akan terbuka kemungkinan pada proses selanjutnya pihak perencana, panitia, pemimpin proyek, dan mitra kerja, dapat bekerja sama dengan berkolusi. Akibatnya kompetisi tidak terjadi dan peluang negara untuk memperoleh penawaran yang paling menguntungkan semakin kecil.

Penyakit 1C REKAYASA PEMAKETAN UNTUK KKN SIMTOM Perencanaan pengadaan meliputi kegiatan pembagian dan pengaturan paket pengadaan menjadi beberapa paket proyek, atau sebaliknya, menggabungkan beberapa kegiatan menjadi satu paket proyek untuk alasan yang menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya. Pemaketan seharusnya dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektifitas, namun pada praktiknya banyak yang direkayasa untuk kepentingan KKN. Contohnya, pemaketan dengan membagi proyek kepada beberapa pengusaha yang berasal dari kelompok tertentu dalam rangka 'tender arisan' atau 'proyek bagi-bagi untung'. Beberapa proyek dijadikan satu paket besar, sehingga pada kenyataannya hanya bisa dikerjakan oleh perusahaan besar dan kuat.

Toolkit Anti Korupsi

23

Penyakit 1D MENGARAH DENGAN SENGAJA UNTUK PENUNJUKAN LANGSUNG SIMTOM Tahapan pengadaan dibuat lama dan berlarut-larut sehingga sampai batas waktu yang sempit dan mendesak. Ketika waktu mendesak dapat dijadikan alasan untuk melakukan penunjukan langsung. Penunjukan langsung dapat membuka peluang untuk memilih perusahan atau rekanan yang sudah ditentukan.

TERAPI • Rencana anggaran pengadaan dikaji ulang melalui program pengawasan ketat dan pengawasan masyarakat yang diperkuat dengan peraturan dan undang-undang. Isu ini harus dibenahi secara total dan sistemik karena kelemahan yang ada merupakan kelemahan sistem yang akan berulang. Melalui keterbukaan dan partisipasi masyarakat masalah ini akan mudah dibenahi. • Spesifikasi teknis harus dikaji untuk melihat apakah spesifikasi itu mengarah pada produk tertentu. Bila terbukti benar, dokumen harus dibatalkan. Disamping itu, kriteria evaluasi juga perlu diteliti kembali melalui program waskat (pengawasan melekat) dan wasmas (pengawasan masyarakat). • Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan suatu kajian ulang melalui program keterbukaan (disclosure) yang memungkinkan masyarakat memberi masukan terhadap rencana pengadaan itu. Dengan memperhatikan pasal-pasal di atas, tender arisan jelas mengarah pada tindakan kolutif yang hanya dapat dieliminasi melalui program keterbukaan.

24

Toolkit Anti Korupsi

2
PEMBENTUKKAN PANITIA LELANG

Panitia lelang adalah lembaga pelaksana pengadaan yang pertama-tama dibentuk dan ditunjuk oleh pemimpin proyek, setelah seluruh kegiatan persiapan administrasi pelaksanaan proyek selesai. Penunjukkan keanggotaan panitia pelelangan idealnya harus berlandaskan kepada kriteria profesionalisme, sehingga panitia lelang yang terbentuk di unit-unit kerja pemerintah akan memiliki kredibilitas dan kemandirian serta bekerja secara profesional. Hal tersebut sangat penting, karena kedudukan panitia lelang akan sangat menentukan keberhasilan dan 'bersih' tidaknya suatu proses pengadaan dilaksanakan oleh unit organisasi yang bersangkutan. Panitia lelang pada prinsipnya memiliki beberapa kewenangan, di antaranya adalah: 1. Menyusun dokumen tender; 2. Menyusun kriteria dan menyeleksi calon peserta tender; 3. Melakukan kegiatan kegiatan tender sampai dengan penetapan pemenang; 4. Melaksanakan tugas secara profesional.

Kegiatan pada segmentasi Pembentukan Panitia Lelang perlu diwaspadai sebagai hal yang dapat menjadi penyebab berkembangnya penyakit KKN dalam proses pengadaan pemerintah. Sebab tugas dan peranan panitia pengadaan akan sangat berpengaruh terhadap 'bersih' tidaknya proses pengadaan barang di suatu unit kerja pemerintah. Panitia lelang akan menentukan 'hitam' atau 'putih'nya suatu proses pengadaan pemerintah dari dimulai-nya awal kegiatan pengadaan sampai ditandatanganinya kontrak perjanjian kerja. Pada segmentasi ini terdapat awal berjangkinya penyakit-penyakit KKN yang perlu diwaspadai, di antaranya dengan tersusun atau terbentuknya Panitia Lelang yang tidak dilandasi dengan kriteria kemampuan teknis, kredibilitas serta integritas yang memadai dari anggotanya. Akibatnya hasil kinerja dari panitia menjadi tidak maksimal, penuh dengan nuansa KKN, serta pemerintah tidak memperoleh barang dan jasa seperti yang diharapkan, baik dalam ukuran kualitas, kuantitas, harga dan ketapatan waktu. Kinerja panitia yang pada umumnya dapat menjadi sumber penyakit KKN, antara lain : 1. Panitia tidak memiliki integritas 2. Panitia yang memihak 3. Panitia yang tertutup dan tidak transparan
25

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 2A PANITIA TIDAK TRANSPARAN SIMTOM Panitia bekerja secara tertutup dan tidak memberi layanan atau penilaian yang sama di antara para peserta lelang. Pada umumnya hal seperti ini terjadi karena adanya unsur suap atau sogok, dari pihak pengusaha yang ingin memenangkan tender, atau adanya tekanan dan pengaruh dari pihak atasan langsung mereka yang mempunyai niatan untuk melakukan KKN. Panitia juga cenderung menghambat akses informasi dari pihak-pihak yang dianggap dapat menghalangi langkah-langkah mereka. Sikap tertutup ini menyuburkan peluang terjadinya praktik penyimpangan lain dalam proses pengadaan. Penyakit 2B INTEGRITAS PANITIA LEMAH SIMTOM Pada umumnya apabila nuansa KKN telah mewarnai cara kerja panitia, maka mereka cenderung menjadi tidak objektif, tidak jujur, bekerja tanpa visi, tidak profesional, tidak transparan, dan tidak bertanggungjawab. Karena pertimbangan dan keputusan yang ditetapkan oleh panitia, hanya berdasarkan suap atau 'janji' untuk menerima sesuatu dari peserta calon pemenang yang dijagokan oleh suara terbanyak dari anggota panitia. Lemahnya integritas mental dan kompetensi panitia, membuat proses pengadaan selalu rentan terhadap ancaman penyakitpenyakit KKN.

26

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 2C PANITIA YANG 'MEMIHAK' SIMTOM Panitia cenderung memberi keistimewaan pada kelompok tertentu. Putusan dari panitia selalu mengacu kepada 'kesepakatan' atau 'aturan-aturan' pelelangan yang tidak tertulis. Tindakan dan kebijakan panitia lebih berpihak kepada kelompok tertentu yang telah 'memberikan janji' atau memberikan 'sesuatu' yang berharga, sehingga mereka bersedia untuk mengabaikan kehendak kelompok lainnya. Diupayakan - kelompok lain tidak lulus dalam proses. Panitia bekerja dengan subjektivitas yang tinggi, selalu mengacu pada kriteria yang tidak baku, dan muncul kelompok-kelompok yang memiliki kedekatan dengan pimpinan proyek sehingga kualitas produk pengadaan relatif rendah tetapi harganya tinggi, serta timbulnya kasus-kasus 'tender arisan' atau ' pelelangan yang telah diatur'. Penyakit 2D PANITIA TIDAK INDEPENDEN SIMTOM Panitia dikendalikan atau dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan pihak tertentu. Dalam melaksanakan tugas, panitia bekerja secara tidak akuntabel, profesional, dan lamban karena mereka selalu menunggu perintah atau petunjuk dari pihak atasan, yang sebenarnya tidak memiliki otoritas di bidang pengadaan. Panitia pada akhirnya ibarat robot yang tidak memiliki kebebasan dalam melakukan analisis maupun pertimbangan teknis yang diperlukan. Oleh karena kemudi telah sepenuhnya diambil alih oleh atasan atau pihak pendana "operasi tender" calon pemenang lelang.

Toolkit Anti Korupsi

27

Penyakit 2E INTERVENSI ATASAN LANGSUNG SIMTOM Dalam banyak pengadaan, panitia sering tidak dapat menolak intervensi atasan langsung. Apabila panitia di intervensi atasan dapat dipastikan proses pengadaan berjalan tidak adil dan jujur. Kepentingan atasan menjadikan panitia tidak dapat bekerja secara profesional.

TERAPI 2 (1) Keanggotaan panitia pengadaan seharusnya disusun secara berhati-hati dan tidak asal tunjuk, perlu dipilih dari orang-orang yang 'bersih' tanpa 'cacat', berpengalaman di bidang pengadaan, menguasai pengetahuan tentang prosedur dan teknis pengadaan. (2) Panitia yang telah ditunjuk seharusnya dapat menyediakan informasi kepada semua pihak yang berkepentingan, termasuk masyarakat pemerhati agar mereka dapat memonitor, mengevaluasi, dan memberi masukan mengenai kinerja yang telah dan sedang berlangsung. (3) Aturan main, guideline atau juklak untuk panitia harus ditegakkan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. (4) Demikian pula penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) harus dikembangkan dan dilaksanakan bagi mereka yang telah berjasa atau melakukan kesalahan dalam tugasnya selaku anggota panitia, dan (5) Monitoring pelaksanaan tugas panitia harus diperketat dan laporan periodik tugas dilakukan secara seksama. Pimpinan proyek atau para atasan langsung hendaknya bertindak sebagai pengawas yang aktif. Untuk memperkuat upaya tersebut, masukan masyarakat mengenai rekomendasi panitia harus diperhatikan dan ditindaklanjuti.

28

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit KKN di bidang pengadaan, dapat pula dimulai dari segmen kegiatan Prakualifikasi Perusahaan. Melalui seleksi yang dilakukan oleh Panitia Pengadaan atau Panitia Prakualifikasi, dapat dihasilkan sejumlah perusahaan yang dinilai berbobot, bonafid dan profesional. Lolosnya perusahaan yang ternyata tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan, pada umumnya disebabkan oleh karena adanya unsur-unsur KKN yang dilakukan oleh anggota panitia agar perusahaan-perusahaan tertentu saja yang lolos dari seleksi. Atau juga disebabkan oleh perusahaan yang tidak memenuhi syarat, melakukan upaya rekayasa terhadap data, surat keterangan dan informasi yang 'palsu' atau 'asli tapi palsu'.

3

Kegiatan prakualifikasi adalah penentuan seleksi terhadap sejumlah perusahaan calon peserta pelelangan, berdasarkan syarat administratif, teknis, dan pengalaman serta seleksi dari perusahaan (kontraktor/konsultan/dan supplier), yang diperkirakan mampu melaksanakan pekerjaan yang akan ditender atau dilelangkan. Prakualifikasi dilaksanakan sebelum tender dalam rangka menjaring calon yang sanggup melaksanakan pekerjaan.

PRAKUALIFIKASI PERUSAHAAN

Penyakit 3A DOKUMEN ADMINISTRATIF TIDAK MEMENUHI SYARAT SIMTOM Hal-hal yang sering dijumpai dalam praktik, ternyata seringkali dokumen mitra kerja tidak memenuhi syarat, karena tidak didukung oleh data yang benar, namun diluluskan oleh panitia. Data sertifikasi palsu, atau ada surat tugas tanpa dokumen. Dengan dalih berbagai alasan dan rujukan, panitia meluluskan peserta lelang. Dengan jurus tersebut azas pembuktian terbatas tidak diperlukan lagi. Bilamana perusahaan yang tidak 'memenuhi

Toolkit Anti Korupsi

29

syarat' ternyata menang dalam tender, maka akibatnya penanganan fisik akan berkualitas rendah walaupun harganya tergolong tinggi. Apabila perusahaan semacam itu dapat lulus dengan menggunakan cara "kualifikasi bayangan", yang dapat dijualbeli dan diperoleh dengan cara KKN, maka kualitas proyek yang dilaksanakan oleh perusahaan yang seharusnya tidak 'berhak', pada akhirnya akan menghasilkan hasil akhir yang jauh dari memadai.

Penyakit 3B DOKUMEN ADMINISTRATIF 'ASPAL' SIMTOM Dokumen sertifikasi mitra kerja asli, namun tidak didukung oleh status nyata dari perusahaan (karena memang tidak ada). Agar proses prakualifikasi ini berjalan lancar dipakailah azas "saling percaya". Akibatnya panitia dengan mudah meluluskan peserta tender yang memiliki dokumen 'aspal', walaupun pada proses informalnya tetap dipakai azas pembuktian tidak langsung yang bermuara pada suap.

Penyakit 3C TIDAK DILAKUKAN LEGALISASI DOKUMEN SIMTOM Dokumen prakualifikasi tidak diperkuat oleh data yang otentik dan pengesahan dari pihak yang berwenang. Namun dokumen ini malah diluluskan karena praktik KKN.

30

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 3D EVALUASI TIDAK SESUAI KRITERIA SIMTOM Dokumen prakualifikasi tidak diperkuat oleh data yang otentik dan pengesahan dari pihak yang berwenang. Namun dokumen ini diluluskan karena praktik KKN.

Penyakit 3E TIDAK DILAKUKAN PEMERIKSAAN LAPANGAN SIMTOM Panitia tidak memeriksa kondisi perusahaan secara langsung ke lokasi perusahaan berada. Biasanya perusahaan yang tidak diperiksa adalah perusahaan yang akan dimenangkan. Jika dilakukan pemeriksaan lapangan hanya dilakukan secara proforma.

TERAPI 3 (1) Guidelines, Kriteria dan Cara Memberikan Penilaian untuk pegangan baku panitia harus disosialisasikan secara luas kepada semua pihak yang berkepentingan, (atasan, pengawas ekstern dan intern, perusahaan peserta seleksi dan masyarakat)

Toolkit Anti Korupsi 26

31

(2) Keputusan penentuan hasil seleksi oleh panitia harus akuntabel dan dapat diuji keabsahan dan kebenarannya, sehingga setiap upaya rekayasa, sanggahan dari pihak yang bersangkutan, dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan. (3) Pengamatan dan masukan dari masyarakat juga sangat diperlukan di kegiatan ini, informasi tentang perusahaan yang sudah 'cacat', pernah dimasukkan 'daftar hitam', melakukan tindakan sepihak yang merugikan pemberi pekerjaan, sangat diperlukan untuk menentukan berhak tidaknya suatu perusahaan ikut dalam proses pelelangan selanjutnya.

32

Toolkit Anti Korupsi

27

4
PENYUSUNAN DOKUMEN LELANG

Penyusunan dokumen lelang adalah kegiatan yang bertujuan menentukan secara teknis dan rinci dari pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh pihak perusahaan pemasok barang dan jasa, mulai dari lingkup pekerjaan, mutu, jumlah, ukuran, jenis, waktu pelaksanaan, dan metode kerja dari keseluruhan pekerjaan yang akan dilelangkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: Dokumen disusun secara sederhana oleh panitia agar mudah dipahami dan menjadi pedoman baku bagi seluruh pihak.

Dokumen Pelelangan meliputi petunjuk kepada peserta lelang, syarat kontrak, syarat teknis, daftar pekerjaan yang akan dikontrakkan, usulan perjanjian, serta gambargambar teknis dan referensi yang diperlukan oleh peserta tender. Agar informasi yang diterima seluruh pihak identik, maka perubahan apapun dalam dokumen lelang harus segera diumumkan/disampaikan pada pihak yang terlibat. Kegiatan pada tahap ini, dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan KKN, oleh karena spesifikasi teknis yang disyaratkan, kualitas dan kuantitas barang, tempat penyerahan barang, tenggang waktu lamanya pekerjaan dan penyerahan barang, adalah hal-hal yang mengandung kesempatan untuk melakukan tawar menawar dengan produsen dan supplier barang, dan pemilik barang, agar 'merek' barangnya yang dipakai, atau persediaan barangnya dapat cepat laku terjual di pasaran. Vendor atau rekanan semacam itu akan berusaha mempengaruhi para pejabat atau anggota panitia lelang, untuk memasukkan persyaratan serta spesifikasi yang mengarah ke tipe, jenis, kemampuan dan kualitas dari barang yang dimiliki atau dijualnya. Oleh sebab itu beberapa penyakit KKN yang sering terjadi adalah: 1. 2. 3. 2. Melakukan Rekayasa Kriteria Evaluasi Dokumen Lelang Non Standar Dokumen Lelang yang Tidak Lengkap Dokumen Lelang yang Mengarah atau Bias
33

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 4A SPESIFIKASI YANG DIARAHKAN SIMTOM Spesifikasi teknis yang direkayasa untuk mengarah pada suatu produk tertentu, atau membuat kriteria yang ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak tertentu, pada umumnya dimaksudkan untuk memperlancar upaya KKN. Kasus yang umum terjadi, adalah untuk paket pembelian peralatan atau mesin tertentu, agar barang yang ditawarkan oleh pembuat atau supplier, dengan janji komisi yang menggiurkan dibeli atau dipakai oleh proyek. Maka spesifikasi teknis yang disusun oleh panitia untuk pembuatan dokumen tender diarahkan kepada produk tersebut. Dengan maksud agar perusahaan pemasok barang akan mencari produk dimaksud, atau mencari distributor barang yang bersangkutan. Di lain pihak jumlah perusahaan yang berminat untuk ikut dalam tender, dengan sendirinya berkurang dan hanya kelompok tertentu saja yang berpartisipasi dalam proses selanjutnya. Kasus ini akan merugikan banyak pihak, termasuk pemerintah karena tidak dapat memperoleh barang dengan harga yang wajar. Termasuk kerugian dari produsen atau pabrikan lain yang tidak berkesempatan untuk memasarkan produknya. Penyakit 4B REKAYASA KRITERIA EVALUASI SIMTOM Kriteria evaluasi dalam dokumen lelang diberikan penambahan persyaratan atau ketentuan yang tidak relevan atau dibutuhkan dengan maksud untuk mempermudah terjadinya KKN. Penambahan dilakukan untuk membatasi

34

Toolkit Anti Korupsi

peserta di luar daerah kerja, kelompok, atau ketentuan teknis yang sulit dipenuhi oleh perusahaan yang tidak memiliki akses atau persyaratan yang dimaksud. Banyak peserta pada akhirnya gagal akibat tidak mampu memenuhi kriteria evaluasi dan ternyata mereka yang mampu lulus evaluasi adalah kelompok eksklusif yang melakukan praktik KKN.

Penyakit 4C DOKUMEN LELANG NON-STANDAR SIMTOM Dokumen lelang dibuat dengan tidak mengikuti kaidah dokumen lelang. Misalnya instruksi kepada peserta lelang dibuat dengan menambah syarat yang sukar, persyaratan tentang penyusunan pendukung dokumen penawaran yang seharusnya tidak diperlukan namun diminta dan kalau tidak dipenuhi dapat mematikan, persyaratan tentang prakualifikasi yang seharusnya tidak lagi dimuat namun menjadi persyaratan yang mematikan. Hanya kelompok tertentu yang akhirnya berhasil "berkat" praktik KKN dengan panitia lelang atau dengan kelompok yang lain. Hal ini berawal dari upaya kelompok tertentu agar menang tender melalui rekayasa dokumen sehingga mitra kerja yang gugur secara suka rela menerima dokumen rekayasa ini. Cacat dalam dokumen tersebut hanya dapat diungkap melalui suatu cermatan yang tajam terhadap apa yang seharusnya ditegakkan oleh panitia dalam menyusun Dokumen Pengadaan.

Toolkit Anti Korupsi

35

Penyakit 4D DOKUMEN LELANG YANG TIDAK LENGKAP SIMTOM Karena ketidakmampuan panitia dalam menyusun dokumen lelang dengan baik dan benar, hal tersebut akan memperbesar peluang untuk berbuat KKN. Kekurangan dan kelebihan pada isi, makna, pengertian dokumen akan memberi kesempatan dan peluang bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk berperan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Dalam upaya mendalami isi dokumen lelang, mitra kerja yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa akan mengalami kebingungan dan kesimpangsiuran. Kelemahan seperti ini membuka peluang untuk pengusaha yang akan memanfaatkan kekurangan informasi sebagai upaya untuk menjatuhkan saingan mereka. Dalam kondisi seperti ini ada kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan untuk melakukan kolusi antara pengusaha dengan pihak panitia, untuk melakukan pengaturan tender dengan penyusunan dan pembuatan dokumen tender yang 'bias' atau bermakna ganda, dengan maksud untuk membuat kebingungan, kesimpangsiuran dan kekeliruan dalam membuat penawaran teknis dan harga, yang pada akhirnya penawar gagal untuk menyajikan penawaran yang benar dan memenuhi syarat.

36

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 4E DOKUMEN LELANG ASPAL SIMTOM Untuk mengelabui atau menyesatkan peserta lain yang bukan kelompok kolusi panitia, panitia sengaja membuat dokumen lelang Aspal, agar dalam mengikuti dan menyusun penawaran perusahaan tersebut salah, dan akhirnya akan dikalahkan.

TERAPI 4 (1) Dokumen lelang sebelum dipakai untuk tender harus dikaji ulang oleh pihak-pihak terkait, seperti atasan langsung, bagian yang akan memakai barang (users), staf ahli dan pejabat lain. Dengan melakukan konsultasi kepada pihak-pihak yang berkaitan, maka apabila terdapat koreksi, masukan baru tambahan dan pengurangan, segera dapat dikerjakan sebelum dokumen disebarluaskan ke pihak luar. (2) Terapi lainnya adalah dengan meningkatkan kemampuan profesionalisme panitia dalam penyusunan dokumen lelang. (3) Dokumen lelang harus dibuat transparan sehingga dapat diakses oleh masyarakat. Bila terdapat keganjilan karena ada rekayasa KKN, masyarakat segera dapat memberi masukan sebelum dokumen tersebut digunakan dalam tender. Masyarakat pemerhati harus diberi kesempatan untuk memonitor dan memberi masukan.

Toolkit Anti Korupsi

37

5
PENGUMUMAN LELANG

Pengumuman lelang dimaksudkan agar masyarakat mengetahui secara luas akan adanya pelelangan pekerjaan yang akan diselenggarakan oleh pemerintah. Dengan demikian telah disyaratkan dalam aturan yang berlaku, bahwa pengumuman pelelangan barang dan jasa pemerintah harus disebarluaskan melalui media massa. Pada dasarnya, pengumuman tersebut mewakili proses pernyataan minat secara formal bagi perusahaan yang telah lulus kualifikasi untuk mengikuti tender. Kegiatan pengumuman pelelangan dapat menjadi sumber penyakit KKN, apabila pengumuman direkayasa bersama-sama antara anggota panitia dengan rekanan calon pemenang.Ini dilakukan dengan maksud untuk menutup kemungkinan ikutnya caloncalon pesertal dari luar lingkungan kelompoknya, yang kemungkinan akan menawar lebih rendah dari tawaran yang sudah direkayasa. Maka pada umumnya sering terjadi 'pengumuman lelang' menjadi, antara lain :

1. Pengumuman Lelang Semu atau Fiktif 2. Jangka Waktu Pengumuman yang Relatif Singkat 3. Pengumuman yang Tidak Lengkap

38

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 5A PENGUMUMAN LELANG YANG SEMU ATAU FIKTIF SIMTOM Pengumuman lelang dibuat melalui media yang mempunyai jangkauan publik sangat terbatas. Misalnya pada surat kabar bertiras rendah atau kolusi dengan media tertentu untuk menerbitkan edisi 'khusus' yang sangat terbatas. Dengan pengumuman yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berarti menghilangkan kesempatan kompetisi yang sehat, tidak ada peminat dari pemasok barang dan jasa yang akan mengikuti proses pelelangan, dan pada akhirnya keluaran proses selanjutnya adalah pemenang yang KKN.

Penyakit 5B PENGUMUMAN LELANG TIDAK LENGKAP SIMTOM Informasi dalam pengumuman lelang dibuat tidak lengkap dan tidak memadai. Di balik itu, informasi yang 'tidak diumumkan' diberikan khusus secara tersendiri kepada pengusaha yang diproyeksikan untuk memenangkan lelang dan dibuat selengkap mungkin. Hal ini mempersempit peluang pesaing lain untuk bertarung secara 'fair' dan gagal menyerahkan syarat-syarat secara lengkap dan tepat waktu.

Toolkit Anti Korupsi

39

TERAPI 5 (1) Pengumuman lelang pada waktunya nanti harus dilakukan secara transparan, selain melalui media massa cetak atau radio, atau papan pengumuman juga dilakukan melalui website/internet, yang tidak dapat direkayasa untuk kepentingan KKN. Dengan demikian pemerintah harus mempunyai data-base dan wacana untuk menghimpun keseluruhan kegiatan pengumuman lelang secara sentral, selain yang dapat dilakukan oleh masing-masing unit kerja. (2) Selain melalui internet, pengumuman lelang dapat dilakukan melalui 'buletin pengadaan barang dan jasa pemerintah', sebagaimana telah dilakukan dengan berhasil di berbagai negara. (3) Untuk mendukung kedua program di atas, perlu peraturan yang mewajibkan seluruh pengumuman pengadaan barang dan jasa pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, untuk disalurkan ke institusi atau badan yang bertanggungjawab menyebarluaskan pengumuan tersebut melalui internet maupun buletin.

INSTRUKSI PRESIDEN NO. 5 TAHUN 2004 TENTANG PERCEPATAN PEMBERANTASAN KORUPSI Pasal 6:

“Melaksanakan Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah secara konsisten untuk mencegah berbagai kebocoran dan pemborosan penggunaan uang negara baik yang berasal dari APBN maupun APBD”

40

Toolkit Anti Korupsi

Kegiatan penyediaan dokumen lelang kepada para peminat, harus diberikan secara lengkap dengan cuma-cuma maupun dengan biaya yang telah ditentukan. Penyerahan ini juga harus dalam waktu yang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh panitia. Sesuai Keppres 80/2003, dokumen lelang diberikan secara gratis. Untuk mempermudah distribusi, dokumen lelang dapat dibagi menjadi dokumen tetap dan tidak tetap. Isi dokumen adalah instruksi standar untuk bidder, syarat-syarat umum kontrak, spesifikasi teknis umum, contoh-contoh dokumen yang umum diberlakukan seperti surat penawaran, bid bond/guarantee, performance bond/guarantee, dan surat usulan ajudicator. Keterbukaan dalam penyelenggaraan tahap ini akan mengurangi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam proses pengadaan secara keseluruhan.

6

PENGAMBILAN DOKUMEN LELANG

Penyakit 6A DOKUMEN LELANG YANG DISERAHKAN TIDAK SAMA (INKONSISTEN) SIMTOM Dalam proses penyempurnaan dokumen dijumpai dokumen konsep dan dokumen final. Untuk maksud mengalahkan peserta lain yang tidak ikut dalam kelompok kolusi, mereka diberi dokumen yang masih 'konsep'. Akibatnya banyak peserta gugur akibat tidak memenuhi kriteria evaluasi yang seharusnya. Peserta yang tidak gugur hanya kelompok tertentu (termasuk dalam kelompok KKN karena memiliki dokumen lengkap).

Toolkit Anti Korupsi

41

Penyakit 6B WAKTU PENDISTRIBUSIAN DOKUMEN TERBATAS SIMTOM Hanya sedikit peserta yang memperoleh dokumen (kelompok KKN) dan terlihat adanya pengaturan dalam tender. Dalih yang digunakan untuk menjustifikasi perbuatan itu adalah keterbatasan waktu pelaksanaan pekerjaan atau musim hujan yang segera datang. Peserta yang masih "sempat" mengambil dokumen ialah mereka yang dekat dengan pimpinan proyek.

Penyakit 6C LOKASI PENGAMBILAN DOKUMEN SULIT DICARI SIMTOM Penyampaian dokumen lelang ditentukan oleh panitia di tempat yang sukar ditemukan dan papan pengumuman tidak dipasang. Termasuk juga upaya untuk memindahkan lokasi pengambilan dokumen dilakukan secara mendadak, hanya beberapa jam sebelum penutupan dan hanya diumumkan dengan tempelan petunjuk kertas pengumuman. Hal itu dimaksudkan agar para peminat pelelangan yang datang mengambil hanya mereka yang kenal baik dengan panitia, serta peminat lainnya masih sibuk mencari lokasi yang sebenarnya, sementara waktu penutupan sudah mendesak.

42

Toolkit Anti Korupsi

TERAPI 6 (1) Seharusnya ada aturan yang menentukan bahwa panitia tidak diperkenankan mengubah ketentuan yang telah diumumkan dan disebarluaskan kepada para peserta lelang dan publik, agar dapat mengurangi upaya rekayasa yang bernuansa KKN. (2) Dokumen yang direkayasa menjadi tidak konsisten antara peserta lelang yang satu dengan lainnya seharusnya dapat mengakibatkan dibatalkannya suatu proses pelelangan yang sedang berjalan. Sesuai dengan UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, maka masyarakat dapat melaporkan kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk mengambil tindakan hukum atas terjadinya proses tender yang bernuansa KKN.

Toolkit Anti Korupsi

43

Harga Perkiraan Sendiri menentukan perkiraan besaran biaya pekerjaan yang akan dilelangkan, berdasarkan harga pasaran yang berlaku patokan jenis, ukuran volume, metode dan pekerjaan sesuai dengan rancang bangun pekerjaan dimaksud serta perhitungan kenaikan harga dan waktu pelaksanaan pekerjaan. Harga Perkiraan Sendiri diperlukan dalam penyusunan anggaran, proses pengadaan, dan pelaksanaan. Harga Perkiraan Sendiri berperan dalam penentuan pemenang; setiap peserta lelang memperoleh akses untuk mengetahui Harga Perkiraan Sendiri. Penyusun Harga Perkiraan Sendiri harus mengkaji studi kelayakan, engineering design, data harga kontrak di sekitar pekerjaan yang dilelangkan, harga pasar yang berlaku, dan harga yang dikeluarkan oleh pemerintah/manufaktur atau perusahaan jasa. Dalam kaitannya dengan praktik KKN, penentuan HPS oleh otoritas proyek dapat terjadi untuk maksud dan tujuan untuk memperoleh 'pembenaran' atas harga penawaran yang telah direkayasa.

PENYUSUNAN HARGA PERKIRAAN SENDIRI

7

44

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 7A HARGA PERKIRAAN SENDIRI (HPS) DITUTUP-TUTUPI SIMTOM Walaupun sudah ada pedoman bahwa Harga Perkiraan Sendiri tidak bersifat rahasia, bukan berarti mitra kerja mudah memperoleh dokumen tersebut. Hanya kelompok tertentu yang mudah memperoleh akses terhadap dokumen Harga Perkiraan Sendiri. Apabila tender yang dilakukan bukan tender 'arisan' atau tender yang 'diatur', maka HPS sangat penting untuk mengetahui kekuatan lawan, dan juga indikasi alokasi biaya yang tersedia dalam anggaran proyek. Maksud menutup-nutupi HPS adalah agar peserta lelang yang tidak diproyeksikan untuk menjadi pemenang, akan kehilangan 'jejak' dalam mengajukan harga penawaran yang 'wajar'. Sehingga kemungkinan para penawar hanya meraba-raba harga yang dianggap pantas, sehingga pada kenyataannya penawar yang mendekati ceiling HPs, hanya mereka yang memperoleh 'bocoran', sedangkan lainnya jauh berada di atas atau di bawah harga ceiling HPS. Penyakit 7B PENGGELEMBUNGAN (MARK-UP) SIMTOM Nilai penawaran mendekati Harga Perkiraan Sendiri karena sudah diatur sebelumnya dengan mitra kerja. Nilai kontrak menjadi tinggi karena nilai yang ditawarkan pemenang akan dekat dengan nilai Harga Perkiraan Sendiri. Koefisien dan faktor yang mempengaruhi suatu harga tidak menguntungkan. Produktivitas rendah karena upaya ini digunakan untuk ber-KKN oleh pihak-pihak terkait. Mitra kerja terkait akan memanfaatkan nilai Harga Perkiraan Sendiri.

Toolkit Anti Korupsi

45

Penyakit 7D PENENTUAN ESTIMASI HARGA TIDAK SESUAI ATURAN SIMTOM Biasanya yang menyusun HPS adalah panitia, namun dalam rangka kolusi, yang menyusun adalah 'calon pemenang'. Dengan demikian cara dan data serta metode mirip dengan penawaran dari mitra kerja dalam rangka kolusi (disamping panitia juga tidak berkemampuan menyusun HPS sendiri).

TERAPI 7 (1) Sesuai dengan peraturan yang berlaku HPS harus dibuka kepada peserta tender, agar terjadi persaingan sehat diantara mereka dalam menentukan harga yang paling reasonable atau wajar dan paling menguntungkan pemerintah, serta tidak mengandung unsur KKN. (2) Otoritas Proyek, agar tidak dibiarkan bekerja secara tertutup dan eksklusif. Usahakan agar setiap saat mereka harus memberikan laporan kepada atasan langsungnya, pengguna (users) barang dan pihak pengawas internal dilingkup organisasi masing-masing. Panitia Pembelian harus dapat menjelaskan kepada semua pihak yang terkait, tentang bagaimana membuat analisis harga dalam rangka menyusun HPS.

46

Toolkit Anti Korupsi

8
PENJELASAN /AANWIJZING
Aanwijzing adalah pertemuan penjelasan lisan dari pihak pemberi kerja, yang dalam hal ini diwakili oleh Panitia Pengadaan di hadapan seluruh calon peserta pelelangan. Penjelasan dan tanya jawab dilakukan tentang hal teknis maupun administratif, agar tidak terjadi perbedaan persepsi maupun kekeliruan dalam pengajuan penawarannya. Kegiatannya meliputi antara lain: 1. 2. 3. kegiatan ini harus bersifat terbuka dan dibuat berita acaranya oleh panitia; informasi yang diberikan dalam bentuk addendum dokumen lelang; bila penjelasan lapangan diperlukan, panitia tidak diperkenankan memungut biaya untuk kegiatan tersebut.

Toolkit Anti Korupsi

47

Penyakit 8A PRE-BID MEETING YANG TERBATAS SIMTOM Pembatasan informasi oleh panitia agar hanya kelompok dekat saja yang memiliki informasi lengkap. Dalam penawaran, ada cluster yang penawarannya lengkap dan ada cluster lain yang penawarannya tidak lengkap. Bila para peserta tidak jeli melihat dokumen lelang yang dibagikan, maka mereka akan terjebak dalam kerugian. Akibatnya tidak ada transparansi informasi, sehingga mengakibatkan ketimpangan dalam persaingan. Pengaturan tender akan mengarah pada ekonomi biaya tinggi. Dunia usaha dirugikan secara menyeluruh akibat ulah sekelompok pengusaha sehingga akuntabilitas yang dibina dengan susah payah, hilang dalam sekejap. Dalam penawaran terlihat ada sekelompok penawar yang unggul dan ada yang "compang-camping" dalam penawarannya.

Penyakit 8B INFORMASI DAN DESKRIPSI TERBATAS SIMTOM Panitia memberikan penjelasan dalam bentuk 'pertanyaan' (question) dan 'jawaban' (answer).Adakalanya formulasi dan distribusi 'perubahan'(addendum) selama pertemuan, tidak merata antar peserta (setelah aanwijzing). Penjelasan yang parsial dimaksudkan untuk ber-KKN, sehingga kelompok yang ikut KKN akan memperoleh informasi yang lebih sempurna. Sebaliknya pihak yang tidak ber-KKN akan menyampaikan penawaran yang kurang sempurna dan cenderung dinyatakan gugur secara administratif

48

Toolkit Anti Korupsi

TERAPI 8 Seharusnya seluruh kegiatan proses pengadaan dimuat di website atau di kantor-kantor yang dapat diakses oleh siapa saja. Demikian pula diseminasi dan sosialisasi petunjuk pelaksanaan dari panitia ke semua institusi agar masyarakat luas cepat menyadari bila panitia melakukan penyimpangan dalam tugasnya. Dengan demikian tindakan preventif dan represif dapat segera ditegakkan.

Toolkit Anti Korupsi

49

PENYERAHAN & PEMBUKAAN PENAWARAN
Penyerahan dokumen penawaran secara tepat waktu, lengkap dan memenuhi syarat administratif dan teknis, serta dialamatkan seperti yang telah ditentukan. Penyerahan harus dapat dibuktikan dengan tanda terima dari petugas. Kegiatan ini antara lain meliputi: 1. Penyampaian penawaran oleh peserta dapat dilakukan segera setelah peserta menerima addendum terakhir panitia; 2. Penyampaian dokumen di luar batas waktu tidak akan diterima; 3. Pembukaan, pemberian tanda, penelitian dokumen utama disaksikan oleh peserta; 4. Setelah berita acara pembukaan, panitia tidak diperkenankan lagi menerima dokumen apapun; 5. Tidak ada peserta yang gugur sebelum dilakukan evaluasi terhadap dokumen.

9

50

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 9A RELOKASI TEMPAT PENYERAHAN DOKUMEN PENAWARAN SIMTOM Relokasi tempat penyerahan dokumen penawaran dilakukan oleh panitia dalam rangka pengaturan tender. Hal ini dimaksudkan untuk menyingkirkan peserta yang tidak termasuk dalam kelompok KKN mereka. Sebaliknya, kelompok mereka telah diberitahukan sebelum memasukan penawaran. Saat melakukan relokasi, panitia sudah membuat skenario sedemikian rupa agar peserta non kelompok akan terlambat datang. Kelompok yang datang lebih awal adalah kelompok yang ber-KKN dengan panitia. Penyakit 9B PENERIMAAN DOKUMEN PENAWARAN YANG TERLAMBAT SIMTOM Penawar biasanya menyampaikan penawaran pada detik-detik terakhir. Faktor transportasi dapat saja menjadi hambatan dalam proses penyampaian tersebut, sehingga dokumen terlambat disampaikan. Sesuai yang tertera di juklak, panitia dilarang menerima dokumen yang terlambat namun dalam KKN, hal ini sering terjadi. Penyakit 9C
PENYERAHAN DOKUMEN FIKTIF

SIMTOM Dalam rangka menjatuhkan lawan usaha, mitra kerja melakukan tindakan ilegal yakni memasukkan dokumen palsu atas nama penawar lain. Dokumen palsu tersebut memiliki banyak kesamaan dengan dokumen lain,

Toolkit Anti Korupsi

51

dalam hal perwajahan dan bentuk tanda tangan. Bila hal tersebut terjadi, maka akan ditemukan 2 penawaran dari satu perusahaan yang sama. Kedua dokumen tersebut saling menjelaskan (berupa perubahan). Bila indikasi tersebut ternyata tidak terbukti, maka dalam proses selanjutnya kedua tersebut akan dinyatakan tidak sah sebab dalam dokumen lelang disebutkan bahwa pemasukan penawaran hanya diperkenankan satu kali saja.

dokumen dokumen dokumen dokumen

1. 2. 3. 4. 5. 6.

TERAPI 9 Monitor pelaksanaan tender dengan seksama. Perlu adanya pengawas pengadaan dari masyarakat dan LSM pemerhati. Sosialisasikan tugas pokok dan fungsi panitia ke institusi terkait termasuk pemerhati pengadaan, bila akses ke arah itu sudah terbuka. Perlu undang-undang tentang kebebasan memperoleh informasi, agar masyarakat dapat melakukan pemantauan. Kelompok yang survive (lulus) dari proses relokasi tersebut adalah mitra kerja yang ber-KKN. Mitra kerja jenis ini akan mendorong proses pengadaan yang tidak berlandaskan prinsip-prinsip good governance. Implementasi proyek pun mengarah pada "high cost economy" Guideline kepanitiaan harus ditegakkan dan perlu ada pengamat dari masyarakat. Sempurnakan aturan tentang pemerhati pengadaan. Pemerhati diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam proses pelaksanaan tender. Masukan dari masyarakat pemerhati diharapkan menjadi masukan untuk penyempurnaan pelaksanaan tender.

52

Toolkit Anti Korupsi

10
EVALUASI PENAWARAN
Kegiatan pemeriksaan, penelitian dan analisis dari keseluruhan usulan teknis dari peserta pelelangan, dilakukan untuk memperoleh validasi atau pembuktian terhadap harga penawaran yang benar, sesuai dengan persyaratan teknis yang telah ditentukan. Adapun kegiatan itu adalah: 1. Evaluasi penawaran meliputi evaluasi administrasi, evaluasi teknis, dan evaluasi harga; evaluasi administrasi perlu mempertimbangkan faktor redaksional, keabsahan, jaminan penawaran, dan aritmatik; 2. Setelah lulus evaluasi administrasi, penawaran akan dikaji dari sisi teknis di mana perusahaan yang mengikuti tender harus memiliki sertifikasi dari lembaga akreditasi yang kredibel; 3. Evaluasi harga adalah tahap evaluasi terakhir yang lebih menitikberatkan pada kesesuaian penawaran dengan kriteria yang telah lebih dulu diprasyaratkan oleh panitia.
Toolkit Anti Korupsi

53

Penyakit 10A KRITERIA EVALUASI CACAT

• • •

SIMTOM Hal tersebut dimaksudkan untuk memenangkan calon yang berani menyuap dengan jumlah yang tidak sedikit. Dari penyusunan kriteria awal, telah diterapkan hal-hal khusus yang sukar dipenuhi oleh mitra kerja untuk menjustifikasi kelompok tertentu Penawar yang tidak kompeten ternyata mampu memenangkan tender Simtom lainnya adalah perusahaan bonafid akan gugur, sebaliknya perusahaan yang kinerjanya lebih buruk akan lulus evaluasi administratif.

Penyakit 10B PENGGANTIAN DOKUMEN PENAWARAN

• • •

Penggantian dokumen untuk memenangkan mitra kerja tertentu dengan cara menyisipkan revisi dokumen di dalam dokumen awal. Dengan evaluasi tertutup yang dilakukan di tempat tersembunyi dan sukar dijangkau, panitia dapat berbuat apa saja dalam menangani dokumen termasuk mengganti atau menukar dokumen penawar. Walaupun penawar bukan yang terendah, dokumen dirubah dan diganti sedemikian rupa, sehingga setelah dilakukan koreksi aritmatik penawar tersebut dapat menjadi pemenang (karena terendah).

SIMTOM

54

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 10C EVALUASI TERTUTUP DAN TERSEMBUNYI

Pemilihan tempat evaluasi yang tersembunyi untuk memudahkan panitia mengatur segala sesuatunya dalam rangka KKN. Sesungguhnya pemilihan tempat yang terpencil dan tersembunyi dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang mantap karena tidak banyak gangguan dari pihak luar yang akan mempengaruhi jalannya evaluasi. Namun pada kenyataannya justru dengan terpencilnya lokasi evaluasi, akan dimanfaatkan panitia untuk melakukan KKN dengan mitra kerja.

SIMTOM

Penyakit 10D PESERTA LELANG TERPOLA DALAM RANGKA BERKOLUSI SIMTOM Pengaturan lelang seperti ini banyak dijumpai dalam tender arisan, sehingga beban evaluasi panitia tidak banyak dan panitia hanya mengevaluasi syarat minimum tertentu. Jumlah peserta yang ikut prakualifikasi, memasukkan dokumen, dan yang lulus semakin menurun secara mencolok, dengan pola 15-10-5 penawar, contohnya. Pada tender yang diatur, akan tampak jumlah peserta prakualifikasi banyak, namun yang lulus dan ikut tender hanya separuhnya. Selanjutnya ditemukan setengah dari total peserta memasukkan penawaran yang salah dan akhirnya tinggal 3 peserta. Simtom pada tender arisan tidak terlampau jelas, namun akan terlihat pada proses berikutnya (banyak surat kuasa, banyak kecerobohan, banyak kesamaan isi, pengetikan sama, dan nomor jaminan berurutan).

Toolkit Anti Korupsi

55

TERAPI 10 1. Perubahan penyampaian dokumen terbagi dua; satu dokumen dikirim ke atasan (bukan pimpro) dan dibuka setelah rekomendasi dikeluarkan dengan mencocokkan dokumen yang telah dievaluasi dengan dokumen tersebut. 2. Evaluasi seharusnya dilakukan di kantor proyek, monitoring dilaksanakan secara periodik di mana keterlibatan masyarakat dapat dijadikan input bagi evaluasi tersebut. 3. Progres Report oleh panitia secara teratur harus diberikan kepada pimpro, disertai daftar simak tentang apa yang telah dilalui dalam proses evaluasi

56

Toolkit Anti Korupsi

11
PENGUMUMAN CALON PEMENANG
Kegiatan pengumuman urutan calon Pemenang dilakukan setelah keseluruhan hasil penelitian dirumuskan oleh panitia pelelangan dinyatakan selesai atau tuntas, dan diusulkan atau dipertanggungjawabkan kepada penanggungjawab alokasi dana atau pemilik proyek. Calon pemenang di urutan pertama akan disahkan sebagai pemenang pelelangan, setelah masa sanggah selesai dengan kegiatan sebagai berikut: 1. Pengumuman dipasang di media massa dengan jangkauan yang luas sesuai besaran kontrak, pengumuman ditempelkan pula di Kantor proyek; 2. Pengumuman harus jelas dan rinci, sehingga sanggahan menjadi berkurang; 3. Dilaksanakan dengan waktu yang cukup; 4. Pelaksanaannya tepat waktu dan tidak ditunda-tunda.
Toolkit Anti Korupsi

57

Penyakit 11A PENGUMUMAN TERBATAS

• • • • •

SIMTOM Pengumuman yang disebarluaskan kepada publik sangat terbatas (dengan maksud mengurangi sanggahan). Proses pengadaan adalah proses yang mengkaitkan kegiatan birokrat dengan kegiatan publik. Bila semua langkah pengadaan hanya terbuka bagi mitra kerja, maka publik akan betul-betul buta mengenai proses tersebut. Ketertutupan panitia akan terus berlangsung hingga tahapan akhir proses pengadaan. Untuk menghindari kondisi itu, panitia harus lebih terbuka pada publik. Informasi baru akan dibuka setelah pelaksanaan pekerjaan. Sanggahan tidak ada, masukan dari publik tidak ada karena tidak terbaca.

Penyakit 11B PENGUMUMAN TANGGAL DITUNDA SIMTOM Pengumuman agar terlambat dari hari yang ditentukan karena proses suap/sogok terjadi. Secara psikis, calon pemenang yang sudah tahu akan menang, ingin kemenangan itu segera diumumkan agar tidak terjadi perubahan. Hal tersebut dilakukan dengan menyogok panitia. Bila suap tersebut diterima, maka telah terjadi kesalahan yang bersifat random.

58

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 11C PENGUMUMAN YANG TIDAK SESUAI SIMTOM

• • •

Tidak ada masukan dari masyarakat. Sejak awal proses, sudah ada upaya untuk mengelabui pihak pemerhati dan mitra kerja, yakni melalui pengumuman yang tidak informatif. Hal di atas memunculkan hambatan pada mekanisme pasca evaluasi dan mengurangi sanggahan dari mitra kerja. TERAPI 11

Perlunya penggunaan media yang jangkauannya luas seperti website, buletin dan papan pengumuman agar masyarakat mengetahui informasi pengadaan pemerintah dengan cepat dan lengkap.

Toolkit Anti Korupsi

59

BEBERAPA KASUS KORUPSI UANG & KEKAYAAN NEGARA
NO 1 KASUS Perbankan - BLBI (2000) - BNI Cabang Kebayoran Baru (2004) - BRI (2004) - Bank Mandiri (2005) 2 3 4 5 6 7 Penyimpangan APBN/APBD (2004) Penyimpangan Pajak Jamsostek Perusahaan Hutan (Illegal Logging) Pencurian Ikan, Pasir dan Kayu Soeharto 144,5 T 1,7 T 925 M 160 M 37,39 T 8 T / Tahun 13 T 3 T / Tahun 76,5 T 5,7 T JUMLAH (Rp)

Dikutip dari BURU KORUPTOR Vol.1 No. 1, Oktober 2005

60

Toolkit Anti Korupsi

12
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi para peserta lelang yang meminta penjelasan keputusan panitia lelang tentang urutan calon pemenang, dengan kegiatan sebagai berikut: 1. Panitia harus terbuka, akomodatif, dan memproses setiap sanggahan dari masyarakat yang umumnya berkisar pada ketidakpuasan evaluasi, intransparansi, ketidakadilan, dan penggelapan data dari pemenang; 2. Berdasarkan informasi tersebut, panitia harus segera melakukan investigasi untuk membuktikan kebenaran sanggahan. Bila sanggahan tersebut tidak benar, maka panitia akan melanjutkan ke penandatanganan kontrak, sebaliknya bila sanggahan dari masyarakat benar; 3. Pemerintah harus memberikan sanksi administratif yakni pembatalan tender, mencoret nama pemenang, dan pembubaran panitia. Pimpinan proyek harus segera mengulang prakualifikasi dan melakukan tender ulang pekerjaan tersebut.
Toolkit Anti Korupsi

SANGGAHAN PESERTA LELANG

61

Penyakit 12A TIDAK SELURUH SANGGAHAN DITANGGAPI SIMTOM Pengumuman yang dilakukan panitia akan ditanggapi oleh mitra kerja yang kurang setuju dengan hasil evaluasi. Mereka mengkritik tugas panitia yang menyimpang dari pedoman yang ada serta menunjukkan bukti bahwa panitia ber-KKN dengan kelompok mitra kerja tertentu. Respon yang disampaikan panitia kepada pejabat yang berwenang kurang mencerminkan jawaban atas sanggahan yang disampaikan oleh mitra kerja. Proses pengadaan tertutup dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Merugikan proses pengadaan dari segi waktu.

Penyakit 12B SUBSTANSI SANGGAHAN TIDAK DITANGGAPI

• •

SIMTOM Adanya polemik berkepanjangan namun surat rekomendasi tetap dengan alasan kekhawatiran keterlambatan proyek Jawaban yang disusun oleh panitia yang nantinya akan disampaikan oleh pejabat terkait, tidak menyentuh substansi sanggahan. "Bahwa sanggahan immaterial", demikian kira-kira bunyi tanggapannya, sesuai dengan klausul instruksi kepada bidder. Seluruh sanggahan diarahkan pada klausul mengenai evaluasi penawaran dan hak panitia tentang kerahasiaan dokumen evaluasi tersebut.

62

Toolkit Anti Korupsi

• •

Panitia memaksakan kehendak pribadinya pada proses yang terkait dengan publik ini. Persoalan ini sangat merugikan kredibilitas lembaga (proyek dan panitia) dan akhirnya independensi panitia luntur. Koalisi internal di dalam asosiasi perusahaan akan sangat merugikan pertumbuhan dunia usaha pada umumnya.

Penyakit 12C SANGGAHAN PROFORMA UNTUK MENGHINDARI TUDUHAN TENDER DIATUR SIMTOM Jumlah penyanggah cukup banyak, namun isi sanggahan bernuansa asal menyanggah, tanpa menghiraukan materi sanggahan, sehingga terlihat bahwa sanggahan mitra kerja adalah sanggahan yang dibuat-buat. Jawaban yang disusun oleh panitia yang nantinya akan disampaikan oleh pejabat terkait, tidak menyentuh substansi sanggahan. "Bahwa sanggahan immaterial", demikian kira-kira bunyi tanggapannya, sesuai dengan klausul instruksi kepada bidder. Seluruh sanggahan diarahkan pada klausul mengenai evaluasi penawaran dan hak panitia tentang kerahasiaan dokumen evaluasi tersebut dan ini paling mudah dibuat. TERAPI 12 Publik harus diinformasikan mengenai proses pengadaan dan mereka juga diperlukan sebagai pengawas yang dapat memonitor proses pengadaan secara komprehensif.

• •

Toolkit Anti Korupsi

63

UANG PENGGANTI TINDAK PIDANA KORUPSI TAHUN 2005
UANG PENGGANTI Sisa belum tertagih tahun 2004 Masuk sampai April 2005 Jumlah Dieksekusi / dibayar Sisa tahun 2005 Akurasi data hingga 2005 JUMLAH (Rp) 2.889.892.947.825,4.320.383.763,2.984.213.331.588,500.000.000.2.893.713.331.588,5.317.737.001.799,-

Sumber: Bahan tertulis Raker Kejaksaan Agung dengan Komisi III DPR, 1 September 2005

64

Toolkit Anti Korupsi

13
PENUNJUKKAN PEMENANG LELANG
Setelah masa 'sanggah' berakhir, maka kepala instansi/ proyek wajib mengeluarkan secara resmi surat penetapan pemenang lelang. Guna dapat diproses dalam ikatan perjanjian kerja pelaksanaan pekerjaan atau Kontrak Kerja. Kegiatan tersebut meliputi: 1. Berita acara yang telah selesai lengkap dengan tanda tangan seluruh anggota panitia merupakan bahan dasar untuk menyusun surat penunjukkan; 2. Catatan lengkap sanggahan dan jawaban merupakan kelengkapan data yang diperlukan untuk pengeluaran surat tersebut; 3. Catatan samping (sideletter) yang merupakan hasil kesepakatan antara panitia dan mitra calon pemenang pada pre-award meeting merupakan lampiran dalam surat penunjukan tersebut. Surat penunjukan yang ditandatangani oleh pimpinan proyek segera disampaikan.
65

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 13A SURAT PENUNJUKAN YANG TIDAK LENGKAP SIMTOM Penunjukan sudah dikeluarkan, namun proses sanggahan belum selesai, data pendukung berita acara tentang sanggah-jawab belum ada, seolah-olah tidak ada sanggahan. Panitia bekerja secara tertutup. Mereka memasuki tahap berikutnya sebelum menyelesaikan proses yang seharusnya mereka selesaikan lebih dulu. Penyakit 13B SURAT PENUNJUKAN YANG SENGAJA DITUNDA PENGELUARANNYA SIMTOM Pada hari yang telah ditentukan surat penunjukan belum dikeluarkan oleh proyek. Ada berbagai alasan untuk membenarkan langkah tersebut. Dibalik itu semua, adalah perlu adanya uang pelicin. Terjadi penundaan kegiatan berikutnya yang akan memperlambat proses selanjutnya. Masyarakat pemerhati dan dunia usaha tidak lagi menaruh percaya dan hormat pada lembaga tersebut Penyakit 13C SURAT PENUNJUKAN YANG DIKELUARKAN DENGAN TERBURU-BURU SIMTOM Dengan dikeluarkan surat tersebut seolah-olah tidak ada masalah tentang tender yang sedang dilaksanakan. Namun dalam kenyataannya, saat proses sanggah- jawab sedang berlangsung sehingga sangat merugikan mitra

66

Toolkit Anti Korupsi

kerja yang sedang memproses sanggahan tersebut. Akibatnya hilangnya kepercayaan masyarakat pemerhati dan dunia usaha kepada institusi pemimpin proyek dan panitia. Transparansi, dan akuntabilitas publik hilang. Kode etik kerja hilang, seolah olah orang bekerja tanpa adanya aturan perundang-undangan.

Penyakit 13D SURAT PENUNJUKAN YANG TIDAK SAH SIMTOM Surat Penunjukan yang belum lengkap sudah beredar atau sudah sampai kepada calon pemenang, dalam hal ini posisinya masih sangat 'lemah', sebab ada kemungkinan sanggahan benar. Surat ini bisa jadi tanggal dan tanda tangan belum ada, dan belum memiliki kekuatan hukum. Hal ini bisa membuka peluang semacam suap kepada pihak tertentu bahwa calon pemenang tersebut memang betul menang, ada kemungkinan dalam proses akhirnya urutan pertama gugur dan yang mendapat kemenangan adalah urutan terendah berikutnya.

TERAPI 13 Perlu kehati-hatian dalam menerbitkan Surat Penunjukan, data-data pendukung agar dilengkapi dan dipenuhi oleh pihak rekanan dan proyek.

Toolkit Anti Korupsi

67

14
PENANDATANGANAN KONTRAK
Kegiatan akhir dari proses pelelangan adalah penandatanganan perjanjian kontrak pelaksanaan pekerjaan. Perjanjian tentang nilai harga pekerjaan, hak dan kewajiban kedua belah pihak, serta waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditentukan secara pasti. Kegiatan tersebut meliputi: konsep kontrak dan dokumen kontrak harus segera dipersiapkan oleh mitra kerja setelah menerima surat penunjukan; konfirmasi kandungan dokumen dilakukan oleh proyek dan diparaf setiap halaman oleh pejabat proyek dan mitra kerja yang diberi hak untuk itu; Kontrak ditandatangani oleh pihak-pihak terkait setelah mitra kerja memenuhi persyaratan penandatanganan kontrak seperti yang diatur dalam dokumen lelang. Kontrak gagal ditandatangani apabila mitra kerja tidak berhasil memenuhi persyaratan dalam kurun waktu yang ditetapkan dalam dokumen lelang.

68

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 14A PENANDATANGANAN KONTRAK YANG DITUNDA-TUNDA SIMTOM Jaminan pelaksanaan belum ada sehingga kontrak belum dapat ditandatangani, (ini terjadi pada mitra kerja yang kurang memiliki kemampuan keuangan). Mitra kerja tidak saja kesulitan dalam memulai pekerjaannya, karena kemampuan keuangannya terbatas. Akhirnya, mereka sulit memenuhi persyaratan yang diminta seperti jaminan pelaksanaan, uang muka, dan mobilisasi pengadaan. KKN biasanya dimulai di sini karena disatu pihak rekanan berusaha mengulur waktu, sementara proyek mendesak dan mengancam untuk memutuskan atau mencabut Surat Penunjukan Pemenang/SPK atau membatalkan penandatanganan kontrak. Penyakit 14B PENANDATANGANAN KONTRAK SECARA TERTUTUP SIMTOM Penandatanganan kontrak yang sengaja ditutup-tutupi, untuk menghindari adanya publikasi, ini terjadi karena kontrak yang tumpang tindih dengan kontrak lainnya atau kontrak fiktif Penyakit 14C PENANDATANGANAN KONTRAK TIDAK SAH SIMTOM Kontrak ditandatangani tanpa adanya dukungan yang disyaratkan, atau data pendukung yang kurang dipercaya.

Toolkit Anti Korupsi

69

Penyakit 14D PENANDATANGANAN KONTRAK OLEH ORANG LAIN SIMTOM Penandatangan kontrak bukan orang yang namanya tercantum dalam akte perusahaan atau akte perubahan yang telah disahkan oleh notaris. Kadang Akte dibuat hanya dengan hasil rapat yang disahkan oleh Notaris. Yang sebenarnya bukan Akte Perubahan yang sesungguhnya. Tujuannya: (1) Dilakukan terhadap perusahaan peserta tender yang disewa atau perusahaan yang dipinjam oleh orang lain. (2) Praktik untuk menghindari pajak (3) Praktek perusahaan untuk melepas tanggung jawa jika dibelakang hari timbul permasalahan hukum dan tuntutan ganti rugi. TERAPI 14 (1) Perlu dibuat guideline terkait dengan pelaksanaan tugas pemimpin proyek, dan kepanitiaan dengan jelas dan baku termasuk konsekuensinya. (2) Monitoring atasan dilakukan dengan seksama, untuk setiap tahap kegiatan harus dilaporkan dan data tercatat semuanya. (3) Masyarakat selaku stakeholder harus diberi kesempatan memperoleh akses informasi tentang proses pengadaan pemerintah.

70

Toolkit Anti Korupsi

Perlu dilakukan pemeriksaan dengan akurat terhadap pihak penandatangan kontrak. Penandatangan kontrak jika bukan pimpinan atau direkturnya harus orang yang diberi kuasa yang namanya tercantum dalam Akte Notaris atau Akte Notaris Perubahannya. Penandatangan yang tidak tercantum dalam Akte Notaris berikut seluruh perubahannya harus ditolak.

Toolkit Anti Korupsi

71

AMANDEMEN

15

Amandemen Kontrak adalah ketentuan mengenai perubahan kontrak. Perubahan kontrak dapat terjadi apabila: 1. Perubahan pekerjaan disebabkan oleh sesuatu hal yang dilakukan oleh para pihak dalam kontrak sehingga mengubah lingkup pekerjaan dalam kontrak; 2. Perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan akibat adanya perubahan pekerjaan; 3. Perubahan harga kontrak akibat adanya perubahan pekerjaan dan perubahan pelaksanaan pekerjaan; 4. Amandemen bisa dilaksanakan apabila disetujui oleh para pihak yang membuat kontrak tersebut.
72

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 15A AMANDEMEN UNTUK MELINDUNGI KETERLAMBATAN PENYEDIA BARANG/JASA SIMTOM Amandemen yang sengaja dilakukan, untuk menghindari sanksi karena keterlambatan pelaksanaan pekerjaan (bukan karena keadaan KAHAR) tetapi karena ketidakmampuan pihak penyedia barang/jasa, baik secara teknis maupun keuangan/modal. Amandemen dilakukan untuk menghindari penyitaan jaminan oleh pengguna barang/jasa.

Penyakit 15B AMANDEMEN MENAIKKAN HARGA SIMTOM Untuk memenangkan pelelangan, penyedia barang/jasa menawar dengan harga serendah-rendahnya. Setelah menang, meminta amandemen untuk menaikkan harga barang/jasa sesuai dengan harga awal (HPS). Dalam kasus ini keterlibatan pengguna barang/jasa sangat besar, sejak dari awal penawaran pekerjaan.

Toolkit Anti Korupsi

73

Penyakit 15C AMANDEMEN VOLUME SIMTOM Dalam melaksanakan pekerjaan penyedia barang/jasa, ternyata harga yang ditawarkan tidak sesuai lagi ketika penawaran dibuat (bukan karena keadaan KAHAR). Penyedia mengurangi kualitas dan kuantitas barang agar tidak mengalami kerugian. Alasan inflasi yang tinggi, harga-harga barang/material melonjak tajam dan kenaikan harga karena perbedaan kurs dollar, sering dijadikan alasan untuk meminta amandemen.

TERAPI 15 Perlu penelitian yang mendalam dan hati-hati terhadap permintaan amandemen dari penyedia barang/jasa di luar ketentuan keadaan KAHAR.

74

Toolkit Anti Korupsi

Penyerahan barang dan jasa dapat dilakukan secara bertahap atau menyeluruh. Barang yang diserahkan harus sesuai dengan spesifikasi yang tertuang dalam dokumen lelang. Penyerahan final dilakukan setelah masa pemeliharaan selesai. Setelah penyerahan final selesai, bukan berarti tanggung jawab penyedia jasa berakhir. Penyerahan barang dan jasa benar apabila:

PENYERAHAN BARANG/JASA

16

1. 2. 3. 4.

Tepat waktu sesuai perjanjian Tepat mutu sesuai yang dipersyaratkan; Tepat volume sesuai yang dibutuhkan Tepat biaya sesuai dalam kontrak.

Kajian empat tepat di atas dilakukan sesuai dengan dokumen kontrak. Sumber KKN di segmen ini diantaranya adalah : 1. Volume tidak sama 2. Mutu/kualitas pekerjaan lebih rendah dari tentuan dalam spesifikasi teknik 3. Contract change order (Perubahan Kontrak)
Toolkit Anti Korupsi

75

Penyakit 16A VOLUME TIDAK SAMA SIMTOM Volume proyek yang diserahterimakan ternyata tidak sama antara kontrak dengan volume yang dilaksanakan oleh pihak rekanan.Apabila perbedaan tersebut dikarenakan adanya contract change order (CCO) yang didukung oleh aturan main yang berlaku maka hal tersebut dapat dibenarkan. Tetapi apabila tidak didukung oleh prosedur yang benar maka telah terdapat unsur kesengajaan untuk usaha memperkaya diri sendiri. Pada umumnya yang sering terjadi adalah pihak direksi selaku pemilik pekerjaan melakukan 'kolusi' dengan pihak rekanan untuk mengurangi volume pekerjaan yang seharusnya dilaksanakan tetapi tidak dilaksanakan, dengan maksud agar 'pekerjaan fiktif' tersebut dijadikan uang untuk keperluan direksi. Penyakit 16B MUTU/KUALITAS PEKERJAAN LEBIH RENDAH DARI KETENTUAN DALAM SPESIFIKASI TEKNIK SIMTOM Serah terima pekerjaan pada dasarnya baru dapat terjadi apabila semua pekerjaan telah diselesaikan sesuai dengan volume, mutu, dan waktu, sebagaimana tertuang dalam dokumen kontrak. Di dalam praktik terdapat usaha KKN melalui upaya menurunkan mutu barang atau pekerjaan yang jauh berbeda dengan spesifikasi teknik yang tertera dalam penawaran atau kontrak. Perbedaan spesifikasi teknik dengan mutu barang yang diserahkan kepada proyek melibatkan pihak direksi pekerjaan dan rekanan, dengan asumsi kedua belah pihak akan memperoleh keuntungan, tetapi negara dan masyarakat akan dirugikan.

76

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 16C MUTU/KUALITAS PEKERJAAN TIDAK SAMA DENGAN SPESIFIKASI TEKNIK SIMTOM Serah terima pekerjaan pada dasarnya baru dapat terjadi apabila semua pekerjaan telah diselesaikan sesuai dengan volume, mutu, dan waktu, sebagaimana tertuang dalam dokumen kontrak. Dalam pelaksanaannya penyerahan dapat dilakukan secara imparsial, atau secara menyeluruh. Hasil pekerjaan tersebut sesuai dengan prosedur dilakukan melalui dalam dua tahap.Tahap pertama adalah serah terima sementara setelah pemimpin proyek menerima usulan serah terima dari mitra kerja pelaksana berdasarkan berita acara serta serah terima pekerjaan bahwa pekerjaan telah selesai dan mitra kerja berhak menerima pembayaran 90% dari nilai kontrak.Tahap berikutnya adalah setelah masa percobaan/atau masa pemeliharaan untuk masa tertentu, melihat kewajaran pekerjaan serta kesesuaian hasil pekerjaan dengan spesifikasi teknik. Pada saat inilah sesunggguhnya muncul penyakit akibat ketidaksesuaian antara hasil pekerjaan dengan ketentuan yang tertuang dalam spesifikasi teknik. Sedangkan pengadaan barang dilakukan dengan proses test run. Bentuk dari ketidaksesuaian tersebut untuk sementara berwujud deformasi bentuk permukaan dari pekerjaan yang diserahkan, deformasi tersebut kadang-kadang tidak tampak, dan adakalanya kenampakan tersebut baru terlihat setelah kurun waktu tertentu sehingga sulit untuk melakukan deteksi pada dampak penyimpangan kualitas dalam waktu singkat. Dalam pekerjaan fisik, Simtom dini dari deviasi kualitas berbentuk: permukaan retak, bergelombang, dan terjadi deformasi bentuk. Dalam pekerjaan konsultan, Simtom dalam waktu singkat kurang dapat dilihat dan hanya ditemukan melalui suatu kajian, maka untuk pekerjaan konsultan, lebih kepada kejujuran dari para profesional. Dalam pengadaan barang, Simtom akan lebih nyata tampak, karena kinerja dari barang dengan kualitas yang rendah tidak akan sempurna (seperti komputer hang, mesin foto kopi macet, otomotif menemukan banyak hambatan, dan kualitas peralatan kantor dan produk kurang prima.

Toolkit Anti Korupsi

77

Penyakit 16D CONTRACT CHANGE ORDER SIMTOM Terjadinya CCO dalam pelaksanaan kontrak adalah sesuatu yang umum terjadi, karena tidak mungkin suatu desain dapat merepresentasikan rupa/bentuk topografi.Terlebih tentang apa-apa yang terkandung didalamnya. CCO merupakan perangkat legal untuk melakukan penyesuaian kontrak agar kontrak dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Namun dalam hal terjadi deviasi pelaksanaan pekerjaan sebagai akibat adanya komitmen dalam KKN, CCO merupakan tempat yang paling populer untuk menempatkan dana yang susah dipertanggungjawabkan. Dalam ini CCO dapat dilakukan terhadap pergantian volume material yang murah (dikurangi) ke volume material yang bernilai tinggi, sehingga terjadi kenaikan harga karena volume material yang mahal diperbesar. CCO terjadi pula pada pekerjaan konstruksi tambahan sebagai sesuatu hal yang memang harus dilakukan karena pada awal pekerjaan volume jenis pekerjaan tersebut dipasang kecil. CCO terjadi juga pada pekerjaaan yang sederhana namun pelaksananya akan memperoleh benefit yang lebih besar. Dalam CCO, memang mungkin terjadi penyesuaian akan tetapi mungkin ditujukan untuk mengakomodasi volume fiktif yang tidak mudah dibuktikan (bila sudah tertimbun oleh lapisan yang lain.) Akibatnya, terjadi kenaikan nilai kontrak ke arah kenaikan maksimum, sehingga seolah-olah dana maximum yang tersedia merupakan hak bagi pelaksana. Dapat juga terjadi kekeliruan komunal antara pengawas lapangan, pelaksana, direksi lapangan sehingga seluruh dokumen dimanfaatkan dalam rangka pemenuhan komitmen KKN. Kemungkinan besar terjadi pengunduran penyelesaian pekerjaan sebagai akibat perubahan lingkup pekerjaan. Karena CCO memang digunakan oleh pelaksana sebagai kamuflase, mitra kerja akhirnya tidak peduli lagi terhadap mutu hasil pekerjaan. Negara akan dirugikan karena mitra kerja tidak lagi memikirkan kuantitas yang efisien bagi pekerjaan, yang mereka upayakan adalah pembayaran lewat kolusi.

78

Toolkit Anti Korupsi

Penyakit 16E PEKERJAAN FIKTIF SIMTOM Penyerahan barang/jasa fiktif. Tidak ada sama sekali bukti bahwa pekerjaan dilakukan atau barang diadakan. Hal ini dilakukan karena terjadi kolusi antara panitia dan kontraktor/pemborong sejak dari awal dan sangat tertutup. Penyakit 16F TIDAK MENERAPKAN MASA JAMINAN SIMTOM Menerima pekerjaan barang atau jasa tanpa menerapkan jaminan pekerjaan barang/jasa. Akibatnya pekerjaan barang/jasa yang mengalami kerusakan sebelum masa jaminan habis tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya. Penyakit 16G MEMINTA ADDENDUM SIMTOM Addendum sebagai siasat atau cara sah untuk memberi jalan bagi perusahaan yang terlambat melakukan pekerjaan karena kelemahan kemampuan dan keterbatasan modal untuk meneruskan atau melanjutkan proyek sesuai jadwal.

Toolkit Anti Korupsi

79

Untuk terhindar dari ketidakmampuan rekanan dalam melaksanaan pekerjaan barang/jasa, mendapatkan keuntungan dari memperbesar volume atau nilai proyek. Addendum juga sering dilakukan untuk memberi jalan bagi para perusahaan yang terlambat melakukan pekerjaan karena kelemahan kemampuan dan keterbatasan modal untuk meneruskan atau melanjutkan proyek sesuai jadwal.

TERAPI 16 Sosialisasikan Kode Etik Profesional dari asosiasi kepada seluruh jajaran profesi. Penghargaan pada kode etik tersebut diharapkan akan mencegah dunia usaha untuk melacurkan profesi demi uang. Sebagai kelanjutannya, diperlukan suatu peradilan profesi agar pelanggar kode etik dihukum oleh masyarakat profesi itu sendiri. Peran serta aktif masyarakat yang independen diperlukan untuk ikut serta mengawasi dan memonitor kegiatan pengadaan pemerintah, khususnya penyerahan hasil akhir proyek.

80

Toolkit Anti Korupsi

CATATAN Prakualifikasi, Pascakualifikasi, dan Aanwijzing 1. Prakualifikasi Prakualifikasi adalah kegiatan untuk menyeleksi terlebih dahulu calon-calon penawar yang akan diundang untuk memasukkan penawaran. Prakualifikasi dilakukan untuk pekerjaan yang rumit/kompleks dan bernilai tinggi. Dengan prakualifikasi hanya calon penawar yang benar-benar mampu yang diundang untuk memasukkan penawaran. Mampu maksudnya mempunyai pengalaman, personil, peralatan, dan finansial. Yang tidak mempunyai kemampuan tidak diundang, juga demi kepentingan mereka karena kalau pun diundang tidak akan memenangkan lelang karena faktor kemampuan tadi. Padahal telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit (ingat pekerjaan kompleks). Prakualifikasi untuk pekerjaan atau barang yang kompleks tidak membatasi jumlah calon penawar yang akan diundang. Artinya berapapun yang lulus harus diundang. Prakualifikasi untuk pengadaan pekerjaan atau barang yang kompleks dan bernilai rupiah tinggi tidak membatasi jumlah calon peserta lelang. Namun, prakualifikasi untuk pekerjaan jasa konsultasi dibatasi sampai jumlah tertentu, misalnya maksimal tujuh. Pembatasan untuk jasa konsultan disebabkan perbedaan cara evaluasinya. Pada pengadaan barang/ pekerjaan yang paling menentukan adalah harga penawarannya. Sedangkan pada jasa konsultan yang paling menentukan adalah kualitas proposal teknisnya. Harga penawaran adalah sesuatu yang terukur. Penawaran sebesar Rp. 4.5 milyar lebih rendah daripada Rp. 4.7 milyar. Oleh karena itu berapa pun jumlah penawaran yang masuk panitia lelang tidak akan menemukan banyak kesulitan dalam mengevaluasinya. Cukup memfokuskan kepada yang terendah. Jika terdapat kekurangan baru pindah ke terendah kedua dan seterusnya. Berbeda dengan harga penawaran, proposal teknis bukan sesuatu yang terukur. Untuk mengetahui

Toolkit Anti Korupsi

81

mana yang terbaik tidak ada cara selain mempelajari/mengevaluasi semua proposal yang masuk. Dapat dibayangkan betapa repotnya panitia lelang manakala harus mengevaluasi 50 proposal teknis, misalnya. 2. Pasca Kualifikasi Untuk barang/pekerjaan yang sederhana tidak perlu prakualifikasi. Siapa saja yang merasa mempunyai kemampuan disilakan menawar. Di sini biaya menyiapkan penawaran tidak sebesar pada barang/pekerjaan kompleks. Jadi kerugian jika tidak memenangkan lelang juga tidak besar. Namun, tidak pula berarti yang tidak punya pengalaman, personil, peralatan, dan finansial dapat memenangkan lelang. Dalam dokumen lelang harus sudah dijelaskan bahwa yang akan ditunjuk sebagai pemenang lelang hanyalah yang harga penawarannya paling murah dan mempunyai kemampuan melaksanakan kontrak pengadaan barang/pekerjaan tersebut dalam arti kata mempunyai pengalaman, personil, peralatan, dan finansial. Dengan pasca kualifikasi persaingan akan lebih besar dan akan menyebabkan harga penawaran semakin rendah. Oleh karena itu cara ini yang lebih diinginkan agar harga hasil lelang lebih rendah. Seperti dijelaskan di muka, pengadaan barang/pekerjaan yang kompleks dan bernilai rupiah tinggi perlu diadakan prakualifikasi.Yang sering jadi permasalahan adalah apa yang disebut sebagai barang/pekerjaan kompleks. Bagi panitia lelang yang menginginkan persaingan terbatas sehingga lebih mudah “mengatur” pengadaan barang/pekerjaan yang sebenarnya tidak kompleks dapat saja dinyatakan kompleks sehingga harus dilakukan prakualifikasi. Tidak ada sanksi atas penetapan kompleks tidaknya suatu pengadaan barang/pekerjaan. Penjelasan/Aanwijzing Yang dimaksud dengan penjelasan lelang/aanwijzing (Bahasa Belanda), adalah kegiatan menjelaskan isi dokumen lelang secara lisan di hadapan para peserta lelang apabila diperkirakan dokumen lelang tersebut kurang jelas. Untuk pengadaan pekerjaan konstruksi, misalnya membangun bendungan, jembatan dll, penjelasan yang menyangkut selain isi dokumen lelang juga menyebutkan penjelasan tentang lokasi

3.

82

Toolkit Anti Korupsi

pekerjaan. Penjelasan dalam hal ini menjadi penting karena akan berpengaruh terhadap harga penawaran. Bayangkan jika para penawar tidak mengetahui lokasi dan kondisi jalan ke lokasi pekerjaan yang sedang dilelangkan. Tentu harga yang akan ditawarkan akan sangat bervariasi dan penuh risiko. Dalam hal ini aanwijzing ini sangat perlu. Akan tetapi untuk pengadaan barang jadi yang lokasi untuk delivery-nya tidak berpengaruh banyak terhadap harga penawaran aanwijzing sebenarnya tidak diperlukan bahkan tidak jarang merupakan ajang berkolusi antar penawar. Sangat sering terjadi ketika yang mengikuti aanwijzing jumlahnya terbatas, kecenderungan berkolusi menjadi tinggi yang ditandai dengan sangat dekatnya harga penawaran dengan OE. Bank Dunia pernah tidak mengizinkan aanwijzing untuk pengadaan komputer, bahkan dengan lelang internasional karena hal ini. Tanpa aanwijzing, yang diperlukan adalah dokumen lelang yang ditulis secara lengkap. Kalaupun ada pertanyaan dapat secara tertulis termasuk jawabannya yang disebarluaskan kepada seluruh calon penawar yang telah memiliki dokumen lelang.

Toolkit Anti Korupsi

83

Lampiran: Jadwal Pelaksanaan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pasal (12) Pengguna barang/jasa wajib mengalokasikan waktu yang cukup untuk: 1. 2. 3. 4. menayangkan pengumuman kesempatan untuk mengambil dokumen, kesempatan untuk mempelajari dokumen,dan menyiapkan dokumen penawaran.

ALOKASI WAKTU (Perpres No.8/2006) 1. Pengumuman minimal tujuh hari kerja (minimum satu kali tayang pada awal) 2. Pendaftaran dan pengambilan dokumen minimal 1 hari setelah pengumuman s/d 1 hari sebelum akhir pemasukan dokumen 3. Penjelasan paling cepat 4 hari kerja sejak pengumuman 4. Pemasukan dokumen penawaran 1 hari kerja setelah penjelasan s/d sekurang-kurangnya 2 hari kerja setelah penjelasan (contoh untuk ATK cukup 2 hari kerja, untuk peningkatan jalan 14 hari kerja, untuk pekerjaan kompleks 30 hari kerja) 5. Evaluasi penawaran (ATK cukup 1hari, peningkatan jalan 5 hari kerja, bendungan 15 hari kerja) 6. Pengalokasian waktu diluar proses pengumuman s/d pemasukan dokumen diserahkan sepenuhnya kepada PPK,kecuali ditentukan lain dalam Perpres ini.
84

Toolkit Anti Korupsi

Pengadaan Barang/Jasa Pemborongan/Jasa Lainnya dengan Pascakualifikasi

Toolkit Anti Korupsi

85

Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Pengadaan Pelelangan Umum dengan Prakualifikasi

? ‘

86

Toolkit Anti Korupsi

Prakualifikasi

Pengumuman Akhir ambil dokumen Pemasukan dokumen Undangan Penjelasan Pemasukan penawaran

Toolkit Anti Korupsi

87

Jadwal Waktu Pelaksanaan Pelelangan Dengan Prakualifikasi

88

Toolkit Anti Korupsi

Prosespel Pelelangan Umum Dengan Prakualifikasi

Catatan: 1. Perlu tambahan waktu untuk Pendaftaran, Masa Sanggah Pra K dan Penyusunan BAP/Adendum 2. Waktu bisa dikurangi untuk Evaluasi Penawaran, Penetapan Pemenang Lelang dan Penandatanganan Kontrak
Toolkit Anti Korupsi

89

Prosespel Pelelangan Umum Dengan Prakualifikasi

90

Toolkit Anti Korupsi

Profil Indonesia Procurement Watch Indonesia Procurement Watch (IPW) adalah organisasi masyarakat sipil (civil society organization) nirlaba, nonpartisan yang didirikan oleh para aktivis anti korupsi dan pemerhati pengadaan barang dan jasa publik (public procurement). VISI Sebagai suatu lembaga masyarakat IPW didirikan dan dikembangkan untuk suatu visi: Terwujudnya sistem pengadaan barang dan jasa publik yang bebas korupsi, kolusi, komisi dan nepotisme, berdasarkan prinsipprinsip bersih, transparan dan profesional. MISI IPW pun dikembangkan dengan misi: Memerangi korupsi, kolusi, komisi dan nepotisme pada seluruh kegiatan pengadaan barang dan jasa publik melalui pengembangan peran masyarakat, membantu pemerintah dalam perumusan kebijakan dan implementasi, serta mendorong profesionalisme dan etika seluruh pihak yang terkait. Diharapkan IPW dapat mendorong secara aktif dan efektif terwujudnya tata pemerintahan Indonesia yang baik dan bersih (good governance). Dalam kiprahnya, IPW menjalankan peran sebagai pusat kajian dan rekomendasi kebijakan, pemberdayaan masyarakat, pelatihan dan pengembangan jaringan komunikasi serta pemantauan. Kajian dan Pemantauan IPW dengan sumberdaya para ahli pengadaan publik yang dimiliki, bertujuan memberikan kontribusi sebesarbesarnya pada pengembangan kerangka hukum maupun sistem manajemen pengadaan publik. Peran ini diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai bentuk kajian seperti penelitian, forum diskusi, seminar dan pelatihan yang hasilnya disampaikan sebagai rekomendasi. IPW juga terbuka pada permintaan berbagai pihak untuk bekerjasama dalam membangun sistem dan prosedur pengadaan barang dan jasa publik di seluruh Indonesia.

Toolkit Anti Korupsi

91

BOARD OF TRUSTEE Prof. Dr. Komaruddin Hidayat Chair Dr. Todung Mulya Lubis Mar’ie Muhammad Firmansyah Rahim Al Mulyadi Mamoer Sarwedi Oemarmadi Harmawan Kaeni Soeroto Prayitno Rusman Ismail Djoko Susilo

EXECUTIVE COMMITTEE Budihardjo Hardjowijono Executive Director Hayie Muhammad Program Director

EXCUTIVE STAFF Indu Devi Sartadi Office/Communication Kiki Bambang Media/Development Sidahlta Arif Budianto Treasurer Ari Sukmawan Networking R. Muhammad Rusdi General

PENGADUAN MASYARAKAT
Indonesia Procurement Watch Wisma Seecons Lantai 2, Jalan Tebet Raya No. 3A Jakarta Selatan Tel/Fax (021) 837 86886 www.iprocwatch.org

92

Toolkit Anti Korupsi

STUDI KASUS Sisa dana dari penyelenggaraan Haji dari Tahun 2001 - 2004 yang dihimpun oleh Departemen Agama Rl dalam Dana Abadi Umat berjumlah Rp. 652 Milyar. Berdasarkan ketentuan UU No.17 Th. 1999 dan Kepres No. 22 tahun 2001 tentang Pengelolaan Dana Abadi Umat telah membatasi penggunaan DAU hanya untuk bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, sosial, ekonomi, pembangunan sarana dan prasarana ibadah, serta penyelenggaraan haji. Kenyataan diselewengkan. Berikut ini kami beritahukan kepada publik tentang aliran dana DAU tersebut yang kami kutip dari Surat Dakwaan No. Reg. Perkara: PDS-11/JKTPS/0905 Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, dengan terdakwa Prof. Dr. H. SAID AGIL HUSEN AL MUNAWAR, MA. NO
1
1 2 3 4 5 6 7 8 9

TANGGAL
2
Sept s/d Des 2001 Okt s/d Des 2001 Jan s/d Sep 2004 31 / 12 / 2001 Jan s/d Des 2002 Jan s/d Des 2002 30 Januari 2002 30/01/2002 10/06/2002

DIGUNAKAN UNTUK
3
Kepentingan Terdakwa Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, yang diterima oleh beberapa pegawai Ditjen BIPH beberapa kali dalam setiap bulan. Sumbangan Terdakwa untuk 82 undangan pernikahan Biaya haji 32 orang antra lain Afaf Said Agil Kepentingan Terdakwa Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, yang diterima oleh beberapa pegawai Ditjen BIPH beberapa kali dalam setiap bulan. Biaya haji Moh. Abduh Biaya haji Makruf Amin, dkk (4 orang) Kunjungan Terdakwa ke Maluku

RP
4
990.368.500,00 512.699.888,00 304.829.000,00 33.600.000,00 dan US$ 112.534.000 1.365.032.400,00 1.055.917.412,00 US$ 2.677,00 112.534.348,00 100.000.000.000,00

DITERIMA OLEH
5
M. Khaolani Antara lain Taufiq Kamil Rp. 41.865.936,00 Al. Kel. Drs. Zarkasih Nur Rp. 5.000.000,00 Nurdin Nasution M. Khaolani Antara lain oleh Drs. Taufiq Kamil Rp. 50.210.000,00 Nurdin Nasution Nurdin Nasution M. Khaolani

Toolkit Anti Korupsi

93

NO
1
10 11 12 13

TANGGAL
2
10/06/2002 18/07/2002 13/01/2004 Jul s/d Agust 2004

DIGUNAKAN UNTUK
3
Biaya Pelatihan Hakim Pengadilan Agama Mahkamah Agung Rl ke Mesir Diberikan kepada Anggota Komisi VI DPR Rl (1999-2004) Tiket Taufiq Kamil dan Keluarga serta rombongan ke luar negeri Biaya Tiket Terdakwa dan Keluarga serta rombongan ke luar negeri Diberikan kepada Ketua dan Wakil Ketua Komisi dan Wakil Ketua Komisi VI DPR Rl (periode 1999-2004) untuk menghadiri undangan ke Amerika Serikat. Biaya fiskal 5 orang isteri anggota Komisi VI DPR Rl (periode 1999-2004) ke Arab Saudi Biaya umroh dan living cost Hariyanti Sekretariat DPR Rl Diberikan untuk biaya umroh 4 orang anak Jimly Asshidiqie Hadiah Lembaran para pejabat dan staf Ditjen BIPH Tunjangan Hari Raya Idul Fitri 1413 H untuk Komisi VI DPR Rl (periode 1999 - 2004) Honorarium, Insentif, lembur, uang lelang, uang makan, transport, yang diterima oleh beberapa pegawai Ditjen BIPH beberapa kali dalam setiap bulan Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, yang diterima Ditjen BIPH beberapa kali dalam setiap bulan Diberikan kepada Roqib Anggota Komisi VI DPR Rl (periode 1999-2004) Kunjungan kerja Terdakwa Biaya peliputan Metro TV tentang dialog Zakat Kegiatan Terdakwa dalam rangka Tarling Kepentingan Terdakwa Biaya pembahasan RUU Wakaf

RP
4
854.020.000,00 5.000.000,00 44.150.000,00 181.273.713,00 26.642.000,00 5.000.000,00 14.511.000,00 dan 1.235.000,00 54.780.000,00 dan 1.200.000,00 113.850.000,00 279.000.000,0 1.429.371.298,00 966.985.160,00 6.000.000,00 100.000.000,00 150.000.000,00 100.000.000,00 100.000.000,00 274.000.000,00 dan 400.000.000,00

DITERIMA OLEH
5
Wahyu Widiana Ghofur Djawahir M. Abd. Rosjad M. Khaolani Ghofur Djawahir Ghofur Djawahir Ghofur Djawahir Nurdin Nasution Lukman, SH, dkk Ghofur Djawahir Antara lain Taufiq Kamil Rp. 54.905.000,00 Antara lain Taufiq Kamil Rp. 41.782.500,00 Roqib M. Khaolani Tulus M. Khaolani Terdakwa Tulus

13. 30 / 09 / 2002 14. 01 / 10 / 2002 15. 02 / 10 / 2002 16. 18 / 11 / 2002 17. 22 / 11 / 2002 18. 25 / 11 / 2002 19. Jan s/d Des 2003 20. Jan s/d Sep 2004 21. 04 / 02 / 2004 22. 23. 24. 25. 26. 08 29 01 30 03 15 / / / / / / 06 06 07 07 09 09 / / / / / / 2004 2004 2004 2004 2004 2004

94

Toolkit Anti Korupsi

NO
1

TANGGAL
2

DIGUNAKAN UNTUK
3
Kepentingan Terdakwa Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, yang diterima oleh beberapa pegawai Ditjen BIPH beberapa kali dalam setiap bulan Naib Amirul Haj, Anggota Amirul Haj dan Anggota Pemantau Komisi VI DPR Rl (periode 1999 - 2004) Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, yang diterima oleh beberapa pegawai Ditjen BIPH beberapa kali dalam setiap bulan Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, yang diterima oleh beberapa pegawai Ditjen BPIH beberapa kali dalam setiap bulan. Honorarium, Insentif, lembur, uang lelah, uang makan, transport, dalam setiap bulan. Sumbangan Terdakwa untuk resepst pernikahan anak Mukhrom As’ad (Auditor BPK Rl) Diberikan kepada Tim Auditor BPK Rl Kepentingan Taufiq Kamil Tunjangan Hari Raya Idul Fitri Tahun 2002 kepada Auditor BPK Rl Tunjangan Hari Raya Idul Fitri Tahun 2002 kepada Karyawan BIPH Kepentingan Terdakwa Bantuan Terdakwa Pembayaran Tiket Terdakwa dan Keluarga serta rombongan ke luar Negeri Pembayaran Tiket Taufiq Kamil dan Keluarga serta rombongan ke luar Negeri Pembayaran Tunjangan Fungsional Pengeloia BPDAU

RP
4
100.000.000,00 120.264.333,00 219.796.860,00 (SR 87.500.000/ US $ 23,333,00 520.172.500,00 1.424.655.000,00 540.582.500,00 25.000.000,00 70.500.000,00 190.000.000,00 37.000.000,00 25.000.000,00 265.250.000,00 81.000.000,00 136.858.720,00 152.976.860,00 1.142.500.000,00

DITERIMA OLEH
5
Terdakwa Antara lain Taufiq Kamil Rp. 18.780.000,00 Enin Yusuf Suparta Antara lain Taufiq Kamil Rp.15.087.500,00 Antara lain Taufiq Kamil Rp.32.372.500,00 Rp.19.400.000,00 Mukhrom As’ad melalui Tuhari Sawanto Tuhari Sawanto Taufiq Kamil Tuhari Sawanto Antara lain Slamet Haryono Terdakwa Antara lain THR Taufiq Kamil Rp.15.000.000,00 Faisal Said Agil Al Munawar Antara lain Darurismi Taufiq Kamil Antara lain Taufiq Kamil Rp. 120.000.000,00 dan Terdakwa Rp.255.000.000,00

27. 12 / 10 / 2004 28. September 2001 29. 02 / 01 / 2002 30. Jan s/d Des 2002 31. Jan s/d Des 2003 32. Jan s/d Sep 2004 33. 22/10/2002 34. 35. 36. 37. 38. 39. 22 / 10/2002 Okt s/d Des 2002 28 / 11 / 2002 29 / 11 / 2002 Nopember 2002 Nop. s/d Des 2002

40. Nop s/d Des 2002 41. Nop. s/d Des 2002 42. Nop. s/d Des 2002

Toolkit Anti Korupsi

95

NO
1

TANGGAL
2
Bantuan Dirjen BIPH

DIGUNAKAN UNTUK
3

RP
4
334.860.000,00 1.264.597.500,00 715.869.500,00 1.456.736.500,00

DITERIMA OLEH
5
Antara lain Drs. H. Taufiq Kamil Rp.1.680.000,00 Terdakwa Antara lain Taufiq Kamil Rp.20.365.000,00 Antara lain cicilan rumah Abduh Paddare Rp. 50.000.000,00 dan Terdakwa (THR Rp. 25.000.000,00 dan operasional THR Rp.150.000.000,00) Antara lain Terdakwa Rp.180.000.000,00 Tuhari Sawanto Sofyan Ali Taufiq Kamil M. Khaolani M. Khaolani Enin Yusuf Suparta Tuhari Sawanto Enin Yusuf Suparta

43. Nop. s/d Des 2002 44. Des’02 s/d Des‘03 45. Jan s/d Nov 2003 46. Jan s/d Des 2003

Uang Taktis Terdakwa Uang Taktis Taufiq Kamil Bantuan Terdakwa

47. Jan s/d Des 2003 48. Jan 2003 49. 17/01/2003 50. Feb s/d Juli 2003 51. Feb s/d Des 2003 52. Feb s/d Des 2003 53. 14/04/2003 54. 16/04/2003 55. 28/04/2004

Pembayaran Tunjangan Fungsional Pengelola BPDAU Kepentingan Terdakwa Bantuan Terdakwa kepada Ormas dalam rangka kunjungan kerja, namun kenyataannya digunakan untuk penyelesaian Kasus Batu Tulis Bogor Pembayaran Tiket Taufiq Kamil dan Keluarga serta rombongan ke luar negeri Pembayaran Tiket Taufiq Kamil dan Keluarga serta rombongan ke luar negeri Pembayaran Tiket Terdakwa dan Keluarga serta rombongan ke luar negeri Diberikan kepada Tim Auditor BPK Rl Uang transport Tim Auditor BPK Rl Operasional Menteri Agama sehubungan dengan Audit BPIH BPK Rl Tahun 2003

867.000.000,00 25.000.000,00 157.000.000,00 179.026.674,00 179.026.674,00 535.408.729,00 139.415.000,00 15.000.000,00 22.225.000,00 (US$ 2.500,00) dan 44.450.000,00 (US$ 5,000.00)

96

Toolkit Anti Korupsi

NO
1

TANGGAL
2

DIGUNAKAN UNTUK
3
Sumbangan Terdakwa untuk 30 undangan pernikahan

RP
4
117.500.000,00

DITERIMA OLEH
5
Kel. Bupati Karimun Rp. 5.000.000,00 Kel. Syaiful Masykur Rp.2.500.000,00 dan Kel. M. Anwar Ibrahim Rp.2.500.000,00 Enin Yusuf S. Heriyansah Khairiansyah Antara lain Nurdin Nasution

56. Juni s/d Des 2003

57. 58. 59. 60.

097 06 / 2003 03 / 07 / 2003 23 / 09 / 2003 Sep s/d Okt 2003

Biaya pasca pemeriksaan BPIH dan DAU Tahun 2003 Diberikan kepada Auditor BPK Rl Uang Transport Auditor BPK Rl Uang Taktis Pegawai Depag

67.400.000,00 15.000.000,00 10.000.000,00 131.134.500,00

Toolkit Anti Korupsi

97

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->