P. 1
STRUKTURAL FUNGSIONAL

STRUKTURAL FUNGSIONAL

|Views: 171|Likes:
talcott parson, emile durkheim, struktural fungsional, sosiologi, antropologi
talcott parson, emile durkheim, struktural fungsional, sosiologi, antropologi

More info:

Published by: Syarifah Yasmin Assaggaf on Feb 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2015

pdf

text

original

STRUKTURAL FUNGSIONAL

Struktural fungsional adalah sebuah teori atau pendekatan yang menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur atau system dengan bagian-bagian yang memiliki fungsinya masing-masing yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari system yang dimana jika terjadi kerusakan atau disfungsional pada salah satu bagian maka akan merusak keseluruhan system atau struktur yang ada. Pemikiraan structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yang menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yang terdiri dadri organ-organ yang saling ketergantungan, dan ketergantungan tersebut merupakan konsekuensi agar organism tersebut dapat tetap bertahan hidup. Pendekatan structural fungsional ini bertujuan untuk keteraturan dan kestabilan social. Akar Pemikiran Teori Struktural Fungsional Berbicara tentang pendekatan structural fungsional, maka dapat dimulai dengan melihat keanekaragaman yang terdapat dalam masyarakat.

Keanekaragaman tersebut dapat dilihat dalam struktur social masyarakat. Struktur social adalah sebuah entitas atau kelompok masyarakat yang berhubungan satu sama lain, yaitu pola yang relatif dan hubungannya di dalam sistem sosial, atau kepada institusi sosial dan norma norma menjadi penting dalam sistem sosial tersebut sebagai landasan masyarakat untuk berperilaku dalam system sosial tersebut.

Ketidaksetujuan para pemikir sosial abad ke-19 terhadap paham ini timbul karena melihat kenyataan yang sebaliknya. menggambarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah masyarakat melalui proses adaptasi struktur sosial menuju pembaharuan. Paham utilitarianism menganggap manusia sebagai mahluk rasional dan bebas. harmoni dan stabilitas. Selain itu. maka manusia akan dapat menjadi wirausahawan yang berhasil. paham ini juga beranggapan bahwa masyarakat yang tertib akan tercapai kalau kompetisi antar individu dibiarkan berlangsung tanpa campur tangan pemerintah. ada tiga asumsi utama para ahli fungsionalisme yaitu evolusi. Menurut Brinkerhoff dan White (1989). . Kritikan kritikan terhadap paham utilitarianism juga mulai marak dipertanyakan kebenarannya pada saat itu. Pada abad ke-19 di Eropa telah terjadi proses urbanisasi dan industrialisasi yang memberikan kontribusi terhadap ketidakstabilan tatanan masyarakat. la juga akan menghapuskan segala struktur yang tidak diperlukan lagi. dimana ketertiban sosial justru semakin kacau setelah pengaruh paham utilitarianism semakin besar mewarnai kehidupan masyarakat. Kedua evolusi.Ahli-ahli fungsionalisme beranggapan bahwa masyarakat yang ada saat ini memiliki keperluan-keperluan untuk memenuhi kehendaknya. Kalau manusia dibiarkan bersaing secara bebas dan tanpa peraturan yang mengekang. Kenyataan yang demikian telah membuka peluang timbulnya pemikiran baru tentang bagaimana tatanan masyarakat yang tertib dan harmonis dapat diwujudkan. Diantara ketiganya stabilitas adalah yang paling utama karena menentukan sejauhmana sebuah masyarakat dapat bertahan di alam semesta ini.

Emile Durkheim . Pendekatan struktural-fungsional untuk menganalisis struktur sosial masyarakat muncul bersamaan dengan semakin mapannya ilmu biologi. dll. Herbert Spencer. Emile Durkheim. laksana kohesi antara organ hidup. yang dijumpai pada masyarakat yang masih sederhana. Pemikiran Comte mengenai analogi organismetik kemudian dikembangkan lagi oleh Spencer dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dan organisme.Pendekatan structural fungsional kemudian muncul untuk menganalisis struktur social masyarakat. Tokoh-tokoh yang berperan dalam teori structural fungsional ini adalah August Comte. Talcott Parson. Perkembangan Pendekatan Struktural Fungsional Pendekatan structural fungsional tokoh-tokohnya antara lain August Comte. sedangkan ikatan solidaritas organis. Dalam teorinya. Pembahasan Spencer tentang masyarakat sebagai suatu organisme hidup (1895: 436-506) dapat diringkas sebagai berikut: . laksana kohesi antara benda. yang dijumpai pada masyarakatyang kompleks. Auguste Comte mengemukakan pemikirannya dengan menggunakan analogi organis yang mengatakan bahwa ikatan solidaritas mekanis. Pernyataan seperti ini mencerninkan penganutan analogi organis aggapan mengenai adanya persamaan tertentu antara organis biologis dengan masyarakat.benda mati. Herbert Spencer. terutama yang berkaitan dengan struktur biologi kehidupan. Talcott Parson.dll.

4. misalnya bagian yang dapat dibedakan bila dibanding dengan makhluk yang lebih sempurna. misalnya manusia. Tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu. ”mereka tumbuh menjadi organ yang berbeda dengan tugas yang berbeda pula”. Binatang yang lebih kecil. agama dan sebagainya. sistem budaya dan atau sistem ekonomi. demikian pula dengan partai politik sebagai struktur institusional memiliki struktur dan fungsi serta tujuan yang berbeda dalam sistem politik.1. Disebabkan oleh pertumbuhan dalam ukurannya. maka struktur tubuh sosial (social body) maupun tubuh organisme hidup (living body) itu mengalami pertambahan pula. Bagianbagian itu saling berkaitan satu sama lain. Misalnya perubahan sistem politik dari suatu pemerintahan demokratis ke suatu pemerintahan totaliter akan mempengaruhi keluarga. Baik di dalam sistem organisme maupun sistem sosial. pendidikan. Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalami pertumbuhan. di mana semakin besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pulabagian-bagiannya. 2. . Pada manusia. hati memiliki struktur dan memiliki fungsi yang berbeda dengan paru-paru. seperti halnya dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin besar. 3. perubahan pada suatu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem secara keseluruhan.

(Megawangi. tetap langgeng. yaitu Emile Durkheim. Bagian-bagian tersebut. Perbedaan fungsi-fungsi tersebut ternyata diperlukan. Masyarakat modern dilihat oleh Durkheim sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri. Keseluruhan tersebut memiliki seperangkat kebutuhan atau fungsifungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal. Demikianlah maka sistem peredaran atau sistem pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan medis. Bilamana kehidupan ekonomi mengalami suatu fluktuasi yang keras. Struktur biologi organisme hidup terdiri dari elemen elemen yang saling terkait walaupun berbeda fungsi. merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah. walaupun saling berkaitan. Bila mana kebutuhan tertentu tadi tidak dipenuhi maka akan berkembang suatu keadaan yang bersifat ”patologis”. dapat mempengaruhi elemen-elemen lainnya. Kerusakan atau tidak berfungsinya satu elemen dalam suatu struktur organisme hidup.5. Sebagai contoh dalam masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. maka bagian ini akan mempengaruhi bagian yang lain dari sistem itu . seperti halnya sistem politik atau sistem ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi. sehingga suatu sistem kehidupan dapat tidak berfungsi dengan baik. Lahirnya fungsionalisme struktural sebagai suatu perspektif yang ”berbeda” dalam sosiologi memperoleh dorongan yang sangat besar lewat karyakarya klasik seorang ahli sosiologi Perancis. terutama untuk saling melengkapi agar suatu sistem kehidupan yang berkesinambungan dapat terwujud. 2001).

R. Fungsionalisme Durkheim ini tetap bertahan dan dikembangkan lagi oleh dua orang ahli antropologi abad ke-20. analisa fungsional yang dibangun di atas model organis.dan akhirnya sistem sebagai keseluruhan. Para ahli antropologi . walau dalam beberapa hal berbeda dari Brown. atau upacara penguburan. dan keduanya menyumbangkan buah pikiran mereka tentang hakikat. Para fungsionalis kontemporer menyebut keadaan normal sebagai equilibrium. Di dalam batasannya tentang beberapa konsep dasar fungsionalisme dalam ilmu-ilmu sosial. adalah merupakan bagian yang dimainkannya dalam kehidupan sosial sebagai keseluruhan dan. Suatu depresi yang parah dapat menghancurkan sistem politik. Malinowski dan Brown dipengaruhi oleh ahli-ahli sosiologi yang melihat masyarakat sebagai organisme hidup. Radcliffe-Brown. 1976:505). itu Bronislaw Malinowski dan A. Pukulan yang demikian terhadap sistem dilihat sebagai suatu keadaan patologis. Jasa Malinowski terhadap perkembangan teori fungsionalisme. karena itu merupakan sumbangan yang diberikannya bagi pemeliharaan kelangsungan struktural (Brown. Malinowski mendukung konsepsi dasar fungsionalisme tersebut. seperti penghukuman kejahatan. sedang keadaan patologis menunjuk pada ketidakseimbangan atau perubahan sosial. mengubah sistem keluarga dan menyebabkan perubahan dalam struktur keagamaan. yang pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya sehingga keadaan normal kembali dapat dipertahankan. atau sebagai suatu sistem yang seimbang. pemahaman Radcliffe-Brown (1976:503-511) mengenai fungsionalisme struktural merupakan dasar bagi analisa fungsional kontemporer yang mengatakan bahwa setiap kegiatan yang selalu berulang.

Integration (G) : Sebuah system harus mengatur hubungan antar bagianbagian yang menjadi komponennya. dan mengatur hubungan antara fungsi-fungsi yang lain (A. 2.G.L). Dalam karyanya ini Parson membangun teori sosiologinya melalui “analytical realism”.menganalisa kebudayaan dengan melihat pada ”fakta-fakta antropologis” dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam sistem kebudayaan (Malinowski. karena Parson menganggap bahwa terdapat empat karakteristik terjadinya suatu tindakan. Goal Attainment (G) : Sebuah system harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya. 1976: 551). maksudnya adalah teori sosiologi harus menggunakan konsep-konsep tertentu yang memadai dalam melingkupi dunia luar. 3. Pemikiran Durkheim tersebut kemudian menjadi sumbangsih bagi teori structural fungsional yang kemudian dikembangkan oleh Talcott Parson melalui karyanya The Structure of Social Action pada tahun 1973. Parson kemudian memperkenalkan system tindakan dengan skema AGIL. . Sehingga yang di dapat adalah organisasi konsep dalam bentuk sistem analisis yang mencakup persoalan dunia tanpa terganggu oleh detail empiris. yaitu sebagai berikut: 1. Adaptation (A) : Sebuah system harus menyesuaikan dengan lingkungannya. Keunikan realism analitik Parson ini terletak pada penekanan tentang bagaimana konsep abstrak ini dipakai dalam analisis sosiologi.

4. Di tahun 1959 Kingsley Davis di dalam pidato kepemimpinannya di hadapan anggota ”American Sociological Association”. Paradigma analisa fungsional Merton mencoba membuat batasan-batasan beberapa konsep analitis dasar dari bagi analisa fungsional dan menjelaskan . Selama beberapa dasawarsa. adalah seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan ini telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis. baik motivasi individual maupun pola-pola cultural yang dapat menciptakan dan menopang motivasi. sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas teori-teori fungsionalisme. Merton. Tetapi dalam sepuluh tahun terakhir ini teori fungsionalisme struktural itu semakin banyak mendapat serangan sehingga memaksa para pendukungnya untuk mempertimbangkan kembali pernyataan mereka tentang potensi teori tersebut sebagai teori pemersatu dalam sosiologi. ia juga mengakui bahwa fungsionalisme struktural mungkin tidak akan mampu mengatasi seluruh masalah sosial (Merton. Latency (L) : Sistem harus melengkapi. Robert K. fungsionalisme struktural telah berkuasa sebagai suatu paradigma atau model teoritis yang dominan di dalam sosiologi kontemporer Amerika. 1975: 25). memelihara. dan memperbaiki. bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa fungsionalisme struktural sudah tidak dapat lagi dipisahkan dari sosiologi itu sendiri.

Postulat kedua. memiliki sejumlah tugas yang . Paradigma Merton menegaskan bahwa disfungsi (elemen disintegratif) tidak boleh diabaikan hanya karena orang begitu terpesona oleh fungsi-fungsi positif (elemen integratif). Merton menegaskan bahwa kesatuan fungsioanal yang sempurna dari suatu masyarakat adalah ”bertentangan dengan fakta”. adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai ”suatu keadaan di mana seluruh bagian dari sistem sosial bekerja sama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai. Postulat pertama. Beberapa perilaku sosial jelas bersifat disfungsioanal. yaitu postulat indispensability.beberapa ketidakpastian arti yang terdapat di dalam postulat-postulat kaum fungsional. tanpa menghasilkan konflik yang berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur” (Merton. Ia menyatakan bahwa ”dalam setiap tipe peradaban. Postulat ketiga. seperti apa yang telah kita ketahui Merton memperkenalkan konsep disfungsi maupun fungsi positif. setiap kebiasaan. obyek materil. Merton menganjurkan agar elemen-elemen kultural seharusnya dipertimbangkan menurut kriteria keseimbangan konsekuensi fungsional (net balance of functional consequences). yaitu fungsionalisme universal. 1967: 80). Merton mengutip tiga postulat yang terdapat di dalam analisa fungsional yang kemudian disempurnakannya satu demi satu. dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting. 1967: 84). ide. yang menimban fungsi positif relatif terhadap fungsi negatif. terkait dengan postulat pertama. Fungsionalisme universal menganggap bahwa ”seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif” (Merton.

Menurut Sendjaja (1994: 32) mengemukakan bahwa model struktural fungsional mempunyai ciri sebagai berikut: (1) sistem dipandan sebagai satu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling berkaitan. dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan” (Merton. diantaranya kekurangan teori ini dikemukakan oleh Garna (1996: 114-117) sebagai berikut: (1) keyakinan bahwasanya ada masyarakat yang tanpa lapisan sosial harus diabaikan. (3) adanya ciri-ciri. namum kritik dan revisi atas teori ini masih terus berlangsung. sifat-sifat yang dipandang esensial untuk kelangsungan sistem. (2) beberapa tindakan dan institusi sosial tampak tidak nyata hubungannya dengan tindakan dan institusi sosial lainnya.harus dijalankan. 1967: 86). (2) adanya spesifikasi lingkungan yakni spesifikasi faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi sistem. . (4) pertimbangan teori ini sebagian terletak hanya pada gambaran eksplanasi yang memerlukan fakta yang diketahui dan mampu diobservasi. (4) adanya spesifikasi jalan yang menentukan perbedaan nilai. tanpa melihatkaitan unsur-unsur budaya yang diteliti masa silam. (3) teori ini beranjak dari pengalaman lapangan formatif untuk menemukan bahwa masyarakat itu dapat dipahami sebagai suatu sistem yang berkaitan dan rasional. Walaupun teori struktural fungsional banyak manfaatnya. dan (5) adanya aturan tentang bagaimana bagian-bagian secara kolektif beroperasi sesuai ciri-cirinya untuk menjaga eksistensi sistem. terutama kebudayaan material atau benda-benda yang tampak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->