129807801.

doc

Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

2010

1

129807801.doc. Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.

Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini menguraikan Interaksi Tanaman dan Hama; Pendugaan Kehilangan Hasil dan Ambang Pengendalian; Landasan Ekologi Pengelolaan Hama; Pengamatan dan Pengambilan Sampel; Unsur dan Komponen Dasar PHT; Pengendalian dengan Varietas Resisten, Pengembangan Tanaman Transgenik, Karantina Tumbuhan; Pengendalian Hayati; Pengendalian Kimiawi; Pengelolaan Hama Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Pasca Panen; Kebijakan Perlindungan Tanaman. Tujuan Instruksional Khusus: Agar mahasiswa dapat: 1. Memahami dan menjelaskan pengertian + batasan hama tanaman, klasifikasi, identifikasi, taksonomi dan sistematikanya. 2. Memahami dan menjelaskan gejala serangan, mengukur berat serangan dan tingkat kerugian hasil yang diakibatkan oleh hama. 3. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hama dan gejala serangan hama tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan hama pasca panen. 4. Memahami dan menjelaskan sifat dan kemampuan beradaptasi hama pada tingkat individu. 5. Memahami dan menjelaskan faktor-faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi populasi hama dan kerusakan yang diakibatkannya. 6. Memahami dan menjelaskan cara penentuan dan penggunaan Ambang Pengendalian sebagai dasar rekomendasi pengendalian hama. 7. Memahami dan menjelaskan konsep dan prinsip-prinsip PHT dan penerapannya untuk berbagai jenis dan kelompok hama di pertanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan pasca panen. 8. Memahami dan menjelaskan beberapa kasus aktual lapangan yang berkaitan dengan pengendalian hama-hama utama di Indonesia.

2

129807801.doc Materi 1

HAMA TANAMAN
Pokok Bahasan: 1. Beberapa batasan dan pengertian. 2. Arti penting hama tanaman untuk program pembangunan pertanian. 3. Data kerusakan dan sebaran beberapa hama utama di Indonesia. 4. Sebab-sebab muncul dan berkembangnya masalah hama tanaman. 5. Tujuan pengendalian hama dan pongelolaan hama. Materi: PERISTILAHAN • Hama Tanaman  Merujuk pada binatang yang menjadi HAMA yakni merusak tanaman dan merugikan petani  Selama binatang tersebut (serangga, tikus, nematoda, tungau, dll) mendatangkan kerugian disebut HAMA TANAMAN  Tetapi keberadaan binatang di tanaman tidak selalu mendatangkan kerugian/kerusakan tanaman  Banyak jenis binatang herbivora ada di pertanaman tetapi tidak semuanya menjadi hama  Di samping itu di ekosistem banyak sekali jenis binatang yang tidak merugikan malahan menguntungkan seperti MUSUH ALAMI (parasitoid, predator), serangga PENYERBUK TANAMAN (lebah, tawon) serangga-serangga netral seperti SEMUT, dll.

Istilah HAMA merupakan istilah yang ANTROPOSENTRIS artinya lebih berpusat pada kepentingan manusia.
Bagaimana dengan istilah HAMA TUMBUHAN? Sebetulnya kurang tepat karena TUMBUHAN adalah semua jenis tetumbuhan yang hidup di biosfir termasuk tumbuhan di ekosistem alami atau tumbuhan yang tidak dibudidayakan manusia. TANAMAN adalah tumbuhan yang diusahakan manusia untuk diambil manfaatnnya bagi kehidupan manusia. Karena istilah HAMA pada dasarnya antropogenik, yang paling tepat kita gabungkan istilahnya adalah HAMA TANAMAN, istilah HAMA TUMBUHAN dapat juga dipakai meskipun kurang pas kombinasinya. Kalau istilah PENYAKIT TUMBUHAN memang lebih tepat, karena PENYAKIT lebih merujuk pada GEJALANYA. Tumbuhan sedang sakit, kondisi yang secara fisiologi tidak normal, tidak sehat. Setiap jenis tumbuhan termasuk TANAMAN dapat sakit. Sakitnya tumbuhan dapat disebabkan oleh karena infeksi jasad renik seperti virus, jamur, bakteri, dll, tetapi sakitnya mungkin juga karena kondisi fisik/abiotik yang tak sesuai seperti suhu, kering, basah, dll. Karena itu di Ilmu Penyakit Tumbuhan kita kenal Organisme Penyebab Penyakit. Kalau hama merujuk pada binatang yang merugikan, penyakit merujuk pada gejala tumbuhan yang SAKIT.

3

Produksi TURUN (nasional. PENGHASILAN NEGARA/DAERAH (PAD) TURUN 4 . Serangan HAMA mengakibatkan: 1. tingkat petani) 2. PENYAKIT dan GULMA. Dilihat dari sisi ilmu-ilmu dasar pendukung Perlindungan Tanaman sbb: HAMA TANAMAN : Entomologi (ilmu serangga) Nematologi (ilmu nematoda) Rodentologi (Ilmu rodent/tikus) Akarologi (ilmu akarina) dll Karena sebagian besar hama termasuk kelompok serangga seringkali Ilmu Hama diartikan entomologi.OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) merupakan istilah “formal/hukum nasional” yang digunakan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. Kualitas ANJLOK (mutu rendah-sulit dipasarkan-diekspor) 3. menyebabkan PUSO. propinsi. namun secara khusus sering diartikan untuk pengertian HAMA HAMA TANAMAN SEBAGAI PEMBANGUNAN PERTANIAN FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROGRAM Program Pembangunan Pertanian Nasional apakah dengan pola Pembangunan Pertanian AGRIBISNIS atau program KETAHANAN PANGAN sangat ditentukan oleh keberhasilan kita dalam mengendalikan. Hal ini disebabkan karena berbagai jenis HAMA dan atau OPT lainnya dapat menurunkan KUANTITAS dan KUALITAS hasil-hasil pertanian. Harga produk MEROSOT 4. Tiga kelompok pengganggu tumbuhan ini yang pengendalian atau pengelolaannya dicakup dalam bidang PERLINDUNGAN TANAMAN. lokal. Biaya produksi NAIK 5. Digunakannya istilah OPT untuk mencakup semua kelompok pengganggu tumbuhan termasuk HAMA. PENYAKIT TUMBUHAN : Fitopatologi Virologi Mikologi dst GULMA : Ilmu gulma Dalam bahasa inggris Istilah PEST sebenarnya digunakan untuk seluruh kelompok OPT. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP 6/1995 tentang Perlindungan Tanaman. mengganggu kehidupan. Namun harap diperhatikan bahwa definisi OPT menurut UU ada perbedaannya dengan pengertian Hama Tanaman dan Penyakit Tumbuhan yang sudah dijelaskan di depan. mengelola HAMA TANAMAN. artinya 100% GAGAL. Menurut UU tersebut: “OPT adalah semua organisme yang dapat merusak. Teman-teman Fitopatologi banyak yang tidak sependapat dengan istilah OPT. atau menyebabkan kematian tumbuhan”. dan sangat sering MENGGAGALKAN PANEN. RUGI secara ekonomik (biaya lebih besar daripada pendapatan) 6.

tidak memperhitungkan keadaan hama di lapangan apakah sedang dalam kondisi populasi rendah atau tinggi. cabai. Penanaman jenis tanaman baru di suatu daerah sehingga belum ada musuh alami di lokasi baru ---. contoh padi 2. bawang merah. HITUNG SENDIRI secara finansial berapa kerugian yang kita derita setiap tahun karena hama-hama padi.7. Banyak faktor yang mendorong terus ada dan meningkatnya masalah hama. serangan OPT padi. Penanaman jenis tanaman atau varietas tanaman yang peka hama tetapi unggul produksi 3. pisang. Menurut catatan DEPTAN 1997-2001. kubis. kedelai sebesar Rp 463 milyar /tahun. TUJUAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENGELOLAAN HAMA Pada saat ini di kalangan petani. Jumlah itu setelah dikurangi 25% kehilangan hasil oleh OPT padi. 5. pestisida. Hampir seluruh faktor pendorong tersebut adalah karena ulah/perbuatan/tindakan MANUSIA sehingga ekosistem pertanian menjadi sangat sesuai bagi pertumbuhan. hormon tumbuh. kentang. PENGHASILAN TURUN KEMISKINAN MENINGKAT ---- KESEJAHTERAAN PETANI MENURUN ---- Taksiran KASAR/KONSERVATIF. Tanpa ada kegiatan manusia tidak ada masalah hama. jadi sering disebutkan bahwa hama saat ini adalah “MAN-MADE PEST” (Hama buatan MANUSIA).kehilangan hasil karena HAMA sekitar 20 – 25%. Lihat juga tabel keadaan serangan OPT di Indonesia pada tahun 2001-2002 (jenis dan luas serangan) Mengingat potensi penurunan hasil akibat HAMA yang sangat besar kegiatan Pengelolaan Hama menjadi BAGIAN PENTING . Serangan OPT Hortikultura (mangga.INTEGRAL dari setiap USAHA TANI atau BUDIDAYA TANAMAN agar diperoleh Tingkat PRODUKSI dan KUALITAS produksi yang DIINGINKAN baik oleh PEMERINTAH maupun PETANI – KELOMPOK TANI FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENINGKATAN SERANGAN DAN KERUSAKAN OLEH HAMA Masalah hama di suatu lokasi pada saat/musim tertentu tidak muncul begitu saja tanpa penyebab atau faktor-faktor pendorong. Pemberantasan hama: adalah usaha memusnahkan. 6. pengendalian hama dan pengelolaan hama. dll. bila produksi tahun 2003 itu diperkirakan 53 juta ton padi kering panen. 5 . Penggunaan masukan produksi yang berkelebihan seperti pupuk buatan. muncul dan terus ada karena manusia. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. resistensi dan resurjensi hama. jeruk. pengairan dll. Tahun 1999 serangan OPT Perkebunan merugikan sebesar Rp 340 milyar. tomat) diasumsikan rata-rata Rp 1. Penanaman monokultur (jenis tanaman atau varietas tanaman yang sama) sepanjang waktu dan tempat. termasuk terjadinya penyimpangan cuaca dan iklim KESIMPULANNYA: Masalah timbul. terus-menerus dan berlebihan.KARANTINA gagal 4. membunuh hama yang umumnya dilakukan dengan pestisida kimia secara preventif. Rata-rata kehilangan hasil Produksi Pertanian karena serangan OPT ± 30% dari potensi hasil --. pejabat dan petugas pemerintah akademisi dan masyarakat dikenal 3 istilah pemberantasan hama. Pestisida membunuh musuh alami. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana.7 trilyun/tahun. jagung. pembiakan dan kehidupan hama tanaman.

mikroklimat. pengendalian hayati. tak perlu dilakukan pengendalian dengan pestisida tetapi produksi tanaman tetap tinggi. varietas resisten. kualitas produksi baik PHT (Pengendalian Hama Terpadu) merupakan kebijakan Perlintan di Indonesia berdasarkan UU No 12/1992 dan PP 6/1995. pengendalian kimia. dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada di bawah Ambang Pengendalian. tanah. Bila populasi hama tidak membahayakan tidak perlu dikendalikan dengan pestisida. fisik.pokoknya disemprot habis-habisan sampai petani merasa puas. Penggunaan pestisida hanya dilakukan bila populasi hama telah membahayakan atau melampaui ambang pengendalian atau ambang ekonomi. mekanik. Pemberantasan hama yang mengakibatkan munculnya resisitensi hama dan letusan hama yang berkelanjutan Pengendalian hama: lebih hati-hati daripada pemberantasan hama. PHT adalah usaha pengelolaan agroekosistem dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama (bercocok tanam. budidaya dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada dalam keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga hama tidak membahayakan. Pengelolaan hama: Lebih menekankan aspek pengelolaan ekosistem (tanaman. 6 .

129807801. Karena kemampuannya mengubah energi surya menjadi energi biokimia melalui proses fotosistesis tanaman menempati aras trofi pertama sebagai PRODUSEN. Aliran energi di ekosistem melalui sistem trofi dapat dilihat pada gambar berikut: Energi memasuki ekosistem sebagai radiasi surya EKOSISTEM Produsen Konsumen 1 Konsumen 2 Dekomposer Energi keluar ekosistem sebagai panas Gambar 1. Dari sisi ekologi hubungan antara tanaman dan hama merupakan interaksi yang saling mengendalikan antara tanaman yang autotroph dengan binatang HERBIVORA yang heterotroph dalam suatu sistem trofi yang berjalan secara EFISIEN dan berkesinambungan. demikian seterusnya. Aliran Energi dalam Ekosistem melalui Sistem Trofi Aras Istilah trofi Ekosistem Antroposentris 7 . Binatang karnivora memperoleh energinya dengan memangsa herbivora sehingga menempati aras trofi ketiga sebagai KONSUMEN KEDUA.doc Materi 2 INTERAKSI TANAMAN DAN HAMA Interaksi antara tanaman dan hama dapat dilihat dari aspek EKOLOGIS dan EKONOMIS. Energi pada tanaman digunakan oleh binatang yang memakan tanaman (HERBIVORA) yang menempati aras trofi kedua sebagai KONSUMEN PERTAMA.

Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT dan atau mengalami kerusakan karena serangan OPT pada tingkat populasi OPT atau intensitas kerusakan tertentu sesuai dengan jenis OPT nya 2. Tujuan interaksi sebenarnya adalah terjadinya keseimbangan dan kestabilan ekosistem. dan dinamis melalui proses evolusi dan koevolusi.1 2 3 4 Tumbuhan Herbivora Karnivora 1 Karnivora 2 Tanaman Hama tanaman Predator.Pengamat Hama dan Penyakit. Serangan puso bila derajat serangan >90 % CARA PELUKAAN TANAMAN OLEH SERANGGA A. Serangan ringan bila derajat serangan <25% b. berada dan makan pada tanaman tersebut. Luas serangan: adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar atau rumpun atau pohon 3. Luka oleh serangga yang makan di dalam jaringan tanaman (internal feeders) termasuk penggerek. berat dan puso. Intensitas serangan: adalah derajat serangan OPT atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. pengorok dan pembuat puru 4. Luka tanaman dapat mengakibatkan terjadinya KERUSAKAN (“damage”). Luka oleh serangga pencucuk pengisap 3. a. Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas serangga hama yang hidup. Aspek EKONOMIS Adanya populasi serangga/hama di suatu tanaman akan menimbulkan LUKA (“injury”) pada tanaman. hiperparasitoid Perlu diperhatikan bahwa di ekosistem termasuk ekosistem persaingan interaksi antara organisme yang menempati aras trofi yang sama atau antar aras trofi sangat kompleks. Luka oleh serangga penggigit 2. Istilah-istilah lain berkaitan dengan hama dan tanaman yang saat ini digunakan dalam kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh para petugas pengamat lapangan (dulu namanya PHP. Masalah ini akan dibahas pada kuliah dua minggu lagi. Serangan berat bila derajat serangan 50-90% d. Pengertian dan istilah LUKA lebih terpusat pada HAMA dan AKTIVITASNYA. Intensitas serangan secara kuantitatif dinyatakan dalam % (persen) bagian tanaman/tanaman atau persen kelompok tanaman terserang. sedangkan KERUSAKAN lebih terpusat pada TANAMAN dan respon tanaman terhadap pelukaan oleh hama. sekarang namanya POPT. Luka Oleh Serangga Pada Tanaman Yang Sedang Tumbuh 1. Luka oleh serangga-serangga tanah 8 . Kerusakan adalah kehilangan hasil yang dirasakan oleh tanaman (petani) akibat adanya populasi hama atau serangan hama antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dan kualitas hasil.Pengendali OPT). BPTPH. Serangan sedang bila derajat serangan 25-50% c. Intensitas serangan dalam % dilaporkan oleh PHP b. sedang. parasitoid (musuh alami) Predator. Adapun kategori intensitas serangan serangga hama secara umum dapat digunakan pedoman sbb: a. 1. Kategori serangan dilaporkan oleh koordinator PHP. Intensitas serangan secara kualitatif dibagi menjadi 4 kategori serangan yaitu: ringan.

5. Luka oleh serangga sebagai vektor/pengantar penyakit tumbuhan Berbagai bentuk luka oleh serangga pada tanaman yang biasa kita catat sebagai GEJALA SERANGAN hama. Luka oleh serangga-serangga yang “memperhatikan” serangga-serangga lain 7. Luka oleh serangga yang sedang meletakkan telur dan membuat sarang 6. 9 .

Interaksi antara Populasi Hama dan Tanaman 10 .FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK Populasi Hama Populasi Tanama n LUKA KERUSAKAN KEHILANGAN HASIL DAN KUALITAS KERUGIAN EKONOMIK PETANI TINDAKAN MANUSIA Keterangan : Hasil interaksi antara populasi hama dan tanaman mengakibatkan luka pada tanaman. Hasil interaksi populasi hama dan populasi tanmaan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik lainnya dan faktor-faktor abiotik dan terutama oleh tindakan manusia terhadap ekosistem Gambar 2. luka mengakibatkan kerusakan dan kerusakan tanaman karena hama menyebabkan terjadinya kehilangan atau penurunan hasil tanaman dan kualitas produk/hasil. Kehilangan hasil dapat berakibat pada kerugian ekonomi (biaya lebih besar daripada nilai produksi) yang dialami petani atau pengusaha pertanian.

Batang • Jumlah atau % puru. Beberapa pengukuran yang sering digunakan adalah terhadap tanaman atau bagian tanaman antara lain seperti: 1. lubang gerekan dan gejala daun lainnya diukur dengan menggunakan luas defoliasi. pengurangan berat kering daun 3. Daun Adanya kerusakan daun. berat kering atau volume perakaran yang terserang hama • Luas kerusakan umbi seperti pada tanaman kentang. sundep. beluk • Jumlah lubang keluar • Panjang lubang gerekan • Luka potongan batang oleh ulat 4.B. 9 . Keseluruhan tanaman Jumlah atau % tanaman mati/busuk atau yang menunjukkan gejala serangan hama tertentu 2. Metode Pendugaan Kerusakan Tanaman Oleh Hama Pendugaan atau penghitungan pengaruh hama terhadap kerusakan tanaman dan kehilangan hasil karena serangan hama dapat dilakukan dengan menghitung atau mengukur luka atau gejala yang ditinggalkan atau diakibatkan oleh hama. Luka Oleh Serangga Pada Manusia Dan Binatang Lain C. Akar • Panjang. Buah dan benih • Jumlah lubang atau luka di buah • Jumlah atau % buah rusak seperti terserang PBK (Penggerek Buah Kakao) dan PBKo (Penggerek Buah Kopi) 5. Serangga Sebagai Perusak Produk Di Gudang Dan Bahan-Bahan Lain D.

129807801.doc Materi 3

PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL
Pokok Bahasan: A. Pendugaan Kehilangan Hasil Akibat Serangan Hama (Crop Loss Assesment) B. Penggunaan Ambang Pengendalian sebagai tingkat pengambilan keputusan penggunaan PESTISIDA Materi: Pendugaan kehilangan hasil adalah usaha untuk menduga, menaksir bahkan meramal tentang kerugian ekonomi yang mungkin akan dialami oleh petani, perusahaan pertanian, pemerintah atau pengusaha agribisnis karena adanya serangan hama pada pertanaman yang mereka budidayakan. Dengan melakukan pendugaan kehilangan hasil para produsen pertanian dapat menentukan beberapa hal:  Apakah keberadaan populasi hama di lahannya akan merugikan atau menurunkan hasil usahanya dalam kisaran toleransi ekonominya. Bila masih berada pada kisaran toleransi petani tidak perlu melakukan tindakan pengendalian atau mengeluarkan biaya untuk pengendalain.  Apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau pencegahan hama. Apabila perlu berapa besar biaya pengendalian yang harus dikeluarkan. Tentunya petani tidak akan mengeluarkan biaya pengendalian sampai melebihi nilai kehilangan hasil  Bila petani sudah memutuskan perlu dilakukan tindakan pengendalian, teknik pengendalian mana yang akan digunakan apakah dengan cara kimiawi dengan pestisida kimia atau dengan secara hayati menggunakan musuh alami, atau menggunakaan varietas tanaman tahan hama dan seterusnya. Dalam menetapkan teknik pengendalian hama yang akan dilakukan petani/produsen adalah mempertimbangkan beberapa faktor yaitu a) efektivitas pengendalian, b) biaya pengendalian, dan c) risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pendugaan kehilangan hasil juga akan digunakan untuk menentukan berapa nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi yang akan kita bahas pada akhir kuliah ini. Siapa yang memerlukan Kehilangan Hasil? Banyak pihak yang memerlukan data pendugaan kehilangan hasil, diantaranya: 1. Petani secara perseorangan (untuk petak dan lahan miliknya sendiri) atau secara berkelompok (untuk hamparan sawah/lahan). Satu kelompok hamparan besarnya terdiri dari 20-30 petani. 2. Pemeriantah Daerah dan Pemerintah Pusat, biasaya melalui Dinas Pertanian Kabupaten dan Departemen Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Hortikultura dan Ditjen Perkebunan. 3. Pengusaha Pertanian misal PT Perkebunan milik Pemerintah, PT Pagilaran milik Fak. Pertanian UGM, dst. CARA PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL Untuk menghitung kehilangan hasil dalam bentuk satuan berat (ton/ha) atau satuan rupiah (Rp/ha) secara TEPAT jelas sangat sulit dan tidak mungkin, karena tidak mungkin kita 10

mengukur dan menghitung semua lahan yang ada baik milik petani dan kelompok tani maupun lahan pertanaman tertentu di suatu daerah (desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional). Yang dapat kita lakukan adalah melakukan PENDUGAAN, kata-kata lain ESTIMASI, PENAKSIRAN, berdasarkan data hasil pengamatan yang dilakukan pada lahan/petak sawah/tanaman/pohon/rumpun yang digunakan sebagai SAMPEL, CONTOH yang mewakili. Untuk memperoleh taksiran kehilangan hasil untuk suatu petak atau hamparan/sawah atau suatu daerah kita harus mempunyai data seperti: 1. Luas serangan – LSR (dalam ha) 2. Intensitas serangan – ISR (dalam % rumpun/tanaman terserang) a ISR = --------------------- x 100% a + b a: jumlah rumpun/batang terserang b: jumlah rumpun/batang tak terserang 3. Hubungan antara intensitas serangan dengan hasil tanaman yang diperoleh dari pengalaman petani atau dari hasil penelitian. Suatu contoh:
Hasil Tanaman (ton/ha)

10

6 5

Gambar 3. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama dengan Hasil Tanaman
2 Dari fungsi ini kita mengetahui dugaan hasil tanaman atau produksi tanaman dalam kondisi intensitas serangan (%) tertentu, katakan 50% intensitas serangan, produksi atau hasil tanaman adalah 6 ton/ha. Kita sebut Produksi Tanaman Terserang (PTT) 20 50 80 100 4. Dari fungsi ini kita ketahui bahwa hasil tanaman yang tidak terserang hama atau Intensitas serangan (%) produksi tanaman sehat (PTS) adalah 9,5 ton/ha. 5. Harga dari produk/hasil tanaman pada tingkat petani katakan Rp 1000/kg atau Rp 1 juta/ton (HG) 6. Kehilangan hasil (KH) dalam satuan berat (ton) = Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Sehat (PTS) --- Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Terserang (PTT) 7. Nilai kehilangan hasil (NKH) dalam rupiah = Harga produk (HG) x KH Suatu contoh: Untuk hama padi di suatu kecamatan ternyata LSR 500 ha. PTT= 6 ton/ha. PTS = 9,5 ton/ha dan harga padi kering panen (HG) Rp 1500/kg.

KH

= (LSR x PTS) – (LSR x PTT) = (500 x 9,5) – (500 x 6) = 4750 – 3000 ton = Rp 2.625.000.000 11

PENETAPAN AMBANG PENGENDALIAN Dalam konsep PHT kita kenal beberapa istilah yang arti dan fungsinya sama yaitu: 1. Ambang Ekonomi (AE) “Economic Threshold” 2. Ambang Kendali (AK) “Economic Threshold” atau Ambang Pengendalian “Control PESTISIDA ARAS LUKA EKONOMI Threshold” 3. Ambang Tindakan (AT) “Action Threshold” Artinya adalah suatu aras (tingkat) kepadatanAMBANG EKONOMI atau intensitas serangan populasi hama hama yang membenarkan dimulainya penggunaan PESTISIDA untuk pengendalian hama. Tujuan penggunaan pestisida adalah menurunkan populasi hama sampai di bawah AE agar
ARAS KESEIMBANGAN UMUM

Populasi Hama atau Intensitas Serangan

= Rp 2,625 milyar Dengan perhitungan tersebut secara kasar kita dapat mengetahui seberapa besar kerugian yang dialami oleh petani, masyarakat dan pemerintah akibat terjadinya serangan hama tertentu. Dari cara penghitungan tersebut di atas dapat dimengerti bahwa untuk menduga kehilangan hasil kita memerlukan hubungan fungsional antara populasi hama atau intensitas serangan (%) dengan hasil. Tanpa informasi tentang hubungan ini kita tidak dapat menduga/menaksir berapa hasil tanaman yang akan diperoleh bila terserang hama pada intensitas serangan atau populasi hama tertentu. Untuk memperoleh fungsi tersebut perlu dilakukan percobaan pengamatan langsung di lapangan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan antara lain: Cara pertama adalah dengan cara ALAMI yaitu dengan: Mengamati beberapa petak sawah dengan menghitung berapa populasi hama atau intensitas serangan hama tertentu. Misal pada petak pertama intensitas serangan 5%, petak kedua 20%, petak ketiga 40%, petak keempat 60%, petak kelima 80%, dan petak keenam puso atau 95%. Pada waktu panen kita lakukan ubinan hasil pada semua 6 petak tersebut. Dari langkah pertama dan kedua tersebut kita dapat memperoleh fungsi hubungan intensitas serangan dan hasil. 2. Namun seringkali di lapangan kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan petak-petak sawah yang memiliki kisaran lebar dalam kepadatan populasi hama atau intensitas serangan seperti contoh di atas. Untuk memperoleh intensitas serangan atau populasi hama yang berbeda seringkali kita lakukan secara BUATAN yaitu dengan menginfestasikan hama dalam pertanaman yang dikurung dalam suatu kasa yang selebar petak sawah. Dengan melakukan infestasi hama kita dapat mengatur berapa kepadatan populasi atau intensitas serangan yang kita inginkan. 3. Cara ketiga merupakan cara yang paling murah tetapi tidak teliti yaitu dari data EMPIRIK atau pengalaman dari petani kita lakukan wawancara pada petani yang sudah lama berpengalaman menghadapi masalah hama tertentu yang menyerang tanaman atau komoditas pertanian yang mereka usahakan. Kita tanyakan pada para petani berapa produksi tanaman yang mereka dapatkan dalam kondisi intensitas serangan hama rendah, sedang, tinggi dan puso, serta berapa produksi tanaman dalam kondisi sehat atau tidak terserang hama. Dari data empirik petani akhirnya kita dapat memperoleh hubungan fungsional antara intensitas serangan dan hasil. Cara ini mudah kita lakukan, tetapi sulitnya tidak semua petani ingat apalagi menyimpan data serangan hama dan kerusakan yang pernah mereka alami.

12
20 40 60 80 100

WAKTU (hari)

Cara empirik atau berdasar pengalaman dari petani. Berdasarkan data empirik/pengalaman selama bertahun-tahun dapat diperoleh informasi tentang pada aras populasi atau intensitas serangan berapa hama tersebut mulai dirasakan merugikan secara 13 . Dengan demikian penggunaan pestisida dapat dihemat. 60 HST (hari setelah tanam). Artinya nilai AE dinamis. Harus ada ketentuan mengenai berapa besar nilai AE/AK/AT tersebut Dengan demikian untuk setiap jenis hama yang menyerang komoditas tertentu harus mempunyai nilai AEnya masing-masing bahkan pada prinsipnya nilai AE suatu jenis hama tidak tetap. petani tak perlu menggunakan pestisida secara berjadwal seperti seminggu sekali. tidak seragam. 20. Namun untuk melaksanakan prinsip tersebut ada dua syarat penting yaitu: 1. Biasanya petani menerima rekomendasi AE dari para PPL atau PHP (Pengamat Hama dan Penyakit). Mungkin untuk sementara keadaan tersebut dapat berjalan tetapi harus diikuti dengan melakukan pelatihan pada petani untuk mengembangkan dan menetapkan AE nya sendiri. peneliti atau petugas lapangan yang sudah lama menekuni dan merasakan tentang kerusakan atau kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama tertentu pada komoditas yang diusahakan. tidak sama dari satu tempat/lokasi ke tempat lain dari waktu ke waktu lain. 45. Suatu contoh untuk tanaman padi: AE wereng coklat : 5 nimfa + dewasa/rumpun padi pada fase vegetatif 10 nimfa + dewasa /rumpun pada fase generatif AE penggerek batang: 30% intensitas serangan pada fase vegetatif 10% intensitas serangan pada fase generatif (lihat lampiran) CARA PENETAPAN/PENGHITUNGAN AE Ada beberapa cara penentuan AE yang dapat kita lakukan: 1. Populasi Hama dan letak Aras Luka Ekonomi.Gambar 4. Yang menetapkan nilai AE yang paling baik adalah petani/kelompok tani sendiri yang berlaku untuk spesifik lahannya masing-masing. Saat ini karena petani banyak yang belum mampu nilai AE lebih sering mengikuti ketetapan atau rekomendasi pemerintah atau rekomendasi peneliti sehingga nilai AE cenderung seragam. Ambang Ekonomi dan Aras Keseimbangan Umum pada Keadaan Normal dapat dikendalikan secara alami oleh kompleks musuh alami sehingga populasi hama tetap berkisar sekitar aras keseimbangan umum (Gambar 4). Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dalam keadaan gejolak populasi hama sepanjang musim tanam pestisida hanya diaplikasikan satu kali yaitu pada waktu populasi melampaui AE. Harus dilakukan pengamatan secara berkala (katakan seminggu sekali) 2. atau pada umur 15.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALE DAN AE 14 Populasi hama larva/rumpun . di rumah kasa atau di laboratorium. Perhatikan sampai populasi 5 larva belum terjadi penurunan hasil sehingga petani masih bisa mentoleransikan tetapi pada populasi 7 petani sudah mulai merasakan kerugian ekonomi. Untuk lebih jelasnya secara grafik data empirik tentang aras populasi/intensitas serangan dan hasil dapat dilihat pada gambar 5. Cara Penelitian Penetapan AE melalui penelitian dilakukan oleh para peneliti yang khusus ingin mengetahui berapa AE pada suatu jenis hama pada komoditas tertentu. ALE adalah suatu populasi atau intensitas serangan dimana nilai kehilangan hasil (dalam Rp) yang dapat diselamatkan oleh tindakan pengendalian hama dengan pestisida sama dengan total baya pengendalian (dalam Rp). Pada aras populasi mulai merugikan tersebut. AE/AK/AT hama berbeda. Biasanya sasaran kegiatan penelitian adalah memperoleh nilai ALE (Aras Luka Ekonomi) dan dari nilai ALE dihitung AE yang besarnya ¾ atau 2/3 ALE. Pada keadaan kurve pengalaman petani demikian. Dengan pengalaman yang bertambah dan tingkat toleransi yang semakin baik. petani akan selalu menyesuaikan atau memperbarui nilai AE nya! Hasil (kuintal/ha) Mulai terjadi kerugian ekonomik AE petani 5 7 20 Gambar 5. maka AE/AK/AT petani adalah 7 larva/rumpun. Karena itu AE/AK/AT ini dapat kita namakan sebagai AE petani atau Ambang Petani saja. spesifik petani sehingga menjadi variatif dan tidak seragam. ALE dihitung dengan menggunakan titik impas/BEP (Break Even Point). BP ALE = -----------------HG x LT x BK dimana BP = Biaya pengendalian (Rp/ha) HG= Harga produk (Rp/kg) LT = Luka tanaman yang diakibatkan oleh satu individu hama BK = Berat kerusakan tanaman per unit luka tanaman Untuk memperoleh LT dan BK perlu dilakukan serangkaian percobaan di lapangan.ekonomi. Hubungan 10 Populasi Hama 30 dengan Hasil 2. Karena pengalaman dan perasaan petani berbeda-beda kita akan memperoleh AE yang sangat khas/spesifik lokasi.

Bagan alir sistem keputusan pengelolaan hama yang menunjukkan letak pendugaan populasi hama atau infestasi serangan hama dan pendugaan kehilangan hasil serta kegiatankegiatan yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 7. instar hama. dll. Kepekaan tanaman terhadap serangan hama Perhatikan Gambar 6 di bawah. Dari ketetapan-ketetapan pada gambar dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan pendugaan kehilangan hasil serta menetapkan dan menerapkan AE/AK/AT diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu (misal ilmu-ilmu perlintan. semakin rendah ALE/AE semakin sering/banyak penyemprotan pestisida dilakukan. Harga produk 2. lokasi pertanaman. Biaya pengendalian 3. 15 . Tidak dapat dilakukan oleh orang-orang/pakar perlintan. Dari sekian banyak faktor. sosiologi. Derajat luka yang diakibatkan oleh individu hama 4.Banyak faktor yang mempengaruhi nilai ALE dan AE termasuk jenis varietas tanaman. fase tumbuh tanaman. ekonomi. Apa artinya? ALE/AE Harga Produk ALE/AE Biaya Pengendalian Hubungan Harga Produk dan Biaya Pengendalian dengan ALE/AE Gambar 6. 4 faktor yang paling penting yaitu: 1. agronomi. statistis. dll) dan lintas sektor. antara Kita harus mengetahui bahwa semakin tinggi ALE/AE penggunaan pestisida menjadi semakin jarang atau semakin sedikit.

Bagan Alir Sistem Keputusan Pengelolaan Hama 16 .Infestasi Pengamatan Pendugaan hama Pengaruh (i) pada hasil (y) Percobaan Pendugaan kehilangan hasil Hasil (y) Pengaruh pengendalian terhadap (i) AE /AT / AK tidak ? Apa lebih besar dari AE? ya Tak perlu dikendalikan Kendalikan dengan pestisida Gambar 7.

berfluktuasi sekitar suatu garis atau posisi keseimbangan umum (General Equilibrium Position).129807801. Diharapkan para mahasiswa setelah kuliah ini dapat menjawab pertanyaan: Apa sebabnya kita tidak mungkin melakukan pembasmian atau pemusnahan hama seperti banyak orang harapkan? Pada prinsipnya keberadaan dan perkembangan populasi hama dan populasi organisme lainnya ditentukan oleh dua kekuatan yaitu: 1. Banyak faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi dinamika populasi hama. ukuran tubuh kecil dan kemampuan bertahan hidup yang tinggi maka populasi serangga sangat cepat meningkat sehingga dalam waktu sebentar saja dapat memenuhi permukaan bumi ini. Apabila suatu organisme berkembang sepenuhnya sesuai dengan kemampuan hayati (potensi biotik)nya. Juga kita ketahui bahwa populasi hama sepanjang musim tanam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat tidak tetap tetapi DINAMIS. memberantas hama sampai habis tetapi mempertahankan populasi hama di pertanaman tetap berada di bawah AE/AK/AT atau pada aras yang secara ekonomi tidak merugikan. 4. Mengetahui dua model pertumbuhan populasi organisme Mengetahui model dinamika populasi hama Mengetahui mekanisme pengendalian alami dan pengaruh faktor abiotik dan biotik Mempelajari pengaruh kegiatan manusia terhadap dinamika populasi hama Materi: Dari kuliah sebelumnya kita mengetahui bahwa keberadaan populasi hama di pertanaman dan di ekosistem menentukan seberapa besar kerusakan tanaman dan kerugian ekonomi yang dialami oleh petani atau pengusaha pertanian lainnya. POTENSI BIOTIK atau "Biotic Potential" dan 2. dN --. organisme ini mempunyai potensi biotik yang sangat besar dan kemampuan berbiak sangat cepat. Perhatikan gambar tentang posisi AE. PERLAWANAN LINGKUNGAN atau "Environmental Resistance" Yang disebut POTENSI BIOTIK adalah kemampuan suatu organisme untuk tetap hidup dan berkembang biak.= r N = ( b – d ) N dt N r b d t = populasi = laju pertumbuhan populasi intrinsik = laju kelahiran = laju kematian = waktu 17 . Dengan siklus hidup pendek. 2. Kalau kita perhatikan kelompok serangga. maka pertumbuhan populasi organisme tersebut akan mengikuti model pertumbuhan ekponensial atau pertumbuhan geometrik seperti Gambar 8. Perlu ditekankan di sini bahwa tujuan pengelolaan hama bukan untuk membasmi hama. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut kita dapat melakukan pengelolaan hama yang efektif dan efisien.doc Materi 4 LANDASAN EKOLOGI PENGELOLAAN HAMA Tujuan: 1. naik turun. 3. ALE dan Garis keseimbangan pada kuliah minggu yang lalu.

Populasi (N) Gambar 9.Populasi Gambar 8. 18 . Kalau kita bandingkan dengan data lapangan populasi suatu organisme. kita memperoleh gambaran dinamika populasi yang mirip dengan pertumbuhan logistik terutama pada daerah I dan II seperti Gambar 10. Populasi Logistik --. Kekuatan ini yang akan menghambat populasi suatu organisme untuk bertambah dan meningkat sesuai dengan kemampuan biotiknya.) dt K N t r K = populasi = waktu = laju pertumbuhan populasi = asimtot atas atau nilai N maksimum K Model Pertumbuhan Waktu (t) dN K-N Kurve tersebut menunjukkan model pertumbuhan secara matematik. Pertumbuhan Mengikuti Ekponensial (N) Waktu (t) Populasi Organisme Model Pertumbuhan atau Geometrik Di dunia saat ini satu-satunya organisme yang populasinya tumbuh secara eksponensial adalah MANUSIA.= r N ( ----. Di alam populasi organisme tidak dapat meningkat secara eksponensial karena adanya kekuatan lain yang me"lawan" atau meng"hambat" yang kita namakan Perlawanan Lingkungan atau Hambatan Lingkungan. Karena itu model pertumbuhan populasi yang lebih cocok adalah model pertumbuhan logistik seperti Gambar 9.

Daerah II merupakan pencapaian aras keseimbangan yang merupakan garis asimtot kurve sigmoid. Periode ini terdiri dari tahap pembentukan populasi (A). Oskilasi populasi adalah penyimpangan populasi sekitar aras keseimbangan secara simetris. pertumbuhan cepat secara eksponensial (B) serta tahap menuju keseimbangan (C). Kalau periode ini terus berlanjut kemudian akan terjadi tingkat terakhir pertumbuhan populasi yaitu daerah V yang merupakan periode kepunahan populasi. Populasi (N) A B C Waktu (t) Gambar 10. Daerah III merupakan tahap oskilasi dan fluktuasi populasi. sedangkan fluktuasi populasi merupakan penyimpangan populasi yang tidak simetris.Menurut gambar tersebut pertumbuhan populasi organisme dapat kita bagi menjadi 5 daerah. Pada tahap ini populasi telah mencapai stabilitas numerik. Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan adalah faktor pengendali alami yang mempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang semakin meningkat pada waktu populasi semakin tinggi. Apabila mekanisme ini oleh sebab-sebab tertentu menjadi tidak berfungsi lagi. dan sebaliknya penekanan lebih longgar pada waktu populasi semakin rendah. Setelah daerah II tercapai kemudian populasi bergejolak sekitar aras keseimbangan yaitu pada daerah III. Daerah I merupakan periode peningkatan populasi yang tumbuh secara sigmoid. Di daerah III terjadi mekanisme keseimbangan populasi oleh bekerjanya berbagai faktor abiotik dan biotik yang secara bersama kita sebut sebagai faktor PENGENDALI ALAMI. Pengelompokan ini lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan cara pengelompokan lainnya. Bagan berikut menunjukkan faktor-faktor yang termasuk dalam FTK dan FBK. terjadilah daerah IV yang merupakan periode penurunan populasi atau periode pertumbuhan negatif. 19 . maka berbagai faktor hambatan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi Faktor Tergantung Kepadatan Populasi (FTK) atau "Density Dependent Factors" dan Faktor Bebas Kepadatan Populasi (FBK) atau "Density Independent Factors". Daerah III berjalan dalam waktu cukup lama tergantung pada berfungsinya mekanisme umpan balik negatif yang bekerja pada populasi organisme tersebut. Pertumbuhan Populasi Organisme yang Terbagi menjadi 5 Tingkat I II III IV V Adanya kekuatan Hambatan Lingkungan terhadap pertumbuhan populasi organisme dalam kondisi oskilasi dan fluktuasi di sekitar aras keseimbangan umum seperti yang terjadi di daerah III. FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN DAN FAKTOR BEBAS KEPADATAN Dilihat dari proses pengendalian dan pengaturan populasi organisme.

Timbal balik di sini berarti bahwa hubungan antara populasi dan mortalitas oleh FTK dapat berjalan dari kedua arah. antara lain dengan meningkatnya predasi dan jumlah predator B. FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang. Dengan demikian perubahan populasi spesies A akan selalu diikuti dengan perubahan kepadatan populasi predator B (Gambar 12). 20 . Laju MortalitasMo rtalitas Populasi Gambar 11. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa apabila populasi A meningkat kemudian jumlah makanan menjadi meningkat. Berbeda dengan kelompok musuh alami. Apabila populasi spesies A meningkat.Kalau dihubungkan antara mortalitas yang disebabkan oleh faktor FTK dengan populasi hama misalnya dapat diperoleh garis regresi (Gambar 11). persaingan antar FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang. persaingan antar individu untuk memperoleh makanan dan ruang semakin kuat sehingga mortalitas A menjadi meningkat. ruangan. dan patogen. FTK yang timbal balik terutama adalah musuh alami hama seperti predator. atau jumlah pouplasi A menurun dan jumlah makanan menurun. dan teritorialitas termasuk dalam FTK yang tidak timbal balik. dan demikian juga sebaliknya. jumlahnya terbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama. Hubungan antara populasi dan mortalitas yang disebabkan oleh Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan terbagi menjadi faktor yang timbal balik dan tidak timbal balik. parasitoid. Sebaliknya apabila populasi spesies A menurun mortalitas oleh predator dan jumlah predator juga menurun. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila populasi A semakin tinggi. maka mortalitas yang disebabkan oleh predator B akan semakin meningkat. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila populasi A semakin tinggi. jumlahnya terbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama. hambatan lingkungan berupa makanan.

PENGENDALIAN ALAMI FAKTOR BEBAS KEPADATAN FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN FISIK Tanah Suhu Kebasahan Pergerakan air BIOLOGI Ketersediaan inang Kualitas makanan TIDAK TIMBAL BALIK Makanan Ruang Teritorial TIMBAL BALIK Musuh alami -Parasitoid -Predator -Patogen -Herbivora Gambar 12. Komponen Pengendalian Alami yang Tergantung Kepadatan dan Bebas Kepadatan 21 .

.Popula si FT K Aras Keseimbangan FB K FB K FTK Waktu Gambar 13. Gejolak populasi sekitar aras keseimbangan umum. dan bekerjanya FTK dan FBK. Persediaan Makanan Predator Meningkat Jumlah Predator Meningkat Jumlah Inang Meningkat Jumlah Inang Meningkat Jumlah Inang Termakan Berkurang Jumlah Inang Titik Imbang Predator-Inang Termakan Meningkat Jumalah Inang Berkurang Jumalah Inang Berkurang Jumlah Predator Berkurang Persediaan Makanan Predator Berkurang Gambar 14. Mekanisme Umpan Balik pada Pengaturan Populasi Spesies A oleh Predator Mortalitas FBK POPULASI 22 Gambar 15.

Kecelakaan: adanya peristiwa-peristiwa yang tidak normal (fisiologi dan ekologi) yang dapat mengakibatkan kematian 4. udara. CLARK mengelompokkan beberapa penyebab mortalitas (kematian) serangga menjadi 7 kelompok yaitu: 1. karena FTK seperti musuh alami akan mengencangkan penekanannya sehingga populasi kembali lagi ke aras keseimbangannya. Musuh alami: sebagai faktor pengendali alami serangga yang bersifat tergantung kepadatan seperti yang telah dijelaskan 6. 7. Bila keadaan cuaca sangat menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanganbiakan suatu hama.Hubungan antara populasi organisme dan mortalitas akibat Faktor Bebas Kepadatan. Faktor Bebas Kepadatan Faktor Bebas dari Kepadatan (FBK) atau "Density Independent Factor" merupakan faktor mortalitas yang daya penekanannya terhadap populasi organisme tidak tergantung pada kepadatan populasi organisme tersebut. Kekurangan tempat berlindung/bernaung: mempengaruhi mortalitas secara tidak langsung 23 . Kondisi fisiko kimia: terkait dengan kondisi fisika dan kimia di tempat serangga hidup termasuk kondisi cuaca. Tetapi untuk serangga musuh alami bila tidak tersedia pakan yang sesuai yang menjadi inang atau mangsa akan sangat mempengaruhi survivalnya. 5. angin merupakan FBK yang penting. kebasahan. dll. dapat mendorong populasi hama tersebut meningkat cepat menjauhi aras keseimbangannya. Misal bila keadaan suhu tidak sesuai bagi kehidupan serangga dapat mengakibatkan populasi serangga menurun menjauhi garis keseimbangannya. Vitalitas rendah: kemampuan serangga dalam menghadapi faktor-faktor lingkungan yang jelek seperti cuaca ekstrim 3. kondisi air. Dr. Faktor abiotik seperti suhu. Setelah hal itu terjadi faktor FBK akan bekerja mengangkat kembali populasi ke aras keseimbangannya. Kekurangan pakan: serangga hama sangat ditentukan survival dan perkembangannya oleh ketersediaan pangan yang disediakan manusia. Namun. Umur: menjadi tua atau "aging" 2. FBK kadang kala dapat membawa populasi semakin menjauh (lebih atau kurang) dari aras keseimbangan. kondisi tanah. peningkatan populasi tersebut juga tidak akan berjalan terus.

Aras populasi tersebut dapat tinggi.Berikut diagram yang menunjukkan pengaruh langsung dan tidak langsung faktor-faktor cuaca. selalu terjadi keseimbangan populasi organisme termasuk populasi hama. tetapi juga dapat rendah seperti yang kita harapkan. yang secara dinamik bergejolak di sekitar aras keseimbangan populasinya masing-masing. Populasi Mangsa (A) Predator 24 Waktu . Setiap organisme dalam kondisi ekosistem tertentu memiliki aras keseimbangannya sendiri-sendiri. Pengaruh Faktor-faktor Cuaca bagi Kehidupan Serangga Langsung Tak Langsung Individu Populasi Aktivitas Perkembangan Perilaku Fenologi Mortalitas Natalitas Pergerakan Habitat Parasitoid Predator Patogen Makanan Natalitas Mortalitas Pergerakan Dengan demikian dalam jangka waktu panjang di dalam setiap ekosistem.

Populasi Aras Keseimbangan 2 Pestisida Aras Keseimbangan 1 Wakt u 25 . pesaing. manusia dapat mempengaruhi atau mengubah letak aras keseimbangan umum suatu spesies hama melalui kegiatan pengelolaan agroekosistem. Tindakan manusia demikian ini akan mendorong bekerjanya pengendali alami di daerah tersebut. Bila aras keseimbangan meningkat maka dapat mengakibatkan populasi hama melebihi AE/AT/AK yang ditetapkan. Peningkatan aras keseimbangan populasi hama dapat juga terjadi sebagai akibat tersedianya makanan hama secara luas dan terus menerus. sehingga dapat membunuh musuh alami. yang dalam jangka panjang dapat menurunkan aras keseimbangan populasi hama. Manusia dapat mempengaruhi letak aras keseimbangan melalui mekanisme sbb: Dalam mengelola agroekosistem. Hubungan antara kepadatan serangga A dan kepadatan predator B Pengaruh Tindakan Manusia terhadap Populasi Hama Faktor-faktor alami seperti suhu. Justru faktor MANUSIA dengan segala tindakannya sangat mempengaruhi dinamika populasi hama sehingga dapat sangat menjauhi aras keseimbangan. tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi konsumen dan kualitas lingkungan hidup. Aras keseimbangan populasi hama dapat juga diturunkan apabila yang terjadi sebaliknya yaitu dengan memasukkan atau melakukan konservasi musuh alami. dll bekerja secara interaktif yang membawa populasi hama berada di sekitar aras keseimbangannya. Dalam keadaan demikian petani terpaksa menggunakan pestisida lebih sering lagi sehingga dapat meningkatkan kerugian. patogen hama. Demikian juga jika varietas tanaman yang ditanam adalah varietas peka. lambat laun aras keseimbangan populasi hama akan meningkat.Gambar 16. predator. Salah satu sasaran PHT adalah menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga berada di bawah ambang pengendalian. Penggunaan pestisida yang dilakukan terus-menerus dapat mengakibatkan aras keseimbangan hama tersebut akan meningkat melebihi aras keseimbangan sebelumnya (Gambar 17). curah hujan sebagai faktor abiotik serta faktor biotik seperti parasitoid. Aras keseimbangan populasi hama dapat meningkat antara lain dengan penggunaan pestisida yang berlebihan dan kurang tepat.

Kegiatan pengamatan yang dilakukan secara berkala pada suatu obyek pengamatan tertentu untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan disebut PEMANTAUAN. Kegiatan pemantauan dalam PHT merupakan kegiatan utama yang membedakan sistem PHT dengan sistem pengendalian hama secara konvensional. Peningkatan aras keseimbangan akibat perlakuan pestisida secara terus menerus. Mempelajari praktek pengamatan dan pelaporan perlindungan tanaman oleh petugas pengamat hama D. Pengamatan oleh petani Materi: HUBUNGAN PENGAMATAN.doc Materi 5 FUNGSI PENGAMATAN DALAM SISTEM PHT Tujuan: A. Ada beberapa maksud atau tujuan pengamatan yaitu pengamatan untuk pengumpulan data penelitian. pengamatan untuk penyusunan lapangan dan pengamatan untuk pengambilan keputusan. Peranan pengamatan dan pemantauan hama dan ekosistem dalam penerapan sistem PHT adalah seperti bagan berikut: Analisis Ekosistem Pengambil Keputusan Pemantauan Tindakan Pengelolaan EKOSISTEM PERTANIAN Gambar 18. Hubungan antara pemantauan. PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMANTAUAN Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentang sesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. 129807801. pengambilan keputusan dan tindakan pengelolaan dalam sistem pelaksanaan PHT 26 . Mempelajari fungsi pengamatan dalam sistem PHT B.Gambar 17. Mempelajari prinsip-prinsip pengambilan sampel dan pengamatan C. Pengamatan bisa dilakukan secara berkala maupun insidentil.

Ketentuan-ketentuan tersebut meliputi penetapan tentang: 1. Unit Sampel 2. Praktis berarti metode pengamatan yang dilakukan sederhana. Juga komponen abiotik seperti suhu. jenis hama. tingkat kerusakan tanaman oleh hama. Hasil pengambilan keputusan segera diterapkan ke lapangan mengenai tindakan pengelolaan atau pengendalian seperti perbaikan budidaya tanaman. Jumlah rumpun padi yang diamati 30. atau organisme lain yang diamati. populasi musuh alami dan lain-lain. Desain Pengambilan Sampel 5. Interval Pengambilan Sampel 3. Hasil pengamatan harus dapat dipercaya berarti metode tersebut akan menghasilkan data yang dapat mewakili atau menggambarkan secara benar tentang sifat populasi sesungguhnya. pengendalian dengan pestisida. sampel yang diambil harus dapat mewakili. MEMPELAJARI PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Sampel atau contoh merupakan bagian dari suatu populasi yang diamati. Dalam praktek pengamatan tidak mungkin bagi pengamat mengamati seluruh individu dalam populasi tetapi pengamatan dilakukan pada sebagian kecil populasi yang kita sebut sampel. baik komponen biotik seperti keadaan tanaman. seperti petani atau kelompok tani. mudah dikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan bahan yang mahal. introduksi musuh alami. Hal ini berarti unit sampel adalah rumpun dan ukuran sampel 30. Hasil pemantauan atau data hasil pemantauan dianalisis antara lain dengan membandingkan data ekosistem dengan nilai AE atau Ambang Kendali. kegiatan pertama yang dilakukan adalah pemantauan ekosistem. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangan keadaan ekosistem pada suatu saat yang meliputi perkembangan komponen ekosistem. Jumlah unit sampel sering kita namakan sebagai ukuran sampel. Populasi sampel terdiri dari beberapa unit sampel. Unit sampel 27 . kebasahan. mengubah habitatnya. Banyak atau Ukuran Sampel 4. Misalkan kita ingin mengetahui populasi hama atau kerusakan tanaman dalam satu daerah/lahan yang luasnya 1 hektar. Pengambil keputusan semakin ke bawah yaitu pada pihak pengelola dari ekosistem pertanian. Dari hasil analisis ekosistem dapat diambil keputusan mengenai tindakan pengendalian atau pengelolaan yang perlu diterapkan pada ekosistem. dll. sebagai unit sampel ditetapkan rumpun padi.Dari gambar tersebut. populasi hama dan penyakit. Faktor yang mempengaruhi pengambilan sampel: Sifat dan ketrampilan petugas pengamat Keadaan lingkungan setempat Sifat sebaran spasial serangga PENYUSUNAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Dalam menyusun secara lengkap program pengambilan sampel pada suatu wilayah pengamatan perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menetapkan beberapa kriteria atau ketentuan tentang pengambilan sampel. dll. dan sedapat mungkin tidak mengambil waktu lama. Ada dua syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik pengamatan dan pengambilan sampel yang dilakukan yaitu praktis. Mekanik Pengambilan Sampel 1. Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yang beragam tergantung pada jenis tanaman. Dari informasi yang diperoleh pada sampel kita ingin menduga sifat populasi yang sebenarnya. Oleh karena itu. curah hujan. dan dapat dipercaya.

dst. dan biaya pengambilan sampel yang terdiri atas ongkos tenaga dan alat-alat pengambilan sampel.Unit sampel merupakan unit pengamatan yang terkecil. batang. Beberapa variabel pengamatan yang dapat diperoleh dari unit sampel dapat berupa kepadatan atau populasi hama. Bagian tanaman seperti rumpun. Untuk serangga yang mempunyai siklus pendek dan kapasitas reproduksi tinggi. tujuan pengambilan sampel. Desain atau pola pengambilan sampel Ada beberapa pola yang dapat digunakan untuk menetapkan unit sampel yang mana dari keseluruhan populasi yang harus diamati yang menjadi anggota sampel. Unit sampel dapat berupa: a. Pola pengambilan sampel purposive atau yang sudah ditentukan Beberapa pola pengambilan sampel yang sering digunakan adalah bentuk: 28 . dan juga untuk jenis hama yang peningkatan kerusakannya berjalan cepat. daun. sehingga kualitas dan kegunaan hasil pengamatan diragukan. 2. Ukuran sampel dipengaruhi oleh dua komponen utama yaitu varians (s2) yang menjelaskan distribusi data sampel. Penentuan ukuran sampel Dalam program pengambilan sampel dan pengamatan. Secara umum dapat dikatakan semakin besar ukuran sampel (n) semakin dapat dipercaya harga penduga parameter populasi. Unit luas permukaan tanah 1 x 1 m2 b. interval pengamatan harus pendek agar tidak kehilangan informasi dari lapangan. Dalam bentuk stadia hamanya sendiri. 4. penentuan ukuran sampel atau jumlah unit sampel yang harus diamati pada setiap waktu pengamatan sangat menentukan kualitas hasil pengamatan. pelepah daun d. analisa statistik akan menghasilkan keputusan yang memiliki ketepatan dan ketelitian rendah. Tetapi apabila ukuran sampel besar maka biaya pengambilan sampel juga semakin besar. Penentuan interval pengambilan sampel Interval pengambilan sampel merupakan jarak waktu pengamatan yang satu dengan waktu pengamatan yang berikutnya pada petak pengamatan yang sama. dll. faktor cuaca. Pola acak berlapis b. daur hidup serangga yang diamati. Pola pengambilan sampel sistematik c. Pada unit tersebut diadakan pengukuran dan penghitungan oleh pengamat terhadap individu serangga yang ada. kemudian dikenal: a. Sebaliknya bila unit sampel terlalu sedikit. populasi musuh alami. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologi serangga dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan interval pengamatan antara lain tingkat tumbuh tanaman. Demikian juga keadaan ini berlaku bagi komoditas tanaman yang peka terhadap serangan hama seperti kapas. dan apa yang ditinggalkan oleh serangga yang menjadi obyek pengamatan atau variabel pengamatan. Unit volume tanah c. 3. Sering digunakan untuk evaluasi dalam musuh alami seperti jumlah larva parasit atau larva inang. Pola yang paling ideal adalah secara acak (random sampling). dll. intensitas kerusakan. Ada berbagai jenis unit sampel yang saat ini digunakan dalam praktek pengamatan baik untuk program penelitian atau untuk pengambilan keputusan pengendalian hama.

Metode Pengamatan Pengamatan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura dilakukan dengan dua cara. 1. Untuk tanaman pangan dan hortikultura. menguntungkan dan aman bagi lingkungan. PRAKTEK PENGAMATAN DAN PELAPORAN PETUGAS PENGAMAT Di organisasi Departemen Pertanian saat ini ada 3 Direktorat Jenderal yang mempunyai tugas untuk mengumpulkan pelaporan data populasi dan kerusakan OPT di seluruh propinsi. Tidak semua serangga dapat dihitung secara langsung sehingga masih diperlukan peralatan atau alat khusus yang dapat digunakan untuk mengumpulkan individu serangga dan kemudian dihitung jumlahnnya. Hortikultura dan Perkebunan. Pola Lajur tanaman 5. Kebijakan dan rekomendasi pelaksanaan dan pelaporan perlindungan tanaman disusun dan dikeluarkan oleh 3 direktorat tersebut. B. dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT serta intensitas kerusakan bencana alam. Secara fungsional. Secara rinci pelaksanaan pengamatan tetap dan pengamatan keliling adalah sbb: a. Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh PHP dan petani dengan dua cara yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. Pola pengambilan sampel A. BPTP masih berada di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan atau masih di bawah Pemerintah Pusat. Sedangkan untuk perkebunan. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui atau mendeteksi jenis dan kepadatan OPT. Pada tiga Direktorat Jenderal tersebut terdapat Direktorat Perlindungan Tanaman seperti Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. perangkap lampu. mengumpulkan serta menghitung individu serangga yang diamati atau bahan yang ditinggalkan oleh serangga pada unit sampel yang telah ditentukan. yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. Pola Zigzag. C.A B C Gambar 19. BPTPH secara struktural berada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat I/Propinsi. Mekanik Pengambilan Sampel Mekanik pengambilan sampel serangga adalah segala teknik memperoleh. sehingga produksi tanaman yang sudah diusahakan tetap pada taraf tinggi. Dengan informasi tersebut diharapkan petani/kelompok tani bersama petugas dapat mengetahui dan menganalisis secara dini untuk menentukan langkah-langkah penanganan usaha tani. Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan. Mekanik sampel yang sering dilakukan oleh para pengamat kita adalah pengamatan langsung di lapangan. stasiun meteorologi pertanian khusus. PHP saat ini termasuk dalam kelompok POPT (Pengendali OPT). Pengamatan tetap Pengamatan tetap adalah pengamatan yang dilakukan pada petak contoh tetap yang mewakili bagian terbesar dari wilayah pengamatan. Pola Diagonal. curah hujan. 29 . Direktorat Jenderal Tanaman Hortikultura. daerah penyebaran. sedangkan pelaksanaan pengamatan dilakukan oleh para Petugas Pengamat Hama (PHP) dan penyakit yang ada di daerah yang dikoordinasikan oleh BPTPH yang ada di setiap propinsi. intensitas serangan OPT. Tiga Direktorat Jenderal itu adalah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

diamati lima petak contoh yang terletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongan garis diagonal tersebut (B. bencana alam serta mencari informasi tentang penggunaan. stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknya terhadap sumber serangan. Pengamatan keliling atau patroli dilaksanakan dengan menjelajahi wilayah pengamatan. varietas dan tindakan pengendalian yang pernah dilakukan petani. untuk memperoleh informasi tentang adanya serangan OPT dan kegiatan pengendalian di wilayah kerjanya. D dan E) seperti terlihat pada Gambar 20. Untuk komoditas terluas diamati empat petak contoh tetap sedangkan empat komoditas lainnya masing-masing diamati satu petak contoh. Petak contoh ditentukan secara purposive. Pada masa peralihan antara dua musim tanam. Karena itu petak contoh pada masa antara dua musim tanam dapat berpindah sesuai dengan keadaan tanaman yang dapat mewakili wilayah pengamatan. Petak contoh tetap ditempatkan pada lima jenis tanaman dominan. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan daerah yang dicurigai dan mengkonsentrasikan pengamatannya. Penentuan daerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadap OPT utama di daerah tersebut. luas pengendalian. Dengan demikian pada setiap wilayah pengamatan terdapat delapan petak contoh pengamatan tetap. Jumlah rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun/batang. peredaran dan penyimpanan pestisida. b. Perangkap lampu ditempatkan jauh dari faktor-faktor yang akan mempengaruhi banyaknya serangga pengganggu tanaman atau musuh alaminya tertarik cahaya. Lampu dinyalakan dari senja sampai fajar. Pengamatan Perangkap lampu Kepadatan populasi OPT dan musuh alami yang efektif yang tertarik cahaya diamati pada satu atau lebih perangkap lampu yang mewakili wilayah pengamatan. Serangga yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung. intensitas serangan. Pengamatan dilakukan setiap hari serta dilaporkan setiap dua minggu. Gambar 20. kepadatan populasi OPT. PHP disarankan menemui petani/kelompok tani pemandu. Pengamatan petak tetap Pengamatan pada petak contoh tetap bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan. penyuluh atau sumber lain yang layak dipercaya. penyebaran petak contoh pada daerah yang dicurigai terserang. pengamatan diteruskan pada petak-petak contoh yang dapat mewakili wilayah pengamatan dalam waktu tersebut. Komponen-komponen yang diamati adalah luas tanaman terserang. sehingga mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam. Pengamatan Keliling atau Patroli Pengamatan keliling atau patroli bertujuan untuk mengetahui tanaman terserang dan terancam. 2). teknik bercocok tanam. stadia/umur tanaman. Serangan OPT di daerah yang dicurigai. dan varietasnya. Sebelum melaksanakan pengamatan. C. 30 .1).

sehingga setiap petak contoh pengamatan tetap dapat diamati dengan interval waktu satu minggu. sedangkan interval pengamatan keliling dua minggu. Waktu pengamatan OPT dilakukan 4 (empat) hari setiap minggu kecuali untuk tangkapan perangkap lampu dan penakar curah hujan dilakukan setiap hari. sehingga satu wilayah akan terbagi menjadi 8 subwilayah (lihat Gambar 21). Dari petak contoh itu diamati intensitas serangan OPT. Jumlah rumpun contoh yang diamati dalam tiap unit contoh adalah sepuluh rumpun/tanaman. Pelaksanaan pengamatan OPT dimulai dari hari senin sampai dengan hari kamis. Tanaman Pangan Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman pangan (padi dan palawija) dilakukan dengan metode diagonal. 2. Hasil pengamatan dan kejadian yang ditemukan pada saat pengamatan keliling dan pengamatan tetap dilaporkan secara rutin pada setiap akhir periode pengamatan. Untuk pengamatan tetap. tempatkan satu petak contoh pengamatan pada masingmasing strata di lokasi yang selalu dilewati saat mengadakan pengamatan keliling di strata tersebut. sedang pada periode pelaporan tengah bulan kedua berisi hasil pengamatan minggu ke 3 dan ke-4. seperti terlihat pada Gambar 22. 3 … dst … subwilayah Gambar 21. Tiap unit contoh diamati 10 rumpun contoh. Pada pengamatan tetap tiap petak contoh ditentukan tiga unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis diagonal petak contoh (A) dan di pertengahan potongan-potongan garis diagonal yang terpanjang (B dan C). Mula-mula bagilah wilayah pengamatan menjadi 4 strata berdasarkan waktu tanamannya (lihat Gambar 21) 2. B. Bagilah masing-masing strata menjadi 2 subwilayah. Adapun pembagian subwilayah adalah sebagai berikut: 1. Pembagian subwilayah pengamatan di wilayah kerja PHP Metode Pengambilan Contoh a. D …… pembagian menurut strata 1. 31 . Apabila ada informasi bahwa di subwilayah lainnya terjadi serangan OPT maka harus dilakukan pengamatan keliling tambahan.Dalam tiap petak contoh diamati 5 unit contoh seperti pada gambar 20. Laporan pengamatan tetap pada periode pelaporan tengah bulan pertama berisi hasil pengamatan minggu ke 1 dan ke 2. A 1 Senin 1 5 Senin 2 B 2 Selasa 1 6 Selasa 2 C 3 Rabu 1 7 Rabu 2 D 4 Kamis 1 8 Kamis 2 Keterangan: A. kepadatan populasi OPT dan kepadatan populasi musuh alami yang efektif. Cara pelaksanaan: Untuk memudahkan pelaksanaan pengamatan keliling dilakukan sesudah pengamatan petak tetap pada subwilayah pengamatan dimana petak tetap itu berada. C.

yaitu random (acak) dan diagonal. Obat-obatan dan Rempah-rempah Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman buah-buahan. B : Banyaknya contoh yang tidak terserang (tidak menunjukkkan gejala serangan). rumpun tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak. buah. hias dan obatobatan dan rempah-rempah dilakukan dengan menggunakan petak contoh. 2. memberikan anjuran pengendalian. Kerusakan tanaman oleh serangan OPT dapat berupa kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidak mutlak. Tanaman dengan jumlah sedikit : 5 tanaman/rumpun Tanaman contoh ditentukan dengan 2 (dua) cara.1 ha atau 50 tanaman contoh per hektar. tunas. Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura perlu dibuat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan segera dikirim ke instansi yang memerlukannya. Dalam Tiap Unit Contoh Diamati 10 Rumpun Contoh. Tanaman Buah-buahan. b. Tanaman dominan (terbanyak) : 15 tanaman/rumpun b. merencanakan bimbingan pengendalian. Mantri Tani dan Penyuluh menyuluhkan dan menyebarluaskan kepada petani sebagai dasar pengambilan keputusan kelompok tani. Penilaian Serangan OPT Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan OPT yang sifatnya sangat beragam. melaksanakan pengamatan lebih intensif. memberikan anjuran pengendalian. Laporan Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diperlukan untuk menyusun perlindungan tanaman. menyusun rencana perlindungan tanaman. bunga. Tanaman dengan jumlah sedang : 10 tanaman/rumpun c. Cara random dilakukan pada perkebunan rakyat/pekarangan rumah.Gambar 22. tanaman. Tanaman Sayuran Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman sayur-sayuran dilakukan pada 10 tanaman contoh setiap 0. sedangkan cara diagonal dilakukan (seperti pengambilan contoh pada tanaman padi) pada perkebunan besar. dan merencanakan penyediaan sarana pengendalian. Penyebaran Unit Contoh dalam Petak Contoh. yaitu kecamatan. Oleh karena itu. menyusun bantuan pengendalian. Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggap mutlak digunakan rumus sebgai berikut: a I = ----------. . hias. Pengambilan tanaman contoh ditentukan secara acak (random). Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura disampaikan oleh PHP kepada Mantri Tani (Mantan) dan instansi vertikal di atasnya. dan bila 32 c.X 100% a+b Keterangan: I : Intensitas serangan (%) A : Banyaknya contoh (daun. Sesuai dengan kebijaksanaan dibidang perlindungan tanaman pangan dan hortikultura dan pembagian wewenang dalam struktur organisasi berlaku. pucuk. Tanaman yang diamati dibagi 3 kriteria seperti berikut: a.

namun yang paling baik secara berkelompok atau merupakan kegiatan kelompok tani. Oleh Camat sebagai Ketua Satuan Pelaksana Bimas Kecamatan. Dengan demikian tujuan pelaksanaan kegiatan pengamatan oleh para petugas PHP hanya terbatas pada penyusunan laporan bagi pemda maupun pemerintah pusat tetapi tidak untuk pengambilan keputusan untuk lahan petani dalam menerapkan PHT. mereka perlu mengikuti pelatihan khusus yang dilaksanakan secara intensif. Petani dapat melakukan pengamatan secara perseorangan/individual. Laporan PHP yang diterima oleh Mantan diteruskan kepada Camat dan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten/Kotamadya. serta menyusun Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura di wilayah kerjanya. Sedangkan oleh Diperta Kabupaten/Kotamadya. kemampuan petugas membimbing petani dalam pengendalian. Koordinator PHP mengkoordinasikan laporan PHP. Instansi vertikal di atasnya menggunakan laporan tersebut sebagai bahan mengevaluasi keadaan serangan. Petani sendiri yang melakukan kegiatan pemantauan. Dengan demikian petani tidak lagi tergantung pada petugas. pemerintah. setiap 1 minggu sekali di dalam kegiatan yang disebut SLPHT. Agar petani dapat melakukan kegiatan pemantauan ekosistem. digunakan untuk membina pengendalian OPT dan mempertimbangkan bantuan pengendalian kepada petani apabila dinilai sebagai serangan eksplosi. laporan serangan OPT yang dilaporkan PHP dari seluruh wilayah pengamatan kabupaten diteruskan ke Diperta Kabupaten/Kotamadya serta laporan lainnya diteruskan ke Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan (Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH)/Loka Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (LPTPH)/Satgas BPTPH/LPTPH. pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian.perlu bersama-sama dengan PHP membina petani melaksanakan pengendalian. dan Diperta Kabupaten/Kotamadya meneruskan laporan tersebut ke Diperta Propinsi. PENGAMATAN OLEH PETANI Karena jumlah PHP dan petugas pengamat atau penyuluh di daerah sangat terbatas maka yang paling baik kegiatan pengamatan dilakukan sendiri oleh petani pemilik/penggarap. 33 . laporan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun kampanye pengendalian secara massal oleh petani dan bila dibutuhkan/diperlukan bantuan pemerintah berupa pestisida dapat dikeluarkan. merencanakan bimbingan dan bantuan.

Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat asli (terbawa keturunan faktor genetik) tetapi dapat juga karena keadaan lingkungan yang mendorong tanaman menjadi relatif tahan terhadap serangan hama. Mekanisme Ketahanan Tanaman Ketahanan atau resistensi tanaman merupakan pengertian yang bersifat relatif. Namun sayangnya karena berbagai faktor. Mengenal dan mempelajari komponen PHT . Kontribusi varietas unggul tahan hama bagi keberhasilan Indonesia berswasembada beras sangat besar. yang tahan harus dibandingkan dengan sifat tanaman yang tidak tahan atau yang peka. Penggunaan berbagai varietas padi tahan hama wereng coklat berhasil mengendalikan hama wereng coklat padi di Indonesia yang sejak tahun 1970 menjadi hama padi yang paling penting. Untuk melihat ketahanan suatu jenis tanaman sifat tanaman. kehidupan dan perkembangbiakan serangga hama menjadi lebih terhambat bila dibandingkan dengan perkembangbiakan sejumlah populasi hama tersebut apabila berada pada tanaman yang tidak atau kurang tahan. Di luar tanaman padi penggunaan varietas tahan hama masih terbatas karena belum banyak tersedia varietas atau jenis tanaman yang memiliki ketahanan tinggi terhadap hama-hama tertentu. Tanaman yang tahan adalah tanaman yang menderita kerusakan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi hama yang sama dan keadaan lingkungan yang sama. dan kurang berbahaya bagi lingkungan. Pada tahun 1984 Indonesia telah berhasil berswasembada beras. murah. agronomi. Pada tanaman yang tahan. sampai saat ini status swasembada beras semakin sulit dipertahankan. Saat ini petani telah mengenal banyak VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti dari IRRI (Filipina) dan dari Indonesia sendiri. Mengenal dan mempelajari pengembangan tanaman transgenik tahan hama 3. pemulia tanaman. dll yang telah berhasil menemukan dan mengembangkan VUTW.129807801.doc Materi 6 PENGENDALIAN DENGAN TANAMAN/VARIETAS TAHAN HAMA Tujuan: 1. 1982). 1. 34 . Hal ini berkat kerja keras para ahli hama. Beberapa ahli membedakan ketahanan tanaman dalam dua kelompok yaitu ketahanan ekologi dan ketahanan genetik (Kogan.Pengendalian dengan Tanaman Tahan Hama 2. Mengenal dan mempelajari prinsip-prinsip karantina tumbuhan dan sistem karantina pertanian di Indonesia Materi: Pengendalian hama dengan cara menanam tanaman yang tahan terhadap serangan hama telah lama dilakukan dan merupakan cara pengendalian yang efektif.

b. ketahanan dorongan (induced resistance) dan inang luput dari serangan (host escape). dibandingkan dengan tanaman lain yang lebih peka. Antibiosis Antibiosis adalah semua pengaruh fisiologi pada serangga yang merugikan. Ketahanan Genetik Sampai saat ini klasifikasi resistensi genetik menurut Painter yang banyak diikuti oleh para pakar. Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu pengelakan inang (host evasion). Menurut Painter (1951) terdapat 3 mekanisme resistensi tanaman terhadap serangga hama yaitu 1) ketidaksukaan. Gejala penyimpangan fisiologi terlihat apabila suatu serangga dipindahkan dari tanaman tidak memiliki sifat antibiosis ke tanaman yang memiliki sifat tersebut. Toleran Mekanisme resistensi toleran terjadi karena adanya kemampuan tanaman tertentu untuk sembuh dari luka yang diderita karena serangan hama atau mampu tumbuh lebih cepat sehingga serangan hama kurang mempengaruhi hasil. sebagai akibat kegiatan serangga memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu. Penyimpangan fisiologi tersebut berkisar mulai dari penyimpangan yang sedikit sampai penyimpangan terberat yaitu terjadinya kematian serangga. c. 2. ahli pemulia tanaman tidak mengakui sifat ini sebagai sifat ketahanan tanaman yang sesungguhnya. Antixenosis dapat dikelompokkan menjadi penolakan kimiawi atau antixenosis kimiawi dan penolakan morfologi atau antixenosis morfologik. Menurut Kogan (1982) istilah yang lebih tepat digunakan untuk sifat ini adalah antixenosis yang berarti menolak tamu (xenosis = tamu). Ketahanan Ekologi Ketahanan Ekologi atau dengan istilah lain ketahanan yang kelihatan (apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) merupakan sifat ketahanan tanaman yang tidak dikendalikan oleh faktor genetik tetapi sepenuhnya disebabkan oleh faktor lingkungan yang memungkinkan kenampakan sifat ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Ketidaksukaan/antixenosis Nonpreference merupakan sifat tanaman yang menyebabkan suatu serangga menjauhi atau tidak menyenangi suatu tanaman baik sebagai pakan atau sebagai tempat peletakan telur.Ahli lain menganggap ketahanan ekologi bukan merupakan ketahanan sebenarnya dan disebut ketahanan palsu atau pseudo resistance sedangkan yang disebut sifat ketahanan tanaman adalah ketahanan genetik. bersifat sementara atau tetap. Sifat ketahanan ini biasanya merupakan sifat sementara dan dapat terjadi pada tanaman yang sebenarnya peka terhadap serangan hama tertentu. Pengelakan Inang Pengelakan inang terjadi bila waktu pemunculan fase tumbuh tanaman tertentu tidak bersamaan dengan waktu pemunculan stadia hama yang aktif mengkonsumsikan tanaman. 35 . Oleh karena sifatnya yang tidak tetap. Hal ini disebabkan sifat ketahanan ekologi tidak tetap dan mudah berubah tergantung pada keadaan lingkungannya. a. a. 2) antibiosis dan 3) toleran. 3. sedangkan sifat ketahanan genetik relatif stabil dan sedikit dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.

Sampai akhir tahun 2003 di Indonesia hanya satu varietas kapas Bt yang telah diijinkan dan dilepaskan secara terbatas di Sulawesi Selatan. c. Sebagian besar varietas tahan hama yang dilepaskan. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi akhir-akhir ini tidak menutup kemungkinan penerapan bioteknologi modern dalam bidang pertanian untuk dapat menghasilkan varietas tahan hama. Beberapa bioteknologi yang telah dikembangkan diantaranya rekayasa genetika yang mencakup rekombinasi DNA.b. tetapi pada suatu saat tanaman tersebut tidak terserang meskipun populasi hama di sekitarnya pada waktu itu cukup tinggi. c. PENGEMBANGAN VARIETAS TAHAN DENGAN BIOTEKNOLOGI Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional banyak dikaji dan telah diperoleh hasil yang menggembirakan. Pelepasan varietas tahan hama yang baru. diperbanyak dan digunakan di Indonesia saat ini masih merupakan hasil teknologi pemuliaan tanaman secara tradisional yang telah diuraikan sebelumnya. b. Penggunaan varietas tahan terbukti mampu mengurangi tingkat serangan hama sehingga hasil panen dapat meningkat. Berbagai tanaman tersebut telah disisipi gen yang berasal dari bakteri Bt sehingga tahan terhadap jenis hama tertentu. g. Inang Luput dari Serangan Sering dialami pada suatu tempat tertentu ada suatu kelompok tanaman yang sebenarnya memiliki sifat peka terhadap suatu jenis hama. kentang. Analisis genetik terhadap sifat ketahanan. Identifikasi sumber ketahanan. Beberapa kegiatan utama dalam melakukan perolehan dan pengembangan guna memperoleh varietas tahan hama yang baru adalah sebagai berikut: a. Pengujian lapangan multi lokasi. Penetapan mekanisme ketahanan. Aplikasi pemindahan gen dengan teknik biologi molekuler dengan sasaran memperoleh sifat-sifat tertentu dapat dilakukan lebih cepat. Tanaman hasil rekayasa genetika yang selanjutnya disebut tanaman transgenik dapat direkayasa memiliki sifat ketahanan terhadap jenis hama tertentu. 36 . Aplikasi bioteknologi pertanian memberikan peluang yang sangat baik terhadap perkembangan kualitas maupun kuantitas produk-produk pertanian. f. Di dunia Internasional tanaman transgenik tahan hama yang telah dikembangkan meliputi tanaman kapas. Ketahanan dorongan ini terjadi antara lain akibat adanya pemupukan dan irigasi serta teknik budidaya yang lain. jagung. regenerasi tanaman dan antibodi monoklonal. d. Hal tersebut tidak berarti bahwa tanaman tersebut tahan terhadap serangan hama tetapi tanaman tersebut sedang dalam keadaan luput dari serangan hama. Identifikasi dasar-dasar kimia dan fisika sifat ketahanan. Ketahanan Dorongan Sifat ketahanan ini timbul dan didorong oleh adanya keadaan lingkungan tertentu sehingga tanaman mampu bertahan terhadap serangan hama. dengan ketepatan yang tinggi serta perolehan spektrum sifat yang jauh lebih lebar daripada hasil pemuliaan tanaman konvensional. 4. manipulasi dan pemindahan embrio. kultur sel dan jaringan. pemindahan gen. Langkah Pengembangan Varietas Tahan Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional dilakukan melalui penerapan teknologi pemuliaan tanaman tradisional dengan melakukan persilangan tanaman. Penyilangan sifat ketahanan dengan sifat agronomi lainnya sehingga dapat diperoleh varietas yang lebih unggul. e. Salah satu sifat unggul tanaman transgenik adalah ketahanan terhadap hama setelah tanaman tersebut disisipi dengan gen toksik yang berasal dari Bacillus thuringiensis (Bt).

Pengurangan keanekaragaman hayati 4. 5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN VARIETAS TAHAN HAMA KONVENSIONAL Kelebihan a. Keterbatasan Sumber Ketahanan c. Karena racun protein yang dihasilkan hanya aktif bagi beberapa jenis serangga tertentu. Kepekaan terhadap jenis hama lain 6. Timbulnya Biotipe hama d. Misal tanaman kapas Bt telah disisipi dengan gen cry1Ac untuk mengendalikan hama penggerek buah kapas Helicoverpa virescens. Sifat Ketahanan yang Berlawanan KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TANAMAN TRANSGENIK TAHAN HAMA Kelebihan 1. Gen Bt yang menyandi protein delta-endotoksin telah dapat disisipkan ke dalam tanaman untuk pengendalian hama tertentu. b. Pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran 3. Tanaman transgenik akan terlindung dari serangan hama selama racun protein masih terus diproduksi. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil Penurunan penggunaan pestisida kimia Penurunan biaya pengendalian Pengendalian hama secara selektif Penurunan populasi hama dalam areal yang luas Keterbatasan Tanaman Transgenik 1. d. Variasi hasil 5. 3. Waktu dan Biaya Pengembangan b. Pengembalian investasi tidak terjamin 7. e. 4. Penggunaannya praktis dan secara ekonomi menguntungkan Sasaran pengendalian yang spesifik Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persisten Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya Dampak negatif terhadap lingkungan terbatas Kekurangan Beberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain: a. c. suatu jenis tanaman transgenik tahan hama hanya dapat mengendalikan jenis-jenis hama tertentu. Ketergantungan pada industri benih transgenik 37 . Risiko bagi kesehatan 8. Tanaman kapas Bt memproduksi toksin secara terus-menerus sehingga serangga peka yang hidup dalam jaringan tanaman akan mati kalau memakan jaringan tersebut.Perkembangan bioteknologi telah memungkinkan ilmuwan untuk mentransformasikan gen Bt yang dikehendaki ke dalam genom berbagai jenis tanaman pertanian. Resistensi hama terhadap toksin 2. 2.

Pembebasan Kasus “kebobolan” masuknya hama baru di Indonesia: 38 . serta menentukan syarat-syarat dan tindakan karantina tumbuhan yang sesuai guna mencegah masuk dan tersebarnya OPT tersebut. Perlakuan 5. OPTK Golongan II a.KARANTINA PERTANIAN Tujuan karantina pertanian adalah mencegah masuknya hama dan penyakit hewan. 3. serta organisme pengganggu tumbuhan ke wilayah negara RI. Analisis Risiko Hama dan Penyakit Tumbuhan (Pest Risk Analysis/PRA) adalah suatu proses untuk menetapkan bahwa suatu OPT merupakan OPTK. Karantina Tumbuhan Kita memiliki dasar hukum untuk karantina yaitu: 1. Organisme Pengganggu Tumbuhan karantina (OPTK) yang terdiri dari OPTK Golongan I. Sertifikat Kesehatan Karantina (Phytosanitary Certificate) adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT. dan atau OPT Penting. Ikan. sekarang telah ditemukan adanya organisme tertentu yang dahulunya tidak ada. dan mencegah keluarnya dari wilayah negara RI. UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan. Kawasan Karantina adalah kawasan yang semula diketahui bebas dari hama dan penyakit tumbuhan karantina. Pemeriksaan 2. atau cara untuk membebaskannya belum dapat dilakukan di Indonesia. mencegah tersebarnya dari suatu area ke area lain. OPTK adalah semua organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian untuk dicegah masuknya ke dalam dan tersebarnya di dalam wilayah Negara Republik Indonesia. OPTK golongan I. c. 2. Karantina Hewan 2. 4. Pengasingan 3. OPTK golongan II. PP No 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan KARANTINA TUMBUHAN Pengertian penting: 1. Pemusnahan 8. dan Tumbuhan 2. OPTK. b. Penahanan 6. atau OPT Penting. Tindakan Karantina: 1. Pengamatan 4. OPTK Golongan I yaitu OPTK yang tidak dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. atau belum diketahui cara untuk membebaskannya. Penolakan 7. Karantina Ikan 3. OPTK Golongan II yaitu semua OPTK yang dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. Tidak dapat dibebaskannya OPT tersebut karena sifatnya memang tidak dapat dibebaskan. hama dan penyakit ikan. Karantina Pertanian terdiri dari: 1.

Banyak hama di Indonesia berhasil dikendalikan dengan memasukkan musuh alami terutama sebelum tahun 1950-an sewaktu pestisida belum banyak digunakan oleh petani. Mempelajari agens pengendalian hayati yang berupa parasitoid dan predator 3.doc Materi 7 PENGENDALIAN HAYATI Parasitoid dan Predator Tujuan: 1. Mempelajari manfaat dan masalah yang dihadapi dalam penerapan pengendalian hayati Materi: LATAR BELAKANG Pengendalian hayati sebagai komponen utama PHT pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan.1. Amerika Serikat dengan mengintroduksikan predator dari Australia yaitu kumbang vedalia. Musuh alami yang terdiri atas parasitoid. Mempelajari prinsip dan teknik pengendalian hayati sebagai salah satu komponen dalam sistem PHT 2. Pengorok daun kentang 3. Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. pengendalian hayati yang pertama kali didokumentasikan ialah pada tahun 1762. Setelah keberhasilan tersebut kemudian ratusan jenis hama telah berhasil dikendalikan dengan cara hayati. ketika burung Mynah dibawa dari India ke Mauritius untuk memangsa hama belalang. Secara ilmiah keberhasilan pengendalian hayati pertama yang tercatat adalah pengendalian hama kutu berbantal pada kapas Icerya purchasi di California. Adanya populasi hama yang meningkat sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karena keadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untuk menjalankan fungsi alaminya. Salah 39 . Keong/siput mas 2. memperbanyak dan melepaskannya. serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami. Rodolia cardinalis pada tahun 1888. musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Apabila musuh alami kita berikan kesempatan berfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami. Nematoda Sista Kuning 129807801. Meskipun praktek pengendalian hayati telah dilakukan ratusan tahun yang lalu di daratan Cina. predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yang bekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan perkembangbiakan hama.

jasad renik.satu jenis hama adalah hama belalang pedang Sexava sp yang menyerang kelapa yang dapat berhasil dikendalikan oleh parasitoid telur Leefmansia bicolor di Sulawesi Utara. AGENS PENGENDALIAN HAYATI Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesies serangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerang organisme lain. Parasitoid 40 . Ada beberapa ahli yang meluaskan pengertian pengendalian hayati sebagai usaha pengendalian hama yang mengikutsertakan organisme hidup. dan patogen. nematoda. Selanjutnya pada 1975 telah diintoduksikan kumbang moncong Neochetina eichhorniae dari Flores ke Bogor untuk pengendalian eceng gondok. Dengan munculnya konsepsi PHT pengendalian hayati kembali diharapkan menjadi tumpuan teknologi pengendalian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi maupun ekonomi. Pengendalian alami terjadi tidak hanya oleh karena bekerjanya musuh alami. manipulasi genetik. Pengendalian Hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau mengendalikan populasi hama. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan serangga sendiri. Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alami tidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. Dari tahun 1950 sampai 1970an pengendalian hayati pamornya berkurang akibat penggunaan pestisida kimia yang sangat dominan di seluruh dunia. Varietas tahan hama. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut "musuh alami". 1. dan penggunaan serangga mandul dimasukkan sebagai bagian teknik pengendalian hayati. De Bach tahun 1979 mendefinisikan Pengendalian Hayati sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alami sehingga kepadatan populasi organisme tersebut berada di bawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian. Juga hama ulat daun kubis (Plutella xylostella) di Jawa Barat berhasil dikendalikan oleh parasitoid Diadegma sp. predator. Pengendalian Alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia. tetapi juga oleh komponen ekosistem lainnya seperti makanan. Introduksi parasitoid telur Chelonus sp dari wilayah Bogor ke Flores untuk mengendalikan ngengat mayang kelapa (Batracedra spp). dan cuaca. Untuk selanjutnya dalam kuliah kita gunakan pengertian pengendalian hayati yang pertama. Introduksi kumbang Curinus coreolius dari Hawai dilakukan untuk mengendalikan hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp tahun 1986. Pembiakan massal parasitoid telur Trichogramma spp dan lalat Jatiroto (Diatraeophaga striatalis) sangat membantu mengendalikan serangan penggerek batang tebu pada tahun 1972. BEBERAPA PENGERTIAN Agar tidak timbul kerancuan lebih dahulu perlu dibedakan pengertian tentang pengendalian hayati (biological control) dan pengendalian alami (natural control) yang seringkali dibicarakan bersama. invertebrata di luar serangga. Hampir semua kelompok organisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata. Dilihat dari fungsinya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat kita kelompokkan menjadi parasitoid.

Contoh ektoparasit adalah Campsomeris sp yang menyerang uret sedangkan Trichogramma sp yang memarasit telur penggerek batang tebu dan padi merupakan jenis endoparasit. memperoleh keperluan zat-zat makanannya dari fisik tubuh yang lain. Inang tidak menerima faedah apapun dari hubungan ini. Braconidae. Contoh parasitoid gregarious adalah Tetrastichus schoenobii. Misalnya kasus cacing pita pada manusia dan caplak pada binatang. Banyak jenis lebah Ichneumonid merupakan parasitoid soliter. Istilah parasit lebih sering digunakan dalam entomologi kesehatan. Tetrastichus schoenobii memiliki kemampuan memarasit kepompong penggerek batang padi bergaris. Parasitoid adalah binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya. Lepidoptera. Parasitisme adalah hubungan antara dua spesies yang satu yaitu parasit. beberapa parasitoid menyerang pupa dan sangat jarang yang menyerang imago. Parasitoid semacam ini disebut parasitoid soliter merupakan suatu spesies parasitoid yang perkembangan hidupnya terjadi pada satu tubuh inang. Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang artropoda yang lain. Larva parasitoid yang sudah siap menjadi pupa keluar dari tubuh larva inang yang sudah mati kemudian memintal kokon untuk memasuki fase pupa parasitoid. penggerek batang padi kuning dan penggerek batang padi putih. yaitu inang. Enam ordo serangga yang meliputi 86 famili anggota-anggotanya tercatat sebagai parasitoid yaitu Coleoptera. dan Strepsiptera. Famili-famili dalam ordo Hymenoptera yang terbanyak mengandung parasitoid adalah Ichneumonidae. Ada spesies parasitoid yang dapat melengkapi siklus hidupnya sampai fase dewasa pada satu inang. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan inangnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat berada di luar tubuh inang (sebagai ektoparasitoid) atau sebagian besar dalam tubuh inang (sebagai endoparasitoid). Fase inang yang diserang pada umumnya adalah telur dan larva. dan banyak lebah Braconid dan Chalcidoid yang merupakan parasitoid gregarius. meskipun biasanya tidak dibinasakan. Imago parasitoid muncul dari kokon pada waktu yang tepat untuk kemudian meletakkan telur pada tubuh inang bagi perkembangan generasi berikutnya. Instar dewasa merupakan instar serangga yang paling jarang terparasit. Serangan parasit dapat melemahkan inang dan akhirnya dapat membunuh inangnya karena parasitoid makan atau mengisap cairan tubuh inangnya. Oleh induk parasitoid telur dapat diletakkan pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositornya telur langsung dimasukkan dalam tubuh inang. Neuroptera. Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inang yang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. Parasitoid dapat menyerang setiap instar serangga. Sedangkan dalam ordo Diptera famili Tachinidae merupakan famili yang terpenting. dan beberapa famili yang termasuk Chalcidoidea. Namun dua ordo parasitoid yang terpenting yaitu Hymenoptera dan Diptera. Jumlah imago yang keluar dari satu tubuh inang dapat banyak sekali. Serangga yang bersifat parasit yang pada akhirnya menyebabkan kematian inangnya tidak tepat bila dimasukkan ke dalam definisi parasit. Inang akan mati jika perkembangan hidup parasitoid telah lengkap. Hymenoptera. Dengan demikian parasitoid adalah serangga yang hidup dan makan pada atau dalam serangga hidup lainnya sebagai inang. Satu inang diparasit oleh satu individu parasitoid. Parasit hidup pada atau di dalam tubuh inang. Untuk dapat mencapai fase dewasa suatu parasitoid hanya memerlukan satu inang.Perlu sedikit penjelasan antara istilah parasitoid dan parasit. Contoh parasitoid soliter antara lain Charops sp (famili Ichneumonidae). Karena itu kemudian diberikan istilah baru yaitu parasitoid yang lebih banyak digunakan dalam entomologi pertanian. Parasitoid gregarius adalah jenis parasitoid yang beberapa individu dapat hidup bersama-sama dalam tubuh satu inang. Apanteles artonae memarasit larva Chilo 41 . Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya sedangkan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. Diptera.

Pertanaman pisang yang terserang Erionata thrax dapat dikendalikan oleh parasitoid Xanthopimpla sp. Sifat ini mengakibatkan populasi parasitoid memiliki respons numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya. predator atau pemangsa 42 . d. Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi yang rendah. parasitoid yang paling sering berhasil mengendalikan hama apabila dibandingkan dengan kelompok-kelompok agens pengendalian hayati lainnya. Serangga betina yang berperan utama karena mereka yang melakukan pencarian inang untuk peletakan telur. Parasitoid Trichogrammatoidea batrae-batrae cukup efektif memparasit telur penggerek polong kedelai (Etiella spp). Selama ini dari sekian banyak kelompok agens pengendalian hayati. Kelanjutan hidup parasitoid sangat ditentukan oleh ketersediaan fase inangnya yang tepat. Predator Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan. Keuntungan atau kekuatan pengendalian hama dengan parasitoid adalah: a. Di samping kekuatan pengendalian dengan parasitoid beberapa kelemahan atau masalah yang biasanya dihadapi di lapangan dalam menggunakan parasitoid sebagai agens pengendalian hayati adalah: a. Daya kelangsungan hidup ("survival") parasitoid tinggi. membunuh atau memangsa binatang lainnya. Apabila kelompok parasitoid yang memarasit hama disebut parasitoid primer maka kelompok hiperparasitoid disebut parasitoid sekunder. Daya cari parasitoid terhadap inang seringkali dipengaruhi oleh keadaan cuaca atau faktor lingkungan lainnya yang sering berubah. Namun keberhasilan semua teknik pengendalian hayati dengan parasitoid sangat ditentukan oleh sinkronisasi antara fenologi inang dan fenologi parasitoid di lapangan. Dari 4769 kasus pelepasan agens pengendalian hayati yang tercatat di dunia. Fenomena serangga parasitoid menyerang parasitoid lain sebagai inangnya disebut hiperparasitasi sedangkan parasitoid tersebut disebut hiperparasitoid. Parasitoid hanya memerlukan satu atau sedikit individu inang untuk melengkapi daur hidupnya. Adanya parasitoid sekunder perlu diperhitungkan dalam setiap usaha pengendalian hayati dengan menggunakan predator atau parasitoid. c. Parasitoid sekunder masih mungkin diserang oleh parasitoid tersier. c. parasitoid tersebut tidak akan dapat melanjutkan fungsinya sebagai pengendali populasi hama. hanya 1023 menggunakan predator. Serangga predator dan serangga parasitoid juga memiliki musuh alami yang berupa parasitoid. Sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit.sp dan Artona catoxantha. Agar pengendalian hayati dengan parasitoid berhasil siklus hidup dan fenologi hama dan inang perlu dipelajari dan diketahui lebih dahulu. 2. Bila sewaktu induk parasitoid akan meletakkan telurnya tetapi tidak tersedia fase inang yang tepat. Misalkan untuk introduksi dan pelepasan parasitoid di lapangan perlu diketahui banyak hal kecuali fenologi inang dan parasitoid juga tentang pengaruh berbagai faktor lain seperti cuaca dan tindakan manusia terhadap fenologi dan perkembangan populasi parasitoid dan inangnya. Apabila parasitoid memarasit inang. Brachymeria sp yang menyerang kepompong Charops sp merupakan salah satu contoh hiperparasitasi. b. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua parasitoid primer berguna untuk pengendalian hayati antara lain parasitoid primer yang menyerang serangga herbivora digunakan pengendalian hayati gulma. Fase larva parasitoid hanya dapat hidup pada fase hidup inang tertentu terutama telur dan larva. Parasitoid yang memiliki daya cari tinggi biasanya menghasilkan telur sedikit. sebagian besar kasus adalah pelepasan serangga parasitoid. b.

Predator memiliki daya tanggap rendah terhadap perubahan populasi mangsa sehingga fungsinya sebagai pengatur populasi hama umumnya kurang terutama untuk predator yang polifag. Namun hal itu tidak berarti bahwa predator kurang dapat difungsikan sebagai agens pengendalian hayati. kepik buas (Hemiptera: Reduviidae). rasa lapar. Dari sekian banyak usaha pengendalian hayati yang selama ini berhasil dilakukan di dunia lebih banyak menggunakan parasitoid daripada predator. dan Hemiptera. Neuroptera. c. Parasitoid umumnya monofag atau oligofag. Respons numerik predator terhadap perubahan populasi mangsa dinampakkan dalam bentuk perubahan reproduksi. memiliki daya jelajah yang jauh serta dilengkapi dengan organ tubuh yang berkembang dengan baik untuk menangkap mangsanya seperti kaki depan belalang sembah (Mantidae). belalang tanduk panjang (Orthoptera: Tettigonidae). Ordo-ordo tersebut adalah Coleoptera. jangkerik (Orthoptera: Gryllidae). tetapi predator memerlukan banyak mangsa baik fase pradewasa maupun fase dewasa. Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian hayati kedua agens tersebut harus dimanfaatkan 43 . kekuatan yang lebih besar. d. emigrasi. kecepatan pencernaan. undurundur (Neuroptera: Chrysopidae). b. Parasitoid yang mencari inang adalah hanya serangga dewasa betina. tetapi predator betina dan jantan dan juga fase pradewasa semuanya dapat mencari dan memperoleh mangsa. Keberhasilan pengendalian hayati memang sulit untuk diduga dan dianalisis secara tepat karena kerumitan dan dinamika agroekosistem. Hymenoptera. Kepinding air (Hemiptera: Vellidae). kumbang tanah (Coleoptera: Carabidae). Hampir semua ordo serangga mempunyai spesies yang menjadi predator serangga lain.memakan mangsa. dll. dengan mudah predator tersebut mencari mangsa alternatif untuk tetap mampu mempertahankan hidupnya. Predator memangsa dan membunuh mangsa secara langsung sehingga harus memiliki daya cari yang tinggi. Untuk memenuhi perkembangannya parasitoid memerlukan hanya satu inang umumnya fase pradewasa. mata besar (capung). kompetisi antar predator. capung jarum (Odonata: Coenagrionidae). imigrasi. Sifat polifag memberikan keuntungan bagi predator yaitu bila populasi jenis mangsa utama tertentu rendah. taktik penangkapan mangsa yang lebih baik daripada taktik pertahanan mangsa. Predator umumnya dibedakan dari parasitoid dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Sinkronisasi fenologi predator dan mangsa tidak merupakan permasalahan utama bagi keberhasilan pemanfaatan predator sebagai agens pengendali hayati. Respons fungsional predator dalam bentuk perubahan proses fisiologi dan perilaku seperti daya cari. contohnya semut yang mampu membawa mangsa secar berkelompok. Namun ada beberapa predator yang memiliki ukuran tubuh yang tidak lebih besar daripada mangsanya. f. e. Banyak ahli yang mempersoalkan tentang efektivitas predator sebagai agens pengendalian hayati apabila dibandingkan dengan parasitoid. Predator umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan mangsanya. Sifat pengaturan populasi mangsa secara tergantung kepadatan lebih nampak pada predator yang bersifat oligofag. semut (Hymenoptera: Formicidae) dan dari golongan laba-laba harimau (Araneae: Lycosidae). Beberapa famili predator yang terkenal adalah kumbang kubah (Coleoptera: Coccinellidae). Diptera. Anggang-anggang (Hemiptera: Gerridae). Selama ini ada beberapa ordo yang anggota-anggotanya banyak merupakan predator yang digunakan dalam pengendalian hayati. Sebagian besar predator mempunyai banyak pilihan inang sedangkan parasitoid mempunyai sifat tergantung kepadatan yang tinggi. Hal ini berbeda dengan sinkronisasi parasitoid dan inang. predator pada umumnya mempunyai banyak inang atau bersifat polifag meskipun ada juga jenis predator yang monofag dan oligofag. waktu penanganan mangsa. Predator dan parasitoid mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. memiliki kelebihan sifat fisik yang memungkinkan predator mampu membunuh mangsanya Beberapa predator dilengkapi dengan kemampuan bergerak cepat. dan proses mortalitas.

substansial maupun parsial. Juga pemasukan parasitoid Tetrastichus brontispae dari pulau Jawa ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara dapat berhasil menekan populasi hama kelapa Brontispa longissima. Ada beberapa langkah klasik yang perlu ditempuh apabila untuk melakukan introduksi musuh alami pada suatu tempat. Namun untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pengendalian pendekatan semacam itu tidak dianjurkan. Parasitoid telur Leefmansia bicolor pernah dimasukkan dari pulau Ambon ke pulau Talaud. Pengiriman parasitoid dan predator dari negeri asal mengikuti peraturanperaturan yang berlaku di negara asal maupun di Indonesia 44 . Keberhasilan teknik introduksi ini kemudian dicobakan pada hama-hama lain dan banyak juga yang berhasil baik secara lengkap. Keberhasilan penggunaan teknik introduksi dimulai dengan introduksi kumbang vedalia. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan urutan sbb: a. Meskipun ketiga teknik pengendalian hayati tersebut berbeda dalam sasaran dan tekniknya tetapi dalam pelaksanaan pengendalian hayati sering digunakan secara bersama. agar teknik ini berhasil diperlukan banyak usaha persiapan dan studi yang mendalam terutama tentang sifat penyebaran. dan konservasi.secara optimal berdasarkan pada informasi dasar yang mencukupi tentang berbagai aspek biologi dan ekologi kedua kelompok agens pengendalian hayati tersebut. Sampai saat ini upaya introduksi musuh alami ada juga yang berhasil mengendalikan hama secara berlanjut meskipun hanya dilandasi dengan metode cobacoba atau metode "trial and error". Mengingat introduksi musuh alami termasuk dalam rekayasa biologi. Meskipun telah banyak usaha introduksi musuh alami yang berhasil dilakukan tetapi untuk menjelaskan teori dasar teknik introduksi tersebut sangat sulit karena kerumitan mekanisme dan susunan ekosistem pertanian. Rodolia cardinalis dari benua Australia ke California untuk mengendalikan hama kutu perisai Icerya purchasi yang menyerang perkebunan jeruk di California. 1981). Di Indonesia pengendalian dengan introduksi parasitoid yang berhasil antara lain introduksi parasitoid Pediobius parvulus dari Fiji pada sekitar tahun 1920-an ke Indonesia yang ditujukan untuk pengendalian hama kumbang kelapa Promecotheca reichei. Hal ini disebabkan karena pada tahap permulaaan sebagian besar usaha pengendalian hayati menggunakan teknik tersebut. Pada waktu itu diketahui bahwa hama kutu jeruk tersebut berasal dari benua Australia. augmentasi. sifat biologi dan ekologi spesies hama dan musuh alami yang akan diintroduksikan. juga parasitoid Chelonus sp dimasukkan dari Bogor ke pulau Flores untuk mengendalikan hama bunga kelapa Batrachedra (Kalshoven. Di daerah asal hama tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi petani karena populasinya telah dapat diatur dan dikendalikan oleh agens musuh alami setempat. Pada beberapa daerah dilaporkan bahwa parasitasi dapat mendekati 100%. Penjelajahan atau eksplorasi di negeri asal terutama mengenai habitat asal spesies eksotik yang akan diimpor b. PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PARASITOID DAN PREDATOR Praktek pengendalian yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu introduksi. Introduksi Teknik introduksi atau importasi musuh alami seringkali disebut sebagai praktek pengendalian hayati klasik. Usaha introduksi bertujuan untuk mencari musuh alami hama tersebut di daerah asalnya dan memasukkannya ke daerah baru. Di Indonesia kasus yang paling baru terjadi pada tahun 1986-1990 yaitu introduksi predator Curinus coreolius dari Hawaii untuk pengendalian hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp. dan keadaan ekosistem setempat.

Pelepasan dan pemapanan parasitoid dan predator yang diimpor sesuai dengan kondisi ekologi yang menguntungkan kehidupan dan perkembangan agens pengendalian hayati f. c. Karantina pasca masuk parasitoid dan predator yang diimpor di dalam negeri sesuai peraturan dan prosedur karantina yang berlaku di Indonesia d. Agens pengendalian hayati yang dipilih biasanya sudah mengkhususkan diri terhadap hama sasaran dan tidak/sedikit berdampak negatif bagi organisme lain. Pelepasan sejumlah populasi musuh alami di ekosistem secara teknik augmentasi sebetulnya sama juga dengan pelepasan musuh alami dengan teknik introduksi. b. sedangkan pelepasan introduksi menggunakan musuh alami yang dimasukkan dari luar ekosistem. Perbanyakan parasitoid dan predator di laboratorium yang memenuhi syarat baik fasilitas maupun SDMnya e. Secara periodik populasi musuh alami berkurang 45 b.c. Sekali telah menetap di suatu tempat. Perbedaan lain pelepasan augmentatik menggunakan musuh alami yang sudah berfungsi di ekosistem. Cara kedua adalah dengan memodifikasikan ekosistem sedemikian rupa sehingga jumlah dan efektivitas musuh alami dapat ditingkatkan. e. Karena itu pelepasan musuh alami secara augmentatik harus dilakukan secara periodik. Evaluasi efektivitas pengendali hayati dengan menggunakan metode standar yang dibuat oleh para ahli pengendalian hayati (metode eksklusi dan metode neraca kehidupan) Apabila berhasil nilai manfaat yang diperoleh dari pemasukan musuh alami sangat besar karena hasilnya mantap. Dengan teknik augmentasi diharapkan populasi hama sementara waktu (satu musim atau kurang) dengan cepat dapat ditekan sehingga tidak merugikan. Pelepasan periodik menurut Stehr (1982) dapat dibedakan dalam 3 bentuk tergantung pada maksud dan frekuensi pelepasan serta sumber musuh alami yang dilepaskan. Pelepasan musuh alami introduksi bertujuan dalam jangka panjang mampu menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga tetap berada di bawah aras ekonomi. Tidak perlu lagi tindakan-tindakan pengendalian hama lainnya baik oleh petugas lapangan maupun petani. dengan melepaskan sejumlah tambahan musuh alami ke ekosistem agar dengan tambahan jumlah tersebut dalam waktu singkat musuh alami mampu menurunkan populasi hama. agens pengendali tersebut akan berkembang sendiri dan tidak diperlukan pemasukan yang berulang-ulang. Semua pihak diuntungkan baik petani kaya maupun petani miskin. 2. mapan dan akan berumur panjang sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi dan lingkungan yang maksimal. Sasaran ini dapat dicapai dengan dua cara augmentasi yaitu pertama. Dari perhitungan manfaat dan biaya (Benefit Cost) sangat menguntungkan dibandingkan penggunaan pestisida Augmentasi Teknik augmentasi atau teknik peningkatan merupakan aktivitas pengendalian hayati yang bertujuan meningkatkan jumlah musuh alami atau pengaruhnya. Tiga cara pelepasan periodik adalah: Pelepasan Inokulatif Pelepasan musuh alami dilakukan satu kali dalam satu musim atau dalam satu tahun dengan tujuan agar musuh alami tersebut dapat mengadakan kolonisasi dan menyebar luas secara alami dan menjaga populasi hama tetap berada pada aras keseimbangannya. Keuntungan penggunaan pengendalian hayati klasik dengan intorduksi adalah: a. d. Pelepasan musuh alami di sini dimaksudkan agar secara teratur peranan dan kondisi musuh alami tetap dipertahankan dan ditingkatkan. .

Konservasi Musuh Alami Dalam penerapan PHT konservasi musuh alami terutama pemanfaatan predator dan parasitoid merupakan teknik pengendalian hayati yang sering dilakukan dan dianjurkan. waktu. (1996) dapat diketahui bahwa aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi tidak hanya membunuh musuh alami hama-hama padi. Pelepasan inundatif parasitoid sering disebut penggunaan "insektisida biologi" karena dalam hal ini musuh alami seakan-akan diharapkan dapat bekerja secepat insektisida kimiawi dalam penurunan populasi hama. Sukses yang dicapai oleh teknik inokulatif adalah dilepaskannya secara massal parasitoid telur Trichogramma sp untuk mengendalikan berbagai hama penting seperti penggerek pucuk tebu dan penggerek batang tebu. Pelepasan Suplemen Pelepasan musuh alami dapat dilakukan setelah dari kegiatan sampling diketahui populasi hama mulai meninggalkan populasi musuh alaminya. dll. hama yang menyerang gabah. per hektar dapat menurunkan populasi dan kerusakan penggerek pucuk tebu. Pengendalian hama tidak diharapkan dari hasil kerja musuh alami yang dilepas tetapi oleh keturunannya. c. 46 3. tetapi dapat membunuh serangga-serangga akuatik detrivora dan pemakan plankton yang hidup di air sawah. Teknik konservasi bertujuan menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan populasi musuh alami. Umumnya inang bagi perbanyakan massal musuh alami bukan serangga inang hama tetapi serangga inang alternatif yang lebih mudah diperbanyak di ruang perbanyakan.000 telur per hektar. maka pelepasan inundatif mengharapkan agar individu-individu musuh alami yang dilepas secara sekaligus dapat menurunkan populasi hama secara cepat terutama setelah ratusan ribu atau jutaan individu parasitoid atau predator dilepaskan.karena keadaan lingkungan yang tidak sesuai. Pengendalian hama tanpa menggunakan pestisida atau kalau digunakan secara selektif berarti usaha konservasi musuh alami sudah dilaksanakan. Keberadaan serangga-serangga air tersebut sangat bermanfaat karena menjaga populasi wereng coklat padi pada posisi yang tidak merugikan petani. hama penggerek buah kapas. Teknik pengendalian hayati lainnya agar teknik augmentasi dengan pelepasan periodik ini berhasil diperlukan informasi yang lengkap tentang biologi dan ekologi hama dan musuh alaminya terutama dalam menentukan tempat. sedangkan untuk pengendalian penggerek batang tebu diperlukan 250. frekuensi dan cara pelepasan musuh alami. . Karena jumlah musuh alami yang dilepaskan sangat banyak diperlukan teknik pembiakan massal musuh alami yang cepat. Menghindarkan aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi merupakan salah satu bentuk konservasi musuh alami yang efektif untuk pengendalian hama-hama padi di Indonesia. Pelepasan Inundatif atau Pelepasan Massal Apabila pada kedua cara pelepasan sebelumnya diharapkan keturunan dari individu musuh alami yang dilepaskan yang terus berfungsi memperkuat berfungsinya kembali musuh alami sebagai pengendali alami. d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan 150. Dari hasil penelitian Settle et al. Banyak tindakan agronomi yang secara langsung dan tidak langsung dapat merugikan populasi musuh alami terutama penggunaan pestisida kimia. Contoh untuk memperbanyak parasitoid telur Trichogramma sp di laboratorium digunakan inang pengganti yaitu Sitotroga cerealia. dan ekonomik.000 telur Trichogramma sp. Tujuan pelepasan untuk membantu musuh alami yang sudah ada agar kembali berfungsi dan dapat mengendalikan populasi hama.

Pengurangan populasi predator yang tidak diinginkan. pollen. 3. Pengembangan musuh alami yang tahan atau toleran terhadap pestisida. 4. Menanam dan melestarikan tanaman berbunga. Penyediaan inang alternatif. Melestarikan tanaman liar yang mendukung inang alternatif parasitoid atau mangsa alternatif predator. 3. 6. Perlindungan atau penjagaan stadia tidak aktif musuh alami (pupa atau fase diapause). Dibandingkan dengan teknik-teknik pengendalian yang lain terutama pestisida kimia. 5. Tanaman berbunga yang menghasilkan sari madu dan serbuk sari dapat menaikkan kemampuan musuh alami untuk berkembang biak sehingga lebih disukai oleh parasitoid dan predator. Menghindarkan debu-debu yang mengganggu efektivitas musuh alami.Beberapa cara konservasi musuh alami yang dapat dilakukan antara lain berupa: 1. Adanya tanaman liar juga harus diwaspadai apabila berpotensi menjadi tempat hidup hama di luar musim tanaman budidaya. embun madu) 8. Memakai sistem tanam yang lebih beraneka ragam. Perlindungan dari penggunaan pestisida kimiawi. 13. Pelestarian tanaman liar dapat mendukung kehidupan musuh alami sebagai inang alternatif sampai inang utama kembali tersedia sehingga musuh alami tetap mampu menurunkan populasi hama. 7. Penyediaan suplemen makanan tambahan. Penjagaan keanekaragaman komunitas setempat dan inang yang diperlukan. Sebelumnya Stehr (1982) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memodifikasi ekosistem untuk konservasi musuh alami dengan rincian sebagai berikut: 1. Menekan pemakaian pestisida. Pembuatan tempat berlindung musuh alami 10. Dengan demikian jumlah serangga bermanfaat seperti musuh alami akan lebih beraneka ragam dibandingkan pada sistem monokultur. 9. Pengaturan suhu yang mendukung perkembangan musuh alami. 12. 11. PERANAN PENGENDALIAN HAYATI DALAM PHT Sesuai dengan konsepsi dasar PHT pengendalian hayati memegang peranan yang menentukan karena semua usaha teknik pengendalian yang lain secara bersama ditujukan untuk mempertahankan dan memperkuat berfungsinya musuh alami sehingga populasi hama tetap berada di bawah aras ekonomik. 2. Musuh alami memiliki kepekaan terhadap pestisida lebih tinggi daripada hama sehingga pemakaian pestisida secara terus-menerus akan memusnahkan populasi musuh alami. 2. pengendalian hayati memiliki tiga keuntungan utama yaitu 47 . Pengendalian semut pemakan madu. Penyediaan makanan alami (nektar. Sistem tanam yang beraneka ragam akan mempengaruhi lingkungan mikro di suatu lahan. kelembaban lebih tinggi. dan tempat akan menjadi lebih teduh. 4. Parasitoid lebih peka terhadap pestisida daripada predator. Parasitoid atau predator akan sulit mempertahankan hidup setelah panen karena inang utama tidak dijumpai lagi. Menghindari praktek budidaya tanaman yang merugikan kehidupan musuh alami. Lingkungan akan lebih terlindung dari pengaruh buruk cuaca seperti angin dan hujan.

Apabila identifikasi kurang benar kita akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari sifat-sifat kehidupan musuh alami dan langkah-langkah kegiatan selanjutnya. dll. musuh alami telah menjadi lebih mapan di ekosistem dan selanjutnya secara alami musuh alami akan mampu menjaga populasi hama dalam keadaan yang seimbang di bawah aras ekonomi dalam jangka waktu yang panjang. namun bagaimanapun untuk keberhasilan pengendalian hayati dalam kerangka PHT diperlukan juga dasar pengetahuan dan teknologi yang mantap. Karena musuh alami biasanya adalah khas inang. Aspek dasar dapat meliputi taksonomi. penelitian. Patogen Serangga Tujuan: 1. dan ekonomi. Pengendalian hayati juga relatif ekonomis karena begitu usaha tersebut berhasil petani tidak memerlukan lagi tambahan biaya khusus untuk pengendalian hama. dinamika populasi. Kecuali diperlukan modal. pengujian dan evaluasi terutama yang menyangkut berbagai aspek dasar baik untuk hama.permanen. genetika. Kesulitan dan permasalahan utama dalam penerapan dan pengembangan pengendalian hayati adalah modal investasi permulaan yang besar yang harus dikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi. Arti permanen di sini karena apabila pengendalian hayati berhasil. namun kejadian tersebut sangat langka. Mempelajari dan memahami berbagai kelompok dan jenis patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati 2. petani kemudian hanya mengupayakan agar menghindari tindakan-tindakan yang merugikan perkembangan musuh alami. fasilitas yang lengkap juga diperlukan sumber daya manusia terutama para peneliti yang berkualitas dan berpendidikan khusus dan berdedikasi tinggi sesuai dengan yang diperlukan untuk pengembangan teknologi pengendalian hayati. Sampai saat ini tenaga-tenaga ahli dengan kualifikasi demikian masih sangat jarang tersedia di Indonesia. fisiologi. musuh alami maupun tanaman. Mempelajari dan memahami strategi dan cara pemanfaatan patogen serangga untuk pengendalian hama 3. aman. Meskipun pernah dilaporkan kasus terjadinya ketahanan suatu jenis hama terhadap musuh alami antara lain dengan membentuk kapsul dalam tubuh inang. Mempelajari dan memahami kelemahan dan kekuatan patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati Materi: JENIS-JENIS JASAD RENIK PATOGENIK 48 . Identifikasi yang tepat baik untuk jenis hama maupun musuh alaminya merupakan langkah permulaan yang sangat penting. Meskipun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa untuk pengendalian hayati yang penting adalah adanya tenaga peneliti yang berpengalaman dan berdedikasi tinggi serta cukup memiliki rasa seni dan intuisi. biologi. siklus hidup. ekologi. Pengendalian hayati aman bagi lingkungan karena tidak memiliki dampak samping terhadap lingkungan terutama terhadap serangga atau organisme bukan sasaran.

dan Neuroptera. Berikut secara singkat diuraikan beberapa kelompok jasad renik yang saat ini sudah banyak dan sering digunakan sebagai agens pengendalian hayati. rikettsia dan nematoda. Entomopoxvirus. Proses perbanyakan nukleokapsid berjalan dengan cepat sehingga terbentuklah banyak polihedra yang memenuhi seluruh sel tubuh 49 . CPV (Cytoplasmic Polyhidrosis Virus) dan kelompok lainnya yang lebih kecil jumlahnya. relatif persisten di pertanaman dan tanah. Pada keadaan serangan penyakit yang parah serangga terserang akhirnya mati. Cleonus punctiventus dengan menggunakan sejenis jamur. Berbagai virus NPV mempunyai prospek untuk digunakan dalam pengendalian hayati adalah NPV yang diisolasi dari genusgenus Spodoptera. Virion NPV berbentuk batang yang berukuran panjang antara 200-400 nm dengan diameter 20-50 nm. serta tidak meninggalkan residu beracun di alam. Saat ini dikenal lebih dari 2000 jenis patogen yang menginfeksi serangga dan jumlah itu mungkin baru sebagian kecil dari jenis patogen serangga di muka bumi. Trichoptera. NPV pada umumnya menyerang paling banyak pada ordo Lepidoptera (86%) dan sedikit pada ordo Hymenoptera (7%) serta ordo Diptera (3%). PIB dibentuk oleh protein dan mengandung beberapa nukleokapsid atau partikel-partikel virus atau virion. Iridovirus. Selain NPV ada kelompok virus lainnya yaitu GV (Granulovirus). protozoa. Selain itu virus juga telah diketahui menyerang ordo Coleoptera. Granulovirus. Pectinophora.Serangga seperti juga binatang lainnya dalam hidupnya diserang oleh banyak patogen atau penyakit yang berupa virus. Selain itu virus juga dapat masuk ke tubuh serangga sewaktu meletakkan telur atau melalui bagian tubuh yang terluka mungkin oleh serangan musuh alami. Neodiprion. polihedra NPV akan larut dan pecah serta melepaskan partikel-partikel virus yang kemudian memasuki sel-sel bagian perut serangga dan akhirnya memperbanyak diri. hipodermis. Larva serangga yang terinfeksi oleh virus pada umumnya melemah pada saluran pencernaan makanan sewaktu larva makan bagian tanaman yang telah mengandung polihedra. Oleh karena kemampuannya membunuh serangga hama sejak lama patogen digunakan sebagai agens pengendalian hayati (biological control agents). Trichoplusia. nukleusnya membengkak dan dipenuhi oleh masa padat yang disebut viroplan. Banyak genus serangga tersebut yang merupakan hama penting di Indonesia. Beberapa penyakit dalam kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi faktor mortalitas utama bagi populasi serangga. Penggunaan patogen untuk pengendalian hama tercatat pada abad ke-18 yaitu pengendalian hama kumbang moncong pada bit gula. Setiap sel yang terinfeksi virus. Beberapa keunggulan penggunaan NPV antara lain memiliki inang sangat spesifik. 1. Cypovirus dan Nodavirus. Virus NPV dicirikan dengan adanya inclusion bodies yang disebut polihedra atau PIB (“polihedric inclusion body”). Chilo. Agrotis. Helicoverpa. bakteri. Apabila virus telah masuk ke dalam tubuh serangga. tetapi ada banyak penyakit yang pengaruhnya kecil terhadap gejolak populasi serangga. Virus-virus artropoda sebagian besar masuk dalam genera Nucleopolyhedrovirus. mampu menginfeksi serangga yang telah resisten terhadap insektisida. jamur. Plusia. Melacosoma. Dari keenam genera ini genus NPV (Nucleopolyhedro virus) merupakan genus terpenting karena sekitar 40% jenis virus yang dikenal menyerang serangga termasuk dalam genus ini. Virus Sampai saat ini kurang lebih 1500 virus telah berhasil diisolasi dan diidentifikasikan dari serangga dan binatang artropoda lainnya. dll. Di dalam tubuh larva Lepidoptera virus berkembang terutama di nuklei selsel darah. Serangga yang terkena penyakit menjadi terhambat pertumbuhan dan pembiakannya. jaringan lemak dan lapisan epithel saluran trachea. Virus juga dapat ditransmisikan dari induk yang telah terinfeksi pada keturunannya melalui telur.

serangga akhirnya mengakibatkan kematian. Larva yang terserang virus NPV dapat dilihat dari gejala serangan yang antara lain berupa larva semakin malas bergerak. larva atau instar serangga yang terserang jamur memperlihatkan perubahan warna tertentu seperti warna merah muda dan merah. Proses masuknya virus ke tubuh serangga sampai dipenuhinya sel-sel tubuh serangga oleh virus berjalan antara 4 hari sampai 3 minggu tergantung pada jenis NPV. Pada akhirnya semua jaringan dipenuhi oleh miselia jamur. hemocoel. Aplikasi virus untuk pengendalian hama sebagian besar baru dalam tahap pengkajian laboratorium sedangkan di lapangan masih sangat terbatas. jamur memperbanyak dirinya melalui pembentukan hife dalam jaringan epikutikula. Nilaparvata lugens Oryctes rhinoceros Helicoverpa zea. Saat ini telah dikenal lebih dari 750 spesies jamur entomopatogenik dari sekitar 100 genera jamur. Larva yang mati karena virus posisi tubuhnya seperti patah dan menggantung pada bagian tanaman. Setelah inang terbunuh. Beberapa jenis predator termasuk burung dan parasitoid dapat juga menjadi agens penyebaran virus. Virus telah berada di tanaman dan telah dapat disebarkan oleh angin dan hujan. Jamur Entomopatogenik Kelompok jenis jamur yang menginfeksi serangga dinamakan jamur entomopatogenik. jenis serangga inang. dan larva bergerak ke pucuk tanaman. jumlah polihedra yang masuk. Kelompok Jamur Patogen Serangga yang Umum Menurut Sistematikanya Subdivisi Kelas Ordo Genus Contoh Inang Mastigomycotina Zygomycotina Ascomycotina Deuteromycotina Chytridiomycetes Zygomycetes Pyrenomycetes Plectomycetes Hypomycetes Blastocladiales Entomophthorales Spaeriales Ascosphaerales Moniliales Coelomomyces Enthomophthora Cordyceps Ascophaera Beauveria Metarhizium Nomuraea Paecilomyces Verticillium Hirsutella Sorosporella Spicaria Lalat hitam Nilaparvata lugens Setora nitens Aphis sp. pertumbuhannya terhambat. Teknik rekayasa genetika diharapkan mampu memacu perkembangan dan perluasan aplikasi virus sebagai agens pengendalian hayati. Disamping itu ada beberapa jenis jamur yang mempengaruhi pigmentasi serangga dan menghasilkan toksin yang sangat mempengaruhi fisiologi serangga. serta jaringan-jaringan lainnya. jamur patogen masuk ke dalam tubuh serangga tidak melalui saluran makanan tetapi langsung masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau integumen. litura Diaphorina citri Aleurodicus destructor Plutella xylostela Berbagai ulat grayak Helopeltis antonii Sumber: Tanada dan Kaya. epidermis. Tabel 1. kulit berganti warna menjadi semakin pucat dan memutih seperti susu. Tabel 1 menunjukkan berbagai genus jamur penting yang dapat menjadi patogen serangga. Penyebaran virus ini melalui berbagai cara dan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain cuaca. Kendala utama dalam perbanyakan virus diantaranya belum berkembangnya teknik perbanyakan dan penggunaan pakan buatan. Proses perkembangan jamur dalam tubuh inang sampai inang mati berjalan sekitar 7 hari. Karena pengaruh infeksi jamur terhadap pembentukan pigmen. 2. jamur membentuk konidia primer dan sekunder yang dalam 50 . Setelah konidia jamur masuk ke dalam tubuh serangga. 1993 Berbeda dengan virus. instar larva yang mulai terinfeksi dan keadaan suhu. S.

No 1 2 Tabel 2. Bacillus thuringiensis sangat efektif digunakan untuk pengendalian larva ordo Lepidoptera. air. Jamur ini juga sudah dikembangkan untuk pengendalian hama wereng daun. Saat ini jamur Metarhizium anisopliae telah digunakan secara luas di Indonesia untuk pengendalian hama Oryctes rhinoceros yang menyerang kelapa. vulgaris Q. fibourgenesis dapat dipakai pada hama uret Melolontha melolontha. Jamur Verticillium mampu menekan populasi Scotinophora coartata. hama putih palsu. Hama wereng coklat dapat dikendalikan dengan menggunakan jamur Enthomopthora sp. Banyak laporan membuktikan pestisida dapat menghambat perkecambahan konidia primer dan pengurangan pelepasan konidia sekunder berikutnya. 51 . Bacillus popiliae menyebabkan gejala seperti penyakit susu yang menyerang kumbang Jepang Popiliae japonica dan kumbang skarabid lainnya. Helopeltis sp. Bakteri Bakteri yang menyerang serangga dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu bakteri yang tidak membentuk spora dan bakteri pembentuk spora. Beberapa famili bakteri yang berpotensi sebagai sumber alternatif baru patogen serangga di masa depan telah banyak ditemukan diantaranya Pseudomonadaceae. Bacillaceae (Tabel 2). Lactobacillaceae. walang sangit dan kepinding tanah. Kebasahan tinggi dan angin kencang sangat membantu penyebaran konidia dan pemerataan infeksi patogen pada seluruh individu pada populasi inang. penggerek batang padi. dan kutu putih Aleurodichus destructor. Konidia akan menyebarkan sporanya melalui angin. aeruginosa P. Dua jenis bakteri patogen yang penting Bacillus popiliae dan Bacillus thuringiensis. Kelompok pertama mempunyai peranan sebagai faktor mortalitas alami yang penting.kondisi cuaca yang sesuai konidia tersebut muncul keluar dari kutikula serangga. Pengendalian dengan menggunakan jamur Hirsutella citriformis dapat menurunkan populasi Diaphorina citri hingga 62%. septica Enterobacteriaceae aerogenes P. 3. Micrococaceae. Darna catenata mampu dikendalikan oleh jamur ini hingga 100%. mirabilis Lactobacilliaceae Diplococcus spp. Beberapa genera bakteri patogen serangga Macam bakteri Serangga peka Belalang Lepidoptera Belalang Kecoa 3 Pseudomonadaceae P. Ulat api Setora nitens mampu ditekan perkembangannya dengan Cordyceps purpurea. bahkan hama penting pada kelapa sawit. ulat jengkal (Ectropis bhurmitra). Kelompok bakteri yang lebih penting adalah bakteri pembentuk spora yang pada saat ini telah banyak digunakan sebagai insektisida mikrobia. P. Jamur Beauveria bassiana telah dicoba untuk pengendalian hama wereng padi coklat dan hama penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei). hujan. Penggunaan pestisida baik insektisida maupun fungisida untuk mengendalikan hama dan penyakit ternyata sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan jamur patogenik serangga. Enterobacteriaceae. dll. Aphis. tetapi karena sifatnya yang kosmopolitan sukar digunakan sebagai agens pengendalian hayati. Penurunan populasi mencapai 82% dengan jamur Paecilomyces fumosoroseus terhadap jenis hama yang sama. Mortalitas Helopeltis sp dapat mencapai 98% setelah disemprot dengan B. dan larva nyamuk. kesediaan spora. cuaca terutama angin dan kebasahan. Penyebaran dan infeksi jamur sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kepadatan inang. P. B. wereng coklat. bassiana. dapat dikendalikan dengan jamur Spicaria sp.

Karena sifat itulah maka banyak perusahaan pestisida tertarik untuk memformulasikannya. xylostella strain Lembang dilaporkan telah resisten terhadap insektisida Dipel WP. Tubuh kemudian menjadi lemah dan lembek. Condor F Aizawai Bacillin WP. Bahan aktifnya tidak mampu menembus kutikula serangga maupun jaringan tanaman. Florbac FC Munculnya masalah resistensi hama terhadap penggunaan B. Meskipun Bt telah banyak dipasarkan dengan berbagai nama dagang tetapi masih memerlukan banyak kegiatan pengembangan berhubung karena banyak strain baru ditemukan dan adanya sifat-sifat serangga yang khas baik ketahanannya terhadap strain tertentu maupun kepekaannya (Tabel 3). Bt dalam sporulasi di dalam tubuh serangga membentuk kristal yang mengandung protein beracun atau endotoksin. Tanaman inang hama juga kelihatannya mempengaruhi keberhasilan Bt dalam menginfeksi serangga inangnya. dan penemuan varietas atau strain Bt baru terus berlanjut. Bakteri ini bersifat selektif terhadap serangga sasaran dan ramah lingkungan. Bactospeine WP. Protozoa dan Rikettsia 52 . Beberapa produk Bt yang sudah dipasarkan Strain Merk dagang Serangga sasaran Kurstaki Dipel WP. Bila larva muda atau larva tua terkena Bt dapat kita lihat adanya reaksi pertama yang cepat seperti kesakitan. Seleksi ke arah timbulnya resistensi kemungkinan dapat terjadi apabila pemanfaatan teknologi ini tidak dilakukan secara tepat. Thuricide Lepidoptera HP. xylostella strain Garut masih rentan terhadap B. Bite WP. Kristal bakteri akan melarut dalam saluran pencernaan. Strain Bt diklasifikasikan menjadi 29 subspesies dan lebih dari 40 inklusi kristalin (δ-endotoksin) gen-gen protein berhasil diisolasi. 4. Bacillaceae Bacillus popilliae B. kemudian dalam beberapa waktu larva tidak mau makan dan tidak aktif. Dari kristal Bt paling sedikit telah diketahui adanya 4 jenis racun atau toksin. Bila spora dan kristal bakteri dimakan oleh serangga yang peka maka terjadi paralisis yang mengakibatkan kematian inang. Lepidoptera Turex WP. thuringiensis. dalam jaringan tersebut bakteri mengeluarkan toksin yang dapat mematikan serangga. Kematian larva dapat terjadi dalam kurun waktu dalam beberapa jam sampai 4 5 hari setelah infeksi pertama tergantung pada serotipe atau strain Bt dan kepekaan serangga inang. Dengan demikian insektisida ini belum mampu mengendalikan hama yang berada di dalam jaringan tanaman seperti penggerek batang padi. namun P. Salah satu kelemahan dari formulasi pestisida ini adalah keterbatasan dalam mencapai sasaran. Dikenal lebih dari 700 varietas atau strain Bt. Insektisida hanya aktif apabila termakan oleh hama sasaran. penggerek buah kapas. thuringiensis belum banyak dilaporkan. Thuricide WP dan Thurex WP. cereus Lepidoptera Uret Lepidoptera Studi tentang Bacilus thuringiensis (Bt) saat ini sangat menarik dan berkembang sangat cepat. P. No 1 2 Tabel 3.4 5 Micrococaceae Micrococcus spp. Telah diketahui bakteri ini terdiri atas banyak strain yang berbeda sifatnya.

dan terjadi perubahan warna tubuh menjadi merah kecoklatan jika terserang Steinernema spp dan hitam jika terserang Heterorhabditis spp. Leptomonas pyrhocoris dari golongan Mastigophora dapat menurunkan populasi kepinding. jamur. Dalam beberapa jam bakteri tersebut melakukan replikasi dan akhirnya menyebar dan meracuni tubuh serangga. Jenis rikettsia banyak menyerang kumbang. Melolontha melolontha dan Oryctes rhinoceros. Serangga akan mengalami kematian dalam waktu 24-48 jam setelah aplikasi. bakteri. Nematoda muda meninggalkan telur dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui kutikula dan kemudian masuk ke dalam hemocoel. Setelah berganti kulit beberapa kali di dalam tubuh serangga nematoda dewasa keluar dari tubuh serangga untuk kawin dan menyebar. Tiga jenis mikrosporodia antara lain Nosema locustae. Untuk selanjutnya nematoda menuju ke saluran pencernaan kemudian melepaskan bakteri simbion yang bersifat racun. Dari 19 famili nematoda yang menyerang serangga. Beberapa kelebihan dari penggunaan nematoda entomopatogen ini adalah kemampuannya dalam mematikan inang yang relatif cepat. memiliki kisaran inang yang luas diantaranya Lepidoptera. dan protozoa juga ada banyak spesies nematoda yang bersifat parasitik terhadap serangga baik yang bersifat parasit obligat maupun fakultatif. Pengaruh mikrosporodia terhadap kehidupan inangnya relatif lambat dan gejala luarnya sangat bervariasi. Mermithidae merupakan famili yang terpenting dan tersebar (terdiri atas 50 genera dan 200 spesies). Nematoda stadium ketiga atau sering disebut juvenil infektif akan keluar dari tubuh serangga dan berusaha untuk mencari inang baru. Kedua nematoda ini bersimbiosis dengan bakteri.Spesies-spesies protozoa yang patogenik terhadap serangga pada umumnya termasuk dalam sub kelompok mikrosporodia. N. Penyebaran mikrosporodia melalui makanan dan dipindahkan dari induk yang terinfeksi ke keturunannya. Nematoda akan memasuki fase reproduktif yaitu memperbanyak keturunan apabila populasi nematoda dalam tubuh inang rendah sedangkan apabila populasi tinggi akan memasuki fase infektif. dan N. Nematoda masuk ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami serangga seperti mulut. anus dan spirakel. Malpighamoeba locusta dari jenis Amoeba berpotensi terhadap belalang sedangkan Nosema bombyces yang pertama kali diisolasi dari ulat sutera (Bombyx mori) berpotensi untuk mengendalikan beberapa hama penting seperti Spodoptera litura. Kematian akibat rikettsia baru terjadi pada 14 bulan setelah aplikasi atau lebih lama dibandingkan kematian akibat agens hayati yang lain seperti jamur. Tubuh serangga akan lemas. Nematoda akan berkembang biak di dalam tubuh serangga inang sampai menghasilkan keturunan yang sangat banyak. acridophagus. cuneatum telah dijadikan sebagai agens hayati untuk mengendalikan hama belalang khususnya di Amerika. Telah dapat dikenal lebih dari 250 spesies mikrosporodia yang menyerang serangga. Nematoda Disamping virus. Jenis nematoda entomopatogen lainnya adalah Heterorhabditis spp dan Steinernema spp. Inang yang terserang nematoda akan mengalami septisemia dan akhirnya mati. 5. Hymenoptera dan Diptera. terjadi penurunan aktivitas. Mikrosporodia tersebar luas yang secara alami dapat menjadi faktor mortalitas yang penting bagi serangga inangnya. bakteri dan nematoda. Jenis Coccidia mampu menginfeksi hama gudang Tribolium confusum hingga 68%. Coleoptera. Juvenil infektif mampu bertahan hidup lama sampai memperoleh inang kembali dan fase ini merupakan satu-satunya fase yang bersifat infektif terhadap serangga inang. Rikettsia mampu menyebabkan kematian pada Popillia japonica. Kelompok protozoa ini ternyata sangat potensial untuk mengendalikan hama Sexava sp. Walaupun demikian patogen jenis ini memiliki peluang yang besar untuk dijadikan agens pengendalian hayati khususnya di Indonesia. Serangga inang mati sebelum atau sesudah nematoda meninggalkan tubuh inangnya. tidak menyebabkan resistensi 53 .

S. Steinernema spp mampu menyebabkan kematian Spodoptera exigua sampai 98%. Introduksi dan Aplikasi Patogen Hama sebagai Faktor Mortalias Tetap Prinsip penggunaan patogen hama di sini sama dengan introduksi serangga parasitoid atau predator untuk menekan populasi hama untuk jangka waktu yang panjang. Chilo sp). Jenis Steinernema spp telah terbukti mampu mengendalikan lebih dari 100 spesies serangga hama terutama ordo Lepidoptera dan Coleptera. Kecuali itu apabila keadaan lingkungan memungkinkan patogen hama yang diaplikasikan pada ekosistem mungkin dapat menjadi pengendali alami hama yang permanen di ekosistem tersebut. Caranya adalah dengan memasukkan dan menyebarkan patogen pada suatu ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen tersebut mantap di ekosistem yang baru ini sehingga kemudian menjadi faktor mortalitas tetap bagi spesies hama yang dikendalikan. tidak berbahaya bagi lingkungan. 2. Oleh karena itu pestisida sebaiknya hanya digunakan apabila berbagai agens pengendalian alami (termasuk patogen hama) tidak mampu menghentikan laju peningkatan populasi hama yang berhasil melampaui Ambang Pengendalian. Spodoptera litura 99% bahkan 100% untuk mengendalikan Crocidolomia binotalis. Helicoverpa armigera hingga 65%. Memanfaatkan Secara Maksimal Proses Pengendalian Alami oleh Patogen Hama Ada banyak jenis patogen seperti virus dan jamur yang mampu menekan populasi hama secara alami sehingga populasi tetap berada di bawah aras ekonomi. Saat ini beberapa jenis patogen seperti NPV dan Bacillus thuringiensis telah dipasarkan dengan nama dagang tertentu. Cara ini yang paling berhasil dilakukan untuk mengendalikan hama yang nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Ekonomi cukup tinggi karena untuk pengembangan permulaan bagi patogen diperlukan kepadatan populasi inang yang cukup. PEMBIAKAN MASSAL AGENS PENGENDALIAN HAYATI 54 . Kita harus menjaga ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen dapat melaksanakan fungsinya secara "density dependent". Aplikasi Patogen Hama sebagai Insektisida Mikrobia Sasaran aplikasi patogen hama dengan cara ini adalah guna menekan populasi hama untuk sementara waktu. Steinernema carpocapsae dapat mengendalikan hama penggerek (Schirpophaga sp. tidak berbahaya bagi mamalia dan vertebrata serta kompatibel dengan pengendalian lain. Pada pengujian yang lain. carpocapsae juga telah terbukti memiliki kemampuan mengakibatkan mortalitas pada Cylas formicarius.hama. STRATEGI PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PATOGEN HAMA Patogen serangga dapat digunakan dalam PHT dengan beberapa strategi atau cara yaitu: 1. Oleh karena itu aplikasi patogen perlu dilakukan beberapa kali sama prinsipnya dengan penggunaan insektisida sintetik organik. Salah satu tindakan yang merugikan adalah penggunaan pestisida. 3. Untuk itu keadaan dan perkembangan patogen hama yang penting perlu terus dipantau dan menjaga tindakan-tindakan yang mengurangi berfungsinya patogen hama dapat dibatasi sekecil mungkin. Berbeda dengan insektisida sintetik organik maka insektisida mikrobia mempunyai beberapa keuntungan yaitu bersepektrum sempit atau khas inang dan aman bagi lingkungan hidup serta tidak membahayakan binatang bukan sasaran.

8. 4. Pembiakan massal dilakukan untuk mengembangbiakkan agens hayati dengan menggunakan media alami maupun media buatan dalam habitat atau lingkungan yang dibentuk sesuai lingkungan aslinya sehingga diperoleh sejumlah tertentu sesuai kebutuhan. Pengujian tingkat konsentrasi tersebut akan menghasilkan konsentrasi efektif yang nantinya akan menjadi pedoman rekomendasi di lapangan. bassiana yang berasal dari walang sangit (Leptocorisa acuta) mati dicoba diperbanyak pada media nasi. Eksplorasi dilakukan pada wilayah luas yang diperkirakan terdapat sumber genetik baru. 6. Uji virulensi 55 . Pengujian ini bertujuan mencari stadia serangga yang rentan terhadap agens hayati pada konsentrasi tertentu. Media yang menghasilkan spora paling tinggi dipilih sebagai media. Dalam pemurnian ini kontaminasi sering terjadi akibat sterilisasi alat dan ruangan yang kurang sempurna. Pemurnian merupakan tahapan yang sangat penting untuk memperoleh stok spora sesuai yang diharapkan. Perbanyakan Spora Perbanyakan spora merupakan usaha pemilihan substrat pengganti yang cocok untuk pengembangbiakan selanjutnya. Eksplorasi dan Koleksi Eksplorasi bertujuan mencari sumber genetik baru yang berpotensi sebagai agens pengendalian hayati. 9. Serangga yang ditemukan terserang patogen dikoleksi dan selanjutnya dimanfaatkan untuk tahapan selanjutnya. 3. murah dan mudah diperoleh. Postulat Koch Pengujian akan memperkuat dugaan bahwa agens hayati yang ditemukan benarbenar bersifat patogenik terhadap serangga. 5. 7. Pengujian dilakukan pada serangga yang sama dan dilakukan di laboratorium. Namun dalam pembiakan massal perlu adanya tahap-tahap khusus yang harus diperhatikan dan dilakukan sehingga nanti akan diperoleh hasil yang memuaskan. 2. Sporulasi Media yang paling cocok dan menjadi pilihan adalah media yang memberikan efek sporulasi tinggi. Uji patogenisitas Pengujian patogenisitas yang bertujuan mengetahui konsentrasi yang tepat dan mampu membunuh serangga sasaran biasanya dilakukan di laboratorium ataupun green house. Ada 10 tahapan pembiakan massal agens hayati atau kontrol kualitas pengembangbiakkan agens pengendalian hayati yang diterapkan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) di Propinsi DIY sebagai berikut: 1. Uji efektivitas Konsentrasi efektif yang diperoleh dari uji patogenisitas digunakan untuk uji efektifitas. Spora B. Pada saat ini usaha pembiakan massal agens hayati telah banyak dilatihkan dan dilakukan di Indonesia baik oleh laboratorium dinas maupun oleh para kelompok petani terutama yang telah mengikuti SLPHT. Tahapan atau kaidah-kaidah pembiakkan tersebut berfungsi sebagai pedoman utama dalam melaksanakan usaha pembiakan. jagung ataupun dedak. Pemurnian Pemurnian dilakukan untuk pemilihan media yang cocok dan memperoleh stok spora.Pengendalian dengan agens hayati dalam skala luas memerlukan jumlah agens hayati yang relatif mencukupi sehingga perlu usaha pembiakan massal. Viabilitas Viabilitas merupakan kemampuan atau daya kecambah spora agens hayati. Agens hayati dinilai baik apabila viabilitasnya 95%.

5. 4. Uji virulensi dilakukan untuk mengetahui agens hayati tersebut virulen atau tidak baik dalam kondisi baru maupun telah disimpan dalam media dan jangka waktu tertentu. Derajat kemasaman. Dalam evaluasi tersebut dilakukan juga peremajaan agens hayati yang sudah lama disimpan. 56 .Agens pengendalian hayati yang sudah mengalami tahap-tahap uji tersebut sudah dipastikan dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama. bassiana. Hama sasaran dalam keadaan tertekan seperti sakit. Dalam aplikasinya diharapkan patogen tidak terkena cahaya matahari secara langsung karena sinar ultraviolet menyebabkan patogen tidak aktif bahkan dapat membunuh patogen dalam waktu yang relatif cepat. Patogen tersebut juga terhambat pertumbuhannya karena adanya senyawa phenol dan terpenoid pada tanaman kapas. Dengan demikian kontak antara patogen dengan serangga sasaran cepat terjadi. Evaluasi tehadap hasil yang diperoleh dilakukan segera setelah aplikasi. Penyelimutan Patogen harus benar-benar melekat atau menempel atau menyelimuti bagian tanaman maupun serangga sasaran. Anti mikrobiosis Beberapa tanaman mampu menghasilkan senyawa-senyawa anti mikrobia yang dapat mengurangi keefektifan patogen. kepadatan yang terlalu tinggi menyebabkan tingkat kerentanannya semakin tinggi. tomatin dari tanaman tomat menghambat pembentukan koloni dan pertumbuhan jamur patogen B. antara lain: 1. Waktu aplikasi Kemapanan patogen yang merupakan makhluk hidup di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kondisi basa menyebabkan delta endotoksin pada Bt akan rusak dan efektifitasnya menurun. Dosis tinggi menyebabkan persaingan pakan dan ruang antar patogen sejenis dan menghambat perkembangbiakan sehingga mampu menurunkan daya bunuh terhadap serangga sasaran. CARA PENGGUNAAN PATOGEN SERANGGA DI LAPANGAN Mengingat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh patogen serangga maka dalam pemanfaatan patogen sebagai agens pengendalian hayati perlu diperhatikan beberapa faktor penting yang mempengaruhi tingkat keefektifan patogen terhadap serangga sasaran. Senyawa alkaloid. 3. Asam klorogenik pada tanaman tomat dapat mengurangi efektifitas NPV dari Helicoverpa zea. Oleh karena itu sebelum aplikasi patogen di lapangan harus diketahui kondisi hama sasaran. 10. thuringiensis. Dosis. 2. 6. Kelembaban tinggi lebih meningkatkan keefektifan patogen. ketidakcocokan pakan. Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu cara penting untuk menilai keberhasilan pelepasan agens pengendalian hayati. pH Kondisi pH pada bahan pelarut sangat mempengaruhi keefektifan patogen. Senyawa nikotin yang dihasilkan oleh tanaman tembakau dapat menghambat pertumbuhan B. Hama sasaran Semakin muda umur serangga akan semakin rentan terhadap patogen. kekurangan pakan. Pelarut dianjurkan memiliki derajat kemasaman yang normal (pH 7). Dosis aplikasi minimum akan lebih baik daripada dosis aplikasi tinggi dalam peningkatan keefektifan patogen. Agens hayati sebaiknya diaplikasikan pagi atau sore hari. Serangga sasaran yang mengkonsumsi patogen dengan cepat diharapkan mengalami kematian secara cepat juga.

Mempelajari dan memahami sifat dan pengelompokan pestisida khususnya insektisida 2. Kompatibilitas Patogen sebagai agens pengendalian hayati memiliki kemampuan dapat dipadukan dengan agens pengendalian yang lain sehingga daya bunuhnya lebih efektif dan hasilnya akan lebih memuaskan. kesehatan.doc Materi 8 PENGENDALIAN KIMIAWI Tujuan: 1. pemukiman. Ketahanan inang Spesies serangga tertentu yang rentan terhadap patogen dapat menjadi tahan dengan bertambahnya umur dan dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan. Sejak dicanangkannya program pembangunan nasional di sektor 57 . Di bidang pertanian penggunaan pestisida mampu menekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit yang memungkinkan peningkatan produksi pertanian dapat dicapai. Mempelajari dan memahami dampak negatif penggunaan pestisida kimia 3. Karena keberhasilan tersebut di dunia pertanian. Berkat pestisida umat manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman penyakit manusia yang membahayakan seperti malaria dan demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk. dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dari reaksi petani apabila menghadapi terjadinya serangan hama tentu akan menanyakan pestisida apa yang tepat digunakan dan dimana dapat diperolehnya? Kecenderungan peningkatan penggunaan pestisida secara global sejak tahun 1960an juga terjadi di Indonesia. pangan maupun perkebunan. pestisida seakan-akan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budidaya segala jenis tanaman baik tanaman hortikultura. Pestisida mungkin merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah umat manusia telah memberikan banyak jasanya bagi keberhasilan dalam banyak bidang pembangunan termasuk pertanian. 129807801. Pestisida sedemikian melekatnya pada kegiatan pertanian di Indonesia. 8. Mempelajari dan memahami penggunaan pestisida sebagai salah satu komponen PHT Materi: Pengendalian hama secara kimiawi adalah penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama agar hama tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman yang dibudidayakan.7.

tetapi risiko yang berupa dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan semakin lama semakin nyata dirasakan oleh masyarakat luas. Banyak kesepakatan dan standar pengaturan yang telah ditetapkan secara internasional dan harus diterapkan oleh semua negara. Salah satu cara agar risiko pestisida dapat ditekan serendah mungkin yakni Pemerintah di semua negara melakukan pengaturan terhadap semua produksi. Insektisida merupakan salah satu kelompok pestisida. Sekitar tahun 1970 sampai 1980-an pestisida paling banyak digunakan dalam program intensifikasi pangan terutama dalam program swasembada beras melalui program nasional BIMAS. serta untuk menjaga tingkat efektivitas pestisida dalam pengendalian hama sasaran. herbisida (pembunuh gulma). Larvisida Larva 58 . A. Namun setelah Pemerintah mencabut subsidi pestisida pada tahun 1989 serta diterapkannya konsep PHT oleh petani padi. akarisida (pembunuh tungau).000 ton. Tujuan pengaturan pestisida oleh pemerintah adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup terhadap dampak samping penggunaan pestisida. Akarisida Tungau. Ixosida Pinjal 10. peredaran. Tabel 4. saat ini berbagai jenis pestisida generik memasuki Indonesia sehingga pada tahun 2002 jumlah formulasi pestisida yang telah terdaftar di Indonesia sudah melampaui 1000 formulasi. nematisida (pembunuh nematoda). penggunaan. Bakterisida Bakteri 7. semak-semak 5. biasanya yang dmaksud dengan pestisida adalah insektisida. Peningkatan penggunaan pestisida ini juga terjadi pada komoditas pertanian lainnya. sedangkan pada tanaman perkebunan adalah pada tanaman kapas. Pengelompokan Pestisida Berdasar pada Kelompok Hama yang Dikendalikan Nama kelompok No Kelompok hama yang dikendalikan pestisida 1. PENGELOMPOKAN PESTISIDA Kata insektisida secara harafiah berarti pembunuh serangga yang berasal dari kata insekta = serangga dan kata Latin cida yang berarti pembunuh. Algisida Alga 4. Tanaman pertanian pangan di Indonesia yang saat ini masih banyak menggunakan insektisida adalah kedelai. Meskipun pestisida kimia memiliki banyak keuntungan ekonomi bagi petani dan masyarakat. pinjal dan laba-laba 2. jenis dan produksi insektisida saat ini lebih banyak daripada kelompok-kelompok pestisida lain. sayuran dataran rendah dan sayuran dataran tinggi. Sedangkan kelompok pestisida lainnya antara lain rodentisida (pembunuh rodent tikus). Avisida Burung 6. penggunaan pestisida meningkat dengan sangat pesat. perdagangan. Fungisida Jamur 8. Seiring dengan perdagangan bebas yang semakin terbuka. Pestisida adalah pembunuh hama yang berasal dari kata pest = hama dan cida = pembunuh. penggunaan pestisida khususnya insektisida di tanaman padi cenderung menurun.pertanian. Adultisida Serangga dewasa 3. Arborisida Pepohonan. fungisida (pembunuh jamur). Jumlah pestisida yang diproduksi pada tahun 2000 sekitar 60. Insektisida Serangga dan juga pinjal dan tungau 9. Karena jumlah kelompok. Bila pada tahun 1970 penggunaan pestisida untuk padi kurang dari 1000 ton pada tahun 1986 pestisida untuk padi sudah mencapai 18.000 ton. Tabel 4 menjelaskan nama kelompok pestisida berdasar pada kelompok organisme sasaran. penyimpanan dan pengawasan pestisida.

Rumus bangun senyawa tersebut adalah sbb: Gambar 23. semut PEMBERIAN NAMA PESTISIDA Nomenklatur atau cara pemberian nama suatu jenis pestisida ada ketentuannya.3-dihidro 2. Nama kimia merupakan nama yang digunakan oleh ahli kimia dalam menjelaskan suatu senyawa kimia sesuai dengan rumus bangun senyawa insektisida tersebut. 12. 16. Mitisida Moluskisida Nematisida Ovisida Piscisida Predasida Rodentisida Silvisida Termitisida Tungau. Dharmafur®. Indofur®. digunakan nama umum. dan nama kimiawi. 13. dan menurut sifat kimianya. 3. pinjal. dll.-dimeti l-7-benzonil metilkarbamat 4.2. PENGGOLONGAN INSEKTISIDA Insektisida kimia dapat dikelompokan dalam beberapa cara menurut pengaruhnya terhadap serangga sasaran. 17. Karena satu jenis pestisida dapat dibuat oleh beberapa perusahaan sehingga untuk pestisida tersebut mempunyai beberapa nama dagang. 18. 19. 14. Rumus bangun Karbofuran Dalam praktek penggunaan sehari-hari terutama oleh petani. Dalam forum ilmiah seperti publikasi seminar atau tesis. 1. Suatu jenis pestisida ditandai oleh 3 cara penamaan yaitu nama umum. Nama dagang : Furadan®. Nama umum : karbofuran 2. Pengelompokan Insektisida Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Hama 59 . dan laba-laba Moluska terutama siput dan keong Nematoda Telur Ikan Vertebrata hama Tikus Pepohonan dan semak Rayap. Nama kimia : 2. biasanya nama dagang lebih populer. nama dagang. Dalam pembicaraan khusus tentang aspek-aspek kimiawi pestisida nama kimia pestisida digunakan. Suatu contoh diambil jenis insektisida yang sampai saat ini masih diguanakan untuk pengendalian penggerek batang padi di Indonesia.11. Currater®. 15. 1. Nama dagang ditetapkan oleh produsen atau formulator insektisida yang membuat dan memperdagangkan pestisida tersebut. menurut cara masuknya dalam tubuh serangga.

Di sini insektisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. racun tersebut juga memasuki tubuh serangga melalui saluran pencernaan. Insektisida modern pada umumnya merupakan racun kontak. Pengelompokan insektisida menurut pengaruh pada serangga sasaran seperti terlihat pada Tabel 5. Apabila permukaan tanaman yang mengandung insektisida tersebut dimakan serangga. Contoh insektisida racun kontak adalah BHC dan DDT. Tabel 5. Serangga terbunuh bila insektisida tersebut termakan oleh serangga. b. Pengelompokan Menurut Cara Masuk ke Tubuh Serangga Dilihat dari cara masuknya (mode of entry) ke dalam tubuh serangga insektisida dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu racun perut. racun kontak. a. dan fumigan. Racun Perut (stomach poison) Insektisida memasuki tubuh serangga melalui saluran pecernaaan makanan (perut). Jenis-jenis insektisida lama umumnya merupakan racun perut. Pengelompokan Pestisida Berdasarkan Pengaruhnya pada Serangga Kelompok Pestisida Pengaruh pada hama 2.Insektisida dapat dikelompokkan menurut pengaruh yang merugikan bagi hama sasaran yang akhirnya dapat menurunkan populasi hama. sedangkan insektisida modern sangat sedikit yang merupakan racun perut. Racun Kontak (contact poison) Insektisida memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan diatas permukaan tanaman yang telah mengandung insektisida. 60 .

tanpa membunuh seluruh bagian tanaman Mengeringkan bagian tanaman dan serangga Merusak atau mematikan organisme berbahaya Menyebabkan serangga lebih giat makan Menghentikan. dan belerang. Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botani/nabati) dan bahan alami 61 . kriolit. Pb arsenat. fosfin dan metil bromida. sodium fluorid. Menghambat nafsu makan sehingga serangga kelaparan yang akan menyebabkan kematian Mengurangi sistem transpirasi serangga Penarik hama. atau memperlambat proses pertumbuhan tanaman atau serangga Mengarahkan serangga agar menjauh dari yang diperlakukan Feromon. yang merangsang atau menghambat perilaku serangga Meningkatkan efektivitas bahan aktif Fumigan Fumigan merupakan insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan serangga atau sistem trachea yang kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Sedangkan insektisida kimia setelah masa Perang Dunia II setelah ditemukannya DDT umumnya merupakan insektisida organik. Insektisida kimia konvensional secara garis besar dapat dibagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam insektisida anorganik yaitu insektisida yang tidak mengandung unsur Karbon dan insektisida organik yang mengandung unsur Karbon. Insektisida-insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik. Pengelompokan Menurut Sifat Kimianya Pengelompokan insektisida yang paling penting adalah menurut sifat kimianya. dan umumnya memiliki efikasi lebih rendah bila dibandingkan insektisida organik sintetik. masalah ketahanan hama terhadap insektisida. alomon dan kairomon. Kelemahan insektisida anorganik adalah toksisitas tinggi untuk mamalia termasuk manusia. zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman atau hewan. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organik sintetik. Contoh fumigan adalah hidrogen sianida (HCN). mempercepat. Contoh insektisida anorganik adalah kalsium arsenat. fitotoksisitas tinggi. Karena sifatnya yang mudah menguap fumigan biasanya digunakan untuk mengendalikan hama simpanan yang berada di ruang atau tempat tertutup dan juga untuk mengendalikan hama yang berada di dalam tanah.Antifidan (anti-feedant) Antitranspiran (Anti-transpirant) Atraktan (attractant) Khemosterilan (chemosterilant) Defolian (defoliant) Desikan (desiccant) Disenfektan (disinfectant) Perangsang makan (feeding stimulant) Pengatur pertumbuhan (growth regulator) Repelen (repellent) Semiokimia Sinergis (synergist) c. residu di lingkungan lama atau persisten. 3. seperti atraktan seks Menurunkan kemampuan reproduksi hama Merontokkan bagian tanaman yang tidak diinginkan.

2) organofosfat (OP). disulfoton. Ester-ester ini mempunyai kombinasi Oksigen. Insektisida OP yang termasuk dalam derivat fenil adalah paration. Misal di daerah sub tropis DDT dalam kurun waktu 17 tahun residunya masih 39 % yang berada di dalam tanah. seperti heterosiklik. metamidofos. fenil. Oleh karena bahayanya insektisida golongan OK sejak tahun 1973 tidak boleh digunakan untuk pengendalian hama pertanian di Indonesia. dinitrofenol. monotrotofos. forat. mevinfos. triklorfon. Persistensi OK di lingkungan menimbulkan dampak negatif seperti perbesaran hayati dan masalah keracunan khronik yang membahayakan kesehatan masyarakat. terbufos. OP yang dikembangkan dari kombinasi tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok derivat yaitu alifatik. Insektisida kelompok ini merupakan racun kontak dan racun perut. naled. 4) piretroid sintetik. dikrotofos. oksidemetonmetil. Daya racun OP mampu menurunkan populasi serangga dengan cepat. Sedangkan di bidang kesehatan DDT tidak lagi digunakan untuk mengendalian vektor penyakit malaria sejak 1993. Organo Klorin (OK) Insektisida Organo Klorin atau sering disebut Hidrokarbon Klor merupakan kelompok insektisida sintetik yang pertama dan paling tua dan dimulai dengan ditemukannya DDT oleh ahli kimia Swiss Paul Mueller pada tahun 1940-an. 3) karbamat. b. Karbon. Masalah yang paling merugikan bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah sifat persistensinya yang sangat lama di lingkungan baik di tanah maupun di jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. a. nimfa. tiosianat dan sulfanat. Setelah DDT ditemukan kemudian berhasil dikembangkan banyak jenis insektisida baru dengan susunan kimia dasar yang mirip dengan DDT dan kemudian dikelompokkan dalam golongan Hidrokarbon Klor. malation. 62 . efektif untuk mengendalikan larva.000 senyawa OP yang pernah dicoba dan diuji untuk mengendalikan serangga. Berbeda dengan OK. asefat. persistensinya di lingkungan sedang sehingga OP secara bertahap dapat menggantikan OK. Kebanyakan insektisida OP adalah penghambat bekerjanya enzim asetilkoline sterase. Permasalahan lain yang timbul akibat digunakannya DDT secara besarbesaran adalah berkembangnya sifat resistensi serangga sasaran seperti nyamuk dan lalat terhadapp DDT. Sampai saat ini OP masih merupakan kelompok insektsida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. dimetoat. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. dan heterosiklik. sedangkan residu endrin pada 14 tahun setelah perlakuan ternyata masih dijumpai sebanyak 40% dari residu semula. OP merupakan insektisida yang sangat beracun bagi serangga dan bersifat baik sebagai racun kontak. Saat ini telah tercatat sekitar 200. racun perut maupun fumigan. Pembagian insektisida organik sintetik konvensional menurut susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memilki sifat racun) terdiri dari 6 kelompok besar yaitu 1) organoklorin (OK). OP memiliki berbagai bentuk alkohol yang melekat pada atom-atom P dan berbagai bentuk ester asam fosforik. Organofosfat (OP) Insektisida OP dengan unsur P meliputi semua ester asam fosforik (H3PO4) sebagai inti yang aktif saat ini merupakan kelompok insektisida yang terbesar dan sangat bervariasi jenis dan sifatnya. OP di lingkungan kurang stabil sehingga lebih cepat terdegradasi dalam senyawa-senyawa yang tidak beracun. dan Nitrogen. dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. dikloruos. Kecuali 6 kelompok besar tersebut masih ada beberapa kelompok insektisida baru yang mulai banyak digunakan dalam praktek pengendalian hama saat ini. Derivat alifatik meliputi insektisida-insektisida yang antara lain TEPP. fosfamidin. 5) kloronikotinil dan 6) IGR (Insect Growth Regulator). Insektisida yang termasuk OK pada umumnya memiliki toksisitas sedang untuk mamalia. Sulfur. etoprop.lainnya.

fosmet. namun insektisida PS menghadapi permasalahan utama yaitu percepatan perkembangan strain hama baru yang tahan. Isokarb. fention. fenpropatrin. Untuk lahan seluas 1 ha hanya diperlukan 10-40 g bahan aktif. Biasanya generasi yang lanjut merupakan perbaikan sifat PS generasi sebelumnya. Pestisida karbamat dapat dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu 1) metil karbamat dengan bangunan cincin fenil. Keunggulan piretroid sintetik (PS) karena memiliki pengaruh knock down atau kemampuan menjatuhkan serangga dengan cepat dan tingkat toksisitas rendah bagi manusia dan mamalia. Cara karbamat mematikan serangga sama dengan insektisida OP yaitu melalui penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf. dll. d. fention. lalat. etil paration. deltametrin dan siflutrin. kedelai dan sayuran. dll. c. profenofos. Untuk memperoleh efektivitas yang sama dosis aplikasi inesktisida PS generasi baru lebih kecil bila dibandingkan dengan aplikan OP dan OK. stirofos. Salah satu anggota generasi pertama adalah alletrin. Karena toksisitas sangat tinggi aldikarb sekarang dilarang di Indonesia. dan fentoat. 2) metil karbamat dan dimetil karbamat dengan struktur heterosiklik seperti dijumpai pada bendiokarp. triazofos. Termasuk dalam kelas ini adalah aldikarb.metil paration. dll. Kelompok Piretroid Sintetik merupakan tiruan dari bahan aktif insektisida nabati piretrum yaitu sinerin I yang berasal dari ekstrak bunga Chrysanthemum cinerariaefolium. flusitrinat. dioxakarb. metidation. generasi kedua adalah resmetrin. 3) metil karbamat dari oksin yang mempunyai struktur rantai. sehingga tidak terakumulasi dalam jaringan lemak dan susu seperti OK. kecoa. e. Insektisida tersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari jaringan binatang. fluvalinat. dll. sihalotrin. dan yang lain. Generasi PS keempat lebih hemat lagi dibandingkan dengan generasi ketiga. MICP. Beberapa PS yang termasuk generasi keempat yang saat ini juga sudah diijinkan di Indonesia antara lain sipermetrin. Aldikarb merupakan insektisida karbamat yang paling beracun juga merupakan insektisida sistemik yang digunakan untuk pengendalian serangga dan nematoda. Beberapa karbamat memiliki toksisitas rendah bagi mamalia tetapi ada yang sangat beracun. Yang paling banyak digunakan sekarang adalah generasi PS yang ketiga dan keempat. metomil. fenitrotion. Dari kelompok ini insektisida yang terkenal adalah diazinon dan lainnya seperti asinfos. Propoksur merupakan insektisida yang umum digunakan di dalam rumah untuk pengendalian serangga rumah tangga seperti nyamuk. stirofos. Residu PS di hasil-hasil pertanian tidak menjadi masalah. Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi PS. klorpirifos . Sintetik Piretroid (SP) Piretroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensional yang baru digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat ini perkembangannya sangat cepat. Karbamat Karbamat merupakan insektisida yang berspektrum lebar dan telah banyak digunakan secara luas untuk pengendalian hama tanaman. Insektisida karbamat relatif baru bila dibandingkan dengan 2 kelompok insektisida OK dan OP. fosmet. fonofos. Pada umumnya PS menunjukkan toksisitas rendah bagi mamalia tetapi sangat beracun bagi ikan dan lebah. Kloronikotinil 63 . Insektisida OP derivat heterosiklik banyak jenisnya. karbofuran. Yang termasuk dalam kelas ini adalah BPMC. Generasi PS ketiga antara lain fenvalerat dan permetrin banyak digunakan untuk pengendalian hama-hama kapas. PS seringkali dikelompokan menurut generasi perkembangannya di laboratorium. kuinalfos. temefos. Meskipun daya mematikan hama sasaran sangat tinggi dan PS sedikit menghadapi permasalahan lingkungan. isofenfos.

Dengan cara membunuh hama yang demikian. dan halofenozide. Karena cara aksi terhadap serangga sasaran berbeda dengan kelompok-kelompok insektisida kimia lain. Kelompok insektisida baru adalah yang termasuk dalam golongan IGR (Insect Growth Regulator) atau Zat Pengatur Pertumbuhan Serangga. kinoprin. maka insektisida botani atau insektisida nabati merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman. sedangkan buprofezin khas untuk wereng daun dan wereng batang serta serangga-serangga Homoptera lainnya. Hormon juvenil yang sekarang telah dipasarkan dan digunakan untuk pengendalian serangga di Amerika Serikat adalah metoprin. hormon juvenil (JH). Pengaruh IGR tersebut dapat terjadi pada waktu perkembangan embrionik. IGR bekerjanya lambat dan lembut serangga akan mati beberapa hari setelah diperlakukan dengan IGR. tekanan seleksi terhadap serangga hama juga lemah sehingga timbulnya sifat resistensi dari serangga hama dapat dihambat. Pengatur Pertumbuhan Serangga (IGR = Insect Growth Regulator) Kelompok insektisida lain yang memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi adalah kelompok insektisida baru yang tidak termasuk dalam kelompok insektisida konvensional. pada dasarnya IGR memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi terhadap serangga sasaran sehingga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. IGR pada hakekatnya mengganggu aktivitas normal sistem endokrin serangga. Karena kesulitan dalam melakukan ekstraksi. metamorfosis. Yang termasuk dalam IGR adalah ekdison (hormon penggantian kulit). kloronikotinil dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan jenis hama yang telah resisten terhadap kelompok/jenis insektisida tertentu. klorfluazuron. serangga tanah dan beberapa jenis kumbang. ataupun perilaku diapause. Contoh IGR ini adalah tebufenozoid. Insektisida Botanik Bila insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. methoxyfenozide. sedangkan insektisida penghambat sintesis khitin adalah diflubenzuron. trips dan kutu daun. Tebufenozide dan methoxyfenozide untuk mengendalikan Lepidoptera sedangkan halofenozide untuk Coleoptera. hidroprin. teflubenzuran. wereng. Karena cara kerja IGR terhadap serangga sasaran adalah dengan mempengaruhi sistem hormonal serangga yang khas. metoxyfenozoid. Kelas insektisida ini sampai sekarang baru diwakili oleh satu bahan aktif yaitu imidakloprid yang telah diijinkan di Indonesia. Agonis ekdison merupakan IGR yang paling baru tetapi sudah cukup tersedia di pasar. kloronikotinil juga merupakan tiruan atau analog produk nikotin.Kloronikotinil merupakan kelas baru insektisida sintetik. Sejak tahun 1986 untuk pengendalian hama wereng padi terutama wereng coklat kita mulai menggunakan salah satu senyawa penghambat khitin yaitu buprofezin. f. bensoil finil ureas. dan halofenozoid. proses reproduksi. Untuk kelompok serangga lainnya seperti serangga predator dan parasitoid insektisida tersebut kurang berpengaruh. dan kurang stabil karena mudah 64 . analog hormon juvenil (JHA). antihormon juvenil serta insektisida penghambat khitin. Berbeda dengan insektisida konvensional yang mempengaruhi sistem syaraf sehingga mematikan serangga dalam waktu cepat. Bila piretroid merupakan tiruan produk alami piretrum. Misalkan diflubenzuron sangat efektif terutama untuk Lepidoptera dan Diptera. dan venoksikarb. mimik atau tiruan hormon juvenil. Imidakloprid meruapakan insektisida sistemik dan kontak dengan sasaran hama yang mempunyai tipe mulut pencucuk dan pengisap seperti aphis. triflumuron. perkembangan larva atau nimfa. Juga efektif untuk mengendalikan rayap. Insektisida botanik atau insektisida nabati merupakan insektisida alami diambil secara langsung dari tanaman atau dari hasil tanaman. g. Insektisida jenis ini termasuk insektisida yang paling tua dan banyak digunakan untuk pengendalian hama sebelum insektisida organik sintetik ditemukan. Sampai tahun 2002 ini sebagian insektisida IGR tersebut telah terdaftar di Indonesia seperti tebufenozide.

Namun untuk keberhasilan pengendalian perlu diperhatikan waktu dan frekuensi penyemprotan yang tepat sesuai dengan sifat ekobiologi hama sasaran. Karena tanaman mimba sudah banyak tumbuh di Indonesia dan sangat sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca di sini. Namun akhir-akhir ini setelah timbul kekhawatiran mengenai dampak samping pestisida kimia. Petunjuk mengenai cara penyiapan. 3) Mengurangi kesehatan dan daya reproduksi 4) Menghambat daya bertelur. Kerena efektivitas dan cara aksinya berbeda dengan pestisida kimia konvensional. Bahan tersebut belum dapat langsung digunakan untuk kegiatan pengendalian hama. tidak berbahaya bagi lebah madu. sehingga cepat teurai menjadi zat-zat yang tidak berbahaya. Untuk memperoleh hasil yang baik dapat ditambahkan minyak dan pengemulsi. penggunaannya semakin berkurang terutama setelah pestisida kimia sintetik ditemukan dan digunakan. Agar dapat dimanfaatkan di lapangan dan diperdagangkan bahan teknis harus diproses lagi menjadi 65 . ampas biji dan daun. ancaman terhadap timbulnya resistensi hama relatif kecil karena mengandung banyak zat yang semuanya mempunyai cara kerja yang berlainan. FORMULASI PESTISIDA Dalam pabrik pembuat insektisida dihasilkan bahan aktif insektisida dalam bentuk murni. Teknologi sederhana tersebut sangat mudah dilakukan oleh petani dengan biaya yang sangat murah. penggunaan pestisida botanik kembali memperoleh perhatian dari pemerintah dan petani sebagai solusi alternatif bagi pestisida kimia. apalagi bila teknik ekstraksi dan penggunaannya telah dikuasai petani. Persistensi esktrak mimba rendah. Dalam kegiatan pelatihan SLPHT-Perkebunan Rakyat juga diberikan pelatihan penggunaan pestisida nabati. Sampai saat ini belum dilaporkan adanya pencemaran tanah dan air akibat dari mimba. maka prospek penggunaannya untuk pengendalian hama sangat baik. Beberapa jenis insektisida botanik yang sudah lama dikenal dan digunakan adalah piretrum yang diambil dari bunga Chrysanthemum.terurai. 2) menghambat metamorfosis. Rotenon dapat berupa racun kontak dan perut tetapi pengaruhnya tidak pada sistem syaraf. Penyiapannya dilakukan dengan cara menggerus biji atau daun dan membuat ekstrak sederhana dengan dicampur air dan kemudian disemprotkan dengan menggunakan alat penyemprot biasa. ektraksi dan penggunaan pestisida nabati telah dibuat dan diedarkan kepada para petani pekebun. Bagian tanaman mimba yang sering digunakan adalah tepung biji. Ekstrak mimba mempunyai risiko kecil bagi kesehatan manusia. Pestisida botanik telah lama dikenal sebagai pestisida yang risikonya kecil bagi kesehatan dan lingkungan hidup. Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melakukan inventarisasi mengenai berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar lahan petani untuk dijadikan pestisida nabati. Dari banyak hasil penelitian telah diketahui beberapa cara kerja insektisida nimba yaitu 1) Mengusir dan menghambat nafsu makan serangga. burung dan binatang bermanfaat lainnya. Tanaman mimba sejak lama telah dikenal dan digunakan sebagai pestisida nabati. ikan. Dari inventarisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Bina Perkebunan yang memuat daftar jenis-jenis tanaman di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati (Lampiran). Lebih dari 200 spesies serangga hama dapat dikendalikan secara efektif dengan ekstrak tanaman tersebut. Beberapa keuntungan penggunaan mimba yaitu efektivitas tinggi. penyemprotan dengan pestisida nabati sebaiknya dilakukan dengan frekuansi yang lebih banyak dan sewaktu populasi hama masih belum jauh melampaui Ambang Pengendaliannya. Pestisida nabati yang prospektif dan banyak diteliti oleh para pakar pada dua dekade akhir ini adalah Azadirachtin salah satu bahan aktif yang diambil dari tanaman nimba atau mimba (Azadirachta indica). Cara kerja ekstrak nimba tersebut di atas hampir sama dengan cara kerja insektisida IGR. Demikan juga rotenon diambil dari akar tanaman leguminosaea Derris elliptica atau tuba.

Bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat meracuni serangga (insektisidal) secara umum disebut bahan inert atau inert material. e) odorants untuk memberi bau.bahan formulasi insektisida. Emulsifiable Concentrates (EC) 2. Bait (RB) 10. Sistem kode formulasi pestisida mulai dibakukan pada tahun 1978 yang kemudian direvisi pada tahun 1989. Suspension Concentrate (SC) 4. f) cat dan pigment. Inisiatif pembakuan kode formulasi ini dilakukan oleh asosiasi industri pestisida global yaitu Crop Life International (dulu GCPF). h) colouring agents (zat pewarna). bahan yang dapat meningkatkan aktifitas. Agar tidak membingungkan pengguna dan konsumen di pandang perlu dilakukan harmonisasi atau pembakuan kode formulasi pestisida yang berlaku di tingkat internasional. Wettable Powders (WP) 3. Water Soluble Powder (SP) 5. Dustable Powder (DP) 7. Aerosol Dispenser (AE) 9. untuk mencegah degradasi bahan. d) minyak untuk meningkatkan aktifitas biologi insektisida. sedapat mungkin terdiri dari dua huruf besar yang merupakan singkatan. Sekitar 71 kode formulasi pestisida telah dibakukan. c) pembasah (wetters). Proses formulasi insektisida merupakan proses untuk memperbaiki sifat-sifat bahan teknis agar sesuai untuk keperluan penyimpanan. b) sinergis. seperti sabun atau deterjen untuk peningkatan daya sebar. penanganan. Menurut fungsinya bahan inert dapat berupa bahan surfaktan. Ultra Low Volume Liiquid (ULV) 6. atau keamanan bagi manusia dan lingkungan. aplikasi. g) penebal (thickeners). Granules (GR) 8. Capsule Suspension (CS) 1. daya emulsi dan pembasahan pada permukaan. untuk formulasi pestisida cair agar dapat meningkatkan daya larut. Pengetahuan dan teknologi pembuatan bahan aktif dan formulasi pestisida berkembang sangat cepat sehingga ditemukan banyak jenis dan formulasi pestisida. Kode formulasi tersebut diusahakan sederhana. Sebelum dipasarkan bahan teknis perlu dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan tertentu. dan I) zat anti mikroba. 66 . Berikut nama-nama 10 kode formulasi insektisida penting yang sudah digunakan dan dipasarkan di Indonesia. pelarut atau solvent. pembawa atau carrier digunakan untuk formulasi padat seperti serbuk dan butiran agar dapat mengikat/menyerap serta bahan tambahan khusus seperti a) penstabil (stabilizers). peningkatan efektivitas.

Pengujian tingkat toksisitas terhadap binatang uji dilakukan dengan memberikan melalui makanan (oral). kelinci. Bahaya akibat keracunan kronik karena terpapar insektisida dapat bersifat carsinogenic (pembentukan jaringan kanker). Dari uji laboratorium ini diperoleh nilai LD50 oral dan LD50 dermal dan LD50 inhalasi. Nilai LD50 adalah suatu dosis insektisida yang diperlukan untuk membunuh 50% dari individu-individu spesies binatang uji dalam kondisi percobaan yang telah ditetapkan. Toksisitas kronik adalah pengaruh yang merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida dalam jumlah sedikit atau pemaparan oleh pestisida yang berlangsung sebagian besar rentang hidup suatu organisme (misal. tempat peyimpanan maupun di lapangan. Keracunan khronik yang saat ini oleh masyarakat dunia yang paling menjadi keprihatinan masyarakat dunia karena semakin tingginya kesadaran terhadap keperluan adanya lingkungan yang tidak tercemar.World Health Organization) kategori tingkat bahaya pestisida adalah seperti Tabel 6. 1. dan marmut). Semakin rendah nilai LD50 semakin tinggi toksisitas insektisida tersebut. manusia dan komponen-komponen lingkungan hidup. atau melalui saluran pernafasan (rute respiratori. Toksisitas pestisida dapat dikelompokkan menjadi toksisitas akut. teratogenic (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan). mamalia). Unit pengukuran adalah miligram (mg) bahan aktif per kilogram (kg) berat tubuh binatang uji (tikus. Penghitungan mortalitas biasanya dilakukan 24 jam dan 48 jam setelah binatang uji terpapar oleh insektisida. Toksisitas akut adalah pengaruh meracuni atau merugikan yang timbul segera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu pestisida. Tingkat Bahaya Pestisida Meskipun sangat sulit mengekstrapolasi nilai LD50 binatang mamalia seperti tikus atau kelinci untuk menilai tingkat toksisitas pestisida bagi manusia. 67 . binatang-binatang lain. Satuan nilai LD50 adalah miligram bahan racun per kg berat tubuh binatang uji (mg/kg). Binatang uji tersebut dipelihara dalam laboratorium dengan kondisi standar yang ditetapkan. Keracunan ini biasanya terjadi pada pekerja yang langsung bekerja dengan insektisida baik di pabrik. tikus putih. Toksisitas akut melalui oral atau dermal merupakan indikasi bahaya insektisida bagi mamalia dan manusia. rute inhalasi). 2. namun sudah disepakati secara internaional bahwa nilai dosis letal mamalia tersebut digunakan untuk melihat tingkat bahaya akut suatu jenis pestisida bagi manusia. atau pemberian dosis ganda dalam waktu kurang lebih 24 jam. mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang). toksisitas kronik dan toksisitas subkronik. endocrine destruptor (gangguan hormon endokrin). Keracunan khronik merupakan keracunan karena penderita terpapar racun dalam jangka waktu panjang dengan dosis yang sangat rendah. aplikasi kulit (dermal) melalui pernafasan (respiratori. Gejala keracunan ini baru terlihat selang beberapa waktu (bulan atau tahun) setelah penderita terpapar pestisida. Metode untuk menentukan toksisitas relatif pestisida yang telah disepakati adalah dengan menggunakan dosis median letal (LD50). Pengujian Toksisitas Insektisida Cara masuk insektisida ke dalam tubuh binatang atau manusia dapat melalui mulut (rute oral). inhalasi). Menurut Bahan Kesehatan Dunia (WHO . melalui kulit (rute dermal).TOKSISITAS PESTISIDA Pestisida tidak hanya beracun (toxic) atau berbahaya bagi serangga hama sasaran juga berbahaya bagi serangga-serangga musuh alami. keracunan terjadi biasanya karena kecerobohan sewaktu penanganan pestisida atau sewaktu penyemprotan atau yang sengaja meminum insektisida untuk bunuh diri. Keracunan akut merupakan kesakitan atau kematian akibat terkena dosis tunggal insektisida.

Contoh bahan aktif yang termasuk kategori I adalah aldicarb dengan LD50 oral untuk tikus adalah 0,93 mg/kg dan LD50 dermal untuk kelinci adalah 5 mg/kg. karbofuran LD50 oral untuk tikus 8-14 mg/kg. Propoksur termasuk kategori II karena LD50 oral, untuk tikus adalah 100 mg/kg, LD50 diazinon untuk tikus adalah 108 mg/kg, LD50 DDT untuk tikus adalah 113 mg/kg. Yang termasuk kategori III (sedikit beracun) antara lain sipemetrin (SP) dengan LD50 tikus antara 303-4123 mg/kg. Sejak tahun 2000 Pestisida yang termasuk dalam kategori Ia dan Ib termasuk pestisida dilarang aau tidak boleh didaftarkan di Indonesia.

Tabel 6. Tingkat bahaya insektisida menurut ketentuan WHO
Kategori LD50 Oral Padat
(mg/kg)

LD50 Dermal Padat
(mg/kg)

Keterangan yang perlu dicatat di dalam label Pernyataan bahaya Sangat beracun Warna Simbol bahaya Simbol dan Kata

Cair
(mg/kg)

Cair
(mg/kg)

Ia Sangat berbahaya sekali

<5

<20

<10

<40

Coklat tua Sangat beracun

Ib Berbahaya Sekali II Berbahaya III Cukup berbahaya IV Tidak berbahaya pada penggunaan normal

5-50

20-200

10-100

40-400

Beracun

Merah tua Beracun

50-500

200-2000

100-1000

400-4000

Berbahaya

Kuning tua Berbahaya

5002000

20003000

>1000

>4000

Perhatian

Biru muda

Perhatian

>2000

>3000

Hijau

PENGGUNAAN PESTISIDA SECARA SELEKTIF Dalam kerangka penerapan PHT penggunaan pestisida harus hati-hati seminimal mungkin serta selektif dengan sasaran mengurangi populasi hama sampai pada aras yang tidak merugikan tanpa dengan sesedikit mungkin membahayakan kesehatan pengguna, masyarakat termasuk konsumen serta lingkungan hidup. Karena itu penggunaan pestisida harus dilakukan secara lebih selektif. Selektivitas penggunaan insektisida dapat dibagi menjadi: 68

1. selektivitas fisiologi atau selektivitas intrinsik 2. selektivitas ekologi 3. selektivitas melalui formulasi dan aplikasi 1. Selektivitas Fisiologi Selektivitas fisiologi insektisida di sini adalah penggunaan jenis insektisida yang secara intrinsik hanya mematikan serangga-serangga hama tetapi tidak membahayakan seranggaserangga yang berharga termasuk musuh alami dan serangga penyerbuk bunga. Karena sifatnya, maka insektisida yang memiliki selektivitas fisiologis berspektrum sempit dengan serangga sasaran yang khas. Meskipun banyak insektisida OP, karbamat yang kurang selektif terhadap predator hamahama padi tetapi ada juga insektisida OP seperti piridafention dan tertraklorvinpos yang lebih beracun bagi hama sasaran yaitu wereng hijau padi Nephotettix spp dan kurang berbahaya bagi predator laba-laba serigala Lycosa pseudoannulata. Pengujian tentang selektivitas berbagai jenis insektisida yang saat ini digunakan di Indonesia terhadap hama dan musuh alaminya perlu dilakukan agar kita mengetahui seberapa jauh tingkat bahaya insektisida tersebut bagi serangga bukan sasaran yang bermanfaat seperti musuh alami. Insektisida bakteri seperti Bacillus thuringiensis dan insektisida biologis lainnya termasuk jenis insektisida yang memilki selektivitas tinggi bila dibandingkan dengan insektisida konvensional. Bt umumnya ditujukan untuk mengendalikan hama yang termasuk ordo Lepidoptera. 2. Selektivitas Ekologi Dengan mempelajari sifat biologi dan ekologi hama sasaran dapat diketahui waktu dan cara aplikasi insektisida yang tepat dan efektif. Dengan mempelajari neraca kehidupan hama, perilaku hama, kisaran inang hama kita dapat menentukan bagaimana aplikasi insektisida yang tepat. Aplikasi terutama ditujukan pada bagian yang lemah pada kehidupan hama yaitu sewaktu hama berada pada stadium hama yang peka terhadap insektisida dan dalam keadaan yang "terbuka" terhadap perlakuan insektisida diusahakan sedapat mungkin serangga parasitoid dan predator dapat terhindar dari perlakuan insektisida. Dalam praktek di lapangan selektivitas ekologi perlakuan insektisida dapat dalam beberapa cara yaitu: a. Penetapan waktu aplikasi yang tepat. b. Perlakuan insektisida secara parsial atau spot treatment yang meliputi penyemprotan hanya di pesemaian, pada tanaman batas, atau pernyemprotan hanya pada bagian tanaman atau pertanaman yang terserang. c. Perlakuan insektisida pada tanaman perangkap. d. Perlakuan insektisida pada tanaman inang alternatif harus yang berupa gulma. e. Perlakuan benih dapat mengurangi perlakuan insektisida pada pertanaman. f. Aplikasi insektisida melalui tanah atau air pengairan untuk mengurangi terbunuhnya musuh alami. 3. Selektivitas Melalui Penentuan Formulasi dan Cara Aplikasi Selektivitas insektisida di sini adalah dalam menentukan dan memilih formulasi insektisida dan teknik aplikasi yang tepat, efektif dalam mengendalikan hama sehingga kurang membahayakan eksistensi musuh alami hama. Yang termasuk dalam selektivitas ini adalah: a. Penggunaan formulasi butiran atau Granule dengan insektisida sistemik diharapkan dapat efektif untuk mengendalikan hama penggerek tanaman dan membatasi pengaruh yang merugikan bagi serangga predator dan parasitoid dewasa. 69

b. Penggunaan formulasi ULV (Ultra Low Volume) yang tepat dapat membatasi "drift" insektisida sehingga dapat mengurangi risiko pencemaran dan membatasi terbunuhnya musuh alami. c. Cara aplikasi di lapangan yang kurang tepat dapat mengakibatkan peningkatan kematian organisme bukan sasaran. Oleh karena itu petani perlu dilatih tentang bagaimana cara penyemprotan insektisida yang benar.

Bijaksana: Tepat apa? • Sasaran • Dosis • Cara • Waktu • Konsentrasi • ----129807801.doc 70

dan lain-lainnya. Hal ini disebabkan karena padi menyangkut hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Perbaikan Pengairan Teknologi revolusi hijau pada tanaman padi sangat tergantung pada bibit unggul. Materi Kuliah: PERMASALAHAN HAMA TANAMAN PANGAN Yang disebut tanaman pangan adalah jenis tanaman yang menjadi sumber pangan utama sebagian besar penduduk. Pada beberapa tahun terakhir ini Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia. Nama program bermacam-macam tergantung kegiatan dan “selera” Kabinet yang bersangkutan. setelah itu kita masih harus mengimpor beras untuk dapat memenuhi kebutuhan beras penduduknya. Penanaman Bibit atau Benih Unggul 3.Materi 9 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN PANGAN Tujuan: 1. dll. Dari sekian banyak jenis tanaman dan komoditas pertanian yang dibudidayakan dan diusahakan. Tujuan intensifikasi pangan agar dapat meningkatkan produksi pangan khususnya beras dengan tujuan agar Indonesia menjadi swasembada beras atau memenuhi kebutuhan sendiri akan beras sebagai makanan utama penduduk. Pemupukan 4. INMAS (Intensifikasi Massal). Karena pentingnya padi seringkali padi disebut sebagai TANAMAN POLITIK. Program intensifikasi pangan berjalan sampai saat ini. KCL) serta pestisida kimia. ZA. SWASEMBADA BERAS Sejak Pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi beras untuk mencapai swasembada beras pada tahun 1970 Pemerintah mengintroduksikan teknologi intensifikasi produksi padi atau yang dikenal dengan teknologi “revolusi hijau“ atau green revolution. sedangkan palawija terdiri atas KEDELAI dan tanaman kacang-kacangan seperti KACANG TANAH. KACANG PANJANG. Di Indonesia tanaman pangan dibagi dalam dua kelompok yaitu padi-padian dan palawija. padi merupakan tanaman yang paling memperoleh perhatian utama dari Pemerintah dan masyarakat. Istilah yang terkenal dengan teknologi revolusi hijau adalah Panca Usaha yaitu: 1. Pengendalian Hama dan Penyakit 5. 71 Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman pangan Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman pangan . Indonesia hanya mencapai Swasembada beras pada tahun 1984. Kelompok padi-padian diwakili oleh PADI yang menghasilkan BERAS sebagai makanan utama penduduk Indonesia dan JAGUNG. INSUS (Intensifikasi Khusus). 2. Kabinet sekarang mempunyai program yang disebut Program Ketahanan Pangan. TSP. SUPRA INSUS. pupuk buatan atau pupuk kimia (Urea. Pengolahan Tanah 2. Sejak tahun 1970an kita kenal banyak nama program intensifikasi yaitu sebagai program BIMAS (Bimbingan Massal).

Pengendalian hayati terutama dengan teknik augmentasi dan konservasi musuh alami merupakan teknik pengendalian hama-hama padi utama. penyakit tungro. 6. Apabila jumlah musuh alami banyak tidak perlu dilakukan kegiatan pengendalian dengan pestisida. Tanam bibit atau varietas unggul tahan hama terutama VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) sesuai dengan biotipe wereng coklat pada suatu tempat. 2. seringkali dengan menanam varietas sama dan masa tanam yang tidak serentak. dll). 3. Mentik. VUTW I. Seperti kita ketahui saat ini kita mempunyai kelompok Non VUTW. dan VUTW I. kesuburan tanah semakin menurun sehingga proses produksi tanaman padi menjadi semakin tidak efisien. Kondisi lingkungan ini menguntungkan perkembangbiakan hama-hama padi seperti tikus dan wereng coklat. Program PHT pada tanaman padi yang dilaksanakan Pemerintah sejak tahun 1989 yang telah melatih sekitar satu juta petani padi dengan konsep dan teknologi dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia di tingkat petani. Penggunaan pestisida yang masih tinggi dapat menimbulkan resistensi dan resurjensi hamahama utama padi seperti wereng coklat. 4. sasaran peningkatan produksi tidak tercapai dan lingkungan pertanian semakin tercemar. Laksanakan kegiatan pengamatan atau pemantauan hama dan musuh alami seminggu sekali. Dengan perbaikan sistem pengairan petani dapat menanam padi dua kali sampai 3 kali setahun. Dalam kondisi stabil letusan hama tidak perlu dikhawatirkan. meluas dan sering meletus setelah program BIMAS dilaksanakan antara lain hama wereng coklat dan wereng-wereng lainnya. palawija. Bila diperlukan pestisida kimia gunakan secara sangat selektif dengan menggunakan jenis-jenis pestisida yang tidak membunuh musuh alami. Karena penggunaan bahan kimia pertanian yang sangat banyak. Ekosistem persawahan secara ekologi sebenarnya merupakan ekosistem yang memiliki kestabilan tinggi apabila kita dapat menerapkan PHT secara konsisten dan konsekuen. 5. 4. Ekosistem persawahan menjadi sangat rawan hama dan penyakit padi.Dampak penerapan intensifikasi pertanian pada ekosistem persawahan dan sistem sosial masyarakat di Indonesia sangat besar antara lain: 1. Keadaan ini mendorong terjadinya kesenjangan di pedesaan antara petani yang kaya dan petani yang miskin terutama buruh tani. 2. Banyak jenis predator dan parasitoid dijumpai di ekosistem persawahan kita. Serangan hama tikus berkurang di daerah-daerah yang menanam padi serentak. Puncak letusan hama terjadi pada tahun 1979 hampir satu juta hektar sawah gagal panen atau rusak oleh wereng coklat. Pada kondisi populasi wereng coklat tinggi hindarkan penanaman varietas padi peka hama terutama varietas-varietas lokal (Rojolele. 7. Petani semakin tergantung pada bibit unggul. 3. Berbagai hama penyakit “baru” timbul. padi. 72 . Diusahakan di suatu hamparan sawah dilakukan penanaman secara serentak termasuk di daerah-daerah yang berbukit. pupuk kimia dan pestisida yang harganya semakin mahal. Cianjur. Karena itu sampai saat ini sawah di Indonesia tidak pernah “sepi” akan serangan hama. Penerapan PHT untuk hama-hama padi secara umum adalah sebagai berikut: 1. Sebaiknya dilakukan pergiliran varietas antar musim tanam. Ada banyak petani padi saat ini yang tidak lagi menggunakan pestisida karena sudah mengandalkan musuh alami hama-hama padi. Penggunaan pestisida diputuskan setelah mempelajari hasil pengamatan ekosistem. Pola tanam padi.

HAMA-HAMA PADI Pada ekosistem padi dijumpai banyak jenis hama yang menyerang hampir seluruh stadia tumbuh padi dari persemaian sampai panen dan pasca panen. Serangan tikus dapat terjadi sejak di persemaian sampai pasca panen. 5. 73 . Adanya sarang dari batang rerumputan dan daun diantara vegetasi tanaman yang tumbuh di lapangan 2. Adanya saluran lubang yang masuk ke dalam tanah yang tidak begitu basah atau tergenang air 3. elang. serta menimbun makanan. ular. pemasangan bambu perangkap dan pemanfaatan jaring. biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pinggir. Pada serangan berat. sehingga mempersulit tikus membuat liang. Diupayakan agar waktu tanam dengan selang <10 hari dalam areal yang luas. 5. terutama pada tanaman-tanaman muda. Yang akan dibahas di sini beberapa hama utama padi saja. Gejala serangan: 1. 2. Adanya lubang yang biasanya dengan diameter yang lebih besar dari tubuh tikus dan berbentuk bulat yang merupakan jalan masuk menuju saluran. 4. Melakukan gropyokan. Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. penggenangan lahan. Adanya lintasan jalan dimana tikus hilir mudik di antara pertanaman tempat makannya dengan lubang persembunyiannya. Pengemposan dilakukan pada saat tanaman fase generatif. Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Tikus sawah aktif pada malam hari. dengan demikian hama-hama utama di suatu daerah dapat berbeda dengan hama-hama utama di daerah lain. Pada kepadatan populasi rendah. Adanya bekas-bekas telapak kaki tikus terutama pada tanah berlumpur 7. Intensitas serangan hama-hama tersebut dari suatu lokasi ke lokasi lain sangat berbeda. Namun dari laporan pada 5 tahun terakhir urut-urutan hama padi utama di Indonesia adalah 1) Tikus. antara lain burung hantu. serangan tikus biasanya bersifat acak terutama di bagian tengah petakan. 2) Penggerek Batang dan 3) Wereng Coklat. tempat memelihara anak dan kelompok keturunan. karena pada saat tersebut umumnya tikus tinggal di dalam liang. Untuk tempat tinggal atau lubang biasanya tikus berorientasi ke daerah yang cukup memberi perlindungan dan rasa aman dari gangguan predator dan tersedia sumber makanan dan air. Dengan demikian masa perkembangbiakan tikus hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Siang hari mereka selalu berlindung di dalam liang atau di semak belukar. 3. Adanya bekas-bekas kotoran tikus sepanjang lintasan 6. Secara singkat sifat hama dengan cara pengelolaannya adalah sbb: 1. Fungsi lubang bagi tikus sawah adalah sebagai tempat bernaung. sehingga masa generatif hampir serentak. Adanya bentuk-bentuk kerusakan tertentu pada tanaman yang diakibatkan oleh tikus seperti rebahnya tanaman karena pangkal batang putus. Pengelolaan: 1. 4. Memanfaatan musuh alami. Pematang sebaiknya berukuran < 30 cm.A. Populasi tikus umumnya masih rendah pada persemaian sampai fase vegetatif dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif. sehingga belum tampak jelas dari pematang. di sekitar sawah. Mengurangi ukuran pematang.

Saat ini di Sulawesi Selatan dan daerah-daerah padi yang hanya dapat menanam padi satu kali setahun PBPP lebih penting daripada PBPK. Yang harus diperhatikan dalam usaha pengendalian tikus sawah yakni harus terorganisasi dengan baik. 74 . Pada pucuk tanaman tampak menguning. layu dan akhirnya mengering. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi dapat memutus daur hidup penggerek batang padi.6. sedangkan PBPB sering menjadi masalah di tanaman padi yang ditanam di dataran yang agak tinggi. melibatkan semua petani dan aparat pemerintah. 7. Pengumpanan beracun menggunakan racun antikoagulan. Gejala serangan: Gejala kerusakan penggerek batang padi umumnya mirip. berrwarna putih dan hampa. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada masa bero di antara waktu tanam. karena kematian tikus oleh racun ini lambat dan kematian umumnya tidak terlihat karena di dalam inang sehingga dapat menghindari jera umpan. Gejala serangan pada pertumbuhan vegetatif disebut sundep sedangkan pada pertumbuhan generatif disebut beluk. 2. pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi. PBBBk dan PBPKH sering dijumpai pada pertanaman padi yang ditanam dekat dengan tanaman tebu dan jagung. Dari ke-6 penggerek batang padi tersebut saat ini yang paling penting adalah PBPK terutama di pulai Jawa yang memiliki jaringan pengairan baik. Pola tanam Diusahakan untuk melakukan tanam serempak. Ulat penggerek merusak bagian pangkal titik tumbuh sehingga apabila tanaman ditarik dari titik tumbuhannya akan mudah lepas. penanaman varietas padi yang tahan penggerek batang. Penggerek Batang Padi Di Indonesia dikenal 6 jenis penggerek batang padi (Tabel 7). sehingga tersedianya sumber makanan bagi penggerek dapat dibatasi. Jenis Penggerek Batang Padi di Indonesia Nama Umum Nama Latin Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (PBPK) Penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (PBPP) Penggerek batang padi Chilo suppressalis berrgaris (PBPB) Penggerek batang padi kepala Chilo polychrysa hitam (PBPKH) Penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius (PBBBk) Penggerek batang padi merah Sesamia inferens jambu (PBPMj) Pengelolaan: 1). Gejala beluk memperlihatkan malai padi yang tegak. No 1 2 3 4 5 6 Tabel 7. Persemaian dilakukan secara berkelompok untuk memudahkan pemeliharaan dan pengumpulan kelompok telur penggerek. Sebelum tahun 1970 di Jawa PBPP yang lebih dominan. Tanam serentak varietas genjah dengan selisih kurang dari 2 minggu meliputi hamparan seluas-luasnya agar pertumbuhan tanaman dan masa panen dapat serentak.

3). Insektisida yang digunakan harus dipilih yang selektif. Kimiawi Aplikasi insektisida untuk pengendalian harus disesuaikan dengan keadaan populasi hama. Diusahakan persemaian jauh dari lampu dan sumber penyakit virus 4.2). Malai yang dihasilkan biasanya steril dan 75 . Sistem tanam serempak dalam satu wilayah kelompok dengan selisih waktu tanam < 2 minggu sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau tidak tersedia pakan terus-menerus. Telenomus sp. Menghindari pemupukan N secara berlebihan. 4). Microvelia sp. Memanfaatkan musuh alami seperti Anagrus sp. Ophionea sp. Penanaman varietas unggul tahan wereng dapat menghambat perkembangan populasi dari generasi ke generasi. Gejala serangan: Tanaman padi yang terserang menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil. Tetrastichus sp. Bila memungkinkan diikuti dengan penggenangan air agar tunggul jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati. tungro dan kerdil kuning. wereng coklat juga dapat bertindak sebagai vektor penyakit virus kerdil rumput (grassy stunt) dan virus kerdil hama (ragged stunt). jumlah tunas sedikit berkurang dan berwarna kuning. Eradikasi dan sanitasi tanaman 6. 4. 3. Paederus sp. Biologi Memanfaatkan musuh alami baik predator maupun parasitoid seperti Conocephalus longipennis. sehingga menyebabkan tanaman menjadi menguning dan mengering. Apabila serangan terjadi pada waktu tanaman masih muda. Kerusakan berat tampak tanaman seperti gejala terbakar (hopperburn). Anaxipha sp. Wereng Hijau (Nephotetix spp) Wereng hijau lebih dikenal sebagai pembawa atau vektor beberapa penyakit padi penting seperti penyakit kerdil rumput. Pada saat panen diusahakan pemotongan jerami sampai serendah mungkin untuk mencegah kesempatan berkepompong pada pangkal padi. 5). maka jumlah tunas akan sangat berkurang. Wereng coklat mengeluarkan cairan madu. Di samping sebagai hama utama tanaman padi. Penggunaan insektisida dilakukan pada saat populasi dominan nimfa. Xanthopimpla sp. Trichogramma sp. Pengelolaan: 1. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara menusuk dan menghisap cairan batang atau pelepah daun pada bagian pangkal. efektif dan diizinkan untuk digunakan pada tanaman padi. yang dapat ditumbuhi cendawan jelaga. Fisik dan mekanik Mengumpulkan telur sejak di persemaian kemudian dibunuh. intensitas serangan dan umur tanaman. 3. 2. 7. dengan memperhatikan perbandingan antara wereng coklat dengan musuh alami. Eradikasi Pembabatan dan pengumpulan jerami lalu dibakar untuk memusnahkan sumber hama penggerek batang padi. Metioche sp. 5. Pergiliran varietas untuk menghindari timbulnya biotipe baru. sehingga batangnya berwarna hitam.

000 ha sawah di Jawa Tengah dan Jawa Barat terserang hama ini. Sanitasi tanaman inang dan rumput liar di sekitar persawahan 2. Gejala serangan: Hama mengisap cairan pelepah dan batang padi. Temperatur 26-290C sangat sesuai bagi perkembangan hama ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi ganjur diantaranya kelembaban. penggunaan varietas tahan. Bekas isapan menjadi coklat dengan coklat tua pada tepinya. rumput Echinocloa dan tebu. Ganjur (Orsealia oryzae) Hama ganjur terbatas menyerang dalam luasan sawah sempit dan terpencar-pencar terutama di Jawa. sorgum. larva makan dari dalam. Gejala serangan: Larva memakan daun sehingga menimbulkan bekas serangan berupa garis-garis putih. Larva lebih cocok hidup pada tanaman padi di musim hujan. perlakuan benih dengan insektisida. Kelembaban minimal 80% sangat mendukung perkembangan larva. Penanaman secara serentak minimal di satu wilayah kelompok. Budidaya tanaman sehat. sehingga adanya serangan ringan dapat dikompensasi oleh pertumbuhan tunas. Serangannya tersebar dan tidak menimbulkan kerusakan ekonomis bagi petani. Batang-batang menjadi busuk dan mudah 76 . Bali. lamakelamaan semua daun kering dan akhirnya mati. Daun pada rumpun yang terserang berat akan menjadi kering. Inang hama putih palsu adalah padi. predator laba-laba dan cocopet dari ordo Dermaptera 7. Gejala kerusakan tanaman padi oleh wereng lebih banyak diakibatkan serangan penyakit padi yang dibawanya terutama penyakit tungro yang merupakan penyakit padi terpenting di Indonesia saat ini. 5. Pengelolaan: 1. Pada musim kering larva lebih cocok hidup pada jagung. cahaya. Lombok dan Sumatera Selatan. 6.kecil. Pengelolaan: Pengamatan rutin serangan ganjur harus dimulai sejak umur 7 hari setelah tanam. jagung. Gejala serangan yang khas terlihat lipatan daun. 3. Pengelolaan: Pengelolaan hampir sama dengan pengelolaan wereng coklat. Pentalitomastix sp. menyebabkan daun menjadi kering dan berwarna putih. jenis dan jumlah pakan serta musuh alami. Gejala serangan: Gejala serangan berupa puru yang akan tampak 3-7 hari setelah larva mencapai titik tumbuh. Hama Putih Palsu (Cnaphalocrosis medinalis) Bukan merupakan hama utama meskipun kadangkala dilaporkan menyerang di Pantai Utara Jawa Barat dengan kerusakan 15%. Pada tahun 1975 sekitar 200. angin. Kepinding tanah (Scotinophora sp) Hama ini juga bukan hama utama padi. Pemanfaatan dengan musuh alami diantaranya Apanteles sp.

Butir padi bekas tertusuk walang sangit warnanya berubah menjadi coklat atau kehitam-hitaman sebagian atau seluruhnya. Tanam serempak untuk membatasi ketersediaan makanan yang sesuai 2. 3) Penggerek Batang . Gejala serangan: Butir padi yang terserang hama ini akan menjadi hampa sebab cairan selnya telah habis dihisap. Tanaman yang disukai hama ini terutama bibit di persemaian dan tanaman muda sampai 50-60 hari. pucuk dan bunga pada malam hari. Walang Sangit (Leptocorisa acuta) Hama yang menyerang bulir padi ini merupakan hama yang menyerang secara sporadis di lokasi perswahan yang menyebar. Pengelolaan: 1. 1. Telur diletakkan secara terpencar pada daun. 2) Penggerek Tongkol. Biasanya telur diletakkan pada tanaman jagung umur + 2 minggu setelah tanam. Hama ini menimbulkan masalah di persawahan di luar Jawa. Gryon nixoni. Walang sangit mulai aktif pada awal musim hujan setelah menyelesaikan 1-2 generasinya pada rerumputan. Di Sulawesi Selatan pernah dimasukkan sebagai salah satu hama padi utama. Selama musim kemarau mengalami dormansi pada bongkahan tanah yang berumput. 8. Pengelolaan: Pembajakan dan pembenaman tunggul-tunggul padi setelah panen akan dapat mengurangi populasinya untuk musim tanam berikutnya. cuaca hangat dan gerimis. Penanaman tanaman resisten 4. gejala serangan dan pengendalian hama Tikus sudah dijelaskan di depan. Serangan dewasa mampu hidup dan berkembangbiak selama 1-2 musim. 4) Lalat bibit dan 5) Ulat grayak. Kerusakan berat akan terjadi apabila walang sangit dewasa menyerang padi pada saat malai berbunga. Pemanfaatan musuh alami seperti Conocephalus longipenis. Beauveria bassiana B. Tanaman tua dapat juga terserang. 77 . Pengeringan lahan sawah dapat menghambat perkembangan hama. Kepadatan populasi meningkat pada kondisi tanaman padi sedang berbunga. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Biasanya selain menyerang tongkol jagung juga menyerang pucuk sehingga bunga jantan tidak terbentuk akibatnya hasilnya berkurang.dicabut. sehingga tanaman mampu mengkompensasi serangan. Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalam jumlah besar. Hujan lebat dapat menurunkan kepadatan populasi. Perilaku. Sanitasi lahan dan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan juga dapat menghambat perkembangan kepinding tanah. Pemupukan saat tanaman terserang. Pemanfaatan tanaman perangkap 3. Lebih menyukai keadaan basah atau lembab. Butir padi yang setengah hampa akan mudah pecah jika masuk dalam penggilingan. HAMA-HAMA JAGUNG Urutan pentingnya hama-hama jagung di Indonesia saat ini adalah 1) Tikus.

Pengelolaan: Rotasi tanaman. Karena banyak serangan hama. Bemicia sp. Hama-hama pemakan daun seperti Spodoptera sp. pemangkasan bunga jantan 3. perilaku dan cara pengendalian hama-hama kedelai menurut urutan bahayanya. Saat ini kita harus mengimpor kedelai lebih dari satu juta ton.Pengelolaan: 1. tanam serentak. Urutan 6 besar hama-hama kedelai adalah: 1) Lalat kacang. Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari 3. Lalat Bibit (Atherigona oryzae) Gejala serangan: Serangan terjadi pada tanaman umur 5-7 hari setelah tanam dengan tanda-tanda tanaman layu sebagai akibat kematian titik tumbuh. penggunaan pestisida kimia relatif sangat tinggi. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 2. Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis) Gejala serangan: Serangan pada daun dapat menimbulkan bercak putih pada permukaan daun. Karena serangan hama tinggi. 78 . Plusia sp c. Hama-hama kedelai dapat dikelompokkan menurut fase pertumbuhan kedelai yang diserang yaitu: a. produksi selalu rendah sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang selalu meningkat setiap tahunnya. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Hama-hama pegisap polong seperti Riptortus sp. Tanam lebih awal pada musim penghujan C. Hama-hama penggerek polong seperti Etiella sp dan Heliothis sp. Berikut diuraikan sedikit sifat. rata-rata satu musim aplikasi pestisida sekitar 4-5 kali. 5) Penggulung daun dan 6) ulat jengkal. Serangan pada pucuk daun yang masih menggulung dapat menimbulkan gejala berlubang dalam barisan yang melintang daun. Tanam serentak 3. Ulat tua menggerek ke dalam batang yang menimbulkan lubang pada ruas dan meninggalkan kotoran bekas gerekan. HAMA-HAMA KEDELAI Berbeda dengan padi sawah. 2) Penggerek polong. Nezara sp e. kedelai mempunyai banyak jenis hama yang menyerang sejak di fase pembibitan sampai fase polong. Lalat menyerang bibit seperti Agromyza sp b. 3) Tikus. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung dan padi 2. Di samping menghadapi serangan hama kedelai juga menghadapi serangan banyak penyakit virus yang vektornya adalah serangga Bemisia sp dan Aphis sp. Phaedonia sp. Hama-hama pengisap daun seperti Empoasca sp. Aphis sp d. Hama tanaman merupakan faktor pembatas utama produksi kedelai di Indonesia. 4) Ulat grayak.

Pemantauan dini 2. Populasinya tinggi pada saat musim kemarau daripada musim hujan. Penggunaan mulsa jerami 4. sehingga akar mati tanaman layu dan mati. Akibat gerekan jaringan pengangkut terputus. Tanam serempak pada areal yang luas 3. Seed treatment 3. Pengendalian dengan insektisida efektif dilakukan apabila populasi hama telah mencapai ambang pengendalian 3. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 5. yang tersisa hanya tulang-tulang daun dan epidermis bagian atas.1. Sanitasi terhadap inang alternatif 4. 6. Yang pertama merupakan yang paling penting. Pada keping biji dan pasangan daun pertama terdapat alur atau garis berkelok-kelok berwarna coklat yang merupakan lubang gerekan. A. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva muda secara bergerombol makan epidermis bawah daun sehingga menimbulkan gejala transparan. daun pertama atau daun kedua. daun yang rusak tampak berwarna keputih-putihan. Pengelolaan: 1. Trichogramma sp. dolichostigma. Lalat Kacang (Agromyza phaseoli) Paling sedikit ada 3 spesies lalat kacang yaitu A. predator Lycosa sp dan Oxyopes sp 7. Di dalam polong terserang terdapat butir-butir kotoran ulat yang berwarna kuning atau coklat muda yang menggumpal. Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah pergi. Pemanfaatan musuh alami seperti Apanteles sp. Telur diletakkan pada malam hari. Tanam serentak dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari. Stadia larva merupakan stadia yang merusak tanaman kedelai fase perkecambahan dan tanaman muda. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman non Leguminosae 2. pada bagian bawah kelopak bunga atau pada polong secara berkelompok. Untuk daerah endemis penggerek polong. phaseoli. dilakukan pada areal yang cukup luas. Penggerek polong (Etiella zinckenella) Gejala serangan: Tanda serangan berupa lubang gerekan berbentuk bundar pada kulit polong. Serangan ulat instar awal dapat menimbulkan gejala transparan pada daun. Kematian tanaman dijumpai pada tanaman berumur 14-30 hari. perlu diterapkan penanaman tanaman perangkap. 2. sedang serangan oleh ulat instar akhir dapat menimbulkan gejala berupa berlubang pada daun bahkan polong termakan habis. Bintik-bintik tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telur pada pangkal kotiledon dan pangkal daun. Tachinidae. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen. ojae dan A. 79 . Gejala serangan: Gejala awal berupa tanda bintik-bintik putih pada keping biji.

Apabila gulungan tersebut dibuka. Kepik Polong (Riptortus linearis) Tingkat kerusakan secara ekonomis di lapang sulit untuk diperkirakan karena biasanya terjadinya kerusakan bersamaan dengan pengisap polong lainnya. Serangan pada fase perkembangan biji dan pertumbuhan polong menyebabkan polong dan biji kempis. Sanitasi tanaman inang liar jauh sebelum tanam 2. 5. 3. Pada tahun 1983 luas serangan hama ini mencapai 24000 ha dengan intensitas serangan 40%.Pengelolaan: 1. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis. Pengendalian dini setelah ditemukan populasi 4. Pengamatan terutama dilakukan pada tanaman perangkap. Gejala serangan jelas terlihat kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata) Gejala serangan: Ulat merusak tanaman kedelai berumur 3-4 minggu setelah tanam. Melakukan tanam serentak dan pergiliran tanaman 3. Ulat membentuk kepompong di dalam gulungan daun tersebut. Ulat diam di dalam gulungan daun yang direkatkan satu sama lain dengan benang air liurnya. Ulat makan dari gulungan daun. kemudian mengering dan polong 80 . 49. Pemantauan terhadap kelompok instar 1 atau gejala awal daun yang tampak keputihputihan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 14 HST 2. Daun yang terserang ulat pada populasi tinggi tinggal tulang daun saja atau bahkan habis sama sekali. Pengelolaan: 1. Ulat Jengkal (Plusia chalcites) Ulat jengkal berwarna hijau dan bergerak seperti menjengkal. telur dan nimfa. Dalam satu musim tanam hanya dijumpai satu generasi. 56. Pengendalian secara fisik dan mekanik yakni dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva kemudian dimusnahkan 5. mengering dan gugur. bentuk larva tua mempunyai ciri khas. Pengendalian dengan insektisida secara spot treatment dibatasi sampai dengan instar 3 4. Reduviidae. Ichneumonidae 7. daun akan tampak tinggal tulang-tulangnya. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena ada biji hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Pengamatan dilakukan pada umur 42. Penggunaan Sl NPV 6. Kepik Hijau (Nezara viridula) Gejala serangan: Nimfa dan dewasa menghisap cairan biji kedelai. Ulat jengkal menyerang tanaman kedelai berumur muda dan tua. Gejala serangan: Kepik menyerang polong dan biji. Pemanfaatan musuh alami predator Carabidae. parasitoid Telenomus. Tachinidae. 63. 5. dan 70 HST terhadap imago. Penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian yang mungkin terjadi hanya pada tanaman perangkap 7.

bunga. tangkai daun pucuk. batang pucuk. Harmonia octomaculata. 9. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya 3. Hama menyerang tanaman sejak tanaman membentuk daun pertama dan puncak populasinya terjadi pada fase setelah pembungaan. Populasi kutu hijau dipengaruhi oleh curah hujan yang dapat menurunkan populasi. Ekskresi kutu hijau menghasilkan embun madu yang dapat merangsang tumbuhnya cendawan jelaga yang menutupi permukaan daun dan polong sehingga mengganggu fotosintesis. Tanam serentak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 10 hari 2. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa) Imago dan larva dapat merusak daun. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Kerusakan pada biji dan kulit polong disertai dengan serangan jamur. Menanam varietas toleran (berbulu tegak) 4. Kutu Hijau (Aphis sp) Kutu hidup dalam koloni dan perkembangbiakan secara parthenogenesis sehingga populasi dapat meningkat dengan cepat. Ekskreta kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelaga sehingga sering tanaman tampak berwarna hitam. Menanam varietas toleran 4. Tanam serentak pada areal yang cukup luas 2. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Serangan berat akan terjadi terutama pada musim kemarau karena didukung dengan suhu yang tinggi. Penggunaan benih bermutu dan sehat 5. Hama ini juga bertindak sebagai vektor penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) yang menyebabkan tanaman kerdil dan daunnya belang-belang kuning tersamar. Verania lineata. Scymnus sp 10.dapat gugur. Menochilus sexmaculata. Pencabutan tanaman muda yang terserang virus 7. Kutu hijau berperan sebagai vektor penyakit virus kedelai antara lain virus kerdil kedelai. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. kuncup bunga. Akibat serangan hama ini daun kedelai menjadi gundul dan dapat menurunkan produksi atau bahkan tanaman tidak menghasilkan sama sekali. Pemanfaatan musuh alami diantaranya predator Coccinelidae. polong muda dan kulit polong bagian luar yang telah berisi penuh sampai polong menguning. Pemanfaatan musuh alami parasitoid Encarsia sp dan beberapa jenis kumbang Coccinelidae antara lain Menochilus sp. Gejala serangan: 81 . Pemantauan sedini mungkin 6. 8. virus mosaik kuning dan virus kate kedelai. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. kuncup daun. Gejala serangan: Nimfa dan kutu dewasa mengisap cairan daun. Gejala serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat.

yaitu menanam pada awal musim kemarau 2. Pengelolaan: Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Mengatur waktu tanam. D. Pemanfaatan musuh alami predator telur. Di samping itu kumbang juga membuat lubang lain untuk meletakkan telur. 4. Wereng Kacang Tanah (Empoasca flavescens) Nimfa dan dewasa mengisap cairan sel daun sehingga bagian ujungnya menjadi kekuningan. larva dan pupa yaitu Solenopsis geminata. permukaan bagian bawah menjadi kusut oleh adanya anyaman-anyaman halus. Tanaman serentak dan pergiliran tanaman penting untuk menurunkan infestasi awal 3. Daun tampak berlubang dan polong muda luka-luka. sedang pada polong tua kulitnya yang dimakan. Salah satu hama kacang tanah adalah wereng kacang tanah. Pemantauan dilakukan tiap minggu sampai tanaman berumur 49 HST 2. tanaman menjadi kerdil dan daun mudah rontok. Hama Boleng (Cylas formicarius) Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang. Akibatnya ubi akan terasa pahit. Menanam varietas yang pertumbuhan ubinya agak masuk ke dalam tanah 4. KACANG TANAH Tanaman kacang lebih banyak menghadapi serangan penyakit daripada serangan hama tanaman.Serangan larva dan dewasa dapat berlangsung pada fase pertumbuhan tanaman. Daun yang terserang menjadi kaku dan menebal. Selain mengakibatkan tanaman kehilangan cairan. Pengelolaan: 1. Daun dapat kehilangan khlorofil dan mengakibatkan daun kelihatan menguning. kemudian berubah menjadi coklat dan gugur seluruhnya. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang E. Serangan berat terjadi pada musim panas. Penurunan populasi dapat dilakukan dengan cara pengumpulan dan pemusnahan imago dan larva pada pagi dan sore hari. Serangan lebih lanjut pada tangkai daun dan batang pucuk menyebabkan daun dan pucuk terkulai layu kemudian mengering. Akibat serangan berat. Tungau merah (Tetranychus urticae) Gejala serangan: Tanaman ubi kayu yang terserang berat. bekas tusukan alat mulut serangga dapat menimbulkan kematian jaringan sehingga timbul gejala daun keriting. 82 . HAMA-HAMA UBI KAYU DAN UBI JALAR 1. sebaliknya pada musim hujan populasinya berkurang karena tercuci oleh air hujan. Setelah telur menetas biasanya larva langsung menggerek ke dalam daging umbi dan membuat lorong gerekan. Pengelolaan: 1. terutama di dekat pangkal batang. Melakukan penggenangan 3.

terutama yang sedang berbunga atau berbuah muda. Penggerek Polong (Etiella sp) Ulat masuk dan menggerek ke dalam polong kacang panjang sehingga terlihat bekas gerekan (lubang gerek) berwarna hitam. 2. Cara merusak dengan menusukkan alat mulutnya pada kulit kacang terus ke biji kemudian mengisap cairan yang ada di dalam biji. Kupu tersebut sering ditemukan di sekitar tanaman. Serangan kepik ini menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk sehingga kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. KACANG PANJANG Faktor penghambat produksi dan kualitas kacang panjang adalah beberapa hama tanaman terutama yang menyerang polong sehingga menurunkan kualitas hasil. 83 .F. 3. Pengendalian hama yang lebih sering digunakan adalah penggunaan pestisida kimia. serangga ini juga bertindak sebagai vektor penyakit virus. dan apabila menyerang pada buah muda menyebabkan buah menjadi keriput dan tidak dapat memanjang. Di samping sebagai hama. Kutu Tanaman (Aphis craccivora) Gejala serangan: Tanaman yang terserang oleh kutu ini menyebabkan bunga menjadi tidak merekah. 1. Nezara viridula Kepik dan nimfa dewasa mengisap cairan polong kacang.

tomat 50% dan cabai sampai 51%. ekonomi dan keindahan yang tinggi sehingga dapat menjadi obyek agribisnis yang sangat menguntungkan. Pengeluaran untuk pestisida pada tanaman kubis rata-rata 30% dari biaya produksi. Di Indonesia banyak sekali jenis tanaman hortikultura tropika yang bernilai gizi. Tidak heran bila saat ini pasar sayuran dan buah-buahan di negara kita banyak dikuasai oleh produk-produk impor. sedangkan di kentang dapat mencapai 40%. dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Thailand. 2) petani horti komersial di dataran rendah. peneliti dan masyarakat terhadap pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani tanaman hortikultura sangat sedikit dibandingkan dengan padi dan tanaman pangan lainnya. tetapi sayangnya perhatian pemerintah. Keadaan petani hortikultura Indonesia berbeda dengan petani hortikultura di luar negeri yang usahanya sudah padat teknologi dan padat modal. Sedangkan petani horti komersial memang 84 Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman hortikultura Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman hortikultura . Penyemprotan dengan pestisida di sayuran dan beberapa jenis buah-buahan sangat intensif. Karena ketakutan petani terhadap serangan hama dan penyakit. malahan cenderung merosot. Petani horti di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 menurut pengusahaan lahannya yaitu: 1) petani horti di pekarangan. Materi: IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Tanaman Hortikultura sangat penting untuk pemenuhan gizi pangan bagi kesehatan dan kebugaran tubuh kita.129807801. Tentu saja keadaan ini tidak efisien dan sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. kesuburan tanah yang semakin menurun. Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura. Tubuh kita memerlukan gizi yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Tanaman Sayuran yang terdiri atas Sayuran Dataran Tinggi dan Sayuran Dataran Rendah 2.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA Tujuan: 1. Kehilangan hasil panen tanaman hortikultura yang diakibatkan serangan hama berkisar antara 46 sampai 100% atau gagal panen. dan ancaman serangan hama dan penyakit. Di samping untuk pemenuhan gizi juga untuk pemenuhan rasa keindahan khususnya untuk tanaman hias. seperti kubis dapat mencapai 20 kali dalam satu musim. Data tentang produksi dan ekspor hortikultura dari Indonesia tidak meningkat dari tahun ke tahun. Kendala utama budidaya tanaman hortikultura adalah kurang tersedianya benih bermutu. Tanaman Buah-buahan 3. dan 3) petani horti komersial di dataran tinggi. Malaysia. Tanaman Hias Tanaman hortikultura mempunyai potensi ekonomi yang besar untuk dikembangkan. Karena itu. Petani horti pekarangan umumnya menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan di pekarangan untuk kepentingan konsumsi keluarga. Cina dan Australia kita sangat ketinggalan. 2. petani hortikultura sangat menggantungkan diri pada penggunaan insektisida dan fungisida. kita kelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu: 1.

KELOMPOK SAYURAN 85 . A. Dari evaluasi terhadap penerapan PHT oleh petani pada tanaman hortikultura terlihat bahwa untuk tanaman kubis dan kentang petani dapat mengurangi penggunaan pestisida sampai 80%. dan kondisi sosial ekonomi petani. sehingga mereka sangat tergantung pada kebiasaan petani di sekitarnya.000 petani hortikultura di beberapa propinsi yang meliputi petani kubis. PHT tanaman cabe dan bawang merah jauh lebih baik hasilnya dibandingkan kebiasaan petani namun belum sebaik petani kubis dan kentang. sedangkan jenis hama hanya dijelaskan hama-hama utama yang pada 5 tahun terakhir ini menimbulkan masalah. Namun ketiga kelompok mempunyai ciri yang sama yaitu luas lahan yang terbatas dan modal yang pas-pasan. Hama nematoda NSK baru diketahui memasuki Indonesia pada tahun 2002 yang lalu. Produk buah-buahan Indonesia pada tahun 2002 ditolak oleh negara Taiwan kerana mengandung lalat buah. JENIS-JENIS HAMA HORTIKULTURA DAN CARA PENGENDALIANNYA Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura di Indonesia yang akan diuraikan hanya terbatas pada jenis tanaman horti yang penting dilihat dari prospek bisnis. Namun dengan penggunaan zat atraktan seperti metil eugenol dan tanaman selasih. Dari hasil-hasil sementara tersebut dapat disimpulkan bahwa satu-satunya cara memperbaiki produksi dan kualitas produksi tanaman hortikultura adalah menerapkan dan mengembangkan teknologi PHT yang sesuai dengan jenis tanaman. kentang. bawang merah. terbawa oleh bibit kentang yang diimpor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Kita belum mempunyai semacam usaha “perkebunan” sayuran atau perkebunan buah-buahan seperti di luar negeri. Setelah tahun 1995 hama ini menyerang semua pusat tanaman kentang dan tanaman horti lainnya. Dengan demikian usaha hortikultura belum efisien dan ongkos produksi tinggi.mengusahakan untuk memperoleh produksi dan keuntungan. Sejak tahun 1990 sampai 1998 Pemerintah melaksanakan pelatihan PHT untuk lebih dari 50. seperti telah terjadi banyak kubis dan kentang yang berasal dari Tanah Karo di Sumatera Utara tidak dapat masuk Singapura dan Malaysia karena kandungan residu pestisida. Hama Lyriomyza bukan hama “asli” di Indonesia tetapi berasal dari daerah subtropik. Salah satu jenis hama penting yang menyerang buah-buahan adalah lalat buah (Batrocera spp) yang seringkali menjadi pembatas produksi dan ekspor buah-buahan di Indonesia seperti nangka dan jambu. lokasi lahan. Dua jenis hama tersebut adalah hama pengorok daun (Lyriomyza huidobrensis) dan Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis). Pada era perdagangan global sekarang sangat sulit untuk mengekspor produk hortikultura karena kandungan pestisida yang tinggi. dan cabai merah. Oleh karena itu umumnya petani horti di Indonesia belum banyak menguasai teknologi budidaya tanaman dan perlindungan tanaman yang memadai. pengendalian lalat buah dapat mengurangi kerugian petani buahbuahan oleh lalat buah. Saat ini NSK telah tersebar di semua pusat tanaman kentang di Indonesia. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1995 terdapat 2 jenis hama “baru” yang kemudian menimbulkan masalah serius di pertanaman sayuran terutama menyerang tanaman kentang. Untuk dapat mengembangkan teknologi PHT yang sesuai diperlukan banyak kegiatan penelitian dan pengkajian. peningkatan produksi dan kualitas produk sehingga sangat menguntungkan. Hama ini terbawa ke Indonesia karena ulah para penggemar tanaman hias yang mengimpor bunga krisan dari Eropa melewati pemeriksaan petugas karantina tumbuhan di pintu masuk.

Serangan berat terjadi di awal musim kemarau. KENTANG a. KENTANG. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 2. Ulat Krop (Crocidolomia binotalis) Gejala serangan: Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan. Kerusakan berat mengakibatkan tanaman kubis hanya tinggal tulang daun saja.Kelompok Sayuran meliputi tanaman-tanaman sayuran dataran tinggi (KUBIS. dan BAWANG MERAH) 1. Pengelolaan: 1. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Gejala biasanya terlihat pada pagi hari dengan adanya tanaman muda yang rebah karena dipotong oleh ulat di bagian pangkal batang. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. KUBIS a. Pemasangan umpan beracun sekitar tanaman dan b. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil-kecil. Pengolahan tanah yang baik 4. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di mematikannya 5. Tanam serempak 3. Ulat Daun (Plutella xylostella) Gejala serangan: Tanaman yang diserang adalah tanaman muda. Setelah jaringan daun lapisan epidermis pecah sehingga terjadi lubang-lubang pada daun. Tanam serempak 3. TOMAT) dan sayuran dataran rendah (CABAI. Mengumpulkan larva di sekitar tanaman dan mematikannya c. sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Pengelolaan: 1. Seringkali juga merusak tanaman kubis yang sedang membentuk krop. Pengelolaan: 86 . Larva makan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas.

1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun

sekitar

tanaman

dan

b. Penggerek Umbi (Pthorimaea operculella) Gejala serangan: Daun yang terserang terlihat warna merah tua dan adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil berwarna kelabu. Kadang-kadang daun kentang menggulung yang disebabkan karena larva telah merusak permukaan daun sebelah atas, kemudian bersembunyi dalam gulungan daun tersebut. Gejala serangan pada umbi dapat dilihat dengan adanya kelompok kotoran berwarna coklat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah, akan kelihatan “alur-alur” yang dibuat ulat sewaktu memakan umbi. Kerusakan berat pada pertanaman kentang sering terjadi pada musim kemarau. Di dalam gudang penyimpanan, OPT tersebut merusak bibit kentang yang disimpan selama 3-5 bulan sebelum tanam. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik c. Kutu Daun Persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Kerusakan secara langsung akibat serangan kutu daun persik sebenarnya tidak terlalu merugikan. Kutu daun persik mengisap cairan daun, sehingga menyebabkan daun berkerut/keriting, tumbuhnya kerdil, kekuningan, daun-daunnya terpuntir, menggulung dan kemudian layu dan mati. Gejala yang lebih penting adalah gejala karena kerusakan secara tidak langsung, yaitu serangan penyakit virus yang ditularkan oleh kutu ini. Kutu daun persik merupakan vektor penyakit tanaman kentang antara lain PVA, PVY, PVM, dan PLRV. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Penyemprotan dengan insektisida selektif dan efektif d. Lalat Pengorok Daun (Lyriomyza huidobrensis) Gejala serangan: Lalat pengorok memakan daun dengan cara masuk ke dalam jaringan daun. Akibat serangan hama ini terdapat alur-alur pada daun yang dapat mempengaruhi fotosintesis. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak e. Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis) 87

Gejala serangan: Pertanaman kentang berumur 70-80 hst yang terserang nematoda tampak daundaun klorosis (menguning). Pengelolaan: 1. Pengolahan tanah 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. CABAI a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadangkadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun 6. Pemanfaatan musuh alami seperti Metarrhizium sp. b. Kutu daun persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Serangan berat pada tanaman cabai muda (umur < 3 minggu) bila infestasinya tinggi daun akan berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak c. Trips (Thrip palmi) Gejala serangan: Stadium Thrips yang sangat merugikan adalah stadium nimfa dan imago. Thrips menyerang tanaman dengan jalan menggaruk permukaan daun dan bunga, selanjutnya mengisap cairan sel tanaman. Gejala serangan pada daun akan terlihat bercak-bercak klorosis berwarna putih keperakan pada permukaan bagian bawah daun yang akan menyebabkan daun berkerut dan terpuntir. Bila serangan berat permukaan daun akan berkerut atau sedikit menggulung yang di dalamnya benyak ditemukan Thrips. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak d. Kutu Daun Kapas (Aphis gossypii) Gejala Serangan:

88

Serangan berat dapat terjadi apabila infestasi terjadi pada tanaman muda (< 3 minggu), dengan gejala daun berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. Pengamatan secara teratur 3. Mengumpulkan kutu kemudian dimatikan e. Lalat buah (Batrocera dorsalis) Gejala serangan: Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan titik hitam pada pangkal buah, kemudian buah membusuk dan jatuh ke tanah. Hal ini disebabkan belatung memakan bagian dalam dan daging buah sehingga terjadi saluran-saluran di dalam buah. Buah yang terserang menjadi busuk, selanjutnya jatuh ke tanah. Pengelolaan: 1. Tanam serempak 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. Mengumpulkan buah busuk yang rontok kemudian dibakar 4. Menggunakan perangkap beracun 5. Penyemprotan insektisida yang efektif dan selektif apabila ditemukan serangan sedang. f. Ulat grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva makan dengan cara menyayat permukaan dau. Gejala serangan yang ditimbulkan adalah bercak-bercak putih transparan pada daun, karena bagian daging daun dimakan sedangkan bagian epidermis atas ditinggalkan. Ulat dewasa memakan seluruh bagian daun dengan meninggalkan bagian tulang daunnya. Pada serangan berat tanaman akan gundul. Pengelolaan: 1. Penanaman tanaman bukan inang 2. Mengumpulkan larva di sore/malam kemudian dimatikan 3. Penyemprotan dengan pestisida yang selektif g. Nematoda puru (Meloidogyne sp) Gejala serangan: Tanda kerusakan yang tampak pada bagian tanaman di atas permukaan tanah adalah tampak pertumbuhan yang kerdil, daun klorosis, pada cuaca panas daun-daun cepat layu dibanding tumbuhan sehat, daun-daun banyak yang gugur, tumbuhan tampak gundul, kadang-kadang tinggal daun pucuk. Tanda kerusakan pada bagian tanaman di dalam tanah diantaranya dekat ujung akar tampak kerusakan mekanis, berupa bercak berwarna coklat hitam, terutama pada infeksi populasi yang tinggi, terdapat kecenderungan pembentukan akar-akar cabang lebih sedikit daripada tumbuhan normal. Tampak adanya puru pada akar-akar utama. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inagn 89

Di daerah endemik dilakukan perlakuan tanah dengan nematisida yang efektif jika dijumpai serangan sedang. TOMAT a. Pada suhu tinggi atau dingin Thrips akan musnah. Larva muda melubangi bagian ujung daun kemudian masuk dan memakan daging daun bagian dalam. sedangkan epidermis bagian luar ditinggalkan. Tanam serentak 3. Pengelolaan: 1. awal Mei atau September 4. sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Pengelolaan: 1. Waktu tanam pertengahan April. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Akibat serangan tersebut pada daun terlihat bercak-bercak putih menerawang tembus cahaya dan akhirnya terkulai dan mengering. Gejala serangan yang terlihat adalah daun bernoda putih mengkilat seperti perak. Pergiliran tanaman 2. Pada serangan berat seluruh areal terlihat putih dan akhirnya tanaman akan mati. Pada serangan berat seluruh bagian daun dimakannya. Pemasangan umpan beracun b. 4. BAWANG MERAH a. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemusnahan kelompok telur di ujung daun b. Pengelolaan: 1. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong. Penyemprotan insektisida efektif bila ditemukan tingkat serangan sedang 5. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Serangan berat biasanya terjadi pada suhu rata-rata di atas normal disertai dengan hujan rintik-rintik dan kelembaban udara di atas 70%. Ulat bawang (Spodoptera exigua) Gejala serangan: Bagian tanaman yang diserang adalah daunnya. kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik hitam. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Trips (Thrip tabaci) Gejala Serangan: Stadium nimfa dan imago merusak tanaman dengan cara menggaruk atau meraut jaringan daun dan mengisap cairan sel utamanya pada daun yang masih muda.2. Larva dewasa kadangkadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. baik pada tanaman muda atau pada tanaman tua. Pengolahan tanah yang baik 4. Tanam serempak 3. Tanam serempak 3. Ulat Buah (Helicoverpa armigera) 90 .

tunas-tunas muda atau jaringan tanaman. Pengelolaan: 1. Pada bagian tanaman di sekitar aktivitas kutu daun tersebut terlihat adanya kapang hitam yang tumbuh pada sekresi. Daun yang terserang akan berkerut dan keriting serta pertumbuhannya terhambat. Kutu loncat jeruk (Diaphorina citri) Gejala serangan: Kerusakan karena aktivitas kutu loncat adalah daun jeruk menjadi berkerut-kerut. Memanfaatkan keberadaan musuh alami antara lain predator Curinus coreluos. b. Kutu Daun (Toxoptera citricidus) Gejala serangan: Kerusakan karena hama ini tampak pada bagian tanaman muda seperti daun dan tunas. Buah akan tampak berlubang sehingga menurunkan kualitas. 2. jamur Metarhizium sp. Pemberian insektisida butiran melalui tanah pada saat menjelang berbunga 5. 2. 91 . Pergiliran tanaman 2. Selain daun muda. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Gejala serangan: Kutu menyerang permukaan daun bagian bawah. Coccinella repanda. Gejala lainnya adalah hasil sekresi atau kotorannya berupa benang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral. Kutu tersebut akan mengisap cairan daun sehingga daun akan berkerut yang akan mempengaruhi fotosintesis. Di alam populasi kutu daun dikendalikan oleh musuh alami. kutu ini juga mengisap cairan sel pada tangkai daun. Pengelolaan: 1. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 4. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya C. Pengelolaan: 1. menggulung atau kering dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Pengelolaan: 1. Secara kultur teknis dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk agar dapat menghambat perkembangan populasi kutu.Gejala serangan: Ulat ini menyerang buah tomat dengan cara masuk ke dalam buah dan memakannya dari dalam. Tanam serempak 3. Penyemprotan insektisida yang selektif c. Pengendalian secara kimiawi hendaknya dilakukan saat tanaman menjelang dan ketika bertunas. JERUK a. Tanam serempak 3. KELOMPOK BUAH-BUAHAN 1.

Pengelolaan: 1. Memanfaatkan musuh alami dengan cara menghindarkan penggunaan insektisida yang berlebihan 2. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan. kadang-kadang tertutup dengan kotoran. Larva yang baru keluar akan segera terbunuh sebelum sempat menggerek. MANGGA a. 4. akan menyebabkan buah gugur. Bagian buah yang terserang adalah separuh bagian bawah dan apabila parah. d. buah akan busuk dan gugur. Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif. Ulat akan meninggalkan bekas lubang pada saat ulat keluar meninggalkan jaringan daun. Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella) Gejala serangan: Ulat menggerek buah sampai ke daging buah sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok. 92 . Musuh alami sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. Serangan pada buah mengakibatkan buah tampak kotor. Jika serangan terjadi di sekeliling batang. Procontariana matteina Gejala serangan: Daun yang terserang hama ini ditandai dengan adanya bisul-bisul kecil pada permukaan dan bawah daun. buah dan tangkai. terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur.c. 2. Serangan kutu tersebut menyebabkan daun berwarna kuning. e. Memetik buah jeruk yang telah terserang dengan interval setiap 10 hari kemudian menguburnya cukup dalam 3. 2. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi kutu-kutu putih seperti kapas. Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar agar tidak terlalu padat dan saling menaungi 3. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering. Pemanfaatan musuh alami seperti parasit telur Trichogramma sp dan Bracon sp. Kutu dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pengendalian secara kimiawi pada saat telur belum menetas. Dalam satu daun tampak terdapat banyak sekali bintil-bintil kecil yang menyebabkan terganggunya proses fotosistesis sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah jeruk yang masih muda. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. Kutu Perisai (Lepidosaphes sp) Gejala serangan: Bagian tanaman jeruk yang terserang adalah daun. Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu 2.

daunnya tampak layu. Apabila tertiup angin. Pengelolaan: 1.Pengelolaan: Sanitasi lingkungan merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mengendalikan hama ini. Mengumpulkan bagian daun yang sudah tergulung dan memusnahkannya b. 3. Secara fisik mekanik dengan cara pengambilan telur kemudian mematikannya 2. Pengelolaan: Pengendalian mekanik dengan cara memangkas cabang dan ranting terserang. Erionata thrax Gejala serangan: Daun pisang yang terserang hama ini akan terlihat robek. Pada umumnya hama ini tumbuh pada tanaman pisang yang busuk. b. daun berkerut. lama-lama kering dan mati. 93 . Hal ini disebabkan hama menggulung daun dari tepi ke arah tengah. cabang akan mudah patah. Lubang-lubang bekas gerekan dapat menyebabkan infeksi oleh serangan organisme lain. Penggerek cabang mangga (Rhytidodera simulans) Gejala serangan: Pada bagian cabang atau ranting yang terserang terdapat lubang dan alur gerek berwarna hitam. PISANG a. Hama Uret Gejala serangan: Hama ini menyerang pisang bagian batang sampai ke umbi batang bagian bawah (bonggol) dan menyebabkan umbi berlubang. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara injeksi pada batang tanaman dan dianjurkan saat tanaman tidak berbunga atau berbuah. Pengelolaan: Dengan Seed treatment c. Kumbang Penggerek Batang (Cosmopolites sordidus) Gejala serangan: Tanaman yang terserang hama ini akan menunjukkan pertumbuhan yang kerdil. Memotong tanaman yang tercemar sampai ke bonggol bawah. Pengelolaan: Pengendalian dengan sanitasi kebun.

kelapa sawit. kopi. teh. Perusahaan perkebunan yang semua dikelola oleh perusahaan asing sebagian besar dialihkan ke perusahaan milik negara. kina. lada sebagai tanaman perkebunan lebih dilandasi oleh faktor historis sejak zaman penjajahan Belanda. kopi. karet. Karena orientasi usaha perkebunan adalah ekspor. cengkeh. Jenis pengusahaan perkebunan oleh petani-petani kecil kemudian dikenal sebagai usaha Perkebunan RAKYAT. Kegiatan perkebunan yang semula diarahkan untuk dilaksanakan oleh perusahaan besar kini berkembang dan akhirnya diusahakan oleh petani kecil yang memiliki luas kebun yang kecil (kurang dari 5 hektar) bahkan seringkali di bawah satu hektar per keluarga petani. kelapa sawit. teh. sejak sebelum PD II sampai sekarang harga komoditas perkebunan sangat ditentukan oleh harga pasar dunia. kepemilikan modal dan teknologi yang terbatas. ratusan sampai ribuan hektar per kebun atau afdeling dan jumlah karyawan yang besar dengan menggunakan teknologi budidaya dan pengolahan hasil/pabrik yang modern. pertanaman dengan luasan tanaman yang besar. tembakau. Saat ini perkebunan dibagi menjadi dua kelompok yaitu Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat. Indonesia pernah menjadi penghasil beberapa komoditas perkebunan yang besar di dunia. jauh lebih luas daripada luas perkebunan besar. Perusahaan Perkebunan ditandai dengan pengelolaan berorientasi bisnis keuntungan. Guna memperoleh pendapatan dari negara jajahannya.129807801.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA PERKEBUNAN DAN HAMA PASCA PANEN/HAMA GUDANG Tujuan: 1. cengkeh. Karena dorongan dan fasilitasi pemerintah. Perkembangan subsektor perkebunan setelah kita merdeka berbeda dengan masa kolonial Belanda. mengingat permintaan dunia akan dua komoditas tersebut cukup tinggi. perkebunan rakyat semakin lama semakin luas. Semula jenis tanaman perkebunan mencakup hanya tanaman tahunan (umur tanaman lebih dari 1 tahun). Perkebunan Besar yaitu perkebunan dengan luas areal besar yang dikelola oleh PT Perkebunan Negara dan PT Perkebunan Swasta Nasional termasuk milik PT 94 . kakao. Jenis tanaman yang dipilih adalah tanaman yang memiliki nilai ekspor tinggi seperti kakao. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama pasca panen dan cara pengelolaannya Materi: PENGERTIAN DAN BATASAN Pengelompokan beberapa tanaman seperti kelapa. Pemerintah Belanda mengundang investor untuk membuka usaha perkebunan dengan komoditas ekspor sehingga dapat meningkatan pendapatan pemerintah kolonial Belanda. serta dikelola oleh keluarga petani. Sebelum PD II. tetapi kemudian diusahakan juga tanaman musiman atau berumur pendek (umur tanaman kurang dari 1 tahun) seperti gula dan tembakau. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama tanaman perkebunan dan cara Pengelolaannya 2. tebu.

kapas seringkali menjadi faktor pembatas produksi perkebunan rakyat di Indonesia. kurang pemangkasan. Jenis komoditas yang diusahakan oleh Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat ada yang sama tetapi ada yang berbeda. lebih dari 70% adalah areal perkebunan rakyat. produksi rendah. lada. tebu. Beberapa komoditas perkebunan yang umumnya dikelola oleh rakyat saat ini adalah kelapa. kakao. Sedangkan kelapa sawit pada umumnya dikelola oleh Perkebunan Besar. Akibatnya hasil rendah. kualitas turun dan tidak diterima di pasar karena kandungan residu pestisida tinggi. penanganan pasca produksi yang kurang baik. pengolahan tanah dan Pengelolaan hama dan penyakit. Sayangnya dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh pemerintah sedangkan pemberdayaan masyarakat tidak dilaksanakan. sehingga kelanjutan dari kegiatan pemerintah tersebut tidak dapat dijamin. Dari sekitar 12 juta hektar luas perkebunan di Indonesia saat ini. Karena modal kurang serta kemampuan teknis rendah. yang menghubungkan Perkebunan Besar sebagai Kebun Inti dan Perkebunan Rakyat sebagai Kebun Plasma. harga rendah dan akhirnya petani menderita kerugian yang cukup besar. kopi. tembakau dikelola oleh Perkebunan Besar dan juga rakyat. jambu mete dan kapas. namun tingkat dan jenis permasalahannya yang berbeda. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan tentang bagaimana mengelola hama para petani perkebunan rakyat akan selalu mengalami kerugian dan kehilangan hasil akibat serangan hama. Sedangkan perkebunan rakyat adalah usaha perkebunan yang dikelola oleh petani kecil. pemupukan dan pemeliharaan lain. Pemerintah dengan bantuan lembaga-lembaga internasional seperti ADB/Bank Pembangunan Asia dan World Bank/Bank Dunia telah banyak melaksanakan program pembukaan. karet. KONDISI EKOSISTEM KEBUN TANAMAN TAHUNAN Ekosistem perkebunan terutama tanaman tahunan relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan tanaman pangan sehingga sebenarnya risiko terjadinya letusan hama lebih kecil. Masalah hama dan penyakit seperti pada tanaman kakao. pengendalian hama yang tidak tepat dengan menggunakan pestisida kimia yang berlebihan. Hama penyakit akan menyebar dengan cepat ke seluruh kebun di suatu daerah. Dalam melakukan pembahasan tentang pengelolaan hama perkebunan kita akan mengkonsentrasikan pada Perkebunan Rakyat. kelapa. kualitas kurang baik akibat serangan berbagai jenis hama dan penyakit. Kasus yang terjadi sekarang di Sulawesi dan propinsi-propinsi lain yakni munculnya serangan Penggerek Buah Kakao yang sedang menghancurkan kakao rakyat. Komoditas-komoditas perkebunan lainnya seperti teh. intensifikasi dan rehabilitasi perkebunan rakyat sehingga luas perkebunan rakyat dan jenis tanaman perkebunan rakyat terus meningkat. Kondisi kebun lemah dan tidak terpelihara serta meliputi daerah yang sangat luas akan membentuk kondisi ekosistem yang rentan hama dan penyakit. biasanya setelah tanam petani tidak mampu melakukan pemeliharaan kebun termasuk pemangkasan. MASALAH PERLINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN RAKYAT Dibandingkan dengan perkebunan besar kondisi pertanaman perkebunan rakyat umumnya kurang terpelihara.Pagilaran (Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM) atau Perkebunan Swasta Asing. meskipun kita ketahui bahwa tidak ada perbedaan jenis-jenis hama yang menyerang perkebunan besar dan perkebunan rakyat. tetapi 95 . Proyek pembangunan perkebunan yang terkenal adalah PIR (Perkebunan Inti Rakyat). perluasan. lada. Kelemahan utama perkebunan rakyat adalah dalam hal penggunaan bibit yang berkualitas rendah. kopi.

atau hama-hama khusus yang memang menyenangi ekosistem gudang. beberapa teknologi PHT seperti pemanfaatan seresah untuk meningkatkan populasi predator. Petani jarang melakukan kegiatan khusus untuk mengendalikan hama-hama gudang. penyarungan buah kakao untuk mencegah peneluran ngengat Penggerek Buah Kakao. Berbagai jenis hama yang menyerang hasil panen di gudang penyimpanan dapat berasal dari atau terbawa dari pertanaman. Banyak jenis fumigan berbahaya bagi kesehatan karena itu perlakuannya di gudang harus dilakukan secara hati-hati hanya oleh orang atau petugas yang telah terlatih atau bersertifikat. Kerugian yang diderita oleh petani akibat serangan hama pasca panen adalah penurunan produksi dan penurunan kualitas produksi. hortikultura maupun perkebunan. penerapan PHT yang mengandalkan pengendalian hayati merupakan teknik pengendalian yang paling tepat. Upaya yang paling sering dilakukan adalah pengeringan dengan panas matahari. HAMA-HAMA PERKEBUNAN DAN PASCA PANEN A. Pengendalian hama gudang khusus dilakukan di gudang-gudang milik perusahaan atau pemerintah seperi gudang BULOG. Lubang kadang-kadang sukar dilihat karena tertutup oleh kotoran atau sisa gerekan.karena kondisi kebun yang kurang terpelihara bila terjadi peningkatan populasi pada satu tempat akan secara cepat menjalar ke tempat lainnya. Hama Pasca Panen sering disebut juga sebagai Hama Gudang. Karena ekosistem gudang dapat lebih mudah dikuasai maka pengendalian hama gudang biasanya dilakukan dengan metode pengendalian fisik dan kimiawi dengan menggunakan fumigan. perbanyakan dan pelepasan agens pengendalian hayati dengan patogen. Untuk komoditas perkebunan. KOPI a. Produk-produk PHT perkebunan saat ini banyak dicari konsumen domestik maupun konsumen global karena kualitasnya tinggi serta bebas dari kandungan residu pestisida yang membahayakan. kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama dan penyakit pasca panen sangat besar. Lubang gerekan berbentuk bulat dengan diameter lebih kurang 1 mm dan umumnya dijumpai pada ujung buah. Diperkirakan rata-rata kerugian hasil antara 25-30%. namun demikian 96 . pemangkasan dan penjarangan tanaman. Kondisi ekosistem kebun juga menguntungkan bagi penerapan pengendalian hayati terutama dengan predator. MASALAH HAMA PASCA PANEN Perlu diketahui bahwa untuk semua kelompok tanaman baik tanaman pangan. Bubuk Buah Kopi (Hypothenemus hampei) Gejala serangan: Hama menyerang buah dengan cara menggerek. Melalui Program PHT Perkebunan Rakyat yang sampai tahun 2005 dilaksanakan Pemerintah di 13 propinsi. Bubuk buah kopi pada umumnya menyerang buah yang bijinya telah cukup keras. parasitoid dan patogen mengingat ekosistem memiliki kondisi iklim mikro yang sesuai dan keanekaragaman tinggi bagi perkembangan musuh alami. PERKEBUNAN 1. dan lain-lainnya ternyata dapat mengurangi populasi hama dan kerusakan tanaman serta meningkatkan pendapatan petani pekebun. panen bertahap. Petani seringkali tidak memperhatikan aspek-aspek fisika kimia proses penyimpanan hasil panen sehingga mengundang serangan hama gudang. Sebelum tahun 1960 banyak praktek pengendalian hayati klasik dengan introduksi musuh alami sukses mengendalikan beberapa hama penting pada tanaman kelapa. Kerugian terjadi sewaktu pengangkutan dan penyimpanan hasil panen sebelum diolah dan dipasarkan.

Di pembibitan hama menyerang bagian batang. Bunga dan buah muda juga dapat terserang. Selain itu internoda juga menjadi pendek. Bubuk Ranting Coklat (Xylosandrus morigerus) Gejala serangan: Hama ini menyerang tanaman kopi di pembibitan. Akibat tusukan dan pengisapan oleh kutu pada tanaman. Memodifikasi lingkungan seperti mengurangi naungan dan melakukan pemangkasan. Sanitasi kebun dengan membersihkan kebun dari cabang-cabang yang berserakan di bawah pohon. sehingga daun menjadi kering dan seringkali menyebabkan kematian. daun atau ranting yang masih berwarna hijau. tanaman muda dan tanaman dewasa. warna hijau dari bagian yang terserang akan berubah menjadi kuning sehingga daun akan mengering dan gugur. Pada daun. jamur Cephalosporium sp. Pengelolaan: 1. d. Dengan demikian kumbang betina tidak mempunyai buah kopi untuk makanan atau untuk tempat berkembang biak. Bubuk ranting coklat dapat menyerang sampai ke dalam akar tunggang. Membersihkan pertanaman dari semut rangrang karena serangan kutu akan sangat merugikan apabila semut rangrang dibiarkan hidup. 3. Pemanfaatan musuh alami misalnya Tetrastichus sp. Jenis kopi yang disukai adalah jenis Arabica. Kutu Hijau (Coccus viridis) Gejala serangan: Kutu pada umumnya terdapat di bagian bawah tanaman yang masih muda. petik bubuk b. Secara alami dengan memanfaatkan predator Coccinella sp. Memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid Heterospilus coffeicola. terutama pada pertulangan daun. Mengusahakan supaya selama jangka waktu tertentu tidak terdapat buah kopi. Kuncup bunga dan buah muda yang baru muncul menjadi kering dan gugur karena kutu mengisap pada tangkai bunga dan tangkai buah. kutu dijumpai di permukaan bawah. lelesan. Kutu Dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Hama menyerang pembungaan. buah tidak gugur tetapi pertumbuhannya 97 . Setelah menyerang buah yang bijinya lunak. karena dapat menjadi sumber infeksi. predator Dindymus rubiginosus. Pengelolaan: 1. jamur Spicaria javanica. Serangan pada ranting muda seringkali menyebabkan ranting mati dan daun gugur. Buah muda akan menjadi busuk dan kemudian gugur. Pada saat pemangkasan. hama segera keluar karena tidak bisa berkembang di dalamnya. Hal tersebut dapat diusahakan antara lain melalui rampasan. 2. c. Bila tanaman muda yang terserang maka pertumbuhan dan masa berbuah akan terhambat. Pengelolaan: 1.buah yang bijinya lunak juga diserang. 2. baik di pohon ataupun di tanah. 2. Bila buah yang diserang sudah cukup besar. Robusta dan Liberica. cabang dan ranting yang terserang dikumpulkan kemudian dibakar. parasitoid Coccophagus sp.

laba-laba c. cecopet. missal pemangkasan. b. permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. pemangkasan. pemangsa cecopet. Pemanfaatan jamur Beauveria bassiana. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas. Pengelolaan: 1. Buah yang terserang lebih awal menjadi berwarna kuning. belalang sembah. berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil. membenam kulit buah. tetapi jika tumbuh terus. bagian tanaman yang lain seperti daun. 2. memakan kulit buah.terlambat dan berkerut. Bila populasi kutu tinggi. serta dengan cara hayati/biologi seperti Trichogramma sp. Secara mekanik dengan memotong batang/cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerekan ke arah batang/cabang kemudian ulatnya dimusnahkan. KAKAO a. memanen satu minggu sekali. kering dan mati. tangkai daun dan cabang yang masih hijau juga diserang. Pengelolaan: 1. Penggerek Batang/Cabang (Zeuzera coffeae) Gejala serangan: Hama merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju xylem batang/cabang. 2. 2. Cryptolaemus sp. Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Telenomus sp. Menyerang tanaman muda. Biji-bijinya saling melekat. Pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida sistemik. tetapi sebaliknya pada buah muda. Secara mekanis dengan membuang bagian tanaman terserang yang merupakan sumber infeksi. Biasanya lebih berat dari yang sehat. Membersihkan lubang gerekan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan. kulitnya mengeras dan retak. jamur Beauveria bassiana. daging dan saluran ke biji. Memanfaatkan musuh alami seperti predator Scymnus sp. 3. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok. kondomisasi. Akibat gerekan ulat. Pengelolaan: 1. bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana. 98 . layu. Kepik Pengisap Buah Kakao (Helopeltis sp) Gejala serangan: Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan. ranting mengering dan meranggas. Serangan pada buah tua. 3. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati. Pemangkasan 2. Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella) Gejala serangan: Ulat merusak buah kakao dengan cara menggerek buah. tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman. dan jika digoyang tidak berbunyi.

Buah besar juga dimakan tetapi tidak menimbulkan kerontokan.d. umpan racun 3. Hama ini menyerang sejak tanaman muda di lapang. tetapi tupai tidak karena biji bisa dikumpulkan kembali. Daun menggulung. Tikus menyerang malam hari. dan tanaman tumbuh kerdil. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma sp. laba-laba. Kuncup bunga dan buah muda akan rontok. b. Secara fisik mekanik dengan mengumpulkan hama kemudian mematikannya. Buah yang terserang akan menjadi busuk. kepik dan berbagai macam laba-laba. hijau dan hitam. Biasanya di bawah buah-buah yang terserang tupai selalu berceceran biji-biji kakao. Tikus dan tupai Gejala serangan: Buah kakao yang terserang tikus akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri dan jamur. Diadegma sp. Sundapteryx bigutulla Gejala serangan: Tanda pertama dari serangan hama ini adalah menguningnya ujung daun dan agak mengkerut. d. 99 . Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami Trichogramma sp. Pada tingkat serangan berat. Kuncup dan buah muda dapat membuka lebih awal dan gugur. bunga dan buah kapas. Brachymeria sp. warna daun agak coklat memerah dan pertumbuhannya menjadi kerdil. c. Tupai menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji tadi tidak dikumpulkan. Gejala serangan tupai umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai hanya memakan daging buah. Pada permukaan bawah daun yang terserang sering terdapat bercak berwarna kuning. Ada yang berwarna kuning. Ulat buah (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Hama ini memakan daun. Apanteles sp. sedangkan bijinya tidak dimakan. Kemudian daun akan mengering dan gugur. Pengelolaan: Pengelolaan tikus dilakukan dengan sanitasi. Jadi tikus benar-benar hama. Kutu daun (Aphis gossypii) Gejala serangan: Kutu ini memakan daun kapas dari bawah. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami kumbang kubah. KAPAS a. Penggerek pucuk (Earias vittela) Gejala serangan: Ulat penggerek pucuk memakan pucuk tanaman kapas sehingga menyebabkan kematian. Encarsia sp. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta dagingnya. Cara makannya dengan melubangi bagian bawah.

pucuk daun tersebut seakan-akan terikat sehingga sulit sekali untuk membuka dan ulat ini selanjutnya berada di dalam pucuk tanaman. Daun muda yang diserang akan gugur. Tungau Jingga (Tenuipelpus obovatus) Gejala serangan: Hama ini merusak pada musim kemarau. Hama ini menggerek daun muda dari dalam daun. Ulat Penggulung Daun Teh (Enarmonia leucastoma) Gejala serangan: Enarmonia memiliki daya lekat yang berasal dari air liurnya pada tepi pucuk daun yang ditempatinya. Serangan yang hebat menyebabkan hamparan teh tampak merata kecoklat-coklatan. Ulat penggulung daun melintang (Homona coffearia) Gejala serangan: Ulat melakukan pengrusakan dari dalam daun sehingga daun tampak berkerut dan rusak. pertumbuhan daun teh selanjutnya menjadi tidak normal. Setora nitens Gejala serangan: Biasanya menyerang daun muda dan tua. tetapi hanya bagian tepinya saja yang dilekatkan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran.Pengelolaan: Kumpulan kutu merupakan makanan paling enak untuk kumbang kubah. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan. Ulat menggulung daun yang tidak terlalu tua sedang cara menggulungnya hampir sama dengan Enarmonia sp. sehingga tidak mengherankan jika serangan berat dapat mengakibatkan perkebunan teh menjadi gundul. Penggunaan tanaman pelindung yang dapat mengurangi perkembangbiakan hama. Karena benang liurnya ditempatkan secara melintang. 100 . d. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan. Terkadang lebih dari sehelai daun muda yang berhasil digereknya selama ulat itu tidak berpindah tempat. c. Pengelolaan dengan insektisida selektif dan efektif b. Serangan hama berakibat sedikitnya pucuk teh yang dihasilkan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran. 2. sedangkan daun tua yang dan pada tangkainya berubah menjadi kecoklatan. TEH a. Gejala yang tampak jelas adalah pucuk daun teh yang menggulung dalam keadaan rusak di bagian dalamnya. 4. Pengelolaan: 1.

Penggerek Batang Bergaris Tebu (Chilo sacchariphagus) Gejala serangan: Ulat-ulat muda yang baru menetas hidup di dalam pupus. Serangan pada titik tumbuh mengakibatkan kematian tanaman yang ditandai dengan mengeringnya daun-daun muda yang masih menggulung dan terletak di tengah tajuk yang dikenal sebagai “mati puser”. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami parasit telur Telenomus sp. Trichogramma sp. Ulat-ulat itu memakan jaringan-jaringan daun. Corypus javenus. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami Encarsia flavoscutellum. Cairan tersebut menetes ke permukaan daun di bawahnya. Pengelolaan: 101 . Pada serangan berat mengakibatkan tanaman patah. Chlorocryptus sp. TEBU a. d. Canthecona sp. Penggerek Pucuk Putih (Schirpophaga nivella intacta) Gejala serangan: Bila serangan terjadi pada daun yang belum membuka. Akibatnya jika daun-daun muda sudah terbuka akan terlihat luka-luka pada daun yang memanjang dan tidak teratur. Pengelolaan: Pemanfaatan parasitoid telur Telenomus sp. b.Pengelolaan: Menggunakan musuh alami seperti Cryptus caymorus. 5. Bagian luar ruas muda yang digerek akan didapati lubang tepung gerek. rattus argentiventer) Gejala serangan: Tanaman tebu yang terserang menunjukkan tanda bekas keratan sepotongsepotong pada batang tebu. dan parasitoid pupa Xanthopimpla sp. Pada ibu tulang daun yang tergerek tampak lorong gerekan yang berwarna kecoklatan. Serangan yang parah menyebabkan pertumbuhan terhambat serta tanaman menjadi kerdil. parasitoid larva Apanteles sp. Tetesan cairan tersebut merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan cendawan jelaga yang berwarna hitam sehingga asimilasi akan terhambat. maka apabila daun telah membuka akan tampak deretan lubang pada daun yang ditembus larva berwarna coklat. Ulat yang telah beberapa hari hidup dalam pupus kemudian akan turun melalui sebelah luar pucuk tanaman dan ulat akan menembus masuk ke dalam tanaman lagi melalui ruas tanaman. diantara daun-daun muda yang masih menggulung. Tikus (Bandiota indica. kepik Sycanus sp. Dalam satu ruas terdapat satu atau lebih ulat. c. Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna lanigera) Gejala serangan: Kutu sewaktu-waktu dapat mengeluarkan cairan yang mengandung gula. Apabila ruas terserang dibelah akan terlihat lorong-lorong gerek lebar serta jalannya sangat tidak teratur. Daun termuda yang mati mudah dicabut. Selain itu untuk mengetahui adanya tikus dapat pula dilihat jejak-jejaknya dan adanya lubang aktif dengan tanda khusus.

Cara mekanis dengan mengerat sedalam-dalamnya pucuk yang terserang hama. gerekan pada pucuk dapat mengakibatkan patah pucuk dan jika larva mencapai titik tumbuh berakibat tanaman tidak dapat menghasilkan daun baru. 2. Serangan hama ini dapat mengakibatkan kerusakan sekunder seperti serangan kumbang tanduk kelapa. Pengelolaan: 1. Dari jauh. kumbang sagu dan cendawan. 2. Dari liang gerekan pada tanaman muda sering keluar lendir merah coklat. burung elang. 6. Bila titik tumbuh terserang. yaitu jaringan yang mengandung cairan yang kaya gizi.1. Pemanfaatan parasit larva Scolia erratica dan tungau buas yang menyerang kepompong dalam “kokonnya”. pucuk pohon kelapa yang terserang nampak kisut. Bagian yang diserang adalah pucuk pohon dan pangkal daun muda. Pemasangan umpan beracun 2. keriting dan kering. Akibatnya daun tidak mau membuka atau hanya membuka sedikit. Pada tanaman dewasa hanya tajuknya saja. Kumbang Nyiur (Oryctes rhinoceros) Gejala serangan: Bekas serangan dapat terlihat dari adanya potongan-potongan yang berbentuk segitiga pada daun kelapa. Hal ini berpengaruh terhadap produksi buah. Kumbang Sagu (Rhynchophorus sp) Gejala serangan: Larva merusak akar. batang dan tajuk tanaman muda. d. pohon kelapa akan mati karena tidak menghasilkan daun lagi. Secara preventif dengan memotong tanaman yang telah terserang dan mengambil serangga hamanya serta sanitasi kebun. Larva menggerigiti dan mengorok kulit anak daun secara memanjang membentuk garis-garis. b. Kumbang Janur Kelapa (Brontispa longissima) Gejala serangan: Larva dan serangga dewasa hidup di dalam lipatan anak daun pucuk yang belum membuka. Penggunaan jamur Metarhizium anisopliae c. Dijaga pula supaya tidak terjadi luka-luka pada pohon kelapa. Pemanfaatan parasit larva Tetrastichus brontispae. Pengelolaan: Serangan hama ini merupakan kelanjutan dari serangan kumbang Oryctes. Pemanfaatan musuh alami seperti kucing. Tandan yang akan berkurang jumlah buahnya terutama yang berada di ketiak daun yang terserang tersebut. Daun yang terserang mudah menjadi kering serta salah bentuk. Pengelolaan: 1. Membersihkan semua tempat yang diduga menjadi tempat perkembangbiakan hama. ular. Membakar tanaman yang mati akibat serangan hama. karena itu serangan Oryctes harus dihindari. Apabila menyerang tajuk. KELAPA a. Belalang Pedang (Sexava coreacea) Gejala serangan: 102 .

Pengelolaan secara hayati dengan memanfaatkan parasit telur Leefmansia bicolor dan Tetrastichus sp. Serangan dimulai dari pelepah terbawah. Permukaan bawah daun dimana ada koloni tampak tertutup oleh benang wol putih. Gejala serangan titik.Serangga muda dan tua memakan daun kelapa dari pinggir. Pengelolaan telur dengan pengolahan tanah. Pengelolaan: Secara mekanik dengan pemotongan pelepah daun tua pada periode kepompong kemudian dibakar. Gejala serangan pinggir. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan oleh parasit Tetrastichus sp dan Encarsia sp. Ulat muda yang sudah lebih tua mengetam lapisan anak daun bagian bawah setempat-setempat. Serangan akan lebih hebat dan lama pengaruhnya saat awal musim kemarau. daun tua tampak kering berwarna merah-coklat seluruhnya dan tinggal hijau segar hanya 2 atau 3 daun di pucuknya saja. Untuk tanaman yang masih rendah dilakukan penyemprotan tajuk. Secara kimiawi dilakukan dengan memberikan insektisida sistemik melalui pengeboran batang atau pemotongan akar. Ulat muda memakan jaringan anak daun bagian bawah. Ulat yang sudah dewasa memakan helaian anak daun dari pinggir ke tengah. Cadursia leefmansia. dapat dilakukan injeksi batang dengan pestisida. e. 2. Artona catoxantha Gejala serangan: Ada tiga tingkat gejala serangan: 1. Apabila parasit tidak mampu lagi menekan peningkatn populasi. meninggalkan bekas yang tidak rata. Pengelolaan: 1. Goryphus inferus. Bekas ketamannya seperti garis. Kutu Kapuk Kelapa (Aleurodicus destructor) Gejala serangan: Serangga merusak daun kelapa karena mengisap cairan sel sehingga meninggalkan bekas berupa bercak-bercak kuning. Gejala serangan bergaris. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan insektisida sistemik melalui suntikan. Beberapa musuh alami yang dapat mengendalikan hama ini Apanteles sp. 2. Serangan berat hanya meninggalkan beberapa pelepah pucuk sedangkan bagian bawah tinggal lidinya saja dan pohon kelapa sama sekali tidak menghasilkan buah selam 1-2 tahun. 3. f. Serangan Artona tidak sampai mematikan pohon kelapa. kemudian disusul oleh buah muda yang agak besar. Sebelum daun bagian bawah habis dimakan. Kutu ini secara berkoloni pada permukaan bawah daun. kelapa muda dan akhirnya buah-buah tua. bercocok tanam atau pemberian insektisida ke dalam tanah. sehingga anak daun itu terpotong tak teratur bagian pinggirnya. mereka pindah ke daun sebelah atas. Akibat serangan Artona. Neoplecturs bicarinatus. 103 . Bekas yang dimakan menyerupai titik. Serangan yang hebat menyebabkan buah termuda gugur. 3.

Tiap ekor bajing dapat menghabiskan sebutir kelapa pada tiap kali makan. Tikus Pohon Gejala serangan: Hama tikus hidup di atas pohon dan sering merusak buah-buah kelapa yang masih muda. maka pada bekas liang gerekannya tadi keluar sejenis getah yang berwarna kuning dan dapat dilihat dari bawah. Penggerek Bunga Kelapa (Batrachedra arenosella) Gejala serangan: Akibat serangan larvanya yang menggerek seludang mayang untuk memakan bunga jantan dan betina. Pengelolaan: Pada umumnya dilakukan dengan diburu menggunakan senapan angin. Kerusakan biasanya terjadi pada perbungaan di pangkal mayang. Mereka membuat sarang di atas pohon yang terbuat dari sabut pelepah kelapa atau aren dan daun-daun kering. Pada umumnya dikendalikan dengan menggunakan senapan angin atau umpan racun. Bercak ini jelas nampak dari bagian atas daun. cukup dengan membuang anak daun tersebut. Mayang yang terserang dapat sedikit menghasilkan buah. Dapat juga digunakan cara kimiawi dengan pelaburan seludang. Akibat serangan tersebut buah muda gugur. Bajing Gejala serangan: Hama menyerang buah kelapa yang tua atau yang daging buahnya telah tebal.g. tidak tegak dan kemudian tajuknya terkulai. sedangkan serangganya terdapat pada permukaan daun bagian bawah. bila seluruhnya sebaiknya pelepah dipangkas dan dibakar. Pengelolaan: Karena populasinya umumnya rendah. Penggunaan musuh alami seperti Chilocorus politus sangat efektif mengandalikan kutu perisai. Kutu-kutu ini sulit dikendalikan dengan insektisida karena tubuhnya ditutupi oleh lilin padat berbentuk perisai. Pengelolaan: Bila hanya beberapa anak daun yang terserang. Pengelolaan: Dititikberatkan pada cara hayati dengan menggunakan Chelonus sp. Bila anak daun yang menunjukkan gejala tersebut dalam jumlah yang besar maka seluruh daun akan mati lebih dini dan warnanya berubah menjadi kelabu dengan sedikit merah jambu. j. akhirnya mati. Pada serangan yang sangat berat daun yang berkembang tetap kecil. Bunga jantan akan menjadi hitam dan bunga betina mengeluarkan getah. jarang dilakukan pengendalian secara khusus. 104 . bahkan bila serangannya berat sama sekali tidak menghasilkan buah. h. Disebut serangan ringan apabila anak daun yang bergejala menunjukkan warna kuning emas pada tempat yang diduduki kutu perisai. Kutu Perisai (Aspidiotus destructor) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara mengisap jaringan sehingga menimbulkan bercak kuning. i.

105 . dan jagung. kerusakan pada komoditas yang disimpan lebih hebat dibandingkan dengan serangga hama yang lain. Kupu-kupu beras (Corcyra cephalonica) Gejala serangan: Ulat akan menggandeng-gandeng butir-butir beras dengan benang liurnya. PASCA PANEN 1. demikian pula kepompongnya. Ulatnya hidup di dalam gendengan beras tersebut dan menggerek dari dalam. ketela pohon. c. beras. Penggerek biji-bijian (Rhyzoperta dominica) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain padi-padian. Apabila umbi tersebut dibelah maka akan tampak lubang-lubang serta jalur-jalur bercabang-cabang. 2. beras. b. b. Bubuk beras (Sitophilus sp) Gejala serangan: Larva berada dalam butiran. Umbi-umbian a. dan buah-buahan yang dikeringkan. Hama ini bertindak sebagai hama primer. Kumbang tepung (Tribolium sp) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain tepung. gaplek. kacang tanah. Beberapa komoditas yang diserang antara lain padi-padian. 3. Serangga dewasa yang muncul dari kepompong akan keluar dari butiran-butiran beras sehingga mengakibatkan butir-butir beras berlubang.B. Kumbang padi-padian bergerigi (Oryzeaphilus sp) Gejala serangan: Hama ini merupakan hama sekunder pada material yang utuh tetapi merupakan hama primer pada material yang telah digiling. Lama-kelamaan di sekitar lubang menjadi busuk. Material yang terserang akan berlubang. Material yang diserang akan berlubanglubang. kopra. rempah-rempah. Apabila serangan masih baru biasanya dari lubang tersebut keluar sisa gerekan berwarna keputih-putihan. sedangkan material yang berbentuk tepung akan kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larva. Akibatnya ubi akan terasa pahit. dedak. dan kopra. Baik larva maupun dewasa merupakan pemakan yang sangat rakus. Cylas formicarius Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang dan membuat lorong gerekan. komoditas yang terserang menjadi kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larvanya. Material yang berbentuk biji-bijian bila diserang akan berlubang-lubang. BERAS a. Biji-bijian a. Selain itu.

tikus rumah. 2. Sanitasi sangat penting dilakukan untuk menghindari munculnya hama pasca panen. Cara ini tidak dapat dipakai sebagai tindakan preventif karena setelah gas hilang tidak mempunyai efek residu terhadap hama sehingga kemungkinan reinfestasi hama sewaktu-waktu dapat terjadi. Tembakau a. Selain memakan biji-bijian. pemeriksaan terhadap kerusakan/bekas serangan tikus. 3. perangkap.4. dan dipastikan tidak ada hewan atau manusia di sekitar tempat yang dispraying. umbi-umbian dan beberapa jenis buah-buahan. Selain itu juga dapat melihat adanya sarang di dalam atau di luar gudang. dan komoditas. Umpan beracun. tikus juga memiliki kebiasaan menggigit benda-benda seperti kayu. Pengelolaan tikus dapat dilakukan dengan Rodent Proofing untuk mencegah keluar masuknya tikus. Fumigasi Fumigasi merupakan suatu cara Pengelolaan hama menggunakan fumigan. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan spraying adalah menghindari terjadinya kontak langsung antar tubuh. permukaan karung. 4. kulit dengan insektisida. dan mencit rumah. Fumigasi lebih bersifat eradikatif. ruangan. misalnya karung goni yang sobek. Pada awalnya serangga dewasa meletakkan telur di antara bahan (tembakau) dan setelah menetas langsung membuat rongga dan merusak bahan. sekitar gudang. seperti gudang. Spraying Spraying bertujuan untuk pencegahan terhadap barang yang disimpan supaya tidak terinfeksi oleh hama dan mengurangi tingkat perkembangan hama serta pencegahan serangan kembali. gropyokan dan emposan juga dapat dilakukan di luar gudang. plastik. Fogging Fogging merupakan salah satu cara yang efektif memberantas serangga yang aktif terbang di dalam ruangan tertutup. Biasanya menggunakan insektisida yang mudah menguap. Untuk mengetahui ada tidaknya tikus di gudang dapat dilakukan pemeriksaan kotoran yang biasanya dapat ditemukan di atas lantai gudang. tikus sawah. Tikus aktif pada malam hari. Sanitasi dapat meliputi sanitasi gudang. Komoditas yang terserang akan mengalami kerusakan dengan adanya bekas gerekan larva sehingga akan menurunkan kualitas tembakau atau cerutu. Hama pasca panen lain yang juga sangat membahayakan komoditas di dalam simpanan adalah tikus. dosis dan aplikasi harus tepat agar tidak terjadi penumpukan residu. 106 . Spraying dengan insektisida dilakukan pada bangunan gudang. Jenis-jenis tikus yang umum ditemukan dan merusak di gudang penyimpanan diantaranya tikus wirok. tikus riul. Pengelolaan hama-hama pasca panen: 1. dan dicampur langsung dengan biji-bijian. Lasioderma serricorne Gejala serangan: Hama ini dikenal dengan sebutan “cigarette beetle” karena kumbang ini merupakan hama penting pada simpanan tembakau dan cerutu. dan lain-lain. waktu aplikasi tepat. komoditas simpanan yang berceceran di lantai. Eradikasi di dalam gudang dapat dilakukan dengan cara gropyokan (jika memungkinkan) dan fumigasi.

5. Mempelajari dan memahami pelaksanaan SLPHT 3. PP No.doc Materi 12 KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN Tujuan: 1.434. KepmenTan No. Kpts Bersama Mentan dan Menkes 711/Kpts/1996 tentang Batas Maksimum Residu Pestisida Pada Hasil Pertanian. UU No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman 3. • Peraturan Pemerintah (disyahkan oleh Pemerintah/Presiden dengan pemberitahuan pada DPR) • Keputusan Presiden (Keppres) dan Instruksi Presiden yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Presiden • Keputusan Menteri Pertanian dikeluarkan dan ditandatangani oleh Menteri Pertanian Peraturan-peraturan yang tingkatannya di bawah KepmenTan mulai dari Peraturan Direktorat Jenderal sampai Peraturan Daerah tidak akan dibahas.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida 6. Mempelajari dan memahami latar belakang sejarah perkembangan PHT di Indonesia 2. Semua kegiatan perlindungan tanaman di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida 4. Inpres No. KepmenTan No. 129807801. termasuk pasal-pasal mengenai Tindakan Pidana yang diberlakukan bagi pihak yang melakukan pelanggaran atau yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Di gudang tembakau biasanya digunakan lampu perangkap berwarna merah karena hama Lasioderma sp tertarik dengan cahaya merah. Mempelajari dan memahami penerapan PHT sebagai kebijakan perlindungan tanaman nasional Materi: LANDASAN HUKUM Di Indonesia ada beberapa peraturan perundang-undangan atau landasan hukum yang berkaitan dengan kegiatan Perlindungan Tanaman. 517/Kpts/2002 tentang Pengawasan Pestisida 7. petani maupun masyarakat harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan tersebut. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran.5. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman 2. Yang dimaksud peraturan perundangundangan di sini meliputi: • Undang-Undang (disyahkan oleh DPR dan Pemerintah). 107 . Ada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur kebijakan dan pelaksanaan perlindungan tanaman yaitu: 1. 3 Tahun 1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi. PP No.

PHT dalam kebijakan perlindungan tanaman telah lama dibahas dan disarankan oleh para pakar perlindungan tanaman kepada Pemerintah. antara lain dengan penanaman VUTW.SEJARAH PHT SEBAGAI KEBIJAKAN NASIONAL Dilihat dari sejarah. Pengamatan Mingguan 4. Budidaya Tanaman Sehat 2. pergiliran tanaman. Sebanyak 57 formulasi pestisida kimia dinyatakan dilarang digunakan untuk pengendalian hama padi. Sejak tahun 1970 Komisi Perlindungan Tanaman telah mendesak Pemerintah untuk menerapkan PHT dalam setiap program perlindungan tanaman. bahkan diakui oleh dunia internasional. Sebagai tindak lanjut UU tersebut. Peranan sivitas akademika UGM dalam persiapan Inpres 3/1986. Akhirnya pada tahun 1986 Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden No. 3/1986 yang terdiri atas banyak butir. Para petugas lapangan dan petani harus ditingkatkan kemampuannya dalam menerapkan PHT melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. tanam serentak. persiapan dan pelaksanaan program SLPHT di tingkat nasional sangat menonjol. penyakit dan gulma. dengan bantuan dana internasional yang berasal dari Pemerintah Belanda. sejak tahun 1989 Pemerintah menyelenggarakan kegiatan SLPHT sebagai wahana pelatihan petugas dan petani padi dalam menerapkan dan mengembangkan PHT. Empat Prinsip PHT yang dikembangkan sendiri oleh petugas dan petani dalam SLPHT yaitu: 1. Pengendalian hama wereng coklat padi dengan prinsip PHT. UU No. penggunaan pestisida kimia secara selektif terutama yang berbahan aktif buprofezin (kelompok IGR) 2. OPT dapat dikelompokkan dalam kelompok hama. atau menyebabkan kematian tumbuhan. Amerika Serikat dan Bank Dunia. OPT diartikan sebagai semua organisme yang dapat merusak. PHT MENURUT UNDANG-UNDANG Menurut UU No. mengganggu kehidupan. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dikatakan bahwa “Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan”. yang paling penting diantaranya: 1. 3. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Petani sebagai “Ahli” PHT Sampai akhir tahun 1998 sekitar satu juta petani dan ribuan petugas (PHP dan PPL) telah mengikuti SLPHT. 12 pada Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 20 menyatakan dua hal: (1) Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (Sistem PHT). Namun karena Pemerintah masih asyik melaksanakan program BIMAS dengan Panca Usaha Tani dimana pada usaha ke-4 (Pengendalian Hama dan Penyakit) lebih mengutamakan penggunaan pestisida kimia. Pelestarian dan Pemanfaatan Musuh Alami 3. Secara politik pelaksanaan SLPHT memberikan tekanan yang kuat pada Pemerintah dan DPR sehingga pada tahun 1992 disyahkan UU No. Saran para pakar tentang penerapan PHT baru diperhatikan Pemerintah setelah terjadi letusan wereng coklat yang menyerang tanaman padi seluas hampir 1 juta hektar pada tahun 1979-1980. Pemerintah mengeluarkan PP No. Sebagai tindak lanjut Inpres 3/1986. maka usulan Komisi Perlindungan Tanaman kurang diperhatikan. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman. 108 .

Dalam pemilihan teknologi pengendalian. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman telah merinci mengenai penerapan teknologi pengendalian OPT secara terpadu khususnya pada pasal 8 sampai pasal 16. UU tersebut telah menentukan bahwa untuk pengendalian setiap jenis OPT harus dilakukan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama yang kompatibel. Petani banyak pasif dan menunggu tindakan pemerintah dalam menanggulangi OPT yang sedang eksplosif. Apabila sampai saat ini ada pejabat. cara fisik melalui pemanfatan unsur fisika tertentu. Petani cenderung menyerahkan kegiatan pengendalian pada aktivitas petugas Pemerintah khususnya Dinas Pertanian atau Dinas Perkebunan. cara kimiawi. melalui manipulasi gen baik terhadap OPT maupun tanaman f. PP No. cara mekanik. menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah. UU juga menyatakan bahwa tujuan PHT bukan membasmi atau memusnahkan hama tetapi mencegah kerugian secara ekonomis. Dalam kondisi populasi dan serangan OPT yang sedang dalam keadaan eksplosif pengendalian sangat sulit dilakukan. Kalau kita ke desa-desa di pulau Jawa apalagi di luar Jawa ada kecenderungan yang memprihatinkan tentang kesadaran dan pengertian masyarakat tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pengendalian OPT serta perbaikan teknologi budidaya di tempatnya masing-masing. 109 . cara biologi. Pasal 10 menguraikan beberapa komponen PHT yang meliputi: a. Sebagai penjabaran UU No. cara genetik. berarti bahwa mereka belum mengetahui mengenai kebijakan perlindungan tanaman nasional. UU menekankan bahwa penggunaan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir. c. Menurut UU dan PP tersebut yang dimaksud Sistem PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan. Pasal-pasal tersebut menekankan pentingnya kegiatan pemantauan dan pengamatan OPT sebelum dilaksanakan tindakan pengendalian (pasal 9). menjadi tidak efektif karena populasi hama telah meningkat dan menyebar di daerah yang luas. 12 Tahun 1992. dan lingkungan. b. petugas atau mahasiswa yang berpendapat bahwa penggunaan pestisida kimia harus dilaksanakan. melalui penggunaan alat dan atau kemampuan fisik manusia. Pengendalian OPT bersifat dinamis.(2) Pelaksanaan perlindungan tanaman sebagaimana dimaksud ayat (1). Keadaan ini tidak baik karena kegiatan pengendalian selalu terlambat. melalui pemanfaatan pestisida. melalui pemanfaatan musuh alami OPT e. TEKNOLOGI PENGENDALIAN TERPADU Sebagai landasan kebijakan perlindungan tanaman. dan atau g. melalui pengaturan kegiatan bercocok tanam d. Dalam sistem ini penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir. untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. cara lain sesuai perkembangan teknologi PERLINDUNGAN TANAMAN TANGGUNGJAWAB MASYARAKAT UU menyatakan bahwa teknik pengendalian OPT tidak seragam atau statis tetapi dinamis sesuai dengan keadaan ekosistem lokal. cara budidaya. Kegiatan pengendalian yang paling baik harus dilakukan sedini mungkin oleh masyarakat petani sendiri tidak bergantung pada inisiatif pemerintah.

Kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan PHT) memberikan alternatif yang terbaik untuk meningkatkan kualitas petani dan pekebun sehingga mereka secara mandiri dan aktif dapat mengelola lahan pertanian atau perkebunannya secara profesional dan dapat memanfaatkan sebanyak mungkin sumber daya alam yang ada di sekitarnya sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi. Mereka belajar tidak di ruang tertutup tetapi langsung di lapangan. Perbedaan utama adalah pada proses pembelajaran. Keadaan ini diperparah dengan kepemilikan modal kerja dan tanah garapan yang sangat marginal. acuh tak acuh serta menyerahkan sepenuhnya tindakan pengendalian OPT pada Pemerintah? Penyebab utama karena rendahnya kualitas kesadaran. pembahasan hasil pada minggu berikutnya. Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian di lapangan atau pada lahan milik petani sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat petani. Proses pembelajaran pada penyuluhan konvensional dari atas (petugas penyuluh) ke bawah (petani).Kalau kita baca UU 12/1992 pasal 20 dikatakan bahwa “Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah”. Pemerintah dalam hal ini akan memberikan fasilitasi dalam hal penyediaan teknologi. tetapi pada SLPHT adalah pembelajaran bersama dari bawah (petani) ke atas (kelompok tani dan masyarakat). Apa sebab petani pasif. Hasil keputusan kelompok segera dilaksanakan di kebun pembelajaran. dinamika hama dan musuh alami serta mengambil keputusan secara berkelompok. kedelai. teh. kapas). melakukan analisis ekosistem serta mengambil keputusan pengelolaan ekosistem sesuai dengan analisis hasil pengamatan. jambu mete). mengumpulkan OPT dan musuh alami. kakao. kentang. kualitas dan harga produk pertanian dan perkebunan rakyat lebih sering rendah sehingga tidak dapat memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarga petani. UU tersebut menyatakan bahwa pada dasarnya perlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat. mereka tidak mampu mengelola lahan pertaniannya secara produktif dan profesional. 110 . dan sekitar 3-4 bulan untuk tanaman tahunan (kopi. Tujuan pelatihan dalam SLPHT tidak hanya untuk penerapan pengendalian hama dengan prinsip dan teknologi PHT tetapi lebih komprehensif yaitu mengelola ekosistem pertanian secara terpadu sehingga diperoleh produksi dan hasil yang menguntungkan petani dengan mempertahankan populasi hama dan OPT pada umumnya pada tingkat yang tidak merugikan hasil. Dalam hal-hal tertentu seperti terjadinya eksplosi suatu jenis OPT yang luas. Mereka mempelajari dinamika ekosistem. Petani membandingkan hasil yang diperoleh dari petak PHT dengan petak Non PHT yang masih mengandalkan penggunaan pestisida. Akibatnya hasil. Atas bimbingan para PL petani belajar mengamati. pada petak pembelajaran yang dibagi dua sub petak yaitu petak PHT dan petak Kebiasaan Petani sebagai pembanding. ketrampilan dan sarana pengendalian di lapangan. Para Pemandu lapangan (PL) di SLPHT tidak berperan sebagai instruktor tetapi sebagai teman belajar dan fasilitator petani peserta SLPHT. lada. PELAKSANAAN SLPHT Sebanyak 20-25 petani dipilih sebagai peserta kelompok SLPHT yang dipandu oleh 2 PL. pengetahuan dan ketrampilan petani dalam melakukan pengelolaan ekosistem pertanian mereka termasuk dalam melakukan pengendalian OPT. Kelompok tani bertemu setiap minggu sekali pada hari yang ditetapkan kelompok. Kegiatan pemberdayaan petani dengan SLPHT sangat berbeda dengan kegiatan penyuluhan pertanian konvensional yang masih sering dilaksanakan oleh para petugas penyuluh lapangan secara rutin yang dikenal dengan kegiatan LAKU (Latihan Kunjungan). Dengan rendahnya kualitas SDM petani kita. pelaksanaan perlindungan tanaman dilakukan oleh masyarakat bersama Pemerintah. kubis. cabe. Program pelatihan dilaksanakan selama satu musim tanam atau sekitar 3 bulan untuk tanaman musiman (padi. dan seterusnya sampai tanaman dipanen. bawang merah.

Penggunaan insektisida dan fungisida sangat menurun 4. Kualitas produk lebih baik sehingga memperoleh penghargaan yang lebih tinggi 3. Keuntungan usaha petani meningkat. Pasal 2 PP 7/1973 menyatakan bahwa: 1) Setiap orang atau badan hukum dilarang menggunakan pestisida yang tidak didaftarkan atau memperoleh izin Menteri Pertanian 2) Prosedur permohonan pendaftaran dan izin diatur lebih lanjut oleh Menteri Pertanian 3) Peredaran dan penyimpanan pestisida diatur oleh Menteri Perdagangan atau Menteri Pertanian Pasal 3 1) Izin yang dimaksudkan diberikan sebagai IZIN TETAP. Produksi petak PHT lebih tinggi 2. Kemampuan dan kepercayaan diri petani terhadap konsep dan teknologi PHT meningkat 6. Sayangnya saat ini perhatian Pemerintah terhadap tindak lanjut program pelatihan SLPHT Pangan menurun karena diserahkan kepada pembiayaan Pemerintah Daerah. penyimpanan dan penggunaan Pestisida. namun PP No. Penggunaan pengendalian hayati dengan agens pengendalian hayati meningkat 5. Jumlah petani yang telah mengikuti SLPHT masih terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah petani pangan dan perkebunan di Indonesia yang bekisar antara 30-40 juta. 12 Tahun 1992 dan PP 6 Tahun 1995 yang di dalamnya juga mengandung pengaturan tentang pestisida. Pada tahun 1973 diterbitkan Peraturan Pemerintah No. Karena itu setiap negara harus membuat peraturan yang berhubungan dengan pendaftaran. dengan ketentuan bahwa izin tersebut dalam jangka waktu itu dapat ditinjau kembali atau dicabut apabila dianggap perlu karena pengaruh samping yang tidak diinginkan. 7/1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. PEREDARAN DAN PENGGUNAAN PESTISIDA Pada dasarnya pestisida merupakan bahan kimia yang memiliki risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sehingga penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati dengan pengawasan yang ketat. IZIN SEMENTARA atau IZIN PERCOBAAN 2) Izin sementara dan izin percobaan diberikan untuk jangka waktu 1 tahun 3) Izin tetap diberikan untuk jangka waktu 5 tahun.00 siang diisi dengan acara: • Pengamatan dan pengambilan sampel hama dan musuh alami • Analisis Agroekosistem • Pengambilan Keputusan Secara Berkelompok • Topik Khusus untuk melakukan kajian topik-topik tertentu sesuai kebutuhan kelompok • Dinamika Kelompok untuk meningkatkan kekompakan kelompok Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim independen baik terhadap SLPHT Pangan maupun SLPHT Perkebunan diperoleh kesimpulan yang hampir sama yaitu: 1. penggunaan dan pengawasan pestisida. perijinan. peredaran. Meskipun sudah ada UU No. sedangkan kegiatan SLPHT Perkebunan masih berjalan sampai akhir 2005. Secara historis sejak tahun 1970 Pemerintah telah menerapkan prosedur pendaftaran dan perijinan pestisida yang mengacu tatacara yang berlaku secara internasional.Pada setiap hari pertemuan SLPHT dari jam 7 pagi sampai 13.7 Tahun 1973 belum dicabut 111 . KEBIJAKAN TENTANG PENDAFTARAN.

Pendaftaran pestisida dipersyaratkan dalam bentuk Bahan Teknis dan Bahan Formulasi. Dep. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian sebagai bahan dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan di bidang pestisida. peternakan. Saat ini Komisi Pestisida di bawah koordinasi Dirjen Bina Sarana Pertanian dan anggotaanggotanya dari seluruh jajaran Pemerintah Pusat yang berkaitan dengan pengelolaan pestisida seperti dari DepKes. Komisi mempunyai tugas: 1. Mengkoordinasikan instansi/pihak terkait baik di dalam dan di luar Departemen Pertanian di bidang pestisida kepada Menteri Pertanian. memenuhi standar mutu. fumigasi. dll beserta beberapa pakar pestisida. perikanan. pengendalian rayap. Kementerian Lingkungan Hidup.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida. peredaran serta penggunaan pestisida”. Sampai bulan Mei 2004 ini sekitar 1000 formulasi pestisida telah terdaftar untuk pertanian. Menteri Pertanian dibantu oleh KOMISI PESTISIDA atau terkenal dengan nama KOMPES. lembaga-lembaga yang tugas dan fungsi khususnya perlindungan tanaman terdapat di 4 Direktorat Jenderal dan 1 (satu) Badan yaitu: 1. Mengenai pengaturan pestisida UU No. Melakukan evaluasi data/informasi dalam rangka pendaftaran pestisida.sehingga masih diberlakukan sampai saat ini. kehutanan. Peraturan tentang prosedur perijinan pestisida telah beberapa kali direvisi yang terbaru adalah SK Mentan No. Untuk melaksanakan tugas ke-3 dan ke-4 Kompes membentuk Tim Pakar Evaluasi Pestisida. Tenaga Kerja. 12/1992 menyatakan bahwa: “Pestisida yang akan diedarkan dalam wilayah Negara RI wajib terdaftar. dll. pestisida rumah tangga. “Pemerintah dapat melarang atau membatasi peredaran dan/atau penggunaan pestisida tertentu” Dalam melaksanakan tugas pendaftaran dan pengelolaan pestisida secara nasional. Direktorat Jendral Bina Sarana Pertanian yang membawahi Direktorat Pupuk dan Pestisida 2. 434. Melakukan evaluasi terhadap pestisida yang telah terdaftar dan telah memperoleh izin Menteri Pertanian. aman bagi manusia dan lingkungan hidup. Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan yang membawahi Direktorat Perlindungan Pangan 112 . 4. terjamin efektivitasnya. 3. serta diberi label” “Pemerintah melakukan pendaftaran dan mengawasi pengadaan. pengendalian vektor penyakit manusia. wewenang serta status kepegawaian beberapa lembaga perlindungan tanaman nasional. 2. Kelembagaan Pemerintah Pusat Dalam organisasi Departemen Pertanian. BPTPH (Balai Proteksi Tanaman dan Hortikultura) Propinsi yang dahulu berada di bawah struktur Departemen Pertanian Pusat sekarang berada di bawah Pemerintah Daerah Propinsi. KELEMBAGAAN PERLINDUNGAN TANAMAN Dengan telah diundangkannya UU tentang Otonomi Daerah yaitu UU 22/1999 maka terjadi perubahan struktur. pestisida industri.

dan Laboratorium Analisis Pestisida/LAP). Hal ini termasuk mengenai keberadaan. UPT Perlindungan Tanaman yang dibentuk Pemerintah Pusat cukup banyak baik yang berada di Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Jombang dan Ambon. Badan Karantina Pertanian yang membawahi Karantina Tumbuhan Dalam struktur organisasi Pemerintah Pusat dan Daerah dikenal lembaga dengan status dan fungsi pelaksanaan aspek-aspek teknis tertentu yang disebut Unit Pelaksana Teknis (UPT). Karena itu pada struktur organisasi Dinas-dinas yang ditetapkan oleh SK Kepala Daerah seringkali posisi perlindungan tanaman tidak ada terutama di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan/atau Hortikultura. Bandung. dan 63 kotamadya yang mempunyai struktur organisasi yang sangat beragam. Di Dinas Perkebunan seperti di Jawa Tengah dan DIY bagian perlindungan tanaman masih tampak kadangkala sebagai eselon II (Sub Dinas Perlindungan Tanaman) atau sebagai eselon III (Seksi Perlindungan Tanaman). tergantung pada kebijakan dan program kerja daerah yang bersangkutan. Dua unit kerja yang termasuk UPT Ditlin Pangan adalah Sentra Peramalan Jasad Pengganggu Tanaman Pangan di Jatisari Cikampek. dan Laboratorium Analisis Pestisida di Pasar Minggu Jakarta. Sebagian besar UPT di bawah Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan dan Ditlin Hortikultura sudah diserahkan ke daerah sehingga berubah statusnya menjadi UPT Pemerintah Daerah. 273 kabupaten. 113 . UPT Ditlin Perkebunan adalah BPTP (Balai Proteksi Tanaman Perkebunan) di Medan. dan beberapa Laboratorium (Lab.3. Direktorat Perlindungan Hortikultura dan Direktorat Perlindungan Perkebunan. Perlindungan Tanaman di Organsiasi Pemerintah Propinsi Sebagai konsekuensi kebijakan otonomi daerah struktur organisasi Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten sangat beragam. Lapangan/LL. Sampai tahun 2003 Indonesia memiliki 33 propinsi. Laboratorium Utama Pengendalian Hayati/LUPH. Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan yang membawahi Direktorat Perlindungan Perkebunan 5. kedudukan. Operasionalisasi kegiatan pengkajian dan pengendalian OPT di tingkat daerah dilakukan oleh BPTPH Propinsi sebagai UPT Daerah. Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura yang membawahi Direktorat Perlindungan Hortikultura 4. Lab Utama Vertebtara/LUV. dan letak lembaga yang berwewenang dalam mengelola perlindungan tanaman. Sedangkan UPT Direktorat Perlindungan Perkebunan sampai tahun ini masih belum diserahkan ke Daerah. BPTPH di lapangan mempunyai beberapa laboratorium perlindungan tanaman seperti BPTPH DIY memiliki laboratorium di Bantul.

8. 1. Tanam – anakan terbentuk : kerusakan daun sebesar 25 % 10 nimfa 2 telur/rumpun 114 . Scirpophaga incertulas S.20 rumpun pada pemasakan bulir 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak Ambang ekonomi Persentase tanaman terpotong >5% 1. Tanam – malai berisi : 2 kel.LAMPIRAN I AMBANG EKONOMI BERBAGAI JENIS HAMA PADA KOMODITAS TANAMAN PANGAN Jenis hama Rattus argentiventer Sampel pengamatan . dan N. Nymphula depunctalis 20 rumpun / petak 7. Ada tungro : 1 nimfa dewasa / tunas b. Pembentukan malai – masak : kerusakan daun sebesar 15 % a. telur / 20 rumpun b. telur / 20 rumpun a. Semai – tanam : kerusakan daun sebesar 50 % b. N. Leptocoryza acuta Orseolia oryzae 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 1 nimfa / tunas 1 nimfa dewasa / tunas a. malayanus. polychrysus Sesamia inferens Mythimma separata Spodoptera litura S. 4. Tanam – pembentukan malai : kerusakan daun sebesar 25 % c. 4. nigropictus - 5. mauritia 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 5. Padi No. exemta S. Malai berisi – akhir pembungaan : 1 kel.30 rumpun pada masa vegetatif. innotata Chilo supressalis C. Cnapalocrosis medinalis 20 rumpun / petak 6. . Sebelum pembentukan malai–pembentukan bunga: kerusakan daun 5 % a. 3. Fase vegetatif : kerusakan daun sebesar 20 % b. Tidak ada tungro : 5 nimfa / tunas a. Pesemaian : kerusakan daun sebesar 50 % b. 2. Nilaparvata lugens Sogatella furcifera Nephotettix virescens.

Umur tan. Fase vegetatif : 1 2. Kedelai No.200 larva instar 1 .30 larva instar 3 . telur / 100 rumpun b.120 larva instar 2 . (51 – 70 hst) : 6 ekor larva instar 3 / rumpun dan 7 kel.10 hst : 1 imago b.kerusakan daun sebesar 12.120 larva instar 2 .5 % c. Fase vegetatif (11-30 hst): . Fase tanam.20 larva instar 3 .kerusakan daun sebesar 12.200 larva instar 1 . (31 – 50 hst) : 3 ekor larva instar 3 / rumpun dan 4 kel.120 larva instar 2 . Jenis hama Spodoptera litura Sample pengamatan Ambang ekonomi a. Kerusakan daun 12. Umur tan. Populasi ulat 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) a. telur / 100 rumpun c. Phaedonia inclusa 10 rumpun / petak 115 .50 larva instar 3 . Chrysodeixis chalcites 10 rumpun/ petak 3. (31-50 hst): .2.5 % d.200 larva instar 1 . Umur tan. (51 – 70 hst): .kerusakan daun sebesar 25 % b. Umur tan.5 % atau populasi ulat 10 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) a. 1.

Umur tanaman 45 hst. Umur 45. bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) Umur tan (31 – 50 hst): .kerusakan polong > 2.kerusakan polong > 2. Umur tan. bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) 6 Riptortus linearis a.1 pasang kepik hijau .1 pasang kepik coklat Umur tan. (51 –70 hst) : .1 pasang . d. (51 –70 hst) : . imago c. Umur 45. Umur tan (31 – 50 hst): .1 pasang kepik hijau . b.1 pasang kepik hijau . Sebelum 45 hst : kerusakan sebesar > 2 % / 20 rumpun acak d. Nezara viridula 10 rumpun 5 Piezodorus hybneri a. ditemukan serangan sebesar 2 % (Balittan Malang) a. bila ditemukan 1 ekor kepik / 116 .1 pasang .5 % Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang Umur 45.1 pasang . (51 –70 hst) : . Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d.5 % c.4. c. Umur tan.kerusakan polong > 2.1 pasang kepik coklat b.50 hst.50 hst. Umur tan (31 – 50 hst): .50 hst.5 % c.1 pasang kepik coklat b. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d.

5 % Umur tan (51 – 70 hst) : kerusakan daun sebesar 12. e. d. 1991) 117 .Lamprosema indicata .1991) Umur tanaman kurang dari 10 hari kerusakan sebesar >2% Umur tanaman 0-30 hst : terdapat serangan > 2 % 58 larva instar 1 32 larva instar 2 17 larva instar 3 (Ditlin) 4 larva / 12 rumpun yang berdekatan Terdapat kerusakan daun sebesar 12. b. (tanam – 10 hst) : 2 ekor atau 2. 9. bila terdapat serangan ratarata 2 % (Balittan Malang) Umur tan.Plusia chalcites 10 rumpun / petak a. b.5 % atau 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang. b.5 % Umur tanaman 45 hst . Ophiomyia phaseoli (Agromyza) 30 rumpun / petak a. c. 10. c.5 % Terdapat kerusakan daun sebesar 12. c. . d. Etiella zinckenella 10 rumpun / petak a. (31-50 hst) : kerusakan daun sebesar 12.5 % atau ditemukan 15 ulat (Balittan malang. b. b.5 % tanaman terserang Umur tan. 1991) vegetatif (11-30 hst) : kerusakan daun sebesar 25 % atau ditemukan 30 larva Umur tan. 11. 4 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) Pertumbuhan polong (51 – 70hst) : 1 pasang atau 1 ekor dan polong terserang > 2. Spodoptera litura 12 rumpun / petak a. Sebelum 10 hst : kerusakan > 2 % Terdapat serangan 2 % atau adanya 1 ekor lalat / 5m baris tanaman (Balittan Malang. Melanogromyza sojae 10 rumpun / petak a. 8.7.

24 Derris elliptica 25 Derris malaccensis 26 Eclipta alba 27 Eugenia syzigium 28 Eunymus japonicus 29 Eupatorium triplinerpe Cucumber Lemon grass Frenchmarigold Clove Spindle tree 118 . 23 Dahlia sp. biji Kulit. 12 Cinnamomum burmanii 13 Citrus aurantium 14 Citrus hystrix 15 Cocos nucifera 16 Coleus sp. delima Nimba Glintungan Piretrum Kayu manis Jeruk Jeruk purut Kelapa Daun jinten Ketumbar Kamalakian Beluntas Cina Mentimun Labu besar Serai dapur Dahlia Tuba Tuba laut Urang aring Cengkeh Kumbang Ayapana Bagian yang digunakan Daun. buah Akar.Lampiran 2 Daftar tumbuhan di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati No Nama Spesies Nama Umum Indian nettle Red onion Garlic Citronella Custard apple Sugar apple Neem tree Chrysant Cinnamon leaf Sour orange Lemon Coconut Nama Daerah Rumput bolong Delinggo Bawang merah Bawang putih Serai wangi Sirsak Buah nina Srikaya. 20 Cucumis sativus 21 Cucurbita moschata 22 Cymbopogon sp. kulit Daun Daun Daun Daun Daun. tangkai Daun. buah Daging Daun Biji Biji Daun Daun Daun. buah Daun Daun. bunga Daun Daun 1 Achalypha indica 2 Acarus columus 3 Allium cepa 4 Allium sativum 5 Andropogon nordus 6 Annona muricata 7 Annona reticulata 8 Annona squamosa 9 Azadirachta indica 10 Bischo Bischofia javanica 11 Chrysantemum sp. kulit. kulit. biji Daun Daun Akar Akar Akar. buah Seluruh bagian Daun Bunga Daun. 17 Coriandum sativum 18 Croton triglium 19 Crynura sp.

batang Akar. daun Daun. lerek Kentang Jahe Iris potato Vogel teprosia Ginger Daun Daun Daun Daun Daun Akar Seluruh bagian Akar. ubi. batang Daun Biji Daun Daun Biji Daun Daun Daun Daun. Hedera nodosa Impatiens sultani Ipomea batatas Lonchocarpus nicou Lycopercicum sp. Mammea Americana Mundulae suberosa Nerium oleander Nicotiana tabaccum Oxalis deppei Pachyrrhyzus erosus Pangium edulo Pelargonium sp. Piper nigrum Pogostemon cablin Punica granatum Ricinus communis Rosa sp. akar. kulit. kulit Kulit. batang Daun Daun Seluruh bagian Dahan. Peperomia sp. biji Rimpang Sumber : DirJen Bina Produksi Perkebunan. komir Mundula Oleander. kaliki Mawar Rerek.30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 Ficus carca Geranium sp. Departemen Pertanian 119 . jure Tembakau Celincing Bengkuang Kapayang Keranyam Saladaan Lada Nilam Delima Jarak. patate Mamey Common oleander Tobacco Lucky clover Chinesse yan Geranium Black pepper Cublin Ponegranate Costa bean Daun ambrei Pepaya hutan Pacar air Ubi jalar Timbo. neku Leunca. Sepindus rarak Solanum tuberosum Tephorisa vogelii Zingiber officinale Fong tree Zingiber balsam Batate.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful