129807801.

doc

Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

2010

1

129807801.doc. Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.

Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini menguraikan Interaksi Tanaman dan Hama; Pendugaan Kehilangan Hasil dan Ambang Pengendalian; Landasan Ekologi Pengelolaan Hama; Pengamatan dan Pengambilan Sampel; Unsur dan Komponen Dasar PHT; Pengendalian dengan Varietas Resisten, Pengembangan Tanaman Transgenik, Karantina Tumbuhan; Pengendalian Hayati; Pengendalian Kimiawi; Pengelolaan Hama Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Pasca Panen; Kebijakan Perlindungan Tanaman. Tujuan Instruksional Khusus: Agar mahasiswa dapat: 1. Memahami dan menjelaskan pengertian + batasan hama tanaman, klasifikasi, identifikasi, taksonomi dan sistematikanya. 2. Memahami dan menjelaskan gejala serangan, mengukur berat serangan dan tingkat kerugian hasil yang diakibatkan oleh hama. 3. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hama dan gejala serangan hama tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan hama pasca panen. 4. Memahami dan menjelaskan sifat dan kemampuan beradaptasi hama pada tingkat individu. 5. Memahami dan menjelaskan faktor-faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi populasi hama dan kerusakan yang diakibatkannya. 6. Memahami dan menjelaskan cara penentuan dan penggunaan Ambang Pengendalian sebagai dasar rekomendasi pengendalian hama. 7. Memahami dan menjelaskan konsep dan prinsip-prinsip PHT dan penerapannya untuk berbagai jenis dan kelompok hama di pertanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan pasca panen. 8. Memahami dan menjelaskan beberapa kasus aktual lapangan yang berkaitan dengan pengendalian hama-hama utama di Indonesia.

2

129807801.doc Materi 1

HAMA TANAMAN
Pokok Bahasan: 1. Beberapa batasan dan pengertian. 2. Arti penting hama tanaman untuk program pembangunan pertanian. 3. Data kerusakan dan sebaran beberapa hama utama di Indonesia. 4. Sebab-sebab muncul dan berkembangnya masalah hama tanaman. 5. Tujuan pengendalian hama dan pongelolaan hama. Materi: PERISTILAHAN • Hama Tanaman  Merujuk pada binatang yang menjadi HAMA yakni merusak tanaman dan merugikan petani  Selama binatang tersebut (serangga, tikus, nematoda, tungau, dll) mendatangkan kerugian disebut HAMA TANAMAN  Tetapi keberadaan binatang di tanaman tidak selalu mendatangkan kerugian/kerusakan tanaman  Banyak jenis binatang herbivora ada di pertanaman tetapi tidak semuanya menjadi hama  Di samping itu di ekosistem banyak sekali jenis binatang yang tidak merugikan malahan menguntungkan seperti MUSUH ALAMI (parasitoid, predator), serangga PENYERBUK TANAMAN (lebah, tawon) serangga-serangga netral seperti SEMUT, dll.

Istilah HAMA merupakan istilah yang ANTROPOSENTRIS artinya lebih berpusat pada kepentingan manusia.
Bagaimana dengan istilah HAMA TUMBUHAN? Sebetulnya kurang tepat karena TUMBUHAN adalah semua jenis tetumbuhan yang hidup di biosfir termasuk tumbuhan di ekosistem alami atau tumbuhan yang tidak dibudidayakan manusia. TANAMAN adalah tumbuhan yang diusahakan manusia untuk diambil manfaatnnya bagi kehidupan manusia. Karena istilah HAMA pada dasarnya antropogenik, yang paling tepat kita gabungkan istilahnya adalah HAMA TANAMAN, istilah HAMA TUMBUHAN dapat juga dipakai meskipun kurang pas kombinasinya. Kalau istilah PENYAKIT TUMBUHAN memang lebih tepat, karena PENYAKIT lebih merujuk pada GEJALANYA. Tumbuhan sedang sakit, kondisi yang secara fisiologi tidak normal, tidak sehat. Setiap jenis tumbuhan termasuk TANAMAN dapat sakit. Sakitnya tumbuhan dapat disebabkan oleh karena infeksi jasad renik seperti virus, jamur, bakteri, dll, tetapi sakitnya mungkin juga karena kondisi fisik/abiotik yang tak sesuai seperti suhu, kering, basah, dll. Karena itu di Ilmu Penyakit Tumbuhan kita kenal Organisme Penyebab Penyakit. Kalau hama merujuk pada binatang yang merugikan, penyakit merujuk pada gejala tumbuhan yang SAKIT.

3

OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) merupakan istilah “formal/hukum nasional” yang digunakan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. Digunakannya istilah OPT untuk mencakup semua kelompok pengganggu tumbuhan termasuk HAMA. propinsi. artinya 100% GAGAL. PENGHASILAN NEGARA/DAERAH (PAD) TURUN 4 . tingkat petani) 2. Produksi TURUN (nasional. Namun harap diperhatikan bahwa definisi OPT menurut UU ada perbedaannya dengan pengertian Hama Tanaman dan Penyakit Tumbuhan yang sudah dijelaskan di depan. Serangan HAMA mengakibatkan: 1. Dilihat dari sisi ilmu-ilmu dasar pendukung Perlindungan Tanaman sbb: HAMA TANAMAN : Entomologi (ilmu serangga) Nematologi (ilmu nematoda) Rodentologi (Ilmu rodent/tikus) Akarologi (ilmu akarina) dll Karena sebagian besar hama termasuk kelompok serangga seringkali Ilmu Hama diartikan entomologi. Kualitas ANJLOK (mutu rendah-sulit dipasarkan-diekspor) 3. menyebabkan PUSO. atau menyebabkan kematian tumbuhan”. Tiga kelompok pengganggu tumbuhan ini yang pengendalian atau pengelolaannya dicakup dalam bidang PERLINDUNGAN TANAMAN. PENYAKIT dan GULMA. Biaya produksi NAIK 5. Hal ini disebabkan karena berbagai jenis HAMA dan atau OPT lainnya dapat menurunkan KUANTITAS dan KUALITAS hasil-hasil pertanian. Teman-teman Fitopatologi banyak yang tidak sependapat dengan istilah OPT. dan sangat sering MENGGAGALKAN PANEN. lokal. Harga produk MEROSOT 4. namun secara khusus sering diartikan untuk pengertian HAMA HAMA TANAMAN SEBAGAI PEMBANGUNAN PERTANIAN FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROGRAM Program Pembangunan Pertanian Nasional apakah dengan pola Pembangunan Pertanian AGRIBISNIS atau program KETAHANAN PANGAN sangat ditentukan oleh keberhasilan kita dalam mengendalikan. RUGI secara ekonomik (biaya lebih besar daripada pendapatan) 6. mengganggu kehidupan. PENYAKIT TUMBUHAN : Fitopatologi Virologi Mikologi dst GULMA : Ilmu gulma Dalam bahasa inggris Istilah PEST sebenarnya digunakan untuk seluruh kelompok OPT. mengelola HAMA TANAMAN. Menurut UU tersebut: “OPT adalah semua organisme yang dapat merusak. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP 6/1995 tentang Perlindungan Tanaman.

6. TUJUAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENGELOLAAN HAMA Pada saat ini di kalangan petani. Penanaman monokultur (jenis tanaman atau varietas tanaman yang sama) sepanjang waktu dan tempat. jadi sering disebutkan bahwa hama saat ini adalah “MAN-MADE PEST” (Hama buatan MANUSIA). contoh padi 2.INTEGRAL dari setiap USAHA TANI atau BUDIDAYA TANAMAN agar diperoleh Tingkat PRODUKSI dan KUALITAS produksi yang DIINGINKAN baik oleh PEMERINTAH maupun PETANI – KELOMPOK TANI FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENINGKATAN SERANGAN DAN KERUSAKAN OLEH HAMA Masalah hama di suatu lokasi pada saat/musim tertentu tidak muncul begitu saja tanpa penyebab atau faktor-faktor pendorong. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Jumlah itu setelah dikurangi 25% kehilangan hasil oleh OPT padi. Serangan OPT Hortikultura (mangga. jeruk. pembiakan dan kehidupan hama tanaman. resistensi dan resurjensi hama. kubis.KARANTINA gagal 4. pestisida. Hampir seluruh faktor pendorong tersebut adalah karena ulah/perbuatan/tindakan MANUSIA sehingga ekosistem pertanian menjadi sangat sesuai bagi pertumbuhan. Banyak faktor yang mendorong terus ada dan meningkatnya masalah hama. HITUNG SENDIRI secara finansial berapa kerugian yang kita derita setiap tahun karena hama-hama padi. pengendalian hama dan pengelolaan hama. jagung.7. kentang. cabai. serangan OPT padi. Pemberantasan hama: adalah usaha memusnahkan. Lihat juga tabel keadaan serangan OPT di Indonesia pada tahun 2001-2002 (jenis dan luas serangan) Mengingat potensi penurunan hasil akibat HAMA yang sangat besar kegiatan Pengelolaan Hama menjadi BAGIAN PENTING . Menurut catatan DEPTAN 1997-2001. termasuk terjadinya penyimpangan cuaca dan iklim KESIMPULANNYA: Masalah timbul. Tanpa ada kegiatan manusia tidak ada masalah hama.kehilangan hasil karena HAMA sekitar 20 – 25%. PENGHASILAN TURUN KEMISKINAN MENINGKAT ---- KESEJAHTERAAN PETANI MENURUN ---- Taksiran KASAR/KONSERVATIF. kedelai sebesar Rp 463 milyar /tahun. Pestisida membunuh musuh alami. tidak memperhitungkan keadaan hama di lapangan apakah sedang dalam kondisi populasi rendah atau tinggi. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana. tomat) diasumsikan rata-rata Rp 1. membunuh hama yang umumnya dilakukan dengan pestisida kimia secara preventif.7 trilyun/tahun. pejabat dan petugas pemerintah akademisi dan masyarakat dikenal 3 istilah pemberantasan hama. bila produksi tahun 2003 itu diperkirakan 53 juta ton padi kering panen. Penanaman jenis tanaman atau varietas tanaman yang peka hama tetapi unggul produksi 3. pengairan dll. Penanaman jenis tanaman baru di suatu daerah sehingga belum ada musuh alami di lokasi baru ---. hormon tumbuh. 5 . Rata-rata kehilangan hasil Produksi Pertanian karena serangan OPT ± 30% dari potensi hasil --. Tahun 1999 serangan OPT Perkebunan merugikan sebesar Rp 340 milyar. bawang merah. pisang. Penggunaan masukan produksi yang berkelebihan seperti pupuk buatan. terus-menerus dan berlebihan. 5. dll. muncul dan terus ada karena manusia.

fisik. kualitas produksi baik PHT (Pengendalian Hama Terpadu) merupakan kebijakan Perlintan di Indonesia berdasarkan UU No 12/1992 dan PP 6/1995. mekanik. pengendalian hayati. tanah. Bila populasi hama tidak membahayakan tidak perlu dikendalikan dengan pestisida. mikroklimat. varietas resisten.pokoknya disemprot habis-habisan sampai petani merasa puas. tak perlu dilakukan pengendalian dengan pestisida tetapi produksi tanaman tetap tinggi. Pemberantasan hama yang mengakibatkan munculnya resisitensi hama dan letusan hama yang berkelanjutan Pengendalian hama: lebih hati-hati daripada pemberantasan hama. Penggunaan pestisida hanya dilakukan bila populasi hama telah membahayakan atau melampaui ambang pengendalian atau ambang ekonomi. 6 . Pengelolaan hama: Lebih menekankan aspek pengelolaan ekosistem (tanaman. PHT adalah usaha pengelolaan agroekosistem dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama (bercocok tanam. dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada di bawah Ambang Pengendalian. pengendalian kimia. budidaya dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada dalam keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga hama tidak membahayakan.

129807801. Dari sisi ekologi hubungan antara tanaman dan hama merupakan interaksi yang saling mengendalikan antara tanaman yang autotroph dengan binatang HERBIVORA yang heterotroph dalam suatu sistem trofi yang berjalan secara EFISIEN dan berkesinambungan. Aliran Energi dalam Ekosistem melalui Sistem Trofi Aras Istilah trofi Ekosistem Antroposentris 7 . Energi pada tanaman digunakan oleh binatang yang memakan tanaman (HERBIVORA) yang menempati aras trofi kedua sebagai KONSUMEN PERTAMA. Aliran energi di ekosistem melalui sistem trofi dapat dilihat pada gambar berikut: Energi memasuki ekosistem sebagai radiasi surya EKOSISTEM Produsen Konsumen 1 Konsumen 2 Dekomposer Energi keluar ekosistem sebagai panas Gambar 1. Binatang karnivora memperoleh energinya dengan memangsa herbivora sehingga menempati aras trofi ketiga sebagai KONSUMEN KEDUA. demikian seterusnya. Karena kemampuannya mengubah energi surya menjadi energi biokimia melalui proses fotosistesis tanaman menempati aras trofi pertama sebagai PRODUSEN.doc Materi 2 INTERAKSI TANAMAN DAN HAMA Interaksi antara tanaman dan hama dapat dilihat dari aspek EKOLOGIS dan EKONOMIS.

berada dan makan pada tanaman tersebut. Luka oleh serangga yang makan di dalam jaringan tanaman (internal feeders) termasuk penggerek. Adapun kategori intensitas serangan serangga hama secara umum dapat digunakan pedoman sbb: a. Pengertian dan istilah LUKA lebih terpusat pada HAMA dan AKTIVITASNYA.Pengamat Hama dan Penyakit. Aspek EKONOMIS Adanya populasi serangga/hama di suatu tanaman akan menimbulkan LUKA (“injury”) pada tanaman. berat dan puso. sedang. Tujuan interaksi sebenarnya adalah terjadinya keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Intensitas serangan dalam % dilaporkan oleh PHP b. pengorok dan pembuat puru 4. Luka tanaman dapat mengakibatkan terjadinya KERUSAKAN (“damage”). Intensitas serangan secara kuantitatif dinyatakan dalam % (persen) bagian tanaman/tanaman atau persen kelompok tanaman terserang. Intensitas serangan secara kualitatif dibagi menjadi 4 kategori serangan yaitu: ringan. a. dan dinamis melalui proses evolusi dan koevolusi. Luka oleh serangga penggigit 2. Istilah-istilah lain berkaitan dengan hama dan tanaman yang saat ini digunakan dalam kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh para petugas pengamat lapangan (dulu namanya PHP. Serangan berat bila derajat serangan 50-90% d. Serangan ringan bila derajat serangan <25% b. Serangan puso bila derajat serangan >90 % CARA PELUKAAN TANAMAN OLEH SERANGGA A. Serangan sedang bila derajat serangan 25-50% c. Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT dan atau mengalami kerusakan karena serangan OPT pada tingkat populasi OPT atau intensitas kerusakan tertentu sesuai dengan jenis OPT nya 2. sekarang namanya POPT. Luka oleh serangga pencucuk pengisap 3. Kerusakan adalah kehilangan hasil yang dirasakan oleh tanaman (petani) akibat adanya populasi hama atau serangan hama antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dan kualitas hasil. Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas serangga hama yang hidup.Pengendali OPT). Luka Oleh Serangga Pada Tanaman Yang Sedang Tumbuh 1. 1. Kategori serangan dilaporkan oleh koordinator PHP.1 2 3 4 Tumbuhan Herbivora Karnivora 1 Karnivora 2 Tanaman Hama tanaman Predator. Intensitas serangan: adalah derajat serangan OPT atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. Masalah ini akan dibahas pada kuliah dua minggu lagi. Luas serangan: adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar atau rumpun atau pohon 3. sedangkan KERUSAKAN lebih terpusat pada TANAMAN dan respon tanaman terhadap pelukaan oleh hama. hiperparasitoid Perlu diperhatikan bahwa di ekosistem termasuk ekosistem persaingan interaksi antara organisme yang menempati aras trofi yang sama atau antar aras trofi sangat kompleks. BPTPH. Luka oleh serangga-serangga tanah 8 . parasitoid (musuh alami) Predator.

5. 9 . Luka oleh serangga-serangga yang “memperhatikan” serangga-serangga lain 7. Luka oleh serangga sebagai vektor/pengantar penyakit tumbuhan Berbagai bentuk luka oleh serangga pada tanaman yang biasa kita catat sebagai GEJALA SERANGAN hama. Luka oleh serangga yang sedang meletakkan telur dan membuat sarang 6.

Kehilangan hasil dapat berakibat pada kerugian ekonomi (biaya lebih besar daripada nilai produksi) yang dialami petani atau pengusaha pertanian. Hasil interaksi populasi hama dan populasi tanmaan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik lainnya dan faktor-faktor abiotik dan terutama oleh tindakan manusia terhadap ekosistem Gambar 2. Interaksi antara Populasi Hama dan Tanaman 10 . luka mengakibatkan kerusakan dan kerusakan tanaman karena hama menyebabkan terjadinya kehilangan atau penurunan hasil tanaman dan kualitas produk/hasil.FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK Populasi Hama Populasi Tanama n LUKA KERUSAKAN KEHILANGAN HASIL DAN KUALITAS KERUGIAN EKONOMIK PETANI TINDAKAN MANUSIA Keterangan : Hasil interaksi antara populasi hama dan tanaman mengakibatkan luka pada tanaman.

Akar • Panjang. Buah dan benih • Jumlah lubang atau luka di buah • Jumlah atau % buah rusak seperti terserang PBK (Penggerek Buah Kakao) dan PBKo (Penggerek Buah Kopi) 5.B. Metode Pendugaan Kerusakan Tanaman Oleh Hama Pendugaan atau penghitungan pengaruh hama terhadap kerusakan tanaman dan kehilangan hasil karena serangan hama dapat dilakukan dengan menghitung atau mengukur luka atau gejala yang ditinggalkan atau diakibatkan oleh hama. lubang gerekan dan gejala daun lainnya diukur dengan menggunakan luas defoliasi. berat kering atau volume perakaran yang terserang hama • Luas kerusakan umbi seperti pada tanaman kentang. pengurangan berat kering daun 3. Luka Oleh Serangga Pada Manusia Dan Binatang Lain C. 9 . Beberapa pengukuran yang sering digunakan adalah terhadap tanaman atau bagian tanaman antara lain seperti: 1. Serangga Sebagai Perusak Produk Di Gudang Dan Bahan-Bahan Lain D. beluk • Jumlah lubang keluar • Panjang lubang gerekan • Luka potongan batang oleh ulat 4. Batang • Jumlah atau % puru. Daun Adanya kerusakan daun. Keseluruhan tanaman Jumlah atau % tanaman mati/busuk atau yang menunjukkan gejala serangan hama tertentu 2. sundep.

129807801.doc Materi 3

PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL
Pokok Bahasan: A. Pendugaan Kehilangan Hasil Akibat Serangan Hama (Crop Loss Assesment) B. Penggunaan Ambang Pengendalian sebagai tingkat pengambilan keputusan penggunaan PESTISIDA Materi: Pendugaan kehilangan hasil adalah usaha untuk menduga, menaksir bahkan meramal tentang kerugian ekonomi yang mungkin akan dialami oleh petani, perusahaan pertanian, pemerintah atau pengusaha agribisnis karena adanya serangan hama pada pertanaman yang mereka budidayakan. Dengan melakukan pendugaan kehilangan hasil para produsen pertanian dapat menentukan beberapa hal:  Apakah keberadaan populasi hama di lahannya akan merugikan atau menurunkan hasil usahanya dalam kisaran toleransi ekonominya. Bila masih berada pada kisaran toleransi petani tidak perlu melakukan tindakan pengendalian atau mengeluarkan biaya untuk pengendalain.  Apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau pencegahan hama. Apabila perlu berapa besar biaya pengendalian yang harus dikeluarkan. Tentunya petani tidak akan mengeluarkan biaya pengendalian sampai melebihi nilai kehilangan hasil  Bila petani sudah memutuskan perlu dilakukan tindakan pengendalian, teknik pengendalian mana yang akan digunakan apakah dengan cara kimiawi dengan pestisida kimia atau dengan secara hayati menggunakan musuh alami, atau menggunakaan varietas tanaman tahan hama dan seterusnya. Dalam menetapkan teknik pengendalian hama yang akan dilakukan petani/produsen adalah mempertimbangkan beberapa faktor yaitu a) efektivitas pengendalian, b) biaya pengendalian, dan c) risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pendugaan kehilangan hasil juga akan digunakan untuk menentukan berapa nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi yang akan kita bahas pada akhir kuliah ini. Siapa yang memerlukan Kehilangan Hasil? Banyak pihak yang memerlukan data pendugaan kehilangan hasil, diantaranya: 1. Petani secara perseorangan (untuk petak dan lahan miliknya sendiri) atau secara berkelompok (untuk hamparan sawah/lahan). Satu kelompok hamparan besarnya terdiri dari 20-30 petani. 2. Pemeriantah Daerah dan Pemerintah Pusat, biasaya melalui Dinas Pertanian Kabupaten dan Departemen Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Hortikultura dan Ditjen Perkebunan. 3. Pengusaha Pertanian misal PT Perkebunan milik Pemerintah, PT Pagilaran milik Fak. Pertanian UGM, dst. CARA PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL Untuk menghitung kehilangan hasil dalam bentuk satuan berat (ton/ha) atau satuan rupiah (Rp/ha) secara TEPAT jelas sangat sulit dan tidak mungkin, karena tidak mungkin kita 10

mengukur dan menghitung semua lahan yang ada baik milik petani dan kelompok tani maupun lahan pertanaman tertentu di suatu daerah (desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional). Yang dapat kita lakukan adalah melakukan PENDUGAAN, kata-kata lain ESTIMASI, PENAKSIRAN, berdasarkan data hasil pengamatan yang dilakukan pada lahan/petak sawah/tanaman/pohon/rumpun yang digunakan sebagai SAMPEL, CONTOH yang mewakili. Untuk memperoleh taksiran kehilangan hasil untuk suatu petak atau hamparan/sawah atau suatu daerah kita harus mempunyai data seperti: 1. Luas serangan – LSR (dalam ha) 2. Intensitas serangan – ISR (dalam % rumpun/tanaman terserang) a ISR = --------------------- x 100% a + b a: jumlah rumpun/batang terserang b: jumlah rumpun/batang tak terserang 3. Hubungan antara intensitas serangan dengan hasil tanaman yang diperoleh dari pengalaman petani atau dari hasil penelitian. Suatu contoh:
Hasil Tanaman (ton/ha)

10

6 5

Gambar 3. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama dengan Hasil Tanaman
2 Dari fungsi ini kita mengetahui dugaan hasil tanaman atau produksi tanaman dalam kondisi intensitas serangan (%) tertentu, katakan 50% intensitas serangan, produksi atau hasil tanaman adalah 6 ton/ha. Kita sebut Produksi Tanaman Terserang (PTT) 20 50 80 100 4. Dari fungsi ini kita ketahui bahwa hasil tanaman yang tidak terserang hama atau Intensitas serangan (%) produksi tanaman sehat (PTS) adalah 9,5 ton/ha. 5. Harga dari produk/hasil tanaman pada tingkat petani katakan Rp 1000/kg atau Rp 1 juta/ton (HG) 6. Kehilangan hasil (KH) dalam satuan berat (ton) = Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Sehat (PTS) --- Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Terserang (PTT) 7. Nilai kehilangan hasil (NKH) dalam rupiah = Harga produk (HG) x KH Suatu contoh: Untuk hama padi di suatu kecamatan ternyata LSR 500 ha. PTT= 6 ton/ha. PTS = 9,5 ton/ha dan harga padi kering panen (HG) Rp 1500/kg.

KH

= (LSR x PTS) – (LSR x PTT) = (500 x 9,5) – (500 x 6) = 4750 – 3000 ton = Rp 2.625.000.000 11

PENETAPAN AMBANG PENGENDALIAN Dalam konsep PHT kita kenal beberapa istilah yang arti dan fungsinya sama yaitu: 1. Ambang Ekonomi (AE) “Economic Threshold” 2. Ambang Kendali (AK) “Economic Threshold” atau Ambang Pengendalian “Control PESTISIDA ARAS LUKA EKONOMI Threshold” 3. Ambang Tindakan (AT) “Action Threshold” Artinya adalah suatu aras (tingkat) kepadatanAMBANG EKONOMI atau intensitas serangan populasi hama hama yang membenarkan dimulainya penggunaan PESTISIDA untuk pengendalian hama. Tujuan penggunaan pestisida adalah menurunkan populasi hama sampai di bawah AE agar
ARAS KESEIMBANGAN UMUM

Populasi Hama atau Intensitas Serangan

= Rp 2,625 milyar Dengan perhitungan tersebut secara kasar kita dapat mengetahui seberapa besar kerugian yang dialami oleh petani, masyarakat dan pemerintah akibat terjadinya serangan hama tertentu. Dari cara penghitungan tersebut di atas dapat dimengerti bahwa untuk menduga kehilangan hasil kita memerlukan hubungan fungsional antara populasi hama atau intensitas serangan (%) dengan hasil. Tanpa informasi tentang hubungan ini kita tidak dapat menduga/menaksir berapa hasil tanaman yang akan diperoleh bila terserang hama pada intensitas serangan atau populasi hama tertentu. Untuk memperoleh fungsi tersebut perlu dilakukan percobaan pengamatan langsung di lapangan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan antara lain: Cara pertama adalah dengan cara ALAMI yaitu dengan: Mengamati beberapa petak sawah dengan menghitung berapa populasi hama atau intensitas serangan hama tertentu. Misal pada petak pertama intensitas serangan 5%, petak kedua 20%, petak ketiga 40%, petak keempat 60%, petak kelima 80%, dan petak keenam puso atau 95%. Pada waktu panen kita lakukan ubinan hasil pada semua 6 petak tersebut. Dari langkah pertama dan kedua tersebut kita dapat memperoleh fungsi hubungan intensitas serangan dan hasil. 2. Namun seringkali di lapangan kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan petak-petak sawah yang memiliki kisaran lebar dalam kepadatan populasi hama atau intensitas serangan seperti contoh di atas. Untuk memperoleh intensitas serangan atau populasi hama yang berbeda seringkali kita lakukan secara BUATAN yaitu dengan menginfestasikan hama dalam pertanaman yang dikurung dalam suatu kasa yang selebar petak sawah. Dengan melakukan infestasi hama kita dapat mengatur berapa kepadatan populasi atau intensitas serangan yang kita inginkan. 3. Cara ketiga merupakan cara yang paling murah tetapi tidak teliti yaitu dari data EMPIRIK atau pengalaman dari petani kita lakukan wawancara pada petani yang sudah lama berpengalaman menghadapi masalah hama tertentu yang menyerang tanaman atau komoditas pertanian yang mereka usahakan. Kita tanyakan pada para petani berapa produksi tanaman yang mereka dapatkan dalam kondisi intensitas serangan hama rendah, sedang, tinggi dan puso, serta berapa produksi tanaman dalam kondisi sehat atau tidak terserang hama. Dari data empirik petani akhirnya kita dapat memperoleh hubungan fungsional antara intensitas serangan dan hasil. Cara ini mudah kita lakukan, tetapi sulitnya tidak semua petani ingat apalagi menyimpan data serangan hama dan kerusakan yang pernah mereka alami.

12
20 40 60 80 100

WAKTU (hari)

Dengan demikian penggunaan pestisida dapat dihemat. tidak seragam. Berdasarkan data empirik/pengalaman selama bertahun-tahun dapat diperoleh informasi tentang pada aras populasi atau intensitas serangan berapa hama tersebut mulai dirasakan merugikan secara 13 . tidak sama dari satu tempat/lokasi ke tempat lain dari waktu ke waktu lain. Cara empirik atau berdasar pengalaman dari petani. Ambang Ekonomi dan Aras Keseimbangan Umum pada Keadaan Normal dapat dikendalikan secara alami oleh kompleks musuh alami sehingga populasi hama tetap berkisar sekitar aras keseimbangan umum (Gambar 4). Harus dilakukan pengamatan secara berkala (katakan seminggu sekali) 2. 20. Artinya nilai AE dinamis. Harus ada ketentuan mengenai berapa besar nilai AE/AK/AT tersebut Dengan demikian untuk setiap jenis hama yang menyerang komoditas tertentu harus mempunyai nilai AEnya masing-masing bahkan pada prinsipnya nilai AE suatu jenis hama tidak tetap. 45. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dalam keadaan gejolak populasi hama sepanjang musim tanam pestisida hanya diaplikasikan satu kali yaitu pada waktu populasi melampaui AE. peneliti atau petugas lapangan yang sudah lama menekuni dan merasakan tentang kerusakan atau kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama tertentu pada komoditas yang diusahakan. Yang menetapkan nilai AE yang paling baik adalah petani/kelompok tani sendiri yang berlaku untuk spesifik lahannya masing-masing. Mungkin untuk sementara keadaan tersebut dapat berjalan tetapi harus diikuti dengan melakukan pelatihan pada petani untuk mengembangkan dan menetapkan AE nya sendiri. atau pada umur 15. Suatu contoh untuk tanaman padi: AE wereng coklat : 5 nimfa + dewasa/rumpun padi pada fase vegetatif 10 nimfa + dewasa /rumpun pada fase generatif AE penggerek batang: 30% intensitas serangan pada fase vegetatif 10% intensitas serangan pada fase generatif (lihat lampiran) CARA PENETAPAN/PENGHITUNGAN AE Ada beberapa cara penentuan AE yang dapat kita lakukan: 1. Biasanya petani menerima rekomendasi AE dari para PPL atau PHP (Pengamat Hama dan Penyakit).Gambar 4. Populasi Hama dan letak Aras Luka Ekonomi. Namun untuk melaksanakan prinsip tersebut ada dua syarat penting yaitu: 1. Saat ini karena petani banyak yang belum mampu nilai AE lebih sering mengikuti ketetapan atau rekomendasi pemerintah atau rekomendasi peneliti sehingga nilai AE cenderung seragam. 60 HST (hari setelah tanam). petani tak perlu menggunakan pestisida secara berjadwal seperti seminggu sekali.

Untuk lebih jelasnya secara grafik data empirik tentang aras populasi/intensitas serangan dan hasil dapat dilihat pada gambar 5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALE DAN AE 14 Populasi hama larva/rumpun . BP ALE = -----------------HG x LT x BK dimana BP = Biaya pengendalian (Rp/ha) HG= Harga produk (Rp/kg) LT = Luka tanaman yang diakibatkan oleh satu individu hama BK = Berat kerusakan tanaman per unit luka tanaman Untuk memperoleh LT dan BK perlu dilakukan serangkaian percobaan di lapangan. Perhatikan sampai populasi 5 larva belum terjadi penurunan hasil sehingga petani masih bisa mentoleransikan tetapi pada populasi 7 petani sudah mulai merasakan kerugian ekonomi. Pada aras populasi mulai merugikan tersebut. Hubungan 10 Populasi Hama 30 dengan Hasil 2. Karena itu AE/AK/AT ini dapat kita namakan sebagai AE petani atau Ambang Petani saja. ALE adalah suatu populasi atau intensitas serangan dimana nilai kehilangan hasil (dalam Rp) yang dapat diselamatkan oleh tindakan pengendalian hama dengan pestisida sama dengan total baya pengendalian (dalam Rp). AE/AK/AT hama berbeda. Cara Penelitian Penetapan AE melalui penelitian dilakukan oleh para peneliti yang khusus ingin mengetahui berapa AE pada suatu jenis hama pada komoditas tertentu.ekonomi. maka AE/AK/AT petani adalah 7 larva/rumpun. petani akan selalu menyesuaikan atau memperbarui nilai AE nya! Hasil (kuintal/ha) Mulai terjadi kerugian ekonomik AE petani 5 7 20 Gambar 5. di rumah kasa atau di laboratorium. Pada keadaan kurve pengalaman petani demikian. Karena pengalaman dan perasaan petani berbeda-beda kita akan memperoleh AE yang sangat khas/spesifik lokasi. Dengan pengalaman yang bertambah dan tingkat toleransi yang semakin baik. Biasanya sasaran kegiatan penelitian adalah memperoleh nilai ALE (Aras Luka Ekonomi) dan dari nilai ALE dihitung AE yang besarnya ¾ atau 2/3 ALE. spesifik petani sehingga menjadi variatif dan tidak seragam. ALE dihitung dengan menggunakan titik impas/BEP (Break Even Point).

agronomi. sosiologi. Harga produk 2. fase tumbuh tanaman. Kepekaan tanaman terhadap serangan hama Perhatikan Gambar 6 di bawah. ekonomi. lokasi pertanaman. 15 . 4 faktor yang paling penting yaitu: 1. dll) dan lintas sektor. antara Kita harus mengetahui bahwa semakin tinggi ALE/AE penggunaan pestisida menjadi semakin jarang atau semakin sedikit.Banyak faktor yang mempengaruhi nilai ALE dan AE termasuk jenis varietas tanaman. Tidak dapat dilakukan oleh orang-orang/pakar perlintan. Apa artinya? ALE/AE Harga Produk ALE/AE Biaya Pengendalian Hubungan Harga Produk dan Biaya Pengendalian dengan ALE/AE Gambar 6. Dari sekian banyak faktor. semakin rendah ALE/AE semakin sering/banyak penyemprotan pestisida dilakukan. statistis. instar hama. dll. Derajat luka yang diakibatkan oleh individu hama 4. Bagan alir sistem keputusan pengelolaan hama yang menunjukkan letak pendugaan populasi hama atau infestasi serangan hama dan pendugaan kehilangan hasil serta kegiatankegiatan yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 7. Dari ketetapan-ketetapan pada gambar dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan pendugaan kehilangan hasil serta menetapkan dan menerapkan AE/AK/AT diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu (misal ilmu-ilmu perlintan. Biaya pengendalian 3.

Bagan Alir Sistem Keputusan Pengelolaan Hama 16 .Infestasi Pengamatan Pendugaan hama Pengaruh (i) pada hasil (y) Percobaan Pendugaan kehilangan hasil Hasil (y) Pengaruh pengendalian terhadap (i) AE /AT / AK tidak ? Apa lebih besar dari AE? ya Tak perlu dikendalikan Kendalikan dengan pestisida Gambar 7.

dN --. Perlu ditekankan di sini bahwa tujuan pengelolaan hama bukan untuk membasmi hama. Banyak faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi dinamika populasi hama. 3. organisme ini mempunyai potensi biotik yang sangat besar dan kemampuan berbiak sangat cepat. 2. Apabila suatu organisme berkembang sepenuhnya sesuai dengan kemampuan hayati (potensi biotik)nya. Kalau kita perhatikan kelompok serangga. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut kita dapat melakukan pengelolaan hama yang efektif dan efisien. Mengetahui dua model pertumbuhan populasi organisme Mengetahui model dinamika populasi hama Mengetahui mekanisme pengendalian alami dan pengaruh faktor abiotik dan biotik Mempelajari pengaruh kegiatan manusia terhadap dinamika populasi hama Materi: Dari kuliah sebelumnya kita mengetahui bahwa keberadaan populasi hama di pertanaman dan di ekosistem menentukan seberapa besar kerusakan tanaman dan kerugian ekonomi yang dialami oleh petani atau pengusaha pertanian lainnya. Dengan siklus hidup pendek. maka pertumbuhan populasi organisme tersebut akan mengikuti model pertumbuhan ekponensial atau pertumbuhan geometrik seperti Gambar 8.doc Materi 4 LANDASAN EKOLOGI PENGELOLAAN HAMA Tujuan: 1. POTENSI BIOTIK atau "Biotic Potential" dan 2. Diharapkan para mahasiswa setelah kuliah ini dapat menjawab pertanyaan: Apa sebabnya kita tidak mungkin melakukan pembasmian atau pemusnahan hama seperti banyak orang harapkan? Pada prinsipnya keberadaan dan perkembangan populasi hama dan populasi organisme lainnya ditentukan oleh dua kekuatan yaitu: 1. PERLAWANAN LINGKUNGAN atau "Environmental Resistance" Yang disebut POTENSI BIOTIK adalah kemampuan suatu organisme untuk tetap hidup dan berkembang biak. ukuran tubuh kecil dan kemampuan bertahan hidup yang tinggi maka populasi serangga sangat cepat meningkat sehingga dalam waktu sebentar saja dapat memenuhi permukaan bumi ini. Perhatikan gambar tentang posisi AE. naik turun. berfluktuasi sekitar suatu garis atau posisi keseimbangan umum (General Equilibrium Position). Juga kita ketahui bahwa populasi hama sepanjang musim tanam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat tidak tetap tetapi DINAMIS. 4. memberantas hama sampai habis tetapi mempertahankan populasi hama di pertanaman tetap berada di bawah AE/AK/AT atau pada aras yang secara ekonomi tidak merugikan.129807801. ALE dan Garis keseimbangan pada kuliah minggu yang lalu.= r N = ( b – d ) N dt N r b d t = populasi = laju pertumbuhan populasi intrinsik = laju kelahiran = laju kematian = waktu 17 .

) dt K N t r K = populasi = waktu = laju pertumbuhan populasi = asimtot atas atau nilai N maksimum K Model Pertumbuhan Waktu (t) dN K-N Kurve tersebut menunjukkan model pertumbuhan secara matematik. Pertumbuhan Mengikuti Ekponensial (N) Waktu (t) Populasi Organisme Model Pertumbuhan atau Geometrik Di dunia saat ini satu-satunya organisme yang populasinya tumbuh secara eksponensial adalah MANUSIA.= r N ( ----. Populasi (N) Gambar 9. Karena itu model pertumbuhan populasi yang lebih cocok adalah model pertumbuhan logistik seperti Gambar 9. Populasi Logistik --. 18 . kita memperoleh gambaran dinamika populasi yang mirip dengan pertumbuhan logistik terutama pada daerah I dan II seperti Gambar 10. Kalau kita bandingkan dengan data lapangan populasi suatu organisme. Kekuatan ini yang akan menghambat populasi suatu organisme untuk bertambah dan meningkat sesuai dengan kemampuan biotiknya.Populasi Gambar 8. Di alam populasi organisme tidak dapat meningkat secara eksponensial karena adanya kekuatan lain yang me"lawan" atau meng"hambat" yang kita namakan Perlawanan Lingkungan atau Hambatan Lingkungan.

Pada tahap ini populasi telah mencapai stabilitas numerik. terjadilah daerah IV yang merupakan periode penurunan populasi atau periode pertumbuhan negatif. Periode ini terdiri dari tahap pembentukan populasi (A). 19 . Pertumbuhan Populasi Organisme yang Terbagi menjadi 5 Tingkat I II III IV V Adanya kekuatan Hambatan Lingkungan terhadap pertumbuhan populasi organisme dalam kondisi oskilasi dan fluktuasi di sekitar aras keseimbangan umum seperti yang terjadi di daerah III. maka berbagai faktor hambatan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi Faktor Tergantung Kepadatan Populasi (FTK) atau "Density Dependent Factors" dan Faktor Bebas Kepadatan Populasi (FBK) atau "Density Independent Factors". pertumbuhan cepat secara eksponensial (B) serta tahap menuju keseimbangan (C). FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN DAN FAKTOR BEBAS KEPADATAN Dilihat dari proses pengendalian dan pengaturan populasi organisme. dan sebaliknya penekanan lebih longgar pada waktu populasi semakin rendah. Daerah I merupakan periode peningkatan populasi yang tumbuh secara sigmoid. sedangkan fluktuasi populasi merupakan penyimpangan populasi yang tidak simetris. Bagan berikut menunjukkan faktor-faktor yang termasuk dalam FTK dan FBK. Daerah III merupakan tahap oskilasi dan fluktuasi populasi. Di daerah III terjadi mekanisme keseimbangan populasi oleh bekerjanya berbagai faktor abiotik dan biotik yang secara bersama kita sebut sebagai faktor PENGENDALI ALAMI. Setelah daerah II tercapai kemudian populasi bergejolak sekitar aras keseimbangan yaitu pada daerah III. Pengelompokan ini lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan cara pengelompokan lainnya. Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan adalah faktor pengendali alami yang mempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang semakin meningkat pada waktu populasi semakin tinggi. Apabila mekanisme ini oleh sebab-sebab tertentu menjadi tidak berfungsi lagi. Daerah II merupakan pencapaian aras keseimbangan yang merupakan garis asimtot kurve sigmoid.Menurut gambar tersebut pertumbuhan populasi organisme dapat kita bagi menjadi 5 daerah. Kalau periode ini terus berlanjut kemudian akan terjadi tingkat terakhir pertumbuhan populasi yaitu daerah V yang merupakan periode kepunahan populasi. Oskilasi populasi adalah penyimpangan populasi sekitar aras keseimbangan secara simetris. Daerah III berjalan dalam waktu cukup lama tergantung pada berfungsinya mekanisme umpan balik negatif yang bekerja pada populasi organisme tersebut. Populasi (N) A B C Waktu (t) Gambar 10.

Timbal balik di sini berarti bahwa hubungan antara populasi dan mortalitas oleh FTK dapat berjalan dari kedua arah. ruangan. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila populasi A semakin tinggi. persaingan antar FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang. persaingan antar individu untuk memperoleh makanan dan ruang semakin kuat sehingga mortalitas A menjadi meningkat. jumlahnya terbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama. hambatan lingkungan berupa makanan. parasitoid. dan demikian juga sebaliknya. antara lain dengan meningkatnya predasi dan jumlah predator B. Sebaliknya apabila populasi spesies A menurun mortalitas oleh predator dan jumlah predator juga menurun. Apabila populasi spesies A meningkat.Kalau dihubungkan antara mortalitas yang disebabkan oleh faktor FTK dengan populasi hama misalnya dapat diperoleh garis regresi (Gambar 11). FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang. dan patogen. 20 . maka mortalitas yang disebabkan oleh predator B akan semakin meningkat. Hubungan antara populasi dan mortalitas yang disebabkan oleh Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan terbagi menjadi faktor yang timbal balik dan tidak timbal balik. Laju MortalitasMo rtalitas Populasi Gambar 11. FTK yang timbal balik terutama adalah musuh alami hama seperti predator. dan teritorialitas termasuk dalam FTK yang tidak timbal balik. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila populasi A semakin tinggi. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa apabila populasi A meningkat kemudian jumlah makanan menjadi meningkat. atau jumlah pouplasi A menurun dan jumlah makanan menurun. Dengan demikian perubahan populasi spesies A akan selalu diikuti dengan perubahan kepadatan populasi predator B (Gambar 12). Berbeda dengan kelompok musuh alami. jumlahnya terbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama.

Komponen Pengendalian Alami yang Tergantung Kepadatan dan Bebas Kepadatan 21 .PENGENDALIAN ALAMI FAKTOR BEBAS KEPADATAN FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN FISIK Tanah Suhu Kebasahan Pergerakan air BIOLOGI Ketersediaan inang Kualitas makanan TIDAK TIMBAL BALIK Makanan Ruang Teritorial TIMBAL BALIK Musuh alami -Parasitoid -Predator -Patogen -Herbivora Gambar 12.

Persediaan Makanan Predator Meningkat Jumlah Predator Meningkat Jumlah Inang Meningkat Jumlah Inang Meningkat Jumlah Inang Termakan Berkurang Jumlah Inang Titik Imbang Predator-Inang Termakan Meningkat Jumalah Inang Berkurang Jumalah Inang Berkurang Jumlah Predator Berkurang Persediaan Makanan Predator Berkurang Gambar 14.Popula si FT K Aras Keseimbangan FB K FB K FTK Waktu Gambar 13. Mekanisme Umpan Balik pada Pengaturan Populasi Spesies A oleh Predator Mortalitas FBK POPULASI 22 Gambar 15. . dan bekerjanya FTK dan FBK. Gejolak populasi sekitar aras keseimbangan umum.

Dr. dapat mendorong populasi hama tersebut meningkat cepat menjauhi aras keseimbangannya. Umur: menjadi tua atau "aging" 2. kondisi tanah. Vitalitas rendah: kemampuan serangga dalam menghadapi faktor-faktor lingkungan yang jelek seperti cuaca ekstrim 3.Hubungan antara populasi organisme dan mortalitas akibat Faktor Bebas Kepadatan. Kekurangan tempat berlindung/bernaung: mempengaruhi mortalitas secara tidak langsung 23 . Bila keadaan cuaca sangat menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanganbiakan suatu hama. dll. 7. Tetapi untuk serangga musuh alami bila tidak tersedia pakan yang sesuai yang menjadi inang atau mangsa akan sangat mempengaruhi survivalnya. udara. 5. FBK kadang kala dapat membawa populasi semakin menjauh (lebih atau kurang) dari aras keseimbangan. Kecelakaan: adanya peristiwa-peristiwa yang tidak normal (fisiologi dan ekologi) yang dapat mengakibatkan kematian 4. Namun. karena FTK seperti musuh alami akan mengencangkan penekanannya sehingga populasi kembali lagi ke aras keseimbangannya. kondisi air. Musuh alami: sebagai faktor pengendali alami serangga yang bersifat tergantung kepadatan seperti yang telah dijelaskan 6. Setelah hal itu terjadi faktor FBK akan bekerja mengangkat kembali populasi ke aras keseimbangannya. peningkatan populasi tersebut juga tidak akan berjalan terus. Misal bila keadaan suhu tidak sesuai bagi kehidupan serangga dapat mengakibatkan populasi serangga menurun menjauhi garis keseimbangannya. Kekurangan pakan: serangga hama sangat ditentukan survival dan perkembangannya oleh ketersediaan pangan yang disediakan manusia. Faktor abiotik seperti suhu. angin merupakan FBK yang penting. CLARK mengelompokkan beberapa penyebab mortalitas (kematian) serangga menjadi 7 kelompok yaitu: 1. kebasahan. Faktor Bebas Kepadatan Faktor Bebas dari Kepadatan (FBK) atau "Density Independent Factor" merupakan faktor mortalitas yang daya penekanannya terhadap populasi organisme tidak tergantung pada kepadatan populasi organisme tersebut. Kondisi fisiko kimia: terkait dengan kondisi fisika dan kimia di tempat serangga hidup termasuk kondisi cuaca.

yang secara dinamik bergejolak di sekitar aras keseimbangan populasinya masing-masing.Berikut diagram yang menunjukkan pengaruh langsung dan tidak langsung faktor-faktor cuaca. Aras populasi tersebut dapat tinggi. selalu terjadi keseimbangan populasi organisme termasuk populasi hama. Setiap organisme dalam kondisi ekosistem tertentu memiliki aras keseimbangannya sendiri-sendiri. Pengaruh Faktor-faktor Cuaca bagi Kehidupan Serangga Langsung Tak Langsung Individu Populasi Aktivitas Perkembangan Perilaku Fenologi Mortalitas Natalitas Pergerakan Habitat Parasitoid Predator Patogen Makanan Natalitas Mortalitas Pergerakan Dengan demikian dalam jangka waktu panjang di dalam setiap ekosistem. Populasi Mangsa (A) Predator 24 Waktu . tetapi juga dapat rendah seperti yang kita harapkan.

sehingga dapat membunuh musuh alami. pesaing. curah hujan sebagai faktor abiotik serta faktor biotik seperti parasitoid.Gambar 16. manusia dapat mempengaruhi atau mengubah letak aras keseimbangan umum suatu spesies hama melalui kegiatan pengelolaan agroekosistem. yang dalam jangka panjang dapat menurunkan aras keseimbangan populasi hama. patogen hama. Dalam keadaan demikian petani terpaksa menggunakan pestisida lebih sering lagi sehingga dapat meningkatkan kerugian. Aras keseimbangan populasi hama dapat juga diturunkan apabila yang terjadi sebaliknya yaitu dengan memasukkan atau melakukan konservasi musuh alami. dll bekerja secara interaktif yang membawa populasi hama berada di sekitar aras keseimbangannya. Justru faktor MANUSIA dengan segala tindakannya sangat mempengaruhi dinamika populasi hama sehingga dapat sangat menjauhi aras keseimbangan. Populasi Aras Keseimbangan 2 Pestisida Aras Keseimbangan 1 Wakt u 25 . Penggunaan pestisida yang dilakukan terus-menerus dapat mengakibatkan aras keseimbangan hama tersebut akan meningkat melebihi aras keseimbangan sebelumnya (Gambar 17). Demikian juga jika varietas tanaman yang ditanam adalah varietas peka. Aras keseimbangan populasi hama dapat meningkat antara lain dengan penggunaan pestisida yang berlebihan dan kurang tepat. Tindakan manusia demikian ini akan mendorong bekerjanya pengendali alami di daerah tersebut. Hubungan antara kepadatan serangga A dan kepadatan predator B Pengaruh Tindakan Manusia terhadap Populasi Hama Faktor-faktor alami seperti suhu. lambat laun aras keseimbangan populasi hama akan meningkat. Manusia dapat mempengaruhi letak aras keseimbangan melalui mekanisme sbb: Dalam mengelola agroekosistem. Bila aras keseimbangan meningkat maka dapat mengakibatkan populasi hama melebihi AE/AT/AK yang ditetapkan. Peningkatan aras keseimbangan populasi hama dapat juga terjadi sebagai akibat tersedianya makanan hama secara luas dan terus menerus. predator. tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi konsumen dan kualitas lingkungan hidup. Salah satu sasaran PHT adalah menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga berada di bawah ambang pengendalian.

Peranan pengamatan dan pemantauan hama dan ekosistem dalam penerapan sistem PHT adalah seperti bagan berikut: Analisis Ekosistem Pengambil Keputusan Pemantauan Tindakan Pengelolaan EKOSISTEM PERTANIAN Gambar 18. Pengamatan bisa dilakukan secara berkala maupun insidentil. Kegiatan pemantauan dalam PHT merupakan kegiatan utama yang membedakan sistem PHT dengan sistem pengendalian hama secara konvensional. Mempelajari praktek pengamatan dan pelaporan perlindungan tanaman oleh petugas pengamat hama D.Gambar 17. PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMANTAUAN Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentang sesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. Kegiatan pengamatan yang dilakukan secara berkala pada suatu obyek pengamatan tertentu untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan disebut PEMANTAUAN. Ada beberapa maksud atau tujuan pengamatan yaitu pengamatan untuk pengumpulan data penelitian. Mempelajari fungsi pengamatan dalam sistem PHT B. pengambilan keputusan dan tindakan pengelolaan dalam sistem pelaksanaan PHT 26 . 129807801.doc Materi 5 FUNGSI PENGAMATAN DALAM SISTEM PHT Tujuan: A. Pengamatan oleh petani Materi: HUBUNGAN PENGAMATAN. pengamatan untuk penyusunan lapangan dan pengamatan untuk pengambilan keputusan. Mempelajari prinsip-prinsip pengambilan sampel dan pengamatan C. Peningkatan aras keseimbangan akibat perlakuan pestisida secara terus menerus. Hubungan antara pemantauan.

Pengambil keputusan semakin ke bawah yaitu pada pihak pengelola dari ekosistem pertanian. Unit sampel 27 . baik komponen biotik seperti keadaan tanaman. Banyak atau Ukuran Sampel 4. Unit Sampel 2. Hasil pengamatan harus dapat dipercaya berarti metode tersebut akan menghasilkan data yang dapat mewakili atau menggambarkan secara benar tentang sifat populasi sesungguhnya. Dari informasi yang diperoleh pada sampel kita ingin menduga sifat populasi yang sebenarnya. Interval Pengambilan Sampel 3. Jumlah rumpun padi yang diamati 30. pengendalian dengan pestisida. Misalkan kita ingin mengetahui populasi hama atau kerusakan tanaman dalam satu daerah/lahan yang luasnya 1 hektar. populasi musuh alami dan lain-lain. Jumlah unit sampel sering kita namakan sebagai ukuran sampel. Mekanik Pengambilan Sampel 1. dll.Dari gambar tersebut. MEMPELAJARI PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Sampel atau contoh merupakan bagian dari suatu populasi yang diamati. Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yang beragam tergantung pada jenis tanaman. Praktis berarti metode pengamatan yang dilakukan sederhana. tingkat kerusakan tanaman oleh hama. dan sedapat mungkin tidak mengambil waktu lama. Dalam praktek pengamatan tidak mungkin bagi pengamat mengamati seluruh individu dalam populasi tetapi pengamatan dilakukan pada sebagian kecil populasi yang kita sebut sampel. Hal ini berarti unit sampel adalah rumpun dan ukuran sampel 30. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangan keadaan ekosistem pada suatu saat yang meliputi perkembangan komponen ekosistem. kegiatan pertama yang dilakukan adalah pemantauan ekosistem. introduksi musuh alami. Desain Pengambilan Sampel 5. Juga komponen abiotik seperti suhu. kebasahan. dll. populasi hama dan penyakit. Oleh karena itu. Hasil pengambilan keputusan segera diterapkan ke lapangan mengenai tindakan pengelolaan atau pengendalian seperti perbaikan budidaya tanaman. dan dapat dipercaya. sebagai unit sampel ditetapkan rumpun padi. atau organisme lain yang diamati. Ada dua syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik pengamatan dan pengambilan sampel yang dilakukan yaitu praktis. Faktor yang mempengaruhi pengambilan sampel: Sifat dan ketrampilan petugas pengamat Keadaan lingkungan setempat Sifat sebaran spasial serangga PENYUSUNAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Dalam menyusun secara lengkap program pengambilan sampel pada suatu wilayah pengamatan perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menetapkan beberapa kriteria atau ketentuan tentang pengambilan sampel. seperti petani atau kelompok tani. curah hujan. Populasi sampel terdiri dari beberapa unit sampel. Ketentuan-ketentuan tersebut meliputi penetapan tentang: 1. mengubah habitatnya. Hasil pemantauan atau data hasil pemantauan dianalisis antara lain dengan membandingkan data ekosistem dengan nilai AE atau Ambang Kendali. Dari hasil analisis ekosistem dapat diambil keputusan mengenai tindakan pengendalian atau pengelolaan yang perlu diterapkan pada ekosistem. mudah dikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan bahan yang mahal. sampel yang diambil harus dapat mewakili. jenis hama.

Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan interval pengamatan antara lain tingkat tumbuh tanaman.Unit sampel merupakan unit pengamatan yang terkecil. 4. daun. analisa statistik akan menghasilkan keputusan yang memiliki ketepatan dan ketelitian rendah. batang. penentuan ukuran sampel atau jumlah unit sampel yang harus diamati pada setiap waktu pengamatan sangat menentukan kualitas hasil pengamatan. interval pengamatan harus pendek agar tidak kehilangan informasi dari lapangan. pelepah daun d. tujuan pengambilan sampel. sehingga kualitas dan kegunaan hasil pengamatan diragukan. Ukuran sampel dipengaruhi oleh dua komponen utama yaitu varians (s2) yang menjelaskan distribusi data sampel. Secara umum dapat dikatakan semakin besar ukuran sampel (n) semakin dapat dipercaya harga penduga parameter populasi. dan juga untuk jenis hama yang peningkatan kerusakannya berjalan cepat. Pola pengambilan sampel purposive atau yang sudah ditentukan Beberapa pola pengambilan sampel yang sering digunakan adalah bentuk: 28 . Dalam bentuk stadia hamanya sendiri. Bagian tanaman seperti rumpun. dan biaya pengambilan sampel yang terdiri atas ongkos tenaga dan alat-alat pengambilan sampel. kemudian dikenal: a. Pola yang paling ideal adalah secara acak (random sampling). Desain atau pola pengambilan sampel Ada beberapa pola yang dapat digunakan untuk menetapkan unit sampel yang mana dari keseluruhan populasi yang harus diamati yang menjadi anggota sampel. dan apa yang ditinggalkan oleh serangga yang menjadi obyek pengamatan atau variabel pengamatan. Penentuan ukuran sampel Dalam program pengambilan sampel dan pengamatan. Beberapa variabel pengamatan yang dapat diperoleh dari unit sampel dapat berupa kepadatan atau populasi hama. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologi serangga dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Unit sampel dapat berupa: a. 2. Sebaliknya bila unit sampel terlalu sedikit. dll. Demikian juga keadaan ini berlaku bagi komoditas tanaman yang peka terhadap serangan hama seperti kapas. Sering digunakan untuk evaluasi dalam musuh alami seperti jumlah larva parasit atau larva inang. Ada berbagai jenis unit sampel yang saat ini digunakan dalam praktek pengamatan baik untuk program penelitian atau untuk pengambilan keputusan pengendalian hama. Penentuan interval pengambilan sampel Interval pengambilan sampel merupakan jarak waktu pengamatan yang satu dengan waktu pengamatan yang berikutnya pada petak pengamatan yang sama. daur hidup serangga yang diamati. dst. Pola acak berlapis b. Unit luas permukaan tanah 1 x 1 m2 b. Pada unit tersebut diadakan pengukuran dan penghitungan oleh pengamat terhadap individu serangga yang ada. Untuk serangga yang mempunyai siklus pendek dan kapasitas reproduksi tinggi. Pola pengambilan sampel sistematik c. populasi musuh alami. dll. Unit volume tanah c. intensitas kerusakan. Tetapi apabila ukuran sampel besar maka biaya pengambilan sampel juga semakin besar. faktor cuaca. 3.

yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. daerah penyebaran. Pengamatan tetap Pengamatan tetap adalah pengamatan yang dilakukan pada petak contoh tetap yang mewakili bagian terbesar dari wilayah pengamatan. Mekanik sampel yang sering dilakukan oleh para pengamat kita adalah pengamatan langsung di lapangan. Direktorat Jenderal Tanaman Hortikultura. sehingga produksi tanaman yang sudah diusahakan tetap pada taraf tinggi. Pola Diagonal.A B C Gambar 19. curah hujan. Tidak semua serangga dapat dihitung secara langsung sehingga masih diperlukan peralatan atau alat khusus yang dapat digunakan untuk mengumpulkan individu serangga dan kemudian dihitung jumlahnnya. Pada tiga Direktorat Jenderal tersebut terdapat Direktorat Perlindungan Tanaman seperti Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Untuk tanaman pangan dan hortikultura. menguntungkan dan aman bagi lingkungan. Secara fungsional. Pola Zigzag. Dengan informasi tersebut diharapkan petani/kelompok tani bersama petugas dapat mengetahui dan menganalisis secara dini untuk menentukan langkah-langkah penanganan usaha tani. BPTPH secara struktural berada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat I/Propinsi. PHP saat ini termasuk dalam kelompok POPT (Pengendali OPT). sedangkan pelaksanaan pengamatan dilakukan oleh para Petugas Pengamat Hama (PHP) dan penyakit yang ada di daerah yang dikoordinasikan oleh BPTPH yang ada di setiap propinsi. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui atau mendeteksi jenis dan kepadatan OPT. mengumpulkan serta menghitung individu serangga yang diamati atau bahan yang ditinggalkan oleh serangga pada unit sampel yang telah ditentukan. BPTP masih berada di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan atau masih di bawah Pemerintah Pusat. stasiun meteorologi pertanian khusus. Pola Lajur tanaman 5. Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan. Secara rinci pelaksanaan pengamatan tetap dan pengamatan keliling adalah sbb: a. Sedangkan untuk perkebunan. 1. Tiga Direktorat Jenderal itu adalah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Mekanik Pengambilan Sampel Mekanik pengambilan sampel serangga adalah segala teknik memperoleh. perangkap lampu. PRAKTEK PENGAMATAN DAN PELAPORAN PETUGAS PENGAMAT Di organisasi Departemen Pertanian saat ini ada 3 Direktorat Jenderal yang mempunyai tugas untuk mengumpulkan pelaporan data populasi dan kerusakan OPT di seluruh propinsi. intensitas serangan OPT. C. 29 . Pola pengambilan sampel A. Kebijakan dan rekomendasi pelaksanaan dan pelaporan perlindungan tanaman disusun dan dikeluarkan oleh 3 direktorat tersebut. Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh PHP dan petani dengan dua cara yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT serta intensitas kerusakan bencana alam. Hortikultura dan Perkebunan. Metode Pengamatan Pengamatan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura dilakukan dengan dua cara. B.

Perangkap lampu ditempatkan jauh dari faktor-faktor yang akan mempengaruhi banyaknya serangga pengganggu tanaman atau musuh alaminya tertarik cahaya. Pengamatan keliling atau patroli dilaksanakan dengan menjelajahi wilayah pengamatan. varietas dan tindakan pengendalian yang pernah dilakukan petani. untuk memperoleh informasi tentang adanya serangan OPT dan kegiatan pengendalian di wilayah kerjanya. Petak contoh ditentukan secara purposive. 2). PHP disarankan menemui petani/kelompok tani pemandu. Pengamatan dilakukan setiap hari serta dilaporkan setiap dua minggu. stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknya terhadap sumber serangan. C. intensitas serangan. Pada masa peralihan antara dua musim tanam. penyebaran petak contoh pada daerah yang dicurigai terserang. teknik bercocok tanam. bencana alam serta mencari informasi tentang penggunaan. kepadatan populasi OPT. Untuk komoditas terluas diamati empat petak contoh tetap sedangkan empat komoditas lainnya masing-masing diamati satu petak contoh. penyuluh atau sumber lain yang layak dipercaya. peredaran dan penyimpanan pestisida. Penentuan daerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadap OPT utama di daerah tersebut. luas pengendalian. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan daerah yang dicurigai dan mengkonsentrasikan pengamatannya. Dengan demikian pada setiap wilayah pengamatan terdapat delapan petak contoh pengamatan tetap. Komponen-komponen yang diamati adalah luas tanaman terserang. Jumlah rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun/batang. pengamatan diteruskan pada petak-petak contoh yang dapat mewakili wilayah pengamatan dalam waktu tersebut. dan varietasnya. Lampu dinyalakan dari senja sampai fajar. Serangan OPT di daerah yang dicurigai. diamati lima petak contoh yang terletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongan garis diagonal tersebut (B. D dan E) seperti terlihat pada Gambar 20. Serangga yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung. Karena itu petak contoh pada masa antara dua musim tanam dapat berpindah sesuai dengan keadaan tanaman yang dapat mewakili wilayah pengamatan. Petak contoh tetap ditempatkan pada lima jenis tanaman dominan. Pengamatan petak tetap Pengamatan pada petak contoh tetap bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan. stadia/umur tanaman. sehingga mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam. b. 30 . Sebelum melaksanakan pengamatan. Pengamatan Perangkap lampu Kepadatan populasi OPT dan musuh alami yang efektif yang tertarik cahaya diamati pada satu atau lebih perangkap lampu yang mewakili wilayah pengamatan.1). Pengamatan Keliling atau Patroli Pengamatan keliling atau patroli bertujuan untuk mengetahui tanaman terserang dan terancam. Gambar 20.

3 … dst … subwilayah Gambar 21. Mula-mula bagilah wilayah pengamatan menjadi 4 strata berdasarkan waktu tanamannya (lihat Gambar 21) 2. Apabila ada informasi bahwa di subwilayah lainnya terjadi serangan OPT maka harus dilakukan pengamatan keliling tambahan. Jumlah rumpun contoh yang diamati dalam tiap unit contoh adalah sepuluh rumpun/tanaman. Dari petak contoh itu diamati intensitas serangan OPT. kepadatan populasi OPT dan kepadatan populasi musuh alami yang efektif. sedang pada periode pelaporan tengah bulan kedua berisi hasil pengamatan minggu ke 3 dan ke-4. Adapun pembagian subwilayah adalah sebagai berikut: 1. sehingga setiap petak contoh pengamatan tetap dapat diamati dengan interval waktu satu minggu. A 1 Senin 1 5 Senin 2 B 2 Selasa 1 6 Selasa 2 C 3 Rabu 1 7 Rabu 2 D 4 Kamis 1 8 Kamis 2 Keterangan: A.Dalam tiap petak contoh diamati 5 unit contoh seperti pada gambar 20. C. sehingga satu wilayah akan terbagi menjadi 8 subwilayah (lihat Gambar 21). Pembagian subwilayah pengamatan di wilayah kerja PHP Metode Pengambilan Contoh a. Tiap unit contoh diamati 10 rumpun contoh. Pada pengamatan tetap tiap petak contoh ditentukan tiga unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis diagonal petak contoh (A) dan di pertengahan potongan-potongan garis diagonal yang terpanjang (B dan C). sedangkan interval pengamatan keliling dua minggu. D …… pembagian menurut strata 1. seperti terlihat pada Gambar 22. B. Cara pelaksanaan: Untuk memudahkan pelaksanaan pengamatan keliling dilakukan sesudah pengamatan petak tetap pada subwilayah pengamatan dimana petak tetap itu berada. Untuk pengamatan tetap. Tanaman Pangan Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman pangan (padi dan palawija) dilakukan dengan metode diagonal. Waktu pengamatan OPT dilakukan 4 (empat) hari setiap minggu kecuali untuk tangkapan perangkap lampu dan penakar curah hujan dilakukan setiap hari. tempatkan satu petak contoh pengamatan pada masingmasing strata di lokasi yang selalu dilewati saat mengadakan pengamatan keliling di strata tersebut. 31 . Hasil pengamatan dan kejadian yang ditemukan pada saat pengamatan keliling dan pengamatan tetap dilaporkan secara rutin pada setiap akhir periode pengamatan. Laporan pengamatan tetap pada periode pelaporan tengah bulan pertama berisi hasil pengamatan minggu ke 1 dan ke 2. Bagilah masing-masing strata menjadi 2 subwilayah. 2. Pelaksanaan pengamatan OPT dimulai dari hari senin sampai dengan hari kamis.

memberikan anjuran pengendalian. Cara random dilakukan pada perkebunan rakyat/pekarangan rumah. Tanaman dengan jumlah sedikit : 5 tanaman/rumpun Tanaman contoh ditentukan dengan 2 (dua) cara. tunas. Tanaman dengan jumlah sedang : 10 tanaman/rumpun c. . memberikan anjuran pengendalian. b.X 100% a+b Keterangan: I : Intensitas serangan (%) A : Banyaknya contoh (daun. dan merencanakan penyediaan sarana pengendalian. Penyebaran Unit Contoh dalam Petak Contoh. Tanaman dominan (terbanyak) : 15 tanaman/rumpun b. Penilaian Serangan OPT Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan OPT yang sifatnya sangat beragam. yaitu random (acak) dan diagonal. Pengambilan tanaman contoh ditentukan secara acak (random). dan bila 32 c. yaitu kecamatan. Obat-obatan dan Rempah-rempah Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman buah-buahan. tanaman. pucuk. Oleh karena itu. hias. menyusun rencana perlindungan tanaman. sedangkan cara diagonal dilakukan (seperti pengambilan contoh pada tanaman padi) pada perkebunan besar. Tanaman Buah-buahan. Tanaman yang diamati dibagi 3 kriteria seperti berikut: a. Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggap mutlak digunakan rumus sebgai berikut: a I = ----------. Sesuai dengan kebijaksanaan dibidang perlindungan tanaman pangan dan hortikultura dan pembagian wewenang dalam struktur organisasi berlaku. Tanaman Sayuran Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman sayur-sayuran dilakukan pada 10 tanaman contoh setiap 0. 2. B : Banyaknya contoh yang tidak terserang (tidak menunjukkkan gejala serangan). Dalam Tiap Unit Contoh Diamati 10 Rumpun Contoh. menyusun bantuan pengendalian. hias dan obatobatan dan rempah-rempah dilakukan dengan menggunakan petak contoh.1 ha atau 50 tanaman contoh per hektar. Mantri Tani dan Penyuluh menyuluhkan dan menyebarluaskan kepada petani sebagai dasar pengambilan keputusan kelompok tani. Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura disampaikan oleh PHP kepada Mantri Tani (Mantan) dan instansi vertikal di atasnya. Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura perlu dibuat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan segera dikirim ke instansi yang memerlukannya. merencanakan bimbingan pengendalian. buah. bunga.Gambar 22. rumpun tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak. Laporan Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diperlukan untuk menyusun perlindungan tanaman. Kerusakan tanaman oleh serangan OPT dapat berupa kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidak mutlak. melaksanakan pengamatan lebih intensif.

33 . dan Diperta Kabupaten/Kotamadya meneruskan laporan tersebut ke Diperta Propinsi. Instansi vertikal di atasnya menggunakan laporan tersebut sebagai bahan mengevaluasi keadaan serangan. kemampuan petugas membimbing petani dalam pengendalian. mereka perlu mengikuti pelatihan khusus yang dilaksanakan secara intensif. laporan serangan OPT yang dilaporkan PHP dari seluruh wilayah pengamatan kabupaten diteruskan ke Diperta Kabupaten/Kotamadya serta laporan lainnya diteruskan ke Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan (Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH)/Loka Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (LPTPH)/Satgas BPTPH/LPTPH. setiap 1 minggu sekali di dalam kegiatan yang disebut SLPHT. laporan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun kampanye pengendalian secara massal oleh petani dan bila dibutuhkan/diperlukan bantuan pemerintah berupa pestisida dapat dikeluarkan. PENGAMATAN OLEH PETANI Karena jumlah PHP dan petugas pengamat atau penyuluh di daerah sangat terbatas maka yang paling baik kegiatan pengamatan dilakukan sendiri oleh petani pemilik/penggarap. Petani dapat melakukan pengamatan secara perseorangan/individual. Agar petani dapat melakukan kegiatan pemantauan ekosistem. digunakan untuk membina pengendalian OPT dan mempertimbangkan bantuan pengendalian kepada petani apabila dinilai sebagai serangan eksplosi. Petani sendiri yang melakukan kegiatan pemantauan. Dengan demikian petani tidak lagi tergantung pada petugas. serta menyusun Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura di wilayah kerjanya. Sedangkan oleh Diperta Kabupaten/Kotamadya. pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian. Dengan demikian tujuan pelaksanaan kegiatan pengamatan oleh para petugas PHP hanya terbatas pada penyusunan laporan bagi pemda maupun pemerintah pusat tetapi tidak untuk pengambilan keputusan untuk lahan petani dalam menerapkan PHT. Koordinator PHP mengkoordinasikan laporan PHP. merencanakan bimbingan dan bantuan. Laporan PHP yang diterima oleh Mantan diteruskan kepada Camat dan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten/Kotamadya.perlu bersama-sama dengan PHP membina petani melaksanakan pengendalian. pemerintah. namun yang paling baik secara berkelompok atau merupakan kegiatan kelompok tani. Oleh Camat sebagai Ketua Satuan Pelaksana Bimas Kecamatan.

Pada tanaman yang tahan. Untuk melihat ketahanan suatu jenis tanaman sifat tanaman. Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat asli (terbawa keturunan faktor genetik) tetapi dapat juga karena keadaan lingkungan yang mendorong tanaman menjadi relatif tahan terhadap serangan hama. Tanaman yang tahan adalah tanaman yang menderita kerusakan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi hama yang sama dan keadaan lingkungan yang sama. Mengenal dan mempelajari komponen PHT . Pada tahun 1984 Indonesia telah berhasil berswasembada beras. 1982). kehidupan dan perkembangbiakan serangga hama menjadi lebih terhambat bila dibandingkan dengan perkembangbiakan sejumlah populasi hama tersebut apabila berada pada tanaman yang tidak atau kurang tahan. agronomi. Di luar tanaman padi penggunaan varietas tahan hama masih terbatas karena belum banyak tersedia varietas atau jenis tanaman yang memiliki ketahanan tinggi terhadap hama-hama tertentu. sampai saat ini status swasembada beras semakin sulit dipertahankan. Penggunaan berbagai varietas padi tahan hama wereng coklat berhasil mengendalikan hama wereng coklat padi di Indonesia yang sejak tahun 1970 menjadi hama padi yang paling penting. Mengenal dan mempelajari prinsip-prinsip karantina tumbuhan dan sistem karantina pertanian di Indonesia Materi: Pengendalian hama dengan cara menanam tanaman yang tahan terhadap serangan hama telah lama dilakukan dan merupakan cara pengendalian yang efektif. Saat ini petani telah mengenal banyak VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti dari IRRI (Filipina) dan dari Indonesia sendiri.Pengendalian dengan Tanaman Tahan Hama 2. pemulia tanaman. 34 . Hal ini berkat kerja keras para ahli hama. Mekanisme Ketahanan Tanaman Ketahanan atau resistensi tanaman merupakan pengertian yang bersifat relatif.129807801. Beberapa ahli membedakan ketahanan tanaman dalam dua kelompok yaitu ketahanan ekologi dan ketahanan genetik (Kogan. yang tahan harus dibandingkan dengan sifat tanaman yang tidak tahan atau yang peka. dll yang telah berhasil menemukan dan mengembangkan VUTW. Namun sayangnya karena berbagai faktor.doc Materi 6 PENGENDALIAN DENGAN TANAMAN/VARIETAS TAHAN HAMA Tujuan: 1. murah. Mengenal dan mempelajari pengembangan tanaman transgenik tahan hama 3. Kontribusi varietas unggul tahan hama bagi keberhasilan Indonesia berswasembada beras sangat besar. 1. dan kurang berbahaya bagi lingkungan.

ahli pemulia tanaman tidak mengakui sifat ini sebagai sifat ketahanan tanaman yang sesungguhnya. 3. Ketidaksukaan/antixenosis Nonpreference merupakan sifat tanaman yang menyebabkan suatu serangga menjauhi atau tidak menyenangi suatu tanaman baik sebagai pakan atau sebagai tempat peletakan telur. Ketahanan Ekologi Ketahanan Ekologi atau dengan istilah lain ketahanan yang kelihatan (apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) merupakan sifat ketahanan tanaman yang tidak dikendalikan oleh faktor genetik tetapi sepenuhnya disebabkan oleh faktor lingkungan yang memungkinkan kenampakan sifat ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Menurut Painter (1951) terdapat 3 mekanisme resistensi tanaman terhadap serangga hama yaitu 1) ketidaksukaan. Menurut Kogan (1982) istilah yang lebih tepat digunakan untuk sifat ini adalah antixenosis yang berarti menolak tamu (xenosis = tamu). 35 . sedangkan sifat ketahanan genetik relatif stabil dan sedikit dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Toleran Mekanisme resistensi toleran terjadi karena adanya kemampuan tanaman tertentu untuk sembuh dari luka yang diderita karena serangan hama atau mampu tumbuh lebih cepat sehingga serangan hama kurang mempengaruhi hasil. 2. Pengelakan Inang Pengelakan inang terjadi bila waktu pemunculan fase tumbuh tanaman tertentu tidak bersamaan dengan waktu pemunculan stadia hama yang aktif mengkonsumsikan tanaman. Antibiosis Antibiosis adalah semua pengaruh fisiologi pada serangga yang merugikan. Hal ini disebabkan sifat ketahanan ekologi tidak tetap dan mudah berubah tergantung pada keadaan lingkungannya. Gejala penyimpangan fisiologi terlihat apabila suatu serangga dipindahkan dari tanaman tidak memiliki sifat antibiosis ke tanaman yang memiliki sifat tersebut. a. Oleh karena sifatnya yang tidak tetap. a. bersifat sementara atau tetap. dibandingkan dengan tanaman lain yang lebih peka.Ahli lain menganggap ketahanan ekologi bukan merupakan ketahanan sebenarnya dan disebut ketahanan palsu atau pseudo resistance sedangkan yang disebut sifat ketahanan tanaman adalah ketahanan genetik. Ketahanan Genetik Sampai saat ini klasifikasi resistensi genetik menurut Painter yang banyak diikuti oleh para pakar. ketahanan dorongan (induced resistance) dan inang luput dari serangan (host escape). Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu pengelakan inang (host evasion). Sifat ketahanan ini biasanya merupakan sifat sementara dan dapat terjadi pada tanaman yang sebenarnya peka terhadap serangan hama tertentu. Antixenosis dapat dikelompokkan menjadi penolakan kimiawi atau antixenosis kimiawi dan penolakan morfologi atau antixenosis morfologik. Penyimpangan fisiologi tersebut berkisar mulai dari penyimpangan yang sedikit sampai penyimpangan terberat yaitu terjadinya kematian serangga. c. b. 2) antibiosis dan 3) toleran. sebagai akibat kegiatan serangga memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu.

Inang Luput dari Serangan Sering dialami pada suatu tempat tertentu ada suatu kelompok tanaman yang sebenarnya memiliki sifat peka terhadap suatu jenis hama. Identifikasi sumber ketahanan. Sebagian besar varietas tahan hama yang dilepaskan. Hal tersebut tidak berarti bahwa tanaman tersebut tahan terhadap serangan hama tetapi tanaman tersebut sedang dalam keadaan luput dari serangan hama. c. pemindahan gen. 36 . e. Beberapa kegiatan utama dalam melakukan perolehan dan pengembangan guna memperoleh varietas tahan hama yang baru adalah sebagai berikut: a. Beberapa bioteknologi yang telah dikembangkan diantaranya rekayasa genetika yang mencakup rekombinasi DNA. Sampai akhir tahun 2003 di Indonesia hanya satu varietas kapas Bt yang telah diijinkan dan dilepaskan secara terbatas di Sulawesi Selatan. Pelepasan varietas tahan hama yang baru. Berbagai tanaman tersebut telah disisipi gen yang berasal dari bakteri Bt sehingga tahan terhadap jenis hama tertentu. kentang. Aplikasi bioteknologi pertanian memberikan peluang yang sangat baik terhadap perkembangan kualitas maupun kuantitas produk-produk pertanian. Aplikasi pemindahan gen dengan teknik biologi molekuler dengan sasaran memperoleh sifat-sifat tertentu dapat dilakukan lebih cepat. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi akhir-akhir ini tidak menutup kemungkinan penerapan bioteknologi modern dalam bidang pertanian untuk dapat menghasilkan varietas tahan hama. jagung.b. dengan ketepatan yang tinggi serta perolehan spektrum sifat yang jauh lebih lebar daripada hasil pemuliaan tanaman konvensional. Pengujian lapangan multi lokasi. g. d. Ketahanan dorongan ini terjadi antara lain akibat adanya pemupukan dan irigasi serta teknik budidaya yang lain. manipulasi dan pemindahan embrio. Identifikasi dasar-dasar kimia dan fisika sifat ketahanan. Penyilangan sifat ketahanan dengan sifat agronomi lainnya sehingga dapat diperoleh varietas yang lebih unggul. regenerasi tanaman dan antibodi monoklonal. Langkah Pengembangan Varietas Tahan Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional dilakukan melalui penerapan teknologi pemuliaan tanaman tradisional dengan melakukan persilangan tanaman. Penetapan mekanisme ketahanan. Penggunaan varietas tahan terbukti mampu mengurangi tingkat serangan hama sehingga hasil panen dapat meningkat. Ketahanan Dorongan Sifat ketahanan ini timbul dan didorong oleh adanya keadaan lingkungan tertentu sehingga tanaman mampu bertahan terhadap serangan hama. kultur sel dan jaringan. Salah satu sifat unggul tanaman transgenik adalah ketahanan terhadap hama setelah tanaman tersebut disisipi dengan gen toksik yang berasal dari Bacillus thuringiensis (Bt). tetapi pada suatu saat tanaman tersebut tidak terserang meskipun populasi hama di sekitarnya pada waktu itu cukup tinggi. f. 4. diperbanyak dan digunakan di Indonesia saat ini masih merupakan hasil teknologi pemuliaan tanaman secara tradisional yang telah diuraikan sebelumnya. Di dunia Internasional tanaman transgenik tahan hama yang telah dikembangkan meliputi tanaman kapas. c. Analisis genetik terhadap sifat ketahanan. b. PENGEMBANGAN VARIETAS TAHAN DENGAN BIOTEKNOLOGI Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional banyak dikaji dan telah diperoleh hasil yang menggembirakan. Tanaman hasil rekayasa genetika yang selanjutnya disebut tanaman transgenik dapat direkayasa memiliki sifat ketahanan terhadap jenis hama tertentu.

Ketergantungan pada industri benih transgenik 37 . Gen Bt yang menyandi protein delta-endotoksin telah dapat disisipkan ke dalam tanaman untuk pengendalian hama tertentu. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN VARIETAS TAHAN HAMA KONVENSIONAL Kelebihan a. Penggunaannya praktis dan secara ekonomi menguntungkan Sasaran pengendalian yang spesifik Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persisten Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya Dampak negatif terhadap lingkungan terbatas Kekurangan Beberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain: a. c. Keterbatasan Sumber Ketahanan c. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil Penurunan penggunaan pestisida kimia Penurunan biaya pengendalian Pengendalian hama secara selektif Penurunan populasi hama dalam areal yang luas Keterbatasan Tanaman Transgenik 1. Pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran 3. 5. e. Variasi hasil 5. Tanaman kapas Bt memproduksi toksin secara terus-menerus sehingga serangga peka yang hidup dalam jaringan tanaman akan mati kalau memakan jaringan tersebut.Perkembangan bioteknologi telah memungkinkan ilmuwan untuk mentransformasikan gen Bt yang dikehendaki ke dalam genom berbagai jenis tanaman pertanian. Timbulnya Biotipe hama d. Pengurangan keanekaragaman hayati 4. 3. Tanaman transgenik akan terlindung dari serangan hama selama racun protein masih terus diproduksi. d. Resistensi hama terhadap toksin 2. 2. b. Pengembalian investasi tidak terjamin 7. 4. Karena racun protein yang dihasilkan hanya aktif bagi beberapa jenis serangga tertentu. Sifat Ketahanan yang Berlawanan KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TANAMAN TRANSGENIK TAHAN HAMA Kelebihan 1. Risiko bagi kesehatan 8. suatu jenis tanaman transgenik tahan hama hanya dapat mengendalikan jenis-jenis hama tertentu. Kepekaan terhadap jenis hama lain 6. Waktu dan Biaya Pengembangan b. Misal tanaman kapas Bt telah disisipi dengan gen cry1Ac untuk mengendalikan hama penggerek buah kapas Helicoverpa virescens.

Pemusnahan 8.KARANTINA PERTANIAN Tujuan karantina pertanian adalah mencegah masuknya hama dan penyakit hewan. OPTK Golongan I yaitu OPTK yang tidak dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. Organisme Pengganggu Tumbuhan karantina (OPTK) yang terdiri dari OPTK Golongan I. Tindakan Karantina: 1. OPTK golongan II. dan Tumbuhan 2. atau belum diketahui cara untuk membebaskannya. Karantina Ikan 3. Penahanan 6. Pengamatan 4. Sertifikat Kesehatan Karantina (Phytosanitary Certificate) adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT. OPTK Golongan II a. Penolakan 7. mencegah tersebarnya dari suatu area ke area lain. PP No 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan KARANTINA TUMBUHAN Pengertian penting: 1. Pengasingan 3. atau OPT Penting. OPTK Golongan II yaitu semua OPTK yang dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. Perlakuan 5. sekarang telah ditemukan adanya organisme tertentu yang dahulunya tidak ada. 3. Karantina Hewan 2. Pemeriksaan 2. OPTK golongan I. b. 4. serta menentukan syarat-syarat dan tindakan karantina tumbuhan yang sesuai guna mencegah masuk dan tersebarnya OPT tersebut. Karantina Pertanian terdiri dari: 1. OPTK. 2. Pembebasan Kasus “kebobolan” masuknya hama baru di Indonesia: 38 . serta organisme pengganggu tumbuhan ke wilayah negara RI. OPTK adalah semua organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian untuk dicegah masuknya ke dalam dan tersebarnya di dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Ikan. UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan. Kawasan Karantina adalah kawasan yang semula diketahui bebas dari hama dan penyakit tumbuhan karantina. Karantina Tumbuhan Kita memiliki dasar hukum untuk karantina yaitu: 1. atau cara untuk membebaskannya belum dapat dilakukan di Indonesia. dan atau OPT Penting. Analisis Risiko Hama dan Penyakit Tumbuhan (Pest Risk Analysis/PRA) adalah suatu proses untuk menetapkan bahwa suatu OPT merupakan OPTK. hama dan penyakit ikan. c. Tidak dapat dibebaskannya OPT tersebut karena sifatnya memang tidak dapat dibebaskan. dan mencegah keluarnya dari wilayah negara RI.

Secara ilmiah keberhasilan pengendalian hayati pertama yang tercatat adalah pengendalian hama kutu berbantal pada kapas Icerya purchasi di California. memperbanyak dan melepaskannya. Keong/siput mas 2.1. Rodolia cardinalis pada tahun 1888. predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yang bekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan perkembangbiakan hama. Apabila musuh alami kita berikan kesempatan berfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami. Adanya populasi hama yang meningkat sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karena keadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untuk menjalankan fungsi alaminya.doc Materi 7 PENGENDALIAN HAYATI Parasitoid dan Predator Tujuan: 1. serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami. ketika burung Mynah dibawa dari India ke Mauritius untuk memangsa hama belalang. Pengorok daun kentang 3. Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Meskipun praktek pengendalian hayati telah dilakukan ratusan tahun yang lalu di daratan Cina. Amerika Serikat dengan mengintroduksikan predator dari Australia yaitu kumbang vedalia. pengendalian hayati yang pertama kali didokumentasikan ialah pada tahun 1762. Salah 39 . Banyak hama di Indonesia berhasil dikendalikan dengan memasukkan musuh alami terutama sebelum tahun 1950-an sewaktu pestisida belum banyak digunakan oleh petani. Nematoda Sista Kuning 129807801. Mempelajari manfaat dan masalah yang dihadapi dalam penerapan pengendalian hayati Materi: LATAR BELAKANG Pengendalian hayati sebagai komponen utama PHT pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Musuh alami yang terdiri atas parasitoid. Mempelajari prinsip dan teknik pengendalian hayati sebagai salah satu komponen dalam sistem PHT 2. Setelah keberhasilan tersebut kemudian ratusan jenis hama telah berhasil dikendalikan dengan cara hayati. musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Mempelajari agens pengendalian hayati yang berupa parasitoid dan predator 3.

satu jenis hama adalah hama belalang pedang Sexava sp yang menyerang kelapa yang dapat berhasil dikendalikan oleh parasitoid telur Leefmansia bicolor di Sulawesi Utara. Pengendalian Alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia. manipulasi genetik. Juga hama ulat daun kubis (Plutella xylostella) di Jawa Barat berhasil dikendalikan oleh parasitoid Diadegma sp. dan patogen. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan serangga sendiri. Dengan munculnya konsepsi PHT pengendalian hayati kembali diharapkan menjadi tumpuan teknologi pengendalian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi maupun ekonomi. Parasitoid 40 . AGENS PENGENDALIAN HAYATI Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesies serangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerang organisme lain. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut "musuh alami". BEBERAPA PENGERTIAN Agar tidak timbul kerancuan lebih dahulu perlu dibedakan pengertian tentang pengendalian hayati (biological control) dan pengendalian alami (natural control) yang seringkali dibicarakan bersama. Hampir semua kelompok organisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata. Untuk selanjutnya dalam kuliah kita gunakan pengertian pengendalian hayati yang pertama. dan penggunaan serangga mandul dimasukkan sebagai bagian teknik pengendalian hayati. Ada beberapa ahli yang meluaskan pengertian pengendalian hayati sebagai usaha pengendalian hama yang mengikutsertakan organisme hidup. tetapi juga oleh komponen ekosistem lainnya seperti makanan. predator. Pengendalian alami terjadi tidak hanya oleh karena bekerjanya musuh alami. Varietas tahan hama. Pembiakan massal parasitoid telur Trichogramma spp dan lalat Jatiroto (Diatraeophaga striatalis) sangat membantu mengendalikan serangan penggerek batang tebu pada tahun 1972. Dari tahun 1950 sampai 1970an pengendalian hayati pamornya berkurang akibat penggunaan pestisida kimia yang sangat dominan di seluruh dunia. Introduksi parasitoid telur Chelonus sp dari wilayah Bogor ke Flores untuk mengendalikan ngengat mayang kelapa (Batracedra spp). Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alami tidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. jasad renik. nematoda. Dilihat dari fungsinya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat kita kelompokkan menjadi parasitoid. invertebrata di luar serangga. Selanjutnya pada 1975 telah diintoduksikan kumbang moncong Neochetina eichhorniae dari Flores ke Bogor untuk pengendalian eceng gondok. dan cuaca. Pengendalian Hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau mengendalikan populasi hama. De Bach tahun 1979 mendefinisikan Pengendalian Hayati sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alami sehingga kepadatan populasi organisme tersebut berada di bawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian. Introduksi kumbang Curinus coreolius dari Hawai dilakukan untuk mengendalikan hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp tahun 1986. 1.

Dengan demikian parasitoid adalah serangga yang hidup dan makan pada atau dalam serangga hidup lainnya sebagai inang. Parasitoid semacam ini disebut parasitoid soliter merupakan suatu spesies parasitoid yang perkembangan hidupnya terjadi pada satu tubuh inang. Untuk dapat mencapai fase dewasa suatu parasitoid hanya memerlukan satu inang. Serangan parasit dapat melemahkan inang dan akhirnya dapat membunuh inangnya karena parasitoid makan atau mengisap cairan tubuh inangnya. penggerek batang padi kuning dan penggerek batang padi putih. Inang tidak menerima faedah apapun dari hubungan ini. dan beberapa famili yang termasuk Chalcidoidea. Imago parasitoid muncul dari kokon pada waktu yang tepat untuk kemudian meletakkan telur pada tubuh inang bagi perkembangan generasi berikutnya. Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang artropoda yang lain. Parasitoid dapat menyerang setiap instar serangga. Parasitoid gregarius adalah jenis parasitoid yang beberapa individu dapat hidup bersama-sama dalam tubuh satu inang. Hymenoptera. Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inang yang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. dan banyak lebah Braconid dan Chalcidoid yang merupakan parasitoid gregarius. Parasitisme adalah hubungan antara dua spesies yang satu yaitu parasit. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan inangnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat berada di luar tubuh inang (sebagai ektoparasitoid) atau sebagian besar dalam tubuh inang (sebagai endoparasitoid).Perlu sedikit penjelasan antara istilah parasitoid dan parasit. Neuroptera. Contoh parasitoid soliter antara lain Charops sp (famili Ichneumonidae). Banyak jenis lebah Ichneumonid merupakan parasitoid soliter. Istilah parasit lebih sering digunakan dalam entomologi kesehatan. dan Strepsiptera. Enam ordo serangga yang meliputi 86 famili anggota-anggotanya tercatat sebagai parasitoid yaitu Coleoptera. yaitu inang. Instar dewasa merupakan instar serangga yang paling jarang terparasit. Ada spesies parasitoid yang dapat melengkapi siklus hidupnya sampai fase dewasa pada satu inang. meskipun biasanya tidak dibinasakan. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya sedangkan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. Parasitoid adalah binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya. Parasit hidup pada atau di dalam tubuh inang. beberapa parasitoid menyerang pupa dan sangat jarang yang menyerang imago. Contoh ektoparasit adalah Campsomeris sp yang menyerang uret sedangkan Trichogramma sp yang memarasit telur penggerek batang tebu dan padi merupakan jenis endoparasit. Lepidoptera. Apanteles artonae memarasit larva Chilo 41 . Fase inang yang diserang pada umumnya adalah telur dan larva. Famili-famili dalam ordo Hymenoptera yang terbanyak mengandung parasitoid adalah Ichneumonidae. Tetrastichus schoenobii memiliki kemampuan memarasit kepompong penggerek batang padi bergaris. Sedangkan dalam ordo Diptera famili Tachinidae merupakan famili yang terpenting. memperoleh keperluan zat-zat makanannya dari fisik tubuh yang lain. Oleh induk parasitoid telur dapat diletakkan pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositornya telur langsung dimasukkan dalam tubuh inang. Jumlah imago yang keluar dari satu tubuh inang dapat banyak sekali. Inang akan mati jika perkembangan hidup parasitoid telah lengkap. Contoh parasitoid gregarious adalah Tetrastichus schoenobii. Misalnya kasus cacing pita pada manusia dan caplak pada binatang. Serangga yang bersifat parasit yang pada akhirnya menyebabkan kematian inangnya tidak tepat bila dimasukkan ke dalam definisi parasit. Satu inang diparasit oleh satu individu parasitoid. Braconidae. Larva parasitoid yang sudah siap menjadi pupa keluar dari tubuh larva inang yang sudah mati kemudian memintal kokon untuk memasuki fase pupa parasitoid. Karena itu kemudian diberikan istilah baru yaitu parasitoid yang lebih banyak digunakan dalam entomologi pertanian. Diptera. Namun dua ordo parasitoid yang terpenting yaitu Hymenoptera dan Diptera.

b. Agar pengendalian hayati dengan parasitoid berhasil siklus hidup dan fenologi hama dan inang perlu dipelajari dan diketahui lebih dahulu. Selama ini dari sekian banyak kelompok agens pengendalian hayati. Keuntungan atau kekuatan pengendalian hama dengan parasitoid adalah: a. d.sp dan Artona catoxantha. Brachymeria sp yang menyerang kepompong Charops sp merupakan salah satu contoh hiperparasitasi. Bila sewaktu induk parasitoid akan meletakkan telurnya tetapi tidak tersedia fase inang yang tepat. Serangga betina yang berperan utama karena mereka yang melakukan pencarian inang untuk peletakan telur. Fenomena serangga parasitoid menyerang parasitoid lain sebagai inangnya disebut hiperparasitasi sedangkan parasitoid tersebut disebut hiperparasitoid. Sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit. Pertanaman pisang yang terserang Erionata thrax dapat dikendalikan oleh parasitoid Xanthopimpla sp. membunuh atau memangsa binatang lainnya. Misalkan untuk introduksi dan pelepasan parasitoid di lapangan perlu diketahui banyak hal kecuali fenologi inang dan parasitoid juga tentang pengaruh berbagai faktor lain seperti cuaca dan tindakan manusia terhadap fenologi dan perkembangan populasi parasitoid dan inangnya. predator atau pemangsa 42 . Parasitoid Trichogrammatoidea batrae-batrae cukup efektif memparasit telur penggerek polong kedelai (Etiella spp). parasitoid tersebut tidak akan dapat melanjutkan fungsinya sebagai pengendali populasi hama. hanya 1023 menggunakan predator. c. Sifat ini mengakibatkan populasi parasitoid memiliki respons numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya. Fase larva parasitoid hanya dapat hidup pada fase hidup inang tertentu terutama telur dan larva. b. Apabila kelompok parasitoid yang memarasit hama disebut parasitoid primer maka kelompok hiperparasitoid disebut parasitoid sekunder. Kelanjutan hidup parasitoid sangat ditentukan oleh ketersediaan fase inangnya yang tepat. Parasitoid sekunder masih mungkin diserang oleh parasitoid tersier. Predator Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan. Apabila parasitoid memarasit inang. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua parasitoid primer berguna untuk pengendalian hayati antara lain parasitoid primer yang menyerang serangga herbivora digunakan pengendalian hayati gulma. Parasitoid hanya memerlukan satu atau sedikit individu inang untuk melengkapi daur hidupnya. Serangga predator dan serangga parasitoid juga memiliki musuh alami yang berupa parasitoid. Namun keberhasilan semua teknik pengendalian hayati dengan parasitoid sangat ditentukan oleh sinkronisasi antara fenologi inang dan fenologi parasitoid di lapangan. Di samping kekuatan pengendalian dengan parasitoid beberapa kelemahan atau masalah yang biasanya dihadapi di lapangan dalam menggunakan parasitoid sebagai agens pengendalian hayati adalah: a. Dari 4769 kasus pelepasan agens pengendalian hayati yang tercatat di dunia. Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi yang rendah. Daya kelangsungan hidup ("survival") parasitoid tinggi. 2. Adanya parasitoid sekunder perlu diperhitungkan dalam setiap usaha pengendalian hayati dengan menggunakan predator atau parasitoid. Daya cari parasitoid terhadap inang seringkali dipengaruhi oleh keadaan cuaca atau faktor lingkungan lainnya yang sering berubah. parasitoid yang paling sering berhasil mengendalikan hama apabila dibandingkan dengan kelompok-kelompok agens pengendalian hayati lainnya. c. Parasitoid yang memiliki daya cari tinggi biasanya menghasilkan telur sedikit. sebagian besar kasus adalah pelepasan serangga parasitoid.

Predator memangsa dan membunuh mangsa secara langsung sehingga harus memiliki daya cari yang tinggi. Banyak ahli yang mempersoalkan tentang efektivitas predator sebagai agens pengendalian hayati apabila dibandingkan dengan parasitoid. waktu penanganan mangsa. memiliki kelebihan sifat fisik yang memungkinkan predator mampu membunuh mangsanya Beberapa predator dilengkapi dengan kemampuan bergerak cepat. Predator dan parasitoid mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Sinkronisasi fenologi predator dan mangsa tidak merupakan permasalahan utama bagi keberhasilan pemanfaatan predator sebagai agens pengendali hayati. Parasitoid yang mencari inang adalah hanya serangga dewasa betina. semut (Hymenoptera: Formicidae) dan dari golongan laba-laba harimau (Araneae: Lycosidae). imigrasi. Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian hayati kedua agens tersebut harus dimanfaatkan 43 . kompetisi antar predator. Dari sekian banyak usaha pengendalian hayati yang selama ini berhasil dilakukan di dunia lebih banyak menggunakan parasitoid daripada predator. Sifat polifag memberikan keuntungan bagi predator yaitu bila populasi jenis mangsa utama tertentu rendah. b. dll. d. Parasitoid umumnya monofag atau oligofag. Anggang-anggang (Hemiptera: Gerridae). tetapi predator betina dan jantan dan juga fase pradewasa semuanya dapat mencari dan memperoleh mangsa. tetapi predator memerlukan banyak mangsa baik fase pradewasa maupun fase dewasa. Predator umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan mangsanya. Sebagian besar predator mempunyai banyak pilihan inang sedangkan parasitoid mempunyai sifat tergantung kepadatan yang tinggi. Namun ada beberapa predator yang memiliki ukuran tubuh yang tidak lebih besar daripada mangsanya. Kepinding air (Hemiptera: Vellidae). dan Hemiptera. e. f. Ordo-ordo tersebut adalah Coleoptera. memiliki daya jelajah yang jauh serta dilengkapi dengan organ tubuh yang berkembang dengan baik untuk menangkap mangsanya seperti kaki depan belalang sembah (Mantidae). Hymenoptera. mata besar (capung). dengan mudah predator tersebut mencari mangsa alternatif untuk tetap mampu mempertahankan hidupnya. kecepatan pencernaan. Selama ini ada beberapa ordo yang anggota-anggotanya banyak merupakan predator yang digunakan dalam pengendalian hayati. contohnya semut yang mampu membawa mangsa secar berkelompok. Respons numerik predator terhadap perubahan populasi mangsa dinampakkan dalam bentuk perubahan reproduksi. rasa lapar. Neuroptera. Untuk memenuhi perkembangannya parasitoid memerlukan hanya satu inang umumnya fase pradewasa. emigrasi. Predator memiliki daya tanggap rendah terhadap perubahan populasi mangsa sehingga fungsinya sebagai pengatur populasi hama umumnya kurang terutama untuk predator yang polifag. Predator umumnya dibedakan dari parasitoid dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Beberapa famili predator yang terkenal adalah kumbang kubah (Coleoptera: Coccinellidae). taktik penangkapan mangsa yang lebih baik daripada taktik pertahanan mangsa. Sifat pengaturan populasi mangsa secara tergantung kepadatan lebih nampak pada predator yang bersifat oligofag. Namun hal itu tidak berarti bahwa predator kurang dapat difungsikan sebagai agens pengendalian hayati. dan proses mortalitas. kekuatan yang lebih besar. Diptera. Keberhasilan pengendalian hayati memang sulit untuk diduga dan dianalisis secara tepat karena kerumitan dan dinamika agroekosistem.memakan mangsa. undurundur (Neuroptera: Chrysopidae). kepik buas (Hemiptera: Reduviidae). Respons fungsional predator dalam bentuk perubahan proses fisiologi dan perilaku seperti daya cari. Hal ini berbeda dengan sinkronisasi parasitoid dan inang. c. Hampir semua ordo serangga mempunyai spesies yang menjadi predator serangga lain. jangkerik (Orthoptera: Gryllidae). kumbang tanah (Coleoptera: Carabidae). belalang tanduk panjang (Orthoptera: Tettigonidae). predator pada umumnya mempunyai banyak inang atau bersifat polifag meskipun ada juga jenis predator yang monofag dan oligofag. capung jarum (Odonata: Coenagrionidae).

Juga pemasukan parasitoid Tetrastichus brontispae dari pulau Jawa ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara dapat berhasil menekan populasi hama kelapa Brontispa longissima. Di Indonesia kasus yang paling baru terjadi pada tahun 1986-1990 yaitu introduksi predator Curinus coreolius dari Hawaii untuk pengendalian hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp. Di Indonesia pengendalian dengan introduksi parasitoid yang berhasil antara lain introduksi parasitoid Pediobius parvulus dari Fiji pada sekitar tahun 1920-an ke Indonesia yang ditujukan untuk pengendalian hama kumbang kelapa Promecotheca reichei. Parasitoid telur Leefmansia bicolor pernah dimasukkan dari pulau Ambon ke pulau Talaud. Keberhasilan teknik introduksi ini kemudian dicobakan pada hama-hama lain dan banyak juga yang berhasil baik secara lengkap. agar teknik ini berhasil diperlukan banyak usaha persiapan dan studi yang mendalam terutama tentang sifat penyebaran. Di daerah asal hama tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi petani karena populasinya telah dapat diatur dan dikendalikan oleh agens musuh alami setempat. dan keadaan ekosistem setempat. Rodolia cardinalis dari benua Australia ke California untuk mengendalikan hama kutu perisai Icerya purchasi yang menyerang perkebunan jeruk di California. juga parasitoid Chelonus sp dimasukkan dari Bogor ke pulau Flores untuk mengendalikan hama bunga kelapa Batrachedra (Kalshoven. Hal ini disebabkan karena pada tahap permulaaan sebagian besar usaha pengendalian hayati menggunakan teknik tersebut. augmentasi. Keberhasilan penggunaan teknik introduksi dimulai dengan introduksi kumbang vedalia. sifat biologi dan ekologi spesies hama dan musuh alami yang akan diintroduksikan. Pada beberapa daerah dilaporkan bahwa parasitasi dapat mendekati 100%. 1981). Pada waktu itu diketahui bahwa hama kutu jeruk tersebut berasal dari benua Australia. Meskipun ketiga teknik pengendalian hayati tersebut berbeda dalam sasaran dan tekniknya tetapi dalam pelaksanaan pengendalian hayati sering digunakan secara bersama. PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PARASITOID DAN PREDATOR Praktek pengendalian yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu introduksi. dan konservasi. Mengingat introduksi musuh alami termasuk dalam rekayasa biologi. Penjelajahan atau eksplorasi di negeri asal terutama mengenai habitat asal spesies eksotik yang akan diimpor b. Namun untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pengendalian pendekatan semacam itu tidak dianjurkan. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan urutan sbb: a. Ada beberapa langkah klasik yang perlu ditempuh apabila untuk melakukan introduksi musuh alami pada suatu tempat. Usaha introduksi bertujuan untuk mencari musuh alami hama tersebut di daerah asalnya dan memasukkannya ke daerah baru. Introduksi Teknik introduksi atau importasi musuh alami seringkali disebut sebagai praktek pengendalian hayati klasik. Pengiriman parasitoid dan predator dari negeri asal mengikuti peraturanperaturan yang berlaku di negara asal maupun di Indonesia 44 . Sampai saat ini upaya introduksi musuh alami ada juga yang berhasil mengendalikan hama secara berlanjut meskipun hanya dilandasi dengan metode cobacoba atau metode "trial and error".secara optimal berdasarkan pada informasi dasar yang mencukupi tentang berbagai aspek biologi dan ekologi kedua kelompok agens pengendalian hayati tersebut. Meskipun telah banyak usaha introduksi musuh alami yang berhasil dilakukan tetapi untuk menjelaskan teori dasar teknik introduksi tersebut sangat sulit karena kerumitan mekanisme dan susunan ekosistem pertanian. substansial maupun parsial.

dengan melepaskan sejumlah tambahan musuh alami ke ekosistem agar dengan tambahan jumlah tersebut dalam waktu singkat musuh alami mampu menurunkan populasi hama. b. Sekali telah menetap di suatu tempat. sedangkan pelepasan introduksi menggunakan musuh alami yang dimasukkan dari luar ekosistem. Agens pengendalian hayati yang dipilih biasanya sudah mengkhususkan diri terhadap hama sasaran dan tidak/sedikit berdampak negatif bagi organisme lain. Semua pihak diuntungkan baik petani kaya maupun petani miskin. Keuntungan penggunaan pengendalian hayati klasik dengan intorduksi adalah: a. Dengan teknik augmentasi diharapkan populasi hama sementara waktu (satu musim atau kurang) dengan cepat dapat ditekan sehingga tidak merugikan. Perbedaan lain pelepasan augmentatik menggunakan musuh alami yang sudah berfungsi di ekosistem. Sasaran ini dapat dicapai dengan dua cara augmentasi yaitu pertama. agens pengendali tersebut akan berkembang sendiri dan tidak diperlukan pemasukan yang berulang-ulang. Pelepasan musuh alami di sini dimaksudkan agar secara teratur peranan dan kondisi musuh alami tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Tidak perlu lagi tindakan-tindakan pengendalian hama lainnya baik oleh petugas lapangan maupun petani. 2. Karantina pasca masuk parasitoid dan predator yang diimpor di dalam negeri sesuai peraturan dan prosedur karantina yang berlaku di Indonesia d. d. . Dari perhitungan manfaat dan biaya (Benefit Cost) sangat menguntungkan dibandingkan penggunaan pestisida Augmentasi Teknik augmentasi atau teknik peningkatan merupakan aktivitas pengendalian hayati yang bertujuan meningkatkan jumlah musuh alami atau pengaruhnya. Pelepasan periodik menurut Stehr (1982) dapat dibedakan dalam 3 bentuk tergantung pada maksud dan frekuensi pelepasan serta sumber musuh alami yang dilepaskan. Tiga cara pelepasan periodik adalah: Pelepasan Inokulatif Pelepasan musuh alami dilakukan satu kali dalam satu musim atau dalam satu tahun dengan tujuan agar musuh alami tersebut dapat mengadakan kolonisasi dan menyebar luas secara alami dan menjaga populasi hama tetap berada pada aras keseimbangannya. Pelepasan sejumlah populasi musuh alami di ekosistem secara teknik augmentasi sebetulnya sama juga dengan pelepasan musuh alami dengan teknik introduksi. mapan dan akan berumur panjang sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi dan lingkungan yang maksimal. Karena itu pelepasan musuh alami secara augmentatik harus dilakukan secara periodik. Perbanyakan parasitoid dan predator di laboratorium yang memenuhi syarat baik fasilitas maupun SDMnya e. Pelepasan dan pemapanan parasitoid dan predator yang diimpor sesuai dengan kondisi ekologi yang menguntungkan kehidupan dan perkembangan agens pengendalian hayati f. Secara periodik populasi musuh alami berkurang 45 b. Evaluasi efektivitas pengendali hayati dengan menggunakan metode standar yang dibuat oleh para ahli pengendalian hayati (metode eksklusi dan metode neraca kehidupan) Apabila berhasil nilai manfaat yang diperoleh dari pemasukan musuh alami sangat besar karena hasilnya mantap. c. e.c. Cara kedua adalah dengan memodifikasikan ekosistem sedemikian rupa sehingga jumlah dan efektivitas musuh alami dapat ditingkatkan. Pelepasan musuh alami introduksi bertujuan dalam jangka panjang mampu menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga tetap berada di bawah aras ekonomi.

Banyak tindakan agronomi yang secara langsung dan tidak langsung dapat merugikan populasi musuh alami terutama penggunaan pestisida kimia.000 telur Trichogramma sp. Dari hasil penelitian Settle et al. Tujuan pelepasan untuk membantu musuh alami yang sudah ada agar kembali berfungsi dan dapat mengendalikan populasi hama. Konservasi Musuh Alami Dalam penerapan PHT konservasi musuh alami terutama pemanfaatan predator dan parasitoid merupakan teknik pengendalian hayati yang sering dilakukan dan dianjurkan. Pelepasan Suplemen Pelepasan musuh alami dapat dilakukan setelah dari kegiatan sampling diketahui populasi hama mulai meninggalkan populasi musuh alaminya.karena keadaan lingkungan yang tidak sesuai. per hektar dapat menurunkan populasi dan kerusakan penggerek pucuk tebu. waktu. d. . Pengendalian hama tanpa menggunakan pestisida atau kalau digunakan secara selektif berarti usaha konservasi musuh alami sudah dilaksanakan. Pengendalian hama tidak diharapkan dari hasil kerja musuh alami yang dilepas tetapi oleh keturunannya. sedangkan untuk pengendalian penggerek batang tebu diperlukan 250. dan ekonomik. Pelepasan Inundatif atau Pelepasan Massal Apabila pada kedua cara pelepasan sebelumnya diharapkan keturunan dari individu musuh alami yang dilepaskan yang terus berfungsi memperkuat berfungsinya kembali musuh alami sebagai pengendali alami. Contoh untuk memperbanyak parasitoid telur Trichogramma sp di laboratorium digunakan inang pengganti yaitu Sitotroga cerealia. maka pelepasan inundatif mengharapkan agar individu-individu musuh alami yang dilepas secara sekaligus dapat menurunkan populasi hama secara cepat terutama setelah ratusan ribu atau jutaan individu parasitoid atau predator dilepaskan. tetapi dapat membunuh serangga-serangga akuatik detrivora dan pemakan plankton yang hidup di air sawah. Karena jumlah musuh alami yang dilepaskan sangat banyak diperlukan teknik pembiakan massal musuh alami yang cepat.000 telur per hektar. hama yang menyerang gabah. Teknik konservasi bertujuan menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan populasi musuh alami. Sukses yang dicapai oleh teknik inokulatif adalah dilepaskannya secara massal parasitoid telur Trichogramma sp untuk mengendalikan berbagai hama penting seperti penggerek pucuk tebu dan penggerek batang tebu. Teknik pengendalian hayati lainnya agar teknik augmentasi dengan pelepasan periodik ini berhasil diperlukan informasi yang lengkap tentang biologi dan ekologi hama dan musuh alaminya terutama dalam menentukan tempat. Umumnya inang bagi perbanyakan massal musuh alami bukan serangga inang hama tetapi serangga inang alternatif yang lebih mudah diperbanyak di ruang perbanyakan. dll. Pelepasan inundatif parasitoid sering disebut penggunaan "insektisida biologi" karena dalam hal ini musuh alami seakan-akan diharapkan dapat bekerja secepat insektisida kimiawi dalam penurunan populasi hama. (1996) dapat diketahui bahwa aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi tidak hanya membunuh musuh alami hama-hama padi. frekuensi dan cara pelepasan musuh alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan 150. hama penggerek buah kapas. 46 3. Keberadaan serangga-serangga air tersebut sangat bermanfaat karena menjaga populasi wereng coklat padi pada posisi yang tidak merugikan petani. Menghindarkan aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi merupakan salah satu bentuk konservasi musuh alami yang efektif untuk pengendalian hama-hama padi di Indonesia. c.

13. 12. Adanya tanaman liar juga harus diwaspadai apabila berpotensi menjadi tempat hidup hama di luar musim tanaman budidaya. Pengendalian semut pemakan madu. Pengembangan musuh alami yang tahan atau toleran terhadap pestisida. 5. 2. Penyediaan suplemen makanan tambahan. Musuh alami memiliki kepekaan terhadap pestisida lebih tinggi daripada hama sehingga pemakaian pestisida secara terus-menerus akan memusnahkan populasi musuh alami. 4. 7. 11. Memakai sistem tanam yang lebih beraneka ragam. 9. Sistem tanam yang beraneka ragam akan mempengaruhi lingkungan mikro di suatu lahan. Dengan demikian jumlah serangga bermanfaat seperti musuh alami akan lebih beraneka ragam dibandingkan pada sistem monokultur. pollen. PERANAN PENGENDALIAN HAYATI DALAM PHT Sesuai dengan konsepsi dasar PHT pengendalian hayati memegang peranan yang menentukan karena semua usaha teknik pengendalian yang lain secara bersama ditujukan untuk mempertahankan dan memperkuat berfungsinya musuh alami sehingga populasi hama tetap berada di bawah aras ekonomik. Penyediaan inang alternatif. dan tempat akan menjadi lebih teduh. Menghindari praktek budidaya tanaman yang merugikan kehidupan musuh alami. 2. Melestarikan tanaman liar yang mendukung inang alternatif parasitoid atau mangsa alternatif predator. Dibandingkan dengan teknik-teknik pengendalian yang lain terutama pestisida kimia. Lingkungan akan lebih terlindung dari pengaruh buruk cuaca seperti angin dan hujan. Pembuatan tempat berlindung musuh alami 10. Pengaturan suhu yang mendukung perkembangan musuh alami. 3. Perlindungan dari penggunaan pestisida kimiawi. Menghindarkan debu-debu yang mengganggu efektivitas musuh alami. Menanam dan melestarikan tanaman berbunga. embun madu) 8. Perlindungan atau penjagaan stadia tidak aktif musuh alami (pupa atau fase diapause). Pengurangan populasi predator yang tidak diinginkan. Sebelumnya Stehr (1982) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memodifikasi ekosistem untuk konservasi musuh alami dengan rincian sebagai berikut: 1. Penjagaan keanekaragaman komunitas setempat dan inang yang diperlukan.Beberapa cara konservasi musuh alami yang dapat dilakukan antara lain berupa: 1. Tanaman berbunga yang menghasilkan sari madu dan serbuk sari dapat menaikkan kemampuan musuh alami untuk berkembang biak sehingga lebih disukai oleh parasitoid dan predator. 4. Menekan pemakaian pestisida. Parasitoid atau predator akan sulit mempertahankan hidup setelah panen karena inang utama tidak dijumpai lagi. 6. kelembaban lebih tinggi. pengendalian hayati memiliki tiga keuntungan utama yaitu 47 . Pelestarian tanaman liar dapat mendukung kehidupan musuh alami sebagai inang alternatif sampai inang utama kembali tersedia sehingga musuh alami tetap mampu menurunkan populasi hama. 3. Parasitoid lebih peka terhadap pestisida daripada predator. Penyediaan makanan alami (nektar.

aman. Mempelajari dan memahami berbagai kelompok dan jenis patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati 2. genetika. Sampai saat ini tenaga-tenaga ahli dengan kualifikasi demikian masih sangat jarang tersedia di Indonesia. Meskipun pernah dilaporkan kasus terjadinya ketahanan suatu jenis hama terhadap musuh alami antara lain dengan membentuk kapsul dalam tubuh inang. musuh alami maupun tanaman. pengujian dan evaluasi terutama yang menyangkut berbagai aspek dasar baik untuk hama. fisiologi. Arti permanen di sini karena apabila pengendalian hayati berhasil. Kesulitan dan permasalahan utama dalam penerapan dan pengembangan pengendalian hayati adalah modal investasi permulaan yang besar yang harus dikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi. dan ekonomi. ekologi. namun kejadian tersebut sangat langka. Pengendalian hayati aman bagi lingkungan karena tidak memiliki dampak samping terhadap lingkungan terutama terhadap serangga atau organisme bukan sasaran. dll. Karena musuh alami biasanya adalah khas inang. penelitian. Patogen Serangga Tujuan: 1. Meskipun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa untuk pengendalian hayati yang penting adalah adanya tenaga peneliti yang berpengalaman dan berdedikasi tinggi serta cukup memiliki rasa seni dan intuisi. namun bagaimanapun untuk keberhasilan pengendalian hayati dalam kerangka PHT diperlukan juga dasar pengetahuan dan teknologi yang mantap. dinamika populasi. siklus hidup. fasilitas yang lengkap juga diperlukan sumber daya manusia terutama para peneliti yang berkualitas dan berpendidikan khusus dan berdedikasi tinggi sesuai dengan yang diperlukan untuk pengembangan teknologi pengendalian hayati. Kecuali diperlukan modal. biologi. musuh alami telah menjadi lebih mapan di ekosistem dan selanjutnya secara alami musuh alami akan mampu menjaga populasi hama dalam keadaan yang seimbang di bawah aras ekonomi dalam jangka waktu yang panjang.permanen. Apabila identifikasi kurang benar kita akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari sifat-sifat kehidupan musuh alami dan langkah-langkah kegiatan selanjutnya. Mempelajari dan memahami kelemahan dan kekuatan patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati Materi: JENIS-JENIS JASAD RENIK PATOGENIK 48 . petani kemudian hanya mengupayakan agar menghindari tindakan-tindakan yang merugikan perkembangan musuh alami. Pengendalian hayati juga relatif ekonomis karena begitu usaha tersebut berhasil petani tidak memerlukan lagi tambahan biaya khusus untuk pengendalian hama. Mempelajari dan memahami strategi dan cara pemanfaatan patogen serangga untuk pengendalian hama 3. Aspek dasar dapat meliputi taksonomi. Identifikasi yang tepat baik untuk jenis hama maupun musuh alaminya merupakan langkah permulaan yang sangat penting.

Virion NPV berbentuk batang yang berukuran panjang antara 200-400 nm dengan diameter 20-50 nm. 1. Cleonus punctiventus dengan menggunakan sejenis jamur. polihedra NPV akan larut dan pecah serta melepaskan partikel-partikel virus yang kemudian memasuki sel-sel bagian perut serangga dan akhirnya memperbanyak diri. dll. CPV (Cytoplasmic Polyhidrosis Virus) dan kelompok lainnya yang lebih kecil jumlahnya. dan Neuroptera. jamur. Pectinophora. Oleh karena kemampuannya membunuh serangga hama sejak lama patogen digunakan sebagai agens pengendalian hayati (biological control agents). Selain itu virus juga telah diketahui menyerang ordo Coleoptera. Virus juga dapat ditransmisikan dari induk yang telah terinfeksi pada keturunannya melalui telur. Apabila virus telah masuk ke dalam tubuh serangga. PIB dibentuk oleh protein dan mengandung beberapa nukleokapsid atau partikel-partikel virus atau virion. Saat ini dikenal lebih dari 2000 jenis patogen yang menginfeksi serangga dan jumlah itu mungkin baru sebagian kecil dari jenis patogen serangga di muka bumi. Neodiprion. Trichoptera.Serangga seperti juga binatang lainnya dalam hidupnya diserang oleh banyak patogen atau penyakit yang berupa virus. jaringan lemak dan lapisan epithel saluran trachea. NPV pada umumnya menyerang paling banyak pada ordo Lepidoptera (86%) dan sedikit pada ordo Hymenoptera (7%) serta ordo Diptera (3%). Plusia. Helicoverpa. Virus NPV dicirikan dengan adanya inclusion bodies yang disebut polihedra atau PIB (“polihedric inclusion body”). tetapi ada banyak penyakit yang pengaruhnya kecil terhadap gejolak populasi serangga. Setiap sel yang terinfeksi virus. protozoa. Virus Sampai saat ini kurang lebih 1500 virus telah berhasil diisolasi dan diidentifikasikan dari serangga dan binatang artropoda lainnya. mampu menginfeksi serangga yang telah resisten terhadap insektisida. Proses perbanyakan nukleokapsid berjalan dengan cepat sehingga terbentuklah banyak polihedra yang memenuhi seluruh sel tubuh 49 . Iridovirus. Berbagai virus NPV mempunyai prospek untuk digunakan dalam pengendalian hayati adalah NPV yang diisolasi dari genusgenus Spodoptera. Pada keadaan serangan penyakit yang parah serangga terserang akhirnya mati. Berikut secara singkat diuraikan beberapa kelompok jasad renik yang saat ini sudah banyak dan sering digunakan sebagai agens pengendalian hayati. Dari keenam genera ini genus NPV (Nucleopolyhedro virus) merupakan genus terpenting karena sekitar 40% jenis virus yang dikenal menyerang serangga termasuk dalam genus ini. Trichoplusia. Granulovirus. relatif persisten di pertanaman dan tanah. Beberapa keunggulan penggunaan NPV antara lain memiliki inang sangat spesifik. Penggunaan patogen untuk pengendalian hama tercatat pada abad ke-18 yaitu pengendalian hama kumbang moncong pada bit gula. Cypovirus dan Nodavirus. Serangga yang terkena penyakit menjadi terhambat pertumbuhan dan pembiakannya. bakteri. Melacosoma. Banyak genus serangga tersebut yang merupakan hama penting di Indonesia. Chilo. Selain itu virus juga dapat masuk ke tubuh serangga sewaktu meletakkan telur atau melalui bagian tubuh yang terluka mungkin oleh serangan musuh alami. Larva serangga yang terinfeksi oleh virus pada umumnya melemah pada saluran pencernaan makanan sewaktu larva makan bagian tanaman yang telah mengandung polihedra. Entomopoxvirus. Beberapa penyakit dalam kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi faktor mortalitas utama bagi populasi serangga. serta tidak meninggalkan residu beracun di alam. Virus-virus artropoda sebagian besar masuk dalam genera Nucleopolyhedrovirus. Agrotis. Di dalam tubuh larva Lepidoptera virus berkembang terutama di nuklei selsel darah. rikettsia dan nematoda. hipodermis. nukleusnya membengkak dan dipenuhi oleh masa padat yang disebut viroplan. Selain NPV ada kelompok virus lainnya yaitu GV (Granulovirus).

Nilaparvata lugens Oryctes rhinoceros Helicoverpa zea. Virus telah berada di tanaman dan telah dapat disebarkan oleh angin dan hujan. Teknik rekayasa genetika diharapkan mampu memacu perkembangan dan perluasan aplikasi virus sebagai agens pengendalian hayati. S. Setelah konidia jamur masuk ke dalam tubuh serangga. Setelah inang terbunuh. Penyebaran virus ini melalui berbagai cara dan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain cuaca. litura Diaphorina citri Aleurodicus destructor Plutella xylostela Berbagai ulat grayak Helopeltis antonii Sumber: Tanada dan Kaya. Proses masuknya virus ke tubuh serangga sampai dipenuhinya sel-sel tubuh serangga oleh virus berjalan antara 4 hari sampai 3 minggu tergantung pada jenis NPV. Tabel 1 menunjukkan berbagai genus jamur penting yang dapat menjadi patogen serangga. larva atau instar serangga yang terserang jamur memperlihatkan perubahan warna tertentu seperti warna merah muda dan merah. Larva yang mati karena virus posisi tubuhnya seperti patah dan menggantung pada bagian tanaman. dan larva bergerak ke pucuk tanaman. 1993 Berbeda dengan virus. jamur patogen masuk ke dalam tubuh serangga tidak melalui saluran makanan tetapi langsung masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau integumen. Beberapa jenis predator termasuk burung dan parasitoid dapat juga menjadi agens penyebaran virus. Kelompok Jamur Patogen Serangga yang Umum Menurut Sistematikanya Subdivisi Kelas Ordo Genus Contoh Inang Mastigomycotina Zygomycotina Ascomycotina Deuteromycotina Chytridiomycetes Zygomycetes Pyrenomycetes Plectomycetes Hypomycetes Blastocladiales Entomophthorales Spaeriales Ascosphaerales Moniliales Coelomomyces Enthomophthora Cordyceps Ascophaera Beauveria Metarhizium Nomuraea Paecilomyces Verticillium Hirsutella Sorosporella Spicaria Lalat hitam Nilaparvata lugens Setora nitens Aphis sp. Jamur Entomopatogenik Kelompok jenis jamur yang menginfeksi serangga dinamakan jamur entomopatogenik. pertumbuhannya terhambat. instar larva yang mulai terinfeksi dan keadaan suhu. Saat ini telah dikenal lebih dari 750 spesies jamur entomopatogenik dari sekitar 100 genera jamur. Pada akhirnya semua jaringan dipenuhi oleh miselia jamur. jamur membentuk konidia primer dan sekunder yang dalam 50 . 2. Tabel 1. hemocoel. Karena pengaruh infeksi jamur terhadap pembentukan pigmen. Larva yang terserang virus NPV dapat dilihat dari gejala serangan yang antara lain berupa larva semakin malas bergerak. Proses perkembangan jamur dalam tubuh inang sampai inang mati berjalan sekitar 7 hari. Kendala utama dalam perbanyakan virus diantaranya belum berkembangnya teknik perbanyakan dan penggunaan pakan buatan. jenis serangga inang. Aplikasi virus untuk pengendalian hama sebagian besar baru dalam tahap pengkajian laboratorium sedangkan di lapangan masih sangat terbatas. serta jaringan-jaringan lainnya. jumlah polihedra yang masuk.serangga akhirnya mengakibatkan kematian. epidermis. jamur memperbanyak dirinya melalui pembentukan hife dalam jaringan epikutikula. Disamping itu ada beberapa jenis jamur yang mempengaruhi pigmentasi serangga dan menghasilkan toksin yang sangat mempengaruhi fisiologi serangga. kulit berganti warna menjadi semakin pucat dan memutih seperti susu.

Bacillus popiliae menyebabkan gejala seperti penyakit susu yang menyerang kumbang Jepang Popiliae japonica dan kumbang skarabid lainnya. penggerek batang padi. Micrococaceae. tetapi karena sifatnya yang kosmopolitan sukar digunakan sebagai agens pengendalian hayati. cuaca terutama angin dan kebasahan. Konidia akan menyebarkan sporanya melalui angin. Pengendalian dengan menggunakan jamur Hirsutella citriformis dapat menurunkan populasi Diaphorina citri hingga 62%. fibourgenesis dapat dipakai pada hama uret Melolontha melolontha. Ulat api Setora nitens mampu ditekan perkembangannya dengan Cordyceps purpurea. air. Bacillaceae (Tabel 2). dll. Bacillus thuringiensis sangat efektif digunakan untuk pengendalian larva ordo Lepidoptera. wereng coklat. Saat ini jamur Metarhizium anisopliae telah digunakan secara luas di Indonesia untuk pengendalian hama Oryctes rhinoceros yang menyerang kelapa. mirabilis Lactobacilliaceae Diplococcus spp. Hama wereng coklat dapat dikendalikan dengan menggunakan jamur Enthomopthora sp. Lactobacillaceae. bassiana. Helopeltis sp. dan larva nyamuk. Penurunan populasi mencapai 82% dengan jamur Paecilomyces fumosoroseus terhadap jenis hama yang sama. No 1 2 Tabel 2. Dua jenis bakteri patogen yang penting Bacillus popiliae dan Bacillus thuringiensis. septica Enterobacteriaceae aerogenes P. 51 . Kelompok bakteri yang lebih penting adalah bakteri pembentuk spora yang pada saat ini telah banyak digunakan sebagai insektisida mikrobia. 3. aeruginosa P. Penggunaan pestisida baik insektisida maupun fungisida untuk mengendalikan hama dan penyakit ternyata sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan jamur patogenik serangga. Jamur Beauveria bassiana telah dicoba untuk pengendalian hama wereng padi coklat dan hama penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei). hujan. Kelompok pertama mempunyai peranan sebagai faktor mortalitas alami yang penting. Jamur Verticillium mampu menekan populasi Scotinophora coartata. B.kondisi cuaca yang sesuai konidia tersebut muncul keluar dari kutikula serangga. P. Banyak laporan membuktikan pestisida dapat menghambat perkecambahan konidia primer dan pengurangan pelepasan konidia sekunder berikutnya. walang sangit dan kepinding tanah. bahkan hama penting pada kelapa sawit. Bakteri Bakteri yang menyerang serangga dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu bakteri yang tidak membentuk spora dan bakteri pembentuk spora. Kebasahan tinggi dan angin kencang sangat membantu penyebaran konidia dan pemerataan infeksi patogen pada seluruh individu pada populasi inang. dapat dikendalikan dengan jamur Spicaria sp. kesediaan spora. Aphis. Mortalitas Helopeltis sp dapat mencapai 98% setelah disemprot dengan B. P. Beberapa genera bakteri patogen serangga Macam bakteri Serangga peka Belalang Lepidoptera Belalang Kecoa 3 Pseudomonadaceae P. Jamur ini juga sudah dikembangkan untuk pengendalian hama wereng daun. Darna catenata mampu dikendalikan oleh jamur ini hingga 100%. Enterobacteriaceae. dan kutu putih Aleurodichus destructor. vulgaris Q. Beberapa famili bakteri yang berpotensi sebagai sumber alternatif baru patogen serangga di masa depan telah banyak ditemukan diantaranya Pseudomonadaceae. ulat jengkal (Ectropis bhurmitra). Penyebaran dan infeksi jamur sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kepadatan inang. hama putih palsu.

Bila larva muda atau larva tua terkena Bt dapat kita lihat adanya reaksi pertama yang cepat seperti kesakitan. Insektisida hanya aktif apabila termakan oleh hama sasaran. Bacillaceae Bacillus popilliae B. Seleksi ke arah timbulnya resistensi kemungkinan dapat terjadi apabila pemanfaatan teknologi ini tidak dilakukan secara tepat. kemudian dalam beberapa waktu larva tidak mau makan dan tidak aktif. xylostella strain Lembang dilaporkan telah resisten terhadap insektisida Dipel WP. namun P. Salah satu kelemahan dari formulasi pestisida ini adalah keterbatasan dalam mencapai sasaran. Tubuh kemudian menjadi lemah dan lembek. Dikenal lebih dari 700 varietas atau strain Bt. Telah diketahui bakteri ini terdiri atas banyak strain yang berbeda sifatnya. Bt dalam sporulasi di dalam tubuh serangga membentuk kristal yang mengandung protein beracun atau endotoksin. xylostella strain Garut masih rentan terhadap B. Dari kristal Bt paling sedikit telah diketahui adanya 4 jenis racun atau toksin. Strain Bt diklasifikasikan menjadi 29 subspesies dan lebih dari 40 inklusi kristalin (δ-endotoksin) gen-gen protein berhasil diisolasi. Protozoa dan Rikettsia 52 . Bite WP. Bahan aktifnya tidak mampu menembus kutikula serangga maupun jaringan tanaman. Meskipun Bt telah banyak dipasarkan dengan berbagai nama dagang tetapi masih memerlukan banyak kegiatan pengembangan berhubung karena banyak strain baru ditemukan dan adanya sifat-sifat serangga yang khas baik ketahanannya terhadap strain tertentu maupun kepekaannya (Tabel 3). cereus Lepidoptera Uret Lepidoptera Studi tentang Bacilus thuringiensis (Bt) saat ini sangat menarik dan berkembang sangat cepat. No 1 2 Tabel 3. Condor F Aizawai Bacillin WP. dan penemuan varietas atau strain Bt baru terus berlanjut. Bila spora dan kristal bakteri dimakan oleh serangga yang peka maka terjadi paralisis yang mengakibatkan kematian inang. penggerek buah kapas. Florbac FC Munculnya masalah resistensi hama terhadap penggunaan B. Karena sifat itulah maka banyak perusahaan pestisida tertarik untuk memformulasikannya. Beberapa produk Bt yang sudah dipasarkan Strain Merk dagang Serangga sasaran Kurstaki Dipel WP. thuringiensis. 4. Thuricide Lepidoptera HP. P. Bactospeine WP. dalam jaringan tersebut bakteri mengeluarkan toksin yang dapat mematikan serangga. Dengan demikian insektisida ini belum mampu mengendalikan hama yang berada di dalam jaringan tanaman seperti penggerek batang padi. thuringiensis belum banyak dilaporkan.4 5 Micrococaceae Micrococcus spp. Tanaman inang hama juga kelihatannya mempengaruhi keberhasilan Bt dalam menginfeksi serangga inangnya. Kristal bakteri akan melarut dalam saluran pencernaan. Thuricide WP dan Thurex WP. Lepidoptera Turex WP. Bakteri ini bersifat selektif terhadap serangga sasaran dan ramah lingkungan. Kematian larva dapat terjadi dalam kurun waktu dalam beberapa jam sampai 4 5 hari setelah infeksi pertama tergantung pada serotipe atau strain Bt dan kepekaan serangga inang.

Hymenoptera dan Diptera. Tubuh serangga akan lemas. Jenis Coccidia mampu menginfeksi hama gudang Tribolium confusum hingga 68%. Tiga jenis mikrosporodia antara lain Nosema locustae. Kedua nematoda ini bersimbiosis dengan bakteri. Nematoda akan berkembang biak di dalam tubuh serangga inang sampai menghasilkan keturunan yang sangat banyak. dan protozoa juga ada banyak spesies nematoda yang bersifat parasitik terhadap serangga baik yang bersifat parasit obligat maupun fakultatif. Nematoda akan memasuki fase reproduktif yaitu memperbanyak keturunan apabila populasi nematoda dalam tubuh inang rendah sedangkan apabila populasi tinggi akan memasuki fase infektif. Leptomonas pyrhocoris dari golongan Mastigophora dapat menurunkan populasi kepinding. Rikettsia mampu menyebabkan kematian pada Popillia japonica. Melolontha melolontha dan Oryctes rhinoceros. bakteri. cuneatum telah dijadikan sebagai agens hayati untuk mengendalikan hama belalang khususnya di Amerika. Mermithidae merupakan famili yang terpenting dan tersebar (terdiri atas 50 genera dan 200 spesies). Pengaruh mikrosporodia terhadap kehidupan inangnya relatif lambat dan gejala luarnya sangat bervariasi. Walaupun demikian patogen jenis ini memiliki peluang yang besar untuk dijadikan agens pengendalian hayati khususnya di Indonesia. Untuk selanjutnya nematoda menuju ke saluran pencernaan kemudian melepaskan bakteri simbion yang bersifat racun. Inang yang terserang nematoda akan mengalami septisemia dan akhirnya mati. bakteri dan nematoda. Serangga inang mati sebelum atau sesudah nematoda meninggalkan tubuh inangnya. dan N. Setelah berganti kulit beberapa kali di dalam tubuh serangga nematoda dewasa keluar dari tubuh serangga untuk kawin dan menyebar. Kematian akibat rikettsia baru terjadi pada 14 bulan setelah aplikasi atau lebih lama dibandingkan kematian akibat agens hayati yang lain seperti jamur. Kelompok protozoa ini ternyata sangat potensial untuk mengendalikan hama Sexava sp. Penyebaran mikrosporodia melalui makanan dan dipindahkan dari induk yang terinfeksi ke keturunannya. Beberapa kelebihan dari penggunaan nematoda entomopatogen ini adalah kemampuannya dalam mematikan inang yang relatif cepat. Nematoda masuk ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami serangga seperti mulut. memiliki kisaran inang yang luas diantaranya Lepidoptera.Spesies-spesies protozoa yang patogenik terhadap serangga pada umumnya termasuk dalam sub kelompok mikrosporodia. Jenis rikettsia banyak menyerang kumbang. Nematoda muda meninggalkan telur dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui kutikula dan kemudian masuk ke dalam hemocoel. tidak menyebabkan resistensi 53 . Juvenil infektif mampu bertahan hidup lama sampai memperoleh inang kembali dan fase ini merupakan satu-satunya fase yang bersifat infektif terhadap serangga inang. Dari 19 famili nematoda yang menyerang serangga. Mikrosporodia tersebar luas yang secara alami dapat menjadi faktor mortalitas yang penting bagi serangga inangnya. jamur. acridophagus. 5. Serangga akan mengalami kematian dalam waktu 24-48 jam setelah aplikasi. Telah dapat dikenal lebih dari 250 spesies mikrosporodia yang menyerang serangga. Dalam beberapa jam bakteri tersebut melakukan replikasi dan akhirnya menyebar dan meracuni tubuh serangga. N. Coleoptera. anus dan spirakel. Nematoda Disamping virus. dan terjadi perubahan warna tubuh menjadi merah kecoklatan jika terserang Steinernema spp dan hitam jika terserang Heterorhabditis spp. Nematoda stadium ketiga atau sering disebut juvenil infektif akan keluar dari tubuh serangga dan berusaha untuk mencari inang baru. terjadi penurunan aktivitas. Jenis nematoda entomopatogen lainnya adalah Heterorhabditis spp dan Steinernema spp. Malpighamoeba locusta dari jenis Amoeba berpotensi terhadap belalang sedangkan Nosema bombyces yang pertama kali diisolasi dari ulat sutera (Bombyx mori) berpotensi untuk mengendalikan beberapa hama penting seperti Spodoptera litura.

hama. Oleh karena itu aplikasi patogen perlu dilakukan beberapa kali sama prinsipnya dengan penggunaan insektisida sintetik organik. tidak berbahaya bagi mamalia dan vertebrata serta kompatibel dengan pengendalian lain. Kita harus menjaga ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen dapat melaksanakan fungsinya secara "density dependent". 2. S. Caranya adalah dengan memasukkan dan menyebarkan patogen pada suatu ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen tersebut mantap di ekosistem yang baru ini sehingga kemudian menjadi faktor mortalitas tetap bagi spesies hama yang dikendalikan. Untuk itu keadaan dan perkembangan patogen hama yang penting perlu terus dipantau dan menjaga tindakan-tindakan yang mengurangi berfungsinya patogen hama dapat dibatasi sekecil mungkin. 3. Aplikasi Patogen Hama sebagai Insektisida Mikrobia Sasaran aplikasi patogen hama dengan cara ini adalah guna menekan populasi hama untuk sementara waktu. tidak berbahaya bagi lingkungan. Chilo sp). Salah satu tindakan yang merugikan adalah penggunaan pestisida. Introduksi dan Aplikasi Patogen Hama sebagai Faktor Mortalias Tetap Prinsip penggunaan patogen hama di sini sama dengan introduksi serangga parasitoid atau predator untuk menekan populasi hama untuk jangka waktu yang panjang. Kecuali itu apabila keadaan lingkungan memungkinkan patogen hama yang diaplikasikan pada ekosistem mungkin dapat menjadi pengendali alami hama yang permanen di ekosistem tersebut. Spodoptera litura 99% bahkan 100% untuk mengendalikan Crocidolomia binotalis. Berbeda dengan insektisida sintetik organik maka insektisida mikrobia mempunyai beberapa keuntungan yaitu bersepektrum sempit atau khas inang dan aman bagi lingkungan hidup serta tidak membahayakan binatang bukan sasaran. Pada pengujian yang lain. Steinernema spp mampu menyebabkan kematian Spodoptera exigua sampai 98%. Memanfaatkan Secara Maksimal Proses Pengendalian Alami oleh Patogen Hama Ada banyak jenis patogen seperti virus dan jamur yang mampu menekan populasi hama secara alami sehingga populasi tetap berada di bawah aras ekonomi. Cara ini yang paling berhasil dilakukan untuk mengendalikan hama yang nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Ekonomi cukup tinggi karena untuk pengembangan permulaan bagi patogen diperlukan kepadatan populasi inang yang cukup. STRATEGI PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PATOGEN HAMA Patogen serangga dapat digunakan dalam PHT dengan beberapa strategi atau cara yaitu: 1. Jenis Steinernema spp telah terbukti mampu mengendalikan lebih dari 100 spesies serangga hama terutama ordo Lepidoptera dan Coleptera. Oleh karena itu pestisida sebaiknya hanya digunakan apabila berbagai agens pengendalian alami (termasuk patogen hama) tidak mampu menghentikan laju peningkatan populasi hama yang berhasil melampaui Ambang Pengendalian. carpocapsae juga telah terbukti memiliki kemampuan mengakibatkan mortalitas pada Cylas formicarius. Saat ini beberapa jenis patogen seperti NPV dan Bacillus thuringiensis telah dipasarkan dengan nama dagang tertentu. PEMBIAKAN MASSAL AGENS PENGENDALIAN HAYATI 54 . Steinernema carpocapsae dapat mengendalikan hama penggerek (Schirpophaga sp. Helicoverpa armigera hingga 65%.

murah dan mudah diperoleh. Serangga yang ditemukan terserang patogen dikoleksi dan selanjutnya dimanfaatkan untuk tahapan selanjutnya. Media yang menghasilkan spora paling tinggi dipilih sebagai media. Pemurnian merupakan tahapan yang sangat penting untuk memperoleh stok spora sesuai yang diharapkan. Uji patogenisitas Pengujian patogenisitas yang bertujuan mengetahui konsentrasi yang tepat dan mampu membunuh serangga sasaran biasanya dilakukan di laboratorium ataupun green house. Perbanyakan Spora Perbanyakan spora merupakan usaha pemilihan substrat pengganti yang cocok untuk pengembangbiakan selanjutnya. 9. Viabilitas Viabilitas merupakan kemampuan atau daya kecambah spora agens hayati. Spora B. Sporulasi Media yang paling cocok dan menjadi pilihan adalah media yang memberikan efek sporulasi tinggi.Pengendalian dengan agens hayati dalam skala luas memerlukan jumlah agens hayati yang relatif mencukupi sehingga perlu usaha pembiakan massal. Pemurnian Pemurnian dilakukan untuk pemilihan media yang cocok dan memperoleh stok spora. Agens hayati dinilai baik apabila viabilitasnya 95%. Ada 10 tahapan pembiakan massal agens hayati atau kontrol kualitas pengembangbiakkan agens pengendalian hayati yang diterapkan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) di Propinsi DIY sebagai berikut: 1. Dalam pemurnian ini kontaminasi sering terjadi akibat sterilisasi alat dan ruangan yang kurang sempurna. 3. Tahapan atau kaidah-kaidah pembiakkan tersebut berfungsi sebagai pedoman utama dalam melaksanakan usaha pembiakan. Namun dalam pembiakan massal perlu adanya tahap-tahap khusus yang harus diperhatikan dan dilakukan sehingga nanti akan diperoleh hasil yang memuaskan. 6. Postulat Koch Pengujian akan memperkuat dugaan bahwa agens hayati yang ditemukan benarbenar bersifat patogenik terhadap serangga. jagung ataupun dedak. Pembiakan massal dilakukan untuk mengembangbiakkan agens hayati dengan menggunakan media alami maupun media buatan dalam habitat atau lingkungan yang dibentuk sesuai lingkungan aslinya sehingga diperoleh sejumlah tertentu sesuai kebutuhan. bassiana yang berasal dari walang sangit (Leptocorisa acuta) mati dicoba diperbanyak pada media nasi. 7. Pada saat ini usaha pembiakan massal agens hayati telah banyak dilatihkan dan dilakukan di Indonesia baik oleh laboratorium dinas maupun oleh para kelompok petani terutama yang telah mengikuti SLPHT. Eksplorasi dan Koleksi Eksplorasi bertujuan mencari sumber genetik baru yang berpotensi sebagai agens pengendalian hayati. Pengujian tingkat konsentrasi tersebut akan menghasilkan konsentrasi efektif yang nantinya akan menjadi pedoman rekomendasi di lapangan. Uji virulensi 55 . 2. 4. Pengujian dilakukan pada serangga yang sama dan dilakukan di laboratorium. 8. Uji efektivitas Konsentrasi efektif yang diperoleh dari uji patogenisitas digunakan untuk uji efektifitas. Pengujian ini bertujuan mencari stadia serangga yang rentan terhadap agens hayati pada konsentrasi tertentu. Eksplorasi dilakukan pada wilayah luas yang diperkirakan terdapat sumber genetik baru. 5.

56 . Dengan demikian kontak antara patogen dengan serangga sasaran cepat terjadi. Hama sasaran Semakin muda umur serangga akan semakin rentan terhadap patogen. tomatin dari tanaman tomat menghambat pembentukan koloni dan pertumbuhan jamur patogen B.Agens pengendalian hayati yang sudah mengalami tahap-tahap uji tersebut sudah dipastikan dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama. Anti mikrobiosis Beberapa tanaman mampu menghasilkan senyawa-senyawa anti mikrobia yang dapat mengurangi keefektifan patogen. 5. 10. Evaluasi tehadap hasil yang diperoleh dilakukan segera setelah aplikasi. kekurangan pakan. 6. Dalam evaluasi tersebut dilakukan juga peremajaan agens hayati yang sudah lama disimpan. Pelarut dianjurkan memiliki derajat kemasaman yang normal (pH 7). Agens hayati sebaiknya diaplikasikan pagi atau sore hari. Dosis. Dalam aplikasinya diharapkan patogen tidak terkena cahaya matahari secara langsung karena sinar ultraviolet menyebabkan patogen tidak aktif bahkan dapat membunuh patogen dalam waktu yang relatif cepat. Senyawa alkaloid. thuringiensis. 2. Derajat kemasaman. 3. CARA PENGGUNAAN PATOGEN SERANGGA DI LAPANGAN Mengingat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh patogen serangga maka dalam pemanfaatan patogen sebagai agens pengendalian hayati perlu diperhatikan beberapa faktor penting yang mempengaruhi tingkat keefektifan patogen terhadap serangga sasaran. Serangga sasaran yang mengkonsumsi patogen dengan cepat diharapkan mengalami kematian secara cepat juga. 4. bassiana. Kondisi basa menyebabkan delta endotoksin pada Bt akan rusak dan efektifitasnya menurun. Dosis aplikasi minimum akan lebih baik daripada dosis aplikasi tinggi dalam peningkatan keefektifan patogen. Penyelimutan Patogen harus benar-benar melekat atau menempel atau menyelimuti bagian tanaman maupun serangga sasaran. Waktu aplikasi Kemapanan patogen yang merupakan makhluk hidup di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh karena itu sebelum aplikasi patogen di lapangan harus diketahui kondisi hama sasaran. Uji virulensi dilakukan untuk mengetahui agens hayati tersebut virulen atau tidak baik dalam kondisi baru maupun telah disimpan dalam media dan jangka waktu tertentu. Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu cara penting untuk menilai keberhasilan pelepasan agens pengendalian hayati. Kelembaban tinggi lebih meningkatkan keefektifan patogen. Asam klorogenik pada tanaman tomat dapat mengurangi efektifitas NPV dari Helicoverpa zea. Senyawa nikotin yang dihasilkan oleh tanaman tembakau dapat menghambat pertumbuhan B. Dosis tinggi menyebabkan persaingan pakan dan ruang antar patogen sejenis dan menghambat perkembangbiakan sehingga mampu menurunkan daya bunuh terhadap serangga sasaran. Hama sasaran dalam keadaan tertekan seperti sakit. ketidakcocokan pakan. antara lain: 1. kepadatan yang terlalu tinggi menyebabkan tingkat kerentanannya semakin tinggi. pH Kondisi pH pada bahan pelarut sangat mempengaruhi keefektifan patogen. Patogen tersebut juga terhambat pertumbuhannya karena adanya senyawa phenol dan terpenoid pada tanaman kapas.

Berkat pestisida umat manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman penyakit manusia yang membahayakan seperti malaria dan demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk.7. pestisida seakan-akan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budidaya segala jenis tanaman baik tanaman hortikultura. Hal ini dapat dibuktikan dari reaksi petani apabila menghadapi terjadinya serangan hama tentu akan menanyakan pestisida apa yang tepat digunakan dan dimana dapat diperolehnya? Kecenderungan peningkatan penggunaan pestisida secara global sejak tahun 1960an juga terjadi di Indonesia. pemukiman. 8. Ketahanan inang Spesies serangga tertentu yang rentan terhadap patogen dapat menjadi tahan dengan bertambahnya umur dan dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan. 129807801. Karena keberhasilan tersebut di dunia pertanian. Pestisida mungkin merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah umat manusia telah memberikan banyak jasanya bagi keberhasilan dalam banyak bidang pembangunan termasuk pertanian. pangan maupun perkebunan.doc Materi 8 PENGENDALIAN KIMIAWI Tujuan: 1. Sejak dicanangkannya program pembangunan nasional di sektor 57 . Di bidang pertanian penggunaan pestisida mampu menekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit yang memungkinkan peningkatan produksi pertanian dapat dicapai. dan kesejahteraan masyarakat. Mempelajari dan memahami sifat dan pengelompokan pestisida khususnya insektisida 2. kesehatan. Kompatibilitas Patogen sebagai agens pengendalian hayati memiliki kemampuan dapat dipadukan dengan agens pengendalian yang lain sehingga daya bunuhnya lebih efektif dan hasilnya akan lebih memuaskan. Mempelajari dan memahami dampak negatif penggunaan pestisida kimia 3. Mempelajari dan memahami penggunaan pestisida sebagai salah satu komponen PHT Materi: Pengendalian hama secara kimiawi adalah penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama agar hama tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman yang dibudidayakan. Pestisida sedemikian melekatnya pada kegiatan pertanian di Indonesia.

penggunaan pestisida khususnya insektisida di tanaman padi cenderung menurun. akarisida (pembunuh tungau). PENGELOMPOKAN PESTISIDA Kata insektisida secara harafiah berarti pembunuh serangga yang berasal dari kata insekta = serangga dan kata Latin cida yang berarti pembunuh. biasanya yang dmaksud dengan pestisida adalah insektisida. jenis dan produksi insektisida saat ini lebih banyak daripada kelompok-kelompok pestisida lain. Insektisida Serangga dan juga pinjal dan tungau 9. Meskipun pestisida kimia memiliki banyak keuntungan ekonomi bagi petani dan masyarakat. Peningkatan penggunaan pestisida ini juga terjadi pada komoditas pertanian lainnya. Fungisida Jamur 8. herbisida (pembunuh gulma). Adultisida Serangga dewasa 3. Seiring dengan perdagangan bebas yang semakin terbuka. Banyak kesepakatan dan standar pengaturan yang telah ditetapkan secara internasional dan harus diterapkan oleh semua negara. penggunaan.000 ton. saat ini berbagai jenis pestisida generik memasuki Indonesia sehingga pada tahun 2002 jumlah formulasi pestisida yang telah terdaftar di Indonesia sudah melampaui 1000 formulasi. Tanaman pertanian pangan di Indonesia yang saat ini masih banyak menggunakan insektisida adalah kedelai. Salah satu cara agar risiko pestisida dapat ditekan serendah mungkin yakni Pemerintah di semua negara melakukan pengaturan terhadap semua produksi. penyimpanan dan pengawasan pestisida. Ixosida Pinjal 10. Jumlah pestisida yang diproduksi pada tahun 2000 sekitar 60.000 ton. Karena jumlah kelompok. Tabel 4 menjelaskan nama kelompok pestisida berdasar pada kelompok organisme sasaran. Pestisida adalah pembunuh hama yang berasal dari kata pest = hama dan cida = pembunuh. fungisida (pembunuh jamur). Tujuan pengaturan pestisida oleh pemerintah adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup terhadap dampak samping penggunaan pestisida. Larvisida Larva 58 .pertanian. penggunaan pestisida meningkat dengan sangat pesat. semak-semak 5. perdagangan. Insektisida merupakan salah satu kelompok pestisida. Akarisida Tungau. Bakterisida Bakteri 7. serta untuk menjaga tingkat efektivitas pestisida dalam pengendalian hama sasaran. Sedangkan kelompok pestisida lainnya antara lain rodentisida (pembunuh rodent tikus). Bila pada tahun 1970 penggunaan pestisida untuk padi kurang dari 1000 ton pada tahun 1986 pestisida untuk padi sudah mencapai 18. Pengelompokan Pestisida Berdasar pada Kelompok Hama yang Dikendalikan Nama kelompok No Kelompok hama yang dikendalikan pestisida 1. Tabel 4. pinjal dan laba-laba 2. Algisida Alga 4. A. Arborisida Pepohonan. nematisida (pembunuh nematoda). sedangkan pada tanaman perkebunan adalah pada tanaman kapas. Sekitar tahun 1970 sampai 1980-an pestisida paling banyak digunakan dalam program intensifikasi pangan terutama dalam program swasembada beras melalui program nasional BIMAS. Avisida Burung 6. tetapi risiko yang berupa dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan semakin lama semakin nyata dirasakan oleh masyarakat luas. sayuran dataran rendah dan sayuran dataran tinggi. Namun setelah Pemerintah mencabut subsidi pestisida pada tahun 1989 serta diterapkannya konsep PHT oleh petani padi. peredaran.

12. Pengelompokan Insektisida Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Hama 59 . PENGGOLONGAN INSEKTISIDA Insektisida kimia dapat dikelompokan dalam beberapa cara menurut pengaruhnya terhadap serangga sasaran. Nama dagang ditetapkan oleh produsen atau formulator insektisida yang membuat dan memperdagangkan pestisida tersebut. dan laba-laba Moluska terutama siput dan keong Nematoda Telur Ikan Vertebrata hama Tikus Pepohonan dan semak Rayap. biasanya nama dagang lebih populer. dan nama kimiawi. Mitisida Moluskisida Nematisida Ovisida Piscisida Predasida Rodentisida Silvisida Termitisida Tungau. semut PEMBERIAN NAMA PESTISIDA Nomenklatur atau cara pemberian nama suatu jenis pestisida ada ketentuannya. Nama kimia : 2. Suatu contoh diambil jenis insektisida yang sampai saat ini masih diguanakan untuk pengendalian penggerek batang padi di Indonesia. nama dagang. digunakan nama umum. 13. 14. 1. Rumus bangun senyawa tersebut adalah sbb: Gambar 23. dll.-dimeti l-7-benzonil metilkarbamat 4. menurut cara masuknya dalam tubuh serangga.11. Suatu jenis pestisida ditandai oleh 3 cara penamaan yaitu nama umum. Dharmafur®. 18. Nama kimia merupakan nama yang digunakan oleh ahli kimia dalam menjelaskan suatu senyawa kimia sesuai dengan rumus bangun senyawa insektisida tersebut.2. 1. 19. Rumus bangun Karbofuran Dalam praktek penggunaan sehari-hari terutama oleh petani. pinjal. 17. Dalam forum ilmiah seperti publikasi seminar atau tesis. Currater®. 3. Nama umum : karbofuran 2. Karena satu jenis pestisida dapat dibuat oleh beberapa perusahaan sehingga untuk pestisida tersebut mempunyai beberapa nama dagang.3-dihidro 2. 16. Dalam pembicaraan khusus tentang aspek-aspek kimiawi pestisida nama kimia pestisida digunakan. Nama dagang : Furadan®. Indofur®. dan menurut sifat kimianya. 15.

Apabila permukaan tanaman yang mengandung insektisida tersebut dimakan serangga. sedangkan insektisida modern sangat sedikit yang merupakan racun perut. Jenis-jenis insektisida lama umumnya merupakan racun perut. Pengelompokan Pestisida Berdasarkan Pengaruhnya pada Serangga Kelompok Pestisida Pengaruh pada hama 2. b. Racun Kontak (contact poison) Insektisida memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan diatas permukaan tanaman yang telah mengandung insektisida. racun tersebut juga memasuki tubuh serangga melalui saluran pencernaan. Contoh insektisida racun kontak adalah BHC dan DDT. a. Racun Perut (stomach poison) Insektisida memasuki tubuh serangga melalui saluran pecernaaan makanan (perut). Pengelompokan insektisida menurut pengaruh pada serangga sasaran seperti terlihat pada Tabel 5. 60 . racun kontak.Insektisida dapat dikelompokkan menurut pengaruh yang merugikan bagi hama sasaran yang akhirnya dapat menurunkan populasi hama. dan fumigan. Tabel 5. Di sini insektisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. Pengelompokan Menurut Cara Masuk ke Tubuh Serangga Dilihat dari cara masuknya (mode of entry) ke dalam tubuh serangga insektisida dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu racun perut. Serangga terbunuh bila insektisida tersebut termakan oleh serangga. Insektisida modern pada umumnya merupakan racun kontak.

Sedangkan insektisida kimia setelah masa Perang Dunia II setelah ditemukannya DDT umumnya merupakan insektisida organik. 3. Kelemahan insektisida anorganik adalah toksisitas tinggi untuk mamalia termasuk manusia. seperti atraktan seks Menurunkan kemampuan reproduksi hama Merontokkan bagian tanaman yang tidak diinginkan. yang merangsang atau menghambat perilaku serangga Meningkatkan efektivitas bahan aktif Fumigan Fumigan merupakan insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan serangga atau sistem trachea yang kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. tanpa membunuh seluruh bagian tanaman Mengeringkan bagian tanaman dan serangga Merusak atau mematikan organisme berbahaya Menyebabkan serangga lebih giat makan Menghentikan. Karena sifatnya yang mudah menguap fumigan biasanya digunakan untuk mengendalikan hama simpanan yang berada di ruang atau tempat tertutup dan juga untuk mengendalikan hama yang berada di dalam tanah. atau memperlambat proses pertumbuhan tanaman atau serangga Mengarahkan serangga agar menjauh dari yang diperlakukan Feromon. Insektisida kimia konvensional secara garis besar dapat dibagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam insektisida anorganik yaitu insektisida yang tidak mengandung unsur Karbon dan insektisida organik yang mengandung unsur Karbon. Contoh fumigan adalah hidrogen sianida (HCN). fitotoksisitas tinggi. zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman atau hewan. sodium fluorid.Antifidan (anti-feedant) Antitranspiran (Anti-transpirant) Atraktan (attractant) Khemosterilan (chemosterilant) Defolian (defoliant) Desikan (desiccant) Disenfektan (disinfectant) Perangsang makan (feeding stimulant) Pengatur pertumbuhan (growth regulator) Repelen (repellent) Semiokimia Sinergis (synergist) c. residu di lingkungan lama atau persisten. masalah ketahanan hama terhadap insektisida. fosfin dan metil bromida. Menghambat nafsu makan sehingga serangga kelaparan yang akan menyebabkan kematian Mengurangi sistem transpirasi serangga Penarik hama. Pb arsenat. dan belerang. Insektisida-insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik. alomon dan kairomon. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organik sintetik. kriolit. Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botani/nabati) dan bahan alami 61 . dan umumnya memiliki efikasi lebih rendah bila dibandingkan insektisida organik sintetik. mempercepat. Pengelompokan Menurut Sifat Kimianya Pengelompokan insektisida yang paling penting adalah menurut sifat kimianya. Contoh insektisida anorganik adalah kalsium arsenat.

dinitrofenol. Insektisida OP yang termasuk dalam derivat fenil adalah paration. Setelah DDT ditemukan kemudian berhasil dikembangkan banyak jenis insektisida baru dengan susunan kimia dasar yang mirip dengan DDT dan kemudian dikelompokkan dalam golongan Hidrokarbon Klor. dimetoat. dan Nitrogen. Derivat alifatik meliputi insektisida-insektisida yang antara lain TEPP. sedangkan residu endrin pada 14 tahun setelah perlakuan ternyata masih dijumpai sebanyak 40% dari residu semula. Karbon. 2) organofosfat (OP). Oleh karena bahayanya insektisida golongan OK sejak tahun 1973 tidak boleh digunakan untuk pengendalian hama pertanian di Indonesia. Pembagian insektisida organik sintetik konvensional menurut susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memilki sifat racun) terdiri dari 6 kelompok besar yaitu 1) organoklorin (OK). mevinfos. Insektisida kelompok ini merupakan racun kontak dan racun perut. asefat. terbufos. Kecuali 6 kelompok besar tersebut masih ada beberapa kelompok insektisida baru yang mulai banyak digunakan dalam praktek pengendalian hama saat ini. Daya racun OP mampu menurunkan populasi serangga dengan cepat. Saat ini telah tercatat sekitar 200. OP yang dikembangkan dari kombinasi tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok derivat yaitu alifatik. Kebanyakan insektisida OP adalah penghambat bekerjanya enzim asetilkoline sterase. dikloruos. efektif untuk mengendalikan larva. dikrotofos. triklorfon. Organo Klorin (OK) Insektisida Organo Klorin atau sering disebut Hidrokarbon Klor merupakan kelompok insektisida sintetik yang pertama dan paling tua dan dimulai dengan ditemukannya DDT oleh ahli kimia Swiss Paul Mueller pada tahun 1940-an. Berbeda dengan OK. naled. Organofosfat (OP) Insektisida OP dengan unsur P meliputi semua ester asam fosforik (H3PO4) sebagai inti yang aktif saat ini merupakan kelompok insektisida yang terbesar dan sangat bervariasi jenis dan sifatnya. nimfa. tiosianat dan sulfanat. OP memiliki berbagai bentuk alkohol yang melekat pada atom-atom P dan berbagai bentuk ester asam fosforik. racun perut maupun fumigan. Sulfur. a.lainnya. fenil. Persistensi OK di lingkungan menimbulkan dampak negatif seperti perbesaran hayati dan masalah keracunan khronik yang membahayakan kesehatan masyarakat. OP merupakan insektisida yang sangat beracun bagi serangga dan bersifat baik sebagai racun kontak. fosfamidin. Sampai saat ini OP masih merupakan kelompok insektsida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. 5) kloronikotinil dan 6) IGR (Insect Growth Regulator). malation. metamidofos. Insektisida yang termasuk OK pada umumnya memiliki toksisitas sedang untuk mamalia.000 senyawa OP yang pernah dicoba dan diuji untuk mengendalikan serangga. forat. Permasalahan lain yang timbul akibat digunakannya DDT secara besarbesaran adalah berkembangnya sifat resistensi serangga sasaran seperti nyamuk dan lalat terhadapp DDT. 3) karbamat. OP di lingkungan kurang stabil sehingga lebih cepat terdegradasi dalam senyawa-senyawa yang tidak beracun. Ester-ester ini mempunyai kombinasi Oksigen. b. 4) piretroid sintetik. monotrotofos. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. etoprop. Masalah yang paling merugikan bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah sifat persistensinya yang sangat lama di lingkungan baik di tanah maupun di jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. oksidemetonmetil. Sedangkan di bidang kesehatan DDT tidak lagi digunakan untuk mengendalian vektor penyakit malaria sejak 1993. seperti heterosiklik. dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. disulfoton. persistensinya di lingkungan sedang sehingga OP secara bertahap dapat menggantikan OK. 62 . dan heterosiklik. Misal di daerah sub tropis DDT dalam kurun waktu 17 tahun residunya masih 39 % yang berada di dalam tanah.

Karbamat Karbamat merupakan insektisida yang berspektrum lebar dan telah banyak digunakan secara luas untuk pengendalian hama tanaman. klorpirifos . Isokarb. flusitrinat. lalat. Pestisida karbamat dapat dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu 1) metil karbamat dengan bangunan cincin fenil. fention. dll. Sintetik Piretroid (SP) Piretroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensional yang baru digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat ini perkembangannya sangat cepat. Dari kelompok ini insektisida yang terkenal adalah diazinon dan lainnya seperti asinfos. sihalotrin. Yang termasuk dalam kelas ini adalah BPMC. Karena toksisitas sangat tinggi aldikarb sekarang dilarang di Indonesia. Cara karbamat mematikan serangga sama dengan insektisida OP yaitu melalui penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf. dan yang lain. Meskipun daya mematikan hama sasaran sangat tinggi dan PS sedikit menghadapi permasalahan lingkungan. fluvalinat. sehingga tidak terakumulasi dalam jaringan lemak dan susu seperti OK. Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi PS. dll. Keunggulan piretroid sintetik (PS) karena memiliki pengaruh knock down atau kemampuan menjatuhkan serangga dengan cepat dan tingkat toksisitas rendah bagi manusia dan mamalia. metidation. namun insektisida PS menghadapi permasalahan utama yaitu percepatan perkembangan strain hama baru yang tahan. Generasi PS ketiga antara lain fenvalerat dan permetrin banyak digunakan untuk pengendalian hama-hama kapas. Insektisida karbamat relatif baru bila dibandingkan dengan 2 kelompok insektisida OK dan OP. Untuk memperoleh efektivitas yang sama dosis aplikasi inesktisida PS generasi baru lebih kecil bila dibandingkan dengan aplikan OP dan OK. Yang paling banyak digunakan sekarang adalah generasi PS yang ketiga dan keempat. Biasanya generasi yang lanjut merupakan perbaikan sifat PS generasi sebelumnya. PS seringkali dikelompokan menurut generasi perkembangannya di laboratorium. 3) metil karbamat dari oksin yang mempunyai struktur rantai. Propoksur merupakan insektisida yang umum digunakan di dalam rumah untuk pengendalian serangga rumah tangga seperti nyamuk. Beberapa karbamat memiliki toksisitas rendah bagi mamalia tetapi ada yang sangat beracun. dll. Untuk lahan seluas 1 ha hanya diperlukan 10-40 g bahan aktif. temefos. dll. Generasi PS keempat lebih hemat lagi dibandingkan dengan generasi ketiga. dioxakarb. triazofos. fenitrotion. kuinalfos. etil paration. generasi kedua adalah resmetrin. fosmet. Residu PS di hasil-hasil pertanian tidak menjadi masalah. MICP. kecoa. Kloronikotinil 63 . stirofos. stirofos. d. Salah satu anggota generasi pertama adalah alletrin. Termasuk dalam kelas ini adalah aldikarb. Beberapa PS yang termasuk generasi keempat yang saat ini juga sudah diijinkan di Indonesia antara lain sipermetrin. Kelompok Piretroid Sintetik merupakan tiruan dari bahan aktif insektisida nabati piretrum yaitu sinerin I yang berasal dari ekstrak bunga Chrysanthemum cinerariaefolium. 2) metil karbamat dan dimetil karbamat dengan struktur heterosiklik seperti dijumpai pada bendiokarp. fenpropatrin. Pada umumnya PS menunjukkan toksisitas rendah bagi mamalia tetapi sangat beracun bagi ikan dan lebah. profenofos. Insektisida OP derivat heterosiklik banyak jenisnya. c. fosmet. dan fentoat. fonofos. Insektisida tersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari jaringan binatang. kedelai dan sayuran. karbofuran. deltametrin dan siflutrin. Aldikarb merupakan insektisida karbamat yang paling beracun juga merupakan insektisida sistemik yang digunakan untuk pengendalian serangga dan nematoda.metil paration. e. isofenfos. metomil. fention.

teflubenzuran. IGR pada hakekatnya mengganggu aktivitas normal sistem endokrin serangga. Misalkan diflubenzuron sangat efektif terutama untuk Lepidoptera dan Diptera. dan kurang stabil karena mudah 64 . triflumuron. Insektisida Botanik Bila insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi.Kloronikotinil merupakan kelas baru insektisida sintetik. serangga tanah dan beberapa jenis kumbang. g. tekanan seleksi terhadap serangga hama juga lemah sehingga timbulnya sifat resistensi dari serangga hama dapat dihambat. pada dasarnya IGR memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi terhadap serangga sasaran sehingga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. hidroprin. maka insektisida botani atau insektisida nabati merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman. hormon juvenil (JH). Yang termasuk dalam IGR adalah ekdison (hormon penggantian kulit). Karena kesulitan dalam melakukan ekstraksi. Pengatur Pertumbuhan Serangga (IGR = Insect Growth Regulator) Kelompok insektisida lain yang memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi adalah kelompok insektisida baru yang tidak termasuk dalam kelompok insektisida konvensional. proses reproduksi. Sejak tahun 1986 untuk pengendalian hama wereng padi terutama wereng coklat kita mulai menggunakan salah satu senyawa penghambat khitin yaitu buprofezin. Tebufenozide dan methoxyfenozide untuk mengendalikan Lepidoptera sedangkan halofenozide untuk Coleoptera. methoxyfenozide. Karena cara aksi terhadap serangga sasaran berbeda dengan kelompok-kelompok insektisida kimia lain. metamorfosis. bensoil finil ureas. Imidakloprid meruapakan insektisida sistemik dan kontak dengan sasaran hama yang mempunyai tipe mulut pencucuk dan pengisap seperti aphis. dan halofenozoid. Pengaruh IGR tersebut dapat terjadi pada waktu perkembangan embrionik. Agonis ekdison merupakan IGR yang paling baru tetapi sudah cukup tersedia di pasar. Contoh IGR ini adalah tebufenozoid. kloronikotinil juga merupakan tiruan atau analog produk nikotin. mimik atau tiruan hormon juvenil. trips dan kutu daun. dan halofenozide. sedangkan buprofezin khas untuk wereng daun dan wereng batang serta serangga-serangga Homoptera lainnya. dan venoksikarb. ataupun perilaku diapause. sedangkan insektisida penghambat sintesis khitin adalah diflubenzuron. metoxyfenozoid. Dengan cara membunuh hama yang demikian. f. kinoprin. Kelas insektisida ini sampai sekarang baru diwakili oleh satu bahan aktif yaitu imidakloprid yang telah diijinkan di Indonesia. Juga efektif untuk mengendalikan rayap. Insektisida botanik atau insektisida nabati merupakan insektisida alami diambil secara langsung dari tanaman atau dari hasil tanaman. perkembangan larva atau nimfa. antihormon juvenil serta insektisida penghambat khitin. Sampai tahun 2002 ini sebagian insektisida IGR tersebut telah terdaftar di Indonesia seperti tebufenozide. Kelompok insektisida baru adalah yang termasuk dalam golongan IGR (Insect Growth Regulator) atau Zat Pengatur Pertumbuhan Serangga. Karena cara kerja IGR terhadap serangga sasaran adalah dengan mempengaruhi sistem hormonal serangga yang khas. Insektisida jenis ini termasuk insektisida yang paling tua dan banyak digunakan untuk pengendalian hama sebelum insektisida organik sintetik ditemukan. IGR bekerjanya lambat dan lembut serangga akan mati beberapa hari setelah diperlakukan dengan IGR. Bila piretroid merupakan tiruan produk alami piretrum. klorfluazuron. Berbeda dengan insektisida konvensional yang mempengaruhi sistem syaraf sehingga mematikan serangga dalam waktu cepat. Untuk kelompok serangga lainnya seperti serangga predator dan parasitoid insektisida tersebut kurang berpengaruh. analog hormon juvenil (JHA). kloronikotinil dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan jenis hama yang telah resisten terhadap kelompok/jenis insektisida tertentu. Hormon juvenil yang sekarang telah dipasarkan dan digunakan untuk pengendalian serangga di Amerika Serikat adalah metoprin. wereng.

terurai. Petunjuk mengenai cara penyiapan. ektraksi dan penggunaan pestisida nabati telah dibuat dan diedarkan kepada para petani pekebun. FORMULASI PESTISIDA Dalam pabrik pembuat insektisida dihasilkan bahan aktif insektisida dalam bentuk murni. Ekstrak mimba mempunyai risiko kecil bagi kesehatan manusia. Pestisida nabati yang prospektif dan banyak diteliti oleh para pakar pada dua dekade akhir ini adalah Azadirachtin salah satu bahan aktif yang diambil dari tanaman nimba atau mimba (Azadirachta indica). Pestisida botanik telah lama dikenal sebagai pestisida yang risikonya kecil bagi kesehatan dan lingkungan hidup. Kerena efektivitas dan cara aksinya berbeda dengan pestisida kimia konvensional. apalagi bila teknik ekstraksi dan penggunaannya telah dikuasai petani. Agar dapat dimanfaatkan di lapangan dan diperdagangkan bahan teknis harus diproses lagi menjadi 65 . Bagian tanaman mimba yang sering digunakan adalah tepung biji. tidak berbahaya bagi lebah madu. ikan. penggunaannya semakin berkurang terutama setelah pestisida kimia sintetik ditemukan dan digunakan. Dalam kegiatan pelatihan SLPHT-Perkebunan Rakyat juga diberikan pelatihan penggunaan pestisida nabati. Persistensi esktrak mimba rendah. Tanaman mimba sejak lama telah dikenal dan digunakan sebagai pestisida nabati. Penyiapannya dilakukan dengan cara menggerus biji atau daun dan membuat ekstrak sederhana dengan dicampur air dan kemudian disemprotkan dengan menggunakan alat penyemprot biasa. burung dan binatang bermanfaat lainnya. 2) menghambat metamorfosis. Demikan juga rotenon diambil dari akar tanaman leguminosaea Derris elliptica atau tuba. Cara kerja ekstrak nimba tersebut di atas hampir sama dengan cara kerja insektisida IGR. ancaman terhadap timbulnya resistensi hama relatif kecil karena mengandung banyak zat yang semuanya mempunyai cara kerja yang berlainan. penggunaan pestisida botanik kembali memperoleh perhatian dari pemerintah dan petani sebagai solusi alternatif bagi pestisida kimia. Beberapa jenis insektisida botanik yang sudah lama dikenal dan digunakan adalah piretrum yang diambil dari bunga Chrysanthemum. Untuk memperoleh hasil yang baik dapat ditambahkan minyak dan pengemulsi. Teknologi sederhana tersebut sangat mudah dilakukan oleh petani dengan biaya yang sangat murah. penyemprotan dengan pestisida nabati sebaiknya dilakukan dengan frekuansi yang lebih banyak dan sewaktu populasi hama masih belum jauh melampaui Ambang Pengendaliannya. Dari inventarisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Bina Perkebunan yang memuat daftar jenis-jenis tanaman di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati (Lampiran). 3) Mengurangi kesehatan dan daya reproduksi 4) Menghambat daya bertelur. Beberapa keuntungan penggunaan mimba yaitu efektivitas tinggi. Lebih dari 200 spesies serangga hama dapat dikendalikan secara efektif dengan ekstrak tanaman tersebut. Sampai saat ini belum dilaporkan adanya pencemaran tanah dan air akibat dari mimba. maka prospek penggunaannya untuk pengendalian hama sangat baik. ampas biji dan daun. sehingga cepat teurai menjadi zat-zat yang tidak berbahaya. Namun akhir-akhir ini setelah timbul kekhawatiran mengenai dampak samping pestisida kimia. Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melakukan inventarisasi mengenai berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar lahan petani untuk dijadikan pestisida nabati. Rotenon dapat berupa racun kontak dan perut tetapi pengaruhnya tidak pada sistem syaraf. Dari banyak hasil penelitian telah diketahui beberapa cara kerja insektisida nimba yaitu 1) Mengusir dan menghambat nafsu makan serangga. Namun untuk keberhasilan pengendalian perlu diperhatikan waktu dan frekuensi penyemprotan yang tepat sesuai dengan sifat ekobiologi hama sasaran. Karena tanaman mimba sudah banyak tumbuh di Indonesia dan sangat sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca di sini. Bahan tersebut belum dapat langsung digunakan untuk kegiatan pengendalian hama.

h) colouring agents (zat pewarna). Sistem kode formulasi pestisida mulai dibakukan pada tahun 1978 yang kemudian direvisi pada tahun 1989. Water Soluble Powder (SP) 5. bahan yang dapat meningkatkan aktifitas. Suspension Concentrate (SC) 4. Bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat meracuni serangga (insektisidal) secara umum disebut bahan inert atau inert material. e) odorants untuk memberi bau.bahan formulasi insektisida. Agar tidak membingungkan pengguna dan konsumen di pandang perlu dilakukan harmonisasi atau pembakuan kode formulasi pestisida yang berlaku di tingkat internasional. Kode formulasi tersebut diusahakan sederhana. pembawa atau carrier digunakan untuk formulasi padat seperti serbuk dan butiran agar dapat mengikat/menyerap serta bahan tambahan khusus seperti a) penstabil (stabilizers). g) penebal (thickeners). Ultra Low Volume Liiquid (ULV) 6. untuk mencegah degradasi bahan. Capsule Suspension (CS) 1. sedapat mungkin terdiri dari dua huruf besar yang merupakan singkatan. Granules (GR) 8. b) sinergis. Bait (RB) 10. 66 . untuk formulasi pestisida cair agar dapat meningkatkan daya larut. peningkatan efektivitas. Sekitar 71 kode formulasi pestisida telah dibakukan. atau keamanan bagi manusia dan lingkungan. pelarut atau solvent. Proses formulasi insektisida merupakan proses untuk memperbaiki sifat-sifat bahan teknis agar sesuai untuk keperluan penyimpanan. dan I) zat anti mikroba. seperti sabun atau deterjen untuk peningkatan daya sebar. Wettable Powders (WP) 3. Sebelum dipasarkan bahan teknis perlu dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan tertentu. Pengetahuan dan teknologi pembuatan bahan aktif dan formulasi pestisida berkembang sangat cepat sehingga ditemukan banyak jenis dan formulasi pestisida. Inisiatif pembakuan kode formulasi ini dilakukan oleh asosiasi industri pestisida global yaitu Crop Life International (dulu GCPF). daya emulsi dan pembasahan pada permukaan. Emulsifiable Concentrates (EC) 2. d) minyak untuk meningkatkan aktifitas biologi insektisida. Berikut nama-nama 10 kode formulasi insektisida penting yang sudah digunakan dan dipasarkan di Indonesia. aplikasi. c) pembasah (wetters). Aerosol Dispenser (AE) 9. Dustable Powder (DP) 7. penanganan. f) cat dan pigment. Menurut fungsinya bahan inert dapat berupa bahan surfaktan.

manusia dan komponen-komponen lingkungan hidup. Unit pengukuran adalah miligram (mg) bahan aktif per kilogram (kg) berat tubuh binatang uji (tikus. 67 . Binatang uji tersebut dipelihara dalam laboratorium dengan kondisi standar yang ditetapkan. inhalasi). Menurut Bahan Kesehatan Dunia (WHO . Keracunan akut merupakan kesakitan atau kematian akibat terkena dosis tunggal insektisida. tikus putih. tempat peyimpanan maupun di lapangan. rute inhalasi). Gejala keracunan ini baru terlihat selang beberapa waktu (bulan atau tahun) setelah penderita terpapar pestisida. Toksisitas akut melalui oral atau dermal merupakan indikasi bahaya insektisida bagi mamalia dan manusia. kelinci. keracunan terjadi biasanya karena kecerobohan sewaktu penanganan pestisida atau sewaktu penyemprotan atau yang sengaja meminum insektisida untuk bunuh diri. Toksisitas kronik adalah pengaruh yang merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida dalam jumlah sedikit atau pemaparan oleh pestisida yang berlangsung sebagian besar rentang hidup suatu organisme (misal. Keracunan khronik merupakan keracunan karena penderita terpapar racun dalam jangka waktu panjang dengan dosis yang sangat rendah. Keracunan ini biasanya terjadi pada pekerja yang langsung bekerja dengan insektisida baik di pabrik. endocrine destruptor (gangguan hormon endokrin). mamalia).World Health Organization) kategori tingkat bahaya pestisida adalah seperti Tabel 6. atau melalui saluran pernafasan (rute respiratori. namun sudah disepakati secara internaional bahwa nilai dosis letal mamalia tersebut digunakan untuk melihat tingkat bahaya akut suatu jenis pestisida bagi manusia. Toksisitas pestisida dapat dikelompokkan menjadi toksisitas akut. Penghitungan mortalitas biasanya dilakukan 24 jam dan 48 jam setelah binatang uji terpapar oleh insektisida. teratogenic (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan). toksisitas kronik dan toksisitas subkronik. aplikasi kulit (dermal) melalui pernafasan (respiratori. Satuan nilai LD50 adalah miligram bahan racun per kg berat tubuh binatang uji (mg/kg). 1. Bahaya akibat keracunan kronik karena terpapar insektisida dapat bersifat carsinogenic (pembentukan jaringan kanker). Tingkat Bahaya Pestisida Meskipun sangat sulit mengekstrapolasi nilai LD50 binatang mamalia seperti tikus atau kelinci untuk menilai tingkat toksisitas pestisida bagi manusia. melalui kulit (rute dermal). Pengujian Toksisitas Insektisida Cara masuk insektisida ke dalam tubuh binatang atau manusia dapat melalui mulut (rute oral).TOKSISITAS PESTISIDA Pestisida tidak hanya beracun (toxic) atau berbahaya bagi serangga hama sasaran juga berbahaya bagi serangga-serangga musuh alami. atau pemberian dosis ganda dalam waktu kurang lebih 24 jam. Nilai LD50 adalah suatu dosis insektisida yang diperlukan untuk membunuh 50% dari individu-individu spesies binatang uji dalam kondisi percobaan yang telah ditetapkan. binatang-binatang lain. dan marmut). Toksisitas akut adalah pengaruh meracuni atau merugikan yang timbul segera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu pestisida. Semakin rendah nilai LD50 semakin tinggi toksisitas insektisida tersebut. Metode untuk menentukan toksisitas relatif pestisida yang telah disepakati adalah dengan menggunakan dosis median letal (LD50). Keracunan khronik yang saat ini oleh masyarakat dunia yang paling menjadi keprihatinan masyarakat dunia karena semakin tingginya kesadaran terhadap keperluan adanya lingkungan yang tidak tercemar. mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang). 2. Pengujian tingkat toksisitas terhadap binatang uji dilakukan dengan memberikan melalui makanan (oral). Dari uji laboratorium ini diperoleh nilai LD50 oral dan LD50 dermal dan LD50 inhalasi.

Contoh bahan aktif yang termasuk kategori I adalah aldicarb dengan LD50 oral untuk tikus adalah 0,93 mg/kg dan LD50 dermal untuk kelinci adalah 5 mg/kg. karbofuran LD50 oral untuk tikus 8-14 mg/kg. Propoksur termasuk kategori II karena LD50 oral, untuk tikus adalah 100 mg/kg, LD50 diazinon untuk tikus adalah 108 mg/kg, LD50 DDT untuk tikus adalah 113 mg/kg. Yang termasuk kategori III (sedikit beracun) antara lain sipemetrin (SP) dengan LD50 tikus antara 303-4123 mg/kg. Sejak tahun 2000 Pestisida yang termasuk dalam kategori Ia dan Ib termasuk pestisida dilarang aau tidak boleh didaftarkan di Indonesia.

Tabel 6. Tingkat bahaya insektisida menurut ketentuan WHO
Kategori LD50 Oral Padat
(mg/kg)

LD50 Dermal Padat
(mg/kg)

Keterangan yang perlu dicatat di dalam label Pernyataan bahaya Sangat beracun Warna Simbol bahaya Simbol dan Kata

Cair
(mg/kg)

Cair
(mg/kg)

Ia Sangat berbahaya sekali

<5

<20

<10

<40

Coklat tua Sangat beracun

Ib Berbahaya Sekali II Berbahaya III Cukup berbahaya IV Tidak berbahaya pada penggunaan normal

5-50

20-200

10-100

40-400

Beracun

Merah tua Beracun

50-500

200-2000

100-1000

400-4000

Berbahaya

Kuning tua Berbahaya

5002000

20003000

>1000

>4000

Perhatian

Biru muda

Perhatian

>2000

>3000

Hijau

PENGGUNAAN PESTISIDA SECARA SELEKTIF Dalam kerangka penerapan PHT penggunaan pestisida harus hati-hati seminimal mungkin serta selektif dengan sasaran mengurangi populasi hama sampai pada aras yang tidak merugikan tanpa dengan sesedikit mungkin membahayakan kesehatan pengguna, masyarakat termasuk konsumen serta lingkungan hidup. Karena itu penggunaan pestisida harus dilakukan secara lebih selektif. Selektivitas penggunaan insektisida dapat dibagi menjadi: 68

1. selektivitas fisiologi atau selektivitas intrinsik 2. selektivitas ekologi 3. selektivitas melalui formulasi dan aplikasi 1. Selektivitas Fisiologi Selektivitas fisiologi insektisida di sini adalah penggunaan jenis insektisida yang secara intrinsik hanya mematikan serangga-serangga hama tetapi tidak membahayakan seranggaserangga yang berharga termasuk musuh alami dan serangga penyerbuk bunga. Karena sifatnya, maka insektisida yang memiliki selektivitas fisiologis berspektrum sempit dengan serangga sasaran yang khas. Meskipun banyak insektisida OP, karbamat yang kurang selektif terhadap predator hamahama padi tetapi ada juga insektisida OP seperti piridafention dan tertraklorvinpos yang lebih beracun bagi hama sasaran yaitu wereng hijau padi Nephotettix spp dan kurang berbahaya bagi predator laba-laba serigala Lycosa pseudoannulata. Pengujian tentang selektivitas berbagai jenis insektisida yang saat ini digunakan di Indonesia terhadap hama dan musuh alaminya perlu dilakukan agar kita mengetahui seberapa jauh tingkat bahaya insektisida tersebut bagi serangga bukan sasaran yang bermanfaat seperti musuh alami. Insektisida bakteri seperti Bacillus thuringiensis dan insektisida biologis lainnya termasuk jenis insektisida yang memilki selektivitas tinggi bila dibandingkan dengan insektisida konvensional. Bt umumnya ditujukan untuk mengendalikan hama yang termasuk ordo Lepidoptera. 2. Selektivitas Ekologi Dengan mempelajari sifat biologi dan ekologi hama sasaran dapat diketahui waktu dan cara aplikasi insektisida yang tepat dan efektif. Dengan mempelajari neraca kehidupan hama, perilaku hama, kisaran inang hama kita dapat menentukan bagaimana aplikasi insektisida yang tepat. Aplikasi terutama ditujukan pada bagian yang lemah pada kehidupan hama yaitu sewaktu hama berada pada stadium hama yang peka terhadap insektisida dan dalam keadaan yang "terbuka" terhadap perlakuan insektisida diusahakan sedapat mungkin serangga parasitoid dan predator dapat terhindar dari perlakuan insektisida. Dalam praktek di lapangan selektivitas ekologi perlakuan insektisida dapat dalam beberapa cara yaitu: a. Penetapan waktu aplikasi yang tepat. b. Perlakuan insektisida secara parsial atau spot treatment yang meliputi penyemprotan hanya di pesemaian, pada tanaman batas, atau pernyemprotan hanya pada bagian tanaman atau pertanaman yang terserang. c. Perlakuan insektisida pada tanaman perangkap. d. Perlakuan insektisida pada tanaman inang alternatif harus yang berupa gulma. e. Perlakuan benih dapat mengurangi perlakuan insektisida pada pertanaman. f. Aplikasi insektisida melalui tanah atau air pengairan untuk mengurangi terbunuhnya musuh alami. 3. Selektivitas Melalui Penentuan Formulasi dan Cara Aplikasi Selektivitas insektisida di sini adalah dalam menentukan dan memilih formulasi insektisida dan teknik aplikasi yang tepat, efektif dalam mengendalikan hama sehingga kurang membahayakan eksistensi musuh alami hama. Yang termasuk dalam selektivitas ini adalah: a. Penggunaan formulasi butiran atau Granule dengan insektisida sistemik diharapkan dapat efektif untuk mengendalikan hama penggerek tanaman dan membatasi pengaruh yang merugikan bagi serangga predator dan parasitoid dewasa. 69

b. Penggunaan formulasi ULV (Ultra Low Volume) yang tepat dapat membatasi "drift" insektisida sehingga dapat mengurangi risiko pencemaran dan membatasi terbunuhnya musuh alami. c. Cara aplikasi di lapangan yang kurang tepat dapat mengakibatkan peningkatan kematian organisme bukan sasaran. Oleh karena itu petani perlu dilatih tentang bagaimana cara penyemprotan insektisida yang benar.

Bijaksana: Tepat apa? • Sasaran • Dosis • Cara • Waktu • Konsentrasi • ----129807801.doc 70

Karena pentingnya padi seringkali padi disebut sebagai TANAMAN POLITIK. Pengendalian Hama dan Penyakit 5. KACANG PANJANG. pupuk buatan atau pupuk kimia (Urea.Materi 9 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN PANGAN Tujuan: 1. INMAS (Intensifikasi Massal). Program intensifikasi pangan berjalan sampai saat ini. dll. Perbaikan Pengairan Teknologi revolusi hijau pada tanaman padi sangat tergantung pada bibit unggul. Pemupukan 4. Sejak tahun 1970an kita kenal banyak nama program intensifikasi yaitu sebagai program BIMAS (Bimbingan Massal). 71 Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman pangan Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman pangan . Pada beberapa tahun terakhir ini Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia. Istilah yang terkenal dengan teknologi revolusi hijau adalah Panca Usaha yaitu: 1. dan lain-lainnya. SWASEMBADA BERAS Sejak Pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi beras untuk mencapai swasembada beras pada tahun 1970 Pemerintah mengintroduksikan teknologi intensifikasi produksi padi atau yang dikenal dengan teknologi “revolusi hijau“ atau green revolution. Pengolahan Tanah 2. ZA. Kelompok padi-padian diwakili oleh PADI yang menghasilkan BERAS sebagai makanan utama penduduk Indonesia dan JAGUNG. Hal ini disebabkan karena padi menyangkut hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Tujuan intensifikasi pangan agar dapat meningkatkan produksi pangan khususnya beras dengan tujuan agar Indonesia menjadi swasembada beras atau memenuhi kebutuhan sendiri akan beras sebagai makanan utama penduduk. 2. Penanaman Bibit atau Benih Unggul 3. Dari sekian banyak jenis tanaman dan komoditas pertanian yang dibudidayakan dan diusahakan. Kabinet sekarang mempunyai program yang disebut Program Ketahanan Pangan. Nama program bermacam-macam tergantung kegiatan dan “selera” Kabinet yang bersangkutan. SUPRA INSUS. Di Indonesia tanaman pangan dibagi dalam dua kelompok yaitu padi-padian dan palawija. padi merupakan tanaman yang paling memperoleh perhatian utama dari Pemerintah dan masyarakat. TSP. KCL) serta pestisida kimia. Materi Kuliah: PERMASALAHAN HAMA TANAMAN PANGAN Yang disebut tanaman pangan adalah jenis tanaman yang menjadi sumber pangan utama sebagian besar penduduk. sedangkan palawija terdiri atas KEDELAI dan tanaman kacang-kacangan seperti KACANG TANAH. setelah itu kita masih harus mengimpor beras untuk dapat memenuhi kebutuhan beras penduduknya. Indonesia hanya mencapai Swasembada beras pada tahun 1984. INSUS (Intensifikasi Khusus).

Mentik. Petani semakin tergantung pada bibit unggul. Pola tanam padi. Diusahakan di suatu hamparan sawah dilakukan penanaman secara serentak termasuk di daerah-daerah yang berbukit. penyakit tungro. Puncak letusan hama terjadi pada tahun 1979 hampir satu juta hektar sawah gagal panen atau rusak oleh wereng coklat. 6. Apabila jumlah musuh alami banyak tidak perlu dilakukan kegiatan pengendalian dengan pestisida. Program PHT pada tanaman padi yang dilaksanakan Pemerintah sejak tahun 1989 yang telah melatih sekitar satu juta petani padi dengan konsep dan teknologi dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia di tingkat petani. 4. Keadaan ini mendorong terjadinya kesenjangan di pedesaan antara petani yang kaya dan petani yang miskin terutama buruh tani. padi. Bila diperlukan pestisida kimia gunakan secara sangat selektif dengan menggunakan jenis-jenis pestisida yang tidak membunuh musuh alami. dan VUTW I. 2. Banyak jenis predator dan parasitoid dijumpai di ekosistem persawahan kita. seringkali dengan menanam varietas sama dan masa tanam yang tidak serentak. 7. 3. Ekosistem persawahan menjadi sangat rawan hama dan penyakit padi. Dalam kondisi stabil letusan hama tidak perlu dikhawatirkan. Penerapan PHT untuk hama-hama padi secara umum adalah sebagai berikut: 1. Pengendalian hayati terutama dengan teknik augmentasi dan konservasi musuh alami merupakan teknik pengendalian hama-hama padi utama. Karena itu sampai saat ini sawah di Indonesia tidak pernah “sepi” akan serangan hama. dll). Kondisi lingkungan ini menguntungkan perkembangbiakan hama-hama padi seperti tikus dan wereng coklat. sasaran peningkatan produksi tidak tercapai dan lingkungan pertanian semakin tercemar. Seperti kita ketahui saat ini kita mempunyai kelompok Non VUTW. Cianjur. 5. VUTW I. Serangan hama tikus berkurang di daerah-daerah yang menanam padi serentak. kesuburan tanah semakin menurun sehingga proses produksi tanaman padi menjadi semakin tidak efisien. Penggunaan pestisida yang masih tinggi dapat menimbulkan resistensi dan resurjensi hamahama utama padi seperti wereng coklat. meluas dan sering meletus setelah program BIMAS dilaksanakan antara lain hama wereng coklat dan wereng-wereng lainnya. 72 . Berbagai hama penyakit “baru” timbul. Tanam bibit atau varietas unggul tahan hama terutama VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) sesuai dengan biotipe wereng coklat pada suatu tempat. Penggunaan pestisida diputuskan setelah mempelajari hasil pengamatan ekosistem. 2. pupuk kimia dan pestisida yang harganya semakin mahal. Dengan perbaikan sistem pengairan petani dapat menanam padi dua kali sampai 3 kali setahun. Ekosistem persawahan secara ekologi sebenarnya merupakan ekosistem yang memiliki kestabilan tinggi apabila kita dapat menerapkan PHT secara konsisten dan konsekuen. Karena penggunaan bahan kimia pertanian yang sangat banyak. 3.Dampak penerapan intensifikasi pertanian pada ekosistem persawahan dan sistem sosial masyarakat di Indonesia sangat besar antara lain: 1. palawija. Sebaiknya dilakukan pergiliran varietas antar musim tanam. Ada banyak petani padi saat ini yang tidak lagi menggunakan pestisida karena sudah mengandalkan musuh alami hama-hama padi. 4. Pada kondisi populasi wereng coklat tinggi hindarkan penanaman varietas padi peka hama terutama varietas-varietas lokal (Rojolele. Laksanakan kegiatan pengamatan atau pemantauan hama dan musuh alami seminggu sekali.

Diupayakan agar waktu tanam dengan selang <10 hari dalam areal yang luas. Gejala serangan: 1. 2. Pada serangan berat. terutama pada tanaman-tanaman muda. karena pada saat tersebut umumnya tikus tinggal di dalam liang. Namun dari laporan pada 5 tahun terakhir urut-urutan hama padi utama di Indonesia adalah 1) Tikus. dengan demikian hama-hama utama di suatu daerah dapat berbeda dengan hama-hama utama di daerah lain. 5. sehingga masa generatif hampir serentak. Adanya bekas-bekas telapak kaki tikus terutama pada tanah berlumpur 7. pemasangan bambu perangkap dan pemanfaatan jaring. Adanya lintasan jalan dimana tikus hilir mudik di antara pertanaman tempat makannya dengan lubang persembunyiannya. Adanya bentuk-bentuk kerusakan tertentu pada tanaman yang diakibatkan oleh tikus seperti rebahnya tanaman karena pangkal batang putus. Yang akan dibahas di sini beberapa hama utama padi saja. 2) Penggerek Batang dan 3) Wereng Coklat. Siang hari mereka selalu berlindung di dalam liang atau di semak belukar. Pada kepadatan populasi rendah. 73 . 4. Melakukan gropyokan. di sekitar sawah. Untuk tempat tinggal atau lubang biasanya tikus berorientasi ke daerah yang cukup memberi perlindungan dan rasa aman dari gangguan predator dan tersedia sumber makanan dan air. antara lain burung hantu. serangan tikus biasanya bersifat acak terutama di bagian tengah petakan. Adanya saluran lubang yang masuk ke dalam tanah yang tidak begitu basah atau tergenang air 3. Intensitas serangan hama-hama tersebut dari suatu lokasi ke lokasi lain sangat berbeda. Pengelolaan: 1. HAMA-HAMA PADI Pada ekosistem padi dijumpai banyak jenis hama yang menyerang hampir seluruh stadia tumbuh padi dari persemaian sampai panen dan pasca panen. Memanfaatan musuh alami. elang. Adanya sarang dari batang rerumputan dan daun diantara vegetasi tanaman yang tumbuh di lapangan 2. Serangan tikus dapat terjadi sejak di persemaian sampai pasca panen. Adanya lubang yang biasanya dengan diameter yang lebih besar dari tubuh tikus dan berbentuk bulat yang merupakan jalan masuk menuju saluran. Dengan demikian masa perkembangbiakan tikus hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Tikus sawah aktif pada malam hari. Pengemposan dilakukan pada saat tanaman fase generatif. sehingga belum tampak jelas dari pematang. Mengurangi ukuran pematang. Adanya bekas-bekas kotoran tikus sepanjang lintasan 6. sehingga mempersulit tikus membuat liang. Pematang sebaiknya berukuran < 30 cm. Fungsi lubang bagi tikus sawah adalah sebagai tempat bernaung. 3.A. Secara singkat sifat hama dengan cara pengelolaannya adalah sbb: 1. serta menimbun makanan. Populasi tikus umumnya masih rendah pada persemaian sampai fase vegetatif dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif. biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pinggir. 4. 5. penggenangan lahan. ular. tempat memelihara anak dan kelompok keturunan. Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi.

penanaman varietas padi yang tahan penggerek batang. Tanam serentak varietas genjah dengan selisih kurang dari 2 minggu meliputi hamparan seluas-luasnya agar pertumbuhan tanaman dan masa panen dapat serentak. 2. PBBBk dan PBPKH sering dijumpai pada pertanaman padi yang ditanam dekat dengan tanaman tebu dan jagung. 7. Saat ini di Sulawesi Selatan dan daerah-daerah padi yang hanya dapat menanam padi satu kali setahun PBPP lebih penting daripada PBPK. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi dapat memutus daur hidup penggerek batang padi. 74 . Pada pucuk tanaman tampak menguning. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada masa bero di antara waktu tanam. Sebelum tahun 1970 di Jawa PBPP yang lebih dominan. Pola tanam Diusahakan untuk melakukan tanam serempak. layu dan akhirnya mengering. Gejala serangan pada pertumbuhan vegetatif disebut sundep sedangkan pada pertumbuhan generatif disebut beluk. melibatkan semua petani dan aparat pemerintah. Dari ke-6 penggerek batang padi tersebut saat ini yang paling penting adalah PBPK terutama di pulai Jawa yang memiliki jaringan pengairan baik. Yang harus diperhatikan dalam usaha pengendalian tikus sawah yakni harus terorganisasi dengan baik. Gejala beluk memperlihatkan malai padi yang tegak. Jenis Penggerek Batang Padi di Indonesia Nama Umum Nama Latin Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (PBPK) Penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (PBPP) Penggerek batang padi Chilo suppressalis berrgaris (PBPB) Penggerek batang padi kepala Chilo polychrysa hitam (PBPKH) Penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius (PBBBk) Penggerek batang padi merah Sesamia inferens jambu (PBPMj) Pengelolaan: 1). karena kematian tikus oleh racun ini lambat dan kematian umumnya tidak terlihat karena di dalam inang sehingga dapat menghindari jera umpan. berrwarna putih dan hampa. Ulat penggerek merusak bagian pangkal titik tumbuh sehingga apabila tanaman ditarik dari titik tumbuhannya akan mudah lepas. Gejala serangan: Gejala kerusakan penggerek batang padi umumnya mirip. sedangkan PBPB sering menjadi masalah di tanaman padi yang ditanam di dataran yang agak tinggi. Persemaian dilakukan secara berkelompok untuk memudahkan pemeliharaan dan pengumpulan kelompok telur penggerek. pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi. No 1 2 3 4 5 6 Tabel 7.6. Pengumpanan beracun menggunakan racun antikoagulan. Penggerek Batang Padi Di Indonesia dikenal 6 jenis penggerek batang padi (Tabel 7). sehingga tersedianya sumber makanan bagi penggerek dapat dibatasi.

Wereng coklat mengeluarkan cairan madu. Trichogramma sp. 3. Wereng Hijau (Nephotetix spp) Wereng hijau lebih dikenal sebagai pembawa atau vektor beberapa penyakit padi penting seperti penyakit kerdil rumput. 4). jumlah tunas sedikit berkurang dan berwarna kuning.2). tungro dan kerdil kuning. Di samping sebagai hama utama tanaman padi. 7. Diusahakan persemaian jauh dari lampu dan sumber penyakit virus 4. 4. sehingga batangnya berwarna hitam. Apabila serangan terjadi pada waktu tanaman masih muda. 2. Memanfaatkan musuh alami seperti Anagrus sp. Tetrastichus sp. yang dapat ditumbuhi cendawan jelaga. wereng coklat juga dapat bertindak sebagai vektor penyakit virus kerdil rumput (grassy stunt) dan virus kerdil hama (ragged stunt). Bila memungkinkan diikuti dengan penggenangan air agar tunggul jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati. 3. Paederus sp. Metioche sp. Anaxipha sp. Microvelia sp. sehingga menyebabkan tanaman menjadi menguning dan mengering. Ophionea sp. efektif dan diizinkan untuk digunakan pada tanaman padi. intensitas serangan dan umur tanaman. Telenomus sp. Pergiliran varietas untuk menghindari timbulnya biotipe baru. Penanaman varietas unggul tahan wereng dapat menghambat perkembangan populasi dari generasi ke generasi. dengan memperhatikan perbandingan antara wereng coklat dengan musuh alami. Fisik dan mekanik Mengumpulkan telur sejak di persemaian kemudian dibunuh. Biologi Memanfaatkan musuh alami baik predator maupun parasitoid seperti Conocephalus longipennis. maka jumlah tunas akan sangat berkurang. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara menusuk dan menghisap cairan batang atau pelepah daun pada bagian pangkal. Menghindari pemupukan N secara berlebihan. Xanthopimpla sp. Gejala serangan: Tanaman padi yang terserang menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil. Malai yang dihasilkan biasanya steril dan 75 . Insektisida yang digunakan harus dipilih yang selektif. 3). Sistem tanam serempak dalam satu wilayah kelompok dengan selisih waktu tanam < 2 minggu sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau tidak tersedia pakan terus-menerus. Pengelolaan: 1. Eradikasi Pembabatan dan pengumpulan jerami lalu dibakar untuk memusnahkan sumber hama penggerek batang padi. Pada saat panen diusahakan pemotongan jerami sampai serendah mungkin untuk mencegah kesempatan berkepompong pada pangkal padi. Penggunaan insektisida dilakukan pada saat populasi dominan nimfa. 5). Eradikasi dan sanitasi tanaman 6. Kimiawi Aplikasi insektisida untuk pengendalian harus disesuaikan dengan keadaan populasi hama. Kerusakan berat tampak tanaman seperti gejala terbakar (hopperburn). 5.

Hama Putih Palsu (Cnaphalocrosis medinalis) Bukan merupakan hama utama meskipun kadangkala dilaporkan menyerang di Pantai Utara Jawa Barat dengan kerusakan 15%. Pemanfaatan dengan musuh alami diantaranya Apanteles sp. Lombok dan Sumatera Selatan. Bekas isapan menjadi coklat dengan coklat tua pada tepinya. Gejala serangan: Larva memakan daun sehingga menimbulkan bekas serangan berupa garis-garis putih. Sanitasi tanaman inang dan rumput liar di sekitar persawahan 2. Kepinding tanah (Scotinophora sp) Hama ini juga bukan hama utama padi. larva makan dari dalam. sorgum. Ganjur (Orsealia oryzae) Hama ganjur terbatas menyerang dalam luasan sawah sempit dan terpencar-pencar terutama di Jawa. Penanaman secara serentak minimal di satu wilayah kelompok. Temperatur 26-290C sangat sesuai bagi perkembangan hama ini. perlakuan benih dengan insektisida. Larva lebih cocok hidup pada tanaman padi di musim hujan. Pengelolaan: Pengamatan rutin serangan ganjur harus dimulai sejak umur 7 hari setelah tanam. Pengelolaan: 1. Budidaya tanaman sehat. cahaya. lamakelamaan semua daun kering dan akhirnya mati. Bali. Pada tahun 1975 sekitar 200. 5. Kelembaban minimal 80% sangat mendukung perkembangan larva. jagung. Gejala serangan: Gejala serangan berupa puru yang akan tampak 3-7 hari setelah larva mencapai titik tumbuh. Pengelolaan: Pengelolaan hampir sama dengan pengelolaan wereng coklat. 6. Gejala kerusakan tanaman padi oleh wereng lebih banyak diakibatkan serangan penyakit padi yang dibawanya terutama penyakit tungro yang merupakan penyakit padi terpenting di Indonesia saat ini. angin. Batang-batang menjadi busuk dan mudah 76 . Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi ganjur diantaranya kelembaban. Pada musim kering larva lebih cocok hidup pada jagung. Gejala serangan: Hama mengisap cairan pelepah dan batang padi. predator laba-laba dan cocopet dari ordo Dermaptera 7.kecil. Daun pada rumpun yang terserang berat akan menjadi kering. rumput Echinocloa dan tebu. Inang hama putih palsu adalah padi. Serangannya tersebar dan tidak menimbulkan kerusakan ekonomis bagi petani. sehingga adanya serangan ringan dapat dikompensasi oleh pertumbuhan tunas. jenis dan jumlah pakan serta musuh alami. menyebabkan daun menjadi kering dan berwarna putih. penggunaan varietas tahan. 3. Pentalitomastix sp. Gejala serangan yang khas terlihat lipatan daun.000 ha sawah di Jawa Tengah dan Jawa Barat terserang hama ini.

Pengeringan lahan sawah dapat menghambat perkembangan hama. Pemanfaatan musuh alami seperti Conocephalus longipenis. Tanam serempak untuk membatasi ketersediaan makanan yang sesuai 2. Selama musim kemarau mengalami dormansi pada bongkahan tanah yang berumput. Butir padi yang setengah hampa akan mudah pecah jika masuk dalam penggilingan. Telur diletakkan secara terpencar pada daun. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Biasanya selain menyerang tongkol jagung juga menyerang pucuk sehingga bunga jantan tidak terbentuk akibatnya hasilnya berkurang. HAMA-HAMA JAGUNG Urutan pentingnya hama-hama jagung di Indonesia saat ini adalah 1) Tikus. Serangan dewasa mampu hidup dan berkembangbiak selama 1-2 musim. Perilaku. Pemanfaatan tanaman perangkap 3. Butir padi bekas tertusuk walang sangit warnanya berubah menjadi coklat atau kehitam-hitaman sebagian atau seluruhnya. Tanaman tua dapat juga terserang. Beauveria bassiana B. Di Sulawesi Selatan pernah dimasukkan sebagai salah satu hama padi utama. 77 . Gejala serangan: Butir padi yang terserang hama ini akan menjadi hampa sebab cairan selnya telah habis dihisap. Tanaman yang disukai hama ini terutama bibit di persemaian dan tanaman muda sampai 50-60 hari. 3) Penggerek Batang . Pemupukan saat tanaman terserang. Pengelolaan: 1. pucuk dan bunga pada malam hari. Sanitasi lahan dan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan juga dapat menghambat perkembangan kepinding tanah. sehingga tanaman mampu mengkompensasi serangan. Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalam jumlah besar.dicabut. Hujan lebat dapat menurunkan kepadatan populasi. 2) Penggerek Tongkol. Walang sangit mulai aktif pada awal musim hujan setelah menyelesaikan 1-2 generasinya pada rerumputan. 1. Pengelolaan: Pembajakan dan pembenaman tunggul-tunggul padi setelah panen akan dapat mengurangi populasinya untuk musim tanam berikutnya. 4) Lalat bibit dan 5) Ulat grayak. Walang Sangit (Leptocorisa acuta) Hama yang menyerang bulir padi ini merupakan hama yang menyerang secara sporadis di lokasi perswahan yang menyebar. Penanaman tanaman resisten 4. gejala serangan dan pengendalian hama Tikus sudah dijelaskan di depan. Lebih menyukai keadaan basah atau lembab. 8. Gryon nixoni. Biasanya telur diletakkan pada tanaman jagung umur + 2 minggu setelah tanam. cuaca hangat dan gerimis. Kerusakan berat akan terjadi apabila walang sangit dewasa menyerang padi pada saat malai berbunga. Hama ini menimbulkan masalah di persawahan di luar Jawa. Kepadatan populasi meningkat pada kondisi tanaman padi sedang berbunga.

kedelai mempunyai banyak jenis hama yang menyerang sejak di fase pembibitan sampai fase polong. Hama-hama kedelai dapat dikelompokkan menurut fase pertumbuhan kedelai yang diserang yaitu: a. Phaedonia sp. penggunaan pestisida kimia relatif sangat tinggi. Di samping menghadapi serangan hama kedelai juga menghadapi serangan banyak penyakit virus yang vektornya adalah serangga Bemisia sp dan Aphis sp. produksi selalu rendah sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang selalu meningkat setiap tahunnya. Hama-hama pegisap polong seperti Riptortus sp. Nezara sp e. Karena serangan hama tinggi. Serangan pada pucuk daun yang masih menggulung dapat menimbulkan gejala berlubang dalam barisan yang melintang daun. Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis) Gejala serangan: Serangan pada daun dapat menimbulkan bercak putih pada permukaan daun. Aphis sp d. Pengelolaan: 1. 5) Penggulung daun dan 6) ulat jengkal. perilaku dan cara pengendalian hama-hama kedelai menurut urutan bahayanya. Tanam lebih awal pada musim penghujan C. Hama-hama pemakan daun seperti Spodoptera sp.Pengelolaan: 1. Lalat menyerang bibit seperti Agromyza sp b. Lalat Bibit (Atherigona oryzae) Gejala serangan: Serangan terjadi pada tanaman umur 5-7 hari setelah tanam dengan tanda-tanda tanaman layu sebagai akibat kematian titik tumbuh. 3) Tikus. Pengelolaan: Rotasi tanaman. Hama tanaman merupakan faktor pembatas utama produksi kedelai di Indonesia. Ulat tua menggerek ke dalam batang yang menimbulkan lubang pada ruas dan meninggalkan kotoran bekas gerekan. tanam serentak. Hama-hama pengisap daun seperti Empoasca sp. Tanam serentak 3. Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari 3. Berikut diuraikan sedikit sifat. 78 . pemangkasan bunga jantan 3. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 2. Urutan 6 besar hama-hama kedelai adalah: 1) Lalat kacang. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung dan padi 2. Bemicia sp. Karena banyak serangan hama. HAMA-HAMA KEDELAI Berbeda dengan padi sawah. 2) Penggerek polong. Saat ini kita harus mengimpor kedelai lebih dari satu juta ton. rata-rata satu musim aplikasi pestisida sekitar 4-5 kali. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Plusia sp c. Hama-hama penggerek polong seperti Etiella sp dan Heliothis sp. 4) Ulat grayak.

Yang pertama merupakan yang paling penting. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva muda secara bergerombol makan epidermis bawah daun sehingga menimbulkan gejala transparan. Pengelolaan: 1. Kematian tanaman dijumpai pada tanaman berumur 14-30 hari. Pada keping biji dan pasangan daun pertama terdapat alur atau garis berkelok-kelok berwarna coklat yang merupakan lubang gerekan. Telur diletakkan pada malam hari. Serangan ulat instar awal dapat menimbulkan gejala transparan pada daun. dilakukan pada areal yang cukup luas. Tachinidae. Populasinya tinggi pada saat musim kemarau daripada musim hujan. sehingga akar mati tanaman layu dan mati. Pemantauan dini 2. Untuk daerah endemis penggerek polong.1. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen. Pengelolaan: 1. Pemanfaatan musuh alami seperti Apanteles sp. 6. sedang serangan oleh ulat instar akhir dapat menimbulkan gejala berupa berlubang pada daun bahkan polong termakan habis. Akibat gerekan jaringan pengangkut terputus. daun yang rusak tampak berwarna keputih-putihan. Penggunaan mulsa jerami 4. daun pertama atau daun kedua. Di dalam polong terserang terdapat butir-butir kotoran ulat yang berwarna kuning atau coklat muda yang menggumpal. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 5. Gejala serangan: Gejala awal berupa tanda bintik-bintik putih pada keping biji. Sanitasi terhadap inang alternatif 4. 79 . Tanam serempak pada areal yang luas 3. Penggerek polong (Etiella zinckenella) Gejala serangan: Tanda serangan berupa lubang gerekan berbentuk bundar pada kulit polong. dolichostigma. Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah pergi. Trichogramma sp. yang tersisa hanya tulang-tulang daun dan epidermis bagian atas. perlu diterapkan penanaman tanaman perangkap. phaseoli. predator Lycosa sp dan Oxyopes sp 7. Stadia larva merupakan stadia yang merusak tanaman kedelai fase perkecambahan dan tanaman muda. 2. ojae dan A. Tanam serentak dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari. A. pada bagian bawah kelopak bunga atau pada polong secara berkelompok. Seed treatment 3. Lalat Kacang (Agromyza phaseoli) Paling sedikit ada 3 spesies lalat kacang yaitu A. Bintik-bintik tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telur pada pangkal kotiledon dan pangkal daun. Pengendalian dengan insektisida efektif dilakukan apabila populasi hama telah mencapai ambang pengendalian 3. Pergiliran tanaman dengan tanaman non Leguminosae 2.

Pada tahun 1983 luas serangan hama ini mencapai 24000 ha dengan intensitas serangan 40%. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. dan 70 HST terhadap imago. Pengendalian dengan insektisida secara spot treatment dibatasi sampai dengan instar 3 4. 56. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis. Tachinidae. Melakukan tanam serentak dan pergiliran tanaman 3. Pengendalian secara fisik dan mekanik yakni dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva kemudian dimusnahkan 5. Reduviidae. Serangan pada fase perkembangan biji dan pertumbuhan polong menyebabkan polong dan biji kempis. 5. Apabila gulungan tersebut dibuka. mengering dan gugur. Kepik Hijau (Nezara viridula) Gejala serangan: Nimfa dan dewasa menghisap cairan biji kedelai.Pengelolaan: 1. Pengamatan terutama dilakukan pada tanaman perangkap. Pemantauan terhadap kelompok instar 1 atau gejala awal daun yang tampak keputihputihan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 14 HST 2. bentuk larva tua mempunyai ciri khas. Dalam satu musim tanam hanya dijumpai satu generasi. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena ada biji hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Daun yang terserang ulat pada populasi tinggi tinggal tulang daun saja atau bahkan habis sama sekali. kemudian mengering dan polong 80 . Ichneumonidae 7. Penggunaan Sl NPV 6. parasitoid Telenomus. Penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian yang mungkin terjadi hanya pada tanaman perangkap 7. telur dan nimfa. Kepik Polong (Riptortus linearis) Tingkat kerusakan secara ekonomis di lapang sulit untuk diperkirakan karena biasanya terjadinya kerusakan bersamaan dengan pengisap polong lainnya. daun akan tampak tinggal tulang-tulangnya. Pengendalian dini setelah ditemukan populasi 4. 49. Ulat Jengkal (Plusia chalcites) Ulat jengkal berwarna hijau dan bergerak seperti menjengkal. Ulat makan dari gulungan daun. Pengamatan dilakukan pada umur 42. Pemanfaatan musuh alami predator Carabidae. Pengelolaan: 1. Ulat membentuk kepompong di dalam gulungan daun tersebut. Sanitasi tanaman inang liar jauh sebelum tanam 2. Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata) Gejala serangan: Ulat merusak tanaman kedelai berumur 3-4 minggu setelah tanam. Ulat diam di dalam gulungan daun yang direkatkan satu sama lain dengan benang air liurnya. 5. Ulat jengkal menyerang tanaman kedelai berumur muda dan tua. 63. 3. Gejala serangan: Kepik menyerang polong dan biji. Gejala serangan jelas terlihat kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat.

Menanam varietas toleran (berbulu tegak) 4. kuncup bunga. Menochilus sexmaculata. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Hama menyerang tanaman sejak tanaman membentuk daun pertama dan puncak populasinya terjadi pada fase setelah pembungaan. Penggunaan benih bermutu dan sehat 5. Pemanfaatan musuh alami parasitoid Encarsia sp dan beberapa jenis kumbang Coccinelidae antara lain Menochilus sp. Scymnus sp 10. Kutu hijau berperan sebagai vektor penyakit virus kedelai antara lain virus kerdil kedelai. 8. Gejala serangan: 81 . Pencabutan tanaman muda yang terserang virus 7. Harmonia octomaculata. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Serangan berat akan terjadi terutama pada musim kemarau karena didukung dengan suhu yang tinggi. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya 3. bunga. Populasi kutu hijau dipengaruhi oleh curah hujan yang dapat menurunkan populasi. tangkai daun pucuk. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. Verania lineata.dapat gugur. Akibat serangan hama ini daun kedelai menjadi gundul dan dapat menurunkan produksi atau bahkan tanaman tidak menghasilkan sama sekali. Menanam varietas toleran 4. Gejala serangan: Nimfa dan kutu dewasa mengisap cairan daun. virus mosaik kuning dan virus kate kedelai. Gejala serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. Pemantauan sedini mungkin 6. Kerusakan pada biji dan kulit polong disertai dengan serangan jamur. batang pucuk. 9. kuncup daun. Hama ini juga bertindak sebagai vektor penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) yang menyebabkan tanaman kerdil dan daunnya belang-belang kuning tersamar. Ekskreta kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelaga sehingga sering tanaman tampak berwarna hitam. Pengelolaan: 1. Pemanfaatan musuh alami diantaranya predator Coccinelidae. Ekskresi kutu hijau menghasilkan embun madu yang dapat merangsang tumbuhnya cendawan jelaga yang menutupi permukaan daun dan polong sehingga mengganggu fotosintesis. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa) Imago dan larva dapat merusak daun. Tanam serentak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 10 hari 2. Pengelolaan: 1. polong muda dan kulit polong bagian luar yang telah berisi penuh sampai polong menguning. Tanam serentak pada areal yang cukup luas 2. Kutu Hijau (Aphis sp) Kutu hidup dalam koloni dan perkembangbiakan secara parthenogenesis sehingga populasi dapat meningkat dengan cepat.

Mengatur waktu tanam. Pengelolaan: 1. terutama di dekat pangkal batang. yaitu menanam pada awal musim kemarau 2. Setelah telur menetas biasanya larva langsung menggerek ke dalam daging umbi dan membuat lorong gerekan. Pengelolaan: Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Wereng Kacang Tanah (Empoasca flavescens) Nimfa dan dewasa mengisap cairan sel daun sehingga bagian ujungnya menjadi kekuningan. kemudian berubah menjadi coklat dan gugur seluruhnya. Di samping itu kumbang juga membuat lubang lain untuk meletakkan telur. KACANG TANAH Tanaman kacang lebih banyak menghadapi serangan penyakit daripada serangan hama tanaman. HAMA-HAMA UBI KAYU DAN UBI JALAR 1. Pemantauan dilakukan tiap minggu sampai tanaman berumur 49 HST 2. Pengelolaan: 1. Serangan berat terjadi pada musim panas. bekas tusukan alat mulut serangga dapat menimbulkan kematian jaringan sehingga timbul gejala daun keriting. Melakukan penggenangan 3. sebaliknya pada musim hujan populasinya berkurang karena tercuci oleh air hujan. Salah satu hama kacang tanah adalah wereng kacang tanah. larva dan pupa yaitu Solenopsis geminata. Akibat serangan berat. permukaan bagian bawah menjadi kusut oleh adanya anyaman-anyaman halus. sedang pada polong tua kulitnya yang dimakan. Akibatnya ubi akan terasa pahit. Daun dapat kehilangan khlorofil dan mengakibatkan daun kelihatan menguning. Hama Boleng (Cylas formicarius) Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang. Tanaman serentak dan pergiliran tanaman penting untuk menurunkan infestasi awal 3. 82 .Serangan larva dan dewasa dapat berlangsung pada fase pertumbuhan tanaman. Menanam varietas yang pertumbuhan ubinya agak masuk ke dalam tanah 4. Penurunan populasi dapat dilakukan dengan cara pengumpulan dan pemusnahan imago dan larva pada pagi dan sore hari. 4. Daun yang terserang menjadi kaku dan menebal. Selain mengakibatkan tanaman kehilangan cairan. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang E. Serangan lebih lanjut pada tangkai daun dan batang pucuk menyebabkan daun dan pucuk terkulai layu kemudian mengering. tanaman menjadi kerdil dan daun mudah rontok. D. Pemanfaatan musuh alami predator telur. Tungau merah (Tetranychus urticae) Gejala serangan: Tanaman ubi kayu yang terserang berat. Daun tampak berlubang dan polong muda luka-luka.

KACANG PANJANG Faktor penghambat produksi dan kualitas kacang panjang adalah beberapa hama tanaman terutama yang menyerang polong sehingga menurunkan kualitas hasil. Serangan kepik ini menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk sehingga kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Kutu Tanaman (Aphis craccivora) Gejala serangan: Tanaman yang terserang oleh kutu ini menyebabkan bunga menjadi tidak merekah. 83 . 1. 3. Kupu tersebut sering ditemukan di sekitar tanaman. Penggerek Polong (Etiella sp) Ulat masuk dan menggerek ke dalam polong kacang panjang sehingga terlihat bekas gerekan (lubang gerek) berwarna hitam. Pengendalian hama yang lebih sering digunakan adalah penggunaan pestisida kimia. dan apabila menyerang pada buah muda menyebabkan buah menjadi keriput dan tidak dapat memanjang.F. serangga ini juga bertindak sebagai vektor penyakit virus. Di samping sebagai hama. terutama yang sedang berbunga atau berbuah muda. Cara merusak dengan menusukkan alat mulutnya pada kulit kacang terus ke biji kemudian mengisap cairan yang ada di dalam biji. 2. Nezara viridula Kepik dan nimfa dewasa mengisap cairan polong kacang.

Tanaman Hias Tanaman hortikultura mempunyai potensi ekonomi yang besar untuk dikembangkan. 2) petani horti komersial di dataran rendah. Malaysia. peneliti dan masyarakat terhadap pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani tanaman hortikultura sangat sedikit dibandingkan dengan padi dan tanaman pangan lainnya. Tentu saja keadaan ini tidak efisien dan sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Thailand. tetapi sayangnya perhatian pemerintah. Karena ketakutan petani terhadap serangan hama dan penyakit. kesuburan tanah yang semakin menurun.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA Tujuan: 1. Penyemprotan dengan pestisida di sayuran dan beberapa jenis buah-buahan sangat intensif. dan 3) petani horti komersial di dataran tinggi. petani hortikultura sangat menggantungkan diri pada penggunaan insektisida dan fungisida. Tubuh kita memerlukan gizi yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Materi: IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Tanaman Hortikultura sangat penting untuk pemenuhan gizi pangan bagi kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura. ekonomi dan keindahan yang tinggi sehingga dapat menjadi obyek agribisnis yang sangat menguntungkan. tomat 50% dan cabai sampai 51%. Tidak heran bila saat ini pasar sayuran dan buah-buahan di negara kita banyak dikuasai oleh produk-produk impor.129807801. sedangkan di kentang dapat mencapai 40%. Keadaan petani hortikultura Indonesia berbeda dengan petani hortikultura di luar negeri yang usahanya sudah padat teknologi dan padat modal. Sedangkan petani horti komersial memang 84 Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman hortikultura Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman hortikultura . Karena itu. kita kelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu: 1. Kendala utama budidaya tanaman hortikultura adalah kurang tersedianya benih bermutu. Kehilangan hasil panen tanaman hortikultura yang diakibatkan serangan hama berkisar antara 46 sampai 100% atau gagal panen. seperti kubis dapat mencapai 20 kali dalam satu musim. Di samping untuk pemenuhan gizi juga untuk pemenuhan rasa keindahan khususnya untuk tanaman hias. dan ancaman serangan hama dan penyakit. malahan cenderung merosot. Data tentang produksi dan ekspor hortikultura dari Indonesia tidak meningkat dari tahun ke tahun. Petani horti di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 menurut pengusahaan lahannya yaitu: 1) petani horti di pekarangan. Cina dan Australia kita sangat ketinggalan. Di Indonesia banyak sekali jenis tanaman hortikultura tropika yang bernilai gizi. Pengeluaran untuk pestisida pada tanaman kubis rata-rata 30% dari biaya produksi. Tanaman Buah-buahan 3. Tanaman Sayuran yang terdiri atas Sayuran Dataran Tinggi dan Sayuran Dataran Rendah 2. 2. Petani horti pekarangan umumnya menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan di pekarangan untuk kepentingan konsumsi keluarga.

Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1995 terdapat 2 jenis hama “baru” yang kemudian menimbulkan masalah serius di pertanaman sayuran terutama menyerang tanaman kentang. Kita belum mempunyai semacam usaha “perkebunan” sayuran atau perkebunan buah-buahan seperti di luar negeri. lokasi lahan. A. kentang.000 petani hortikultura di beberapa propinsi yang meliputi petani kubis. Dengan demikian usaha hortikultura belum efisien dan ongkos produksi tinggi. KELOMPOK SAYURAN 85 . PHT tanaman cabe dan bawang merah jauh lebih baik hasilnya dibandingkan kebiasaan petani namun belum sebaik petani kubis dan kentang. sedangkan jenis hama hanya dijelaskan hama-hama utama yang pada 5 tahun terakhir ini menimbulkan masalah. Dari evaluasi terhadap penerapan PHT oleh petani pada tanaman hortikultura terlihat bahwa untuk tanaman kubis dan kentang petani dapat mengurangi penggunaan pestisida sampai 80%. Oleh karena itu umumnya petani horti di Indonesia belum banyak menguasai teknologi budidaya tanaman dan perlindungan tanaman yang memadai. Setelah tahun 1995 hama ini menyerang semua pusat tanaman kentang dan tanaman horti lainnya. Produk buah-buahan Indonesia pada tahun 2002 ditolak oleh negara Taiwan kerana mengandung lalat buah. seperti telah terjadi banyak kubis dan kentang yang berasal dari Tanah Karo di Sumatera Utara tidak dapat masuk Singapura dan Malaysia karena kandungan residu pestisida. Pada era perdagangan global sekarang sangat sulit untuk mengekspor produk hortikultura karena kandungan pestisida yang tinggi. JENIS-JENIS HAMA HORTIKULTURA DAN CARA PENGENDALIANNYA Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura di Indonesia yang akan diuraikan hanya terbatas pada jenis tanaman horti yang penting dilihat dari prospek bisnis. Dua jenis hama tersebut adalah hama pengorok daun (Lyriomyza huidobrensis) dan Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis). Hama nematoda NSK baru diketahui memasuki Indonesia pada tahun 2002 yang lalu. peningkatan produksi dan kualitas produk sehingga sangat menguntungkan. Saat ini NSK telah tersebar di semua pusat tanaman kentang di Indonesia. Sejak tahun 1990 sampai 1998 Pemerintah melaksanakan pelatihan PHT untuk lebih dari 50. Salah satu jenis hama penting yang menyerang buah-buahan adalah lalat buah (Batrocera spp) yang seringkali menjadi pembatas produksi dan ekspor buah-buahan di Indonesia seperti nangka dan jambu. Untuk dapat mengembangkan teknologi PHT yang sesuai diperlukan banyak kegiatan penelitian dan pengkajian. sehingga mereka sangat tergantung pada kebiasaan petani di sekitarnya. dan kondisi sosial ekonomi petani. Hama ini terbawa ke Indonesia karena ulah para penggemar tanaman hias yang mengimpor bunga krisan dari Eropa melewati pemeriksaan petugas karantina tumbuhan di pintu masuk. bawang merah. Namun ketiga kelompok mempunyai ciri yang sama yaitu luas lahan yang terbatas dan modal yang pas-pasan. dan cabai merah. terbawa oleh bibit kentang yang diimpor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.mengusahakan untuk memperoleh produksi dan keuntungan. Namun dengan penggunaan zat atraktan seperti metil eugenol dan tanaman selasih. Hama Lyriomyza bukan hama “asli” di Indonesia tetapi berasal dari daerah subtropik. Dari hasil-hasil sementara tersebut dapat disimpulkan bahwa satu-satunya cara memperbaiki produksi dan kualitas produksi tanaman hortikultura adalah menerapkan dan mengembangkan teknologi PHT yang sesuai dengan jenis tanaman. pengendalian lalat buah dapat mengurangi kerugian petani buahbuahan oleh lalat buah.

Tanam serempak 3. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Gejala biasanya terlihat pada pagi hari dengan adanya tanaman muda yang rebah karena dipotong oleh ulat di bagian pangkal batang. Tanam serempak 3. Pengelolaan: 1. Setelah jaringan daun lapisan epidermis pecah sehingga terjadi lubang-lubang pada daun. sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Ulat Daun (Plutella xylostella) Gejala serangan: Tanaman yang diserang adalah tanaman muda. Pengolahan tanah yang baik 4. KENTANG a. Seringkali juga merusak tanaman kubis yang sedang membentuk krop. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 2. TOMAT) dan sayuran dataran rendah (CABAI. Pemasangan umpan beracun sekitar tanaman dan b. dan BAWANG MERAH) 1. Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong.Kelompok Sayuran meliputi tanaman-tanaman sayuran dataran tinggi (KUBIS. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil-kecil. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di mematikannya 5. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Ulat Krop (Crocidolomia binotalis) Gejala serangan: Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan. Pengelolaan: 86 . Serangan berat terjadi di awal musim kemarau. KUBIS a. Mengumpulkan larva di sekitar tanaman dan mematikannya c. Larva makan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Kerusakan berat mengakibatkan tanaman kubis hanya tinggal tulang daun saja. KENTANG.

1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun

sekitar

tanaman

dan

b. Penggerek Umbi (Pthorimaea operculella) Gejala serangan: Daun yang terserang terlihat warna merah tua dan adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil berwarna kelabu. Kadang-kadang daun kentang menggulung yang disebabkan karena larva telah merusak permukaan daun sebelah atas, kemudian bersembunyi dalam gulungan daun tersebut. Gejala serangan pada umbi dapat dilihat dengan adanya kelompok kotoran berwarna coklat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah, akan kelihatan “alur-alur” yang dibuat ulat sewaktu memakan umbi. Kerusakan berat pada pertanaman kentang sering terjadi pada musim kemarau. Di dalam gudang penyimpanan, OPT tersebut merusak bibit kentang yang disimpan selama 3-5 bulan sebelum tanam. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik c. Kutu Daun Persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Kerusakan secara langsung akibat serangan kutu daun persik sebenarnya tidak terlalu merugikan. Kutu daun persik mengisap cairan daun, sehingga menyebabkan daun berkerut/keriting, tumbuhnya kerdil, kekuningan, daun-daunnya terpuntir, menggulung dan kemudian layu dan mati. Gejala yang lebih penting adalah gejala karena kerusakan secara tidak langsung, yaitu serangan penyakit virus yang ditularkan oleh kutu ini. Kutu daun persik merupakan vektor penyakit tanaman kentang antara lain PVA, PVY, PVM, dan PLRV. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Penyemprotan dengan insektisida selektif dan efektif d. Lalat Pengorok Daun (Lyriomyza huidobrensis) Gejala serangan: Lalat pengorok memakan daun dengan cara masuk ke dalam jaringan daun. Akibat serangan hama ini terdapat alur-alur pada daun yang dapat mempengaruhi fotosintesis. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak e. Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis) 87

Gejala serangan: Pertanaman kentang berumur 70-80 hst yang terserang nematoda tampak daundaun klorosis (menguning). Pengelolaan: 1. Pengolahan tanah 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. CABAI a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadangkadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun 6. Pemanfaatan musuh alami seperti Metarrhizium sp. b. Kutu daun persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Serangan berat pada tanaman cabai muda (umur < 3 minggu) bila infestasinya tinggi daun akan berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak c. Trips (Thrip palmi) Gejala serangan: Stadium Thrips yang sangat merugikan adalah stadium nimfa dan imago. Thrips menyerang tanaman dengan jalan menggaruk permukaan daun dan bunga, selanjutnya mengisap cairan sel tanaman. Gejala serangan pada daun akan terlihat bercak-bercak klorosis berwarna putih keperakan pada permukaan bagian bawah daun yang akan menyebabkan daun berkerut dan terpuntir. Bila serangan berat permukaan daun akan berkerut atau sedikit menggulung yang di dalamnya benyak ditemukan Thrips. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak d. Kutu Daun Kapas (Aphis gossypii) Gejala Serangan:

88

Serangan berat dapat terjadi apabila infestasi terjadi pada tanaman muda (< 3 minggu), dengan gejala daun berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. Pengamatan secara teratur 3. Mengumpulkan kutu kemudian dimatikan e. Lalat buah (Batrocera dorsalis) Gejala serangan: Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan titik hitam pada pangkal buah, kemudian buah membusuk dan jatuh ke tanah. Hal ini disebabkan belatung memakan bagian dalam dan daging buah sehingga terjadi saluran-saluran di dalam buah. Buah yang terserang menjadi busuk, selanjutnya jatuh ke tanah. Pengelolaan: 1. Tanam serempak 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. Mengumpulkan buah busuk yang rontok kemudian dibakar 4. Menggunakan perangkap beracun 5. Penyemprotan insektisida yang efektif dan selektif apabila ditemukan serangan sedang. f. Ulat grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva makan dengan cara menyayat permukaan dau. Gejala serangan yang ditimbulkan adalah bercak-bercak putih transparan pada daun, karena bagian daging daun dimakan sedangkan bagian epidermis atas ditinggalkan. Ulat dewasa memakan seluruh bagian daun dengan meninggalkan bagian tulang daunnya. Pada serangan berat tanaman akan gundul. Pengelolaan: 1. Penanaman tanaman bukan inang 2. Mengumpulkan larva di sore/malam kemudian dimatikan 3. Penyemprotan dengan pestisida yang selektif g. Nematoda puru (Meloidogyne sp) Gejala serangan: Tanda kerusakan yang tampak pada bagian tanaman di atas permukaan tanah adalah tampak pertumbuhan yang kerdil, daun klorosis, pada cuaca panas daun-daun cepat layu dibanding tumbuhan sehat, daun-daun banyak yang gugur, tumbuhan tampak gundul, kadang-kadang tinggal daun pucuk. Tanda kerusakan pada bagian tanaman di dalam tanah diantaranya dekat ujung akar tampak kerusakan mekanis, berupa bercak berwarna coklat hitam, terutama pada infeksi populasi yang tinggi, terdapat kecenderungan pembentukan akar-akar cabang lebih sedikit daripada tumbuhan normal. Tampak adanya puru pada akar-akar utama. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inagn 89

Ulat bawang (Spodoptera exigua) Gejala serangan: Bagian tanaman yang diserang adalah daunnya. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Serangan berat biasanya terjadi pada suhu rata-rata di atas normal disertai dengan hujan rintik-rintik dan kelembaban udara di atas 70%. sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik hitam. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. TOMAT a. Pemasangan umpan beracun b. baik pada tanaman muda atau pada tanaman tua. Pengelolaan: 1. Di daerah endemik dilakukan perlakuan tanah dengan nematisida yang efektif jika dijumpai serangan sedang. Waktu tanam pertengahan April. Pada suhu tinggi atau dingin Thrips akan musnah. Pergiliran tanaman 2.2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Pada serangan berat seluruh areal terlihat putih dan akhirnya tanaman akan mati. Tanam serempak 3. Penyemprotan insektisida efektif bila ditemukan tingkat serangan sedang 5. Larva dewasa kadangkadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Gejala serangan yang terlihat adalah daun bernoda putih mengkilat seperti perak. Trips (Thrip tabaci) Gejala Serangan: Stadium nimfa dan imago merusak tanaman dengan cara menggaruk atau meraut jaringan daun dan mengisap cairan sel utamanya pada daun yang masih muda. Pemusnahan kelompok telur di ujung daun b. awal Mei atau September 4. Pengolahan tanah yang baik 4. Ulat Buah (Helicoverpa armigera) 90 . Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong. Tanam serentak 3. 4. BAWANG MERAH a. Larva muda melubangi bagian ujung daun kemudian masuk dan memakan daging daun bagian dalam. Pada serangan berat seluruh bagian daun dimakannya. Pengelolaan: 1. Akibat serangan tersebut pada daun terlihat bercak-bercak putih menerawang tembus cahaya dan akhirnya terkulai dan mengering. Tanam serempak 3. sedangkan epidermis bagian luar ditinggalkan. Pengelolaan: 1.

Gejala serangan: Ulat ini menyerang buah tomat dengan cara masuk ke dalam buah dan memakannya dari dalam. Pengelolaan: 1. Pada bagian tanaman di sekitar aktivitas kutu daun tersebut terlihat adanya kapang hitam yang tumbuh pada sekresi. Coccinella repanda. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya C. Kutu loncat jeruk (Diaphorina citri) Gejala serangan: Kerusakan karena aktivitas kutu loncat adalah daun jeruk menjadi berkerut-kerut. Tanam serempak 3. Di alam populasi kutu daun dikendalikan oleh musuh alami. b. Kutu tersebut akan mengisap cairan daun sehingga daun akan berkerut yang akan mempengaruhi fotosintesis. jamur Metarhizium sp. kutu ini juga mengisap cairan sel pada tangkai daun. Gejala lainnya adalah hasil sekresi atau kotorannya berupa benang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral. tunas-tunas muda atau jaringan tanaman. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. 2. Daun yang terserang akan berkerut dan keriting serta pertumbuhannya terhambat. Pengelolaan: 1. JERUK a. Secara kultur teknis dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk agar dapat menghambat perkembangan populasi kutu. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 4. Buah akan tampak berlubang sehingga menurunkan kualitas. 91 . Kutu Daun (Toxoptera citricidus) Gejala serangan: Kerusakan karena hama ini tampak pada bagian tanaman muda seperti daun dan tunas. Selain daun muda. Tanam serempak 3. KELOMPOK BUAH-BUAHAN 1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Gejala serangan: Kutu menyerang permukaan daun bagian bawah. 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. menggulung atau kering dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Pengendalian secara kimiawi hendaknya dilakukan saat tanaman menjelang dan ketika bertunas. Memanfaatkan keberadaan musuh alami antara lain predator Curinus coreluos. Pengelolaan: 1. Penyemprotan insektisida yang selektif c. Pemberian insektisida butiran melalui tanah pada saat menjelang berbunga 5.

buah akan busuk dan gugur. Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif. buah dan tangkai. Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah jeruk yang masih muda. Pemanfaatan musuh alami seperti parasit telur Trichogramma sp dan Bracon sp. 2. 92 . 4. Serangan kutu tersebut menyebabkan daun berwarna kuning. e. Dalam satu daun tampak terdapat banyak sekali bintil-bintil kecil yang menyebabkan terganggunya proses fotosistesis sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Jika serangan terjadi di sekeliling batang. MANGGA a. Ulat akan meninggalkan bekas lubang pada saat ulat keluar meninggalkan jaringan daun.c. Serangan pada buah mengakibatkan buah tampak kotor. Larva yang baru keluar akan segera terbunuh sebelum sempat menggerek. Pengendalian secara kimiawi pada saat telur belum menetas. d. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi kutu-kutu putih seperti kapas. Memanfaatkan musuh alami dengan cara menghindarkan penggunaan insektisida yang berlebihan 2. Pengelolaan: 1. Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu 2. Procontariana matteina Gejala serangan: Daun yang terserang hama ini ditandai dengan adanya bisul-bisul kecil pada permukaan dan bawah daun. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan. Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar agar tidak terlalu padat dan saling menaungi 3. akan menyebabkan buah gugur. Musuh alami sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering. Kutu Perisai (Lepidosaphes sp) Gejala serangan: Bagian tanaman jeruk yang terserang adalah daun. Bagian buah yang terserang adalah separuh bagian bawah dan apabila parah. terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella) Gejala serangan: Ulat menggerek buah sampai ke daging buah sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok. Memetik buah jeruk yang telah terserang dengan interval setiap 10 hari kemudian menguburnya cukup dalam 3. kadang-kadang tertutup dengan kotoran. 2. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. Kutu dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur.

lama-lama kering dan mati. Mengumpulkan bagian daun yang sudah tergulung dan memusnahkannya b. b. Hal ini disebabkan hama menggulung daun dari tepi ke arah tengah.Pengelolaan: Sanitasi lingkungan merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mengendalikan hama ini. PISANG a. Penggerek cabang mangga (Rhytidodera simulans) Gejala serangan: Pada bagian cabang atau ranting yang terserang terdapat lubang dan alur gerek berwarna hitam. daun berkerut. Hama Uret Gejala serangan: Hama ini menyerang pisang bagian batang sampai ke umbi batang bagian bawah (bonggol) dan menyebabkan umbi berlubang. Erionata thrax Gejala serangan: Daun pisang yang terserang hama ini akan terlihat robek. Pada umumnya hama ini tumbuh pada tanaman pisang yang busuk. Lubang-lubang bekas gerekan dapat menyebabkan infeksi oleh serangan organisme lain. Pengelolaan: Pengendalian dengan sanitasi kebun. 3. Pengelolaan: Pengendalian mekanik dengan cara memangkas cabang dan ranting terserang. daunnya tampak layu. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara injeksi pada batang tanaman dan dianjurkan saat tanaman tidak berbunga atau berbuah. Apabila tertiup angin. Kumbang Penggerek Batang (Cosmopolites sordidus) Gejala serangan: Tanaman yang terserang hama ini akan menunjukkan pertumbuhan yang kerdil. Secara fisik mekanik dengan cara pengambilan telur kemudian mematikannya 2. Pengelolaan: 1. Memotong tanaman yang tercemar sampai ke bonggol bawah. Pengelolaan: Dengan Seed treatment c. cabang akan mudah patah. 93 .

teh. Perkembangan subsektor perkebunan setelah kita merdeka berbeda dengan masa kolonial Belanda. kepemilikan modal dan teknologi yang terbatas. lada sebagai tanaman perkebunan lebih dilandasi oleh faktor historis sejak zaman penjajahan Belanda.129807801. sejak sebelum PD II sampai sekarang harga komoditas perkebunan sangat ditentukan oleh harga pasar dunia. Karena dorongan dan fasilitasi pemerintah. cengkeh. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama pasca panen dan cara pengelolaannya Materi: PENGERTIAN DAN BATASAN Pengelompokan beberapa tanaman seperti kelapa. kina. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama tanaman perkebunan dan cara Pengelolaannya 2. Saat ini perkebunan dibagi menjadi dua kelompok yaitu Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat. jauh lebih luas daripada luas perkebunan besar. cengkeh. serta dikelola oleh keluarga petani. tebu. perkebunan rakyat semakin lama semakin luas. kelapa sawit. Pemerintah Belanda mengundang investor untuk membuka usaha perkebunan dengan komoditas ekspor sehingga dapat meningkatan pendapatan pemerintah kolonial Belanda. Perkebunan Besar yaitu perkebunan dengan luas areal besar yang dikelola oleh PT Perkebunan Negara dan PT Perkebunan Swasta Nasional termasuk milik PT 94 . ratusan sampai ribuan hektar per kebun atau afdeling dan jumlah karyawan yang besar dengan menggunakan teknologi budidaya dan pengolahan hasil/pabrik yang modern. Perusahaan perkebunan yang semua dikelola oleh perusahaan asing sebagian besar dialihkan ke perusahaan milik negara. Indonesia pernah menjadi penghasil beberapa komoditas perkebunan yang besar di dunia. karet. Jenis tanaman yang dipilih adalah tanaman yang memiliki nilai ekspor tinggi seperti kakao. Karena orientasi usaha perkebunan adalah ekspor. Kegiatan perkebunan yang semula diarahkan untuk dilaksanakan oleh perusahaan besar kini berkembang dan akhirnya diusahakan oleh petani kecil yang memiliki luas kebun yang kecil (kurang dari 5 hektar) bahkan seringkali di bawah satu hektar per keluarga petani. Sebelum PD II. kelapa sawit. Jenis pengusahaan perkebunan oleh petani-petani kecil kemudian dikenal sebagai usaha Perkebunan RAKYAT. pertanaman dengan luasan tanaman yang besar.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA PERKEBUNAN DAN HAMA PASCA PANEN/HAMA GUDANG Tujuan: 1. tetapi kemudian diusahakan juga tanaman musiman atau berumur pendek (umur tanaman kurang dari 1 tahun) seperti gula dan tembakau. Semula jenis tanaman perkebunan mencakup hanya tanaman tahunan (umur tanaman lebih dari 1 tahun). mengingat permintaan dunia akan dua komoditas tersebut cukup tinggi. kakao. kopi. kopi. tembakau. Perusahaan Perkebunan ditandai dengan pengelolaan berorientasi bisnis keuntungan. Guna memperoleh pendapatan dari negara jajahannya. teh.

Kasus yang terjadi sekarang di Sulawesi dan propinsi-propinsi lain yakni munculnya serangan Penggerek Buah Kakao yang sedang menghancurkan kakao rakyat. harga rendah dan akhirnya petani menderita kerugian yang cukup besar. Kelemahan utama perkebunan rakyat adalah dalam hal penggunaan bibit yang berkualitas rendah. kakao. Karena modal kurang serta kemampuan teknis rendah. karet. penanganan pasca produksi yang kurang baik. pemupukan dan pemeliharaan lain. Sedangkan kelapa sawit pada umumnya dikelola oleh Perkebunan Besar. Dalam melakukan pembahasan tentang pengelolaan hama perkebunan kita akan mengkonsentrasikan pada Perkebunan Rakyat. lada. perluasan. lada. yang menghubungkan Perkebunan Besar sebagai Kebun Inti dan Perkebunan Rakyat sebagai Kebun Plasma. kurang pemangkasan. lebih dari 70% adalah areal perkebunan rakyat. kualitas turun dan tidak diterima di pasar karena kandungan residu pestisida tinggi. Hama penyakit akan menyebar dengan cepat ke seluruh kebun di suatu daerah. produksi rendah. kelapa. kopi. KONDISI EKOSISTEM KEBUN TANAMAN TAHUNAN Ekosistem perkebunan terutama tanaman tahunan relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan tanaman pangan sehingga sebenarnya risiko terjadinya letusan hama lebih kecil. tembakau dikelola oleh Perkebunan Besar dan juga rakyat. jambu mete dan kapas. Jenis komoditas yang diusahakan oleh Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat ada yang sama tetapi ada yang berbeda. meskipun kita ketahui bahwa tidak ada perbedaan jenis-jenis hama yang menyerang perkebunan besar dan perkebunan rakyat. pengendalian hama yang tidak tepat dengan menggunakan pestisida kimia yang berlebihan. Proyek pembangunan perkebunan yang terkenal adalah PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Pemerintah dengan bantuan lembaga-lembaga internasional seperti ADB/Bank Pembangunan Asia dan World Bank/Bank Dunia telah banyak melaksanakan program pembukaan. Sayangnya dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh pemerintah sedangkan pemberdayaan masyarakat tidak dilaksanakan. Dari sekitar 12 juta hektar luas perkebunan di Indonesia saat ini.Pagilaran (Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM) atau Perkebunan Swasta Asing. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan tentang bagaimana mengelola hama para petani perkebunan rakyat akan selalu mengalami kerugian dan kehilangan hasil akibat serangan hama. Beberapa komoditas perkebunan yang umumnya dikelola oleh rakyat saat ini adalah kelapa. kualitas kurang baik akibat serangan berbagai jenis hama dan penyakit. sehingga kelanjutan dari kegiatan pemerintah tersebut tidak dapat dijamin. kopi. Kondisi kebun lemah dan tidak terpelihara serta meliputi daerah yang sangat luas akan membentuk kondisi ekosistem yang rentan hama dan penyakit. namun tingkat dan jenis permasalahannya yang berbeda. Sedangkan perkebunan rakyat adalah usaha perkebunan yang dikelola oleh petani kecil. Akibatnya hasil rendah. Masalah hama dan penyakit seperti pada tanaman kakao. intensifikasi dan rehabilitasi perkebunan rakyat sehingga luas perkebunan rakyat dan jenis tanaman perkebunan rakyat terus meningkat. tetapi 95 . pengolahan tanah dan Pengelolaan hama dan penyakit. biasanya setelah tanam petani tidak mampu melakukan pemeliharaan kebun termasuk pemangkasan. tebu. kapas seringkali menjadi faktor pembatas produksi perkebunan rakyat di Indonesia. MASALAH PERLINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN RAKYAT Dibandingkan dengan perkebunan besar kondisi pertanaman perkebunan rakyat umumnya kurang terpelihara. Komoditas-komoditas perkebunan lainnya seperti teh.

parasitoid dan patogen mengingat ekosistem memiliki kondisi iklim mikro yang sesuai dan keanekaragaman tinggi bagi perkembangan musuh alami. Bubuk Buah Kopi (Hypothenemus hampei) Gejala serangan: Hama menyerang buah dengan cara menggerek. Untuk komoditas perkebunan. namun demikian 96 .karena kondisi kebun yang kurang terpelihara bila terjadi peningkatan populasi pada satu tempat akan secara cepat menjalar ke tempat lainnya. panen bertahap. Sebelum tahun 1960 banyak praktek pengendalian hayati klasik dengan introduksi musuh alami sukses mengendalikan beberapa hama penting pada tanaman kelapa. Petani seringkali tidak memperhatikan aspek-aspek fisika kimia proses penyimpanan hasil panen sehingga mengundang serangan hama gudang. Banyak jenis fumigan berbahaya bagi kesehatan karena itu perlakuannya di gudang harus dilakukan secara hati-hati hanya oleh orang atau petugas yang telah terlatih atau bersertifikat. penerapan PHT yang mengandalkan pengendalian hayati merupakan teknik pengendalian yang paling tepat. penyarungan buah kakao untuk mencegah peneluran ngengat Penggerek Buah Kakao. dan lain-lainnya ternyata dapat mengurangi populasi hama dan kerusakan tanaman serta meningkatkan pendapatan petani pekebun. Petani jarang melakukan kegiatan khusus untuk mengendalikan hama-hama gudang. Lubang kadang-kadang sukar dilihat karena tertutup oleh kotoran atau sisa gerekan. Produk-produk PHT perkebunan saat ini banyak dicari konsumen domestik maupun konsumen global karena kualitasnya tinggi serta bebas dari kandungan residu pestisida yang membahayakan. Kondisi ekosistem kebun juga menguntungkan bagi penerapan pengendalian hayati terutama dengan predator. pemangkasan dan penjarangan tanaman. Lubang gerekan berbentuk bulat dengan diameter lebih kurang 1 mm dan umumnya dijumpai pada ujung buah. Bubuk buah kopi pada umumnya menyerang buah yang bijinya telah cukup keras. Pengendalian hama gudang khusus dilakukan di gudang-gudang milik perusahaan atau pemerintah seperi gudang BULOG. Diperkirakan rata-rata kerugian hasil antara 25-30%. Karena ekosistem gudang dapat lebih mudah dikuasai maka pengendalian hama gudang biasanya dilakukan dengan metode pengendalian fisik dan kimiawi dengan menggunakan fumigan. atau hama-hama khusus yang memang menyenangi ekosistem gudang. Kerugian yang diderita oleh petani akibat serangan hama pasca panen adalah penurunan produksi dan penurunan kualitas produksi. hortikultura maupun perkebunan. Upaya yang paling sering dilakukan adalah pengeringan dengan panas matahari. kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama dan penyakit pasca panen sangat besar. KOPI a. Hama Pasca Panen sering disebut juga sebagai Hama Gudang. HAMA-HAMA PERKEBUNAN DAN PASCA PANEN A. Berbagai jenis hama yang menyerang hasil panen di gudang penyimpanan dapat berasal dari atau terbawa dari pertanaman. PERKEBUNAN 1. Kerugian terjadi sewaktu pengangkutan dan penyimpanan hasil panen sebelum diolah dan dipasarkan. Melalui Program PHT Perkebunan Rakyat yang sampai tahun 2005 dilaksanakan Pemerintah di 13 propinsi. MASALAH HAMA PASCA PANEN Perlu diketahui bahwa untuk semua kelompok tanaman baik tanaman pangan. perbanyakan dan pelepasan agens pengendalian hayati dengan patogen. beberapa teknologi PHT seperti pemanfaatan seresah untuk meningkatkan populasi predator.

karena dapat menjadi sumber infeksi. Akibat tusukan dan pengisapan oleh kutu pada tanaman. petik bubuk b. 2. Pengelolaan: 1. Membersihkan pertanaman dari semut rangrang karena serangan kutu akan sangat merugikan apabila semut rangrang dibiarkan hidup. Kuncup bunga dan buah muda yang baru muncul menjadi kering dan gugur karena kutu mengisap pada tangkai bunga dan tangkai buah. cabang dan ranting yang terserang dikumpulkan kemudian dibakar. Jenis kopi yang disukai adalah jenis Arabica. Kutu Dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Hama menyerang pembungaan. d. buah tidak gugur tetapi pertumbuhannya 97 . Pengelolaan: 1. Serangan pada ranting muda seringkali menyebabkan ranting mati dan daun gugur. c. predator Dindymus rubiginosus. jamur Cephalosporium sp. Hal tersebut dapat diusahakan antara lain melalui rampasan. Secara alami dengan memanfaatkan predator Coccinella sp. Pengelolaan: 1. Memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid Heterospilus coffeicola. Di pembibitan hama menyerang bagian batang. Pada daun. baik di pohon ataupun di tanah. terutama pada pertulangan daun. hama segera keluar karena tidak bisa berkembang di dalamnya. Kutu Hijau (Coccus viridis) Gejala serangan: Kutu pada umumnya terdapat di bagian bawah tanaman yang masih muda. tanaman muda dan tanaman dewasa. Dengan demikian kumbang betina tidak mempunyai buah kopi untuk makanan atau untuk tempat berkembang biak. 3. Bubuk Ranting Coklat (Xylosandrus morigerus) Gejala serangan: Hama ini menyerang tanaman kopi di pembibitan. 2. Memodifikasi lingkungan seperti mengurangi naungan dan melakukan pemangkasan. warna hijau dari bagian yang terserang akan berubah menjadi kuning sehingga daun akan mengering dan gugur. Robusta dan Liberica. jamur Spicaria javanica. sehingga daun menjadi kering dan seringkali menyebabkan kematian. kutu dijumpai di permukaan bawah.buah yang bijinya lunak juga diserang. Bunga dan buah muda juga dapat terserang. Selain itu internoda juga menjadi pendek. Setelah menyerang buah yang bijinya lunak. daun atau ranting yang masih berwarna hijau. lelesan. Pada saat pemangkasan. Mengusahakan supaya selama jangka waktu tertentu tidak terdapat buah kopi. 2. parasitoid Coccophagus sp. Pemanfaatan musuh alami misalnya Tetrastichus sp. Sanitasi kebun dengan membersihkan kebun dari cabang-cabang yang berserakan di bawah pohon. Bubuk ranting coklat dapat menyerang sampai ke dalam akar tunggang. Bila tanaman muda yang terserang maka pertumbuhan dan masa berbuah akan terhambat. Bila buah yang diserang sudah cukup besar. Buah muda akan menjadi busuk dan kemudian gugur.

Secara mekanik dengan memotong batang/cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerekan ke arah batang/cabang kemudian ulatnya dimusnahkan. Menyerang tanaman muda.terlambat dan berkerut. daging dan saluran ke biji. 3. Bila populasi kutu tinggi. Akibat gerekan ulat. Pengelolaan: 1. jamur Beauveria bassiana. pemangkasan. 2. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok. Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Telenomus sp. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati. Pengelolaan: 1. Secara mekanis dengan membuang bagian tanaman terserang yang merupakan sumber infeksi. ranting mengering dan meranggas. cecopet. layu. tetapi sebaliknya pada buah muda. berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil. bagian tanaman yang lain seperti daun. 2. bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana. Memanfaatkan musuh alami seperti predator Scymnus sp. laba-laba c. Pemanfaatan jamur Beauveria bassiana. Serangan pada buah tua. Pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida sistemik. dan jika digoyang tidak berbunyi. Pengelolaan: 1. memanen satu minggu sekali. kulitnya mengeras dan retak. permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. kondomisasi. Buah yang terserang lebih awal menjadi berwarna kuning. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Biasanya lebih berat dari yang sehat. Membersihkan lubang gerekan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi. Pemangkasan 2. missal pemangkasan. kering dan mati. pemangsa cecopet. serta dengan cara hayati/biologi seperti Trichogramma sp. tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman. Penggerek Batang/Cabang (Zeuzera coffeae) Gejala serangan: Hama merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju xylem batang/cabang. belalang sembah. 3. 2. memakan kulit buah. Cryptolaemus sp. KAKAO a. Kepik Pengisap Buah Kakao (Helopeltis sp) Gejala serangan: Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan. b. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas. 98 . tangkai daun dan cabang yang masih hijau juga diserang. tetapi jika tumbuh terus. membenam kulit buah. Biji-bijinya saling melekat. Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella) Gejala serangan: Ulat merusak buah kakao dengan cara menggerek buah.

Penggerek pucuk (Earias vittela) Gejala serangan: Ulat penggerek pucuk memakan pucuk tanaman kapas sehingga menyebabkan kematian. Daun menggulung. Tikus dan tupai Gejala serangan: Buah kakao yang terserang tikus akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri dan jamur. Diadegma sp. b. Kutu daun (Aphis gossypii) Gejala serangan: Kutu ini memakan daun kapas dari bawah. 99 . Buah yang terserang akan menjadi busuk. umpan racun 3. sedangkan bijinya tidak dimakan. Buah besar juga dimakan tetapi tidak menimbulkan kerontokan.d. Jadi tikus benar-benar hama. Encarsia sp. Brachymeria sp. Hama ini menyerang sejak tanaman muda di lapang. Kemudian daun akan mengering dan gugur. Sundapteryx bigutulla Gejala serangan: Tanda pertama dari serangan hama ini adalah menguningnya ujung daun dan agak mengkerut. Biasanya di bawah buah-buah yang terserang tupai selalu berceceran biji-biji kakao. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami Trichogramma sp. kepik dan berbagai macam laba-laba. Kuncup bunga dan buah muda akan rontok. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma sp. Apanteles sp. Gejala serangan tupai umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai hanya memakan daging buah. hijau dan hitam. laba-laba. Ada yang berwarna kuning. Tikus menyerang malam hari. Pada permukaan bawah daun yang terserang sering terdapat bercak berwarna kuning. Pengelolaan: Pengelolaan tikus dilakukan dengan sanitasi. dan tanaman tumbuh kerdil. tetapi tupai tidak karena biji bisa dikumpulkan kembali. bunga dan buah kapas. Cara makannya dengan melubangi bagian bawah. d. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami kumbang kubah. Tupai menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji tadi tidak dikumpulkan. Secara fisik mekanik dengan mengumpulkan hama kemudian mematikannya. Ulat buah (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Hama ini memakan daun. Kuncup dan buah muda dapat membuka lebih awal dan gugur. KAPAS a. c. warna daun agak coklat memerah dan pertumbuhannya menjadi kerdil. Pada tingkat serangan berat. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta dagingnya.

2. Ulat penggulung daun melintang (Homona coffearia) Gejala serangan: Ulat melakukan pengrusakan dari dalam daun sehingga daun tampak berkerut dan rusak. Pengelolaan: 1. sedangkan daun tua yang dan pada tangkainya berubah menjadi kecoklatan. pertumbuhan daun teh selanjutnya menjadi tidak normal. Tungau Jingga (Tenuipelpus obovatus) Gejala serangan: Hama ini merusak pada musim kemarau. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan.Pengelolaan: Kumpulan kutu merupakan makanan paling enak untuk kumbang kubah. Karena benang liurnya ditempatkan secara melintang. tetapi hanya bagian tepinya saja yang dilekatkan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran. sehingga tidak mengherankan jika serangan berat dapat mengakibatkan perkebunan teh menjadi gundul. Hama ini menggerek daun muda dari dalam daun. 4. TEH a. c. Serangan yang hebat menyebabkan hamparan teh tampak merata kecoklat-coklatan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran. Setora nitens Gejala serangan: Biasanya menyerang daun muda dan tua. Pengelolaan dengan insektisida selektif dan efektif b. pucuk daun tersebut seakan-akan terikat sehingga sulit sekali untuk membuka dan ulat ini selanjutnya berada di dalam pucuk tanaman. Ulat menggulung daun yang tidak terlalu tua sedang cara menggulungnya hampir sama dengan Enarmonia sp. Terkadang lebih dari sehelai daun muda yang berhasil digereknya selama ulat itu tidak berpindah tempat. Serangan hama berakibat sedikitnya pucuk teh yang dihasilkan. 100 . Penggunaan tanaman pelindung yang dapat mengurangi perkembangbiakan hama. d. Ulat Penggulung Daun Teh (Enarmonia leucastoma) Gejala serangan: Enarmonia memiliki daya lekat yang berasal dari air liurnya pada tepi pucuk daun yang ditempatinya. Daun muda yang diserang akan gugur. Gejala yang tampak jelas adalah pucuk daun teh yang menggulung dalam keadaan rusak di bagian dalamnya. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan.

Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami parasit telur Telenomus sp. Trichogramma sp. Serangan yang parah menyebabkan pertumbuhan terhambat serta tanaman menjadi kerdil. kepik Sycanus sp. d. Tetesan cairan tersebut merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan cendawan jelaga yang berwarna hitam sehingga asimilasi akan terhambat. Tikus (Bandiota indica. Ulat-ulat itu memakan jaringan-jaringan daun. Selain itu untuk mengetahui adanya tikus dapat pula dilihat jejak-jejaknya dan adanya lubang aktif dengan tanda khusus. Corypus javenus. parasitoid larva Apanteles sp. Daun termuda yang mati mudah dicabut. Bagian luar ruas muda yang digerek akan didapati lubang tepung gerek. Chlorocryptus sp. Pengelolaan: Pemanfaatan parasitoid telur Telenomus sp. Pada ibu tulang daun yang tergerek tampak lorong gerekan yang berwarna kecoklatan. Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna lanigera) Gejala serangan: Kutu sewaktu-waktu dapat mengeluarkan cairan yang mengandung gula.Pengelolaan: Menggunakan musuh alami seperti Cryptus caymorus. Penggerek Pucuk Putih (Schirpophaga nivella intacta) Gejala serangan: Bila serangan terjadi pada daun yang belum membuka. Pada serangan berat mengakibatkan tanaman patah. dan parasitoid pupa Xanthopimpla sp. Ulat yang telah beberapa hari hidup dalam pupus kemudian akan turun melalui sebelah luar pucuk tanaman dan ulat akan menembus masuk ke dalam tanaman lagi melalui ruas tanaman. Penggerek Batang Bergaris Tebu (Chilo sacchariphagus) Gejala serangan: Ulat-ulat muda yang baru menetas hidup di dalam pupus. Canthecona sp. Akibatnya jika daun-daun muda sudah terbuka akan terlihat luka-luka pada daun yang memanjang dan tidak teratur. TEBU a. 5. b. diantara daun-daun muda yang masih menggulung. rattus argentiventer) Gejala serangan: Tanaman tebu yang terserang menunjukkan tanda bekas keratan sepotongsepotong pada batang tebu. Cairan tersebut menetes ke permukaan daun di bawahnya. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami Encarsia flavoscutellum. maka apabila daun telah membuka akan tampak deretan lubang pada daun yang ditembus larva berwarna coklat. Pengelolaan: 101 . Dalam satu ruas terdapat satu atau lebih ulat. Apabila ruas terserang dibelah akan terlihat lorong-lorong gerek lebar serta jalannya sangat tidak teratur. Serangan pada titik tumbuh mengakibatkan kematian tanaman yang ditandai dengan mengeringnya daun-daun muda yang masih menggulung dan terletak di tengah tajuk yang dikenal sebagai “mati puser”. c.

gerekan pada pucuk dapat mengakibatkan patah pucuk dan jika larva mencapai titik tumbuh berakibat tanaman tidak dapat menghasilkan daun baru. Pengelolaan: 1. Pemanfaatan parasit larva Tetrastichus brontispae. batang dan tajuk tanaman muda. Secara preventif dengan memotong tanaman yang telah terserang dan mengambil serangga hamanya serta sanitasi kebun. yaitu jaringan yang mengandung cairan yang kaya gizi. Serangan hama ini dapat mengakibatkan kerusakan sekunder seperti serangan kumbang tanduk kelapa. 2. Dari liang gerekan pada tanaman muda sering keluar lendir merah coklat. Dijaga pula supaya tidak terjadi luka-luka pada pohon kelapa. Bagian yang diserang adalah pucuk pohon dan pangkal daun muda. Membakar tanaman yang mati akibat serangan hama. Tandan yang akan berkurang jumlah buahnya terutama yang berada di ketiak daun yang terserang tersebut. Pengelolaan: 1. Penggunaan jamur Metarhizium anisopliae c. pucuk pohon kelapa yang terserang nampak kisut. d.1. kumbang sagu dan cendawan. Kumbang Nyiur (Oryctes rhinoceros) Gejala serangan: Bekas serangan dapat terlihat dari adanya potongan-potongan yang berbentuk segitiga pada daun kelapa. Pemanfaatan parasit larva Scolia erratica dan tungau buas yang menyerang kepompong dalam “kokonnya”. Kumbang Sagu (Rhynchophorus sp) Gejala serangan: Larva merusak akar. pohon kelapa akan mati karena tidak menghasilkan daun lagi. keriting dan kering. burung elang. Membersihkan semua tempat yang diduga menjadi tempat perkembangbiakan hama. Pengelolaan: Serangan hama ini merupakan kelanjutan dari serangan kumbang Oryctes. Pemasangan umpan beracun 2. Akibatnya daun tidak mau membuka atau hanya membuka sedikit. karena itu serangan Oryctes harus dihindari. Pemanfaatan musuh alami seperti kucing. Bila titik tumbuh terserang. 2. Cara mekanis dengan mengerat sedalam-dalamnya pucuk yang terserang hama. Daun yang terserang mudah menjadi kering serta salah bentuk. 6. Kumbang Janur Kelapa (Brontispa longissima) Gejala serangan: Larva dan serangga dewasa hidup di dalam lipatan anak daun pucuk yang belum membuka. Hal ini berpengaruh terhadap produksi buah. KELAPA a. ular. Larva menggerigiti dan mengorok kulit anak daun secara memanjang membentuk garis-garis. Apabila menyerang tajuk. Belalang Pedang (Sexava coreacea) Gejala serangan: 102 . Pada tanaman dewasa hanya tajuknya saja. b. Dari jauh.

Cadursia leefmansia. sehingga anak daun itu terpotong tak teratur bagian pinggirnya. kelapa muda dan akhirnya buah-buah tua. Serangan yang hebat menyebabkan buah termuda gugur. Pengelolaan telur dengan pengolahan tanah. Kutu Kapuk Kelapa (Aleurodicus destructor) Gejala serangan: Serangga merusak daun kelapa karena mengisap cairan sel sehingga meninggalkan bekas berupa bercak-bercak kuning. 3. Untuk tanaman yang masih rendah dilakukan penyemprotan tajuk. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan insektisida sistemik melalui suntikan. Gejala serangan pinggir. Pengelolaan secara hayati dengan memanfaatkan parasit telur Leefmansia bicolor dan Tetrastichus sp. Kutu ini secara berkoloni pada permukaan bawah daun. 2. e. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan oleh parasit Tetrastichus sp dan Encarsia sp. meninggalkan bekas yang tidak rata. 3. bercocok tanam atau pemberian insektisida ke dalam tanah. Beberapa musuh alami yang dapat mengendalikan hama ini Apanteles sp. Permukaan bawah daun dimana ada koloni tampak tertutup oleh benang wol putih. Neoplecturs bicarinatus. Pengelolaan: 1. Goryphus inferus. Apabila parasit tidak mampu lagi menekan peningkatn populasi. f. Ulat muda memakan jaringan anak daun bagian bawah. Secara kimiawi dilakukan dengan memberikan insektisida sistemik melalui pengeboran batang atau pemotongan akar. Serangan dimulai dari pelepah terbawah. Gejala serangan bergaris. Serangan berat hanya meninggalkan beberapa pelepah pucuk sedangkan bagian bawah tinggal lidinya saja dan pohon kelapa sama sekali tidak menghasilkan buah selam 1-2 tahun. Serangan akan lebih hebat dan lama pengaruhnya saat awal musim kemarau. mereka pindah ke daun sebelah atas. Ulat muda yang sudah lebih tua mengetam lapisan anak daun bagian bawah setempat-setempat. Serangan Artona tidak sampai mematikan pohon kelapa. Bekas ketamannya seperti garis. dapat dilakukan injeksi batang dengan pestisida. Bekas yang dimakan menyerupai titik. Akibat serangan Artona.Serangga muda dan tua memakan daun kelapa dari pinggir. Gejala serangan titik. kemudian disusul oleh buah muda yang agak besar. Ulat yang sudah dewasa memakan helaian anak daun dari pinggir ke tengah. 103 . 2. Pengelolaan: Secara mekanik dengan pemotongan pelepah daun tua pada periode kepompong kemudian dibakar. Sebelum daun bagian bawah habis dimakan. daun tua tampak kering berwarna merah-coklat seluruhnya dan tinggal hijau segar hanya 2 atau 3 daun di pucuknya saja. Artona catoxantha Gejala serangan: Ada tiga tingkat gejala serangan: 1.

bila seluruhnya sebaiknya pelepah dipangkas dan dibakar. Mereka membuat sarang di atas pohon yang terbuat dari sabut pelepah kelapa atau aren dan daun-daun kering. Pada serangan yang sangat berat daun yang berkembang tetap kecil. Pengelolaan: Pada umumnya dilakukan dengan diburu menggunakan senapan angin. i. j. maka pada bekas liang gerekannya tadi keluar sejenis getah yang berwarna kuning dan dapat dilihat dari bawah. Kutu Perisai (Aspidiotus destructor) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara mengisap jaringan sehingga menimbulkan bercak kuning. bahkan bila serangannya berat sama sekali tidak menghasilkan buah. Pengelolaan: Karena populasinya umumnya rendah. Pengelolaan: Dititikberatkan pada cara hayati dengan menggunakan Chelonus sp.g. Bila anak daun yang menunjukkan gejala tersebut dalam jumlah yang besar maka seluruh daun akan mati lebih dini dan warnanya berubah menjadi kelabu dengan sedikit merah jambu. Pada umumnya dikendalikan dengan menggunakan senapan angin atau umpan racun. Kerusakan biasanya terjadi pada perbungaan di pangkal mayang. Dapat juga digunakan cara kimiawi dengan pelaburan seludang. h. Penggerek Bunga Kelapa (Batrachedra arenosella) Gejala serangan: Akibat serangan larvanya yang menggerek seludang mayang untuk memakan bunga jantan dan betina. Akibat serangan tersebut buah muda gugur. Pengelolaan: Bila hanya beberapa anak daun yang terserang. Tikus Pohon Gejala serangan: Hama tikus hidup di atas pohon dan sering merusak buah-buah kelapa yang masih muda. jarang dilakukan pengendalian secara khusus. akhirnya mati. Mayang yang terserang dapat sedikit menghasilkan buah. cukup dengan membuang anak daun tersebut. Penggunaan musuh alami seperti Chilocorus politus sangat efektif mengandalikan kutu perisai. 104 . sedangkan serangganya terdapat pada permukaan daun bagian bawah. Disebut serangan ringan apabila anak daun yang bergejala menunjukkan warna kuning emas pada tempat yang diduduki kutu perisai. Bercak ini jelas nampak dari bagian atas daun. Bunga jantan akan menjadi hitam dan bunga betina mengeluarkan getah. Bajing Gejala serangan: Hama menyerang buah kelapa yang tua atau yang daging buahnya telah tebal. tidak tegak dan kemudian tajuknya terkulai. Tiap ekor bajing dapat menghabiskan sebutir kelapa pada tiap kali makan. Kutu-kutu ini sulit dikendalikan dengan insektisida karena tubuhnya ditutupi oleh lilin padat berbentuk perisai.

Apabila umbi tersebut dibelah maka akan tampak lubang-lubang serta jalur-jalur bercabang-cabang. PASCA PANEN 1. gaplek. sedangkan material yang berbentuk tepung akan kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larva. dedak. dan buah-buahan yang dikeringkan. beras. Lama-kelamaan di sekitar lubang menjadi busuk. Material yang berbentuk biji-bijian bila diserang akan berlubang-lubang. b. Material yang diserang akan berlubanglubang. c. kerusakan pada komoditas yang disimpan lebih hebat dibandingkan dengan serangga hama yang lain. Selain itu.B. Akibatnya ubi akan terasa pahit. Baik larva maupun dewasa merupakan pemakan yang sangat rakus. Cylas formicarius Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang dan membuat lorong gerekan. Beberapa komoditas yang diserang antara lain padi-padian. Ulatnya hidup di dalam gendengan beras tersebut dan menggerek dari dalam. Kumbang tepung (Tribolium sp) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain tepung. Kumbang padi-padian bergerigi (Oryzeaphilus sp) Gejala serangan: Hama ini merupakan hama sekunder pada material yang utuh tetapi merupakan hama primer pada material yang telah digiling. 3. Penggerek biji-bijian (Rhyzoperta dominica) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain padi-padian. Kupu-kupu beras (Corcyra cephalonica) Gejala serangan: Ulat akan menggandeng-gandeng butir-butir beras dengan benang liurnya. ketela pohon. Apabila serangan masih baru biasanya dari lubang tersebut keluar sisa gerekan berwarna keputih-putihan. b. Serangga dewasa yang muncul dari kepompong akan keluar dari butiran-butiran beras sehingga mengakibatkan butir-butir beras berlubang. beras. Umbi-umbian a. Hama ini bertindak sebagai hama primer. dan jagung. Biji-bijian a. 105 . BERAS a. kacang tanah. Material yang terserang akan berlubang. dan kopra. kopra. demikian pula kepompongnya. rempah-rempah. Bubuk beras (Sitophilus sp) Gejala serangan: Larva berada dalam butiran. komoditas yang terserang menjadi kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larvanya. 2.

Sanitasi sangat penting dilakukan untuk menghindari munculnya hama pasca panen. Jenis-jenis tikus yang umum ditemukan dan merusak di gudang penyimpanan diantaranya tikus wirok. Fumigasi Fumigasi merupakan suatu cara Pengelolaan hama menggunakan fumigan. perangkap. dan dicampur langsung dengan biji-bijian. Pengelolaan tikus dapat dilakukan dengan Rodent Proofing untuk mencegah keluar masuknya tikus. waktu aplikasi tepat. Umpan beracun. komoditas simpanan yang berceceran di lantai. dosis dan aplikasi harus tepat agar tidak terjadi penumpukan residu. Biasanya menggunakan insektisida yang mudah menguap. 4. misalnya karung goni yang sobek. Tikus aktif pada malam hari. Sanitasi dapat meliputi sanitasi gudang. Cara ini tidak dapat dipakai sebagai tindakan preventif karena setelah gas hilang tidak mempunyai efek residu terhadap hama sehingga kemungkinan reinfestasi hama sewaktu-waktu dapat terjadi. dan dipastikan tidak ada hewan atau manusia di sekitar tempat yang dispraying. gropyokan dan emposan juga dapat dilakukan di luar gudang. 2. Pada awalnya serangga dewasa meletakkan telur di antara bahan (tembakau) dan setelah menetas langsung membuat rongga dan merusak bahan. kulit dengan insektisida. tikus rumah. Selain itu juga dapat melihat adanya sarang di dalam atau di luar gudang. 106 . 3. seperti gudang. dan komoditas. dan mencit rumah. dan lain-lain. Tembakau a. Pengelolaan hama-hama pasca panen: 1. Eradikasi di dalam gudang dapat dilakukan dengan cara gropyokan (jika memungkinkan) dan fumigasi. Selain memakan biji-bijian. ruangan. Spraying Spraying bertujuan untuk pencegahan terhadap barang yang disimpan supaya tidak terinfeksi oleh hama dan mengurangi tingkat perkembangan hama serta pencegahan serangan kembali. Lasioderma serricorne Gejala serangan: Hama ini dikenal dengan sebutan “cigarette beetle” karena kumbang ini merupakan hama penting pada simpanan tembakau dan cerutu. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan spraying adalah menghindari terjadinya kontak langsung antar tubuh. pemeriksaan terhadap kerusakan/bekas serangan tikus. Untuk mengetahui ada tidaknya tikus di gudang dapat dilakukan pemeriksaan kotoran yang biasanya dapat ditemukan di atas lantai gudang. umbi-umbian dan beberapa jenis buah-buahan. Komoditas yang terserang akan mengalami kerusakan dengan adanya bekas gerekan larva sehingga akan menurunkan kualitas tembakau atau cerutu. tikus juga memiliki kebiasaan menggigit benda-benda seperti kayu. Hama pasca panen lain yang juga sangat membahayakan komoditas di dalam simpanan adalah tikus. sekitar gudang. tikus sawah. Fogging Fogging merupakan salah satu cara yang efektif memberantas serangga yang aktif terbang di dalam ruangan tertutup. permukaan karung. plastik.4. Spraying dengan insektisida dilakukan pada bangunan gudang. tikus riul. Fumigasi lebih bersifat eradikatif.

Mempelajari dan memahami penerapan PHT sebagai kebijakan perlindungan tanaman nasional Materi: LANDASAN HUKUM Di Indonesia ada beberapa peraturan perundang-undangan atau landasan hukum yang berkaitan dengan kegiatan Perlindungan Tanaman. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman 3.434. 517/Kpts/2002 tentang Pengawasan Pestisida 7. 5. Inpres No.5. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. 3 Tahun 1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi. UU No. Semua kegiatan perlindungan tanaman di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Mempelajari dan memahami latar belakang sejarah perkembangan PHT di Indonesia 2. Kpts Bersama Mentan dan Menkes 711/Kpts/1996 tentang Batas Maksimum Residu Pestisida Pada Hasil Pertanian. PP No. termasuk pasal-pasal mengenai Tindakan Pidana yang diberlakukan bagi pihak yang melakukan pelanggaran atau yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida 6. KepmenTan No. Di gudang tembakau biasanya digunakan lampu perangkap berwarna merah karena hama Lasioderma sp tertarik dengan cahaya merah. Ada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur kebijakan dan pelaksanaan perlindungan tanaman yaitu: 1. petani maupun masyarakat harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan tersebut. Yang dimaksud peraturan perundangundangan di sini meliputi: • Undang-Undang (disyahkan oleh DPR dan Pemerintah). Mempelajari dan memahami pelaksanaan SLPHT 3. 129807801.doc Materi 12 KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN Tujuan: 1. 107 . Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida 4. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman 2. PP No. • Peraturan Pemerintah (disyahkan oleh Pemerintah/Presiden dengan pemberitahuan pada DPR) • Keputusan Presiden (Keppres) dan Instruksi Presiden yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Presiden • Keputusan Menteri Pertanian dikeluarkan dan ditandatangani oleh Menteri Pertanian Peraturan-peraturan yang tingkatannya di bawah KepmenTan mulai dari Peraturan Direktorat Jenderal sampai Peraturan Daerah tidak akan dibahas. KepmenTan No.

atau menyebabkan kematian tumbuhan. antara lain dengan penanaman VUTW. tanam serentak. 3. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman. Petani sebagai “Ahli” PHT Sampai akhir tahun 1998 sekitar satu juta petani dan ribuan petugas (PHP dan PPL) telah mengikuti SLPHT.SEJARAH PHT SEBAGAI KEBIJAKAN NASIONAL Dilihat dari sejarah. UU No. Budidaya Tanaman Sehat 2. 12 pada Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 20 menyatakan dua hal: (1) Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (Sistem PHT). Pemerintah mengeluarkan PP No. PHT dalam kebijakan perlindungan tanaman telah lama dibahas dan disarankan oleh para pakar perlindungan tanaman kepada Pemerintah. bahkan diakui oleh dunia internasional. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dikatakan bahwa “Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan”. mengganggu kehidupan. penyakit dan gulma. PHT MENURUT UNDANG-UNDANG Menurut UU No. Sebagai tindak lanjut UU tersebut. OPT dapat dikelompokkan dalam kelompok hama. 108 . OPT diartikan sebagai semua organisme yang dapat merusak. yang paling penting diantaranya: 1. Pengamatan Mingguan 4. sejak tahun 1989 Pemerintah menyelenggarakan kegiatan SLPHT sebagai wahana pelatihan petugas dan petani padi dalam menerapkan dan mengembangkan PHT. Peranan sivitas akademika UGM dalam persiapan Inpres 3/1986. Pelestarian dan Pemanfaatan Musuh Alami 3. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Empat Prinsip PHT yang dikembangkan sendiri oleh petugas dan petani dalam SLPHT yaitu: 1. Sejak tahun 1970 Komisi Perlindungan Tanaman telah mendesak Pemerintah untuk menerapkan PHT dalam setiap program perlindungan tanaman. dengan bantuan dana internasional yang berasal dari Pemerintah Belanda. maka usulan Komisi Perlindungan Tanaman kurang diperhatikan. Pengendalian hama wereng coklat padi dengan prinsip PHT. persiapan dan pelaksanaan program SLPHT di tingkat nasional sangat menonjol. 3/1986 yang terdiri atas banyak butir. Sebanyak 57 formulasi pestisida kimia dinyatakan dilarang digunakan untuk pengendalian hama padi. Sebagai tindak lanjut Inpres 3/1986. Amerika Serikat dan Bank Dunia. Para petugas lapangan dan petani harus ditingkatkan kemampuannya dalam menerapkan PHT melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Akhirnya pada tahun 1986 Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden No. Saran para pakar tentang penerapan PHT baru diperhatikan Pemerintah setelah terjadi letusan wereng coklat yang menyerang tanaman padi seluas hampir 1 juta hektar pada tahun 1979-1980. Namun karena Pemerintah masih asyik melaksanakan program BIMAS dengan Panca Usaha Tani dimana pada usaha ke-4 (Pengendalian Hama dan Penyakit) lebih mengutamakan penggunaan pestisida kimia. Secara politik pelaksanaan SLPHT memberikan tekanan yang kuat pada Pemerintah dan DPR sehingga pada tahun 1992 disyahkan UU No. pergiliran tanaman. penggunaan pestisida kimia secara selektif terutama yang berbahan aktif buprofezin (kelompok IGR) 2.

menjadi tidak efektif karena populasi hama telah meningkat dan menyebar di daerah yang luas. Kegiatan pengendalian yang paling baik harus dilakukan sedini mungkin oleh masyarakat petani sendiri tidak bergantung pada inisiatif pemerintah. melalui manipulasi gen baik terhadap OPT maupun tanaman f. TEKNOLOGI PENGENDALIAN TERPADU Sebagai landasan kebijakan perlindungan tanaman. UU tersebut telah menentukan bahwa untuk pengendalian setiap jenis OPT harus dilakukan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama yang kompatibel. Dalam pemilihan teknologi pengendalian. UU menekankan bahwa penggunaan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir. Pasal 10 menguraikan beberapa komponen PHT yang meliputi: a. melalui pemanfaatan pestisida. 12 Tahun 1992. cara kimiawi. melalui pemanfaatan musuh alami OPT e. Keadaan ini tidak baik karena kegiatan pengendalian selalu terlambat. Menurut UU dan PP tersebut yang dimaksud Sistem PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan. berarti bahwa mereka belum mengetahui mengenai kebijakan perlindungan tanaman nasional. Pasal-pasal tersebut menekankan pentingnya kegiatan pemantauan dan pengamatan OPT sebelum dilaksanakan tindakan pengendalian (pasal 9). Apabila sampai saat ini ada pejabat. Petani banyak pasif dan menunggu tindakan pemerintah dalam menanggulangi OPT yang sedang eksplosif. b. Kalau kita ke desa-desa di pulau Jawa apalagi di luar Jawa ada kecenderungan yang memprihatinkan tentang kesadaran dan pengertian masyarakat tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pengendalian OPT serta perbaikan teknologi budidaya di tempatnya masing-masing. dan lingkungan. cara fisik melalui pemanfatan unsur fisika tertentu. c. menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah. Petani cenderung menyerahkan kegiatan pengendalian pada aktivitas petugas Pemerintah khususnya Dinas Pertanian atau Dinas Perkebunan. melalui pengaturan kegiatan bercocok tanam d. 109 . cara lain sesuai perkembangan teknologi PERLINDUNGAN TANAMAN TANGGUNGJAWAB MASYARAKAT UU menyatakan bahwa teknik pengendalian OPT tidak seragam atau statis tetapi dinamis sesuai dengan keadaan ekosistem lokal. Dalam sistem ini penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir. Pengendalian OPT bersifat dinamis.(2) Pelaksanaan perlindungan tanaman sebagaimana dimaksud ayat (1). cara mekanik. petugas atau mahasiswa yang berpendapat bahwa penggunaan pestisida kimia harus dilaksanakan. cara budidaya. dan atau g. PP No. cara biologi. untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman telah merinci mengenai penerapan teknologi pengendalian OPT secara terpadu khususnya pada pasal 8 sampai pasal 16. Dalam kondisi populasi dan serangan OPT yang sedang dalam keadaan eksplosif pengendalian sangat sulit dilakukan. melalui penggunaan alat dan atau kemampuan fisik manusia. cara genetik. UU juga menyatakan bahwa tujuan PHT bukan membasmi atau memusnahkan hama tetapi mencegah kerugian secara ekonomis. Sebagai penjabaran UU No.

Petani membandingkan hasil yang diperoleh dari petak PHT dengan petak Non PHT yang masih mengandalkan penggunaan pestisida. Akibatnya hasil. teh. Mereka belajar tidak di ruang tertutup tetapi langsung di lapangan. Kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan PHT) memberikan alternatif yang terbaik untuk meningkatkan kualitas petani dan pekebun sehingga mereka secara mandiri dan aktif dapat mengelola lahan pertanian atau perkebunannya secara profesional dan dapat memanfaatkan sebanyak mungkin sumber daya alam yang ada di sekitarnya sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi. Dalam hal-hal tertentu seperti terjadinya eksplosi suatu jenis OPT yang luas. Kegiatan pemberdayaan petani dengan SLPHT sangat berbeda dengan kegiatan penyuluhan pertanian konvensional yang masih sering dilaksanakan oleh para petugas penyuluh lapangan secara rutin yang dikenal dengan kegiatan LAKU (Latihan Kunjungan). kubis. kualitas dan harga produk pertanian dan perkebunan rakyat lebih sering rendah sehingga tidak dapat memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarga petani. Program pelatihan dilaksanakan selama satu musim tanam atau sekitar 3 bulan untuk tanaman musiman (padi. UU tersebut menyatakan bahwa pada dasarnya perlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat. Keadaan ini diperparah dengan kepemilikan modal kerja dan tanah garapan yang sangat marginal. mereka tidak mampu mengelola lahan pertaniannya secara produktif dan profesional. Mereka mempelajari dinamika ekosistem. jambu mete). Apa sebab petani pasif. Para Pemandu lapangan (PL) di SLPHT tidak berperan sebagai instruktor tetapi sebagai teman belajar dan fasilitator petani peserta SLPHT. pembahasan hasil pada minggu berikutnya. Proses pembelajaran pada penyuluhan konvensional dari atas (petugas penyuluh) ke bawah (petani). acuh tak acuh serta menyerahkan sepenuhnya tindakan pengendalian OPT pada Pemerintah? Penyebab utama karena rendahnya kualitas kesadaran. Kelompok tani bertemu setiap minggu sekali pada hari yang ditetapkan kelompok. kedelai. Perbedaan utama adalah pada proses pembelajaran. ketrampilan dan sarana pengendalian di lapangan. kentang. lada. pelaksanaan perlindungan tanaman dilakukan oleh masyarakat bersama Pemerintah. Hasil keputusan kelompok segera dilaksanakan di kebun pembelajaran. dan sekitar 3-4 bulan untuk tanaman tahunan (kopi.Kalau kita baca UU 12/1992 pasal 20 dikatakan bahwa “Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah”. pada petak pembelajaran yang dibagi dua sub petak yaitu petak PHT dan petak Kebiasaan Petani sebagai pembanding. PELAKSANAAN SLPHT Sebanyak 20-25 petani dipilih sebagai peserta kelompok SLPHT yang dipandu oleh 2 PL. melakukan analisis ekosistem serta mengambil keputusan pengelolaan ekosistem sesuai dengan analisis hasil pengamatan. mengumpulkan OPT dan musuh alami. kakao. Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian di lapangan atau pada lahan milik petani sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat petani. Atas bimbingan para PL petani belajar mengamati. tetapi pada SLPHT adalah pembelajaran bersama dari bawah (petani) ke atas (kelompok tani dan masyarakat). Tujuan pelatihan dalam SLPHT tidak hanya untuk penerapan pengendalian hama dengan prinsip dan teknologi PHT tetapi lebih komprehensif yaitu mengelola ekosistem pertanian secara terpadu sehingga diperoleh produksi dan hasil yang menguntungkan petani dengan mempertahankan populasi hama dan OPT pada umumnya pada tingkat yang tidak merugikan hasil. Dengan rendahnya kualitas SDM petani kita. dan seterusnya sampai tanaman dipanen. pengetahuan dan ketrampilan petani dalam melakukan pengelolaan ekosistem pertanian mereka termasuk dalam melakukan pengendalian OPT. bawang merah. kapas). Pemerintah dalam hal ini akan memberikan fasilitasi dalam hal penyediaan teknologi. cabe. 110 . dinamika hama dan musuh alami serta mengambil keputusan secara berkelompok.

Kualitas produk lebih baik sehingga memperoleh penghargaan yang lebih tinggi 3.7 Tahun 1973 belum dicabut 111 .Pada setiap hari pertemuan SLPHT dari jam 7 pagi sampai 13. 7/1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. dengan ketentuan bahwa izin tersebut dalam jangka waktu itu dapat ditinjau kembali atau dicabut apabila dianggap perlu karena pengaruh samping yang tidak diinginkan. 12 Tahun 1992 dan PP 6 Tahun 1995 yang di dalamnya juga mengandung pengaturan tentang pestisida. Meskipun sudah ada UU No. Jumlah petani yang telah mengikuti SLPHT masih terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah petani pangan dan perkebunan di Indonesia yang bekisar antara 30-40 juta. penggunaan dan pengawasan pestisida. PEREDARAN DAN PENGGUNAAN PESTISIDA Pada dasarnya pestisida merupakan bahan kimia yang memiliki risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sehingga penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati dengan pengawasan yang ketat. Pada tahun 1973 diterbitkan Peraturan Pemerintah No. Produksi petak PHT lebih tinggi 2. Kemampuan dan kepercayaan diri petani terhadap konsep dan teknologi PHT meningkat 6. Penggunaan insektisida dan fungisida sangat menurun 4. sedangkan kegiatan SLPHT Perkebunan masih berjalan sampai akhir 2005. namun PP No. perijinan. Secara historis sejak tahun 1970 Pemerintah telah menerapkan prosedur pendaftaran dan perijinan pestisida yang mengacu tatacara yang berlaku secara internasional. Pasal 2 PP 7/1973 menyatakan bahwa: 1) Setiap orang atau badan hukum dilarang menggunakan pestisida yang tidak didaftarkan atau memperoleh izin Menteri Pertanian 2) Prosedur permohonan pendaftaran dan izin diatur lebih lanjut oleh Menteri Pertanian 3) Peredaran dan penyimpanan pestisida diatur oleh Menteri Perdagangan atau Menteri Pertanian Pasal 3 1) Izin yang dimaksudkan diberikan sebagai IZIN TETAP. penyimpanan dan penggunaan Pestisida. Sayangnya saat ini perhatian Pemerintah terhadap tindak lanjut program pelatihan SLPHT Pangan menurun karena diserahkan kepada pembiayaan Pemerintah Daerah. IZIN SEMENTARA atau IZIN PERCOBAAN 2) Izin sementara dan izin percobaan diberikan untuk jangka waktu 1 tahun 3) Izin tetap diberikan untuk jangka waktu 5 tahun. peredaran. Karena itu setiap negara harus membuat peraturan yang berhubungan dengan pendaftaran.00 siang diisi dengan acara: • Pengamatan dan pengambilan sampel hama dan musuh alami • Analisis Agroekosistem • Pengambilan Keputusan Secara Berkelompok • Topik Khusus untuk melakukan kajian topik-topik tertentu sesuai kebutuhan kelompok • Dinamika Kelompok untuk meningkatkan kekompakan kelompok Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim independen baik terhadap SLPHT Pangan maupun SLPHT Perkebunan diperoleh kesimpulan yang hampir sama yaitu: 1. KEBIJAKAN TENTANG PENDAFTARAN. Keuntungan usaha petani meningkat. Penggunaan pengendalian hayati dengan agens pengendalian hayati meningkat 5.

Memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian sebagai bahan dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan di bidang pestisida. Pendaftaran pestisida dipersyaratkan dalam bentuk Bahan Teknis dan Bahan Formulasi. kehutanan. fumigasi. Kelembagaan Pemerintah Pusat Dalam organisasi Departemen Pertanian. Dep. terjamin efektivitasnya. 3. Saat ini Komisi Pestisida di bawah koordinasi Dirjen Bina Sarana Pertanian dan anggotaanggotanya dari seluruh jajaran Pemerintah Pusat yang berkaitan dengan pengelolaan pestisida seperti dari DepKes. Tenaga Kerja. Melakukan evaluasi terhadap pestisida yang telah terdaftar dan telah memperoleh izin Menteri Pertanian. Menteri Pertanian dibantu oleh KOMISI PESTISIDA atau terkenal dengan nama KOMPES.sehingga masih diberlakukan sampai saat ini. Melakukan evaluasi data/informasi dalam rangka pendaftaran pestisida. 434. pestisida industri. pengendalian rayap. peternakan. serta diberi label” “Pemerintah melakukan pendaftaran dan mengawasi pengadaan. KELEMBAGAAN PERLINDUNGAN TANAMAN Dengan telah diundangkannya UU tentang Otonomi Daerah yaitu UU 22/1999 maka terjadi perubahan struktur. BPTPH (Balai Proteksi Tanaman dan Hortikultura) Propinsi yang dahulu berada di bawah struktur Departemen Pertanian Pusat sekarang berada di bawah Pemerintah Daerah Propinsi. Direktorat Jendral Bina Sarana Pertanian yang membawahi Direktorat Pupuk dan Pestisida 2. Peraturan tentang prosedur perijinan pestisida telah beberapa kali direvisi yang terbaru adalah SK Mentan No. pengendalian vektor penyakit manusia. Mengenai pengaturan pestisida UU No. Sampai bulan Mei 2004 ini sekitar 1000 formulasi pestisida telah terdaftar untuk pertanian. memenuhi standar mutu. wewenang serta status kepegawaian beberapa lembaga perlindungan tanaman nasional. Untuk melaksanakan tugas ke-3 dan ke-4 Kompes membentuk Tim Pakar Evaluasi Pestisida. lembaga-lembaga yang tugas dan fungsi khususnya perlindungan tanaman terdapat di 4 Direktorat Jenderal dan 1 (satu) Badan yaitu: 1.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida. peredaran serta penggunaan pestisida”. Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan yang membawahi Direktorat Perlindungan Pangan 112 . 2. aman bagi manusia dan lingkungan hidup. “Pemerintah dapat melarang atau membatasi peredaran dan/atau penggunaan pestisida tertentu” Dalam melaksanakan tugas pendaftaran dan pengelolaan pestisida secara nasional. dll. pestisida rumah tangga. Komisi mempunyai tugas: 1. 4. Mengkoordinasikan instansi/pihak terkait baik di dalam dan di luar Departemen Pertanian di bidang pestisida kepada Menteri Pertanian. dll beserta beberapa pakar pestisida. perikanan. Kementerian Lingkungan Hidup. 12/1992 menyatakan bahwa: “Pestisida yang akan diedarkan dalam wilayah Negara RI wajib terdaftar.

Hal ini termasuk mengenai keberadaan. Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan yang membawahi Direktorat Perlindungan Perkebunan 5. Operasionalisasi kegiatan pengkajian dan pengendalian OPT di tingkat daerah dilakukan oleh BPTPH Propinsi sebagai UPT Daerah.3. Lab Utama Vertebtara/LUV. Sebagian besar UPT di bawah Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan dan Ditlin Hortikultura sudah diserahkan ke daerah sehingga berubah statusnya menjadi UPT Pemerintah Daerah. Direktorat Perlindungan Hortikultura dan Direktorat Perlindungan Perkebunan. UPT Ditlin Perkebunan adalah BPTP (Balai Proteksi Tanaman Perkebunan) di Medan. BPTPH di lapangan mempunyai beberapa laboratorium perlindungan tanaman seperti BPTPH DIY memiliki laboratorium di Bantul. tergantung pada kebijakan dan program kerja daerah yang bersangkutan. Badan Karantina Pertanian yang membawahi Karantina Tumbuhan Dalam struktur organisasi Pemerintah Pusat dan Daerah dikenal lembaga dengan status dan fungsi pelaksanaan aspek-aspek teknis tertentu yang disebut Unit Pelaksana Teknis (UPT). Jombang dan Ambon. kedudukan. Sedangkan UPT Direktorat Perlindungan Perkebunan sampai tahun ini masih belum diserahkan ke Daerah. dan beberapa Laboratorium (Lab. dan letak lembaga yang berwewenang dalam mengelola perlindungan tanaman. UPT Perlindungan Tanaman yang dibentuk Pemerintah Pusat cukup banyak baik yang berada di Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Lapangan/LL. Sampai tahun 2003 Indonesia memiliki 33 propinsi. Dua unit kerja yang termasuk UPT Ditlin Pangan adalah Sentra Peramalan Jasad Pengganggu Tanaman Pangan di Jatisari Cikampek. Karena itu pada struktur organisasi Dinas-dinas yang ditetapkan oleh SK Kepala Daerah seringkali posisi perlindungan tanaman tidak ada terutama di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan/atau Hortikultura. Di Dinas Perkebunan seperti di Jawa Tengah dan DIY bagian perlindungan tanaman masih tampak kadangkala sebagai eselon II (Sub Dinas Perlindungan Tanaman) atau sebagai eselon III (Seksi Perlindungan Tanaman). dan Laboratorium Analisis Pestisida/LAP). 113 . Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura yang membawahi Direktorat Perlindungan Hortikultura 4. 273 kabupaten. Bandung. Laboratorium Utama Pengendalian Hayati/LUPH. dan 63 kotamadya yang mempunyai struktur organisasi yang sangat beragam. Perlindungan Tanaman di Organsiasi Pemerintah Propinsi Sebagai konsekuensi kebijakan otonomi daerah struktur organisasi Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten sangat beragam. dan Laboratorium Analisis Pestisida di Pasar Minggu Jakarta.

Tanam – malai berisi : 2 kel. polychrysus Sesamia inferens Mythimma separata Spodoptera litura S. 2. 8. exemta S. nigropictus - 5. Nymphula depunctalis 20 rumpun / petak 7. Ada tungro : 1 nimfa dewasa / tunas b. 3. Tanam – anakan terbentuk : kerusakan daun sebesar 25 % 10 nimfa 2 telur/rumpun 114 .30 rumpun pada masa vegetatif. Padi No. Scirpophaga incertulas S. Pesemaian : kerusakan daun sebesar 50 % b. Semai – tanam : kerusakan daun sebesar 50 % b. dan N. mauritia 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 5. Cnapalocrosis medinalis 20 rumpun / petak 6. telur / 20 rumpun b. Leptocoryza acuta Orseolia oryzae 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 1 nimfa / tunas 1 nimfa dewasa / tunas a. 4. telur / 20 rumpun a. Pembentukan malai – masak : kerusakan daun sebesar 15 % a. innotata Chilo supressalis C. 1. Tidak ada tungro : 5 nimfa / tunas a.LAMPIRAN I AMBANG EKONOMI BERBAGAI JENIS HAMA PADA KOMODITAS TANAMAN PANGAN Jenis hama Rattus argentiventer Sampel pengamatan . Sebelum pembentukan malai–pembentukan bunga: kerusakan daun 5 % a. Nilaparvata lugens Sogatella furcifera Nephotettix virescens. 4. Malai berisi – akhir pembungaan : 1 kel.20 rumpun pada pemasakan bulir 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak Ambang ekonomi Persentase tanaman terpotong >5% 1. Fase vegetatif : kerusakan daun sebesar 20 % b. N. malayanus. . Tanam – pembentukan malai : kerusakan daun sebesar 25 % c.

200 larva instar 1 . Umur tan. Umur tan.120 larva instar 2 .kerusakan daun sebesar 12. Kerusakan daun 12.5 % atau populasi ulat 10 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) a. telur / 100 rumpun b.20 larva instar 3 .200 larva instar 1 . (51 – 70 hst): . 1.5 % d.50 larva instar 3 .5 % c.kerusakan daun sebesar 12. Kedelai No. Fase vegetatif : 1 2.10 hst : 1 imago b. telur / 100 rumpun c. Fase vegetatif (11-30 hst): . Jenis hama Spodoptera litura Sample pengamatan Ambang ekonomi a. Umur tan.2. Fase tanam. Phaedonia inclusa 10 rumpun / petak 115 . (51 – 70 hst) : 6 ekor larva instar 3 / rumpun dan 7 kel.200 larva instar 1 . Chrysodeixis chalcites 10 rumpun/ petak 3.kerusakan daun sebesar 25 % b.120 larva instar 2 . Umur tan.120 larva instar 2 . (31-50 hst): . Populasi ulat 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) a. (31 – 50 hst) : 3 ekor larva instar 3 / rumpun dan 4 kel.30 larva instar 3 .

b. ditemukan serangan sebesar 2 % (Balittan Malang) a. Umur tanaman 45 hst. Umur tan. bila ditemukan 1 ekor kepik / 116 .50 hst. (51 –70 hst) : .50 hst. d. Umur tan. bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) Umur tan (31 – 50 hst): . imago c. Umur 45.1 pasang . bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) 6 Riptortus linearis a. Sebelum 45 hst : kerusakan sebesar > 2 % / 20 rumpun acak d.1 pasang kepik hijau . Umur 45.5 % c.1 pasang kepik hijau .1 pasang kepik coklat b.1 pasang kepik hijau . (51 –70 hst) : . Umur tan (31 – 50 hst): .1 pasang .kerusakan polong > 2.5 % Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang Umur 45.5 % c.kerusakan polong > 2. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d.1 pasang kepik coklat b.4. Nezara viridula 10 rumpun 5 Piezodorus hybneri a.1 pasang kepik coklat Umur tan. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d. c.50 hst. (51 –70 hst) : .kerusakan polong > 2. Umur tan (31 – 50 hst): .1 pasang .

b.5 % atau 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang. Spodoptera litura 12 rumpun / petak a.5 % Umur tan (51 – 70 hst) : kerusakan daun sebesar 12. d. 11.5 % tanaman terserang Umur tan. 4 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) Pertumbuhan polong (51 – 70hst) : 1 pasang atau 1 ekor dan polong terserang > 2. Melanogromyza sojae 10 rumpun / petak a.5 % Umur tanaman 45 hst .5 % atau ditemukan 15 ulat (Balittan malang. (31-50 hst) : kerusakan daun sebesar 12. c. b. 9. Sebelum 10 hst : kerusakan > 2 % Terdapat serangan 2 % atau adanya 1 ekor lalat / 5m baris tanaman (Balittan Malang. b. c. Etiella zinckenella 10 rumpun / petak a. 10. (tanam – 10 hst) : 2 ekor atau 2. d. Ophiomyia phaseoli (Agromyza) 30 rumpun / petak a. e.5 % Terdapat kerusakan daun sebesar 12. bila terdapat serangan ratarata 2 % (Balittan Malang) Umur tan. 1991) vegetatif (11-30 hst) : kerusakan daun sebesar 25 % atau ditemukan 30 larva Umur tan. 8. c.7.1991) Umur tanaman kurang dari 10 hari kerusakan sebesar >2% Umur tanaman 0-30 hst : terdapat serangan > 2 % 58 larva instar 1 32 larva instar 2 17 larva instar 3 (Ditlin) 4 larva / 12 rumpun yang berdekatan Terdapat kerusakan daun sebesar 12.Lamprosema indicata . . 1991) 117 .Plusia chalcites 10 rumpun / petak a. b. b.

buah Daun Daun. biji Daun Daun Akar Akar Akar. buah Akar. kulit. biji Kulit.Lampiran 2 Daftar tumbuhan di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati No Nama Spesies Nama Umum Indian nettle Red onion Garlic Citronella Custard apple Sugar apple Neem tree Chrysant Cinnamon leaf Sour orange Lemon Coconut Nama Daerah Rumput bolong Delinggo Bawang merah Bawang putih Serai wangi Sirsak Buah nina Srikaya. buah Seluruh bagian Daun Bunga Daun. 24 Derris elliptica 25 Derris malaccensis 26 Eclipta alba 27 Eugenia syzigium 28 Eunymus japonicus 29 Eupatorium triplinerpe Cucumber Lemon grass Frenchmarigold Clove Spindle tree 118 . 23 Dahlia sp. kulit Daun Daun Daun Daun Daun. 17 Coriandum sativum 18 Croton triglium 19 Crynura sp. tangkai Daun. kulit. bunga Daun Daun 1 Achalypha indica 2 Acarus columus 3 Allium cepa 4 Allium sativum 5 Andropogon nordus 6 Annona muricata 7 Annona reticulata 8 Annona squamosa 9 Azadirachta indica 10 Bischo Bischofia javanica 11 Chrysantemum sp. 12 Cinnamomum burmanii 13 Citrus aurantium 14 Citrus hystrix 15 Cocos nucifera 16 Coleus sp. buah Daging Daun Biji Biji Daun Daun Daun. delima Nimba Glintungan Piretrum Kayu manis Jeruk Jeruk purut Kelapa Daun jinten Ketumbar Kamalakian Beluntas Cina Mentimun Labu besar Serai dapur Dahlia Tuba Tuba laut Urang aring Cengkeh Kumbang Ayapana Bagian yang digunakan Daun. 20 Cucumis sativus 21 Cucurbita moschata 22 Cymbopogon sp.

jure Tembakau Celincing Bengkuang Kapayang Keranyam Saladaan Lada Nilam Delima Jarak. biji Rimpang Sumber : DirJen Bina Produksi Perkebunan. neku Leunca. kulit. lerek Kentang Jahe Iris potato Vogel teprosia Ginger Daun Daun Daun Daun Daun Akar Seluruh bagian Akar. Departemen Pertanian 119 . batang Daun Daun Seluruh bagian Dahan. batang Daun Biji Daun Daun Biji Daun Daun Daun Daun. akar. batang Akar. Mammea Americana Mundulae suberosa Nerium oleander Nicotiana tabaccum Oxalis deppei Pachyrrhyzus erosus Pangium edulo Pelargonium sp. kulit Kulit. ubi. kaliki Mawar Rerek.30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 Ficus carca Geranium sp. Piper nigrum Pogostemon cablin Punica granatum Ricinus communis Rosa sp. daun Daun. Peperomia sp. patate Mamey Common oleander Tobacco Lucky clover Chinesse yan Geranium Black pepper Cublin Ponegranate Costa bean Daun ambrei Pepaya hutan Pacar air Ubi jalar Timbo. komir Mundula Oleander. Hedera nodosa Impatiens sultani Ipomea batatas Lonchocarpus nicou Lycopercicum sp. Sepindus rarak Solanum tuberosum Tephorisa vogelii Zingiber officinale Fong tree Zingiber balsam Batate.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful