129807801.

doc

Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

2010

1

129807801.doc. Prof. Dr. Ir. Kasumbogo Untung, M.Sc.

Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini menguraikan Interaksi Tanaman dan Hama; Pendugaan Kehilangan Hasil dan Ambang Pengendalian; Landasan Ekologi Pengelolaan Hama; Pengamatan dan Pengambilan Sampel; Unsur dan Komponen Dasar PHT; Pengendalian dengan Varietas Resisten, Pengembangan Tanaman Transgenik, Karantina Tumbuhan; Pengendalian Hayati; Pengendalian Kimiawi; Pengelolaan Hama Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Pasca Panen; Kebijakan Perlindungan Tanaman. Tujuan Instruksional Khusus: Agar mahasiswa dapat: 1. Memahami dan menjelaskan pengertian + batasan hama tanaman, klasifikasi, identifikasi, taksonomi dan sistematikanya. 2. Memahami dan menjelaskan gejala serangan, mengukur berat serangan dan tingkat kerugian hasil yang diakibatkan oleh hama. 3. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis hama dan gejala serangan hama tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan hama pasca panen. 4. Memahami dan menjelaskan sifat dan kemampuan beradaptasi hama pada tingkat individu. 5. Memahami dan menjelaskan faktor-faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi populasi hama dan kerusakan yang diakibatkannya. 6. Memahami dan menjelaskan cara penentuan dan penggunaan Ambang Pengendalian sebagai dasar rekomendasi pengendalian hama. 7. Memahami dan menjelaskan konsep dan prinsip-prinsip PHT dan penerapannya untuk berbagai jenis dan kelompok hama di pertanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan pasca panen. 8. Memahami dan menjelaskan beberapa kasus aktual lapangan yang berkaitan dengan pengendalian hama-hama utama di Indonesia.

2

129807801.doc Materi 1

HAMA TANAMAN
Pokok Bahasan: 1. Beberapa batasan dan pengertian. 2. Arti penting hama tanaman untuk program pembangunan pertanian. 3. Data kerusakan dan sebaran beberapa hama utama di Indonesia. 4. Sebab-sebab muncul dan berkembangnya masalah hama tanaman. 5. Tujuan pengendalian hama dan pongelolaan hama. Materi: PERISTILAHAN • Hama Tanaman  Merujuk pada binatang yang menjadi HAMA yakni merusak tanaman dan merugikan petani  Selama binatang tersebut (serangga, tikus, nematoda, tungau, dll) mendatangkan kerugian disebut HAMA TANAMAN  Tetapi keberadaan binatang di tanaman tidak selalu mendatangkan kerugian/kerusakan tanaman  Banyak jenis binatang herbivora ada di pertanaman tetapi tidak semuanya menjadi hama  Di samping itu di ekosistem banyak sekali jenis binatang yang tidak merugikan malahan menguntungkan seperti MUSUH ALAMI (parasitoid, predator), serangga PENYERBUK TANAMAN (lebah, tawon) serangga-serangga netral seperti SEMUT, dll.

Istilah HAMA merupakan istilah yang ANTROPOSENTRIS artinya lebih berpusat pada kepentingan manusia.
Bagaimana dengan istilah HAMA TUMBUHAN? Sebetulnya kurang tepat karena TUMBUHAN adalah semua jenis tetumbuhan yang hidup di biosfir termasuk tumbuhan di ekosistem alami atau tumbuhan yang tidak dibudidayakan manusia. TANAMAN adalah tumbuhan yang diusahakan manusia untuk diambil manfaatnnya bagi kehidupan manusia. Karena istilah HAMA pada dasarnya antropogenik, yang paling tepat kita gabungkan istilahnya adalah HAMA TANAMAN, istilah HAMA TUMBUHAN dapat juga dipakai meskipun kurang pas kombinasinya. Kalau istilah PENYAKIT TUMBUHAN memang lebih tepat, karena PENYAKIT lebih merujuk pada GEJALANYA. Tumbuhan sedang sakit, kondisi yang secara fisiologi tidak normal, tidak sehat. Setiap jenis tumbuhan termasuk TANAMAN dapat sakit. Sakitnya tumbuhan dapat disebabkan oleh karena infeksi jasad renik seperti virus, jamur, bakteri, dll, tetapi sakitnya mungkin juga karena kondisi fisik/abiotik yang tak sesuai seperti suhu, kering, basah, dll. Karena itu di Ilmu Penyakit Tumbuhan kita kenal Organisme Penyebab Penyakit. Kalau hama merujuk pada binatang yang merugikan, penyakit merujuk pada gejala tumbuhan yang SAKIT.

3

PENYAKIT dan GULMA. Biaya produksi NAIK 5. Serangan HAMA mengakibatkan: 1. Tiga kelompok pengganggu tumbuhan ini yang pengendalian atau pengelolaannya dicakup dalam bidang PERLINDUNGAN TANAMAN. Kualitas ANJLOK (mutu rendah-sulit dipasarkan-diekspor) 3. mengganggu kehidupan. tingkat petani) 2. artinya 100% GAGAL. Dilihat dari sisi ilmu-ilmu dasar pendukung Perlindungan Tanaman sbb: HAMA TANAMAN : Entomologi (ilmu serangga) Nematologi (ilmu nematoda) Rodentologi (Ilmu rodent/tikus) Akarologi (ilmu akarina) dll Karena sebagian besar hama termasuk kelompok serangga seringkali Ilmu Hama diartikan entomologi. RUGI secara ekonomik (biaya lebih besar daripada pendapatan) 6. namun secara khusus sering diartikan untuk pengertian HAMA HAMA TANAMAN SEBAGAI PEMBANGUNAN PERTANIAN FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN PROGRAM Program Pembangunan Pertanian Nasional apakah dengan pola Pembangunan Pertanian AGRIBISNIS atau program KETAHANAN PANGAN sangat ditentukan oleh keberhasilan kita dalam mengendalikan.OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) merupakan istilah “formal/hukum nasional” yang digunakan oleh Pemerintah berdasarkan UU No. PENGHASILAN NEGARA/DAERAH (PAD) TURUN 4 . menyebabkan PUSO. Namun harap diperhatikan bahwa definisi OPT menurut UU ada perbedaannya dengan pengertian Hama Tanaman dan Penyakit Tumbuhan yang sudah dijelaskan di depan. Hal ini disebabkan karena berbagai jenis HAMA dan atau OPT lainnya dapat menurunkan KUANTITAS dan KUALITAS hasil-hasil pertanian. propinsi. Digunakannya istilah OPT untuk mencakup semua kelompok pengganggu tumbuhan termasuk HAMA. Produksi TURUN (nasional. Menurut UU tersebut: “OPT adalah semua organisme yang dapat merusak. PENYAKIT TUMBUHAN : Fitopatologi Virologi Mikologi dst GULMA : Ilmu gulma Dalam bahasa inggris Istilah PEST sebenarnya digunakan untuk seluruh kelompok OPT. atau menyebabkan kematian tumbuhan”. Harga produk MEROSOT 4. lokal. mengelola HAMA TANAMAN. dan sangat sering MENGGAGALKAN PANEN. Teman-teman Fitopatologi banyak yang tidak sependapat dengan istilah OPT. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP 6/1995 tentang Perlindungan Tanaman.

bila produksi tahun 2003 itu diperkirakan 53 juta ton padi kering panen. 6. pengendalian hama dan pengelolaan hama. contoh padi 2. kentang. jadi sering disebutkan bahwa hama saat ini adalah “MAN-MADE PEST” (Hama buatan MANUSIA). cabai. jagung. resistensi dan resurjensi hama.kehilangan hasil karena HAMA sekitar 20 – 25%. kubis. Penanaman jenis tanaman baru di suatu daerah sehingga belum ada musuh alami di lokasi baru ---. Jumlah itu setelah dikurangi 25% kehilangan hasil oleh OPT padi. HITUNG SENDIRI secara finansial berapa kerugian yang kita derita setiap tahun karena hama-hama padi. 5. PENGHASILAN TURUN KEMISKINAN MENINGKAT ---- KESEJAHTERAAN PETANI MENURUN ---- Taksiran KASAR/KONSERVATIF. Tanpa ada kegiatan manusia tidak ada masalah hama. Menurut catatan DEPTAN 1997-2001. Banyak faktor yang mendorong terus ada dan meningkatnya masalah hama. muncul dan terus ada karena manusia. Serangan OPT Hortikultura (mangga. pembiakan dan kehidupan hama tanaman. bawang merah. Pemberantasan hama: adalah usaha memusnahkan. pejabat dan petugas pemerintah akademisi dan masyarakat dikenal 3 istilah pemberantasan hama. termasuk terjadinya penyimpangan cuaca dan iklim KESIMPULANNYA: Masalah timbul. terus-menerus dan berlebihan. pestisida. 5 . pisang. hormon tumbuh. membunuh hama yang umumnya dilakukan dengan pestisida kimia secara preventif. Pestisida membunuh musuh alami. Tahun 1999 serangan OPT Perkebunan merugikan sebesar Rp 340 milyar.7. kedelai sebesar Rp 463 milyar /tahun. Penanaman monokultur (jenis tanaman atau varietas tanaman yang sama) sepanjang waktu dan tempat. dll. Lihat juga tabel keadaan serangan OPT di Indonesia pada tahun 2001-2002 (jenis dan luas serangan) Mengingat potensi penurunan hasil akibat HAMA yang sangat besar kegiatan Pengelolaan Hama menjadi BAGIAN PENTING .KARANTINA gagal 4. serangan OPT padi.7 trilyun/tahun. pengairan dll. tomat) diasumsikan rata-rata Rp 1. Hampir seluruh faktor pendorong tersebut adalah karena ulah/perbuatan/tindakan MANUSIA sehingga ekosistem pertanian menjadi sangat sesuai bagi pertumbuhan. Penggunaan pestisida kimia berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana. Penggunaan masukan produksi yang berkelebihan seperti pupuk buatan. Penanaman jenis tanaman atau varietas tanaman yang peka hama tetapi unggul produksi 3. Rata-rata kehilangan hasil Produksi Pertanian karena serangan OPT ± 30% dari potensi hasil --. tidak memperhitungkan keadaan hama di lapangan apakah sedang dalam kondisi populasi rendah atau tinggi. TUJUAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENGELOLAAN HAMA Pada saat ini di kalangan petani. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1.INTEGRAL dari setiap USAHA TANI atau BUDIDAYA TANAMAN agar diperoleh Tingkat PRODUKSI dan KUALITAS produksi yang DIINGINKAN baik oleh PEMERINTAH maupun PETANI – KELOMPOK TANI FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENINGKATAN SERANGAN DAN KERUSAKAN OLEH HAMA Masalah hama di suatu lokasi pada saat/musim tertentu tidak muncul begitu saja tanpa penyebab atau faktor-faktor pendorong. jeruk.

pokoknya disemprot habis-habisan sampai petani merasa puas. Pengelolaan hama: Lebih menekankan aspek pengelolaan ekosistem (tanaman. dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada di bawah Ambang Pengendalian. pengendalian kimia. PHT adalah usaha pengelolaan agroekosistem dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama (bercocok tanam. tak perlu dilakukan pengendalian dengan pestisida tetapi produksi tanaman tetap tinggi. fisik. varietas resisten. budidaya dll) sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada dalam keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga hama tidak membahayakan. mikroklimat. kualitas produksi baik PHT (Pengendalian Hama Terpadu) merupakan kebijakan Perlintan di Indonesia berdasarkan UU No 12/1992 dan PP 6/1995. mekanik. 6 . Bila populasi hama tidak membahayakan tidak perlu dikendalikan dengan pestisida. tanah. Penggunaan pestisida hanya dilakukan bila populasi hama telah membahayakan atau melampaui ambang pengendalian atau ambang ekonomi. Pemberantasan hama yang mengakibatkan munculnya resisitensi hama dan letusan hama yang berkelanjutan Pengendalian hama: lebih hati-hati daripada pemberantasan hama. pengendalian hayati.

Aliran Energi dalam Ekosistem melalui Sistem Trofi Aras Istilah trofi Ekosistem Antroposentris 7 . Aliran energi di ekosistem melalui sistem trofi dapat dilihat pada gambar berikut: Energi memasuki ekosistem sebagai radiasi surya EKOSISTEM Produsen Konsumen 1 Konsumen 2 Dekomposer Energi keluar ekosistem sebagai panas Gambar 1.doc Materi 2 INTERAKSI TANAMAN DAN HAMA Interaksi antara tanaman dan hama dapat dilihat dari aspek EKOLOGIS dan EKONOMIS. Karena kemampuannya mengubah energi surya menjadi energi biokimia melalui proses fotosistesis tanaman menempati aras trofi pertama sebagai PRODUSEN.129807801. Dari sisi ekologi hubungan antara tanaman dan hama merupakan interaksi yang saling mengendalikan antara tanaman yang autotroph dengan binatang HERBIVORA yang heterotroph dalam suatu sistem trofi yang berjalan secara EFISIEN dan berkesinambungan. demikian seterusnya. Energi pada tanaman digunakan oleh binatang yang memakan tanaman (HERBIVORA) yang menempati aras trofi kedua sebagai KONSUMEN PERTAMA. Binatang karnivora memperoleh energinya dengan memangsa herbivora sehingga menempati aras trofi ketiga sebagai KONSUMEN KEDUA.

Serangan ringan bila derajat serangan <25% b. sedangkan KERUSAKAN lebih terpusat pada TANAMAN dan respon tanaman terhadap pelukaan oleh hama.Pengamat Hama dan Penyakit. berada dan makan pada tanaman tersebut.Pengendali OPT). Luka oleh serangga yang makan di dalam jaringan tanaman (internal feeders) termasuk penggerek. Intensitas serangan dalam % dilaporkan oleh PHP b. Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas serangga hama yang hidup. Intensitas serangan: adalah derajat serangan OPT atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT dan atau mengalami kerusakan karena serangan OPT pada tingkat populasi OPT atau intensitas kerusakan tertentu sesuai dengan jenis OPT nya 2. 1. Serangan sedang bila derajat serangan 25-50% c. Intensitas serangan secara kualitatif dibagi menjadi 4 kategori serangan yaitu: ringan. Luka Oleh Serangga Pada Tanaman Yang Sedang Tumbuh 1. pengorok dan pembuat puru 4. sedang. Tujuan interaksi sebenarnya adalah terjadinya keseimbangan dan kestabilan ekosistem. dan dinamis melalui proses evolusi dan koevolusi. parasitoid (musuh alami) Predator. Kategori serangan dilaporkan oleh koordinator PHP. Masalah ini akan dibahas pada kuliah dua minggu lagi. hiperparasitoid Perlu diperhatikan bahwa di ekosistem termasuk ekosistem persaingan interaksi antara organisme yang menempati aras trofi yang sama atau antar aras trofi sangat kompleks.1 2 3 4 Tumbuhan Herbivora Karnivora 1 Karnivora 2 Tanaman Hama tanaman Predator. Aspek EKONOMIS Adanya populasi serangga/hama di suatu tanaman akan menimbulkan LUKA (“injury”) pada tanaman. Intensitas serangan secara kuantitatif dinyatakan dalam % (persen) bagian tanaman/tanaman atau persen kelompok tanaman terserang. Adapun kategori intensitas serangan serangga hama secara umum dapat digunakan pedoman sbb: a. Luka oleh serangga-serangga tanah 8 . Pengertian dan istilah LUKA lebih terpusat pada HAMA dan AKTIVITASNYA. Luka oleh serangga penggigit 2. Luka tanaman dapat mengakibatkan terjadinya KERUSAKAN (“damage”). Luka oleh serangga pencucuk pengisap 3. sekarang namanya POPT. Serangan puso bila derajat serangan >90 % CARA PELUKAAN TANAMAN OLEH SERANGGA A. berat dan puso. BPTPH. Luas serangan: adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar atau rumpun atau pohon 3. Kerusakan adalah kehilangan hasil yang dirasakan oleh tanaman (petani) akibat adanya populasi hama atau serangan hama antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dan kualitas hasil. Serangan berat bila derajat serangan 50-90% d. a. Istilah-istilah lain berkaitan dengan hama dan tanaman yang saat ini digunakan dalam kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh para petugas pengamat lapangan (dulu namanya PHP.

Luka oleh serangga sebagai vektor/pengantar penyakit tumbuhan Berbagai bentuk luka oleh serangga pada tanaman yang biasa kita catat sebagai GEJALA SERANGAN hama.5. 9 . Luka oleh serangga-serangga yang “memperhatikan” serangga-serangga lain 7. Luka oleh serangga yang sedang meletakkan telur dan membuat sarang 6.

luka mengakibatkan kerusakan dan kerusakan tanaman karena hama menyebabkan terjadinya kehilangan atau penurunan hasil tanaman dan kualitas produk/hasil. Interaksi antara Populasi Hama dan Tanaman 10 .FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK Populasi Hama Populasi Tanama n LUKA KERUSAKAN KEHILANGAN HASIL DAN KUALITAS KERUGIAN EKONOMIK PETANI TINDAKAN MANUSIA Keterangan : Hasil interaksi antara populasi hama dan tanaman mengakibatkan luka pada tanaman. Hasil interaksi populasi hama dan populasi tanmaan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik lainnya dan faktor-faktor abiotik dan terutama oleh tindakan manusia terhadap ekosistem Gambar 2. Kehilangan hasil dapat berakibat pada kerugian ekonomi (biaya lebih besar daripada nilai produksi) yang dialami petani atau pengusaha pertanian.

Daun Adanya kerusakan daun. beluk • Jumlah lubang keluar • Panjang lubang gerekan • Luka potongan batang oleh ulat 4. pengurangan berat kering daun 3. Luka Oleh Serangga Pada Manusia Dan Binatang Lain C. Serangga Sebagai Perusak Produk Di Gudang Dan Bahan-Bahan Lain D. Metode Pendugaan Kerusakan Tanaman Oleh Hama Pendugaan atau penghitungan pengaruh hama terhadap kerusakan tanaman dan kehilangan hasil karena serangan hama dapat dilakukan dengan menghitung atau mengukur luka atau gejala yang ditinggalkan atau diakibatkan oleh hama. berat kering atau volume perakaran yang terserang hama • Luas kerusakan umbi seperti pada tanaman kentang. Beberapa pengukuran yang sering digunakan adalah terhadap tanaman atau bagian tanaman antara lain seperti: 1.B. Akar • Panjang. sundep. Keseluruhan tanaman Jumlah atau % tanaman mati/busuk atau yang menunjukkan gejala serangan hama tertentu 2. 9 . Buah dan benih • Jumlah lubang atau luka di buah • Jumlah atau % buah rusak seperti terserang PBK (Penggerek Buah Kakao) dan PBKo (Penggerek Buah Kopi) 5. Batang • Jumlah atau % puru. lubang gerekan dan gejala daun lainnya diukur dengan menggunakan luas defoliasi.

129807801.doc Materi 3

PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL
Pokok Bahasan: A. Pendugaan Kehilangan Hasil Akibat Serangan Hama (Crop Loss Assesment) B. Penggunaan Ambang Pengendalian sebagai tingkat pengambilan keputusan penggunaan PESTISIDA Materi: Pendugaan kehilangan hasil adalah usaha untuk menduga, menaksir bahkan meramal tentang kerugian ekonomi yang mungkin akan dialami oleh petani, perusahaan pertanian, pemerintah atau pengusaha agribisnis karena adanya serangan hama pada pertanaman yang mereka budidayakan. Dengan melakukan pendugaan kehilangan hasil para produsen pertanian dapat menentukan beberapa hal:  Apakah keberadaan populasi hama di lahannya akan merugikan atau menurunkan hasil usahanya dalam kisaran toleransi ekonominya. Bila masih berada pada kisaran toleransi petani tidak perlu melakukan tindakan pengendalian atau mengeluarkan biaya untuk pengendalain.  Apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau pencegahan hama. Apabila perlu berapa besar biaya pengendalian yang harus dikeluarkan. Tentunya petani tidak akan mengeluarkan biaya pengendalian sampai melebihi nilai kehilangan hasil  Bila petani sudah memutuskan perlu dilakukan tindakan pengendalian, teknik pengendalian mana yang akan digunakan apakah dengan cara kimiawi dengan pestisida kimia atau dengan secara hayati menggunakan musuh alami, atau menggunakaan varietas tanaman tahan hama dan seterusnya. Dalam menetapkan teknik pengendalian hama yang akan dilakukan petani/produsen adalah mempertimbangkan beberapa faktor yaitu a) efektivitas pengendalian, b) biaya pengendalian, dan c) risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pendugaan kehilangan hasil juga akan digunakan untuk menentukan berapa nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi yang akan kita bahas pada akhir kuliah ini. Siapa yang memerlukan Kehilangan Hasil? Banyak pihak yang memerlukan data pendugaan kehilangan hasil, diantaranya: 1. Petani secara perseorangan (untuk petak dan lahan miliknya sendiri) atau secara berkelompok (untuk hamparan sawah/lahan). Satu kelompok hamparan besarnya terdiri dari 20-30 petani. 2. Pemeriantah Daerah dan Pemerintah Pusat, biasaya melalui Dinas Pertanian Kabupaten dan Departemen Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Hortikultura dan Ditjen Perkebunan. 3. Pengusaha Pertanian misal PT Perkebunan milik Pemerintah, PT Pagilaran milik Fak. Pertanian UGM, dst. CARA PENDUGAAN KEHILANGAN HASIL Untuk menghitung kehilangan hasil dalam bentuk satuan berat (ton/ha) atau satuan rupiah (Rp/ha) secara TEPAT jelas sangat sulit dan tidak mungkin, karena tidak mungkin kita 10

mengukur dan menghitung semua lahan yang ada baik milik petani dan kelompok tani maupun lahan pertanaman tertentu di suatu daerah (desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional). Yang dapat kita lakukan adalah melakukan PENDUGAAN, kata-kata lain ESTIMASI, PENAKSIRAN, berdasarkan data hasil pengamatan yang dilakukan pada lahan/petak sawah/tanaman/pohon/rumpun yang digunakan sebagai SAMPEL, CONTOH yang mewakili. Untuk memperoleh taksiran kehilangan hasil untuk suatu petak atau hamparan/sawah atau suatu daerah kita harus mempunyai data seperti: 1. Luas serangan – LSR (dalam ha) 2. Intensitas serangan – ISR (dalam % rumpun/tanaman terserang) a ISR = --------------------- x 100% a + b a: jumlah rumpun/batang terserang b: jumlah rumpun/batang tak terserang 3. Hubungan antara intensitas serangan dengan hasil tanaman yang diperoleh dari pengalaman petani atau dari hasil penelitian. Suatu contoh:
Hasil Tanaman (ton/ha)

10

6 5

Gambar 3. Hubungan antara Intensitas Serangan Hama dengan Hasil Tanaman
2 Dari fungsi ini kita mengetahui dugaan hasil tanaman atau produksi tanaman dalam kondisi intensitas serangan (%) tertentu, katakan 50% intensitas serangan, produksi atau hasil tanaman adalah 6 ton/ha. Kita sebut Produksi Tanaman Terserang (PTT) 20 50 80 100 4. Dari fungsi ini kita ketahui bahwa hasil tanaman yang tidak terserang hama atau Intensitas serangan (%) produksi tanaman sehat (PTS) adalah 9,5 ton/ha. 5. Harga dari produk/hasil tanaman pada tingkat petani katakan Rp 1000/kg atau Rp 1 juta/ton (HG) 6. Kehilangan hasil (KH) dalam satuan berat (ton) = Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Sehat (PTS) --- Luas serangan (LSR) x Produksi Tanaman Terserang (PTT) 7. Nilai kehilangan hasil (NKH) dalam rupiah = Harga produk (HG) x KH Suatu contoh: Untuk hama padi di suatu kecamatan ternyata LSR 500 ha. PTT= 6 ton/ha. PTS = 9,5 ton/ha dan harga padi kering panen (HG) Rp 1500/kg.

KH

= (LSR x PTS) – (LSR x PTT) = (500 x 9,5) – (500 x 6) = 4750 – 3000 ton = Rp 2.625.000.000 11

PENETAPAN AMBANG PENGENDALIAN Dalam konsep PHT kita kenal beberapa istilah yang arti dan fungsinya sama yaitu: 1. Ambang Ekonomi (AE) “Economic Threshold” 2. Ambang Kendali (AK) “Economic Threshold” atau Ambang Pengendalian “Control PESTISIDA ARAS LUKA EKONOMI Threshold” 3. Ambang Tindakan (AT) “Action Threshold” Artinya adalah suatu aras (tingkat) kepadatanAMBANG EKONOMI atau intensitas serangan populasi hama hama yang membenarkan dimulainya penggunaan PESTISIDA untuk pengendalian hama. Tujuan penggunaan pestisida adalah menurunkan populasi hama sampai di bawah AE agar
ARAS KESEIMBANGAN UMUM

Populasi Hama atau Intensitas Serangan

= Rp 2,625 milyar Dengan perhitungan tersebut secara kasar kita dapat mengetahui seberapa besar kerugian yang dialami oleh petani, masyarakat dan pemerintah akibat terjadinya serangan hama tertentu. Dari cara penghitungan tersebut di atas dapat dimengerti bahwa untuk menduga kehilangan hasil kita memerlukan hubungan fungsional antara populasi hama atau intensitas serangan (%) dengan hasil. Tanpa informasi tentang hubungan ini kita tidak dapat menduga/menaksir berapa hasil tanaman yang akan diperoleh bila terserang hama pada intensitas serangan atau populasi hama tertentu. Untuk memperoleh fungsi tersebut perlu dilakukan percobaan pengamatan langsung di lapangan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan antara lain: Cara pertama adalah dengan cara ALAMI yaitu dengan: Mengamati beberapa petak sawah dengan menghitung berapa populasi hama atau intensitas serangan hama tertentu. Misal pada petak pertama intensitas serangan 5%, petak kedua 20%, petak ketiga 40%, petak keempat 60%, petak kelima 80%, dan petak keenam puso atau 95%. Pada waktu panen kita lakukan ubinan hasil pada semua 6 petak tersebut. Dari langkah pertama dan kedua tersebut kita dapat memperoleh fungsi hubungan intensitas serangan dan hasil. 2. Namun seringkali di lapangan kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan petak-petak sawah yang memiliki kisaran lebar dalam kepadatan populasi hama atau intensitas serangan seperti contoh di atas. Untuk memperoleh intensitas serangan atau populasi hama yang berbeda seringkali kita lakukan secara BUATAN yaitu dengan menginfestasikan hama dalam pertanaman yang dikurung dalam suatu kasa yang selebar petak sawah. Dengan melakukan infestasi hama kita dapat mengatur berapa kepadatan populasi atau intensitas serangan yang kita inginkan. 3. Cara ketiga merupakan cara yang paling murah tetapi tidak teliti yaitu dari data EMPIRIK atau pengalaman dari petani kita lakukan wawancara pada petani yang sudah lama berpengalaman menghadapi masalah hama tertentu yang menyerang tanaman atau komoditas pertanian yang mereka usahakan. Kita tanyakan pada para petani berapa produksi tanaman yang mereka dapatkan dalam kondisi intensitas serangan hama rendah, sedang, tinggi dan puso, serta berapa produksi tanaman dalam kondisi sehat atau tidak terserang hama. Dari data empirik petani akhirnya kita dapat memperoleh hubungan fungsional antara intensitas serangan dan hasil. Cara ini mudah kita lakukan, tetapi sulitnya tidak semua petani ingat apalagi menyimpan data serangan hama dan kerusakan yang pernah mereka alami.

12
20 40 60 80 100

WAKTU (hari)

Yang menetapkan nilai AE yang paling baik adalah petani/kelompok tani sendiri yang berlaku untuk spesifik lahannya masing-masing. 45. tidak seragam. Saat ini karena petani banyak yang belum mampu nilai AE lebih sering mengikuti ketetapan atau rekomendasi pemerintah atau rekomendasi peneliti sehingga nilai AE cenderung seragam. 60 HST (hari setelah tanam). Berdasarkan data empirik/pengalaman selama bertahun-tahun dapat diperoleh informasi tentang pada aras populasi atau intensitas serangan berapa hama tersebut mulai dirasakan merugikan secara 13 .Gambar 4. Harus ada ketentuan mengenai berapa besar nilai AE/AK/AT tersebut Dengan demikian untuk setiap jenis hama yang menyerang komoditas tertentu harus mempunyai nilai AEnya masing-masing bahkan pada prinsipnya nilai AE suatu jenis hama tidak tetap. Mungkin untuk sementara keadaan tersebut dapat berjalan tetapi harus diikuti dengan melakukan pelatihan pada petani untuk mengembangkan dan menetapkan AE nya sendiri. petani tak perlu menggunakan pestisida secara berjadwal seperti seminggu sekali. Suatu contoh untuk tanaman padi: AE wereng coklat : 5 nimfa + dewasa/rumpun padi pada fase vegetatif 10 nimfa + dewasa /rumpun pada fase generatif AE penggerek batang: 30% intensitas serangan pada fase vegetatif 10% intensitas serangan pada fase generatif (lihat lampiran) CARA PENETAPAN/PENGHITUNGAN AE Ada beberapa cara penentuan AE yang dapat kita lakukan: 1. Harus dilakukan pengamatan secara berkala (katakan seminggu sekali) 2. Cara empirik atau berdasar pengalaman dari petani. atau pada umur 15. Ambang Ekonomi dan Aras Keseimbangan Umum pada Keadaan Normal dapat dikendalikan secara alami oleh kompleks musuh alami sehingga populasi hama tetap berkisar sekitar aras keseimbangan umum (Gambar 4). 20. Artinya nilai AE dinamis. peneliti atau petugas lapangan yang sudah lama menekuni dan merasakan tentang kerusakan atau kerugian yang diakibatkan oleh serangan hama tertentu pada komoditas yang diusahakan. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dalam keadaan gejolak populasi hama sepanjang musim tanam pestisida hanya diaplikasikan satu kali yaitu pada waktu populasi melampaui AE. Namun untuk melaksanakan prinsip tersebut ada dua syarat penting yaitu: 1. Biasanya petani menerima rekomendasi AE dari para PPL atau PHP (Pengamat Hama dan Penyakit). tidak sama dari satu tempat/lokasi ke tempat lain dari waktu ke waktu lain. Dengan demikian penggunaan pestisida dapat dihemat. Populasi Hama dan letak Aras Luka Ekonomi.

spesifik petani sehingga menjadi variatif dan tidak seragam. maka AE/AK/AT petani adalah 7 larva/rumpun. Hubungan 10 Populasi Hama 30 dengan Hasil 2. Untuk lebih jelasnya secara grafik data empirik tentang aras populasi/intensitas serangan dan hasil dapat dilihat pada gambar 5. Karena pengalaman dan perasaan petani berbeda-beda kita akan memperoleh AE yang sangat khas/spesifik lokasi. AE/AK/AT hama berbeda. BP ALE = -----------------HG x LT x BK dimana BP = Biaya pengendalian (Rp/ha) HG= Harga produk (Rp/kg) LT = Luka tanaman yang diakibatkan oleh satu individu hama BK = Berat kerusakan tanaman per unit luka tanaman Untuk memperoleh LT dan BK perlu dilakukan serangkaian percobaan di lapangan. di rumah kasa atau di laboratorium. Pada keadaan kurve pengalaman petani demikian. Pada aras populasi mulai merugikan tersebut. Dengan pengalaman yang bertambah dan tingkat toleransi yang semakin baik.ekonomi. petani akan selalu menyesuaikan atau memperbarui nilai AE nya! Hasil (kuintal/ha) Mulai terjadi kerugian ekonomik AE petani 5 7 20 Gambar 5. ALE adalah suatu populasi atau intensitas serangan dimana nilai kehilangan hasil (dalam Rp) yang dapat diselamatkan oleh tindakan pengendalian hama dengan pestisida sama dengan total baya pengendalian (dalam Rp). Karena itu AE/AK/AT ini dapat kita namakan sebagai AE petani atau Ambang Petani saja. Perhatikan sampai populasi 5 larva belum terjadi penurunan hasil sehingga petani masih bisa mentoleransikan tetapi pada populasi 7 petani sudah mulai merasakan kerugian ekonomi. ALE dihitung dengan menggunakan titik impas/BEP (Break Even Point). Cara Penelitian Penetapan AE melalui penelitian dilakukan oleh para peneliti yang khusus ingin mengetahui berapa AE pada suatu jenis hama pada komoditas tertentu. Biasanya sasaran kegiatan penelitian adalah memperoleh nilai ALE (Aras Luka Ekonomi) dan dari nilai ALE dihitung AE yang besarnya ¾ atau 2/3 ALE. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALE DAN AE 14 Populasi hama larva/rumpun .

Dari sekian banyak faktor. Apa artinya? ALE/AE Harga Produk ALE/AE Biaya Pengendalian Hubungan Harga Produk dan Biaya Pengendalian dengan ALE/AE Gambar 6. statistis. agronomi. ekonomi. Dari ketetapan-ketetapan pada gambar dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan pendugaan kehilangan hasil serta menetapkan dan menerapkan AE/AK/AT diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu (misal ilmu-ilmu perlintan. Tidak dapat dilakukan oleh orang-orang/pakar perlintan. dll. dll) dan lintas sektor. 4 faktor yang paling penting yaitu: 1. 15 . semakin rendah ALE/AE semakin sering/banyak penyemprotan pestisida dilakukan. Bagan alir sistem keputusan pengelolaan hama yang menunjukkan letak pendugaan populasi hama atau infestasi serangan hama dan pendugaan kehilangan hasil serta kegiatankegiatan yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 7. sosiologi. Derajat luka yang diakibatkan oleh individu hama 4. fase tumbuh tanaman. lokasi pertanaman. antara Kita harus mengetahui bahwa semakin tinggi ALE/AE penggunaan pestisida menjadi semakin jarang atau semakin sedikit. instar hama. Harga produk 2. Biaya pengendalian 3. Kepekaan tanaman terhadap serangan hama Perhatikan Gambar 6 di bawah.Banyak faktor yang mempengaruhi nilai ALE dan AE termasuk jenis varietas tanaman.

Infestasi Pengamatan Pendugaan hama Pengaruh (i) pada hasil (y) Percobaan Pendugaan kehilangan hasil Hasil (y) Pengaruh pengendalian terhadap (i) AE /AT / AK tidak ? Apa lebih besar dari AE? ya Tak perlu dikendalikan Kendalikan dengan pestisida Gambar 7. Bagan Alir Sistem Keputusan Pengelolaan Hama 16 .

Diharapkan para mahasiswa setelah kuliah ini dapat menjawab pertanyaan: Apa sebabnya kita tidak mungkin melakukan pembasmian atau pemusnahan hama seperti banyak orang harapkan? Pada prinsipnya keberadaan dan perkembangan populasi hama dan populasi organisme lainnya ditentukan oleh dua kekuatan yaitu: 1. Perlu ditekankan di sini bahwa tujuan pengelolaan hama bukan untuk membasmi hama. naik turun. Kalau kita perhatikan kelompok serangga.doc Materi 4 LANDASAN EKOLOGI PENGELOLAAN HAMA Tujuan: 1. 2. dN --. Dengan siklus hidup pendek. Banyak faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi dinamika populasi hama. Juga kita ketahui bahwa populasi hama sepanjang musim tanam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat tidak tetap tetapi DINAMIS. 4.= r N = ( b – d ) N dt N r b d t = populasi = laju pertumbuhan populasi intrinsik = laju kelahiran = laju kematian = waktu 17 . maka pertumbuhan populasi organisme tersebut akan mengikuti model pertumbuhan ekponensial atau pertumbuhan geometrik seperti Gambar 8. ukuran tubuh kecil dan kemampuan bertahan hidup yang tinggi maka populasi serangga sangat cepat meningkat sehingga dalam waktu sebentar saja dapat memenuhi permukaan bumi ini. PERLAWANAN LINGKUNGAN atau "Environmental Resistance" Yang disebut POTENSI BIOTIK adalah kemampuan suatu organisme untuk tetap hidup dan berkembang biak. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut kita dapat melakukan pengelolaan hama yang efektif dan efisien. Mengetahui dua model pertumbuhan populasi organisme Mengetahui model dinamika populasi hama Mengetahui mekanisme pengendalian alami dan pengaruh faktor abiotik dan biotik Mempelajari pengaruh kegiatan manusia terhadap dinamika populasi hama Materi: Dari kuliah sebelumnya kita mengetahui bahwa keberadaan populasi hama di pertanaman dan di ekosistem menentukan seberapa besar kerusakan tanaman dan kerugian ekonomi yang dialami oleh petani atau pengusaha pertanian lainnya. memberantas hama sampai habis tetapi mempertahankan populasi hama di pertanaman tetap berada di bawah AE/AK/AT atau pada aras yang secara ekonomi tidak merugikan. organisme ini mempunyai potensi biotik yang sangat besar dan kemampuan berbiak sangat cepat. berfluktuasi sekitar suatu garis atau posisi keseimbangan umum (General Equilibrium Position). 3. POTENSI BIOTIK atau "Biotic Potential" dan 2. ALE dan Garis keseimbangan pada kuliah minggu yang lalu. Perhatikan gambar tentang posisi AE.129807801. Apabila suatu organisme berkembang sepenuhnya sesuai dengan kemampuan hayati (potensi biotik)nya.

kita memperoleh gambaran dinamika populasi yang mirip dengan pertumbuhan logistik terutama pada daerah I dan II seperti Gambar 10. Populasi (N) Gambar 9. Kekuatan ini yang akan menghambat populasi suatu organisme untuk bertambah dan meningkat sesuai dengan kemampuan biotiknya. Karena itu model pertumbuhan populasi yang lebih cocok adalah model pertumbuhan logistik seperti Gambar 9. Pertumbuhan Mengikuti Ekponensial (N) Waktu (t) Populasi Organisme Model Pertumbuhan atau Geometrik Di dunia saat ini satu-satunya organisme yang populasinya tumbuh secara eksponensial adalah MANUSIA. 18 . Kalau kita bandingkan dengan data lapangan populasi suatu organisme.Populasi Gambar 8. Di alam populasi organisme tidak dapat meningkat secara eksponensial karena adanya kekuatan lain yang me"lawan" atau meng"hambat" yang kita namakan Perlawanan Lingkungan atau Hambatan Lingkungan.= r N ( ----. Populasi Logistik --.) dt K N t r K = populasi = waktu = laju pertumbuhan populasi = asimtot atas atau nilai N maksimum K Model Pertumbuhan Waktu (t) dN K-N Kurve tersebut menunjukkan model pertumbuhan secara matematik.

terjadilah daerah IV yang merupakan periode penurunan populasi atau periode pertumbuhan negatif. Daerah I merupakan periode peningkatan populasi yang tumbuh secara sigmoid. Kalau periode ini terus berlanjut kemudian akan terjadi tingkat terakhir pertumbuhan populasi yaitu daerah V yang merupakan periode kepunahan populasi. Oskilasi populasi adalah penyimpangan populasi sekitar aras keseimbangan secara simetris.Menurut gambar tersebut pertumbuhan populasi organisme dapat kita bagi menjadi 5 daerah. Daerah III merupakan tahap oskilasi dan fluktuasi populasi. pertumbuhan cepat secara eksponensial (B) serta tahap menuju keseimbangan (C). Pengelompokan ini lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan cara pengelompokan lainnya. Daerah III berjalan dalam waktu cukup lama tergantung pada berfungsinya mekanisme umpan balik negatif yang bekerja pada populasi organisme tersebut. 19 . sedangkan fluktuasi populasi merupakan penyimpangan populasi yang tidak simetris. Bagan berikut menunjukkan faktor-faktor yang termasuk dalam FTK dan FBK. Apabila mekanisme ini oleh sebab-sebab tertentu menjadi tidak berfungsi lagi. Di daerah III terjadi mekanisme keseimbangan populasi oleh bekerjanya berbagai faktor abiotik dan biotik yang secara bersama kita sebut sebagai faktor PENGENDALI ALAMI. FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN DAN FAKTOR BEBAS KEPADATAN Dilihat dari proses pengendalian dan pengaturan populasi organisme. Setelah daerah II tercapai kemudian populasi bergejolak sekitar aras keseimbangan yaitu pada daerah III. Periode ini terdiri dari tahap pembentukan populasi (A). Pada tahap ini populasi telah mencapai stabilitas numerik. maka berbagai faktor hambatan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi Faktor Tergantung Kepadatan Populasi (FTK) atau "Density Dependent Factors" dan Faktor Bebas Kepadatan Populasi (FBK) atau "Density Independent Factors". Daerah II merupakan pencapaian aras keseimbangan yang merupakan garis asimtot kurve sigmoid. Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan adalah faktor pengendali alami yang mempunyai sifat penekanan terhadap populasi organisme yang semakin meningkat pada waktu populasi semakin tinggi. Populasi (N) A B C Waktu (t) Gambar 10. dan sebaliknya penekanan lebih longgar pada waktu populasi semakin rendah. Pertumbuhan Populasi Organisme yang Terbagi menjadi 5 Tingkat I II III IV V Adanya kekuatan Hambatan Lingkungan terhadap pertumbuhan populasi organisme dalam kondisi oskilasi dan fluktuasi di sekitar aras keseimbangan umum seperti yang terjadi di daerah III.

hambatan lingkungan berupa makanan. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila populasi A semakin tinggi. Apabila populasi spesies A meningkat. FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang. Berbeda dengan kelompok musuh alami. parasitoid. Laju MortalitasMo rtalitas Populasi Gambar 11. antara lain dengan meningkatnya predasi dan jumlah predator B. atau jumlah pouplasi A menurun dan jumlah makanan menurun. jumlahnya terbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama. 20 . Dengan demikian perubahan populasi spesies A akan selalu diikuti dengan perubahan kepadatan populasi predator B (Gambar 12). Tetapi hal ini tidak berarti bahwa apabila populasi A meningkat kemudian jumlah makanan menjadi meningkat. Sebaliknya apabila populasi spesies A menurun mortalitas oleh predator dan jumlah predator juga menurun.Kalau dihubungkan antara mortalitas yang disebabkan oleh faktor FTK dengan populasi hama misalnya dapat diperoleh garis regresi (Gambar 11). dan demikian juga sebaliknya. dan teritorialitas termasuk dalam FTK yang tidak timbal balik. ruangan. FTK yang timbal balik terutama adalah musuh alami hama seperti predator. jumlahnya terbatas yang ditempati oleh populasi organisme yang saling berkompetisi untuk makanan dan ruang yang sama. dan patogen. Proses FTK di sini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila populasi A semakin tinggi. Timbal balik di sini berarti bahwa hubungan antara populasi dan mortalitas oleh FTK dapat berjalan dari kedua arah. maka mortalitas yang disebabkan oleh predator B akan semakin meningkat. Hubungan antara populasi dan mortalitas yang disebabkan oleh Faktor Tergantung Kepadatan Faktor tergantung kepadatan terbagi menjadi faktor yang timbal balik dan tidak timbal balik. persaingan antar FTK yang tidak timbal balik misalkan makanan dan ruang. persaingan antar individu untuk memperoleh makanan dan ruang semakin kuat sehingga mortalitas A menjadi meningkat.

Komponen Pengendalian Alami yang Tergantung Kepadatan dan Bebas Kepadatan 21 .PENGENDALIAN ALAMI FAKTOR BEBAS KEPADATAN FAKTOR TERGANTUNG KEPADATAN FISIK Tanah Suhu Kebasahan Pergerakan air BIOLOGI Ketersediaan inang Kualitas makanan TIDAK TIMBAL BALIK Makanan Ruang Teritorial TIMBAL BALIK Musuh alami -Parasitoid -Predator -Patogen -Herbivora Gambar 12.

Persediaan Makanan Predator Meningkat Jumlah Predator Meningkat Jumlah Inang Meningkat Jumlah Inang Meningkat Jumlah Inang Termakan Berkurang Jumlah Inang Titik Imbang Predator-Inang Termakan Meningkat Jumalah Inang Berkurang Jumalah Inang Berkurang Jumlah Predator Berkurang Persediaan Makanan Predator Berkurang Gambar 14. Gejolak populasi sekitar aras keseimbangan umum. . Mekanisme Umpan Balik pada Pengaturan Populasi Spesies A oleh Predator Mortalitas FBK POPULASI 22 Gambar 15. dan bekerjanya FTK dan FBK.Popula si FT K Aras Keseimbangan FB K FB K FTK Waktu Gambar 13.

Kondisi fisiko kimia: terkait dengan kondisi fisika dan kimia di tempat serangga hidup termasuk kondisi cuaca. Namun. Vitalitas rendah: kemampuan serangga dalam menghadapi faktor-faktor lingkungan yang jelek seperti cuaca ekstrim 3. Dr. udara. Bila keadaan cuaca sangat menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanganbiakan suatu hama. kebasahan. Kekurangan pakan: serangga hama sangat ditentukan survival dan perkembangannya oleh ketersediaan pangan yang disediakan manusia. Tetapi untuk serangga musuh alami bila tidak tersedia pakan yang sesuai yang menjadi inang atau mangsa akan sangat mempengaruhi survivalnya. Setelah hal itu terjadi faktor FBK akan bekerja mengangkat kembali populasi ke aras keseimbangannya. FBK kadang kala dapat membawa populasi semakin menjauh (lebih atau kurang) dari aras keseimbangan. Faktor abiotik seperti suhu.Hubungan antara populasi organisme dan mortalitas akibat Faktor Bebas Kepadatan. dapat mendorong populasi hama tersebut meningkat cepat menjauhi aras keseimbangannya. Kekurangan tempat berlindung/bernaung: mempengaruhi mortalitas secara tidak langsung 23 . dll. karena FTK seperti musuh alami akan mengencangkan penekanannya sehingga populasi kembali lagi ke aras keseimbangannya. Kecelakaan: adanya peristiwa-peristiwa yang tidak normal (fisiologi dan ekologi) yang dapat mengakibatkan kematian 4. 5. kondisi tanah. Faktor Bebas Kepadatan Faktor Bebas dari Kepadatan (FBK) atau "Density Independent Factor" merupakan faktor mortalitas yang daya penekanannya terhadap populasi organisme tidak tergantung pada kepadatan populasi organisme tersebut. kondisi air. Umur: menjadi tua atau "aging" 2. peningkatan populasi tersebut juga tidak akan berjalan terus. angin merupakan FBK yang penting. CLARK mengelompokkan beberapa penyebab mortalitas (kematian) serangga menjadi 7 kelompok yaitu: 1. Musuh alami: sebagai faktor pengendali alami serangga yang bersifat tergantung kepadatan seperti yang telah dijelaskan 6. Misal bila keadaan suhu tidak sesuai bagi kehidupan serangga dapat mengakibatkan populasi serangga menurun menjauhi garis keseimbangannya. 7.

tetapi juga dapat rendah seperti yang kita harapkan. selalu terjadi keseimbangan populasi organisme termasuk populasi hama. yang secara dinamik bergejolak di sekitar aras keseimbangan populasinya masing-masing. Populasi Mangsa (A) Predator 24 Waktu .Berikut diagram yang menunjukkan pengaruh langsung dan tidak langsung faktor-faktor cuaca. Aras populasi tersebut dapat tinggi. Pengaruh Faktor-faktor Cuaca bagi Kehidupan Serangga Langsung Tak Langsung Individu Populasi Aktivitas Perkembangan Perilaku Fenologi Mortalitas Natalitas Pergerakan Habitat Parasitoid Predator Patogen Makanan Natalitas Mortalitas Pergerakan Dengan demikian dalam jangka waktu panjang di dalam setiap ekosistem. Setiap organisme dalam kondisi ekosistem tertentu memiliki aras keseimbangannya sendiri-sendiri.

Dalam keadaan demikian petani terpaksa menggunakan pestisida lebih sering lagi sehingga dapat meningkatkan kerugian. sehingga dapat membunuh musuh alami. yang dalam jangka panjang dapat menurunkan aras keseimbangan populasi hama. Justru faktor MANUSIA dengan segala tindakannya sangat mempengaruhi dinamika populasi hama sehingga dapat sangat menjauhi aras keseimbangan. Demikian juga jika varietas tanaman yang ditanam adalah varietas peka.Gambar 16. lambat laun aras keseimbangan populasi hama akan meningkat. predator. Aras keseimbangan populasi hama dapat meningkat antara lain dengan penggunaan pestisida yang berlebihan dan kurang tepat. Aras keseimbangan populasi hama dapat juga diturunkan apabila yang terjadi sebaliknya yaitu dengan memasukkan atau melakukan konservasi musuh alami. curah hujan sebagai faktor abiotik serta faktor biotik seperti parasitoid. tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi konsumen dan kualitas lingkungan hidup. Bila aras keseimbangan meningkat maka dapat mengakibatkan populasi hama melebihi AE/AT/AK yang ditetapkan. dll bekerja secara interaktif yang membawa populasi hama berada di sekitar aras keseimbangannya. Salah satu sasaran PHT adalah menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga berada di bawah ambang pengendalian. Manusia dapat mempengaruhi letak aras keseimbangan melalui mekanisme sbb: Dalam mengelola agroekosistem. Populasi Aras Keseimbangan 2 Pestisida Aras Keseimbangan 1 Wakt u 25 . manusia dapat mempengaruhi atau mengubah letak aras keseimbangan umum suatu spesies hama melalui kegiatan pengelolaan agroekosistem. Hubungan antara kepadatan serangga A dan kepadatan predator B Pengaruh Tindakan Manusia terhadap Populasi Hama Faktor-faktor alami seperti suhu. Penggunaan pestisida yang dilakukan terus-menerus dapat mengakibatkan aras keseimbangan hama tersebut akan meningkat melebihi aras keseimbangan sebelumnya (Gambar 17). Peningkatan aras keseimbangan populasi hama dapat juga terjadi sebagai akibat tersedianya makanan hama secara luas dan terus menerus. patogen hama. Tindakan manusia demikian ini akan mendorong bekerjanya pengendali alami di daerah tersebut. pesaing.

pengamatan untuk penyusunan lapangan dan pengamatan untuk pengambilan keputusan. Pengamatan oleh petani Materi: HUBUNGAN PENGAMATAN. PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMANTAUAN Pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi tentang sesuatu obyek yang diamati/dikaji/diteliti. Mempelajari praktek pengamatan dan pelaporan perlindungan tanaman oleh petugas pengamat hama D. Kegiatan pengamatan yang dilakukan secara berkala pada suatu obyek pengamatan tertentu untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan disebut PEMANTAUAN.doc Materi 5 FUNGSI PENGAMATAN DALAM SISTEM PHT Tujuan: A. 129807801. Hubungan antara pemantauan. Mempelajari prinsip-prinsip pengambilan sampel dan pengamatan C. Peranan pengamatan dan pemantauan hama dan ekosistem dalam penerapan sistem PHT adalah seperti bagan berikut: Analisis Ekosistem Pengambil Keputusan Pemantauan Tindakan Pengelolaan EKOSISTEM PERTANIAN Gambar 18. Kegiatan pemantauan dalam PHT merupakan kegiatan utama yang membedakan sistem PHT dengan sistem pengendalian hama secara konvensional.Gambar 17. Peningkatan aras keseimbangan akibat perlakuan pestisida secara terus menerus. Ada beberapa maksud atau tujuan pengamatan yaitu pengamatan untuk pengumpulan data penelitian. Mempelajari fungsi pengamatan dalam sistem PHT B. Pengamatan bisa dilakukan secara berkala maupun insidentil. pengambilan keputusan dan tindakan pengelolaan dalam sistem pelaksanaan PHT 26 .

Misalkan kita ingin mengetahui populasi hama atau kerusakan tanaman dalam satu daerah/lahan yang luasnya 1 hektar. kebasahan. MEMPELAJARI PRINSIP-PRINSIP PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Sampel atau contoh merupakan bagian dari suatu populasi yang diamati. Populasi sampel terdiri dari beberapa unit sampel. populasi musuh alami dan lain-lain.Dari gambar tersebut. Jumlah unit sampel sering kita namakan sebagai ukuran sampel. Jumlah rumpun padi yang diamati 30. populasi hama dan penyakit. Faktor yang mempengaruhi pengambilan sampel: Sifat dan ketrampilan petugas pengamat Keadaan lingkungan setempat Sifat sebaran spasial serangga PENYUSUNAN PROGRAM PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAMATAN Dalam menyusun secara lengkap program pengambilan sampel pada suatu wilayah pengamatan perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menetapkan beberapa kriteria atau ketentuan tentang pengambilan sampel. jenis hama. Mekanik Pengambilan Sampel 1. Dari hasil analisis ekosistem dapat diambil keputusan mengenai tindakan pengendalian atau pengelolaan yang perlu diterapkan pada ekosistem. Desain Pengambilan Sampel 5. seperti petani atau kelompok tani. introduksi musuh alami. baik komponen biotik seperti keadaan tanaman. Hal ini berarti unit sampel adalah rumpun dan ukuran sampel 30. pengendalian dengan pestisida. dan sedapat mungkin tidak mengambil waktu lama. kegiatan pertama yang dilakukan adalah pemantauan ekosistem. mengubah habitatnya. Oleh karena itu. Banyak atau Ukuran Sampel 4. Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangan keadaan ekosistem pada suatu saat yang meliputi perkembangan komponen ekosistem. dll. Hasil pengambilan keputusan segera diterapkan ke lapangan mengenai tindakan pengelolaan atau pengendalian seperti perbaikan budidaya tanaman. Dari informasi yang diperoleh pada sampel kita ingin menduga sifat populasi yang sebenarnya. Pengambil keputusan semakin ke bawah yaitu pada pihak pengelola dari ekosistem pertanian. Ada dua syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik pengamatan dan pengambilan sampel yang dilakukan yaitu praktis. sebagai unit sampel ditetapkan rumpun padi. dan dapat dipercaya. mudah dikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan bahan yang mahal. sampel yang diambil harus dapat mewakili. Hasil pemantauan atau data hasil pemantauan dianalisis antara lain dengan membandingkan data ekosistem dengan nilai AE atau Ambang Kendali. Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yang beragam tergantung pada jenis tanaman. Praktis berarti metode pengamatan yang dilakukan sederhana. dll. Juga komponen abiotik seperti suhu. Unit sampel 27 . Interval Pengambilan Sampel 3. Ketentuan-ketentuan tersebut meliputi penetapan tentang: 1. atau organisme lain yang diamati. tingkat kerusakan tanaman oleh hama. Hasil pengamatan harus dapat dipercaya berarti metode tersebut akan menghasilkan data yang dapat mewakili atau menggambarkan secara benar tentang sifat populasi sesungguhnya. Dalam praktek pengamatan tidak mungkin bagi pengamat mengamati seluruh individu dalam populasi tetapi pengamatan dilakukan pada sebagian kecil populasi yang kita sebut sampel. Unit Sampel 2. curah hujan.

Pola pengambilan sampel sistematik c. dan juga untuk jenis hama yang peningkatan kerusakannya berjalan cepat. dan apa yang ditinggalkan oleh serangga yang menjadi obyek pengamatan atau variabel pengamatan. dll. Ada berbagai jenis unit sampel yang saat ini digunakan dalam praktek pengamatan baik untuk program penelitian atau untuk pengambilan keputusan pengendalian hama. Pola pengambilan sampel purposive atau yang sudah ditentukan Beberapa pola pengambilan sampel yang sering digunakan adalah bentuk: 28 . Ukuran sampel dipengaruhi oleh dua komponen utama yaitu varians (s2) yang menjelaskan distribusi data sampel. Pola acak berlapis b. Tetapi apabila ukuran sampel besar maka biaya pengambilan sampel juga semakin besar. dst. Desain atau pola pengambilan sampel Ada beberapa pola yang dapat digunakan untuk menetapkan unit sampel yang mana dari keseluruhan populasi yang harus diamati yang menjadi anggota sampel. Unit luas permukaan tanah 1 x 1 m2 b. daur hidup serangga yang diamati. analisa statistik akan menghasilkan keputusan yang memiliki ketepatan dan ketelitian rendah. sehingga kualitas dan kegunaan hasil pengamatan diragukan. pelepah daun d. Beberapa variabel pengamatan yang dapat diperoleh dari unit sampel dapat berupa kepadatan atau populasi hama. Dalam bentuk stadia hamanya sendiri. Biasanya unit sampel dikembangkan berdasarkan sifat biologi serangga dan belajar dari pengalaman sebelumnya. tujuan pengambilan sampel. dll. Bagian tanaman seperti rumpun. Demikian juga keadaan ini berlaku bagi komoditas tanaman yang peka terhadap serangan hama seperti kapas. Penentuan ukuran sampel Dalam program pengambilan sampel dan pengamatan. dan biaya pengambilan sampel yang terdiri atas ongkos tenaga dan alat-alat pengambilan sampel. Pada unit tersebut diadakan pengukuran dan penghitungan oleh pengamat terhadap individu serangga yang ada. Untuk serangga yang mempunyai siklus pendek dan kapasitas reproduksi tinggi. 4. batang. Unit volume tanah c. kemudian dikenal: a. Unit sampel dapat berupa: a. intensitas kerusakan. 3. Secara umum dapat dikatakan semakin besar ukuran sampel (n) semakin dapat dipercaya harga penduga parameter populasi. Pola yang paling ideal adalah secara acak (random sampling).Unit sampel merupakan unit pengamatan yang terkecil. Sebaliknya bila unit sampel terlalu sedikit. daun. Sering digunakan untuk evaluasi dalam musuh alami seperti jumlah larva parasit atau larva inang. Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan interval pengamatan antara lain tingkat tumbuh tanaman. faktor cuaca. Penentuan interval pengambilan sampel Interval pengambilan sampel merupakan jarak waktu pengamatan yang satu dengan waktu pengamatan yang berikutnya pada petak pengamatan yang sama. penentuan ukuran sampel atau jumlah unit sampel yang harus diamati pada setiap waktu pengamatan sangat menentukan kualitas hasil pengamatan. 2. populasi musuh alami. interval pengamatan harus pendek agar tidak kehilangan informasi dari lapangan.

sedangkan pelaksanaan pengamatan dilakukan oleh para Petugas Pengamat Hama (PHP) dan penyakit yang ada di daerah yang dikoordinasikan oleh BPTPH yang ada di setiap propinsi. Tidak semua serangga dapat dihitung secara langsung sehingga masih diperlukan peralatan atau alat khusus yang dapat digunakan untuk mengumpulkan individu serangga dan kemudian dihitung jumlahnnya. Pola Diagonal. dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT serta intensitas kerusakan bencana alam. Pola Zigzag. Mekanik Pengambilan Sampel Mekanik pengambilan sampel serangga adalah segala teknik memperoleh. Pada tiga Direktorat Jenderal tersebut terdapat Direktorat Perlindungan Tanaman seperti Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Secara rinci pelaksanaan pengamatan tetap dan pengamatan keliling adalah sbb: a. Untuk tanaman pangan dan hortikultura. Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan. 29 . Pola Lajur tanaman 5. mengumpulkan serta menghitung individu serangga yang diamati atau bahan yang ditinggalkan oleh serangga pada unit sampel yang telah ditentukan. Pengamatan tetap Pengamatan tetap adalah pengamatan yang dilakukan pada petak contoh tetap yang mewakili bagian terbesar dari wilayah pengamatan. Sedangkan untuk perkebunan. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui atau mendeteksi jenis dan kepadatan OPT.A B C Gambar 19. PHP saat ini termasuk dalam kelompok POPT (Pengendali OPT). Direktorat Jenderal Tanaman Hortikultura. Secara fungsional. Mekanik sampel yang sering dilakukan oleh para pengamat kita adalah pengamatan langsung di lapangan. Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh PHP dan petani dengan dua cara yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. intensitas serangan OPT. Dengan informasi tersebut diharapkan petani/kelompok tani bersama petugas dapat mengetahui dan menganalisis secara dini untuk menentukan langkah-langkah penanganan usaha tani. BPTP masih berada di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan atau masih di bawah Pemerintah Pusat. perangkap lampu. PRAKTEK PENGAMATAN DAN PELAPORAN PETUGAS PENGAMAT Di organisasi Departemen Pertanian saat ini ada 3 Direktorat Jenderal yang mempunyai tugas untuk mengumpulkan pelaporan data populasi dan kerusakan OPT di seluruh propinsi. menguntungkan dan aman bagi lingkungan. daerah penyebaran. BPTPH secara struktural berada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat I/Propinsi. yaitu pengamatan tetap dan pengamatan keliling atau patroli. C. Tiga Direktorat Jenderal itu adalah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. sehingga produksi tanaman yang sudah diusahakan tetap pada taraf tinggi. B. curah hujan. Metode Pengamatan Pengamatan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura dilakukan dengan dua cara. Kebijakan dan rekomendasi pelaksanaan dan pelaporan perlindungan tanaman disusun dan dikeluarkan oleh 3 direktorat tersebut. 1. Pola pengambilan sampel A. Hortikultura dan Perkebunan. stasiun meteorologi pertanian khusus.

Perangkap lampu ditempatkan jauh dari faktor-faktor yang akan mempengaruhi banyaknya serangga pengganggu tanaman atau musuh alaminya tertarik cahaya. kepadatan populasi OPT. penyebaran petak contoh pada daerah yang dicurigai terserang. Pengamatan dilakukan setiap hari serta dilaporkan setiap dua minggu. Lampu dinyalakan dari senja sampai fajar. intensitas serangan. 2). b. teknik bercocok tanam. peredaran dan penyimpanan pestisida. penyuluh atau sumber lain yang layak dipercaya. Pengamatan Perangkap lampu Kepadatan populasi OPT dan musuh alami yang efektif yang tertarik cahaya diamati pada satu atau lebih perangkap lampu yang mewakili wilayah pengamatan. stadia pertumbuhan tanaman dan jaraknya terhadap sumber serangan. untuk memperoleh informasi tentang adanya serangan OPT dan kegiatan pengendalian di wilayah kerjanya. Gambar 20. varietas dan tindakan pengendalian yang pernah dilakukan petani. dan varietasnya. Karena itu petak contoh pada masa antara dua musim tanam dapat berpindah sesuai dengan keadaan tanaman yang dapat mewakili wilayah pengamatan. Petak contoh tetap ditempatkan pada lima jenis tanaman dominan. sehingga mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam. diamati lima petak contoh yang terletak pada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongan garis diagonal tersebut (B. C. stadia/umur tanaman.1). Pengamatan petak tetap Pengamatan pada petak contoh tetap bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan. bencana alam serta mencari informasi tentang penggunaan. pengamatan diteruskan pada petak-petak contoh yang dapat mewakili wilayah pengamatan dalam waktu tersebut. Pengamatan keliling atau patroli dilaksanakan dengan menjelajahi wilayah pengamatan. Dengan demikian pada setiap wilayah pengamatan terdapat delapan petak contoh pengamatan tetap. Jumlah rumpun yang diamati tiap unit contoh adalah 10 rumpun/batang. Serangga yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung. Pada masa peralihan antara dua musim tanam. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan daerah yang dicurigai dan mengkonsentrasikan pengamatannya. Komponen-komponen yang diamati adalah luas tanaman terserang. Serangan OPT di daerah yang dicurigai. 30 . PHP disarankan menemui petani/kelompok tani pemandu. Untuk komoditas terluas diamati empat petak contoh tetap sedangkan empat komoditas lainnya masing-masing diamati satu petak contoh. Penentuan daerah yang dicurigai didasarkan pada kerentanan varietas yang ditanam terhadap OPT utama di daerah tersebut. Pengamatan Keliling atau Patroli Pengamatan keliling atau patroli bertujuan untuk mengetahui tanaman terserang dan terancam. luas pengendalian. D dan E) seperti terlihat pada Gambar 20. Sebelum melaksanakan pengamatan. Petak contoh ditentukan secara purposive.

Mula-mula bagilah wilayah pengamatan menjadi 4 strata berdasarkan waktu tanamannya (lihat Gambar 21) 2.Dalam tiap petak contoh diamati 5 unit contoh seperti pada gambar 20. Dari petak contoh itu diamati intensitas serangan OPT. Bagilah masing-masing strata menjadi 2 subwilayah. Untuk pengamatan tetap. kepadatan populasi OPT dan kepadatan populasi musuh alami yang efektif. sehingga setiap petak contoh pengamatan tetap dapat diamati dengan interval waktu satu minggu. Tiap unit contoh diamati 10 rumpun contoh. tempatkan satu petak contoh pengamatan pada masingmasing strata di lokasi yang selalu dilewati saat mengadakan pengamatan keliling di strata tersebut. Hasil pengamatan dan kejadian yang ditemukan pada saat pengamatan keliling dan pengamatan tetap dilaporkan secara rutin pada setiap akhir periode pengamatan. Pembagian subwilayah pengamatan di wilayah kerja PHP Metode Pengambilan Contoh a. 2. sedangkan interval pengamatan keliling dua minggu. Pelaksanaan pengamatan OPT dimulai dari hari senin sampai dengan hari kamis. Adapun pembagian subwilayah adalah sebagai berikut: 1. Tanaman Pangan Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman pangan (padi dan palawija) dilakukan dengan metode diagonal. B. C. Apabila ada informasi bahwa di subwilayah lainnya terjadi serangan OPT maka harus dilakukan pengamatan keliling tambahan. Waktu pengamatan OPT dilakukan 4 (empat) hari setiap minggu kecuali untuk tangkapan perangkap lampu dan penakar curah hujan dilakukan setiap hari. D …… pembagian menurut strata 1. sedang pada periode pelaporan tengah bulan kedua berisi hasil pengamatan minggu ke 3 dan ke-4. seperti terlihat pada Gambar 22. A 1 Senin 1 5 Senin 2 B 2 Selasa 1 6 Selasa 2 C 3 Rabu 1 7 Rabu 2 D 4 Kamis 1 8 Kamis 2 Keterangan: A. Laporan pengamatan tetap pada periode pelaporan tengah bulan pertama berisi hasil pengamatan minggu ke 1 dan ke 2. Jumlah rumpun contoh yang diamati dalam tiap unit contoh adalah sepuluh rumpun/tanaman. sehingga satu wilayah akan terbagi menjadi 8 subwilayah (lihat Gambar 21). Pada pengamatan tetap tiap petak contoh ditentukan tiga unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis diagonal petak contoh (A) dan di pertengahan potongan-potongan garis diagonal yang terpanjang (B dan C). Cara pelaksanaan: Untuk memudahkan pelaksanaan pengamatan keliling dilakukan sesudah pengamatan petak tetap pada subwilayah pengamatan dimana petak tetap itu berada. 31 . 3 … dst … subwilayah Gambar 21.

Pengambilan tanaman contoh ditentukan secara acak (random). b. Cara random dilakukan pada perkebunan rakyat/pekarangan rumah. hias. buah. hias dan obatobatan dan rempah-rempah dilakukan dengan menggunakan petak contoh. Tanaman dengan jumlah sedang : 10 tanaman/rumpun c. Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggap mutlak digunakan rumus sebgai berikut: a I = ----------. Sesuai dengan kebijaksanaan dibidang perlindungan tanaman pangan dan hortikultura dan pembagian wewenang dalam struktur organisasi berlaku. Penilaian Serangan OPT Penilaian terhadap kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan OPT yang sifatnya sangat beragam. Dalam Tiap Unit Contoh Diamati 10 Rumpun Contoh. memberikan anjuran pengendalian. B : Banyaknya contoh yang tidak terserang (tidak menunjukkkan gejala serangan). Tanaman Sayuran Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman sayur-sayuran dilakukan pada 10 tanaman contoh setiap 0. Mantri Tani dan Penyuluh menyuluhkan dan menyebarluaskan kepada petani sebagai dasar pengambilan keputusan kelompok tani. tunas. merencanakan bimbingan pengendalian. Tanaman dominan (terbanyak) : 15 tanaman/rumpun b. yaitu random (acak) dan diagonal. menyusun rencana perlindungan tanaman. melaksanakan pengamatan lebih intensif.1 ha atau 50 tanaman contoh per hektar.X 100% a+b Keterangan: I : Intensitas serangan (%) A : Banyaknya contoh (daun.Gambar 22. tanaman. pucuk. 2. Tanaman Buah-buahan. sedangkan cara diagonal dilakukan (seperti pengambilan contoh pada tanaman padi) pada perkebunan besar. Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura perlu dibuat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan segera dikirim ke instansi yang memerlukannya. memberikan anjuran pengendalian. rumpun tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak. Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura disampaikan oleh PHP kepada Mantri Tani (Mantan) dan instansi vertikal di atasnya. Laporan Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diperlukan untuk menyusun perlindungan tanaman. . Tanaman dengan jumlah sedikit : 5 tanaman/rumpun Tanaman contoh ditentukan dengan 2 (dua) cara. dan bila 32 c. Kerusakan tanaman oleh serangan OPT dapat berupa kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidak mutlak. Oleh karena itu. menyusun bantuan pengendalian. Tanaman yang diamati dibagi 3 kriteria seperti berikut: a. Penyebaran Unit Contoh dalam Petak Contoh. yaitu kecamatan. Obat-obatan dan Rempah-rempah Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman buah-buahan. dan merencanakan penyediaan sarana pengendalian. bunga.

digunakan untuk membina pengendalian OPT dan mempertimbangkan bantuan pengendalian kepada petani apabila dinilai sebagai serangan eksplosi. mereka perlu mengikuti pelatihan khusus yang dilaksanakan secara intensif. Koordinator PHP mengkoordinasikan laporan PHP. Agar petani dapat melakukan kegiatan pemantauan ekosistem. dan Diperta Kabupaten/Kotamadya meneruskan laporan tersebut ke Diperta Propinsi. Sedangkan oleh Diperta Kabupaten/Kotamadya. Dengan demikian petani tidak lagi tergantung pada petugas. kemampuan petugas membimbing petani dalam pengendalian. Laporan PHP yang diterima oleh Mantan diteruskan kepada Camat dan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten/Kotamadya. pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian. 33 .perlu bersama-sama dengan PHP membina petani melaksanakan pengendalian. serta menyusun Laporan Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura di wilayah kerjanya. merencanakan bimbingan dan bantuan. namun yang paling baik secara berkelompok atau merupakan kegiatan kelompok tani. setiap 1 minggu sekali di dalam kegiatan yang disebut SLPHT. PENGAMATAN OLEH PETANI Karena jumlah PHP dan petugas pengamat atau penyuluh di daerah sangat terbatas maka yang paling baik kegiatan pengamatan dilakukan sendiri oleh petani pemilik/penggarap. Petani sendiri yang melakukan kegiatan pemantauan. laporan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun kampanye pengendalian secara massal oleh petani dan bila dibutuhkan/diperlukan bantuan pemerintah berupa pestisida dapat dikeluarkan. Oleh Camat sebagai Ketua Satuan Pelaksana Bimas Kecamatan. laporan serangan OPT yang dilaporkan PHP dari seluruh wilayah pengamatan kabupaten diteruskan ke Diperta Kabupaten/Kotamadya serta laporan lainnya diteruskan ke Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) dan (Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH)/Loka Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (LPTPH)/Satgas BPTPH/LPTPH. Dengan demikian tujuan pelaksanaan kegiatan pengamatan oleh para petugas PHP hanya terbatas pada penyusunan laporan bagi pemda maupun pemerintah pusat tetapi tidak untuk pengambilan keputusan untuk lahan petani dalam menerapkan PHT. Instansi vertikal di atasnya menggunakan laporan tersebut sebagai bahan mengevaluasi keadaan serangan. Petani dapat melakukan pengamatan secara perseorangan/individual. pemerintah.

yang tahan harus dibandingkan dengan sifat tanaman yang tidak tahan atau yang peka. Untuk melihat ketahanan suatu jenis tanaman sifat tanaman.Pengendalian dengan Tanaman Tahan Hama 2. Hal ini berkat kerja keras para ahli hama. Mengenal dan mempelajari komponen PHT . dll yang telah berhasil menemukan dan mengembangkan VUTW. sampai saat ini status swasembada beras semakin sulit dipertahankan. kehidupan dan perkembangbiakan serangga hama menjadi lebih terhambat bila dibandingkan dengan perkembangbiakan sejumlah populasi hama tersebut apabila berada pada tanaman yang tidak atau kurang tahan. Mengenal dan mempelajari pengembangan tanaman transgenik tahan hama 3. 34 . Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat asli (terbawa keturunan faktor genetik) tetapi dapat juga karena keadaan lingkungan yang mendorong tanaman menjadi relatif tahan terhadap serangan hama.doc Materi 6 PENGENDALIAN DENGAN TANAMAN/VARIETAS TAHAN HAMA Tujuan: 1. Saat ini petani telah mengenal banyak VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti dari IRRI (Filipina) dan dari Indonesia sendiri. Penggunaan berbagai varietas padi tahan hama wereng coklat berhasil mengendalikan hama wereng coklat padi di Indonesia yang sejak tahun 1970 menjadi hama padi yang paling penting. 1982). Mekanisme Ketahanan Tanaman Ketahanan atau resistensi tanaman merupakan pengertian yang bersifat relatif. Pada tanaman yang tahan. Pada tahun 1984 Indonesia telah berhasil berswasembada beras. Beberapa ahli membedakan ketahanan tanaman dalam dua kelompok yaitu ketahanan ekologi dan ketahanan genetik (Kogan. 1. pemulia tanaman.129807801. Tanaman yang tahan adalah tanaman yang menderita kerusakan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi hama yang sama dan keadaan lingkungan yang sama. Mengenal dan mempelajari prinsip-prinsip karantina tumbuhan dan sistem karantina pertanian di Indonesia Materi: Pengendalian hama dengan cara menanam tanaman yang tahan terhadap serangan hama telah lama dilakukan dan merupakan cara pengendalian yang efektif. dan kurang berbahaya bagi lingkungan. Di luar tanaman padi penggunaan varietas tahan hama masih terbatas karena belum banyak tersedia varietas atau jenis tanaman yang memiliki ketahanan tinggi terhadap hama-hama tertentu. Namun sayangnya karena berbagai faktor. murah. agronomi. Kontribusi varietas unggul tahan hama bagi keberhasilan Indonesia berswasembada beras sangat besar.

2) antibiosis dan 3) toleran. Pengelakan Inang Pengelakan inang terjadi bila waktu pemunculan fase tumbuh tanaman tertentu tidak bersamaan dengan waktu pemunculan stadia hama yang aktif mengkonsumsikan tanaman. Menurut Painter (1951) terdapat 3 mekanisme resistensi tanaman terhadap serangga hama yaitu 1) ketidaksukaan. 3. Menurut Kogan (1982) istilah yang lebih tepat digunakan untuk sifat ini adalah antixenosis yang berarti menolak tamu (xenosis = tamu). a. bersifat sementara atau tetap. Hal ini disebabkan sifat ketahanan ekologi tidak tetap dan mudah berubah tergantung pada keadaan lingkungannya. Ketidaksukaan/antixenosis Nonpreference merupakan sifat tanaman yang menyebabkan suatu serangga menjauhi atau tidak menyenangi suatu tanaman baik sebagai pakan atau sebagai tempat peletakan telur. sebagai akibat kegiatan serangga memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman tertentu. Antixenosis dapat dikelompokkan menjadi penolakan kimiawi atau antixenosis kimiawi dan penolakan morfologi atau antixenosis morfologik. sedangkan sifat ketahanan genetik relatif stabil dan sedikit dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Sifat ketahanan ini biasanya merupakan sifat sementara dan dapat terjadi pada tanaman yang sebenarnya peka terhadap serangan hama tertentu. Oleh karena sifatnya yang tidak tetap. ketahanan dorongan (induced resistance) dan inang luput dari serangan (host escape). ahli pemulia tanaman tidak mengakui sifat ini sebagai sifat ketahanan tanaman yang sesungguhnya. b. 35 . Ketahanan Ekologi Ketahanan Ekologi atau dengan istilah lain ketahanan yang kelihatan (apparent resistance) atau ketahanan palsu (pseudo resistance) merupakan sifat ketahanan tanaman yang tidak dikendalikan oleh faktor genetik tetapi sepenuhnya disebabkan oleh faktor lingkungan yang memungkinkan kenampakan sifat ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Gejala penyimpangan fisiologi terlihat apabila suatu serangga dipindahkan dari tanaman tidak memiliki sifat antibiosis ke tanaman yang memiliki sifat tersebut. c. Antibiosis Antibiosis adalah semua pengaruh fisiologi pada serangga yang merugikan. Toleran Mekanisme resistensi toleran terjadi karena adanya kemampuan tanaman tertentu untuk sembuh dari luka yang diderita karena serangan hama atau mampu tumbuh lebih cepat sehingga serangan hama kurang mempengaruhi hasil. 2. Ada 3 bentuk ketahanan ekologi yaitu pengelakan inang (host evasion). dibandingkan dengan tanaman lain yang lebih peka.Ahli lain menganggap ketahanan ekologi bukan merupakan ketahanan sebenarnya dan disebut ketahanan palsu atau pseudo resistance sedangkan yang disebut sifat ketahanan tanaman adalah ketahanan genetik. Penyimpangan fisiologi tersebut berkisar mulai dari penyimpangan yang sedikit sampai penyimpangan terberat yaitu terjadinya kematian serangga. a. Ketahanan Genetik Sampai saat ini klasifikasi resistensi genetik menurut Painter yang banyak diikuti oleh para pakar.

Di dunia Internasional tanaman transgenik tahan hama yang telah dikembangkan meliputi tanaman kapas. Penetapan mekanisme ketahanan. b. c. e. kultur sel dan jaringan. g. Penyilangan sifat ketahanan dengan sifat agronomi lainnya sehingga dapat diperoleh varietas yang lebih unggul. regenerasi tanaman dan antibodi monoklonal. diperbanyak dan digunakan di Indonesia saat ini masih merupakan hasil teknologi pemuliaan tanaman secara tradisional yang telah diuraikan sebelumnya. tetapi pada suatu saat tanaman tersebut tidak terserang meskipun populasi hama di sekitarnya pada waktu itu cukup tinggi. Analisis genetik terhadap sifat ketahanan. kentang. Beberapa kegiatan utama dalam melakukan perolehan dan pengembangan guna memperoleh varietas tahan hama yang baru adalah sebagai berikut: a. Beberapa bioteknologi yang telah dikembangkan diantaranya rekayasa genetika yang mencakup rekombinasi DNA. Pelepasan varietas tahan hama yang baru. Ketahanan Dorongan Sifat ketahanan ini timbul dan didorong oleh adanya keadaan lingkungan tertentu sehingga tanaman mampu bertahan terhadap serangan hama. Identifikasi dasar-dasar kimia dan fisika sifat ketahanan. Ketahanan dorongan ini terjadi antara lain akibat adanya pemupukan dan irigasi serta teknik budidaya yang lain. jagung. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi akhir-akhir ini tidak menutup kemungkinan penerapan bioteknologi modern dalam bidang pertanian untuk dapat menghasilkan varietas tahan hama. Pengujian lapangan multi lokasi. f. Tanaman hasil rekayasa genetika yang selanjutnya disebut tanaman transgenik dapat direkayasa memiliki sifat ketahanan terhadap jenis hama tertentu. Berbagai tanaman tersebut telah disisipi gen yang berasal dari bakteri Bt sehingga tahan terhadap jenis hama tertentu.b. pemindahan gen. 4. c. Inang Luput dari Serangan Sering dialami pada suatu tempat tertentu ada suatu kelompok tanaman yang sebenarnya memiliki sifat peka terhadap suatu jenis hama. Salah satu sifat unggul tanaman transgenik adalah ketahanan terhadap hama setelah tanaman tersebut disisipi dengan gen toksik yang berasal dari Bacillus thuringiensis (Bt). Aplikasi bioteknologi pertanian memberikan peluang yang sangat baik terhadap perkembangan kualitas maupun kuantitas produk-produk pertanian. Sebagian besar varietas tahan hama yang dilepaskan. manipulasi dan pemindahan embrio. d. PENGEMBANGAN VARIETAS TAHAN DENGAN BIOTEKNOLOGI Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional banyak dikaji dan telah diperoleh hasil yang menggembirakan. Identifikasi sumber ketahanan. Penggunaan varietas tahan terbukti mampu mengurangi tingkat serangan hama sehingga hasil panen dapat meningkat. Aplikasi pemindahan gen dengan teknik biologi molekuler dengan sasaran memperoleh sifat-sifat tertentu dapat dilakukan lebih cepat. Sampai akhir tahun 2003 di Indonesia hanya satu varietas kapas Bt yang telah diijinkan dan dilepaskan secara terbatas di Sulawesi Selatan. Hal tersebut tidak berarti bahwa tanaman tersebut tahan terhadap serangan hama tetapi tanaman tersebut sedang dalam keadaan luput dari serangan hama. Langkah Pengembangan Varietas Tahan Pengembangan varietas tahan hama secara konvensional dilakukan melalui penerapan teknologi pemuliaan tanaman tradisional dengan melakukan persilangan tanaman. dengan ketepatan yang tinggi serta perolehan spektrum sifat yang jauh lebih lebar daripada hasil pemuliaan tanaman konvensional. 36 .

e. 4. Misal tanaman kapas Bt telah disisipi dengan gen cry1Ac untuk mengendalikan hama penggerek buah kapas Helicoverpa virescens. Tanaman kapas Bt memproduksi toksin secara terus-menerus sehingga serangga peka yang hidup dalam jaringan tanaman akan mati kalau memakan jaringan tersebut. Variasi hasil 5. Keterbatasan Sumber Ketahanan c. 2. Ketergantungan pada industri benih transgenik 37 . b. Tanaman transgenik akan terlindung dari serangan hama selama racun protein masih terus diproduksi. Risiko bagi kesehatan 8. Gen Bt yang menyandi protein delta-endotoksin telah dapat disisipkan ke dalam tanaman untuk pengendalian hama tertentu.Perkembangan bioteknologi telah memungkinkan ilmuwan untuk mentransformasikan gen Bt yang dikehendaki ke dalam genom berbagai jenis tanaman pertanian. Sifat Ketahanan yang Berlawanan KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TANAMAN TRANSGENIK TAHAN HAMA Kelebihan 1. 5. Penggunaannya praktis dan secara ekonomi menguntungkan Sasaran pengendalian yang spesifik Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persisten Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya Dampak negatif terhadap lingkungan terbatas Kekurangan Beberapa keterbatasan atau permasalahan yang perlu kita ketahui antara lain: a. Pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran 3. suatu jenis tanaman transgenik tahan hama hanya dapat mengendalikan jenis-jenis hama tertentu. c. Waktu dan Biaya Pengembangan b. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil Penurunan penggunaan pestisida kimia Penurunan biaya pengendalian Pengendalian hama secara selektif Penurunan populasi hama dalam areal yang luas Keterbatasan Tanaman Transgenik 1. Resistensi hama terhadap toksin 2. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN VARIETAS TAHAN HAMA KONVENSIONAL Kelebihan a. Pengembalian investasi tidak terjamin 7. d. Timbulnya Biotipe hama d. Pengurangan keanekaragaman hayati 4. 3. Kepekaan terhadap jenis hama lain 6. Karena racun protein yang dihasilkan hanya aktif bagi beberapa jenis serangga tertentu.

Pembebasan Kasus “kebobolan” masuknya hama baru di Indonesia: 38 . OPTK Golongan I yaitu OPTK yang tidak dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. mencegah tersebarnya dari suatu area ke area lain. OPTK golongan II. 3. serta menentukan syarat-syarat dan tindakan karantina tumbuhan yang sesuai guna mencegah masuk dan tersebarnya OPT tersebut. Penahanan 6. sekarang telah ditemukan adanya organisme tertentu yang dahulunya tidak ada. dan mencegah keluarnya dari wilayah negara RI. OPTK golongan I. dan atau OPT Penting. Tindakan Karantina: 1. b. OPTK Golongan II yaitu semua OPTK yang dapat dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan. Penolakan 7. atau OPT Penting. 4. Pemeriksaan 2. Karantina Ikan 3. Ikan. dan Tumbuhan 2. OPTK Golongan II a. Sertifikat Kesehatan Karantina (Phytosanitary Certificate) adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT. OPTK adalah semua organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian untuk dicegah masuknya ke dalam dan tersebarnya di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.KARANTINA PERTANIAN Tujuan karantina pertanian adalah mencegah masuknya hama dan penyakit hewan. Pengasingan 3. Karantina Hewan 2. OPTK. Karantina Tumbuhan Kita memiliki dasar hukum untuk karantina yaitu: 1. atau cara untuk membebaskannya belum dapat dilakukan di Indonesia. Pemusnahan 8. Perlakuan 5. hama dan penyakit ikan. PP No 14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan KARANTINA TUMBUHAN Pengertian penting: 1. Pengamatan 4. Tidak dapat dibebaskannya OPT tersebut karena sifatnya memang tidak dapat dibebaskan. c. Karantina Pertanian terdiri dari: 1. Organisme Pengganggu Tumbuhan karantina (OPTK) yang terdiri dari OPTK Golongan I. atau belum diketahui cara untuk membebaskannya. UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan. 2. Kawasan Karantina adalah kawasan yang semula diketahui bebas dari hama dan penyakit tumbuhan karantina. Analisis Risiko Hama dan Penyakit Tumbuhan (Pest Risk Analysis/PRA) adalah suatu proses untuk menetapkan bahwa suatu OPT merupakan OPTK. serta organisme pengganggu tumbuhan ke wilayah negara RI.

Apabila musuh alami kita berikan kesempatan berfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami.1. Banyak hama di Indonesia berhasil dikendalikan dengan memasukkan musuh alami terutama sebelum tahun 1950-an sewaktu pestisida belum banyak digunakan oleh petani. Keong/siput mas 2. Salah 39 . memperbanyak dan melepaskannya. musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami. Meskipun praktek pengendalian hayati telah dilakukan ratusan tahun yang lalu di daratan Cina. Adanya populasi hama yang meningkat sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karena keadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untuk menjalankan fungsi alaminya. pengendalian hayati yang pertama kali didokumentasikan ialah pada tahun 1762.doc Materi 7 PENGENDALIAN HAYATI Parasitoid dan Predator Tujuan: 1. Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. ketika burung Mynah dibawa dari India ke Mauritius untuk memangsa hama belalang. predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yang bekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan perkembangbiakan hama. Nematoda Sista Kuning 129807801. Amerika Serikat dengan mengintroduksikan predator dari Australia yaitu kumbang vedalia. Secara ilmiah keberhasilan pengendalian hayati pertama yang tercatat adalah pengendalian hama kutu berbantal pada kapas Icerya purchasi di California. Pengorok daun kentang 3. Rodolia cardinalis pada tahun 1888. Mempelajari manfaat dan masalah yang dihadapi dalam penerapan pengendalian hayati Materi: LATAR BELAKANG Pengendalian hayati sebagai komponen utama PHT pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Mempelajari prinsip dan teknik pengendalian hayati sebagai salah satu komponen dalam sistem PHT 2. Setelah keberhasilan tersebut kemudian ratusan jenis hama telah berhasil dikendalikan dengan cara hayati. Mempelajari agens pengendalian hayati yang berupa parasitoid dan predator 3. Musuh alami yang terdiri atas parasitoid.

Parasitoid 40 . Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alami tidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. Ada beberapa ahli yang meluaskan pengertian pengendalian hayati sebagai usaha pengendalian hama yang mengikutsertakan organisme hidup. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut "musuh alami". nematoda. invertebrata di luar serangga. Dari tahun 1950 sampai 1970an pengendalian hayati pamornya berkurang akibat penggunaan pestisida kimia yang sangat dominan di seluruh dunia. Pengendalian Alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia. tetapi juga oleh komponen ekosistem lainnya seperti makanan. AGENS PENGENDALIAN HAYATI Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesies serangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerang organisme lain. dan penggunaan serangga mandul dimasukkan sebagai bagian teknik pengendalian hayati. BEBERAPA PENGERTIAN Agar tidak timbul kerancuan lebih dahulu perlu dibedakan pengertian tentang pengendalian hayati (biological control) dan pengendalian alami (natural control) yang seringkali dibicarakan bersama. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan serangga sendiri. Selanjutnya pada 1975 telah diintoduksikan kumbang moncong Neochetina eichhorniae dari Flores ke Bogor untuk pengendalian eceng gondok. Untuk selanjutnya dalam kuliah kita gunakan pengertian pengendalian hayati yang pertama. Hampir semua kelompok organisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata. predator. 1. Dengan munculnya konsepsi PHT pengendalian hayati kembali diharapkan menjadi tumpuan teknologi pengendalian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekologi maupun ekonomi. De Bach tahun 1979 mendefinisikan Pengendalian Hayati sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alami sehingga kepadatan populasi organisme tersebut berada di bawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian. Introduksi kumbang Curinus coreolius dari Hawai dilakukan untuk mengendalikan hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp tahun 1986. manipulasi genetik. Pengendalian alami terjadi tidak hanya oleh karena bekerjanya musuh alami. Varietas tahan hama. Pengendalian Hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau mengendalikan populasi hama. Juga hama ulat daun kubis (Plutella xylostella) di Jawa Barat berhasil dikendalikan oleh parasitoid Diadegma sp. Dilihat dari fungsinya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat kita kelompokkan menjadi parasitoid.satu jenis hama adalah hama belalang pedang Sexava sp yang menyerang kelapa yang dapat berhasil dikendalikan oleh parasitoid telur Leefmansia bicolor di Sulawesi Utara. Pembiakan massal parasitoid telur Trichogramma spp dan lalat Jatiroto (Diatraeophaga striatalis) sangat membantu mengendalikan serangan penggerek batang tebu pada tahun 1972. dan cuaca. dan patogen. jasad renik. Introduksi parasitoid telur Chelonus sp dari wilayah Bogor ke Flores untuk mengendalikan ngengat mayang kelapa (Batracedra spp).

Karena itu kemudian diberikan istilah baru yaitu parasitoid yang lebih banyak digunakan dalam entomologi pertanian. Dengan demikian parasitoid adalah serangga yang hidup dan makan pada atau dalam serangga hidup lainnya sebagai inang. Apanteles artonae memarasit larva Chilo 41 . dan beberapa famili yang termasuk Chalcidoidea. Lepidoptera. Untuk dapat mencapai fase dewasa suatu parasitoid hanya memerlukan satu inang. Satu inang diparasit oleh satu individu parasitoid. Inang tidak menerima faedah apapun dari hubungan ini.Perlu sedikit penjelasan antara istilah parasitoid dan parasit. Ada spesies parasitoid yang dapat melengkapi siklus hidupnya sampai fase dewasa pada satu inang. Inang akan mati jika perkembangan hidup parasitoid telah lengkap. Hymenoptera. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya sedangkan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. penggerek batang padi kuning dan penggerek batang padi putih. Banyak jenis lebah Ichneumonid merupakan parasitoid soliter. dan banyak lebah Braconid dan Chalcidoid yang merupakan parasitoid gregarius. Serangan parasit dapat melemahkan inang dan akhirnya dapat membunuh inangnya karena parasitoid makan atau mengisap cairan tubuh inangnya. Jumlah imago yang keluar dari satu tubuh inang dapat banyak sekali. Imago parasitoid muncul dari kokon pada waktu yang tepat untuk kemudian meletakkan telur pada tubuh inang bagi perkembangan generasi berikutnya. Neuroptera. Famili-famili dalam ordo Hymenoptera yang terbanyak mengandung parasitoid adalah Ichneumonidae. beberapa parasitoid menyerang pupa dan sangat jarang yang menyerang imago. Oleh induk parasitoid telur dapat diletakkan pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositornya telur langsung dimasukkan dalam tubuh inang. dan Strepsiptera. Enam ordo serangga yang meliputi 86 famili anggota-anggotanya tercatat sebagai parasitoid yaitu Coleoptera. Misalnya kasus cacing pita pada manusia dan caplak pada binatang. Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang artropoda yang lain. Diptera. Parasitoid gregarius adalah jenis parasitoid yang beberapa individu dapat hidup bersama-sama dalam tubuh satu inang. Contoh parasitoid gregarious adalah Tetrastichus schoenobii. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan inangnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat berada di luar tubuh inang (sebagai ektoparasitoid) atau sebagian besar dalam tubuh inang (sebagai endoparasitoid). Sedangkan dalam ordo Diptera famili Tachinidae merupakan famili yang terpenting. Larva parasitoid yang sudah siap menjadi pupa keluar dari tubuh larva inang yang sudah mati kemudian memintal kokon untuk memasuki fase pupa parasitoid. memperoleh keperluan zat-zat makanannya dari fisik tubuh yang lain. Instar dewasa merupakan instar serangga yang paling jarang terparasit. Parasitoid semacam ini disebut parasitoid soliter merupakan suatu spesies parasitoid yang perkembangan hidupnya terjadi pada satu tubuh inang. Serangga yang bersifat parasit yang pada akhirnya menyebabkan kematian inangnya tidak tepat bila dimasukkan ke dalam definisi parasit. Tetrastichus schoenobii memiliki kemampuan memarasit kepompong penggerek batang padi bergaris. Fase inang yang diserang pada umumnya adalah telur dan larva. yaitu inang. Contoh parasitoid soliter antara lain Charops sp (famili Ichneumonidae). meskipun biasanya tidak dibinasakan. Contoh ektoparasit adalah Campsomeris sp yang menyerang uret sedangkan Trichogramma sp yang memarasit telur penggerek batang tebu dan padi merupakan jenis endoparasit. Parasitisme adalah hubungan antara dua spesies yang satu yaitu parasit. Parasitoid dapat menyerang setiap instar serangga. Braconidae. Parasitoid adalah binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya. Parasit hidup pada atau di dalam tubuh inang. Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inang yang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. Namun dua ordo parasitoid yang terpenting yaitu Hymenoptera dan Diptera. Istilah parasit lebih sering digunakan dalam entomologi kesehatan.

sebagian besar kasus adalah pelepasan serangga parasitoid. Agar pengendalian hayati dengan parasitoid berhasil siklus hidup dan fenologi hama dan inang perlu dipelajari dan diketahui lebih dahulu. Fenomena serangga parasitoid menyerang parasitoid lain sebagai inangnya disebut hiperparasitasi sedangkan parasitoid tersebut disebut hiperparasitoid. parasitoid yang paling sering berhasil mengendalikan hama apabila dibandingkan dengan kelompok-kelompok agens pengendalian hayati lainnya. Daya cari parasitoid terhadap inang seringkali dipengaruhi oleh keadaan cuaca atau faktor lingkungan lainnya yang sering berubah. b. Brachymeria sp yang menyerang kepompong Charops sp merupakan salah satu contoh hiperparasitasi. Keuntungan atau kekuatan pengendalian hama dengan parasitoid adalah: a. 2. c. Adanya parasitoid sekunder perlu diperhitungkan dalam setiap usaha pengendalian hayati dengan menggunakan predator atau parasitoid. parasitoid tersebut tidak akan dapat melanjutkan fungsinya sebagai pengendali populasi hama. c. Apabila kelompok parasitoid yang memarasit hama disebut parasitoid primer maka kelompok hiperparasitoid disebut parasitoid sekunder. Parasitoid yang memiliki daya cari tinggi biasanya menghasilkan telur sedikit. membunuh atau memangsa binatang lainnya. Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi yang rendah. Parasitoid Trichogrammatoidea batrae-batrae cukup efektif memparasit telur penggerek polong kedelai (Etiella spp). Namun keberhasilan semua teknik pengendalian hayati dengan parasitoid sangat ditentukan oleh sinkronisasi antara fenologi inang dan fenologi parasitoid di lapangan. Bila sewaktu induk parasitoid akan meletakkan telurnya tetapi tidak tersedia fase inang yang tepat. Predator Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan. d. Kelanjutan hidup parasitoid sangat ditentukan oleh ketersediaan fase inangnya yang tepat. b. Selama ini dari sekian banyak kelompok agens pengendalian hayati. Di samping kekuatan pengendalian dengan parasitoid beberapa kelemahan atau masalah yang biasanya dihadapi di lapangan dalam menggunakan parasitoid sebagai agens pengendalian hayati adalah: a. Parasitoid hanya memerlukan satu atau sedikit individu inang untuk melengkapi daur hidupnya. predator atau pemangsa 42 . Sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit.sp dan Artona catoxantha. Sifat ini mengakibatkan populasi parasitoid memiliki respons numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya. Misalkan untuk introduksi dan pelepasan parasitoid di lapangan perlu diketahui banyak hal kecuali fenologi inang dan parasitoid juga tentang pengaruh berbagai faktor lain seperti cuaca dan tindakan manusia terhadap fenologi dan perkembangan populasi parasitoid dan inangnya. Apabila parasitoid memarasit inang. Serangga betina yang berperan utama karena mereka yang melakukan pencarian inang untuk peletakan telur. Parasitoid sekunder masih mungkin diserang oleh parasitoid tersier. Daya kelangsungan hidup ("survival") parasitoid tinggi. Dari 4769 kasus pelepasan agens pengendalian hayati yang tercatat di dunia. Fase larva parasitoid hanya dapat hidup pada fase hidup inang tertentu terutama telur dan larva. Perlu dicatat di sini bahwa tidak semua parasitoid primer berguna untuk pengendalian hayati antara lain parasitoid primer yang menyerang serangga herbivora digunakan pengendalian hayati gulma. hanya 1023 menggunakan predator. Serangga predator dan serangga parasitoid juga memiliki musuh alami yang berupa parasitoid. Pertanaman pisang yang terserang Erionata thrax dapat dikendalikan oleh parasitoid Xanthopimpla sp.

Sifat pengaturan populasi mangsa secara tergantung kepadatan lebih nampak pada predator yang bersifat oligofag. Kepinding air (Hemiptera: Vellidae). Parasitoid umumnya monofag atau oligofag. Predator umumnya dibedakan dari parasitoid dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. undurundur (Neuroptera: Chrysopidae). Anggang-anggang (Hemiptera: Gerridae). dll. Sifat polifag memberikan keuntungan bagi predator yaitu bila populasi jenis mangsa utama tertentu rendah. kekuatan yang lebih besar. Hymenoptera. Predator memangsa dan membunuh mangsa secara langsung sehingga harus memiliki daya cari yang tinggi. Predator dan parasitoid mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Diptera. belalang tanduk panjang (Orthoptera: Tettigonidae). d. tetapi predator betina dan jantan dan juga fase pradewasa semuanya dapat mencari dan memperoleh mangsa. Ordo-ordo tersebut adalah Coleoptera. Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian hayati kedua agens tersebut harus dimanfaatkan 43 . contohnya semut yang mampu membawa mangsa secar berkelompok. b. kepik buas (Hemiptera: Reduviidae). memiliki kelebihan sifat fisik yang memungkinkan predator mampu membunuh mangsanya Beberapa predator dilengkapi dengan kemampuan bergerak cepat. Keberhasilan pengendalian hayati memang sulit untuk diduga dan dianalisis secara tepat karena kerumitan dan dinamika agroekosistem. Namun hal itu tidak berarti bahwa predator kurang dapat difungsikan sebagai agens pengendalian hayati. semut (Hymenoptera: Formicidae) dan dari golongan laba-laba harimau (Araneae: Lycosidae). emigrasi.memakan mangsa. f. Predator memiliki daya tanggap rendah terhadap perubahan populasi mangsa sehingga fungsinya sebagai pengatur populasi hama umumnya kurang terutama untuk predator yang polifag. Dari sekian banyak usaha pengendalian hayati yang selama ini berhasil dilakukan di dunia lebih banyak menggunakan parasitoid daripada predator. jangkerik (Orthoptera: Gryllidae). dan Hemiptera. Sebagian besar predator mempunyai banyak pilihan inang sedangkan parasitoid mempunyai sifat tergantung kepadatan yang tinggi. c. dan proses mortalitas. rasa lapar. Hampir semua ordo serangga mempunyai spesies yang menjadi predator serangga lain. waktu penanganan mangsa. taktik penangkapan mangsa yang lebih baik daripada taktik pertahanan mangsa. Namun ada beberapa predator yang memiliki ukuran tubuh yang tidak lebih besar daripada mangsanya. Predator umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan mangsanya. Parasitoid yang mencari inang adalah hanya serangga dewasa betina. Neuroptera. Selama ini ada beberapa ordo yang anggota-anggotanya banyak merupakan predator yang digunakan dalam pengendalian hayati. predator pada umumnya mempunyai banyak inang atau bersifat polifag meskipun ada juga jenis predator yang monofag dan oligofag. tetapi predator memerlukan banyak mangsa baik fase pradewasa maupun fase dewasa. Hal ini berbeda dengan sinkronisasi parasitoid dan inang. mata besar (capung). Beberapa famili predator yang terkenal adalah kumbang kubah (Coleoptera: Coccinellidae). Sinkronisasi fenologi predator dan mangsa tidak merupakan permasalahan utama bagi keberhasilan pemanfaatan predator sebagai agens pengendali hayati. kompetisi antar predator. kecepatan pencernaan. Untuk memenuhi perkembangannya parasitoid memerlukan hanya satu inang umumnya fase pradewasa. e. Respons numerik predator terhadap perubahan populasi mangsa dinampakkan dalam bentuk perubahan reproduksi. kumbang tanah (Coleoptera: Carabidae). imigrasi. Respons fungsional predator dalam bentuk perubahan proses fisiologi dan perilaku seperti daya cari. dengan mudah predator tersebut mencari mangsa alternatif untuk tetap mampu mempertahankan hidupnya. Banyak ahli yang mempersoalkan tentang efektivitas predator sebagai agens pengendalian hayati apabila dibandingkan dengan parasitoid. memiliki daya jelajah yang jauh serta dilengkapi dengan organ tubuh yang berkembang dengan baik untuk menangkap mangsanya seperti kaki depan belalang sembah (Mantidae). capung jarum (Odonata: Coenagrionidae).

Juga pemasukan parasitoid Tetrastichus brontispae dari pulau Jawa ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara dapat berhasil menekan populasi hama kelapa Brontispa longissima. Di Indonesia pengendalian dengan introduksi parasitoid yang berhasil antara lain introduksi parasitoid Pediobius parvulus dari Fiji pada sekitar tahun 1920-an ke Indonesia yang ditujukan untuk pengendalian hama kumbang kelapa Promecotheca reichei. dan keadaan ekosistem setempat. dan konservasi. sifat biologi dan ekologi spesies hama dan musuh alami yang akan diintroduksikan. substansial maupun parsial. Meskipun telah banyak usaha introduksi musuh alami yang berhasil dilakukan tetapi untuk menjelaskan teori dasar teknik introduksi tersebut sangat sulit karena kerumitan mekanisme dan susunan ekosistem pertanian. Keberhasilan penggunaan teknik introduksi dimulai dengan introduksi kumbang vedalia. Pengiriman parasitoid dan predator dari negeri asal mengikuti peraturanperaturan yang berlaku di negara asal maupun di Indonesia 44 . Parasitoid telur Leefmansia bicolor pernah dimasukkan dari pulau Ambon ke pulau Talaud. Di daerah asal hama tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi petani karena populasinya telah dapat diatur dan dikendalikan oleh agens musuh alami setempat. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan urutan sbb: a. Usaha introduksi bertujuan untuk mencari musuh alami hama tersebut di daerah asalnya dan memasukkannya ke daerah baru. PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PARASITOID DAN PREDATOR Praktek pengendalian yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu introduksi. Di Indonesia kasus yang paling baru terjadi pada tahun 1986-1990 yaitu introduksi predator Curinus coreolius dari Hawaii untuk pengendalian hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp. 1981). augmentasi. Introduksi Teknik introduksi atau importasi musuh alami seringkali disebut sebagai praktek pengendalian hayati klasik. Sampai saat ini upaya introduksi musuh alami ada juga yang berhasil mengendalikan hama secara berlanjut meskipun hanya dilandasi dengan metode cobacoba atau metode "trial and error". Pada waktu itu diketahui bahwa hama kutu jeruk tersebut berasal dari benua Australia. Hal ini disebabkan karena pada tahap permulaaan sebagian besar usaha pengendalian hayati menggunakan teknik tersebut.secara optimal berdasarkan pada informasi dasar yang mencukupi tentang berbagai aspek biologi dan ekologi kedua kelompok agens pengendalian hayati tersebut. agar teknik ini berhasil diperlukan banyak usaha persiapan dan studi yang mendalam terutama tentang sifat penyebaran. juga parasitoid Chelonus sp dimasukkan dari Bogor ke pulau Flores untuk mengendalikan hama bunga kelapa Batrachedra (Kalshoven. Mengingat introduksi musuh alami termasuk dalam rekayasa biologi. Pada beberapa daerah dilaporkan bahwa parasitasi dapat mendekati 100%. Meskipun ketiga teknik pengendalian hayati tersebut berbeda dalam sasaran dan tekniknya tetapi dalam pelaksanaan pengendalian hayati sering digunakan secara bersama. Penjelajahan atau eksplorasi di negeri asal terutama mengenai habitat asal spesies eksotik yang akan diimpor b. Ada beberapa langkah klasik yang perlu ditempuh apabila untuk melakukan introduksi musuh alami pada suatu tempat. Namun untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pengendalian pendekatan semacam itu tidak dianjurkan. Rodolia cardinalis dari benua Australia ke California untuk mengendalikan hama kutu perisai Icerya purchasi yang menyerang perkebunan jeruk di California. Keberhasilan teknik introduksi ini kemudian dicobakan pada hama-hama lain dan banyak juga yang berhasil baik secara lengkap.

Sekali telah menetap di suatu tempat. mapan dan akan berumur panjang sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi dan lingkungan yang maksimal. Agens pengendalian hayati yang dipilih biasanya sudah mengkhususkan diri terhadap hama sasaran dan tidak/sedikit berdampak negatif bagi organisme lain. Semua pihak diuntungkan baik petani kaya maupun petani miskin. Pelepasan periodik menurut Stehr (1982) dapat dibedakan dalam 3 bentuk tergantung pada maksud dan frekuensi pelepasan serta sumber musuh alami yang dilepaskan. Tidak perlu lagi tindakan-tindakan pengendalian hama lainnya baik oleh petugas lapangan maupun petani. Karena itu pelepasan musuh alami secara augmentatik harus dilakukan secara periodik. Pelepasan sejumlah populasi musuh alami di ekosistem secara teknik augmentasi sebetulnya sama juga dengan pelepasan musuh alami dengan teknik introduksi. b. Dari perhitungan manfaat dan biaya (Benefit Cost) sangat menguntungkan dibandingkan penggunaan pestisida Augmentasi Teknik augmentasi atau teknik peningkatan merupakan aktivitas pengendalian hayati yang bertujuan meningkatkan jumlah musuh alami atau pengaruhnya. agens pengendali tersebut akan berkembang sendiri dan tidak diperlukan pemasukan yang berulang-ulang. Pelepasan dan pemapanan parasitoid dan predator yang diimpor sesuai dengan kondisi ekologi yang menguntungkan kehidupan dan perkembangan agens pengendalian hayati f. d. sedangkan pelepasan introduksi menggunakan musuh alami yang dimasukkan dari luar ekosistem. Keuntungan penggunaan pengendalian hayati klasik dengan intorduksi adalah: a. c. Pelepasan musuh alami di sini dimaksudkan agar secara teratur peranan dan kondisi musuh alami tetap dipertahankan dan ditingkatkan.c. Perbanyakan parasitoid dan predator di laboratorium yang memenuhi syarat baik fasilitas maupun SDMnya e. Karantina pasca masuk parasitoid dan predator yang diimpor di dalam negeri sesuai peraturan dan prosedur karantina yang berlaku di Indonesia d. Secara periodik populasi musuh alami berkurang 45 b. dengan melepaskan sejumlah tambahan musuh alami ke ekosistem agar dengan tambahan jumlah tersebut dalam waktu singkat musuh alami mampu menurunkan populasi hama. 2. e. Sasaran ini dapat dicapai dengan dua cara augmentasi yaitu pertama. . Tiga cara pelepasan periodik adalah: Pelepasan Inokulatif Pelepasan musuh alami dilakukan satu kali dalam satu musim atau dalam satu tahun dengan tujuan agar musuh alami tersebut dapat mengadakan kolonisasi dan menyebar luas secara alami dan menjaga populasi hama tetap berada pada aras keseimbangannya. Evaluasi efektivitas pengendali hayati dengan menggunakan metode standar yang dibuat oleh para ahli pengendalian hayati (metode eksklusi dan metode neraca kehidupan) Apabila berhasil nilai manfaat yang diperoleh dari pemasukan musuh alami sangat besar karena hasilnya mantap. Perbedaan lain pelepasan augmentatik menggunakan musuh alami yang sudah berfungsi di ekosistem. Cara kedua adalah dengan memodifikasikan ekosistem sedemikian rupa sehingga jumlah dan efektivitas musuh alami dapat ditingkatkan. Dengan teknik augmentasi diharapkan populasi hama sementara waktu (satu musim atau kurang) dengan cepat dapat ditekan sehingga tidak merugikan. Pelepasan musuh alami introduksi bertujuan dalam jangka panjang mampu menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga tetap berada di bawah aras ekonomi.

frekuensi dan cara pelepasan musuh alami. Konservasi Musuh Alami Dalam penerapan PHT konservasi musuh alami terutama pemanfaatan predator dan parasitoid merupakan teknik pengendalian hayati yang sering dilakukan dan dianjurkan.karena keadaan lingkungan yang tidak sesuai. (1996) dapat diketahui bahwa aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi tidak hanya membunuh musuh alami hama-hama padi. . hama yang menyerang gabah. per hektar dapat menurunkan populasi dan kerusakan penggerek pucuk tebu. c. 46 3. hama penggerek buah kapas. Pelepasan inundatif parasitoid sering disebut penggunaan "insektisida biologi" karena dalam hal ini musuh alami seakan-akan diharapkan dapat bekerja secepat insektisida kimiawi dalam penurunan populasi hama. Teknik konservasi bertujuan menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan populasi musuh alami. Pelepasan Suplemen Pelepasan musuh alami dapat dilakukan setelah dari kegiatan sampling diketahui populasi hama mulai meninggalkan populasi musuh alaminya. Tujuan pelepasan untuk membantu musuh alami yang sudah ada agar kembali berfungsi dan dapat mengendalikan populasi hama. tetapi dapat membunuh serangga-serangga akuatik detrivora dan pemakan plankton yang hidup di air sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan 150. waktu. Keberadaan serangga-serangga air tersebut sangat bermanfaat karena menjaga populasi wereng coklat padi pada posisi yang tidak merugikan petani. d. Teknik pengendalian hayati lainnya agar teknik augmentasi dengan pelepasan periodik ini berhasil diperlukan informasi yang lengkap tentang biologi dan ekologi hama dan musuh alaminya terutama dalam menentukan tempat.000 telur Trichogramma sp. Pelepasan Inundatif atau Pelepasan Massal Apabila pada kedua cara pelepasan sebelumnya diharapkan keturunan dari individu musuh alami yang dilepaskan yang terus berfungsi memperkuat berfungsinya kembali musuh alami sebagai pengendali alami. Sukses yang dicapai oleh teknik inokulatif adalah dilepaskannya secara massal parasitoid telur Trichogramma sp untuk mengendalikan berbagai hama penting seperti penggerek pucuk tebu dan penggerek batang tebu. Contoh untuk memperbanyak parasitoid telur Trichogramma sp di laboratorium digunakan inang pengganti yaitu Sitotroga cerealia. dll.000 telur per hektar. Menghindarkan aplikasi insektisida pada permulaan musim tanam padi merupakan salah satu bentuk konservasi musuh alami yang efektif untuk pengendalian hama-hama padi di Indonesia. dan ekonomik. sedangkan untuk pengendalian penggerek batang tebu diperlukan 250. Pengendalian hama tidak diharapkan dari hasil kerja musuh alami yang dilepas tetapi oleh keturunannya. Umumnya inang bagi perbanyakan massal musuh alami bukan serangga inang hama tetapi serangga inang alternatif yang lebih mudah diperbanyak di ruang perbanyakan. Karena jumlah musuh alami yang dilepaskan sangat banyak diperlukan teknik pembiakan massal musuh alami yang cepat. maka pelepasan inundatif mengharapkan agar individu-individu musuh alami yang dilepas secara sekaligus dapat menurunkan populasi hama secara cepat terutama setelah ratusan ribu atau jutaan individu parasitoid atau predator dilepaskan. Dari hasil penelitian Settle et al. Pengendalian hama tanpa menggunakan pestisida atau kalau digunakan secara selektif berarti usaha konservasi musuh alami sudah dilaksanakan. Banyak tindakan agronomi yang secara langsung dan tidak langsung dapat merugikan populasi musuh alami terutama penggunaan pestisida kimia.

Beberapa cara konservasi musuh alami yang dapat dilakukan antara lain berupa: 1. Dibandingkan dengan teknik-teknik pengendalian yang lain terutama pestisida kimia. Menanam dan melestarikan tanaman berbunga. Penyediaan makanan alami (nektar. 3. Pengaturan suhu yang mendukung perkembangan musuh alami. Memakai sistem tanam yang lebih beraneka ragam. Musuh alami memiliki kepekaan terhadap pestisida lebih tinggi daripada hama sehingga pemakaian pestisida secara terus-menerus akan memusnahkan populasi musuh alami. 4. 12. 7. 13. Penyediaan suplemen makanan tambahan. kelembaban lebih tinggi. Melestarikan tanaman liar yang mendukung inang alternatif parasitoid atau mangsa alternatif predator. 2. Pengurangan populasi predator yang tidak diinginkan. dan tempat akan menjadi lebih teduh. Penjagaan keanekaragaman komunitas setempat dan inang yang diperlukan. 9. 5. Tanaman berbunga yang menghasilkan sari madu dan serbuk sari dapat menaikkan kemampuan musuh alami untuk berkembang biak sehingga lebih disukai oleh parasitoid dan predator. Perlindungan atau penjagaan stadia tidak aktif musuh alami (pupa atau fase diapause). Menghindari praktek budidaya tanaman yang merugikan kehidupan musuh alami. PERANAN PENGENDALIAN HAYATI DALAM PHT Sesuai dengan konsepsi dasar PHT pengendalian hayati memegang peranan yang menentukan karena semua usaha teknik pengendalian yang lain secara bersama ditujukan untuk mempertahankan dan memperkuat berfungsinya musuh alami sehingga populasi hama tetap berada di bawah aras ekonomik. Pelestarian tanaman liar dapat mendukung kehidupan musuh alami sebagai inang alternatif sampai inang utama kembali tersedia sehingga musuh alami tetap mampu menurunkan populasi hama. Adanya tanaman liar juga harus diwaspadai apabila berpotensi menjadi tempat hidup hama di luar musim tanaman budidaya. Menekan pemakaian pestisida. pollen. 2. Penyediaan inang alternatif. pengendalian hayati memiliki tiga keuntungan utama yaitu 47 . Parasitoid atau predator akan sulit mempertahankan hidup setelah panen karena inang utama tidak dijumpai lagi. Pembuatan tempat berlindung musuh alami 10. Parasitoid lebih peka terhadap pestisida daripada predator. Sistem tanam yang beraneka ragam akan mempengaruhi lingkungan mikro di suatu lahan. Perlindungan dari penggunaan pestisida kimiawi. 4. 3. 6. Pengembangan musuh alami yang tahan atau toleran terhadap pestisida. Dengan demikian jumlah serangga bermanfaat seperti musuh alami akan lebih beraneka ragam dibandingkan pada sistem monokultur. Pengendalian semut pemakan madu. Lingkungan akan lebih terlindung dari pengaruh buruk cuaca seperti angin dan hujan. 11. Menghindarkan debu-debu yang mengganggu efektivitas musuh alami. embun madu) 8. Sebelumnya Stehr (1982) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memodifikasi ekosistem untuk konservasi musuh alami dengan rincian sebagai berikut: 1.

siklus hidup. dan ekonomi. fasilitas yang lengkap juga diperlukan sumber daya manusia terutama para peneliti yang berkualitas dan berpendidikan khusus dan berdedikasi tinggi sesuai dengan yang diperlukan untuk pengembangan teknologi pengendalian hayati. Kesulitan dan permasalahan utama dalam penerapan dan pengembangan pengendalian hayati adalah modal investasi permulaan yang besar yang harus dikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi. namun bagaimanapun untuk keberhasilan pengendalian hayati dalam kerangka PHT diperlukan juga dasar pengetahuan dan teknologi yang mantap. ekologi. Meskipun pernah dilaporkan kasus terjadinya ketahanan suatu jenis hama terhadap musuh alami antara lain dengan membentuk kapsul dalam tubuh inang. Meskipun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa untuk pengendalian hayati yang penting adalah adanya tenaga peneliti yang berpengalaman dan berdedikasi tinggi serta cukup memiliki rasa seni dan intuisi. dinamika populasi. Patogen Serangga Tujuan: 1. Karena musuh alami biasanya adalah khas inang.permanen. Identifikasi yang tepat baik untuk jenis hama maupun musuh alaminya merupakan langkah permulaan yang sangat penting. Kecuali diperlukan modal. Arti permanen di sini karena apabila pengendalian hayati berhasil. Apabila identifikasi kurang benar kita akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari sifat-sifat kehidupan musuh alami dan langkah-langkah kegiatan selanjutnya. Mempelajari dan memahami berbagai kelompok dan jenis patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati 2. namun kejadian tersebut sangat langka. Mempelajari dan memahami strategi dan cara pemanfaatan patogen serangga untuk pengendalian hama 3. petani kemudian hanya mengupayakan agar menghindari tindakan-tindakan yang merugikan perkembangan musuh alami. Pengendalian hayati juga relatif ekonomis karena begitu usaha tersebut berhasil petani tidak memerlukan lagi tambahan biaya khusus untuk pengendalian hama. pengujian dan evaluasi terutama yang menyangkut berbagai aspek dasar baik untuk hama. penelitian. fisiologi. Mempelajari dan memahami kelemahan dan kekuatan patogen serangga sebagai agens pengendalian hayati Materi: JENIS-JENIS JASAD RENIK PATOGENIK 48 . dll. biologi. Sampai saat ini tenaga-tenaga ahli dengan kualifikasi demikian masih sangat jarang tersedia di Indonesia. Aspek dasar dapat meliputi taksonomi. Pengendalian hayati aman bagi lingkungan karena tidak memiliki dampak samping terhadap lingkungan terutama terhadap serangga atau organisme bukan sasaran. musuh alami telah menjadi lebih mapan di ekosistem dan selanjutnya secara alami musuh alami akan mampu menjaga populasi hama dalam keadaan yang seimbang di bawah aras ekonomi dalam jangka waktu yang panjang. aman. musuh alami maupun tanaman. genetika.

Virion NPV berbentuk batang yang berukuran panjang antara 200-400 nm dengan diameter 20-50 nm. PIB dibentuk oleh protein dan mengandung beberapa nukleokapsid atau partikel-partikel virus atau virion. Di dalam tubuh larva Lepidoptera virus berkembang terutama di nuklei selsel darah. Penggunaan patogen untuk pengendalian hama tercatat pada abad ke-18 yaitu pengendalian hama kumbang moncong pada bit gula. Neodiprion. Virus Sampai saat ini kurang lebih 1500 virus telah berhasil diisolasi dan diidentifikasikan dari serangga dan binatang artropoda lainnya. jamur. serta tidak meninggalkan residu beracun di alam. Pectinophora. Setiap sel yang terinfeksi virus. hipodermis. Cleonus punctiventus dengan menggunakan sejenis jamur. dan Neuroptera. rikettsia dan nematoda. NPV pada umumnya menyerang paling banyak pada ordo Lepidoptera (86%) dan sedikit pada ordo Hymenoptera (7%) serta ordo Diptera (3%). Oleh karena kemampuannya membunuh serangga hama sejak lama patogen digunakan sebagai agens pengendalian hayati (biological control agents). Cypovirus dan Nodavirus. Virus-virus artropoda sebagian besar masuk dalam genera Nucleopolyhedrovirus. Larva serangga yang terinfeksi oleh virus pada umumnya melemah pada saluran pencernaan makanan sewaktu larva makan bagian tanaman yang telah mengandung polihedra. 1. Apabila virus telah masuk ke dalam tubuh serangga. mampu menginfeksi serangga yang telah resisten terhadap insektisida. Granulovirus. Chilo. Proses perbanyakan nukleokapsid berjalan dengan cepat sehingga terbentuklah banyak polihedra yang memenuhi seluruh sel tubuh 49 . Dari keenam genera ini genus NPV (Nucleopolyhedro virus) merupakan genus terpenting karena sekitar 40% jenis virus yang dikenal menyerang serangga termasuk dalam genus ini. Virus NPV dicirikan dengan adanya inclusion bodies yang disebut polihedra atau PIB (“polihedric inclusion body”). Selain NPV ada kelompok virus lainnya yaitu GV (Granulovirus). protozoa. Pada keadaan serangan penyakit yang parah serangga terserang akhirnya mati. Iridovirus. polihedra NPV akan larut dan pecah serta melepaskan partikel-partikel virus yang kemudian memasuki sel-sel bagian perut serangga dan akhirnya memperbanyak diri.Serangga seperti juga binatang lainnya dalam hidupnya diserang oleh banyak patogen atau penyakit yang berupa virus. Virus juga dapat ditransmisikan dari induk yang telah terinfeksi pada keturunannya melalui telur. jaringan lemak dan lapisan epithel saluran trachea. Trichoptera. dll. relatif persisten di pertanaman dan tanah. Entomopoxvirus. Trichoplusia. Beberapa penyakit dalam kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi faktor mortalitas utama bagi populasi serangga. nukleusnya membengkak dan dipenuhi oleh masa padat yang disebut viroplan. bakteri. CPV (Cytoplasmic Polyhidrosis Virus) dan kelompok lainnya yang lebih kecil jumlahnya. Banyak genus serangga tersebut yang merupakan hama penting di Indonesia. Agrotis. Selain itu virus juga telah diketahui menyerang ordo Coleoptera. Saat ini dikenal lebih dari 2000 jenis patogen yang menginfeksi serangga dan jumlah itu mungkin baru sebagian kecil dari jenis patogen serangga di muka bumi. Berbagai virus NPV mempunyai prospek untuk digunakan dalam pengendalian hayati adalah NPV yang diisolasi dari genusgenus Spodoptera. Serangga yang terkena penyakit menjadi terhambat pertumbuhan dan pembiakannya. Selain itu virus juga dapat masuk ke tubuh serangga sewaktu meletakkan telur atau melalui bagian tubuh yang terluka mungkin oleh serangan musuh alami. Berikut secara singkat diuraikan beberapa kelompok jasad renik yang saat ini sudah banyak dan sering digunakan sebagai agens pengendalian hayati. Plusia. tetapi ada banyak penyakit yang pengaruhnya kecil terhadap gejolak populasi serangga. Helicoverpa. Beberapa keunggulan penggunaan NPV antara lain memiliki inang sangat spesifik. Melacosoma.

Proses masuknya virus ke tubuh serangga sampai dipenuhinya sel-sel tubuh serangga oleh virus berjalan antara 4 hari sampai 3 minggu tergantung pada jenis NPV. Virus telah berada di tanaman dan telah dapat disebarkan oleh angin dan hujan. Setelah konidia jamur masuk ke dalam tubuh serangga. Nilaparvata lugens Oryctes rhinoceros Helicoverpa zea. Kelompok Jamur Patogen Serangga yang Umum Menurut Sistematikanya Subdivisi Kelas Ordo Genus Contoh Inang Mastigomycotina Zygomycotina Ascomycotina Deuteromycotina Chytridiomycetes Zygomycetes Pyrenomycetes Plectomycetes Hypomycetes Blastocladiales Entomophthorales Spaeriales Ascosphaerales Moniliales Coelomomyces Enthomophthora Cordyceps Ascophaera Beauveria Metarhizium Nomuraea Paecilomyces Verticillium Hirsutella Sorosporella Spicaria Lalat hitam Nilaparvata lugens Setora nitens Aphis sp. jamur patogen masuk ke dalam tubuh serangga tidak melalui saluran makanan tetapi langsung masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau integumen. epidermis. serta jaringan-jaringan lainnya. hemocoel. Proses perkembangan jamur dalam tubuh inang sampai inang mati berjalan sekitar 7 hari. 1993 Berbeda dengan virus. Saat ini telah dikenal lebih dari 750 spesies jamur entomopatogenik dari sekitar 100 genera jamur. Karena pengaruh infeksi jamur terhadap pembentukan pigmen. 2. jamur membentuk konidia primer dan sekunder yang dalam 50 . litura Diaphorina citri Aleurodicus destructor Plutella xylostela Berbagai ulat grayak Helopeltis antonii Sumber: Tanada dan Kaya. Setelah inang terbunuh. Kendala utama dalam perbanyakan virus diantaranya belum berkembangnya teknik perbanyakan dan penggunaan pakan buatan. Disamping itu ada beberapa jenis jamur yang mempengaruhi pigmentasi serangga dan menghasilkan toksin yang sangat mempengaruhi fisiologi serangga. larva atau instar serangga yang terserang jamur memperlihatkan perubahan warna tertentu seperti warna merah muda dan merah. Beberapa jenis predator termasuk burung dan parasitoid dapat juga menjadi agens penyebaran virus. Penyebaran virus ini melalui berbagai cara dan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain cuaca. Tabel 1 menunjukkan berbagai genus jamur penting yang dapat menjadi patogen serangga. Larva yang mati karena virus posisi tubuhnya seperti patah dan menggantung pada bagian tanaman. Teknik rekayasa genetika diharapkan mampu memacu perkembangan dan perluasan aplikasi virus sebagai agens pengendalian hayati. kulit berganti warna menjadi semakin pucat dan memutih seperti susu. Aplikasi virus untuk pengendalian hama sebagian besar baru dalam tahap pengkajian laboratorium sedangkan di lapangan masih sangat terbatas. jamur memperbanyak dirinya melalui pembentukan hife dalam jaringan epikutikula. Larva yang terserang virus NPV dapat dilihat dari gejala serangan yang antara lain berupa larva semakin malas bergerak. Tabel 1. pertumbuhannya terhambat. jumlah polihedra yang masuk. dan larva bergerak ke pucuk tanaman. Pada akhirnya semua jaringan dipenuhi oleh miselia jamur. instar larva yang mulai terinfeksi dan keadaan suhu.serangga akhirnya mengakibatkan kematian. jenis serangga inang. S. Jamur Entomopatogenik Kelompok jenis jamur yang menginfeksi serangga dinamakan jamur entomopatogenik.

wereng coklat. B. cuaca terutama angin dan kebasahan. Konidia akan menyebarkan sporanya melalui angin. hama putih palsu. tetapi karena sifatnya yang kosmopolitan sukar digunakan sebagai agens pengendalian hayati. 3. Penggunaan pestisida baik insektisida maupun fungisida untuk mengendalikan hama dan penyakit ternyata sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan jamur patogenik serangga. P. Pengendalian dengan menggunakan jamur Hirsutella citriformis dapat menurunkan populasi Diaphorina citri hingga 62%. P. Helopeltis sp. vulgaris Q. Jamur ini juga sudah dikembangkan untuk pengendalian hama wereng daun. dll. Bacillaceae (Tabel 2). No 1 2 Tabel 2. Bacillus thuringiensis sangat efektif digunakan untuk pengendalian larva ordo Lepidoptera. Ulat api Setora nitens mampu ditekan perkembangannya dengan Cordyceps purpurea. dan kutu putih Aleurodichus destructor. kesediaan spora. 51 . hujan. Kebasahan tinggi dan angin kencang sangat membantu penyebaran konidia dan pemerataan infeksi patogen pada seluruh individu pada populasi inang. Jamur Verticillium mampu menekan populasi Scotinophora coartata. Penyebaran dan infeksi jamur sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kepadatan inang. Hama wereng coklat dapat dikendalikan dengan menggunakan jamur Enthomopthora sp. septica Enterobacteriaceae aerogenes P. Jamur Beauveria bassiana telah dicoba untuk pengendalian hama wereng padi coklat dan hama penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei). Penurunan populasi mencapai 82% dengan jamur Paecilomyces fumosoroseus terhadap jenis hama yang sama. dapat dikendalikan dengan jamur Spicaria sp. fibourgenesis dapat dipakai pada hama uret Melolontha melolontha. ulat jengkal (Ectropis bhurmitra). Bacillus popiliae menyebabkan gejala seperti penyakit susu yang menyerang kumbang Jepang Popiliae japonica dan kumbang skarabid lainnya. dan larva nyamuk. walang sangit dan kepinding tanah. bassiana. Kelompok bakteri yang lebih penting adalah bakteri pembentuk spora yang pada saat ini telah banyak digunakan sebagai insektisida mikrobia. Bakteri Bakteri yang menyerang serangga dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu bakteri yang tidak membentuk spora dan bakteri pembentuk spora. Micrococaceae. Aphis. Mortalitas Helopeltis sp dapat mencapai 98% setelah disemprot dengan B. aeruginosa P. mirabilis Lactobacilliaceae Diplococcus spp. Saat ini jamur Metarhizium anisopliae telah digunakan secara luas di Indonesia untuk pengendalian hama Oryctes rhinoceros yang menyerang kelapa. Enterobacteriaceae. Lactobacillaceae. Dua jenis bakteri patogen yang penting Bacillus popiliae dan Bacillus thuringiensis. Banyak laporan membuktikan pestisida dapat menghambat perkecambahan konidia primer dan pengurangan pelepasan konidia sekunder berikutnya.kondisi cuaca yang sesuai konidia tersebut muncul keluar dari kutikula serangga. Beberapa famili bakteri yang berpotensi sebagai sumber alternatif baru patogen serangga di masa depan telah banyak ditemukan diantaranya Pseudomonadaceae. Darna catenata mampu dikendalikan oleh jamur ini hingga 100%. Kelompok pertama mempunyai peranan sebagai faktor mortalitas alami yang penting. air. Beberapa genera bakteri patogen serangga Macam bakteri Serangga peka Belalang Lepidoptera Belalang Kecoa 3 Pseudomonadaceae P. penggerek batang padi. bahkan hama penting pada kelapa sawit.

Kematian larva dapat terjadi dalam kurun waktu dalam beberapa jam sampai 4 5 hari setelah infeksi pertama tergantung pada serotipe atau strain Bt dan kepekaan serangga inang. Bite WP. Bila spora dan kristal bakteri dimakan oleh serangga yang peka maka terjadi paralisis yang mengakibatkan kematian inang. Thuricide WP dan Thurex WP. Dari kristal Bt paling sedikit telah diketahui adanya 4 jenis racun atau toksin. Bahan aktifnya tidak mampu menembus kutikula serangga maupun jaringan tanaman. cereus Lepidoptera Uret Lepidoptera Studi tentang Bacilus thuringiensis (Bt) saat ini sangat menarik dan berkembang sangat cepat. Meskipun Bt telah banyak dipasarkan dengan berbagai nama dagang tetapi masih memerlukan banyak kegiatan pengembangan berhubung karena banyak strain baru ditemukan dan adanya sifat-sifat serangga yang khas baik ketahanannya terhadap strain tertentu maupun kepekaannya (Tabel 3). Dengan demikian insektisida ini belum mampu mengendalikan hama yang berada di dalam jaringan tanaman seperti penggerek batang padi. Bakteri ini bersifat selektif terhadap serangga sasaran dan ramah lingkungan. Karena sifat itulah maka banyak perusahaan pestisida tertarik untuk memformulasikannya. Kristal bakteri akan melarut dalam saluran pencernaan. Insektisida hanya aktif apabila termakan oleh hama sasaran. Bila larva muda atau larva tua terkena Bt dapat kita lihat adanya reaksi pertama yang cepat seperti kesakitan. Salah satu kelemahan dari formulasi pestisida ini adalah keterbatasan dalam mencapai sasaran. Florbac FC Munculnya masalah resistensi hama terhadap penggunaan B. Beberapa produk Bt yang sudah dipasarkan Strain Merk dagang Serangga sasaran Kurstaki Dipel WP.4 5 Micrococaceae Micrococcus spp. Bt dalam sporulasi di dalam tubuh serangga membentuk kristal yang mengandung protein beracun atau endotoksin. Seleksi ke arah timbulnya resistensi kemungkinan dapat terjadi apabila pemanfaatan teknologi ini tidak dilakukan secara tepat. P. Protozoa dan Rikettsia 52 . dalam jaringan tersebut bakteri mengeluarkan toksin yang dapat mematikan serangga. Strain Bt diklasifikasikan menjadi 29 subspesies dan lebih dari 40 inklusi kristalin (δ-endotoksin) gen-gen protein berhasil diisolasi. Condor F Aizawai Bacillin WP. Tanaman inang hama juga kelihatannya mempengaruhi keberhasilan Bt dalam menginfeksi serangga inangnya. kemudian dalam beberapa waktu larva tidak mau makan dan tidak aktif. namun P. Telah diketahui bakteri ini terdiri atas banyak strain yang berbeda sifatnya. Bactospeine WP. Thuricide Lepidoptera HP. thuringiensis belum banyak dilaporkan. 4. Bacillaceae Bacillus popilliae B. thuringiensis. No 1 2 Tabel 3. xylostella strain Garut masih rentan terhadap B. dan penemuan varietas atau strain Bt baru terus berlanjut. Tubuh kemudian menjadi lemah dan lembek. Dikenal lebih dari 700 varietas atau strain Bt. Lepidoptera Turex WP. penggerek buah kapas. xylostella strain Lembang dilaporkan telah resisten terhadap insektisida Dipel WP.

Nematoda muda meninggalkan telur dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui kutikula dan kemudian masuk ke dalam hemocoel. Beberapa kelebihan dari penggunaan nematoda entomopatogen ini adalah kemampuannya dalam mematikan inang yang relatif cepat. Hymenoptera dan Diptera. Serangga inang mati sebelum atau sesudah nematoda meninggalkan tubuh inangnya. Juvenil infektif mampu bertahan hidup lama sampai memperoleh inang kembali dan fase ini merupakan satu-satunya fase yang bersifat infektif terhadap serangga inang. Serangga akan mengalami kematian dalam waktu 24-48 jam setelah aplikasi. Nematoda stadium ketiga atau sering disebut juvenil infektif akan keluar dari tubuh serangga dan berusaha untuk mencari inang baru. Jenis rikettsia banyak menyerang kumbang. Rikettsia mampu menyebabkan kematian pada Popillia japonica. Kelompok protozoa ini ternyata sangat potensial untuk mengendalikan hama Sexava sp. jamur. terjadi penurunan aktivitas. N. Dari 19 famili nematoda yang menyerang serangga. Tubuh serangga akan lemas. bakteri dan nematoda. Coleoptera. Malpighamoeba locusta dari jenis Amoeba berpotensi terhadap belalang sedangkan Nosema bombyces yang pertama kali diisolasi dari ulat sutera (Bombyx mori) berpotensi untuk mengendalikan beberapa hama penting seperti Spodoptera litura. Nematoda akan berkembang biak di dalam tubuh serangga inang sampai menghasilkan keturunan yang sangat banyak. anus dan spirakel. tidak menyebabkan resistensi 53 . Jenis Coccidia mampu menginfeksi hama gudang Tribolium confusum hingga 68%. Pengaruh mikrosporodia terhadap kehidupan inangnya relatif lambat dan gejala luarnya sangat bervariasi. dan terjadi perubahan warna tubuh menjadi merah kecoklatan jika terserang Steinernema spp dan hitam jika terserang Heterorhabditis spp. dan N. Telah dapat dikenal lebih dari 250 spesies mikrosporodia yang menyerang serangga. Walaupun demikian patogen jenis ini memiliki peluang yang besar untuk dijadikan agens pengendalian hayati khususnya di Indonesia. Nematoda masuk ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami serangga seperti mulut. Dalam beberapa jam bakteri tersebut melakukan replikasi dan akhirnya menyebar dan meracuni tubuh serangga. Melolontha melolontha dan Oryctes rhinoceros. dan protozoa juga ada banyak spesies nematoda yang bersifat parasitik terhadap serangga baik yang bersifat parasit obligat maupun fakultatif. bakteri.Spesies-spesies protozoa yang patogenik terhadap serangga pada umumnya termasuk dalam sub kelompok mikrosporodia. Inang yang terserang nematoda akan mengalami septisemia dan akhirnya mati. Untuk selanjutnya nematoda menuju ke saluran pencernaan kemudian melepaskan bakteri simbion yang bersifat racun. Jenis nematoda entomopatogen lainnya adalah Heterorhabditis spp dan Steinernema spp. cuneatum telah dijadikan sebagai agens hayati untuk mengendalikan hama belalang khususnya di Amerika. acridophagus. Kedua nematoda ini bersimbiosis dengan bakteri. Nematoda akan memasuki fase reproduktif yaitu memperbanyak keturunan apabila populasi nematoda dalam tubuh inang rendah sedangkan apabila populasi tinggi akan memasuki fase infektif. Kematian akibat rikettsia baru terjadi pada 14 bulan setelah aplikasi atau lebih lama dibandingkan kematian akibat agens hayati yang lain seperti jamur. memiliki kisaran inang yang luas diantaranya Lepidoptera. Setelah berganti kulit beberapa kali di dalam tubuh serangga nematoda dewasa keluar dari tubuh serangga untuk kawin dan menyebar. Nematoda Disamping virus. Penyebaran mikrosporodia melalui makanan dan dipindahkan dari induk yang terinfeksi ke keturunannya. 5. Tiga jenis mikrosporodia antara lain Nosema locustae. Mermithidae merupakan famili yang terpenting dan tersebar (terdiri atas 50 genera dan 200 spesies). Leptomonas pyrhocoris dari golongan Mastigophora dapat menurunkan populasi kepinding. Mikrosporodia tersebar luas yang secara alami dapat menjadi faktor mortalitas yang penting bagi serangga inangnya.

Memanfaatkan Secara Maksimal Proses Pengendalian Alami oleh Patogen Hama Ada banyak jenis patogen seperti virus dan jamur yang mampu menekan populasi hama secara alami sehingga populasi tetap berada di bawah aras ekonomi. Caranya adalah dengan memasukkan dan menyebarkan patogen pada suatu ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen tersebut mantap di ekosistem yang baru ini sehingga kemudian menjadi faktor mortalitas tetap bagi spesies hama yang dikendalikan. Kecuali itu apabila keadaan lingkungan memungkinkan patogen hama yang diaplikasikan pada ekosistem mungkin dapat menjadi pengendali alami hama yang permanen di ekosistem tersebut. 3. tidak berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itu pestisida sebaiknya hanya digunakan apabila berbagai agens pengendalian alami (termasuk patogen hama) tidak mampu menghentikan laju peningkatan populasi hama yang berhasil melampaui Ambang Pengendalian. Introduksi dan Aplikasi Patogen Hama sebagai Faktor Mortalias Tetap Prinsip penggunaan patogen hama di sini sama dengan introduksi serangga parasitoid atau predator untuk menekan populasi hama untuk jangka waktu yang panjang. Aplikasi Patogen Hama sebagai Insektisida Mikrobia Sasaran aplikasi patogen hama dengan cara ini adalah guna menekan populasi hama untuk sementara waktu.hama. Kita harus menjaga ekosistem sedemikian rupa sehingga patogen dapat melaksanakan fungsinya secara "density dependent". PEMBIAKAN MASSAL AGENS PENGENDALIAN HAYATI 54 . tidak berbahaya bagi mamalia dan vertebrata serta kompatibel dengan pengendalian lain. Helicoverpa armigera hingga 65%. Saat ini beberapa jenis patogen seperti NPV dan Bacillus thuringiensis telah dipasarkan dengan nama dagang tertentu. 2. Steinernema carpocapsae dapat mengendalikan hama penggerek (Schirpophaga sp. carpocapsae juga telah terbukti memiliki kemampuan mengakibatkan mortalitas pada Cylas formicarius. Cara ini yang paling berhasil dilakukan untuk mengendalikan hama yang nilai Ambang Pengendalian atau Ambang Ekonomi cukup tinggi karena untuk pengembangan permulaan bagi patogen diperlukan kepadatan populasi inang yang cukup. S. Chilo sp). STRATEGI PENGENDALIAN HAYATI DENGAN PATOGEN HAMA Patogen serangga dapat digunakan dalam PHT dengan beberapa strategi atau cara yaitu: 1. Berbeda dengan insektisida sintetik organik maka insektisida mikrobia mempunyai beberapa keuntungan yaitu bersepektrum sempit atau khas inang dan aman bagi lingkungan hidup serta tidak membahayakan binatang bukan sasaran. Steinernema spp mampu menyebabkan kematian Spodoptera exigua sampai 98%. Pada pengujian yang lain. Oleh karena itu aplikasi patogen perlu dilakukan beberapa kali sama prinsipnya dengan penggunaan insektisida sintetik organik. Spodoptera litura 99% bahkan 100% untuk mengendalikan Crocidolomia binotalis. Untuk itu keadaan dan perkembangan patogen hama yang penting perlu terus dipantau dan menjaga tindakan-tindakan yang mengurangi berfungsinya patogen hama dapat dibatasi sekecil mungkin. Jenis Steinernema spp telah terbukti mampu mengendalikan lebih dari 100 spesies serangga hama terutama ordo Lepidoptera dan Coleptera. Salah satu tindakan yang merugikan adalah penggunaan pestisida.

Sporulasi Media yang paling cocok dan menjadi pilihan adalah media yang memberikan efek sporulasi tinggi. Pengujian dilakukan pada serangga yang sama dan dilakukan di laboratorium. Tahapan atau kaidah-kaidah pembiakkan tersebut berfungsi sebagai pedoman utama dalam melaksanakan usaha pembiakan. Pada saat ini usaha pembiakan massal agens hayati telah banyak dilatihkan dan dilakukan di Indonesia baik oleh laboratorium dinas maupun oleh para kelompok petani terutama yang telah mengikuti SLPHT. Dalam pemurnian ini kontaminasi sering terjadi akibat sterilisasi alat dan ruangan yang kurang sempurna. Viabilitas Viabilitas merupakan kemampuan atau daya kecambah spora agens hayati. Eksplorasi dilakukan pada wilayah luas yang diperkirakan terdapat sumber genetik baru. bassiana yang berasal dari walang sangit (Leptocorisa acuta) mati dicoba diperbanyak pada media nasi. Pengujian tingkat konsentrasi tersebut akan menghasilkan konsentrasi efektif yang nantinya akan menjadi pedoman rekomendasi di lapangan. 3. 6. 8. Namun dalam pembiakan massal perlu adanya tahap-tahap khusus yang harus diperhatikan dan dilakukan sehingga nanti akan diperoleh hasil yang memuaskan. 7. Agens hayati dinilai baik apabila viabilitasnya 95%. Media yang menghasilkan spora paling tinggi dipilih sebagai media. 9. Spora B. Uji efektivitas Konsentrasi efektif yang diperoleh dari uji patogenisitas digunakan untuk uji efektifitas. Pembiakan massal dilakukan untuk mengembangbiakkan agens hayati dengan menggunakan media alami maupun media buatan dalam habitat atau lingkungan yang dibentuk sesuai lingkungan aslinya sehingga diperoleh sejumlah tertentu sesuai kebutuhan. Pemurnian merupakan tahapan yang sangat penting untuk memperoleh stok spora sesuai yang diharapkan. Serangga yang ditemukan terserang patogen dikoleksi dan selanjutnya dimanfaatkan untuk tahapan selanjutnya. Uji virulensi 55 . Pengujian ini bertujuan mencari stadia serangga yang rentan terhadap agens hayati pada konsentrasi tertentu. Ada 10 tahapan pembiakan massal agens hayati atau kontrol kualitas pengembangbiakkan agens pengendalian hayati yang diterapkan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) di Propinsi DIY sebagai berikut: 1. jagung ataupun dedak. Eksplorasi dan Koleksi Eksplorasi bertujuan mencari sumber genetik baru yang berpotensi sebagai agens pengendalian hayati.Pengendalian dengan agens hayati dalam skala luas memerlukan jumlah agens hayati yang relatif mencukupi sehingga perlu usaha pembiakan massal. Postulat Koch Pengujian akan memperkuat dugaan bahwa agens hayati yang ditemukan benarbenar bersifat patogenik terhadap serangga. 2. Pemurnian Pemurnian dilakukan untuk pemilihan media yang cocok dan memperoleh stok spora. Uji patogenisitas Pengujian patogenisitas yang bertujuan mengetahui konsentrasi yang tepat dan mampu membunuh serangga sasaran biasanya dilakukan di laboratorium ataupun green house. 4. Perbanyakan Spora Perbanyakan spora merupakan usaha pemilihan substrat pengganti yang cocok untuk pengembangbiakan selanjutnya. 5. murah dan mudah diperoleh.

kekurangan pakan. bassiana. Dalam evaluasi tersebut dilakukan juga peremajaan agens hayati yang sudah lama disimpan. CARA PENGGUNAAN PATOGEN SERANGGA DI LAPANGAN Mengingat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh patogen serangga maka dalam pemanfaatan patogen sebagai agens pengendalian hayati perlu diperhatikan beberapa faktor penting yang mempengaruhi tingkat keefektifan patogen terhadap serangga sasaran. Patogen tersebut juga terhambat pertumbuhannya karena adanya senyawa phenol dan terpenoid pada tanaman kapas. Asam klorogenik pada tanaman tomat dapat mengurangi efektifitas NPV dari Helicoverpa zea. Waktu aplikasi Kemapanan patogen yang merupakan makhluk hidup di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Senyawa alkaloid. 56 . 10. antara lain: 1. 2. Kondisi basa menyebabkan delta endotoksin pada Bt akan rusak dan efektifitasnya menurun. Uji virulensi dilakukan untuk mengetahui agens hayati tersebut virulen atau tidak baik dalam kondisi baru maupun telah disimpan dalam media dan jangka waktu tertentu. Dosis. Agens hayati sebaiknya diaplikasikan pagi atau sore hari.Agens pengendalian hayati yang sudah mengalami tahap-tahap uji tersebut sudah dipastikan dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama. Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu cara penting untuk menilai keberhasilan pelepasan agens pengendalian hayati. Hama sasaran dalam keadaan tertekan seperti sakit. tomatin dari tanaman tomat menghambat pembentukan koloni dan pertumbuhan jamur patogen B. Hama sasaran Semakin muda umur serangga akan semakin rentan terhadap patogen. Evaluasi tehadap hasil yang diperoleh dilakukan segera setelah aplikasi. thuringiensis. kepadatan yang terlalu tinggi menyebabkan tingkat kerentanannya semakin tinggi. Derajat kemasaman. 5. pH Kondisi pH pada bahan pelarut sangat mempengaruhi keefektifan patogen. 4. Serangga sasaran yang mengkonsumsi patogen dengan cepat diharapkan mengalami kematian secara cepat juga. Dengan demikian kontak antara patogen dengan serangga sasaran cepat terjadi. Senyawa nikotin yang dihasilkan oleh tanaman tembakau dapat menghambat pertumbuhan B. Penyelimutan Patogen harus benar-benar melekat atau menempel atau menyelimuti bagian tanaman maupun serangga sasaran. Oleh karena itu sebelum aplikasi patogen di lapangan harus diketahui kondisi hama sasaran. 3. 6. Anti mikrobiosis Beberapa tanaman mampu menghasilkan senyawa-senyawa anti mikrobia yang dapat mengurangi keefektifan patogen. Pelarut dianjurkan memiliki derajat kemasaman yang normal (pH 7). Kelembaban tinggi lebih meningkatkan keefektifan patogen. Dalam aplikasinya diharapkan patogen tidak terkena cahaya matahari secara langsung karena sinar ultraviolet menyebabkan patogen tidak aktif bahkan dapat membunuh patogen dalam waktu yang relatif cepat. ketidakcocokan pakan. Dosis aplikasi minimum akan lebih baik daripada dosis aplikasi tinggi dalam peningkatan keefektifan patogen. Dosis tinggi menyebabkan persaingan pakan dan ruang antar patogen sejenis dan menghambat perkembangbiakan sehingga mampu menurunkan daya bunuh terhadap serangga sasaran.

kesehatan. Mempelajari dan memahami dampak negatif penggunaan pestisida kimia 3. Ketahanan inang Spesies serangga tertentu yang rentan terhadap patogen dapat menjadi tahan dengan bertambahnya umur dan dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan. Di bidang pertanian penggunaan pestisida mampu menekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit yang memungkinkan peningkatan produksi pertanian dapat dicapai. Mempelajari dan memahami sifat dan pengelompokan pestisida khususnya insektisida 2. Pestisida mungkin merupakan bahan kimiawi yang dalam sejarah umat manusia telah memberikan banyak jasanya bagi keberhasilan dalam banyak bidang pembangunan termasuk pertanian. Berkat pestisida umat manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman penyakit manusia yang membahayakan seperti malaria dan demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk. 8. pemukiman. pangan maupun perkebunan. Kompatibilitas Patogen sebagai agens pengendalian hayati memiliki kemampuan dapat dipadukan dengan agens pengendalian yang lain sehingga daya bunuhnya lebih efektif dan hasilnya akan lebih memuaskan. pestisida seakan-akan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budidaya segala jenis tanaman baik tanaman hortikultura. Sejak dicanangkannya program pembangunan nasional di sektor 57 . Hal ini dapat dibuktikan dari reaksi petani apabila menghadapi terjadinya serangan hama tentu akan menanyakan pestisida apa yang tepat digunakan dan dimana dapat diperolehnya? Kecenderungan peningkatan penggunaan pestisida secara global sejak tahun 1960an juga terjadi di Indonesia. Pestisida sedemikian melekatnya pada kegiatan pertanian di Indonesia.7. Mempelajari dan memahami penggunaan pestisida sebagai salah satu komponen PHT Materi: Pengendalian hama secara kimiawi adalah penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama agar hama tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman yang dibudidayakan. 129807801. dan kesejahteraan masyarakat. Karena keberhasilan tersebut di dunia pertanian.doc Materi 8 PENGENDALIAN KIMIAWI Tujuan: 1.

semak-semak 5. peredaran. biasanya yang dmaksud dengan pestisida adalah insektisida. Sedangkan kelompok pestisida lainnya antara lain rodentisida (pembunuh rodent tikus). Banyak kesepakatan dan standar pengaturan yang telah ditetapkan secara internasional dan harus diterapkan oleh semua negara. Meskipun pestisida kimia memiliki banyak keuntungan ekonomi bagi petani dan masyarakat. Pengelompokan Pestisida Berdasar pada Kelompok Hama yang Dikendalikan Nama kelompok No Kelompok hama yang dikendalikan pestisida 1. Sekitar tahun 1970 sampai 1980-an pestisida paling banyak digunakan dalam program intensifikasi pangan terutama dalam program swasembada beras melalui program nasional BIMAS. Fungisida Jamur 8. tetapi risiko yang berupa dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan semakin lama semakin nyata dirasakan oleh masyarakat luas. fungisida (pembunuh jamur). Tabel 4 menjelaskan nama kelompok pestisida berdasar pada kelompok organisme sasaran. nematisida (pembunuh nematoda). sayuran dataran rendah dan sayuran dataran tinggi. Bila pada tahun 1970 penggunaan pestisida untuk padi kurang dari 1000 ton pada tahun 1986 pestisida untuk padi sudah mencapai 18. Larvisida Larva 58 . serta untuk menjaga tingkat efektivitas pestisida dalam pengendalian hama sasaran. Peningkatan penggunaan pestisida ini juga terjadi pada komoditas pertanian lainnya.000 ton.000 ton. Avisida Burung 6. saat ini berbagai jenis pestisida generik memasuki Indonesia sehingga pada tahun 2002 jumlah formulasi pestisida yang telah terdaftar di Indonesia sudah melampaui 1000 formulasi. penyimpanan dan pengawasan pestisida. Tujuan pengaturan pestisida oleh pemerintah adalah untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup terhadap dampak samping penggunaan pestisida. Algisida Alga 4. Jumlah pestisida yang diproduksi pada tahun 2000 sekitar 60.pertanian. Tanaman pertanian pangan di Indonesia yang saat ini masih banyak menggunakan insektisida adalah kedelai. penggunaan pestisida meningkat dengan sangat pesat. herbisida (pembunuh gulma). Karena jumlah kelompok. PENGELOMPOKAN PESTISIDA Kata insektisida secara harafiah berarti pembunuh serangga yang berasal dari kata insekta = serangga dan kata Latin cida yang berarti pembunuh. pinjal dan laba-laba 2. penggunaan. A. perdagangan. sedangkan pada tanaman perkebunan adalah pada tanaman kapas. Ixosida Pinjal 10. Akarisida Tungau. Namun setelah Pemerintah mencabut subsidi pestisida pada tahun 1989 serta diterapkannya konsep PHT oleh petani padi. jenis dan produksi insektisida saat ini lebih banyak daripada kelompok-kelompok pestisida lain. Pestisida adalah pembunuh hama yang berasal dari kata pest = hama dan cida = pembunuh. Seiring dengan perdagangan bebas yang semakin terbuka. Insektisida Serangga dan juga pinjal dan tungau 9. Bakterisida Bakteri 7. penggunaan pestisida khususnya insektisida di tanaman padi cenderung menurun. Tabel 4. Salah satu cara agar risiko pestisida dapat ditekan serendah mungkin yakni Pemerintah di semua negara melakukan pengaturan terhadap semua produksi. akarisida (pembunuh tungau). Arborisida Pepohonan. Insektisida merupakan salah satu kelompok pestisida. Adultisida Serangga dewasa 3.

Suatu contoh diambil jenis insektisida yang sampai saat ini masih diguanakan untuk pengendalian penggerek batang padi di Indonesia. digunakan nama umum. Nama dagang ditetapkan oleh produsen atau formulator insektisida yang membuat dan memperdagangkan pestisida tersebut.11. 3. 1. dll. biasanya nama dagang lebih populer. Nama dagang : Furadan®. dan nama kimiawi.-dimeti l-7-benzonil metilkarbamat 4. Nama kimia : 2. Currater®. 15. Suatu jenis pestisida ditandai oleh 3 cara penamaan yaitu nama umum. pinjal. 14. Mitisida Moluskisida Nematisida Ovisida Piscisida Predasida Rodentisida Silvisida Termitisida Tungau. 19. Dalam forum ilmiah seperti publikasi seminar atau tesis. Nama umum : karbofuran 2. nama dagang. Pengelompokan Insektisida Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Hama 59 .3-dihidro 2. 16. Rumus bangun senyawa tersebut adalah sbb: Gambar 23. 18. Dharmafur®. semut PEMBERIAN NAMA PESTISIDA Nomenklatur atau cara pemberian nama suatu jenis pestisida ada ketentuannya. 17. 1. Rumus bangun Karbofuran Dalam praktek penggunaan sehari-hari terutama oleh petani. dan menurut sifat kimianya. PENGGOLONGAN INSEKTISIDA Insektisida kimia dapat dikelompokan dalam beberapa cara menurut pengaruhnya terhadap serangga sasaran. menurut cara masuknya dalam tubuh serangga.2. 13. 12. Indofur®. Dalam pembicaraan khusus tentang aspek-aspek kimiawi pestisida nama kimia pestisida digunakan. Karena satu jenis pestisida dapat dibuat oleh beberapa perusahaan sehingga untuk pestisida tersebut mempunyai beberapa nama dagang. dan laba-laba Moluska terutama siput dan keong Nematoda Telur Ikan Vertebrata hama Tikus Pepohonan dan semak Rayap. Nama kimia merupakan nama yang digunakan oleh ahli kimia dalam menjelaskan suatu senyawa kimia sesuai dengan rumus bangun senyawa insektisida tersebut.

Racun Perut (stomach poison) Insektisida memasuki tubuh serangga melalui saluran pecernaaan makanan (perut). Jenis-jenis insektisida lama umumnya merupakan racun perut. dan fumigan. Serangga terbunuh bila insektisida tersebut termakan oleh serangga. Tabel 5. Di sini insektisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui dinding tubuh. Contoh insektisida racun kontak adalah BHC dan DDT. Apabila permukaan tanaman yang mengandung insektisida tersebut dimakan serangga. b. racun tersebut juga memasuki tubuh serangga melalui saluran pencernaan. Insektisida modern pada umumnya merupakan racun kontak. sedangkan insektisida modern sangat sedikit yang merupakan racun perut. Racun Kontak (contact poison) Insektisida memasuki tubuh serangga bila serangga mengadakan kontak dengan insektisida atau serangga berjalan diatas permukaan tanaman yang telah mengandung insektisida. racun kontak. a.Insektisida dapat dikelompokkan menurut pengaruh yang merugikan bagi hama sasaran yang akhirnya dapat menurunkan populasi hama. Pengelompokan Pestisida Berdasarkan Pengaruhnya pada Serangga Kelompok Pestisida Pengaruh pada hama 2. Pengelompokan insektisida menurut pengaruh pada serangga sasaran seperti terlihat pada Tabel 5. 60 . Pengelompokan Menurut Cara Masuk ke Tubuh Serangga Dilihat dari cara masuknya (mode of entry) ke dalam tubuh serangga insektisida dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu racun perut.

dan belerang. alomon dan kairomon. Contoh insektisida anorganik adalah kalsium arsenat. kriolit. dan umumnya memiliki efikasi lebih rendah bila dibandingkan insektisida organik sintetik. Menghambat nafsu makan sehingga serangga kelaparan yang akan menyebabkan kematian Mengurangi sistem transpirasi serangga Penarik hama. Insektisida-insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik. Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botani/nabati) dan bahan alami 61 . zat kimia yang dikeluarkan oleh tanaman atau hewan. Insektisida kimia konvensional secara garis besar dapat dibagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam insektisida anorganik yaitu insektisida yang tidak mengandung unsur Karbon dan insektisida organik yang mengandung unsur Karbon. fosfin dan metil bromida. tanpa membunuh seluruh bagian tanaman Mengeringkan bagian tanaman dan serangga Merusak atau mematikan organisme berbahaya Menyebabkan serangga lebih giat makan Menghentikan. Pb arsenat. sodium fluorid. masalah ketahanan hama terhadap insektisida. Contoh fumigan adalah hidrogen sianida (HCN). Karena sifatnya yang mudah menguap fumigan biasanya digunakan untuk mengendalikan hama simpanan yang berada di ruang atau tempat tertutup dan juga untuk mengendalikan hama yang berada di dalam tanah. 3. seperti atraktan seks Menurunkan kemampuan reproduksi hama Merontokkan bagian tanaman yang tidak diinginkan. Kelemahan insektisida anorganik adalah toksisitas tinggi untuk mamalia termasuk manusia. yang merangsang atau menghambat perilaku serangga Meningkatkan efektivitas bahan aktif Fumigan Fumigan merupakan insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan serangga atau sistem trachea yang kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. residu di lingkungan lama atau persisten. fitotoksisitas tinggi. atau memperlambat proses pertumbuhan tanaman atau serangga Mengarahkan serangga agar menjauh dari yang diperlakukan Feromon. Sedangkan insektisida kimia setelah masa Perang Dunia II setelah ditemukannya DDT umumnya merupakan insektisida organik. Pengelompokan Menurut Sifat Kimianya Pengelompokan insektisida yang paling penting adalah menurut sifat kimianya. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organik sintetik.Antifidan (anti-feedant) Antitranspiran (Anti-transpirant) Atraktan (attractant) Khemosterilan (chemosterilant) Defolian (defoliant) Desikan (desiccant) Disenfektan (disinfectant) Perangsang makan (feeding stimulant) Pengatur pertumbuhan (growth regulator) Repelen (repellent) Semiokimia Sinergis (synergist) c. mempercepat.

Daya racun OP mampu menurunkan populasi serangga dengan cepat. Sampai saat ini OP masih merupakan kelompok insektsida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. OP memiliki berbagai bentuk alkohol yang melekat pada atom-atom P dan berbagai bentuk ester asam fosforik. Insektisida kelompok ini merupakan racun kontak dan racun perut. Misal di daerah sub tropis DDT dalam kurun waktu 17 tahun residunya masih 39 % yang berada di dalam tanah. Derivat alifatik meliputi insektisida-insektisida yang antara lain TEPP. etoprop. a. 2) organofosfat (OP).lainnya. fenil. Pembagian insektisida organik sintetik konvensional menurut susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memilki sifat racun) terdiri dari 6 kelompok besar yaitu 1) organoklorin (OK). Kecuali 6 kelompok besar tersebut masih ada beberapa kelompok insektisida baru yang mulai banyak digunakan dalam praktek pengendalian hama saat ini. forat. Oleh karena bahayanya insektisida golongan OK sejak tahun 1973 tidak boleh digunakan untuk pengendalian hama pertanian di Indonesia. asefat. 3) karbamat. dimetoat. dinitrofenol. dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. fosfamidin. Organofosfat (OP) Insektisida OP dengan unsur P meliputi semua ester asam fosforik (H3PO4) sebagai inti yang aktif saat ini merupakan kelompok insektisida yang terbesar dan sangat bervariasi jenis dan sifatnya. Permasalahan lain yang timbul akibat digunakannya DDT secara besarbesaran adalah berkembangnya sifat resistensi serangga sasaran seperti nyamuk dan lalat terhadapp DDT. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. Masalah yang paling merugikan bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah sifat persistensinya yang sangat lama di lingkungan baik di tanah maupun di jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. triklorfon. Setelah DDT ditemukan kemudian berhasil dikembangkan banyak jenis insektisida baru dengan susunan kimia dasar yang mirip dengan DDT dan kemudian dikelompokkan dalam golongan Hidrokarbon Klor. naled. malation. terbufos. Insektisida yang termasuk OK pada umumnya memiliki toksisitas sedang untuk mamalia. Persistensi OK di lingkungan menimbulkan dampak negatif seperti perbesaran hayati dan masalah keracunan khronik yang membahayakan kesehatan masyarakat. dan heterosiklik. Saat ini telah tercatat sekitar 200. OP yang dikembangkan dari kombinasi tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok derivat yaitu alifatik. 5) kloronikotinil dan 6) IGR (Insect Growth Regulator). monotrotofos. dikrotofos. metamidofos. oksidemetonmetil. b.000 senyawa OP yang pernah dicoba dan diuji untuk mengendalikan serangga. Insektisida OP yang termasuk dalam derivat fenil adalah paration. mevinfos. sedangkan residu endrin pada 14 tahun setelah perlakuan ternyata masih dijumpai sebanyak 40% dari residu semula. Berbeda dengan OK. Karbon. disulfoton. Kebanyakan insektisida OP adalah penghambat bekerjanya enzim asetilkoline sterase. efektif untuk mengendalikan larva. Sulfur. dikloruos. tiosianat dan sulfanat. Ester-ester ini mempunyai kombinasi Oksigen. persistensinya di lingkungan sedang sehingga OP secara bertahap dapat menggantikan OK. Organo Klorin (OK) Insektisida Organo Klorin atau sering disebut Hidrokarbon Klor merupakan kelompok insektisida sintetik yang pertama dan paling tua dan dimulai dengan ditemukannya DDT oleh ahli kimia Swiss Paul Mueller pada tahun 1940-an. 4) piretroid sintetik. nimfa. seperti heterosiklik. OP di lingkungan kurang stabil sehingga lebih cepat terdegradasi dalam senyawa-senyawa yang tidak beracun. OP merupakan insektisida yang sangat beracun bagi serangga dan bersifat baik sebagai racun kontak. Sedangkan di bidang kesehatan DDT tidak lagi digunakan untuk mengendalian vektor penyakit malaria sejak 1993. 62 . racun perut maupun fumigan. dan Nitrogen.

Sintetik Piretroid (SP) Piretroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensional yang baru digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat ini perkembangannya sangat cepat. kecoa. kuinalfos. kedelai dan sayuran. Karena toksisitas sangat tinggi aldikarb sekarang dilarang di Indonesia. stirofos. Kloronikotinil 63 . triazofos. metidation. Insektisida karbamat relatif baru bila dibandingkan dengan 2 kelompok insektisida OK dan OP. klorpirifos . dan fentoat. Pestisida karbamat dapat dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu 1) metil karbamat dengan bangunan cincin fenil. Biasanya generasi yang lanjut merupakan perbaikan sifat PS generasi sebelumnya. Insektisida OP derivat heterosiklik banyak jenisnya. dan yang lain. dll. d. generasi kedua adalah resmetrin. namun insektisida PS menghadapi permasalahan utama yaitu percepatan perkembangan strain hama baru yang tahan. Untuk memperoleh efektivitas yang sama dosis aplikasi inesktisida PS generasi baru lebih kecil bila dibandingkan dengan aplikan OP dan OK. Meskipun daya mematikan hama sasaran sangat tinggi dan PS sedikit menghadapi permasalahan lingkungan. Karbamat Karbamat merupakan insektisida yang berspektrum lebar dan telah banyak digunakan secara luas untuk pengendalian hama tanaman. e. fosmet. dioxakarb. Residu PS di hasil-hasil pertanian tidak menjadi masalah. fonofos. Keunggulan piretroid sintetik (PS) karena memiliki pengaruh knock down atau kemampuan menjatuhkan serangga dengan cepat dan tingkat toksisitas rendah bagi manusia dan mamalia. dll. dll. Beberapa karbamat memiliki toksisitas rendah bagi mamalia tetapi ada yang sangat beracun. fention. temefos. Termasuk dalam kelas ini adalah aldikarb. isofenfos.metil paration. Cara karbamat mematikan serangga sama dengan insektisida OP yaitu melalui penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf. Yang paling banyak digunakan sekarang adalah generasi PS yang ketiga dan keempat. karbofuran. 2) metil karbamat dan dimetil karbamat dengan struktur heterosiklik seperti dijumpai pada bendiokarp. Pada umumnya PS menunjukkan toksisitas rendah bagi mamalia tetapi sangat beracun bagi ikan dan lebah. deltametrin dan siflutrin. MICP. Generasi PS keempat lebih hemat lagi dibandingkan dengan generasi ketiga. Salah satu anggota generasi pertama adalah alletrin. Dari kelompok ini insektisida yang terkenal adalah diazinon dan lainnya seperti asinfos. 3) metil karbamat dari oksin yang mempunyai struktur rantai. fenitrotion. fenpropatrin. Aldikarb merupakan insektisida karbamat yang paling beracun juga merupakan insektisida sistemik yang digunakan untuk pengendalian serangga dan nematoda. Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi PS. Yang termasuk dalam kelas ini adalah BPMC. PS seringkali dikelompokan menurut generasi perkembangannya di laboratorium. Untuk lahan seluas 1 ha hanya diperlukan 10-40 g bahan aktif. sehingga tidak terakumulasi dalam jaringan lemak dan susu seperti OK. Generasi PS ketiga antara lain fenvalerat dan permetrin banyak digunakan untuk pengendalian hama-hama kapas. profenofos. metomil. Kelompok Piretroid Sintetik merupakan tiruan dari bahan aktif insektisida nabati piretrum yaitu sinerin I yang berasal dari ekstrak bunga Chrysanthemum cinerariaefolium. etil paration. Propoksur merupakan insektisida yang umum digunakan di dalam rumah untuk pengendalian serangga rumah tangga seperti nyamuk. Insektisida tersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari jaringan binatang. fention. sihalotrin. lalat. dll. Isokarb. Beberapa PS yang termasuk generasi keempat yang saat ini juga sudah diijinkan di Indonesia antara lain sipermetrin. fosmet. stirofos. c. flusitrinat. fluvalinat.

Sampai tahun 2002 ini sebagian insektisida IGR tersebut telah terdaftar di Indonesia seperti tebufenozide. wereng. Yang termasuk dalam IGR adalah ekdison (hormon penggantian kulit). Imidakloprid meruapakan insektisida sistemik dan kontak dengan sasaran hama yang mempunyai tipe mulut pencucuk dan pengisap seperti aphis. dan venoksikarb. tekanan seleksi terhadap serangga hama juga lemah sehingga timbulnya sifat resistensi dari serangga hama dapat dihambat. Bila piretroid merupakan tiruan produk alami piretrum. Insektisida jenis ini termasuk insektisida yang paling tua dan banyak digunakan untuk pengendalian hama sebelum insektisida organik sintetik ditemukan. hormon juvenil (JH). methoxyfenozide. kinoprin. Insektisida Botanik Bila insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. f. teflubenzuran. Insektisida botanik atau insektisida nabati merupakan insektisida alami diambil secara langsung dari tanaman atau dari hasil tanaman. pada dasarnya IGR memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi terhadap serangga sasaran sehingga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip PHT. maka insektisida botani atau insektisida nabati merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman. analog hormon juvenil (JHA). Hormon juvenil yang sekarang telah dipasarkan dan digunakan untuk pengendalian serangga di Amerika Serikat adalah metoprin. Karena cara aksi terhadap serangga sasaran berbeda dengan kelompok-kelompok insektisida kimia lain. Misalkan diflubenzuron sangat efektif terutama untuk Lepidoptera dan Diptera. IGR pada hakekatnya mengganggu aktivitas normal sistem endokrin serangga. Untuk kelompok serangga lainnya seperti serangga predator dan parasitoid insektisida tersebut kurang berpengaruh. Dengan cara membunuh hama yang demikian. Karena cara kerja IGR terhadap serangga sasaran adalah dengan mempengaruhi sistem hormonal serangga yang khas. Agonis ekdison merupakan IGR yang paling baru tetapi sudah cukup tersedia di pasar. hidroprin. Sejak tahun 1986 untuk pengendalian hama wereng padi terutama wereng coklat kita mulai menggunakan salah satu senyawa penghambat khitin yaitu buprofezin. triflumuron. Kelompok insektisida baru adalah yang termasuk dalam golongan IGR (Insect Growth Regulator) atau Zat Pengatur Pertumbuhan Serangga. Pengaruh IGR tersebut dapat terjadi pada waktu perkembangan embrionik. Contoh IGR ini adalah tebufenozoid. Pengatur Pertumbuhan Serangga (IGR = Insect Growth Regulator) Kelompok insektisida lain yang memiliki sifat selektivitas fisiologi yang tinggi adalah kelompok insektisida baru yang tidak termasuk dalam kelompok insektisida konvensional. dan kurang stabil karena mudah 64 . g. metamorfosis. Tebufenozide dan methoxyfenozide untuk mengendalikan Lepidoptera sedangkan halofenozide untuk Coleoptera. antihormon juvenil serta insektisida penghambat khitin. Juga efektif untuk mengendalikan rayap. IGR bekerjanya lambat dan lembut serangga akan mati beberapa hari setelah diperlakukan dengan IGR. trips dan kutu daun. dan halofenozide. kloronikotinil juga merupakan tiruan atau analog produk nikotin. proses reproduksi. metoxyfenozoid. perkembangan larva atau nimfa.Kloronikotinil merupakan kelas baru insektisida sintetik. Berbeda dengan insektisida konvensional yang mempengaruhi sistem syaraf sehingga mematikan serangga dalam waktu cepat. klorfluazuron. kloronikotinil dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan jenis hama yang telah resisten terhadap kelompok/jenis insektisida tertentu. sedangkan buprofezin khas untuk wereng daun dan wereng batang serta serangga-serangga Homoptera lainnya. mimik atau tiruan hormon juvenil. ataupun perilaku diapause. Kelas insektisida ini sampai sekarang baru diwakili oleh satu bahan aktif yaitu imidakloprid yang telah diijinkan di Indonesia. sedangkan insektisida penghambat sintesis khitin adalah diflubenzuron. dan halofenozoid. serangga tanah dan beberapa jenis kumbang. bensoil finil ureas. Karena kesulitan dalam melakukan ekstraksi.

Sampai saat ini belum dilaporkan adanya pencemaran tanah dan air akibat dari mimba. 2) menghambat metamorfosis. Namun untuk keberhasilan pengendalian perlu diperhatikan waktu dan frekuensi penyemprotan yang tepat sesuai dengan sifat ekobiologi hama sasaran. Karena tanaman mimba sudah banyak tumbuh di Indonesia dan sangat sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca di sini. Dalam kegiatan pelatihan SLPHT-Perkebunan Rakyat juga diberikan pelatihan penggunaan pestisida nabati. Cara kerja ekstrak nimba tersebut di atas hampir sama dengan cara kerja insektisida IGR. Ekstrak mimba mempunyai risiko kecil bagi kesehatan manusia. Pestisida botanik telah lama dikenal sebagai pestisida yang risikonya kecil bagi kesehatan dan lingkungan hidup. ikan. ampas biji dan daun. sehingga cepat teurai menjadi zat-zat yang tidak berbahaya. Pestisida nabati yang prospektif dan banyak diteliti oleh para pakar pada dua dekade akhir ini adalah Azadirachtin salah satu bahan aktif yang diambil dari tanaman nimba atau mimba (Azadirachta indica). Agar dapat dimanfaatkan di lapangan dan diperdagangkan bahan teknis harus diproses lagi menjadi 65 . Persistensi esktrak mimba rendah. Beberapa jenis insektisida botanik yang sudah lama dikenal dan digunakan adalah piretrum yang diambil dari bunga Chrysanthemum. Tanaman mimba sejak lama telah dikenal dan digunakan sebagai pestisida nabati. FORMULASI PESTISIDA Dalam pabrik pembuat insektisida dihasilkan bahan aktif insektisida dalam bentuk murni. Dari banyak hasil penelitian telah diketahui beberapa cara kerja insektisida nimba yaitu 1) Mengusir dan menghambat nafsu makan serangga. Lebih dari 200 spesies serangga hama dapat dikendalikan secara efektif dengan ekstrak tanaman tersebut. Kerena efektivitas dan cara aksinya berbeda dengan pestisida kimia konvensional. 3) Mengurangi kesehatan dan daya reproduksi 4) Menghambat daya bertelur. apalagi bila teknik ekstraksi dan penggunaannya telah dikuasai petani. Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melakukan inventarisasi mengenai berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar lahan petani untuk dijadikan pestisida nabati. ektraksi dan penggunaan pestisida nabati telah dibuat dan diedarkan kepada para petani pekebun. Beberapa keuntungan penggunaan mimba yaitu efektivitas tinggi. Demikan juga rotenon diambil dari akar tanaman leguminosaea Derris elliptica atau tuba. Penyiapannya dilakukan dengan cara menggerus biji atau daun dan membuat ekstrak sederhana dengan dicampur air dan kemudian disemprotkan dengan menggunakan alat penyemprot biasa. penggunaan pestisida botanik kembali memperoleh perhatian dari pemerintah dan petani sebagai solusi alternatif bagi pestisida kimia. Bahan tersebut belum dapat langsung digunakan untuk kegiatan pengendalian hama. Petunjuk mengenai cara penyiapan. Namun akhir-akhir ini setelah timbul kekhawatiran mengenai dampak samping pestisida kimia. burung dan binatang bermanfaat lainnya. tidak berbahaya bagi lebah madu.terurai. Dari inventarisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Bina Perkebunan yang memuat daftar jenis-jenis tanaman di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati (Lampiran). penggunaannya semakin berkurang terutama setelah pestisida kimia sintetik ditemukan dan digunakan. Untuk memperoleh hasil yang baik dapat ditambahkan minyak dan pengemulsi. penyemprotan dengan pestisida nabati sebaiknya dilakukan dengan frekuansi yang lebih banyak dan sewaktu populasi hama masih belum jauh melampaui Ambang Pengendaliannya. Rotenon dapat berupa racun kontak dan perut tetapi pengaruhnya tidak pada sistem syaraf. Teknologi sederhana tersebut sangat mudah dilakukan oleh petani dengan biaya yang sangat murah. Bagian tanaman mimba yang sering digunakan adalah tepung biji. maka prospek penggunaannya untuk pengendalian hama sangat baik. ancaman terhadap timbulnya resistensi hama relatif kecil karena mengandung banyak zat yang semuanya mempunyai cara kerja yang berlainan.

g) penebal (thickeners). Pengetahuan dan teknologi pembuatan bahan aktif dan formulasi pestisida berkembang sangat cepat sehingga ditemukan banyak jenis dan formulasi pestisida. dan I) zat anti mikroba. Ultra Low Volume Liiquid (ULV) 6. seperti sabun atau deterjen untuk peningkatan daya sebar. pembawa atau carrier digunakan untuk formulasi padat seperti serbuk dan butiran agar dapat mengikat/menyerap serta bahan tambahan khusus seperti a) penstabil (stabilizers). daya emulsi dan pembasahan pada permukaan. c) pembasah (wetters). Sistem kode formulasi pestisida mulai dibakukan pada tahun 1978 yang kemudian direvisi pada tahun 1989. d) minyak untuk meningkatkan aktifitas biologi insektisida. Wettable Powders (WP) 3. Berikut nama-nama 10 kode formulasi insektisida penting yang sudah digunakan dan dipasarkan di Indonesia.bahan formulasi insektisida. Agar tidak membingungkan pengguna dan konsumen di pandang perlu dilakukan harmonisasi atau pembakuan kode formulasi pestisida yang berlaku di tingkat internasional. Sekitar 71 kode formulasi pestisida telah dibakukan. Aerosol Dispenser (AE) 9. h) colouring agents (zat pewarna). aplikasi. e) odorants untuk memberi bau. Water Soluble Powder (SP) 5. Proses formulasi insektisida merupakan proses untuk memperbaiki sifat-sifat bahan teknis agar sesuai untuk keperluan penyimpanan. atau keamanan bagi manusia dan lingkungan. Inisiatif pembakuan kode formulasi ini dilakukan oleh asosiasi industri pestisida global yaitu Crop Life International (dulu GCPF). 66 . Emulsifiable Concentrates (EC) 2. peningkatan efektivitas. Bait (RB) 10. Sebelum dipasarkan bahan teknis perlu dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan tertentu. f) cat dan pigment. b) sinergis. Suspension Concentrate (SC) 4. Granules (GR) 8. penanganan. untuk mencegah degradasi bahan. Kode formulasi tersebut diusahakan sederhana. Menurut fungsinya bahan inert dapat berupa bahan surfaktan. sedapat mungkin terdiri dari dua huruf besar yang merupakan singkatan. untuk formulasi pestisida cair agar dapat meningkatkan daya larut. pelarut atau solvent. Bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat meracuni serangga (insektisidal) secara umum disebut bahan inert atau inert material. Capsule Suspension (CS) 1. Dustable Powder (DP) 7. bahan yang dapat meningkatkan aktifitas.

67 . Semakin rendah nilai LD50 semakin tinggi toksisitas insektisida tersebut. 2. Pengujian tingkat toksisitas terhadap binatang uji dilakukan dengan memberikan melalui makanan (oral). keracunan terjadi biasanya karena kecerobohan sewaktu penanganan pestisida atau sewaktu penyemprotan atau yang sengaja meminum insektisida untuk bunuh diri. Toksisitas pestisida dapat dikelompokkan menjadi toksisitas akut. teratogenic (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan). Binatang uji tersebut dipelihara dalam laboratorium dengan kondisi standar yang ditetapkan. Dari uji laboratorium ini diperoleh nilai LD50 oral dan LD50 dermal dan LD50 inhalasi. Toksisitas akut melalui oral atau dermal merupakan indikasi bahaya insektisida bagi mamalia dan manusia. namun sudah disepakati secara internaional bahwa nilai dosis letal mamalia tersebut digunakan untuk melihat tingkat bahaya akut suatu jenis pestisida bagi manusia. Keracunan ini biasanya terjadi pada pekerja yang langsung bekerja dengan insektisida baik di pabrik. Toksisitas kronik adalah pengaruh yang merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida dalam jumlah sedikit atau pemaparan oleh pestisida yang berlangsung sebagian besar rentang hidup suatu organisme (misal. Toksisitas akut adalah pengaruh meracuni atau merugikan yang timbul segera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu pestisida. dan marmut). endocrine destruptor (gangguan hormon endokrin). Metode untuk menentukan toksisitas relatif pestisida yang telah disepakati adalah dengan menggunakan dosis median letal (LD50).TOKSISITAS PESTISIDA Pestisida tidak hanya beracun (toxic) atau berbahaya bagi serangga hama sasaran juga berbahaya bagi serangga-serangga musuh alami. aplikasi kulit (dermal) melalui pernafasan (respiratori. Bahaya akibat keracunan kronik karena terpapar insektisida dapat bersifat carsinogenic (pembentukan jaringan kanker). Satuan nilai LD50 adalah miligram bahan racun per kg berat tubuh binatang uji (mg/kg). inhalasi). melalui kulit (rute dermal). 1. Pengujian Toksisitas Insektisida Cara masuk insektisida ke dalam tubuh binatang atau manusia dapat melalui mulut (rute oral).World Health Organization) kategori tingkat bahaya pestisida adalah seperti Tabel 6. Gejala keracunan ini baru terlihat selang beberapa waktu (bulan atau tahun) setelah penderita terpapar pestisida. atau melalui saluran pernafasan (rute respiratori. Unit pengukuran adalah miligram (mg) bahan aktif per kilogram (kg) berat tubuh binatang uji (tikus. Keracunan akut merupakan kesakitan atau kematian akibat terkena dosis tunggal insektisida. toksisitas kronik dan toksisitas subkronik. atau pemberian dosis ganda dalam waktu kurang lebih 24 jam. Penghitungan mortalitas biasanya dilakukan 24 jam dan 48 jam setelah binatang uji terpapar oleh insektisida. binatang-binatang lain. rute inhalasi). tikus putih. Menurut Bahan Kesehatan Dunia (WHO . mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang). mamalia). manusia dan komponen-komponen lingkungan hidup. tempat peyimpanan maupun di lapangan. Tingkat Bahaya Pestisida Meskipun sangat sulit mengekstrapolasi nilai LD50 binatang mamalia seperti tikus atau kelinci untuk menilai tingkat toksisitas pestisida bagi manusia. Keracunan khronik yang saat ini oleh masyarakat dunia yang paling menjadi keprihatinan masyarakat dunia karena semakin tingginya kesadaran terhadap keperluan adanya lingkungan yang tidak tercemar. Nilai LD50 adalah suatu dosis insektisida yang diperlukan untuk membunuh 50% dari individu-individu spesies binatang uji dalam kondisi percobaan yang telah ditetapkan. Keracunan khronik merupakan keracunan karena penderita terpapar racun dalam jangka waktu panjang dengan dosis yang sangat rendah. kelinci.

Contoh bahan aktif yang termasuk kategori I adalah aldicarb dengan LD50 oral untuk tikus adalah 0,93 mg/kg dan LD50 dermal untuk kelinci adalah 5 mg/kg. karbofuran LD50 oral untuk tikus 8-14 mg/kg. Propoksur termasuk kategori II karena LD50 oral, untuk tikus adalah 100 mg/kg, LD50 diazinon untuk tikus adalah 108 mg/kg, LD50 DDT untuk tikus adalah 113 mg/kg. Yang termasuk kategori III (sedikit beracun) antara lain sipemetrin (SP) dengan LD50 tikus antara 303-4123 mg/kg. Sejak tahun 2000 Pestisida yang termasuk dalam kategori Ia dan Ib termasuk pestisida dilarang aau tidak boleh didaftarkan di Indonesia.

Tabel 6. Tingkat bahaya insektisida menurut ketentuan WHO
Kategori LD50 Oral Padat
(mg/kg)

LD50 Dermal Padat
(mg/kg)

Keterangan yang perlu dicatat di dalam label Pernyataan bahaya Sangat beracun Warna Simbol bahaya Simbol dan Kata

Cair
(mg/kg)

Cair
(mg/kg)

Ia Sangat berbahaya sekali

<5

<20

<10

<40

Coklat tua Sangat beracun

Ib Berbahaya Sekali II Berbahaya III Cukup berbahaya IV Tidak berbahaya pada penggunaan normal

5-50

20-200

10-100

40-400

Beracun

Merah tua Beracun

50-500

200-2000

100-1000

400-4000

Berbahaya

Kuning tua Berbahaya

5002000

20003000

>1000

>4000

Perhatian

Biru muda

Perhatian

>2000

>3000

Hijau

PENGGUNAAN PESTISIDA SECARA SELEKTIF Dalam kerangka penerapan PHT penggunaan pestisida harus hati-hati seminimal mungkin serta selektif dengan sasaran mengurangi populasi hama sampai pada aras yang tidak merugikan tanpa dengan sesedikit mungkin membahayakan kesehatan pengguna, masyarakat termasuk konsumen serta lingkungan hidup. Karena itu penggunaan pestisida harus dilakukan secara lebih selektif. Selektivitas penggunaan insektisida dapat dibagi menjadi: 68

1. selektivitas fisiologi atau selektivitas intrinsik 2. selektivitas ekologi 3. selektivitas melalui formulasi dan aplikasi 1. Selektivitas Fisiologi Selektivitas fisiologi insektisida di sini adalah penggunaan jenis insektisida yang secara intrinsik hanya mematikan serangga-serangga hama tetapi tidak membahayakan seranggaserangga yang berharga termasuk musuh alami dan serangga penyerbuk bunga. Karena sifatnya, maka insektisida yang memiliki selektivitas fisiologis berspektrum sempit dengan serangga sasaran yang khas. Meskipun banyak insektisida OP, karbamat yang kurang selektif terhadap predator hamahama padi tetapi ada juga insektisida OP seperti piridafention dan tertraklorvinpos yang lebih beracun bagi hama sasaran yaitu wereng hijau padi Nephotettix spp dan kurang berbahaya bagi predator laba-laba serigala Lycosa pseudoannulata. Pengujian tentang selektivitas berbagai jenis insektisida yang saat ini digunakan di Indonesia terhadap hama dan musuh alaminya perlu dilakukan agar kita mengetahui seberapa jauh tingkat bahaya insektisida tersebut bagi serangga bukan sasaran yang bermanfaat seperti musuh alami. Insektisida bakteri seperti Bacillus thuringiensis dan insektisida biologis lainnya termasuk jenis insektisida yang memilki selektivitas tinggi bila dibandingkan dengan insektisida konvensional. Bt umumnya ditujukan untuk mengendalikan hama yang termasuk ordo Lepidoptera. 2. Selektivitas Ekologi Dengan mempelajari sifat biologi dan ekologi hama sasaran dapat diketahui waktu dan cara aplikasi insektisida yang tepat dan efektif. Dengan mempelajari neraca kehidupan hama, perilaku hama, kisaran inang hama kita dapat menentukan bagaimana aplikasi insektisida yang tepat. Aplikasi terutama ditujukan pada bagian yang lemah pada kehidupan hama yaitu sewaktu hama berada pada stadium hama yang peka terhadap insektisida dan dalam keadaan yang "terbuka" terhadap perlakuan insektisida diusahakan sedapat mungkin serangga parasitoid dan predator dapat terhindar dari perlakuan insektisida. Dalam praktek di lapangan selektivitas ekologi perlakuan insektisida dapat dalam beberapa cara yaitu: a. Penetapan waktu aplikasi yang tepat. b. Perlakuan insektisida secara parsial atau spot treatment yang meliputi penyemprotan hanya di pesemaian, pada tanaman batas, atau pernyemprotan hanya pada bagian tanaman atau pertanaman yang terserang. c. Perlakuan insektisida pada tanaman perangkap. d. Perlakuan insektisida pada tanaman inang alternatif harus yang berupa gulma. e. Perlakuan benih dapat mengurangi perlakuan insektisida pada pertanaman. f. Aplikasi insektisida melalui tanah atau air pengairan untuk mengurangi terbunuhnya musuh alami. 3. Selektivitas Melalui Penentuan Formulasi dan Cara Aplikasi Selektivitas insektisida di sini adalah dalam menentukan dan memilih formulasi insektisida dan teknik aplikasi yang tepat, efektif dalam mengendalikan hama sehingga kurang membahayakan eksistensi musuh alami hama. Yang termasuk dalam selektivitas ini adalah: a. Penggunaan formulasi butiran atau Granule dengan insektisida sistemik diharapkan dapat efektif untuk mengendalikan hama penggerek tanaman dan membatasi pengaruh yang merugikan bagi serangga predator dan parasitoid dewasa. 69

b. Penggunaan formulasi ULV (Ultra Low Volume) yang tepat dapat membatasi "drift" insektisida sehingga dapat mengurangi risiko pencemaran dan membatasi terbunuhnya musuh alami. c. Cara aplikasi di lapangan yang kurang tepat dapat mengakibatkan peningkatan kematian organisme bukan sasaran. Oleh karena itu petani perlu dilatih tentang bagaimana cara penyemprotan insektisida yang benar.

Bijaksana: Tepat apa? • Sasaran • Dosis • Cara • Waktu • Konsentrasi • ----129807801.doc 70

pupuk buatan atau pupuk kimia (Urea. 71 Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman pangan Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman pangan . Perbaikan Pengairan Teknologi revolusi hijau pada tanaman padi sangat tergantung pada bibit unggul. Program intensifikasi pangan berjalan sampai saat ini. dll. setelah itu kita masih harus mengimpor beras untuk dapat memenuhi kebutuhan beras penduduknya. Pengendalian Hama dan Penyakit 5. KACANG PANJANG. Istilah yang terkenal dengan teknologi revolusi hijau adalah Panca Usaha yaitu: 1. Hal ini disebabkan karena padi menyangkut hidup sebagian besar penduduk Indonesia. SUPRA INSUS. INMAS (Intensifikasi Massal). Nama program bermacam-macam tergantung kegiatan dan “selera” Kabinet yang bersangkutan. Penanaman Bibit atau Benih Unggul 3. Tujuan intensifikasi pangan agar dapat meningkatkan produksi pangan khususnya beras dengan tujuan agar Indonesia menjadi swasembada beras atau memenuhi kebutuhan sendiri akan beras sebagai makanan utama penduduk. Di Indonesia tanaman pangan dibagi dalam dua kelompok yaitu padi-padian dan palawija. Pada beberapa tahun terakhir ini Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras terbesar dunia. Kabinet sekarang mempunyai program yang disebut Program Ketahanan Pangan. padi merupakan tanaman yang paling memperoleh perhatian utama dari Pemerintah dan masyarakat. Pengolahan Tanah 2. Sejak tahun 1970an kita kenal banyak nama program intensifikasi yaitu sebagai program BIMAS (Bimbingan Massal). KCL) serta pestisida kimia. Pemupukan 4. INSUS (Intensifikasi Khusus). sedangkan palawija terdiri atas KEDELAI dan tanaman kacang-kacangan seperti KACANG TANAH. Dari sekian banyak jenis tanaman dan komoditas pertanian yang dibudidayakan dan diusahakan.Materi 9 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN PANGAN Tujuan: 1. dan lain-lainnya. Karena pentingnya padi seringkali padi disebut sebagai TANAMAN POLITIK. Indonesia hanya mencapai Swasembada beras pada tahun 1984. 2. Materi Kuliah: PERMASALAHAN HAMA TANAMAN PANGAN Yang disebut tanaman pangan adalah jenis tanaman yang menjadi sumber pangan utama sebagian besar penduduk. Kelompok padi-padian diwakili oleh PADI yang menghasilkan BERAS sebagai makanan utama penduduk Indonesia dan JAGUNG. TSP. ZA. SWASEMBADA BERAS Sejak Pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi beras untuk mencapai swasembada beras pada tahun 1970 Pemerintah mengintroduksikan teknologi intensifikasi produksi padi atau yang dikenal dengan teknologi “revolusi hijau“ atau green revolution.

Penerapan PHT untuk hama-hama padi secara umum adalah sebagai berikut: 1. Diusahakan di suatu hamparan sawah dilakukan penanaman secara serentak termasuk di daerah-daerah yang berbukit. palawija. padi. penyakit tungro. kesuburan tanah semakin menurun sehingga proses produksi tanaman padi menjadi semakin tidak efisien. seringkali dengan menanam varietas sama dan masa tanam yang tidak serentak. Laksanakan kegiatan pengamatan atau pemantauan hama dan musuh alami seminggu sekali. Ekosistem persawahan menjadi sangat rawan hama dan penyakit padi. Puncak letusan hama terjadi pada tahun 1979 hampir satu juta hektar sawah gagal panen atau rusak oleh wereng coklat. Bila diperlukan pestisida kimia gunakan secara sangat selektif dengan menggunakan jenis-jenis pestisida yang tidak membunuh musuh alami. 2. Serangan hama tikus berkurang di daerah-daerah yang menanam padi serentak. Keadaan ini mendorong terjadinya kesenjangan di pedesaan antara petani yang kaya dan petani yang miskin terutama buruh tani. Berbagai hama penyakit “baru” timbul. Karena itu sampai saat ini sawah di Indonesia tidak pernah “sepi” akan serangan hama. 72 . Cianjur. sasaran peningkatan produksi tidak tercapai dan lingkungan pertanian semakin tercemar. VUTW I. 4. 6.Dampak penerapan intensifikasi pertanian pada ekosistem persawahan dan sistem sosial masyarakat di Indonesia sangat besar antara lain: 1. meluas dan sering meletus setelah program BIMAS dilaksanakan antara lain hama wereng coklat dan wereng-wereng lainnya. Pengendalian hayati terutama dengan teknik augmentasi dan konservasi musuh alami merupakan teknik pengendalian hama-hama padi utama. pupuk kimia dan pestisida yang harganya semakin mahal. 4. 5. Sebaiknya dilakukan pergiliran varietas antar musim tanam. Program PHT pada tanaman padi yang dilaksanakan Pemerintah sejak tahun 1989 yang telah melatih sekitar satu juta petani padi dengan konsep dan teknologi dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia di tingkat petani. Tanam bibit atau varietas unggul tahan hama terutama VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) sesuai dengan biotipe wereng coklat pada suatu tempat. Kondisi lingkungan ini menguntungkan perkembangbiakan hama-hama padi seperti tikus dan wereng coklat. Banyak jenis predator dan parasitoid dijumpai di ekosistem persawahan kita. Apabila jumlah musuh alami banyak tidak perlu dilakukan kegiatan pengendalian dengan pestisida. Pada kondisi populasi wereng coklat tinggi hindarkan penanaman varietas padi peka hama terutama varietas-varietas lokal (Rojolele. Penggunaan pestisida yang masih tinggi dapat menimbulkan resistensi dan resurjensi hamahama utama padi seperti wereng coklat. Seperti kita ketahui saat ini kita mempunyai kelompok Non VUTW. Dalam kondisi stabil letusan hama tidak perlu dikhawatirkan. Petani semakin tergantung pada bibit unggul. dll). Ada banyak petani padi saat ini yang tidak lagi menggunakan pestisida karena sudah mengandalkan musuh alami hama-hama padi. Pola tanam padi. Dengan perbaikan sistem pengairan petani dapat menanam padi dua kali sampai 3 kali setahun. Ekosistem persawahan secara ekologi sebenarnya merupakan ekosistem yang memiliki kestabilan tinggi apabila kita dapat menerapkan PHT secara konsisten dan konsekuen. 2. 3. Karena penggunaan bahan kimia pertanian yang sangat banyak. dan VUTW I. Mentik. 3. Penggunaan pestisida diputuskan setelah mempelajari hasil pengamatan ekosistem. 7.

serta menimbun makanan. Pengelolaan: 1. tempat memelihara anak dan kelompok keturunan. Fungsi lubang bagi tikus sawah adalah sebagai tempat bernaung. Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Namun dari laporan pada 5 tahun terakhir urut-urutan hama padi utama di Indonesia adalah 1) Tikus. karena pada saat tersebut umumnya tikus tinggal di dalam liang. Memanfaatan musuh alami.A. antara lain burung hantu. penggenangan lahan. terutama pada tanaman-tanaman muda. 73 . 5. Secara singkat sifat hama dengan cara pengelolaannya adalah sbb: 1. di sekitar sawah. Serangan tikus dapat terjadi sejak di persemaian sampai pasca panen. Pada kepadatan populasi rendah. Untuk tempat tinggal atau lubang biasanya tikus berorientasi ke daerah yang cukup memberi perlindungan dan rasa aman dari gangguan predator dan tersedia sumber makanan dan air. Pengemposan dilakukan pada saat tanaman fase generatif. Melakukan gropyokan. serangan tikus biasanya bersifat acak terutama di bagian tengah petakan. Adanya sarang dari batang rerumputan dan daun diantara vegetasi tanaman yang tumbuh di lapangan 2. sehingga masa generatif hampir serentak. Dengan demikian masa perkembangbiakan tikus hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Gejala serangan: 1. Adanya bekas-bekas kotoran tikus sepanjang lintasan 6. biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pinggir. Siang hari mereka selalu berlindung di dalam liang atau di semak belukar. 2. Populasi tikus umumnya masih rendah pada persemaian sampai fase vegetatif dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif. Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Tikus sawah aktif pada malam hari. ular. 2) Penggerek Batang dan 3) Wereng Coklat. elang. HAMA-HAMA PADI Pada ekosistem padi dijumpai banyak jenis hama yang menyerang hampir seluruh stadia tumbuh padi dari persemaian sampai panen dan pasca panen. Adanya lubang yang biasanya dengan diameter yang lebih besar dari tubuh tikus dan berbentuk bulat yang merupakan jalan masuk menuju saluran. sehingga belum tampak jelas dari pematang. Pematang sebaiknya berukuran < 30 cm. Adanya lintasan jalan dimana tikus hilir mudik di antara pertanaman tempat makannya dengan lubang persembunyiannya. Adanya saluran lubang yang masuk ke dalam tanah yang tidak begitu basah atau tergenang air 3. dengan demikian hama-hama utama di suatu daerah dapat berbeda dengan hama-hama utama di daerah lain. Mengurangi ukuran pematang. pemasangan bambu perangkap dan pemanfaatan jaring. 4. 4. Yang akan dibahas di sini beberapa hama utama padi saja. Pada serangan berat. 5. sehingga mempersulit tikus membuat liang. Adanya bekas-bekas telapak kaki tikus terutama pada tanah berlumpur 7. Diupayakan agar waktu tanam dengan selang <10 hari dalam areal yang luas. 3. Adanya bentuk-bentuk kerusakan tertentu pada tanaman yang diakibatkan oleh tikus seperti rebahnya tanaman karena pangkal batang putus. Intensitas serangan hama-hama tersebut dari suatu lokasi ke lokasi lain sangat berbeda.

layu dan akhirnya mengering. Jenis Penggerek Batang Padi di Indonesia Nama Umum Nama Latin Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (PBPK) Penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (PBPP) Penggerek batang padi Chilo suppressalis berrgaris (PBPB) Penggerek batang padi kepala Chilo polychrysa hitam (PBPKH) Penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius (PBBBk) Penggerek batang padi merah Sesamia inferens jambu (PBPMj) Pengelolaan: 1). sehingga tersedianya sumber makanan bagi penggerek dapat dibatasi. 2.6. pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi. Persemaian dilakukan secara berkelompok untuk memudahkan pemeliharaan dan pengumpulan kelompok telur penggerek. Ulat penggerek merusak bagian pangkal titik tumbuh sehingga apabila tanaman ditarik dari titik tumbuhannya akan mudah lepas. sedangkan PBPB sering menjadi masalah di tanaman padi yang ditanam di dataran yang agak tinggi. 7. Pola tanam Diusahakan untuk melakukan tanam serempak. Sebelum tahun 1970 di Jawa PBPP yang lebih dominan. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada masa bero di antara waktu tanam. melibatkan semua petani dan aparat pemerintah. Tanam serentak varietas genjah dengan selisih kurang dari 2 minggu meliputi hamparan seluas-luasnya agar pertumbuhan tanaman dan masa panen dapat serentak. PBBBk dan PBPKH sering dijumpai pada pertanaman padi yang ditanam dekat dengan tanaman tebu dan jagung. 74 . penanaman varietas padi yang tahan penggerek batang. Pengumpanan beracun menggunakan racun antikoagulan. Yang harus diperhatikan dalam usaha pengendalian tikus sawah yakni harus terorganisasi dengan baik. No 1 2 3 4 5 6 Tabel 7. berrwarna putih dan hampa. Saat ini di Sulawesi Selatan dan daerah-daerah padi yang hanya dapat menanam padi satu kali setahun PBPP lebih penting daripada PBPK. Dari ke-6 penggerek batang padi tersebut saat ini yang paling penting adalah PBPK terutama di pulai Jawa yang memiliki jaringan pengairan baik. Penggerek Batang Padi Di Indonesia dikenal 6 jenis penggerek batang padi (Tabel 7). Pada pucuk tanaman tampak menguning. Gejala beluk memperlihatkan malai padi yang tegak. Gejala serangan: Gejala kerusakan penggerek batang padi umumnya mirip. Gejala serangan pada pertumbuhan vegetatif disebut sundep sedangkan pada pertumbuhan generatif disebut beluk. karena kematian tikus oleh racun ini lambat dan kematian umumnya tidak terlihat karena di dalam inang sehingga dapat menghindari jera umpan. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi dapat memutus daur hidup penggerek batang padi.

Wereng coklat mengeluarkan cairan madu. Xanthopimpla sp. Memanfaatkan musuh alami seperti Anagrus sp. Ophionea sp. Sistem tanam serempak dalam satu wilayah kelompok dengan selisih waktu tanam < 2 minggu sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau tidak tersedia pakan terus-menerus. Eradikasi Pembabatan dan pengumpulan jerami lalu dibakar untuk memusnahkan sumber hama penggerek batang padi. Pada saat panen diusahakan pemotongan jerami sampai serendah mungkin untuk mencegah kesempatan berkepompong pada pangkal padi. Pengelolaan: 1.2). Diusahakan persemaian jauh dari lampu dan sumber penyakit virus 4. 5. 4). sehingga menyebabkan tanaman menjadi menguning dan mengering. Anaxipha sp. 3). Di samping sebagai hama utama tanaman padi. wereng coklat juga dapat bertindak sebagai vektor penyakit virus kerdil rumput (grassy stunt) dan virus kerdil hama (ragged stunt). Penggunaan insektisida dilakukan pada saat populasi dominan nimfa. Penanaman varietas unggul tahan wereng dapat menghambat perkembangan populasi dari generasi ke generasi. Eradikasi dan sanitasi tanaman 6. maka jumlah tunas akan sangat berkurang. Microvelia sp. Trichogramma sp. Pergiliran varietas untuk menghindari timbulnya biotipe baru. Gejala serangan: Tanaman padi yang terserang menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil. Wereng Hijau (Nephotetix spp) Wereng hijau lebih dikenal sebagai pembawa atau vektor beberapa penyakit padi penting seperti penyakit kerdil rumput. 2. Menghindari pemupukan N secara berlebihan. yang dapat ditumbuhi cendawan jelaga. 4. 5). Apabila serangan terjadi pada waktu tanaman masih muda. 3. jumlah tunas sedikit berkurang dan berwarna kuning. 3. Kimiawi Aplikasi insektisida untuk pengendalian harus disesuaikan dengan keadaan populasi hama. Insektisida yang digunakan harus dipilih yang selektif. Malai yang dihasilkan biasanya steril dan 75 . efektif dan diizinkan untuk digunakan pada tanaman padi. Kerusakan berat tampak tanaman seperti gejala terbakar (hopperburn). Metioche sp. Biologi Memanfaatkan musuh alami baik predator maupun parasitoid seperti Conocephalus longipennis. dengan memperhatikan perbandingan antara wereng coklat dengan musuh alami. intensitas serangan dan umur tanaman. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara menusuk dan menghisap cairan batang atau pelepah daun pada bagian pangkal. Paederus sp. tungro dan kerdil kuning. sehingga batangnya berwarna hitam. Telenomus sp. Tetrastichus sp. 7. Fisik dan mekanik Mengumpulkan telur sejak di persemaian kemudian dibunuh. Bila memungkinkan diikuti dengan penggenangan air agar tunggul jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.

sorgum. Ganjur (Orsealia oryzae) Hama ganjur terbatas menyerang dalam luasan sawah sempit dan terpencar-pencar terutama di Jawa. rumput Echinocloa dan tebu. Budidaya tanaman sehat. predator laba-laba dan cocopet dari ordo Dermaptera 7. larva makan dari dalam. Pada musim kering larva lebih cocok hidup pada jagung.kecil. Gejala serangan: Larva memakan daun sehingga menimbulkan bekas serangan berupa garis-garis putih. Kepinding tanah (Scotinophora sp) Hama ini juga bukan hama utama padi. Pengelolaan: Pengelolaan hampir sama dengan pengelolaan wereng coklat. Serangannya tersebar dan tidak menimbulkan kerusakan ekonomis bagi petani. penggunaan varietas tahan. Pengelolaan: Pengamatan rutin serangan ganjur harus dimulai sejak umur 7 hari setelah tanam. Pada tahun 1975 sekitar 200. lamakelamaan semua daun kering dan akhirnya mati. Kelembaban minimal 80% sangat mendukung perkembangan larva. Penanaman secara serentak minimal di satu wilayah kelompok. Inang hama putih palsu adalah padi. Gejala serangan: Hama mengisap cairan pelepah dan batang padi.000 ha sawah di Jawa Tengah dan Jawa Barat terserang hama ini. jagung. Lombok dan Sumatera Selatan. Bali. Gejala serangan yang khas terlihat lipatan daun. Pemanfaatan dengan musuh alami diantaranya Apanteles sp. Pengelolaan: 1. Temperatur 26-290C sangat sesuai bagi perkembangan hama ini. 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi ganjur diantaranya kelembaban. angin. perlakuan benih dengan insektisida. Bekas isapan menjadi coklat dengan coklat tua pada tepinya. 6. Sanitasi tanaman inang dan rumput liar di sekitar persawahan 2. Batang-batang menjadi busuk dan mudah 76 . Larva lebih cocok hidup pada tanaman padi di musim hujan. cahaya. menyebabkan daun menjadi kering dan berwarna putih. Daun pada rumpun yang terserang berat akan menjadi kering. Pentalitomastix sp. Gejala kerusakan tanaman padi oleh wereng lebih banyak diakibatkan serangan penyakit padi yang dibawanya terutama penyakit tungro yang merupakan penyakit padi terpenting di Indonesia saat ini. sehingga adanya serangan ringan dapat dikompensasi oleh pertumbuhan tunas. Gejala serangan: Gejala serangan berupa puru yang akan tampak 3-7 hari setelah larva mencapai titik tumbuh. Hama Putih Palsu (Cnaphalocrosis medinalis) Bukan merupakan hama utama meskipun kadangkala dilaporkan menyerang di Pantai Utara Jawa Barat dengan kerusakan 15%. 3. jenis dan jumlah pakan serta musuh alami.

gejala serangan dan pengendalian hama Tikus sudah dijelaskan di depan. Pemanfaatan musuh alami seperti Conocephalus longipenis. Pengeringan lahan sawah dapat menghambat perkembangan hama. Walang sangit mulai aktif pada awal musim hujan setelah menyelesaikan 1-2 generasinya pada rerumputan. 8. Tanaman yang disukai hama ini terutama bibit di persemaian dan tanaman muda sampai 50-60 hari. Beauveria bassiana B. Lebih menyukai keadaan basah atau lembab. Di Sulawesi Selatan pernah dimasukkan sebagai salah satu hama padi utama. Pemupukan saat tanaman terserang. Kepadatan populasi meningkat pada kondisi tanaman padi sedang berbunga. Hama ini menimbulkan masalah di persawahan di luar Jawa. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Biasanya selain menyerang tongkol jagung juga menyerang pucuk sehingga bunga jantan tidak terbentuk akibatnya hasilnya berkurang. Walang Sangit (Leptocorisa acuta) Hama yang menyerang bulir padi ini merupakan hama yang menyerang secara sporadis di lokasi perswahan yang menyebar. Hujan lebat dapat menurunkan kepadatan populasi. Gryon nixoni.dicabut. 4) Lalat bibit dan 5) Ulat grayak. 77 . Penanaman tanaman resisten 4. Gejala serangan: Butir padi yang terserang hama ini akan menjadi hampa sebab cairan selnya telah habis dihisap. pucuk dan bunga pada malam hari. Butir padi yang setengah hampa akan mudah pecah jika masuk dalam penggilingan. HAMA-HAMA JAGUNG Urutan pentingnya hama-hama jagung di Indonesia saat ini adalah 1) Tikus. 3) Penggerek Batang . cuaca hangat dan gerimis. 2) Penggerek Tongkol. Biasanya telur diletakkan pada tanaman jagung umur + 2 minggu setelah tanam. Perilaku. Butir padi bekas tertusuk walang sangit warnanya berubah menjadi coklat atau kehitam-hitaman sebagian atau seluruhnya. Telur diletakkan secara terpencar pada daun. sehingga tanaman mampu mengkompensasi serangan. Serangan dewasa mampu hidup dan berkembangbiak selama 1-2 musim. Pengelolaan: Pembajakan dan pembenaman tunggul-tunggul padi setelah panen akan dapat mengurangi populasinya untuk musim tanam berikutnya. Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalam jumlah besar. Tanaman tua dapat juga terserang. Tanam serempak untuk membatasi ketersediaan makanan yang sesuai 2. Kerusakan berat akan terjadi apabila walang sangit dewasa menyerang padi pada saat malai berbunga. 1. Sanitasi lahan dan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan juga dapat menghambat perkembangan kepinding tanah. Pemanfaatan tanaman perangkap 3. Pengelolaan: 1. Selama musim kemarau mengalami dormansi pada bongkahan tanah yang berumput.

Hama tanaman merupakan faktor pembatas utama produksi kedelai di Indonesia. Phaedonia sp. kedelai mempunyai banyak jenis hama yang menyerang sejak di fase pembibitan sampai fase polong. Di samping menghadapi serangan hama kedelai juga menghadapi serangan banyak penyakit virus yang vektornya adalah serangga Bemisia sp dan Aphis sp. produksi selalu rendah sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang selalu meningkat setiap tahunnya. Saat ini kita harus mengimpor kedelai lebih dari satu juta ton. Lalat menyerang bibit seperti Agromyza sp b. Lalat Bibit (Atherigona oryzae) Gejala serangan: Serangan terjadi pada tanaman umur 5-7 hari setelah tanam dengan tanda-tanda tanaman layu sebagai akibat kematian titik tumbuh. Hama-hama kedelai dapat dikelompokkan menurut fase pertumbuhan kedelai yang diserang yaitu: a. Karena serangan hama tinggi. Berikut diuraikan sedikit sifat. Bemicia sp. Hama-hama pegisap polong seperti Riptortus sp. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 2. Pengelolaan: Rotasi tanaman. Nezara sp e. Karena banyak serangan hama. Ulat tua menggerek ke dalam batang yang menimbulkan lubang pada ruas dan meninggalkan kotoran bekas gerekan. 5) Penggulung daun dan 6) ulat jengkal. Plusia sp c. Urutan 6 besar hama-hama kedelai adalah: 1) Lalat kacang. 3) Tikus. Pengelolaan: 1. penggunaan pestisida kimia relatif sangat tinggi. Tanam lebih awal pada musim penghujan C. 4) Ulat grayak. Serangan pada pucuk daun yang masih menggulung dapat menimbulkan gejala berlubang dalam barisan yang melintang daun. tanam serentak. perilaku dan cara pengendalian hama-hama kedelai menurut urutan bahayanya. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung dan padi 2. Hama-hama penggerek polong seperti Etiella sp dan Heliothis sp. Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari 3. rata-rata satu musim aplikasi pestisida sekitar 4-5 kali. HAMA-HAMA KEDELAI Berbeda dengan padi sawah. Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis) Gejala serangan: Serangan pada daun dapat menimbulkan bercak putih pada permukaan daun. Aphis sp d. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. 2) Penggerek polong.Pengelolaan: 1. Hama-hama pengisap daun seperti Empoasca sp. 78 . pemangkasan bunga jantan 3. Hama-hama pemakan daun seperti Spodoptera sp. Tanam serentak 3.

Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah pergi. sehingga akar mati tanaman layu dan mati. Telur diletakkan pada malam hari. Trichogramma sp. Pada keping biji dan pasangan daun pertama terdapat alur atau garis berkelok-kelok berwarna coklat yang merupakan lubang gerekan.1. 6. Pengelolaan: 1. ojae dan A. Populasinya tinggi pada saat musim kemarau daripada musim hujan. Tanam serempak pada areal yang luas 3. Pengendalian dengan insektisida efektif dilakukan apabila populasi hama telah mencapai ambang pengendalian 3. Serangan ulat instar awal dapat menimbulkan gejala transparan pada daun. phaseoli. pada bagian bawah kelopak bunga atau pada polong secara berkelompok. Yang pertama merupakan yang paling penting. Pergiliran tanaman dengan tanaman non Leguminosae 2. Tanam serentak dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari. Kematian tanaman dijumpai pada tanaman berumur 14-30 hari. Sanitasi terhadap inang alternatif 4. 2. Penggunaan mulsa jerami 4. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva muda secara bergerombol makan epidermis bawah daun sehingga menimbulkan gejala transparan. A. Akibat gerekan jaringan pengangkut terputus. Pengelolaan: 1. dilakukan pada areal yang cukup luas. Stadia larva merupakan stadia yang merusak tanaman kedelai fase perkecambahan dan tanaman muda. perlu diterapkan penanaman tanaman perangkap. Bintik-bintik tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telur pada pangkal kotiledon dan pangkal daun. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 5. 79 . Lalat Kacang (Agromyza phaseoli) Paling sedikit ada 3 spesies lalat kacang yaitu A. Di dalam polong terserang terdapat butir-butir kotoran ulat yang berwarna kuning atau coklat muda yang menggumpal. Penggerek polong (Etiella zinckenella) Gejala serangan: Tanda serangan berupa lubang gerekan berbentuk bundar pada kulit polong. predator Lycosa sp dan Oxyopes sp 7. Untuk daerah endemis penggerek polong. Pemantauan dini 2. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen. dolichostigma. Tachinidae. Pemanfaatan musuh alami seperti Apanteles sp. sedang serangan oleh ulat instar akhir dapat menimbulkan gejala berupa berlubang pada daun bahkan polong termakan habis. yang tersisa hanya tulang-tulang daun dan epidermis bagian atas. Gejala serangan: Gejala awal berupa tanda bintik-bintik putih pada keping biji. Seed treatment 3. daun yang rusak tampak berwarna keputih-putihan. daun pertama atau daun kedua.

Apabila gulungan tersebut dibuka. Kepik Polong (Riptortus linearis) Tingkat kerusakan secara ekonomis di lapang sulit untuk diperkirakan karena biasanya terjadinya kerusakan bersamaan dengan pengisap polong lainnya. Ulat Jengkal (Plusia chalcites) Ulat jengkal berwarna hijau dan bergerak seperti menjengkal. 3. 5. Penggunaan Sl NPV 6. Pengamatan terutama dilakukan pada tanaman perangkap. Penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian yang mungkin terjadi hanya pada tanaman perangkap 7. Ulat diam di dalam gulungan daun yang direkatkan satu sama lain dengan benang air liurnya. bentuk larva tua mempunyai ciri khas. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. 56. Ulat membentuk kepompong di dalam gulungan daun tersebut. Pengendalian secara fisik dan mekanik yakni dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva kemudian dimusnahkan 5. Kepik Hijau (Nezara viridula) Gejala serangan: Nimfa dan dewasa menghisap cairan biji kedelai. Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata) Gejala serangan: Ulat merusak tanaman kedelai berumur 3-4 minggu setelah tanam. Sanitasi tanaman inang liar jauh sebelum tanam 2. Pengelolaan: 1. Melakukan tanam serentak dan pergiliran tanaman 3. Reduviidae. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis. 5. dan 70 HST terhadap imago. Gejala serangan jelas terlihat kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. kemudian mengering dan polong 80 . Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena ada biji hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Pengamatan dilakukan pada umur 42. Dalam satu musim tanam hanya dijumpai satu generasi. Ichneumonidae 7. Pada tahun 1983 luas serangan hama ini mencapai 24000 ha dengan intensitas serangan 40%. Serangan pada fase perkembangan biji dan pertumbuhan polong menyebabkan polong dan biji kempis. parasitoid Telenomus. Pemanfaatan musuh alami predator Carabidae. Gejala serangan: Kepik menyerang polong dan biji. telur dan nimfa. Pemantauan terhadap kelompok instar 1 atau gejala awal daun yang tampak keputihputihan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 14 HST 2.Pengelolaan: 1. daun akan tampak tinggal tulang-tulangnya. 49. Tachinidae. mengering dan gugur. Ulat makan dari gulungan daun. Pengendalian dengan insektisida secara spot treatment dibatasi sampai dengan instar 3 4. Pengendalian dini setelah ditemukan populasi 4. Ulat jengkal menyerang tanaman kedelai berumur muda dan tua. 63. Daun yang terserang ulat pada populasi tinggi tinggal tulang daun saja atau bahkan habis sama sekali.

tangkai daun pucuk. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya 3. Kutu hijau berperan sebagai vektor penyakit virus kedelai antara lain virus kerdil kedelai. Kutu Hijau (Aphis sp) Kutu hidup dalam koloni dan perkembangbiakan secara parthenogenesis sehingga populasi dapat meningkat dengan cepat. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Hama ini juga bertindak sebagai vektor penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) yang menyebabkan tanaman kerdil dan daunnya belang-belang kuning tersamar. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Pengelolaan: 1. Kerusakan pada biji dan kulit polong disertai dengan serangan jamur.dapat gugur. Penggunaan benih bermutu dan sehat 5. Menanam varietas toleran 4. Menanam varietas toleran (berbulu tegak) 4. Ekskresi kutu hijau menghasilkan embun madu yang dapat merangsang tumbuhnya cendawan jelaga yang menutupi permukaan daun dan polong sehingga mengganggu fotosintesis. Gejala serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. virus mosaik kuning dan virus kate kedelai. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. Ekskreta kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelaga sehingga sering tanaman tampak berwarna hitam. batang pucuk. Scymnus sp 10. Pencabutan tanaman muda yang terserang virus 7. kuncup bunga. Pemanfaatan musuh alami diantaranya predator Coccinelidae. kuncup daun. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Serangan berat akan terjadi terutama pada musim kemarau karena didukung dengan suhu yang tinggi. Gejala serangan: 81 . Populasi kutu hijau dipengaruhi oleh curah hujan yang dapat menurunkan populasi. bunga. 8. Akibat serangan hama ini daun kedelai menjadi gundul dan dapat menurunkan produksi atau bahkan tanaman tidak menghasilkan sama sekali. Tanam serentak pada areal yang cukup luas 2. Harmonia octomaculata. Menochilus sexmaculata. Gejala serangan: Nimfa dan kutu dewasa mengisap cairan daun. 9. Pemanfaatan musuh alami parasitoid Encarsia sp dan beberapa jenis kumbang Coccinelidae antara lain Menochilus sp. Pemantauan sedini mungkin 6. polong muda dan kulit polong bagian luar yang telah berisi penuh sampai polong menguning. Pengelolaan: 1. Hama menyerang tanaman sejak tanaman membentuk daun pertama dan puncak populasinya terjadi pada fase setelah pembungaan. Verania lineata. Tanam serentak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 10 hari 2. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa) Imago dan larva dapat merusak daun.

terutama di dekat pangkal batang. sebaliknya pada musim hujan populasinya berkurang karena tercuci oleh air hujan. Serangan lebih lanjut pada tangkai daun dan batang pucuk menyebabkan daun dan pucuk terkulai layu kemudian mengering. Pengelolaan: Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Akibat serangan berat. yaitu menanam pada awal musim kemarau 2. Melakukan penggenangan 3.Serangan larva dan dewasa dapat berlangsung pada fase pertumbuhan tanaman. Tungau merah (Tetranychus urticae) Gejala serangan: Tanaman ubi kayu yang terserang berat. Tanaman serentak dan pergiliran tanaman penting untuk menurunkan infestasi awal 3. Wereng Kacang Tanah (Empoasca flavescens) Nimfa dan dewasa mengisap cairan sel daun sehingga bagian ujungnya menjadi kekuningan. larva dan pupa yaitu Solenopsis geminata. Pemanfaatan musuh alami predator telur. sedang pada polong tua kulitnya yang dimakan. Di samping itu kumbang juga membuat lubang lain untuk meletakkan telur. 4. Pengelolaan: 1. Daun tampak berlubang dan polong muda luka-luka. Akibatnya ubi akan terasa pahit. Menanam varietas yang pertumbuhan ubinya agak masuk ke dalam tanah 4. Selain mengakibatkan tanaman kehilangan cairan. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang E. 82 . Serangan berat terjadi pada musim panas. KACANG TANAH Tanaman kacang lebih banyak menghadapi serangan penyakit daripada serangan hama tanaman. Pengelolaan: 1. kemudian berubah menjadi coklat dan gugur seluruhnya. Daun dapat kehilangan khlorofil dan mengakibatkan daun kelihatan menguning. Salah satu hama kacang tanah adalah wereng kacang tanah. Penurunan populasi dapat dilakukan dengan cara pengumpulan dan pemusnahan imago dan larva pada pagi dan sore hari. Setelah telur menetas biasanya larva langsung menggerek ke dalam daging umbi dan membuat lorong gerekan. Hama Boleng (Cylas formicarius) Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang. Pemantauan dilakukan tiap minggu sampai tanaman berumur 49 HST 2. D. Daun yang terserang menjadi kaku dan menebal. permukaan bagian bawah menjadi kusut oleh adanya anyaman-anyaman halus. tanaman menjadi kerdil dan daun mudah rontok. Mengatur waktu tanam. HAMA-HAMA UBI KAYU DAN UBI JALAR 1. bekas tusukan alat mulut serangga dapat menimbulkan kematian jaringan sehingga timbul gejala daun keriting.

Pengendalian hama yang lebih sering digunakan adalah penggunaan pestisida kimia. Kupu tersebut sering ditemukan di sekitar tanaman. dan apabila menyerang pada buah muda menyebabkan buah menjadi keriput dan tidak dapat memanjang. Di samping sebagai hama. 2. Penggerek Polong (Etiella sp) Ulat masuk dan menggerek ke dalam polong kacang panjang sehingga terlihat bekas gerekan (lubang gerek) berwarna hitam. Cara merusak dengan menusukkan alat mulutnya pada kulit kacang terus ke biji kemudian mengisap cairan yang ada di dalam biji.F. Kutu Tanaman (Aphis craccivora) Gejala serangan: Tanaman yang terserang oleh kutu ini menyebabkan bunga menjadi tidak merekah. serangga ini juga bertindak sebagai vektor penyakit virus. KACANG PANJANG Faktor penghambat produksi dan kualitas kacang panjang adalah beberapa hama tanaman terutama yang menyerang polong sehingga menurunkan kualitas hasil. terutama yang sedang berbunga atau berbuah muda. Serangan kepik ini menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk sehingga kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Nezara viridula Kepik dan nimfa dewasa mengisap cairan polong kacang. 83 . 1. 3.

129807801. Keadaan petani hortikultura Indonesia berbeda dengan petani hortikultura di luar negeri yang usahanya sudah padat teknologi dan padat modal. Karena itu. 2. peneliti dan masyarakat terhadap pengembangan teknologi budidaya dan usaha tani tanaman hortikultura sangat sedikit dibandingkan dengan padi dan tanaman pangan lainnya. Cina dan Australia kita sangat ketinggalan. Pengeluaran untuk pestisida pada tanaman kubis rata-rata 30% dari biaya produksi. Kendala utama budidaya tanaman hortikultura adalah kurang tersedianya benih bermutu. Sedangkan petani horti komersial memang 84 Mempelajari dan memahami jenis-jenis hama utama tanaman hortikultura Mempelajari dan memahami pelaksanaan PHT pada tanaman hortikultura . malahan cenderung merosot. Tentu saja keadaan ini tidak efisien dan sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Tidak heran bila saat ini pasar sayuran dan buah-buahan di negara kita banyak dikuasai oleh produk-produk impor. Penyemprotan dengan pestisida di sayuran dan beberapa jenis buah-buahan sangat intensif. tomat 50% dan cabai sampai 51%. 2) petani horti komersial di dataran rendah. Petani horti di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 menurut pengusahaan lahannya yaitu: 1) petani horti di pekarangan. kesuburan tanah yang semakin menurun. Tanaman Buah-buahan 3. Di samping untuk pemenuhan gizi juga untuk pemenuhan rasa keindahan khususnya untuk tanaman hias. Malaysia. Tanaman Sayuran yang terdiri atas Sayuran Dataran Tinggi dan Sayuran Dataran Rendah 2. kita kelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu: 1. ekonomi dan keindahan yang tinggi sehingga dapat menjadi obyek agribisnis yang sangat menguntungkan. Tanaman Hias Tanaman hortikultura mempunyai potensi ekonomi yang besar untuk dikembangkan. Materi: IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Tanaman Hortikultura sangat penting untuk pemenuhan gizi pangan bagi kesehatan dan kebugaran tubuh kita. petani hortikultura sangat menggantungkan diri pada penggunaan insektisida dan fungisida. Kehilangan hasil panen tanaman hortikultura yang diakibatkan serangan hama berkisar antara 46 sampai 100% atau gagal panen.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA Tujuan: 1. dan ancaman serangan hama dan penyakit. sedangkan di kentang dapat mencapai 40%. dan 3) petani horti komersial di dataran tinggi. Petani horti pekarangan umumnya menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan di pekarangan untuk kepentingan konsumsi keluarga. tetapi sayangnya perhatian pemerintah. Tubuh kita memerlukan gizi yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Data tentang produksi dan ekspor hortikultura dari Indonesia tidak meningkat dari tahun ke tahun. Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura. dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Thailand. Di Indonesia banyak sekali jenis tanaman hortikultura tropika yang bernilai gizi. Karena ketakutan petani terhadap serangan hama dan penyakit. seperti kubis dapat mencapai 20 kali dalam satu musim.

terbawa oleh bibit kentang yang diimpor melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. seperti telah terjadi banyak kubis dan kentang yang berasal dari Tanah Karo di Sumatera Utara tidak dapat masuk Singapura dan Malaysia karena kandungan residu pestisida. sedangkan jenis hama hanya dijelaskan hama-hama utama yang pada 5 tahun terakhir ini menimbulkan masalah. Namun ketiga kelompok mempunyai ciri yang sama yaitu luas lahan yang terbatas dan modal yang pas-pasan. Dengan demikian usaha hortikultura belum efisien dan ongkos produksi tinggi. KELOMPOK SAYURAN 85 . bawang merah. Hama nematoda NSK baru diketahui memasuki Indonesia pada tahun 2002 yang lalu. Hama Lyriomyza bukan hama “asli” di Indonesia tetapi berasal dari daerah subtropik. kentang. JENIS-JENIS HAMA HORTIKULTURA DAN CARA PENGENDALIANNYA Karena banyaknya jenis tanaman hortikultura di Indonesia yang akan diuraikan hanya terbatas pada jenis tanaman horti yang penting dilihat dari prospek bisnis. lokasi lahan. Namun dengan penggunaan zat atraktan seperti metil eugenol dan tanaman selasih. dan cabai merah. Kita belum mempunyai semacam usaha “perkebunan” sayuran atau perkebunan buah-buahan seperti di luar negeri. A. Oleh karena itu umumnya petani horti di Indonesia belum banyak menguasai teknologi budidaya tanaman dan perlindungan tanaman yang memadai. Perlu diketahui bahwa sejak tahun 1995 terdapat 2 jenis hama “baru” yang kemudian menimbulkan masalah serius di pertanaman sayuran terutama menyerang tanaman kentang.mengusahakan untuk memperoleh produksi dan keuntungan. Setelah tahun 1995 hama ini menyerang semua pusat tanaman kentang dan tanaman horti lainnya. Salah satu jenis hama penting yang menyerang buah-buahan adalah lalat buah (Batrocera spp) yang seringkali menjadi pembatas produksi dan ekspor buah-buahan di Indonesia seperti nangka dan jambu. dan kondisi sosial ekonomi petani. Dari hasil-hasil sementara tersebut dapat disimpulkan bahwa satu-satunya cara memperbaiki produksi dan kualitas produksi tanaman hortikultura adalah menerapkan dan mengembangkan teknologi PHT yang sesuai dengan jenis tanaman. pengendalian lalat buah dapat mengurangi kerugian petani buahbuahan oleh lalat buah. Sejak tahun 1990 sampai 1998 Pemerintah melaksanakan pelatihan PHT untuk lebih dari 50. peningkatan produksi dan kualitas produk sehingga sangat menguntungkan. sehingga mereka sangat tergantung pada kebiasaan petani di sekitarnya. Pada era perdagangan global sekarang sangat sulit untuk mengekspor produk hortikultura karena kandungan pestisida yang tinggi. Saat ini NSK telah tersebar di semua pusat tanaman kentang di Indonesia. Produk buah-buahan Indonesia pada tahun 2002 ditolak oleh negara Taiwan kerana mengandung lalat buah. Dua jenis hama tersebut adalah hama pengorok daun (Lyriomyza huidobrensis) dan Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis). Untuk dapat mengembangkan teknologi PHT yang sesuai diperlukan banyak kegiatan penelitian dan pengkajian. Dari evaluasi terhadap penerapan PHT oleh petani pada tanaman hortikultura terlihat bahwa untuk tanaman kubis dan kentang petani dapat mengurangi penggunaan pestisida sampai 80%. Hama ini terbawa ke Indonesia karena ulah para penggemar tanaman hias yang mengimpor bunga krisan dari Eropa melewati pemeriksaan petugas karantina tumbuhan di pintu masuk.000 petani hortikultura di beberapa propinsi yang meliputi petani kubis. PHT tanaman cabe dan bawang merah jauh lebih baik hasilnya dibandingkan kebiasaan petani namun belum sebaik petani kubis dan kentang.

TOMAT) dan sayuran dataran rendah (CABAI.Kelompok Sayuran meliputi tanaman-tanaman sayuran dataran tinggi (KUBIS. Larva makan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun sekitar tanaman dan b. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Tanam serempak 3. KENTANG. Setelah jaringan daun lapisan epidermis pecah sehingga terjadi lubang-lubang pada daun. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa crop yang kecil-kecil. Mengumpulkan larva di sekitar tanaman dan mematikannya c. Ulat Krop (Crocidolomia binotalis) Gejala serangan: Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan. Ulat Daun (Plutella xylostella) Gejala serangan: Tanaman yang diserang adalah tanaman muda. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Pengelolaan: 1. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Gejala biasanya terlihat pada pagi hari dengan adanya tanaman muda yang rebah karena dipotong oleh ulat di bagian pangkal batang. Pengolahan tanah yang baik 4. Kerusakan berat mengakibatkan tanaman kubis hanya tinggal tulang daun saja. Tanam serempak 3. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 2. Pengelolaan: 86 . Serangan berat terjadi di awal musim kemarau. Pengelolaan: 1. Seringkali juga merusak tanaman kubis yang sedang membentuk krop. Larva instar ketiga sampai kelima memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis sehingga menghancurkan titik tumbuh. KENTANG a. KUBIS a. Pengelolaan: 1. sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. dan BAWANG MERAH) 1.

1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun

sekitar

tanaman

dan

b. Penggerek Umbi (Pthorimaea operculella) Gejala serangan: Daun yang terserang terlihat warna merah tua dan adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil berwarna kelabu. Kadang-kadang daun kentang menggulung yang disebabkan karena larva telah merusak permukaan daun sebelah atas, kemudian bersembunyi dalam gulungan daun tersebut. Gejala serangan pada umbi dapat dilihat dengan adanya kelompok kotoran berwarna coklat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah, akan kelihatan “alur-alur” yang dibuat ulat sewaktu memakan umbi. Kerusakan berat pada pertanaman kentang sering terjadi pada musim kemarau. Di dalam gudang penyimpanan, OPT tersebut merusak bibit kentang yang disimpan selama 3-5 bulan sebelum tanam. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik c. Kutu Daun Persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Kerusakan secara langsung akibat serangan kutu daun persik sebenarnya tidak terlalu merugikan. Kutu daun persik mengisap cairan daun, sehingga menyebabkan daun berkerut/keriting, tumbuhnya kerdil, kekuningan, daun-daunnya terpuntir, menggulung dan kemudian layu dan mati. Gejala yang lebih penting adalah gejala karena kerusakan secara tidak langsung, yaitu serangan penyakit virus yang ditularkan oleh kutu ini. Kutu daun persik merupakan vektor penyakit tanaman kentang antara lain PVA, PVY, PVM, dan PLRV. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Penyemprotan dengan insektisida selektif dan efektif d. Lalat Pengorok Daun (Lyriomyza huidobrensis) Gejala serangan: Lalat pengorok memakan daun dengan cara masuk ke dalam jaringan daun. Akibat serangan hama ini terdapat alur-alur pada daun yang dapat mempengaruhi fotosintesis. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak e. Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis) 87

Gejala serangan: Pertanaman kentang berumur 70-80 hst yang terserang nematoda tampak daundaun klorosis (menguning). Pengelolaan: 1. Pengolahan tanah 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. CABAI a. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong, sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Larva dewasa kadangkadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak 3. Pengolahan tanah yang baik 4. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. Pemasangan umpan beracun 6. Pemanfaatan musuh alami seperti Metarrhizium sp. b. Kutu daun persik (Myzus persicae) Gejala serangan: Serangan berat pada tanaman cabai muda (umur < 3 minggu) bila infestasinya tinggi daun akan berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak c. Trips (Thrip palmi) Gejala serangan: Stadium Thrips yang sangat merugikan adalah stadium nimfa dan imago. Thrips menyerang tanaman dengan jalan menggaruk permukaan daun dan bunga, selanjutnya mengisap cairan sel tanaman. Gejala serangan pada daun akan terlihat bercak-bercak klorosis berwarna putih keperakan pada permukaan bagian bawah daun yang akan menyebabkan daun berkerut dan terpuntir. Bila serangan berat permukaan daun akan berkerut atau sedikit menggulung yang di dalamnya benyak ditemukan Thrips. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Tanam serempak d. Kutu Daun Kapas (Aphis gossypii) Gejala Serangan:

88

Serangan berat dapat terjadi apabila infestasi terjadi pada tanaman muda (< 3 minggu), dengan gejala daun berkerut keriting, tanaman akan tumbuh kerdil, layu dan kemudian mati. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman 2. Pengamatan secara teratur 3. Mengumpulkan kutu kemudian dimatikan e. Lalat buah (Batrocera dorsalis) Gejala serangan: Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan titik hitam pada pangkal buah, kemudian buah membusuk dan jatuh ke tanah. Hal ini disebabkan belatung memakan bagian dalam dan daging buah sehingga terjadi saluran-saluran di dalam buah. Buah yang terserang menjadi busuk, selanjutnya jatuh ke tanah. Pengelolaan: 1. Tanam serempak 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 3. Mengumpulkan buah busuk yang rontok kemudian dibakar 4. Menggunakan perangkap beracun 5. Penyemprotan insektisida yang efektif dan selektif apabila ditemukan serangan sedang. f. Ulat grayak (Spodoptera litura) Gejala serangan: Larva makan dengan cara menyayat permukaan dau. Gejala serangan yang ditimbulkan adalah bercak-bercak putih transparan pada daun, karena bagian daging daun dimakan sedangkan bagian epidermis atas ditinggalkan. Ulat dewasa memakan seluruh bagian daun dengan meninggalkan bagian tulang daunnya. Pada serangan berat tanaman akan gundul. Pengelolaan: 1. Penanaman tanaman bukan inang 2. Mengumpulkan larva di sore/malam kemudian dimatikan 3. Penyemprotan dengan pestisida yang selektif g. Nematoda puru (Meloidogyne sp) Gejala serangan: Tanda kerusakan yang tampak pada bagian tanaman di atas permukaan tanah adalah tampak pertumbuhan yang kerdil, daun klorosis, pada cuaca panas daun-daun cepat layu dibanding tumbuhan sehat, daun-daun banyak yang gugur, tumbuhan tampak gundul, kadang-kadang tinggal daun pucuk. Tanda kerusakan pada bagian tanaman di dalam tanah diantaranya dekat ujung akar tampak kerusakan mekanis, berupa bercak berwarna coklat hitam, terutama pada infeksi populasi yang tinggi, terdapat kecenderungan pembentukan akar-akar cabang lebih sedikit daripada tumbuhan normal. Tampak adanya puru pada akar-akar utama. Pengelolaan: 1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inagn 89

baik pada tanaman muda atau pada tanaman tua. sehingga dapat menimbulkan kerusakan berat. Ulat bawang (Spodoptera exigua) Gejala serangan: Bagian tanaman yang diserang adalah daunnya. Serangan berat biasanya terjadi pada suhu rata-rata di atas normal disertai dengan hujan rintik-rintik dan kelembaban udara di atas 70%. BAWANG MERAH a. Tanda serangan pada tanaman muda berupa gigitan larva pada pangkal batang atau sama sekali terpotong. Pemasangan umpan beracun b. Penyemprotan insektisida efektif bila ditemukan tingkat serangan sedang 5. Pada serangan berat seluruh bagian daun dimakannya. awal Mei atau September 4. Gejala serangan yang terlihat adalah daun bernoda putih mengkilat seperti perak. Tanam serempak 3. Pengelolaan: 1. TOMAT a. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik hitam. Pemusnahan kelompok telur di ujung daun b. Ulat Buah (Helicoverpa armigera) 90 . Pengolahan tanah yang baik 4. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) Gejala serangan: Ulat tanah merusak tanaman yang baru ditanam atau tanaman muda. sedangkan epidermis bagian luar ditinggalkan. Pengelolaan: 1. Pada suhu tinggi atau dingin Thrips akan musnah. Tanam serentak 3. Pergiliran tanaman 2. Trips (Thrip tabaci) Gejala Serangan: Stadium nimfa dan imago merusak tanaman dengan cara menggaruk atau meraut jaringan daun dan mengisap cairan sel utamanya pada daun yang masih muda. Larva dewasa kadangkadang membawa potongan-potongan tanaman ke tempat persembunyiannya. Pada serangan berat seluruh areal terlihat putih dan akhirnya tanaman akan mati. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Pengelolaan: 1.2. Mengumpulkan ulat pada sore/malam hari di sekitar tanaman dan mematikannya 5. 4. Akibat serangan tersebut pada daun terlihat bercak-bercak putih menerawang tembus cahaya dan akhirnya terkulai dan mengering. Di daerah endemik dilakukan perlakuan tanah dengan nematisida yang efektif jika dijumpai serangan sedang. Tanam serempak 3. Larva muda melubangi bagian ujung daun kemudian masuk dan memakan daging daun bagian dalam. Waktu tanam pertengahan April.

2. Selain daun muda. JERUK a. Daun yang terserang akan berkerut dan keriting serta pertumbuhannya terhambat. Di alam populasi kutu daun dikendalikan oleh musuh alami. menggulung atau kering dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Gejala lainnya adalah hasil sekresi atau kotorannya berupa benang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral. b. jamur Metarhizium sp. Pengendalian secara kimiawi hendaknya dilakukan saat tanaman menjelang dan ketika bertunas. Pemberian insektisida butiran melalui tanah pada saat menjelang berbunga 5. Secara kultur teknis dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk agar dapat menghambat perkembangan populasi kutu. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya C. Penyemprotan insektisida yang selektif c. Pergiliran tanaman 2. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang 2. Buah akan tampak berlubang sehingga menurunkan kualitas. Tanam serempak 3. 2. Mengumpulkan ulat kemudian mematikannya 4. Memanfaatkan keberadaan musuh alami antara lain predator Curinus coreluos. 91 . KELOMPOK BUAH-BUAHAN 1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci) Gejala serangan: Kutu menyerang permukaan daun bagian bawah. Pengelolaan: 1. kutu ini juga mengisap cairan sel pada tangkai daun. Tanam serempak 3. Coccinella repanda. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. Kutu loncat jeruk (Diaphorina citri) Gejala serangan: Kerusakan karena aktivitas kutu loncat adalah daun jeruk menjadi berkerut-kerut. Pada bagian tanaman di sekitar aktivitas kutu daun tersebut terlihat adanya kapang hitam yang tumbuh pada sekresi.Gejala serangan: Ulat ini menyerang buah tomat dengan cara masuk ke dalam buah dan memakannya dari dalam. Kutu tersebut akan mengisap cairan daun sehingga daun akan berkerut yang akan mempengaruhi fotosintesis. tunas-tunas muda atau jaringan tanaman. Kutu Daun (Toxoptera citricidus) Gejala serangan: Kerusakan karena hama ini tampak pada bagian tanaman muda seperti daun dan tunas.

buah dan tangkai. Serangan pada buah mengakibatkan buah tampak kotor. Pengelolaan: 1. 4. Pengelolaan: 1. Memetik buah jeruk yang telah terserang dengan interval setiap 10 hari kemudian menguburnya cukup dalam 3. Mengatur kepadatan tajuk tanaman agar agar tidak terlalu padat dan saling menaungi 3. Bagian buah yang terserang adalah separuh bagian bawah dan apabila parah. Pemanfaatan musuh alami seperti parasit telur Trichogramma sp dan Bracon sp. Ulat akan meninggalkan bekas lubang pada saat ulat keluar meninggalkan jaringan daun. Larva yang baru keluar akan segera terbunuh sebelum sempat menggerek. Pengendalian secara kimiawi hendaknya menggunakan insektisida yang bersifat selektif. Pengelolaan: 1. Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitiferella) Gejala serangan: Ulat menggerek buah sampai ke daging buah sehingga terlihat bekas lubang yang mengeluarkan getah seperti blendok. Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan. Kutu Perisai (Lepidosaphes sp) Gejala serangan: Bagian tanaman jeruk yang terserang adalah daun. buah akan busuk dan gugur. Pengendalian secara kimiawi pada saat telur belum menetas.c. Pada bagian tanaman yang terserang tampak dipenuhi kutu-kutu putih seperti kapas. Serangan kutu tersebut menyebabkan daun berwarna kuning. e. terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur. Serangan yang lebih berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering. Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan pada buah jeruk yang masih muda. MANGGA a. kadang-kadang tertutup dengan kotoran. d. Mencegah datangnya semut yang sering memindahkan kutu 2. Memanfaatkan musuh alami dengan cara menghindarkan penggunaan insektisida yang berlebihan 2. Dalam satu daun tampak terdapat banyak sekali bintil-bintil kecil yang menyebabkan terganggunya proses fotosistesis sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Procontariana matteina Gejala serangan: Daun yang terserang hama ini ditandai dengan adanya bisul-bisul kecil pada permukaan dan bawah daun. 92 . 2. 2. Kutu dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Jika serangan terjadi di sekeliling batang. Musuh alami sangat menentukan perkembangan populasi kutu sisik. akan menyebabkan buah gugur.

Erionata thrax Gejala serangan: Daun pisang yang terserang hama ini akan terlihat robek. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan cara injeksi pada batang tanaman dan dianjurkan saat tanaman tidak berbunga atau berbuah. Apabila tertiup angin. Memotong tanaman yang tercemar sampai ke bonggol bawah. Mengumpulkan bagian daun yang sudah tergulung dan memusnahkannya b. Secara fisik mekanik dengan cara pengambilan telur kemudian mematikannya 2. Pengelolaan: 1. Hal ini disebabkan hama menggulung daun dari tepi ke arah tengah. Penggerek cabang mangga (Rhytidodera simulans) Gejala serangan: Pada bagian cabang atau ranting yang terserang terdapat lubang dan alur gerek berwarna hitam. b. Pengelolaan: Pengendalian dengan sanitasi kebun. daun berkerut. Pengelolaan: Dengan Seed treatment c. PISANG a. Pengelolaan: Pengendalian mekanik dengan cara memangkas cabang dan ranting terserang. Pada umumnya hama ini tumbuh pada tanaman pisang yang busuk.Pengelolaan: Sanitasi lingkungan merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mengendalikan hama ini. 93 . daunnya tampak layu. Lubang-lubang bekas gerekan dapat menyebabkan infeksi oleh serangan organisme lain. Hama Uret Gejala serangan: Hama ini menyerang pisang bagian batang sampai ke umbi batang bagian bawah (bonggol) dan menyebabkan umbi berlubang. 3. lama-lama kering dan mati. cabang akan mudah patah. Kumbang Penggerek Batang (Cosmopolites sordidus) Gejala serangan: Tanaman yang terserang hama ini akan menunjukkan pertumbuhan yang kerdil.

kina. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama pasca panen dan cara pengelolaannya Materi: PENGERTIAN DAN BATASAN Pengelompokan beberapa tanaman seperti kelapa. kelapa sawit. tebu. kakao. Jenis tanaman yang dipilih adalah tanaman yang memiliki nilai ekspor tinggi seperti kakao. teh. sejak sebelum PD II sampai sekarang harga komoditas perkebunan sangat ditentukan oleh harga pasar dunia. tetapi kemudian diusahakan juga tanaman musiman atau berumur pendek (umur tanaman kurang dari 1 tahun) seperti gula dan tembakau. Sebelum PD II. Kegiatan perkebunan yang semula diarahkan untuk dilaksanakan oleh perusahaan besar kini berkembang dan akhirnya diusahakan oleh petani kecil yang memiliki luas kebun yang kecil (kurang dari 5 hektar) bahkan seringkali di bawah satu hektar per keluarga petani. Saat ini perkebunan dibagi menjadi dua kelompok yaitu Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat.doc Materi 10 PENGELOLAAN HAMA PERKEBUNAN DAN HAMA PASCA PANEN/HAMA GUDANG Tujuan: 1. Perkebunan Besar yaitu perkebunan dengan luas areal besar yang dikelola oleh PT Perkebunan Negara dan PT Perkebunan Swasta Nasional termasuk milik PT 94 .129807801. Karena dorongan dan fasilitasi pemerintah. mengingat permintaan dunia akan dua komoditas tersebut cukup tinggi. Memahami dan mempelajari berbagai jenis hama tanaman perkebunan dan cara Pengelolaannya 2. Indonesia pernah menjadi penghasil beberapa komoditas perkebunan yang besar di dunia. teh. jauh lebih luas daripada luas perkebunan besar. Perusahaan Perkebunan ditandai dengan pengelolaan berorientasi bisnis keuntungan. Perusahaan perkebunan yang semua dikelola oleh perusahaan asing sebagian besar dialihkan ke perusahaan milik negara. karet. kepemilikan modal dan teknologi yang terbatas. kopi. Jenis pengusahaan perkebunan oleh petani-petani kecil kemudian dikenal sebagai usaha Perkebunan RAKYAT. pertanaman dengan luasan tanaman yang besar. Pemerintah Belanda mengundang investor untuk membuka usaha perkebunan dengan komoditas ekspor sehingga dapat meningkatan pendapatan pemerintah kolonial Belanda. kelapa sawit. lada sebagai tanaman perkebunan lebih dilandasi oleh faktor historis sejak zaman penjajahan Belanda. Semula jenis tanaman perkebunan mencakup hanya tanaman tahunan (umur tanaman lebih dari 1 tahun). Perkembangan subsektor perkebunan setelah kita merdeka berbeda dengan masa kolonial Belanda. Karena orientasi usaha perkebunan adalah ekspor. kopi. Guna memperoleh pendapatan dari negara jajahannya. cengkeh. perkebunan rakyat semakin lama semakin luas. serta dikelola oleh keluarga petani. tembakau. ratusan sampai ribuan hektar per kebun atau afdeling dan jumlah karyawan yang besar dengan menggunakan teknologi budidaya dan pengolahan hasil/pabrik yang modern. cengkeh.

Dalam melakukan pembahasan tentang pengelolaan hama perkebunan kita akan mengkonsentrasikan pada Perkebunan Rakyat. KONDISI EKOSISTEM KEBUN TANAMAN TAHUNAN Ekosistem perkebunan terutama tanaman tahunan relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan tanaman pangan sehingga sebenarnya risiko terjadinya letusan hama lebih kecil. Dari sekitar 12 juta hektar luas perkebunan di Indonesia saat ini. tebu. namun tingkat dan jenis permasalahannya yang berbeda. kakao. pemupukan dan pemeliharaan lain. yang menghubungkan Perkebunan Besar sebagai Kebun Inti dan Perkebunan Rakyat sebagai Kebun Plasma. biasanya setelah tanam petani tidak mampu melakukan pemeliharaan kebun termasuk pemangkasan. Sedangkan kelapa sawit pada umumnya dikelola oleh Perkebunan Besar. karet. Komoditas-komoditas perkebunan lainnya seperti teh. Pemerintah dengan bantuan lembaga-lembaga internasional seperti ADB/Bank Pembangunan Asia dan World Bank/Bank Dunia telah banyak melaksanakan program pembukaan. harga rendah dan akhirnya petani menderita kerugian yang cukup besar. tetapi 95 . meskipun kita ketahui bahwa tidak ada perbedaan jenis-jenis hama yang menyerang perkebunan besar dan perkebunan rakyat. sehingga kelanjutan dari kegiatan pemerintah tersebut tidak dapat dijamin. kopi. Jenis komoditas yang diusahakan oleh Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat ada yang sama tetapi ada yang berbeda. pengendalian hama yang tidak tepat dengan menggunakan pestisida kimia yang berlebihan. MASALAH PERLINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN RAKYAT Dibandingkan dengan perkebunan besar kondisi pertanaman perkebunan rakyat umumnya kurang terpelihara. Kasus yang terjadi sekarang di Sulawesi dan propinsi-propinsi lain yakni munculnya serangan Penggerek Buah Kakao yang sedang menghancurkan kakao rakyat. Akibatnya hasil rendah. kurang pemangkasan. Sedangkan perkebunan rakyat adalah usaha perkebunan yang dikelola oleh petani kecil. Hama penyakit akan menyebar dengan cepat ke seluruh kebun di suatu daerah. lebih dari 70% adalah areal perkebunan rakyat. perluasan. jambu mete dan kapas. lada. penanganan pasca produksi yang kurang baik. Proyek pembangunan perkebunan yang terkenal adalah PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Karena modal kurang serta kemampuan teknis rendah. kualitas turun dan tidak diterima di pasar karena kandungan residu pestisida tinggi. Kelemahan utama perkebunan rakyat adalah dalam hal penggunaan bibit yang berkualitas rendah. lada. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan tentang bagaimana mengelola hama para petani perkebunan rakyat akan selalu mengalami kerugian dan kehilangan hasil akibat serangan hama. kopi. pengolahan tanah dan Pengelolaan hama dan penyakit. Beberapa komoditas perkebunan yang umumnya dikelola oleh rakyat saat ini adalah kelapa. kelapa. tembakau dikelola oleh Perkebunan Besar dan juga rakyat.Pagilaran (Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM) atau Perkebunan Swasta Asing. intensifikasi dan rehabilitasi perkebunan rakyat sehingga luas perkebunan rakyat dan jenis tanaman perkebunan rakyat terus meningkat. kualitas kurang baik akibat serangan berbagai jenis hama dan penyakit. Kondisi kebun lemah dan tidak terpelihara serta meliputi daerah yang sangat luas akan membentuk kondisi ekosistem yang rentan hama dan penyakit. kapas seringkali menjadi faktor pembatas produksi perkebunan rakyat di Indonesia. Masalah hama dan penyakit seperti pada tanaman kakao. Sayangnya dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh pemerintah sedangkan pemberdayaan masyarakat tidak dilaksanakan. produksi rendah.

Berbagai jenis hama yang menyerang hasil panen di gudang penyimpanan dapat berasal dari atau terbawa dari pertanaman. Lubang kadang-kadang sukar dilihat karena tertutup oleh kotoran atau sisa gerekan. Bubuk buah kopi pada umumnya menyerang buah yang bijinya telah cukup keras. PERKEBUNAN 1. Diperkirakan rata-rata kerugian hasil antara 25-30%. pemangkasan dan penjarangan tanaman. Pengendalian hama gudang khusus dilakukan di gudang-gudang milik perusahaan atau pemerintah seperi gudang BULOG. parasitoid dan patogen mengingat ekosistem memiliki kondisi iklim mikro yang sesuai dan keanekaragaman tinggi bagi perkembangan musuh alami. Karena ekosistem gudang dapat lebih mudah dikuasai maka pengendalian hama gudang biasanya dilakukan dengan metode pengendalian fisik dan kimiawi dengan menggunakan fumigan. namun demikian 96 . Untuk komoditas perkebunan. Produk-produk PHT perkebunan saat ini banyak dicari konsumen domestik maupun konsumen global karena kualitasnya tinggi serta bebas dari kandungan residu pestisida yang membahayakan. beberapa teknologi PHT seperti pemanfaatan seresah untuk meningkatkan populasi predator.karena kondisi kebun yang kurang terpelihara bila terjadi peningkatan populasi pada satu tempat akan secara cepat menjalar ke tempat lainnya. dan lain-lainnya ternyata dapat mengurangi populasi hama dan kerusakan tanaman serta meningkatkan pendapatan petani pekebun. HAMA-HAMA PERKEBUNAN DAN PASCA PANEN A. Lubang gerekan berbentuk bulat dengan diameter lebih kurang 1 mm dan umumnya dijumpai pada ujung buah. Kerugian terjadi sewaktu pengangkutan dan penyimpanan hasil panen sebelum diolah dan dipasarkan. Hama Pasca Panen sering disebut juga sebagai Hama Gudang. Melalui Program PHT Perkebunan Rakyat yang sampai tahun 2005 dilaksanakan Pemerintah di 13 propinsi. Kerugian yang diderita oleh petani akibat serangan hama pasca panen adalah penurunan produksi dan penurunan kualitas produksi. KOPI a. Banyak jenis fumigan berbahaya bagi kesehatan karena itu perlakuannya di gudang harus dilakukan secara hati-hati hanya oleh orang atau petugas yang telah terlatih atau bersertifikat. Sebelum tahun 1960 banyak praktek pengendalian hayati klasik dengan introduksi musuh alami sukses mengendalikan beberapa hama penting pada tanaman kelapa. penerapan PHT yang mengandalkan pengendalian hayati merupakan teknik pengendalian yang paling tepat. penyarungan buah kakao untuk mencegah peneluran ngengat Penggerek Buah Kakao. Petani seringkali tidak memperhatikan aspek-aspek fisika kimia proses penyimpanan hasil panen sehingga mengundang serangan hama gudang. MASALAH HAMA PASCA PANEN Perlu diketahui bahwa untuk semua kelompok tanaman baik tanaman pangan. Kondisi ekosistem kebun juga menguntungkan bagi penerapan pengendalian hayati terutama dengan predator. atau hama-hama khusus yang memang menyenangi ekosistem gudang. Petani jarang melakukan kegiatan khusus untuk mengendalikan hama-hama gudang. panen bertahap. perbanyakan dan pelepasan agens pengendalian hayati dengan patogen. hortikultura maupun perkebunan. Bubuk Buah Kopi (Hypothenemus hampei) Gejala serangan: Hama menyerang buah dengan cara menggerek. kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama dan penyakit pasca panen sangat besar. Upaya yang paling sering dilakukan adalah pengeringan dengan panas matahari.

Bila buah yang diserang sudah cukup besar. cabang dan ranting yang terserang dikumpulkan kemudian dibakar. Secara alami dengan memanfaatkan predator Coccinella sp. Membersihkan pertanaman dari semut rangrang karena serangan kutu akan sangat merugikan apabila semut rangrang dibiarkan hidup. Bubuk Ranting Coklat (Xylosandrus morigerus) Gejala serangan: Hama ini menyerang tanaman kopi di pembibitan. daun atau ranting yang masih berwarna hijau. Di pembibitan hama menyerang bagian batang. Dengan demikian kumbang betina tidak mempunyai buah kopi untuk makanan atau untuk tempat berkembang biak.buah yang bijinya lunak juga diserang. sehingga daun menjadi kering dan seringkali menyebabkan kematian. c. lelesan. Sanitasi kebun dengan membersihkan kebun dari cabang-cabang yang berserakan di bawah pohon. 2. Robusta dan Liberica. Bubuk ranting coklat dapat menyerang sampai ke dalam akar tunggang. Pada daun. terutama pada pertulangan daun. d. Memodifikasi lingkungan seperti mengurangi naungan dan melakukan pemangkasan. tanaman muda dan tanaman dewasa. warna hijau dari bagian yang terserang akan berubah menjadi kuning sehingga daun akan mengering dan gugur. Akibat tusukan dan pengisapan oleh kutu pada tanaman. 2. Memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid Heterospilus coffeicola. Selain itu internoda juga menjadi pendek. Pemanfaatan musuh alami misalnya Tetrastichus sp. 3. Jenis kopi yang disukai adalah jenis Arabica. Kutu Dompolan (Planococcus citri) Gejala serangan: Hama menyerang pembungaan. Pengelolaan: 1. parasitoid Coccophagus sp. Hal tersebut dapat diusahakan antara lain melalui rampasan. Bila tanaman muda yang terserang maka pertumbuhan dan masa berbuah akan terhambat. Bunga dan buah muda juga dapat terserang. predator Dindymus rubiginosus. 2. Kuncup bunga dan buah muda yang baru muncul menjadi kering dan gugur karena kutu mengisap pada tangkai bunga dan tangkai buah. jamur Cephalosporium sp. buah tidak gugur tetapi pertumbuhannya 97 . Buah muda akan menjadi busuk dan kemudian gugur. petik bubuk b. Pada saat pemangkasan. Kutu Hijau (Coccus viridis) Gejala serangan: Kutu pada umumnya terdapat di bagian bawah tanaman yang masih muda. Pengelolaan: 1. Serangan pada ranting muda seringkali menyebabkan ranting mati dan daun gugur. Pengelolaan: 1. hama segera keluar karena tidak bisa berkembang di dalamnya. Setelah menyerang buah yang bijinya lunak. kutu dijumpai di permukaan bawah. Mengusahakan supaya selama jangka waktu tertentu tidak terdapat buah kopi. karena dapat menjadi sumber infeksi. jamur Spicaria javanica. baik di pohon ataupun di tanah.

belalang sembah. Secara mekanis dengan membuang bagian tanaman terserang yang merupakan sumber infeksi. Secara mekanik dengan memotong batang/cabang terserang 10 cm di bawah lubang gerekan ke arah batang/cabang kemudian ulatnya dimusnahkan. 98 . tetapi jika tumbuh terus. layu. kondomisasi. berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil. kulitnya mengeras dan retak. tangkai daun dan cabang yang masih hijau juga diserang. Biji-bijinya saling melekat. Pemanfaatan jamur Beauveria bassiana. ranting mengering dan meranggas. tetapi sebaliknya pada buah muda. memakan kulit buah. membenam kulit buah. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati. daging dan saluran ke biji. missal pemangkasan. cecopet. Menyerang tanaman muda. Pengelolaan: 1. jamur Beauveria bassiana. 3. Buah yang terserang lebih awal menjadi berwarna kuning. dan jika digoyang tidak berbunyi. tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman. Cryptolaemus sp. kering dan mati. bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana.terlambat dan berkerut. Biasanya lebih berat dari yang sehat. b. 2. Kepik Pengisap Buah Kakao (Helopeltis sp) Gejala serangan: Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan. pemangsa cecopet. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok. Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella) Gejala serangan: Ulat merusak buah kakao dengan cara menggerek buah. pemangkasan. Serangan pada buah tua. serta dengan cara hayati/biologi seperti Trichogramma sp. Bila populasi kutu tinggi. bagian tanaman yang lain seperti daun. Pengendalian kimiawi dengan menggunakan insektisida sistemik. Penggerek Batang/Cabang (Zeuzera coffeae) Gejala serangan: Hama merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju xylem batang/cabang. Memanfaatkan musuh alami seperti predator Scymnus sp. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas. Pemangkasan 2. Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid Telenomus sp. Membersihkan lubang gerekan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan. 2. 2. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi. permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. memanen satu minggu sekali. KAKAO a. Pengelolaan: 1. Pengelolaan: 1. laba-laba c. Akibat gerekan ulat. 3.

Sundapteryx bigutulla Gejala serangan: Tanda pertama dari serangan hama ini adalah menguningnya ujung daun dan agak mengkerut. Hama ini menyerang sejak tanaman muda di lapang. Penggerek pucuk (Earias vittela) Gejala serangan: Ulat penggerek pucuk memakan pucuk tanaman kapas sehingga menyebabkan kematian.d. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma sp. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami kumbang kubah. Diadegma sp. Pada tingkat serangan berat. Cara makannya dengan melubangi bagian bawah. Encarsia sp. Secara fisik mekanik dengan mengumpulkan hama kemudian mematikannya. dan tanaman tumbuh kerdil. Ulat buah (Helicoverpa armigera) Gejala serangan: Hama ini memakan daun. Tikus menyerang malam hari. sedangkan bijinya tidak dimakan. b. 99 . tetapi tupai tidak karena biji bisa dikumpulkan kembali. kepik dan berbagai macam laba-laba. Brachymeria sp. Ada yang berwarna kuning. c. Tupai menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji tadi tidak dikumpulkan. warna daun agak coklat memerah dan pertumbuhannya menjadi kerdil. umpan racun 3. d. Gejala serangan tupai umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai hanya memakan daging buah. KAPAS a. Apanteles sp. Pada permukaan bawah daun yang terserang sering terdapat bercak berwarna kuning. Biasanya di bawah buah-buah yang terserang tupai selalu berceceran biji-biji kakao. Buah besar juga dimakan tetapi tidak menimbulkan kerontokan. Daun menggulung. Pengelolaan: Memanfaatkan musuh alami Trichogramma sp. Kuncup dan buah muda dapat membuka lebih awal dan gugur. bunga dan buah kapas. Kutu daun (Aphis gossypii) Gejala serangan: Kutu ini memakan daun kapas dari bawah. Tikus dan tupai Gejala serangan: Buah kakao yang terserang tikus akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri dan jamur. Kuncup bunga dan buah muda akan rontok. Pengelolaan: Pengelolaan tikus dilakukan dengan sanitasi. Buah yang terserang akan menjadi busuk. laba-laba. hijau dan hitam. Kemudian daun akan mengering dan gugur. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan biji beserta dagingnya. Jadi tikus benar-benar hama.

Hama ini menggerek daun muda dari dalam daun. Pengelolaan: 1. Pengelolaan dengan insektisida selektif dan efektif b. Ulat penggulung daun melintang (Homona coffearia) Gejala serangan: Ulat melakukan pengrusakan dari dalam daun sehingga daun tampak berkerut dan rusak. tetapi hanya bagian tepinya saja yang dilekatkan. d. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan. Tungau Jingga (Tenuipelpus obovatus) Gejala serangan: Hama ini merusak pada musim kemarau. Setora nitens Gejala serangan: Biasanya menyerang daun muda dan tua. Pengelolaan: Pengelolaan dilakukan secara mekanik yakni dengan pemetikan daun teh yang menggulung dan melakukan sortasi terhadap daun-daun teh sewaktu penimbangan. Semua daun teh terserang dimusnahkan dengan berbagai cara diantaranya pembakaran.Pengelolaan: Kumpulan kutu merupakan makanan paling enak untuk kumbang kubah. Serangan hama berakibat sedikitnya pucuk teh yang dihasilkan. Ulat Penggulung Daun Teh (Enarmonia leucastoma) Gejala serangan: Enarmonia memiliki daya lekat yang berasal dari air liurnya pada tepi pucuk daun yang ditempatinya. Karena benang liurnya ditempatkan secara melintang. Terkadang lebih dari sehelai daun muda yang berhasil digereknya selama ulat itu tidak berpindah tempat. Serangan yang hebat menyebabkan hamparan teh tampak merata kecoklat-coklatan. sehingga tidak mengherankan jika serangan berat dapat mengakibatkan perkebunan teh menjadi gundul. sedangkan daun tua yang dan pada tangkainya berubah menjadi kecoklatan. 2. 100 . c. pucuk daun tersebut seakan-akan terikat sehingga sulit sekali untuk membuka dan ulat ini selanjutnya berada di dalam pucuk tanaman. Gejala yang tampak jelas adalah pucuk daun teh yang menggulung dalam keadaan rusak di bagian dalamnya. Ulat menggulung daun yang tidak terlalu tua sedang cara menggulungnya hampir sama dengan Enarmonia sp. pertumbuhan daun teh selanjutnya menjadi tidak normal. Penggunaan tanaman pelindung yang dapat mengurangi perkembangbiakan hama. 4. TEH a. Daun muda yang diserang akan gugur.

Pengelolaan: 101 . Penggerek Pucuk Putih (Schirpophaga nivella intacta) Gejala serangan: Bila serangan terjadi pada daun yang belum membuka. b. Cairan tersebut menetes ke permukaan daun di bawahnya. parasitoid larva Apanteles sp. Bagian luar ruas muda yang digerek akan didapati lubang tepung gerek. Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna lanigera) Gejala serangan: Kutu sewaktu-waktu dapat mengeluarkan cairan yang mengandung gula. c. Serangan pada titik tumbuh mengakibatkan kematian tanaman yang ditandai dengan mengeringnya daun-daun muda yang masih menggulung dan terletak di tengah tajuk yang dikenal sebagai “mati puser”. rattus argentiventer) Gejala serangan: Tanaman tebu yang terserang menunjukkan tanda bekas keratan sepotongsepotong pada batang tebu. d. kepik Sycanus sp. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami Encarsia flavoscutellum. Dalam satu ruas terdapat satu atau lebih ulat. Ulat-ulat itu memakan jaringan-jaringan daun. dan parasitoid pupa Xanthopimpla sp. Apabila ruas terserang dibelah akan terlihat lorong-lorong gerek lebar serta jalannya sangat tidak teratur. Tikus (Bandiota indica. Ulat yang telah beberapa hari hidup dalam pupus kemudian akan turun melalui sebelah luar pucuk tanaman dan ulat akan menembus masuk ke dalam tanaman lagi melalui ruas tanaman. Pengelolaan: Pemanfaatan parasitoid telur Telenomus sp. Pengelolaan: Pemanfaatan musuh alami parasit telur Telenomus sp.Pengelolaan: Menggunakan musuh alami seperti Cryptus caymorus. Pada serangan berat mengakibatkan tanaman patah. 5. Chlorocryptus sp. maka apabila daun telah membuka akan tampak deretan lubang pada daun yang ditembus larva berwarna coklat. Penggerek Batang Bergaris Tebu (Chilo sacchariphagus) Gejala serangan: Ulat-ulat muda yang baru menetas hidup di dalam pupus. Serangan yang parah menyebabkan pertumbuhan terhambat serta tanaman menjadi kerdil. Trichogramma sp. Tetesan cairan tersebut merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan cendawan jelaga yang berwarna hitam sehingga asimilasi akan terhambat. Daun termuda yang mati mudah dicabut. diantara daun-daun muda yang masih menggulung. Corypus javenus. Akibatnya jika daun-daun muda sudah terbuka akan terlihat luka-luka pada daun yang memanjang dan tidak teratur. Selain itu untuk mengetahui adanya tikus dapat pula dilihat jejak-jejaknya dan adanya lubang aktif dengan tanda khusus. Pada ibu tulang daun yang tergerek tampak lorong gerekan yang berwarna kecoklatan. TEBU a. Canthecona sp.

Serangan hama ini dapat mengakibatkan kerusakan sekunder seperti serangan kumbang tanduk kelapa. Apabila menyerang tajuk. Kumbang Janur Kelapa (Brontispa longissima) Gejala serangan: Larva dan serangga dewasa hidup di dalam lipatan anak daun pucuk yang belum membuka. Membersihkan semua tempat yang diduga menjadi tempat perkembangbiakan hama. Kumbang Sagu (Rhynchophorus sp) Gejala serangan: Larva merusak akar. Pengelolaan: 1. Tandan yang akan berkurang jumlah buahnya terutama yang berada di ketiak daun yang terserang tersebut. 2. Cara mekanis dengan mengerat sedalam-dalamnya pucuk yang terserang hama. Belalang Pedang (Sexava coreacea) Gejala serangan: 102 . gerekan pada pucuk dapat mengakibatkan patah pucuk dan jika larva mencapai titik tumbuh berakibat tanaman tidak dapat menghasilkan daun baru. Membakar tanaman yang mati akibat serangan hama. Dijaga pula supaya tidak terjadi luka-luka pada pohon kelapa. Pemanfaatan musuh alami seperti kucing. kumbang sagu dan cendawan. Daun yang terserang mudah menjadi kering serta salah bentuk. 6. Hal ini berpengaruh terhadap produksi buah. Pada tanaman dewasa hanya tajuknya saja. Secara preventif dengan memotong tanaman yang telah terserang dan mengambil serangga hamanya serta sanitasi kebun. Larva menggerigiti dan mengorok kulit anak daun secara memanjang membentuk garis-garis. Pemanfaatan parasit larva Scolia erratica dan tungau buas yang menyerang kepompong dalam “kokonnya”. pucuk pohon kelapa yang terserang nampak kisut. KELAPA a. Pemasangan umpan beracun 2. batang dan tajuk tanaman muda. Bagian yang diserang adalah pucuk pohon dan pangkal daun muda. Pengelolaan: 1. Akibatnya daun tidak mau membuka atau hanya membuka sedikit. Pengelolaan: Serangan hama ini merupakan kelanjutan dari serangan kumbang Oryctes. burung elang. Pemanfaatan parasit larva Tetrastichus brontispae. Kumbang Nyiur (Oryctes rhinoceros) Gejala serangan: Bekas serangan dapat terlihat dari adanya potongan-potongan yang berbentuk segitiga pada daun kelapa. Penggunaan jamur Metarhizium anisopliae c. yaitu jaringan yang mengandung cairan yang kaya gizi. ular.1. d. pohon kelapa akan mati karena tidak menghasilkan daun lagi. b. 2. Dari liang gerekan pada tanaman muda sering keluar lendir merah coklat. Bila titik tumbuh terserang. Dari jauh. keriting dan kering. karena itu serangan Oryctes harus dihindari.

103 . Gejala serangan titik. Untuk tanaman yang masih rendah dilakukan penyemprotan tajuk. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan insektisida sistemik melalui suntikan. Serangan berat hanya meninggalkan beberapa pelepah pucuk sedangkan bagian bawah tinggal lidinya saja dan pohon kelapa sama sekali tidak menghasilkan buah selam 1-2 tahun. kemudian disusul oleh buah muda yang agak besar. 2. 3. Ulat muda memakan jaringan anak daun bagian bawah. Pengelolaan telur dengan pengolahan tanah. Serangan yang hebat menyebabkan buah termuda gugur. bercocok tanam atau pemberian insektisida ke dalam tanah. Pengelolaan secara hayati dengan memanfaatkan parasit telur Leefmansia bicolor dan Tetrastichus sp. 3. Goryphus inferus. Apabila parasit tidak mampu lagi menekan peningkatn populasi. e. Gejala serangan bergaris. Secara kimiawi dilakukan dengan memberikan insektisida sistemik melalui pengeboran batang atau pemotongan akar. Serangan Artona tidak sampai mematikan pohon kelapa. Artona catoxantha Gejala serangan: Ada tiga tingkat gejala serangan: 1. kelapa muda dan akhirnya buah-buah tua. mereka pindah ke daun sebelah atas.Serangga muda dan tua memakan daun kelapa dari pinggir. f. Bekas ketamannya seperti garis. Ulat yang sudah dewasa memakan helaian anak daun dari pinggir ke tengah. meninggalkan bekas yang tidak rata. Serangan dimulai dari pelepah terbawah. daun tua tampak kering berwarna merah-coklat seluruhnya dan tinggal hijau segar hanya 2 atau 3 daun di pucuknya saja. Sebelum daun bagian bawah habis dimakan. Pengelolaan: 1. Permukaan bawah daun dimana ada koloni tampak tertutup oleh benang wol putih. sehingga anak daun itu terpotong tak teratur bagian pinggirnya. Kutu Kapuk Kelapa (Aleurodicus destructor) Gejala serangan: Serangga merusak daun kelapa karena mengisap cairan sel sehingga meninggalkan bekas berupa bercak-bercak kuning. dapat dilakukan injeksi batang dengan pestisida. Serangan akan lebih hebat dan lama pengaruhnya saat awal musim kemarau. Neoplecturs bicarinatus. Gejala serangan pinggir. 2. Pengelolaan: Hama ini dapat dikendalikan oleh parasit Tetrastichus sp dan Encarsia sp. Bekas yang dimakan menyerupai titik. Ulat muda yang sudah lebih tua mengetam lapisan anak daun bagian bawah setempat-setempat. Pengelolaan: Secara mekanik dengan pemotongan pelepah daun tua pada periode kepompong kemudian dibakar. Cadursia leefmansia. Kutu ini secara berkoloni pada permukaan bawah daun. Akibat serangan Artona. Beberapa musuh alami yang dapat mengendalikan hama ini Apanteles sp.

Disebut serangan ringan apabila anak daun yang bergejala menunjukkan warna kuning emas pada tempat yang diduduki kutu perisai. akhirnya mati. Bila anak daun yang menunjukkan gejala tersebut dalam jumlah yang besar maka seluruh daun akan mati lebih dini dan warnanya berubah menjadi kelabu dengan sedikit merah jambu. Pengelolaan: Bila hanya beberapa anak daun yang terserang. sedangkan serangganya terdapat pada permukaan daun bagian bawah. Pengelolaan: Karena populasinya umumnya rendah. Bunga jantan akan menjadi hitam dan bunga betina mengeluarkan getah. Mereka membuat sarang di atas pohon yang terbuat dari sabut pelepah kelapa atau aren dan daun-daun kering. i. jarang dilakukan pengendalian secara khusus. Kutu-kutu ini sulit dikendalikan dengan insektisida karena tubuhnya ditutupi oleh lilin padat berbentuk perisai. bila seluruhnya sebaiknya pelepah dipangkas dan dibakar. Bercak ini jelas nampak dari bagian atas daun. Bajing Gejala serangan: Hama menyerang buah kelapa yang tua atau yang daging buahnya telah tebal.g. cukup dengan membuang anak daun tersebut. Akibat serangan tersebut buah muda gugur. Pengelolaan: Pada umumnya dilakukan dengan diburu menggunakan senapan angin. Pada umumnya dikendalikan dengan menggunakan senapan angin atau umpan racun. Dapat juga digunakan cara kimiawi dengan pelaburan seludang. j. Penggerek Bunga Kelapa (Batrachedra arenosella) Gejala serangan: Akibat serangan larvanya yang menggerek seludang mayang untuk memakan bunga jantan dan betina. tidak tegak dan kemudian tajuknya terkulai. maka pada bekas liang gerekannya tadi keluar sejenis getah yang berwarna kuning dan dapat dilihat dari bawah. Mayang yang terserang dapat sedikit menghasilkan buah. Pengelolaan: Dititikberatkan pada cara hayati dengan menggunakan Chelonus sp. bahkan bila serangannya berat sama sekali tidak menghasilkan buah. Kutu Perisai (Aspidiotus destructor) Gejala serangan: Hama menyerang dengan cara mengisap jaringan sehingga menimbulkan bercak kuning. Tiap ekor bajing dapat menghabiskan sebutir kelapa pada tiap kali makan. h. 104 . Pada serangan yang sangat berat daun yang berkembang tetap kecil. Tikus Pohon Gejala serangan: Hama tikus hidup di atas pohon dan sering merusak buah-buah kelapa yang masih muda. Kerusakan biasanya terjadi pada perbungaan di pangkal mayang. Penggunaan musuh alami seperti Chilocorus politus sangat efektif mengandalikan kutu perisai.

Selain itu. Material yang terserang akan berlubang. 105 . Material yang diserang akan berlubanglubang. kopra. Apabila umbi tersebut dibelah maka akan tampak lubang-lubang serta jalur-jalur bercabang-cabang. demikian pula kepompongnya. ketela pohon. kerusakan pada komoditas yang disimpan lebih hebat dibandingkan dengan serangga hama yang lain. rempah-rempah. sedangkan material yang berbentuk tepung akan kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larva. b.B. dan jagung. Umbi-umbian a. Kupu-kupu beras (Corcyra cephalonica) Gejala serangan: Ulat akan menggandeng-gandeng butir-butir beras dengan benang liurnya. beras. Serangga dewasa yang muncul dari kepompong akan keluar dari butiran-butiran beras sehingga mengakibatkan butir-butir beras berlubang. Lama-kelamaan di sekitar lubang menjadi busuk. Akibatnya ubi akan terasa pahit. kacang tanah. Beberapa komoditas yang diserang antara lain padi-padian. Kumbang padi-padian bergerigi (Oryzeaphilus sp) Gejala serangan: Hama ini merupakan hama sekunder pada material yang utuh tetapi merupakan hama primer pada material yang telah digiling. dan kopra. Apabila serangan masih baru biasanya dari lubang tersebut keluar sisa gerekan berwarna keputih-putihan. Biji-bijian a. BERAS a. Kumbang tepung (Tribolium sp) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain tepung. Hama ini bertindak sebagai hama primer. Penggerek biji-bijian (Rhyzoperta dominica) Gejala serangan: Jenis komoditas yang diserang antara lain padi-padian. Ulatnya hidup di dalam gendengan beras tersebut dan menggerek dari dalam. Baik larva maupun dewasa merupakan pemakan yang sangat rakus. dedak. Material yang berbentuk biji-bijian bila diserang akan berlubang-lubang. dan buah-buahan yang dikeringkan. 2. gaplek. b. beras. c. komoditas yang terserang menjadi kelihatan kotor karena ekskresinya maupun sisa-sisa kulit larvanya. Cylas formicarius Gejala Serangan: Umbi yang terserang terdapat lubang dan membuat lorong gerekan. Bubuk beras (Sitophilus sp) Gejala serangan: Larva berada dalam butiran. PASCA PANEN 1. 3.

Fumigasi lebih bersifat eradikatif. Spraying Spraying bertujuan untuk pencegahan terhadap barang yang disimpan supaya tidak terinfeksi oleh hama dan mengurangi tingkat perkembangan hama serta pencegahan serangan kembali. Sanitasi sangat penting dilakukan untuk menghindari munculnya hama pasca panen. sekitar gudang. Biasanya menggunakan insektisida yang mudah menguap. dan komoditas. komoditas simpanan yang berceceran di lantai. perangkap. Hama pasca panen lain yang juga sangat membahayakan komoditas di dalam simpanan adalah tikus. seperti gudang. Lasioderma serricorne Gejala serangan: Hama ini dikenal dengan sebutan “cigarette beetle” karena kumbang ini merupakan hama penting pada simpanan tembakau dan cerutu. Komoditas yang terserang akan mengalami kerusakan dengan adanya bekas gerekan larva sehingga akan menurunkan kualitas tembakau atau cerutu. dan dicampur langsung dengan biji-bijian. Tikus aktif pada malam hari. pemeriksaan terhadap kerusakan/bekas serangan tikus. 4. tikus riul. Pada awalnya serangga dewasa meletakkan telur di antara bahan (tembakau) dan setelah menetas langsung membuat rongga dan merusak bahan. tikus sawah. Tembakau a. permukaan karung. kulit dengan insektisida. dan mencit rumah. Pengelolaan tikus dapat dilakukan dengan Rodent Proofing untuk mencegah keluar masuknya tikus. plastik. Umpan beracun. Untuk mengetahui ada tidaknya tikus di gudang dapat dilakukan pemeriksaan kotoran yang biasanya dapat ditemukan di atas lantai gudang. Selain itu juga dapat melihat adanya sarang di dalam atau di luar gudang. Fumigasi Fumigasi merupakan suatu cara Pengelolaan hama menggunakan fumigan. Fogging Fogging merupakan salah satu cara yang efektif memberantas serangga yang aktif terbang di dalam ruangan tertutup. umbi-umbian dan beberapa jenis buah-buahan. Sanitasi dapat meliputi sanitasi gudang. 106 . Selain memakan biji-bijian.4. Pengelolaan hama-hama pasca panen: 1. Eradikasi di dalam gudang dapat dilakukan dengan cara gropyokan (jika memungkinkan) dan fumigasi. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan spraying adalah menghindari terjadinya kontak langsung antar tubuh. gropyokan dan emposan juga dapat dilakukan di luar gudang. tikus juga memiliki kebiasaan menggigit benda-benda seperti kayu. 2. Cara ini tidak dapat dipakai sebagai tindakan preventif karena setelah gas hilang tidak mempunyai efek residu terhadap hama sehingga kemungkinan reinfestasi hama sewaktu-waktu dapat terjadi. tikus rumah. misalnya karung goni yang sobek. waktu aplikasi tepat. dan dipastikan tidak ada hewan atau manusia di sekitar tempat yang dispraying. Jenis-jenis tikus yang umum ditemukan dan merusak di gudang penyimpanan diantaranya tikus wirok. 3. ruangan. Spraying dengan insektisida dilakukan pada bangunan gudang. dosis dan aplikasi harus tepat agar tidak terjadi penumpukan residu. dan lain-lain.

Di gudang tembakau biasanya digunakan lampu perangkap berwarna merah karena hama Lasioderma sp tertarik dengan cahaya merah. Mempelajari dan memahami pelaksanaan SLPHT 3. Yang dimaksud peraturan perundangundangan di sini meliputi: • Undang-Undang (disyahkan oleh DPR dan Pemerintah).5. 129807801. 107 . UU No. Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida 4. Inpres No. Mempelajari dan memahami latar belakang sejarah perkembangan PHT di Indonesia 2. Mempelajari dan memahami penerapan PHT sebagai kebijakan perlindungan tanaman nasional Materi: LANDASAN HUKUM Di Indonesia ada beberapa peraturan perundang-undangan atau landasan hukum yang berkaitan dengan kegiatan Perlindungan Tanaman.doc Materi 12 KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN Tujuan: 1. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman 3. • Peraturan Pemerintah (disyahkan oleh Pemerintah/Presiden dengan pemberitahuan pada DPR) • Keputusan Presiden (Keppres) dan Instruksi Presiden yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Presiden • Keputusan Menteri Pertanian dikeluarkan dan ditandatangani oleh Menteri Pertanian Peraturan-peraturan yang tingkatannya di bawah KepmenTan mulai dari Peraturan Direktorat Jenderal sampai Peraturan Daerah tidak akan dibahas. 5. Kpts Bersama Mentan dan Menkes 711/Kpts/1996 tentang Batas Maksimum Residu Pestisida Pada Hasil Pertanian. PP No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman 2. KepmenTan No. Ada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur kebijakan dan pelaksanaan perlindungan tanaman yaitu: 1.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida 6. 3 Tahun 1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi. petani maupun masyarakat harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan tersebut. KepmenTan No. 517/Kpts/2002 tentang Pengawasan Pestisida 7. termasuk pasal-pasal mengenai Tindakan Pidana yang diberlakukan bagi pihak yang melakukan pelanggaran atau yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.434. PP No. Semua kegiatan perlindungan tanaman di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah.

PHT MENURUT UNDANG-UNDANG Menurut UU No. mengganggu kehidupan. dengan bantuan dana internasional yang berasal dari Pemerintah Belanda. Empat Prinsip PHT yang dikembangkan sendiri oleh petugas dan petani dalam SLPHT yaitu: 1. yang paling penting diantaranya: 1. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dikatakan bahwa “Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan”. Pemerintah mengeluarkan PP No. Sebanyak 57 formulasi pestisida kimia dinyatakan dilarang digunakan untuk pengendalian hama padi. 12 pada Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pasal 20 menyatakan dua hal: (1) Perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (Sistem PHT). penggunaan pestisida kimia secara selektif terutama yang berbahan aktif buprofezin (kelompok IGR) 2. OPT dapat dikelompokkan dalam kelompok hama. Pelestarian dan Pemanfaatan Musuh Alami 3. Secara politik pelaksanaan SLPHT memberikan tekanan yang kuat pada Pemerintah dan DPR sehingga pada tahun 1992 disyahkan UU No. Pengendalian hama wereng coklat padi dengan prinsip PHT. Amerika Serikat dan Bank Dunia. 3. Sebagai tindak lanjut UU tersebut. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman. 108 .SEJARAH PHT SEBAGAI KEBIJAKAN NASIONAL Dilihat dari sejarah. pergiliran tanaman. bahkan diakui oleh dunia internasional. tanam serentak. 3/1986 yang terdiri atas banyak butir. Peranan sivitas akademika UGM dalam persiapan Inpres 3/1986. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. maka usulan Komisi Perlindungan Tanaman kurang diperhatikan. sejak tahun 1989 Pemerintah menyelenggarakan kegiatan SLPHT sebagai wahana pelatihan petugas dan petani padi dalam menerapkan dan mengembangkan PHT. UU No. Para petugas lapangan dan petani harus ditingkatkan kemampuannya dalam menerapkan PHT melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Petani sebagai “Ahli” PHT Sampai akhir tahun 1998 sekitar satu juta petani dan ribuan petugas (PHP dan PPL) telah mengikuti SLPHT. Sebagai tindak lanjut Inpres 3/1986. Akhirnya pada tahun 1986 Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden No. penyakit dan gulma. OPT diartikan sebagai semua organisme yang dapat merusak. antara lain dengan penanaman VUTW. Namun karena Pemerintah masih asyik melaksanakan program BIMAS dengan Panca Usaha Tani dimana pada usaha ke-4 (Pengendalian Hama dan Penyakit) lebih mengutamakan penggunaan pestisida kimia. Pengamatan Mingguan 4. Saran para pakar tentang penerapan PHT baru diperhatikan Pemerintah setelah terjadi letusan wereng coklat yang menyerang tanaman padi seluas hampir 1 juta hektar pada tahun 1979-1980. Budidaya Tanaman Sehat 2. PHT dalam kebijakan perlindungan tanaman telah lama dibahas dan disarankan oleh para pakar perlindungan tanaman kepada Pemerintah. atau menyebabkan kematian tumbuhan. persiapan dan pelaksanaan program SLPHT di tingkat nasional sangat menonjol. Sejak tahun 1970 Komisi Perlindungan Tanaman telah mendesak Pemerintah untuk menerapkan PHT dalam setiap program perlindungan tanaman.

c. UU juga menyatakan bahwa tujuan PHT bukan membasmi atau memusnahkan hama tetapi mencegah kerugian secara ekonomis. cara genetik. menjadi tidak efektif karena populasi hama telah meningkat dan menyebar di daerah yang luas. Dalam pemilihan teknologi pengendalian. b. Pasal-pasal tersebut menekankan pentingnya kegiatan pemantauan dan pengamatan OPT sebelum dilaksanakan tindakan pengendalian (pasal 9). Pengendalian OPT bersifat dinamis. Pasal 10 menguraikan beberapa komponen PHT yang meliputi: a. berarti bahwa mereka belum mengetahui mengenai kebijakan perlindungan tanaman nasional. UU tersebut telah menentukan bahwa untuk pengendalian setiap jenis OPT harus dilakukan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian hama yang kompatibel. TEKNOLOGI PENGENDALIAN TERPADU Sebagai landasan kebijakan perlindungan tanaman. melalui pemanfaatan musuh alami OPT e. melalui pengaturan kegiatan bercocok tanam d. Apabila sampai saat ini ada pejabat. Menurut UU dan PP tersebut yang dimaksud Sistem PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan OPT dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan. 109 . Kalau kita ke desa-desa di pulau Jawa apalagi di luar Jawa ada kecenderungan yang memprihatinkan tentang kesadaran dan pengertian masyarakat tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pengendalian OPT serta perbaikan teknologi budidaya di tempatnya masing-masing. melalui penggunaan alat dan atau kemampuan fisik manusia. Petani banyak pasif dan menunggu tindakan pemerintah dalam menanggulangi OPT yang sedang eksplosif. Keadaan ini tidak baik karena kegiatan pengendalian selalu terlambat. cara budidaya. 12 Tahun 1992. cara lain sesuai perkembangan teknologi PERLINDUNGAN TANAMAN TANGGUNGJAWAB MASYARAKAT UU menyatakan bahwa teknik pengendalian OPT tidak seragam atau statis tetapi dinamis sesuai dengan keadaan ekosistem lokal. melalui manipulasi gen baik terhadap OPT maupun tanaman f. dan lingkungan. PP No. dan atau g. cara biologi. cara kimiawi. cara fisik melalui pemanfatan unsur fisika tertentu. Dalam kondisi populasi dan serangan OPT yang sedang dalam keadaan eksplosif pengendalian sangat sulit dilakukan. melalui pemanfaatan pestisida. Sebagai penjabaran UU No. untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. petugas atau mahasiswa yang berpendapat bahwa penggunaan pestisida kimia harus dilaksanakan. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman telah merinci mengenai penerapan teknologi pengendalian OPT secara terpadu khususnya pada pasal 8 sampai pasal 16. UU menekankan bahwa penggunaan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir. menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah. Kegiatan pengendalian yang paling baik harus dilakukan sedini mungkin oleh masyarakat petani sendiri tidak bergantung pada inisiatif pemerintah. Petani cenderung menyerahkan kegiatan pengendalian pada aktivitas petugas Pemerintah khususnya Dinas Pertanian atau Dinas Perkebunan. cara mekanik. Dalam sistem ini penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir.(2) Pelaksanaan perlindungan tanaman sebagaimana dimaksud ayat (1).

Akibatnya hasil. Perbedaan utama adalah pada proses pembelajaran. cabe. mengumpulkan OPT dan musuh alami. tetapi pada SLPHT adalah pembelajaran bersama dari bawah (petani) ke atas (kelompok tani dan masyarakat). Dengan rendahnya kualitas SDM petani kita. Pemerintah dalam hal ini akan memberikan fasilitasi dalam hal penyediaan teknologi. jambu mete). teh. kualitas dan harga produk pertanian dan perkebunan rakyat lebih sering rendah sehingga tidak dapat memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarga petani. pembahasan hasil pada minggu berikutnya. bawang merah. kentang. Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian di lapangan atau pada lahan milik petani sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat petani. Mereka belajar tidak di ruang tertutup tetapi langsung di lapangan. lada. melakukan analisis ekosistem serta mengambil keputusan pengelolaan ekosistem sesuai dengan analisis hasil pengamatan. Atas bimbingan para PL petani belajar mengamati. mereka tidak mampu mengelola lahan pertaniannya secara produktif dan profesional. pada petak pembelajaran yang dibagi dua sub petak yaitu petak PHT dan petak Kebiasaan Petani sebagai pembanding. Kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan PHT) memberikan alternatif yang terbaik untuk meningkatkan kualitas petani dan pekebun sehingga mereka secara mandiri dan aktif dapat mengelola lahan pertanian atau perkebunannya secara profesional dan dapat memanfaatkan sebanyak mungkin sumber daya alam yang ada di sekitarnya sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi. Kegiatan pemberdayaan petani dengan SLPHT sangat berbeda dengan kegiatan penyuluhan pertanian konvensional yang masih sering dilaksanakan oleh para petugas penyuluh lapangan secara rutin yang dikenal dengan kegiatan LAKU (Latihan Kunjungan). Program pelatihan dilaksanakan selama satu musim tanam atau sekitar 3 bulan untuk tanaman musiman (padi. pengetahuan dan ketrampilan petani dalam melakukan pengelolaan ekosistem pertanian mereka termasuk dalam melakukan pengendalian OPT. Proses pembelajaran pada penyuluhan konvensional dari atas (petugas penyuluh) ke bawah (petani). UU tersebut menyatakan bahwa pada dasarnya perlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat. Apa sebab petani pasif. PELAKSANAAN SLPHT Sebanyak 20-25 petani dipilih sebagai peserta kelompok SLPHT yang dipandu oleh 2 PL. 110 . Kelompok tani bertemu setiap minggu sekali pada hari yang ditetapkan kelompok. pelaksanaan perlindungan tanaman dilakukan oleh masyarakat bersama Pemerintah. kubis. Tujuan pelatihan dalam SLPHT tidak hanya untuk penerapan pengendalian hama dengan prinsip dan teknologi PHT tetapi lebih komprehensif yaitu mengelola ekosistem pertanian secara terpadu sehingga diperoleh produksi dan hasil yang menguntungkan petani dengan mempertahankan populasi hama dan OPT pada umumnya pada tingkat yang tidak merugikan hasil. Keadaan ini diperparah dengan kepemilikan modal kerja dan tanah garapan yang sangat marginal. dan seterusnya sampai tanaman dipanen.Kalau kita baca UU 12/1992 pasal 20 dikatakan bahwa “Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggungjawab masyarakat dan Pemerintah”. ketrampilan dan sarana pengendalian di lapangan. kapas). kakao. Para Pemandu lapangan (PL) di SLPHT tidak berperan sebagai instruktor tetapi sebagai teman belajar dan fasilitator petani peserta SLPHT. Petani membandingkan hasil yang diperoleh dari petak PHT dengan petak Non PHT yang masih mengandalkan penggunaan pestisida. acuh tak acuh serta menyerahkan sepenuhnya tindakan pengendalian OPT pada Pemerintah? Penyebab utama karena rendahnya kualitas kesadaran. dinamika hama dan musuh alami serta mengambil keputusan secara berkelompok. Mereka mempelajari dinamika ekosistem. Dalam hal-hal tertentu seperti terjadinya eksplosi suatu jenis OPT yang luas. Hasil keputusan kelompok segera dilaksanakan di kebun pembelajaran. dan sekitar 3-4 bulan untuk tanaman tahunan (kopi. kedelai.

Secara historis sejak tahun 1970 Pemerintah telah menerapkan prosedur pendaftaran dan perijinan pestisida yang mengacu tatacara yang berlaku secara internasional. perijinan. PEREDARAN DAN PENGGUNAAN PESTISIDA Pada dasarnya pestisida merupakan bahan kimia yang memiliki risiko bahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sehingga penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati dengan pengawasan yang ketat. peredaran.7 Tahun 1973 belum dicabut 111 . Penggunaan insektisida dan fungisida sangat menurun 4. IZIN SEMENTARA atau IZIN PERCOBAAN 2) Izin sementara dan izin percobaan diberikan untuk jangka waktu 1 tahun 3) Izin tetap diberikan untuk jangka waktu 5 tahun. Karena itu setiap negara harus membuat peraturan yang berhubungan dengan pendaftaran. sedangkan kegiatan SLPHT Perkebunan masih berjalan sampai akhir 2005. 12 Tahun 1992 dan PP 6 Tahun 1995 yang di dalamnya juga mengandung pengaturan tentang pestisida. Sayangnya saat ini perhatian Pemerintah terhadap tindak lanjut program pelatihan SLPHT Pangan menurun karena diserahkan kepada pembiayaan Pemerintah Daerah. Keuntungan usaha petani meningkat. Kemampuan dan kepercayaan diri petani terhadap konsep dan teknologi PHT meningkat 6. Pasal 2 PP 7/1973 menyatakan bahwa: 1) Setiap orang atau badan hukum dilarang menggunakan pestisida yang tidak didaftarkan atau memperoleh izin Menteri Pertanian 2) Prosedur permohonan pendaftaran dan izin diatur lebih lanjut oleh Menteri Pertanian 3) Peredaran dan penyimpanan pestisida diatur oleh Menteri Perdagangan atau Menteri Pertanian Pasal 3 1) Izin yang dimaksudkan diberikan sebagai IZIN TETAP. penyimpanan dan penggunaan Pestisida. Penggunaan pengendalian hayati dengan agens pengendalian hayati meningkat 5. namun PP No.Pada setiap hari pertemuan SLPHT dari jam 7 pagi sampai 13. Produksi petak PHT lebih tinggi 2.00 siang diisi dengan acara: • Pengamatan dan pengambilan sampel hama dan musuh alami • Analisis Agroekosistem • Pengambilan Keputusan Secara Berkelompok • Topik Khusus untuk melakukan kajian topik-topik tertentu sesuai kebutuhan kelompok • Dinamika Kelompok untuk meningkatkan kekompakan kelompok Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim independen baik terhadap SLPHT Pangan maupun SLPHT Perkebunan diperoleh kesimpulan yang hampir sama yaitu: 1. Meskipun sudah ada UU No. Kualitas produk lebih baik sehingga memperoleh penghargaan yang lebih tinggi 3. 7/1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. dengan ketentuan bahwa izin tersebut dalam jangka waktu itu dapat ditinjau kembali atau dicabut apabila dianggap perlu karena pengaruh samping yang tidak diinginkan. Jumlah petani yang telah mengikuti SLPHT masih terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah petani pangan dan perkebunan di Indonesia yang bekisar antara 30-40 juta. Pada tahun 1973 diterbitkan Peraturan Pemerintah No. penggunaan dan pengawasan pestisida. KEBIJAKAN TENTANG PENDAFTARAN.

kehutanan. pestisida industri. dll. Peraturan tentang prosedur perijinan pestisida telah beberapa kali direvisi yang terbaru adalah SK Mentan No. Kelembagaan Pemerintah Pusat Dalam organisasi Departemen Pertanian. dll beserta beberapa pakar pestisida. Melakukan evaluasi data/informasi dalam rangka pendaftaran pestisida. wewenang serta status kepegawaian beberapa lembaga perlindungan tanaman nasional. Pendaftaran pestisida dipersyaratkan dalam bentuk Bahan Teknis dan Bahan Formulasi.sehingga masih diberlakukan sampai saat ini. Komisi mempunyai tugas: 1. Menteri Pertanian dibantu oleh KOMISI PESTISIDA atau terkenal dengan nama KOMPES. 4. Direktorat Jendral Bina Sarana Pertanian yang membawahi Direktorat Pupuk dan Pestisida 2. 12/1992 menyatakan bahwa: “Pestisida yang akan diedarkan dalam wilayah Negara RI wajib terdaftar. Dep. 3.1/Kpts/2001 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida. terjamin efektivitasnya. pengendalian rayap. Untuk melaksanakan tugas ke-3 dan ke-4 Kompes membentuk Tim Pakar Evaluasi Pestisida. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian sebagai bahan dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan di bidang pestisida. Saat ini Komisi Pestisida di bawah koordinasi Dirjen Bina Sarana Pertanian dan anggotaanggotanya dari seluruh jajaran Pemerintah Pusat yang berkaitan dengan pengelolaan pestisida seperti dari DepKes. peternakan. serta diberi label” “Pemerintah melakukan pendaftaran dan mengawasi pengadaan. fumigasi. 434. Mengkoordinasikan instansi/pihak terkait baik di dalam dan di luar Departemen Pertanian di bidang pestisida kepada Menteri Pertanian. aman bagi manusia dan lingkungan hidup. Mengenai pengaturan pestisida UU No. pestisida rumah tangga. perikanan. Sampai bulan Mei 2004 ini sekitar 1000 formulasi pestisida telah terdaftar untuk pertanian. pengendalian vektor penyakit manusia. Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan yang membawahi Direktorat Perlindungan Pangan 112 . “Pemerintah dapat melarang atau membatasi peredaran dan/atau penggunaan pestisida tertentu” Dalam melaksanakan tugas pendaftaran dan pengelolaan pestisida secara nasional. peredaran serta penggunaan pestisida”. Melakukan evaluasi terhadap pestisida yang telah terdaftar dan telah memperoleh izin Menteri Pertanian. BPTPH (Balai Proteksi Tanaman dan Hortikultura) Propinsi yang dahulu berada di bawah struktur Departemen Pertanian Pusat sekarang berada di bawah Pemerintah Daerah Propinsi. memenuhi standar mutu. Tenaga Kerja. lembaga-lembaga yang tugas dan fungsi khususnya perlindungan tanaman terdapat di 4 Direktorat Jenderal dan 1 (satu) Badan yaitu: 1. 2. KELEMBAGAAN PERLINDUNGAN TANAMAN Dengan telah diundangkannya UU tentang Otonomi Daerah yaitu UU 22/1999 maka terjadi perubahan struktur. Kementerian Lingkungan Hidup.

UPT Ditlin Perkebunan adalah BPTP (Balai Proteksi Tanaman Perkebunan) di Medan. Lapangan/LL.3. Sedangkan UPT Direktorat Perlindungan Perkebunan sampai tahun ini masih belum diserahkan ke Daerah. kedudukan. dan beberapa Laboratorium (Lab. dan Laboratorium Analisis Pestisida di Pasar Minggu Jakarta. UPT Perlindungan Tanaman yang dibentuk Pemerintah Pusat cukup banyak baik yang berada di Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Sebagian besar UPT di bawah Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan dan Ditlin Hortikultura sudah diserahkan ke daerah sehingga berubah statusnya menjadi UPT Pemerintah Daerah. Laboratorium Utama Pengendalian Hayati/LUPH. Operasionalisasi kegiatan pengkajian dan pengendalian OPT di tingkat daerah dilakukan oleh BPTPH Propinsi sebagai UPT Daerah. Di Dinas Perkebunan seperti di Jawa Tengah dan DIY bagian perlindungan tanaman masih tampak kadangkala sebagai eselon II (Sub Dinas Perlindungan Tanaman) atau sebagai eselon III (Seksi Perlindungan Tanaman). Direktorat Perlindungan Hortikultura dan Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan yang membawahi Direktorat Perlindungan Perkebunan 5. Dua unit kerja yang termasuk UPT Ditlin Pangan adalah Sentra Peramalan Jasad Pengganggu Tanaman Pangan di Jatisari Cikampek. Jombang dan Ambon. Sampai tahun 2003 Indonesia memiliki 33 propinsi. 273 kabupaten. 113 . dan letak lembaga yang berwewenang dalam mengelola perlindungan tanaman. tergantung pada kebijakan dan program kerja daerah yang bersangkutan. BPTPH di lapangan mempunyai beberapa laboratorium perlindungan tanaman seperti BPTPH DIY memiliki laboratorium di Bantul. dan 63 kotamadya yang mempunyai struktur organisasi yang sangat beragam. dan Laboratorium Analisis Pestisida/LAP). Hal ini termasuk mengenai keberadaan. Karena itu pada struktur organisasi Dinas-dinas yang ditetapkan oleh SK Kepala Daerah seringkali posisi perlindungan tanaman tidak ada terutama di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan/atau Hortikultura. Lab Utama Vertebtara/LUV. Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura yang membawahi Direktorat Perlindungan Hortikultura 4. Badan Karantina Pertanian yang membawahi Karantina Tumbuhan Dalam struktur organisasi Pemerintah Pusat dan Daerah dikenal lembaga dengan status dan fungsi pelaksanaan aspek-aspek teknis tertentu yang disebut Unit Pelaksana Teknis (UPT). Perlindungan Tanaman di Organsiasi Pemerintah Propinsi Sebagai konsekuensi kebijakan otonomi daerah struktur organisasi Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten sangat beragam. Bandung.

LAMPIRAN I AMBANG EKONOMI BERBAGAI JENIS HAMA PADA KOMODITAS TANAMAN PANGAN Jenis hama Rattus argentiventer Sampel pengamatan . Padi No. Scirpophaga incertulas S. Malai berisi – akhir pembungaan : 1 kel. 1. Nymphula depunctalis 20 rumpun / petak 7. 4. Tanam – anakan terbentuk : kerusakan daun sebesar 25 % 10 nimfa 2 telur/rumpun 114 . Tanam – pembentukan malai : kerusakan daun sebesar 25 % c. Nilaparvata lugens Sogatella furcifera Nephotettix virescens. Tanam – malai berisi : 2 kel. polychrysus Sesamia inferens Mythimma separata Spodoptera litura S. innotata Chilo supressalis C. 8. mauritia 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 5. Ada tungro : 1 nimfa dewasa / tunas b.30 rumpun pada masa vegetatif. Pesemaian : kerusakan daun sebesar 50 % b. Leptocoryza acuta Orseolia oryzae 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 1 nimfa / tunas 1 nimfa dewasa / tunas a. N. malayanus. 3. nigropictus - 5. . Pembentukan malai – masak : kerusakan daun sebesar 15 % a. 2. Semai – tanam : kerusakan daun sebesar 50 % b.20 rumpun pada pemasakan bulir 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak 20 rumpun / petak Ambang ekonomi Persentase tanaman terpotong >5% 1. Tidak ada tungro : 5 nimfa / tunas a. telur / 20 rumpun a. Fase vegetatif : kerusakan daun sebesar 20 % b. telur / 20 rumpun b. dan N. Sebelum pembentukan malai–pembentukan bunga: kerusakan daun 5 % a. 4. Cnapalocrosis medinalis 20 rumpun / petak 6. exemta S.

1.120 larva instar 2 . telur / 100 rumpun b. Fase tanam. telur / 100 rumpun c. Populasi ulat 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) a. Kerusakan daun 12.10 hst : 1 imago b.kerusakan daun sebesar 12.200 larva instar 1 . (31 – 50 hst) : 3 ekor larva instar 3 / rumpun dan 4 kel. Chrysodeixis chalcites 10 rumpun/ petak 3.20 larva instar 3 . Umur tan. (31-50 hst): .120 larva instar 2 . Kedelai No.120 larva instar 2 . (51 – 70 hst): . (51 – 70 hst) : 6 ekor larva instar 3 / rumpun dan 7 kel. Umur tan.5 % d. Fase vegetatif (11-30 hst): .200 larva instar 1 .30 larva instar 3 . Jenis hama Spodoptera litura Sample pengamatan Ambang ekonomi a.2. Phaedonia inclusa 10 rumpun / petak 115 . Umur tan.5 % atau populasi ulat 10 larva / 20 rumpun (Balittan Malang) a.kerusakan daun sebesar 12.kerusakan daun sebesar 25 % b.50 larva instar 3 .200 larva instar 1 . Umur tan.5 % c. Fase vegetatif : 1 2.

Umur tan (31 – 50 hst): .1 pasang kepik hijau .1 pasang kepik hijau .1 pasang kepik coklat Umur tan.1 pasang .1 pasang kepik hijau . Umur tan.kerusakan polong > 2.1 pasang . imago c.5 % c. Umur 45. (51 –70 hst) : .1 pasang . bila ditemukan 1 ekor kepik / 116 . Nezara viridula 10 rumpun 5 Piezodorus hybneri a. Sebelum 45 hst : kerusakan sebesar > 2 % / 20 rumpun acak d.kerusakan polong > 2. Umur tanaman 45 hst.5 % c.1 pasang kepik coklat b. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d. (51 –70 hst) : . bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) 6 Riptortus linearis a. Umur tan.50 hst. Umur tan (31 – 50 hst): .50 hst. c.kerusakan polong > 2. Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang d.1 pasang kepik coklat b. b. d. (51 –70 hst) : .50 hst.4. bila ditemukan 3 ekor kepik / 5 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) Umur tan (31 – 50 hst): .5 % Umur tan 71 hst – panen : 1 pasang Umur 45. ditemukan serangan sebesar 2 % (Balittan Malang) a. Umur 45.

e. 11.5 % atau 15 larva / 20 rumpun (Balittan Malang. b.7. 1991) vegetatif (11-30 hst) : kerusakan daun sebesar 25 % atau ditemukan 30 larva Umur tan. Sebelum 10 hst : kerusakan > 2 % Terdapat serangan 2 % atau adanya 1 ekor lalat / 5m baris tanaman (Balittan Malang.5 % atau ditemukan 15 ulat (Balittan malang. 10. Etiella zinckenella 10 rumpun / petak a.5 % Umur tan (51 – 70 hst) : kerusakan daun sebesar 12. 4 tanaman atau kerusakan polong 2% (Balittan Malang) Pertumbuhan polong (51 – 70hst) : 1 pasang atau 1 ekor dan polong terserang > 2.5 % Umur tanaman 45 hst .Lamprosema indicata . 9. c.Plusia chalcites 10 rumpun / petak a.5 % Terdapat kerusakan daun sebesar 12. c. d. b. (tanam – 10 hst) : 2 ekor atau 2.5 % tanaman terserang Umur tan. bila terdapat serangan ratarata 2 % (Balittan Malang) Umur tan. b. Spodoptera litura 12 rumpun / petak a. . 8. b. (31-50 hst) : kerusakan daun sebesar 12. d. Ophiomyia phaseoli (Agromyza) 30 rumpun / petak a. b. c. Melanogromyza sojae 10 rumpun / petak a. 1991) 117 .1991) Umur tanaman kurang dari 10 hari kerusakan sebesar >2% Umur tanaman 0-30 hst : terdapat serangan > 2 % 58 larva instar 1 32 larva instar 2 17 larva instar 3 (Ditlin) 4 larva / 12 rumpun yang berdekatan Terdapat kerusakan daun sebesar 12.

24 Derris elliptica 25 Derris malaccensis 26 Eclipta alba 27 Eugenia syzigium 28 Eunymus japonicus 29 Eupatorium triplinerpe Cucumber Lemon grass Frenchmarigold Clove Spindle tree 118 . kulit. 20 Cucumis sativus 21 Cucurbita moschata 22 Cymbopogon sp. buah Daun Daun. buah Daging Daun Biji Biji Daun Daun Daun. bunga Daun Daun 1 Achalypha indica 2 Acarus columus 3 Allium cepa 4 Allium sativum 5 Andropogon nordus 6 Annona muricata 7 Annona reticulata 8 Annona squamosa 9 Azadirachta indica 10 Bischo Bischofia javanica 11 Chrysantemum sp. tangkai Daun. biji Daun Daun Akar Akar Akar. delima Nimba Glintungan Piretrum Kayu manis Jeruk Jeruk purut Kelapa Daun jinten Ketumbar Kamalakian Beluntas Cina Mentimun Labu besar Serai dapur Dahlia Tuba Tuba laut Urang aring Cengkeh Kumbang Ayapana Bagian yang digunakan Daun. 23 Dahlia sp. buah Akar.Lampiran 2 Daftar tumbuhan di Indonesia yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati No Nama Spesies Nama Umum Indian nettle Red onion Garlic Citronella Custard apple Sugar apple Neem tree Chrysant Cinnamon leaf Sour orange Lemon Coconut Nama Daerah Rumput bolong Delinggo Bawang merah Bawang putih Serai wangi Sirsak Buah nina Srikaya. kulit. kulit Daun Daun Daun Daun Daun. biji Kulit. 12 Cinnamomum burmanii 13 Citrus aurantium 14 Citrus hystrix 15 Cocos nucifera 16 Coleus sp. 17 Coriandum sativum 18 Croton triglium 19 Crynura sp. buah Seluruh bagian Daun Bunga Daun.

akar. Mammea Americana Mundulae suberosa Nerium oleander Nicotiana tabaccum Oxalis deppei Pachyrrhyzus erosus Pangium edulo Pelargonium sp. biji Rimpang Sumber : DirJen Bina Produksi Perkebunan. batang Akar. Piper nigrum Pogostemon cablin Punica granatum Ricinus communis Rosa sp.30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 Ficus carca Geranium sp. lerek Kentang Jahe Iris potato Vogel teprosia Ginger Daun Daun Daun Daun Daun Akar Seluruh bagian Akar. kulit Kulit. kaliki Mawar Rerek. batang Daun Biji Daun Daun Biji Daun Daun Daun Daun. Departemen Pertanian 119 . ubi. patate Mamey Common oleander Tobacco Lucky clover Chinesse yan Geranium Black pepper Cublin Ponegranate Costa bean Daun ambrei Pepaya hutan Pacar air Ubi jalar Timbo. daun Daun. Peperomia sp. batang Daun Daun Seluruh bagian Dahan. Hedera nodosa Impatiens sultani Ipomea batatas Lonchocarpus nicou Lycopercicum sp. komir Mundula Oleander. Sepindus rarak Solanum tuberosum Tephorisa vogelii Zingiber officinale Fong tree Zingiber balsam Batate. jure Tembakau Celincing Bengkuang Kapayang Keranyam Saladaan Lada Nilam Delima Jarak. neku Leunca. kulit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful