PENGGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL SEBAGAI TERAPI PENYAKIT TIFUS ( DEMAM TIFOID ) Posted on December 30, 2007 by farmakoterapi-info| 7 Comments

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL SEBAGAI TERAPI PENYAKIT TIFUS ( DEMAM TIFOID )

Adrianus Arinawa Yulianta ( 07 8115 041 )

1. Pendahuluan

Demam Tifoid atau Tifus merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Disebarkan melalui perpindahan dari manusia ke manusia terutama pada keadaan hygiene buruk. Masa inkubasi sampai 18 hari. Sebagian bakteri ini dapat dimusnahkan oleh asam lambung tetapi ada sebagian lagi yang masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid dan bersarang di jaringan tersebut, selain itu bakteri ini juga bersarang di limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotelial. Endotoksin atau racun dari Salmonella typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat bakteri tersebut berkembang biak. Salmonella typhi dan endotoksinnya merangsang sistesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradangt, sehingga terjadi demam.

Gejala-gejala yang muncul bervariasi, dalam minggu pertama sama dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, sakit kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, konstipasi atau diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan peningkatan suhu badan. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relative, lidah tifoid (kotor ditengah, tepid an ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan kesadaran berupa samnolen sampai koma.

Penatalaksanaan terapi demam tifoid, Penggunaan antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran bakteri. Antibiotik yang dapat digunakan adalah klorafenikol ( dosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500mg, diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 x 250mg selama 5 hari kemudian ), Ampisilin/Amoksisilin ( dosis 50-150 mg/kg BB, diberikan selama 2 minggu), Kotimoksazol 2 x 2 tablet ( 1 tablet mengandung 400mg sulafametoksazol-80mg trimetropin, diberikan selama 2 minggu ), Sefalosporin generasi II dan III biasanya demam mereda pada hari ke-3 atau menjelang hari ke-4 ( obat yang dipakai seftriakson 4 g/hari selama 3 hari, norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari, siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari, ofloksasin 600 mg/hari selama 7 hari,

Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6 jam. Istirahat dan perawatan yang profesional ini bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Nama generik : Klorafenikol Nama dagang Indonesia : Combisetin (Combiphar). kemudian bubur kasar. Setelah umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50 mg/kgBB/ hari dalam 4 dosis tiap 6 jam. rickettzia. infeksi berat karena Salmonella sp. dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. sirup 125 ml/5 ml. psitakosis. tempat tidur. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung keadaan umum pasien. anemia. pasien porfiria Bentuk sediaan : Kapsul 250 mg. kehamilan. influenza (terutama meningitis). pakaian. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih berat. disentri. . Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam. limfogranuloma. Pasien harus istirahat total sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. serbuk injek. suspensi 125 mg/5 ml. Kalmicetine (Kalbe Farma). B. Selama penyembuhan harus dijaga kebersihan badan. menyusui. Kontraindikasi : Hipersensitif. Diet dan terapi penunjang pertama pasien diberi bubur halus. Lanacetine (Landson) Indikasi : Pengobatan tifus (demam tifoid) dan paratifoid. 1g/vail. gastroenteristis. 500 mg. Farsycol (Ifars). dan peralatan yang dipakai. Dosis dan aturan pakai : Dewasa : 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam. fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari).pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari. Aktifitas dilakukan bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. H. Obat 1. bruselosis.

Mansjooer. Philadelphia. Bora. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Klorafenikol terakumulasi dalam darah pada bayi khususnya ketika pemberian dalam dosis tinggi ini yang menyebabkan Gray-baby syndrome. Obat-Obat Penting ”Untuk Pelayanan Kefarmasian. Peter.. EGC. Thomas. Gumustop. neuritis optic. 1997.wordpress. hemoglobinuria nocturnal. W.. Richard. Reese. muntah.. edisi ketiga jilid pertama. sindrom grey pada bayi premature dan bayi baru lahir... C. Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Diagnosis dan Terapi. stomatitis. Jakarta. dkk. 2000. USA. reaksi hipersensitivitas misalnya anafalitik dan urtikaria.com/2007/12/30/penggunaan-antibiotik-kloramfenikol-sebagai-terapipenyakit-tifus-demam-tifoid/ . Hayes. DepKes RI. 3rd Edition. eritema multiforme. http://yosefw. depresi sumsum tulang Resiko khusus : Anemia aplastik : jarang terjadi. Media Aeculapius FKUI. Handbook of Antibiotics. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada. diperkirakan karena pengaruh genetic dan terjadi tidak secara langsung pada saat menggunakan kloramfenikol tetapi muncul setelah beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pemakaian Gray-baby syndrome : terjadi pada bayi yang lahir premature dan pada bayi umur < 2 minggu dengan gangguan hepar dan ginjal. F. Mackay. glositis. Arif. 2001..000 penggunaan klorafenikol.Efek samping : Kelainan darah reversible dan ireversibel seperti anemia aplastik anemia (dapat berlanjut menjadi leukemia). neuritis perifer. 2006. Robert. mual. Penerbit Buku Kedokteran. diare. Betts. Jakarta. Anonim. E. Daftar Pustaka Anonim. 2000. edisis revisi. Lippncott Williams & Wilkins.000-40. terjadi hanya 1 pada 25.