BANTUAN HIDUP DASAR ( BHD ) dr. Purwoko, SpAn SMF/Bagian Anestesiologi Dan Reanimasi RSUD Dr.

Moewardi Surakarta / FK UNS A. INDIKASI 1. Henti napas Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernapasan dari korban / pasien. Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti napas dapat terjadi padakeadaan :          Pada awal Tenggelam Stroke Obstruksi Epiglotitis Overdosis Tersengat Infark obat-obatan listrik miokard jalan napas

menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung. 2. Henti jantung Pada saat terjadi henti jantung secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari a. b. pengelolaan Mencegah Memberikan sirkulasi dan gawat darurat medik yang atau bertujuan : berhentinya bantuan ventilasi sirkulasi berhentinya respirasi. eksternal dari terhadap yang korban

mengalami henti jantung atau henti napas melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP). Resusitasi Jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu :  Survei Primer (Primary Surgery), yang dapat dilakukan oleh setiap orang.  Survei Sekunder (Secondary

Tersambar petir Koma berbagai henti akibat macam kasus napasoksigen masih

dapat masuk ke dalam darah untuk beberapa

Bantuan Hidup Dasar

1

Survey). Memastikan kesadaran dari korban / pasien. segera minta bantuan dengan lanjut. C. 4. Untuk dapat mengingatkan dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A. yaitu : A B C D airway (jalan napas) breathing (bantuan napas) circulation (bantuan sirkulasi) defibrilation (terapi listrik) Sebelum melakukan tahapan A(airway). paramedis primer. Memperbaiki posisi korban / pasien Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif. yang hanya terlatih dapat 3. harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada korban / pasien. dan / Mbak !!! Meminta pertolongan Jika ternyata korban / pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan. Jika posisi sudah terlentang. ubahlah posisi korban ke posisi terlentang. 2. B. Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak. cara berteriak “Tolong !!!” untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih dilakukan oleh tenaga medis dan merupakan lanjutan dari survei B. dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban / pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan. dan D. Jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap. yaitu : 1. penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakan lutut. korban / pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. Mengatur posisi penolong Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong. penolong harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban / pasien. 5. Ingat ! penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala. sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu !!! / Mas !!! . SURVEI PRIMER Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan sirkulasi serta defibrilasi. korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh. leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama.

kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain. B ( BREATHING ) Bantuan napas Terdiri dari 2 tahap : Bantuan Hidup Dasar 3 . sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. maka lidah dan epiglotis akan A (AIR WA Y) Jalan Napas Setelah 1. selesai melakukan prosedur dasar. biasa pada korban tidak sadar tonus otot–otot menghilang. kesehatan Teknik adalah membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk tengadah kepala topang dagu. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt – chin lift) dan orang Manuver awam Pendorongan dan petugas Mandibula. menutup farink dan larink. kemudian dilanjutkan dengan melakukan tindakan : Pemeriksaan jalan napas Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu. Membuka jalan napas Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing. dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban. Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger.2. inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. namun demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya.

mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16–17%. Cara memberikan bantuan pernapasan :  Bantuan Mulut ke mulut dengan melebihi 10 detik. sambil tetap mempertahankan Prosedur ini jalan dilakukan napas tidak tetap boleh terbuka. Jika korban / pasien tidak bernapas. harus penolong dapat harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan penolong terjadi menutup saat penolong seluruhnya mulut korban dengan baik agar kebocoran menghembuskan napas dan juga . mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban / pasien.5–2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban / pasien terlihat mengembang. Memastikan korban / pasien tidak bernapas. bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut. Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup.1. Memberikan bantuan napas. Pada saat dilakukan hembusan napas dari 2. mulut tidak mulut ke mulut. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban / pasien setelah diberikan bantuan napas. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban / pasien. pernapasan menggunakan cara ini merupakan cara yang cepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru–paru korban / pasien. waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1.

 Teknik usaha ini Mulut ke hidung jika tidak direkomendasikan ventilasi dari mulut korban memungkinkan. penolong harus menutup mulut korban / pasien.500 ml (10 ml/kg). Terdiri dari 2 tahapan : 1.harus menutup lubang hidung korban / pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Ada tidaknya denyut jantung korban / pasien dapat Bantuan Hidup Dasar 5 . Memastikan ada tidaknya denyut jantung C (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi korban / pasien. Volume udara yang diberikan pada kebanyakan orang dewasa adalah 400 . Bila pasien mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma. sehingga terjadi distensi lambung. misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat. dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung. Volume udara yang berlebihan dan laju inspirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung.  Mulut ke Stoma Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea langsung ke kulit.

(50% Duty Cycle). dilakukan dengan teknik sebagai berikut :  Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada     (sternum).5–2 inci (3. 2. selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar. .8– mengembang kembali ke posisi semula melakukan kompresi Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban / pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan. dan jika bernapas pertahankan jalan napas. Dengan posisi badan tegak lurus. dengan dua atau tifa jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea. raba dengan lembut selama 5–10 detik. Tekanan pada dada dan harus dada dilepaskan dibiarkan dada. penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 5 cm). jari–jari tangan dapat diluruskan atau menyilang. Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lainnya.ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban / pasien. Daerah tulang tersebut iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. Melakukan bantuan sirkulasi Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung. keseluruhannya setiap kali 30 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1. hindari jari–jari tangan menyentuh dinding dada korban / pasien. Dari ke pertemuan atas. Jika teraba denyutan nadi. kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira–kira 1–2 cm.

 Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi. sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. untuk kemudian dinilai apakah dilakukan siklus berikutnya dan diastolik yang sangat rendah. Indonesia Hal ini diterjemahkan dengan istilah defibrilasi adalah suatu memberikan energi dilakukan jika penyebab henti jantung (cardiac arrest) adalah kelainan irama jantung yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel. kali permenit (dilakukan 4 siklus atau permenit). Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik. Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban / pasien tidak terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 perlu tidak.  D (DEFRIBILATION) Defibrilation terapi dengan atau dalam bahasa listrik. untuk defibrilasi (defibrilator) yang dapat dapat digunakan oleh orang awam yang disebut Automatic External Defibrilation. dimana alat tersebut Bantuan Hidup Dasar 7 . Dimasa sekarang ini sudah tersedia alat Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60–80 mmHg.

Jalan napas (AIRWAY)  Posisikan korban pasien  Buka napas jalan / 30 kali ventilasi.  Jika korban / pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas. tetapi konsekuensinya akan menyebabkan penolong cepat lelah.mengetahui korban henti jantung ini harus dilakukan defibrilasi atau tidak. BHD 1 penolong pada orang awam lebih efektif mempertahankan sirkulasi dan ventilasi yang adekuat. atau ternyata tidak bisa juga maka dilakukan : Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan dan jalan 2 kali kali napas kompresi dada sebanyak MELAKUKAN BHD 1 DAN 2 PENOLONG Orang awam hanya mempelajari cara melakukan BHD 1 penolong. 3. BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut : 1. jika perlu dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat memberikan tanda kepada penolong untuk melakukan defibrilasi atau melanjutkan bantuan napas dan bantuan sirkulasi saja. dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi. Penilaian korban. serta tidak adanya trauma leher (trauma tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap (Recovery position). sedangkan di Eropa. dengan manuver tengadah kepala – topang dagu. Pernapasan (BREATHING) Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau tidak pernapasan korban / pasien. Di Amerika Serikat dan dinegara lainnya dilakukan bantuan napas awal sebanyak 2 kali. membuka untuk setiap menghembuskan . Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan. 4. maka 2. lakukan bantuan napas. Tentukan kesadaran korban / pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap).  Jika korban / pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan. New Zealand diberikan 5 kali. Australia. jika tidak sadar. Teknik BHD yang dilakukan oleh 2 penolong menyebabkan kebingungan koordinasi. dapat dicoba dengan membetulkan posisi kepala korban / pasien.

bila nadi ada cek napas. Setelah nilai tanda dengan memberikan tanda – napas 8-10 kali (1 menit). hendaknya Karotis. jika tidak bernapas lanjutkan bantuan napas.  Jika nadi menilai ada tidak tanda–tanda dilakukan hanya pernapasan Untuk petugas denyut kesehatan nadi pada terlatih arteri memeriksa benda yang menyumbat di jalan napas. kembali adanya meraba sirkulasi arteri dada pasien bantuan mengembang pada saat sirkulasi. Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan. Pastikan diberikan pernapasan.napas. sambil mencari melihat ada tidaknya pernapasan spontan. Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali dengan kecepatan 100 kali per menit. dan ada denyut kompresi dada. batuk atau pergerakan. karotis. nadi tidak ada lakukan kompresi dada : Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar. Untuk petugas kesehatan yang terlatih dilakukan obstruksi manajemen asing. Sirkulasi (CIRCULATION) Periksa tanda–tanda adanya sirkulasi setelah kembali memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan cara Bantuan Hidup Dasar 9 . jika terlihat usahakan dikeluarkan. 5. jalan napas oleh benda korban / pasien (ada atau tidak ada pernapasan)  Jika tanda tidak ada tanda– denyut sirkulasi.

teraba pada letakkan posisi  Jika tetapi tidak ada napas teraba.  Jika tidak ada dan nadi kali dengan kecepatan 100 kali per pernapasan spontan dan adekuat napas teraba.  kembali bantuan napas dengan rasion 30 : Jika ada napas dan denyut nadi korban mantap. Jika sudah serta tetap terdapat nadi terbuka posisi yang tepat dan mulai kembali kompresi 30 menit. dilakukan kompresi 2.- Letakkan telapak kembali tangan pada  nadi setiap saat. 6. napas kali monitor nadi bantuan 8-10 dan berikan sebanyak permenit . jaga agar jalan kemudian korban / pasien ditidurkan pada posisi sisi mantap. Penilaian Ulang Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi (+2Menit) kemudian korban dievaluasi kembali.

• Untuk memeriksa jalan nafas terutama di daerah mulut.Pengelolaan Jalan Napas (Airway Management) Tanpa Alat Pengertian : tindakan jalan yang napas dilakukan dengan untuk tetap Gambar 1. Cara ini dilakukan untuk memeriksa jalan nafas dan pernafasan. dapat dilakukan teknik Cross Finger yaitu dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang disilangkan dan menekan gigi Bantuan Hidup Dasar 11 . warna mukosa/kulit dan kesadaran L = Listen/Dengar aliran udara pernafasan F = Feel/Rasakan adanya aliran udara pernafasan dengan menggunakan pipi penolong • • • Chin dagu) Jaw Lift maneuver (tindakan mengangkat thrust maneuver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah) Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi) Gambar dan penjelasan lihat dibawah. hanya dilakukanmaneuver jaw thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher. Ingat! Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala. Cara pemeriksaan Look-Listen-Feel membebaskan (LLF) dilakukan secara simultan. adanya retraksi sela iga. Tindakan Membuka jalan nafas dengan proteksi cervikal memperhatikan kontrol servikal Tujuan : membebaskan jalan napas untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh Pemeriksaan Jalan Napas : L = Look/Lihat gerakan nafas atau pengembangan dada.

Cara melakukannya : • Bila hal ini terjadi pada penderita tidak sadar. Tehnik finger sweep jaw thrust. endotrakeal. Cara mengatasi : finger tersumbat karena adanya sweep. benda asing lainnya sehingga hembusan nafas hilang. • Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher) kemudian buka mulut dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot rahang lemas (maneuver emaresi) Gambar daerah finger 2. • Berkumur (gargling). Cara mengatasi : chin lift. lakukan peniupan udara melalui mulut. trakeostomi. maka kemungkinan ada sumbatan pada jalan nafas dan dilakukanmaneuver Heimlich. Mengatasi sumbatan nafas parsial Dapat digunakan teknik manual thrust Gambar 3. Membersihkan jalan nafas Sapuan jari (finger sweep) Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing pada rongga mulut belakang atau hipofaring seperti gumpalan darah. Cara mengatasi :cricotirotomi. penyebab : ada cairan di . Pemeriksaan mulut dengan sumbatan jalan nafas di menggunakan teknik cross • Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus dengan sarung tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut dengan gerakan menyapu. daerah hipofaring. pengisapan/suction. bila dada tidak mengembang. pipa pipa 3. pemasangan pemasangan orofaring/nasofaring. • Bila jalan nafas benda asing dalam rongga mulut dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari. • Kegagalan membuka nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal lain yaitu adanya sumbatan jalan nafas di daerah faring atau adanya henti nafas (apnea) 2. sumbatan di plika vokalis.atas dan bawah. muntahan. • Stridor (crowing). Tanda-tanda adanya sumbatan (ditandai adanya suara nafas tambahan) : • Mendengkur(snoring). berasal dari sumbatan pangkal lidah.

Ingat tempatkan korban pada tempat yang datar! Kepala dan leher korban jangan terganjal! Chin Lift Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien kemudian angkat. Head Tilt Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh pada lidah pasien pasien. wajah ke depan. maka penderita akan : • • • • • Gelisah oleh karena hipoksia Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga. Ingat! Tidak boleh dilakukan Bantuan Hidup Dasar 13 . Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas Beri oksigen bila ada 6 liter/menit Jaga tulang leher : baringkan penderita di tempat datar. Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS BEBAS! • • • Pasien sadar. posisi leher netral • Nilai apakah ada suara nafas tambahan. tracheal tug) Gerak dada dan perut paradoksal Sianosis Kelelahan dan meninggal Gambar4. perhatikan Lakukan jalan nafasnya! chin lift Pangkal atau lidah tampak untuk menutupi jalan nafas teknik jaw thrust membuka jalan nafas.• • • Abdominal thrust Chest thrust Back blow Gambar dan penjelasan lihat di bawah! Jika sumbatan tidak teratasi. Pasien tidak sadar dengan posisi terlentang. ajak bicara.

Gambar 5.dugaan fraktur servikal. Jaw thrust Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas dan tangan kiri melakukan head tilt. Gambar 8. Pangkal lidah tidak lagi menutupi jalan nafas. Gambar 6 dan 7. Tampak ada orang yang tersedak atau tersumbat jalan nafasnya . Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah sehingga kepala menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun terangkat ke depan. manuver Jaw thrust dikerjakan oleh orang yang terlatih Mengatasi sumbatan parsial/sebagian. Digunakan untuk membebaskan sumbatan dari benda padat. tangan kanan melakukan Chin lift ( dagu diangkat).

cara abdominal Bantuan Hidup Dasar 15 . genggam kepala itu dengan kuat. sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Abdominal Caranya : Thrust (Manuver korban harus Heimlich) diletakkan pada pada posisi posisi Gambar 9. tangan kedua diletakkan di atas tangan pertama. observasi ketat. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang sternum. yang dianjurkan Abdominal Pertolongan adalah Thrust langsung (Manuver diri melakukan Resusitasi yang Jantung Paru (RJP). Abdominal Thrust dalam posisi berdiri Back Blow (untuk bayi) Bila penderita sadar dapat batuk keras. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke atas. beri tekanan ke atas kea rah diafragma dengan gerakan yang cepat. Bila nafas tidak efektif atau berhenti. lingkari letakkan pinggang sisi korban dengan satu kedua pada lengan dan perut penolong. Heimlich) pada jika dilakukan sendiri terhadap sendiri mengalami obstruksi jalan napas. Berdasarkan ILCOR yang terbaru. Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas. Penolong berlutut di sisi paha korban.Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) Dapat dilakukan dalam posisi berdiri dan terlentang. letakkan sisi ibu jari pada perut di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. lakukan back blow 5 kali (hentakan keras pada punggung korban di titik silang garis antar belikat dengan tulang punggung/vertebrae) tergeletak (tidak sadar) terlentang dengan muka ke atas. Caranya : kepalkan sebuah tangan. kemudian jempol kepalkan tangan tangan thrust pada posisi terbaring tidak dianjurkan. Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas. Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati (daerah subdiafragma – abdomen). Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya. Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk Caranya : penolong harus berdiri di belakang korban. jika tidk berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi kepalan korban.

lakukan chest thrust 5 kali (tekan tulang dada dengan jari telunjuk atau jari tengah kirakira satu jari di bawah garis imajinasi antara kedua putting susu pasien). tidurkan terlentang. lakukanchest thrust. beri nafas buatan . Bila penderita sadar. tarik lidah apakah ada benda asing.Gambar 10. Back blow pada bayi Chest Thrust (untuk bayi. anak yang gemuk dan wanita hamil) Bila penderita sadar.