KATA PENGANTAR

Masalah keprotokolan selalu minta perhatian dan dirasakan sebagai suatu kebutuhan yang mendesak bagi Departemen-departemen, Lembaga-lembaga dan Instansi-instansi lain dikalangan Pemerintah. Untuk dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut di atas, Rumah Tangga Kepresidenan prakarsa untuk menerbitkan suatu buku Petunjuk Pelaksanaan Bidang Prokol yang sekiranya dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk pelaksanaan berbagai jenis acara yang ditangani instansi yang berkepentingan. Khusus untuk melengkapi Penyegaran Keprotokolan tahun 1992 yang diselenggarakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan di Batu, Malang, Jawa Timur pada tanggal 6 – 11 Januari 1993 perlu disiapkan buku-buku seperti buku ini, berjudul : “PETUNJUK PELAKSANAAN PROTOKOL”. Sudah barang tentu bahan-bahan yang disjikan ini masih perlu disempurnakan akan tetapi setidak-tidaknya dapat membantu usuaha kita bersama dalam mencapai sasaran-sasaran nasional, ialah menyatu bahsakan pola piker dan pola tindak kita di banding keprotokolan. Mudah-mudahan buku ini, dapat memenuhi harapan untuk mereka yang bertugas di bidang keprotokolan.

Jakarta,

Januari 1993

KEPALA RUMAH TANGGA KEPRESIDENAN,

SAMPURNO

i

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR..........................................................................................i DAFTAR ISI ........................................................................................................ii I. POKOK-POKOK PENGERTIAN KEPROTOKOLAN

A Makna dan Arti Protokol........................................................................ 1 . B Pentingnya Aturan Protokol................................................................... 2 . C Unsur-unsur Penting Protokol Upacara.................................................. 2 . D Ruang Lingkup Tugas dan Fungsi Protokol........................................... 3 . E Syarat-syarat Bagi Petugas Protokol...................................................... 3 . F Sumber-sumber Protokol........................................................................ 4 . G Undang-undang Nomor 8/1987 Tentang Protokol................................. 4 .
II. KETENTUAN KEPROTOKOLAN MENGENAI TATA TEMPAT, TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN

A Tata Tempat............................................................................................8 . B Tata Upacara...........................................................................................21 . C Tata Penghormatan.................................................................................25 .
III. PRESEANCE PEJABAT DIPLOMATIK

A Urutan dan Kategori...............................................................................42 . B Perutusan Luar Biasa..............................................................................48 . C Preseance Delegasi dan Para Anggotanya..............................................49 .
IV. PRESEANCE PEJABAT INTERNASIONAL

A Tata Urutan Intern .................................................................................52 . B Preseance Antar Para Pejabat Internasional dan Diplomatik.................52 .
ii

C. Preseance Antar Pejabat Internasional, Ketua Delegasi dan Perwakilan Tetap....................................................................................................54 V. PENYERASIAN

A Pokok-pokok Pengertian/Maksdu dan Gambaran Penyerasian .............56 . B Kepentingan-kepentingan Yang Timbul................................................57 . C Preseance Dinas Luar Negeri Indonesia.................................................58 . V. I
TATA UPACARA YANG BERSUMBER DARI TATA-AB..............................61

iii

Makna dan arti protokol 1. 1 . Pokok-pokok persetujuan antar Bangsa/Negara. kelonggaran dan kekebalan diplomatic. sehubungan dengan penghormatan kepada seseorang. juga seluruh dokumen yang melengkapi persetujuan pokok. Pengertian Protokol yang dikaitkan dengan masalah Perjanjian Hubungan Internasional : a. Pemerintah atau Masyarakat. sesuai dengan jabatan dan atau kedudukannya dalam Negara. 3.pelaksanaan adalah serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi. b.I. Protokol yang melaksanakan serta bertanggung jawab atas suatu terlaksananya penerapan tatacara pengaturan/. yaitu seluruh catatan resmi yang dibuat pada akhir sidang dari ditandatangani oleh seluruh peserta. POKOK-POKOK PENGERTIAN KEPROTOKOLAN A. c. Pengertian Protokol yang suatu dikaitkan upacara atau dengan tata-cara persoalan pergaulan pengaturan/pelaksanaan internasional dan yang disebut Protokol – Upacara : a. d. Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol. Selain dokumen itu sendiri. baik yang bersifat nasional maupun internasional. Keseluruhan dokumen persetujuan (bukan hanya lembar pertama). Lembar pertama yang diletakan suatu dokumen yang berisi persetujuan. e. d. Kumpulan tatacara pengaturan upacara yang dituru oleh semua pergaulan antar Kepala Negara dan Menteri-Menteri. c. 2. yang meliputi aturan mengenai Tata Tempat. b. kewajiban. Pedoman tatacara pergaulan Internasional. Dokumen yang mencantumkan hak-hak. Tata tertib/sopan santun di dalam pergaulan Internasional. Petugas upacara. Tata Upacara dan Tata Penghormatan.

disesuaikan dengan peristiwanya. Ruang lingkup Tugas. dll. Tercipta suatu upacara yang khidmat. tertib dan lancer. Terciptanya pemberian perlindungan. diperlukan penggunaan kata-kata yang baik dan tepat menurut tinggi rendahnya derajat Pejabat yang bersangkutan. D. Tatacara : Yaitu setiap upacara. Unsur-unsur penting Protokol Upacara Dalam Protokol Upacara terdapat 3 unsur penting : 1. Ikut menentukan terciptanya suasana/iklim yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha. 4. Tata Krama : Pada setiap upacara. harus dilakukan dengan khidmat. Contoh : Seating arrangement Tata tempat Perlakuan terhadap bendera kebangsaan Perlakuan/penghormatan terhadap Lambang Negara Penghormatan terhadap Bendera Asing. da Fungsi Protokol 2 . 3. Pentingnya aturan Protokol 1. 2. tertib dan lancer. Menciptakan tata pergaulan yang mendekatkan satu sama lain da dapat diterima oleh semua pihak. Aturan/rumus-rumus tertentu : Didalam penyelenggaraan suatu upacara kita terikat pada tatacara yang sudah tetap dan didasarkan pada rumus-rumus tertentu yang sudah tetap pula. Terciptanya ketertiban dan rasa aman dalam menjalankan tugas. 2. walaupun mengandung unsur-unsur yang membatasi gerak pribadi. C. Perbuatan/tindakan-tindakan pada acara ini dilakukan menurut aturan atau adat kebiasaan tertentu yang sudah tetap dan harus ditaati dengan seksama oleh upacara.B. 3. 5.

setiap petugas harus menekuni bidang tugas masing-masing dan dituntut pula untuk turut memperhatikan kepentingan bidang lainnya. E. Perlu mewujudkan aparat pengelola yang efektif dalam iklim yang kompak. Syarat-syarat bagi petugas protokol 1. Luasnya ruang lingkup tugas protocol yang menyangkut segi-segi. 2. Protokol berfungsi sebagai salah satu staf pembantu pimpinan dalam menelola fungsi. Secara teknis. Kunjungan tamu (dalam dan luar negeri) c. kebersihan dan keamanan. 4.tetapi untuk mengetahui apapun aspek kegiatan yang perlu bagi suatu acara. Pengaturan rapat/sidang e.1. tertib dan berwibawa dalam suatu kondisi yang berazaskan kekeluargaan guna menjamin tercapainya keberhasilan pelaksanaan tugas. Penyelenggaraan upacara-upacara 1) Hari Besar Nasional 2) Hari Besar Keagamaan 3) Peresmian Proyek 4) HUT Bendera 5) Apel Bendera 6) Pelantikan dan serah terima jabatan 7) Credentials 8) Penandatanganan kerjasama internasional 9) Peresmian pembukaan/penutupan seminar/lokakarya dan lain sebagainya. 3 . Mampu mengerti arti pentingnya dekorasi. yaitu seperti : a. 3. tetapi buikan berarti harus melaksanakannya sendiri. tercermin di dalam banyaknya macam acara yang harus dilaksanakan. 2. Penerimaan tamu/audensi b. Penyelenggaraan resepsi/jamuan f. Protokol perlu menguasai segala permasalahan. Perjalanan ke daerah/Luar Negeri d.

Azas timbale balik (reciprocity). 3. - 2. “Tata Upacara” dan “Tata Penghormatan”. meliptu : Pemberian perlindungan Ketertiban Keamanan dalam menjalankan tugas. Undang-undang Nomor 8/1987 tentang Protokol 1. Tradisi adat istiadat dan kebiasaan setempat.5. Penghormatan dan perlakuan seseorang dalam suatu acara meliputi : “Tata Tempat”. Kepribadian Kepala Negara. Persetujuan Internasional : Kongres Wina 1818 Aix la Chapelle 1818 Vienna Convention on Diplomatic relations 1961 Vienna Convention on Consular 1963 2. Pemberian penghormatan dan perlakuan tersebut sesuai dengan kedudukan dan martabatnya. Mengerti tentang prinsip-prinsip manajemen yang baik. G. b. Mampu berpakaian yang baik. 4. Materi yang diatur a. F. 6. 5. Jangkauan dan ruang lingkup Undang-undang tentang protokol : 4 . Peraturan perundang-undangan masing-masing Negara. Sumber-sumber protokol 1. Tata Penghormatan yang dimaksud meliputi pula tata penghormatan terhadap : - Bendera Kebangsaan Lagu Kebangsaan Lambang Negara Pataka Jenazah Seseorang dalam keadaan tertentu.

Acara Resmi : Acara yang bersifat resmi yang diatur dan dilaksanakan oleh Pemerintah atau Lembaga Tinggi Negara. b. 5 . 2) Hak yang diberikan kepada seseorang mendapatkan penghormatan fasiltas maupun pelayanan. dalam melaksanakan tugas dan fungsi tertentu dan dihadiri oleh Pejabat Negara dan atau Pejabat Pemerintah serta undangan lainnya. tata upacara dan tata penghormatan. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat tertentu. . . . bersifat menyeluruh. pemerintahan atau dalam masyarakat.Dilaksanakan secara penuh berdasarkan peraturan tata tempat. perawatan kesehatan dan pemakaman. Yang dimaksud dengan kedudukan protokol adalah : 1) Hak yang diberikan kepada seseorang atau lambing untuk mendapatkan penghormatan dan perlakuan tata tempat dalam upacara resmi atau pertemuan resmi. Acara Kenegaraan : Acara bersifat kenegaraann yang diatur dan dilaksanakan secara terpusat.Dapat berupa upacara bendera atau bukan upacara bendera. Ruang lingkup Undang-undang tentang protokol. 3. dihadiri oleh Presiden dan atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara dan Undangan lainnya. dalam melaksanakan acara tertentu. . b. Jangkauan Undang-undang tentang Protokol juga bersifat pengakuan tentang status dan kedudukan sesuai dengan jabatannya dalam negara. sesuai dengan kedudukan/jabatnnya. karena tidak hanya berlaku bagi Pimpinan da Anggota Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. tetapi meliputi Pejabat Negara lainnya. Beberapa pengertian dalam Undang-undang Protokol : a.Dilaksanakan oleh Panitia Negara yang diketahui oleh Menteri/Sekretaris Negara.a.Diselenggarakan oleh Negara.

Anggota Dewan Pertimbangan Agung .Anggota Badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat .Bupati Kepala Daerah/Walikotamadya Kepala Daerah. d. Ketua Muda dan Hakim Mahkamah Agung. . c. .Menteri .Ketua. . Instansi Pusat/Daerah.Kepala Perwakilan RI di Luar Negeri yang berkedudukan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh.Presiden dan Wakil Presiden . Tokoh Masyarakan tertentu : 6 . Pejabat Negara : 1) Menurut Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok- pokok Kepegawaian : . Pejabat Pemerintah : Adalah pejabat yang menduduki jabatan tertentu dalam Organisasi Pemerintahan.Anggota Badan Pemeriksa Keuangan . 2) Menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 1974.Dapat diselenggarakan oleh Lembaga tertinggi/Tinggi Negara. tentang Pokok- pokok Pemerintahan di Daerah : .Dapat diadakan di Pusat/Daerah..Dilaksanakan sesuai dengan ketentuan tata tempat. tata upacara dan tata penghormatan. . Wakil Ketua. . e.Gubernur Kepala Daerah.Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah Pejabat Negara.

Pemuka agama .Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia .Ketua persekutuan Gereja-gereja Indonesia . dalam acara kenegaraan atau acara resmi. 1.Adalah seseorang yang karena kedudukan sosialnya menerima kehormatan dari masyarakat dan/atagu Pemerintah.Pemuka adat . Parpol dan Golkar . h.Tokoh lain yang ditentukan oleh Pemda f.) Tokoh Masyarakat tertentu di Daerah : . Tata tempat : Aturan mengenai urutan tempat bagi Pejabat Negara. g. Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat Tertentu.Pemilik tanda kehormatan RI berbentuk Bintang . 3) pakaian upacara.) Tokoh masyarakat tertentu Tingkat Nasional : . Tata Upacara : Aturan untuk melaksanakan upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi.Mantan Presiden/Wakil Presiden .Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan . 2) tata lagu kebangsaan.Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia . termasuk : 1) tata bendera.Ketua Presidium Wali-wali Gereja Indonesia . dengan emmperhatikan peraturan perundangan yang ada.Ketua Umum Parpol dan Golkar .Ketua DPD.Pemuka Perwalian umat Budha Indonesia 2. Tata Penghormatan : 7 .

meliputi tata penyediaan kelengkapan sarana yang diperlukan untuk tercapainya kelancaran upacara. dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan atau peraturan lain yang telah ditetapkan. 8 . Pejabat Pemerintahan dan Tokoh Masyarakat Tertentu dalam acara kenegaraan atau acara resmi.Aturan untuk melaksanakan pemberian hormat bagi Pejabat Negara.

maka tempat utama adalah yang menghadap ke pintu dan tempat terakhir adalah tempat yang paling dekat dengan pintu keluar. Jika menghadap meja. 1. Orang yang berhak mendapat tata urutan yang pertama/paling tinggi adalah mereka yang mempunyai urutan paling depan/paling mendahului. pangkat atau derajat di dalam Pemerintahan atau masyarakat. pada hakekatnya mengandung unsur-unsur : Siapa yang berhak lebih didahulukan. Genap = 2 – 1 Ganjil = 3 – 1 – 2 Rumusnya : 9 . b. Siapa yang mendapat hak menerima prioritas dalam urutan tata tempat.I. KETENTUAN KEPROKOLOAN MENGENAI TATA TEMPAT. c. Jika berjajar pada garis yang sama : Tempat yang paling utama adalah : tempat sebelah kanan luar. maka yang berada disebelah kanan dari orang yang mendapat urutan tata tempat paling utama dianggap lebih tinggi/mendahului orang yang duduk di sebelah kirinya. TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN A. d. Aturan Dasar Tata Tempat a. Orang yang mendapat tempat untuk didahulukan adalah seseorang karena jabatan. atau tempat paling tengah. TATA TEMPAT (PRESEANCE) Tata tempat. Jika mereka berjajar.

Kedatangan dan pulang : Orang yang paling dihormati selalu dating paling akhir dan pulang paling dahulu. turun paling dahulu 2) Kapal laut : Naik dan turun paling dulu 3) Mobil/KA : Naik dan turun paling dulu Duduk paling kanan Orang ketiga duduk di tengah f. 2) Bila orang yang paling dihormati yang menyambut tamu. harus dating dari sebelah kanan dari pejabat yang menyambut. g. 2. Wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. apabila naik/turun kendaraan : 1) Kapal terbang : Naik paling akhir. Naik kendaraan : Bagi seseorang yang mendapat tata urutan paling utama. h. Jaja kehormatan (receving line) : 1) Orang yang paling dihormati.e. Kempa Staf Angkatan dan Kepala Kepolisian RI 10 . maka tamu akan dating dari arah sebelah kirinya. Pedoman tata Tempat a. Letak kendaraan/mobil : Pintu kanan mobil berada di arah pintu keluar gedung. menempatkan urutan tata tempat sebagai berikut : 1) Presiden 2) Wakil Presiden 3) Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara 4) Menteri Negara. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1987 tentang Protokol. Panglima Angkatan Bersenjata. Pejabat yang diberi kedudukan setingkat Menteri Negara.

64/M Tahun 1988 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan V ∗∗ 11 . Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 (per 26 Desember 1990) tentang Ketentuan Keprotokolan mengenai Tata Tempat. termasuk Hakim Agung Mahkamah Agung. 6) Pimpinan Lembaga termasuk Pemerintah Non Departemen dan Pejabat Pemerintah tertentu. bekas Menteri Negara serta Janda/dudanya Kepres No. ∗ PPNo. Lembaga Tertnggi/Tinggi Negara. Tata Upacara dan Tata Penghormatan. 501/1980 tentang/atau Ha Keuangan/Administratif Menteri Negara. III/MPRI/1978 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau Antar Lembaga-lembaga Tinggi Negara). a) Presiden RI b) Wakil Presiden RI Mantan Presiden RI Mantan Wakil Presiden RI c) Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara : - Ketua MPRI 1) Ketua DPA *) Ketua DPR *) Ketua BPK *) Ketua MA *) Perintis Kebangsaan/Kemerdekaan ∗ ∗ - d) (1) Menteri Negara : *) (a) Meneg sebagai Menteri Koordinator **) (b) Meneg yang memimpin Departemen (c) Meneg yang menangani bidang tertentu ***) (d) Meneg dengan sebutan Menteri Muda ***) 1 Tap MPR No. Undang-undang ini belum mengatur urutan tata tempat bagi Tokoh Masyarakat Tertentu b.5) Ketua Muda Mahkamah Agung. maka urutan Tata Tempat selengkapnya adalah : 1) Tata Tempat Dalam Acara Kenegaraan a tau Resmi yang diadakan di Ibukota Negara RI.

DPR. MA (3) Hakim Agung pada Mahkamah Agung (4) Pemilik Tanda Kehormatan RI berbentuk Bintang : f) Bintang RI Adipura (I) Bintang RI Adipradana (II) Bintang RI Utama (III) Bintang RI Pratama (IV) Bintang RI Nararya (V) (Kepres No. 9/1985 tentang Jenjang Pangkat dan Tunjangan Jabatan Struktural) (2) Pejabat Pemerintah tertentu : - (1) Pimpinan Pemerintah tertentu : Setneg.(2) Pejabat Tinggi Negara yang diberi kedudukan setingkat Menteri Negara : (a) Pangab (b) Jaksa Agung (3) Wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara (MPR. (3) Tokoh Masyarakat Tertentu tingkat Nasional : 12 . BK. DPA. DPR. BPK. Setjen/Itjen Departemen Sejen MPR. DPA. MA) (4) Penglima Angkatan Bersenjata (5) Kepala Staf Angkatan dan Kapolri (6) Ketua Umum Parpol dan Golkar e) (1) Ketua Muda Mahkamah Agung (2) Anggota MPR. BPK. MA Set. DPA. Menko/Meneg/Menmud Set. DPR. Kejaksaan Agung RI Pemerintah Daerah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia.

apabila dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden maka Menteri/Pimpinan LPND yang bersangkutan mendampingi Presien/Wakil Presiden. Waliko-tamadya. e) Pejabat Pemda lainnya setingkat Asisten. Kepala Kejaksaan Negeri. Ketua Perwalian Umat Budha Indonesia. Tokoh Masyarakat tertentu Tingkat Daerah : Ketua DPD Parpol dan Golkar. Kepala Wilayah Kejaksaan Tinggi. Kepala Lembaga Ketua Pemerintah Departemen. Tokoh lain yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah.- Ketua Presidium Konferensi Wali-wali Gereja Indonesia Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia. Pemuda Agama. berpedoman kepada urutan Tata Tempat yang berlaku di Ibukota Negara RI. b) Panglima Daerah Militer/Komandan Komando resort Militer. 2) Tata tempat di Daerah a) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kepala Dewan Perwakilan Rakyat Daerah TK I. c) Wakil Gubernur. 3. Acara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Daerah Tata Tempat dalam acara resmi yang diselenggarakan di Ibukota Negara RI maupun di luar Ibukota Negara RI. I. dengan ketentuan : a. Wakil Ketua DPRD Tk. Komandan Resort Militer/setingkat. 13 . Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia. Sekretaris Wilayah Daerah Tk. Pemuka Adat. Pengadilan Negeri. Ketua Pengadilan Tinggi. Komandan Tertinggi Kesatuan Angkatan dan Polri. I d) Kepala Kantor Wilayah Non Departemen. Pada acara resmi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat dan diadakan di Daerah.

4. maka tempatnya tidak diisi oleh Pejabat yang mewakili. Apabila Penyelenggaranya Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara Tata Tempat dalam acara Kenegaraan/Resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga tertinggi/tinggi Negara atau Instansi Pemerintah Pusat. Apabila dalam acara kenegaraan/resmi. Pejabat Pemerintahu Pusat dan Tokoh 14 . Dalam hal Pejabat Negara. Istri Pejabat Negaradan Pejabat Asing. Apabila Pemda Penyelenggaranya dan Dihadiri oleh Pejabat dan yang diterimanya atau jabatan yang Tokoh Masyarakat Nasional Dalam hal acara resmi diselenggarakan oelh Pemda dan dihadiri oleh Pejabat Negara di Pusat. I atau Bapak/Walikotamadya KDH Tk. dengan berpedoman pada ketentuan PP No. II yang bersangkutan. 5. 6. Tata Tempat Bagi Pejabat Berjabatan Rangkap Dalam hal Pejabat Negara yang menghadiri suatu upacara pertemuan. Tata Tempat Bagi Pejabat Yang Mewakili a. Tata Tempat Suami/Isteri Pejabat a. b. 9. maka baginya berlaku Tata Tempat untuk Jabatang/urutan yang tertinggi.b. Pejabat yang mewakili mendapat tempat sesuai dengan kedudukan sosial dan kehormatan dipangkunya. diatur oleh Lembaga/Instansi masing-masing. maka suami/isteri tersebut mendapat tempat sesuai dengan urutan tata tempat suami/isteri yang pejabat. Pejabat Pemerintah atau Tokoh Masyarakat tertentu berhalangan hadir dalam kenegaraan/Resmi. 8. 8. 62/1990 Pasal 7. mendapat tempat setingkat suaminya. memangku jabatan lebih dari satu yang tidak sama tingkatnya. Pejabat didampingi Isteri/Suami. Pada acara resmi yang diadakan oleh Daerah itu sendiri dan dihadiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. 7. b. maka yang mendampingi sebagai tuan rumah adalah Gubernur/KDH Tk.

12. tetapi mendapat tempat pertama dalam golongan/kelompok yang setingkat lebih rendah itu. 8. c. Para Duta Besar/Kepala Perwakilan Asing. Urutan Tata Tempat antar Pegawai Negeri diatur menurut senioritas dengan memberikan tata urutan sesuai Jabatan. 62/1990 Pasal 7. Tata Tempat Bagi Para Duta Besar a. 11. 9. diatur menurut urutan Menteri yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden tentang pembentukan Kabinet. Para Duta Besar RI.Masyarakat tertentu nasional. 9. ditetapkan berdasarkan tanggal penyerahan surat-surat kepercayaan kepada Presiden. Mantan Pejabat Negara/Pejabat Perintah. 15 pihak Pemerintah Asing. b. Tata Tempat para Duta Besar/Kepala Perwakilan Asing. b. mendapat tempat kehormatan yang utama dmi antara Pejabat Negara. Mantan Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah a. Tata Tempat Pegawai Negeri Sipil. Dalam hubungan yang berkenaan dengan Perwakilan Asing. tata tempatnya disesuaikan dengan ketentuan tata tempat sebagaimana dimaksud oleh PP No. Menteri Luar Negeri RI diberi tata urutan mendahului anggota Kabinet lainnya. Apabila yang menjadi tuan ruma pejabat asing. Pengaturan Tempat Antara Pejabat-pejabat RI bersama-sama Dengan Para Perwakilan Negara Asing a. mendapat tempat setingkat lebih rendah daripada yang masih berdinas aktif. 10. diberi tata urutan setingkat Menteri. Tata Tempat Para Menteri a. tetapi diatur setelah Menteri Negara dan Wakil Ketua Lembaga Tetinggi/Tinggi Negara. maka Pejabat RI mendapat tempat setingkat lebih tinggi dari para Pejabat- . Urutan Tata Tempat para Menteri. Menteri Luar Negeri RI mengalahkan tata tempat para Dubes Indonesia maupun asing. b.

b. 2) Dalam hal yang menjadi tuan rumah pihak Pemerintah Asing. Apabila yang menjadi tuan rumah pihak Pemerintah Indonesia. tata tempatnya disesuaikan dengan ketentuan PP No. Mereka yang menjadi Kepala Tertinggi (Atasan) dari tuan rumah. 62/1990 Pasal 7. 62/1990 Pasal 7. bahwa yang mendapat tempat langsung lebih tinggi dari tuan rumah adalah : a. maka pejabat asing mendapat tempat setingkat lebih tinggi dari Pejabat RI. 9. Pengaturan tempat dalam acara Kenegaraan/resmi tersebut dilaksanakan berselang-seling yaitu : 1) Dalam hal yang menjadi tuan rumah pihak Pemerintah RI. 13. maka penempatan dimulai dengan Pejabat Asing. Bila dihadiri oleh Presiden/Wakil Presiden atau Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah Pusat atau pejabat Daerah lainnya yang lebih tinggi kedudukannya. c. maka penempatan dimulai dengan Pejabat RI. 8. 9 juga perlu memperhatikan pedoman umum yang berlaku. Tata Tempat Acara Resmi Yang Diadakan Pada acara resmi yang diadaan oleh Instansi Pusat. 8. 14. Mereka yang dalam aturan tata tempat mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada tuan rumah.b. disamping harus berpedoman pada ketentuan PP No. 16 . Pedoman Umum Tata Tempat Di Daerah Apabila Kepala Daerah bertindak sebagai Tuan Rumah adalah : - Tempat utama ditempati oleh Kepla Mupida/Kepala Daerah.

Pada waktu Presiden menyambut Tamu dengan berjabat tangan dalam resepsi 1. 2. 5 3 1 2 4 Dst 17 . Pada waktu Presiden melantik Duta Besar RI dan Para Menteri : 1 2 3 4 5 c. Contoh-contoh Pengaturan Tata Tempat 1) Berdiri : a. 2) Duduk : a. 1. Berhadapan dengan Pemimpin/Pengurus/Podium/Mimbar : 1) Tidak terbagi dalam golongan : PIMPINAN Dst. 3. Pada waktu Presiden mengadakan penerimaan lain. Duduk dalam Rapat/Konperensi pada meja : 8 1 2–9 6 4 2 1 3 5 7 9 * * 1 ……… * * = yang memimpin = menurut jabatan b. 4. jika tidak diadakan jabat tangan : 4. d. 5. Pada waktu Presiden menerima surat-surat kepercayaan dari Dua Besar Asing : 5 3 2 4 b. 5.15. 2. 3.

Duduk pada meja makan : 1 2 3 4 5 Dst 1 2 3 4 5 Dst 1 2 3 4 5 Dst 1) Meja panjang melintang : 7 10 3 6 1 2 5 4 9 8 2) Meja panjang membujur : 1 3 4 6 8 10 12 3) Meja Bulat : 1 3 4 6 8 10 (lihat meja panjang membujur 2) 1 2 5 7 9 11 3 7 12 10 6 2 5 9 11 8 4 2 5 7 9 4) Meja Oval : 1 3 7 10 6 2 18 4 5 9 8 .2) Terbagi dalam macam-macam golongan : PIMPINAN Dst 5 4 3 2 1 Dst 5 4 3 2 1 Dst 5 4 3 2 1 c.

5) Meja Bentuk U : 7 11 13 17 10 14 18 6 2 4 8 15 19 3 1 5 9 12 16 20 6 8 10 12 4 2 1 3 5 7 9 11 13 6) Meja Bentuk T : 16 18 12 14 8 10 4 6 28 26 24 2 1 3 5 7 23 25 27 11 9 13 16 7 19 19 .

w2 39 7) Meja Bentuk I 17 14 10 6 2 4 8 12 18 8) Meja Bentuk E 12 14 16 18 24 30 36 8 19 25 31 37 6 20 26 32 7 21 27 33 38 9 22 28 34 10 4 2 3 5 11 13 15 17 23 29 35 16 7 3 1 5 9 13 15 11 20 .

antara lain : a. 21 . .9) Denah Jamuan Makan Malam Kenegaraan 1 7 1 9 2 1 2 3 2 5 2 7 2 9 3 1 3 3 9 19 29 39 49 59 69 79 89 7 17 27 37 47 57 67 77 87 5 15 25 35 45 55 65 75 85 3 13 23 33 43 53 63 73 83 1 11 21 31 41 51 61 71 81 2 12 22 32 42 52 62 72 82 4 14 24 34 44 54 64 74 84 6 16 26 36 46 56 66 76 86 8 18 28 38 48 58 68 78 88 10 10 20 30 40 50 60 70 80 1 5 1 3 1 1 9 7 5 3 . Acara Kenegaraan/Acara Resmi Acara Kenegaraan/Resmi harus diselenggarakan berdasarkan Tata Upacara. Pedoman umum tata upacara. 2 4 6 8 1 0 1 2 1 4 1 6 18 20 22 24 26 28 30 32 34 95 101 107 113 95 99 105 111 91 97 103 109 92 93 104 110 94 100 106 112 96 101 108 114 B. TATA UPACARA 1.

Bedug. Pedoman umum pelaksanaan upacara. 3) Langkah-langkah persiapan. b. selama satu menit. c. Urutan acara pada upacara bendera dalam rangka peringatan HUT Proklamsi Kemerdekaan RI : 1) Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih. 4) Petunjuk pelaksanaan upacara. diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. 2) Siapa yang harus berbuat apa. 2) Perlengkapan upacara. Pedoman Umum Upacara meliputi : 1) Kelengkapan upacara. Untuk melaksanakan upacara bendera dalam acara kenegaraan/resmi. 4) Pembaca Teks Proklamasi. 22 .Pedoman Tata Upacara memuat perencanaan dan pelaksanaan upacara. 3) Dimana (tempat). b. 5) Susunan acara. Upacara Bendera a. 2) Perlengkapan upacara. untuk menjawab : 1) Apa. diiringi tembakan Meriam. 3) Langkah-langkah persiapan. 2) Mengheningkan cipta. 4) Petunjuk pelaksanaan upacara. diperlukan : 1) Kelengkapan upacara. 2. 3) Detik-detik Proklamasi. 4) Bilamana (waktu) 5) Bagaimana tata caranya. Sirene. Urutan penurunan Bendera pada acara kenegaraan/resmi. 5) Pembaca doa. Lonceng Gereja dan Lain-lain.

Siapa yang harus berbuat apa. Membuat petunjuk pelaksanaan upacara. b. Kolom yang perlu terdapat dalam petunjuk pelaksanaan. Kunjungan Kenegaraan Urutan acara Kunjungan Kenegaraan Kepala Negara/Kepala Pemerintahan Asing dikelompokkan dalam : a. 1) Nomor 2) Jam 3) Uraian Pembawa acara 4) Kegiatan 5) Keterangan pelaksanaan. 3. Pengaturan tempat. b. Menyusun acara. Acara penyambutan kedatangan tamu. c. d. Menetapkan jenis/macam pakaian yang harus dipakai. 4.1) Dilakukan pada waktu matahari terbenam. Penyiapan Upacara/Acara Langkah persiapan antara lain : a. Kapan ia harus berbuat. Tata ruang. Dalam Petunjuk Pelaksanaan acara harus tercermin : a. 2) Diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. meliputi : 1) Persiapan 2) Pelaksanaan 3) Memperkenalkan b. c. Acara pokok kunjungan : 1) Kunjungan kehormatan 2) Ziarah ke makam pahlawan 3) Pembicaraan resmi 4) Jamuan makan 5) Penyampaian komunike/konferensi pers 23 . e.

3) Penghormatan pada saat pengibaran atau penurunan bendera. Tata Bendera pada acara kenegaraan/resmi yang bukan upacara bendera. b.c. Tata Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Tata lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam Upacara Kenegaraan/Resmi : a. maka lagu Kebangsaan Indonesia Raya dibunyikan lengkap satu kali yaitu satu strofe dengan dua kali ulangan. Pada saat Lagu Kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan. Pakaian Dinas Upacara Kebesaran (PDUK) atau Pakaian Nasioanal. Apabila dinyanyikan lengkap satu bait yaitu bait pertama denga dua kali ulangan. digunakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL). Dalam acara kenegaraan. tidak diperdengarkan dengan menggunakan musik dari tape recorder atau piringan. (lihat PP 44/1958 Ps. c. Penggunaan pakaian upacara dalam acara kengegaraan atau acara resmi. b. 2) Tiang Bendera didirikan di atas tanah. d. Apabila diperdengarkan dengan music. dihalaman depan gedung. Jika tidak ada krop musik/gendering dan atau sangkakala maka pengibaran/penurunan Bendera diiringi dengan nyanyian bersama Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. 24 . Strofe = bait). seluruh peserta upacara mengambil sikap sempurna dan memberikan penghormatan menurut keadaan setempat. disesuaikan menurut jenis acara tersebut. 2. 6. Tata Bendera a. b. e. 7. Tata Bendera pada acara kenegaraan/resmi : 1) Bendera dikibarkan sampai saat matahari terbenam. Pada waktu mengiringi pengibaran/penurunan bendera. Penutup 5. Bendera Kebangsaan Merah Putih dipasang pada sebuah tiang bendera dan diletakkan di sebelah kanan mimbar. Penggunaan Pakaian a.

a. b. Dalam acara kenegaraan/resmi. b. Urutan acara pada acara resmi lainnya : 1) Pembukaan/sambutan 2) Acara pokok : . c. digunakan Pakaian Sipil Harian (PSH) atau Seragam Korpri atau seragam resmi lainnya. Penghormatan Lagu Kebangsaan. TATA PENGHORMATAN 1. 2. dengan berpedoman pada ketentuan Bab IV PP No.Penandatanganan prasasti 3) Penutup C. Pemberian penghormatan dengan menggunakan Bendera Kebangsaan Merah Putih dan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dalam acara kenegaraan/acara resmi. 62/1990. Pemberianbantuan sarana yang diperlukan untuk melaksanakan acara.Peresmian .yang berlaku sesuai dengan jabatannya atau kedudukan dalam masyarakat. Tata Upacara dilingkungan ABRI. yang ditentukan. 8. c. Pemberian Tanda Tempat. Penghormatan dengan Bendera Kebangsaan dan Lagu Kebangsaan. Penghormatan Jenazah bila meninggal dunia. Tata Upacara dalam acara resmi lainnya yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara atau Lembaga Pemerintah. baik ditingkat Pusat maupun Daerah dilaksanakan dengan ber-pedoman pada ketentuan Lab IV PP No. Pejabat Negara. Acara/Upacara Lainnya a. e. Penghormatan Bendera Kebangsaan. Dalam acara resmi. c. dilaksanakan sesuai dengan kedudukan 25 . Pejabat Negara/Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat Tertentu. d. diatur tersendiri oleh Pangab. 62/1990. Pejabat Pemerintah dan Tokok Masyarakat Tertentu mendapat penghormatan : a.

4) Pejabat Negara lainnya. Wakil Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. 6) Apabila Pajabat Negara. bendera dikibarkan Selama 3 (tiga) hari. 5) Bagi Pejabat yang dimaksud pada 1).pejabat yang bersangkutan dan sesuai dengan ketentuan penggunaan Bendera Kebangsaan Merah Putih dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang berlaku (lihat PP No. kepala staf Angkatan dan Negara. dan Tokoh Masyarakat tertentu. Wakil Presiden. Mantan Presiden dan Mantan Wakil Presiden. 26 . 2). Pemberian penghormatan dalam bentuk pengibaran bendera setengah tiang : 1) Presiden. maka pengibaran bendera dilakukan sejak tanggal kedatangan jenazah tersebut di Indonesia. b. bendera dikibarkan setengah tiang hanya dilingkungan instansi masingmasing. hari-hari selama pengibaran bendera setengah tiang dinyatakan sebagai hari berkabung nasional dan bendera dikibarkan si seluruh pelosok tanah air. Pajabat Pemerintah atau Tokoh Masyarakat tertentu tersebut meninggal dunia di Luar Negeri. 3) Meneteri Negara. bendera dikibarkan setengah tiang selama 7 (tujuh) hari 2) Ketua lembaga Tretinggi/Tinggi Negara. Sedangkan bagi seperti dimaksud pada 4). 3). bendera dikibarkan setengah tiang selama 2 (dua) hari. ketua/Kepala/Direktur Jenderal dari Lembaga Pemerintah Non De-partemen. Pejabat yang diberi kedudukan setingkat Menteri Negara. 40 dan 44 Tahun 1958). bendera dikibarkan selama 5 (lima) hari. Panglima ABRI.

d. Bendera di pasang di dalam rapat/pertemuan : .JIka pada tiang : Ditempatkan di kanan ketua. diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku baginya dan tidak menimbulkan sifat berlebihan. Penghormatan berupa bantuan sarana. pemberian perlindungan.7) Apabila waktu pengibaran Bendera setengah tiang tersebut bersamaan waktunya dengan penyelenggaraan peringatan hari nasional. c. Pemberian penghormatan berupa bantuan sarana. Tata penghormatan terhadap Bendera Kebangsaan (Peraturan Pemerintah No. ketertiban. dan keamanan yang diperlukan dalam melaksanakan acara/tugas. misalnya 27 . 3) Jika ada kunjungan kepala Negara atau jika daerah tersebut merayakan sesuatu yang penting. 3. 40 tahun 1958) : a. b. ketertiban dan keamanan. .Jika dipasang merata : Ditempatkan di dinding bagian atas belakang ketua. 7 ayat 1) Pada Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus. 2) Peringatan-peringatan Nasional/Perayaan lain yang menggembirakan Nusa dan Bangsa. maka Bendera Kebangsaan dikibarkan secara penuh. di tengah atau di sebelah kanan. Bendera Kebangsaan tidak boleh dipergunakan intuk member hormat kepada seseorang dengan menundukkannya seperti lazim. pemberian perlindungan. Penghormatan terhadap Bendera Kebangsaan. .Bendera Kebangsaan tidak boleh dipasang bersama-sama dengan bendera organisasi yang dipasang berderet tergantung pada tali untuk perhiasan. Bendera dikibarkan pada gedung/halaman gedung : Ditempatkan dimuka. dilakukan pada waktu member hormat dengan panji-panji. 4. Bendera Kebangsaan tidak boleh dipasang pada kendaraan kecual : Ps.

Penggunaan bersama-sama dengan bendera lain : Ps. h. - Bendera kebangsaan RI ditempatkan apabila Bendera itu Bendera kebangsaan RI di tengah sebelah kanan jika ganjil.peringatan pembentukan daerah itu sebagai daerah otonomi/menjadi propinsi. Ps. Ps. sedangkan ukuran-ukuran bentuk bendera-bendera itu sama atau kira-kira sama. Ps. 23 ayat (2) 1) Jika ada sebuah bendera asing : Bendera Kebangsaan dipasang disebelah kanan.Semua bendera dipasang pada satu baris. 2) Jika ada Bendera dari beberapa Negara : . g. 25 . f. 24 .Bendera jabatan dan bendera/panji organisasi. e. maka bendera kebangsaan dipasang di sebelah kanan. maka kain bendera kebangsaan dipasang sebelah kanan.Apabila dipasang bersama dengan bendera kebangsaan asing.Jika bendera kebangsaan di pasang bersama-sama dengan panji Presiden dan atau panji Wakil Presiden : 1) Jika ada hanya sebuah panji. sedangkan tiangnya ditempatkan di depan tiang bendera asing. 3) Pada Pawai/Defile : Disusun seperti “Dipasang pada tiang” 4) Jika bendera kebangsaan dan bendera asing dipasang pada tiang yang bersilang. maka bendera-bendera itu dikibarkan pada tiang-tiang tersendiri yang sama tingginya dan sama besarya. tidak boleh pada pokoknya menyerupai bendera kebangsaan. 23 Ayat (1) . - jumlahnya genap. 28 .

4) Bendera kebangsaan tidak dipasang bersiang dengan panji. 26 Ayat (2) .2) Panji sedapat-dapatnya tidak dipasang lebih tinggi dari bendera kebangsaan. 29 . 26 .Jika dalam perayaan organisasi dikibarkan bendera organisasi. sedangkan bendera Kebangsaan di mukanya. 2) Bagi Presiden/Wakil Presiden berukuran 36 x 54 cm. i.Defile : Bendera Kebangsaan dibawa denganmemakai tiang baris bendera/panji organisasi. maka bendera/panji organisasi tersebut dipasang pada satu baris. yang dipasang pada tempat yang terhormat menurut ketentuan tersebut dalam pasal 26. maka tiang bendera tidak dipanggul di pundak. 7 . Ps. k.Apabila bendera kebangsaan dipasang bersama-sama dengan bendera atau panji organisasi : 1) Jika hanya ada satu bendera/Panji organisasi. Ps. Ps. maka bendera kebangsaan dipasang di sebelah kanan. 2) Jika ada dua atau lebih dari bendera/panji organisasi. l. 5) Bendera Kebangsaan tidak dipasang bersilang denga bendera/panji organisasi. 3) Pada Pawai. j. 4) Bendera Kebangsaan harus lebih besar dan dipasang lebih tinggi dari pada bendera/panji organisasi. 3) Ukuran panji tidak lebih besar dari ukuran bendera kebangsaan. maka harus pula dikibarkan bendera kebangsaan.Pada waktu membawa bendera Kebangsaan dalam pawai atau berdiri memegang bendera itu pada waktu upacara. Bendera Kebangsaan sebagai tanda Kedudukan : 1) Dipasang pada mobil sebelah muka ditengah-tengah.

Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara.Pita Hitam Hijau b. Tata Penghormatan Lambang Negara (PP No.3) Bagi bekas Presiden.Ruang Perisai di tengah-tengah : Merah : Kiri atas dan kanan bawah. Putih : Kanan atas dan Kiri Bawah. berukuran 30 x 45 cm. Kunjungan Kepala Negara/Tamu Negara). Jumlah Bulu : : Kepala Banteng. 43/1958) 1) Pada Gedung Negeri : - Di muka sebelah luar dan/atau di dalam.Tempat yang pantas dan menarik perhatian. bekas Wakil Presiden . dileher perisai c. Penggunaan Lambang Negara ( PP. 17 : Pada tiap sayap 8 : Pada ekor 19 : Kecil dibawah perisai 45 : Kecil. juga diperkenankan d. Menteri. Pembuatan dengan satu warna. Warna : Kuning Emas Merah – putih : Seluruh Burung Garuda. . Huruf : Pohon Beringin. Padi dan Ranting. Bagi umum. m. 5. : . untuk memenuhi keinginan menyatakan kegembiraanj Nusa dan Bangsa (pada Hari Kemerdekaan Peringatan/Perayaan Nasional. bendera Kebangsaan berukuran 20 x 30 cm dapat dipasang pada kendaraan di muka bagian kanan. . Kapas. . Bintang Nur Cahaya.Pada kapal-kapal Pemerintah : • Di bagian luar anjungan (Brug) 30 . 66/1951) a.


-

Di tengah-tengah. Rumah jabatan Presiden, Wakil Presiden, Menteri,

2) Penggunaan di bagian luar gedung hanya dibolehkan pada : Gubernur/Kdh.
-

Gedung-gedung Kabinet Presiden, Wakil Presiden, kabinet

Perdana Menteri, Kementerian, DPR, Konstituate, Dewan Nasional, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung dan Dewan Pengawas Keuangan. (Kepresidenan, Departemen, Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan Kejaksaan Agung). 3) Pengunaan di dalam gedung diharuskan pada tiap-tiap : - Kantor Kepala Daerah; - Ruang Sidang DPR dan Pengadilan; - Kantor Kepolisian Negara, Imigrasi, Bea dan Cukai Syahbandar; - Kantor-kantor Negeri lainnya.
4) Cap Jabatan dengan Lambang Negara di dalamnya, hanya

dibolehkan untuk Cap Jabatan : - Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Notaris. 5) Lambang Negara - Mata Uang, Kertas Beraterai, Materi, Ijazah Negara. - Barang-barang Negeri. - Pakaian Resmi yang dianggap perlu oelh Pemerintah.
-

Negara,

Jaksa

Agung,

Gubernur/Kdh,

Negara

di

rumah0rumah

jabatan

Presiden/Wakil Presiden, Perdana Menteri, Menteri Luar

Buku dan Majalah yang diterbitkan oleh Pemerintah Pusat. Buku Kumpulan Undang-undang yang diterbitkan oleh

Pemerintah/Partikelir dengan Izin Pemerintah. - Surat-surat Kapal 31

-

Barang-barang

lain

dengan

Izin

Menteri

yang

bersangkutan. - Sebagai Lencana :
-

Oleh Warga Negara di luar negeri. Dipasang pada dada sebelah kiri atas.

e. Larangan penggunaan Lambang Negara :
1) Dilarang menggunakan Lambang Negara : -

Sebagai Perhiasan/Cap Dagang. Propaganda Politik dengan cara apapun.

- Reklame perdagangan
2) Pada lambang Negara Dilarang Menaruh Huruf, Kalimat, Angka,

Gambar atau Tanda-tanda lain. 3) Pelanggaran Negara: - Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan. - Atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 500,-f. Tata Penghormatan Bendera di Kapal (PP No. 401/1958) : Ps. 28 Di Kapal-kapal Pemerintah : 1) Pada waktu berlabuh. 2) Pada waktu berlayar. 3) 06.00 – 18.00 Di Kapal-kapal Partikelir Indonesia (20 M3/Lebih) : 1) Setiap hari 06 – 18.00. 2) Pada waktu di/berangkat dari Pelabuhan 3) Pada waktu melalui Benteng/Batere/Menara Laut/Kapal Perang/kapal Polisi. 4) Member hormat kepada kapal lain. Ps. 29 - Dikibarkan pada tiang di buritan. 32 atas ketentuan-ketentuan Penggunaan lambing

- Pada waktu berlayar, dapat dipasang pada topang.
- Pada kapal berlayar, dipasang pada aris belakang dari layar/layar

belakang sekali, tepat dibawah topang.
- Pada waktu Kepala Negara/Wakil Kepala Negara berada di

Pelabuhan, maka semua kapal Indonesia yang pada hari itu ada di Pelabuhan harus merias. Bendera Kebangsaan dipasang pada tiap puncak tiang. Ps. 29 - Jika Panji/Bendera Jabatan dikibarkan si atas kapal maka bendera kebangsaan tetap dikibarkan pada tiang di buritan/pada topang. Panji/bendera Jabatan dipasang sesuai ketentuan panji/bendera jabatan
- Apabila bendera Kebangsaan Asing dikibarkan pada kapal maka

bendera kebangsaan dipasang tetap pada tempatnya sedangkan Bendera Asing sesuai peraturan penggunaan bendera kebangsaan asing. Ps. 30
- Cara memberi hormat oleh sebuah Kapal kepada kapal lain :

∗ Bila bendera dipasang di buritan :
1) Turunkan hingga ujung bawah bendera sampai pada pagar

kapal, hingga masih dapat berkibar, 2) Naikkan kembali keatas tiang.
∗ Bila Bendera di pasang pada Topang :

1) Bendera diturunkan sampai setengah jarak antara ujung topang dan pagar kapal yang diatas sekali; 2) Naikkan kembali ke tempatnya.
∗ Kapal layar : Bendera dipasang pada baris belakang

layar/layar terbelakang : 1) Turunkan bendera itu sampai setengah jarak antara ujung topang dan ujung bawah baris; 2) Naikkan kembali ke tempatnya. 33

.Naikkan kembali ke puncak tiang.Naikkan hingga ujung topang. . . . maka bendera kebangsaan Indonesia dipasang pada tiang kapal terdepan.Naikkan kembali ke ujung topang.Turunkan kembali ke setengah tiang (bendera di buritan) 2) Bendera di ujung topang : .Ps.Bila Kapal Asing masuk/berlabuh di pelabuhan Indonesia mengibarkan bendera kebangsaannya. 31 .Cara member hormat oleh kapal pada waktu berkabung : 1) .Turunkan kembali ke posisi setengah tiang dan ujung bawah baris belakang. Ps. Ps.Pada waktu berkabung : 1) Setengah tiang. . 3) Bendera di bars belakang : .Naikkan kembali ke ujung topang. .Bendera dinaikkan hingga puncak tiang. 33 . Tata Penghormatan kepada Bendera Kebangsaan Asing (PP. bila Bendera dikibarkan pada baris belakang dari layar/layar belakang sekali. . . 41/1958) 34 . . 32 .Turunkan hingga ujung bawah bendera sampai pada pagar kapal paling atas.Turunkan kembali ke setengah tiang antara ujung topang dan pagar kapal paling atas.Turunkan kembali ke ujung bawah baris belakang.Turunkan hingga ujung bawah bendera sampai pada pagar kapal. bendera dikibarkan di buritan. g. 2) Setengah jarak antara ujung topang dan pagar kapal yang atas sekali.Naikkan bendera ke ujung topang.

(b) Negara/Wakil Negara/Perdana Menteri Negaranya berkunjung Indonesia. harus sama dengan bendera Indonesia. 4 dipasang setengah tiang. 2 Ps. (2) Warga Negara Indonesia dapat menggunakan bendera kebangsaan asing dalam hal Kepala Negara Asing berkunjung ke Indonesia. (3) Dapat pula digunakan pada kesempatan-kesempatan lain. (1) Apabila bendera kebangsaan asing digunakan. pada hari peringatan nasional bagi mereka yang gugur.Ps. dengan izin kepala daerah jika menurut pendapatnya pada kesempatan Internasional. ditempat-tempat yang dikunjungi. memasang/membawa bendera itu dimuka umum. (1) Di makam kehormatan. pada hari kebangsaannya. dimaksud menggunakan ialah mengibarkan. 3 - itu layak digunakan pada tempat sebagai dimana pertemuan diadakan dilakukan kesempatan tersebut. bersama 35 . bendera kebangsaan Indonesia tak perlu dipasang. 1 (1) Warga Negara asing dapat menggunakan bendera kebangsaannya : (a) Pada Pada hari waktu kebangsaan Kepala dan hari berkabung Kepala ke negaranya. Penggunaan (4) Yang PS. ditempat-tepat yang didatangi. atas anjuran/izin Kepala Daerah. (2) Bila bendera asing Ps.

Ps.Panji Wakil Presiden di Kiri. maka panji Presiden dan Wakil Presiden dapat dipasang bersama-sama : . Ps. lain.(3) Paji Presiden/Wakil Presiden digunakan di tempat beliau berasa secara resmi. Ps. 36 . kendaraan-kendaraan kepala perwakilan diplomatic dan kepla perwakilan konsuler. 1 . h. Tata Penghormatan kepada panji dan bendera jabatan (PP. 6 . 2) Pada rumah-rumah jabatan dan halaman rumah jabatan.Panji Presiden di Kanan .Kapal-kapal Indonesia yang masuk pelabuhan asing dan selama berlabuh. 2 . Ps. apabila menurut pertimbangan penggunaan itu dapat menyebabkan timbulnya gangguan ketertiban dan keamanan umum. 7 .(1) Jika Presiden dan Wakil Presiden bersama-sama di sebuah mobil/kapal. 8 500. kecuali bila peraturan Negara tersebut menentukan Pelanggaran dapat dihukum 3 bulan kurungan/denda Rp.Bendera kebangsaan asing dapat digunakan tersendiri dan setiap hari : 1) Pada gedung-gedung perwakilan diplomatic perwakilan Konsuler..-- mengibarkan bendera kebangsaan asing yang bersangkutan.Kepala daerah dapat melarang penggunaan bendera kebangsaan asing. 42/1958) : Ps.

(3) Jika panji Presiden. maka panji kepala Negara Asing dipasang dimuka disebelah kanan dan panji Presiden/Wakil Presiden di Muka sebelah kiri. (4) Jika Kepala Negara/Wakil Kepala Negara Asing menggunakan bendera kebangsaannya maka bendera asing dipasang dimuka sebelah kiri dan bendera kebangsaan Indonesia dimuka sebelah kanan. (3) Jika Panji Presiden. 4 . Ps. maka yang di pasang ialah panji Presiden. Ps. Di Sekoci : Dipasang pada tiang panji di tiang muka. (2) Jika bersama Kepala Negara/Wakil Kepala Negara : Panji Presiden/Wakil Presiden dipasang pada ujung andangandang tiang kapal besar sebelah kiri. dan panji Kepala Negara/Wakil Kepala Negara Asing disebelah kanan. 37 . (2) Panji Presiden dan Panji Wakil Presiden tidak dipasang pada mobil bila bendera kebangsaan Indonesia dipasang pada kendaraan itu.Jika Presiden/ Wakil Preside ada disebuah kapal : (1) Panji Presiden/Wakil Presiden dipasang pada ujung andangandang tiang besar sebelah kanan. maka panji Kepala Negara.Jika hanya dipasang sebuah panji. Wakil Kepala Negara Asing dipasang di sebelah kiri. panji Wakil Presiden dan panji Kepala Negara/Wakil Kepala Negara Asing dipasang bersama-sama pada sebuah mobil. panji-panji tersebut dipasang pada andang-andang tiang kapal besar. Wakil Presiden dan Kepala Negara/Wakil Asing dipasang bersama-sama.(1) Panji dipasang pada mobil sebelah muka ditengah-tengah (2) Jika Presiden/Wakil Presiden dengan Kepala Negara atau Wakil Kepala Negara Asing berada dalam sebuah mobil. 3 .

Di tengah-tengah dengan warna emas/perak. – Menteri Dalam Negeri menetapkan lebih lanjut Kdh Mana yang berhak. 6 – (1) Bendera jabatan yang tidak dipasang pada mobil jika bendera kebangsaan/panji Presiden/Wakil Presiden dipasang pada mobil itu. Ps. 20 x 30 Cm. tetapi : Sebelah kanan : Sebelah kiri : Di tengah-tengah menggunakan bendera (4) Jika Kepala Negara/Wakil Kepala Negara Asing tidak kebangsaannya. Panji Presiden dipasang disebelah kanan. pemasangan bendera dan panji disesuaikan dengan pemasangan pada kapal. Segi empat panjang. Ps. ditengah-tengah. serta tanda-tanda perbedaan pangkat pada bendera jabatan itu. Bendera kebangsaan Indonesia tidak dipasang pada puncak tiang kapal besar. Warna emas/perak dapat dipakai/tidak. 5 – Kepala Daerah berhak menggunakan bendera jabatan pada mobil : – Pemasangan – Warna – Bentuk – Ukuran – Lambang Negara – Pinggiran : : : : : : Di muka. (5) Dalam hal berada di sekoci. Biru. maka : Bendera Kebangsaan asing dipasang pada tengah-tengah andang tiang kapal besar.– Panji Presiden – Panji Wakil Presiden – Panji Kepala Negara Asing menggunakan ∗ ∗ ∗ panjinya. jika mengizinkan. 38 .

44/1958) Ps. 7 – (1) Kdh berhak mengguanakan bendera jabatan-nya : – Pada waktu mengadakan inspeksi dalam perairan didalam wilayahnya. Pada waktu penaikan/penurunan bendera kebangsaan. (3) Jika dua atau lebih Kdh bersama-sama dalam sebuah mobil. 6. (5) Jika Kdh bersama-sama dengan Menteri maka yang dipasang adalah bendera kebangsaan. Tata Penghormatan Kepada Lagu Kebangsaan (PP. maka yang. yang diadakan dalam upacara. yang dipasang ialah bendera jabatan Kdh yang tertinggi. 4 .(2) Jika ada Menteri dan Kdh bersama-sama dalam sebuah mobil. Ps. . dipasang pad mobil itu ialah bendera jabatan Kdh yang tertinggi. Ps. maka yang dipasang ialah bendera kebangsaan.(2) Lagu Kebangsaan dapat pula diperdengarkan/dinyanyikan : 39 . untuk menghormat bendera itu. – Jika bersam dua atau lebih Kdh. (2) Bendera jabatan yang dipasang di kapal adalah bendera jabatan dengan ukuran 60 x 90 Cm. (3) Dipasang pada andang-andang tiang besar sebelah kanan (4) Tidak dipasang. 10 – Bendera Organisasi tidak boleh pada pokoknya menyerupai panji/bendera jabatan. jika panji presiden/Wakil Presiden dipasang di kapal itu.(1) Lagu Kebangsaan diperdengarkan/dinyanyikan : - Untuk menghormat Kepala Negara/Wakil Kepala Negara. Untuk menghormat Negara Asing.

memberi hormat dengan meluruskan lengan kebawah dan melekatkan telapak tangan dengan jari-jari rapat pada paha. maka lagu itu dibunyikan lengkap satu kali. (3) jika dalam hal tersebut pada ayat 2 diatas Lagu kebangsaan dinyanyikan seluruhnya. maka orang yang hadir berdiri tegak ditempat masing-masing. 9 . maka lagu itu dinyanyikan satu bait. (2) jika ada kesempatan-kesempatan lagu Kebangsaan dinyanyikan. yaitu tiga bait. yaitu bait pertama dengan dua kali ulangan. Mereka yang tidak berpakaian seragam.(1) Pada kesempatan-kesempatan diaman diperdengarkan Lagu Kebangsaan dengan alat musik. sedangkan penutup kepala harus dibuka. memberi hormat dengan cara ditetapkan untuk organisai itu. 5 . Ps. 2 . 40 .Dilarang : 1) Menggunakan lagu kebangsaan untuk reklame dalam bentuk apapun 2) Menggunakan bagian daridalam gubahan yang tidak sesuai dedengan kedudukan Lagu Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan. Ps.- Sebagai pernyataan pernyataan perasaan Nasional Dalam rangkaian pendidikan dan pengajaran Ps. yaitu satu srofe dengan dua kali ulangan. Mereka yang berpakaian seragam dari suatu organisasi. maka sesudah bait pertama dan sesudah bait penghabisan dinyanyikan ulangan dua kali.Pada waktu lagu kebangsaan diperdengarkan/dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan yang dimaksud dalam peraturan ini.

sambil mengadapkan muka kepada Bendera sampai upacara selesai. berdiam diri.62 tahnun 1990. diatur oleh masing-masing instansi dengan berpedoman pada PP No. c. Pada waktu upacara penaikan atau penurunan Bendera kebangsaan. Pelaksanaan pengaturan tata tempat. tata upacara dan tata penghormatan dalamn acara kenegaraan atau acara resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan ABRI. sorban dan kudung atau topi wanita yang dipakai menurut agama atau adat-kebiasaan. sorban dan kudung atau topi wanita yang dipakai menurut agama atau adat-kebiasaan. ikat kepala. ikat kepala. Mereka yang tidak berpakaian seragam. 20 . memberi hormat dengan meluruskan lengan kebawah dan melekatkan telapak tangan dengan jari-jari rapat pada paha. sedangkan untuk acara resmi yang diselenggarakan oleh Departemen/Instansi/Lembaga akan diatur oleh Menteri/Pimpinan Lembaga/ Pemda yang bersangkutan.PP. maka semua orang yang hadir memberi hormat dengan berdiri tegak. b. Andang-andang Aris Linggi = = = palang kayu di tiang kapal untuk menggantungkan layar. 40/1958 tentang Bendera Kebangsaan RI. tepi atau kelim pda layar/jaring yang dibuat dari tali atau rotan. palang kayu melengkung pada haluan dan buritan perahu/kapal 41 . kecuali kopiah. 7. Lain-lain a. lebih lanjut akan diatur oleh Menteri/Sekretaris Negara selaku Ketua Panitia Negara. sedangkan penutup kepala harus dibuka. Beberapa Istilah dalam kapal *) a. Ps. No. Ketentuan pelaksanaan acara kenegaraan. b.kecuali kopiah.

42 .

dalam penandatanganan perjanjian-perjanjian dan sebagainya. Maksudnya untuk menghindarkan pertentangan-pertentangan atau perang dingin dalam hubungan antar bangsa atau manusia pada waktu itu. Kekeliruan dalam menetukan preseance. yaitu ketika negara Italia mulai menunjuk Duta-duta Besarnya yang tetap. seni diplomatik baru berkembangan sejak bagian terakhir jaman Romawi. kedatangan seseorang dan sebagainya. 43 . Di negara yang berazaskan republik. karena protokollah dianggap mengetahui asal-usul riwayat. Tetapi diplomasi baru diakui sebagai suatu jabatan resmi pada abad ke 15. Walaupun demikian sejarah perkembangan diplomasi baru manajak lagi sejak tahun 1815. URUTAN DAN KATEGORI 1.III. preseance atau tataurutan. PRESEANCE PEJABAT DIPLOMATIK A. Apabila timbul suatu kekeliruan dan perselisihan mengenai preseance biasanya pihak pejabat protokoler yang harus menyelesaikan. Untuk menghindari adanya pertentangan pertentangan terutama mengenai urut-urutan pangkat/preseance ini konvensi peraturan preseance telah menerima dengan baik soal-soal tempat duduk di Konperensikonprensi Internasional. karena sejak tahun tersebut peraturan-peraturan baru disahkan oleh perjanjian-perjanjian internasional yang terkenal dengan nama Konvensi-konvensi Wina yang mengatur klasifikasi petugas-petugas diplomatik termasuk soal-soal preseance. Dalam perjanjian itu ditentukan siaa yang berhak lebih dahulu atau disebut “order of preseance”. dapat menimbulkan pertentangan-pertentangan dan konflik. masalah preseance tidaklah begitu ketat seperti halnya pada negara yang monarki. Maksud dan Tujuan Preseance Diplomatik Melihat perkembangannya.

2. Dutaatau Nuncio Duta-duta Luar Biasa dan Menteri-menteri Berkuasa Penuh Minister-minister Resident Charges d’Affaires/Kuasa-kuasa Usaha Menurut bentuk dan type suatu perwakilan. Penentuan Kategori dan urutan dalam Dinas Diplomatik a. Kategori Kepala Perwakilan Diplomatik Preseance Diplomatik banyak dan perlu digunakan dalam hubungan dengan kalangan diplomatik. Pada pokoknya Konprensi-konprensi Internasional itu telah menetukan bahwa “Chief of Mission” diplomatik itu dibagi dalam 4 kategori : 1) Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Amabassador Extraordinary and Plenipotentiary). Karena itu justru dalam kalangan diplomatik ini sering timbul pertentangan atau friction yang disebabkan kekeliruan soal preseance. Konggres Wina (1815). Menurut konvensi Wina (1815) dan konvensi Aix-la Chapelle (1818) ada 4 kelompok dalam menentukan preseance yang diakui. maka Kepala Perwakilan (Chief of Mission) yang sekarang dikenal antara lain adalah : 1) Kepala Perwakilan Diplomatik (Chief of the Mission) 2) Kepala Perwakilan di PBB (Chief of the United Nations Mission) 3) Kepala Perwakilan Konsuler (Chief of the consular Mission) Istilah “Kepala Perwakilan” lebih banyak dipakai untuk Kepalakepala Perwakilan yang mengepalai suatu perwakilan yang besar. mengetahui dan mengenal preseance merupakan salah satu syarat utama untuk melancarkan tugas dan mencapai sukses yang diharapkan. misalnya : Komperence Westphalia (1648). yaitu : 1) 2) 3) 4) Duta-duta Besar. Konggres Aix-la Chapelle (Aken) tahun 1818. 44 . ditetapkan oleh peraturan-peraturan yang telah ditentukan dalam berbagai Konprensi Internasional. Kedudukan Chief of Mission dengan sifat-sifatnya. Oleh karena itu dalam lingkungan kehidupan diplomatik.

Kuasa Usaha merupakan Kepala Perwakilan Diplomatik yang terendah tingkatannya. adalah Kuasa Usaha yang diangkat dengan “Surat-surat Kabinet” (Latters de cabinet) yang berasal dari menteri Luar Negeri. dan diangkat dengan Surat-surat Kepercayaan Kepala Negara. yang mengepalai : Apostolic Nunci ature. c) Juga Komisaris Tinggi tingkatanya sama dengan Duta Besar. Yang disamakan dengan Duta adalah Intermuncio yang mengepalai Apostolic Intermunciatur. atau pada waktu pembukaan Kedutaan Besar/Kedutaan baru tetapi belum ada Duta Besarnya/Dutanya. dengan Surat-surat Kepercayaan dari Sri Paus. 4) Charge d’affairs (Kuasa Usaha). 2) Duta (Envoy) Duta mengepalai suatu Keduataan atau Legation. 3) Minister Resident Didalam praktek jabatan ini sudah dihapuskan. 45 . dan biasa dinamakan Kuasa Usaha dengan surat putusan. dan diangkat dengan Surat-surat Kepercayaan dari Kepala Negara. b) Duta disamakan dengan Duta Besar adalah Nuncio. diangkat dengan Surat-surat Kepercayaan dan ditandatangani oleh Sri Paus.a) Duta Besar ini mengepalai perwakilan yang bertingkat Kedutaan Besar. a) Charge d’Affairs en pied atau Charge d’Affairs and hoc atau Charge d’Affairs de missi. dengan anggota-anggota Persemakmuran (Commonwealth) dan angkat dengan “surat-surat mandate” (letters de commission) yang diajukan kepada seorang Perdana Menteri oleh orang lain. yaitu suatu gelar yang diberikan kepada Wakil-wakil yang saling ditukarkan antara Pemerintahan Inggris. Hal ini disebabkan tidak mungkin Raja Inggris menyelamatkan surat-surat mandat kepada dirinya. Nama lengkapnya ialah Envoy Extraordinary and Plenipotentiary. yaitu Duta Besar Vatican. Hal ini terjadi jika Duta Besarnya telah ditarik kembali tetapi belum/tidak ada gantinya. Charge d’Affairs dapat mengepalai Kedutaan Besar atau Kedutaan.

Ceylon. seperti : Australia. dimana Gereja menduduki suatu posisi yang istimewa. 46 . b) Para Komisaris Tinggi Negara-negara Persemakmuran tidak bisa menjabat sebagai Ketua Korps Diplomatik di Landon. tanpa memandang tanggal penunjukan ataupun penyerahan surat kepercayaan. India dan Pakistan. Preseance Antar Kepala Perwakilan Diplomatik 1) Preseance antar Kepala Perwakilan Diplomatik ditetapkan menurut dasar Kewerdanaan dalam peresmiannya.b) Charge d’Affairs ad-interim Kuasa Usaha Kategori ini. sehingga dengan demikian Doyen/Dean atau Ketua Korps Diplomatik yang telah ada posnya paling lama berdasarkan tanggal kedatangan dan penyerahan suratsurat kepercayaannya. seorang Kepala Perwakilan Diplomatik telah menyampaikan surat kepercayaan lebih dari sekali. atau disingkat Charge des Affairs. 2) Apabila Terjadi dua orang Kepala Perwakilan tingkat Duta Besar datang bersamaan pada Negara penerima. tetapi hanya mewakili Duta Besar/Duta dalam pekerjaan routine/administrasi kalau mereka berhalangan (seperti keluar kota sebentar atau sakit) dan tidak berhak mewakili Duta Besar/Duta dalam lapangan politik. Kanada. bukanlah Kepala Perwakilan diplomatik. hanya saja kebiasaan ini tidak diikuti oleh negara-negara anggota Persemakmuran lainya. b. atau b) Jam pada waktu penyerahan surat-surat kepercayaan yang dengan sendirinya juga diberhentikan tanggal dan jam untuk menyerahkan surat kepercayaannya. maka yang umum berlaku bagi penentuan Preseancenya adalah surat kepercayaan yang pertama kalinya. maka Dean itu telah ditentukan yakni Nuncio. Dalam praktik kategori C d’ A ini tidak pernah dipergunakan. 3) Jika selama penunjukan disuatu Pos tertentu. maka Preseancenya ialah : a) Tanggal yang tercantum dalam surat kepercayaan. a) Dalam Negara Katolik.

2) Dalam kesempatan dimana Kepala Perwakilan (Dubes/Duta/Kuasa Usaha) dijabat oleh seorang wanita dan kedudukan/tugas memerlukan hadirnya para isteri Kepala Perwakilan yang diatur baik sebagai group bersama atau terpisah dari para suaminya. harus pula diperhatikan kategori pengelompokannya diantara Kepala-kepala Perwakilan (seperti Kuasa Usaha en pied akan mendapat urutan mendahului Kuasa Usaha a. selain ditinjau dari unsur-unsur peresmian dan sebagainya. 5) Apabila timbul perselisihan atau persoalan mengenai preseance maka banyak negara membebankannya kepada Protokol Departemen Luar Negerinya dan/atau bersama Ketua Korps Diplomatik setempat. maka diplomat wanita tadi hadir tanpa suaminya. antara lain sebagai berikut : 1) a) b) c) d) Berstatus Diplomatik : Duta Besar atau Duta/Minister Minister Councellor Councellor Sekretaris I 47 . Kedudukan Dubes/Kepala Perwakilan Asing Wanita 1) Jika suatu Perwakilan dikepalai oleh seorang wanita. c.4) Dalam menetukan Preseance Kepala Perwakilan. 3) Sedangkan suami dari Dubes/Duta wanita yang mempunyai preseance setelah Duta/Minister yang diakreditir terakhir. baik yang berstatus diplomatik maupun non-diplomatik. untuk penyelesaiannya. juga ditentukan preseance bagi para anggota stafnya.i.suami dari seorang Kuasa usaha wanita mempunyai tempat urutan setingkat tetapi setelah kelompok Kuasa-kuasa Usaha berpreseance terakhir d. Kategori Staf Perwakilan Diplomatik Dalam konvensi internasional selain ditentukan preseance kategori para Kepala Perwakilan. dan sebagainya). sedangkan peristiwa yang dikunjungi hanya dihadiri oleh para Kepala Perwakilan tanpa isteri. maka tempat urutan Kepala Perwakilan/Dubes wanita tadi akan didahului oleh isteri dari Dubes yang lebih tua kewerdanaannya.

Walaupun demikian pegawai-pegawai yang nondiplomatik harus juga didaftarkan pada Kementrian/Departemen Luar Negeri Negara penerima. e. Preseance para Konsul Menurut hukum internasional para konsul dinas konsuler tidak termasuk anggota perwakilan diplomatik dan hal ini membawa konsekwensi dalam preseance. c) Locally recruited members of non-foreign nationality Pembagian dan urutan sebagai diatas selain penting dalam pemberian perlakuan oleh negara-negara penerima. Untuk melihat preseance intern dalam suatu perwakilan biasanya dapat dilihat dalam Diplomatic List Perwakilan-perwakilan. yang preseancenya disusun dan/atau ditetapkan oleh Perwakilan-perwakilan bersangkutan. 2) Berstatus Non-diplomatik Dalam suatu perwakilan dapat dikelompokkan anggota-anggota staf sebagai berikut : a) Home-based members of foreign nationality. tetapi setelah Sekretaris II. sebab besar/kecilnya staf serta susunan tergantung pada keperluan. 2) Konsul diberikan tempat setingkat. juga untuk mengetahui preseance masing-masing. Antara ketiga golongan staf perwakilan. maka anggota staf yang mempunyai status diplomatik namanya dicantumkan dalam “diplomatik-list”.e) Sekretaris II f) Sekretaris III g) Atase Tiap perwakilan belum tentu mempunyai susunan lengkap semacam ini. yang setiap waktu tertentu diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri negara penerima. Kebiasaan internasional umumnya memberikan preseance (jika anggota perwakilan diplomatik dan konsuler berada dalam satu tempat yang sama) 1) Memberikan tempat kepada petugas konsuler tertinggi seperti Konsul Jendral. tetapi setelah counselor. b) Locally recruited members of foreign nationality. sedangkan yang non diplomatik tidak dicantumkan. dan diwajibkan melaporkan mutasi yang terjadi dalam perwakilannya. setingkat. 48 .

dipercaya oleh pemerintah kepada seorang pegawai tinggi baik termasuk golongan diplomatik maupun tidak. termasuk juga susunan kata-kata pada tulisan atau pembicaraan yang akan diucapkan atas nama mereka. tanpa persetujuan mereka sebelumnya atas langkah-langkah yang akan dijalankan. Dinas Protokol harus mengaturnya bersama dengan/dan setahu Ketua Korps Diplomatik kalau umpamanya kepada misi luar biasa itu hendak diberikan preseance dan/atau prioritas atas Kepala-kepala Perwakilan yang diangkat secara teratur. Ketua Korps Diplomatik dan Arti Pengakuan terhadapnya Tugas-tugas dari Ketua Korps Diplomatik adalah terbatas dan umumnya mengenai hal-hal yang “ceremonial” Ia adalah “penyambung lidah” (mouth-piece) korps diplomatik yang mewakili pada kesempatankesempatan untuk umum. Dalam hal yang sedemikian seperti tersebut Ad. B. a. Perlakuan Protokol terhadap Perutusan Luar biasa Mengingat bahwa hal misi-misi luar biasa tidak tercantum dalam “Protocol de Viene” tahun 1815. PERUTUSAN LUAR BIASA Acap kali suatu perutusan atau Misi Diplomatik/Luar Biasa yang akan dikirim kepada suatu Pemerintah (atau mungkin seseorang tamu intern Perwakilan) asing. Oleh karena misi semacam itu selalu berhubungan dengan suatu keadaan luar biasa. maka upacara dan/atau preseancenya mendapat penilaian istimewa dari Dinas Protokol setempat dari perwakilan-perwakilan Diplomatik. misi-misi itu tidak lah selalu dapat diberikan prioritas atas perwakilan yang secara teratur/tetap ditempat pada Pemerintah yang menyambutnya/penerimanya. b. f. Apabila misi Luar Biasa diundang pada suatu resepsi bersama dengan perwakilan-perwakilan diplomatik permanen. perbuatan tak adil oleh pemerintah dimana mereka telah ditempatkan. tetapi setelah Sekretaris III atau Atase. 1.3) Konsul muda diberikan tempat setingkat. ataupun kepada seorang tokoh yang terkemuka. Ia adalah orang yang memngetaui dan/atau mempertahankan hak-hak istimewa korps diplomatik terhadap pelanggaran hak-hak. a diatas Korps Diplomatik akan dapat “mengalah” dengan kerelaan/ kesediaan hati dan 49 . Sebaliknya dia tidak berhak untuk menulis atau berbicara atas nama teman-teman koleganya.

maka persoalan perlakuan dan/atau ketua misi itu mempunyai kedudukan hirarki/kewerdanaan yang belum jelas bagi Kepala Perwakilan sendiri. b. Dalam bagian resmi dari perundingan/konprensi. Sebagai patokan umum. C. Tidak jarang bahwa hubungan-hubungan protokoler antara Perwakilan yang diangkat secara teratur dan Ketua Misi Luar Biasa mengalami keadaan-keadaan menyulitkan sementara memang tidak diragukan lagi. maka sebagai perlakuan kehormatan. bahwa seorang anggota pemerintahan (Menteri-menteri Negara) nmendapat prioritas/perlakuan diatas Duta Besar. Meskipun begitu ada suatu kepentingan yang nyata.sikap yang digerakkan oleh rasa sopan santun ini tidak mengurangi semua privilege yang menjadi haknya dan urutannya. baik mengenai penunjukan/pemilihan ketua delegasi maupun yang mengenai jumlah para anggotanya. Tiap pemerintah berhak menyusun delegasi masing-masing menurut kebijaksanaannya. yaitu bahwa demi terjaminnya kelancaran jalannya perdebatan semua para Ketua delegasi hendaknya mempunyai tingkat/gelar yang sama. pejabat-pejabat yang diserahi pimpinan suatu perutusan. yang memberikan kepada mereka suatu preseance tertentu. ditempatkan menurut kedudukan mereka di dalam negeri. Dalam hal demikian seeyogyanya atau sebaik-baiknya dimintakan instruksi atau penjelasan dari Pusat tentang kedudukan yang hendak mereka berikan kepada Perutusan Luar Biasa itu. semua delegasi dianggap sama menurut hukum. c. Delegasi-delegasi a. Hubungan Perutusan Luar Biasa dengan Kepala Perwakilan (senegara) a. diberikan juga kepada mereka tempat yang sesuai dengan yang diberikan kepada orang-orang lain yang pangkatnya kira-kira sama. b. PRESEANCE DELEGASI DAN PARA ANGGOTANYA 1. mereka harus mendapatkan perlakuan 50 . Apabila mereka menduduki jabatan pemerintahan atau mempunyai kedudukan kehormatan yang tinggi. 2.

2) Parra Menteri Kabinet Nasional. b. 4) Para Utusn yang lain. diplomatik. Para Ketua delegasi berhak atas perlakuan penghormatan yang sama/identik. 3) Utusan Asing bergelar Duta Besar. tidak lagi dapaht dipakai. Pertukaran pikiran juga dilangsungkan menurut prinsip persamaan ini. maka para Duta Besar yang diakreditir akan melepaskan tempat semula yang telah diperuntukkan bagi mereka. Penggolongan kelas para delegasi diadakan menurut urutan sebagai berikut : 1) Para Menteri Kabinet. 51 . 4) Pembesar-pembesar Nasional bergelar Duta Besar. maka urutan abjad dari Negara-negara peserta. maupun petugas negara. sehingga keadaan khusus atau faktor-faktor pribadi dari para utusan harus diperhatikan. Dalam hal-hal ini menyangkut preseance antara para utusan. 5) Utusan Asing bergelar Duta Berkuasa Penuh. Urutan para Ketua/Utusan a. didudukan secara berselang-seling dan menurut urutan sebagai berikut : 1) Para Menteri Kabinet Asing. 3) Para Duta Berkuah Penuh. 6) Pembesar-pembesar Nasional bergelar Duta Besar Berkuasa Penuh dan sebagainya. dalam jumlah yang sama. 2) Para Duta Besar. yang akan menempatkan para utusan dari Negara-negara yang sama pada tempat-tempat paling atas. 2. umumnya para utusan asing dan nasional.yang sama dari segi pertimbangan. c. Pimpinan konprensi ditentukan menurut persetujuan sebelumnya yaitu dapa dijabat baik oleh ketua delegegasi dari Negara di mana konprensi berlangsung. baik mereka anggota pemerintahan. c. dapat mengatur gilirannya. Aturan satu-satunya untuk dituruti adalah urutan abjad dari nama Negara dalam bahasa resmi pertemuan itu. Untuk itu urutan abjad nama Negara. Dalam keadaan seperti ini bila ada seseorang anggota pemerintah mengetahui delegasi negaranya. Dalam resepsi-resepsi resmi. maupun oleh ketua delegasi yang lain bergantian tiap hari. bila tidak ada ketentuan urutan lain yang disetujui sebelumnya.

berdasarkan kedudukan mereka dalam mewakili Negara/ pemerintahannya. untuk segera mungkin diberitahukan kepada pemerintahannya. maka mereka mendapatkan hak atas tempat kedua dalam delegasi. Perwakilan diplomatik perlu mengetahui selekas mungkin susunan delegasi-delegasi yang lain. Dalam pada itu atas dasar statusnya sebagai Kepala Perwakilan Diplomatik. agar supaya susunan delegasi nasionalnya dapat disusun semirip mungkin dengan delegasi-delegasi yang lain. 52 . d.

yang bekerja pada pimpinan organisasi. karena mewakili Negara mereka dinegara dimana mereka ditempatkan. didahulukan dari para pejabat yang setingkat yang melakukan suatu tugas sementara. TATA URUTAN INTERN 1. Urutan antar Pejabbat a. b. Tiap-tiap organisasi dapat menetapkan/kategori. NATO. 2) Pada resepsi duduk para pejabat internasional ditempatkan menurut kedudukan pribadi masing-masing. Pengertian Pejabat-pejabat Internasional a. para pejabat dikumpulkan menurut organisasi. PRESEANCE ANTARA PARA PEJABAT INTERNASIONAL DAN PARA DIPLOMATIK 1. 2. selama berlakunya tugas itu. Penerapan Patokan ini terhadap para pejabat kalangan tinggi internasional seperti Sekretaris Jendral organisasi politik yang besarbesar (PBB. b. para pejabat tetap.IV. b. 1) Pada resepsi-resepsi resmi. didahulukan dari semua Kepala Delegasi. B. didahulukan dari semua pejabat internasional. Mereka yang dserahi suatu tugas sementara oleh organisasi. juga apabila mereka adalah Kepala Pemerintahan negaranya. Terhadap para pejabat Diplomatik a. tugas mana dilakukan dibawah pimpinan dan pengawasan organisasi. Para Kepala Perwakilan Diplomatik. Dewan Eropa dan lain-lain) adalah sangat menyulitkan karena para pejabat tinggi internasionalpada siding-sidang organisasi yang mereka pimpin. Para pejabat tetap. 53 . sesuai dengan urutan-urutan/preseance intern masingmasing. PRESEANCE PEJABAT DIPLOMATIK A.

b. Hal ini berlaku apabila mereka diterima disuatu Kedutaan Besar atau Konsulat negaranya. agar para istri diplomat ditempakan dalam urutan yang sama dengan suaminya. 3. Para Pejabat suatu negara tertentu yang sedang melakukan suatu tugas internasional. maka para Wakil Sekretaris Jendral PBB pada umumnya pernah menjabat sebagai pejabat internasional ditempatkan sesudah para Duta Besar sebelumnya dalam kedudukan sebagai pejabat internasional ditempatkan sesudah para Duta Besar dan Kepala Perwakilan diplomatik lainnya. b.c.c. Para Pejabat Internasional lainnya dan para diplomat karier ditempatkan sesudah mereka tersebut dalam ad. Halnya yang sama berlaku atas dasar penyerasian (asimilasi). sesuai dengan pangkat mereka masing-masing. tetapi setelah para pejabat yang bertanggung jawab dalam Korps Diplomatik sesuai tingkatannya. e. maka para pejabat internasional. yaitu sebagai penghormatan bagi Direktur Jendral atau Sekertaris Jenderal dari badan-badan khusus atau organisasi internasional yang besar. Kebiasaan diplomatik menghendaki. Hendaklah salah sekali diingat peraturan/ pedoman umum tentang perlakuan kehormatan (courtesy) yang menghendaki diberikannya 54 . di negaranya diperlakukan seolah-olah mereka orang asing. pada prinsipnya didahulukan dari para konsul. Mengikuti Kebiasaan tentang tempat protokoler para diplomat yang tidak menjabat sebagai Kepala Perwakilan. Jika tidak berlawanan dengan kebiasaan-kebiasaan setempat. Terhadap Pejabat-pejabat Konsul a. Tanpa memandang jenis wanita atau pria masing-masing ditempatkan menurut pangkatnya. Paara pejabat internasional mempunyai preseance yang setingkat. para pejabat diplomatik mempunyai urutan mendahului konsul. dalam arti bahwa mereka mendahulukan dari pada pejabat sebangsanya yang sama pangkatnya. tetapi mempunyai pangkat yang tinggi didalam susunan hirarki. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan a. 2. hal ini diterapkan juga para istri pejabat internasional apabila mereka diterima bersama-sama suami mereka. d.

Kerapkali. diurutkan sesuai dengan urutan yang telah ditentukan oleh Organisasi yang bersangkutan. C. c. b. tetapi dari praktek yang telah berlaku dapat diambil beberapa petunjuk : 1. Terhadap Perwakilan Tetap Dalam waktu diantaranya masa-masa sidang. PRESEANCE ANTARA PARA PEJABAT INTERNASIONAL KETUA DELEGASI DAN PERWAKILAN TETAP Masalah persesuaian protokoler antara para pejabat internasional dan para wakil dari negara-negara anggota pada Organisasi-organisasi Internasional yang bersangkutan. kepada semua orang yang datang dari luar negeri dan kepada orang-orang asing. dalam hubungan mereka dengan Pemerintah negara dimana mereka berada dalam keaadaan normal. atau menurut tanggal penyerahan surat-surat kepercayaan mereka. untuk menghindarkan timbulnya persoalan antara para Kepala Perwakilan diplomatik dan para pemimpin organisasi internasional.preseance (kecuali terhadap para kepala Perwakilan diplomatik di Negara dimana mereka ditempatkan). dan Direktur Jenderal atau Sekretaris Jenderal Organisasi. secara berganti-ganti menurut kebangsaanya. dikumpulkan menurut pangkat mereka seperti disebut dalam surat pemberitahuan tentang 55 . yaitu Dewan Pimpinan Tetap yang dipilih oleh Sidang atau Atau Dewan jika ada. 2. Para Kepala Perwakilan Tetap. para Kepala Perwakilan Tetap ditempatkan sesudah para pejabat tinggi yang memimpin Organisasi. para Ketua Perwakilan Tetap dan para anggota Staf mereka merupakan semacam “Korps Diplomatik” yang diakredirtir pada organisasi itu dan perwakilan-perwakilan Diplomatik biasa. Urutan para Kepala Perwakilan Tetap dan para Anggota a. Para Anggota Perwakilan Tetap lainnya. menjadi semakin menyulitkan dengan bertambah banyaknya jumlah perwakilan makin bertambah banyak jumlah para anggota perwakilan tersebut dan makin tingginya Pangkat para wakil yang dikirim Tentang hal ini tidak ada peraturan yang tertulis. maka mereka diundang pada resepsi-resepsi yang diadakan tersendiri (terpisah).

Atas dasar ini. mereka ditempatkan dalam masing-masing golongan. 3. apapun pangkat mereka. dan ditempatkan sesuai dengan kedudukan yang diberikan kepadanya dalam susunan delegasi seperti termuat dalam dokumen resmi yang diberitahukan sebelumnya. dan sebagainya). Duta Berkuasa Penuh Consellor. Di antaran mereka sendiri. Karena Para Utusan berlainan dengan para diplomat. menurut tanggal mereka mulai memangku jabatan. c. b. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pangkat pribadi dari masingmasing Ketua Delegasi harus diperhitungkan. 56 . ditempatkan sesuai dengan urutan menurut abjad dari nama Negara-negara yang mereka wakili dalam salah satau bahasa resmi yang disetujui. sesuai dengan peraturan yang dipakai dalam Korps Diplomatik. Terhadap para Ketua Delegasi a.kepangkatan mereka (Duta Besar. pada resepsi-resepsi resmi dari mana mereka hadir. Pada pertemuan-pertemuan yang dihadir oleh delegasi-delegasi yang datang dari luar negeri yang pada umumnya diketuai oleh para pejabat tinggi. peraturan tentang urutan-urutan hirarki yang telah disyahkan dalam konvensi Wina 1961 tidaklah harus ditetapkan 1) Para Wakil Tetap. maka mereka selalu didahulukan dari para anggota delegasi lain. 2) Diantara mereka sendiri urut-urutan ditentukan menurut tanggal mereka mulai memangku jabatan. maka mewakili Kepala Negara.

Jenderal 2. Penyerasian Kepangkatan Dengan berpatokan pada pangkat Kepala Staf/Panglima AB.V. dan sebagainya) 2. Letnan Jenderal 3. Counsellor 5. AL. Kolonel 57 . dapat digambarkan sebagai berikut : Contoh GAMBARAN Penyerasian gelar/pangkat Diplomatik Militer Diplomatik 1. atau dengan kata lain.B (AD. Minister 3. Maksud Penyerasian Dalam “Praktek-praktek Protokol” Internasional maka menjadi kebiasaan di banyak negara – untuk keperluan dan/ atau perlakuanperlakuan tertentu – memberikan penyerasian (asimillasi) kepangkatan/ gelar diplomatik dan militer (dianggab setingkat). Duta Besar 2. Brigadir Jenderal 5. maka penyerasian kepangkatan antara Dinas Diplomatik-Militer (Mulai Duta Besar ke bawah). POKOK-POKOK PENGERTIAN/ MAKSUD DAN GAMBARAN PENYERASIAN 1. setingkat pangkatnya dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata/ Panglima A. Sedangkan patokan yang dipergunakan adalah. Mayor Jenderal 4. Sekretaris I Militer 1. bahwasanya Duta Besar adalah setingkat dengan pangkat tertinggi dalam Angkatan Bersenjata. Minister Counsellor 4. Misalnya di Indonesia berpangkat Jenderal berbintang 4 (empat). PENYERASIAN (Asimillasi) GELAR/PANGKAT DIPLOMATIK-MILITER A.

Atase 6.privilege terhadap golongan Perwakilan-perwakilan Asing tersebut dimudahkan/dimungkinkan dengan asimilasi kepangkatan diplomatik dengan militer. dan penolakan perlakuan seperti itu dapat berakibat diajukan protes. Perlakuan-perlakuan terhadap tawanan perang menurut kovensinya disesuaikan dengan tingkat kepangkatan militernya. Sekretaris II 7. Mayor 8. 4.6. KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG TIMBUL 1. kadang-kadang diperkenankan melalui pimpinan pendudukan Militer Tertinggi. 2. Kepentingan bagi Negara dalam masa pendudukan Hubungan-hubungan Diplomatik terbatas. Kepentingan Penyerasian Sebagai telah diterangkan diatas kepentingan yang pertama adalah untuk maksud-maksud protokoler-preseance. maka pemberian fasilitas/privilege. Kepentingan diwaktu Perang Dalam waktu perang asimilasi kepangkatan bartambah penting berkenaan dengan kemungkinan penangkapan dan/atau penawanan atas para pejabat luar negeri. 3. dapatlah pula memberikan kepada mereka sedikit-sedikit nya privilegas yang sama. Dalam arti bahwa asimilasi kepangkatan militer dalam dinas diplomatik adalah terlepas daripada kepangkatan effektif yang kebetulan dipunyai oleh diplomat bersangkutan. Tetapi penggunaan lebih lanjut dan lebih penting adalah diwaktu perang. dan perlakuan yang dipersamakannya dengan para perwira militer. Sekretaris III 8. Letnan Jenderal 7. Hubungan kepangkatan effektif dengan penyerasian kepangkatan Asimilasi kepangkatan adalah bersifat otomatis dan berdiri sendiri. Kapten B. Dengan mengingat akan deslokasi tingkat peghudupan sehabis perang. Pada hakekatnya adalah diakui bahwa tawanan perang Retriksi terhadap makanan dan kemerdekaan bergerak adalah sedikit lebih bebas daripada yang dikenakan terhadap para tawanan perang. dalam suatu negara dalam pada pendudukan militer. Tetapi dengan memberikan penyamaan kepangkatan militer. 58 .

Dinas 4) Kep. Sebagai contoh : urutan itu dapat digambarkan sebagai berikut : 1) Kep. Direktorat 3) Sekretaris Dit. Jen. Seksi b.I/Sek. 2) Kep. maka para petugas dari perwakilan RI yang sedang ada didalam negeri. Jen. Ekon. II 4) Sek. Kom). Untuk Peristiwa-peristiwa tertentu. 3) Kep. yaitu sesuai susunan organik/vertikal Departeman yang berlaku. Tata Urutan di Departemen Luar Negeri a. Sub. 4) Kep. diberikan preseance dipusat Departemen Luar Negeri yang diatur menurut keadaan dan keperluan. Pada prinsipnya tata-urutan di Departemen Luar Negeri adalah sama dengan tata-urutan di Departemen lain. Departemen Luar Negeri. PRESEANCE DINAS LUAR NEGERI INDONESIA 1. 1) Kepala Direktorat 2) Sek. 2) Kep. III/Atase 2. Sekretaris Sek. 4) Kepala Dinas 5) Kep. Sek. II/Sek. Seksi 59 . Dalam hal petugas/pejabat diplomatik/ konsuler/(PDK) ditempatkan di luar negeri. Sekedar contoh dapat digunakan digambarkan sebagai berikut : 1) Kepala Perwakilan/Duta Besar 2) Duta/Minister/Counsellor-Counsellor 3) Counsellor/Sek. Dit. maka mereka diurutkan setelah Kepala Perwakilan. Jen. c. jika berhalangan Charge d’Affaires ad interim/WK. karena belum/tidak diatur dalam peraturan tersendiri. (Politik. Bagian 5) Kep. kepala Perwakilan. Bagian 1) Dir. hingga tidak diatur dalam peraturan tersendiri. menduduki urutan yang mendahului semua pejabat/petugas Perwakilan Departemen-Departemen lain yang ditempatkan di suatu negara. Man. Jen. Jen.C. Kepala Perwakilan atau. Biro 3) Kep. Tata Urutan di Perwakilan RI a. sesuai kebiasaan dibanyak negara menempatkan urutan kepala Direktorat Protokol sebelum kepalakepala Direktorat yang setingkat dengannya.

konsuler. dapatlah dilihat kepangkatan didalam negeri. e. Para Atase Teknis dan Perwakilan Departemen-departemen lain diluar negeri yang tidak mempunyai pangkat asimilasi diplomatik mengikuti para petugas diplomatik dari suatu tingkat yang sejajar kecuali jika diatur lain tersendiri. dan sebagainya. yang menempati urutan setelah Kepala Perwakilan. 2) Jika kewerdanaan sama. Para Atase ABRI dengan asimilasi kepangkatan diplomatiknya mempunyai urutan sama. maka yang dapat menetukan adalah : 1) Kewerdanaan penempatan dalam perwakilan. 3) Gaji dalam perwakilan. c. g. Para Atase Teknis dan Asisten Atese Teknis Perwakilan lainya. penerangan. dan adanya kemungkinan penugasan para petugas Konsuler sebagai Acting Konsul Jenderal/Konsul Kepala. yang mempunyai kepangkatan asimilasi diplomatik mempunyai urutan sesuai kepangkatan. Seorang petugas dengan pangkat/gelar diplomatik lebih tinggi akan mendahului seseorang dengan pangkat/gelar lebih rendah tanpa memandang pangkat/golongan kepegawaian dalam kedinasan didalam negeri. 3.b. maka tataurutan diantara kedinasan konsuler sendiri adalah sebagai berikut : 60 . tetapi setelah para petugas diplomatik yang mempunyai tingkat yang sama berindukkan departemen Luar Negeri yang mempunyai tingkat yang sama. Jika ada lebih dari dua orang petugas dalam suatu perwakilan yang mempunyai gelar dan/atau tingkat yang sama. dapatlah diurutkan dari penugasan umpamanya : politik. Tata Urutan Para Pejabat Diplomatik dan Konsuler a. ekonomi. d. 4) Jika belum juga dapat ditentukan. Dalam kedinasan Konsuler dengan adanya jabatan Kehormatan dalam lingkungannya. Petugas dengan pangkat tertinggi setelah Kepala Perwakilan atau Charge d’Affaires adalah Wakil Kepala Perwakilan. f.

– Konsul Jenderal/Kehormatan. – Konsul/Counsellor. maka dapat diberikan contoh sebagai berikut : 1) – Konsul Perwakilan (Duta Besar/Duta). 4) – Counsellor. – Acting Jenderal/Counsellor. – Konsul/Sek. – Konsul Muda. II – Konsul Kehormatan. – Konsul Jenderal/Counsellor. – Konsul/Sek. 61 . 5) – Sekretaris I. Jika tidak berlawanan dengan kebiasaan setempat. – Konsul Muda/Atase. Jika para petugas Diplomatik dan konsuler hadir dalam satu tempat. – Acting Konsul Kepala. 8) – Atase. II 7) – Sekretaris III. I – Acting Konsul Kepala. – Konsul Kepala/Counsellor. I 6) – Sekretaris I. 3) – Minister Counsellor. Consellor. mereka mendapat tata-urutan sesuai keperluan dan peristiwa karena belum/tidak diatur tersendiri. – Konsul Kepala Sek.1) – Konsul Jenderal – Konsul Jenderal Kehormatan 2) – Konsul Kepala – Acting Konsul Jenderal – Konsul Kehormatan – Acting Konsul Kepala 3) – Konsul 4) – Konsul Muda b. – Konsul Jenderal/Minister. 2) – Minister. – Konsul Jenderal/Min. – Konsul Kepala/Sek.

. minimal 120 x 180 Cm Untuk Bendera berukuran 2 x 3 m. b. Ukuran tiang bendera diruangan – – Pada ujung : Tinggi 2 m. kerekan dibetulkan. tiang bendera ditambahkan prisma terpotong berisi lima setinggi 5 Cm dan prisma berisi lima setinggi 10 Cm membentuk ujung tombak. Ukuran Bendera & Tiang Bendera : a.8. upacara berjalan terus dan setelah selasai.85) 1. – Tali kerekan putus. – 2..ANGKATAN BERSENJATA (Skep PANGAB No. Tiang dibuat dari kayu dan diplitur warna coklat muda. Ukuran Tiang Bendera di lapangan : – – – 5 X Panjang Bendera Ukuran bendera tidak lebih besar dari 2 x 3 m. TATA UPACARA YANG BERSUMBER DARI TUM .VI.10. Skep/612/X/1985. termasuk standard 45 Cm. anggota militer yang sedang menaikkan bendera berusaha menangkap bendera yang jatuh dan setelah itu direntangkan tegak lurus dengan kedua tangan sampai upacara selesai. tiang bendera berukuran 17 m. 62 . Cara mengatasi kesukaran yang terjadi pada waktu pengibaran bendera : – Tali kerekan macet.

bendera diambil serta direntangkantegak lurus dengan dua tangan sampai upacara selesai. Kemudian bendera dilipat dan disimpan. Apabila bendera sudah dikibarkan sebelumnya. Pada penurunan bendera dalam keadaan bendera berkibar setengah tiang. maka bersama-sama anggota lainnya dalam bentuk bersaf menghadap bendera. pelaksanaannya sama seperti apabila bendera sudah berkibar. d. c. GERAK”. – Komandan memnerikan aba-aba : “Tegak senjata gerak” – Pengibar bendera mengikatkan kembali tali bendera pada tiang bendera. – Semua anggota menyampaikan penghormatan kepada bendera. Apabila bendera belum berkibar. Pengibaran Bendera Kebangsaan setengah tiang : a. – Tiang bendera rebah. Selanjutnya dibawah Pimpinan Komandan diberikan aba-aba ”KIBARKAN BENDERA SETENGAH TIANG-HORMAT SENJATA. hanya perbedaannya dinaikan terlebih dahulu sampai puncak tiang bendera dengan diiringi lagu/tanda “Hormat senjata” dan sesudah itu diturunkan sampai setengah tiang. dan pada saat itu pengibar bendera dengan perlahan-lahan dan diikuti roppel genderang menurunkan bendera dari puncak sampai dengan setengah tiang. Bendera Kebangsaan dikibarkan setengah tiang mulai saat penerimaan berita tentang wafat/gugurnya anggota Angkatan Bersenjata atau lainnya yang ditentukan oleh pemerintah. anggota militer yang sedang menaikkan bendera berusaha menegakkan/menangkap tiang bendera atau kalau tidak mungkin. Pada berkabung. b.Kemudian bendera dilipat dan disimpan. 4. 63 . maka pelaksanaannya bendera dinaikkan terlebih dahulusampai puncak tiang bendera dan sesudah itu diturunkan sampai kebawah. 3.

Pengibaran/Penurunan bendera dilakukan oleh kelompok pengibar Bendera dan diikuti oleh Korsik. – Pembacaan Sapta Prasetya Korpri. Hari ABRI tanggal 5 Oktober dan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember).5. Genderang dan atau Sangkakala dengan memperdengarkanlagu “Indonesia Raya” atau lagu/tanda “Hormat Bendera” sampai puncak tiang bendera. dan lagu “mengheningkan cipta”. d. b. gerak”. Bilamana penyelenggaraan upacara/parade waktunya bertepatan dengan saat hari berkabung. maka selama upacara berlangsung. (Hari Proklamasi RI tanggal 17 Agustus. apabila pelaksanaan Upacara Bendera tanggal 17 jatuh pada hari Senin tersebut atau hari-hari kerja dalam minggu itu. Setelah bendera berkibar sampai puncak. bunyi-bunyian dari Korps Musik. Pelaksanaan pengibaran/penurunan bendera pada tiap hari upacara yang bertepatan dengan hari berkabung : a. b. 7. 6. Apabila hari/tanggal 17 tersebut jatuh pada hari libur maka penyelenggaraan upacara dilaksanakan hari kerja berikutnya. 64 . diturunkan perlahan-lahan dengan diiringi reppel genderang. Upacara Bendera Bulanan/Mingguan. tidak melaksanakan upacara : – Pembacaan Pembukaan UUD 1945. Upacara Bendera Mingguan setiap hari Senin dan upacara bendera bulanan setiap tanggal 17 tidak dilaksanakan apabila dalam Minggu/Bulan tersebut terdapat Hari Kebangsaan Nasional. setiap tanggal 17/ Hari Senin : a. Upacara Bendera Bulanan setiap tanggal 17. e. Genderang dan atau Sangkakala hanya boleh diperdengarkan untuk lagu “Indonesia Raya” waktu pengibaran bendera. Upacara Bendera Mingguan dilaksanakan setiap hari Senin pada awal jam kerja pagi. c. Pada Upacara Bendera Mingguan/setiap hari Senin. Upacara Mingguan setiap hari Senin tidak dilaksanakan. maka Danup memberikan aba-aba : “Tegak senjata. selanjutnya setelah bendera sampai ditengah-tengah tiang bendera. dilaksanakan pada hari kerja dimulai pada awal jam kerja. 8.

dengan terbatasnya tempat upacara. Seluruh Peserta upacara berdiri selama berlangsung nya upacara. kecuali apabila dianggap sangat perlu atau karena adanya sesuatu acara yang bersifat penambahan ada acara pokok. sebagai pengganti upacara di lapangan: a. pasukan upacara bersenjata tidak diikut sertakan diutamakan pasukan yang tidak bersenjata. Bil. 11. Tanpa pemeriksaan pasukan. Ketentuan Umum upacara di ruangan. Gambar bentuk dan ukuran “BENDERA & TIANG BENDERA “ seperti yang dimaksud oleh 1 diatas : 65 . Setiap Upacara Bendera Mingguan dan Bulanan. Tanpa Andika Bhayangkari. Lembaga kesatuan yang dihadirkan hanya yang langsung terlibat dalam upacara tersebut. Korsik/Genderang. Danup dijabat oleh Perwira tertua dari Kesatuan tersebut dan pakaian PDU-IV. IRUP tidak menyampaikan Amanat. b. 10. Perangkat upacara : – – – – Sang Merah Putih sudah ditempatkan diatas standard. Kegiatan upacara : – – – – Danup langsung mengambil alih Komando dan para Dan Pasukan sudah disamping pasukan.a dianggap perlu dan tempat memungkinkan sebagian pasukan upacar bersenjata dapat diikut sertakan tanpa senjata.9.

– – – Keterangan : Tinggi tiang bendera = 17 m Panjang Bendera = 3 m. B.Ukuran Bendera Merah Putih : – Panjang dibanding lebar = 2 : 3 – Minimal tidak lebih kecil 120 Cm x 180 Cm – Tidak lebih besar dari = 2 m x 3 m. Garis tengah liangkaran atas = 30 Cm Garis tengah liangkaran bawah = 50 Cm Letak lingkaran bawah diatas tanah = 5 Cm Garis tengah tiang = 5 Cm Tinggi prisma atas = 10 Cm dibuat dari kayu dan diplitur warna coklat muda A. – – – – – – – – Keterangan : Tinggi tiang = 2 m Tinggi Standard = 45 Cm. Lebar Bendera = 2 m 66 .

67 .

68 .

69 .

70 .

71 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful